Analisis Pelaksanaan Program Kesehatan Lingkungan Periode Januari – Desember 2013 Di Puskesmas Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2014

 9  61  118  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM KESEHATAN LINGKUNGAN PERIODE JANUARI – DESEMBER 2013 DI PUSKESMAS KABUPATEN TAPANULI TENGAH TAHUN 2014 SKRIPSI Oleh:

  Hasil penelitian diketahui bahwa petugas sudah berlatar belakang pendidikan sanitasi namun jumlahnya masih kurang, sarana dan prasarana sudah ada tetapi belumlengkap, pedoman dan teknis sudah tersedia di seluruh Puskesmas, program kesehatan lingkungan sudah berjalan di semua puskesmas yang ada di Kabupaten Tapanuli Tengah. Untuk rumah sehat sebanyak 85% rumah memenuhi syarat, jamban yang memenuhi syarat sebanyak 75 % orang, cakupan rumah yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 85 %rumah, kualitas air minum yang memenuhi syarat sebanyak 100 % rumah, jumlah tempat- tempat umum yang memenuhi syarat sebanyak 75 %.

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

  Hasil penelitian diketahui bahwa petugas sudah berlatar belakang pendidikan sanitasi namun jumlahnya masih kurang, sarana dan prasarana sudah ada tetapi belumlengkap, pedoman dan teknis sudah tersedia di seluruh Puskesmas, program kesehatan lingkungan sudah berjalan di semua puskesmas yang ada di Kabupaten Tapanuli Tengah. Untuk rumah sehat sebanyak 85% rumah memenuhi syarat, jamban yang memenuhi syarat sebanyak 75 % orang, cakupan rumah yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 85 %rumah, kualitas air minum yang memenuhi syarat sebanyak 100 % rumah, jumlah tempat- tempat umum yang memenuhi syarat sebanyak 75 %.

RIWAYAT HIDUP PENULIS

  Nama : Erianto Saor Barita SilabanTempat dan Tanggal Lahir : Sarudik, 27 Februari 1981Agama : Kristen ProtestanStatus Perkawinan : Belum MenikahAnak ke : 1 dari 6 bersaudara Alamat Rumah : Jalan Peralihan no 3 Kel. D3 Politeknik Kesehatan MedanTahun 1999-2002 : 5.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yangberjudul “ Analisis Pelaksanaan Program Kesehatan Lingkungan Periode Januari – Desember 2013 Di Puskesmas Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2014”. Tabel 4.5 Hasil Observasi Terhadap Ruangan Program Kesehatan Lingkungan di Seluruh Puskesmas di Kabupaten TapanuliTengah Tahun 2013……………………………………………… 51 Tabel 4.6 Hasil Observasi Terhadap Alat Peraga/ Alat Bantu PenyuluhanDalam Pelaksanaan Program Kesehatan Lingkungan di Seluruh Puskesmas di Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2013………..

DAFTAR LAMPIRAN

  Hasil penelitian diketahui bahwa petugas sudah berlatar belakang pendidikan sanitasi namun jumlahnya masih kurang, sarana dan prasarana sudah ada tetapi belumlengkap, pedoman dan teknis sudah tersedia di seluruh Puskesmas, program kesehatan lingkungan sudah berjalan di semua puskesmas yang ada di Kabupaten Tapanuli Tengah. Untuk rumah sehat sebanyak 85% rumah memenuhi syarat, jamban yang memenuhi syarat sebanyak 75 % orang, cakupan rumah yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 85 %rumah, kualitas air minum yang memenuhi syarat sebanyak 100 % rumah, jumlah tempat- tempat umum yang memenuhi syarat sebanyak 75 %.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan yang telah dijalankan berupaya untuk lebih meningkatkan

  Pada Mei 2007 secara administratifPemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah terdiri atas 20 Kecamatan sedangkan dari sarana kesehatan Pemkab Tapanuli Tengah memiliki 23 puskesmas ( 6 puskesmas perawatan dan17 puskesmas non perawatan ) Data yang diperoleh dari survey pendahuluan bahwa 10 penyakit terbesar yang ada di Kab. Tapanuli Tengah dan program kesehatan lingkungan yang telah dijalankan sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi masalah kesehatan lingkungan yang terjadidiwilayah kerja puskesmas Kab Tap-Teng, maka perlu dilakukan penelitian bagaimana pelaksanaan program kesehatan lingkungan di puskesmas Kab.

1.3.2. Tujuan Khusus 1

  Untuk mengetahui ketersediaan pedoman dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan program kesehatan lingkungan pada puskesmas di Kab Tapanuli Tengah. Untuk mengetahui kerjasama lintas program dan lintas sektor dalam pelaksanaan program kesehatan lingkungan pada puskesmas di Kab.

1.4. Manfaat Penelitian 1

  Sebagai bahan masukan dan kajian bagi puskesmas dan Dinas Kesehatan Kab. Tapanuli Tengah untuk meningkatkan mutu pelaksanaan program kesehatan lingkungan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  Pada dasarnya ada 3 langkah penting dalam penyusunan perencanaan yaitu : (a) identifikasi kondisi masalah kesehatan masyarakat dan lingkungan serta fasilitaspelayanan kesehatan tentang cakupan dan mutu pelayanan, (b) identifikasi potensi sumber daya masyarakat dan provider, dan (c) menetapkan kegiatan-kegiatan untukmenyelesaikan masalah. Lokakarya mini bulanan adalah alat untuk penggerakan pelaksanaan kegiatan bulanan dan juga monitoring bulanan kegiatan puskesmas dengan melibatkan lintas Lokakarya mini tribulanan dilakukan sebagai penggerakan pelaksanaan dan monitoring kegiatan puskesmas dengan melibatkan lintas sektoral, BadanPenyantun Puskesmas atau badan sejenis dan mitra yang lain puskesmas sebagai wujud tanggung jawab puskesmas perihal kegiatan.

3. Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian

  Untuk terselenggaranya proses pengendalian, pengawasan dan penilaian diperlukan instrumen yang sederhana. Instrumen yang telah dikembangkan di puskesmas adalah:a.

2.3. Penyakit Berbasis Lingkungan

  Pengaruh lingkungan dalam menimbulkan penyakit pada manusia telah lama disadari, seperti dikemukakan Blum dalam Planing for health, development and applicationof social change theory, bahwa factor lingkungan berperan sangat besar dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Beberapa penyakit yang timbul akibat kondisi lingkungan yang buruk seperti ISPA, diare, DBD, Malaria dan penyakit kulit(Depkes RI, 2002).

2.3.1. ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut)

  ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari, yang dimaksud dengan saluran pernafasan adalah mulai dari hidung sampai gelembung parubeserta organ-organ disekitarnya seperti sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru (Depkes RI, 2001). ISPA disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumonia, hemophilhillus influenza, asap dapur, sirkulasi udara yang tidak baik, tempat berkembang biaknya disaluranpernapasan, ISPA dapat ditularkan melalui udara yang terkontaminasi dengan bakteri ketika penderita batuk yang terhirup oleh orang sehat masuk kesaluran pernafasannya(Depkes RI, 2001).

2.3.2. Diare

  Coli yang dibawa oleh lalat yang hinggap pada tinja yang dibuang sembarangan, melalui minum air yang terkontaminasi bakteri E. Cara pencegahan diare dapat dilakukan antara lain : menutup makanan agar tidak dihinggapi lalat, tidak buang air besar sembarangan, mencuci tangan dengan sabun sebelummenyiapkan makanan dan setelah buang air besar, mencuci bahan makanan dengan air bersih, memasak air sampai mendidih dan menggunakan air bersih yang memenuhi syarat(Depkes RI, 2001).

2.3.3. Demam Berdarah Dengue (DBD)

  Nyamuk Aedes Aegypti berkembang biak di dalam dan di luar rumah seperti ember, drum, tempayan, tempat penampungan air bersih, vas bunga, kaleng bekas yang berisi airbersih bak mandi, lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, potongan bambu yang dapat menampung air (Depkes RI, 2001). Upaya praktis yang dapat dilakukan dalam pengendalian vector dan pemberantasan penyakit DBD adalah sebagai berikut (Anies, 2006) : 1.

2.3.4. Malaria

  Penyakit malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium yang termasuk golongan protozoa, yang penularannya melalui vector nyamuk Anopheles spp, dengan gejala demam, pening, lemas, pucat, nyeri otot, menggigil, suhu bias mencapai 40ºC terutama pada infeksi Plasmodium falcifarum. Plasmodium falciparum, merupakan penyebab malaria tropika secara klinik berat dan dapat menimbulkan berupa malaria cerebral dan fatal.

3. Plasmodium ovale, masa inkubasi malaria dengan penyebab Plasmodium ovale adalah 12 hngga 17 hari, dengan gejala setiap 48 jam, relatif ringan dan sembuh sendiri

  Tempat berkembangbiak nyamuk Anopheles antara lain : kolam ikan yang tidak dipakai lagi, bekas galian tanah atau pasir yang terisi air hujan, batang bambu yang dapatmenampung air hujan, kaleng bekas, ban bekas yang dapat menampung air hujan serta saluran air yang tidak mengalir (Depkes RI, 2001). Malaria dapat dicegah dengan membasmi tempat perindukan nyamuk seperti menyebarkan ikan pemakan jentik, membersihkan semak belukar di sekitar rumah,mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan, membersihkan tempat air minum burung dan vas bunga secara teratur, menimbun atau mengalirkan air yangtergenang, membersihkan tambak, empang serta saluran irigasi dari tumbuhan air (Depkes RI, 2001).

2.3.5. Penyakit Kulit

Penyakit kuliat atau sering disebut dengan kudis/scabies/gudik/budukan yang disebabkan oleh tungau atau sejenis kutu yang sangat kecil (Sarcoptes Scabies), tempatberkembangbiaknya adalah dilapisan tanduk kulit dan membuat terowongan dibawah kulit Penularannya dapat melalui kontak langsung dengan penderita dan dapat pula ditularkan melalui perantara seperti baju, handuk, sprei yang digunakan penderita kemudiandigunakan oleh orang sehat, pencegahan dapat dilakukan dengan menghindar menukar baju, handuk, lingkungan tidak terlalu padat, menjaga kebersihan lingkungan dan personal hygiene (Depkes RI, 2001).

2.4. Upaya Kesehatan Lingkungan

  Adapun tujuan dilakukannya upaya kesehatan lingkungan adalah untuk menanggulangi dan menghilangkan unsur-unsur fisik pada lingkungan sehingga faktorlingkungan yang kurang sehat tidak menjadi faktor resiko timbulnya penyakit menular dimasyarakat (Muninjaya, 2004). Untuk menilai keadaan lingkungan dan upaya yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan sehat telah dipilih beberapa indikator, yaitu persentase rumah sehat, persentasekeluarga yang memiliki akses air bersih dan air minum, jamban sehat, saluran pembuangan air limbah, tempat pembuangan sampah serta Tempat-Tempat Umum dan PengolahanMakanan (TTUPM).

2.4.1. Perumahan

  Perumahan yang baik terdiri dari kumpulan rumah yang dilengkapi dengan berbagai fasilitaspendukungnya seperti sarana jalan, saluran air kotor, tempat sampah, sumber air bersih, lampu jalan, dan lain-lain. Standar arsitektur bangunan terutama untuk perumahan umumpada dasarnya ditujukan untuk menyediakan rumah tinggal yang cukup baik dalam bentuk desain, letak dan luas ruangan, serta fasilitas lainnya agar dapat memenuhi kebutuhankeluarga atau dapat memenuhi persyaratan rumah tinggal yang sehat dan menyenangkan (Budiman, 2006).

2. Dapat memenuhi kebutuhan psikologis

  Ditinjau dari faktor bahaya kecelakaan ataupun kebakaran, rumah yang sehat dan aman harus dapat menjauhkan penghuninya dari bahaya tersebut. Rumah atau tempat tinggal yang buruk atau kumuh dapat mendukung terjadinya penularan penyakit dan gangguan kesehatan, seperti : infeksi saluran nafas, infeksi padakulit, infeksi saluran pencernaan, kecelakaan, dan gangguan mental.

2.4.2. Penyediaan Air Bersih

  Mengingat bahwa berbagai penyakit dapat dibawa oleh air kepada manusia pada saat memanfaatkannya, maka tujuan utama penyediaan air minum/bersih bagi masyarakat Penyakit yang menyerang manusia dapat ditularkan dan menyebar secara langsung maupun tidak langsung melalui air. Water-based mechanism, penyakit yang ditularkan dengan mekanisme ini memiliki agen penyebab yang menjalani sebagian siklus hidupnya didalam tubuh vektor atausebagai intermediate host yang hidup didalam air.

4. Water-related insect vector mechanism, agen penyakit ditularkan melalui gigitan serangga yang berkembang biak didalam air

  Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu dalam jumlah yang tertentu pula. Air minum yang ideal seharusnya jernih, tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau.

2.4.3. Jamban Sehat

  Ekskreta manusia yang terdiri atas feses dan urine merupakan hasil akhir dari proses yang berlangsung dalam tubuh manusia yang menyebabkan pemisahan dan pembuanganzat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh. Untuk mencegah dan mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan maka pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik, maksudnya pembuangan kotoranharus di suatu tempat tertentu atau jamban yang sehat.

5. Tidak menimbulkan bau 6

  Dapat diterima oleh pemakainya Teknologi pembuangan kotoran manusia untuk daerah pedesaan sudah tentu berbeda dengan teknologi jamban di daerah perkotaan. Oleh karena itu, teknologi jamban didaerah pedesaan disamping harus memenuhi persyaratan jamban sehat juga harus didasarkan pada sosiobudaya dan ekonomi masyarakat pedesaan (Soekidjo, 2007).

2.4.4. Pengelolaan air limbah

  Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya dan pada umumnya mengandungbahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup. Batasan lain mengatakan bahwa air limbah adalahkombinasi dari cairan dan sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman, perdagangan, perkantoran dan industri, bersama-sama dengan air tanah, air permukaan dan air hujan yangmungkin ada (Kusnoputranto, 1985).

2.4.5. Pengelolaan Sampah

  Sampah adalah sesuatu bahan atau benda padat yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dandibuang. Para ahli kesehatan masyarakat membuat batasan sampah (waste) adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yangberasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya (Soekidjo, 2007).

1. Sampah yang dapat membusuk, seperti sisa makanan, daun, sampah kebun, pertanian

  Selama tidak mengandung zat yang beracun, maka abu ini pun tidak terlalu berbahaya terhadap lingkungan dan masyarakat. Yang dimaksud dengan sampah berbahaya (B3) adalah sampah yang karena jumlahnya, atau konsentrasinya, atau karena sifat kimiawi, fisika dan mikrobiologinyadapat (a) meningkatkan mortalitas dan morbiditas secara bermakna atau menyebabkan penyakit yang tidak reversible, (b) berpotensi menimbulkan bahaya sekarang maupun di Sampah, baik kualitas maupun kuantitasnya sangat dipengaruhi oleh berbagai kegiatan dan taraf hidup masyarakat.

3. Kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi akan menambah jumlah maupun kualitas sampah, karena pemakaian bahan baku yang semakin beragam

  Penyakit bawaan sampah sangat luas dan dapat berupa penyakit menular dan tidak menular, dapat juga berupa akibat kebakaran, keracunan dan lain-lain. Untuk dapat mengatasi dan mengurangi produksi sampah kita dapat melakukan Selanjutnya pengelolaan ditujukan pada pengumpulan sampah mulai dari produsen sampai pada tempat pembuangan akhir (TPA) dengan membuat tempat penampungansampah sementara (TPS), transportasi yang sesuai lingkungan dan pengelolaan pada TPA.

2.4.6. Sanitasi Tempat-Tempat Umum

  Tempat atau sarana layanan umum yang wajib menyelenggarakan sanitasi lingkungan antara lain, tempat umum atau sarana umum yang dikelola secara komersial,tempat yang memfasilitasi terjadinya penularan penyakit, atau tempat layanan umum yang intensitas jumlah dan waktu kunjungannya tinggi. Tempat umum semacam itu meliputi Tujuan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum, antara lain adalah untuk memantau sanitasi tempat-tempat umum secara berkala serta untuk membina danmeningkatkan peran aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat di tempat-tempat umum (Budiman, 2006).

2.4.7. Sanitasi Pengelolaan Makanan

  Faktor fisik terkait dengan kondisi ruangan yang tidakmendukung pengamanan makanan seperti sirkulasi udara yang kurang baik, temperatur ruangan yang panas dan lembab, dan sebagainya. Untuk menghindari kerusakan makanan Sanitasi makanan yang buruk disebabkan oleh faktor kimia karena adanya zat-zat kimia yang digunakan untuk mempertahankan kesegaran bahan makanan, penggunaanwadah bekas obat-obat pertanian untuk kemasan makanan, dan lain-lain.

2.5. Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan

  Kontribusi lingkungan dalam mewujudkan derajat kesehatan merupakan hal yang Ruang lingkup Kesehatan lingkungan adalah : 1. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah, bencana alam dan perpindahan penduduk.

2.6. Tujuan Program Kesehatan Lingkungan

  Melakukan kerja sama dan menerapkan program terpadu di antara masyarakat dan institusi pemerintah serta lembaga nonpemerintah dalam menghadapi bencana alam atauwabah penyakit menular. Pencemaran udara akibat sisa pembakaran BBM, batubara, kebakaran hutan, dan gas beracun yang berbahaya bagi kesehatan dan makhluk hidup lain dan menjadi penyebabterjadinya perubahan ekosistem.

2.7. Sumber Daya Program Kesehatan Lingkungan

Dalam melaksanakan program-program kesehatan lingkungan diperlukan sumber daya untuk mencapai tujuan program, sumber daya program kesehatan lingkungan adalahsebagai berikut :

2.7.1. Tenaga Pelaksana

  Sarana dan Prasarana Program Kesehatan Lingkungan Sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan program kesehatan lingkungan adalah ruangan sebagai tempat petugas kesehatan lingkungan melakukankegiatan-kegiatan penyuluhan, konsultasi, konseling, demonstrasi, pelatihan atau perbaikan sarana sanitasi dasar dan penyimpanan peralatan kerja. Peralatan-peralatan kesehatan lingkungan berupa alat-alat peraga penyuluhan, cetakan sarana air bersih dan jamban keluarga, alat pengukur kualitas lingkungan (air, tanahdan udara), lembar chek list untuk inspeksi pada tempat-tempat umum dan tempat pengolahan makanan serta alat transportasi untuk mendukung kegiatan program kesehatanlingkungan yang dilaksanakan.

2.8. Kegiatan Program Kesehatan Lingkungan 1. Penyehatan Air

  Secara umum Program Penyehatan Air bertujuan untuk meningkatkan kualitas air untuk berbagai kebutuhan dan kehidupan manusia untuk seluruh penduduk baik yangberada di pedesaan maupun di perkotaan dan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam memakai air. Penyehatan Lingkungan Pemukiman Penyelenggaraan upaya penyehatan lingkungan permukiman, dilaksanakan dengan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup serasi dengan lingkungan dan dapatmewujudkan kualitas lingkungan permukiman yang bebas dari risiko yang membahayakan kesehatan pada berbagai substansi dan komponen lingkungan, yaitu meliputi jambankeluarga, saluran pembuangan air limbah (SPAL), dan pengelolaan sampah.

2.8.4. Penyehatan Tempat Pengelola Makanan (TPM)

  Secara umum penyehatan TPM bertujuan untuk melakukan pembinaan teknis dan pengawasan terhadap tempat penyehatan makanan & minuman, kesiapsiagaan danpenanggulangan KLB keracunan, kewaspadaan dini serta penyakit bawaan makanan. Target program TPM memenuhi syarat sehat sebesar 55 % dengan upaya kegiatan antara lain melaksanakan pengawasan higiene dan sanitasi TPM pada restoran, rumahmakan, jasa boga, industri rumah tangga, dan depot air minum isi ulang.

2.9. Kriteria Keberhasilan Program Kesehatan Lingkungan

  Lingkungan mempunyai dua unsure pokok yang sangat erat kaitannya satu sama lain yaitu unsure fisik dan social, lingkungan fisik dapat mempunyai hubungan langsungdengan kesehatan dan perilaku sehubungan dengan kesehatan seperti akibat pengelolaan limbah yang tidak memenuhi syarat dapat menimbulkan penyakit antara lain ISPA, DBD,Diare, Malaria, Penyakit Kulit. Meningkatnya persentase keluarga menghuni rumah yang memenuhi syarat kesehatan 75%, persentase keluarga menggunakan air bersih menjadi 62%, persentasi keluarga menggunakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan menjadi 64% dan persentasetempat-tempat umum dan tempat pengolahan makanan minuman yang sehat menjadi 76 dan 55%.

2. Penurunan angka kejadian penyakit berbasis lingkungan seperti ISPA, DBD, diare, penyakit kulit, malaria

3. Terciptanya hubungan kerjasama yang baik antara lintas program dan lintas sector diwilayah kerja puskesmas

2.10. Kerangka Konsep

Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan kerangka konsep penelitian sebagai berikut : Kegiatan program kesehatan lingkungan Petugas s Dana Sarana dan prasaranamakanan Pedoman danMencapai Capaian Kepmenkes Petunjuk teknistarget program RIkesehatan No.HK.03.0 lingkungan 1/160/I/2010 Kerjasama lintas programTidakdan lintas sektormencapai target

BAB II I METODE PENELITIAN

  3.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah survei yang bersifat deskriptif, bertujuan untuk mengetahui analisis pelaksanaan program kesehatan lingkungan pada puskesmas di KabTapanuli Tengah Tahun 2014.

3.2.1. Lokasi Penelitian

  Penelitian ini dilakukan pada puskesmas yang berada di wilayah kerja DinasKesehatan Kab. Belum pernah dilakukan penelitian mengenai analisis pelaksanaan program kesehatan lingkungan pada puskesmas di Kab Tapanuli Tengah.

2. Data yang diperoleh cukup untuk dijadikan sampel

3.2.2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei Tahun 2014

3.3. Objek dan Informan Penelitian

  Objek Penelitian Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah program kesehatan lingkungan pada Puskesmas di Kab Tapanuli Tengah yang meliputi : petugas, sarana dan prasarana,dana, laporan hasil kegiatan yang berkaitan dengan program kesehatan lingkungan. Informan Penelitian Informan dalam penelitian ini dipilih berdasarkan teknik key person yaitu dengan mencari informan kunci pada seluruh puskesmas tersebut, maka tiap puskesmas memiliki 1orang informan yang dapat memberikan informasi mengenai objek penelitian ini, maka yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah 1 orang penanggung jawab ataupemegang program kesling di puskesmas dan 1 orang staf/pendamping/asisten pemegang program kesehatan lingkungan pada puskesmas di Kab.

3.4. Metode Pengumpulan Data

3.4.1. Data Primer

3.4.2. Data Sekunder

  Data primer diperoleh melalui wawancara dengan petugas pelaksana program kesehatan lingkungan, dengan kepala seksi penyehatan lingkungan Dinas Kesehatan KabTapanuli Tengah serta observasi langsung pada objek penelitian, hasil wawancara dan hasil observasi yang diperoleh di catat pada lembar observasi yang telah dipersiapkan. Tapanuli Tengah dan 5 puskesmas dari 23 puskesmas yang ada di Kab Tapanuli Tengah.

3.5. Aspek Pengukuran

  Baik, jika tersedia sarana dan prasarana untuk pelaksanaan program kesehatan Tidak baik, jika tidak tersedia sarana dan prasarana untuk pelaksanaan program kesehatan lingkungan. Tidak baik, jika program kesehatan lingkungan menurun di wilayah kerjanya dilihat berdasarkan data pelaksanaan program kesehatan lingkungan 3 tahun terakhir yangterdiri dari penyehatan air,tempat-tempat umum,pengelolaan makanan dan lingkungan pemukiman.

7. Kerjasama lintas sektor a

  Baik, jika petugas melakukan kerjasama lintas sektor dalam mengatasi masalah kesehatan lingkungan. Tidak baik, jika petugas tidak menjalin kerjasama dengan lintas sektor.

3.6. Defenisi Operasional

  Lingkungan pemukiman adalah kumpulan rumah yang di lengkapi dengan berbagai fasilitas yang cukup baik agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga atau dapatmemenuhi persyaratan rumah tinggal yang sehat dan menyenangkan. Evaluasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan petugas pelaksana program kesehatan lingkungan dan seksi penyehatan lingkungan Dinas Kesehatan untuk mengetahuitingkat keberhasilan program.

3.7. Analisa Data

  Analisa terhadap data yang diperoleh akan dilakukan secara deskriptif. Hasil yang berupa angka-angka akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekwensi dan hasilpendapat responden mengenai seluruh program kesehatan lingkungan yang telah dilaksanakan akan dianalisis secara kualitatif, keseluruhan hasil yang diperoleh akandibandingkan dengan Kepmenkes RI Nomor HK.03.01/160/I/2010.

BAB IV HASIL PENELITIAN

  Geografis Kabupaten Tapanuli Tengah Kabupaten Tapanuli Tengah terletak di pesisir pantai barat pulau Sumatera dengan panjang garis pantai 200 km dan wilayahnya sebagian besar berada di daratan pulau sumatera dan 2 sebagian lainnya di pulau-pulau kecil dengan luas wilayah 2.188 kmBatas wilayah:Utara : Kabupaten Aceh singkil (Provinsi Aceh)Selatan : Kabupaten Tapanuli SelatanBarat : Kota Sibolga dan Samudera IndonesiaTimur : Kabupaten Tapanuli Utara, Kab. Komposisi penduduk di Tapanuli Tengah yaitu 50,20% laki-laki dan 48,80% perempuan.

4.2. Data Dasar Program Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah

  Hasil Observasi Terhadap Pendidikan, Jabatan dan Masa Kerja Petugas Observasi dilakukan terhadap satu puskesmas petugas pelaksana program kesehatan lingkungan di setiap puskesmas dan kepala seksi penyehatan lingkungan di KabupatenTapanuli Tengah, dari observasi yang di lakukan dalam penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 4.2. Gambaran Informan Pelaksana Program Kesehatan Lingkungan Menurut Pendidikan, Jabatan dan Masa Kerja di Masing-Masing Puskesmas di Kabupaten Tapanuli Tengah No Puskesmas Pendidikan Masa Kerja Jabatan 1 Pulo Pakkat D1 Kebidanan 3 Tahun Pemegang ProgramKesehatan Lingkungan 2 Pandan D3 Kesling 3 Tahun Pemegang ProgramKesehatan Lingkungan 3 Kalangan D3 Kebidanan 4 Tahun Pemegang ProgramKesehatan Lingkungan 4 Sarudik D3 Kesling 3 Tahun Pemegang ProgramKesehatan Lingkungan 5 Manduamas S1 dr.

4.2.3. Hasil Observasi Terhadap Surat Penugasan, Ijazah serta Sertifikat Pelatihan

  Hasil Observasi Terhadap Surat Penugasan, Ijazah/SK dan Sertifikat Pelatihan Informan Pelaksana Program Kesehatan Lingkungan di Seluruh Puskesmas di Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2013 No Puskesmas Surat Ijazah/SK Sertifikat Pelatihan Penugasan 1 Pulo Pakkat - -√ 2 - Pandan√ 6 Dinkes√ √ √ TapTengKeterangan : tanda √ ada Tanda – tidak adaBerdasarkan Tabel 4.3. diatas dapat diketahui bahwa seluruh informan penelitian tidak memiliki surat penugasan dari atasan langsung untuk pelaksanaan program kesehatanlingkungan, dan seluruh informan tidak memiliki sertifikat pelatihan pelaksanaan program kesehatan lingkungan.

4.3. Data Ketersediaan dan Sumber Dana

  Data Jumlah dan Sumber Dana Program Kesehatan Lingkungan Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2013 No Puskesmas Sumber Dana 1 Pulo Pakkat Dinas Kesehatan 2 Pandan Dinas Kesehatan 3 Kalangan Dinas Kesehatan 4 Sarudik Dinas Kesehatan 5 Manduamas Dinas Kesehatan 6 Dinkes TapTeng APBDSumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2013 Berdasarkan Tabel 4.4. diatas dapat diketahui bahwa sumber dana untuk pelaksanaan program kesehatan lingkungan berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja DaerahKabupaten Tapanuli Tengah (APBD) dan dana dari dinas kesehatan Kabupaten TapanuliTengah, dana yang tersedia untuk pelaksanaan program kesehatan lingkungan dapat dipergunakan untuk pelaksanaan semua program kesehatan lingkungan.

4.5. Data Jumlah Penyakit Berbasis Lingkungan

  Penyakit berbasis lingkungan adalah penyakit yang timbul dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang buruk, dari penelitian yang telah dilakukan di dapat hasil sebagai berikut : Tabel 4.7. diatas diketahui bahwa penyakit berbasis lingkungan yang paling tinggi di seluruh puskesmas adalah ISPA 4697 kasus, diare 2512 kasus dan penyakit kulit1803 kasus.

4.6. Data Pelaksanaan Program Kesehatan Lingkungan

4.6.1. Data Jumlah Rumah yang Memenuhi Syarat

  Hal- hal yang di lihat dalam melakukan pendataan perumahan sehat antara lain : kesesuaianjumlah penghuni dengan luas kamar tidur, mempunyai ruang yang terpisah, mempunyai ventilasi (10% dari luas lantai), lantai kedap air. Data Jumlah Penduduk yang Memiliki Akses Terhadap Air Bersih yang Memenuhi Syarat Air bersih merupakan kebutuhan dasar dalam kehidupan sehari-hari, oleh sebab itu sumber air yang digunakan harus memenuhi syarat yang telah di tetapkan agar menjamin kesehatanpenduduk yang menggunakan air tersebut.

4.6.3. Data Jumlah Penduduk yang Menggunakan Jamban Sehat

  Pada Tahun 2010 telah dicanangkan oleh pemerintah Program Sanitasi Total BerbasisMasyarakat (STBM), salah satu program utama dalam STBM adalah stop buang air besar sembarangan. Tabel 4.10.

4.6.4. Cakupan Tempat-Tempat Umum

  Distribusi Cakupan Tempat-tempat Umum di Puskesmas Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2014 Berdasarkan data yang diperoleh maka diperoleh persentase cakupan tempat-tempat umum yang memenuhi syarat di puskesmas Kabupaten Tapanuli Tengah sebagai berikut: Dari Tabel diatas di peroleh bahwa sebanyak 4 puskesmas telah mencapai capaian standarKemenkes RI penggunaan jamban sehat, dan satu puskesmas Pulo Pakkat belum mencapai standar Kemenkes RI. Hasil Wawancara Mengenai Kerjasama Lintas Program Dalam Pelaksanaan Program Kesehatan Lingkungan di Seluruh Puskesmas di Kabupaten 1 Pulo Pakkat 2 Pandan 3 Kalangan 4 Sarudik 5 Manduamas Berdasarkan Tabel 4.13 diatas dapat diketahui bahwa semua pendapat informan mengenai kerjasama lintas program adalah baik, program kesehatan lingkungan ini mendapatdukungan dari program lain dalam suatu puskesmas untuk membantu kegiatan-kegiatan di luar gedung biasanya penyuluhan.

4.9. Kerja Sama Sektor Program Kesehatan Lingkungan

  Hasil Wawancara Mengenai Kerjasama Lintas Sektor Dalam Pelaksanaan Program Kesehatan Lingkungan di Seluruh Puskesmas di Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2013 No Puskesmas Bagaimana Kerjasama Lintas Sektor dalam Pelaksanaan Program Kesehatan Lingkungan dan Bekerjasama dengan Program apa saja? 1 Pulo Pakkat 2 Pandan 3 Kalangan 4 Sarudik 5 Manduamas 6 Dinas Dari Tabel diatas dapat diketahui pendapat informan mengenai kerjasama lintas sector yaitu baik, di dalam menjalin kerjasama lintas sector pelaksanaan program harus aktif mencaridukungan untuk pengembangan suatu program.

4.10. Hasil Wawancara Mengenai Perencanaan

  Perencanaan perlu dilakukan untuk membuat langkah-langkah yang akan dilakukan untuk memperoleh tingkat keberhasilan suatu program yang dijalankan dan dilakukan, dariwawancara yang telah di lakukan dengan informan diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 4.16. Hasil Wawancara Mengenai Perencanaan Program Dalam Pelaksanaan Program Kesehatan Lingkungan di Seluruh Puskesmas di Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2013 No Puskesmas Apakah ada perencanaan terhadap program kesehatan lingkungan?

1 Pulo Pakkat

  2 Pandan No Puskesmas Apakah ada perencanaan terhadap program kesehatan lingkungan? 3 Kalangan 4 Sarudik 5 Manduamas Berdasarkan table diatas diperoleh perencanaan kegiatan program kesehatan lingkungan telah direncanakan, mulai dari identifikasi kondisi masalah, lingkungan, fasilitas pelayanankesehatan, potensi sumberdaya dan provider, penetapan kegiatan hingga proses perencanaan menggunakan perencanaan tingkat puskesmas.

4.15. Hasil Wawancara Mengenai Pergerakan Pelaksanaan

  Pergerakan pelaksanakan perlu di monitoring sehingga langkah-langkah yang akan dilakukan untuk memperoleh tingkat keberhasilan suatu program yang dijalankan dandilakukan, dari wawancara yang telah di lakukan dengan informan diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 4.17. 1 Pulo Pakkat 2 Pandan 3 Kalangan 4 Sarudik 5 Manduamas 6 Dinas Berdasarkan table diatas pergerakan pelaksanaan program kesehatan lingkungan di seluruh puskesmas di lakukan seperti pengadaan lokakarya mini bulanan, pengadaan monitoringbulanan melibatkan lintas sektorral, dan pengadaan lokakarya mini tribulanan.

4.16. Hasil Wawancara Mengenai Evaluasi

  Evaluasi perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan program yang dijalankan dan dilakukan untuk mengetahui hambatan yang ada dalam pelaksanaan program, dariwawancara yang telah di lakukan dengan informan diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 4.18. 1 Pulo Pakkat 2 Pandan 3 Kalangan 4 Sarudik 5 Manduamas 6 Dinas Berdasarkan table diatas dapat diketahui bahwa rata-rata informan mempunyai pendapat yang sama mengenai eavaluasi yang di lakukan terhadap program kesehatan lingkunganyang di lakukan tiga bulan sekali, dimana evaluasi dilakukan oleh seluruh puskesmas dalam lokakarya mini.

BAB V PEMBAHASAN

  Sarana dan Prasarana Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sarana dan prasarana puskesmas di Kabupaten Tapanuli Tengah kurang baik, tidak adanya ruangan khusus untuk stafpemegang program kesehatan lingkungan 83.3%, Berdasarkan hasil penelitian di peroleh pemakaian alat peraga masih mengandalkan media cetakan semi jaga 100% dan leaflet66.7%. Menurut Depkes RI (1999), sarana dan prasarana yang dibutuhkan terdiri dari ruangan yang dibutuhkan sebagai tempat ruangan sanitasi yang dapat digunakan untukkegiatan-kegiatan penyuluhan, konsultasi, konseling, demonstrasi, dan tempat penyimpanan peralatan kerja.peralatan di klinik sanitasi berupa alat penyuluhan, cetakansarana air bersih dan jamban keluarga, alat perbaikan sarana, alat pengukuran kualitas lingkungan.

5.3. Sumber Daya Manusia

  Berdasarkan hasil penelitian secara umum petugas yang memegang program kesehatan lingkungan sekitar 50% mempunyai latar belakang pendidikan yang tidak sesuaidengan pekerjaan tersebut seperti latar belakang pendidikan bidan dan dokter gigi. Hal ini kemungkinan di sebabkan oleh yang pertama kurangnya sumber daya manusia (jumlahtenaga yang terbatas) di suatu instansi/puskesmas tempat yang di teliti.

5.4. Penduduk yang memiliki akses terhadap air bersih yang memenuhi syarat

  Penduduk yang menggunakan jamban sehat Berdasarkan data yang diperoleh bahwa penduduk yang menggunakan jamban sehat83.3% ini terdapat di 5 wilayah puskesmas, sisanya 1 puskesmas belum menggunakan jamban sehat tidak memenuhi syarat kesehatan, seperti tidak memiliki septitank, septitankyang tidak tertutup permanen menggunakan kayu-kayu, dan sebagian penduduk yang tinggal di pedalaman, pinggiran masih menggunakan kali atau sungai. Manajemen Puskesmas Berdasarkan hasil yang di peroleh pada penelitian manajemen puskesmas, meliputi perencanaan program kesehatan lingkungan cukup baik, pergerakan dan pelaksanaanprogram kesehatan lingkungan cukup baik, pengawasan, pengendalian dan penilaian program kesehatan lingkungan mempunyai persentase yang baik.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di puskesmas Kabupaten Tapanuli Tengah di peroleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Program kesehatan lingkungan yang dilakukan pada puskesmas Kab. Tapanuli

  Tapanuli Tengah tidak baik, mayoritas puskesmas tidak memilikiruang program, tidak menggunakan alat peraga/penyuluhan yang cukup baik yakni hanya menggunakan leaftlet dan alat semi jaga, dan tidak memiliki transportasi baikroda dua atau roda empat. Kerja sama lintas program dan lintas sector dalam pelaksanaan program kesehatan lingkungan pada puskesmas Kab.

6.2. Saran

  Sebagai saran yang diperoleh berdasarkan penelitian yang telah dilakukan adalah: 1. Tapanuli Tengah sebaiknya memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang program kesehatan lingkungan yang sesuaidengan standar Kemenkes, sehingga masyarakat mengerti dan dapat menjalankan program tersebut di kehidupan masyarakat.

1. Lintas program 2

Lintas sektor V. PerencanaanNo Perencanaan Ada Tdk ada Keterangan 1 Identifikasi kondisi masalah kesehatan masyarakat 2 Identifikasi lingkungan serta fasilitas pelayanan kesehatan 3 Identifikasi potensi sumberdaya danprovider 4 Menetapkan kegiatan-kegiatan untuk menyelesaikan masalah 5 Rencana Usulan Kegiatan dibahas bersama Badan PenyantunPuskesmas 6 Setelah mendapat dana selanjutnya membuat RencanaPelaksanaan Kegiatan 7 Proses perencanaan menggunakanPerencanaan Tingkat Puskesmas VI Pergerakan PelaksanaanNo Pergerakan Pelaksanaan Ada Tdk ada Keterangan 1 Lokakarya mini bulanan 2 Monitoring bulanan melibatkan lintas program 3 Lokakarya mini tribulanan 4 Melibatkan lintas sektoral, BPP atau badan sejenis dan mitra lainpuskesmas VII. Pengawasan, Pengendalian, dan PenilaianPengawasan, Pengendalian, dan No Penilaian Ada Tdk ada Keterangan 1 Pemantauan Wilayah Setempat 2 Penilaian/evaluasi kinerja puskesmas

DAFTAR PERTANYAAN DALAM WAWANCARA PADA ANALISIS PENELITIAN PELAKSANAAN PROGRAM KESEHATAN LINGKUNGAN PERIODE JANUARI-DESEMBER 2013 PADA PUSKESMAS DI KABUPATEN TAPANULI TENGAH TAHUN 2014

  Target No Program Kesling Observasi KeteranganDepkes 1 Persentase penduduk yang 67% memiliki akses terhadap airminum berkualitas 2 Persentase kualitas air 100% minum yang memenuhisyarat 3 Persentase penduduk yang 64% menggunakan jamban sehat 4 Persentase cakupan tempat- 85% tempat umum yangmemenuhi syarat 5 Persentase cakupan tempat 75% pengolahan makanan yangmemenuhi syarat. Frequenc Valid Cumulative y Percent Percent PercentValid APBD, tidak cukup 1 16.7 16.7 16.7 bersumber dari dinkes, 2 33.3 33.3 50.0 tidak cukupdari dinkes, tidak 1 16.7 16.7 66.7 cukuptidak ada dana baik 1 16.7 16.7 83.3 dari dinas maupunpuskesmas tidak ada dana dari 1 16.7 16.7 100.0 puskesmas atau dinkesTotal 6 100.0 100.0 apakah ada hambatan dalam pelaksanaan program kesehatan lingkungan?

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Analisis Pelaksanaan Program Kesehatan Lingku..

Gratis

Feedback