Feedback

Study on The Characteristic of Sunda Parahiyangan Landscape for A Model of Sustainable Agricultural Landscape

Informasi dokumen
KAJIAN KARAKTERISTIK LANSKAP SUNDA PARAHIYANGAN SEBAGAI MODEL LANSKAP PERTANIAN BERKELANJUTAN MOHAMMAD ZAINI DAHLAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakanmu dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha mulia yang mengajarkan manusia dengan pena dan mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.“ (Al-‘Alaq: 1-5) “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan pada kami.” (Al-Baqarah: 32) PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Kajian Karakteristik Lanskap Sunda Parahiyangan sebagai Model Lanskap Pertanian Berkelanjutan adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, September 2012 Mohammad Zaini Dahlan NIM A451100061 ABSTRACT MOHAMAD ZAINI DAHLAN. Study on The Characteristic of Sunda Parahiyangan Landscape for A Model of Sustainable Agricultural Landscape. Supervised by NURHAYATI H. S. ARIFIN and WAHJU QAMARA MUGNISJAH. Agricultural landscape (agroecosystem) is a unified system of ecology and socio-economic and also spiritual-culture that involved in production of foods, shelters, clothes, fibers, biofuels, and other agricultural products. Sustainability of agroecosystem is needed to support the continuity of life, especially for rural communities that relied strongly on agricultural resources. Sundanese society as a rural and mountain society has its own traditional ecological knowledges (TEK). TEK of Sundanese society could be a filter for modernization that negatively affects socio-cultural life of the society itself, as well as damages the nature and environment. Regarding to the role of TEK, it is necessary to do an explorative and descriptive-qualitative study of the various forms of TEK in the context of sustainable agriculture. The qualitative method was used for collecting relevant data to the characteristic of Sunda Parahiyangan landscape. The Data were collected by using Rapid Participatory Rural Appraisal (rPRA) through semi-structured interview, Focus Group Discussion (FGD), and field survey. Data analysis used Landscape Characteristic Assessment (LCA) to analyze character of Sunda Parahiyangan landscape, Knowledge-Based System Methodology to analyze TEK, National Research Council (NRC) and Community Sustainability Assessment (CSA) to analyze sustainable agricultural landscape. The sustainability of agricultural landscape was proposed to achieve USDA’s sustainable agricultural landscape criteria. The study results indicate that the Sunda Parahiyangan agroecosystem has unique characteristics as a result of the adaptation of society to nature and environment through a learning process from generation to generation in a relatively long time period. The character at rural landscape that has been created is a mountainous agricultural landscape type with abundant water resource as a main element. Therefore, Sundanese society called as mountain people (urang gunung) and water people (urang cai). In general, this character is reflected in some Sundanese’s agroecosystems such as kebun-talun (forest garden), sawah (paddy field), and pekarangan (home garden) that located in the surrounding settlement area. Furthermore, kabuyutan concept is one of the TEKs related to understanding and utilization of nature and environment. Kabuyutan is focused on revitalizing the role of forest (mountain) as a buffer of agroecosystem balance by calculating and deciding protected area (leuweung larangan/protected forest and leuweung tutupan/conservation forest). To support the sustainability, integrated between traditional and modern concept by practicing agroforestry system with low external-input and sustainable agriculture (LEISA) system and also applying Islamic management could be applied in utilizing and managing agricultural resources. Keywords: agroecosystem, mountainous agricultural landscape, mountain and water society, traditional ecological knowledge/TEK, kabuyutan, rural landscape management RINGKASAN MOHAMMAD ZAINI DAHLAN. Kajian Karakteristik Lanskap Sunda Parahiyangan sebagai Model Lanskap Pertanian Berkelanjutan. Dibimbing oleh NURHAYATI H. S. ARIFIN dan WAHJU QAMARA MUGNISJAH. Kawasan Sunda Parahiyangan yang berada di bagian hulu DAS Citanduy (Sub-DAS Cimuntur) merupakan bagian dari satuan kawasan lanskap pertanian. Lanskap pertanian yang disusun oleh beragam agroeksosistem merupakan perpaduan sistem ekologi dan sosial-ekonomi yang terdiri dari tumbuhan dan hewan yang sudah didomestikasikan serta masyarakat yang mengelolanya untuk menghasilkan pangan, papan, sandang, serat, biofuel, serta produk pertanian lainnya. Keberadaan unsur-unsur penyusun agroekosistem di daerah perdesaan menjadi bagian penting dalam menciptakan kawasan perdesaan yang berkelanjutan. Masyarakat pertanian Sunda Parahiyangan sebagai bagian integral dari agroekosistem memiliki perananan penting dalam menunjang pembangunan dan pengembangan kawasan perdesaan. Dengan sistem pengetahuan tradisional yang dimilikinya, secara turun-temurun masyarakat memanfaatkan sumber daya pertanian berdasarkan kearifannya sehingga terbukti mampu memberikan manfaat secara lestari tidak hanya untuk generasi sekarang, melainkan juga untuk generasi yang akan datang. Sistem usaha tani yang dilakukan masyarakat tidak hanya berorientasi untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga berperan aktif dalam melestarikan sumber daya pertaniannya. Dengan demikian, kearifan masyarakat lokal dapat menjadi pendorong dinamisasi dalam mencapai pembangunan pertanian di perdesaan yang berkelanjutan. Sistem pembangunan pertanian berkelanjutan merupakan solusi tepat untuk menciptakan kehidupan perdesaan berkelanjutan. Sistem tersebut harus mampu mengkonservasi tanah, air, tanaman, dan hewan, tidak merusak lingkungan, serta secara teknis tepat guna, ekonomi layak, dan sosial-budaya dapat diterima. Melihat besarnya peranan kearifan lokal, perlu dilakukan kajian yang bersifat eksploratif terhadap ragam bentuk kearifan lokal dalam konteks pertanian berkelanjutan yang dapat menjadi referensi bagi penerapan model lanskap pertanian berkelanjutan. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji karakteristik lanskap pertanian Sunda Parahiyangan, mengkaji ragam manifestasi kearifan lokal masyarakat Sunda Parahiyangan dalam konteks lanskap pertanian berkelanjutan, dan menyusun model pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif. Penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan yang mencakup kegiatan prapenelitian, penelitian, analisis dan sintesis, serta penyusunan rekomendasi pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan berbasis kearifan lokal masyarakat Sunda Parahiyangan. Data yang dibutuhkan berupa data fisik, kesejarahan, sistem sosial-ekonomi, sistem pertanian masyarakat, sistem spiritual-budaya, traditional ecological knowledge/TEK (selanjutnya digunakan pengetahuan ekologik tradisional/PET), dan kebijakan pengelolaan diperoleh melalui pelibatan aktif masyarakat lokal dengan pendekatan metode Rapid Partisipatory Rural Appraisal (rPRA) berupa wawancara semi terstruktur, Focus Group Discussion (FGD), dan observasi lapang. Data penunjang diperoleh melalui penelusuran literatur terkait topik penelitian. Analisis karakteristik lanskap pertanian dilakukan berdasarkan acuan karakterisasi lanskap Landscape Characteristic Assessment/LCA. Analisis ragam pengetahuan ekologi tradisional menggunakan metode pengetahuan berbasis sistem (The Knowledge-Based System Methodology). Keberlanjutan lanskap dianalisis berdasarkan acuan keberlanjutan lanskap pertanian National Research Council/NRC dan Community Sustainability Assessment/CSA untuk menyusun strategi kebijakan pengelolaan yang mengarah pada pembangunan pertanian berkelanjutan berdasarkan kriteria keberlanjutan USDA. Kawasan studi berada dalam tatanan lanskap pegunungan Sunda Parahiyangan dengan karakteristik agroekosistem yang khas sebagai cerminan dari budaya Sunda. Sumber daya lanskap (elemen lanskap) Sunda Parahiyangan secara umum dimanfaatkan untuk lahan pertanian dan nonpertanian. Karakteristik lahan disusun oleh jenis tanah litosol, latosol, dan regosol, topografi dari landai hingga sangat curam, serta sumber daya air yang didukung kondisi iklim berupa curah hujan rata-rata 4.000 mm/th, suhu harian rata-rata 25 0C, dan kelembaban nisbi rata-rata 80% yang ideal untuk pertanian. Unsur-unsur pembentuk lahan berkontribusi dalam memberikan media tumbuh serta habitat bagi beragam vegetasi dan satwa yang sesuai dengan kondisi fisik alam dan lingkungannya. Berbagai unsur pembentuk lahan dikelola oleh masyarakat dengan PET yang dimilikinya untuk membentuk berbagai pola sistem ekologi pertanian (agroekosistem). Agroekosistem yang terbentuk di daerah studi terdiri dari kebuntelun, sawah, dan pekarangan yang berada dalam kawasan permukiman. Sistem sosial-ekonomi masyarakat pertanian terlihat dalam aktivitas produktif dan reproduktif. Aktivitas tersebut merupakan kegiatan ekstraksi sumber daya pertanian untuk dimanfaatkan sebagai sumber kehidupan. Aktivitas produktif dilakukan di lahan pertanian (on farm), sedangkan aktivitas reproduktif dilakukan di luar lahan untuk pemanfaatan sumber daya pertanian secara lebih layak (off farm). Pemanfaatan lahan dominan sebagai kawasan pertanian belum mampu memberikan hasil optimal meskipun menjadi sumber pendapatan inti keluarga petani. Kepemilikan lahan garapan yang relatif sempit (gurem) dengan rata-rata 0,3 ha/petani, tingginya biaya produksi, kurangnya dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian, serta kurang efektifnya peran pemerintah dalam mendukung usaha produksi pertanian masyarakat menjadi penyebab rendahnya peran pertanian dalam meningkatkan taraf hidup keluarga petani. Pengetahuan ekologik tradisional terkait pertanian dalam sistem spiritualbudaya diekspresikan masyarakat dengan mengenal istilah atau nama lokal dari adat, aktivitas, dan obyek budaya pertanian. Salah satu PET dalam pengelolaan agroekosistem adalah konsep kabuyutan. Kabuyutan dipercaya sebagai model pengelolaan lanskap pertanian yang terbukti mampu memberikan manfaat berupa ketersediaan sumber daya pertanian yang optimal dan lingkungan yang lestari. Hal tersebut merupakan potensi yang dimiliki masyarakat untuk tetap bertahan dalam menjalankan kehidupannya dari usaha pertanian. Peran masyarakat pertanian di perdesaan diharapkan bukan sebagai konsumen eksploitatif, tetapi konsumen yang mampu memanfaatkan sumber daya secara adil dan bijaksana. Adil berarti memanfaatkan sesuai kebutuhan dan kemampuan daya dukung sumber daya; bijaksana berarti tetap mempertimbangkan pemanfaatan untuk generasi selanjutnya. Berdasarkan hasil analisis dengan kriteria penilaian NRC, daerah studi memiliki potensi keberlanjutan cukup baik untuk mendukung usaha pertanian di setiap agroekosistem. Secara fisik, kondisi sumber daya pertanian yang melimpah dapat memberikan kesempatan bagi petani untuk memanfaatkan sumber daya pertanian tidak hanya untuk saat ini tetapi untuk kebutuhan di masa yang akan datang. Di samping itu, ketersediaan sumber daya pertanian dapat memberikan kualitas hidup yang layak bagi petani dengan tersedianya lapangan pekerjaan untuk melakukan aktivitas produktif dan reproduktif, serta ketersediaan pangan dengan kualitas prima, cukup nutrisi, mudah diperoleh, dan harga yang sesuai. Kondisi optimal dapat dicapai dengan menjaga kualitas dan kuantitas sumber daya air dan tanah sebagai elemen utama pembentuk lanskap pertanian Sunda Parahiyangan. Berdasarkan hasil analisis keberlanjutan masyarakat dengan metode CSA, diperoleh hasil tingkat keberlanjutan masyarakat yang menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan dengan nilai rata-rata sebesar 1156. Namun, upaya perbaikan dan penyempurnaan dalam beberapa aspek yang bernilai kurang dari 50 perlu dilakukan untuk mencapai keberlanjutan yang optimal seperti pada aspek infrastruktur berupa penyediaan lahan pertanian, sarana, dan prasarana pertanian. Konsep pengelolaan lanskap pertanian Sunda Parahiyangan dapat dilakukan dengan penerapan model tradisional dan modern. Pengetahuan ekologik tradisional merupakan modal utama yang disempurnakan oleh pengetahuan ekologik modern guna merespon dinamika lanskap yang terjadi. Keterpaduan dapat dilakukan melalui penerapan konsep kabuyutan yang diintegrasikan dengan sistem pertanian agroforestry dalam setiap agroekosistem disertai optimalisasi asupan dari dalam dan efisiensi masukan dari luar (low-external-input and sustainable agriculture/LEISA). Selain LEISA, pengaruh luar berupa inisiasi program pemberdayaan masyarakat perdesaan baik dari pemerintah maupun swasta perlu dilakukan dengan pelibatan aktif masyarakat lokal. Pemberdayaan diarahkan untuk penguatan spiritual-buaya masyarakat yang dapat meningkatkan produktivitas serta etos kerja untuk mencapai kesejahteraan sehingga berdampak pada pemanfaatan sumber daya pertanian yang berkelanjutan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa lanskap pertanian Sunda Parahiyangan memiliki karakteristik yang khas berupa karakter lanskap pertanian pegunungan dengan air sebagai elemen pembentuk lanskap utama yang diaktualisasikan dalam ragam agroekosistem khas masyarakat Sunda seperti kebun-talun, sawah, dan pekarangan dalam kawasan permukiman. Konsep kabuyutan merupakan pengetahuan ekologik tradisional masyarakat yang fokus pada revitalisasi peran hutan (gunung) sebagai penyangga keseimbangan sistem ekologi pertanian. Sistem pertanian agroforestry modern dengan ragam bentuk pengembangannya berpotensi menjadi model pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan dengan penerapan sistem LEISA yang ditunjang oleh kebijakan pemerintah yang adil dan bijaksana bagi masyarakat perdesaan. Dengan demikian, dapat terbentuk lanskap pertanian dengan kondisi fisik yang lestari serta masyarakat yang kuat secara sosial-ekonomi dan sehat secara spiritual-budaya. Kata kunci: lanskap pertanian/agroekosistem, Sunda Parahiyangan, pengetahuan ekologik tradisional/PET, kabuyutan, pengelolaan lanskap perdesaan © Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2012 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya dilakukan untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB. KAJIAN KARAKTERISTIK LANSKAP SUNDA PARAHIYANGAN SEBAGAI MODEL LANSKAP PERTANIAN BERKELANJUTAN MOHAMMAD ZAINI DAHLAN Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Arsitektur Lanskap SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, MS Judul Tesis Nama NRP Program Studi : Kajian Karakteritik Lanskap Sunda Parahiyangan sebagai Model Lanskap Pertanian Berkelanjutan : Mohammad Zaini Dahlan : A451100061 : Arsitektur Lanskap Disetujui oleh Komisi Pembimbing Dr. Ir. Nurhayati H. S. Arifin, MSc Ketua Prof. Dr. Ir. Wahju Q. Mugnisjah, MAgr Anggota Diketahui oleh Ketua Program Studi Arsitektur Lanskap Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Siti Nurisyah, MSLA Dr. Ir. Dahrul Syah, MScAgr Tanggal Ujian: Tanggal Lulus: PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Swt atas segala nikmat dan karunia ilmu-Nya sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Tema penelitian yang dilaksanakan mulai bulan November 2011 hingga bulan Juli 2012 adalah tentang pengelolaan lanskap pertanian di kawasan perdesaan berdasarkan kajian budaya masyarakat lokal, dengan judul “Kajian Karakteristik Lanskap Sunda Parahiyangan sebagai Model Lanskap Berkelanjutan”. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Dr. Ir. Nurhayati H. S. Arifin, MSc selaku ketua komisi pembimbing dan Prof. Dr. Ir. Wahju Qamara Mugnisjah, MAgr selaku anggota komisi pembimbing atas segala bimbingannya selama penyusunan tesis. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, MS dan Dr. Ir. Siti Nurisyah, MSLA selaku dosen luar komisi pada ujian tesis atas masukan dan saran dalam penyusunan tesis. Ucapan terima kasih penulis sampaikan pula untuk Komunitas Adat Ciomas (KATCI) dan masyarakat Dusun Ciomas, Mandalare, dan Kertabraya atas kerja samanya dalam perolehan data selama penelitian. Penghargaan dan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak, Ibu, Adik-adik, serta seluruh keluarga dan sahabat atas doa, dukungan, dan kasih sayangnya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat. Bogor, September 2012 Mohammad Zaini Dahlan DAFTAR ISI DAFTAR TABEL ................................................................................................ xii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xiii DAFTAR LAMPIRAN .........................................................................................xv I. PENDAHULUAN ............................................................................................1 1.1. Latar Belakang ............................................................................................1 1.2. Rumusan Masalah Penelitian ...................................................................... 3 1.3. Tujuan Penelitian ........................................................................................ 3 1.4. Manfaat Penelitian ...................................................................................... 3 1.5. Kerangka Pikir Penelitian ........................................................................... 3 II. TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................5 2.1. Lanskap Pertanian ......................................................................................5 2.2. Sunda Parahiyangan...................................................................................6 2.3. Budaya Pertanian dan Kearifan Lokal ....................................................... 9 2.4. Pertanian Berkelanjutan ........................................................................... 13 III. METODOLOGI ..............................................................................................17 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian ................................................................... 17 3.2. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian ................................................... 18 3.3. Alat dan Bahan Penelitian........................................................................ 19 3.4. Tahapan dan Metode Penelitian............................................................... 19 3.4.1. Metode Penentuan Sampel Kampung............................................ 19 3.4.2. Metode Pengumpulan Data dan Informasi ....................................22 3.4.3. Metode Inventarisasi Tanaman ...................................................... 24 3.4.4. Metode Analisis Karakteristik Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan..................................................................................24 3.4.5. Metode Analisis Keberlanjutan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan ..................................................................................25 3.4.5.1. Analisis Keberlanjutan Fisik ............................................. 26 3.4.5.2. Analisis Keberlanjutan Masyarakat ..................................28 3.4.6. Konsep Pengelolaan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan ...... 29 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................................... 31 4.1. Analisis Situasional ................................................................................. 31 4.1.1. Analisis Kondisi Fisik Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan ... 31 4.1.1.1. Tanah dan Topografi ......................................................... 33 4.1.1.2. Hidrologi ........................................................................... 37 4.1.1.3. Iklim ..................................................................................40 4.1.1.4. Vegetasi dan Satwa ........................................................... 42 4.1.1.4.1. Struktur Vegetasi dan Satwa di Talun-Kebun . 43 4.1.1.4.2. Struktur Vegetasi dan Satwa di Sawah ............48 4.1.1.4.3. Struktur Vegetasi dan Satwa di Pekarangan .... 56 4.1.1.5. Pola Lanskap Pertanian ..................................................... 68 4.1.2. Analisis Kondisi Sistem Sosial-Ekonomi Masyarakat Pertanian Sunda Parahiyangan ....................................................................... 73 4.1.2.1. Demografi ......................................................................... 73 4.1.2.2. Kelembagaan Sosial .......................................................... 74 4.1.2.3. Mata Pencaharian .............................................................. 76 4.1.2.4. Infrastruktur....................................................................... 80 4.1.3. Analisis Kondisi Sistem Spiritual-Budaya Masyarakat Pertanian Sunda Parahiyangan ....................................................... 85 4.1.3.1. Sejarah Masyarakat ........................................................... 85 4.1.3.2. Spiritual Masyarakat ......................................................... 85 4.1.3.3. Budaya Masyarakat ........................................................... 86 4.1.3.3.1. Tradisi Muludan dan Nyangku .........................86 4.1.3.3.2. Konsep Kabuyutan ........................................... 89 4.1.3.3.3. Pengetahuan Ekologik Tradisional ..................93 4.1.4. Intervensi Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Pertanian Sunda Parahiyangan ..................................................................... 106 4.2. Karakterisasi Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan ..........................108 4.3. Analisis Keberlanjutan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan ..........111 4.4. Konsep Pengelolaan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Berkelanjutan .........................................................................................127 4.4.1. Konsep Pengelolaan Alam........................................................... 128 4.4.2. Konsep Pengelolaan Ruang Pertanian ......................................... 129 4.4.3. Konsep Pengelolaan Sumber Daya Pertanian ..............................131 V. SIMPULAN DAN SARAN .......................................................................... 137 5.1. Simpulan ................................................................................................137 5.2. Saran ......................................................................................................138 DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................139 LAMPIRAN ........................................................................................................143 DAFTAR TABEL 1. Jenis data dan sumber perolehannya................................................................. 23 2. Jenis Tanaman Dominan di Agroekosistem Kebun-Talun ...............................43 3. Indeks Keanekaragaman Tanaman di Agroekosistem Kebun-Talun ...............46 4. Jenis Tanaman Dominan di Agroekosistem Sawah.......................................... 51 5. Pola Tanam di Agroekosistem Sawah .............................................................. 54 6. Indeks Keanekaragaman Tanaman di Agroekosistem Sawah ..........................55 7. Jenis Tanaman Dominan di Agroekosistem Pekarangan..................................58 8. Indeks Keanekaragaman Tanaman di Agroekosistem Pekarangan ..................59 9. Pola Pemanfaatan Lahan (Land Use)................................................................ 69 10. Kondisi Kependudukan di Daerah Studi ........................................................ 73 11. Kondisi Pendidikan Masyarakat di Daerah Studi ........................................... 74 12. Kondisi Mata Pencaharian Masyarakat di Daerah Studi ................................76 13. Ragam Mata Pencaharian Masyarakat di Daerah Studi..................................77 14. Kondisi Infrastruktur di Daerah Studi ............................................................ 81 15. Elemen Penyusun Rumah Panggung Masyarakat Sunda ...............................82 16. Ragam Jenis Tempat Berdasarkan PET Masyarakat Sunda ...........................80 17. Nama 40 Tangkal Adam Pengisi Kabuyutan .................................................. 95 18. Ragam Jenis Fungsi Satwa Berdasarkan PET Masyarakat Sunda.................97 19. Ragam Instruksi Petani kepada Kerbau dalam Aktivitas Membajak .............98 20. Ragam Aktivitas Pertanian pada Agroekosistem Talun-Kebun dan Pekarangan Berdasarkan PET Masyarakat Sunda .......................................... 99 21. Ragam Aktivitas Pertanian pada Agroekosistem Sawah Berdasarkan PET Masyarakat Sunda.........................................................................................100 22. Ragam Sistem Ukur Berdasarkan PET Masyarakat Sunda ..........................102 23. Ragam Sistem Hitung Obyek Pertanian Secara Umum Berdasarkan PET Masyarakat Sunda.........................................................................................102 24. Ragam Sistem Hitung Obyek Pertanian Sawah Berdasarkan PET Masyarakat Sunda.........................................................................................103 25. Ragam Ukuran Waktu Berdasarkan PET Masyarakat Sunda .......................103 26. Ragam Penciri Waktu (Mangsa) Berdasarkan PET Masyarakat Sunda ....... 105 27. Hasil Penilaian Keberlanjutan Masyarakat Berdasarkan Kriteria CSA........116 28. Matriks Hubungan PET-NRC Menuju Keberlanjutan USDA..................... 124 29. Matriks Hubungan PET-CSA Menuju Keberlanjutan USDA ......................126 30. Implementasi Konsep Ruang Sunda dalam Skala Lanskap ..........................129 DAFTAR GAMBAR 1. Kerangka Pikir Penelitian ...................................................................................4 2. Perkembangan Lanskap Pertanian (Agroekosistem) Masyarakat Sunda (Sumber: Iskandar dan Iskandar, 2011) ............................................................ 10 3. Lokasi Penelitian ..............................................................................................17 4. Tahapan dan Metode Penelitian........................................................................ 20 5. Metode Penentuan Sampel Kampung (Dusun)................................................. 21 6. Lokasi Dusun di Daerah Studi .......................................................................... 22 7. Bentuk dan Ukuran Plot dalam Pengamatan Tanaman ....................................24 8. Bentuk Umum Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan ..................................31 9. Sebaran Kawasan Agroekosistem di daerah Studi ........................................... 32 10. Peta Sebaran Tanah di Kabupaten Ciamis ...................................................... 33 11. Bentuk Lahan (Landform) Kawasan Sunda Parahiyangan .............................34 12. Peta Sebaran Topografi di Kabupaten Ciamis ................................................ 35 13. Bentuk Pemanfaatan Lahan (Land Use) Berdasarkan Topografi sebagai Kawasan Sawah (Kiri) dan Pekarangan dalam Permukiman (Kanan) ...........36 14. Bentuk Pemanfaatan Lahan (Land Use) Berdasarkan Topografi sebagai Kawasan Sawah Berteras (Kiri) dan Talun-Kebun (Kanan) ..........................36 15. Bentuk Pemanfaatan Lahan (Land Use) Berdasarkan Topografi sebagai Kawasan Hutan Lindung (Kiri) dan Hutan Produksi (Kanan) .......................37 16. Peta Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy ................................................. 38 17. Peta Sebaran Ketersediaan Air di Kabupaten Ciamis.....................................39 18. Pemanfaatan Awi (Kiri) dan Susukan (Kanan) sebagai Saluran Air Tradisional Masyarakat Sunda ....................................................................... 39 19. Peta Sebaran Curah Hujan di Kabupaten Ciamis ........................................... 41 20. Tumbuhan Ki Rinyuh (Chromolaena odorata) dengan Bentuk Daun (Kiri) dan Habitatnya (Kanan) ..................................................................................45 21. Kondisi Agroekosistem Kebun-Talun di Daerah Studi ..................................46 22. Kondisi Agroekosistem Sawah di Daerah Studi ............................................. 49 23. Agroekosistem Padi Gogo Rancah dengan Bentuk Lahan Penanaman (Kiri) dan Penyemaian (Kanan) ...................................................................... 49 24. Kombinasi Tanaman di Agroekosistem Sawah .............................................. 51 25. Kondisi Agroekosistem Pekarangan di Daerah Studi .....................................57 26. Kondisi Agroekosistem Pekarangan Luas (> 500 m2) ....................................60 27. Kondisi Agroekosistem Pekarangan Sedang (200-500 m2)............................60 28. Kondisi Agroekosistem Pekarangan Sedang (< 200 m2) ................................60 29. Kondisi Agroekosistem Pekarangan Ekstensif ............................................... 62 30. Pemanfatan Kotoran Ternak (Kiri) dan Tanaman (kanan) sebagai Pakan Ikan di Pekarangan .........................................................................................64 31. Kondisi Kawasan Hutan Gunung Sawal......................................................... 66 32. Struktur Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan di Daerah Studi .................70 33. Pola Permukiman Memusat dan Mengelompok di Daerah Studi ...................71 34. Model Rumah Panggung di Daerah Studi ...................................................... 82 35. Ilustrasi Konstruksi Imah Panggung Sunda Panjalu ......................................84 36. Konsep Ruang Kabuyutan Sunda (Sumber: Hasil Wawancara dengan Sesepuh KATCI) ............................................................................................90 37. Leuweung Tutupan di Kabuyutan Kapunduhan (Hariang Kuning) ...............92 38. Pemanfaatan Suluh (Kiri) dan Hawu (Kanan) dalam Aktivitas Reproduksi Masyarakat (Memasak) ................................................................................ 120 39. Alat Musik Karinding Buhun masyarakat Sunda di Panjalu ........................123 40. Konsep Pengelolaan Lanskap Pengelolaan Lanskap Pertanian Berkelanjutan ................................................................................................128 41. Pemanfaatan Awi (Bambu) dalam Konservasi Tanah dan Air .....................132 42. Konsep Pengelolaan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Berkelanjutan ................................................................................................133 43. Konsep Pengelolaan Ruang Pertanian Sunda Parahiyangan Berkelanjutan . 134 DAFTAR LAMPIRAN 1. Aspek Kajian dalam Mencapai Sistem Pertanian Berkelanjutan (National Research Council/NRC) ................................................................................. 145 2. Aspek Kajian dalam Menggali Pengetahuan Masyarakat Lokal Berkelanjutan (Community Sustainablility Assessment/CSA) ........................151 3. Kriteria Penilaian dalam Community Sustainablility Assessment/CSA .........158 4. Jenis Tanaman Dominan dalam Agroekosistem Kebun-Talun ......................159 5. Jenis Tanaman Dominan dalam Agroekosistem Sawah .................................160 6. Jenis Tanaman Dominan dalam Agroekosistem Pekarangan .........................161 I. PENDAHULUAN  1.1. Latar Belakang Model pertanian konvensional yang lebih berorientasi kepada percepatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan telah mengakibatkan dampak negatif pada ketersediaan sumber daya alam dan kualitas lingkungan pertanian. Kondisi tersebut menjadi bukti bahwa sudah saatnya Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya pertanian (negara agraris) mengubah paradigma ke arah pembangunan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) dalam hal sistem, strategi, dan kebijakan. Pertanian berkelanjutan didefinisikan sebagai pertanian yang memiliki daya saing tinggi, produktif, menguntungkan, mengkonservasi sumber daya pertanian, meningkatkan kualitas pangan, serta menjaga ketersediaan saat ini dan akan datang. Dengan demikian, pembangunan pertanian harus mampu mengkonservasi tanah, air, tanaman dan hewan, tidak merusak lingkungan, serta secara teknis tepat guna, secara ekonomi layak, dan secara sosial-budaya dapat diterima (FAO, 2010). Indonesia, sebagai negara agraris dengan mayoritas penduduknya merupakan masyarakat pertanian, memiliki keterkaitan yang erat dengan pembangunan pertanian berkelanjutan. Masyarakat Indonesia dengan pekerjaan utama di bidang pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan memiliki porsi terbesar dengan jumlah pekerja 84.320.748 jiwa atau sekitar 35% dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 237.641.000 jiwa (BPS, 2011). Melimpahnya potensi alam, kuatnya budaya masyarakat agraris serta beragamnya kearifan masyarakat lokal, sangat berpotensi dalam merealisasikan Indonesia sebagai negara agraris berkelanjutan yang mampu menciptakan kelestarian sumber daya alam dan lingkungan, kesejahteraan sosial, serta pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Kawasan perdesaan sebagai basis produksi pertanian dengan beragam budaya masyarakatnya telah melahirkan berbagai macam kearifan lokal. Kearifan lokal tersebut telah melalui perjalanan panjang sehingga menjadi intisari dan kompilasi pengalaman hidup serta terus diwariskan secara turun-temurun (Sartini 2004). Kearifan lokal masyarakat pertanian sebagai cerminan dari pengetahuan 2 ekologi tradisional dapat menjadi penyaring modernisasi yang dapat berdampak negatif bagi kehidupan sosial dan budaya masyarakat, serta merusak alam dan lingkungan. Kearifan lokal telah terintegrasi secara sadar dalam penataan lanskap pertanian, tata cara bertani, dan pola kehidupan masyarakat pertanian. Budaya bertani tercermin dalam kehidupan masyarakat pertanian Sunda Parahiyangan di Kabupaten Ciamis sebagai bagian integral dari suatu lanskap pertanian yang memanfaatkan sumber daya pertanian menjadi ragam bentuk agroekosistem. Sunda Parahiyangan merupakan kawasan yang dibentuk oleh dataran tinggi hingga pegunungan. Karakteristik lanskap yang khas tersebut telah membentuk suatu tatanan budaya masyarakat dengan sektor pertanian sebagai sumber usaha dan penghasilan utama bagi masyarakatnya (Rigg, 1862; Lubis, Nugraha, Wildan, Dyanti, Sofianto, Falah, Dienaputra, dan Djubiantono, 2003). Kabupaten Ciamis merupakan bagian dari kawasan Parahiyangan/Priangan dan termasuk ke dalam Satuan Wilayah Sungai Citanduy (DAS Citanduy). Selain sebagai sumber kehidupan, masyarakat pertanian berperan aktif dalam mengelola sumber daya pertanian agar tetap lestari. Kondisi aktual di daerah studi sebagai dampak dari sistem pertanian konvensional, terjadi berbagai masalah pertanian seperti kesuburan dan produktivitas lahan menurun, daya dukung lingkungan berkurang, konversi lahan, jumlah penduduk miskin dan pengangguran relatif meningkat, serta kesenjangan sosial semakin terlihat jelas. Peran ganda inilah yang menjadi hal menarik bahwa di satu sisi masyarakat memerlukan sumber daya pertanian untuk keberlangsungan hidupnya, di sisi lain mereka memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keberlangsungan sistem ekologi pertanian agar tetap lestari. Dengan demikian, kearifan lokal masyarakat Sunda Parahiyangan dapat menjadi penyaring modernisasi yang dapat berdampak negatif bagi kehidupan sosial-ekonomi dan spiritual-budaya masyarakat, serta kelestarian alam dan lingkungannya. Melihat besarnya peranan kearifan lokal, perlu dilakukan kajian eksploratif terhadap ragam bentuk kearifan lokal dalam konteks pertanian berkelanjutan. Kajian terhadap karakteristik lanskap pertanian Sunda Parahiyangan menjadi salah satu obyek kajian yang dapat menghasilkan informasi sebagai referensi bagi penerapan model lanskap pertanian berkelanjutan 3 1.2. Rumusan Masalah Penelitian Rumusan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Bagaimana karakteristik lanskap pertanian Sunda Parahiyangan? 2. Bagaimana kearifan lokal masyarakat Sunda Parahiyangan dalam konteks pertanian berkelanjutan saat ini? 3. Bagaimana hubungan antara lanskap pertanian Sunda Parahiyangan dengan konsep pertanian berkelanjutan? 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. mengkaji karakteristik lanskap pertanian Sunda Parahiyangan; 2. mengkaji ragam bentuk manifestasi kearifan lokal masyarakat Sunda Parahiyangan dalam konteks lanskap pertanian berkelanjutan; 3. menyusun model lanskap pertanian Sunda Parahiyangan sebagai referensi bagi model lanskap pertanian berkelanjutan. 1.4. Manfaat Penelitian Manfaat yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah: 1. sebagai informasi bagi penguatan eksistensi budaya Sunda pada umumnya dan khususnya kebudayaan Sunda Parahiyangan; 2. sebagai model acuan pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan di perdesaan yang berbasis kearifan masyarakat lokal; 3. sebagai dasar pertimbangan penentuan kebijakan dalam mengelola lanskap pertanian yang berkelanjutan di perdesaan. 1.5. Kerangka Pikir Penelitian Berdasarkan masalah pertanian yang terjadi, diperlukan upaya pemecahan masalah yang komprehensif dengan melihat setiap elemen masalah sebagai suatu sistem yang saling terkait. Adanya isu pembangunan pertanian berkelanjutan berpotensi untuk memaksimalkan sumber daya lanskap pertanian dengan mempertimbangkan aspek kearifan lokal sehingga dapat dijadikan pendorong dinamisasi dalam mencapai pembangunan pertanian berkelanjutan (Gambar 1). 4 Lanskap Sunda Parahiyangan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan di kawasan hulu DAS Citanduy Sumber Daya Lanskap Pertanian Sumber Daya Masyarakat Pertanian Karakteristik Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Ancaman/Masalah Potensi Keberlanjutan Upaya/Strategi Kebijakan Pengelolaan Lanskap Pertanian Berkelanjutan Lanskap Pertanian Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Sunda Parahiyangan Gambar 1. Kerangka pikir penelitian II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lanskap Pertanian Lanskap dapat didefinisikan sebagai suatu bentang alam yang memiliki elemen pembentuk, komposisi, dan karakteristik khas yang dapat dinikmati oleh seluruh indera manusia yang terintegrasi secara harmoni dan alami untuk memperkuat karakternya sehingga dapat dibedakan dengan bentuk lainnya (Simonds, 1983). Lanskap didefinisikan pula sebagai proses polarisasi yang tidak hanya menyebabkan perbedaan tata guna lahan, tetapi juga dalam aspek sosial, budaya, ekonomi, dan ekologi. Berdasarkan pengaruh interaksi manusia di dalamnya, lanskap dikategorikan menjadi lanskap alami (natural landscape) dan lanskap buatan (man-made landscape). Salah satu bentuk dari lanskap buatan adalah lanskap pertanian. Pertanian didefinisikan sebagai upaya manusia dalam mengusahakan sumber daya alam dan lingkungannya guna menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997). Pertanian merupakan sistem yang tumbuh, berproses, dan menyediakan pangan, pakan, serat, tanaman hias, dan biofuel untuk suatu bangsa. Pertanian mencakup pengelolaan sumber daya alam seperti air permukaan dan air tanah, hutan dan lahan lain untuk penggunaan komersial atau rekreasi, pelestarian vegetasi langka dan satwa liar, lingkungan sosial, fisik, dan biologis, serta isu-isu kebijakan yang berhubungan dengan keseluruhan sistem (NRC, 2010). Berdasarkan definisi tersebut, lanskap pertanian dapat didefinisikan sebagai bentuk lahan yang memiliki komposisi dan karakteristik elemen pembentuk yang mencerminkan aktivitas pertanian. Aktivitas pertanian tidak hanya dalam konteks budidaya tanaman, tetapi mencakup kegiatan pembesaran hewan ternak, pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim pada kegiatan pascapanen, serta pemanfaatan langsung seperti penangkapan ikan dan pemanfaatan sumber daya hutan (FAO, 2011). Lanskap pertanian merupakan kumpulan elemen pembentuk karakter lahan yang merepresentasikan budaya bertani dan konservasi yang dikelola oleh masyarakat untuk mencapai keberlanjutan produksi pangan, 6 kesejahteraan masyarakat lokal, dan kelestarian ekosistem. Lanskap pertanian memiliki peranan penting dalam mengakomodasi kebutuhan sosial-ekonomi masyarakat (Turpin dan Oueslati, 2008) dan sebagai habitat bagi keanekaragaman hayati (Arifin, 2012; Billeter, 2008). 2.2. Sunda Parahiyangan Istilah Parahiyangan memiliki arti yang beragam berdasarkan sudut pandang yang mendefinisikannya. Dalam kepercayaan Sunda kuno, masyarakat percaya bahwa roh leluhur atau para dewa menghuni tempat-tempat yang luhur dan tinggi sehingga wilayah pengunungan dianggap sebagai tempat bersemayam. Dengan kata lain, Parahiyangan dapat diartikan sebagai tempat para Hiyang bersemayam (Para-hiyang berarti jamak dari Hiyang). Secara etimologi, Parahiyangan merupakan kata serapan dari bahasa Jawa kuno Parahyangan yang didefinisikan sebagai tempat tertinggi tempat para Hyang bersemayam. Dalam naskah Nagarakartagama Pupuh 76: 1-12, Parahyangan disebut sebagai tempat suci Dharma Ipas Pratista Siwa (Lubis et al., 2003). Berdasarkan hal itu, masyarakat Sunda kuno menggangap jajaran pegunungan di Jawa Barat sebagai Parahiyangan. Berdasarkan sejarah perkembangan Kerajaan Sunda, jajaran pengunungan di kawasan tengah Jawa Barat dianggap sebagai kawasan suci tempat Hyang bersemayam. Legenda Sunda menceritakan bahwa tanah Parahiyangan tercipta ketika Tuhan tersenyum dan mencurahkan berkah dan restu-Nya. Kisah ini menunjukkan keindahan dan kemolekan alam Tatar Sunda yang subur dan makmur (Rosidi, 2000). Lubis et al. (2003) mendefinisikan Parahiyangan atau lebih dikenal dengan Priangan sebagai sebutan untuk Kerajaan Sunda (932-1579 M) yang meliputi wilayah Tatar Sunda sebelah barat (Selat Sunda) hingga timur dan mencakup sebagian wilayah Jawa Tengah bagian selatan (Sungai Cipamali dan Danau Segara Anakan). Kerajaan Sunda merupakan gabungan dua kerajaan besar (Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda) dengan pusat pemerintah yang tidak pernah menetap. Pemerintahan bermula di Galuh Kawali dan berakhir di Pakuan Pajajaran hingga berakhir pada tahun 1579 M dan terbagi menjadi empat pusat kekuasaan (Banten, Cirebon, Sumedanglarang, dan Galuh). 7 Berdasarkan sejarah Kolonial (VOC), sebelum Priangan jatuh ke tangan VOC, Priangan dibentuk sebagai wilayah politik setingkat kabupaten oleh Sultan Mataram pada tahun 1641 M. Kekuasaan Mataram di Priangan berakhir berdasarkan perjanjian dengan VOC pada tahun 1677 dan 1705 M. Dalam perjanjian pertama disepakati penyerahan kekuasaan Priangan Timur, sedangkan perjanjian kedua disepakati penyerahan Priangan Tengah dan Barat ke pihak VOC sebagai balas jasa atas penyelesaian permasalahan dalam kekuasaan Mataram. Sejarah berlanjut dengan penguasaan Parahiyangan (Priangan) oleh Jenderal Daendels (1799 M) dengan membagi Pulau Jawa menjadi Sembilan prefecture, di antaranya, adalah Prefecture Priangan yang terdiri dari Cianjur, Bandung, Sumedang, dan Parakanmuncang. Pembagian dilakukan berdasarkan kebijakan Preangerstelsel warisan kompeni yang tetap dipertahankan karena dinilai menguntungkan. Priangan dalam masa itu dibagi menjadi dua daerah, yaitu daerah surplus kopi (Cianjur, Bandung, Sumedang, dan Parakanmuncang) dan daerah minus kopi (Limbangan, Sukapura, dan Galuh). Pada tahun 1811 M, Priangan jatuh ke tangan Inggris dengan Gubernur Raffles sebagai pemimpinnya. Priangan dibagi menjadi 16 keresidenan, di antaranya, adalah Keresidenan Priangan yang meliputi delapan afdeeling (Cianjur, Sukabumi, Bandung, Cicalengka, Sumedang, Limbangan, Tasikmalaya, dan Sukapura Kolot). Setelah melalui perkembangan sejarah, wilayah Parahiyangan saat ini termasuk ke dalam wilayah administrasi Provinsi Jawa Barat yang terdiri dari Kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Berdasarkan sudut pandang lanskap, Parahiyangan didefiniskan oleh Rigg (1862) sebagai sebutan bagi daerah di wilayah Tatar Sunda dengan karakteristik elemen penyusun lanskap yang khas. Rigg (1862) menambahkan istilah Priangan yang diserap dari bahasa Belanda (Prianger) merupakan nama lokal untuk wilayah di Jawa Barat dengan karakter alam berupa daratan (dataran tinggi hingga pegunungan) serta dikelilingi oleh pegunungan dan gunung berapi (ring of fire). Batasan kawasan Sunda Parahiyangan berdasarkan ketinggian tempatnya, dapat diidentifikasi melalui pendekatan definisi gunung. 8 Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) mendifinisikan gunung sebagai bagian dari muka bumi yang besar dan tinggi dengan ketinggian lebih dari 600 meter di atas permukaan laut (mdpl.). Miskinis (2011) menambahkan definisi gunung sebagai bagian bumi (relief) yang memiliki ketinggian lebih dari 600 meter di atas permukaan laut, isi, bentuk, ketajaman, dan susunan yang saling terhubung. Susunan gunung yang membentuk pegunungan merupakan bagian bumi yang menutupi 24% permukaan bumi dan menjadi rumah bagi 12% populasi di dunia (Sharma, Chettri, and Oli, 2010; FAO, 2007). Berdasarkan hal itu, daerah gunung/pegunungan yang berada diketinggian lebih dari 600 mdpl. digolongkan ke dalam kawasan Parahiyangan. Masyarakat gunung (mountain people) secara sederhana didefinisikan sebagai suatu masyarakat yang hidup di daerah gunung atau pegunungan (Rigg, 1862). Masyarakat Sunda Parahiyangan dikenal sebagai masyarakat gunung (urang gunung) berdasarkan tempat mereka hidup dan hampir seluruh aktivitas kehidupannya berada di daerah pegunungan. Dengan demikian, masyarakat Sunda Parahiyangan sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh FAO (2007), disimpulkan bahwa masyarakat gunung termasuk ke dalam masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, dan mengalami ketidakcukupan pangan (food insecurity). Kemiskinan yang terjadi pada masyarakat gunung sangat antagonis ketika melihat fungsi vital dari gunung bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Gunung berfungsi sebagai penyedia air, udara, penjaga stabilitas keanekaragaman hayati, dan penyedia komoditas yang bernilai ekologis, sosial, budaya, dan ekonomi. Namun, kondisi saat ini menunjukkan ekosistem gunung telah mengalami penurunan kualitas dan kuantitasnya. Degradasi lahan yang terjadi, di antaranya, adalah semakin berkurang tanah subur, air, dan keanekaragaman hayati sebagai sumber pangan, papan, sandang, dan energi bagi masyarakat. Beberapa faktor penyebab terjadinya degradasi lahan di pegunungan yang berdampak pada meningkatnya kemiskinan dan ketidacukupan pangan masyarakat, di antaranya, adalah tingginya aktivitas perambahan hutan, konversi lahan, dan pertumbuhan populasi. 9 2.3. Budaya Pertanian dan Kearifan Lokal Masyarakat gunung tidak terlepas dari aktivitas pertanian sebagai tempat mereka menggantungkan hidupnya (FAO, 2007). Berdasarkan sejarah, budaya, dan karakteristik alam serta lingkungannya, masyarakat gunung Sunda Parahiyangan memiliki keunikan yang tercermin dalam aktivitas masyarakatnya seperti dalam hal pertanian (Lubis et al., 2003). Secara umum masyarakat Sunda memiliki mata pencaharian utama dalam perburuan, pertambangan, perikanan, perniagaan, pelayaran, pertanian, dan peternakan. Aktivitas pertanian masyarakat Sunda di pedalaman berdasarkan informasi dalam Sanghyang Siksakandang Karesian (Danasasmita, 1987) adalah perladangan yang berkembang menjadi sistem perkebunan. Sistem persawahan baru dikembangkan pada awal abad ke-17 ketika pengaruh Mataram masuk wilayah Tatar Sunda (Lubis et al., 2003). Sistem pertanian yang berkembang di daerah Jawa Barat pada umumnya adalah sistem agroforestri berupa kebun-talun dan pekarangan (Soemarwoto dan Conway, 1992), serta sistem padi sawah (Christanty, Abdoelah, Marten, dan Iskandar, 1986). Sistem pertanian tersebut merupakan modifikasi dari sistem pertanian tradisional Jawa (Christanty et al., 1986). Iskandar dan Iskandar (2011) menambahkan bahwa dalam perkembangan sejarah masyarakat Sunda, sistem ekologi pertanian (agroekosistem) yang dijalankan terdiri dari lima agroekosistem, yaitu huma, kebun-talun, sawah, kebun sayuran, dan pekarangan (Gambar 2). Perkembangan agroekosistem dipengaruhi oleh perkembangan kebutuhan masyarakat terhadap sumber daya pertanian yang tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi meningkat ke arah pemenuhan kebutuhan sosial-ekonomi dan spiritual-budaya. Soemarwoto (1984) mendefinisikan kebun-talun sebagai sistem rotasi antara kebun campuran dan tanaman kayu yang merupakan sistem pertanian tradisional untuk meningkatkan produksi dan menyediakan banyak fungsi serta manfaat. Berdasarkan masa perkembangannya, Iskandar dan Iskandar (2011) menjelaskan bahwa awal pembentukan sistem pertanian kebun-talun dimulai dengan pembukaan talun tua menjadi kebun. Selanjutnya kebun berkembang dan diberakan hingga menjadi talun kembali. perkembangannya adalah talun-kebun-talun. Dengan demikian rotasi 10 Huma Dibuka Dibuka Dibera Leuweung Kolot Dibera Sistem Huma Dibera Reuma Ngora Reuma Kolot Dikonversi Irigasi Non-Irigasi Non-Irigasi Tegalan Sistem Sawah Dibangun Rumah Talun Dibangun Rumah Dibera Dibuka Sistem Kebun-Talun Dibangun Rumah Kebun Campuran Sistem Pekarangan Kebun Dibangun Rumah Gambar 2. Perkembangan Lanskap Pertanian (Agroekosistem) Masyarakat Sunda (Sumber: Iskandar dan Iskandar, 2011) Pekarangan didefinisikan Soemarwoto dan Conway (1992) sebagai sistem pertanian di sekitar rumah. Pekarangan merupakan sistem tradisional yang berlokasi di sekitar permukiman yang menyediakan produk kebutuhan dasar bagi pemiliknya serta produk komersial dengan mengkombinasikan pertanian pangan, pohon, dan hewan ternak. Sistem pertanian yang terbentuk merupakan hasil interaksi masyarakat Sunda terhadap kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungannya yang didasarkan pada ragam kebutuhan mendasar (based needs). Kearifan lokal masyarakat pertanian telah membentuk budaya pertanian (agriculture) yang sulit dipisahkan dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakatnya (Becker dan Ghimire, 2003). Dalam budaya Sunda dikenal adanya tiga hubungan yang harus saling terkait satu dengan yang lainnya, yaitu manusia, 11 alam, dan tuhan. Berdasarkan etimologinya1, kata Sunda berasal dari Sun-Da-Ha yang mengandung arti Sun adalah Diri, Da adalah Alam, dan Ha adalah Tuhan. Berdasarkan hal ini, kearifan lokal dapat digambarkan dengan mengidentifikasi tiga ranah tempat kearifan lokal tersebut berlaku. Ranah pertama adalah Diri, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia. Konsep Sun yang merupakan Diri, terwujud dalam hubungan individu dengan individu atau individu dengan masyarakat. Beberapa kearifan lokal masyarakat Sunda dalam konteks Sun, di antaranya, adalah hade ku omong, goreng ku omong (segala hal sebaiknya dibicarakan) yang maksudnya bahwa keterbukaan dalam hubungan bermasyarakat sebaiknya dibudayakan. Kedua adalah konsep Da yang merupakan hubungan manusia dengan alam yang banyak terlihat dalam aktivitas masyarakat adat Sunda yang sangat memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Dasar dalam melakukan pengabdian pada alam diungkapkan dalam ungkapan suci ing pamrih rancage gawe yang maksudnya bahwa antara manusia dan alam adalah bagian yang menyatu dan tidak terpisah. Masyarakat adat Sunda beranggapan bahwa mereka hidup bersama alam, dan bukan hidup di alam. Dengan kata lain, ketika mereka merusak alam sama halnya dengan merusak diri sendiri dan masyarakat, seperti dalam ungkapan leuweung ruksak, cai beak, ra’yat balangsak (hutan rusak, air habis, dan rakyat sengsara). Ketiga adalah konsep Ha yang merupakan hubungan manusia dengan Tuhan. Konsep Ha diungkapkan dalam perilaku masyarakat yang mengharmoniskan antara perilaku sesama manusia dan alamnya atas dasar kepercayaan terhadap Tuhan YME. Berdasarkan hal itu, secara turun-temurun masyarakat Sunda terus mengaplikasikan kearifan lokal dalam kehidupannya guna tetap terjaganya keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhannya. Keagungan nilai kearifan lokal tersebut masih dijaga eksistensinya oleh beberapa masyarakat adat Sunda. Kawasan Sunda Parahiyangan memiliki masyarakat yang secara adat masih memegang teguh budaya Sunda sebagai warisan dari para leluhurnya (Suryani, 2011), seperti Kampung Gentur di                                                          1 Informasi diperoleh dari hasil wawancara dengan beberapa budayawan dan sejarawan Sunda. 12 Kabupaten Cianjur (850 mdpl.2), Kampung Cikondang di Kabupaten Bandung (1.100 mdpl.3), Kampung Rancakalong di Kabupaten Sumedang (727 mdpl.4), Kampung Pulo di Kabupaten Garut (700 mdpl.5), Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya (1.200 mdpl.6), dan Kampung Ciomas di Kabupaten Ciamis (700 mdpl.7). Kampung adat di kawasan Sunda Parahiyangan masih memegang konsepkonsep penataan ruang termasuk didalamnya ruang pertanian, seperti luhurhandap, kaca-kaca, dan lemah-cai (Purnama, 2007). Konsep luhur-handap didasarkan pada pemaknaan Sunda (Sun-Da-Ha) sebagai gambaran hubungan antara manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Kebun-talun merupakan manifestasi dari konsep luhur (atas) yang banyak diinterpretasikan sebagai kawasan keramat (kabuyutan). Implementasi dari konsep ini terlihat pada pemanfaatan di kawasan hulu yang sangat terbatas hingga adanya kawasan keramat berupa leuweung larangan dan/atau leuweung tutupan (hutan larangan dan/atau hutan tutupan) yang tidak bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat. Pengkeramatan dilakukan sebagai penghormatan terhadap para leluhur (karuhun) yang telah berjasa dalam menjaga stabilitas kehidupan antara manusia, alam, dan Tuhannya. Pekarangan merupakan manifestasi dari konsep tengah (tengah) yang diinterpretasikan sebagai permukiman (Purnama, 2007). Selain memiliki fungsi produksi bagi pemiliknya, pekarangan dapat menyediakan fungsi sosial di antara masyarakatnya. Pekarangan dimanfaatkan sebagai ruang sosial yang mengakomodasi aktivitas sosial-ekologi, sosial-ekonomi, dan sosial-budaya. Sistem pertanian sawah yang banyak dibudidayakan di kawasan hilir merupakan manifestasi dari konsep handap (bawah) yang diinterpretasikan sebagai kawasan perekonomian (Purnama, 2007).                                                          2 http://cianjurkab.go.id/Daftar_Kecamatan_Nomor_10.html. Diunduh pada Senin, 07 November 2011. http://bpsnt-bandung.blogspot.com/2009/08/kepercayaan-religi-masyarakat-adat.html. Diunduh pada Senin, 07 November 2011. 4 http://repository.upi.edu/operator/upload/s_b025_0603328_chapter4.pdf. Diunduh pada Senin, 07 November 2011. 5 http://sikec.garutkab.go.id/UserFiles/File/leles2009.pdf. Diunduh pada Senin, 07 November 2011. 6 http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/10/kampung_naga_tasikmalaya_dalam_mitologi.pdf. Diunduh pada Senin, 07 November 2011. 7 http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Panjalu_Ciamis. Diunduh pada Senin, 07 November 2011. 3 13 Konsep kaca-kaca merupakan gambaran dari batasan ruang lingkup kehidupan manusia yang tidak selamanya berada dalam kebebasan. Dalam hal ini kehidupan manusia dibatasi oleh aturan dan norma yang mengikat serta menjadi pembatas dalam berperilaku dan bertindak. Dengan demikian kehidupan akan berjalan selaras baik secara vertikal maupun horizontal (Purnama, 2007). Konsep lemah-cai merupakan gambaran dari sumber kehidupan manusia yang berasal dari tanah dan air. Dengan demikian, dalam budaya Sunda elemen tanah dan air menjadi elemen penting dalam sebuah kawasan permukiman dan pertanian. Kearifan lokal merupakan aktualisasi dari sistem pengetahuan masyarakat dalam mengkonseptualisasikan interakasi budaya lokal masyarakatnya dengan alam. Hal tersebut diistilahkan oleh Becker dan Ghimire (2003) dengan traditional ecological knowledge/TEK yang selanjutnya digunakan pengetahuan ekologik tradisional/PET. Sistem pengetahuan tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari kerangka etnografi sebagai keilmuan yang mengkaji kebudayaan suatu masyarakat. Kajian sistem pengetahuan dalam ranah etnografi dapat ditelusuri lebih lanjut berdasarkan unsur-unsur kebudayaan yang bersifat universal (Koentjaraningrat, 1990). Koentjaraningrat (1990) menyusun kerangka etnografi berisi tujuh unsur kebudayaan universal yang terdiri dari bahasa, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, sistem pengetahuan, kesenian, dan sistem religi (spiritual) yang didahului dengan pendeskripsian lokasi, lingkungan alam, dan demografi masyarakatnya. 2.5. Pertanian Bekelanjutan Sistem pembangunan pertanian konvensional yang masih berorientasi untuk memaksimalkan perolehan ekonomi tanpa memperdulikan aspek kelestarian lingkungan perlu ditinggalkan dan diganti dengan sistem pembangunan pertanian ramah lingkungan yang mengacu pada pencapaian pembangunan pertanian berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan didefinisikan sebagai usaha pertanian yang mampu memaksimalkan sumber daya alam dan lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat tidak hanya pada masa sekarang, tetapi untuk masa yang akan datang (FAO, 2010). 14 Pertanian berkelanjutan akan terwujud dengan mengkombinasikan empat kunci keberlanjutan USDA yang saling terkait (USDA-NAL, 2007), yaitu (1) menyediakan kebutuhan pangan, pakan, dan serat, serta berkontribusi dalam penyediaan biofuel, (2) memperkaya kualitas lingkungan dan sumber daya, (3) mempertahankan kelangsungan ekonomi pertanian, dan (4) meningkatkan kualitas hidup bagi petani, buruh tani, dan masyarakat secara keseluruhan. Dengan konsep pertanian berkelanjutan, fungsi utama pertanian sebagai penyedia kebutuhan pangan yang diperlukan masyarakat untuk menjamin ketahanan pangan dapat tercapai. Pemenuhan pangan sebagai hak dasar inilah yang menjadi permasalahan mendasar dari permasalahan kemiskinan di Indonesia. Food and Agriculture Organization (2010) mendefinisikan ketahanan pangan sebagai askes bagi semua penduduk atas makanan yang cukup untuk hidup sehat dan aktif. Definisi lain yang dikemukakan oleh Machmur (2010) berdasarkan amanat UU No 7 Tahun 1996 tentang Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Dengan demikian, ketahanan pangan nasional merupakan agregat dari ketahanan pangan rumah tangga dan pengertian inilah yang dapat dijadikan sebagai dasar strategi pembangunan pertanian berkelanjutan. Ketahanan pangan dapat tercapai setidaknya mengandung dua unsur pokok, yaitu ketersediaan pangan dan aksesibilitas masyarakat terhadap bahan pangan tersebut. Jika salah satu unsur tidak terpenuhi, suatu negara belum dapat dikategorikan mempunyai ketahanan pangan yang baik. Ketahanan pangan dikatakan rapuh jika akses individu untuk memenuhi kebutuhan pangannya tidak merata, meskipun stok pangan cukup tersedia. Ketahanan pangan erat kaitannya dengan kemandirian, tetapi kemandirian dalam konsep ketahanan pangan bukan kemandirian dalam keterisolasian (Machmur, 2010). Dalam konteks kekinian, kemandirian menuntut adanya kondisi saling tergantung (interdependency) antara lokal dan global, tradisional dan modern, desa dan kota, rakyat dan pemerintah, dan sebagainya. Kemandirian dalam konteks ini berarti kemandirian dalam paham pro-aktif yang saling tergantung dan bukan reaktif atau bahkan defensif (Kartasasmita, 2005). 15 Salah satu bentuk implementasi kemandirian pro-aktif adalah kemandirian pembangunan pertanian dan perdesaan sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan (Harianto, 2007). Perdesaan merupakan basis praktik pembangunan pertanian, sedangkan pertanian menjadi komponen utama yang menopang kehidupan perdesaan di Indonesia. Kemandirian pembangunan perdesaan sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan nasional hanya dapat terwujud jika kondisi saling tergantung tersebut dibangun atas dasar kekuatan modal fisik/alam, SDM, sosial, dan finansial yang tinggi. Budaya Sunda sangat erat kaitannya dalam hal tersebut, ungkapan silih-asih (saling mengasihi), silih-asah (saling menasihati), silih-asuh (saling mengayomi), ulah pareumeun obor (jangan memutuskan tali silaturahmi), cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok (sesuatu yang dijalani pasti akan menghasilkan meskipun sedikit demi sedikit), kudu nyaah ka sasama (harus menyayangi sesama), ulah poho ka karuhun jeung ka anak incu (jangan melupakan para pendahulu dan anak cucu), serta ngajaga amanat (menjaga amanah/kepercayaan) merupakan nilai-nilai dalam transformasi sistem pembangunan pertanian yang lebih holistik dan berkelanjutan. 16 III. METODOLOGI 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan selama sembilan bulan mulai bulan November 2011 hingga Juli 2012. Lokasi penelitian merupakan dusun Sunda yang masih menjalankan aktivitas kehidupan berdasarkan adat istiadat budaya Sunda. Dalam penelitian ini, kajian difokuskan pada lokasi penelitian berdasarkan pendekatan sejarah, etimologi, dan daerah alirah sungai (DAS) terkait aspek pertanian (zona agroklimat). Berdasarkan hal tersebut, dipilih tiga dusun Sunda yang memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah Kerajaan Sunda, perkembangan kawasan Parahiyangan, dan termasuk ke dalam DAS Citanduy, yaitu Dusun Ciomas, Mandalare, dan Kertabraya di Desa Ciomas, Mandalare, dan Kertamandala, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis (Gambar 3). Dusun Ciomas Dusun Mandalare Dusun Kertabraya U Peta Wilayah Sungai Citanduy, Provinsi Jawa Barat, Indonesia Kecamatan Panjalu Lokasi Penelitian S 070 20’ – 070 40’ dan E 1080 15’ – 1090 15’ Gambar 3. Lokasi Penelitian Kabupaten Ciamis 18 3.2. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian Penelitian difokuskan pada kajian karakteristik lanskap pertanian di kawasan Sunda Parahiyangan. Obyek penelitian dipilih berdasarkan keterkaitannya dengan konsep lanskap pertanian Sunda Parahiyangan baik secara etimologi, sejarah, dan pendekatan daerah aliran sungai (DAS). Dusun terpilih diduga memiliki keterkaitan kuat dengan konsep Sunda Parahiyangan, yaitu berada di kawasan pegunungan atau dataran tinggi lebih dari 600 mdpl. (Miskinis, 2011), terkait sejarah Kerajaan Sunda dan perkembangan Parahiyangan, serta masyarakatnya yang masih menjalankan budaya Sunda (kearifan lokal) dalam aktivitas kehidupan terutama dalam aktivitas pertanian. Sistem pertanian yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sistem pertanian masyarakat Sunda yang meliputi kebun-talun, sawah, dan pekarangan dalam kawasan permukiman. Analisis karakteristik lanskap pertanian dibatasi pada aspek karakter fisik lanskap (ekologi), karakter masyarakat (sosial-ekonomi dan spiritual-budaya), dan aspek kebijakan sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi sistem internal lanskap pertanian. Untuk memperoleh karakteristik fisik lanskap pertanian yang kuat, dalam penelitian dilakukan kajian terhadap tiga lokasi berbeda berdasarkan ketinggian tempat dalam satu DAS yang sama. Berdasarkan pembagian zona DAS, kawasan Parahiyangan termasuk ke dalam zona DAS hulu (> 600 mdpl.). Kabupaten Ciamis termasuk ke dalam DAS Citanduy dan daerah studi berada dalam daerah hulu DAS (Sub-DAS Cimuntur). Berdasarkan konsep ruang Sunda luhur-handap, Dusun Ciomas (> 600 mdpl.) ditetapkan sebagai daerah handap, Dusun Mandalare di daerah tengah (800-1.000 mdpl.), dan Dusun Kertabraya di daerah luhur (> 1.000 mdpl.). Kajian aspek ekologi dibatasi pada kondisi unsur pembentuk lahan pertanian, yaitu tanah dan topografi, hidrologi, unsur iklim (suhu, kelembaban nisbi, curah hujan, dan lama penyinaran), serta vegetasi dan satwa. Perbedaan unsur pembentuk lahan berdampak pada perbedaan karakter lanskap pertanian. Kajian aspek sosial-ekonomi dibatasi pada kondisi sistem sosial-ekonomi masyarakat lokal dengan melihat tingkat kesejahteraan secara kualitatif berdasarkan ukuran kebahagiaan masyarakat (Fellman (2003) dalam Jayadinata dan Pramandika (2006)). 19 Kajian aspek sistem spiritual-budaya dibatasi pada sistem pengetahuan ekologik tradisional tentang pertanian berdasarkan pemahaman masyarakat lokal. PET yang dikaji bukan secara murni sistem pengetahuan asli dari masyarakat lokal, karena sulit membedakan antara pengetahuan lokal yang murni hasil proses belajar masyarakat setempat atau merupakan adopsi, adaptasi, atau akulturasi dari pengetahun lain. Dengan demikian, sistem pengetahuan yang dikaji merupakan pengetahuan yang diketahui, diyakini, dan masih dijalankan atau sudah ditinggalkan oleh masyarakat lokal. 3.3. Alat dan Bahan Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian, di antaranya, adalah GPS (Global Positioning System), meteran, kamera, lembar panduan wawancara dan kuesioner, serta perangkat lunak pengolah data spasial dan statistik. Bahan yang dibutuhkan dalam studi adalah peta rupa bumi digital Indonesia lembar 1308-441 (Kawali) dengan skala 1:25.000 dan peta Wilayah Sungai Citanduy. 3.4. Tahapan dan Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif. Metode ini digunakan sebagai upaya untuk dapat memperoleh informasi terkait obyek penelitian sehingga dapat memberikan jawaban yang relevan bagi pertanyaanpertanyaan dalam rumusan penelitian. Penelitian dilakukan melalui kegiatan prapenelitian, penelitian, analisis, sintesis, dan penyusunan rekomendasi pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan berbasis kearifan lokal masyarakat Sunda Parahiyangan (Gambar 4). 3.4.1. Metode Penentuan Sampel Kampung Penentuan sampel kampung (dusun) merupakan tahap awal dalam penelitian. Dusun yang dijadikan sebagai obyek penelitian dipilih berdasarkan kajian pustaka terhadap konsep lanskap pertanian Sunda Parahiyangan (Priangan atau Prianger dalam Bahasa Belanda) dan pendekatan daerah aliran sungai (DAS). Dusun yang dipilih berada dalam kawasan Parahiyangan (Kabupaten Ciamis) dengan ketinggian rata-rata lebih dari 600 mdpl. 20 Kajian Karakteristik Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan sebagai Model Lanskap Pertanian Berkelanjutan ! Sunda Parahiyangan! (Kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalayan, dan Ciamis)! Kampung/dusun Sunda dengan ketinggian > 600 mdpl. dalam kawasan DAS Citanduy (Sub-DAS Cimuntur) dan termasuk wilayah administrasi ! Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat! Aspek Ekologi 1.  Terrain (lereng dan topografi) 2.  Iklim 3.  Tanah 4.  Hidorologi 5.  Vegetasi dan Satwa Pertanian 6.  Batas Ekologi 7.  Land cover 8.  Land use Aspek Sosial-Ekonomi Aspek Spiritual-Budaya Kependudukan Pendidikan Pekerjaan Kesehatan Kelembagaan Sosial 6.  Kelembagaan Ekonomi 1.  Agama dan Kepercayaan 2.  Elemen Budaya (Simbol, Nilai, dan Norma) 3.  Persepsi dan Harapan 4.  Sikap dan Perilaku 5.  Adat Istiadat 6.  Kesejarahan 1.  2.  3.  4.  5.  Aspek Legal 1.  Kebijakan Pelestarian 2.  Aturan Adat 3.  Konsep Keberlanjutan Fisik Lanskap dan Masyarakat 4.  Batas Administrasi Analisis Karakteristik Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan (Metode Karakterisasi Lanskap Landscape Characteristic Assessment/LCA (Swanwick, 2002)) Analisis Ragam Pengetahuan Ekologi Tradisional Masyarakat Pertanian Sunda Parahiyangan (Metode Pengetahuan Berbasis Sistem (Walker et al., 1997)) Analisis Keberlanjutan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan (Faktor Fisik dan Masyarakat) (Metode Keberlanjutan Fisik Lanskap National Research Council/NRC (NRC, 2010) dan Keberlanjutan Masyarakat Community Sustainability Assessment/CSA (GEN, 2008)) Konsep Pengelolaan Lanskap Pertanian Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Sunda Parahiyangan Gambar 4. Tahapan dan Metode Penelitian 21 Kawasan Parahiyangan yang berada di Kabupaten Ciamis termasuk ke dalam jajaran pegunungan Sunda Parahiyangan (Gunung Galunggung, Sawal dan Cakrabuana). Berdasarkan daerah aliran sungan (DAS) termasuk ke dalam satuan Wilayah Sungai Citanduy yang berhulu di Gunung Cakrabuana dan bermuara di Danau Segara Anakan. Terkait aspek pertanian, ketinggian suatu tempat sangat mempengaruhi keberagaman produksi pertanian. Hal tersebut terkait dengan perbedaan suhu yang berkorelasi dengan ketinggian tempat (zona agroklimat). Dengan pendekatan tersebut, dalam penelitian ditentukan kampung dengan ketinggian berbeda (600-800 mdpl; 800-1.000 mdpl; > 1.000 mdpl). Di samping itu, pembagian tersebut merupakan upaya pencerminan dari konsep luhur-handap dalam budaya masyarakat Sunda (Gambar 5). Luhur (> 1000 mdpl.) Sejarah Kerajaan Sunda, perkembangan Parahiyangan/ Priangan, etimologi, dan DAS Cianjur Bandung Sumedang Garut Tasikmalaya Ciamis Konsep Parahiyangan Berdasarkan administrasi dan sejarah Tengah (800-1000 mdpl.) Handap (600-800 mdpl.) DAS Hulu > 600 mdpl. DAS Tengah DAS Hilir Kabupaten Kampung (Dusun) Berdasarkan karakter lanskap Sunda Parahiyangan (Gunung) Berdasarkan daerah aliran sungai (DAS) Berdasarkan zona agroklimat dan interpretasi konsep luhur-handap Gambar 5. Metode Penentuan Sampel Kampung (Dusun) Berdasarkan kriteria tersebut, ditentukan tiga dusun, yaitu Dusun Ciomas di Desa Ciomas (729-750 mdpl. dan termasuk daerah luhur), Dusun Mandalare di Desa Mandalare (737-866 mdpl. dan termasuk daerah tengah), dan Dusun Kertabraya di Desa Kertamandala (898-1203 mdpl. dan termasuk daerah handap). Ketiga dusun tersebut berada dalam kawasan Gunung Sawal, kawasan DAS Citanduy (Sub-DAS Cimuntur), dan termasuk ke dalam satuan wilayah administrasi Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat (Gambar 6). 22 Peta Insert: Peta Kabupaten Ciamis Keterangan Dusun Ciomas, Desa Ciomas Dusun Mandalare, Desa Mandalare Dusun Kertabraya, Desa Kertamandala Sumber: Peta Rupabumi Digital Indonesia - Kawali Skala 1:25.000 - Bakosurtanal Gambar 6. Lokasi Dusun di Daerah Studi 3.4.2. Metode Pengumpulan Data dan Informasi Penelitian dipandu oleh rincian jenis dan sumber data yang digunakan dalam pencapaian tujuan penelitian (Tabel 1). Data diperoleh melalui partisipasi aktif masyarakat lokal dengan pendekatan metode Rapid Partisipatory Rural Appraisal (rPRA) (Muleler, Assanou, Guimbo, dan Almedom, 2009) menggunakan sistem wawancara semi terstruktur, Focus Group Discussion (FGD), observasi lapang (Huntington, 2000; Mulyoutami, Rismawan, dan Joshi, 2009), dan telaah pustaka. Wawancara dilakukan dengan menyajikan pertanyaan yang mengacu kepada aspek penilaian keberlanjutan fisik lanskap National Research Council/NRC (NRC, 2010) dan keberlanjutan masyarakat Community Sustainability Assessment/CSA (GEN. 2008). Wawancara dilakukan kepada narasumber (informan kunci) yang telah ditentukan sebelumnya berdasarkan rekomendasi yang valid (purposive). Wawancara dilakukan terhadap beberapa tokoh masyarakat, di antaranya, adalah kokolot (sesepuh masyarakat), ajengan/kyai (tokoh agama), kuwu (kepala desa), dan mantri tani (ahli pertanian). 23 Dalam FGD disajikan beberapa permasalahan secara topikal terkait proses pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan untuk memperoleh data yang beragam dari berbagai macam responden (informan kunci). Topik kajian dalam FGD mengacu kepada penilaian keberlanjutan fisik lanskap NRC dan keberlanjutan masyarakat CSA. Pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan permasalahan pertanian yang dilihat dari sisi ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya (Lampiran 1 dan 2). Selanjutnya, data dan informasi hasil wawancara dan FGD disesuaikan dengan kondisi aktual melalui observasi lapang bersama masyarakat. Dengan proses tersebut, dapat diperoleh data dan informasi yang valid mengenai lanskap pertanian Sunda Parahiyangan berdasarkan pengetahuan ekologi tradisional masyarakatnya. Tabel 1. Jenis Data dan Sumber Perolehannya No. 1. 2. Jenis Data Sunda Parahiyangan Aspek Keberlanjutan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Unsur Data a. Kesejarahan: Sejarah Sunda Parahiyangan, latar belakang dan sumber utama sejarah dan budaya. b. Kondisi Umum: Peta tanah, peta topografi, peta tata guna lahan, data hidrologi, data iklim, data demografi, data geografis, data/peta sirkulasi dan aksesibilitas, view, elemen lanskap alami, serta data vegetasi dan satwa. c. Kondisi Masyarakat Setempat: Sistem kehidupan, ragam aktivitas masyarakat (sosial, budaya dan ekonomi), kepentingan penggunaan tapak, persepsi, harapan, dan intervensi masyarakat. Sumber Data Observasi lapang, wawancara semi terstruktur Observasi lapang, Bappeda, BMG, Puslitbang Tanah, Bakosurtanal, BPS, BP DAS Citanduy. a. Sistem Pertanian Masyarakat Sunda Parahiyangan: Karakteristik ekologi, sosial dan ekonomi, serta spiritual dan budaya. b. Kebijakan Pengelolaan/Aspek Legal Sistem pengelolaan saat ini, kebijakan pengelolaan, kebijakan tata ruang, dukungan pemerintah, swasta dan masyarakat, serta rencana pengembangan kawasan berbasis pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Observasi lapang, wawancara semi terstruktur, BPS, Potensi Desa. Observasi lapang, wawancara semi terstruktur, BPS, BP DAS Citanduy, Potensi Desa. Observasi lapang, wawancara semi terstruktur, BPS, Potensi Desa. 24 3.4.3. Metode Inventarisasi Tanaman Inventarisasi tanaman dilakukan dengan menggunakan sistem plot survei tanaman (Fridley, Senf, dan Peet, 2009) dengan metode garis berpetak (Soerianegara dan Indrawan, 2005). Plot dibuat berukuran 1.000 m2 (50x20 m) untuk tanaman dalam agroekosistem kebun-talun dan sawah (Gambar 7). Kajian pada agroekosistem pekarangan, disesuaikan dengan kepemilikan luasan pekarangan (< 200 m2, 200-500m2, dan > 500 m2). Contoh plot ditentukan secara acak dan dipastikan sebelumnya berdasarkan dugaan (purposive random sampling). Masing-masing agroekosistem di setiap dusun ditentukan tiga contoh yang representatif. Hasil inventarisasi tanaman dominan (tiga jenis tanaman dalam setiap agroekosistem) digunakan sebagai dasar perhitungan tingkat keanekaragaman jenis tanaman berdasarkan perhitungan indeks Shannon-Wienner (Finotto, 2011). Gambar 7. Bentuk dan Ukuran Plot dalam Pengamatan Tanaman 3.4.4. Metode Analisis Karakteristik Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Metode yang digunakan adalah Landscape Characteristic Assessment/LCA (Swanwick, 2002) yang meliputi tahap penentuan ruang lingkup analisis, pengumpulan dan pengolahan data, pengamatan lapang, serta klasifikasi dan deskripsi karakter lanskap. Analisis dilakukan secara deskriptif dan spasial terhadap aspek ekologi, sosial-ekonomi, spiritual-budaya, dan aspek legal berdasarkan pendekatan pengetahuan ekologik tradisional (PET). PET merupakan 25 spesifikasi dari pengetahuan lokal yang fokus pada konseptualisasi suatu budaya lokal dalam berinteraksi dengan alam dan lingkungannya (Becker dan Ghimire, 2003). PET digunakan untuk mengkaji aspek ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya berdasarkan pemahaman para ahli (tokoh masyarakat) mengenai masalah pertanian dengan pendekatan pengetahuan masyarakat lokal. Hasil karakterisasi berupa deskripsi dari karakter lanskap pertanian Sunda Parahiyangan. 3.4.5. Metode Analisis Keberlanjutan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Analisis keberlanjutan dilakukan pada aspek fisik dan masyarakat, serta aspek intervensi kebijakan dengan pendekatan metode National Research Council/NRC (NRC, 2010) dan Community Sustainability Assessment/CSA (GEN, 2008). Analisis keberlanjutan lanskap pertanian menjadi salah satu faktor penting dalam menunjang tercapainya pembangunan pertanian berkelanjutan. Sebagai media utama yang mewadahi aktivitas pertanian, lanskap pertanian harus memiliki struktur dan fungsi sistem ekologi pertanian (agroekosistem) dengan daya lentur (resilience) yang optimal sebagai bentuk adaptasi terhadap dinamika pembangunan. Untuk mengetahui tingkat keberlanjutan suatu lanskap pertanian, dilakukan analisis terhadap tiga unsur utama keberlanjutan (ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya) guna mencapai empat tujuan dari pertanian berkelanjutan USDA (USDA-NAL, 2007), yaitu (1) menyediakan kebutuhan pangan, pakan, dan serat, serta berkontribusi dalam penyediaan biofuel, (2) memperkaya kualitas lingkungan dan sumber daya, (3) mempertahankan kelangsungan ekonomi pertanian, dan (4) meningkatkan kualitas hidup bagi petani, buruh tani, dan masyarakat secara keseluruhan. Hasil analisis keberlanjutan NRC dan CSA disesuaikan dengan kriteria keberlanjutan USDA membentuk matriks hubungan pengelolaan lanskap pertanian ke arah keberlanjutan. Matriks tersebut menjadi acuan dalam menyusun strategi Parahiyangan yang berkelanjutan. pengelolaan lanskap pertanian Sunda 26 3.4.5.1. Analisis Keberlanjutan Fisik Analisis keberlanjutan fisik lanskap pertanian dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan pendekatan penilaian keberlanjutan National Research Council/NRC. Kriteria penilaian fokus pada tiga aspek utama, yaitu (1) praktik produksi, (2) sosial-ekonomi, dan (3) sosial kemasyarakatan. Aspek produksi diarahkan kepada pencapaian keberlanjutan ekologi. Penilaian difokuskan kepada aktivitas pertanian yang dilakukan masyarakat, seperti sistem pertanian, penggunaan alat dan bahan pertanian (benih, pupuk, insektisida, dan teknologi), pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan pertanian (tanah, air, udara, dan iklim), pendekatan isu jejak karbon (carbon footprint), dan pemanfaatan sumber daya energi. Aspek sosial-ekonomi difokuskan pada penilaian penjualan hasil produksi, seperti tingkat penjualan, metode penjualan (waktu, lokasi, pekerja, dan cara), produk yang dijual (organik atau nonorganik), dan manajemen resiko. Aspek sosial kemasyarakatan difokuskan pada pencapaian keberlanjutan sosial, spiritual, dan budaya. Penilaian dilakukan pada kelembagaan masyarakat dalam bidang pertanian, hubungan antarmasyarakat petani dan antara petani dengan masyarakat umum, kearifan lokal dalam bidang pertanian, keberlanjutan sosial pertanian (regenerasi), mitigasi dan adaptasi terhadap dinamika sosial-spiritual-budaya, dan pemahaman terhadap isu keamanan pangan (food safety). Dalam mencapai keberlanjutan lanskap pertanian, eksistensi keragaman tanaman pertanian sebagai sumber daya hayati pertanian utama perlu dianalisis berdasarkan stuktur, fungsi, dan tingkat keanekaragamannya. Struktur dan fungsi dianalisis berdasarkan analisis vertikal dan horizontal. Analisis vertikal dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasikan tanaman berdasarkan ketinggian dan jenis tanaman. Tanaman diklasifikasikan menjadi 5 kelas, yaitu (1) 0-1 m (herba), (2) 1-2 m (semak pendek), (3) 2-5 m (semak), (4) 5-10 m (perdu), dan (5) > 10 m (pohon) (Arifin, Sakamoto, dan Chiba, 1997). Analisis horizontal dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasikan tanaman berdasarkan fungsi tanaman. Secara umum tanaman diklasifikasikan ke dalam delapan fungsi, yaitu (1) tanaman hias (ornamentals), (2) tanaman sayuran (vegetables), (3) tanaman buah (fruits), (4) tanaman obat 27 (medicinals), (5) tanaman bumbu (spices), (6) tanaman penghasil pati (cash crops), (7) tanaman industri (building materials and fuelwoods), dan (8) tanaman fungsi lainnya (additional functions) (Abdoellah, Hadikusumah, Takeuchi, Okubo, dan Perikesit, 2006; Arifin et al., 1997). Hasil analisis vertikal dan horizontal berupa analisa deskriptif dan spasial dengan mengintegrasikan struktur dan fungsi tanaman dalam setiap sistem pertanian dengan elemen lanskap pertanian lainnya secara ekologi, sosial, ekonomi, dan spiritual-budaya (Abdoellah, Takeuchi, Parikesit, Gunawan, dan Hadikusumah, 2001) sehingga membentuk pola lanskap pertanian Sunda Parahiyangan yang khas. Analisis keanekaragaman tanaman dilakukan dengan menggunakan pendekatan indeks keanekaragaman Shannon’s-Wienner (Finotto, 2011). Indeks keanekaragaman Shannon’s-Wienner digunakan untuk mengetahui keanekaragaman jenis dalam satu lokasi penelitian. Dengan pendekatan tersebut, dapat diperoleh hasil analisis baik deskriptif maupun spasial terkait dengan keanekaragaman jenis tanaman pada lanskap pertanian Sunda Parahiyangan secara umum. Rumus dari indeks Shannon-Wienner adalah sebagai berikut, H , dengan, H = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner ; pi = persentase kehadiran jenis I; ni = jumlah nilai penting satu jenis; i = jumlah nilai penting seluruh jenis; dan S = jumlah jenis yang yang hadir. Nilai perhitungan indeks keanekaragaman (H) dapat diinterpretasi bahwa nilai kurang dari 1 menunjukkan keragaman spesies rendah; nilai di antara 1 dan 3 menunjukkan keragaman spesies sedang; nilai indeks keragaman di atas 3 menunjukkan keragaman spesies tinggi. 28 3.4.5.2. Analisis Keberlanjutan Masyarakat Manusia (masyarakat) memiliki peranan penting dalam mengintervensi suatu lanskap sehingga menghasilkan lanskap budaya dengan karakteristik yang khas dan beragam. Lanskap pertanian sebagai salah satu bentuk lanskap budaya memberikan representasi mengenai pengaruh cipta, rasa, dan karsa manusia dalam mengolah sumber daya alam dan lingkungan guna menjaga kelangsungan hidupnya. Sebagai penerima manfaat dari sumber daya alam dan lingkungan, keberlanjutan suatu masyarakat perlu diperhatikan untuk menunjang pemanfaatan secara lestari (GEN, 2008). Untuk menunjang pertanian berkelanjutan, analisis keberlanjutan masyarakat dilakukan dengan pendekatan metode Community Sustainability Assessment/CSA. CSA melakukan penilaian terhadap tiga unsur utama keberlanjutan, yaitu ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya dari sudut pandang masyarakat. Aspek ekologi dinilai berdasarkan pemahaman masyarakat terhadap rasa kepemilikan (sense of belonging), ketersediaan pangan, produksi, dan distribusi, infrastruktur fisik, pola konsumsi, manajemen limbah, dan pengelolaan sumber daya dan energi. Penilaian aspek sosial-ekonomi difokuskan kepada pemahaman masyarakat terhadap hubungan antarmasyarakat, seperti keterbukaan, kepercayaan, keselamatan, komunikasi, pendidikan, kesehatan, serta keberlanjutan sosial dan ekonomi. Penilaian aspek spiritual-budaya dilakukan untuk mengetahui pemahaman masyarakat terhadap bingkai utama dari cipta, rasa, dan karsa manusia, yaitu spiritualitas dan budaya. Penilaian difokuskan kepada hal keeratan dan kelenturan komunitas, paradigma global, manifestasi unsur budaya (nilai, norma, dan simbol), obyek dan atraksi seni dan budaya, wisata, serta keberlanjutan spiritual dan budaya. Penilaian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu penjumlahan skor tingkat komponen aspek, tingkat aspek, dan total ketiga aspek (Lampiran 3). Dalam analisis keberlanjutan lanskap pertanian Sunda Parahiyangan dengan pendekatan kearifan lokal, diperoleh hasil berupa tingkat keberlanjutan dari masing-masing aspek keberlanjutan (ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritualbudaya). Setiap tingkat keberlanjutan diduga dipengaruhi oleh nilai-nilai dari kearifan masyarakat lokal. Semakin tinggi tingkat keberlanjutan, diduga semakin 29 tinggi nilai kearifan lokal yang diaplikasikan. Semakin rendah tingkat keberlanjutan, diduga semakin rendah pula nilai kearifan lokal yang dilaksanakan oleh masyarakat. Dengan menganalisis tingkat keberlanjutan yang dikaitkan dengan nilai kearifan lokal yang ada, diperoleh dasar dalam penyusunan strategi pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan berbasis kearifan masyarakat Sunda Parahiyangan. 3.4.6 Konsep Pengelolaan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Produk akhir penelitian berupa rekomendasi dan saran dalam bentuk strategi rencana pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan berbasis kearifan masyarakat Sunda Parahiyangan. Hasil analisis disajikan secara deskriptif (narasi, tabel atau diagram) dan spasial (foto, gambar peta, atau ilustrasi). Dari hasil sintesis diperoleh rekomendasi dan saran berupa konsep pengelolaan lanskap pertanian secara deskriptif dan spasial dengan beberapa strategi pengelolaan berbasis kearifan masyarakat Sunda Parahyangan. Rekomendasi dan saran berorientasi kepada pencapaian empat tujuan utama dari pertanian berkelanjutan USDA (USDA-NAL, 2007). 30 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Situasional 4.1.1. Analisis Kondisi Fisik Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Lanskap pertanian disusun oleh beragam bentuk sistem ekologi pertanian (agroekosistem) yang terbentuk oleh komposisi elemen lanskap yang khas. Agroeksosistem merupakan suatu sistem ekologi dan sosial-ekonomi yang terdiri dari tumbuhan dan hewan yang sudah didomestikasikan serta masyarakat yang mengelolanya untuk menghasilkan pangan, papan, sandang, serat, biofuel, serta produk pertanian lainnya. Aspek fisik dalam agroekosistem seperti tanah, topografi, iklim, hidrologi, vegetasi dan satwa memiliki pengaruh yang signifikan dalam keberlangsungan usaha pertanian, baik untuk pertanian bahan makanan (subsisten) maupun pertanian untuk bahan dagangan (komersial). Kondisi fisik tersebut membentuk tatanan agroekosistem yang spesifik pada setiap kawasan dan sesuai dengan tanaman maupun ternak yang dibudidayakan. Bentuk umum lanskap pertanian Sunda Parahiyangan disusun oleh struktur lanskap pegunungan (Gambar 8). Gambar 8. Bentuk Umum Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Secara umum agroekosistem dalam lanskap pertanian Sunda Parahiyangan di daerah studi terdiri dari kebun-talun, sawah, dan pekarangan. Sistem huma sebagai ciri khas sistem pertanian masyarakat Sunda kuno telah lama ditinggalkan oleh masyarakat di daerah studi. Pembentukan agroekosistem oleh masyarakat di 32   daerah studi dimulai dari pembukaan kawasan hutan menjadi kawasan pertanian. Faktor utama yang mempengaruhi bentuk sistem pertanian yang akan dijalankan adalah ketersediaan sumber daya air. Lahan yang tidak didukung oleh ketersediaan sumber daya air melimpah, difungsikan sebagai sistem usaha pertanian lahan kering (kebun-talun dan tegalan). Sedangkan ketika sumber daya air tersedia lahan dibuka (dibedah) dan dialiri air hingga tergenang untuk difungsikan sebagai sistem usaha pertanian lahan basah (sawah). Perkembangan selanjutnya dipengaruhi oleh kebutuhan masyarakat terhadap tempat tinggal permanen. Masyarakat memanfaatkan lahan di setiap agroekosistem untuk mendirikan rumah pada saat lahan diberakan. Sisa lahan setelah dioptimalkan untuk bangunan yang dimanfaatkan untuk usaha pertanian dinamakan pekarangan. Secara umum pemanfaatan sumber daya lahan dimanfaatkan untuk difungsikan sebagai agroekosistem yang disesuaikan dengan kondisi fisik lahan serta persepsi dan preferensi masyarakat. Dengan demikian, tampak sebaran agroekosistem yang khas dari lanskap pertanian Sunda Parahiyangan di daerah studi (Gambar 9). Keterangan Kawasan hutan lindung dan hutan produksi Kawasan agroekosistem kebun-talun Kawasan agroekosistem sawah Kawasan agroekosistem pekarangan dalam permukiman U Sumber: Peta Rupabumi Digital Indonesia Kawali Skala 1:25.000 - Bakosurtanal Edisi 1-2000 Gambar 9. Sebaran Kawasan Agroekosistem di Daerah Studi 33   4.1.1.1. Tanah dan Topografi Berdasarkan pengetahuan ekologi tradisional masyarakat, diperoleh informasi jenis tanah yang mendominasi di daerah studi adalah jenis taneuh coklat kabeureum-beureuman (tanah cokelat kemerahan). Berdasarkan peta tanah, jenis tanah tersebut tergolong jenis tanah litosol, latosol, regosol, dan andosoL. Jenis tanah litosol, latosol, dan regosol lebih mendominasi dibandingkan tanah andosol (Gambar 10). Legenda Lokasi Studi Litosol Regosol Latosol Cokelat Latosol Kemerahan Andosol Cokelat Andosol U 5 0 5 10 Km Sumber: Bapedda Kabupaten Ciamis (2010) Gambar 10. Peta Sebaran Tanah di Kabupaten Ciamis Jenis tanah litosol tersebar di daerah studi dengan ketinggian di atas 1.000 mdpl. hingga mencapai puncak Gunung SawaL. Pemanfaatan lahan aktual cukup sesuai dengan karakteristik jenis tanah yang mudah tererosi. Masyarakat memanfaatkannya dengan penanaman masal tanaman kayu, seperti sengon/albo (Paraserianthes falcataria), suren (Toona sureni (BI) Merr.), tisuk (Hibiscus macrophyllus), pinus (Pinus merkusii), rasamala (Altingia excelsa Nerona.), saninten (Castanea argentea), teureup (Ficus elasticus Rainw.), angsana (Pterocarpus indicus Willd.), dan sebagainya. Jenis litosol terkonsentrasi pada kawasan agroekosistem kebun-talun, hutan produksi, dan hutan lindung. 34   Jenis tanah latosol dan regosol mendominasi daerah dengan ketinggian di bawah 1.000 mdpl. Jenis tanah latosol dan regosol di daerah studi terkonsentrasi pada kawasan agroekosistem kebun-talun, sawah, dan pekarangan. Tanah latosol memiliki tingkat kepekaan terhadap erosi yang rendah. Masyarakat memanfaatkan tanah latosol untuk budi daya padi sawah (Oryza sativa L.), jagung (Zea mays L.), cengkeh (Syzygium aromaticum), dan kopi (Coffea arabica L.). Jenis tanah regosol dibentuk oleh endapan abu vulkanik sehingga tingkat kesuburan lebih tinggi, meskipun memiliki kepekaan yang tinggi terhadap erosi. Tanah regosol dimanfaatkan oleh masyarakat untuk budi daya pertanian padi, palawija, dan sayuran. Khusus untuk kawasan pertanian sawah, jenis tanah latosol dan regosol berfungsi sebagai bahan dasar pembentuk tanah sawah dengan karakteristik khas horizon permukaan berwarna muda, serta lapisan yang hampir kedap air pada kedalaman 10-15 cm. Jenis tanah latosol dan regosol banyak dimanfaatkan langsung oleh masyarakat baik untuk usaha pertanian maupun untuk permukiman. Kondisi topografi kawasan Sunda Parahiyangan yang masuk ke dalam jajaran pegunungan di Jawa Barat mulai dari Gunung Gede (2.958 mdpl.) di Cianjur hingga Gunung Sawal (1.784 mdpl.) di Ciamis memiliki bentuk lahan (landform) yang beragam (Gambar 11). Landform pada daerah studi disusun oleh lereng yang bervariasi mulai dari datar (0-8%), landai (8-15%), agak miring (1525%), curam (25-40%), hingga sangat curam (> 40%) (Gambar 12). Gambar 11. Bentuk Lahan (Landform) Kawasan Sunda Parahiyangan 35   Legenda Lokasi Studi 0-8% 8-15% 15-25% 25-40% > 40% U 5 0 5 10 Km Sumber: Bapedda Kabupaten Ciamis (2010) Gambar 12. Peta Sebaran Topografi di Kabupaten Ciamis Bentuk lahan di kawasan pegunungan didominasi kondisi lereng yang sangat rentan terhadap pergerakan geologi dan tanah sehingga dapat berakibat erosi. Kondisi tersebut sangat berpengaruh pada pemanfaatan lahan baik untuk pertanian maupun nonpertanian (permukiman). Konversi lahan yang terjadi dewasa ini di daerah studi menjadi bukti pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan kesesuaian dan daya dukung lahan sehingga mengancam fungsi vital dari kawasan pegunungan sebagai penyedia utama jasa lingkungan (tanah, air, dan udara). Dalam upaya melindungi kawasan pegunungan yang rentan terhadap degradasi lingkungan, pemanfaatan lahan perlu disesuaikan dengan daya dukung dan kesesuaian lahannya. Berdasarkan klasifikasi daya dukung lahan pertanian, daerah studi termasuk ke dalam kelas daya dukung dua hingga lima. Lahan kelas dua dengan landform yang baik pada lereng dengan kemiringan 0-15% memiliki tingkat erosi yang rendah sehingga baik untuk dimanfaatan sebagai lahan pertanian dengan beberapa pembatasan. Kelas lahan tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai kawasan sawah dan pekarangan di permukiman (Gambar 13). 36   Gambar 13. Bentuk Pemanfaatan Lahan (Landuse) Berdasarkan Topografi sebagai Kawasan Sawah (Kiri) dan Pekarangan dalam Permukiman (Kanan) Lahan kelas tiga sampai empat dengan ciri landform yang kurang baik dengan kemiringan lereng cukup landai hingga curam (15-40%) memiliki tingkat erosi yang kuat sehingga sesuai untuk usaha pertanian pangan (dengan batasan yang ketat) dan sangat baik untuk pertanian tanaman kayu dan rumput. Masyarakat memanfaatkan potensi tersebut sebagai lahan pertanian padi sawah (teras) dan kebun-talun (Gambar 14). Gambar 14. Bentuk Pemanfaatan Lahan (Landuse) Berdasarkan Topografi sebagai Kawasan Sawah Berteras (Kiri) dan Kebun-Talun (Kanan) Kelas lima sebagian besar berlereng curam dengan kemiringan > 40% memiliki keterbatasan maksimal untuk dimanfaatkan sebagai ruang usaha pertanian sehingga pemafaatan yang diizinkan hanya untuk upaya konservasi dengan penanaman pohon fungsi konservasi. Daerah dengan ciri tersebut sebagian besar berada di ketinggian lebih dari 1.000 mdpl yang secara manajemen kawasan termasuk ke dalam kawasan hutan produksi dan lindung yang dikelola oleh Perum Perhutani. Dengan demikan, masyarakat memiliki keterbatasan akses dalam memanfaatkan sumber daya alam secara langsung. Namun, masyarakat dapat tetap merasakan manfaat dari jasa lingkungan yang disediakan alam dan juga pemanfaatan lahan terbatas melalui kerja sama dengan Perhutani (Gambar 15). 37   Gambar 15. Bentuk Pemanfaatan Lahan (Landuse) Berdasarkan Topografi sebagai Kawasan Hutan Lindung (Kiri) dan Hutan Produksi (Kanan) Kondisi tanah dan topografi di daerah studi memiliki tingkat kerentanan cukup tinggi terhadap erosi dan kemampuan yang terbatas dalam menampung air. Dominansi tanah litosol dan lereng dengan kecuraman > 15% di daerah pegunungan berdampak pada mudahnya kehilangan sumber daya air yang bersumber dari air hujan. Keterbatasan kondisi fisik berdampak pula pada kesulitan pembangunan saluran irigasi teknik untuk membantu pengairan bagi usaha pertanian yang dilakukan oleh masyarakat. Dengan demikian, guna optimalisasi pemanfaatan tanah yang subur dan topografi yang beragama untuk aktivitas produksi pertanian perlu pemanfaatan sumber daya air hujan yang optimal. Dengan optimalisasi pengairan hujan dapat menjaga stabilitas tanah tanpa melakukan rekayasa terhadap kondisi aktual topografi. 4.1.1.2. Hidrologi Berdasarkan sistem wilayah sungai, daerah studi termasuk ke dalam DAS Citanduy (Sub-DAS Cimuntur) (Gambar 16). DAS Citanduy berhulu di Gunung Cakrabuana (Kabupaten Majalengka) dan bermuara di Danau Segara Anakan (Kabupaten Cilacap). Sungai kecil yang mengalir di daerah studi, di antaranya, adalah Sungai Cikawung, Cidarma, Cipanten, Cidahu, Ciceuri, dan Cimuncang yang bermuara ke Sungai Cimuntur. Keberadaan sungai-sungai tersebut mempengaruhi kondisi tata air baik air permukaan maupun air tanah di daerah studi. Kondisi aktual sumber pengairan darat (sungai) mengalami kondisi yang fluktuatif dengan kelimpahan air di saat musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. 38   Gn. Cakrabuana (Hulu) Sub-DAS Citanduy Hulu Sub-Das Cimuntur Sub-DAS Cijolang Sub-DAS Cikawung Sub-DAS Ciseel Sub-DAS Segara Anak Sungai Citanduy Lokasi Studi Sumber: Balai Besar WS Citanduy - Dirjen Sumber Daya Air, Departemen Pekerjaan Umum Danau Segara Anakan (Hilir) Gambar 16. Peta Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy Kondisi air permukaan (sungai dan mata air) pada umumnya mengalir sepanjang tahun. Aliran permukaan dari ukuran kecil hingga besar (seke-susukanwalungan-sunge) dimanfaatkan masyarakat sebagai inlet maupun outlet saluran. Kondisi air tanah di daerah studi yang berada di daerah hulu memiliki kedalaman air tanah rata-rata 10 m. Secara umum ketersediaan air di daerah studi sebesar 015 liter/detik (Gambar 17). Ketersediaan sumber daya air permukaan dan tanah yang terbatas berpengaruh terhadap semakin tingginya ketergantungan masyarakat terhadap keberadaan sumber daya air hujan. Air hujan yang mengisi ketersediaan air tanah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai kebutuhan baik aktivitas reproduksi rumah tangga dan produksi pertanian. Aktivitas reproduksi memanfaatkan air secara langsung dari mata air atau memanfaatkan kembali air hasil aktivitas produksi pertanian. Optimalisasi pemanfaatan air dilakukan dengan mengalirkan air dari sumbernya melalui saluran-saluran tertutup dengan diameter lubang relatif kecil (bambu dan pipa PVC). Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi kehilangan air yang berlebih melalui evaporasi dan terbuang. 39   Legenda Lokasi Studi < 10 liter/detik 10-15 liter/detik U 5 0 5 10 Km Sumber: Bapedda Kabupaten Ciamis (2010) Gambar 17. Peta Sebaran Ketersediaan Air di Kabupaten Ciamis Air hujan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat untuk pengairan alami lahan pertanian. Air yang tertampung lahan pertanian dialirkan melalui saluran air alami dan buatan ke kawasan permukiman untuk menunjang aktivitas reproduksi masyarakat dan pengairan kolam ikan. Selain memanfaatkan pipa PVC, secara tradisional masyarakat menggunakan awi (bambu) dan susukan (parit) sebagai saluran air tradisional (Gambar 18). Parit yang dibuat oleh masyarakat disesuaikan dengan bentuk alami lahannya (naturalisasi) tanpa upaya normalisasi. Gambar 18. Pemanfaatan Awi (Kiri) dan Susukan (Kanan) sebagai Saluran Air Tradisional Masyarakat Sunda 40   Secara ekologi, pemanfaatan bambu sebagai saluran air dapat menjaga stabilitas konstruksi tanah. Dengan mengalirkan air melalui saluran-saluran buatan dengan bentuk yang lebih kecil, berpotensi menyebarluaskan air hingga daerah yang sulit dijangkau oleh saluran fisik tanah (irigasi) dan menjaga stabilitas struktur tanah. Dengan pemanfaatan bambu, kecepatan aliran air (velocity) dapat dikurangi sehingga air dapat dimanfaatkan secara optimal. Ketersediaan sumber daya air menjadi elemen lanskap utama yang dibutuhkan oleh masyarakat Sunda Parahiyangan yang hidup di kawasan pegunungan. Masyarakat memiliki ketergantungan yang kuat terhadap sumber daya air hujan. Suplai air hujan yang melimpah tidak mampu ditampung secara optimal oleh tanah karena kondisi fisik tanah dan topografi yang rentan terhadap erosi sehingga mudah kehilangan sumber daya air dan tanah. Kondisi tersebut dapat dikendalikan oleh keberadaan vegetasi sebagai alat/media konservasi tanah dan air secara alami. Pemilihan vegetasi untuk fungsi konservasi perlu menjadi prioritas bagi masyarakat dan Perum Perhutani dalam mengelola lahan di kawasan pegunungan. 4.1.1.3. Iklim Unsur iklim yang paling banyak berpengaruh dalam usaha pertanian adalah curah hujan rata-rata (mm), suhu rata-rata (0C), dan kelembaban nisbi (%). Curah hujan (CH) sangat mempengaruhi keberlangsungan usaha pertanian terutama bagi daerah yang mengandalkan hujan sebagai sumber daya air utama. Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidth dan Ferguson, daerah studi termasuk ke dalam iklim A (tropis basah). Daerah studi memiliki CH rata-rata tahunan 4.000 mm (Gambar 19). Berdasarkan peta CH, daerah studi mengalami hujan hampir sepanjang tahun dengan CH rata-rata 354 mm/bulan. Berdasarkan pencatatan data iklim di Stasiun Panjalu tahun 2011, CH tertinggi terjadi pada bulan Desember (527 mm) dan terendah pada bulan Juni (217 mm). Bulan basah (CH > 100 mm) terjadi hampir sepanjang tahun kecuali pada bulan Juni, Juli, dan Agustus (99 mm, 28 mm, dan 55 mm) yang termasuk ke dalam bulan kering (CH < 100 mm). 41   Legenda Lokasi Studi 4.000-5.500 mm/tahun 3.000-4.000 mm/tahun U 5 0 5 10 Km Sumber: Bapedda Kabupaten Ciamis (2010) Gambar 19. Peta Sebaran Curah Hujan di Kabupaten Ciamis Kondisi CH tersebut berdampak pada keberlangsungan usaha pertanian tadah hujan. CH yang tinggi sangat membantu masyarakat dalam menjalankan usaha pertaniannya. Namun, tanpa adanya upaya konservasi tanah dan air akan berdampak negatif dengan turunnya kualitas maupun kuantitas tanah dan air sebelum dimanfaatkan secara optimal oleh tanaman dan makhluk hidup lainnya. Dampak negatif tersebut dirasakan masyarakat dalam jangka waktu yang lama hingga saat ini Sub-DAS Cimuntur termasuk ke dalam daerah dengan tingkat erosi kritis ringan (Prasetyo, 2005). Selain CH, daerah studi memiliki kondisi iklim dengan suhu rata-rata harian 25 0 C dan kelembaban nisbi rata-rata 85% yang sesuai untuk pengembangan berbagai jenis tanaman pertanian. Lama penyinaran maksimum rata-rata terjadi sekitar delapan jam per hari (55%). Kondisi tersebut memberi manfaat bagi pertumbuhan tanaman dalam proses fotosintesis dengan memanfaatkan energi surya secara optimal. Kondisi iklim yang sesuai untuk aktivitas produksi pertanian dimanfaatkan masyarakat dengan melakukan berbagai usaha pertanian di berbagai agroekosistem dengan berbagai komoditas yang dihasilkan. 42   Iklim merupakan elemen lanskap yang sulit direkayasa untuk memperoleh kondisi yang ideal. Kondisi unsur-unsur iklim telah disediakan alam untuk dimanfaatkan oleh manusia dengan penyesuaian/adaptasi. Kondisi tersebut telah dipahami oleh masyarakat berdasarkan pengetahuan ekologik tradisionalnya dengan menyusun pranata mangsa sebagai panduan dalam melakukan aktivitas produksi pertanian. Pranata mangsa merupakan interpretasi masyarakat terhadap kondisi aktual unsur-unsur iklim yang berlangsung lama dan dijalankan secara turun-temurun. Namun, saat ini pranata mangsa sudah jarang digunakan sebagai panduan aktivitas pertanian. Pranata mangsa sebagai cerminan kearifan masyarakat lokal masih mampu beradaptasi dengan perubahan jaman. Dengan demikian, reorientasi dalam pemanfaatan sumber informasi dalam pranata mangsa dapat diberdayakan kembali di masyarakat pertanian Sunda Parahiyangan. 4.1.1.4. Vegetasi dan Satwa Keanekaragaman hayati pertanian secara sederhana mencakup tidak lebih dari tanaman dan ternak. Namun, dalam pemahaman lebih luas, keanekaragaman hayati pertanian mencakup semua unsur yang terlibat dalam kegiatan pertanian. Hama, penyakit, organisme penyubur tanah, hewan penyerbuk, dan petani merupakan bagian tak terpisahkan dalam sistem usaha pertanian. Agroekosistem merupakan konsep lain dari keanekaragaman hayati berupa sistem ekologi dan sosio-ekonomi yang terdiri atas tumbuhan dan hewan yang telah didomestikasikan serta masyarakat petani yang mengelolanya untuk menghasilkan pangan, serat, energi, obat, dan produk pertanian lainnya. Dalam sebuah agroekosistem, jenis vegetasi dan satwa yang dibudidayakan dapat satu jenis atau lebih, bergantung pada kondisi agroekosistem. Kondisi fisik agroekosistem dan nilai budaya masyarakatnya dapat mempengaruhi cara pembudidayaan. Daerah studi yang sebagian besar masyarakatnya bersuku Sunda masih menjalankan ragam bentuk agroekosistem khas masyarakat Sunda (kebuntalun, sawah, dan pekarangan) dengan tingkat keanekaragaman hayati pertanian yang beragam. 43   4.1.1.4.1. Struktur Vegetasi dan Satwa di Kebun-Talun Kebun-talun merupakan agroekosistem dengan ciri utama kombinasi antara tanaman tahunan dan semusim yang merupakan implementasi dari praktik agroforestry. Sistem kebun-talun yang dilakukan masyarakat sebagian besar dilakukan di daerah dataran tinggi (luhur) yang langsung berbatasan dengan hutan lindung di bagian atas dan sawah di bagian bawah. Posisi tersebut menjadikan kebun-talun tidak hanya berfungsi untuk subsisten dan komersial, tetapi berfungsi pula secara ekologis untuk konservasi tanah, air, dan keanekaragaman hayati. Sistem kebun-talun dijalankan dengan membuka talun untuk ditanami tanaman tahunan dan semusim (kebun). Setelah tanaman semusim dipanen, tanaman tahunan dibiarkan tetap tumbuh dengan pemeliharaan semi intensif (kebun campuran) hingga ekstensif (talun). Berdasarkan inventarisasi tanaman, ditemukan ragman jenis tanaman dengan jumlah rata-rata jenis tanaman yang dominan ditanam masyarakat dalam sistem kebun-talun sebanyak 47 jenis tanaman (Tabel 2). Jenis tanaman herba yang dominan ditanam adalah pisang (Musa paradisiaca L.). Sedangkan jenis pohon, di antaranya, adalah jati (Tectona grandis L.f.), sengon (Paraserianthes falcataria), dan kopi (Coffea arabica L.). Jenis semak dan rumput yang banyak ditanam, di antaranya, adalah kapulaga (Amomum compactum Solland), lada (Piper nigrum L.), sirih (Piper betle L.), nanas (Ananas comosus (L.) Merr.), dan bambu (Gigantochloa verticillata (Willd.)). Tabel 2. Jenis Tanaman Dominan di Agroekosistem Kebun-Talun Dusun Ciomas 1 Nama Lokal Pisang Kelapa Sengon Ciomas 2 Pisang Sengon Cengkeh Ciomas 3 Jati Nama Botani Individu Kelompok Fungsi Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthe s falcataria Musa paradisiaca L. Paraserianthe s falcataria Eurgenia aromatica Tectona grandis L.f. 46 Herba 9 Pohon 9 Pohon 21 Herba 15 Pohon Buah/ Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/ Lainnya Industri/ Lainnya Buah/ Penghasil Pati /Obat Industri/ Lainnya 10 Perdu 28 Pohon Industri/Sayur/Obat/ Lainnya Industri/ Lainnya 44   Lanjutan tabel 2 Mengkudu Sengon Mandalare 1 Pisang Cengkeh Sengon Mandalare 2 Pisang Sengon Cengkeh Mandalare 3 Pisang Jati Bambu Kertabraya 1 Kopi Pisang Suren Kertabraya 2 Pisang Suren Jabon Kertabraya 3 Pisang Cengkeh Sengon Morinda citrifolia L. Paraserianthe s falcataria Musa paradisiaca L. Eurgenia aromatica Paraserianthe s falcataria Musa paradisiaca L. Paraserianthe s falcataria Eurgenia aromatica Musa paradisiaca L. Tectona grandis L.f. Gigantochloa verticillata (Willd) Coffea arabica L. Musa paradisiaca L. Toona sureni (BI) Merr Musa paradisiaca L. Toona sureni (BI) Merr Gmelina arborea Musa paradisiaca L. Eurgenia aromatica Paraserianthe s falcataria 9 Perdu Buah/Obat 5 Pohon Industri/ Lainnya 58 Herba 16 Perdu Buah/ Penghasil Pati /Obat Bumbu/ Lainnya 18 Pohon Industri/ Lainnya 39 Herba 18 Pohon Buah/ Penghasil Pati /Obat Industri/ Lainnya 14 Perdu Bumbu/ Lainnya 33 Herba 15 Pohon Buah/ Penghasil Pati /Obat Industri 13 Pohon Industri/Sayur/Obat/ Lainnya 24 Perdu Buah 24 Herba Buah/Pangan/Obat 23 Pohon Industri/ Lainnya 63 Herba 10 Pohon Buah/ Penghasil Pati /Obat Industri/ Lainnya 10 Pohon Industri/ Lainnya 54 Herba 18 Perdu Buah/ Penghasil Pati /Obat Bumbu/ Lainnya 13 Pohon Industri/ Lainnya Sumber: Pengamatan lapang Pisang (Musa paradisiaca L.) menjadi primadona karena kemudahan dalam penanaman dan perawatan, serta dapat diperoleh hasil yang cepat dan cukup menguntungkan secara ekonomi. Jati merupakan pohon kayu yang banyak ditanam masyarakat sebagai investasi jangka panjang. Sebagai investasi jangka menengah, jenis pohon kayu yang banyak ditanam oleh masyarakat adalah sengon (Paraserianthes falcataria). Kopi (Coffea arabica L.) merupakan komoditas perkebunan yang mulai banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Keuntungan 45   ekonomi menjadi alasan utama masyarakat mulai mengalihfungsikan lahan kebun-talunnya menjadi kebun kopi. Selain jenis pohon, perdu, herba, dan rumput, diidentifikasi pula jenis tanaman semak dan penutup tanah yang ditanam oleh masyarakat (Lampiran 4). Jenis tumbuhan yang banyak ditemukan di daerah studi adalah ki rinyuh (Chromolaena odorata L.). Ki rinyuh tumbuh secara liar di agroekosistem kebuntalun dan dimanfaatkan oleh petani sebagai salah satu sumber hayati untuk pembuatan pupuk hijau (Gambar 20). Dengan fungsi tersebut, banyak dari petani yang membiarkan ki rinyuh tumbuh subur di lahannya atau bahkan sengaja ditanam untuk menambah bahan baku produksi pupuk hijau. Keberadaan ki rinyuh cukup membantu petani dalam mengelola lahan garapannya. Pemanfaatan ki rinyuh yang dikombinasikan dengan pupuk kandang dapat mengurangi biaya produksi dalam pengadaan pupuk. Selain untuk fungsi pupuk hijau, ki rinyuh dapat dimanfaatkan pula sebagai pestisida alami. Gambar 20. Tumbuhan Ki Rinyuh (Chromolaena odorata L.) dengan Bentuk Daun (Kiri) dan Habitatnya (Kanan) Berdasarkan perhitungan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener untuk kelompok pohon dan perdu, diperoleh hasil tingkat keanekaragaman tanaman di daerah studi berkisar antara nilai 1 dan 3 yang menunjukkan tingkat keanekaragaman sedang (Tabel 3). Dusun Kertabraya memiliki nilai indeks tertinggi (2,13) jika dibandingkan dengan Dusun Ciomas (1,50) dan Mandalare (2,13). Hasil perhitungan dengan kategori yang sama dipengaruhi oleh kondisi ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya yang relatif sama di setiap dusun. Namun, terdapat perbedaan nilai yang cukup signifikan di Dusun Ciomas. 46   Tabel 3. Indeks Keanekaragaman Tanaman di Agroekosistem Kebun-Talun No. 1. Dusun Ciomas 2. Mandalare 3. Kertabraya *Kategori: Plot 1 2 3 1 2 3 1 2 3 H 80%) adalah bangunan rumah permanen. Masyarakat memanfaatkan sumber daya untuk membangun rumah sebagian besar diperoleh dari luar, seperti bata merah, pasir, batu, semen, dan sebagainya. Namun, sebagian kecil masyarakat masih memanfaatkan sumber daya lokal untuk membangun rumah nonpermanen dengan model tradisional Sunda (imah panggung). Model imah panggung (rumah panggung) yang ditemukan di daerah studi sebagian besar masih mengikuti aturan budaya Sunda. Arsitektur atap yang digunakan sebagian besar merupakan atap jolopong atau parahu kumureb (Gambar 34). Berdasarkan kriteria rumah panggung ditemukan beberapa rumah penduduk yang masih menggunakan unsur-unsur pembentuk dari rumah panggung tradisional Sunda (Tabel 15). Elemen penting yang sudah tidak banyak ditemukan dalam rumah panggung adalah pemanfaatan daun kirai, kelapa, eurih, 82   langkap, atau ijuk aren untuk fungsi hateup (atap). Sebagian besar rumah panggung juga rumah modern lainnya (beton) telah menggunakan genting sebagai elemen atap. Elemen lain yang mulai ditinggalkan masyarakat adalah penggunaan palang kayu sebagai kunci pintu. Penggunaan slot kunci besi sudah menjadi tren di kalangan masyarakat. Begitu pula dengan jendela kayu yang tergantikan oleh jendela kaca. Gambar 34. Model Rumah Panggung di Daerah Studi Tabel 15. Elemen Penyusun Rumah Panggung Masyarakat Sunda. No. Nama Lokal 1. Kolong 2. Tepas 3. Tengah imah 4. 5. Pangkeng Pawon 6. Goah 7. Para 8. Segog 9. Tatapakan Keterangan Ruang di bawah untuk menyimpan ternak atau perkakas. Ruang di bagian depan untuk menerima tamu dan aktivitas sosial lainnya. Ruang di bagian tengah untuk aktivitas sosial keluarga. Ruang di bagian dalam untuk istirahat keluarga inti. Ruang di bagian belakang untuk aktivitas reproduksi (memasak). Ruang di bagian belakang untuk menyimpan hasil pertanian (gudang beras, dsb.). Ruang di bagian atas untuk menyimpan perkakas (gudang). Ruang di bagian samping untuk menyimpan perkakas (gudang). Bagian dasar/kaki berbahan dasar batu dengan ukuran tinggi sajeungkal atau satuur. Penggunaan (Ya/Tidak) Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya 83   Lanjutan tabel 15 10. 11. 12. Lelemah Tihang Golodog Bagian tanah yang datar/didatarkan. Bagian bangunan berupa tiang berbahan dasar kayu. Bagian bangunan berupa tangga berbahan dasar bambu atau kayu papan. 13. Palupuh Bagian bangunan berupa bambu yang dicacah untuk lantai (dadasar/amparan). 14. Pongpok Bagian bangunan di ujung luar. 15. Pipir Bagian bangunan di samping luar. 16. Juru Bagian bangunan di ujung dalam. 17. Palang dada Bagian bangunan berupa palang untuk mengunci dan paneer pintu. 18. Hateup Bagian bangunan berupa atap berbahan dasar daun eurih, langkap, kirai, kelapa, atau ijuk dari pohon aren. 19. Bilik Bagian bangunan berupa dinding berbahan dasar bambu. 20. Jandela Bagian bangunan berupa jendela. 21. Panto Bagian bangunan berupa pintu. 22. Ereng Bagian bangunan berupa kerangka atap berbahan dasar kayu dengan atap genting. 23. Sosompang Bagian bangunan berupa ruang sederhana di bagian luar. 24. Lincar Bagian bangunan berupa papan penahan bilik. 25. Wuwung Bagian bangunan berupa penutup/penyambung atap (hateup atau genting). Sumber: Pengamatan lapang Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Hasil pengamatan lapang menunjukkan beberapa rumah panggung tidak menggunakan hateup berbahan dasar daun eurih, langkap, kelapa, atau ijuk. Hal itu disebabkan oleh semakin jarangnya masyarakat yang memanfaatkannya, padahal ketersediaan bahan dasar penyusun atap tersebut masih banyak tersedia di daerah studi. Keengganan masyarakat dipengaruhi oleh kemudahan penyediaan dan pemasangan genting dibandingkan bahan dasar alami. Dampak yang dirasakan oleh masyarakat adalah semakin hilangnya kearifan lokal dalam kekhasan karakter rumah panggung Sunda Panjalu. Imah panggung (rumah panggung) merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat dalam memanfaatkan alam dan lingkungan guna memenuhi kebutuhan keamanan dan ruang aktivitas reproduksi keluarga petani. Kearifan lokal tercermin dalam setiap proses pembuatan dan elemen yang digunakan. Proses awal yang biasa dilakukan adalah ngalelemah atau mendatarkan lahan yang akan digunakan sebagai rumah dengan melakukan rekayasa sederhana (cut 84   and fill). Ngalelemah di daerah studi berbeda dengan yang dilakukan masyarakat Sunda di kampung adat Baduy yang tetap membiarkan topografi seperti aslinya. Masyarakat Sunda Baduy tidak merubah bentuk topografi, tetapi menyesuaikannya dengan memanjangkan atau memendekkan tihang (kaki bangunan berbahan dasar kayu). Proses selanjutnya adalah penyusunan elemen-elemen bangunan yang masih memanfaatkan bahan dasar lokal dan membentuk ruang sesuai fungsinya (Gambar 35). Kayu yang dimanfaatkan sebagai tihang dan bagian utama lainnya diperoleh dari kebun-talun. Kayu yang digunakan adalah jati (Tectona grandis L.f.), sengon/albo (Paraserianthes falcataria), tisuk (Hibiscus macrophyllus), dan kelapa (Cocos nucifera L.). Bahan dasar untuk fungsi dinding dan lantai digunakan bambu (bilik dan palupuh). Pemanfaatan sumber daya lokal untuk pembuatan rumah panggung menandakan pengetahuan ekologi tradisional masyarakat terhadap jenis dan fungsi sumber daya pertanian. Ketersediaan sumber daya tersebut berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai penjaga eksistensi rumah panggung dengan dukungan persepsi dan prefensi masyarakat yang positif terhadap rumah panggung. Wuwung 3 Ereng Hateup/Kenteng 2 Buruan Tukang Tihang Pongpok (luar) Juru (jero) 2 1 Segog Pipir Tatapakan Bilik Lelemah Panto Golodog Jandela Tampak atas terdiri dari (1) Tepas, (2) Tengah Imah dan Pangkeng, dan (3) Pawon/Goah Para Imah Kolong Gambar 35. Ilustrasi Konstruksi Imah Panggung Sunda Panjalu Buruan Hareup 85   4.1.3. Analisis Kondisi Sistem Spiritual-Budaya Masyarakat Pertanian Sunda Parahiyangan 4.1.3.1. Sejarah Masyarakat Berdasarkan penuturan informan kunci, tidak ditemukan bukti sejarah yang menerangkan secara pasti awal mula terbentuknya permukiman masyarakat di daerah studi. Namun secara umum, daerah studi yang termasuk ke dalam satuan wilayah administrasi Kecamatan Panjalu dapat diduga bahwa masyarakat telah ada sejak abad ke-13 ketika Kerajaan Panjalu didirikan. Pusat kerajaan pertama yang berada di puncak Gunung Sawal (Karantenan) menguatkan posisi daerah studi sebagai bagian dari Kerajaan Panjalu. Beberapa informan kunci menjelaskan bahwa daerah Ciomas, Mandalare, dan Kertabraya merupakan bagian dari kekuasaan Kerajaan Panjalu. Bukti fisik yang masih ada hingga saat ini adalah ditemukannya beberapa situs keramat berupa makam dan mata air. Keterikatan dengan Kerajaan Panjalu terlihat ketika upacara adat nyangku yang mensyaratkan pengambilan air di tujuh mata air (termasuk mata air di tiga dusun tersebut) sebagai penghormatan kepada raja Panjalu Prabu Sanghiyang Borosngora. 4.1.3.2. Spiritual Masyarakat Masyarakat Dusun Ciomas, Mandalare, dan Kertabraya merupakan bagian dari masyarakat Sunda yang masih menjalankan adat istiadat budaya Sundan. Kebudayaan Sunda yang terbentuk telah mengalami proses akulturasi dengan beragam budaya luar yang masuk dan mempengaruhi masyarakat, yakni berawal dari pengaruh ajaran Hindu dengan dikenalnya wilayah Panjalu sebagai Kabuyutan Gunung Sawal hingga masuknya pengaruh Islam setelah Prabu Borosngora meyakini ajaran Islam. Sistem keyakinan yang hingga saat ini masih diyakini dan dipertahankan oleh masyarakat adalah konsep ketuhanan dalam ajaran agama Islam yang meyakini keberadaan Allah Swt sebagai pencipta dan pemilik jagat raya. Keyakinan tersebut diekspresikan baik dalam berbagai aktivitas keagamaan seperti dalam ibadah inti (salat, tadarus Al-Quran, pengajian, dan sebagainya) maupun dalam ibadah muamalah (perkawinan, perdagangan, pertanian, pewarisan, peringatan hari besar Islam, dan sebagainya). Dengan kearifan lokal yang 86   dimilikinya, masyarakat mampu beradaptasi dengan kebudayaan luar dan menggunakannya sebagai kekuatan yang memicu kreativitas masyarakat. Kreativitas yang ditunjukkan masyarakat tampak pada berbagai adat istiadat, aktivitas, maupun aktualisasi nilai budaya dalam wujud benda budaya. 4.1.3.3. Budaya Masyarakat 4.1.3.3.1. Tradisi Muludan dan Nyangku Tradisi muludan diselenggarakan dan masyarakat nyangku Panjalu merupakan dalam acara memperingati tahunan yang Maulid Nabi Muhammad Saw. Tradisi tersebut dilakukan dalam serangkaian acara selama satu bulan pada bulan Mulud/Rabi’ul Awal dalam kalender Hijriyah. Muludan dilakukan oleh masing-masing dusun dan desa yang selanjutnya puncak peringatan dilakukan di tingkat kecamatan pada hari Senin atau Kamis terakhir pada bulan Mulud. Tradisi muludan dan nyangku menunjukkan pengetahuan ekologi tradisional masyarakat terhadap ragam jenis tanaman dan hewan lokal. Terdapat beberapa jenis lokal yang dimanfaatkan masyarakat dalam pelaksanaannya seperti padi beras merah varietas lokal, padi (Oryza sativa L.), awi bitung/bambu betung (Bambusa aspera Schultes dengan sinonim Dendrocalamus flagelifer, Gigantochloa aspera Schultes F. Kurtz, atau Dendrocalamus merrilianus (Elmer) Elmer), aren (Arenga pinata), kelor (Moringa oleifera), pisang (Musa paradisiaca L.), jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle), bunga mawar (Rosa L.), umbiumbian, bumbu-bumbuan, dan temu-temuan. Hewan yang dimanfaatkan dalam tradisi, di antaranya, adalah ayam kampung (Gallus domesticus) untuk diambil telur dan dagingnya, serta ikan-ikan lokal Situ Lengkong (sesele, hampal, corengcang, sepat, kulinyar, katut kaberenyit, dan jongjolong tumbras). Sumber daya lokal pertanian untuk mengakomodasi tradisi muludan dan nyangku masih dapat disediakan di daerah studi. Namun, beberapa jenis tanaman seperti beras merah lokal dan pohon kelor, serta ikan lokal yang berada di Situ Lengkong sudah sulit diperoleh. Ketersediaan bahan-bahan untuk pelaksanaan tradisi di pasar berdampak pada keengganan masyarakat membudidayakan bahanbahan tersebut di lahan pertaniannya. Upaya revitalisasi perlu dilakukan untuk 87   menjaga eksistensi keanekaragaman hayati lokal yang berdampak pada keberlangsungan tradisi lokal yang didukung oleh sumber daya lokal. Masyarakat perlu dihimbau untuk kembali membudidayakan bahan-bahan lokal yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tradisi untuk mempermudah pelaksanaan dan mengurangi biaya produksi yang digunakan untuk membeli bahan dari luar. Di samping menunjukkan keanekaragaman jenis sumber daya hayati pertanian, tradisi muludan dan nyangku memperlihatkan hubungan harmonis antar masyarakat dalam satu dusun, desa, hingga kecamatan. Pelaksanaan muludan di daerah studi memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Berdasarkan sistem sosial yang berlaku, setiap dusun diwajibkan untuk menyelenggarakan muludan. Aturan sosial mengatur setiap penyelenggara untuk menyediakan akomodasi bagi seluruh tamu undangan yang berjumlah hingga ribuan. Undangan disampaikan secara lisan dan tertulis kepada sesepuh dusun untuk disampaikan kepada seluruh masyarakat di dusunnya. Jika dalam satu desa terdapat lima dusun dan masingmasing dusun dihuni sekitar 500 jiwa, maka tamu undangan yang hadir sekitar 1.250 orang (asumsi 50% yang hadir dari tiap dusun). Aktivitas saling mengundang (silih ondang) tersebut telah berjalan sejak lama dan tetap menjadi tradisi bagi masyarakat setempat. Berdasarkan kondisi tersebut, dapat diduga kebutuhan finansial yang sangat besar. Dalam hal pendanaan, selain diperoleh dari dana bantuan pemerintah serta kas dusun, perolehan terbesar diperoleh dari dana rereongan (urunan) dari anggota masyarakat desa yang merantau ke kota. Keuangan yang diperoleh dari dana rereongan biasanya dikoordinasikan oleh suatu lembaga sosial seperti perhimpunan keluarga, dan ikatan keluarga. Dengan adanya kelembagaan tersebut, kebutuhan terhadap perkembangan dusun tetap terjaga meskipun donator berada di luar dusun (bakti ka kampung). Ciri khas lain dari kegiatan muludan di daerah studi adalah strata sosial berdasarkan spiritual-budaya yang tampak dari posisi duduk. Penghargaan dan penghormatan ditunjukkan masyarakat dengan mengatur posisi duduk sehingga terlihat berstrata. Posisi terdepan biasa diisi oleh barisan ajengan/kyai, sesepuh, serta tokoh masyarakat. Barisan selanjutnya secara berurutan diisi oleh para ustaz, guru, staf kepemerintahan, dan masyarakat pada umumnya. Pembagian posisi 88   duduk tersebut tidak sengaja dibentuk, tetapi terbentuk dengan sendirinya berdasarkan nilai spiritual-budaya yang diyakini masyarakat. Ada anggapan bahwa mahabah ka ajengan (berbakti kepada ajengan/kyai) akan mendatangkan berkah dari Allah Swt. Tradisi nyangku dilakukan setelah masing-masing dusun dan desa menyelesaikan muludan. Nyangku merupakan bagian dari kegiatan muludan akbar yang diselenggarakan oleh pemerintah kecamatan. Aktivitas utama yang dilakukan adalah pembersihan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu. Dalam pelaksanaannya, terlihat keterikatan kuat masyarakat dengan ragam jenis sumber daya hayati pertanian khususnya sumber daya air. Pembersihan dilakukan dengan menggunakan air yang bersumber dari tujuh mata air, yaitu dari Situ Lengkong, Karantenan Gunung Sawal, Kapunduhan (makam Prabu Rahyang Kuning), Kubang Kelong, Pasanggrahan, dan Bongbang Kancana. Keberadaan tujuh mata air tersebut perlu dipertahankan untuk mengakomodasi ketersediaan air yang dimanfaatkan dalam tradisi nyangku. Preservasi dan konservasi kawasan mata air perlu dilakukan dengan mempertahankan keberadaan pohon-pohon pituin/lokal. Muludan dan nyangku selain sebagai bukti ketaatan masyarakat terhadap ajaran agama Islam, juga sebagai bukti harmonisasi kehidupan dalam sistem keagamaan. Tampak dalam kegiatan tersebut aktualisasi hak dan kewajiban dari masyarakat beragama. Informan kunci menjelaskan bahwa manfaat lain dari kegiatan muludan adalah memperkuat tali silaturahim antarwarga baik di dusun, desa, maupun kecamatan. Besarnya manfaat dari tradisi tersebut perlu didukung oleh ketersediaan sumber daya hayati pertanian untuk mengakomodasi kebutuhan pelaksanaan muludan dan nyangku. Pembudidayaan kembali jenis-jenis tanaman dan hewan lokal, serta menjaga kelestarian sumber daya air menjadi poin penting revitalisasi sumber daya hayati pertanian untuk keberlanjutan tradisi. Selain itu, sosialisasi pentingnya keanekaragaman hayati jenis lokal perlu diberdayakan pada masyarakat untuk menumbuhkan keinginan untuk melestarikannya. Pengetahuan masyarakat dapat menjadi hal penting dalam mencapai tingkat keberlanjutan jenis-jenis sumber daya hayati lokal. 89   4.1.3.3.2. Konsep Kabuyutan Kabuyutan dalam budaya Sunda telah dikenal sejak zaman sejarah Sunda kuno. Bukti peninggalan sejarah yang dapat menguatkan keberadaan kabuyutan terdapat dalam Prasasti Cibadak yang dibuat oleh seorang raja Sunda bernama Sri Jaya Bupati yang memerintah pada tahun 1006-1016 M. Dalam prasasti tersebut Sri Jaya Bupati telah menetapkan sebagian Sungai Sanghiyang Tapak sebagai kabuyutan, yaitu tempat yang memiliki pantangan (larangan) untuk ditaati oleh rakyat. Salah satu larangan yang tersurat dalam prasasti tersebut adalah larangan untuk tidak menangkap ikan di dalam kawasan kabuyutan. Selain dalam Prasasti Cibadak, istilah kabuyutan terdapat pula dalam naskah Sunda kuno peninggalan abad ke-13, yaitu Amanat Galunggung atau dikenal dengan Amanat Prabu Guru Darmasiksa, seorang raja Sunda yang memerintah pada tahun 1175-1297 M. Naskah Galunggung berisi tentang nasihat raja kepada anak keturunan dan seluruh rakyatnya untuk dijadikan sebagai cekelan hirup (pegangan hidup), ulah (larangan), dan kudu (perintah) agar jaya sebagai bangsa. Dalam naskah kuno tersebut, Prabu Guru Darmasiksa mengamanahkan untuk menjaga kelestarian dari kabuyutan. Amanat Prabu yang terkait kabuyutan adalah sebagai berikut: (1) kabuyutan harus dijaga dari kemungkinan direbut dan dikuasai oleh orang asing; (2) bila terjadi perang, pertahankanlah kabuyutan yang disucikan; dan (3) lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah dari pada raja putra yang tidak dapat mempertahankan kabuyutan. Secara fisik, kabuyutan yang diwariskan oleh para leluhur orang Sunda berupa leuweung larangan (hutan lindung) yang meliputi gunung dan bukit, sungai, situs purbakala, dan peninggalan sejarah lainnya. Kabuyutan dalam makna luas adalah tanah air baik lokal, regional maupun nasionaL. Kabuyutan dapat dimaknai sebagai sumber daya alam hayati dan nonhayati yang meliputi lahan, geologi, air, udara, serta keanekaragaman hayati (satwa dan tumbuhan) yang tercermin dalam ruang ekologi berupa hutan, sungai, gunung, dan lingkungan alam lain beserta kandungan di dalamnya. Selain karakter kabuyutan dalam konteks lanskap alami, kabuyutan tercermin pula dalam konteks lanskap budaya sebagai hasil interaksi manusia dengan alam dan lingkungannya. Permukiman penduduk, area persawahan, 90   perkebunan, perikanan, dan peternakan menjadi bentuk manifestasi nilai kabuyutan dalam memaknai realitas faktual ruang Sunda. Kabuyutan dapat dimaknasi sebagai menifestasi dari kosmologi Sunda sebagai acuan dalam menentukan tata ruang kehidupan masyarakat Sunda mulai dari skala global, regional hingga lokal. Di samping penerapan konsep luhur-handap, dalam penataan ruang Sunda diterapkan konsep ci nyusu yang menjadikan sumber mata air sebagai inti dari suatu kawasan. Mata air merupakan obyek alam yang dikeramatkan karena fungsinya yang sangat vital bagi kehidupan makhluk hidup. Air dianggap sebagai unsur alam yang menjadi dasar terbentuknya tubuh dan jiwa manusia. Pandangan ini pula menjadi dasar dalam memahami maksud dikeramatkannya gunung bagi masyarakat Sunda. Gunung dianggap sebagai salah satu tempat yang memberikan unsur sistem tubuh manusia dalam wujud melalui air. Oleh karena itu, penamaan gunung pun sama dengan penamaan bagian tubuh manusia dan hal tersebut tercermin dalam penetapan konsep ruang kabuyutan (Gambar 36). Gunung Sawal Puncak Karantenan Hulu (Luhur/Girang) Sanghiyang Akesa Sanghiyang Teja Larangan Kepala (Sirah) Sanghiyang Apah Sanghiyang Bayu Sanghiyang Pretiwi Sanghiyang Gado Larangan Leher (Beuheung) Larangan Seke Tutupan Seke Larangan Dada (Dada) Larangan dan Tutupan Hulu (Luhur/Girang) Tengah (Tengah) Sanghiyang Lawang (Buyut Seke) Larangan dan Tutupan Tengah (Tengah) Susukan Larangan Susukan Tutupan Susukan Sanghiyang Udel (Buyut Karuhun) Walungan Sungai Cidarma (Seke) Larangan dan Tutupan Hilir (Handap) Sungai Cimuntur (Susukan) HIlir (Handap) Sungai Citanduy (Walungan) Gambar 36. Konsep Ruang Kabuyutan Sunda (Sumber: Hasil wawancara dengan sesepuh KATCI) 91   Secara garis besar kawasan kabuyutan dibagi menjadi tiga bagian (luhurtengah-handap). Setiap bagian memiliki area larangan dan tutupan yang biasanya berbentuk hutan (leuweung). Hutan larangan di bagian luhur/girang (hulu) dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu larangan sirah (kepala), larangan beuheung (leher), dan larangan dada (dada). Bagian larangan sirah dibagi menjadi enam panta (bagian) dengan jarak setiap panta merupakan hasil dari jumlah langkah panta kelima menuju puncak dibagi lima panta. Panta kelima (Sanghiyang Pretiwi) merupakan pusat dari kawasan luhur/girang. Pada hutan larangan di bagian tengah terdapat hutan larangan Sanghiyang Udel (buyut karuhun) yang merupakan pusat kawasan tengah dan Sanghiyang Lawang (buyut seke) yang menjadi pusat dari subsistem kawasan tengah. Untuk setiap buyut seke ditetapkan luasan larangan rata-rata seluas 0,4 hektar. Setiap buyut seke memiliki seizin berupa makam buyut dan pohon yang dianggap keramat. Gabungan dari beberapa atau seluruh hutan larangan buyut seke akan membentuk satu kawasan kabuyutan untuk setiap kawasan dalam skala mikro, meso, hingga makro. Dalam penetapan suatu kawasan kabuyutan, mata air utama dan pertama (Sanghiyang Pretiwi) dijadikan sebagai acuan. Selanjutnya, ditarik garis lurus ke arah puncak gunung dan ditentukan berapa langkah hingga mencapai puncak. Jumlah langkah selanjutnya dibagi lima panta dan hasilnya digunakan untuk menetapkan lokasi seluruh panta. Setiap panta memiliki simbol tersendiri berupa pohon, batu, atau pun benda lain yang dikeramatkan. Informan kunci menerangkan bahwa penamaan masing-masing panta didasarkan pada bentuk tubuh manusia Sunda kuno. Akesa (wujud eter) diinterpretasikan menjadi ubun-ubun sebagai tempat tumbuh rambut dan bulu yang menandakan daerah yang tertutup vegetasi dengan kondisi topografi dan tanah yang rawan. Teja (wujud sinar/cahaya) diinterpretasikan menjadi mata sebagai tempat membentuk panas tubuh dan sinar mata yang mencirikan daerah terbuka dengan sedikit tutupan vegetasi. Apah (wujud cair) diinterpretasikan menjadi pipi sebagai tempat mengalirkan cairan tubuh yang menandakan daerah pengisi sumber mata air (saluran kecil atau celah bebatuan). Bayu (wujud udara) diinterpretasikan menjadi lubang hidung sebagai 92   tempat sirkulasi udara dan saluran air yang menandakan daerah hulu dari mata air. Pretiwi (wujud padat) diinterpretasikan menjadi mulut dengan kumis yang lebat sebagai tempat permulaan keluarnya air yang menandakan daerah mata air dengan lebatnya pepohonan penyangganya. Selanjutnya, setiap hutan larangan dan tutupan ditetapkan berdasarkan sumber mata air baik pada kawasan seke maupun susukan. Letak hutan larangan berada di lapisan pertama kawasan mata air, dan selanjutnya ditutup oleh hutan tutupan. Fungsi dari hutan larangan adalah sebagai hutan preservasi yang menjaga keseimbangan ekosistem. Hutan tutupan merupakan hutan konservasi yang difungsikan untuk mendukung proses stabilisasi hutan larangan. Akses pada hutan larangan sangat terbatas sehingga sumber daya pada hutan larangan tidak dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Dalam kawasan hutan tutupan, masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya hutan dengan pemanfaatan terbatas dan seizin pemuka adat (Gambar 37). Gambar 37. Leuweung Tutupan di Kabuyutan Kapunduhan (Hariang Kuning) Penetapan leuweung larangan dalam suatu kabuyutan dilakukan melalui tiga kegiatan penataan, yaitu tata wilayah (rancangan tata ruang), tata wayah (rancangan waktu pemulihan), dan tata lampah (rancangan kerja pemulihan). Ketiga rancangan penataan tersebut dilaksanakan secara bertahap melalui tahap 93   kabarataan (penetapan), kadewaan (pendidikan), dan karatuan (pelaksanaan). Setelah dilakukan penetapan wilayah (tata wilayah), selanjutnya dilakukan perancangan waktu pemulihan (tata wayah). Tata wayah dibagi menjadi dua periode utama, yaitu periode pendidikan (kadewaan) dan periode pelaksanaan (karatuan). Melihat nilai dan manfaat dari kegiatan tersebut, inisiasi dan adopsi penerapan konsep kabuyutan dalam menata kembali wilayah Sunda (tata wilayah) perlu dilakukan di luar Dusun Ciomas. KATCI sebagai bagian dari masyarakat memiliki peran penting dalam mengkaji, melaksanakan, dan mengembangkan pengetahuan masyarakat yang bernilai konservatif. 4.1.3.3.2. Pengetahuan Ekologik Tradisional Masyarakat pertanian di perdesaan memiliki pengetahuan tentang alam, vegetasi, satwa, produk alam, sifat dan tingkah laku manusia, serta ruang dan waktu yang terkait dengan pertanian. Berdasarkan pemahaman terhadap aspek fisik alam dan lingkungan, secara budaya masyarakat mengenal dan memahami makna dari daerah-daerah yang dijadikan ruang aktivitas produksi dan reproduksi (Tabel 16). Tabel 16. Ragam Jenis Tempat Berdasarkan PET Masyarakat Sunda No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11. 12. 13. 15. 16. 17. 18. 19. 20 21. Nama Lokal Alun-alun Astana Babakan Basisir Babantar Bojong Bobojong Bubulak/Bulakan Buruan Dayeuh Emper Gawir Geger Gupitan Gurawes Huma Jalan huni Jalan jajahan Jalan satapak Jontor Keterangan Tempat luas yang berada di pusat kota Kuburan/pemakaman Permukiman/kampung baru Pesisir pantai Bagian sungai yang lebar tetapi dangkal Lahan luas yang menjorok ke sungai Lahan yang menjorok ke sungai Kawasan padang rumput di daerah bukit atau gunung Bagian depan dari pekarangan Permukiman yang dihuni banyak orang Bagian depan rumah/teras Sisi jurang Punggung gunung yang memanjang Jalan setapak antara dua bukit Tanah yang curam Sawah ladang/darat (tadah hujan/rainfed) Jalan di antara jalur tanaman di kebun Jalan besar yang dapat dilewati oleh kendaraan Jalan yang hanya dapat dilalui oleh manusia Tanjung 94   Lanjutan Tabel 16 22. Kubangan 23. Kamalir 24. Kobakan 25. Karees 26. Kebon 27. Landeuh 28. Lebak 29. Lengkong 30. Lamping 31. Lembur 32. Leuwi 33. Muhara/Muara 34. Nagrak 35. Negla 36. Parigi 37. Parung 38. Pasir 39. Pakarangan 40. Pipir 41. Sungupan 42. Sake 43. Sampalan 44. Samida 45. Seler 46. Situ 47. Sirah cai 48. Solokan 49. Somang 50. Tegalan 51. Tetelar 52. Tutugan gunung 53. Walungan Sumber: Pengamatan lapang Tempat penuh lumpur untuk mandi kerbau Saluran air kecil Lubang di tegalan yang berair Bagian sisi sungai yang berpasir Lahan pertanian di belakang rumah (pekarangan belakang) Daerah yang lebih rendah Daerah yang lebih rendah Tempat landai dan curam yang berada di antara dua bukit Bagian sisi gunung yang curam Tempat yang dihuni banyak orang/kampung Bagian sungai yang luas dan dalam Hilir dari aliran sungai Daerah yang tinggi dan tidak sesuai untuk pertanian Daerah yang luas dan tidak tertutup pepohonan Saluran air yang sengaja dibuat Bagian sungai yang dangkal dan diapit dua leuwi Daerah seperti gunung tetapi lebih rendah (bukit) Lahan yang berada di sekitar rumah Lahan pekarangan di samping rumah Tempat mengalirkan air dari sungai ke sawah Sungai kecil Daerah jelajah satwa di hutan Hutan yang dikeramatkan Sungai kecil Telaga besar Mata air Saluran air kecil Jurang yang curam dan dalam Lahan luas dan datar di dataran pegunungan Bagian sawah yang tidak terkena air Bagian gunung paling bawah Sungai besar Pengetahuan masyarakat mengenai daerah berbahaya masih diaktualisasikan dalam beberapa aktivitas produksi dan reproduksi masyarakat. Beberapa daerah seperti bojong, bobojong, gawir, samira, lamping dan sampalan menunjukkan tempat berbahaya untuk dilakukan aktivitas. Pemahaman terhadap karakteristik elemen penyusun daerah tersebut memberikan pemahaman terhadap penyesuaian aktivitas yang dapat dilakukan. Namun, kondisi saat ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai mengabaikan kearifan tersebut dengan memanfaatkan daerah berbahaya sebagai ruang aktivitas. Dampaknya terjadi bencana seperti longsor dan erosi yang sebenarnya tidak akan terjadi jika aturan adat tetap ditaati. 95   Pengetahuan tentang vegetasi dalam lanskap pertanian ditunjukkan masyarakat dalam pengenalan dan penggunaan istilah atau nama lokal terkait vegetasi. Berdasarkan informasi dari beberapa informan kunci, ditemukan 40 pohon lokal (40 tangkal adam/pituin) yang digunakan dalam pelaksanaan konsep kabuyutan (Tabel 17) Tabel 17. Nama 40 Tangkal Adam Pengisi Kabuyutan No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. Nama Lokal Awi gombong Angsana Angsret Bungbulang Baros Beunying Bintinu Bungur Caringin Cangcaratan Dadap Dangdeur Eurih Gayam Harendong Huru Kawung Kiara Ki beusi Ki ciat Ki hiang Ki hiur Ki hujan Ki kopi Ki lalayu Ki panggang Ki rinyuh Ki saat Ki sampang Ki segel Ki sereh Ki sireum Ki tambaga Ki teja Kiray Loa Mara Seuhang Sempur Waru Nama Latin Gigantochloa verticillata (Willd.) Pterocarpus indicus Willd. Spathodea campanulata Premna tomentosa Willd. Manglietia glauca Ficus fistulosa Reinw. BI. Melochia umbellate Stapf. Lagerstroemia speciosa (L.) Pers. Ficus benjamina Nuclea excels BI. Erythrina variegate L. Gossampinus malabarica Imperata cylindrica Inocarpus fagiferus Malastoma malabatricum Lisea sp. Arenga pinnata L. Ficus annulata BI. Kibessia azzurea BI. Ficus septica Burm. Albizzia procera Benth. Castanopsis javanica BI. Samanea saman Merr. Plectronia dydima Benth. & Hook. Erioglossum rubiginosum Trevesia sundaica Miq. Eupathorium odoratum L. Velariana hardwickii Wall. Evodia latifolia DC. Dillenia excels Gilg. Piper aduncum L. Syzigium acuminatisima Kurz. Eugenia cuprea Machilus rimosa Ness ex BI. Metroxylon sagu Rottb. Ficus sp. Macaranga tanarius (L.) Muell. Arg. Ficus grossularioides Burm. F. Dillenia aurea Smith. Hibiscus similis Sumber: Pengamatan lapang Kelompok Rumput Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Rumput Pohon Semak Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Semak Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon 96   Selain pengetahuan tentang 40 tangkal adam, masyarakat masih mengenal jenis-jenis lalaban tradisional yang menjadi ciri khas dalam masakan Sunda. Lalab sudah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan dan budaya masyarakat Sunda. Bagi masyarakat di perdesaan, lalab memiliki arti tersendiri dalam kehidupan tradisi masyarakatnya. Lalab adalah sumber pangan dari tanaman segar yang berupa bagian daun, pucuk, buah muda, atau biji yang dikonsumsi secara langsung atau dimasak terlebih dahulu. Selain bernilai budaya tinggi, lalab merupakan sumber vitamin, mineral, dan serat bagi kesehatan masyarakat yang mengkonsumsinya. Lalab yang biasa dikonsumsi masyarakat telah tersedia baik dalam agroekosistem kebun-talun, sawah, maupun pekarangan. Jenis tanaman lalab di kebun-talun biasanya merupakan tanaman palawija. Di pekarangan, selain palawija ditemukan pula jenis lalab dari tanaman sayuran dan buah. Masyarakat masih mengenal dan mengkonsumsi lalaban tempo dulu seperti antanan, jotang (Spilanthes calva DC.), sintrong (Erechtites valerinanifolia (Wolf) DC.), kosambi (Schleichera oleosa (Lour.) Oken.), marame (Glochidon borneense (MA) Boerl.), dan daun jambu mete (Anacardium officinele L.). Akibat terjadinya seleksi terhadap jenis tanaman baik secara alami maupun diseleksi oleh masyarakat, jenis lalaban baru mulai dikonsumsi seperti daun singkong (Manihot easculenta Crantz.), daun pepaya (Carica papaya L.), jaat (Psopocarpus tetragonolobus), jengkol (Pithecelobium jiringa), petai (Parkia speciosa Hassk.), leunca (Solanum nigrum L.), daun kemangi (Ocimum bacilicum L.), seladah air (Nasturtium officinale R.Br.), sawi (Brassica oleraceae L.), terung (Solanum melongena L.), tespong (Oenanthe javanica DC.), mentimun (Cucumis sativus L.), buncis (Phaseoulus vulgaris L.), labu siam (Sechium edule (Jacq.) Swartz), dan kacang panjang (Vigna unguiculata sesquipedalis (L.) Verdc.). Pengetahuan tentang tumbuhan dan tanaman lokal di masyarakat dewasa ini mengalami penurunan akibat berkurangnya pemanfaatan terhadap beberapa jenis yang tidak bernilai ekonomi dan tidak enak untuk dikonsumsi secara langsung. Pohon-pohon pituin banyak yang tidak dibudidayakan di lahan pertanian karena kalah bersaing dengan tanaman introduksi seperti sengon, gmelina, dan jati. Jenisjenis lalaban yang tidak dibudidayakan saat ini disebabkan oleh rasa yang kurang enak dan kemudahan memperoleh beberapa jenis lalab di pasaran sehingga 97   masyarakat enggan untuk membudidayakannya. Kondisi tersebut berdampak pada semakin berkurangnya keanekaragaman hayati pertanian di daerah studi. Guna menjaga eksistensi vegetasi lokal perlu dilakukan pembudidayaan kembali jenisjenis lokal dengan pemberdayaan masyarakat mengenai manfaat dan pentingnya menjaga keberadaan dari jenis lokal tersebut. Pengetahuan tentang satwa dalam lanskap pertanian ditunjukkan masyarakat dengan mengenal jenis satwa yang bermanfaat dalam menjaga stabilitas agroekosistem. Masyarakat secara umum mengenal jenis-jenis satwa yang berfungsi sebagai hama, musuh alami hama/predator, pollinator, cultivator, dan fungsi lainnya yang berperan dalam menjaga keberlangsungan lanskap pertanian (Tabel 18). Tabel 18. Ragam Jenis Fungsi Satwa Berdasarkan PET Masyarakat Sunda No. 1. Fungsi Musuh alami (predator) 2. Penyerbuk alami (pollinator) Pengembang biak alami (cultivator) 3. 4. Hama (disease) Sumber: Pengamatan lapang Jenis Satwa celemes (Sundasciurus lowii), bajing/tupai (Tupaia javanica), musang (Paguma larvata), kalong (Pteropus vampyrus), burung hantu putih (tito alba javanica), burung hantu cokelat (Bubo ketupu), kowak (Nyctitorac nyctitorac), elang jawa (Spizaetus bartelsi), prenjak jawa (Prinia familiaris), jalak puyuh (Barred buttonquail), laba-laba pemburu (Lycosa pseudoannulata), kumbang (Coccinellidae), capung (Anisoptera dan Zygoptera), lipan/kelabang (Scolopendra sp.), kutu air (Daphnia), semut (Formisidae), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), blekok sawah (Ardeola speciosa), musang (Verricula malaccensis), careuh (Herpestes javanicus), kalong (Pteropus vampyrus) celemes (Sundasciurus lowii), bajing/tupai (Tupaia javanica), musang (Paguma larvata), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kalong (Pteropus vampyrus), tikus (Ratus argentiventer dan Mus caroli), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), anjing tanah/gang (Grylottalpa africana), kungkang (Leptocorisa acuta), ganjur (Orseolia orizae), kuuk, keong mas (Pomacea canaliculatus), ngengat penggerek batang padi (Scirpophaga incertulas dan S. innotata), wereng cokelat (Nilaparvata lugens), wereng hijau (Nephotettix viresscens), walang sangit (Leptocorisa olaptorius), belalang hijau (Oxya japonica dan Stenocatantops splendens), jangkrik (Gryllotalpa sp.), ulat penggulung daun (Erienota thrax), uret kumbang penggerek bonggol (Cosmopolites sordidus), penggerek batang (Odoiporus logicolis), thrips (Chaetanaphotrips signipennis), dan pipit (Lonchura leucogastroides). 98   Pengetahuan tradisional khas terkait pemahaman terhadap satwa ditemukan di daerah studi dalam hal memanfaatkan tenaga kerbau untuk membajak sawah (ngawuluku). Pengetahuan untuk mengendalikan kerbau agar dapat melakukan pekerjaannya dengan baik tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Sama halnya dengan aktivitas menyadap yang perlu keahlian khusus dan pengetahuan ekologik tradisional yang kuat agar dapat menghasilkan lahang yang banyak dengan kualitas yang terbaik. Dalam aktivitas ngawuluku, pemilik kerbau biasanya menggunakan perintah-perintah yang dapat dimengerti dengan mudah oleh kerbau. Tentu saja interaksi dan komunikasi tersebut telah dilakukan dalam jangka waktu yang lama, sehingga pemiliki kerbau memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kerbau miliknya (Tabel 19) Tabel 19. Ragam Instruksi Petani kepada Kerbau dalam Aktivitas Membajak No. 1. 2. Instruksi Kiya Kalen Keterangan Instruksi petani kepada kerbau untuk berjalan lurus Instruksi petani kepada kerbau untuk berjalan ke samping akibat terlalu lama membajak di satu tempat. 3. Arang Instruksi petani kepada kerbau untuk lebih membajak tempat yang diperintahkan karena terlalu jarang. 4. Mideur Instruksi petani kepada kerbau untuk berputar. 5. Luput Instruksi petani kepada kerbau untuk menundukan kepala karena bajak tidak mengenai tanah. Sumber: Pengamatan lapang Masyarakat petani di daerah studi menggunakan berbagai alat produksi sesuai dengan fungsi dan pemanfaatanya. Beberapa alat pertanian dan senjata tradisional masyarakat Sunda masih digunakan oleh sebagian besar petani. Pemanfaatan alat produksi dan senjata tersebut disesuaikan dengan fungsi dan kebutuhan dari masyarakat. Untuk fungsi memotong dan juga berfungsi sebagai senjata, petani menggunakan congkrang, bedog (golok), arit, gobang (golok panjang), atau parang. Untuk fungsi merapihkan dan membersihkan lahan digunakan pacul (cangkul), wuluku (bajak), gasrok, garu, lalandak, gacok (garpu), atau kored (cangkul kecil). Pengguna dari alat-alat tersebut sebagian besar adalah laki-laki. Bedog, arit, dan kored yang biasa digunakan oleh perempuan dalam aktivitas bertani. 99   Penggunaan alat-alat pertanian trdisional masih dilakukan oleh sebagian besar petani di daerah studi. Namun, perubahan sistem pertanian yang terjadi akibat intervensi program Revolusi Hijau mempengaruhi alat pertanian yang digunakan. Intensifikasi pertanian dengan introduksi varietas padi hibrida jenis IR yang berbatang pendek, merubah cara pemanenan dengan menggunakan arit yang menggantikan fungsi etem (ani-ani). Pengolahan lahan pertanian sawah saat ini lebih banyak memanfaatkan teknologi traktor jika dibandingkan dengan pemanfaatan bajak. Namun, sebagian besar petani masih menganggap hasil olahan yang lebih baik dengan bajak jika dibandingkan dengan traktor. Hal itu didukung pula dengan kondisi fisik lahan yang berteras dan relatif sempit sehingga cukup sulit bagi traktor untuk melakukan pengolahan tanah. Usaha pertanian menjadi sumber nafkah utama bagi masyarakat di perdesaan. Kebergantungan masyarakat pada sumber daya hayati pertanian dalam satuan lahan pertanian telah membentuk lanskap pertanian (agroekosistem) yang khas. Dalam hal pembagian ranah kerja, masyarakat mengenal pembagian kerja untuk aktivitas di ladang, kebun-talun, sawah, maupun pekarangan. Aktivitas masyarakat yang biasa dilakukan pada agroekosistem kebun-talun (Tabel 20) dan agroekosistem sawah (Tabel 21) yang dimulai dari pembukaan lahan, penanaman, hingga pemanenan. Tabel 20. Ragam Aktivitas Pertanian pada Agroekosistem Kebun-Talun dan Pekarangan Berdasarkan PET Masyarakat Sunda ✓ 2. Aktivitas Pertanian di Kebun-talun dan Pekarangan Nama Lokal Keterangan Ngabukbak Membuka lahan hutan untuk dijadikan lahan pertanian (huma, kebun-talun, atau sawah). Ngabaladah Memulai perkerjaan yang sulit (pertanian) 3. Nuar Menebang pohon menggunakan bedog/golok. ✓ 4. Nyacar babad ✓ ✓ 5. Ngahuru Membersihkan lahan menggunakan congkrang atau arit (nyacar) atau menggunakan bedog/golok (babad) untuk siap ditanam. Membakar sisa pohon hasil nyacar atau babad. ✓ ✓ 6. Ngaduruk ✓ ✓ 7. Macul ✓ ✓ 8. Nemprang Membakar sisa semak dan penutup tanah hingga bersih. Mengolah tanah agar mudah ditanami menggunakan cangkul Meratakan tanah setelah dicangkul/dibajak ✓ ✓ 9. Ngarag Membersihkan sisa tanaman yang masih tersisa ✓ No. 1. atau B Alokasi SDM I AL AP ✓ ✓ ✓ ✓ 100  Lanjutan Tabel 20 10. Ngaseuk ✓ Muuhan Membuat lubang menggunakan tongkat kayu (aseuk) Memasukan benih ke dalam lubang 11. 12. Ngamalir Membuat saluran air untuk pengairan/irigasi ✓ ✓ 13. Ngagemuk Memupuk tanaman ✓ ✓ 14. Nyaangan Menyiangi lahan garapan ✓ ✓ ✓ ✓ 15. Ngoyos Menyiangi lahan garapan ✓ ✓ ✓ ✓ 16. Ngored ✓ ✓ ✓ 17. Nyemprot Menyiangi dengan menggunakan kored (cangkul kecil) Membasmi hama dengan menyemprotkan obat ✓ ✓ 18. Tunggu Menunggu lahan agar tidak ada yang mengganggu ✓ ✓ 19. Panen Memetik hasil tanaman ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ Keterangan: B=Bapak; I=Ibu; AL=Anak Laki-Laki; dan AP=Anak Perempuan Tabel 21. Ragam Aktivitas Pertanian pada Agroekosistem Sawah Berdasarkan PET Masyarakat Sunda Aktivitas Pertanian di Sawah Keterangan 1. Mengeringkan air untuk mengolah tanah sawah. 2. Membersihkan sisa-sisa jerami padi. 3. Membersihkan gulma di pematang sawah. 4. Memperbaiki pematang dengan menambahkan lumpur pada permukaannya agar tidak bocor akibat tikus atau kepiting sawah. 5. Macul Mencangkul lahan sawah menggunakan cangkuL. 6. Ngawalajar Mencangkul kasar. 7. Mulihan Mencangkul ulang. 8. Ngangler Menghancurkan tanah menjadi lumpur. 9. Ngacak Membersihkan lahan sawah dari sisa gulma. 10 Nyongkog Mencangkul tanah yang masih menggumpal 11. Ngararata Meratakan tanah sawah. 12. Nyorong Meratakan tanah dengan sosorong. 13. Ngawuluku Membajak lahan sawah menggunakan bajak dengan bantuan tenaga kerbau atau sapi. 14. Ngagaru Menggaruk/menyisir tanah menggunakan garu . 15. Tebar Menebar benih padi pada area pembenihan (pabinihan). 16. Kias Menabur beras pada area pembernihan. 17. Tandur Menanam padi siap tanam 18. Ngarambet Menyiangi sawah pertama setelah usia padi 30 ngabaladah hari. 19. Ngarambet mindo Menyiangi sawah kedua setelah usia padi 50 hari. 20. Ngagerendel/ Menyiangi padi menggunakan batang kayu berpaku (gerendel) 21. Dibuat Memanaen padi Keterangan: B=Bapak; I=Ibu; AL=Anak Laki-Laki; dan AP=Anak Perempuan No. Nama Lokal Nyaatkeun cai Babad jarami Babad galeng Mopok galeng B ✓ ✓ ✓ ✓ Alokasi SDM I AL AP ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ 101   Pembagian ranah kerja dalam mengelola agroekosistem kebun-talun, pekarangan, dan sawah, peran seorang bapak masih mendominasi dari keseluruhan aktivitas. Peran bapak banyak dibutuhkan dalam pekerjaan tergolong berat seperti pmbukaan lahan dan pengolahan tanah. Aktivitas tersebut biasa dibantu oleh anak laki-laki untuk sekedar nyacar, ngahuru, ngaduruk, atau macul. Peran ibu dan anak perempuan banyak dibutuhkan dalam aktivitas kategori sedang dan ringan seperti ngarag, muuhan, nyaangan, ngoyos, ngored, dan panen. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam pengelolaan sumber daya pertanian, tidak ada perbedaan dalam hal keterlibatan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan terjadi dalam hal bobot pekerjaan dan intensitas curahan waktu kerja. Laki-laki memiliki porsi lebih besar dalam dua hal tersebut jika dibandingkan perempuan (Fausia dan Prasetyaningsih, 2005). Namun jika dilihat dari jumlah jenis pekerjaan, perempuan memiliki jumlah pekerjaan lebih banyak daripada laki-laki. Proses setelah pembukaan lahan hingga panen banyak dilakukan oleh perempuan. Hal tersebut menunjukkan bahwa peran perempuan memiliki kontribusi positif terhadap keberlangsungan usaha pertanian. Selain itu, keikutsertaan anak dalam setiap proses pengelolaan merupakan cara efektif dalam sosialisasi usaha produski maupun reproduksi keluarga petani. Namun, banyaknya migrasi golongan usia muda ke kota berakibat terkendalanya proses sosialisasi tersebut. Pentingnya proses regenerasi perlu didukung upaya sosialisasi pentingnya keberlanjutan usaha pertanian di perdesaan sehingga dapat mengurangi kehilangan generasi muda di perdesaan. Pengetahuan lain yang menjadi kekayaan budaya masyarakat di daerah studi adalah pemahaman terhadap sistem ukur dan sistem hitung. Sistem ukur yang digunakan masyarakat, ditentukan berdasarkan ukuran dari anggota tubuh manusia (Tabel 22). Pengetahuan mengenai sistem ukur tersebut digunakan masyarakat dalam pengukuran lahan pertanian. Sistem ukur tradisional masih dikenal dan dipergunakan dalam inventarisasi dan transaksi terkait lahan. keberlanjutan pengetahuan ekologi tradisional tersebut dapat dipertahankan dengan sosialisasi terpadu pada generasi muda untuk terus menggunakannya dalam aktivitas kemasyarakatan. 102  Tabel 22. Ragam Sistem Ukur Berdasarkan PET Masyarakat Sunda. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11 Nama Lokal Satumbak Sabata Samil Saareu Sahektar Sakaki Saelo Saicak Sajeujeuh Satampah Sajeungkal 12. Sadeupa Keterangan 3.77 m 14 m2 1.5 km 100 m2 100 are/500 bata 30 cm 0.75 m 0.75 m2/saelo pasagi Sepanjang telapak kaki orang dewasa Sepanjang telapak tangan orang dewasa Sepanjang ujung jari jempol hingga ujung jari kelingking, kirakira 20 cm Sepanjang ujung jari tangan kanan hingga ujung jari tangan kiri, kira-kira 1.60 m Sumber: Pengamatan lapang Sistem hitung yang digunakan berdasarkan perhitungan barang tertentu. Perhitungan digunakan masyarakat dalam aktivitas produksi, konsumsi, dan distribusi produk pertanian. Sistem perhitungan dalam aspek pertanian dibedakan menjadi sistem hitung pertanian secara umum (Tabel 23) dan pertanian sawah (Tabel 24). Tabel 23. Ragam Sistem Hitung Objek Pertanian Secara Umum Berdasarkan PET Masyarakat Sunda No. A. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nama Lokal Keterangan Hitungan produksi pertanian umum Saleunjeur/Sadapur Hitungan untuk bambu (awi) Sakeben Hitungan untuk tembakau (bako) Sasihung Hitungan untuk bawang Sailab Hitungan untuk anyaman bambu (bilik) Sakeclak Hitungan untuk air (cai) Saturuy/Sasikat Hitungan untuk pisang (cau) Saponggol/Salembar Hitungan untuk daun pisang (daun cau) Sajalon Hitungan untuk rumput (eurih) Sagandu/Sabonjor Hitungan untuk gula merah/aren (gula kawung) 10 Sakakab Hitungan untuk injuk (ijuk) 11. Samanggar Hitungan untuk pinang (jambe) dan kelapa (kalapa) 13. Sarakit Hitungan untuk kerbau (munding) 15. Sanyamplung Hitungan untuk nangka 16. Sapapan Hitungan untuk petai (peuteuy) 17. Saranggeuy/Saganci Hitungan untuk padi (pare) 18. Sacanggeum Hitungan untuk beras (beas) 19. Sapiring/Saboboko Hitungan untuk nasi (sangu) 20 Sakotak Hitungan untuk sawah 21. Sabebek/Sateukteuk Hitungan untuk kayu bakar (suluh) 22. Sajodo Hitungan untuk ayam atau merpati 23. Samanggar Hitungan untuk salak Sumber: Pengamatan lapang Hitungan Umum Satu cetakan 1-2 kg Satu siung 2 x 2,5 m/2,5 x 3 m Satu tetes 20-15-10 kg/3-5 kg Satu pelepah Satu ikat atap (L=1 m) Satu cetakan/10 gandu Satu pepalah 50 kg atau lebih Dua ekor Satu buah Satu ruas Satu kali arit Satu genggam Satu piring Satu petak Satu buah Dua ekor Satu tangkai 103   Tabel 24. Ragam Sistem Hitung Pertanian Sawah Berdasarkan PET Masyarakat Sunda No. Nama Lokal 1. Saranggeuy 2. Sapocong/Saeundan 3. Sageugeus/Sagedeng 4. Sabawon 5. Sasangga 6. Salajer 7. Sacaeng 8. Satanggung 9. Saundem 10. Samadea 11. Sakati 12. Sagantang 13. Saleter 14. Saemud 15 Sakulak 16. Sapikul/Sadacin Sumber: Pengamatan lapang Keterangan Satu genggam padi Satu ikat padi Dua pocong Empat pocong Lima geugeus Empat sangga/dua puluh geugeus 40 sangga/10 lajeur/empat tanggung/200 geugeus 50 geugeus Ukuran beras yang diukur dengan tempurung kelapa 100 geugeus/setengah caeng Berat sekitar 817.5 gram Lima kati/10 undem Satu liter (1 dm3) Satu liter lebih Ukuran beras sekitar 2.5 kg Ukuran bangsal sekitar 62.5 kg/100 kati Pengetahuan terhadap waktu diaktualisasikan oleh masyarakat dalam penggunaan sistem waktu yang ditentukan berdasarkan musim (Tabel 25). Sistem waktu yang hingga saat ini masih digunakan oleh sebagian besar masyarakat erat kaitannya dengan aktivitas produksi dan reproduksi masyarakat petani. Dengan memahami beberapa ukuran waktu tersebut dapat menjadi tanda bagi ragam aktivitas masyarakat pertanian. Tabel 25. Ragam Ukuran Waktu Berdasarkan PET dalam Masyarakat Sunda No. Nama Lokal 1. Mamareng 2. Usum ngijih 3. Dangdangrat 4. Usum katiga/halodo B. Terkait pertanian 1. Usum nyambut 2. Usum tandur 3. Usum ngarambet/ngoyos 4. Usum celetu 5. Usum rampak 6. Usum panen 7. Usum nyacar 8. Usum ngahuru 9. Usum ngaduruk 10. Usum ngaseuk 11. Usum ngored 12. Usum dibuat Sumber: Pengamatan lapang Keterangan Awal musim hujan Musim hujan, setiap hari basah Musim hujan yang diselang musim kemarau Musim kemarau Musim pertama menggarap sawah Musim menanam padi Musim merawat/menyiangi sawah Musim padi mulai berbuah Musim padi sudah berbuah Musim panen padi Musim membuka lahan untuk ladang/kebun Musim membakar pohon hasil nyacar Musim membakar sisa ngahuru Musim menanam padi huma/ladang/kebun Musim merawat/menyiangi ladang/kebun Musim panen padi huma/hasil kebun 104  Pemahaman masyarakat terhadap ruang dan waktu pada agroekosistem terlihat pula dalam mengenal penanda alam yang dijadikan pedoman dalam menjalankan aktivitas pertanian. Namun demikian, dengan perubahan sistem pertanian di beberapa agroekosistem, keberadaan pengetahuan lokal masyarakat terkait perhitungan musim semakin ditinggalkan bahkan dilupakan. Beberapa informan kunci ahli pertanian (mantra tani) menyampaikan bahwa masyarakat masih menggunakan perhitungan musim berdasarkan perbintangan (pabentangan) hingga akhir tahun 1970. Setelah dideklarasikannya program Revolusi Hijau, lambat laun kebudayaan bertani tradisional tersebut semakin ditinggalkan. Pengetahuan ekologik tradisional tersebut dikenal masyarakat sebagai pranata mangsa. Pranata mangsa yang dikenal masyarakat memiliki kesamaan dengan pronoto mongso yang dipakai oleh masyarakat jawa pada umumnya. Pengaruh Mataram yang pernah menguasai Tatar Sunda cukup kuat mempengaruhi pengetahuan masyarakat dalam menentukan kalender pertanian. Secara umum masyarakat di daerah studi menyusun kalender pertanian berdasarkan gejala alam yang dipelajari secara terus-menerus sehingga menghasilkan pengetahuan tentang musim yang diperlukan dalam pelaksanaan usaha pertanian (pranata mangsa). Sebagai dasar dalam menentukan musim, masyarakat menggunakan keadaan dan jalannya bintang-bintang tertentu. Hal yang diperhatikan masyarakat adalah keadaaan matahari dengan melihat bayangan manusia. Bayangan manusia yang jatuh di sebelah utara menandakan musim hujan akan segera mulai. Kondisi tersebut biasanya terjadi mulai bulan September hingga permulaan bulan Maret. Kondisi sebaliknya ketika bayangan jatuh di sebelah selatan menandakan hujan semakin berkuran dan musim kemarau akan segera mulai. Kondisi tersebut terjadi pada bulan Maret hingga September. Selain dengan melihat pergerakan matahari, masyarakat memanfaatkan kemunculan bintang waluku (orion) sebagai penanda dimulainya penggarapan lahan. Bintang waluku dipercayai sebagai penanda musim oleh masyarakat karena melihat gugusan bintang seperti bentuk bajak. Tanda yang ditunjukkan oleh bintang waluku adalah ketika kemunculannya yang terang pada sore hari yang menandakan penggarapan lahan harus segera dimulai. 105   Berdasarkan pemahaman terhadap gejala-gejala alam tersebut, masyarakat menyusun waktu dalam satu tahun menjadi 12 musim. Dalam sejarahnya, Sri Susuhunan Pakubuwana VII melakukan penyetaraan pranata musim pada tahun 1885 M di Solo. Penyetaraan dilakukan agar masyarakat memiliki persamaan pandangan dan susunan mengenai musim. Dengan adanya pengaruh Mataram di wilayah Tatar Sunda, mempengaruhi penamaan pranata mangsa yang dilakukan oleh masyarakat. Dampaknya, pembagian mangsa yang masih diketahui masyarakat menggunakan bahasa Jawa (Tabel 26). Tabel 26. Ragam Penciri Waktu (Mangsa) Berdasarkan PET Masyarakat Sunda No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Waktu (Mangsa) Kasa (22 Juni-2 Agustus /41 hari) Karo (2 Agustus-26 Agustus/23 hari) Katelu (26 Agustus-19 September/24 hari) Kapat (19 September13 Oktober/25 hari) Kalima (13 Oktober-9 November/27 hari) Kanem (9 November22 Desember/43 hari) Kapitu (22 Desember-3 Februari/43 hari) Kawolu (3 Februari-1 Maret/27 hari) Kasanga (1 Maret-26 Maret/25 hari) 10. Kasepuluh (26 Maret19 April/24 hari) 11. Desta (19 April-12 Mei/23 hari) 12. Sadha (12 Mei-22 Juni/41 hari) Sumber: Pengamatan lapang Keterangan Pohon mulai meranggas, tanah mulai mongering, serangga mulai bertelu, mata air mulai mengering, dan petani memulai penanaman palawija di sawah. Tanah mengering dan palawija mulai tumbuh di sawah. Tanaman palawija berbunga dan berbuah dan tanaman lain mulai tumbuh (gadung, bambu, dsb.). Palawija mulai dipanen, mata air kering, burung mulai bersarang, pohon randu berbuah, gadung dan bambu Daun muda pohon asam mulai tumbuh, ular mulai keluar, mangga mulai masak, dan petani mulai menanam di huma serta persiapan penanaman di sawah. Buah rambutan, durian, dan manggis mulai masak, dan petani mulai menanam padi di sawah. Burung mulai sulit menemukan makanan serta penanaman padi terus dilaksanakan sehingga tidak sampai melebihi akhir bulan musim. Serangga mulai bermunculan (kumbang, kunang-kunang, dsb.), padi mulai menghijau, jagung di huma mulai dipanen, dan burung tenggerek mulai berkicau. Buah duku, gandaria, jeruk mulai masak, dan padi huma juga padi sawah mulai menguning Burung mulai ramai membuat sarang dan padi huma juga padi sawah mulai dipotong. Burung mulai mengerami telurnya dan petani sibuk memanen padi baik di huma maupun di sawah. Buah-buahan mulai masak, padi sawah selesai dipanen, dan petani mulai mempersiapkan mengolah lahan untuk palawija. Pemahaman masyarakat pertanian terhadap berbagai gejala alam dan lingkungan yang terjadi secara berulang, telah melahirkan pengetahuan ekologi tradisional yang bernilai arif dan bijaksana terhadap alam dan lingkungannya. manfaat dari pranata mangsa telah dirasakan oleh masyarakat dalam berbagai aktivitas pertanian sehingga mampu menjadikan usaha pertanian sebagai tumpuan 106  hidup. Namun, adanya perubahan sistem pertanian berdampak pada hilangnya kearifan masyarakat yang menyebabkan rapuhnya aspek pertanian dalam menopang kebutuhan masyarakat. Besarnya manfaat dari pranata mangsa perlu diberdayakan kembali dengan merevitalisasi makna dan fungsinya untuk keberlanjutan usaha pertanian. 4.1.4. Intervensi Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Pertanian Sunda Parahiyangan Sumber daya pertanian yang terdapat di daerah studi merupakan aset alam yang sangat bernilai untuk perkembangan sosial-ekonomi maupun spiritualbudaya masyarakat. Sebagai sumber daya milik bersama yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja berpotensi menimbulkan konflik jika tidak dilakukan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan secara adil dan bijaksana. Negara (dalam hal ini pemerintah) dengan landasan hukum yang kuat dalam undang-undang, keputusan menteri, peraturan pemerintah hingga atribut hukum yang lebih bersifat lokal memiliki kekuasaan penuh dalam pengelolaan sumber daya. Peranan pemerintah yang diimplementasikan dalam kebijakan berpotensi menghasilkan sistem pengelolaan yang adil dan bijaksan jika dilakukan sesuai dengan amanat hukum yang berlaku. Daerah studi sebagai bagian integral dari satuan Wilayah Sungai Citanduy telah merasakan beragam implementasi kebjikan dari pusat dalam upaya pengelolaan daerah aliran sungai Citanduy (DAS Citanduy). Berbagai program rehabilitasi lahan dan pengembangan masyarakat di sekitar DAS Citanduy telah dilakukan pemerintah melalui peranan lembaga di masing-masing tingkat pemerintahan. Program yang dilakukan di daerah studi, di antaranya, adalah program Pelestarian Hutan Tanah Air (PHTA) pada tahun 1976/1977 yang merupakan instruksi presiden untuk menyediakan bantuan penghijauan di kawasan DAS Citanduy. Tahun 1982/1983 daerah studi menerima intervensi Proyek Penghijauan dan Reboisasi Nasional Pelita V. Proyek tersebut merupakan instruksi presiden yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas DAS Citanduy melalui program Unit Percontohan Usaha Pelestarian Sumber Daya Alam (UP-UPSDA). Program tersebut berupa instensifikasi lahan secara tepat dan sesuai dengan upaya 107   konservasi tanah dan air (KTA). Ragam kegiatan sebagai pendukung tercapainya tujuan dari program yang diusung, dilakukan oleh lembaga-lembaga mulai dari tingkat nasional (BRLKT/BPDAS Cimanuk-Citanduy) hingga tingkat regional (BPSDA Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan). Adapun di tingkat lokal, dijalankan oleh lembaga pemerintahan kecamatan dan desa. Selain program yang terkait langsung dengan upaya konservasi tanah dan air di DAS Citanduy, masyarakat merasakan pula program Revolusi Hijau yang telah berlangsung sejak 1950. Dengan adanya program tersebut, masyarakat dapat merasakan manfaat dari introduksi pengetahuan dan teknologi baru dalam pengelolaan sumber daya pertanian, meskipun pada dasarnya masyarakat telah memiliki pengetahuan dan teknologi tersebut. Pengetahuan dan teknologi yang diterima masyarakat, di antaranya, adalah pembuatan dan pengelolaan teras gulud dan teras tangga beserta saluran pembuangan air (SPA), dan usaha tani yang mengkombinasikan tanaman pertanian, kehutanan, dan peternakan. Namun, bukti dilapangan menunjukkan hasil yang belum maksimal. Kerusakan sumber daya pertanian semakin serius terjadi di daerah studi khususnya dan umumnya di kawasan DAS Citanduy. Ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan pupuk, pestisida, herbisida, dan sarana produksi lain yang tidak sesuai dengan upaya konservasi agroekosistem, dirasakan masyarakat sebagai dampak negatif dari program tersebut. Degradasi sumber daya pertanian yang terus berlangsung hingga dewasa ini disebabkan oleh berbagai hal. Salah satunya adalah kebijakan pemerintah belum memberikan ruang lebih bagi masyarakat melalui kelembagaan lokal untuk berperan serta dalam upaya pengelolaan sumber daya pertanian. Kuatnya intervensi dari pihak pemerintah dalam penentuan kebijakan hingga pelaksanaan di lapangan, menyebabkan ruang partisipasi masyarakat semakin sempit. Kegagalan pelaksanaan program menuntut adanya model pengelolaan yang lebih partisipatif dengan memberi ruang lebih bagi masyarakat untuk menggunakan pengetahuan ekologi tradisionalnya dalam mengelola alam dan lingkungan secara adil dan bijaksana. 108  4.2. Karakterisasi Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Lanskap pertanian Sunda Parahiyangan yang terbentuk sebagai hasil interaksi masyarakat pertanian dengan alam dan lingkungannya memiliki karakteristik ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya yang khas. Beragam elemen pembentuk lanskap dengan bentuk dan ciri khasnya menunjukkan kesatuan pola yang utuh dan unik jika dibandingkan dengan lanskap pertanian lainnya. Elemen pembentuk lanskap pertanian tersebut mencakup aspek ekologi yang terdiri dari unsur tanah dan topografi, hidrologi, iklim, vegetasi dan satwa, serta pola penggunaan lahan (land use). Aspek sosial-ekonomi mencakup unsur kependudukan, organisasi sosial, sistem mata pencaharian, dan infrastruktur. Aspek spiritual-budaya terdiri dari unsur sejarah, spiritual, dan budaya masyarakat. Sebagai faktor luar yang mempengaruhi karakteristik lanskap pertanian Sunda Parahiyangan, intervensi kebijakan pemerintah memiliki peran yang sangat penting. Berdasarkan kajian karakteristik pada masing-masing unsur dapat diketahui bahwa faktor fisik/ekologi pembentuk karakteristik lanskap menunjukkan pola unit lanskap pertanian dengan tipe karakter pegunungan. Karakter tersebut muncul dari bentuk elemen-elemen penyusunnya yang mencerminkan elemen penyusun lanskap pegunungan. Tanah litosol, regosol, latosol, dan andosol merupakan jenis tanah khas daerah pegunungan vulkanik. Ciri khas tanah yang mudah tererosi, tetapi dapat menjadi penyimpan air yang efektif jika berasosiasi dengan elemen lanskap lainnya sangat mendukung karakteristik pegunungan. Kesuburan jenis tanah di daerah studi berpotensi mendukung aktivitas usaha pertanian. Namun, tanpa didukung ketersediaan sumber daya air yang cukup potensi tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian, hubungan mutual antara tanah dan air perlu diasosiasikan secara terpadu. Topografi menjadi elemen lanskap yang erat kaitannya dengan pola pemanfaatan lahan khususnya di kawasan pegunungan. Ragam bentuk lahan (landform) yang menyusun topografi terdiri dari lahan datar hingga sangat curam. Masing-masing bentuk lahan memiliki syarat kesesuaian penggunaan dan daya dukung. Pemanfaatan lahan ideal perlu menyesuaikan dengan syarat kesesuaian 109   dan daya dukung agar tidak terjadi degradasi lahan. Erosi merupakan salah satu dampak yang sering terjadi di kawasan pegunungan akibat ketidaksesuaian penggunaan lahan atau pemanfaatan lahan yang melebihi daya dukungnya. Topografi di kawasan pegunungan erat kaitannya dengan ketersediaan sumber daya air. Hal tersebut menjadi faktor lain yang menentukan bentuk pemanfaatan lahan. Air yang bersumber dari hujan akan mudah ditangkap dan ditahan pada topografi yang datar atau cekung. Sebaliknya, air akan mudah hilang pada topografi yang landai hingga curam. Asosiasi kondisi tanah dan bentuk topografi di daerah studi dengan sumber daya pengairan utama berupa hujan mengakibatkan sulitnya air tertahan di kawasan pegunungan tanpa adanya upaya penangkapan sumber daya air. Air akan mudah hilang karena porositas tanah yang cukup besar dengan kondisi kecuraman lereng yang lebih memudahkan hilangnya air permukaan. Kondisi tersebut cukup menyulitkan dalam pembangunan irigasi teknis untuk membantu pengairan bagi usaha pertanian. Iklim, sebagai unsur yang terjadi secara alami dan sulit untuk dilakukan rekayasa oleh petani, memberikan kondisi yang ideal untuk usaha pertanian. Curah hujan sebagai penyuplai sumber daya air utama di kawasan pegunungan memiliki peranan sangat vital. Unsur iklim lainnya seperti suhu, kelembaban nisbi, dan lama penyinaran matahari berperan penting dalam membantu pertumbuhan optimal tanaman pertanian. Tanaman sebagai bagian dari keanekaragaman hayati yang dibudidayakan berperan penting dalam keberlangsungan agroekosistem. Selain untuk dimanfaatkan hasilnya, tanaman dapat membantu dalam upaya konservasi air dan tanah. Keberadaan tanaman dalam agroekosistem, terutama jenis pohon, dapat menjadi penjaga stabilitas air dan tanah. Tanaman membutuhkan air dan tanah untuk hidup. Selama tanaman mengalami proses pertumbuhan, secara alami perakaran tanaman membantu menyusun struktur tanah yang lemah menjadi kuat dibantu oleh air yang mengisi pori-pori tanah (Arsyad, 2010). Dengan demikian, tanaman dapat terus tumbuh secara optimal, tanah akan menjadi subur dan tidak mudah tererosi, dan air dapat bertahan lebih lama di sekitar perakaran. Hubungan mutualistik tersebut perlu dipertahankan untuk menjaga stabilitas lingkungan secara alami. 110  Hubungan integral antarunsur pembentuk aspek fsik/ekologi dipahami oleh petani sebagai satu kesatuan sistem ekologi pertanian (agroekosistem). Petani menginterpretasikannya dalam beragam pola penggunaan lahan yaitu agroeksosistem kebun-talun, sawah, dan pekarangan di kawasan permukiman. Pembentukan ragam agroekosistem tersebut dipengaruhi oleh keberadaan sumber daya air yang dipercaya masyarakat Sunda sebagai unsur utama kehidupan makhluk hidup. Agroekosistem kebun-talun merupakan hasil persepsi dan preferensi masyarakat terhadap kurangnya ketersediaan sumber daya air pada lahan pertaniannya, sedangkan agroekosistem sawah dibentuk karena kelimpahan sumber daya air. Namun, usaha padi sawah yang dilakukan masyarakat bukan menjadi ciri khas dari masyarakat Sunda melainkan hasil intervensi Mataram. Agroekosistem huma merupakan sistem usaha padi ladang yang saat ini sudah tidak dibudidayakan oleh masyarakat di daerah studi. Padi huma dibudidayakan tanpa kebergantungan pada keberadaan air sehingga sesuai dengan kondisi lahan di kawasan pegunungan yang miskin air permukaan. Agroeksistem pekarangan di daerah studi sebagai ruang bertani dalam skala keluarga, banyak dibudidayakan tanaman lahan kering. Berdasarkan hal tersebut, sebagian besar agroekosistem yang dibentuk oleh masyarakat Sunda parahiyangan termasuk ke dalam usaha pertanian lahan kering. Dewasa ini, masyarakat di daerah studi merasakan semakin menurunnya sumber daya air baik kualitas maupun kuantitasnya. Degradasi sumber daya air di daerah studi sebagian besar disebabkan oleh tingginya konversi lahan di daerah gunung. Air menjadi isu sentral dalam permasalahan lingkungan karena air merupakan sumber alam utama yang dipercaya masyarakat sebagai sumber kehidupan. Aktivitas sosial-ekonomi primer dan sekunder yang bergantung pada produkstivitas usaha pertanian tidak dapat berjalan optimal jika tidak didukung oleh kondisi sumber daya air yang optimal. Secara budaya, masyarakat Sunda dikenal sebagai urang cai (orang air) karena keterikatan kultural yang sangat kuat dengan air dan urang gunung (orang gunung) sebagai manifestasi ruang bagi sumber daya air. 111   Intervensi kebijakan pemerintah yang dilakukan pada masyarakat di daerah studi lebih terfokus pada upaya konservasi air dan tanah. Dimulai dari program Pelestarian Hutan Tanah Air (PHTA) pada tahun 1976/1977 yang merupakan instruksi presiden untuk menyediakan bantuan penghijauan di kawasan DAS Citanduy. Selanjutnya tahun 1982/1983 berupa intervensi Proyek Penghijauan dan Reboisasi Nasional Pelita V. Proyek tersebut merupakan instruksi presiden yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas DAS Citanduy melalui program Unit Percontohan Usaha Pelestarian Sumber Daya Alam (UP-UPSDA). Program terakhir adalah program Citanduy I dan II yang menekankan kepada upaya konservasi tanah dan air dengan intensifikasi usaha pertanian. Dengan melihat hasil kajian karakteristik elemen-elemen pembentuk lanskap pertanian Sunda Parahiyangan, dapat ditentukan bahwa air merupakan elemen utama yang mempengaruhi karakter lanskap pertanian Sunda Parahiyangan. Aspek fisik dengan unsur-unsurnya berasosiasi positif dengan sumber daya air. Begitu pula aspek sosial-ekonomi yang erat kaitannya dengan keberadaan sumber daya air. Aspek eksternal berupa intervensi yang mempengaruhi pembentukan lanskap pertanian di kawasan Sunda Parahiyangan sebagian besar fokus pada pemecahan masalah air dan tanah. Kondisi ini pula yang memperkuat status orang Sunda secara spiritual-budaya sebagai urang cai dan urang gunung. Dengan demikian, karakteristik lanskap pertanian Sunda Parahiyangan membentuk tipe karakter lanskap pertanian pegunungan dengan sistem pertanian yang dijalankan berupa pertanian lahan kering dan sumber daya air sebagai elemen penyusun utama lanskap pertanian. 4.3. Analisis Keberlanjutan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Analisis keberlanjutan lanskap pertanian dilakukan terhadap aspek fisik yang menjadi objek serta aspek masyarakat yang merupakan subjek dalam pengelolaan lanskap pertanian. Analisis fisik merupakan penilaian terhadap sumber daya fisik lanskap pertanian pembentuk satuan lahan yang berpengaruh terhadap potensi penggunaan lahan. Penilaian dilakukan terhadap lingkungan fisik yaitu tanah, topografi, unsur iklim, air, vegetasi, satwa, termasuk didalamnya produk kebudayaan masyarakat. 112  Beragam masalah lingkungan yang bersumber dari air dirasakan masyarakat hingga dewasa ini. Kurangnya air di saat musim kemarau atau kelebihan air sesaat pada saat musim hujan karena menurunnya kapasitas tanah dalam menampung air limpahan, menjadi permasalahan yang belum ditemukan solusinya secara holistik. Kelangkaan dan rendahnya kualitas air semakin dirasakan masyarakat sejak dibukanya kawasan hutan menjadi lahan perkebunan kopi pada tahun 2007. Pembukaan lahan dalam skala besar berdampak pada tingginya tingkat erosi yang diikuti hilangnya lapisan subur tanah. Berdasarkan kajian terhadap aspek ekologi, permasalahan lingkungan yang terjadi dipengaruhi oleh kondisi aktual dari elemen penyusun lanskap. Tingkat kecuraman lereng yang beragam dengan kondisi tanah yang berporositas tinggi menyebabkan air mudah hilang. Kondisi curah hujan maksimal tanpa didukung kemampuan daya serah dan jerap tanah terhadap air yang tinggi, tidak dapat mengoptimalkan pemanfaatannya. Pengetahuan ekologi tradisional masyarakat memberikan solusi terbaik dengan pemanfaatan vegetasi sebagai alat pengontrol stabilitas air dan tanah. Pohon yang ditanam di dataran tinggi memiliki kemampuan konservasi air dan tanah yang optimal. Keberadaan pohon dapat memaksimalkan pemanfaatan air hujan yang menjadi sumber daya air utama di daerah studi. Pengairan hujan mampu merangsang akar untuk menyusun zona perakaran yang lebih luas dan dalam (Darwis, 2004). Dengan sistem perakaran tersebut, pohon dapat menyerap dan menjerap air secara optimal sehingga dapat menjaga debit air tanah dan konstruksi tanah. Jenis pohon atau tanaman yang dapat dibudidayakan untuk ditanam di daerah hulu dapat disesuaikan dengan fungsi yang diharapkan. Namun, pemenuhan fungsi konservasi perlu diupayakan oleh setiap pola pemanfaatan. Dengan demikian, upaya konservasi daerah utama tangkapan air (water catchment area) dapat dilakukan secara terpadu baik pada agroekosistem kebun-talun, sawah, dan pekarangan di kawasan permukiman. Secara budaya perlu dibudidayakan kembali 40 tangkal adam yang dipercayai masyarakat sebagai vegetasi lokal (pituin) yang mampu menjaga stabilitas lingkungan. 113   Berdasarkan perspektif sosial-kemasyarakatan, kerusakan lingkungan di kawasan pertanian di perdesaan dipengaruhi oleh persepsi, preferensi, sikap, serta perilaku masyarakat. Tingkat persepsi dan preferensi terkait erat dengan tingkat pendidikan masyarakat. Data profil desa menunjukkan tingkat pendidikan yang rendah (Tabel 11). Sebagian besar masyarakat yang hidup menetap di desa hanya berpendidikan hingga tingkat sekolah dasar. Rendahnya tingkat pendidikan di daerah studi banyak dipengaruhi oleh kurangnya biaya untuk kebutuhan pendidikan, serta adanya persepsi yang masih kuat di masyarakat yang menganggap tidak perlunya pendidikan formal. Kondisi tersebut menyebabkan distribusi informasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang terkait dengan pemanfaatan lahan lestari mengalami kendala. Kasus di atas membuka fakta lain bahwa faktor ekonomi memiliki peranan vital dalam proses ketidakseimbangan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan. Prasodjo (2005) menegaskan bahwa motif ekonomi akan mempengaruhi persepsi, preferensi, sikap hingga perilaku masyarakat dalam merespon kebutuhannya terhadap alam dan lingkungannya. Aktivitas yang ekstraktif, produktif, atau konservatif terhadap alam dan lingkungan akan dilakukan masyarakat selama mampu memenuhi kebutuhan ekonomi. Di tengah kuatnya arus modernisasi yang lebih menekankan pada pemenuhan fungsi ekonomi, masyarakat perdesaan memiliki pengetahuan ekologik tradisional dalam memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungan pertanian secara lestari. Kearifan lokal sebagai cerminan pengetahuan tradisional masyarakat yang masih melembaga di daerah studi adalah sikap dan perilaku kekeluargaan sebagai aktualisasi dari ungkapan silih asih, silih asah, dan silih asuh. Persepsi dan preferensi masyarakat yang menganggap sumber daya alam dan lingkungan merupakan milik bersama mempengaruhi pemanfaatan dengan pertimbangan keuntungan bersama. Peran ajengan/kyai sebagai tokoh masyarakat sangat dibutuhkan untuk mengakomodasi beragam harapan dan kebutuhan masyarakat. Akomodasi disesuaikan dengan kondisi sumber daya lahan guna memperoleh manfaat optimal tanpa mengurangi kemampuan lahan. Pranata religius (religious institution) yang diemban oleh para ajengan/kyai telah memberikan dampak positif terhadap proses 114  distribusi informasi dan sosialisasi. Hal tersebut telah memunculkan nilai sosialekologi yang menunjukkan kekuatan spiritual-budaya masyarakat (spiritualcultural survival) yang berdampak pada kehidupan masyarakat yang merasa senang dan puas karena memperoleh kesesuaian dan keselarasan dalam hubungan mutual dengan alam berdasarkan kebudayaan yang dijalankan, meskipun kenyataannya dalam kondisi serba susah (Jayadinata dan Pramandika, 2006). Berdasarkan analisis tersebut, dapat dipahami bahwa pendidikan sebagai media distribusi informasi menjadi hal penting dalam membina masyarakat. Kondisi ideal masyarakat dengan tingkat pendidikan yang tinggi dapat dicapai dengan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan baik pendidikan agama dan umum. Pendidikan agama sebagai penyeimbang dapat diakomodasi dengan keberadaan pesantren. Sedangkan pendidikan umum sebagai gerbang informasi ilmu pengetahuan empirik dapat diakomodasi dengan adanya pendidikan formal dari tingkat sekolah dasar, menengah, hingga tinggi. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di daerah studi banyak disebabkan oleh permasalahan finansial. Sumber finansial utama keluarga petani berasal dari hasil produksi pertanian. Kondisi aktual menunjukkan rendahnya pendapatan finansial diakibatkan keterbatasan kepemilikan lahan garapan. Lahan sebagai modal utama bagi petani dapat diakomodasi oleh pemerintah dengan melakukan konsolidasi lahan. Upaya tersebut dapat dilakukan secara menyeluruh dengan membagi lahan kepada seluruh keluarga petani, atau hanya menyediakan lahan pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan minimal seluruh masyarakat dalam satu dusun. Sebagai contoh untuk memenuhi kebutuhan pangan utama berupa beras bagi masyarakat, pemerintah dapat mengalokasikan lahan pertanian sawah minimal untuk ketahanan pangan mandiri seluas 11,7 hektar. Luas lahan tersebut dibutuhkan untuk mengakomodasi masyarakat dengan asumsi kebutuhan beras masyarakat sebesar 113 kg/kapita/tahun (BPS, 2011). Kebutuhan beras untuk memenuhi kebutuhan total penduduk dusun dengan rata-rata berjumlah 500 jiwa adalah sebesar 56.500 kg/tahun. Hasil tersebut dihitung dengan asumsi lain berupa pemanfaatan optimal untuk konsumsi beras tanpa pemanfaatan lain seperti penyediaan benih atau digunakan untuk bahan baku industri, faktor eksternal lain 115   seperti pengaruh iklim, hama dan penyakit, penyusutan berat dalam proses penggilingan diabaikan, serta asumsi produksi rata-rata padi 5.000 kg per hektar. Jika dalam satu tahun dapat dilakukan dua kali panen, maka masyarakat akan memperoleh surplus padi 100% dari hasil produksi untuk konsumsi primer. Dengan ketersediaan lahan pertanian tersebut, petani dapat mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya untuk memproduksi hasil pertanian yang optimal. Hasil produksi selain untuk dikonsumsi oleh keluarga petani, kelebihan (surplus) produksi dapat diperdagangkan. Keuntungan penjualan dapat dialokasikan untuk membiayai pendidikan sehingga keluarga petani memperoleh akses untuk mendapat ilmu pengetahuan. Manfaat dari terpenuhinya kebutuhan pendidikan dengan bertambahnya pengetahuan tentang pengelolaan alam dan lingkungan secara lestari, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memahami keberlanjutan alam dan lingkungannya. Berdasarkan hasil analisis dengan kriteria penilaian NRC, daerah studi memiliki nilai keberlanjutan cukup tinggi untuk mendukung usaha petanian di setiap agroekosistem. Kondisi sumber daya pertanian yang tersedia dapat memberikan kesempatan bagi petani untuk dapat memanfaatkan sumber daya pertanian tidak hanya untuk saat ini, tetapi untuk kebutuhan di masa yang akan datang. Keberlanjutan ditunjukkan dengan kondisi tanah, air, udara, dan keanekaragaman hayati yang baik yang mampu mendukung stabilitas kehidupan sosial-ekonomi dan spiritual-budaya masyarakat. Kondisi sosial-ekonomi dan spiritual-budaya masyarakat dapat memberikan kualitas hidup yang baik bagi petani dengan tersedianya lapangan pekerjaan untuk melakukan aktivitas reproduksi dan produksi. Keberlanjutan ditunjukkan dengan kondisi aktivitas reproduksi maupun produksi masyarakat yang baik yang mampu menyokong stabilitas kehidupan masyarakat. Ketersediaan sumber pangan dapat memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh pangan dengan kualitas prima, cukup nutrisi, mudah diperoleh, dan harga yang sesuai. Analisis keberlanjutan masyarakat pertanian dilakukan untuk menilai sejauh mana masyarakat dengan persepsi, preferensi, sikap, dan perilakunya mampu memanfaatkan sumber daya pertanian secara berkelanjutan. Berdasarkan hasil analisis penilaian keberlanjutan masyarakat dengan metode CSA, diperoleh hasil 116  tingkat keberlanjutan masyarakat yang menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan. Dusun Ciomas memiliki nilai tertinggi dibandingkan dusun lainnya dengan nilai total 1182. Adapun Dusun Mandalare memiliki nilai terendah dengan nilai 1142, sedangkan Dusun Kertabraya bernilai 1145. Perbedaan yang tidak begitu signifikan di antara dusun menunjukkan kesamaan dalam beberapa aspek dominan pembentuk karakteristik lanskap pertanian di masing-masing dusun. Status dusun yang menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan tetap perlu dilakukan upaya perbaikan dan penyempurnaan dalam beberapa aspek (dengan nilai di bawah 50) untuk mencapai keberlanjutan optimal (Tabel 27.) Tabel 27. Hasil Penilaian Keberlanjutan Masyarakat Berdasarkan Kriteria CSA No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Parameter Aspek Ekologi Perasaan terhadap tempat Ketersediaan, produksi, dan distribusi makanan Infrastruktur, bangunan, dan transportasi Pola konsumsi dan pengelolaan limbah padat Air-sumber mutu dan pola penggunaan Limbah cair dan pengelolaan polusi air Sumber dan penggunaan energi Total nilai aspek ekologi Aspek Sosial-Ekonomi Keterbukaan, kepercayaan, keselamatan; ruang bersama Komunikasi, aliran gagasan, dan informasi Jaringan pencapaian dan jasa Keberlanjutan sosial Pendidikan Pelayanan kesehatan Keberlanjutan ekonomi lokal yang sehat Total nilai aspek sosial Aspek Spiritual-Budaya Keberlanjutan budaya Seni dan kesenangan Keberlanjutan spiritual Keterikatan masyarakat Kelenturan masyarakat Holografik baru berorientasi global Perdamaian dan kesadaran global Total nilai aspek spiritual Total nilai aspek keseluruhan Dusun Ciomas Bobot Dusun Mandalare Dusun Kertabraya 35* 57* 38* 50* 49* 25* 46* 300** 27* 57* 29* 50* 49* 25* 46* 283** 29* 55* 31* 50* 49* 25* 47* 286** 72* 72* 72* 62* 61* 69* 46* 55* 40* 405** 62* 36* 69* 46* 55* 40* 380** 62* 36* 69* 46* 55* 40* 380** 97* 48* 53* 71* 62* 66* 82* 479** 1184*** 97* 48* 53* 71* 62* 66* 82* 479** 1142*** 97* 48* 53* 71* 62* 66* 82* 479** 1145*** 117   Keterangan: *Pembobotan parameter dalam satu aspek 50+ : Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 25-49 : Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-24 : Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan **Pembobotan parameter dalam satu aspek 333+ : Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 166-332 : Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-165 : Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan ***Pembobotan parameter dalam satu aspek 999+ : Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 500-998 : Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-449 : Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan Berdasarkan hasil analisis keberlanjutan masyarakat menggunakan metode analisis CSA, diperoleh hasil yang cukup signifikan antara aspek ekologi dengan aspek sosial-ekonomi dan spiritual-budaya. Aspek ekologi termasuk ke dalam tingkat keberlanjutan yang menunjukkan awal yang baik ke arah keberlanjutan (nilai antara 166-332). Sedangkan aspek sosial-ekonomi dan spiritual-budaya telah memenuhi kriteria yang menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan (nilai 333+). Aspek ekologi merupakan aspek utama yang menyediakan sumber daya alam dan lingkungan sebagai penunjang utama keberlangsungan aspek sosial-ekonomi dan spiritual-budaya. Sebagai modal fisik, keberlanjutan aspek ekologi perlu ditingkatkan pada taraf kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan sehingga keseimbangan antaraspek dapat tercapai guna merealisasikan keberlanjutan masyarakat pertanian Sunda Parahiyangan. Aspek ekologi yang menunjukkan awal baik ke arah keberlanjutan didukung oleh ketersediaan, produksi, dan distribusi sumber daya pangan yang melimpah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sumber daya pangan yang melimpah dimanfaatkan dengan pola konsumsi sederhana. Hasil produksi pertanian dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga inti petani. Kelebihan hasil produksi dapat dialokasikan untuk fungsi sosial sebagai aktualisasi budaya silih anteuran atau diperdagangkan. Bagi masyarakat golongan menengah ke bawah hasil pertanian lebih dimanfaatkan untuk fungsi subsisten dan sosial. Sedangkan bagi golongan atas selain untuk fungsi subsisten dapat diperdagangkan atau didistribusikan untuk fungsi lainnya. 118  Keberlanjutan aspek ekologi dapat tercapai secara optimal jika rasa kepemilikan masyarakat terhadap tempat tinggalnya dapat ditingkatkan. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak begitu mengenal sejarah dari perkembangan dusunnya. Penyebab utama adalah kurangnya distribusi informasi dari generasi tua kepada generasi muda yang terkendala oleh ketidakhadiran generasi muda di dusun. Tren saat ini menunjukkan bahwa generasi muda cenderung lebih menyukai bermigrasi ke kota untuk bekerja jika dibandingkan dengan tetap tinggal di dusun. Dampaknya, para orang tua cukup kesulitan bertemu untuk menyampaikan informasi tentang sejarah dan kondisi dusun pada anak-anak dan generasi penerusnya. Kondisi lain yang perlu ditingkatkan adalah kualitas dan kuantitas infrastruktur dusun untuk menunjang keberlangsungan aktivitas masyarakat. Ketersediaan jalan sebagai prasarana perhubungan sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk melakukan mobilisasi barang dan jasa. Kondisi prasarana jalan dan sarana berupa angkutan umum di daerah studi belum cukup memadai sehingga perlu dilakukan perbaikan dan pengembangan untuk efektivitas dan efisiensi mobilitas masyarakat. Selain itu, infrastruktur dalam pemanfaatan sumber daya air perlu dilakukan perbaikan terutama dalam menunjang aktivitas produksi pertanian dan reproduksi rumah tangga petani. Saluran irigasi merupakan prasarana penting untuk menunjang usaha pertanian tadah hujan di daerah studi. Kondisi fisik di daerah studi cukup menyulitkan untuk pembuatan saluran irigasi teknik. Namun, pengetahuan ekologi tradisional masyarakat memberikan contoh melalui pemanfaatan bambu sebagai media saluran air. Dengan model tersebut, sumber daya air dapat dimanfaatkan lebih optimal dengan manfaat lain berupa konservasi sumber daya tanah dan menjaga keanekaragaman hayati jenis bambu. Menurunnya kualitas dan kuantitas sumber daya air dan tanah disebabkan pula oleh penggunaan sarana produksi pertanian yang tidak ramah lingkungan, seperti pupuk dan pestisida kimia, serta sarana produksi tidak ramah lingkungan lainnya. Berdasarkan pengetahuan ekologik tradisional, masyarakat percaya bahwa dengan menggunakan pupuk kandang dan hijau dapat memberikan hasil produksi yang baik dan menjaga kelestarian sumber daya pertanian. Ungkapan 119   lendo taneuh (tanah subur) menunjukkan bahwa kearifan masyarakat telah memberikan bukti nyata dari pemanfaatan pupuk organik yang dapat menyuburkan tanah secara lestari. Dengan mulai memberdayakan pemanfaatan pupuk dan pestisida organik yang diberdayakan secara mandiri oleh masyarakat dapat mengurangi ketergantungan terhadap sarana produksi yang tidak ramah lingkungan. Sumber energi utama masyarakat diperoleh dari kayu bakar. Energi tersebut dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas reproduksi keluarga petani, seperti memasak. Ketersediaan kayu bakar yang diperoleh dari agroekosistem kebuntalun, sawah, dan pekarangan cukup tersedia dan menunjukkan tingkat keberlanjutan yang optimal jika dibandingkan dengan pemanfaatan yang masih terbatas. Namun, ketergantungan terhadap sumber energi yang berasal dari minyak bumi masih kuat dirasakan masyarakat. Bahan Bakan Minyak (BBM) dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat untuk aktivitas produksi pertanian dan nonpertanian. Bahan Bakar Gas dimanfaatan oleh sebagian kecil masyarakat untuk menunjang aktivitas reproduksi seperti memasak. Namun, masyarakat lebih memilih menggunakan suluh (kayu bakar) dengan memanfaatkan kompor tradisional berupa hawu (tungku) sebagai sarana memasak (Gambar 38). Pemanfaatan hawu selain bermanfaat secara ekologi dan sosial-ekonomi, telah menunjukkan nilai spiritual-budaya masyarakat yang tinggi. Ditemukan budaya khas masyarakat di daerah studi yang lebih menyukai makan bersama keluarga di sekitar hawu jika dibandingkan dengan makan di meja makan. Informan kunci menuturkan dengan cara seperti itu keakraban dan keeratan keluarga dapat lebih mudah terasa. Pengetahuan ekologik tradisional masyarakat di daerah studi telah menunjukkan dampak positif dalam menjaga keberlanjutan ekologi. Pemanfaatan sumber daya lokal untuk menunjang aktivitas produksi dan reproduksi masyarakat dilakukan dengan berbagai pertimbangan sehingga dapat mengurangi dampak negatif dari aktivitas tersebut. Dengan demikian, pemanfaatan pengetahuan ekologi tradisional perlu dipertimbangkan dalam upaya mengembangkan aspek fisik dan masyarakat dalam lanskap pertanian. 120  Gambar 38. Pemanfaatan Suluh (Kiri) dan Hawu (Kanan) dalam Aktivitas Reproduksi Masyarakat (Memasak) Aspek sosial-ekonomi menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan. Masyarakat di daerah studi menunjukkan rasa keterbukaan, kepercayaan, dan keselamatan di setiap kesempatan berinteraksi dalam suatu ruang sosial. Masyarakat berinteraksi dan saling bertukar informasi, gagasan, ide, opini, dan saran dalam rangka memupuk solidaritas di antara masyarakat, serta dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat. Jaringan pencapaian dan jasa dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Informasi tentang kemasyarakatan dalam aspek sosial, ekonomi, spiritual, budaya, dan politik dapat dengan mudah diperoleh dan diikuti masyarakat dengan keterlibatan aktif di setiap aktivitas kemasyarakatan. Keberlanjutan sosial-ekonomi dapat dicapai secara optimal dengan meningkatkan mutu pelayanan dalam aspek pendidikan dan ekonomi pertanian lokal. Tingkat pendidikan masyarakat tergolong rendah dengan indikasi lulusan SD yang lebih mendominasi. Faktor yang mempengaruhi hal tersebut, di antaranya, adalah kurang tersedia prasarana dan sarana penunjang pendidikan seperti bangunan dan tenaga pengajar. Bangunan sekolah yang tersedia saat ini belum cukup mengakomodasi kebutuhan pendidikan yang optimal. Tenaga pengajar sebagian besar merupakan tenaga honorer dengan gaji yang kurang sesuai jika dibandingkan dengan usaha yang dilakukan. Perbaikan dalam aspek pendidikan mutlak dilakukan untuk menunjang kemandirian hidup masyarakat dalam menghadapi dinamika kehidupan. Perbaikan dapat dilakukan dengan penyediaan fasilitas pendidikan yang memadai dengan ketersediaan guru yang ditunjang gaji yang sesuai. 121   Aspek ekonomi pertanian lokal perlu mendapat perhatian lebih karena untuk menunjang sistem sosial-ekonomi masyarakat diperlukan sistem ekonomi pertanian yang sehat. Dewasa ini usaha produksi pertanian masih berorientasi untuk memenuhi kebutuhan primer keluarga petani (subsisten). Keinginan untuk meningkatkan produksi berorientasi pasar (komersial) terkendala modal fisik berupa lahan yang sempit bahkan tidak memiliki (landless). Sistem usaha tani ramah lingkungan untuk menunjang produksi telah dimiliki oleh masyarakat. Namun, lemahnya modal fisik dan finansial tidak dapat memanfaatkan pengetahuan tersebut secara optimal. Pengalokasian lahan menjadi solusi terbaik bagi petani sebagai modal utama dalam meningkatkan aktivitas ekonomi pertaniannya. Ketersediaan lahan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat dengan menjalankan usaha tani terpadu yang ramah lingkungan sehingga mampu memberikan hasil produksi yang baik dan tetap menjaga kelestarian lahannya. Ketersediaan lahan dapat diakomodasi dengan upaya konsolidasi lahan melalui land reform bagi keluarga petani yang memiliki lahan terbatas atau tidak memiliki lahan. Sistem yang dijalankan dapat berupa pemberian hak sewa atau hak milik dengan pemberlakukan pajak yang sesuai. Selain ketersediaan lahan, infrastruktur penunjang usaha pertania perlu diakomodasi secara optimal, seperti penyediaan sarana produksi dan distribusi, serta didukung kelembagaan sosialekonomi dan sosial-ekologi yang terpadu. Lemahnya modal finansial dapat diperkuat dengan penyediaan bantuan keuangan berupa kredit mikro bagi keluarga petani baik dikelola oleh pihak pemerintah maupun swasta. Sistem kredit yang ditawarkan diupayakan tidak memberatkan petani yang dapat dijalankan dengan sistem keuangan syari’ah (bagi hasil). Ketersediaan modal fisik berupa lahan dan kuatnya modal finansial tidak dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa adanya kekuatan modal manusia (SDM). Kondisi aktual di daerah studi menunjukkan tren migrasi masyarakat golongan usia kerja ke kota. Migrasi yang terjadi mengakibatkan dilema pada keberlanjutan lanskap pertanian. 122  Perpindahan masyarakat ke kota di satu sisi memberikan manfaat bagi golongan tua yang tetap tinggal di desa dengan ketersediaan modal finansial bulanan dari anggota keluarga yang berkerja di kota. Namun, di sisi lain berdampak pada ketidakefektifan usaha pertanian yang diakibatkan berkurangnya SDM dalam pengelolaannya. Tingginya tingkat migrasi ke kota dapat diturunkan dengan pemberdayaan generasi muda yang diarahkan pada usaha pertanian yang menjanjikan secara ekonomi, sosial, budaya, dan ekologi. dalam hal ini diperlukan keterlibatan aktif dari pihak pemerintah melalui dinas terkait, institusi pendidikan, dan swasta dalam menunjang keberlangsungan usaha pertanian untuk mencapai pembangunan pertanian berkelanjutan. Keberlanjutan aspek spiritual-budaya masyarakat menunjukkan tren positif ke arah kemajuan sempurna. Optimalisasi keberkanjutan perlu dilakukan pada peningkatan aspek seni dan kesenangan. Kondisi aktual menunjukkan bahwa tidak banyak ditemukan bentuk kesenian baik aktivitas maupun benda. Kesenian yang banyak dilakukan oleh masyarakat adalah seni suara dalam aktivitas seni marawis, qasidah, dan nasyd dengan benda budaya berupa rebana hasil akulturasi dengan budaya pesantren (Islam). Pengaruh ajaran Islam cukup kuat mempengaruhi perkembangan kesenian dan kesenangan. Namun demikian, beberapa sesepuh masyarakat mulai menggali dan mempelajari kembali beberapa kesenian tradisional masyarakat lokal untuk dapat dinikmati masyarakat tanpa melanggar syariat agama. Kesenian yang mulai dikembangkan, di antaranya, adalah seni karinding yang telah dialihfungsikan sebagai benda seni (Gambar 39). Aspek spiritual-budaya lain yang berpotensi mendukung pencapaian kehidupan masyarakat berkelanjutan tercermin dalam beberapa peribahasa (babasan Sunda). Babasan Sunda yang masih ditemukan dalam kehidupan masyarakat seperti adat kakurung ku iga (adat yang sulit digantikan) menunjukkan sikap masyarakat yang tetap berusaha menjaga adat istiadat lokal yang disesuaikan dengan pranata yang berlaku saat ini. Peribahasa lain seperti ari diarah supana kudu dipiara catangna yang berarti apa yang bermanfaat harus dirawat dengan sebaik-baiknya. Hal itu menjadi dasar spiritual-budaya yang kuat bagi masyarakat untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungannya yang telah memberi berbagai manfaat. 123   Gambar 39. Alat Musik Karinding Buhun Khas Masyarakat Sunda Panjalu Keberlanjutan lanskap pertanian di daerah studi menunjukkan tren positif ke arah keberlanjutan yang optimal. Kondisi tersebut didukung oleh potensi pengetahuan ekologik tradisional masyarakat Sunda Parahiyangan yang mengarah kepada tingkat keberlanjutan yang sesuai dengan kriteria USDA. Hasil kajian menunjukkan bahwa hasil analisis NRC terhadap aspek fisik lanskap dan CSA terhadap aspek penilaian masyarakat, memperlihatkan hubungan yang kuat dengan mengisi hampir seluruh kolom arah keberlanjutan. Kolom matriks yang tidak terisi disebabkan oleh aspek kajian tidak saling terkait erat sehingga tidak memiliki hubungan langsung yang kuat. Namun kondisi tersebut dapat diakomodasi oleh aspek kajian lainnya sehingga kombinasi antar matriks dapat menjadi referensi untuk menyusun rekomendasi yang optimal. Hubungan antara pengetahuan ekologik tradisional masyarakat Sunda Parahiyangan dan kriteria keberlanjutan USDA memiliki keterikatan yang sangat erat (Tabel 28). Hal tersebut menunjukkan bahwa hasil analisis terhadap aspek produksi, sosial-ekonomi, dan sosial-kemasyarakatan berdasarkan metode NRC dapat mencapai keberlanjutan lanskap pertanian. Dalam hal praktik produksi (PP), kondisi aktual dan potensial sumber daya pertanian dapat memenuhi seluruh kriteria keberlanjutan USDA. Praktik pertanian tradisional yang dimiliki masyarakat sebagai bentuk PET berpotensi untuk dipertahankan dan dikembangkan dalam rangka memanfaatakan sumber daya tanah, air, iklim, udara, karbon, energi, serta sarana produksi pertanian secara optimal. 124  Tabel 28. Matriks Hubungan PET-NRC Menuju Keberlanjutan USDA Kriteria Keberlanjutan Pengetahuan Ekologi Tradisional (NRC) Praktik produksi (PP)* PP1 Sosial-ekonomi (SE)** Sosial kemasyarakatan (SK)*** Arah Keberlanjutan (USDA 2007)**** USDA1 USDA2 USDA3 USDA4 ✓ ✓ ✓ ✓ PP2 ✓ ✓ ✓ ✓ PP3 ✓ ✓ ✓ ✓ PP4 ✓ ✓ ✓ ✓ PP5 ✓ ✓ ✓ ✓ PP6 ✓ ✓ ✓ ✓ PP7 ✓ ✓ ✓ ✓ PP8 ✓ ✓ ✓ ✓ SE1 ✓ ✓ ✓ ✓ SE2 ✓ ✓ ✓ ✓ SE3 ✓ ✓ ✓ ✓ SE4 ✓ ✓ ✓ ✓ SE5 ✓ ✓ ✓ ✓ SK1 ✓ ✓ ✓ ✓ SK2 ✓ ✓ ✓ ✓ Keterangan: *PP1: Praktik pertanian; PP2: Sumber daya tanah; PP3: Sumber daya air; PP4: Iklim; PP5: Udara; PP7: Jejak karbon; PP8: Energi; PP9: Peralatan dan gudang. **SE1: Penjualan dan pemasaran; SE2: Modal finansial; SE3: Modal SDM; SE4: Produk organik; SE5: Manajemen resiko. ***SK1: Sosial pertanian; SK2: Tekanan pembangunan. ****USDA1 Menyediakan kebutuhan pangan, papan, serat, dan biofuel; USDA2 Memperkaya kualitas lingkungan dan sumber daya; USDA3 Mempertahankan keberlangsungan ekonomi pertanian; USDA4 Meningkatkan kualitas hidup pertanian, buruh tani, dan masyarakat. Pengetahuan ekologik tradisional dalam hal sosial-ekonomi, aspek penjualan dan pemasaran, modal finansial, modal SDM, produk organik, dan manajemen resiko yang dimiliki dan dijalankan masyarakat dapat memenuhi ketersediaan kebutuhan masyarakat, melestarikan sumber daya pertanian, menjaga stabilitas ekonomi pertanian, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, keberlanjutan optimal perlu didukung oleh kebijakan yang menjunjung keadilan dan kebijaksanaan alokasi modal finansial dan SDM, serta menunjang aktivitas penjualan dan pemasaran pertanian organik sehingga kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai. Pengetahuan ekologik tradisional masyarakat dalam hal sosial- kemasyarakatan dapat memenuhi seluruh kriteria keberlanjutan USDA. Untuk mencapai keberlanjutan optimal, aspek sosial pertanian perlu didukung oleh kelembagaan masyarakat baik dalam konteks sosial-ekologi maupun sosial- 125   ekonomi. Pembentukan kelembagaan perlu didasarkan pada kebutuhan mendasar masyarakat lokal dengan pelibatan aktif masyarakat dan mengurangi intervensi pihak luar yang dapat mendominasi dalam penentuan arah dan kebijakan. Peranan pemerintah dan swasta dapat diakomodasi sebagai pengarah atau pendamping dalam pembentukan lembaga kemasyarakatan. Dengan demikian, ketahanan kelembagaan masyarakat dapat menjaga stabilitas kehidupan sosial pertanian dari tekanan pembangunan yang berpengaruh terhadap eksistensi budaya pertanian masyarakat Sunda Parahiyangan. Berdasarkan penyesuaian antara pengetahuan ekologik tradisional masyarakat berdasarkan hasil analisis CSA dengan kriteria keberlanjutan USDA, menunjukkan tren positif ke arah keberlanjutan optimal (Tabel 29). Aspek ekologi sebagai modal utama dalam keberlanjutan sosial dan cukup memenuhi kriteria keberlanjutan USDA. Namun, dalam hal infrastruktur belum mampu mengakomodasi kebutuhan secara optimal dalam menunjang efektivitas dan efisiensi usaha pertanian. Dalam hal pengelolaan limbah cair perlu ditingkatkan pemahaman bagi masyarakat mengenai dampak negatif dari penggunaan produk kimia berlebih yang dapat mengganggu stabilitas tanah dan air sebagai sumber daya lahan utama penyedia ketersediaan pangan, papan, serat, dan energi yang dibutuhkan masyarakat. Hubungan aspek sosial-ekonomi dan spiritual-budaya memiliki keterikatan positif terhadap kriteria keberlanjutan USDA yang menunjukkan bahwa masyarakat pertanian Sunda Parahiyangan memiliki potensi dalam modal finansial dan SDM guna mencapai pembangunan pertanian berkelanjutan. Optimalisasi keberlanjutan perlu dilakukan dalam pemberdayaan masyarakat mengenai usaha pertanian ramah lingkungan yang dapat menjamin kesejahteraan kehidupan masyarakat dan kelestarian fisik lanskap pertaniannya. Peningkatan usaha pertanian berbasis pertanian terpadu lahan kering (agroforestry dan pengembangannya) dapat menjadi solusi untuk mencapai pertanian berkelanjutan. Hal tersebut memiliki keterikatan menguntungkan secara sosial-ekonomi. spiritual-budaya yang kuat serta 126  Tabel 29. Matriks Hubungan PET-CSA Menuju Keberlanjutan USDA Kriteria Keberlanjutan Pengetahuan Ekologi Tradisional (CSA) Ekologi (E)* E1 E2 Arah Keberlanjutan (USDA 2007)**** USDA1 USDA2 USDA3 USDA4 ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ E3 E4 ✓ ✓ ✓ ✓ E5 ✓ ✓ ✓ ✓ E6 Sosial-ekonomi (SE)** Spiritual-budaya (SB)*** ✓ ✓ ✓ E7 ✓ ✓ ✓ ✓ SE1 ✓ ✓ ✓ ✓ SE2 ✓ ✓ ✓ ✓ SE3 ✓ ✓ ✓ ✓ SE4 ✓ ✓ ✓ ✓ SE5 ✓ ✓ ✓ ✓ SE6 ✓ ✓ ✓ ✓ SE7 ✓ ✓ ✓ ✓ SB1 ✓ ✓ ✓ ✓ SB2 ✓ ✓ ✓ ✓ SB3 ✓ ✓ ✓ ✓ SB4 ✓ ✓ ✓ ✓ SB5 ✓ ✓ ✓ ✓ SB6 ✓ ✓ ✓ ✓ SB7 ✓ ✓ ✓ ✓ Keterangan: *E: Rasa kepemilikan tempat (lokasi dan ukuran masyarakat, restorasi serta preservasi alam); E2: Ketersediaan pangan, produksi dan distribusi; E3: Infrastruktur fisik, bangunan dan transportasi (material, metode, dan desain); E4: Pola konsumsi dan manajemen limbah padat; E5: Sumberdaya air (sumber, kualitas dan pola-pola penggunaan); E6: Manajemen limbah cair dan polusi air; E7: Sumber energi dan penggunaannya. **SE1: Keterbukaan, kepercayaan dan keselamatan (ruang sosial); SE2: Komunikasi (aliran ide dan informasi); SE3: Pencapaian jejaring dan pelayanan (pertukaran sumberdaya internal/eksternal); SE4: Keberlanjutan sosial (keberagaman dan toleransi, penetapan keputusan, dan resolusi konflik); SE5: Pendidikan; SE6: Kesehatan; SE7: Keberlajutan ekonomi (kesehatan ekonomi lokal). ***SB1: Keberlanjutan budaya; SB2: Kesenian dan wisata; SB3: Keberlanjutan spiritual; SB4: Keeratan komunitas; SB5: Kelenturan komunitas; SB6: Paradigma baru, pandangan global; SB7: Kesadaran perdamaian dan globaL. ****USDA1: Menyediakan kebutuhan pangan, papan, serat, dan biofuel; USDA2: Memperkaya kualitas lingkungan dan sumber daya; USDA3: Mempertahankan keberlangsungan ekonomi pertanian; USDA4: Meningkatkan kualitas hidup pertanian, buruh tani, dan masyarakat. 127   4.4. Konsep Pengelolaan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Berkelanjutan Keberlanjutan lanskap pertanian merupakan keterpaduan dan harmonisasi antara elemen fisik lanskap sebagai modal fisik/alam dan masyarakat pertanian sebagai modal sosial untuk pemanfaatan secara adil dan bijaksana. Keberlanjutan secara fisik dapat ditunjukkan dengan terjaganya kualitas dan kuantitas lahan sebagai modal fisik utama dalam lanskap pertanian. Ketersediaan lahan dalam ruang pertanian mempengaruhi pola pemanfaatan yang membentuk ragam sistem ekologi pertanian yang khas sesuai dengan karakteristik elemen pembentuknya. Selain itu, ketersediaan keanekaragaman hayati pertanian khususnya tanaman, menjadi perhatian penting dalam menjaga keberlangsungan lanskap pertanian. Berdasarkan analisis struktur dan fungsinya, keberadaan tanaman berpengaruh signifikan terhadap kestabilan dan keberlanjutan lanskap pertanian. Keberadaan tanaman terutama jenis pohon, memiliki peranan penting sebagai penyedia jasa lingkungan. Sistem agroforestry merupakan sistem yang memadukan fungsi pohon dengan beragam jenis tanaman pertanian. Masyarakat Sunda Parahiyangan secara turun-temurun telah memberdayakan sistem agroforestry dengan didukung ragam pengetahuan ekologik tradisional yang terbukti berkontribusi positif secara ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya. Namun, pengaruh luar berupa intervensi kebijakan baik dalam hal sistem, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang kurang memberi ruang bagi kearifan masyarakat lokal telah mengurangi peranan pengetahuan ekologik tradisional dalam memanfaatkan sumber daya pertanian. Dengan demikian, pengelolaan lanskap pertanian yang dapat disusun guna mencapai tingkat keberlanjutan secara ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya adalah dengan memadukan pengetahuan ekologik tradisional dan pengetahuan modern dari luar sehingga pembangunan pertanian berkelanjutan dapat tercapai. Pengelolaan yang dilakukan secara terpadu diharapkan mampu mencapai ketersediaan pangan, papan, serat, dan biofuel yang cukup; kualitas lingkungan dan sumber daya yang lestari; keberlangsungan ekonomi pertanian yang menguntungkan; serta kualitas hidup pertanian, buruh tani, dan masyarakat yang sejahtera (Gambar 40). 128  Pengetahuan Ekologik Tradisional 1. Konsep Pengelolaan Alam 2. Konsep Pengelolaan Ruang Pertanian 3. Konsep Pengelolaan Sumber Daya Pertanian Pengetahuan Ekologik Modern 1. Konsep Pengelolaan Alam 2. Konsep Pengelolaan Ruang Pertanian 3. Konsep Pengelolaan Sumber Daya Pertanian Konsep Pertanian Berkelanjutan USDA 1. Mencukupi produksi 2. Menjaga kualitas lingkungan dan sumber daya 3. Menjaga keberlangsungan ekonomi pertanian 4. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Berkelanjutan Gambar 40. Konsep Pengelolaan Lanskap Pengelolaan Lanskap Pertanian Berkelanjutan 4.4.1. Konsep Pengelolaan Alam Masyarakat pertanian Sunda Parahiyangan di daerah studi meyakini bahwa keberadaannya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan alam. Berdasarkan penuturan sesepuh masyarakat, masyarakat Sunda merupakan bagian dari sistem alam (seke seler). Dalam kosmologi Sunda kuno yang dipengaruhi oleh ajaran Hindu, alam dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Buana Jatiniskala (alam kemahagaiban sejati), Buana Niskala (alam gaib), dan Buana Sangkala (alam dunia). Kosmologi Sunda membentuk suatu strata yang tercermin dalam bentuk segi tiga sama kaki dengan memposisikan manusia dan bumi berada dalam satu strata, sedangkan langit sebagai simbolisasi Tuhan berada di strata tertinggi. Pemahaman kosmik tersebut tercermin dalam kata Sunda (Sun-Da-Ha) yang dimaknai sebagai diri manusia (Sun), alam (Da), dan Tuhan (Ha). Hubungan ketiga unsur tersebut mencerminkan hubungan antar manusia (Sun), hubungan dengan alam (Da), dan hubungan dengan Tuhan (Ha). Pemahaman terhadap konsep hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan tercermin dalam aktivitas pemanfaatan sumber daya alam. Masuknya pengaruh ajaran Islam dan perkembangan pengetahuan umum dari pendidikan formal telah merubah sebagian besar paradigma masyarakat terhadap alam. Kepercayaan tradisional masyarakat terhadap hal-hal gaib dikalahkan oleh alasan-alasan agama dan pemikiran rasional sehingga saat ini tidak banyak ditemukan ritual atau upacara di masyarakat yang bersifat tahayul. 129   Perubahan paradigma masyarakat tidak meninggalkan pentingnya menghargai alam. Peran ajengan/kyai sangat penting dalam menyampaikan dan menjelaskan konsep hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan berdasarkan ajaran Islam. Informan kunci menjelaskan bahwa paradigma yang saat ini diyakini oleh masyarakat berupa pemahaman manusia sebagai khalifah di muka bumi yang diberikan hak untuk memanfaatkan alam oleh Tuhan. Dengan pemahaman tersebut, masyarakat meyakini bahwa alam telah disediakan oleh Tuhan untuk dimanfaatkan. Sebagai konsekuensi, alam perlu dijaga kelestariannya sebagai bukti tanggung jawab terhadap tugas yang diamanahkan. 4.4.2. Konsep Pengelolaan Ruang Pertanian Pemahaman masyarakat Sunda Parahiyangan di daerah studi terhadap konsep Tritangtu Sunda, masyarakat tetap meyakini adanya strata fungsi dan peran antara manusia, alam, dan Tuhan. Namun, kuatnya pengaruh ajaran Islam menyebabkan perubahan orientasi menjadi lebih mendasarkannya pada ajaran Islam. Pemahaman tersebut hadir dalam kesadaran masyarakat Sunda untuk memaknai realita faktual ruang Sunda, baik dalam penataan ruang permukiman, rumah tinggal, lingkungan, hingga pengaturan dalam unsur-unsur budayanya (sistem religi, kemasyarakatan, ilmu pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian, dan sistem peralatan hidup). Keterkaitan dengan konsep ruang dikenal tiga konsep patempatan (penempatan) dalam budaya Sunda, yaitu konsep elemen (ci nyusu, imah, pipir, dan buruan-kebon), konsep orientasi (luhur-handap), dan konsep mitos (seke seler yang menjadikan alam sebagai representasi tubuh manusia). Ketiga konsep ruang sebagai interpretasi Tritangtu Sunda, dapat diimplementasikan dalam ruang skala mikro, meso, dan makro (Tabel 30). Tabel 30. Implementasi Konsep Ruang Sunda dalam Skala Lanskap Konsep Ruang Sunda Elemen Orientasi Makro Ci nyusu Luhur-handap Meso Ci nyusu Luhur-handap Mikro Imah, pipir, buruan, kebon Luhur-handap Sumber: Purnama (2007) dan hasil pengamatan lapang Skala Lanskap Mitos Seke seler Seke seler Seke seler 130  Konsep penataan ruang Sunda masih dijalankan oleh sebagian masyarakat di daerah studi dengan berbagai penyesuaian terhadap kondisi ekologi, sosialekonomi, dan spiritual-budaya masyarakatnya. Masyarakat menerapkan konsep luhur-handap secara umum dengan menempatkan Gunung ditempatkan di bagian atas (luhur) sebagai representasi Tuhan yang memberi sumber kehidupan. Selanjutnya, permukiman masyarakat ditempatkan di bagian tengah (tengah), dan kawasan produksi (pertanian, peternakan, dan perikanan) di posisi bawah (handap). Di samping itu, masyarakat menerapkan konsep ci nyusu yang menjadikan sumber mata air sebagai inti dari suatu kawasan. Air dianggap sebagai unsur alam yang menjadi dasar terbentuknya tubuh dan jiwa manusia. Pandangan ini menjadi dasar dalam memahami maksud dikeramatkannya gunung bagi masyarakat Sunda. Konsep penataan ruang pertanian yang dilakukan masyarakat khususnya masyarakat Dusun Ciomas tercermin dalam aplikasi konsep kabuyutan. Kabuyutan memiliki multi dimensi nilai yang tidak hanya dapat dimaknai sebagai sebuah materi, namun juga menjadi sebuah filofofi hidup bagi orang Sunda. Terdapat pesan moral bagi seluruh masyarakat Sunda untuk dapat menjaga, memelihara, dan melindungi kelestarian kabuyutan yang ada di seluruh Tatar Sunda sehingga dapat dirasakan manfaatnya bagi generasi berikutnya. Konsep kabuyutan sebagai langkah awal dalam penataan ruang Sunda, dilakukan dengan menetapkan kawasan-kawasan lindung berupa leuweung larangan dan leuweung tutupan di wilayahnya. Setelah penetapan kawasan lindung dilakukan, kawasan lain dapat dimanfaatkan sesuai daya dukung dan kesesuaian pemanfaatannya. Ruang untuk fungsi pertanian ditetapkan dengan penerapan konsep luhur-handap. Agroekosistem kebun-talun dengan komoditas utama berupa pohon kayu ditempatkan di daerah luhur sesuai dengan fungsinya dalam konservasi tanah dan air. Dalam kebun-talun biasa ditanam pohon pituin yang bernilai budaya tinggi. Agroeksositem sawah ditempatkan di handap dan berdekatan dengan permukiman karena disesuaikan dengan komoditas utama berupa sumber pangan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Penempatan tersebut dikarenakan kebutuhan padi terhadap air yang maksimal sehingga lebih memudahkan dalam perolehan 131   sumber daya air. Agroekosistem pekarangan ditempatkan di tengah bersama kawasan permukiman untuk mempermudah masyarakat memanfaatkan sumber daya pertanian yang tersedia. Pekarangan tidak hanya berfungsi sebagai ruang produksi pertanian, tetapi berfungsi juga sebagai ruang sosial. Aktivitas sosial biasa dilakukan masyarakat di buruan yang merupakan bagian depan dari pekarangan. 4.4.3. Konsep Pengelolaan Sumber Daya Pertanian Berdasarkan pengetahuan ekologik tradisional, masyarakat telah melakukan beragam upaya responsif dalam menjaga keberlangsungan sistem ekologi pertanian. Dalam lingkungan masyarakat Sunda dikenal dengan adanya leuweung larangan dan leuweung tutupan yang secara umum dapat diartikan sebagai hutan lindung yang menjadi tujuan utama penerapan konsep kabuyutan. Pemanfaatan kedua jenis hutan tersebut sangat terbatas, hanya keperluan dalam kondisi sangat mendesak hasil hutan dapat dimanfaatkan. Adanya larangan dan perintah dalam pemanfaatannya, berdampak pada kelestarian ekosistem hutan. Kawasan keramat (sacred place) biasa dicirikan dengan adanya makam sesepuh kampung, dikelilingi pohon-pohon besar dan tinggi, serta semak yang dibiarkan tumbuh liar. Di setiap tempat keramat ditetapkan aturan-aturan khusus yang berkaitan dengan pemeliharaan ekosistem. Aturan-aturan tersebut umumnya lahir dari sejarah dan legenda yang dipercayai oleh masyarakat secara turun temurun. Maung Panjalu yang dikenal dengan sebutan menak merupakan salah satu legenda masyarakat Sunda Panjalu yang masih diyakini keberadaannya oleh sebagian masyarakat. Berdasarkan pengetahuan ekologik tradisional terkait ruang, kearifan masyarakat diaktualisasikan dalam penamaan tempat berdasarkan ciri fisik yang berada di tapak. Sebagai contoh dalam penggunaan prefix ci yang digunakan untuk menandakan tempat dekat sumber air, leuwi untuk daerah di dekat sungai, pasir untuk penanda daerah berbukit, bojong untuk menandakan daerah berbahaya, dan ciri lain untuk menandakan tempat tertentu. Pemahaman terhadap tempattempat tersebut dapat menghindari pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan daya dukung dan kesesuaiaan fungsi pemanfaatannya. 132  Dalam hal pemahaman terhadap waktu dalam lanskap pertanian, masyarakat masih mengenal penanda alam yang dijadikan pedoman dalam menjalankan aktivitas pertanian. Namun demikian, dengan perubahan sistem pertanian di beberapa agroekosistem, keberadaan pengetahuan lokal masyarakat terkait perhitungan musim semakin ditinggalkan bahkan dilupakan. Beberapa informan kunci ahli pertanian (mantri tani) menyampaikan bahwa masyarakat masih menggunakan perhitungan musim berdasarkan perbintangan (pabentangan) yang dikenal dengan pranata mangsa hingga akhir tahun 1970. Setelah dicanangkannya program Revolusi Hijau, lambat laun kebudayaan bertani tradisional tersebut semakin ditinggalkan. Pemahaman terhadap ruang dan waktu menjadi faktor utama dalam memanfaatkan sumber daya pertanian secara lestari. Ruang merupakan media yang menyediakan sumber daya pertanian dan waktu merupakan sistem yang mengatur pola pemanfaatannya. Dalam mengelola sumber daya pertanian selain menyesuaikan dengan faktor ruang dan waktu, masyarakat memanfaatkan sumber daya lokal yang secara budaya telah dibuktikan manfaatnya. Dalam upaya konservasi tanah dan air, masyarakat memanfaatkan bambu sebagai media utama. Bambu bagi masyarakat Sunda merupakan tanaman yang bernilai ekologi, sosialekonomi, dan spiritual-budaya yang tinggi. Secara ekologi, bambu dipercaya masyarakat sebagai tanaman yang dapat menjaga stabilitas kualitas dan kuantitas air dan tanah. Pemahaman tersebut diaplikasikan masyarakat dengan memanfaatkan bambu sebagai media saluran air dan dinding penahan tanah tradisional (Gambar 41). Gambar 41. Pemanfaatan Awi (Bambu) dalam Konservasi Tanah dan Air Berupa Talang Air (Kiri) dan Bio-retaining Wall (Kanan) 133   Reorientasi terhadap kearifan masyarakat perlu dilakukan secara partisipatif dan kolaboratif. Model terpadu antara komoditas pertanian dan kehutanan merupakan pengetahuan ekologik tradisional masyarakat sebagai upaya solutif dalam mengelola lanskap pertanian berkelanjutan. Hal tersebut lebih ditekankan kepada fungsi pohon dalam agroekosistem. Pohon dengan fungsi arsitektural dan hortikulturalnya dapat memberikan manfaat bagi keberlangsungan agroekosistem. Pembudidayaan pohon pituin (40 tangkal adam) yang telah terbukti sesuai secara ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya perlu diberdayakan secara terpadu. Dalam perkembangannya, masyarakat tidak hanya mengkombinasikan antara pohon kehutanan dengan tanaman pertanian. Masyarakat mulai mengkombinasikan komoditas kehutanan dengan komoditas usaha peternakan (silvopastoral) dan perikanan (silvofishery). Upaya tersebut berpotensi untuk mencukupi kebutuhan masyarakat. Konsep kabuyutan yang diikuti dengan penerapan pengetahuan ekologik tradisional lainnya dapat diaplikasikan dalam setiap kegiatan pengelolaan agroekosistem berkelanjutan. Penerapannya dimulai dengan penataan kawasan secara berkelanjutan melalui penetapan kawasan lindung (Gambar 42) dan selanjutnya dilakukan penataan waktu dan kegiatan pengelolaan untuk pencapaian agroekosistem berkelanjutan (Gambar 43). 1. Penanaman tanaman konservasi tanah, air, dan keanekaragaman hayati (keberlanjutan ekologi) 2. Penerapan konsep agroforestry, agrosilvopastoral, agrosilvofishery, dan agrosilvofisherypastoral (keberlanjutan sosial-ekonomi) 3. Penanaman tanaman pituin/lokal yang termasuk 40 tangkal adam (keberlanjutan spiritual-budaya) Masyarakat Pertanian Lanskap Pertanian 1. Penyediaan jasa lingkungan berupa ketersediaan plasma nutfah, sumber daya tanah, air, dan udara (keberlanjutan ekologi) 2. Penyediaan sumber pangan, energi, dan keuntungan finansial (keberlanjutan sosial-ekonomi) 3. Penyediaan ruang apresiasi bagi eksistensi budaya Sunda (keberlanjutan spiritual-budaya) Penetapan kawasan (tata wilayah) berdasarkan konsep kabuyutan Penetapan waktu dan kegiatan (tata wayah dan tata lampah) Gambar 42. Skenario Pengelolaan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Berkelanjutan 134  1 2 3 4 2 Kawasan lindung (leuweung larangan dan leuweung utupan) dengan pemanfaatan lahan terbatas untuk memenuhi fungsi preservasi dan konservasi. Kawasan permukiman Konsep Pengelolaan Ruang Berkelanjutan Agroekosistem 1. Hutan Lindung Dilakukan dengan menjalankan status Suakamargasatwa Gunung Sawal sebagai kawasan lindung (leuweung larangan) . 2. Talun-Kebun dan hutan produksi Dilakukan dengan menyisakan lahan untuk kawasan lindung (leuweung larangan dan tutupan). Lahan Perhutani dapat didukung dengan penatapan aturan. Sedangkan lahan rakyat dapat didukung sistem insentif (pengurangan/ pembebasan pajak) bagi petani yang mampu melakukan konservasi di lahannya. 3. Sawah Dilakukan dengan menetapkan kawasan lindung (leuweung larangan dan leuweung tutupan) seluas kebutuhan lahan untuk memenuhi kebutuhan pangan minimal seluruh penduduk dusun. Pemanfaatan kawasan tersebut hanya untuk fungsi produksi-konservasi. 4. Pekarangan dan Permukiman Dilakukan dengan menetapkan beberapa ruang terbuka hijau (RTH) sebagai cadangan kawasan lindung (leuweung larangan dan tutupan). Gambar 43. Skenario Pengelolaan Ruang Pertanian Sunda Parahiyangan Berkelanjutan Keberadaan pengetahuan ekologik tradisional masyarakat, berpotensi untuk memanfaatkan sumber daya pertanian secara berkelanjutan. Keberlanjutan sumber daya pertanian dapat mencukupi kebutuhan pangan, papan, sandang, dan energi bagi masyarakat. Selain itu, ketersediaan sumber kebutuhan hidup masyarakat yang cukup dan layak akan mengurangi tindakan destruktif masyarakat terhadap sumber daya pertanian. Dengan demikian kelestarian lanskap pertanian akan tercapai sehingga masyarakat menjadi sejahtera. Namun, eksistensinya terus dihadapkan pada dinamika perubahan paradigma masyarakat yang dipengaruhi oleh faktor eksternal. Pengaruh positif akan membentuk persepsi, preferensi, sikap, dan perilaku masyarakat yang konstruktif. Sedangkan pengaruh negatif akan mengakibatkan perilaku yang destruktif. 135   Dalam menunjang keberlanjutan aspek ekologi guna mencukupi produksi sumber daya pertanian yang optimal dapat diimplementasikan konsep LEISA (low external input and sustainable agriculture) dengan optimalisasi asupan dari dalam dan efisiensi asupan dari luar. Konsep LEISA (Reijntjes, 1992) sebagai arah baru bagi pengembangan usaha pertanian sangat cocok dilakukan di daerah studi. Ketersediaan sumber daya hayati dan nonhayati yang melimpah menjadi modal utama keberlangsungan LEISA. Konsep LEISA menuntut masyarakat pertanian untuk dapat memahami struktur, fungsi, dan dinamika dalam lanskap pertanian. Penerapan konsep pemanfaatan sumber daya pertanian ramah lingkungan dapat menunjang terciptanya kualitas lingkungan dan sumber daya yang optimal. Pentingnya kondisi lingkungan dan sumber daya yang optimal perlu diketahui dan dipahami oleh masyarakat sehingga masyarakat mampu memanfaatkannya dengan sikap yang lebih adil dan bijaksana. Pemberdayaan perlu dilakukan melalui pendidikan formal dan informal, pelatihan, dan pembinaan terkait pentingnya menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Dalam hal ini peran pemerintah melalui dinas terkait dengan sumber daya penyuluh yang dimilikinya, perlu diberdayakan secara optimal. Perilaku destruktif masyarakat erat kaitannya dengan faktor ekonomi yang menuntut masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya pertanian tanpa mempertimbangkan aspek kelestariannya. Untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut, dapat dilakukan pemberdayaan ekonomi pertanian lokal yang didukung dengan keberadaan lembaga keuangan, sarana dan prasarana produksi dan distribusi, fasilitas penjualan dan pemasaran, serta pembinaan masyrakat dalam mengembangkan usaha produksi pertanian baik produksi primer, sekunder, maupun tersier. Faktor ekonomi yang masih menjadi pertimbangan utama bagi masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya pertanian, perlu diimbangi dengan paradigma baru yang lebih mendasar. Paradigma berdasarkan kekuatan nilai spiritual-budaya dapat menjadi solusi alternatif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat menjadi lebih adil dan bijaksana. Ajaran agama Islam sebagai pengaruh dari luar telah diyakini masyarakat sebagai panduan hidup untuk beribadah, bermasyarakat, dan berinteraksi dengan alam dan lingkungan. 136  Kuatnya pengaruh ajaran Islam berpotensi sebagai dasar dalam penyusunan konsep pengelolaan sumber daya pertanian berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadis. Berdasarkan hal itu, dapat disusun konsep pengelolaan untuk mencapai keberlanjutan lanskap pertanian melalui peningkatan pendidikan, penyediaan lapangan pekerjaan, dan penanaman pohon sebagai penjaga stabilitas sumber daya air dan tanah. Dalam hal ini sosok ajengan/kyai berperan penting dalam menjaga nilai-nilai spiritual Islam yang direalisasikan dalam ragam budaya masyarakatnya. Dengan demikian, pembentukan karakter masyarakat pertanian Sunda Parahiyangan dengan menerapkan budaya Sunda nu Islami dapat membentuk masyarakat nu nyunda, nyakola, tur nyantri sehingga berdampak pada kondisi alam dan lingkungan yang lestari. . V. SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Berdasarkan hasil kajian terhadap berbagai kondisi dalam lanskap pertanian Sunda Parahiyangan, dapat diperoleh simpulan sebagai berikut. 1. Lanskap pertanian Sunda Parahiyangan memiliki karakteristik khas sebagai hasil dari proses adaptasi masyarakat terhadap alam dan lingkungannya yang berlangsung melalui proses pembelajaran secara turun-temurun dalam jangka waktu relatif lama. Karakteristik lanskap pertanian Sunda Parahiyangan membentuk tipe karakter lanskap pertanian pegunungan dengan sistem pertanian yang dijalankan berupa pertanian lahan kering dan sumber daya air sebagai elemen penyusun utama lanskap pertanian. Karakter tersebut diaktualisasikan dalam ragam agroekosistem khas masyarakat Sunda yaitu sistem kebun-talun, sawah, dan pekarangan di kawasan permukiman dengan keanekaragaman hayati yang tinggi dan penjagaan terhadap stabilitas sumber daya air dan tanah (lemah cai). 2. Tradisi muludan dan nyangku, serta konsep kabuyutan merupakan beberapa ragam pengetahuan ekologik tradisional masyarakat terkait pemahaman dan pemanfaatan sumber daya pertaniannya. Tradisi muludan dan nyangku erat kaitannya dengan ketersediaan ragam jenis sumber daya hayati pertanian yang digunakan dalam pelaksanaan upacara, seperti padi beras merah varietas lokal, padi (Oryza sativa L.), awi bitung (Bambusa aspera Schultes), aren (Arenga piñata (Wurmb.) Merr.), kelor (Moringa oleifera), pisang (Musa paradisiaca L.), jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle), bunga mawar (Rosa L.), buahbuahan, sayur-sayuran, umbi-umbian, bumbu-bumbuan, temu-temuan, ayam kampung (Gallus domesticus), dan ikan lokal Situ Lengkong (sesele, hampal, corengcang, sepat, dan sebagainya). Kabuyutan merupakan kearifan masyarakat dalam menghargai alam sebagai bagian dari kehidupan masyarakat (ekosentris) dan bukan sebagai obyek eksploitasi (antroposentris). Konsep kabuyutan diimplementasikan dalam upaya revitalisasi peran hutan sebagai penyangga keseimbangan lanskap pertanian dengan menetapkan kawasan lindung (leuweung larangan dan leuweung tutupan). 138  3. Kabuyutan, sistem agroforestry tradisional, dan ragam pengetahuan ekologik taradisional lainnya merupakan konsep pengelolaan tradisional masyarakat Sunda Parahiyangan dalam memanfaatkan sumber daya pertanian secara optimal. Dinamika lanskap yang terjadi menuntut keterpaduan antara konsep tradisional dengan modern melalui integrasi dengan konsep agroforestry modern beserta ragam pengembangannya disertasi optimalisasi konsep LEISA yang ditunjang kebijakan pemerintah yang adil dan bijaksana bagi masyarakat perdesaan sehingga keberlanjutan lanskap pertanian dapat tercapai. 5.2. Saran Sebagai arahan dalam menyusun konsep pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan, dapat disarankan beberapa langkah strategis sebagai berikut: 1. melakukan penelitian pada kawasan Sunda Parahiyangan lainnya sebagai representasi kawasan lanskap pertanian di pegunungan; dan 2. menyusun suatu model metode penelitian yang efektif dan efisien untuk penilaian keberlanjutan lanskap pertanian. DAFTAR PUSTAKA Abdoellah, O. S., Takeuchi, K., Parikesit G., Gunawan, B., and Hadikusumah, H. Y. 2001. Structure and function of homegarden: revisited. In: Proceedings of First Seminar of JSPS-DGHE Core University Program in Applied Biosciences “Toward Harmonisation Between Development and Environmental Conservation in Biological Production”. 21-23 February 2001, The University of Tokyo. 167-185. Abdoellah, O. S., Hadikusumah, H. Y., Takeuchi K., Okubo, S., and Perikesit. 2006. Commercialization of homegardens in an Indonesian village: vegetation compotition and functional changes. Agroforestry Systems: 68. Arifin, H. S. 2012. Manajemen Lanskap Berkelanjutan bagi Sumber Daya Biologi di Perdesaan Indonesia. Di dalam Merevolusi Revolusi Hijau-Pemikiran Guru Besar IPB. Bogor: IPB Press: 504-529. Arifin, H. S., K. Sakamoto, and K. Chiba. 1997. Effect of the Fragmentation and the Change of the Social and Economical Aspects on the Vegetation Structure in the Rural Home Gardens of West Java, Indonesia. Journal of Japan Institute of Landscape Architecture, Tokyo. Vol. 60: 489-494. Arsyad, S. 2010. Konservasi Tanah dan Air. Edisi kedua. Bogor: IPB Press: 472 hlm. Becker, C. D., and Ghimire, K. 2003. Synergy Between Traditional Ecological Knowledge and Conservation Science Supports Forest Preservation in Ecuador. Conservation Ecology. 8: 1-2. Billeter, R. 2008. Indicator for biodiversity in agricultural landscape: a panEuropean study. Journal of Applied Ecology. 45: 141-150. [BPS] Badan Pusat Statistika. 2011. Perkembangan beberapa indikator utama sosial-ekonomi Indonesia. Christanty, L., Abdoellah O. S., Marten, G., and Iskandar, J. 1986. Traditional agroforestry in West Java: the pekarangan (homegarden) and kebun-talun (perennial/annualrotation) cropping systems. In: Marten G.G. (ed.), Traditional Agriculture in Southeast Asia: A Human Ecology Perspective. Westview Press, Boulder and London: 132-156. Danasasmita. 1987. Sanghyang Siksakandang Karesian. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Dirjen. Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bandung. Darwis, S. N. 2004. Dasar-Dasar Ilmu Pertanian dalam Al-Qur’an. Bogor: IPB Press: 191 hlm. 140 [Depdikbud] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka: 1278 hlm. [FAO] Food and Agriculture Organization. 2007. SARD and Mountain Regions. Sustainable Agriculture and Rural Development (SARD) Policy Brief 19. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome, Italy: 1-4. [FAO] Food and Agriculture Organization. 2010. The State of Food Insecurity in the World-Addressing food insecurity in protracted crises. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome, Italy: 54 hlm. [FAO] Food and Agriculture Organization. 2011. The state of the world’s forests 2011. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome: 157 hlm. Fausia, L. dan Prasetyaningsih, N. 2005. Kajian Aktivitas Reproduktif dan Produktif Perempuan dan Kaitannya dengan Pengelolaan Sumberdaya Alam. Di dalam: Pembaharuan Tata-Pemerintahan Lingkungan: Menciptakan Ruang Kemitraan Negara-Masyarakat Sipil-Swasta. Bogor: PSP-LPPM IPB da PGRI-UNDP. 81-91. Finotto, F. 2011. Landscape Assessment: The Ecological Profile. In: Castella, C., and Peano, A. 2011. Landscape Indicators: Assessing and Monitoring Landscape Quality. Dordrecht: Springer Science Business Media B. V. Fridley, J. D., Senf, A. R., and Peet, R. K. 2009. Vegetation Structure of Field Margins and Adjacent Forest in Agricultural Landscape of the North Carolina Piedmont. Castanea. 74: 4. [GEN] Global Ecovillage Nework. 2008. Community Sustainability Assessment (CSA). USA: Ecovillage Network of the Americas: 41 hlm. Harianto. 2007. Peranan Pertanian dalam Ekonomi Pedesaan. Makalah pada Seminar Nasioanl “Dinamika Pembangunan Pertanian dan Pedesaan: Mecari Alternatif Arah Pengembangan Ekonomi Rakyat” yang diselenggarakan oleh Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Departemen Pertanian. Pada tanggal 4 Desember 2007 di Bogor. Huntington, H. P. 2000. Using traditional ecological knowledge in science: methods and applications. Ecological Applications. 10: 1270-1274. Indaryanti, Y. 2005. Sistem Ekonomi Rumah Tangga Komunitas Lokal di Daerah Aliran Sungai Citanduy. Di dalam: Pembaharuan Tata-Pemerintahan Lingkungan: Menciptakan Ruang Kemitraan Negara-Masyarakat SipilSwasta. Bogor: PSP-LPPM IPB da PGRI-UNDP. 41-53. 141 Iskandar, J. dan Iskandar, B. S. 2011. Agroekosistem Orang Sunda. Bandung: PT Kiblat Buku Utama. 246 hlm. Kartasasmita, G. 2005. Ketahanan Pangan dan Ketahanan Bangsa. Keynote Speech pada Seminar “Pengembangan Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal” dalam rangka Dies Natalies ke-45 Universitas Pasundan. Pada tanggal 26 November 2005 di Bandung. Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. 391 hlm. Lubis, N. H., Nugraha, A., Wildan, D., Dyanti, E. S., Sofianto, K., Falah, M., Dienaputra, R. D., dan Djubiantono, T. 2003. Sejarah Tatar Sunda Jilid 1. Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian UNPAD Bandung. Machmur, M. 2010. Ketahanan Pangan: Diversivikasi Pangan dan Kesehatan. Makalah pada Stakeholder Meeting “Stategic Alliance for Achieving MDG’s” dalam Dies Natalis FK UNPAD ke-53. Pada tanggal 21 Oktober 2010 di Bandung. Miskinis, P. 2011. Mathematical modeling of mountain heinght distribution on the Earth’s surface. Geologija. 1: 21-26. Muleler, J. G., Assanou, I. H., Guimbo, I. D., and Almedom, A. M. 2009. Evaluating Rapid Participatory Rural Appraisal as an Assessment of Ethnoecological Knowledge and Local Biodiversity Patterns. Conservation Biology, 1: 140–150. Mulyoutami, E., Rismawan, R., and Joshi, L. 2009. Local knowledge and management of simpukng (forest garden) among the Dayak people in East Kalimantan, Indonesia. Forest Ecology and Management. 257: 255. [NRC] National Research Council. 2010. Toward Sustainable Agricultural Systems in the 21st Century. Washington, D. C.: The National Academic Press: 598 hlm. Prasetyo, L. B. 2005. Perubahan Penutupan/Penggunaan Lahan, Degradasi Lahan dan Upaya Penganggulangannya: Studi Kasus di Daerah Aliran Sungai Citanduy. Di dalam: Pembaharuan Tata-Pemerintahan Lingkungan: Menciptakan Ruang Kemitraan Negara-Masyarakat Sipil-Swasta. Bogor: PSP-LPPM IPB da PGRI-UNDP: 18-40. Prasodjo, N. W. 2005. Pengetahuan Lokal dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citanduy. Di dalam: Pembaharuan Tata-Pemerintahan Lingkungan: Menciptakan Ruang Kemitraan Negara-Masyarakat Sipil-Swasta. Bogor: PSP-LPPM IPB da PGRI-UNDP. 92-120. 142 Purnama, S. 2007. Menelusuri Arsitektur Masyarakat Sunda. Bandung: PT. Cipta Sastra Salura. Reijntjes, C., Haverkort, B., and Bayer, A. W. 1992. Farming for Future: An Introduction to Low-External-Input and Sustainable Agriculture. Netherland: ILEIA. Rigg, J. 1862. A Dictionary of The Sunda Language of Java. Batavia: Lange&Co. Rosidi, A. 2000. Ensiklopedi Sunda; Alam, Manusia, dan Budaya. Jakarta: Pustaka Jaya. Sartini. 2004. Menggali Kearifan Lokal Nusantara Sebuah Kajian Filsafati. Jurnal Filsafat. 37: 2 Sharma, E., Chettri, N., and Oli, K. P. 2010. Mountain biodiversity conservation and management: a paradigm shift in policies and practices in the Hindu Kush-Himalayas. Ecol Res. 25: 909-923. Simonds, J. O. 1983. Landscape Architecture. McGraw-Hill Book Co., Inc. New York. Soemarwoto, O., and G. R. Conway. 1992. The Javanese homegarden. Journal for Farming Systems Research-Extension. 2: 95-118. Soerianegara, I. dan Indrawan, A. 2005. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi Hutan, Fahutan, IPB: 37. Suryani, E. 2011. Ragam Pesona Budaya Sunda. Bogor: Ghalia Indonesia. Swanwcik, C. 2002. Landscape Character Assessment: Guidance for England and Scotland. UK: The Countryside Agency and Schottist Natural Heritage. Turpin, N. and Oueslati, W. 2008. Editorial: Landscape in the Dynamic of Local Economies. Landscape Research. 3: 259-262. Walker, D. H., Sinclair, F. L., Joshi, L., and Ambrose, B. 1997. Prospect for The Use of Corporate Knowledge Bases in The Generation, Managemen, and Communication of Knowledge at A Front-Line Agriculture Research Center. Agricultural Systems. 54: 291-312. [USDA-NAL] U.S. Department of Agriculture National Agricultural Library. 2007. Sustainable agriculture: definitions and terms.  http://www.nal.usda.gov/afsic/pubs/terms/srb9902.shtml#toc5 [9 Sep 2011].                                 LAMPIRAN    145 Lampiran 1. Aspek Kajian dalam Mencapai Sistem Pertanian Berkelanjutan (National Research Council/NRC). No. 1. Aspek Kajian Kriteria kesuksesan dan batasan penilaian aspek keberlanjutan sistem pertanian 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 2. Daftar Pertanyaan Faktor apa yang berkontribusi terhadap perkembangan atau kesuksesan usaha pertanian Anda? Dalam hal terpenting apa perubahan tersebut terjadi pada kurun waktu lima tahun terakhir? Secara umum, bagaimana Anda menilai kinerja sistem pertanian dalam beberapa kriteria umum aspek keberlanjutan berikut: a. Keberlanjutan ekosistem lokal (air, udara, tanah, keanekaragaman, dan spesies langka, dsb.) b. Keberlanjutan ekosistem global (penggunaan energi, iklim, dsb.) c. Keberlanjutan sosial (kualitas hidup, pekerja, ekonomi, masyarakat, dsb.) d. Keberlanjutan sistem pangan (kualitas pangan, nutrisi, kesesuaian harga dan kemudahan akses, dsb.) Kesempatan utama apa yang Anda miliki untuk meningkatkan pelaksanaan usaha pertanian? Resiko apa yang akan Anda hadapi? Bagaimana cara Anda menanggulangi masalah atau menurunkan resiko? Apakah Anda melakukan penelitian atau ekperimen dalam memperoleh metode baru? Jika iya, dalam bentuk apa? Apakah Anda bekerja sama dengan organisasi atau individu? Jika iya, dengan siapa? Apakah Anda memiliki masalah yang spesifik yang mungkin lebih menguntungkan dari penelitian ilmiah? Apa yang Anda pikirkan tentang usaha pertanian Anda di masa depan? Faktor apa sangat mempengaruhi terhadap keberlanjutan usaha Anda? Bagaimana menurut Anda tentang sistem pertanian berkelanjutan/sistem pertanian organik di masa depan? Apa Anda dapat memprediksi beragam hambatan dan tantangan untuk mencapai pertanian berkelanjutan, atau untuk membangun strategi tambahan untuk memperkaya keberlanjutan? Apakah Anda merasa tertantang ketika memikirkan tentang usaha pertanian yang Anda lakukan? Praktik Produksi Praktik 1. Praktik apa yang Anda lakukan dalam usaha pertanian: a. Konvensional ... % b. Manajemen hama terpadu ... % c. Masukan rendah ... % d. Organik yang telah disertifikasi ... % e. Sistem campuran tanaman dan hewan ... % 146 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kontrol Benih, Hama dan 1. Penyakit 2. 3. 4. 5. f. Biodinamis ... % g. Lainnya ... % Apakah Anda melakukan pergiliran tanaman? Apakah Anda menggunakan tanaman penutup? Apakah Anda mengontrol masa pembungaan, pengaturan buah, atau masa pertumbuhan tanaman? Apakah Anda membantu penyelesaian penyerbukan? Apakah Anda mengelola lebah atau agen penyerbukan lainnya? Jika Anda menanam tanaman tahunan, apakah Anda menggunakan varietas hibrida? Apakah Anda menanam tanaman musiman, kayu, atau tanaman pohon? Apakah Anda memiliki strategi untuk mengelola keanekaragaman hayati dalam usaha pertanian? Kontrol apakah yang Anda lakukan dalam penggunaan benih? Kontrol apakah yang Anda lakukan dalam penanganan penyakit? Kontrol apakah yang Anda lakukan dalam penanganan hama? Apakah Anda menggunakan pengendalian hama terpadu (PHT)? Praktik apa yang Anda berdayakan? Jika Anda menggunakan PHT, apakah Anda berkerja sama dengan instansi PHT atau dilakukan secara mandiri? Sumber Daya Tanah Karakteristik Tanah 1. Secara Umum (untuk tipe 2. tanah mayor) 3. Jelaskan tipe tanah pada lahan pertanian Anda? Apa keterkaitan karakteristik tanah dengan proses pengelolaan tanaman? Apa yang menjadi hambatan dalam hal tanah (erodibilitas, faktor penyebab banjir, miskin struktur, dsb.)? 4. Apa yang menurut Anda terbaik dari tanah dalam lahan pertanian Anda? Bagaimana Anda merespon tantangan terkait kualitas tanah? 5. Program manajemen tanah apa yang Anda lakukan? 6. Apakah Anda menilai kesehatan dan kesuburan tanah? Apakah Anda menggunakan bioassay untuk mengevaluasi aktivitas mikroba? 7. Apakah Anda menggunakan pupuk kimia? 8. Apakah Anda menggunakan kompos? 9. Apakah Anda menggunakan pupuk hijau? Jika iya, menggunakan jenis tanaman apa? 10. Apakah Anda menggunakan amandemen terkait pertanahan? Jika iya, dalam bentuk seperti apa? 11. Apakah Anda menggunakan metode konservasi tanah/pencegahan erosi? Jika iya, dalam bentuk apa? 12. Apakah Anda mengetahui lapisan bahan organik tanah? 147 Jika iya, bagaimana Anda mengukurnya? Sumber Daya Air Kuantitas 1. 2. 3. 4. 5. Kualitas 1. 2. 3. 4. 5. 6. Berapa rata-rata curah hujan? Apakah Anda menggunakan sistem irigasi? Bagaimana kecukupan suplai air dalam menunjang usaha pertanian Anda? Apakah Anda pernah membuat perubahan yang signifikan dalam upaya penyesuaian dengan kondisi sulit air/kekeringan? Apakah terjadi perubahan terkait ketersediaan air dalam beberapa tahun terakhir? Apakah kekhawatiran terhadap kualitas air di kawasan pertanian Anda mengalami peningkatan? Apakah kondisi tersebut berdampak pada usaha pertanian Anda? Apakah Anda pernah membuat perubahan yang signifikan dalam upaya penyesuaian dengan kondisi keperihatinan penurunan kualitas air? Apa langkah spesifik yang Anda lakukan untuk melindungi kualitas air di kawasan pertanian Anda? Apakah Anda menguji sumber daya air yang Anda miliki? Apakah Anda mengetahui isu terkait kesehatan air minum? Iklim Isu Perubahan Global Iklim 1. 2. 3. Apakah pernah terjadi banjir, badai, atau bencana yang disebabkan iklim lainnya yang berdampak pada usaha pertanian Anda dalam beberapa tahun terakhir? Bagaimana Anda merasakan usaha pertanian Anda telah memberi dampak pada perubahan iklim/pemanasan global? Apa yang Anda pikirkan terkait dampak usaha pertanian Anda di masa depan? Udara Isu Kualitas Udara 1. Apakah terdapat isu kualitas udara yang mempengaruhi usaha pertanian Anda? 2. Apa langkah nyata yang sudah Anda lakukan untuk mengurangi kekhawatiran akibat isu tersebut? Jejak Karbon (Carbon Footprint) Isu Jejak Karbon 1. 2. Dalam batas apa Anda menyadari dampak emisi gas rumah kaca (GRK) dari usaha pertanian Anda (seperti penggunaan minyak bumi dalam operasional mesin pertanian, penggunaan pupuk kimia, dan penggunaan bahan sintetik (plastik)? Apa langkah nyata yang sudah Anda lakukan untuk mengurangi kekhawatiran akibat isu tersebut? 148 Energi (Energy Renewable) Isu Energi Terbarukan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Apa sumber energi yang Anda gunakan? Apakah Anda menggunakan bentuk energy lain yang terbarukan (angina, cahaya matahari, dsb.) dalam usaha pertanian Anda? Seberapa efektifkah sistem tersebut berjalan? Apa yang menjadi aspek terbaik pada sistem tersebut? Apa yang menjadi aspek terburuk pada sistem tersebut? Apakah Anda memiliki rencana pengelolaan energi? Peralatan dan Gudang 1. 2. 3. 4. 3. Jenis peralatan apa yang digunakan dalam usaha pertanian Anda? Apakah Anda menggunakan tenaga hewan? Apakah Anda memiliki gudang penyimpanan hasil panen? Jika iya, dalam bentuk seperti apa dan kapasitas berapa? Apakah Anda memiliki gudang pendingin untuk pengawetan sayur dan buah? Jika iya, dalam bentuk seperti apa dan kapasitas berapa? Sosial dan Ekonomi/Pasar Penjualan 1. 2. Pemasaran 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Produk Organik 1. 2. Bagaimana perubahan nilai bruto dari penjualan hasil produksi pertanian Anda selama lima tahun terakhir? Apa yang Anda harapkan dalam waktu lima tahun mendatang? Dimana Anda menjual hasil produksi pertanian Anda? Berapa proporsi pemasaran hasil produksi pertanian yang dipasarkan dalam pasar lokal? Apakah produk Anda dipasarkan diluar daerah domisili Anda? Apakah Anda menjual setiap produk dalam ikatan kontrak dengan perusahaan pemasaran? Apakah Anda memperoleh pinjaman? Bagaimana perubahan pendekatan pemasaran yang Anda lakukan selama 5 – 10 tahun terakhir? Apakah Anda menambahkan nilai tambah pada produk yang dihasilkan melalui pengemasan atau pelabelan? Apakah produksi pertanian Anda telah memiliki sertifikat resmi yang anda gunakan dalam pemasaran? Jika Anda merupakan petani organik yang telah disertifikasi, silahkan untuk menjawab pertanyaan berikut: a. Apakah Anda mendapatkan bonus harga untuk produk yang dipasarkan? b. Apakah bonus tersebut meningkat atau menurun dalam beberapa tahun terakhir? c. Seberapa penting bonus tersebut terhadap kemampuan Anda untuk menjalankan sistem pertanian organik? 149 Finansial 1. Pendapatan Kotor 1. 2. Pendapatan Bersih 3. 1. 2. Pendapatan Pertanian VS. 1. Non Pertanian 2. Hutang 1. 2. Pekerja 1. 2. 3. 4. 5. Manajemen Resiko 1. 2. 3. 4. 5. 6. d. Apakah penting bonus untuk produk organik dalam mempengaruhi keputusan Anda menggunakan praktik pertanian berkelanjutan? Dapatkah Anda menjelaskan terkait aspek finansial dari usaha pertanian yang Anda lakukan selama ini? Apa perkiraan penjualan kotor dari produk pertanian? Apa perkiraan pendapatan dari pembayaran program pemerintah? Apakah ada sumber lain dari pendapatan pertanian? Berapa banyak pendapatan yang diperoleh dalam jangka waktu lima tahun terakhir? Apakah pendapatan bersih tersebut meningkat dalam lima tahun terakhir? Apakah ada dalam keluarga Anda yang bekerja di luar bidang pertanian? Dalam batas apa ketergantungan keluarga Anda terhadap bidang pertanian terkait pendapatan dan keuntungan? Bagaimana Anda menghitung rasio aktual dari hutang pertanian dengan aset yang dimiliki (apakah tidak ada hutang, hutang kurang dari 10% aset, hutang antara 10 – 40% aset, atau hutan lebih dari 40% aset)? Apakah Anda merasa nyaman dengan hutang yang Anda miliki saat ini? Apakah Anda memiliki pekerja yang membantu dalam usaha pertanian? Apakah Anda menyediakan rumah tinggal di dalam atau di luar kawasan pertanian untuk pekerja? Apakah Anda pernah menemukan kecukupan pekerja untuk mempertahankan usaha dan kualitas kehidupan secara bekelanjutan? Apa praktik nyata yang Anda lakukan untuk meyakinkan keadilan bagi setiap pekerja? Apakah isu terkait pekerja mempengaruhi keputusan Anda dalam memutuskan sistem pertanian yang dilakukan? Apa yang menjadi sumber resiko utama dalam usaha pertanian Anda? Strategi apa yang sudah Anda buat dalam usaha pertanian untuk menghadapi resiko tersebut? Bagaimana Anda berkompetisi dengan kondisi tingginya kebutuhan energi dan biaya? Apa alternatif yang dapat Anda siapkan dalam pengelolaan pertanian di masa mendatang terkait harapan pengurangan pemanfaatan energi tak terbarukan, pupuk kimia, sumber daya air dan lahan, serta peningkatan biaya produksi? Apakah Anda memiliki asuransi pertanian? Apa yang menyebabkan Anda menggunakan asuransi pertanian? 150 7. 8. 4. Jika Anda saat ini menggunakan asuransi, bagaimana Anda bisa mengimplementasikan aturan? Seberapa penting asuransi pertanian terhadap kemanan finansial dalam jangka waktu panjang? Sosial dan Kemasyarakatan Sosial Pertanian Tekanan Pembangunan 1. Apa yang memotivasi Anda untuk memilih sistem pertanian saat ini? Apa yang membuat Anda bertahan dalam menjalankan sistem tersebut? 2. Apakah konsumen memiliki dampak terhadap pertanian Anda? Apakah berdampak pada produk Anda? Jika iya, dampak seperti apa yang Anda rasakan? 3. Bagaimana Anda memperoleh informasi dan arahan tentang pertanian? 4. Siapa yang mendatangi Anda untuk memberi penyuluhan? 5. Apakah Anda berbagi informasi dengan petani lainnya? 6. Apakah Anda berupaya untuk menyebarkan informasi terkait upaya pertanian yang Anda lakukan? 7. Apakah Anda bergabung dengan kelompok tani atau organisasi pertanian? 8. Apakah Anda bekerja dengan dinas pemerintah? 9. Program pemerintah apa yang berdampak luas terhadap usaha pertanian Anda? 10. Apakah Anda mengikuti isu kebijakan terkait pertanian? Jika iya, bagaimana menurut Anda? 11. Bagaimana Anda mempengaruhi petani lainnya untuk mengikuti usaha pertanian dengan sistem yang Anda lakukan saat ini? 1. Berapa besar tekanan yang Anda rasakan terhadap usaha pertanian akibat pembangunan di sekitar kawasan pertanian Anda? 2. Apa tantangan dan kesempatan perkembangan dan pembangunan kota saat ini terhadap usaha pertanian Anda? 3. Terkait tantangan keberlanjutan/regenerasi, bagaimana Anda meyakinkan keberlanjutan dari usaha pertanian Anda: a. Bagaimana meyakinkan keberlanjutan nilai antar generasi/waktu? b. Bagaimana mengurangi biaya awal bagi petani baru dengan menyediakan biaya sewa lahan melalui kontrak jangka panjang atas dasar kepercayaan dan kesepakatan bersama. c. Bagaimana untuk menyalurkan informasi, pengetahuan, dan pengalaman kerja bagi generasi berikutnya? 4. Bagaimana untuk menjamin generasi tua ketika masa depan diberikan kepada generasi muda? 151 Lampiran 2. Aspek Kajian dalam Menggali Pengetahuan Masyarakat Lokal Berkelanjutan (Community Sustainablility Assessment/CSA). No. 1. Aspek Kajian Ekologi a. Rasa kepemilikan tempat (lokasi dan ukuran masyarakat, restorasi serta preservasi alam) b. Ketersediaan pangan, produksi dan distribusi c. Infrastruktur fisik, bangunan dan transportasi (material, metode, dan desain) Daftar Pertanyaan 1. Berapa lama Anda tinggal di kawasan kampung adat (KKA)? 2. Berapa generasi yang tinggal di KKA? 3. Berapa jumlah masyarakat di KKA? 4. Berapa kuat keterkaitan/intervensi masyarakat dengan alam? 5. Berapa banyak masyarakat yang mengetahui keanekaragaman hayati di KKA? 6. Bagaimana respon terhadap sumberdaya alami lokal (diperkaya, dilestarikan, atau diakui sebagai milik pribadi)? 7. Apakah kualitas air, tanah, dan udara rusak, tetap atau lebih baik? 8. Apakah keberagaman hayati (flora dan fauna) meningkat, tetap atau bahkan menurun? 9. Apakah terjadi kerusakan lingkungan di KKA? Apa penyebabnya? 10. Bagaimana partsisipasi masyarakat dalam upaya konservasi dan restorasi lingkungan di KKA? 11. Apa yang dilakukan masyarakat dalam mengkonservasi sumberdaya lingkungan? 1. Apakah sumberdaya pangan tersedia di KAA? 2. Apakah sumberdaya pangan mudah diperoleh/diakses? 3. Apakah sumberdaya pangan mudah didistribusikan dan dibeli dengan harga terjangkau? 4. Berapa banyak jenis tanaman pangan di KKA (produk lokal/indegenous, produk organik, dsb.)? 5. Berapa banyak jenis tanaman pangan yang di peroleh dari luar KKA? 6. Apakah ketersediaan sumberdaya pangan kurang, terpenuhi, atau berlebih? 7. Solusi untuk kelebihan pangan: disimpan, dijadikan pakan, dijual, dikomposkan, didonorkan, atau dibuang? 8. Apakah ruang sisa bangunan digunakan sebagai lahan produksi pangan? 9. Penggunaan pestisida, herbisida, dan pupuk kimia dalam produksi tanaman pangan? 10. Biji yang digunakan dalam produksi tanaman pangan (menggunakan biji lokal atua hibrida)? 1. Apakah bangunan yang tersedia memenuhi kriteria rumah? 2. Apakah bahan bangunan yang digunakan termasuk bahan alami, recyclable dan reusable, serta lokal? 3. Apakah bangunan didesain untuk menjaga 152 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. d. Pola konsumsi dan manajemen limbah padat 1. 2. 3. 4. e. Sumberdaya air (sumber, kualitas dan pola-pola penggunaan) 1. 2. 3. f. Manajemen limbah cair dan polusi air 4. 1. 2. 3. 4. keharmonisan dengan alam dan pencapaian bangunan hemat energi (orientasi, pembagian ruang, kombinasi dengan tanaman, pemilihan warna, material, dan lokasi, serta keberlanjutan desain dan konstruksi)? Apakah ada upaya penambahan terhadap bangunan eksisting? Apakah ada upaya pengaturan kembali bangunan, lanskap, dan ruang aktivitas masyarakat yang tidak sesuai dengan upaya konservasi lingkungan? Apakah desain masyarakat (bangunan, lanskap, dan ruang aktivitas) berorientasi terhadap kelestarian alam? Apakah ada upaya dalam mengurangi penggunaan kendaraan bermotor? Berapa sering masyarakat melakukan perjalanan ke luar KKA? Apakah terdapat metode transportasi yang ramah lingkungan? Dalam bentuk apa? Bagaimana kesempatan untuk mencari pekerjaan di dalam KKA dibandingkan di luar KKA? Berapa banyak masyarakat yang mengurangi konsumsi sumber daya alam dengan upaya: a) sukarela mengurangi konsumsi pribadi, b) berbagi pemanfaatan SDA yang tersedia. c) berbagi pemanfaatan fasilitas pemanfataan SDA, d) belanja secara kolektif, dsb? Bagaimana upaya untuk mengurangi kesenjangan antara kebutuhan konsumen dengan produsen terutama dalam pasar lokal? Apakah masyarakat sudah melakukan pengolahan (recycle) limbah padat (kaca, plastic, alumunium, dsb), pemanfaatan kembali (reuse) atau perbaikan (repair) untuk dijadikan fungsi lain tanpa harus membeli sesuatu yang baru? Berapa banyak masyarakat yang mengetahui metode pengelolaan limbah padat (lokasi dan metode)? Berapa banyak masyarakat yang mengetahui, menyadari, dan melindungi sumber daya air di KKA? Bagaimana cara pemanfaatan SDA dalam KKA? Bagaimana pengelolaan SDA yang dilakukan masyarakat untuk menjaga kualitas dan kuantitasnya? Bagaimana metode penampungan SDA? Bagaimana pengelolaan limbah cair di KKA? Berapa banyak masyarakat yang mengetahui lokasi dan metode pengelolaan limbah? Bagaiaman pengaruh limbah cair bagi masyarakat? Bagaimana kualitas limbah cair yang keluar dari 153 5. 6. g. Sumber energi penggunaannya dan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 2. Sosial-Ekonomi a. Keterbukaan, kepercayaan keselamatan sosial) dan (ruang b. Komunikasi (aliran ide dan informasi) c. Pencapaian jejaring dan pelayanan (pertukaran KKA? Apakah terdapat polusi air di KKA? Apakah terdapat sistem tradisional dalam upaya pengelolaan limbah cair? Berapa jumlah energi yang dihasilkan dari sumberdaya energi terbarukan (panas matahari, angina, air, biomasa, atau geothermal)? Berapa banyak energi terbarukan yang diambil dari luar KKA? Berapa banyak energi tidak terbarukan (nuklir atau minyak bumi) yang diambil dari luar KKA? Bagaimana respon masyarakat terhadap sumberdaya energi tidak terbarukan? Bagaimana distribusi informasi dan pendidikan mengenai konservasi energi di KKA? Bagaimana aktivitas masyarakat dalam pemanfaatan energi (memasak, mencuci, menyetrika, dsb.)? Apakah masyarakat sudah menerapkan upaya konservasi energi? Bagaimana model tradisional yang dilakukan masyarakat dalam uapaya konservasi energi? Jika masyarakat banyak menggunakan produk pohon sebagai sumberdaya energi, bagaimana mereka melakukan upaya konservasinya? 1. Apakah masyarakat menyadari akan pentingnya keterbukaan, kepercayaan, dan keselamatan? 2. Bagaimana mereka mengeksprsikannya? 3. Apakah masyarakat memberikan jaminan keamanan bagi wanita dan anak-anak? 4. Bagaimana hubungan interpersonal antara sesama anggota keluarga dan dengan keluarga lainnya (tetangga)? 5. Apakah sering terjadi kejahatan (orang dewasa, remaja, atau anak-anak)? 6. Apakah tersedia ruang sosial (indoor maupun outdoor) bagi aktivitas masyarakat? 7. Apakah tersedia ruang bermain untuk anak-anak? 8. Berapa sering masyarakat melakukan aktivitas sosial (berkumpul, bercanda, bermain, dsb.)? 1. Apakah sistem masyarakat yang ada telah mengakomodasi masyarakat dalam berbagi informasi dan ide? 2. Bagaimana sistem komunikasi yang digunakan dalam masyarakat di KKA? 3. Apa media yang digunakan masyarakat dalam berkomunikasi (tatap muka langsung, telepon, surat, dsb)? 1. Apakah informasi mengenai masyarakat KKA dapat dengan mudah diperoleh masyarakat luas? 154 sumberdaya internal/eksternal) d. Keberlanjutan sosial (keberagaman dan toleransi, penetapan keputusan, dan resolusi konflik) e. Pendidikan f. Kesehatan 2. Apakah metode kehidupan berkelanjutan masyarakat di KKA dapat diadaptasi oleh masyarakat luas? 3. Bagaimana keterlibatan masyarakat di KKA dalam pelayanan masyarakat baik di dalam maupun di luar KKA (regional, nasional bahkan internasional? 4. Apakah terdapat kesempatan bagi pemuda untuk melakukan pelayanan masyarakat? 5. Bagaimana masyarakat di KKA membangun jejaring komunikasi dengan masyarakat atau organisasi di luar KKA? 1. Berapa banyak masyarakat di KKA yang menghargai keberagaman dan toleransi baik di dalam maupun diluar KKA? 2. Apakah masyarakat di KKA mampu untuk mengatur KKA secara mandiri? 3. Apakah masyarakat menggunakan metode yang tidak mendiskriminasikan anggotanya dalam memecahkan permasalahan? 4. Apakah dalam proses penentuan kebijakan dilakukan secara transparan/terbuka? 5. Berapa banyak masyarakat yang terlibat aktif dalam proses penentuan kebijakan? 6. Apakah informasi atau pelatihan kemampuan dalam penentuan kebijakan tersedia bagi dewasa maupun remaja? 7. Berapa banyak masyarakat yang setuju bahwa kesuksesan sistem penentuan kebijakan terdapat dalam situasi yang sulit? 8. Apakah permasalahan sosial dapat dengan mudah diselesaikan menggunakan sistem yang suportif dan bukan punitif? 9. Apakah masyarakat dapat dengan mudah masuk ke dalam sistem resolusi konflik? 10. Apakah informasi atau pelatihan kemampuan dalam pemecahan konflik tersedia bagi dewasa dan pemuda? 11. Apakah masyarakat setuju bahwa sistem pemecahan konflik akan berhasil ketika HAM dipertahankan dan penerapan hukum yang tidak pandang bulu? 1. Bagaimana proses pendidikan berlangsung di masyarakat KKA (formal atau informal dengan ragam bentuknya)? 2. Bagaimana kesempatan bagi masyarakat untuk mengenyam dunia pendidikan, apakah tersedia dan mudah diakses? 3. Apakah kesempatan pendidikan tersedia bagi seluruh jenjang usia (di dalam maupun di luar KKA)? 4. Bagaimana sistem pendidikan dan metode KBM di KKA? 1. Bagaimana ketersediaan fasilitas penunjang 155 2. 3. 4. 5. 6. g. Keberlajutan (kesehatan lokal) ekonomi ekonomi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 3. Spiritual-Budaya a. Keberlanjutan budaya b. Kesenian dan wisata kesehatan masyarakat di KKA? Bagaimana sistem kesehatan tradisional yang diterapkan masyarakat di KKA? Bagaimana kondisi kesehatan masyarakat di KKA? Bagaimana komitmen masyarakat terhadap aspek kesehatan masyarakat? Apakah pernah terjadi kejadian yang serius (bencana alam, kebakaran, dsb.)? Apakah pernah terjadi kematian yang disebabkan oleh bunuh diri, pembunuhan, over dosis obat terlarang, dsb? Apakah terdapat upaya nyata dalam menyokong perekonomian masyarakat lokal di KKA? Apakah terdapat bank lokal atau badan keuangan lainnya yang membantu aktivitas perekonomia masyarakat di KKA? Berapa banyak remaja yang meninggalkan komunitas untuk mencari sumber penghidupan? Berapa banyak masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan? Apakah masyarakat pengangguran mendapat subsidi dari pemerintah atau pihak lain? Berapa banyak masyarakat yang tidak mampu mengakomodasi kebutuhan dasar kehidupannya (makanan, pangan, dan papan)? Bagaimana sistem perekonomian yang berlangsung di dalam masyarakat di KKA? Apakah masyarakat berperan aktif dalan sistem perekonomian lokal/rakyat? Apakah masyarakat merasakan manfaat dari aktivitas perekonomian lokal baik secara moneter maupun non-moneter? 1. Bagaiamana masyarakat menjaga eksistensi budayanya? 2. Sumber daya budaya apa saja yang menjadi kebanggaan masyarakat di KKA? 3. Apakah setiap gelaran aktivitas budaya terbuka untuk masyarakat umum? 4. Apakah masyarakat di KKA mengetahui sejarah dari KKA? 5. Apakah dengan melalui gelaran aktivitas budaya, nilai-nilai budaya akan terdistribusi dengan baik? 1. Apakah akses bagi masyarakat untuk meningkatkan kemampuan dalam kesenian terbuka? 2. Jenis kesenian apa saja yang dibudayakan dalam masyarakat di KKA? 3. Bagaimana masyarakat menilai dan mendukung pengembangan kesenian dan pelaku seni lokal? 4. Apakah masyarakat memiliki waktu luang untuk 156 5. 6. 7. 8. c. Keberlanjutan spiritual 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. d. Keeratan komunitas 1. 2. 3. 4. 5. e. Kelenturan komunitas 1. 2. 3. berekreasi dan berwisata (olah raga, hobi, relaksasi, dsb)? Apakah terdapat ruang sosial bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas sosial? Berapa sering masyarakat melakukan aktivitas kesenian di KKA? Apakah desain kawasan dan penampilan masyarakatnya memunculkan nilai seni, keindahan, dan kualitas estetika yang baik? Bagaimana respon, ekspresi, dan pengalaman masyarakat terhadap keindahan seni, taman, arsitektur, dsb.? Apakah masyarakat diberi kebebasan untuk memeluk dan meyakini agama dan kepercayaan yang diyakininya? Apakah fasilitas untuk meningkatkan ketakwaan masyarakatnya tersedia dengan mudah? Bagaimana kondisi spiritualitas dalam masyarakat? Apa aktivitas dan media spiritual yang dilakukan oleh masyarakat? Berapa sering masyarakat melakukan ritual keagamaan? Bagaimana kearifan lokal masyarakat dan nilai keagamaan yang diyakininya mampu memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian lingkungan? Apakah tersedia ruang khusus untuk pelaksanaan ritual keagamaan? Apakah masyarakat merasakan pentingnya agama dalam kehidupannya? Bagaimanan gambaran/manifestasi nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat di KKA? Apakah masyarakat setuju bahwa kualitas hidup dalam bermasyarakat adalah lebih baik dari individualis? Bagaimana masyarakat berbagai dalam hal keyakinan, nilai, dan pengalaman? Bagiamana prinsip-prinsip moral beradaptasi menjadi filosofi bagi kehidupan masyarakat? Bagaiamana masyarakat secara tradisional menjaga keeratan hubungan antar warga? Bagaimana hubungan masyarakat berdasarkan gender? Apakah masyarakat mampu merespon secara positif masalah yang terjadi pada anggota masyarakatnya? Apakah masyarakat bisa menerima ketika membutuhkan bantuan pihak luar dalam menangani masalahan yang terjadi? Bagaimana masyarakat merespon permasalahan yang terjadi pada anggota masyarakat yang termarjinalkan? 157 f. Paradigma pandangan global g. Kesadaran dan global baru, perdamaian 4. Bagaimana masyarakat mengupayakan kemampuannya dalam memecahkan permasalahan yang terjadi? 5. Bagaimana upaya tradisional yang dapat dilakukan masyarakat dalam menghadapi permasalahan? 1. Apakah masyarakat menyadari tanggung jawabnya dalam mengembangkan diri dan masyarakatnya? 2. Apakah masyarakat menyadari bahwa keberagaman manusia harus dinilai dan didukung sama pentingnya seperti kesehatan dan kesuksesan masyarakat? 3. Apakah terdapat kesadaran untuk berbagi baik dalam komunitas lokal maupun global? 4. Apakah masyarakat telah mengetahui dan menerima konsep keberlanjutan? 5. Apakah ada kesadaran masyarakat bahwa apa yang dilakukan masyarakat adalah untuk keberhasilan masyarakat itu sendiri? 1. Apakah masyarakat menyadari bahwa keharmonisan dalam keberagaman sangat bermanfaatn bagi komunitas? 2. Apakah aktivitas masyarakat berdampak pada keterbukaan hati dan pikiran anggota masyarakat untuk sebuah pengalaman bersama yang berharga? 3. Apakah ketika penentuan kebijakan, anggota masyarakat dapat menggunakan hati dan pikirannya secara bijak, jujur, dan penuh dedikasi? 4. Apakah masyarakat berani bertanggung jawab atas perbuatan salah yang diperbuat? 5. Apakah masyarakat bijak (selfless)? 6. Apakah KKA merupakan tempat yang baik untuk memupuk perdamaian baik lokal maupun global? 158 Lampiran 3. Kriteria Penilaian dalam Community Sustainability Assessment/CSA No. Parameter Aspek Ekologis 1. Perasaan terhadap tempat 2. Ketersediaan, produksi, dan distribusi makanan 3. Infrastruktur, bangunan, dan transportasi 4. Pola konsumsi dan pengelolaan limbah padat 5. Air-sumber mutu dan pola penggunaan 6. Limbah cair dan pengelolaan polusi air 7. Sumber dan penggunaan energy Total nilai aspek ekologis Aspek Sosial 1. Keterbukaan, kepercayaan, keselamatan; ruang bersama 2. Komunikasi, aliran gagasan, dan informasi 3. Jaringan pencapaian dan jasa 4. Keberlanjutan sosial 5. Pendidikan 6. Pelayanan kesehatan 7. Keberlanjutan ekonomi lokal yang sehat Total nilai aspek sosial Aspek Spiritual 1. Keberlanjutan budaya 2. Seni dan kesenangan 3. Keberlanjutan spiritual 4. Keterikatan masyarakat 5. Kelenturan masyarakat 6. Holografik baru berorientasi global 7. Perdamaian dan kesadaran global Total nilai aspek spriritual Total nilai aspek keseluruhan Keterangan: 1. Pembobotan parameter dalam satu aspek (*) 50+ : Menunjukan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 25-49 : Menunjukan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-24 : Menunjukan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan 2. Pembobotan parameter dalam satu aspek (**) 333+ : Menunjukan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 166-332 : Menunjukan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-165 : Menunjukan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan 3. Pembobotan parameter dalam satu aspek (***) 999+ : Menunjukan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 500-998 : Menunjukan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-449 : Menunjukan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan Bobot * * * * * * * ** * * * * * * * ** * * * * * * * ** *** Lampiran 4. Jenis Tanaman Dominan dalam Agroekosistem Kebun-Talun No. 1 Dusun Ciomas Plot 1a 2a 3a 2 Mandalare 1b 2b 3b 3 Kertabraya 1c 2c 3c Nama Lokal Pisang Kelapa Sengon/Albo Pisang Sengon/Albo Cengkeh Jati Mengkudu Sengon/Albo Pisang Cengkeh Sengon/Albo Pisang Sengon/Albo Cengkeh Pisang Jati Bambu Apus Kopi Robusta Pisang Suren Pisang Suren Gmelina Pisang Cengkeh Sengon/Albo Nama Botani Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Paraserianthes falcataria Syzygium aromaticum Tectona grandis L.f. Morinda citrifolia L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Syzygium aromaticum Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Paraserianthes falcataria Syzygium aromaticum Musa paradisiaca L. Tectona grandis L.f. Gigantochloa apus Coffea robusta L. Musa paradisiaca L. Toona sureni (BI.) Merr Musa paradisiaca L. Toona sureni (BI.) Merr Gmelina arborea Roxb. Musa paradisiaca L. Syzygium aromaticum Paraserianthes falcataria Individu 46 9 9 21 15 10 28 9 5 58 16 18 39 18 14 33 15 13 24 24 23 63 10 10 54 18 13 Kelompok Herba Pohon Pohon Herba Pohon Perdu Pohon Perdu Pohon Herba Perdu Pohon Herba Pohon Perdu Herba Pohon Pohon Perdu Herba Pohon Perdu Pohon Pohon Herba Perdu Pohon Fungsi Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Industri/Lainnya Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Obat Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Industri/Lainnya Bumbu/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Industri/Lainnya Industri/Sayur/Obat/Lainnya Buah Buah/Penghasil Pati/Obat Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Industri/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya 159   160 Lampiran 5. Jenis Tanaman Dominan dalam Agroekosistem Sawah No. 1 Dusun Ciomas Plot 1a 2a 3a 2 Mandalare 1b 2b 3b 3 Kertabraya 1c 2c 3c   Nama Lokal Pisang Kelapa Sengon/Albo Pisang Sengon/Albo Kelapa Pisang Pisang Kelapa Sengon/Albo Pisang Kelapa Sengon/Albo Pisang Kelapa Sengon/Albo Pisang Pisang Sengon/Albo Pisang Kelapa Sengon/Albo Pisang Kelapa Sengon/Albo Pisang Nama Botani Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Paraserianthes falcataria Cocos nucifera L. Musa paradisiaca L. Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Musa paradisiaca L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Individu 17 8 6 123 11 6 73 35 11 6 63 6 6 37 9 6 54 43 6 117 3 3 17 8 6 123 Kelompok Herba Pohon Pohon Herba Pohon Pohon Herba Perdu Pohon Pohon Herba Pohon Pohon Herba Pohon Pohon Herba Herba Pohon Herba Pohon Pohon Herba Pohon Pohon Herba Fungsi Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Industri/Lainnya Buah/Bumbu/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Penghasil Pati/Obat Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Lampiran 6. Jenis Tanaman Dominan dalam Agroekosistem Pekarangan No. 1 Dusun Ciomas Plot 1a 2a 3a 2 Mandalare 1b 2b 3b 3 Kertabraya 1c 2c 3c Nama Lokal Pisang Pepaya Cengkeh Pisang Pepaya Sengon/Albo Pisang Pepaya Sengon/Albo Pisang Pepaya Cengkeh Pisang Sengon/Albo Pepaya Pisang Jambu Biji Alpukat Pisang Kelapa Sengon/Albo Pisang Pepaya Sengon/Albo Pisang Pepaya Nama Botani Musa paradisiaca L. Carica papaya L. Syzygium aromaticum Musa paradisiaca L. Carica papaya L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Carica papaya L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Carica papaya L. Syzygium aromaticum Musa paradisiaca L. Paraserianthes falcataria Carica papaya L. Musa paradisiaca L. Psidium guajava L. Persea Americana L. Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Carica papaya L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Carica papaya L. Individu 7 5 3 8 3 3 5 5 3 8 3 2 9 7 2 6 4 1 16 5 5 11 5 2 7 3 Kelompok Herba Herba Perdu Herba Herba Pohon Herba Herba Pohon Herba Perdu Perdu Herba Pohon Herba Herba Perdu Pohon Herba Pohon Pohon Herba Herba Pohon Herba Herba Fungsi Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Obat Bumbu/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Obat Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Obat Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Obat Bumbu/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Industri/Lainnya Buah/Obat Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Obat Buah/Obat Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Obat Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Obat 161   162 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bandung pada tanggal 23 Desember 1986 dari ayah Drs. H. Ahmad Mulyadiprana, M.Pd, dan ibu Dra. Hj. Iis Mardiana. Penulis merupakan putra pertama dari tiga bersaudara. Pendidikan sarjana ditempuh di Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian IPB, lulus pada tahun 2010. Pada tahun yang sama, penulis diterima di Program Studi Arsitektur Lanskap pada Program Pascasarjana IPB dan menamatkannya pada tahun 2012. Selama mengikuti program strata-2, penulis aktif sebagai asisten mata kuliah Teknik Penulisan Ilmiah dan Pelestarian Lanskap Sejarah dan Budaya untuk jenjang strata-1, serta mata kuliah Interaksi Manusia dan Lanskap untuk strata-2. Pada tahun 2009 penulis mendapat kesempatan untuk mengikuti short research selama enam bulan di International Field Science Course, Faculty Agriculture,  Kochi University, dalam program Japan-East Asia Network of Exchange of Students and Youths (JENESYS) dan di Graduate School of Global Environmental Studies (GSGES) Kyoto University pada bulan Maret 2012. Karya ilmiah berupa abstrak dan poster disajikan dalam kumpulan abstrak pada The Second SUIJI International Seminar yang diselenggarakan bersama oleh enam universitas (IPB, UGM, UNHAS, Kochi University, Ehime University, dan Kagawa University) tahun 2012. Selain itu, penulis aktif dalam lingkung seni Sunda Gentra Kaheman IPB sebagai pembina dan aktivitas lingkungan sebagai koordinator Sahabat KS BERIMAN IPB. ABSTRACT MOHAMAD ZAINI DAHLAN. Study on The Characteristic of Sunda Parahiyangan Landscape for A Model of Sustainable Agricultural Landscape. Supervised by NURHAYATI H. S. ARIFIN and WAHJU QAMARA MUGNISJAH. Agricultural landscape (agroecosystem) is a unified system of ecology and socio-economic and also spiritual-culture that involved in production of foods, shelters, clothes, fibers, biofuels, and other agricultural products. Sustainability of agroecosystem is needed to support the continuity of life, especially for rural communities that relied strongly on agricultural resources. Sundanese society as a rural and mountain society has its own traditional ecological knowledges (TEK). TEK of Sundanese society could be a filter for modernization that negatively affects socio-cultural life of the society itself, as well as damages the nature and environment. Regarding to the role of TEK, it is necessary to do an explorative and descriptive-qualitative study of the various forms of TEK in the context of sustainable agriculture. The qualitative method was used for collecting relevant data to the characteristic of Sunda Parahiyangan landscape. The Data were collected by using Rapid Participatory Rural Appraisal (rPRA) through semi-structured interview, Focus Group Discussion (FGD), and field survey. Data analysis used Landscape Characteristic Assessment (LCA) to analyze character of Sunda Parahiyangan landscape, Knowledge-Based System Methodology to analyze TEK, National Research Council (NRC) and Community Sustainability Assessment (CSA) to analyze sustainable agricultural landscape. The sustainability of agricultural landscape was proposed to achieve USDA’s sustainable agricultural landscape criteria. The study results indicate that the Sunda Parahiyangan agroecosystem has unique characteristics as a result of the adaptation of society to nature and environment through a learning process from generation to generation in a relatively long time period. The character at rural landscape that has been created is a mountainous agricultural landscape type with abundant water resource as a main element. Therefore, Sundanese society called as mountain people (urang gunung) and water people (urang cai). In general, this character is reflected in some Sundanese’s agroecosystems such as kebun-talun (forest garden), sawah (paddy field), and pekarangan (home garden) that located in the surrounding settlement area. Furthermore, kabuyutan concept is one of the TEKs related to understanding and utilization of nature and environment. Kabuyutan is focused on revitalizing the role of forest (mountain) as a buffer of agroecosystem balance by calculating and deciding protected area (leuweung larangan/protected forest and leuweung tutupan/conservation forest). To support the sustainability, integrated between traditional and modern concept by practicing agroforestry system with low external-input and sustainable agriculture (LEISA) system and also applying Islamic management could be applied in utilizing and managing agricultural resources. Keywords: agroecosystem, mountainous agricultural landscape, mountain and water society, traditional ecological knowledge/TEK, kabuyutan, rural landscape management RINGKASAN MOHAMMAD ZAINI DAHLAN. Kajian Karakteristik Lanskap Sunda Parahiyangan sebagai Model Lanskap Pertanian Berkelanjutan. Dibimbing oleh NURHAYATI H. S. ARIFIN dan WAHJU QAMARA MUGNISJAH. Kawasan Sunda Parahiyangan yang berada di bagian hulu DAS Citanduy (Sub-DAS Cimuntur) merupakan bagian dari satuan kawasan lanskap pertanian. Lanskap pertanian yang disusun oleh beragam agroeksosistem merupakan perpaduan sistem ekologi dan sosial-ekonomi yang terdiri dari tumbuhan dan hewan yang sudah didomestikasikan serta masyarakat yang mengelolanya untuk menghasilkan pangan, papan, sandang, serat, biofuel, serta produk pertanian lainnya. Keberadaan unsur-unsur penyusun agroekosistem di daerah perdesaan menjadi bagian penting dalam menciptakan kawasan perdesaan yang berkelanjutan. Masyarakat pertanian Sunda Parahiyangan sebagai bagian integral dari agroekosistem memiliki perananan penting dalam menunjang pembangunan dan pengembangan kawasan perdesaan. Dengan sistem pengetahuan tradisional yang dimilikinya, secara turun-temurun masyarakat memanfaatkan sumber daya pertanian berdasarkan kearifannya sehingga terbukti mampu memberikan manfaat secara lestari tidak hanya untuk generasi sekarang, melainkan juga untuk generasi yang akan datang. Sistem usaha tani yang dilakukan masyarakat tidak hanya berorientasi untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga berperan aktif dalam melestarikan sumber daya pertaniannya. Dengan demikian, kearifan masyarakat lokal dapat menjadi pendorong dinamisasi dalam mencapai pembangunan pertanian di perdesaan yang berkelanjutan. Sistem pembangunan pertanian berkelanjutan merupakan solusi tepat untuk menciptakan kehidupan perdesaan berkelanjutan. Sistem tersebut harus mampu mengkonservasi tanah, air, tanaman, dan hewan, tidak merusak lingkungan, serta secara teknis tepat guna, ekonomi layak, dan sosial-budaya dapat diterima. Melihat besarnya peranan kearifan lokal, perlu dilakukan kajian yang bersifat eksploratif terhadap ragam bentuk kearifan lokal dalam konteks pertanian berkelanjutan yang dapat menjadi referensi bagi penerapan model lanskap pertanian berkelanjutan. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji karakteristik lanskap pertanian Sunda Parahiyangan, mengkaji ragam manifestasi kearifan lokal masyarakat Sunda Parahiyangan dalam konteks lanskap pertanian berkelanjutan, dan menyusun model pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif. Penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan yang mencakup kegiatan prapenelitian, penelitian, analisis dan sintesis, serta penyusunan rekomendasi pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan berbasis kearifan lokal masyarakat Sunda Parahiyangan. Data yang dibutuhkan berupa data fisik, kesejarahan, sistem sosial-ekonomi, sistem pertanian masyarakat, sistem spiritual-budaya, traditional ecological knowledge/TEK (selanjutnya digunakan pengetahuan ekologik tradisional/PET), dan kebijakan pengelolaan diperoleh melalui pelibatan aktif masyarakat lokal dengan pendekatan metode Rapid Partisipatory Rural Appraisal (rPRA) berupa wawancara semi terstruktur, Focus Group Discussion (FGD), dan observasi lapang. Data penunjang diperoleh melalui penelusuran literatur terkait topik penelitian. Analisis karakteristik lanskap pertanian dilakukan berdasarkan acuan karakterisasi lanskap Landscape Characteristic Assessment/LCA. Analisis ragam pengetahuan ekologi tradisional menggunakan metode pengetahuan berbasis sistem (The Knowledge-Based System Methodology). Keberlanjutan lanskap dianalisis berdasarkan acuan keberlanjutan lanskap pertanian National Research Council/NRC dan Community Sustainability Assessment/CSA untuk menyusun strategi kebijakan pengelolaan yang mengarah pada pembangunan pertanian berkelanjutan berdasarkan kriteria keberlanjutan USDA. Kawasan studi berada dalam tatanan lanskap pegunungan Sunda Parahiyangan dengan karakteristik agroekosistem yang khas sebagai cerminan dari budaya Sunda. Sumber daya lanskap (elemen lanskap) Sunda Parahiyangan secara umum dimanfaatkan untuk lahan pertanian dan nonpertanian. Karakteristik lahan disusun oleh jenis tanah litosol, latosol, dan regosol, topografi dari landai hingga sangat curam, serta sumber daya air yang didukung kondisi iklim berupa curah hujan rata-rata 4.000 mm/th, suhu harian rata-rata 25 0C, dan kelembaban nisbi rata-rata 80% yang ideal untuk pertanian. Unsur-unsur pembentuk lahan berkontribusi dalam memberikan media tumbuh serta habitat bagi beragam vegetasi dan satwa yang sesuai dengan kondisi fisik alam dan lingkungannya. Berbagai unsur pembentuk lahan dikelola oleh masyarakat dengan PET yang dimilikinya untuk membentuk berbagai pola sistem ekologi pertanian (agroekosistem). Agroekosistem yang terbentuk di daerah studi terdiri dari kebuntelun, sawah, dan pekarangan yang berada dalam kawasan permukiman. Sistem sosial-ekonomi masyarakat pertanian terlihat dalam aktivitas produktif dan reproduktif. Aktivitas tersebut merupakan kegiatan ekstraksi sumber daya pertanian untuk dimanfaatkan sebagai sumber kehidupan. Aktivitas produktif dilakukan di lahan pertanian (on farm), sedangkan aktivitas reproduktif dilakukan di luar lahan untuk pemanfaatan sumber daya pertanian secara lebih layak (off farm). Pemanfaatan lahan dominan sebagai kawasan pertanian belum mampu memberikan hasil optimal meskipun menjadi sumber pendapatan inti keluarga petani. Kepemilikan lahan garapan yang relatif sempit (gurem) dengan rata-rata 0,3 ha/petani, tingginya biaya produksi, kurangnya dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian, serta kurang efektifnya peran pemerintah dalam mendukung usaha produksi pertanian masyarakat menjadi penyebab rendahnya peran pertanian dalam meningkatkan taraf hidup keluarga petani. Pengetahuan ekologik tradisional terkait pertanian dalam sistem spiritualbudaya diekspresikan masyarakat dengan mengenal istilah atau nama lokal dari adat, aktivitas, dan obyek budaya pertanian. Salah satu PET dalam pengelolaan agroekosistem adalah konsep kabuyutan. Kabuyutan dipercaya sebagai model pengelolaan lanskap pertanian yang terbukti mampu memberikan manfaat berupa ketersediaan sumber daya pertanian yang optimal dan lingkungan yang lestari. Hal tersebut merupakan potensi yang dimiliki masyarakat untuk tetap bertahan dalam menjalankan kehidupannya dari usaha pertanian. Peran masyarakat pertanian di perdesaan diharapkan bukan sebagai konsumen eksploitatif, tetapi konsumen yang mampu memanfaatkan sumber daya secara adil dan bijaksana. Adil berarti memanfaatkan sesuai kebutuhan dan kemampuan daya dukung sumber daya; bijaksana berarti tetap mempertimbangkan pemanfaatan untuk generasi selanjutnya. Berdasarkan hasil analisis dengan kriteria penilaian NRC, daerah studi memiliki potensi keberlanjutan cukup baik untuk mendukung usaha pertanian di setiap agroekosistem. Secara fisik, kondisi sumber daya pertanian yang melimpah dapat memberikan kesempatan bagi petani untuk memanfaatkan sumber daya pertanian tidak hanya untuk saat ini tetapi untuk kebutuhan di masa yang akan datang. Di samping itu, ketersediaan sumber daya pertanian dapat memberikan kualitas hidup yang layak bagi petani dengan tersedianya lapangan pekerjaan untuk melakukan aktivitas produktif dan reproduktif, serta ketersediaan pangan dengan kualitas prima, cukup nutrisi, mudah diperoleh, dan harga yang sesuai. Kondisi optimal dapat dicapai dengan menjaga kualitas dan kuantitas sumber daya air dan tanah sebagai elemen utama pembentuk lanskap pertanian Sunda Parahiyangan. Berdasarkan hasil analisis keberlanjutan masyarakat dengan metode CSA, diperoleh hasil tingkat keberlanjutan masyarakat yang menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan dengan nilai rata-rata sebesar 1156. Namun, upaya perbaikan dan penyempurnaan dalam beberapa aspek yang bernilai kurang dari 50 perlu dilakukan untuk mencapai keberlanjutan yang optimal seperti pada aspek infrastruktur berupa penyediaan lahan pertanian, sarana, dan prasarana pertanian. Konsep pengelolaan lanskap pertanian Sunda Parahiyangan dapat dilakukan dengan penerapan model tradisional dan modern. Pengetahuan ekologik tradisional merupakan modal utama yang disempurnakan oleh pengetahuan ekologik modern guna merespon dinamika lanskap yang terjadi. Keterpaduan dapat dilakukan melalui penerapan konsep kabuyutan yang diintegrasikan dengan sistem pertanian agroforestry dalam setiap agroekosistem disertai optimalisasi asupan dari dalam dan efisiensi masukan dari luar (low-external-input and sustainable agriculture/LEISA). Selain LEISA, pengaruh luar berupa inisiasi program pemberdayaan masyarakat perdesaan baik dari pemerintah maupun swasta perlu dilakukan dengan pelibatan aktif masyarakat lokal. Pemberdayaan diarahkan untuk penguatan spiritual-buaya masyarakat yang dapat meningkatkan produktivitas serta etos kerja untuk mencapai kesejahteraan sehingga berdampak pada pemanfaatan sumber daya pertanian yang berkelanjutan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa lanskap pertanian Sunda Parahiyangan memiliki karakteristik yang khas berupa karakter lanskap pertanian pegunungan dengan air sebagai elemen pembentuk lanskap utama yang diaktualisasikan dalam ragam agroekosistem khas masyarakat Sunda seperti kebun-talun, sawah, dan pekarangan dalam kawasan permukiman. Konsep kabuyutan merupakan pengetahuan ekologik tradisional masyarakat yang fokus pada revitalisasi peran hutan (gunung) sebagai penyangga keseimbangan sistem ekologi pertanian. Sistem pertanian agroforestry modern dengan ragam bentuk pengembangannya berpotensi menjadi model pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan dengan penerapan sistem LEISA yang ditunjang oleh kebijakan pemerintah yang adil dan bijaksana bagi masyarakat perdesaan. Dengan demikian, dapat terbentuk lanskap pertanian dengan kondisi fisik yang lestari serta masyarakat yang kuat secara sosial-ekonomi dan sehat secara spiritual-budaya. Kata kunci: lanskap pertanian/agroekosistem, Sunda Parahiyangan, pengetahuan ekologik tradisional/PET, kabuyutan, pengelolaan lanskap perdesaan I. PENDAHULUAN  1.1. Latar Belakang Model pertanian konvensional yang lebih berorientasi kepada percepatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan telah mengakibatkan dampak negatif pada ketersediaan sumber daya alam dan kualitas lingkungan pertanian. Kondisi tersebut menjadi bukti bahwa sudah saatnya Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya pertanian (negara agraris) mengubah paradigma ke arah pembangunan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) dalam hal sistem, strategi, dan kebijakan. Pertanian berkelanjutan didefinisikan sebagai pertanian yang memiliki daya saing tinggi, produktif, menguntungkan, mengkonservasi sumber daya pertanian, meningkatkan kualitas pangan, serta menjaga ketersediaan saat ini dan akan datang. Dengan demikian, pembangunan pertanian harus mampu mengkonservasi tanah, air, tanaman dan hewan, tidak merusak lingkungan, serta secara teknis tepat guna, secara ekonomi layak, dan secara sosial-budaya dapat diterima (FAO, 2010). Indonesia, sebagai negara agraris dengan mayoritas penduduknya merupakan masyarakat pertanian, memiliki keterkaitan yang erat dengan pembangunan pertanian berkelanjutan. Masyarakat Indonesia dengan pekerjaan utama di bidang pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan memiliki porsi terbesar dengan jumlah pekerja 84.320.748 jiwa atau sekitar 35% dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 237.641.000 jiwa (BPS, 2011). Melimpahnya potensi alam, kuatnya budaya masyarakat agraris serta beragamnya kearifan masyarakat lokal, sangat berpotensi dalam merealisasikan Indonesia sebagai negara agraris berkelanjutan yang mampu menciptakan kelestarian sumber daya alam dan lingkungan, kesejahteraan sosial, serta pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Kawasan perdesaan sebagai basis produksi pertanian dengan beragam budaya masyarakatnya telah melahirkan berbagai macam kearifan lokal. Kearifan lokal tersebut telah melalui perjalanan panjang sehingga menjadi intisari dan kompilasi pengalaman hidup serta terus diwariskan secara turun-temurun (Sartini 2004). Kearifan lokal masyarakat pertanian sebagai cerminan dari pengetahuan 2 ekologi tradisional dapat menjadi penyaring modernisasi yang dapat berdampak negatif bagi kehidupan sosial dan budaya masyarakat, serta merusak alam dan lingkungan. Kearifan lokal telah terintegrasi secara sadar dalam penataan lanskap pertanian, tata cara bertani, dan pola kehidupan masyarakat pertanian. Budaya bertani tercermin dalam kehidupan masyarakat pertanian Sunda Parahiyangan di Kabupaten Ciamis sebagai bagian integral dari suatu lanskap pertanian yang memanfaatkan sumber daya pertanian menjadi ragam bentuk agroekosistem. Sunda Parahiyangan merupakan kawasan yang dibentuk oleh dataran tinggi hingga pegunungan. Karakteristik lanskap yang khas tersebut telah membentuk suatu tatanan budaya masyarakat dengan sektor pertanian sebagai sumber usaha dan penghasilan utama bagi masyarakatnya (Rigg, 1862; Lubis, Nugraha, Wildan, Dyanti, Sofianto, Falah, Dienaputra, dan Djubiantono, 2003). Kabupaten Ciamis merupakan bagian dari kawasan Parahiyangan/Priangan dan termasuk ke dalam Satuan Wilayah Sungai Citanduy (DAS Citanduy). Selain sebagai sumber kehidupan, masyarakat pertanian berperan aktif dalam mengelola sumber daya pertanian agar tetap lestari. Kondisi aktual di daerah studi sebagai dampak dari sistem pertanian konvensional, terjadi berbagai masalah pertanian seperti kesuburan dan produktivitas lahan menurun, daya dukung lingkungan berkurang, konversi lahan, jumlah penduduk miskin dan pengangguran relatif meningkat, serta kesenjangan sosial semakin terlihat jelas. Peran ganda inilah yang menjadi hal menarik bahwa di satu sisi masyarakat memerlukan sumber daya pertanian untuk keberlangsungan hidupnya, di sisi lain mereka memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keberlangsungan sistem ekologi pertanian agar tetap lestari. Dengan demikian, kearifan lokal masyarakat Sunda Parahiyangan dapat menjadi penyaring modernisasi yang dapat berdampak negatif bagi kehidupan sosial-ekonomi dan spiritual-budaya masyarakat, serta kelestarian alam dan lingkungannya. Melihat besarnya peranan kearifan lokal, perlu dilakukan kajian eksploratif terhadap ragam bentuk kearifan lokal dalam konteks pertanian berkelanjutan. Kajian terhadap karakteristik lanskap pertanian Sunda Parahiyangan menjadi salah satu obyek kajian yang dapat menghasilkan informasi sebagai referensi bagi penerapan model lanskap pertanian berkelanjutan 3 1.2. Rumusan Masalah Penelitian Rumusan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Bagaimana karakteristik lanskap pertanian Sunda Parahiyangan? 2. Bagaimana kearifan lokal masyarakat Sunda Parahiyangan dalam konteks pertanian berkelanjutan saat ini? 3. Bagaimana hubungan antara lanskap pertanian Sunda Parahiyangan dengan konsep pertanian berkelanjutan? 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. mengkaji karakteristik lanskap pertanian Sunda Parahiyangan; 2. mengkaji ragam bentuk manifestasi kearifan lokal masyarakat Sunda Parahiyangan dalam konteks lanskap pertanian berkelanjutan; 3. menyusun model lanskap pertanian Sunda Parahiyangan sebagai referensi bagi model lanskap pertanian berkelanjutan. 1.4. Manfaat Penelitian Manfaat yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah: 1. sebagai informasi bagi penguatan eksistensi budaya Sunda pada umumnya dan khususnya kebudayaan Sunda Parahiyangan; 2. sebagai model acuan pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan di perdesaan yang berbasis kearifan masyarakat lokal; 3. sebagai dasar pertimbangan penentuan kebijakan dalam mengelola lanskap pertanian yang berkelanjutan di perdesaan. 1.5. Kerangka Pikir Penelitian Berdasarkan masalah pertanian yang terjadi, diperlukan upaya pemecahan masalah yang komprehensif dengan melihat setiap elemen masalah sebagai suatu sistem yang saling terkait. Adanya isu pembangunan pertanian berkelanjutan berpotensi untuk memaksimalkan sumber daya lanskap pertanian dengan mempertimbangkan aspek kearifan lokal sehingga dapat dijadikan pendorong dinamisasi dalam mencapai pembangunan pertanian berkelanjutan (Gambar 1). 4 Lanskap Sunda Parahiyangan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan di kawasan hulu DAS Citanduy Sumber Daya Lanskap Pertanian Sumber Daya Masyarakat Pertanian Karakteristik Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Ancaman/Masalah Potensi Keberlanjutan Upaya/Strategi Kebijakan Pengelolaan Lanskap Pertanian Berkelanjutan Lanskap Pertanian Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Sunda Parahiyangan Gambar 1. Kerangka pikir penelitian II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lanskap Pertanian Lanskap dapat didefinisikan sebagai suatu bentang alam yang memiliki elemen pembentuk, komposisi, dan karakteristik khas yang dapat dinikmati oleh seluruh indera manusia yang terintegrasi secara harmoni dan alami untuk memperkuat karakternya sehingga dapat dibedakan dengan bentuk lainnya (Simonds, 1983). Lanskap didefinisikan pula sebagai proses polarisasi yang tidak hanya menyebabkan perbedaan tata guna lahan, tetapi juga dalam aspek sosial, budaya, ekonomi, dan ekologi. Berdasarkan pengaruh interaksi manusia di dalamnya, lanskap dikategorikan menjadi lanskap alami (natural landscape) dan lanskap buatan (man-made landscape). Salah satu bentuk dari lanskap buatan adalah lanskap pertanian. Pertanian didefinisikan sebagai upaya manusia dalam mengusahakan sumber daya alam dan lingkungannya guna menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997). Pertanian merupakan sistem yang tumbuh, berproses, dan menyediakan pangan, pakan, serat, tanaman hias, dan biofuel untuk suatu bangsa. Pertanian mencakup pengelolaan sumber daya alam seperti air permukaan dan air tanah, hutan dan lahan lain untuk penggunaan komersial atau rekreasi, pelestarian vegetasi langka dan satwa liar, lingkungan sosial, fisik, dan biologis, serta isu-isu kebijakan yang berhubungan dengan keseluruhan sistem (NRC, 2010). Berdasarkan definisi tersebut, lanskap pertanian dapat didefinisikan sebagai bentuk lahan yang memiliki komposisi dan karakteristik elemen pembentuk yang mencerminkan aktivitas pertanian. Aktivitas pertanian tidak hanya dalam konteks budidaya tanaman, tetapi mencakup kegiatan pembesaran hewan ternak, pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim pada kegiatan pascapanen, serta pemanfaatan langsung seperti penangkapan ikan dan pemanfaatan sumber daya hutan (FAO, 2011). Lanskap pertanian merupakan kumpulan elemen pembentuk karakter lahan yang merepresentasikan budaya bertani dan konservasi yang dikelola oleh masyarakat untuk mencapai keberlanjutan produksi pangan, 6 kesejahteraan masyarakat lokal, dan kelestarian ekosistem. Lanskap pertanian memiliki peranan penting dalam mengakomodasi kebutuhan sosial-ekonomi masyarakat (Turpin dan Oueslati, 2008) dan sebagai habitat bagi keanekaragaman hayati (Arifin, 2012; Billeter, 2008). 2.2. Sunda Parahiyangan Istilah Parahiyangan memiliki arti yang beragam berdasarkan sudut pandang yang mendefinisikannya. Dalam kepercayaan Sunda kuno, masyarakat percaya bahwa roh leluhur atau para dewa menghuni tempat-tempat yang luhur dan tinggi sehingga wilayah pengunungan dianggap sebagai tempat bersemayam. Dengan kata lain, Parahiyangan dapat diartikan sebagai tempat para Hiyang bersemayam (Para-hiyang berarti jamak dari Hiyang). Secara etimologi, Parahiyangan merupakan kata serapan dari bahasa Jawa kuno Parahyangan yang didefinisikan sebagai tempat tertinggi tempat para Hyang bersemayam. Dalam naskah Nagarakartagama Pupuh 76: 1-12, Parahyangan disebut sebagai tempat suci Dharma Ipas Pratista Siwa (Lubis et al., 2003). Berdasarkan hal itu, masyarakat Sunda kuno menggangap jajaran pegunungan di Jawa Barat sebagai Parahiyangan. Berdasarkan sejarah perkembangan Kerajaan Sunda, jajaran pengunungan di kawasan tengah Jawa Barat dianggap sebagai kawasan suci tempat Hyang bersemayam. Legenda Sunda menceritakan bahwa tanah Parahiyangan tercipta ketika Tuhan tersenyum dan mencurahkan berkah dan restu-Nya. Kisah ini menunjukkan keindahan dan kemolekan alam Tatar Sunda yang subur dan makmur (Rosidi, 2000). Lubis et al. (2003) mendefinisikan Parahiyangan atau lebih dikenal dengan Priangan sebagai sebutan untuk Kerajaan Sunda (932-1579 M) yang meliputi wilayah Tatar Sunda sebelah barat (Selat Sunda) hingga timur dan mencakup sebagian wilayah Jawa Tengah bagian selatan (Sungai Cipamali dan Danau Segara Anakan). Kerajaan Sunda merupakan gabungan dua kerajaan besar (Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda) dengan pusat pemerintah yang tidak pernah menetap. Pemerintahan bermula di Galuh Kawali dan berakhir di Pakuan Pajajaran hingga berakhir pada tahun 1579 M dan terbagi menjadi empat pusat kekuasaan (Banten, Cirebon, Sumedanglarang, dan Galuh). 7 Berdasarkan sejarah Kolonial (VOC), sebelum Priangan jatuh ke tangan VOC, Priangan dibentuk sebagai wilayah politik setingkat kabupaten oleh Sultan Mataram pada tahun 1641 M. Kekuasaan Mataram di Priangan berakhir berdasarkan perjanjian dengan VOC pada tahun 1677 dan 1705 M. Dalam perjanjian pertama disepakati penyerahan kekuasaan Priangan Timur, sedangkan perjanjian kedua disepakati penyerahan Priangan Tengah dan Barat ke pihak VOC sebagai balas jasa atas penyelesaian permasalahan dalam kekuasaan Mataram. Sejarah berlanjut dengan penguasaan Parahiyangan (Priangan) oleh Jenderal Daendels (1799 M) dengan membagi Pulau Jawa menjadi Sembilan prefecture, di antaranya, adalah Prefecture Priangan yang terdiri dari Cianjur, Bandung, Sumedang, dan Parakanmuncang. Pembagian dilakukan berdasarkan kebijakan Preangerstelsel warisan kompeni yang tetap dipertahankan karena dinilai menguntungkan. Priangan dalam masa itu dibagi menjadi dua daerah, yaitu daerah surplus kopi (Cianjur, Bandung, Sumedang, dan Parakanmuncang) dan daerah minus kopi (Limbangan, Sukapura, dan Galuh). Pada tahun 1811 M, Priangan jatuh ke tangan Inggris dengan Gubernur Raffles sebagai pemimpinnya. Priangan dibagi menjadi 16 keresidenan, di antaranya, adalah Keresidenan Priangan yang meliputi delapan afdeeling (Cianjur, Sukabumi, Bandung, Cicalengka, Sumedang, Limbangan, Tasikmalaya, dan Sukapura Kolot). Setelah melalui perkembangan sejarah, wilayah Parahiyangan saat ini termasuk ke dalam wilayah administrasi Provinsi Jawa Barat yang terdiri dari Kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Berdasarkan sudut pandang lanskap, Parahiyangan didefiniskan oleh Rigg (1862) sebagai sebutan bagi daerah di wilayah Tatar Sunda dengan karakteristik elemen penyusun lanskap yang khas. Rigg (1862) menambahkan istilah Priangan yang diserap dari bahasa Belanda (Prianger) merupakan nama lokal untuk wilayah di Jawa Barat dengan karakter alam berupa daratan (dataran tinggi hingga pegunungan) serta dikelilingi oleh pegunungan dan gunung berapi (ring of fire). Batasan kawasan Sunda Parahiyangan berdasarkan ketinggian tempatnya, dapat diidentifikasi melalui pendekatan definisi gunung. 8 Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) mendifinisikan gunung sebagai bagian dari muka bumi yang besar dan tinggi dengan ketinggian lebih dari 600 meter di atas permukaan laut (mdpl.). Miskinis (2011) menambahkan definisi gunung sebagai bagian bumi (relief) yang memiliki ketinggian lebih dari 600 meter di atas permukaan laut, isi, bentuk, ketajaman, dan susunan yang saling terhubung. Susunan gunung yang membentuk pegunungan merupakan bagian bumi yang menutupi 24% permukaan bumi dan menjadi rumah bagi 12% populasi di dunia (Sharma, Chettri, and Oli, 2010; FAO, 2007). Berdasarkan hal itu, daerah gunung/pegunungan yang berada diketinggian lebih dari 600 mdpl. digolongkan ke dalam kawasan Parahiyangan. Masyarakat gunung (mountain people) secara sederhana didefinisikan sebagai suatu masyarakat yang hidup di daerah gunung atau pegunungan (Rigg, 1862). Masyarakat Sunda Parahiyangan dikenal sebagai masyarakat gunung (urang gunung) berdasarkan tempat mereka hidup dan hampir seluruh aktivitas kehidupannya berada di daerah pegunungan. Dengan demikian, masyarakat Sunda Parahiyangan sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh FAO (2007), disimpulkan bahwa masyarakat gunung termasuk ke dalam masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, dan mengalami ketidakcukupan pangan (food insecurity). Kemiskinan yang terjadi pada masyarakat gunung sangat antagonis ketika melihat fungsi vital dari gunung bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Gunung berfungsi sebagai penyedia air, udara, penjaga stabilitas keanekaragaman hayati, dan penyedia komoditas yang bernilai ekologis, sosial, budaya, dan ekonomi. Namun, kondisi saat ini menunjukkan ekosistem gunung telah mengalami penurunan kualitas dan kuantitasnya. Degradasi lahan yang terjadi, di antaranya, adalah semakin berkurang tanah subur, air, dan keanekaragaman hayati sebagai sumber pangan, papan, sandang, dan energi bagi masyarakat. Beberapa faktor penyebab terjadinya degradasi lahan di pegunungan yang berdampak pada meningkatnya kemiskinan dan ketidacukupan pangan masyarakat, di antaranya, adalah tingginya aktivitas perambahan hutan, konversi lahan, dan pertumbuhan populasi. 9 2.3. Budaya Pertanian dan Kearifan Lokal Masyarakat gunung tidak terlepas dari aktivitas pertanian sebagai tempat mereka menggantungkan hidupnya (FAO, 2007). Berdasarkan sejarah, budaya, dan karakteristik alam serta lingkungannya, masyarakat gunung Sunda Parahiyangan memiliki keunikan yang tercermin dalam aktivitas masyarakatnya seperti dalam hal pertanian (Lubis et al., 2003). Secara umum masyarakat Sunda memiliki mata pencaharian utama dalam perburuan, pertambangan, perikanan, perniagaan, pelayaran, pertanian, dan peternakan. Aktivitas pertanian masyarakat Sunda di pedalaman berdasarkan informasi dalam Sanghyang Siksakandang Karesian (Danasasmita, 1987) adalah perladangan yang berkembang menjadi sistem perkebunan. Sistem persawahan baru dikembangkan pada awal abad ke-17 ketika pengaruh Mataram masuk wilayah Tatar Sunda (Lubis et al., 2003). Sistem pertanian yang berkembang di daerah Jawa Barat pada umumnya adalah sistem agroforestri berupa kebun-talun dan pekarangan (Soemarwoto dan Conway, 1992), serta sistem padi sawah (Christanty, Abdoelah, Marten, dan Iskandar, 1986). Sistem pertanian tersebut merupakan modifikasi dari sistem pertanian tradisional Jawa (Christanty et al., 1986). Iskandar dan Iskandar (2011) menambahkan bahwa dalam perkembangan sejarah masyarakat Sunda, sistem ekologi pertanian (agroekosistem) yang dijalankan terdiri dari lima agroekosistem, yaitu huma, kebun-talun, sawah, kebun sayuran, dan pekarangan (Gambar 2). Perkembangan agroekosistem dipengaruhi oleh perkembangan kebutuhan masyarakat terhadap sumber daya pertanian yang tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi meningkat ke arah pemenuhan kebutuhan sosial-ekonomi dan spiritual-budaya. Soemarwoto (1984) mendefinisikan kebun-talun sebagai sistem rotasi antara kebun campuran dan tanaman kayu yang merupakan sistem pertanian tradisional untuk meningkatkan produksi dan menyediakan banyak fungsi serta manfaat. Berdasarkan masa perkembangannya, Iskandar dan Iskandar (2011) menjelaskan bahwa awal pembentukan sistem pertanian kebun-talun dimulai dengan pembukaan talun tua menjadi kebun. Selanjutnya kebun berkembang dan diberakan hingga menjadi talun kembali. perkembangannya adalah talun-kebun-talun. Dengan demikian rotasi 10 Huma Dibuka Dibuka Dibera Leuweung Kolot Dibera Sistem Huma Dibera Reuma Ngora Reuma Kolot Dikonversi Irigasi Non-Irigasi Non-Irigasi Tegalan Sistem Sawah Dibangun Rumah Talun Dibangun Rumah Dibera Dibuka Sistem Kebun-Talun Dibangun Rumah Kebun Campuran Sistem Pekarangan Kebun Dibangun Rumah Gambar 2. Perkembangan Lanskap Pertanian (Agroekosistem) Masyarakat Sunda (Sumber: Iskandar dan Iskandar, 2011) Pekarangan didefinisikan Soemarwoto dan Conway (1992) sebagai sistem pertanian di sekitar rumah. Pekarangan merupakan sistem tradisional yang berlokasi di sekitar permukiman yang menyediakan produk kebutuhan dasar bagi pemiliknya serta produk komersial dengan mengkombinasikan pertanian pangan, pohon, dan hewan ternak. Sistem pertanian yang terbentuk merupakan hasil interaksi masyarakat Sunda terhadap kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungannya yang didasarkan pada ragam kebutuhan mendasar (based needs). Kearifan lokal masyarakat pertanian telah membentuk budaya pertanian (agriculture) yang sulit dipisahkan dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakatnya (Becker dan Ghimire, 2003). Dalam budaya Sunda dikenal adanya tiga hubungan yang harus saling terkait satu dengan yang lainnya, yaitu manusia, 11 alam, dan tuhan. Berdasarkan etimologinya1, kata Sunda berasal dari Sun-Da-Ha yang mengandung arti Sun adalah Diri, Da adalah Alam, dan Ha adalah Tuhan. Berdasarkan hal ini, kearifan lokal dapat digambarkan dengan mengidentifikasi tiga ranah tempat kearifan lokal tersebut berlaku. Ranah pertama adalah Diri, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia. Konsep Sun yang merupakan Diri, terwujud dalam hubungan individu dengan individu atau individu dengan masyarakat. Beberapa kearifan lokal masyarakat Sunda dalam konteks Sun, di antaranya, adalah hade ku omong, goreng ku omong (segala hal sebaiknya dibicarakan) yang maksudnya bahwa keterbukaan dalam hubungan bermasyarakat sebaiknya dibudayakan. Kedua adalah konsep Da yang merupakan hubungan manusia dengan alam yang banyak terlihat dalam aktivitas masyarakat adat Sunda yang sangat memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Dasar dalam melakukan pengabdian pada alam diungkapkan dalam ungkapan suci ing pamrih rancage gawe yang maksudnya bahwa antara manusia dan alam adalah bagian yang menyatu dan tidak terpisah. Masyarakat adat Sunda beranggapan bahwa mereka hidup bersama alam, dan bukan hidup di alam. Dengan kata lain, ketika mereka merusak alam sama halnya dengan merusak diri sendiri dan masyarakat, seperti dalam ungkapan leuweung ruksak, cai beak, ra’yat balangsak (hutan rusak, air habis, dan rakyat sengsara). Ketiga adalah konsep Ha yang merupakan hubungan manusia dengan Tuhan. Konsep Ha diungkapkan dalam perilaku masyarakat yang mengharmoniskan antara perilaku sesama manusia dan alamnya atas dasar kepercayaan terhadap Tuhan YME. Berdasarkan hal itu, secara turun-temurun masyarakat Sunda terus mengaplikasikan kearifan lokal dalam kehidupannya guna tetap terjaganya keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhannya. Keagungan nilai kearifan lokal tersebut masih dijaga eksistensinya oleh beberapa masyarakat adat Sunda. Kawasan Sunda Parahiyangan memiliki masyarakat yang secara adat masih memegang teguh budaya Sunda sebagai warisan dari para leluhurnya (Suryani, 2011), seperti Kampung Gentur di                                                          1 Informasi diperoleh dari hasil wawancara dengan beberapa budayawan dan sejarawan Sunda. 12 Kabupaten Cianjur (850 mdpl.2), Kampung Cikondang di Kabupaten Bandung (1.100 mdpl.3), Kampung Rancakalong di Kabupaten Sumedang (727 mdpl.4), Kampung Pulo di Kabupaten Garut (700 mdpl.5), Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya (1.200 mdpl.6), dan Kampung Ciomas di Kabupaten Ciamis (700 mdpl.7). Kampung adat di kawasan Sunda Parahiyangan masih memegang konsepkonsep penataan ruang termasuk didalamnya ruang pertanian, seperti luhurhandap, kaca-kaca, dan lemah-cai (Purnama, 2007). Konsep luhur-handap didasarkan pada pemaknaan Sunda (Sun-Da-Ha) sebagai gambaran hubungan antara manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Kebun-talun merupakan manifestasi dari konsep luhur (atas) yang banyak diinterpretasikan sebagai kawasan keramat (kabuyutan). Implementasi dari konsep ini terlihat pada pemanfaatan di kawasan hulu yang sangat terbatas hingga adanya kawasan keramat berupa leuweung larangan dan/atau leuweung tutupan (hutan larangan dan/atau hutan tutupan) yang tidak bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat. Pengkeramatan dilakukan sebagai penghormatan terhadap para leluhur (karuhun) yang telah berjasa dalam menjaga stabilitas kehidupan antara manusia, alam, dan Tuhannya. Pekarangan merupakan manifestasi dari konsep tengah (tengah) yang diinterpretasikan sebagai permukiman (Purnama, 2007). Selain memiliki fungsi produksi bagi pemiliknya, pekarangan dapat menyediakan fungsi sosial di antara masyarakatnya. Pekarangan dimanfaatkan sebagai ruang sosial yang mengakomodasi aktivitas sosial-ekologi, sosial-ekonomi, dan sosial-budaya. Sistem pertanian sawah yang banyak dibudidayakan di kawasan hilir merupakan manifestasi dari konsep handap (bawah) yang diinterpretasikan sebagai kawasan perekonomian (Purnama, 2007).                                                          2 http://cianjurkab.go.id/Daftar_Kecamatan_Nomor_10.html. Diunduh pada Senin, 07 November 2011. http://bpsnt-bandung.blogspot.com/2009/08/kepercayaan-religi-masyarakat-adat.html. Diunduh pada Senin, 07 November 2011. 4 http://repository.upi.edu/operator/upload/s_b025_0603328_chapter4.pdf. Diunduh pada Senin, 07 November 2011. 5 http://sikec.garutkab.go.id/UserFiles/File/leles2009.pdf. Diunduh pada Senin, 07 November 2011. 6 http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/10/kampung_naga_tasikmalaya_dalam_mitologi.pdf. Diunduh pada Senin, 07 November 2011. 7 http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Panjalu_Ciamis. Diunduh pada Senin, 07 November 2011. 3 13 Konsep kaca-kaca merupakan gambaran dari batasan ruang lingkup kehidupan manusia yang tidak selamanya berada dalam kebebasan. Dalam hal ini kehidupan manusia dibatasi oleh aturan dan norma yang mengikat serta menjadi pembatas dalam berperilaku dan bertindak. Dengan demikian kehidupan akan berjalan selaras baik secara vertikal maupun horizontal (Purnama, 2007). Konsep lemah-cai merupakan gambaran dari sumber kehidupan manusia yang berasal dari tanah dan air. Dengan demikian, dalam budaya Sunda elemen tanah dan air menjadi elemen penting dalam sebuah kawasan permukiman dan pertanian. Kearifan lokal merupakan aktualisasi dari sistem pengetahuan masyarakat dalam mengkonseptualisasikan interakasi budaya lokal masyarakatnya dengan alam. Hal tersebut diistilahkan oleh Becker dan Ghimire (2003) dengan traditional ecological knowledge/TEK yang selanjutnya digunakan pengetahuan ekologik tradisional/PET. Sistem pengetahuan tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari kerangka etnografi sebagai keilmuan yang mengkaji kebudayaan suatu masyarakat. Kajian sistem pengetahuan dalam ranah etnografi dapat ditelusuri lebih lanjut berdasarkan unsur-unsur kebudayaan yang bersifat universal (Koentjaraningrat, 1990). Koentjaraningrat (1990) menyusun kerangka etnografi berisi tujuh unsur kebudayaan universal yang terdiri dari bahasa, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, sistem pengetahuan, kesenian, dan sistem religi (spiritual) yang didahului dengan pendeskripsian lokasi, lingkungan alam, dan demografi masyarakatnya. 2.5. Pertanian Bekelanjutan Sistem pembangunan pertanian konvensional yang masih berorientasi untuk memaksimalkan perolehan ekonomi tanpa memperdulikan aspek kelestarian lingkungan perlu ditinggalkan dan diganti dengan sistem pembangunan pertanian ramah lingkungan yang mengacu pada pencapaian pembangunan pertanian berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan didefinisikan sebagai usaha pertanian yang mampu memaksimalkan sumber daya alam dan lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat tidak hanya pada masa sekarang, tetapi untuk masa yang akan datang (FAO, 2010). 14 Pertanian berkelanjutan akan terwujud dengan mengkombinasikan empat kunci keberlanjutan USDA yang saling terkait (USDA-NAL, 2007), yaitu (1) menyediakan kebutuhan pangan, pakan, dan serat, serta berkontribusi dalam penyediaan biofuel, (2) memperkaya kualitas lingkungan dan sumber daya, (3) mempertahankan kelangsungan ekonomi pertanian, dan (4) meningkatkan kualitas hidup bagi petani, buruh tani, dan masyarakat secara keseluruhan. Dengan konsep pertanian berkelanjutan, fungsi utama pertanian sebagai penyedia kebutuhan pangan yang diperlukan masyarakat untuk menjamin ketahanan pangan dapat tercapai. Pemenuhan pangan sebagai hak dasar inilah yang menjadi permasalahan mendasar dari permasalahan kemiskinan di Indonesia. Food and Agriculture Organization (2010) mendefinisikan ketahanan pangan sebagai askes bagi semua penduduk atas makanan yang cukup untuk hidup sehat dan aktif. Definisi lain yang dikemukakan oleh Machmur (2010) berdasarkan amanat UU No 7 Tahun 1996 tentang Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Dengan demikian, ketahanan pangan nasional merupakan agregat dari ketahanan pangan rumah tangga dan pengertian inilah yang dapat dijadikan sebagai dasar strategi pembangunan pertanian berkelanjutan. Ketahanan pangan dapat tercapai setidaknya mengandung dua unsur pokok, yaitu ketersediaan pangan dan aksesibilitas masyarakat terhadap bahan pangan tersebut. Jika salah satu unsur tidak terpenuhi, suatu negara belum dapat dikategorikan mempunyai ketahanan pangan yang baik. Ketahanan pangan dikatakan rapuh jika akses individu untuk memenuhi kebutuhan pangannya tidak merata, meskipun stok pangan cukup tersedia. Ketahanan pangan erat kaitannya dengan kemandirian, tetapi kemandirian dalam konsep ketahanan pangan bukan kemandirian dalam keterisolasian (Machmur, 2010). Dalam konteks kekinian, kemandirian menuntut adanya kondisi saling tergantung (interdependency) antara lokal dan global, tradisional dan modern, desa dan kota, rakyat dan pemerintah, dan sebagainya. Kemandirian dalam konteks ini berarti kemandirian dalam paham pro-aktif yang saling tergantung dan bukan reaktif atau bahkan defensif (Kartasasmita, 2005). 15 Salah satu bentuk implementasi kemandirian pro-aktif adalah kemandirian pembangunan pertanian dan perdesaan sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan (Harianto, 2007). Perdesaan merupakan basis praktik pembangunan pertanian, sedangkan pertanian menjadi komponen utama yang menopang kehidupan perdesaan di Indonesia. Kemandirian pembangunan perdesaan sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan nasional hanya dapat terwujud jika kondisi saling tergantung tersebut dibangun atas dasar kekuatan modal fisik/alam, SDM, sosial, dan finansial yang tinggi. Budaya Sunda sangat erat kaitannya dalam hal tersebut, ungkapan silih-asih (saling mengasihi), silih-asah (saling menasihati), silih-asuh (saling mengayomi), ulah pareumeun obor (jangan memutuskan tali silaturahmi), cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok (sesuatu yang dijalani pasti akan menghasilkan meskipun sedikit demi sedikit), kudu nyaah ka sasama (harus menyayangi sesama), ulah poho ka karuhun jeung ka anak incu (jangan melupakan para pendahulu dan anak cucu), serta ngajaga amanat (menjaga amanah/kepercayaan) merupakan nilai-nilai dalam transformasi sistem pembangunan pertanian yang lebih holistik dan berkelanjutan. III. METODOLOGI 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan selama sembilan bulan mulai bulan November 2011 hingga Juli 2012. Lokasi penelitian merupakan dusun Sunda yang masih menjalankan aktivitas kehidupan berdasarkan adat istiadat budaya Sunda. Dalam penelitian ini, kajian difokuskan pada lokasi penelitian berdasarkan pendekatan sejarah, etimologi, dan daerah alirah sungai (DAS) terkait aspek pertanian (zona agroklimat). Berdasarkan hal tersebut, dipilih tiga dusun Sunda yang memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah Kerajaan Sunda, perkembangan kawasan Parahiyangan, dan termasuk ke dalam DAS Citanduy, yaitu Dusun Ciomas, Mandalare, dan Kertabraya di Desa Ciomas, Mandalare, dan Kertamandala, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis (Gambar 3). Dusun Ciomas Dusun Mandalare Dusun Kertabraya U Peta Wilayah Sungai Citanduy, Provinsi Jawa Barat, Indonesia Kecamatan Panjalu Lokasi Penelitian S 070 20’ – 070 40’ dan E 1080 15’ – 1090 15’ Gambar 3. Lokasi Penelitian Kabupaten Ciamis 18 3.2. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian Penelitian difokuskan pada kajian karakteristik lanskap pertanian di kawasan Sunda Parahiyangan. Obyek penelitian dipilih berdasarkan keterkaitannya dengan konsep lanskap pertanian Sunda Parahiyangan baik secara etimologi, sejarah, dan pendekatan daerah aliran sungai (DAS). Dusun terpilih diduga memiliki keterkaitan kuat dengan konsep Sunda Parahiyangan, yaitu berada di kawasan pegunungan atau dataran tinggi lebih dari 600 mdpl. (Miskinis, 2011), terkait sejarah Kerajaan Sunda dan perkembangan Parahiyangan, serta masyarakatnya yang masih menjalankan budaya Sunda (kearifan lokal) dalam aktivitas kehidupan terutama dalam aktivitas pertanian. Sistem pertanian yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sistem pertanian masyarakat Sunda yang meliputi kebun-talun, sawah, dan pekarangan dalam kawasan permukiman. Analisis karakteristik lanskap pertanian dibatasi pada aspek karakter fisik lanskap (ekologi), karakter masyarakat (sosial-ekonomi dan spiritual-budaya), dan aspek kebijakan sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi sistem internal lanskap pertanian. Untuk memperoleh karakteristik fisik lanskap pertanian yang kuat, dalam penelitian dilakukan kajian terhadap tiga lokasi berbeda berdasarkan ketinggian tempat dalam satu DAS yang sama. Berdasarkan pembagian zona DAS, kawasan Parahiyangan termasuk ke dalam zona DAS hulu (> 600 mdpl.). Kabupaten Ciamis termasuk ke dalam DAS Citanduy dan daerah studi berada dalam daerah hulu DAS (Sub-DAS Cimuntur). Berdasarkan konsep ruang Sunda luhur-handap, Dusun Ciomas (> 600 mdpl.) ditetapkan sebagai daerah handap, Dusun Mandalare di daerah tengah (800-1.000 mdpl.), dan Dusun Kertabraya di daerah luhur (> 1.000 mdpl.). Kajian aspek ekologi dibatasi pada kondisi unsur pembentuk lahan pertanian, yaitu tanah dan topografi, hidrologi, unsur iklim (suhu, kelembaban nisbi, curah hujan, dan lama penyinaran), serta vegetasi dan satwa. Perbedaan unsur pembentuk lahan berdampak pada perbedaan karakter lanskap pertanian. Kajian aspek sosial-ekonomi dibatasi pada kondisi sistem sosial-ekonomi masyarakat lokal dengan melihat tingkat kesejahteraan secara kualitatif berdasarkan ukuran kebahagiaan masyarakat (Fellman (2003) dalam Jayadinata dan Pramandika (2006)). 19 Kajian aspek sistem spiritual-budaya dibatasi pada sistem pengetahuan ekologik tradisional tentang pertanian berdasarkan pemahaman masyarakat lokal. PET yang dikaji bukan secara murni sistem pengetahuan asli dari masyarakat lokal, karena sulit membedakan antara pengetahuan lokal yang murni hasil proses belajar masyarakat setempat atau merupakan adopsi, adaptasi, atau akulturasi dari pengetahun lain. Dengan demikian, sistem pengetahuan yang dikaji merupakan pengetahuan yang diketahui, diyakini, dan masih dijalankan atau sudah ditinggalkan oleh masyarakat lokal. 3.3. Alat dan Bahan Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian, di antaranya, adalah GPS (Global Positioning System), meteran, kamera, lembar panduan wawancara dan kuesioner, serta perangkat lunak pengolah data spasial dan statistik. Bahan yang dibutuhkan dalam studi adalah peta rupa bumi digital Indonesia lembar 1308-441 (Kawali) dengan skala 1:25.000 dan peta Wilayah Sungai Citanduy. 3.4. Tahapan dan Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif. Metode ini digunakan sebagai upaya untuk dapat memperoleh informasi terkait obyek penelitian sehingga dapat memberikan jawaban yang relevan bagi pertanyaanpertanyaan dalam rumusan penelitian. Penelitian dilakukan melalui kegiatan prapenelitian, penelitian, analisis, sintesis, dan penyusunan rekomendasi pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan berbasis kearifan lokal masyarakat Sunda Parahiyangan (Gambar 4). 3.4.1. Metode Penentuan Sampel Kampung Penentuan sampel kampung (dusun) merupakan tahap awal dalam penelitian. Dusun yang dijadikan sebagai obyek penelitian dipilih berdasarkan kajian pustaka terhadap konsep lanskap pertanian Sunda Parahiyangan (Priangan atau Prianger dalam Bahasa Belanda) dan pendekatan daerah aliran sungai (DAS). Dusun yang dipilih berada dalam kawasan Parahiyangan (Kabupaten Ciamis) dengan ketinggian rata-rata lebih dari 600 mdpl. 20 Kajian Karakteristik Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan sebagai Model Lanskap Pertanian Berkelanjutan ! Sunda Parahiyangan! (Kabupaten Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalayan, dan Ciamis)! Kampung/dusun Sunda dengan ketinggian > 600 mdpl. dalam kawasan DAS Citanduy (Sub-DAS Cimuntur) dan termasuk wilayah administrasi ! Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat! Aspek Ekologi 1.  Terrain (lereng dan topografi) 2.  Iklim 3.  Tanah 4.  Hidorologi 5.  Vegetasi dan Satwa Pertanian 6.  Batas Ekologi 7.  Land cover 8.  Land use Aspek Sosial-Ekonomi Aspek Spiritual-Budaya Kependudukan Pendidikan Pekerjaan Kesehatan Kelembagaan Sosial 6.  Kelembagaan Ekonomi 1.  Agama dan Kepercayaan 2.  Elemen Budaya (Simbol, Nilai, dan Norma) 3.  Persepsi dan Harapan 4.  Sikap dan Perilaku 5.  Adat Istiadat 6.  Kesejarahan 1.  2.  3.  4.  5.  Aspek Legal 1.  Kebijakan Pelestarian 2.  Aturan Adat 3.  Konsep Keberlanjutan Fisik Lanskap dan Masyarakat 4.  Batas Administrasi Analisis Karakteristik Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan (Metode Karakterisasi Lanskap Landscape Characteristic Assessment/LCA (Swanwick, 2002)) Analisis Ragam Pengetahuan Ekologi Tradisional Masyarakat Pertanian Sunda Parahiyangan (Metode Pengetahuan Berbasis Sistem (Walker et al., 1997)) Analisis Keberlanjutan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan (Faktor Fisik dan Masyarakat) (Metode Keberlanjutan Fisik Lanskap National Research Council/NRC (NRC, 2010) dan Keberlanjutan Masyarakat Community Sustainability Assessment/CSA (GEN, 2008)) Konsep Pengelolaan Lanskap Pertanian Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Sunda Parahiyangan Gambar 4. Tahapan dan Metode Penelitian 21 Kawasan Parahiyangan yang berada di Kabupaten Ciamis termasuk ke dalam jajaran pegunungan Sunda Parahiyangan (Gunung Galunggung, Sawal dan Cakrabuana). Berdasarkan daerah aliran sungan (DAS) termasuk ke dalam satuan Wilayah Sungai Citanduy yang berhulu di Gunung Cakrabuana dan bermuara di Danau Segara Anakan. Terkait aspek pertanian, ketinggian suatu tempat sangat mempengaruhi keberagaman produksi pertanian. Hal tersebut terkait dengan perbedaan suhu yang berkorelasi dengan ketinggian tempat (zona agroklimat). Dengan pendekatan tersebut, dalam penelitian ditentukan kampung dengan ketinggian berbeda (600-800 mdpl; 800-1.000 mdpl; > 1.000 mdpl). Di samping itu, pembagian tersebut merupakan upaya pencerminan dari konsep luhur-handap dalam budaya masyarakat Sunda (Gambar 5). Luhur (> 1000 mdpl.) Sejarah Kerajaan Sunda, perkembangan Parahiyangan/ Priangan, etimologi, dan DAS Cianjur Bandung Sumedang Garut Tasikmalaya Ciamis Konsep Parahiyangan Berdasarkan administrasi dan sejarah Tengah (800-1000 mdpl.) Handap (600-800 mdpl.) DAS Hulu > 600 mdpl. DAS Tengah DAS Hilir Kabupaten Kampung (Dusun) Berdasarkan karakter lanskap Sunda Parahiyangan (Gunung) Berdasarkan daerah aliran sungai (DAS) Berdasarkan zona agroklimat dan interpretasi konsep luhur-handap Gambar 5. Metode Penentuan Sampel Kampung (Dusun) Berdasarkan kriteria tersebut, ditentukan tiga dusun, yaitu Dusun Ciomas di Desa Ciomas (729-750 mdpl. dan termasuk daerah luhur), Dusun Mandalare di Desa Mandalare (737-866 mdpl. dan termasuk daerah tengah), dan Dusun Kertabraya di Desa Kertamandala (898-1203 mdpl. dan termasuk daerah handap). Ketiga dusun tersebut berada dalam kawasan Gunung Sawal, kawasan DAS Citanduy (Sub-DAS Cimuntur), dan termasuk ke dalam satuan wilayah administrasi Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat (Gambar 6). 22 Peta Insert: Peta Kabupaten Ciamis Keterangan Dusun Ciomas, Desa Ciomas Dusun Mandalare, Desa Mandalare Dusun Kertabraya, Desa Kertamandala Sumber: Peta Rupabumi Digital Indonesia - Kawali Skala 1:25.000 - Bakosurtanal Gambar 6. Lokasi Dusun di Daerah Studi 3.4.2. Metode Pengumpulan Data dan Informasi Penelitian dipandu oleh rincian jenis dan sumber data yang digunakan dalam pencapaian tujuan penelitian (Tabel 1). Data diperoleh melalui partisipasi aktif masyarakat lokal dengan pendekatan metode Rapid Partisipatory Rural Appraisal (rPRA) (Muleler, Assanou, Guimbo, dan Almedom, 2009) menggunakan sistem wawancara semi terstruktur, Focus Group Discussion (FGD), observasi lapang (Huntington, 2000; Mulyoutami, Rismawan, dan Joshi, 2009), dan telaah pustaka. Wawancara dilakukan dengan menyajikan pertanyaan yang mengacu kepada aspek penilaian keberlanjutan fisik lanskap National Research Council/NRC (NRC, 2010) dan keberlanjutan masyarakat Community Sustainability Assessment/CSA (GEN. 2008). Wawancara dilakukan kepada narasumber (informan kunci) yang telah ditentukan sebelumnya berdasarkan rekomendasi yang valid (purposive). Wawancara dilakukan terhadap beberapa tokoh masyarakat, di antaranya, adalah kokolot (sesepuh masyarakat), ajengan/kyai (tokoh agama), kuwu (kepala desa), dan mantri tani (ahli pertanian). 23 Dalam FGD disajikan beberapa permasalahan secara topikal terkait proses pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan untuk memperoleh data yang beragam dari berbagai macam responden (informan kunci). Topik kajian dalam FGD mengacu kepada penilaian keberlanjutan fisik lanskap NRC dan keberlanjutan masyarakat CSA. Pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan permasalahan pertanian yang dilihat dari sisi ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya (Lampiran 1 dan 2). Selanjutnya, data dan informasi hasil wawancara dan FGD disesuaikan dengan kondisi aktual melalui observasi lapang bersama masyarakat. Dengan proses tersebut, dapat diperoleh data dan informasi yang valid mengenai lanskap pertanian Sunda Parahiyangan berdasarkan pengetahuan ekologi tradisional masyarakatnya. Tabel 1. Jenis Data dan Sumber Perolehannya No. 1. 2. Jenis Data Sunda Parahiyangan Aspek Keberlanjutan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Unsur Data a. Kesejarahan: Sejarah Sunda Parahiyangan, latar belakang dan sumber utama sejarah dan budaya. b. Kondisi Umum: Peta tanah, peta topografi, peta tata guna lahan, data hidrologi, data iklim, data demografi, data geografis, data/peta sirkulasi dan aksesibilitas, view, elemen lanskap alami, serta data vegetasi dan satwa. c. Kondisi Masyarakat Setempat: Sistem kehidupan, ragam aktivitas masyarakat (sosial, budaya dan ekonomi), kepentingan penggunaan tapak, persepsi, harapan, dan intervensi masyarakat. Sumber Data Observasi lapang, wawancara semi terstruktur Observasi lapang, Bappeda, BMG, Puslitbang Tanah, Bakosurtanal, BPS, BP DAS Citanduy. a. Sistem Pertanian Masyarakat Sunda Parahiyangan: Karakteristik ekologi, sosial dan ekonomi, serta spiritual dan budaya. b. Kebijakan Pengelolaan/Aspek Legal Sistem pengelolaan saat ini, kebijakan pengelolaan, kebijakan tata ruang, dukungan pemerintah, swasta dan masyarakat, serta rencana pengembangan kawasan berbasis pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Observasi lapang, wawancara semi terstruktur, BPS, Potensi Desa. Observasi lapang, wawancara semi terstruktur, BPS, BP DAS Citanduy, Potensi Desa. Observasi lapang, wawancara semi terstruktur, BPS, Potensi Desa. 24 3.4.3. Metode Inventarisasi Tanaman Inventarisasi tanaman dilakukan dengan menggunakan sistem plot survei tanaman (Fridley, Senf, dan Peet, 2009) dengan metode garis berpetak (Soerianegara dan Indrawan, 2005). Plot dibuat berukuran 1.000 m2 (50x20 m) untuk tanaman dalam agroekosistem kebun-talun dan sawah (Gambar 7). Kajian pada agroekosistem pekarangan, disesuaikan dengan kepemilikan luasan pekarangan (< 200 m2, 200-500m2, dan > 500 m2). Contoh plot ditentukan secara acak dan dipastikan sebelumnya berdasarkan dugaan (purposive random sampling). Masing-masing agroekosistem di setiap dusun ditentukan tiga contoh yang representatif. Hasil inventarisasi tanaman dominan (tiga jenis tanaman dalam setiap agroekosistem) digunakan sebagai dasar perhitungan tingkat keanekaragaman jenis tanaman berdasarkan perhitungan indeks Shannon-Wienner (Finotto, 2011). Gambar 7. Bentuk dan Ukuran Plot dalam Pengamatan Tanaman 3.4.4. Metode Analisis Karakteristik Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Metode yang digunakan adalah Landscape Characteristic Assessment/LCA (Swanwick, 2002) yang meliputi tahap penentuan ruang lingkup analisis, pengumpulan dan pengolahan data, pengamatan lapang, serta klasifikasi dan deskripsi karakter lanskap. Analisis dilakukan secara deskriptif dan spasial terhadap aspek ekologi, sosial-ekonomi, spiritual-budaya, dan aspek legal berdasarkan pendekatan pengetahuan ekologik tradisional (PET). PET merupakan 25 spesifikasi dari pengetahuan lokal yang fokus pada konseptualisasi suatu budaya lokal dalam berinteraksi dengan alam dan lingkungannya (Becker dan Ghimire, 2003). PET digunakan untuk mengkaji aspek ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya berdasarkan pemahaman para ahli (tokoh masyarakat) mengenai masalah pertanian dengan pendekatan pengetahuan masyarakat lokal. Hasil karakterisasi berupa deskripsi dari karakter lanskap pertanian Sunda Parahiyangan. 3.4.5. Metode Analisis Keberlanjutan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Analisis keberlanjutan dilakukan pada aspek fisik dan masyarakat, serta aspek intervensi kebijakan dengan pendekatan metode National Research Council/NRC (NRC, 2010) dan Community Sustainability Assessment/CSA (GEN, 2008). Analisis keberlanjutan lanskap pertanian menjadi salah satu faktor penting dalam menunjang tercapainya pembangunan pertanian berkelanjutan. Sebagai media utama yang mewadahi aktivitas pertanian, lanskap pertanian harus memiliki struktur dan fungsi sistem ekologi pertanian (agroekosistem) dengan daya lentur (resilience) yang optimal sebagai bentuk adaptasi terhadap dinamika pembangunan. Untuk mengetahui tingkat keberlanjutan suatu lanskap pertanian, dilakukan analisis terhadap tiga unsur utama keberlanjutan (ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya) guna mencapai empat tujuan dari pertanian berkelanjutan USDA (USDA-NAL, 2007), yaitu (1) menyediakan kebutuhan pangan, pakan, dan serat, serta berkontribusi dalam penyediaan biofuel, (2) memperkaya kualitas lingkungan dan sumber daya, (3) mempertahankan kelangsungan ekonomi pertanian, dan (4) meningkatkan kualitas hidup bagi petani, buruh tani, dan masyarakat secara keseluruhan. Hasil analisis keberlanjutan NRC dan CSA disesuaikan dengan kriteria keberlanjutan USDA membentuk matriks hubungan pengelolaan lanskap pertanian ke arah keberlanjutan. Matriks tersebut menjadi acuan dalam menyusun strategi Parahiyangan yang berkelanjutan. pengelolaan lanskap pertanian Sunda 26 3.4.5.1. Analisis Keberlanjutan Fisik Analisis keberlanjutan fisik lanskap pertanian dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan pendekatan penilaian keberlanjutan National Research Council/NRC. Kriteria penilaian fokus pada tiga aspek utama, yaitu (1) praktik produksi, (2) sosial-ekonomi, dan (3) sosial kemasyarakatan. Aspek produksi diarahkan kepada pencapaian keberlanjutan ekologi. Penilaian difokuskan kepada aktivitas pertanian yang dilakukan masyarakat, seperti sistem pertanian, penggunaan alat dan bahan pertanian (benih, pupuk, insektisida, dan teknologi), pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan pertanian (tanah, air, udara, dan iklim), pendekatan isu jejak karbon (carbon footprint), dan pemanfaatan sumber daya energi. Aspek sosial-ekonomi difokuskan pada penilaian penjualan hasil produksi, seperti tingkat penjualan, metode penjualan (waktu, lokasi, pekerja, dan cara), produk yang dijual (organik atau nonorganik), dan manajemen resiko. Aspek sosial kemasyarakatan difokuskan pada pencapaian keberlanjutan sosial, spiritual, dan budaya. Penilaian dilakukan pada kelembagaan masyarakat dalam bidang pertanian, hubungan antarmasyarakat petani dan antara petani dengan masyarakat umum, kearifan lokal dalam bidang pertanian, keberlanjutan sosial pertanian (regenerasi), mitigasi dan adaptasi terhadap dinamika sosial-spiritual-budaya, dan pemahaman terhadap isu keamanan pangan (food safety). Dalam mencapai keberlanjutan lanskap pertanian, eksistensi keragaman tanaman pertanian sebagai sumber daya hayati pertanian utama perlu dianalisis berdasarkan stuktur, fungsi, dan tingkat keanekaragamannya. Struktur dan fungsi dianalisis berdasarkan analisis vertikal dan horizontal. Analisis vertikal dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasikan tanaman berdasarkan ketinggian dan jenis tanaman. Tanaman diklasifikasikan menjadi 5 kelas, yaitu (1) 0-1 m (herba), (2) 1-2 m (semak pendek), (3) 2-5 m (semak), (4) 5-10 m (perdu), dan (5) > 10 m (pohon) (Arifin, Sakamoto, dan Chiba, 1997). Analisis horizontal dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasikan tanaman berdasarkan fungsi tanaman. Secara umum tanaman diklasifikasikan ke dalam delapan fungsi, yaitu (1) tanaman hias (ornamentals), (2) tanaman sayuran (vegetables), (3) tanaman buah (fruits), (4) tanaman obat 27 (medicinals), (5) tanaman bumbu (spices), (6) tanaman penghasil pati (cash crops), (7) tanaman industri (building materials and fuelwoods), dan (8) tanaman fungsi lainnya (additional functions) (Abdoellah, Hadikusumah, Takeuchi, Okubo, dan Perikesit, 2006; Arifin et al., 1997). Hasil analisis vertikal dan horizontal berupa analisa deskriptif dan spasial dengan mengintegrasikan struktur dan fungsi tanaman dalam setiap sistem pertanian dengan elemen lanskap pertanian lainnya secara ekologi, sosial, ekonomi, dan spiritual-budaya (Abdoellah, Takeuchi, Parikesit, Gunawan, dan Hadikusumah, 2001) sehingga membentuk pola lanskap pertanian Sunda Parahiyangan yang khas. Analisis keanekaragaman tanaman dilakukan dengan menggunakan pendekatan indeks keanekaragaman Shannon’s-Wienner (Finotto, 2011). Indeks keanekaragaman Shannon’s-Wienner digunakan untuk mengetahui keanekaragaman jenis dalam satu lokasi penelitian. Dengan pendekatan tersebut, dapat diperoleh hasil analisis baik deskriptif maupun spasial terkait dengan keanekaragaman jenis tanaman pada lanskap pertanian Sunda Parahiyangan secara umum. Rumus dari indeks Shannon-Wienner adalah sebagai berikut, H , dengan, H = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner ; pi = persentase kehadiran jenis I; ni = jumlah nilai penting satu jenis; i = jumlah nilai penting seluruh jenis; dan S = jumlah jenis yang yang hadir. Nilai perhitungan indeks keanekaragaman (H) dapat diinterpretasi bahwa nilai kurang dari 1 menunjukkan keragaman spesies rendah; nilai di antara 1 dan 3 menunjukkan keragaman spesies sedang; nilai indeks keragaman di atas 3 menunjukkan keragaman spesies tinggi. 28 3.4.5.2. Analisis Keberlanjutan Masyarakat Manusia (masyarakat) memiliki peranan penting dalam mengintervensi suatu lanskap sehingga menghasilkan lanskap budaya dengan karakteristik yang khas dan beragam. Lanskap pertanian sebagai salah satu bentuk lanskap budaya memberikan representasi mengenai pengaruh cipta, rasa, dan karsa manusia dalam mengolah sumber daya alam dan lingkungan guna menjaga kelangsungan hidupnya. Sebagai penerima manfaat dari sumber daya alam dan lingkungan, keberlanjutan suatu masyarakat perlu diperhatikan untuk menunjang pemanfaatan secara lestari (GEN, 2008). Untuk menunjang pertanian berkelanjutan, analisis keberlanjutan masyarakat dilakukan dengan pendekatan metode Community Sustainability Assessment/CSA. CSA melakukan penilaian terhadap tiga unsur utama keberlanjutan, yaitu ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya dari sudut pandang masyarakat. Aspek ekologi dinilai berdasarkan pemahaman masyarakat terhadap rasa kepemilikan (sense of belonging), ketersediaan pangan, produksi, dan distribusi, infrastruktur fisik, pola konsumsi, manajemen limbah, dan pengelolaan sumber daya dan energi. Penilaian aspek sosial-ekonomi difokuskan kepada pemahaman masyarakat terhadap hubungan antarmasyarakat, seperti keterbukaan, kepercayaan, keselamatan, komunikasi, pendidikan, kesehatan, serta keberlanjutan sosial dan ekonomi. Penilaian aspek spiritual-budaya dilakukan untuk mengetahui pemahaman masyarakat terhadap bingkai utama dari cipta, rasa, dan karsa manusia, yaitu spiritualitas dan budaya. Penilaian difokuskan kepada hal keeratan dan kelenturan komunitas, paradigma global, manifestasi unsur budaya (nilai, norma, dan simbol), obyek dan atraksi seni dan budaya, wisata, serta keberlanjutan spiritual dan budaya. Penilaian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu penjumlahan skor tingkat komponen aspek, tingkat aspek, dan total ketiga aspek (Lampiran 3). Dalam analisis keberlanjutan lanskap pertanian Sunda Parahiyangan dengan pendekatan kearifan lokal, diperoleh hasil berupa tingkat keberlanjutan dari masing-masing aspek keberlanjutan (ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritualbudaya). Setiap tingkat keberlanjutan diduga dipengaruhi oleh nilai-nilai dari kearifan masyarakat lokal. Semakin tinggi tingkat keberlanjutan, diduga semakin 29 tinggi nilai kearifan lokal yang diaplikasikan. Semakin rendah tingkat keberlanjutan, diduga semakin rendah pula nilai kearifan lokal yang dilaksanakan oleh masyarakat. Dengan menganalisis tingkat keberlanjutan yang dikaitkan dengan nilai kearifan lokal yang ada, diperoleh dasar dalam penyusunan strategi pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan berbasis kearifan masyarakat Sunda Parahiyangan. 3.4.6 Konsep Pengelolaan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Produk akhir penelitian berupa rekomendasi dan saran dalam bentuk strategi rencana pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan berbasis kearifan masyarakat Sunda Parahiyangan. Hasil analisis disajikan secara deskriptif (narasi, tabel atau diagram) dan spasial (foto, gambar peta, atau ilustrasi). Dari hasil sintesis diperoleh rekomendasi dan saran berupa konsep pengelolaan lanskap pertanian secara deskriptif dan spasial dengan beberapa strategi pengelolaan berbasis kearifan masyarakat Sunda Parahyangan. Rekomendasi dan saran berorientasi kepada pencapaian empat tujuan utama dari pertanian berkelanjutan USDA (USDA-NAL, 2007). IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Situasional 4.1.1. Analisis Kondisi Fisik Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Lanskap pertanian disusun oleh beragam bentuk sistem ekologi pertanian (agroekosistem) yang terbentuk oleh komposisi elemen lanskap yang khas. Agroeksosistem merupakan suatu sistem ekologi dan sosial-ekonomi yang terdiri dari tumbuhan dan hewan yang sudah didomestikasikan serta masyarakat yang mengelolanya untuk menghasilkan pangan, papan, sandang, serat, biofuel, serta produk pertanian lainnya. Aspek fisik dalam agroekosistem seperti tanah, topografi, iklim, hidrologi, vegetasi dan satwa memiliki pengaruh yang signifikan dalam keberlangsungan usaha pertanian, baik untuk pertanian bahan makanan (subsisten) maupun pertanian untuk bahan dagangan (komersial). Kondisi fisik tersebut membentuk tatanan agroekosistem yang spesifik pada setiap kawasan dan sesuai dengan tanaman maupun ternak yang dibudidayakan. Bentuk umum lanskap pertanian Sunda Parahiyangan disusun oleh struktur lanskap pegunungan (Gambar 8). Gambar 8. Bentuk Umum Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Secara umum agroekosistem dalam lanskap pertanian Sunda Parahiyangan di daerah studi terdiri dari kebun-talun, sawah, dan pekarangan. Sistem huma sebagai ciri khas sistem pertanian masyarakat Sunda kuno telah lama ditinggalkan oleh masyarakat di daerah studi. Pembentukan agroekosistem oleh masyarakat di 32   daerah studi dimulai dari pembukaan kawasan hutan menjadi kawasan pertanian. Faktor utama yang mempengaruhi bentuk sistem pertanian yang akan dijalankan adalah ketersediaan sumber daya air. Lahan yang tidak didukung oleh ketersediaan sumber daya air melimpah, difungsikan sebagai sistem usaha pertanian lahan kering (kebun-talun dan tegalan). Sedangkan ketika sumber daya air tersedia lahan dibuka (dibedah) dan dialiri air hingga tergenang untuk difungsikan sebagai sistem usaha pertanian lahan basah (sawah). Perkembangan selanjutnya dipengaruhi oleh kebutuhan masyarakat terhadap tempat tinggal permanen. Masyarakat memanfaatkan lahan di setiap agroekosistem untuk mendirikan rumah pada saat lahan diberakan. Sisa lahan setelah dioptimalkan untuk bangunan yang dimanfaatkan untuk usaha pertanian dinamakan pekarangan. Secara umum pemanfaatan sumber daya lahan dimanfaatkan untuk difungsikan sebagai agroekosistem yang disesuaikan dengan kondisi fisik lahan serta persepsi dan preferensi masyarakat. Dengan demikian, tampak sebaran agroekosistem yang khas dari lanskap pertanian Sunda Parahiyangan di daerah studi (Gambar 9). Keterangan Kawasan hutan lindung dan hutan produksi Kawasan agroekosistem kebun-talun Kawasan agroekosistem sawah Kawasan agroekosistem pekarangan dalam permukiman U Sumber: Peta Rupabumi Digital Indonesia Kawali Skala 1:25.000 - Bakosurtanal Edisi 1-2000 Gambar 9. Sebaran Kawasan Agroekosistem di Daerah Studi 33   4.1.1.1. Tanah dan Topografi Berdasarkan pengetahuan ekologi tradisional masyarakat, diperoleh informasi jenis tanah yang mendominasi di daerah studi adalah jenis taneuh coklat kabeureum-beureuman (tanah cokelat kemerahan). Berdasarkan peta tanah, jenis tanah tersebut tergolong jenis tanah litosol, latosol, regosol, dan andosoL. Jenis tanah litosol, latosol, dan regosol lebih mendominasi dibandingkan tanah andosol (Gambar 10). Legenda Lokasi Studi Litosol Regosol Latosol Cokelat Latosol Kemerahan Andosol Cokelat Andosol U 5 0 5 10 Km Sumber: Bapedda Kabupaten Ciamis (2010) Gambar 10. Peta Sebaran Tanah di Kabupaten Ciamis Jenis tanah litosol tersebar di daerah studi dengan ketinggian di atas 1.000 mdpl. hingga mencapai puncak Gunung SawaL. Pemanfaatan lahan aktual cukup sesuai dengan karakteristik jenis tanah yang mudah tererosi. Masyarakat memanfaatkannya dengan penanaman masal tanaman kayu, seperti sengon/albo (Paraserianthes falcataria), suren (Toona sureni (BI) Merr.), tisuk (Hibiscus macrophyllus), pinus (Pinus merkusii), rasamala (Altingia excelsa Nerona.), saninten (Castanea argentea), teureup (Ficus elasticus Rainw.), angsana (Pterocarpus indicus Willd.), dan sebagainya. Jenis litosol terkonsentrasi pada kawasan agroekosistem kebun-talun, hutan produksi, dan hutan lindung. 34   Jenis tanah latosol dan regosol mendominasi daerah dengan ketinggian di bawah 1.000 mdpl. Jenis tanah latosol dan regosol di daerah studi terkonsentrasi pada kawasan agroekosistem kebun-talun, sawah, dan pekarangan. Tanah latosol memiliki tingkat kepekaan terhadap erosi yang rendah. Masyarakat memanfaatkan tanah latosol untuk budi daya padi sawah (Oryza sativa L.), jagung (Zea mays L.), cengkeh (Syzygium aromaticum), dan kopi (Coffea arabica L.). Jenis tanah regosol dibentuk oleh endapan abu vulkanik sehingga tingkat kesuburan lebih tinggi, meskipun memiliki kepekaan yang tinggi terhadap erosi. Tanah regosol dimanfaatkan oleh masyarakat untuk budi daya pertanian padi, palawija, dan sayuran. Khusus untuk kawasan pertanian sawah, jenis tanah latosol dan regosol berfungsi sebagai bahan dasar pembentuk tanah sawah dengan karakteristik khas horizon permukaan berwarna muda, serta lapisan yang hampir kedap air pada kedalaman 10-15 cm. Jenis tanah latosol dan regosol banyak dimanfaatkan langsung oleh masyarakat baik untuk usaha pertanian maupun untuk permukiman. Kondisi topografi kawasan Sunda Parahiyangan yang masuk ke dalam jajaran pegunungan di Jawa Barat mulai dari Gunung Gede (2.958 mdpl.) di Cianjur hingga Gunung Sawal (1.784 mdpl.) di Ciamis memiliki bentuk lahan (landform) yang beragam (Gambar 11). Landform pada daerah studi disusun oleh lereng yang bervariasi mulai dari datar (0-8%), landai (8-15%), agak miring (1525%), curam (25-40%), hingga sangat curam (> 40%) (Gambar 12). Gambar 11. Bentuk Lahan (Landform) Kawasan Sunda Parahiyangan 35   Legenda Lokasi Studi 0-8% 8-15% 15-25% 25-40% > 40% U 5 0 5 10 Km Sumber: Bapedda Kabupaten Ciamis (2010) Gambar 12. Peta Sebaran Topografi di Kabupaten Ciamis Bentuk lahan di kawasan pegunungan didominasi kondisi lereng yang sangat rentan terhadap pergerakan geologi dan tanah sehingga dapat berakibat erosi. Kondisi tersebut sangat berpengaruh pada pemanfaatan lahan baik untuk pertanian maupun nonpertanian (permukiman). Konversi lahan yang terjadi dewasa ini di daerah studi menjadi bukti pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan kesesuaian dan daya dukung lahan sehingga mengancam fungsi vital dari kawasan pegunungan sebagai penyedia utama jasa lingkungan (tanah, air, dan udara). Dalam upaya melindungi kawasan pegunungan yang rentan terhadap degradasi lingkungan, pemanfaatan lahan perlu disesuaikan dengan daya dukung dan kesesuaian lahannya. Berdasarkan klasifikasi daya dukung lahan pertanian, daerah studi termasuk ke dalam kelas daya dukung dua hingga lima. Lahan kelas dua dengan landform yang baik pada lereng dengan kemiringan 0-15% memiliki tingkat erosi yang rendah sehingga baik untuk dimanfaatan sebagai lahan pertanian dengan beberapa pembatasan. Kelas lahan tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai kawasan sawah dan pekarangan di permukiman (Gambar 13). 36   Gambar 13. Bentuk Pemanfaatan Lahan (Landuse) Berdasarkan Topografi sebagai Kawasan Sawah (Kiri) dan Pekarangan dalam Permukiman (Kanan) Lahan kelas tiga sampai empat dengan ciri landform yang kurang baik dengan kemiringan lereng cukup landai hingga curam (15-40%) memiliki tingkat erosi yang kuat sehingga sesuai untuk usaha pertanian pangan (dengan batasan yang ketat) dan sangat baik untuk pertanian tanaman kayu dan rumput. Masyarakat memanfaatkan potensi tersebut sebagai lahan pertanian padi sawah (teras) dan kebun-talun (Gambar 14). Gambar 14. Bentuk Pemanfaatan Lahan (Landuse) Berdasarkan Topografi sebagai Kawasan Sawah Berteras (Kiri) dan Kebun-Talun (Kanan) Kelas lima sebagian besar berlereng curam dengan kemiringan > 40% memiliki keterbatasan maksimal untuk dimanfaatkan sebagai ruang usaha pertanian sehingga pemafaatan yang diizinkan hanya untuk upaya konservasi dengan penanaman pohon fungsi konservasi. Daerah dengan ciri tersebut sebagian besar berada di ketinggian lebih dari 1.000 mdpl yang secara manajemen kawasan termasuk ke dalam kawasan hutan produksi dan lindung yang dikelola oleh Perum Perhutani. Dengan demikan, masyarakat memiliki keterbatasan akses dalam memanfaatkan sumber daya alam secara langsung. Namun, masyarakat dapat tetap merasakan manfaat dari jasa lingkungan yang disediakan alam dan juga pemanfaatan lahan terbatas melalui kerja sama dengan Perhutani (Gambar 15). 37   Gambar 15. Bentuk Pemanfaatan Lahan (Landuse) Berdasarkan Topografi sebagai Kawasan Hutan Lindung (Kiri) dan Hutan Produksi (Kanan) Kondisi tanah dan topografi di daerah studi memiliki tingkat kerentanan cukup tinggi terhadap erosi dan kemampuan yang terbatas dalam menampung air. Dominansi tanah litosol dan lereng dengan kecuraman > 15% di daerah pegunungan berdampak pada mudahnya kehilangan sumber daya air yang bersumber dari air hujan. Keterbatasan kondisi fisik berdampak pula pada kesulitan pembangunan saluran irigasi teknik untuk membantu pengairan bagi usaha pertanian yang dilakukan oleh masyarakat. Dengan demikian, guna optimalisasi pemanfaatan tanah yang subur dan topografi yang beragama untuk aktivitas produksi pertanian perlu pemanfaatan sumber daya air hujan yang optimal. Dengan optimalisasi pengairan hujan dapat menjaga stabilitas tanah tanpa melakukan rekayasa terhadap kondisi aktual topografi. 4.1.1.2. Hidrologi Berdasarkan sistem wilayah sungai, daerah studi termasuk ke dalam DAS Citanduy (Sub-DAS Cimuntur) (Gambar 16). DAS Citanduy berhulu di Gunung Cakrabuana (Kabupaten Majalengka) dan bermuara di Danau Segara Anakan (Kabupaten Cilacap). Sungai kecil yang mengalir di daerah studi, di antaranya, adalah Sungai Cikawung, Cidarma, Cipanten, Cidahu, Ciceuri, dan Cimuncang yang bermuara ke Sungai Cimuntur. Keberadaan sungai-sungai tersebut mempengaruhi kondisi tata air baik air permukaan maupun air tanah di daerah studi. Kondisi aktual sumber pengairan darat (sungai) mengalami kondisi yang fluktuatif dengan kelimpahan air di saat musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. 38   Gn. Cakrabuana (Hulu) Sub-DAS Citanduy Hulu Sub-Das Cimuntur Sub-DAS Cijolang Sub-DAS Cikawung Sub-DAS Ciseel Sub-DAS Segara Anak Sungai Citanduy Lokasi Studi Sumber: Balai Besar WS Citanduy - Dirjen Sumber Daya Air, Departemen Pekerjaan Umum Danau Segara Anakan (Hilir) Gambar 16. Peta Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy Kondisi air permukaan (sungai dan mata air) pada umumnya mengalir sepanjang tahun. Aliran permukaan dari ukuran kecil hingga besar (seke-susukanwalungan-sunge) dimanfaatkan masyarakat sebagai inlet maupun outlet saluran. Kondisi air tanah di daerah studi yang berada di daerah hulu memiliki kedalaman air tanah rata-rata 10 m. Secara umum ketersediaan air di daerah studi sebesar 015 liter/detik (Gambar 17). Ketersediaan sumber daya air permukaan dan tanah yang terbatas berpengaruh terhadap semakin tingginya ketergantungan masyarakat terhadap keberadaan sumber daya air hujan. Air hujan yang mengisi ketersediaan air tanah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai kebutuhan baik aktivitas reproduksi rumah tangga dan produksi pertanian. Aktivitas reproduksi memanfaatkan air secara langsung dari mata air atau memanfaatkan kembali air hasil aktivitas produksi pertanian. Optimalisasi pemanfaatan air dilakukan dengan mengalirkan air dari sumbernya melalui saluran-saluran tertutup dengan diameter lubang relatif kecil (bambu dan pipa PVC). Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi kehilangan air yang berlebih melalui evaporasi dan terbuang. 39   Legenda Lokasi Studi < 10 liter/detik 10-15 liter/detik U 5 0 5 10 Km Sumber: Bapedda Kabupaten Ciamis (2010) Gambar 17. Peta Sebaran Ketersediaan Air di Kabupaten Ciamis Air hujan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat untuk pengairan alami lahan pertanian. Air yang tertampung lahan pertanian dialirkan melalui saluran air alami dan buatan ke kawasan permukiman untuk menunjang aktivitas reproduksi masyarakat dan pengairan kolam ikan. Selain memanfaatkan pipa PVC, secara tradisional masyarakat menggunakan awi (bambu) dan susukan (parit) sebagai saluran air tradisional (Gambar 18). Parit yang dibuat oleh masyarakat disesuaikan dengan bentuk alami lahannya (naturalisasi) tanpa upaya normalisasi. Gambar 18. Pemanfaatan Awi (Kiri) dan Susukan (Kanan) sebagai Saluran Air Tradisional Masyarakat Sunda 40   Secara ekologi, pemanfaatan bambu sebagai saluran air dapat menjaga stabilitas konstruksi tanah. Dengan mengalirkan air melalui saluran-saluran buatan dengan bentuk yang lebih kecil, berpotensi menyebarluaskan air hingga daerah yang sulit dijangkau oleh saluran fisik tanah (irigasi) dan menjaga stabilitas struktur tanah. Dengan pemanfaatan bambu, kecepatan aliran air (velocity) dapat dikurangi sehingga air dapat dimanfaatkan secara optimal. Ketersediaan sumber daya air menjadi elemen lanskap utama yang dibutuhkan oleh masyarakat Sunda Parahiyangan yang hidup di kawasan pegunungan. Masyarakat memiliki ketergantungan yang kuat terhadap sumber daya air hujan. Suplai air hujan yang melimpah tidak mampu ditampung secara optimal oleh tanah karena kondisi fisik tanah dan topografi yang rentan terhadap erosi sehingga mudah kehilangan sumber daya air dan tanah. Kondisi tersebut dapat dikendalikan oleh keberadaan vegetasi sebagai alat/media konservasi tanah dan air secara alami. Pemilihan vegetasi untuk fungsi konservasi perlu menjadi prioritas bagi masyarakat dan Perum Perhutani dalam mengelola lahan di kawasan pegunungan. 4.1.1.3. Iklim Unsur iklim yang paling banyak berpengaruh dalam usaha pertanian adalah curah hujan rata-rata (mm), suhu rata-rata (0C), dan kelembaban nisbi (%). Curah hujan (CH) sangat mempengaruhi keberlangsungan usaha pertanian terutama bagi daerah yang mengandalkan hujan sebagai sumber daya air utama. Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidth dan Ferguson, daerah studi termasuk ke dalam iklim A (tropis basah). Daerah studi memiliki CH rata-rata tahunan 4.000 mm (Gambar 19). Berdasarkan peta CH, daerah studi mengalami hujan hampir sepanjang tahun dengan CH rata-rata 354 mm/bulan. Berdasarkan pencatatan data iklim di Stasiun Panjalu tahun 2011, CH tertinggi terjadi pada bulan Desember (527 mm) dan terendah pada bulan Juni (217 mm). Bulan basah (CH > 100 mm) terjadi hampir sepanjang tahun kecuali pada bulan Juni, Juli, dan Agustus (99 mm, 28 mm, dan 55 mm) yang termasuk ke dalam bulan kering (CH < 100 mm). 41   Legenda Lokasi Studi 4.000-5.500 mm/tahun 3.000-4.000 mm/tahun U 5 0 5 10 Km Sumber: Bapedda Kabupaten Ciamis (2010) Gambar 19. Peta Sebaran Curah Hujan di Kabupaten Ciamis Kondisi CH tersebut berdampak pada keberlangsungan usaha pertanian tadah hujan. CH yang tinggi sangat membantu masyarakat dalam menjalankan usaha pertaniannya. Namun, tanpa adanya upaya konservasi tanah dan air akan berdampak negatif dengan turunnya kualitas maupun kuantitas tanah dan air sebelum dimanfaatkan secara optimal oleh tanaman dan makhluk hidup lainnya. Dampak negatif tersebut dirasakan masyarakat dalam jangka waktu yang lama hingga saat ini Sub-DAS Cimuntur termasuk ke dalam daerah dengan tingkat erosi kritis ringan (Prasetyo, 2005). Selain CH, daerah studi memiliki kondisi iklim dengan suhu rata-rata harian 25 0 C dan kelembaban nisbi rata-rata 85% yang sesuai untuk pengembangan berbagai jenis tanaman pertanian. Lama penyinaran maksimum rata-rata terjadi sekitar delapan jam per hari (55%). Kondisi tersebut memberi manfaat bagi pertumbuhan tanaman dalam proses fotosintesis dengan memanfaatkan energi surya secara optimal. Kondisi iklim yang sesuai untuk aktivitas produksi pertanian dimanfaatkan masyarakat dengan melakukan berbagai usaha pertanian di berbagai agroekosistem dengan berbagai komoditas yang dihasilkan. 42   Iklim merupakan elemen lanskap yang sulit direkayasa untuk memperoleh kondisi yang ideal. Kondisi unsur-unsur iklim telah disediakan alam untuk dimanfaatkan oleh manusia dengan penyesuaian/adaptasi. Kondisi tersebut telah dipahami oleh masyarakat berdasarkan pengetahuan ekologik tradisionalnya dengan menyusun pranata mangsa sebagai panduan dalam melakukan aktivitas produksi pertanian. Pranata mangsa merupakan interpretasi masyarakat terhadap kondisi aktual unsur-unsur iklim yang berlangsung lama dan dijalankan secara turun-temurun. Namun, saat ini pranata mangsa sudah jarang digunakan sebagai panduan aktivitas pertanian. Pranata mangsa sebagai cerminan kearifan masyarakat lokal masih mampu beradaptasi dengan perubahan jaman. Dengan demikian, reorientasi dalam pemanfaatan sumber informasi dalam pranata mangsa dapat diberdayakan kembali di masyarakat pertanian Sunda Parahiyangan. 4.1.1.4. Vegetasi dan Satwa Keanekaragaman hayati pertanian secara sederhana mencakup tidak lebih dari tanaman dan ternak. Namun, dalam pemahaman lebih luas, keanekaragaman hayati pertanian mencakup semua unsur yang terlibat dalam kegiatan pertanian. Hama, penyakit, organisme penyubur tanah, hewan penyerbuk, dan petani merupakan bagian tak terpisahkan dalam sistem usaha pertanian. Agroekosistem merupakan konsep lain dari keanekaragaman hayati berupa sistem ekologi dan sosio-ekonomi yang terdiri atas tumbuhan dan hewan yang telah didomestikasikan serta masyarakat petani yang mengelolanya untuk menghasilkan pangan, serat, energi, obat, dan produk pertanian lainnya. Dalam sebuah agroekosistem, jenis vegetasi dan satwa yang dibudidayakan dapat satu jenis atau lebih, bergantung pada kondisi agroekosistem. Kondisi fisik agroekosistem dan nilai budaya masyarakatnya dapat mempengaruhi cara pembudidayaan. Daerah studi yang sebagian besar masyarakatnya bersuku Sunda masih menjalankan ragam bentuk agroekosistem khas masyarakat Sunda (kebuntalun, sawah, dan pekarangan) dengan tingkat keanekaragaman hayati pertanian yang beragam. 43   4.1.1.4.1. Struktur Vegetasi dan Satwa di Kebun-Talun Kebun-talun merupakan agroekosistem dengan ciri utama kombinasi antara tanaman tahunan dan semusim yang merupakan implementasi dari praktik agroforestry. Sistem kebun-talun yang dilakukan masyarakat sebagian besar dilakukan di daerah dataran tinggi (luhur) yang langsung berbatasan dengan hutan lindung di bagian atas dan sawah di bagian bawah. Posisi tersebut menjadikan kebun-talun tidak hanya berfungsi untuk subsisten dan komersial, tetapi berfungsi pula secara ekologis untuk konservasi tanah, air, dan keanekaragaman hayati. Sistem kebun-talun dijalankan dengan membuka talun untuk ditanami tanaman tahunan dan semusim (kebun). Setelah tanaman semusim dipanen, tanaman tahunan dibiarkan tetap tumbuh dengan pemeliharaan semi intensif (kebun campuran) hingga ekstensif (talun). Berdasarkan inventarisasi tanaman, ditemukan ragman jenis tanaman dengan jumlah rata-rata jenis tanaman yang dominan ditanam masyarakat dalam sistem kebun-talun sebanyak 47 jenis tanaman (Tabel 2). Jenis tanaman herba yang dominan ditanam adalah pisang (Musa paradisiaca L.). Sedangkan jenis pohon, di antaranya, adalah jati (Tectona grandis L.f.), sengon (Paraserianthes falcataria), dan kopi (Coffea arabica L.). Jenis semak dan rumput yang banyak ditanam, di antaranya, adalah kapulaga (Amomum compactum Solland), lada (Piper nigrum L.), sirih (Piper betle L.), nanas (Ananas comosus (L.) Merr.), dan bambu (Gigantochloa verticillata (Willd.)). Tabel 2. Jenis Tanaman Dominan di Agroekosistem Kebun-Talun Dusun Ciomas 1 Nama Lokal Pisang Kelapa Sengon Ciomas 2 Pisang Sengon Cengkeh Ciomas 3 Jati Nama Botani Individu Kelompok Fungsi Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthe s falcataria Musa paradisiaca L. Paraserianthe s falcataria Eurgenia aromatica Tectona grandis L.f. 46 Herba 9 Pohon 9 Pohon 21 Herba 15 Pohon Buah/ Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/ Lainnya Industri/ Lainnya Buah/ Penghasil Pati /Obat Industri/ Lainnya 10 Perdu 28 Pohon Industri/Sayur/Obat/ Lainnya Industri/ Lainnya 44   Lanjutan tabel 2 Mengkudu Sengon Mandalare 1 Pisang Cengkeh Sengon Mandalare 2 Pisang Sengon Cengkeh Mandalare 3 Pisang Jati Bambu Kertabraya 1 Kopi Pisang Suren Kertabraya 2 Pisang Suren Jabon Kertabraya 3 Pisang Cengkeh Sengon Morinda citrifolia L. Paraserianthe s falcataria Musa paradisiaca L. Eurgenia aromatica Paraserianthe s falcataria Musa paradisiaca L. Paraserianthe s falcataria Eurgenia aromatica Musa paradisiaca L. Tectona grandis L.f. Gigantochloa verticillata (Willd) Coffea arabica L. Musa paradisiaca L. Toona sureni (BI) Merr Musa paradisiaca L. Toona sureni (BI) Merr Gmelina arborea Musa paradisiaca L. Eurgenia aromatica Paraserianthe s falcataria 9 Perdu Buah/Obat 5 Pohon Industri/ Lainnya 58 Herba 16 Perdu Buah/ Penghasil Pati /Obat Bumbu/ Lainnya 18 Pohon Industri/ Lainnya 39 Herba 18 Pohon Buah/ Penghasil Pati /Obat Industri/ Lainnya 14 Perdu Bumbu/ Lainnya 33 Herba 15 Pohon Buah/ Penghasil Pati /Obat Industri 13 Pohon Industri/Sayur/Obat/ Lainnya 24 Perdu Buah 24 Herba Buah/Pangan/Obat 23 Pohon Industri/ Lainnya 63 Herba 10 Pohon Buah/ Penghasil Pati /Obat Industri/ Lainnya 10 Pohon Industri/ Lainnya 54 Herba 18 Perdu Buah/ Penghasil Pati /Obat Bumbu/ Lainnya 13 Pohon Industri/ Lainnya Sumber: Pengamatan lapang Pisang (Musa paradisiaca L.) menjadi primadona karena kemudahan dalam penanaman dan perawatan, serta dapat diperoleh hasil yang cepat dan cukup menguntungkan secara ekonomi. Jati merupakan pohon kayu yang banyak ditanam masyarakat sebagai investasi jangka panjang. Sebagai investasi jangka menengah, jenis pohon kayu yang banyak ditanam oleh masyarakat adalah sengon (Paraserianthes falcataria). Kopi (Coffea arabica L.) merupakan komoditas perkebunan yang mulai banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Keuntungan 45   ekonomi menjadi alasan utama masyarakat mulai mengalihfungsikan lahan kebun-talunnya menjadi kebun kopi. Selain jenis pohon, perdu, herba, dan rumput, diidentifikasi pula jenis tanaman semak dan penutup tanah yang ditanam oleh masyarakat (Lampiran 4). Jenis tumbuhan yang banyak ditemukan di daerah studi adalah ki rinyuh (Chromolaena odorata L.). Ki rinyuh tumbuh secara liar di agroekosistem kebuntalun dan dimanfaatkan oleh petani sebagai salah satu sumber hayati untuk pembuatan pupuk hijau (Gambar 20). Dengan fungsi tersebut, banyak dari petani yang membiarkan ki rinyuh tumbuh subur di lahannya atau bahkan sengaja ditanam untuk menambah bahan baku produksi pupuk hijau. Keberadaan ki rinyuh cukup membantu petani dalam mengelola lahan garapannya. Pemanfaatan ki rinyuh yang dikombinasikan dengan pupuk kandang dapat mengurangi biaya produksi dalam pengadaan pupuk. Selain untuk fungsi pupuk hijau, ki rinyuh dapat dimanfaatkan pula sebagai pestisida alami. Gambar 20. Tumbuhan Ki Rinyuh (Chromolaena odorata L.) dengan Bentuk Daun (Kiri) dan Habitatnya (Kanan) Berdasarkan perhitungan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener untuk kelompok pohon dan perdu, diperoleh hasil tingkat keanekaragaman tanaman di daerah studi berkisar antara nilai 1 dan 3 yang menunjukkan tingkat keanekaragaman sedang (Tabel 3). Dusun Kertabraya memiliki nilai indeks tertinggi (2,13) jika dibandingkan dengan Dusun Ciomas (1,50) dan Mandalare (2,13). Hasil perhitungan dengan kategori yang sama dipengaruhi oleh kondisi ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya yang relatif sama di setiap dusun. Namun, terdapat perbedaan nilai yang cukup signifikan di Dusun Ciomas. 46   Tabel 3. Indeks Keanekaragaman Tanaman di Agroekosistem Kebun-Talun No. 1. Dusun Ciomas 2. Mandalare 3. Kertabraya *Kategori: Plot 1 2 3 1 2 3 1 2 3 H 80%) adalah bangunan rumah permanen. Masyarakat memanfaatkan sumber daya untuk membangun rumah sebagian besar diperoleh dari luar, seperti bata merah, pasir, batu, semen, dan sebagainya. Namun, sebagian kecil masyarakat masih memanfaatkan sumber daya lokal untuk membangun rumah nonpermanen dengan model tradisional Sunda (imah panggung). Model imah panggung (rumah panggung) yang ditemukan di daerah studi sebagian besar masih mengikuti aturan budaya Sunda. Arsitektur atap yang digunakan sebagian besar merupakan atap jolopong atau parahu kumureb (Gambar 34). Berdasarkan kriteria rumah panggung ditemukan beberapa rumah penduduk yang masih menggunakan unsur-unsur pembentuk dari rumah panggung tradisional Sunda (Tabel 15). Elemen penting yang sudah tidak banyak ditemukan dalam rumah panggung adalah pemanfaatan daun kirai, kelapa, eurih, 82   langkap, atau ijuk aren untuk fungsi hateup (atap). Sebagian besar rumah panggung juga rumah modern lainnya (beton) telah menggunakan genting sebagai elemen atap. Elemen lain yang mulai ditinggalkan masyarakat adalah penggunaan palang kayu sebagai kunci pintu. Penggunaan slot kunci besi sudah menjadi tren di kalangan masyarakat. Begitu pula dengan jendela kayu yang tergantikan oleh jendela kaca. Gambar 34. Model Rumah Panggung di Daerah Studi Tabel 15. Elemen Penyusun Rumah Panggung Masyarakat Sunda. No. Nama Lokal 1. Kolong 2. Tepas 3. Tengah imah 4. 5. Pangkeng Pawon 6. Goah 7. Para 8. Segog 9. Tatapakan Keterangan Ruang di bawah untuk menyimpan ternak atau perkakas. Ruang di bagian depan untuk menerima tamu dan aktivitas sosial lainnya. Ruang di bagian tengah untuk aktivitas sosial keluarga. Ruang di bagian dalam untuk istirahat keluarga inti. Ruang di bagian belakang untuk aktivitas reproduksi (memasak). Ruang di bagian belakang untuk menyimpan hasil pertanian (gudang beras, dsb.). Ruang di bagian atas untuk menyimpan perkakas (gudang). Ruang di bagian samping untuk menyimpan perkakas (gudang). Bagian dasar/kaki berbahan dasar batu dengan ukuran tinggi sajeungkal atau satuur. Penggunaan (Ya/Tidak) Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya 83   Lanjutan tabel 15 10. 11. 12. Lelemah Tihang Golodog Bagian tanah yang datar/didatarkan. Bagian bangunan berupa tiang berbahan dasar kayu. Bagian bangunan berupa tangga berbahan dasar bambu atau kayu papan. 13. Palupuh Bagian bangunan berupa bambu yang dicacah untuk lantai (dadasar/amparan). 14. Pongpok Bagian bangunan di ujung luar. 15. Pipir Bagian bangunan di samping luar. 16. Juru Bagian bangunan di ujung dalam. 17. Palang dada Bagian bangunan berupa palang untuk mengunci dan paneer pintu. 18. Hateup Bagian bangunan berupa atap berbahan dasar daun eurih, langkap, kirai, kelapa, atau ijuk dari pohon aren. 19. Bilik Bagian bangunan berupa dinding berbahan dasar bambu. 20. Jandela Bagian bangunan berupa jendela. 21. Panto Bagian bangunan berupa pintu. 22. Ereng Bagian bangunan berupa kerangka atap berbahan dasar kayu dengan atap genting. 23. Sosompang Bagian bangunan berupa ruang sederhana di bagian luar. 24. Lincar Bagian bangunan berupa papan penahan bilik. 25. Wuwung Bagian bangunan berupa penutup/penyambung atap (hateup atau genting). Sumber: Pengamatan lapang Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Tidak Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya Hasil pengamatan lapang menunjukkan beberapa rumah panggung tidak menggunakan hateup berbahan dasar daun eurih, langkap, kelapa, atau ijuk. Hal itu disebabkan oleh semakin jarangnya masyarakat yang memanfaatkannya, padahal ketersediaan bahan dasar penyusun atap tersebut masih banyak tersedia di daerah studi. Keengganan masyarakat dipengaruhi oleh kemudahan penyediaan dan pemasangan genting dibandingkan bahan dasar alami. Dampak yang dirasakan oleh masyarakat adalah semakin hilangnya kearifan lokal dalam kekhasan karakter rumah panggung Sunda Panjalu. Imah panggung (rumah panggung) merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat dalam memanfaatkan alam dan lingkungan guna memenuhi kebutuhan keamanan dan ruang aktivitas reproduksi keluarga petani. Kearifan lokal tercermin dalam setiap proses pembuatan dan elemen yang digunakan. Proses awal yang biasa dilakukan adalah ngalelemah atau mendatarkan lahan yang akan digunakan sebagai rumah dengan melakukan rekayasa sederhana (cut 84   and fill). Ngalelemah di daerah studi berbeda dengan yang dilakukan masyarakat Sunda di kampung adat Baduy yang tetap membiarkan topografi seperti aslinya. Masyarakat Sunda Baduy tidak merubah bentuk topografi, tetapi menyesuaikannya dengan memanjangkan atau memendekkan tihang (kaki bangunan berbahan dasar kayu). Proses selanjutnya adalah penyusunan elemen-elemen bangunan yang masih memanfaatkan bahan dasar lokal dan membentuk ruang sesuai fungsinya (Gambar 35). Kayu yang dimanfaatkan sebagai tihang dan bagian utama lainnya diperoleh dari kebun-talun. Kayu yang digunakan adalah jati (Tectona grandis L.f.), sengon/albo (Paraserianthes falcataria), tisuk (Hibiscus macrophyllus), dan kelapa (Cocos nucifera L.). Bahan dasar untuk fungsi dinding dan lantai digunakan bambu (bilik dan palupuh). Pemanfaatan sumber daya lokal untuk pembuatan rumah panggung menandakan pengetahuan ekologi tradisional masyarakat terhadap jenis dan fungsi sumber daya pertanian. Ketersediaan sumber daya tersebut berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai penjaga eksistensi rumah panggung dengan dukungan persepsi dan prefensi masyarakat yang positif terhadap rumah panggung. Wuwung 3 Ereng Hateup/Kenteng 2 Buruan Tukang Tihang Pongpok (luar) Juru (jero) 2 1 Segog Pipir Tatapakan Bilik Lelemah Panto Golodog Jandela Tampak atas terdiri dari (1) Tepas, (2) Tengah Imah dan Pangkeng, dan (3) Pawon/Goah Para Imah Kolong Gambar 35. Ilustrasi Konstruksi Imah Panggung Sunda Panjalu Buruan Hareup 85   4.1.3. Analisis Kondisi Sistem Spiritual-Budaya Masyarakat Pertanian Sunda Parahiyangan 4.1.3.1. Sejarah Masyarakat Berdasarkan penuturan informan kunci, tidak ditemukan bukti sejarah yang menerangkan secara pasti awal mula terbentuknya permukiman masyarakat di daerah studi. Namun secara umum, daerah studi yang termasuk ke dalam satuan wilayah administrasi Kecamatan Panjalu dapat diduga bahwa masyarakat telah ada sejak abad ke-13 ketika Kerajaan Panjalu didirikan. Pusat kerajaan pertama yang berada di puncak Gunung Sawal (Karantenan) menguatkan posisi daerah studi sebagai bagian dari Kerajaan Panjalu. Beberapa informan kunci menjelaskan bahwa daerah Ciomas, Mandalare, dan Kertabraya merupakan bagian dari kekuasaan Kerajaan Panjalu. Bukti fisik yang masih ada hingga saat ini adalah ditemukannya beberapa situs keramat berupa makam dan mata air. Keterikatan dengan Kerajaan Panjalu terlihat ketika upacara adat nyangku yang mensyaratkan pengambilan air di tujuh mata air (termasuk mata air di tiga dusun tersebut) sebagai penghormatan kepada raja Panjalu Prabu Sanghiyang Borosngora. 4.1.3.2. Spiritual Masyarakat Masyarakat Dusun Ciomas, Mandalare, dan Kertabraya merupakan bagian dari masyarakat Sunda yang masih menjalankan adat istiadat budaya Sundan. Kebudayaan Sunda yang terbentuk telah mengalami proses akulturasi dengan beragam budaya luar yang masuk dan mempengaruhi masyarakat, yakni berawal dari pengaruh ajaran Hindu dengan dikenalnya wilayah Panjalu sebagai Kabuyutan Gunung Sawal hingga masuknya pengaruh Islam setelah Prabu Borosngora meyakini ajaran Islam. Sistem keyakinan yang hingga saat ini masih diyakini dan dipertahankan oleh masyarakat adalah konsep ketuhanan dalam ajaran agama Islam yang meyakini keberadaan Allah Swt sebagai pencipta dan pemilik jagat raya. Keyakinan tersebut diekspresikan baik dalam berbagai aktivitas keagamaan seperti dalam ibadah inti (salat, tadarus Al-Quran, pengajian, dan sebagainya) maupun dalam ibadah muamalah (perkawinan, perdagangan, pertanian, pewarisan, peringatan hari besar Islam, dan sebagainya). Dengan kearifan lokal yang 86   dimilikinya, masyarakat mampu beradaptasi dengan kebudayaan luar dan menggunakannya sebagai kekuatan yang memicu kreativitas masyarakat. Kreativitas yang ditunjukkan masyarakat tampak pada berbagai adat istiadat, aktivitas, maupun aktualisasi nilai budaya dalam wujud benda budaya. 4.1.3.3. Budaya Masyarakat 4.1.3.3.1. Tradisi Muludan dan Nyangku Tradisi muludan diselenggarakan dan masyarakat nyangku Panjalu merupakan dalam acara memperingati tahunan yang Maulid Nabi Muhammad Saw. Tradisi tersebut dilakukan dalam serangkaian acara selama satu bulan pada bulan Mulud/Rabi’ul Awal dalam kalender Hijriyah. Muludan dilakukan oleh masing-masing dusun dan desa yang selanjutnya puncak peringatan dilakukan di tingkat kecamatan pada hari Senin atau Kamis terakhir pada bulan Mulud. Tradisi muludan dan nyangku menunjukkan pengetahuan ekologi tradisional masyarakat terhadap ragam jenis tanaman dan hewan lokal. Terdapat beberapa jenis lokal yang dimanfaatkan masyarakat dalam pelaksanaannya seperti padi beras merah varietas lokal, padi (Oryza sativa L.), awi bitung/bambu betung (Bambusa aspera Schultes dengan sinonim Dendrocalamus flagelifer, Gigantochloa aspera Schultes F. Kurtz, atau Dendrocalamus merrilianus (Elmer) Elmer), aren (Arenga pinata), kelor (Moringa oleifera), pisang (Musa paradisiaca L.), jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle), bunga mawar (Rosa L.), umbiumbian, bumbu-bumbuan, dan temu-temuan. Hewan yang dimanfaatkan dalam tradisi, di antaranya, adalah ayam kampung (Gallus domesticus) untuk diambil telur dan dagingnya, serta ikan-ikan lokal Situ Lengkong (sesele, hampal, corengcang, sepat, kulinyar, katut kaberenyit, dan jongjolong tumbras). Sumber daya lokal pertanian untuk mengakomodasi tradisi muludan dan nyangku masih dapat disediakan di daerah studi. Namun, beberapa jenis tanaman seperti beras merah lokal dan pohon kelor, serta ikan lokal yang berada di Situ Lengkong sudah sulit diperoleh. Ketersediaan bahan-bahan untuk pelaksanaan tradisi di pasar berdampak pada keengganan masyarakat membudidayakan bahanbahan tersebut di lahan pertaniannya. Upaya revitalisasi perlu dilakukan untuk 87   menjaga eksistensi keanekaragaman hayati lokal yang berdampak pada keberlangsungan tradisi lokal yang didukung oleh sumber daya lokal. Masyarakat perlu dihimbau untuk kembali membudidayakan bahan-bahan lokal yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tradisi untuk mempermudah pelaksanaan dan mengurangi biaya produksi yang digunakan untuk membeli bahan dari luar. Di samping menunjukkan keanekaragaman jenis sumber daya hayati pertanian, tradisi muludan dan nyangku memperlihatkan hubungan harmonis antar masyarakat dalam satu dusun, desa, hingga kecamatan. Pelaksanaan muludan di daerah studi memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Berdasarkan sistem sosial yang berlaku, setiap dusun diwajibkan untuk menyelenggarakan muludan. Aturan sosial mengatur setiap penyelenggara untuk menyediakan akomodasi bagi seluruh tamu undangan yang berjumlah hingga ribuan. Undangan disampaikan secara lisan dan tertulis kepada sesepuh dusun untuk disampaikan kepada seluruh masyarakat di dusunnya. Jika dalam satu desa terdapat lima dusun dan masingmasing dusun dihuni sekitar 500 jiwa, maka tamu undangan yang hadir sekitar 1.250 orang (asumsi 50% yang hadir dari tiap dusun). Aktivitas saling mengundang (silih ondang) tersebut telah berjalan sejak lama dan tetap menjadi tradisi bagi masyarakat setempat. Berdasarkan kondisi tersebut, dapat diduga kebutuhan finansial yang sangat besar. Dalam hal pendanaan, selain diperoleh dari dana bantuan pemerintah serta kas dusun, perolehan terbesar diperoleh dari dana rereongan (urunan) dari anggota masyarakat desa yang merantau ke kota. Keuangan yang diperoleh dari dana rereongan biasanya dikoordinasikan oleh suatu lembaga sosial seperti perhimpunan keluarga, dan ikatan keluarga. Dengan adanya kelembagaan tersebut, kebutuhan terhadap perkembangan dusun tetap terjaga meskipun donator berada di luar dusun (bakti ka kampung). Ciri khas lain dari kegiatan muludan di daerah studi adalah strata sosial berdasarkan spiritual-budaya yang tampak dari posisi duduk. Penghargaan dan penghormatan ditunjukkan masyarakat dengan mengatur posisi duduk sehingga terlihat berstrata. Posisi terdepan biasa diisi oleh barisan ajengan/kyai, sesepuh, serta tokoh masyarakat. Barisan selanjutnya secara berurutan diisi oleh para ustaz, guru, staf kepemerintahan, dan masyarakat pada umumnya. Pembagian posisi 88   duduk tersebut tidak sengaja dibentuk, tetapi terbentuk dengan sendirinya berdasarkan nilai spiritual-budaya yang diyakini masyarakat. Ada anggapan bahwa mahabah ka ajengan (berbakti kepada ajengan/kyai) akan mendatangkan berkah dari Allah Swt. Tradisi nyangku dilakukan setelah masing-masing dusun dan desa menyelesaikan muludan. Nyangku merupakan bagian dari kegiatan muludan akbar yang diselenggarakan oleh pemerintah kecamatan. Aktivitas utama yang dilakukan adalah pembersihan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Panjalu. Dalam pelaksanaannya, terlihat keterikatan kuat masyarakat dengan ragam jenis sumber daya hayati pertanian khususnya sumber daya air. Pembersihan dilakukan dengan menggunakan air yang bersumber dari tujuh mata air, yaitu dari Situ Lengkong, Karantenan Gunung Sawal, Kapunduhan (makam Prabu Rahyang Kuning), Kubang Kelong, Pasanggrahan, dan Bongbang Kancana. Keberadaan tujuh mata air tersebut perlu dipertahankan untuk mengakomodasi ketersediaan air yang dimanfaatkan dalam tradisi nyangku. Preservasi dan konservasi kawasan mata air perlu dilakukan dengan mempertahankan keberadaan pohon-pohon pituin/lokal. Muludan dan nyangku selain sebagai bukti ketaatan masyarakat terhadap ajaran agama Islam, juga sebagai bukti harmonisasi kehidupan dalam sistem keagamaan. Tampak dalam kegiatan tersebut aktualisasi hak dan kewajiban dari masyarakat beragama. Informan kunci menjelaskan bahwa manfaat lain dari kegiatan muludan adalah memperkuat tali silaturahim antarwarga baik di dusun, desa, maupun kecamatan. Besarnya manfaat dari tradisi tersebut perlu didukung oleh ketersediaan sumber daya hayati pertanian untuk mengakomodasi kebutuhan pelaksanaan muludan dan nyangku. Pembudidayaan kembali jenis-jenis tanaman dan hewan lokal, serta menjaga kelestarian sumber daya air menjadi poin penting revitalisasi sumber daya hayati pertanian untuk keberlanjutan tradisi. Selain itu, sosialisasi pentingnya keanekaragaman hayati jenis lokal perlu diberdayakan pada masyarakat untuk menumbuhkan keinginan untuk melestarikannya. Pengetahuan masyarakat dapat menjadi hal penting dalam mencapai tingkat keberlanjutan jenis-jenis sumber daya hayati lokal. 89   4.1.3.3.2. Konsep Kabuyutan Kabuyutan dalam budaya Sunda telah dikenal sejak zaman sejarah Sunda kuno. Bukti peninggalan sejarah yang dapat menguatkan keberadaan kabuyutan terdapat dalam Prasasti Cibadak yang dibuat oleh seorang raja Sunda bernama Sri Jaya Bupati yang memerintah pada tahun 1006-1016 M. Dalam prasasti tersebut Sri Jaya Bupati telah menetapkan sebagian Sungai Sanghiyang Tapak sebagai kabuyutan, yaitu tempat yang memiliki pantangan (larangan) untuk ditaati oleh rakyat. Salah satu larangan yang tersurat dalam prasasti tersebut adalah larangan untuk tidak menangkap ikan di dalam kawasan kabuyutan. Selain dalam Prasasti Cibadak, istilah kabuyutan terdapat pula dalam naskah Sunda kuno peninggalan abad ke-13, yaitu Amanat Galunggung atau dikenal dengan Amanat Prabu Guru Darmasiksa, seorang raja Sunda yang memerintah pada tahun 1175-1297 M. Naskah Galunggung berisi tentang nasihat raja kepada anak keturunan dan seluruh rakyatnya untuk dijadikan sebagai cekelan hirup (pegangan hidup), ulah (larangan), dan kudu (perintah) agar jaya sebagai bangsa. Dalam naskah kuno tersebut, Prabu Guru Darmasiksa mengamanahkan untuk menjaga kelestarian dari kabuyutan. Amanat Prabu yang terkait kabuyutan adalah sebagai berikut: (1) kabuyutan harus dijaga dari kemungkinan direbut dan dikuasai oleh orang asing; (2) bila terjadi perang, pertahankanlah kabuyutan yang disucikan; dan (3) lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah dari pada raja putra yang tidak dapat mempertahankan kabuyutan. Secara fisik, kabuyutan yang diwariskan oleh para leluhur orang Sunda berupa leuweung larangan (hutan lindung) yang meliputi gunung dan bukit, sungai, situs purbakala, dan peninggalan sejarah lainnya. Kabuyutan dalam makna luas adalah tanah air baik lokal, regional maupun nasionaL. Kabuyutan dapat dimaknai sebagai sumber daya alam hayati dan nonhayati yang meliputi lahan, geologi, air, udara, serta keanekaragaman hayati (satwa dan tumbuhan) yang tercermin dalam ruang ekologi berupa hutan, sungai, gunung, dan lingkungan alam lain beserta kandungan di dalamnya. Selain karakter kabuyutan dalam konteks lanskap alami, kabuyutan tercermin pula dalam konteks lanskap budaya sebagai hasil interaksi manusia dengan alam dan lingkungannya. Permukiman penduduk, area persawahan, 90   perkebunan, perikanan, dan peternakan menjadi bentuk manifestasi nilai kabuyutan dalam memaknai realitas faktual ruang Sunda. Kabuyutan dapat dimaknasi sebagai menifestasi dari kosmologi Sunda sebagai acuan dalam menentukan tata ruang kehidupan masyarakat Sunda mulai dari skala global, regional hingga lokal. Di samping penerapan konsep luhur-handap, dalam penataan ruang Sunda diterapkan konsep ci nyusu yang menjadikan sumber mata air sebagai inti dari suatu kawasan. Mata air merupakan obyek alam yang dikeramatkan karena fungsinya yang sangat vital bagi kehidupan makhluk hidup. Air dianggap sebagai unsur alam yang menjadi dasar terbentuknya tubuh dan jiwa manusia. Pandangan ini pula menjadi dasar dalam memahami maksud dikeramatkannya gunung bagi masyarakat Sunda. Gunung dianggap sebagai salah satu tempat yang memberikan unsur sistem tubuh manusia dalam wujud melalui air. Oleh karena itu, penamaan gunung pun sama dengan penamaan bagian tubuh manusia dan hal tersebut tercermin dalam penetapan konsep ruang kabuyutan (Gambar 36). Gunung Sawal Puncak Karantenan Hulu (Luhur/Girang) Sanghiyang Akesa Sanghiyang Teja Larangan Kepala (Sirah) Sanghiyang Apah Sanghiyang Bayu Sanghiyang Pretiwi Sanghiyang Gado Larangan Leher (Beuheung) Larangan Seke Tutupan Seke Larangan Dada (Dada) Larangan dan Tutupan Hulu (Luhur/Girang) Tengah (Tengah) Sanghiyang Lawang (Buyut Seke) Larangan dan Tutupan Tengah (Tengah) Susukan Larangan Susukan Tutupan Susukan Sanghiyang Udel (Buyut Karuhun) Walungan Sungai Cidarma (Seke) Larangan dan Tutupan Hilir (Handap) Sungai Cimuntur (Susukan) HIlir (Handap) Sungai Citanduy (Walungan) Gambar 36. Konsep Ruang Kabuyutan Sunda (Sumber: Hasil wawancara dengan sesepuh KATCI) 91   Secara garis besar kawasan kabuyutan dibagi menjadi tiga bagian (luhurtengah-handap). Setiap bagian memiliki area larangan dan tutupan yang biasanya berbentuk hutan (leuweung). Hutan larangan di bagian luhur/girang (hulu) dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu larangan sirah (kepala), larangan beuheung (leher), dan larangan dada (dada). Bagian larangan sirah dibagi menjadi enam panta (bagian) dengan jarak setiap panta merupakan hasil dari jumlah langkah panta kelima menuju puncak dibagi lima panta. Panta kelima (Sanghiyang Pretiwi) merupakan pusat dari kawasan luhur/girang. Pada hutan larangan di bagian tengah terdapat hutan larangan Sanghiyang Udel (buyut karuhun) yang merupakan pusat kawasan tengah dan Sanghiyang Lawang (buyut seke) yang menjadi pusat dari subsistem kawasan tengah. Untuk setiap buyut seke ditetapkan luasan larangan rata-rata seluas 0,4 hektar. Setiap buyut seke memiliki seizin berupa makam buyut dan pohon yang dianggap keramat. Gabungan dari beberapa atau seluruh hutan larangan buyut seke akan membentuk satu kawasan kabuyutan untuk setiap kawasan dalam skala mikro, meso, hingga makro. Dalam penetapan suatu kawasan kabuyutan, mata air utama dan pertama (Sanghiyang Pretiwi) dijadikan sebagai acuan. Selanjutnya, ditarik garis lurus ke arah puncak gunung dan ditentukan berapa langkah hingga mencapai puncak. Jumlah langkah selanjutnya dibagi lima panta dan hasilnya digunakan untuk menetapkan lokasi seluruh panta. Setiap panta memiliki simbol tersendiri berupa pohon, batu, atau pun benda lain yang dikeramatkan. Informan kunci menerangkan bahwa penamaan masing-masing panta didasarkan pada bentuk tubuh manusia Sunda kuno. Akesa (wujud eter) diinterpretasikan menjadi ubun-ubun sebagai tempat tumbuh rambut dan bulu yang menandakan daerah yang tertutup vegetasi dengan kondisi topografi dan tanah yang rawan. Teja (wujud sinar/cahaya) diinterpretasikan menjadi mata sebagai tempat membentuk panas tubuh dan sinar mata yang mencirikan daerah terbuka dengan sedikit tutupan vegetasi. Apah (wujud cair) diinterpretasikan menjadi pipi sebagai tempat mengalirkan cairan tubuh yang menandakan daerah pengisi sumber mata air (saluran kecil atau celah bebatuan). Bayu (wujud udara) diinterpretasikan menjadi lubang hidung sebagai 92   tempat sirkulasi udara dan saluran air yang menandakan daerah hulu dari mata air. Pretiwi (wujud padat) diinterpretasikan menjadi mulut dengan kumis yang lebat sebagai tempat permulaan keluarnya air yang menandakan daerah mata air dengan lebatnya pepohonan penyangganya. Selanjutnya, setiap hutan larangan dan tutupan ditetapkan berdasarkan sumber mata air baik pada kawasan seke maupun susukan. Letak hutan larangan berada di lapisan pertama kawasan mata air, dan selanjutnya ditutup oleh hutan tutupan. Fungsi dari hutan larangan adalah sebagai hutan preservasi yang menjaga keseimbangan ekosistem. Hutan tutupan merupakan hutan konservasi yang difungsikan untuk mendukung proses stabilisasi hutan larangan. Akses pada hutan larangan sangat terbatas sehingga sumber daya pada hutan larangan tidak dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Dalam kawasan hutan tutupan, masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya hutan dengan pemanfaatan terbatas dan seizin pemuka adat (Gambar 37). Gambar 37. Leuweung Tutupan di Kabuyutan Kapunduhan (Hariang Kuning) Penetapan leuweung larangan dalam suatu kabuyutan dilakukan melalui tiga kegiatan penataan, yaitu tata wilayah (rancangan tata ruang), tata wayah (rancangan waktu pemulihan), dan tata lampah (rancangan kerja pemulihan). Ketiga rancangan penataan tersebut dilaksanakan secara bertahap melalui tahap 93   kabarataan (penetapan), kadewaan (pendidikan), dan karatuan (pelaksanaan). Setelah dilakukan penetapan wilayah (tata wilayah), selanjutnya dilakukan perancangan waktu pemulihan (tata wayah). Tata wayah dibagi menjadi dua periode utama, yaitu periode pendidikan (kadewaan) dan periode pelaksanaan (karatuan). Melihat nilai dan manfaat dari kegiatan tersebut, inisiasi dan adopsi penerapan konsep kabuyutan dalam menata kembali wilayah Sunda (tata wilayah) perlu dilakukan di luar Dusun Ciomas. KATCI sebagai bagian dari masyarakat memiliki peran penting dalam mengkaji, melaksanakan, dan mengembangkan pengetahuan masyarakat yang bernilai konservatif. 4.1.3.3.2. Pengetahuan Ekologik Tradisional Masyarakat pertanian di perdesaan memiliki pengetahuan tentang alam, vegetasi, satwa, produk alam, sifat dan tingkah laku manusia, serta ruang dan waktu yang terkait dengan pertanian. Berdasarkan pemahaman terhadap aspek fisik alam dan lingkungan, secara budaya masyarakat mengenal dan memahami makna dari daerah-daerah yang dijadikan ruang aktivitas produksi dan reproduksi (Tabel 16). Tabel 16. Ragam Jenis Tempat Berdasarkan PET Masyarakat Sunda No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11. 12. 13. 15. 16. 17. 18. 19. 20 21. Nama Lokal Alun-alun Astana Babakan Basisir Babantar Bojong Bobojong Bubulak/Bulakan Buruan Dayeuh Emper Gawir Geger Gupitan Gurawes Huma Jalan huni Jalan jajahan Jalan satapak Jontor Keterangan Tempat luas yang berada di pusat kota Kuburan/pemakaman Permukiman/kampung baru Pesisir pantai Bagian sungai yang lebar tetapi dangkal Lahan luas yang menjorok ke sungai Lahan yang menjorok ke sungai Kawasan padang rumput di daerah bukit atau gunung Bagian depan dari pekarangan Permukiman yang dihuni banyak orang Bagian depan rumah/teras Sisi jurang Punggung gunung yang memanjang Jalan setapak antara dua bukit Tanah yang curam Sawah ladang/darat (tadah hujan/rainfed) Jalan di antara jalur tanaman di kebun Jalan besar yang dapat dilewati oleh kendaraan Jalan yang hanya dapat dilalui oleh manusia Tanjung 94   Lanjutan Tabel 16 22. Kubangan 23. Kamalir 24. Kobakan 25. Karees 26. Kebon 27. Landeuh 28. Lebak 29. Lengkong 30. Lamping 31. Lembur 32. Leuwi 33. Muhara/Muara 34. Nagrak 35. Negla 36. Parigi 37. Parung 38. Pasir 39. Pakarangan 40. Pipir 41. Sungupan 42. Sake 43. Sampalan 44. Samida 45. Seler 46. Situ 47. Sirah cai 48. Solokan 49. Somang 50. Tegalan 51. Tetelar 52. Tutugan gunung 53. Walungan Sumber: Pengamatan lapang Tempat penuh lumpur untuk mandi kerbau Saluran air kecil Lubang di tegalan yang berair Bagian sisi sungai yang berpasir Lahan pertanian di belakang rumah (pekarangan belakang) Daerah yang lebih rendah Daerah yang lebih rendah Tempat landai dan curam yang berada di antara dua bukit Bagian sisi gunung yang curam Tempat yang dihuni banyak orang/kampung Bagian sungai yang luas dan dalam Hilir dari aliran sungai Daerah yang tinggi dan tidak sesuai untuk pertanian Daerah yang luas dan tidak tertutup pepohonan Saluran air yang sengaja dibuat Bagian sungai yang dangkal dan diapit dua leuwi Daerah seperti gunung tetapi lebih rendah (bukit) Lahan yang berada di sekitar rumah Lahan pekarangan di samping rumah Tempat mengalirkan air dari sungai ke sawah Sungai kecil Daerah jelajah satwa di hutan Hutan yang dikeramatkan Sungai kecil Telaga besar Mata air Saluran air kecil Jurang yang curam dan dalam Lahan luas dan datar di dataran pegunungan Bagian sawah yang tidak terkena air Bagian gunung paling bawah Sungai besar Pengetahuan masyarakat mengenai daerah berbahaya masih diaktualisasikan dalam beberapa aktivitas produksi dan reproduksi masyarakat. Beberapa daerah seperti bojong, bobojong, gawir, samira, lamping dan sampalan menunjukkan tempat berbahaya untuk dilakukan aktivitas. Pemahaman terhadap karakteristik elemen penyusun daerah tersebut memberikan pemahaman terhadap penyesuaian aktivitas yang dapat dilakukan. Namun, kondisi saat ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai mengabaikan kearifan tersebut dengan memanfaatkan daerah berbahaya sebagai ruang aktivitas. Dampaknya terjadi bencana seperti longsor dan erosi yang sebenarnya tidak akan terjadi jika aturan adat tetap ditaati. 95   Pengetahuan tentang vegetasi dalam lanskap pertanian ditunjukkan masyarakat dalam pengenalan dan penggunaan istilah atau nama lokal terkait vegetasi. Berdasarkan informasi dari beberapa informan kunci, ditemukan 40 pohon lokal (40 tangkal adam/pituin) yang digunakan dalam pelaksanaan konsep kabuyutan (Tabel 17) Tabel 17. Nama 40 Tangkal Adam Pengisi Kabuyutan No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. Nama Lokal Awi gombong Angsana Angsret Bungbulang Baros Beunying Bintinu Bungur Caringin Cangcaratan Dadap Dangdeur Eurih Gayam Harendong Huru Kawung Kiara Ki beusi Ki ciat Ki hiang Ki hiur Ki hujan Ki kopi Ki lalayu Ki panggang Ki rinyuh Ki saat Ki sampang Ki segel Ki sereh Ki sireum Ki tambaga Ki teja Kiray Loa Mara Seuhang Sempur Waru Nama Latin Gigantochloa verticillata (Willd.) Pterocarpus indicus Willd. Spathodea campanulata Premna tomentosa Willd. Manglietia glauca Ficus fistulosa Reinw. BI. Melochia umbellate Stapf. Lagerstroemia speciosa (L.) Pers. Ficus benjamina Nuclea excels BI. Erythrina variegate L. Gossampinus malabarica Imperata cylindrica Inocarpus fagiferus Malastoma malabatricum Lisea sp. Arenga pinnata L. Ficus annulata BI. Kibessia azzurea BI. Ficus septica Burm. Albizzia procera Benth. Castanopsis javanica BI. Samanea saman Merr. Plectronia dydima Benth. & Hook. Erioglossum rubiginosum Trevesia sundaica Miq. Eupathorium odoratum L. Velariana hardwickii Wall. Evodia latifolia DC. Dillenia excels Gilg. Piper aduncum L. Syzigium acuminatisima Kurz. Eugenia cuprea Machilus rimosa Ness ex BI. Metroxylon sagu Rottb. Ficus sp. Macaranga tanarius (L.) Muell. Arg. Ficus grossularioides Burm. F. Dillenia aurea Smith. Hibiscus similis Sumber: Pengamatan lapang Kelompok Rumput Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Rumput Pohon Semak Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Semak Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon Pohon 96   Selain pengetahuan tentang 40 tangkal adam, masyarakat masih mengenal jenis-jenis lalaban tradisional yang menjadi ciri khas dalam masakan Sunda. Lalab sudah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan dan budaya masyarakat Sunda. Bagi masyarakat di perdesaan, lalab memiliki arti tersendiri dalam kehidupan tradisi masyarakatnya. Lalab adalah sumber pangan dari tanaman segar yang berupa bagian daun, pucuk, buah muda, atau biji yang dikonsumsi secara langsung atau dimasak terlebih dahulu. Selain bernilai budaya tinggi, lalab merupakan sumber vitamin, mineral, dan serat bagi kesehatan masyarakat yang mengkonsumsinya. Lalab yang biasa dikonsumsi masyarakat telah tersedia baik dalam agroekosistem kebun-talun, sawah, maupun pekarangan. Jenis tanaman lalab di kebun-talun biasanya merupakan tanaman palawija. Di pekarangan, selain palawija ditemukan pula jenis lalab dari tanaman sayuran dan buah. Masyarakat masih mengenal dan mengkonsumsi lalaban tempo dulu seperti antanan, jotang (Spilanthes calva DC.), sintrong (Erechtites valerinanifolia (Wolf) DC.), kosambi (Schleichera oleosa (Lour.) Oken.), marame (Glochidon borneense (MA) Boerl.), dan daun jambu mete (Anacardium officinele L.). Akibat terjadinya seleksi terhadap jenis tanaman baik secara alami maupun diseleksi oleh masyarakat, jenis lalaban baru mulai dikonsumsi seperti daun singkong (Manihot easculenta Crantz.), daun pepaya (Carica papaya L.), jaat (Psopocarpus tetragonolobus), jengkol (Pithecelobium jiringa), petai (Parkia speciosa Hassk.), leunca (Solanum nigrum L.), daun kemangi (Ocimum bacilicum L.), seladah air (Nasturtium officinale R.Br.), sawi (Brassica oleraceae L.), terung (Solanum melongena L.), tespong (Oenanthe javanica DC.), mentimun (Cucumis sativus L.), buncis (Phaseoulus vulgaris L.), labu siam (Sechium edule (Jacq.) Swartz), dan kacang panjang (Vigna unguiculata sesquipedalis (L.) Verdc.). Pengetahuan tentang tumbuhan dan tanaman lokal di masyarakat dewasa ini mengalami penurunan akibat berkurangnya pemanfaatan terhadap beberapa jenis yang tidak bernilai ekonomi dan tidak enak untuk dikonsumsi secara langsung. Pohon-pohon pituin banyak yang tidak dibudidayakan di lahan pertanian karena kalah bersaing dengan tanaman introduksi seperti sengon, gmelina, dan jati. Jenisjenis lalaban yang tidak dibudidayakan saat ini disebabkan oleh rasa yang kurang enak dan kemudahan memperoleh beberapa jenis lalab di pasaran sehingga 97   masyarakat enggan untuk membudidayakannya. Kondisi tersebut berdampak pada semakin berkurangnya keanekaragaman hayati pertanian di daerah studi. Guna menjaga eksistensi vegetasi lokal perlu dilakukan pembudidayaan kembali jenisjenis lokal dengan pemberdayaan masyarakat mengenai manfaat dan pentingnya menjaga keberadaan dari jenis lokal tersebut. Pengetahuan tentang satwa dalam lanskap pertanian ditunjukkan masyarakat dengan mengenal jenis satwa yang bermanfaat dalam menjaga stabilitas agroekosistem. Masyarakat secara umum mengenal jenis-jenis satwa yang berfungsi sebagai hama, musuh alami hama/predator, pollinator, cultivator, dan fungsi lainnya yang berperan dalam menjaga keberlangsungan lanskap pertanian (Tabel 18). Tabel 18. Ragam Jenis Fungsi Satwa Berdasarkan PET Masyarakat Sunda No. 1. Fungsi Musuh alami (predator) 2. Penyerbuk alami (pollinator) Pengembang biak alami (cultivator) 3. 4. Hama (disease) Sumber: Pengamatan lapang Jenis Satwa celemes (Sundasciurus lowii), bajing/tupai (Tupaia javanica), musang (Paguma larvata), kalong (Pteropus vampyrus), burung hantu putih (tito alba javanica), burung hantu cokelat (Bubo ketupu), kowak (Nyctitorac nyctitorac), elang jawa (Spizaetus bartelsi), prenjak jawa (Prinia familiaris), jalak puyuh (Barred buttonquail), laba-laba pemburu (Lycosa pseudoannulata), kumbang (Coccinellidae), capung (Anisoptera dan Zygoptera), lipan/kelabang (Scolopendra sp.), kutu air (Daphnia), semut (Formisidae), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), blekok sawah (Ardeola speciosa), musang (Verricula malaccensis), careuh (Herpestes javanicus), kalong (Pteropus vampyrus) celemes (Sundasciurus lowii), bajing/tupai (Tupaia javanica), musang (Paguma larvata), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kalong (Pteropus vampyrus), tikus (Ratus argentiventer dan Mus caroli), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), anjing tanah/gang (Grylottalpa africana), kungkang (Leptocorisa acuta), ganjur (Orseolia orizae), kuuk, keong mas (Pomacea canaliculatus), ngengat penggerek batang padi (Scirpophaga incertulas dan S. innotata), wereng cokelat (Nilaparvata lugens), wereng hijau (Nephotettix viresscens), walang sangit (Leptocorisa olaptorius), belalang hijau (Oxya japonica dan Stenocatantops splendens), jangkrik (Gryllotalpa sp.), ulat penggulung daun (Erienota thrax), uret kumbang penggerek bonggol (Cosmopolites sordidus), penggerek batang (Odoiporus logicolis), thrips (Chaetanaphotrips signipennis), dan pipit (Lonchura leucogastroides). 98   Pengetahuan tradisional khas terkait pemahaman terhadap satwa ditemukan di daerah studi dalam hal memanfaatkan tenaga kerbau untuk membajak sawah (ngawuluku). Pengetahuan untuk mengendalikan kerbau agar dapat melakukan pekerjaannya dengan baik tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Sama halnya dengan aktivitas menyadap yang perlu keahlian khusus dan pengetahuan ekologik tradisional yang kuat agar dapat menghasilkan lahang yang banyak dengan kualitas yang terbaik. Dalam aktivitas ngawuluku, pemilik kerbau biasanya menggunakan perintah-perintah yang dapat dimengerti dengan mudah oleh kerbau. Tentu saja interaksi dan komunikasi tersebut telah dilakukan dalam jangka waktu yang lama, sehingga pemiliki kerbau memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kerbau miliknya (Tabel 19) Tabel 19. Ragam Instruksi Petani kepada Kerbau dalam Aktivitas Membajak No. 1. 2. Instruksi Kiya Kalen Keterangan Instruksi petani kepada kerbau untuk berjalan lurus Instruksi petani kepada kerbau untuk berjalan ke samping akibat terlalu lama membajak di satu tempat. 3. Arang Instruksi petani kepada kerbau untuk lebih membajak tempat yang diperintahkan karena terlalu jarang. 4. Mideur Instruksi petani kepada kerbau untuk berputar. 5. Luput Instruksi petani kepada kerbau untuk menundukan kepala karena bajak tidak mengenai tanah. Sumber: Pengamatan lapang Masyarakat petani di daerah studi menggunakan berbagai alat produksi sesuai dengan fungsi dan pemanfaatanya. Beberapa alat pertanian dan senjata tradisional masyarakat Sunda masih digunakan oleh sebagian besar petani. Pemanfaatan alat produksi dan senjata tersebut disesuaikan dengan fungsi dan kebutuhan dari masyarakat. Untuk fungsi memotong dan juga berfungsi sebagai senjata, petani menggunakan congkrang, bedog (golok), arit, gobang (golok panjang), atau parang. Untuk fungsi merapihkan dan membersihkan lahan digunakan pacul (cangkul), wuluku (bajak), gasrok, garu, lalandak, gacok (garpu), atau kored (cangkul kecil). Pengguna dari alat-alat tersebut sebagian besar adalah laki-laki. Bedog, arit, dan kored yang biasa digunakan oleh perempuan dalam aktivitas bertani. 99   Penggunaan alat-alat pertanian trdisional masih dilakukan oleh sebagian besar petani di daerah studi. Namun, perubahan sistem pertanian yang terjadi akibat intervensi program Revolusi Hijau mempengaruhi alat pertanian yang digunakan. Intensifikasi pertanian dengan introduksi varietas padi hibrida jenis IR yang berbatang pendek, merubah cara pemanenan dengan menggunakan arit yang menggantikan fungsi etem (ani-ani). Pengolahan lahan pertanian sawah saat ini lebih banyak memanfaatkan teknologi traktor jika dibandingkan dengan pemanfaatan bajak. Namun, sebagian besar petani masih menganggap hasil olahan yang lebih baik dengan bajak jika dibandingkan dengan traktor. Hal itu didukung pula dengan kondisi fisik lahan yang berteras dan relatif sempit sehingga cukup sulit bagi traktor untuk melakukan pengolahan tanah. Usaha pertanian menjadi sumber nafkah utama bagi masyarakat di perdesaan. Kebergantungan masyarakat pada sumber daya hayati pertanian dalam satuan lahan pertanian telah membentuk lanskap pertanian (agroekosistem) yang khas. Dalam hal pembagian ranah kerja, masyarakat mengenal pembagian kerja untuk aktivitas di ladang, kebun-talun, sawah, maupun pekarangan. Aktivitas masyarakat yang biasa dilakukan pada agroekosistem kebun-talun (Tabel 20) dan agroekosistem sawah (Tabel 21) yang dimulai dari pembukaan lahan, penanaman, hingga pemanenan. Tabel 20. Ragam Aktivitas Pertanian pada Agroekosistem Kebun-Talun dan Pekarangan Berdasarkan PET Masyarakat Sunda ✓ 2. Aktivitas Pertanian di Kebun-talun dan Pekarangan Nama Lokal Keterangan Ngabukbak Membuka lahan hutan untuk dijadikan lahan pertanian (huma, kebun-talun, atau sawah). Ngabaladah Memulai perkerjaan yang sulit (pertanian) 3. Nuar Menebang pohon menggunakan bedog/golok. ✓ 4. Nyacar babad ✓ ✓ 5. Ngahuru Membersihkan lahan menggunakan congkrang atau arit (nyacar) atau menggunakan bedog/golok (babad) untuk siap ditanam. Membakar sisa pohon hasil nyacar atau babad. ✓ ✓ 6. Ngaduruk ✓ ✓ 7. Macul ✓ ✓ 8. Nemprang Membakar sisa semak dan penutup tanah hingga bersih. Mengolah tanah agar mudah ditanami menggunakan cangkul Meratakan tanah setelah dicangkul/dibajak ✓ ✓ 9. Ngarag Membersihkan sisa tanaman yang masih tersisa ✓ No. 1. atau B Alokasi SDM I AL AP ✓ ✓ ✓ ✓ 100  Lanjutan Tabel 20 10. Ngaseuk ✓ Muuhan Membuat lubang menggunakan tongkat kayu (aseuk) Memasukan benih ke dalam lubang 11. 12. Ngamalir Membuat saluran air untuk pengairan/irigasi ✓ ✓ 13. Ngagemuk Memupuk tanaman ✓ ✓ 14. Nyaangan Menyiangi lahan garapan ✓ ✓ ✓ ✓ 15. Ngoyos Menyiangi lahan garapan ✓ ✓ ✓ ✓ 16. Ngored ✓ ✓ ✓ 17. Nyemprot Menyiangi dengan menggunakan kored (cangkul kecil) Membasmi hama dengan menyemprotkan obat ✓ ✓ 18. Tunggu Menunggu lahan agar tidak ada yang mengganggu ✓ ✓ 19. Panen Memetik hasil tanaman ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ Keterangan: B=Bapak; I=Ibu; AL=Anak Laki-Laki; dan AP=Anak Perempuan Tabel 21. Ragam Aktivitas Pertanian pada Agroekosistem Sawah Berdasarkan PET Masyarakat Sunda Aktivitas Pertanian di Sawah Keterangan 1. Mengeringkan air untuk mengolah tanah sawah. 2. Membersihkan sisa-sisa jerami padi. 3. Membersihkan gulma di pematang sawah. 4. Memperbaiki pematang dengan menambahkan lumpur pada permukaannya agar tidak bocor akibat tikus atau kepiting sawah. 5. Macul Mencangkul lahan sawah menggunakan cangkuL. 6. Ngawalajar Mencangkul kasar. 7. Mulihan Mencangkul ulang. 8. Ngangler Menghancurkan tanah menjadi lumpur. 9. Ngacak Membersihkan lahan sawah dari sisa gulma. 10 Nyongkog Mencangkul tanah yang masih menggumpal 11. Ngararata Meratakan tanah sawah. 12. Nyorong Meratakan tanah dengan sosorong. 13. Ngawuluku Membajak lahan sawah menggunakan bajak dengan bantuan tenaga kerbau atau sapi. 14. Ngagaru Menggaruk/menyisir tanah menggunakan garu . 15. Tebar Menebar benih padi pada area pembenihan (pabinihan). 16. Kias Menabur beras pada area pembernihan. 17. Tandur Menanam padi siap tanam 18. Ngarambet Menyiangi sawah pertama setelah usia padi 30 ngabaladah hari. 19. Ngarambet mindo Menyiangi sawah kedua setelah usia padi 50 hari. 20. Ngagerendel/ Menyiangi padi menggunakan batang kayu berpaku (gerendel) 21. Dibuat Memanaen padi Keterangan: B=Bapak; I=Ibu; AL=Anak Laki-Laki; dan AP=Anak Perempuan No. Nama Lokal Nyaatkeun cai Babad jarami Babad galeng Mopok galeng B ✓ ✓ ✓ ✓ Alokasi SDM I AL AP ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ 101   Pembagian ranah kerja dalam mengelola agroekosistem kebun-talun, pekarangan, dan sawah, peran seorang bapak masih mendominasi dari keseluruhan aktivitas. Peran bapak banyak dibutuhkan dalam pekerjaan tergolong berat seperti pmbukaan lahan dan pengolahan tanah. Aktivitas tersebut biasa dibantu oleh anak laki-laki untuk sekedar nyacar, ngahuru, ngaduruk, atau macul. Peran ibu dan anak perempuan banyak dibutuhkan dalam aktivitas kategori sedang dan ringan seperti ngarag, muuhan, nyaangan, ngoyos, ngored, dan panen. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam pengelolaan sumber daya pertanian, tidak ada perbedaan dalam hal keterlibatan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan terjadi dalam hal bobot pekerjaan dan intensitas curahan waktu kerja. Laki-laki memiliki porsi lebih besar dalam dua hal tersebut jika dibandingkan perempuan (Fausia dan Prasetyaningsih, 2005). Namun jika dilihat dari jumlah jenis pekerjaan, perempuan memiliki jumlah pekerjaan lebih banyak daripada laki-laki. Proses setelah pembukaan lahan hingga panen banyak dilakukan oleh perempuan. Hal tersebut menunjukkan bahwa peran perempuan memiliki kontribusi positif terhadap keberlangsungan usaha pertanian. Selain itu, keikutsertaan anak dalam setiap proses pengelolaan merupakan cara efektif dalam sosialisasi usaha produski maupun reproduksi keluarga petani. Namun, banyaknya migrasi golongan usia muda ke kota berakibat terkendalanya proses sosialisasi tersebut. Pentingnya proses regenerasi perlu didukung upaya sosialisasi pentingnya keberlanjutan usaha pertanian di perdesaan sehingga dapat mengurangi kehilangan generasi muda di perdesaan. Pengetahuan lain yang menjadi kekayaan budaya masyarakat di daerah studi adalah pemahaman terhadap sistem ukur dan sistem hitung. Sistem ukur yang digunakan masyarakat, ditentukan berdasarkan ukuran dari anggota tubuh manusia (Tabel 22). Pengetahuan mengenai sistem ukur tersebut digunakan masyarakat dalam pengukuran lahan pertanian. Sistem ukur tradisional masih dikenal dan dipergunakan dalam inventarisasi dan transaksi terkait lahan. keberlanjutan pengetahuan ekologi tradisional tersebut dapat dipertahankan dengan sosialisasi terpadu pada generasi muda untuk terus menggunakannya dalam aktivitas kemasyarakatan. 102  Tabel 22. Ragam Sistem Ukur Berdasarkan PET Masyarakat Sunda. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11 Nama Lokal Satumbak Sabata Samil Saareu Sahektar Sakaki Saelo Saicak Sajeujeuh Satampah Sajeungkal 12. Sadeupa Keterangan 3.77 m 14 m2 1.5 km 100 m2 100 are/500 bata 30 cm 0.75 m 0.75 m2/saelo pasagi Sepanjang telapak kaki orang dewasa Sepanjang telapak tangan orang dewasa Sepanjang ujung jari jempol hingga ujung jari kelingking, kirakira 20 cm Sepanjang ujung jari tangan kanan hingga ujung jari tangan kiri, kira-kira 1.60 m Sumber: Pengamatan lapang Sistem hitung yang digunakan berdasarkan perhitungan barang tertentu. Perhitungan digunakan masyarakat dalam aktivitas produksi, konsumsi, dan distribusi produk pertanian. Sistem perhitungan dalam aspek pertanian dibedakan menjadi sistem hitung pertanian secara umum (Tabel 23) dan pertanian sawah (Tabel 24). Tabel 23. Ragam Sistem Hitung Objek Pertanian Secara Umum Berdasarkan PET Masyarakat Sunda No. A. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nama Lokal Keterangan Hitungan produksi pertanian umum Saleunjeur/Sadapur Hitungan untuk bambu (awi) Sakeben Hitungan untuk tembakau (bako) Sasihung Hitungan untuk bawang Sailab Hitungan untuk anyaman bambu (bilik) Sakeclak Hitungan untuk air (cai) Saturuy/Sasikat Hitungan untuk pisang (cau) Saponggol/Salembar Hitungan untuk daun pisang (daun cau) Sajalon Hitungan untuk rumput (eurih) Sagandu/Sabonjor Hitungan untuk gula merah/aren (gula kawung) 10 Sakakab Hitungan untuk injuk (ijuk) 11. Samanggar Hitungan untuk pinang (jambe) dan kelapa (kalapa) 13. Sarakit Hitungan untuk kerbau (munding) 15. Sanyamplung Hitungan untuk nangka 16. Sapapan Hitungan untuk petai (peuteuy) 17. Saranggeuy/Saganci Hitungan untuk padi (pare) 18. Sacanggeum Hitungan untuk beras (beas) 19. Sapiring/Saboboko Hitungan untuk nasi (sangu) 20 Sakotak Hitungan untuk sawah 21. Sabebek/Sateukteuk Hitungan untuk kayu bakar (suluh) 22. Sajodo Hitungan untuk ayam atau merpati 23. Samanggar Hitungan untuk salak Sumber: Pengamatan lapang Hitungan Umum Satu cetakan 1-2 kg Satu siung 2 x 2,5 m/2,5 x 3 m Satu tetes 20-15-10 kg/3-5 kg Satu pelepah Satu ikat atap (L=1 m) Satu cetakan/10 gandu Satu pepalah 50 kg atau lebih Dua ekor Satu buah Satu ruas Satu kali arit Satu genggam Satu piring Satu petak Satu buah Dua ekor Satu tangkai 103   Tabel 24. Ragam Sistem Hitung Pertanian Sawah Berdasarkan PET Masyarakat Sunda No. Nama Lokal 1. Saranggeuy 2. Sapocong/Saeundan 3. Sageugeus/Sagedeng 4. Sabawon 5. Sasangga 6. Salajer 7. Sacaeng 8. Satanggung 9. Saundem 10. Samadea 11. Sakati 12. Sagantang 13. Saleter 14. Saemud 15 Sakulak 16. Sapikul/Sadacin Sumber: Pengamatan lapang Keterangan Satu genggam padi Satu ikat padi Dua pocong Empat pocong Lima geugeus Empat sangga/dua puluh geugeus 40 sangga/10 lajeur/empat tanggung/200 geugeus 50 geugeus Ukuran beras yang diukur dengan tempurung kelapa 100 geugeus/setengah caeng Berat sekitar 817.5 gram Lima kati/10 undem Satu liter (1 dm3) Satu liter lebih Ukuran beras sekitar 2.5 kg Ukuran bangsal sekitar 62.5 kg/100 kati Pengetahuan terhadap waktu diaktualisasikan oleh masyarakat dalam penggunaan sistem waktu yang ditentukan berdasarkan musim (Tabel 25). Sistem waktu yang hingga saat ini masih digunakan oleh sebagian besar masyarakat erat kaitannya dengan aktivitas produksi dan reproduksi masyarakat petani. Dengan memahami beberapa ukuran waktu tersebut dapat menjadi tanda bagi ragam aktivitas masyarakat pertanian. Tabel 25. Ragam Ukuran Waktu Berdasarkan PET dalam Masyarakat Sunda No. Nama Lokal 1. Mamareng 2. Usum ngijih 3. Dangdangrat 4. Usum katiga/halodo B. Terkait pertanian 1. Usum nyambut 2. Usum tandur 3. Usum ngarambet/ngoyos 4. Usum celetu 5. Usum rampak 6. Usum panen 7. Usum nyacar 8. Usum ngahuru 9. Usum ngaduruk 10. Usum ngaseuk 11. Usum ngored 12. Usum dibuat Sumber: Pengamatan lapang Keterangan Awal musim hujan Musim hujan, setiap hari basah Musim hujan yang diselang musim kemarau Musim kemarau Musim pertama menggarap sawah Musim menanam padi Musim merawat/menyiangi sawah Musim padi mulai berbuah Musim padi sudah berbuah Musim panen padi Musim membuka lahan untuk ladang/kebun Musim membakar pohon hasil nyacar Musim membakar sisa ngahuru Musim menanam padi huma/ladang/kebun Musim merawat/menyiangi ladang/kebun Musim panen padi huma/hasil kebun 104  Pemahaman masyarakat terhadap ruang dan waktu pada agroekosistem terlihat pula dalam mengenal penanda alam yang dijadikan pedoman dalam menjalankan aktivitas pertanian. Namun demikian, dengan perubahan sistem pertanian di beberapa agroekosistem, keberadaan pengetahuan lokal masyarakat terkait perhitungan musim semakin ditinggalkan bahkan dilupakan. Beberapa informan kunci ahli pertanian (mantra tani) menyampaikan bahwa masyarakat masih menggunakan perhitungan musim berdasarkan perbintangan (pabentangan) hingga akhir tahun 1970. Setelah dideklarasikannya program Revolusi Hijau, lambat laun kebudayaan bertani tradisional tersebut semakin ditinggalkan. Pengetahuan ekologik tradisional tersebut dikenal masyarakat sebagai pranata mangsa. Pranata mangsa yang dikenal masyarakat memiliki kesamaan dengan pronoto mongso yang dipakai oleh masyarakat jawa pada umumnya. Pengaruh Mataram yang pernah menguasai Tatar Sunda cukup kuat mempengaruhi pengetahuan masyarakat dalam menentukan kalender pertanian. Secara umum masyarakat di daerah studi menyusun kalender pertanian berdasarkan gejala alam yang dipelajari secara terus-menerus sehingga menghasilkan pengetahuan tentang musim yang diperlukan dalam pelaksanaan usaha pertanian (pranata mangsa). Sebagai dasar dalam menentukan musim, masyarakat menggunakan keadaan dan jalannya bintang-bintang tertentu. Hal yang diperhatikan masyarakat adalah keadaaan matahari dengan melihat bayangan manusia. Bayangan manusia yang jatuh di sebelah utara menandakan musim hujan akan segera mulai. Kondisi tersebut biasanya terjadi mulai bulan September hingga permulaan bulan Maret. Kondisi sebaliknya ketika bayangan jatuh di sebelah selatan menandakan hujan semakin berkuran dan musim kemarau akan segera mulai. Kondisi tersebut terjadi pada bulan Maret hingga September. Selain dengan melihat pergerakan matahari, masyarakat memanfaatkan kemunculan bintang waluku (orion) sebagai penanda dimulainya penggarapan lahan. Bintang waluku dipercayai sebagai penanda musim oleh masyarakat karena melihat gugusan bintang seperti bentuk bajak. Tanda yang ditunjukkan oleh bintang waluku adalah ketika kemunculannya yang terang pada sore hari yang menandakan penggarapan lahan harus segera dimulai. 105   Berdasarkan pemahaman terhadap gejala-gejala alam tersebut, masyarakat menyusun waktu dalam satu tahun menjadi 12 musim. Dalam sejarahnya, Sri Susuhunan Pakubuwana VII melakukan penyetaraan pranata musim pada tahun 1885 M di Solo. Penyetaraan dilakukan agar masyarakat memiliki persamaan pandangan dan susunan mengenai musim. Dengan adanya pengaruh Mataram di wilayah Tatar Sunda, mempengaruhi penamaan pranata mangsa yang dilakukan oleh masyarakat. Dampaknya, pembagian mangsa yang masih diketahui masyarakat menggunakan bahasa Jawa (Tabel 26). Tabel 26. Ragam Penciri Waktu (Mangsa) Berdasarkan PET Masyarakat Sunda No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Waktu (Mangsa) Kasa (22 Juni-2 Agustus /41 hari) Karo (2 Agustus-26 Agustus/23 hari) Katelu (26 Agustus-19 September/24 hari) Kapat (19 September13 Oktober/25 hari) Kalima (13 Oktober-9 November/27 hari) Kanem (9 November22 Desember/43 hari) Kapitu (22 Desember-3 Februari/43 hari) Kawolu (3 Februari-1 Maret/27 hari) Kasanga (1 Maret-26 Maret/25 hari) 10. Kasepuluh (26 Maret19 April/24 hari) 11. Desta (19 April-12 Mei/23 hari) 12. Sadha (12 Mei-22 Juni/41 hari) Sumber: Pengamatan lapang Keterangan Pohon mulai meranggas, tanah mulai mongering, serangga mulai bertelu, mata air mulai mengering, dan petani memulai penanaman palawija di sawah. Tanah mengering dan palawija mulai tumbuh di sawah. Tanaman palawija berbunga dan berbuah dan tanaman lain mulai tumbuh (gadung, bambu, dsb.). Palawija mulai dipanen, mata air kering, burung mulai bersarang, pohon randu berbuah, gadung dan bambu Daun muda pohon asam mulai tumbuh, ular mulai keluar, mangga mulai masak, dan petani mulai menanam di huma serta persiapan penanaman di sawah. Buah rambutan, durian, dan manggis mulai masak, dan petani mulai menanam padi di sawah. Burung mulai sulit menemukan makanan serta penanaman padi terus dilaksanakan sehingga tidak sampai melebihi akhir bulan musim. Serangga mulai bermunculan (kumbang, kunang-kunang, dsb.), padi mulai menghijau, jagung di huma mulai dipanen, dan burung tenggerek mulai berkicau. Buah duku, gandaria, jeruk mulai masak, dan padi huma juga padi sawah mulai menguning Burung mulai ramai membuat sarang dan padi huma juga padi sawah mulai dipotong. Burung mulai mengerami telurnya dan petani sibuk memanen padi baik di huma maupun di sawah. Buah-buahan mulai masak, padi sawah selesai dipanen, dan petani mulai mempersiapkan mengolah lahan untuk palawija. Pemahaman masyarakat pertanian terhadap berbagai gejala alam dan lingkungan yang terjadi secara berulang, telah melahirkan pengetahuan ekologi tradisional yang bernilai arif dan bijaksana terhadap alam dan lingkungannya. manfaat dari pranata mangsa telah dirasakan oleh masyarakat dalam berbagai aktivitas pertanian sehingga mampu menjadikan usaha pertanian sebagai tumpuan 106  hidup. Namun, adanya perubahan sistem pertanian berdampak pada hilangnya kearifan masyarakat yang menyebabkan rapuhnya aspek pertanian dalam menopang kebutuhan masyarakat. Besarnya manfaat dari pranata mangsa perlu diberdayakan kembali dengan merevitalisasi makna dan fungsinya untuk keberlanjutan usaha pertanian. 4.1.4. Intervensi Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Pertanian Sunda Parahiyangan Sumber daya pertanian yang terdapat di daerah studi merupakan aset alam yang sangat bernilai untuk perkembangan sosial-ekonomi maupun spiritualbudaya masyarakat. Sebagai sumber daya milik bersama yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja berpotensi menimbulkan konflik jika tidak dilakukan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan secara adil dan bijaksana. Negara (dalam hal ini pemerintah) dengan landasan hukum yang kuat dalam undang-undang, keputusan menteri, peraturan pemerintah hingga atribut hukum yang lebih bersifat lokal memiliki kekuasaan penuh dalam pengelolaan sumber daya. Peranan pemerintah yang diimplementasikan dalam kebijakan berpotensi menghasilkan sistem pengelolaan yang adil dan bijaksan jika dilakukan sesuai dengan amanat hukum yang berlaku. Daerah studi sebagai bagian integral dari satuan Wilayah Sungai Citanduy telah merasakan beragam implementasi kebjikan dari pusat dalam upaya pengelolaan daerah aliran sungai Citanduy (DAS Citanduy). Berbagai program rehabilitasi lahan dan pengembangan masyarakat di sekitar DAS Citanduy telah dilakukan pemerintah melalui peranan lembaga di masing-masing tingkat pemerintahan. Program yang dilakukan di daerah studi, di antaranya, adalah program Pelestarian Hutan Tanah Air (PHTA) pada tahun 1976/1977 yang merupakan instruksi presiden untuk menyediakan bantuan penghijauan di kawasan DAS Citanduy. Tahun 1982/1983 daerah studi menerima intervensi Proyek Penghijauan dan Reboisasi Nasional Pelita V. Proyek tersebut merupakan instruksi presiden yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas DAS Citanduy melalui program Unit Percontohan Usaha Pelestarian Sumber Daya Alam (UP-UPSDA). Program tersebut berupa instensifikasi lahan secara tepat dan sesuai dengan upaya 107   konservasi tanah dan air (KTA). Ragam kegiatan sebagai pendukung tercapainya tujuan dari program yang diusung, dilakukan oleh lembaga-lembaga mulai dari tingkat nasional (BRLKT/BPDAS Cimanuk-Citanduy) hingga tingkat regional (BPSDA Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan). Adapun di tingkat lokal, dijalankan oleh lembaga pemerintahan kecamatan dan desa. Selain program yang terkait langsung dengan upaya konservasi tanah dan air di DAS Citanduy, masyarakat merasakan pula program Revolusi Hijau yang telah berlangsung sejak 1950. Dengan adanya program tersebut, masyarakat dapat merasakan manfaat dari introduksi pengetahuan dan teknologi baru dalam pengelolaan sumber daya pertanian, meskipun pada dasarnya masyarakat telah memiliki pengetahuan dan teknologi tersebut. Pengetahuan dan teknologi yang diterima masyarakat, di antaranya, adalah pembuatan dan pengelolaan teras gulud dan teras tangga beserta saluran pembuangan air (SPA), dan usaha tani yang mengkombinasikan tanaman pertanian, kehutanan, dan peternakan. Namun, bukti dilapangan menunjukkan hasil yang belum maksimal. Kerusakan sumber daya pertanian semakin serius terjadi di daerah studi khususnya dan umumnya di kawasan DAS Citanduy. Ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan pupuk, pestisida, herbisida, dan sarana produksi lain yang tidak sesuai dengan upaya konservasi agroekosistem, dirasakan masyarakat sebagai dampak negatif dari program tersebut. Degradasi sumber daya pertanian yang terus berlangsung hingga dewasa ini disebabkan oleh berbagai hal. Salah satunya adalah kebijakan pemerintah belum memberikan ruang lebih bagi masyarakat melalui kelembagaan lokal untuk berperan serta dalam upaya pengelolaan sumber daya pertanian. Kuatnya intervensi dari pihak pemerintah dalam penentuan kebijakan hingga pelaksanaan di lapangan, menyebabkan ruang partisipasi masyarakat semakin sempit. Kegagalan pelaksanaan program menuntut adanya model pengelolaan yang lebih partisipatif dengan memberi ruang lebih bagi masyarakat untuk menggunakan pengetahuan ekologi tradisionalnya dalam mengelola alam dan lingkungan secara adil dan bijaksana. 108  4.2. Karakterisasi Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Lanskap pertanian Sunda Parahiyangan yang terbentuk sebagai hasil interaksi masyarakat pertanian dengan alam dan lingkungannya memiliki karakteristik ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya yang khas. Beragam elemen pembentuk lanskap dengan bentuk dan ciri khasnya menunjukkan kesatuan pola yang utuh dan unik jika dibandingkan dengan lanskap pertanian lainnya. Elemen pembentuk lanskap pertanian tersebut mencakup aspek ekologi yang terdiri dari unsur tanah dan topografi, hidrologi, iklim, vegetasi dan satwa, serta pola penggunaan lahan (land use). Aspek sosial-ekonomi mencakup unsur kependudukan, organisasi sosial, sistem mata pencaharian, dan infrastruktur. Aspek spiritual-budaya terdiri dari unsur sejarah, spiritual, dan budaya masyarakat. Sebagai faktor luar yang mempengaruhi karakteristik lanskap pertanian Sunda Parahiyangan, intervensi kebijakan pemerintah memiliki peran yang sangat penting. Berdasarkan kajian karakteristik pada masing-masing unsur dapat diketahui bahwa faktor fisik/ekologi pembentuk karakteristik lanskap menunjukkan pola unit lanskap pertanian dengan tipe karakter pegunungan. Karakter tersebut muncul dari bentuk elemen-elemen penyusunnya yang mencerminkan elemen penyusun lanskap pegunungan. Tanah litosol, regosol, latosol, dan andosol merupakan jenis tanah khas daerah pegunungan vulkanik. Ciri khas tanah yang mudah tererosi, tetapi dapat menjadi penyimpan air yang efektif jika berasosiasi dengan elemen lanskap lainnya sangat mendukung karakteristik pegunungan. Kesuburan jenis tanah di daerah studi berpotensi mendukung aktivitas usaha pertanian. Namun, tanpa didukung ketersediaan sumber daya air yang cukup potensi tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian, hubungan mutual antara tanah dan air perlu diasosiasikan secara terpadu. Topografi menjadi elemen lanskap yang erat kaitannya dengan pola pemanfaatan lahan khususnya di kawasan pegunungan. Ragam bentuk lahan (landform) yang menyusun topografi terdiri dari lahan datar hingga sangat curam. Masing-masing bentuk lahan memiliki syarat kesesuaian penggunaan dan daya dukung. Pemanfaatan lahan ideal perlu menyesuaikan dengan syarat kesesuaian 109   dan daya dukung agar tidak terjadi degradasi lahan. Erosi merupakan salah satu dampak yang sering terjadi di kawasan pegunungan akibat ketidaksesuaian penggunaan lahan atau pemanfaatan lahan yang melebihi daya dukungnya. Topografi di kawasan pegunungan erat kaitannya dengan ketersediaan sumber daya air. Hal tersebut menjadi faktor lain yang menentukan bentuk pemanfaatan lahan. Air yang bersumber dari hujan akan mudah ditangkap dan ditahan pada topografi yang datar atau cekung. Sebaliknya, air akan mudah hilang pada topografi yang landai hingga curam. Asosiasi kondisi tanah dan bentuk topografi di daerah studi dengan sumber daya pengairan utama berupa hujan mengakibatkan sulitnya air tertahan di kawasan pegunungan tanpa adanya upaya penangkapan sumber daya air. Air akan mudah hilang karena porositas tanah yang cukup besar dengan kondisi kecuraman lereng yang lebih memudahkan hilangnya air permukaan. Kondisi tersebut cukup menyulitkan dalam pembangunan irigasi teknis untuk membantu pengairan bagi usaha pertanian. Iklim, sebagai unsur yang terjadi secara alami dan sulit untuk dilakukan rekayasa oleh petani, memberikan kondisi yang ideal untuk usaha pertanian. Curah hujan sebagai penyuplai sumber daya air utama di kawasan pegunungan memiliki peranan sangat vital. Unsur iklim lainnya seperti suhu, kelembaban nisbi, dan lama penyinaran matahari berperan penting dalam membantu pertumbuhan optimal tanaman pertanian. Tanaman sebagai bagian dari keanekaragaman hayati yang dibudidayakan berperan penting dalam keberlangsungan agroekosistem. Selain untuk dimanfaatkan hasilnya, tanaman dapat membantu dalam upaya konservasi air dan tanah. Keberadaan tanaman dalam agroekosistem, terutama jenis pohon, dapat menjadi penjaga stabilitas air dan tanah. Tanaman membutuhkan air dan tanah untuk hidup. Selama tanaman mengalami proses pertumbuhan, secara alami perakaran tanaman membantu menyusun struktur tanah yang lemah menjadi kuat dibantu oleh air yang mengisi pori-pori tanah (Arsyad, 2010). Dengan demikian, tanaman dapat terus tumbuh secara optimal, tanah akan menjadi subur dan tidak mudah tererosi, dan air dapat bertahan lebih lama di sekitar perakaran. Hubungan mutualistik tersebut perlu dipertahankan untuk menjaga stabilitas lingkungan secara alami. 110  Hubungan integral antarunsur pembentuk aspek fsik/ekologi dipahami oleh petani sebagai satu kesatuan sistem ekologi pertanian (agroekosistem). Petani menginterpretasikannya dalam beragam pola penggunaan lahan yaitu agroeksosistem kebun-talun, sawah, dan pekarangan di kawasan permukiman. Pembentukan ragam agroekosistem tersebut dipengaruhi oleh keberadaan sumber daya air yang dipercaya masyarakat Sunda sebagai unsur utama kehidupan makhluk hidup. Agroekosistem kebun-talun merupakan hasil persepsi dan preferensi masyarakat terhadap kurangnya ketersediaan sumber daya air pada lahan pertaniannya, sedangkan agroekosistem sawah dibentuk karena kelimpahan sumber daya air. Namun, usaha padi sawah yang dilakukan masyarakat bukan menjadi ciri khas dari masyarakat Sunda melainkan hasil intervensi Mataram. Agroekosistem huma merupakan sistem usaha padi ladang yang saat ini sudah tidak dibudidayakan oleh masyarakat di daerah studi. Padi huma dibudidayakan tanpa kebergantungan pada keberadaan air sehingga sesuai dengan kondisi lahan di kawasan pegunungan yang miskin air permukaan. Agroeksistem pekarangan di daerah studi sebagai ruang bertani dalam skala keluarga, banyak dibudidayakan tanaman lahan kering. Berdasarkan hal tersebut, sebagian besar agroekosistem yang dibentuk oleh masyarakat Sunda parahiyangan termasuk ke dalam usaha pertanian lahan kering. Dewasa ini, masyarakat di daerah studi merasakan semakin menurunnya sumber daya air baik kualitas maupun kuantitasnya. Degradasi sumber daya air di daerah studi sebagian besar disebabkan oleh tingginya konversi lahan di daerah gunung. Air menjadi isu sentral dalam permasalahan lingkungan karena air merupakan sumber alam utama yang dipercaya masyarakat sebagai sumber kehidupan. Aktivitas sosial-ekonomi primer dan sekunder yang bergantung pada produkstivitas usaha pertanian tidak dapat berjalan optimal jika tidak didukung oleh kondisi sumber daya air yang optimal. Secara budaya, masyarakat Sunda dikenal sebagai urang cai (orang air) karena keterikatan kultural yang sangat kuat dengan air dan urang gunung (orang gunung) sebagai manifestasi ruang bagi sumber daya air. 111   Intervensi kebijakan pemerintah yang dilakukan pada masyarakat di daerah studi lebih terfokus pada upaya konservasi air dan tanah. Dimulai dari program Pelestarian Hutan Tanah Air (PHTA) pada tahun 1976/1977 yang merupakan instruksi presiden untuk menyediakan bantuan penghijauan di kawasan DAS Citanduy. Selanjutnya tahun 1982/1983 berupa intervensi Proyek Penghijauan dan Reboisasi Nasional Pelita V. Proyek tersebut merupakan instruksi presiden yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas DAS Citanduy melalui program Unit Percontohan Usaha Pelestarian Sumber Daya Alam (UP-UPSDA). Program terakhir adalah program Citanduy I dan II yang menekankan kepada upaya konservasi tanah dan air dengan intensifikasi usaha pertanian. Dengan melihat hasil kajian karakteristik elemen-elemen pembentuk lanskap pertanian Sunda Parahiyangan, dapat ditentukan bahwa air merupakan elemen utama yang mempengaruhi karakter lanskap pertanian Sunda Parahiyangan. Aspek fisik dengan unsur-unsurnya berasosiasi positif dengan sumber daya air. Begitu pula aspek sosial-ekonomi yang erat kaitannya dengan keberadaan sumber daya air. Aspek eksternal berupa intervensi yang mempengaruhi pembentukan lanskap pertanian di kawasan Sunda Parahiyangan sebagian besar fokus pada pemecahan masalah air dan tanah. Kondisi ini pula yang memperkuat status orang Sunda secara spiritual-budaya sebagai urang cai dan urang gunung. Dengan demikian, karakteristik lanskap pertanian Sunda Parahiyangan membentuk tipe karakter lanskap pertanian pegunungan dengan sistem pertanian yang dijalankan berupa pertanian lahan kering dan sumber daya air sebagai elemen penyusun utama lanskap pertanian. 4.3. Analisis Keberlanjutan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Analisis keberlanjutan lanskap pertanian dilakukan terhadap aspek fisik yang menjadi objek serta aspek masyarakat yang merupakan subjek dalam pengelolaan lanskap pertanian. Analisis fisik merupakan penilaian terhadap sumber daya fisik lanskap pertanian pembentuk satuan lahan yang berpengaruh terhadap potensi penggunaan lahan. Penilaian dilakukan terhadap lingkungan fisik yaitu tanah, topografi, unsur iklim, air, vegetasi, satwa, termasuk didalamnya produk kebudayaan masyarakat. 112  Beragam masalah lingkungan yang bersumber dari air dirasakan masyarakat hingga dewasa ini. Kurangnya air di saat musim kemarau atau kelebihan air sesaat pada saat musim hujan karena menurunnya kapasitas tanah dalam menampung air limpahan, menjadi permasalahan yang belum ditemukan solusinya secara holistik. Kelangkaan dan rendahnya kualitas air semakin dirasakan masyarakat sejak dibukanya kawasan hutan menjadi lahan perkebunan kopi pada tahun 2007. Pembukaan lahan dalam skala besar berdampak pada tingginya tingkat erosi yang diikuti hilangnya lapisan subur tanah. Berdasarkan kajian terhadap aspek ekologi, permasalahan lingkungan yang terjadi dipengaruhi oleh kondisi aktual dari elemen penyusun lanskap. Tingkat kecuraman lereng yang beragam dengan kondisi tanah yang berporositas tinggi menyebabkan air mudah hilang. Kondisi curah hujan maksimal tanpa didukung kemampuan daya serah dan jerap tanah terhadap air yang tinggi, tidak dapat mengoptimalkan pemanfaatannya. Pengetahuan ekologi tradisional masyarakat memberikan solusi terbaik dengan pemanfaatan vegetasi sebagai alat pengontrol stabilitas air dan tanah. Pohon yang ditanam di dataran tinggi memiliki kemampuan konservasi air dan tanah yang optimal. Keberadaan pohon dapat memaksimalkan pemanfaatan air hujan yang menjadi sumber daya air utama di daerah studi. Pengairan hujan mampu merangsang akar untuk menyusun zona perakaran yang lebih luas dan dalam (Darwis, 2004). Dengan sistem perakaran tersebut, pohon dapat menyerap dan menjerap air secara optimal sehingga dapat menjaga debit air tanah dan konstruksi tanah. Jenis pohon atau tanaman yang dapat dibudidayakan untuk ditanam di daerah hulu dapat disesuaikan dengan fungsi yang diharapkan. Namun, pemenuhan fungsi konservasi perlu diupayakan oleh setiap pola pemanfaatan. Dengan demikian, upaya konservasi daerah utama tangkapan air (water catchment area) dapat dilakukan secara terpadu baik pada agroekosistem kebun-talun, sawah, dan pekarangan di kawasan permukiman. Secara budaya perlu dibudidayakan kembali 40 tangkal adam yang dipercayai masyarakat sebagai vegetasi lokal (pituin) yang mampu menjaga stabilitas lingkungan. 113   Berdasarkan perspektif sosial-kemasyarakatan, kerusakan lingkungan di kawasan pertanian di perdesaan dipengaruhi oleh persepsi, preferensi, sikap, serta perilaku masyarakat. Tingkat persepsi dan preferensi terkait erat dengan tingkat pendidikan masyarakat. Data profil desa menunjukkan tingkat pendidikan yang rendah (Tabel 11). Sebagian besar masyarakat yang hidup menetap di desa hanya berpendidikan hingga tingkat sekolah dasar. Rendahnya tingkat pendidikan di daerah studi banyak dipengaruhi oleh kurangnya biaya untuk kebutuhan pendidikan, serta adanya persepsi yang masih kuat di masyarakat yang menganggap tidak perlunya pendidikan formal. Kondisi tersebut menyebabkan distribusi informasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang terkait dengan pemanfaatan lahan lestari mengalami kendala. Kasus di atas membuka fakta lain bahwa faktor ekonomi memiliki peranan vital dalam proses ketidakseimbangan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan. Prasodjo (2005) menegaskan bahwa motif ekonomi akan mempengaruhi persepsi, preferensi, sikap hingga perilaku masyarakat dalam merespon kebutuhannya terhadap alam dan lingkungannya. Aktivitas yang ekstraktif, produktif, atau konservatif terhadap alam dan lingkungan akan dilakukan masyarakat selama mampu memenuhi kebutuhan ekonomi. Di tengah kuatnya arus modernisasi yang lebih menekankan pada pemenuhan fungsi ekonomi, masyarakat perdesaan memiliki pengetahuan ekologik tradisional dalam memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungan pertanian secara lestari. Kearifan lokal sebagai cerminan pengetahuan tradisional masyarakat yang masih melembaga di daerah studi adalah sikap dan perilaku kekeluargaan sebagai aktualisasi dari ungkapan silih asih, silih asah, dan silih asuh. Persepsi dan preferensi masyarakat yang menganggap sumber daya alam dan lingkungan merupakan milik bersama mempengaruhi pemanfaatan dengan pertimbangan keuntungan bersama. Peran ajengan/kyai sebagai tokoh masyarakat sangat dibutuhkan untuk mengakomodasi beragam harapan dan kebutuhan masyarakat. Akomodasi disesuaikan dengan kondisi sumber daya lahan guna memperoleh manfaat optimal tanpa mengurangi kemampuan lahan. Pranata religius (religious institution) yang diemban oleh para ajengan/kyai telah memberikan dampak positif terhadap proses 114  distribusi informasi dan sosialisasi. Hal tersebut telah memunculkan nilai sosialekologi yang menunjukkan kekuatan spiritual-budaya masyarakat (spiritualcultural survival) yang berdampak pada kehidupan masyarakat yang merasa senang dan puas karena memperoleh kesesuaian dan keselarasan dalam hubungan mutual dengan alam berdasarkan kebudayaan yang dijalankan, meskipun kenyataannya dalam kondisi serba susah (Jayadinata dan Pramandika, 2006). Berdasarkan analisis tersebut, dapat dipahami bahwa pendidikan sebagai media distribusi informasi menjadi hal penting dalam membina masyarakat. Kondisi ideal masyarakat dengan tingkat pendidikan yang tinggi dapat dicapai dengan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan baik pendidikan agama dan umum. Pendidikan agama sebagai penyeimbang dapat diakomodasi dengan keberadaan pesantren. Sedangkan pendidikan umum sebagai gerbang informasi ilmu pengetahuan empirik dapat diakomodasi dengan adanya pendidikan formal dari tingkat sekolah dasar, menengah, hingga tinggi. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di daerah studi banyak disebabkan oleh permasalahan finansial. Sumber finansial utama keluarga petani berasal dari hasil produksi pertanian. Kondisi aktual menunjukkan rendahnya pendapatan finansial diakibatkan keterbatasan kepemilikan lahan garapan. Lahan sebagai modal utama bagi petani dapat diakomodasi oleh pemerintah dengan melakukan konsolidasi lahan. Upaya tersebut dapat dilakukan secara menyeluruh dengan membagi lahan kepada seluruh keluarga petani, atau hanya menyediakan lahan pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan minimal seluruh masyarakat dalam satu dusun. Sebagai contoh untuk memenuhi kebutuhan pangan utama berupa beras bagi masyarakat, pemerintah dapat mengalokasikan lahan pertanian sawah minimal untuk ketahanan pangan mandiri seluas 11,7 hektar. Luas lahan tersebut dibutuhkan untuk mengakomodasi masyarakat dengan asumsi kebutuhan beras masyarakat sebesar 113 kg/kapita/tahun (BPS, 2011). Kebutuhan beras untuk memenuhi kebutuhan total penduduk dusun dengan rata-rata berjumlah 500 jiwa adalah sebesar 56.500 kg/tahun. Hasil tersebut dihitung dengan asumsi lain berupa pemanfaatan optimal untuk konsumsi beras tanpa pemanfaatan lain seperti penyediaan benih atau digunakan untuk bahan baku industri, faktor eksternal lain 115   seperti pengaruh iklim, hama dan penyakit, penyusutan berat dalam proses penggilingan diabaikan, serta asumsi produksi rata-rata padi 5.000 kg per hektar. Jika dalam satu tahun dapat dilakukan dua kali panen, maka masyarakat akan memperoleh surplus padi 100% dari hasil produksi untuk konsumsi primer. Dengan ketersediaan lahan pertanian tersebut, petani dapat mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya untuk memproduksi hasil pertanian yang optimal. Hasil produksi selain untuk dikonsumsi oleh keluarga petani, kelebihan (surplus) produksi dapat diperdagangkan. Keuntungan penjualan dapat dialokasikan untuk membiayai pendidikan sehingga keluarga petani memperoleh akses untuk mendapat ilmu pengetahuan. Manfaat dari terpenuhinya kebutuhan pendidikan dengan bertambahnya pengetahuan tentang pengelolaan alam dan lingkungan secara lestari, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memahami keberlanjutan alam dan lingkungannya. Berdasarkan hasil analisis dengan kriteria penilaian NRC, daerah studi memiliki nilai keberlanjutan cukup tinggi untuk mendukung usaha petanian di setiap agroekosistem. Kondisi sumber daya pertanian yang tersedia dapat memberikan kesempatan bagi petani untuk dapat memanfaatkan sumber daya pertanian tidak hanya untuk saat ini, tetapi untuk kebutuhan di masa yang akan datang. Keberlanjutan ditunjukkan dengan kondisi tanah, air, udara, dan keanekaragaman hayati yang baik yang mampu mendukung stabilitas kehidupan sosial-ekonomi dan spiritual-budaya masyarakat. Kondisi sosial-ekonomi dan spiritual-budaya masyarakat dapat memberikan kualitas hidup yang baik bagi petani dengan tersedianya lapangan pekerjaan untuk melakukan aktivitas reproduksi dan produksi. Keberlanjutan ditunjukkan dengan kondisi aktivitas reproduksi maupun produksi masyarakat yang baik yang mampu menyokong stabilitas kehidupan masyarakat. Ketersediaan sumber pangan dapat memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh pangan dengan kualitas prima, cukup nutrisi, mudah diperoleh, dan harga yang sesuai. Analisis keberlanjutan masyarakat pertanian dilakukan untuk menilai sejauh mana masyarakat dengan persepsi, preferensi, sikap, dan perilakunya mampu memanfaatkan sumber daya pertanian secara berkelanjutan. Berdasarkan hasil analisis penilaian keberlanjutan masyarakat dengan metode CSA, diperoleh hasil 116  tingkat keberlanjutan masyarakat yang menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan. Dusun Ciomas memiliki nilai tertinggi dibandingkan dusun lainnya dengan nilai total 1182. Adapun Dusun Mandalare memiliki nilai terendah dengan nilai 1142, sedangkan Dusun Kertabraya bernilai 1145. Perbedaan yang tidak begitu signifikan di antara dusun menunjukkan kesamaan dalam beberapa aspek dominan pembentuk karakteristik lanskap pertanian di masing-masing dusun. Status dusun yang menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan tetap perlu dilakukan upaya perbaikan dan penyempurnaan dalam beberapa aspek (dengan nilai di bawah 50) untuk mencapai keberlanjutan optimal (Tabel 27.) Tabel 27. Hasil Penilaian Keberlanjutan Masyarakat Berdasarkan Kriteria CSA No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Parameter Aspek Ekologi Perasaan terhadap tempat Ketersediaan, produksi, dan distribusi makanan Infrastruktur, bangunan, dan transportasi Pola konsumsi dan pengelolaan limbah padat Air-sumber mutu dan pola penggunaan Limbah cair dan pengelolaan polusi air Sumber dan penggunaan energi Total nilai aspek ekologi Aspek Sosial-Ekonomi Keterbukaan, kepercayaan, keselamatan; ruang bersama Komunikasi, aliran gagasan, dan informasi Jaringan pencapaian dan jasa Keberlanjutan sosial Pendidikan Pelayanan kesehatan Keberlanjutan ekonomi lokal yang sehat Total nilai aspek sosial Aspek Spiritual-Budaya Keberlanjutan budaya Seni dan kesenangan Keberlanjutan spiritual Keterikatan masyarakat Kelenturan masyarakat Holografik baru berorientasi global Perdamaian dan kesadaran global Total nilai aspek spiritual Total nilai aspek keseluruhan Dusun Ciomas Bobot Dusun Mandalare Dusun Kertabraya 35* 57* 38* 50* 49* 25* 46* 300** 27* 57* 29* 50* 49* 25* 46* 283** 29* 55* 31* 50* 49* 25* 47* 286** 72* 72* 72* 62* 61* 69* 46* 55* 40* 405** 62* 36* 69* 46* 55* 40* 380** 62* 36* 69* 46* 55* 40* 380** 97* 48* 53* 71* 62* 66* 82* 479** 1184*** 97* 48* 53* 71* 62* 66* 82* 479** 1142*** 97* 48* 53* 71* 62* 66* 82* 479** 1145*** 117   Keterangan: *Pembobotan parameter dalam satu aspek 50+ : Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 25-49 : Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-24 : Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan **Pembobotan parameter dalam satu aspek 333+ : Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 166-332 : Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-165 : Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan ***Pembobotan parameter dalam satu aspek 999+ : Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 500-998 : Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-449 : Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan Berdasarkan hasil analisis keberlanjutan masyarakat menggunakan metode analisis CSA, diperoleh hasil yang cukup signifikan antara aspek ekologi dengan aspek sosial-ekonomi dan spiritual-budaya. Aspek ekologi termasuk ke dalam tingkat keberlanjutan yang menunjukkan awal yang baik ke arah keberlanjutan (nilai antara 166-332). Sedangkan aspek sosial-ekonomi dan spiritual-budaya telah memenuhi kriteria yang menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan (nilai 333+). Aspek ekologi merupakan aspek utama yang menyediakan sumber daya alam dan lingkungan sebagai penunjang utama keberlangsungan aspek sosial-ekonomi dan spiritual-budaya. Sebagai modal fisik, keberlanjutan aspek ekologi perlu ditingkatkan pada taraf kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan sehingga keseimbangan antaraspek dapat tercapai guna merealisasikan keberlanjutan masyarakat pertanian Sunda Parahiyangan. Aspek ekologi yang menunjukkan awal baik ke arah keberlanjutan didukung oleh ketersediaan, produksi, dan distribusi sumber daya pangan yang melimpah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sumber daya pangan yang melimpah dimanfaatkan dengan pola konsumsi sederhana. Hasil produksi pertanian dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga inti petani. Kelebihan hasil produksi dapat dialokasikan untuk fungsi sosial sebagai aktualisasi budaya silih anteuran atau diperdagangkan. Bagi masyarakat golongan menengah ke bawah hasil pertanian lebih dimanfaatkan untuk fungsi subsisten dan sosial. Sedangkan bagi golongan atas selain untuk fungsi subsisten dapat diperdagangkan atau didistribusikan untuk fungsi lainnya. 118  Keberlanjutan aspek ekologi dapat tercapai secara optimal jika rasa kepemilikan masyarakat terhadap tempat tinggalnya dapat ditingkatkan. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak begitu mengenal sejarah dari perkembangan dusunnya. Penyebab utama adalah kurangnya distribusi informasi dari generasi tua kepada generasi muda yang terkendala oleh ketidakhadiran generasi muda di dusun. Tren saat ini menunjukkan bahwa generasi muda cenderung lebih menyukai bermigrasi ke kota untuk bekerja jika dibandingkan dengan tetap tinggal di dusun. Dampaknya, para orang tua cukup kesulitan bertemu untuk menyampaikan informasi tentang sejarah dan kondisi dusun pada anak-anak dan generasi penerusnya. Kondisi lain yang perlu ditingkatkan adalah kualitas dan kuantitas infrastruktur dusun untuk menunjang keberlangsungan aktivitas masyarakat. Ketersediaan jalan sebagai prasarana perhubungan sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk melakukan mobilisasi barang dan jasa. Kondisi prasarana jalan dan sarana berupa angkutan umum di daerah studi belum cukup memadai sehingga perlu dilakukan perbaikan dan pengembangan untuk efektivitas dan efisiensi mobilitas masyarakat. Selain itu, infrastruktur dalam pemanfaatan sumber daya air perlu dilakukan perbaikan terutama dalam menunjang aktivitas produksi pertanian dan reproduksi rumah tangga petani. Saluran irigasi merupakan prasarana penting untuk menunjang usaha pertanian tadah hujan di daerah studi. Kondisi fisik di daerah studi cukup menyulitkan untuk pembuatan saluran irigasi teknik. Namun, pengetahuan ekologi tradisional masyarakat memberikan contoh melalui pemanfaatan bambu sebagai media saluran air. Dengan model tersebut, sumber daya air dapat dimanfaatkan lebih optimal dengan manfaat lain berupa konservasi sumber daya tanah dan menjaga keanekaragaman hayati jenis bambu. Menurunnya kualitas dan kuantitas sumber daya air dan tanah disebabkan pula oleh penggunaan sarana produksi pertanian yang tidak ramah lingkungan, seperti pupuk dan pestisida kimia, serta sarana produksi tidak ramah lingkungan lainnya. Berdasarkan pengetahuan ekologik tradisional, masyarakat percaya bahwa dengan menggunakan pupuk kandang dan hijau dapat memberikan hasil produksi yang baik dan menjaga kelestarian sumber daya pertanian. Ungkapan 119   lendo taneuh (tanah subur) menunjukkan bahwa kearifan masyarakat telah memberikan bukti nyata dari pemanfaatan pupuk organik yang dapat menyuburkan tanah secara lestari. Dengan mulai memberdayakan pemanfaatan pupuk dan pestisida organik yang diberdayakan secara mandiri oleh masyarakat dapat mengurangi ketergantungan terhadap sarana produksi yang tidak ramah lingkungan. Sumber energi utama masyarakat diperoleh dari kayu bakar. Energi tersebut dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas reproduksi keluarga petani, seperti memasak. Ketersediaan kayu bakar yang diperoleh dari agroekosistem kebuntalun, sawah, dan pekarangan cukup tersedia dan menunjukkan tingkat keberlanjutan yang optimal jika dibandingkan dengan pemanfaatan yang masih terbatas. Namun, ketergantungan terhadap sumber energi yang berasal dari minyak bumi masih kuat dirasakan masyarakat. Bahan Bakan Minyak (BBM) dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat untuk aktivitas produksi pertanian dan nonpertanian. Bahan Bakar Gas dimanfaatan oleh sebagian kecil masyarakat untuk menunjang aktivitas reproduksi seperti memasak. Namun, masyarakat lebih memilih menggunakan suluh (kayu bakar) dengan memanfaatkan kompor tradisional berupa hawu (tungku) sebagai sarana memasak (Gambar 38). Pemanfaatan hawu selain bermanfaat secara ekologi dan sosial-ekonomi, telah menunjukkan nilai spiritual-budaya masyarakat yang tinggi. Ditemukan budaya khas masyarakat di daerah studi yang lebih menyukai makan bersama keluarga di sekitar hawu jika dibandingkan dengan makan di meja makan. Informan kunci menuturkan dengan cara seperti itu keakraban dan keeratan keluarga dapat lebih mudah terasa. Pengetahuan ekologik tradisional masyarakat di daerah studi telah menunjukkan dampak positif dalam menjaga keberlanjutan ekologi. Pemanfaatan sumber daya lokal untuk menunjang aktivitas produksi dan reproduksi masyarakat dilakukan dengan berbagai pertimbangan sehingga dapat mengurangi dampak negatif dari aktivitas tersebut. Dengan demikian, pemanfaatan pengetahuan ekologi tradisional perlu dipertimbangkan dalam upaya mengembangkan aspek fisik dan masyarakat dalam lanskap pertanian. 120  Gambar 38. Pemanfaatan Suluh (Kiri) dan Hawu (Kanan) dalam Aktivitas Reproduksi Masyarakat (Memasak) Aspek sosial-ekonomi menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan. Masyarakat di daerah studi menunjukkan rasa keterbukaan, kepercayaan, dan keselamatan di setiap kesempatan berinteraksi dalam suatu ruang sosial. Masyarakat berinteraksi dan saling bertukar informasi, gagasan, ide, opini, dan saran dalam rangka memupuk solidaritas di antara masyarakat, serta dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat. Jaringan pencapaian dan jasa dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Informasi tentang kemasyarakatan dalam aspek sosial, ekonomi, spiritual, budaya, dan politik dapat dengan mudah diperoleh dan diikuti masyarakat dengan keterlibatan aktif di setiap aktivitas kemasyarakatan. Keberlanjutan sosial-ekonomi dapat dicapai secara optimal dengan meningkatkan mutu pelayanan dalam aspek pendidikan dan ekonomi pertanian lokal. Tingkat pendidikan masyarakat tergolong rendah dengan indikasi lulusan SD yang lebih mendominasi. Faktor yang mempengaruhi hal tersebut, di antaranya, adalah kurang tersedia prasarana dan sarana penunjang pendidikan seperti bangunan dan tenaga pengajar. Bangunan sekolah yang tersedia saat ini belum cukup mengakomodasi kebutuhan pendidikan yang optimal. Tenaga pengajar sebagian besar merupakan tenaga honorer dengan gaji yang kurang sesuai jika dibandingkan dengan usaha yang dilakukan. Perbaikan dalam aspek pendidikan mutlak dilakukan untuk menunjang kemandirian hidup masyarakat dalam menghadapi dinamika kehidupan. Perbaikan dapat dilakukan dengan penyediaan fasilitas pendidikan yang memadai dengan ketersediaan guru yang ditunjang gaji yang sesuai. 121   Aspek ekonomi pertanian lokal perlu mendapat perhatian lebih karena untuk menunjang sistem sosial-ekonomi masyarakat diperlukan sistem ekonomi pertanian yang sehat. Dewasa ini usaha produksi pertanian masih berorientasi untuk memenuhi kebutuhan primer keluarga petani (subsisten). Keinginan untuk meningkatkan produksi berorientasi pasar (komersial) terkendala modal fisik berupa lahan yang sempit bahkan tidak memiliki (landless). Sistem usaha tani ramah lingkungan untuk menunjang produksi telah dimiliki oleh masyarakat. Namun, lemahnya modal fisik dan finansial tidak dapat memanfaatkan pengetahuan tersebut secara optimal. Pengalokasian lahan menjadi solusi terbaik bagi petani sebagai modal utama dalam meningkatkan aktivitas ekonomi pertaniannya. Ketersediaan lahan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat dengan menjalankan usaha tani terpadu yang ramah lingkungan sehingga mampu memberikan hasil produksi yang baik dan tetap menjaga kelestarian lahannya. Ketersediaan lahan dapat diakomodasi dengan upaya konsolidasi lahan melalui land reform bagi keluarga petani yang memiliki lahan terbatas atau tidak memiliki lahan. Sistem yang dijalankan dapat berupa pemberian hak sewa atau hak milik dengan pemberlakukan pajak yang sesuai. Selain ketersediaan lahan, infrastruktur penunjang usaha pertania perlu diakomodasi secara optimal, seperti penyediaan sarana produksi dan distribusi, serta didukung kelembagaan sosialekonomi dan sosial-ekologi yang terpadu. Lemahnya modal finansial dapat diperkuat dengan penyediaan bantuan keuangan berupa kredit mikro bagi keluarga petani baik dikelola oleh pihak pemerintah maupun swasta. Sistem kredit yang ditawarkan diupayakan tidak memberatkan petani yang dapat dijalankan dengan sistem keuangan syari’ah (bagi hasil). Ketersediaan modal fisik berupa lahan dan kuatnya modal finansial tidak dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa adanya kekuatan modal manusia (SDM). Kondisi aktual di daerah studi menunjukkan tren migrasi masyarakat golongan usia kerja ke kota. Migrasi yang terjadi mengakibatkan dilema pada keberlanjutan lanskap pertanian. 122  Perpindahan masyarakat ke kota di satu sisi memberikan manfaat bagi golongan tua yang tetap tinggal di desa dengan ketersediaan modal finansial bulanan dari anggota keluarga yang berkerja di kota. Namun, di sisi lain berdampak pada ketidakefektifan usaha pertanian yang diakibatkan berkurangnya SDM dalam pengelolaannya. Tingginya tingkat migrasi ke kota dapat diturunkan dengan pemberdayaan generasi muda yang diarahkan pada usaha pertanian yang menjanjikan secara ekonomi, sosial, budaya, dan ekologi. dalam hal ini diperlukan keterlibatan aktif dari pihak pemerintah melalui dinas terkait, institusi pendidikan, dan swasta dalam menunjang keberlangsungan usaha pertanian untuk mencapai pembangunan pertanian berkelanjutan. Keberlanjutan aspek spiritual-budaya masyarakat menunjukkan tren positif ke arah kemajuan sempurna. Optimalisasi keberkanjutan perlu dilakukan pada peningkatan aspek seni dan kesenangan. Kondisi aktual menunjukkan bahwa tidak banyak ditemukan bentuk kesenian baik aktivitas maupun benda. Kesenian yang banyak dilakukan oleh masyarakat adalah seni suara dalam aktivitas seni marawis, qasidah, dan nasyd dengan benda budaya berupa rebana hasil akulturasi dengan budaya pesantren (Islam). Pengaruh ajaran Islam cukup kuat mempengaruhi perkembangan kesenian dan kesenangan. Namun demikian, beberapa sesepuh masyarakat mulai menggali dan mempelajari kembali beberapa kesenian tradisional masyarakat lokal untuk dapat dinikmati masyarakat tanpa melanggar syariat agama. Kesenian yang mulai dikembangkan, di antaranya, adalah seni karinding yang telah dialihfungsikan sebagai benda seni (Gambar 39). Aspek spiritual-budaya lain yang berpotensi mendukung pencapaian kehidupan masyarakat berkelanjutan tercermin dalam beberapa peribahasa (babasan Sunda). Babasan Sunda yang masih ditemukan dalam kehidupan masyarakat seperti adat kakurung ku iga (adat yang sulit digantikan) menunjukkan sikap masyarakat yang tetap berusaha menjaga adat istiadat lokal yang disesuaikan dengan pranata yang berlaku saat ini. Peribahasa lain seperti ari diarah supana kudu dipiara catangna yang berarti apa yang bermanfaat harus dirawat dengan sebaik-baiknya. Hal itu menjadi dasar spiritual-budaya yang kuat bagi masyarakat untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungannya yang telah memberi berbagai manfaat. 123   Gambar 39. Alat Musik Karinding Buhun Khas Masyarakat Sunda Panjalu Keberlanjutan lanskap pertanian di daerah studi menunjukkan tren positif ke arah keberlanjutan yang optimal. Kondisi tersebut didukung oleh potensi pengetahuan ekologik tradisional masyarakat Sunda Parahiyangan yang mengarah kepada tingkat keberlanjutan yang sesuai dengan kriteria USDA. Hasil kajian menunjukkan bahwa hasil analisis NRC terhadap aspek fisik lanskap dan CSA terhadap aspek penilaian masyarakat, memperlihatkan hubungan yang kuat dengan mengisi hampir seluruh kolom arah keberlanjutan. Kolom matriks yang tidak terisi disebabkan oleh aspek kajian tidak saling terkait erat sehingga tidak memiliki hubungan langsung yang kuat. Namun kondisi tersebut dapat diakomodasi oleh aspek kajian lainnya sehingga kombinasi antar matriks dapat menjadi referensi untuk menyusun rekomendasi yang optimal. Hubungan antara pengetahuan ekologik tradisional masyarakat Sunda Parahiyangan dan kriteria keberlanjutan USDA memiliki keterikatan yang sangat erat (Tabel 28). Hal tersebut menunjukkan bahwa hasil analisis terhadap aspek produksi, sosial-ekonomi, dan sosial-kemasyarakatan berdasarkan metode NRC dapat mencapai keberlanjutan lanskap pertanian. Dalam hal praktik produksi (PP), kondisi aktual dan potensial sumber daya pertanian dapat memenuhi seluruh kriteria keberlanjutan USDA. Praktik pertanian tradisional yang dimiliki masyarakat sebagai bentuk PET berpotensi untuk dipertahankan dan dikembangkan dalam rangka memanfaatakan sumber daya tanah, air, iklim, udara, karbon, energi, serta sarana produksi pertanian secara optimal. 124  Tabel 28. Matriks Hubungan PET-NRC Menuju Keberlanjutan USDA Kriteria Keberlanjutan Pengetahuan Ekologi Tradisional (NRC) Praktik produksi (PP)* PP1 Sosial-ekonomi (SE)** Sosial kemasyarakatan (SK)*** Arah Keberlanjutan (USDA 2007)**** USDA1 USDA2 USDA3 USDA4 ✓ ✓ ✓ ✓ PP2 ✓ ✓ ✓ ✓ PP3 ✓ ✓ ✓ ✓ PP4 ✓ ✓ ✓ ✓ PP5 ✓ ✓ ✓ ✓ PP6 ✓ ✓ ✓ ✓ PP7 ✓ ✓ ✓ ✓ PP8 ✓ ✓ ✓ ✓ SE1 ✓ ✓ ✓ ✓ SE2 ✓ ✓ ✓ ✓ SE3 ✓ ✓ ✓ ✓ SE4 ✓ ✓ ✓ ✓ SE5 ✓ ✓ ✓ ✓ SK1 ✓ ✓ ✓ ✓ SK2 ✓ ✓ ✓ ✓ Keterangan: *PP1: Praktik pertanian; PP2: Sumber daya tanah; PP3: Sumber daya air; PP4: Iklim; PP5: Udara; PP7: Jejak karbon; PP8: Energi; PP9: Peralatan dan gudang. **SE1: Penjualan dan pemasaran; SE2: Modal finansial; SE3: Modal SDM; SE4: Produk organik; SE5: Manajemen resiko. ***SK1: Sosial pertanian; SK2: Tekanan pembangunan. ****USDA1 Menyediakan kebutuhan pangan, papan, serat, dan biofuel; USDA2 Memperkaya kualitas lingkungan dan sumber daya; USDA3 Mempertahankan keberlangsungan ekonomi pertanian; USDA4 Meningkatkan kualitas hidup pertanian, buruh tani, dan masyarakat. Pengetahuan ekologik tradisional dalam hal sosial-ekonomi, aspek penjualan dan pemasaran, modal finansial, modal SDM, produk organik, dan manajemen resiko yang dimiliki dan dijalankan masyarakat dapat memenuhi ketersediaan kebutuhan masyarakat, melestarikan sumber daya pertanian, menjaga stabilitas ekonomi pertanian, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, keberlanjutan optimal perlu didukung oleh kebijakan yang menjunjung keadilan dan kebijaksanaan alokasi modal finansial dan SDM, serta menunjang aktivitas penjualan dan pemasaran pertanian organik sehingga kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai. Pengetahuan ekologik tradisional masyarakat dalam hal sosial- kemasyarakatan dapat memenuhi seluruh kriteria keberlanjutan USDA. Untuk mencapai keberlanjutan optimal, aspek sosial pertanian perlu didukung oleh kelembagaan masyarakat baik dalam konteks sosial-ekologi maupun sosial- 125   ekonomi. Pembentukan kelembagaan perlu didasarkan pada kebutuhan mendasar masyarakat lokal dengan pelibatan aktif masyarakat dan mengurangi intervensi pihak luar yang dapat mendominasi dalam penentuan arah dan kebijakan. Peranan pemerintah dan swasta dapat diakomodasi sebagai pengarah atau pendamping dalam pembentukan lembaga kemasyarakatan. Dengan demikian, ketahanan kelembagaan masyarakat dapat menjaga stabilitas kehidupan sosial pertanian dari tekanan pembangunan yang berpengaruh terhadap eksistensi budaya pertanian masyarakat Sunda Parahiyangan. Berdasarkan penyesuaian antara pengetahuan ekologik tradisional masyarakat berdasarkan hasil analisis CSA dengan kriteria keberlanjutan USDA, menunjukkan tren positif ke arah keberlanjutan optimal (Tabel 29). Aspek ekologi sebagai modal utama dalam keberlanjutan sosial dan cukup memenuhi kriteria keberlanjutan USDA. Namun, dalam hal infrastruktur belum mampu mengakomodasi kebutuhan secara optimal dalam menunjang efektivitas dan efisiensi usaha pertanian. Dalam hal pengelolaan limbah cair perlu ditingkatkan pemahaman bagi masyarakat mengenai dampak negatif dari penggunaan produk kimia berlebih yang dapat mengganggu stabilitas tanah dan air sebagai sumber daya lahan utama penyedia ketersediaan pangan, papan, serat, dan energi yang dibutuhkan masyarakat. Hubungan aspek sosial-ekonomi dan spiritual-budaya memiliki keterikatan positif terhadap kriteria keberlanjutan USDA yang menunjukkan bahwa masyarakat pertanian Sunda Parahiyangan memiliki potensi dalam modal finansial dan SDM guna mencapai pembangunan pertanian berkelanjutan. Optimalisasi keberlanjutan perlu dilakukan dalam pemberdayaan masyarakat mengenai usaha pertanian ramah lingkungan yang dapat menjamin kesejahteraan kehidupan masyarakat dan kelestarian fisik lanskap pertaniannya. Peningkatan usaha pertanian berbasis pertanian terpadu lahan kering (agroforestry dan pengembangannya) dapat menjadi solusi untuk mencapai pertanian berkelanjutan. Hal tersebut memiliki keterikatan menguntungkan secara sosial-ekonomi. spiritual-budaya yang kuat serta 126  Tabel 29. Matriks Hubungan PET-CSA Menuju Keberlanjutan USDA Kriteria Keberlanjutan Pengetahuan Ekologi Tradisional (CSA) Ekologi (E)* E1 E2 Arah Keberlanjutan (USDA 2007)**** USDA1 USDA2 USDA3 USDA4 ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ ✓ E3 E4 ✓ ✓ ✓ ✓ E5 ✓ ✓ ✓ ✓ E6 Sosial-ekonomi (SE)** Spiritual-budaya (SB)*** ✓ ✓ ✓ E7 ✓ ✓ ✓ ✓ SE1 ✓ ✓ ✓ ✓ SE2 ✓ ✓ ✓ ✓ SE3 ✓ ✓ ✓ ✓ SE4 ✓ ✓ ✓ ✓ SE5 ✓ ✓ ✓ ✓ SE6 ✓ ✓ ✓ ✓ SE7 ✓ ✓ ✓ ✓ SB1 ✓ ✓ ✓ ✓ SB2 ✓ ✓ ✓ ✓ SB3 ✓ ✓ ✓ ✓ SB4 ✓ ✓ ✓ ✓ SB5 ✓ ✓ ✓ ✓ SB6 ✓ ✓ ✓ ✓ SB7 ✓ ✓ ✓ ✓ Keterangan: *E: Rasa kepemilikan tempat (lokasi dan ukuran masyarakat, restorasi serta preservasi alam); E2: Ketersediaan pangan, produksi dan distribusi; E3: Infrastruktur fisik, bangunan dan transportasi (material, metode, dan desain); E4: Pola konsumsi dan manajemen limbah padat; E5: Sumberdaya air (sumber, kualitas dan pola-pola penggunaan); E6: Manajemen limbah cair dan polusi air; E7: Sumber energi dan penggunaannya. **SE1: Keterbukaan, kepercayaan dan keselamatan (ruang sosial); SE2: Komunikasi (aliran ide dan informasi); SE3: Pencapaian jejaring dan pelayanan (pertukaran sumberdaya internal/eksternal); SE4: Keberlanjutan sosial (keberagaman dan toleransi, penetapan keputusan, dan resolusi konflik); SE5: Pendidikan; SE6: Kesehatan; SE7: Keberlajutan ekonomi (kesehatan ekonomi lokal). ***SB1: Keberlanjutan budaya; SB2: Kesenian dan wisata; SB3: Keberlanjutan spiritual; SB4: Keeratan komunitas; SB5: Kelenturan komunitas; SB6: Paradigma baru, pandangan global; SB7: Kesadaran perdamaian dan globaL. ****USDA1: Menyediakan kebutuhan pangan, papan, serat, dan biofuel; USDA2: Memperkaya kualitas lingkungan dan sumber daya; USDA3: Mempertahankan keberlangsungan ekonomi pertanian; USDA4: Meningkatkan kualitas hidup pertanian, buruh tani, dan masyarakat. 127   4.4. Konsep Pengelolaan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Berkelanjutan Keberlanjutan lanskap pertanian merupakan keterpaduan dan harmonisasi antara elemen fisik lanskap sebagai modal fisik/alam dan masyarakat pertanian sebagai modal sosial untuk pemanfaatan secara adil dan bijaksana. Keberlanjutan secara fisik dapat ditunjukkan dengan terjaganya kualitas dan kuantitas lahan sebagai modal fisik utama dalam lanskap pertanian. Ketersediaan lahan dalam ruang pertanian mempengaruhi pola pemanfaatan yang membentuk ragam sistem ekologi pertanian yang khas sesuai dengan karakteristik elemen pembentuknya. Selain itu, ketersediaan keanekaragaman hayati pertanian khususnya tanaman, menjadi perhatian penting dalam menjaga keberlangsungan lanskap pertanian. Berdasarkan analisis struktur dan fungsinya, keberadaan tanaman berpengaruh signifikan terhadap kestabilan dan keberlanjutan lanskap pertanian. Keberadaan tanaman terutama jenis pohon, memiliki peranan penting sebagai penyedia jasa lingkungan. Sistem agroforestry merupakan sistem yang memadukan fungsi pohon dengan beragam jenis tanaman pertanian. Masyarakat Sunda Parahiyangan secara turun-temurun telah memberdayakan sistem agroforestry dengan didukung ragam pengetahuan ekologik tradisional yang terbukti berkontribusi positif secara ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya. Namun, pengaruh luar berupa intervensi kebijakan baik dalam hal sistem, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang kurang memberi ruang bagi kearifan masyarakat lokal telah mengurangi peranan pengetahuan ekologik tradisional dalam memanfaatkan sumber daya pertanian. Dengan demikian, pengelolaan lanskap pertanian yang dapat disusun guna mencapai tingkat keberlanjutan secara ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya adalah dengan memadukan pengetahuan ekologik tradisional dan pengetahuan modern dari luar sehingga pembangunan pertanian berkelanjutan dapat tercapai. Pengelolaan yang dilakukan secara terpadu diharapkan mampu mencapai ketersediaan pangan, papan, serat, dan biofuel yang cukup; kualitas lingkungan dan sumber daya yang lestari; keberlangsungan ekonomi pertanian yang menguntungkan; serta kualitas hidup pertanian, buruh tani, dan masyarakat yang sejahtera (Gambar 40). 128  Pengetahuan Ekologik Tradisional 1. Konsep Pengelolaan Alam 2. Konsep Pengelolaan Ruang Pertanian 3. Konsep Pengelolaan Sumber Daya Pertanian Pengetahuan Ekologik Modern 1. Konsep Pengelolaan Alam 2. Konsep Pengelolaan Ruang Pertanian 3. Konsep Pengelolaan Sumber Daya Pertanian Konsep Pertanian Berkelanjutan USDA 1. Mencukupi produksi 2. Menjaga kualitas lingkungan dan sumber daya 3. Menjaga keberlangsungan ekonomi pertanian 4. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Berkelanjutan Gambar 40. Konsep Pengelolaan Lanskap Pengelolaan Lanskap Pertanian Berkelanjutan 4.4.1. Konsep Pengelolaan Alam Masyarakat pertanian Sunda Parahiyangan di daerah studi meyakini bahwa keberadaannya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan alam. Berdasarkan penuturan sesepuh masyarakat, masyarakat Sunda merupakan bagian dari sistem alam (seke seler). Dalam kosmologi Sunda kuno yang dipengaruhi oleh ajaran Hindu, alam dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Buana Jatiniskala (alam kemahagaiban sejati), Buana Niskala (alam gaib), dan Buana Sangkala (alam dunia). Kosmologi Sunda membentuk suatu strata yang tercermin dalam bentuk segi tiga sama kaki dengan memposisikan manusia dan bumi berada dalam satu strata, sedangkan langit sebagai simbolisasi Tuhan berada di strata tertinggi. Pemahaman kosmik tersebut tercermin dalam kata Sunda (Sun-Da-Ha) yang dimaknai sebagai diri manusia (Sun), alam (Da), dan Tuhan (Ha). Hubungan ketiga unsur tersebut mencerminkan hubungan antar manusia (Sun), hubungan dengan alam (Da), dan hubungan dengan Tuhan (Ha). Pemahaman terhadap konsep hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan tercermin dalam aktivitas pemanfaatan sumber daya alam. Masuknya pengaruh ajaran Islam dan perkembangan pengetahuan umum dari pendidikan formal telah merubah sebagian besar paradigma masyarakat terhadap alam. Kepercayaan tradisional masyarakat terhadap hal-hal gaib dikalahkan oleh alasan-alasan agama dan pemikiran rasional sehingga saat ini tidak banyak ditemukan ritual atau upacara di masyarakat yang bersifat tahayul. 129   Perubahan paradigma masyarakat tidak meninggalkan pentingnya menghargai alam. Peran ajengan/kyai sangat penting dalam menyampaikan dan menjelaskan konsep hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan berdasarkan ajaran Islam. Informan kunci menjelaskan bahwa paradigma yang saat ini diyakini oleh masyarakat berupa pemahaman manusia sebagai khalifah di muka bumi yang diberikan hak untuk memanfaatkan alam oleh Tuhan. Dengan pemahaman tersebut, masyarakat meyakini bahwa alam telah disediakan oleh Tuhan untuk dimanfaatkan. Sebagai konsekuensi, alam perlu dijaga kelestariannya sebagai bukti tanggung jawab terhadap tugas yang diamanahkan. 4.4.2. Konsep Pengelolaan Ruang Pertanian Pemahaman masyarakat Sunda Parahiyangan di daerah studi terhadap konsep Tritangtu Sunda, masyarakat tetap meyakini adanya strata fungsi dan peran antara manusia, alam, dan Tuhan. Namun, kuatnya pengaruh ajaran Islam menyebabkan perubahan orientasi menjadi lebih mendasarkannya pada ajaran Islam. Pemahaman tersebut hadir dalam kesadaran masyarakat Sunda untuk memaknai realita faktual ruang Sunda, baik dalam penataan ruang permukiman, rumah tinggal, lingkungan, hingga pengaturan dalam unsur-unsur budayanya (sistem religi, kemasyarakatan, ilmu pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian, dan sistem peralatan hidup). Keterkaitan dengan konsep ruang dikenal tiga konsep patempatan (penempatan) dalam budaya Sunda, yaitu konsep elemen (ci nyusu, imah, pipir, dan buruan-kebon), konsep orientasi (luhur-handap), dan konsep mitos (seke seler yang menjadikan alam sebagai representasi tubuh manusia). Ketiga konsep ruang sebagai interpretasi Tritangtu Sunda, dapat diimplementasikan dalam ruang skala mikro, meso, dan makro (Tabel 30). Tabel 30. Implementasi Konsep Ruang Sunda dalam Skala Lanskap Konsep Ruang Sunda Elemen Orientasi Makro Ci nyusu Luhur-handap Meso Ci nyusu Luhur-handap Mikro Imah, pipir, buruan, kebon Luhur-handap Sumber: Purnama (2007) dan hasil pengamatan lapang Skala Lanskap Mitos Seke seler Seke seler Seke seler 130  Konsep penataan ruang Sunda masih dijalankan oleh sebagian masyarakat di daerah studi dengan berbagai penyesuaian terhadap kondisi ekologi, sosialekonomi, dan spiritual-budaya masyarakatnya. Masyarakat menerapkan konsep luhur-handap secara umum dengan menempatkan Gunung ditempatkan di bagian atas (luhur) sebagai representasi Tuhan yang memberi sumber kehidupan. Selanjutnya, permukiman masyarakat ditempatkan di bagian tengah (tengah), dan kawasan produksi (pertanian, peternakan, dan perikanan) di posisi bawah (handap). Di samping itu, masyarakat menerapkan konsep ci nyusu yang menjadikan sumber mata air sebagai inti dari suatu kawasan. Air dianggap sebagai unsur alam yang menjadi dasar terbentuknya tubuh dan jiwa manusia. Pandangan ini menjadi dasar dalam memahami maksud dikeramatkannya gunung bagi masyarakat Sunda. Konsep penataan ruang pertanian yang dilakukan masyarakat khususnya masyarakat Dusun Ciomas tercermin dalam aplikasi konsep kabuyutan. Kabuyutan memiliki multi dimensi nilai yang tidak hanya dapat dimaknai sebagai sebuah materi, namun juga menjadi sebuah filofofi hidup bagi orang Sunda. Terdapat pesan moral bagi seluruh masyarakat Sunda untuk dapat menjaga, memelihara, dan melindungi kelestarian kabuyutan yang ada di seluruh Tatar Sunda sehingga dapat dirasakan manfaatnya bagi generasi berikutnya. Konsep kabuyutan sebagai langkah awal dalam penataan ruang Sunda, dilakukan dengan menetapkan kawasan-kawasan lindung berupa leuweung larangan dan leuweung tutupan di wilayahnya. Setelah penetapan kawasan lindung dilakukan, kawasan lain dapat dimanfaatkan sesuai daya dukung dan kesesuaian pemanfaatannya. Ruang untuk fungsi pertanian ditetapkan dengan penerapan konsep luhur-handap. Agroekosistem kebun-talun dengan komoditas utama berupa pohon kayu ditempatkan di daerah luhur sesuai dengan fungsinya dalam konservasi tanah dan air. Dalam kebun-talun biasa ditanam pohon pituin yang bernilai budaya tinggi. Agroeksositem sawah ditempatkan di handap dan berdekatan dengan permukiman karena disesuaikan dengan komoditas utama berupa sumber pangan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Penempatan tersebut dikarenakan kebutuhan padi terhadap air yang maksimal sehingga lebih memudahkan dalam perolehan 131   sumber daya air. Agroekosistem pekarangan ditempatkan di tengah bersama kawasan permukiman untuk mempermudah masyarakat memanfaatkan sumber daya pertanian yang tersedia. Pekarangan tidak hanya berfungsi sebagai ruang produksi pertanian, tetapi berfungsi juga sebagai ruang sosial. Aktivitas sosial biasa dilakukan masyarakat di buruan yang merupakan bagian depan dari pekarangan. 4.4.3. Konsep Pengelolaan Sumber Daya Pertanian Berdasarkan pengetahuan ekologik tradisional, masyarakat telah melakukan beragam upaya responsif dalam menjaga keberlangsungan sistem ekologi pertanian. Dalam lingkungan masyarakat Sunda dikenal dengan adanya leuweung larangan dan leuweung tutupan yang secara umum dapat diartikan sebagai hutan lindung yang menjadi tujuan utama penerapan konsep kabuyutan. Pemanfaatan kedua jenis hutan tersebut sangat terbatas, hanya keperluan dalam kondisi sangat mendesak hasil hutan dapat dimanfaatkan. Adanya larangan dan perintah dalam pemanfaatannya, berdampak pada kelestarian ekosistem hutan. Kawasan keramat (sacred place) biasa dicirikan dengan adanya makam sesepuh kampung, dikelilingi pohon-pohon besar dan tinggi, serta semak yang dibiarkan tumbuh liar. Di setiap tempat keramat ditetapkan aturan-aturan khusus yang berkaitan dengan pemeliharaan ekosistem. Aturan-aturan tersebut umumnya lahir dari sejarah dan legenda yang dipercayai oleh masyarakat secara turun temurun. Maung Panjalu yang dikenal dengan sebutan menak merupakan salah satu legenda masyarakat Sunda Panjalu yang masih diyakini keberadaannya oleh sebagian masyarakat. Berdasarkan pengetahuan ekologik tradisional terkait ruang, kearifan masyarakat diaktualisasikan dalam penamaan tempat berdasarkan ciri fisik yang berada di tapak. Sebagai contoh dalam penggunaan prefix ci yang digunakan untuk menandakan tempat dekat sumber air, leuwi untuk daerah di dekat sungai, pasir untuk penanda daerah berbukit, bojong untuk menandakan daerah berbahaya, dan ciri lain untuk menandakan tempat tertentu. Pemahaman terhadap tempattempat tersebut dapat menghindari pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan daya dukung dan kesesuaiaan fungsi pemanfaatannya. 132  Dalam hal pemahaman terhadap waktu dalam lanskap pertanian, masyarakat masih mengenal penanda alam yang dijadikan pedoman dalam menjalankan aktivitas pertanian. Namun demikian, dengan perubahan sistem pertanian di beberapa agroekosistem, keberadaan pengetahuan lokal masyarakat terkait perhitungan musim semakin ditinggalkan bahkan dilupakan. Beberapa informan kunci ahli pertanian (mantri tani) menyampaikan bahwa masyarakat masih menggunakan perhitungan musim berdasarkan perbintangan (pabentangan) yang dikenal dengan pranata mangsa hingga akhir tahun 1970. Setelah dicanangkannya program Revolusi Hijau, lambat laun kebudayaan bertani tradisional tersebut semakin ditinggalkan. Pemahaman terhadap ruang dan waktu menjadi faktor utama dalam memanfaatkan sumber daya pertanian secara lestari. Ruang merupakan media yang menyediakan sumber daya pertanian dan waktu merupakan sistem yang mengatur pola pemanfaatannya. Dalam mengelola sumber daya pertanian selain menyesuaikan dengan faktor ruang dan waktu, masyarakat memanfaatkan sumber daya lokal yang secara budaya telah dibuktikan manfaatnya. Dalam upaya konservasi tanah dan air, masyarakat memanfaatkan bambu sebagai media utama. Bambu bagi masyarakat Sunda merupakan tanaman yang bernilai ekologi, sosialekonomi, dan spiritual-budaya yang tinggi. Secara ekologi, bambu dipercaya masyarakat sebagai tanaman yang dapat menjaga stabilitas kualitas dan kuantitas air dan tanah. Pemahaman tersebut diaplikasikan masyarakat dengan memanfaatkan bambu sebagai media saluran air dan dinding penahan tanah tradisional (Gambar 41). Gambar 41. Pemanfaatan Awi (Bambu) dalam Konservasi Tanah dan Air Berupa Talang Air (Kiri) dan Bio-retaining Wall (Kanan) 133   Reorientasi terhadap kearifan masyarakat perlu dilakukan secara partisipatif dan kolaboratif. Model terpadu antara komoditas pertanian dan kehutanan merupakan pengetahuan ekologik tradisional masyarakat sebagai upaya solutif dalam mengelola lanskap pertanian berkelanjutan. Hal tersebut lebih ditekankan kepada fungsi pohon dalam agroekosistem. Pohon dengan fungsi arsitektural dan hortikulturalnya dapat memberikan manfaat bagi keberlangsungan agroekosistem. Pembudidayaan pohon pituin (40 tangkal adam) yang telah terbukti sesuai secara ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya perlu diberdayakan secara terpadu. Dalam perkembangannya, masyarakat tidak hanya mengkombinasikan antara pohon kehutanan dengan tanaman pertanian. Masyarakat mulai mengkombinasikan komoditas kehutanan dengan komoditas usaha peternakan (silvopastoral) dan perikanan (silvofishery). Upaya tersebut berpotensi untuk mencukupi kebutuhan masyarakat. Konsep kabuyutan yang diikuti dengan penerapan pengetahuan ekologik tradisional lainnya dapat diaplikasikan dalam setiap kegiatan pengelolaan agroekosistem berkelanjutan. Penerapannya dimulai dengan penataan kawasan secara berkelanjutan melalui penetapan kawasan lindung (Gambar 42) dan selanjutnya dilakukan penataan waktu dan kegiatan pengelolaan untuk pencapaian agroekosistem berkelanjutan (Gambar 43). 1. Penanaman tanaman konservasi tanah, air, dan keanekaragaman hayati (keberlanjutan ekologi) 2. Penerapan konsep agroforestry, agrosilvopastoral, agrosilvofishery, dan agrosilvofisherypastoral (keberlanjutan sosial-ekonomi) 3. Penanaman tanaman pituin/lokal yang termasuk 40 tangkal adam (keberlanjutan spiritual-budaya) Masyarakat Pertanian Lanskap Pertanian 1. Penyediaan jasa lingkungan berupa ketersediaan plasma nutfah, sumber daya tanah, air, dan udara (keberlanjutan ekologi) 2. Penyediaan sumber pangan, energi, dan keuntungan finansial (keberlanjutan sosial-ekonomi) 3. Penyediaan ruang apresiasi bagi eksistensi budaya Sunda (keberlanjutan spiritual-budaya) Penetapan kawasan (tata wilayah) berdasarkan konsep kabuyutan Penetapan waktu dan kegiatan (tata wayah dan tata lampah) Gambar 42. Skenario Pengelolaan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Berkelanjutan 134  1 2 3 4 2 Kawasan lindung (leuweung larangan dan leuweung utupan) dengan pemanfaatan lahan terbatas untuk memenuhi fungsi preservasi dan konservasi. Kawasan permukiman Konsep Pengelolaan Ruang Berkelanjutan Agroekosistem 1. Hutan Lindung Dilakukan dengan menjalankan status Suakamargasatwa Gunung Sawal sebagai kawasan lindung (leuweung larangan) . 2. Talun-Kebun dan hutan produksi Dilakukan dengan menyisakan lahan untuk kawasan lindung (leuweung larangan dan tutupan). Lahan Perhutani dapat didukung dengan penatapan aturan. Sedangkan lahan rakyat dapat didukung sistem insentif (pengurangan/ pembebasan pajak) bagi petani yang mampu melakukan konservasi di lahannya. 3. Sawah Dilakukan dengan menetapkan kawasan lindung (leuweung larangan dan leuweung tutupan) seluas kebutuhan lahan untuk memenuhi kebutuhan pangan minimal seluruh penduduk dusun. Pemanfaatan kawasan tersebut hanya untuk fungsi produksi-konservasi. 4. Pekarangan dan Permukiman Dilakukan dengan menetapkan beberapa ruang terbuka hijau (RTH) sebagai cadangan kawasan lindung (leuweung larangan dan tutupan). Gambar 43. Skenario Pengelolaan Ruang Pertanian Sunda Parahiyangan Berkelanjutan Keberadaan pengetahuan ekologik tradisional masyarakat, berpotensi untuk memanfaatkan sumber daya pertanian secara berkelanjutan. Keberlanjutan sumber daya pertanian dapat mencukupi kebutuhan pangan, papan, sandang, dan energi bagi masyarakat. Selain itu, ketersediaan sumber kebutuhan hidup masyarakat yang cukup dan layak akan mengurangi tindakan destruktif masyarakat terhadap sumber daya pertanian. Dengan demikian kelestarian lanskap pertanian akan tercapai sehingga masyarakat menjadi sejahtera. Namun, eksistensinya terus dihadapkan pada dinamika perubahan paradigma masyarakat yang dipengaruhi oleh faktor eksternal. Pengaruh positif akan membentuk persepsi, preferensi, sikap, dan perilaku masyarakat yang konstruktif. Sedangkan pengaruh negatif akan mengakibatkan perilaku yang destruktif. 135   Dalam menunjang keberlanjutan aspek ekologi guna mencukupi produksi sumber daya pertanian yang optimal dapat diimplementasikan konsep LEISA (low external input and sustainable agriculture) dengan optimalisasi asupan dari dalam dan efisiensi asupan dari luar. Konsep LEISA (Reijntjes, 1992) sebagai arah baru bagi pengembangan usaha pertanian sangat cocok dilakukan di daerah studi. Ketersediaan sumber daya hayati dan nonhayati yang melimpah menjadi modal utama keberlangsungan LEISA. Konsep LEISA menuntut masyarakat pertanian untuk dapat memahami struktur, fungsi, dan dinamika dalam lanskap pertanian. Penerapan konsep pemanfaatan sumber daya pertanian ramah lingkungan dapat menunjang terciptanya kualitas lingkungan dan sumber daya yang optimal. Pentingnya kondisi lingkungan dan sumber daya yang optimal perlu diketahui dan dipahami oleh masyarakat sehingga masyarakat mampu memanfaatkannya dengan sikap yang lebih adil dan bijaksana. Pemberdayaan perlu dilakukan melalui pendidikan formal dan informal, pelatihan, dan pembinaan terkait pentingnya menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Dalam hal ini peran pemerintah melalui dinas terkait dengan sumber daya penyuluh yang dimilikinya, perlu diberdayakan secara optimal. Perilaku destruktif masyarakat erat kaitannya dengan faktor ekonomi yang menuntut masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya pertanian tanpa mempertimbangkan aspek kelestariannya. Untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut, dapat dilakukan pemberdayaan ekonomi pertanian lokal yang didukung dengan keberadaan lembaga keuangan, sarana dan prasarana produksi dan distribusi, fasilitas penjualan dan pemasaran, serta pembinaan masyrakat dalam mengembangkan usaha produksi pertanian baik produksi primer, sekunder, maupun tersier. Faktor ekonomi yang masih menjadi pertimbangan utama bagi masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya pertanian, perlu diimbangi dengan paradigma baru yang lebih mendasar. Paradigma berdasarkan kekuatan nilai spiritual-budaya dapat menjadi solusi alternatif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat menjadi lebih adil dan bijaksana. Ajaran agama Islam sebagai pengaruh dari luar telah diyakini masyarakat sebagai panduan hidup untuk beribadah, bermasyarakat, dan berinteraksi dengan alam dan lingkungan. 136  Kuatnya pengaruh ajaran Islam berpotensi sebagai dasar dalam penyusunan konsep pengelolaan sumber daya pertanian berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadis. Berdasarkan hal itu, dapat disusun konsep pengelolaan untuk mencapai keberlanjutan lanskap pertanian melalui peningkatan pendidikan, penyediaan lapangan pekerjaan, dan penanaman pohon sebagai penjaga stabilitas sumber daya air dan tanah. Dalam hal ini sosok ajengan/kyai berperan penting dalam menjaga nilai-nilai spiritual Islam yang direalisasikan dalam ragam budaya masyarakatnya. Dengan demikian, pembentukan karakter masyarakat pertanian Sunda Parahiyangan dengan menerapkan budaya Sunda nu Islami dapat membentuk masyarakat nu nyunda, nyakola, tur nyantri sehingga berdampak pada kondisi alam dan lingkungan yang lestari. . V. SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Berdasarkan hasil kajian terhadap berbagai kondisi dalam lanskap pertanian Sunda Parahiyangan, dapat diperoleh simpulan sebagai berikut. 1. Lanskap pertanian Sunda Parahiyangan memiliki karakteristik khas sebagai hasil dari proses adaptasi masyarakat terhadap alam dan lingkungannya yang berlangsung melalui proses pembelajaran secara turun-temurun dalam jangka waktu relatif lama. Karakteristik lanskap pertanian Sunda Parahiyangan membentuk tipe karakter lanskap pertanian pegunungan dengan sistem pertanian yang dijalankan berupa pertanian lahan kering dan sumber daya air sebagai elemen penyusun utama lanskap pertanian. Karakter tersebut diaktualisasikan dalam ragam agroekosistem khas masyarakat Sunda yaitu sistem kebun-talun, sawah, dan pekarangan di kawasan permukiman dengan keanekaragaman hayati yang tinggi dan penjagaan terhadap stabilitas sumber daya air dan tanah (lemah cai). 2. Tradisi muludan dan nyangku, serta konsep kabuyutan merupakan beberapa ragam pengetahuan ekologik tradisional masyarakat terkait pemahaman dan pemanfaatan sumber daya pertaniannya. Tradisi muludan dan nyangku erat kaitannya dengan ketersediaan ragam jenis sumber daya hayati pertanian yang digunakan dalam pelaksanaan upacara, seperti padi beras merah varietas lokal, padi (Oryza sativa L.), awi bitung (Bambusa aspera Schultes), aren (Arenga piñata (Wurmb.) Merr.), kelor (Moringa oleifera), pisang (Musa paradisiaca L.), jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle), bunga mawar (Rosa L.), buahbuahan, sayur-sayuran, umbi-umbian, bumbu-bumbuan, temu-temuan, ayam kampung (Gallus domesticus), dan ikan lokal Situ Lengkong (sesele, hampal, corengcang, sepat, dan sebagainya). Kabuyutan merupakan kearifan masyarakat dalam menghargai alam sebagai bagian dari kehidupan masyarakat (ekosentris) dan bukan sebagai obyek eksploitasi (antroposentris). Konsep kabuyutan diimplementasikan dalam upaya revitalisasi peran hutan sebagai penyangga keseimbangan lanskap pertanian dengan menetapkan kawasan lindung (leuweung larangan dan leuweung tutupan). 138  3. Kabuyutan, sistem agroforestry tradisional, dan ragam pengetahuan ekologik taradisional lainnya merupakan konsep pengelolaan tradisional masyarakat Sunda Parahiyangan dalam memanfaatkan sumber daya pertanian secara optimal. Dinamika lanskap yang terjadi menuntut keterpaduan antara konsep tradisional dengan modern melalui integrasi dengan konsep agroforestry modern beserta ragam pengembangannya disertasi optimalisasi konsep LEISA yang ditunjang kebijakan pemerintah yang adil dan bijaksana bagi masyarakat perdesaan sehingga keberlanjutan lanskap pertanian dapat tercapai. 5.2. Saran Sebagai arahan dalam menyusun konsep pengelolaan lanskap pertanian berkelanjutan, dapat disarankan beberapa langkah strategis sebagai berikut: 1. melakukan penelitian pada kawasan Sunda Parahiyangan lainnya sebagai representasi kawasan lanskap pertanian di pegunungan; dan 2. menyusun suatu model metode penelitian yang efektif dan efisien untuk penilaian keberlanjutan lanskap pertanian. KAJIAN KARAKTERISTIK LANSKAP SUNDA PARAHIYANGAN SEBAGAI MODEL LANSKAP PERTANIAN BERKELANJUTAN MOHAMMAD ZAINI DAHLAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 DAFTAR PUSTAKA Abdoellah, O. S., Takeuchi, K., Parikesit G., Gunawan, B., and Hadikusumah, H. Y. 2001. Structure and function of homegarden: revisited. In: Proceedings of First Seminar of JSPS-DGHE Core University Program in Applied Biosciences “Toward Harmonisation Between Development and Environmental Conservation in Biological Production”. 21-23 February 2001, The University of Tokyo. 167-185. Abdoellah, O. S., Hadikusumah, H. Y., Takeuchi K., Okubo, S., and Perikesit. 2006. Commercialization of homegardens in an Indonesian village: vegetation compotition and functional changes. Agroforestry Systems: 68. Arifin, H. S. 2012. Manajemen Lanskap Berkelanjutan bagi Sumber Daya Biologi di Perdesaan Indonesia. Di dalam Merevolusi Revolusi Hijau-Pemikiran Guru Besar IPB. Bogor: IPB Press: 504-529. Arifin, H. S., K. Sakamoto, and K. Chiba. 1997. Effect of the Fragmentation and the Change of the Social and Economical Aspects on the Vegetation Structure in the Rural Home Gardens of West Java, Indonesia. Journal of Japan Institute of Landscape Architecture, Tokyo. Vol. 60: 489-494. Arsyad, S. 2010. Konservasi Tanah dan Air. Edisi kedua. Bogor: IPB Press: 472 hlm. Becker, C. D., and Ghimire, K. 2003. Synergy Between Traditional Ecological Knowledge and Conservation Science Supports Forest Preservation in Ecuador. Conservation Ecology. 8: 1-2. Billeter, R. 2008. Indicator for biodiversity in agricultural landscape: a panEuropean study. Journal of Applied Ecology. 45: 141-150. [BPS] Badan Pusat Statistika. 2011. Perkembangan beberapa indikator utama sosial-ekonomi Indonesia. Christanty, L., Abdoellah O. S., Marten, G., and Iskandar, J. 1986. Traditional agroforestry in West Java: the pekarangan (homegarden) and kebun-talun (perennial/annualrotation) cropping systems. In: Marten G.G. (ed.), Traditional Agriculture in Southeast Asia: A Human Ecology Perspective. Westview Press, Boulder and London: 132-156. Danasasmita. 1987. Sanghyang Siksakandang Karesian. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi) Dirjen. Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bandung. Darwis, S. N. 2004. Dasar-Dasar Ilmu Pertanian dalam Al-Qur’an. Bogor: IPB Press: 191 hlm. 140 [Depdikbud] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka: 1278 hlm. [FAO] Food and Agriculture Organization. 2007. SARD and Mountain Regions. Sustainable Agriculture and Rural Development (SARD) Policy Brief 19. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome, Italy: 1-4. [FAO] Food and Agriculture Organization. 2010. The State of Food Insecurity in the World-Addressing food insecurity in protracted crises. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome, Italy: 54 hlm. [FAO] Food and Agriculture Organization. 2011. The state of the world’s forests 2011. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome: 157 hlm. Fausia, L. dan Prasetyaningsih, N. 2005. Kajian Aktivitas Reproduktif dan Produktif Perempuan dan Kaitannya dengan Pengelolaan Sumberdaya Alam. Di dalam: Pembaharuan Tata-Pemerintahan Lingkungan: Menciptakan Ruang Kemitraan Negara-Masyarakat Sipil-Swasta. Bogor: PSP-LPPM IPB da PGRI-UNDP. 81-91. Finotto, F. 2011. Landscape Assessment: The Ecological Profile. In: Castella, C., and Peano, A. 2011. Landscape Indicators: Assessing and Monitoring Landscape Quality. Dordrecht: Springer Science Business Media B. V. Fridley, J. D., Senf, A. R., and Peet, R. K. 2009. Vegetation Structure of Field Margins and Adjacent Forest in Agricultural Landscape of the North Carolina Piedmont. Castanea. 74: 4. [GEN] Global Ecovillage Nework. 2008. Community Sustainability Assessment (CSA). USA: Ecovillage Network of the Americas: 41 hlm. Harianto. 2007. Peranan Pertanian dalam Ekonomi Pedesaan. Makalah pada Seminar Nasioanl “Dinamika Pembangunan Pertanian dan Pedesaan: Mecari Alternatif Arah Pengembangan Ekonomi Rakyat” yang diselenggarakan oleh Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Departemen Pertanian. Pada tanggal 4 Desember 2007 di Bogor. Huntington, H. P. 2000. Using traditional ecological knowledge in science: methods and applications. Ecological Applications. 10: 1270-1274. Indaryanti, Y. 2005. Sistem Ekonomi Rumah Tangga Komunitas Lokal di Daerah Aliran Sungai Citanduy. Di dalam: Pembaharuan Tata-Pemerintahan Lingkungan: Menciptakan Ruang Kemitraan Negara-Masyarakat SipilSwasta. Bogor: PSP-LPPM IPB da PGRI-UNDP. 41-53. 141 Iskandar, J. dan Iskandar, B. S. 2011. Agroekosistem Orang Sunda. Bandung: PT Kiblat Buku Utama. 246 hlm. Kartasasmita, G. 2005. Ketahanan Pangan dan Ketahanan Bangsa. Keynote Speech pada Seminar “Pengembangan Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal” dalam rangka Dies Natalies ke-45 Universitas Pasundan. Pada tanggal 26 November 2005 di Bandung. Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. 391 hlm. Lubis, N. H., Nugraha, A., Wildan, D., Dyanti, E. S., Sofianto, K., Falah, M., Dienaputra, R. D., dan Djubiantono, T. 2003. Sejarah Tatar Sunda Jilid 1. Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian UNPAD Bandung. Machmur, M. 2010. Ketahanan Pangan: Diversivikasi Pangan dan Kesehatan. Makalah pada Stakeholder Meeting “Stategic Alliance for Achieving MDG’s” dalam Dies Natalis FK UNPAD ke-53. Pada tanggal 21 Oktober 2010 di Bandung. Miskinis, P. 2011. Mathematical modeling of mountain heinght distribution on the Earth’s surface. Geologija. 1: 21-26. Muleler, J. G., Assanou, I. H., Guimbo, I. D., and Almedom, A. M. 2009. Evaluating Rapid Participatory Rural Appraisal as an Assessment of Ethnoecological Knowledge and Local Biodiversity Patterns. Conservation Biology, 1: 140–150. Mulyoutami, E., Rismawan, R., and Joshi, L. 2009. Local knowledge and management of simpukng (forest garden) among the Dayak people in East Kalimantan, Indonesia. Forest Ecology and Management. 257: 255. [NRC] National Research Council. 2010. Toward Sustainable Agricultural Systems in the 21st Century. Washington, D. C.: The National Academic Press: 598 hlm. Prasetyo, L. B. 2005. Perubahan Penutupan/Penggunaan Lahan, Degradasi Lahan dan Upaya Penganggulangannya: Studi Kasus di Daerah Aliran Sungai Citanduy. Di dalam: Pembaharuan Tata-Pemerintahan Lingkungan: Menciptakan Ruang Kemitraan Negara-Masyarakat Sipil-Swasta. Bogor: PSP-LPPM IPB da PGRI-UNDP: 18-40. Prasodjo, N. W. 2005. Pengetahuan Lokal dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citanduy. Di dalam: Pembaharuan Tata-Pemerintahan Lingkungan: Menciptakan Ruang Kemitraan Negara-Masyarakat Sipil-Swasta. Bogor: PSP-LPPM IPB da PGRI-UNDP. 92-120. 142 Purnama, S. 2007. Menelusuri Arsitektur Masyarakat Sunda. Bandung: PT. Cipta Sastra Salura. Reijntjes, C., Haverkort, B., and Bayer, A. W. 1992. Farming for Future: An Introduction to Low-External-Input and Sustainable Agriculture. Netherland: ILEIA. Rigg, J. 1862. A Dictionary of The Sunda Language of Java. Batavia: Lange&Co. Rosidi, A. 2000. Ensiklopedi Sunda; Alam, Manusia, dan Budaya. Jakarta: Pustaka Jaya. Sartini. 2004. Menggali Kearifan Lokal Nusantara Sebuah Kajian Filsafati. Jurnal Filsafat. 37: 2 Sharma, E., Chettri, N., and Oli, K. P. 2010. Mountain biodiversity conservation and management: a paradigm shift in policies and practices in the Hindu Kush-Himalayas. Ecol Res. 25: 909-923. Simonds, J. O. 1983. Landscape Architecture. McGraw-Hill Book Co., Inc. New York. Soemarwoto, O., and G. R. Conway. 1992. The Javanese homegarden. Journal for Farming Systems Research-Extension. 2: 95-118. Soerianegara, I. dan Indrawan, A. 2005. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi Hutan, Fahutan, IPB: 37. Suryani, E. 2011. Ragam Pesona Budaya Sunda. Bogor: Ghalia Indonesia. Swanwcik, C. 2002. Landscape Character Assessment: Guidance for England and Scotland. UK: The Countryside Agency and Schottist Natural Heritage. Turpin, N. and Oueslati, W. 2008. Editorial: Landscape in the Dynamic of Local Economies. Landscape Research. 3: 259-262. Walker, D. H., Sinclair, F. L., Joshi, L., and Ambrose, B. 1997. Prospect for The Use of Corporate Knowledge Bases in The Generation, Managemen, and Communication of Knowledge at A Front-Line Agriculture Research Center. Agricultural Systems. 54: 291-312. [USDA-NAL] U.S. Department of Agriculture National Agricultural Library. 2007. Sustainable agriculture: definitions and terms.  http://www.nal.usda.gov/afsic/pubs/terms/srb9902.shtml#toc5 [9 Sep 2011].                                 LAMPIRAN    145 Lampiran 1. Aspek Kajian dalam Mencapai Sistem Pertanian Berkelanjutan (National Research Council/NRC). No. 1. Aspek Kajian Kriteria kesuksesan dan batasan penilaian aspek keberlanjutan sistem pertanian 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 2. Daftar Pertanyaan Faktor apa yang berkontribusi terhadap perkembangan atau kesuksesan usaha pertanian Anda? Dalam hal terpenting apa perubahan tersebut terjadi pada kurun waktu lima tahun terakhir? Secara umum, bagaimana Anda menilai kinerja sistem pertanian dalam beberapa kriteria umum aspek keberlanjutan berikut: a. Keberlanjutan ekosistem lokal (air, udara, tanah, keanekaragaman, dan spesies langka, dsb.) b. Keberlanjutan ekosistem global (penggunaan energi, iklim, dsb.) c. Keberlanjutan sosial (kualitas hidup, pekerja, ekonomi, masyarakat, dsb.) d. Keberlanjutan sistem pangan (kualitas pangan, nutrisi, kesesuaian harga dan kemudahan akses, dsb.) Kesempatan utama apa yang Anda miliki untuk meningkatkan pelaksanaan usaha pertanian? Resiko apa yang akan Anda hadapi? Bagaimana cara Anda menanggulangi masalah atau menurunkan resiko? Apakah Anda melakukan penelitian atau ekperimen dalam memperoleh metode baru? Jika iya, dalam bentuk apa? Apakah Anda bekerja sama dengan organisasi atau individu? Jika iya, dengan siapa? Apakah Anda memiliki masalah yang spesifik yang mungkin lebih menguntungkan dari penelitian ilmiah? Apa yang Anda pikirkan tentang usaha pertanian Anda di masa depan? Faktor apa sangat mempengaruhi terhadap keberlanjutan usaha Anda? Bagaimana menurut Anda tentang sistem pertanian berkelanjutan/sistem pertanian organik di masa depan? Apa Anda dapat memprediksi beragam hambatan dan tantangan untuk mencapai pertanian berkelanjutan, atau untuk membangun strategi tambahan untuk memperkaya keberlanjutan? Apakah Anda merasa tertantang ketika memikirkan tentang usaha pertanian yang Anda lakukan? Praktik Produksi Praktik 1. Praktik apa yang Anda lakukan dalam usaha pertanian: a. Konvensional ... % b. Manajemen hama terpadu ... % c. Masukan rendah ... % d. Organik yang telah disertifikasi ... % e. Sistem campuran tanaman dan hewan ... % 146 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kontrol Benih, Hama dan 1. Penyakit 2. 3. 4. 5. f. Biodinamis ... % g. Lainnya ... % Apakah Anda melakukan pergiliran tanaman? Apakah Anda menggunakan tanaman penutup? Apakah Anda mengontrol masa pembungaan, pengaturan buah, atau masa pertumbuhan tanaman? Apakah Anda membantu penyelesaian penyerbukan? Apakah Anda mengelola lebah atau agen penyerbukan lainnya? Jika Anda menanam tanaman tahunan, apakah Anda menggunakan varietas hibrida? Apakah Anda menanam tanaman musiman, kayu, atau tanaman pohon? Apakah Anda memiliki strategi untuk mengelola keanekaragaman hayati dalam usaha pertanian? Kontrol apakah yang Anda lakukan dalam penggunaan benih? Kontrol apakah yang Anda lakukan dalam penanganan penyakit? Kontrol apakah yang Anda lakukan dalam penanganan hama? Apakah Anda menggunakan pengendalian hama terpadu (PHT)? Praktik apa yang Anda berdayakan? Jika Anda menggunakan PHT, apakah Anda berkerja sama dengan instansi PHT atau dilakukan secara mandiri? Sumber Daya Tanah Karakteristik Tanah 1. Secara Umum (untuk tipe 2. tanah mayor) 3. Jelaskan tipe tanah pada lahan pertanian Anda? Apa keterkaitan karakteristik tanah dengan proses pengelolaan tanaman? Apa yang menjadi hambatan dalam hal tanah (erodibilitas, faktor penyebab banjir, miskin struktur, dsb.)? 4. Apa yang menurut Anda terbaik dari tanah dalam lahan pertanian Anda? Bagaimana Anda merespon tantangan terkait kualitas tanah? 5. Program manajemen tanah apa yang Anda lakukan? 6. Apakah Anda menilai kesehatan dan kesuburan tanah? Apakah Anda menggunakan bioassay untuk mengevaluasi aktivitas mikroba? 7. Apakah Anda menggunakan pupuk kimia? 8. Apakah Anda menggunakan kompos? 9. Apakah Anda menggunakan pupuk hijau? Jika iya, menggunakan jenis tanaman apa? 10. Apakah Anda menggunakan amandemen terkait pertanahan? Jika iya, dalam bentuk seperti apa? 11. Apakah Anda menggunakan metode konservasi tanah/pencegahan erosi? Jika iya, dalam bentuk apa? 12. Apakah Anda mengetahui lapisan bahan organik tanah? 147 Jika iya, bagaimana Anda mengukurnya? Sumber Daya Air Kuantitas 1. 2. 3. 4. 5. Kualitas 1. 2. 3. 4. 5. 6. Berapa rata-rata curah hujan? Apakah Anda menggunakan sistem irigasi? Bagaimana kecukupan suplai air dalam menunjang usaha pertanian Anda? Apakah Anda pernah membuat perubahan yang signifikan dalam upaya penyesuaian dengan kondisi sulit air/kekeringan? Apakah terjadi perubahan terkait ketersediaan air dalam beberapa tahun terakhir? Apakah kekhawatiran terhadap kualitas air di kawasan pertanian Anda mengalami peningkatan? Apakah kondisi tersebut berdampak pada usaha pertanian Anda? Apakah Anda pernah membuat perubahan yang signifikan dalam upaya penyesuaian dengan kondisi keperihatinan penurunan kualitas air? Apa langkah spesifik yang Anda lakukan untuk melindungi kualitas air di kawasan pertanian Anda? Apakah Anda menguji sumber daya air yang Anda miliki? Apakah Anda mengetahui isu terkait kesehatan air minum? Iklim Isu Perubahan Global Iklim 1. 2. 3. Apakah pernah terjadi banjir, badai, atau bencana yang disebabkan iklim lainnya yang berdampak pada usaha pertanian Anda dalam beberapa tahun terakhir? Bagaimana Anda merasakan usaha pertanian Anda telah memberi dampak pada perubahan iklim/pemanasan global? Apa yang Anda pikirkan terkait dampak usaha pertanian Anda di masa depan? Udara Isu Kualitas Udara 1. Apakah terdapat isu kualitas udara yang mempengaruhi usaha pertanian Anda? 2. Apa langkah nyata yang sudah Anda lakukan untuk mengurangi kekhawatiran akibat isu tersebut? Jejak Karbon (Carbon Footprint) Isu Jejak Karbon 1. 2. Dalam batas apa Anda menyadari dampak emisi gas rumah kaca (GRK) dari usaha pertanian Anda (seperti penggunaan minyak bumi dalam operasional mesin pertanian, penggunaan pupuk kimia, dan penggunaan bahan sintetik (plastik)? Apa langkah nyata yang sudah Anda lakukan untuk mengurangi kekhawatiran akibat isu tersebut? 148 Energi (Energy Renewable) Isu Energi Terbarukan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Apa sumber energi yang Anda gunakan? Apakah Anda menggunakan bentuk energy lain yang terbarukan (angina, cahaya matahari, dsb.) dalam usaha pertanian Anda? Seberapa efektifkah sistem tersebut berjalan? Apa yang menjadi aspek terbaik pada sistem tersebut? Apa yang menjadi aspek terburuk pada sistem tersebut? Apakah Anda memiliki rencana pengelolaan energi? Peralatan dan Gudang 1. 2. 3. 4. 3. Jenis peralatan apa yang digunakan dalam usaha pertanian Anda? Apakah Anda menggunakan tenaga hewan? Apakah Anda memiliki gudang penyimpanan hasil panen? Jika iya, dalam bentuk seperti apa dan kapasitas berapa? Apakah Anda memiliki gudang pendingin untuk pengawetan sayur dan buah? Jika iya, dalam bentuk seperti apa dan kapasitas berapa? Sosial dan Ekonomi/Pasar Penjualan 1. 2. Pemasaran 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Produk Organik 1. 2. Bagaimana perubahan nilai bruto dari penjualan hasil produksi pertanian Anda selama lima tahun terakhir? Apa yang Anda harapkan dalam waktu lima tahun mendatang? Dimana Anda menjual hasil produksi pertanian Anda? Berapa proporsi pemasaran hasil produksi pertanian yang dipasarkan dalam pasar lokal? Apakah produk Anda dipasarkan diluar daerah domisili Anda? Apakah Anda menjual setiap produk dalam ikatan kontrak dengan perusahaan pemasaran? Apakah Anda memperoleh pinjaman? Bagaimana perubahan pendekatan pemasaran yang Anda lakukan selama 5 – 10 tahun terakhir? Apakah Anda menambahkan nilai tambah pada produk yang dihasilkan melalui pengemasan atau pelabelan? Apakah produksi pertanian Anda telah memiliki sertifikat resmi yang anda gunakan dalam pemasaran? Jika Anda merupakan petani organik yang telah disertifikasi, silahkan untuk menjawab pertanyaan berikut: a. Apakah Anda mendapatkan bonus harga untuk produk yang dipasarkan? b. Apakah bonus tersebut meningkat atau menurun dalam beberapa tahun terakhir? c. Seberapa penting bonus tersebut terhadap kemampuan Anda untuk menjalankan sistem pertanian organik? 149 Finansial 1. Pendapatan Kotor 1. 2. Pendapatan Bersih 3. 1. 2. Pendapatan Pertanian VS. 1. Non Pertanian 2. Hutang 1. 2. Pekerja 1. 2. 3. 4. 5. Manajemen Resiko 1. 2. 3. 4. 5. 6. d. Apakah penting bonus untuk produk organik dalam mempengaruhi keputusan Anda menggunakan praktik pertanian berkelanjutan? Dapatkah Anda menjelaskan terkait aspek finansial dari usaha pertanian yang Anda lakukan selama ini? Apa perkiraan penjualan kotor dari produk pertanian? Apa perkiraan pendapatan dari pembayaran program pemerintah? Apakah ada sumber lain dari pendapatan pertanian? Berapa banyak pendapatan yang diperoleh dalam jangka waktu lima tahun terakhir? Apakah pendapatan bersih tersebut meningkat dalam lima tahun terakhir? Apakah ada dalam keluarga Anda yang bekerja di luar bidang pertanian? Dalam batas apa ketergantungan keluarga Anda terhadap bidang pertanian terkait pendapatan dan keuntungan? Bagaimana Anda menghitung rasio aktual dari hutang pertanian dengan aset yang dimiliki (apakah tidak ada hutang, hutang kurang dari 10% aset, hutang antara 10 – 40% aset, atau hutan lebih dari 40% aset)? Apakah Anda merasa nyaman dengan hutang yang Anda miliki saat ini? Apakah Anda memiliki pekerja yang membantu dalam usaha pertanian? Apakah Anda menyediakan rumah tinggal di dalam atau di luar kawasan pertanian untuk pekerja? Apakah Anda pernah menemukan kecukupan pekerja untuk mempertahankan usaha dan kualitas kehidupan secara bekelanjutan? Apa praktik nyata yang Anda lakukan untuk meyakinkan keadilan bagi setiap pekerja? Apakah isu terkait pekerja mempengaruhi keputusan Anda dalam memutuskan sistem pertanian yang dilakukan? Apa yang menjadi sumber resiko utama dalam usaha pertanian Anda? Strategi apa yang sudah Anda buat dalam usaha pertanian untuk menghadapi resiko tersebut? Bagaimana Anda berkompetisi dengan kondisi tingginya kebutuhan energi dan biaya? Apa alternatif yang dapat Anda siapkan dalam pengelolaan pertanian di masa mendatang terkait harapan pengurangan pemanfaatan energi tak terbarukan, pupuk kimia, sumber daya air dan lahan, serta peningkatan biaya produksi? Apakah Anda memiliki asuransi pertanian? Apa yang menyebabkan Anda menggunakan asuransi pertanian? 150 7. 8. 4. Jika Anda saat ini menggunakan asuransi, bagaimana Anda bisa mengimplementasikan aturan? Seberapa penting asuransi pertanian terhadap kemanan finansial dalam jangka waktu panjang? Sosial dan Kemasyarakatan Sosial Pertanian Tekanan Pembangunan 1. Apa yang memotivasi Anda untuk memilih sistem pertanian saat ini? Apa yang membuat Anda bertahan dalam menjalankan sistem tersebut? 2. Apakah konsumen memiliki dampak terhadap pertanian Anda? Apakah berdampak pada produk Anda? Jika iya, dampak seperti apa yang Anda rasakan? 3. Bagaimana Anda memperoleh informasi dan arahan tentang pertanian? 4. Siapa yang mendatangi Anda untuk memberi penyuluhan? 5. Apakah Anda berbagi informasi dengan petani lainnya? 6. Apakah Anda berupaya untuk menyebarkan informasi terkait upaya pertanian yang Anda lakukan? 7. Apakah Anda bergabung dengan kelompok tani atau organisasi pertanian? 8. Apakah Anda bekerja dengan dinas pemerintah? 9. Program pemerintah apa yang berdampak luas terhadap usaha pertanian Anda? 10. Apakah Anda mengikuti isu kebijakan terkait pertanian? Jika iya, bagaimana menurut Anda? 11. Bagaimana Anda mempengaruhi petani lainnya untuk mengikuti usaha pertanian dengan sistem yang Anda lakukan saat ini? 1. Berapa besar tekanan yang Anda rasakan terhadap usaha pertanian akibat pembangunan di sekitar kawasan pertanian Anda? 2. Apa tantangan dan kesempatan perkembangan dan pembangunan kota saat ini terhadap usaha pertanian Anda? 3. Terkait tantangan keberlanjutan/regenerasi, bagaimana Anda meyakinkan keberlanjutan dari usaha pertanian Anda: a. Bagaimana meyakinkan keberlanjutan nilai antar generasi/waktu? b. Bagaimana mengurangi biaya awal bagi petani baru dengan menyediakan biaya sewa lahan melalui kontrak jangka panjang atas dasar kepercayaan dan kesepakatan bersama. c. Bagaimana untuk menyalurkan informasi, pengetahuan, dan pengalaman kerja bagi generasi berikutnya? 4. Bagaimana untuk menjamin generasi tua ketika masa depan diberikan kepada generasi muda? 151 Lampiran 2. Aspek Kajian dalam Menggali Pengetahuan Masyarakat Lokal Berkelanjutan (Community Sustainablility Assessment/CSA). No. 1. Aspek Kajian Ekologi a. Rasa kepemilikan tempat (lokasi dan ukuran masyarakat, restorasi serta preservasi alam) b. Ketersediaan pangan, produksi dan distribusi c. Infrastruktur fisik, bangunan dan transportasi (material, metode, dan desain) Daftar Pertanyaan 1. Berapa lama Anda tinggal di kawasan kampung adat (KKA)? 2. Berapa generasi yang tinggal di KKA? 3. Berapa jumlah masyarakat di KKA? 4. Berapa kuat keterkaitan/intervensi masyarakat dengan alam? 5. Berapa banyak masyarakat yang mengetahui keanekaragaman hayati di KKA? 6. Bagaimana respon terhadap sumberdaya alami lokal (diperkaya, dilestarikan, atau diakui sebagai milik pribadi)? 7. Apakah kualitas air, tanah, dan udara rusak, tetap atau lebih baik? 8. Apakah keberagaman hayati (flora dan fauna) meningkat, tetap atau bahkan menurun? 9. Apakah terjadi kerusakan lingkungan di KKA? Apa penyebabnya? 10. Bagaimana partsisipasi masyarakat dalam upaya konservasi dan restorasi lingkungan di KKA? 11. Apa yang dilakukan masyarakat dalam mengkonservasi sumberdaya lingkungan? 1. Apakah sumberdaya pangan tersedia di KAA? 2. Apakah sumberdaya pangan mudah diperoleh/diakses? 3. Apakah sumberdaya pangan mudah didistribusikan dan dibeli dengan harga terjangkau? 4. Berapa banyak jenis tanaman pangan di KKA (produk lokal/indegenous, produk organik, dsb.)? 5. Berapa banyak jenis tanaman pangan yang di peroleh dari luar KKA? 6. Apakah ketersediaan sumberdaya pangan kurang, terpenuhi, atau berlebih? 7. Solusi untuk kelebihan pangan: disimpan, dijadikan pakan, dijual, dikomposkan, didonorkan, atau dibuang? 8. Apakah ruang sisa bangunan digunakan sebagai lahan produksi pangan? 9. Penggunaan pestisida, herbisida, dan pupuk kimia dalam produksi tanaman pangan? 10. Biji yang digunakan dalam produksi tanaman pangan (menggunakan biji lokal atua hibrida)? 1. Apakah bangunan yang tersedia memenuhi kriteria rumah? 2. Apakah bahan bangunan yang digunakan termasuk bahan alami, recyclable dan reusable, serta lokal? 3. Apakah bangunan didesain untuk menjaga 152 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. d. Pola konsumsi dan manajemen limbah padat 1. 2. 3. 4. e. Sumberdaya air (sumber, kualitas dan pola-pola penggunaan) 1. 2. 3. f. Manajemen limbah cair dan polusi air 4. 1. 2. 3. 4. keharmonisan dengan alam dan pencapaian bangunan hemat energi (orientasi, pembagian ruang, kombinasi dengan tanaman, pemilihan warna, material, dan lokasi, serta keberlanjutan desain dan konstruksi)? Apakah ada upaya penambahan terhadap bangunan eksisting? Apakah ada upaya pengaturan kembali bangunan, lanskap, dan ruang aktivitas masyarakat yang tidak sesuai dengan upaya konservasi lingkungan? Apakah desain masyarakat (bangunan, lanskap, dan ruang aktivitas) berorientasi terhadap kelestarian alam? Apakah ada upaya dalam mengurangi penggunaan kendaraan bermotor? Berapa sering masyarakat melakukan perjalanan ke luar KKA? Apakah terdapat metode transportasi yang ramah lingkungan? Dalam bentuk apa? Bagaimana kesempatan untuk mencari pekerjaan di dalam KKA dibandingkan di luar KKA? Berapa banyak masyarakat yang mengurangi konsumsi sumber daya alam dengan upaya: a) sukarela mengurangi konsumsi pribadi, b) berbagi pemanfaatan SDA yang tersedia. c) berbagi pemanfaatan fasilitas pemanfataan SDA, d) belanja secara kolektif, dsb? Bagaimana upaya untuk mengurangi kesenjangan antara kebutuhan konsumen dengan produsen terutama dalam pasar lokal? Apakah masyarakat sudah melakukan pengolahan (recycle) limbah padat (kaca, plastic, alumunium, dsb), pemanfaatan kembali (reuse) atau perbaikan (repair) untuk dijadikan fungsi lain tanpa harus membeli sesuatu yang baru? Berapa banyak masyarakat yang mengetahui metode pengelolaan limbah padat (lokasi dan metode)? Berapa banyak masyarakat yang mengetahui, menyadari, dan melindungi sumber daya air di KKA? Bagaimana cara pemanfaatan SDA dalam KKA? Bagaimana pengelolaan SDA yang dilakukan masyarakat untuk menjaga kualitas dan kuantitasnya? Bagaimana metode penampungan SDA? Bagaimana pengelolaan limbah cair di KKA? Berapa banyak masyarakat yang mengetahui lokasi dan metode pengelolaan limbah? Bagaiaman pengaruh limbah cair bagi masyarakat? Bagaimana kualitas limbah cair yang keluar dari 153 5. 6. g. Sumber energi penggunaannya dan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 2. Sosial-Ekonomi a. Keterbukaan, kepercayaan keselamatan sosial) dan (ruang b. Komunikasi (aliran ide dan informasi) c. Pencapaian jejaring dan pelayanan (pertukaran KKA? Apakah terdapat polusi air di KKA? Apakah terdapat sistem tradisional dalam upaya pengelolaan limbah cair? Berapa jumlah energi yang dihasilkan dari sumberdaya energi terbarukan (panas matahari, angina, air, biomasa, atau geothermal)? Berapa banyak energi terbarukan yang diambil dari luar KKA? Berapa banyak energi tidak terbarukan (nuklir atau minyak bumi) yang diambil dari luar KKA? Bagaimana respon masyarakat terhadap sumberdaya energi tidak terbarukan? Bagaimana distribusi informasi dan pendidikan mengenai konservasi energi di KKA? Bagaimana aktivitas masyarakat dalam pemanfaatan energi (memasak, mencuci, menyetrika, dsb.)? Apakah masyarakat sudah menerapkan upaya konservasi energi? Bagaimana model tradisional yang dilakukan masyarakat dalam uapaya konservasi energi? Jika masyarakat banyak menggunakan produk pohon sebagai sumberdaya energi, bagaimana mereka melakukan upaya konservasinya? 1. Apakah masyarakat menyadari akan pentingnya keterbukaan, kepercayaan, dan keselamatan? 2. Bagaimana mereka mengeksprsikannya? 3. Apakah masyarakat memberikan jaminan keamanan bagi wanita dan anak-anak? 4. Bagaimana hubungan interpersonal antara sesama anggota keluarga dan dengan keluarga lainnya (tetangga)? 5. Apakah sering terjadi kejahatan (orang dewasa, remaja, atau anak-anak)? 6. Apakah tersedia ruang sosial (indoor maupun outdoor) bagi aktivitas masyarakat? 7. Apakah tersedia ruang bermain untuk anak-anak? 8. Berapa sering masyarakat melakukan aktivitas sosial (berkumpul, bercanda, bermain, dsb.)? 1. Apakah sistem masyarakat yang ada telah mengakomodasi masyarakat dalam berbagi informasi dan ide? 2. Bagaimana sistem komunikasi yang digunakan dalam masyarakat di KKA? 3. Apa media yang digunakan masyarakat dalam berkomunikasi (tatap muka langsung, telepon, surat, dsb)? 1. Apakah informasi mengenai masyarakat KKA dapat dengan mudah diperoleh masyarakat luas? 154 sumberdaya internal/eksternal) d. Keberlanjutan sosial (keberagaman dan toleransi, penetapan keputusan, dan resolusi konflik) e. Pendidikan f. Kesehatan 2. Apakah metode kehidupan berkelanjutan masyarakat di KKA dapat diadaptasi oleh masyarakat luas? 3. Bagaimana keterlibatan masyarakat di KKA dalam pelayanan masyarakat baik di dalam maupun di luar KKA (regional, nasional bahkan internasional? 4. Apakah terdapat kesempatan bagi pemuda untuk melakukan pelayanan masyarakat? 5. Bagaimana masyarakat di KKA membangun jejaring komunikasi dengan masyarakat atau organisasi di luar KKA? 1. Berapa banyak masyarakat di KKA yang menghargai keberagaman dan toleransi baik di dalam maupun diluar KKA? 2. Apakah masyarakat di KKA mampu untuk mengatur KKA secara mandiri? 3. Apakah masyarakat menggunakan metode yang tidak mendiskriminasikan anggotanya dalam memecahkan permasalahan? 4. Apakah dalam proses penentuan kebijakan dilakukan secara transparan/terbuka? 5. Berapa banyak masyarakat yang terlibat aktif dalam proses penentuan kebijakan? 6. Apakah informasi atau pelatihan kemampuan dalam penentuan kebijakan tersedia bagi dewasa maupun remaja? 7. Berapa banyak masyarakat yang setuju bahwa kesuksesan sistem penentuan kebijakan terdapat dalam situasi yang sulit? 8. Apakah permasalahan sosial dapat dengan mudah diselesaikan menggunakan sistem yang suportif dan bukan punitif? 9. Apakah masyarakat dapat dengan mudah masuk ke dalam sistem resolusi konflik? 10. Apakah informasi atau pelatihan kemampuan dalam pemecahan konflik tersedia bagi dewasa dan pemuda? 11. Apakah masyarakat setuju bahwa sistem pemecahan konflik akan berhasil ketika HAM dipertahankan dan penerapan hukum yang tidak pandang bulu? 1. Bagaimana proses pendidikan berlangsung di masyarakat KKA (formal atau informal dengan ragam bentuknya)? 2. Bagaimana kesempatan bagi masyarakat untuk mengenyam dunia pendidikan, apakah tersedia dan mudah diakses? 3. Apakah kesempatan pendidikan tersedia bagi seluruh jenjang usia (di dalam maupun di luar KKA)? 4. Bagaimana sistem pendidikan dan metode KBM di KKA? 1. Bagaimana ketersediaan fasilitas penunjang 155 2. 3. 4. 5. 6. g. Keberlajutan (kesehatan lokal) ekonomi ekonomi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 3. Spiritual-Budaya a. Keberlanjutan budaya b. Kesenian dan wisata kesehatan masyarakat di KKA? Bagaimana sistem kesehatan tradisional yang diterapkan masyarakat di KKA? Bagaimana kondisi kesehatan masyarakat di KKA? Bagaimana komitmen masyarakat terhadap aspek kesehatan masyarakat? Apakah pernah terjadi kejadian yang serius (bencana alam, kebakaran, dsb.)? Apakah pernah terjadi kematian yang disebabkan oleh bunuh diri, pembunuhan, over dosis obat terlarang, dsb? Apakah terdapat upaya nyata dalam menyokong perekonomian masyarakat lokal di KKA? Apakah terdapat bank lokal atau badan keuangan lainnya yang membantu aktivitas perekonomia masyarakat di KKA? Berapa banyak remaja yang meninggalkan komunitas untuk mencari sumber penghidupan? Berapa banyak masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan? Apakah masyarakat pengangguran mendapat subsidi dari pemerintah atau pihak lain? Berapa banyak masyarakat yang tidak mampu mengakomodasi kebutuhan dasar kehidupannya (makanan, pangan, dan papan)? Bagaimana sistem perekonomian yang berlangsung di dalam masyarakat di KKA? Apakah masyarakat berperan aktif dalan sistem perekonomian lokal/rakyat? Apakah masyarakat merasakan manfaat dari aktivitas perekonomian lokal baik secara moneter maupun non-moneter? 1. Bagaiamana masyarakat menjaga eksistensi budayanya? 2. Sumber daya budaya apa saja yang menjadi kebanggaan masyarakat di KKA? 3. Apakah setiap gelaran aktivitas budaya terbuka untuk masyarakat umum? 4. Apakah masyarakat di KKA mengetahui sejarah dari KKA? 5. Apakah dengan melalui gelaran aktivitas budaya, nilai-nilai budaya akan terdistribusi dengan baik? 1. Apakah akses bagi masyarakat untuk meningkatkan kemampuan dalam kesenian terbuka? 2. Jenis kesenian apa saja yang dibudayakan dalam masyarakat di KKA? 3. Bagaimana masyarakat menilai dan mendukung pengembangan kesenian dan pelaku seni lokal? 4. Apakah masyarakat memiliki waktu luang untuk 156 5. 6. 7. 8. c. Keberlanjutan spiritual 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. d. Keeratan komunitas 1. 2. 3. 4. 5. e. Kelenturan komunitas 1. 2. 3. berekreasi dan berwisata (olah raga, hobi, relaksasi, dsb)? Apakah terdapat ruang sosial bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas sosial? Berapa sering masyarakat melakukan aktivitas kesenian di KKA? Apakah desain kawasan dan penampilan masyarakatnya memunculkan nilai seni, keindahan, dan kualitas estetika yang baik? Bagaimana respon, ekspresi, dan pengalaman masyarakat terhadap keindahan seni, taman, arsitektur, dsb.? Apakah masyarakat diberi kebebasan untuk memeluk dan meyakini agama dan kepercayaan yang diyakininya? Apakah fasilitas untuk meningkatkan ketakwaan masyarakatnya tersedia dengan mudah? Bagaimana kondisi spiritualitas dalam masyarakat? Apa aktivitas dan media spiritual yang dilakukan oleh masyarakat? Berapa sering masyarakat melakukan ritual keagamaan? Bagaimana kearifan lokal masyarakat dan nilai keagamaan yang diyakininya mampu memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian lingkungan? Apakah tersedia ruang khusus untuk pelaksanaan ritual keagamaan? Apakah masyarakat merasakan pentingnya agama dalam kehidupannya? Bagaimanan gambaran/manifestasi nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat di KKA? Apakah masyarakat setuju bahwa kualitas hidup dalam bermasyarakat adalah lebih baik dari individualis? Bagaimana masyarakat berbagai dalam hal keyakinan, nilai, dan pengalaman? Bagiamana prinsip-prinsip moral beradaptasi menjadi filosofi bagi kehidupan masyarakat? Bagaiamana masyarakat secara tradisional menjaga keeratan hubungan antar warga? Bagaimana hubungan masyarakat berdasarkan gender? Apakah masyarakat mampu merespon secara positif masalah yang terjadi pada anggota masyarakatnya? Apakah masyarakat bisa menerima ketika membutuhkan bantuan pihak luar dalam menangani masalahan yang terjadi? Bagaimana masyarakat merespon permasalahan yang terjadi pada anggota masyarakat yang termarjinalkan? 157 f. Paradigma pandangan global g. Kesadaran dan global baru, perdamaian 4. Bagaimana masyarakat mengupayakan kemampuannya dalam memecahkan permasalahan yang terjadi? 5. Bagaimana upaya tradisional yang dapat dilakukan masyarakat dalam menghadapi permasalahan? 1. Apakah masyarakat menyadari tanggung jawabnya dalam mengembangkan diri dan masyarakatnya? 2. Apakah masyarakat menyadari bahwa keberagaman manusia harus dinilai dan didukung sama pentingnya seperti kesehatan dan kesuksesan masyarakat? 3. Apakah terdapat kesadaran untuk berbagi baik dalam komunitas lokal maupun global? 4. Apakah masyarakat telah mengetahui dan menerima konsep keberlanjutan? 5. Apakah ada kesadaran masyarakat bahwa apa yang dilakukan masyarakat adalah untuk keberhasilan masyarakat itu sendiri? 1. Apakah masyarakat menyadari bahwa keharmonisan dalam keberagaman sangat bermanfaatn bagi komunitas? 2. Apakah aktivitas masyarakat berdampak pada keterbukaan hati dan pikiran anggota masyarakat untuk sebuah pengalaman bersama yang berharga? 3. Apakah ketika penentuan kebijakan, anggota masyarakat dapat menggunakan hati dan pikirannya secara bijak, jujur, dan penuh dedikasi? 4. Apakah masyarakat berani bertanggung jawab atas perbuatan salah yang diperbuat? 5. Apakah masyarakat bijak (selfless)? 6. Apakah KKA merupakan tempat yang baik untuk memupuk perdamaian baik lokal maupun global? 158 Lampiran 3. Kriteria Penilaian dalam Community Sustainability Assessment/CSA No. Parameter Aspek Ekologis 1. Perasaan terhadap tempat 2. Ketersediaan, produksi, dan distribusi makanan 3. Infrastruktur, bangunan, dan transportasi 4. Pola konsumsi dan pengelolaan limbah padat 5. Air-sumber mutu dan pola penggunaan 6. Limbah cair dan pengelolaan polusi air 7. Sumber dan penggunaan energy Total nilai aspek ekologis Aspek Sosial 1. Keterbukaan, kepercayaan, keselamatan; ruang bersama 2. Komunikasi, aliran gagasan, dan informasi 3. Jaringan pencapaian dan jasa 4. Keberlanjutan sosial 5. Pendidikan 6. Pelayanan kesehatan 7. Keberlanjutan ekonomi lokal yang sehat Total nilai aspek sosial Aspek Spiritual 1. Keberlanjutan budaya 2. Seni dan kesenangan 3. Keberlanjutan spiritual 4. Keterikatan masyarakat 5. Kelenturan masyarakat 6. Holografik baru berorientasi global 7. Perdamaian dan kesadaran global Total nilai aspek spriritual Total nilai aspek keseluruhan Keterangan: 1. Pembobotan parameter dalam satu aspek (*) 50+ : Menunjukan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 25-49 : Menunjukan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-24 : Menunjukan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan 2. Pembobotan parameter dalam satu aspek (**) 333+ : Menunjukan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 166-332 : Menunjukan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-165 : Menunjukan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan 3. Pembobotan parameter dalam satu aspek (***) 999+ : Menunjukan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 500-998 : Menunjukan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-449 : Menunjukan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan Bobot * * * * * * * ** * * * * * * * ** * * * * * * * ** *** Lampiran 4. Jenis Tanaman Dominan dalam Agroekosistem Kebun-Talun No. 1 Dusun Ciomas Plot 1a 2a 3a 2 Mandalare 1b 2b 3b 3 Kertabraya 1c 2c 3c Nama Lokal Pisang Kelapa Sengon/Albo Pisang Sengon/Albo Cengkeh Jati Mengkudu Sengon/Albo Pisang Cengkeh Sengon/Albo Pisang Sengon/Albo Cengkeh Pisang Jati Bambu Apus Kopi Robusta Pisang Suren Pisang Suren Gmelina Pisang Cengkeh Sengon/Albo Nama Botani Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Paraserianthes falcataria Syzygium aromaticum Tectona grandis L.f. Morinda citrifolia L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Syzygium aromaticum Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Paraserianthes falcataria Syzygium aromaticum Musa paradisiaca L. Tectona grandis L.f. Gigantochloa apus Coffea robusta L. Musa paradisiaca L. Toona sureni (BI.) Merr Musa paradisiaca L. Toona sureni (BI.) Merr Gmelina arborea Roxb. Musa paradisiaca L. Syzygium aromaticum Paraserianthes falcataria Individu 46 9 9 21 15 10 28 9 5 58 16 18 39 18 14 33 15 13 24 24 23 63 10 10 54 18 13 Kelompok Herba Pohon Pohon Herba Pohon Perdu Pohon Perdu Pohon Herba Perdu Pohon Herba Pohon Perdu Herba Pohon Pohon Perdu Herba Pohon Perdu Pohon Pohon Herba Perdu Pohon Fungsi Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Industri/Lainnya Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Obat Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Industri/Lainnya Bumbu/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Industri/Lainnya Industri/Sayur/Obat/Lainnya Buah Buah/Penghasil Pati/Obat Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Industri/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya 159   160 Lampiran 5. Jenis Tanaman Dominan dalam Agroekosistem Sawah No. 1 Dusun Ciomas Plot 1a 2a 3a 2 Mandalare 1b 2b 3b 3 Kertabraya 1c 2c 3c   Nama Lokal Pisang Kelapa Sengon/Albo Pisang Sengon/Albo Kelapa Pisang Pisang Kelapa Sengon/Albo Pisang Kelapa Sengon/Albo Pisang Kelapa Sengon/Albo Pisang Pisang Sengon/Albo Pisang Kelapa Sengon/Albo Pisang Kelapa Sengon/Albo Pisang Nama Botani Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Paraserianthes falcataria Cocos nucifera L. Musa paradisiaca L. Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Musa paradisiaca L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Individu 17 8 6 123 11 6 73 35 11 6 63 6 6 37 9 6 54 43 6 117 3 3 17 8 6 123 Kelompok Herba Pohon Pohon Herba Pohon Pohon Herba Perdu Pohon Pohon Herba Pohon Pohon Herba Pohon Pohon Herba Herba Pohon Herba Pohon Pohon Herba Pohon Pohon Herba Fungsi Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Industri/Lainnya Buah/Bumbu/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Penghasil Pati/Obat Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Lampiran 6. Jenis Tanaman Dominan dalam Agroekosistem Pekarangan No. 1 Dusun Ciomas Plot 1a 2a 3a 2 Mandalare 1b 2b 3b 3 Kertabraya 1c 2c 3c Nama Lokal Pisang Pepaya Cengkeh Pisang Pepaya Sengon/Albo Pisang Pepaya Sengon/Albo Pisang Pepaya Cengkeh Pisang Sengon/Albo Pepaya Pisang Jambu Biji Alpukat Pisang Kelapa Sengon/Albo Pisang Pepaya Sengon/Albo Pisang Pepaya Nama Botani Musa paradisiaca L. Carica papaya L. Syzygium aromaticum Musa paradisiaca L. Carica papaya L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Carica papaya L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Carica papaya L. Syzygium aromaticum Musa paradisiaca L. Paraserianthes falcataria Carica papaya L. Musa paradisiaca L. Psidium guajava L. Persea Americana L. Musa paradisiaca L. Cocos nucifera L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Carica papaya L. Paraserianthes falcataria Musa paradisiaca L. Carica papaya L. Individu 7 5 3 8 3 3 5 5 3 8 3 2 9 7 2 6 4 1 16 5 5 11 5 2 7 3 Kelompok Herba Herba Perdu Herba Herba Pohon Herba Herba Pohon Herba Perdu Perdu Herba Pohon Herba Herba Perdu Pohon Herba Pohon Pohon Herba Herba Pohon Herba Herba Fungsi Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Obat Bumbu/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Obat Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Obat Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Obat Bumbu/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Industri/Lainnya Buah/Obat Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Obat Buah/Obat Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Bumbu/Lainnya Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Obat Industri/Lainnya Buah/Penghasil Pati/Obat Buah/Obat 161  
Study on The Characteristic of Sunda Parahiyangan Landscape for A Model of Sustainable Agricultural Landscape Analisis Keberlanjutan Fisik Metode Analisis Analisis Keberlanjutan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Analisis Keberlanjutan Masyarakat Metode Analisis Budaya Pertanian dan Kearifan Lokal Demografi Analisis Kondisi Sistem Sosial-Ekonomi Masyarakat Pertanian Sunda Parahiyangan Hitungan produksi pertanian umum Infrastruktur Analisis Kondisi Sistem Sosial-Ekonomi Masyarakat Pertanian Sunda Parahiyangan Intervensi Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Pertanian Sunda Parahiyangan Karakterisasi Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Kelembagaan Sosial Analisis Kondisi Sistem Sosial-Ekonomi Masyarakat Pertanian Sunda Parahiyangan Kerangka Pikir Penelitian PENDAHULUAN Konsep Kabuyutan Budaya Masyarakat 1. Tradisi Muludan dan Nyangku Konsep Pengelolaan Alam Konsep Pengelolaan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Berkelanjutan Konsep Pengelolaan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan Konsep Pengelolaan Ruang Pertanian Konsep Pengelolaan Sumber Daya Pertanian Lanskap Pertanian TINJAUAN PUSTAKA Mata Pencaharian Analisis Kondisi Sistem Sosial-Ekonomi Masyarakat Pertanian Sunda Parahiyangan Metode Inventarisasi Tanaman Metode Metode Penentuan Sampel Kampung Pertanian Bekelanjutan TINJAUAN PUSTAKA Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian Rumusan Masalah Penelitian Kerangka Pikir Penelitian Rumusan Masalah Penelitian PENDAHULUAN Saran SIMPULAN DAN SARAN Sejarah Masyarakat Analisis Kondisi Sistem Spiritual-Budaya Masyarakat Pertanian Sunda Parahiyangan Simpulan SIMPULAN DAN SARAN Spiritual Masyarakat Analisis Kondisi Sistem Spiritual-Budaya Masyarakat Pertanian Sunda Parahiyangan Sunda Parahiyangan TINJAUAN PUSTAKA Waktu dan Lokasi Penelitian
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Study on The Characteristic of Sunda Parahiyangan Landscape for A Model of Sustainable Agricultural Landscape

Gratis