Pengaruh Pengambilan Keputusan Perempuan Terhadap Kesejahteraan Keluarga

Full text

(1)

ANGGI LESTARI UTAMI

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pengaruh Pengambilan Keputusan Perempuan Terhadap Kesejahteraan Keluarga adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juli 2013

Anggi Lestari Utami

(4)

Terhadap Kesejahteraan Keluarga. Dibimbing oleh IVANOVICH AGUSTA.

Pengambilan keputusan perempuan menjadi kontrol penting dalam tingkat keberhasilan program Keluarga Berencana. Adanya kecenderungan dominasi terhadap pola pengambilan keputusan oleh perempuan dalam keluarga mampu menciptakan optimalnya tujuan dari program Keluarga Berencana. Tingkat keberhasilan program Keluarga Berencana selanjutnya menjadi kontrol keluarga dalam mencapai kesejahteraan bersama. Tujuan penelitian ini menganalisis sejauh mana pengaruh pengambilan keputusan perempuan dalam keluarga terhadap tingkat keberhasilan KB serta mengetahui kesejahteraan keluarga tersebut. Hasil penelitian menunjukan dominasi perempuan dalam pengambilan keputusan mempengaruhi tingginya tingkat keberhasilan KB. Secara langsung tingkat kesuksesan Keluarga Berencana yang tinggi dilihat dari jumlah akseptor KB yang tinggi, jumlah anak dari setiap keluarga yang ideal, tingkat kesakitan reproduksi yang rendah, dan usia perkawinan yang matang mempengaruhi tingginya tingkat kesejahteraan keluarga.

Kata kunci: pengambilan keputusan perempuan, keberhasilan KB, kesejahteraan keluarga

ABSTRACT

ANGGI LESTARI UTAMI. Influence Decision Making Women Against Family Welfare. Supervised by IVANOVICH AGUSTA.

Woman and their decision making can play an important role to control the success of family planning program (KB). The tendency of women dominance on decision making in the family can support KB effectiveness. Family welfare then can be achieved, depends on the success rate of KB, thus to be a control tool to the family. This study is to analyze how far women can influence the decision making to KB program, and then to see how it construct the family welfare. The analysis results the women dominance to decision making, impacting to KB success rate itself. KB program can be counted as successful based on criteria such as high KB acceptors, ideal number of children, reproductive morbidity, and suitable age of marriage. A success KB program can extent family welfare.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

ANGGI LESTARI UTAMI

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2013

(6)
(7)
(8)

Judul Skripsi : Pengaruh Pengambilan Keputusan Perempuan Terhadap Kesejahteraan Keluarga

Nama : Anggi Lestari Utami NIM : I34090134

Disetujui oleh

Diketahui oleh

Dr Ir Soeryo Adiwibowo, MS Ketua Departemen

Tanggal Lulus:

(9)

Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan dengan baik. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Februari 2013 ini ialah kajian gender dengan judul Pengaruh Pengambilan Keputusan Perempuan Terhadap Kesejahteraan Keluarga.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. Ivanovich Agusta, SP, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan masukan dan bimbingan dengan sabar kepada penulis hingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis juga menyampaikan hormat dan terimakasih kepada Divisi Bagian Statistik BKKBN Pusat dan Kabupaten Bogor, Bapak Amin Tohani selaku Korlap Kecamatan Tamansari, Keluarga dari Drs. Cecep Sumardiana, seluruh warga RW 04 dan berbagai pihak Desa Sirnagalih yang telah memberikan banyak informasi mengenai akseptor KB. Orang tua tercinta A. Dahyani dan Nina Awinah, dan adik tercinta Panca Buana Wijaya yang selalu sabar memberi doa, dukungan, semangat, materi, dan semua pengorbanannya dengan penuh rasa sayang kepada penulis. Sahabat-sahabat terbaik KPM, khususnya Tyas Widyastini, Shitta Narendra, Linda Dessy, Rizka Andini, Andika Sefri, Faris Budiman, Fadil Afrianto, Muhammad Septiadi, Irma Handasari serta teman satu bimbingan, Rafi Nugraha dan Resti Taryania untuk semangat, masukan, saran, candaan, dan kebersamaan yang sangat berharga dalam mengerjakan skripsi sehingga kita bisa bersama-sama menyelesaikan skripsi dengan lancar. Terimakasih kepada seluruh keluarga besar KPM, khususnya KPM 46 serta semua pihak yang telah membantu proses penulisan studi pustaka hingga penyelesaian skripsi ini.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat.

Bogor, Juli 2013

(10)

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vii

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 2

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

TINJAUAN PUSTAKA 5

Pengambilan Keputusan 5

Pemberdayaan Perempuan 6

Partisipasi Perempuan dalam Ekonomi Keluarga 7

Program Keluarga Berencana 9

Kesejahteraan Keluarga 10

Kerangka Pemikiran 12

Hipotesis Penelitian 12

Definisi Operasional 13

METODE PENELITIAN 17

Lokasi dan Waktu Penelitian 17

Teknik Pengumpulan Data 18

Teknik Pengolahan dan Analisis Data 19

GAMBARAN UMUM 21

Profil Desa Sirnagalih 21

KARAKTERISTIK RESPONDEN 25

Usia 25

Jenis Pekerjaan 25

Tingkat Pendidikan 26

Aset Rumah Tangga Responden 26

TINGKAT PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEREMPUAN DAN FAKTOR

YANG BERHUBUNGAN 29

Tingkat Pengambilan Keputusan 29

Tingkat Keberhasilan Program Keluarga Berencana 30 Analisis Hubungan Tingkat Pengambilan Keputusan Perempuan dan Tingkat

(11)

Analisis Hubungan Antara Tingkat Keberhasilan KB dan Tingkat

Kesejahteraan Keluarga 36

Ikhtisar 37

SIMPULAN DAN SARAN 39

Simpulan 39

Saran 39

DAFTAR PUSTAKA 41

LAMPIRAN 43

(12)

sampai RW 17

2. Jumlah penduduk Desa Sirnagalih berdasarkan kelompok umur 22

3. Jumlah dan persentase penduduk Desa Sirnagalih berdasarkan tingkat pendidikan 23

4. Jumlah dan persentase penduduk Desa Sirnagalih berdasarkan mata pencaharian 24

5. Jumlah dan persentase penduduk Desa Sirnagalih berdasarkan penggolongan jenis pekerjaan 24

6. Luas lahan Desa Sirnagalih berdasakan pemanfaatannya 24

7. Jumlah dan persentase responden berdasarkan usia 25

8. Jumlah dan persentase responden berdasarkan jenis pekerjaan 25

9. Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan 26

10.Jumlah dan persentase aset rumah tangga responden 27

11.Jumlah dan persentase responden berdasarkan pola pengambilan keputusan rumah tangga terhadap keluarga berencana 29

12.Jumlah dan persentase tingkat pengambilan keputusan perempuan terhadap keikutsertaan program KB 30

13.Jumlah dan persentase tingkat keberhasilan KB 30

14.Jumlah dan persentase responden berdasarkan usia perkawinan 31

15.

Jumlah dan persentase anak menurut kategori ideal dan tidak ideal BKKBN 32

16.

Jumlah dan persentase tingkat kesakitan reproduksi menurut proses persalinan 32

17.

Persentase hubungan tingkat pengambilan keputusan dengan tingkat keberhasilan KB 33

18.

Persentase tingkat kesejahteraan menurut indikator keluarga sejahtera BKKBN 35

19.

Persentase hubungan tingkat keberhasilan KB dengan tingkat kesejahteraan keluarga 36

(13)

1. Peta Desa Sirnagalih 43

2. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Tahun 2013 43

3. Data Responden PUS Desa Sirnagalih 44

4. Kerangka sampling PUS Desa Sirnagalih 45

5. Kuesioner 46

6. Contoh Hasil Pengolahan Data 51

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hasil sensus penduduk 2010 menunjukkan jumlah penduduk indonesia sekitar 237.6 juta jiwa, melebihi 3.4 juta dari proyeksi sebesar 234.2 juta jiwa. Demikian juga untuk angka laju pertumbuhan penduduk (LPP) periode tahun 2000-2010 sebesar 1.49% meningkat dibanding LPP 1990-2000 yaitu 1.45%. LPP pada 2014 diharapkan menurun menjadi 1,1 persen. Dalam kurun waktu 5 tahun (2002/2003-2007), permasalahan lain jumlah PUS (Pasangan Usia Subur) yang ingin menunda punya anak atau tidak menginginkan anak lagi atau kebutuhan ber-KB belum terlayani atau unmet need, meningkat dari 8.6% tahun 2002/03 menjadi 9.1% pada tahun 2007. Alasan utama PUS tidak menggunakan kontrasepsi karena efek samping, hasil SDKI 2007 menunjukan angka 30% untuk mengakhiri dan 27% untuk menjarangkan.

Median usia kawin pertama 19,8 tahun (SDKI 2007), diharapkan menjadi 20.3 tahun pada tahun 2012 sehingga berdampak pada penurunan total fertility rate. Pendewasaan usia perkawinan bertujuan untuk memberikan pengertian dan kesadaran kepada remaja agar didalam merencanakan keluarga, mereka dapat mempertimbangkan berbagai aspek yaitu kehidupan berkeluarga, kesiapan fisik, mental dan sosial ekonomi serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran.

Keluarga berencana adalah sebagai upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera (BKKBN 2011). Menurut data BKKBN per Januari 2013, total peserta aktif KB di Provinsi Jawa Barat masih belum merata disetiap wilayahnya bahkan peningkatannya pun tidak signifikan. Tercatat jumlah peserta KB hanya 62.8% padahal pemerintah merumuskan peserta KB harus mencapai 100%. “Dua anak lebih baik”, bukan hanya menjadi jargon program Keluarga Berencana (KB) semata, tetapi memiliki makna filosofi “kesejahteraan” yang sangat mendalam. Dengan dua anak diyakini bahwa setiap keluarga dapat lebih mudah memecahkan persoalan pendidikan dan kesehatan yang makin mahal serta persoalan nilai daya beli masyarakat yang semakin rendah, yang lebih penting setiap orang tua dapat memberikan perhatian dan bimbingan yang lebih terhadap anak-anaknya, sehingga kualitas, akhlak dan moralitas anak dapat lebih dipertanggungjawabkan.

(15)

Artikel BKKBN (2011)1 menyebutkan pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan dapat dilakukan dengan pendekatan kependudukan. Hasil pendataan keluarga 2012 BKKBN menunjukan Provinsi Jawa Barat memiliki persentase akseptor KB terhadap pasangan usia subur sebanyak 72.18% persen (Tabel 1, halaman 15). Hal ini sebanding dengan persentase di RW IV Desa Sirnagalih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor dengan perbedaan prevalensi yang tidak signifikan. Oleh karena itu, sangat menarik bagi peneliti untuk melihat sejauh mana pengaruh pengambilan keputusan perempuan terkait keluarga berencana dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Perumusan Masalah

Mengacu pada Millenium Development Goals (2008), sebagian besar pengguna alat kontrasepsi adalah perempuan. Sehingga perlu dilihat pengaruh keputusan dari perempuan itu sendiri. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat terlihat bahwa keberhasilan program KB suatu daerah berkaitan dengan pengambilan keputusan perempuan di dalamnya. Untuk itu perlu dikaji:

1. Sejauh mana pengaruh pengambilan keputusan perempuan terhadap tingkat keberhasilan KB?

2. Sejauh mana pengaruh tingkat keberhasilan KB terhadap kesejahteraan keluarga?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkaji pola pengambilan keputusan dalam keikutsertaan ber-KB dan keterkaitannya dengan kesejahteraan keluarga. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan:

1. Menganalisis sejauh mana pengaruh pengambilan keputusan perempuan terhadap tingkat keberhasilan KB.

2. Menganalisis sejauh mana pengaruh tingkat keberhasilan KB terhadap kesejahteraan keluarga.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pengaruh pengambilan keputusan perempuan terhadap tingkat keberhasilan program KB dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga. Melalui penelitian ini, terdapat juga beberapa hal yang ingin penulis sumbangkan pada berbagai pihak, yaitu:

1. Akademisi, dimana penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti yang ingin mengkaji lebih lanjut mengenai kajian gender, khususnya pengambilan keputusan perempuan yang seringkali tidak diperhatikan keberlanjutannya.

2. Masyarakat, dimana penelitian ini diharapkan dapat memberi dampak positif bagi masyarakat, khususnya untuk menambah pengetahuan tentang pentingnya program KB dan dampaknya terhadap kondisi kesejahteraan keluarga yang masih rendah.

(16)
(17)
(18)

TINJAUAN PUSTAKA

Pengambilan Keputusan

Menurut Sajogyo (1983) Kekuasaan yang dinyatakan sebagai kemampuan untuk mengambil keputusan yang mempengaruhi kehidupan keluarga bisa tersebar dengan sama nilainya atau tidak sama nilainya, khususnya antara suami dan istri, sedangkan pembagian kerja menunjuk pada pola peranan yang ada dalam keluarga dimana khususnya suami dan istri melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu. Kedua aspek tersebut (kekuasaan dan pembagian kerja) adalah hal yang paling mendasar dalam keluarga yang dipengaruhi pula oleh posisi keluarga di lingkungan atau masyarakatnya.

Peranan perempuan di dalam dan luar rumah tangga sebagai pengambil keputusan pada berbagai bidang kehidupan cukup bervariasi. Setiap jenis keputusan rumah tangga, dikelompokkan dalam lima angkatan sebagai berikut (Sajogyo 1983):

1. pengambilan keputusan hanya oleh istri;

2. pengambilan keputusan dilakukan bersama tetapi istri dominan; 3. pengambilan keputusan dilakukan bersama setara;

4. pengambilan keputusan dilakukan bersama tetapi suami dominan; dan 5. pengambilan keputusan dilakukan oleh suami sendiri.

Suatu hubungan antara pria dan wanita yang menunjukkan adanya distribusi kekuasaan antara perempuan dan laki-laki yang seimbang (balanced power), tetapi ada kesalingketergantungan yang kuat di antaranya. Dalam hal penguasaan terhadap sumber-sumber yang penting, baik laki-laki maupun perempuan, tidak ada hubungan yang saling mendominasi. Sementara itu, suatu hubungan antara perempuan dan laki-laki yang menunjukkan hierarki dalam kekuasaan, artinya distribusi kekuasaannya tidak seimbang. Dalam hal ini, salah satu pihak memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari yang lain dan mendominasinya (Sajogyo 1983).

Teori pilihan rasional (Scott 2000) menjelaskan tindakan rasional akan muncul ketika individu menyadari terlibat dalam strategi yang dia rencanakan. Teori pilihan rasional tersebut berusaha menjelaskan fenomena sosial dengan memperhitungkan kerasionalitasan yang dimiliki oleh seorang individu. Dimana tindakan-tindakan kolektif dapat memberikan pengaruh terhadap pilihan rasional seseorang. Penjelasan lain tentang teori pilihan rasional juga ditemukan dalam International Encyclopedia of The Social Sciences2. Di dalamnya dijelaskan bahwa teori pilihan rasional ini terfokus pada maksud, berorientasi pada tujuan yang dimiliki oleh seorang individu. Dimana interaksi sosial, struktur sosial dan budaya akan mempengaruhi seseorang dalam menggapai hasil yang diinginkan dan mempengaruhi keputusan yang diambil oleh individu tersebut. Walaupun tidak selalu individu tersebut dapat mencapai apa yang mereka inginkan, mereka akan memilih alternatif lain yang mereka pikir dapat memberikan kepuasan yang sama besar atau lebih besar dalam mencapai kepentingannya dalam situasi tertentu.

2

(19)

Pemberdayaan Perempuan

Jika kesetaraan antara perempuan dan laki-laki merupakan tujuan hakiki pembangunan perempuan, maka wajar pemberdayaan perempuan menjadi alat utama untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam mewujudkan kesetaraan perempuan. Menurut Sudirja (2007), terdapat lima tingkat kesetaraan perempuan agar perempuan terlibat dalam proses pembangunan, yaitu:

1. Kesejahteraan; perempuan lebih dianggap sebagai penerima pasif kesejahteraan. Kesenjangan gender dapat diidentifikasi melalui tingkat kesejahteraan yang berbeda diantara laki-laki dan perempuan dengan indikator keadaan gizi, angka kematian dan lain sebagainya. Pemberdayaan perempuan tidak terjadi secara murni pada tingkat kesejahteraan ini karena tindakan untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat mensyaratkan akses perempuan atas sumber daya harus meningkat dan ini berarti perempuan maju ke tahap berikutnya.

2. Akses; tingkat produktivitas perempuan lebih rendah karena adanya pembatasan akses atas sumberdaya pembangunan dan produksi dalam masyarakat, seperti tanah, kredit, lapangan kerja dan pelayanan. Mengatasi kesenjangan gender berarti akan meningkatkan akses perempuan sehingga setara dengan laki-laki. Pemberdayaan berarti perempuan disadarkan akan situasi-situasi yang tidak adil ini dimana kesadaran baru tersebut akan mendorong untuk berjuang mendapatkan haknya , termasuk memperoleh akses yang setara dan adil atas berbagai macam sumber daya baik di dalam rumah tangga komunitas dan masyarakat.

3. Kesadaran kritis; tingkat kesadaran ini akan meningkatkan kesadaran perempuan bahwa masalah-masalah mereka tidak berasal dari ketidakmampuan pribadi mereka, melainkan karena ditundukkan oleh sistem sosial yang deskriminatif dan sudah terinstitusi di dalam diri perempuan. Kesadaran ini akan membangkitkan kemampuan perempuan untuk menganalisis masyarakat secara kritis dan mengenai semua hal yang dianggap perlu “normal” atau bagian dari “pemberian dunia” yang permanen dan tidak bisa diubah jika menyebabkan ketidakadilan bagi perempuan. Keyakinan pada kesetaraan gender ini merupakan elemen ideologis yang sangat penting dalam proses pemberdayaan, yang menyediakan basis konseptual untuk penggalangan kekuatan menuju keadilan dan kesetaraan perempuan.

(20)

perempuan yang duduk dalam institusi-institusi yang berhak mengambil keputusan. Meningkatnya jumlah perempuan dalam posisi-posisi penting dalam komunitasnya merupakan hasil pemberdayaan sekaligus menjadi sumbangan potensial bagi peningkatan upaya pemberdayaan perempuan. 5. Kontrol; partisipasi perempuan yang meningkat pada proses pengambilan

keputusan akan berdampak pada akses dan distribusi keuntungan yang adil bagi perempuan jika partisipasi tersebut diikuti dengan kontrol yang meningkat pula atas faktor-faktor produksi. Kesetaraan dalam hal kontrol berarti sebuah keseimbangan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki, dimana tidak ada satu pihak pun berada di bawah dominasi yang lainnya. Ini berarti perempuan mempunyai kekuasaan yang sama dengan laki-laki untuk mempengaruhi masa depan mereka dan masa depan masyarakat mereka. Hanya dengan memiliki kontrol inilah perempuan dapat meningkatkan aksesnya terhadap sumberdaya dan karenanya akan mensejahterakan diri dan anak-anaknya. Kesetaraan dalam partisipasi dan kontrol merupakan persyaratan yang diperlukan jika kita mau membuat kemajuan pada kesetaraan gender dalam hal kesejahteraan. Mengacu pada konsep tersebut, maka tingkat keberhasilan program dilihat dari sejauh mana tercapai tingkat keberdayaan perempuan yang diukur dari tingkat akses dan kontrol perempuan dalam program tersebut (Sudirja 2007).

Partisipasi Perempuan dalam Ekonomi Keluarga

Menurut Munandar (1983), keadaan suatu masyarakat sebagian besar ditentukan orang-orang yang ada dalam masyarakat itu. Mengingat keluarga merupakan satuan masyarakat terkecil, maka keluarga berperan penting dalam menentukan keadaan masyarakat. Keluarga sejahtera memberikan pengaruh positif terhadap anggota-anggotanya, dan menjadi wadah pembentukan kader penerus yang baik. Dalam hal ini suami bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

Selain suami yang notabene sebagai kepala rumah tangga, isteri juga merupakan salah satu unsur penting dan berperan dalam menjalankan kehidupan rumah tangga. Oleh karena itu perempuan dalam keluarga merupakan dua pengertian yang saling berkaitan. Dalam hal ini kesatuan keluarga merupakan dasar yang signifikan dan relevan untuk memahami partisipasi perempuan dalam keluarga maupun masyarakat. Partisipasi perempuan dalam peningkatan sosial ekonomi keluarga tidak kalah penting dibandingkan laki-laki. Perempuan mampu melakukan banyak hal baik bersifat reproduksi yang tidak menghasilkan materi maupun bekerja mencari nafkah yang langsung menghasilkan guna kelangsungan ekonomi dan kesejahteraan rumah tangga.

Perempuan atau isteri terlibat dalam pekerjaan adalah didorong oleh pendapatan suami yang rendah, sehingga mereka bekerja sebagai petani, pedagang kecil, pembantu rumah tangga, buruh, karyawan dan lain sebagainya. Dari uraian tersebut tersirat bahwa kondisi ekonomi suami yang rendah mendorong isteri untuk berpartisipasi mencari penghasilan dengan merubah perannya dari sektor domestik (dalam rumah tangga) ke sektor publik (di luar rumah tangga).

(21)

rumah tangga. Hal ini disebabkan pemenuhan kebutuhan pada keluarga dan masyarakat semakin lama semakin kompleks. Dengan kata lain, pengeluaran untuk rumah tangga tidak hanya terbatas pada kebutuhan pangan dan sandang, tetapi telah mengalami penambahan seperti pendidikan, kesehatan, organisasi (perkumpulan), rekreasi dan lain-lain. Dalam kondisi seperti ini semakin besar kemungkinan muncul realita dimana suami tidak mampu menanggung sendiri beban ekonomi keluarga. Kedua adalah didorong keinginan untuk meningkatkan harga diri, persamaan hak yang biasanya terdapat pada perempuan berpendidikan dan perempuan perkotaan.

Motivasi tekanan sosial ekonomi suami yang rendah seperti yang telah disinggung sebelumnya, merupakan kekurangmampuan yang disebabkan banyak faktor. Akan tetapi secara umum dapat dijelaskan, faktor yang mempengaruhi adalah tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, profesionalisme, pengalaman kerja yang pada dasarnya menentukan besar kecilnya penghasilan suami (Sajogyo1983).

Perempuan penting dalam mendukung ekonomi keluarga, juga mendukung pemerintah. UU 1945, GBHN dan UU No.1 Tahun 1974 menjelaskan Mengenai Kedudukan dan Peranan Perempuan yaitu bahwa:

a. Meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional yang diemban oleh lembaga yang mampu memperjuangkan terwujudnya kesetaraan dan gender. b. Meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai historis perjuangan kaum perempuan, dalam rangka melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Banyak faktor yang mempengaruhi partisipasi isteri dalam ekonomi keluarga, dari segi pendidikan, sosio-kultural, sosio-psikologis, sosio-phisik dan lain sebagainya. Motivasi perempuan untuk bekerja di luar rumah tangga (Munandar 1983) meliputi:

1. menambah penghasilan keluarga.

2. ekonomi, tidak tergantung kepada suami.

3. menghindari rasa kebosanan dan mengisi waktu kosong. 4. ketidakpuasan dalam perkawinan.

5. mempunyai minat dan keahlian tertentu yang ingin dimanfaatkan. 6. memperoleh status.

7. mengembangkan diri.

(22)

Program Keluarga Berencana

Menurut BKKBN (2011), keluarga berencana adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera. Kebijakan dilakukan dengan upaya peningkatan keterpaduan, dan peran serta masyarakat, pembinaan keluarga dan pengaturan kelahiran dengan memperhatikan nilai-nilai agama, keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara jumlah penduduk dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan, kondisi perkembangan sosial ekonomi dan sosial budaya serta tata nilai yang hidup dalam masyarakat.

Salah satu tugas pokok pembangunan KB menuju pembangunan keluarga sejahtera adalah melalui upaya pengaturan kelahiran yang dapat dilakukan dengan pemakaian kontrasepsi. Kontrasepsi merupakan komponen penting dalam pelayanan kesehatan reproduksi sehingga dapat mengurangi resiko kematian dan kesakitan dalam kehamilan. Konsep keluarga kecil dua anak cukup dengan cara mengatur jarak kelahiran melalui berbagai metoda kontrasepsi masih tetap menjadi perhatian program KB di Indonesia dalam era baru saat ini. The International Conference on Population and Development (ICPD) 1994 menyatakan bahwa penggunaan alat kontrasepsi merupakan bagian dari hak-hak reproduksi, yaitu bagian dari hak-hak azasi manusia yang universal. Hak-hak reproduksi yang paling pokok adalah hak setiap individu dan pasangan untuk menentukan kapan akan melahirkan, berapa jumlah anak dan jarak anak yang dilahirkan, serta memilih upaya untuk mewujudkan hak-hak tersebut.

Program Keluarga Berencana Nasional diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera serta diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2004-2009. Dalam Peraturan presiden tersebut, pembagunan Keluarga Berencana diarahkan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk serta meningkatkan keluarga kecil berkualitas.

Program Keluarga Berencana Nasional dalam mengendalikan tingkat kelahiran melalui upaya memaksimalkan akses dan kualitas pelayanan KB. Upaya tersebut terutama diprioritaskan bagi keluarga miskin dan rentan serta daerah terpencil yang sulit dijangkau dengan pelayanan atau pada daerah tertinggal.

Secara bersamaan dilakukan peningkatan kualitas kesehatan reproduksi remaja dalam rangka menyiapkan kehidupan keluarga yang lebih baik, termasuk dalam rangka pendewasaan usia perkawinan pertama melalui upaya-upaya peningkatan pemahaman dan peningkatan derajat kesehatan reproduksi remaja. Selain itu juga dilakukan upaya program ketahanan keluarga dalam kemampuan pengasuhan dan penumbuh kembangan anak, peningkatan pendapatan keluarga sejahtera I (keluarga miskin), peningkatan kualitas lingkungan keluarga dan memperkuat kelembagaan dan jejaring pelayanan KB bekerja sama dengan masyarakat luas.

(23)

masa depan seluruh Keluarga Indonesia menerima ide Keluarga Berencana, melalui pencapaian misi "Mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera".

Setiap tahun ada 500 000 perempuan meninggal akibat berbagai masalah yang melingkupi kehamilan, persalinan, dan pengguguran kandungan (aborsi) yang tak aman dan KB bisa mencegah sebagian besar kematian itu. BKKBN menjelaskan keberhasilan KB dapat diukur dengan melihat pencapaian target akseptor KB, jumlah anak yang dilahirkan per ibu, dan ekonomi keluarga. Ketiga indikator ini menjadi fokus BKKBN dalam peningkatan kesejahteraan keluarga melalui program KB.

Kesejahteraan Keluarga

Konsep keluarga sejahtera menurut UU No. 10 Pasal 1 tahun 1992 adalah keluarga yang dibentuk atas pekawinan yang sah, mampu memenuhi spiritual dan materiil yang layak, bertaqwa kepada Tuhan YME, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungannya. Sedangkan BKKBN merumuskan pengertian keluarga sejahtera sebagai keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan anggotanya baik kebutuhan sandang, papan, pangan, sosial dan agama; keluarga yang memiliki keseimbangan antara penghasilan keluarga dengan jumlah anggota keluarga; keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan kesehatan anggota keluarga, kebutuhan bersama dengan masyarakat sekitar, beribadah khusuk disamping terpenuhinya kebutuhan pokok.

Program pembangunan keluarga sejahtera sudah dilakukan oleh BKKBN sejak dahulu dan semakin mendapat pijakan yang kuat dengan diundangkannya UU No 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Ruang lingkup kesejahteraan dapat dibagi menjadi tiga (Burhan 2010) yaitu:

1. Kesejahteraan Ekonomi

Kesejahteraan ekonomi sebagai tingkat terpenuhinya input secara finansial oleh keluarga. Input yang dimaksud berupa pendapatan, nilai aset keluarga, maupun pengeluaran. Sementara indikator output memberikan gambaran manfaat langsung dari investasi tersebut pada tingkat individu, keluarga, dan penduduk.

2. Kesejahteraan Sosial

Beberapa komponen dari kesejahteraan sosial diantaranya adalah penghargaan (self esteem) dan dukungan sosial.

3. Kesejahteraan Psikologi

Terdapat tiga dimensi kesejahteraan psikologi dalam kaitannya dengan peran orang tua yaitu: suasana hati, tingkat kepuasan, dan arti hidup. Keluarga sejahtera menurut BKKBN dibagi menjadi 5 tahap yakni pra sejahtera (PS), keluarga sejahtera I (KS I), keluarga sejahtera II (KS II), keluarga sejahtera III (KS III), dan keluarga sejahtera III plus (KS III plus).

1. Keluarga PS I adalah keluarga yang belum memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, seperti kebutuhan akan pengajaran agama, pangan, sandang, papan, dan kesehatan.

(24)

seperti kebutuhan pendidikan, KB, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan tempat tinggal dan transportasi.

3. KS II adalah keluarga yang selain dapat memenuhi kebutuhan dasar minimalnya dapat pula memenuhi kebutuhan sosial psikologinya, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan pengembangan seperti kebutuhan untuk menabung dan memperoleh informasi.

4. KS III adalah keluarga-keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan dasar minimum dan sosial psikologinya, dapat memenuhi kebutuhan pengembangannya, tetapi belum aktif dalam usaha kemasyarakatan di lingkungan desa atau wilayahnya.

(25)

Kerangka Pemikiran

Tingkat pengambilan keputusan perempuan menjadi aspek penting dalam menciptakan kesejahteraan keluarga. Peneliti menetapkan lima subjek dalam keluarga sebagai pengambil keputusan dominan untuk mengukur tingkat pengambilan keputusan perempuan. Pengambilan keputusan tersebut dilakukan pada keikutsertaan keluarga dalam program KB. Program KB sendiri merupakan program pemerintah yang secara substansi berupaya dalam peningkatan kesejahteraan dan kesehatan keluarga melalui pengadaan akseptor KB dengan penggunaan berbagai alat kontrasepsi untuk menekan jumlah kelahiran di Indonesia. Keberhasilan program KB tentunya dapat diukur dari usia perkawinan, jumlah akseptor KB, jumlah anak, tingkat kesakitan reproduksi, serta kualitas anak dan keluarga. Secara kuantitatif, peneliti akan melihat pengaruh pengambilan keputusan terhadap keberhasilan program KB dengan melihat dominan istri, dominan suami atau bersama setara tanpa mengabaikan pengaruh pengambilan keputusan dari keluarga luas dan petugas PLKB. Dominasi istri akan menunjukan tingkat pengambilan keputusan perempuan yang tinggi.

Setelah peneliti melihat tingkat keberhasilan program KB melalui indikator tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan mengenai tingkat kesejahteraaan keluargadi Desa Sirnagalih berdasarkan tingkatan kesejahteraan menurut BKKBN.

Keterangan :

: berhubungan

Hipotesis Penelitian

Dari kerangka pemikiran di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah: 1. Diduga pengambilan keputusan perempuan berpengaruh terhadap tingkat

keberhasilan Keluarga Berencana.

2. Diduga tingkat keberhasilan keluarga berencana berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga dan perempuan.

(26)

Definisi Operasional

1. Karakteristik responden adalah ciri-ciri yang melekat pada individu. Terdiri atas usia, jenis pekerjaan, dan tingkat pendidikan.

a. Usia adalah lama hidup responden dari lahir sampai penelitian dilakukan yang diukur dengan skala rasio. Penggolongan usia mengacu pada Havighurst (1950) dalam Mugniesyah (2006) yang dikategorikan atas: 1. Dewasa awal : 18-29 tahun

2. Dewasa pertengahan : 30-50 tahun 3. Dewasa tua : > 50 tahun ke atas

b. Jenis pekerjaan adalah adalah profesi yang dijalankan responden untuk menopang kebutuhan hidupnya. Pengukuran dengan skala nominal yang dikategorikan menjadi tiga kategori, yaitu tidak bekerja, bekerja di sektor usaha, dan bekerja di sektor non usaha.

1. Tidak bekerja : responden tidak memiliki pekerjaan yang menghasilkan uang secara berkala.

2. Sektor non usaha : responden bekerja sebagai buruh atau pegawai. 3. Sektor usaha : responden memiliki unit usaha seperti warung, bengkel, atau home industri.

c. Tingkat pendidikan adalah pendidikan terakhir responden secara formal yang dikategorikan atas:

1. Rendah : tidak sekolah sampai tamat SMP/sederajat

2. Tinggi : tamat SMA/sederajat sampai tamat perguruan tinggi 2. Tingkat pengambilan keputusan perempuan adalah siapa yang memiliki

kekuasaan (kontrol) dalam segala keputusan mengenai keikutsertaan dalam program keluarga. Pengukurannya ditentukan oleh:

1. Dominan istri, yaitu apabila istri lebih dominan terhadap pengambilan keputusan.

2. Dominan suami, yaitu apabila pengambilan keputusan lebih didominasi oleh suami.

3. Bersama setara, yaitu apabila suami dan istri memiliki pengambilan keputusan yang senilai.

4. Keluarga luas, yaitu apabila pengambilan keputusan didominasi oleh anggota keluarga luas (bukan keluarga inti) seperti orang tua dari PUS atau paman, bibi atau sepupu.

5. Petugas PLKB, yaitu apabila pengambilan keputusan didominasi oleh petugas PLKB atau kader-kader posyandu dan puskesmas di sekitar tempat tinggal PUS.

Variabel ini merupakan jenis data interval dan diukur menggunakan kuesioner dengan lima pertanyaan. Dikategorikan menjadi rendah (5-11), sedang (12-18), dan tinggi (19-25) dengan akumulasi skor sebagai berikut: Dominan istri (skor: 5)

Bersama setara (skor: 4) Dominan suami (skor: 3) Keluarga luas (skor: 2)

(27)

3. Tingkat keberhasilan program KB adalah kondisi masyarakat yang telah sesuai dengan tujuan, visi dan misi BKKBN dalam peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Pengukurannya ditentukan oleh:

1. Usia perkawinan adalah usia suami dan istri saat menikah pertama dan usia pernikahannya.

2. Jumlah akseptor KB adalah jumlah akseptor KB aktif dari seluruh PUS yang ada di lokasi penelitian.

3. Tahun kesenjangan anak lahir adalah jarak usia antara anak pertama terhadap anak kedua, anak kedua terhadap anak berikutnya, dan seterusnya.

4. Jumlah anak adalah jumlah anak yang lahir hidup per ibu.

Variabel ini merupakan jenis data interval dan dan diukur menggunakan kuesioner. Dikategorikan menjadi rendah (4-5), sedang (6-7), dan tinggi (8) dengan akumulasi skor sebagai berikut:

Akseptor KB : bukan akseptor (skor:1), akseptor (skor: 2) Usia perkawinan : awal (skor: 1), tengah (skor: 2), akhir (skor: 3) Jumlah anak : tidak ideal (skor: 1), ideal (skor: 2)

Kesakitan reproduksi : normal (skor: 2) , caesar (skor: 1) 4. Keluarga sejahtera menurut BKKBN dibagi menjadi 5 tahap yakni;

1. Pra Sejahtera: Keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasar (Basic Need) secara minimal, seperti kebutuhan akan pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan.

2. Keluarga Sejahtera 1: Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan sosial-psikologisnya seperti kebutuhan ibadah, makan protein hewani, pakaian, ruang untuk interaksi keluarga, dalam keadaan sehat, mempunyai penghasilan, bisa baca tulis latin, dan keluarga berencana. Pengukurannya melalui; Makan 2 kali sehari atau lebih, Memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, sekolah, bekerja, berpergian, Semua anak dapat bersekolah, Kondisi rumah dalam keadaan baik, 3. Keluarga Sejahtera 2: Keluarga yang telah memenuhi kebutuhan

dasarnya, juga telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan sosial-psikologisnya, akan tetapi belum dapat memenuhi keseluruhan kebutuhan pengembangannya seperti kebutuhan untuk peningkatan agama, menabung, berinteraksi dalam keluarga, ikut melaksanakan kegiatan dalam masyarakat dan mampu memperoleh informasi. Pengukurannya melalui; Seminggu sekali makan daging atau ikan, Pasangan usia subur ber-KB, Seluruh anggota keluarga dapat baca tulis 4. Keluarga Sejahtera 3: Keluarga yang telah memenuhi seluruh kebutuhan

(28)

surat kabar, majalah, radio, TV, internet, Berupaya miningkatkan pengetahuan agama.

5. Keluarga Sejahtera 3 Plus: Keluarga yang telah mampu memenuhi semua kebutuhan baik yang bersifat dasar, sosial-psikologis, maupun yang bersifat pengembangan, serta telah dapat pula memberikan sumbangan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat. Pengukurannya melalui; Memberikan sumbangan materi untuk kegiatan social, Aktif sebagai pengurus organisasi sosial masyarakat

Variabel ini diukur dengan menggunakan dua puluh tiga pertanyaan pada kuesioner dengan skala ordinal “Ya” (1) dan “Tidak” (0). Dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi dengan akumulasi skor sebagai berikut:

(29)
(30)

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif yang didukung dengan pendekatan kualitatif. Metode kuantitatif dilakukan dengan pendekatan penelitian survai, yaitu penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan kemudian peneliti menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok (Singarimbun dan Effendi 1989). Penelitian menggunakan metode survai dapat menjelaskan hubungan kausal antara variabel melalui pengujian hipotesa yang sudah dirancang peneliti. Hubungan kausal yang dapat diuji dari hipotesa meliputi hubungan adanya pengaruh pengambilan keputusan dalam keikutsertaan ber-KB terhadap kesejahteraan keluarga. Setiap pengujian hipotesa di atas diharapkan mampu menjawab keterkaitan antara pengaruh pengambilan keputusan perempuan dengan tingkat kesejahteraan keluarga dan perempuan itu sendiri. Alasan lain dari pemilihan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan penelitian survai dikarenakan metode ini dapat menjelaskan tujuan dari penelitian melalui generalisasi objek penelitian untuk populasi masyarakat yang tidak sedikit. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Singarimbun dan Effendi (1989) yang menyebutkan bahwa keuntungan utama dari penggunaan metode penelitian survai yaitu memungkinkan pembuatan generalisasi untuk populasi yang besar.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian yang mengangkat judul Pengaruh Pengambilan Keputusan Perempuan Terhadap Kesejahteraan Keluarga ini dilakukan di RW 04, Desa Sirnagalih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat (lampiran 1). Terletak 120 km dari ibukota provinsi dan 20 km dari ibukota kabupaten. Sebelum menentukan tempat penelitian, peneliti melakukan telaah dokumen melalui kepustakaan media cetak, internet, dan sumber lainnya untuk mendapatkan informasi. Waktu penelitian dilakukan selama kurun waktu dua bulan, yaitu pada bulan Maret hingga April 2013. Penelitian yang dimaksud mencakup waktu semenjak peneliti intensif di lapangan hingga pengolahan dan analisis data. Penentuan lokasi ditetapkan secara sengaja atau purposive

berdasarkan hasil survei data sekunder dari BKKBN.

Tabel 1 Jumlah dan persentase Akseptor KB terhadap PUS di tingkat Provinsi sampai RW

Lokasi Jumlah PUS Jumlah

(31)

Data tersebut menjadikan RW IV Desa Sirnagalih penting untuk menjadi lokasi penelitian karena telah mewakili persentase di berbagai tingkat wilayah. Kegiatan penelitian meliputi penyusunan proposal skripsi, kolokium, perbaikan proposal, pengambilan data lapangan, pengolahan dan analisis data, penulisan draft skripsi, uji petik, sidang skripsi, dan perbaikan skripsi (lampiran 2).

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengambilan Sampel

Subjek dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua, yaitu responden dan informan. Responden merupakan pihak yang memberi keterangan tentang diri dan kegiatan yang dilaksanakannya. Responden dalam penelitian ini adalah Pasangan Usia Subur yang menjadi akseptor KB dengan karakteristik yang telah ditentukan. Informan adalah pihak yang memberikan keterangan tentang pihak lain dan lingkungannya. Informan penelitian ini, yaitu pihak Kader Posyandu selaku pemberi informasi mengenai akseptor KB, pasangan-pasangan usia subur, dan berbagai kegiatan terkait program KB dengan karakteristik yang telah ditentukan.

Setiap unit analisis atau responden dipilih berdasarkan teknik penarikan sampel nonprobabilita, yaitu setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Teknik penarikan sampel diambil secara purposive, karena unit analisis diambil hanya berdasarkan karakteristik PUS, yaitu pasangan yang masih dalam kurun usia 16-49, serta ikut serta dalam program Keluarga Berencana. Unit analisis yang diambil berjumlah 35 responden, artinya 35 PUS yang menjadi akseptor KB.

Proses pengambilan sampel dimulai dari pencarian data seluruh warga setiap RT kepada Ketua RW 04 kemudian dilanjutkan diskusi dengan Kader Posyandu mengenai karakteristik PUS di RW 04. Selanjutnya dilakukan teknik

simple random sampling sebanyak 35 orang responden (lampiran 3) dari jumlah populasi sebanyak 190 orang (lampiran 4).

Data dan Pengumpulan

(32)

Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Instrumen

Instrumen yang digunakan dalam penelitian berupa kuesioner dan pertanyaan terstruktur (pedoman wawancara). Kuesioner yang menjadi acuan dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, berisikan pertanyaan-pertanyaan mengenai karakteristik individu dan keterangan anggota rumah tangga. Kedua, berisikan pernyataan mengenai aset dan kebutuhan rumah tangga serta kebutuhan pangan dan non pangan. Ketiga, berisikan pernyataan tentang pengukuran tingkat kesejahteraan menggunakan indikator keluarga sejahtera BKKBN. Pertanyaan terstruktur berisi tentang panduan pertanyaan yang ditujukan kepada PUS akseptor KB untuk mengukur pola pengambilan keputusan ikut KB dan mengukur tingkat kesejahteraan keluarga secara umum.

Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan beberapa langkah. Pertama, melakukan pengkodean pada pertanyaan dan pernyataan yang telah diajukan, kemudian memasukkan data ke buku kode atau lembaran data (code sheet). Kedua, membuat tabel frekuensi. Ketiga, mengedit yakni mengoreksi kesalahan-kesalahan yang ditemui setelah membaca tabel frekuensi baik pada saat mengisi kuesioner, mengkode, maupun memindahkan data dari lembaran kode ke komputer (Singarimbun dan Effendi 2006).

Data hasil kuesioner terhadap responden kemudian diolah secara statistik deskriptif dengan menggunakan SPSS (Statistical Pakage for Sosial Science) 16.0

dan Microsoft Excel 2007. Statistik deskriptif merupakan statistik yang menggambarkan sekumpulan data secara visual baik dalam bentuk gambar maupun tulisan yang digunakan untuk menggambarkan data berupa tabel frekuensi dan tabulasi silang (crosstab).

Data kuantitatif yang diperoleh dari kuesioner dimasukkan dalam tabel frekuensi, diuji, kemudian dianalisis secara statistik deskriptif yang meliputi tabel frekuensi, ukuran pemusatan, dan ukuran penyebaran. Hasil analisis diinterpretasikan untuk memperoleh suatu kesimpulan. Pengujian hubungan antar variabel uji korelasi Rank Spearman digunakan untuk melihat hubungan yang nyata antar variabel dengan data berbentuk ordinal, seperti untuk menentukan hubungan antara kedua variabel (variabel independen dan variabel dependen) yang ada pada penelitian ini, yaitu menguji hubungan antara karakteristik penerima pelayanan (skala ordinal) seperti jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan dengan tingkat pengambilan keputusan (skala ordinal).

Rumus korelasi Rank Spearman adalah sebagai berikut:

Dimana:

ρ atau rs : koefisien korelasi spearman rank

di : determinan

(33)

Kaidah pengambilan keputusan tentang hubungan antar variabel dalam uji korelasi Rank Spearman dan Chi-Square adalah melalui nilai signifikansi atau probabilitas atau α yang digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antar variabel yang diteliti. Signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar α (0,05), artinya hasil penelitian mempunyai kesempatan untuk benar atau tingkat kepercayaan sebesar 95% dan tingkat kesalahan sebesar 5%. Dasar pengambilan keputusan dirumuskan sebagai berikut:

a. Jika angka signifikansi hasil penelitian < 0,05 maka H0 ditolak. Jadi hubungan kedua variabel signifikan; dan

(34)

GAMBARAN UMUM

Profil Desa Sirnagalih

Kondisi Geografis

Desa Sirnagalih merupakan salah satu Desa di wilayah Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan luas sebesar 177.18 hektar yang terbagi dalam 4 dusun, 12 rukun warga (RW) dan 52 rukun tetangga (RT). Batas-batas wilayah Desa Sirnagalih adalah sebagai berikut:

1. sebelah Utara : Desa Kota Batu 2. sebelah Timur : Desa Sukamantri 3. sebelah Selatan : Desa Tamansari 4. sebelah Barat : Desa Pasir Eurih

Jarak kantor Desa ke Ibukota, Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat dan Ibukota Negara adalah sebagai berikut:

1. Ibukota Kecamatan Tamansari : 0 Km 2. Ibukota Kabupaten Bogor : 20 Km 3. Ibukota Provinsi Jawa Barat : 120 Km 4. Ibukota Negara : 60 Km

Tanah Kas Desa penggunaannya adalah sebagai berikut : 1. Kantor Desa : 0.060 Ha

2. SD/SMP/MI : 1.8 Ha 3. Tanah Makam/Kuburan : 1.56 Ha 4. Mesjid/Mushola/Majelis : 0.336 Ha 5. Jalan Desa : 3.959 Ha

(35)

ruang PKK, ruang LPM, ruang BPD, pos Kamdes, pos Kamling dan perpustakaan Desa. Warga yang ingin mengakses berbagai sarana yang telah disebutkan diatas dapat melaui jalan beton sepanjang 4.3 Km; jalan hotmix 2.5 Km; jalan aspal 3.6 Km; jalan pengerasan 1.03 Km; jalan tanah 0.5 Km; jalan setapak 5.1 Km dan jembatan sebanyak 8 buah.

Kondisi Demografis

Jumlah penduduk Desa Sirnagalih sampai akhir 2012 tercatat sebanyak 12 507 jiwa, terbagi menjadi 3 291 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 6 466 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 5 994 jiwa. Jumlah penduduk menurut agama terdiri dari 12 393 orang beragama Islam, 40 orang beragama Protestan, 9 orang beragama Khatolik, 5 orang beragama Hindu, dan 14 orang beragama Budha. Jumlah penduduk menurut usia dapat dilihat pada Tabel 4. Sebagian besar penduduk adalah kelompok umur 0-4 tahun, dengan jumlah penduduk laki-laki berjumlah 685 orang (10.59%) dan jumlah penduduk perempuan berjumlah 618 orang (10.31%). Sedangkan penduduk dengan kelompok umur 55-59 tahun baik laki-laki maupun perempuan menunjukan jumlah yang paling rendah yaitu masing-masing berjumlah 241 (3.72%) orang dan 217 orang (3.62%). Menurut acuan usia Havighurst (1950)

dalam Mugniesyah (2006) yang dikategorikan menjadi tiga, yaitu: (1) dewasa awal dengan usia antara 18-29 tahun; (2) dewasa pertengahan dengan usia antara 30-50 tahun; (3) dewasa tua dengan usia diatas 50 tahun. Penduduk Desa Sirnagalih pada kategori usia dewasa awal sebanyak 3 655 orang, pada kategori dewasa pertengahan sebanyak 3 629 orang, dan pada kategori dewasa tua sebanyak 1 528 orang.

Tabel 2 Jumlah dan persentase penduduk Desa Sirnagalih berdasarkan kelompok umur tahun 2012

Sumber : Data Monografi Desa Sirnagalih tahun 2012

Kelompok umur

Laki-laki Perempuan Jumlah

(36)

Kondisi Pendidikan

Pendidikan penduduk berdasarkan Data Monografi Desa tahun 2012 menunjukan bahwa jumlah penduduk yang belum sekolah berjumlah 1 303 orang. Jumlah penduduk yang tidak tamat SD dan tamat SD masing-masing sebesar 315 orang dan 740 orang. Jumlah penduduk yang tamat SLTP dan tamat SLTA masing-masing sebesar 1 248 orang dan 1 604 orang. Jumlah penduduk yang tamat Akademi/Diploma dan Perguruan Tinggi masing-masing berjumlah 358 orang dan 212 orang. Jumlah dan persentase tingkat pendidikan penduduk Desa Sirnagalih dapat dilihat pada Tabel 3. Tingkat pendidikan penduduk yang paling besar jumlahnya adalah tamat SLTA dengan persentase sebesar 27.77 persen. Sedangkan jumlah penduduk yang tidak tamat Perguruan Tinggi menunjukan jumlah yang paling rendah dengan persentase sebesar 3.66 persen. Tidak terdapat bangunan SLTA di Desa Sirnagalih, tetapi jumlah penduduk yang tamat SLTA lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah penduduk yang tamat SD.

Tabel 3 Jumlah dan persentase penduduk Desa Sirnagalih berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2012

Tingkat pendidikan Jumlah (N) Persentase (%)

Rendah 2 358 40.78

Sedang 2 852 49.36

Tinggi 570 9.85

Jumlah 5 780 100.0

Sumber: Data Monografi Desa Sirnagalih tahun 2012

Kondisi Ekonomi

Sumber penghasilan utama penduduk Desa Sirnagalih terdiri dari beragam mata pencaharian. Sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai pekerja profesi mandiri seperti tukang ojek, penjahit, supir angkutan dan pedagang atau wiraswasta. Jumlah dan persentase mata pencaharian penduduk Sirnagalih dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Jumlah dan persentase penduduk Desa Sirnagalih berdasarkan mata pencaharian tahun 2012

Mata pencaharian Jumlah (N) Persentase (%)

Profesi mandiri 735 28.98

Pedagang/Wiraswasta 496 19.55

Swasta 357 14.07

Buruh 324 12.77

Petani 297 11.71

PNS 150 5.91

Tukang bangunan 110 4.33

Pensiunan/Purnawirawan 67 2.64

Jumlah 2 536 100.0

(37)

Penduduk yang bermata pencaharian sebagai pekerja profesi mandiri sebanyak 735 orang (28.98%), sedangkan yang bermata pencaharian sebagai pedagang atau wiraswasta sebanyak 496 orang (19.55 persen). Berdasarkan penggolongan jenis pekerjaan yang meliputi sektor usaha dan sektor non usaha. Persentase penduduk yang bekerja pada sektor usaha adalah sebesar 60.25 persen, sedangkan non usaha sebesar 39.74 persen.

Tabel 5 Jumlah dan persentase penduduk Desa Sirnagalih berdasarkan penggolongan jenis pekerjaan tahun 2012

Jenis pekerjaan Jumlah (N) Persentase (%)

Sektor usaha 1 528 60.25

Sektor non usaha 1 008 39.74

Jumlah 2 536 100.0

Sumber: Data Monografi Desa Sirnagalih tahun 2012

Jumlah penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani lebih rendah dibandingkan dengan wiraswasta, buruh, pedagang, dan PNS yaitu sebanyak 297 orang (11.71%). Sedangkan berdasarkan Data monografi Desa Sirnagalih tahun 2012 luas lahan di Desa Sirnagalih sebagian besar adalah lahan sawah dan ladang masing-masing sebesar 48.80 hektar dan 49.90 hektar.

Tabel 6 Luas lahan Desa Sirnagalih berdasakan pemanfaatannya tahun 2012

Pemanfaatan lahan Luas (hektar)

Perumahan/Pemukiman dan Pekarangan 59.600

Sawah 48.800

Ladang/Kebun/Darat 49.900

Jalan 4.540

Pemakaman/Kuburan 1.560

Perkantoran 0.800

Lapangan Olahraga 0.264

Tanah/Bangunan Pendidikan 0.704

Tanah/Bangunan Peribadatan 0.336

Kolam/Tambak 0.200

Jumlah 166.704

(38)

KARAKTERISTIK RESPONDEN

Usia

Usia responden yang diteliti baik laki-laki dan perempuan mengacu pada standar usia PUS yaitu antara 15 sampai dengan 49 tahun. Sebagian besar responden tergolong pada kategori dewasa pertengahan (lihat Tabel 8). Persentase laki-laki pada usia dewasa pertengahan sebanyak 28 orang (80.0%) dan perempuan sebanyak 21 orang (60.0%). Pada tingkat usia responden dewasa awal terdapat laki-laki sebanyak 7 orang (20.0%) dan perempuan sebanyak 14 orang (40.0%). Pada usia dewasa awal, jumlah responden laki-laki lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah responden perempuan, dan sebaliknya pada usia dewasa pertengahan jumlah responden laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan jumlah responden perempuan.

Tabel 7 Jumlah dan persentase responden berdasarkan usia

Usia

Jenis pekerjaan responden laki-laki sebagian besar adalah pada sektor non usaha sedangkan responden perempuan sebagian besarnya tidak bekerja. Jumlah dan persentase responden berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Jumlah dan persentase responden berdasarkan jenis pekerjaan

Jenis pekerjaan Laki-laki Perempuan

Jumlah

(39)

Sedangkan pada sektor formal mereka bekerja sebagai pegawai negeri atau karyawan swasta. Sebanyak 9 orang (25.7%) bekerja di sektor usaha, jumlahnya lebih rendah dibandingkan dengan sektor non usaha.

Jumlah perempuan yang bekerja di sektor non usaha sebanyak 3 orang (8.5%). Jenis pekerjaan responden perempuan di sektor non usaha diantaranya adalah pegawai negeri dan guru honorer. Sedangakan pada sektor usaha, sebanyak 4 orang (11.4%) membuka toko kelontong atau warung di depan rumahnya masing-masing, sementara sebagian besar (80.0%) perempuan bekerja di sektor domestik untuk mengurus anak dan rumah tangga.

Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan responden laki-laki dan perempuan sebagian besar tergolong rendah dengan jumlah masing-masing sebanyak 20 orang (57.1%) dan 18 orang (51.4%). Jumlah responden laki-laki dengan tingkat pendidikan tinggi lebih kecil dibandingkan dengan responden perempuan yaitu sebanyak 15 orang (42.8%), sedangkan responden perempuan dengan tingkat pendidikan tinggi sebanyak 17 orang (48.5%).

Tabel 9 Jumlah dan persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat pendidikan Laki-laki Perempuan

Jumlah (N)

Persentase (%)

Jumlah (N)

Persentase (%)

Rendah 20 57.1 18 51.4

Tinggi 15 42.8 17 48.5

Jumlah 35 100.0 35 100.0

Aset Rumah Tangga Responden

(40)

Tabel 1 Jumlah dan persentase aset rumah tangga responden

Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)

Status Rumah

Milik Sendiri 6 17.14

Sewa 11 31.42

Lainnya (bersama orang tua) 18 51.42

Kualitas Bangunan

Tinggi 20 57.14

Sedang 12 34.28

Rendah 3 8.57

Sarana dan Prasarana Rumah

Tinggi 16 45.71

Sedang 15 42.85

Rendah 4 11.42

Ikhtisar

(41)
(42)

TINGKAT PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEREMPUAN DAN FAKTOR YANG BERHUBUNGAN

Bab ini menjabarkan tingkat pengambilan keputusan perempuan dan tingkat keberhasilan program keluarga berencana. Selain itu bab ini juga akan menggambarkan hubungan antara tingkat pengambilan keputusan dengan tingkat keberhasilan program keluarga berencana.

Tingkat Pengambilan Keputusan Perempuan

Tingkat pengambilan keputusan dalam rumah tangga adalah kontrol atau kuasa siapa diantara suami, istri, keluarga luas dan PLKB yang lebih cenderung dalam pengambilan keputusan. Menurut Sajogyo (1981) dan pengembangan teori di lokasi penelitian, terdapat lima tingkat dalam pengambilan keputusan rumah tangga, yaitu:

1. Keputusan dibuat dominan oleh istri seorang diri. 2. Keputusan dibuat dominan oleh suami seorang diri.

3. Keputusan dibuat bersama oleh suami dan istri tanpa ada tanda-tanda bahwa salah satu mempunyai pengaruh yang relatif besar.

4. Keputusan dibuat oleh keluarga luas diluar suami dan istri. 5. Keputusan dibuat PLKB.

Pola pengambilan keputusan dalam penelitian ini dilihat berdasarkan pengambilan keputusan PUS terhadap keikutsertaan ber-KB.

Tabel 11 Jumlah dan persentase responden berdasarkan pola pengambilan keputusan rumah tangga terhadap keluarga berencana.

Pola Pengambilan Keputusan Jumlah (N) Persentase (%)

Dominan istri 23 65.71

Dominan suami 0 0

Bersama setara 11 31.42

Keluarga luas 1 2.85

PLKB 0 0

Jumlah 35 100

Sebanyak 23 keluarga (65.71%), pengambilan keputusan didominasi oleh istri. Bersama setara sebanyak 11 keluarga (31.42%) dan keluarga luas hanya 1 keluarga (2.85%). Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar keputusan rumah tangga dalam keikutsertaan program KB didominasi oleh istri. Berikut adalah hasil wawancara dengan responden.

(43)

Berikut adalah tabel yang menunjukan tingkat pengambilan keputusan perempuan dalam keikutsertaannya pada program KB. Definisi tingkat pengambilan keputusan yang tinggi adalah dimana pengambilan keputusan didominasi oleh perempuan, bukan bersama setara.

Tabel 12 Jumlah dan persentase tingkat pengambilan keputusan perempuan terhadap keikutsertaan program KB

Tingkat pengambilan keputusan perempuan

Jumlah (N) Persentase (%)

Rendah (skor 5-11) 0 0

Sedang (skor 12-18) 3 8.57

Tinggi (skor 19-25) 32 91.42

Total 35 100

Sebanyak 91.42% responden yang memiliki tingkat pengambilan keputusan perempuan yang tinggi. Hanya 8.57% yang memiliki tingkat pengambilan keputusan yang sedang. Hal ini berarti pengambilan keputusan perempuan dalam keikutsertaan KB di dominasi oleh perempuan.

“...Rata-rata di kampung sini mah perempuan saja yang

pakai KB, jarang ada laki-laki yang pakai alat kontrasepsi, kalaupun ada paling satu atau dua orang. Jadi suami mah

ikut saja yang terbaik buat istrinya.”(RD, 32 tahun)

Tingkat Keberhasilan Program Keluarga Berencana

Berikut adalah tabel yang menggambarkan jumlah dan persentase responden terhadap tingkat keberhasilan KB.

Tabel 13 Jumlah dan persentase tingkat keberhasilan KB PUS

Tingkat Keberhasilan KB Jumlah (N) Persentase (%)

Rendah (skor 4-5) 0 0

Sedang (skor 6-7) 25 71.42

Tinggi (skor 8) 10 28.57

Total 35 100

Sebanyak 71.42% responden yang memiliki tingkat keberhasilan KB yang sedang. Hanya 28.57% yang memiliki tingkat keberhasilan KB yang tinggi. Hal ini dikarenakan akumulasi hasil penghitungan usia perkawinan responden, jumlah anak per keluarga, jumlah akseptor KB dan tingkat kesakitan repreduksi menunjukan sebagian besar rata-rata tingkat keberhasilan KB berada di tingkat sedang.

(44)

Usia Perkawinan

Usia perkawinan yang matang menjadi indikator keberhasilan KB. Usia yang matang, suami istri tentunya sudah dapat menghadapi segala masalah rumah tangga dan dapat mengambil keputusan yang tepat untuk keluarga.

Tabel 14 Jumlah dan persentase responden berdasarkan usia perkawinan

Tabel 14 menunjukan sebagian besar perempuan menikah pada kategori usia dewasa awal sebanyak 51.42% atau sebanyak 18 orang. Pada kategori dewasa tengah terdapat 15 orang (42.85%) dan pada kategori dewasa akhir ada 2 orang (5.71%). Sedangkan sebagian besar laki-laki menikah pada kategori usia dewasa tengah, yaitu 21 orang (60%). Pada kategori dewasa akhir terdapat 11 orang (31.4%) dan pada kategori dewasa awal ada sebanyak 3 orang (8.57%).

Jumlah Akseptor KB

Penelitian di lapangan menunjukkan keikutsertaan akseptor KB tinggi. Terhitung 190 PUS yang menjadi akseptor KB dari total PUS 247. Itu berarti 76.92% pasangan usia subur telah berperan serta dalam program KB. Persentase tersebut masih di bawah 100%. Hal ini disebabkan penyuluhan KB belum merata di desa tersebut, informasi warisan dari orang tua dan keluarga pun belum mendalam, serta masyarakat masih mengabaikan iklan-iklan di poster-poster posyandu atau iklan televisi.

Hampir setiap ibu yang baru melahirkan memang langsung didatangi oleh kader posyandu untuk penyuluhan KB secara langsung. Namun, tidak semua PUS ikut menjadi akseptor KB. Upaya menggalakkan KB sudah banyak dilakukan, namun ada faktor yang membuat sebagian pasangan tidak mau ikut KB. Sebagian dari mereka merasa program KB tidak penting. Sebagian juga hanya ikut-ikutan jadi akseptor, namun tidak menuntaskan programnya.

Jumlah Anak

Sebanyak 23 PUS (65%) mampu menjaga jumlah anak yang ideal menurut BKKBN (1-2 anak). Mereka mengikuti program akseptor KB dengan benar dan melakukan kontrol reproduski dengan baik.

(45)

Tabel 15 Jumlah dan persentase PUS menurut kategori jumlah anak

Kategori Jumlah Anak PUS

Jumlah (N) Persentase (%)

Ideal 23 65.71

Tidak ideal 12 34.28

Jumlah 35 100.0

Meski telah mengikuti program KB, tidak berarti semuanya bisa melakukan kontrol terhadap jumlah anak. 34.28 % pasangan tidak berhasil melakukan kontrol reproduksi sehingga mereka memiliki lebih dari dua anak. Persentase jumlah anak yang tidak ideal ini disebabkan karena faktor internal dari PUS itu sendiri, dimana mereka menginginkan rata-rata 3-4 anak. Hal tersebut menunjukan pemahaman mereka terhadap tujuan program KB masih rendah. Selain itu, sebagian besar akseptor merasa tidak nyaman menggunakan KB karena cenderung mempengaruhi berat badan mereka. Sebagian juga tidak paham manfaatnya dan meninggalkan begitu saja. Namun, juga ada yang menggunakan KB tidak sesuai prosedur, hingga pembatasan dua anak tidak berhasil dilakukan.

Tingkat Kesakitan Reproduksi

Menurut hasil di lapangan, keikutsertaan responden dalam program KB mempengaruhi proses persalinan.

Tabel 16 Jumlah dan persentase tingkat kesakitan reproduksi menurut proses persalinan

Tingkat Kesakitan Reproduksi Perempuan

Jumlah (N) Persentase (%)

Normal 29 82.85

Caesar 6 17.14

Jumlah 35 100.0

(46)

Analisis Hubungan Tingkat Pengambilan Keputusan Perempuan dan Tingkat Keberkasilan Program Keluarga Berencana

Hasil uji korelasi antara tingkat penyediaan akses dan tingkat kemandirian menghasilkan nilai signifikan sebesar 0.023 (lampiran 4). Nilai tersebut lebih rendah dari α (0.05), maka terdapat hubungan antara tingkat pengambilan keputusan dengan tingkat keberhasilan KB. Hubungan tersebut bersifat negatif, artinya semakin tinggi tingkat pengambilan keputusan maka semakin rendah tingkat keberhasilan KB. Sebaliknya apabila semakin rendah pengambilan keputusan maka semakin tinggi tingkat keberhasilan KB. Persentase hubungan tingkat pengambilan keputusan dengan tingkat keberhasilan KB dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17 Persentase hubungan tingkat pengambilan keputusan dengan tingkat keberhasilan KB

Tabel 17 menunjukkan bahwa terdapat 20.68% keluarga yang memiliki tingkat keberhasilan KB tinggi dengan tingkat pengambilan keputusan perempuannya tinggi, dan dengan tingkat keberhasilan KB yang sama terdapat 66.66% keluarga yang memiliki tingkat pengambilan keputusan yang sedang. Pada tingkat keberhasilan KB yang sedang terdapat 79.31% keluarga yang memiliki tingkat pengambilan keputusan yang tinggi, dan dengan tingkat keberhasilan KB yang sama terdapat 33.33% keluarga yang memiliki tingkat pengambilan keputusan yang sedang.

Secara keseluruhan baik keluarga yang memiliki tingkat pengambilan keputusan yang sedang dan tinggi, belum ada keluarga yang memiliki tingkat keberhasilan KB yang rendah. Hal tersebut terjadi karena walaupun terdapat keluarga yang memiliki pengambilan keputusan sedang maupun tinggi namun seluruh responden secara keseluruhan adalah akseptor KB yang tidak lepas dari ketergantungan dengan KB, baik itu dalam hal pengaturan jumlah anak, pengaturan jarak anak, pengaturan usia perkawinan, maupun pengaturan metode persalinan.

(47)
(48)

TINGKAT KEBERHASILAN PROGRAM KELUARGA

BERENCANA DAN FAKTOR YANG BERPENGARUH

Bab ini akan menjabarkan analisis hubungan tingkat keberhasilan KB dengan tingkat kesejahteraan keluarga. Pengukuran tingkat kesejahteraan yang digunakan adalah menurut indikator keluarga sejahtera BKKBN.

Tingkat Kesejahteraan Keluarga

Tingkat kesejahteraan menurut indikator keluarga sejahtera BKKBN adalah keluarga yang telah mampu memenuhi kebutuhan baik yang bersifat dasar, sosial-psikologis, maupun yang bersifat pengembangan, serta telah dapat pula memberikan sumbangan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat. Tingkat kemandirian tersebut dinilai berdasarkan pemenuhan kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan secara baik, pendidikan, keterdedahan terhadap informasi, serta aktif baik secara memberikan sumbangan secara materil maupun menjadi pengurus dalam organisasi sosial masyarakat. Semakin sejahtera maka keluarga sudah mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar secara baik serta aktif dalam kegiatan organisasi sosial masyarakat. Berikut ini adalah tabel yang menggambarkan jumlah dan persentase responden menurut tingkat kesejahteraan petani menurut indikator keluarga sejahtera BKKBN.

Tabel 18 Jumlah dan persentase PUS menurut tingkat keluarga sejahtera (BKKBN)

Tingkat Kesejahteraan Jumlah (PUS) Persentase (%)

Pra Sejahtera (skor 0) 0 0

(49)

sosial-psikologis, maupun yang bersifat pengembangan, serta telah dapat pula memberikan sumbangan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

“…Kesejahteraan keluarga di RW 4 ini sih sudah cukup baik, karena semua kepala keluarganya punya pekerjaan, malah anaknya juga banyak yang mau bantu-bantu cari uang…” (DDS, 29 tahun).

“… Keluarga di RW 4 ini menurut saya secara umum

sudah sejahtera apalagi bila dibandingkan dengan RW sebelah…” (AS, 32 tahun).

Analisis Hubungan Tingkat Keberhasilan Program KB dan Tingkat Kesejahteraan Keluarga

Hasil uji korelasi antara tingkat keberhasilan KB dan tingkat kesejahteraan keluarga menunjukan nilai signifikan sebesar 0.033 (lampiran 6). Nilai tersebut lebih rendah dari α (0.05), maka terdapat hubungan antara tingkat keberhasilan KB dengan tingkat kesejahteraan keluarga. Hubungan tersebut bersifat positif, artinya semakin tinggi tingkat keberhasilan KB maka semakin tinggi tingkat kesejahteraan. Sebaliknya, apabila semakin rendah tingkat keberhasilan KB maka semakin rendah tingkat kesejahteraan keluarga. Persentase hubungan tingkat keberhasilan KB dengan tingkat kesejahteraan keluarga dapat dilihat pada tabel 19. Sejahtera 2 Sejahtera 3 Sejahtera 3 Plus

F % F % F % F %

Tinggi 0 0 8 80 2 20 10 100

Sedang 6 24 18 72 1 4 25 100

Rendah 0 0 0 0 0 0 0 0

Tabel 19 menunjukkan bahwa terdapat 20% keluarga yang memiliki tingkat keberhasilan KB tinggi dan sejahtera tiga plus. Pada tingkat kesejahteraan yang sama sebanyak 4% keluarga memiliki tingkat keberhasilan KB sedang. Sedangkan pada sejahtera keluarga tiga terdapat 80% keluarga memiliki tingkat keberhasilan KB tinggi dan 72% memiliki tingkat keberhasilan KB sedang. Hanya terdapat enam keluarga atau 24% yang berada pada keluarga sejahtera 2 dan memiliki tingkat keberhasilan KB sedang.

Gambar

Gambar 1 Kerangka pemikiran pengaruh pengambilan keputusan peempuan
Gambar 1 Kerangka pemikiran pengaruh pengambilan keputusan peempuan . View in document p.25
Tabel 1 Jumlah dan persentase Akseptor KB terhadap PUS di tingkat Provinsi sampai RW
Tabel 1 Jumlah dan persentase Akseptor KB terhadap PUS di tingkat Provinsi sampai RW . View in document p.30
Tabel 2  Jumlah dan persentase penduduk Desa Sirnagalih berdasarkan kelompok
Tabel 2 Jumlah dan persentase penduduk Desa Sirnagalih berdasarkan kelompok . View in document p.35
Tabel 4  Jumlah dan persentase penduduk Desa Sirnagalih berdasarkan mata
Tabel 4 Jumlah dan persentase penduduk Desa Sirnagalih berdasarkan mata . View in document p.36
Tabel 5 Jumlah dan persentase penduduk Desa Sirnagalih berdasarkan
Tabel 5 Jumlah dan persentase penduduk Desa Sirnagalih berdasarkan . View in document p.37
Tabel 1 Jumlah dan persentase aset rumah tangga responden
Tabel 1 Jumlah dan persentase aset rumah tangga responden . View in document p.40

Referensi

Memperbarui...

Download now (68 pages)
Related subjects : pengambilan keputusan keluarga