Feedback

REPRESENTASI CITRA PEREMPUAN DALAM IKLAN DI TELEVISI (ANALISIS SEMIOTIK DALAM IKLAN SAMSUNG GALAXY S7 VERSI THE SMARTES7 ALWAYS KNOWS BEST)

Informasi dokumen
REPRESENTASI CITRA PEREMPUAN DALAM IKLAN DI TELEVISI (ANALISIS SEMIOTIK DALAM IKLAN SAMSUNG GALAXY S7 VERSI THE SMARTES7 ALWAYS KNOWS BEST) SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang Sebagai Persyaratan untuk Mendapatkan Gelar Sarjana (S-1) Oleh: Yudha Fahmy Ardhyan NIM: 09220081 JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2016 KATA PENGANTAR Assalamualaikum, Wr. Wb. Puji Syukur saya ucapkan kepada Zat Yang Maha Memiliki, Allah SWT, yang senantiasa memberikan curahan welas asih serta selalu membimbing diri yang fana ini, sehinggah mampu menyelesaikan skripsi berjudul: “Representasi Citra Perempuan Dalam Iklan di Televisi (Analisis Semiotik Dalam Iklan Samsung Galaxy S7 versi The SMARTES7 Always Knows Best)”. Benar bahwa menulis skripsi itu tidak mudah. Nyatanya saya menyelesaikan skripsi saya bukan dalam jangka waktu yang terbilang pendek, yaitu:1 tahun lebih. Kesulitan dalam menulis skripsi sesungguhnya bukan datang dari seberapa sulit objek yang akan kita teliti atau seberapa sulit kita menemukan tema besar yang akan kita teliti. Namun, kesulitan yang sesungguhnya adalah datang dari diri sendiri, bukan orang lain. Dalam hal ini saya ingin mengucapkan rasa terima kasih sebesarbesarnya kepada berbagai pihak yang telah membantu saya baik secara materiil maupun moril untuk menyelesaikan skripsi saya ini. Kepada pihak berikut: Allah SWT yang maha mendengar segala keluhan hambanya, terima kasih karena sudah memberikan saya kesempatan serta petunjuk dalam hidup ini, dan terima kasih telah memberi hambamu berbagai bentuk rezeki yang barangkali lupa saya syukuri. Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan yang telah menunjukan bagaimana hidup dengan penuh cinta kasih di dunia ini. Kepada Bapak Sukardi dan Ibu Aini Mardiana, yang untuk mereka berdua justru saya benar-benar tak menemukan kata yang tepat sebagai ucapan terima kasih, yang telah bersabar dengan saya selama 25 tahun saya dilahirkan di dunia ini. Kepada mereka berdua yang telah berkorban segalanya demi saya, saya mencintai kalian, sangat mencintai kalian. Untuk kedua dosen pembimbing saya: Bapak Nurudin dan Bapak Sugeng, terima kasih sebesar-besarnya karena telah meluangkan waktu untuk membimbing saya sehingga mampu untuk menyelesaikan skripsi saya ini. Kepada seluruh pengajar di program studi ilmu komunikasi, terima kasih karena telah melimpahkan ilmu serta nasihatnya kepada saya. Kepada Kampes, Anjar, Rizakta, Mali, Sony, Dugek, Citul, Jimbon, Anggi Mbot, Mas Wahyu, dan seluruh kawan lainnya yang selalu mendukung serta mengganggu disaat saya mengerjakan skripsi, saya ucapkan terima kasih. Kepada para penerbit buku, kepada para penulis yang telah merubah cara pandang saya, kepada mereka yang rela bergerak dalam kesunyian, saya ucapkan terima kasih karena sudah membuat berbeda bagaimana saya memandang dunia ini. Kepada berbagai pihak yang sering menanyakan ini-itu tentang kuliah, saya ucapkan terima kasih atas pertanyaan-pertanyaan yang menyadarkan itu. Akhir kata dengan segala keterbatasan kemampuan yang ada, sehingga apabila masih ada kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, maka penulis menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya serta mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki penulisan skripsi ini. Semoga dapat berguna dan bermanfaat bagi pihak yang membutuhkannya. Wassalamualaikum, wr.wb Malang, 16 Juni 2016 Yudha Fahmy Ardhyan DAFTAR ISI LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI . i PERNYATAAN ORISINALITAS . ii BERITA ACARA BIMBINGAN SKRIPSI . iii KATA PENGANTAR . iv ABSTRAK . vi DAFTAR ISI. vii DAFTAR GAMBAR . x DAFTAR TABEL. xi DAFTAR PUSTAKA . xii BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang. 1 I.2 Rumusan Masalah . 4 I.3 Tujuan Penelitian . 4 I.4 Manfaat Penelitian . 5 1.4.1 Manfaat Praktis . 5 1.4.2 Manfaat Akademis . 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Komunikasi Massa Media Televisi . 6 II.2 Fungsi Sosial Media Massa . 7 II.3 Semiotika. 8 II.4 Semiotika Iklan . 12 II.5 Semiotika Roland Barthes . 20 II.6 Representasi . 24 II.7 Feminisme . 27 BAB III METODE PENELITIAN III.1 Tipe dan Dasar Penelitian . 30 III.2 Ruang Lingkup Penelitian . 31 III.3 Unit Analisis Penelitian . 32 III.4 Teknik Pengumpulan Data. 32 III.5 Teknik Analisis Data . 33 III.6 Keterbatasan Penelitian. 35 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN IV.I Gambaran Umum Iklan Samsung Galaxy S7 versi The SmartesS7 Always Knows Best. . 36 IV.1.2 Penyajian Data . 37 IV.2 Analisis Data. 42 IV.2.1 Analisis Adegan Pertama Iklan Samsung Galaxy S7 versi The SmartesS7 Always Knows Best. . 43 IV.2.2 Analisis Adegan Kedua Iklan Samsung Galaxy S7 versi The SmartesS7 Always Knows Best. . 47 IV.2.3 Analisis Adegan Ketiga Iklan Samsung Galaxy S7 versi The SmartesS7 Always Knows Best . 50 IV.2.4 Analisis Adegan Keempat Iklan Samsung Galaxy S7 versi The SmartesS7 Always Knows Best . 53 IV.2.5 Analisis Adegan Kelima Iklan Samsung Galaxy S7 versi The SmartesS7 Always Knows Best. . 55 IV.2.6 Analisis Adegan Keenam Iklan Samsung Galaxy S7 versi The SmartesS7 Always Knows Best. . 59 BAB V PENUTUP V.I Kesimpulan . 68 V.2 Saran . 69 V.2.1 Saran Praktis . 69 V.2.2 Saran Akademis . 69 DAFTAR GAMBAR 1. Gambar 2.1 Kategori Tipe Tanda Pierce . 10 2. Gambar 2.2 Elemen-elemen Makna Saussure . 11 3. Gambar 2.3 Peta Tanda Roland Barthes . 22 DAFTAR TABEL 1. 2. 3. 4. Tabel 2.1 Kategori Makna Pengambilan Gambar . 18 Tabel 2.2 Tabel Proses Representasi Fiske . 26 Tabel 3.1 Tabel Penelitian . 31 Tabel 4.1 Identifikasi Iklan Samsung Galaxy S7 versi The SmartesS7 Always Knows Best . 37 5. Tabel 4.2 Tabel Visualisasi Iklan Samsung Galaxy S7 versi The SmartesS7 Always Knows Best . 38 6. Tabel 4.3 Ikon Adegan Pertama . 43 7. Tabel 4.4 Tabel Pemaknaan Adegan Pertama . 45 8. Tabel 4.5 Ikon Adegan Kedua . 47 9. Tabel 4.6 Tabel Pemaknaan Adegan Kedua . 48 10. Tabel 4.7 Ikon Adegan Ketiga . 50 11. Tabel 4.8 Tabel Pemaknaan Adegan Ketiga . 51 12. Tabel 4.9 Ikon Adegan Keempat . 53 13. Tabel 4.10 Tabel Pemaknaan Adegan Keempat . 53 14. Tabel 4.11 Ikon Adegan Kelima . 55 15. Tabel 4.12 Tabel Pemaknaan Adegan Kelima. 56 16. Tabel 4.13 Ikon Adegan Keenam . 59 17. Tabel 4.14 Tabel Pemaknaan Adegan Keenam . 62 Daftar Pustaka Buku: Ali, Lukman. 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka. Birowo, M. Antonius. 2004. Metode Penelitian Komunikasi, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Gitanyali. Bungin, Burhan. 2010. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana. _____________ 2011. Konstruksi Media Massa. Jakarta: Kencana. Bordieu, Pierre. 1998. Dominasi Maskulin. Yogyakarta, Jalasutra. Dagun, Save M. Dagun.1992. Maskulin dan Feminism. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Danang S, Anshori. 1997. Membincangkan Feminisme : “Refleksi Muslimah Atas Peran Sosial Kaum Wanita”. Bandung: Pustaka Hidayah. Danesi, Marcel. 2010. Pengantar Memahami Semiotika Media. Yogyakarta: Jalasutra. Darmaprawira, W. A, Sulasmi. 2002. Warna: “Teori dan Kreatifitas Penggunaannya”. Bandung: ITB. Fakih, Mansour. 2004. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Handayani, Trisakti dan Sugiarti 2002. Konsep dan Teknik Penelitian Gender. Malang: UMM Press. Hermawan, Anang. 2011. Mix Methodology Dalam Penelitian Komunikasi. Yogyakarta: Mata Padi Pressindo. Kuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa (Sebuah Analisis Media Televisi). Jakarta: Rineka Cipta. M Amirin, Tamrin. 1991. Menyusun Rencana Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Mulyana, Dedy. 2004. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosda Karya Nasution, S. 1996. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito. Nazir, Mohammad. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurudin. 2009. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Rajawali Pers. Pawito, Ph.D. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LKiS Ritzer, George. 2003. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana Sobur, Alex, 2004. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. _________ 2004 Analisis Teks Media. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Subroto, S. Darwanto. 1994. Produksi Acara Televisi. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Sugihastuti. 2000. Wanita di Mata Wanita. Bandung: Nuansa. _________ 2007. Gender dan Inferioritas Perempuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Wibowo, Indiwan Seto Wahyu. 2011. Semiotika Komunikasi. Jakarta: Mitra Wacana Media. Widagdo, M. Bayu. 2010. Membuat Film Indie Itu Mudah. Yogyakarta: Andi Non Buku: https://www.youtube.com/watch?v=pwb-VW8Wubg Diakses pada tanggal 27 April 2016, Pukul 23:39. http://mestyariotedjo.com/bermusik-mencerdaskan/ Diakses pada tanggal 28 April 2016, Pukul 1:12. http://www.kompasiana.com/dr.pikasa/masih-mau-anak-anda-jadidokter_552b73f76ea834f2548b4586 Diakses pada tanggal 28 April 2016, Pukul 11:34. http://www.kompasiana.com/bmufarida/musik-beraliran-jazz-hanya-untuk-kalanganelite-benarkah_551b031ca333111e21b65ae0 Diakses pada tanggal 28 April 2016, Pukul 10:30 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Melejitnya teknologi dan informasi menjadikan kebutuhan informasi semakin mudah di akses. Masyarakat berkomunikasi semakin mudah dengan menggunakan media baik cetak maupun elektronik. Perkembangan teknologi media ini mendorong perubahan yang luar biasa pada kehidupan media massa sendiri. Dengan perkembangan teknologi yang kian pesat televisi pun ikut mengalami kemajuan. Teknologi televisi menjadi barang yang murah dan merupakan kebutuhan bagi masyarakat. Bukan saja menyajikan berita namun juga bisa menjadi media promosi, propaganda dan juga menjadi alat koreksi sosial. Realitas sosial, kebudayaan atau politik, kini di bangun berdasarkan model-model fantasi yang ditawarkan televisi, iklan, dan sinetron. Pandangan–pandangan diatas itu menunjukkan betapa pentingnya media dalam perubahan kehidupan manusia saat ini. Media televisi merupakan alat informasi yang ampuh dalam mengubah sikap dan perilaku pemirsa karena efek suara dan bentuk gambarnya secara nyata dapat disaksikan mata pemirsa di rumah. Televisi pada praktiknya memproduksi dan menyiarkan realitas sosial dalam bentuk simbol-simbol dalam berkomunikasi dengan audiens. Televisi menghadirkan lingkungan manusia dalam bentuk simbol, mengubah relitas empiris lingkungan manusia menjadi lingkungan simbolis. Salah satu produk televisi yang berkomunikasi melalui simbol-simbolnya adalah iklan. 1 Di Indonesia, istilah iklan sering disebut dengan istilah advertensi dan reklame. Kedua istilah tersebut diambil dari bahasa Belanda yaitu “advertensi” dan bahasa Prancis yaitu “reclame”. Namun pada tahun 1951, istilah periklanan pertama kali diperkenalkan oleh seorang tokoh pers Indonesia, Soedarjo Tjokrosisworo, untuk menggantikan istilah reklame atau advertensi yang ke belanda-belandaan. Awal permunculan iklan di Indonesia lebih banyak berupa iklan pribadi daripada iklan perusahaan. Perkembangan iklan di Indonesia mengikuti model sejarah perkembangan iklan pada umumnya, yaitu seirama dengan perkembangan media massa. Awal masyarakat Indonesia mengenal iklan modern dari surat kabar, kemudian saat masyarakat Indonesia mengenal media radio, maka lahirlah iklan radio, dan kemudian di saat masyarakat mengenal televisi maka lahirlah iklan televisi (Bungin, 2011: 77) Secara umum, iklan dibagi atas dua jenis yaitu iklan komersial dan iklan non-komersial. Iklan komersial merupakan iklan yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan, sedangkan iklan non-komersial merupakan iklan yang bertujuan untuk tidak mendapatkan keuntungan, seperti iklan layanan masyarakat. Periklanan sebagai sarana penunjang aktivitas pemasaran, sangat tepat dilakukan agar tujuan-tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Dengan berkomunikasi melalui iklan, masyarakat akan mengenal produk-produk yang dipromosikan dan akan menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap produk tersebut. Lebih lanjut, dengan dipromosikannya produk melalui iklan khalayak akan mengetahui produk tersebut, manfaat, kegunaan, cara penggunaan bahkan tempat penjualan produk 2 tersebut. Selain itu, iklan juga akan menguatkan ingatan khalayak akan keberadaan produk tersebut. Penggunaan teknik-teknik verbal dan nonverbal membuat pesan-pesannya sepersuasif mungkin, iklan sudah masuk dalam kategori pengintegrasi dalam tatanan signifikasi zaman modern yang dirancang untuk mempengaruhi sikap dan perilaku gaya hidup dengan secara sembunyi-sembunyi menganjurkan kepada bagaimana kita bisa memuaskan dorongan dan aspirasi terdalam melalui konsumsi (Danesi, 2010: 221). Salah satu iklan yang menurut peneliti menarik adalah iklan yang menggambarkan atau merepresentasikan perempuan. Terdapat banyak nilai yang ditanamkan oleh pengiklan pada iklan tersebut. Misalnya nilai tentang citra perempuan yang biasanya ditemui pada iklan kosmetik, sabun, parfum, dan shampo. Dalam iklan-iklan tersebut banyak dimasukkan nilai-nilai kefeminisan perempuan. Nilai-nilai tersebut merupakan citra bagi khalayak yang dipaksakan menjadi konsep bagi masyarakat tersebut tanpa menyadari bagaimana sebenarnya ideologi tersebut. Iklan Samsung Galaxy S7 versi The SmartesS7 Always Knows Best merupakan salah satu iklan yang merepresentasikan citra perempuan. Visualisasi dalam iklan tersebut nampak kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak tersenyum dan seluruh teman-teman taklim di Al-Muslimun dan Nurrahman terima kasih atas dukungannya. 12. Pak Seno, Pak Jono dan Bu Nik yang mempunyai andil dalam membimbing saya. 13. Ucapan terimakasih kepada R.Novi Eka Vitriyana, seseorang yang akan menjadi istri yang saleh yang membantu dakwa penulis, terimakasih atas segala bantuan dan perhatiannya. 14. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Semoga Allah SWT selalu memberikan Hidayah dan Rahmat kepada semua pihak yang telah membantu dengan ikhlas sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis sadar akan keterbatasan dan kurang sempurnanya penulisan skripsi ini, oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun akan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membacanya. Jember, 23 Mei 2008 Penulis x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . i HALAMAN PERNYATAAN. ii HALAMAN PENGESAHAN. iii HALAMAN PERSETUJUAN . iv HALAMAN PERSEMBAHAN . v HALAMAN MOTTO . vi ABSTRACT . vii ABSTRAK . viii KATA PENGANTAR. ix DAFTAR ISI. xi DAFTAR TABEL . xiii DAFTAR GAMBAR. xiv DAFTAR LAMPIRAN . xv I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang Masalah. 1 1.2 Perumusan Masalah . 7 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 7 1.3.1 Tujuan Penelitian . 7 1.3.2 Manfaat Penelitian . 7 II. TINJAUAN PUSTAKA. 8 2.1 Landasan Teori. 8 2.1.1 Pengertian Pendapatan Domestik. 8 a. Teori Keynes . 9 b. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 10 2.1.2 Hubungan Investasi dengan Pendapatan Domestik Bruto . 11 a. Pengertian Investasi. 11 xi b. Teori Harrod dan Domar. 11 c. Teori Keynes . 13 2.1.3 Teori Tingkat Suku Bunga. 14 a. Sintesis Klasik dan Keynesian. 14 b. Teori Mark dan Hull. 15 c. Teori Hick . . 16 2.1.4 Hubungan Nilai Tukar Terhadap Produk Domestik Bruto. 17 a. Teori Pertukaran Kurs . . 17 b. Teori Messe dan Regolf . 19 2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya . . 20 2.3 Kerangka Berpikir. 22 2.4 Hipotesis 23 III. METODE PENELITIAN. 24 3.1 Rancangan Penelitian. 24 3.1.1 Jenis Penelitian. 24 3.1.2 Unit Analisis. 24 3.2 Jenis dan sumber Data. 24 3.2.1 Metode Penelitian. 24 3.3 Metode Analisis Data . 25 3.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 25 3.3.2 Uji t . 26 3.3.3 Uji F . 27 3.3.4 Koefisien Determinasi Berganda . 28 3.4 Uji Ekonometrika . . 28 3.4.1 Uji Multikolinearitas . 28 3.4.2 Uji Autokorelasi 29 3.4.3 Uji Heterokedastisitas 29 3.5 Definisi Operasional 30 xii IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 31 4.1 Gambaran Umum Pendapatan Domestik di Indonesia. 31 4.1.1 Investasi . . 33 4.1.1 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia. 40 4.1.2 Kurs Dollar Amerika Serikat . 43 4.2 Analisis Data. . 47 4.2.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 47 4.2.2 Uji Statistik. 48 4.2.3 Uji Ekonometrika. 48 4.3 Pembahasan . 49 V. KESIMPULAN DAN SARAN. 59 5.1 Kesimpulan. 60 5.2 Saran . 60 DAFTAR PUSTAKA. 61 LAMPIRAN. 65 xiii DAFTAR TABEL Halaman 4.1 Perkembangan Investasi di Indonesia. 4.2 Hasil Uji Multikolinieritas . 50 xiv 34 DAFTAR GAMBAR Halaman 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia . 3 1.2 Total Investasi Indonesia. . 5 2.1 Pengaruh Pendapatan Terhadap Investasi. 12 2.2 Teori Hick Suku Bunga Terhadap Pendapatan. 15 2.3 Hubungan Kurs dengan Produk Domestik Bruto.19 2.4 Kerangka Berfikir . . 22 4.1 Perkembangan Produk Domestik Bruto di Indonesia. 31 4.2 Perkembangan Investasi di Indonesia. 40 4.3 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia .40 4.4 Perkembangan Nilai Rupiah Terhadap Nilai Dollar Amerika. . 44 4.5 Analisis Data dan Uji Autokorelasi. 51 xv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data Variabel Penelitian. 66 2 Logaritma Natural . 68 3 Hasil Regresi Linier Berganda. 72 xvi
REPRESENTASI CITRA PEREMPUAN DALAM IKLAN DI TELEVISI (ANALISIS SEMIOTIK DALAM IKLAN SAMSUNG GALAXY S7 VERSI THE SMARTES7 ALWAYS KNOWS BEST)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

REPRESENTASI CITRA PEREMPUAN DALAM IKLAN DI TELEVISI (ANALISIS SEMIOTIK DALAM IKLAN SAMSUNG GALAXY S7 VERSI THE SMARTES7 ALWAYS KNOWS BEST)

Gratis