Partisipasi Masyarakat Dalam Membayar Pajak Bumi Dan Bangunan ( Studi di Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat)

Gratis

54
388
111
3 years ago
Preview
Full text

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MEMBAYAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN ( Studi di Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat)

  Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) merupakan pajak langsung yang dipungut oleh pemerintah pusat, namun hasil penerimaannya ditujukan untuk kepentingan masyarakat didaerah yang bersangkutan dengan letak objek pajak tersebut sehingga sebagian besar hasil penerimaan tersebut diserahkan kepada pemerintah daerah. Tingkat Partisipasi masyarakat yang tinggi dalam hal kepemimpinan, komunikasi, pendidikan, sikap petugas kolektor PBB, kesadaran, antusiasme dan tanggungjawabmerupakan indikator untuk mengukur partisipasi masyarakat dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan.

SKRIPSI DI SUSUN OLEH LIVIA DARCIA ASTRI 050903024 DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

  Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) merupakan pajak langsung yang dipungut oleh pemerintah pusat, namun hasil penerimaannya ditujukan untuk kepentingan masyarakat didaerah yang bersangkutan dengan letak objek pajak tersebut sehingga sebagian besar hasil penerimaan tersebut diserahkan kepada pemerintah daerah. Tingkat Partisipasi masyarakat yang tinggi dalam hal kepemimpinan, komunikasi, pendidikan, sikap petugas kolektor PBB, kesadaran, antusiasme dan tanggungjawabmerupakan indikator untuk mengukur partisipasi masyarakat dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul“Partisipasi Masyarakat dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat”. Kepada pihak-pihak yang telah membantu proses administrasi di departemen AN, seperti Kak Mega, Kak Emi, Kak Dian, Bang Arza dan semuanya yang di bagianpendidikan, kemahasiswaan, perpustakaan dll; terimakasih atas bantuan yang telah kalian berikan kepada penulis 7.

DAFTAR LAMPIRAN

  Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) merupakan pajak langsung yang dipungut oleh pemerintah pusat, namun hasil penerimaannya ditujukan untuk kepentingan masyarakat didaerah yang bersangkutan dengan letak objek pajak tersebut sehingga sebagian besar hasil penerimaan tersebut diserahkan kepada pemerintah daerah. Tingkat Partisipasi masyarakat yang tinggi dalam hal kepemimpinan, komunikasi, pendidikan, sikap petugas kolektor PBB, kesadaran, antusiasme dan tanggungjawabmerupakan indikator untuk mengukur partisipasi masyarakat dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Jika dilihat dari penerimaan negara, kondisi keuangan negara tidak lagi semata-mata daripenerimaan berupa minyak dan gas bumi, tetapi lebih berupaya untuk menjadikan pajak Bumi dan bangunan merupakan salah satu sumber pajak di antara sumber-sumber pajak lainnya, dimana bumi dan bangunan memberikan keuntungan atau kedudukan sosialekonomi yang lebih baik bagi orang atau badan yang mempunyai hak atasnya atau memperoleh manfaat darinya. Oleh karena itu, dalam rangka mengurangi atau bahkan menghilangkan sama sekali hambatan-hambatan tersebut maka perlu diusahakan suatu kondisi yang membuat Kecamatan Lima Kaum yang dikenal dengan pengelolaan Pajak Bumi danBangunannya yang berjalan dengan baik, tidak luput dari adanya masalah dalam pembayaran PBB oleh masyarakatnya.

1.2. Perumusan Masalah

  Untuk mengetahui bagaimana partisipasi masyarakat dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan di Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan bagi penulis dan pembaca tentang partisipasi masyarakat dalam membayar PajakBumi dan Bangunan.

1.5. Kerangka teori

  Oleh karena itu, seorang peneliti harus terlebih dahulumenyusun suatu kerangka teori sebagai landasan berfikir untuk menggambarkan dari sudut mana ia menyoroti masalah yang dipilihnya. Selanjutnya, menurut Singarimbun danEffendi (1989: 37), teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstruksi, defenisi, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan caramerumuskan hubungan antar konsep.

1.5.1. Partisipasi Masyarakat membayar PBB

1.5.1.1. Defenisi Partisipasi masyarakat

  Simatupang dalam Khairuddin (1992: 124) memberi rincian tentang partisipasi berarti apa yang kita jalankan adalah bagian dari usaha bersama untuk mencapaitujuan bersama diantara semua warganegara yang mempunyai latar belakang yang beragam atau dasar hak dan kewajiban yang sama untuk memberi sumbangan demi terciptanya masadepan. Disadari partisipasi masyarakat dalam Memperhatikan beberapa pengertian partisipasi di atas, tampak bahwa kriteria utama yang digunakan untuk menentukan adanya partisipasi masyarakat adalah adanyaketerlibatan tanpa harus mempersoalkan faktor yang melatarbelakangi dan mendorong keterlibatan tersebut.

1.5.1.2. Tahap-tahap partisipasi

  Tahap evaluasi (termasuk evaluasi input, proses dan hasil) Dilakukan dengan adanya pengawasan dari masyarakat dan petugas terhadap program yang sedang berjalan. Partisipasi Inisiasi (Initiation Participation) adalah partisipasi yang mengundang inisiatif dari pemimpin desa, baik formal maupun informalataupun dari anggota masyarakat mengenai suatu proyek yang nantinya proyek tersebut merupakan kebutuhan bagi masyarakat.

1.5.1.3. Pendekatan Pengembangan Partisipasi Masyarakat

  Dalam keterkaitan tersebut dapatdisepakati apa yang dapat dilakukan masyarakat dan apa yang harus dilakukan dan diberikan pihak eksternal. Bagi pihak eksternal, dalam pendekatan ini tidak ada rancangan program dari luar yang harus dilaksanakan oleh masyarakat, tidak adatarget waktu, tidak ada targetanggaran yang sudah ditetapkan sebelumnya.

1.5.1.4. Bentuk-Bentuk Partisipasi

  Partisipasi sebagai organisasi, meskipun diwarnai dengan perdebatan panjang diantara para praktisi dan teoritis mengenai organisasi sebagai instrumen yangfundamental bagi partisipasi, namun dikemukakan bahwa perbedaan organisasi dan partisipasi terletak pada hakekat bentuk organisasional yang bisa atau organisasiyang muncul dan dibentuk sebagai hasil dari adanya partisipasi. Berdasarkan uraian di atas mengenai bentuk-bentuk partisipasi masyarakat yang dikemukakan oleh Oakley dan Davis tidak jauh berbeda satu sama lain yaitu adanyapartisipasi dalam bentuk materi, tenaga, ide, pikiran serta sumbangan yang berbentuk jasa.

1.5.1.5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Masyarakat

  Sikap yang dimaksud adalah sikap petugas kolektor PBB yang dapat mempengaruhi partsipasi masyarakat dalam membayarPBB yaitu cara petugas bersikap dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat akan kewajibannya dalam membayar PBB, usaha yang dilakukan petugas agar wajib pajak dapatmenerima penjelasan tugasnya dalam menagih PBB. Kesadaran dan antusiasme yang dimaksud disini adalah tidak adanyakeberatan atas beban pajak yang ditetapkan, kesedian dari masyarakat wajib pajak dalam membayar PBB tepat waktu yang telah ditetapkan, bersedia menjadi wajib pajak PBB,patuh terhadap peraturan PBB yang telah ditetapkan, serta adanya perasaan ikut bertanggung jawab untuk melancarkan kegiatan pembangunan.

1.5.2. Pajak Bumi dan Bangunan

1.5.2.1. Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan

  Berdasarkan kutipan di atas maka bagi mereka yang memperoleh manfaat dari bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, dalam rangka penyelenggaraanpajak bumi dan bangunan maka kepadanya diwajibkan membayar pajak. Pajak bumi dan bangunan bersifat sebagai pajak kebendaan yang dikenakan atas harta yang tak bergerak dan merupakan pajak negara (langsung) yang sebagian besar penerimaannyauntuk penyediaan fasilitas umum daerah.

1.5.2.2. Maksud dan tujuan Pajak Bumi dan Bangunan

  Oleh karena itu bagi mereka yang memperolah manfaatdari bumi dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya wajar menyerahkan sebagian dari kenikmatan yang diperolehnya pada negara melalui pembayaran pajak. Menghilangkan pajak ganda yang terjadi sebagai akibat dari berbagai undang- undang pajak yang sifatnya sama.

1.5.2.3. Azas Pajak Bumi dan Bangunan

  Kepastian HukumDengan diundangkannya PBB melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 dan didukung oleh Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan dan KeputusanDirektorat Jendral Pajak, terlihat bahwa PBB mempunyai kekuatan dan kepastian d. Gotong-royongAzas ini lebih tercermin pada semangat keikutsertaan masyarakat dalam mendukung pelaksanaan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang PajakBumi dan Bangunan.

1.5.2.4. Objek PBB dan Objek PBB yang dikecualikan

1. Objek PBB

  Yang menjadi objek pajak adalah bumi dan bangunan. Yang dimaksud dengan klasifikasi bumi dan bangunan adalah pengelompokan bumi dan bangunan menurut nilai jualnya dandigunakan sebagai pedoman, serta untuk memudahkan perhitungan pajak yang terutang.

2. Objek PBB yang dikecualikan

  Maka dapat ditarik penegertian bahwa subjek pajak bumi dan bangunan adalah seorang dalam artian pribadi atau badan hukum yang dinyatakan sebagai subjek hukum dandikenakan kewajiban membayar pajak sekaligus merupakan wajib pajak. Dengan kata lain bahwa wajib pajak PBB adalah orang-orang atau badan hukum yang secara nyatamempunyai dan memperoleh manfaat atas bumi dan bangunan dan dikenakan kewajiban membayar pajak.(mardiasmo, 2004:273-274).

1.5.2.6. Sistem Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan

  Pemungutan PBB masih menggunakan Official assesment system mengingat sangat luasnya PBB yang akan meliputi sebagaian besar dari rakyat yang memiliki harta tidakbergerak, baik berupa tanah maupun bangunan. Pengertian official assesment system adalah suatu system pemungutan yang memberi wewenang pada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yangterutang oleh wajib pajak.

1.5.2.7. Sanksi PBB Bagi Wajib Pajak

  Untuk mencegah terjadinya pengulangan tindak pidana perpajkan, maka bagi mereka yang melakukan tindak pidana lewat 1 (satu) tahun sejak selesainya menjalanisebagian atau seluruh pidana penjara yang dijatuhkan atau sejak dibayarkanya denda, dikenakan pidana lebih berat ialah dua kali lipat dari ancaman pidana. Bagi Pejabat Sanksi umum -Apabila tidak memnuhi kewajiban sperti yang telah diuraikan di muka dikenakan sanksi menurut peraturan perundangan yang berlaku, yaitu antara lain:Peraturan Pemerintah No.

1.5.3. Alasan PBB Sebagai Pajak Daerah:

  Kondisi setiap wilayah adalah untuk dimana ada yang sangat kaya dengan sumber daya alam di satu titik ekstrem sementara ada wilayah yang sama sekalitidak memiliki sumber daya alam, dengan mengalihkannya menjadi pajak daerah, maka daerah-daerah akan terdorong lebih kreatif dalam melakukanpengembangan PBB 4. Pemerintah pusat seyogyanya lebih memfokuskan usahanya untuk memikirkan hal-hal yang strategis bagi kepentingan nasional, dan tidak terlibat lahi pada hal-hal yang dapat dilakukan oleh daerah-daerah.

1.5.4. Keuntungan PBB Menjadi Pajak Daerah:

  penentuan target penerimaan PBB lebih mencerminkan potensi daerah dan sesuai dengan target penerimaan dalam APBD yang disetujui oleh DPRD. Hal ini dikarenakan dengan hasil pendataan dan penilaian yang andal dan baik akan menjamin penetapan subyekPBB yang terarah/tepat sasaran.

1.6. Definisi Konsep

  Partisipasi Masyarakat Membayar Pajak Bumi dan Bangunan Partisipasi masyarakat membayar Pajak Bumi dan Bangunan adalah keterlibatan jumlah masyarakat wajib pajak untuk berkewajiban memberi iuran atas objek pajaknya dalammembiayai kegiatan pelaksanaan pembangunan serta bertanggung jawab untuk menjalankan roda pembangunan berikutnya. Partisipasi masyarakat membayar PBB ini dapat dilihat dari : komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah dengan masyarakat, kepemimpinan dalam pemerintahan, pendidikan, sikap petugas PBB, kesadaran dan antusiasme darimasyarakat.

1.7 Sistematika Penulisan

  BAB IV: PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA Bab ini memuat hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan dan dokumentasi seperti jawaban dari informan dan data tertulis serta menganalisisnya. BAB V: PENUTUP Bab ini memuat kesimpulan dan saran atas hasil penelitian yang dilakukan.

BAB II METODE PENELITIAN

2.1. Bentuk Penelitian

  Narbuko dan Achmadi (2004: 44)memberikan pengertian penelitian deskriptif sebagai penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data, jadi ia jugamenyajikan data, menganalisis dan menginterpretasi; ia juga bisa bersifat komperatif dan korelatif. Informan adalah seseorangyang benar-benar mengetahui suatu persoalan atau permasalahan tertentu yang darinya dapat diperoleh informasi yang jelas, akurat dan terpecaya baik berupa pernyataan-pernyataan, keterangan atau data-data yang dapat membantu dalam memahami persoalan atau permasalahan tersebut.

2.4. Teknik Pengumpulan Data Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder

2.4.1. Data Primer, yaitu data yang langsung diperoleh dari lapangan yang diperoleh

  Wawancara, yaitu pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab langsung kepada informan mengenai hal-hal yangn berhubungan dengan masalah yangditeliti. Observasi, yaitu pengumpulan data dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap fenomena-fenomena yang berkaitan dengan fokus penelitiandan mencatatnya kedalam catatan penelitian.

2.4.2. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh baik yang belum diolah maupun telah

  Penelitian Kepustakaan, yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari buku- buku, karya ilmiah, maupun pendapat para ahli yang memiliki relevansidengan masalah yang diteliti. Dokumentasi, yaitu pengumpulan data dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumen arsip yang ada dilokasi penelitian serta sumber-sumber lainyang relevan dengan objek penelitian.

2.5. Teknik Analisa Data

  Teknik analisa data kualitatif menyajikan data kualitatif yang dikumpulkan melalui teknikpengumpulan data kualitaif seperti keterangan dari informan dan hasil dokumentasi, sesuai dengan indikator-indikator yang digunakan yang telah diuraikan didepan. Data daninformasi yang bersifat kualitatif tersebut selanjutnya diinterpretasikan oleh peneliti sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya.

BAB II I DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

3.1 Tinjauan Umum Wilayah

  Ada suatu keyakinan bagi masyarakat Minang kabau bahwa asal-usul orang Minangkabau itu adalah dari KabupatenTanah Datar. Mata pencaharian penduduk yang terbesar adalahdalam bidang pertanian dengan kepemilikan lahan pertanian sebanyak 0,80 Ha / KK atau 0,16 Ha / Jiwa.

d. Sebelah Selatan : Sawah lunto

  Kecamatan Lima Kaum terdiri dari 5 buah nagari dan 33 buah jorong yang dihuni oleh masyarakat majemuk dan heterogen denganmata pencaharian sebagian besar adalah PNS, TNI, Porli, Tani/buruh tani, Pedagang/Jualan dan Jasa, Buruh/Tukang. Jenis Mata pencaharian Jumlah 1 PNS, TNI dan Porli 1216 orang 2 Tani/Buruh Tani 5174 orang 3 Pedagang/Jualan dan Jasa 4480 orang 4 Buruh/ tukang 275 orangJUMLAH 11145 orang Sumber : Kecamatan Lima Kaum, Tahun 2008 Tabel 3.3 Pemeluk Agama di Kecamatan Lima Kaum No.

3.3. Visi dan Misi Kecamatan Lima Kaum

  Melaksanakan pembinaan keagamaan moral dan budaya d. Mengkoordinasikan dan memaksimalkan pelayanan umum pemerintahan (pendidikan, kesehatan, infrastruktur).

3.4. Sistem Kolektor , Penanggung Jawab serta Mekanisme Penagihan dan Pemungutan

PBB di Kecamatan Lima Kaum

3.4.1. Struktur Tim Kolektor PBB di Kecamatan, Kabupaten Tanah Datar

KECAMATAN CAMATPenanggung Jawab

SEKCAM (KETUA)

  Camat sebagai penanggung jawab dari pemungutan PBB di kecamatan dan menjalankan fungsi koordinasi di lapangan. Perwakilan Dipenda (Korlap), utusan dari Dinas Pendapatan Daerah mengkoordinasikan pemungutan PBB oleh Camat dan Wali Nagari sertamembantu dalam mendisitribusikan SPPT PBB kepada wajib pajak dengan berkoordinasi dengan Camat.

3.4.2. Struktur Tim Penanggung jawab dan Kolektor PBB di Nagari Kabupaten Tanah

  Wali Nagari sebagai penanggung jawab serta mengkoordinasi pemungutan PBB di kecamatan juga secara tidak langsung menjadi Kolektor PBB. Sekretaris dan bendahara membantu Sekretaris Camat dalam mengkoordinasi pemungutan PBB di Nagari 4.

3.4.3. Mekanisme Penagihan / Pemungutan PBB di Kecamatan Lima Kaum

  Dalam pelaksanaan kegiatan pemungutan PBB di Nagari, Wali Nagari melakukan kerjasama yang harmonis dan saling membantu dengan KAN. KAN,NAGARI serta BPRN bersama-sama melakukan pengawasan serta menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat, dalam masalah dan mencari jalan keluar mengenai PBB.kemudian melaporkan serta berembuk dengan kepala kaum, kepala suku (ninik mamak) Pihak Nagari dalam pemungutan PBB dibantu oleh kolektor di masing-masing Nagari, yang langsung terjun ke wajib pajak PBB.

BAB IV PENYAJIAN DATA Pada bab ini akan dipaparkan hasil-hasil penelitian berupa hasil wawancara yang

  Data diporeleh melalui wawancara mendalam (deep interview) yang dilakukan dengan 5 orang key informan yaitu Wali Nagari Lima Kaum, Wali Nagari Baringin, Wali Nagari Labuh, Wali Nagari Parambahan serta Wali NagariCubadak dan informan biasa Sekretaris Camat Lima Kaum, yang terlibat dalam partisipasi masyarakat dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan di Kecamatan Lima KaumKabupaten Tanah Datar. Menurut pendapat Bapak Datuak Rajo Poboh selaku Wali Nagari Baringin “Jawaban yang tidak jauh berbeda dari wali nagari Lima Kaum, Bahwa peran dari wali nagari sangat menentukan partisipasi dari masyarakat dalam membayarPBB, bagaimana wali nagari melakukan penyuluhan serta sosialisasi akan pentingnya pembayaran PBB yang dilakukan oleh masyarakat wajib pajak untukpembangunan masyarakat.

4. Menurut pendapat Bapak Jasianin selaku Wali Nagari Parambahan “Pemimpin merupakan tonggak dari keberhasilan suatu usaha pembangunan

  Perlakuan yang berbeda terhadapmasyarakat yang membayar PBB yang tepat waktu, patuh dan rajin dengan masyarakat yang kurang patuh memenuhi kewajibannya memang ada dilakukan,tetapi perlakuan yang dilakukan hanya sanksi moral, supaya masyarakat sadar dan patuh bahwa dengan membayar PBB tepat waktu memberikan kemudahan juga bagimereka dalam berurusan dengan pihak nagari seperti dalam pengurusan surat nikah, KTP maupun surat-surat serta hal-hal yang berkaitan dengan nagari lainnya. Sosialisasi dilakukan berupa himbauan-himbauan dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh masyarakat kecamatan, melalui radio Pemda, serta setiap adanya pertemuan-pertemuan yang dilakukan oleh pihakkecamatan dengan tokoh-tokoh adat, pihak nagari yang melibatkan masyarakat kecamatan, juga dilakukan penyuluhan dan pengarahan akan pentingnya membayar PBB demi terciptanya pembangunan yang lancar bagi kecamatan serta pemenuhan kewajiban kita sebagai warga negara yang baik melunasi dengan PBB.

4. Sikap Petugas Kolektor PBB Sikap yang diberikan oleh petugas kolektor dalam upaya peningkatan kesadaran

  Menurut pendapat Bapak Datuak Panghulu Panjang, selaku Wali Nagari LimaKaum “Sikap serta perlakuan yang diberikan oleh petugas kolektor PBB mempengaruhi partisipasi msayarakat dalam membayar PBB, karena setiapkunjungan yang dilakukan oleh petugas door to door harus melakukan pelayanan yang baik, dan setiap petugas meyakinkan masyarakat dalam tugas mereka sebagaipetugas pemungut pajak, selain itu petugas juga berusaha agar masyarakat memenuhi kewajiban mereka sebagai wajib pajak. Hambatan dalam pembayaran PBB yaitu, tidak sesuainya petugas kolektor dari daerah sebenarnya yang datang ke rumah dalam melakukan pemungutan, sehinggamembingungkan masyarakat dalam melakukan pembayaran PBB, selain itu tidak sesuainya pengukuran tanah yang dilakukan oleh petugas kolektor dengan yang adadalam SPPT, kadang-kadang ada juga masyarakat yang tidak ada dirumah ketika petugas kolektor melakukan pemungutan”.

9. Menurut pendapat bapak Amril naniak mamak Nagari Labuh “Sikap kolektor mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam membayar PBB

  Hambatan dalam pembayaran PBB yaitu, ketika petugas melakukan pengukuran adanya sebagian kecil dari masyarakat yang tidak menerima kedatangandari petugas kolektor tersebut, adanya kesalahan dalam pengukuran tanah yang dilakukan oleh petugas kolektor”. Hambatan yang dialami oleh petugas kolektor yaitu, adanya perlakuan yang tidak baik dari masyarakat wajib pajak, banyaknya perbedaan luas objek PBB yang terdaftar diSPPT dengan di lapangan, tedapat kesalahan nama dari wajib pajak, terjadinya perpindahan penguasaan atau pemilikan objek pajak disebabkan peristiwa pagang gadai.

5. Kesadaran dan antusiasme

  Hal yang terjadi ini sangat disayangkan, betapakurang tingginya kesadaran masyarakat dan wajib pajak yang berbangsa dan bernegara sebagai warga negara yang baik karena dengan membayar PBBmasyarakat dan wajib pajak akan mendapat nilai manfaat yang tinggi dalam hal pembangunan”. Menurut pendapat Bapak Jasianin selaku Wali Nagari Parambahan “Kesadaran masyarakat nagari paramabahan dalam memenuhi kewajibanmereka dalam membayar PBB bisa dibilang rendah karena masih ada yang menanggap pembayaran PBB tersebut sebagai suatu beban, kebanyakan yang terjadipada masyarakat sekarang hanya menuntut hak dan tidak menjalankan kewajiban sebagai warga negara yang baik.

9. Menurut pendapat bapak Amril naniak mamak Nagari Labuh “Kesadaran masyarakat dalam membayar PBB bisa dikatakan cukup rendah

  Terhadap keberatan masyarakat yang merasa keberatan dengan beban pajak mereka, ada yang melakukan keberatan kepada kantor pajak langsung, ada jugayang menerima keberatan tersebut walaupun merasa tidak sesuai beban tersebut dengan objek pajak mereka”. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran masyarakat wajip pajak antara lain kurangnya nilai moral wajib pajak dalam melancarkan pembangunan, faktor ekonomi masyarakat Tanggung jawab dari setiap warga negara Indonesia sebagai wajib pajak dalam membayar PBB.

BAB V ANALISA DATA Pada bab ini, hasil penyajian data yang ada akan dianalisis dengan tetap mengacu kepada hasil interpretasi data tersebut sesuai dengan fokus kajian dalam penelitian ini. Dari seluruh data yang telah di sajikan secara menyeluruh yang diperoleh selama

  Peran serta Wali Nagari di Kecamatan Lima Kuam dalam suatu kegiatan pembangunan serta tanggung jawab pemimpin sebagai panutan bagi masyarakat wajibpajak dapat dilihat dari usaha yang dilakukan oleh wali nagari serta kualitas yang dimiliki seorang wali nagari, karena kualitas dan kegigihan dari Wali Nagari sangat menentukankepercayaan masyarakat akan pimpinan mereka juga menentukan partisipasi masyarakat dalam membayar PBB. Pendidikan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhipartisipasi masyarakat yang diutarakan oleh Tjokroamidjojo (1994:226-228) ada yang mempengaruhi dan ada yang tidak mempengaruhi secara langsung, karena pada kenyataanyang didapat di lapangan pendidikan atau tidak seseorang kesadaran pembayaran PBB tergantung pada pribadi masyarakat yakni sadar atau tidak masyarakat tersebut mempunyaikewajiban sebagai wajib pajak.

4. Sikap Petugas Kolektor PBB

  Karena kedatangan petugas kolektor ke rumah-rumah wajib pajak dengan memberikan pengertian dan pengarahan akan tugasyang mereka dan menjelaskan maksud, tujuan serta manfaat dari PBB bagi kehidupan pembangunan masyarakat, dapat menggugah kesadaran dan keinginan berpartisipasi dalamdiri masyarakat wajib pajak serta memberi pengetahuan baru kepada masyarakat wajib pajak untuk memperluas pandangannya mengenai PBB. Ketiga, begitu juga dalam hal kesalahan-kesalahan nama dari wajib pajak dalam SPPT dengan nama wajib pajak yang sebenarnya di lapangan, maka Wali Nagari sebagai petugas kolektor PBB memberikan pengertian ataupun penjelasan kepada wajib pajak, disamping juga memberika laporan pihak Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan diSolok.

5. Kesadaran dan Antusiasme

  Situasi negara juga mempengaruhi tinggi, rendah kesadaran masyarakat dalam membayar PBB seperti yang dijelaskan situasi negara yang berubah-rubah yang mengalami krisis ekonomi, serta pasar bebas mempengaruhi penghasilan serta Kaitan tanggungjawab ini dalam melaksanakan pembayaran PBB adalah atas dasar undanng-undang no 12 tahun 1985 mengenai PBB yang menjadi dasar hukum pembayaranPBB. Hal ini disebabkan, masih adanyamasyarakat yang kurang sadar akan kewajiban mereka sebagai warga negara, masih adanya wajib pajak yang berpendidikan yang merasa bahwa pembayaran PBB tersebut menjadibeban mereka, selain itu masih ada dijumpai masyarakat wajib pajak yang tidak menghadiri sosialisasi yang diadakan oleh pihak petugas kolektor dan pihak pemerintah disini dapatdilihat bahwa masih kurang tanggungjawab masyarakat wajib pajak PBB tersebut.

BAB VI PENUTUP

6.1. Kesimpulan

  Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut pemerintah melakukan, memberikan penyuluhan kepada wajib pajak, memerintahkan tim setiap tahun untuk turun keNagari-Nagari memonitor dan mendampingi Wali Nagari dalam hal pemungutan pajak, memberikan laporan kepada pihak Direktorat Jendral Pajak Bumi danBangunan, mengusulkan untuk dapat mengadakan pendataan ulang terhdap Objek pajak yang tahun ke tahun selalu berubah atau mengalami perubahan nama terutamasekali di bidang Objek Bangunan. Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam membayar pajak bumi dan bangunan selain dari kepemimpinan, komunikasi, pendidikan, sikappetugas kolektor, kesadaran dan antusiasme, masih ada yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam membayar PBB yaitu faktor ekonomi.

6.2. Saran

  Untuk lebih meningkatkan partsipasi masyarakat serta kesadaran wajib pajak untuk melakukan kewajibannya membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) KepadaPetugas Kolektor agar pemerintahan Kecamatan Lima Kaum dan Wali Nagari lebih meningkatkan lagi dalam memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada wajib pajak 2. Sistem pemungutan yang dilakukan oleh Nagari sebagai petugas pemungutan PBB hendaknya ada pendekatan kerja sama dengan si wajib pajak yang berada di luarNagari lokasi Objek pajak berada.

DAFTAR PUSTAKA

  Apakah ada lembaga atau forum yang diciptakan dalam masyarakat KecamatanLima Kaum untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam membayar PBB? Apakah ada lembaga atau forum yang diciptakan dalam masyarakat KecamatanLima Kaum untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam membayar PBB?

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Peranan Camat Dalam Menningkatkan Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan di Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat
13
160
70
Peran Kerapatan Adat Nagari ( Kan ) Dalam Pembangunan Nagari ( Studi Pada Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar )
12
151
115
Pelaksanaan Perencanaan Pembangunan Berbasis Lokal di Nagari Limo Kaum Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar
1
86
112
Analisis Sejumlah Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Masyarakat Desa dan Kota Dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan di Kota Padangsidimpuan
13
114
161
Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Sektor Perdesaan dan Perkotaan di Dinas Pendapatan Daerah Kota Tebing Tinggi
2
92
74
Kesadaran Dan Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Bumi Dan Bangunan (PBB) Sektor Perkotaan (Studi Di Kelurahan Tegal Sari Mandala II, Kecamatan Medan Denai)
5
92
143
Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Bumi Dan Bangunan Di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Binjai
8
87
48
Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Bumi Dan Bangunan Di Kelurahan Tanjung Sari Kota Medan
2
52
67
Partisipasi Masyarakat Dalam Membayar Pajak Bumi Dan Bangunan ( Studi di Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat)
54
388
111
Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan di Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Serdang Bedagai
0
34
83
Peran Masyarakat Dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika ( Studi Di Kabupaten Lombok Barat)
0
0
15
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah - Peran Kerapatan Adat Nagari ( Kan ) Dalam Pembangunan Nagari ( Studi Pada Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar )
0
0
23
Peran Kerapatan Adat Nagari ( Kan ) Dalam Pembangunan Nagari ( Studi Pada Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar )
0
2
13
BAB I PENDAHULUAN - Pelaksanaan Perencanaan Pembangunan Berbasis Lokal di Nagari Limo Kaum Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar
0
0
50
Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Sektor Perdesaan dan Perkotaan di Dinas Pendapatan Daerah Kota Tebing Tinggi
0
0
30
Show more