Feedback

Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Pinang Sebatang Estate, PT. Aneka Intipersada, PT. Minamas Plantation, Siak, Riau.

Informasi dokumen
MANAJEMEN PEMUPUKAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI PINANG SEBATANG ESTATE, PT. ANEKA INTIPERSADA, PT. MINAMAS PLANTATION, SIAK, RIAU RUDY RYANTO A24080153 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 Makalah Seminar Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Kamis, 30 Agustus 2012 MANAJEMEN PEMUPUKAN PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI PINANG SEBATANG ESTATE, PT. ANEKA INTIPERSADA, PT. MINAMAS PLANTATION, MAREDAN, RIAU Management Fertilization of Oil Palm (Elaeis guineensis Jacq.) In Pinang Sebatang Estate, PT.Aneka Intipersada,PT. Minamas Plantation, Maredan, Riau Rudy Ryanto1 dan Ahmad Junaedi2 1 Mahasiswa, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB 2 Staf Pengajar, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB Abstract The internships was conducted in Pinang Estate, PT. Aneka Intipersada, PT. Minamas Plantation within 3 months commencing on February 13, 2012 until May 13, 2012. Internship activities include all activities undertaken in the field consisted of technical aspects and managerial aspects, both in the field and in the office. Technical aspects were follow and implement the prosess of fertilization from the start of repackage fertilizer stage in storage until sowing fertilizer, the process of harvesting fresh fruit bunches (FFB) in the field until the sorting process at the mill, field maintenance processes like weeds control with herbicide applications and planting host plants for predator (beneficial plant). The author had the opportunity to follow the seeding process starts from the preparation area nurseries, sorting seeds to planting seeds into the baby bag. The author also perform managerial aspects such as helping krani division to entry the data all the work in Division IV PSE with applications on line using the System, Application and Products (SAP), assist staff in the preparation of auditor training Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), follow and assist the organization of supervision before leaving for work in the morning meeting. Based on the observation, generally, implementation of fertilization has been going according to Standard Operational Procedure (SOP) and has fulfilled the accuracy of fertilization. Key words :Fertilization, Oil Palm, Field, data RINGKASAN RUDY RYANTO. Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Pinang Sebatang Estate, PT. Aneka Intipersada, PT. Minamas Plantation, Siak, Riau. (Dibimbing oleh AHMAD JUNAEDI). Pemupukan merupakan suatu upaya untuk menyediakan unsur hara yang cukup guna mendorong pertumbuhan vegetatif tanaman yang sehat dan produksi TBS secara maksimum dan ekonomis, serta ketahanan terhadap hama dan penyakit. Pemupukan yang baik mampu meningkatkan produksi hingga mencapai produktivitas standar sesuai dengan kelas kesesuaian lahannnya. Kegiatan magang ini dilakukan di Pinang Sebatang Estate (PSE), PT. Aneka Intipersada, PT. Minamas Plantation dalam waktu 3 bulan terhitung mulai dari tanggal 13 Februari 2012 sampai dengan 13 Mei 2012. Kegiatan magang mencakup kegiatan aspek teknis dan manajerial, baik di lapangan maupun di kantor. Aspek teknis yang penulis lakukan antara lain mengikuti dan melaksanakan proses pemupukan mulai dari tahap penguntilan pupuk di gudang hingga penaburan pupuk di pokok, proses panen tandan buah segar (TBS) di lapangan hingga proses penyortiran di pabrik, proses pemeliharaan lapangan seperti pengendalian gulma dengan aplikasi herbisida dan menanam tanaman inang untuk predator (tumbuhan yang bermanfaat). Penulis memiliki kesempatan untuk mengikuti kegiatan pembibitan mulai dari tahap seleksi bibit hingga penanaman bibit di baby bag. Penulis juga melakukan aspek manajerial seperti membantu krani divisi memasukkan data semua pekerjaan di Divisi IV PSE secara on line menggunakan aplikasi System, Application and Product (SAP), membantu staf dalam persiapan pelatihan auditor Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Penulis membantu Asisten Divisi IV PSE dan tim legal untuk mencari dan merapikan seluruh arsip yang diminta oleh pihak auditor. Penulis mengamati manajemen pemupukan di PSE dan membandingkan pengorganisasiannya dengan Gunung Sari Estate (GSE). Berdasarkan data di GSE didapatkan hasil dalam jarak tempuh 603 m maka penabur dapat menabur 128 pokok sedangkan di PSE seorang penabur harus menempuh jarak 1 062 m untuk dapat menabur 128 pokok. Sistem penaburan pupuk Blok Manuring System (BMS) di PSE dapat digolongkan tidak efisien karena seorang penabur harus mengeluarkan tenaga lebih banyak dibandingkan karyawan penabur pupuk di GSE. Pemupukan yang efektif dan efisien selalu mengacu pada konsep empat tepat (4 T) yaitu tepat jenis, dosis, cara, dan waktu aplikasi. Kebun PSE menggunakan pupuk tunggal seperti Urea, MOP dan RP. Penggunaan pupuk tunggal merupakan keputusan yang tepat karena lebih efisien dari segi ekonomi. Pada pengamatan tepat dosis kebun PSE sudah tergolong tepat dosis karena penggunaan sistem untilan yang dapat mengontrol ketepatan dosis, namun perlu diadakan penyesuaian takaran untilan untuk pemupukan yang lebih efisien. Cara penaburan pupuk di kebun PSE pada awalnya kurang tepat dimana penaburan pupuk tidak mencapai daerah belakang pokok sedangkan akar aktif juga terdapat disana. Pengarahan oleh penulis mampu meningkatkan ketepatan cara penaburan pupuk namun prestasi kerja menurun. Hal ini dapat diperbaiki dengan cara memperbaiki sistem kerja penaburan pupuk di PSE. Pemupukan di PSE masih belum memenuhi kriteria tepat waktu dimana pada semester 2 pemupukan MOP dilakukan 2 kali karena pupuk MOP semester 1 belum diaplikasi. Kriteria tepat waktu menjadi penting karena terkait dengan efisiensi dan efektifitas pemupukan. Keterlambatan pemupukan dapat terjadi antara lain karena keterlambatan datangnya pupuk dan curah hujan yang tinggi di bulan Oktober hingga Desember. Penulis juga melakukan pengamatan terhadap aplikasi pupuk organik. Pengaplikasian janjang kosong di PSE mampu meningkatkan total produksi per ha setiap blok. Meningkatnya sumber unsur hara pada setiap pokok belum diikuti dengan penurunan dosis aplikasi sehingga biaya pemeliharaan per satuan luas lahan bertambah tinggi. MANAJEMEN PEMUPUKAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI PINANG SEBATANG ESTATE, PT. ANEKA INTIPERSADA, PT. MINAMAS PLANTATION, SIAK, RIAU Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor RUDY RYANTO A24080153 DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 Judul : MANAJEMEN PEMUPUKAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI PINANG SEBATANG ESTATE, PT. ANEKA INTIPERSADA, PT. MINAMAS PLANTATION, SIAK, RIAU Nama : RUDY RYANTO NIM : A24080153 Menyetujui, Dosen Pembimbing Dr. Ir. Ahmad Junaedi, MSi NIP. 19681101 199302 1 001 Mengetahui, Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr. NIP. 19611101 198703 1 003 Tanggal Lulus : RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 4 September 1990. Penulis merupkan anak pertama dari dua bersaudara dari bapak Baeni dan ibu Triyatmi. Tahun 2002 penulis lulus dari SDN 04 Kalisari, kemudian pada tahun 2005 penulis menyelesaikan studi di SMPN 179 Jakarta. Pada tahun 2008 penulis lulus dari SMAN 39 Jakarta. Penulis kemudian diterima di Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor pada tahun 2008 melalui jalur SNMPTN. Penulis aktif di organisasi kemahasiswaan sebagai wakil ketua umum Himpunan Mahasiswa Agronomi (Himagron) pada tahun 2009/2010 dan kemudian menjadi ketua umum Himagron pada tahun 2010/2011. Penulis juga aktif mengikuti kegiatan Himpunan Mahasiswa Agronomi Indonesia pada tahun 2009 – 2011. Pada kegiatan akademik penulis menjadi asisten praktikum mata kuliah Dasar-dasar Agronomi (AGH 200) dan Manajemen Air dan Hara Tanaman (AGH 322) pada tahun 2011. Penulis mendapatkan beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik sejak tahun 2008. Pada tahun 2011 penulis mendapatkan beasiswa dari perusahaan Minamas Plantation, Sime Darby Group. KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kesempatan dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Pinang Sebatang Estate, PT. Aneka Intipersada, PT. Minamas Plantation, Siak, Riau”. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada : 1. Ibu Triyatmi dan Bapak Baeni serta keluarga besar yang telah memberikan doa, dukungan dan semangat selama menjalankan studi di IPB. 2. Dr. Ir. Ahmad Junaedi, MSi selaku dosen pembimbing skripsi dan akademik yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama penulis menimba ilmu di Departemen Agronomi dan Hortikultura hingga penulis menyelesaikan skripsi ini. 3. Dr.Ir. Sudradjat, MS dan Dr.Ir. Hariyadi, MS, selaku dosen penguji, atas saran dan masukan yang telah diberikan untuk perbaikan skripsi ini. 4. Saudara Topan dan Aris, Bapak Supriadi, Egianta, Waldi, Bayu, Rahmat serta seluruh karyawan Pinang Sebatang Estate yang telah membantu penulis selama kegiatan magang berlangsung. 5. Minamas Plantation atas segala dukungan untuk pengembangan diri penulis. 6. Keluarga HATORI : Shely, Iput, Taufiq, Pungki, Pandu, Hafizh serta Keluarga NIU : Salman, Andi, Priyo, Mitha, Nita, Shella, Widya, Ucha, Nadia serta Jundana yang telah mengisi hari-hari penulis. 7. Kawan-kawan mahasiswa Agronomi IPB maupun Indonesia yang telah banyak bertukar pikiran dengan penulis. Bogor, September 2012 Penulis DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ...................................................................................... vii DAFTAR GAMBAR ............................................................................ ..... viii DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... ix PENDAHULUAN ...................................................................................... Latar Belakang ................................................................................. Tujuan .............................................................................................. 1 1 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. Klasifikasi dan Botani Kelapa Sawit ............................................... Syarat Tumbuh ................................................................................. Pemupukan ....................................................................................... Konsep Empat Tepat ........................................................................ 3 3 4 4 6 METODE MAGANG ................................................................................. Tempat dan Waktu ........................................................................... Metode Pelaksanaan ......................................................................... Pengumpulan Data dan Informasi .................................................... Analisis Data dan Informasi ............................................................. 8 8 8 9 10 KEADAAN UMUM LOKASI MAGANG .............................................. Letak Geografis dan Administratif ................................................ Luas Hak Guna Usaha dan Tata Guna Lahan ................................ Keadaan Tanah dan Iklim .............................................................. Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan ...................................... Keadaan Tanaman dan Produksi .................................................... Fasilitas Kesejahteraan Karyawan ................................................. 11 11 11 12 13 14 15 PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG ............................................ Aspek Teknis .................................................................................. Aspek Manajerial ........................................................................... 17 17 42 HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................... Pengorganisasian Pemupukan .......................................................... Efektivitas Pemupukan..................................................................... Defisiensi Unsur Hara Tanaman ...................................................... Aplikasi Pupuk Organik ................................................................... 45 45 47 54 55 KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... Kesimpulan ...................................................................................... Saran ................................................................................................. 58 58 58 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 59 LAMPIRAN ................................................................................................ 61 DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1. Jumlah dan Cara Penentuan Pohon Contoh pada Sistem Tersebar ........ 5 2. Topografi dan Jenis Tanah di Pinang Sebatang Estate.. ...................... 12 3. Populasi Tanaman Kelapa Sawit Berdasarkan Tahun Tanam di Pinang Sebatang Estate ....................................................................... 14 4. Produksi dan Produkitivitas Tandan Buah Segar di Pinang Sebatang Estate. .................................................................................................. 14 5. Kriteria Tandan Buah Segar dan Batas Toleransi ............................... 19 6. Pengamatan Tepat Dosis Pupuk MOP. ............................................... 49 7. Pengamatan Tepat Dosis Pupuk Urea ................................................. 51 8. Perbandingan Kebutuhan Pupuk dan Jumlah Pupuk Tersedia per Pasar dengan Bobot Untilan yang Berbeda......................................... 51 9. Pengamatan Prestasi Kerja Sebelum dan Setelah Pengarahan Penulis 52 10. Curah Hujan Juli 2011 – Januari 2012. .............................................. 53 11. Waktu Kedatangan Pupuk, Waktu Aplikasi Rekomendasi serta Waktu Realisasi Pemupukan ............................................................ 54 12. Pengamatan Visual Defisiensi Hara. ................................................. 54 13. Dosis Pupuk, Total Aplikasi Janjang Kosong, Total Produksi. ........ 56 DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1. Suasana Antrian Pagi Supervisi Panen terhadap Karyawan Panen ... 17 2. Penomoran pada Tandan Buah Segar dan Brondolan ......................... 25 3. Cara Kerja Tim Semprot Mandoran A dan Mandoran B .................... 29 4. Rumah Blok Spraying System ............................................................. 30 5. Pemanfaatan Agen Biologis Burung Hantu ........................................ 31 6. Beneficial Plant ................................................................................... 32 7. Proses Pembibitan ............................................................................... 33 8. Pengambilan Leaf Sampling Unit ....................................................... 35 9. Diagram Alur Permintaan dan Penerimaan Pupuk Pinang Sebatang Estate. ................................................................................................. 38 10. (a) Penyimpanan Pupuk, (b) Peguntilan Pupuk , (c) Pemuatan Pupuk .................................................................................................. 39 11. (a) Alat Penabur dan Penakar Pupuk, (b) Penaburan Pupuk ............. 40 12. Area Buffer Zone ............................................................................... 41 13. Cara Kerja Pemupukan Blok Manuring System di Gunung Sari Estate ................................................................................................ 45 14. Cara Kerja Pemupukan Blok Manuring System di Pinang Sebatang Estate. ............................................................................................... 46 DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Jurnal Kegiatan Magang di Pinang Sebatang Estate, PT. Aneka Intipersada, PT. Minamas Plantation, Maredan, Riau. ...................... 61 2. Peta Areal Statement Kebun Pinang Sebatang................................... 66 3. Curah Hujan di Pinang Sebatang Estate tahun 2002 – 2011. ............ 67 4. Struktur Organisasi di Pinang Sebatang Estate. ................................. 68 5. Jumlah Karyawan Staf dan non Staf. ................................................. 69 6. Rekapitulasi Program Pemupukan Tahun 2005-2011 di Pinang Sebatang Estate. ................................................................................................. 70 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Produksi minyak nabati dunia pada tahun 1981 mencapai 41 895 000 metrik ton, di antaranya 5 185 000 metrik ton (12.5%) berasal dari minyak sawit dan minyak inti sawit (Setyamidjaja, 2006). Sebanyak 85% lebih pasar dunia kelapa sawit dikuasai oleh Indonesia dan Malaysia. Kebutuhan buah kelapa sawit meningkat tajam seiring dengan meningkatnya kebutuhan Crude Palm Oil (CPO) dunia. Luas areal perkebunan kelapa sawit Indonesia pada tahun 2010 mencapai 7.8 juta ha dengan produksi total 19.8 juta ton (Ditjenbun, 2010). Pengembangan kelapa sawit di Indonesia tidak lagi mengandalkan perluasan lahan karena lahan-lahan kelas S1 untuk kelapa sawit sudah dioptimalkan. Peningkatan produktivitas menjadi alternatif cara untuk mengembangkan produksi kelapa sawit Indonesia. Produktivitas kelapa sawit Indonesia dapat dioptimalkan dengan cara memperbaiki cara pemeliharaan kelapa sawit (Depkominfo, 2010). Tanaman kelapa sawit umumnya menempati tanah-tanah yang bereaksi masam sampai agak masam. Tanah-tanah tersebut memiliki tingkat kesuburan kimia yang rendah, tetapi kesuburan fisiknya umumnya cukup baik (Poeloengan et al., 2003). Pemupukan secara berkesinambungan menjadi satu keharusan utuk mendukung produktivitas tanaman yang cukup tinggi mengingat kelapa sawit tergolong tanaman yang sangat konsumtif terhadap unsur hara. Tercapainya produksi tandan buah segar (TBS) yang optimal dan kualitas minyak yang baik merupakan tujuan dari pemupukan tanaman kelapa sawit (Sutarta et al., 2003). Pupuk harus dapat digunakan secara efisien dan tepat sasaran. Beberapa hal yang harus diperhatikan agar pemupukan dapat efisien dan tepat sasaran adalah meliputi penentuan jenis pupuk, dosis pupuk, metode pemupukan, waktu dan frekuensi pemupukan, serta pengawasan mutu pupuk (Winarna et al., 2003). Perkembangan teknologi pemupukan tanaman kelapa sawit sangat pesat. Perkembangan teknologi tersebut dapat terlihat dari beragamnya jenis atau tipe pupuk, usaha perbaikan metode penetapan dosis pupuk, pemilihan metode pemupukan yang tepat, dan penentuan waktu dan frekuensi dalam aplikasi pupuk 2 (Winarna et al., 2003). Manajemen pemupukan yang menerapkan berbagai teknologi pemupukan diharapkan meningkatkan produksi tanaman kelapa sawit. Tujuan Kegiatan magang ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman mahasiswa dalam aspek budidaya tanaman kelapa sawit dengan memahami dan menghayati proses kerja budidaya tanaman kelapa sawit secara nyata di lapangan. Tujuan secara khusus pada magang ini adalah untuk mempelajari manajemen pemupukan pada tanaman kelapa sawit yang terdapat di Pinang Sebatang Estate, PT. Minamas Plantation, Riau. 3 TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Botani Kelapa Sawit Kelapa sawit berasal dari benua Afrika. Delta Nigeria merupakan tempat dimana fosil tepung sari dari kala miosen yang bentuknya sangat mirip dengan tepung sari kelapa sawit sekarang. Spesies-spesies liar yang ada di Amerika diasumsikan keluar dari Afrika mengikuti perjalanan manusia pada zaman prasejarah (Pahan, 2006). Dalam dunia botani, semua tumbuhan diklasifikasikan untuk memudahkan dalam identifikasi secara ilmiah. Taksonomi kelapa sawit dapat diuraikan sebagai berikut : Divisi : Embryophyta Siphonagama Kelas : Angiospermae Ordo : Monocotyledonae Famili : Areraceae Sub Famili : Cocoideae Genus : Elaeis Spesies : E. gueneensis Jacq. Tanaman kelapa sawit termasuk ordo monokotil. Bagian vegetatif kelapa sawit meliputi akar (radix), batang (caulis), dan daun (folium). Akar keluar dari pangkal batang sangat banyak jumlahnya dan terus bertambah banyak dengan bertambahnya umur tanaman. Batang kelapa sawit tumbuh tegak lurus ke atas dan berbentuk slindris. Perakaran kelapa sawit terbagi menjadi akar primer, akar sekunder, akar tersier, dan akar kuartener. Secara alamiah (pertumbuhan di hutan), tinggi batang dapat mencapai 30 m, tetapi secara komersial (dalam budidaya perkebunan) jarang sekali tinggi tanaman kelapa sawit melebihi 15 - 18 m. Hal ini berhubungan dengan kemudahan pelaksanaan pemanenan buah dan pemeliharaan lainnya. Daun kelapa sawit bersirip genap dan bertulang sejajar. Panjang pelepah daun dapat mencapai 9 m, tergantung pada umur tanaman. Pada satu pohon kelapa sawit yang normal dan sehat umumnya terdapat 40 – 50 pelepah daun (Setyamidjaja, 2006). 4 Syarat Tumbuh Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh pada areal yang memiliki curah hujan di atas 2 000 mm dan merata sepanjang tahun. Hujan tidak turun selama 3 bulan menyebabkan pertumbuhan kuncup daun terhambat sampai hujan turun. Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman heliofil atau menyukai cahaya matahari. Penelitian menunjukkan pada bulan-bulan yang penyinaran mataharinya lebih panjang mempunyai kolerasi positif dengan produksi kelapa sawit. Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, yang penting tidak kekurangan air pada musim kemarau dan tidak tergenang pada musim hujan (drainase baik). Tanah-tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit banyak terdapat di daerah tropis seperti latosol dan alluvial (Sastrosayono, 2003). Pemupukan Pemupukan merupakan suatu upaya untuk menyediakan unsur hara yang cukup guna mendorong pertumbuhan vegetatif tanaman yang sehat dan produksi TBS secara maksimum dan ekonomis, serta ketahanan terhadap hama dan penyakit. Selain itu untuk mencapai kondisi tanah yang subur maka perlu kombinasi pemakaian pupuk organik dan an organik. Pemupukan yang baik mampu meningkatkan produksi hingga mencapai produktivitas standar sesuai dengan kelas kesesuaian lahannnya (Sutarta et al., 2003). Pengambilan contoh daun dan tanah bertujuan untuk memperoleh data tentang kandungan unsur-unsur hara dalam daun dan tanah melalui analisis laboratorium. Pengambilan contoh daun harus mewakili kondisi hara tanaman dalam satu leaf sampling unit (LSU). Menurut Sutarta et al. (2003) pohon-pohon yang akan digunakan sebagai pohon contoh harus memiliki berbagai persyaratan antara lain : 1. Pohon-pohon contoh adalah pohon-pohon normal, pohon sakit dihindarkan dan sebagai gantinya dipilih pohon berikutnya, 2. Pohon-pohon yang tumbuh di pinggir jalan dan parit dihindarkan, sebagai gantinya pilih 3 pohon berikutnya, 3. Tidak berdekatan dengan areal terbuka, dan 5 4. Pohon contoh terpilih diberi tanda dengan menggunakan cat pada batangnya Sebaran pohon contoh harus disesuaikan dengan luas satu LSU. Penentuan pohon contoh dengan sistem tersebar dapat disusun dengan interval pemilihan pohon yang disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Jumlah dan Cara Penentuan Pohon Contoh pada Sistem Tersebar Jumlah Pohon Contoh Cara penentuan pohon Luas Jumlah (ha) Pohon Pohon % 5 7 15 28 4 setiap 5 pohon selang 5 baris 10 1 430 29 2 setiap 5 pohon selang 10 baris 15 2 135 30 1.43 setiap 5 pohon selang 10 baris 20 2 860 28 1 setiap 10 pohon selang 10 baris 25 3 575 29 0.83 setiap 10 pohon selang 12 baris 30 5 290 30 0.59 setiap 10 pohon selang 15 baris 35 6 000 31 0.5 setiap 10 pohon selang 16 baris Sumber : Buku Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit (Sutarta, 2003) Pengambilan contoh daun harus menggambarkan keadaan unsur hara pohon sawit. Menurut hasil penelitian ternyata daun ke 17 adalah yang paling sesuai. Jika karena suatu keadaan daun ke 17 rusak pada suatu tanaman maka diambil daun ke 9 pada seluruh pohon contoh dalam LSU tersebut. Dari daun contoh diambil sebanyak 8 sampai 12 helai anak daun (4 atau 6 helai dari sebelah kiri dan 4 atau 6 buah dari sebelah kanan). Anak daun yang diambil adalah bagian tengah 10-20 cm lalu dibersihkan dengan kapas atau kain yang sudah dicelupkan ke dalam aquadest. Tulang anak daun/lidi dibuang (Sutarta et al., 2003). Pengambilan contoh tanah kesuburan ini bertujuan untuk mengetahui kandungan hara dalam tanah pada lapis olah (berkisar 0-20 cm) untuk mendukung penyusunan rekomendasi pemupukan tanaman kelapa sawit. Contoh tanah untuk kesuburan tersebut diambil dari dalam dan luar piringan tanaman kelapa sawit. Pengambilan contoh tanah dilakukan di sekitar pohon Leaf Sampling Unit (LSU). Jumlah contoh tanah mencakup sekitar 25-50% dari jumlah LSU. Menurut Sutarta et al. (2003) contoh tanah diambil dari setiap tahun yang sama, jika tahun sama : a. Diambil satu contoh tanah untuk setiap tahun tanam b. Satu contoh tanah diambil gabungan beberapa tahun tanam yang umurnya tidak jauh berbeda. 6 Konsep Empat Tepat Pemupukan yang efektif dan efisien selalu mengacu pada konsep empat tepat (4 T) yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat cara, dan tepat waktu aplikasi (Poeloengan et al., 2003). Sedangkan untuk memperbaiki kondisi lahan dapat dilakukan melalui aplikasi bahan organik seperti limbah pabrik kelapa sawit (PKS). Pemilihan jenis pupuk harus mempertimbangkan dari segi teknis dan ekonomis. Menurut Poeloengan et al. (2003), beberapa dasar pertimbangan dalam penentuan jenis pupuk antara lain umur tanaman, gejala defisiensi hara, kondisi lahan, dan harga pupuk. Pengetahuan teknis tentang sifat pupuk dan sifat tanah serta dimana pupuk akan diaplikasikan akan sangat menentukan efisiensi pemupukan. Dosis didapat dari hasil analisis daun dan tanah. Pengambilan sampel daun biasanya pada daun ke-17 karena daun ke-17 merupakan daun paling peka yang menunjukkan perbedaan paling besar dalam tingkat hara N, P, dan K (Chapman dan Gray, 1949). Kebutuhan tanaman terhadap pupuk berbeda-beda tiap umur tanaman. Tanaman muda umumnya lebih responsif terhadap pemupukan bila dibandingkan tanaman tua. Menurut Lubis (1992), kebutuhan tanaman akan pupuk pada Tanaman Menghasilkan (TM) lebih besar dibandingkan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) karena sebagian besar energi pada TM digunakan untuk generatif sedangkan pada TBM digunakan untuk pertumbuhan. Hakim (2007) menyatakan bahwa ada beberapa cara pemupukan yang biasa digunakan: a) Suface application (Top dressing; broadcast atau disebar di atas tanah langsung) b) Furrow application (di dalam rorak-rorak/ di pinggir guludan) c) Sub soil placement (pocket/ dibenam) d) Soil injection (dimasukkan ke dalam tanah, biasanya dalam bentuk cairan) e) Stem injection (langsung dimasukkan ke dalam batang/ kambium sedikit demi sedikit) f) Nutritional spray (follar spray/melalui daun) 7 Waktu pemupukan ditentukan oleh iklim terutama curah hujan. Selain itu juga ditentukan oleh sifat fisik tanah, pengadaan pupuk, serta sifat sinergis dan antagonis antar unsur hara. Pemupukan akan efektif dilaksanakan jika tanah mengandung air yaitu pada awal musim hujan atau akhir musim hujan. Pada saat musim hujan tidak dianjurkan dilakukan pemupukan karena zat hara akan mengalir (run off) ke tempat yang lebih rendah dan ke sungai. Pagi sampai siang hari merupakan waktu yang optimal untuk aplikasi pemupukan di lapangan. Idealnya aplikasi pemupukan dilaksanakan pada saat akar dalam kondisi baik, artinya tanah dalam keadaan lembab atau basah. Pada musim yang kemaraunya di bawah 1 bulan, pemupukan dapat dilaksanakan kapan saja dengan frekuensi di atas 2 kali per tahun. Pada daerah dengan musim kemarau di atas 3 bulan, aplikasi pemupukan harus disesuaikan dengan kondisi perakaran kelapa sawit (Hakim, 2007). 8 METODE MAGANG Tempat dan Waktu Kegiatan magang ini dilaksanakan di Pinang Sebatang Estate (PSE), PT. Aneka Intipersada, PT. Minamas Plantation, Riau. Magang dilaksanakan selama tiga bulan dimulai tanggal 13 Februari sampai 13 Mei 2012. Metode Pelaksanaan Penulis melaksanakan kegiatan magang dengan mengikuti kegiatan praktek teknis di lapangan dan kegiatan manajerial baik di perkebunan maupun di kantor. Jurnal kegiatan magang disajikan pada Lampiran 1. Aspek teknis yang penulis lakukan selama kegiatan magang berlangsung yaitu mengikuti dan melaksanakan proses pemupukan mulai dari tahap penguntilan pupuk di gudang hingga penaburan pupuk di pokok, proses panen tandan buah segar (TBS) di kebun hingga proses sortir di pabrik, proses pemeliharaan kebun mulai dari pengendalian gulma dengan aplikasi herbisida, penanaman tanaman inang predator (beneficial plant) hingga tunas pasar serta penulis berkesempatan mengikuti proses pembibitan dimulai dari persiapan areal pembibitan, sortir bibit hingga penanaman bibit ke baby bag. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan mengikuti waktu dan jadwal yang telah ditentukan oleh Asisten Divisi IV PSE. Penulis juga melakukan aspek manajerial diantaranya membantu krani divisi untuk menginput data seluruh kegiatan di Divisi IV PSE secara on line menggunakan aplikasi System, Aplication and Product (SAP), mengikuti dan membantu staff PT Aneka Intipersada dalam persiapan dan pelaksanaan pelatihan auditor Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), serta mengikuti dan membantu pengorganisasian supervisi sebelum berangkat bekerja dalam apel pagi. Aspek khusus yang penulis lakukan adalah mengamati pengelolaan pemupukan di PSE terutama di Divisi IV. Divisi IV PSE menjadi tempat yang penulis pilih untuk pengambilan data dan informasi pengelolaan pemupukan karena seluruh manajemen pemupukan PSE terdapat di Divisi IV. 9 Pengumpulan Data dan Informasi Secara garis besar metode pelaksanaan magang di lapangan adalah pengumpulan data dan informasi yang dilakukan dengan metode langsung dan tidak langsung. Pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan mengambil data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung melalui pengamatan yang dilakukan oleh penulis selama berada di lapangan. Kegiatan ini meliputi ketepatan jenis dan dosis pupuk, ketepatan waktu dan cara aplikasi pemupukan, proses penetapan dosis aplikasi untuk leaf sampling unit (LSU), jumlah tenaga kerja dalam kegiatan pemupukan, dan gejala defisiensi hara tanaman, serta dilakukan kegiatan diskusi dengan petugas gudang, KHL, mandor, dan asisten kebun. Data sekunder diperoleh dari data kebun yang diberikan oleh kepala kantor kebun dan dari studi pustaka. Penulis juga mengambil data sekunder seperti data curah hujan, kondisi tanaman, data produksi dan produktifitas serta data yang terkait dengan pemupukan, struktur organisasi, dan ketenagakerjaan. Pengamatan yang dilakukan oleh penulis yang berkaitan dengan aspek pemupukan antara lain : 1. Ketepatan dosis pupuk. Data ini diperoleh dari pengamatan terhadap 4 orang penabur pupuk pada satu blok. Setiap penabur pupuk penulis mengamati penabur pupuk hingga pasar tengah atau sekitar 32 pokok. 2. Ketepatan jenis pupuk. Data ini diperoleh dari penggunaan jenis pupuk di PSE kemudian dibandingkan kelebihan dan kekurangan jika menggunakan jenis pupuk yang lain. 3. Ketepatan waktu pemupukan. Penulis mengamati data kebun terkait waktu kedatangan pupuk dan curah hujan kemudian penulis mengaitkan dengan realisasi waktu pemupukan di PSE. 4. Ketepatan cara pemupukan. Penulis mengamati cara penaburan pupuk dan metode pemupukan yang dilakukan di PSE kemudian penulis membandingkan dengan standar penaburan pupuk serta dengan metode penaburan pupuk di kebun yang lain. 5. Defisiensi unsur hara. Penulis melakukan pengamatan secara visual terhadap 3 blok di Divisi IV PSE yaitu blok D24, D25 dan C26. 10 6. Aplikasi janjang kosong. Penulis mengamati produktivitas blok yang telah diaplikasi janjang kosong dengan blok yang belum diaplikasi. Analisis Data dan Informasi Pengolahan data dilakukan dengan membandingkan ketepatan dosis, jenis, waktu, serta cara aplikasi pemupukan untuk dibandingkan dengan studi pustaka. Penulis juga membandingkan metode penaburan pupuk di PSE dengan kebun lain yang masih dalam manajemen Minamas Plantation. Penulis juga membandingkan produktivitas blok yang telah diaplikasi janjang kosong dengan blok yang belum diaplikasi janjang kosong. 11 KEADAAN UMUM LOKASI MAGANG Letak Geografis dan Administratif Pinang Sebatang Estate berada di Desa Maredan, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Pinang Sebatang Estate merupakan bagian dari PT Aneka Intipersada yang memiliki 3 kebun dengan 1 pabrik kelapa sawit. PT Aneka Intipersada merupakan kebun Minamas Plantation yang paling dekat dengan ibukota provinsi yaitu sekitar ± 40 km. Letak geografis PT Aneka Intipersada berada di koordinat 0° 32' 25" - 0° 35' 24" LS dan 101° 34' 30" - 101° 39' 21" LU. Ketinggian tempat Pinang Sebatang Estate sekitar ± 52 meter di atas permukaan laut dengan suhu berkisar antara 28° - 32° C. Luas Hak Guna Usaha dan Tata Guna Lahan PT Aneka Intipersada mendapatkan Hak Guna Usaha (HGU) pada tahun 1994 seluas 11 134 ha. Pinang Sebatang Estate memiliki luas areal yang diusahakan seluas 3 246.8 ha dan areal yang tidak diusahakan seluas 860 ha. Jumlah areal Pinang Sebatang Estate yang ditanami tanaman kelapa sawit yang telah menghasilkan (TM) seluas 3 216.8 ha dan areal yang ditanami tanaman belum menghasilkan (TBM) seluas 30 ha. Luasan areal yang digunakan untuk prasarana seluas 119.74 ha. Pinang Sebatang Estate terbagi menjadi 4 divisi. Luas areal yang ditanami pada Divisi I seluas 758.33 ha, Divisi II seluas 741.62, Divisi III seluas 882.89 ha, dan Divisi IV seluas 863.96 ha. Peta Areal Statement Pinang Sebatang Estate disajikan pada Lampiran 2. Pinang Sebatang Estate memiliki penomoran blok lama dan baru. Penomoran blok baru digunakan untuk meminimimalkan nomor blok. Divisi I PSE pada penomoran blok lama terdiri dari blok B0 – B1, C0 – C9, D0 – D8, dan E4 – E8, sedangkan pada penomoran blok baru Divisi I PSE terdiri dari C001 – C006 dan D002 – D005. Divisi II PSE pada penomoran blok lama terdiri dari blok A2 – A12, B3 – B11, sedangkan pada penomoran blok baru Divisi II PSE terdiri dari A001 – A006 dan B003 – B006. Divisi III PSE pada penomoran blok lama terdiri dari blok A13 – A27, B13 – B20, sedangkan pada penomoran blok baru 12 Divisi III PSE terdiri dari A007 – A013 dan B007 – B010. Divisi IV PSE pada penomoran blok lama terdiri dari blok B21 – B26, C14 – C26, D15 – D26, sedangkan pada penomoran blok baru Divisi IV PSE terdiri dari B011 – B013, C008 – C013, dan D009 – D013. Keadaan Tanah dan Iklim Curah hujan rata-rata di PSE dari tahun 2002 sampai 2011 adalah 2 128 mm/tahun. Data curah hujan PSE tahun 2002 – 2011 disajikan pada Lampiran 3. Curah hujan tertinggi umumnya terjadi pada bulan Desember dengan rata-rata 232 mm/bulan. Menurut klasifikasi Schmidth-Ferguson kondisi iklim di Pinang Sebatang Estate termasuk dalam klasifikasi iklim A yaitu daerah sangat basah karena dengan rata-rata bulan basah (BB) sebanyak 10 bulan dan bulan kering (BK) 1 bulan maka didapatkan nilai Q sebesar 10%. Ketentuan tipe iklim A pada ketetapan Schmidth-Ferguson adalah 0.5% – 14.3%. Keadaan topografi dan jenis tanah di PSE disajikan pada Tabel 2. Pada Tabel 2 terlihat bahwa tanah di PSE didominasi tanah mineral yang mencapai 95.29%. Topografi berbukit di PSE mencapai 94.55%. Tanah gambut di PSE terdapat di Divisi I PSE. Tabel 2. Topografi dan Jenis Tanah di Pinang Sebatang Estate Uraian Luas Areal ha Berbukit 3 068 Topografi Datar 126 Bergelombang 51 Total 3 245 Mineral 3 092 Jenis Tanah Gambut 153 Total 3 245 Sumber : Data Kantor Kebun Pinang Sebatang Estate, 2012 % 94.55 3.88 1.57 100 95.29 4.71 100 13 Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan Pinang Sebatang Estate dipimpin oleh Senior Manager dengan tugas umum sebagai berikut : 1 Mengelola seluruh kegiatan, aset dan sumberdaya yang berada di bawah pengawasannya. 2 Mempersiapkan rencana jangka pendek, menengah dan jangka panjang. 3 Merencanakan, mempersiapkan, melaksanakan, mengawasi, dan mengevaluasi : pengembangan areal baru sesuai dengan jadwal pemeIiharaan tanaman dan non-tanaman serta panen sehingga dicapai biaya yang ekonomis. 4 Mengantisipasi kemungkinan kejadian yang merugikan perusahaan. 5 Menciptakan dan menumbuhkan sense of belonging seluruh personil terhadap perusahaan. Pinang Sebatang Estate dipimpin oleh Senior Manager dibantu oleh satu orang Senior Asisten, tiga orang Asisten dan satu orang Kepala Administrasi (Kasie). Kasie bertanggungjawab terhadap administrasi kebun. Kepala Administrasi membawahi seluruh pegawai kantor besar dan gudang sentral. Kasie bekerjasama dengan senior asisten maupun asisten menyediakan segala kebutuhan kebun maupun traksi. Struktur Organisasi PSE disajikan pada Lampiran 4. Senior Asisten di PSE bertanggung jawab atas Divisi III, traksi, serta bekerjasama dengan Kepala Administrasi mengelola gudang. Senior Asisten juga bertugas mengkoordinasikan seluruh asisten divisi. Senior Asisten menjadi penanggungjawab sementara (PJS) kebun jika Senior Manager sedang tidak berada di kebun. Asisten divisi memiliki tugas umum mengelola seluruh kegiatan operasional di divisi sesuai dengan program, biaya yang telah disetujui dan kultur teknis dalam buku Agriculture Reference Manual (ARM). Pelatihan terhadap karyawan baru, membina kesejahteraan karyawan dan memelihara administrasi divisi. Status karyawan di PSE terdiri atas karyawan staf dan karyawan non staf. Karyawan staf meliputi Estate Manager, senior asisten, asisten divisi dan kepala administrasi. Sedangkan karyawan non staf meliputi SKU B dan SKU Harian. Jumlah karyawan PSE disajikan pada Lampiran 5. 14 Keadaan Tanaman dan Produksi Tanaman Kelapa sawit yang terdapat di PSE berasal dari 4 varietas yaitu varietas Marihat, Lonsum, Socfindo serta Guthrie. Varietas marihat mendominasi populasi yang terdapat di PSE. Tanaman kelapa sawit di PSE ditanam dengan menggunakan pola tanam segitiga sama sisi dengan jarak tanam rata-rata 9.2 m x 9.2 m x 9.2 m dengan rata-rata jumlah populasi per ha sejumlah 137 pohon. Tahun tanam di PSE beragam mulai dari tahun tanam 1993 hingga 2001 namun pada Divisi IV PSE hanya terdapat satu tahun tanam yaitu 1994. Jumlah populasi tanaman berdasarkan jarak tanam dapat terlihat pada Tabel 3. Pada Tabel 4 disajikan produksi dan produktivitas di PSE pada tahun 2008 hingga Februari 2012. Tabel 3. Populasi Tanaman Kelapa Sawit Berdasarkan Tahun Tanam di Pinang Sebatang Estate Tahun Tanam Luas (ha) Divisi I Jumlah Tanaman Divisi II Luas Jumlah (ha) Tanaman Divisi III Luas Jumlah (ha) Tanaman 1993 - - 67.73 8 756 - 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2001 Total 135.14 89.45 183.93 154.21 69.38 126.22 758.33 18 463 11 932 25 180 21 772 9 268 19 408 106 023 179.42 94.26 62.65 268.04 69.52 741.63 24 023 12 408 8 582 39 093 10 669 103 531 492.38 390.51 882.89 66 420 54 628 121 048 Divisi IV Luas Jumlah (ha) Tanaman 833.96 833.96 Sumber : Data Kantor Kebun Pinang Sebatang Estate, 2012 Tabel 4. Produksi dan Produkitivitas Tandan Buah Segar di Pinang Sebatang Estate Produksi Produktivitas (ton) (ton/ha/tahun) 2008 -2009 3 283 64 257 19.57 2009 -2010 3 245 58 869 18.14 2010 -2011 3 219 67 474 20.96 2011 - Februari 2012 3 217 46 840 Sumber : Data Kantor Kebun Pinang Sebatang Estate, 2012 Tahun Luas (ha) Berat Janjang Rata-rata (kg) 15.03 15.60 17.11 17.47 108 849 108 849 15 Pada Tabel 4 terlihat berat janjang rata-rata buah sawit di PSE meningkat secara konsisten setiap tahunnya. Pada tahun 2010 – 2011 produktivitas tanaman kelapa sawit meningkat hingga mencapai 20.96 ton/ha. Luas areal PSE mengalami penurunan hal ini dikarenakan sebagian wilayah PSE beralih fungsi menjadi plot tanaman mother plant Minamas Research Center (MRC). Fasilitas Kesejahteraan Karyawan Pinang Sebatang Estate (PSE) memberikan fasilitas kepada karyawan seperti perumahan karyawan. Perumahan karyawan PSE saat ini terdapat di 3 pondok yaitu pondok 1 untuk karyawan Divisi I dan II, pondok 3 untuk karyawan Divisi III dan IV serta emplasmen untuk karyawa traksi, kantor serta beberapa karyawan Divisi IV. Perumahan karyawan PSE saat di emplasment merupakan perumahan baru dengan lantai keramik dan sudah permanen sedangkan untuk pondok 1 dan pondok 2 masih semi permanen dengan dinding kayu. Perumahan karyawan di PSE seluruhnya akan di renovasi menjadi permanen secara bertahap. Fasilitas pendidikan yang terdapat di lokasi PSE adalah Sekolah Dasar (SD) yang terdapat di emplasmen dan juga Taman Kanak-kanak yang terdapat di pondok 1 dan 2. Bis sekolah juga disediakan untuk mengantar dan menjemput anak-anak karyawan bersekolah. Fasilitas olah raga juga diberikan kepada karyawan untuk menjaga kesehatan dan menjadi hiburan karyawan di kebun. Fasilitas seperti lapangan sepak bola, bola voli dan bulu tangkis juga terdapat di lokasi perumahan karyawan. PSE juga mengadakan lomba-lomba olah raga maupun lomba untuk anak-anak yang bertujuan untuk menjaga dinamikan kehidupan di kebun sehingga karyawan tidak mudah jenuh. Fasilitas beribadah disediakan oleh PSE seperti masjid dan gereja. Bilal juga disediakan oleh perusahaan untuk mengajak dan mengingatkan karyawan untuk tetap menjaga keimanan, menjaga kebersihan tempat ibadah dan memberi pendidikan agama kepada anak karyawan. Fasilitas air dan listrik diberikan kepada karyawan dan dikelola oleh masing-masing pondok. Perumahan pondok 1 dan 3 diberi fasilitas listrik terbatas hanya 7 jam namun pada emplasment fasilitas listrik diberikan 24 jam karena aliran listrik menjadi satu dengan kantor besar dan emplasment utama dimana alat-alat di kantor besar membutuhkan listrik 24 jam. 16 Kebun PSE memiliki 1 kantor besar dan 4 kantor divisi. Poliklinik hanya terdapat di Aneka Persada Estate (APE) sedangkan di PSE hanya ada tempat untuk beristirahat. Karyawan yang mendapatkan izin sakit harus berobat ke poliklinik di APE lalu kembali ke PSE untuk beristirahat total di ruang kesehatan hingga jam kerja selesai. Karyawan mendapatkan tunjangan kesehatan gratis, tunjangan beras bagi karyawan tetap (SKU), tunjangan hari raya (THR) dan bonus akhir tahun. Upah pokok karyawan SKU sudah sesuai dengan upah minimum regional dimana upah pokok karyawan SKU sebesar Rp 1 133 500,- / bulan. Setiap karyawan juga mendapatkan asuransi jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek). 17 PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG Aspek Teknis Kegiatan penulis di kebun Pinang Sebatang Estate (PSE) Divisi IV dimulai dari antrian pagi yang dilakukan pada pukul 05.30 – 06.30 setiap harinya. Kegiatan ini dilakukan untuk merencanakan kegiatan yang akan dilakukan pada hari tersebut serta evaluasi kegiatan yang telah dilakukan pada hari kemarin. Kegiatan antrian pagi antara mandor dan asisten divisi dilakukan pada pukul 05.30 – 06.00 setelah itu dilanjutkan antrian pagi untuk mandor dengan anggota masing-masing (Gambar 1). Antrian pagi antara mandor dan asisten selalu dimulai dari Mandor 1 menyampaikan safety briefing dilanjutkan rencana kegiatan hari ini serta evaluasi hari sebelumnya lalu dilanjutkan oleh asisten. Asisten divisi sangat peduli terhadap keselamatan kerja karyawannya sehingga seringkali ketika antrian pagi asisten mengingatkan untuk memakai alat pelindung diri (APD) bagi para mandor maupun karyawan, pengguna sepeda motor juga wajib menggunakan helm Standard Nasional Indonesia (SNI). Mutu buah adalah salah satu hal yang menjadi perhatian utama asisten divisi setiap antrian pagi. Materi antrian pagi tidak hanya pada pekerjaan namun hal sosial masyarakat seperti posyandu maupun acara Pekan Olahraga dan Seni Kebun Pinang Sebatang Estate juga dapat dibahas ketika antrian pagi. Gambar 1. Suasana Antrian Pagi Mandor Panen terhadap Karyawan Panen 18 Senior Manager PSE terkadang mengecek langsung kondisi karyawan di divisi. Senior Manager mengikuti dari awal antrian pagi. Kedisiplinan mandor maupun karyawan menjadi fokus utama Senior Manager PSE. Setiap mandor diwajikan menggunakan jam tangan agar lebih menghargai waktu dan semakin meningkatkan kedisiplinan. Senior Manager PSE juga merangkap sebagai chairman PT Aneka Intipersada sehingga setiap bulan Senior Manager PSE memimpin rapat evaluasi PT Aneka Intipersada. Rapat tersebut membahas mulai dari produksi, kesehatan dan keselamatan kerja (K3), hingga kadar ekstraksi minyak di pabrik. Selama magang penulis mengikuti beberapa kegiatan di kebun antara lain panen, pengendalian gulma, pemupukan, aplikasi janjang kosong, hingga pengambilan sampel daun. Panen Panen merupakan kegiatan inti di suatu perkebunan kelapa sawit. Kegiatan panen dilakukan mulai dari potong buah matang hingga transportasi buah ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Mutu buah merupakan hal yang menjadi fokus utama setiap asisten divisi di PT Aneka Intipersada karena setiap bulannya nilai mutu buah direkapitulasi oleh Plantation Sustanaible Quality Management (PSQM) lalu dibuat peringkat seluruh asisten divisi PT Aneka Intipersada. Pada rapat Strategic Of Unit 16 (SOU16) setiap awal bulan akan diberikan penghargaan kepada 3 divisi yang memiliki nilai teratas dalam mutu buah. Divisi IV. Pinang Sebatang Estate hampir setiap bulan menduduki posisi 3 teratas namun pada bulan Maret Divisi IV turun menjadi peringkat 9 karena ditemukan ada satu hari di bulan Maret buah Divisi IV terkontaminasi pupuk karena dump truck untuk mengangkut buah belum dicuci setelah mengangkut pupuk. Pada bulan April Divisi IV PSE kembali menduduki posisi 3. Kriteria matang panen. Menurut buku Agricultural Reference Manual Minimum Ripeness Standard (MRS) atau Kriteria matang panen didasarkan atas jumlah brondolan yang lepas secara alami dari tandan buah yang matang yaitu sekurang-kurangnya terdapat 5 brondolan per janjang di piringan sebelum panen. Kriteria matang panen akan mempengaruhi kadar ekstraksi minyak (OER) dan 19 kualitas minyak yang diolah. Meningkatnya buah mentah atau buah kurang matang dapat menurunkan kandungan minyak dan menimbulkan masalah semasa proses perebusan dan pemipilan. Meningkatnya buah mentah juga memberikan dampak di kebun. Pemanen yang memotong buah mentah akan cenderung lebih cepat siap borong namun pusingan potong buah akan terlambat. Buah masak yang seharusnya dipanen pada hari itu menjadi tertinggal di pokok dan akan terus membrondol sehingga pada pusingan berikutnya buah akan terlampau masak bahkan sebagian telah membusuk sehingga menjadi buah busuk. Persentase brondolan yang meningkat menyebabkan output pemanen memotong buah menjadi turun akibat waktu pemanen banyak tersita untuk mengutip brondolan. Pada kondisi demikian pemanen akan kembali memotong buah mentah untuk mengejar siap borong karena memotong buah mentah tidak perlu mengutip brondolan akibatnya pusingan semakin bertambah terlambat. Kebun Pinang Sebatang Estate sangat tegas menghadapi buah mentah. Pada Divisi IV buah mentah yang terkirim ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) akan dikenakan denda sebesar 10 000 rupiah kepada pemanen dan pemanen diwajibkan mengambil buah mentah tersebut ke PKS. Kebijakan berbeda diterapkan di Divisi III PSE karena buah mentah yang cukup sering ditemukan di PKS dan pusingan yang tinggi sehingga denda kepada pemanen yang memotong buah mentah dinaikkan menjadi 25 000 rupiah. Minamas Plantation menjaga kualitas buah dengan cara buah yang boleh dipotong minimum 10 brondolan per janjang. TBS yang dipanen akan dikelompokkan dan diberikan batas toleransi disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Kriteria Tandan Buah Segar dan Batas Toleransi Kriteria Unripe (mentah) Batas Toleransi 0% (1-4 brondolan yang lepas per janjang) Under ripe (kurang matang) (5-9 brondolan yang lepas per janjang) 95 %) Longstalk (gagang panjang) 0% (panjang gagang lebih dari 5 cm) Old bunch (buah restan) 0% (lebih dari 48 jam) Sumber : Buku Agricultural Reference Manual (Minamas Plantation, 2008) Kebutuhan tenaga panen. Kebutuhan tenaga kerja di Divisi IV Pinang Sebatang Estate berdasarkan luas areal Divisi IV PSE. Pada awal bulan Februari Divisi IV PSE mengalami kekurangan karyawan panen, dimana perbandingan karyawan dengan luas areal tidak ideal. Perbandingan karyawan dengan luas areal yang ideal pada kondisi topografi berbukit adalah 1 : 18 + 10% karyawan panen, namun pada awal bulan Februari perbandingan karyawan dengan luas areal mencapai 1 : 20 yang artinya 1 karyawan bertanggung jawab atas 20 ha dalam satu pusingan panen. Jumlah karyawan panen Divisi IV PSE pada awal bulan Februari adalah 834 ha / 20 ha/HK = 41 karyawan panen, sedangkan jumlah karyawan ideal untuk areal bergelombang adalah 834 ha / 18 ha/HK + (10 % Karyawan Panen) = 46 + (10% x 46) = 46 + 5 = 51 karyawan panen. Jumlah karyawan yang tidak ideal pada bulan Februari menyebabkan pusingan yang tinggi. Jumlah karyawan kembali normal di akhir bulan Februari karena masuknya tenaga kerja panen baru sehingga pusingan panen yang tinggi berkisar 11 – 12 hari berangsur turun di bulan Maret hingga normal pada pertengahan bulan Maret yaitu 9 hari. 21 Alat panen. Pokok sawit di areal Pinang Sebatang Estate didominasi oleh tahun tanam 1994, sedangkan pokok sawit dengan tahun tanam termuda yaitu 2001 sehingga seluruh areal PSE menggunakan egrek sebagai alat panen. Alat bantu panen yang digunakan selain egrek di kebun PSE adalah angkong, kapak, goni eks pupuk yang telah dicuci hingga tidak ada bahan kimia tersisa, gancu, tojok, stempel dan pewarna makanan. Berikut ini merupakan alat panen dengan penggunaan dan spesifikasinya : 1. Dodos kecil digunakan untuk potong buah tanaman umur 3 – 4 tahun dengan lebar mata ukuran 8 cm, lebar tengah 7 cm, tebal tengah 0.5 cm, tebal pangkal 0.7 cm, diameter gagang 4.5 cm, dan panjang total 18 cm. Dodos besar digunakan untuk potong buah tanaman umur 5 – 8 tahun dengan lebar mata ukuran 12-14 cm, lebar tengah 12 cm, tebal tengah 0.5 cm, tebal pangkal 0.7 cm, diameter gagang 4.5 cm, dan panjang total 20 cm. 2. Egrek untuk digunakan untuk potong buah tanaman umur > 9 tahun (tinggi pokok 3 meter) dengan panjang pangkal pisau 20 cm, panjang pisau 45 cm sudut lengkung dihitung pada sumbu 135° dan berat pisau 0.5 kg, dengan panjang gagang pisau dari alumunium 6 meter atau dapat disambung hingga mencapai 9 meter. 3. Egrek digunakan untuk memotong tandan buah yang memiliki ketinggian lebih dari 9 m (umur >8 tahun). 4. Angkong digunakan untuk mengangkut TBS dan brondolan dari dalam blok ke TPH. 5. Gancu dan tojok digunakan untuk memuat dan membongkar TBS dari dan ke alat transport. 6. Karung eks pupuk yang telah dibersihkan digunakan sebagai tempat pengumpulan brondolan ke TPH dan sebagai alas brondolan di TPH. 7. Stempel dan pewarna makanan digunakan untuk memberi nomor pada pangkal TBS sehingga krani cek sawit dengan jelas mengidentifikasi pemanen yang memotong buah tersebut. 22 Sarana jalan. Sarana jalan merupakan salah satu faktor yang dapat memperlancar transportasi panen sehingga sarana jalan harus mendapat perhatian agar tidak menghambat pengangkutan buah. Jalan di Pinang Sebatang Estate dibagi menjadi 5 yaitu jalan akses (access road), jalan utama (main road), jalan pengumpul (collection road), jalan bantu (tertiary road), dan jalan pringgan, (boundary road). Jalan akses adalah jalan penghubung keluar masuk kebun atau antar kebun (emplasmen,kantor besar, pabrik, dermaga / bulking station) dengan lebar jalan 12 meter, jalan utama (main road) merupakan jalan penghubung antar collection road dan jalan akses dengan lebar jalan 9 meter dengan arah timur barat , jalan pengumpul (collection road) adalah jalan pengumpul hasil dengan lebar badan jalan 7 meter dan memiliki arah utara – selatan, jalan bantu yaitu jalan tambahan yang dibuat pada areal – areal sulit untuk mendukung pengumpulan produksi, jalan pringgan merupakan jalan yang dibuat di sepanjang pinggir kebun dan berfungsi sebagai tanda batas areal kebun, dan digunakan untuk pengawasan dan pengumpulan hasil. Jalan bantu banyak terdapat di Divisi I dan II Pinang Sebatang Estate karena topografi arealnya yang berbukit dan berkontur. Sarana jalan di Divisi IV PSE sudah tercipta dengan baik. Perawatan terhadap sarana jalan juga rutin dilakukan. Perawatan jalan yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Memperbaiki main road dan collection road. Perawatan main road menggunakan road grader dengan tujuan membentuk kemiringan permukaan yang tepat. Pemakaian batu padas berdiameter > 10 cm untuk menimbun lobang pada badan jalan dengan ketentuan tidak boleh dekat dengan permukaan jalan (kedalaman minimal 20 cm). 2. Pemeliharaan pasar rintis/jalan pikul dengan cara kimia dan manual. Pemeliharaan ini dilakukan oleh tim semprot dan karyawan perawatan. 3. Membuat Titi panen atau jembatan kecil di dalam blok untuk menghubungkan areal yang satu dengan areal lain dalam satu blok yang terhalang oleh parit atau sungai. Titi panen berfungsi untuk mempermudah pemanen dalam proses pengangkutan TBS menggunakan angkong ke TPH. 23 4. Tunas jalan adalah kegiatan memotong pelepah/cabang pokok sawit yang menghalangi sinar matahari dan mengganggu lalu-lintas kendaraan. Rotasi panen atau pusingan potong buah. Fokus utama kegiatan panen adalah memotong semua janjang masak panen dengan rotasi panen < 9 hari dan dengan mutu panen sesuai standar, mengutip seluruh brondolan (loose fruit), serta mengirimkan seluruh TBS yang dipanen ke PKS selambat-lambatnya dalam waktu 24 jam. Rotasi panen atau pusingan adalah interval waktu antara satu perlakuan panen dengan perlakuan panen berikutnya. Pusingan panen Divisi IV PSE pada bulan Februari tinggi akibat kurangnya tenaga kerja sehingga pusingan dapat mencapai 14 hari. Memasuki bulan Maret dengan penambahan tenaga kerja pusingan panen perlahan menurun dan stabil di 8 hingga 9 hari. Penurunan pusingan ini juga disebabkan oleh ketegasan asisten terhadap pemanen yang menurunkan buah mentah. Pemanen yang tidak menurunkan buah mentah secara tidak langsung meningkatkan prestasi kerja karyawan dalam hektaran demi mendapatkan siap borong. Meningkatnya hektaran panen akan menyebabkan pusingan panen semakin rendah sehingga tidak ada buah matang yang tertinggal di pokok. Taksasi produksi harian selalu dilakukan pada satu hari sebelum kegiatan panen berlangsung. Taksasi dilakukan oleh mandor panen untuk mengetahui kerapatan buah, kebutuhan tenaga kerja panen, dan kebutuhan unit untuk pengangkutan buah ke PKS. Taksasi produksi dilakukan dengan menghitung jumlah janjang matang tanaman contoh dibagi dengan jumlah tanaman contoh dan dikali 100%. Tanaman contoh yang digunakan untuk taksasi produksi adalah 10 % dari total populasi tanaman yang ada di tiap blok. Sistem hancak panen. Sistem hancak panen di Pinang Sebatang Estate menggunakan sistem hancak giring tetap. Sistem hancak giring tetap adalah sistem dimana pemanen mendapat hancak yang tetap, pemanen baru boleh pindah ke hancak blok berikutnya sesuai nomor pemanen jika hancaknya di satu blok telah selesai. Sistem hancak panen giring tetap merupakan sistem yang ideal karena manajemen pelaksanaan panen berdasarkan taksasi produksi dapat dilaksanakan secara sempurna, tandan buah segar (TBS) yang dipanen terpusat di collection 24 road yang sama karena panen dimulai bersama dari satu collection road. Sistem hancak giring tetap juga dapat menghindari kecemburuan sesame pemanen karena hancak setiap pemanen tetap sesuai nomor pemanen. Pada sistem ini mandor juga lebih mudah mengawasi pemanen karena pemanen berada di satu areal yang sama. Organisasi panen. Struktur organisasi panen di setiap divisi Pinang Sebatang Estate dimulai dari pemanen yang bertanggung jawab terhadap mandor panen, setiap mandor panen memiliki satu orang kerani cek sawit yang bertugas mengecek dan mencatat nomor pemanen yang terdapat di TBS serta brondolan yang selanjutnya akan dicatat di lembar penerimaan buah (LPB). Mandor panen bertanggung jawab terhadap mandor 1 dan mandor 1 bertanggung jawab terhadap asisten. Sistem organisasi panen yang digunakan di Gunung Sari Estate adalah Block Harvesting Sistem non Division of Labour (BHS non DOL). Sistem BHS non DOL ini adalah sistem dimana pemanen, pengutip brondolan dan pengangkut TBS serta brondolan ke TPH adalah satu orang yang sama. Sistem ini diterapkan karena sulitnya mencari tenaga kerja pemanen. Pelaksaan panen. Kegiatan panen diawali dengan antrian pagi antara mandor panen dan karyawan panen. Antrian pagi dilakukan untuk briefing kegiatan yang akan dilakukan pada hari tersebut dan evaluasi kerja hari kemarin. Karyawan dan mandor segera berangkat ke hancak masing-masing untuk melaksanakan potong buah. Kegiatan potong buah dilaksanakan dari arah yang sama hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pengawasan dan pengangkutan buah. Setiap pemanen memiliki target basis buah seberat 1300 kg atau sekitar 70 janjang dengan berat janjang rata-rata 19 kg yang harus dipotong setiap harinya. Pemanen menurunkan pelepah yang menjadi penyangga buah masak terlebih dahulu. Pelepah yang diturunkan disusun membentuk huruh “U” di kanan dan kiri pokok serta di gawangan mati. Bentuk huruf “U” mempunyai tujuan untuk menambah bahan organik di sekeliling pokok tidak hanya di gawangan mati dan juga pelepah di kiri dan kanan pokok dapat meminimalisir kehilangan pupuk akibat aliran air hujan karena pupuk akan tertahan di bawah 25 pelepah mati dimana di bawah pelepah mati terdapat banyak akar muda yang aktif mencari unsur hara tersedia di tanah. Tahap selanjutnya setelah pemanen memotong pelepah penyangga buah adalah pemanen memotong buah yang telah masak kemudian gagang panjang langsung dipotong menggunakan kapak minimal ± 3 cm dari permukaan buah lalu potongan gagang dibuang ke gawangan mati. Kegiatan selanjutnya setelah pemotongan buah di pokok, adalah mengutip semua brondolan yang jatuh di piringan ke dalam karung. Pemanen menyelesaikan potong buah hingga pasar tengah kemudian pemanen mengangkut semua brondolan yang telah dikutip serta TBS yang telah di potong dan disusun di TPH secara teratur dengan ketentuan kelipatan lima untuk setiap barisnya. Pemanen segera memberi stempel menggunakan pewarna makanan di pangkal buah sebagai tanda bahwa buah tersebut dipotong oleh pemanen tersebut sedangkan untuk karung brondolan di TPH cukup diberi nomor di atas karung menggunakan minyak brondolan pada potongan gagang panjang (Gambar 2). (a) Stempel pada TBS (b) Penomoran untuk Brondolan Gambar 2. Penomoran pada Tandan Buah Segar dan Brondolan Mandor panen bertugas mengecek mutu hancak panen setelah pemanen menyelesaikan hancaknya di 1 blok. Mandor akan mengecek secara acak setiap hari nya 2 pemanen. Setiap pemanen mendapatkan kesempatan yang sama untuk dievaluasi hancaknya. Mutu hancak yang dicek adalah buah yang di panen setiap pokok, buah tinggal di pokok, brondolan tinggal, pelepah sengkleh, susunan pelepah, over prunning, under prunning. Mutu buah di TPH juga di cek oleh mandor panen dengan kriteria yang harus di cek adalah buah masak, mentah, kurang masak, empty bunch, janjang panjang, kontaminasi, dan alas LF (brondolan). Mandor panen segera kembali ke kantor divisi untuk mengisi buku 26 kegiatan mandor sebagai laporan kepada asisten divisi realisasi potong buah pada hari tersebut. Mandor panen dibantu oleh kerani buah yang bertugas menggrading buah di TPH dan memuat TBS masak ke mobil muat. Kerani mencatat no pemanen serta jumlah buah yang dipotong oleh setiap pemanen melalui stempel pada bonggol buah sehingga premi dan basis setiap pemanen dapat dihitung. Kerani mengisi Laporan Potong Buah (LPB) yang berisi jumlah buah setiap pemanen dan besar premi yang diterima mandor panen, mandor 1, dan kerani. Kerani buah menyerahkan LPB kepada kerani checkroll pagi hari setelah antrian pagi keesokan harinya. Kerani checkroll segera menginputkan data dari LPB manual ke SAP atau database perusahaan sehingga data tersebut selalu terekam rapi dan dapat dievaluasi oleh kantor pusat Minamas di Jakarta maupun kantor pusat Sime Darby di Malaysia. Data digital yang diinputkan berfungsi juga untuk menghitung premi setiap anggota pada tutup buku. Sistem Upah dan Premi. Sistem upah dan premi di PSE menggunakan sistem basis borong dimana setiap pemanen akan mendapatkan premi jika pada hari itu pemanen dapat memotong 1 300 kg sehingga pemanen akan mendapatkan premi sebesar Rp 13 500,-. Jika dalam satu hari seorang pemanen mampu memotong lebih dari 1 300 kg maka bobot lebihnya akan dikalikan dengan Rp 45/kg. Jika dalam satu hari seorang pemanen mampu memotong 2 kali basis atau 2 600 kg atau lebih maka pemanen akan mendapatkan premi sebesar Rp 27 000,dan bobot lebih dari basis 1 300 kg akan dikalikan dengan Rp 50/kg. Pengawasan. Pengawasan panen di PSE dilakukan mulai dari mandor (mandor panen), mantri tanaman, mandor 1, asisten divisi hingga senior manager. Pengawasan yang dilakukan mandor panen merupakan kegiatan rutin setiap harinya dimana mandor panen mengawasi karyawan panen bekerja di lapangan dan mengecek 3 orang pemanen yang ditentukan secara acak setiap harinya. Mandor panen dibantu buku pemeriksaan mutu buah dimana kriteria mutu hancak yang di cek adalah buah tiggal, brondolan tinggal, pelepah sengkleh, under pruning, susunan pelepah. Mutu tandan buah segar (TBS) juga dicek 27 menggunakan buku pemeriksaan buah dengan kriteria buah mentah, kurang matang, janjang kosong, gagang panjang, alas brondolan serta stempel. Pengendalian Gulma Tanaman merupakan tumbuhan yang dibudidayakan dan hasilnya diinginkan oleh manusia. Gulma adalah tumbuhan yang tumbuh pada waktu, tempat, dan kondisi yang tidak diinginkan oleh manusia. Gulma merugikan karena dalam pertumbuhannya gulma berkompetisi dengan tanaman budidaya untuk memperebutkan unsur hara, ruang, air dan cahaya. Gulma mudah tumbuh baik di lingkungan yang kaya akan unsur hara hingga miskin hara. Pengendalian gulma pada dasarnya merupakan usaha untuk meningkatkan daya saing tanaman pokok dan melemahkan gulma. Tanaman pokok harus memiliki keunggulan yang terus ditingkatkan sehingga gulma tidak mampu mengembangkan pertumbuhannya atau hidup berdampingan dengan tanaman pokok pada waktu yang sama. Pengendalian gulma harus memperhatikan konsep ambang ekonomi dimana kerugian yang ditimbulkan oleh kehadiran gulma tersbut harus lebih besar daripada biaya yang harus dikeluarkan untuk pengendaliannya (Pahan, 2010). Metode pengendalian gulma yang dilakukan di PSE adalah Blok Spraying System (BSS). BSS merupakan sistem pengendalian gulma yang dilakukan secara terencana dan terorganisir sehingga tercipta pengendalian gulma yang efektif, efisien dan aman dari blok ke blok lainnya. Pengendalian gulma di PSE menerapkan sistem rayon dimana hanya dikelola oleh satu divisi yaitu Divisi II PSE. Tim pengendalian gulma dibagi menjadi 2 kelompok atau biasa disebut geng. Geng semprot mandoran A merupakan tim pengendalian gulma menggunakan alat Micron Herbi Sprayer (MHS) sedangkan sprayer manual digunakan oleh geng semprot mandoran B. Mandoran A. Mandoran A menggunakan alat MHS dimana larutan yang disemprotkan berbentuk embun sehingga lebih cepat masuk ke dalam jaringan tanaman. Mandoran A bertugas untuk pengendalian gulma di piringan, pasar rintis serta TPH. Piringan merupakan daerah di sekililing tanaman kelapa sawit yang merupakan tempat penaburan pupuk dimana daerah tersebut merupakan daerah 28 perakaran yang aktif menyerap unsur hara sehingga harus bersih dari gulma. Pasar rintis merupakan jalan diantara barisan kelapa sawit dimana jalan tersebut digunakan untuk transportasi buah ke Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) maupun kegiatan lainnya. TPH merupakan tempat pengumpulan hasil panen di samping collection road yang akan dimuat oleh truck ke pabrik kelapa sawit. Mandoran A menggunakan bahan kimia kimia campuran antara merek Prima Up dengan Dejavu. Prima Up yang digunakan mengandung bahan aktif Isopropilamina glyphosate dengan konsentrasi 4% dimana dalam 200 cc herbisida dicampur dengan 5 litter air. Dejavu mengandung bahan aktif fluroksipir dengan konsentrasi 1% dimana dalam 50 cc herbisida dicampur dengan 5 litter air. Campuran larutan tersebut digunakan untuk mengendalikan gulma Eleusine indica, Axonopus compressus, Borreria latifolia, Cyrtococcum acrescens, Paspalum conjugatum, dan Ageratum conyzoides. Keunggulan alat MHS yaitu butiran akan berbentuk embun yang seragam yaitu 250 mikron sehingga mudah menyerap ke dalam jaringan tanaman. Karyawan juga tidak perlu memompa seperti di alat semprot punggung semi otomatis karena MHS menggunakan baterai atapun accu sebagai sumber daya untuk mengalirkan larutan dan mengeluarkannya. Namun, alat MHS memiliki kelemahan dimana alat ini mudah rusak baik di sumber daya maupun bagian lainnya sehingga mandor semprot harus paham mengenai rangkaian sumber daya pada alat MHS sehingga ketika terjadi kerusakan karyawan langsung menemui mandor untuk mengganti dengan alat cadangan ketika alat yang rusak diperbaiki oleh sang mandor. Mandoran B. Mandoran B menggunakan alat semprot punggung semi otomatis RB-15. Tim semprot mandoran B bertugas untuk mengendalikan gulma di gawangan. Gawangan merupakan areal yang berada di luar piringan dan pasar rintis. Gulma yang terdapat di gawangan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman serta dapat menjadi inang hama dan penyakit. Gulma yang dikendalikan adalah anak kayu, kentosan serta kerisan. Mandoran B menggunakan bahan kimia kimia campuran antara merek Prima Up dengan Meta Prima. Prima Up yang digunakan mengandung bahan aktif Isopropilamina glyphosate dengan konsentrasi 0.8% dimana dalam 120 cc herbisida dicampur dengan 15 litter air. Meta Prima mengandung bahan aktif Metil metsulfuron dengan konsentrasi 0.03% dimana dalam 5 gram herbisida 29 dicampur dengan 15 litter air. Campuran larutan tersebut digunakan untuk mengendalikan gulma Melastoma malabatricum, Chromolaena odorata, Mikania micrantha dan gulma berkayu lainnya. Fasilitas truck semprot juga diberikan oleh perusahaan untuk mendukung kinerja tim semprot. Truck berisikan air yang digunakan sebagai pelarut dari herbisida yang digunakan. Tim semprot mandoran A terdiri dari 16 orang karyawan semprot dengan prestasi kerja 3.7 ha/HK. Tim Semprot Mandoran B terdiri dari 12 karyawan dengan prestasi kerja antara 1.5 – 2 ha/HK Sistem kerja karyawan semprot di PSE adalah menyemprot piringan di setiap pokok dari collection road A hingga tembus ke collection road B dan masuk di pasar selanjutnya hingga kembali ke collection road A. Sistem kerja tim semprot dijelaskan pada Gambar 3. Gambar 3. Cara Kerja Tim Semprot Mandoran A dan B Kebun PSE sangat peduli terhadap keamanan dan keselamatan kerja karyawan semprot. Alat Pelindung diri wajib dikenakan karyawan semprot ketika bekerja. Alat pelindung diri (APD) tersebut berupa apron, masker hidung, pelindung mata dan muka, sarung tangan karet, baju lengan panjang dan celana panjang serta sepatu boot. Fasilitas rumah BSS juga disediakan pihak kebun dimana fungsi dari rumah tersebut adalah meningkatkan keselamatan dan kemanan karyawan semprot. Rumah BSS digunakan pada pagi hari dimana sebelum berangkat kerja karyawan diwajibkan berganti pakaian kerja lengkap dengan alat pelindung diri dan menyimpan pakaian yang dikenakan dari rumah di loker. Setelah karyawan mengenakan pakaian lengkap dengan APD maka karyawan segera berangkat 30 menuju blok yang akan disemprot menggunakan truck semprot. Setelah selesai bekerja karyawan kembali ke rumah BSS melalui pintu belakang dan langsung mandi membersihkan diri dari kemungkinan zat kimia yang masih menempel di tubuh. Setelah berganti pakaian dengan pakaian bersih yang ada di loker karyawan baru boleh kembali ke rumah. Pakaian dinas yang kotor dikumpulkan menjadi satu karena ketika karyawan bekerja di lapangan petugas rumah BSS mencuci baju dinas karyawan semprot yang kotor. Rumah BSS dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Rumah Blok Spraying System Pengendalian Hama Pengendalian hama di kebun PSE memprioritaskan pemanfaatan biological control dan minimalisasi penggunaan pestisida, agar produk yang dihasilkan berwawasan “clean and healthy food”. Pelaksanaan Early Warning System untuk deteksi hama secara dini, merupakan tindakan yang mendukung pelaksanaan pengendalian hama secara terpadu atau disebut Intergrated Pest Management (IPM) (Manual Referensi Agronomi, 2008). Deteksi hama dilakukan dengan monitoring atau pengamatan secara rutin. Pengamatan rutin akan menyebabkan kenaikan biaya upah, tetapi pada akhirnya tindakan tersebut memungkinkan untuk menghemat biaya pengendalian dan mempertahankan produksi (karena berkurangnya kerusakan yang disebabkan oleh serangan hama tersebut). Pengelolaan hama di PSE dilakukan dengan 2 metode yaitu pemanfaatan biological control serta penggunaan pestisida. Pemanfaatan agen biologi untuk mengendalikan hama merupakan prioritas utama PSE. Kebun PSE menggunakan burung hantu dan ular sebagai musuh alami tikus. Burung hantu diberikan kandang pemikat sebagai tempat pengembangan burung hantu. Metode ini memanfaatkan sifat burung hantu yang 31 mempunyai kebiasaan untuk selalu berkumpul di satu tempat pada saat sebelum dan sesudah mencari makan (berburu tikus) sambil berteriak-teriak satu sama lainnya. Pengamatan terhadap perilaku burung hantu di lapangan menunjukkan bahwa sebelum berkumpul, biasanya satu atau lebih burung hantu berteriak-teriak sehingga dalam selang waktu tidak lama kemudian akan datang burung hantu lainnya untuk ikut bergabung bersama-sama sambil berteriak-teriak sehingga populasi burung hantu akan semakin meningkat. Nest Box atau kandang burung hantu telah disiapkan sebelumnya. Nest box yang dipasang di kawasan tersebut diusahakan posisinya pada lokasi-lokasi dengan ketinggian tanah puncak (tertinggi) dan pada awalnya sebagian nest box (2 – 3 unit) dipasang berdekatan (jarak 10 – 50 m) dengan kandang pemikat burung hantu. Nest box dipasang di sekitar kandang pemikat burung hantu dalam kawasan radius 500 – 2.000 m. Burung hantu dan nest box dapat dilihat pada Gambar 5. (a) Burung Hantu (Tyto alba) (b) Nest Box Gambar 5. Pemanfaatan Agen Biologis Burung Hantu Divisi IV PSE merupakan salah satu divisi yang mengalami serangan ulat api (Setora nitens). Hal ini terjadi karena letak Divisi IV PSE yang strategis dimana seluruh truck pengangkut TBS dari seluruh divisi melewati main road Divisi IV sehingga penyebaran ulat api semakin berkembang. Pengendalian secara biologis dilakukan dengan menanam tanaman bermanfaat (beneficial plant) terutama di pinggir main road karena populasi ulat api di pinggir main road tergolong banyak. Jenis tanaman bermanfaat yang ditanam di PSE adalah Cassia cobanensis, Turnera subulata. dan Antigonon leptopus. Tanaman bermanfaat tersebut digunakan sebagai inang musuh alami dari ulat api seperti Sycanus sp dan Eocanthecona furcellata. Beneficial plant yang terdapat di PSE disajikan pada Gambar 6. 32 (a) Antigonon leptosus (b) Turnera subulata (c) Cassia cobanensis Gambar 6. Beneficial Plant Pengendalian ulat api di Divisi IV PSE juga menggunakan aplikasi pestisida kimiawi. Pengendalian kimiawi yang dilakukan adalah menggunakan metode penyemprotan pestisida dengan fogging atau pengasapan. Pestisida yang digunakan adalah merek Matador dengan bahan aktif Lamda sihalotrin 25 g/l. Dosis yang digunakan adalah 0.2 l/ha dengan konsentrasi 2 ml/L dan volume semprot 100 l/ha. Pengendalian dengan metode fogging dilakukan malam hari oleh 3 karyawan PSE dengan prestasi kerja 5.5 ha/HK. Pembibitan Pembibitan di PSE merupakan areal pembibitan yang akan digunakan untuk penanaman kembali (replanting) tanaman yang sudah menurun produksinya. Areal pembibitan di PSE merupakan areal pembibitan yang dibuat untuk mendukung pemenuhan kebutuhan bibit PT Aneka Intipersada. Lokasi pembibitan di PSE terdapat di Divisi II PSE dimana topografi areal pembibitan relatif datar dan terletak di tengah kebun. Kebutuhan air melimpah karena di lokasi pembibitan sudah disiapkan embung air. Luas total areal pembibitan di PSE adalah 13.96 ha. Bedengan untuk pembibitan pre nursery dibuat memanjang dari barat ke timur dengan lebar bedengan 1.2 m dan jarak antar bedengan 1 m. Tepi bedengan diberi palang berupa papan kayu sehingga baby bag dapat tersusun rapi, padat dan teratur. Media tanam bibit berupa tanah top soil dicampur dengan pupuk SP-36 dengan dosis 12.5 g/baby bag. Tanah top soil sudah diayak dengan ayakan 1 cm sehingga terpisah dengan akar atau kerikil. Penulis mengikuti kegiatan pembibitan pre nursery di PSE mulai dari kedatangan bibit, penyortiran, hingga penanaman bibit ke dalam baby bag. Bibit 33 yang digunakan adalah bibit dari Socfindo pada tahap 1 dan PPKS pada tahap 2 dan 3. Pada saat bibit datang tahap 1 lokasi pembibitan masih belum siap untuk dilakukan penanaman karena baby bag belum seluruhnya terisi media sehingga bibit harus disimpan di ruangan dengan suhu terjaga tetap rendah sehingga aktifitas fisiologis bibit tidak cepat terjadi. Penanaman bibit dilakukan dengan tahapan seleksi bibit terlebih dahulu. Bibit diseleksi dengan kriteria bibit afkir, double tun dan normal. Bibit normal dan double tun dapat ditanam sedangkan bibit afkir dimasukkan kembali ke dalam plastik dan box. Bibit afkir mencakup bibit abnormal dimaana bibit tersebut berbentuk garputala, tongkat berkait, kecambah terhambat dan kecambah mati sedangkan bibit double tun adalah bibit yang memiliki 2 hingga 3 kecambah dalam satu bibit namun bibit double tun dijaga hanya 2 kecambah yang dipekenankan ditanam sehingga bibit yang memiliki 3 kecambah harus di matikan satu kecambah. Seleksi dilakukan oleh karyawan yang telah diberi pengarahan tentang kriteria bibit abnormal, normal dan double tun didampingi oleh mandor yang mencatat dan membantu menentukan kriteria bibit jika karyawan menemukan kendala untuk menentukan kriteria bibit tersebut. Penulis bertindak sebagai mandor dalam seleksi bibit. Setelah seleksi bibit langsung dikirim ke bedengan untuk segera ditanam oleh karyawan. Data jumlah bibit yang didapatkan pada saat seleksi harus sama dengan jumlah baby bag yang telah ditanami bibit. Bibit ditanam di baby bag dengan lubang tanam yang dibuat menggunakan jari sekitar 2.5 cm kemudian ditutup kembali sekitar 1.5 cm. Posisi kecambah sangat diperhatikan dimana akar mengarah ke bawah atau ke dalam tanah dan pucuk harus mengarah ke atas atau ke luar tanah. Proses pembibitan di PSE disajikan pada Gambar 7. (a) Seleksi (b) Penanaman Bibit Gambar 7. Proses Pembibitan (c) Bibit di Pre Nursery 34 Pengambilan Leaf Sampling Unit Penentuan dosis rekomendasi pemupukan pada Minamas Plantation dilakukan oleh Minamas Research Center (MRC) dengan berbagai pertimbangan antara lain analisis Leaf Sampling Unit (LSU), historis status hara daun, produksi, umur tanaman, jenis tanah atau tingkat kesuburan tanah, pengamatan visual atau field visit, dan nilai ekonomis. LSU merupakan pertimbangan utama dalam penentuan dosis rekomendasi dan diambil sekali dalam satu tahun untuk menentukan dosis rekomendasi tahun berikutnya. Minamas Plantation khususnya Pinang Sebatang Estate memulai periode baru setiap tahunnya pada bulan Juli, sehingga untuk pengambilan sample daun setiap tahunnya dilaksanakan 2 bulan sebelum periode baru dimulai sekitar akhir bulan April atau awal bulan Mei. MRC mengeluarkan buku saku prosedur pengambilan sampel daun yang berguna untuk mengingatkan cara pengambilan sampel daun yang benar. Menurut buku prosedur pengambilan sampel daun suatu LSU harus mencerminkan keseragaman dari segi umur tanaman, jenis tanah, kultur teknis, topografi dan drainase. Luasan areal LSU berkisar antara 20-30 ha. LSU disarankan agar tidak kurang dari 10 ha karena akan menyulitkan dalam aplikasi pemupukan dan efisiensi biaya analisa daun. Sampel daun yang digunakan oleh Minamas Research Center adalah daun ke – 17. Pengambilan LSU di Pinang Sebatang Estate khususnya Divisi IV dibagi menjadi 3 tim. Setiap tim memiliki tugas mengambil LSU dan melakukan pengamatan visual defisiensi hara pada satu blok kecil setiap harinya. Satu tim dibagi menjadi 2 petugas dimana petugas pertama membawa gunting, plastik, blanko LSU, alat tulis, serta label LSU. Petugas pertama bertugas mengamati secara visual kondisi tanaman yang di sensus, mencatat data pada blanko yang sudah tersedia, memotong daun, memisahkan daun dengan lidinya dan menyimpan daun dalam wadah plastik yang sudah tersedia. Petugas kedua memegang egrek, cat, dan kuas serta bertugas menentukan daun ke –17, memotong daun ke –17, serta memberi label menggunakan cat pada pokok. Pengambilan LSU di Minamas Plantation menggunakan sistem yang ditentukan oleh MRC. Sistem LSU merupakan pengaturan cara menghitung jumlah baris dan pokok serta jumlah sampel yang harus diambil. Sistem pada 35 setiap blok berbeda sesuai dengan populasi tanaman ataupun luas blok. Pada blok D 25 Divisi IV PSE menggunakan sistem 8 x 10 sedangkan pada blok D 24 menggunakan sistem 8 x 11. Pada sistem 8 x 10, angka 8 memiliki arti sampel yang diambil setiap baris ke 8, sedangkan angka 10 memiliki arti sampel yang diambil setiap pokok ke 10. Pengambilan LSU di Divisi IV PSE disajikan pada Gambar 8. Gambar 8. Pengambilan Leaf Sampling Unit Pemupukan Organik Pemupukan organik di Divisi IV Pinang Sebatang Estate hanya dilakukan aplikasi janjang kosong. Lokasi kebun Pinang Sebatang Estate jauh dari pabrik kelapa sawit (PKS) sehingga tidak dilakukan aplikasi wet decanter solid (WDS) maupun palm oil mill effluent (POME). Aplikasi janjang kosong di Divisi IV PSE tidak lagi menggunakan sistem borongan tetapi sudah diberikan satu mandoran untuk menangani aplikasi janjang kosong di Divisi IV PSE. Janjang kosong merupakan limbah dari pabrik kelapa sawit dengan perbandingan dengan bobot TBS sekitar 23%. Aplikasi janjang kosong diharapkan dapat menambah masukan unsur hara yang dapat diserap tanaman terutama unsur nitrogen dan P2O5. Satu ton janjang kosong meimiliki kandungan hara yang setara dengan 5 kg Urea, 1 kg TSP, 16 kg MOP, dan 5 kg Kieserite. Aplikasi janjang kosong juga dapat digunakan sebagai mulsa organik sehingga dapat menekan pertumbuhan gulma dan memperbaiki struktur tanah karena meningkatnya KTK (kapasitas tukar kation) tanah sehingga pupuk yang diaplikasikan mempunyai efisiensi yang tinggi. Pelapukan janjang kosong juga 36 dapat meningkatkan penyimpanan air di tanah sehingga memacu pertumbuhan dan perkembangan Nephrolepsis sp. Aplikasi janjang kosong di areal berbukit seperti PSE dapat bermanfaat untuk mencegah erosi tanah dan potensial pupuk hilang akibat aliran air hujan (run off). Janjang kosong diangkut dari pabrik menggunakan dump truck kebun yang mengirim buah ke PKS sehingga ketika kembali ke kebun dum truck tidak kosong namun berisi JJK. Janjang kosong kemudian diturunkan di collection yang telah ditentukan oleh mandor JJK dan telah diketahui oleh mandor 1. Bobot janjang kosong yang diletakkan oleh satu dump truck sekitar 4 - 5 ton. Mandor janjang kosong akan memeriksa janjang kosong yang baru datang dari pabrik untuk mengecek janjang kosong yang mogol atau janjang kosong yang masih terdapat buah keras menempel pada janjang kosong. Buah mogol terjadi akibat perebusan yang kurang maksimal sehingga hasil evaluasi buah mogol akan diserahkan kepada pabrik untuk memperbaiki kinerja perebusan di pabrik. Janjang kosong yang sudah diturunkan di collection segera diaplikasi ke pokok oleh mandoran janjang kosong. Setiap pokok mendapatkan dosis 250 kg janjang kosong. Janjang kosong kemudian diletakkan diantara pokok dalam barisan tanaman serta diletakkan satu lapis. Peletakkan janjang kosong satu lapis untuk mempercepat proses pelapukan dan mencegah perkembangan hama Oryctes rhinoceros (kumbang tanduk). Pemupukan Anorganik Pemupukan merupakan salah satu aspek pemeliharaan yang membutuhkan biaya paling tinggi yaitu sekitar 60% dari total biaya pemeliharaan sehingga ketepatan atau ketelitian aplikasi adalah sesuatu yang sangat mutlak untuk dilakukan. Prinsip utama dalam aplikasi/penaburan pupuk di perkebunan kelapa sawit adalah setiap pokok harus menerima tiap jenis pupuk sesuai dosis yang telah direkomendasikan oleh MRC untuk mencapai produktivitas tanaman yang menjadi tujuan akhir dari bisnis perkebunan. Manajemen pemupukan merupakan suatu metode pemupukan yang sistematis dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, serta pengawasan terhadap pekerjaan yang dilakukan. Perencanaan pemupukan 37 dimulai dari pengambilan sampel daun untuk mengetahui status hara, hingga permintaan pupuk oleh kebun kepada departemen purchasing hingga pupuk masuk ke dalam gudang penyimpanan. Organisasi dalam pekerjaan pemupukan ditujukan agar setiap karyawan maupun mandor mengerti dengan jelas mengenai tugasnya masing-masing. Pelaksanaan pemupukan merupakan aplikasi dari semua yang telah direncanakan sebelumnya. Pengawasan dilakukan saat pemupukan berlangsung maupun setelah pemupukan berlangsung. Perencanaan Pemupukan Penentuan Dosis. Penentuan dosis rekomendasi pemupukan pada Minamas Plantation dilakukan oleh Minamas Research Center (MRC) dengan berbagai pertimbangan antara lain analisis Leaf Sampling Unit (LSU), historis status hara daun, produksi, umur tanaman, jenis tanah atau tingkat kesuburan tanah, pengamatan visual atau field visit, dan nilai ekonomis. LSU merupakan pertimbangan utama dalam penentuan dosis rekomendasi dan diambil sekali dalam satu tahun untuk menentukan dosis rekomendasi tahun berikutnya. Minamas Plantation khususnya Pinang Sebatang Estate memulai periode baru setiap tahunnya pada bulan Juli, sehingga untuk pengambilan sample daun setiap tahunnya dilaksanakan 2 bulan sebelum periode baru dimulai sekitar akhir bulan April atau awal bulan Mei. Analisa LSU seluruh kebun Minamas dilakukan di laboratorium MRC. Hasil analisa lab diserahkan kepada departemen Agronomis di MRC untuk menjadi salah satu pertimbangan penentuan dosis rekomendasi. Hasil analisa hara daun diklasifikasikan dalam 2 tingkatan Nutrition Level dimana defisiensi dan low nutrisi menjadi satu tingkat selain itu optimum, high dan ekses menjadi satu tingkat lainnya. Pengadaan Pupuk. Penentuan dosis rekomendasi harus sesuai dengan dana alokasi perusahaan. Sehingga, agenda anggaran dana untuk pupuk masuk ke dalam rapat manager terkait alokasi dana untuk satu tahun. Dosis rekomendasi yang dikirim dari MRC ke unit kebun menjadi dasar pihak kebun untuk mengajukan permintaan pupuk kepada departemen purchasing untuk dikirimkan pupuk sesuai dengan tonase yang dibutuhkan dan waktu kedatangan yang sesuai 38 jadwal sebelum bulan aplikasi rekomendasi. Gambar 9 menyajikan diagram alur permintaan dan penerimaan pupuk di Pinang Sebatang Estate Gambar 9. Diagram Alur Permintaan dan Penerimaan Pupuk di Pinang Sebatang Estate. Penyimpanan Pupuk. Pupuk yang masuk ke kebun lalu disimpan di dalam gudang penyimpanan dengan susunan yang teratur. Gudang penyimpanan pupuk beralaskan kayu sehingga tidak lembab. Gudang pupuk di Pinang Sebatang Estate belum permanen sehingga sekelilingnya ditutup menggunakan terpal untuk mencegah air hujan masuk. Penempatan pupuk juga diatur sehingga pupuk yang pertama kali masuk gudang merupakan pupuk yang pertama kali dikeluarkan dari gudang untuk di aplikasi (first in first out). Pupuk dipisahkan berdasarkan jenis pupuk karena ada sifat sinergis dan antagonis. Pupuk yang bersifat sinergis contohnya urea (N) dan MOP (K) disimpan di dalam ruangan yang sama namun tetap diberi ruang pemisah antara tumpukan pupuk urea dengan MOP. Pupuk yang bersifat antagonis seperti urea (N) dengan RP (P) disimpan dalam gudang terpisah.untuk menghindari pencampuran pupuk ketika penguntilan. Penguntilan Pupuk. Kegiatan penguntilan pupuk bertujuan untuk meningkatkan ketepatan dosis pemupukan. Kegiatan until pupuk adalah suatu kegiatan menakar kembali pupuk berukuran 50 kg menjadi lebih kecil sehingga jumlah pupuk dalam satu karung tepat untuk memupuk hingga pasar tengah. Penguntilan pupuk dilakukan untuk kebutuhan pemupukan hari berikutnya sehingga pupuk yang telah dipecah dan di until tidak menggumpal. Penguntilan dilakukan oleh karyawan penabur pupuk sehingga karyawan penguntil pupuk dapat berbeda setiap harinya. Kebutuhan tenaga kerja until pupuk disesuaikan dengan rencana kebutuhan pupuk keesokan harinya. Basis untuk penguntil pupuk adalah 1 500 kg. Jika penguntil melebihi basis maka setiap penguntil akan mendapatkan premi sebesar Rp 40/kg. 39 Pengambilan Pupuk. Kegiatan pengambilan pupuk di PSE harus mendapat persetujuan dari Kepala Gudang. Kepala Gudang bertugas memastikan jumlah pupuk yang dimuat dari gudang ke lapangan. Pupuk yang dimuat merupakan pupuk yang sudah diuntil. Proses pengambilan pupuk dari gudang ke lahan harus didampingi oleh keamanan kebun. Proses pengambilan pupuk tergolong terlambat karena karyawan baru mulai muat pupuk ke dump truck pada pukul 07.00. Proses muat pupuk membutuhkan waktu sekitar 40 menit sehingga pupuk baru sampai di lapangan pada pukul 08.00. Tenaga muat pupuk untuk satu dump truck sebanyak 2 orang. Satu dump truck mampu memuat rata-rata 6 ton pupuk setiap harinya. Pengeceran pupuk di setiap pasar pikul juga menjadi tugas dari tenaga muat pupuk. Kegiatan pengeceran didampingi oleh salah satu mandor pupuk. Jumlah untilan pupuk per pasar pada pupuk MOP adalah 3 hingga 4 until pupuk dengan berat untilan pupuk 14 kg. Proses penyimpanan dan penguntilan pupuk disajikan pada Gambar 10. (a) (b) (c) Gambar 10. (a) Penyimpanan Pupuk, (b) Peguntilan Pupuk (c) Pemuatan Pupuk Pengorganisasian Pemupukan Pemupukan di PT Aneka Intipersada khususnya kebun Pinang Sebatang Estate menggunakan sistem Rayon dimana seluruh kegiatan pemupukan Pinang Sebatang Estate ditangani oleh satu divisi yaitu Divisi IV. Pelaksanaan system rayon membuat rencana pemupukan lebih terarah dan sistem pengawasan yang lebih mudah. Penggunaan sistem rayon merupakan salah satu aplikasi dari blok manuring system (BMS). Rumah BMS juga akan dibangun yang berfungsi sebagai tempat menjaga keselamatan dan keamanan karyawan yang berhubungan langsung dengan bahan kimia. Karyawan pupuk diwajibkan berganti pakaian kerja di rumah BMS sebelum berangkat ke lapangan. Setiap karyawan memiliki 40 loker untuk menyimpan pakaian yang telah dikenakan dari rumah. Karyawan diwajibkan mandi di rumah BMS setelah pulang kerja dan berganti pakaian dengan pakaian yang disimpan di dalam loker. Pakaian kotor segera dicuci menggunakan mesin cuci oleh karyawan yang bekerja di rumah BMS. Sistem rumah BMS sudah diterapkan oleh karyawan semprot dimana rumah BSS sudah selesai dibangun dan sudah dapat digunakan. Pelaksanaan Pemupukan Pelangsir dan Penabur pupuk. Areal topografi PSE berbukit sehingga sistem yang sesuai adalah pelangsir dan penabur. Pelangsir pupuk bertugas melangsir satu untilan pupuk ke pokok ke 8 sehingga penabur hanya tinggal melanjutkan hingga pasar tengah. Perbandingan jumlah pelangsir dengan penabur adalah 2 : 1. Penabur pupuk bertugas untuk menabur pupuk di setiap pokok sesuai dosis dan merata. Pupuk harus ditabur merata di pinggir rumpukan pelepah mati hal ini bertujuan untuk meminimalisir kehilangan pupuk akibat aliran run off. Proses penaburan dan alat penaburan pupuk disajikan pada Gambar 11. (a) (b) Gambar 11. (a) Alat Penabur dan Penakar Pupuk, (b) Penaburan Pupuk Pengawasan Pemupukan Sistem pemupukan berdasarkan blok merupakan suatu sistem yang efektif dan efisien bagi penaburan pupuk maupun pengawasan aplikasi pupuk. Pengawasan aplikasi pupuk semakin baik karena setiap mandor pupuk maupun asisten divisi mendapatkan satu buku yang untuk mengevaluasi kinerja penabur pupuk pada hari tersebut. Kriteria penilaian di dalam buku tersebut adalah pupuk tidak merata, pokok tidak terpupuk, untilan tertinggal, tercecer di pasar rintis, goni yang tertinggal di dalam blok. Setiap kriteria memiliki nilai tersendiri. Krani divisi 41 segera merekap hasil evaluasi buku BMS dari mandor pupuk dalam bentuk nilai untuk setiap penabur sehingga setiap penabur dapat terlihat kinerjanya. Evaluasi penaburan pupuk tidak hanya dilakukan di tingkat mandor namun Mantri Tanaman, Asisten Divisi, Manajer Kebun, hingga Plantation Sustainable Quality Management (PSQM) juga mengevaluasi penaburan pupuk secara berkala. Hasil evaluasi Asisten Divisi dan Manajer menjadi bahan evaluasi internal sedangkan hasil evaluasi PSQM dilaporkan hingga ke tingkat manajemen pusat di Malaysia. Kebun PSE sudah memiliki sertifikasi Roundtable and Sustainable Palm Oil (RSPO) yaitu sertifikasi yang menyatakan bahwa kebun PSE mengelola kebun kelapa sawit secara berkelanjutan yang berdasarkan kelayakan ekonomi, sosial dan lingkungan. Faktor-faktor keamanan dan keselamatan kerja sangat diperhatikan. Karyawan yang kontak langsung dengan bahan kimia wajib menggunakan alat pelindung diri seperti apron, sarung tangan karet, masker, sepatu, baju lengan panjang dan celana panjang. Faktor keramahan lingkungan diwujudkan kebun PSE dengan membuat buffer zone atau zona bebas bahan kimia. Buffer zone meliputi area rawa, sungai dan parit sehingga bahan kimia tidak mencemari lingkungan luas akibat terbawa aliran air. Batas area buffer zone adalah 50 meter ke kanan dan kiri dari rawa, sungai dan parit. Area buffer zone di PSE disajikan pada Gambar 12. Gambar 12. Area Buffer Zone 42 Aspek Manajerial Manajemen Kebun Tingkat Non Staf Manajemen kebun tingkat non staf meliputi seluruh kegiatan teknis di lapangan hingga administrasi baik di kantor divisi maupun kantor kebun. Manajemen kegiatan teknis di lapangan dilakukan oleh mandor sedangkan kegiatan administrasi dilakukan oleh krani. Penulis selama magang melakukan kegiatan sebagai pendamping mandor maupun krani. Pendamping Mandor I. Kegiatan yang dilakukan oleh mandor I adalah mengatur, mengawasi, membagi tugas dan memberi petunjuk teknis kepada para mandor dalam melaksanakan pekerjaan, serta mengawasi seluruh pekerjaan sesuai dengan RKH (Rencana Kerja Harian). Pada saat penulis menjadi pendamping mandor I penulis mengikuti seluruh kegiatan mandor satu dimulai dari antrian pagi yang dilanjutkan dengan mengawasi seluruh kegiatan di Divisi IV PSE mulai dari panen hingga pupuk dan semprot. Pada siang hari mandor I bekeliling mengecek TBS yang sudah terkumpul di tempat pengumpulan hasil (TPH) untuk mengecek kematangan TBS sebelum dikirim ke pabrik. Mandor I juga mengecek hancak panen satu orang pemanen setiap harinya dan penentuan hancak pemanen yang dicek harus adil dan acak agar setiap pemanen mendapatkan kesempatan yang sama dan tidak mengetahui hancak siapa yang dicek pada hari tersebut. Pendamping Mandor Panen. Panen merupakan kegiatan utama di setiap divisi. Peran aktif mandor panen sangat diperlukan untuk mendapatkan produksi maksimal. Penulis selama magang menjadi pendamping mandor panen mempelajari tentang rotasi panen, angka kerapatan panen, blok yang akan dipanen, membagi hancak sekaligus mengabsen karyawan, melakukan cek hancak, menghitung tenaga pemanen, mengisi buku kerja mandor (BKM), dan mendenda karyawan apabila melakukan kesalahan. Penulis dan mandor panen melakukan pengecekan hancak 3 orang pemanen setiap harinya. Pendamping Mandor Perawatan. Penulis selama menjadi pendamping mandor perawatan melakukan pengawasan karyawan yang menanam beneficial plant. Mandor perawatan Divisi IV PSE menangani mulai dari pengelolaan hama hingga pengambilan LSU. Mandor perawatan pada malam hari melakukan 43 pengawasan terhadap karyawan yang melakukan fogging dan pada dini hari mandor perawatan melakukan kegiatan tangkap kupu-kupu. Pada pagi hari mandor perawatan mengisi buku kegiatan mandor (BKM) atau buku kegiatan mandor untuk mencatat hasil dari kegiatan di malam hari. Pendamping Mandor Semprot. Mandor semprot PSE bertanggung jawab atas kondisi gulma baik di TPH, piringan, pasar rintis, gawangan mati dan kaki lima di seluruh areal kebun PSE. Mandor semprot memiliki pengetahuan terkait dosis dan konsentrasi herbisida, menghitung luasan aplikasi per hari kemudian melaporkannya di buku kegiatan mandor. Penentuan dosis dilakukan oleh asisten setelah menganalisis kondisi gulma di blok yang akan dilakukan pengendalian gulma. Pendamping Mandor Pupuk. Mandor pupuk di kebun PSE bertanggung jawab penuh terhadap pemupukan di seluruh areal PSE. Mandor pupuk melakukan pengawasan mulai dari muat pupuk, pengeceran pupuk, pembagian hancak pemupuk, hingga efektifitas pemupukan yang terwakilkan dalam konsep 4 T yaitu tepat dosis, tepat cara, tepat jenis dan tepat waktu. Penulis bersama mandor pupuk juga mengecek hancak penabur pupuk dan mencatat di buku pengawasan pemupukan sehingga kinerja penabur pupuk dapat terukur. Pendamping Krani Divisi. Krani divisi bertanggung jawab atas seluruh administrasi di divisi dan melaporkannya ke kantor besar. Penulis setiap pagi membantu krani divisi dalam merekap absensi karyawan pada hari tersebut. Penulis juga menggantikan kegiatan krani divisi dalam mengisi rekapitulasi pusingan potong buah dan produksi pada panen hari kemarin. Krani divisi melaporkan seluruh absensi karyawan secara on line di kantor besar menggunakan aplikasi System, Aplication and Product (SAP). Penulis diberikan pengetahuan untuk menginput data menggunakan aplikasi tersebut dan menggantikan kegiatan input data harian ketika krani divisi sakit. Manajemen Kebun Tingkat Staf Staf di kebun PSE dipimpin oleh Senior Manager yang dibantu oleh seorang senior asisten serta 3 orang asisten divisi dan kepala administrasi. Senior Manager PSE merupakan ketua dari tim Strategy of Unit 16 (SOU 16) PT Aneka 44 Intipersada. Rapat SOU 16 diadakan setiap satu bulan sekali dimana pada rapat tersebut dibahas kinerja dari masing-masing kebun dan divisi. Pengecekan langsung ke lapangan juga dilakukan oleh seluruh staf PT Aneka Intipersada untuk menilai kondisi lapangan dan meningkatkan kinerja di bulan berikutnya. Rapat SOU 16 juga membahas terkait kinerja pabrik kelapa sawit. Penulis selalu dilibatkan dalam setiap rapat SOU 16. Asisten divisi memiliki tugas mengelola seluruh kegiatan operasional divisi sesuai dengan program, biaya yang telah disetujui dan kultur teknis dalam ARM. Asisten juga bertanggung jawab atas pelatihan terhadap karyawan baru, membina kesejahteraan karyawan dan memelihara administrasi divisi. Asisten divisi IV PSE setiap pagi setelah antrian pagi selesai selalu melakukan pertemuan khusus di ruangannya dengan seluruh mandor panen dan mandor pupuk untuk mengevaluasi dan memberikan pengarahan pekerjaan pada hari tersebut. Pada saat penulis melakukan magang penulis berkesempatan untuk menjadi panitia dalam kegiatan pelatihan auditor Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Aspek yang akan dilakukan audit dalam pelatihan adalah aspek legal, lingkungan, aspek teknis, tanggung jawab terhadap pekerja, social dan komunitas, Setiap asisten divisi mendapatkan tanggung jawab untuk menangani satu aspek. Asisten Divisi IV PSE mendapat tugas untuk bergabung di tim legal. Penulis membantu asisten Divisi IV PSE dan tim legal untuk mencari dan merapikan seluruh arsip yang diminta oleh pihak auditor. 45 HASIL DAN PEMBAHASAN Manajemen pemupukan merupakan suatu metode pemupukan yang sistematis dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, serta pengawasan terhadap pekerjaan yang dilakukan. Perencanaan pemupukan dimulai dari pengambilan sampel daun untuk mengetahui status hara, hingga permintaan pupuk oleh kebun kepada departemen purchasing hingga pupuk masuk ke dalam gudang penyimpanan. Organisasi dalam pekerjaan pemupukan ditujukan agar setiap karyawan maupun supervisi mengerti dengan jelas mengenai tugasnya masing-masing. Pelaksanaan pemupukan merupakan aplikasi dari semua yang telah direncanakan sebelumnya. Pengawasan dilakukan saat pemupukan berlangsung maupun setelah pemupukan berlangsung. Pengorganisasian Pemupukan Pada sistem BMS terdapat 2 mandoran pupuk dimana setiap harinya kedua mandoran tersebut akan memupuk di blok yang sama sehingga pekerjaan pemupukan akan selesai berurutan dari satu blok ke blok lainnya dalam satu divisi. Limbong (2011) menyatakan dalam Gambar 13 bahwa pada sistem pemupukan BMS di Gunung Sari Estate karyawan penabur pupuk berjalan di pasar pinggul hingga tembus ke collection road berikutnya dan masuk ke pasar pikul dalam blok selanjutnya juga hingga tembus ke collection road. Berikutnya karyawan penabur akan pindah ke pasar pikul di sampingnya. Gambar 11 menyajikan sistem penaburan BMS menurut Limbong, 2011 dan Gambar 14 menyajikan sistem penaburan BMS di PSE Gambar 13. Cara Kerja Pemupukan Blok Manuring System di Gunung Sari Estate (Limbong, 2011). 46 Gambar 14. Cara Kerja Pemupukan Blok Manuring System di Pinang Sebatang Estate. Sistem kerja BMS di PSE berbeda dengan GSE. Karyawan penabur pupuk hanya menaburkan pupuk sampai pasar tengah lalu kembali ke collection road yang sama dan masuk ke pasar pikul di blok sebelahnya. Jika dihitung jarak yang ditempuh seorang penabur pupuk di GSE maka didapatkan hasil dalam 603 m maka penabur dapat menabur 128 pokok sedangkan pada PSE seorang penabur harus menempuh jarak sejauh 1 062 m untuk dapat menabur 128 pokok. Sistem penaburan pupuk BMS di PSE dapat digolongkan tidak efisien karena seorang penabur harus mengeluarkan tenaga lebih banyak dibandingkan karyawan penabur pupuk di GSE. Kegiatan pengambilan pupuk di gudang juga mempengaruhi efisiensi pelaksanaan pemupukan. Kegiatan pengambilan pupuk di PSE harus mendapat persetujuan dari Kepala Gudang. Kepala Gudang bertugas memastikan jumlah pupuk yang dimuat dari gudang ke lapangan. Pupuk yang dimuat merupakan pupuk yang sudah diuntil. Proses pengambilan pupuk dari gudang ke lahan harus didampingi oleh keamanan kebun. Proses pengambilan pupuk tergolong terlambat karena karyawan baru mulai muat pupuk ke dump truck pada pukul 07.00. Proses muat pupuk membutuhkan waktu sekitar 40 menit sehingga pupuk baru sampai di lapangan pada pukul 08.00. Hal ini mengakibatkan proses pemupukan tergolong lambat. Karyawan penabur harus menunggu di lapangan hingga pukul 08.00. Efisiensi waktu dapat ditingkatkan jika Kepala Gudang dan tenaga muat pupuk 47 mulai bekerja pada pukul 06.00 ketika karyawan penabur antrian pagi sehingga ketika karyawan penabur tiba di lapangan pupuk telah diecer. Efektivitas Pemupukan Pemupukan merupakan hal yang sangat penting bagi tanaman perkebunan khususnya kelapa sawit. Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk pemupukan mencapai ±60% dari seluruh total biaya operasional kebun. Biaya yang tinggi maka harus diikuti dengan cara pemupukan yang baik. Strategi pemupukan kelapa sawit yang baik harus mengacu pada konsep efektivitas dan efisiensi yang maksimum. Strategi pemupukan yang baik terletak pada aspek perencanaan dan pelaksanaan pemupukan yang sesuai dengan anjuran rekomendator. Rencana kerja yang terarah (Pemupukan diselesaikan blok per blok) dan pelaksanaan pemupukan yang baik sesuai dosis anjuran (semua pokok mendapat pupuk secara merata), serta pengawasan yang baik (terutama di daerah rendahan dan berbukit) (Pahan, 2006). Pemupukan yang efektif dan efisien selalu mengacu pada konsep empat tepat (4 T) yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat cara, dan tepat waktu aplikasi (Poeloengan et al., 2003). Sedangkan untuk memperbaiki kondisi lahan dapat dilakukan melalui aplikasi bahan organik seperti limbah pabrik kelapa sawit (PKS). Tepat Jenis. Beberapa hal yang menjadi dasar pertimbangan dalam penentuan jenis pupuk antara lain : umur tanaman, gejala defisiensi hara, kondisi lahan dan harga pupuk (Poeloengan et al., 2003). Minamas Research Center (MRC) merekomendasikan jenis pupuk yang digunakan di Pinang Sebatang Estate pada tahun 2011 – 2012 adalah Urea, Rock Phospate, MOP, Dolomite, Kieserite, dan HGFB. Pada tahun 2009 – 2011 pupuk majemuk NK Blend sempat dianjurkan oleh MRC untuk digunakan di PSE, namun penggunaan NK Blend mengindikasikan efektifitas pemupukan yang menurun sehingga pada tahun 2011 – 2012 penggunaan jenis pupuk dikembalikan ke pupuk tunggal yaitu Urea dan MOP. Ketidakefisienan penggunaan pupuk majemuk NK Blend di kebun PSE didasarkan pada beberapa hal berikut ini : transportasi pupuk, harga pupuk, 48 ketersediaan tenaga kerja. Transportasi pupuk ke kebun PSE tidaklah sulit karena dari kota Pekanbaru hanya sekitar 2 hingga 3 jam berbeda dengan kebun di Kalimantan yang membutuhkan waktu sekitar 9 jam untuk dapat masuk ke kebun dengan akses jalan yang relatif lebih sulit. Harga pupuk majemuk NK Blend lebih mahal daripada 2 pupuk tunggal yaitu Urea dan MOP. Tenaga kerja perempuan untuk penabur pupuk tidaklah sulit berbeda dengan kebun di Kalimantan yang sulit mencari tenaga kerja. Berdasarkan hal tersebut MRC menilai penggunaan pupuk tunggal lebih sesuai di PSE jika dikaji dari segi ekonomis. Menurut Poeloengan et al (2003) biaya produksi menjadi bagian terbesar dalam biaya pemeliharaan tanaman kelapa sawit. Bersamaan dengan peningkatan kebutuhan pupuk pada perkebunan kelapa sawit menyebabkan beredarnya pupukpupuk yang kualitasnya di bawah standar. Salah satu langkah yang dilakukan kebun PSE adalah melakukan quality control terhadap pupuk yang baru datang di gudang dengan pengambilan sample pupuk untuk diuji di MRC kandungan unsur hara aktual dalam pupuk tersebut. Namun demikian hasil check sample pupuk baru akan diketahui minimal 2 minggu setelah analisa di lab MRC sedangkan pupuk yang datang segera diaplikasi pupuk, hal ini menjadikan hasil uji lab kurang bermanfaat karena hanya sebagai evaluasi dan bahan untuk mengajukan complain terhadap pihak distributor pupuk namun pengaplikasian pupuk di bawah standar belum dapat dicegah. Tepat Dosis. Prinsip utama dalam aplikasi/penaburan pupuk di perkebunan kelapa sawit adalah bahwa setiap pokok harus menerima tiap jenis pupuk sesuai dosis yang telah direkomendasikan oleh Minamas Research Center (MRC) untuk mencapai produktifitas tanaman yang menjadi tujuan akhir dari bisnis perkebunan. Dosis rekomendasi diberikan ke kebun PSE pada bulan Mei atau 2 bulan sebelum awal semester ganjil sehingga kebun dapat mengajukan pupuk yang akan di aplikasi kepada bagian Purchasing Minamas. Pinang Sebatang Estate memiliki areal dengan topografi berbukit sehingga digunakan sistem until pupuk untuk menjaga agar aplikasi pupuk tetap dosis. Sistem untilan pupuk adalah suatu sistem dimana pupuk dalam satu karung dengan berat 50 kg dibagi ke beberapa karung dengan bobot yang disesuaikan 49 dengan jumlah pokok yang akan di aplikasi dan dosis aplikasi contoh perhitungannya adalah sebagai berikut : Divisi : IV Blok : B011 (Tahun Tanam 1994 = 65.980 ha = 9 052 pokok) Pupuk Urea : 18 104 kg = 362.08 sak Dosis : 2 kg/pokok Bobot satu until : 14 kg Jumlah untilan : 18 104/14 = 1 293 Penulis melakukan pengamatan terhadap tepat dosis di kebun PSE. Penulis melakukan pengamatan pada 4 orang pemupuk pada satu blok dan dilakukan pada 3 blok untuk pupuk MOP dan 2 blok untuk pupuk Urea. Pengamatan penulis terkait tepat dosis pada pupuk MOP dan Urea disajikan pada Tabel 6 dan 7. Tabel 6. Pengamatan Tepat Dosis Pupuk MOP D011, D010 1994 MOP 1.5 1.5 1.5 1.5 Berat Untilan (kg) 14 14 14 14 A008, A009 1994 MOP 1.5 1.5 1.5 1.5 D005 1997 MOP 1.5 1.5 1.5 1.5 Blok Tahun Jenis Tanam Pupuk Dosis (kg/pokok) Rata-rata I II III IV Rata-rata jumlah pokok/until 9 8.5 9 9 14 14 14 14 I II III IV 9 9 9 9 103.7% 103.7% 103.7% 103.7% 14 14 14 14 I II III IV 8 9 9 7 116.7% 103.7% 103.7% 133.3% 107.8% Penabur ke- Persen Ketepatan Dosis 103.7% 109.8% 103.7% 103.7% Sumber : Data pengamatan penulis, 2012 Berdasarkan data pengamatan tepat dosis tersebut didapatkan hasil bahwa rata-rata persentase ketepatan dosis aplikasi pada pupuk MOP adalah 107.8%, hal tersebut terjadi karena takaran untilan pupuk MOP tidak disesuaikan dengan dosis rekomendasi dan jumlah pokok dalam satu pasar namun terpaku pada sistem untilan 14 kg. Dosis rekomendasi pupuk MOP adalah 1.5 kg, sedangkan satu untilan berisi 14 kg untuk 9 pokok sehingga terdapat lebih pupuk 0.5 kg pada 50 setiap until pupuk MOP. Pupuk lebih 0.5 kg setiap untilnya seharusnya dapat dihindari dengan menyesuaikan bobot untilan dengan dosis rekomendasi dan jumlah pokok yang akan diaplikasi untuk satu untilan. Kelebihan dosis sebesar 7.8% berpengaruh dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh PSE. Berdasarkan perhitungan penulis dengan harga pupuk MOP non subsidi sebesar Rp 7 500,maka PSE akan mengalami kerugian sebesar Rp 97 200 000,- untuk satu divisi. Divisi : IV Luas : 864 ha Kelebihan Dosis : 7.8% Harga Pupuk MOP : Rp 7 500,- / kg Jumlah Pokok per ha : 131 pokok/ha Dosis Pupuk MOP : 1.5 kg/pokok Kelebihan Pupuk : 7.8% x 1.5 kg/pokok = 117 g/pokok Kelebihan Pupuk per ha : 117 g/pokok x 131 pokok/ha = 15 327 g/ha = 15 kg/ha Total Kelebihan Pupuk Divisi IV PSE : 15 kg/ha x 864 ha = 12 960 kg Total Kerugian PSE untuk Satu Divisi : 12 960 kg x Rp 7 500,- /kg = Rp 97 200 000,Pada Tabel 7 terlihat bahwa ketepatan dosis rata-rata aplikasi pupuk urea mencapai angka 97.6%, hal tersebut terjadi karena takaran untilan yang digunakan tetap mengacu pada 14 kg sehingga dengan dosis aplikasi 1 kg urea dan dalam satu pasar terdapat jumlah pokok 32 pokok sedangkan untilan yang diecer di setiap pasar sebanyak 2 until maka total hanya 28 kg dan hanya cukup untuk 28 pokok. Pada pengamtan penulis di blok yang lain takaran untilan sudah direvisi mengacu pada jumlah pokok pada setiap pasar sehingga bobot untilan menjadi 16 kg hal ini terbukti mempu meningkatkan tepat dosis dapat mencapai 100%. Jika dibandingkan antara kebutuhan pupuk per pasar dengan total pupuk yang tersedia di pasar maka jumlah pupuk yang tersedia di pasar pikul tidak tepat dengan kebutuhan pupuk per pasar. Tabel 8 menyajikan kebutuhan pupuk dan jumlah pupuk yang tersedia per pasar. 51 Tabel 7. Pengamatan Tepat Dosis Pupuk Urea D011 Tahun Tanam 1994 Jenis Pupuk Urea Dosis (kg/pokok) 1 1 1 1 Berat Untilan 14 14 14 14 Penabur keI II III IV Rata-rata Jumlah 14 15 14 16 Persen Ketepatan 100% 93.3% 100% 87.5% B008 1994 Urea 1 1 1 1 16 16 16 16 I II III IV 16 16 16 16 100% 100% 100% 100% Blok Rata-rata 97.6% Sumber : Data pengamatan penulis, 2012 Pada Tabel 8 terlihat bahwa pada bobot untilan 14 kg pada pupuk MOP total pupuk yang terdapat di setiap pasar tidak tepat sesuai dengan kebutuhan pupuk per pasar. Bobot untilan 16 kg lebih sesuai antara total pupuk per pasar dengan kebutuhan pupuk per pasar. Pemupukan di PSE sudah tergolong tepat dosis hanya perlu diadakan penyesuaian takaran untilan untuk pemupukan yang lebih efisien. Tabel 8. Perbandingan Kebutuhan Pupuk dan Jumlah Pupuk Tersedia per Pasar dengan Bobot Untilan yang Berbeda Jenis Pupuk MOP MOP Urea Urea Bobot Dosis Untilan (kg/pokok) (kg) 1.5 14 1.5 16 1 14 1 16 Rata-rata Jumlah Pokok Hingga Pasar Tengah 32 32 32 32 Jumlah Untilan per Pasar 3 sampai 4 3 2 2 Total Untilan per Pasar 42 - 56 48 28 32 Kebutuhan Pupuk (kg) 48 48 32 32 Sumber : Data pengamatan penulis, 2012 Tepat Cara. Menurut Poeloengan et al. (2003) pemupukan manual di perkebunan kelapa sawit umumnya dilakukan menggunakan 2 cara yaitu cara tabor dan cara benam (pocket). Pemupukan di kebun PSE dilakukan dengan cara tebar. Pupuk wajib disebar merata di pinggir pelepah mati yang disusun secara “U” shape. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kehilangan pupuk akibat aliran air hujan (run off). Pupuk yang terkena aliran air hujan akan tertahan di bawah pelepah mati sehingga pupuk tersebut tetap dapat diserap oleh tanaman. Berdasarkan pengamatan penulis maka Asisten Divisi IV PSE memberikan kesempatan kepada penulis untuk memberikan pengarahan kepada 52 pemupuk tentang cara pemupukan yang tepat. Penulis menjelaskan kepada pemupuk bahwa pupuk harus disebar secara merata hingga ke belakang pokok kelapa sawit agar pupuk tidak menumpuk di satu titik yang mengakibatkan peluang kehilangan pupuk semakin besar karena akar yang menyerap pupuk hanya ada di satu titik sedangkan akar aktif tersebar merata mengelilingi pokok kelapa sawit. Pupuk juga harus menyentuh tanah agar akar dapat menyerap unsur hara yang disediakan pupuk bukan diatas pelepah mati. Pupuk yang terletak diatas pelepah mati hanya akan hilang karena menguap terutama pupuk yang memiliki sifat higroskopis seperti urea. Berdasarkan pengamatan penulis, terjadi perubahan prestasi kerja antara sebelum dan setelah penulis memberikan pengarahan mengenai cara penaburan yang benar. Tabel 9 menyajikan perubahan prestasi kerja karyawan pada saat sebelum dan setelah pengarahan penaburan pupuk oleh penulis. Tabel 9. Pengamatan Prestasi Kerja Sebelum dan Setelah Pengarahan Penulis Setelah atau Sebelum Pengarahan oleh Penulis Blok Jenis Pupuk Sebelum (15 Februari 2012) Sebelum (14 Maret 2012) Sebelum (16 Maret 2012) Sebelum (15 April 2012) Sebelum (25 April 2012) Setelah (26 April 2012) Setelah (27 April 2012) Setelah (27 April 2012) Setelah (09 Mei 2012) D005 D011, D010 A008, A009 B011, B012 C012, D012, D013 B009, B010 B008, B009 A013 A012, A010 MOP MOP MOP Urea Urea Urea Urea Urea Urea Prestasi Kerja Karyawan 602 kg 610 kg 606 kg 600 kg 608 kg 455 kg 217 kg 350 kg 451 kg Premi Karyawan (Rp/hari) 15 500 15 500 15 500 15 500 15 500 4 500 0 0 4 500 Sumber : Data pengamatan penulis, 2012 Pada Tabel 9 terlihat perbedaan prestasi kerja sebelum dan setelah penulis memberi pengarahan dimana sebelum penulis memberi pengarahan prestasi kerja penabur selalu di atas 600 kg atau premi maksimum dalam pemupukan. Setelah pengarahan penaburan pupuk oleh penulis prestasi kerja menjadi menurun karena penabur yang tadinya hanya menaburkan pupuk dar samping kiri dan kanan pokok sekarang wajib menabur mengelilingi pokok. Penaburan pupuk menjadi lebih merata namun premi karyawan penabur menjadi turun. Tepat Waktu. Waktu dan frekuensi pemupukan ditentukan oleh iklim (terutama curah hujan), sifat fisik tanah, pengadaan pupuk, serta adanya sifat 53 sinergis dan antagonis antar unsur hara (Pahan, 2006). Pada Tabel 11 terlihat untuk pupuk MOP dan RP pada realisasinya di semester pertama tidak dipupuk hal ini dapat terjadi karena pada bulan Oktober hingga Desember 2011 mengalami curah hujan yang tinggi. Data curah hujan di semester pertama hingga bulan Januari dapat dilihat dari Tabel 10. Tabel 10. Curah Hujan Juli 2011 – Januari 2012 Curah Hujan Bulan (mm) Juli 102 Agustus 145 September 216 Oktober 290 November 232 Desember 242 Januari 116 Sumber : Data Pinang Sebatang Estate, 2012 Pemupukan MOP dilakukan 2 kali pada semester 2 hal ini akan merugikan karena kebutuhan hara pada semester 2 hanya 1.25 kg per pokok jika ditambah lagi 1.5 kg per pokok di semester 2 maka pokok sawit juga tidak mampu menyerap unsur hara. Unsur hara hanya akan menghilang tercuci ataupun menghilang karena penguapan. Menurut Pahan (2006) untuk menjamin waktu pemupukan yang tepat, sebaiknya dilakukan pembelian secara kontrak dengan stok minimal untuk penaburan 1 bulan. Sistem pemasaran pupuk di Indonesia terdiri dari 4 lini, yaitu produsen (Urea, TSP, ZA) dan importer (TSP, MOP), unit pemasaran PUSRI (tingkat provinsi), distributor (tingkat kabupaten), serta instansi pemerintah dan PT atau KUD (tingkat desa). Para petani akan lebih diprioritaskan terlebih dahulu oleh PUSRI baru kemudian pihak perkebunan. Tabel 11 menyajikan waktu rekomendasi pemupukan, kedatangan pupuk serta aktualisasi pemupukan di lapangan sedangkan rekapitulasi program pemupukan tahun 2005-2011 di PSE disajikan pada Lampiran 6. Pada Tabel 11 terlihat bahwa kedatangan pupuk sebagian besar sudah datang sebelum bulan aplikasi rekomendasi. Namun, pada pupuk MOP yang direkomendasikan untuk aplikasi pada bulan Oktober hingga November tidak dapat terlaksana sesuai jadwal. Hal tersebut dapat terjadi salah satunya karena kedatangan pupuk MOP terlambat hingga bulan Desember. 54 Tabel 11. Waktu Kedatangan Pupuk, Waktu Aplikasi Rekomendasi serta Realisasi Pemupukan Jenis Pupuk Urea RP MOP Dolomite Kieserite HGFB Waktu Kedatangan Pupuk Juni - Juli Januari-Februari Juli - Agustus Waktu Aplikasi Rekomendasi September – Oktober Maret – April Oktober – November Juni, Juli dan Desember Februari - Maret Juli - Agustus Oktober – November Maret – April Agustus Agustus Juli - Aplikasi Pertama Kedua Pertama Kedua Pertama Kedua Pertama Kedua Pertama Kedua Pertama Kedua Juni Juli Waktu Realisasi Pemupukan Juli – Agustus April – Mei Agustus – September Februari – Maret Agustus Juli – Agustus Juli – Januari - Dosis (kg) 1 1 1 1.5 1.25 1.8 1.75 0.1 - Sumber : Data Pinang Sebatang Estate, 2012 Defisiensi Unsur Hara Tanaman Penulis mengamati defisiensi unsur hara Pinang Sebatang Estate secara visual bersamaan dengan pengambilan sample LSU. Tabel 12 menyajikan hasil pengamatan penulis mengenai defisiensi unsur hara di Divisi IV PSE. Tabel 12. Pengamatan Visual Defisiensi Hara Ulangan 1 2 3 Total Persentase Ʃ Pokok diamati Ʃ Pokok Sehat Ʃ Pokok Sakit 260 260 384 904 220 207 222 649 71.79% 4 5 10 19 2.10% Defisiensi Hara N 3 7 6 16 1.77% K 15 20 20 55 6.08% P 7 7 0.77% Mg 0 0 104 104 11.50% B 14 21 15 50 5.53% Sumber : Data pengamatan penulis, 2012 Berdasarkan Tabel 12 terlihat bahwa pokok di Divisi IV PSE 71.79% merupakan tanaman sehat yang memiliki kecukupan unsur hara. Pada ulangan ke3 penulis mengambil data di blok C26 Divisi IV PSE dimana blok tersebut berbatasan langsung dengan Sungai Pingai sehingga setengah dari blok tersebut merupakan areal rendahan atau rawa yang menyebabkan tanaman kerdil karena tergenang dan anak daun menguning akibat kekurangan unsur Mg. Defisiensi hara yang paling banyak terdapat di Divisi IV PSE adalah defisiensi hara K dan B. 55 Defisiensi hara B dapat terlihat dari anak daun yang keriput, daun muda menbengkok dan berwarna kecoklatan. Defisiensi unsur hara K dapat terlihat dari bagian tepi anak daun mengering (Pahan, 2006). Aplikasi Pupuk Organik Penulis melakukan pengamatan terhadap beberapa blok yang telah di aplikasi pupuk organik. Penulis mengamati hubungan antara dosis pupuk anorganik pada lahan yang tidak di aplikasi janjang kosong dan total produksi blok yang diberi aplikasi janjang kosong berbanding dengan blok yang tidak diaplikasi. Jika dilihat dari Tabel 13 dosis aplikasi pupuk anorganik di lahan yang telah diaplikasi janjang kosong maupun yang tidak diaplikasi tidak berbeda hal ini dikarenakan MRC masih tetap mengacu kepada hasil analisis LSU dalam penetapan dosis rekomendasi. Pengaplikasian janjang kosong merupakan upaya meningkatkan unsur hara yang memerlukan biaya untuk pengaplikasiannya. Pengaplikasian janjang kosong yang tidak diikuti penurunan dosis rekomendasi menyebabkan biaya pemeliharaan di setiap Estate menjadi lebih tinggi. Pada blok yang telah diaplikasi janjang kosong total produksi ton per ha di atas rata-rata. Pada blok C011 dan C012 yang sudah di aplikasi sekitar 21% dan 45% produksinya total ton per ha pada blok tersebut mencapai 21.84 dan 21.63 ton per ha sedangkan rata-rata produksi per blok hanya berkisar 18 ton per ha. Blok B013 dan C013 merupakan areal yang sebagian blok nya merupakan rendahan. Blok C013 telah diaplikasi janjang kosong hingga 100% dengan total produksi mencapai rata-rata total produksi blok yaitu 17.95 ton/ha sedangkan blok B013 tidak diaplikasi janjang kosong sehingga produksi blok hanya 15.48 ton/ha. Hal ini dapat terjadi karena unsur hara K merupakan unsur hara yang paling banyak terkandung di dalam janjang kosong dan paling cepat terurai yang berfungsi untuk meningkatkan jumlah dan ukuran tandan. 56 Tabel 13. Dosis Pupuk, Total Aplikasi Janjang Kosong, Total Produksi Dosis (kg/ pokok) Blok / (TT) Jumlah Pokok / (Luas (ha)) Aplikasi ke B011 1994 B012 1994 B013 1994 C008 1994 C009 1994 C010 1994 C010 1994 C011 1994 C012 1994 C013 1994 D009 1994 9 052 65.980 7 715 59.090 7 124 57.050 9 057 69.051 9 718 70.670 6 322 48.819 1 947 14.981 6 673 50.220 8 438 64.100 7 866 60.220 10 299 81.325 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 Aplikasi Janjang Kosong Urea RP MOP Dolomite Kieserite HGFB (jumlah pokok) 1 1.5 1.75 0.1 1 1 1.25 1 1.5 1.25 0.1 1 1 1.25 1 1.5 1.75 0.1 1 1 1.25 1 1.5 1.25 0.1 1 1 1.25 1 1.5 1.25 0.1 1 1 458.25 1 1.25 1 1.5 1.25 0.1 1 3 807.92 1 1.25 1 1.5 1.75 0.1 1 7 874.96 1 1.25 - Total Produksi (ton/ha) 17.98 20.94 15.48 16.88 17.55 18.97 21.84 21.63 17.95 16.27 57 Tabel 13. Dosis Pupuk, Total Aplikasi Janjang Kosong, Total Produksi (Lanjutan) Dosis (kg/ pokok) Aplikasi Janjang Kosong (jumlah pokok) Urea RP MOP Dolomite Kieserite HGFB D010 7 516 1 1 1.5 1.25 0.1 1 1994 59.230 2 1 1.25 D011 7 438 1 1 1.5 1.25 0.1 1 459.8 1994 57.670 2 1 1.25 D012 5 815 1 1 1.5 1.25 0.12 1 542.04 1994 43.410 2 1 1.25 D013 3 869 1 1 1.5 1.25 0.1 1 1994 32.140 2 1 1.25 Sumber : Data Pinang Sebatang Estate dan Pengamatan Penulis, 2012 Keterangan : 1) Periode Aplikasi Pemupukan Juli 2011 - Juni 2012 2) Periode Panen Juli 2011 - Maret 2012 3) Aplikasi Janjang Kosong hingga Maret 2012 Blok / (TT) Jumlah Pokok / (Luas (ha)) Aplikasi ke Total Produksi (ton/ha) 18.06 14.05 18.56 15.88 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Manajemen pemupukan di Pinang Sebatang Estate sudah tergolong baik. Perencanaan hingga pengawasan sudah berjalan sesuai SOP yang ada. Efektifitas pemupukan tidak terlepas dari konsep 4 T (tepat jenis, tepat dosis, tepat cara, dan tepat waktu). Pemupukan MOP di PSE kelebihan dosis sebesar 7.8% dan pada pupuk urea kekurangan dosis sebesar 2.4% menunjukkan pemupukan sudah tergolong tepat dosis namun kesesuaian untilan pupuk dengan jumlah pokok harus lebih diperhatikan. Pemupukan di PSE masih belum memenuhi kriteria tepat waktu dimana pada semester 2 pemupukan MOP dilakukan dua kali karena pupuk MOP semester 1 belum diaplikasi. Kriteria tepat waktu menjadi penting karena terkait dengan efisiensi dan efektifitas pemupukan. Pemupukan dua kali dalam satu semester tidak efektif karena kebutuhan pupuk MOP pokok sawit pada satu semester hanya sekitar 1.5 kg. Pupuk hanya akan hilang karena tercuci sehingga pemupukan tidak efektif dan tidak efisien dari segi biaya. Janjang kosong di PSE sudah diaplikasikan di beberapa blok. Meningkatnya sumber unsur hara pada setiap pokok belum diikuti dengan penurunan dosis rekomendasi sehingga biaya pemeliharaan bertambah tinggi. Saran Untilan pupuk disesuaikan dengan dosis dan jumlah pokok per pasar sehingga jumlah untilan yang diecer tepat untuk satu pasar. Cara kerja pemupukan dibuat lebih efisien sehingga penabur tidak menghabiskan banyak tenaga untuk berjalan menuju pasar berikutnya. Aplikasi janjang kosong diharapkan menjadi salah satu kriteria yang dilihat dalam penentuan dosis rekomendasi. 59 DAFTAR PUSTAKA Chapman, G. W. dan H. M. Gray. 1949. Leaf analysis and the nutrition of oil palm. Ann Bot. 13: 415 - 433. Depkominfo. 2010. Peningkatan produktivitas cpo dukung pertumbuhan ekonomi. http://www.depkominfo.go.id/berita/bipnewsroom/peningkatan-pro duktivitas-cpo-dukung-pertumbuhan-ekonomi/. [14 April 2011] Ditjenbun, 2010. Luas areal dan produksi perkebunan seluruh indonesia menurut pengusahaan. http://ditjenbun.deptan.go.id [14 April 2011]. Hakim, M. 2007. Kelapa Sawit: Teknis Agronomis dan Manajemennya (Tinjauan Teoritis dan Praktis). Lembaga Pupuk Indonesia. Jakarta. 296 hal. Limbong, R. K. 2011. Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Gunung Sari Estate, PT Ladangrumpun Suburabadi, Minamas Plantation, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB. Bogor. Lubis, A. U. 1992. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis) di Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat Bandar Kuala. Pematang Siantar. 435 hal. Manual Referensi Agronomi Minamas Plantation. 2008. Buku Pedoman Teknis Kelapa Sawit. Minamas Plantation. Jakarta. 738 hal. Pahan, I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta. 424 hal. Poeloengan, Z, M. L. Fadli, Winarna, S. Rahutomo, dan E. S. Sutarta. 2003. Permasalahan pemupukan pada perkebunan kelapa sawit, hal. 67 – 78. Dalam W. Darmosarkoro, E. S. Sutarta, dan Winarna (Eds). Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit. Medan. Sastrosayono, S. 2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta. 65 hal. Setyamidjaja, D. 2006. Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta. 127 hal. Sutarta, E. S, S. Rahutomo, W. Darmosarkoro, dan Winarna. 2003. Peranan unsur hara dan sumber hara pada tanaman kelapa sawit, hal. 79 – 90. Dalam W. Darmosarkoro, E. S. Sutarta, dan Winarna (Eds). Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan. Sutarta, E. S, M. R. Adiwiganda, dan Z. Poeloengan. 2003. Pengambilan contoh daun dan tanah, hal. 97 – 108. Dalam W. Darmosarkoro, E. S. Sutarta, dan Winarna (Eds). Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan. 60 Sutarta, E. S. dan W. Darmosarkoro. 2003. Penggunaan pupuk majemuk pada perkebunan kelapa sawit, hal. 153 – 166. Dalam W. Darmosarkoro, E. S. Sutarta, dan Winarna (Eds). Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan. Winarna, W. Darmosarkoro dan E. S. Sutarta. 2003. Teknologi pemupukan tanaman kelapa sawit, hal. 109 – 130. Dalam W. Darmosarkoro, E. S. Sutarta, dan Winarna (Eds). Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan. 60 LAMPIRAN 61 Lampiran 1. Jurnal Kegiatan Magang di Pinang Sebatang Estate, PT. Aneka Intipersada, PT. Minamas Plantation, Siak, Riau. Prestasi Kerja Tanggal 11-Feb-12 12-Feb-12 13-Feb-12 14-Feb-12 15-Feb-12 16-Feb-12 17-Feb-12 18-Feb-12 19-Feb-12 20-Feb-12 21-Feb-12 22-Feb-12 23-Feb-12 24-Feb-12 25-Feb-12 26-Feb-12 27-Feb-12 28-Feb-12 5-Mar-12 Uraian Kegiatan Jumlah Lama Karyawan Kegiatan Lokasi Karyawan Standar 2.20 ha 3 ha 13 7 jam 450 kg 3 ha 9 26 14 152 HK 7 jam 4 jam 7 jam 5 jam 7 jam Blok C011, C010 dan C009, Gudang Pupuk dan PKS Divisi 1 Blok D010 dan D011 TSE dan Kantor Divisi Divisi IV 3.4 ha / HK 29 HK 17 HK 7 jam 7 jam Divisi IV Blok C009 269 Bibit 7 HK 7 jam Blok D009 Orientasi Kebun Libur Mengikuti Panen Until Pupuk Mengikuti Pemupukan Mengikuti Panen Demonstrasi Trunk Injection Membantu Krani Divisi Libur Pengendalian gulma Pengendalian gulma ISPO ISPO ISPO Tanam Casia ISPO Libur Mengikuti Pemupukan, ISPO Aplikasi JJK, ISPO Kerani, ISPO 10.500 kg/ 7 HK 43 until / 602 kg 2.89 ha/ HK 606 kg/HK 600 kg/ HK 30 HK 7 jam 185 pokok / HK 12 pokok/ HK 5 HK 7 jam C010, C011, C012, D 011, D012, D 013 C013, C008 62 Lampiran 1. Jurnal Kegiatan Magang di Pinang Sebatang Estate, PT. Aneka Intipersada, PT. Minamas Plantation, Siak, Riau (Lanjutan) Prestasi Kerja Tanggal 6-Mar-12 7-Mar-12 8-Mar-12 9-Mar-12 10-Mar-12 11-Mar-12 12-Mar-12 13-Mar-12 14-Mar-12 15-Mar-12 16-Mar-12 17-Mar-12 18-Mar-12 19-Mar-12 Uraian Kegiatan ISPO Mengikuti Panen ISPO ISPO Kerani Divisi Libur Kerani Divisi Kerani Divisi Pupuk Mengikuti pemupukan Mengikuti pemupukan Rapat Pembibitan Libur Krani Bibitan 20-Mar-12 21-Mar-12 22-Mar-12 23-Mar-12 24-Mar-12 Krani Bibitan Cek bibit afkir Membantu mandor Emplasent Pembukaan PORSENIBUN Kerani Divisi Karyawan Standar Jumlah Karyawan Lama Kegiatan 15 HK 7 jam Lokasi 7 jam Kantor Besar 610 kg / HK 606 kg / HK 606 kg / HK 600 kg / HK 600 kg / HK 600 kg / HK 18 HK 30 HK 32 5 jam 5 jam 10 orang 10 jam 10 orang 10 jam 7 jam 4 jam 7 jam 7 jam D011, D 010 A009, A010 A008, A009 Kantor Besar Areal Pembibitan PT AIP. Divisi II Areal Pembibitan PT AIP. Divisi II Kantor Besar Emplasment Emplasment Kantor Besar 63 Lampiran 1. Jurnal Kegiatan Magang di Pinang Sebatang Estate, PT. Aneka Intipersada, PT. Minamas Plantation, Siak, Riau (Lanjutan) Prestasi Kerja Tanggal Uraian Kegiatan 26-Mar-12 27-Mar-12 28-Mar-12 29-Mar-12 30-Mar-12 31-Mar-12 Kerani Divisi Persiapan SOU Pengarahan LSU oleh MRC Pengambilan Leaf sampling Unit Pengambilan Leaf sampling Unit 1-Apr-12 2-Apr-12 3-Apr-12 4-Apr-12 5-Apr-12 6-Apr-12 7-Apr-12 8-Apr-12 9-Apr-12 10-Apr-12 11-Apr-12 12-Apr-12 13-Apr-12 Krani Divisi Libur Penentuan dosis di MRC Krani Divisi Field Day R&D Field Day R&D Libur Persiapan SOU 16 Libur Menggantikan Kerani Divisi Membantu Kerani Divisi SOU 16 field Mill dan Meeting SOU 16 Pengumpulan data di Kantor Besar Karyawan Standar Jumlah Karyawan Lama Kegiatan Lokasi 7 jam Kantor Besar Kantor Besar Blok C 26 Blok C25 Blok C 24 Kantor Divisi, Kantor Besar 4 jam 7 jam 7 jam 7 jam 7 jam 7 jam 7 jam 7 jam MRC Kantor Besar Teluk Siak Teluk Siak Kantor Besar 7 jam 7 jam 7 jam 7 jam 8 jam Kantor Besar Kantor Besar Kantor Besar Teluk Siak Kantor Besar 64 Lampiran 1. Jurnal Kegiatan Magang di Pinang Sebatang Estate, PT. Aneka Intipersada, PT. Minamas Plantation, Siak, Riau (Lanjutan) Prestasi Kerja Tanggal 14-Apr-12 15-Apr-12 16-Apr-12 17-Apr-12 18-Apr-12 19-Apr-12 20-Apr-12 21-Apr-12 22-Apr-12 23-Apr-12 24-Apr-12 25-Apr-12 Uraian Kegiatan Standar Jumlah Karyawan Kantor Divisi Libur Supervisi Dosen Panen Until Pupuk Kantor Divisi Krani Bibitan Krani Bibitan Libur Kantor Divisi Kantor Besar Pupuk 26-Apr-12 27-Apr-12 28-Apr-12 29-Apr-12 30-Apr-12 Karyawan Pupuk Pupuk Rekap bibit tanaman bulan april Libur Until Pupuk Lama Kegiatan Lokasi 7 jam Kantor Divisi 7 jam 7 jam 7 jam 7 jam 7 jam 7 jam C011, C010, C009 Gudang Sentral Divisi 2 Divisi 2 7 jam 7 jam 608 kg /HK 23 7 jam 455 kg/ ha 28 7 jam 217 kg/ HK 28 7 jam 5 jam C 012, D 012, D013 B 008, B009, B010 B008 B010 Kantor Besar 5 jam Gudang Sentral Lampiran 1. Jurnal Kegiatan Magang di Pinang Sebatang Estate, PT. Aneka Intipersada, PT. Minamas Plantation, Siak, Riau (Lanjutan) 65 Prestasi Kerja Tanggal 1-May-12 2-May-12 3-May-12 4-May-12 5-May-12 6-May-12 7-May-12 8-May-12 9-May-12 10-May-12 Uraian Kegiatan MRC Krani Bibitan Mandor Panen Until Pupuk Pupuk Libur Rumah BSS Field Check dan Rapat SOU Pupuk Pupuk Karyawan 350 kg/ HK 451 kg / HK Standar Jumlah Karyawan Lama Kegiatan Lokasi 7 jam 5 jam 7 jam 5 jam 7 jam 7 jam 5 jam 9 jam 7 jam 7 jam MRC Divisi 2 Divisi 3 Gudang Sentral A013 Divisi 1 A 012, A011 A009, A010 66 Lampiran 2. Peta Areal Statement Pinang Sebatang Estate. 67 Lampiran 3. Curah Hujan di Pinang Sebatang Estate tahun 2002 – 2011. Q = Total BK/BB x 100% = 10/100 x100% = 10% Berdasarkan klasifikasi Schmidth-Ferguson Pinang Sebatang Estate termasuk tipe iklim A sangat basah Tipe iklim A = 0.5% - 14.3% BB = Bulan Basah (>100 mm) BK = Bulan Kering (
Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Pinang Sebatang Estate, PT. Aneka Intipersada, PT. Minamas Plantation, Siak, Riau. Ketepatan dosis pupuk. Data ini diperoleh dari pengamatan terhadap 4 Aplikasi janjang kosong. Penulis mengamati produktivitas blok yang
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Pinang Sebatang Estate, PT. Aneka Intipersada, PT. Minamas Plantation, Siak, Riau.

Gratis