Pengaruh metode sorogan dan bandongan terhadap keberhasilan pembelajaran (studi kasus Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan Pasuruan Jawa Timur)

Gratis

36
202
84
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Yang MAHA atas segala-NYA di seluruh jagad raya alam semestaini, yang selalu memberikan kita rezeki yang berlimpah baik itu kesehatan jasmani maupun rohani dan nikamt materi dan non materi dengan-Nya lah kitaselalu meminta pertolongan-Nya sebab yang bisa menolong kita hanyalah AllahSWT karena Allah lah sebaik-baiknya penolong. Skripsi ini berjudul “Pengaruh Metode Sorogan dan Bandongan Terhadap Keberhasilan Pembelajaran (Studi kasus Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan Pasuruan Jawa Timur)”, penulis tertarik mengangakat karya tulis ini karna seiring perkembangan zaman dan makin berkembangnya dunia teknologi, metode pembelajaran tradisional seperti sorogan dan bandongan masih cukupeksis khususnya di pesantren-pesantren.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejarah pendidikan Islam di Indonesia sebelum Indonesia Merdeka, adalah berdasarkan kedaerahan dan belumlah berpusat seperti

  Pendidikan Islam di Jawa berlainan keadaannya dengan diSumatera dan berlainan pula dengan di Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan lain-lain. Menurut Endang Saifudin Anshari sebagai manadikutip oleh Azyumardi Azra : Pendidikan Islam sebagai proses bimbingan (pimpinan, tuntutan, dan usulan) oleh subyek didik terhadap perkembangan jiwa(pikiran, perasaan, kemauan, intuisi, dan sebagainya), dan raga obyek didik dengan bahan 5 evaluasi sesuai dengan ajaran Islam.

6 Tuhan sekalian alam”

  Di dalamnya selalu terdapat interaksi antara kyai sebagai pendidik dan santri sebagai peserta didik, khususnya dalam bentukpengkajian, buku teks klasik yang sering disebut kitab kuning dan bahasan lain yang biasanya dilaksanakan. Keutamaan pokok kyai dalam pesantren,selain ia karena mempunyai keunggulan di bidang ilmu dan kepribadian yang dapat dipercaya dan patut diteladani, juga karena dia pendiri danpenyebab adanya pesantren.

7 M. Dawam Raharjo, Pesantren dan Pembaharuan, (Jakarta: PT Pusta Lp3ES Indonesia

  Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang 8yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl : 125) Dalam kaitan ini, lembaga pondok pesantren agar tetap eksis memiliki peluang untuk bisa mempertahankan tradisi Islam yang bersifattradisional dan juga harus bisa melaksanakan inovasi baru dalam sistem pendidikan pesantren.

9 Yang Lebih Baik.”

  Dalam kenyataan di atas seharusnya dapat memacumereka yang berkompeten dalam pengembangan pesantren agar melakukan langkah-langkah yang transformatif, bila pesantren akandijadikan sebagai institusi pendidikan yang menjanjikan pada era modern. Dalam permasalahan diatas timbul pertanyaan apakah metode sorogan dan bandongan ini masih efektif dalam meningkatkan pemahamansantri dalam proses pengajaran di pondok pesantren pada zaman sekarang ini dengan melihat perkembangan zaman yang semakin maju khususnyadalam pembelajaran qiroatul kutub.

D. Manfaat Penelitian

  Memberi informasi pada masyarakat dan lembaga pendidikan bahwa metode pembelajaran tradisional seperti sorogan dan bandongan masihdiperlukan. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru dalam bidang penelitian pendidikan dan model-modelpembelajaran yang akan menjadi bekal untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata setelah menyelesaikan studinya.

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERFIKIR A. Metode Sorogan dan Bandongan dalam Pembelajaran 1. Pengertian Pembelajaran Pembelajaran adalah kata yang berasal dari kata “ajar”, sebuah kata

  yang berimbuhan “pe-“ dan “-an” atau disebut juga imbuhan campuran(konfiks) dan bisa berarti beberapa makna, yakni : menyatakan hal, proses atau perbuatan, hasil, tempat dan alat. Dapat ditarik kesimpulan bahwa Pembelajaran adalah usaha sadar dari guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkahlaku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu dengan didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relativelama dan karena adanya usaha.

2. Pengertian Metode

  Pengertian metode menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalamilmu pengetahuan dsb); cara kerja yang bersistem untuk memudahkan 2 pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Kata metode berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata “metha” yang berarti melalui, dan “hudos” yang berarti jalan yang dilalui.

3. Pengertian Metode Sorogan

  Mula-mula badal tersebut membacakan materi yangditulis dalam bahasa Arab, kemudian menerjemahkan kata demi kata dalam bahasa daerah dan menerangkan maksudnya, setelah itu santridisuruh membaca dan mengulangi pelajaran tersebut satu persatu sehingga 9 setiap santri menguasainya. Sebab, padadasarnya hanya murid-murid yang telah menguasai sistem sorogan sajalah yang dapat memetik keuntungan dari sistem bandongan di pesantren.

4. Pengertian Metode Bandongan

  cit., h.75 Kegiatan belajar mengajar di atas berlangsung tanpa perjenjangan kelas dan kurikulum yang ketat, dan biasanya dengan memisahkan 15 kelompok santri berdasarkan jenis kelamin. Aspek keterampilan (skill) yang dikuasai oleh para santri dapat dilihat melalui praktek kehidupan sehari-hari ataupun dalam bidang fiqh,misalnya dapat dilakukan dengan praktek atau demonstrasi yang dilakukan oleh para santri pada halaqah tersebut.

5. Kelebihan dan Kekurangan Metode Sorogan dan Bandongan a. Metode sorogan

  1)Kelemahan Metode Sorogan Bila dipandang dari segi waktu dan tenaga mengajar kurang efektif, karena membutukan waktu yang relatif lama apalagi bila santriyang belajar sangat banyak akan membutukan waktu yang sangat panjang dan banyak mencurahkan tenaga untuk mengajar. Sistim sorogan dalam pengajian ini merupakan bagian yang paling sulit dari keseluruhan sistim pendidikan Islam tradisional, sebab sistemsorogan menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan dan disiplin pribadi 20 guru pembimbing dan murid.

22 Arab

b. Metode Bandongan

  d)Metode bandongan ini kurang efektif bagi murid yang pintar karena materi yang disampaikan sering diulang-ulang sehinggaterhalang kemajuannya. 2)Kelebihan Metode Bandongan a)Lebih cepat dan praktis untuk mengajar santri yang jumlahnya banyak.

B. Pondok Pesantren 1. Pengertian Pondok Pesantren

  Pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan agama Islam yang tumbuh dan diakui oleh masyarakat sekitar denga sistem asramayang santrinya menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada dibawah kepemimpinanseorang atau beberapa kyai dengan ciri-ciri khas yang bersifat 23 kharismatik serta independen dalam segala hal. Pesantren yang merupakan “Bapak” dari pendidikan Islam diIndonesia, didirikan karena adanya tuntutan dan kebutuhan zaman, hal ini bisa dilihat dari pejalanan sejarah, dimana bila dirunut kembali,sesungguhnya pesantren dilahirkan atas kesadaran kewajiban dakwahIslamiyah, yakni menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam, 24 sekaligus mencetak kader- kader ulama atau da’i.

2. Jenis-Jenis Pondok Pesantren

  Diantara pesantren ini ada yang mengelola madrasah, bahkan juga sekolah-sekolah umum mulai tingkat dasar atau menengah, dan adapula pesantren-pesantren besar yang sampai ke perguruan tinggi. Begitu juga dengan sistem yang diterapkan, seperti carasorogan dan bandungan mulai berubah menjadi individual dalam 26 hal belajar dan kuliah secara umum, atau studium general.

3. Metode Pembelajaran di Pondok Pesantren a. Pondok Pesantren Tradisional

  Santri-santri yang cerdas dan rajin lekas pelajarannya dan cepat pandai, sehingga dapat menjadi guru bantu,sedangkan santri-santri yang bodoh serta malas sampai bertahun-tahun lamanya tidak juga tamat pelajarannya. Kitab-kitab pelajaran yang dipakai pada pondok pesantren itu hampir sama juga dengan kitab-kitab pelajaran yang dipakai di surau-surau diSumatra.

b. Pondok Pesantren Modern

  Kriteria-kriteria di atas belum tentu terpenuhi semua pada sebuah pesantren yang mengklaim modern. Pondok Modern Gontor, inventordari istilah pondok modern, umpamanya, yang ciri modern-nya terletak 27 formal yang kurikulumnya diakui pemerintah.

C. Kerangka Berfikir

  Metode sorogan merupakan metode yang bersifat individual, dimana santri menghadap guru seorang demi seorang dengan membawakitab yang akan dipelajarinya. Sedangkan metode bandongan adalah metode yang bersifat kelompok besar, dimana santri mengikuti pelajaran dengan duduk disekeliling kyai yang menerangkan pelajaran secara kuliah.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 13 Desember 2013 sampai

B. Metode Penelitian

  Dengan pendekatan tersebutdiharapkan dapat memperoleh pemahaman dan penafsiran yang mendalam mengenai makna, kenyataan dan fakta yang relevan. Dalam penelitian ini,sasaran yang hendak dicapai adalah untuk mendeskripsikan, memahami dan membuktikan Pengaruh Metode Sorogan dan Bandongan TerhadapKeberhasilan Pembelajaran.

C. Populai dan Sampel 1

  Sesuai dengan kebutuhan dalam proses penelitian ini maka” yang dijadikan populasi adalah seluruh santri Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan yang berjumlah 36 orang. Tetapi berhubung ada 4 orang santri yang izin untuk pulang ke rumah karna ada keperluan, maka jumlahsantri yang diteliti menjadi 32 orang santri.

2. Sample

  Sebagian atau wakil populasi yang diteliti disebut sampel, untuk memperkirakan maka apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baikdiambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Dikarenakan jumlah populasi kurang dari 100 maka25% atau lebih” penulis mengambil seluruh sampel yakni 32 orang santri.

D. Teknik Pengumpulan Data

  Untuk memperoleh data yang objektif yang berhubungan dengan pokok-pokok masalah ini, maka digunakan alat pengumpul data sebagaiberikut: 1. ObservasiObservasi adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematis gejala-gejala yangdiselidiki.

1 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka

  DokumentasiMetode dokumentasi merupakan sumber non manusia, sumber ini adalah sumber yang cukup bermanfaat sebab telah tersedia sehingga akanrelatif murah pengeluaran biaya untuk memperolehnya, merupakan sumber yang stabil dan akurat sebagai cermin situasi/kondisi yangsebernarnya serta dapat dianalisis secara berulang-ulang dengan tidak mengalami perubahan. AngketAngket adalah suatu teknik dimana peneliti mengumpulkan data dengan cara membuat sejumlah pertanyaan yang berkaitan denganmasalah yang akan diteliti, angket ini diberikan oleh peneliti kepada santri Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan.

E. Hipotesis Statistik

  Metode pengolahan data angket dilakukan dengan menjumlahkan skor jawaban dari masing-masing siswa, kemudian menjumlahkan seluruhskor jawaban dari 32 sampel tersebut, ini dinamakan sebagai variabel X(Metode Sorogan dan Bandongan). Untuk mengetahui hubungan antara keaktifan berorganisasi dan prestasi belajar, digunakan tekhnik analisa dan korelasi Product Momentdengan rumus sebagai berikut :Keterangan: r xy : Angka Indeks Korelasi “r” product MomentN : Number of Cases∑XY : Jumlah hasil perkalian skor X dan Y∑X : Jumlah seluruh skor X∑Y : Jumlah seluruh skor YSetelah dilakukan analisis data, maka hasilnya diinterpretasikan dandisimpulkan.

3 Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada

  Tabel 3.2 Interpretasi Indeks Korelasi Product Moment Besarnya “r” Product MomentInterpretasi (r xy)0,00 Antara variabel X dan variabel Y sangat rendah sehingga kolerasi itu diabaikan (dianggap tidak ada kolerasi atau pengaruh antaravariabel X dan variabel Y) 0,20 -0,40 Antara variabel X dan variabel Y terdapat kolerasi yang lemah atau rendah. 0,40 Antara variabel X dan variabel Y 0,70 Antara variabel X dan variabel Y 0,90 Antara variabel X dan variabel Y 1.

2. Terdapat hubungan positif pengaruh metode sorogan dan bandongan terhadap

  Wawancara dengan pengajar Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan, pada tanggal Pondok pesantren salafiyah sladi kejayan merupakan salah pondok pesantren tradisional yang masih berdiri dan masih sangat teguhmenjaga apa yang diwariskan dari awal berdiri sampai sekarang ini. Yaknisantri yang benar-benar telah dianggap mampu dan menguasai apa yang telah diberikan dan didapatkan di pondok, maka santri tersebutakan dikirim keluar daerah bahkan sampai ke Malaysia untuk dikerja tugaskan mengajar di lembaga pendidikan seperti sekolah ataupunpesantren.

2. Struktur Pengurus dan Data Guru Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan

  Adapun struktur kepengurusan dan data tentang tenaga pengajar di Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan dapat dilihat 2 pada tabel di bawah ini : Tabel 4.1 Nama Pengurus Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan No. Keamanan dalam yakni bertugas untuk mengamankan situasi dan kondisi santri di dalampondok pesantren, sedangkan keamanan luar yakni bertugas mengawasi santri yang keluar dari pondok dan memilikikewenangan untuk memberikan izin kepada santri yang ingin keluar dari wilayah pondok pesantren.

3 Wawancara dengan staf tata usaha Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan, pada

  Dan data tentang tenaga pengajar di Pondok PesantrenSalafiyah Sladi Kejayan dapat dilihat pada tabel di bawah ini: 4 Tabel 4.2Data Guru Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan No. Nama Pendidikan Mapel Ket.

3 Ustadz Ma’ruf

  Sebagai mana yang telah di tuturkan Ustadz Kholil, salah satu staf tata usaha di pondokpesantren bahwa jumlah pengajar pada tahun 2013 ini sudah tidak sesuai lagi dengan arsip. Karna belum ada lagi pembaruan arsipdan berkas-berkas di kantor, yang disebabkan karna sedang ada 5 renovasi di beberapa bagian kantor dan masjid.

3. Keadaan Santri Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan

  Tahun Ajaran Jumlah Santri Jenis 1 2009/201093 2 2010/2011 68 Laki-laki 3 2011/2012 505 4 2012/2013 36 Wawancara dengan staf tata usaha Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan, pada tanggal 24 Desember 2013 di Pondok Pesantren Salafiyah6 Dari tabel di atas menunjukkan bahwa setiap tahun jumlah santri di pondok pesantren semakin menurun. 9 Lapangan Olahraga -7 Wawancara dengan staf tata usaha sekaligus pengajar di pondok pesantren, pada tanggal Dari tabel di atas dapat kita lihat sarana dan prasarana yang tersedia di Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan beserta jumlahyang tersedia dalam memenuhi kegiatan belajar mengajar santri maupun untuk keperluan santri yang lain.

5. Bidang-bidang Materi yang Diajarkan di Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan

  Pelaksanaan Metode Sorogan dan Bandongan di Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan Bentuk pelaksanaan metode sorogan dan bandongan di PondokPesantren Salafiyah Sladi Kejayan adalah dalam bentuk proses belajar mengajar di dalam dan di luar kelas. Menurutwawancara yang penulis lakukan para guru selain memberikan materi pelajaran juga selalu memberikan bimbingan dan perhatianbagi santri yang belum memahami materi dengan metode sorogan dan bandongan secara intensif di luar kelas agar siswa dapatmengikuti pengajian dengan metode sorogan dan bandongan dengan baik.

b. Santri

  Dari hasil wawancara yang penulis lakukan, pelaksanaan metode sorogan dan bandongan yang dilaksanakan di PondokPesantren Salafiyah Sladi Kejayan dilakukan dalam berbagai kegiatan yang diberikan kepada santri dengan tujuan agar parasantri tersebut terbiasa sehingga mereka dapat mengikuti pengajian dengan metode sorogan dan bandongan dengan baik. Ma’ruf selaku guru dan pengasuh Pondok Pesantren ketika diwawacari olehpenulis, bahwa pelaksanaan metode sorogan dan bandongan dapat mempermudah santri dalam mempelajari kitab-kitab yang dikaji 12 pondok pesantren ini dan menambah kosakata bahasa Arab.

B. Deskripsi Data

  Alternatif jawaban F ProsentaseSangat cukup 13 40,6%Cukup 7 21,9% 6 Kurang cukup 11 34,4%Tidak cukup 1 3,1% Jumlah 32 100%Dari tabel di atas menunjukkan bahwa tempat yang tersedia untuk melaksanakan metode sorogan dan bandongan sudah cukup denganadanya jawaban sebanyak 40,6 % yang menjawab “sangat cukup”, 21,9% yang menjawab “cukup”, 34,4% yang menjawab “kurang cukup” dan 3,1% menjawab “tidak cukup”. Alternatif jawaban F Prosentase 15 Selalu 7 21,9%Sering 10 31,25Kadang-kadang 13 40,6Tidak pernah 2 6,25 Jumlah 32 100%Dari tabel di atas menunjukkan bahwa santri yang menelaah materi yang telah dikaji memiliki tingkat kewajaran yang tidak terlalu signifikan,artinya jumlah responden yang rajin untuk menelaah hampir seimbang dengan jumlah responden yang hanya menjawab terkadang saja bahkanada yang menjawab tidak pernah.

C. Pengujian Hipotesis

  Kemudian untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antara nilai angket metode sorogan dan bandongan dengankeberhasilan pembelajaran santri maka penulis menggunakan rumusProduct Moment dengan memasukkan data-data yang diperoleh kedalam tabel sebagai berikut: Tabel 4.33 Jumlah Variabel X dan Variabel Y No. Ada yang menjadi pengajar di daerahtempat tinggal mereka masing-masing dan tidak sedikit pula dari mereka yang mengabdi di Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan, baik sebagaipengajar ataupun hanya sekedar bantu-bantu dalam operasional dan kegiatan Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Terdapat pengaruh yang sedang atau cukup antara metode sorogan dan

B. Saran

  Bagi pengajar, dalam pelaksanaannya hendaknya metode sorogan dan bandongan divariasikan atau dikombinasikan dengan metodelain, agar proses belajar mengajar tidak monoton dan menjenuhkan bagi santri. Bagi pesantren, hendaklah lebih terbuka dengan hal-hal baru meskipun pondok pesantren ini tergolong tradisional, agar pondokpesantren ini bisa lebih menyesuaikan dengan dunia pendidikan yang semakin berkembang diluar sana.

4. Bagi pemerintah, lebih berkontribusi lagi dalam pendidikan khususnya di pondok pesantren yang tergolong tradisional

Walaupun tradisional tetapi tidak tertinggal dengan pondok pesantren yang lebih modern.

DAFTAR PUSTAKA

  Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Pesantren dan Pembaharuan.

Dokumen baru

Download (84 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Implementasi metode sorogan modified dalam meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning di Pesantren Luhur Sabilussalam Ciputat
14
73
165
Efektifitas pembelajaran membaca al-qur'an dengan menggunakan metode iqra (studi kasus di SMK Triguna Utama Ciputat)
6
51
121
Relasi partai politik dengan pondok pesantren (studi kasus PPP dengan Pondok Pesantren Daruttafsir kabupaten Bogor)
2
16
68
Efektivitas pemanfaatan media pembelajaran VCD bidang studi fiqh terhadap peningkatan kemampuan kognitif siswa (studi kasus di MTs al-ikhwaniyah Pondok Aren)
0
2
72
Pengaruh metode sorogan dan bandongan terhadap keberhasilan pembelajaran (studi kasus Pondok Pesantren Salafiyah Sladi Kejayan Pasuruan Jawa Timur)
36
202
84
Sistem pendidikan Pesantren Salafiyah ditengah modernisasi: Studi Kasus Pondok Pesantren Az-Ziyadah, Tanah 80, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur.
1
9
128
Penyesuaian diri santri di Pondok Pesantren terhadap kegiatan pesantren : studi kasus di Pondok Pesantren Darunnajah
10
64
116
Pengaruh Pondok Pesantren Ummul Quro al-Islami terhadap perilaku keagamaan masyarakat kampung Banyusuci Bogor Jawa Barat
1
13
121
Pengaruh pengetahuan warga tentang perbankan syariah terhadap minat memilih produk Bank Muamalat: studi kasus santri Pondok Pesantren Darunnajah
8
85
114
Pengaruh Salat Malam Berjamaah terhadap Kedisiplinan Santri studi kasus di Pondok Pesantren Al-Hidayah Basmol Jakarta- Barat. Di bawah bimbingan
0
12
117
Pola komunikasi antara kiai dan santri dalam metode pembelajaran kitab kuning di Pondok Pesantren Darul Ishlah Buncit Raya, Jakarta Selatan
1
9
105
Manajemen Pondok Pesantren Tradisional Di Pondok Pesantren Salafiyah Al-Hijratul Munawwaroh Bandar Lampung
0
0
39
Guru Muthmainnah dalam Perspektif Kyai Pesantren (Studi Terhadap Tiga Kyai Pimpinan Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo Jawa Timur)
0
0
18
View of Implementasi Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo
1
2
17
Fundraising Ziswaf dan Kewirausahaan di Pondok Pesantren Modern Tazakka, Batang, Jawa Tengah
0
1
10
Show more