Analisis Produksi Padi di Kabupaten Aceh Utara

Gratis

10
115
99
2 years ago
Preview
Full text

ANALISIS PENDAPATAN DAN PRODUKSI PADI DI KABUPATEN ACEH UTARA TESIS Oleh ZURIANI 107039001

  ANALISIS PENDAPATAN DAN PRODUKSI PADI DI KABUPATEN ACEH UTARA TESIS Oleh ZURIANI 107039001 Judul : Analisis Produksi Padi di Kabupaten Aceh UtaraNama : ZurianiNIM : 107039001Program Studi : Magister Agribisnis MenyetujuiKomisi Pembimbing, (Dr. Tavi Supriana, MS) (Ir.

PROGRAM STUDI MAGISTER AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012

  Judul : Analisis Produksi Padi di Kabupaten Aceh UtaraNama : ZurianiNIM : 107039001Program Studi : Magister Agribisnis MenyetujuiKomisi Pembimbing, (Dr. Tavi Supriana, MS) (Ir.

LEMBAR PERNYATAAN

ANALISIS PRODUKSI PADI DI KABUPATEN ACEH UTARA

  Tujuan dari penelitian adalah untuk menganalisis pendapatan dan kelayakan usahatani padi sawah, faktor-faktoryang mempengaruhi produksi dan yang menyebabkan perbedaan produktivitas padi sawah di Kabupaten Aceh Utara. Sedangkan produksi padi di Kecamatan Tanah Pasir dipengaruhi oleh benih dan curahan tenaga kerja.

RIWAYAT HIDUP

  Zuriani, lahir di Nisam, Aceh Utara pada tanggal 29 Mei 1984 dari Bapak Sulaiman dan Ibu Baniah. Pendidikan formal yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut: 1.

KATA PENGANTAR

  Hasil Analisis Regresi antara Produksi dengan Luas Lahan,Benih, Urea, SP-36, KCl, dan Tenaga Kerja pada Usahatani Padi di Kecamatan Tanah Pasir 81 7. Tujuan dari penelitian adalah untuk menganalisis pendapatan dan kelayakan usahatani padi sawah, faktor-faktoryang mempengaruhi produksi dan yang menyebabkan perbedaan produktivitas padi sawah di Kabupaten Aceh Utara.

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Ini bertujuan untuk meningkatkan hasil dan mutu produksi, meningkatkanpendapatan dan taraf hidup petani, serta memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, dan menunjang kegiatan industri juga meningkatkan devisanegara (Suharno et al., 2000). Untuk mencapai tujuan tersebut maka upaya-upaya yang perlu dilakukan antara lain adalah dengan penggunaan teknologi tepat guna,merubah perilaku petani dari subsisten menjadi petani modern, serta mem- perhitungkan efisiensi usahatani dan selalu berorientasi pasar.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian, yaitu:

1. Seberapa besar pendapatan bersih dan pendapatan keluarga pada Usahatani padi sawah di daerah penelitian serta bagaimana kelayakan ekonominya

  Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi padi sawah di tiga kecamatan di Kabupaten Aceh Utara. Faktor apa saja yang menyebabkan perbedaan produktivitas padi sawah di tiga kecamatan di Kabupaten Aceh Utara.

1.3. Tujuan Penelitian

  Menganalisis pendapatan bersih dan pendapatan keluarga pada Usahatani padi sawah di daerah penelitian serta kelayakan ekonominya. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi sawah di Kabupaten Aceh Utara.

1.4. Manfaat Penelitian

  Bagi petani padi, dapat memberikan tambahan wawasan dalam menyikapi kemungkinan timbulnya permasalahan dan pengambilan keputusan usahatani padi. Bagi peneliti, penelitian ini sebagai langkah awal dalam penerapan ilmu pengetahuan dan sebagai pengalaman yang dapat dijadikan referensi .

2.1. Penelitian Terdahulu

  Joko Triyanto (2006) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh input produksi luas lahan, tenaga kerja, benih, pupuk serta pompa air,terhadap produksi padi di Jawa Tengah. Variabel pupuk mempunyai hubungan yang positif tetapi tidak signifikan dalam mempengaruhi produksi padi di JawaTengah, sehingga disarankan untuk melakukan diversifikasi pertanian di luar padi karena nilai elastisitas produksi sudah mendekati kearah constant return to scale.

2.2. Landasan Teori

2.2.1. Tanaman Padi

  Tanaman padi merupakan tanaman semusim yang termasuk dalam golongan rumput-rumputan. Tanaman padi dapat digolongkan menjadi beberapa kelompokberdasarkan keadaan berasnya, cara dan tempat bertanam, dan menurut umurnya(AAK, 1990).

2. Pengolahan Tanah 3

  Penanaman 4. Pemeliharaan Tanaman 5.

2.2.2. Pengertian Usahatani

  Menurut Suratiyah (2006) usahatani merupakan ilmu yang mempelajari tentang bagaimana cara petani mengelola input atau faktor -faktor produksi (tanah, tenaga kerja, modal, teknologi, pupuk, benih, dan pestisida) dengan efektif, efisien dan kontinu untuk menghasilkan produksiyang tinggi sehingga penerimaan usahataninya meningkat. Input dapat terdiri dari barang atau jasa yangdigunakan dalam proses poduksi dan output adalah barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu proses produksi (Sri Adiningsih, 1995).

c) Pupuk

  Ketersediaan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan produksi tanaman, hal ini dapatberpengaruh bila dosis yang diberikan tepat ( Anonymous, 2006). Penambahan unsur hara dapat dilakukan melalui pemupukan sehingga diharapkan dapat memperbaiki kesuburan tanah antara lain menggantikan unsurhara yang hilang karena pencucian atau erosi dan yang terangkut saat panen.

d. Curahan Tenaga Kerja

  Sedangkan menurut jenisnya didasarkan atas spesialisasipekerjaan kemampuan fisik dan keterampilan dalam bekerja yang dikenal tenaga kerja pria, wanita, dan anak-anak. Namun, tidakselamanya penambahan dan pengurangan tenaga kerja mempengaruhi produksi, karena walaupun jumlah tenaga kerja tidak berubah tetapi kualitas dari tenagakerja lebih baik maka dapat mempengaruhi produksi (Soekartawi, 2002).

2.2.5. Fungsi Produksi

  Secara singkat fungsi produksi sering didefinisikan sebagai suatu tabel persamaan matematika yang menggambarkanjumlah output maksimum yang dapat dihasilkan dari suatu faktor produksi tertentu dan pada tingkat teknologi tertentu pula (Ari Sudarman, 1999). Berdasarkan landasan teori, terdapat berbagai macam fungsi produksi, antara lain : fungsi produksi Cobb-Douglass, fungsi produksi linear, fungsiproduksi kuadratik, fungsi produksi eksponensial, fungsi produksi constant elasticity of substitution (CES), fungsi produksi transidental dan fungsi produksi translog (Soekartawi, 1994).

2.2.6. Fungsi Produksi Linier

  Sedangkan kelemahannya terletak pada jumlah Informasi akan dapat diperoleh secara banyak (lengkap) apabila menggunakan variabel X yang lebih dari satu atau yang dikenal dengan fungsiproduksi linier berganda. Dalam bahasa ekonometrika disebut dengan garis regresi berganda (multiple regression), secara matematis dapat ditulis dalam  bentuk model umum, yakni Y = f(X 1 ,X 2 ,X 3 , …, Xn) dan untuk memudahkan dalam pengartian (interpretation) dapat ditulis dalam bentuk model spesifik, yakni Y = b o + b X n .

2.3. Kerangka Pemikiran

  Kerangka pemikiran ini beranjak dari satu tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah produksi padi baik dikecamatan yang memiliki produksi tinggi, sedang maupun rendah. PRODUKSI Fungsi Produksi Linier Faktor – faktor Produksi Padi Faktor Faktor – faktor Produksi Padi – faktor Produksi Padi Di Kecamatan SawangDi Kecamatan Tanah pasir Di Kecamatan Meurah Mulia (Lahan, Benih, Pupuk, Tenaga (Lahan, Benih, Pupuk, Tenaga (Lahan, Benih, Pupuk, Tenaga kerja) Produksi ProduksiProduksi kerja) kerja) Produktivitas Produktivitas Produktivitas Pendapatan Pendapatan Pendapatan Kesejahteraan Kesejahteraan Kesejahteraan Gambar 2.

2.4. Hipotesis

  Faktor produksi luas lahan, benih, pupuk, dan tenaga kerja berpengaruh positif dan nyata terhadap produksi padi di tiga kecamatan. Perbedaan produktivitas padi di tiga kecamatan disebabkan oleh perbedaan kualitas faktor produksi dan karakteristik petani.

III. METODE PENELITIAN

3.1. Metode Pemilihan Lokasi

  Baktiya barat 2.001 2.006 42,91 8.607,75 Dari Tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa 7 kecamatan di Kabupaten AcehUtara termasuk ke dalam kelompok I (produktivitas tinggi yitu 55,37 kw/ha -94,90 Kw/ha), 13 kecamatan termasuk ke dalam kelompok II (produktivitas sedang yaitu 42,91 kw/ha-52,86 kw/ha)), dan sisanya 7 kecamatan termasukkelompok III (produktivitas rendah yaitu 32,61 kw/ha-39,02 kw/ha). Dari hasil pengelompokkan tersebut maka dipilih tiga kecamatan sebagai lokasi penelitianyaitu Kecamatan Sawang dengan produktivitas tertinggi, Kecamatan MeurahMulia untuk produktivitas sedang, dan Kecamatan Tanah Pasir dengan produktivitas paling rendah.

6. Tanah pasir 1.270 1.059 32,61 3.453,4

  Luas Lahan Sawah dan Jumlah Rumah Tangga Petani Tanaman Pangan per Desa di Kecamatan Sawang 51 8. Cot Lambideng No Desa Luas Lahan sawah (ha) Rumah Tangga Petani (Unit) 51 1.

16. Babah Buloh 301 179

  No Desa Luas Lahan sawah (ha) Rumah Tangga Petani (Unit) 20. Rambong Payong 16 15 Dari Tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa total luas lahan sawah diKecamatan Sawang adalah 2111 Ha dan rata Luas Lahan sawah No Desa Rumah Tangga Petani (Unit) (ha) 1.

10. Meunye Payong

  Drien Beukah 35 38 36,58 Sumber :Biro Pusat Statistik Kabupaten Aceh Utara, 2010. Manyan No Desa Luas Lahan sawah (ha) Rumah Tangga Petani (Unit) 40 Lanjutan Tabel 4.

7. Me Merbo 146 125

  Kumbang 31 Meuria merupakan daerah dengan luas lahan tertinggi yaitu 67 Ha, desa meunyePayong dengan luas lahan sedang yaitu 37 Ha, dan desa yang memiliki luas lahan terkecil yaitu Pri Keutapang seluas 12 Ha. Kecamatan ini terdiri dari 18 desa, 15 desa yang memiliki lahan sawah dan tiga desa tidak memiliki lahan sawah.

3.2. Metode Penarikan Sampel

  Data primer merupakan data cross section yang diperolehsecara langsung dari petani padi yang telah ditetapkan sebagai responden atau sampel dengan dibantu alat daftar pertanyaan (kuesioner yang telah dipersiapkansebelumnya). Data sekunder meliputi data penunjang yang diambil secara runtun waktu (time series), yang didapatkan melalui studi kepustakaan dari berbagai sumber, jurnal-jurnal, buku-buku, hasil penelitian maupun data dari lembaga/instansi yang terkait dengan penelitian ini.

3.4.1. Analisis Finansial dan Kelayakan Usahatani Padi sawah

  Untuk menguji tingkat keuntungan ekonomi usahatani padi sawah dilakukan perhitungan pendapatan bersih dan pendapatan keluarga usahatani. Nilai yang positif berarti bahwa usahatani menguntungkan dan sebaliknya nilai yang negatif berarti usahatani rugi.

1. RCR >1 : Usahatani layak diusahakan (menguntungkan secara ekonomi) 2

RCR =1 : Usahatani Break Even Point = BEP (pulang pokok) 3.RCR<1 : Usahatani tidak layak diusahakan (tidak menguntungkan)

3.4.2. Analisis Regresi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Padi

  Model yang digunakan adalah fungsi produksi linier, dimaksudkanuntuk menganalisis pengaruh dari variabel independen (luas lahan, benih, pupuk, dan curahan tenaga kerja) terhadap variabel dependen (produksi padi) baik didaerah yang produktivitas tinggi, sedang maupun rendah. Untuk mendapatkan model persamaan regresi yang baik dan benar-benar mampu memberikan estimasi yang handal dan tidak bias sesuai kaidah BLUE (Best Linier Unbiased Estimator), maka perlu dilakukan uji terhadap penyimpangan asumsi klasik yang meliputi normalitas, multikolinearitas, autokorelasi dan heteroskedastisitas.

3. Uji Autokorelasi

  Autokorelasi dapat diartikan hubungan di antara anggota observasi dalam waktu (data time seris) atau ruang (data cross sectional) (Gujarati, 2003). Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas yaitu dengan melihat scatter plot (nilai prediksi 2 yaitu memplotkan ui dan Ŷi . Heteroskedastisitas akan terdeteksi bila plotmenunjukkan pola yang sistematis (Gujarati, 2003).

3.4.3. Analisis Perbedaan Produktivitas

  Perbedaan produktivitas berdasarkan luas lahan dianalisis secara statistik dengan anova. Selain itu juga dilakukan analisis deskriptif denganmembandingkan kualitas faktor produksi dan karakteristik petani sampel di tiga kecamatan penelitian di Kabupaten Aceh Utara.

3.5. Definisi dan Batasan Operasional

3.5.1. Definisi

  Curahan tenaga kerja adalah tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi padi oleh petani dalam satu masa tanam yang diukur dalam HOK(Hari Orang Kerja) dengan standar 7 jam kerja efektif per hari. Kualitas faktor produksi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kualitas benih (benih unggul atau benih tradisional), kualitas pupuk (pupuk lengkapatau tidak dan frekuensi pemupukan), dan jam mulai kerja.

7. Karakteristik petani sampel yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah umur, pendidikan, jumlah anak, dan pengalaman

3.5.2. Batasan Operasional

  Penelitian hanya menganalisis pengaruh luas lahan, jumlah benih, jumlah pupuk, dan curahan tenaga kerja terhadap produksi padi di tiga kecamatan yangada di Kabupaten Aceh Utara. Data primer tentang jumlah input dan output usahatani padi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data dari musim tanampadi pada tahun 2011.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

  Administrasi, Geografi dan Topografi Wilayah Kabupaten Aceh Utara terletak antara 96.52.000 - 97.31.000Bujur Timur dan 4.46.000 - 5.00.400 Lintang Utara dan mempunyai hamparan daratan seluas 3.296,86 Km2 atau 329.686 Ha, yang tebagi dalam 27 kecamatan,70 kemukiman, dan 852 desa. Batas sebelah Timur Kabupaten Aceh Timur dan sebelah Barat dengan Kabupaten Bireun.

4.1.2. Luas Wilayah dan Penggunaannya

  Dari t otal luas lahan sawah di Kabupaten Aceh Utara terdapat pola penggunaan yang bervariasi yaitu lahan sawah yang ditanam satu kali per tahunseluas 6.504 Ha, dua kali per tahun 32.528 Ha, tiga kali per tahun 3.982, tidak ditanam padi 743 Ha, dan sementara tidak diusahakan seluas 509 Ha. Wilayah KabupatenAceh Utara yang memiliki luas wilayah 3295,86 km2 memiliki tingkat kepadatan penduduk sebesar 161 jiwa/km yang tersebar di seluruh kecamatan yang ada di Berbeda dengan kecamatan Geurudong Pase memiliki penduduk sangat jarang yakni rata-rata per kilometernya sekitar 16 jiwa dengan luas wilayah 271,45 km2.

4.2. Budidaya Tanaman Padi Sawah di Kabupaten Aceh Utara

  Benih yang akan digunakan terlebih dahulu dikecambahkan selama 5 hari (2 hari direndam dalam air dan 3 hari dibiarkanditempat yang lembab dan disiram) kemudian ditabur di tempat persemaian. Hasil survey di lapangan diketahui bahwa padamusim tanam tahun 2011, tanaman padi di Kecamatan Meurah Mulia dan Tanah Pasir banyak terserang hama wereng, tikus dan penyakit tugro.

4.3. Karakteritik Responden

  Secaraumum sarana dan prasarana transportasi yang ada di daerah penelitian berada dalam kondisi yang kurang baik sehingga arus lalu lintas sarana produksi danhasil-hasil pertanian tidak berjalan lancar dan membutuhkan biaya yang relatif tinggi. Rendahnya produksipadi di Kecamatan Meurah Mulia dan Tanah Pasir disebabkan petani di daerah tersebut kurang efisien dalam menggunakan faktor produksi yang ada seperti luaslahan, jumlah benih serta pupuk.

4.6. Analisis Finansial dan Kelayakan Usahatani Padi Sawah di Kabupaten Aceh Utara

  Biaya usahatani yang dianalisis dalam penelitian ini terdiri dari biaya sewa lahan, benih, pupuk urea, pupuk KCl, pupuk SP-36, dan tenaga kerja. Revenue Cost Ratio (RCR) 1,42 1,42 - Sumber : Pengolahan Data Primer Dari Tabel 13 di atas dapat dilihat bahwa ternyata usahatani padi sawah di daerah penelitian adalah usahatani yang menguntungkan.

4.7. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Padi

4.7.1. Kecamatan Sawang

  Luas lahan tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi di Kecamatan Sawang karena lahan yang luas jika kurangpemeliharaan juga tidak akan memberikan hasil yang baik. Benih memiliki koefisien regresi yang negatif berarti bahwa petani yang menggunakan banyakbenih memiliki tingkat produksi yang lebih rendah.

4.7.2. Kecamatan Meurah Mulia

  Benih yang digunakan oleh petani di Kecamatan Meurah Muliaumumnya benih unggul bersertifikat yang dibeli dengan harga Rp.7.000-Rp.15.000 per Kg dan hanya sebagian kecil petani yang menggunakan benih konvensional. Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Padi di Kecamatan Meurah MuliaVariabel Koefisien Nilai signifikan(Constant) -1074.326 .002 luas lahan 3577.217 .000 Benih 3.575 .637Urea 9.426 .004SP-36 576.459 .013KCL 388.850 .031 Sumber : Lampiran 5 Berdasarkan Tabel 15 di atas dapat diketahui bahwa luas lahan berpengaruh signifikan terhadap produksi padi di Kecamatan Meurah Muliadengan koefisien regresi sebesar 3.577,217.

4.7.3. Kecamatan Tanah Pasir

  Benih yang digunakan oleh petani di Kecamatan Tanah Pasirumumnya adalah benih unggul bersertifikat yang dibeli dengan harga Rp.7.000-Rp.14.000 per Kg dan ada juga sebagian yang merupakan bantuan dari dinas pertanian. Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Padi di Kecamatan Tanah PasirVariabel Koefisien Nilai signifikan(Constant) -382.735 .008 luas lahan 248.394 .623 Benih 3.886 .081Urea .012 .996SP-36 81.739 .400KCL 92.230 .396 TK 32.183 .000 Sumber : Lampiran 6 Berdasarkan Tabel 16 di atas dapat diketahui bahwa luas lahan tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi di Kecamatan Tanah Pasir.

4.8. Uji Statistik dan Uji Asumsi Klasik

  2 3) Koefisien Determinasi (R ) Merupakan bilangan yang menjelaskan kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat yang dinyatakan dalam persen. Kecamatan Sawang memiliki koefisien determinasi sebesar 0,945 yang berarti bahwa 94,5% perubahan variable bebas dapat dijelaskan olehvariabel terikat dan sisanya 5,5% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dianalisis di luar model (Lampiran 4).

b. Kecamatan Meurah Mulia memiliki koefisien determinasi sebesar 0,934

  Kecamatan Tanah Pasir memiliki koefisien determinasi sebesar 0,936 yang berarti bahwa 93,6% perubahan variabel bebas dapat dijelaskan oleh variabelterikat dan sisanya 6,4% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dianalisis di luar model (Lampiran 6). Variabel yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap produksi padi diKecamatan Meurah Mulia adalah luas lahan, pupuk urea, pupuk SP-36, dan pupuk KCl dengan nilai probabilitas signifikansi lebih kecil dari alpha(0,000;0,004;0,003;0,031<0,05) (Lampiran 5).

c. Variabel yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap produksi padi di

  Hal ini berarti bahwa secara serempak, luas lahan, benih, pupuk urea, pupuk SP-36, pupuk KCl, dan curahan tenaga kerja berpengaruh signifikanterhadap produksi padi di Kecamatan Sawang dan Kecamatan Tanah Pasir. Untuk mendapatkan model persamaan regresi yang baik dan benar-benar mampu memberikan estimasi yang handal dan tidak bias sesuai kaidah BLUE (Best Linier Unbiased Estimator), maka perlu dilakukan uji terhadap penyimpangan asumsi klasik yang meliputi normalitas, multikolinearitas, autokorelasi dan heteroskedastisitas.

5. Normalitas

  Cara yang digunakan untuk mengujinormalitas adalah analisis grafik (normal P-P plot) dengan hasil yang menunjukkan bahwa data berdistribusi normal karena grafik P-Plotmemperlihatkan residual data yang tersebar disekitar garis regresi (Lampiran 4,5, dan 6) 6. Sedangkan nilai d tabel untuk variabelbebas enam dan pengamatan 30 adalah : dl = 0,9982, dan du = 1,9313 sehingga kesimpulannya bahwa kondisi autokorelasi data penelitian diKecamatan sawang dan Kecamatan Tanah Pasir tidak dapat diambil kesimpulan apa-apa karena nilaidl ≤ d ≤ du ( 0,9982≤ 1,667 dan 1,870 ≤ 1,9313) (Lampiran 4 dan 6) b.

8. Uji Heteroskedastisitas

  Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas yaitu dengan melihat scatter plot (nilai prediksidependen ZPRED dengan residual SRESID) yang dikenal dengan metode grafik 2 yaitu memplotkan ui dan Ŷi . Hasil analisis menunjukkan bahwa data tidakmengalami heteroskedastisitas karena plot tidak menunjukkan pola yang sistematis/ tersebar (Lampiran 4, 5, dan 6).

4.9. Analisis Produktivitas

4.9.1. Analisis Produktivitas Berdasarkan Luas Lahan Luas merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi produksi

  Produksi tinggi yang didapatkan dari luas lahan yang besar belum tentu mengahsilkan produktivitas yang tinggi, artinya semakin luas lahan belum tentu Tabel 17. Besar 0,34 ha - 1,3 ha 4.543,57 Sumber : lampiran 7 Tabel 16 menunjukkan bahwa luas lahan yang kecil memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi karena usahatani yang dilakukan lebih intensifdengan adanya keterbatasan luas lahan yang dimiliki.

4.9.2. Analisis Uji Beda Produktivitas Berdasarkan Luas Lahan

  Hasil análisis keseluruhanmenunjukkan bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan produktivitas antara luas lahan sempit, sedang, dan luas karena nilai signifikansi yang diperolehsebesar 0,110 (lebih besar dari alpha 0,05) seperti yang terlihat pada Tabel 17. 89 Namun demikian, jika dibandingkan satu per satu di antara kategori luas lahan tersebut didapatkan kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang signifikanpada taraf 10% antara produktivitas lahan sempit dengan lahan besar karena nilai signifikansinya sebesar 0,096 ( lebih kecil dari alpha 0,10) seperti pada Tabel 18.

4.9.3. Analisis Faktor-faktor yang Menyebabkan Perbedaan Produktivitas

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan produktivitas di Kecamatan Meurah Mulia yang lebih rendahdari Kecamatan Sawang kemungkinan disebabkan karena penggunaan benih yang jauh lebih banyak dari Kecamatan Sawang karena banyak petani yang tidakmenggunakan jajar tandur sehingga jarak tanam tidak teratur. Irigasi pada dasarnya bukan masalah dalam hal ini karena di Kecamatan Sawang jugaterdapat satu desa yang tadah hujan, demikian juga dengan Kecamatan MeurahMulia yang memiliki satu desa yang tidak cukup kebutuhan air walaupun ada irigasi.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

  Usahatani Padi sawah di daerah penelitian adalah kegiatan yang secara ekonomis masih menguntungkan petani dan dari segi kelayakan usaha adalahmerupakan jenis kegiatan yang layak untuk diusahakan dan dikembangkan. Produktivitas di Kecamatan Meurah Mulia yang lebih rendah dari KecamatanSawang disebabkan karena penggunaan bibit yang jauh lebih banyak dariKecamatan Sawang karena banyak petani yang tidak menggunakan jajar tandur sehingga jarak tanam tidak teratur.

5.2. Saran

  Pemerintah untuk memberikan penyuluhan secara lebih intensif seperti demontrasi plot tetang pola pemupukan tanaman padi sawah dengan dosis dancara yang tepat sehingga kelebihan/ kekurangan dosis dapat dihindari dan tanaman bisa mendapatkan pupuk yang tepat pada waktunya. Petani di Kecamatan Sawang dan Kecamatan Tanah Pasirdisarankan untuk meningkatkan penggunan tenaga kerja terutama dalam halSelain itu diharapkan petani juga lebih serius dalam mengelola usahataninya terutama dalam hal pemeliharaan/ pengendalian gulma.

DAFTAR PUSTAKA

  Analisis fungsi keuntungan dan efisiensi ekonomi relatif pada usahatani padi sawah tadah hujan (Studi Kasus di Wilayah Prima Tani Ds. Analisis Produksi Padi di Jawa Tengah http://eprints.undip.ac.id/ Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi, 1998, Metodologi Penelitian survey, LP3ES, Jakarta.

36 KCL TK (HOK) Produksi (Kg) Produktivitas (Kg/ha)

  N Produksi 30 30 30 30 30 30 30 luas 30 30 30 30 30 30 30 lahanBenih 30 30 30 30 30 30 30 Urea 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 KCl 30 30 30 30 30 30 30 TK 30 30 30 30 30 30 30 Tabel di atas menunjukkan bahwa korelasi tertinggi terjadi antara produksi dengan tenaga kerja dan yang terendah adalah dengan SP-36 Lanjutan Lampiran 4. N Produksi 30 30 30 30 30 30 luas 30 30 30 30 30 30 lahanBenih 30 30 30 30 30 30 Urea 30 30 30 30 30 30 SP-36 30 30 30 30 30 30 KCl 30 30 30 30 30 30 Tabel di atas menunjukkan bahwa korelasi tertinggi terjadi antara produksi dengan luas lahan dan yang terendah adalah dengan KCl Lanjutan Lampiran 5.

Dokumen baru