Peningkatan prestasi belajar PAI melalui pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw siswa Kelas X SMAN 90 Jakarta

Gratis

1
47
118
2 years ago
Preview
Full text
Peningkatan Prestasi Belajar PAI melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa Kelas X SMAN 90 Jakarta Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Oleh: Dewi Puspasari NIM: 1110011000146 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2015 ABSTRAK “Peningkatan Prestasi Belajar PAI melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa Kelas X SMAN 90 Jakarta “ Kata kunci: Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, Prestasi Belajar PAI Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa SMAN 90 Jakarta kelas X pada mata pelajaran pendidikan agama Islam dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 90 Jakarta. Dengan subyek penelitian siswa kelas X MIA-3 sebanyak 33 orang. Tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa SMAN 90 Jakarta kelas X pada mata pelajaran pendidikan agama Islam dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (PTK). PTK ini dilaksanakan sebagai upaya mengatasi permasalahan yang muncul dalam kelas yakni rendahnya prestasi belajar siswa, kurang aktifnya siswa, kurang keterkaitan antara materi pelajaran dan khidupan sehari-hari. Penelitian dilaksanakan dalam empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Keempat tahap tersebut merupakan siklus yang berlangsung secara berulang. Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini sebanyak empat kali pertemuan yang terbagi kedalam dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran PAI dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, dengan nilai rata-rata pada siklus I = 77,58 dengan rata-rata ketuntasan mencapai 66,67% dan setelah post test siklus II nilai ratarata prestasi belajar PAI siswa mencapai 81,82 dengan 90, 91% siswa yang mencapai KKM. KATA PENGANTAR Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan inayah-Nya kepada Penulis, sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya. Shalawat serta salam tak lupa penulis panjatkan kepada pemimpin umat kita Nabi besar Muhammad SAW dan keluarganya, sahabat-sahabatnya serta para pengikutnya sampai akhir zaman.tidak sedikit hambatan dan kesulitan yang penulis alami dalam menyusun skripsi ini, namun berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Dan karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun skripsi ini, baik bantuan moril ataupun materil. Semoga bantuan dan kebaikan yang telah diberikan mendapatkan pahala dan keridhoan Allah SWT, khususnya kepada: 1. Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, MA, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Dr. Abdul Majid Khon, M.Ag dan Marhamah Saleh, Lc. MA Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Dra. Manerah pembimbing skripsi yang disela-sela kesibukannya bersedia meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis. 4. Seluruh dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmunya kepada penulis selama dibangku perkuliahan, semoga ilmu yang Bapak dan Ibu berikan mendapat keberkahan dari Allah SWT. 5. Pimpinan dan Staf Perpustakaan Umum dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah ii membantu penulis dalam menyediakan serta memberikan pinjaman literature yang dibutuhkan. 6. Kepala SMAN 90 Jakarta H. Ahmad Safari, S.Pd., M.Si. dan Dra. Ipah Nurlatifah guru pengajar PAI kelas X yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian. 7. Staf TU serta siswa-siswi kelas X MIA-3 SMAN 90 Jakarta yang telah memberikan izin untuk melaksanakan penelitian. 8. Untuk Ayahanda dan Ibu tercinta: Bapak Patihin dan Ibu Aay yang telah memberikan kasih sayang, nasehat, semangat dan do’a, dan terus mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi. 9. Teristimewa untuk suami dan ananda tercinta: Ujang Fakih dan Muhammad Azka al-Mu’taz yang selalu memberikan do’a, semangat dan kasih sayang yang tiada henti. Semoga menjadi suami dan anak yang sholeh. 10. Saudariku Sri Mulyani yang selalu memberikan do’a, kasih sayang, motivasi serta keceriaan yang melimpah kepada penulis. 11. Teman-teman PAI angkatan 2010 yang telah memberikan semangat dan dukungan selama kuliah dalam penyusunan skripsi ini, terkhusus temanteman kelas D PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan kenangan yang tiada pernah terhapus selama mengikuti perkuliahan. Terima kasih kepada pihak yang memberikan semangat, do’a, bahan-bahan pemikiran dan dukungan yang tidak dapat disebutkan satu per satu, penulis mohon maaf. Dengan penuh kesadaran penulis akui skripsi ini banyak kekurangan, untuk itu penulis harapkan adanya teguran dan kritikan dari semua pihak. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat. Amin. Jakarta, Maret 2015 Dewi Puspasari iii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI LEMBAR PERNYATAAN KARYA SENDIRI ABSTRAK . KATA PENGANTAR . DAFTAR ISI . BAB I BAB II BAB III PENDAHULUAN A. Latar Belakang . B. Identifikasi Masalah . C. Pembatasan Masalah . D. Perumusan Masalah Penelitian . E. Tujuan dan Kegunaan Hasil Penelitian . KAJIAN TEORITIK DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL INTERVENSI TINDAKAN A. Kajian Teori dan Fokus yang diteliti . 1. Prestasi Belajar . 2. Pendidikan Agama Islam di SMA . 3. Pembelajaran Kooperatife Tipe Jigsaw . B. Hasil Penelitian yang Relevan . C. Kerangka Berfikir. D. Hipotesis Tindakan. METEDOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian . . B. Metode Penelitian dan Rancangan Siklus Penelitian . C. Subjek Penelitian. D. Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian . E. Tahapan Intervensi Tindakan . F. Hasil Intervensi Tindakan yang Diharapkan . G. Data dan Sumber Data . H. Instrumen Pengumpulan Data . I. Teknik Pengumpulan Data . J. Teknik Pemeriksaan Keterpecayaan . K. Analisis Data dan Interpretasi Data. iv i ii iv 1 4 5 5 6 7 7 11 21 30 32 33 34 34 38 38 38 40 40 41 44 44 45 BAB IV BAB V L. Pengembangan Perencanaan Tindakan . 45 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data . 1. Profil dan Sejarah Singkat SMAN 90 Jakarta . 2. Visi, Misi dan Tujuan. 3. Guru dan Tenaga Kependidikan. 4. Keadaan Siswa . 5. Struktur Organisasi SMAN 90 Jakarta. 6. Sarana dan Prasarana. B. Hasil Penelitian . 1. Pra Siklus . 2. Hasil Penelitian Siklus I . 3. Hasil Penelitian Siklus II. C. Analisis Data . D. Pembahasan . 46 46 46 47 47 48 48 49 49 52 58 60 67 PENUTUP A. Kesimpulan . B. Saran . 69 69 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN v BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran merupakan suatu proses yang komplek, karena dalam kegiatan pembelajaran senantiasa menyatukan berbagai komponen pembelajaran secara terintegrasi, seperti tujuan pembelajaran yang harus dicapai, metode, media dan sumber pembelajaran, evaluasi, siswa, guru, dan lingkungan pembelajaran lainnya. Setiap unsur pembelajaran tersebut antara satu komponen dengan komponen lainnya saling terkait dan mempengaruhi dalam suatu preoses pembelajaran secara terpadu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ketika seorang guru berdiri di depan kelas melaksanakan kegiatan pembelajaran, ia tidak hanya cukup dengan telah menguasai materi pembelajaran yang harus disampaikan kepada siswa. Lebih luas dari sekedar menguasai materi pelajaran, setiap guru harus mampu mengelola seluruh unsur pembelajaran agar dapat berinteraksi dengan siswa, sehingga memudahkan siswa mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Oleh karena itu disinilah letaknya pembelajaran merupakan suatu proses yang komplek.1 Seperti dijelaskan dalam Q.S An-Nahl ayat 125:                            1 Dadang Sukirman dan Mamad Kasmad, Pembelajaran Mikro, (Bandung: UPI PRESS, 2006), Cet. I, h. 1. 1 2 “serulah (manusia) menuju kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan mau‟idlah dan mujadalah dengan mereka secara baik. Sesungguhnya Tuhannu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” Ayat tersebut secara tersirat memberikan isyarat adanya proses kegiatan pendidikan. Kata ud‟u, yang berarti serulah atau ajaklah, merupakan sebuah kata kunci definisi pendidikan, artinya di dalam kegiatan pendidikan pada hakikatnya adalah berupaya mengajak, menyeru dan memerintah orang (peserta didik) untuk melakukan sesuatu atau mempelajari sesuatu.2 Dalam proses pembelajaran, setiap guru mempunyai keinginan agar semua siswanya dapat memperoleh prestasi belajar yang baik dan memuaskan. Harapan tersebut sering kali kandas dan tidak bisa terwujud, sering mengalami berbagai macam kesulitan dalam belajar.3 Masalah utama dalam pendidikan formal (sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini tampak dari rerata hasil belajar peserta didik yang senantiasa masih sangat memprihatinkan. Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh ranah dimensi peserta didik itu sendiri, yaitu bagaimana sebenarnya belajar itu. Dalam arti yang lebih substansial, bahwa proses pembelajaran hingga dewasa ini masih memberikan dominasi guru dan tidak memberikan akses bagi anak didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dalam proses berpikirnya.4 Bedasarkan hasil observasi di SMAN 90 Jakarta masih ditemukan berbagai masalah yang dihadapi dalam proses kegiatan belajar mengajar khususnya dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) diantaranya adalah mengenai kualitas guru dalam mengajar terutama dalam penggunaan metode. Metode yang digunakan para guru umumnya masih bersifat konvensional. Pada pembelajaran 2 Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: UIN Malang Press, 2008), C.1, h.44. 3 Soetjipto dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2011), C. 4, h. 66. Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatife-Progresif, (Jakarta: Prenada Media Group, 2013), Cet. 6, h. 5. 4 3 konvensional suasana kelas cenderung teacher-centerd sehingga siswa menjadi pasif. Siswa hanya mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru, itu sebabnya peserta didik merasa bosan karena penyampaian materi yang bersifat monoton sehingga siswa seringkali meminta izin untuk ke kamar mandi dan mengantuk di kelas. Pembelajaran yang disampaikan hanya berkisar pada pengetahuan yang ada di buku LKS. Ada kalanya guru hanya datang ke kelas selama 5 menit kemudian menyuruh siswa untuk mengerjakan soal yang ada di LKS. Hal ini berdampak pada rendahnya minat siswa pada mata pelajaran PAI dan menjadi salah satu penyebab banyaknya nilai siswa yang masih di bawah nilai KKM. Mengajar bukan semata persoalan menceritakan, belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari penuangan informasi ke dalam benak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental, yang memungkinkan siswa melakukan berbagai aktifitas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari.5 Upaya belajar adalah segala aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuannya yang telah dimiliki maupun meningkatkan kemampuan baru, baik kemampuan dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Aktivitas pemebelajaran tersebut dilakukan dalam kegiatan kelompok, sehingga antar peserta dapat saling membelajarkan melalui tukar pikiran, pengalaman, maupun gagasan-gagasan. Dalam proses pembelajaran guru/dosen memiliki kewajiban untuk mendesain pembelajaran sedemikian rupa sehingga target atau tujuan yang hendak dicapai dalam suatu pembelajaran tersebut dapat terwujud. Dengan kata lain bahwa guru/dosen memegang peran kunci (keynote) dalam berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran. Dalam konteks demikian guru/dosen haruslah memiliki kompetensi dalam pembelajaran yaitu kompetensi pedagogik (mendidik) dan kompetensi professional (mengajar) maupun kompetensi 5 Melvin L. Silberman, Active Learning, (Jakarta: Nuansa, 2012), Cet. 7, h. 9. 4 personal yang merujuk pada loyalitas, integritas dan dedikasi dalam keseluruhan proses pendidikan dan pengajaran6 Dalam hal ini penulis menerapkan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam menyampaikan materi pelajaran agama Islam “Memahami kedudukan Alquran, Hadits, dan Ijtihad sebagai sumber hukum Islam”, dengan menerapakan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini diharapkan siswa memiliki pengalaman baru dalam belajar, serta dapat mencapai tujuan yang diharapkan, karena tujuan dari pembelajaran itu pada intinya adalah mencapai kompetensi yang telah ditetapkan, oleh karena metode dan strategi perlu digunakan agar siswa tidak merasa jenuh dengan pembelajaran tersebut. Dalam metode ini, siswa benarbenar terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa tidak memiliki kesempatan mengantuk bahkan tidur di dalam kelas. Berdasarkan permasalahan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas yang berkaitan dengan upaya peningkatan prestasi belajar PAI melalui pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Sehingga judul penelitian tersebut adalah “Peningkatan Prestasi Belajar PAI melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa Kelas X SMAN 90 Jakarta” B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka peneliti mengidentifikasi masalah sebagai berikut: 1. Kurangnya keinginan guru untuk membuat peserta didik aktif dan menyenangkan dalam proses pembelajaran. 6 Trianto dan Titik Triwulan Tutik, Tinjauan Yuridis Hak serta Kewajiban Pendidik Menurut UU Guru dan Dosen, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2006), Cet. 1, h. 84. 5 2. Pembelajaran masih menitikberatkan pada gaya teacher centred sehingga menyebabkan prestasi belajar peserta didik belum mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). 3. Kegagalan dalam dunia pendidikan sering terjadi dikarenakan peserta didik lebih banyak menggunakan indera pendengarannya dibandingkan visual, sehingga apa yang terjadi di ruang kelas cenderung untuk dilupakan. C. Pembatasan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut, maka pembatasan hanya dibatasi pada: 1. Upaya peningkatan prestasi belajar pada mata pelajaran agama Islam pada materi “Memahami kedudukan Alquran, Hadits, dan Ijtihad sebagai sumber hukum Islam”, melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. 2. Prestasi belajar khususnya pada ranah kognitif. 3. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw (menyusun potongan gambar) yang dimaksud yaitu suatu teknik pembelajaran yang serupa dengan pertukaran kelompok dengan kelompok, namun ada satu perbedaan penting yakni tiap siswa mengajarkan sesuatu. Setiap siswa mempelajari sesuatu yang bila digabungkan dengan materi yang dipelajari oleh siswa lain membentuk kumpulan pengetahuan atau keterampilan yang padu. D. Perumusan Masalah Penelitian Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan fokus masalah yang di kemukakan dalam penelitian ini, yaitu: 1. Apakah terdapat peningkatan prestasi belajar PAI pada siswa kelas X di SMAN 90 Jakarta setelah angka 391 (skala 0-800), padahal rata-rata skor sebesar 500. Pada tahun 2009 semakin memprihatinkan dimana Indonesia kembali terpuruk ke peringkat 61 dari 65 negara peserta dengan nilai rata-rata hanya 371. Dan pada tahun 2012, Indonesia hanya sedikit lebih baik dari peru yang berada di rangking terbawah (peringkat 64 dari 65 negara) . Rata-rata skor matematika Indonesia 375, padahal rata-rata skor OECD untuk literasi matematika adalah 494. Hal ini jelas kontras sekali dengan Negara tetangga yaitu Singapura yang menduduki peringkat pertama. Hasil di atas menunjukkan lemahnya kemampuan pemecahan masalah siswa Indonesia dalam menyelesaikan soal matematika PISA. Hal ini bisa disebabkan karena soal-soal yang diajarkan guru di sekolah sedikit atau kurang memberikan keterampilan pemecahan masalah sehingga siswa kurang terbiasa menyelesaikan soal pemecahan masalah. Sedangkan soal PISA menuntut kemampuan dalam memecahkan dan menafsirkan masalah matematika dalam berbagai situasi. Soal PISA dikembangkan berdasarkan 4 konten, keempat konten tersebut meliputi: Shape and Space, Change and Relationship, Quantity, dan Uncertainty. Salah satu dari empat konten soal PISA adalah konten Shape and Space (bentuk dan ruang). Soal pada konten Shape and Space berkaitan dengan kemampuan penerapan konsep, fakta, prosedur, dan penalaran matematika yang berhubungan dengan bentuk dan ruang geometri dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal geometri khususnya konten bentuk dan ruang sangat diperlukan. Pemahaman bentuk dan ruang mempunyai banyak manfaat dalam kehidupan. Profesi seperti arsitek, juru gambar, perancang pesawat, pengembang perumahan, ahli matematika, ahli fisika, dan ahli kimia merupakan sebagian kecil contoh profesi yang memerlukan pemahaman bentuk dan ruang yang baik. Teori Respon Butir (IRT) merupakan teori pengukuran yang muncul untuk memperbaiki keterbatasan Teori Tes Klasik (CTT). Tidak seperti CTT yang selalu bergantung pada skor, IRT tidak tergantung pada sampel soal/pernyataan tertentu dan abilitas orang yang terlibat dalam ujian /survey. Pemodelan Rasch muncul dari analisis yang dilakukan oleh Dr. Georg Rasch, seorang ahli matematika dari Denmark. Pemodelan Rasch merupakan satu model IRT yang paling popular. Prinsip dasar pemodelan Rasch adalah model probabilistic yang didefinisikan sebagai berikut : “individu yang memiliki tingkat abilitas yang lebih besar dibandingkan individu lainnya seharusnya memiliki peluang yang lebih besar untuk menjawab soal dengan benar. Dengan prinsip yang sama, butir yang lebih sulit menyebabkan peluang individu untuk mampu menjawabnya menjadi kecil.” Rasch Model merupakan alat analisis yang sangat berguna untuk menguji validitas, realibilitas instrumen, serta person dan item secara sekaligus. Rasch Model telah memenuhi lima prinsip model pengukuran yaitu: yang pertama mampu memberikan ukuran yang linier dengan interval yang sama; kedua, dapat mengatasi data yang hilang; ketiga, bisa memberikan estimasi yang lebih tepat; keempat, mampu mendeteksi ketidaktepatan model: dan kelima, memberikan instumen pengukuran yang independen dari parameter yang diteliti (Sumintono, B. & Widhiarso, W, 2014). Pemodelan Rasch mempunyai beberapa model yang berkembang yaitu: 1) Model Dikotomi (berbentuk benar/salah), 2) Model Skala Pemeringkatan, merupakan perluasan dari model dikotomi yakni butir yang dianalisis lebih dari dua jenis kategori seperti dalam pemeringkatan Likert, 3) Model Kredit Parsial, merupakan pengembangan dari Model Rasch butir dikotomi yang diterapkan pada butir politomi, 4) Model Rasch Many-Facets merupakan proses pengujian yang melibatkan penilai majemuk (Sumintono, B. & Widhiarso, W, 2014). Berdasarkan uraian diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : bagaimana kemampuan siswa SMP dalam menyelesaikan soal PISA konten Shape and Space dengan menggunakan analisis model Rasch. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa SMP negeri 2 Jember kelas VIII E dengan 31 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes berupa tiga soal PISA konten Space and Shape unit Shape yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Soal PISA dan pendoman penskoran yang digunakan adalah sebagai berikut : AMATI GAMBAR BERIKUT 1. Mana diantara gambar-gambar diatas yang memiliki daerah terluas. Apa alasanmu? 2. Jelaskan cara untuk memperkirakan luas gambar C 3. Jelaskan cara untuk memperkirakan keliling gambar C Pedoman Penskoran: Soal 1 Skor Penuh (1) : Bentuk B, didukung dengan penalaran yang masuk akal. B merupakan daerah terluas karena dua bangun yang lain akan dimuat di dalamnya. B. karena tidak memiliki lekukan di dalamnya yang mengurangi luas daerahnya. Sedangkan A dan C memiliki Gap/celah. B, karena merupakan lingkaran penuh, sedangkan bangun yang lain seperti lingkaran dengan beberapa bagian yang hilang, sehingga mengurangi luasnya. B, karena tidak memiliki daerah terbuka Dll. Tidak ada Skor (0): B, tanpa disertai alasan yang masuk akal Jawaban lain yang kurang masuk akal. Soal 2: Skor Penuh (2): Dengan cara yang masuk akal. Menggambar petak-petak yang memuat bangun tersebut dan menghitung petak yang menutupi bangun tersebut. Jika lebih dari setengahnya, maka petak tersebut dihitung satu petak Memotong bentuk tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mengatur potongan-potongan tersebut menjadi bentuk persegi/persegi panjang kemudian menhitung sisi-sisinya lalu menentukan luasnya. Membangun bentuk 3D dengan alas berdasarkan bentuk tersebut, dan mengisinya dengan air. Hitung volume air yang digunakan dan kedalaman air pada model. Luas dapat ditentukan dengan volume air dibagi kedalaman air pada model Dengan membagi bangun ke dalam beberapa bentuk bangun datar beraturan. Kemudian dihitung luasnya dan dijumlahkan. Dan alasan-alasan lain yang masuk akal Skor sebagian (1) : Membuat lingkaran yang memuat bentuk tersebut, kemudian mengurangkan luas lingkaran dengan luas diluar bentuk tersebut dalam lingkaran. Namun siswa tidak menyebutkan bagaimana untuk mengetahui luas daerah diluar bentuk tersebut dalam lingkaran. Alasan-alasan lain yang masuk akal, namun kurang detail atau kurang jelas. Tidak ada Skor (0): Jawaban lain yang kurang masuk akal. Soal 3: Skor Penuh (1): Dengan cara yang masuk akal. Rentangkan seutas tali pada pinggir bentuk tersebut, kemudian mengukur panjang tali yang digunakan. Potong bentuk tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, gabungkan bagian-bagian tersebut hingga membentuk garis, lalu tentukan panjangnya. Dan alasan-alasan lain yang masuk akal Tidak ada Skor (0): Jawaban lain yang kurang masuk akal. Sumber : diadaptasi dari Take The Test Sample Questions From OECD’s PISA Assesment. Selanjutnya, skor siswa yang didapat akan dimasukkan dan diolah dengan program komputer Ministep (Winstep Rasch) untuk mengestimasi kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten Shape and Space yang diberikan berdasarkan analisis model Rasch. Soal 1 dan 3 menggunakan penskoran model dikotomus (Benar/Salah), sedangkan soal 2 menggunakan penskoran model politomus (Partial Credit Model). Skor mentah tersebut dikonversi menjadi nilai logit. Semakin tinggi nilai logit siswa dan lebih dari 0.0 logit mengindikasikan kemampuan siswa yang semakin tinggi. Semakin tinggi nilai logit soal dan lebih dari 0.0 logit mengindikasikan semakin tinggi tingkat kesulitan soal. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara keseluruhan skor siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten Shape and Space berbeda-beda Pada tabel 1 menampilkan skor mentah yang diperoleh siswa. Soal 1 mampu dijawab dengan benar oleh 17 siswa, soal 2 terdapat 2 siswa yang mampu menjawab dengan skor penuh, dan 6 siswa mampu menjawab dengan skor 1, sedangkan soal 3 terdapat 5 siswa yang mampu menjawab dengan benar Tabel 1. Skor Siswa dalam Menyelesaikan Soal PISA Konten Shape and Space NAMA SOAL NAMA NO SOAL NO (KODE SISWA) 1 2 3 (KODE SISWA) 1 2 3 1 01AT 1 0 1 17 17MW 1 0 0 2 02AO 0 0 0 18 18NA 0 0 0 3 03AN 0 0 0 19 19NR 1 0 0 NAMA SOAL NAMA NO SOAL NO (KODE SISWA) 1 2 3 (KODE SISWA) 1 2 3 4 04CA 0 0 0 20 20NA 1 2 0 5 05EA 1 0 0 21 21NS 0 0 0 6 06FY 1 1 1 22 22RR 0 0 1 7 07IN 1 1 0 23 23RF 0 0 0 8 08IE 1 0 0 24 24RA 0 0 0 9 09JN 1 1 0 25 25RW 0 0 0 10 10KH 1 1 1 26 26RL 0 0 0 11 11KT 1 0 0 27 27SA 0 0 0 12 12MI 1 1 0 28 28TA 1 2 0 13 13MA 0 0 0 29 29VT 0 0 1 14 14MR 1 1 0 30 30ZN 1 0 0 15 15MR 1 0 0 31 31PA 1 0 0 16 16MS 0 0 0 Selanjutnya skor siswa dengan pemodelan Rasch diolah dengan menggunakan program komputer ministep (Winstep Rasch). Berikut ditampilkan hasil statistic dari analisis model Rasch: Gambar 1. Tampilan Summary Statistics hasil pengolahan data ministep. Tampilan summary statistics diatas memberikan info dapat dijawab dengan pernyataan pemilik akan akun media sosial yang dimilikinya serta pesanan yang banyak datang dari calon konsumen melalui akun media sosial tersebut. Hal ini membuktikan bahwa adanya interaksi yang intensif antara pemilik dengan calon konsumen. Untuk pertanyaan terakhir, dapat dijawab dengan adanya kesadaran pemilik akan pentingnya sistem digital serta peralatan yang dimiliki mengingat sebagian besar calon konsumennya lebih aktif di media sosial yang sedang booming. Pemilik tidak hanya memilih melakukan pemasaran melalui satu akun saja, tetapi juga beberapa akun media sosial yang lain. Mahaddiyah, et al,. Analisis Konsep Peningkatan Standar Mutu Technovation Terhadap Kemampuan . Menurut HBR (dalam M. Irwan Padli Nasution, 2014), teknologi informasi memainkan suatu peranan dalam banyak aspek bisnis perusahaan, dari pengembangan produk baru sampai mendukung penjualan dan pelayanan, dari menyediakan market intelligence sampai menyediakan alat untuk analisis pengam-bilan keputusan. Pernyataan tersebut mendukung analisis yang telah dilakukan sebelumnya. Dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat dengan dipicu oleh semakin canggihnya teknologi informasi, pencarian dan penerapan konsep dan strategi bisnis baru telah menjadi sesuatu yang lazim dilakukan oleh pemilik UD. Kayfa Interior Furniture Jember. Upaya ini perlu terus dilaksanakan agar perusahaan mampu memenangkan persaingan atau mempertahankan keunggulan produknya atas kompetitorkompetitornya. Pada kenyataannya teknologi informasi telah mampu untuk mengkoordinasikan sistem pemasaran, sistem pemesanan, dan komponen-komponen lain dari sistem produksi UD. Kayfa Interior Furniture Jember yang dapat membuat informasi keinginan calon konsumen dan konsumen dapat diakses dengan cepat dan akurat serta diikuti dengan keekonomisan biaya. Keberhasilan menggunakan dan mengelola teknologi informasi, atau dengan kata lain penerapan aspek technology management dari perusahaan, mempunyai arti penting bagi UD. Kayfa Interior Furniture Jember untuk beroperasi dan bersaing dengan perusahaan yang lain. Kesimpulan dan Keterbatasan Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan technology innovation pada UD. Kayfa Interior Furniture Jember telah baik. Pelaksanaan aspek ini mampu membuat produkproduk UD. Kayfa Interior Furniture Jember semakin dikenal luas, serta menunjukkan hasil yang positif bagi kemampuan bersaing perusahaan dengan perusahaanperusahaan lain yang ditunjukkan dengan semakin banyaknya produk yang dipesan dan dijual oleh perusahaan. Berdasarkan wawancara dengan konsumen UD. Kayfa Interior Furniture Jember juga didapatkan hasil yang sejalan dengan hasil wawancara dengan pemilik perusahaan. Ketiga konsumen sama-sama memiliki ketertarikan dengan desain dan tampilan dari produk UD. Kayfa Interior Furniture Jember yang menyebabkan mereka memilih untuk melakukan pembelian produk-produk perusahaan tersebut. Hal ini merupakan poin positif bagi perusahaan untuk terus meningkatkan inovasi mereka agar bisa semakin maju. Pelaksanaan entrepreneurship pada UD. Kayfa Interior Furniture Jember sudah baik. Upaya pemenuhan unsur intrinsik dan ekstrinsik kepuasaan pekerja juga dilakukan dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan cara pemilik perusahaan yang selalu melibatkan pekerjanya dalam diskusi sebelum proses produksi yang bertujuan mendapatkan ide-ide baru dan perubahan untuk produkArtikel Ilmiah Mahasiswa 2015 produk perusahaan. Insentif dan bonus juga diberikan kepada pekerja sebagai salah satu bentuk motivasi. Selain itu, kesempatan yang diberikan kepada pekerja untuk berlatih meningkatkan keterampilannya juga menunjukkan pemilik memperhatikan pekerjanya. Walaupun tidak semua bagian dari unsur intrinsik dan ekstrinsik dipenuhi, kepuasaan pekerja telah didapatkan dari cara mereka berinteraksi dengan pemilik untuk berdiskusi tentang kesulitan yang mereka hadapi. Pelaksanaan technology management pada UD. Kayfa Interior Furniture Jember sudah baik. Pemilik menyadari bawa perlunya kemampuan pemahaman akan teknologi dapat memberikan hasil yang baik bagi perusahaannya. Perusahaan dapat terus bersaing dengan kompetitornya karena didukung oleh pengolahan informasi dari calon konsumen akan produk furniture yang didapatkan melalui interaksi dengan calon konsumen di beberapa akun media sosial. Sistem pemasaran yang tidak hanya secara tradisional inilah yang membuat UD. Kayfa Interior Furniture Jember mampu bertahan. Keterbatasan Penelitian mengenai analisis konsep peningkatan standar mutu technovation terhadap kemampuan bersaing produk UD. Kayfa Interior Furniture Jember ini memiliki keterbatasan, baik dari segi analisis data, konteks pembahasan maupun penggalian informasi kepada para responden di lapangan. Penelitian ini dianalisis secara deskriptif, di mana hal tersebut dapat menyebabkan parameter pelaksanaan aspek-aspek technovation kurang memuaskan bagi sebagian orang. Keterbatasan dalam penelitian ini diharapkan dapat diperbaiki dan dilengkapi oleh peneliti selanjutnya dengan cara menggunakan metode analisis data secara kuantitatif untuk bidang bahasan sejenis sehingga dapat lebih bermanfaat bagi banyak kalangan. Keterbatasan dalam penelitian ini juga terdapat pada terbatasnya waktu yang diberikan oleh para responden dalam proses wawancara sehingga menyulitkan peneliti untuk menggali informasi lebih jauh dan mendalam. Ucapan Terima Kasih Peneliti mengucapkan terima kasih kepada informan dalam penelitian yaitu kepada pemilik sekaligus pimpinan UD. Kayfa Interior Furniture Jember, pekerja operasional UD. Kayfa Interior Furniture Jember serta konsumen produk UD. Kayfa Interior Furniture Jember, sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Daftar Pustaka Admin. 2012. Pengertian Definisi Kualitas Menurut Para Ahli. Blog kumpulan definisi dan pengertian online. Diunduh dari definisipengertian.com pada tanggal [21 Februari 2015]. Bungin, Burhan. 2013. Metodologi Penelitian Sosial & Ekonomi: Format-format Kuantitatif dan Kualitatif untuk Studi Sosiologi, Kebijakan Publik, Komunikasi, Manajemen, dan Pemasaran. Kencana Prenada Media Group. Jakarta. Mahaddiyah, et al,. Analisis Konsep Peningkatan Standar Mutu Technovation Terhadap Kemampuan . Faisal. 2013. Teknik Pengumpulan Data Dalam Penelitian Kualitatif. Buku Ajar. Jakarta. Nasution, M.N. 2010. Manajemen Jasa Terpadu. Penerbit Ghalia Indonesia. Jakarta. Fatah, Ahmad Vian Abdul. 2013. Pengaruh Inovasi Produk dan Orientasi Pasar Terhadap Kemampuan Bersaing (Survey Pada UKM Batik Deden Tasikmalaya). Jurnal Elektronik. Fakultas Ekonomi UNIKOM Bandung. Nasution,M.N. 2005. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management). Penerbit Ghalia Indonesia. Jakarta. Gual, Veronica Fernandez dan Agusti Segarra Blasco. Agustus 2013. The Impact of Cooperation on R&D, Innovation and Productivity: an Analysis of Spanish Manufacturing and Services Firms. Xarxa de Referencia en Economia Aplicada. Hartini, Sri. Maret 2012. Peran Inovasi: Pengembangan Kualitas Produk dan Kinerja Bisnis. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol. 14, No. 1, Maret 2012. Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga Surabaya. Lestari, Fitria. 2012. Pengaruh Jiwa Kewirausahaan dan Kreativitas Terhadap Keberhasilan Usaha Pada Sentra Industri Rajutan Binong Jati Bandung. Jurnal Elektronik. Bandung: Unikom. Muljani, Ninuk. September 2002. Kompensasi Sebagai Motivator Untuk Meningkatkan Kinerja Karyawan. Jurnal Manajemen & Kewirausahaan Vol.4, No.2, September 2002: 108 – 122 Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi-Universitas Kristen Petra. Diunduh dari http://puslit.petra.ac.id/journals/management/ pada tanggal [ 21 Februari 2015]. Nasution, M. Irwan Padli. 2014. Keunggulan Kompetitif dengan Teknologi Informasi. Jurnal Elektronik. www.academia.edu Artikel Ilmiah Mahasiswa 2015 Nurfitriah, Rika. 2011. Pengendalian Kualitas Produk Speedy Pada Perusahaan Jasa PT. Telkom Kandatel Jember. Skripsi. Jember: Universitas Jember. Jember. Parisi, Maria Laura, Fabio Schiantarelli dan Alessandro Sembenelli. Agustus 2002. Productivity, Innovation Creation dan Absorption, and R&D: Mmicro Evidence for Italy. Ecostat Unical. Prawirosentono, Suyadi. 2002. Manajemen Mutu Terpadu. PT Bumi Aksara. Jakarta. Prihantoro, Rudy. 2012. Konsep Pengendalian Mutu. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung. Stevenson, William J. dan Sum Chee Chuong. 2014. Manajemen Operasi Perspektif Asia. Edisi 9 Buku 2. Salemba Empat. Jakarta. Tjiptono, Fandi & Diana Anastasia. 2001. Total Quality Management. PPM. Jakarta. Usman, Husaini & Purnomo Setiady Akbar. 2009. Metodologi Penelitian Sosial Edisi Kedua. PT. Bumi Aksara. Jakarta. Yulianto, Yulius Candra dan E. Kusumadmo. 2013. Pengaruh Kewirausahaan, Kemampuan Belajar Fokus Pasar, dan Inovasi Organisasi Terhadap Keunggulan Bersaing Berkelanjutan Pada Usaha Kecil dan Menengah Kerajinan Gerabah dan Kulit di Bantul. Jurnal Elektronik. Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe roundtable terhadap hasil belajar Matematika siswa jenjang analisis dan sintesis
3
24
178
Peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis melalui model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation siswa kelas IV SD Negeri Sukamaju 3 Depok
0
5
189
pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe rotating exchange (RTE) terhadap minat belajar matematika siswa
3
43
76
Upaya peningkatan kreativitas belajar biologi siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
0
7
116
Peningkatan hasil belajar siswa melalui model kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada mata pelajaran IPS Kelas IV MI Al-Karimiyah Jakarta
0
4
158
Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe rotating trio exchangnge terhadap hasil belajar matematika siswa
0
3
203
Hubungan pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa pada pembelajaran PAI di SMK al-Kaustsar Jakarta selatan
1
7
99
Peningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS melalui model kooperatif tipe stad: penelitian tindakan kelas di SDN Grogol Selatan 02 Jakarta Selatan
0
4
162
Upaya meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas 3 melalui metode pembelajaran kooperatif tipe TGT : teams games tournament di MI Darul Muqinin Jakarta Barat
0
27
169
Peningkatan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball 0hrowing pada siswa kelas III MI Hidayatul Athfal Depok
0
8
0
Peningkatan prestasi belajar PAI melalui pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw siswa Kelas X SMAN 90 Jakarta
1
47
118
Peningkatan keaktifan belajar ips materi permasalahan sosial melalui strategi pembelajaran kooperatif tipe index card match pada siswa kelas iv mi. “fathurrachman” jakarta selatan
0
3
125
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe think pair square pada materi ruang dimensi tiga untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas X SMA Negeri 1 Baubau
0
1
12
Upaya meningkatkan motivasi, kreativitas, dan prestasi belajar IPA dengan implementasi model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
0
0
7
Upaya meningkatkan motivasi, kreativitas, dan prestasi belajar IPA dengan implementasi model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
0
0
5
Show more