Gerakan Mahasiswa Di Jakarta (1981-1990)

Gratis

0
41
108
2 years ago
Preview
Full text

  Skripsi GERAKAN MAHASISWA DI JAKARTA (1981-1990) D

  I S U S U N Oleh: AMIN YEREMIA SIAHAAN 02076018 DEPARTEMEN ILMU SEJARAH UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2008

GERAKAN MAHASISWA DI JAKARTA (1981-1990)

  SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O L E H AMIN YEREMIA SIAHAAN 020706018

  Pembimbing, Dra. Fitriaty Harahap, S.U

  NIP: 131284307

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS SASTRA MEDAN 2008

  Lembar Persetujuan Skripsi

GERAKAN MAHASISWA JAKARTA (1981-1990)

  yang diajukan oleh NAMA :AMIN YEREMIA SIAHAAN NIM :020706018

  Telah disetujui untuk diajukan dalam ujian skripsi oleh: Pembimbing, Dra. Fitriaty Harahap S.U tanggal,………………… NIP 131284309 Ketua Departemen Ilmu Sejarah Dra. Firiaty Harahap tanggal,………………….

  NIP 131284309

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2008

  Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi

GERAKAN MAHASISWA DI JAKARTA (1981-1990)

  SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O L E H NAMA :AMIN YEREMIA SIAHAAN NIM :020706018

  Pembimbing, Dra. Fitriaty Harahap, S.U

  NIP: 131284307 Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian fakultas Sastra USU Medan, untuk melengkapi salah satu syarat ujian sarjana sastra dalam bidang Ilmu Sejarah

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2008

  Lembar Persetujuan Ketua Disetujui Oleh: FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN DEPARTEMEN ILMU SEJARAH Ketua, Dra. Fitriaty Harahap, S.U NIP: 131284307 Medan, … Juni 2008 Lembar Pengesahan Skripsi Oleh Dosen dan Panitia Ujian PENGESAHAN Panitia Ujian Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra Pada : Tanggal : Hari : Fakultas Sastra USU Dekan, Drs. Syaifuddin, M.A. Phd NIP:132098531 Panitia Ujian

  Tanda Tangan 1………………………… ( ) 2………………………… ( ) 3………………………… ( )

  ABSTRAK

  Tidak ada yang menyangkal bahwa mahasiswa selalu ambil bagian dalam setiap perubahan. Sejarah kiranya telah mencatat hal ini. Dari berbagai literatur yang kita baca, nampak dengan jelas keterlibatan mahasiswa tersebut telah ada sebelum Indonesia menjadi sebuah negara. Dan, dilanjutkan setelah kemerdekaan berhasil dikumandangkan. Latar belakang utama bagi mahasiswa untuk mencatatkan peranannya dalam sejarah gerakan mahasiswa adalah adanya kesadaran sense of belonging terhadap kondisi di masyarakat.

  Mahasiswa dengan kecakapan analisanya akan berontak dengan sendirinya, jika keadaan di sekelilingnya tidaklah sesuai dengan kaidah-kaidah kemanusiaan: terciptanya tatanan masyarakat yang adil, damai, sejahtera, dan demokratis. Artinya, mahasiswa sudah mempunyai pemikiran subyektif yang sewajibnya menjadi kenyataan di masyarakat.

  Namun, perjalanan bangsa selalu mencatat bahwa tujuan-tujuan ideal mahasiswa, yang juga sudah digariskan sebelumnya oleh para pendiri bangsa (faunding fathers), tidaklah selalu berjalan dengan mulus. Kita melihat selalu ada kondisi-kondisi dimana masyarakat mengalami praktek dehumanisasi yang sangat hebat: kemiskinan.

  Dengan latar belakang ini jugalah mahasiswa pada periode 1981-1990 di Jakarta kembali bergerak. Hanya saja metodenya berbeda dengan para pendahulunya. Ini tentunya sesuai dengan jiwa zaman (zeitgeist) yang ada ketika itu. Di satu sisi, bicara gerakan mahasiswa, maka tidak terlepas dari prestasi apa yang ditorehkannya. Prestasi ini sendiri bisa berupa ada atau tidak adanya sebuah momentum yang tercipta.

  Pada tataran inilah gerakan mahasiswa 1981-1990 di Jakarta, sebagaiman juga di daerah lainnya, bisa dikatakan telah gagal dalam mengemban misi mulianya itu. Yaitu karena mereka tidak bisa menciptakan sebuah momentum. Seperti Peristiwa Malari pada gerakan mahasiswa 1974.

  Namun di sisi lain, gerakan mahasiswa di Jakarta ini telah membuktikan bahwa mahasiswa tidaklah benar-benar “tidur”, meskipun di tengah-tengah tindakan represif pemerintah, seperti pemberlakuan NKK/BKK. Lihat saja, kita dapat menyaksikan hasil kreatifitas mereka seperti pembentukan Kelompok Studi, Pers Mahasiswa, Organisasi Non-pemerintah atau LSM dan Komite Rakyat.

  Adapun metode penelitian yang penulis terapkan di sini sesuai dengan kaidah penelitian sejarah yaitu yang terdiri dari heuristik, verifikasi, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Di samping itu penulis juga melibatkan wawancara terstruktur untuk menambah analisa penulis dalam melakukan penelitian skripsi ini.

  Penulis meyakini tujuan penelitian ini setidaknya dapat menambah literatur mengenai gerakan mahasiswa yang sudah ada. Terkhususnya gerakan mahasiswa yang terjadi di tataran lokal. Lebih jauh, penelitian ini juga bertujuan agar mahasiswa menjadi tahu dan memahami apa latar belakang, bagaimana metode yang digunakan, serta keberhasilan dan kegagalan terhadap sebuah gerakan mahasiswa.

SEPATAH KATA

  Sebagai individu yang menyadari akan segala kekurangannya, maka penulis terlebih dahulu mengucapkan terima kasih kepada Sang Pencipta manusia.

  Karena Dialah segala usaha penulis dalam menyusun skripsi ini akhirnya terselesaikan. Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis.

  Skripsi ini berceritakan mengenai Gerakan Mahasiswa di Jakarta pada periode 1981-1990. Di mana penulis ingin melihat sejauh mana keterlibatan mahasiswa pada masa itu dalam usahanya menjaga nilai-nilai demokrasi. Selain itu, skripsi ini dikerjakan juga sebagai salah satu persyaratan dalam menyelasaikan perkuliahan penulis di Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra- USU.

  Penulis juga menyadari masih banyak kekurangan dalam proses pengherjaan skripsi ini. Sehingga hasil ideal yang diharapkan belum tentu tercapai. Oleh karenanya, penulis sangat mengharapkan adanya kritikan yang membangun demi peningkatan kualitas topik ini di masa yang akan datang.

  Penulis Amin Y. Siahaan

UCAPAN TERIMA KASIH

  Penulis menyadari pengerjaan skripsi ini tidak semata-semata kerja keras penulis sendiri. Namun, di balik itu banyak pihak-pihak yang dengan setia membantu penulis dalam mengerjakan skripsi ini. Baik itu dengan memberikan bantuan dalam bentuk materi maupun moril. Oleh karenanya dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1.

  S. Siahaan dan M. Tambunan, selaku orangtua tercinta. Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terkira atas segala cinta dan kasih mereka selama ini, terkhususnya dalam memberikan kesempatan kepada penulis untuk dapat menempuh dunia perguruan tinggi. Penulis meyakini segala pengorbanan mereka tidak akan sia-sia. Dan juga kepada adik-adik tersayang, Junita, Jepri, dan Ruth. Terima kasih atas segala dukungannya selama ini, baik melalui doa maupun nasehat dan sarannya.

2. Drs. Syaifuddin, M. A. Phd, selaku Dekan Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.

  3. Dra. Fitriaty Harahap, S.U, selaku ketua Departemen Sejarah dan Dra. Nurhabsyah, M.si, selaku sekretaris Departemen Sejarah.

  Penulis mengapresiasi atas ilmu dan nasehat yang diberikan, terkhusus selama penulisan skripsi.

  4. Dra. Fitriaty Harahap S.U, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan nasehat dan juga sarannya selama proses penulisan skripsi.

  5. Drs. Sentosa Tarigan selaku dosen wali penulis, yang juga telah memberikan sarannya selama masa perkuliahan.

  6. Kepada rekan-rekan penulis di departemen mahasiswa sejarah, khususnya angkatan 2002, yaitu Roi, Leo, Bohal, Dedy, Zulkifli, Belli, Antoni, Tomi, Daru, Ringgus, Bambang, Novri, Miftah, Sandri, Edwin, Erwin, Evaria, Pinta, Pana, Tiomsi, Nana, Magdalena, Christina, Siti, Ayi, Fitri, Nurbaity, Lisbeth.

  7. Kepada rekan-rekan penulis di UKM KMK USU FS, khususnya di KTB Joyful-Imanuel, yaitu B handayani, Era, Friska, Leli dan Lita.

  8. Kepada rekan-rekan seperjuangan penulis di KDAS, yaitu Oscar, Saurlin, Maruli, Joy, Sabar, Samuel, Elekta, Raduma, Mery,

  Shinta, Juliana, Novita, Indira, Zuena, Benny, Reagen, John, Tongam, Ganda, Randy, Steven, Retta, Edward, Hizkia, Jepri, Ekha, Theodora, Wati, Rossi, Ravi, Luki, Nerly, Cahriady.

  9. Kepada rekan-rekan seperjuangan penulis di CC-Medan, yaitu Januar, John, Hendra, Dozier, Hendro, Surya, Binsar, Yoga, Helen, Lestari, Neil.

  10. Kepada KK Amadea Gracia, yaitu Theo, Eva, dan Meixi. Terima kasih atas dukungan kalian.

  11. Kepada kekasih penulis, Friska S. Kepada mereka di ataslah penulis mengucapkan banyak terima kasih. Kiranya segala kebaikan dan amal budinya, terbalaskan oleh kasih dan karunia dari Tuhan YM E.

DAFTAR ISI

  Abstrak ……………………………………………………………………………i Kata Pengantar …………………………………………………………………..ii BAB I Pendahuluan ……………………………………………………………...1

  1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………………….1

  1.2 Rumusan Masalah………………………………………………….10

  1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian……………………………………10

  1.4 Tinjauan Pustaka…………………………………………………...12

  1.5 Metode Penelitian…………………………………………………. 13

  BAB II Gambaran Umum Jakarta ……………………………………………15

  2.1 Sejarah Singkat Jakarta ...................................................................15

  2.2 Keadaan Geografis …………………………………………………17

  2.3 Sistem Ekonomi-Penduduk Jakarta ………………………………18

  2.3.1 Penduduk Jakarta ………………………………………..18

  2.3.2 Ekonomi Jakarta …………………………………………20

2.4 Sistem Kekerabatan ………………………………………………..22

BAB III Metode Gerakan Mahasiswa 1981-1990 di Jakarta ………….…….24

  3.1 Kondisi Umum Gerakan Mahasiswa di Jakarta 1970-an ……….24

  3.2 Gerakan Mahasiswa 1981-1990 ……………………………………28

  3.3 Metode Gerakan Mahasiswa 1981-1990 di Jakarta …..………….32 3.3..1 Organisasi Non-Pemerintah atau LSM …...……………36

3.3.2 Pembentukan Kelompok Studi ………….……………….39

3.3.2.1 Kelompok Studi Proklamasi ….………………..41

  3.3.2.2 Kelompok Studi LSI ……..……………………..42

  3.3.2.3 Kelompok Studi Formaci ………….…………...42

  3.3.3 Pembentukan Pers Mahasiswa ….……………………….44

  3.3.4 Pembentukan Komite Rakyat …….……………………...47

  BAB IV Kelemahan Gerakan Mahasiswa 1981-1990 .......................................48

  4.1 Tidak Adanya Partner Politik Mahasiswa …...…………………...50

  4.2 Lemahnya Penetrasi Metode Gerakan Mahasiswa 1981-1990 …..52

  4.2.1 Kelemahan Kelompok Studi …….……………………….54

  4.2.2 Kelemahan LSM ………………………………………….55

  4.2.3 Kelemahan Persmawa ……………………………………57

  4.2.4 Kelemahan Komite Rakyat ………………………………58

  BAB V Penutup …………………………………………………………………60 Narasumber Lampiran

  ABSTRAK

  Tidak ada yang menyangkal bahwa mahasiswa selalu ambil bagian dalam setiap perubahan. Sejarah kiranya telah mencatat hal ini. Dari berbagai literatur yang kita baca, nampak dengan jelas keterlibatan mahasiswa tersebut telah ada sebelum Indonesia menjadi sebuah negara. Dan, dilanjutkan setelah kemerdekaan berhasil dikumandangkan. Latar belakang utama bagi mahasiswa untuk mencatatkan peranannya dalam sejarah gerakan mahasiswa adalah adanya kesadaran sense of belonging terhadap kondisi di masyarakat.

  Mahasiswa dengan kecakapan analisanya akan berontak dengan sendirinya, jika keadaan di sekelilingnya tidaklah sesuai dengan kaidah-kaidah kemanusiaan: terciptanya tatanan masyarakat yang adil, damai, sejahtera, dan demokratis. Artinya, mahasiswa sudah mempunyai pemikiran subyektif yang sewajibnya menjadi kenyataan di masyarakat.

  Namun, perjalanan bangsa selalu mencatat bahwa tujuan-tujuan ideal mahasiswa, yang juga sudah digariskan sebelumnya oleh para pendiri bangsa (faunding fathers), tidaklah selalu berjalan dengan mulus. Kita melihat selalu ada kondisi-kondisi dimana masyarakat mengalami praktek dehumanisasi yang sangat hebat: kemiskinan.

  Dengan latar belakang ini jugalah mahasiswa pada periode 1981-1990 di Jakarta kembali bergerak. Hanya saja metodenya berbeda dengan para pendahulunya. Ini tentunya sesuai dengan jiwa zaman (zeitgeist) yang ada ketika itu. Di satu sisi, bicara gerakan mahasiswa, maka tidak terlepas dari prestasi apa yang ditorehkannya. Prestasi ini sendiri bisa berupa ada atau tidak adanya sebuah momentum yang tercipta.

  Pada tataran inilah gerakan mahasiswa 1981-1990 di Jakarta, sebagaiman juga di daerah lainnya, bisa dikatakan telah gagal dalam mengemban misi mulianya itu. Yaitu karena mereka tidak bisa menciptakan sebuah momentum. Seperti Peristiwa Malari pada gerakan mahasiswa 1974.

  Namun di sisi lain, gerakan mahasiswa di Jakarta ini telah membuktikan bahwa mahasiswa tidaklah benar-benar “tidur”, meskipun di tengah-tengah tindakan represif pemerintah, seperti pemberlakuan NKK/BKK. Lihat saja, kita dapat menyaksikan hasil kreatifitas mereka seperti pembentukan Kelompok Studi, Pers Mahasiswa, Organisasi Non-pemerintah atau LSM dan Komite Rakyat.

  Adapun metode penelitian yang penulis terapkan di sini sesuai dengan kaidah penelitian sejarah yaitu yang terdiri dari heuristik, verifikasi, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Di samping itu penulis juga melibatkan wawancara terstruktur untuk menambah analisa penulis dalam melakukan penelitian skripsi ini.

  Penulis meyakini tujuan penelitian ini setidaknya dapat menambah literatur mengenai gerakan mahasiswa yang sudah ada. Terkhususnya gerakan mahasiswa yang terjadi di tataran lokal. Lebih jauh, penelitian ini juga bertujuan agar mahasiswa menjadi tahu dan memahami apa latar belakang, bagaimana metode yang digunakan, serta keberhasilan dan kegagalan terhadap sebuah gerakan mahasiswa.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

  Sejarah mencatat bahwa mahasiswa selalu ikut ambil bagian dalam perubahan sosial. Setidaknya ini dapat kita lihat sejak awal abad ke-20, yang umumnya dipelopori mahasiswa STOVIA. Keterlibatan mahasiswa ini bertujuan untuk mengubah tatanan sosial-politik yang tidak mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Lebih jauh, mahasiswa bergerak untuk mengubah penindasan (kemiskinan) menuju kehidupan yang lebih beradab. Paradigma berpikir ini di dapat mahasiswa ketika mereka mulai bersentuhan dekat dengan dunia pendidikan.

  Definisi gerakan mahasiswa itu sendiri cukup jamak. Artinya, gerakan mahasiswa tidak hanya dipahami sebagai adanya sekelompok massa (mahasiswa) yang berkumpul dan melakukan unjuk rasa, dan dimana umumnya dilakukan di jalan-jalan atau tempat tertentu. Namun, pengertiannya lebih dari itu. Gerakan mahasiswa adalah sebuah komunitas sosial yang melakoni aktifitas politik,

  

terlepas dari jumlah, metode dan hasilnya .

  Bicara tentang gerakan mahasiswa, paling tidak ada dua kondisi yang menyebabkan mahasiswa terlibat dalam kegiatan politik tersebut. Pertama, pemikiran yang mengatakan mahasiswa sebagai ujung tombak perubahan sistem sosial-politik. Dalil ini sendiri berangkat dari pernyataan bahwa mahasiswa sebagai komunitas yang lebih maju dibandingkan dengan komunitas masyarakat lainnya. Lebih maju karena mahasiswa mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

  Kedua, pemikiran yang menyebutkan mahasiswa adalah komunitas sosial yang lebih cepat meresponi ketimpangan sistem politik. Biasanya gerakan mahasiswa ini dipicu karena adanya penindasan secara struktural dari atas ke

   bawah. Yang akibatnya tak jarang menimbulkan krisis di masyarakat.

  Seperti telah disinggung di awal tulisan, gerakan mahasiswa sudah hadir seiring datangnya abad ke-20. Namun, mengingat begitu terlalu jauh untuk menuliskannya, maka penulis di sini akan membatasi latar belakang sejarah 1 Adi Suryadi Culla, Patah Tumbuh Hilang Berganti: Sketsa Pergolakan Mahasiswa

  dalam Politik dan Sejarah Indonesia (1908-1998), Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999, hal., 17 2 Ibid., hal., 8-9

  gerakan mahasiswa. Yaitu dimulai pasca Indonesia merdeka, tepatnya pada periode 1960-an. Berbicara gerakan mahasiswa pada periode ini, maka kita akan melihat dinamika gerakan yang berbeda dengan dinamika sebelum kemerdekaan.

  Salah satunya yaitu mengenai musuh gerakan itu sendiri. Jika sebelumnya musuh gerakan mahasiswa adalah pemerintah Kolonial Belanda yang sudah menginjakkan kakinya di Indonesia sejak akhir abad ke-16 dan pendudukan Jepang selama kurang lebih 3,5 tahun, maka setelah kemerdekaan musuh tersebut adalah anak bangsa sendiri.

  Kedudukan atau peranan mahasiswa pascakemerdekaan yaitu ikut untuk mengisi alamnya kemerdekaan itu sendiri. Terutama dalam hal pendidikan (back

  

to campus). Mahasiswa menyadari dengan pendidikan tinggi yang nantinya

  diperoleh, mereka bisa menyumbangkan pemikiran dan tenaga untuk membangun bangsanya. Sebagai contoh, yaitu untuk memasuki pos-pos di setiap departemen atau kementerian yang tentunya membutuhkan tenaga-tenaga ahli di bidangnya. Namun, mahasiswa ketika itu juga tidak semerta-merta meninggalkan dirinya dari kegiatan aktifitas politik.

  Pada masa ini banyak bermunculan organisasi pergerakan mahasiswa. Hanya saja, organisasi mahasiswa yang berdiri umumnya merupakan underbouw dari partai politik (parpol) yang ada ketika itu. Lihat saja misalnya, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang berafiliasi dengan PNI, Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang berafiliasi dengan PKI, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) yang berafiliasi dengan PSI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berafiliasi dengan NU, Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) yang berafiliasi dengan Masyumi, dll.

  Sayangnya, di satu sisi, hal ini cukup membuat gerakan mahasiswa menjadi lemah (tidak independen). Dalam arti, gerakan mahasiswa tidak lagi berdiri secara otonom, tetapi sudah menjadi komoditi politik dari parpol. Maka, warna pergerakan organisasi mahasiswa saat itu sama dengan warna pergerakan parpol yang menaunginya. Di satu sisi, adalah tidak salah jikalau gerakan mahasiswa mempunyai kekuatan politik yang berasal dari pihak elite (parpol).

  Namun, kondisi ini menjadi tidak sehat ketika gerakan mahasiswa lebih menampakkan diri sebagai alat kepentingan sesaat dari elite. Memasuki periode 1960-an warna politik Indonesia adalah buah dari pelaksanaan Demokrasi Terpimpin sebagai pengganti dari Demokrasi Parlementer atau Liberal. Pada Demokrasi Terpimpin orientasi gerakan mahasiswa sedikit berubah. Ini

  

  disebabkan kebijakan Soekarno yang banyak membubarkan parpol, sehingga organisasi gerakan mahasiswa sebagai underbouw sebuah parpol, merasa kehilangan induknya.

  Kalau toh ada organisasi mahasiswa yang masih menjadi underbouw sebuah parpol, itu lebih dikarenakan parpol tersebut pro kepada pemerintah (Soekarno). Seperti PNI dan PKI. Dari sinilah perlahan-lahan gerakan mahasiwa mulai tampil kritis, terlepas dari tidak adanya parpol yang menaungi mereka. Di sisi lain, konstelasi politik ketika itu semakin memanas.

  Pertentangan parpol (kecuali PKI) dengan pemerintah, militer (AD) dengan pemerintah maupun dengan PKI semakin menjadi-jadi. Situasi ini semakin kritis ketika dua kekuatan politik internasional ikut mempengaruhi konstelasi politik dalam negeri. Yaitu antara AS (liberal) dengan Uni Soviet (komunis). Dalam perkembangannya dominasi politik luar negeri AS lebih kentara dibandingkan dengan Uni Soviet.

3 Beberapa partai politik yang dilarang adalah Masyumi dan PNI. Ini terjadi di bulan

  

Agustus 1960. Selain partai politik, beberapa tokoh yang dianggap berseberangan dengan

Soekarno dijebloskan ke penjara. Diantaranya yaitu, Syarifuddin, Natsir, Simbolon, Burhanudin, Syahrir, dll. Lihat M.C. Ricklefs, Dharmono Hardjowidjono (pnj.), Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005, hal., 406 dan 408

  Salah satunya bisa dilihat dari usaha-usaha AS untuk menjatuhkan Soekarno. Langkah ini diambil karena Soekarno tidak bisa diajak berkerja sama dengan AS, terutama dalam hal ekonomi dan ideologi. Sejalan waktu dengan meletusnya peristiwa Gerakan 30 September (G 30 S), seakan menjadi pertanda bahwa kejatuhan Soekarno tinggal menunggu waktu.

  Kejadian ini sendiri sampai sekarang masih menjadi catatan gelap dalam

   historiografi Indonesia. Pascaperistiwa ini gerakan mahasiswa semakin menguat.

  

   Ini bisa dilihat dari terbentuknya KAMI yang mengusung Tritura. Ada hal yang

  menarik di sini. Pada masa Demokrasi Parlementer atau Liberal, organisasi

  4 Sampai saat ini belum diketahui apa motif sesungguhnya pada peristiwa yang terjadi 1 Oktober 1965 itu. Ada beberapa spekulasi/teori yang muncul berkaitan dengan peristiwa tersebut.

  

Diantaranya yaitu, pemberontakan PKI, kudeta “merangkak”militer (AD), konspirasi kekuatan

internasional (AS-CIA), bahkan ada yang menyebutkan Soekarno sendirilah sebagai dalang

utamanya. 5 Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia atau KAMI didirikan pada tanggal 25 Oktober 1965 yang dipelopori oleh Menteri PTIP Mayjen dr. Syarief Thayeb. KAMI terdiri antara lain dari

  

HMI, PMII, GMKI, dll. Lebih jauh lihat Adi Surya Culla, Op., Cit., hal., 47-53. Sementara tujuannya adalah untuk menyatukan gerakan mahasiswa dalam rangka mengamankan Pancasila,

menggalang anti-Nasakom, dan membantu ABRI untuk memberangus G 30 S/PKI. Lihat juga

Muridan S. Widjojo, Penakluk Rezim Orde Baru: Gerakan Mahasiswa 1998, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999, hal., 45. 6 Isi Tritura (sebelumnya dikenal dengan istilah suara hati nurani rakyat-Hanura) yaitu bubarkan PKI, rombak Kabinet Dwikora dan turunkan harga. mahasiswa cenderung untuk menjadi underbouw dari parpol, sedangkan pada masa Demokrasi Terpimpin, mahasiswa cenderung melekat kepada militer (AD).

  Kembali gerakan mahasiswa menjadi tidak otonom. Sama halnya ketika menjadi underbouw parpol, pergerakan mahasiswa lebih menunjukkan kepentingan (alat) militer. Yaitu untuk mengganti Soekarno. Perjuangan KAMI yang di back up penuh militer akhinya menuai hasil. Pertanggungjawaban

   Soekarno dengan judul Nawaksara ditolak anggota MPRS . Peristiwa ini ibarat

  membukan pintu masuk kepada Soeharto untuk menjadi Presiden, yang di kemudian hari dikenal dengan istilah Orde Baru (Orba) Memasuki zaman Orba, gerakan mahasiswa menemui kondisi yang sama dengan ketika Indonesia baru saja merdeka. Yaitu lebih menarik diri sambil mengikuti perkembangan situasi atau keadaan. Ketika Soeharto berkuasa mahasiswa seakan-akan memberikan kesempatan kepadanya untuk membuktikan pemerintahan yang dipimpinnya dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Namun, memasuki pertengahan tahun 1970-an, gerakan mahasiswa kembali

7 Sebelum pidato Soekarno di MPRS, terlebih dahulu terbit yang namanya Surat Perintah

  

Sebelas Maret (Supersemar). Hal ini digunakan oleh Soeharto sebagai senjata ampuh untuk

memuluskan rencananya. Diantaranya yaitu dengan mengganti anggota MPRS dengan anggota baru pilihannya. bergolak. Tepatnya di tahun 1974 dan tahun 1978. Di tahun 1974 meletuslah peritiwa Malari. Peritiwa ini sendiri tidak terlepas dari kontroversi.

  Ada yang mengatakan aksi mahasiswa tersebut bukanlah murni perjuangan mereka sebagai agen of change. Dengan kata lain peristiwa Malari telah ditunggangi. Beberapa spekulasi yang berkembang mengatakan peristiwa ini lebih merupakan puncak pertikaian terselubung antara Sumitro dengan Ali Moertopo. Keduanya ingin mendapatkan nilai lebih di mata Soeharto. Peristiwa ini sendiri meninggalkan noda hitam bagi sejarah pergerakan mahasiswa.

  Bagi mahasiswa, beberapa aktivis ditangkap dan diadili. Termasuk mantan ketua Dewan Mahasiswa UI, Hariman Siregar. Sedangkan di tataran elite, yaitu dengan mundurnya Soemitro selaku Pangkopkamtib. Peristiwa Malari adalah gerakan pertama mahasiswa secara monumental untuk menentang kebijakan pembangunan Soeharto. Gerakan mahasiswa berikutnya yaitu pada tahun 1978. Sama halnya dengan gerakan 1974, aksi ini muncul karena kekecewaan mahasiswa terhadap konsep ekonomi yang dijalankan Soeharto.

  Namun, kekecewaan terhadap praktek politik Orba yang semakin jauh dari nilai-nilai demokrasi juga dimunculkan. Hanya saja isu-isu yang dilemparkan oleh mahasiswa domainnya lebih spesifik (sempit). Seperti mengangkat kecurangan Orba dalam proses pemilu. Bahkan, pada masa ini mahasiswa dengan berani mengkampanyekan penolakan terhadap Soeharto yang ingin kembali mencalonkan dirinya menjadi Presiden.

  Untuk menghindari aksi-aksi berikutnya dari mahasiswa, maka pemerintah

  

  mengeluarkan kebijakan NKK/BKK. Inti dari dua kebijakan ini adalah untuk mengebiri kegiatan aktifitas politik mahasiswa. Di mana mereka hanya cukup memahami politik dalam artian teori bukan praktek. Kemudian, jika diadakan evaluasi terhadap kedua aksi tersebut, maka nilainya adalah kegagalan. Salah satu yang menyebabkannya yaitu tidak adanya partner politik mahasiswa ketika itu. Akibatnya, gerakan ini dengan mudahnya ditumpas oleh penguasa. Ini berbeda dengan gerakan mahasiswa 1966 yang mendapatkan dukungan penuh dari militer.

  Memasuki periode 1980-an, dinamika pergerakan mahasiswa (dalam hal ini di Jakarta) benar-benar lemah, jika tak mau dikatakan mati total. Dalam rentang waktu sepuluh tahun, kita tidak melihat adanya sebuah peristiwa atau momentum sebagai hasil dari gerakan mahasiswa. Pergerakan mahasiswa seakan- akan kehilangan akal (daya kreatifitas) untuk menciptakan sebuah momentum. 8 NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) berdasarkan SK No 0156/U/1978 dan BKK

  (Badan Koordinasi Kemahasiswaan) berdasarkan SK RI No 037/U/1979. Keduanya dikeluarkan oleh Menteri PTIK, Daoed Yosoef

  Gejala ini tentunya menarik untuk dipertanyakan. Apakah memang jiwa zaman (zeitgeist) pada periode ini berbeda dengan periode sebelumya? Jika memang benar, permenungan selanjutnya adalah mengapa gerakan mahasiswa tak kunjung jua mencari jalan keluarnya. Maksudnya, mencari solusi dalam kerangka proses menuju penciptaan momentum yang baru. Toh, gerakan mahasiswa 1970- an berhasil menciptakan momentum: Malari.

  Padahal, kondisi zamannya berbeda dengan tahun 1960-an. Oleh karenanya, penulis beralasan pada periode ini adalah memang masa stagnan gerakan mahasiswa. Terkhususnya ketidakberhasilan gerakan mahasiswa ketika itu untuk menciptakan sebuah momentum. Kenapa? Karena penulis juga beranggapan sebuah gerakan mahasiswa dapat dikatakan berhasil jika ia bisa menciptakan sebuah momentum. Dari sinilah akan nampak keunggulan gerakan mahasiswa dalam menjalankan proses perubahan. Persoalan momentum itu sukses atau tidak, adalah lain hal. Di satu sisi, kevakuman gerakan mahasiswa pada periode ini dikarenakan beberapa hal.

  Pertama, pemerintah sangat menyadari betul bahwa mahasiswa adalah salah satu elemen terpenting dalam mewujudkan perubahan sosial. Oleh karena itu mengacu kepada peristiwa gerakan mahasiswa 1974 dan 1978, penguasa tidak ingin kecolongan lagi. Karena itulah keluar kebijakan NKK/BKK. Kebijakan ini benar-benar menjauhkan mahasiswa dari realita sosial yang ada. Karena setiap tindakan yang mengarah kepada kritikan terhadap pemerintah, langsung dihadapi oleh cara-cara represif. Alasannya, hal itu dapat menggganggu stabilitas keamanan.

  Kedua, selain adanya campur tangan pemerintah yang sangat jauh, melemahnya gerakan mahasiswa periode 1981-1990 juga dikarenakan belum terkonsolidasinya dengan kuat gerakan mahasiswa. Apalagi mahasiswa tidak mempunyai partner politik dalam perjuangannya. Sesuatu yang berbeda dengan gerakan mahasiswa tahun 1966 yang di back up penuh oleh militer. Kondisi- kondisi ini berlaku secara umum (nasional) dan demikan pula halnya di Jakarta.

  Selain permasalahan kevakuman ini, hal lain yang penulis lihat menarik untuk dikaji di sini yaitu berubahnya pola atau metode pergerakan mahasiswa.

  Jika pada masa Demokrasi Liberal gerakan mahasiswa terkonsentrasi pada kehidupan parpol, maka pada periode ini gerakan mahasiswa sangat jauh bersentuhan dengan parpol. Maka, fenomena yang muncul adalah berdirinya kembali kelompok-kelompok studi seperti pertengahan 1920-an. Varian lain yang muncul adalah kehadiran organisasi non-pemerintah (Ornop) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

  Jika kelompok studi fokus terhadap pembentukan sense of intelectual, maka LSM lebih kepada aksi langsung ke basis-basis masyarakat. Juga kemunculan pers mahasiswa atau Persmawa. Surat kabar kampus ini muncul sebagai counter product terhadap media cetak umum yang isi pemberitaannya condong merupakan “pesanan” dari penguasa. Dan terakhir, pembentukan komite rakyat (KR) sebagai sebuah sintesa baru pergerakan mahasiswa. Di mana kehadirannya karena perpaduan dari mantan anggota-anggota kelompok studi atau Persmawa.

  Berjamurnya kembali kelompok studi adalah salah satu dari sedemikian banyak fenomena yang muncul. Untuk lebih jauh mengenai permasalahan kelompok studi dan lainnya, akan dibahas dalam isi skripsi ini. Sedangkan untuk pemilihan topik, penulis mengikuti apa yang dikatakan oleh Kuntowijoyo mengenai pemilihan topik. Yaitu berdasarkan pada kedekatan emosional. Di mana

   adanya kesamaan lokasi penelitian dengan tempat tinggal penulis .

9 Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka, 2005, hal.,

  91-93

  Tetapi, tentunya penulis tetap bersikap krisis dalam melakukan penelitian, agar hasilnya tidak cenderung subyektifitas penulis. Untuk batasan periodesasinya sendiri penulis mulai dari tahun 1981-1990.

1.2 Rumusan Masalah

  Dinamika gerakan mahasiswa Jakarta 1981-1990 memang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari periode-periode sebelumnya. Sifat, bentuk dan permasalahan di dalamnya adalah kelanjutan dari periode sebelumnya. Tentunya dengan ciri khas tersendiri. Oleh karena itu permasalahan inti (rumusan masalah) yang ingin penulis kaji adalah berkaitan dengan: 1.

  Apa yang menyebabkan gerakan mahasiswa Jakarta melemah dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya?

  2. Bagaimana pola atau metode gerakan mahasiswa Jakarta pada periode 1981-1990?

  3. Apa kontribusi gerakan mahasiswa Jakarta 1981-1990 dalam hubungannya sebagai agen perubahan sosial? Seperti telah disinggung di atas, pembatasan pada periode 1981-1990 dikarenakan pada periode inilah gerakan mahasiswa benar-benar sangat jauh kekuatan politiknya. Oleh karena itu, kajian untuk melihat dinamika gerakan mahasiswa pada masa ini sangat minim. Mungkin saja dikarenakan gerakan mahasiswa pada saat itu sangat miskin dari prestasi. Tetapi ini bukan berarti gerakan mahasiswa Jakarta periode 1981-1990 tidak menarik sama sekali untuk dikaji.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

  Setiap proses pasti ada maknanya. Demikian pula halnya dengan proses gerakan mahasiswa 1981-1990 di Jakarta. Dengan proses inilah kita dapat mengetahui pengalaman berharga seperti apa yang dapat kita petik. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mengetahui kondisi-kondisi apa saja yang membuat gerakan mahasiswa Jakarta 1981-1990 lemah dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.

2. Mengetahui pola atau metode gerakan mahasiswa Jakarta 1981-

  1990 3. Mengetahui kontribusi apa saja yang dihasilkan dari gerakan mahasiswa Jakarta 1981-1990

1.3.2 Manfaat Penelitian

  Setiap babakan waktu gerakan mahasiswa, terlepas dari kegagalan atau keberhasilan, pasti mempunyai nilai-nilai positif bagi perkembangan perubahan sosial-politik ke arah yang lebih baik. Begitu juga dengan penelitian ini setidaknya dapat memberikan manfaat bagi pembaca untuk mengetahui beberapa hal. Antara lain yaitu: 1.

  Bahwa gerakan mahasiswa Jakarta 1981-1990 tidak bisa dilepaskan begitu saja dari masa-masa sebelumnya. Apa yang terjadi pada periode ini adalah kelanjutan kisah dari periode- periode sebelumnya.

  2. Terlepas dari menurunnya prestasi pada periode ini, adalah sangat tidak bijaksana untuk mengatakan tidak ada sama sekali prestasi yang ditorehkannya. Paling tidak dalam skala kecil sekalipun.

3. Untuk menambah literatur atau bahan bacaan yang berkaitan langsung dengan gerakan mahasiswa di Jakarta.

1.4 Tinjauan Pustaka

  Dalam pemilihan topik, penulis menggunakan kedekatan emosional seperti yang dikatakan oleh Kuntowijoyo. Namun, bukan berarti penulis melepaskan begitu saja faktor referensi untuk melakukan penelitian. Secara umum, buku-buku tentang gerakan mahasiswa ditulis secara nasional. Oleh karenanya, penulis tidak mendapatkan buku-buku yang penulisannya concern untuk gerakan mahasiswa Jakarta saja.

  Untuk menutupi kekurangan ini, penulis menggunakan referensi yang secara tidak langsung menceritakan gerakan mahasiswa di Jakarta. Buku pertama yang penulis gunakan yaitu “Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda Era

  80-an”

  karya Denny J.A. Buku ini adalah tulisan Denny J.A yang sebelumnya di muat di media massa. Hubungannya dengan judul penelitian penulis adalah banyak hal mengenai gerakan mahasiswa yang terjadi pada tahun 1980-an dilengkapi di sini. Baik dalam hal tujuan atau orientasi gerakan, pola atau metode gerakan, dll. Dari pemikiran inilah yang penulis tangkap sebagai gambaran gerakan mahasiswa Jakarta pada periode 1981-1990.

  Buku kedua yaitu berjudul “ Patah Tumbuh Hilang Berganti: Sketsa

  Pergolakan Mahasiswa dalam Politik dan Sejarah Indonesia (1908-1998)”

  yang ditulis oleh Adi Suryadi Culla. Buku ini menceritakan sejarah gerakan mahasiswa yang dimulai sejak terbentuknya Budi Utomo sampai meletusnya reformasi 1998. Memang tidak diceritakan secara detail bagaimana dinamika gerakan mahasiswa di Jakarta. Tetapi, ia setidaknya telah memberikan gambaran umum apa yang terjadi pada gerakan mahasiswa di Jakarta. Seperti halnya mulai terbentuk kelompok-kelompok studi di Jakarta. Kondisi yang hampir sama pada awal pergerakan.

  Sedangkan buku ketiga yang penulis gunakan yaitu “Pergolakan

  Melawan Kekuasaan: Gerakan Mahasiswa Antara Aksi Moral dan Politik”

  karangan Arbi Sanit. Buku ini mencoba melihat dinamika gerakan mahasiswa itu sebagai gerakan politikkah atau hanya sebatas gerakan moral. Kaitannya dengan judul penelitan penulis yaitu apakah dinamika gerakan mahasiswa Jakarta ketika itu juga dipengaruhi pernyataan tersebut.

  Lebih jauh Arbi Sanit juga menceritakan wilayah kekuasaan sebagai sesuatu yang sangat mempengaruhi gerakan mahasiswa. Ada semacam pragmatisme di kalangan mahasiswa. Ketika ia di luar struktur kekuasaan, akan sangat giat untuk mengkritisi kebijakan pemerintah. Namun, setelah ia memasuki sistem kekuasaan, mereka umumnya melupakan nilai-nilai perjuangan semula. Kondisi ini jugalah yang ingin penulis kaji, apakah juga menjadi bagian dari gerakan mahasiswa Jakarta tahun 1981-1990?

1.5 Metode Penelitian

  Kuntowijoyo mengatakan penelitian sejarah mempunyai lima tahapan yang seyogyangya dilakukan sejarawan, yaitu: pemilihan topik, pengumpulan

  

  sumber, verifikasi, interpretasi dan historigrafi. Penulis sendiri cenderung untuk mengikuti kelima tahapan tersebut. Dalam pemilihan topik, seperti telah diuraikan dalam latar belakang, penulis menggunakan kedekatan emosional.

  Pada tahapan pengumpulan sumber (dikenal dengan istilah heuristik) yang terdiri dari pengumpulan sumber berdasarkan urutan penyampaian (sumber primer dan sumber sekunder) dan pengumpulan sumber berdasarkan bahannya (dokumen dan artefak), penulis berada dalam posisi kedua. Maksudnya yaitu, sumber yang penulis dapatkan masih kebanyakan berasal dari sumber sekunder, yaitu buku- buku yang menceritakan sejarah gerakan mahasiswa. Pengumpulan buku-buku ini sebagai dasar dari penelitian kepustakaan. Selain buku-buku, penulis juga akan

10 Ibid., hal., 90

  berusaha melengkapinya dengan dokumen baik berupa arsip maupun kliping koran.

  Untuk kekurangannya akan penulis lengkapi pada saat penelitian di lapangan. Di mana di sini juga akan digunakan metode wawancara untuk melengkapi data yang akan diteliti. Wawancara juga sangat dimungkinkan mengingat periodesasi penelitikan yang tidak terlalu jauh. Sedangkan pada tahapan verifikasi atau kritik sumber yaitu yang terdiri dari kritik internal (kredibilitas) dan kritik eksternal (autensitas atau keaslian sumber) dan interpretasi akan penulis lakukan jika data-data yang diinginkan telah memadai.

  Kemudian barulah sampai pada tahapan terakhir, yaitu historiografi atau penulisan sejarah sebagai kisah.

  BAB II GAMBARAN UMUM JAKARTA

2.1 Sejarah Singkat Jakarta

  Seperti umumnya kota-kota besar lain di Indonesia, Jakarta juga mempunyai riwayat panjang tentang sejarah berdirinya. Jakarta saat ini adalah bermula dari pelabuhan yang bernama Sunda Kelapa. Pelabuhan ini sendiri berada di bawah taklukan kerajaan Pajajaran yang beragama Hindhu. Sunda Kelapa merupakan pelabuhan yang strategis. Setidaknya hal ini sesuai dengan laporan musafir Portugis yang bernama Tome Pires. Di mana ia menyebutkan Sunda Kelapa dapat menghasilkan 1000 bahar lada, sepuluh jung beras setiap tahun,

   emas, sayuran, lembu, babi, dll.

  Karena alasan strategis perdagangan inilah, bangsa Portugis yang telah menduduki Malaka sejak tahun 1511, mengadakan perjanjian kerjasama dengan Sunda Kelapa pada tanggal 21 Agustus 1522. Selain alasan ekonomis, Portugis

11 Abdurracman Surjomihardjo, Perkembangan Kota Jakarta, Jakarta: Lembaga Research

  Kebudayaan Nasional (LKRN) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, 2000, hal., halaman tidak diketahui

  BAB II GAMBARAN UMUM JAKARTA

2.1 Sejarah Singkat Jakarta

  Seperti umumnya kota-kota besar lain di Indonesia, Jakarta juga mempunyai riwayat panjang tentang sejarah berdirinya. Jakarta saat ini adalah bermula dari pelabuhan yang bernama Sunda Kelapa. Pelabuhan ini sendiri berada di bawah taklukan kerajaan Pajajaran yang beragama Hindhu. Sunda Kelapa merupakan pelabuhan yang strategis. Setidaknya hal ini sesuai dengan laporan musafir Portugis yang bernama Tome Pires. Di mana ia menyebutkan Sunda Kelapa dapat menghasilkan 1000 bahar lada, sepuluh jung beras setiap tahun,

   emas, sayuran, lembu, babi, dll.

  Karena alasan strategis perdagangan inilah, bangsa Portugis yang telah menduduki Malaka sejak tahun 1511, mengadakan perjanjian kerjasama dengan Sunda Kelapa pada tanggal 21 Agustus 1522. Selain alasan ekonomis, Portugis

11 Abdurracman Surjomihardjo, Perkembangan Kota Jakarta, Jakarta: Lembaga Research

  Kebudayaan Nasional (LKRN) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, 2000, hal., halaman tidak diketahui

  

  juga berniat untuk membangun benteng pertahanan. Namun, niat Portugis ini tidak kesampaian karena Sunda Kelapa terlebih dahulu keburu jatuh ke tangan Fatahillah, menantu Sultan Demak, Trenggana, yang juga dibantu oleh kerajaan

  

  demak . Ini terjadi di tahun 1527. Dan pada tanggal 22 Juni 1527 Sunda Kelapa

  

  diganti namanya menjadi Jayakarta. Dan tak lama kemudian ia pun menjadi kerajaan islami.

  Pengalihan kekuasaan ini sendiri tidak mengurangi peranannya sebagai pelabuhan yang strategis. Di satu sisi, bangsa Belanda telah tiba di Nusantara, tepatnya di Banten pada bulan Juni 1596. Kedatangan bangsa Belanda ini

  

  dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Namun, kehadiran mereka di Banten tidak mendapatkan sambutan yang baik. Hal ini dikarenakan sikap monopoli perdagangan Belanda. Tahun 1619 terjadilah pertempuran antara Belanda di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen dengan Banten dan Inggris. Pertempuran ini sendiri untuk memperebutkan Jayakarta. 12 Ibid., Lihat juga Edi Sedyawati, Supratikno Rahardjo, dkk., Sejarah Kota Jakarta

  

1950-1980, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai

Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1987, hal., 15 13 Demak sebelumnya bagian dari Pajajaran. Namun, memisahkan diri seiring masuknya agama Islam ke sana. Ibid. 14 15 Ibid.

  M.C. Ricklefs, Op., Cit., hal., 38 Akhirnya, Belanda dapat menduduki Jayakarta. Kemenangan ini karena adanya dukungan Kerajaan Banten yang balik menyerang Inggris. Keputusan Banten ini di dasari bahwa lebih menguntungkan jika Belanda yang menguasai

16 Jayakarta dibandingkan Inggris. Keputusan ini ternyata di kemudian hari sebuah

  

blunder. Pada bulan Mei 1619, JP Coen dengan armada kapal yang lebih besar

  memukul balik Banten untuk segera menguasai secara keseluruhan dari

17 Jayakarta . Dan sejak saat itulah nama Jayakarta berubah menjadi Batavia, yang berasal dari suku bangsa Jerman kuno di Belanda.

  Dengan alasan pelabuhan yang strategis, maka Belanda pun dengan segera memindahkan VOC dari markasnya di Banten ke Batavia. Selain digunakan sebagai pelabuhan (perdagangan), Batavia juga dijadikan sebagai pusat kekuatan militer VOC. Seiring waktu, Batavia berkembang menjadi kota yang modern.

  Berbagai macam infrastruktur pun dibangun. Seperti jalan, trem, kantor, istana. Batavia juga mulai di padati penduduk. Baik yang berasal dari Eropa, Cina maupun penduduk lokal nusantara yang hijrah ke Batavia.

  16 17 Ibid., hal., 45 Ibid.

  Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) Batavia diubah lagi menjadi Jakarta. Dan melalui peraturan UU no 10 tahun 1964, Jakarta ditetapkan sebagai pusat Ibukota dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2.2 Keadaan Geografis

  Jakarta terletak pada posisi 106 Ëš22´42˝ BT sampai 106Ëš58´18˝ BT dan -

  5 Ëš19´12˝ LS sampai -6Ëš23´54˝ LS. Luasnya sendiri adalah 655,76 km² atau 65.000 ha. Sedangkan untuk batas-batasnya adalah:

  Sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, Sebelah selatan berbatasan dengan Depok, Sebelah barat berbatasan dengan Banten, Sebelah timur berbatasan dengan Jawa Barat.

   Selain itu, Jakarta juga terbagai atas lima wilayah Kotamadya dan satu

  Kabupaten Administratif, yaitu: Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan Kepulauan Seribu. Jakarta mempunyai keunikan dalam hal luas wilayah. Paling tidak dalam rentang waktu dari tahun 1967-1978, Jakarta mengalami lima kali perluasan wilayah. Di awali tahun 1967 luas Jakarta 18 Badan Pusat Statistik Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta adalah 590,11 km², dan tahun 1969-1975 menjadi 587, 62 km². Berubah kembali menjadi 637,44 km² pada tahun 1976-1977. Kemudian di tahun 1978 wilayah Jakarta bertambah lagi menjadi 654,90 km² dan akhirnya sesudah tahun 1978 menjadi 655,76 km².

  Adanya disparitas luas wilayah Jakarta dari tahun ke tahun ini disebabkan oleh kebijakan pembulatan atau tambahan wilayah dari desa-desa provinsi Jawa

19 Barat ke dalam wilayah Jakarta. Sebagai pusat Ibukota dari Republik Indonesia

  adalah wajar jika setiap lahan di Jakarta banyak bangunan. Baik itu diperuntukkan untuk kepentingan pemerintahan, bisnis (ekonomi), hiburan, dll. Kota Jakarta juga selalu dijadikan acuan atau barometer utama untuk mengubah tingkat kehidupan. Maka tidak aneh salah satu masalah kota Jakarta ialah kepadatan penduduk.

2.3 Sistem Ekonomi Penduduk Jakarta

2.3.1 Penduduk Jakarta

  Sama dengan daerah lainnya di Indonesia, sifat heterogen menjadi ciri penduduk kota Jakarta. Heterogenitas ini juga sangat didukung oleh potensi Jakarta sebagai wilayah utama bagi penduduk di luar Jakarta untuk mencari 19 Supratikno, Op., Cit., hal., 21 pekerjaan. Pluralitas masyarakat Jakarta ini sudah berlangsung sejak lama. Bahkan ketika masih sebagai wilayah kolonialisme Belanda. Tepatnya, ketika Jayakarta berhasil dikuaasai VOC dan diganti namanya menjadi Batavia.

  Pengalihan kekuasaan ini membuat VOC melakukan pembangunan menuju sebuah kota yang lebih modern. Akibatnya, Batavia menjadi lebih ramai oleh kedatangan penduduk dari luar Batavia, seperti orang-orang Cina. Namun, kota Jakarta juga mempunyai penduduk asli (lokal). Yaitu suku bangsa Betawi.

  Menurut sejarahnya, suku Betawi merupakan hasil perkawinan campuran beberapa suku bangsa: Bali, Sumatera, Arab dan juga Portugis. Jadi dengan kata lain, suku Betawi terbentuk oleh heterogenitas masyarakat Jakarta (Batavia) pada masa lalu.

  Suku Betawi sendiri terdiri atas dua jenis. Pembagian ini didasari oleh letak geografisnya. Pertama, Masyarakat Betawi Tengah. Domisilinya meliputi wilayah bekas kekuasaan Batavia. Namun, tidak termasuk wilayah Tanjung Priok dan sekitarnya. Masyarakat Betawi Tengah sangat kuat dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan juga agama Islam. Dalam wujud fisik hal ini nampak dari kesenian mereka seperti Samrah, Zapin, dan Rebana.

  Ciri lain Masyarakat Betawi Tengah adalah pengucapan tutur kata. Dimana terjadi perubahan huruf vocal “a” menjadi huruf vokal “e” pada setiap akhir suku kata. Misalnya, “di mana” menjadi “di mane”. Kedudukan sosial masyarakat Betawi Tengah pada umumnya berada di tingkatan menengah ke atas. Ini dikarenakan pada masa lalu kelompok Betawi Tengah mendapatkan akses ekonomi yang lebih baik dari penguasa.

  Kedua, Masyarakat Betawi Pinggiran. Kelompok masyarakat ini dibagi lagi menjadi dua bagian.

  1. Masyarakat Betawi Pinggiran bagian Utara. Domisilinya meliputi bagian Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Tengerang.

  Dalam soal kebudayaan kelompok masyarakat ini banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Cina. Hal ini terlihat dari manifestasi kesenian mereka seperti Gambang Kromong, Lenong, dan Tari Cokek.

  2. Masyrakat Betawi Pinggiran bagian Selatan. Domisilinya mulai dari Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Bogor, dan Bekasi.

  Bedanya, kelompok masyarakat ini kental dengan budaya Jawa dan Sunda. Sebagai contoh dalam pengucapan kata. Di mana terjadi perubahan vokal “a” menjadi huruf “ah” pada akhir setiap kata. Misalnya, kata “gua” menjadi “guah”.

  Adapun kelompok suku lainnya yang mendiami kota Jakarta

   yaitu suku Jawa, Sunda, Minangkabau, Batak, Ambon, dll.

2.3.2 Ekonomi Penduduk Jakarta

  Status Jakarta sebagai ibukota Indonesia sungguh berdampak positif bagi perekonomian provinsi tersebut. Bisa dikatakan pusat perekonomian (bisnis) nasional banyak ditentukan dari Jakarta. Peredaran uang secara nasional pun terkonsentrasikan di sini. Adapun lapangan pekerjaan umumnya terbagi atas tiga sektor. Sektor pertama meliputi pertanian. Kedua, terdiri dari pertambangan, industri, bangunan, listrik, air, dan gas. Terakhir, perdagangan, angkutan atau

   komunikasi, keuangan dan jasa masuk ke sektor ketiga.

  20 Tim Peneliti atau Penulis, Tito Adonis (ed.), Pola Pengasuhan Anak Secara

Tradisional di Kelurahan Kebagusan Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai

Tradisional, Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya, 1989, hal., 13-15 21 Edi Sedyawati, dkk., Op., Cit., hal., 51-53

  Pada periode ini lahan pertanian masih bisa dijumpai di Jakarta. Umumnya berseberangan dengan gedung-gedung bertingkat. Seperti perkantoran, perumahan maupun bangunan untuk industri. Mereka yang bekerja di sektor pertanian kebanyakan berpendidikan rendah sehingga sangat menyulitkan bagi mereka untuk mendapatkan akses pekerjaan di sektor lainnya.

  Di kota Jakarta banyak juga dijumpai pedagang, baik itu pedagang kecil, pedagang keliling maupun pedagang kaki lima. Barang dagangannya bisa berupa makanan, sayur-sayuran, buah-buahan, dll. Untuk profesi buruh juga mudah dijumpai di kota besar seperti Jakarta. Sektor ini termasuk kelompok yang mempunyai pekerjaan tidak menentu.

  Karena sifat pekerjaannya tergantung kepada ada tidaknya proyek pembangunan. Oleh karenanya untuk menyiasati kelangsungan hidup ketika tidak ada pekerjaan, mereka beralih ke pekerjaan yang lainnya. Seperti menjadi kuli sawah atau tukang becak. Selain penduduk dengan spesifikasi pekerjaan menengah ke bawah, ada juga golongan pekerjaan menengah ke atas.

  Mereka adalah pegawai atau karyawan. Baik itu pegawai di lingkungan instansi pemerintah maupun yang bekerja di perusahaan swasta. Demikian juga hanya dengan kelompok masyarakat yang termasuk ke dalam high class. Mereka adalah pemilik akses atau penyedia lahan pekerjaan. Harus diakui, faktor pendidikan ternyata sangat mempengaruhi tingkat perekonomian (status) masyarakat Jakarta. Semakin tinggi jenjang pendidikan, maka semakin tinggi pula status sosial yang dimilikinya. Dan juga berlaku sebaliknya.

2.4 Sistem Kekerabatan

  Suku Betawi memandang perkawinan sebagai suatu yang sakral. Selain terdapat dalam ajaran agama (Islam), bagi suku Betawi pernikahan adalah suatu kewajiban. Umumnya pernikahan berlangsung bagi laki-laki dan perempuan yang menjelang usia dewasa. Meskipun demikian, pernikahan di bawah umur juga terkadang terjadi. Orang tua suku Betawi sebenarnya mempunyai kewajiban mencarikan jodoh untuk anaknya.

  Namun, dalam perkembangannya si anak juga bisa mencari jodohnya sendiri. Dengan syarat ia sudah akil baliq. Mengingat suku Betawi cukup fanatik dalam menjalankan agamanya, maka jodoh yang akan dinikahi haruslah beragama Islam. Dalam hal prosesi atau adat pernikahan, suku Betawi memiliki caranya sendiri. Lazimnya suku bangsa yang menganut sistem patrilineal, maka pihak laki-laki dalam masyarakat Betawi mendatangi orang tua si perempuan untuk melamarnya.

  Beda dengan suku Batak yang biasanya rumit pada acara pelamaran, suku Betawi justru sebaliknya. Kemudian, sebelum pesta pernikahan berlangsung,

  

  maka diadakan terlebih dahulu prosesi ijab kabul. Setelah pernikahan berlangsung, kebiasaan suami-isteri Betawi dalam bertempat tinggal mengikuti

   prinsip utrolokal atau bilokal.

  Dalam keluarga inti di masyarakat Betawi, setiap anggota mempunyai tugasnya masing-masing. Di mana isteri dan anak mempunyai kebiasaan membantu suami sebagai kepala rumah tangga. Di samping keluarga inti (batih), terkadang terdapat juga saudara lain yang ikut menumpang untuk bertempat tinggal sementera. Bisa dari pihak si suami atau si isteri. Mereka biasanya sambil menunggu mendapatkan pekerjaan yang tetap.

  22 23 Tim Peneliti atau Penulis, Op., Cit., hal., 26-27 Utrolokal yaitu adat yang memberikan kebebasan kepada pasangan pengantin baru untuk tinggal menetap di dekat keluarga suami atau isteri. Sedangkan bilokal adalah adat menetap bagi pengantin baru untuk secara bergantian bertempat tinggal di keluarga suami atau isteri. Lihat

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 3, Jakarta: Balai

Pustaka, 2001, hal., 1257 dan 151

BAB III Metode Gerakan Mahasiswa 1981-1990 di Jakarta

3.1 Kondisi Umum Gerakan Mahasiswa 1970-an

  Pascatumbangnya Orde Lama (Soekarno) gerakan mahasiswa masih menunjukkan eksistensinya. Paling tidak di periode 1970-1980, ada dua peristiwa yang bisa di tandai sebagai gerakan mahasiswa. Pertama, peristiwa 15 Januari 1974 atau yang dikenal dengan sebutan peristiwa Malari. Latar belakang peristiwa ini di awali oleh kritikan mahasiswa terhadap konsep pembangunan yang dijalankan Orde Baru (Soeharto).

  Mahasiswa menegaskan bahwa pembangunan ekonomi dengan bantuan hutang luar negeri sebagai fondasi utamanya tidak akan berhasil. Sebaliknya pemerintah meyakini bahwa konsep pembangunan tersebut akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Formula trickle down effect sangat diyakini dalam hal

   ini. Kritikan mahasiswa juga menyinggung isu korupsi.

24 Tickle down effect atau penetesan ke bawah adalah pemahaman bahwa rakyat akan mengalami perbaikan taraf hidup dengan sendirinya apabila pertumbuhan ekonomi nasional naik.

  

Pemahaman ini dengan sendirinya gagal total sejalan krisis ekonomi yang melanda Indonesia

tahun 1997

  Selain isu nasional, mahasiswa juga menyoroti permasalahan yang sifatnya spesifik, yaitu soal Asisten Pribadi (Aspri) Presiden. Diantaranya adalah Ali Moertopo dan Soedjono Hoermadani. Mahasiswa menilai mereka sebagai tokoh-tokoh utama agar perekonomian Indonesia disusun berdasarkan konsep pembangunan kapitalis. Singkatnya, meyakini ketergantungan terhadap modal

   asing sebagai dasar pembangunan nasional.

  Lebih jauh, kekecewaan mahasiswa ini disebabkan adanya ingkar janji Orba kepada mahasiswa. Seperti diketahui, mahasiswa melalui KAMI bersama militer (AD) berhasil menggulingkan Soekarno. Mahasiswa kemudian mengambil langkah wait and see. Artinya, mahasiswa ingin memberikan kesempatan kepada Orba untuk memperbaiki keadaan Indonesia. Terutama soal kondisi politik dan ekonomi.

  Namun, kondisi ideal yang diidam-idamkan mahasiswa tak kunjung datang. Puncak dari kekecewaan mahasiswa ini adalah peristiwa Malari. Satu hari sebelum peristiwa ini terjadi, mahasiswa berdemonstrasi di lapangan udara Halim Perdanakusuma berkaitan dengan kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakuae Tanaka. Jepang dijadikan sasaran mahasiswa karena dianggap sebagai salah satu 25 Adi Suryadi Culla, Op., Cit., hal., 74 negara kreditor terbesar bagi Indonesia. Pada hari naas tersebut, mahasiswa telah berkumpul di beberapa titik di Jakarta, yaitu di Salemba, Monas Glodok dan Senen. Diperkirakan jumlah massa lebih dari 15.000 orang.

  Aksi tersebut berubah menjadi tindakan kriminal yang di tandai dengan pembakaran kendaraan bermotor, toko-toko, kantor-kantor, pusat bisnis, dll.

  Untuk kendaraan sendiri diutamakan produk Jepang. Aksi ini meluas di beberapa titik strategis di Jakarta, terutama kawasan Senen. Dari peristiwa ini diperkirakan

   sebelas orang meninggal.

  Peristiwa Malari adalah gerakan mahasiswa pertama pada masa Orba. Namun, sangat disayangkan gerakan ini tidak mengikuti sukses seperti pendahulunya, generasi mahasiswa angkatan 1966. Ada beberapa hal yang menyebabkan peristiwa Malari gagal. Pertama, Malari sebenarnya adalah pertarungan elite militer, yaitu antara Ali Murtopo dan Sumitro. Keduanya menjadi berseberangan karena ingin mendapatkan posisi tawar di depan

27 Soeharto.

  26 27 Ibid, hal., 86-88 Ibid., hal., 90

  Hal yang sama juga dikatakan mantan ketua Dewan Mahasiswa (Dema) UI yang juga tokoh Malari, Hariman Siregar. Dia menyatakan gerakan mahasiswa

  

  (Malari) telah ditunggangi oleh banyak pihak . Kedua, adanya anggapan bahwa

   kerjasama mahasiswa dengan militer justru merugikan mereka sendiri.

  Momentum kedua gerakan mahasiswa periode 1970-an adalah gerakan mahasiswa tahun 1978. Perbedaan mencolok dengan gerakan mahasiswa 1974 adalah gerakan mahasiswa 1978 lebih memfokuskan isu-isu yang sifatnya spesifik. Memang isu-isu nasional masih juga dijadikan agenda aksi seperti penyimpangan politik.

  Diantaranya, pro dan kontra mekanisme pemilu mengenai rekruitmen

   calon legislatif dari pusat hingga daerah, dan tata cara pemilihan Gubernur.

  Sedangkan isu spesifik yang diangkat adalah menolak Soeharto untuk kembali

  

  menjadi Presiden. Perbedaan yang lainnya adalah tidak adanya dukungan elite 28 Muchtar E. Harahap dan Adris Basril, Gerakan Mahasiswa dalam Politik Indonesia,

  Jakarta: Network for South East Asian Studies (NSEAS), 1999, hal., 217 29 Denny J.A., Politik Kaum Muda Dan Pergerakan Zaman, Media Indonesia, 22 November 1989 30 31 Adi Surya Culla, Op., Cit., hal., 98 Ibid., hal., 99. Mahasiswa bahkan, dalam hal ini dipelopori Dipo Alam dan Bambang

Sulastomo yang berasal dari keluarga mahasiswa UI Jakarta, mencalonkan mantan Gubernur

Jakarta, Ali Sadikin, sebagai alternatif calon Presiden selain Soeharto. Lih., Adi Surya Culla, Op., Cit., hal., 106

  

  (militer) pada gerakan mahasiswa kali ini . Hal ini berbeda dengan angkatan 1966 dan angkatan 1974 yang didukung militer, meskipun dengan cara dan hasil yang berbeda. Dengan kata lain gerakan mahasiswa 1978 menuai hasil yang sama dengan gerakan mahasiswa 1974: kegagalan.

  Pada lain pihak, pemerintah segera bertindak cepat terhadap dua gelombang gerakan mahasiswa pada periode 1970-an. Kebijakan penting yang diambil yaitu keputusan Pangkopkamtib No. SKEP. 02. KOPKAM/1978 tentang pembekuan Dema dan keputusan Menteri P dan K No. 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK).

  Inti kebijakan ini adalah pembubaran organisasi mahasiswa yang ada, di mana selama ini dianggap dapat membahayakan status quo. Pendapat yang lebih radikal menyebutkan, ini adalah bagian strategi elite (militer) untuk

  

  mengamankan kekuasaan. Pendapat lain namun sejalan maknanya menyebutkan NKK bermaksud agar mahasiswa hanya fokus pada studi (akademik) dan tidak

   boleh terlibat dalam kegiatan politik.

  32 33 Ibid., Op., Cit., hal., 99 34 Muchtar E. Harahap, Op., Cit., hal., 55 Adi Surya Culla, Op., Cit., hal., 118

  Setahun kemudian pemerintah mengeluarkan konsep Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) melalui SK Menteri P dan K No 037/U/1979. Kebijakan ini mengatur organisasi baru di lingkungan perguruan tinggi sebagai pengganti Dema. Bentuknya adalah berupa Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dan Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF). Namun, kebijakan ini tidak jauh bedanya dengan NKK, yaitu sebagai usaha mengalienasi mahasiswa dari kegiatan politik. Ini nampak dari besarnya wewenang birokrasi kampus, dalam hal ini Rektor dan Pembantu Rektor (Purek) III, dalam menentukan kegiatan mahasiswa.

  Jadi, dapat disimpulkan kebijakan pemerintah ini berdampak pada dua hal bagi mahasiswa ketika itu. Pertama, mahasiswa menjadi tidak peka lagi terhadap kondisi riil masyarakat. Mahasiswa menjadi apatis karena hanya ditempa dalam perkuliahan semata-mata. Kedua, mahasiswa kehilangan basis massanya. Ini

   dikarenakan organisasi yang ada telah dibekukan. Denny J.A.

   membahasakannya sebagai depolitisasi dan deideologisasi kampus.

  35 36 Ibid., hal., 120-123 Denny J.A., Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda Era 80-an, Op., Cit., hal., 21

3.2 Gerakan Mahasiswa 1981-1990

  Pascagerakan mahasiswa 1974 dan 1978, bisa dikatakan periode 1980-an merupakan masa stagnasi gerakan mahasiswa. Bahkan boleh dikatakan tidak ada momentum berarti yang berhasil tercipta pada masa ini. Gerakan mahasiswa pun seakan-akan melupakan hakiki mengapa gerakan mahasiswa itu lahir. Menurut Hariman Siregar ada dua hal mendasar dalam hal ini.

  Pertama, adanya kondisi subyektif. Kondisi ini lahir sebagai buah pemikiran intelektualitas mahasiswa. Yaitu kecakapan mahasiswa dalam soal menganalisa lingkungannya. Dalam pemikiran ini mahasiswa menggambarkan keadaan masyarakat yang ideal. Seperti terpenuhinya hak-hak dasar mereka dalam soal pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan.

  Kedua, kondisi obyektif. Yaitu kondisi sebenarnya di lapangan (lingkungan). Pada dua pemikiran ini terdapat disparitas antara alam pemikiran ideal mahasiswa dengan keadaan sebenarnya di lapangan. Jika yang pertama mendambakan kesejahteraan, maka yang kedua malah menggambarkan

  

  penindasan (kemiskinan). Kerangka berpikir inilah yang menjadi alasan utama

37 Hariman Siregar, Gerakan Mahasiswa: Pilar ke-5 Demokrasi, Jakarta: TePlok Press,

  2002, hal., 1-3. juga lihat Adi Surya Culla, Op., Cit., hal., 20 lahirnya gerakan mahasiswa, baik sebelum kemerderkaan maupun setelah kemerdekaan.

  Memang harus diakui, banyak faktor yang menyebabkan gerakan mahasiswa melemah pada periode ini. Misalnya, pemberlakukan NKK/BKK seperti yang telah disinggung sebelumnya. Namun yang menjadi pertanyaan, benarkah gerakan mahasiswa periode 1981-1990 tidak berbuat apa-apa bagi sebuah proses perubahan sosial? Pertanyaan utama inilah yang akan penulis kaji, terkhususnya gerakan mahasiswa di Jakarta.

  Gerakan mahasiswa Jakarta pada periode 1981-1990 umumya tidak jauh berbeda kondisi dan situasinya dengan daerah lainnya di Indonesia. Satu hal yang pasti, mereka sedang mengalami masa-masa stagnasi pergerakan. Stagnasi dalam arti mahasiswa tidak berhasil menciptakan momentum atau peristiwa seperti yang terjadi di tahun 1966 atau 1974. Di mana ada penetrasi atau kontrol sosial yang mengkerucut pada sebuah gerakan mahasiswa yang masif.

  Melemahnya kontrol mahasiswa ini agaknya bertentangan dengan pemikiran Denny J.A. Dirinya menyebutkan, jika mahasiswa tidak lagi terlalu ketat dalam mengontrol pemerintahnya, maka bisa disebut negara itu berasal dari golongan negara maju. Atau negara dengan tingkat kehidupan demokrasi yang

  

  sudah mapan. Kondisi ini tentunya bertolak belakang dengan Indonesia, yang masih dikategorikan sebagai negara berkembang. Dengan kata lain terjadi anomali dalam hal ini.

  Justru, seharusnya mahasiswa lebih memainkan peranan penting dalam konteks perubahan yang lebih baik. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa negara- negara berkembang pada umumnya memiliki tingkat demokrasi yang masih lemah. Dengan begitu, jika tidak ada pengawasan yang efektif terhadap para pengambil kebijakan (penguasa), maka ditakutkan akan terjadi penyelewengan atau pelanggaran dalam penyelenggaraan politik, ekonomi dan sosial-budaya.

  Namun meskipun demikian, gerakan mahasiswa tidaklah benar-benar mati total. Masih ada sekelompok anak muda yang tetap concern pada perubahan sosial. Hanya saja masalahnya, gerakan ini tidaklah sporadik seperti gerakan sebelumnya, tapi hanya pada tataran lokal saja. Dan isu yang diangkat juga sifatnya spesifik. Seperti gerakan mahasiswa di Jakarta.

  Orientasi gerakan mahasiswa di Jakarta tidak jauh berbeda dengan orientasi gerakan di daerah lain. Setidaknya terdapat tiga orientasi di sini. 38 Kemapanan demokrasi ini ditandai dengan sistem check and balance yang ketat antara

  lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Ditambah lagi adanya kontrol sosial yang efektif dari pers dan lembaga sosial lainnya, LSM, misalnya. Denny J.A. Op., Cit., hal., 3-4

  Pertama, orientasi untuk menggugat depolitisasi kampus. Kedua, orientasi advokasi (bantuan hukum) terhadap berbagai isu-isu lokal. Ketiga, orientasi yang masih mengaitkan isu-isu nasional seperti kenaikan tarif listrik dan protes

   legalisasi judi.

  Dari ketiga kondisi di atas, konsentrasi gerakan mahasiswa terlihat memfokuskan diri terhadap perjuangan untuk mengikis depolitisasi kampus.

  Depolitisasi kampus di sini artinya adalah strategi dari policy maker untuk mengeliminasi infrastruktur politik kampus. Di mana dalam prakteknya termanifestasikan dalam lima kebijakan.

  1. Pembekuan Dewan Mahasiswa (Dema) sebagai pusat aktifitas politik mahasiswa. Sehingga berdampak kepada polarisasi kegiatan politik di kampus. Dampaknya adalah kegiatan politik mahasiswa beralih dari kegiatan universitas ke tiap-tiap fakultas. Lebih jauh, setiap fakultas ini hanya bisa mengadakan kegiatan ekstrakurikuler jika sesuai dengan asal disiplin ilmu fakultasnya.

2. Masuknya Pembantu Rektor (PR) dan Pembantu Dekan (PD) bidang

  39 kemahasiswaan ke dalam struktur organisasi mahasiswa. Meskipun

  Ibid., Op., Cit., hal., 18-19 ditujukan sebatas pengayom atau pembina, kehadiran mereka lebih berfungsi sebagai penyeleksi setiap kegiatan atau aktifitas yang ingin dikerjakan oleh mahasiswa di kampus.

  3. Pembredelan surat kabar kampus.

  4. Pengambilalihan kegiatan inisiasi mahasiswa baru (Ospek). Hal ini berdampak kepada terputusnya mata rantai penyebaran “virus” ideologi atau pendidikan politik dari pihak senioren kepada mahasiswa baru.

  5. Adanya pemberlakuan sanksi akademis yang ketat bagi mahasiswa yang dianggap melawan kebijakan kampus. Ini bisa dilakukan baik

   melalui skorsing maupun pemberlakuan droup out (DO).

  Dengan kata lain, kebijakan-kebijakan represif birokrat kampus ini adalah tindak lanjut dari pemberlakukan konsep NKK/BKK sebelumnya. Di satu sisi, fenomena gerakan mahasiswa dalam hal isu yang diangkat telah mengalami pergesaran. Yaitu, tidak lagi mengusung isu nasional, namun sudah beralih ke isu- isu lokal.

  40 Denny J. A., Deregulasi Kampus, dalam harian Kompas tanggal 3 Mei 1988

3.3 Metode Gerakan Mahasiswa 1981-1990 di Jakarta

  Menilik Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikendaki. Atau juga cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.

41 Demikian pula halnya dengan perjuangan Jakarta tahun 1980-an.

  Mereka juga mempunyai metode atau caranya sendiri sebagai pelampiasan fungsi kontrol mereka terhadap penguasa. Seperti telah disinggung sebelumnya, orientasi gerakan mahasiswa telah berubah. Yaitu, dari isu nasional beralih ke isu lokal. Perubahan orientasi ini juga mengakibatkan perubahan metode gerakan mahasiswa.

  Di satu sisi, perubahan metode gerakan mahasiswa adalah pemikiran yang wajar. Di mana metode ini harus disesuaikan dengan semangat jiwa atau zeitgeist.

  Jika melihat gerakan mahasiswa jauh ke belakang, misalnya tahun 60-an dan 70- an, dapat disaksikan kekuatan mahasiswa masih terintegrasikan. Artinya, mahasiswa bersatu padu menyatukan langkah dalam aksinya menentang sikap

41 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Op., Cit., hal., 740.

  otoriter penguasa. Di tahun 60-an, muncul aliansi KAMI dengan isu yang terdapat dalam Tritura.

  Kemudian pada tahun 1970-an, dengan dipelopori Dema universitas,

  

  melahirkan konsep Tritura yang baru. Hanya saja kekuatan politik mahasiswa tahun 60-an (KAMI) lebih besar dibandingkan gerakan mahasiswa tahun 70-an (Dema). Hal ini dapat dimaklumi saja, mengingat KAMI di back up penuh oleh militer (AD). Kondisi berbeda justru dialami gerakan mahasiswa tahun 1980-an.

  Dengan latar belakang masifnya sikap otoriter Orba, ketiadaan dukungan politik dan timbulnya sikap saling curiga antarorgan mahasiswa, mengakibatkan metode gerakan mahasiswa pada periode ini tidak terintegrasikan dengan baik. Dengan kata lain, metode gerakan mahasiswa ini berjalan sendiri-sendiri.

  Tak pelak kondisi ini menimbulkan polarisasi pada gerakan mahasiswa ketika itu. Bahkan terkadang menimbulkan persaingan yang tidak sehat antarindividu atau kelompok. Di satu sisi, kelemahan metode pada gerakan mahasiswa ini juga diakibatkan karena tidak berfugsinya dengan baik organ-organ mahasiswa yang berbasiskan massa atau kelompok Cipayung: HMI, GMKI,

42 Tritura baru berisikan ganyang korupsi, bubarkan asisten pribadi (Aspri) Presiden, dan turunkan harga. Lihat Adi Suryadi Culla, Op., Cit., hal., 82.

  GMNI, PMKRI, PMII. Organisasi massa yang berbasiskan politik aliran ini semakin merosot kualitasnya, sehingga menjadi tidak popular di mata mahasiswa.

  Kondisi yang sama juga dialami oleh organisasi intra kampus seperti

   Dema. Apalagi sejak dibekukannya lembaga tersebut pascatragedi Malari. Salah

  satu kasus yang menunjukkan kemunduran kelompok-kelompok Cipayung tersebut ialah perpecahan yang terjadi di tubuh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

  Perpecahan internal HMI diawali oleh adanya kebijakan pemerintah Orba untuk menerapkan asas tunggal Pancasila sesuai dengan UU No 18/1985 tentang Keormasan. Menanggapi rencana pemerintah tersebut HMI terpecah menjadi dua kubu. Kelompok pertama yaitu HMI Dipo dan kelompok kedua yaitu HMI

   Majelis Penyelamat Organisasi (MPO).

43 Denny J. A., Berpencarnya Kekuatan Politik Mahasiswa dan Lemahnya Organisasi, dalam Media Indonesia, 11 April 1989.

  44 Nama HMI Dipo merujuk kepada alamat kantor HMI ini yang terletak di jalan

Diponegoro. HMI Dipo adalah HMI yang pro kepada pemerintah (Orba) atau dengan kata lain

menerima asas tunggal Pancasila. Sedangkan HMI MPO berasal dari adanya Majelis Penyelamat

Organisasi yang beralamat di Bilangan, Tebet, Jakarta Selatan. Kelompok inilah yang menolak

asas tunggal Pancasila dan tetap setia kepada asas Islam. Lihat Ubedilah dalam tesisnya yang

berjudul Radikalisasi Gerakan Mahasiswa (studi kasus HMI MPO) tahun 1998-2001, Program

Pascasarjana Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan politik UI, Depok, 2003, hal., 42.

  HMI Dipo menerima asas tunggal Pancasila sejak kongres ke-15 diadakan di Medan tahun 1983. Dan sekaligus ditegaskan atau dikuatkan pada sidang pleno

  III PB HMI dan rapat Majelis Pekerja Kongres (MPK) di Ciloto, Jawa Barat (Jabar), tanggal 1-7 April 1985. Tindakan ini segera mendapatkan reaksi penolakan dari beberapa cabang HMI, seperti dari Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Ujung Pandang, Bogor, Pekalongan, Semarang, Serang dan Tanjung Karang- Lampung.

  Cabang-cabang inilah, dengan motornya dari Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung, mengadakan forum bersama nasional pada Milad HMI ke-37 pada

  

  tanggal 14-16 Februari 1986 di Jakarta. Dari sinilah muncul HMI MPO. Di sisi, kelesuan pergerakan kelompok Cipayung secara tidak langsung telah menciderai nilai-nilai mulia yang menjadi dasar pembentukan kelompok Cipayung tersebut.

46 Menurut Ahmad Bagdja , paling tidak ada enam poin penting yang menjadi

  tujuan berdirinya Kelompok Cipayung, yaitu:

  45 46 Ibid., hal., 41 Mantan Ketua PMII, dan kini sebagai salah satu ketua NU

  1. Untuk menetang kebijakan pemerintah Orde Baru menjadikan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) sebagai satu-satunya wadah generasi pemuda Indonesia

  2. Menentang pembubaran organisasi mahasiswa ekstra kampus, 3.

  Menolak politisasi kampus, 4. Menolak kebijakan NKK/BKK, 5. Menolak regimentasi generasi muda Indonesia, dan 6. Sebagai media untuk menjungjung tinggi kebersamaan, keanekaan, toleransi, dan demokrasi.

   Selain keenam poin penting tersebut, kelompok Cipayung juga

  mengusung tema sentral. Yaitu menjadikan kelompok Cipayung sebagai wahana untuk menuju kebersamaan Indonesia yang sejahtera, adil, demokratis, bersatu, dan berdaulat yang berdasarkan kepada Pancasila dan UUD 1945.

   Namun, terlepas dari ketidakberesan metode gerakan mahasiswa pada

  periode ini, bukan berarti tidak ada sama sekali metode yang setidaknya menjadi ciri khas gerakan mahasiswa ketika itu. Bonar Tigor Naipospos mengatakan,

  47 Hasil tanya-jawab antara penulis dengan Ahmad Bagdja 48 Idem. kondisi kemunduran gerakan mahasiswa pasca 1978 membuat mahasiswa mencari format baru.

  Tentunya format ini diharapkan dapat menyalurkan aspirasi politik mereka. Menurutnya ada dua keputusan yang diambil. Pertama, metode yang konsentrasi gerakannya di luar domain kampus. Umumnya didominasi oleh mantan aktivis mahasiswa. Bentuknya yaitu dengan membuat organisasi non- pemerintah (Ornop). Kedua, bagi mahasiswa yang tetap berjuang dalam institusi

  

  kampus banyak membentuk kelompok studi-kelompok studi. Tetapi, selain Ornop atau LSM dan kelompok studi (KS), ada juga beberapa format baru yang juga muncul pada era itu. Mereka adalah pers mahasiswa atau persmawa dan Komite Rakyat

3.3.1 Organisasi Non Pemerintah (Onop) atau Lembaga Swdaya Masyarakat (LSM)

  Kehadiran Ornop atau LSM bukanlah gejala yang baru pada era 80-an di Jakarta. Lembaga swadaya ini sudah ada jauh-jauh hari sebelumnya. Esensi 49 Fahruz Zaman fadhly (ed.), Mahasiswa Menggugat: Potret Gerakan Mahasiswa

  Indonesia 1998 dalam Gerakan Mahasiswa pasca NKK oleh Bonar Tigor Naipospos, Bandung: Pustakan Hidayah, 1999, hal., 48 terbentuknya sebuah LSM biasanya didasarkan kepada kondisi obyektif perkembangan masyarakat. Dengan begitu esensi LSM bisa berubah pada tiap waktu. Meskipun demikian, LSM awalnya berdiri untuk menyikapi proses pembangunan.

  LSM mencoba mengawal pembangunan itu, apakah ia sejalan dengan tingkat pemenuhan kesejahteraan masyarakat. Namun, kebanyakan LSM mencoba mempertanyakan konsep pembangunan yangg telah dijalankan. Dan pada akhirnya, LSM melihat proses pembangunan itu sudah tidak ramah lagi kepada lingkungan bahkan terhadap masyarakat.

  Selanjutnya, LSM mulai mengkritisi kebijakan pembangunan. Dan tak

  

  jarang LSM mengambil garis berseberangan dengan penguasa. Kemudian, adanya LSM bisa dipandang sebagai dua hal. Pertama, lembaga yang kehadirannya sebagai perlambang kontrol sosial masyarakat(di dalamnya sudah terkandung elemen dari mahasiswa) terhadap penguasa (negara).

  Biasanya didasarkan akibat ketidakmampuan pemerintah dalam mengurusi atau memenuhi kebutuhan publik. Seperti pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dll.

50 Sebagaimana dikatakan oleh informan penulis, Saurlin Siagian, mahasiswa S2 di Belanda. Beliau juga ativis LSM di BAKUMSU, Medan.

  Dengan kata lain LSM mencoba mengambil alih peranan atau fungsi negara dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Kedua, LSM hadir secara sengaja sebagai alat kepanjangan tangan pemerintah dalam membantu melaksanakan kebijakan-kebijakan pemerintah.

  Jadi, jika yang pertama tadi LSM adalah kelompok oposisi bagi penguasa, maka yang kedua LSM adalah partner penguasa. Atas dasar dua pemikiran inilah kelompok LSM juga hadir pada gerakan mahasiswa era 80-an. Pertanyaannya, apakah kehadiran mereka sebagai lambang kontrol sosial atau justru sebaliknya? Munculnya LSM pada tahun 80-an sebenarnya adalah kelanjutan dari periode 1970-an.

  Di mana pada masa itu keberadaannya sebagai kelompok oposisi. Hanya saja keberadaan mereka semakin terkonsolidasikan pada tahun 1980-an. LSM itu sendiri dibagi dalam dua jenis. Pertama LSM besar (Big Non-Govermental Organization/BINGO’S), di mana wilayah operasi kerjanya berskala nasional dan disertai juga dengan dana besar.

  Kedua, LSM kecil (Little Non-Govermental Organizations/LINGO’S) yang hanya terdiri dari sekelompok kecil anggota dan terpusat hanya pada satu

  

  kota atau wilayah saja. Adapun faktor yang menyebabkan mahasiswa ikut terlibat dalam LSM antara lain adalah:

  1. Sebagai jawaban atas pencarian strategi atau model pembangunan alernatif yang lebih menekankan pemerataan, partisipasi masyarakat dan pemenuhan kebutuhan pokok, 2. Untuk menanggapi kritik yang mengatakan gerakan mahasiswa bersifat elitis, jauh dari persoalan nyata masyarakat, serta lebih berorientasi pada tema-tema besar seperti keadilan, demokrasi, korupsi, dll.

  Faktor terakhir ini berkembang setelah beberapa aktifis mengevaluasi dan mengidentifikasi kelemahan gerakan mahasiswa 1978, yang tidak mendapat dukungan rill rakyat kebanyakan. Konsentrasi gerakan LSM adalah di luar kampus. Mereka lebih fokus pada bidang pemberdayaan masyarakat. Tentunya dalam kerangka kerja menciptakan iklim demokrasi yang sehat.

  Makanya, tidaklah mengherankan jika kelompok-kelompok LSM banyak menyerap ide-ide atau teori-teori yang dianggap penguasa ketika itu “membahayakan” status quo, seperti marxisme, feminisme, islam radikal, teologi 51 Muridan S. Widjojo, Op., Cit., hal., 86

  

  pembebasan, dll. Ciri mencolok LSM adalah lebih menekankan kepada aksi daripada pemikiran. Bagi mereka hal ini dapat menambah pengalaman untuk semakin merasakan persentuhan dengan rakyat kecil.

3.3.2 Pembentukan Kelompok Studi (KS)

  Fenomena kelompok studi (KS) seakan mengingatkan kita kembali kepada salah satu metode perjuangan founding fathers kita di awal abad ke-20. Misalnya saja, kita mengenal Kelompok Studi Umum (Algemeene Studieclub) yang dikembangkan oleh Soekarno dan Kelompok Studi Indonesia (Indonesische

  

Studieclub) yang dimotori oleh Soeteomo. Setidaknya ada tiga alasan penting

terbentuknya KS ketika itu.

  Pertama, kekecewaan pemuda terhadap parpol yang ada seperti PKI, dan SI. Umumnya mereka kecewa dalam hal perbedaan ideologi. Kedua, anggapan KS sebagai media alternatif pada waktu itu. Dalilnya adalah sangat membahayakan bagi mereka jika menghadapi kolonialisme dengan cara-cara yang represif. Ketiga, KS adalah media yang sifatnya lintas agama, suku dan daerah.

52 Ibid.

   Sehingga tidak terjadi kesenjangan sosial dan dapat membina persaudaraan.

  Tujuan mereka sendiri sangat tegas: Indonesia merdeka.

  Kini sejarah berulang. Fenomena kelompok studi kembali hadir di era 80- an. Tentunya dengan jiwa atau semangat zaman (zeitgeist) yang berbeda.

  Pembentukan KS tentunya mempunyai latar belakang seperti KS yang terbentuk pada awal pergerakan nasional. Menurut Rizal Mallarangeng pembentukan KS adalah sebuah perubahan gerakan mahasiswa akibat tindakan represif pemerintah (militer) terhadap mahasiswa.

  Perubahan ini juga sebagai ketidakpuasan mahasiswa terhadap lembaga kepemudaan yang merepresentasikan kepentingan mahasiswa seperti Komite

   Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan Resimen Mahasiswa (Menwa). Sebab

  lain kelahiran KS adalah terputusnya gerakan politik praktis mahasiswa. Apalagi

  

  semenjak diberlakukannya konsep NKK/BKK. Dengan kata lain KS adalah metamorfosis gerakan mahasiswa akibat tidak mendukungnya sistem politik ketika itu: depolitisasi dan tindakan represif penguasa. 53 Adi Suryadi Culla, Op., Cit., hal., 25-26. Dan juga lihat Frank Dhont, Nunung Prajarto

  

(ed.), Nasionalisme Baru Intelektual Indonesia Tahun 1920-an, Yogyakarta: Gadjah Mada

University Press, 2005, hal., 30-47 54 55 Rizal Mallarangeng, PRD dan Megawati dalam majalah Gatra, 10 Agustus 1996 Denny J.A., Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda Era 80-an, Op., Cit., hal., 34

  Kondisi ini sama halnya dengan KS pada awal ke-20. Hanya saja yang menjadi subyek pembuat sistem politik yang dehumanisasi berasal dari kekuasaan luar (asing), yaitu pemerintah Kolonial Belanda. KS pada periode 1980-an, tepatnya pada tahun 1984-1986, tentunya berdiri dengan fungsi yang mengikuti zamannya. Oleh karena kondisi saat itu tidak bersahabat dengan gerakan mahasiswa, maka fungsi utama hadirnya KS adalah sebagai sense of intelektual.

  Hal ini dapat dilihat pada tiga kondisi: 1.

  Format kegiatan mahasiswa pada periode ini adalah menekankan terhadap aksi informasi.

  2. Jika mahasiswa sebelumya terjebak dalam kegiatan politik praktis, maka pada periode ini gerakan mahasiswa mempunyai tipe gerakan berupa penyadaran, dakwah atau diskusi. Dan umumnya tema diskusi tersebut berkisar di permasalahan politik, ekonomi dan sosial budaya.

  3. Karena bentuknya adalah kelompok studi, maka gugatan atau tuntutan gerakan mahasiswa saat itu adalah gugatan politik berupa teori atau konsep terhadap kebijakan yang ada.

   56 Ibid., hal., 39

  Pada umumnya kelompok studi-kelompok studi terkonsentrasikan di kota- kota besar antara lain, di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Hal ini dapat saja dimaklumi karena konstelasi politik nasional sangat dominan di pulau Jawa (tentunya tanpa mengucilkan peranan atau kontribusi dari daerah lainnya, terkhusus dari luar pulau Jawa). Untuk di Jakarta sendiri ada beberapa KS yang menghiasi pergerakan mahasiswa pada periode 80-an.

  Diantaranya yaitu, Kelompkok Studi Proklamasi (KSP), Kelompok Studi Indonesia (KSI), Kelompok Studi Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci), Kelompok Studi Lingkaran Studi Indonesia (LSI), Indonesian Students Forum for International Studies (ISAFIS), dll. Namun, pada kesempatan ini, penulis hanya akan membicarakan tiga KS saja: KSP, LSI dan Formaci.

3.3.2.1 Kelompok Studi Proklamasi (KSP)

  Kata “Proklamasi” pada KSP didasarkan pada alamat KSP di jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. KSP sendiri berdiri pada tahun 1983. Mereka melakukan diskusi bulanan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Makanya, tak heran anggota-anggota KSP didominasi dari STF Driyarkara. Selain ada juga yang berasal dari universitas lainnya, seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Hidayatullah, Universitas Nasional (Unas), dan IKIP Jakarta yang sekarang berganti nama menjadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

  Dalam kegiatan diskusi rutinnya, KSP mengambil topik-topik sekitar dunia mahasiswa dan isu-isi politik dan ekonomi yang berkembang pada saat itu.

  Seiring perjalanan waktu, KSP sempat memindahkan sekretariatnya ke daerah Rawasari.

3.3.2.2 Kelompok Studi Lingkaran Studi Indonesia

  Jika KSP concern pada permasalahan sosial-politik, maka LSI terkonsentrasi kepada soal perlindungan konsumen di pedesaan. Dengan kata lain, domain ekonomi mendapatkan porsi yang besar dalam kegiatan diskusi mereka, meskipun tema-tema tentang sosial-politik juga tetap disinggung oleh mereka.

  Para anggota LSI kebanyakan berasal dari mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dan Fakultas Sastra UI. Pada perkembangannya, LSI juga terkadang aktif mendatangkan pembicara atau pemateri dari luar negeri.

  Kemampuan mereka mendatangkan pembicara dari luar menunjukkan bahwa LSI adalah salah satu KS yang sudah mapan dalam hal pendanaan

  (logistik). Ini terbukti juga ketika LSI sering mengadakan diskusi di hotel. LSI sendiri berdiri pada tahun 1989.

3.3.2.3 Kelompok Studi Diskusi Formaci Kelompok Studi ini adalah sempalan atau pecahan dari KSP.

  Dibandingkan KS sebelumnya, KS Formaci termasuk KS yang “pas-pasan” dalam hal pendanaan. Ini terlihat ketika mereka hanya mampu mengadakan diskusi di rumah-rumah kontrakan mereka sendiri. Dan untuk pembicara atau pemateri juga lebih banyak berasal dari kalangan internal mereka saja. Namun, kondisi ini bukan berarti mengakibatkan mereka tidak serius dalam menjalankan kegiatannya.

  Bahkan KS ini termasuk golongan KS yang “radikal” dalam hal pemikiran. Ini bisa dimaklumi karena pola pikir mereka kebanyakan diserap dari ide-ide “kiri”. Buku-buku tentang Marxisme menjadi bacaan “wajib” bagi KS Formaci. Keradikalan mereka juga ditunjukkan dalam kuantitas diskusi yang

   intensitasnya cukup tinggi, yaitu sebanyak empat kali dalam seminggu.

57 Ibid., hal., 31-53. Dan juga lihat Muridan S. Widjojo, Op., Cit., hal., 77-80.

  Dari beberapa contoh KS di atas kiranya cukuplah jelas bahwa fokus utama berdirinya KS adalah sebagai media penyadaran. Mereka hadir sebagai sebuah counter product terhadap isu-isu politik yang ada. Dan pada akhirnya berharap kegiatan mereka dapat memberikan pengaruh kepada mahasiswa lainnya, bahkan juga kepada masyarakat sekitarnya. Di lain pihak, ada juga yang menyebutkan pembentukan KS merupakan sebuah gerakan intelektual mahasiswa.

  Tentunya intelektual yang menekankan pada banyaknya kegiatan diskusi. Sisi positif KS adalah adanya bukti dari mahasiswa untuk tetap bisa berkreatifitas di tengah-tengah himpitan pihak penguasa. Memang dari segi penciptaan momentum, gerakan kelompok studi belum bisa mengimbangi para pendahulunya. Dengan kata lain, KS tidak berhasil merombak srtuktur atau sistem politik otoriter ketika itu.

  Keberadaan kelompok studi dan LSM ternyata bukan satu-satunya media “pelarian” mahasiswa ketika itu. Memang kedua lembaga ini bisa dikatakan lebih dominan. Baik dari segi jumlah (kuantitas organisasi dan anggota) maupun dari segi kegiatannya. Tetapi, gerakan mahasiswa periode 1980-an juga menghadirkan beberapa elemen perjuangan lainnya. Yaitu, pers mahasiswa (Persmawa) dan Komite Rakyat.

3.3.3 Pembentukan Pers Mahasiswa

  Sama halnya dengan KS dan LSM, keberadaan Persmawa dan Komite Rakyat juga sebagai salah satu bentuk perlawanan mahasiswa terhadap struktur politik yang menihilkan kebebasan (perbedaan). Untuk Persmawa sendiri, kehadirannya adalah sebagai media alternatif atau sebagai “produksi tandingan” terhadap media yang sudah ada. Mereka berusaha untuk mengimbangi berita atau informasi yang terdapat di media-media lainnya.

   Seperti diketahui, Orba dalam usahanya mempertahankan status quo,

  mencoba menguasai pilar-pilar utama dalam sistem demokrasi. Orba meyakini tidak cukup jika hanya menguasai lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

  Tetapi juga harus menguasai media. Dalam hal ini pers atau surat kabar. Dan tidak jarang untuk memuluskan tindakannya ini, Orba tak segan-segan untuk menggunakan militer.

  Kemudian untuk mendapatkan asas legal formal, pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Penerangan (Permenpen) Republik Indonesia No 01/Per/Menpen/1975, yang mengklasifikasikan Persmawa sebagai Penerbit

58 Dalam hal ini adalah proses transformasi kebijakan-kebijakan Orba agar dipercaya oleh masyarakat. Seperti kebijakan ekonomi (pembangunan) maupun politik.

  Khusus yang bersifat non-pers. Dan juga dikeluarkan Surat Edaran Dikti No

  

  849/D/T/1989 tentang Penerbitan Kampus di Perguruan Tinggi. Dampak dari kebijakan ini sangat memukul eksistensi Persmawa.

  Seketika keberadaan Persmawa sebagai media alternatif diberangus oleh aturan ini. Persmawa tidak bisa lagi memberitakan atau mengkampanyekan isu- isu di lingkungan kampus. Terutama isu-isu yang langsung berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Di lain pihak, pemerintah ternyata mempunyai argumen tersendiri berkaitan dengan peraturan yang mereka terbitkan.

  Pemerintah berpandangan bahwa Persmawa adalah media (pers) komplementer bagi media cetak umum. Pemerintah lebih sreg jikalau Persmawa bisa menjadi partner komunikasi pemerintah, dibandingkan berperan sebagai media oposan. Dengan kata lain, media mahasiswa sangat diharamkan untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Dampak negatif Permenpen yang lainnya adalah berhubungan dengan daya tangkap mahasiswa dalam mengkritisi dengan kritis setiap kebijakan yang keluar.

  Artinya, mahasiswa kekurangan alat (bacaan) untuk menganalisa secara cermat, tepat dan bijak. Lebih jauh, mahasiswa kurang mampu melihat suatu 59 Muridan S. Widjojo, Op., Cit., 83-84 permasalahan secara holistik (keseluruhan). Pikiran kritis mereka terbentur hanya pada dimensi spesialisasi akademiknya saja. Misalnya, mahasiswa fakultas ekonomi terbatas pemikirannya pada permasalahan ekonomi saja. Padahal, idealnya seorang mahasiswa selain harus menguasai benar disiplin ilmunya juga harus, setidaknya secara garis besar, mendalami disiplin ilmu lainnya. Apalagi

   jika penguasaan ilmu lainnya itu masih ada keterkaitan dengan basis ilmunya.

  Meskipun Permenpen tersebut berdampak besar terhadap bentuk pengeliminasian mahasiswa dari daya pikir kritis, tidak berarti Permenpen meniadakan bentuk-bentuk perlawanan mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa sadar bahwa segala usaha mereka memperjuangkan nilai-nilai demokrasi yang berpihak kepada rakyat, pastinya akan banyak mendapatkan perlawanan dari pemerintah. Dan ini terbukti dengan keluarnya Permenpen itu.

  Untuk itu mahasiswa tidak tinggal diam. Salah satunya adalah perlawanan yang ditunjukkan oleh Persmawa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Unas Jakarta, yang bernama “Politika”. Namun, karya jurnalistik mahasiswa Unas ini harus menerima kenyataan pahit ketika pada tahun 1988 dibredel oleh pemerintah.

60 Ibid., hal., 84.

  Hal ini diterima oleh “Politika” karena muatan isinya dianggap terlalu berbahaya bagi status quo.

  Dimana isi “Politika” kebanyakan memuat artikel-artikel dan pendapat yang mengkritisi pemerintah. Dan tidak jarang juga kritikan itu berasal dari ahli atau pakar politik. Nasib naas tidak hanya dialami majalah ini, tetapi juga menghampiri “Solidaritas” yang format atau bentuknya lebih menyerupai Koran.

  Persmawa ini juga adalah buah kreatifitas dari mahasiswa Unas. Pembredelan “Solidaritas” keluar setelah edisi keduanya terbit pada Januari 1987.

  Tidak tanggung-tanggung pelarangan terbit langsung keluar dari Laksusda Jaya. Pascapelarangan “Solidaritas” mahasiswa Unas lagi-lagi menerbitkan majalah baru bernama “Mimbar Mahasiswa” pada April 1988. Dan kembali majalah ini dilarang beredar setelah cetakan pertamanya keluar. Agar tidak

   melakukan hal yang sama lagi, LPM Unas dibekukan pada Mei 1988.

3.3.4 Pembentukan Komite Rakyat

  Bentuk terakhir kreatifitas mahasiswa dalam proses pergerakannya memperjuangkan nilai-nilai demokrasi adalah dengan membentuk Komite Rakyat. 61 Ibid., hal., 116 pada catatan bab atau endnote Komite ini sebenarnya adalah perpaduan anggota yang berasal dari kelompok studi dengan Persmawa. Seperti LPM Unas yang dibekukan ijin operasionalnya pada 1988. Untuk di Jakarta sendiri terdapat Komite Rakyat yang bernama Badan Koordinasi (Bakor) mahasiswa Jakarta atau BKMJ.

  BKMJ terbentuk dari beberapa universitas seperti Unas, ISTN, Universitas Dr. Moestopo, IKIP Jakarta, Universitas Pancasila. BKMJ sendiri terbentuk pada tahun 1988. Dalam perjalanannya mereka pernah aksi untuk menolak rencana kenaikan tarif listrik pada pemakaian 900 watt ke bawah. Mereka sempat berdemo ke senayan untuk memperjuangkan hal ini.

BAB IV KELEMAHAN GERAKAN MAHASISWA 1981-1990 Secara pencapaian momentum politik, gerakan mahasiswa pada periode

  ini memang tidak bisa mengikuti para pendahulunya: gerakan mahasiswa 1966 dan 1974. Banyak hal atau faktor yang mempengaruhinya. Sebelumnya telah disinggung bahwa kuatnya kebijakan depolitisasi dan deideologisasi Orba, terutama pascaperistiwa Malari dan 1978, ikut memberikan andil. Bentuk kongkretnya dapat kita lihat ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan NKK/BKK yang memang terbukti ampuh untuk “menidurkan” gerakan mahasiswa.

  Memang perjuangan mahasiswa tidaklah benar-benar mati. Artinya, mahasiswa masih berusaha untuk meneruskan perjuangan pendahulu mereka, yaitu memperjuangkan nilai-nilai demokrasi. Hal ini mereka lakukan di tengah- tengah tindakan represif pemerintah. Kita melihat masih banyak karya-karya kreatifitas anak muda ini ketika itu. Partisipasi politik mahasiswa masih kentara terlihat.

  Pada bab tiga telah disebutkan beberapa strategi mahasiswa untuk tetap menunjukkan eksistensi gerakan mahasiswa. Seperti pembentukan kelompok studi, lembaga pers mahasiswa, Komite Rakyat, dan LSM. Sebelummnya telah disinggung bahwa gerakan mahasiswa ada karena kondisi-kondisi yang ideal tidak terjadi. Kondisi ideal ini pada singkatnya adalah memperlakukan manusia sebagai manusia (humanisasi). Dalam konteks kenegaraan maka manusia ideal yang diinginkan oleh mahasiswa adalah seperti yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945: terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. Dengan kata lain, hakikat atau inti dari perjuangan gerakan mahasiswa adalah munculnya tatanan baru di masyarakat.

  Kalau kita mau jujur, nampaknya belum ada satupun gerakan mahasiswa yang berhasil menciptakan cita-cita luhur itu. Baik sebelum merdeka maupun setelah kemerdekaan. Gerakan mahasiswa pra kemerdekaan lebih memfokuskan kepada perjuangan anti imperialisme. Yaitu mengusir penjajah dan dapat berdiri sebagai sebuah bangsa yang berdaulat. Dan ketika hal ini terwujud pada Agustus 1945, tujuan ideal pun tak kunjung terealisasikan.

  Alam kemerdekaan lebih banyak diwarnai pertarungan politik sesama elite. Kita menyaksikan bagaimana dengan mudahnya kabinet muncul kemudian jatuh dengan cepatnya. Atau inflasi yang memuncak hingga 600% pada 1960-an. Ini belum lagi ditambah adanya pemberontakan dari beberapa elite di daerah yang kecewa terhadap pusat.

  Keadaan ini memaksa mahasiswa untuk bergerak cepat. Dan pada akhirnya, gerakan mahasiswa 1966 yang diback up militer (AD) berhasil menumbangkan Orde Lama (Soekarno). Tetapi Orde Baru (Soeharto) sebagai penggantinya, pun mengalami kondisi yang sama. Jargon-jargon pembangunan nasional, ternyata didirikan pada fondasi yang semu. Ini terbukti pada tahun 1997 dan memuncak pada Mei 1998.

  Jadi, jika gerakan mahasiswa 1966 saja yang berhasil menciptakan momentum ternyata gagal mengemban misi mulia cita-cita founding fathers, bagaimana dengan gerakan mahasiswa 1981-1990 yang tidak berhasil menciptakan momentum? Pertanyaan ini tentunya mengarah kepada bagaimana proses gerakan mahasiswa pada periode ini berlangsung. Terutama untuk melihat kelemahan-kelemahan apa saja yang terjadi di sini.

4.1 Tidak Adanya Partner Politik Mahasiswa

  Salah satu hal yang harus dimilki oleh setiap gerakan mashasiswa pada zamannya adalah adanya kekuatan politik gerakan mahasiswa itu sendiri. Kekuatan politik ini berasal dari dua dimensi. Pertama, kekuatan mahasiswa itu sendiri. Biasanya ini menyangkut soal kuantitas (jumlah), kualitas (metode) dan tingkat keseriusan mereka. Semakin banyak jumlah mahasiswa maka kuat presure ke penguasa.

  Kekuatan ini juga menyangkut seberapa cerdik metode yang dipakai. Baik itu melalui tulisan, diskusi ataupun aksi turun langsung ke jalan. Dan seberapa tekun mahasiswa untuk terus giat terus melakukan manuver-manuver mereka dalam menyampaikan aspirasinya. Kekuatan kedua yaitu, dan ini yang terpenting, kekuatan politik yang berasal dari elite politik. Tentunya kekuatan elite politik ini tidak main-main. Dia harus benar-benar mempunyai kekuatan politik yang kuat.

  Bahkan, semakin kuatnya the power of policy tersebut, justru dapat mengimbangi kekuatan status quo.

  Hal ini perlu mendapatkan perhatian yang serius dari mahasiswa. Karena jika salah memilih partner politik maka bisa berdampak fatal bagi mereka sendiri.

  Dan juga sebaliknya, jika tepat memilih partner politik, bukan mustahil kemenangan yang diimpikan menjadi kenyataan. Sejarah banyak mencatat mengenai dua konsekuensi ini. Gerakan mahasiswa pada 1966 berhasil karena mahasiswa ketika (KAMI) disokong penuh oleh militer (AD).

  Akibatnya, pemerintahan Soekarno pun jatuh. Kondisi sebaliknya dialami gerakan mahasiswa 1974. Pada tahun ini kekuatan elite politik mahasiswa sangat lemah. Jenderal Soemitro selaku Pangkopkamtib yang dinilai banyak pihak berada di belakang gerakan mahasiswa ketika itu, ternyata tidak berhasil. Terbukti ia sendiri mengundurkan diri dari jabatannya, seiring kegagalan gerakan mahasiswa

  

  1974. Namun, keberhasilan gerakan mahasiswa 1966 kembali terulang pada Mei 1998. Kekuatan politik mahasiswa di sini adalah para pejabat Orba yang secara serentak “menghianati” Soeharto. Seperti Harmoko, Habibie, Fahmi Idris, dll.

  Meskipun juga perlu dipahami bahwa untuk gerakan mahasiswa 1966 dan gerakan mahasiswa 1998, mahasiswa selain mendapatkan partner politik yang sepadan, mereka juga mendapatkan dukungan dari pihak luar. Dalam hal ini adalah Amerika Serikat (AS). Tentunya dukungan negara tersebut lebih berdasarkan kepada kepentingan pragmatis dalam soal kebijakan politik-ekonomi mereka.

  Untuk mensahihkan kebenaran teori ini, penulis di sini memberikan beberapa contoh, khususnya yang terjadi di luar negeri. Gerakan mahasiswa yang menuai kesuksesan terjadi di Uni Soviet. Diawali krisis ekonomi yang melanda 62 Adi Surya Culla, Op., Cit., hal., 90

   negara itu, maka Gorbachev mengeluarkan kebijakan perestorika dan glasnost.

  Dengan kata lain partner politik mahasiswa ketika itu adalah Gorbachev itu sendiri.

  Jadi, soal kekuatan politik tentunya tidak menjadi masalah untuk gerakan mahasiswa di sana. Dan hasilnya pun jelas: adanya perubahan politik menuju demokrasi. Sedangkan gerakan mahasiswa internasional yang gagal karena lemahnya partner politik terjadi di Republik Rakyat China (RRC). Kekuatan politik mahasiswa di sana didukung oleh Zhao Ziyang yang berkonfrontasi dengan Li Peng.

  Namun, karena lemahnya kekuatan politik Zhao Ziyang, terutama pada tataran akar rumput (grass root) gerakan mahasiswa di RRC pun mengalami kegagalan. Hal ini menimbulkan cost yang sangat besar bagi pergerakan mahasiswa di sana. Yaitu diperkirakan terdapat 8000 nyawa melayang dalam

   peristiwa ini. 63

4.2 Lemahnya Penetrasi Metode Gerakan Mahasiswa 1981-1990 Glasnost berarti keterbukaan dalam bidang politik, ekonomi, dan social-budaya.

  Perestroika berarti pembaharuan. 64 Denny J.A., Op., Cit., hal., 10-11 dan 106

  Disebutkan sebelumnya bahwa kekuatan gerakan mahasiswa mutlak mempunyai partner politik. Ini adalah bagian dari strategi dalam mengkombinasi dua kekuatan yaitu kekuatan “atas” dan kekuatan “bawah”. Pihak “atas” adalah elite politik itu sendiri. Sedangkan, mahasiswa berada di pihak “bawah”. Pada tataran “bawah” tentunya mahasiswa mempunyai metode atau strategi dalam pergerakannya. Dan tentunya metode atau strategi ini sebagai penyeimbang strategi yang dimainkan pihak elite.

  Pada bab tiga sebelumnya telah disinggung bahwasanya paling tidak ada empat metode yang dikreasikan oleh mahasiswa: Ornop atau LSM, Kelompok Studi, Persmawa, dan Komite Rakyat. Perlu diakui bahwa perjuangan gerakan mahasiswa ketika itu bertumpu kepada empat hal tersebut. Keempat variasi gerakan mahasiswa ini adalah hasil adaptasi mahasiswa terhadap kondisi sosial- politik yang tercipta pada saat itu. Kemudian pertanyaannya adalah apakah keempat varian ini telah berjalan maksimal atau sebaliknya? Ini memang pertanyaan subyektif yang tentunya juga menghasilkan jawaban yang subyektif pula.

  Oleh karenanya, pertanyaan tersebut perlu diberikan batasan atau indikatornya. Dan dari sinilah kita dapat menyimpulkan sejauh mana dampak keempat metode gerakan mahasiswa itu tadi. Masalahnya, batasan atau indikator itu sendiri berupa apa? Di satu sisi, batasan ini seyogyanya mengacu kepada pencapaian ideal lahirnya sebuah gerakan mahasiswa. Itu berarti kembali kepada hakikat lahirnya sebuah gerakan mahasiswa.

  Yaitu terwujudnya sebuah perubahan atau tatanan yang baru. Meliputi segala aspek kehidupan di bidang politik, ekonomi, social-budaya. Dan sebagai pertanda untuk mengarah ke sana diperlukan sebuah momentum. Inilah kiranya batasan atau indikator yang dapat disematkan kepada pertanyaan mengenai kemaksimalan keempat metode gerakan mahasiswa pada periode 1980-an. Maka, dari sini penulis dapat memberikan jawaban bahwa metode gerakan mahasiswa banyak mengalami kelemahan atau kendala. Di mana hal ini berdampak pada kegagalan pencapaian ideal sebuah gerakan mahasiswa.

4.2.1 Kelemahan Kelompok Studi

  Salah satu sebab kemunculan kelompok studi (KS) adalah sebagai dampak dari keluarnya kebijakan NKK/BKK. Oleh karenanya, mahasiswa membuat alternatif gerakan yang posisinya lebih aman (safety). Kelahiran KS memang diutamakan sebagai media untuk menajamkan daya analisa yang lebih kritis terhadap segala fenomena sosial-politik yang terjadi.

  Namun, pada perjalanannya keberadaan KS ini banyak mengalami kendala yang pada akhirnya menghambat proses pergerakan mahasiswa itu sendiri.

  Beberapa kendalanya yaitu: pertama, anggota KS kurang aktif dalam mengkampanyekan isu-isu perubahan sosial melalui mekanisme turun ke jalan

   (turjal). Kalau pun ada jumlahnya relatif sangat sedikit.

  Kedua, munculnya sifat elitis KS dan terjebak pada kajian teori semata. Dampaknya, KS tidak terlalu berhasil dalam membaca kondisi atau fenomena sosial yang sesungguhnya. Lebih jauh, pola ini membuat KS tidak berhasil dalam menciptakan momentum. Ketidakberhasilan ini sudah bisa diprediksi sebelumnya. Karena pada awalnya KS sangat menekankan timbulnya kesadaran hanya terpaku melalui kontinuitas diskusi-diskusi.

  Alasan yang sama juga dikatakan oleh Bonar Tigor Naipospos yang menyebutkan KS lebih bersifat exercise dan teoritis belaka. Maksudnya, kalau toh

65 Menurut Denny J.A, gejala ini dapat dimaklumi. Pasalnya, KS ada bertujuan untuk mengangkat kembali tradisi lama yang telah hilang dari generasi muda: membaca dan menulis.

  Oleh karenanya mahasiswa dengan romantisme sejarah KS pada awal abad ke-20, mencoba untuk menghidupkannya kembali. Ibid., hal., 45-46 ada kritikan terhadap kebijakan pemerintah, itu hanya disuarakan di internal

   mereka saja. Belum ada usaha lebih jauh dari itu.

  Ketiga, anggapan bahwa pembentukan KS ternyata mempunyai fondasi yang sangat cair dan lentur. KS pada perjalanan sejarahnya tidak mempunyai garis ideologi yang jelas. Apakah mereka berada di garis “kiri” atau “kanan”? Rizal Mallarangeng menggambarkannya sebagai berikut. Ketika mahasiswa berdiskusi dengan Nurcholis Madjid, maka mahasiswa sependapat dengannya. Namun, di lain kesempatan, jika berdiskusi dengan Arif Budiman, maka mahasiswa sangat terinspirasi dengan cita-cita pemikiran sosialis.

  Lebih jauh dirinya menyebutkan bahwa KS terbentuk oleh garis pemikiran politik romantisme perubahan. Atau utopia belaka. Sehingga, seiring perjalanan waktu keberadaan KS tidak lagi direspon secara positif oleh mahasiswa sebagai

  

  media untuk menyalurkan ide-ide perubahan sosial-politik. Ketiga hal inilah yang menjadi faktor utama kenapa KS pada periode 1981-1990 tidak banyak memberikan sumbangsih atau peranan yang nantinya dapat mengkristal menjadi sebuah momentum baru bagi gerakan mahasiswa. 66 Muridan S. Widjojo, Op., Cit., hal., 81 dan Fahruz Zaman Fadhly (ed.), Op., Cit., hal.,

  49 67 Rizal Mallarangeng, Log., Cit.

4.2.2 Kelemahan Ornop atau LSM

  Kehadiran LSM adalah varian lain dari wujud atau bentuk oposisi mahasiswa terhadap penguasa. Jika kelompok studi sangat concern pada pematangan intelektualitas, maka LSM lebih menekankan kepada aksi nyata langsung ke masyarakat. Keberadaan LSM juga dianggap sebagai komplementer terhadap KS yang dinilai miskin aksi. Oleh karenanya, banyak anggota-anggota KS yang jenuh dengan pola pergerakan KS, memutuskan untuk pindah ke LSM.

  Namun, sama halnya dengan KS, LSM juga memiliki beberapa kelemahan.

  Ada beberapa faktor atau kondisi yang pada akhirnya mempengaruhi perjalanan LSM pada gerakan mahasiswa 1980-an. Tentu saja faktor-faktor ini lebih banyak memberikan sumbangsih negatifnya. Secara umum kelemahan ini termanifestasikan ke dalam konflik internal dan eksternal. Konflik internal terjadi diantara mereka sendiri atau sesama LSM. Sedangkan konflik eksternal terjadi dengan kelompok mahasiswa. Beberapa faktor kelemahan tersebut diantaranya yaitu:

  Pertama, konflik internal yang terjadi antara sesama LSM. Diantaranya

  

  yaitu antara Skephi dan Infight. Konflik ini berpangkal dari tidak jelasnya

   agenda organisasi serta permasalahan sumber dan penggunaan dana organisasi.

  Selain itu kritikan terhadap LSM juga datang atas nama individu. Sebagai misal, seorang aktivis LSM bernama Indro Tjahjono, mengkritik LSM-LSM besar agar tidak melupakan esensi terbentuknya LSM.

   Yaitu berjuang demi kepentingan rakyat kecil. Kedua, masih besarnya

  ketergantungan LSM pada donor atau lembaga asing. Dampaknya gerakan

   perubahan yang diusung LSM menjadi tidak otonom tau mandiri.

4.2.3 Kelemahan Pers Mahasiswa (Persmawa)

  Keterlibatan mahasiswa untuk membentuk Persmawa karena mereka meyakini sebauh pemikiran atau ide-ide yang dikonstruksikan ke dalam bentuk tulisan, akan memberikan dampak positif bagi perubahan. Memang, kehadiran

  68 Skephi adalah Sekretariat Kerjasama Perlindungan Hutan Indonesia dan Infight sendiri adalah Indonesia Front to Defend Human Rights. Kebanyakan anggotanya terdiri dari gabungan

aktivis gerakan mahasiswa di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dengan LSM-LSM lainnya seperti

YLBHI. Lihat Muridan S. Widjojo, Op., Cit., hal., 117 69 70 Ibid., hal., 88 71 Ibid.

  Saurlin Siagian, Op., Cit. persmawa juga akibat ruang gerak mahasiswa yang semakin sempit, terutama pasca perberlakuan konsep NKK/BKK.

  Pada perjalanannya, eksistensi persmawa terbukti dapat mengkhatirkan pemerintah. Ini berkaitan isi pemberitaannya yang dianggap dapat membahayakan

  

status quo. Akibatnya, persmawa mendapatkan tekanan dari pemerintah. Sampai

  pada akhirnya terbitlah Permenpen RI No 01/Per/Menpen/1975. Dampaknya mahasiswa tidak bisa lagi menuliskan pemikiran atau opini yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah.

  Dangan kata lain, domain pemberitaan Persmawa hanya di lingkungan kampus saja. Kiranya inilah yang menjadi kelemahan Persmawa dilihat dari faktor eksternal. Hal lain yang menjadi kemunduran Persmawa yaitu menurunnya kualitas isi pemberitaan Persmawa ketika itu. Jika sebelumnya isi Persmawa dianggap berkualitas karena berisikan pemikiran-pemikiran baru dan juga didukung oleh penulis (pengamat politik) yang berkualitas, di kemudian hari justru cenderung menuju “jurnalisme caci maki”.

  Memang di dalamnya terkandung protes-protes kepada pemerintah. Namun, sayang terkadang kritikan tersebut tidak menyertakan solusi-solusi yang yang baru. Faktor ini juga ditengarai akibat kebijakan Permenpen itu tadi.

4.2.4 Kelemahan Komite Rakyat

  Varian lain gerakan mahasiswa periode 1980-an adalah Komite Rakyat. Di Jakarta, organisasi ini sendiri berupa Badan Kordinasi Mahasiswa Jakarta atau BKMJ. Keanggotaan BKMJ sendiri banyak berasal dari Kelompok Studi (KS) dan Persmawa. Sehingga pergerakannya merupakan kombinasi dari warna pergerakan KS dan Persmawa.

  Seperti adanya diskusi-diskusi dan aksi (dapat berupa turun ke jalan atau advokasi) ke basis masyarakat. Sama halnya dengan metode gerakan mahasiswa sebelumya, Komite Rakyat juga mengalami kemunduran. Pertama, adanya perbedaan bentuk atau mekanisme pada waktu Komite Rakyat mengadakan aksi ke jalan.

  Sebagai contoh, ketika Komite Rakyat Jakarta dan Komite Rakyat Bandung sama berdemonstrasi ke kantor Walikota Bandung dalam menyikapi kasus Kacapiring, kelompok dari Jakarta lebih menginginkan dialog dengan Walikota. Sedangkan mahasiswa dari Bandung lebih suka melakukan mimbar bebas dengan selingan pembacaan puisi.

  Kedua, adanya perbedaan viisi atau idelogi di dalam tubuh Komite Rakyat. Perbedaan ini terfragmentasikan ke beberapa aliran: “kiri” atau “kanan”. Hal ini terjadi karena pada dasarnya fondasi Komite Rakyat tidak begitu kuat. Keinginan mahasiswa masuk Komite Rakyat lebih dikarenakan karena kejenuhan mereka di kelompok sebelumnya.

  Seperti dari KS dan Persmawa. Adapun faktor yang membuat mereka bersatu adalah keinginan untuk bisa berbuat lebih banyak lagi kepada masyarakat.

  Namun, soal pemikiran ideologi masih terdapat banyak perbedaan.

BAB V PENUTUP Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Ia akan selalu ada pada setiap

  zamannya. Dan sejarah mencatat, gerakan mahasiswa termasuk kategori perubahan itu. Oleh karenanya, kita mengenal gerakan mahasiswa awal abad ke- 20, angkatan 40-an,angkatan 60-an, angkatan 70-an dan angkatan 80-an. Mahasiswa (pemuda) pada setiap zamannya itu telah memberikan sumbangsih yang tiada terkira bagi proses perubahan di setiap zamannya.

  Ada kegagalan dan juga ada keberhasilan. Meskipun tolok ukur keberhasilan dan kegagalan itu sendiri mempunyai banyak tafsir. Gerakan mahasiswa pra kemerdekaan berhasil, bersama elemen atau kelompok lainnya, mengusir kaum Imperialisme dari bumi Ibu Pertiwi. Pascamerdeka, gerakan mahasiswa masih ada. Bedanya ketika itu “mangsanya” adalah anak bangsa sendiri: pemerintahan Soekarno.

  Memasuki zaman Orde Baru (Orba), gerakan mahasiswa pun kembali muncul. Memang awalnya mahasiswa sempat “tidur”. Namun, itu dalam rangka

  

wait and see terhadap Orba. Dan ketika tujuan ideal bernegara dan berbangsa

  tidak tercapai, maka mahasiswa kembali “terbangun”. Pada periode 70-an, setidaknya terjadi dua kali gelombang gerakan mahasiswa. Dan yang terkenal adalah peristiwa Malari. Kemudian gerakan mahasiswa 78.

  Ditinjau dari sudut pandang pencapaian maksimal:perubahan sosial- politik, kedua gerakan ini memang tidak berhasil. Namun, setidaknya mahasiswa ketika tetap menunjukkan eksistensinya sebagai agen of change. Dan yang lebih terpenting, mereka bisa menciptakan sebuah momentum. Memasuki periode tahun 1980-an, gerakan mahasiswa sebenarnya tetap ada. Pertanyaannya, sejauh mana keberhasilan mereka? Kondisi ini jugalah yang penulis lihat terkhususnya dalam gerakan mahasiswa di Jakarta.

  Jika kita mau jujur, maka gerakan mahasiswa pada periode ini seakan menjadi antiklimaks dari perjuangan para pendahulu mereka. Penekanannya yaitu tidak adanya momentum yang berhasil tercipta pada masa ini. Tetapi, adalah tidak

  

fair membaca sebuah perjalanan gerakan mahasiswa tanpa merperhitungkan

  setiap jerih payah usaha yang terkandung di dalamnya. Bagaimanapun juga, gerakan mahasiswa pada periode ini banyak meninggalkan catatan sejarah yang nilainya sangat berguna sebagai bahan refleksi perjuangan gerakan mahasiswa ke depannya.

  Dalam hal metode perjuangan, mahasiswa-mahasiswa ketika itu dalam berkreatifitas sehingga melahirkan Kelompok Studi, Organisasi Non Pemerintah, Pers Mahasiswa, dan Komite Rakyat. Tekanan represif pihak penguasa, bahkan dengan bantuan militer, tidak menyurutkan nyali mereka. Kebijakan NKK/BKK, yang sedikit banyaknya mempengaruhi kegiatan politik mahasiswa, malah menjadi pelecut bagi mereka untuk tetap bergerak.

  Perjuangan-perjuangan inilah yang perlu kita apresiasi dari gerakan mahasiswa pada periode ini. Memang ada kegagalan, namun ini justru seharusnya menjadi pelajaran bagi kita agar tidak terulang lagi di masa yang akan datang. Dari gerakan mahasiswa 1980-an kita juga menyadari bahwa betapa pentinga partner politik (kekuatan politik) dari elite. Hampir tidak ada keberhasilan sebuah gerakan mahasiswa tanpa melibatkan peranan elite. Dan juga sebaliknya, kegagalan sebuah gerakan mahasiswa juga karena tidak adanya dukungan elite yang powerful.

  Lebih dari itu, gerakan mahasiswa periode 1980-an, dalam hal ini di Jakarta, telah gagal dalam menciptakan sebuah momentum. Namun, kegagalan ini

  

  hanyalah sebuah prestasi yang tertunda. Namun, semangat mereka dalam menjalankan proses perubahan itulah yang perlu kita ambil. Karena jika hal ini sudah tidak ada lagi, maka hilanglah sense of belonging kita terhadap perubahan.

72 Terbukti di penghujung tahun 1990-an, tepatnya di tahun 1998, gerakan mahasiswa

  

berhasil menumbangkan Orde Baru (Soeharto). Meskipun perjuangan mahasiswa masih sebatas

keberhasilan menjatuhkan Soeharto an sich, bukan sistem otoriter yang diciptakannya selama 32

tahun pemerintahaannya. Dengan kata lain perjuangan gerakan mahasiswa periode ini belum

berhasil menciptakan tata nilai politik-ekonomi dan social-budaya yang baru. Inilah yang menjadi PR bagi gerakan mahasiswa selanjutnya.

  

DAFTAR PUSTAKA

Buku

  Apter, David, E., Setiawan Abadi (pnjh.), Pengantar Analisa Politik, Jakarta: LP3ES, 1985

  Anwar, Yozar, Angkatan 66: Sebuah Catatan Harian Mahasiswa, Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 1980

  Bangun, Rikard, Servas Pandur (peny.), Demokrasi Dalam Tajuk, Jakarta: Institut Ecata bekerjasama dengan INPI-Pact, 1997

  Cribb, Robert Bridson, Hasan Basari (pnjh.), Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-

  1949: Pergolakan Antara Otonomi dan Hegemoni, Jakarta: Pustaka Utama

  Grafiti, 1990 Culla, Adi Suryadi, Patah Tumbuh Hilang Berganti: Sketsa Pergolakan

  Mahasiswa Dalam Politik dan Sejarah Indonesia (1908-1998), Jakarta: Raja

  Grafindo Persada, 1999 Dhont, Frank, Nunung Prajarto (pnjh.), Nasionalisme Baru: Intelektual Indonesia

  Tahun 1920-an, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005

  Fadhly, Fahruz Zaman (ed.), Mahasiswa Menggugat: Potret Gerakan Mahasiswa

  Indonesia 1998, Bandung: Pustaka Hidayah, 1999

  Feith, Herbert, Lance Castles (ed.), Pemikiran Politik Indonesia, Jakarta: LP3ES, 1988

  Gie, Soe Hok, Di Bawah Lentera Merah, Yogyakarta: PT Bentang Pustaka, 2005 Wirodono, Sumardian, Hikmat Kurnia dan Tanudi (ed.), Gerakan Politik Indonesia: Catatan 1994, Jakarta: PT Penebar Swadaya, 1995

  Gottschalk, Louis, Nugroho Notosusanto (pnjh.), Mengerti Sejarah, Jakarta: Penerbit UI Press, 1985

  Hanafi, A.M., Markas Pemuda Revolusioner Angkatan 45: Membangun Jembatan

  Dua Angkatan, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996

  Harapan, Muhtar E., Adris Basril, Gerakan Mahasiswa Dalam Politik Indonesia, Jakarta: Network for South East Asian Studies, NSEAS, 2000

  J.A., Denny, Fransiskus Surdiasis (peny.), Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum

  Muda Era 80-an, Yogyakarta: LKIS Yogyakarta, 2006

  ..................., Membaca Isu Politik, Jakarta: CV Miswar, 1991

  Jalan Panjang Menuju Demokrasi: Buku Foto Gerakan Masyarakat Sipil di Indonesia (1965-2001), Jakarta: Yappika, 2002

  Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: PT Bentang Pustaka, 2005 Muhammad, Yudhie Hartono, Maryudi (ed.), Hijrah Politik (Kitab Panduan

  Untuk Perubahan Fundamental: Dari Gerakan Mahasiswa, Gerakan Keagamaan, Gerakan Lingkungan, dan Gerakan Adat ke Gerakan Politik),

  Jakarta: PTIK-Press-Ratu Agung, 2005 Purwoko, Dwi, Warna-Warni Gerakan Mahasiswa Untuk Reformasi Dari

  Idealisme Hingga Pragmatis, Jakarta: Yayasan Mahasiswa Indonesia

  (YASMINDO), 2006 Ricklefs, M.C.,Dharmono Hardjowodjono (pnjh.), Sejarah Indonesia Modern,

  Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005 Sanit, Arbi, Eko Prasetyo (peny.), Pergolakan Melawan Kekuasaan: Gerakan

  Mahasiswa Antara Aksi Moral dan Politik, Yogyakarta: INSIST Pres

  bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, 1999 Sedyawati, Edi, dkk., Sejarah Kota Jakarta 1950-1980, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1986/1987

  Siregar, Hariman, Gerakan Mahasiswa: Pilar Ke-5 Demokrasi, Jakarta: TePlok Press, 2001

  Surjomihrdjo, Abdurracman, Perkembangan Kota Jakarta, Jakarta: Lembaga Research Kebudayaan Nasional (LKRN), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, 2000

  Tim Peneliti atau Penulis, tito Adonis (ed.), Pola Pengasuhan Anak Secara

  Tradisonal di Kelurahan Kebagusan Daerah Khusus Ibukota Jakarta,

  Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nila Budaya, 1998

  Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2001

  Widjojo, Muridan S., Penakluk Rezim Orde Baru: Gerakan Mahasiswa 1998, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999

  Tesis

  Ubedilah, Radikalisasi Gerakan Mahasiswa (Studi Kasus HMI MPO Tahun 1998-

  2001) Depok: Program Pascasarjana Ilmu Politik UI, 2003 Majalah

  Gatra, 10 Agustus 1996 Tempo, No 30 Tahun XIV, 22 September 1984

  Surat Kabar Media Indonesia, 11 April 1989.

  Kompas tanggal 3 Mei 1988

DAFTAR NARASUMBER

  NAMA : Ahmad Bagdja PEKERJAAN : Salah satu ketua PB NU ALAMAT : Jakarta NAMA : Bambang Purwanto TTL : Sungaliat, Bangka, 17 September 1961 PEKERJAAN : Dosen Sejarah UGM ALAMAT : Dongkelan RT 09 No. 349, Yogyakarta NAMA : Saurlin Siagian PEKERJAAN : Aktivis LSM di BAKUMSU, dan kini sedang S2 di Belanda ALAMAT : Belanda NAMA : Indra Piliang PEKERJAAN : Staf CSIS ALAMAT : Jakarta

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Forum Solidaritas Mahasiswa Medan (Forsolima) Dan Kelompok Studi Mahasiswa Merdeka (KSMM) 1990-1998: Studi Gerakan Mahasiswa Di Medan
2
49
124
Gerakan Himpunan Mahasiswa Islam (Studi Terhadap Gerakan Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat FISIP USU)
2
73
129
Perbandingan Gerakan Mahasiswa Tahun 1966 Dengan Gerakan Mahasiswa Tahun 1998 Dalam Meruntuhkan Rezim Penguasa.
22
440
89
Perbandingan Gerakan Mahasiswa Indonesia Tahun 1998 Dengan Gerakan Mahasiswa Perancis Tahun 1968 (Studi Kasus Ideologi Dan Dampak Gerakan Mahasiswa Indonesia tahun 1998 dan Gerakan Mahasiswa Perancis tahun 1968)
5
76
135
Gerakan Mahasiswa Di Jakarta (1981-1990)
0
41
108
Mahasiswa Dan Politik: Suatu Analisa Gerakan Sosial Mahasiswa Melawan Politik Hegemoni Negara Orde Baru 1998
1
51
153
Masyarakat Transmigran Jawa Di Desa Hitam Ulu I, Kabupaten Sarolangun Bangko, Jambi (1981-1990)
2
76
71
Ketika Mahasiswa Asing itu Menikmati Gerakan Shalat
0
10
1
Respons Mahasiswa Program Studi Jinayah Siyasah Konsentrasi Siyasah Syar'iyyah UIN Jakarta terhadap Gerakan Anti Pornografi dan Pornoaksi Front Pembela Islam (FPI)
0
15
154
Gerakan disiplin nasional di perguruan tinggi Jakarta
0
8
98
Bab I Sejarah Gerakan Mahasiswa Indonesia dari Masa ke Masa - Gerakan Mahasiswa Antara Idealitas dan Realitas (Evie)
1
4
34
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah - Forum Solidaritas Mahasiswa Medan (Forsolima) Dan Kelompok Studi Mahasiswa Merdeka (KSMM) 1990-1998: Studi Gerakan Mahasiswa Di Medan
0
0
25
Forum Solidaritas Mahasiswa Medan (Forsolima) Dan Kelompok Studi Mahasiswa Merdeka (KSMM) 1990-1998: Studi Gerakan Mahasiswa Di Medan
0
0
14
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Gerakan Himpunan Mahasiswa Islam (Studi Terhadap Gerakan Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat FISIP USU)
0
0
21
Gerakan Himpunan Mahasiswa Islam (Studi Terhadap Gerakan Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat FISIP USU)
0
0
12
Show more