PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK-HAK PETANI DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PERLINDUNGAN VARIETAS TANAMAN

Gratis

1
13
51
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK-HAK PETANI DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PERLINDUNGAN VARIETAS TANAMAN Oleh: Miranti Dwi Saputri Indonesia merupakan negara agraris dengan potensi alam melimpah, sehingga membuat petani dapat menanam sepanjang tahun. Lahirnya Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) menyebabkan terjadinya kesenjangan hak antara pemulia tanaman dan petani. Permasalahan dalam penelitian ini: bagaimana pengaturan terhadap hak-hak petani di Indonesia, bagaimana perlindungan hukum terhadap hak-hak petani ditinjau dari Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman dan apa saja upaya yang dilakukan untuk memberikan perlindungan hukum terhadap hak-hak petani di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif dengan tipe penelitian deskriptif. Data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari bahan-bahan hukum: primer, sekunder dan tersier. Analisis terhadap data yang diperoleh dilakukan dengan cara analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hak-hak petani diatur dalam berbagai undang-undang: Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2006 tentang Pengesahan Perjanjian Sumber Daya Genetik untuk Pangan dan Pertanian, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, dan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Perlindungan hukum terhadap hak-hak petani dalam UU PVT hanya mencakup perlindungan varietas lokal dan penggunaan sebagian hasil panen dari varietas yang telah dilindungi oleh UU PVT. UU PVT membatasi hakhak petani untuk mengembangkan kreativitasnya terhadap persilangan benih guna mendapatkan benih yang berkualitas tanpa harus membayar mahal untuk membeli benih pada pemulia tanaman yang memiliki hak PVT. Upaya yang dapat dilakukan untuk memberikan perlindungan hukum terhadap hak-hak petani adalah dengan mengajukan judicial review terhadap UU PVT pada Pasal 6 Ayat (3) Miranti Dwi Saputri Huruf h dan Pasal 10 Ayat (1) Huruf a kepada Mahkamah Konstitusi. Demi terciptanya keseimbangan hak antara pemulia tanaman dan petani maka dirasa perlu untuk menambahkan aturan khusus mengenai petani terkait dengan kegiatan pemuliaan tanaman yang lebih disesuaikan dengan keadaan yang ada di Indonesia. Kata kunci: Perlindungan hukum, hak-hak petani, varietas tanaman. RIWAYAT HIDUP Nama lengkap penulis adalah Miranti Dwi Saputri, penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 10 Januari 1994. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara yaitu dari pasangan Bapak Taufiq Kurrahman dan Ibu Pebrinda. Penulis mulai mengenyam pendidikan dan lulus dari TK Satria Bandar Lampung pada tahun 1999, Sekolah Dasar di SDN 1 Way Dadi pada tahun 2005, Sekolah Menengah Pertama di SMPN 29 Bandar Lampung pada tahun 2008 dan Sekolah Menengah Atas di SMAN 5 Bandar Lampung pada Tahun 2011. Pada tahun 2011 penulis melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi menjadi mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri tertulis (SNMPTN tertulis). Semasa kuliah penulis aktif mengikuti kegiatan organisasi yaitu Sekretaris Umum UKM-U Komunitas Integritas (KOIN) periode 2013/2014 dan anggota dari HIMA Perdata Fakultas Hukum Unila. Penulis telah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Ketang, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan selama 40 hari. PERSEMBAHAN Semua yang telah ku capai ini adalah atas berkah dan rahmat ALLAH SWT dan junjungan besar Nabi Muhammad SAW dan hasil kerja keras ku selama ini. Kupersembahkan Karya ku ini Kepada : Papa Taufiq Kurrahman dan Mama Pebrinda tercinta, yang selalu mencurahkan kasih sayang dan tidak henti-hentinya mendoakan keberhasilan ku dalam setiap sujudnya. Kakak dan Adikku serta keluarga besarku yang selalu memberikan dukungan dan doa kepadaku. Dan untuk semua teman-temanku yang telah memberikan dorongan, saran, dan bantuan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. MOTO “Hukum yang tidak adil bukanlah hukum” (St. Augustine) “Hiduplah berilmu seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk” (Unknown) “Jadilah dirimu sebagaimana yang kau inginkan” (Unknown) SANWACANA Puji dan Syukur kepada ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Perlindungan Hukum terhadap Hak-hak Petani ditinjau dari Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Lampung. Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidaklah sempurna dan masih memiliki banyak kelemahan serta kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan skripsi ini. Pada penulisan skripsi ini, penulis telah banyak memperoleh masukan dan menerima bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Heryandi, S.H., M.S. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung; 2. Bapak Dr. Wahyu Sasongko, S.H, M.Hum., selaku Ketua Bagian Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Lampung, dan juga selaku Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan waktu untuk membimbing, memberikan masukan, motivasi dan mengarahkan penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan; 3. Ibu Kasmawati S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktu untuk membimbing, memberikan masukan, motivasi dan mengarahkan penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan 4. Bapak Dr. M. Fakih., S.H., M.S. selaku Dosen Pembahas I yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun dalam penulisan skripsi ini; 5. Bapak Defri Liber Sonata, S.H., M.H., selaku Dosen Pembahas II yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun dalam penulisan skripsi ini; 6. Bapak Dr. Budiono, S.H.,M.H., selaku Pembimbing Akademik yang telah membimbing penulis selama ini dalam perkuliahan. 7. Seluruh Dosen Pengajar, Staf dan Karyawan di Fakultas Hukum Universitas Lampung yang penuh dedikasi dalam memberikan ilmu yang bermanfaat bagi penulis, serta segala bantuan yang diberikan kepada penulis selama menyelesaikan studi. 8. Teristimewa untuk papa dan mama tercinta, Taufiq Kurrahman dan Pebrinda, S.Pd., M.M yang selalu memberikan doa dan kesabaran yang tiada henti, terima kasih atas cinta dan kasih sayang serta perhatiannya selama ini, semoga kelak dapat membahagiakan serta membanggakan papa dan mama. 9. Kakakku Tania Putri Pratama dan adikku Marsya Tria Saputri yang telah memberikan semangat tanpa henti serta selalu mendoakan penulis untuk tidak mudah letih dalam penulisan skripsi ini; 10. Sahabat terbaikku Anyi Egga Sabrina Loventia, Ellen Willy Christian, Fitri Maretta, Faiga Kharimah atas kebersamaan sejak di bangku SMA yang selalu membuat hari jadi lebih berwarna, semoga kita bisa sukses bersama; 11. Sahabat seperjuangan dari awal perkuliahan Natalia Katherine Sitompul, Bayu Andrian, M. Fadel Noerman, Lia Apriliana yang ceria, lucu, dan selalu memberikan semangat kepada penulis dalam penulisan skripsi ini, terimakasih atas kenangan indahnya; 12. Teman terbaikku Gito Rolis, Diki Thantawi, Aji Bagus yang memberikan dukungan dan selalu menjadi inspirasi bagi penulis; 13. Untuk rekan-rekan UKM-U Komunitas Integritas: Diki, Hafiz, Adit, Ridho, Lia, Disty, Berry, Rifki Chibi, Ipul yang selalu menjadi inspirasi bagi penulis; 14. Untuk teman-teman Fakultas Hukum Universitas Lampung : Egi, Acil, Mbot, Ipen, Fitri, Tary, Yuni, Eva, Maya, Tiara, Clara, Syech, Marlina, Mery, Mona, Haqki dan rekan-rekan angkatan 2011 khususnya jurusan Hukum Perdata Ekonomi atas kebersamaan dan canda tawanya selama ini; 15. Untuk teman-teman KKN Desa Ketang Kalianda: Erika, Desi, Dewi, Clara, Dian, Duma, Dio, Angga dan Andre atas kebersamaan selama 40 hari dan do’a yang selalu diberikan kepada penulis; 16. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini, terima kasih atas semua doa’a, bantuan dan dukungannya; 17. Almamater tercinta. Penulis berharap semoga Allah SWT memberikan limpahan Rahmat kepada Mereka dan skripsi ini menjadi bermanfaat bagi yang membacanya, khususnya bagi penulis dalam mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan. Bandar Lampung, Juni 2015 Penulis, Miranti Dwi Saputri DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK ......................................................................................................... i HALAMAN JUDUL ......................................................................................... iii HALAMAN PERSETUJUAN ......................................................................... iv HALAMAN PENGESAHAN........................................................................... v RIWAYAT HIDUP ........................................................................................... vi MOTO ................................................................................................................ vii HALAMAN PERSEMBAHAN . ..................................................................... viii SANWACANA .................................................................................................. ix DAFTAR ISI...................................................................................................... xiii I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang . .............................................................................................1 B. Rumusan Masalah...........................................................................................6 C. Ruang Lingkup ...............................................................................................6 D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ...................................................................6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Perlindungan Hukum....................................................................8 B. Perlindungan Varietas Tanaman.....................................................................10 1. Tinjauan Umum Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman .......................................................................13 2. Tinjauan Umum Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman................................................................15 C. Tinjauan Umum tentang Hak Kekayaan Intelektual ......................................19 D. Hak-Hak Petani terhadap Varietas Tanaman .................................................21 E. Kerangka Pikir................................................................................................25 III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan Masalah .......................................................................................28 B. Jenis Penelitian ..............................................................................................28 C. Tipe Penelitian................................................................................................28 D. Jenis dan Sumber Data ...................................................................................29 E. Metode Pengumpulan Data ...........................................................................30 F. Metode Pengolahan Data................................................................................31 G. Analisis Data...................................................................................................31 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengaturan mengenai Hak-hak Petani............................................................32 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman ........................................................................32 2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2006 tentang Pengesahan Perjanjian Sumber Daya Genetik untuk Pangan dan Pertanian.................................................................................34 3. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura .................36 4. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan .........................38 5. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani ..........................................................................40 B. Bentuk Perlindungan Hukum terhadap Hak-hak Petani ditinjau dari Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman...........................................................................................45 1. Penggunaan Varietas Lokal .......................................................................45 2. Penggunaan Sebagian Hasil Panen dari Varietas yang dilindungi, Sepanjang Tidak untuk Tujuan Komersial ................................................49 C. Upaya Perlindungan Hukum terhadap Hak-hak Petani..................................58 1. Permohonan Uji Materiil kepada Mahkamah Konstitusi ..........................58 2. Mengubah atau Mencabut Pasal Tertentu..................................................61 V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ....................................................................................................64 B. Saran ...............................................................................................................65 DAFTAR PUSTAKA I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan dengan potensi alam melimpah, hamparan yang luas, serta beriklim tropis sehingga para penduduk dapat menanam sepanjang tahun. Berdasarkan Hasil Sensus Pertanian 2013 (ST2013) diketahui bahwa jumlah rumah tangga usaha tanaman padi sebanyak 14,1 juta rumah tangga. Sebagian besar rumah tangga usaha tanaman padi berada di Pulau Jawa sebanyak 8,7 juta rumah tangga dan 2,6 juta rumah tangga berada di Pulau Sumatera.1 Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat memanfaatkan kegiatan bercocok tanam sebagai mata pencaharian utama. Petani mempunyai peranan penting terhadap hasil pertanian di Indonesia karena petani sebagai pelaksana dalam kegiatan pertanian khususnya untuk kelangsungan hidup bangsa Indonesia terhadap pangan. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku Pangan, dan 1 “BeritaResmiStatistikNo.54/07/Th.XVII,1Juli2014,” diakses tanggal 1Desember 2014 2 bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman. Keberhasilan pertanian Indonesia dapat terwujud apabila seluruh komponen bangsa Indonesia dapat bersatu membangun bidang pertanian yang tangguh dan mampu bersaing, baik dari segi kualitas maupun dari segi harga yang dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Pemerintah mempunyai beberapa langkah yang harus ditempuh salah satunya dengan cara menyediakan lahan pertanian yang luas serta menyediakan benih yang unggul, untuk mengembangkan produksi pangan tinggi dan berkualitas. Perolehan benih yang bermutu untuk pengembangan budidaya tanaman tersebut dilakukan dengan kegiatan penemuan varietas unggul. Berdasarkan ketentuan Pasal 27 Huruf a Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan, dinyatakan bahwa penemuan varietas unggul dilakukan dengan kegiatan pemuliaan tanaman. Kemampuan untuk menghasilkan bibit yang unggul dapat diwujudkan dengan cara menciptakan varietas tanaman yang berteknologi tinggi, relatif murah, dan tidak mencemari lingkungan. Merakit varietas tanaman sangat penting untuk pembangunan ekonomi sektor pertanian pada khususnya dan pembangunan nasional pada umumnya.2 Melalui penggunaan varietas yang unggul diharapkan proses produksi menjadi lebih efisien, lebih produktif dan menghasilkan bahan pangan yang bermutu tinggi. Kegiatan yang dapat menghasilkan varietas tanaman yang lebih unggul perlu didorong melalui pemberian insentif bagi orang atau badan usaha yang bergerak 2 242. Ermansjah Djaja, Hukum Hak Kekayaan Intelektual, Jakarta: Sinar Grafika, 2009, hlm. 3 di bidang pemuliaan tanaman yang menghasilkan varietas baru sehingga mampu memberikan nilai tambah lebih besar bagi pengguna. Salah satu penghargaan adalah memberikan perlindungan hukum atas kekayaan intelektual dalam menghasilkan varietas tanaman, termasuk dalam menikmati manfaat ekonomi dan hak-hak pemulia lainnya. Perlindungan hukum ini bertujuan untuk memberikan kepastian hukum kepada para pemulia tanaman terhadap hasil penemuan varietas tanamannya. Pada tanggal 20 Desember 2000 telah disahkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman (UU PVT). PVT memberikan perlindungan atas produk, berupa bibit/benih yang dihasilkan dari teknik-teknik bioteknologi maupun alami dalam bentuk varietas tanaman baru, persyaratan perlindungan dan perkecualian. Undang-Undang PVT ini juga memfasilitasi perkembangan bioteknologi modern yang memproduksi varietas yang baru melalui rekayasa genetika. Namun, tampaknya undang-undang ini kurang memberikan perlindungan terhadap varietas tanaman yang dikembangkan oleh petani, hal ini dikarenakan sangat sulit bagi petani dengan varietas hasil pemuliaannya untuk memenuhi kriteria baru, unik, seragam dan stabil sebagaimana disyaratkan oleh UU PVT. Petani mengembangkan varietas secara tradisional dengan jangka waktu penggunaan yang relatif lebih lama, sehingga varietas yang dikembangkan selalu dilestarikan dan dirawat secara turun-temurun. Di pihak lain, pemulia tanaman pangan selalu berusaha untuk merakit varietas-varietas baru yang lebih produktif, dalam waktu yang relatif lebih singkat dengan menggunakan teknologi yang modern. Upaya pemuliaan tanaman yang dihasilkan dari varietas modern akan 4 menggeser varietas lama jika pemulia tanaman terus menghasilkan varietas baru dengan berbagai macam keunggulan.3 UU PVT memberikan perlindungan yang kurang seimbang antara kepentingan umum dan kepentingan pemegang hak PVT. Seperti tertuang dalam Pasal 6 Ayat (3) UU PVT, dinyatakan bahwa “hak untuk menggunakan varietas tanaman meliputi kegiatan yaitu memproduksi atau memperbanyak benih, menyiapkan untuk tujuan propagasi, mengiklankan, menawarkan, menjual atau memperdagangkan, dan mengekspor.” Terkait mengenai hak-hak petani, UU PVT memberikan perlindungan terhadap hak-hak petani seperti yang tertuang dalam Pasal 7 Ayat (1) bahwa “varietas lokal milik masyarakat dikuasai oleh negara” dan dalam Pasal 10 Ayat (1) bahwa “tidak dianggap sebagai pelanggaran hak PVT, apabila penggunaan sebagian hasil panen dari varietas yang dilindungi, sepanjang tidak untuk tujuan komersial”. Berdasarkan ketentuan tersebut, terdapat sebuah perbedaan hak-hak yang jika diamati akan membuat hak-hak petani menjadi semakin terkikis. Petani hanya boleh menyimpan benih untuk ditanam di musim berikutnya sepanjang untuk kepentingannya sendiri dan bukan diberikan kepada orang lain, sehingga hak petani untuk mengembangkan benih terasa dikebiri, hal ini seperti kasus yang dirilis situs internet sebagai berikut : Seorang petani jagung bernama Budi Purwo Utomo terpaksa menjalani sidang pengadilan dan menerima putusan bersalah atas tuduhan tindak pidana turut serta melakukan sertifikasi tanpa ijin. Ia adalah seorang petani kecil di Kediri yang mencoba berinisiatif mengembangkan benih jagung. Ironisnya, upayanya untuk mengembangkan benih jagung berujung pada 3 Penjelasan Atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2006 tentang Pengesahan International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture 5 hukuman pidana yang ditetapkan oleh pengadilan dari semua tingkatan. Berdasarkan putusan tersebut, Budi menerima hukuman enam bulan percobaan satu tahun. Setelah melalui proses banding di Pengadilan Tinggi yang hasilnya ternyata menguatkan putusan Pengadilan Negeri Kediri, Penuntut Umum maupun Terdakwa mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Namun pada akhir 2007 lalu, Mahkamah Agung menyatakan menolak permohonan kasasi. Alasannya, Pemohon Kasasi/Terdakwa maupun Penuntut Umum tidak dapat dibenarkan karena Judex Factie tidak salah dalam menerapkan hukum.4 Kasus Budi Purwo Utomo, merupakan salah satu dari kasus-kasus serupa yang dialami oleh petani Indonesia. Kondisi seperti ini dapat mengurangi kesempatan petani untuk berkreasi menciptakan varietas baru yang sesuai dengan pengetahuan tradisional yang telah dimilikinya secara turun-temurun. Agus Sarjono, pengajar mata kuliah Hukum Ekonomi Universitas Indonesia mengatakan bahwa pada kasus petani di Jawa Timur, hakim seharusnya menggunakan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 yang memberikan tentang hak khusus negara kepada petani pemulia.5 Fenomena seperti ini juga sangat bertentangan dengan harapan dari Pengakuan Hak Petani secara internasional sebagaimana tercantum dalam Bab III Pasal 9 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2006 tentang Pengesahan Perjanjian Sumber Daya Genetik untuk Pangan dan Pertanian, yang menyebutkan bahwa petani mempunyai hak untuk menyimpan, menggunakan, menukarkan, dan menjual benih serta bahan perbanyakan tanaman lain.6 Berdasarkan uraian di atas, dirasakan penting untuk mengetahui secara lebih mendalam tentang perlindungan hukum terhadap hak-hak petani, maka penulis mengkajinya melalui penelitian dan 4 “Petani Kecil Tak Terlindungi,”, diakses tanggal 21 November 2014 5 “Kronologis dan Legal Opinian,”, diakses tangal 24 Januari 2015 6 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2006 tentang Pengesahan International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture Pasal 9 ketentuan 9.3 6 judul yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Petani Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 Tentang Perlindungan Varietas Tanaman. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana pengaturan terhadap hak-hak petani di Indonesia ? 2. Bagaimana perlindungan hukum terhadap hak-hak petani ditinjau dari Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman ? 3. Apa saja upaya yang dilakukan untuk memberikan perlindungan hukum terhadap hak-hak petani di Indonesia ? C. Ruang Lingkup Penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup bidang ilmu hukum perdata khususnya ilmu hukum Hak Kekayaan Intelektual. D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah : a. Mengetahui dan menganalisis mengenai berbagai macam pengaturan terkait dengan hak-hak petani. 7 b. Mengetahui dan menganalisis perlindungan hukum terhadap hak-hak petani jika dilihat Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman. c. Mengetahui dan menganalisis upaya yang dilakukan untuk memberikan perlindungan hukum terhadap hak-hak petani di Indonesia. 2. Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Kegunaan Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang hukum hak atas kekayaan intelektual pada umumnya dan perlindungan varietas tanaman. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan dan referensi bagi penelitian sejenis lainnya di masa mendatang. b. Kegunaan Praktis 1) Bagi pemerintah, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan pemerintah agar dalam membuat peraturan perundang-undangan mampu mengakomodir kepentingan semua pihak terutama kaum kecil, yang dalam hal ini adalah petani sehingga dapat tercipta keseimbangan hak. 2) Bagi petani, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperbaiki nasib petani Indonesia serta mampu memberikan perlindungan terhadap hak petani. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Perlindungan Hukum Menurut Setiono, sebagaimana dikutip oleh M. Andi Firdaus defenisi perlindungan hukum adalah tindakan atau upaya untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia.7 Menurut Muchsin, perlindungan hukum merupakan kegiatan untuk melindungi individu dengan menyerasikan hubungan nilai-nilai atau kaidah-kaidah yang menjelma dalam sikap dan tindakan dalam menciptakan adanya ketertiban dalam pergaulan hidup antar sesama manusia.8 Menurut Philipus Hadjon, bahwa perlindungan Hukum dibagi menjadi dua macam, yaitu: 1. Perlindungan hukum yang preventif, bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa; 2. Perlindungan hukum yang represif, bertujuan untuk menyelesaikan sengketa. Secara harfiah, perlindungan hukum dapat diartikan sebagai suatu cara, 7 M. Andi Firdaus, Perlindungan Hukum Terhadap Penanaman Modal Pada Bidang Usaha Perkebunan Di Indonesia, Skripsi, Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, hlm. 24, diakses dari pada tanggal 21 Januari 2015 8 Muchsin, Perlindungan dan Kepastian Hukum bagi Investor di Indonesia, Skripsi, Surakarta: Universitas Sebelas Maret, 2003, hlm. 14, diakses dari pada tanggal 21 Januari 2015 9 proses, perbuatan melindungi berdasarkan hukum, atau dapat pula diartikan sebagai suatu perlindungan yang diberikan hukum.9 Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa hukum berfungsi sebagai perlindungan kepentingan manusia, agar kepentingan manusia terlindungi, hukum harus dilaksanakan secara profesional. Perlindungan hukum dapat diartikan sebagai perlindungan dengan menggunakan pranata dan sarana hukum. Hukum dalam memberikan perlindungan dapat melalui cara-cara tertentu, antara lain dengan : 1. Membuat peraturan (by giving regulation), bertujuan untuk: a. Memberikan hak dan kewajiban; b. Menjamin hak-hak para subyek hukum; 2. Menegakkan peraturan (by law enforcement) melalui: a. Hukum administrasi negara yang berfungsi untuk mencegah (preventive) terjadinya pelanggaran hak-hak konsumen, dengan perjanjian dan pengawasan; b. Hukum pidana yang berfungsi untuk menanggulangi (repressive) pelanggaran UUPK, dengan mengenakan sanksi pidana dan hukuman; c. Hukum perdata yang berfungsi untuk memulihkan hak (curative; recovery; remedy), dengan membayar kompensasi atau ganti kerugian.10 Jika dilihat dalam konteks perlindungan hukum terhadap petani, maka dapat didefenisikan bahwa perlindungan petani adalah segala upaya untuk membantu 9 Philipus Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, Surabaya: Bina Ilmu, 1987, hlm. 22. 10 Wahyu Sasongko, Ketentuan-Ketentuan Pokok Hukum Perlindungan Konsumen, Bandar Lampung : Universitas Lampung, 2007, hlm. 31. 10 Petani dalam menghadapi permasalahan kesulitan memperoleh prasarana dan sarana produksi, kepastian usaha, risiko harga, kegagalan panen, praktik ekonomi biaya tinggi, dan perubahan iklim.11 B. Perlindungan Varietas Tanaman Perlindungan varietas tanaman merupakan suatu ketentuan dalam HAKI yang masih relatif baru dalam sejarah perlindungannya sebagai hak kebendaan immaterial yang diberikan kepada individu oleh negara. Hak milik immateriil adalah suatu hak milik yang obyek haknya adalah benda tidak berwujud (benda tidak bertubuh).12 Hampir semua negara yang mengatur Perlindungan Varietas Tanaman pada dasarnya didasarkan pada norma-norma yang tertuang dalam the International Convention for Protection of New Varieties of Plants. Konvensi tersebut dibentuk oleh negara-negara Eropa pada 2 Desember 1961 yang ditindaklanjuti dengan pendirian lembaga yang disebut the International Union for the Protection of New Varieties of Plants (UPOV). Lembaga tersebut bersifat independen, berskala internasional, dan merupakan organisasi antara pemerintahan sebagai subjek hukum internasional.13 Indonesia membuat peraturan sui generis atau peraturan khusus tersendiri yang efektif untuk melindungi varietas tanaman dalam undang-undang khusus, yaitu Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman. Perlindungan hukum terhadap pemulia dapat diartikan sebagai pengakuan 11 Lihat Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, Pasal 1 ayat (1) 12 Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Intelellectual Property Right), Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1995, hlm. 19. 13 Muhammad Djumhana dan R. Djubaedillah, Hak Milik Intelektual, Sejarah, Teori dan Praktiknya di Indonesia, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2014, hlm. 374 11 terhadap hak alamiah yang dimiliki pemulia atas varietas baru yang ditemukannya. Pelaksanaan dari hak alamiah yang dimiliki oleh pemulia ini, difasilitasi dan dilindungi oleh ketentuan hukum yang mengatur mengenai hal tersebut. Guna membatasi kepentingan perorangan maka hukum juga memberikan jaminan agar tetap terpeliharanya kepentingan masyarakat. Hal ini sejalan dengan penjelasan UU PVT yang menyebutkan bahwa “....dalam pelaksanaannya undangundang ini dilandasi dengan prinsip-prinsip dasar yang mempertemukan keseimbangan kepentingan umum dan pemegang hak PVT...”. Perlindungan hukum yang diberikan terhadap pemuliaan ini, di dalam pelaksanaannya harus turut memperhatikan hak petani pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Kepastian hukum juga dapat diartikan sebagai perlindungan hukum. Pengaturan secara khusus mengenai perlindungan terhadap varietas tanaman pada mulanya yaitu dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Kemudian pada tahun 1992, diterbitkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman yang mendorong kegiatan pemuliaan tanaman, dimana dalam Pasal 55 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 dinyatakan bahwa: 1. Kepada penemu teknologi tepat serta penemu teori dan metode ilmiah baru di bidang budidaya tanaman dapat diberikan penghargaan oleh pemerintah. 2. Kepada penemu jenis baru dan/atau varietas unggul dapat diberikan penghargaan oleh pemerintah serta mempunyai hak memberi nama pada temuannya. 12 3. Setiap orang atau badan hukum yang tanamannya memiliki keunggulan tertentu dapat diberikan penghargaan oleh pemerintah. 4. Ketentuan mengenai pemberian penghargaan sebagai maksud dalam ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut oleh pemerintah. Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992, pihak pemulia hanya memperoleh penghargaan dari pemerintah, sebagai balas jasa dari hasil penemuan varietas baru. Ketentuan lain yang mengatur tentang pemberian penghargaan terhadap penemuan varietas unggul terdapat dalam Pasal 45 Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1995 tentang Pembenihan Tanaman yang menyatakan bahwa Menteri memberikan penghargaan kepada penemu varietas unggul dan/atau teknologi di bidang perbenihan. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 diterbitkan pada tanggal 20 Desember 2000, dimana undang-undang tersebut mengatur secara terperinci mengenai perlindungan terhadap varietas tanaman. Pemerintah juga mengatur hak imbalan dan penggunaan varietas tersebut dalam kaitannya dengan Perlindungan Varietas Tanaman serta usaha pelestarian plasma nutfah. Perlindungan terhadap varietas tanaman berupa hak pemulia diharapkan harus mampu: 1. Menjamin terpenuhinya kebutuhan petani akan benih yang bermutu secara berkesinambungan dan merata di seluruh wilayah Indonesia 13 2. Mendorong dan meningkatkan peran serta masyarakat dan mendorong tumbuhnya industri perbenihan, dan merangsang invensi serta pengembangan varietas-varietas baru tanaman sebanyak mungkin oleh masyarakat.14 1. Tinjauan Umum Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman Sumberdaya alam nabati yang jenisnya beraneka ragam merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa dan mempunyai peranan penting bagi kehidupan. Sistem pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan perlu dikembangkan demi terciptanya pembangunan pertanian secara menyeluruh dan terpadu. UU Sistem Budidaya Tanaman (SBT) merupakan undang-undang yang mempunyai peranan penting dalam pembangunan pertanian dan peningkatan kualitas sumberdaya manusia untuk mewujudkan pertanian maju, efisien, dan tangguh. Sistem budidaya tanaman adalah sistem pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya alam nabati melalui upaya manusia yang dengan modal,teknologi, dan sumberdaya lainnya menghasilkan barang guna memenuhi kebutuhan manusia secara lebih baik. UU SBT menjelaskan mengenai defenisi dari perlindungan tanaman sebagai segala upaya untuk mencegah kerugian pada budidaya tanaman yang diakibatkan oleh organisme pengganggu tumbuhan. Sistem budidaya tanaman ini sebagai bagian pertanian yang berasaskan manfaat, lestari, dan berkelanjutan. Sistem budidaya tanaman bertujuan: 14 Novia Ujianty Silitonga, Perlindungan Hukum Terhadap Varietas Tanaman, Skripsi, Medan: Universitas Sumatera Utara, 2008, hlm. 23, diakses dari pada tanggal 10 Januari 2015 14 a. meningkatkan dan memperluas penganekaragaman hasil tanaman, guna memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan, industri dalam negeri, dan memperbesar ekspor. b. meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani. c. mendorong perluasan dan pemerataan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Kebebasan petani dalam menentukan pilihan jenis tanaman dan perbudidayaannya diatur dalam ketentuan Pasal 6 sebagai berikut : 1. Petani memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan jenis tanaman dan perribudidayaannya. 2. Dalam menerapkan kebebasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), petani berkewajiban berperanserta dalam mewujudkan rencana pengembangan dan produksi budidaya tanaman, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5. 3. Apabila pilihan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), tidak dapat terwujud karena ketentuan Pemerintah, maka Pemerintah berkewajiban untuk mengupayakan agar petani yang bersangkutan memperoleh jaminan penghasilan tertentu. 4. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Perolehan benih bermutu untuk pengembangan budidaya tanaman dilakukan melalui kegiatan penemuan varietas unggul dan/atau introduksi dari luar negeri. Penemuan varietas unggul dilakukan melalui kegiatan pemuliaan tanaman. Pencarian dan pengumpulan plasma nutfah dalam rangka pemuliaan tanaman 15 dilakukan oleh Pemerintah. Varietas hasil pemuliaan atau introduksi dari luar negeri sebelum diedarkan terlebih dahulu dilepas oleh Pemerintah. Jika varietas hasil pemuliaan atau introduksi belum dilepas oleh Pemerintah, maka varietas hasil pemuliaan tersebut dilarang diedarkan. 2. Tinjauan Umum Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman Negara Republik Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki pertanian dengan perkembangan yang maju, efisien, dan tangguh serta mempunyai peranan penting dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan nasional. Sumberdaya plasma nutfah yang merupakan bahan utama pemuliaan tanaman, perlu dilestarikan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam rangka merakit dan mendapatkan varietas unggul tanaman tanpa merugikan pihak manapun yang terkait guna mendorong pertumbuhan industri perbenihan. Untuk itu, guna meningkatkan minat dan peranserta perorangan maupun badan hukum untuk melakukan kegiatan pemuliaan tanaman dalam rangka menghasilkan varietas unggul baru, kepada pemulia tanaman atau pemegang hak Perlindungan Varietas Tanaman perlu diberikan hak tertentu serta perlindungan hukum atas hak tersebut secara memadai dan perlu undang-undang tersendiri untuk mengatur mengenai perlindungan varietas tanaman. Berdasarkan ketentuan Pasal 1 Ayat (1) UU PVT, defenisi dari perlindungan varietas tanaman adalah perlindungan khusus yang diberikan negara, yang dalam hal ini diwakili oleh Pemerintah dan pelaksanaannya dilakukan oleh Kantor Perlindungan Varietas Tanaman, terhadap varietas tanaman yang dihasilkan oleh pemulia tanaman melalui kegiatan pemuliaan tanaman. Kemudian, dalam Pasal 1 16 Ayat (2) UU PVT dinyatakan bahwa hak perlindungan varietas tanaman adalah hak khusus yang diberikan negara kepada pemulia dan/atau pemegang hak Perlindungan Varietas Tanaman untuk menggunakan sendiri varietas hasil pemuliaannya atau memberi persetujuan kepada orang atau badan hukum lain untuk menggunakannya selama waktu tertentu. Defenisi mengenai varietas tanaman juga tertuang di dalam Pasal 1 Ayat (3) UU PVT bahwa varietas tanaman, adalah sekelompok tanaman dari suatu jenis atau spesies yang ditandai oleh bentuk tanaman, pertumbuhan tanaman, daun, bunga, buah, biji, dan ekspresi karakteristik genotipe atau kombinasi genotipe yang dapat membedakan dari jenis atau spesies yang sama oleh sekurang-kurangnya satu sifat yang menentukan dan apabila diperbanyak tidak mengalami perubahan. Ketentuan Pasal 1 Ayat (4) UU PVT menjelaskan bahwa pemuliaan tanaman adalah rangkaian kegiatan penelitian dan pengujian atau kegiatan penemuan dan pengembangan suatu varietas, sesuai dengan metode baku untuk menghasilkan varietas baru dan mempertahankan kemurnian benih varietas yang dihasilkan. Selanjutnya, di dalam Pasal 1 Ayat (5) UU PVT dijelaskan bahwa pemulia tanaman adalah orang yang melaksanakan pemuliaan tanaman. Benih tanaman adalah tanaman dan/atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan/atau mengembangbiakkan tanaman. Varietas tanaman yang dapat diberi perlindungan varietas tanaman berdasarkan ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang PVT antara lain: 1. Varietas yang dapat diberi PVT meliputi varietas dari jenis atau spesies tanaman yang baru, unik, seragam, stabil, dan diberi nama; 17 2. Suatu varietas dianggap baru apabila pada saat penerimaan permohonan hak PVT, bahan perbanyakan atau hasil panen dari varietas tersebut belum pernah diperdagangkan di Indonesia atau sudah diperdagangkan tetapi tidak lebih dari setahun, atau telah diperdagangkan di luar negeri tidak lebih dari empat tahun untuk tanaman semusim dan enam tahun untuk tanaman tahunan; 3. Suatu varietas dianggap unik apabila varietas tersebut dapat dibedakan secara jelas dengan varietas lain yang keberadaannya sudah diketahui secara umum pada saat penerimaan permohonan hak PVT; 4. Suatu varietas dianggap seragam apabila sifat-sifat utama atau penting pada varietas tersebut terbukti seragam meskipun bervariasi sebagai akibat dari cara tanam dan lingkungan yang berbeda-beda; 5. Suatu varietas dianggap stabil apabila sifat-sifatnya tidak mengalami perubahan setelah ditanam berulang-ulang, atau untuk yang diperbanyak melalui siklus perbanyakan khusus, tidak mengalami perubahan pada setiap akhir siklus tersebut; 6. Varietas yang dapat diberi PVT harus diberi penamaan yang selanjutnya menjadi nama varietas yang bersangkutan, dengan ketentuan bahwa: a. Nama varietas tersebut terus dapat digunakan meskipun masa perlindungannya telah habis; b. Pemberian nama tidak boleh menimbulkan kerancuan terhadap sifat-sifat varietas; c. Penamaan varietas dilakukan oleh pemohon hak PVT dan didaftarkan pada Kantor PVT; 18 d. Apabila penamaan tidak sesuai dengan ketentuan butir b, maka Kantor PVT berhak menolak penamaan tersebut dan meminta penamaan baru; e. Apabila nama varietas tersebut telah dipergunakan untuk varietas lain, maka pemohon wajib mengganti nama varietas tersebut; f. Nama varietas yang diajukan dapat juga diajukan sebagai merek dagang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Subjek dari Hak Perlindungan Varietas Tanaman menurut ketentuan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman yaitu : 1. Pemegang hak Perlindungan Varietas Tanaman adalah Pemulia atau orang atau badan hukum atau pihak lain yang menerima lebih lanjut Hak Perlindungan Varietas Tanaman dari Pemegang Hak Perlindungan Varietas Tanaman sebelumnya. 2. Jika suatu varietas dihasilkan berdasarkan perjanjian kerja, maka pihak yang memberi pekerjaan itu adalah Pemegang Hak Perlindungan Varietas Tanaman sebelumnya. 3. Jika suatu varietas dihasilkan berdasarkan pesanan, pihak yang memberi pesanan itu menjadi Pemegang Hak Perlindungan Varietas Tanaman, kecuali diperjanjikan lain antara kedua pihak dengan tidak mengurangi hak pemulia. Pengembangan varietas tanaman baru dapat dilakukan melalui 2 cara yakni melalui pemuliaan tanaman klasik dan melalui bioteknologi, misal rekayasa genetika.15 Menyangkut kekayaan tradisional yang berhubungan dengan 15 “Perlindungan Varietas Tanaman,” diakses tanggal 18 Januari 2015 19 pertanian, salah satu usaha untuk perlindungan pengetahuan tradisional, yaitu diaturnya penguasaan varietas lokal. Ketentuan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman, diatur bahwa negara menguasai varietas lokal yang dimiliki masyarakat. Varietas lokal ini mengacu pada varietas yang telah ada dan telah dibudidayakan oleh para petani-petani secara turun-temurun dan menjadi milik masyarakat. Salah satu wujud dari kontrol negara terhadap varietas lokal, yaitu pemerintah berkewajiban memberikan nama terhadap varietas lokal tersebut. C. Tinjauan Umum tentang Hak Kekayaan Intelektual Istilah Hak Kekayaan Intelektual merupakan terjemahan langsung dari Intellectual property right. World Intellectual Property Organization (WIPO) sebagai organisasi internasional yang mengurus bidang Hak Kekayaan Intelektual memberikan penjelasan yang disebut intelectual property, sebagaimana dikutip oleh Muhammad Djumhana dan R. Djubaedillah yaitu “Intellectual property (IP) refers to creations of the mind: inventions, literary and artistic works, and symbols, names, images, and designs used in commerce” Penjelasan yang diberikan WIPO menunjukkan bahwa Hak Kekayaan Intelektual itu mencakup kreasi pikiran: penemuan, karya sastra dan artistik simbol-simbol, nama, gambar, dan desain yang digunakan dalam perdagangan.16 Defenisi mengenai HKI menurut Sri Redjeki Hartono, sebagaimana dikutip oleh Sentosa Sembiring, yang mengemukakan bahwa Hak Milik Intelektual pada hakekatnya merupakan suatu hak dengan karakteristik khusus dan istimewa, 16 Djumhana dan R. Djubaedillah, Op.Cit, hlm. 16 20 karena hak tersebut diberikan oleh negara. Negara berdasarkan ketentuan UU, memberikan hak khusus tersebut kepada yang berhak, sesuai dengan prosedur dan syarat-syarat yang harus dipenuhi.17 Hak Kekayaan Intelektual sebagai bagian dari hukum harta benda (hukum kekayaan), maka pemiliknya pada prinsipnya adalah bebas berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya dan memberikan isi yang dikehendakinya sendiri pada hubungan hukumnya. Sifat asli yang ada pada Hak Kekayaan Intelektual tersebut, diantaranya : 1. Mempunyai jangka waktu terbatas Dalam arti setelah habis masa perlindungannya, ciptaan (penemuan) tersebut akan menjadi milik umum. Namun, ada pula yang setelah habis masa perlindungannya bisa diperpanjang, misalnya Hak Merek, tetapi ada juga yang perlindungannya hanya bisa diperpanjang satu kali dan jangka waktunya tidak sama lamanya dengan jangka waktu perlindungan pertama, contoh Hak Paten. 2. Bersifat ekslusif dan mutlak Hak tersebut dapat dipertahankan terhadap siapapun, yang mempunyai hak tersebut dapat menuntut terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh siapapun. Si pemilik/pemegang Hak Kekayaan Intelektual mempunyai suatu hak monopoli, yaitu dia dapat mempergunakan haknya dengan melarang siapa pun tnapa persetujuannya membuat ciptaan/penemuan ataupun menggunakannya. 3. Bersifat hak mutlak yang bukan kebendaan 17 Sentosa Sembiring, Prosedur dan Tata Cara Memperoleh Hak Kekayaan Intelektual di Bidang Hak Cipta, Paten dan Merek, Bandung: CV.Yrama Widya, 2002, hlm. 14. 21 Ruang lingkup HKI sangat luas, meliputi berbagai hak yang timbul dari hasil kreativitas kemampuan intelektualitas manusia. Secara garis besar, bidang HKI dikelompokkan menjadi dua, yaitu hak cipta (copy right) yang terdiri dari hak cipta, hak yang berkaitan dengan hak cipta (neighbouring right), dan hak kekayaan perindustrian (industrial property right), terdiri dari paten, model dan rancang bangun, desain industri, merek dagang, nama dagang, indikasi geografis, perlindungan varietas baru tanaman, dan tata letak sirkuit terpadu. Menurut Graham Dutfield, sebagaimana dikutip oleh Chandra Irawan dalam bukunya yang berjudul Politik Hukum Hak Kekayaan Intelektual Indonesia, perkembangan HKI secara internasional memiliki tiga karakteristik, yaitu: 1. The broadening of existing rights, misalnya perkembangan perlindungan program komputer (software) dalam hak cipta, micro organisme dan gen cloning pada paten 2. The creation of new rights (sui generis), misalnya perlindungan varietas baru tanaman, desain tata letak sirkuit terpadu dan performers rights, 3. The progressive standardization of the basic features of Intellectual Property Rights, misalnya peningkatan jangka waktu perlindungan paten selama 20 tahun, dan ketentuan persyaratan paten.18 D. Hak-Hak Petani Terhadap Varietas Tanaman Petani adalah warga negara Indonesia perseorangan dan/atau beserta keluarganya yang melakukan usaha tani di bidang tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, 18 Candra Irawan, Politik Hukum Hak Kekayaan Intelektual Indonesia, Bandung: CV Mandar Maju, 2011, hlm. 47. 22 dan/atau peternakan.19 Petani adalah seseorang yang bergerak di bidang bisnis pertanian utamanya dengan cara melakukan pengelolaan tanah dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara tanaman (seperti padi, bunga, buah dan lain lain), dengan harapan untuk memperoleh hasil dari tanaman tersebut untuk digunakan sendiri ataupun menjualnya kepada orang lain. 20 Petani adalah produsen pangan dan petani juga merupakan kelompok konsumen terbesar yang sebagian masih miskin dan membutuhkan daya beli yang cukup untuk membeli pangan. Petani harus memiliki kemampuan untuk memproduksi pangan sekaligus juga harus memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri.21 Berdasarkan defenisi tersebut, petani mempunyai peranan penting terhadap ketahanan pangan dan perekonomian di Indonesia.22 Pembangunan ketahanan pangan pada hakekatnya adalah pemberdayaan masyarakat, yang berarti meningkatkan kemandirian dan kapasitas masyarakat untuk berperan aktif dalam mewujudkan ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan dari waktu ke waktu. Hak petani terhadap penggunaan varietas lokal terdapat di dalam Pasal 9 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2004 tentang Penamaan, Pendaftaran, dan 19 Ketentuan Pasal 1 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani 20 “Peranan Petani Di Dalam Perekonomian Indonesia,” diakses tanggal 25 Januari 2015 21 “KetahananPanganDiIndonesia,” diakses tanggal 25 Januari 2015 22 Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan pada Pasal 1 ayat 4, Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. 23 Penggunaan Varietas Asal Untuk Pembuatan Varietas Turunan Esensial yang menyatakan “setiap orang atau badan hukum yang akan menggunakan suatu Varietas Lokal sebagai Varietas Asal untuk pembuatan Varietas Turunan Esensial wajib membuat perjanjian terlebih dahulu dengan Bupati/Walikota, Gubernur, atau Kantor PVT yang mewakili kepentingan masyarakat pemilik Varietas Lokal yang bersangkutan.” Pemerintah juga memberikan perlindungan kepada petani dalam melakukan kegiatan produksi pangan, seperti yang tertuang dalam Pasal 17 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan yang menyatakan “Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban melindungi dan memberdayakan petani, nelayan, pembudi daya ikan, dan pelaku usaha pangan sebagai produsen pangan.” Petani juga berhak untuk mendapatkan benih yang sesuai dengan standar mutu. Berdasarkan Pasal 19 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani yang menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya bertanggung jawab menyediakan sarana produksi Pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 Ayat (2) Huruf a secara tepat waktu dan tepat mutu serta harga terjangkau bagi Petani. Selanjutnya, dalam Pasal 19 Ayat (2) dijelaskan bahwa “sarana produksi Pertanian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit meliputi : a. benih, bibit, bakalan ternak, pupuk, pestisida, pakan, dan obat hewan sesuai dengan standar mutu; b. alat dan mesin Pertanian sesuai standar mutu dan kondisi spesifik lokasi. Penggunaan varietas yang unggul telah menjadi kebutuhan bagi petani untuk memperoleh hasil panen yang baik. 24 Petani memerlukan varietas tanaman yang unggul dan bibit unggul untuk memproduksi tanaman berkualitas. Berdasarkan UU PVT hak petani ada di dalam Pasal 10 Ayat (1), tidak dinyatakan sebagai pelanggaran hak PVT, apabila penggunaan sebagian hasil panen dari varietas yang dilindungi, sepanjang tidak untuk penggunaan komersial. Penjelasan Pasal 10 Ayat 1 (a), disebutkan bahwa “Yang dimaksud dengan tidak untuk tujuan komersial adalah kegiatan perorangan terutama petani kecil untuk keperluan

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PELAPOR TINDAK PIDANA DALAM PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN
0
15
26
ANALISIS YURIDIS TENTANG PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK-HAK PEKERJA (BURUH) MUSIMAN DI PT PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO) PG PRAJEKAN, BONDOWOSO, BERDASAR UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN
0
9
13
ANALISIS YURIDIS TENTANG PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK-HAK PEKERJA (BURUH) MUSIMAN DI PT PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO) PG PRAJEKAN, BONDOWOSO, BERDASAR UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN
0
3
13
ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERLINDUNGAN PEKERJA/BURUH ANAK DITINJAU BERDASAR ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN
0
5
16
HUKUM PERLINDUNGAN BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA DI TINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN
2
38
17
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KONSUMEN GAME ONLINE YANG MENGALAMI BUG AND ERROR BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN JUNCTO UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK
0
4
1
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK PEMULIA VARIETAS TANAMAN DI INDONESIA
0
3
11
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK PEMULIA VARIETAS TANAMAN DI INDONESIA
0
9
1
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK PEMULIA VARIETAS TANAMAN DI INDONESIA
0
9
1
ASPEK HUKUM PENGOBATAN AKUPUNTUR DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN
2
40
54
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK-HAK PETANI DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PERLINDUNGAN VARIETAS TANAMAN
1
13
51
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ESKPRESI BUDAYA TRADISIONAL MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014
0
0
14
KEDUDUKAN HUKUM PASIEN EUTHANASIA DITINJAU DALAM PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NO. 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN HUKUM KONSUMEN
0
0
12
PERLINDUNGAN HUKUM ATAS LAMBANG PALANG MERAH DI INDONESIA DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK TESIS
0
0
17
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP VARIETAS TANAMAN DI SUMATERA UTARA TESIS
0
0
18
Show more