Feedback

Kontribusi Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari Dalam Mendukung Kesejahteraan Masyarakat: Studi Kasus Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur

Informasi dokumen
KONTRIBUSI PENGEMBANGAN KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI DALAM MENDUKUNG KESEJAHTERAAN MASYARAKAT: Studi Kasus Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur SITI FATIMATUS ZAHRO DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 i PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Kontribusi Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari dalam Mendukung Kesejahteraan Masyarakat: Studi Kasus Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, Desember 2012 Siti Fatimatus Zahro H44080061 ii RINGKASAN Siti Fatimatus Zahro. Kontribusi Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari Dalam Mendukung Kesejahteraan Masyarakat: Studi Kasus Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Dibimbing oleh YUSMAN SYAUKAT. Pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi menuntut pemenuhan penyediaan makanan dan perluasan daerah pemukiman. Peningkatan konversi lahan membuat masyarakat untuk melakukan alternatif dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi di lahan yang sempit yaitu dengan pemanfaatan pekarangan. Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) merupakan program dari Kementerian Pertanian. Pengembangan KRPL menjadi salah satu alternatif dengan menggunakan pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan pangan, gizi keluarga, dan peningkatan pendapatan yang pada hasil akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan sehingga mampu mewujudkan kemandirian desa. Salah satu desa yang menerapkan KRPL secara swadaya di Kabupaten Pacitan adalah Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan. Sebagian besar masyarakat belum melakukan optimalisasi pekarangan dan pengembangan pertanian. Pengetahuan masyarakat terhadap manfaat pekarangan juga masih kurang khususnya mutu dan gizi pangan. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi mengenai kontribusi pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari dalam mendukung kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi persepsi masyarakat mengenai KRPL; (2) mengidentifikasi manfaat fisik dari adanya KRPL dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga; (3) mengestimasi biaya dan manfaat dari KRPL; dan (4) mengevaluasi keberlanjutan KRPL. Penelitian dilakukan di Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur melalui kegiatan pengamatan langsung dengan penentuan tempat dan sampel dilakukan dengan sengaja, sedangkan penentuan jumlah sampel secara metode slovin dengan teknik penarikan sampel dengan judgmental sampling (Prasetyo, 2006) atas dasar pertimbangan dari ketua dan pengurus KRPL yang berupa buku kelompok strata Desa Banjarsari. Pembagian strata KRPL didasarkan oleh luas pekarangan dan paket komoditas. Pada analisis data kualitatif dipilih secara purposive dari pihak pengurus, anggota, dan atau masyarakat untuk menggali keberlanjutan KRPL. Pada pengembangan KRPL terdapat pembagian strata menurut luas pekarangan yaitu (1) Strata 1, masyarakat memiliki luas pekarangan selus 0-100 m2, (2) Strata 2, masyarakat memiliki luas pekarangan seluas 1, maka usahatani tersebut dikatakan menguntungkan karena setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan lebih besar dari satu rupiah. 2) Apabila nilai R/C = 1, maka usahatani tersebut dikatakan impas karena setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan sebesar satu rupiah juga. 3) Apabila nilai R/C < 1, maka usahatani tersebut dikatakan tidak menguntungkan karena setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan lebih kecil dari satu rupiah. Kontribusi KRPL terhadap pendapatan keluarga dapat dijelaskan dengan rumus: ................................................ (4.4) Keterangan: KP= Kontribusi KRPL terhadap pendapatan keluarga (%) X= pendapatan bersih KRPL (Rp/Rumah tangga/Tahun) Y= Pendapatan total rumah tangga (Rp/Rumah tangga/Tahun) 40 4.4.4 Analisis Keberlanjutan KRPL Analisis keberlanjutan dan prospek pengembangan KRPL dilakukan secara kualitatif berdasarkan wawancara mendalam. Untuk menilai prospek pengembangan KRPL, dapat dilihat dari aspek-aspek keberlanjutan tersebut yang terdiri atas aspek lingkungan, aspek ekonomi serta aspek sosial. Aspek lingkungan melihat bagaimana dampak KRPL terhadap keberlanjutan pelestarian pekarangan. Aspek sosial-budaya melihat bagaimana keterikatan masyarakat dengan masyarakat lain yang berada di sekitarnya sejak diadakannya KRPL. Aspek ekonomi melihat bagaimna manfaat yang diberikan oleh KRPL dari penghematan pengeluaran rumah tangga dan keberadaan KBD. Analisis yang digunakan untuk menganalisis biaya dan manfaat untuk menentukan apakah proyek akan menguntungkan selama umur proyek. Gambaran pendapatan dapat dinyatakan dengan NPV dan Gross B/C. Secara matematis pendapatan dapat dituliskan sebagai berikut: 4.4.4.1 Net Present Value (NPV) Suatu usaha dapat dinyatakan layak jika jumlah seluruh manfaat yang diterimanya melebihi biaya yang dikeluarkan. Selisih antara manfaat dan biaya disebut dengan manfaat bersih atau Net Present Value (NPV). Dalam menghitung NPV perlu ditentukan tingkat suku bunga yang relevan. Rumus yang digunakan dalam perhitungan NPV adalah sebagai berikut: NPV = Σ ................................................ (4.5) 41 Kriteria investasi berdasarkan NPV yaitu : 1) NPV = 0, artinya proyek tersebut mampu memberikan tingkat pengembalian sebesar modal sosial Opportunity Cost faktor produksi normal. Dengan kata lain, proyek tersebut tidak untung tidak juga rugi. 2) NPV > 0, artinya suatu proyek dinyatakan menguntungkan dan dapat dilaksanakan. 3) NPV < 0, artinya proyek tersebut tidak menghasilkan nilai biaya yang dipergunakan, atau dengan kata lain proyek tersebut merugikan dan sebaiknya tidak dilaksanakan 4.4.4.2 Gross Benefit Cost (Gross B/C) Nilai Gross B/C merupakan nilai yang menggambarkan perbandingan antara present value benefit dengan present value cost. Persamaan perhitungannya adalah sebagai berikut: ∑ ∑ ................................................ (4.6) Kriteria investasi berdasarkan Gross B/C yaitu : 1) Apabila Gross B/C > 1, artinya proyek layak untuk dilaksanakan. 2) Apabila Gross B/C < 1, proyek tidak layak untuk dilaksanakan. Dari sudut pandang ketiga aspek tersebut yaitu aspek lingkungan, aspek ekonomi, dan aspek sosial, dapat diketahui bagaimana prospek pengembangan dan keberlanjutan KRPL khususnya untuk kasus Desa Banjarsari. 42 V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Desa Banjarsari terletak di Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Batas-batas wilayah Desa Banjarsari adalah: Sebelah utara : Desa Tambakrejo, Kecamatan Pacitan Sebelah timur : Desa Purworejo, Kecamatan Pacitan Sebelah selatan : Desa Ketepung, Kecamatan Kebonagung Sebelah barat : Desa Semanten, Kecamatan Pacitan Desa Banjarsari memiliki luas sekitar 235,621 ha yang terdiri dari luas persawahan seluas 44 ha, luas pemukiman seluas 10 ha, luas perkebunan seluas 99 ha, luas pekarangan seluas 30 ha, luas tegal seluas 36 ha, dan luas prasarana umum lainnya seluas 16,621 ha. Desa Banjarsari memiliki Sungai Grindulu yang merupakan sungai penghubung ke desa seberang yaitu Desa Semanten. Kondisi persawahan merupakan sawah tadah hujan dengan memanfaatkan air hujan yang hanya turun di musim tanam antara bulan Oktober-Maret. Jarak desa dari pemerintahan kecamatan pusat adalah 10 km, dari pusat pemerintahan kabupaten adalah 8 km, dan dari pemerintahan provinsi adalah 295 km. Apabila ingin memasuki Desa Banjarsari dapat ditempuh dengan menggunakan jalan darat . 5.2 Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana yang terdapat di Desa Banjarsari sudah cukup tersedia dengan baik. Kebutuhan penduduk untuk pendidikan dasar dan pelayanan kesehatan sederhana dapat terpenuhi di dalam desa tanpa harus mencari di luar wilayah desa. Jalan utama yang menghubungkan desa dengan wilayah luar 43 pundalam kondisi yang cukup baik dan permanen sehingga dapat dilalui berbagai jenis kendaran darat. Mengenai fasilitas pendidikan yang masih terbatas, Desa Banjarsari hanya memiliki 2 PAUD, 1 TK, dan 1 SD. Apabila pendidikan tingkat menengah, tingkat menengah atas dan pendidikan tinggi, penduduk harus mencarinya ke wilayah lain di luar desa. Desa Banjarsari memiliki pelayanan kesehatan sebanyak tiga posyandu yang masih aktif. Kegiatan pelaksanan posyandu terdapat kader posyandu aktif sebanyak sembilan orang dan tiga pembina posyandu. Masyarakat memanfaatkan warung-warung yang cukup tersedia di sepanjang jalan utama desa untuk fasilitas perbelanjaan. Pedagang keliling di Desa Banjarsari cukup sedikit. Pasar dan swalayan yang memadai terletak di pusat kecamatan yaitu di daerah Arjowinangun. Transportasi umum yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mobilitas antar kecamatan tersebut adalah angkot dan motor. Sarana yang dirasakan sangat penting oleh masyarakat adalah layanan air bersih. Sumber air utama di Desa Banjarsari sebagian besar didapatkan dari mata air dan sumur gali. Tabel 7 menunjukkan jumlah sumber air bersih dan pengguna sumber air. Tabel 7. Jumlah Penggunaan Sumber Air Bersih di Desa Banjarsari No 1 Jenis Mata air Jumlah (Unit) Pemanfaat (KK) 3 60 156 340 2 Sumur gali 3 Sumur pompa 1 1 Total 160 401 Sumber: Kantor Kelurahan Desa Banjarsari, Kabupaten Pacitan (2011) 44 Keberadaan layanan air bersih sangat diharapkan oleh penduduk terutama ketika memasuki musim kemarau. Pada saat musim kemarau dapat dikatakan sumber air yang tersedia tidak mencukupi bahkan untuk mandi sekalipun. 5.3 Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk Jumlah penduduk Desa Banjarsari pada tahun 2011 mengalami penurunan. Penduduk Desa Banjarsari pada tahun 2010 berjumlah 1326 jiwa yang terdiri dari 633 laki-laki dan 693 perempuan, sedangkan pada tahun 2011, jumlah penduduk menjadi 1316 jiwa yang terdiri dari 633 laki-laki dan 683 perempuan. Jumlah rumah tangga pada tahun 2010 dan 2011 tidak mengalami perubahan yaitu berjumlah 401 KK terdiri dari 316 KK laki-laki (78,80%) dan 85 KK perempuan (21,20%). Seluruh penduduk desa menganut agama Islam. Jumlah penduduk yang merupakan angkatan kerja adalah sebanyak 438 orang dengan persentase 33,28%, usia lebih dari 56 sebesar 376 orang dengan persentase 28,57%, usia 0-7 tahun sebesar 181 orang dengan persentase 13,75%, usia 7-18 tahun sebesar 175 orang dengan persentase 13,30%, usia 1-5 tahun sebesar 108 orang dengan persentase 8,21%, usia 0-12 bulan sebesar 38 orang dengan persentase 2,89%. Masyarakat Desa Banjarsari sebagian besar menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian sebesar 84,78%. Tabel 8. Jumlah Mata Pencaharian Menurut Sektor Tahun 2011 di Desa Banjarsari No Sektor 1 2 3 4 5 Sektor pertanian Sektor peternakan Sektor industri kecil dan kerajinan rumah tangga Sektor industri menengah dan besar Sektor jasa Total Jumlah (orang) 1003 8 43 16 113 1183 Persentase (%) 84,78 0,68 3,64 1,35 9,56 100,00 Sumber: Kantor Kelurahan Desa Banjarsari, Kabupaten Pacitan (2011) 45 Tingkat kesejahteraan penduduk dapat dilihat dengan menggunakan kriteria keluarga sejahtera yang dikeluarkan oleh BKKBN, tingkat kesejahteraan keluarga di Desa Banjarsari dikelompokkan menjadi lima tahapan. Selengkapnya mengenai jumlah keluarga menurut tingkat kesejahteraannya dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Kesejahteraan Keluarga di Desa Banjarsari No Uraian Jumlah (KK) Persentase (%) 1 Keluarga Pra Sejahtera 41 10,22 2 Keluarga Sejahtera I 61 15,21 3 Keluarga Sejahtera II 98 24,44 4 Keluarga Sejahtera III 198 49,38 5 Keluarga Sejahtera III plus 3 0,75 401 100,00 Total Sumber: Kantor Kelurahan Desa Banjarsari, Kabupaten Pacitan (2011) Berdasarkan Tabel 9 menunjukkan bahwa dengan persentase sebesar 49,38% mayoritas keluarga di Desa Banjarsari adalah mereka yang tergolong Keluarga Sejahtera III (KS III). Kemudian sebesar 24,44% keluarga di desaini adalah mereka yang tergolong Keluarga Sejahtera II (KS II). Selanjutnya sebesar 15,21% keluarga tergolong Keluarga Sejahtera I (KS I). Sisanya masing-masing dengan persentase sebesar 10,22% dan 0,75% adalah mereka yang tergolong Keluarga Pra Sejahtera (KPS) dan Keluarga Sejahtera III plus (KS III+). Berdasarkan kriteria keluarga sejahtera BKKBN tersebut, yang tergolong keluarga miskin adalah mereka yang termasuk Pra-KS dan KS I. Total keluarga miskin di Desa Banjarsari berdasarkan kriteria tersebut sebesar 25,43% sedangkan total keluarga tidak miskin sebesar 74,57%. Mayoritas rumah tangga di Desa Banjarsari tergolong tidak miskin. 46 5.4 Karakteristik Responden Responden utama dalam penelitian yang dilakukan di Desa Banjarsari ini adalah rumah tangga yang mengikuti KRPL yang berjumlah 80 orang. Responden Desa Banjarsari dibagi menjadi 3 strata yaitu: strata 1 berjumlah 30 responden, strata 2 berjumlah 25 responden, dan strata 3 berjumlah 25 responden. Karakteristik utama responden yang dapat diketahui adalah umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan dalam satu rumah dan luas pekarangan. Variasi umur responden di Desa Banjarsari cukup lebar yaitu dari usia 20 hingga 79 tahun. Keikutsertaan responden pada KRPL di Desa Banjarsari dapat dilihat di Tabel 10. Tabel 10. Rentang Umur Responden Strata 1 Strata 2 Strata 3 Rentang Umur Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase (tahun) (orang) (%) (orang) (%) (orang) (%) < 30 5 17,00 6 24,00 3 12,00 31-56 16 53,00 10 40,00 18 72,00 >56 9 30,00 9 36,00 4 16,00 Total 30 100,00 25 100,00 25 100,00 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan Tabel 10 memperlihatkan rentang umur responden berdasarkan keikutsertaan dalam KRPL. Rata-rata umur responden yang mengikuti KRPL pada strata 1 adalah 48 tahun dengan umur responden yang paling muda adalah 20 tahun sedangkan yang paling tua mengikuti KRPL adalah 79 tahun. Pada strata 2, rata-rata umur responden yang mengikuti KRPL adalah 48 tahun dengan umur responden yang paling muda adalah 26 tahun dan yang paling tua mengikuti KRPL adalah 71 tahun. Pada strata 3, rata-rata umur 47 responden yang mengikuti KRPL adalah 47 tahun dengan umur responden yang paling muda adalah 22 tahun sedangkan yang paling tua mengikuti KRPL adalah 62 tahun. Maka, responden yang mengikuti KRPL di Desa Banjarsari tidak mengenal batasan umur, yaitu dari kalangan muda hingga kalangan tua sekalipun. Pada pelaksanaan KRPL pendidikan responden bervariasi dari SD hingga Perguruan Tinggi. Sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan formal yang rendah. Tabel status pendidikan responden berdasarkan keikutsertaan dalam KRPL di Desa Banjarsari dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Tingkat Pendidikan Formal Responden Tingkat Pendidikan Strata 1 Jumlah Persentase (orang) (%) Strata 2 Jumlah Persentase (orang) (%) Strata 3 Jumlah Persentase (orang) (%) SD 13 43,00 11 44,00 7 28,00 SLTP 6 20,00 5 20,00 3 12,00 SLTA 7 23,00 5 20,00 8 32,00 PT 4 14,00 4 16,00 7 28,00 Total 30 100,00 25 100,00 25 100,00 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan Tabel 11 dapat terlihat bahwa tingkat pendidikan formal antara ketiga strata yang mengikuti KRPL adalah berbeda. Pada strata 1 dan 2, sebagian besar responden berpendidikan SD. Dominasi di strata 3 ditunjukkan oleh responden dengan yang berpendidikan SLTA. Perbedaan ini disebabkan karena strata 1 dan 2 kondisi perekonomian keluarga yang tidak mencukupi untuk melanjutkan jenjang yang lebih tinggi. Tanggungan keluarga merupakan jumlah total anggota keluarga yang menggantungkan kehidupan ekonominya kepada kepala keluarga. Jumlah tersebut juga menggambarkan besarnya potensi tenaga kerja yang dapat tersedia untuk 48 usahatani keluarga. Secara rata-rata jumlah tanggungan keluarga untuk ketiga strata di Desa Banjarsari adalah 4 orang per keluarga. Artinya, seorang responden dalam suatu rumah tangga harus menanggung beban hidup bagi sekitar 4 orang anggota keluarga lainnya. Tabel 12 menunjukkan rata-rata jumlah tanggungan keluarga untuk tiap strata. Tabel 12. Rata-Rata Tanggungan Keluarga No 1 2 3 Kelompok Strata Rata-rata Jumlah Tanggungan Keluarga (orang) Strata 1 Strata 2 Strata 3 Total 4 4 4 4 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Kondisi di lapang menyatakan bahwa potensi kerja untuk mengikuti KRPL hanya sebesar dua orang. Hal ini dikarenakan KRPL merupakan kegiatan yang sasarannya adalah ibu rumah tangga. Kepala rumah tangga (bapak) dan anggota keluarga lainnya sifatnya hanya membantu kegiatan KRPL. Tolak ukur dalam pengembangan KRPL adalah luas pekarangan. Luas pekarangan pada setiap strata bervariasi. Penguasaan luas pekarangan di Desa Banjarsari dapat dilihat pada Tabel 13-15. Tabel 13. Luas Pekarangan Strata 1 No 1 2 3 Luas Pekarangan (m2) 260 Total Jumlah (orang) 11 2 12 25 Persentase (%) 44,00 8,00 48,00 100,00 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan Tabel 15 menunjukkan luas pekarangan pada strata 3 yaitu luas pekarangan minimum yang dimiliki responden pada strata 3 seluas 204 m2 sedangkan maksimum yang dimiliki oleh responden seluas 550 m2. Rata-rata luas pekarangan yang dimiliki rumah tangga pada strata 3 yaitu seluas 305 m2. 5.5. Profil Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) “KEMPLING” Kawasan Rumah Pangan Lestari (Rumah Hijau Plus-Plus) di Desa Banjarsari merupakan desa percontohan yang pertama yang dilaksanakan secara swadaya. Pengembangan KRPL di Desa Banjarsari bernama KRPL “KEMPLING” dengan singkatan Kawasan Rumah Pangan Lestari Kesehatan, Ekonomi, Pendidikan, dan Lingkungan. 50 Pengembangan KRPL merupakan gerakan dengan partisipasi aktif masyarakat yang dimotori oleh ibu-ibu Tim Penggerak PKK untuk mengefektifkan sumberdaya alam yang belum optimal. Awal pengembangan KRPL melihat dari potensi lahan pekarangan masyarakat yang sangat mendukung untuk dimanfaatkan dan ditanami serta adanya anjuran penganekaragaman sayuran di pekarangan oleh Pemerintah Pacitan yang menjadi salah satu faktor utama berdirinya KRPL di Desa Banjarsari. Perbedaan dengan Desa Kayen yang merupakan desa percontohan Kementerian Pacitan dengan Desa Banjarsari yaitu partisipasi masyarakat Desa Banjarsari lebih tinggi dibandingkan partisipasi Desa Kayen. Hal ini dibuktikan dari perolehan juara dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus bahwa KRPL Dusun Padangan mampu memperoleh: Juara ke-1 KRPL tingkat Kecamatan, Juara ke-1 KRPL tingkat Kabupaten, Juara ke-1 KRPL tingkat Dinas antar PPL, dan Juara ke-2 tingkat Kabupaten (posdaya). Pelaksanaan awal KRPL di Desa Banjarsari dimulai dari satu dusun yaitu Dusun Padangan sekitar pada bulan April 2011. Kegiatan di Dusun Padangan diawali dengan satu RT sebesar 21 KK. Sosialisasi dilaksanakan melalui perkumpulan tidak formal untuk mengenalkan penganekaragaman sayuran di pekarangan dengan mengajak perangkat desa dan tokoh masyarakat yang berpengaruh. Hasilnya masyarakat banyak yang merespon dan akhirnya secara swadaya dengan menggunakan iuran melalui kelompok tani atau RT yang dilaksanakan di satu tempat kemudian iuran tersebut digunakan untuk membeli benih sayuran. Benih sayuran ini kemudian disemaikan di KBD sebelum dibagikan kepada masyarakat Desa Banjarsari. Seiring dengan berjalannya waktu, kegiatan tersebut juga mengadopsi dari Desa Kayen sehingga KRPL di Desa 51 Banjarsari muncul. Pelaksanaan KRPL KEMPLING resmi didirikan pada tanggal 3 Desember 2011. Visi KRPL KEMPLING adalah KRPL mencukupi kebutuhan pangan keluarga. Misi KRPL KEMPLING adalah meningkatkan pemanfaatan lahan pekarangan, meningkatkan gerakan polibagisasi, meningkatkan budidaya ikan air tawar, dan meningkatkan budi daya tanaman TOGA. Tujuan KRPL KEMPLING adalah: 1) Meningkatkan ketersediaan cadangan pangan keluarga. 2) Meningkatkan penganekaragaman pangan. 3) Meningkatkan kualitas keluarga. 4) Meningkatkan pendapatan keluarga. 5) Menumbuh kembangkan ekonomi kreativitas disetiap keluarga. Sasaran KRPL KEMPLING adalah: 1) Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga yang tergabung dalam PKK Desa dan Dasa Wisma sebagai pelaku dan pengelola pekarangan. 2) Menumbuh kembangkan KBD dan sarana penunjang lainnya. 3) Meningkatkatkan Peran Koperasi Wanita yang ada di Desa Banjarsari. Pelaksanaan Pengembangan KRPL KEMPLING terdiri dari: 1) Sosialisasi mengenai KRPL Sosialisasi dilaksanakan oleh tim PPL Desa Banjarsari, perangkat desa, dan tokoh masyarakat kepada warga untuk menyampaikan maksud dan tujuan pengembangan KRPL. 2) Penyiapan lahan dan media tanam 52 Partisipasi masyarakat saat penyiapan lahan di pekarangan, media tanam, kelengkapan vertikultur sangat menentukan keberhasilan KRPL. 3) Perawatan Tanaman Perawatan tanaman secara rutin oleh masyarakat dengan pemberian pupuk kandang, pemasangan ajir, pemeriksaan dan pengendalian hama, serta pemeliharaan ayam/ternak, ikan. Ciri khas dalam pengembangan KRPL yaitu setiap desa harus memiliki KBD. Pengembangan KBD merupakan sarana yang paling penting untuk diadakan. Sarana KBD dilakukan secara terpusat di salah satu rumah warga yang tempatnya strategis yaitu sekitar 5-10 m dari jalan utama Desa Banjarsari. Produksi di KBD Banjarsari dengan melakukan persemaian sayuran di nampan kemudian dipindah ke daun pisang atau yang lebih dikenal di Desa Banjarsari adalah “voker”. Pengurus KRPL setelah itu membagikan voker ke masyarakat maupun di jual ke masyarakat desa lain. Penyemaian benih sayur di Desa Banjarsari menggunakan bahan yang mudah diperoleh dan ramah lingkungan yaitu dengan menggunakan daun pisang. Kelebihan menggunakan daun pisang yaitu saat memindah bibit ke polibag, bibit tanaman yang ada di media semai tidak perlu dibongkar, tetapi bisa langsung dibenam ke dalam tanah. Keuntungan menggunakan media daun pisang yaitu bahan yang mudah di dapat di sekitar lokasi KBD, pengerjaannya mudah, dan benih yang ditanam lebih cepat tumbuh. Daun dari tanaman pisang dapat digunakan untuk menggantikan plastik yang selama ini digunakan untuk wadah media tanam untuk penyemaian benih. Cara pembuatan voker di Desa Banjarsari sangat sederhana, yaitu: 53 1) Menggulung daun pisang hingga membentuk gulungan sebesar ibu jari kaki dan menjepitnya dengan stapler. Kelebihan daun digunting agar gulungan menjadi rapi. 2) Gulungan daun pisang diletakkan di nampan atau pot dengan posisi tegak, diisi tanah, dan disiram agar lembab. Awal pembangunan KBD di Desa Banjarsari terbuat dari kayu dan bambu yang beratapkan jerami kemudian Desa Banjarsari mendapatkan bantuan dari Kecamatan Pacitan oleh masyarakat digunakan untuk renovasi KBD dan membeli kebutuhan KBD yaitu benih/bibit. Pengelolaan pada awal pengembangan KBD KEMPLING dengan mengambil benih/bibit di voker secara gratis dan pembagian voker untuk tanaman cabai, tomat, dan terong masing-masing sebanyak 5 voker dan untuk bayam, kangkung, sawi sebanyak ½ ons dengan harga Rp 5.000 di pasar. Tanaman bayam, kangkung, dan sawi diasumsikan ½ ons sama dengan 10 voker tiap tanaman karena di lapang untuk ketiga tanaman tersebut masyarakat tidak semuanya ditanam dan keterbatasan ingatan responden. Seiring berjalannya waktu, masyarakat membeli bibit per voker dengan harga Rp 500 sebagai pengganti biaya kemudian hasil dari penjualan KBD masuk ke kas dan uang tersebut diputar untuk membeli perlengkapan KBD serta berakhir untuk memenuhi kebutuhan benih/bibit masyarakat Desa Banjarsari di pekarangan. Mayoritas masyarakat mengambil voker secara gratis di KBD. Sebagian masyarakat kadang juga membeli voker secara tunai di KBD sebagai pengganti biaya yang dikeluarkan oleh KBD. Pelaksanaan KRPL KEMPLING mempunyai kepengurusan yang didasarkan oleh inisiatif masyarakat. Berdasarkan Keputusan Kepala Desa 54 Banjarsari Kecamatan Pacitan Nomor: 10 Tahun 2011 tentang Penetapan Pengurus KRPL Desa Banjarsari sebagai berikut: 1) Penanggung Jawab 2) Ketua 3) Sekretaris 4) Bendahara 5) Seksi-seksi yang terdiri dari: a) Pembibitan b) Pemupukan c) Pemasaran d) Kebersihan e) Pengolahan/Pelatihan f) Pemberantasan Hama Pelaksanaan KRPL Desa Banjarsari mendapatkan bimbingan dari PPL. Para penyuluh lapang bertindak sebagai jembatan terhadap masyarakat KRPL. Para penyuluh mendekatkan sumber informasi kepada rumah tangga dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh rumah tangga. Penyampaian penyuluhan secara langsung dapat dilakukan melalui tatap muka dengan penyuluh. Penyuluhan secara tidak langsung dengan cara penyampaiannya melalui dari satu orang ke orang lain. Pertemuan rutin PPL di Desa Banjarsari dilaksanakan sebulan sekali yang disampaikan melalui Gapoktan dimana anggota Gapoktan merupakan anggota KRPL. Peran Ibu PKK dalam pelaksanaan KRPL sangat menunjang dalam pengembangan desa. Jadwal khusus untuk KRPL yang diberikan kepada ibu PKK tidak menentu sesuai dengan kepentingan kondisi di lapang. 55 VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Persepsi Rumah Tangga terhadap KRPL KEMPLING Penilaian masyarakat terhadap kondisi potensi desa khususnya pekarangan setelah pelaksanaan KRPL merupakan hal yang penting. Hal yang menjadi sangat penting untuk keberlangsungan KRPL dengan salah satunya dilihat dari dampak yang ditimbulkan terhadap beberapa kriteria. Persepsi yang diberikan masyarakat terhadap pelaksanaan KRPL merupakan suatu pandangan yang dapat menjadi evaluasi baik untuk wilayah setempat ataupun di wilayah lainnya. Persepsi masyarakat tersebut merupakan suatu gambaran dari kondisi yang dirasakan oleh rumah tangga sebagai dampak dari KRPL. Beberapa kriteria penilaian yang digunakan untuk mengidentifikasi respon masyarakat dari KRPL adalah kondisi pekarangan, manfaat yang dirasakan oleh masyarakat dari pengembangan KRPL, dan kendala dalam pelaksanaan KRPL. Penentuan kriteria penilaian ini berdasarkan kondisi lingkungan sekitar yang dirasakan oleh masyarakat setempat. Indikator-indakator tersebut diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan Ketua PPL Desa Banjarsari, Ketua dan Pengurus KRPL KEMPLING di Desa Banjarsari. 6.1.1 Penilaian Rumah Tangga terhadap Kondisi Pekarangan Pelaksanaan KRPL yang dilaksanakan di Desa Banjarsari memberikan perubahan aktivitas di pekarangan. Responden merasakan perubahan aktivitas dari yang sebelum dan sesudah adanya KRPL khususnya dalam hal pemanfaatan pekarangan. Kondisi pemanfaatan pekarangan sebelum adanya KRPL dapat dilihat pada Tabel 16. 56 Tabel 16. Pemanfaatan Pekarangan Sebelum adanya KRPL KEMPLING Strata 1 Strata 2 Strata 3 Pemanfaatan Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase Pekarangan (orang) (%) (orang) (%) (orang) (%) Ya 18 60,00 20 80,00 19 76,00 Tidak 12 40,00 5 20,00 6 24,00 Total 30 100,00 25 100,00 25 100,00 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan Tabel 16 menunjukkan bahwa sebesar 60,00%, 80,00%, 76,00% responden baik pada strata 1, strata 2, dan strata 3 sudah memanfaatkan pekarangan sebelum adanya KRPL dan sebesar 40,00%, 20,00%, 24,00% responden sebelum adanya KRPL pekarangan belum dimanfaatkan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan bercocok tanam, beternak di pekarangan sudah menjadi hal biasa di daerah pedesaan. Tabel 17. Tanaman di Pekarangan Sebelum adanya KRPL KEMPLING Tanaman Mangga, Nangka, Pepaya, Srikaya, Pisang, Jeruk, Rambutan, Belimbing Buah-buahan Tanaman Hias Bunga TOGA Kunyit, Kencur, Laos, Jahe Tamaman Pangan Ganyong, Ketela,Ubi, Kacang Panjang Sumber : Data primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 17 diketahui bahwa pada strata 1, strata 2, dan strata 3 masyarakat menanam beraneka ragam tanaman yaitu buah-buahan, tanaman hias, TOGA, dan tanaman pangan yang ditanam di pekarangan sebelum adanya KRPL. Tanaman yang ditanam setelah dilaksanakannya KRPL yaitu dengan adanya tambahan tanaman sayuran. Optimalisasi pekarangan dilaksanakan untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dengan melakukan intensifikasi 57 pekarangan secara intensif. Penilaian masyarakat Desa Banjarsari menunjukkan bahwa terdapat perubahan baik aktivitas maupun produksi yang dihasilkan. Meskipun terdapat perubahan setelah melaksanakan KRPL, masyarakat tidak merasa terganggu terhadap aktivitas pertanian lain di wilayah tersebut. 6.1.2 Penilaian Rumah Tangga terhadap Manfaat KRPL KEMPLING Pengembangan KRPL yang dilaksanakan di Desa Banjarsari dapat memberikan manfaat untuk perbaikan potensi desa dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Responden pada umumnya menyadari adanya manfaat KRPL yang terjadi di Desa Banjarsari, Kabupaten Pacitan. Kesadaran rumah tangga terhadap manfaat KRPL ditunjukkan oleh Tabel 18. Tabel 18. Kesadaran Rumah Tangga terhadap Manfaat KRPL Manfaat Strata 1 Strata 2 Strata 3 Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase (orang) (%) (orang) (%) (orang) (%) Ya 30 100,00 25 100,00 25 100,00 Tidak 0 0 0 0 0 0 Total 30 100,00 25 100,00 25 100,00 Sumber: Data Primer, diolah(2012) Berdasarkan Tabel 18 menunjukkan bahwa 100,00% responden merasakan manfaat dari adanya KRPL. Pemanfaatan pekarangan selain sebagai penyedia bahan makanan yang beraneka ragam, tetapi dapat berfungsi sebagai tambahan penghasilan keluarga atau tabungan keluarga. Pelaksanaan KRPL memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Banjarsari. Dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat desa akibat pengembangan KRPL KEMPLING dapat dijelaskan pada Tabel 19. 58 Tabel 19. Manfaat yang dirasakan oleh Rumah Tangga dengan adanya KRPL KEMPLING Manfaat Strata 1 Jumlah Persentase (orang) (%) Strata 2 Jumlah Persentase (orang) (%) Strata 3 Jumlah Persentase (orang) (%) 1. Menghemat pengeluaran 26 86,70 21 84,00 22 88,00 2. Menambah penghasilan 4 13,30 4 16,00 3 12,00 30 100,00 25 100,00 25 100,00 Total Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan Tabel 19 menunjukkan bahwa perbedaan manfaat yang dirasakan tidak terlalu signifikan. Manfaat yang paling besar dirasakan pada strata 1, strata 2, dan strata 3 adalah KRPL KEMPLING mampu menghemat pengeluaran keluarga. Manfaat yang dirasakan oleh masyarakat bersifat tangible dan intangible. Manfaat tangible adalah manfaat yang terukur dan dapat dinilai secara moneter. Adapun manfaat intangible merupakan manfaat yang tidak terukur. Manfaat tangible dan manfaat intangble dari pelaksanaan KRPL dapat ditunjukkan pada Tabel 20. Inisiatif ketua KRPL untuk memperbaiki kondisi potensi desa melalui KRPL yang dimulai dari satu RT, satu dusun, dan kemudian berkembang menjadi satu desa merupakan salah satu upaya untuk membantu rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Tabel 20. Manfaat Tangible dan Intangible KRPL KEMPLING Manfaat Tangible - Meningkatkan produksi Manfaat Intangible - - Mampu menyediakan lumbung hidup, warung hidup, apotek hidup, dan kulkas hidup Membuat rumah ASRI dan memberikan stimulun bagi desa di sekitarnya Sumber: Data Primer, diolah (2012) 59 Berdasarkan Tabel 20 menyatakan bahwa dalam pengembangan KRPL mampu meningkatkan produksi bagi masyarakat di Desa Banjarsari. Peningkatan produksi dapat dibagi menjadi dua yaitu peningkatan produksi dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga dan peningkatan produksi dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Manfaat dari KRPL yaitu lumbung hidup dimana masyarakat sewaktu-waktu butuh pangan pokok seperti umbi-umbian sudah tersedia di pekarangan. Pemenuhan warung hidup yaitu tersedianya sayuran di pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Pekarangan mampu membuat apotek hidup yaitu tersedianya tanaman obat-obatan secara tradisional. Pengembangan pekarangan terdapat kulkas hidup yaitu tersedianya kebutuhan pangan di pekarangan baik tanaman pangan, sayur-sayuran, obat-obatan, dan buah-buahan dalam keadaan segar. 6.1.3 Penilaian Rumah Tangga terhadap Kendala KRPL KEMPLING Penilaian masyarakat terhadap kendala yang dirasakan selama pelaksanaan KRPL menjadi hal yang penting. Persepsi rumah tangga terhadap kendala KRPL menunjukkan bahwa responden dari strata 1, strata 2, dan strata 3 menyatakan telah merasakan kendala dari adanya KRPL. Kendala yang dirasakan oleh masyarakat dapat dilihat pada Tabel 21. Tabel 21. Kendala dalam Pelaksanaan KRPL KEMPLING Kendala Strata 1 Strata 2 Strata 3 Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase Hama 5 16,70 9 36,00 6 24,00 Iklim Total 25 83,30 16 64,00 19 76,00 30 100,00 25 100,00 25 100,00 Sumber: Data Primer, diolah(2012) 60 Berdasarkan Tabel 21 menunjukkan bahwa strata 1 sebesar 83,30%, 64,00% pada strata 2, dan 76,00% pada strata 3 menyatakan iklim menjadi kendala pelaksanaan KRPL. Sisanya masing-masing setiap strata 1, starata 2, dan strata 3 adalah sebesar 16,70%, 36,00%, dan 24,00% menyatakan kendala dalam pelaksanaan KRPL adalah hama. Penyerangan hama akan berpengaruh pada hasil panen yang ditanam di pekarangan. Ketika musim kemarau, mata air dan sumur gali ini mengalirkan debit air yang menurun sehingga pengairannya cukup terganggu. Hal ini sesuai dengan wawancara dengan Ketua PPL Desa Banjarsari bahwa kendala yang dirasakan selama membimbing dan memberikan penyuluhan adalah iklim, cuaca, dan teknis. 6.2 Manfaat Fisik dari adanya KRPL KEMPLING dalam Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Pangan Rumah Tangga Manfaat fisik merupakan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Desa Banjarsari dalam pelaksanaan KRPL. Manfaat fisik dari adanya KRPL dapat ditunjukkan dari salah satu tujuan utama pengembangan KRPL KEMPLING yaitu memenuhi ketersediaan pokok keluarga dengan dilihat dari hasil produksi yang dihasilkan. Manfaat fisik KRPL dapat ditunjukkan dengan hasil produksi selama umur tanaman. Umur tanaman adalah umur hingga tanaman tersebut mati sehingga harus diganti dengan tanaman yang baru. Pada umur 12 bulan tanaman tersebut harus diganti dengan tanaman yang baru. Umur ayam buras, Ikan Nila, dan Ikan Lele tidak digunakan sebagai patokan karena umur mati ketiga komoditas tersebut tergantung dari beberapa faktor baik alam dan lingkungan misalnya: dimangsa hewan lain khususnya Ikan Lele, keracunan, dan disembelih ketika akan dijual. Umur dari komoditas yang 61 dikembangkan pada KRPL baik umur tanaman dan umur panen dapat dilihat dari Tabel 22. Tabel 22. Umur Tanaman KRPL KEMPLING No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Cabe rawit Tomat Terong Kangkung Bayam Sawi Umur Tanaman 12 bulan 12 bulan 12 bulan 12 bulan 12 bulan 12 bulan Periode Panen 3 bulan 3 bulan 4 bulan 2 bulan 2 bulan 2 bulan Sumber : Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 22 menunjukkan bahwa umur tanaman di Desa Banjarsari selama 12 bulan. Pengurus Ketua Seksi Pembibitan KRPL KEMPLING juga menyatakan bahwa umur tanaman yang di Desa Banjarsari adalah 12 bulan. Periode panen untuk ayam buras, Ikan Nila, dan Ikan Lele berbeda yaitu 1 bulan, 4 bulan, dan 3 bulan. Hasil dari KRPL KEMPLING diklasifikasikan menurut kegunaannya yaitu: (1) hasil yang dijual; (2) dikonsumsi; (3) berfungsi sosial. Distribusi hasil yang berorientasi dijual yaitu penggunaan hasil dari KRPL mampu menambah pendapatan dengan menjualnya di pasar atau warung. Distribusi hasil yang berorientasi konsumsi yaitu penggunaan hasil dari KRPL digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Distribusi hasil yang berorientasi sosial yaitu penggunaan hasil dari KRPL diberikan kepada tetangga atau saudara (orang lain). 6.2.1 Manfaat Fisik dari adanya KRPL KEMPLING dalam Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Pangan Rumah Tangga Strata 1 Setiap tanaman sayuran menghasilkan produksi yang berbeda dalam jangka waktu dua minggu. Rata-rata produksi sayuran yang dipanen responden selama dua minggu di Desa Banjarsari dapat dilihat pada Tabel 23. 62 Tabel 23. Rata-Rata Produksi Sayuran Selama Dua Minggu No 1 2 3 4 5 6 Tanaman Cabe rawit Tomat Terong Kangkung Sawi Bayam Total Produksi 4,50 2,32 33,00 10,00 11,00 10,00 Satuan kg kg buah ikat ikat ikat Jumlah tanaman 15 8 11 10 11 10 Rata-rata Produksi 0,30 0,29 3,00 1,00 1,00 1,00 Sumber: Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 23 diatas menunjukkan bahwa rata-rata produksi tanaman yang dipanen responden paling banyak adalah cabe rawit dan kemudian tomat sebesar 0,30 kg karena memberikan penerimaan sebesar Rp 972.000 dalam setahun. Hal ini dapat dipahami bahwa responden dalam memenuhi kebutuhan pangan membutuhkan cabe rawit untuk masak-memasak. Distribusi hasil pekarangan yang dijual, dikonsumsi, dan sosial pada strata 1 dapat dilihat pada Tabel 24. Tabel 24. Penggunaan Sayuran Selama Dua Minggu No Tanaman Dijual (%) 1 Cabe rawit 2 Tomat 3 Terong 4 Kangkung 5 Sawi 6 Bayam Rata-rata penggunaan 8,90 9,80 10,00 13,33 8,33 10,00 10,06 Konsumsi (%) 72,80 68,40 50,00 66,67 55,00 63,33 62,70 Sosial (%) 18,30 21,80 40,00 20,00 36,67 26,67 27,24 Total (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan pada Tabel 24 menyatakan bahwa pada pengembangan KRPL, rata-rata penggunaan hasiltanaman sayuran di strata 1 berorientasi untuk untuk memenuhi kebutuhan keluarga sebesar 62,70%, sosial sebesar 27,24% dan dijual sebesar 10,06%. Hasil pekarangan yang berorientasi pada pasar adalah tanaman kangkung yaitu sebesar 13,30% dan sisanya adalah terong, bayam, tomat, cabe rawit, serta sawi. Hal ini dapat dipahami bahwa kangkung merupakan 63 tanaman yang cepat panen sehingga responden memiliki peluang besar untuk menjualnya. Hasil pekarangan dari KRPL di Desa Banjarsari yang berorientasi pada konsumsi adalah cabe rawit dan tomat. Hal ini dapat dipahami bahwa cabe rawit dan tomat merupakan salah satu bahan utama dalam memasak. Hasil dari KRPL yang berfungsi untuk sosial adalah terong karena terong merupakan tanaman tahan lama baik pada musim kemarau maupun penghujan sehingga responden sewaktu-waktu dapat memberikannya kepada tetangga atau saudara. 6.2.2 Manfaat Fisik dari adanya KRPL KEMPLING dalam Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Pangan Rumah Tangga Strata 2 Komoditas yang dikembangkan dalam strata 2 adalah tanaman sayuran dan ayam buras. Rata-rata produksi yang dipanen responden selama dua minggu di Desa Banjarsari dapat dilihat pada Tabel 25. Tabel 25. Rata-Rata Produksi Sayuran Selama Dua Minggu No 1 2 3 4 5 6 Tanaman Total Produksi Cabe rawit Tomat Terong Kangkung Sawi Bayam 3,48 2,90 27,00 8,00 8,00 8,00 Satuan Kg Kg Buah Ikat Ikat Ikat Jumlah tanaman 12 10 9 8 8 8 Rata-rata Produksi 0,29 0,29 3,00 1,00 1,00 1,00 Sumber: Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 25 menunjukkan bahwa rata-rata produksi tanaman yang dipanen responden paling banyak adalah cabe rawit sebesar 0,29 kg karena memberikan penerimaan sebesar Rp 751.680 dalam setahun. Hal ini dapat dipahami bahwa responden dalam memenuhi kebutuhan pangan membutuhkan cabe rawit sebagai salah satu bahan utama dalam memasak. Penerimaan yang diperoleh responden paling sedikit yaitu tanaman kangkung dan bayam sebesar Rp 80.000. 64 Ayam buras atau ayam kampung adalah ayam lokal yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang berasal dari ayam hitam merah Gallus gallus yang telah jinak sebagai contoh ayam sayur, ayam kedu, dan ayam pelung. Ayam buras dapat menghasilkan daging dan telur namun produk utama dari ayam buras adalah telur. Tabel 26. Rata-Rata Produksi Telur Ayam Buras Selama Satu Bulan No Keterangan Jumlah 1 Produksi telur selama 1bulan (butir) 30 2 Produksi telur selama 1 tahun (butir) 360 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan Tabel 26 menyatakan bahwa rata-rata produksi telur yang dihasilkan sebanyak 30 butir telur per bulan dengan rata-rata jumlah ayam dewasa sebanyak 10 ekor. Harga jual ayam kampung pedaging dan telur ayam kampung relatif lebih stabil dibandingkan dengan harga daging dan telur ayam ras. Hal ini disebabkan karena belum banyak yang membudidayakannya secara intensif. Hasil pekarangan pada strata 2 perlu adanya klasifikasi menurut kegunaannya dari hasil KRPL menjadi hasil yang dijual, dikonsumsi, dan berfungsi sosial. Distribusi hasil sayuran yang dijual, dikonsumsi, dan berfungsi sosial pada strata 2 dapat dilihat pada Tabel 27. Tabel 27. Penggunaan Sayuran Selama Dua Minggu No Tanaman Dijual (%) Konsumsi (%) 13,10 10,34 21,30 16,00 20,00 13,46 70,34 77,24 32,00 58,00 56,00 56,00 58,26 1 Cabe rawit 2 Tomat 3 Terong 4 Kangkung 5 Sawi 6 Bayam Rata-rata penggunaan Sosial (%) 16,56 12,42 46,70 26,00 44,00 24,00 28,28 Total (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 65 Berdasarkan pada Tabel 27 menyatakan bahwa pada pengembangan KRPL, rata-rata penggunaan hasil pekarangan tanaman sayuran di strata 2 berorientasi konsumsi keluarga sebesar 58,26%, sosial sebesar 28,28%, dan pasar sebesar 13,46%. Penggunaan sayuran pada strata 2 memiliki nilai sosial yang lebih tinggi dibandingkan strata 1 dan strata 3. Hal ini menunjukkan bahwa sifat kekerabatan pada strata 2 lebih besar. Hasil pekarangan dari KRPL di Desa Banjarsari yang berorientasi pada konsumsi adalah tomat sebesar 77,24% dan yang kedua adalah cabe rawit sebesar 70,34%. Hal ini dapat dipahami bahwa tomat dan cabe rawit merupakan salah satu bahan utama dalam memasak. Tanaman yang berorientasi pada pasar dan sosial adalah tanaman terong yaitu sebesar 21,30% dan 46,70%. Hal ini dapat dipahami bahwa terong merupakan salah satu tanaman yang tahan lama dan adanya rasa bosan dalam memasak sayur terong sehingga responden lebih banyak mempertimbangkan untuk sosial. Distribusi hasil ayam buras yang dijual, dikonsumsi, dan berfungsi sosial pada strata 2 di Desa Banjarsari dapat dilihat pada Tabel 28. Kegiatan memelihara ayam buras merupakan usaha sampingan untuk menambah pendapatan atau hanya untuk menyalurkan hobi. Pemeliharaan ayam buras yang bersifat sampingan, maka penanganannya masih tradisional. Tabel 28. Penggunaan Telur Ayam Buras Selama Satu Bulan No 1 2 3 Keterangan Pasar Konsumsi Sosial Total Hasil Produksi (butir) 20 43 12 75 Persentase (%) 27,00 57,00 16,00 100,00 Sumber: Data Primer, diolah(2012) 66 Berdasarkan pada Tabel 28 menyatakan bahwa pada pengembangan KRPL, distribusi hasil telur ayam buras berorientasi pada konsumsi sebesar 57,00%, kemudian berorientasi pada pasar sebesar 27,00%, dan terakhir berorientasi sosial sebesar 16,00%. 6.2.3 Manfaat Fisik dari adanya KRPL KEMPLING dalam Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Pangan Rumah Tangga Strata 3 Produksi dari pekarangan KRPL di Desa Banjarsari pada strata 3 adalah tanaman sayuran, ayam buras, dan ikan. Responden di Desa Banjarsari ada yang memelihara hanya Ikan Lele dan Ikan Nila. Setiap tanaman menghasilkan produksi yang berbeda dalam jangka waktu dua minggu. Rata-rata produksi yang dipanen responden selama dua minggu dapat dilihat pada Tabel 29. Tabel 29. Rata-Rata Produksi Sayuran Selama Dua Minggu No 1 2 3 4 5 6 Tanaman Cabe rawit Tomat Terong Kangkung Sawi Bayam Total Produksi 5,27 4,06 52,00 10,00 13,00 11,00 Satuan Kg Kg Buah Ikat Ikat Ikat Jumlah tanaman 17 14 13 10 13 11 Rata-rata Produksi 0,31 0,29 4,00 1,00 1,00 1,00 Sumber: Data Primer, diolah(2012) Berdasarkan Tabel 29 menunjukkan bahwa rata-rata produksi tanaman yang dipanen responden paling banyak adalah cabe rawit sebesar 0,31 kg dengan memiliki penerimaan terbesar yaitu Rp 1.138.320. Hal ini dapat dipahami bahwa responden dalam memenuhi kebutuhan pangan membutuhkan cabe rawit. Penerimaan yang terkecil yang diterima dalam pelaksanaan KRPL terdapat pada tanaman kangkung sebesar Rp 100.000. 67 Tabel 30. Rata-Rata Produksi Telur Ayam Buras Selama Satu Bulan No 1 2 Keterangan Produksi telur selama satu bulan (butir) Produksi telur selama satu tahun (butir) Jumlah 33 396 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan Tabel 30 menyatakan bahwa rata-rata produksi telur yang dihasilkan sebanyak 33 butir telur per bulan dengan rata-rata jumlah ayam dewasa sebanyak 11 ekor. Beternak ayam kampung cocok diusahakan dalam skala rumah tangga. Hal ini disebabkan oleh jumlah minimum populasi yang dibutuhkan untuk mencapai skala ekonomi tidak besar dan modal yang dibutuhkan untuk memulai beternak ayam kampung relatif dapat dijangkau oleh masyarakat. Pada pengembangan KRPL di Desa Banjarsari memelihara Ikan Lele dan Ikan Nila memiliki kelebihan dan kekuranganya. Kelebihan Ikan Lele yaitu mudah perawatannya dan mampu bertahan pada kondisi yang buruk. Ikan Nila memiliki beberapa kelebihan yaitu pertumbuhan yang cepat, rakus terhadap makanan sisa (limbah), dan tahan terhadap penyakit. Rata-rata produksi ikan sekali panen dalam KRPL KEMPLING dapat dilihat pada Tabel 31. Tabel 31. Rata-Rata Produksi Ikan Sekali Panen No Keterangan Sekali Panen 1 Ikan Lele (kg) 60 2 Ikan Nila (kg) 79 Sumber : Data Primer, diolah(2012) Berdasarkan Tabel 31 menyatakan bahwa rata-rata produksi Ikan Lele untuk satu kolam adalah 60 kg. Produksi Ikan Nila sebesar 79 kg untuk satu kolam. Ikan Nila di Desa Banjarsari merupakan ikan yang mudah mati dibandingkan Ikan Lele karena air merupakan persoalan yang kerap dihadapi masyarakat apabila memasuki musim kemarau. Kendala lain yang mnyebabkan Ikan Nila mudah mati yaitu pembibitan dan pakan karena masih mendatangkan 68 dari luar kota. Hal yang harus dipahami dalam memelihara Ikan Nila yaitu perawatannya yang intensif. Ikan Nila akan lebih cepat tumbuhnya jika dipelihara di kolam yang dangkal airnya karena di kolam dangkal pertumbuhan tanaman dan ganggang lebih cepat dibandingkan di kolam yang dalam. Klasifikasi menurut kegunaannya dari hasil KRPL KEMPLING yaitu menjadi hasil yang dijual, dikonsumsi, dan berfungsi sosial. Distribusi hasil pekarangan yang dijual, dikonsumsi, dan berfungsi sosial pada strata 3 dapat dilihat pada Tabel 32. Tabel 32. Penggunaan Sayuran Selama Dua Minggu No Tanaman 1 Cabe rawit 2 Tomat 3 Terong 4 Kangkung 5 Sawi 6 Bayam Rata-rata penggunaan Dijual (%) 12,90 6,90 3,30 Konsumsi (%) 70,32 83,44 51,00 72,00 80,00 72,00 71,46 Sosial (%) 16,78 9,66 49,00 28,00 20,00 28,00 25,24 Total (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: Data Primer, diolah(2012) Berdasarkan pada Tabel 32 menyatakan bahwa pada pengembangan KRPL, rata-rata penggunaan tanaman sayuran pada strata 3 berorientasi pada konsumsi keluarga sebesar 71,46%. Hasil pekarangan yang berorientasi pada pasar adalah cabe rawit. Hasil pekarangan dari KRPL di Desa Banjarsari yang berorientasi pada konsumsi adalah tomat. Hal ini dapat dipahami bahwa tomat merupakan salah satu bahan utama dalam memasak. Hasil dari KRPL yang berfungsi untuk sosial adalah terong karena terong merupakan tanaman tahan lama baik pada musim kemarau maupun penghujan sehingga responden sewaktu-waktu dapat memberikannya kepada tetangga atau saudara. Distribusi hasil ayam buras yang dijual, dikonsumsi, dan berfungsi sosial pada strata 3 dapat dilihat pada Tabel 33. 69 Tabel 33. Penggunaan Telur Ayam Buras Selama Satu Bulan No 1 2 3 Keterangan Pasar Konsumsi Sosial Total Hasil Produksi (butir) 9 49 17 75 Persentase (%) 12,00 65,00 23,00 100,00 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan Tabel 33 menyatakan bahwa pada pengembangan KRPL, distribusi produk ayam buras berorientasi pada konsumsi sebesar 65,00%, kemudian berorientasi pada pasar sebesar 12,00%, dan terakhir berorientasi ada sosial sebesar 23,00%. Distribusi hasil yang dijual, dikonsumsi, dan berfungsi sosial pada strata 3 dapat dilihat pada Tabel 34. Tabel 34. Penggunaan Hasil Ikan Sekali Panen No Ikan 1 Ikan Lele 2 Ikan Nila Rata-rata penggunaan Dijual (%) 54,00 56,00 55,00 Konsumsi (%) 26,00 23,00 24,50 Sosial (%) 20,00 21,00 20,50 Total (%) 100,00 100,00 100,00 Sumber: Data Primer, diolah(2012) Berdasarkan pada Tabel 34 menyatakan bahwa pada pengembangan KRPL, rata-rata penggunaan ikan berorientasi untuk dijual sebesar 55,00%. Distribusi Ikan Lele dan Ikan Nila berorientasi pada pasar sebesar 54,00% dan 56,00%. Total penggunaan ikan pada strata 3 berorientasi pada pasar, konsumsi, dan terakhir pada sosial. Pada strata 3, perikanan yang memberikan pendapatan lebih banyak bagi respondennya. 6.3 Biaya dan Manfaat KRPL KEMPLING Estimasi biaya dan manfaat dari suatu kegiatan bertujuan untuk layak atau tidaknya kegiatan tersebut dalam pengembangannya. Biaya dan manfaat dari pelaksanaan KRPL KEMPLING dilihat dari analisis pendapatan yang dikembangkan setiap strata. Pendapatan KRPL KEMPLING diperoleh dari pengurangan antara penerimaan dan pengeluaran. Penerimaan yaitu rata-rata nilai 70 produksi yang diperoleh dikalikan dengan harga jual di pasar. Responden menjual hasil usahanya yaitu dengan tiga cara: (1) menjual ke pasar atau warung-warung; (2) menjual kepada pembeli yang datang; (3) menjual dengan cara barter kepada penjual sayuran keliling (rengkek). Responden mayoritas menjual hasil KRPL melalui cara barter kepada sayuran keliling. Harga sayuran yang berlaku di pasar berbeda-beda tergantung dari komoditasnya. Harga cabe rawit sebesar Rp 12.000/kg, harga tomat sebesar Rp 4.500/kg, harga kangkung sebesar Rp 500/ikat, harga bayam sebesar Rp 500/ikat, harga sawi sebesar Rp 1.000/ikat, dan harga terong sebesar Rp 1.000/buah. Harga telur ayam buras sebesar Rp 1.000/butir. Harga ayam buras sebesar Rp 25.000. Harga Ikan Lele sebesar Rp 10.000/kg dan Ikan Nila sebesar Rp 13.000/kg. Pembeli membeli hasil ikan langsung datang ke rumah penjual (responden). Pembeli berasal dari penjual ikan di Pasar Arjowinangun, teman dari penjual, atau tetangga dari desa sebelah. Biaya dalam pengembangan KRPL di Desa Banjarsari merupakan suatu hal yang harus diperhatikan dalam menjalankan kegiatan. Biaya adalah sejumlah uang yang dikeluarkan selama proses produksi. Biaya KRPL KEMPLING dibedakan menjadi dua komponen yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai merupakan biaya yang dikeluarkan oleh responden secara tunai untuk melakukan kegiatan KRPL KEMPLING. Biaya yang diperhitungkan merupakan biaya yang tidak termasuk ke dalam biaya tunai tetapi diperhitungkan dalam pengembangan KRPL. Biaya yang diperhitungkan pada KRPL KEMPLING merupakan biaya yang dalam pengembangannya dilakukan secara 71 swadaya baik melalui iuran RT atau iuran Gapoktan pada awal didirikan KRPL, biaya mengambil benih/bibit secara gratis di KBD, maupun biaya yang dikeluarkan oleh responden namun responden tidak memperhitungkannya. Pada penelitian ini, biaya yang diperhitungkan merupakan ketika masyarakat mengambil benih/bibit secara gratis dari KBD dan pembuatan jagrak/rak secara swadaya. Pendapatan dari hasil KRPL di Desa Banjarsari dapat disebut dengan keuntungan atau laba dari suatu kegiatan produksi. Pendapatan dibagi dua komponen dalam KRPL KEMPLING yaitu pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Pendapatan atas biaya tunai menunjukkan bahwa pendapatan yang diperoleh rumah tangga dengan membayar seluruh biaya tunai. Pendapatan atas biaya total menunjukkan bahwa pendapatan yang diperoleh rumah tangga dengan membayar seluruh biaya total baik biaya tunai maupun biaya diperhitungkan. Kontribusi pengembangan KRPL di Desa Banjarsari terhadap pendapatan keluarga dilihat dari pendapatan rumah tangga berasal dari dua sumber, yaitu dari pendapatan usaha KRPL dan dari pendapatan luar KRPL. Pendapatan luar KRPL berasal dari pendapatan anggota keluarga seperti suami dan anak. Jenis pekerjaan dari luar KRPL yang menjadi sumber pendapatan diperoleh dari petani, buruh, pensiunan, PNS, wiraswasta, swasta, dan kombinasi dari pekerjaan tersebut. 6.3.1 Biaya dan Manfaat KRPL KEMPLING Strata 1 Biaya tunai pada strata 1 meliputi jagrak/rak, bibit/benih, dan polibag. Apabila responden kurang benih/bibit, jagrak/rak, dan polibag maka mereka boleh menambah dengan mengusahakannya sendiri. Biaya yang diperhitungkan pada 72 strata 1 adalah jagrak/rak, benih/bibit, ajir/lanjaran, polibag, pupuk kandang, tenaga kerja dalam keluarga, dan biaya penyusutan. Awal pengembangan KRPL, biaya rak maupun bibit dilakukan dari iuran RT atau Gapoktan yang dilakukan secara terpusat yaitu di KBD Desa Banjarsari. Umur rak buatan rumah tangga sendiri lebih lama daripada umur rak yang dilakukan secara gotong royong yaitu dua tahun. Hal ini disebabkan oleh kayu digunakan dalam rak buatan sendiri lebih baik. Rata-rata rak yang dimiliki oleh responden sebanyak satu hingga dua rak dengan ukuran 1 m x 1,5 m x 1 m yang disusun secara bertingkat. Rumah tangga di Desa Banjarsari membuat ajir/lanjaran yang bahannya diambil dari hutan atau kebun atau meminta ke tetangga. Ajir/lanjaran ini dibuat dari bambu dengan setengah gelondong (batang) bambu mampu menghasilkan sekitar 20-30 buah. Pupuk yang digunakan pada pengembangan KRPL adalah pupuk kandang dan sisa-sisa sampah rumah tangga. Ketersediaan pupuk kandang dengan cara responden meminta dari kelompok tani atau meminta dari tetangga yang memiliki ternak yaitu responden strata 2 dan strata 3. Alat-alat yang umum digunakan dalam pelaksanaan KRPL di Desa Banjarsari yaitu cangkul, ganco, parang, arit, ember, dan gayung dimiliki sendiri oleh responden. Biaya penyusutan merupakan biaya yang dikeluarkan akibat terjadinya pengurangan nilai barang sebagai akibat penggunaannya dalam proses produksi. Nilai penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus dengan asumsi tiap sarana produksi tidak dapat digunakan kembali (rusak). Pada strata 1 jumlah biaya penyusutan adalah Rp 265.183/tahun. Biaya terbesar pada pengembangan KRPL strata 1 adalah pengeluaran biaya yang diperhitungkan. Tenaga kerja yang terlibat dalam KRPL KEMPLING 73 adalah tenaga kerja dalam keluarga. Aktivitas tenaga kerja dalam keluarga dalam bercocok tanaman sayuran dimulai dari persiapan lahan (pengolahan tanah, pemupukan awal, penanaman), pemeliharaan (penyiangan, pemupukan, penyiraman, pemasangan ajir), dan pemanenan. Biaya kerja tenaga dalam keluarga pada strata 1 mencapai Rp 613.000. Tenaga kerja dalam keluarga yang terlibat dalam aktivitas KRPL seharusnya diperhitungkan dalam mengambil keputusan secara sosial namun dalam kenyataannya responden tidak memperhitungkannya. Jumlah tenaga kerja setiap rumah rata-rata 1-2 orang yang terdiri dari pekerja pria dan wanita. Waktu kerja dalam satu hari adalah 7 jam di tempat penelitian. Pengembangan KRPL KEMPLING merupakan optimalisasi pemanfaatan pekarangan maka hanya beberapa menit atau beberapa jam dalam melakukan pelaksanaannya. Perhitungan untuk tenaga kerja disesuaikan dengan keadaan di lokasi penelitian. Hal ini bertujuan untuk mengetahui realisasi curahan waktu untuk melakukan kegiatan KRPL. Rata-rata curahan waktu dan curahan kerja dalam satu tahun dapat dilihat dalam Lampiran 5. Berdasarkan analisis pendapatan atas biaya tunai pada strata 1 diperoleh sebesar Rp 1.949.410. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga dalam KRPL bisa membayar seluruh biaya tunai. Pendapatan total dari strata 1 per rumah tangga di Desa Banjarsari dalam satu tahun adalah Rp 889.100. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga dalam KRPL bisa membayar seluruh biaya total. Pendapatan atas biaya total menjadi keuntungan bersih yang didapat dari responden. 74 Nilai R/C rasio pada strata 1 dapat digolongkan layak, karena nilainya lebih dari satu. Rata-rata pendapatan dari KRPL KEMPLING per rumah tangga dalam satu tahun di Desa Banjarsari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur dapat dilihat pada Tabel 35. Tabel 35. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga Strata 1 dalam Satu Tahun No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Penerimaan Tunai Penerimaan Non Tunai Total Penerimaan Total Biaya - Biaya Tunai - Biaya yang Diperhitungkan Pendapatan atas Biaya Tunai Pendapatan atas Biaya Total R/C rasio Biaya Tunai R/C rasio Biaya Total Nilai (Rp) 199.226 1.908.694 2.107.920 1.218.320 158.010 1.060.310 1.949.410 889.100 13,30 1,73 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan pada Tabel 35 menunjukkan bahwa kegiatan KRPL di Desa Banjarsari menguntungkan karena nilai R/C lebih dari satu. Perhitungan R/C atas biaya tunai dilakukan melalui pembagian penerimaan total dengan penjumlahan biaya tunai. Nilai R/C rasio pendapatan atas biaya total pada strata 1 adalah sebesar 1,73 yang berarti untuk setiap satu rupiah biaya total yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan total sebesar Rp 1,73. Nilai R/C rasio pendapatan atas biaya tunai ada strata 1 adalah sebesar 13,30 yang berarti untuk setiap satu rupiah biaya tunai yang dikeluarkan dalam pelaksanaan KRPL akan memberikan penerimaan sebesar Rp 13,30. Nilai R/C biaya tunai memiliki nilai yang cukup besar. Hal ini karena penerimaan yang diperoleh besar dan biaya yang diperoleh relatif kecil sehingga perbandingannya relatif besar. Hal ini disebabkan oleh komponen biaya tunai strata 1 lebih sedikit dibandingkan dengan biaya yang diperhitungkan seperti 75 pupuk kandang, tenaga kerja dalam keluarga, dan lain-lain. Komponen biaya dan rata-rata pendapatan strata 1 dapat dilihat pada Lampiran 1. Rumah tangga strata 1 hanya fokus pada tanaman sayuran tidak ada biaya ternak dan ikan. 6.3.2 Biaya dan Manfaat KRPL KEMPLING Strata 2 Total penerimaan pada strata 2 sebesar Rp 5.046.080 yang terdiri dari penerimaan dari sayuran sebesar Rp 1.738.580, produksi telur ayam sebesar Rp 360.000, pembelian ternak sebesar Rp. 52.500 dan nilai produksi ayam buras sebesar Rp 3.000.000. Pembelian ternak merupakan salah satu komponen penerimaan namun sebagai komponen yang bersifat mengurangi penerimaan karena menurut Soekartawi et al. (1986), pembelian ternak dianggap sebagai produk usaha ternak yang belum selesai. Pembelian ternak merupakan biaya yang dikeluarkan ketika responden memutuskan untuk beternak ayam buras. Rata-rata responden membeli ternak ayam buras sebanyak dua ekor ayam. Produksi ayam buras tersebut diasumsikan apabila responden menjual semua ayam maka penjualan ayam menjadi salah satu penerimaan responden yang tidak tunai. Biaya tunai pada strata 2 meliputi jagrak/rak, benih/bibit, dan polibag. Apabila responden kurang benih/bibit, jagrak/rak, dan polibag maka mereka boleh menambah dengan mengusahakannya sendiri. Rata-rata rak yang dimiliki oleh responden sebanyak satu hingga dua rak dengan ukuran 1 m x 1,5 m x 1 m yang disusun secara bertingkat. Biaya tunai meliputi pengeluaran untuk ternak dengan perlengkapan (tempat makan dan minum) yang biasanya responden menggunakan baskom, ember, atau tempat makanan bekas. Pakan ayam buras di Desa Banjarsari berupa bekatul dan menir dengan rata-rata perbandingan pemberian pakan 1 : 0,4 dalam 76 kg/hari. Kadang-kadang responden juga memberikan pakan berupa dedak dan menir dengan perbandingan 1 : 0,4 dalam kg/hari. Biaya tunai juga berupa kesehatan dengan memberikan kapsul dengan harga sebesar Rp 5.000/kapsul dan perbaikan kandang. Biaya yang diperhitungkan pada strata 2 untuk sayuran adalah jagrak/rak, benih/bibit, ajir/lanjaran, polibag, pupuk kandang, tenaga kerja dalam keluarga, dan biaya penyusutan. Pupuk kandang diperoleh dari kotoran ternak yang dikelola oleh rumah tangga strata 2. Alat-alat yang umum digunakan dalam pelaksanaan KRPL di Desa Banjarsari yaitu cangkul, ganco, parang, arit, ember, dan gayung dimiliki sendiri oleh responden. Biaya yang diperhitungkan untuk ternak adalah biaya penyusutan kandang, dan tenaga kerja dalam keluarga. Biaya penyusutan merupakan biaya yang dikeluarkan akibat terjadinya penggurangan nilai barang sebagai akibat penggunaannya dalam proses produksi. Nilai penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus dengan asumsi tiap sarana produksi tidak dapat digunakan kembali (rusak). Total biaya penyusutan untuk peralatan sayuran sebesar Rp 263.627. Rata-rata biaya penyusutan kandang di Desa Banjarsari senilai Rp 161.667 dengan umur teknis kandang adalah 4 tahun, maka penyusutan kandang tiap tahunnya adalah Rp 40.417/tahun. Biaya terbesar pada pengembangan KRPL strata 2 adalah pengeluaran biaya yang diperhitungkan. Tenaga kerja yang terlibat dalam KRPL KEMPLING adalah tenaga kerja dalam keluarga. Aktivitas tenaga kerja dalam keluarga dalam bercocok tanaman sayuran dimulai dari persiapan lahan (pengolahan tanah, pemupukan awal, penanaman), pemeliharaan (penyiangan, pemupukan, penyiraman, pemasangan ajir), dan pemanenan. Pada aktivitas beternak, tenaga 77 kerja melakukan kegiatan memberi makan, membersihkan kandang, dan memasukkan atau mengeluarkan ternak. Tenaga kerja dalam keluarga membersihkan kandang dalam frekuensi seminggu tiga kali. Aktivitas memasukkan atau mengeluarkan ayam di Desa Banjarsari dilakukan dengan cara ayam dikandangkan pada malam hari dan diumbar pada siang hari. Biaya kerja tenaga dalam keluarga pada strata 2 mencapai Rp 954.600. Pengembangan KRPL KEMPLING dilaksanakan hanya beberapa menit atau beberapa jam, maka perhitungan untuk tenaga kerja disesuaikan dengan keadaan di lokasi penelitian. Hal ini bertujuan untuk mengetahui realisasi curahan waktu untuk melakukan kegiatan KRPL. Rata-rata curahan waktu dan curahan kerja dalam satu tahun dapat dilihat dalam Lampiran 5. Berdasarkan analisis pendapatan atas biaya tunai pada strata 2 diperoleh sebesar Rp 3.734.165. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga dalam KRPL bisa membayar seluruh biaya tunai. Pendapatan atas biaya total pada strata 2 diperoleh sebesar Rp 2.387.944. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga dalam KRPL bisa membayar seluruh biaya total. Nilai R/C rasio pada strata 2 dapat digolongkan layak, karena nilainya lebih dari satu. Rata-rata pendapatan dari KRPL KEMPLING per rumah tangga dalam satu tahun di Desa Banjarsari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur dapat dilihat pada Tabel 35. Penerimaan itik, kambing, dan ayam tidak dimasukkan dalam penerimaan karena diasumsikan ketiga ternak ini merupakan ternak yang penerimaannya tidak rutin karena penerimaannya yang diterima pada saat hari- hari besar keagamaan dan apabila rumah tangga membutuhkan uang yang 78 mendesak. Selain dari penerimaan tidak rutin, umur itik, kambing, dan sapi yang dimiliki oleh responden juga sudah terlalu lama. Tabel 36. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga Strata 2 dalam Satu Tahun No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Penerimaan Tunai - Produksi sayuran - Produksi telur ayam - Pembelian ternak Penerimaan Non Tunai - Produksi sayuran - Produksi telur ayam - Produksi ayam - Produksi itik* - Produksi kambing* - Produksi sapi* Total Penerimaan Total Biaya - Biaya Tunai - Biaya yang Diperhitungkan Pendapatan atas Biaya Tunai Pendapatan atas Biaya Total R/C rasio Biaya Tunai R/C rasio Biaya Total Nilai (Rp) 243.756 96.000 (52.500) 1.494.824 264.000 3.000.000 5.046.080 2.658.136 1.311.915 1.346.221 3.734.165 2.387.944 3,93 1,94 Sumber : Data Primer (diolah), 2012 *) : Tidak masuk dalam penerimaan () : penerimaannya bersifat mengurangi Berdasarkan pada Tabel 36 menunjukkan bahwa kegiatan KRPL di Desa Banjarsari menguntungkan karena nilai R/C lebih dari satu. Perhitungan R/C atas biaya tunai dilakukan melalui pembagian penerimaan total dengan penjumlahan biaya tunai. Pada strata 2, nilai R/C rasio pendapatan atas biaya total adalah sebesar 1,94 yang berarti untuk setiap satu rupiah biaya total yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan total sebesar Rp 1,94. Nilai R/C rasio pendapatan atas biaya tunai adalah sebesar 3,93 yang berarti untuk setiap satu rupiah biaya tunai yang dikeluarkan dalam pelaksanaan KRPL strata 2 akan memberikan penerimaan sebesar Rp 3,93. 79 6.3.3 Biaya dan Manfaat KRPL KEMPLING Strata 3 Total penerimaan pada strata 3 sebesar Rp 16.293.680 yang terdiri dari penerimaan dari sayuran sebesar Rp 2.769.180, produksi telur ayam buras sebesar Rp 396.000, pembelian ternak ayam buras sebesar Rp. 52.500 dan nilai produksi ayam buras sebesar Rp 3.300.000. Total penerimaan ikan pada strata 3 sebesar Rp 4.800.000 untuk Ikan Lele dan sebesar Rp 3.081.000 untuk Ikan Nila. Rata-rata hasil Ikan Lele berisi 8 ekor /kg dan Ikan Nila per berisi 7 ekor /kg. Desa Banjarsari khusus strata 3 mendapatkan Bantuan dari pemerintah berupa pembuatan kolam, benih Nila BEST (Bogor Enhanced Strain Tilapia), terpal, batu bata, ember, dinamo dan serokan. Bantuan pemerintah ini berasal dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Masyarakat (IPTEKMAS) yang merupakan anggaran dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan. Bantuan pemerintah ini bersifat hibah yang akhirnya dapat menjadi insentif bagi masyarakat Desa Banjarsari agar dapat meningkatkan penganekaragaman sumberdaya pangan serta menunjang kebutuhan keluarga. Biaya tunai pada strata 3 meliputi jagrak/rak, benih/bibit, dan polibag. Apabila responden kurang benih/bibit, jagrak/rak, dan polibag maka mereka boleh menambah dengan mengusahakannya sendiri. Rata-rata rak yang dimiliki oleh responden sebanyak satu hingga dua rak dengan ukuran 1 m x 1,5 m x 1 m yang disusun secara bertingkat. Biaya tunai untuk ternak meliputi perlengkapan (tempat makan dan minum) yang biasanya responden menggunakan baskom, ember, atau tempat makanan bekas, pakan berupa bekatul dan menir dengan rata-rata perbandingan 80 pemberian pakan 1,1 : 0,3 kg/hari, kesehatan dengan memberikan kapsul dengan harga sebesar Rp 5.000/kapsul, dan perbaikan kandang. Pada perikanan, biaya tunai yang dikeluarkan meliputi pakan, kesehatan, serta benih ikan. Biaya pada perikanan yang paling besar dikeluarkan oleh responden adalah biaya pakan ikan. Hal ini disebabkan akses untuk membeli pakan jauh dari desa. Pemberian pakan untuk Ikan Lele dan Ikan Nila rata-rata 3,3 kg dalam sehari. Ikan Nila merupakan ikan yang membutuhkan pakan lebih banyak dan membutuhkan air yang deras atau mengalir. Responden kadang-kadang memberikan daun tela ke kolam ikan. Daun tela dapat menjadi vitamin buat Ikan Lele dan Ikan Nila. Kolam Ikan Lele rata-rata berukuran 4 m x 2 m x 0,5 m dan kolam untuk Ikan Nila rata-rata berukuran 3 m x 2 m x 0,3 m. Responden di Desa Banjarsari lebih banyak memiliki kolam Ikan Lele dibandingkan Ikan Nila yaitu dua kolam. Biaya yang diperhitungkan pada strata 3 untuk sayuran adalah jagrak/rak, benih/bibit, ajir/lanjaran, polibag, pupuk kandang, tenaga kerja dalam keluarga, dan biaya penyusutan. Alat-alat yang umum digunakan dalam pelaksanaan KRPL di Desa Banjarsari yaitu cangkul, ganco, parang, arit, ember, dan gayung dimiliki sendiri oleh responden. Biaya yang diperhitungkan untuk ternak adalah biaya penyusutan kandang dan tenaga kerja dalam keluarga. Biaya yang diperhitungkan untuk perikanan meliputi penyusutan kolam, peralatan, dan tenaga kerja dalam keluarga. Biaya penyusutan merupakan biaya yang dikeluarkan akibat terjadinya pengurangan nilai barang sebagai akibat penggunaannya dalam proses produksi. Nilai penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus dengan asumsi tiap sarana produksi tidak dapat digunakan kembali (rusak). Total biaya 81 penyusutan untuk peralatan sayuran sebesar Rp 301.767/tahun. Rata-rata biaya penyusutan kandang di Desa Banjarsari senilai Rp 30.956/tahun dengan umur teknis kandang adalah 4 tahun. Rata-rata biaya penyusutan kolam Ikan Lele dan Ikan Nila di Desa Banjarsari senilai Rp 759.524 dan Rp 516.667 dengan umur teknis kolam adalah 10 tahun, maka jumlah penyusutan kolam Ikan Lele dan Ikan Nila tiap tahunnya adalah Rp 127.619/tahun. Serokan, pompa, dan pipa paralon mengalami penyusutan dalam pengembangan KRPL. Aktivitas tenaga kerja dalam keluarga dalam bercocok tanaman sayuran dimulai dari persiapan lahan (pengolahan tanah, pemupukan awal, penanaman), pemeliharaan (penyiangan, pemupukan, penyiraman, pemasangan ajir), dan pemanenan. Pada aktivitas beternak, tenaga kerja melakukan kegiatan memberi makan, membersihkan kandang, dan memasukkan atau mengeluarkan ternak. Tenaga kerja dalam keluarga membersihkan kandang dalam frekuensi seminggu 3 kali. Aktivitas memasukkan atau mengeluarkan ayam di Desa Banjarsari dilakukan dengan cara ayam dikandangkan pada malam hari dan diumbar pada siang hari. Pada perikanan, tenaga kerja juga melakukan kegiatan memberi makan ke ikan pada siang hari dan sore hari serta membersihkan kolam. Waktu kerja di Desa Banjarsari dalam satu hari adalah 7 jam di tempat penelitian. Pengembangan KRPL KEMPLING dilaksanakan hanya beberapa menit atau beberapa jam, maka perhitungan untuk tenaga kerja disesuaikan dengan keadaan di lokasi penelitian. Hal ini bertujuan agar mengetahui realisasi curahan waktu untuk melakukan kegiatan KRPL. Biaya tenaga kerja dalam keluarga pada strata 3 mencapai Rp 2.094.900. Rata-rata curahan waktu dan curahan kerja dalam satu tahun dapat dilihat dalam Lampiran 5. 82 Berdasarkan analisis pendapatan atas biaya tunai pada strata 3 diperoleh sebesar Rp 10.856.560. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga dalam KRPL bisa membayar seluruh biaya tunai. Pendapatan atas biaya total KRPL di Desa Banjarsari pada strata 3 adalah Rp 7.927.236. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga dalam KRPL bisa membayar seluruh biaya total. Nilai R/C rasio pada strata 3 dapat digolongkan layak, karena nilainya lebih dari satu. Rata-rata Pendapatan dari KRPL KEMPLING per rumah tangga dalam satu tahun di Desa Banjarsari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur dapat dilihat pada Tabel 37. Tabel 37. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga Strata 3 dalam Satu Tahun No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Penerimaan Tunai - Produksi sayuran - Produksi telur ayam - Pembelian ternak - Produksi Ikan Lele - Produksi Ikan Nila Penerimaan Non Tunai - Produksi sayuran - Produksi telur ayam - Produksi ayam - Produksi Ikan Lele - Produksi Ikan Nila - Bantuan - Produksi itik* - Produksi kambing* - Produksi sapi* Total Penerimaan Total Biaya - Biaya Tunai - Biaya yang Diperhitungkan Pendapatan atas Biaya Tunai Pendapatan atas Biaya Total R/C rasio Biaya Tunai R/C rasio Biaya Total Nilai (Rp) 169.560 47.520 (52.500) 2.592.000 1.690.000 2.599.620 348.480 3.300.000 2.208.000 1.391.000 2.000.000 16.293.680 8.366.444 5.437.120 2.929.324 10.856.560 7.927.236 3,00 1,95 Sumber : Data Primer (diolah), 2012 *) : Tidak masuk dalam penerimaan () : penerimaannya bersifat mengurangi 83 Berdasarkan Tabel 37 menunjukkan bahwa kegiatan KRPL di Desa Banjarsari menguntungkan karena nilai R/C lebih dari satu. Perhitungan R/C atas biaya tunai dilakukan melalui pembagian penerimaan total dengan penjumlahan biaya tunai. Nilai R/C rasio pendapatan atas biaya total pada strata 3 adalah sebesar 1,95 yang berarti untuk setiap satu rupiah biaya total yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan total sebesar Rp 1,95. Nilai R/C rasio pendapatan atas biaya tunai adalah sebesar 3,00 yang berarti untuk setiap satu rupiah biaya tunai yang dikeluarkan dalam pelaksanaan KRPL akan memberikan penerimaan sebesar Rp 3,00. Penerimaan itik, kambing, dan ayam tidak dimasukkan dalam penerimaan karena diasumsikan ketiga ternak ini merupakan ternak yang penerimaannya tidak rutin karena penerimaannya yang diterima pada saat hari- hari besar keagamaan dan apabila rumah tangga membutuhkan uang yang mendesak. Selain dari penerimaan tidak rutin, umur itik, kambing, dan sapi yang dimiliki oleh responden juga sudah terlalu lama. 6.3.4 Pendapatan KRPL KEMPLING per Luasan Lahan Status penguasaan lahan yang berbeda akan menentukan tingkat keragaman usaha tani, yang dalam hal ini meliputi tingkat produktivitas lahan dan distribusi pendapatan yang berlainan pula. Pendapatan per luasan lahan pada setiap strata KRPL KEMPLING berbeda karena penguasaan lahan yang berbeda dan paket komoditas setiap strata yang berbeda. Penguasaan lahan setiap strata per rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 13-15. Pengunaan lahan dalam pengembangan KRPL KEMPLING yang semakin luas, namun penggunaan untuk potensi tenaga kerja rata-rata hanya sebesar dua orang. Hal ini dikarenakan KRPL merupakan kegiatan yang sasarannya adalah ibu rumah tangga. Kepala rumah 84 tangga (bapak) dan anggota keluarga lainnya sifatnya hanya membantu kegiatan KRPL. Rata-rata pendapatan KRPL KEMPLING per m2 per rumah tangga disajikan pada Tabel 38. Tabel 38. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Luasan Lahan No Klasifikasi 1 Strata 1 2 Strata 2 3 Strata 3 Rata-rata Pendapatan (Rp/m2/rumah tangga) 30.659 15.920 25.991 Sumber : Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 38 menunjukkan bahwa pendapatan per luas lahan yang paling besar pada strata 1 yaitu sebesar Rp 30.659 dan pendapatan per luas lahan yang paling kecil pada strata 2 sebesar Rp 15.920. Rata-rata pendapatan per m2 per rumah tangga strata 2 memiliki nilai yang paling kecil dibandingkan strata 1 dan strata 3. Hal ini dikarenakan (1) penggunaan input sayuran diperoleh paling kecil; (2) rendahnya kesadaran rumah tangga dalam mengusahakan sendiri benih/bibit sayuran akibatnya mereka bergantung dari pemberian KBD. Rumah tangga strata 1 memiliki lahan yang tergolong sempit, namun mereka mengusahakan secara optimal untuk mendapatkan sebesar-besarnya dengan mengusahakan sendiri benih/bibit dan yang diperoleh dari KBD. Penanaman sayuran di lahan sempit ini dengan meletakkan pada depan dan samping rumah serta di jagrak/rak. Sayuran yang diletakkan di jagrak/rak dipandang agar lebih rapi. Rumah tangga strata 1 memiliki distribusi pendapatan dari luar KRPL paling kecil sehingga mereka sadar akan pentingnya menanam tanaman pangan khususnya sayuran di pekarangan. Rumah tangga strata 2 memiliki lahan yang merupakan kategori sedang. Penanaman sayuran dilakukan di depan rumah dengan jagrak/rak dan kandang yang berada di samping rumah. Keliling halaman rumah juga terdapat tanaman 85 yang sudah turun temurun seperti pohon mangga, pohon pisang, dan lain-lain. Rumah tangga strata 3 merupakan rumah tangga yang memiliki lahan luas. Penanaman sayuran dilakukan di depan dan samping rumah serta di jagrak/rak. Beternak ayam dilaksanakan di samping rumah. Penggunaan lahan kolam ikan cukup luas untuk tingkat rumah tangga dan dilaksanakan di belakang rumah. Keliling halaman rumah juga terdapat tanaman yang sudah turun temurun. 6.3.5 Kontribusi KRPL KEMPLING terhadap Pendapatan Keluarga Pendapatan luar usaha KRPL berasal dari pendapatan anggota keluarga seperti suami atau istri dan anak. Jenis pekerjaan dari luar usaha KRPL yang menjadi sumber pendapatan diperoleh dari beraneka ragam pekerjaan. Distribusi pekerjaan luar usaha KRPL dari keluarga strata 1, strata 2, dan strata 3 dapat dilihat pada Tabel 39-42. Tabel 39. Distrbusi Pekerjaan Luar Usaha KRPL dari Keluarga Strata 1 No Jenis Pekerjaan 1 Petani 2 PNS 3 Buruh 4 Wiraswasta 5 Pensiun+buruh 6 Petani+buruh 7 Wiraswasta+buruh Rata-rata pendapatan (Rp/Bulan) Rata-rata pendapatan (Rp/Tahun) Jumlah Respondn (orang) Rata-rata Pendapatan (Rp/Bulan) 1 5 2 9 2 2 9 30 400.000 2.070.000 575.000 1.416.667 1.500.000 1.101.667 1.550.000 1.230.476 14.765.714 Sumber : Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 39 menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan yang paling besar pada sektor PNS yaitu rata-rata Rp 2.070.000 dan pendapatan yang paling kecil pada sektor petani yaitu rata-rata Rp 400.000. Sebagian rumah tangga strata 1 bekerja di sektor wiraswasta, kombinasi wiraswasta dan buruh dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp 1.416.667 dan Rp 1.550.000. 86 Sebagian rumah tangga strata 2 bekerja di sektor wiraswasta dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp 1.821.429. Distribusi pekerjaan luar usaha KRPL strata 2 dapat dilihat pada Tabel 40. Tabel 40. Distrbusi Pekerjaan Luar Usaha KRPL dari Keluarga Strata 2 No Jenis Pekerjaan 1 Swasta 2 Wiraswata 3 PNS 4 Petani+buruh 5 Wirawswata+buruh 6 Petani+wirawasata 7 Petani+PNS Rata-rata pendapatan (Rp/Bulan) Rata-rata pendapatan (Rp/Tahun) Jumlah Responden (orang) 4 7 3 4 2 3 2 25 Rata-rata Pendapatan (Rp/Bulan) 2.150.000 1.821.429 3.275.000 939.208 1.825.000 1.917.444 1.497.833 1.917.988 23.015.854 Sumber : Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 40 menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan yang paling besar berada pada sektor PNS sebesar Rp 3.275.000. Rata-rata pendapatan yang paling kecil berada pada sektor kombinasi petani dan buruh sebesar Rp 939.208. Tabel 41. Distrbusi Pekerjaan Luar Usaha KRPL dari Keluarga Strata 3 No Jenis Pekerjaan 1 PNS 2 Wiraswasta 3 Wiraswasta+Buruh 4 Petani+Buruh 5 Petani+Wiraswasta 6 PNS+Wiraswasta 7 Pensiunan+Wiraswasta 8 PNS+Swasta Rata-rata pendapatan (Rp/Bulan) Rata-rata pendapatan (Rp/Tahun) Jumlah Responden (orang) 6 3 5 1 6 2 1 1 25 Rata-rata Pendapatan (Rp/Bulan) 3.666.667 3.437.500 2.314.000 1.600.000 2.316.667 3.025.000 2.000.000 2.300.000 2.582.479 30.989.750 Sumber : Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 41 menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan yang paling besar pada sektor PNS yaitu rata-rata Rp 3.666.667. Pendapatan yang 87 paling kecil pada sektor kombinasi petani dan buruh yaitu rata-rata Rp 1.600.000. Sebagian rumah tangga strata 3 bekerja di sektor PNS dan kombinasi petani+wiraswasta dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp 3.666.667 dan Rp 2.316.667. Rata-rata kontribusi KRPL terhadap pendapatan rumah tangga disajikan pada Tabel 42. Tabel 42. Rata-Rata Kontribusi KRPL KEMPLING terhadap Pendapatan Rumah Tangga Setiap Strata per Tahun Strata Rata-rata Pendapatan (Rp/Tahun) Pendapatan KRPL Pendapatan Luar 1 2 3 889.100 2.387.944 7.927.236 14.765.714 23.015.854 30.989.750 Rata-rata Kontribusi KRPL (%) 5,70 9,90 20,37 Sumber : Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 42 menunjukkan bahwa rata-rata kontribusi KRPL terhadap pendapatan rumah tangga pada strata 1, strata 2, dan strata 3 masingmasing sebesar 5,70%, 9,90%, dan 20,37%. Pengembangan KRPL di Desa Banjarsari yang dijalankan oleh rumah tangga merupakan usaha sampingan. Kontribusi KRPL KEMPLING yang paling besar berada di strata 3 dengan ditunjukkan dari pendapatan KRPL dan pendapatan diluar KRPL yang meningkat. Hal ini disebabkan oleh (1) luasan lahan pada strata 3 lebih besar dengan rata-rata luas pekarangan 305 m2 ; (2) Komoditas strata 3 lebih beragam; (3) Pendapatan luar KRPL lebih tinggi yaitu dominan di PNS dan wiraswasta; (4) Penggabungan pekerjaan strata 3 lebih banyak yaitu 6 pengelompokan dibandingakan strata 1 dan strata 2; (5) Penggabungan pekerjaan yang pendapatannya paling kecil yaitu petani+buruh disebabkan luas lahan kepemilikan sawah di strata 3 lebih luas. Oleh karena itu, KRPL KEMPLING merupakan usaha sampingan bagi rumah tangga di Desa Banjarsari. 88 6.4 Keberlanjutan KRPL KEMPLING Pengembangan KRPL dirancang melalui optimalisasi pekarangan sebagai suatu unit usaha secara terpadu untuk mendukung penyediaan pangan secara keberlanjutan. Peran serta masyarakat merupakan kunci utama yang diharapkan dapat mewujudkan penyediaan secara keberlanjutan. Evaluasi terhadap KRPL dapat dilakukan dengan mengetahui sejauhmana pencapaian tujuan utama ini selama implementasinya di lapangan. Tujuan utama berupa pemanfaatan pekarangan dan masyarakat sejahtera dapat dilihat dari tiga aspek yang lebih spesifik yaitu aspek lingkungan, aspek ekonomi dan aspek sosial. Aspek lingkungan berarti menilai keberhasilan KRPL melalui kemampuannya dalam menjaga kelestarian sumberdaya alam khususnya pekarangan. Salah satu variabel penilaian kualitas kelestarian pekarangan adalah dengan melihat bagaimana KRPL mampu meningkatkan kegiatan tanam menanam sehingga dapat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Sejak diimplementasikan di Desa Banjarsari, KRPL telah mampu meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya yang tergabung dalam KRPL untuk turut menjaga sumberdaya alam di wilayahnya. Pada pelaksanaan KRPL KEMPLING dengan melihat dari aspek lingkungan telah berhasil melaksanakan kegiatan lingkungan secara dini yang diberikan kepada siswa siswi SD dengan nama Fun School Garden (FSG). Kegiatan tersebut dilaksanakan selama satu bulan dan yang bekerja sebagai pengajar dari Tim PPL Banjarsari. Tim PPL Desa Banjarsari mengajarkan mengenai budidaya tanaman sayuran dari penyiapan lahan hingga panen. 89 Pengembangan KRPL KEMPLING secara ekologis telah membantu meningkatkan kualitas tanaman di pekarangan. Selama melakukan kegiatan tanam menanam, sebagian besar rumah tangga memberikan pemupukan dengan pupuk kandang maupun sampah sisa-sisa rumah tangga. Pelaksanaan kegiatan KRPL KEMPLING dapat membuat kondisi Desa Banjarsari menjadi ramah lingkungan. Pelaksanaan KRPL KEMPLING mampu menambah keindahan setiap rumah sehingga membuat rumah menjadi lebih ASRI. Desa Banjarsari juga memberikan stimulun bagi desa sebelah agar mengembangkan KRPL. Dilihat dari aspek sosial, pengembangan KRPL di Desa Banjarsari akan terus didukung masyarakat karena mampu menambah ilmu pengetahuan dan meningkatkan gotong royong antar rumah tangga. Masyarakat dapat menjadikan KRPL sebagai sarana aktualisasi dan pengembangan diri bagi Desa Banjarsari. Pelaksanaaan KRPL ini mampu menambah komunikasi dengan Dinas-Dinas terkait di Kabupaten Pacitan seperti Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Badan Ketahanan Pangan, Dinas Perikanan, Dinas Perkebunan dan Kehutanan. Pihak-pihak yang terkait tersebut memberikan sosialisasi dalam bentuk penyuluhan sehingga masyarakat dapat meningkatkan skill untuk mengoptimalisasi pekarangan. Implementasi KRPL di lapangan dari aspek ekonomi hingga tahun 2012 memang belum menunjukkan sumbangan yang berarti. Hal ini karena pelaksanaan KRPL di Desa Banjarsari sendiri yang hampir berjalan dua tahun. Keberlanjutan KRPL ditinjau dari mampu menekan pengeluaran rumah tangga dan keberadaan KBD sebagai penyedia atau menjual hasil dari komoditas KRPL di Desa Banjarsari. Pelaksanaan KRPL mampu menekan pengeluaran rumah tangga yang 90 ditunjukkan dengan pada strata 1, strata 2, dan strata 3 berorientasi untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Penghematan pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi pangan disajikan pada Tabel 43. Tabel 43. Penghematan Pengeluaran Rumah Tangga KRPL KEMPLING Klasifikasi Strata 1 Strata 2 Strata 3 Persentase (%) Persentase (%) Penghematan Pengeluaran rumah tangga (Rp/bulan) Sayuran 62,70 49.508 Sayuran 58,26 Telur ayam buras Sayuran Telur ayam buras Perikanan 57,00 55.089 71,46 65,00 24,50 130.751 Sumber : Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 42 menunjukkan bahwa strata yang paling besar menekan pengeluaran rumah tangga dalam konsumsi pangan yaitu strata 3 sebesar Rp 130.751/bulan. Penghematan pengeluaran pada strata 1 dan 2 hanya terpaut sedikit yaitu sebesar Rp 5.581. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan sayuran strata 2 memiliki nilai penghematan pengeluaran paling kecil dibandingkan dengan strata 1 dan strata 3 karena penggunaan sayuran strata 2 lebih berorientasi untuk sosial. Tahun proyek menggunakan bangunan dari KBD dengan umur teknis 5 tahun. Umur teknis ini didasarkan oleh Fitriyani (2006) yang menyatakan bahwa umur kandang ayam memiliki masa pakai 2-5 tahun yang terbuat dari bambu dan kayu. Bahan pembuatan KBD terdiri dari bambu dan kayu. Atap KBD terbuat dari plastik yang berlantaikan tanah. Analisis ini menggunakan tingkat discount factor sebesar 12% yang didiskontokan dengan nilai manfaat bersih (net benefit) yang diperoleh dari perhitungan arus kas (cash flow). Tingkat suku bunga (discount factor) sebesar 12% 91 yang digunakan dalam pengembangan KBD merupakan tingkat suku bunga pinjaman di salah satu bank di Indonesia, dimana bank tersebut yang mudah diakses oleh masyarakat Desa Banjarsari. Pelaksanaan KBD di Desa Banjarsari dilakukan secara komunal. Penerimaan yang diperoleh KBD sebesar Rp 14.000.000 setiap tahun dengan menggalikan harga, jumlah voker, dan jumlah bibit setiap voker. KBD dalam satu tahun melakukan tanam-menanam sebanyak empat kali. Penerimaan tersebut terdiri dari: (1) Penerimaan tunai sebesar Rp 275.000 dari penjualan voker setiap tanam; (2) Penerimaan non tunai sebesar Rp 3.225.000 dalam sekali tanam. Penerimaan non tunai di KBD merupakan penerimaan dimana ketersediaan benih/bibit dikonsumsi oleh rumah tangga Desa Banjarsari untuk mencukupi kebutuhan di pekarangan. Jumlah penerimaan yang diterima KBD selama umur proyek yaitu 5 tahun diasumsikan tetap. Penerimaan yang diperoleh KBD, nantinya dipergunakan dari dan untuk masyarakat Desa Banjarsari. Biaya di KBD dibagi menjadi dua yaitu: (1) Biaya tunai; dan (2) Biaya non tunai. Biaya tunai terdiri dari pembelian benih selama sekali tanam dan biaya non tunai terdiri dari daun pisang, pupuk kandang, tenaga kerja, dan lain-lain. Biaya tunai yang dikeluarkan KBD sebesar Rp 271.250 sekali tanam. Biaya non tunai yang dikeluarkan KBD sebesar Rp 2.492.500 sekali tanam. Pada pengembangan KBD terdapat dua kondisi yaitu (1) kondisi adanya bantuan dari Kecamatan Pacitan yang digunakan merenovasi KBD dan membeli bibit/benih untuk KBD; (2) kondisi tanpa ada bantuan dari pemerintah. Kondisi tanpa adanya bantuan diperoleh dari pemutaran uang yang didapat dari KBD. Biaya investasi pembangunan KBD untuk kondisi tanpa ada banatuan 92 diasumsikan dengan sebesar Rp 2.500.000 sama dengan bantuan dari Kecamatan Pacitan. Hal ini dikarenakan keterbatasan responden untuk mengingat harga dan jumlah alat serta bahan yang digunakan dalam pembangunan KBD. Gambaran dua kondisi pendapatan KBD dapat dilihat pada Tabel 44 dan Tabel 45. Tabel 44. Gambaran Pendapatan KBD di Desa Banjarsari dengan adanya Bantuan Tahun 1 2 3 4 5 Sumber Asumsi i. ii. iii. iv. v. Benefit (Rp) 16.500.000 14.000.000 14.000.000 14.000.000 14.000.000 NPV Gross B/C Cost (Rp) 11.055.000 11.252.500 11.055.000 11.252.500 11.055.000 Pendapatan (Rp) 5.445.000 2.747.500 2.945.000 2.747.500 2.945.000 12.565.248 1,29 : Data Primer, diolah (2012) : Harga bibit per voker di KBD Rp. 500 KBD memiliki wadah 35 papan voker Satu voker berisi 200 bibit Bibit tidak ada yang rusak/mati Ukuran voker 45 cm x 60 cm Berdasarkan Tabel 44 menunjukkan hasil perhitungan bahwa gambaran pendapatan KBD di Desa Banjarsari dan tingkat suku bunga 12% memenuhi semua kriteria kelayakan. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, diperoleh hasil bahwa: 1) Nilai NPV yang diperoleh lebih dari nol (NPV>0) yaitu sebesar Rp 12.565.248. Artinya, jumlah manfaat bersih dari usaha KBD ini selama umur proyek yaitu 5 tahun dengan tingkat suku bunga 12% sebesar Rp 12.565.248 sehingga usaha tersebut layak untuk dijalankan. 2) Pada kriteria investasi yang kedua yaitu nilai gross B/C yang diperoleh lebih dari satu (gross B/C>1) yaitu sebesar 1,29. Artinya, setiap Rp 1,00 biaya dikeluarkan oleh KBD selama umur usaha yaitu 5 tahun mampu menghasilkan 93 manfaat kotor sebesar Rp 1,29 sehingga usaha tersebut dikatakan layak untuk dijalankan. Tabel 45. Gambaran Pendapatan KBD di Desa Banjarsari Tanpa Bantuan Tahun 1 2 3 4 5 Benefit (Rp) 14.000.000 14.000.000 14.000.000 14.000.000 14.000.000 NPV Gross B/C Sumber Asumsi i. ii. iii. iv. v. Cost (Rp) 13.555.000 11.252.500 11.055.000 11.252.500 11.055.000 Pendapatan (Rp) 445.000 2.747.500 2.945.000 2.747.500 2.945.000 8.100.962 1,21 : Data Primer, diolah (2012) : Harga bibit per voker di KBD Rp. 500 KBD memiliki wadah 35 papan voker Satu voker berisi 200 bibit Bibit tidak ada yang rusak/mati Ukuran voker 45 cm x 60 cm Berdasarkan Tabel 45 menunjukkan hasil perhitungan bahwa gambaran pendapatan KBD di Desa Banjarsari dan tingkat suku bunga 12% memenuhi semua kriteria kelayakan. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, diperoleh hasil bahwa: 1) Nilai NPV yang diperoleh lebih dari nol (NPV>0) yaitu sebesar Rp 8.100.962. Artinya, jumlah manfaat bersih dari usaha KBD ini selama umur proyek yaitu 5 tahun dengan tingkat suku bunga 12% sebesar Rp 8.100.962 sehingga usaha tersebut layak untuk dijalankan. 2) Pada kriteria investasi yang kedua yaitu nilai gross B/C yang diperoleh lebih dari satu (gross B/C>1) yaitu sebesar 1,21. Artinya, setiap Rp 1,00 biaya dikeluarkan oleh KBD selama umur usaha yaitu 5 tahun mampu menghasilkan manfaat kotor sebesar Rp 1,21 sehingga usaha tersebut dikatakan layak untuk dijalankan. Berbagai perspektif dari ketiga sudut pandang yaitu aspek lingkungan, aspek sosial, dan aspek ekonomi tersebut mengindikasikan bahwa KRPL memang 94 layak untuk terus dikembangkan dan didukung oleh semua pihak yang terlibat. Dinas-dinas yang terkait sebagai stakeholder mendapatkan keuntungan dari terjaganya pekarangan dan penyediaan pangan secara berkelanjutan. Masyarakat yang terlibat langsung dapat merasakan manfaat ekonomi dan sosial dari berjalannya KRPL KEMPLING. Walaupun masih terdapat berbagai masalah dalam pelaksanaan KRPL di Desa Banjarsari, masalah tersebut masih dapat diatasi mengingat ini baru berjalan efektif hampir berjalan dua tahun. Kuncinya adalah tekad dari setiap pihak yang terlibat untuk saling bekerjasama mengatasi berbagai masalah yang masih terjadi, demi tercapainya tujuan utama KRPL yaitu optimalisasi pekarangan untuk mendukung penyediaan pangan secara keberlanjutan. 95 VII. SIMPULAN DAN SARAN 7.1 Simpulan Beberapa hal yang dapat disimpulkan berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya adalah sebagai berikut: 1) Persepsi rumah tangga Desa Banjarsari menyatakan bahwa sebelum adanya KRPL KEMPLING lahan pemanfaatan pekarangan sudah termanfaatkan namun belum optimal. Desa Banjarsari mulai melakukan optimalisasi pekarangan untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dengan menambah sayuran. Manfaat yang dirasakan rumah tangga KRPL KEMPLING adalah menghemat pengeluaran rumah tangga dan menambah penghasilan. Kendala yang dirasakan rumah tangga dalam pelaksanaan KRPL KEMPLING adalah iklim dan hama. 2) Manfaat fisik dari KRPL KEMPLING mampu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Penggunaan hasil KRPL KEMPLING dari setiap strata menunjukkan bahwa KRPL KEMPLING berorientasi untuk memenuhi kebutuhan pangan, apabila kebutuhan pangan keluarga di Desa Banjarsari sudah terpenuhi, maka sisa penggunaannya diberikan untuk sosial dan dijual. Penggunaan perikanan strata 3 berorientasi untuk dijual. 3) Nilai R/C KRPL KEMPLING di setiap strata menunjukan hasil yang menguntungkan. Nilai R/C KRPL KEMPLING yang menunjukan hasil menguntungkan terdapat di strata 3. Rata-rata pendapatan per luasan lahan yang paling besar pada strata 1 yaitu sebesar Rp 30.659 dan pendapatan per luas lahan yang paling kecil pada strata 2 sebesar Rp 15.920. Kontribusi KRPL KEMPLING terhadap pendapatan keluarga diperoleh untuk strata 1, 96 strata 2, dan strata 3 yaitu masing-masing sebesar 5,70%, 9,90%, dan 20,37%. Pengembangan KRPL KEMPLING merupakan usaha sampingan bagi keluarga di Desa Banjarsari. 4) Keberlanjutan KRPL KEMPLING ditinjau dari aspek lingkungan dan aspek sosial mampu memberikan manfaat untuk individu, rumah tangga, dan desa. Aspek ekonomi dengan melihat dari KRPL KEMPLING mampu menekan pengeluaran keluarga strata 1, strata 2, dan strata 3 sebesar Rp 49.508, Rp 55.089, Rp 130.751. Aspek ekonomi juga melihat keberadaan KBD di Desa Banjarsari yang mampu memberikan keuntungan bagi masyarakat. 7.2 Saran Berdasarkan uraian dan pembahasan yang telah dijelaskan, dapat disarankan beberapa hal terkait dengan pelaksanaan KRPL sebagai berikut : 1) Keterbatasan strata 1 dalam pemenuhan kebutuhan pupuk bagi lahannya sebaiknya melakukan pembuatan pupuk bokashi secara rutin oleh semua strata. Hal ini terkait dengan bahan baku kotoran ternak yang dapat diperoleh dari strata 2 dan strata 3 yang merupakan limbah kegiatan KRPL pada strata tersebut. 2) Bagi masyarakat di Desa Banjarsari strata 3 untuk mengurangi biaya pakan ikan, maka perlu mengembangkan pakan buatan sendiri dengan menggunakan cacing, bekicot, atau keong yang dapat diperoleh di tanaman rumah, hutan, maupun sungai sekitar Desa Banjarsari. 3) Bagi masyarakat Desa Banjarsari untuk meningkatkan produktivitas sayuran, maka perlu mengembangkan teknik penanaman dengan cara pagar hidup dan memanfaatkan barang bekas untuk media menanam sayuran di pekarangan. 97 DAFTAR PUSTAKA Afrinis, Nur. 2009. Pengaruh Program Home Gardening dan Penyuluhan Gizi terhadap Pemanfaatan Pekarangan dan Konsumsi Pangan Balita. [Tesis]. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Pertanian. Bogor. Anonim. 2011. Jaga Ketahanan Pangan, BKP bikin Rumah Hijau.http://www.kabarbisnis.com/life-style/agribisnis/2817884 diakses pada tanggal 12 Maret 2012. Anonim. 2011. Program Gerakan Perempuan untuk Optimalisasi Pekarangan (GPOP). http://depok.go.id diakses tanggal 23 Maret 2012 Azmi, Zainul. 2008. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan PetaniMengikuti Program Pengelolaan Hutan Bersama MasyarakatSerta Pengaruhnya terhadap Pendapatan dan Curahan Kerja(Studi Kasus Desa Babakan, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor). [Skripsi]. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Badan Ketahanan Pangan.2012. Ketahanan Pangan. Surabaya. . Badan Badan Pusat Statistik. 2011. Penduduk Indonesia Menurut Propinsi 1971, 1980, 1990, 1995, 2000 dan 2010. http://bps.go.id diakses tanggal 23 maret 2012 Badan Pusat Statistik. 2011. Rata-Rata Konsumsi Protein (gram) per Kapita Menurut Kelompok Makanan 1999, 2002 – 2011. http://bps.go.id diakses tanggal 23 Maret 2012 Badan Pusat Statistik. 2011.Rata-Rata Konsumsi Kalori (KKal) per Kapita Sehari Menurut Kelompok Makanan 2007-2011. http://bps.go.id diakses tanggal 23 Maret 2012 Departemen Pertanian. 2001. Rencana Strategis dan Program Kerja Pemantapan Ketahanan Pangan Tahun 2001-2004. Badan Bimas Ketahanan Pangan. Departemen Pertanian. Jakarta. Fitriyani, Ria. 2006. Kontribusi Usaha Ternak Ayam Buras terhadap Pendapatan Keluarga di Desa Tamansari Keamatan Tamansari Bogor. [Skripsi]. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Gittinger, J. Price. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Hasan, Iqbal. 2001. Pokok-Pokok Materi Statistik 1 (Statistik Deskriptif). PT Bumi Aksara. Jakarta. 98 Hernanto, F. 1980. Ilmu Usahatani dalam Rangka Penataran Rural Credit ProjectBank Rakyat Indonesia. Unit Penataraan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Kementerian Pertanian. 2012. Laporan Kinerja Kementerian Pertanian Tahun 2011. Kementerian Pertanian. Jakarta. Kementerian Pertanian. 2011. Pedoman Umum Model Kawasan Rumah Pangan Lestari. Kementerian Pertanian. Jakarta. Kementerian Pertanian. 2012. Pedoman Umum Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP). Kementerian Pertanian. Jakarta.http://www.deptan.go.id/pedum2012/BKP/3.%20pedum-P2KPbkp2012.pdf diakses pada tanggal 20 Maret 2012. Marwanti, 1986. Keberhasilan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga dan Kesehatan Balita di Kabupaten Sleman Yogyakarta. Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. IKIP Yogyakarta. Yogyakarta. Pari, Rohmah. 2004. Pengembangan Pekarangan untuk Mendukung Gerakan Budaya Mandiri Kesehatan Alami (BUMIKITA) di Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor barat, Kotamadya Bogor. [Skripsi]. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Prasetyo, Jannah, Lina Miftahul. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Rihastuti, Deny Dwi. 1993. Studi Perbandingan Dampak Pemanfaatan Lahan Pekarangan Antara Keluarga Perserta dan Bukan Peserta Kursus Pemanfaatan Lahan Pekarangan (Studi Kasus di Desa Cimanggu I dan Desa Sukamaju, Kecamatan Cibungbulan, Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor, Provinsi Jawa Barat).[Skripsi]. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Rukmana, Rahmat. 2008. Bertanam Buah-buahan di Pekarangan. Kanisius. Yogyakarta. Saptana, Purwanti Tri B, Supriyanti Yana, dkk. 2011. Dampak Pengembangan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari terhadap Kesejahteraan Rumah Tangga dan Ekonomi Di Pedesaan. Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor. Sastrapradja S, Naiola BP, Rasmadi ER, Roemantyo, Soepardijono EK, Waluyo EB. 1979. Tanaman Pekarangan. LIPI. Bogor. Soekartawi, Soeharjo A, Dillon John L, Hardaker J Brian. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia Press. Jakarta. 99 Soekartawi. 2002. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Suratiyah, Ken. 2006. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta. Widayati, Weka. 1993. Kreativitas Wanitatani dalam Pengelolaan Usahatani Pekarangan (Studi Kasus di Sulawesi Tenggara). [Tesis]. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 100 LAMPIRAN 101 Lampiran 1. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga Strata 1 dalam Satu Tahun Keterangan Jumlah Satuan Harga satuan (Rp) Nilai (Rp) A. Biaya Tunai 1. Jagrak 2. Bibit 2 Buah 55.000 110.000 - Tomat - Cabai - Terong - Sawi 3. Polibag 8 15 11 11 30 batang batang batang batang Buah 500 500 500 500 867 4.000 7.500 5.500 5.500 26.010 158.510 buah 45.000 45.000 batang batang batang batang batang batang buah Kg buah 500 500 500 500 5000 5000 150 200 867 3.000 3.000 2.500 5000 50.000 50.000 4.050 8.310 11.267 HKP HKW 25.000 20.000 327.000 286.000 265.183 1.060.310 1.218.820 Total B. Biaya yang Diperhitungkan 1. Jagrak 1 2. Bibit/Benih - Tomat 6 - Cabai 6 - Terong 5 - Kangkung 10 - Sawi 10 - Bayam 10 3. Ajir dari Bambu 27 4. Pupuk Kandang 41,55 5. Polibag 13 6. Tenaga Kerja Dalam Keluarga - Pria 13,08 - Wanita 14,30 7. Penyusutan peralatan Total Biaya Diperhitungkan C. Total Biaya D. Penerimaan Penerimaan Tunai Penerimaan Non Tunai Total Penerimaan E. Pendapatan atas biaya tunai F. Pendapatan atas biaya Total G. R/C Biaya Tunai H. R/C Biaya Total 199.226 1.908.694 2.107.920 1.949.410 889.100 13,30 1,73 102 Lampiran 2. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga Strata 2 dalam Satu Tahun Keterangan A. Biaya Tunai 1. Sayuran a. Jagrak b. Bibit - Tomat Cabai Terong Sawi Jumlah Satuan 2 Buah 10 12 9 8 28 Batang Batang Batang Batang Buah Harga satuan (Rp) c. Polibag 2. Ternak a. Perlengkapan b. Pakan c. Kesehatan d. Perbaikan Kandang e. Sapu lidi 1 Buah Total B. Biaya yang Diperhitungkan 1. Sayuran a. Jagrak 1 Unit b. Bibit 7 Batang - Tomat 7 Batang - Cabai 7 Batang - Terong 8 Batang - Kangkung 7 Batang - Sawi 8 Batang - Bayam c. Ajir dari Bambu 20 Buah d. Pupuk Kandang 35,4 Kg e. Polibag 13 Buah f. Tenaga kerja dalam Keluarga 8,44 HKP - Pria 10,90 HKP - Wanita g. Penyusutan Peralatan Total Biaya untuk Sayuran 2. Ternak a. Tenaga Kerja dalam Keluarga Memelihara Ternak 10,08 HKP - Pria 13,68 HKP - Wanita b. Penyusutan Kandang Total Biaya untuk Ternak Total Biaya Diperhitungkan C. Total Biaya Nilai (Rp) 55.000 110.000 500 500 500 500 867 5.000 6.000 4.500 4.000 24.276 11.750 1.008.000 113.333 23.056 2.000 1.311.915 45.000 45.000 500 500 500 500 500 500 150 200 867 3.000 3.500 3.500 4.000 3.500 4.000 3.000 7.080 11.267 25.000 20.000 211.000 218.000 263.627 780.474 25.000 20.000 252.000 273.600 40.147 565.747 1.346.221 2.658.136 103 Lampiran 2. (Lanjutan) Keterangan Jumlah Satuan D. Penerimaan Penerimaan Tunai Produksi sayuran Produksi telur ayam Pembelian ternak Penerimaan Non Tunai Produksi sayuran Produksi telur ayam Produksi ayam Produksi itik* Produksi kambing* Produksi sapi* Total Penerimaan E. Pendapatan atas biaya tunai F. Pendapatan atas biaya Total R/C Biaya Tunai R/C Biaya Total *) () Harga satuan (Rp) Nilai (Rp) 243.756 96.000 ( 52.500) 1.494.824 264.000 3.000.000 5.046.080 3.734.165 2.387.944 3,93 1,94 : Tidak termasuk penerimaan : penerimaannya bersifat mengurangi 104 Lampiran 3. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga Strata 3 dalam Satu Tahun Keterangan A. Biaya Tunai 1. Sayuran a. Jagrak b. Bibit - Tomat Cabai Terong Sawi Jumlah Satuan 3 Buah 14 17 13 13 45 Batang Batang Batang Batang Buah c. Polibag 2. Ternak a. Perlengkapan b. Pakan c. Kesehatan d. Perbaikan Kandang e. Sapu lidi 1 3. Perikanan a. Pakan b. Kesehatan c. Benih Ikan Lele 2.420 d. Benih Ikan Nila 2.760 Total Biaya Tunai B. Biaya yang Diperhitungkan 1. Sayuran 2 a. Jagrak b. Bibit 7 - Tomat 7 - Cabai 6 - Terong 10 - Kangkung 10 - Sawi 11 - Bayam 34 c. Ajir dari Bambu 57 d. Pupuk Kandang 13 e. Polibag f. Tenaga kerja dalam Keluarga 14,72 - Pria 20,56 - Wanita g. Penyusutan Peralatan Total Biaya untuk Sayuran Buah Harga Satuan (Rp) Nilai (Rp) 55000 165.000 500 500 500 500 867 7.000 8.500 6.500 6.500 39.015 2000 13.824 710.471 98.824 21.786 2.000 3.271.200 154.500 242.000 690.000 5.437.120 Biji Biji 100 250 Unit 45000 90.000 500 500 500 500 500 500 150 200 867 3.000 3.500 3.000 5.000 5.000 5.500 5.100 11.400 11.267 25000 20000 368.000 411.200 301.767 1.223.734 Batang Batang Batang Batang Batang Batang Buah Kg Buah HKP HKP 105 Lampiran 3. (Lanjutan) Keterangan Jumlah Satuan Harga Satuan (Rp) 2. Ternak a. Tenaga Kerja dalam Keluarga Memelihara Ternak 10,08 HKP - Pria 16,96 HKP - Wanita b. Penyusutan Kandang Total Biaya untuk Ternak 3. Perikanan a. Tenaga Kerja dalam Keluarga Memelihara Ikan 18,9 HKP - Pria 12,6 HKP - Wanita b. Penyusutan untuk perikanan Total Biaya untuk perikanan Total Biaya Diperhitungkan C. Total Biaya D. Penerimaan Penerimaan Tunai Produksi sayuran Produksi telur ayam Pembelian ternak Produksi Ikan Lele Produksi Ikan Nila Penerimaan Non Tunai Produksi sayuran Produksi telur ayam Produksi ayam Produksi Ikan Lele Produksi Ikan Nila Bantuan Produksi itik* Produksi kambing* Produksi sapi* Total Penerimaan E. Pendapatan atas biaya tunai F. Pendapatan atas biaya Total R/C Biaya Tunai R/C Biaya Total *) () Nilai (Rp) 25000 20000 252.000 339.200 30.956 622.156 25000 20000 472.500 252.000 358.934 1.083.434 2.929.324 8.366.444 169.560 47.520 (52.500) 2.592.000 1.690.000 2.599.620 348.480 3.300.000 2.208.000 1.391.000 2.000.000 16.293.680 10.856.560 7.927.236 3,00 1,95 : Tidak termasuk penerimaan : penerimaannya bersifat mengurangi 106 Lampiran 4. Biaya Penyusutan per Tahun A. Strata 1 No Peralatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Cangkul Arit Ganco Parang Ember Gayung Jagrak Jagrak swadaya Sumur Total Jumlah 2 2 1 1 2 2 2 1 1 Harga (Rp) 75.000 35.000 70.000 25.000 7.500 3.500 55.000 45.000 675.167 Umur Teknis (Tahun) 4 3 4 3 2 2 2 1 10 Nilai ((Rp) 150.000 70.000 70.000 25.000 15.000 7.000 110.000 45.000 675.167 Penyusutan (Rp) 37.500 23.333 17.500 8.333 7.500 3.500 55.000 45.000 67.517 265.183 B. Strata 2 - Tanaman Sayuran No Peralatan Jumlah Harga (Rp) Umur Teknis (Tahun) Nilai (Rp) Penyusutan (Rp) 1 Cangkul 2 75.000 4 150.000 37.500 2 Arit 2 35.000 3 70.000 23.333 3 Ganco 1 70.000 4 70.000 17.500 4 Parang 1 25.000 3 25.000 8.333 5 Ember 2 7.500 2 15.000 7.500 6 Gayung 2 3.500 2 7.000 3.500 7 Jagrak 2 55.000 2 110.000 55.000 8 Jagrak swadaya 1 45.000 1 45.000 45.000 9 Sumur 1 659.600 10 659.600 65.960 Total 263.627 107 C. Strata 3 - Tanaman Sayuran No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Peralatan Cangkul Arit Ganco Parang Ember Gayung Jagrak Jagrak swadaya Sumur Total Harga (Rp) Jumlah 2 2 1 1 3 2 3 2 1 UmurTeknis (Tahun) 75.000 35.000 70.000 25.000 7.500 3.500 55.000 45.000 766.000 4 3 4 3 2 2 2 1 10 Nilai (Rp) Penyusutan (Rp) 150.000 70.000 70.000 25.000 15.000 7.000 165.000 90.000 766.000 37.500 23.333 17.500 8.333 7.500 3.500 82.500 45.000 76.600 301.767 - Perikanan No 1 2 3 4 5 6 Peralatan Kolam Ikan Lele Kolam Ikan Nila Serokan Pompa Pipa 4 m Timbangan Total Jumlah 2 1 1 1 5 1 Harga (Rp) 379.762 516.667 14.261 370.000 13.000 350.000 Umur Teknis (Tahun) 10 10 2 8 10 2 Nilai Penyusutan (Rp) (Rp) 759.524 75.952 516.667 51.667 14.261 3.565 370.000 46.250 65.000 6.500 350.000 175,000 358.934 Lampiran 5. Curahan Waktu dan Curahan Kerja Selama Satu Tahun A. Strata 1 Rata-Rata Curahan Waktu (Menit/Hari) No 1 2 3 Keterangan Pemeliharaan Olah Tanaman+Tanah+Pemupukan Panen Rata-rata Curahan Kerja (HKP/Hari) Selama 1 Tahun Pria Wanita No Keterangan (HKP/hari) 1 Pemeliharaan 0,02 0,03 2 Olah Tanaman+Tanah+Pemupukan 1,00 0,70 3 Panen 0,21 0,17 Total Pria Wanita 10 20 420 420 90 99 Pria Wanita (HKP/setahun) 7,20 10,80 3,00 2,10 3,36 2,72 13,56 15,621 108 B. Strata 2 - Tanaman Sayuran Rata-Rata Curahan Waktu (Menit/Hari) No Keterangan 1 Pemeliharaan 2 Olah Tanaman+Tanah+Pemupukan 3 Panen Rata-Rata Curahan Kerja (HKP/Hari) Selama 1 Tahun Pria Wanita No Keterangan (HKP/hari) 1 Pemeliharaan 0,01 0,02 2 Olah Tanaman+Tanah+Pemupukan 1,00 0,70 3 Panen 0,14 0,10 Total Pria 6 420 60 Wanita 15 420 79 Pria Wanita (HKP/tahun) 3,60 7,20 3,00 2,10 2,24 1,60 8,84 10,90 - Peternakan Rata-Rata Curahan Waktu (Menit/Hari) No Keterangan 1 Memberi Makan 2 Membersihkan Kandang 3 Memasukkan/Mengeluarkan Ayam Total Rata-Rata Curahan Kerja (HKP/Hari) Selama Satu Tahun Pria Wanita No Keterangan (HKP/hari) 1 Memberi Makan 0,01 0,01 2 Membersihkan Kandang 0,02 0,02 3 Memasukkan/Mengeluarkan Ayam 0,01 0,02 Total Pria 6 10 5 21 Wanita 9 15 10 34 Pria Wanita (HKP/tahun) 3,60 3,60 2,88 2,88 3,60 7,20 10,08 13,68 C. Strata 3 - Tanaman Sayuran Rata-Rata Curahan Waktu (Menit/Hari) No Keterangan 1 Pemeliharaan 2 Olah Tanaman+Tanah+Pemupukan 3 Panen Pria 10 420 102 Wanita 20 420 120 109 Rata-Rata Curahan Kerja (HKP/Hari) Selama Satu Tahun Pria Wanita No Keterangan (HKP/hari) 1 Pemeiharaan 0,02 0,03 2 Olah Tanaman+Tanah+Pemupukan 1,00 0,70 3 Panen 0,22 0,21 Total Pria Wanita (HKP/tahun) 7,20 10,8 4,00 2,80 3,52 3,36 14,72 16,96 - Peternakan Rata-Rata Curahan Waktu (Menit/Hari) No Keterangan 1 Memberi Makan 2 Membersihkan Kandang 3 Memasukkan/Mengeluarkan Ayam Total Pria 6 16 7 29 Rata-Rata Curahan Kerja (HKP/Hari) Selama Satu Tahun Pria Wanita No Keterangan (HKP/hari) 1 Memberi Makan 0,01 0,02 2 Membersihkan Kandang 0,02 0,02 3 Memasukkan/Mengeluarkan Ayam 0,02 0,02 Total - Wanita 12 24 11 47 Pria Wanita (HKP/tahun) 3,60 7,20 2,88 5,76 7,20 7,20 16,56 20,16 Perikanan Rata-Rata Curahan Waktu (Menit/Hari) No Keterangan 1 Memberian Makan 2 Membersihan Kolam Total Pria 6 49 56 Wanita 13 66 79 Rata-Rata Curahan Kerja (HKP/Hari) Selama Satu Tahun No 1 2 Keterangan Memberi Makan Membersihkan Kandang Total Pria Wanita (HKP/hari) 0,01 0,02 0,02 0,01 Pria Wanita (HKP/tahun) 2,10 4,20 16,8 8,40 18,90 12,60 110 Lampiran 6. Cashflow KBD di Desa Banjarsari dengan adanya Bantuan Keterangan Jumlah Satuan Harga (Rp) Nilai (Rp) 1 2 Tahun 3 4 5 A. Biaya Tunai 1. isi stapler 2.Bibit/benih cabe rawit Tomat kangkung bayam sawi Terong B. Biaya Diperhitungkan 1. Tampah 2. semprotan 3. ember 4. gayung 5. polibag kecil 6. TKDK Pria wanita 7. pupuk kandang 8. serbuk 9. daun pisang 10. tanah 11. Stapler Total Biaya C. Penerimaan 1. Penerimaan tunai 6 buah 5.000 30.000 30.000 30.000 30.000 30.000 30.0000 10 10 8 8 8 8 bungkus bungkus bungkus bungkus bungkus bungkus 22.500 17.000 15.000 15.000 30.000 22.500 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 1.560.000 50.000 100.000 37.500 10.000 1.560.000 1.560.000 50.000 100.000 37.500 10.000 1.560.000 1.560.000 5.150.000 2.880.000 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 11.055.000 16.500.000 1.100.000 5.150.000 2.880.000 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 11.252.500 14.000.000 1.100.000 5.150.000 2.880.000 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 11.055.000 14.000.000 1.100.000 5.150.000 2.880.000 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 11.252.500 14.000.000 1.100.000 5.150.000 2.880.000 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 11.055.000 14.000.000 1.100.000 10 4 5 2 40 buah buah buah bungkus bungkus 5.000 25.000 7.500 5.000 26.000 5.000 25.000 7.500 5.000 1.040.000 206 144 8 4 40 1 3 HKP HKP sak sak buah 25.000 20.000 10.000 30.000 750 120.000 10.000 5.150.000 2.880.000 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 buah 275.000 111 Lampiran 6. (Lanjutan) Keterangan Jumlah 2.Penerimaan non tunai konsumsi masyarakat bantuan Total penerimaan D. Laba E. DF (12%) F. PV G.NPV H. PV benefit I. PV cost J. Gross benefit K. Gross cost L. Gross B/C Satuan Harga (Rp) 3.225.000 Nilai (Rp) 1 2 Tahun 3 4 5 12.900.000 2.500.000 16.500.000 5.445.000 0,89 4.861.607 12.565.248 18.480.000 12.381.600 102.412.647 79.216.929 1,29 12.900.000 14.000.000 2.747.500 0,80 2.190.290 12.900.000 14.000.000 2.945.000 0,71 2.096.193 12.900.000 14.000.000 2.747.500 0,64 1.746.086 12.900.000 14.000.000 2.945.000 0,57 1.671.072 17.561.600 14.115.136 19.668.992 15.531.479 22.029.271 17.706.027 24.672.784 19.482.687 112 Lampiran 7. Cashflow KBD di Desa Banjarsari Tanpa adanya Bantuan Tahun Keterangan Jumlah A.Biaya Investasi Bangunan KBD B. Biaya Operasional 1. isi stapler 6 2. bibit cabe rawit 10 3. bibit tomat 10 4. bibit kangkung 8 5. bibit bayam 8 6. bibit sawi 8 7. bibit terong 8 C. Biaya Diperhitungkan 1. Tampah 10 2. semprotan 4 3. ember 5 4. gayung 2 5. polibag kecil 40 6.TKDK Pria 206 wanita 144 Satuan Harga (Rp) Nilai (Rp) 1 2 2.500.000 2.500.000 2.500.000 buah bungkus bungkus bungkus bungkus bungkus bungkus 5.000 22.500 17.000 15.000 15.000 30.000 22.500 30.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 30.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 30.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 buah buah buah bungkus bungkus 5.000 25.000 7.500 5.000 26.000 5.000 25.000 7.500 5.000 1.040.000 HKP HKP 25.000 20.000 5.150.000 2.880.000 3 4 5 30.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 30.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 30.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 1.560.000 50.000 100.000 37.500 10.000 1.560.000 1.560.000 50.000 100.000 37.500 10.000 1.560.000 1.560.000 5.150.000 2.880.000 5.150.000 2.880.000 5.150.000 2.880.000 5.150.000 2.880.000 5.150.000 2.880.000 113 Lampiran 7. (Lanjutan) Keterangan Jumlah 7. pupuk 8 kandang 8. serbuk 4 9. daun 40 pisang 10. tanah 1 11. stapler 3 Total Biaya D. Penerimaan 1. Penerimaan tunai 2. Penerimaan non tunai konsumsi masyarakat Total penerimaan E. Laba F. DF (12%) G. PV H. NPV I. PV benefit J. PV cost K. Gross benefit L. Gross cost M. Gross B/C Satuan sak sak buah buah Harga (Rp) 10.000 30.000 750 120.000 10.000 275.000 3.225.000 Nilai (Rp) 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 1 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 13.555.000 14.000.000 1.100.000 2 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 11.252.500 14.000.000 1.100.000 Tahun 3 4 5 80.000 80.000 80.000 120.000 120.000 120.000 30.000 30.000 30.000 120.000 120.000 120.000 30.000 30.000 30.000 11.055.000 11.252.500 11.055.000 14.000.000 14.000.000 14.000.000 1.100.000 1.100.000 1.100.000 12.900.000 14.000.000 445.000 0,89 397.321 8.100.962 15.680.000 15.181.600 99.612.647 82.016.929 1,21 12.900.000 14.000.000 2.747.500 0,80 2.190.290 12.900.000 12.900.000 12.900.000 14.000.000 14.000.000 14.000.000 2.945.000 2.747.500 2.945.000 0,64 0,57 0,71 2.096.193 1.746.086 1.671.072 17.561.600 14.115.136 19.668.992 22.029.271 24.672.784 15.531.479 17.706.027 9.482.687 114 Lampiran 8. Dokumentasi Penelitian Gambar 1. Papan KRPL Sebelum Memasuki Desa Banjarsari Gambar 2. Papan KRPL Memasuki Desa Banjarsari Setelah Gambar 3. Tanaman yang ditanam di jagrak/rak Gambar 4. Kolam yang berada di belakang pekarangan Gambar 5. Salah Satu Bantuan Sapi Perah dari Pemerintah Kabupaten Pacitan Gambar 6. Kebun Bibit Desa (KBD) di Desa Banjarsari Gambar 7. Salah Satu voker yang dijual di KBD dengan harga Rp. 500/ bibit Gambar 8. Wawancara dengan Salah satu Responden 115 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bojonegoro, Jawa Timur pada tanggal 23 Maret 1990. Penulis adalah anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan Bapak H. Musdhori dan Ibu Hj. Ummi Hanik (Alm). Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri Kauman IV Bojonegoro pada tahun 2002 dan pendidikan menengah pertama di SLTP Negeri 1 Bojonegoro yang lulus pada tahun 2005. Penulis juga telah menamatkan pendidikan lanjutan menengah atas di SMA Negeri 4 Bojonegoro pada tahun 2008.Penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) tahun 2008 dan diterima sebagai mahasiswa di Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Selama masa perkuliahan, penulis aktif di berbagai organisasi, di antaranya Paguyuban Angling Dharma (PAD Bojonegoro) sebagai Staff Budaya, Seni dan Olahraga pada tahun periode 2009-2010, Koperasi Mahasiswa (KOPMA IPB) pada tahun 2009-2010 sebagai Staff LSO Event Organizer (EO), Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen (DPM FEM) IPB pada periode 2010-2011 sebagai Staff Komisi III, dan Badan Pengawas Resource and Environmental Economics Student Association (REESA ESL FEM IPB) pada periode 2010-2011.Selain itu, Penulis aktif dalam berbagai kegiatan kepanitiaan serta lomba karya tulis ilmiah seperti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). 116 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang kaya dengan ketersediaan pangan dan rempah yang beraneka ragam. Berbagai jenis tanaman pangan yaitu padi-padian, umbi-umbian, sayuran, buah-buahan, dan pangan dari hewani yaitu unggas, ikan, dan ternak kecil. Berbagai jenis rempah dan obat-obatan dapat tumbuh di Negara Indonesia. Indonesia saat ini tidak terlepas dari persoalan krisis pangan. Permintaan pangan yang semakin meningkat tidak diimbangi dengan penyediaan pangan. Ketidakseimbangan antara permintaan dengan penyediaan pangan mengakibatkan pangan Indonesia dari impor meningkat. Salah satu faktor dari permasalahan krisis pangan di Indonesia yaitu pertambahan penduduk. Peningkatan jumlah penduduk yang pesat dari tahun ke tahun membuat pemenuhan kebutuhan pangan menjadi hal prioritas bagi setiap orang. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 237,64 juta jiwa. Peningkatan jumlah penduduk Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Jumlah Penduduk di Indonesia Tahun1971, 1980, 1990, 1995, 2000 dan 2010 (juta jiwa) No 1 2 3 4 5 6 Tahun 1971 1980 1990 1995 2000 2010 Jumlah Penduduk 119,20 147,49 179,37 194,75 206,26 237,64 Sumber: Badan Pusat Statistik (2012) Masyarakat Indonesia saat ini sudah meningkatkan konsumsi umbi-umbian, pangan hewani, buah-buahan, dan sayuran dibandingkan dengan konsumsi karbohidrat khususnya beras. Meskipun demikian, konsumsi kalori didominasi oleh konsumsi energi kelompok padi-padian dengan proporsi sebesar 1 50% (Badan Ketahanan Pangan, 2012) 1 . Tingkat konsumsi kalori pada masyarakat Indonesia sebagaimana disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Rata-Rata Konsumsi Kalori (Kkal) per Kapita Sehari Menurut Kelompok Makanan Tahun 2007-2011 No Komoditi 2007 2008 2009 953,16 968,48 2010 2011 939,99 927,05 919,10 1 Padi-padian 2 Umbi-umbian 52,49 52,75 39,97 37,05 43,49 3 Ikan 46,71 47,64 43,52 45,34 47,83 4 Daging 41,89 38,60 35,72 41,14 44,71 5 Telur dan susu 56,96 53,60 51,59 56,20 55,97 6 Sayur-sayuran Kacangkacangan Buah-buahan Minyak dan lemak Bahan minuman 46,39 45,46 38,95 38,72 37,40 73,02 60,58 55,94 56,19 54,17 49,08 48,01 39,04 40,91 39,44 246,34 239,30 228,35 233,39 232,03 113,94 109,87 101,73 100,29 97,69 17,96 17,11 15,61 16,00 16,14 70,93 66,92 58,75 59,18 59,70 246,04 289,85 278,46 273,84 304,35 - - - - - 0 0 0 0 0 2.014,91 2.038,17 1.927,63 1.925,61 1.952,01 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Bumbu-bumbuan Konsumsi lainnya Makanan jadi*) Minuman beralkohol Tembakau dan sirih Total Sumber: Badan Pusat Statistik (2012) *) : termasuk minuman beralkohol Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan kontribusi sumber karbohidrat mengalami penurunan yang mengakibatkan perubahan pola konsumsi pangan masyarakat membaik. Hal ini diperkuat dengan tingkat konsumsi pangan rata-rata orang Indonesia yang dapat diukur dari konsumsi energi pada tahun 2011 mencapai 1.952,01 kkal/kap/hari mendekati anjuran WNPG (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi) IX tahun 2008 sebesar 2.200 kkal/kap/hari. Rata-rata 1 http://bkp.deptan.go.id/node/148 diakses tanggal 17 Maret 2012 2 konsumsi protein sebesar 56,25 gram/kapita/hari (BPS, 2011) mendekati angka anjuran sebesar 57 gram/kapita/hari. Ketahanan pangan tingkat nasional mulai membaik, namun secara langsung belum menjamin tercapainya ketahanan pangan tingkat rumah tangga. Menurut UU Pangan tahun 1996, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga, tidak hanya dalam jumlah yang cukup, tetapi juga harus aman, bermutu, bergizi, dan beragam dengan harga yang terjangkau oleh daya beli masyarakat. Sebagian besar rumah tangga belum mampu mewujudkan ketersediaan dan konsumsi pangan yang cukup, terutama dalam hal mutu dan tingkat gizinya. Ketersediaan bahan pangan di Indonesia ternyata tidak sejalan dengan konsumsi pangan yang masih dibawah pemenuhan gizi yang dapat dilihat dari indikator skor Pola Pangan Harapan (PPH). Kementerian Pertanian (2011) menyatakan bahwa hal ini diindikasikan oleh konsumsi beras per kapita per tahun pada tahun 2010 sebesar 100,76 kg yang mengalami penurunan sebesar 1,40 kg dari 102,22 kg pada tahun 2009, atau 99,33% dari target penurunan konsumsi beras per kapita per tahun sebesar 1,50%. Konsumsi umbi-umbian tahun 2010 sebesar 14,20 kg/kapita/tahun atau 55,74% dari target 25,40 kg/kapita/tahun, konsumsi pangan hewani tahun 2010 sebesar 15,60 kg/kapita/tahun atau 78,80% dari target 19,80 kg/kapita/tahun, dan konsumsi sayuran dan buah-buahan tahun 2010 mencapai 77,20 kg/kap/tahun atau 93,80% dari target 82,30 kg/kapita/tahun. Pencapaian skor PPH pada tahun 2010 sebesar 77,50 atau 89,69% dari target skor PPH sebesar 86,40 (Kementerian Pertanian, 2011). Skor PPH tahun 2010 masih dibawah skor ideal 100 yang diharapkan dapat tercapai pada tahun 2015. Salah satu upaya dalam pemantapan 3 ketahanan pangan ditingkat rumah tangga dapat dilakukan melalui diversifikasi pangan. Salah satu kontrak kerja antara Menteri Pertanian dengan Presiden selama tahun 2009–2014 yaitu Empat Sukses Pertanian (Badan Ketahanan Pangan, 2012)2. Empat Sukses Pertanian merupakan salah satu Peningkatan Diversifikasi Pangan (Penganekaragaman Pangan) dengan tujuan untuk meningkatkan keanekaragaman pangan sesuai dengan karakteristik daerah. Diversifikasi pangan merupakan konsep yang banyak bergantung pada semangat mengurangi dampak resiko usahatani, mengurangi ketergantungan pada satu komoditas (Suradisastra, dkk, 2006). Kebijakan diversifikasi pangan diawali dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 tahun 1974 tentang Upaya Perbaikan Menu Makanan Rakyat (UPMMR) dan sampai yang terakhir melalui Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya diversifikasi pangan, namun pada kenyataannya tingkat konsumsi masyarakat masih bertumpu pada pangan utama beras serta tingkat konsumsi yang masih dibawah anjuran pemenuhan gizi. Langkah yang dilakukan oleh pemerintah yaitu melalui upaya pemanfaatan lahan pekarangan dengan penggunaan sumberdaya lokal yang dikelola oleh rumah tangga. Sistem pekarangan merupakan salah satu sistem pertanian yang telah lama dikenal oleh masyarakat desa. Peranan pekarangan sampai sekarang masih belum banyak diperhatikan orang. Apabila lahan pekarangan dikelola secara optimal 2 http://bkp.deptan.go.id/node/148 diakses tanggal 17 Maret 2012 4 maka mampu memberikan kontribusi dalam mencukupi pangan dan gizi keluarga serta hasil dari pekarangan dapat menambah pendapatan. Komitmen pemerintah untuk melibatkan rumah tangga dalam mewujudkan kemandirian pangan, diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal, dan konservasi tanaman untuk masa depan dengan budaya menanam di pekarangan (Kementerian Pertanian, 2011). Program pemerintah yang bersentuhan dengan pemanfaatan lahan pekarangan misalnya: Program Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan Program Pengembangan Diversifikasi Pangan dan Gizi (DPG). Kementerian Pertanian (2011) menyatakan bahwa agar mampu menjaga keberlanjutan pemanfaatan pekarangan, maka perlu dilakukan pembaruan rancangan pemanfaatan pekarangan dengan memperhatikan berbagai program yang telah berjalan seperti Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) dan Gerakan Perempuan Optimalisasi Pekarangan (GPOP). Pemerintah melakukan perpaduan program tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat, maka tercipta Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Program KRPL merupakan program dari Kementerian Pertanian yang dilaksanakan pada tahun 2010. Program KRPL bertujuan mengoptimalkan lahan untuk meningkatkan produksi tanaman pangan. Kabupaten yang pertama dipilih oleh Kementerian Pertanian dalam pelaksanaan KRPL adalah Kabupaten Pacitan. Latar belakang KRPL di Kabupaten Pacitan yaitu hasil tindak lanjut dari kunjungan Presiden RI ke Rumah Hijau yang merupakan inisiatif Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur (Saptana, dkk, 2011). Kabupaten Pacitan merupakan 5 kabupaten yang memiliki tingkat ketahanan pangan yang baik 3 . Kabupaten Pacitan melakukan optimalisasi lahan dalam upaya peningkatan produksi tanaman pangan dengan penggunaan teknik tanam terpadu bibit unggul untuk mengatasi topografi daerah yang 80% terdiri dari pegunungan dan bukit. Masyarakat Pacitan mendapatkan bantuan langsung pada tahun 2011 dari pemerintah untuk mendorong peningkatan produksi. Seiring dengan bantuan langsung, maka pemerintah membentuk KRPL dalam rangka memperkuat ketahanan pangan tingkat desa yang bertujuan memacu kemandirian desa dengan memanfaatkan lahan desa hingga pekarangan rumah. Awal pengembangan KRPL dilakukan di Desa Kayen, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan. Desa Kayen menjadi desa percontohan KRPL yang dipilih oleh Kementerian Pertanian. Salah satu desa yang menerapkan KRPL secara swadaya adalah Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan. Desa Banjarsari mengadopsi program KRPL dari Desa Kayen. Kajian ini ditujukan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh yang diberikan KRPL dalam mendukung kesejahteraan masyarakat. 1.2 Perumusan Masalah Luas lahan pekarangan secara nasional sekitar 10,3 juta ha atau 14% dari keseluruhan luas lahan pertanian dan merupakan sumber potensial penyedia bahan pangan yang bernilai gizi dan memiliki nilai ekonomi tinggi (Kementerian Pertanian, 2011). Pengembangan pertanian yang sudah dilaksanakan saat ini masih terbatas pada penanganan lahan sawah, sedangkan untuk pekarangan belum banyak mendapatkan perhatian. Pertumbuhan penduduk yang semakin 3 http://bbp2tp.litbang.deptan.go.id diakses tanggal 30 Maret 2012 6 pesat menuntut usaha pemenuhan penyediaan makanan dan perluasan daerah pemukiman. Tingginya konversi lahan membuat masyarakat melakukan alternatif dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi di lahan yang sempit yaitu dengan pemanfaatan pekarangan. Pemanfaatan lahan pekarangan menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan konsumsi aneka ragam sumber pangan lokal yang diharapkan dapat menurunkan konsumsi beras, terpenuhinya gizi yang seimbang, dan dapat meningkatkan pendapatan. Program KRPL merupakan salah satu alternatif dengan menggunakan pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan pangan, gizi keluarga, dan peningkatan pendapatan yang pada hasil akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan melalui pemberdayaan masyarakat. Program KRPL dapat memacu masyarakat untuk mewujudkan kemandirian desa dalam mengoptimalkan berbagai tanaman pangan. Desa yang menerapkan KRPL secara swadaya adalah Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan. Pengembangan KRPL di Desa Banjarsari telah berjalan satu tahun hanya selang satu sampai dua bulan dari Desa Kayen. Pengembangan KRPL memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Desa Banjarsari. Sebelum Desa Banjarsari menerapkan KRPL, kehidupan masyarakat di desa tersebut sebagian besar belum melakukan optimalisasi pekarangan dan pengembangan pertanian. Masyarakat belum melakukan intensifikasi pekarangan yang bertujuan untuk mendapatkan manfaat sebesar-sebesarnya. Masyarakat hanya menanam tanaman turun-menurun atau sudah ada saat tinggal di Desa Banjarsari seperti pohon mangga, pohon pisang, pohon jeruk, dan lain-lain. 7 Tanaman sayuran sangat jarang diusahakan padahal ini sangat penting untuk digalakkan dalam kebutuhan pangan dan pemenuhan gizi. Pengetahuan masyarakat terhadap manfaat pekarangan juga masih kurang khususnya mutu dan gizi pangan. Sebagian masyarakat tidak mengetahui arti dan peranan empat sehat lima sempurna. Seiring dengan perkembangan KRPL, kehidupan masyarakat di sekitar desa mengalami perubahan baik dari aspek sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Pengembangan program KRPL menumbuhkan dan meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat. Pengembangan KRPL berperan penting dalam peningkatan nilai tambah dari hasil produksi pekarangan. Pengembangan KRPL juga mempengaruhi pengeluaran rumah tangga. Pengembangan KRPL merupakan pembelajaran bagi masyarakat untuk bersama-sama mengelola sesuatu aset yang mereka miliki meskipun sempit. Lahan yang sempit memiliki potensi yang sangat penting bagi pemiliknya. Lahan pekarangan dalam KRPL ditanam bahan pangan seperti umbi-umbian, sayuran, buah serta bahan pangan hewani yang berasal dari ikan, unggas, dan ternak kecil serta kotoran ternak digunakan sebagai pupuk kompos. Masyarakat desa dapat memenuhi kebutuhan dan gizi keluarga dari hasil pekarangan. Berdasarkan pemaparan tersebut, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut: 1) Bagaimana persepsi masyarakat mengenai KRPL di Desa Banjarsari? 2) Bagaimana manfaat fisik dari adanya KRPL dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga di Desa Banjarsari? 8 3) Bagaimana biaya dan manfaat bagi rumah tangga dalam pengembangan KRPL di Desa Banjarsari? 4) Bagaimana keberlanjutan KRPL di Desa Banjarsari? 1.3 Tujuan Berdasarkan perumusan masalah, secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi KRPL di Desa Banjarsari dilihat dari dampak yang ditimbulkannya. Secara lebih rinci maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Mengidentifikasi persepsi masyarakat mengenai KRPL di Desa Banjarsari. 2) Mengidentifikasi manfaat fisik dari adanya KRPL dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga di Desa Banjarsari. 3) Mengestimasi biaya dan manfaat dari adanya pengembangan KRPL di masyarakat Desa Banjarsari. 4) Mengevaluasi keberlanjutan KRPL di Desa Banjarsari. 1.4 Manfaat Penelitian Sehubungan dengan tujuan yang telah ditetapkan, maka hasil penelitian ini diharapkan dapat: 1) Bagi Pemerintah Kabupaten Pacitan dan Instansi yang terkait memahami implementasi KRPL untuk kemudian menjadi bahan evaluasi pengembangan KRPL berikutnya. 2) Bagi masyarakat terutama yang terlibat langsung dalam pelaksanaan penelitian untuk mengaktualisasikan dan menyampaikan pandangannya mengenai KRPL. 9 3) Bagi peneliti dan akademisi diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai rujukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. 1.5. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini membatasi pembahasannya pada kasus yang terjadi di Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur yang merupakan kabupaten pertama yang melaksanakan KRPL. Pengembangan KRPL merupakan pengembangan pekarangan sehingga hasil dari KRPL tersebut beraneka ragam. Penelitian ini hanya fokus dalam gerakan polibagisasi untuk sayuran yang merupakan misi dari KRPL di Desa Banjarsari. Jenis tanaman sayuran dari pekarangan adalah cabe rawit, tomat, terong, kangkung, bayam, dan sawi. Hasil peternakan masyarakat adalah ayam buras petelur. Hasil perikanan masyarakat adalah Ikan Lele dan Ikan Nila. Periode produksi dan konsumsi yang diteliti merupakan periode terakhir KRPL yaitu untuk sayuran dua minggu, ayam buras periodenya satu bulan, dan ikan periodenya sekali panen. Pendapatan keluarga di Desa Banjarsari dari Luar KRPL mencakup petani, Pegawai Negeri Sipil (PNS), pensiunan, wiraswasta, buruh, swasta. 10 II. 2.1 TINJAUAN PUSTAKA Ketahanan Pangan Menurut FAO (1997) menyatakan bahwa ketahanan pangan merupakan situasi dimana semua rumah tangga mempunyai akses baik fisik maupun ekonomi untuk memperoleh pangan bagi seluruh anggota keluarganya, dan dimana rumah tangga tidak beresiko untuk mengalami kehilangan kedua akses tersebut.Pencapaian ketahanan pangan di Indonesia terkait dengan salah satu tujuan UUD 1945 dalam alinea keempat yaitu mencapai kesejahteraan umum. Hal tersebut berarti konsep ketahanan pangan mencakup ketersediaan pangan yang memadai, stabilitas, dan akses terhadap pangan-pangan utama. Ketersediaan pangan yang memadai mengacu pada pangan yang cukup dan tersedia dalam jumlah yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga. Stabilitas merujuk pada kemungkinan rumah tangga mampu mencukupi ketersediaan pangan dan frekuensi makan anggotanya dalam sehari. Akses terhadap pangan mengacu pada kenyataan bahwa masih banyak masyarakat yang mengalami kelaparan karena ketidakadaan sumberdaya untuk memproduksi pangan atau ketidakmampuan untuk membeli pangan sesuai kebutuhan rumah tangga. Konsep ketahanan pangan mulai mengalami pekembangan dari 1970-an hingga dipertegas lagi mengenai pengertian ketahanan pangan pada World Food Summit yang dilaksanakan tahun 1996 menyatakan bahwa ketahanan pangan tercapai bila semua orang secara terus-menerus, baik secara fisik, sosial, dan ekonomi mempunyai akses untuk pangan yang memadai/cukup, bergizi dan aman, yang memenuhi kebutuhan pangan mereka dan pilihan makanan untuk hidup secara aktif dan sehat (DKP, 2009). 11 Ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari: (1) tersedianya pangan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya; (2) aman; (3) merata; (4) terjangkau (Departemen Pertanian, 2001). Konsep ketahanan pangan semakin dipertegas dengan kebijakan pembangunan global yaitu Millenium Development Goals (MDGs). Tujuan utama pembangunan MDGs yaitu mengurangi proporsi penduduk yang hidup kemiskinan dan kelaparan sampai setengahnya pada tahun 2015. Indonesia menjadi salah satu negara yang berkomitmen untuk mengintegrasikan MDGs sebagai bagian dari program pembangunan nasional. Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk mencapai target MDGs. Upaya yang dilakukan oleh Indonesia antara lain adalah dengan melaksanakan pembangunan ketahanan pangan sebagai salah satu program utama pembangunan nasional. 2.2 Pekarangan Menurut Sastrapradja et.al (1979) pekarangan adalah sebidang tanah di sekitar rumah yang mudah di usahakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemenuhan gizi mikro melalui perbaikan menu keluarga. Pekarangan sering juga disebut sebagai lumbung hidup, warung hidup atau apotik hidup. Lahan pekarangan bisa ditanam dengan beraneka jenis tanaman untuk menghasilkan yang dibutuhkan sehari-hari seperti tanaman buah-buahan, sayur-sayuran, bunga-bungaan, tanaman obat-obatan, bumbu-bumbuan, rempah-rempah dan lain-lain. Karakteristik lahan pekarangan dengan ditandai beberapa indikator penting (Rukmana, 2008), antara lain sebagai berikut: 1) Meliputi areal yang sempit atau terbatas. 12 2) Berisi aneka tanaman. 3) Letaknya dekat dengan rumah. 4) Hasilnya yang diperoleh digunakan untuk keperluan sehari-hari. 5) Pada umumnya tidak memerlukan modal besar. Fungsi pekarangan dapat digolongkan menjadi dua bagian yakni fungsi ekonomis dan non-ekonomis. Pekarangan berfungsi ekonomis yaitu hasil pembudidayaan pekarangan dapat dimanfaatkan langsung untuk memenuhi kebutuhan hidup; sedangkan pekarangan berfungsi non-ekonomis yaitu hasil pembudidayaan pekarangan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup secara tidak langsung (jasa lingkungan). Secara garis besar, pemanfaatan lahan pekarangan menurut lokasinya dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu: 1) Di daerah pedalaman, pekarangan pada umumnya dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan gizi, obat-obatan, dan rempah-rempah serta untuk pelestarian lingkungan (Sastrapradja, dkk, 1979). 2) Di daerah pedesaan yang dekat dengan pusat konsumsi, pekarangan dimanfaatkan sebagai penghasil buah-buahan, sumber penghasilan, dan pelestarian lingkungan (Afrinis, 2009). 3) Di daerah perkotaan, pekarangan dimanfaatkan sebagai sumber pangan untuk perbaikan gizi, memberikan kenyamanan dan keindahan, serta melestarikan lingkungan (Rukmana 2005). Apabila pemanfaatan pekarangan diolah dengan baik, maka dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pekarangan dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat di pedesaan yang banyak bergantung dari sektor pertanian. 13 2.3 Pemanfaatan Pekarangan Pemanfaatan pekarangan mempunyai peranan dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi. Potensi pekarangan mempunyai peluang untuk dikembangkan sehingga secara optimal dapat menopang kehidupan masyarakat. Pada pengembangan potensi pekarangan perlu adanya program yang terencana. Program yang terencana dalam pemanfaatan pekarangan bertujuan untuk memberikan manfaat bagi pengelolayang melaksanakan kegiatan. Hal ini dapat dilihat pada hasil penelitian Pari (2004) menyatakan pekarangan sebagai salah satu praktek wanatani (agroforestri) sederhana, sangat dekat dengan kegiatan masyarakat sehari-hari dan dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mengadakan TOGA atau dikenal dengan apotek hidup melalui lembaga PKK di setiap desa. Program TOGA membudidayakan tumbuhan obat untuk mendukung kesehatan keluarga. Pada pelaksanaan program harus ada kerjasama antara masyarakat dengan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada penelitian Rihastuti (1993) menyatakan bahwa dalam rangka usaha peningkatan gizi dan pendapatan keluarga perlu adanya keseimbangan antara petani/masyarakat dan petugas yang terkait dalam pembinaan dan pelaksanaan menuju Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK). Program UPGK merupakan usaha memberikan pendidikan kepada masyarakat dengan sasaran utama yaitu para ibu dan anak. Salah satu kegiatan pendidikan gizi yang dilakukan pada program UPGK yaitu mengembangkan intesifikasi pemanfaatan lahan pekarangan (Marwanti, 1986). Kementerian Pertanian RI saat menggalakkan Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) menjadi dasar munculnya kembali 14 pemanfaatan pekarangan pada tahun 2010. Gerakan tersebut merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan P2KP berbasis sumberdaya lokal (Kementerian Pertanian, 2012). Kementerian Pertanian (2012) pada Pedoman Umum Pelaksanaan P2KP menyatakan bahwa implementasi kebijakan P2KP pada tahun 2012 sebagai bentuk keberlanjutan dari kegiatan P2KP tahun 2010 diwujudkan melalui kegiatan: (1) Pemberdayaan kelompok wanita melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan dan bantuan alat penepung; (2) Pengembangan pangan lokal melalui kegiatan pra-pangkin dan kerja sama dengan Perguruan Tinggi dalam pengembangan teknologi pangan lokal; (3) Sosialisasi dan promosi penganekaragaman konsumsi pangan; (4) Pengembangan Kawasan Diversifikasi Pangan (PKDP) yang merupakan pengembangan dari kegiatan P2KP pada tingkat kawasan. Kementerian Pertanian (2011) menyatakan bahwa Direktorat Jenderal Hortikultura melaksanakan Gerakan Perempuan untuk Optimalisasi Pekarangan (GPOP) untuk mendukung P2KP. Tujuan gerakan tersebut lebih fokus untuk memberdayakan perempuan perkotaan melalui optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan. Komoditas utama yang dioptimalkan dalam GPOP adalah cabai keriting, cabai rawit, sayuran, tanaman obat dan tanaman hias. Kegiatan optimalisasi pemanfaatan pekarangan atau lahan sempit (utamanya daerah perkotaan) di Jawa Timur dilakukan dengan aneka tanaman hortikultura yakni sayuran, buah-buahan, tanaman hias dan biofarmaka. Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencanangkan Rumah Hijau pada tahun 2010 sebagai salah satu solusi klimatologi yang berimbas pada menurunnya beberapa produksi pangan (Anonim, 2011). 15 Rumah Hijau yang pertama kali dilaksanakan di Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Rumah Hijau kemudian dikembangkan dan disempurnakan oleh Badan Litbang Pertanian dengan membangun Model KRPL di Kabupaten Pacitan. Pengembangan konsep KRPL (Rumah Hijau Plus-Plus) sejalan dengan Strategi Pengembangan Jawa Timur untuk mewujudkan visi dan menjalankan misi pembangunan daerah Jawa Timur tahun 2009-2014 dilakukan melalui empat strategi pokok yaitu (Badan Ketahanan Pangan Jawa Timur, 2012): 1) Pembangunan berkelanjutan berpusat development) yang mengedepankan pada rakyat partisipasi (people centered masyarakat dalam merencanakan dan mengawasi program pembangunan yang menyangkut hajat hidup mereka sendiri. 2) Keberpihakan pada masyarakat miskin (pro-poor). 3) Pengarusutamaan gender. 4) Keseimbangan pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, terutama melalui pengembangan agroindustri/agribisnis. 2.4 Kawasan Rumah Pangan Lestari Pengembangan KRPL merupakan pemanfaatan pekarangan dalam mewujudkan kemandirian pangan pada suatu kawasan. Pelaksanaan KRPL dilakukan pada satu dusun (kampung) atau Rukun Tetangga (RT) yang telah menerapkan prinsip RPL dengan menambahkan intensifikasi pemanfaatan pagar hidup, jalan desa, dan fasilitas umum lainnya (sekolah, rumah ibadah, dan lainnya), lahan terbuka hijau, serta mengembangkan pengolahan dan pemasaran hasil (Kementerian Pertanian, 2011). 16 2.4.1 Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari Model KRPL merupakan upaya untuk menuju kecukupan dan kemandirian pangan rumah tangga. Pengembangan KRPL juga memiliki tujuan untuk menekan biaya pengeluaran rumah tangga dengan cara memenuhi kebutuhannya sehari-hari dengan memanfaatkan sumberdaya yang mereka miliki, serta agar mampu menghindar dari dampak anomali iklim ekstrim. Model KRPL akan menjadi tumpuan untuk mengantisipasi perubahan alih fungsi lahan pertanian dengan keadaan dalam pemanfaatan pekarangan. Pengembangan KRPL merupakan gerakan dari dan untuk masyarakat pedesaan mulai tingkat dusun sampai dengan tingkat Rumah Tangga (RT) yang bekerjasama dengan ibu-ibu Tim Penggerak PKK mulai tingkat provinsi sampai dengan Dasa Wisma dan instansi pemerintah hanya berfungsi sebagai motivator, fasilator, dan stabilator terhadap gerakan ini (Badan Ketahanan Pangan, 2012). Rumah Pangan Lestari merupakan rumah yang memanfaatkan pekarangan secara intensif melalui pengelolaan sumberdaya alam lokal secara bijaksana, yang menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas, nilai dan keanekaragamannya. 2.4.2 Tujuan Kawasan Rumah Pangan Lestari Kementerian Pertanian (2011) menyatakan bahwa tujuan pengembangan KRPL yang tercantum dalam Pedoman Umum KRPL adalah: 1) Meningkatkan keterampilan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan di perkotaan maupun pedesaan untuk budidaya tanaman pangan, buah, sayuran dan TOGA, pemeliharaan ternak dan ikan, pengolahan hasil serta pengolahan limbah rumah tangga menjadi kompos. 17 2) Memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan masyarakat secara lestari dalam suatu kawasan. 3) Mengembangkan kegiatan ekonomi produktif keluarga dan menciptakan lingkungan hijau yang bersih dan sehat secara mandiri. Badan Ketahanan Pangan, Jawa Timur (2012) menyatakan bahwa tujuan utama pengembangan KRPL adalah: 1) Meningkatkan ketersediaan dan cadangan pangan keluarga. 2) Meningkatkan penganekaragaman pangan. 3) Meningkatkan kualitas gizi keluarga. 4) Meningkatkan pendapatan keluarga. 5) Menumbuh kembangkan ekonomi kreatif di setiap desa. 2.4.3 Prinsip Kawasan Rumah Pangan Lestari Prinsip utama KRPL adalah pengelolaan pekarangan untuk mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan, diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal, konservasi tanaman pangan, dan menjaga kelestariannya melalui Kebun Bibit Desa (KBD), menuju peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat (Kementerian Pertanian, 2011). 2.4.4 Sasaran Kawasan Rumah Pangan Lestari Sasaran yang dituju pada KRPL adalah berkembangnya kemampuan keluarga maupun masyarakat secara ekonomi, sosial yang bermartabat dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi secara lestari menuju keluarga maupun masyarakat yang mandiri, dan sejahtera (Kementerian Pertanian, 2011). Badan Ketahanan Pangan, Jawa Timur (2012) menyatakan bahwa sasaran KRPL adalah: 18 1) Pemberdayaan ibu rumah tangga yang tergabung dalam PKK Desa dan Dasa Wisma sebagai pelaku dan pengelola pekarangan. 2) Menumbuh kembangkan KBD dan sarana penunjang lainnya. 3) Meningkatkan peran Koperasi Wanita yang ada di setiap desa sebagai sumber permodalan penyedia agroinput dan pemesan hasil produksi baik segar maupun olahan. Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Jawa Timur (2011) menyatakan bahwa sasaran rumah tangga dalam pengembangan KRPL dikelompokkan menjadi tiga strata berdasarkan luas lahan pekarangan yang dikuasai, adalah: (1) Strata 1 yaitu rumah tangga yang memiliki luas pekarangan 200 Total Jumlah (KK) Komoditas 30 Sayuran 25 sayuran dan ternak 25 sayuran, ternak, dan ikan 80 Sumber: Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat jumlah responden dalam penelitian tersebut adalah 80 KK. Penelitian ini menganalisis responden dengan unit rumah tangga. Sebagai responden adalah ibu rumah tangga, bapak (kepala rumah tangga), dan atau anggota keluarga lainnya, disesuaikan dengan keperluan dan keadaan di lapangan. Penentuan ketiga golongan tersebut didasarkan atas tujuan penelitian, disesuaikan dengan pendapat responden dan kenyataan yang ada di lapang. Karena beragamnya luas dan kondisi pekarangan yang dimiliki oleh tiap rumah tangga contoh, maka klasifikasi juga dilakukan untuk memudahkan dalam menganalisa data. 35 Pada analisis data kualitatif responden dipilih secara purposive dari pihak pengurus, anggota, dan atau masyarakat KRPL untuk menggali prospek pengembangan KRPL khususnya di Desa Banjarsari. Kriteria pemilihan responden didasarkan kepada pemahaman responden terhadap konten dan pelaksanaan KRPL. Dengan demikian, diharapkan responden yang terpilih merupakan key informan terutama terkait dengan topik yang diteliti. 4.4 Metode dan Prosedur Analisis Data Data yang didapatkan dalam penelitian ini diolah secara kualitatif dan kuantitatif. Metode prosedur analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini dapat dijelaskan dalam Tabel 6. Pengambilan sampel dilakukan di Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan. Tabel 6. Matriks Metode Analisis Data No Tujuan penelitian Sumber Data Metode Analisis Data 1 Mengidentifikasi Data primer persepsi masyarakat melalui mengenai KRPL wawancara dengan kuisioner Analisis deskriptif dengan menggunakan Microsoft Excel 2007 2 Mengidentifikasi manfaat fisik dari adanya KRPL dalam mendukung ketahanan pangan rumah tangga Data primer melalui wawancara dengan kuisioner Analisis deskriptif dengan menggunakan Microsoft Excel 2007 3 Mengestimasi biaya Data primer dan manfaat dari melalui adanya wawancara pengembangan dengan kuisioner KRPL Analisis deskriptif dengan menggunakan Microsoft Excel 2007 4 Mengevaluasi keberlanjutan KRPL Analisis deskriptif dengan menggunakan Microsoft Excel 2007 Data primer melalui wawancara kepada key informan 36 4.4.1 Identifikasi Persepsi Rumah Tangga terhadap KRPL Identifikasi persepsi mengunakan analisis deskriptif dalam pengolahannya. Analisis deskriptif yang digunakan adalah metode statistik deskriptif. Statistik deskriptif merupakan bagian dari statistik yang mempelajari cara pengumpulan dan penyajian data sehingga mudah dipahami (Hasan, 2001). Statistik deskriptif hanya menerangkan suatu keadaan yang terjadi, fenomena, atau persoalan yang terjadi di suatu tempat/wilayah. Identifikasi persepsi dilakukan untuk mengetahui pengetahuan atau informasi mengenai seberapa jauh masyarakat menyadari akan adanya perubahan KRPL, manfaat yang dirasakan oleh responden, serta kendala-kendala KRPL. Analisis ini dilakukan melalui wawancara kepada rumah tangga dengan menggunakan kuesioner. Hasil kuesioner akan diolah menggunakan tabel untuk mempermudah dalam melakukan analisis. 4.4.2 Identifikasi Manfaat Fisik dari adanya KRPL dalam Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Pangan Rumah Tangga Pelaksanaan KRPL memiliki tujuan utama yaitu untuk meningkatkan kemandirian pangan dalam rumah tangga secara berkelanjutan. Kemandirian pangan rumah tangga merupakan kondisi terpenuhnya pangan yang cukup bagi rumah tangga secara mandiri untuk meningkatkan sosial dan ekonomi rumah tangga maupun masyarakat. Masyarakat melakukan kegiatan produksi di pekarangan untuk memenuhi pangan. Ketika kebutuhan sehari-hari pada pangan sudah terpenuhi, sisanya di jual ke pasar atau diberikan kepada tetangga atau saudara. Manfaat fisik dari adanya KRPL dapat ditunjukkan dari salah satu tujuan utama pengembangan KRPL yaitu memenuhi ketersediaan pokok keluarga 37 dengan dilihat dari produksi KRPL yang dihasilkan. Manfaat fisik KRPL ditunjukkan dengan hasil produksi selama umur tanaman. Analisis manfaat fisik dari adanya KRPL dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga dilakukan untuk mengetahui seberapa besar hasil yang dikonsumsi sendiri dan seberapa besar hasil yang dijual. Analisis ini dilakukan melalui wawancara kepada rumah tangga dengan menggunakan kuisioner. Hasil kuesioner akan diolah menggunakan tabel untuk mempermudah dalam melakukan analisis. Secara sistematis manfaat fisik dengan melihat dari jumlah produksi khususnya tanaman dapat dijelaskan sebagai berikut: Yt= Σxt. Qt ................................................ (4.1) Keterangan: Yt = Jumlah hasil dari KRPL Σxt = Jumlah tanaman (pohon) Qt = Produktivitas tanaman per pohon 4.4.3 Estimasi Biaya dan Manfaat dari Pengembangan KRPL Analisis KRPL dilakukan untuk membandingkan biaya-biaya dengan manfaatnya dan menentukan proyek-proyek yang mempunyai keuntungan yang layak. Analisis pelaksanaan proyek-proyek pertanian mempunyai implikasi nyata terhadap penerimaan dan pengeluaran petani. Apabila biaya dan manfaat proyek sudah diidentifikasi, dihitung dan dinilai maka analisis sudah dapat menentukan proyek mana yang akan diterima atau ditolak (Gittinger, 1986). Oleh karena itu, pentingnya evaluasi pada KRPL adalah menunjukkan apakah dan sampai berapa jauh proyek KRPL memberikan manfaat yang lebih besar daripada biayanya kepada masyarakat yang melaksanakan proyek. Manfaat dari KRPL adalah hasil 38 produksi yang kemudian dilihat dari pendapatan yang diterima oleh rumah tangga untuk melaksanakan KRPL. Pendapatan KRPL merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya. Pendapatan KRPL terdiri dari pendapatan atas biaya tunai danpendapatan atas biaya total. Pendapatan tunai merupakan selisih antara penerimaan total dengan biaya tunai. Pendapatan total merupakan selisih antara penerimaan total dengan biaya total. Biaya atau pengeluaran total merupakan penjumlahan biaya tunai dan biaya non tunai. Menurut soekartawi (1986), biaya usahatani terdiri dari biaya tunai dan non tunai. Biaya tunai merupakan biaya yang dikeluarkan secara tunai. Biaya non tunai merupakan biaya yang tidak termasuk ke dalam biaya tunai tetapi diperhitungkan dalam usahatani. Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual produk (Soekartawi, 2002). Secara matematis penerimaan dapat dituliskan sebagai berikut: TR = Y.Py-[Bt+Bd] ................................................ (4.2) Keterangan: TR = Total penerimaan dari KRPL Y = Produksi yang diperoleh KRPL Py = Harga Y Bt = Biaya tunai dari KRPL Bd = Biaya diperhitungkan dari KRPL Analisis dilakukan dengan cara menggunakan rasio penerimaan atas biaya (R/C ratio). Analisis rasio penerimaan atas biaya (R/C ratio) merupakan salah satu cara untuk mengetahui perbandingan antara penerimaan dan biaya dikeluarkan. 39 Rasio penerimaan atas biaya mencerminkan seberapa besar pendapatan yang diperoleh setiap satu satuan biaya yang dikeluarkan dalam KRPL. Analisis ini menggunakan R/C rasio terhadap biaya total dengan perhitungan sebagai berikut: R/C rasio = ................................................ (4.3) Analisis rasio penerimaan atas biaya (R/C ratio) memiliki arti sebagai berikut: 1) Apabila nilai R/C > 1, maka usahatani tersebut dikatakan menguntungkan karena setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan lebih besar dari satu rupiah. 2) Apabila nilai R/C = 1, maka usahatani tersebut dikatakan impas karena setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan sebesar satu rupiah juga. 3) Apabila nilai R/C < 1, maka usahatani tersebut dikatakan tidak menguntungkan karena setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan lebih kecil dari satu rupiah. Kontribusi KRPL terhadap pendapatan keluarga dapat dijelaskan dengan rumus: ................................................ (4.4) Keterangan: KP= Kontribusi KRPL terhadap pendapatan keluarga (%) X= pendapatan bersih KRPL (Rp/Rumah tangga/Tahun) Y= Pendapatan total rumah tangga (Rp/Rumah tangga/Tahun) 40 4.4.4 Analisis Keberlanjutan KRPL Analisis keberlanjutan dan prospek pengembangan KRPL dilakukan secara kualitatif berdasarkan wawancara mendalam. Untuk menilai prospek pengembangan KRPL, dapat dilihat dari aspek-aspek keberlanjutan tersebut yang terdiri atas aspek lingkungan, aspek ekonomi serta aspek sosial. Aspek lingkungan melihat bagaimana dampak KRPL terhadap keberlanjutan pelestarian pekarangan. Aspek sosial-budaya melihat bagaimana keterikatan masyarakat dengan masyarakat lain yang berada di sekitarnya sejak diadakannya KRPL. Aspek ekonomi melihat bagaimna manfaat yang diberikan oleh KRPL dari penghematan pengeluaran rumah tangga dan keberadaan KBD. Analisis yang digunakan untuk menganalisis biaya dan manfaat untuk menentukan apakah proyek akan menguntungkan selama umur proyek. Gambaran pendapatan dapat dinyatakan dengan NPV dan Gross B/C. Secara matematis pendapatan dapat dituliskan sebagai berikut: 4.4.4.1 Net Present Value (NPV) Suatu usaha dapat dinyatakan layak jika jumlah seluruh manfaat yang diterimanya melebihi biaya yang dikeluarkan. Selisih antara manfaat dan biaya disebut dengan manfaat bersih atau Net Present Value (NPV). Dalam menghitung NPV perlu ditentukan tingkat suku bunga yang relevan. Rumus yang digunakan dalam perhitungan NPV adalah sebagai berikut: NPV = Σ ................................................ (4.5) 41 Kriteria investasi berdasarkan NPV yaitu : 1) NPV = 0, artinya proyek tersebut mampu memberikan tingkat pengembalian sebesar modal sosial Opportunity Cost faktor produksi normal. Dengan kata lain, proyek tersebut tidak untung tidak juga rugi. 2) NPV > 0, artinya suatu proyek dinyatakan menguntungkan dan dapat dilaksanakan. 3) NPV < 0, artinya proyek tersebut tidak menghasilkan nilai biaya yang dipergunakan, atau dengan kata lain proyek tersebut merugikan dan sebaiknya tidak dilaksanakan 4.4.4.2 Gross Benefit Cost (Gross B/C) Nilai Gross B/C merupakan nilai yang menggambarkan perbandingan antara present value benefit dengan present value cost. Persamaan perhitungannya adalah sebagai berikut: ∑ ∑ ................................................ (4.6) Kriteria investasi berdasarkan Gross B/C yaitu : 1) Apabila Gross B/C > 1, artinya proyek layak untuk dilaksanakan. 2) Apabila Gross B/C < 1, proyek tidak layak untuk dilaksanakan. Dari sudut pandang ketiga aspek tersebut yaitu aspek lingkungan, aspek ekonomi, dan aspek sosial, dapat diketahui bagaimana prospek pengembangan dan keberlanjutan KRPL khususnya untuk kasus Desa Banjarsari. 42 V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Desa Banjarsari terletak di Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Batas-batas wilayah Desa Banjarsari adalah: Sebelah utara : Desa Tambakrejo, Kecamatan Pacitan Sebelah timur : Desa Purworejo, Kecamatan Pacitan Sebelah selatan : Desa Ketepung, Kecamatan Kebonagung Sebelah barat : Desa Semanten, Kecamatan Pacitan Desa Banjarsari memiliki luas sekitar 235,621 ha yang terdiri dari luas persawahan seluas 44 ha, luas pemukiman seluas 10 ha, luas perkebunan seluas 99 ha, luas pekarangan seluas 30 ha, luas tegal seluas 36 ha, dan luas prasarana umum lainnya seluas 16,621 ha. Desa Banjarsari memiliki Sungai Grindulu yang merupakan sungai penghubung ke desa seberang yaitu Desa Semanten. Kondisi persawahan merupakan sawah tadah hujan dengan memanfaatkan air hujan yang hanya turun di musim tanam antara bulan Oktober-Maret. Jarak desa dari pemerintahan kecamatan pusat adalah 10 km, dari pusat pemerintahan kabupaten adalah 8 km, dan dari pemerintahan provinsi adalah 295 km. Apabila ingin memasuki Desa Banjarsari dapat ditempuh dengan menggunakan jalan darat . 5.2 Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana yang terdapat di Desa Banjarsari sudah cukup tersedia dengan baik. Kebutuhan penduduk untuk pendidikan dasar dan pelayanan kesehatan sederhana dapat terpenuhi di dalam desa tanpa harus mencari di luar wilayah desa. Jalan utama yang menghubungkan desa dengan wilayah luar 43 pundalam kondisi yang cukup baik dan permanen sehingga dapat dilalui berbagai jenis kendaran darat. Mengenai fasilitas pendidikan yang masih terbatas, Desa Banjarsari hanya memiliki 2 PAUD, 1 TK, dan 1 SD. Apabila pendidikan tingkat menengah, tingkat menengah atas dan pendidikan tinggi, penduduk harus mencarinya ke wilayah lain di luar desa. Desa Banjarsari memiliki pelayanan kesehatan sebanyak tiga posyandu yang masih aktif. Kegiatan pelaksanan posyandu terdapat kader posyandu aktif sebanyak sembilan orang dan tiga pembina posyandu. Masyarakat memanfaatkan warung-warung yang cukup tersedia di sepanjang jalan utama desa untuk fasilitas perbelanjaan. Pedagang keliling di Desa Banjarsari cukup sedikit. Pasar dan swalayan yang memadai terletak di pusat kecamatan yaitu di daerah Arjowinangun. Transportasi umum yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mobilitas antar kecamatan tersebut adalah angkot dan motor. Sarana yang dirasakan sangat penting oleh masyarakat adalah layanan air bersih. Sumber air utama di Desa Banjarsari sebagian besar didapatkan dari mata air dan sumur gali. Tabel 7 menunjukkan jumlah sumber air bersih dan pengguna sumber air. Tabel 7. Jumlah Penggunaan Sumber Air Bersih di Desa Banjarsari No 1 Jenis Mata air Jumlah (Unit) Pemanfaat (KK) 3 60 156 340 2 Sumur gali 3 Sumur pompa 1 1 Total 160 401 Sumber: Kantor Kelurahan Desa Banjarsari, Kabupaten Pacitan (2011) 44 Keberadaan layanan air bersih sangat diharapkan oleh penduduk terutama ketika memasuki musim kemarau. Pada saat musim kemarau dapat dikatakan sumber air yang tersedia tidak mencukupi bahkan untuk mandi sekalipun. 5.3 Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk Jumlah penduduk Desa Banjarsari pada tahun 2011 mengalami penurunan. Penduduk Desa Banjarsari pada tahun 2010 berjumlah 1326 jiwa yang terdiri dari 633 laki-laki dan 693 perempuan, sedangkan pada tahun 2011, jumlah penduduk menjadi 1316 jiwa yang terdiri dari 633 laki-laki dan 683 perempuan. Jumlah rumah tangga pada tahun 2010 dan 2011 tidak mengalami perubahan yaitu berjumlah 401 KK terdiri dari 316 KK laki-laki (78,80%) dan 85 KK perempuan (21,20%). Seluruh penduduk desa menganut agama Islam. Jumlah penduduk yang merupakan angkatan kerja adalah sebanyak 438 orang dengan persentase 33,28%, usia lebih dari 56 sebesar 376 orang dengan persentase 28,57%, usia 0-7 tahun sebesar 181 orang dengan persentase 13,75%, usia 7-18 tahun sebesar 175 orang dengan persentase 13,30%, usia 1-5 tahun sebesar 108 orang dengan persentase 8,21%, usia 0-12 bulan sebesar 38 orang dengan persentase 2,89%. Masyarakat Desa Banjarsari sebagian besar menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian sebesar 84,78%. Tabel 8. Jumlah Mata Pencaharian Menurut Sektor Tahun 2011 di Desa Banjarsari No Sektor 1 2 3 4 5 Sektor pertanian Sektor peternakan Sektor industri kecil dan kerajinan rumah tangga Sektor industri menengah dan besar Sektor jasa Total Jumlah (orang) 1003 8 43 16 113 1183 Persentase (%) 84,78 0,68 3,64 1,35 9,56 100,00 Sumber: Kantor Kelurahan Desa Banjarsari, Kabupaten Pacitan (2011) 45 Tingkat kesejahteraan penduduk dapat dilihat dengan menggunakan kriteria keluarga sejahtera yang dikeluarkan oleh BKKBN, tingkat kesejahteraan keluarga di Desa Banjarsari dikelompokkan menjadi lima tahapan. Selengkapnya mengenai jumlah keluarga menurut tingkat kesejahteraannya dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Kesejahteraan Keluarga di Desa Banjarsari No Uraian Jumlah (KK) Persentase (%) 1 Keluarga Pra Sejahtera 41 10,22 2 Keluarga Sejahtera I 61 15,21 3 Keluarga Sejahtera II 98 24,44 4 Keluarga Sejahtera III 198 49,38 5 Keluarga Sejahtera III plus 3 0,75 401 100,00 Total Sumber: Kantor Kelurahan Desa Banjarsari, Kabupaten Pacitan (2011) Berdasarkan Tabel 9 menunjukkan bahwa dengan persentase sebesar 49,38% mayoritas keluarga di Desa Banjarsari adalah mereka yang tergolong Keluarga Sejahtera III (KS III). Kemudian sebesar 24,44% keluarga di desaini adalah mereka yang tergolong Keluarga Sejahtera II (KS II). Selanjutnya sebesar 15,21% keluarga tergolong Keluarga Sejahtera I (KS I). Sisanya masing-masing dengan persentase sebesar 10,22% dan 0,75% adalah mereka yang tergolong Keluarga Pra Sejahtera (KPS) dan Keluarga Sejahtera III plus (KS III+). Berdasarkan kriteria keluarga sejahtera BKKBN tersebut, yang tergolong keluarga miskin adalah mereka yang termasuk Pra-KS dan KS I. Total keluarga miskin di Desa Banjarsari berdasarkan kriteria tersebut sebesar 25,43% sedangkan total keluarga tidak miskin sebesar 74,57%. Mayoritas rumah tangga di Desa Banjarsari tergolong tidak miskin. 46 5.4 Karakteristik Responden Responden utama dalam penelitian yang dilakukan di Desa Banjarsari ini adalah rumah tangga yang mengikuti KRPL yang berjumlah 80 orang. Responden Desa Banjarsari dibagi menjadi 3 strata yaitu: strata 1 berjumlah 30 responden, strata 2 berjumlah 25 responden, dan strata 3 berjumlah 25 responden. Karakteristik utama responden yang dapat diketahui adalah umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan dalam satu rumah dan luas pekarangan. Variasi umur responden di Desa Banjarsari cukup lebar yaitu dari usia 20 hingga 79 tahun. Keikutsertaan responden pada KRPL di Desa Banjarsari dapat dilihat di Tabel 10. Tabel 10. Rentang Umur Responden Strata 1 Strata 2 Strata 3 Rentang Umur Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase (tahun) (orang) (%) (orang) (%) (orang) (%) < 30 5 17,00 6 24,00 3 12,00 31-56 16 53,00 10 40,00 18 72,00 >56 9 30,00 9 36,00 4 16,00 Total 30 100,00 25 100,00 25 100,00 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan Tabel 10 memperlihatkan rentang umur responden berdasarkan keikutsertaan dalam KRPL. Rata-rata umur responden yang mengikuti KRPL pada strata 1 adalah 48 tahun dengan umur responden yang paling muda adalah 20 tahun sedangkan yang paling tua mengikuti KRPL adalah 79 tahun. Pada strata 2, rata-rata umur responden yang mengikuti KRPL adalah 48 tahun dengan umur responden yang paling muda adalah 26 tahun dan yang paling tua mengikuti KRPL adalah 71 tahun. Pada strata 3, rata-rata umur 47 responden yang mengikuti KRPL adalah 47 tahun dengan umur responden yang paling muda adalah 22 tahun sedangkan yang paling tua mengikuti KRPL adalah 62 tahun. Maka, responden yang mengikuti KRPL di Desa Banjarsari tidak mengenal batasan umur, yaitu dari kalangan muda hingga kalangan tua sekalipun. Pada pelaksanaan KRPL pendidikan responden bervariasi dari SD hingga Perguruan Tinggi. Sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan formal yang rendah. Tabel status pendidikan responden berdasarkan keikutsertaan dalam KRPL di Desa Banjarsari dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11. Tingkat Pendidikan Formal Responden Tingkat Pendidikan Strata 1 Jumlah Persentase (orang) (%) Strata 2 Jumlah Persentase (orang) (%) Strata 3 Jumlah Persentase (orang) (%) SD 13 43,00 11 44,00 7 28,00 SLTP 6 20,00 5 20,00 3 12,00 SLTA 7 23,00 5 20,00 8 32,00 PT 4 14,00 4 16,00 7 28,00 Total 30 100,00 25 100,00 25 100,00 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan Tabel 11 dapat terlihat bahwa tingkat pendidikan formal antara ketiga strata yang mengikuti KRPL adalah berbeda. Pada strata 1 dan 2, sebagian besar responden berpendidikan SD. Dominasi di strata 3 ditunjukkan oleh responden dengan yang berpendidikan SLTA. Perbedaan ini disebabkan karena strata 1 dan 2 kondisi perekonomian keluarga yang tidak mencukupi untuk melanjutkan jenjang yang lebih tinggi. Tanggungan keluarga merupakan jumlah total anggota keluarga yang menggantungkan kehidupan ekonominya kepada kepala keluarga. Jumlah tersebut juga menggambarkan besarnya potensi tenaga kerja yang dapat tersedia untuk 48 usahatani keluarga. Secara rata-rata jumlah tanggungan keluarga untuk ketiga strata di Desa Banjarsari adalah 4 orang per keluarga. Artinya, seorang responden dalam suatu rumah tangga harus menanggung beban hidup bagi sekitar 4 orang anggota keluarga lainnya. Tabel 12 menunjukkan rata-rata jumlah tanggungan keluarga untuk tiap strata. Tabel 12. Rata-Rata Tanggungan Keluarga No 1 2 3 Kelompok Strata Rata-rata Jumlah Tanggungan Keluarga (orang) Strata 1 Strata 2 Strata 3 Total 4 4 4 4 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Kondisi di lapang menyatakan bahwa potensi kerja untuk mengikuti KRPL hanya sebesar dua orang. Hal ini dikarenakan KRPL merupakan kegiatan yang sasarannya adalah ibu rumah tangga. Kepala rumah tangga (bapak) dan anggota keluarga lainnya sifatnya hanya membantu kegiatan KRPL. Tolak ukur dalam pengembangan KRPL adalah luas pekarangan. Luas pekarangan pada setiap strata bervariasi. Penguasaan luas pekarangan di Desa Banjarsari dapat dilihat pada Tabel 13-15. Tabel 13. Luas Pekarangan Strata 1 No 1 2 3 Luas Pekarangan (m2) 260 Total Jumlah (orang) 11 2 12 25 Persentase (%) 44,00 8,00 48,00 100,00 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan Tabel 15 menunjukkan luas pekarangan pada strata 3 yaitu luas pekarangan minimum yang dimiliki responden pada strata 3 seluas 204 m2 sedangkan maksimum yang dimiliki oleh responden seluas 550 m2. Rata-rata luas pekarangan yang dimiliki rumah tangga pada strata 3 yaitu seluas 305 m2. 5.5. Profil Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) “KEMPLING” Kawasan Rumah Pangan Lestari (Rumah Hijau Plus-Plus) di Desa Banjarsari merupakan desa percontohan yang pertama yang dilaksanakan secara swadaya. Pengembangan KRPL di Desa Banjarsari bernama KRPL “KEMPLING” dengan singkatan Kawasan Rumah Pangan Lestari Kesehatan, Ekonomi, Pendidikan, dan Lingkungan. 50 Pengembangan KRPL merupakan gerakan dengan partisipasi aktif masyarakat yang dimotori oleh ibu-ibu Tim Penggerak PKK untuk mengefektifkan sumberdaya alam yang belum optimal. Awal pengembangan KRPL melihat dari potensi lahan pekarangan masyarakat yang sangat mendukung untuk dimanfaatkan dan ditanami serta adanya anjuran penganekaragaman sayuran di pekarangan oleh Pemerintah Pacitan yang menjadi salah satu faktor utama berdirinya KRPL di Desa Banjarsari. Perbedaan dengan Desa Kayen yang merupakan desa percontohan Kementerian Pacitan dengan Desa Banjarsari yaitu partisipasi masyarakat Desa Banjarsari lebih tinggi dibandingkan partisipasi Desa Kayen. Hal ini dibuktikan dari perolehan juara dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus bahwa KRPL Dusun Padangan mampu memperoleh: Juara ke-1 KRPL tingkat Kecamatan, Juara ke-1 KRPL tingkat Kabupaten, Juara ke-1 KRPL tingkat Dinas antar PPL, dan Juara ke-2 tingkat Kabupaten (posdaya). Pelaksanaan awal KRPL di Desa Banjarsari dimulai dari satu dusun yaitu Dusun Padangan sekitar pada bulan April 2011. Kegiatan di Dusun Padangan diawali dengan satu RT sebesar 21 KK. Sosialisasi dilaksanakan melalui perkumpulan tidak formal untuk mengenalkan penganekaragaman sayuran di pekarangan dengan mengajak perangkat desa dan tokoh masyarakat yang berpengaruh. Hasilnya masyarakat banyak yang merespon dan akhirnya secara swadaya dengan menggunakan iuran melalui kelompok tani atau RT yang dilaksanakan di satu tempat kemudian iuran tersebut digunakan untuk membeli benih sayuran. Benih sayuran ini kemudian disemaikan di KBD sebelum dibagikan kepada masyarakat Desa Banjarsari. Seiring dengan berjalannya waktu, kegiatan tersebut juga mengadopsi dari Desa Kayen sehingga KRPL di Desa 51 Banjarsari muncul. Pelaksanaan KRPL KEMPLING resmi didirikan pada tanggal 3 Desember 2011. Visi KRPL KEMPLING adalah KRPL mencukupi kebutuhan pangan keluarga. Misi KRPL KEMPLING adalah meningkatkan pemanfaatan lahan pekarangan, meningkatkan gerakan polibagisasi, meningkatkan budidaya ikan air tawar, dan meningkatkan budi daya tanaman TOGA. Tujuan KRPL KEMPLING adalah: 1) Meningkatkan ketersediaan cadangan pangan keluarga. 2) Meningkatkan penganekaragaman pangan. 3) Meningkatkan kualitas keluarga. 4) Meningkatkan pendapatan keluarga. 5) Menumbuh kembangkan ekonomi kreativitas disetiap keluarga. Sasaran KRPL KEMPLING adalah: 1) Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga yang tergabung dalam PKK Desa dan Dasa Wisma sebagai pelaku dan pengelola pekarangan. 2) Menumbuh kembangkan KBD dan sarana penunjang lainnya. 3) Meningkatkatkan Peran Koperasi Wanita yang ada di Desa Banjarsari. Pelaksanaan Pengembangan KRPL KEMPLING terdiri dari: 1) Sosialisasi mengenai KRPL Sosialisasi dilaksanakan oleh tim PPL Desa Banjarsari, perangkat desa, dan tokoh masyarakat kepada warga untuk menyampaikan maksud dan tujuan pengembangan KRPL. 2) Penyiapan lahan dan media tanam 52 Partisipasi masyarakat saat penyiapan lahan di pekarangan, media tanam, kelengkapan vertikultur sangat menentukan keberhasilan KRPL. 3) Perawatan Tanaman Perawatan tanaman secara rutin oleh masyarakat dengan pemberian pupuk kandang, pemasangan ajir, pemeriksaan dan pengendalian hama, serta pemeliharaan ayam/ternak, ikan. Ciri khas dalam pengembangan KRPL yaitu setiap desa harus memiliki KBD. Pengembangan KBD merupakan sarana yang paling penting untuk diadakan. Sarana KBD dilakukan secara terpusat di salah satu rumah warga yang tempatnya strategis yaitu sekitar 5-10 m dari jalan utama Desa Banjarsari. Produksi di KBD Banjarsari dengan melakukan persemaian sayuran di nampan kemudian dipindah ke daun pisang atau yang lebih dikenal di Desa Banjarsari adalah “voker”. Pengurus KRPL setelah itu membagikan voker ke masyarakat maupun di jual ke masyarakat desa lain. Penyemaian benih sayur di Desa Banjarsari menggunakan bahan yang mudah diperoleh dan ramah lingkungan yaitu dengan menggunakan daun pisang. Kelebihan menggunakan daun pisang yaitu saat memindah bibit ke polibag, bibit tanaman yang ada di media semai tidak perlu dibongkar, tetapi bisa langsung dibenam ke dalam tanah. Keuntungan menggunakan media daun pisang yaitu bahan yang mudah di dapat di sekitar lokasi KBD, pengerjaannya mudah, dan benih yang ditanam lebih cepat tumbuh. Daun dari tanaman pisang dapat digunakan untuk menggantikan plastik yang selama ini digunakan untuk wadah media tanam untuk penyemaian benih. Cara pembuatan voker di Desa Banjarsari sangat sederhana, yaitu: 53 1) Menggulung daun pisang hingga membentuk gulungan sebesar ibu jari kaki dan menjepitnya dengan stapler. Kelebihan daun digunting agar gulungan menjadi rapi. 2) Gulungan daun pisang diletakkan di nampan atau pot dengan posisi tegak, diisi tanah, dan disiram agar lembab. Awal pembangunan KBD di Desa Banjarsari terbuat dari kayu dan bambu yang beratapkan jerami kemudian Desa Banjarsari mendapatkan bantuan dari Kecamatan Pacitan oleh masyarakat digunakan untuk renovasi KBD dan membeli kebutuhan KBD yaitu benih/bibit. Pengelolaan pada awal pengembangan KBD KEMPLING dengan mengambil benih/bibit di voker secara gratis dan pembagian voker untuk tanaman cabai, tomat, dan terong masing-masing sebanyak 5 voker dan untuk bayam, kangkung, sawi sebanyak ½ ons dengan harga Rp 5.000 di pasar. Tanaman bayam, kangkung, dan sawi diasumsikan ½ ons sama dengan 10 voker tiap tanaman karena di lapang untuk ketiga tanaman tersebut masyarakat tidak semuanya ditanam dan keterbatasan ingatan responden. Seiring berjalannya waktu, masyarakat membeli bibit per voker dengan harga Rp 500 sebagai pengganti biaya kemudian hasil dari penjualan KBD masuk ke kas dan uang tersebut diputar untuk membeli perlengkapan KBD serta berakhir untuk memenuhi kebutuhan benih/bibit masyarakat Desa Banjarsari di pekarangan. Mayoritas masyarakat mengambil voker secara gratis di KBD. Sebagian masyarakat kadang juga membeli voker secara tunai di KBD sebagai pengganti biaya yang dikeluarkan oleh KBD. Pelaksanaan KRPL KEMPLING mempunyai kepengurusan yang didasarkan oleh inisiatif masyarakat. Berdasarkan Keputusan Kepala Desa 54 Banjarsari Kecamatan Pacitan Nomor: 10 Tahun 2011 tentang Penetapan Pengurus KRPL Desa Banjarsari sebagai berikut: 1) Penanggung Jawab 2) Ketua 3) Sekretaris 4) Bendahara 5) Seksi-seksi yang terdiri dari: a) Pembibitan b) Pemupukan c) Pemasaran d) Kebersihan e) Pengolahan/Pelatihan f) Pemberantasan Hama Pelaksanaan KRPL Desa Banjarsari mendapatkan bimbingan dari PPL. Para penyuluh lapang bertindak sebagai jembatan terhadap masyarakat KRPL. Para penyuluh mendekatkan sumber informasi kepada rumah tangga dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh rumah tangga. Penyampaian penyuluhan secara langsung dapat dilakukan melalui tatap muka dengan penyuluh. Penyuluhan secara tidak langsung dengan cara penyampaiannya melalui dari satu orang ke orang lain. Pertemuan rutin PPL di Desa Banjarsari dilaksanakan sebulan sekali yang disampaikan melalui Gapoktan dimana anggota Gapoktan merupakan anggota KRPL. Peran Ibu PKK dalam pelaksanaan KRPL sangat menunjang dalam pengembangan desa. Jadwal khusus untuk KRPL yang diberikan kepada ibu PKK tidak menentu sesuai dengan kepentingan kondisi di lapang. 55 VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Persepsi Rumah Tangga terhadap KRPL KEMPLING Penilaian masyarakat terhadap kondisi potensi desa khususnya pekarangan setelah pelaksanaan KRPL merupakan hal yang penting. Hal yang menjadi sangat penting untuk keberlangsungan KRPL dengan salah satunya dilihat dari dampak yang ditimbulkan terhadap beberapa kriteria. Persepsi yang diberikan masyarakat terhadap pelaksanaan KRPL merupakan suatu pandangan yang dapat menjadi evaluasi baik untuk wilayah setempat ataupun di wilayah lainnya. Persepsi masyarakat tersebut merupakan suatu gambaran dari kondisi yang dirasakan oleh rumah tangga sebagai dampak dari KRPL. Beberapa kriteria penilaian yang digunakan untuk mengidentifikasi respon masyarakat dari KRPL adalah kondisi pekarangan, manfaat yang dirasakan oleh masyarakat dari pengembangan KRPL, dan kendala dalam pelaksanaan KRPL. Penentuan kriteria penilaian ini berdasarkan kondisi lingkungan sekitar yang dirasakan oleh masyarakat setempat. Indikator-indakator tersebut diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan Ketua PPL Desa Banjarsari, Ketua dan Pengurus KRPL KEMPLING di Desa Banjarsari. 6.1.1 Penilaian Rumah Tangga terhadap Kondisi Pekarangan Pelaksanaan KRPL yang dilaksanakan di Desa Banjarsari memberikan perubahan aktivitas di pekarangan. Responden merasakan perubahan aktivitas dari yang sebelum dan sesudah adanya KRPL khususnya dalam hal pemanfaatan pekarangan. Kondisi pemanfaatan pekarangan sebelum adanya KRPL dapat dilihat pada Tabel 16. 56 Tabel 16. Pemanfaatan Pekarangan Sebelum adanya KRPL KEMPLING Strata 1 Strata 2 Strata 3 Pemanfaatan Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase Pekarangan (orang) (%) (orang) (%) (orang) (%) Ya 18 60,00 20 80,00 19 76,00 Tidak 12 40,00 5 20,00 6 24,00 Total 30 100,00 25 100,00 25 100,00 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan Tabel 16 menunjukkan bahwa sebesar 60,00%, 80,00%, 76,00% responden baik pada strata 1, strata 2, dan strata 3 sudah memanfaatkan pekarangan sebelum adanya KRPL dan sebesar 40,00%, 20,00%, 24,00% responden sebelum adanya KRPL pekarangan belum dimanfaatkan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan bercocok tanam, beternak di pekarangan sudah menjadi hal biasa di daerah pedesaan. Tabel 17. Tanaman di Pekarangan Sebelum adanya KRPL KEMPLING Tanaman Mangga, Nangka, Pepaya, Srikaya, Pisang, Jeruk, Rambutan, Belimbing Buah-buahan Tanaman Hias Bunga TOGA Kunyit, Kencur, Laos, Jahe Tamaman Pangan Ganyong, Ketela,Ubi, Kacang Panjang Sumber : Data primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 17 diketahui bahwa pada strata 1, strata 2, dan strata 3 masyarakat menanam beraneka ragam tanaman yaitu buah-buahan, tanaman hias, TOGA, dan tanaman pangan yang ditanam di pekarangan sebelum adanya KRPL. Tanaman yang ditanam setelah dilaksanakannya KRPL yaitu dengan adanya tambahan tanaman sayuran. Optimalisasi pekarangan dilaksanakan untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dengan melakukan intensifikasi 57 pekarangan secara intensif. Penilaian masyarakat Desa Banjarsari menunjukkan bahwa terdapat perubahan baik aktivitas maupun produksi yang dihasilkan. Meskipun terdapat perubahan setelah melaksanakan KRPL, masyarakat tidak merasa terganggu terhadap aktivitas pertanian lain di wilayah tersebut. 6.1.2 Penilaian Rumah Tangga terhadap Manfaat KRPL KEMPLING Pengembangan KRPL yang dilaksanakan di Desa Banjarsari dapat memberikan manfaat untuk perbaikan potensi desa dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Responden pada umumnya menyadari adanya manfaat KRPL yang terjadi di Desa Banjarsari, Kabupaten Pacitan. Kesadaran rumah tangga terhadap manfaat KRPL ditunjukkan oleh Tabel 18. Tabel 18. Kesadaran Rumah Tangga terhadap Manfaat KRPL Manfaat Strata 1 Strata 2 Strata 3 Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase (orang) (%) (orang) (%) (orang) (%) Ya 30 100,00 25 100,00 25 100,00 Tidak 0 0 0 0 0 0 Total 30 100,00 25 100,00 25 100,00 Sumber: Data Primer, diolah(2012) Berdasarkan Tabel 18 menunjukkan bahwa 100,00% responden merasakan manfaat dari adanya KRPL. Pemanfaatan pekarangan selain sebagai penyedia bahan makanan yang beraneka ragam, tetapi dapat berfungsi sebagai tambahan penghasilan keluarga atau tabungan keluarga. Pelaksanaan KRPL memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Banjarsari. Dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat desa akibat pengembangan KRPL KEMPLING dapat dijelaskan pada Tabel 19. 58 Tabel 19. Manfaat yang dirasakan oleh Rumah Tangga dengan adanya KRPL KEMPLING Manfaat Strata 1 Jumlah Persentase (orang) (%) Strata 2 Jumlah Persentase (orang) (%) Strata 3 Jumlah Persentase (orang) (%) 1. Menghemat pengeluaran 26 86,70 21 84,00 22 88,00 2. Menambah penghasilan 4 13,30 4 16,00 3 12,00 30 100,00 25 100,00 25 100,00 Total Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan Tabel 19 menunjukkan bahwa perbedaan manfaat yang dirasakan tidak terlalu signifikan. Manfaat yang paling besar dirasakan pada strata 1, strata 2, dan strata 3 adalah KRPL KEMPLING mampu menghemat pengeluaran keluarga. Manfaat yang dirasakan oleh masyarakat bersifat tangible dan intangible. Manfaat tangible adalah manfaat yang terukur dan dapat dinilai secara moneter. Adapun manfaat intangible merupakan manfaat yang tidak terukur. Manfaat tangible dan manfaat intangble dari pelaksanaan KRPL dapat ditunjukkan pada Tabel 20. Inisiatif ketua KRPL untuk memperbaiki kondisi potensi desa melalui KRPL yang dimulai dari satu RT, satu dusun, dan kemudian berkembang menjadi satu desa merupakan salah satu upaya untuk membantu rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Tabel 20. Manfaat Tangible dan Intangible KRPL KEMPLING Manfaat Tangible - Meningkatkan produksi Manfaat Intangible - - Mampu menyediakan lumbung hidup, warung hidup, apotek hidup, dan kulkas hidup Membuat rumah ASRI dan memberikan stimulun bagi desa di sekitarnya Sumber: Data Primer, diolah (2012) 59 Berdasarkan Tabel 20 menyatakan bahwa dalam pengembangan KRPL mampu meningkatkan produksi bagi masyarakat di Desa Banjarsari. Peningkatan produksi dapat dibagi menjadi dua yaitu peningkatan produksi dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga dan peningkatan produksi dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Manfaat dari KRPL yaitu lumbung hidup dimana masyarakat sewaktu-waktu butuh pangan pokok seperti umbi-umbian sudah tersedia di pekarangan. Pemenuhan warung hidup yaitu tersedianya sayuran di pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Pekarangan mampu membuat apotek hidup yaitu tersedianya tanaman obat-obatan secara tradisional. Pengembangan pekarangan terdapat kulkas hidup yaitu tersedianya kebutuhan pangan di pekarangan baik tanaman pangan, sayur-sayuran, obat-obatan, dan buah-buahan dalam keadaan segar. 6.1.3 Penilaian Rumah Tangga terhadap Kendala KRPL KEMPLING Penilaian masyarakat terhadap kendala yang dirasakan selama pelaksanaan KRPL menjadi hal yang penting. Persepsi rumah tangga terhadap kendala KRPL menunjukkan bahwa responden dari strata 1, strata 2, dan strata 3 menyatakan telah merasakan kendala dari adanya KRPL. Kendala yang dirasakan oleh masyarakat dapat dilihat pada Tabel 21. Tabel 21. Kendala dalam Pelaksanaan KRPL KEMPLING Kendala Strata 1 Strata 2 Strata 3 Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase Hama 5 16,70 9 36,00 6 24,00 Iklim Total 25 83,30 16 64,00 19 76,00 30 100,00 25 100,00 25 100,00 Sumber: Data Primer, diolah(2012) 60 Berdasarkan Tabel 21 menunjukkan bahwa strata 1 sebesar 83,30%, 64,00% pada strata 2, dan 76,00% pada strata 3 menyatakan iklim menjadi kendala pelaksanaan KRPL. Sisanya masing-masing setiap strata 1, starata 2, dan strata 3 adalah sebesar 16,70%, 36,00%, dan 24,00% menyatakan kendala dalam pelaksanaan KRPL adalah hama. Penyerangan hama akan berpengaruh pada hasil panen yang ditanam di pekarangan. Ketika musim kemarau, mata air dan sumur gali ini mengalirkan debit air yang menurun sehingga pengairannya cukup terganggu. Hal ini sesuai dengan wawancara dengan Ketua PPL Desa Banjarsari bahwa kendala yang dirasakan selama membimbing dan memberikan penyuluhan adalah iklim, cuaca, dan teknis. 6.2 Manfaat Fisik dari adanya KRPL KEMPLING dalam Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Pangan Rumah Tangga Manfaat fisik merupakan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Desa Banjarsari dalam pelaksanaan KRPL. Manfaat fisik dari adanya KRPL dapat ditunjukkan dari salah satu tujuan utama pengembangan KRPL KEMPLING yaitu memenuhi ketersediaan pokok keluarga dengan dilihat dari hasil produksi yang dihasilkan. Manfaat fisik KRPL dapat ditunjukkan dengan hasil produksi selama umur tanaman. Umur tanaman adalah umur hingga tanaman tersebut mati sehingga harus diganti dengan tanaman yang baru. Pada umur 12 bulan tanaman tersebut harus diganti dengan tanaman yang baru. Umur ayam buras, Ikan Nila, dan Ikan Lele tidak digunakan sebagai patokan karena umur mati ketiga komoditas tersebut tergantung dari beberapa faktor baik alam dan lingkungan misalnya: dimangsa hewan lain khususnya Ikan Lele, keracunan, dan disembelih ketika akan dijual. Umur dari komoditas yang 61 dikembangkan pada KRPL baik umur tanaman dan umur panen dapat dilihat dari Tabel 22. Tabel 22. Umur Tanaman KRPL KEMPLING No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Cabe rawit Tomat Terong Kangkung Bayam Sawi Umur Tanaman 12 bulan 12 bulan 12 bulan 12 bulan 12 bulan 12 bulan Periode Panen 3 bulan 3 bulan 4 bulan 2 bulan 2 bulan 2 bulan Sumber : Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 22 menunjukkan bahwa umur tanaman di Desa Banjarsari selama 12 bulan. Pengurus Ketua Seksi Pembibitan KRPL KEMPLING juga menyatakan bahwa umur tanaman yang di Desa Banjarsari adalah 12 bulan. Periode panen untuk ayam buras, Ikan Nila, dan Ikan Lele berbeda yaitu 1 bulan, 4 bulan, dan 3 bulan. Hasil dari KRPL KEMPLING diklasifikasikan menurut kegunaannya yaitu: (1) hasil yang dijual; (2) dikonsumsi; (3) berfungsi sosial. Distribusi hasil yang berorientasi dijual yaitu penggunaan hasil dari KRPL mampu menambah pendapatan dengan menjualnya di pasar atau warung. Distribusi hasil yang berorientasi konsumsi yaitu penggunaan hasil dari KRPL digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Distribusi hasil yang berorientasi sosial yaitu penggunaan hasil dari KRPL diberikan kepada tetangga atau saudara (orang lain). 6.2.1 Manfaat Fisik dari adanya KRPL KEMPLING dalam Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Pangan Rumah Tangga Strata 1 Setiap tanaman sayuran menghasilkan produksi yang berbeda dalam jangka waktu dua minggu. Rata-rata produksi sayuran yang dipanen responden selama dua minggu di Desa Banjarsari dapat dilihat pada Tabel 23. 62 Tabel 23. Rata-Rata Produksi Sayuran Selama Dua Minggu No 1 2 3 4 5 6 Tanaman Cabe rawit Tomat Terong Kangkung Sawi Bayam Total Produksi 4,50 2,32 33,00 10,00 11,00 10,00 Satuan kg kg buah ikat ikat ikat Jumlah tanaman 15 8 11 10 11 10 Rata-rata Produksi 0,30 0,29 3,00 1,00 1,00 1,00 Sumber: Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 23 diatas menunjukkan bahwa rata-rata produksi tanaman yang dipanen responden paling banyak adalah cabe rawit dan kemudian tomat sebesar 0,30 kg karena memberikan penerimaan sebesar Rp 972.000 dalam setahun. Hal ini dapat dipahami bahwa responden dalam memenuhi kebutuhan pangan membutuhkan cabe rawit untuk masak-memasak. Distribusi hasil pekarangan yang dijual, dikonsumsi, dan sosial pada strata 1 dapat dilihat pada Tabel 24. Tabel 24. Penggunaan Sayuran Selama Dua Minggu No Tanaman Dijual (%) 1 Cabe rawit 2 Tomat 3 Terong 4 Kangkung 5 Sawi 6 Bayam Rata-rata penggunaan 8,90 9,80 10,00 13,33 8,33 10,00 10,06 Konsumsi (%) 72,80 68,40 50,00 66,67 55,00 63,33 62,70 Sosial (%) 18,30 21,80 40,00 20,00 36,67 26,67 27,24 Total (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan pada Tabel 24 menyatakan bahwa pada pengembangan KRPL, rata-rata penggunaan hasiltanaman sayuran di strata 1 berorientasi untuk untuk memenuhi kebutuhan keluarga sebesar 62,70%, sosial sebesar 27,24% dan dijual sebesar 10,06%. Hasil pekarangan yang berorientasi pada pasar adalah tanaman kangkung yaitu sebesar 13,30% dan sisanya adalah terong, bayam, tomat, cabe rawit, serta sawi. Hal ini dapat dipahami bahwa kangkung merupakan 63 tanaman yang cepat panen sehingga responden memiliki peluang besar untuk menjualnya. Hasil pekarangan dari KRPL di Desa Banjarsari yang berorientasi pada konsumsi adalah cabe rawit dan tomat. Hal ini dapat dipahami bahwa cabe rawit dan tomat merupakan salah satu bahan utama dalam memasak. Hasil dari KRPL yang berfungsi untuk sosial adalah terong karena terong merupakan tanaman tahan lama baik pada musim kemarau maupun penghujan sehingga responden sewaktu-waktu dapat memberikannya kepada tetangga atau saudara. 6.2.2 Manfaat Fisik dari adanya KRPL KEMPLING dalam Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Pangan Rumah Tangga Strata 2 Komoditas yang dikembangkan dalam strata 2 adalah tanaman sayuran dan ayam buras. Rata-rata produksi yang dipanen responden selama dua minggu di Desa Banjarsari dapat dilihat pada Tabel 25. Tabel 25. Rata-Rata Produksi Sayuran Selama Dua Minggu No 1 2 3 4 5 6 Tanaman Total Produksi Cabe rawit Tomat Terong Kangkung Sawi Bayam 3,48 2,90 27,00 8,00 8,00 8,00 Satuan Kg Kg Buah Ikat Ikat Ikat Jumlah tanaman 12 10 9 8 8 8 Rata-rata Produksi 0,29 0,29 3,00 1,00 1,00 1,00 Sumber: Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 25 menunjukkan bahwa rata-rata produksi tanaman yang dipanen responden paling banyak adalah cabe rawit sebesar 0,29 kg karena memberikan penerimaan sebesar Rp 751.680 dalam setahun. Hal ini dapat dipahami bahwa responden dalam memenuhi kebutuhan pangan membutuhkan cabe rawit sebagai salah satu bahan utama dalam memasak. Penerimaan yang diperoleh responden paling sedikit yaitu tanaman kangkung dan bayam sebesar Rp 80.000. 64 Ayam buras atau ayam kampung adalah ayam lokal yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang berasal dari ayam hitam merah Gallus gallus yang telah jinak sebagai contoh ayam sayur, ayam kedu, dan ayam pelung. Ayam buras dapat menghasilkan daging dan telur namun produk utama dari ayam buras adalah telur. Tabel 26. Rata-Rata Produksi Telur Ayam Buras Selama Satu Bulan No Keterangan Jumlah 1 Produksi telur selama 1bulan (butir) 30 2 Produksi telur selama 1 tahun (butir) 360 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan Tabel 26 menyatakan bahwa rata-rata produksi telur yang dihasilkan sebanyak 30 butir telur per bulan dengan rata-rata jumlah ayam dewasa sebanyak 10 ekor. Harga jual ayam kampung pedaging dan telur ayam kampung relatif lebih stabil dibandingkan dengan harga daging dan telur ayam ras. Hal ini disebabkan karena belum banyak yang membudidayakannya secara intensif. Hasil pekarangan pada strata 2 perlu adanya klasifikasi menurut kegunaannya dari hasil KRPL menjadi hasil yang dijual, dikonsumsi, dan berfungsi sosial. Distribusi hasil sayuran yang dijual, dikonsumsi, dan berfungsi sosial pada strata 2 dapat dilihat pada Tabel 27. Tabel 27. Penggunaan Sayuran Selama Dua Minggu No Tanaman Dijual (%) Konsumsi (%) 13,10 10,34 21,30 16,00 20,00 13,46 70,34 77,24 32,00 58,00 56,00 56,00 58,26 1 Cabe rawit 2 Tomat 3 Terong 4 Kangkung 5 Sawi 6 Bayam Rata-rata penggunaan Sosial (%) 16,56 12,42 46,70 26,00 44,00 24,00 28,28 Total (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 65 Berdasarkan pada Tabel 27 menyatakan bahwa pada pengembangan KRPL, rata-rata penggunaan hasil pekarangan tanaman sayuran di strata 2 berorientasi konsumsi keluarga sebesar 58,26%, sosial sebesar 28,28%, dan pasar sebesar 13,46%. Penggunaan sayuran pada strata 2 memiliki nilai sosial yang lebih tinggi dibandingkan strata 1 dan strata 3. Hal ini menunjukkan bahwa sifat kekerabatan pada strata 2 lebih besar. Hasil pekarangan dari KRPL di Desa Banjarsari yang berorientasi pada konsumsi adalah tomat sebesar 77,24% dan yang kedua adalah cabe rawit sebesar 70,34%. Hal ini dapat dipahami bahwa tomat dan cabe rawit merupakan salah satu bahan utama dalam memasak. Tanaman yang berorientasi pada pasar dan sosial adalah tanaman terong yaitu sebesar 21,30% dan 46,70%. Hal ini dapat dipahami bahwa terong merupakan salah satu tanaman yang tahan lama dan adanya rasa bosan dalam memasak sayur terong sehingga responden lebih banyak mempertimbangkan untuk sosial. Distribusi hasil ayam buras yang dijual, dikonsumsi, dan berfungsi sosial pada strata 2 di Desa Banjarsari dapat dilihat pada Tabel 28. Kegiatan memelihara ayam buras merupakan usaha sampingan untuk menambah pendapatan atau hanya untuk menyalurkan hobi. Pemeliharaan ayam buras yang bersifat sampingan, maka penanganannya masih tradisional. Tabel 28. Penggunaan Telur Ayam Buras Selama Satu Bulan No 1 2 3 Keterangan Pasar Konsumsi Sosial Total Hasil Produksi (butir) 20 43 12 75 Persentase (%) 27,00 57,00 16,00 100,00 Sumber: Data Primer, diolah(2012) 66 Berdasarkan pada Tabel 28 menyatakan bahwa pada pengembangan KRPL, distribusi hasil telur ayam buras berorientasi pada konsumsi sebesar 57,00%, kemudian berorientasi pada pasar sebesar 27,00%, dan terakhir berorientasi sosial sebesar 16,00%. 6.2.3 Manfaat Fisik dari adanya KRPL KEMPLING dalam Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Pangan Rumah Tangga Strata 3 Produksi dari pekarangan KRPL di Desa Banjarsari pada strata 3 adalah tanaman sayuran, ayam buras, dan ikan. Responden di Desa Banjarsari ada yang memelihara hanya Ikan Lele dan Ikan Nila. Setiap tanaman menghasilkan produksi yang berbeda dalam jangka waktu dua minggu. Rata-rata produksi yang dipanen responden selama dua minggu dapat dilihat pada Tabel 29. Tabel 29. Rata-Rata Produksi Sayuran Selama Dua Minggu No 1 2 3 4 5 6 Tanaman Cabe rawit Tomat Terong Kangkung Sawi Bayam Total Produksi 5,27 4,06 52,00 10,00 13,00 11,00 Satuan Kg Kg Buah Ikat Ikat Ikat Jumlah tanaman 17 14 13 10 13 11 Rata-rata Produksi 0,31 0,29 4,00 1,00 1,00 1,00 Sumber: Data Primer, diolah(2012) Berdasarkan Tabel 29 menunjukkan bahwa rata-rata produksi tanaman yang dipanen responden paling banyak adalah cabe rawit sebesar 0,31 kg dengan memiliki penerimaan terbesar yaitu Rp 1.138.320. Hal ini dapat dipahami bahwa responden dalam memenuhi kebutuhan pangan membutuhkan cabe rawit. Penerimaan yang terkecil yang diterima dalam pelaksanaan KRPL terdapat pada tanaman kangkung sebesar Rp 100.000. 67 Tabel 30. Rata-Rata Produksi Telur Ayam Buras Selama Satu Bulan No 1 2 Keterangan Produksi telur selama satu bulan (butir) Produksi telur selama satu tahun (butir) Jumlah 33 396 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan Tabel 30 menyatakan bahwa rata-rata produksi telur yang dihasilkan sebanyak 33 butir telur per bulan dengan rata-rata jumlah ayam dewasa sebanyak 11 ekor. Beternak ayam kampung cocok diusahakan dalam skala rumah tangga. Hal ini disebabkan oleh jumlah minimum populasi yang dibutuhkan untuk mencapai skala ekonomi tidak besar dan modal yang dibutuhkan untuk memulai beternak ayam kampung relatif dapat dijangkau oleh masyarakat. Pada pengembangan KRPL di Desa Banjarsari memelihara Ikan Lele dan Ikan Nila memiliki kelebihan dan kekuranganya. Kelebihan Ikan Lele yaitu mudah perawatannya dan mampu bertahan pada kondisi yang buruk. Ikan Nila memiliki beberapa kelebihan yaitu pertumbuhan yang cepat, rakus terhadap makanan sisa (limbah), dan tahan terhadap penyakit. Rata-rata produksi ikan sekali panen dalam KRPL KEMPLING dapat dilihat pada Tabel 31. Tabel 31. Rata-Rata Produksi Ikan Sekali Panen No Keterangan Sekali Panen 1 Ikan Lele (kg) 60 2 Ikan Nila (kg) 79 Sumber : Data Primer, diolah(2012) Berdasarkan Tabel 31 menyatakan bahwa rata-rata produksi Ikan Lele untuk satu kolam adalah 60 kg. Produksi Ikan Nila sebesar 79 kg untuk satu kolam. Ikan Nila di Desa Banjarsari merupakan ikan yang mudah mati dibandingkan Ikan Lele karena air merupakan persoalan yang kerap dihadapi masyarakat apabila memasuki musim kemarau. Kendala lain yang mnyebabkan Ikan Nila mudah mati yaitu pembibitan dan pakan karena masih mendatangkan 68 dari luar kota. Hal yang harus dipahami dalam memelihara Ikan Nila yaitu perawatannya yang intensif. Ikan Nila akan lebih cepat tumbuhnya jika dipelihara di kolam yang dangkal airnya karena di kolam dangkal pertumbuhan tanaman dan ganggang lebih cepat dibandingkan di kolam yang dalam. Klasifikasi menurut kegunaannya dari hasil KRPL KEMPLING yaitu menjadi hasil yang dijual, dikonsumsi, dan berfungsi sosial. Distribusi hasil pekarangan yang dijual, dikonsumsi, dan berfungsi sosial pada strata 3 dapat dilihat pada Tabel 32. Tabel 32. Penggunaan Sayuran Selama Dua Minggu No Tanaman 1 Cabe rawit 2 Tomat 3 Terong 4 Kangkung 5 Sawi 6 Bayam Rata-rata penggunaan Dijual (%) 12,90 6,90 3,30 Konsumsi (%) 70,32 83,44 51,00 72,00 80,00 72,00 71,46 Sosial (%) 16,78 9,66 49,00 28,00 20,00 28,00 25,24 Total (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: Data Primer, diolah(2012) Berdasarkan pada Tabel 32 menyatakan bahwa pada pengembangan KRPL, rata-rata penggunaan tanaman sayuran pada strata 3 berorientasi pada konsumsi keluarga sebesar 71,46%. Hasil pekarangan yang berorientasi pada pasar adalah cabe rawit. Hasil pekarangan dari KRPL di Desa Banjarsari yang berorientasi pada konsumsi adalah tomat. Hal ini dapat dipahami bahwa tomat merupakan salah satu bahan utama dalam memasak. Hasil dari KRPL yang berfungsi untuk sosial adalah terong karena terong merupakan tanaman tahan lama baik pada musim kemarau maupun penghujan sehingga responden sewaktu-waktu dapat memberikannya kepada tetangga atau saudara. Distribusi hasil ayam buras yang dijual, dikonsumsi, dan berfungsi sosial pada strata 3 dapat dilihat pada Tabel 33. 69 Tabel 33. Penggunaan Telur Ayam Buras Selama Satu Bulan No 1 2 3 Keterangan Pasar Konsumsi Sosial Total Hasil Produksi (butir) 9 49 17 75 Persentase (%) 12,00 65,00 23,00 100,00 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan Tabel 33 menyatakan bahwa pada pengembangan KRPL, distribusi produk ayam buras berorientasi pada konsumsi sebesar 65,00%, kemudian berorientasi pada pasar sebesar 12,00%, dan terakhir berorientasi ada sosial sebesar 23,00%. Distribusi hasil yang dijual, dikonsumsi, dan berfungsi sosial pada strata 3 dapat dilihat pada Tabel 34. Tabel 34. Penggunaan Hasil Ikan Sekali Panen No Ikan 1 Ikan Lele 2 Ikan Nila Rata-rata penggunaan Dijual (%) 54,00 56,00 55,00 Konsumsi (%) 26,00 23,00 24,50 Sosial (%) 20,00 21,00 20,50 Total (%) 100,00 100,00 100,00 Sumber: Data Primer, diolah(2012) Berdasarkan pada Tabel 34 menyatakan bahwa pada pengembangan KRPL, rata-rata penggunaan ikan berorientasi untuk dijual sebesar 55,00%. Distribusi Ikan Lele dan Ikan Nila berorientasi pada pasar sebesar 54,00% dan 56,00%. Total penggunaan ikan pada strata 3 berorientasi pada pasar, konsumsi, dan terakhir pada sosial. Pada strata 3, perikanan yang memberikan pendapatan lebih banyak bagi respondennya. 6.3 Biaya dan Manfaat KRPL KEMPLING Estimasi biaya dan manfaat dari suatu kegiatan bertujuan untuk layak atau tidaknya kegiatan tersebut dalam pengembangannya. Biaya dan manfaat dari pelaksanaan KRPL KEMPLING dilihat dari analisis pendapatan yang dikembangkan setiap strata. Pendapatan KRPL KEMPLING diperoleh dari pengurangan antara penerimaan dan pengeluaran. Penerimaan yaitu rata-rata nilai 70 produksi yang diperoleh dikalikan dengan harga jual di pasar. Responden menjual hasil usahanya yaitu dengan tiga cara: (1) menjual ke pasar atau warung-warung; (2) menjual kepada pembeli yang datang; (3) menjual dengan cara barter kepada penjual sayuran keliling (rengkek). Responden mayoritas menjual hasil KRPL melalui cara barter kepada sayuran keliling. Harga sayuran yang berlaku di pasar berbeda-beda tergantung dari komoditasnya. Harga cabe rawit sebesar Rp 12.000/kg, harga tomat sebesar Rp 4.500/kg, harga kangkung sebesar Rp 500/ikat, harga bayam sebesar Rp 500/ikat, harga sawi sebesar Rp 1.000/ikat, dan harga terong sebesar Rp 1.000/buah. Harga telur ayam buras sebesar Rp 1.000/butir. Harga ayam buras sebesar Rp 25.000. Harga Ikan Lele sebesar Rp 10.000/kg dan Ikan Nila sebesar Rp 13.000/kg. Pembeli membeli hasil ikan langsung datang ke rumah penjual (responden). Pembeli berasal dari penjual ikan di Pasar Arjowinangun, teman dari penjual, atau tetangga dari desa sebelah. Biaya dalam pengembangan KRPL di Desa Banjarsari merupakan suatu hal yang harus diperhatikan dalam menjalankan kegiatan. Biaya adalah sejumlah uang yang dikeluarkan selama proses produksi. Biaya KRPL KEMPLING dibedakan menjadi dua komponen yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai merupakan biaya yang dikeluarkan oleh responden secara tunai untuk melakukan kegiatan KRPL KEMPLING. Biaya yang diperhitungkan merupakan biaya yang tidak termasuk ke dalam biaya tunai tetapi diperhitungkan dalam pengembangan KRPL. Biaya yang diperhitungkan pada KRPL KEMPLING merupakan biaya yang dalam pengembangannya dilakukan secara 71 swadaya baik melalui iuran RT atau iuran Gapoktan pada awal didirikan KRPL, biaya mengambil benih/bibit secara gratis di KBD, maupun biaya yang dikeluarkan oleh responden namun responden tidak memperhitungkannya. Pada penelitian ini, biaya yang diperhitungkan merupakan ketika masyarakat mengambil benih/bibit secara gratis dari KBD dan pembuatan jagrak/rak secara swadaya. Pendapatan dari hasil KRPL di Desa Banjarsari dapat disebut dengan keuntungan atau laba dari suatu kegiatan produksi. Pendapatan dibagi dua komponen dalam KRPL KEMPLING yaitu pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Pendapatan atas biaya tunai menunjukkan bahwa pendapatan yang diperoleh rumah tangga dengan membayar seluruh biaya tunai. Pendapatan atas biaya total menunjukkan bahwa pendapatan yang diperoleh rumah tangga dengan membayar seluruh biaya total baik biaya tunai maupun biaya diperhitungkan. Kontribusi pengembangan KRPL di Desa Banjarsari terhadap pendapatan keluarga dilihat dari pendapatan rumah tangga berasal dari dua sumber, yaitu dari pendapatan usaha KRPL dan dari pendapatan luar KRPL. Pendapatan luar KRPL berasal dari pendapatan anggota keluarga seperti suami dan anak. Jenis pekerjaan dari luar KRPL yang menjadi sumber pendapatan diperoleh dari petani, buruh, pensiunan, PNS, wiraswasta, swasta, dan kombinasi dari pekerjaan tersebut. 6.3.1 Biaya dan Manfaat KRPL KEMPLING Strata 1 Biaya tunai pada strata 1 meliputi jagrak/rak, bibit/benih, dan polibag. Apabila responden kurang benih/bibit, jagrak/rak, dan polibag maka mereka boleh menambah dengan mengusahakannya sendiri. Biaya yang diperhitungkan pada 72 strata 1 adalah jagrak/rak, benih/bibit, ajir/lanjaran, polibag, pupuk kandang, tenaga kerja dalam keluarga, dan biaya penyusutan. Awal pengembangan KRPL, biaya rak maupun bibit dilakukan dari iuran RT atau Gapoktan yang dilakukan secara terpusat yaitu di KBD Desa Banjarsari. Umur rak buatan rumah tangga sendiri lebih lama daripada umur rak yang dilakukan secara gotong royong yaitu dua tahun. Hal ini disebabkan oleh kayu digunakan dalam rak buatan sendiri lebih baik. Rata-rata rak yang dimiliki oleh responden sebanyak satu hingga dua rak dengan ukuran 1 m x 1,5 m x 1 m yang disusun secara bertingkat. Rumah tangga di Desa Banjarsari membuat ajir/lanjaran yang bahannya diambil dari hutan atau kebun atau meminta ke tetangga. Ajir/lanjaran ini dibuat dari bambu dengan setengah gelondong (batang) bambu mampu menghasilkan sekitar 20-30 buah. Pupuk yang digunakan pada pengembangan KRPL adalah pupuk kandang dan sisa-sisa sampah rumah tangga. Ketersediaan pupuk kandang dengan cara responden meminta dari kelompok tani atau meminta dari tetangga yang memiliki ternak yaitu responden strata 2 dan strata 3. Alat-alat yang umum digunakan dalam pelaksanaan KRPL di Desa Banjarsari yaitu cangkul, ganco, parang, arit, ember, dan gayung dimiliki sendiri oleh responden. Biaya penyusutan merupakan biaya yang dikeluarkan akibat terjadinya pengurangan nilai barang sebagai akibat penggunaannya dalam proses produksi. Nilai penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus dengan asumsi tiap sarana produksi tidak dapat digunakan kembali (rusak). Pada strata 1 jumlah biaya penyusutan adalah Rp 265.183/tahun. Biaya terbesar pada pengembangan KRPL strata 1 adalah pengeluaran biaya yang diperhitungkan. Tenaga kerja yang terlibat dalam KRPL KEMPLING 73 adalah tenaga kerja dalam keluarga. Aktivitas tenaga kerja dalam keluarga dalam bercocok tanaman sayuran dimulai dari persiapan lahan (pengolahan tanah, pemupukan awal, penanaman), pemeliharaan (penyiangan, pemupukan, penyiraman, pemasangan ajir), dan pemanenan. Biaya kerja tenaga dalam keluarga pada strata 1 mencapai Rp 613.000. Tenaga kerja dalam keluarga yang terlibat dalam aktivitas KRPL seharusnya diperhitungkan dalam mengambil keputusan secara sosial namun dalam kenyataannya responden tidak memperhitungkannya. Jumlah tenaga kerja setiap rumah rata-rata 1-2 orang yang terdiri dari pekerja pria dan wanita. Waktu kerja dalam satu hari adalah 7 jam di tempat penelitian. Pengembangan KRPL KEMPLING merupakan optimalisasi pemanfaatan pekarangan maka hanya beberapa menit atau beberapa jam dalam melakukan pelaksanaannya. Perhitungan untuk tenaga kerja disesuaikan dengan keadaan di lokasi penelitian. Hal ini bertujuan untuk mengetahui realisasi curahan waktu untuk melakukan kegiatan KRPL. Rata-rata curahan waktu dan curahan kerja dalam satu tahun dapat dilihat dalam Lampiran 5. Berdasarkan analisis pendapatan atas biaya tunai pada strata 1 diperoleh sebesar Rp 1.949.410. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga dalam KRPL bisa membayar seluruh biaya tunai. Pendapatan total dari strata 1 per rumah tangga di Desa Banjarsari dalam satu tahun adalah Rp 889.100. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga dalam KRPL bisa membayar seluruh biaya total. Pendapatan atas biaya total menjadi keuntungan bersih yang didapat dari responden. 74 Nilai R/C rasio pada strata 1 dapat digolongkan layak, karena nilainya lebih dari satu. Rata-rata pendapatan dari KRPL KEMPLING per rumah tangga dalam satu tahun di Desa Banjarsari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur dapat dilihat pada Tabel 35. Tabel 35. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga Strata 1 dalam Satu Tahun No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Penerimaan Tunai Penerimaan Non Tunai Total Penerimaan Total Biaya - Biaya Tunai - Biaya yang Diperhitungkan Pendapatan atas Biaya Tunai Pendapatan atas Biaya Total R/C rasio Biaya Tunai R/C rasio Biaya Total Nilai (Rp) 199.226 1.908.694 2.107.920 1.218.320 158.010 1.060.310 1.949.410 889.100 13,30 1,73 Sumber: Data Primer (diolah), 2012 Berdasarkan pada Tabel 35 menunjukkan bahwa kegiatan KRPL di Desa Banjarsari menguntungkan karena nilai R/C lebih dari satu. Perhitungan R/C atas biaya tunai dilakukan melalui pembagian penerimaan total dengan penjumlahan biaya tunai. Nilai R/C rasio pendapatan atas biaya total pada strata 1 adalah sebesar 1,73 yang berarti untuk setiap satu rupiah biaya total yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan total sebesar Rp 1,73. Nilai R/C rasio pendapatan atas biaya tunai ada strata 1 adalah sebesar 13,30 yang berarti untuk setiap satu rupiah biaya tunai yang dikeluarkan dalam pelaksanaan KRPL akan memberikan penerimaan sebesar Rp 13,30. Nilai R/C biaya tunai memiliki nilai yang cukup besar. Hal ini karena penerimaan yang diperoleh besar dan biaya yang diperoleh relatif kecil sehingga perbandingannya relatif besar. Hal ini disebabkan oleh komponen biaya tunai strata 1 lebih sedikit dibandingkan dengan biaya yang diperhitungkan seperti 75 pupuk kandang, tenaga kerja dalam keluarga, dan lain-lain. Komponen biaya dan rata-rata pendapatan strata 1 dapat dilihat pada Lampiran 1. Rumah tangga strata 1 hanya fokus pada tanaman sayuran tidak ada biaya ternak dan ikan. 6.3.2 Biaya dan Manfaat KRPL KEMPLING Strata 2 Total penerimaan pada strata 2 sebesar Rp 5.046.080 yang terdiri dari penerimaan dari sayuran sebesar Rp 1.738.580, produksi telur ayam sebesar Rp 360.000, pembelian ternak sebesar Rp. 52.500 dan nilai produksi ayam buras sebesar Rp 3.000.000. Pembelian ternak merupakan salah satu komponen penerimaan namun sebagai komponen yang bersifat mengurangi penerimaan karena menurut Soekartawi et al. (1986), pembelian ternak dianggap sebagai produk usaha ternak yang belum selesai. Pembelian ternak merupakan biaya yang dikeluarkan ketika responden memutuskan untuk beternak ayam buras. Rata-rata responden membeli ternak ayam buras sebanyak dua ekor ayam. Produksi ayam buras tersebut diasumsikan apabila responden menjual semua ayam maka penjualan ayam menjadi salah satu penerimaan responden yang tidak tunai. Biaya tunai pada strata 2 meliputi jagrak/rak, benih/bibit, dan polibag. Apabila responden kurang benih/bibit, jagrak/rak, dan polibag maka mereka boleh menambah dengan mengusahakannya sendiri. Rata-rata rak yang dimiliki oleh responden sebanyak satu hingga dua rak dengan ukuran 1 m x 1,5 m x 1 m yang disusun secara bertingkat. Biaya tunai meliputi pengeluaran untuk ternak dengan perlengkapan (tempat makan dan minum) yang biasanya responden menggunakan baskom, ember, atau tempat makanan bekas. Pakan ayam buras di Desa Banjarsari berupa bekatul dan menir dengan rata-rata perbandingan pemberian pakan 1 : 0,4 dalam 76 kg/hari. Kadang-kadang responden juga memberikan pakan berupa dedak dan menir dengan perbandingan 1 : 0,4 dalam kg/hari. Biaya tunai juga berupa kesehatan dengan memberikan kapsul dengan harga sebesar Rp 5.000/kapsul dan perbaikan kandang. Biaya yang diperhitungkan pada strata 2 untuk sayuran adalah jagrak/rak, benih/bibit, ajir/lanjaran, polibag, pupuk kandang, tenaga kerja dalam keluarga, dan biaya penyusutan. Pupuk kandang diperoleh dari kotoran ternak yang dikelola oleh rumah tangga strata 2. Alat-alat yang umum digunakan dalam pelaksanaan KRPL di Desa Banjarsari yaitu cangkul, ganco, parang, arit, ember, dan gayung dimiliki sendiri oleh responden. Biaya yang diperhitungkan untuk ternak adalah biaya penyusutan kandang, dan tenaga kerja dalam keluarga. Biaya penyusutan merupakan biaya yang dikeluarkan akibat terjadinya penggurangan nilai barang sebagai akibat penggunaannya dalam proses produksi. Nilai penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus dengan asumsi tiap sarana produksi tidak dapat digunakan kembali (rusak). Total biaya penyusutan untuk peralatan sayuran sebesar Rp 263.627. Rata-rata biaya penyusutan kandang di Desa Banjarsari senilai Rp 161.667 dengan umur teknis kandang adalah 4 tahun, maka penyusutan kandang tiap tahunnya adalah Rp 40.417/tahun. Biaya terbesar pada pengembangan KRPL strata 2 adalah pengeluaran biaya yang diperhitungkan. Tenaga kerja yang terlibat dalam KRPL KEMPLING adalah tenaga kerja dalam keluarga. Aktivitas tenaga kerja dalam keluarga dalam bercocok tanaman sayuran dimulai dari persiapan lahan (pengolahan tanah, pemupukan awal, penanaman), pemeliharaan (penyiangan, pemupukan, penyiraman, pemasangan ajir), dan pemanenan. Pada aktivitas beternak, tenaga 77 kerja melakukan kegiatan memberi makan, membersihkan kandang, dan memasukkan atau mengeluarkan ternak. Tenaga kerja dalam keluarga membersihkan kandang dalam frekuensi seminggu tiga kali. Aktivitas memasukkan atau mengeluarkan ayam di Desa Banjarsari dilakukan dengan cara ayam dikandangkan pada malam hari dan diumbar pada siang hari. Biaya kerja tenaga dalam keluarga pada strata 2 mencapai Rp 954.600. Pengembangan KRPL KEMPLING dilaksanakan hanya beberapa menit atau beberapa jam, maka perhitungan untuk tenaga kerja disesuaikan dengan keadaan di lokasi penelitian. Hal ini bertujuan untuk mengetahui realisasi curahan waktu untuk melakukan kegiatan KRPL. Rata-rata curahan waktu dan curahan kerja dalam satu tahun dapat dilihat dalam Lampiran 5. Berdasarkan analisis pendapatan atas biaya tunai pada strata 2 diperoleh sebesar Rp 3.734.165. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga dalam KRPL bisa membayar seluruh biaya tunai. Pendapatan atas biaya total pada strata 2 diperoleh sebesar Rp 2.387.944. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga dalam KRPL bisa membayar seluruh biaya total. Nilai R/C rasio pada strata 2 dapat digolongkan layak, karena nilainya lebih dari satu. Rata-rata pendapatan dari KRPL KEMPLING per rumah tangga dalam satu tahun di Desa Banjarsari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur dapat dilihat pada Tabel 35. Penerimaan itik, kambing, dan ayam tidak dimasukkan dalam penerimaan karena diasumsikan ketiga ternak ini merupakan ternak yang penerimaannya tidak rutin karena penerimaannya yang diterima pada saat hari- hari besar keagamaan dan apabila rumah tangga membutuhkan uang yang 78 mendesak. Selain dari penerimaan tidak rutin, umur itik, kambing, dan sapi yang dimiliki oleh responden juga sudah terlalu lama. Tabel 36. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga Strata 2 dalam Satu Tahun No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Penerimaan Tunai - Produksi sayuran - Produksi telur ayam - Pembelian ternak Penerimaan Non Tunai - Produksi sayuran - Produksi telur ayam - Produksi ayam - Produksi itik* - Produksi kambing* - Produksi sapi* Total Penerimaan Total Biaya - Biaya Tunai - Biaya yang Diperhitungkan Pendapatan atas Biaya Tunai Pendapatan atas Biaya Total R/C rasio Biaya Tunai R/C rasio Biaya Total Nilai (Rp) 243.756 96.000 (52.500) 1.494.824 264.000 3.000.000 5.046.080 2.658.136 1.311.915 1.346.221 3.734.165 2.387.944 3,93 1,94 Sumber : Data Primer (diolah), 2012 *) : Tidak masuk dalam penerimaan () : penerimaannya bersifat mengurangi Berdasarkan pada Tabel 36 menunjukkan bahwa kegiatan KRPL di Desa Banjarsari menguntungkan karena nilai R/C lebih dari satu. Perhitungan R/C atas biaya tunai dilakukan melalui pembagian penerimaan total dengan penjumlahan biaya tunai. Pada strata 2, nilai R/C rasio pendapatan atas biaya total adalah sebesar 1,94 yang berarti untuk setiap satu rupiah biaya total yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan total sebesar Rp 1,94. Nilai R/C rasio pendapatan atas biaya tunai adalah sebesar 3,93 yang berarti untuk setiap satu rupiah biaya tunai yang dikeluarkan dalam pelaksanaan KRPL strata 2 akan memberikan penerimaan sebesar Rp 3,93. 79 6.3.3 Biaya dan Manfaat KRPL KEMPLING Strata 3 Total penerimaan pada strata 3 sebesar Rp 16.293.680 yang terdiri dari penerimaan dari sayuran sebesar Rp 2.769.180, produksi telur ayam buras sebesar Rp 396.000, pembelian ternak ayam buras sebesar Rp. 52.500 dan nilai produksi ayam buras sebesar Rp 3.300.000. Total penerimaan ikan pada strata 3 sebesar Rp 4.800.000 untuk Ikan Lele dan sebesar Rp 3.081.000 untuk Ikan Nila. Rata-rata hasil Ikan Lele berisi 8 ekor /kg dan Ikan Nila per berisi 7 ekor /kg. Desa Banjarsari khusus strata 3 mendapatkan Bantuan dari pemerintah berupa pembuatan kolam, benih Nila BEST (Bogor Enhanced Strain Tilapia), terpal, batu bata, ember, dinamo dan serokan. Bantuan pemerintah ini berasal dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Masyarakat (IPTEKMAS) yang merupakan anggaran dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan. Bantuan pemerintah ini bersifat hibah yang akhirnya dapat menjadi insentif bagi masyarakat Desa Banjarsari agar dapat meningkatkan penganekaragaman sumberdaya pangan serta menunjang kebutuhan keluarga. Biaya tunai pada strata 3 meliputi jagrak/rak, benih/bibit, dan polibag. Apabila responden kurang benih/bibit, jagrak/rak, dan polibag maka mereka boleh menambah dengan mengusahakannya sendiri. Rata-rata rak yang dimiliki oleh responden sebanyak satu hingga dua rak dengan ukuran 1 m x 1,5 m x 1 m yang disusun secara bertingkat. Biaya tunai untuk ternak meliputi perlengkapan (tempat makan dan minum) yang biasanya responden menggunakan baskom, ember, atau tempat makanan bekas, pakan berupa bekatul dan menir dengan rata-rata perbandingan 80 pemberian pakan 1,1 : 0,3 kg/hari, kesehatan dengan memberikan kapsul dengan harga sebesar Rp 5.000/kapsul, dan perbaikan kandang. Pada perikanan, biaya tunai yang dikeluarkan meliputi pakan, kesehatan, serta benih ikan. Biaya pada perikanan yang paling besar dikeluarkan oleh responden adalah biaya pakan ikan. Hal ini disebabkan akses untuk membeli pakan jauh dari desa. Pemberian pakan untuk Ikan Lele dan Ikan Nila rata-rata 3,3 kg dalam sehari. Ikan Nila merupakan ikan yang membutuhkan pakan lebih banyak dan membutuhkan air yang deras atau mengalir. Responden kadang-kadang memberikan daun tela ke kolam ikan. Daun tela dapat menjadi vitamin buat Ikan Lele dan Ikan Nila. Kolam Ikan Lele rata-rata berukuran 4 m x 2 m x 0,5 m dan kolam untuk Ikan Nila rata-rata berukuran 3 m x 2 m x 0,3 m. Responden di Desa Banjarsari lebih banyak memiliki kolam Ikan Lele dibandingkan Ikan Nila yaitu dua kolam. Biaya yang diperhitungkan pada strata 3 untuk sayuran adalah jagrak/rak, benih/bibit, ajir/lanjaran, polibag, pupuk kandang, tenaga kerja dalam keluarga, dan biaya penyusutan. Alat-alat yang umum digunakan dalam pelaksanaan KRPL di Desa Banjarsari yaitu cangkul, ganco, parang, arit, ember, dan gayung dimiliki sendiri oleh responden. Biaya yang diperhitungkan untuk ternak adalah biaya penyusutan kandang dan tenaga kerja dalam keluarga. Biaya yang diperhitungkan untuk perikanan meliputi penyusutan kolam, peralatan, dan tenaga kerja dalam keluarga. Biaya penyusutan merupakan biaya yang dikeluarkan akibat terjadinya pengurangan nilai barang sebagai akibat penggunaannya dalam proses produksi. Nilai penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus dengan asumsi tiap sarana produksi tidak dapat digunakan kembali (rusak). Total biaya 81 penyusutan untuk peralatan sayuran sebesar Rp 301.767/tahun. Rata-rata biaya penyusutan kandang di Desa Banjarsari senilai Rp 30.956/tahun dengan umur teknis kandang adalah 4 tahun. Rata-rata biaya penyusutan kolam Ikan Lele dan Ikan Nila di Desa Banjarsari senilai Rp 759.524 dan Rp 516.667 dengan umur teknis kolam adalah 10 tahun, maka jumlah penyusutan kolam Ikan Lele dan Ikan Nila tiap tahunnya adalah Rp 127.619/tahun. Serokan, pompa, dan pipa paralon mengalami penyusutan dalam pengembangan KRPL. Aktivitas tenaga kerja dalam keluarga dalam bercocok tanaman sayuran dimulai dari persiapan lahan (pengolahan tanah, pemupukan awal, penanaman), pemeliharaan (penyiangan, pemupukan, penyiraman, pemasangan ajir), dan pemanenan. Pada aktivitas beternak, tenaga kerja melakukan kegiatan memberi makan, membersihkan kandang, dan memasukkan atau mengeluarkan ternak. Tenaga kerja dalam keluarga membersihkan kandang dalam frekuensi seminggu 3 kali. Aktivitas memasukkan atau mengeluarkan ayam di Desa Banjarsari dilakukan dengan cara ayam dikandangkan pada malam hari dan diumbar pada siang hari. Pada perikanan, tenaga kerja juga melakukan kegiatan memberi makan ke ikan pada siang hari dan sore hari serta membersihkan kolam. Waktu kerja di Desa Banjarsari dalam satu hari adalah 7 jam di tempat penelitian. Pengembangan KRPL KEMPLING dilaksanakan hanya beberapa menit atau beberapa jam, maka perhitungan untuk tenaga kerja disesuaikan dengan keadaan di lokasi penelitian. Hal ini bertujuan agar mengetahui realisasi curahan waktu untuk melakukan kegiatan KRPL. Biaya tenaga kerja dalam keluarga pada strata 3 mencapai Rp 2.094.900. Rata-rata curahan waktu dan curahan kerja dalam satu tahun dapat dilihat dalam Lampiran 5. 82 Berdasarkan analisis pendapatan atas biaya tunai pada strata 3 diperoleh sebesar Rp 10.856.560. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga dalam KRPL bisa membayar seluruh biaya tunai. Pendapatan atas biaya total KRPL di Desa Banjarsari pada strata 3 adalah Rp 7.927.236. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga dalam KRPL bisa membayar seluruh biaya total. Nilai R/C rasio pada strata 3 dapat digolongkan layak, karena nilainya lebih dari satu. Rata-rata Pendapatan dari KRPL KEMPLING per rumah tangga dalam satu tahun di Desa Banjarsari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur dapat dilihat pada Tabel 37. Tabel 37. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga Strata 3 dalam Satu Tahun No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Penerimaan Tunai - Produksi sayuran - Produksi telur ayam - Pembelian ternak - Produksi Ikan Lele - Produksi Ikan Nila Penerimaan Non Tunai - Produksi sayuran - Produksi telur ayam - Produksi ayam - Produksi Ikan Lele - Produksi Ikan Nila - Bantuan - Produksi itik* - Produksi kambing* - Produksi sapi* Total Penerimaan Total Biaya - Biaya Tunai - Biaya yang Diperhitungkan Pendapatan atas Biaya Tunai Pendapatan atas Biaya Total R/C rasio Biaya Tunai R/C rasio Biaya Total Nilai (Rp) 169.560 47.520 (52.500) 2.592.000 1.690.000 2.599.620 348.480 3.300.000 2.208.000 1.391.000 2.000.000 16.293.680 8.366.444 5.437.120 2.929.324 10.856.560 7.927.236 3,00 1,95 Sumber : Data Primer (diolah), 2012 *) : Tidak masuk dalam penerimaan () : penerimaannya bersifat mengurangi 83 Berdasarkan Tabel 37 menunjukkan bahwa kegiatan KRPL di Desa Banjarsari menguntungkan karena nilai R/C lebih dari satu. Perhitungan R/C atas biaya tunai dilakukan melalui pembagian penerimaan total dengan penjumlahan biaya tunai. Nilai R/C rasio pendapatan atas biaya total pada strata 3 adalah sebesar 1,95 yang berarti untuk setiap satu rupiah biaya total yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan total sebesar Rp 1,95. Nilai R/C rasio pendapatan atas biaya tunai adalah sebesar 3,00 yang berarti untuk setiap satu rupiah biaya tunai yang dikeluarkan dalam pelaksanaan KRPL akan memberikan penerimaan sebesar Rp 3,00. Penerimaan itik, kambing, dan ayam tidak dimasukkan dalam penerimaan karena diasumsikan ketiga ternak ini merupakan ternak yang penerimaannya tidak rutin karena penerimaannya yang diterima pada saat hari- hari besar keagamaan dan apabila rumah tangga membutuhkan uang yang mendesak. Selain dari penerimaan tidak rutin, umur itik, kambing, dan sapi yang dimiliki oleh responden juga sudah terlalu lama. 6.3.4 Pendapatan KRPL KEMPLING per Luasan Lahan Status penguasaan lahan yang berbeda akan menentukan tingkat keragaman usaha tani, yang dalam hal ini meliputi tingkat produktivitas lahan dan distribusi pendapatan yang berlainan pula. Pendapatan per luasan lahan pada setiap strata KRPL KEMPLING berbeda karena penguasaan lahan yang berbeda dan paket komoditas setiap strata yang berbeda. Penguasaan lahan setiap strata per rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 13-15. Pengunaan lahan dalam pengembangan KRPL KEMPLING yang semakin luas, namun penggunaan untuk potensi tenaga kerja rata-rata hanya sebesar dua orang. Hal ini dikarenakan KRPL merupakan kegiatan yang sasarannya adalah ibu rumah tangga. Kepala rumah 84 tangga (bapak) dan anggota keluarga lainnya sifatnya hanya membantu kegiatan KRPL. Rata-rata pendapatan KRPL KEMPLING per m2 per rumah tangga disajikan pada Tabel 38. Tabel 38. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Luasan Lahan No Klasifikasi 1 Strata 1 2 Strata 2 3 Strata 3 Rata-rata Pendapatan (Rp/m2/rumah tangga) 30.659 15.920 25.991 Sumber : Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 38 menunjukkan bahwa pendapatan per luas lahan yang paling besar pada strata 1 yaitu sebesar Rp 30.659 dan pendapatan per luas lahan yang paling kecil pada strata 2 sebesar Rp 15.920. Rata-rata pendapatan per m2 per rumah tangga strata 2 memiliki nilai yang paling kecil dibandingkan strata 1 dan strata 3. Hal ini dikarenakan (1) penggunaan input sayuran diperoleh paling kecil; (2) rendahnya kesadaran rumah tangga dalam mengusahakan sendiri benih/bibit sayuran akibatnya mereka bergantung dari pemberian KBD. Rumah tangga strata 1 memiliki lahan yang tergolong sempit, namun mereka mengusahakan secara optimal untuk mendapatkan sebesar-besarnya dengan mengusahakan sendiri benih/bibit dan yang diperoleh dari KBD. Penanaman sayuran di lahan sempit ini dengan meletakkan pada depan dan samping rumah serta di jagrak/rak. Sayuran yang diletakkan di jagrak/rak dipandang agar lebih rapi. Rumah tangga strata 1 memiliki distribusi pendapatan dari luar KRPL paling kecil sehingga mereka sadar akan pentingnya menanam tanaman pangan khususnya sayuran di pekarangan. Rumah tangga strata 2 memiliki lahan yang merupakan kategori sedang. Penanaman sayuran dilakukan di depan rumah dengan jagrak/rak dan kandang yang berada di samping rumah. Keliling halaman rumah juga terdapat tanaman 85 yang sudah turun temurun seperti pohon mangga, pohon pisang, dan lain-lain. Rumah tangga strata 3 merupakan rumah tangga yang memiliki lahan luas. Penanaman sayuran dilakukan di depan dan samping rumah serta di jagrak/rak. Beternak ayam dilaksanakan di samping rumah. Penggunaan lahan kolam ikan cukup luas untuk tingkat rumah tangga dan dilaksanakan di belakang rumah. Keliling halaman rumah juga terdapat tanaman yang sudah turun temurun. 6.3.5 Kontribusi KRPL KEMPLING terhadap Pendapatan Keluarga Pendapatan luar usaha KRPL berasal dari pendapatan anggota keluarga seperti suami atau istri dan anak. Jenis pekerjaan dari luar usaha KRPL yang menjadi sumber pendapatan diperoleh dari beraneka ragam pekerjaan. Distribusi pekerjaan luar usaha KRPL dari keluarga strata 1, strata 2, dan strata 3 dapat dilihat pada Tabel 39-42. Tabel 39. Distrbusi Pekerjaan Luar Usaha KRPL dari Keluarga Strata 1 No Jenis Pekerjaan 1 Petani 2 PNS 3 Buruh 4 Wiraswasta 5 Pensiun+buruh 6 Petani+buruh 7 Wiraswasta+buruh Rata-rata pendapatan (Rp/Bulan) Rata-rata pendapatan (Rp/Tahun) Jumlah Respondn (orang) Rata-rata Pendapatan (Rp/Bulan) 1 5 2 9 2 2 9 30 400.000 2.070.000 575.000 1.416.667 1.500.000 1.101.667 1.550.000 1.230.476 14.765.714 Sumber : Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 39 menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan yang paling besar pada sektor PNS yaitu rata-rata Rp 2.070.000 dan pendapatan yang paling kecil pada sektor petani yaitu rata-rata Rp 400.000. Sebagian rumah tangga strata 1 bekerja di sektor wiraswasta, kombinasi wiraswasta dan buruh dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp 1.416.667 dan Rp 1.550.000. 86 Sebagian rumah tangga strata 2 bekerja di sektor wiraswasta dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp 1.821.429. Distribusi pekerjaan luar usaha KRPL strata 2 dapat dilihat pada Tabel 40. Tabel 40. Distrbusi Pekerjaan Luar Usaha KRPL dari Keluarga Strata 2 No Jenis Pekerjaan 1 Swasta 2 Wiraswata 3 PNS 4 Petani+buruh 5 Wirawswata+buruh 6 Petani+wirawasata 7 Petani+PNS Rata-rata pendapatan (Rp/Bulan) Rata-rata pendapatan (Rp/Tahun) Jumlah Responden (orang) 4 7 3 4 2 3 2 25 Rata-rata Pendapatan (Rp/Bulan) 2.150.000 1.821.429 3.275.000 939.208 1.825.000 1.917.444 1.497.833 1.917.988 23.015.854 Sumber : Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 40 menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan yang paling besar berada pada sektor PNS sebesar Rp 3.275.000. Rata-rata pendapatan yang paling kecil berada pada sektor kombinasi petani dan buruh sebesar Rp 939.208. Tabel 41. Distrbusi Pekerjaan Luar Usaha KRPL dari Keluarga Strata 3 No Jenis Pekerjaan 1 PNS 2 Wiraswasta 3 Wiraswasta+Buruh 4 Petani+Buruh 5 Petani+Wiraswasta 6 PNS+Wiraswasta 7 Pensiunan+Wiraswasta 8 PNS+Swasta Rata-rata pendapatan (Rp/Bulan) Rata-rata pendapatan (Rp/Tahun) Jumlah Responden (orang) 6 3 5 1 6 2 1 1 25 Rata-rata Pendapatan (Rp/Bulan) 3.666.667 3.437.500 2.314.000 1.600.000 2.316.667 3.025.000 2.000.000 2.300.000 2.582.479 30.989.750 Sumber : Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 41 menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan yang paling besar pada sektor PNS yaitu rata-rata Rp 3.666.667. Pendapatan yang 87 paling kecil pada sektor kombinasi petani dan buruh yaitu rata-rata Rp 1.600.000. Sebagian rumah tangga strata 3 bekerja di sektor PNS dan kombinasi petani+wiraswasta dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp 3.666.667 dan Rp 2.316.667. Rata-rata kontribusi KRPL terhadap pendapatan rumah tangga disajikan pada Tabel 42. Tabel 42. Rata-Rata Kontribusi KRPL KEMPLING terhadap Pendapatan Rumah Tangga Setiap Strata per Tahun Strata Rata-rata Pendapatan (Rp/Tahun) Pendapatan KRPL Pendapatan Luar 1 2 3 889.100 2.387.944 7.927.236 14.765.714 23.015.854 30.989.750 Rata-rata Kontribusi KRPL (%) 5,70 9,90 20,37 Sumber : Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 42 menunjukkan bahwa rata-rata kontribusi KRPL terhadap pendapatan rumah tangga pada strata 1, strata 2, dan strata 3 masingmasing sebesar 5,70%, 9,90%, dan 20,37%. Pengembangan KRPL di Desa Banjarsari yang dijalankan oleh rumah tangga merupakan usaha sampingan. Kontribusi KRPL KEMPLING yang paling besar berada di strata 3 dengan ditunjukkan dari pendapatan KRPL dan pendapatan diluar KRPL yang meningkat. Hal ini disebabkan oleh (1) luasan lahan pada strata 3 lebih besar dengan rata-rata luas pekarangan 305 m2 ; (2) Komoditas strata 3 lebih beragam; (3) Pendapatan luar KRPL lebih tinggi yaitu dominan di PNS dan wiraswasta; (4) Penggabungan pekerjaan strata 3 lebih banyak yaitu 6 pengelompokan dibandingakan strata 1 dan strata 2; (5) Penggabungan pekerjaan yang pendapatannya paling kecil yaitu petani+buruh disebabkan luas lahan kepemilikan sawah di strata 3 lebih luas. Oleh karena itu, KRPL KEMPLING merupakan usaha sampingan bagi rumah tangga di Desa Banjarsari. 88 6.4 Keberlanjutan KRPL KEMPLING Pengembangan KRPL dirancang melalui optimalisasi pekarangan sebagai suatu unit usaha secara terpadu untuk mendukung penyediaan pangan secara keberlanjutan. Peran serta masyarakat merupakan kunci utama yang diharapkan dapat mewujudkan penyediaan secara keberlanjutan. Evaluasi terhadap KRPL dapat dilakukan dengan mengetahui sejauhmana pencapaian tujuan utama ini selama implementasinya di lapangan. Tujuan utama berupa pemanfaatan pekarangan dan masyarakat sejahtera dapat dilihat dari tiga aspek yang lebih spesifik yaitu aspek lingkungan, aspek ekonomi dan aspek sosial. Aspek lingkungan berarti menilai keberhasilan KRPL melalui kemampuannya dalam menjaga kelestarian sumberdaya alam khususnya pekarangan. Salah satu variabel penilaian kualitas kelestarian pekarangan adalah dengan melihat bagaimana KRPL mampu meningkatkan kegiatan tanam menanam sehingga dapat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Sejak diimplementasikan di Desa Banjarsari, KRPL telah mampu meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya yang tergabung dalam KRPL untuk turut menjaga sumberdaya alam di wilayahnya. Pada pelaksanaan KRPL KEMPLING dengan melihat dari aspek lingkungan telah berhasil melaksanakan kegiatan lingkungan secara dini yang diberikan kepada siswa siswi SD dengan nama Fun School Garden (FSG). Kegiatan tersebut dilaksanakan selama satu bulan dan yang bekerja sebagai pengajar dari Tim PPL Banjarsari. Tim PPL Desa Banjarsari mengajarkan mengenai budidaya tanaman sayuran dari penyiapan lahan hingga panen. 89 Pengembangan KRPL KEMPLING secara ekologis telah membantu meningkatkan kualitas tanaman di pekarangan. Selama melakukan kegiatan tanam menanam, sebagian besar rumah tangga memberikan pemupukan dengan pupuk kandang maupun sampah sisa-sisa rumah tangga. Pelaksanaan kegiatan KRPL KEMPLING dapat membuat kondisi Desa Banjarsari menjadi ramah lingkungan. Pelaksanaan KRPL KEMPLING mampu menambah keindahan setiap rumah sehingga membuat rumah menjadi lebih ASRI. Desa Banjarsari juga memberikan stimulun bagi desa sebelah agar mengembangkan KRPL. Dilihat dari aspek sosial, pengembangan KRPL di Desa Banjarsari akan terus didukung masyarakat karena mampu menambah ilmu pengetahuan dan meningkatkan gotong royong antar rumah tangga. Masyarakat dapat menjadikan KRPL sebagai sarana aktualisasi dan pengembangan diri bagi Desa Banjarsari. Pelaksanaaan KRPL ini mampu menambah komunikasi dengan Dinas-Dinas terkait di Kabupaten Pacitan seperti Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Badan Ketahanan Pangan, Dinas Perikanan, Dinas Perkebunan dan Kehutanan. Pihak-pihak yang terkait tersebut memberikan sosialisasi dalam bentuk penyuluhan sehingga masyarakat dapat meningkatkan skill untuk mengoptimalisasi pekarangan. Implementasi KRPL di lapangan dari aspek ekonomi hingga tahun 2012 memang belum menunjukkan sumbangan yang berarti. Hal ini karena pelaksanaan KRPL di Desa Banjarsari sendiri yang hampir berjalan dua tahun. Keberlanjutan KRPL ditinjau dari mampu menekan pengeluaran rumah tangga dan keberadaan KBD sebagai penyedia atau menjual hasil dari komoditas KRPL di Desa Banjarsari. Pelaksanaan KRPL mampu menekan pengeluaran rumah tangga yang 90 ditunjukkan dengan pada strata 1, strata 2, dan strata 3 berorientasi untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Penghematan pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi pangan disajikan pada Tabel 43. Tabel 43. Penghematan Pengeluaran Rumah Tangga KRPL KEMPLING Klasifikasi Strata 1 Strata 2 Strata 3 Persentase (%) Persentase (%) Penghematan Pengeluaran rumah tangga (Rp/bulan) Sayuran 62,70 49.508 Sayuran 58,26 Telur ayam buras Sayuran Telur ayam buras Perikanan 57,00 55.089 71,46 65,00 24,50 130.751 Sumber : Data Primer, diolah (2012) Berdasarkan Tabel 42 menunjukkan bahwa strata yang paling besar menekan pengeluaran rumah tangga dalam konsumsi pangan yaitu strata 3 sebesar Rp 130.751/bulan. Penghematan pengeluaran pada strata 1 dan 2 hanya terpaut sedikit yaitu sebesar Rp 5.581. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan sayuran strata 2 memiliki nilai penghematan pengeluaran paling kecil dibandingkan dengan strata 1 dan strata 3 karena penggunaan sayuran strata 2 lebih berorientasi untuk sosial. Tahun proyek menggunakan bangunan dari KBD dengan umur teknis 5 tahun. Umur teknis ini didasarkan oleh Fitriyani (2006) yang menyatakan bahwa umur kandang ayam memiliki masa pakai 2-5 tahun yang terbuat dari bambu dan kayu. Bahan pembuatan KBD terdiri dari bambu dan kayu. Atap KBD terbuat dari plastik yang berlantaikan tanah. Analisis ini menggunakan tingkat discount factor sebesar 12% yang didiskontokan dengan nilai manfaat bersih (net benefit) yang diperoleh dari perhitungan arus kas (cash flow). Tingkat suku bunga (discount factor) sebesar 12% 91 yang digunakan dalam pengembangan KBD merupakan tingkat suku bunga pinjaman di salah satu bank di Indonesia, dimana bank tersebut yang mudah diakses oleh masyarakat Desa Banjarsari. Pelaksanaan KBD di Desa Banjarsari dilakukan secara komunal. Penerimaan yang diperoleh KBD sebesar Rp 14.000.000 setiap tahun dengan menggalikan harga, jumlah voker, dan jumlah bibit setiap voker. KBD dalam satu tahun melakukan tanam-menanam sebanyak empat kali. Penerimaan tersebut terdiri dari: (1) Penerimaan tunai sebesar Rp 275.000 dari penjualan voker setiap tanam; (2) Penerimaan non tunai sebesar Rp 3.225.000 dalam sekali tanam. Penerimaan non tunai di KBD merupakan penerimaan dimana ketersediaan benih/bibit dikonsumsi oleh rumah tangga Desa Banjarsari untuk mencukupi kebutuhan di pekarangan. Jumlah penerimaan yang diterima KBD selama umur proyek yaitu 5 tahun diasumsikan tetap. Penerimaan yang diperoleh KBD, nantinya dipergunakan dari dan untuk masyarakat Desa Banjarsari. Biaya di KBD dibagi menjadi dua yaitu: (1) Biaya tunai; dan (2) Biaya non tunai. Biaya tunai terdiri dari pembelian benih selama sekali tanam dan biaya non tunai terdiri dari daun pisang, pupuk kandang, tenaga kerja, dan lain-lain. Biaya tunai yang dikeluarkan KBD sebesar Rp 271.250 sekali tanam. Biaya non tunai yang dikeluarkan KBD sebesar Rp 2.492.500 sekali tanam. Pada pengembangan KBD terdapat dua kondisi yaitu (1) kondisi adanya bantuan dari Kecamatan Pacitan yang digunakan merenovasi KBD dan membeli bibit/benih untuk KBD; (2) kondisi tanpa ada bantuan dari pemerintah. Kondisi tanpa adanya bantuan diperoleh dari pemutaran uang yang didapat dari KBD. Biaya investasi pembangunan KBD untuk kondisi tanpa ada banatuan 92 diasumsikan dengan sebesar Rp 2.500.000 sama dengan bantuan dari Kecamatan Pacitan. Hal ini dikarenakan keterbatasan responden untuk mengingat harga dan jumlah alat serta bahan yang digunakan dalam pembangunan KBD. Gambaran dua kondisi pendapatan KBD dapat dilihat pada Tabel 44 dan Tabel 45. Tabel 44. Gambaran Pendapatan KBD di Desa Banjarsari dengan adanya Bantuan Tahun 1 2 3 4 5 Sumber Asumsi i. ii. iii. iv. v. Benefit (Rp) 16.500.000 14.000.000 14.000.000 14.000.000 14.000.000 NPV Gross B/C Cost (Rp) 11.055.000 11.252.500 11.055.000 11.252.500 11.055.000 Pendapatan (Rp) 5.445.000 2.747.500 2.945.000 2.747.500 2.945.000 12.565.248 1,29 : Data Primer, diolah (2012) : Harga bibit per voker di KBD Rp. 500 KBD memiliki wadah 35 papan voker Satu voker berisi 200 bibit Bibit tidak ada yang rusak/mati Ukuran voker 45 cm x 60 cm Berdasarkan Tabel 44 menunjukkan hasil perhitungan bahwa gambaran pendapatan KBD di Desa Banjarsari dan tingkat suku bunga 12% memenuhi semua kriteria kelayakan. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, diperoleh hasil bahwa: 1) Nilai NPV yang diperoleh lebih dari nol (NPV>0) yaitu sebesar Rp 12.565.248. Artinya, jumlah manfaat bersih dari usaha KBD ini selama umur proyek yaitu 5 tahun dengan tingkat suku bunga 12% sebesar Rp 12.565.248 sehingga usaha tersebut layak untuk dijalankan. 2) Pada kriteria investasi yang kedua yaitu nilai gross B/C yang diperoleh lebih dari satu (gross B/C>1) yaitu sebesar 1,29. Artinya, setiap Rp 1,00 biaya dikeluarkan oleh KBD selama umur usaha yaitu 5 tahun mampu menghasilkan 93 manfaat kotor sebesar Rp 1,29 sehingga usaha tersebut dikatakan layak untuk dijalankan. Tabel 45. Gambaran Pendapatan KBD di Desa Banjarsari Tanpa Bantuan Tahun 1 2 3 4 5 Benefit (Rp) 14.000.000 14.000.000 14.000.000 14.000.000 14.000.000 NPV Gross B/C Sumber Asumsi i. ii. iii. iv. v. Cost (Rp) 13.555.000 11.252.500 11.055.000 11.252.500 11.055.000 Pendapatan (Rp) 445.000 2.747.500 2.945.000 2.747.500 2.945.000 8.100.962 1,21 : Data Primer, diolah (2012) : Harga bibit per voker di KBD Rp. 500 KBD memiliki wadah 35 papan voker Satu voker berisi 200 bibit Bibit tidak ada yang rusak/mati Ukuran voker 45 cm x 60 cm Berdasarkan Tabel 45 menunjukkan hasil perhitungan bahwa gambaran pendapatan KBD di Desa Banjarsari dan tingkat suku bunga 12% memenuhi semua kriteria kelayakan. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, diperoleh hasil bahwa: 1) Nilai NPV yang diperoleh lebih dari nol (NPV>0) yaitu sebesar Rp 8.100.962. Artinya, jumlah manfaat bersih dari usaha KBD ini selama umur proyek yaitu 5 tahun dengan tingkat suku bunga 12% sebesar Rp 8.100.962 sehingga usaha tersebut layak untuk dijalankan. 2) Pada kriteria investasi yang kedua yaitu nilai gross B/C yang diperoleh lebih dari satu (gross B/C>1) yaitu sebesar 1,21. Artinya, setiap Rp 1,00 biaya dikeluarkan oleh KBD selama umur usaha yaitu 5 tahun mampu menghasilkan manfaat kotor sebesar Rp 1,21 sehingga usaha tersebut dikatakan layak untuk dijalankan. Berbagai perspektif dari ketiga sudut pandang yaitu aspek lingkungan, aspek sosial, dan aspek ekonomi tersebut mengindikasikan bahwa KRPL memang 94 layak untuk terus dikembangkan dan didukung oleh semua pihak yang terlibat. Dinas-dinas yang terkait sebagai stakeholder mendapatkan keuntungan dari terjaganya pekarangan dan penyediaan pangan secara berkelanjutan. Masyarakat yang terlibat langsung dapat merasakan manfaat ekonomi dan sosial dari berjalannya KRPL KEMPLING. Walaupun masih terdapat berbagai masalah dalam pelaksanaan KRPL di Desa Banjarsari, masalah tersebut masih dapat diatasi mengingat ini baru berjalan efektif hampir berjalan dua tahun. Kuncinya adalah tekad dari setiap pihak yang terlibat untuk saling bekerjasama mengatasi berbagai masalah yang masih terjadi, demi tercapainya tujuan utama KRPL yaitu optimalisasi pekarangan untuk mendukung penyediaan pangan secara keberlanjutan. 95 VII. SIMPULAN DAN SARAN 7.1 Simpulan Beberapa hal yang dapat disimpulkan berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya adalah sebagai berikut: 1) Persepsi rumah tangga Desa Banjarsari menyatakan bahwa sebelum adanya KRPL KEMPLING lahan pemanfaatan pekarangan sudah termanfaatkan namun belum optimal. Desa Banjarsari mulai melakukan optimalisasi pekarangan untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dengan menambah sayuran. Manfaat yang dirasakan rumah tangga KRPL KEMPLING adalah menghemat pengeluaran rumah tangga dan menambah penghasilan. Kendala yang dirasakan rumah tangga dalam pelaksanaan KRPL KEMPLING adalah iklim dan hama. 2) Manfaat fisik dari KRPL KEMPLING mampu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Penggunaan hasil KRPL KEMPLING dari setiap strata menunjukkan bahwa KRPL KEMPLING berorientasi untuk memenuhi kebutuhan pangan, apabila kebutuhan pangan keluarga di Desa Banjarsari sudah terpenuhi, maka sisa penggunaannya diberikan untuk sosial dan dijual. Penggunaan perikanan strata 3 berorientasi untuk dijual. 3) Nilai R/C KRPL KEMPLING di setiap strata menunjukan hasil yang menguntungkan. Nilai R/C KRPL KEMPLING yang menunjukan hasil menguntungkan terdapat di strata 3. Rata-rata pendapatan per luasan lahan yang paling besar pada strata 1 yaitu sebesar Rp 30.659 dan pendapatan per luas lahan yang paling kecil pada strata 2 sebesar Rp 15.920. Kontribusi KRPL KEMPLING terhadap pendapatan keluarga diperoleh untuk strata 1, 96 strata 2, dan strata 3 yaitu masing-masing sebesar 5,70%, 9,90%, dan 20,37%. Pengembangan KRPL KEMPLING merupakan usaha sampingan bagi keluarga di Desa Banjarsari. 4) Keberlanjutan KRPL KEMPLING ditinjau dari aspek lingkungan dan aspek sosial mampu memberikan manfaat untuk individu, rumah tangga, dan desa. Aspek ekonomi dengan melihat dari KRPL KEMPLING mampu menekan pengeluaran keluarga strata 1, strata 2, dan strata 3 sebesar Rp 49.508, Rp 55.089, Rp 130.751. Aspek ekonomi juga melihat keberadaan KBD di Desa Banjarsari yang mampu memberikan keuntungan bagi masyarakat. 7.2 Saran Berdasarkan uraian dan pembahasan yang telah dijelaskan, dapat disarankan beberapa hal terkait dengan pelaksanaan KRPL sebagai berikut : 1) Keterbatasan strata 1 dalam pemenuhan kebutuhan pupuk bagi lahannya sebaiknya melakukan pembuatan pupuk bokashi secara rutin oleh semua strata. Hal ini terkait dengan bahan baku kotoran ternak yang dapat diperoleh dari strata 2 dan strata 3 yang merupakan limbah kegiatan KRPL pada strata tersebut. 2) Bagi masyarakat di Desa Banjarsari strata 3 untuk mengurangi biaya pakan ikan, maka perlu mengembangkan pakan buatan sendiri dengan menggunakan cacing, bekicot, atau keong yang dapat diperoleh di tanaman rumah, hutan, maupun sungai sekitar Desa Banjarsari. 3) Bagi masyarakat Desa Banjarsari untuk meningkatkan produktivitas sayuran, maka perlu mengembangkan teknik penanaman dengan cara pagar hidup dan memanfaatkan barang bekas untuk media menanam sayuran di pekarangan. 97 KONTRIBUSI PENGEMBANGAN KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI DALAM MENDUKUNG KESEJAHTERAAN MASYARAKAT: Studi Kasus Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur SITI FATIMATUS ZAHRO DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 i DAFTAR PUSTAKA Afrinis, Nur. 2009. Pengaruh Program Home Gardening dan Penyuluhan Gizi terhadap Pemanfaatan Pekarangan dan Konsumsi Pangan Balita. [Tesis]. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Pertanian. Bogor. Anonim. 2011. Jaga Ketahanan Pangan, BKP bikin Rumah Hijau.http://www.kabarbisnis.com/life-style/agribisnis/2817884 diakses pada tanggal 12 Maret 2012. Anonim. 2011. Program Gerakan Perempuan untuk Optimalisasi Pekarangan (GPOP). http://depok.go.id diakses tanggal 23 Maret 2012 Azmi, Zainul. 2008. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan PetaniMengikuti Program Pengelolaan Hutan Bersama MasyarakatSerta Pengaruhnya terhadap Pendapatan dan Curahan Kerja(Studi Kasus Desa Babakan, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor). [Skripsi]. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Badan Ketahanan Pangan.2012. Ketahanan Pangan. Surabaya. . Badan Badan Pusat Statistik. 2011. Penduduk Indonesia Menurut Propinsi 1971, 1980, 1990, 1995, 2000 dan 2010. http://bps.go.id diakses tanggal 23 maret 2012 Badan Pusat Statistik. 2011. Rata-Rata Konsumsi Protein (gram) per Kapita Menurut Kelompok Makanan 1999, 2002 – 2011. http://bps.go.id diakses tanggal 23 Maret 2012 Badan Pusat Statistik. 2011.Rata-Rata Konsumsi Kalori (KKal) per Kapita Sehari Menurut Kelompok Makanan 2007-2011. http://bps.go.id diakses tanggal 23 Maret 2012 Departemen Pertanian. 2001. Rencana Strategis dan Program Kerja Pemantapan Ketahanan Pangan Tahun 2001-2004. Badan Bimas Ketahanan Pangan. Departemen Pertanian. Jakarta. Fitriyani, Ria. 2006. Kontribusi Usaha Ternak Ayam Buras terhadap Pendapatan Keluarga di Desa Tamansari Keamatan Tamansari Bogor. [Skripsi]. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Gittinger, J. Price. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Hasan, Iqbal. 2001. Pokok-Pokok Materi Statistik 1 (Statistik Deskriptif). PT Bumi Aksara. Jakarta. 98 Hernanto, F. 1980. Ilmu Usahatani dalam Rangka Penataran Rural Credit ProjectBank Rakyat Indonesia. Unit Penataraan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Kementerian Pertanian. 2012. Laporan Kinerja Kementerian Pertanian Tahun 2011. Kementerian Pertanian. Jakarta. Kementerian Pertanian. 2011. Pedoman Umum Model Kawasan Rumah Pangan Lestari. Kementerian Pertanian. Jakarta. Kementerian Pertanian. 2012. Pedoman Umum Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP). Kementerian Pertanian. Jakarta.http://www.deptan.go.id/pedum2012/BKP/3.%20pedum-P2KPbkp2012.pdf diakses pada tanggal 20 Maret 2012. Marwanti, 1986. Keberhasilan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga dan Kesehatan Balita di Kabupaten Sleman Yogyakarta. Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. IKIP Yogyakarta. Yogyakarta. Pari, Rohmah. 2004. Pengembangan Pekarangan untuk Mendukung Gerakan Budaya Mandiri Kesehatan Alami (BUMIKITA) di Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor barat, Kotamadya Bogor. [Skripsi]. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Prasetyo, Jannah, Lina Miftahul. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Rihastuti, Deny Dwi. 1993. Studi Perbandingan Dampak Pemanfaatan Lahan Pekarangan Antara Keluarga Perserta dan Bukan Peserta Kursus Pemanfaatan Lahan Pekarangan (Studi Kasus di Desa Cimanggu I dan Desa Sukamaju, Kecamatan Cibungbulan, Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor, Provinsi Jawa Barat).[Skripsi]. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Rukmana, Rahmat. 2008. Bertanam Buah-buahan di Pekarangan. Kanisius. Yogyakarta. Saptana, Purwanti Tri B, Supriyanti Yana, dkk. 2011. Dampak Pengembangan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari terhadap Kesejahteraan Rumah Tangga dan Ekonomi Di Pedesaan. Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor. Sastrapradja S, Naiola BP, Rasmadi ER, Roemantyo, Soepardijono EK, Waluyo EB. 1979. Tanaman Pekarangan. LIPI. Bogor. Soekartawi, Soeharjo A, Dillon John L, Hardaker J Brian. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia Press. Jakarta. 99 Soekartawi. 2002. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Suratiyah, Ken. 2006. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta. Widayati, Weka. 1993. Kreativitas Wanitatani dalam Pengelolaan Usahatani Pekarangan (Studi Kasus di Sulawesi Tenggara). [Tesis]. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 100 LAMPIRAN 101 Lampiran 1. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga Strata 1 dalam Satu Tahun Keterangan Jumlah Satuan Harga satuan (Rp) Nilai (Rp) A. Biaya Tunai 1. Jagrak 2. Bibit 2 Buah 55.000 110.000 - Tomat - Cabai - Terong - Sawi 3. Polibag 8 15 11 11 30 batang batang batang batang Buah 500 500 500 500 867 4.000 7.500 5.500 5.500 26.010 158.510 buah 45.000 45.000 batang batang batang batang batang batang buah Kg buah 500 500 500 500 5000 5000 150 200 867 3.000 3.000 2.500 5000 50.000 50.000 4.050 8.310 11.267 HKP HKW 25.000 20.000 327.000 286.000 265.183 1.060.310 1.218.820 Total B. Biaya yang Diperhitungkan 1. Jagrak 1 2. Bibit/Benih - Tomat 6 - Cabai 6 - Terong 5 - Kangkung 10 - Sawi 10 - Bayam 10 3. Ajir dari Bambu 27 4. Pupuk Kandang 41,55 5. Polibag 13 6. Tenaga Kerja Dalam Keluarga - Pria 13,08 - Wanita 14,30 7. Penyusutan peralatan Total Biaya Diperhitungkan C. Total Biaya D. Penerimaan Penerimaan Tunai Penerimaan Non Tunai Total Penerimaan E. Pendapatan atas biaya tunai F. Pendapatan atas biaya Total G. R/C Biaya Tunai H. R/C Biaya Total 199.226 1.908.694 2.107.920 1.949.410 889.100 13,30 1,73 102 Lampiran 2. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga Strata 2 dalam Satu Tahun Keterangan A. Biaya Tunai 1. Sayuran a. Jagrak b. Bibit - Tomat Cabai Terong Sawi Jumlah Satuan 2 Buah 10 12 9 8 28 Batang Batang Batang Batang Buah Harga satuan (Rp) c. Polibag 2. Ternak a. Perlengkapan b. Pakan c. Kesehatan d. Perbaikan Kandang e. Sapu lidi 1 Buah Total B. Biaya yang Diperhitungkan 1. Sayuran a. Jagrak 1 Unit b. Bibit 7 Batang - Tomat 7 Batang - Cabai 7 Batang - Terong 8 Batang - Kangkung 7 Batang - Sawi 8 Batang - Bayam c. Ajir dari Bambu 20 Buah d. Pupuk Kandang 35,4 Kg e. Polibag 13 Buah f. Tenaga kerja dalam Keluarga 8,44 HKP - Pria 10,90 HKP - Wanita g. Penyusutan Peralatan Total Biaya untuk Sayuran 2. Ternak a. Tenaga Kerja dalam Keluarga Memelihara Ternak 10,08 HKP - Pria 13,68 HKP - Wanita b. Penyusutan Kandang Total Biaya untuk Ternak Total Biaya Diperhitungkan C. Total Biaya Nilai (Rp) 55.000 110.000 500 500 500 500 867 5.000 6.000 4.500 4.000 24.276 11.750 1.008.000 113.333 23.056 2.000 1.311.915 45.000 45.000 500 500 500 500 500 500 150 200 867 3.000 3.500 3.500 4.000 3.500 4.000 3.000 7.080 11.267 25.000 20.000 211.000 218.000 263.627 780.474 25.000 20.000 252.000 273.600 40.147 565.747 1.346.221 2.658.136 103 Lampiran 2. (Lanjutan) Keterangan Jumlah Satuan D. Penerimaan Penerimaan Tunai Produksi sayuran Produksi telur ayam Pembelian ternak Penerimaan Non Tunai Produksi sayuran Produksi telur ayam Produksi ayam Produksi itik* Produksi kambing* Produksi sapi* Total Penerimaan E. Pendapatan atas biaya tunai F. Pendapatan atas biaya Total R/C Biaya Tunai R/C Biaya Total *) () Harga satuan (Rp) Nilai (Rp) 243.756 96.000 ( 52.500) 1.494.824 264.000 3.000.000 5.046.080 3.734.165 2.387.944 3,93 1,94 : Tidak termasuk penerimaan : penerimaannya bersifat mengurangi 104 Lampiran 3. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga Strata 3 dalam Satu Tahun Keterangan A. Biaya Tunai 1. Sayuran a. Jagrak b. Bibit - Tomat Cabai Terong Sawi Jumlah Satuan 3 Buah 14 17 13 13 45 Batang Batang Batang Batang Buah c. Polibag 2. Ternak a. Perlengkapan b. Pakan c. Kesehatan d. Perbaikan Kandang e. Sapu lidi 1 3. Perikanan a. Pakan b. Kesehatan c. Benih Ikan Lele 2.420 d. Benih Ikan Nila 2.760 Total Biaya Tunai B. Biaya yang Diperhitungkan 1. Sayuran 2 a. Jagrak b. Bibit 7 - Tomat 7 - Cabai 6 - Terong 10 - Kangkung 10 - Sawi 11 - Bayam 34 c. Ajir dari Bambu 57 d. Pupuk Kandang 13 e. Polibag f. Tenaga kerja dalam Keluarga 14,72 - Pria 20,56 - Wanita g. Penyusutan Peralatan Total Biaya untuk Sayuran Buah Harga Satuan (Rp) Nilai (Rp) 55000 165.000 500 500 500 500 867 7.000 8.500 6.500 6.500 39.015 2000 13.824 710.471 98.824 21.786 2.000 3.271.200 154.500 242.000 690.000 5.437.120 Biji Biji 100 250 Unit 45000 90.000 500 500 500 500 500 500 150 200 867 3.000 3.500 3.000 5.000 5.000 5.500 5.100 11.400 11.267 25000 20000 368.000 411.200 301.767 1.223.734 Batang Batang Batang Batang Batang Batang Buah Kg Buah HKP HKP 105 Lampiran 3. (Lanjutan) Keterangan Jumlah Satuan Harga Satuan (Rp) 2. Ternak a. Tenaga Kerja dalam Keluarga Memelihara Ternak 10,08 HKP - Pria 16,96 HKP - Wanita b. Penyusutan Kandang Total Biaya untuk Ternak 3. Perikanan a. Tenaga Kerja dalam Keluarga Memelihara Ikan 18,9 HKP - Pria 12,6 HKP - Wanita b. Penyusutan untuk perikanan Total Biaya untuk perikanan Total Biaya Diperhitungkan C. Total Biaya D. Penerimaan Penerimaan Tunai Produksi sayuran Produksi telur ayam Pembelian ternak Produksi Ikan Lele Produksi Ikan Nila Penerimaan Non Tunai Produksi sayuran Produksi telur ayam Produksi ayam Produksi Ikan Lele Produksi Ikan Nila Bantuan Produksi itik* Produksi kambing* Produksi sapi* Total Penerimaan E. Pendapatan atas biaya tunai F. Pendapatan atas biaya Total R/C Biaya Tunai R/C Biaya Total *) () Nilai (Rp) 25000 20000 252.000 339.200 30.956 622.156 25000 20000 472.500 252.000 358.934 1.083.434 2.929.324 8.366.444 169.560 47.520 (52.500) 2.592.000 1.690.000 2.599.620 348.480 3.300.000 2.208.000 1.391.000 2.000.000 16.293.680 10.856.560 7.927.236 3,00 1,95 : Tidak termasuk penerimaan : penerimaannya bersifat mengurangi 106 Lampiran 4. Biaya Penyusutan per Tahun A. Strata 1 No Peralatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Cangkul Arit Ganco Parang Ember Gayung Jagrak Jagrak swadaya Sumur Total Jumlah 2 2 1 1 2 2 2 1 1 Harga (Rp) 75.000 35.000 70.000 25.000 7.500 3.500 55.000 45.000 675.167 Umur Teknis (Tahun) 4 3 4 3 2 2 2 1 10 Nilai ((Rp) 150.000 70.000 70.000 25.000 15.000 7.000 110.000 45.000 675.167 Penyusutan (Rp) 37.500 23.333 17.500 8.333 7.500 3.500 55.000 45.000 67.517 265.183 B. Strata 2 - Tanaman Sayuran No Peralatan Jumlah Harga (Rp) Umur Teknis (Tahun) Nilai (Rp) Penyusutan (Rp) 1 Cangkul 2 75.000 4 150.000 37.500 2 Arit 2 35.000 3 70.000 23.333 3 Ganco 1 70.000 4 70.000 17.500 4 Parang 1 25.000 3 25.000 8.333 5 Ember 2 7.500 2 15.000 7.500 6 Gayung 2 3.500 2 7.000 3.500 7 Jagrak 2 55.000 2 110.000 55.000 8 Jagrak swadaya 1 45.000 1 45.000 45.000 9 Sumur 1 659.600 10 659.600 65.960 Total 263.627 107 C. Strata 3 - Tanaman Sayuran No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Peralatan Cangkul Arit Ganco Parang Ember Gayung Jagrak Jagrak swadaya Sumur Total Harga (Rp) Jumlah 2 2 1 1 3 2 3 2 1 UmurTeknis (Tahun) 75.000 35.000 70.000 25.000 7.500 3.500 55.000 45.000 766.000 4 3 4 3 2 2 2 1 10 Nilai (Rp) Penyusutan (Rp) 150.000 70.000 70.000 25.000 15.000 7.000 165.000 90.000 766.000 37.500 23.333 17.500 8.333 7.500 3.500 82.500 45.000 76.600 301.767 - Perikanan No 1 2 3 4 5 6 Peralatan Kolam Ikan Lele Kolam Ikan Nila Serokan Pompa Pipa 4 m Timbangan Total Jumlah 2 1 1 1 5 1 Harga (Rp) 379.762 516.667 14.261 370.000 13.000 350.000 Umur Teknis (Tahun) 10 10 2 8 10 2 Nilai Penyusutan (Rp) (Rp) 759.524 75.952 516.667 51.667 14.261 3.565 370.000 46.250 65.000 6.500 350.000 175,000 358.934 Lampiran 5. Curahan Waktu dan Curahan Kerja Selama Satu Tahun A. Strata 1 Rata-Rata Curahan Waktu (Menit/Hari) No 1 2 3 Keterangan Pemeliharaan Olah Tanaman+Tanah+Pemupukan Panen Rata-rata Curahan Kerja (HKP/Hari) Selama 1 Tahun Pria Wanita No Keterangan (HKP/hari) 1 Pemeliharaan 0,02 0,03 2 Olah Tanaman+Tanah+Pemupukan 1,00 0,70 3 Panen 0,21 0,17 Total Pria Wanita 10 20 420 420 90 99 Pria Wanita (HKP/setahun) 7,20 10,80 3,00 2,10 3,36 2,72 13,56 15,621 108 B. Strata 2 - Tanaman Sayuran Rata-Rata Curahan Waktu (Menit/Hari) No Keterangan 1 Pemeliharaan 2 Olah Tanaman+Tanah+Pemupukan 3 Panen Rata-Rata Curahan Kerja (HKP/Hari) Selama 1 Tahun Pria Wanita No Keterangan (HKP/hari) 1 Pemeliharaan 0,01 0,02 2 Olah Tanaman+Tanah+Pemupukan 1,00 0,70 3 Panen 0,14 0,10 Total Pria 6 420 60 Wanita 15 420 79 Pria Wanita (HKP/tahun) 3,60 7,20 3,00 2,10 2,24 1,60 8,84 10,90 - Peternakan Rata-Rata Curahan Waktu (Menit/Hari) No Keterangan 1 Memberi Makan 2 Membersihkan Kandang 3 Memasukkan/Mengeluarkan Ayam Total Rata-Rata Curahan Kerja (HKP/Hari) Selama Satu Tahun Pria Wanita No Keterangan (HKP/hari) 1 Memberi Makan 0,01 0,01 2 Membersihkan Kandang 0,02 0,02 3 Memasukkan/Mengeluarkan Ayam 0,01 0,02 Total Pria 6 10 5 21 Wanita 9 15 10 34 Pria Wanita (HKP/tahun) 3,60 3,60 2,88 2,88 3,60 7,20 10,08 13,68 C. Strata 3 - Tanaman Sayuran Rata-Rata Curahan Waktu (Menit/Hari) No Keterangan 1 Pemeliharaan 2 Olah Tanaman+Tanah+Pemupukan 3 Panen Pria 10 420 102 Wanita 20 420 120 109 Rata-Rata Curahan Kerja (HKP/Hari) Selama Satu Tahun Pria Wanita No Keterangan (HKP/hari) 1 Pemeiharaan 0,02 0,03 2 Olah Tanaman+Tanah+Pemupukan 1,00 0,70 3 Panen 0,22 0,21 Total Pria Wanita (HKP/tahun) 7,20 10,8 4,00 2,80 3,52 3,36 14,72 16,96 - Peternakan Rata-Rata Curahan Waktu (Menit/Hari) No Keterangan 1 Memberi Makan 2 Membersihkan Kandang 3 Memasukkan/Mengeluarkan Ayam Total Pria 6 16 7 29 Rata-Rata Curahan Kerja (HKP/Hari) Selama Satu Tahun Pria Wanita No Keterangan (HKP/hari) 1 Memberi Makan 0,01 0,02 2 Membersihkan Kandang 0,02 0,02 3 Memasukkan/Mengeluarkan Ayam 0,02 0,02 Total - Wanita 12 24 11 47 Pria Wanita (HKP/tahun) 3,60 7,20 2,88 5,76 7,20 7,20 16,56 20,16 Perikanan Rata-Rata Curahan Waktu (Menit/Hari) No Keterangan 1 Memberian Makan 2 Membersihan Kolam Total Pria 6 49 56 Wanita 13 66 79 Rata-Rata Curahan Kerja (HKP/Hari) Selama Satu Tahun No 1 2 Keterangan Memberi Makan Membersihkan Kandang Total Pria Wanita (HKP/hari) 0,01 0,02 0,02 0,01 Pria Wanita (HKP/tahun) 2,10 4,20 16,8 8,40 18,90 12,60 110 Lampiran 6. Cashflow KBD di Desa Banjarsari dengan adanya Bantuan Keterangan Jumlah Satuan Harga (Rp) Nilai (Rp) 1 2 Tahun 3 4 5 A. Biaya Tunai 1. isi stapler 2.Bibit/benih cabe rawit Tomat kangkung bayam sawi Terong B. Biaya Diperhitungkan 1. Tampah 2. semprotan 3. ember 4. gayung 5. polibag kecil 6. TKDK Pria wanita 7. pupuk kandang 8. serbuk 9. daun pisang 10. tanah 11. Stapler Total Biaya C. Penerimaan 1. Penerimaan tunai 6 buah 5.000 30.000 30.000 30.000 30.000 30.000 30.0000 10 10 8 8 8 8 bungkus bungkus bungkus bungkus bungkus bungkus 22.500 17.000 15.000 15.000 30.000 22.500 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 1.560.000 50.000 100.000 37.500 10.000 1.560.000 1.560.000 50.000 100.000 37.500 10.000 1.560.000 1.560.000 5.150.000 2.880.000 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 11.055.000 16.500.000 1.100.000 5.150.000 2.880.000 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 11.252.500 14.000.000 1.100.000 5.150.000 2.880.000 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 11.055.000 14.000.000 1.100.000 5.150.000 2.880.000 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 11.252.500 14.000.000 1.100.000 5.150.000 2.880.000 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 11.055.000 14.000.000 1.100.000 10 4 5 2 40 buah buah buah bungkus bungkus 5.000 25.000 7.500 5.000 26.000 5.000 25.000 7.500 5.000 1.040.000 206 144 8 4 40 1 3 HKP HKP sak sak buah 25.000 20.000 10.000 30.000 750 120.000 10.000 5.150.000 2.880.000 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 buah 275.000 111 Lampiran 6. (Lanjutan) Keterangan Jumlah 2.Penerimaan non tunai konsumsi masyarakat bantuan Total penerimaan D. Laba E. DF (12%) F. PV G.NPV H. PV benefit I. PV cost J. Gross benefit K. Gross cost L. Gross B/C Satuan Harga (Rp) 3.225.000 Nilai (Rp) 1 2 Tahun 3 4 5 12.900.000 2.500.000 16.500.000 5.445.000 0,89 4.861.607 12.565.248 18.480.000 12.381.600 102.412.647 79.216.929 1,29 12.900.000 14.000.000 2.747.500 0,80 2.190.290 12.900.000 14.000.000 2.945.000 0,71 2.096.193 12.900.000 14.000.000 2.747.500 0,64 1.746.086 12.900.000 14.000.000 2.945.000 0,57 1.671.072 17.561.600 14.115.136 19.668.992 15.531.479 22.029.271 17.706.027 24.672.784 19.482.687 112 Lampiran 7. Cashflow KBD di Desa Banjarsari Tanpa adanya Bantuan Tahun Keterangan Jumlah A.Biaya Investasi Bangunan KBD B. Biaya Operasional 1. isi stapler 6 2. bibit cabe rawit 10 3. bibit tomat 10 4. bibit kangkung 8 5. bibit bayam 8 6. bibit sawi 8 7. bibit terong 8 C. Biaya Diperhitungkan 1. Tampah 10 2. semprotan 4 3. ember 5 4. gayung 2 5. polibag kecil 40 6.TKDK Pria 206 wanita 144 Satuan Harga (Rp) Nilai (Rp) 1 2 2.500.000 2.500.000 2.500.000 buah bungkus bungkus bungkus bungkus bungkus bungkus 5.000 22.500 17.000 15.000 15.000 30.000 22.500 30.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 30.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 30.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 buah buah buah bungkus bungkus 5.000 25.000 7.500 5.000 26.000 5.000 25.000 7.500 5.000 1.040.000 HKP HKP 25.000 20.000 5.150.000 2.880.000 3 4 5 30.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 30.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 30.000 225.000 170.000 120.000 120.000 240.000 180.000 1.560.000 50.000 100.000 37.500 10.000 1.560.000 1.560.000 50.000 100.000 37.500 10.000 1.560.000 1.560.000 5.150.000 2.880.000 5.150.000 2.880.000 5.150.000 2.880.000 5.150.000 2.880.000 5.150.000 2.880.000 113 Lampiran 7. (Lanjutan) Keterangan Jumlah 7. pupuk 8 kandang 8. serbuk 4 9. daun 40 pisang 10. tanah 1 11. stapler 3 Total Biaya D. Penerimaan 1. Penerimaan tunai 2. Penerimaan non tunai konsumsi masyarakat Total penerimaan E. Laba F. DF (12%) G. PV H. NPV I. PV benefit J. PV cost K. Gross benefit L. Gross cost M. Gross B/C Satuan sak sak buah buah Harga (Rp) 10.000 30.000 750 120.000 10.000 275.000 3.225.000 Nilai (Rp) 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 1 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 13.555.000 14.000.000 1.100.000 2 80.000 120.000 30.000 120.000 30.000 11.252.500 14.000.000 1.100.000 Tahun 3 4 5 80.000 80.000 80.000 120.000 120.000 120.000 30.000 30.000 30.000 120.000 120.000 120.000 30.000 30.000 30.000 11.055.000 11.252.500 11.055.000 14.000.000 14.000.000 14.000.000 1.100.000 1.100.000 1.100.000 12.900.000 14.000.000 445.000 0,89 397.321 8.100.962 15.680.000 15.181.600 99.612.647 82.016.929 1,21 12.900.000 14.000.000 2.747.500 0,80 2.190.290 12.900.000 12.900.000 12.900.000 14.000.000 14.000.000 14.000.000 2.945.000 2.747.500 2.945.000 0,64 0,57 0,71 2.096.193 1.746.086 1.671.072 17.561.600 14.115.136 19.668.992 22.029.271 24.672.784 15.531.479 17.706.027 9.482.687 114 Lampiran 8. Dokumentasi Penelitian Gambar 1. Papan KRPL Sebelum Memasuki Desa Banjarsari Gambar 2. Papan KRPL Memasuki Desa Banjarsari Setelah Gambar 3. Tanaman yang ditanam di jagrak/rak Gambar 4. Kolam yang berada di belakang pekarangan Gambar 5. Salah Satu Bantuan Sapi Perah dari Pemerintah Kabupaten Pacitan Gambar 6. Kebun Bibit Desa (KBD) di Desa Banjarsari Gambar 7. Salah Satu voker yang dijual di KBD dengan harga Rp. 500/ bibit Gambar 8. Wawancara dengan Salah satu Responden 115 RINGKASAN Siti Fatimatus Zahro. Kontribusi Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari Dalam Mendukung Kesejahteraan Masyarakat: Studi Kasus Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Dibimbing oleh YUSMAN SYAUKAT. Pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi menuntut pemenuhan penyediaan makanan dan perluasan daerah pemukiman. Peningkatan konversi lahan membuat masyarakat untuk melakukan alternatif dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi di lahan yang sempit yaitu dengan pemanfaatan pekarangan. Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) merupakan program dari Kementerian Pertanian. Pengembangan KRPL menjadi salah satu alternatif dengan menggunakan pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan pangan, gizi keluarga, dan peningkatan pendapatan yang pada hasil akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan sehingga mampu mewujudkan kemandirian desa. Salah satu desa yang menerapkan KRPL secara swadaya di Kabupaten Pacitan adalah Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan. Sebagian besar masyarakat belum melakukan optimalisasi pekarangan dan pengembangan pertanian. Pengetahuan masyarakat terhadap manfaat pekarangan juga masih kurang khususnya mutu dan gizi pangan. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi mengenai kontribusi pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari dalam mendukung kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi persepsi masyarakat mengenai KRPL; (2) mengidentifikasi manfaat fisik dari adanya KRPL dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga; (3) mengestimasi biaya dan manfaat dari KRPL; dan (4) mengevaluasi keberlanjutan KRPL. Penelitian dilakukan di Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur melalui kegiatan pengamatan langsung dengan penentuan tempat dan sampel dilakukan dengan sengaja, sedangkan penentuan jumlah sampel secara metode slovin dengan teknik penarikan sampel dengan judgmental sampling (Prasetyo, 2006) atas dasar pertimbangan dari ketua dan pengurus KRPL yang berupa buku kelompok strata Desa Banjarsari. Pembagian strata KRPL didasarkan oleh luas pekarangan dan paket komoditas. Pada analisis data kualitatif dipilih secara purposive dari pihak pengurus, anggota, dan atau masyarakat untuk menggali keberlanjutan KRPL. Pada pengembangan KRPL terdapat pembagian strata menurut luas pekarangan yaitu (1) Strata 1, masyarakat memiliki luas pekarangan selus 0-100 m2, (2) Strata 2, masyarakat memiliki luas pekarangan seluas
Kontribusi Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari Dalam Mendukung Kesejahteraan Masyarakat: Studi Kasus Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur Biaya dan Manfaat KRPL KEMPLING Biaya dan Manfaat KRPL KEMPLING Strata 1 Biaya dan Manfaat KRPL KEMPLING Strata 2 Biaya dan Pendapatan Usahatani Estimasi Biaya dan Manfaat dari Pengembangan KRPL Gross Benefit Cost Gross BC Identifikasi Persepsi Rumah Tangga terhadap KRPL Karakteristik Responden GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk Keberlanjutan KRPL KEMPLING HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari Tujuan Kawasan Rumah Pangan Lestari Kontribusi KRPL KEMPLING terhadap Pendapatan Keluarga Manfaat Fisik dari adanya KRPL KEMPLING dalam Mendukung Metode Pengambilan Data KERANGKA PEMIKIRAN Pemanfaatan Pekarangan TINJAUAN PUSTAKA Pendapatan KRPL KEMPLING per Luasan Lahan Penelitian Terdahulu TINJAUAN PUSTAKA Pengelolaan Secara Keberlanjutan TINJAUAN PUSTAKA Penilaian Rumah Tangga terhadap Kendala KRPL KEMPLING Penilaian Rumah Tangga terhadap Kondisi Pekarangan Penilaian Rumah Tangga terhadap Manfaat KRPL KEMPLING Prinsip Kawasan Rumah Pangan Lestari Sasaran Kawasan Rumah Pangan Lestari PV benefit 15.680.000 Kontribusi Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari Dalam Mendukung Kesejahteraan Masyarakat: Studi Kasus Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur PV cost 12.381.600 Kontribusi Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari Dalam Mendukung Kesejahteraan Masyarakat: Studi Kasus Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur Ruang Lingkup Penelitian PENDAHULUAN 1.1 Saran SIMPULAN DAN SARAN Sarana dan Prasarana GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Tujuan Manfaat Penelitian PENDAHULUAN 1.1
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Kontribusi Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari Dalam Mendukung Kesejahteraan Masyarakat: Studi Kasus Desa Banjarsari, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur

Gratis