Feedback

Analysis and Design of E-learning of Technical Library Management Training Using Learning Technology System Architecture Standard (IEEE P1484.1).

Informasi dokumen
ANALISIS DAN DESAIN E-LEARNING DIKLAT TEKNIS PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN MENGGUNAKAN STANDAR LEARNING TECHNOLOGY SYSTEM ARCHITECTURE (IEEE P1484.1) SRI PALUPI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI TUGAS AKHIR DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tugas akhir Analisis dan Desain E-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Menggunakan Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1) adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun ke perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir dari tugas akhir ini. Bogor, Juni 2012 Sri Palupi NRP G652080115 ABSTRACT SRI PALUPI. Analysis and Design of E-learning of Technical Library Management Training Using Learning Technology System Architecture Standard (IEEE P1484.1). Under supervision of MEUTHIA RACHMANIAH and ABDUL RAHMAN SALEH. The need for training that meets the competencies of librarians and can be accessed regardless distance and time were the reasons for the development of e-learning of Technical Library Management Training at Training Center, National Library of Indonesia. The development of e-learning in the National Library has been initiated since 2007, but until now it has not been used as it faces several obstacles. In 2010, the development of e-learning in Training Center already reached the stage of development of learning management system (LMS) that will be placed on Training Centre site. However, it is untested if it really meets the criteria for the implementation of e-learning of Technical Library Management Training. The constraints were associated with the absence of standardized LMS for the implementation of e-learning for that training. Therefore, the purpose of this research was to analyze and design e-learning for the holding of Technical Library Management Training using Learning Technology Systems Architecture standard (IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28). The approach used in this research was to examine the condition of existing e-learning of Technical Library Management Training compared with the Learning Technology System Architecture Standard (LTSA) document. Out of 5 layers that existed in LTSA system components, only layer 1 to 4 were analyzed in this research. LTSA is a standard for learning technology system that provides a framework to determine the existing and to be constructed system. Further analysis of the layers in the LTSA document was used to make the design of e-learning of Technical Library Management Training. The conclusions obtained from this research was that e-learning of Technical Library Management Training in Training Center, National Library of Indonesia did not meet LTSA standard. Out of 16 LTSA system components (layer 3), only 5 components were met by the e-learning of Technical Library Management Training. Those were entity leaner, coach, evaluation, multimedia, and learning content. The components that did not exist were delivery, learner record, learning resources, behavior, assessment, learner information, query, catalog info, locator, interaction context, and learning parameters. Based on this analysis, the web browser (web-based LMS) was a good example to be used as reference in making the e-learning of Technical Library Management Training design because it can map out all LTSA system components. Keywords: analysis, design, technical library management training, e-learning, learning technology system architecture (LTSA), national library of Indonesia RINGKASAN SRI PALUPI. Analisis dan Desain E-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Menggunakan Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1). Dibimbing oleh MEUTHIA RACHMANIAH dan ABDUL RAHMAN SALEH. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat, maka penerapannya juga telah merambah di berbagai bidang termasuk di bidang pendidikan dan pelatihan. Dengan adanya aplikasi pendidikan jarak jauh yang berbasiskan internet, maka ketergantungan akan jarak dan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan pendidikan dan pelatihan akan dapat diatasi, karena kegiatan akademik akan dapat disediakan secara online dan dapat diakses kapan saja. Setiap tahunnya jumlah lulusan peserta Pendidikan dan Pelatihan Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang dibiayai oleh APBN tidak lebih dari 30 orang, sedangkan jika melihat jumlah tenaga teknis pengelola perpustakaan yang masih perlu mengikuti Diklat tersebut adalah sejumlah 16.965 orang. Melihat kenyataan tersebut maka Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI merintis pengembangan e-learning diklat tenaga perpustakaan yang akan dimulai dengan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Pengembangan e-learning di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI telah dirintis sejak tahun 2007, namun sampai sekarang belum juga dapat digunakan karena menghadapi beberapa kendala. Pada tahun 2010, pengembangan e-learning di Pusdiklat sudah sampai pada tahap pembuatan learning management system (LMS) yang nantinya akan diletakkan di situs Pusdiklat. Namun LMS ini belum teruji apakah sudah benar-benar memenuhi kriteria penyelenggaraan e-learning untuk Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan karena belum pernah dilakukan simulasi mulai dari pendaftaran peserta, kegiatan belajar mengajar hingga peserta lulus dan mendapatkan sertifikat kelulusan. Learning management system untuk penyelenggaraan e-learning khusus untuk Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan diperlukan karena diharapkan dapat memfasilitasi kegiatan belajar mengajar dengan baik. Selain itu, dengan learning management system ini diharapkan dapat mengakomodasi target peserta yang begitu banyak dan luas cakupannya yaitu meliputi seluruh wilayah Indonesia bahkan jika dimungkinkan pesertanya dari luar negeri juga. Terkait dengan kendala belum adanya learning management system yang sudah teruji dan sesuai standar untuk penyelenggaraan e-learning bagi diklat tersebut, maka penelitian ini akan mencoba untuk menganalisa dan mendesain elearning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Analisis dan desain dilakukan dengan menggunakan suatu standar yang diakui secara internasional. Learning Technology System Architecture (LTSA) merupakan suatu standar untuk sistem teknologi pembelajaran yang menyediakan suatu kerangka kerja untuk mengetahui sistem yang ada dan yang akan dibangun. LTSA adalah sebuah arsitektur yang berbasis kepada komponen-komponen abstrak. Implementasi sistem teknologi pembelajaran dapat dipetakan dari/ke LTSA. Dokumen LTSA yang akan digunakan sebagai standar pada penelitian ini adalah IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis dan desain e-learning bagi penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan menggunakan Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara melihat kondisi e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang ada saat ini untuk kemudian dibandingkan dengan hasil analisis layer-layer yang ada pada dokumen standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1). Dengan cara ini akan dapat dilihat sejauh mana komponen-komponen yang ada pada standar tersebut sudah terpenuhi oleh e-learning diklat tersebut. Selanjutnya hasil analisis layer-layer pada dokumen LTSA akan digunakan untuk membuat desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai standar. Pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dilakukan setelah mendapatkan hasil dari analisa terhadap layer 1 s.d 4 dari LTSA dibandingkan dengan kondisi yang ada pada e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI belum sesuai dengan standar LTSA. Dari 16 komponen sistem LTSA (layer 3) hanya 5 komponen saja yang terpenuhi oleh e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, yaitu entitas siswa (leaner entity), instruktur (coach), evaluasi (evaluation), multimedia, dan materi belajar (learning content). Komponen yang belum ada yaitu pengiriman (delivery), data siswa (learner record), sumber belajar (learning resources), perilaku (behavior), penilaian (assessment), informasi siswa (learner information), kueri (query), informasi katalog (catalog information), locator, konteks interaksi (interaction context), dan parameter belajar (learning parameters). Berdasarkan analisis tersebut didapatkan hasil bahwa web browser (LMS berbasis web) merupakan contoh yang tepat untuk dijadikan acuan dalam pembuatan desain e-learning Diklat ini karena dapat memetakan seluruh komponen sistem LTSA. Kata kunci: analisis, desain, diklat teknis pengelolaan perpustakaan, e-learning, learning technology system architecture (LTSA), Perpustakaan Nasional RI © Hak Cipta milik IPB, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB ANALISIS DAN DESAIN E-LEARNING DIKLAT TEKNIS PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN MENGGUNAKAN STANDAR LEARNING TECHNOLOGY SYSTEM ARCHITECTURE (IEEE P1484.1) SRI PALUPI Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesional pada Program Studi Teknologi Informasi untuk Perpustakaan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tugas Akhir: Drs. Badollahi Mustafa, M.Lib Judul Tugas Akhir : Analisis dan Desain E-Learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Menggunakan Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1) Nama : Sri Palupi NRP : G652080115 Disetujui Komisi Pembimbing Ir. Meuthia Rachmaniah, M.Sc Ketua Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc Anggota Diketahui Ketua Program Studi Magister Teknologi Informasi untuk Perpustakaan Dekan Sekolah Pascasarjana Aziz Kustiyo, S.Si, M.Kom Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr Tanggal Ujian: 17 Maret 2012 Tanggal Lulus: PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Mei 2010 ini ialah e-learning dengan judul Analisis dan Desain E-Learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Menggunakan Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1). Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Ir. Meuthia Rachmaniah, M.Sc dan Bapak Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc selaku pembimbing, serta Bapak Aziz Kustiyo, S.Si., M.Kom selaku ketua Program Studi Magister Teknologi Informasi untuk Perpustakaan yang telah banyak memberi saran dan motivasi. Disamping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Gardjito, M.Sc selaku Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI yang telah memberi penulis kesempatan untuk mengikuti program beasiswa S2. Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ibu Dra. Opong Sumiati, M.Si, Bapak Drs. Ahmad Masykuri, SS, MM, Bapak Drs. Deni Kurniadi, M.Hum, Bapak Markus Tendean, S.Sos dan Bapak Drs. M. Sugiyanto serta para pejabat dan kolega di lingkungan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI. Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak, Ibu, kakak dan adik serta seluruh keluarga dan sahabat atas do’a dan dukungan moril sehingga penulis dapat menyelesaikan studi S2 ini. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Bogor, Juni 2012 Sri Palupi RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 30 Oktober 1974 dari Ayah Wakiman dan Ibu Kotidjah. Penulis merupakan anak keempat dari delapan bersaudara. Pada tahun 1998 penulis menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (dahulu Fakultas Sastra), Universitas Indonesia dan mendapat gelar Sarjana Sastra. Pada tahun 2003 penulis bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Penulis mendapat beasiswa dari institusi tempat penulis bekerja untuk melanjutkan pendidikan S2 pada program studi Magister Teknologi Informasi untuk Perpustakaan, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor pada tahun 2008. Hingga tugas akhir ini selesai penulis bekerja pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Perpustakaan Nasional RI. xiv DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL .......................................................................................... xvi DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xviii PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1.2 Perumusan Masalah ........................................................................ 1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................ 1.4 Manfaat Penelitian .......................................................................... 1.5 Ruang Lingkup Penelitian ............................................................... 1 4 4 4 5 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Basis Teori ...................................................................................... 2.1.1 E-learning ............................................................................. 2.1.2 Learning Management System (LMS) .................................. 2.1.3 Learning Technology System Architecture (LTSA) ............. 2.1.4 Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan .............................. 2.1.5 Pusat Pendidikan dan Pelatihan ............................................ 2.2 Penelitian Terdahulu ....................................................................... 6 6 7 8 16 17 18 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran ........................................................................ 3.2 Pendekatan ...................................................................................... 3.3 Kerangka Penelitian ........................................................................ 3.4 Prosedur Penelitian ......................................................................... 3.4.1 Studi Pustaka ......................................................................... 3.4.2 Pengumpulan Data ................................................................ 3.4.3 Analisis E-learning Berdasar Standar LTSA ........................ 3.4.4 Pembuatan Desain E-learning .............................................. 20 20 21 21 21 21 22 22 1. 2. 3. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Observasi Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan secara klasikal di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI .................................................................................... 4.2 Hasil Observasi Kondisi Saat Ini Mengenai Penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan ....................................... 4.3 Analisis E-learning Berdasar Standar LTSA ................................. 4.3.1 Layer 1: Interaksi learner dengan lingkungannya ................ 4.3.2 Layer 2: Desain fitur-fitur yang berfokus pada siswa ........... 4.3.3 Layer 3: Komponen-komponen sistem ................................. 4.3.4 Layer 4: Stakeholder perspective and priorities ................... 4.3.5 Pembuatan Desain E-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan ........................................................................ 24 31 36 37 38 39 65 67 xv KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ..................................................................................... 5.2 Saran ................................................................................................ 73 73 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 75 LAMPIRAN ................................................................................................... 76 5. xvi DAFTAR TABEL Halaman 1 Kurikulum diklat teknis pengelolaan perpustakaan ............................. 2 Daftar instruktur dan mata ajar diklat teknis pengelolaan perpustakaan ......................................................................................... 3 Daerah asal peserta diklat tahun 2009 – 2011 ...................................... 4 Daftar sarana di ruang administrator e-learning pusdiklat ................... 5 Daftar sarana di laboratorium komputer Pusdiklat ............................... 6 Daftar mata ajar dalam format multimedia ........................................... 7 Pemetaan komponen LTSA terhadap e-learning diklat teknis pengelolaan perpustakaan ..................................................................... 8 Pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA .................. 25 27 28 33 33 35 65 68 xvii DAFTAR GAMBAR Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Hasil penelitian Graf dan List ....................................................... Lima layer LTSA .......................................................................... Cara pandang learner terhadap lingkungan belajar ...................... Cara pandang sistem dari learner-environment interaction ....... Komponen-komponen sistem LTSA ........................................... Langkah-langkah penelitian ......................................................... Daerah asal peserta diklat tahun 2009 – 2011 .............................. Model pola interaksi antara siswa dengan lingkungan pelatihan.. Abstraksi proses entitas siswa ...................................................... Abstraksi data flow multimedia ................................................... Abstraksi data flow parameter belajar .......................................... Abstraksi data flow perilaku ........................................................ Abstraksi proses evaluasi .............................................................. Abstraksi data flow informasi siswa ............................................. Abstraksi data store data siswa (learner records) ........................ Abstraksi data flow informasi siswa yang diterima oleh sistem instruktur ....................................................................................... Abstraksi data flow informasi siswa yang disimpan oleh sistem instruktur ....................................................................................... Abstraksi data store informasi penilaian ...................................... Abstraksi proses instruktur (langkah 1) ........................................ Abstraksi proses instruktur (langkah 2 dan 3) .............................. Abstraksi proses instruktur (langkah 4) ........................................ Abstraksi proses instruktur (langkah 5) ........................................ Abstraksi control flow kueri ......................................................... Abstraksi data store sumber belajar ............................................. Abstraksi data flow informasi katalog .......................................... Abstraksi data flow locator yang dikirim oleh instruktur ............ Abstraksi control flow locator yang dikirim oleh proses delivery Abstraksi data flow learning content ............................................ Abstraksi proses delivery .............................................................. Abstraksi data flow konteks interaksi ........................................... Abstraksi komponen sistem LTSA diimplementasikan ke dalam berbagai perspektif stakeholder (layer 4) ..................................... Pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA .......... Desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan mengacu pada pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA ................................................................................. 8 11 12 13 16 21 29 38 42 44 44 45 46 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 57 59 60 60 61 62 64 66 67 68 xviii DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 GBPP Kebijakan Institusional dalam Pengembangan Perpustakaan . GBPP Pengantar Ilmu Perpustakaan .................................................. GBPP Pengembangan Koleksi ........................................................... GBPP Katalogisasi ............................................................................. GBPP Klasifikasi dan Tajuk Subyek .................................................. GBPP Layanan Perpustakaan ............................................................. GBPP Perawatan Bahan Pustaka ........................................................ GBPP Pengantar Teknologi Informasi ............................................... GBPP Promosi Perpustakaan ............................................................. GBPP Praktik Kerja Perpustakaan ..................................................... GBPP Studi Banding .......................................................................... GBPP Diskusi ..................................................................................... GBPP Evaluasi ................................................................................... Data bibliografis modul bahan ajar Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan ...................................................................................... Format evaluasi terhadap pengajar ..................................................... Format evaluasi terhadap penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan ............................................................................................. Format evaluasi terhadap sikap dan perilaku peserta ......................... Format evaluasi nilai tugas/praktek dan tes formatif peserta ............. Format evaluasi seminar ..................................................................... Kondisi sarana dan prasarana di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI Pedoman penjaminan mutu e-learning ............................................... 77 78 81 83 86 88 91 93 95 97 99 101 103 105 106 107 108 109 110 111 114 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat, maka penerapannya juga telah merambah di berbagai bidang termasuk di bidang pendidikan dan pelatihan (diklat). Penerapan teknologi informasi di bidang pendidikan dan pelatihan sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan dan memeratakan mutu pendidikan, terutama di Indonesia yang wilayahnya tersebar di berbagai daerah yang sangat berjauhan. Penyelenggaraan pendidikan nasional yang bersifat konvensional, mengalami banyak kendala ketika dituntut untuk memberikan pelayanannya bagi masyarakat luas yang tersebar di seluruh Nusantara. Kendala tersebut antara lain keterbatasan finansial, jauhnya lokasi, dan keterbatasan jumlah institusi (Tafiardi, 2005). Oleh karena itu, diperlukan solusi yang tepat dan cepat dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan mutu pendidikan sekarang. Dengan adanya aplikasi pendidikan jarak jauh yang berbasiskan internet, maka ketergantungan akan jarak dan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan diklat akan dapat diatasi, karena kegiatan akademik akan dapat disediakan secara online dan dapat diakses kapan saja. Sehubungan dengan hal tersebut, kebutuhan akan suatu konsep dan mekanisme belajar mengajar (pendidikan) berbasis teknologi informasi menjadi tidak terelakkan lagi. Konsep yang kemudian terkenal dengan sebutan e-learning ini membawa pengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional kedalam bentuk digital, baik isi maupun sistemnya. Saat ini konsep e-learning sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia, terbukti dengan maraknya implementasi e-learning di lembaga pendidikan (sekolah, training centre, dan universitas) maupun industri dan perusahaan (Effendy & Zhuang, 2005). Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI sesuai dengan visinya “Menjadi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Terdepan di Bidang Diklat Tenaga Perpustakaan” saat ini sedang merintis usaha ke arah pengembangan e-learning bagi Diklat Tenaga Perpustakaan. Diklat Teknis Pengelolaan 2 Perpustakaan adalah diklat pertama yang saat ini sedang disiapkan untuk dijadikan e-learning. Banyaknya perpustakaan yang tersebar di seluruh Indonesia, baik itu merupakan badan-badan kabupaten/kota, perpustakaan perpustakaan sekolah, dari tingkat perpustakaan provinsi sampai khusus, maupun perpustakaan perguruan tinggi menuntut adanya SDM pengelola perpustakaan yang mempunyai pengetahuan dasar-dasar mengelola perpustakaan yang baik sesuai dengan kaidah ilmu perpustakaan serta berkompeten dibidangnya. Hal ini sesuai dengan UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pasal 1 ayat 8 yang berbunyi: pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung perpustakaan. jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan Selanjutnya, pendidikan tenaga perpustakaan dilakukan oleh penyelenggara perpustakaan sesuai dengan pasal 33 ayat 1 – 3 yang berbunyi: (1) Pendidikan untuk pembinaan dan pengembangan tenaga perpustakaan merupakan tanggung jawab penyelenggara perpustakaan; (2) Pendidikan untuk pembinaan dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui pendidikan formal dan/atau nonformal; (3) Pendidikan untuk pembinaan dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan melalui kerja sama Perpustakaan Nasional, perpustakaan umum provinsi, dan/atau perpustakaan umum kabupaten/kota dengan organisasi profesi, atau dengan lembaga pendidikan dan pelatihan. Namun demikian, untuk memenuhi sumber daya manusia (SDM) pengelola perpustakaan yang memenuhi kriteria tersebut tidaklah dapat dicapai jika hanya mengandalkan lulusan Pendidikan dan Pelatihan yang terbatas jumlahnya. Dalam hal ini Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Teknis Pengelolaan Perpustakaan diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Perpustakaan Nasional RI. Menurut data statistik yang dikumpulkan oleh Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca Perpustakaan Nasional RI pada tahun 2011, jumlah berbagai jenis perpustakaan yang tersebar di seluruh Indonesia adalah 24.080 perpustakaan, yang terdiri dari 20.920 perpustakaan sekolah, 922 perpustakaan perguruan tinggi, 1.074 perpustakaan umum dan 1.164 perpustakaan 3 khusus. Jika 24.080 perpustakaan tersebut dikelola oleh satu orang tenaga pengelola perpustakaan saja, maka jumlah tenaga pengelola perpustakaan yang dibutuhkan adalah sesuai dengan jumlah perpustakaan yang ada tersebut yaitu 24.080 orang. Setiap tahunnya jumlah lulusan peserta Pendidikan dan Pelatihan Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang dibiayai oleh APBN tidak lebih dari 30 orang, sedangkan jumlah tenaga teknis pengelola perpustakaan, dengan asumsi seperti tersebut di atas, yang masih perlu mengikuti diklat tersebut adalah sejumlah 24.080 orang. Melihat kenyataan tersebut maka Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI merintis pengembangan e-learning diklat tenaga perpustakaan yang akan dimulai dengan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Manfaat e-learning bagi tersedianya SDM pengelola perpustakaan sangat besar. Peserta pelatihan yang tersebar di seluruh Indonesia dapat mengikuti pelatihan tanpa harus datang ke pusat, sehingga mereka dapat menghemat biaya perjalanan dan waktu. Jika e-learning dapat berjalan dengan baik maka pemenuhan kebutuhan akan SDM pengelola perpustakaan tidak sulit untuk dilakukan. Pengembangan e-learning di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI telah dirintis sejak tahun 2007, namun sampai sekarang belum juga dapat digunakan karena menghadapi beberapa kendala. Pada tahun 2010, pengembangan e- learning di Pusdiklat sudah sampai pada tahap pembuatan learning management system (LMS) yang nantinya akan diletakkan di situs Pusdiklat. Namun demikian, LMS ini belum teruji apakah sudah benar-benar memenuhi kriteria penyelenggaraan e-learning untuk Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan karena belum pernah dilakukan simulasi mulai dari pendaftaran peserta, kegiatan belajar mengajar hingga peserta lulus dan mendapatkan sertifikat kelulusan. Learning management system untuk penyelenggaraan e-learning khusus untuk Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan diperlukan karena diharapkan dapat memfasilitasi kegiatan belajar mengajar dengan baik. Selain itu, dengan learning management system ini diharapkan dapat mengakomodasi target peserta yang begitu banyak dan luas cakupannya yaitu meliputi seluruh wilayah Indonesia bahkan jika dimungkinkan pesertanya dari luar negeri juga. 4 Terkait dengan kendala belum adanya learning management system yang sudah teruji dan sesuai standar untuk penyelenggaraan e-learning bagi diklat tersebut, maka penelitian ini akan mencoba untuk menganalisa dan mendesain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Analisis dan desain dilakukan dengan menggunakan suatu standar yang diakui secara internasional. Learning Technology System Architecture (LTSA) merupakan suatu standar untuk sistem teknologi pembelajaran yang menyediakan suatu kerangka kerja untuk mengetahui sistem yang ada dan yang akan dibangun. LTSA adalah sebuah arsitektur yang berbasis kepada komponen-komponen abstrak. Implementasi sistem teknologi pembelajaran dapat dipetakan dari/ke LTSA. Dokumen LTSA yang akan digunakan sebagai standar pada penelitian ini adalah IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28. 1.2 Perumusan Masalah Pada penelitian ini dirumuskan permasalahan yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan yaitu: “Bagaimana hasil analisis e-learning yang menggunakan standar Learning Technology System Architecture dapat menghasilkan desain e-learning yang sesuai standar bagi penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan?” 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis dan desain e-learning bagi penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan menggunakan Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28). 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Jangka pendek: memberikan rekomendasi kepada Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI dalam menyelenggarakan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. 5 (2) Jangka menengah: menjadi acuan/pedoman bagi penyelenggaraan e-learning diklat tenaga perpustakaan lainnya. (3) Jangka panjang: memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan khususnya Ilmu Perpustakaan dengan semakin banyaknya orang yang dapat mempelajari Ilmu Perpustakaan melalui e-learning. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Dalam tesis ini penelitian dibatasi dengan cakupan sebagai berikut: (1) Melakukan analisis terhadap standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28). (2) Analisis Learning Technology System Architecture (LTSA) dibatasi hanya pada layer 1 s.d. layer 4 dari 5 layer yang ada pada dokumen LTSA tersebut. (3) Komponen-komponen yang dianalisis berdasarkan standar dari LTSA diantaranya adalah: learner entity, coach, evaluation dan delivery. (4) Mendesain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan sesuai dengan hasil analisis layer 1 s.d. 4 dari standar LTSA. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Basis Teori 2.1.1 E-learning The American Society for Training and Development (ASTD) mendefinisikan e-learning sebagai: a broad set of applications and processes which include web-based learning, computer-based learning, virtual classrooms, and digital. Much of this is delivered via the Internet, intranets, audio- and videotape, satellite broadcast, interactive TV, and CD-ROM. Selanjutnya Soekartawi et.al (2002) mendefinisikan e-learning sebagai berikut: “E-learning is a generic term for all technologically supported learning using on array of teaching and learning tools as phone bridging, audio and videotapes, teleconferencing, satellite transmissions and the more recognized web based training or computer aided instruction also commonly reffered to as online courses” Definisi lain menurut Clark dan Meyer (2008), e-learning didefinisikan sebagai berikut: E-learning adalah salah satu dari model training yang berisi content (informasi) dan metode instruksi (teknik) yang disampaikan melalui komputer (termasuk didalamnya CD-ROM, Internet ataupun Intranet) dalam bentuk teks, gambar, animasi, atau video, yang didesain untuk membantu pembelajar mencapai tujuan pembelajaran pribadi atau performa kerja yang sejalan dengan tujuan suatu organisasi. Berdasarkan beberapa definisi di atas maka e-learning juga dapat diartikan sebagai pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jaringan elektronik seperti telepon, audio, video tape, transmisi satelit atau komputer. Walaupun didefinisikan dengan berbagai versi yang mungkin satu sama lain berbeda, namun satu hal yang sama tentang e-learning atau electronic learning adalah pembelajaran melalui saluran “e” atau elektronik. 7 2.1.2 Learning Management System (LMS) Ada dua bagian utama e-learning, yaitu learning management system dan e-learning content atau materi pelajaran e-learning yang akan dipelajari oleh pemakai. Learning management system (LMS) adalah sistem yang membantu administrasi dan berfungsi sebagai platform e-learning content (Effendy & Zhuang, 2005). Sejalan dengan Effendy & Zhuang (2005), Mason & Rennie (2009) menyatakan LMS adalah perangkat lunak yang menyediakan sarana untuk administrasi e-learning dengan menyediakan sistem akses serta sistem pelacakan bagi kemajuan siswa. Beberapa fungsi dasar LMS (Effendy & Zhuang, 2005) adalah: a) katalog, b) registrasi dan persetujuan, c) menjalankan dan memonitor e-learning, d) evaluasi, e) komunikasi, f) laporan, g) rencana pelatihan, dan h) integrasi. LMS ada yang bersifat proprietary (komersial), ada yang open source. Contoh LMS proprietary adalah Saba Software, Apex Learning, Blackboard Inc., ANGEL Learning, dan Desire2Learn. LMS yang open source misalnya Tutor, Claroline, Dokeos, ILIAS, LON-CAPA, Moodle, dan Online Learning And Training (OLAT), dan Sakai Project. Pemilihan LMS disesuaikan dengan kebutuhan dan proses bisnis yang ada di institusi masing-masing. Graf dan List (2005) dibiayai oleh European Social Fund (ESF) meneliti tentang evaluasi dan komparasi LMS berbasis open source. Graf menggunakan satu metode evaluasi produk software bernama Qualitative Weight and Sum (QWS). QWS menghitung bobot (weight) menggunakan enam simbol kualitatif berdasarkan tingkat kepentingannya (importance level). Simbol-simbol dimaksud diurutkan dari yang paling penting ialah: E (essential), * (extremely valuable), # (very valuable), + (valuable), | (marginally valuable), 0 (not valuable). QWS memungkinkan penetapan maximum value sendiri, jadi tidak harus “E (essential)” yang paling tinggi, bisa juga “# (very valuable)” misalnya. Sistem pengukuran kualitas software seperti Graf ini adalah berdasarkan “product” dan bukan “process“. Ada delapan kategori yang dievaluasi oleh Graf yaitu: communication tools, learning objects, management of user data, usability, adaptation, technical aspect, administration, dan course management. Masing-masing kategori 8 memiliki subkategori, misalnya di communication tools akan dilihat fitur forum, chat, mail/message, announcements, conferences, collaboration, dan synchronous/asynchronous tools. Subkategori lain bisa dilihat pada gambar 1 di bawah. Communication tools Learning objects Management of Usability Adaptation Subcategories Technical Adminis- Course aspects tration management Forum Chat Mail/Messages Announcements Conferences Collaboration Synchronous & asynch. Tools Tests Learning Material Exercises Other creatable Los Importable Los Tracking Statistics Identification of online users Personal user profile User -friendliness Support Documentation Assistance Adaptability Personalization Extensibility Adaptivity Standards System requirement Security Scalability User management Authorization management Installation of the problem Administration of courses Assessment of tests Organization of course object user data Maximum values * * | + + + * * * # + * * + + # # # + + * # * * # + * + # * | + # # Atutor | # | | 0 0 * | * 0 + * * + | | + | + + | # # | + + 0 0 0 | | | | # Dokeos + * 0 | + 0 * * * 0 + * + | 0 | + # + + | 0 * + + + 0 0 # 0 | | | # dotLRN # 0 | + 0 0 0 | 0 0 + | 0 0 + | | | + 0 + + * 0 + + * + | # 0 + 0 + ILIAS + * | 0 0 0 * * | 0 + * | | + + | | + 0 + # * 0 # + * 0 # * | + + + LON-CAPA + * | | 0 0 * + | | | * | | 0 + 0 # 0 + + # # | 0 + + 0 + + 0 | # # Moodle * * 0 + 0 0 * * * # + * * | + + # # + + # + * * # + + + | | | | | | OpenUSS # * 0 + 0 | * 0 | 0 + # 0 0 + + + + | + # # # 0 0 + | + 0 0 0 0 | # Sakai # * 0 | 0 0 * 0 * # | * * 0 | | # | | 0 0 0 * 0 0 + + + 0 + | + 0 0 Spaghettilearning | * | | 0 0 * + 0 0 | * * + + | + + | + + # + 0 0 + + 0 | 0 | | | 0 Gambar 1 Hasil penelitian Graf & List (2005) Hasil dari penelitian ini yaitu secara umum Moodle dapat dikatakan merajai kompetisi ini, unggul terutama di kategori communication tools, learning objects, management of user data, usability, dan adaptation. ILIAS dan Dokeos di urutan kedua dan ketiga, sedangkan urutan keempat adalah Atutor, LON-CAPA, Spaghettilearning dan Open USS. Sakai dan dotLRN ada di posisi terakhir. 2.1.3 Learning Technology System Architecture (LTSA) Dalam dokumen draft standar (IEEE, 2002) Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28) disebutkan bahwa LTSA adalah suatu standar internasional sistem pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan IEEE 1484.1 Learning Technology Standards Committee (LTSC). LTSA adalah sebuah arsitektur yang berbasis pada komponen abstrak. Tingkat abstraksi yang lebih tinggi dapat “diterapkan” pada tingkat yang lebih rendah: baik sebagai abstraksi tingkat yang lebih rendah, atau sebagai implementasi aktual. Sistem teknologi pembelajaran (implementasinya) dapat dipetakan dari/ke LTSA. Batas- 9 batas, fungsi, dan dekomposisi aktual atau sistem teknologi pembelajaran abstrak mungkin tidak memiliki struktur yang sama dengan LTSA, artinya pemetaan untuk LTSA tidak mungkin “satu-ke-satu”. Tidak semua sistem teknologi pembelajaran akan memiliki semua komponen LTSA atau dengan kata lain pemetaan untuk LTSA tidak mungkin persis sama. LTSA dimaksudkan untuk memiliki penerapan yang luas atas sistem teknologi pembelajaran. Tidak ada teknologi suatu generasi tertentu tersirat dengan LTSA, jadi mungkin LTSA berlaku pada masa lalu (misalnya pada kurun waktu 10, 30 dan 100 tahun yang lalu), masa kini (misalnya pada sistem yang sudah ada), dan masa depan (misalnya pada sistem 10 tahun dari sekarang). Standar ini menetapkan arsitektur level tinggi untuk pembelajaran yang didukung teknologi informasi, pendidikan, dan sistem pelatihan yang menggambarkan desain sistem tingkat tinggi beserta komponen-komponennya. Standar ini mencakup berbagai sistem secara luas, umumnya dikenal sebagai teknologi pembelajaran, teknologi pendidikan dan pelatihan, pelatihan berbasis komputer, instruksi berbantuan komputer, dan intelligent tutoring. Standar ini bersifat netral terhadap aspek pedagogis, konten, budaya, implementasi, dan platform. Standar ini (IEEE, 2002): (1) menyediakan kerangka bagi pemahaman sistem yang sudah ada dan yang akan dibangun, (2) mempromosikan interoperabilitas dan mudah dibawa (portable) dengan mengidentifikasi abstrak dan antarmuka sistem tingkat tinggi, serta (3) menggabungkan berbagai teknis (penerapan) minimal 5-10 tahun sambil tetap mudah beradaptasi dengan teknologi baru dan sistem teknologi pembelajaran. Standar ini akan memfasilitasi pengembangan pedoman konfigurasi (misalnya profil) untuk sistem teknologi pembelajaran umum. Standar ini tidak bersifat preskriptif maupun eksklusif. Selanjutnya, dalam standar tersebut juga dikatakan bahwa secara umum, tujuan pengembangan arsitektur sistem adalah untuk menciptakan kerangka kerja tingkat tinggi untuk memahami jenis sistem tertentu, subsistemnya, dan interaksi mereka dengan sistem yang terkait, atau dengan kata lain dimungkinkan untuk lebih dari satu arsitektur (IEEE, 2002). Suatu arsitektur bukanlah suatu cetak biru untuk merancang sebuah sistem tunggal, tetapi suatu kerangka kerja untuk merancang berbagai sistem dari waktu ke waktu, dan untuk analisis dan 10 perbandingan sistem-sistem, atau dapat dikatakan arsitektur digunakan untuk analisis dan komunikasi. Dengan mengungkapkan komponen bersama atas sistem yang berbeda pada tingkat yang tepat secara umum, arsitektur mempromosikan desain dan implementasi komponen dan subsistem yang dapat digunakan kembali, dengan biaya yang efektif dan mudah beradaptasi, atau dengan kata lain bersifat abstrak, antarmuka interoperabilitas tingkat tinggi dan layanan yang dapat diidentifikasi. Kerangka arsitektur yang dikembangkan dalam standar ini tidak dimaksudkan memberikan rincian implementasi spesifik yang diperlukan untuk membuat komponen sistem teknologi pembelajaran. 2.1.3.1 Learning Technology System Architecture (LTSA) Layer LTSA menspesifikasikan lima lapisan (layer), tetapi hanya layer 3 yang bersifat normatif sedangkan layer lainnya bersifat informatif. Normatif adalah istilah yang digunakan dalam LTSA sebagai petunjuk pada spesifikasi sistem secara teknis pada implementasi yang akan dilakukan. Informatif adalah istilah pada LTSA yang cukup membantu dalam perancangan arsitekturnya, namun bukan merupakan hal yang diperlukan untuk mengerti isi dari standar LTSA. Hal ini tidak termasuk spesifikasi teknis dan bukan berasal dari bagian terintegrasi dari standar LTSA (IEEE, 2002). Setiap layer menggambarkan sebuah sistem pada level yang berbeda. Layer yang lebih tinggi memiliki prioritas yang lebih besar dan berpengaruh dalam analisis dan perancangan sistem. Berikut ini adalah lima layer yang dispesifikasikan LTSA (IEEE, 2002): (1) Layer 1: Learner and Environment Interaction Layer ini berfokus kepada akuisisi learner, transfer, pertukaran, formulasi dan penemuan pengetahuan dan atau informasi melalui interaksi dengan lingkungan. (2) Layer 2: Learner-Related Design Features Layer ini berfokus kepada pengaruh yang dimiliki learner pada perancangan sistem teknologi pembelajaran. (3) Layer 3: System Components Layer ini mendeskripsikan arsitektur berbasis komponen yang diidentifikasi pada layer 2. 11 (4) Layer 4: Stakeholder Perspective and Priorities Layer ini mendeskripsikan sistem teknologi pembelajaran dari berbagai perspektif dengan mengacu pada layer 3. Setiap stakeholder memiliki perspektif yang berbeda terhadap sistem pembelajaran. Analisis terhadap perspektif dapat menghasilkan: a. Verifikasi dan validasi komponen LTSA pada sistem. b. Penentuan komponen LTSA yang tidak perlu dan perlu ditekankan pada sistem. c. Indikasi berbagai prioritas perancangan level tinggi dan level rendah. (5) Layer 5: Operational Components and Interoperability (codings, APIs, protocols) Layer ini mendeskripsikan komponen dan antar muka yang bersifat generik dari arsitektur pembelajaran berbasis teknologi informasi seperti yang diidentifikasi pada layer 4. Kelima spesifikasi layer arsitektur dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2 Lima layer LTSA (IEEE, 2002) Keterangan notasi pada gambar: LE C D E LR R M IC : Learner Entity : Coach : Delivery : Evaluation : Learning Resources : Learner Records : Multimedia : Interaction Context B LP A LI L LC CI Q : Behavior : Learning Parameters : Assessment : Learner Info : Locator : Learning Content : Catalog Info : Query Lima layer abstrak ini mengidentifikasi prioritas desain, atau urutan desain dari yang paling penting sampai ke paling tidak penting. Pengembang akan mengerti bahwa, misalnya, fitur manusia pada sistem teknologi pembelajaran 12 (layer 2) memiliki efek yang lebih luas pada desain sistem daripada, misalnya, format multimedia (layer 5). Format multimedia mempunyai lingkup kecil. Lima layer mewakili lima bidang independen analisis teknis. Sebagai contoh, adalah mungkin untuk mendiskusikan sebuah abstraksi (misalnya, komponen sistem LTSA atau layer 3), terlepas dari implementasi (misalnya, coding, API, dan protocols yang merupakan implementasi aktual/layer 5). Dengan kata lain, meskipun layer 3 berisi komponen seperti “evaluasi” dan “pelatih”, komponen-komponen ini adalah “konseptual” dalam arti tidak ada keharusan bagi komponen-komponen tersebut disebut sebagai “evaluasi” dan “pelatih” dalam implementasi aktual. Lima layer LTSA membantu memisahkan “gambar besar” dari “rincian”. Penggunaan beberapa layer membantu pembaca memahami struktur “langkah demi langkah”. Layer 3 (komponen sistem) dapat digunakan untuk menganalisis kebutuhan interoperabilitas antar subsistem utama dalam sistem teknologi pembelajaran. Berikut penjelasan lebih rinci mengenai layer pada LTSA (IEEE, 2002): (1) Layer 1 learner-environment interaction (Interaksi antara learner dengan lingkungannya) Layer 1 atau layer atas LTSA adalah layer arsitektur yang sangat umum yang disebut “learner-environment interaction”. Internet/Web Mentor Books Lab Teacher Television Employer Library Other Employees* Parent Coach Collaboration* School Computers Other Learners* Multimedia Newspaper *Collaboration is Internal to Learner Gambar 3 Cara pandang learner terhadap lingkungan belajar (IEEE, 2002) Layer ini berfokus pada fungsi tingkat tertinggi (yang paling umum) dari perspektif teknologi informasi: learner memiliki pengetahuan baru atau berbeda setelah mendapatkan pengalaman belajar. Dalam teknologi 13 informasi, ini adalah diagram salah satu subsistem (lingkungan) yang mentransfer informasi ke subsistem (learner), yang disebut suatu interaksi. Diagram learner-environment interaction tidak dimaksudkan untuk mewakili teori belajar yang ada atau proses pembelajaran. Ini merupakan isu yang ada dalam teknologi informasi pada sistem teknologi pembelajaran dan berguna untuk analisis dan teknik desain rekayasa perangkat lunak secara umum dan mudah dipahami. Untuk keperluan standar ini, fokus utama adalah teknologi informasi. Sebagai catatan, pada layer ini seringkali ditemukan kebingungan atau salah tafsir. Tujuan dari layer ini adalah untuk melihat sistem dari perspektif teknologi informasi (terutama dalam hal aliran informasinya). Banyak yang salah mengartikan layer ini sehingga memahaminya sebagai deskripsi beberapa teori belajar. Perlu ditegaskan bahwa deskripsi ini bukanlah sebuah diagram dari teori belajar apapun. Tujuan dari deskripsi teknologi pembelajaran pada layer ini adalah untuk menghubungkannya dengan metodologi rekayasa perangkat lunak sehingga dapat menciptakan abstraksi pada layer yang lebih rendah. Learner Entity Environment Learning Interactions Learner Learner Collaboration Learner Gambar 4 Cara pandang sistem dari learner-environment interaction (IEEE, 2002) Diagram interaksi learner-environment interaction (Gambar 4) hanya mewakili learner entity dan lingkungan mereka dari perspektif rekayasa sistem teknologi informasi, artinya diagram ini tidak menggambarkan penelitian terkini tentang teori belajar. Diagram ini sama dengan diagram pada Gambar 3. Kolaborasi antara learner bersifat internal bagi learner entity kolektif. 14 Alasan untuk menggunakan teknik diagram adalah untuk menyederhanakan suatu aspek rekayasa desain teknologi: fokusnya adalah pada cara pandang keseluruhan terhadap arus informasi dan sistem tersebut digambarkan sebagai panah satu arah (aliran) interaksi dari lingkungan bagi learner entity. Implementasi konsep (abstraksi tingkat yang lebih rendah atau sistem itu sendiri) dapat berfokus pada isu-isu pedagogis atau masalah teknis lainnya. Notasi LTSA pada kolaborasi learner adalah untuk menyederhanakan fitur LTSA sehingga dalam hal ini kolaborasi learner bersifat internal pada learner entity dan bukan merupakan komponen yang terpisah. Learner entity (proses) mewakili abstraksi learner, yang dapat berupa seorang individu, beberapa learner yang bekerjasama, atau para anggota sebuah tim yang mempunyai tugas yang berbeda-beda. Analoginya dapat dilihat pada sistem database yang terbagi yaitu beberapa database berkolaborasi untuk menampilkan sebuah database. Environment (proses) mewakili lingkungan dimana learner entity berinteraksi. Learning interactions atau interaksi pembelajaran yang merupakan aliran data dapat dikolaborasikan menjadi pengalaman belajar. (2) Layer 2 Learner-related design features (Desain yang berfokus pada learner) Layer ini memfokuskan pada pengaruh learner terhadap desain sistem teknologi pembelajaran. Desain yang lebih rendah dari layer arsitektur dipengaruhi oleh kebutuhan learner, khususnya, sifat manusia (yang berbeda dengan mesin) dalam belajar. Rincian dari pengaruh learner pada desain sistem berada di luar lingkup standar ini. (3) Layer 3 System Components (Komponen Sistem) dibahas tersendiri pada sub-bab 2.1.3.2 (4) Layer 4 Stakeholder perspective/priorities (perspektif/priotitas stakeholder) Layer perspektif/prioritas stakeholder dianggap sebagai perbaikan layer yang terpisah karena layer ini membahas granularitas desain isu tertentu dimana perspektif, cara pandang, atau subsetnya relevan dengan desain tingkat yang lebih rendah. 15 (5) Layer 5 Operational components and interoperability (Komponen operasional dan interoperabilitas) Bidang utama komponen operasional dan interoperabilitas diidentifikasi melalui beberapa notasi, tetapi secara umum dijelaskan sebagai coding, API, dan protokol. Mengetahui standar interoperabilitas (coding, API, dan protokol) yang sedang digunakan dapat meningkatkan pemahaman kita tentang sistem dan membantu untuk mengetahui tentang potensi interoperabilitas, tetapi sistem harus diintegrasikan dan dikonfigurasi dengan benar untuk mencapai interoperabilitas yang tepat di antara mereka sendiri. Standar teknis dapat dikaitkan dengan LTSA dan proses pembangunan yang menciptakan dan menyelaraskan pekerjaan teknis. Spesifikasi pengkodean, API, protokol yang aktual, berada di luar lingkup LTSA. 2.1.3.2 Komponen Sistem LTSA (Layer 3) Komponen LTSA dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu: proses, penyimpanan data, dan aliran data. (1) Proses (Process) Proses dideskripsikan dengan batasan, input, fungsionalitas dan output. Proses terdiri dari entitas siswa (learner entity), evaluasi (evaluation), instruktur (coach) dan pengiriman (delivery). Proses digambarkan dengan simbol elips. (2) Penyimpanan Data (Store) Penyimpanan data dideskripsikan dengan tipe dari informasi yang disimpan dan dicari kembali dengan metode search, retrieval dan update. Penyimpanan data terdiri dari data siswa (learner records) dan sumber belajar (learner resources). Penyimpanan data digambarkan dengan simbol empat persegi panjang. (3) Aliran Data (Flow) Aliran data dideskripsikan dengan konektivitas dan tipe dari informasi yang dialirkan. Aliran data terdiri atas perilaku (behavior), penilaian (assessment), informasi siswa (learner information), query, info katalog (catalog info), locator, materi pembelajaran (learning content), multimedia, 16 konteks interaksi (interaction context), dan parameter pembelajaran (learning parameters) (Gambar 5). Gambar 5 Komponen-komponen sistem LTSA (IEEE, 2002) Layer ini menerapkan perbaikan layer diatasnya sebagai kumpulan dari komponen sistem. LTSA mengidentifikasi empat proses, yaitu learner entity, evaluation, coach dan delivery; dua tempat penyimpanan, yaitu learner records dan learning resources, dan tiga belas informasi mengalir di antara komponen ini, yaitu behavior, assessment, learner information (tiga kali), query, catalog info, locator (dua kali), learning content, multimedia, interaction context, dan learning parameters. 2.1.4 Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Teknis Pengelolaan Perpustakaan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan adalah salah satu Diklat Tenaga Teknis Perpustakaan. Beberapa Diklat Tenaga Teknis Perpustakaan yang lain adalah Diklat Pengolahan Bahan Perpustakaan, Diklat Penulisan Karya Ilmiah, Diklat Pengembangan Koleksi Bahan Perpustakaan Digital, Diklat Pelestarian Bahan Perpustakaan, dan Diklat Layanan. Diklat Tenaga Teknis Perpustakaan adalah diklat yang dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi teknis kepustakawanan yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas pengelola perpustakaan. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Tenaga Teknis Perpustakaan berfungsi mengembangkan potensi pegawai melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam menjalankan tugas teknis perpustakaan secara profesional. 17 Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 132/KEP/M.PAN/12/2002 Perpustakaan Nasional RI adalah lembaga pemerintah yang bertanggung jawab dalam pembinaan jabatan fungsional pustakawan. Salah satu bentuk pembinaan adalah melalui penyelenggaraan Diklat Teknis Kepustakawanan. Dalam rangka penyelenggaraan diklat tersebut, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Pasal 26 ayat (1) dan (2) Perpustakaan Nasional RI mempunyai tugas menyusun berbagai pedoman diklat sebagai acuan pelaksanaan diklat untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan diklat yang diselenggarakan oleh lembaga penyelenggara diklat. Tujuan dari diadakannya Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan adalah membekali peserta dengan kemampuan dalam mengelola perpustakaan, sehingga lulusan dapat menyelenggarakan tata kerja rutin perpustakaan, mulai dari pengadaan, pengolahan, perawatan koleksi, dan pelayanan perpustakaan. 2.1.5 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Buku Rencana Strategis Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI Tahun 2010 s.d. 2014 menyatakan bahwa Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) merupakan salah satu unit eselon II di lingkungan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional RI. Pusdiklat mempunyai visi: “Menjadi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Terdepan di bidang Diklat Tenaga Perpustakaan.” Selanjutnya, misi Pusdiklat yaitu (Perpusnas, 2009): a. Melaksanakan kajian kebutuhan diklat di bidang perpustakaan; b. Menyusun dan mengembangkan kurikulum diklat tenaga perpustakaan; c. Menyusun dan mengembangkan bahan ajar diklat tenaga perpustakaan; d. Menyelenggarakan diklat tenaga perpustakaan; e. Mengelola dan mengembangkan sarana diklat; f. Mengevaluasi dan memantau pelaksanaan diklat dan pasca-diklat tenaga perpustakaan; g. Membina dan mengembangkan penyelenggaraan diklat tenaga perpustakaan; h. Mengembangkan sistem informasi diklat tenaga perpustakaan; 18 i. Melaksanakan akreditasi dan sertifikasi lembaga penyelenggara diklat tenaga perpustakaan. Berdasarkan Pasal 96 Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 3 Tahun 2001, Pusat Pendidikan dan Pelatihan mempunyai tugas melaksanakan pengembangan kurikulum, program, penyelenggaraan dan pengelolaan sarana, serta evaluasi program pendidikan dan pelatihan perpustakaan. Selanjutnya dalam melaksanakan tugas tersebut Pusdiklat menyelenggarakan fungsi: a. Pelaksanaan penyusunan dan pengembangan kurikulum program pendidikan dan pelatihan perpustakaan; b. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan perpustakaan; c. Pelaksanaan pengelolaan sarana pendidikan dan pelatihan; d. Evaluasi program pendidikan dan pelatihan perpustakaan. 2.2. Penelitian Terdahulu Beberapa penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan berkaitan dengan e-learning menggunakan Standar Learning Technology System Architecture adalah penelitian yang dilakukan oleh Fadjriya (2001) dalam tesisnya yang berjudul Perancangan E-Training Berbasis Web Menggunakan Standard Learning Technology System Architecture Studi Kasus: PT. Harrisma Service Centre. Tujuan dari penelitian tersebut adalah membuat rancangan e-training yang bisa diakses oleh para peserta pelatihan dari semua tempat dan setiap waktu. Ruang lingkupnya membahas perancangan sistem untuk pembuatan e-training di PT. Harrisma Service Centre dengan menggunakan standar LTSA. Penelitian ini tidak mencakup penulisan pengkodean, user interface dan struktur basis data untuk sistem e-training tersebut. Metode penelitian pada tesis ini mengikuti standar yang ada pada LTSA yang merupakan standar IEEE untuk learning technology. Dalam pembahasannya, perancangan dibahas layer demi layer mulai dari layer tertinggi yang merupakan level abstraksi ke layer yang lebih rendah yang sifatnya semakin teknis. Penelitian lain, dilakukan oleh Utami et.al. pada Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2006 (SNATI 2006) dengan judul Web Aplikasi Educourse 19 (Distance Learning) Mengadopsi Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1/D11). Maksud dari diadakannya penelitian ini adalah untuk merancang dan membangun aplikasi distance learning berdasarkan standar sistem arsitektur LTSA. Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian tersebut adalah: 1). untuk membangun aplikasi sebagai sarana belajar bagi para pelaku kegiatan belajar mengajar yang berbasis pada web; dan 2). untuk membangun aplikasi yang dapat menggantikan peran pengajar dengan sebuah sistem yang dapat diakses oleh para pelajar, sehingga kegiatan belajar mengajar tetap dapat berjalan walaupun mereka tidak berada pada tempat dan saat yang sama. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian tersebut adalah studi kepustakaan, identifikasi kebutuhan sistem, perancangan, pembuatan program, dan uji coba pada skala lab. Dalam pembahasannya dilakukan perancangan hingga implementasi dan pengujian aplikasi distance learning tersebut. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dilakukan untuk memenuhi sumber daya manusia (SDM) yang mampu menjadi pengelola perpustakaan yang mempunyai pengetahuan dasar-dasar mengelola perpustakaan yang baik sesuai dengan kaidah ilmu perpustakaan serta berkompeten dibidangnya. Target peserta diklat yang banyak dan tersebar di seluruh Indonesia menuntut adanya suatu manajemen penyelenggaraan e-learning diklat tersebut yang tepat agar dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dengan kompetensi seperti yang diharapkan. Oleh karena itu diperlukan adanya desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang dapat memenuhi kebutuhan tenaga pengelola perpustakaan tersebut. Saat ini learning management system (LMS) dan content e-learning tersebut telah dibangun oleh pihak ketiga namun belum teruji apakah sudah benarbenar memenuhi kriteria penyelenggaraan e-learning untuk Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Oleh sebab itu penelitian ini ingin melakukan analisis dan desain e-learning dengan menggunakan standar yang diakui secara internasional yaitu dengan Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1). 3.2 Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara melihat kondisi e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang ada saat ini untuk kemudian dibandingkan dengan hasil analisis layer-layer yang ada pada dokumen standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1). Dengan cara ini akan dapat dilihat sejauh mana komponen-komponen yang ada pada standar tersebut sudah terpenuhi oleh e-learning diklat tersebut. Selanjutnya hasil perbandingan tersebut dan analisis layer-layer pada dokumen LTSA digunakan untuk membuat desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai standar. 21 3.3 Kerangka Penelitian Langkah-langkah yang akan dilakukan pada penelitian ini disajikan pada Gambar 6: Mulai Studi Pustaka Pengumpulan data: observasi dan wawancara mengenai penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan secara klasikal dan e-learning Analisis e-learning berdasar standar LTSA dibandingkan dengan kondisi terkini penyelenggaran e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Kesimpulan dan Saran Selesai Gambar 6 Langkah-langkah penelitian 3.4 Prosedur Penelitian Berdasarkan langkah-langkah penelitian pada Gambar 6, maka tahapan penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut: 3.4.1 Studi Pustaka Studi pustaka dilakukan untuk mendapatkan pemahaman mengenai Standar Learning Technology System Architecture. 3.4.2 Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan cara: 22 (1) Melakukan pengamatan langsung atau observasi terhadap: a. Penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan secara klasikal di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI. Observasi terhadap penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan secara klasikal di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI dilakukan dengan melihat tujuan diklat, mata ajar (kurikulum), bentuk bahan ajar, metode pembelajaran, pengajar/instruktur, peserta, evaluasi, waktu dan tempat pelaksanaan, sarana dan prasarana serta anggaran. b. Kondisi saat ini mengenai kesiapan penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Observasi ini meliputi kesiapan penyelenggaraan e-learning diklat tersebut dalam hal calon peserta diklat, sarana dan prasarana, calon SDM pengelola, kurikulum, pengajar, content e-learning, learning management system, website Pusdiklat, kebijakan pengembangan e-learning, serta perangkat pendukung lainnya yang digunakan untuk mendukung penyelenggaraan e-learning. (2) Wawancara dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan penelitian. Wawancara dilakukan dengan para pejabat struktural di lingkungan Pusat Pendidikan dan Pelatihan, para pejabat terkait, pihak ketiga yang membuat learning management system untuk e-learning di Pusat Pendidikan dan Pelatihan serta calon SDM pengelola e-learning. 3.4.3 Analisis e-learning berdasar standar LTSA dibandingkan dengan kondisi terkini penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap layer 1, 2, 3, dan 4 dari LTSA (Gambar 2, hal. 11). Analisis dilakukan dengan melihat kondisi yang ada saat ini. Selanjutnya, dilakukan perbandingan antara kondisi terkini e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dengan hasil analisis e-learning berdasar standar LTSA. 3.4.4 Pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Setelah mendapatkan hasil perbandingan dari analisis terhadap layer demi layer dari LTSA dibandingkan dengan kondisi terkini e-learning Diklat Teknis 23 Pengelolaan Perpustakaan, dilakukan pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dengan mengacu pada hasil analisis tersebut. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini akan mengulas mengenai kondisi e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang ada saat ini untuk kemudian dibandingkan dengan hasil analisis layer-layer yang ada pada dokumen standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1). Dengan cara ini akan dapat dilihat sejauh mana komponen-komponen yang ada pada standar tersebut sudah terpenuhi oleh e-learning diklat tersebut. Dengan melihat komponen-komponen yang sudah dan belum terpenuhi, maka akan dibuat desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai dengan standar IEEE P1484.1 tentang LTSA. 4.1 Hasil Observasi Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Secara Klasikal di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI. Observasi terhadap penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan secara klasikal di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI dilakukan dengan melihat berbagai aspek; yaitu 1) tujuan diklat, 2) mata ajar (kurikulum), 3) bentuk bahan ajar, 4) metode pembelajaran, 5) pengajar/instruktur, 6) peserta, 7) evaluasi, 8) waktu dan tempat pelaksanaan, 9) sarana dan prasarana, 10) anggaran. 1) Tujuan Diklat Tujuan diklat yaitu membekali peserta dengan kemampuan dalam mengelola perpustakaan, sehingga lulusan dapat menyelenggarakan tata kerja rutin perpustakaan, mulai dari pengadaan, pengolahan, perawatan koleksi dan pelayanan perpustakaan. 2) Mata Ajar (kurikulum) Kurikulum Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan terdiri dari 150 jam pelatihan (jamlat) dengan alokasi waktu satu jamlat berdurasi 45 menit. Kurikulum ini diselesaikan selama 17 hari, dengan waktu belajar mulai dari Senin sampai Sabtu pukul 08.00 - 17.45 WIB. Kurikulum Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dapat dilihat pada Tabel 1. Adapun silabus dari setiap mata ajar dapat dilihat pada Lampiran 1 s.d. 13. 25 Tabel 1 Kurikulum Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Durasi (Jam Pelatihan) No. Mata Ajar 1. KELOMPOK DASAR a. Kebijakan Institusional dalam Pengembangan Perpustakaan b. Pengantar Ilmu Perpustakaan 10 KELOMPOK INTI a. Pengembangan Koleksi b. Katalogisasi c. Klasifikasi dan Tajuk Subyek d. Layanan Perpustakaan e. Perawatan Bahan Pustaka f. Pengantar Teknologi Informasi g. Promosi Perpustakaan h. Praktik Kerja Perpustakaan 12 24 24 20 8 8 8 16 KELOMPOK PENUNJANG a. Studi Banding b. Diskusi c. Evaluasi 8 6 4 2. 3. Jumlah 2 150 3) Bentuk bahan ajar Bahan ajar yang diberikan kepada peserta diklat adalah berupa modul yang tercetak untuk setiap mata ajar sedangkan instruktur menyampaikan materinya dalam bentuk file presentasi. Pengarang, tahun terbit, judul, dan penerbit untuk setiap modul dapat dilihat pada Lampiran 14. 4) Metode pembelajaran Pendidikan dan pelatihan dilakukan secara klasikal atau tatap muka langsung di dalam kelas antara peserta diklat dengan instruktur. Metode pembelajaran yang dipakai berupa pemberian ceramah/kuliah yang diselingi dengan tanya jawab antara peserta dengan instruktur dan praktik. Selain itu juga dilakukan diskusi kelompok, praktik kerja perpustakaan, studi banding, dan seminar/diskusi hasil studi banding. Praktik kerja perpustakaan berupa kegiatan praktik langsung mengenai teknis operasional pengelolaan perpustakaan di perpustakaan yang dianggap 26 memadai dalam pengelolaannya. Praktik kerja meliputi kegiatan pengelolaan perpustakaan secara keseluruhan, terutama kegiatan substantif perpustakaan (pengadaan, pengolahan, pelayanan, dan perawatan bahan pustaka), serta belajar pemecahan masalah pengelolaan. Tujuan praktik kerja perpustakaan adalah agar peserta memperoleh pengetahuan dan pengalaman praktis tentang penyelenggaraan perpustakaan dengan berbagai aspeknya, mengaplikasikan dan membandingkan antara teori yang telah dipelajari dengan praktik di lapangan, sehingga dapat menambah pemahaman dan pengalaman peserta dalam penyelenggaraan perpustakaan. Peserta diklat biasanya dibagi menjadi enam kelompok yang masing-masing melakukan praktik kerja selama dua hari. Beberapa tempat yang biasa menjadi lokasi praktik kerja perpustakaan adalah: a) Perpustakaan Nasional RI, Jl. Salemba Raya No. 28A Jakarta Pusat b) Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI, Jln. Gatot Subroto No. 10 Jakarta Pusat c) Perpustakaan Universitas Negeri Jakarta, Jln. Rawamangun Muka Jakarta Timur d) Perpustakaan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jln. M.H. Thamrin Jakarta Pusat e) Perpustakaan Umum Daerah Kodya Jakarta Pusat, Jln. Tanah Abang II, Kebon Jahe Jakarta Pusat f) Perpustakaan Umum Daerah Kodya Jakarta Timur, Komplek Rawabunga Jakarta Timur g) Pusat Dokumentasi dan Informasi Manggala Wanabakti, Jln. Gatot Subroto, Senayan Jakarta Pusat h) SMA Al-Azhar, Jln. Sisingamangaraja Kebayoran Baru Jakarta Selatan i) SMA Santa Theresia, Jln. K.H. Agus Salim 75 Menteng Jakarta Pusat Metode pembelajaran studi banding berupa kegiatan pengamatan/observasi langsung mengenai manajemen dan teknis operasional kegiatan perpustakaan dengan mengunjungi perpustakaan yang dianggap memadai dalam pengelolaannya. Pengamatan meliputi kondisi perpustakaan, sarana prasarana, organisasi, manajemen perpustakaan, kegiatan substantif perpustakaan 27 (pengadaan, pengolahan, pelayanan, dan perawatan bahan pustaka) serta pemecahan berbagai masalah di perpustakaan. Tujuan studi banding adalah agar peserta memperoleh pengetahuan dan wawasan tentang penyelenggaraan perpustakaan dengan berbagai aspeknya, membandingkan antara teori yang telah dipelajari dengan praktik di lapangan, sehingga dapat menambah pemahaman peserta dalam penyelenggaraan perpustakaan. Setiap Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan diselenggarakan, peserta melakukan Studi Banding ke dua lokasi. Beberapa lokasi yang biasa menjadi tempat studi banding adalah: a) Perpustakaan Nasional RI, Jl. Salemba Raya No. 28A Jakarta Pusat b) Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI, Jln. Gatot Subroto No. 10 Jakarta Pusat c) Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta, Jln. Cikini Raya No. 73 Jakarta Pusat d) Perpustakaan Umum Daerah Provinsi DKI Jakarta, Gedung Nyi Ageng Serang Lantai VIII Kav. 22 C Jl. H.R. Rasuna Said Kuningan Jakarta Selatan. e) UPT Perpustakaan Universitas Indonesia, Kampus Baru UI – Depok. 5) Pengajar/Instruktur Instruktur berasal dari Perpustakaan Nasional RI yang menguasai bidangnya dan berpendidikan minimal S1 Perpustakaan atau S1 non Perpustakaan yang telah mengikuti Diklat Calon Pustakawan Tingkat Ahli (CPTA) dan Diklat TOT (Training of Trainers). Tabel 2 menyajikan daftar instruktur Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan pada tahun 2011 beserta mata ajar yang diberikan. Tabel 2 Daftar instruktur dan mata ajar Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan No. 1. Mata Ajar KELOMPOK DASAR a. Kebijakan Institusional dalam Pengembangan SDM Perpustakaan b. Pengantar Ilmu Perpustakaan Jumlah Jamlat (Jam) Pengajar/Instruktur 2 Kapusdiklat 10 Drs. Sugiyanto 28 No. 2. 3. Mata Ajar Jumlah Jamlat (Jam) Pengajar/Instruktur KELOMPOK INTI a. Pengembangan Koleksi b. Katalogisasi 12 24 c. Klasifikasi dan Tajuk Subyek 24 d. Layanan Perpustakaan 20 e. Perawatan Bahan Pustaka f. Pengantar Teknologi Informasi g. Promosi Perpustakaan h. Praktik Kerja Perpustakaan 8 8 8 16 Drs. Sudiro, SS 1. Noor Musifawati, S.Sos 2. Karyani, SH, MH 1. Helen Manurung, S.Sos 2. Dra. Tatat Kurniawati 1. Liya Dachliyani, S.Sos 2. Tri Luki Cahya Dini, SS Ellis Sekar Ayu, S.Pd Drs. Sudarto, M.Si Dra. Nani Suryani, M.Si Panitia KELOMPOK PENUNJANG a. Studi Banding b. Diskusi c. Evaluasi 8 6 4 Panitia Panitia Panitia Jumlah Jamlat 150 6) Peserta Peserta berasal dari perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan sekolah yang ada di seluruh Indonesia. Jumlah peserta dibatasi hanya 30 orang untuk setiap tahun anggaran. Persyaratan pendidikan peserta minimal adalah SLTA. Tabel 3 menyajikan daerah asal peserta Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dari tahun 2009 sampai 2011. Tabel 3 Daerah asal peserta diklat Tahun 2009 - 2011 No. 1 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 2009 2010 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat - 4 Bengkulu - 5 Riau 6 Kep. Riau 2 7 Jambi 1 1 8 Sumatera Selatan 1 1 9 Lampung 10 Kep. Bangka Belitung 1 1 1 3 11 DKI Jakarta 10 11 9 30 12 Jawa Barat 3 1 2 6 1 2011 Jumlah 1 1 3 4 1 1 2 1 3 2 - 29 No. Provinsi 2009 2010 2011 Jumlah 13 Banten 14 Jateng 4 15 DI Yogyakarta 1 16 Jawa Timur 2 6 2 10 17 Kalimantan Barat 3 2 1 6 18 Kalimantan Tengah 1 1 2 19 Kalimantan Selatan 1 1 3 20 Kalimantan Timur - 21 Bali - 22 Nusa Tenggara Barat - 23 Nusa Tenggara Timur 24 Sulawesi Barat 25 Sulawesi Utara 26 Sulawesi Tengah - 27 Sulawesi Selatan - 28 Sulawesi Tenggara 29 Gorontalo 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 1 1 33 Papua 1 1 30 90 Jumlah peserta 2 2 1 2 6 1 1 1 - 2 1 1 3 1 - 1 1 - 30 30 Grafik daerah asal peserta disajikan dalam Gambar 8 berikut ini: Gambar 7 Daerah asal peserta diklat Tahun 2009 – 2011. Berdasarkan grafik daerah asal peserta diklat pada tahun 2009 – 2011 terlihat bahwa peserta terbanyak berasal dari DKI Jakarta sedangkan ada 11 provinsi yang tidak pernah mengikuti atau mengirimkan peserta untuk mengikuti 30 Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan selama tiga tahun terakhir. Alasan 11 provinsi ini belum atau tidak pernah mengirimkan peserta untuk mengikuti Diklat Teknis Pengelolaaan Perpustakaan perlu ditinjau oleh Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI. 7) Evaluasi Setiap pelaksanaan pendidikan dan pelatihan dilakukan pengamatan dan pemantauan kepada peserta, instruktur dan penyelenggara serta pada akhir pelatihan akan diadakan evaluasi. Peserta yang berhasil mengikuti pendidikan dan pelatihan sesuai dengan tata tertib akan diberikan sertifikat yang menyatakan peserta telah lulus mengikuti diklat tersebut. Sertifikat ini tidak menyatakan gelar apapun. Evaluasi terhadap peserta diklat dilakukan oleh instruktur maupun penyelenggara. Evaluasi dilaksanakan pada tiga tahap kegiatan belajar mengajar, yaitu pada awal diklat (pre-test), selama proses diklat (formative-test) dan akhir diklat (post-test). Evaluasi terhadap peserta selama proses diklat berlangsung dilakukan melalui pengamatan dan penilaian yang meliputi dua aspek, yaitu aspek sikap dan perilaku dengan bobot nilai sebesar 10% yang terdiri atas kedisiplinan, kerja sama dan prakarsa, sedangkan aspek penguasaan materi dan praktek memiliki bobot nilai sebesar 90%. Apabila peserta mendapat nilai akhir dibawah nilai 60,00 maka peserta dinyatakan tidak lulus dan harus mengikuti program pengayaan materi/remedial untuk mencapai nilai standar kelulusan. (Perpusnas, 2010). Evaluasi terhadap instruktur dan penyelenggara dilakukan oleh peserta dengan cara mengisi format evaluasi instruktur dan penyelenggara. Format evaluasi terhadap peserta, pengajar/instruktur, dan penyelenggara dapat dilihat pada Lampiran 15 s.d. 19. 8) Waktu dan Tempat Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan dilaksanakan di Gedung Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI selama 17 hari dengan waktu belajar dari Senin s.d. Sabtu pukul 08.00 – 17.45 WIB. Selama pendidikan berlangsung, peserta ditempatkan di asrama Pusdiklat yang terletak di Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11 Jakarta Pusat. 31 9) Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana bagi penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan diantaranya adalah kelas/ruang tatap muka, laboratorium komputer, perpustakaan, asrama, rumah ibadah, dan poliklinik. Kondisi sarana dan prasarana dapat dilihat pada Lampiran 20. 10) Anggaran Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan diselenggarakan dengan biaya APBN. Pada setiap tahun anggaran hanya ada satu angkatan yang dibiayai oleh APBN dengan jumlah peserta untuk setiap angkatan adalah 30 orang. Adapun biaya yang diperlukan untuk setiap peserta diklat adalah sebesar kurang lebih empat juta rupiah. 4.2 Hasil Observasi Kondisi Saat Ini Mengenai Penyelenggaraan E-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Saat ini penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan belum berjalan namun masih berada pada tahap perencanaan. Observasi kondisi saat ini dilakukan untuk melihat kesiapan penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang meliputi: 1) calon peserta diklat, 2) sarana dan prasarana, 3) SDM pengelola, 4) kurikulum dan bahan ajar, 5) pengajar/instruktur, 6) konten e-learning, 7) learning management system, 8) website Pusat Pendidikan dan Pelatihan, dan 9) kebijakan pengembangan e-learning. 1) Calon peserta diklat E-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan masih dalam tahap perencanaan, oleh karena itu calon peserta Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan direncanakan diambil dari:  Tiga puluh orang guru sekolah di DKI Jakarta yang merupakan alumni peserta Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan. Kemampuan alumni peserta Diklat tersebut akan ditingkatkan dengan diikutsertakan dalam uji coba penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan; 32  Para pegawai Perpustakaan Nasional yang belum mengenal atau belum pernah mengikuti Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan atau baru mengikuti diklat setingkat dibawahnya;  Tiga titik di daerah, yaitu dari berbagai jenis Perpustakaan di: - Jakarta (untuk Wilayah Indonesia Bagian Barat) - Banjarmasin (untuk Wilayah Indonesia Bagian Tengah) - Makassar (untuk Wilayah Indonesia Bagian Timur) Jumlah peserta e-learning tidak dibatasi hanya 30 orang saja. Baik peserta yang berasal dari Perpustakaan Nasional maupun dari tiga titik di daerah dapat lebih dari tiga puluh orang. Khusus untuk peserta yang berasal dari alumni Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan, jumlah peserta hanya tiga puluh orang saja karena merupakan jumlah lulusan dari diklat yang diselenggarakan secara klasikal. Persyaratan peserta yang dapat mengikuti e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan adalah: - berpendidikan minimal SLTA/sederajat; - mampu menggunakan komputer dan internet; - bekerja di bidang perpusdokinfo; - mendapat ijin dari pimpinannya; - bersedia mengikuti tata tertib yang dikeluarkan oleh Pusdiklat. Sebelum mengikuti e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan ini, calon peserta diharuskan menyerahkan surat pernyataan yang ditandatangani oleh calon peserta dan pimpinannya yang menyatakan bahwa ia telah memenuhi semua persyaratan tersebut. 2) Sarana dan prasarana Sarana dan prasarana yang ada di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI untuk penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan antara lain: - Ruang administrator e-learning. Sarana ruang administrator e-learning dapat dilihat pada Tabel 4. 33 Tabel 4 Daftar sarana di ruang administrator e-learning Pusdiklat No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nama Barang/Jenis CPU Monitor UPS AC Split Switch Hub LAN Wireless LAN Access Point Printer Laser Color Scanner A4 Server - Laboratorium komputer. Jumlah Unit 6 6 6 1 1 1 1 1 1 Spesifikasi Non Build Up LCD Monitor 23” ViewSonic Toshiba 3Comm 8 port AirLive WL-5470AP HP 2025n HP G4010 IBM System x3200 M2 Sarana laboratorium komputer dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5 Daftar sarana di laboratorium komputer Pusdiklat No. Nama Barang/Jenis 1. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. CPU Monitor LCD Monitor LCD Monitor LCD Projector Screen LCD Projector Wireless Sound System Speaker Aktif Kabel Gulung Hub 3Com 24 port Scanner Printer Multifunction Server Headset VGA Splitter Pengharum Ruangan Otomatis Pointer Presenter Penyedot Debu Jumlah Unit 35 32 1 2 1 1 1 3 1 3 4 1 1 20 1 1 1 1 Spesifikasi HP Compaq HP L1710 17 “ BenQ FP71G 17” LG Flatron L1753S 17” Sony VPL-CX155 TOA ZW-3200 Epson Perfection V200 Photo Canon DR-5010C IBM Sennheiser HD437 ATEN VS-94A 3) SDM pengelola SDM pengelola e-learning saat ini terdiri atas enam orang, yaitu: - satu orang Master di bidang Teknologi Informasi yang bertugas sebagai koordinator e-learning; - satu orang Sarjana Teknologi Pendidikan yang bertugas sebagai penyelenggara (administrator); - satu orang Sarjana Komputer yang bertugas menangani teknis jaringan dan portal e-learning; - satu orang Sarjana Statistik yang bertugas memantau evaluasi; 34 - satu orang Master dibidang Ilmu Perpustakaan dan satu orang Sarjana Pendidikan yang bertugas menangani kurikulum dan bahan ajar. Keenam SDM pengelola tersebut saat ini sudah tersedia di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI. 4) Kurikulum dan Bahan Ajar Kurikulum dan bahan ajar e-learning saat ini masih mengacu kepada kurikulum Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan secara klasikal. Kurikulum Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan sebagaimana tertuang dalam buku Kurikulum dan Garis-Garis Besar Program Pembelajaran Pendidikan dan Pelatihan Teknis Pengelolaan Perpustakaan (Perpusnas, 2004) ditetapkan oleh Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI No. 39 Tahun 2004. Dengan demikian kurikulum yang terdapat dalam buku ini dijadikan pedoman dalam penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Selanjutnya peninjauan mengenai kurikulum ini akan dilakukan lima tahun sejak berlakunya keputusan sebagaimana tercantum pada pasal 2 ayat 1. Saat ini seluruh bahan ajar e-learning masih mengacu pada kurikulum Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang dilakukan secara klasikal dan sudah dialihmediakan seluruhnya kedalam bentuk teks (pdf), presentasi (flash), power point, audio (MP3), dan video (flv). Garis-garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) terutama dalam hal metode pembelajaran disesuaikan untuk e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. 5) Pengajar/Instruktur Persyaratan instruktur e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan adalah: - Menguasai bidangnya - Mampu menggunakan sarana TI - Mampu mendesain bahan ajar - Mampu melaksanakan proses pengajaran sesuai metodologi pengajaran - Mampu membimbing forum diskusi dan tanya jawab - Mampu memberi rujukan materi untuk pendalaman Instruktur yang menguasai TI dan menguasai salah satu mata ajar dalam kurikulum Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan menjadi prioritas dalam 35 pemilihan instruktur untuk e-learning Diklat ini. Jika suatu mata ajar tidak memiliki instruktur yang menguasai TI, maka instruktur tersebut akan diberikan pelatihan menjadi instruktur untuk sebuah e-learning. 6) Konten e-learning Konten e-learning yang merupakan mata ajar Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan saat ini sudah dialihmediakan seluruhnya menjadi bentuk multimedia, yaitu: teks dengan format PDF, video dengan format flv, presentasi dengan format flash player, audio dengan format MP3, dan presentasi instruktur dengan MS power point. Daftar konten e-learning berupa mata ajar yang telah dialihmediakan disajikan pada Tabel 6. Tabel 6 Daftar mata ajar dalam format multimedia No. Mata Ajar 1. Pengantar Ilmu Perpustakaan 2. Pengembangan Koleksi 3. Katalogisasi 4. Klasifikasi dan Tajuk Subyek 5. Layanan Perpustakaan 6. Perawatan Bahan Pustaka 7. Pengantar Teknologi Informasi 8. Promosi Perpustakaan 9. Praktik Kerja Perpustakaan 10. Studi Banding 11. Panduan Diskusi 12. Panduan Evaluasi Format Multimedia Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3), Video (flv) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3), Video (flv) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3), Video (flv) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3), Video.flv Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3), Video (flv) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3), Video (flv) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3) 7) Learning Management System Learning management system (LMS) untuk e-learning di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI menggunakan Moodle. LMS ini dibuat oleh pihak ketiga dan sampai sekarang belum dimanfaatkan karena dianggap belum memenuhi syarat untuk menjadi wadah bagi sebuah e-learning. Penilaian 36 mengenai LMS ini dilakukan oleh para pejabat struktural di lingkungan Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI. Dalam hal ini, LMS masih memerlukan penyempurnaan baik dari modul-modulnya maupun desainnya. 8) Website Pusat Pendidikan dan Pelatihan Website Pusdiklat memberi informasi mengenai profil, jadwal diklat, dan berita kegiatan yang diadakan oleh Pusdiklat. Selain itu, website Pusdiklat menjadi wadah untuk mengakses learning management system (LMS) untuk elearning. Website Pusdiklat dapat diakses pada alamat http://pusdiklat.pnri.go.id. Pemutakhiran konten website dilakukan setiap ada kegiatan yang dilakukan di lingkungan Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI. Mekanisme pemutakhiran konten website Pusdiklat yang baku belum ada. 9) Kebijakan pengembangan e-learning Sampai saat ini Pusdiklat didalam penyelenggaraan e-learning menggunakan beberapa pedoman diantaranya pedoman yang diberlakukan di Universitas Indonesia (UI) sesuai dengan rekomendasi dari tim asistensi dari UI yang membantu Pusdiklat dalam membuat grand design e-learning. Isi buku pedoman penjaminan mutu e-learning yang direkomendasikan oleh UI dapat dilihat pada Lampiran 21. 4.3 Analisis e-learning berdasar standar LTSA Analisis e-learning berdasar standar LTSA (IEEE P1484.1) dilakukan dengan melihat kondisi yang ada pada saat ini dalam hal kesiapan penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Analisis ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana komponen-komponen yang ada pada standar tersebut sudah terpenuhi oleh e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan tersebut. Tujuannya adalah mendapatkan hasil analisis yang akan dijadikan acuan untuk membuat desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan berdasar standar LTSA (Gambar 2, hal. 11). Layer pertama adalah interaksi learner dengan lingkungannya (learner-environment interaction), layer kedua adalah desain fitur-fitur yang berfokus pada siswa (learner related design features), layer ketiga adalah komponen sistem LTSA, layer keempat adalah perspektif/prioritas pemangku kepentingan (stakeholder perspective/priorities) 37 dan layer kelima adalah codings, APIS & protocols. Dari kelima layer yang tersedia, hanya layer 1 sampai 4 yang akan dianalisa, yaitu: 4.3.1 Analisis layer 1: Interaksi learner dengan lingkungannya Pada layer 1 pada standar LTSA (Gambar 4, hal. 13), yang dimaksud dengan “lingkungan (environment)” dalam lingkup e-learning adalah unsur-unsur yang ada dalam sistem e-learning yang melakukan interaksi dengan learner (selanjutnya dalam pembahasan akan disebut dengan siswa). Dalam hal ini lingkungan didefinisikan sebagai lingkungan pelatihan yang terdiri dari: administrator, instruktur, materi pelatihan, internet, komputer, institusi, dan siswa lain. Administrator adalah orang yang mengelola e-learning. Instruktur adalah orang yang menjadi narasumber atau mengampu pelatihan. Materi pelatihan adalah bahan ajar yang dibuat oleh instruktur untuk diberikan kepada siswa sesuai dengan topik pelatihan. Internet adalah web browser dan situs e-learning yang akan diakses siswa. Komputer yang dimaksud disini adalah komputer yang memiliki perangkat multimedia dan memiliki akses ke internet. Institusi adalah lembaga tempat siswa bekerja atau orang yang mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan bagi siswa tersebut. Siswa lain adalah peserta pelatihan yang bekerja sama dalam pelatihan dengan menggunakan fasilitas chatting, forum diskusi, dan e-mail atau mailing list. Cara pandang learner terhadap lingkungan belajar (Gambar 3, hal. 12) menunjukkan bahwa learner atau siswa dikelilingi oleh suatu lingkungan (environment) yang terdiri atas: guru, orang tua, instruktur, mentor, atasan, rekan sejawat, siswa lain, internet/web, laboratorium, buku-buku, perpustakaan, televisi, multimedia, surat kabar, televisi, komputer, sekolah, dan kolaborasinya dengan siswa lain. Seperti halnya dalam teknologi informasi, ketika siswa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya maka siswa akan mendapatkan pengetahuan atau pengalaman belajar yang baru. Dalam teknologi informasi, diagram ini adalah salah satu subsistem (yaitu lingkungan) yang mentransfer informasi ke subsistem (yaitu learner), yang disebut suatu interaksi. Diagram learner-environment interaction tidak dimaksudkan untuk mewakili teori belajar yang ada atau proses pembelajaran. Ini merupakan isu yang ada dalam teknologi informasi pada sistem 38 teknologi pembelajaran dan berguna untuk analisis dan teknik desain rekayasa perangkat lunak secara umum dan mudah dipahami. Untuk keperluan standar ini, fokus utama adalah teknologi informasi. Hasil analisis abstraksi pola interaksi pada e-learning dapat diilustrasikan seperti pada Gambar 8. Siswa memandang lingkungan pelatihan sebagai sebuah sistem. Ketika siswa mendaftar sebagai peserta e-learning, maka dimulailah interaksi antara siswa dengan lingkungan pelatihan yang terdiri dari administrator yang mengelola e-learning, instruktur yang memberikan materi dan mengasuh sebuah kelas pelatihan, dan materi pelatihan yang dapat diunduh. Selain itu siswa dapat melakukan kerja sama dengan siswa lainnya dengan melakukan diskusi dan kerja kelompok. Melalui interaksinya dengan lingkungan pelatihan, siswa mendapat tambahan pengetahuan. siswa administrator e-mail off line e-mail, milist, chatting, forum diskusi antar muka berbasis web instruktur siswa Gambar 8 Model pola interaksi antara siswa dengan lingkungan pelatihan 4.3.2 Layer 2: Desain fitur-fitur yang berfokus pada siswa Layer ini memperhatikan pengaruh siswa terhadap desain sistem teknologi pembelajaran. Desain layer dibawahnya dipengaruhi oleh kebutuhan siswa, khususnya sifat manusia (yang berbeda dengan mesin). Rincian dari pengaruh siswa pada desain sistem berada di luar lingkup dari standar ini. Sesuai penjelasan layer 2 pada standar LTSA, maka kebutuhan siswa harus diidentifikasi dalam keterkaitannya dengan interaksinya di dalam learning technology system agar dapat ditemukan desain sistem yang sesuai. Kebutuhan calon siswa yang akan mengikuti e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan diidentifikasi sebagai berikut: - pelatihan yang dapat diakses dari mana saja karena calon siswa berasal dari berbagai lokasi di seluruh Indonesia 39 - penguasaan atas penggunaan komputer dan internet - materi pelatihan yang mudah dimengerti karena dengan e-learning siswa harus belajar atas inisiatifnya sendiri - akses terhadap internet - perangkat komputer dan koneksi internet - informasi yang jelas mengenai tata cara menjadi peserta e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan mulai dari registrasi hingga lulus dan mendapatkan sertifikat - informasi yang jelas mengenai cara menggunakan learning management system yang menjadi wadah bagi e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan - informasi yang mutakhir mengenai jadwal registrasi peserta e-learning - antar muka (interface) yang mudah dipahami terutama untuk peserta yang baru mengenal komputer dan internet 4.3.3 Layer 3: Komponen-komponen Sistem Layer ini menerapkan perbaikan lapisan diatasnya sebagai kumpulan dari komponen sistem. Layer ini menggambarkan proses, penyimpanan data (store) dan aliran data (flow) dari Learning Technology System Architecture (LTSA). Proses digambarkan dengan (fungsionalitas), dan output. istilah boundary (batas), input, proses Store digambarkan dengan tipe informasi yang disimpan, serta metode pencarian, temu kembali dan pemutakhiran informasi tersebut. Flow (aliran data) digambarkan dengan istilah konektivitas (satu arah, dua arah, koneksi statis, dan koneksi dinamis) dan tipe informasi sepanjang aliran data (flow). Komponen-komponen sistem LTSA (Gambar 5, hal. 16) mengidentifikasi interoperability interface pada level tingkat tinggi dan abstrak untuk sistem teknologi pembelajaran. LTSA tidak mengidentifikasi seluruh interoperability interface untuk sistem teknologi pembelajaran khusus (contohnya interoperability interface untuk suatu aplikasi khusus atau platform operasi). LTSA tidak mengidentifikasi interoperability interface untuk sistem-sistem yang terkait, seperti pengembangan konten atau sistem administrasi. 40 Komponen LTSA dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu: 1) Proses (Process) Proses dideskripsikan dengan batas, input, proses (fungsionalitas) dan output. Ada empat komponen proses yaitu: entitas siswa (learner entity), evaluasi (evaluation), instruktur (coach) dan pengiriman (delivery). Proses digambarkan dengan simbol elips. 2) Penyimpanan Data (Store) Penyimpanan data dideskripsikan dengan tipe dari informasi yang disimpan serta metode pencarian, temu kembali dan pemutakhiran informasi tersebut. Ada dua penyimpanan data terdiri dari data siswa (learner record) dan sumber belajar (learning resources). Penyimpanan data digambarkan dengan simbol persegi panjang. 3) Aliran data (Flow) Aliran data dideskripsikan dengan konektivitas dan tipe dari informasi yang dialirkan. Ada 13 (tiga belas) aliran data yang terdiri dari perilaku (behavior), penilaian (assessment), informasi siswa (learner information) sebanyak tiga kali, kueri (query), info katalog (catalog info), locator sebanyak dua kali, materi pembelajaran (learning content), multimedia (multimedia), konteks interaksi (interaction context) dan parameter belajar (learning parameters). Berdasarkan layer 3 pada standar LTSA maka ilustrasi dari keseluruhan operasional sistem e-learning dari layer 3 (komponen-komponen sistem) LTSA yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut: a. Gaya, strategi dan metode belajar dinegosiasikan/didiskusikan antara siswa (learner) dengan pihak-pihak terkait (stakeholder) untuk kemudian dinyatakan sebagai parameter (patokan) belajar. Dalam kaitannya dengan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, maka siswa yang akan mengikuti e-learning diberikan persyaratan dan aturan dalam mengikuti e-learning (pengarahan program) yang nantinya dapat didiskusikan dengan panitia penyelenggara (diwakili oleh administrator e-learning). b. Siswa (learner) diamati dan dievaluasi lewat interaksinya dengan multimedia; Interaksi siswa e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan direkam 41 untuk kemudian dievaluasi oleh administrator atau bagian evaluasi dan disimpan didalam data siswa (learner records). Hasilnya akan dilaporkan kepada instruktur. c. Evaluasi menghasilkan penilaian dan/atau informasi mengenai siswa (learner); Penilaian ini mencakup perilaku siswa e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dan interaksinya dengan materi belajar yang berupa file multimedia. d. Informasi mengenai siswa disimpan di dalam database history siswa. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, harus disediakan tempat penyimpanan data khusus (learner records) yang menyimpan semua rekaman data siswa termasuk perilaku dan interaksinya dengan materi belajar, dengan siswa lain dan dengan instruktur. e. Instruktur meninjau (review) nilai dan informasi mengenai siswa seperti: kesukaan/kebiasaannya, kinerjanya (nilai hasil belajar) yang telah lalu dan sasaran (target) belajarnya di masa datang. Hasil tinjauan (review) instruktur mengenai nilai dan informasi siswa akan disimpan di learner records. f. Instruktur mencari materi pembelajaran yang tepat/sesuai di learning resources (sumber belajar) melalui query dan info katalog,. Materi belajar disesuaikan dengan kurikulum e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. g. Instruktur memilah locator dari info katalog yang ada dan mengirimnya ke delivery process, contohnya rencana belajar. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan instruktur menyimpan materi belajar kedalam learning resources. Setelah itu, dengan menggunakan locator yang didapat dari info katalog mengirimkan rencana pembelajaran yang sesuai dengan topik pelatihan yang akan diasuhnya. h. Delivery process memilah materi belajar dari learning resources (sumber belajar) atas informasi dari locator dan mengubahnya menjadi presentasi multimedia. Rencana pembelajaran yang dikirimkan oleh instruktur melalui locator menjadi dasar pemilahan materi belajar dari learning resources. Analisis komponen-komponen sistem LTSA (layer 3) akan dibahas secara keseluruhan pada sub-sub-bab 4.3.3.1 s.d. 4.3.3.19. Analisis dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai mekanisme abstraksi tiga kelompok komponen 42 sistem LTSA baik yang berupa proses, store maupun flow. Mekanisme abstraksi komponen-komponen sistem LTSA ini membahas mekanisme yang terjadi sesuai dengan standar LTSA dan implementasi yang mungkin terjadi pada e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Dengan cara ini, diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai mekanisme abstraksi yang terjadi pada komponen-komponen sistem LTSA dan contoh implementasi yang mungkin dilakukan pada e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Selanjutnya setelah dianalisis, dilakukan pemetaan dari komponen-komponen sistem LTSA kepada kondisi terkini e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. 4.3.3.1 Learner Entity (Entitas Siswa) Gambar 9 Abstraksi proses entitas siswa Proses entitas siswa sebagai suatu abstraksi dari manusia yang sedang belajar dalam suatu lingkungan pelatihan (e-learning) disajikan pada Gambar 9. Entitas siswa dapat melambangkan seorang siswa, sekelompok siswa yang belajar secara individual, sekelompok siswa yang belajar bersama, dan sekelompok siswa yang belajar dalam berbagai peran yang berbeda. Proses yang terjadi melibatkan input multimedia data flow dari proses delivery, output behavior ke proses evaluation, serta input dan output learning parameters data flow dari dan ke proses coach. Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut 1: • Input: (LTSA): Entitas siswa menerima presentasi multimedia melalui multimedia data flow. 1 LTSA: merepresentasikan mekanisme abstraksi sesuai Learning Technology System Architecture (LTSA). E-learning: merepresentasikan implementasi LTSA untuk e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan (selanjutnya disebut e-learning Diklat) 43 (E-learning Diklat): Siswa dapat mengakses presentasi multimedia sesuai mata ajar e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. • Output: (LTSA): Perilaku siswa diamati dan dilaporkan melalui behavior data flow. (E-learning Diklat): Perilaku siswa ketika mengakses e-learning seperti frekuensi lama waktu yang dibutuhkan siswa untuk menyelesaikan satu materi diamati oleh administrator, direkam, dan diproses oleh proses evaluasi. • Input dan output: (LTSA): Parameter belajar didiskusikan/dinegosiasikan secara dua arah dengan instruktur melalui learning parameters data flow. (E-learning Diklat): Siswa e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan berdiskusi dengan instruktur untuk menentukan strategi belajar yang akan dilakukan. Dalam hal ini terlebih dahulu siswa diberikan persyaratan dan aturan yang harus ditaati ketika mengikuti e-learning. Halhal yang menjadi keberatan siswa dapat didiskusikan atau dinegosiasikan dengan instruktur. Pada tingkat abstraksi ini presentasi multimedia dan perilaku yang diamati digambarkan secara terpisah. Pada implementasinya, fitur ini dapat digabungkan dalam satu atau lebih modul human interface (contohnya sistem windows), modul session presentation (seperti web browser), tutoring tools (seperti beberapa aplikasi khusus), serta laboratorium eksperimen dan penemuan. 4.3.3.2 Multimedia Multimedia adalah aliran data satu arah yang menyajikan presentasi beruntun dari beberapa tipe multimedia seperti video, audio, teks, dan grafik dari proses delivery ke proses entitas siswa (Gambar 10). Tipe informasinya berupa file dan arus multimedia. 44 Gambar 10 Abstraksi data flow multimedia Didalam sistem teknologi pembelajaran, implementasi aliran data multimedia sangat erat kaitannya dengan implementasi aliran data behavior untuk memperbaiki respon sistem teknologi pembelajaran. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, aliran data multimedia mengirimkan presentasi multimedia berbentuk video, audio dan grafik dari proses delivery ke siswa e-learning. 4.3.3.3 Learning Parameters (Parameter Belajar) Parameter belajar didefinisikan sebagai pertukaran aliran data (yaitu negosiasi) antara siswa dengan instruktur (Gambar 11). Selain itu, orang tua, mentor, atasan, dan/atau institusi dapat berpartisipasi untuk menentukan parameter belajar. Seluruh pihak yang terkait berkontribusi dalam membentuk parameter belajar ini. Tipe informasi yang dihasilkan contohnya adalah parameter adaptasi budaya, parameter persyaratan yang dapat diterima untuk orang-orang dengan keterbatasan fisik (seperti buta, tuli) dan keterbatasan kognitif. Gambar 11 Abstraksi data flow parameter belajar 45 Pada e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, terlebih dahulu siswa diberikan persyaratan dan aturan yang harus ditaati ketika mengikuti e-learning. Persyaratan dan aturan mengikuti e-learning dibuat dengan mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak seperti instruktur, institusi penyelenggara e-learning dan institusi lain yang terkait. Hal-hal yang menjadi keberatan siswa dapat didiskusikan atau dinegosiasikan dengan instruktur. 4.3.3.4 Behavior (Perilaku) Gambar 12 Abstraksi data flow perilaku Behavior atau perilaku didefinisikan sebagai aliran data dari proses entitas siswa menuju proses evaluasi yang membawa informasi mengenai aktivitas dan perilaku siswa yang nantinya akan dinilai oleh proses evaluasi (Gambar 12). Didalam aliran data perilaku terjadi proses pengkodean dan pemecahan kode dari perilaku entitas siswa. Tipe informasi aliran data behavior ini dapat berupa berapa banyak penggunaan keyboard dan mouse ketika mengakses sistem e-learning, termasuk juga respon berupa suara dan tulisan. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan perilaku siswa diamati untuk kemudian dinilai oleh proses evaluasi. Perilaku siswa yang diamati antara lain frekuensi dan lama waktu yang dibutuhkan siswa untuk menyelesaikan satu materi, penggunaan keyboard dan mouse, interaksinya dengan siswa lain dan instruktur. 4.3.3.5 Evaluation (Evaluasi) Evaluasi didefinisikan sebagai proses abstraksi yang menghasilkan ukuran/penilaian atas entitas siswa (Gambar 13). Pemrosesan informasi perilaku siswa dilakukan untuk menghasilkan penilaian dan informasi siswa. Proses yang terjadi melibatkan input behavior dari proses entitas siswa, input interaction 46 context data flow dari proses delivery, output assesment data flow ke proses coach serta input dan output dari dan ke learner records. Gambar 13 Abstraksi proses evaluasi Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut: • Input: (LTSA): Perilaku siswa yang telah diamati disampaikan melalui behavior data flow. (E-learning Diklat): Perilaku siswa e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan diamati dan disampaikan melalui behavior data flow. • Input: (LTSA): Interaction context data flow dapat memberikan konteks/hubungan atas perilaku siswa untuk menentukan evaluasi yang sesuai bagi siswa tersebut. (E-learning Diklat): Ketika siswa mengakses materi belajar e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, maka perilakunya akan diamati melalui interaction context data flow. Hasilnya untuk menentukan evaluasi yang sesuai bagi siswa tersebut. • Output: (LTSA): Informasi penilaian dikirimkan kepada instruktur melalui assessment data flow (E-learning Diklat): Setelah perilaku dan interaksi siswa e-learning dengan materi belajar dinilai maka informasi penilaian dikirimkan kepada instruktur melalui assessment data flow. 47 • Input/output (LTSA): Informasi siswa dapat ditelusuri dan disimpan (melalui learner information data flow) selama proses evaluasi di dalam penyimpanan data learner records. (E-learning Diklat): Apabila instruktur maupun administrator ingin mengetahui informasi siswa e-learning maka dapat mencarinya di tempat penyimpanan data siswa (learner records). Selama proses evaluasi data siswa e-learning disimpan melalui learner information data flow di tempat penyimpanan data learner records. Contoh dari proses evaluasi ini yaitu seorang siswa ingin memilih jawaban dari soal pilihan ganda dan jawaban yang benar adalah nomor 2. Proses evaluasi harus mengetahui konteks interaksi pembelajaran untuk menentukan yang mana dari tombol “2”, “#2”, dan/atau “dua” yang merupakan jawaban benar. Konteks interaksi dapat digunakan untuk menghubungkan perilaku yang sesuai dengan interaksi pembelajaran. 4.3.3.6 Learner information stored/retrieved by evaluation (Informasi siswa yang disimpan/ditelusur oleh proses Evaluasi) Learner information stored/retrieved by evaluation didefinisikan sebagai aliran data dua arah antara proses evaluasi dengan penyimpanan data learner records yang mewakili penyimpanan dan penelusuran informasi siswa (Gambar 14). Output dari proses evaluasi akan disimpan sebagai catatan informasi entitas siswa yang telah lalu (learner entity history information) di dalam learner records. Data yang mewakili informasi siswa yang telah lalu, saat ini dan akan datang contohnya adalah aktivitas, nilai, logs, dan target. Granularitas tidak spesifik dalam informasi siswa ini karena proses evaluasi dapat menyimpan/menelusur informasi siswa sebanyak setiap klik mouse-nya ataupun sesedikit mungkin seperti data setiap semester. Contohnya: “pertanyaan no. 17, dijawab dengan benar, memakan waktu 25 detik”. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, aliran data dua arah learner information akan mengirimkan data siswa e-learning dari proses evaluasi untuk kemudian disimpan dan dapat ditelusur kembali di learner records. 48 Gambar 14 Abstraksi data flow informasi siswa Dengan cara ini maka jika siswa ingin mengetahui kemajuan belajarnya, ia dapat mengaksesnya di penyimpanan data learner records dan sistem mendapatkan rekam jejak seluruh perilaku siswa ketika mengakses e-learning Diklat yang dapat disimpan dan ditelusur kembali. 4.3.3.7 Learner Records (Data Siswa) Penyimpanan data learner records didefinisikan sebagai penyimpanan dan penelusuran informasi siswa yang telah lalu (misal history), masa kini (misal assessment (penilaian) saat ini), dan masa depan (misal tujuan/target belajar) (Gambar 15). Data siswa dapat menyimpan informasi (yang akan ditelusur kembali) mengenai masa lalu (misal data historis siswa), dapat juga menyimpan informasi masa kini (misal penilaian mengenai penundaan atau penyelesaian suatu sesi) dan masa depan (misal pedagogi, target/tujuan siswa atau pegawai). Proses yang terjadi melibatkan input dan output learner information data flow dari dan ke proses evaluasi, input learner information data flow (informasi terkini) dari proses coach, dan output learner information data flow (history/objective) ke proses coach. Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut: • Store (penyimpanan): (LTSA): Proses evaluasi dapat menyimpan informasi siswa (contoh nilai suatu pelajaran) melalui aliran data informasi siswa (learner information data flow). 49 (E-learning Diklat): Informasi perilaku, interaksi dan nilai siswa e-learning yang telah diolah di proses evaluasi akan diteruskan oleh learner information data flow dan disimpan di learner records. Gambar 15 Abstraksi data store data siswa (learner records) • Retrieve (penelusuran): (LTSA): Proses evaluasi dapat menelusur informasi siswa (contoh nilai suatu pelajaran) melalui aliran data informasi siswa. (E-learning Diklat): Informasi lama dan terkini dari siswa e-learning dapat ditelusur oleh administrator, instruktur maupun pihak yang memiliki otoritas melalui aliran data informasi siswa. • Store (penyimpanan): (LTSA): Proses instruktur dapat menyimpan informasi siswa (contoh kinerja, kesukaan, dan tipe lain informasi siswa) melalui aliran data informasi siswa. (E-learning Diklat): Instruktur e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dapat menyimpan informasi siswa melalui learner information data flow. • Retrieve (penelusuran): (LTSA): Proses Instruktur dapat menelusur informasi siswa (kinerja, kesukaan, dan tipe lain dari informasi siswa) melalui aliran data informasi siswa. (E-learning Diklat): Instruktur e-learning dapat menelusur informasi siswa melalui learner information data flow. 50 Beberapa contoh dari abstraksi penyimpanan data learner records yaitu: instruktur dapat menyimpan informasi kinerja, seperti informasi penilaian dan sertifikasi yang ada dalam learner records; instruktur dapat menyimpan informasi yang ditunda (bookmark) seperti informasi kinerja untuk menyimpan sesi siswa yang terakhir dan kelanjutannya di masa yang akan datang. 4.3.3.8 Learner information received by system coach (Informasi siswa yang diterima oleh sistem Instruktur) Gambar 16 Abstraksi data flow informasi siswa yang diterima oleh sistem instruktur Learner information received by system coach adalah aliran data satu arah dari penyimpanan data learner records ke proses instruktur yang menyajikan permintaan instruktur akan informasi dari learner records (Gambar 16). Instruktur menelusur learner records, selanjutnya hasil penelusuran disebut informasi siswa. Tipe informasinya berupa kinerja, kesukaan dan informasi siswa lainnya. Biasanya informasi historis dan kesukaan ditelusur namun informasi terkini (misalnya “ditunda” untuk sesi selanjutnya) dan informasi masa depan (contoh target akademik dimasa datang) dapat ditelusur juga. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, instruktur dapat menelusur data mengenai informasi siswa baik yang lama, baru maupun yang akan datang. 4.3.3.9 Learner information stored by system coach (Informasi siswa yang disimpan oleh sistem instruktur) Learner information stored by system coach adalah aliran data dari proses instruktur ke penyimpanan data learner records yang menyajikan permintaan instruktur untuk menyimpan informasi siswa (Gambar 17). 51 Gambar 17 Abstraksi data flow informasi siswa yang disimpan oleh sistem instruktur Instruktur menyimpan penilaian dan sertifikasi dalam learner records. Tipe informasinya berupa kinerja, minat dan informasi siswa lainnya. Beberapa contoh dari abstraksi ini yaitu: instruktur dapat menyimpan informasi kinerja, seperti informasi penilaian dan sertifikasi dalam penyimpanan data learner records; instruktur dapat menyimpan data “ditunda” (bookmarks) sebagai informasi kinerja untuk mengumpulkan sesi entitas siswa dan kelanjutannya di masa akan datang; instruktur dapat menyimpan minat siswa dalam penyimpanan data learner records. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, instruktur dapat menyimpan seluruh data informasi siswa seperti hasil penilaian, perilaku, minat dan keaktifan siswa di learner records. 4.3.3.10 Assessment information (Informasi penilaian) Assessment information adalah suatu aliran data dari proses evaluasi ke proses instruktur yang menyajikan informasi mengenai kondisi terkini siswa yang dapat digunakan oleh instruktur untuk menentukan pengalaman belajar yang optimal (Gambar 18). Output dari proses evaluasi menyajikan kondisi terkini entitas siswa. Tipe informasinya berupa informasi kinerja dan informasi siswa lainnya. Perbedaan antara aliran data informasi penilaian dan aliran data dari learner records adalah aliran data informasi penilaian tujuan utamanya adalah untuk menyatakan informasi mengenai “sampai sejauh mana siswa berada saat ini” dan dimulai oleh proses evaluasi, sedangkan aliran data dari/ke penyimpanan data learner records menyajikan aliran informasi yang telah dimulai oleh 52 instruktur (dari/ke penyimpanan data learner records). Implementasi dapat menggunakan semua, sebagian atau tidak sama sekali aliran-aliran data ini. Gambar 18 Abstraksi data store informasi penilaian Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, instruktur memperoleh informasi mengenai perilaku, kinerja dan prestasi siswa dari proses evaluasi melalui aliran data informasi penilaian (assessment information). 4.3.3.11 Coach (Instruktur) Coach adalah proses abstraksi yang dapat menggabungkan informasi dari beberapa sumber, seperti entitas siswa (parameter belajar), proses evaluasi (informasi penilaian), penyimpanan data learner records (kinerja, kesukaan, dan informasi siswa lainnya), dan penyimpanan data learning resources (aliran kontrol kueri dan aliran data informasi katalog), dan dapat menggunakan informasi ini untuk mencari (kueri) dan memilih (baik aliran data locator maupun aliran kontrol locator) penyimpanan data materi belajar (melalui proses delivery dan aliran data multimedia) sebagai pengalaman belajar. didefinisikan dalam 5 langkah. Proses instruktur Langkah-langkah tersebut yaitu: langkah 1. negosiasi/pertukaran parameter belajar untuk mendapatkan pengalaman belajar yang optimal; langkah 2 dan 3. menerima informasi penilaian terbaru dari proses evaluasi. Pencarian dan penelusuran informasi siswa relevan dengan pengalaman belajar terkini; langkah 4. mencari di sumber belajar (learning resources) melalui kueri untuk mendapatkan materi belajar yang sesuai. Sumber belajar mengembalikan info katalog (disebut juga sebagai metadata objek belajar) yang telah dikirimkan instruktur yang cocok dengan kueri; langkah 5. mengekstrak 53 locator (yaitu URL) dari info katalog yang telah ditemukan (metadata objek belajar) dan mengirimkan locator ke delivery process untuk menunjukkan pengalaman belajar. Langkah-langkah ini dapat dilakukan dengan urutan apapun. Gambar 19 Abstraksi proses instruktur (langkah 1) Abstraksi proses instruktur pada langkah pertama ini merupakan negosiasi atau pertukaran parameter belajar untuk mendapatkan pengalaman belajar yang optimal (Gambar 19). Proses yang terjadi melibatkan input dan output aliran data learning parameters dari dan ke proses entitas siswa. Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut: • Input/output: (LTSA): Parameter belajar (aliran data parameter belajar) dapat dinegosiasikan/dipertukarkan dengan entitas siswa. (E-learning Diklat): Calon siswa e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan berdiskusi dengan instruktur untuk menentukan strategi belajar yang akan dilakukan terkait dengan budaya dan keterbatasan fisik siswa yang bersangkutan. Dalam hal ini terlebih dahulu siswa diberikan persyaratan dan aturan yang harus ditaati ketika mengikuti e-learning. Halhal yang menjadi keberatan siswa dapat didiskusikan atau dinegosiasikan dengan instruktur. Gaya belajar dan strategi belajar dapat dipilih baik oleh entitas siswa (negosiasi satu arah), instruktur (negosiasi satu arah), baik entitas siswa maupun proses instruktur (negosiasi dua arah), atau yang berwenang dari pihak eksternal (seperti orang tua, guru, institusi atau pengembang materi). 54 Gambar 20 Abstraksi proses instruktur (langkah 2 dan 3) Abstraksi proses instruktur pada langkah kedua dan ketiga ini adalah menerima informasi penilaian terbaru dari proses evaluasi (Gambar 20). Pencarian dan penelusuran informasi siswa relevan dengan pengalaman belajar terkini. Proses yang terjadi pada langkah kedua melibatkan input aliran data assessment dari proses evaluasi dan input dari aliran data learner information (history/objective) pada langkah ketiga. Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut: • Input: (LTSA): Informasi penilaian terkini (aliran data informasi penilaian) dari proses evaluasi. (E-learning Diklat): Instruktur memperoleh informasi mengenai perilaku, kinerja dan prestasi siswa dari proses evaluasi melalui aliran data informasi penilaian (assessment information). • Input: (LTSA): Informasi siswa (aliran data informasi siswa) dari penyimpanan data learner records. (E-learning Diklat): Instruktur mendapat data mengenai informasi siswa baik yang lama, baru maupun yang akan datang dari learner records. Abstraksi proses instruktur pada langkah keempat adalah mencari di sumber belajar (learning resources) melalui kueri untuk mendapatkan materi belajar yang sesuai (Gambar 21). Sumber belajar mengembalikan info katalog (disebut juga sebagai metadata objek belajar) yang telah dikirimkan instruktur yang cocok dengan kueri. Proses yang terjadi melibatkan output aliran kontrol kueri (query 55 control flow) ke penyimpanan data learning resources dan input aliran data informasi katalog dari penyimpanan data learning resources Gambar 21 Abstraksi proses instruktur (langkah 4) Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut: • Output: (LTSA): Kueri, yaitu suatu aliran kontrol, dapat dikirimkan ke penyimpanan data learning resources untuk mencari materi belajar (yang sesuai) (E-learning Diklat): Instruktur e-learning mengirimkan permintaan materi belajar (kueri) ke learning resources. • Input: (LTSA): Penyimpanan data learning resources dapat mengembalikan informasi katalog (aliran data informasi katalog), yaitu daftar locator yang cocok dengan kueri pencarian. (E-learning Diklat): Instruktur e-learning mendapatkan informasi materi belajar yang sesuai dengan kueri melalui aliran data informasi katalog. Abstraksi proses instruktur pada langkah kelima ini ialah mengekstrak locator (yaitu URL) dari info katalog yang telah ditemukan (metadata objek belajar) kemudian mengirimkan locator ke proses delivery untuk menunjukkan pengalaman belajar (Gambar 22). Proses yang terjadi melibatkan output aliran data locator ke proses delivery. 56 Gambar 22 Abstraksi proses instruktur, langkah 5 Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut: • Output: (LTSA): Locator (seperti rencana belajar, penunjuk untuk materi belajar) dapat dikirimkan melalui aliran data locator ke proses delivery. (E-learning Diklat): Instruktur mengirimkan rencana pembelajaran melalui aliran data locator ke proses delivery untuk menentukan materi yang sesuai dengan topik pelatihan. 4.3.3.12 Query (kueri) Query adalah aliran kontrol satu arah dari proses instruktur ke sumber belajar yang menyajikan permintaan pencarian untuk materi belajar (Gambar 23). Aliran ini (permintaan pencarian) adalah sebuah aliran kontrol dan bukan sebuah aliran data karena aliran (kueri LTSA) tidak menyajikan input atau data yang disimpan di dalam tempat penyimpanan data. Aliran kontrol kueri melakukan permintaan pencarian ketika mencari materi belajar yang sesuai di dalam sumber belajar. Tipe informasi sebuah kueri (melalui control flow) adalah satu set kriteria pencarian. Kueri dapat menspesifikasikan kriteria pencarian berdasarkan, antara lain, parameter belajar, informasi penilaian, dan informasi siswa. Secara khusus, kueri adalah pencarian untuk materi belajar yang sesuai untuk seorang entitas siswa. 57 Gambar 23 Abstraksi control flow kueri Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, instruktur mengirimkan permintaan pencarian materi belajar yang sesuai untuk siswa berdasarkan topik pelatihan yang diikutinya. Permintaan pencarian ini dikirimkan melalui aliran kontrol kueri kepada learning resources. 4.3.3.13 Learning resources (sumber belajar) Gambar 24 Abstraksi data store sumber belajar Learning resources adalah suatu penyimpanan data yang dapat menyertakan representasi ilmu pengetahuan, presentasi, tutorial, tutor, peralatan, eksperimen, laboratorium, dan materi belajar lainnya (Gambar 24). Ia merupakan suatu database yang menyajikan “knowledge”, informasi, dan sumber lainnya yang digunakan dalam belajar. Learning resources dapat disajikan dalam bentuk presentasi, tutorial, dan pelajaran. Proses yang terjadi melibatkan input aliran kontrol kueri dari proses coach, output aliran data catalog info ke proses coach, input aliran kontrol locator 58 dari proses delivery dan output aliran data learning content ke proses delivery. Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut: • Retrieve: (LTSA): Dapat dicari oleh kueri (melalui aliran kontrol). (E-learning Diklat): Penelusuran dilakukan oleh instruktur e-learning melalui kueri. • Retrieve: (LTSA): Informasi yang cocok dikembalikan melalui aliran data info katalog, contohnya satu set tags yang secara konsep sama seperti entri ”kartu katalog” (juga dikenal sebagai “metadata objek belajar”). Locator (secara konseptual, “nomor panggil” di punggung buku dari “koleksi buku di sebuah perpustakaan digital”, contohnya URL) dapat diekstraksi dari informasi katalog. (E-learning Diklat): Informasi mengenai materi belajar yang dibutuhkan oleh instruktur yang telah diterjemahkan dalam bentuk kueri dikembalikan oleh aliran data info katalog. • Retrieve: (LTSA): Locator dapat dipakai oleh proses delivery untuk menelusur materi belajar. (E-learning Diklat): Instruktur yang telah mendapatkan informasi materi belajar yang sesuai dapat meneruskan pencarian melalui locator di dalam proses delivery. • Retrieve: (LTSA): Materi belajar yang telah ditelusur dikembalikan melalui aliran data materi belajar. (E-learning Diklat): Materi belajar yang telah ditelusur oleh instruktur e-learning dikembalikan melalui aliran data materi belajar (learning content data flow). 4.3.3.14 Catalog information (Informasi katalog) Catalog information adalah aliran data satu arah dari sumber belajar kepada proses Instruktur yang menyajikan hasil pencarian penyimpanan data learning resources, sebagaimana diarahkan oleh aliran kontrol kueri (Gambar 25). 59 Gambar 25 Abstraksi data flow informasi katalog Aliran data ini menyajikan “card catalog”, yaitu informasi mengenai materi belajar di dalam learning resources. Tipe informasinya adalah informasi yang menggambarkan sumber belajar. Informasi katalog juga dikenal sebagai “metadata objek belajar”. Informasi katalog sama dengan entri kartu katalog di dalam sebuah perpustakaan. Sebagai respon terhadap kueri, ada kemungkinan untuk mengembalikan materi belajar keseluruhan yang telah tertanam dalam informasi katalog (melalui aliran data info katalog). Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, instruktur mendapatkan informasi materi belajar dari learning resources melalui aliran data informasi katalog. 4.3.3.15 Locator sent by coach (Locator yang dikirim oleh instruktur) Locator sent by coach adalah aliran data satu arah dari proses instruktur ke proses delivery yang mengidentifikasikan atau menunjukkan materi belajar (Gambar 26). Aliran data ini menyajikan “nomor panggil” materi belajar di dalam learning resources. Sistem yang berbasis web biasanya menggunakan URL untuk locator. Tipe informasinya adalah identifier atau penunjuk. Menggunakan analogi dalam perpustakaan, locator sama dengan “nomor panggil” pada sistem kartu katalog. Aliran data locator ini (dari proses instruktur ke proses delivery) sama dengan tipe informasi aliran kontrol locator dari proses delivery ke learning resources. 60 Gambar 26 Abstraksi data flow locator yang dikirim oleh instruktur Contohnya adalah URL, URN, pathname. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, instruktur mengirimkan locator ke proses delivery untuk memberikan petunjuk mengenai materi belajar yang dibutuhkan. 4.3.3.16 Locator sent by delivery (Locator yang dikirim oleh delivery) Gambar 27 Abstraksi control flow locator yang dikirim oleh proses delivery Locator sent by delivery adalah aliran kontrol satu arah dari proses delivery ke penyimpanan data learning resources, yaitu suatu aliran kontrol yang berisi identifikasi locator atau penunjuk ke learning resources (Gambar 27). Aliran ini (locator yang mengidentifikasi materi belajar untuk ditelusur) adalah suatu aliran kontrol dan bukan aliran data karena aliran ini (aliran locator) tidak mewakili input atau data yang disimpan didalam penyimpanan data. Dalam subklausa sebelumnya, locator adalah suatu aliran data didalam konteks instruktur ke delivery. Konsep aliran data vs. aliran kontrol bersifat kontekstual. Tipe Informasinya identifier atau penunjuk. Contohnya adalah suatu web URL. 61 Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, locator ini adalah aliran kontrol satu arah dari proses delivery ke learning resources. 4.3.3.17 Learning content (materi belajar) Gambar 28 Abstraksi data flow learning content Learning content adalah aliran data satu arah yang diidentifikasikan atau direferensikan oleh aliran kontrol locator, yang ditelusur oleh penyimpanan data learning resources, dan diubah oleh proses delivery menjadi suatu pengalaman belajar dengan multimedia interaktif (contoh: dikirimkan melalui aliran data multimedia, aliran data konteks interaksi, dan aliran data perilaku siswa) (Gambar 28). Dengan kata lain, terjadi pengkodean materi yang berasal dari learning resources. Materi belajar dapat berupa pelajaran, presentasi, tutorial, tutor, dan eksperimen. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, aliran data materi belajar (learning content) membawa informasi mengenai materi belajar yang sesuai dengan topik pelatihan kepada proses delivery untuk diubah kedalam format multimedia. 4.3.3.18 Delivery (penyampaian atau pengiriman) Delivery adalah suatu abstraksi proses yang mengubah informasi yang diperoleh melalui materi belajar menjadi suatu presentasi, yang dapat dikirimkan ke entitas siswa melalui aliran data multimedia (Gambar 29). Proses delivery menelusur materi belajar dari learning resources berdasarkan locator dan mengubah bentuk materi belajar menjadi presentasi multimedia. Presentasi yang dihasilkan bisa statis, interaktif, kolaboratif, melibatkan eksperimen dan penemuan. 62 Gambar 29 Abstraksi proses delivery Proses yang terjadi melibatkan input aliran data locator dari proses coach, input aliran data learning content ke proses delivery, output control flow locator ke learning resources, output aliran data multimedia ke proses entitas siswa, dan output aliran data interaction context ke proses evaluasi. Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut: • Input: (LTSA): dapat menerima locator (melalui aliran data locator) dari proses instruktur. (E-learning Diklat): proses delivery menerima masukan dari instruktur mengenai materi belajar yang sesuai dengan pelatihan. • Input: (LTSA): dapat menerima materi belajar yang telah ditelusur (melalui aliran data materi belajar) dan dapat mengubah materi belajar menjadi presentasi multimedia untuk entitas siswa. (E-learning Diklat): proses delivery mengubah materi belajar yang telah dipilihkan oleh instruktur menjadi presentasi multimedia. • Output: (LTSA): dapat menggunakan locator (melalui aliran kontrol) untuk menelusur materi belajar dari penyimpanan data learning resources. (E-learning Diklat): instruktur menelusur materi belajar dari sumber belajar (learning resources). 63 • Output: (LTSA): dapat mengirimkan multimedia (melalui aliran data multimedia) ke entitas siswa. (E-learning Diklat): proses delivery mengirimkan multimedia ke siswa e-learning. • Output: (LTSA): dapat mengirimkan konteks interaksi (melalui aliran data konteks interaksi) ke proses evaluasi. (E-learning Diklat): proses delivery mengirimkan konteks interaksi antara siswa e-learning dengan multimedia kepada proses evaluasi. Dalam sistem implementasi aktual, proses delivery dapat dikombinasikan dengan proses evaluasi untuk mendapatkan kesamaan yang erat agar mendapatkan pengalaman belajar yang responsif dan interaktif. Metode implementasi proses delivery dapat sangat bervariasi, contohnya presentasi dan pertanyaan, intelligent tutoring system, konferensi melalui video, dengan tutor manusia, dan mengubah suatu ontologi (suatu model konseptual untuk subjek yang direpresentasikan sebagai materi belajar yang bersifat generik) menjadi suatu presentasi, diantara banyak kemungkinan. Metode tranformasi materi belajar menjadi bentuk multimedia, tidak ditentukan. 4.3.3.19 Interaction context (konteks interaksi) Interaction context adalah aliran data satu arah dari proses delivery ke proses evaluasi yang dapat menyediakan informasi (contohnya suatu kerangka kerja) yang penting untuk proses evaluasi menerjemahkan informasi yang disuplai oleh aliran data behavior (Gambar 30). Konteks materi belajar dikirimkan ke proses evaluasi untuk menghubungkan presentasi multimedia dengan respon perilaku entitas siswa. Tipe informasinya adalah informasi kontekstual, seperti nama dan pola respon. Ketika proses delivery mengirimkan multimedia interaktif kepada entitas siswa, proses evaluasi mengharapkan adanya respon perilaku terhadap multimedia tersebut. Proses evaluasi mungkin tidak dapat menginterpretasikan perilaku tanpa konteks, sehingga proses delivery mengirimkan informasi kontekstual (contoh 64 yang mungkin, materi belajar itu sendiri) kepada proses evaluasi sehingga interaksi dari konteks entitas siswa dapat dipahami. Gambar 30 Abstraksi data flow konteks interaksi Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, respon siswa e-learning setelah mengakses presentasi multimedia dikirimkan ke proses evaluasi melalui interaction context data flow. Aliran data konteks interaksi ini untuk menginterpretasikan interaksi siswa dengan materi belajar (multimedia) dalam suatu konteks sehingga perilaku siswa dapat dipahami. Berdasarkan analisis pada komponen-komponen sistem LTSA (layer 3) seperti telah diuraikan pada sub-sub-bab 4.3.3.1 s.d. 4.3.3.19 maka dilakukan pemetaan terhadap kondisi terkini e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Pemetaan tersebut mendapatkan hasil bahwa dari 16 (enam belas) komponen yang ada dalam standar LTSA hanya 5 (lima) komponen yang terpenuhi oleh e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Kelima komponen tersebut yaitu leaner entity, coach, evaluation, multimedia, dan learning content. Tabel 7 menunjukkan pemetaan komponen sistem LTSA terhadap e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Berdasarkan tabel 7 mengenai pemetaan komponen LTSA terhadap e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, maka komponen LTSA yang ada pada e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan adalah learner entity, coach, evaluation, multimedia dan learning content, sedangkan komponen yang tidak ada yaitu delivery, learning resources, learner records, interaction context, behavior, learning parameters, assessment, learner information, locator, catalog information dan query. 65 Tabel 7 Pemetaan komponen LTSA terhadap e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan 1. Learner entity proses Kondisi terkini e-learning Diklat √ 2. Coach proses √ 3. Delivery proses - 4. Evaluation proses √ 5. Learning resources data store - 6. Learner records data store - 7. Multimedia data flow √ 8. Interaction context data flow - 9. Behavior data flow - 10. Learning parameters data flow - 11. Assessment data flow - 12. Learner information data flow - 13. Locator data flow - 14. Learning content data flow √ 15. Catalog information data flow - 16. Query control flow - No. Komponen-komponen LTSA (Layer 3) Tipe 4.3.4 Layer 4: Stakeholder perspective and priorities (Perspektif dan prioritas pemangku kepentingan) Setiap stakeholder memiliki perspektif yang penting dan memiliki legitimasi. Namun, masing-masing stakeholder memiliki persepsi yang berbeda mengenai sistem teknologi pembelajaran. Perspektif dan prioritas stakeholder digambarkan menggunakan notasi yang spesifik di dalam LTSA. Komponen sistem LTSA adalah abstraksi yang diimplementasikan ke dalam berbagai perspektif stakeholder (Gambar 31). Perspektif stakeholder (layer 4) adalah bagian dari komponen sistem LTSA yang mewakili implementasi dari layer 3 LTSA. Identifikasi perspektif dan prioritas stakeholder membutuhkan metode analisis. Hasil dari analisis dapat mengidentifikasi: • Komponen sistem LTSA yang menarik minat stakeholder. • Sejauh mana “kepentingan relatif” komponen sistem LTSA. 66 • Interoperability interface yang penting bagi stakeholder. Gambar 31 Abstraksi komponen sistem LTSA diimplementasikan ke dalam berbagai perspektif stakeholder (layer 4) Berdasarkan kondisi yang ada saat ini dalam pengembangan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI, maka komponen yang telah ada adalah calon peserta, SDM Pengelola, instruktur, konten e-learning, learning management system, dan website Pusdiklat. Dari komponen yang telah ada ini dapat dianalisis perspektif dan prioritas stakeholder di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI. Komponen-komponen yang telah ada tersebut dapat dipetakan ke beberapa komponen sistem LTSA (layer 3) yaitu: a) calon peserta diklat dipetakan ke entity learner; b) SDM pengelola dipetakan ke Evaluation; c) instruktur dipetakan ke coach; d) konten e-learning dipetakan ke learning content dan multimedia. E-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan telah memiliki learning management system yang diletakkan di website Pusdiklat, sehingga komponenkomponen yang telah ada ini dapat dipetakan kepada salah satu contoh ilustrasi implementasi komponen-komponen sistem yang ada dalam standar LTSA yaitu web browser 2. Web browser merupakan salah satu contoh integrasi yang sangat erat (tight component integration) terhadap seluruh komponen-komponen sistem yang ada pada standar LTSA sehingga dapat dijadikan acuan untuk membuat 2 Web browser adalah istilah dalam LTSA yang mengacu pada LMS berbasis web. 67 desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai dengan standar LTSA. 4.3.5 Pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dilakukan setelah mendapatkan hasil dari analisis terhadap layer 1 s.d. 4 dari LTSA dibandingkan dengan kondisi yang ada pada e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Berdasarkan analisis tersebut didapatkan hasil bahwa web browser merupakan contoh yang tepat untuk dijadikan acuan dalam pembuatan desain e-learning Diklat ini karena dapat memetakan seluruh komponen sistem LTSA. Gambar 32 Pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA (IEEE, 2002). Gambar 32 menyajikan ilustrasi pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA. Komponen “human” dalam web browser dipetakan kepada learner entity dalam komponen sistem LTSA. behavior dan multimedia. “Human interface” dipetakan kepada Presentation tool (browser) dipetakan kepada evaluation, assessment, coach, locator, dan delivery. “Courseware database” dipetakan kepada learning resources. “Student records” (database) dipetakan kepada learner records. Tabel 8 memperlihatkan pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA. 68 Tabel 8 Pemetaan Web Browser Terhadap Komponen Sistem LTSA Web Browser No. 1. Human Komponen Sistem LTSA Learner Entity 2. Human interface Behavior dan multimedia 3. Presentation tool (web browser) 4. Courseware database Evaluation, assessment, coach, locator, dan delivery Learning resources 5. Student records Learner records Gambar 33 berikut ini adalah pemetaan sekaligus desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dengan mengacu pada pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA: Gambar 33 Desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan mengacu pada pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA 1) Human Human atau manusia di dalam komponen sistem LTSA diwakili oleh learner entity atau entitas siswa. Dalam desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan ini maka entitas siswa dipetakan ke peserta pelatihan (siswa). Ketika siswa mendaftar untuk mengikuti e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan maka ia berada dalam suatu lingkungan pelatihan dan akan berinteraksi dengan administrator, instruktur, materi pelatihan, dan siswa lainnya. Beberapa ketentuan yang terkait dengan siswa e-learning yaitu: 69 a) Siswa harus memiliki atau dapat mengakses komputer yang menggunakan Sistem Operasi Windows yang dilengkapi dengan aplikasi web browser. b) Sebelum mengikuti e-learning, siswa diharuskan mendaftar dan bila telah mendapatkan persetujuan dari administrator (admin) akan mendapatkan password melalui e-mail. c) Siswa menerima materi pelatihan melalui presentasi multimedia yang berasal dari proses delivery melalui multimedia data flow. d) Siswa diharuskan mengikuti pre-test sebelum mengikuti materi pelatihan dan mengikuti post-test setelah mengikuti materi pelatihan. e) Perilaku siswa akan diamati dan dilaporkan melalui behavior data flow ke proses evaluasi. f) Respon siswa e-learning setelah mengakses presentasi multimedia dikirimkan ke proses evaluasi melalui interaction context data flow. Aliran data konteks interaksi ini untuk menginterpretasikan interaksi siswa dengan materi belajar (multimedia) dalam suatu konteks sehingga perilaku siswa dapat dipahami. g) Siswa dapat berdiskusi dengan instruktur mengenai parameter belajarnya melalui learning parameters data flow 2) Human Interface atau Antarmuka Pengguna Interaksi yang terjadi antara siswa dengan sistem e-learning memerlukan human interface (antarmuka pengguna). Dalam hal ini yang menjadi interface adalah sistem operasi Windows, yang memungkinkan siswa mengakses materi pelatihan yang berbentuk multimedia dan memungkinkan sistem mencatat perilaku siswa (behavior) selama berinteraksi dengan sistem. Behavior atau perilaku siswa dalam standar LTSA adalah aliran data dari proses entitas siswa menuju proses evaluasi yang membawa informasi mengenai aktivitas dan perilaku siswa yang akan dinilai oleh proses evaluasi. Jadi ketika siswa sudah berhasil mengakses materi e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan melalui aliran data multimedia yang menyajikan presentasi berupa video, audio, teks, dan grafik dari proses delivery ke entitas siswa, maka perilakunya diamati termasuk berapa kali mengakses materi pelatihan, mengikuti ujian dan kuis, melakukan diskusi dengan instruktur dan siswa lain, serta respon siswa berupa suara, tulisan dan penggunaan keyboard dan mouse. 70 Di dalam sistem teknologi pembelajaran seperti e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan ini, implementasi aliran data multimedia sangat erat kaitannya dengan implementasi aliran data behavior untuk memperbaiki respon siswa terhadap sistem teknologi pembelajaran. 3) Presentation Tool (browser) Presentation Tool menyajikan lingkungan pelatihan e-learning yang berupa web browser yang dapat diakses oleh siswa. Presentation tool (browser) terdiri atas beberapa komponen sistem LTSA: a. Evaluation Evaluation atau proses evaluasi adalah proses yang menghasilkan ukuran/penilaian atas entitas siswa. Desain evaluasi untuk e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan memperhatikan ketentuan sebagai berikut:  Soal evaluasi dibuat oleh instruktur  Evaluasi dilakukan secara online yang terdiri dari pre-test, formative-test dan post-test  Waktu menjawab sebuah tes evaluasi ditentukan  Setiap tes evaluasi untuk sebuah materi terdiri atas beberapa set soal untuk menghindari siswa mengerjakan set soal sama lebih dari 1 kali  Jawaban siswa akan disimpan di dalam penyimpanan data Data Siswa b. Assessment Assessment adalah aliran data dari proses evaluasi ke proses instruktur yang menyajikan informasi mengenai kondisi terkini perilaku siswa seperti waktu yang dibutuhkan untuk menjawab soal, jumlah jawaban yang benar, materi apa yang telah diambil, nilai total dsb. Informasi ini akan dikirimkan oleh admin kepada instruktur. Instruktur akan mengolah informasi tersebut dan melakukan analisa seperti apakah perlu dilakukan perubahan parameter belajar, materi atau rujukan tambahan yang perlu diberikan kepada siswa untuk memperbaiki kinerja siswa selanjutnya. Informasi ini selain dikirimkan oleh admin, instruktur dapat melihatnya sendiri di penyimpanan data siswa (learner records). c. Coach Coach atau instruktur adalah suatu proses dalam komponen sistem LTSA tempat mengalirnya beberapa aliran data dan aliran kontrol sehingga menjadi 71 tempat bergabungnya informasi dari berbagai sumber seperti entitas siswa (parameter belajar), proses evaluasi (assessment), dan penyimpanan data sumber belajar (aliran kontrol kueri dan aliran data informasi katalog). Proses coach (instruktur) dapat menggunakan informasi ini untuk mencari (kueri) dan memilih (baik aliran data locator maupun aliran kontrol locator) materi pelatihan di learning resources (melalui proses delivery dan aliran data multimedia) dan menjadikannya sebagai satu set pengalaman belajar. Instruktur berperan seperti halnya guru di dalam kelas konvensional. Ia bertanggung jawab atas pembuatan maupun perubahan materi pelatihan, pembuatan soal, melakukan analisa terhadap prestasi siswa dan menyediakan waktu untuk membimbing siswa memahami materi pelatihan dengan cara menjawab pertanyaan siswa, menjadi fasilitator dalam forum diskusi, memberi informasi tentang bahan rujukan tambahan. Dalam kaitannya dengan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, instruktur harus berlatar belakang salah satu ilmu yang diajarkan dalam kurikulum e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Ia juga menguasai bidang yang akan diajarnya serta mempunyai kemampuan teknis dalam pembuatan materi pelatihan dan menggunakan perangkat teknologi informasi yang dapat menunjang tugasnya. d. Locator Instruktur mengirimkan aliran data locator ke proses delivery untuk mendapat petunjuk mengenai kode materi pelatihan. Selain Locator yang berupa aliran data, ada locator yang berupa aliran kontrol, yaitu yang dikirimkan oleh proses delivery ke learning resources. Hasilnya adalah identifikasi materi belajar untuk ditelusur di dalam learning resources. e. Delivery Delivery adalah suatu abstraksi proses yang mengubah informasi yang diperoleh melalui materi pelatihan menjadi suatu presentasi, yang dapat dikirimkan ke entitas siswa melalui aliran data multimedia. Materi yang dikirimkan bisa berbentuk teks, grafik, power point, audio maupun video, yang kesemuanya harus menggunakan format penyampaian berbasis web. 72 Proses delivery dapat dikombinasikan dengan proses evaluasi melalui aliran data interaction context untuk mendapatkan kesamaan yang erat agar mendapatkan pengalaman belajar yang responsif dan interaktif. Metode implementasi proses delivery dapat sangat bervariasi, contohnya presentasi dan pertanyaan, konferensi melalui video, dengan tutor manusia, dan mengubah suatu ontologi menjadi suatu presentasi, dan sebagainya. 4). Courseware database (web servers) atau database pelatihan Courseware database atau database pelatihan dipetakan ke learning resources atau database sumber belajar. Learning resources adalah suatu tempat penyimpanan data sumber belajar. Didalamnya tersimpan materi pelatihan, link ke jurnal elektronik, presentasi, tutorial, tutor, peralatan, eksperimen, laboratorium dan materi belajar lainnya. Learning resources tersimpan dalam database server. 5) Student records (database) atau data siswa Student records (database) dipetakan ke learner records atau database siswa dalam komponen sistem LTSA. Seluruh data siswa akan tersimpan dalam database siswa ini seperti profil, kinerja, dan preferences. Database siswa akan disimpan di dalam database server. Pemutakhiran data siswa menjadi hak dari administrator sedangkan instruktur hanya boleh membaca informasi yang terkandung didalamnya saja. Siswa juga boleh membaca biodata rekan-rekannya sesama siswa pelatihan dan memutakhirkan data dirinya. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) E-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI belum sesuai dengan standar LTSA. Dari 16 komponen sistem LTSA (layer 3) hanya 5 komponen saja yang terpenuhi oleh e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, yaitu entitas siswa (leaner entity), instruktur (coach), evaluasi (evaluation), multimedia, dan materi belajar (learning content) sedangkan komponen yang belum ada adalah: pengiriman (delivery), data siswa (learner record), sumber belajar (learning resources), perilaku (behavior), penilaian (assessment), informasi siswa (learner information), kueri (query), info katalog (catalog info), locator, konteks interaksi (interaction context) dan parameter belajar (learning parameters). 2) Analisis terhadap layer 1 s.d 4 standar LTSA dibandingkan dengan kondisi elearning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI mendapatkan hasil bahwa web browser merupakan contoh yang sesuai untuk mengembangkan e-learning ini karena pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA menghasilkan integrasi yang sangat erat. 3) Pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan mengacu kepada pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA. 4) Desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan ini dapat dijadikan rekomendasi dalam pengembangan e-learning diklat tersebut dan menjadi pedoman bagi pengembangan e-learning diklat perpustakaan lainnya. 5.2 Saran/rekomendasi 1) Desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai dengan standar LTSA hendaknya dapat dijadikan acuan untuk 74 mengembangkan e-learning diklat tersebut di Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Perpustakaan Nasional RI. 2) Jika Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI ingin e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan sesuai dengan standar LTSA yang memiliki interoperabilitas yang tinggi, maka desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai dengan standar LTSA harus segera direalisasikan. 3) Proses pendeskripsian komponen operasional dan interoperability sistem hendaknya mengacu pada layer 5 standar LTSA dan dapat menjadi bahan penelitian selanjutnya. 75 DAFTAR PUSTAKA Clark R, Mayer RE. 2008. E-learning and the Science of Instruction (2nd ed). San Francisco: Jossey-Bass. Effendy E, Zhuang H. 2005. E-learning: Konsep dan Aplikasinya. Yogyakarta: ANDI. Fadjriya A. 2001. Perancangan E-Training Berbasis Web Menggunakan Standard “Learning Technology System Architecture” Studi Kasus: PT. Harrisma Service Centre [tesis]. Jakarta: Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia. Graf S, List B. 2005. An Evaluation of Open Source E-Learning Platforms Stressing Adaptation Issues. http://www.about-elearning.com/definition-of-e-learning.html [diakses pada 9 April 2010] http://kelembagaan.pnri.go.id/about_us/task/idx_id.asp [diakses pada 22 Januari 2010] http://npp.pnri.go.id/npp/main/index.php?module=rptprop [diakses pada 13 April 2012] [IEEE]. The Institute of Electrical and Electronics Engineers. 2002. IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28 Draft Standard for LearningTechnology -Learning Technology Systems Architecture (LTSA). http://isotc.iso.org/livelink/livelink [diakses pada 13 April 2010] Kartini et al. 2004. Kebijakan Teknis di Bidang Diklat Kepustakawanan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. Mason R, Frank R. 2009. Elearning. London-New York: Taylor Francis. [Perpusnas] Perpustakaan Nasional RI. 2002. Kajian Kebutuhan dan Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Kepustakawanan. Jakarta: Perpusnas. [Perpusnas] Perpustakaan Nasional RI. 2004. Kurikulum dan Garis-garis Besar Program Pembelajaran Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Jakarta: Perpusnas. [Perpusnas] Perpustakaan Nasional RI. 2009. Rencana Strategis Perpustakaan Nasional RI Tahun 2010-2014. Jakarta: Perpusnas. 76 [Perpusnas] Perpustakaan Nasional RI. 2009. Rencana Strategis Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI Tahun 2010-2014. Jakarta: Perpusnas. [Perpusnas] Perpustakaan Nasional RI. 2010. Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang pedoman evaluasi pendidikan dan pelatihan tenaga perpustakaan. Jakarta: Perpusnas. Soekartawi A, Haryono F, Libero. 2002. Greater Learning Opportunities Through Distance Education: Experiences in Indonesia and the Philippines. Journal of Southeast Asian Education. Vol. 3 No.2. Tafiardi. 2005. Meningkatkan Mutu Pendidikan Melalui E-Learning. Jurnal Pendidikan Penabur. Vol. 4:85-97. Utami R, Rustam R, Syarif A. 2006. Web Aplikasi Educourse (Distance Learning) Mengadopsi Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1/D11). Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2006 (SNATI 2006) Wahono RS. 2005. Memilih Sistem E-learning Berbasis Open Source. http://pustaka.ictsleman.net/informatika/file_hw/e_learning/3_Memilih_siste m_elearning_open_source.pdf [diakses pada 25 April 2010] 77 Lampiran 1 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Kebijakan Institusional dalam Pengembangan Perpustakaan : Kebijakan Institusional dalam Pengembangan Perpustakaan Deskripsi Singkat : Materi ini meliputi kebijakan institusional dalam pengembangan perpustakaan. Tujuan Pembelajaran Umum : Peserta mampu menjelaskan kebijakan institusional dalam pengembangan perpustakaan. Mata Ajar Diklat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 1. Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Peserta mampu menjelaskan kebijakan institusional dalam pengembangan perpustakaan Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 a. Landasan institusional dalam pengembangan perpustakaan 1) Dasar hukum 2) Kedudukan 3) Tugas Pokok 4) Fungsi dan kewenangan b. Pola pengembangan dan pemberdayaan perpustakaan 1 1 Jumlah b. Metode c. Media d. Daftar pustaka Alokasi Waktu (Jamlat) 5 2 : Ceramah, tanya jawab : OHP, Komputer, LCD Proyektor : i. Peraturan perundang-undangan dibidang perpustakaan ii. Kamah I. 2002. Pola dan Strategi Pengembangan Perpustakaan dan Pembinaan Minat Baca. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI 78 Lampiran 2 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Pengantar Ilmu Perpustakaan : Pengantar Ilmu Perpustakaan : Materi ini meliputi pengertian, sejarah, jenis perpustakaan, tugas dan fungsi, aspek-aspek perpustakaan, kerja sama perpustakaan, jabatan fungsional pustakawan, pendidikan dan pelatihan kepustakawanan dan organisasi profesi pustakawan Tujuan Pembelajaran Umum : Peserta mampu menjelaskan kebijakan institusional dalam pengembangan perpustakaan. Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 1. Peserta mampu menjelaskan tentang perpustakaan, dokumentasi, informasi Pengertian perpustakaan, dokumentasi, informasi dan arsip 2. Peserta mampu menjelaskan sejarah perpustakaan Sejarah perpustakaan 3. Peserta mampu menjelaskan jenisjenis perpustakaan. Jenis-jenis perpustakaan 4. Peserta mampu menjelaskan tugas dan fungsi perpustakaan Tugas dan fungsi perpustakaan a. Pengertian perpustakaan b. Pengertian dokumentasi c. Pengertian arsip a. Asal-usul perpustakaan b. Perkembangan perpustakaan a. Perpustakaan Nasional b. Perpustakaan Umum c. Perpustakaan Khusus d. Perpustakaan Perguruan Tinggi e. Perpustakaan sekolah Tugas dan fungsi berbagai jenis perpustakaan Alokasi Waktu (Jamlat) 5 1 1 1 1 79 5. Peserta mampu menjelaskan aspekaspek perpustakaan Aspek-aspek perpustakaan 6. Peserta mampu menjelaskan kerja sama perpustakaan Kerja sama perpustakaan 7. Peserta mampu menjelaskan tentang jabatan fungsional pustakawan Jabatan fungsional pustakawan a. Organisasi perpustakaan b. Gedung/ ruang perpustakaan c. Koleksi perpustakaan d. Perabot dan perlengkapan perpustakaan e. Tenaga pengelola perpustakaan f. Sistem dan metode layanan perpustakaan g. Anggaran perpustakaan a. latar belakang kerja sama b. Pengertian kerja sama c. Syarat kerja sama d. Bentuk kerja sama a. Pengertian jabatan fungsional pustakawan b. Rumpun jabatan, instansi pembina, kedudukan dan tugas pokok. c. Jenjang jabatan/ pangkat d. Pustakawan e. Pejabat yang berwenang mengangkat dan memberhentikan dalam dan dari 2 1 1 80 8. Peserta mampu menjelaskan perkembangan pendidikan dan pelatihan perpustakaan di Indonesia Perkembangan pendidikan dan pelatihan perpustakaan di Indonesia 9. Peserta mampu menjelaskan organisasi profesi kepustakawanan Organisasi profesi kepustakawanan b. Metode c. Media d. Daftar pustaka jabatan. a. Sejarah pendidikan dan pelatihan perpustakaan b. Jenis-jenis diklat fungsional dan teknis kepustakawanan a. Organisasi profesi kepustakawa nan Indonesia b. Peranan dan kode etik pustakawan Indonesia c. Organisasi profesi perpustakaan regional dan internasional (CONSAL, IFLA) Jumlah 1 1 10 : Ceramah, diskusi, tanya jawab : OHP, LCD : i. Darmono. 2001. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Gramedia. ii. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah diubah dengan Kepres No. 9 Th. 2004. iii. Kepres No. 110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah diubah dengan Kepres No.11 Tahun 2004. iv. Sulistyo-Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan Jakarta: Gramedia. 81 Lampiran 3 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Pengembangan Koleksi : Pengembangan Koleksi : Materi ini meliputi pengertian, kebijakan dalam pengembangan koleksi, pengenalan jenis alat seleksi, pengadaan, inventarisasi, penyiangan dan pembuatan laporan pengembangan koleksi. Tujuan Pembelajaran Umum : Peserta mampu melaksanakan pengembangan koleksi perpustakaan. Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 1. Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Peserta mampu menjelaskan kebijakan dalam pengembangan koleksi Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Alokasi Waktu 3 4 5 Pengertian dan kebijakan pengembangan koleksi a. Pengertian pengembang -an koleksi b. Kebijakan pengembang -an koleksi a.segi jenisnya b.segi layanan c.segi hasil karya d.segi kualitas cetakan e.segi isi f.segi pembaca a.Prinsip seleksi bahan pustaka b.Proses seleksi bahan pustaka a.Jenis alat bantu seleksi b.Fungsi alat bantu seleksi c.Penggunaan alat seleksi 1 Jenis koleksi 2. Peserta mampu menjelaskan jenis koleksi 3. Peserta mampu menjelaskan prinsip dan proses seleksi bahan pustaka Prinsip dan proses seleksi bahan pustaka 4. Peserta dapat menggunakan alat bantu seleksi Alat bantu seleksi bahan pustaka 1 2 2 82 5. Peserta dapat menjelaskan cara pengadaan berbagai jenis- bahan pustaka Pengadaan bahan pustaka buku 6. Peserta dapat melaksanakan inventarisasi bahan pustaka Peserta dapat melaksanakan penyiangan bahan pustaka Inventarisasi bahan pustaka Peserta dapat membuat laporan pengembangan bahan pustaka Pembuatan laporan pengembangan bahan pustaka 7. 8. b. Metode c. Media d. Daftar pustaka Penyiangan bahan pustaka a.Pembelian b.Pertukaran c. Hadiah dan hibah d.Titipan e. Terbitan sendiri f. Alur kerja pengadaan bahan pustaka buku Mengerjakan buku induk buku 2 a. Kriteria penyiangan b. Proses penyiangan c. Laporan penyiangan Pembuatan laporan pengembangan bahan pustaka Jumlah 1 2 1 12 : Ceramah, tanya jawab, praktek : OHP, LCD : i. Yulia Y. 1992. Pengadaan Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka. ii. Edward EG. 1987. Development Library and Information Centre Collection. Library Unlimited. 83 Lampiran 4 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Katalogisasi : Katalogisasi : Bahan ajar ini meliputi pengertian, tujuan, fungsi katalog, sumber informasi untuk katalog, susunan katalog, garis besar susunan elemen deskripsi, deskripsi bibliografis buku, bibliografi terbitan berseri, penentuan tajuk, penjajaran, pembuatan kartu acuan dan pembuatan perlengkapan fisik buku. Tujuan Pembelajaran Umum : Peserta diharapkan mampu membuat katalog bahan pustaka Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 1. 2. 3. Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 Alokasi Waktu (Jamlat) 5 Peserta mampu menjelaskan pengertian katalogisasi dalam pengolahan bahan pustaka Peserta mampu menjelaskan tujuan dan fungsi katalog Pengertian katalogisasi Pengertian Katalogisasi 1 Tujuan dan fungsi katalog 1 Peserta mampu menjelaskan bentuk dan susunan katalog Bentuk dan susunan katalog a. Tujuan dan fungsi katalog b.Peranan katalog 1) Katalog sebagai sarana temu kembali informasi 2) Katalog sebagai wakil dokumen a.Bentuk katalog b.Susunan katalog 1) Katalog abjad 1 84 4. Peserta mampu menjelaskan deskripsi bibliografis monograf Deskripsi bibliografis monograf 5. Peserta mampu menentukan tajuk entri utama, dan entri tambahan Tajuk entri utama dan entri tambahan 6. Peserta mampu menentukan tajuk pengarang judul seragam, dll. Tajuk pengarang dan judul seragam 7. Peserta mampu membuat kelengkapan fisik bahan pustaka Kelengkapan fisik bahan pustaka 8. Peserta mampu menjelaskan pengertian, jenis dan peraturan penjajaran Pengertian, jenis dan peraturan penjajaran 9. Peserta mampu membuat katalog monograf Praktek membuat katalog monograf 2) Katalog terbagi 3) Katalog berkelas Garis Besar Susunan Elemen Deskripsi Bibliografis Monograf a.Pengarang tunggal b.Pengarang bersama c. Pengarang kumpulan dan karya di bawah pimpinan editor a. Tajuk nama orang b. Badan korporasi c. Kata utama 1) Judul Individual 2) Judul seragam a.Pembuatan label buku b. Pembuatan kantong buku c.Pembuatan kartu buku d.Slip tanggal kembali a. Pengertian penjajaran b. Jenis penjajaran c.Peraturan penjajaran Membuat katalog monograf Jumlah 5 2 3 1 1 9 24 85 b. Metode c. Media d. Daftar pustaka : Ceramah, tanya jawab, praktek : OHP, LCD : i. Perpustakaan Nasional RI. Peraturan Katalogisasi Indonesia. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. ii. Standar Internasional Deskripsi Bibliografi 86 Lampiran 5 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Klasifikasi dan Tajuk Subyek : Klasifikasi dan Tajuk Subyek : Bahan ajar ini meliputi pengertian, tujuan dan manfaat klasifikasi, analisis subyek, sistem klasifikasi, DDC, daftar tajuk subyek untuk perpustakaan, praktek penggunaan DDC dan tajuk subyek. Tujuan Pembelajaran Umum : Peserta mampu mengklasifikasi bahan pustaka buku dan menentukan tajuk subyek. Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 a. Pengertian klasifikasi b. Tujuan klasifikasi c. Manfaat klasifikasi a.Jenis konsep b.Jenis subyek c.Urutan sitasi d.Cara menentukan subyek e.Deskripsi indeks a. Sejarah DDC b.Penggunaan Bagan c. Penggunaan Indeks Relatif d. Penggunaan Tabel (Tabel 1- 6) a. Susunan dan peragaan Tajuk Subyek b. Perbedaan Huruf Cetak c. Prinsip Dasar Tajuk Subyek 1. Peserta mampu menjelaskan pengertian tujuan dan manfaat klasifikasi Pengertian, tujuan dan manfaat klasifikasi 2. Peserta mampu menganalisis subyek bahan pustaka Analisis subyek 3. Peserta mampu menjelaskan sejarah dan menggunakan DDC edisi ringkas Sejarah dan penggunaan Sistem Klasifikasi DDC edisi ringkas 4. Peserta mampu menggunakan Daftar Tajuk Subyek untuk Perpustakaan Daftar Tajuk Subyek untuk Perpustakaan Alokasi Waktu (Jamlat) 5 1 3 8 3 87 5. Peserta mampu mempraktekkan Klasifikasi dan Tajuk Subyek b. Metode c. Media d. Daftar pustaka Praktek Klasifikasi dan Tajuk Subyek d. Jenis Tajuk Subyek e. Pemakaian dan Penambahan Tajuk a. Praktek Klasifikasi (Tabel 1 – 6) b. Praktek Tajuk Subyek Jumlah 9 24 : Ceramah, tanya jawab, latihan, praktek : OHP, LCD, DDC, Daftar Tajuk Subyek : i. Hamakoda T. 2001. Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey. Jakarta: Gunung Mulia. ii. Perpustakaan Nasional. 1994. Terjemahan Ringkasan Klasifikasi Desimal Dewey dan Indeks Relatif disesuaikan dengan DDC 20. Jakarta: Perpustakaan Nasional iii. Perpustakaan Nasional RI. 2000. Daftar Tajuk Subyek untuk Perpustakaan. Jakarta. iv. Tairas JNB, Sukarman. 2002. Daftar Tajuk Subyek untuk Perpustakaan. Edisi ringkas. Jakarta: Gunung Mulia. 88 Lampiran 6 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Layanan Perpustakaan : Layanan Perpustakaan : Bahan ajar ini meliputi pengertian, tujuan, fungsi, unsur, jenis dan sistem layanan, serta praktek menggunakan layanan perpustakaan. Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah selesai mengikuti pelajaran ini peserta mampu melaksanakan layanan perpustakaan. Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 a. Pengertian layanan perpustakaan b.Tujuan layanan perpustakaan c. Fungsi layanan perpustakaan d.Unsur layanan perpustakaan: 1) Fasilitas 2) Koleksi 3) Petugas/ Pustakawan 4) Pemakai a. Sistem layanan terbuka b.Sistem layanan tertutup c. Sistem layanan campuran 2 a.Layanan sirkulasi b.Layanan membaca 6 1. Peserta mampu menjelaskan pengertian, tujuan, fungsi dan unsur layanan Perpustakaan Pengertian, tujuan, fungsi dan unsur layanan perpustakaan 2. Peserta mampu menjelaskan sistem layanan Perpustakaan Sistem layanan Perpustakaan 3. Peserta mampu menjelaskan berbagai jenis layanan Jenis layanan Alokasi Waktu (Jamlat) 5 2 89 4. Peserta mampu menjelaskan berbagai sistem peminjaman Sistem peminjaman 5. Peserta mampu menggunakan berbagai jenis bahan rujukan Praktek menggunakan berbagai jenis bahan rujukan c.Layanan rujukan/ referens d.Layanan ekstensi e.Layanan silang layan f.Layanan penyandang cacat g.Layanan bimbingan pembaca h.Layanan Literatur Sekunder 1) Layanan abstrak 2) Layanan indeks 3) Layanan bibliografi 4) Layanan informasi terseleksi 5) Layanan informasi Kilat a.Sistem Ledger b.Sistem Dummy c.Sistem Slip d.Sistem Kartu Buku e.Sistem Browne f.Sistem Newark g.System Detroit Praktek menggunakan: a. Kamus b. Ensiklopedi c. Direktori d. Almanak e. Biografi f. Buku statistik g. Sumber geografi (atlas dan peta) 2 6 90 6. Peserta mampu menggunakan Statistik perpustakaan b. Metode c. Media d. Daftar pustaka Statistik perpustakaan h. Sumber elektronik (CDROM, Internet) a. Statistik bahan pustaka b. Statistik anggota c. Statistik pengunjung d.Statistik layanan (misal statistik peminjam, buku yang dipinjam, dll) Jumlah 2 20 : Ceramah, tanya jawab, diskusi, praktek : OHP : i. HS Lasa. 1993. Jenis pelayanan informasi Perpustakaan. __. ii. Mustofa B. 1994. Bahan Rujukan Umum. Jakarta: Universitas Terbuka. 91 Lampiran 7 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Perawatan Bahan Pustaka : Perawatan Bahan Pustaka : Bahan ajar ini meliputi pengertian, jenis dan komponen bahan pustaka, penyebab kerusakan, pemeliharaan, dan perawatan bahan pustaka. Tujuan Pembelajaran Umum : Peserta diharapkan mampu melaksanakan perawatan bahan pustaka. Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 1. 2. 3. 4. Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 Alokasi Waktu (Jamlat) 5 Peserta mampu menjelaskan pengertian perawatan, restorasi dan reproduksi Peserta dapat membedakan jenis dan menyebutkan karakteristik tiap jenis serta komponen dalam bahan pustaka Peserta dapat menyebutkan kerusakan BP serta memonitor kondisi lingkungan penyimpanan BP Pengertian perawatan, restorasi dan reproduksi Pengertian pelestarian restorasi dan reproduksi 1 Jenis bahan pustaka a. Kertas b. Bentuk mikro c. Pita magnetic d. Piringan (disk) e. Fotografi, dll 1 Penyebab kerusakan BP 2 Peserta dapat melakukan pemeliharaan untuk mencegah kerusakan bahan pustaka Pemeliharaan/pencegahan pada bahan pustaka a.Kerusakan faktor lingkungan b.Karakteristik bahan c.Kerusakan karena faktor manusia a.Pengendalian kondisi lingkungan b. Perbaikan mutu jilidan 2 92 5. Peserta dapat melakukan survai kondisi BP dan fasilitas Pelaksanaan pelestarian BP 6. Peserta dapat melakukan konservasi BP Teknik perawatan dan pengawetan BP c.Pengerakan BP sesuai dengan jenis dan ukuran d.Penyuluhan kepada staf dan pemakai e.Penataan tempat penyimpanan BP f. Kesiapan menghadapi bencana a. Survai kondisi BP b.Survai fasilitas perpustakaan c. Penentuan prioritas BP yang akan dilestarikan a. Pembersihan debu b. Pembasmian serangga dan jamur c. Diasidifikasi d. Bleaching Jumlah b. Metode c. Media d. Daftar pustaka 1 1 8 : Ceramah, tanya jawab, diskusi, praktek : OHP : i. Razak M et al. 1992. Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip, Program Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip. Jakarta. ii. Razak M et al. 1995. Petunjuk Teknis Pelestarian Bahan Pustaka. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. 93 Lampiran 8 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Pengantar Teknologi Informasi Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat : Pengantar Teknologi Informasi : Bahan pelajaran ini mengenalkan tentang Teknologi Informasi (khususnya otomasi perpustakaan). Materi pelajaran meliputi pengenalan komputer dan sistem komputerisasi, pengenalan format Marc, pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan, fungsi-fungsi di perpustakaan yang dapat dan perlu diotomasi, metode pengembangan otomasi perpustakaan, pemilihan sistem untuk otomasi perpustakaan, pemeliharaan sistem otomasi perpustakaan, dan gambaran umum perangkat keras dan lunak untuk otomasi perpustakaan. Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah mengikuti pelajaran ini, peserta diklat diharapkan memahami teknologi informasi (khususnya otomasi perpustakaan). Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 1. 2. Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Agar peserta diklat dapat menjelaskan pengertian otomasi perpustakaan. Agar peserta diklat dapat menjelaskan tentang sistem komputer dan otomasi perpustakaan Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 Definisi otomasi perpustakaan Pengenalan komputer dan sistem komputerisasi. Pengenalan otomasi perpustakaan Alokasi Waktu (Jamlat) 5 1 a. Sejarah komputer b.Sistem komputer c.Pemanfaatan komputer di perpustakaan d.Sejarah Marc e.Penggunaan format Marc a.Pengertian otomasi perpustakaan 1 2 94 b.Perkembangan otomasi perpustakaan 3. Agar peserta diklat dapat menjelaskan pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan b. Metode c. Media d. Daftar pustaka Pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan a.Pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan b.Fungsi- fungsi di perpustakaan yang dapat dan perlu diotomasi c.Metode pengembangan otomasi perpustakaan d.Pemilihan sistem yang akan digunakan untuk otomasi perpustakaan e.Perawatan sistem otomasi perpustakaan f. Gambaran umum perangkat keras dan lunak sistem otomasi perpustakaan 4 Jumlah 8 : Ceramah, tanya jawab, diskusi : OHP, Komputer, LCD Proyektor : - 95 Lampiran 9 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Promosi Perpustakaan : Promosi Perpustakaan : Bahan ajar ini menguraikan tentang pentingnya kegiatan pemasaran dan promosi sebuah perpustakaan, marketing mix perpustakaan dan komponen pokoknya, promotion mix perpustakaan dan beberapa fungsinya, alat-alat promosi, jenis-jenis media promosi, kegiatan-kegiatan promosi dan keuntungannya. Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah pelajaran selesai, diharapkan peserta didik dapat memahami arti pentingnya promosi bagi sebuah perpustakaan, dapat membuat perencanaan dan program promosi dan dapat melaksanakan kegiatan promosi perpustakaan secara terpadu di masing-masing perpustakaannya, serta dapat menarik pengguna/pengunjung perpustakaan sebanyakbanyaknya. Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 1. 2. 3. Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Peserta dapat menjelaskan perlunya kegiatan promosi oleh perpustakaan Peserta dapat menguraikan beberapa faktor penyebab mengapa perpustakaan tidak banyak dikenal masyarakat Peserta dapat menjelaskan tujuan Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Alokasi Waktu (Jamlat) 5 3 4 kegiatan promosi oleh perpustakaan Pengertian, peranan, fungsi, metode promosi 1 faktor penyebab mengapa perpustakaan tidak banyak dikenal masyarakat Sebab tidak dikenalnya perpustakaan 2 tujuan dan kegunaan promosi perpustakaan a.Tujuan promosi 1 96 dan kegunaan promosi perpustakaan 4. 5. 6. b.Kegunaan promosi Peserta dapat menguraikan sasaran dan objek yang dituju dalam pelaksanaan promosi perpustakaan Peserta dapat menunjukkan beberapa alat promosi perpustakaan sasaran dan objek yang dituju dalam pelaksanaan promosi perpustakaan sasaran dan objek yang dituju dalam pelaksanaan promosi perpustakaan 2 alat promosi perpustakaan 1 Peserta dapat menunjukkan jenis-jenis media promosi dan dapat menjelaskan fungsinya masingmasing jenis-jenis media promosi dan dapat menjelaskan fungsinya masingmasing pameran perpustakaan, pameran buku/ bazaar, lombalomba, spanduk, pamphlet/brosur, selebaran, poster, barangbarang gratis Majalah, radio, televisi, billboard, stiker, theatrikal, film, direct mail, dll 1 Jumlah 8 b. Metode c. Media d. Daftar pustaka : Ceramah, tanya jawab, demo, praktek : OHP, Komputer, LCD Proyektor : - 97 Lampiran 10 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Praktik Kerja Perpustakaan Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat : Praktik Kerja Perpustakaan : Praktik Kerja Perpustakaan berupa kegiatan praktik langsung mengenai teknis operasional pengelolaan perpustakaan di perpustakaan yang dianggap memadai dalam pengelolaannya. Praktik kerja meliputi kegiatan pengelolaan perpustakaan secara keseluruhan, terutama kegiatan substantif perpustakaan (pengadaan, pengolahan, pelayanan dan perawatan bahan pustaka), serta belajar pemecahan masalah pengelolaan. Tujuan Pembelajaran Umum : Peserta memperoleh pengetahuan dan pengalaman praktis tentang penyelenggaraan dalam penyelenggaraan perpustakaan. Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 1. Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Peserta mampu melaksanakan pengelolaan perpustakaan Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 Kegiatan pengadaan, pengolahan dan pelayanan bahan pustaka Pengadaan antara lain: a.Seleksi bahan pustaka b.Teknik pengadaan (pembelian, tukar menukar, hadiah) c.Inventarisasi bahan pustaka Pengolahan antara lain: a.Mengklasir b.Mengkatalog c. Membuat indeks d.Membuat sari karangan Alokasi Waktu (Jamlat) 5 6 98 2. e. kegiatan lain yang relevan a.Kebijakan b.Strategi c.Kiat praktis penyelenggaraan perpustakaan Peserta mampu menjelaskan kebijakan, strategi dan kiat praktis penyelenggaraan perpustakaan Peserta mampu bertukar pikiran (diskusi) dalam memecahkan berbagai permasalahan praktis dalam pengelolaan perpustakaan Kebijakan, strategi dan kiat praktis penyelenggaraan perpustakaan Pemecahan berbagai permasalahan praktis dalam pengelolaan perpustakaan pengolahan, pelayanan dan perawatan koleksi perpustakaan 2 4. Peserta mampu menilai dan membandingkan penyelenggaraan perpustakaan di tempat praktik kerja dengan teori yang pernah diterima dan pengalamannya dalam mengelola perpustakaan Perbandingan penyelenggara an perpustakaan di tempat praktik kerja dengan teori dan pengalaman peserta mengelola perpustakaan 2 5. Peserta mampu membuat laporan hasil praktik kerja perpustakaan Pembuatan laporan hasil praktik kerja perpustakaan Perbandingan meliputi seluruh aspek penyelenggaraan perpustakaan diantaranya yaitu: a.Gedung dan perlengkapan b.Sarana dan prasarana c.SDM d.Anggaran e.Layanan f. Koleksi Laporan meliputi format dan isi laporan sebagai berikut: a.Format laporan b.Isi laporan Jumlah 3. b. Metode c. Media d. Daftar pustaka 2 2 16 : Praktik, ceramah, diskusi, observasi, pembuatan laporan : OHP/LCD Proyektor : i. KEP MENPAN No. 132 ii. KEP MENPAN 12/2002 99 Lampiran 11 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Studi Banding Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat : Studi Banding : Metode pembelajaran Studi Banding berupa kegiatan pengamatan/ observasi langsung mengenai manajemen dan teknis operasional kegiatan perpustakaan dengan mengunjungi perpustakaan yang dianggap memadai dalam pengelolaannya. Pengamatan meliputi kondisi perpustakaan, sarana-prasarana, organisasi, manajemen perpustakaan, kegiatan substantif perpustakaan (pengadaan,pengolahan, pelayanan dan perawatan bhn pustaka) serta pemecahan berbagai masalah di perpustakaan. Tujuan Pembelajaran Umum : Tujuan Studi Banding adalah agar peserta memperoleh pengetahuan dan wawasan dalam penyelenggaraan perpustakaan. Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 1. Peserta mampu Pengamatan kondisi mengamati berbagai aspek Kondisi perpusperpustakaan takaan yang meliputi sarana- prasarana, organisasi dan manajemen perpustakaan yang dikunjungi 2. Peserta mampu menjelaskan kebijakan, strategi, visi dan misi perpustakaan yang dikunjungi Peserta mampu menjelaskan kegiatan substantif 3. Kebijakan strategi, visi dan misi perpustakaan Kegiatan substantif perpustakaan Alokasi Waktu (Jamlat) 5 Kondisi berbagai aspek aspek perpustakaan seperti sarana prasarana, organisasi dan manajemen perpustakaan yang dikunjungi Kebijakan, strategi, visi dan misi perpustakaan yang dikunjungi 2 pengadaan, pengolahan, pelayanan dan 2 2 100 4. perpustakaan (pengadaan, pengolahan, pelayanan dan perawatan koleksi perpustakaan) yang dikunjungi Peserta mampu bertukar-pikiran (diskusi) dan pandangan dalam hal pemecahan berbagai permasalahan perpustakaan b. Metode c. Media d. Daftar pustaka perawatan koleksi perpustakaan Diskusi pemecahan berbagai permasalahan perpustakaan Pemecahan berbagai permasalahan dibidang pengadaan, pengolahan, pelayanan, dan perawatan bahan pustaka Jumlah : Pengamatan, tanya jawab, diskusi : : - 2 8 101 Lampiran 12 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Diskusi : Diskusi : Kegiatan Diskusi ini bertujuan untuk memberikan kompetensi pada peserta Diklat dalam melaksanakan diskusi hasil studi banding. Kegiatan diskusi meliputi identifikasi dan analisis masalah serta merumuskan kesimpulan hasil diskusi. Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah selesai mengikuti Diskusi ini peserta diharapkan dapat berperan aktif dalam diskusi sebagai pembicara, moderator, notulis, ataupun peserta diskusi. Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 1. Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Peserta mampu mengorganisir pelaksanaan diskusi. Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 Organisasi pelaksanaan diskusi berupa penyusunan format diskusi dan tata cara diskusi. a.Penyusunan format diskusi meliputi penyusunan tempat duduk pembicara, nara sumber, moderator, notulis maupun peserta diskusi b.Tata cara diskusi berupa pembagian sesi diskusi meliputi: 1) Pembukaan Moderator 2) Penyaji 3) Tanya jawab Alokasi Waktu (Jamlat) 5 4 102 2. Peserta mampu berperan aktif dalam diskusi b. Metode c. Media d. Daftar pustaka Peserta berperan menjadi pembicara, moderator, notulis ataupun peserta diskusi : Diskusi : OHP/ LCD, White Board : - 4) Ulasan nara sumber 5) Penutup oleh moderator a. Pembicara Bertugas mempresentasikan bahan diskusi b.Moderator Bertugas mengatur jalannya diskusi, tanya jawab, dan me nyimpulkan hasil diskusi c. Notulis Bertugas mencatat segala hal yang berkaitan dengan jalannya diskusi misal anekdot kejadian dalam diskusi, mencatat isi maupun jalannya penyajian, tanya jawab, serta ulasan dan simpulan nara sumber. d.Peserta bertugas mengikuti seluruh tahap dalam kegiatan diskusi. Jumlah 2 6 103 Lampiran 13 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Evaluasi : Evaluasi : Materi ini meliputi aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan) peserta terhadap penguasaan materi masing-masing mata ajar Diklat pada kelompok dasar, inti dan penunjang Tujuan Pembelajaran Umum : Untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pengetahuan dan wawasan peserta yang telah dimiliki sebelum Diklat dilaksanakan (tes awal/pre test) dan yang dapat diserap peserta setelah mengikuti Diklat (tes akhir/post test). Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 1. Peserta mampu mengerjakan soal pretest sebelum pelajaran dimulai Tes awal sebelum pemberian materi Diklat dilaksanakan 2. Peserta mampu mengerjakan soal post test setelah akhir pelajaran Post test/ tes akhir yang dilaksanakan oleh peserta setelah peserta selesai mengikuti seluruh program Diklat. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta pada saat akan mengikuti Diklat. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan setelah mengikuti seluruh program Diklat Jumlah Alokasi Waktu (Jamlat) 5 2 2 4 104 b. Metode c. Media : Tes tertulis dengan pilihan ganda : Instrumen pretest berupa soal pilihan ganda, lembar jawaban d. Daftar pustaka : i. Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional No.42 Tahun beserta kuncinya 2001 tentang Pedoman Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan Kepustakawanan. 105 Lampiran 14 Data bibliografis modul bahan ajar Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan No. 1. 2. 3. 4. 5. Judul Pengantar Ilmu Perpustakaan Pengembangan Koleksi Katalogisasi Klasifikasi dan Tajuk Subyek Layanan Perpustakaan 6. Perawatan Bahan Pustaka 7. Pengantar Teknologi Informasi 8. 9. 10. 11. 12. Promosi Perpustakaan Praktik Kerja Perpustakaan Studi Banding Panduan Diskusi Panduan Evaluasi Pengarang Penerbit Tahun Terbit H. Suprihati, MBA Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Nurcahyono, SS Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Ahmad Masykuri, MM Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Upriyadi, M.Hum Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Yoyo Yahyono, SS Perpustakaan Nasional RI 2010 Dra. Ana Soraya, M.Si Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Joko Santoso, M.Hum Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Athaillah Baderi Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Sudarto, M.Si Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Sudarto, M.Si Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Sudarto, M.Si Perpustakaan Nasional RI 2010 Hj. Kartini, SH Perpustakaan Nasional RI 2010 106 Lampiran 15 Format evaluasi terhadap pengajar FORMAT EVALUASI TERHADAP PENGAJAR Nama Pendidikan dan Pelatihan Nama Pengajar/Widyaiswara Mata Pelajaran Hari/tanggal Waktu : : : : : Petunjuk pengisian: Berilah tanda ceklis (√) pada kolom yang anda kehendaki, sesuai dengan penilaian anda! KRITERIA PENILAIAN NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. UNSUR YANG DINILAI DP SM M BS B KET. C K Penguasaan materi Kesiapan tenaga pengajar Sistematika penyajian Kemampuan menyajikan materi/fasilitasi Ketepatan waktu kehadiran dan cara menyajikan Penggunaan metode dan sarana pendidikan dan pelatihan Sikap dan perilaku Cara menjawab pertanyaan dari peserta Penggunaan bahasa Pemberian motivasi belajar kepada peserta Pencapaian tujuan instruksional Kerapihan berpakaian Kerjasama antar pengajar (tim) Kritik dan Saran ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ Keterangan: DP M B K : Dengan Pujian : Memuaskan : Baik : Kurang SM BS C : Sangat Memuaskan : Baik Sekali : Cukup Lampiran 16 Format evaluasi terhadap penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan 107 FORMAT EVALUASI TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN Nama pendidikan dan pelatihan Angkatan/tahun : : Petunjuk pengisian: Berilah tanda ceklis (√) pada kolom yang anda kehendaki, sesuai dengan penilaian anda! KRITERIA PENILAIAN NO. A. B. C. UNSUR YANG DINILAI DP SM M BS B KET. C K Program diklat 1. Manfaat diklat 2. Kurikulum diklat 3. Materi program Persiapan diklat 1. Kejelasan informasi tentang penyelenggaraan diklat 2. Seleksi penerimaan dan kesiapan peserta untuk mengikuti diklat Pelaksanaan diklat 1. Kesiapan staf penyelenggara 2. Kesiapan tenaga pengajar 3. Penyediaan sarana atau media diklat 4. Layanan kesekretariatan (penyediaan daftar hadir, alat tulis menulis, penyediaan bahan praktik dan pengaturan jadwal pelatihan) 5. Metode diklat yang digunakan 6. Widyawisata/studi banding/kunjungan 7. Teknik penilaian yang digunakan 8. Layanan konsumsi 9. Layanan akomodasi 10. Layanan kesehatan 11. Layanan kepustakaan/perpustakaan Kritik dan Saran ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ Keterangan: DP M B K : Dengan Pujian : Memuaskan : Baik : Kurang SM BS C : Sangat Memuaskan : Baik Sekali : Cukup 108 Lampiran 17 Format evaluasi terhadap sikap dan perilaku peserta EVALUASI TERHADAP SIKAP DAN PERILAKU PESERTA Diklat Hari/Tanggal/Bulan/Tahun Pengajar/Mulai Jam Pelajaran Pengajar/Selesai Jam Pelajaran NO. : : : : NAMA PESERTA NILAI SIKAP DAN PERILAKU KEDISIPLINAN KERJA SAMA PRAKARSA H P PT K S KD Keterangan: Bobot penilaian: I. Kedisiplinan terdiri dari: B. Pakaian (P) A. Kehadiran (H) 1. Rapi bobot nilai 10 1. Hadir bobot nilai 10 2. Kurang rapi bobot nilai 8 2. Terlambat bobot nilai 8 3. Tidak rapi bobot nilai 1 3. Ijin bobot nilai 5 4. Tanpa keterangan bobot nilai 1 II. Kerjasama (dinilai setiap kali terdapat kerjasama kelompok) terdiri dari: A. Penyelesaian Tugas (PT) B. Kepribadian (K) 1. Tepat waktu bobot nilai 10 1. Demokratis bobot nilai 10 2. Terlambat bobot nilai 8 2. Otoriter bobot nilai 5 3. Tidak mengerjakan bobot nilai 1 III. Prakarsa (dinilai setiap kali peserta berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelas) Bobot nilai prakarsa: A. Saran (S), pertanyaan masing-masing bernilai 10 B. Kendali diri (KD) terdiri dari dua penilaian yaitu: 1. positif dengan bobot nilai 10 2. negatif dengan bobot nilai 5 Pengamat Kelas, Nama : ........................ NIP : ........................ 109 Lampiran 18 Format evaluasi nilai tugas/praktek dan tes formatif peserta EVALUASI NILAI TUGAS/PRAKTEK DAN TES FORMATIF PESERTA Diklat Mata Ajar Diklat Jumlah Jam Pelatihan NO. NAMA PESERTA : : : NILAI TUGAS/ PRAKTEK TUGAS I/ TUGAS II/ PRAKTEK I PRAKTEK II NILAI FORMATIF TES TES FORMATIF I FORMATIF II Keterangan: Predikat penilaian 50 – 100 Catatan: Formulir dikembalikan ke Petugas Evaluasi .................,......................... Pengajar, ............................................ NIP. ................................... KET. 110 Lampiran 19 Format evaluasi seminar EVALUASI SEMINAR NO. NAMA PESERTA FORMAT/ SISTEMATIKA KUALITAS KARYA ILMIAH TATA PERMASA- PEMECAHAN BAHASA LAHAN MASALAH Keterangan: 1. Skor penilaian 0 – 100 2. Hasil penilaian diserahkan kepada koordinator evaluasi PROSES SEMINAR KESIMPULAN PENGKAJIAN PENGUASAAN MATERI KERJA SAMA PRAKARSA 111 Lampiran 20 Kondisi sarana dan prasarana di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI Ruang kelas Laboratorium komputer 112 Asrama Pusdiklat Mushola 113 Poliklinik Perpustakaan 114 Lampiran 21 Pedoman penjaminan mutu e-learning 1) Pedoman Penjaminan Mutu Penyelenggaraan E-Learning Buku ini berisi mengenai panduan bagi dosen, pimpinan universitas, fakultas, departemen dan program studi serta unit terkait di Universitas Indonesia agar mutu penyelenggaraan e-learning sesuai dengan ketentuan dan prosedur baku yang telah ditetapkan dalam SK Rektor UI yang berlaku tentang penyelenggaraan e-learning, serta menjamin agar kompetensi lulusan setiap program studi tetap sesuai dengan kompetensi yang telah digariskan dalam kurikulum setiap program studi. Penjaminan mutu e-learning merupakan upaya untuk mengendalikan mutu penyelenggaraan e-learning secara transparan berdasarkan standar mutu dan prosedur yang ditetapkan, meliputi: i) Perencanaan e-learning atau perencanaan pembelajaran (program mapping), yaitu perencanaan pembelajaran berbasis e-learning yang meliputi komponen: i) content: obyek dan materi pembelajaran, ii) sistem penyampaian (delivery system), iii) interaksi. Berkaitan dengan sistem penyampaian, secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 modus: web-based, video conference dan face to face. ii) Perancangan materi (content) e-learning, yaitu kegiatan yang ditujukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. iii) Penyampaian (delivery) dan interaksi dalam e-learning. Dalam melaksanakan pembelajaran berbasis e-learning perlu diperhatikan hal-hal berikut: aturan permainan, inisiatif dan motivasi, penugasan, trouble shooting, moderating dan fascilitating, dan synchronous activity. Dalam pelaksanaan metode pembelajaran e-learning perlu diperhatikan macam-macam strategi yang digunakan, antara lain: tanya jawab, forum diskusi, kegiatan mahasiswa (problem based learning, simulasi, telecollaboration dan sebagainya), topik pemicu, tes/kuis, contoh dan analogi, informasi visual, serta student review/summary. Berkaitan dengan pelaksanaan juga perlu diperhatikan faktor assessing yang meliputi objectives of assessment, measurement tools, test administration dan follow up. 115 iv) Evaluasi hasil belajar dan evaluasi program e-learning. Evaluasi pelaksanaan pembelajaran berbasis e-learning menyangkut evaluasi terhadap komponen: efektifitas, efisiensi biaya, mahasiswa dan kepuasan pemangku kepentingan (stakeholders), serta kesinambungan (sustainability). Selain itu sistem manajemen juga dievaluasi, yaitu yang meliputi pengaturan dan pemantauan dari gerak langkah mahasiswa (student track) dan rekaman dosen (lectures record), waktu dan jadwal pelaksanaan, akses bagi pengguna maupun bagi pihak administrasi, mencegah plagiarism, kepatuhan terhadap kode etik dan copyright, technology life cycle dan pemeliharaan yang terbaik (best practice) dan penjaminan mutu. 2) Tutorial Penggunaan Student Centered e-Learning Environment (Scele): Modul Pengajar Buku tutorial ini berisi mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan pengajar dalam hal: i) menguasai pengaturan material perkuliahan, ii) menguasai pengaturan forum diskusi, dan iii) menguasai pengaturan kuis. 3) Manual Computer Mediated Learning – Next Frontier (CML – NF) Untuk Fasilitator Buku ini menjelaskan tentang petunjuk penggunaan Aplikasi Computer Mediated Learning (CML) yang berbasis web untuk fasilitator. Buku ini membahas dan memberikan petunjuk tentang penggunaan fitur-fitur dalam setiap modul yang terdapat pada Aplikasi CML sesuai dengan perkuliahan yang ada di Universitas Indonesia. Modul-modul yang ada pada aplikasi CML yaitu: i) Content Manager (COM) – Pengaturan Bahan Kuliah ii) Course Manager (CEM) – Pengaturan Perkuliahan iii) Discussion Manager (DIM) – Modul Diskusi iv) Questionnaire Manager (QUM) – Modul Kuesioner 116 v) Chatting Manager – Modul Chatting vi) Analytical Tool Manager (ATM) – Perangkat Analisa vii) Online White-Board Manager (OWM) – Modul Layar Tulis ABSTRACT SRI PALUPI. Analysis and Design of E-learning of Technical Library Management Training Using Learning Technology System Architecture Standard (IEEE P1484.1). Under supervision of MEUTHIA RACHMANIAH and ABDUL RAHMAN SALEH. The need for training that meets the competencies of librarians and can be accessed regardless distance and time were the reasons for the development of e-learning of Technical Library Management Training at Training Center, National Library of Indonesia. The development of e-learning in the National Library has been initiated since 2007, but until now it has not been used as it faces several obstacles. In 2010, the development of e-learning in Training Center already reached the stage of development of learning management system (LMS) that will be placed on Training Centre site. However, it is untested if it really meets the criteria for the implementation of e-learning of Technical Library Management Training. The constraints were associated with the absence of standardized LMS for the implementation of e-learning for that training. Therefore, the purpose of this research was to analyze and design e-learning for the holding of Technical Library Management Training using Learning Technology Systems Architecture standard (IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28). The approach used in this research was to examine the condition of existing e-learning of Technical Library Management Training compared with the Learning Technology System Architecture Standard (LTSA) document. Out of 5 layers that existed in LTSA system components, only layer 1 to 4 were analyzed in this research. LTSA is a standard for learning technology system that provides a framework to determine the existing and to be constructed system. Further analysis of the layers in the LTSA document was used to make the design of e-learning of Technical Library Management Training. The conclusions obtained from this research was that e-learning of Technical Library Management Training in Training Center, National Library of Indonesia did not meet LTSA standard. Out of 16 LTSA system components (layer 3), only 5 components were met by the e-learning of Technical Library Management Training. Those were entity leaner, coach, evaluation, multimedia, and learning content. The components that did not exist were delivery, learner record, learning resources, behavior, assessment, learner information, query, catalog info, locator, interaction context, and learning parameters. Based on this analysis, the web browser (web-based LMS) was a good example to be used as reference in making the e-learning of Technical Library Management Training design because it can map out all LTSA system components. Keywords: analysis, design, technical library management training, e-learning, learning technology system architecture (LTSA), national library of Indonesia RINGKASAN SRI PALUPI. Analisis dan Desain E-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Menggunakan Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1). Dibimbing oleh MEUTHIA RACHMANIAH dan ABDUL RAHMAN SALEH. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat, maka penerapannya juga telah merambah di berbagai bidang termasuk di bidang pendidikan dan pelatihan. Dengan adanya aplikasi pendidikan jarak jauh yang berbasiskan internet, maka ketergantungan akan jarak dan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan pendidikan dan pelatihan akan dapat diatasi, karena kegiatan akademik akan dapat disediakan secara online dan dapat diakses kapan saja. Setiap tahunnya jumlah lulusan peserta Pendidikan dan Pelatihan Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang dibiayai oleh APBN tidak lebih dari 30 orang, sedangkan jika melihat jumlah tenaga teknis pengelola perpustakaan yang masih perlu mengikuti Diklat tersebut adalah sejumlah 16.965 orang. Melihat kenyataan tersebut maka Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI merintis pengembangan e-learning diklat tenaga perpustakaan yang akan dimulai dengan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Pengembangan e-learning di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI telah dirintis sejak tahun 2007, namun sampai sekarang belum juga dapat digunakan karena menghadapi beberapa kendala. Pada tahun 2010, pengembangan e-learning di Pusdiklat sudah sampai pada tahap pembuatan learning management system (LMS) yang nantinya akan diletakkan di situs Pusdiklat. Namun LMS ini belum teruji apakah sudah benar-benar memenuhi kriteria penyelenggaraan e-learning untuk Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan karena belum pernah dilakukan simulasi mulai dari pendaftaran peserta, kegiatan belajar mengajar hingga peserta lulus dan mendapatkan sertifikat kelulusan. Learning management system untuk penyelenggaraan e-learning khusus untuk Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan diperlukan karena diharapkan dapat memfasilitasi kegiatan belajar mengajar dengan baik. Selain itu, dengan learning management system ini diharapkan dapat mengakomodasi target peserta yang begitu banyak dan luas cakupannya yaitu meliputi seluruh wilayah Indonesia bahkan jika dimungkinkan pesertanya dari luar negeri juga. Terkait dengan kendala belum adanya learning management system yang sudah teruji dan sesuai standar untuk penyelenggaraan e-learning bagi diklat tersebut, maka penelitian ini akan mencoba untuk menganalisa dan mendesain elearning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Analisis dan desain dilakukan dengan menggunakan suatu standar yang diakui secara internasional. Learning Technology System Architecture (LTSA) merupakan suatu standar untuk sistem teknologi pembelajaran yang menyediakan suatu kerangka kerja untuk mengetahui sistem yang ada dan yang akan dibangun. LTSA adalah sebuah arsitektur yang berbasis kepada komponen-komponen abstrak. Implementasi sistem teknologi pembelajaran dapat dipetakan dari/ke LTSA. Dokumen LTSA yang akan digunakan sebagai standar pada penelitian ini adalah IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis dan desain e-learning bagi penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan menggunakan Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara melihat kondisi e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang ada saat ini untuk kemudian dibandingkan dengan hasil analisis layer-layer yang ada pada dokumen standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1). Dengan cara ini akan dapat dilihat sejauh mana komponen-komponen yang ada pada standar tersebut sudah terpenuhi oleh e-learning diklat tersebut. Selanjutnya hasil analisis layer-layer pada dokumen LTSA akan digunakan untuk membuat desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai standar. Pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dilakukan setelah mendapatkan hasil dari analisa terhadap layer 1 s.d 4 dari LTSA dibandingkan dengan kondisi yang ada pada e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI belum sesuai dengan standar LTSA. Dari 16 komponen sistem LTSA (layer 3) hanya 5 komponen saja yang terpenuhi oleh e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, yaitu entitas siswa (leaner entity), instruktur (coach), evaluasi (evaluation), multimedia, dan materi belajar (learning content). Komponen yang belum ada yaitu pengiriman (delivery), data siswa (learner record), sumber belajar (learning resources), perilaku (behavior), penilaian (assessment), informasi siswa (learner information), kueri (query), informasi katalog (catalog information), locator, konteks interaksi (interaction context), dan parameter belajar (learning parameters). Berdasarkan analisis tersebut didapatkan hasil bahwa web browser (LMS berbasis web) merupakan contoh yang tepat untuk dijadikan acuan dalam pembuatan desain e-learning Diklat ini karena dapat memetakan seluruh komponen sistem LTSA. Kata kunci: analisis, desain, diklat teknis pengelolaan perpustakaan, e-learning, learning technology system architecture (LTSA), Perpustakaan Nasional RI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat, maka penerapannya juga telah merambah di berbagai bidang termasuk di bidang pendidikan dan pelatihan (diklat). Penerapan teknologi informasi di bidang pendidikan dan pelatihan sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan dan memeratakan mutu pendidikan, terutama di Indonesia yang wilayahnya tersebar di berbagai daerah yang sangat berjauhan. Penyelenggaraan pendidikan nasional yang bersifat konvensional, mengalami banyak kendala ketika dituntut untuk memberikan pelayanannya bagi masyarakat luas yang tersebar di seluruh Nusantara. Kendala tersebut antara lain keterbatasan finansial, jauhnya lokasi, dan keterbatasan jumlah institusi (Tafiardi, 2005). Oleh karena itu, diperlukan solusi yang tepat dan cepat dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan mutu pendidikan sekarang. Dengan adanya aplikasi pendidikan jarak jauh yang berbasiskan internet, maka ketergantungan akan jarak dan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan diklat akan dapat diatasi, karena kegiatan akademik akan dapat disediakan secara online dan dapat diakses kapan saja. Sehubungan dengan hal tersebut, kebutuhan akan suatu konsep dan mekanisme belajar mengajar (pendidikan) berbasis teknologi informasi menjadi tidak terelakkan lagi. Konsep yang kemudian terkenal dengan sebutan e-learning ini membawa pengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional kedalam bentuk digital, baik isi maupun sistemnya. Saat ini konsep e-learning sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia, terbukti dengan maraknya implementasi e-learning di lembaga pendidikan (sekolah, training centre, dan universitas) maupun industri dan perusahaan (Effendy & Zhuang, 2005). Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI sesuai dengan visinya “Menjadi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Terdepan di Bidang Diklat Tenaga Perpustakaan” saat ini sedang merintis usaha ke arah pengembangan e-learning bagi Diklat Tenaga Perpustakaan. Diklat Teknis Pengelolaan 2 Perpustakaan adalah diklat pertama yang saat ini sedang disiapkan untuk dijadikan e-learning. Banyaknya perpustakaan yang tersebar di seluruh Indonesia, baik itu merupakan badan-badan kabupaten/kota, perpustakaan perpustakaan sekolah, dari tingkat perpustakaan provinsi sampai khusus, maupun perpustakaan perguruan tinggi menuntut adanya SDM pengelola perpustakaan yang mempunyai pengetahuan dasar-dasar mengelola perpustakaan yang baik sesuai dengan kaidah ilmu perpustakaan serta berkompeten dibidangnya. Hal ini sesuai dengan UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan pasal 1 ayat 8 yang berbunyi: pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung perpustakaan. jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan Selanjutnya, pendidikan tenaga perpustakaan dilakukan oleh penyelenggara perpustakaan sesuai dengan pasal 33 ayat 1 – 3 yang berbunyi: (1) Pendidikan untuk pembinaan dan pengembangan tenaga perpustakaan merupakan tanggung jawab penyelenggara perpustakaan; (2) Pendidikan untuk pembinaan dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui pendidikan formal dan/atau nonformal; (3) Pendidikan untuk pembinaan dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan melalui kerja sama Perpustakaan Nasional, perpustakaan umum provinsi, dan/atau perpustakaan umum kabupaten/kota dengan organisasi profesi, atau dengan lembaga pendidikan dan pelatihan. Namun demikian, untuk memenuhi sumber daya manusia (SDM) pengelola perpustakaan yang memenuhi kriteria tersebut tidaklah dapat dicapai jika hanya mengandalkan lulusan Pendidikan dan Pelatihan yang terbatas jumlahnya. Dalam hal ini Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Teknis Pengelolaan Perpustakaan diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Perpustakaan Nasional RI. Menurut data statistik yang dikumpulkan oleh Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca Perpustakaan Nasional RI pada tahun 2011, jumlah berbagai jenis perpustakaan yang tersebar di seluruh Indonesia adalah 24.080 perpustakaan, yang terdiri dari 20.920 perpustakaan sekolah, 922 perpustakaan perguruan tinggi, 1.074 perpustakaan umum dan 1.164 perpustakaan 3 khusus. Jika 24.080 perpustakaan tersebut dikelola oleh satu orang tenaga pengelola perpustakaan saja, maka jumlah tenaga pengelola perpustakaan yang dibutuhkan adalah sesuai dengan jumlah perpustakaan yang ada tersebut yaitu 24.080 orang. Setiap tahunnya jumlah lulusan peserta Pendidikan dan Pelatihan Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang dibiayai oleh APBN tidak lebih dari 30 orang, sedangkan jumlah tenaga teknis pengelola perpustakaan, dengan asumsi seperti tersebut di atas, yang masih perlu mengikuti diklat tersebut adalah sejumlah 24.080 orang. Melihat kenyataan tersebut maka Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI merintis pengembangan e-learning diklat tenaga perpustakaan yang akan dimulai dengan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Manfaat e-learning bagi tersedianya SDM pengelola perpustakaan sangat besar. Peserta pelatihan yang tersebar di seluruh Indonesia dapat mengikuti pelatihan tanpa harus datang ke pusat, sehingga mereka dapat menghemat biaya perjalanan dan waktu. Jika e-learning dapat berjalan dengan baik maka pemenuhan kebutuhan akan SDM pengelola perpustakaan tidak sulit untuk dilakukan. Pengembangan e-learning di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI telah dirintis sejak tahun 2007, namun sampai sekarang belum juga dapat digunakan karena menghadapi beberapa kendala. Pada tahun 2010, pengembangan e- learning di Pusdiklat sudah sampai pada tahap pembuatan learning management system (LMS) yang nantinya akan diletakkan di situs Pusdiklat. Namun demikian, LMS ini belum teruji apakah sudah benar-benar memenuhi kriteria penyelenggaraan e-learning untuk Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan karena belum pernah dilakukan simulasi mulai dari pendaftaran peserta, kegiatan belajar mengajar hingga peserta lulus dan mendapatkan sertifikat kelulusan. Learning management system untuk penyelenggaraan e-learning khusus untuk Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan diperlukan karena diharapkan dapat memfasilitasi kegiatan belajar mengajar dengan baik. Selain itu, dengan learning management system ini diharapkan dapat mengakomodasi target peserta yang begitu banyak dan luas cakupannya yaitu meliputi seluruh wilayah Indonesia bahkan jika dimungkinkan pesertanya dari luar negeri juga. 4 Terkait dengan kendala belum adanya learning management system yang sudah teruji dan sesuai standar untuk penyelenggaraan e-learning bagi diklat tersebut, maka penelitian ini akan mencoba untuk menganalisa dan mendesain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Analisis dan desain dilakukan dengan menggunakan suatu standar yang diakui secara internasional. Learning Technology System Architecture (LTSA) merupakan suatu standar untuk sistem teknologi pembelajaran yang menyediakan suatu kerangka kerja untuk mengetahui sistem yang ada dan yang akan dibangun. LTSA adalah sebuah arsitektur yang berbasis kepada komponen-komponen abstrak. Implementasi sistem teknologi pembelajaran dapat dipetakan dari/ke LTSA. Dokumen LTSA yang akan digunakan sebagai standar pada penelitian ini adalah IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28. 1.2 Perumusan Masalah Pada penelitian ini dirumuskan permasalahan yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan yaitu: “Bagaimana hasil analisis e-learning yang menggunakan standar Learning Technology System Architecture dapat menghasilkan desain e-learning yang sesuai standar bagi penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan?” 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis dan desain e-learning bagi penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan menggunakan Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28). 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Jangka pendek: memberikan rekomendasi kepada Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI dalam menyelenggarakan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. 5 (2) Jangka menengah: menjadi acuan/pedoman bagi penyelenggaraan e-learning diklat tenaga perpustakaan lainnya. (3) Jangka panjang: memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan khususnya Ilmu Perpustakaan dengan semakin banyaknya orang yang dapat mempelajari Ilmu Perpustakaan melalui e-learning. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Dalam tesis ini penelitian dibatasi dengan cakupan sebagai berikut: (1) Melakukan analisis terhadap standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28). (2) Analisis Learning Technology System Architecture (LTSA) dibatasi hanya pada layer 1 s.d. layer 4 dari 5 layer yang ada pada dokumen LTSA tersebut. (3) Komponen-komponen yang dianalisis berdasarkan standar dari LTSA diantaranya adalah: learner entity, coach, evaluation dan delivery. (4) Mendesain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan sesuai dengan hasil analisis layer 1 s.d. 4 dari standar LTSA. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Basis Teori 2.1.1 E-learning The American Society for Training and Development (ASTD) mendefinisikan e-learning sebagai: a broad set of applications and processes which include web-based learning, computer-based learning, virtual classrooms, and digital. Much of this is delivered via the Internet, intranets, audio- and videotape, satellite broadcast, interactive TV, and CD-ROM. Selanjutnya Soekartawi et.al (2002) mendefinisikan e-learning sebagai berikut: “E-learning is a generic term for all technologically supported learning using on array of teaching and learning tools as phone bridging, audio and videotapes, teleconferencing, satellite transmissions and the more recognized web based training or computer aided instruction also commonly reffered to as online courses” Definisi lain menurut Clark dan Meyer (2008), e-learning didefinisikan sebagai berikut: E-learning adalah salah satu dari model training yang berisi content (informasi) dan metode instruksi (teknik) yang disampaikan melalui komputer (termasuk didalamnya CD-ROM, Internet ataupun Intranet) dalam bentuk teks, gambar, animasi, atau video, yang didesain untuk membantu pembelajar mencapai tujuan pembelajaran pribadi atau performa kerja yang sejalan dengan tujuan suatu organisasi. Berdasarkan beberapa definisi di atas maka e-learning juga dapat diartikan sebagai pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jaringan elektronik seperti telepon, audio, video tape, transmisi satelit atau komputer. Walaupun didefinisikan dengan berbagai versi yang mungkin satu sama lain berbeda, namun satu hal yang sama tentang e-learning atau electronic learning adalah pembelajaran melalui saluran “e” atau elektronik. 7 2.1.2 Learning Management System (LMS) Ada dua bagian utama e-learning, yaitu learning management system dan e-learning content atau materi pelajaran e-learning yang akan dipelajari oleh pemakai. Learning management system (LMS) adalah sistem yang membantu administrasi dan berfungsi sebagai platform e-learning content (Effendy & Zhuang, 2005). Sejalan dengan Effendy & Zhuang (2005), Mason & Rennie (2009) menyatakan LMS adalah perangkat lunak yang menyediakan sarana untuk administrasi e-learning dengan menyediakan sistem akses serta sistem pelacakan bagi kemajuan siswa. Beberapa fungsi dasar LMS (Effendy & Zhuang, 2005) adalah: a) katalog, b) registrasi dan persetujuan, c) menjalankan dan memonitor e-learning, d) evaluasi, e) komunikasi, f) laporan, g) rencana pelatihan, dan h) integrasi. LMS ada yang bersifat proprietary (komersial), ada yang open source. Contoh LMS proprietary adalah Saba Software, Apex Learning, Blackboard Inc., ANGEL Learning, dan Desire2Learn. LMS yang open source misalnya Tutor, Claroline, Dokeos, ILIAS, LON-CAPA, Moodle, dan Online Learning And Training (OLAT), dan Sakai Project. Pemilihan LMS disesuaikan dengan kebutuhan dan proses bisnis yang ada di institusi masing-masing. Graf dan List (2005) dibiayai oleh European Social Fund (ESF) meneliti tentang evaluasi dan komparasi LMS berbasis open source. Graf menggunakan satu metode evaluasi produk software bernama Qualitative Weight and Sum (QWS). QWS menghitung bobot (weight) menggunakan enam simbol kualitatif berdasarkan tingkat kepentingannya (importance level). Simbol-simbol dimaksud diurutkan dari yang paling penting ialah: E (essential), * (extremely valuable), # (very valuable), + (valuable), | (marginally valuable), 0 (not valuable). QWS memungkinkan penetapan maximum value sendiri, jadi tidak harus “E (essential)” yang paling tinggi, bisa juga “# (very valuable)” misalnya. Sistem pengukuran kualitas software seperti Graf ini adalah berdasarkan “product” dan bukan “process“. Ada delapan kategori yang dievaluasi oleh Graf yaitu: communication tools, learning objects, management of user data, usability, adaptation, technical aspect, administration, dan course management. Masing-masing kategori 8 memiliki subkategori, misalnya di communication tools akan dilihat fitur forum, chat, mail/message, announcements, conferences, collaboration, dan synchronous/asynchronous tools. Subkategori lain bisa dilihat pada gambar 1 di bawah. Communication tools Learning objects Management of Usability Adaptation Subcategories Technical Adminis- Course aspects tration management Forum Chat Mail/Messages Announcements Conferences Collaboration Synchronous & asynch. Tools Tests Learning Material Exercises Other creatable Los Importable Los Tracking Statistics Identification of online users Personal user profile User -friendliness Support Documentation Assistance Adaptability Personalization Extensibility Adaptivity Standards System requirement Security Scalability User management Authorization management Installation of the problem Administration of courses Assessment of tests Organization of course object user data Maximum values * * | + + + * * * # + * * + + # # # + + * # * * # + * + # * | + # # Atutor | # | | 0 0 * | * 0 + * * + | | + | + + | # # | + + 0 0 0 | | | | # Dokeos + * 0 | + 0 * * * 0 + * + | 0 | + # + + | 0 * + + + 0 0 # 0 | | | # dotLRN # 0 | + 0 0 0 | 0 0 + | 0 0 + | | | + 0 + + * 0 + + * + | # 0 + 0 + ILIAS + * | 0 0 0 * * | 0 + * | | + + | | + 0 + # * 0 # + * 0 # * | + + + LON-CAPA + * | | 0 0 * + | | | * | | 0 + 0 # 0 + + # # | 0 + + 0 + + 0 | # # Moodle * * 0 + 0 0 * * * # + * * | + + # # + + # + * * # + + + | | | | | | OpenUSS # * 0 + 0 | * 0 | 0 + # 0 0 + + + + | + # # # 0 0 + | + 0 0 0 0 | # Sakai # * 0 | 0 0 * 0 * # | * * 0 | | # | | 0 0 0 * 0 0 + + + 0 + | + 0 0 Spaghettilearning | * | | 0 0 * + 0 0 | * * + + | + + | + + # + 0 0 + + 0 | 0 | | | 0 Gambar 1 Hasil penelitian Graf & List (2005) Hasil dari penelitian ini yaitu secara umum Moodle dapat dikatakan merajai kompetisi ini, unggul terutama di kategori communication tools, learning objects, management of user data, usability, dan adaptation. ILIAS dan Dokeos di urutan kedua dan ketiga, sedangkan urutan keempat adalah Atutor, LON-CAPA, Spaghettilearning dan Open USS. Sakai dan dotLRN ada di posisi terakhir. 2.1.3 Learning Technology System Architecture (LTSA) Dalam dokumen draft standar (IEEE, 2002) Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28) disebutkan bahwa LTSA adalah suatu standar internasional sistem pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan IEEE 1484.1 Learning Technology Standards Committee (LTSC). LTSA adalah sebuah arsitektur yang berbasis pada komponen abstrak. Tingkat abstraksi yang lebih tinggi dapat “diterapkan” pada tingkat yang lebih rendah: baik sebagai abstraksi tingkat yang lebih rendah, atau sebagai implementasi aktual. Sistem teknologi pembelajaran (implementasinya) dapat dipetakan dari/ke LTSA. Batas- 9 batas, fungsi, dan dekomposisi aktual atau sistem teknologi pembelajaran abstrak mungkin tidak memiliki struktur yang sama dengan LTSA, artinya pemetaan untuk LTSA tidak mungkin “satu-ke-satu”. Tidak semua sistem teknologi pembelajaran akan memiliki semua komponen LTSA atau dengan kata lain pemetaan untuk LTSA tidak mungkin persis sama. LTSA dimaksudkan untuk memiliki penerapan yang luas atas sistem teknologi pembelajaran. Tidak ada teknologi suatu generasi tertentu tersirat dengan LTSA, jadi mungkin LTSA berlaku pada masa lalu (misalnya pada kurun waktu 10, 30 dan 100 tahun yang lalu), masa kini (misalnya pada sistem yang sudah ada), dan masa depan (misalnya pada sistem 10 tahun dari sekarang). Standar ini menetapkan arsitektur level tinggi untuk pembelajaran yang didukung teknologi informasi, pendidikan, dan sistem pelatihan yang menggambarkan desain sistem tingkat tinggi beserta komponen-komponennya. Standar ini mencakup berbagai sistem secara luas, umumnya dikenal sebagai teknologi pembelajaran, teknologi pendidikan dan pelatihan, pelatihan berbasis komputer, instruksi berbantuan komputer, dan intelligent tutoring. Standar ini bersifat netral terhadap aspek pedagogis, konten, budaya, implementasi, dan platform. Standar ini (IEEE, 2002): (1) menyediakan kerangka bagi pemahaman sistem yang sudah ada dan yang akan dibangun, (2) mempromosikan interoperabilitas dan mudah dibawa (portable) dengan mengidentifikasi abstrak dan antarmuka sistem tingkat tinggi, serta (3) menggabungkan berbagai teknis (penerapan) minimal 5-10 tahun sambil tetap mudah beradaptasi dengan teknologi baru dan sistem teknologi pembelajaran. Standar ini akan memfasilitasi pengembangan pedoman konfigurasi (misalnya profil) untuk sistem teknologi pembelajaran umum. Standar ini tidak bersifat preskriptif maupun eksklusif. Selanjutnya, dalam standar tersebut juga dikatakan bahwa secara umum, tujuan pengembangan arsitektur sistem adalah untuk menciptakan kerangka kerja tingkat tinggi untuk memahami jenis sistem tertentu, subsistemnya, dan interaksi mereka dengan sistem yang terkait, atau dengan kata lain dimungkinkan untuk lebih dari satu arsitektur (IEEE, 2002). Suatu arsitektur bukanlah suatu cetak biru untuk merancang sebuah sistem tunggal, tetapi suatu kerangka kerja untuk merancang berbagai sistem dari waktu ke waktu, dan untuk analisis dan 10 perbandingan sistem-sistem, atau dapat dikatakan arsitektur digunakan untuk analisis dan komunikasi. Dengan mengungkapkan komponen bersama atas sistem yang berbeda pada tingkat yang tepat secara umum, arsitektur mempromosikan desain dan implementasi komponen dan subsistem yang dapat digunakan kembali, dengan biaya yang efektif dan mudah beradaptasi, atau dengan kata lain bersifat abstrak, antarmuka interoperabilitas tingkat tinggi dan layanan yang dapat diidentifikasi. Kerangka arsitektur yang dikembangkan dalam standar ini tidak dimaksudkan memberikan rincian implementasi spesifik yang diperlukan untuk membuat komponen sistem teknologi pembelajaran. 2.1.3.1 Learning Technology System Architecture (LTSA) Layer LTSA menspesifikasikan lima lapisan (layer), tetapi hanya layer 3 yang bersifat normatif sedangkan layer lainnya bersifat informatif. Normatif adalah istilah yang digunakan dalam LTSA sebagai petunjuk pada spesifikasi sistem secara teknis pada implementasi yang akan dilakukan. Informatif adalah istilah pada LTSA yang cukup membantu dalam perancangan arsitekturnya, namun bukan merupakan hal yang diperlukan untuk mengerti isi dari standar LTSA. Hal ini tidak termasuk spesifikasi teknis dan bukan berasal dari bagian terintegrasi dari standar LTSA (IEEE, 2002). Setiap layer menggambarkan sebuah sistem pada level yang berbeda. Layer yang lebih tinggi memiliki prioritas yang lebih besar dan berpengaruh dalam analisis dan perancangan sistem. Berikut ini adalah lima layer yang dispesifikasikan LTSA (IEEE, 2002): (1) Layer 1: Learner and Environment Interaction Layer ini berfokus kepada akuisisi learner, transfer, pertukaran, formulasi dan penemuan pengetahuan dan atau informasi melalui interaksi dengan lingkungan. (2) Layer 2: Learner-Related Design Features Layer ini berfokus kepada pengaruh yang dimiliki learner pada perancangan sistem teknologi pembelajaran. (3) Layer 3: System Components Layer ini mendeskripsikan arsitektur berbasis komponen yang diidentifikasi pada layer 2. 11 (4) Layer 4: Stakeholder Perspective and Priorities Layer ini mendeskripsikan sistem teknologi pembelajaran dari berbagai perspektif dengan mengacu pada layer 3. Setiap stakeholder memiliki perspektif yang berbeda terhadap sistem pembelajaran. Analisis terhadap perspektif dapat menghasilkan: a. Verifikasi dan validasi komponen LTSA pada sistem. b. Penentuan komponen LTSA yang tidak perlu dan perlu ditekankan pada sistem. c. Indikasi berbagai prioritas perancangan level tinggi dan level rendah. (5) Layer 5: Operational Components and Interoperability (codings, APIs, protocols) Layer ini mendeskripsikan komponen dan antar muka yang bersifat generik dari arsitektur pembelajaran berbasis teknologi informasi seperti yang diidentifikasi pada layer 4. Kelima spesifikasi layer arsitektur dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2 Lima layer LTSA (IEEE, 2002) Keterangan notasi pada gambar: LE C D E LR R M IC : Learner Entity : Coach : Delivery : Evaluation : Learning Resources : Learner Records : Multimedia : Interaction Context B LP A LI L LC CI Q : Behavior : Learning Parameters : Assessment : Learner Info : Locator : Learning Content : Catalog Info : Query Lima layer abstrak ini mengidentifikasi prioritas desain, atau urutan desain dari yang paling penting sampai ke paling tidak penting. Pengembang akan mengerti bahwa, misalnya, fitur manusia pada sistem teknologi pembelajaran 12 (layer 2) memiliki efek yang lebih luas pada desain sistem daripada, misalnya, format multimedia (layer 5). Format multimedia mempunyai lingkup kecil. Lima layer mewakili lima bidang independen analisis teknis. Sebagai contoh, adalah mungkin untuk mendiskusikan sebuah abstraksi (misalnya, komponen sistem LTSA atau layer 3), terlepas dari implementasi (misalnya, coding, API, dan protocols yang merupakan implementasi aktual/layer 5). Dengan kata lain, meskipun layer 3 berisi komponen seperti “evaluasi” dan “pelatih”, komponen-komponen ini adalah “konseptual” dalam arti tidak ada keharusan bagi komponen-komponen tersebut disebut sebagai “evaluasi” dan “pelatih” dalam implementasi aktual. Lima layer LTSA membantu memisahkan “gambar besar” dari “rincian”. Penggunaan beberapa layer membantu pembaca memahami struktur “langkah demi langkah”. Layer 3 (komponen sistem) dapat digunakan untuk menganalisis kebutuhan interoperabilitas antar subsistem utama dalam sistem teknologi pembelajaran. Berikut penjelasan lebih rinci mengenai layer pada LTSA (IEEE, 2002): (1) Layer 1 learner-environment interaction (Interaksi antara learner dengan lingkungannya) Layer 1 atau layer atas LTSA adalah layer arsitektur yang sangat umum yang disebut “learner-environment interaction”. Internet/Web Mentor Books Lab Teacher Television Employer Library Other Employees* Parent Coach Collaboration* School Computers Other Learners* Multimedia Newspaper *Collaboration is Internal to Learner Gambar 3 Cara pandang learner terhadap lingkungan belajar (IEEE, 2002) Layer ini berfokus pada fungsi tingkat tertinggi (yang paling umum) dari perspektif teknologi informasi: learner memiliki pengetahuan baru atau berbeda setelah mendapatkan pengalaman belajar. Dalam teknologi 13 informasi, ini adalah diagram salah satu subsistem (lingkungan) yang mentransfer informasi ke subsistem (learner), yang disebut suatu interaksi. Diagram learner-environment interaction tidak dimaksudkan untuk mewakili teori belajar yang ada atau proses pembelajaran. Ini merupakan isu yang ada dalam teknologi informasi pada sistem teknologi pembelajaran dan berguna untuk analisis dan teknik desain rekayasa perangkat lunak secara umum dan mudah dipahami. Untuk keperluan standar ini, fokus utama adalah teknologi informasi. Sebagai catatan, pada layer ini seringkali ditemukan kebingungan atau salah tafsir. Tujuan dari layer ini adalah untuk melihat sistem dari perspektif teknologi informasi (terutama dalam hal aliran informasinya). Banyak yang salah mengartikan layer ini sehingga memahaminya sebagai deskripsi beberapa teori belajar. Perlu ditegaskan bahwa deskripsi ini bukanlah sebuah diagram dari teori belajar apapun. Tujuan dari deskripsi teknologi pembelajaran pada layer ini adalah untuk menghubungkannya dengan metodologi rekayasa perangkat lunak sehingga dapat menciptakan abstraksi pada layer yang lebih rendah. Learner Entity Environment Learning Interactions Learner Learner Collaboration Learner Gambar 4 Cara pandang sistem dari learner-environment interaction (IEEE, 2002) Diagram interaksi learner-environment interaction (Gambar 4) hanya mewakili learner entity dan lingkungan mereka dari perspektif rekayasa sistem teknologi informasi, artinya diagram ini tidak menggambarkan penelitian terkini tentang teori belajar. Diagram ini sama dengan diagram pada Gambar 3. Kolaborasi antara learner bersifat internal bagi learner entity kolektif. 14 Alasan untuk menggunakan teknik diagram adalah untuk menyederhanakan suatu aspek rekayasa desain teknologi: fokusnya adalah pada cara pandang keseluruhan terhadap arus informasi dan sistem tersebut digambarkan sebagai panah satu arah (aliran) interaksi dari lingkungan bagi learner entity. Implementasi konsep (abstraksi tingkat yang lebih rendah atau sistem itu sendiri) dapat berfokus pada isu-isu pedagogis atau masalah teknis lainnya. Notasi LTSA pada kolaborasi learner adalah untuk menyederhanakan fitur LTSA sehingga dalam hal ini kolaborasi learner bersifat internal pada learner entity dan bukan merupakan komponen yang terpisah. Learner entity (proses) mewakili abstraksi learner, yang dapat berupa seorang individu, beberapa learner yang bekerjasama, atau para anggota sebuah tim yang mempunyai tugas yang berbeda-beda. Analoginya dapat dilihat pada sistem database yang terbagi yaitu beberapa database berkolaborasi untuk menampilkan sebuah database. Environment (proses) mewakili lingkungan dimana learner entity berinteraksi. Learning interactions atau interaksi pembelajaran yang merupakan aliran data dapat dikolaborasikan menjadi pengalaman belajar. (2) Layer 2 Learner-related design features (Desain yang berfokus pada learner) Layer ini memfokuskan pada pengaruh learner terhadap desain sistem teknologi pembelajaran. Desain yang lebih rendah dari layer arsitektur dipengaruhi oleh kebutuhan learner, khususnya, sifat manusia (yang berbeda dengan mesin) dalam belajar. Rincian dari pengaruh learner pada desain sistem berada di luar lingkup standar ini. (3) Layer 3 System Components (Komponen Sistem) dibahas tersendiri pada sub-bab 2.1.3.2 (4) Layer 4 Stakeholder perspective/priorities (perspektif/priotitas stakeholder) Layer perspektif/prioritas stakeholder dianggap sebagai perbaikan layer yang terpisah karena layer ini membahas granularitas desain isu tertentu dimana perspektif, cara pandang, atau subsetnya relevan dengan desain tingkat yang lebih rendah. 15 (5) Layer 5 Operational components and interoperability (Komponen operasional dan interoperabilitas) Bidang utama komponen operasional dan interoperabilitas diidentifikasi melalui beberapa notasi, tetapi secara umum dijelaskan sebagai coding, API, dan protokol. Mengetahui standar interoperabilitas (coding, API, dan protokol) yang sedang digunakan dapat meningkatkan pemahaman kita tentang sistem dan membantu untuk mengetahui tentang potensi interoperabilitas, tetapi sistem harus diintegrasikan dan dikonfigurasi dengan benar untuk mencapai interoperabilitas yang tepat di antara mereka sendiri. Standar teknis dapat dikaitkan dengan LTSA dan proses pembangunan yang menciptakan dan menyelaraskan pekerjaan teknis. Spesifikasi pengkodean, API, protokol yang aktual, berada di luar lingkup LTSA. 2.1.3.2 Komponen Sistem LTSA (Layer 3) Komponen LTSA dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu: proses, penyimpanan data, dan aliran data. (1) Proses (Process) Proses dideskripsikan dengan batasan, input, fungsionalitas dan output. Proses terdiri dari entitas siswa (learner entity), evaluasi (evaluation), instruktur (coach) dan pengiriman (delivery). Proses digambarkan dengan simbol elips. (2) Penyimpanan Data (Store) Penyimpanan data dideskripsikan dengan tipe dari informasi yang disimpan dan dicari kembali dengan metode search, retrieval dan update. Penyimpanan data terdiri dari data siswa (learner records) dan sumber belajar (learner resources). Penyimpanan data digambarkan dengan simbol empat persegi panjang. (3) Aliran Data (Flow) Aliran data dideskripsikan dengan konektivitas dan tipe dari informasi yang dialirkan. Aliran data terdiri atas perilaku (behavior), penilaian (assessment), informasi siswa (learner information), query, info katalog (catalog info), locator, materi pembelajaran (learning content), multimedia, 16 konteks interaksi (interaction context), dan parameter pembelajaran (learning parameters) (Gambar 5). Gambar 5 Komponen-komponen sistem LTSA (IEEE, 2002) Layer ini menerapkan perbaikan layer diatasnya sebagai kumpulan dari komponen sistem. LTSA mengidentifikasi empat proses, yaitu learner entity, evaluation, coach dan delivery; dua tempat penyimpanan, yaitu learner records dan learning resources, dan tiga belas informasi mengalir di antara komponen ini, yaitu behavior, assessment, learner information (tiga kali), query, catalog info, locator (dua kali), learning content, multimedia, interaction context, dan learning parameters. 2.1.4 Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Teknis Pengelolaan Perpustakaan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan adalah salah satu Diklat Tenaga Teknis Perpustakaan. Beberapa Diklat Tenaga Teknis Perpustakaan yang lain adalah Diklat Pengolahan Bahan Perpustakaan, Diklat Penulisan Karya Ilmiah, Diklat Pengembangan Koleksi Bahan Perpustakaan Digital, Diklat Pelestarian Bahan Perpustakaan, dan Diklat Layanan. Diklat Tenaga Teknis Perpustakaan adalah diklat yang dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi teknis kepustakawanan yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas pengelola perpustakaan. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Tenaga Teknis Perpustakaan berfungsi mengembangkan potensi pegawai melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam menjalankan tugas teknis perpustakaan secara profesional. 17 Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 132/KEP/M.PAN/12/2002 Perpustakaan Nasional RI adalah lembaga pemerintah yang bertanggung jawab dalam pembinaan jabatan fungsional pustakawan. Salah satu bentuk pembinaan adalah melalui penyelenggaraan Diklat Teknis Kepustakawanan. Dalam rangka penyelenggaraan diklat tersebut, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Pasal 26 ayat (1) dan (2) Perpustakaan Nasional RI mempunyai tugas menyusun berbagai pedoman diklat sebagai acuan pelaksanaan diklat untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan diklat yang diselenggarakan oleh lembaga penyelenggara diklat. Tujuan dari diadakannya Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan adalah membekali peserta dengan kemampuan dalam mengelola perpustakaan, sehingga lulusan dapat menyelenggarakan tata kerja rutin perpustakaan, mulai dari pengadaan, pengolahan, perawatan koleksi, dan pelayanan perpustakaan. 2.1.5 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Buku Rencana Strategis Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI Tahun 2010 s.d. 2014 menyatakan bahwa Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) merupakan salah satu unit eselon II di lingkungan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional RI. Pusdiklat mempunyai visi: “Menjadi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Terdepan di bidang Diklat Tenaga Perpustakaan.” Selanjutnya, misi Pusdiklat yaitu (Perpusnas, 2009): a. Melaksanakan kajian kebutuhan diklat di bidang perpustakaan; b. Menyusun dan mengembangkan kurikulum diklat tenaga perpustakaan; c. Menyusun dan mengembangkan bahan ajar diklat tenaga perpustakaan; d. Menyelenggarakan diklat tenaga perpustakaan; e. Mengelola dan mengembangkan sarana diklat; f. Mengevaluasi dan memantau pelaksanaan diklat dan pasca-diklat tenaga perpustakaan; g. Membina dan mengembangkan penyelenggaraan diklat tenaga perpustakaan; h. Mengembangkan sistem informasi diklat tenaga perpustakaan; 18 i. Melaksanakan akreditasi dan sertifikasi lembaga penyelenggara diklat tenaga perpustakaan. Berdasarkan Pasal 96 Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 3 Tahun 2001, Pusat Pendidikan dan Pelatihan mempunyai tugas melaksanakan pengembangan kurikulum, program, penyelenggaraan dan pengelolaan sarana, serta evaluasi program pendidikan dan pelatihan perpustakaan. Selanjutnya dalam melaksanakan tugas tersebut Pusdiklat menyelenggarakan fungsi: a. Pelaksanaan penyusunan dan pengembangan kurikulum program pendidikan dan pelatihan perpustakaan; b. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan perpustakaan; c. Pelaksanaan pengelolaan sarana pendidikan dan pelatihan; d. Evaluasi program pendidikan dan pelatihan perpustakaan. 2.2. Penelitian Terdahulu Beberapa penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan berkaitan dengan e-learning menggunakan Standar Learning Technology System Architecture adalah penelitian yang dilakukan oleh Fadjriya (2001) dalam tesisnya yang berjudul Perancangan E-Training Berbasis Web Menggunakan Standard Learning Technology System Architecture Studi Kasus: PT. Harrisma Service Centre. Tujuan dari penelitian tersebut adalah membuat rancangan e-training yang bisa diakses oleh para peserta pelatihan dari semua tempat dan setiap waktu. Ruang lingkupnya membahas perancangan sistem untuk pembuatan e-training di PT. Harrisma Service Centre dengan menggunakan standar LTSA. Penelitian ini tidak mencakup penulisan pengkodean, user interface dan struktur basis data untuk sistem e-training tersebut. Metode penelitian pada tesis ini mengikuti standar yang ada pada LTSA yang merupakan standar IEEE untuk learning technology. Dalam pembahasannya, perancangan dibahas layer demi layer mulai dari layer tertinggi yang merupakan level abstraksi ke layer yang lebih rendah yang sifatnya semakin teknis. Penelitian lain, dilakukan oleh Utami et.al. pada Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2006 (SNATI 2006) dengan judul Web Aplikasi Educourse 19 (Distance Learning) Mengadopsi Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1/D11). Maksud dari diadakannya penelitian ini adalah untuk merancang dan membangun aplikasi distance learning berdasarkan standar sistem arsitektur LTSA. Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian tersebut adalah: 1). untuk membangun aplikasi sebagai sarana belajar bagi para pelaku kegiatan belajar mengajar yang berbasis pada web; dan 2). untuk membangun aplikasi yang dapat menggantikan peran pengajar dengan sebuah sistem yang dapat diakses oleh para pelajar, sehingga kegiatan belajar mengajar tetap dapat berjalan walaupun mereka tidak berada pada tempat dan saat yang sama. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian tersebut adalah studi kepustakaan, identifikasi kebutuhan sistem, perancangan, pembuatan program, dan uji coba pada skala lab. Dalam pembahasannya dilakukan perancangan hingga implementasi dan pengujian aplikasi distance learning tersebut. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dilakukan untuk memenuhi sumber daya manusia (SDM) yang mampu menjadi pengelola perpustakaan yang mempunyai pengetahuan dasar-dasar mengelola perpustakaan yang baik sesuai dengan kaidah ilmu perpustakaan serta berkompeten dibidangnya. Target peserta diklat yang banyak dan tersebar di seluruh Indonesia menuntut adanya suatu manajemen penyelenggaraan e-learning diklat tersebut yang tepat agar dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dengan kompetensi seperti yang diharapkan. Oleh karena itu diperlukan adanya desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang dapat memenuhi kebutuhan tenaga pengelola perpustakaan tersebut. Saat ini learning management system (LMS) dan content e-learning tersebut telah dibangun oleh pihak ketiga namun belum teruji apakah sudah benarbenar memenuhi kriteria penyelenggaraan e-learning untuk Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Oleh sebab itu penelitian ini ingin melakukan analisis dan desain e-learning dengan menggunakan standar yang diakui secara internasional yaitu dengan Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1). 3.2 Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara melihat kondisi e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang ada saat ini untuk kemudian dibandingkan dengan hasil analisis layer-layer yang ada pada dokumen standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1). Dengan cara ini akan dapat dilihat sejauh mana komponen-komponen yang ada pada standar tersebut sudah terpenuhi oleh e-learning diklat tersebut. Selanjutnya hasil perbandingan tersebut dan analisis layer-layer pada dokumen LTSA digunakan untuk membuat desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai standar. 21 3.3 Kerangka Penelitian Langkah-langkah yang akan dilakukan pada penelitian ini disajikan pada Gambar 6: Mulai Studi Pustaka Pengumpulan data: observasi dan wawancara mengenai penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan secara klasikal dan e-learning Analisis e-learning berdasar standar LTSA dibandingkan dengan kondisi terkini penyelenggaran e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Kesimpulan dan Saran Selesai Gambar 6 Langkah-langkah penelitian 3.4 Prosedur Penelitian Berdasarkan langkah-langkah penelitian pada Gambar 6, maka tahapan penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut: 3.4.1 Studi Pustaka Studi pustaka dilakukan untuk mendapatkan pemahaman mengenai Standar Learning Technology System Architecture. 3.4.2 Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan cara: 22 (1) Melakukan pengamatan langsung atau observasi terhadap: a. Penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan secara klasikal di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI. Observasi terhadap penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan secara klasikal di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI dilakukan dengan melihat tujuan diklat, mata ajar (kurikulum), bentuk bahan ajar, metode pembelajaran, pengajar/instruktur, peserta, evaluasi, waktu dan tempat pelaksanaan, sarana dan prasarana serta anggaran. b. Kondisi saat ini mengenai kesiapan penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Observasi ini meliputi kesiapan penyelenggaraan e-learning diklat tersebut dalam hal calon peserta diklat, sarana dan prasarana, calon SDM pengelola, kurikulum, pengajar, content e-learning, learning management system, website Pusdiklat, kebijakan pengembangan e-learning, serta perangkat pendukung lainnya yang digunakan untuk mendukung penyelenggaraan e-learning. (2) Wawancara dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan penelitian. Wawancara dilakukan dengan para pejabat struktural di lingkungan Pusat Pendidikan dan Pelatihan, para pejabat terkait, pihak ketiga yang membuat learning management system untuk e-learning di Pusat Pendidikan dan Pelatihan serta calon SDM pengelola e-learning. 3.4.3 Analisis e-learning berdasar standar LTSA dibandingkan dengan kondisi terkini penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap layer 1, 2, 3, dan 4 dari LTSA (Gambar 2, hal. 11). Analisis dilakukan dengan melihat kondisi yang ada saat ini. Selanjutnya, dilakukan perbandingan antara kondisi terkini e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dengan hasil analisis e-learning berdasar standar LTSA. 3.4.4 Pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Setelah mendapatkan hasil perbandingan dari analisis terhadap layer demi layer dari LTSA dibandingkan dengan kondisi terkini e-learning Diklat Teknis 23 Pengelolaan Perpustakaan, dilakukan pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dengan mengacu pada hasil analisis tersebut. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini akan mengulas mengenai kondisi e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang ada saat ini untuk kemudian dibandingkan dengan hasil analisis layer-layer yang ada pada dokumen standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1). Dengan cara ini akan dapat dilihat sejauh mana komponen-komponen yang ada pada standar tersebut sudah terpenuhi oleh e-learning diklat tersebut. Dengan melihat komponen-komponen yang sudah dan belum terpenuhi, maka akan dibuat desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai dengan standar IEEE P1484.1 tentang LTSA. 4.1 Hasil Observasi Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Secara Klasikal di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI. Observasi terhadap penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan secara klasikal di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI dilakukan dengan melihat berbagai aspek; yaitu 1) tujuan diklat, 2) mata ajar (kurikulum), 3) bentuk bahan ajar, 4) metode pembelajaran, 5) pengajar/instruktur, 6) peserta, 7) evaluasi, 8) waktu dan tempat pelaksanaan, 9) sarana dan prasarana, 10) anggaran. 1) Tujuan Diklat Tujuan diklat yaitu membekali peserta dengan kemampuan dalam mengelola perpustakaan, sehingga lulusan dapat menyelenggarakan tata kerja rutin perpustakaan, mulai dari pengadaan, pengolahan, perawatan koleksi dan pelayanan perpustakaan. 2) Mata Ajar (kurikulum) Kurikulum Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan terdiri dari 150 jam pelatihan (jamlat) dengan alokasi waktu satu jamlat berdurasi 45 menit. Kurikulum ini diselesaikan selama 17 hari, dengan waktu belajar mulai dari Senin sampai Sabtu pukul 08.00 - 17.45 WIB. Kurikulum Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dapat dilihat pada Tabel 1. Adapun silabus dari setiap mata ajar dapat dilihat pada Lampiran 1 s.d. 13. 25 Tabel 1 Kurikulum Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Durasi (Jam Pelatihan) No. Mata Ajar 1. KELOMPOK DASAR a. Kebijakan Institusional dalam Pengembangan Perpustakaan b. Pengantar Ilmu Perpustakaan 10 KELOMPOK INTI a. Pengembangan Koleksi b. Katalogisasi c. Klasifikasi dan Tajuk Subyek d. Layanan Perpustakaan e. Perawatan Bahan Pustaka f. Pengantar Teknologi Informasi g. Promosi Perpustakaan h. Praktik Kerja Perpustakaan 12 24 24 20 8 8 8 16 KELOMPOK PENUNJANG a. Studi Banding b. Diskusi c. Evaluasi 8 6 4 2. 3. Jumlah 2 150 3) Bentuk bahan ajar Bahan ajar yang diberikan kepada peserta diklat adalah berupa modul yang tercetak untuk setiap mata ajar sedangkan instruktur menyampaikan materinya dalam bentuk file presentasi. Pengarang, tahun terbit, judul, dan penerbit untuk setiap modul dapat dilihat pada Lampiran 14. 4) Metode pembelajaran Pendidikan dan pelatihan dilakukan secara klasikal atau tatap muka langsung di dalam kelas antara peserta diklat dengan instruktur. Metode pembelajaran yang dipakai berupa pemberian ceramah/kuliah yang diselingi dengan tanya jawab antara peserta dengan instruktur dan praktik. Selain itu juga dilakukan diskusi kelompok, praktik kerja perpustakaan, studi banding, dan seminar/diskusi hasil studi banding. Praktik kerja perpustakaan berupa kegiatan praktik langsung mengenai teknis operasional pengelolaan perpustakaan di perpustakaan yang dianggap 26 memadai dalam pengelolaannya. Praktik kerja meliputi kegiatan pengelolaan perpustakaan secara keseluruhan, terutama kegiatan substantif perpustakaan (pengadaan, pengolahan, pelayanan, dan perawatan bahan pustaka), serta belajar pemecahan masalah pengelolaan. Tujuan praktik kerja perpustakaan adalah agar peserta memperoleh pengetahuan dan pengalaman praktis tentang penyelenggaraan perpustakaan dengan berbagai aspeknya, mengaplikasikan dan membandingkan antara teori yang telah dipelajari dengan praktik di lapangan, sehingga dapat menambah pemahaman dan pengalaman peserta dalam penyelenggaraan perpustakaan. Peserta diklat biasanya dibagi menjadi enam kelompok yang masing-masing melakukan praktik kerja selama dua hari. Beberapa tempat yang biasa menjadi lokasi praktik kerja perpustakaan adalah: a) Perpustakaan Nasional RI, Jl. Salemba Raya No. 28A Jakarta Pusat b) Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI, Jln. Gatot Subroto No. 10 Jakarta Pusat c) Perpustakaan Universitas Negeri Jakarta, Jln. Rawamangun Muka Jakarta Timur d) Perpustakaan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jln. M.H. Thamrin Jakarta Pusat e) Perpustakaan Umum Daerah Kodya Jakarta Pusat, Jln. Tanah Abang II, Kebon Jahe Jakarta Pusat f) Perpustakaan Umum Daerah Kodya Jakarta Timur, Komplek Rawabunga Jakarta Timur g) Pusat Dokumentasi dan Informasi Manggala Wanabakti, Jln. Gatot Subroto, Senayan Jakarta Pusat h) SMA Al-Azhar, Jln. Sisingamangaraja Kebayoran Baru Jakarta Selatan i) SMA Santa Theresia, Jln. K.H. Agus Salim 75 Menteng Jakarta Pusat Metode pembelajaran studi banding berupa kegiatan pengamatan/observasi langsung mengenai manajemen dan teknis operasional kegiatan perpustakaan dengan mengunjungi perpustakaan yang dianggap memadai dalam pengelolaannya. Pengamatan meliputi kondisi perpustakaan, sarana prasarana, organisasi, manajemen perpustakaan, kegiatan substantif perpustakaan 27 (pengadaan, pengolahan, pelayanan, dan perawatan bahan pustaka) serta pemecahan berbagai masalah di perpustakaan. Tujuan studi banding adalah agar peserta memperoleh pengetahuan dan wawasan tentang penyelenggaraan perpustakaan dengan berbagai aspeknya, membandingkan antara teori yang telah dipelajari dengan praktik di lapangan, sehingga dapat menambah pemahaman peserta dalam penyelenggaraan perpustakaan. Setiap Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan diselenggarakan, peserta melakukan Studi Banding ke dua lokasi. Beberapa lokasi yang biasa menjadi tempat studi banding adalah: a) Perpustakaan Nasional RI, Jl. Salemba Raya No. 28A Jakarta Pusat b) Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI, Jln. Gatot Subroto No. 10 Jakarta Pusat c) Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta, Jln. Cikini Raya No. 73 Jakarta Pusat d) Perpustakaan Umum Daerah Provinsi DKI Jakarta, Gedung Nyi Ageng Serang Lantai VIII Kav. 22 C Jl. H.R. Rasuna Said Kuningan Jakarta Selatan. e) UPT Perpustakaan Universitas Indonesia, Kampus Baru UI – Depok. 5) Pengajar/Instruktur Instruktur berasal dari Perpustakaan Nasional RI yang menguasai bidangnya dan berpendidikan minimal S1 Perpustakaan atau S1 non Perpustakaan yang telah mengikuti Diklat Calon Pustakawan Tingkat Ahli (CPTA) dan Diklat TOT (Training of Trainers). Tabel 2 menyajikan daftar instruktur Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan pada tahun 2011 beserta mata ajar yang diberikan. Tabel 2 Daftar instruktur dan mata ajar Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan No. 1. Mata Ajar KELOMPOK DASAR a. Kebijakan Institusional dalam Pengembangan SDM Perpustakaan b. Pengantar Ilmu Perpustakaan Jumlah Jamlat (Jam) Pengajar/Instruktur 2 Kapusdiklat 10 Drs. Sugiyanto 28 No. 2. 3. Mata Ajar Jumlah Jamlat (Jam) Pengajar/Instruktur KELOMPOK INTI a. Pengembangan Koleksi b. Katalogisasi 12 24 c. Klasifikasi dan Tajuk Subyek 24 d. Layanan Perpustakaan 20 e. Perawatan Bahan Pustaka f. Pengantar Teknologi Informasi g. Promosi Perpustakaan h. Praktik Kerja Perpustakaan 8 8 8 16 Drs. Sudiro, SS 1. Noor Musifawati, S.Sos 2. Karyani, SH, MH 1. Helen Manurung, S.Sos 2. Dra. Tatat Kurniawati 1. Liya Dachliyani, S.Sos 2. Tri Luki Cahya Dini, SS Ellis Sekar Ayu, S.Pd Drs. Sudarto, M.Si Dra. Nani Suryani, M.Si Panitia KELOMPOK PENUNJANG a. Studi Banding b. Diskusi c. Evaluasi 8 6 4 Panitia Panitia Panitia Jumlah Jamlat 150 6) Peserta Peserta berasal dari perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan perguruan tinggi dan perpustakaan sekolah yang ada di seluruh Indonesia. Jumlah peserta dibatasi hanya 30 orang untuk setiap tahun anggaran. Persyaratan pendidikan peserta minimal adalah SLTA. Tabel 3 menyajikan daerah asal peserta Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dari tahun 2009 sampai 2011. Tabel 3 Daerah asal peserta diklat Tahun 2009 - 2011 No. 1 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 2009 2010 2 Sumatera Utara 3 Sumatera Barat - 4 Bengkulu - 5 Riau 6 Kep. Riau 2 7 Jambi 1 1 8 Sumatera Selatan 1 1 9 Lampung 10 Kep. Bangka Belitung 1 1 1 3 11 DKI Jakarta 10 11 9 30 12 Jawa Barat 3 1 2 6 1 2011 Jumlah 1 1 3 4 1 1 2 1 3 2 - 29 No. Provinsi 2009 2010 2011 Jumlah 13 Banten 14 Jateng 4 15 DI Yogyakarta 1 16 Jawa Timur 2 6 2 10 17 Kalimantan Barat 3 2 1 6 18 Kalimantan Tengah 1 1 2 19 Kalimantan Selatan 1 1 3 20 Kalimantan Timur - 21 Bali - 22 Nusa Tenggara Barat - 23 Nusa Tenggara Timur 24 Sulawesi Barat 25 Sulawesi Utara 26 Sulawesi Tengah - 27 Sulawesi Selatan - 28 Sulawesi Tenggara 29 Gorontalo 30 Maluku 31 Maluku Utara 32 Papua Barat 1 1 33 Papua 1 1 30 90 Jumlah peserta 2 2 1 2 6 1 1 1 - 2 1 1 3 1 - 1 1 - 30 30 Grafik daerah asal peserta disajikan dalam Gambar 8 berikut ini: Gambar 7 Daerah asal peserta diklat Tahun 2009 – 2011. Berdasarkan grafik daerah asal peserta diklat pada tahun 2009 – 2011 terlihat bahwa peserta terbanyak berasal dari DKI Jakarta sedangkan ada 11 provinsi yang tidak pernah mengikuti atau mengirimkan peserta untuk mengikuti 30 Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan selama tiga tahun terakhir. Alasan 11 provinsi ini belum atau tidak pernah mengirimkan peserta untuk mengikuti Diklat Teknis Pengelolaaan Perpustakaan perlu ditinjau oleh Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI. 7) Evaluasi Setiap pelaksanaan pendidikan dan pelatihan dilakukan pengamatan dan pemantauan kepada peserta, instruktur dan penyelenggara serta pada akhir pelatihan akan diadakan evaluasi. Peserta yang berhasil mengikuti pendidikan dan pelatihan sesuai dengan tata tertib akan diberikan sertifikat yang menyatakan peserta telah lulus mengikuti diklat tersebut. Sertifikat ini tidak menyatakan gelar apapun. Evaluasi terhadap peserta diklat dilakukan oleh instruktur maupun penyelenggara. Evaluasi dilaksanakan pada tiga tahap kegiatan belajar mengajar, yaitu pada awal diklat (pre-test), selama proses diklat (formative-test) dan akhir diklat (post-test). Evaluasi terhadap peserta selama proses diklat berlangsung dilakukan melalui pengamatan dan penilaian yang meliputi dua aspek, yaitu aspek sikap dan perilaku dengan bobot nilai sebesar 10% yang terdiri atas kedisiplinan, kerja sama dan prakarsa, sedangkan aspek penguasaan materi dan praktek memiliki bobot nilai sebesar 90%. Apabila peserta mendapat nilai akhir dibawah nilai 60,00 maka peserta dinyatakan tidak lulus dan harus mengikuti program pengayaan materi/remedial untuk mencapai nilai standar kelulusan. (Perpusnas, 2010). Evaluasi terhadap instruktur dan penyelenggara dilakukan oleh peserta dengan cara mengisi format evaluasi instruktur dan penyelenggara. Format evaluasi terhadap peserta, pengajar/instruktur, dan penyelenggara dapat dilihat pada Lampiran 15 s.d. 19. 8) Waktu dan Tempat Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan dilaksanakan di Gedung Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI selama 17 hari dengan waktu belajar dari Senin s.d. Sabtu pukul 08.00 – 17.45 WIB. Selama pendidikan berlangsung, peserta ditempatkan di asrama Pusdiklat yang terletak di Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11 Jakarta Pusat. 31 9) Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana bagi penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan diantaranya adalah kelas/ruang tatap muka, laboratorium komputer, perpustakaan, asrama, rumah ibadah, dan poliklinik. Kondisi sarana dan prasarana dapat dilihat pada Lampiran 20. 10) Anggaran Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan diselenggarakan dengan biaya APBN. Pada setiap tahun anggaran hanya ada satu angkatan yang dibiayai oleh APBN dengan jumlah peserta untuk setiap angkatan adalah 30 orang. Adapun biaya yang diperlukan untuk setiap peserta diklat adalah sebesar kurang lebih empat juta rupiah. 4.2 Hasil Observasi Kondisi Saat Ini Mengenai Penyelenggaraan E-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Saat ini penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan belum berjalan namun masih berada pada tahap perencanaan. Observasi kondisi saat ini dilakukan untuk melihat kesiapan penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang meliputi: 1) calon peserta diklat, 2) sarana dan prasarana, 3) SDM pengelola, 4) kurikulum dan bahan ajar, 5) pengajar/instruktur, 6) konten e-learning, 7) learning management system, 8) website Pusat Pendidikan dan Pelatihan, dan 9) kebijakan pengembangan e-learning. 1) Calon peserta diklat E-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan masih dalam tahap perencanaan, oleh karena itu calon peserta Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan direncanakan diambil dari:  Tiga puluh orang guru sekolah di DKI Jakarta yang merupakan alumni peserta Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan. Kemampuan alumni peserta Diklat tersebut akan ditingkatkan dengan diikutsertakan dalam uji coba penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan; 32  Para pegawai Perpustakaan Nasional yang belum mengenal atau belum pernah mengikuti Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan atau baru mengikuti diklat setingkat dibawahnya;  Tiga titik di daerah, yaitu dari berbagai jenis Perpustakaan di: - Jakarta (untuk Wilayah Indonesia Bagian Barat) - Banjarmasin (untuk Wilayah Indonesia Bagian Tengah) - Makassar (untuk Wilayah Indonesia Bagian Timur) Jumlah peserta e-learning tidak dibatasi hanya 30 orang saja. Baik peserta yang berasal dari Perpustakaan Nasional maupun dari tiga titik di daerah dapat lebih dari tiga puluh orang. Khusus untuk peserta yang berasal dari alumni Diklat Pengenalan Pengelolaan Perpustakaan, jumlah peserta hanya tiga puluh orang saja karena merupakan jumlah lulusan dari diklat yang diselenggarakan secara klasikal. Persyaratan peserta yang dapat mengikuti e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan adalah: - berpendidikan minimal SLTA/sederajat; - mampu menggunakan komputer dan internet; - bekerja di bidang perpusdokinfo; - mendapat ijin dari pimpinannya; - bersedia mengikuti tata tertib yang dikeluarkan oleh Pusdiklat. Sebelum mengikuti e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan ini, calon peserta diharuskan menyerahkan surat pernyataan yang ditandatangani oleh calon peserta dan pimpinannya yang menyatakan bahwa ia telah memenuhi semua persyaratan tersebut. 2) Sarana dan prasarana Sarana dan prasarana yang ada di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI untuk penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan antara lain: - Ruang administrator e-learning. Sarana ruang administrator e-learning dapat dilihat pada Tabel 4. 33 Tabel 4 Daftar sarana di ruang administrator e-learning Pusdiklat No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nama Barang/Jenis CPU Monitor UPS AC Split Switch Hub LAN Wireless LAN Access Point Printer Laser Color Scanner A4 Server - Laboratorium komputer. Jumlah Unit 6 6 6 1 1 1 1 1 1 Spesifikasi Non Build Up LCD Monitor 23” ViewSonic Toshiba 3Comm 8 port AirLive WL-5470AP HP 2025n HP G4010 IBM System x3200 M2 Sarana laboratorium komputer dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5 Daftar sarana di laboratorium komputer Pusdiklat No. Nama Barang/Jenis 1. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. CPU Monitor LCD Monitor LCD Monitor LCD Projector Screen LCD Projector Wireless Sound System Speaker Aktif Kabel Gulung Hub 3Com 24 port Scanner Printer Multifunction Server Headset VGA Splitter Pengharum Ruangan Otomatis Pointer Presenter Penyedot Debu Jumlah Unit 35 32 1 2 1 1 1 3 1 3 4 1 1 20 1 1 1 1 Spesifikasi HP Compaq HP L1710 17 “ BenQ FP71G 17” LG Flatron L1753S 17” Sony VPL-CX155 TOA ZW-3200 Epson Perfection V200 Photo Canon DR-5010C IBM Sennheiser HD437 ATEN VS-94A 3) SDM pengelola SDM pengelola e-learning saat ini terdiri atas enam orang, yaitu: - satu orang Master di bidang Teknologi Informasi yang bertugas sebagai koordinator e-learning; - satu orang Sarjana Teknologi Pendidikan yang bertugas sebagai penyelenggara (administrator); - satu orang Sarjana Komputer yang bertugas menangani teknis jaringan dan portal e-learning; - satu orang Sarjana Statistik yang bertugas memantau evaluasi; 34 - satu orang Master dibidang Ilmu Perpustakaan dan satu orang Sarjana Pendidikan yang bertugas menangani kurikulum dan bahan ajar. Keenam SDM pengelola tersebut saat ini sudah tersedia di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI. 4) Kurikulum dan Bahan Ajar Kurikulum dan bahan ajar e-learning saat ini masih mengacu kepada kurikulum Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan secara klasikal. Kurikulum Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan sebagaimana tertuang dalam buku Kurikulum dan Garis-Garis Besar Program Pembelajaran Pendidikan dan Pelatihan Teknis Pengelolaan Perpustakaan (Perpusnas, 2004) ditetapkan oleh Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI No. 39 Tahun 2004. Dengan demikian kurikulum yang terdapat dalam buku ini dijadikan pedoman dalam penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Selanjutnya peninjauan mengenai kurikulum ini akan dilakukan lima tahun sejak berlakunya keputusan sebagaimana tercantum pada pasal 2 ayat 1. Saat ini seluruh bahan ajar e-learning masih mengacu pada kurikulum Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang dilakukan secara klasikal dan sudah dialihmediakan seluruhnya kedalam bentuk teks (pdf), presentasi (flash), power point, audio (MP3), dan video (flv). Garis-garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) terutama dalam hal metode pembelajaran disesuaikan untuk e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. 5) Pengajar/Instruktur Persyaratan instruktur e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan adalah: - Menguasai bidangnya - Mampu menggunakan sarana TI - Mampu mendesain bahan ajar - Mampu melaksanakan proses pengajaran sesuai metodologi pengajaran - Mampu membimbing forum diskusi dan tanya jawab - Mampu memberi rujukan materi untuk pendalaman Instruktur yang menguasai TI dan menguasai salah satu mata ajar dalam kurikulum Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan menjadi prioritas dalam 35 pemilihan instruktur untuk e-learning Diklat ini. Jika suatu mata ajar tidak memiliki instruktur yang menguasai TI, maka instruktur tersebut akan diberikan pelatihan menjadi instruktur untuk sebuah e-learning. 6) Konten e-learning Konten e-learning yang merupakan mata ajar Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan saat ini sudah dialihmediakan seluruhnya menjadi bentuk multimedia, yaitu: teks dengan format PDF, video dengan format flv, presentasi dengan format flash player, audio dengan format MP3, dan presentasi instruktur dengan MS power point. Daftar konten e-learning berupa mata ajar yang telah dialihmediakan disajikan pada Tabel 6. Tabel 6 Daftar mata ajar dalam format multimedia No. Mata Ajar 1. Pengantar Ilmu Perpustakaan 2. Pengembangan Koleksi 3. Katalogisasi 4. Klasifikasi dan Tajuk Subyek 5. Layanan Perpustakaan 6. Perawatan Bahan Pustaka 7. Pengantar Teknologi Informasi 8. Promosi Perpustakaan 9. Praktik Kerja Perpustakaan 10. Studi Banding 11. Panduan Diskusi 12. Panduan Evaluasi Format Multimedia Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3), Video (flv) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3), Video (flv) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3), Video (flv) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3), Video.flv Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3), Video (flv) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3), Video (flv) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3) Teks (pdf), Presentasi (flash), powerpoint, Audio (MP3) 7) Learning Management System Learning management system (LMS) untuk e-learning di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI menggunakan Moodle. LMS ini dibuat oleh pihak ketiga dan sampai sekarang belum dimanfaatkan karena dianggap belum memenuhi syarat untuk menjadi wadah bagi sebuah e-learning. Penilaian 36 mengenai LMS ini dilakukan oleh para pejabat struktural di lingkungan Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI. Dalam hal ini, LMS masih memerlukan penyempurnaan baik dari modul-modulnya maupun desainnya. 8) Website Pusat Pendidikan dan Pelatihan Website Pusdiklat memberi informasi mengenai profil, jadwal diklat, dan berita kegiatan yang diadakan oleh Pusdiklat. Selain itu, website Pusdiklat menjadi wadah untuk mengakses learning management system (LMS) untuk elearning. Website Pusdiklat dapat diakses pada alamat http://pusdiklat.pnri.go.id. Pemutakhiran konten website dilakukan setiap ada kegiatan yang dilakukan di lingkungan Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI. Mekanisme pemutakhiran konten website Pusdiklat yang baku belum ada. 9) Kebijakan pengembangan e-learning Sampai saat ini Pusdiklat didalam penyelenggaraan e-learning menggunakan beberapa pedoman diantaranya pedoman yang diberlakukan di Universitas Indonesia (UI) sesuai dengan rekomendasi dari tim asistensi dari UI yang membantu Pusdiklat dalam membuat grand design e-learning. Isi buku pedoman penjaminan mutu e-learning yang direkomendasikan oleh UI dapat dilihat pada Lampiran 21. 4.3 Analisis e-learning berdasar standar LTSA Analisis e-learning berdasar standar LTSA (IEEE P1484.1) dilakukan dengan melihat kondisi yang ada pada saat ini dalam hal kesiapan penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Analisis ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana komponen-komponen yang ada pada standar tersebut sudah terpenuhi oleh e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan tersebut. Tujuannya adalah mendapatkan hasil analisis yang akan dijadikan acuan untuk membuat desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan berdasar standar LTSA (Gambar 2, hal. 11). Layer pertama adalah interaksi learner dengan lingkungannya (learner-environment interaction), layer kedua adalah desain fitur-fitur yang berfokus pada siswa (learner related design features), layer ketiga adalah komponen sistem LTSA, layer keempat adalah perspektif/prioritas pemangku kepentingan (stakeholder perspective/priorities) 37 dan layer kelima adalah codings, APIS & protocols. Dari kelima layer yang tersedia, hanya layer 1 sampai 4 yang akan dianalisa, yaitu: 4.3.1 Analisis layer 1: Interaksi learner dengan lingkungannya Pada layer 1 pada standar LTSA (Gambar 4, hal. 13), yang dimaksud dengan “lingkungan (environment)” dalam lingkup e-learning adalah unsur-unsur yang ada dalam sistem e-learning yang melakukan interaksi dengan learner (selanjutnya dalam pembahasan akan disebut dengan siswa). Dalam hal ini lingkungan didefinisikan sebagai lingkungan pelatihan yang terdiri dari: administrator, instruktur, materi pelatihan, internet, komputer, institusi, dan siswa lain. Administrator adalah orang yang mengelola e-learning. Instruktur adalah orang yang menjadi narasumber atau mengampu pelatihan. Materi pelatihan adalah bahan ajar yang dibuat oleh instruktur untuk diberikan kepada siswa sesuai dengan topik pelatihan. Internet adalah web browser dan situs e-learning yang akan diakses siswa. Komputer yang dimaksud disini adalah komputer yang memiliki perangkat multimedia dan memiliki akses ke internet. Institusi adalah lembaga tempat siswa bekerja atau orang yang mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan bagi siswa tersebut. Siswa lain adalah peserta pelatihan yang bekerja sama dalam pelatihan dengan menggunakan fasilitas chatting, forum diskusi, dan e-mail atau mailing list. Cara pandang learner terhadap lingkungan belajar (Gambar 3, hal. 12) menunjukkan bahwa learner atau siswa dikelilingi oleh suatu lingkungan (environment) yang terdiri atas: guru, orang tua, instruktur, mentor, atasan, rekan sejawat, siswa lain, internet/web, laboratorium, buku-buku, perpustakaan, televisi, multimedia, surat kabar, televisi, komputer, sekolah, dan kolaborasinya dengan siswa lain. Seperti halnya dalam teknologi informasi, ketika siswa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya maka siswa akan mendapatkan pengetahuan atau pengalaman belajar yang baru. Dalam teknologi informasi, diagram ini adalah salah satu subsistem (yaitu lingkungan) yang mentransfer informasi ke subsistem (yaitu learner), yang disebut suatu interaksi. Diagram learner-environment interaction tidak dimaksudkan untuk mewakili teori belajar yang ada atau proses pembelajaran. Ini merupakan isu yang ada dalam teknologi informasi pada sistem 38 teknologi pembelajaran dan berguna untuk analisis dan teknik desain rekayasa perangkat lunak secara umum dan mudah dipahami. Untuk keperluan standar ini, fokus utama adalah teknologi informasi. Hasil analisis abstraksi pola interaksi pada e-learning dapat diilustrasikan seperti pada Gambar 8. Siswa memandang lingkungan pelatihan sebagai sebuah sistem. Ketika siswa mendaftar sebagai peserta e-learning, maka dimulailah interaksi antara siswa dengan lingkungan pelatihan yang terdiri dari administrator yang mengelola e-learning, instruktur yang memberikan materi dan mengasuh sebuah kelas pelatihan, dan materi pelatihan yang dapat diunduh. Selain itu siswa dapat melakukan kerja sama dengan siswa lainnya dengan melakukan diskusi dan kerja kelompok. Melalui interaksinya dengan lingkungan pelatihan, siswa mendapat tambahan pengetahuan. siswa administrator e-mail off line e-mail, milist, chatting, forum diskusi antar muka berbasis web instruktur siswa Gambar 8 Model pola interaksi antara siswa dengan lingkungan pelatihan 4.3.2 Layer 2: Desain fitur-fitur yang berfokus pada siswa Layer ini memperhatikan pengaruh siswa terhadap desain sistem teknologi pembelajaran. Desain layer dibawahnya dipengaruhi oleh kebutuhan siswa, khususnya sifat manusia (yang berbeda dengan mesin). Rincian dari pengaruh siswa pada desain sistem berada di luar lingkup dari standar ini. Sesuai penjelasan layer 2 pada standar LTSA, maka kebutuhan siswa harus diidentifikasi dalam keterkaitannya dengan interaksinya di dalam learning technology system agar dapat ditemukan desain sistem yang sesuai. Kebutuhan calon siswa yang akan mengikuti e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan diidentifikasi sebagai berikut: - pelatihan yang dapat diakses dari mana saja karena calon siswa berasal dari berbagai lokasi di seluruh Indonesia 39 - penguasaan atas penggunaan komputer dan internet - materi pelatihan yang mudah dimengerti karena dengan e-learning siswa harus belajar atas inisiatifnya sendiri - akses terhadap internet - perangkat komputer dan koneksi internet - informasi yang jelas mengenai tata cara menjadi peserta e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan mulai dari registrasi hingga lulus dan mendapatkan sertifikat - informasi yang jelas mengenai cara menggunakan learning management system yang menjadi wadah bagi e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan - informasi yang mutakhir mengenai jadwal registrasi peserta e-learning - antar muka (interface) yang mudah dipahami terutama untuk peserta yang baru mengenal komputer dan internet 4.3.3 Layer 3: Komponen-komponen Sistem Layer ini menerapkan perbaikan lapisan diatasnya sebagai kumpulan dari komponen sistem. Layer ini menggambarkan proses, penyimpanan data (store) dan aliran data (flow) dari Learning Technology System Architecture (LTSA). Proses digambarkan dengan (fungsionalitas), dan output. istilah boundary (batas), input, proses Store digambarkan dengan tipe informasi yang disimpan, serta metode pencarian, temu kembali dan pemutakhiran informasi tersebut. Flow (aliran data) digambarkan dengan istilah konektivitas (satu arah, dua arah, koneksi statis, dan koneksi dinamis) dan tipe informasi sepanjang aliran data (flow). Komponen-komponen sistem LTSA (Gambar 5, hal. 16) mengidentifikasi interoperability interface pada level tingkat tinggi dan abstrak untuk sistem teknologi pembelajaran. LTSA tidak mengidentifikasi seluruh interoperability interface untuk sistem teknologi pembelajaran khusus (contohnya interoperability interface untuk suatu aplikasi khusus atau platform operasi). LTSA tidak mengidentifikasi interoperability interface untuk sistem-sistem yang terkait, seperti pengembangan konten atau sistem administrasi. 40 Komponen LTSA dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu: 1) Proses (Process) Proses dideskripsikan dengan batas, input, proses (fungsionalitas) dan output. Ada empat komponen proses yaitu: entitas siswa (learner entity), evaluasi (evaluation), instruktur (coach) dan pengiriman (delivery). Proses digambarkan dengan simbol elips. 2) Penyimpanan Data (Store) Penyimpanan data dideskripsikan dengan tipe dari informasi yang disimpan serta metode pencarian, temu kembali dan pemutakhiran informasi tersebut. Ada dua penyimpanan data terdiri dari data siswa (learner record) dan sumber belajar (learning resources). Penyimpanan data digambarkan dengan simbol persegi panjang. 3) Aliran data (Flow) Aliran data dideskripsikan dengan konektivitas dan tipe dari informasi yang dialirkan. Ada 13 (tiga belas) aliran data yang terdiri dari perilaku (behavior), penilaian (assessment), informasi siswa (learner information) sebanyak tiga kali, kueri (query), info katalog (catalog info), locator sebanyak dua kali, materi pembelajaran (learning content), multimedia (multimedia), konteks interaksi (interaction context) dan parameter belajar (learning parameters). Berdasarkan layer 3 pada standar LTSA maka ilustrasi dari keseluruhan operasional sistem e-learning dari layer 3 (komponen-komponen sistem) LTSA yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut: a. Gaya, strategi dan metode belajar dinegosiasikan/didiskusikan antara siswa (learner) dengan pihak-pihak terkait (stakeholder) untuk kemudian dinyatakan sebagai parameter (patokan) belajar. Dalam kaitannya dengan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, maka siswa yang akan mengikuti e-learning diberikan persyaratan dan aturan dalam mengikuti e-learning (pengarahan program) yang nantinya dapat didiskusikan dengan panitia penyelenggara (diwakili oleh administrator e-learning). b. Siswa (learner) diamati dan dievaluasi lewat interaksinya dengan multimedia; Interaksi siswa e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan direkam 41 untuk kemudian dievaluasi oleh administrator atau bagian evaluasi dan disimpan didalam data siswa (learner records). Hasilnya akan dilaporkan kepada instruktur. c. Evaluasi menghasilkan penilaian dan/atau informasi mengenai siswa (learner); Penilaian ini mencakup perilaku siswa e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dan interaksinya dengan materi belajar yang berupa file multimedia. d. Informasi mengenai siswa disimpan di dalam database history siswa. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, harus disediakan tempat penyimpanan data khusus (learner records) yang menyimpan semua rekaman data siswa termasuk perilaku dan interaksinya dengan materi belajar, dengan siswa lain dan dengan instruktur. e. Instruktur meninjau (review) nilai dan informasi mengenai siswa seperti: kesukaan/kebiasaannya, kinerjanya (nilai hasil belajar) yang telah lalu dan sasaran (target) belajarnya di masa datang. Hasil tinjauan (review) instruktur mengenai nilai dan informasi siswa akan disimpan di learner records. f. Instruktur mencari materi pembelajaran yang tepat/sesuai di learning resources (sumber belajar) melalui query dan info katalog,. Materi belajar disesuaikan dengan kurikulum e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. g. Instruktur memilah locator dari info katalog yang ada dan mengirimnya ke delivery process, contohnya rencana belajar. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan instruktur menyimpan materi belajar kedalam learning resources. Setelah itu, dengan menggunakan locator yang didapat dari info katalog mengirimkan rencana pembelajaran yang sesuai dengan topik pelatihan yang akan diasuhnya. h. Delivery process memilah materi belajar dari learning resources (sumber belajar) atas informasi dari locator dan mengubahnya menjadi presentasi multimedia. Rencana pembelajaran yang dikirimkan oleh instruktur melalui locator menjadi dasar pemilahan materi belajar dari learning resources. Analisis komponen-komponen sistem LTSA (layer 3) akan dibahas secara keseluruhan pada sub-sub-bab 4.3.3.1 s.d. 4.3.3.19. Analisis dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai mekanisme abstraksi tiga kelompok komponen 42 sistem LTSA baik yang berupa proses, store maupun flow. Mekanisme abstraksi komponen-komponen sistem LTSA ini membahas mekanisme yang terjadi sesuai dengan standar LTSA dan implementasi yang mungkin terjadi pada e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Dengan cara ini, diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai mekanisme abstraksi yang terjadi pada komponen-komponen sistem LTSA dan contoh implementasi yang mungkin dilakukan pada e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Selanjutnya setelah dianalisis, dilakukan pemetaan dari komponen-komponen sistem LTSA kepada kondisi terkini e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. 4.3.3.1 Learner Entity (Entitas Siswa) Gambar 9 Abstraksi proses entitas siswa Proses entitas siswa sebagai suatu abstraksi dari manusia yang sedang belajar dalam suatu lingkungan pelatihan (e-learning) disajikan pada Gambar 9. Entitas siswa dapat melambangkan seorang siswa, sekelompok siswa yang belajar secara individual, sekelompok siswa yang belajar bersama, dan sekelompok siswa yang belajar dalam berbagai peran yang berbeda. Proses yang terjadi melibatkan input multimedia data flow dari proses delivery, output behavior ke proses evaluation, serta input dan output learning parameters data flow dari dan ke proses coach. Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut 1: • Input: (LTSA): Entitas siswa menerima presentasi multimedia melalui multimedia data flow. 1 LTSA: merepresentasikan mekanisme abstraksi sesuai Learning Technology System Architecture (LTSA). E-learning: merepresentasikan implementasi LTSA untuk e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan (selanjutnya disebut e-learning Diklat) 43 (E-learning Diklat): Siswa dapat mengakses presentasi multimedia sesuai mata ajar e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. • Output: (LTSA): Perilaku siswa diamati dan dilaporkan melalui behavior data flow. (E-learning Diklat): Perilaku siswa ketika mengakses e-learning seperti frekuensi lama waktu yang dibutuhkan siswa untuk menyelesaikan satu materi diamati oleh administrator, direkam, dan diproses oleh proses evaluasi. • Input dan output: (LTSA): Parameter belajar didiskusikan/dinegosiasikan secara dua arah dengan instruktur melalui learning parameters data flow. (E-learning Diklat): Siswa e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan berdiskusi dengan instruktur untuk menentukan strategi belajar yang akan dilakukan. Dalam hal ini terlebih dahulu siswa diberikan persyaratan dan aturan yang harus ditaati ketika mengikuti e-learning. Halhal yang menjadi keberatan siswa dapat didiskusikan atau dinegosiasikan dengan instruktur. Pada tingkat abstraksi ini presentasi multimedia dan perilaku yang diamati digambarkan secara terpisah. Pada implementasinya, fitur ini dapat digabungkan dalam satu atau lebih modul human interface (contohnya sistem windows), modul session presentation (seperti web browser), tutoring tools (seperti beberapa aplikasi khusus), serta laboratorium eksperimen dan penemuan. 4.3.3.2 Multimedia Multimedia adalah aliran data satu arah yang menyajikan presentasi beruntun dari beberapa tipe multimedia seperti video, audio, teks, dan grafik dari proses delivery ke proses entitas siswa (Gambar 10). Tipe informasinya berupa file dan arus multimedia. 44 Gambar 10 Abstraksi data flow multimedia Didalam sistem teknologi pembelajaran, implementasi aliran data multimedia sangat erat kaitannya dengan implementasi aliran data behavior untuk memperbaiki respon sistem teknologi pembelajaran. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, aliran data multimedia mengirimkan presentasi multimedia berbentuk video, audio dan grafik dari proses delivery ke siswa e-learning. 4.3.3.3 Learning Parameters (Parameter Belajar) Parameter belajar didefinisikan sebagai pertukaran aliran data (yaitu negosiasi) antara siswa dengan instruktur (Gambar 11). Selain itu, orang tua, mentor, atasan, dan/atau institusi dapat berpartisipasi untuk menentukan parameter belajar. Seluruh pihak yang terkait berkontribusi dalam membentuk parameter belajar ini. Tipe informasi yang dihasilkan contohnya adalah parameter adaptasi budaya, parameter persyaratan yang dapat diterima untuk orang-orang dengan keterbatasan fisik (seperti buta, tuli) dan keterbatasan kognitif. Gambar 11 Abstraksi data flow parameter belajar 45 Pada e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, terlebih dahulu siswa diberikan persyaratan dan aturan yang harus ditaati ketika mengikuti e-learning. Persyaratan dan aturan mengikuti e-learning dibuat dengan mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak seperti instruktur, institusi penyelenggara e-learning dan institusi lain yang terkait. Hal-hal yang menjadi keberatan siswa dapat didiskusikan atau dinegosiasikan dengan instruktur. 4.3.3.4 Behavior (Perilaku) Gambar 12 Abstraksi data flow perilaku Behavior atau perilaku didefinisikan sebagai aliran data dari proses entitas siswa menuju proses evaluasi yang membawa informasi mengenai aktivitas dan perilaku siswa yang nantinya akan dinilai oleh proses evaluasi (Gambar 12). Didalam aliran data perilaku terjadi proses pengkodean dan pemecahan kode dari perilaku entitas siswa. Tipe informasi aliran data behavior ini dapat berupa berapa banyak penggunaan keyboard dan mouse ketika mengakses sistem e-learning, termasuk juga respon berupa suara dan tulisan. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan perilaku siswa diamati untuk kemudian dinilai oleh proses evaluasi. Perilaku siswa yang diamati antara lain frekuensi dan lama waktu yang dibutuhkan siswa untuk menyelesaikan satu materi, penggunaan keyboard dan mouse, interaksinya dengan siswa lain dan instruktur. 4.3.3.5 Evaluation (Evaluasi) Evaluasi didefinisikan sebagai proses abstraksi yang menghasilkan ukuran/penilaian atas entitas siswa (Gambar 13). Pemrosesan informasi perilaku siswa dilakukan untuk menghasilkan penilaian dan informasi siswa. Proses yang terjadi melibatkan input behavior dari proses entitas siswa, input interaction 46 context data flow dari proses delivery, output assesment data flow ke proses coach serta input dan output dari dan ke learner records. Gambar 13 Abstraksi proses evaluasi Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut: • Input: (LTSA): Perilaku siswa yang telah diamati disampaikan melalui behavior data flow. (E-learning Diklat): Perilaku siswa e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan diamati dan disampaikan melalui behavior data flow. • Input: (LTSA): Interaction context data flow dapat memberikan konteks/hubungan atas perilaku siswa untuk menentukan evaluasi yang sesuai bagi siswa tersebut. (E-learning Diklat): Ketika siswa mengakses materi belajar e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, maka perilakunya akan diamati melalui interaction context data flow. Hasilnya untuk menentukan evaluasi yang sesuai bagi siswa tersebut. • Output: (LTSA): Informasi penilaian dikirimkan kepada instruktur melalui assessment data flow (E-learning Diklat): Setelah perilaku dan interaksi siswa e-learning dengan materi belajar dinilai maka informasi penilaian dikirimkan kepada instruktur melalui assessment data flow. 47 • Input/output (LTSA): Informasi siswa dapat ditelusuri dan disimpan (melalui learner information data flow) selama proses evaluasi di dalam penyimpanan data learner records. (E-learning Diklat): Apabila instruktur maupun administrator ingin mengetahui informasi siswa e-learning maka dapat mencarinya di tempat penyimpanan data siswa (learner records). Selama proses evaluasi data siswa e-learning disimpan melalui learner information data flow di tempat penyimpanan data learner records. Contoh dari proses evaluasi ini yaitu seorang siswa ingin memilih jawaban dari soal pilihan ganda dan jawaban yang benar adalah nomor 2. Proses evaluasi harus mengetahui konteks interaksi pembelajaran untuk menentukan yang mana dari tombol “2”, “#2”, dan/atau “dua” yang merupakan jawaban benar. Konteks interaksi dapat digunakan untuk menghubungkan perilaku yang sesuai dengan interaksi pembelajaran. 4.3.3.6 Learner information stored/retrieved by evaluation (Informasi siswa yang disimpan/ditelusur oleh proses Evaluasi) Learner information stored/retrieved by evaluation didefinisikan sebagai aliran data dua arah antara proses evaluasi dengan penyimpanan data learner records yang mewakili penyimpanan dan penelusuran informasi siswa (Gambar 14). Output dari proses evaluasi akan disimpan sebagai catatan informasi entitas siswa yang telah lalu (learner entity history information) di dalam learner records. Data yang mewakili informasi siswa yang telah lalu, saat ini dan akan datang contohnya adalah aktivitas, nilai, logs, dan target. Granularitas tidak spesifik dalam informasi siswa ini karena proses evaluasi dapat menyimpan/menelusur informasi siswa sebanyak setiap klik mouse-nya ataupun sesedikit mungkin seperti data setiap semester. Contohnya: “pertanyaan no. 17, dijawab dengan benar, memakan waktu 25 detik”. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, aliran data dua arah learner information akan mengirimkan data siswa e-learning dari proses evaluasi untuk kemudian disimpan dan dapat ditelusur kembali di learner records. 48 Gambar 14 Abstraksi data flow informasi siswa Dengan cara ini maka jika siswa ingin mengetahui kemajuan belajarnya, ia dapat mengaksesnya di penyimpanan data learner records dan sistem mendapatkan rekam jejak seluruh perilaku siswa ketika mengakses e-learning Diklat yang dapat disimpan dan ditelusur kembali. 4.3.3.7 Learner Records (Data Siswa) Penyimpanan data learner records didefinisikan sebagai penyimpanan dan penelusuran informasi siswa yang telah lalu (misal history), masa kini (misal assessment (penilaian) saat ini), dan masa depan (misal tujuan/target belajar) (Gambar 15). Data siswa dapat menyimpan informasi (yang akan ditelusur kembali) mengenai masa lalu (misal data historis siswa), dapat juga menyimpan informasi masa kini (misal penilaian mengenai penundaan atau penyelesaian suatu sesi) dan masa depan (misal pedagogi, target/tujuan siswa atau pegawai). Proses yang terjadi melibatkan input dan output learner information data flow dari dan ke proses evaluasi, input learner information data flow (informasi terkini) dari proses coach, dan output learner information data flow (history/objective) ke proses coach. Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut: • Store (penyimpanan): (LTSA): Proses evaluasi dapat menyimpan informasi siswa (contoh nilai suatu pelajaran) melalui aliran data informasi siswa (learner information data flow). 49 (E-learning Diklat): Informasi perilaku, interaksi dan nilai siswa e-learning yang telah diolah di proses evaluasi akan diteruskan oleh learner information data flow dan disimpan di learner records. Gambar 15 Abstraksi data store data siswa (learner records) • Retrieve (penelusuran): (LTSA): Proses evaluasi dapat menelusur informasi siswa (contoh nilai suatu pelajaran) melalui aliran data informasi siswa. (E-learning Diklat): Informasi lama dan terkini dari siswa e-learning dapat ditelusur oleh administrator, instruktur maupun pihak yang memiliki otoritas melalui aliran data informasi siswa. • Store (penyimpanan): (LTSA): Proses instruktur dapat menyimpan informasi siswa (contoh kinerja, kesukaan, dan tipe lain informasi siswa) melalui aliran data informasi siswa. (E-learning Diklat): Instruktur e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dapat menyimpan informasi siswa melalui learner information data flow. • Retrieve (penelusuran): (LTSA): Proses Instruktur dapat menelusur informasi siswa (kinerja, kesukaan, dan tipe lain dari informasi siswa) melalui aliran data informasi siswa. (E-learning Diklat): Instruktur e-learning dapat menelusur informasi siswa melalui learner information data flow. 50 Beberapa contoh dari abstraksi penyimpanan data learner records yaitu: instruktur dapat menyimpan informasi kinerja, seperti informasi penilaian dan sertifikasi yang ada dalam learner records; instruktur dapat menyimpan informasi yang ditunda (bookmark) seperti informasi kinerja untuk menyimpan sesi siswa yang terakhir dan kelanjutannya di masa yang akan datang. 4.3.3.8 Learner information received by system coach (Informasi siswa yang diterima oleh sistem Instruktur) Gambar 16 Abstraksi data flow informasi siswa yang diterima oleh sistem instruktur Learner information received by system coach adalah aliran data satu arah dari penyimpanan data learner records ke proses instruktur yang menyajikan permintaan instruktur akan informasi dari learner records (Gambar 16). Instruktur menelusur learner records, selanjutnya hasil penelusuran disebut informasi siswa. Tipe informasinya berupa kinerja, kesukaan dan informasi siswa lainnya. Biasanya informasi historis dan kesukaan ditelusur namun informasi terkini (misalnya “ditunda” untuk sesi selanjutnya) dan informasi masa depan (contoh target akademik dimasa datang) dapat ditelusur juga. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, instruktur dapat menelusur data mengenai informasi siswa baik yang lama, baru maupun yang akan datang. 4.3.3.9 Learner information stored by system coach (Informasi siswa yang disimpan oleh sistem instruktur) Learner information stored by system coach adalah aliran data dari proses instruktur ke penyimpanan data learner records yang menyajikan permintaan instruktur untuk menyimpan informasi siswa (Gambar 17). 51 Gambar 17 Abstraksi data flow informasi siswa yang disimpan oleh sistem instruktur Instruktur menyimpan penilaian dan sertifikasi dalam learner records. Tipe informasinya berupa kinerja, minat dan informasi siswa lainnya. Beberapa contoh dari abstraksi ini yaitu: instruktur dapat menyimpan informasi kinerja, seperti informasi penilaian dan sertifikasi dalam penyimpanan data learner records; instruktur dapat menyimpan data “ditunda” (bookmarks) sebagai informasi kinerja untuk mengumpulkan sesi entitas siswa dan kelanjutannya di masa akan datang; instruktur dapat menyimpan minat siswa dalam penyimpanan data learner records. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, instruktur dapat menyimpan seluruh data informasi siswa seperti hasil penilaian, perilaku, minat dan keaktifan siswa di learner records. 4.3.3.10 Assessment information (Informasi penilaian) Assessment information adalah suatu aliran data dari proses evaluasi ke proses instruktur yang menyajikan informasi mengenai kondisi terkini siswa yang dapat digunakan oleh instruktur untuk menentukan pengalaman belajar yang optimal (Gambar 18). Output dari proses evaluasi menyajikan kondisi terkini entitas siswa. Tipe informasinya berupa informasi kinerja dan informasi siswa lainnya. Perbedaan antara aliran data informasi penilaian dan aliran data dari learner records adalah aliran data informasi penilaian tujuan utamanya adalah untuk menyatakan informasi mengenai “sampai sejauh mana siswa berada saat ini” dan dimulai oleh proses evaluasi, sedangkan aliran data dari/ke penyimpanan data learner records menyajikan aliran informasi yang telah dimulai oleh 52 instruktur (dari/ke penyimpanan data learner records). Implementasi dapat menggunakan semua, sebagian atau tidak sama sekali aliran-aliran data ini. Gambar 18 Abstraksi data store informasi penilaian Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, instruktur memperoleh informasi mengenai perilaku, kinerja dan prestasi siswa dari proses evaluasi melalui aliran data informasi penilaian (assessment information). 4.3.3.11 Coach (Instruktur) Coach adalah proses abstraksi yang dapat menggabungkan informasi dari beberapa sumber, seperti entitas siswa (parameter belajar), proses evaluasi (informasi penilaian), penyimpanan data learner records (kinerja, kesukaan, dan informasi siswa lainnya), dan penyimpanan data learning resources (aliran kontrol kueri dan aliran data informasi katalog), dan dapat menggunakan informasi ini untuk mencari (kueri) dan memilih (baik aliran data locator maupun aliran kontrol locator) penyimpanan data materi belajar (melalui proses delivery dan aliran data multimedia) sebagai pengalaman belajar. didefinisikan dalam 5 langkah. Proses instruktur Langkah-langkah tersebut yaitu: langkah 1. negosiasi/pertukaran parameter belajar untuk mendapatkan pengalaman belajar yang optimal; langkah 2 dan 3. menerima informasi penilaian terbaru dari proses evaluasi. Pencarian dan penelusuran informasi siswa relevan dengan pengalaman belajar terkini; langkah 4. mencari di sumber belajar (learning resources) melalui kueri untuk mendapatkan materi belajar yang sesuai. Sumber belajar mengembalikan info katalog (disebut juga sebagai metadata objek belajar) yang telah dikirimkan instruktur yang cocok dengan kueri; langkah 5. mengekstrak 53 locator (yaitu URL) dari info katalog yang telah ditemukan (metadata objek belajar) dan mengirimkan locator ke delivery process untuk menunjukkan pengalaman belajar. Langkah-langkah ini dapat dilakukan dengan urutan apapun. Gambar 19 Abstraksi proses instruktur (langkah 1) Abstraksi proses instruktur pada langkah pertama ini merupakan negosiasi atau pertukaran parameter belajar untuk mendapatkan pengalaman belajar yang optimal (Gambar 19). Proses yang terjadi melibatkan input dan output aliran data learning parameters dari dan ke proses entitas siswa. Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut: • Input/output: (LTSA): Parameter belajar (aliran data parameter belajar) dapat dinegosiasikan/dipertukarkan dengan entitas siswa. (E-learning Diklat): Calon siswa e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan berdiskusi dengan instruktur untuk menentukan strategi belajar yang akan dilakukan terkait dengan budaya dan keterbatasan fisik siswa yang bersangkutan. Dalam hal ini terlebih dahulu siswa diberikan persyaratan dan aturan yang harus ditaati ketika mengikuti e-learning. Halhal yang menjadi keberatan siswa dapat didiskusikan atau dinegosiasikan dengan instruktur. Gaya belajar dan strategi belajar dapat dipilih baik oleh entitas siswa (negosiasi satu arah), instruktur (negosiasi satu arah), baik entitas siswa maupun proses instruktur (negosiasi dua arah), atau yang berwenang dari pihak eksternal (seperti orang tua, guru, institusi atau pengembang materi). 54 Gambar 20 Abstraksi proses instruktur (langkah 2 dan 3) Abstraksi proses instruktur pada langkah kedua dan ketiga ini adalah menerima informasi penilaian terbaru dari proses evaluasi (Gambar 20). Pencarian dan penelusuran informasi siswa relevan dengan pengalaman belajar terkini. Proses yang terjadi pada langkah kedua melibatkan input aliran data assessment dari proses evaluasi dan input dari aliran data learner information (history/objective) pada langkah ketiga. Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut: • Input: (LTSA): Informasi penilaian terkini (aliran data informasi penilaian) dari proses evaluasi. (E-learning Diklat): Instruktur memperoleh informasi mengenai perilaku, kinerja dan prestasi siswa dari proses evaluasi melalui aliran data informasi penilaian (assessment information). • Input: (LTSA): Informasi siswa (aliran data informasi siswa) dari penyimpanan data learner records. (E-learning Diklat): Instruktur mendapat data mengenai informasi siswa baik yang lama, baru maupun yang akan datang dari learner records. Abstraksi proses instruktur pada langkah keempat adalah mencari di sumber belajar (learning resources) melalui kueri untuk mendapatkan materi belajar yang sesuai (Gambar 21). Sumber belajar mengembalikan info katalog (disebut juga sebagai metadata objek belajar) yang telah dikirimkan instruktur yang cocok dengan kueri. Proses yang terjadi melibatkan output aliran kontrol kueri (query 55 control flow) ke penyimpanan data learning resources dan input aliran data informasi katalog dari penyimpanan data learning resources Gambar 21 Abstraksi proses instruktur (langkah 4) Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut: • Output: (LTSA): Kueri, yaitu suatu aliran kontrol, dapat dikirimkan ke penyimpanan data learning resources untuk mencari materi belajar (yang sesuai) (E-learning Diklat): Instruktur e-learning mengirimkan permintaan materi belajar (kueri) ke learning resources. • Input: (LTSA): Penyimpanan data learning resources dapat mengembalikan informasi katalog (aliran data informasi katalog), yaitu daftar locator yang cocok dengan kueri pencarian. (E-learning Diklat): Instruktur e-learning mendapatkan informasi materi belajar yang sesuai dengan kueri melalui aliran data informasi katalog. Abstraksi proses instruktur pada langkah kelima ini ialah mengekstrak locator (yaitu URL) dari info katalog yang telah ditemukan (metadata objek belajar) kemudian mengirimkan locator ke proses delivery untuk menunjukkan pengalaman belajar (Gambar 22). Proses yang terjadi melibatkan output aliran data locator ke proses delivery. 56 Gambar 22 Abstraksi proses instruktur, langkah 5 Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut: • Output: (LTSA): Locator (seperti rencana belajar, penunjuk untuk materi belajar) dapat dikirimkan melalui aliran data locator ke proses delivery. (E-learning Diklat): Instruktur mengirimkan rencana pembelajaran melalui aliran data locator ke proses delivery untuk menentukan materi yang sesuai dengan topik pelatihan. 4.3.3.12 Query (kueri) Query adalah aliran kontrol satu arah dari proses instruktur ke sumber belajar yang menyajikan permintaan pencarian untuk materi belajar (Gambar 23). Aliran ini (permintaan pencarian) adalah sebuah aliran kontrol dan bukan sebuah aliran data karena aliran (kueri LTSA) tidak menyajikan input atau data yang disimpan di dalam tempat penyimpanan data. Aliran kontrol kueri melakukan permintaan pencarian ketika mencari materi belajar yang sesuai di dalam sumber belajar. Tipe informasi sebuah kueri (melalui control flow) adalah satu set kriteria pencarian. Kueri dapat menspesifikasikan kriteria pencarian berdasarkan, antara lain, parameter belajar, informasi penilaian, dan informasi siswa. Secara khusus, kueri adalah pencarian untuk materi belajar yang sesuai untuk seorang entitas siswa. 57 Gambar 23 Abstraksi control flow kueri Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, instruktur mengirimkan permintaan pencarian materi belajar yang sesuai untuk siswa berdasarkan topik pelatihan yang diikutinya. Permintaan pencarian ini dikirimkan melalui aliran kontrol kueri kepada learning resources. 4.3.3.13 Learning resources (sumber belajar) Gambar 24 Abstraksi data store sumber belajar Learning resources adalah suatu penyimpanan data yang dapat menyertakan representasi ilmu pengetahuan, presentasi, tutorial, tutor, peralatan, eksperimen, laboratorium, dan materi belajar lainnya (Gambar 24). Ia merupakan suatu database yang menyajikan “knowledge”, informasi, dan sumber lainnya yang digunakan dalam belajar. Learning resources dapat disajikan dalam bentuk presentasi, tutorial, dan pelajaran. Proses yang terjadi melibatkan input aliran kontrol kueri dari proses coach, output aliran data catalog info ke proses coach, input aliran kontrol locator 58 dari proses delivery dan output aliran data learning content ke proses delivery. Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut: • Retrieve: (LTSA): Dapat dicari oleh kueri (melalui aliran kontrol). (E-learning Diklat): Penelusuran dilakukan oleh instruktur e-learning melalui kueri. • Retrieve: (LTSA): Informasi yang cocok dikembalikan melalui aliran data info katalog, contohnya satu set tags yang secara konsep sama seperti entri ”kartu katalog” (juga dikenal sebagai “metadata objek belajar”). Locator (secara konseptual, “nomor panggil” di punggung buku dari “koleksi buku di sebuah perpustakaan digital”, contohnya URL) dapat diekstraksi dari informasi katalog. (E-learning Diklat): Informasi mengenai materi belajar yang dibutuhkan oleh instruktur yang telah diterjemahkan dalam bentuk kueri dikembalikan oleh aliran data info katalog. • Retrieve: (LTSA): Locator dapat dipakai oleh proses delivery untuk menelusur materi belajar. (E-learning Diklat): Instruktur yang telah mendapatkan informasi materi belajar yang sesuai dapat meneruskan pencarian melalui locator di dalam proses delivery. • Retrieve: (LTSA): Materi belajar yang telah ditelusur dikembalikan melalui aliran data materi belajar. (E-learning Diklat): Materi belajar yang telah ditelusur oleh instruktur e-learning dikembalikan melalui aliran data materi belajar (learning content data flow). 4.3.3.14 Catalog information (Informasi katalog) Catalog information adalah aliran data satu arah dari sumber belajar kepada proses Instruktur yang menyajikan hasil pencarian penyimpanan data learning resources, sebagaimana diarahkan oleh aliran kontrol kueri (Gambar 25). 59 Gambar 25 Abstraksi data flow informasi katalog Aliran data ini menyajikan “card catalog”, yaitu informasi mengenai materi belajar di dalam learning resources. Tipe informasinya adalah informasi yang menggambarkan sumber belajar. Informasi katalog juga dikenal sebagai “metadata objek belajar”. Informasi katalog sama dengan entri kartu katalog di dalam sebuah perpustakaan. Sebagai respon terhadap kueri, ada kemungkinan untuk mengembalikan materi belajar keseluruhan yang telah tertanam dalam informasi katalog (melalui aliran data info katalog). Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, instruktur mendapatkan informasi materi belajar dari learning resources melalui aliran data informasi katalog. 4.3.3.15 Locator sent by coach (Locator yang dikirim oleh instruktur) Locator sent by coach adalah aliran data satu arah dari proses instruktur ke proses delivery yang mengidentifikasikan atau menunjukkan materi belajar (Gambar 26). Aliran data ini menyajikan “nomor panggil” materi belajar di dalam learning resources. Sistem yang berbasis web biasanya menggunakan URL untuk locator. Tipe informasinya adalah identifier atau penunjuk. Menggunakan analogi dalam perpustakaan, locator sama dengan “nomor panggil” pada sistem kartu katalog. Aliran data locator ini (dari proses instruktur ke proses delivery) sama dengan tipe informasi aliran kontrol locator dari proses delivery ke learning resources. 60 Gambar 26 Abstraksi data flow locator yang dikirim oleh instruktur Contohnya adalah URL, URN, pathname. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, instruktur mengirimkan locator ke proses delivery untuk memberikan petunjuk mengenai materi belajar yang dibutuhkan. 4.3.3.16 Locator sent by delivery (Locator yang dikirim oleh delivery) Gambar 27 Abstraksi control flow locator yang dikirim oleh proses delivery Locator sent by delivery adalah aliran kontrol satu arah dari proses delivery ke penyimpanan data learning resources, yaitu suatu aliran kontrol yang berisi identifikasi locator atau penunjuk ke learning resources (Gambar 27). Aliran ini (locator yang mengidentifikasi materi belajar untuk ditelusur) adalah suatu aliran kontrol dan bukan aliran data karena aliran ini (aliran locator) tidak mewakili input atau data yang disimpan didalam penyimpanan data. Dalam subklausa sebelumnya, locator adalah suatu aliran data didalam konteks instruktur ke delivery. Konsep aliran data vs. aliran kontrol bersifat kontekstual. Tipe Informasinya identifier atau penunjuk. Contohnya adalah suatu web URL. 61 Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, locator ini adalah aliran kontrol satu arah dari proses delivery ke learning resources. 4.3.3.17 Learning content (materi belajar) Gambar 28 Abstraksi data flow learning content Learning content adalah aliran data satu arah yang diidentifikasikan atau direferensikan oleh aliran kontrol locator, yang ditelusur oleh penyimpanan data learning resources, dan diubah oleh proses delivery menjadi suatu pengalaman belajar dengan multimedia interaktif (contoh: dikirimkan melalui aliran data multimedia, aliran data konteks interaksi, dan aliran data perilaku siswa) (Gambar 28). Dengan kata lain, terjadi pengkodean materi yang berasal dari learning resources. Materi belajar dapat berupa pelajaran, presentasi, tutorial, tutor, dan eksperimen. Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, aliran data materi belajar (learning content) membawa informasi mengenai materi belajar yang sesuai dengan topik pelatihan kepada proses delivery untuk diubah kedalam format multimedia. 4.3.3.18 Delivery (penyampaian atau pengiriman) Delivery adalah suatu abstraksi proses yang mengubah informasi yang diperoleh melalui materi belajar menjadi suatu presentasi, yang dapat dikirimkan ke entitas siswa melalui aliran data multimedia (Gambar 29). Proses delivery menelusur materi belajar dari learning resources berdasarkan locator dan mengubah bentuk materi belajar menjadi presentasi multimedia. Presentasi yang dihasilkan bisa statis, interaktif, kolaboratif, melibatkan eksperimen dan penemuan. 62 Gambar 29 Abstraksi proses delivery Proses yang terjadi melibatkan input aliran data locator dari proses coach, input aliran data learning content ke proses delivery, output control flow locator ke learning resources, output aliran data multimedia ke proses entitas siswa, dan output aliran data interaction context ke proses evaluasi. Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut: • Input: (LTSA): dapat menerima locator (melalui aliran data locator) dari proses instruktur. (E-learning Diklat): proses delivery menerima masukan dari instruktur mengenai materi belajar yang sesuai dengan pelatihan. • Input: (LTSA): dapat menerima materi belajar yang telah ditelusur (melalui aliran data materi belajar) dan dapat mengubah materi belajar menjadi presentasi multimedia untuk entitas siswa. (E-learning Diklat): proses delivery mengubah materi belajar yang telah dipilihkan oleh instruktur menjadi presentasi multimedia. • Output: (LTSA): dapat menggunakan locator (melalui aliran kontrol) untuk menelusur materi belajar dari penyimpanan data learning resources. (E-learning Diklat): instruktur menelusur materi belajar dari sumber belajar (learning resources). 63 • Output: (LTSA): dapat mengirimkan multimedia (melalui aliran data multimedia) ke entitas siswa. (E-learning Diklat): proses delivery mengirimkan multimedia ke siswa e-learning. • Output: (LTSA): dapat mengirimkan konteks interaksi (melalui aliran data konteks interaksi) ke proses evaluasi. (E-learning Diklat): proses delivery mengirimkan konteks interaksi antara siswa e-learning dengan multimedia kepada proses evaluasi. Dalam sistem implementasi aktual, proses delivery dapat dikombinasikan dengan proses evaluasi untuk mendapatkan kesamaan yang erat agar mendapatkan pengalaman belajar yang responsif dan interaktif. Metode implementasi proses delivery dapat sangat bervariasi, contohnya presentasi dan pertanyaan, intelligent tutoring system, konferensi melalui video, dengan tutor manusia, dan mengubah suatu ontologi (suatu model konseptual untuk subjek yang direpresentasikan sebagai materi belajar yang bersifat generik) menjadi suatu presentasi, diantara banyak kemungkinan. Metode tranformasi materi belajar menjadi bentuk multimedia, tidak ditentukan. 4.3.3.19 Interaction context (konteks interaksi) Interaction context adalah aliran data satu arah dari proses delivery ke proses evaluasi yang dapat menyediakan informasi (contohnya suatu kerangka kerja) yang penting untuk proses evaluasi menerjemahkan informasi yang disuplai oleh aliran data behavior (Gambar 30). Konteks materi belajar dikirimkan ke proses evaluasi untuk menghubungkan presentasi multimedia dengan respon perilaku entitas siswa. Tipe informasinya adalah informasi kontekstual, seperti nama dan pola respon. Ketika proses delivery mengirimkan multimedia interaktif kepada entitas siswa, proses evaluasi mengharapkan adanya respon perilaku terhadap multimedia tersebut. Proses evaluasi mungkin tidak dapat menginterpretasikan perilaku tanpa konteks, sehingga proses delivery mengirimkan informasi kontekstual (contoh 64 yang mungkin, materi belajar itu sendiri) kepada proses evaluasi sehingga interaksi dari konteks entitas siswa dapat dipahami. Gambar 30 Abstraksi data flow konteks interaksi Didalam e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, respon siswa e-learning setelah mengakses presentasi multimedia dikirimkan ke proses evaluasi melalui interaction context data flow. Aliran data konteks interaksi ini untuk menginterpretasikan interaksi siswa dengan materi belajar (multimedia) dalam suatu konteks sehingga perilaku siswa dapat dipahami. Berdasarkan analisis pada komponen-komponen sistem LTSA (layer 3) seperti telah diuraikan pada sub-sub-bab 4.3.3.1 s.d. 4.3.3.19 maka dilakukan pemetaan terhadap kondisi terkini e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Pemetaan tersebut mendapatkan hasil bahwa dari 16 (enam belas) komponen yang ada dalam standar LTSA hanya 5 (lima) komponen yang terpenuhi oleh e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Kelima komponen tersebut yaitu leaner entity, coach, evaluation, multimedia, dan learning content. Tabel 7 menunjukkan pemetaan komponen sistem LTSA terhadap e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Berdasarkan tabel 7 mengenai pemetaan komponen LTSA terhadap e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, maka komponen LTSA yang ada pada e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan adalah learner entity, coach, evaluation, multimedia dan learning content, sedangkan komponen yang tidak ada yaitu delivery, learning resources, learner records, interaction context, behavior, learning parameters, assessment, learner information, locator, catalog information dan query. 65 Tabel 7 Pemetaan komponen LTSA terhadap e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan 1. Learner entity proses Kondisi terkini e-learning Diklat √ 2. Coach proses √ 3. Delivery proses - 4. Evaluation proses √ 5. Learning resources data store - 6. Learner records data store - 7. Multimedia data flow √ 8. Interaction context data flow - 9. Behavior data flow - 10. Learning parameters data flow - 11. Assessment data flow - 12. Learner information data flow - 13. Locator data flow - 14. Learning content data flow √ 15. Catalog information data flow - 16. Query control flow - No. Komponen-komponen LTSA (Layer 3) Tipe 4.3.4 Layer 4: Stakeholder perspective and priorities (Perspektif dan prioritas pemangku kepentingan) Setiap stakeholder memiliki perspektif yang penting dan memiliki legitimasi. Namun, masing-masing stakeholder memiliki persepsi yang berbeda mengenai sistem teknologi pembelajaran. Perspektif dan prioritas stakeholder digambarkan menggunakan notasi yang spesifik di dalam LTSA. Komponen sistem LTSA adalah abstraksi yang diimplementasikan ke dalam berbagai perspektif stakeholder (Gambar 31). Perspektif stakeholder (layer 4) adalah bagian dari komponen sistem LTSA yang mewakili implementasi dari layer 3 LTSA. Identifikasi perspektif dan prioritas stakeholder membutuhkan metode analisis. Hasil dari analisis dapat mengidentifikasi: • Komponen sistem LTSA yang menarik minat stakeholder. • Sejauh mana “kepentingan relatif” komponen sistem LTSA. 66 • Interoperability interface yang penting bagi stakeholder. Gambar 31 Abstraksi komponen sistem LTSA diimplementasikan ke dalam berbagai perspektif stakeholder (layer 4) Berdasarkan kondisi yang ada saat ini dalam pengembangan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI, maka komponen yang telah ada adalah calon peserta, SDM Pengelola, instruktur, konten e-learning, learning management system, dan website Pusdiklat. Dari komponen yang telah ada ini dapat dianalisis perspektif dan prioritas stakeholder di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI. Komponen-komponen yang telah ada tersebut dapat dipetakan ke beberapa komponen sistem LTSA (layer 3) yaitu: a) calon peserta diklat dipetakan ke entity learner; b) SDM pengelola dipetakan ke Evaluation; c) instruktur dipetakan ke coach; d) konten e-learning dipetakan ke learning content dan multimedia. E-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan telah memiliki learning management system yang diletakkan di website Pusdiklat, sehingga komponenkomponen yang telah ada ini dapat dipetakan kepada salah satu contoh ilustrasi implementasi komponen-komponen sistem yang ada dalam standar LTSA yaitu web browser 2. Web browser merupakan salah satu contoh integrasi yang sangat erat (tight component integration) terhadap seluruh komponen-komponen sistem yang ada pada standar LTSA sehingga dapat dijadikan acuan untuk membuat 2 Web browser adalah istilah dalam LTSA yang mengacu pada LMS berbasis web. 67 desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai dengan standar LTSA. 4.3.5 Pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dilakukan setelah mendapatkan hasil dari analisis terhadap layer 1 s.d. 4 dari LTSA dibandingkan dengan kondisi yang ada pada e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Berdasarkan analisis tersebut didapatkan hasil bahwa web browser merupakan contoh yang tepat untuk dijadikan acuan dalam pembuatan desain e-learning Diklat ini karena dapat memetakan seluruh komponen sistem LTSA. Gambar 32 Pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA (IEEE, 2002). Gambar 32 menyajikan ilustrasi pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA. Komponen “human” dalam web browser dipetakan kepada learner entity dalam komponen sistem LTSA. behavior dan multimedia. “Human interface” dipetakan kepada Presentation tool (browser) dipetakan kepada evaluation, assessment, coach, locator, dan delivery. “Courseware database” dipetakan kepada learning resources. “Student records” (database) dipetakan kepada learner records. Tabel 8 memperlihatkan pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA. 68 Tabel 8 Pemetaan Web Browser Terhadap Komponen Sistem LTSA Web Browser No. 1. Human Komponen Sistem LTSA Learner Entity 2. Human interface Behavior dan multimedia 3. Presentation tool (web browser) 4. Courseware database Evaluation, assessment, coach, locator, dan delivery Learning resources 5. Student records Learner records Gambar 33 berikut ini adalah pemetaan sekaligus desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dengan mengacu pada pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA: Gambar 33 Desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan mengacu pada pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA 1) Human Human atau manusia di dalam komponen sistem LTSA diwakili oleh learner entity atau entitas siswa. Dalam desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan ini maka entitas siswa dipetakan ke peserta pelatihan (siswa). Ketika siswa mendaftar untuk mengikuti e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan maka ia berada dalam suatu lingkungan pelatihan dan akan berinteraksi dengan administrator, instruktur, materi pelatihan, dan siswa lainnya. Beberapa ketentuan yang terkait dengan siswa e-learning yaitu: 69 a) Siswa harus memiliki atau dapat mengakses komputer yang menggunakan Sistem Operasi Windows yang dilengkapi dengan aplikasi web browser. b) Sebelum mengikuti e-learning, siswa diharuskan mendaftar dan bila telah mendapatkan persetujuan dari administrator (admin) akan mendapatkan password melalui e-mail. c) Siswa menerima materi pelatihan melalui presentasi multimedia yang berasal dari proses delivery melalui multimedia data flow. d) Siswa diharuskan mengikuti pre-test sebelum mengikuti materi pelatihan dan mengikuti post-test setelah mengikuti materi pelatihan. e) Perilaku siswa akan diamati dan dilaporkan melalui behavior data flow ke proses evaluasi. f) Respon siswa e-learning setelah mengakses presentasi multimedia dikirimkan ke proses evaluasi melalui interaction context data flow. Aliran data konteks interaksi ini untuk menginterpretasikan interaksi siswa dengan materi belajar (multimedia) dalam suatu konteks sehingga perilaku siswa dapat dipahami. g) Siswa dapat berdiskusi dengan instruktur mengenai parameter belajarnya melalui learning parameters data flow 2) Human Interface atau Antarmuka Pengguna Interaksi yang terjadi antara siswa dengan sistem e-learning memerlukan human interface (antarmuka pengguna). Dalam hal ini yang menjadi interface adalah sistem operasi Windows, yang memungkinkan siswa mengakses materi pelatihan yang berbentuk multimedia dan memungkinkan sistem mencatat perilaku siswa (behavior) selama berinteraksi dengan sistem. Behavior atau perilaku siswa dalam standar LTSA adalah aliran data dari proses entitas siswa menuju proses evaluasi yang membawa informasi mengenai aktivitas dan perilaku siswa yang akan dinilai oleh proses evaluasi. Jadi ketika siswa sudah berhasil mengakses materi e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan melalui aliran data multimedia yang menyajikan presentasi berupa video, audio, teks, dan grafik dari proses delivery ke entitas siswa, maka perilakunya diamati termasuk berapa kali mengakses materi pelatihan, mengikuti ujian dan kuis, melakukan diskusi dengan instruktur dan siswa lain, serta respon siswa berupa suara, tulisan dan penggunaan keyboard dan mouse. 70 Di dalam sistem teknologi pembelajaran seperti e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan ini, implementasi aliran data multimedia sangat erat kaitannya dengan implementasi aliran data behavior untuk memperbaiki respon siswa terhadap sistem teknologi pembelajaran. 3) Presentation Tool (browser) Presentation Tool menyajikan lingkungan pelatihan e-learning yang berupa web browser yang dapat diakses oleh siswa. Presentation tool (browser) terdiri atas beberapa komponen sistem LTSA: a. Evaluation Evaluation atau proses evaluasi adalah proses yang menghasilkan ukuran/penilaian atas entitas siswa. Desain evaluasi untuk e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan memperhatikan ketentuan sebagai berikut:  Soal evaluasi dibuat oleh instruktur  Evaluasi dilakukan secara online yang terdiri dari pre-test, formative-test dan post-test  Waktu menjawab sebuah tes evaluasi ditentukan  Setiap tes evaluasi untuk sebuah materi terdiri atas beberapa set soal untuk menghindari siswa mengerjakan set soal sama lebih dari 1 kali  Jawaban siswa akan disimpan di dalam penyimpanan data Data Siswa b. Assessment Assessment adalah aliran data dari proses evaluasi ke proses instruktur yang menyajikan informasi mengenai kondisi terkini perilaku siswa seperti waktu yang dibutuhkan untuk menjawab soal, jumlah jawaban yang benar, materi apa yang telah diambil, nilai total dsb. Informasi ini akan dikirimkan oleh admin kepada instruktur. Instruktur akan mengolah informasi tersebut dan melakukan analisa seperti apakah perlu dilakukan perubahan parameter belajar, materi atau rujukan tambahan yang perlu diberikan kepada siswa untuk memperbaiki kinerja siswa selanjutnya. Informasi ini selain dikirimkan oleh admin, instruktur dapat melihatnya sendiri di penyimpanan data siswa (learner records). c. Coach Coach atau instruktur adalah suatu proses dalam komponen sistem LTSA tempat mengalirnya beberapa aliran data dan aliran kontrol sehingga menjadi 71 tempat bergabungnya informasi dari berbagai sumber seperti entitas siswa (parameter belajar), proses evaluasi (assessment), dan penyimpanan data sumber belajar (aliran kontrol kueri dan aliran data informasi katalog). Proses coach (instruktur) dapat menggunakan informasi ini untuk mencari (kueri) dan memilih (baik aliran data locator maupun aliran kontrol locator) materi pelatihan di learning resources (melalui proses delivery dan aliran data multimedia) dan menjadikannya sebagai satu set pengalaman belajar. Instruktur berperan seperti halnya guru di dalam kelas konvensional. Ia bertanggung jawab atas pembuatan maupun perubahan materi pelatihan, pembuatan soal, melakukan analisa terhadap prestasi siswa dan menyediakan waktu untuk membimbing siswa memahami materi pelatihan dengan cara menjawab pertanyaan siswa, menjadi fasilitator dalam forum diskusi, memberi informasi tentang bahan rujukan tambahan. Dalam kaitannya dengan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, instruktur harus berlatar belakang salah satu ilmu yang diajarkan dalam kurikulum e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Ia juga menguasai bidang yang akan diajarnya serta mempunyai kemampuan teknis dalam pembuatan materi pelatihan dan menggunakan perangkat teknologi informasi yang dapat menunjang tugasnya. d. Locator Instruktur mengirimkan aliran data locator ke proses delivery untuk mendapat petunjuk mengenai kode materi pelatihan. Selain Locator yang berupa aliran data, ada locator yang berupa aliran kontrol, yaitu yang dikirimkan oleh proses delivery ke learning resources. Hasilnya adalah identifikasi materi belajar untuk ditelusur di dalam learning resources. e. Delivery Delivery adalah suatu abstraksi proses yang mengubah informasi yang diperoleh melalui materi pelatihan menjadi suatu presentasi, yang dapat dikirimkan ke entitas siswa melalui aliran data multimedia. Materi yang dikirimkan bisa berbentuk teks, grafik, power point, audio maupun video, yang kesemuanya harus menggunakan format penyampaian berbasis web. 72 Proses delivery dapat dikombinasikan dengan proses evaluasi melalui aliran data interaction context untuk mendapatkan kesamaan yang erat agar mendapatkan pengalaman belajar yang responsif dan interaktif. Metode implementasi proses delivery dapat sangat bervariasi, contohnya presentasi dan pertanyaan, konferensi melalui video, dengan tutor manusia, dan mengubah suatu ontologi menjadi suatu presentasi, dan sebagainya. 4). Courseware database (web servers) atau database pelatihan Courseware database atau database pelatihan dipetakan ke learning resources atau database sumber belajar. Learning resources adalah suatu tempat penyimpanan data sumber belajar. Didalamnya tersimpan materi pelatihan, link ke jurnal elektronik, presentasi, tutorial, tutor, peralatan, eksperimen, laboratorium dan materi belajar lainnya. Learning resources tersimpan dalam database server. 5) Student records (database) atau data siswa Student records (database) dipetakan ke learner records atau database siswa dalam komponen sistem LTSA. Seluruh data siswa akan tersimpan dalam database siswa ini seperti profil, kinerja, dan preferences. Database siswa akan disimpan di dalam database server. Pemutakhiran data siswa menjadi hak dari administrator sedangkan instruktur hanya boleh membaca informasi yang terkandung didalamnya saja. Siswa juga boleh membaca biodata rekan-rekannya sesama siswa pelatihan dan memutakhirkan data dirinya. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) E-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI belum sesuai dengan standar LTSA. Dari 16 komponen sistem LTSA (layer 3) hanya 5 komponen saja yang terpenuhi oleh e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, yaitu entitas siswa (leaner entity), instruktur (coach), evaluasi (evaluation), multimedia, dan materi belajar (learning content) sedangkan komponen yang belum ada adalah: pengiriman (delivery), data siswa (learner record), sumber belajar (learning resources), perilaku (behavior), penilaian (assessment), informasi siswa (learner information), kueri (query), info katalog (catalog info), locator, konteks interaksi (interaction context) dan parameter belajar (learning parameters). 2) Analisis terhadap layer 1 s.d 4 standar LTSA dibandingkan dengan kondisi elearning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI mendapatkan hasil bahwa web browser merupakan contoh yang sesuai untuk mengembangkan e-learning ini karena pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA menghasilkan integrasi yang sangat erat. 3) Pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan mengacu kepada pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA. 4) Desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan ini dapat dijadikan rekomendasi dalam pengembangan e-learning diklat tersebut dan menjadi pedoman bagi pengembangan e-learning diklat perpustakaan lainnya. 5.2 Saran/rekomendasi 1) Desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai dengan standar LTSA hendaknya dapat dijadikan acuan untuk 74 mengembangkan e-learning diklat tersebut di Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Perpustakaan Nasional RI. 2) Jika Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI ingin e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan sesuai dengan standar LTSA yang memiliki interoperabilitas yang tinggi, maka desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai dengan standar LTSA harus segera direalisasikan. 3) Proses pendeskripsian komponen operasional dan interoperability sistem hendaknya mengacu pada layer 5 standar LTSA dan dapat menjadi bahan penelitian selanjutnya. ANALISIS DAN DESAIN E-LEARNING DIKLAT TEKNIS PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN MENGGUNAKAN STANDAR LEARNING TECHNOLOGY SYSTEM ARCHITECTURE (IEEE P1484.1) SRI PALUPI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 75 DAFTAR PUSTAKA Clark R, Mayer RE. 2008. E-learning and the Science of Instruction (2nd ed). San Francisco: Jossey-Bass. Effendy E, Zhuang H. 2005. E-learning: Konsep dan Aplikasinya. Yogyakarta: ANDI. Fadjriya A. 2001. Perancangan E-Training Berbasis Web Menggunakan Standard “Learning Technology System Architecture” Studi Kasus: PT. Harrisma Service Centre [tesis]. Jakarta: Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia. Graf S, List B. 2005. An Evaluation of Open Source E-Learning Platforms Stressing Adaptation Issues. http://www.about-elearning.com/definition-of-e-learning.html [diakses pada 9 April 2010] http://kelembagaan.pnri.go.id/about_us/task/idx_id.asp [diakses pada 22 Januari 2010] http://npp.pnri.go.id/npp/main/index.php?module=rptprop [diakses pada 13 April 2012] [IEEE]. The Institute of Electrical and Electronics Engineers. 2002. IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28 Draft Standard for LearningTechnology -Learning Technology Systems Architecture (LTSA). http://isotc.iso.org/livelink/livelink [diakses pada 13 April 2010] Kartini et al. 2004. Kebijakan Teknis di Bidang Diklat Kepustakawanan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. Mason R, Frank R. 2009. Elearning. London-New York: Taylor Francis. [Perpusnas] Perpustakaan Nasional RI. 2002. Kajian Kebutuhan dan Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Kepustakawanan. Jakarta: Perpusnas. [Perpusnas] Perpustakaan Nasional RI. 2004. Kurikulum dan Garis-garis Besar Program Pembelajaran Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Jakarta: Perpusnas. [Perpusnas] Perpustakaan Nasional RI. 2009. Rencana Strategis Perpustakaan Nasional RI Tahun 2010-2014. Jakarta: Perpusnas. 76 [Perpusnas] Perpustakaan Nasional RI. 2009. Rencana Strategis Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI Tahun 2010-2014. Jakarta: Perpusnas. [Perpusnas] Perpustakaan Nasional RI. 2010. Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang pedoman evaluasi pendidikan dan pelatihan tenaga perpustakaan. Jakarta: Perpusnas. Soekartawi A, Haryono F, Libero. 2002. Greater Learning Opportunities Through Distance Education: Experiences in Indonesia and the Philippines. Journal of Southeast Asian Education. Vol. 3 No.2. Tafiardi. 2005. Meningkatkan Mutu Pendidikan Melalui E-Learning. Jurnal Pendidikan Penabur. Vol. 4:85-97. Utami R, Rustam R, Syarif A. 2006. Web Aplikasi Educourse (Distance Learning) Mengadopsi Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1/D11). Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2006 (SNATI 2006) Wahono RS. 2005. Memilih Sistem E-learning Berbasis Open Source. http://pustaka.ictsleman.net/informatika/file_hw/e_learning/3_Memilih_siste m_elearning_open_source.pdf [diakses pada 25 April 2010] 77 Lampiran 1 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Kebijakan Institusional dalam Pengembangan Perpustakaan : Kebijakan Institusional dalam Pengembangan Perpustakaan Deskripsi Singkat : Materi ini meliputi kebijakan institusional dalam pengembangan perpustakaan. Tujuan Pembelajaran Umum : Peserta mampu menjelaskan kebijakan institusional dalam pengembangan perpustakaan. Mata Ajar Diklat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 1. Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Peserta mampu menjelaskan kebijakan institusional dalam pengembangan perpustakaan Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 a. Landasan institusional dalam pengembangan perpustakaan 1) Dasar hukum 2) Kedudukan 3) Tugas Pokok 4) Fungsi dan kewenangan b. Pola pengembangan dan pemberdayaan perpustakaan 1 1 Jumlah b. Metode c. Media d. Daftar pustaka Alokasi Waktu (Jamlat) 5 2 : Ceramah, tanya jawab : OHP, Komputer, LCD Proyektor : i. Peraturan perundang-undangan dibidang perpustakaan ii. Kamah I. 2002. Pola dan Strategi Pengembangan Perpustakaan dan Pembinaan Minat Baca. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI 78 Lampiran 2 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Pengantar Ilmu Perpustakaan : Pengantar Ilmu Perpustakaan : Materi ini meliputi pengertian, sejarah, jenis perpustakaan, tugas dan fungsi, aspek-aspek perpustakaan, kerja sama perpustakaan, jabatan fungsional pustakawan, pendidikan dan pelatihan kepustakawanan dan organisasi profesi pustakawan Tujuan Pembelajaran Umum : Peserta mampu menjelaskan kebijakan institusional dalam pengembangan perpustakaan. Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 1. Peserta mampu menjelaskan tentang perpustakaan, dokumentasi, informasi Pengertian perpustakaan, dokumentasi, informasi dan arsip 2. Peserta mampu menjelaskan sejarah perpustakaan Sejarah perpustakaan 3. Peserta mampu menjelaskan jenisjenis perpustakaan. Jenis-jenis perpustakaan 4. Peserta mampu menjelaskan tugas dan fungsi perpustakaan Tugas dan fungsi perpustakaan a. Pengertian perpustakaan b. Pengertian dokumentasi c. Pengertian arsip a. Asal-usul perpustakaan b. Perkembangan perpustakaan a. Perpustakaan Nasional b. Perpustakaan Umum c. Perpustakaan Khusus d. Perpustakaan Perguruan Tinggi e. Perpustakaan sekolah Tugas dan fungsi berbagai jenis perpustakaan Alokasi Waktu (Jamlat) 5 1 1 1 1 79 5. Peserta mampu menjelaskan aspekaspek perpustakaan Aspek-aspek perpustakaan 6. Peserta mampu menjelaskan kerja sama perpustakaan Kerja sama perpustakaan 7. Peserta mampu menjelaskan tentang jabatan fungsional pustakawan Jabatan fungsional pustakawan a. Organisasi perpustakaan b. Gedung/ ruang perpustakaan c. Koleksi perpustakaan d. Perabot dan perlengkapan perpustakaan e. Tenaga pengelola perpustakaan f. Sistem dan metode layanan perpustakaan g. Anggaran perpustakaan a. latar belakang kerja sama b. Pengertian kerja sama c. Syarat kerja sama d. Bentuk kerja sama a. Pengertian jabatan fungsional pustakawan b. Rumpun jabatan, instansi pembina, kedudukan dan tugas pokok. c. Jenjang jabatan/ pangkat d. Pustakawan e. Pejabat yang berwenang mengangkat dan memberhentikan dalam dan dari 2 1 1 80 8. Peserta mampu menjelaskan perkembangan pendidikan dan pelatihan perpustakaan di Indonesia Perkembangan pendidikan dan pelatihan perpustakaan di Indonesia 9. Peserta mampu menjelaskan organisasi profesi kepustakawanan Organisasi profesi kepustakawanan b. Metode c. Media d. Daftar pustaka jabatan. a. Sejarah pendidikan dan pelatihan perpustakaan b. Jenis-jenis diklat fungsional dan teknis kepustakawanan a. Organisasi profesi kepustakawa nan Indonesia b. Peranan dan kode etik pustakawan Indonesia c. Organisasi profesi perpustakaan regional dan internasional (CONSAL, IFLA) Jumlah 1 1 10 : Ceramah, diskusi, tanya jawab : OHP, LCD : i. Darmono. 2001. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Gramedia. ii. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah diubah dengan Kepres No. 9 Th. 2004. iii. Kepres No. 110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah diubah dengan Kepres No.11 Tahun 2004. iv. Sulistyo-Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan Jakarta: Gramedia. 81 Lampiran 3 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Pengembangan Koleksi : Pengembangan Koleksi : Materi ini meliputi pengertian, kebijakan dalam pengembangan koleksi, pengenalan jenis alat seleksi, pengadaan, inventarisasi, penyiangan dan pembuatan laporan pengembangan koleksi. Tujuan Pembelajaran Umum : Peserta mampu melaksanakan pengembangan koleksi perpustakaan. Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 1. Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Peserta mampu menjelaskan kebijakan dalam pengembangan koleksi Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Alokasi Waktu 3 4 5 Pengertian dan kebijakan pengembangan koleksi a. Pengertian pengembang -an koleksi b. Kebijakan pengembang -an koleksi a.segi jenisnya b.segi layanan c.segi hasil karya d.segi kualitas cetakan e.segi isi f.segi pembaca a.Prinsip seleksi bahan pustaka b.Proses seleksi bahan pustaka a.Jenis alat bantu seleksi b.Fungsi alat bantu seleksi c.Penggunaan alat seleksi 1 Jenis koleksi 2. Peserta mampu menjelaskan jenis koleksi 3. Peserta mampu menjelaskan prinsip dan proses seleksi bahan pustaka Prinsip dan proses seleksi bahan pustaka 4. Peserta dapat menggunakan alat bantu seleksi Alat bantu seleksi bahan pustaka 1 2 2 82 5. Peserta dapat menjelaskan cara pengadaan berbagai jenis- bahan pustaka Pengadaan bahan pustaka buku 6. Peserta dapat melaksanakan inventarisasi bahan pustaka Peserta dapat melaksanakan penyiangan bahan pustaka Inventarisasi bahan pustaka Peserta dapat membuat laporan pengembangan bahan pustaka Pembuatan laporan pengembangan bahan pustaka 7. 8. b. Metode c. Media d. Daftar pustaka Penyiangan bahan pustaka a.Pembelian b.Pertukaran c. Hadiah dan hibah d.Titipan e. Terbitan sendiri f. Alur kerja pengadaan bahan pustaka buku Mengerjakan buku induk buku 2 a. Kriteria penyiangan b. Proses penyiangan c. Laporan penyiangan Pembuatan laporan pengembangan bahan pustaka Jumlah 1 2 1 12 : Ceramah, tanya jawab, praktek : OHP, LCD : i. Yulia Y. 1992. Pengadaan Bahan Pustaka. Jakarta: Universitas Terbuka. ii. Edward EG. 1987. Development Library and Information Centre Collection. Library Unlimited. 83 Lampiran 4 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Katalogisasi : Katalogisasi : Bahan ajar ini meliputi pengertian, tujuan, fungsi katalog, sumber informasi untuk katalog, susunan katalog, garis besar susunan elemen deskripsi, deskripsi bibliografis buku, bibliografi terbitan berseri, penentuan tajuk, penjajaran, pembuatan kartu acuan dan pembuatan perlengkapan fisik buku. Tujuan Pembelajaran Umum : Peserta diharapkan mampu membuat katalog bahan pustaka Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 1. 2. 3. Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 Alokasi Waktu (Jamlat) 5 Peserta mampu menjelaskan pengertian katalogisasi dalam pengolahan bahan pustaka Peserta mampu menjelaskan tujuan dan fungsi katalog Pengertian katalogisasi Pengertian Katalogisasi 1 Tujuan dan fungsi katalog 1 Peserta mampu menjelaskan bentuk dan susunan katalog Bentuk dan susunan katalog a. Tujuan dan fungsi katalog b.Peranan katalog 1) Katalog sebagai sarana temu kembali informasi 2) Katalog sebagai wakil dokumen a.Bentuk katalog b.Susunan katalog 1) Katalog abjad 1 84 4. Peserta mampu menjelaskan deskripsi bibliografis monograf Deskripsi bibliografis monograf 5. Peserta mampu menentukan tajuk entri utama, dan entri tambahan Tajuk entri utama dan entri tambahan 6. Peserta mampu menentukan tajuk pengarang judul seragam, dll. Tajuk pengarang dan judul seragam 7. Peserta mampu membuat kelengkapan fisik bahan pustaka Kelengkapan fisik bahan pustaka 8. Peserta mampu menjelaskan pengertian, jenis dan peraturan penjajaran Pengertian, jenis dan peraturan penjajaran 9. Peserta mampu membuat katalog monograf Praktek membuat katalog monograf 2) Katalog terbagi 3) Katalog berkelas Garis Besar Susunan Elemen Deskripsi Bibliografis Monograf a.Pengarang tunggal b.Pengarang bersama c. Pengarang kumpulan dan karya di bawah pimpinan editor a. Tajuk nama orang b. Badan korporasi c. Kata utama 1) Judul Individual 2) Judul seragam a.Pembuatan label buku b. Pembuatan kantong buku c.Pembuatan kartu buku d.Slip tanggal kembali a. Pengertian penjajaran b. Jenis penjajaran c.Peraturan penjajaran Membuat katalog monograf Jumlah 5 2 3 1 1 9 24 85 b. Metode c. Media d. Daftar pustaka : Ceramah, tanya jawab, praktek : OHP, LCD : i. Perpustakaan Nasional RI. Peraturan Katalogisasi Indonesia. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. ii. Standar Internasional Deskripsi Bibliografi 86 Lampiran 5 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Klasifikasi dan Tajuk Subyek : Klasifikasi dan Tajuk Subyek : Bahan ajar ini meliputi pengertian, tujuan dan manfaat klasifikasi, analisis subyek, sistem klasifikasi, DDC, daftar tajuk subyek untuk perpustakaan, praktek penggunaan DDC dan tajuk subyek. Tujuan Pembelajaran Umum : Peserta mampu mengklasifikasi bahan pustaka buku dan menentukan tajuk subyek. Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 a. Pengertian klasifikasi b. Tujuan klasifikasi c. Manfaat klasifikasi a.Jenis konsep b.Jenis subyek c.Urutan sitasi d.Cara menentukan subyek e.Deskripsi indeks a. Sejarah DDC b.Penggunaan Bagan c. Penggunaan Indeks Relatif d. Penggunaan Tabel (Tabel 1- 6) a. Susunan dan peragaan Tajuk Subyek b. Perbedaan Huruf Cetak c. Prinsip Dasar Tajuk Subyek 1. Peserta mampu menjelaskan pengertian tujuan dan manfaat klasifikasi Pengertian, tujuan dan manfaat klasifikasi 2. Peserta mampu menganalisis subyek bahan pustaka Analisis subyek 3. Peserta mampu menjelaskan sejarah dan menggunakan DDC edisi ringkas Sejarah dan penggunaan Sistem Klasifikasi DDC edisi ringkas 4. Peserta mampu menggunakan Daftar Tajuk Subyek untuk Perpustakaan Daftar Tajuk Subyek untuk Perpustakaan Alokasi Waktu (Jamlat) 5 1 3 8 3 87 5. Peserta mampu mempraktekkan Klasifikasi dan Tajuk Subyek b. Metode c. Media d. Daftar pustaka Praktek Klasifikasi dan Tajuk Subyek d. Jenis Tajuk Subyek e. Pemakaian dan Penambahan Tajuk a. Praktek Klasifikasi (Tabel 1 – 6) b. Praktek Tajuk Subyek Jumlah 9 24 : Ceramah, tanya jawab, latihan, praktek : OHP, LCD, DDC, Daftar Tajuk Subyek : i. Hamakoda T. 2001. Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey. Jakarta: Gunung Mulia. ii. Perpustakaan Nasional. 1994. Terjemahan Ringkasan Klasifikasi Desimal Dewey dan Indeks Relatif disesuaikan dengan DDC 20. Jakarta: Perpustakaan Nasional iii. Perpustakaan Nasional RI. 2000. Daftar Tajuk Subyek untuk Perpustakaan. Jakarta. iv. Tairas JNB, Sukarman. 2002. Daftar Tajuk Subyek untuk Perpustakaan. Edisi ringkas. Jakarta: Gunung Mulia. 88 Lampiran 6 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Layanan Perpustakaan : Layanan Perpustakaan : Bahan ajar ini meliputi pengertian, tujuan, fungsi, unsur, jenis dan sistem layanan, serta praktek menggunakan layanan perpustakaan. Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah selesai mengikuti pelajaran ini peserta mampu melaksanakan layanan perpustakaan. Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 a. Pengertian layanan perpustakaan b.Tujuan layanan perpustakaan c. Fungsi layanan perpustakaan d.Unsur layanan perpustakaan: 1) Fasilitas 2) Koleksi 3) Petugas/ Pustakawan 4) Pemakai a. Sistem layanan terbuka b.Sistem layanan tertutup c. Sistem layanan campuran 2 a.Layanan sirkulasi b.Layanan membaca 6 1. Peserta mampu menjelaskan pengertian, tujuan, fungsi dan unsur layanan Perpustakaan Pengertian, tujuan, fungsi dan unsur layanan perpustakaan 2. Peserta mampu menjelaskan sistem layanan Perpustakaan Sistem layanan Perpustakaan 3. Peserta mampu menjelaskan berbagai jenis layanan Jenis layanan Alokasi Waktu (Jamlat) 5 2 89 4. Peserta mampu menjelaskan berbagai sistem peminjaman Sistem peminjaman 5. Peserta mampu menggunakan berbagai jenis bahan rujukan Praktek menggunakan berbagai jenis bahan rujukan c.Layanan rujukan/ referens d.Layanan ekstensi e.Layanan silang layan f.Layanan penyandang cacat g.Layanan bimbingan pembaca h.Layanan Literatur Sekunder 1) Layanan abstrak 2) Layanan indeks 3) Layanan bibliografi 4) Layanan informasi terseleksi 5) Layanan informasi Kilat a.Sistem Ledger b.Sistem Dummy c.Sistem Slip d.Sistem Kartu Buku e.Sistem Browne f.Sistem Newark g.System Detroit Praktek menggunakan: a. Kamus b. Ensiklopedi c. Direktori d. Almanak e. Biografi f. Buku statistik g. Sumber geografi (atlas dan peta) 2 6 90 6. Peserta mampu menggunakan Statistik perpustakaan b. Metode c. Media d. Daftar pustaka Statistik perpustakaan h. Sumber elektronik (CDROM, Internet) a. Statistik bahan pustaka b. Statistik anggota c. Statistik pengunjung d.Statistik layanan (misal statistik peminjam, buku yang dipinjam, dll) Jumlah 2 20 : Ceramah, tanya jawab, diskusi, praktek : OHP : i. HS Lasa. 1993. Jenis pelayanan informasi Perpustakaan. __. ii. Mustofa B. 1994. Bahan Rujukan Umum. Jakarta: Universitas Terbuka. 91 Lampiran 7 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Perawatan Bahan Pustaka : Perawatan Bahan Pustaka : Bahan ajar ini meliputi pengertian, jenis dan komponen bahan pustaka, penyebab kerusakan, pemeliharaan, dan perawatan bahan pustaka. Tujuan Pembelajaran Umum : Peserta diharapkan mampu melaksanakan perawatan bahan pustaka. Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 1. 2. 3. 4. Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 Alokasi Waktu (Jamlat) 5 Peserta mampu menjelaskan pengertian perawatan, restorasi dan reproduksi Peserta dapat membedakan jenis dan menyebutkan karakteristik tiap jenis serta komponen dalam bahan pustaka Peserta dapat menyebutkan kerusakan BP serta memonitor kondisi lingkungan penyimpanan BP Pengertian perawatan, restorasi dan reproduksi Pengertian pelestarian restorasi dan reproduksi 1 Jenis bahan pustaka a. Kertas b. Bentuk mikro c. Pita magnetic d. Piringan (disk) e. Fotografi, dll 1 Penyebab kerusakan BP 2 Peserta dapat melakukan pemeliharaan untuk mencegah kerusakan bahan pustaka Pemeliharaan/pencegahan pada bahan pustaka a.Kerusakan faktor lingkungan b.Karakteristik bahan c.Kerusakan karena faktor manusia a.Pengendalian kondisi lingkungan b. Perbaikan mutu jilidan 2 92 5. Peserta dapat melakukan survai kondisi BP dan fasilitas Pelaksanaan pelestarian BP 6. Peserta dapat melakukan konservasi BP Teknik perawatan dan pengawetan BP c.Pengerakan BP sesuai dengan jenis dan ukuran d.Penyuluhan kepada staf dan pemakai e.Penataan tempat penyimpanan BP f. Kesiapan menghadapi bencana a. Survai kondisi BP b.Survai fasilitas perpustakaan c. Penentuan prioritas BP yang akan dilestarikan a. Pembersihan debu b. Pembasmian serangga dan jamur c. Diasidifikasi d. Bleaching Jumlah b. Metode c. Media d. Daftar pustaka 1 1 8 : Ceramah, tanya jawab, diskusi, praktek : OHP : i. Razak M et al. 1992. Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip, Program Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip. Jakarta. ii. Razak M et al. 1995. Petunjuk Teknis Pelestarian Bahan Pustaka. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI. 93 Lampiran 8 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Pengantar Teknologi Informasi Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat : Pengantar Teknologi Informasi : Bahan pelajaran ini mengenalkan tentang Teknologi Informasi (khususnya otomasi perpustakaan). Materi pelajaran meliputi pengenalan komputer dan sistem komputerisasi, pengenalan format Marc, pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan, fungsi-fungsi di perpustakaan yang dapat dan perlu diotomasi, metode pengembangan otomasi perpustakaan, pemilihan sistem untuk otomasi perpustakaan, pemeliharaan sistem otomasi perpustakaan, dan gambaran umum perangkat keras dan lunak untuk otomasi perpustakaan. Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah mengikuti pelajaran ini, peserta diklat diharapkan memahami teknologi informasi (khususnya otomasi perpustakaan). Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 1. 2. Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Agar peserta diklat dapat menjelaskan pengertian otomasi perpustakaan. Agar peserta diklat dapat menjelaskan tentang sistem komputer dan otomasi perpustakaan Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 Definisi otomasi perpustakaan Pengenalan komputer dan sistem komputerisasi. Pengenalan otomasi perpustakaan Alokasi Waktu (Jamlat) 5 1 a. Sejarah komputer b.Sistem komputer c.Pemanfaatan komputer di perpustakaan d.Sejarah Marc e.Penggunaan format Marc a.Pengertian otomasi perpustakaan 1 2 94 b.Perkembangan otomasi perpustakaan 3. Agar peserta diklat dapat menjelaskan pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan b. Metode c. Media d. Daftar pustaka Pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan a.Pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan b.Fungsi- fungsi di perpustakaan yang dapat dan perlu diotomasi c.Metode pengembangan otomasi perpustakaan d.Pemilihan sistem yang akan digunakan untuk otomasi perpustakaan e.Perawatan sistem otomasi perpustakaan f. Gambaran umum perangkat keras dan lunak sistem otomasi perpustakaan 4 Jumlah 8 : Ceramah, tanya jawab, diskusi : OHP, Komputer, LCD Proyektor : - 95 Lampiran 9 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Promosi Perpustakaan : Promosi Perpustakaan : Bahan ajar ini menguraikan tentang pentingnya kegiatan pemasaran dan promosi sebuah perpustakaan, marketing mix perpustakaan dan komponen pokoknya, promotion mix perpustakaan dan beberapa fungsinya, alat-alat promosi, jenis-jenis media promosi, kegiatan-kegiatan promosi dan keuntungannya. Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah pelajaran selesai, diharapkan peserta didik dapat memahami arti pentingnya promosi bagi sebuah perpustakaan, dapat membuat perencanaan dan program promosi dan dapat melaksanakan kegiatan promosi perpustakaan secara terpadu di masing-masing perpustakaannya, serta dapat menarik pengguna/pengunjung perpustakaan sebanyakbanyaknya. Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 1. 2. 3. Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Peserta dapat menjelaskan perlunya kegiatan promosi oleh perpustakaan Peserta dapat menguraikan beberapa faktor penyebab mengapa perpustakaan tidak banyak dikenal masyarakat Peserta dapat menjelaskan tujuan Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Alokasi Waktu (Jamlat) 5 3 4 kegiatan promosi oleh perpustakaan Pengertian, peranan, fungsi, metode promosi 1 faktor penyebab mengapa perpustakaan tidak banyak dikenal masyarakat Sebab tidak dikenalnya perpustakaan 2 tujuan dan kegunaan promosi perpustakaan a.Tujuan promosi 1 96 dan kegunaan promosi perpustakaan 4. 5. 6. b.Kegunaan promosi Peserta dapat menguraikan sasaran dan objek yang dituju dalam pelaksanaan promosi perpustakaan Peserta dapat menunjukkan beberapa alat promosi perpustakaan sasaran dan objek yang dituju dalam pelaksanaan promosi perpustakaan sasaran dan objek yang dituju dalam pelaksanaan promosi perpustakaan 2 alat promosi perpustakaan 1 Peserta dapat menunjukkan jenis-jenis media promosi dan dapat menjelaskan fungsinya masingmasing jenis-jenis media promosi dan dapat menjelaskan fungsinya masingmasing pameran perpustakaan, pameran buku/ bazaar, lombalomba, spanduk, pamphlet/brosur, selebaran, poster, barangbarang gratis Majalah, radio, televisi, billboard, stiker, theatrikal, film, direct mail, dll 1 Jumlah 8 b. Metode c. Media d. Daftar pustaka : Ceramah, tanya jawab, demo, praktek : OHP, Komputer, LCD Proyektor : - 97 Lampiran 10 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Praktik Kerja Perpustakaan Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat : Praktik Kerja Perpustakaan : Praktik Kerja Perpustakaan berupa kegiatan praktik langsung mengenai teknis operasional pengelolaan perpustakaan di perpustakaan yang dianggap memadai dalam pengelolaannya. Praktik kerja meliputi kegiatan pengelolaan perpustakaan secara keseluruhan, terutama kegiatan substantif perpustakaan (pengadaan, pengolahan, pelayanan dan perawatan bahan pustaka), serta belajar pemecahan masalah pengelolaan. Tujuan Pembelajaran Umum : Peserta memperoleh pengetahuan dan pengalaman praktis tentang penyelenggaraan dalam penyelenggaraan perpustakaan. Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 1. Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Peserta mampu melaksanakan pengelolaan perpustakaan Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 Kegiatan pengadaan, pengolahan dan pelayanan bahan pustaka Pengadaan antara lain: a.Seleksi bahan pustaka b.Teknik pengadaan (pembelian, tukar menukar, hadiah) c.Inventarisasi bahan pustaka Pengolahan antara lain: a.Mengklasir b.Mengkatalog c. Membuat indeks d.Membuat sari karangan Alokasi Waktu (Jamlat) 5 6 98 2. e. kegiatan lain yang relevan a.Kebijakan b.Strategi c.Kiat praktis penyelenggaraan perpustakaan Peserta mampu menjelaskan kebijakan, strategi dan kiat praktis penyelenggaraan perpustakaan Peserta mampu bertukar pikiran (diskusi) dalam memecahkan berbagai permasalahan praktis dalam pengelolaan perpustakaan Kebijakan, strategi dan kiat praktis penyelenggaraan perpustakaan Pemecahan berbagai permasalahan praktis dalam pengelolaan perpustakaan pengolahan, pelayanan dan perawatan koleksi perpustakaan 2 4. Peserta mampu menilai dan membandingkan penyelenggaraan perpustakaan di tempat praktik kerja dengan teori yang pernah diterima dan pengalamannya dalam mengelola perpustakaan Perbandingan penyelenggara an perpustakaan di tempat praktik kerja dengan teori dan pengalaman peserta mengelola perpustakaan 2 5. Peserta mampu membuat laporan hasil praktik kerja perpustakaan Pembuatan laporan hasil praktik kerja perpustakaan Perbandingan meliputi seluruh aspek penyelenggaraan perpustakaan diantaranya yaitu: a.Gedung dan perlengkapan b.Sarana dan prasarana c.SDM d.Anggaran e.Layanan f. Koleksi Laporan meliputi format dan isi laporan sebagai berikut: a.Format laporan b.Isi laporan Jumlah 3. b. Metode c. Media d. Daftar pustaka 2 2 16 : Praktik, ceramah, diskusi, observasi, pembuatan laporan : OHP/LCD Proyektor : i. KEP MENPAN No. 132 ii. KEP MENPAN 12/2002 99 Lampiran 11 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Studi Banding Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat : Studi Banding : Metode pembelajaran Studi Banding berupa kegiatan pengamatan/ observasi langsung mengenai manajemen dan teknis operasional kegiatan perpustakaan dengan mengunjungi perpustakaan yang dianggap memadai dalam pengelolaannya. Pengamatan meliputi kondisi perpustakaan, sarana-prasarana, organisasi, manajemen perpustakaan, kegiatan substantif perpustakaan (pengadaan,pengolahan, pelayanan dan perawatan bhn pustaka) serta pemecahan berbagai masalah di perpustakaan. Tujuan Pembelajaran Umum : Tujuan Studi Banding adalah agar peserta memperoleh pengetahuan dan wawasan dalam penyelenggaraan perpustakaan. Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 1. Peserta mampu Pengamatan kondisi mengamati berbagai aspek Kondisi perpusperpustakaan takaan yang meliputi sarana- prasarana, organisasi dan manajemen perpustakaan yang dikunjungi 2. Peserta mampu menjelaskan kebijakan, strategi, visi dan misi perpustakaan yang dikunjungi Peserta mampu menjelaskan kegiatan substantif 3. Kebijakan strategi, visi dan misi perpustakaan Kegiatan substantif perpustakaan Alokasi Waktu (Jamlat) 5 Kondisi berbagai aspek aspek perpustakaan seperti sarana prasarana, organisasi dan manajemen perpustakaan yang dikunjungi Kebijakan, strategi, visi dan misi perpustakaan yang dikunjungi 2 pengadaan, pengolahan, pelayanan dan 2 2 100 4. perpustakaan (pengadaan, pengolahan, pelayanan dan perawatan koleksi perpustakaan) yang dikunjungi Peserta mampu bertukar-pikiran (diskusi) dan pandangan dalam hal pemecahan berbagai permasalahan perpustakaan b. Metode c. Media d. Daftar pustaka perawatan koleksi perpustakaan Diskusi pemecahan berbagai permasalahan perpustakaan Pemecahan berbagai permasalahan dibidang pengadaan, pengolahan, pelayanan, dan perawatan bahan pustaka Jumlah : Pengamatan, tanya jawab, diskusi : : - 2 8 101 Lampiran 12 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Diskusi : Diskusi : Kegiatan Diskusi ini bertujuan untuk memberikan kompetensi pada peserta Diklat dalam melaksanakan diskusi hasil studi banding. Kegiatan diskusi meliputi identifikasi dan analisis masalah serta merumuskan kesimpulan hasil diskusi. Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah selesai mengikuti Diskusi ini peserta diharapkan dapat berperan aktif dalam diskusi sebagai pembicara, moderator, notulis, ataupun peserta diskusi. Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 1. Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Peserta mampu mengorganisir pelaksanaan diskusi. Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 Organisasi pelaksanaan diskusi berupa penyusunan format diskusi dan tata cara diskusi. a.Penyusunan format diskusi meliputi penyusunan tempat duduk pembicara, nara sumber, moderator, notulis maupun peserta diskusi b.Tata cara diskusi berupa pembagian sesi diskusi meliputi: 1) Pembukaan Moderator 2) Penyaji 3) Tanya jawab Alokasi Waktu (Jamlat) 5 4 102 2. Peserta mampu berperan aktif dalam diskusi b. Metode c. Media d. Daftar pustaka Peserta berperan menjadi pembicara, moderator, notulis ataupun peserta diskusi : Diskusi : OHP/ LCD, White Board : - 4) Ulasan nara sumber 5) Penutup oleh moderator a. Pembicara Bertugas mempresentasikan bahan diskusi b.Moderator Bertugas mengatur jalannya diskusi, tanya jawab, dan me nyimpulkan hasil diskusi c. Notulis Bertugas mencatat segala hal yang berkaitan dengan jalannya diskusi misal anekdot kejadian dalam diskusi, mencatat isi maupun jalannya penyajian, tanya jawab, serta ulasan dan simpulan nara sumber. d.Peserta bertugas mengikuti seluruh tahap dalam kegiatan diskusi. Jumlah 2 6 103 Lampiran 13 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) Evaluasi : Evaluasi : Materi ini meliputi aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan) peserta terhadap penguasaan materi masing-masing mata ajar Diklat pada kelompok dasar, inti dan penunjang Tujuan Pembelajaran Umum : Untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pengetahuan dan wawasan peserta yang telah dimiliki sebelum Diklat dilaksanakan (tes awal/pre test) dan yang dapat diserap peserta setelah mengikuti Diklat (tes akhir/post test). Mata Ajar Diklat Deskripsi Singkat Rincian Proses Pembelajaran : a. Tujuan pembelajaran khusus, pokok bahasan, sub-pokok bahasan, dan alokasi waktu (jamlat) No. 1 Tujuan Pembelajaran Khusus 2 Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 3 4 1. Peserta mampu mengerjakan soal pretest sebelum pelajaran dimulai Tes awal sebelum pemberian materi Diklat dilaksanakan 2. Peserta mampu mengerjakan soal post test setelah akhir pelajaran Post test/ tes akhir yang dilaksanakan oleh peserta setelah peserta selesai mengikuti seluruh program Diklat. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta pada saat akan mengikuti Diklat. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan setelah mengikuti seluruh program Diklat Jumlah Alokasi Waktu (Jamlat) 5 2 2 4 104 b. Metode c. Media : Tes tertulis dengan pilihan ganda : Instrumen pretest berupa soal pilihan ganda, lembar jawaban d. Daftar pustaka : i. Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional No.42 Tahun beserta kuncinya 2001 tentang Pedoman Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan Kepustakawanan. 105 Lampiran 14 Data bibliografis modul bahan ajar Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan No. 1. 2. 3. 4. 5. Judul Pengantar Ilmu Perpustakaan Pengembangan Koleksi Katalogisasi Klasifikasi dan Tajuk Subyek Layanan Perpustakaan 6. Perawatan Bahan Pustaka 7. Pengantar Teknologi Informasi 8. 9. 10. 11. 12. Promosi Perpustakaan Praktik Kerja Perpustakaan Studi Banding Panduan Diskusi Panduan Evaluasi Pengarang Penerbit Tahun Terbit H. Suprihati, MBA Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Nurcahyono, SS Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Ahmad Masykuri, MM Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Upriyadi, M.Hum Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Yoyo Yahyono, SS Perpustakaan Nasional RI 2010 Dra. Ana Soraya, M.Si Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Joko Santoso, M.Hum Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Athaillah Baderi Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Sudarto, M.Si Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Sudarto, M.Si Perpustakaan Nasional RI 2010 Drs. Sudarto, M.Si Perpustakaan Nasional RI 2010 Hj. Kartini, SH Perpustakaan Nasional RI 2010 106 Lampiran 15 Format evaluasi terhadap pengajar FORMAT EVALUASI TERHADAP PENGAJAR Nama Pendidikan dan Pelatihan Nama Pengajar/Widyaiswara Mata Pelajaran Hari/tanggal Waktu : : : : : Petunjuk pengisian: Berilah tanda ceklis (√) pada kolom yang anda kehendaki, sesuai dengan penilaian anda! KRITERIA PENILAIAN NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. UNSUR YANG DINILAI DP SM M BS B KET. C K Penguasaan materi Kesiapan tenaga pengajar Sistematika penyajian Kemampuan menyajikan materi/fasilitasi Ketepatan waktu kehadiran dan cara menyajikan Penggunaan metode dan sarana pendidikan dan pelatihan Sikap dan perilaku Cara menjawab pertanyaan dari peserta Penggunaan bahasa Pemberian motivasi belajar kepada peserta Pencapaian tujuan instruksional Kerapihan berpakaian Kerjasama antar pengajar (tim) Kritik dan Saran ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ Keterangan: DP M B K : Dengan Pujian : Memuaskan : Baik : Kurang SM BS C : Sangat Memuaskan : Baik Sekali : Cukup Lampiran 16 Format evaluasi terhadap penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan 107 FORMAT EVALUASI TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN Nama pendidikan dan pelatihan Angkatan/tahun : : Petunjuk pengisian: Berilah tanda ceklis (√) pada kolom yang anda kehendaki, sesuai dengan penilaian anda! KRITERIA PENILAIAN NO. A. B. C. UNSUR YANG DINILAI DP SM M BS B KET. C K Program diklat 1. Manfaat diklat 2. Kurikulum diklat 3. Materi program Persiapan diklat 1. Kejelasan informasi tentang penyelenggaraan diklat 2. Seleksi penerimaan dan kesiapan peserta untuk mengikuti diklat Pelaksanaan diklat 1. Kesiapan staf penyelenggara 2. Kesiapan tenaga pengajar 3. Penyediaan sarana atau media diklat 4. Layanan kesekretariatan (penyediaan daftar hadir, alat tulis menulis, penyediaan bahan praktik dan pengaturan jadwal pelatihan) 5. Metode diklat yang digunakan 6. Widyawisata/studi banding/kunjungan 7. Teknik penilaian yang digunakan 8. Layanan konsumsi 9. Layanan akomodasi 10. Layanan kesehatan 11. Layanan kepustakaan/perpustakaan Kritik dan Saran ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ ................................................................................................................................................ Keterangan: DP M B K : Dengan Pujian : Memuaskan : Baik : Kurang SM BS C : Sangat Memuaskan : Baik Sekali : Cukup 108 Lampiran 17 Format evaluasi terhadap sikap dan perilaku peserta EVALUASI TERHADAP SIKAP DAN PERILAKU PESERTA Diklat Hari/Tanggal/Bulan/Tahun Pengajar/Mulai Jam Pelajaran Pengajar/Selesai Jam Pelajaran NO. : : : : NAMA PESERTA NILAI SIKAP DAN PERILAKU KEDISIPLINAN KERJA SAMA PRAKARSA H P PT K S KD Keterangan: Bobot penilaian: I. Kedisiplinan terdiri dari: B. Pakaian (P) A. Kehadiran (H) 1. Rapi bobot nilai 10 1. Hadir bobot nilai 10 2. Kurang rapi bobot nilai 8 2. Terlambat bobot nilai 8 3. Tidak rapi bobot nilai 1 3. Ijin bobot nilai 5 4. Tanpa keterangan bobot nilai 1 II. Kerjasama (dinilai setiap kali terdapat kerjasama kelompok) terdiri dari: A. Penyelesaian Tugas (PT) B. Kepribadian (K) 1. Tepat waktu bobot nilai 10 1. Demokratis bobot nilai 10 2. Terlambat bobot nilai 8 2. Otoriter bobot nilai 5 3. Tidak mengerjakan bobot nilai 1 III. Prakarsa (dinilai setiap kali peserta berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelas) Bobot nilai prakarsa: A. Saran (S), pertanyaan masing-masing bernilai 10 B. Kendali diri (KD) terdiri dari dua penilaian yaitu: 1. positif dengan bobot nilai 10 2. negatif dengan bobot nilai 5 Pengamat Kelas, Nama : ........................ NIP : ........................ 109 Lampiran 18 Format evaluasi nilai tugas/praktek dan tes formatif peserta EVALUASI NILAI TUGAS/PRAKTEK DAN TES FORMATIF PESERTA Diklat Mata Ajar Diklat Jumlah Jam Pelatihan NO. NAMA PESERTA : : : NILAI TUGAS/ PRAKTEK TUGAS I/ TUGAS II/ PRAKTEK I PRAKTEK II NILAI FORMATIF TES TES FORMATIF I FORMATIF II Keterangan: Predikat penilaian 50 – 100 Catatan: Formulir dikembalikan ke Petugas Evaluasi .................,......................... Pengajar, ............................................ NIP. ................................... KET. 110 Lampiran 19 Format evaluasi seminar EVALUASI SEMINAR NO. NAMA PESERTA FORMAT/ SISTEMATIKA KUALITAS KARYA ILMIAH TATA PERMASA- PEMECAHAN BAHASA LAHAN MASALAH Keterangan: 1. Skor penilaian 0 – 100 2. Hasil penilaian diserahkan kepada koordinator evaluasi PROSES SEMINAR KESIMPULAN PENGKAJIAN PENGUASAAN MATERI KERJA SAMA PRAKARSA 111 Lampiran 20 Kondisi sarana dan prasarana di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI Ruang kelas Laboratorium komputer 112 Asrama Pusdiklat Mushola 113 Poliklinik Perpustakaan 114 Lampiran 21 Pedoman penjaminan mutu e-learning 1) Pedoman Penjaminan Mutu Penyelenggaraan E-Learning Buku ini berisi mengenai panduan bagi dosen, pimpinan universitas, fakultas, departemen dan program studi serta unit terkait di Universitas Indonesia agar mutu penyelenggaraan e-learning sesuai dengan ketentuan dan prosedur baku yang telah ditetapkan dalam SK Rektor UI yang berlaku tentang penyelenggaraan e-learning, serta menjamin agar kompetensi lulusan setiap program studi tetap sesuai dengan kompetensi yang telah digariskan dalam kurikulum setiap program studi. Penjaminan mutu e-learning merupakan upaya untuk mengendalikan mutu penyelenggaraan e-learning secara transparan berdasarkan standar mutu dan prosedur yang ditetapkan, meliputi: i) Perencanaan e-learning atau perencanaan pembelajaran (program mapping), yaitu perencanaan pembelajaran berbasis e-learning yang meliputi komponen: i) content: obyek dan materi pembelajaran, ii) sistem penyampaian (delivery system), iii) interaksi. Berkaitan dengan sistem penyampaian, secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 modus: web-based, video conference dan face to face. ii) Perancangan materi (content) e-learning, yaitu kegiatan yang ditujukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. iii) Penyampaian (delivery) dan interaksi dalam e-learning. Dalam melaksanakan pembelajaran berbasis e-learning perlu diperhatikan hal-hal berikut: aturan permainan, inisiatif dan motivasi, penugasan, trouble shooting, moderating dan fascilitating, dan synchronous activity. Dalam pelaksanaan metode pembelajaran e-learning perlu diperhatikan macam-macam strategi yang digunakan, antara lain: tanya jawab, forum diskusi, kegiatan mahasiswa (problem based learning, simulasi, telecollaboration dan sebagainya), topik pemicu, tes/kuis, contoh dan analogi, informasi visual, serta student review/summary. Berkaitan dengan pelaksanaan juga perlu diperhatikan faktor assessing yang meliputi objectives of assessment, measurement tools, test administration dan follow up. 115 iv) Evaluasi hasil belajar dan evaluasi program e-learning. Evaluasi pelaksanaan pembelajaran berbasis e-learning menyangkut evaluasi terhadap komponen: efektifitas, efisiensi biaya, mahasiswa dan kepuasan pemangku kepentingan (stakeholders), serta kesinambungan (sustainability). Selain itu sistem manajemen juga dievaluasi, yaitu yang meliputi pengaturan dan pemantauan dari gerak langkah mahasiswa (student track) dan rekaman dosen (lectures record), waktu dan jadwal pelaksanaan, akses bagi pengguna maupun bagi pihak administrasi, mencegah plagiarism, kepatuhan terhadap kode etik dan copyright, technology life cycle dan pemeliharaan yang terbaik (best practice) dan penjaminan mutu. 2) Tutorial Penggunaan Student Centered e-Learning Environment (Scele): Modul Pengajar Buku tutorial ini berisi mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan pengajar dalam hal: i) menguasai pengaturan material perkuliahan, ii) menguasai pengaturan forum diskusi, dan iii) menguasai pengaturan kuis. 3) Manual Computer Mediated Learning – Next Frontier (CML – NF) Untuk Fasilitator Buku ini menjelaskan tentang petunjuk penggunaan Aplikasi Computer Mediated Learning (CML) yang berbasis web untuk fasilitator. Buku ini membahas dan memberikan petunjuk tentang penggunaan fitur-fitur dalam setiap modul yang terdapat pada Aplikasi CML sesuai dengan perkuliahan yang ada di Universitas Indonesia. Modul-modul yang ada pada aplikasi CML yaitu: i) Content Manager (COM) – Pengaturan Bahan Kuliah ii) Course Manager (CEM) – Pengaturan Perkuliahan iii) Discussion Manager (DIM) – Modul Diskusi iv) Questionnaire Manager (QUM) – Modul Kuesioner 116 v) Chatting Manager – Modul Chatting vi) Analytical Tool Manager (ATM) – Perangkat Analisa vii) Online White-Board Manager (OWM) – Modul Layar Tulis
Analysis and Design of E-learning of Technical Library Management Training Using Learning Technology System Architecture Standard (IEEE P1484.1). METODOLOGI PENELITIAN Analysis and Design of E-learning of Technical Library Management Training Using Learning Technology System Architecture Standard (IEEE P1484.1). PENDAHULUAN Analysis and Design of E-learning of Technical Library Management Training Using Learning Technology System Architecture Standard (IEEE P1484.1). TINJAUAN PUSTAKA Analysis and Design of E-learning of Technical Library Management Training Using Learning Technology System Architecture Standard (IEEE P1484.1).
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Analysis and Design of E-learning of Technical Library Management Training Using Learning Technology System Architecture Standard (IEEE P1484.1).

Gratis