PENERAPAN METODE GLOBAL DENGAN KARTU KATA BERGAMBAR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN PADA ANAK TUNA GRAHITA RINGAN KELAS V SLB NEGERI SURAKARTA TAHUN AJARAN 2008 2009

Gratis

8
187
61
2 years ago
Preview
Full text
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENERAPAN METODE GLOBAL DENGAN KARTU KATA BERGAMBAR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN PADA ANAK TUNA GRAHITA RINGAN KELAS V SLB NEGERI SURAKARTA TAHUN AJARAN 2008/2009 Skripsi Oleh : SUHARJO X5107633 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR BIASA JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA commit to user 2010 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENERAPAN METODE GLOBAL DENGAN KARTU KATA BERGAMBAR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN PADA ANAK TUNA GRAHITA RINGAN KELAS V SLB NEGERI SURAKARTA TAHUN AJARAN 2008/2009” Skripsi Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Luar Biasa Jurusan Ilmu Pendidikan Oleh : SUHARJO X5107633 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR BIASA JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA commit to user 2010 ii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PERSETUJUAN Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Persetujuan Pembimbing Pembimbing I Pembimbing II Drs. Rahmad Djatun, M.Pd NIP. 19460410 198003 1 001 Dra. Munzayanah NIP. 19490215 197603 2 001 commit to user iii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Pada hari : Selasa Tanggal : 5 Oktober 2010 Tim Penguji Skripsi: Nama Terang Tanda Tangan Ketua : Drs. A. Salim Choiri, M.Kes. ………………………….. Sekretaris : Drs. Maryadi, M.Ag. ………………………….. Anggota I : Dra. Munzayanah .………………………….. Anggota II : Drs. R. Djatun, M.Pd. ………………………….. Disahkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Dekan, Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd. NIP. 1960 0727 198702 1 001 commit to user iv perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id ABSTRAK SUHARJO. PENERAPAN METODE GLOBAL DENGAN KARTU KATA BERGAMBAR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN PADA ANAK TUNA GRAHITA RINGAN KELAS V SLB NEGERI SURAKARTA TAHUN AJARAN 2008/2009”. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret. Surakarta, 2009. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan meningkatkan kemampuan membaca permulaan melalui penerapan metode global dengan kartu kata bergambar pada anak tuna grahita ringan kelas V SLB Negeri Surakarta tahun ajaran 2008/ 2009. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas. Subjek yang memperoleh perlakuan dalam penelitian ini ialah siswa tuna grahita ringan kelas V SLB Negeri Surakarta yang berjumlah 5 orang anak. Variabel bebas dalam penelitian tindakan kelas ini penerapan metode global dengan kartu kata bergambar. Sedangkan variabel terikatnya ialah kemampuan membaca permulaan siswa. Teknik pengumpulan data dengan tes dan obesrvasi, yang diterapkan dalam prasiklus, siklus I dan siklus II. Dari penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penerapan metode global dengan kartu kata bergambar dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa tuna grahita ringan kelas V SLB Negeri Surakarta tahun ajaran 2008/2009. commit to user v perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id ABSTRACT SUHARJO. APPLICATION OF GLOBAL METHOD BY PICTURED WORD CARD TO INCREASE THE ABILITY OF READING REGINVERS ON LIGHT MENTALLY RETARDED CLASS V SLB NEGERI SURAKARTA IN THE SCHOOL YEAR 2008/2009. Thesis, Surakarta: The Faculty of Teacher Training and Science Education, Sebelas Maret University, 2010. The aim of this classroom action research is to know the role of application of global method by pictured work card to increase the ability of reading beginners on light mentally retarded class V SLB Negeri Surakarta in the school year 2008/2009. This study uses classroom action research. The subject that gets treatment in this study is 5 light mentally retarded class V SLB Negeri Surakarta that consists of 5 students. The free variable in this classroom action research is application of global method by pictured word card. Where as the restricted variable is the ability of reading beginners. The techniques of collecting data in this study ara test and observation, that applied in the pre cycle, cycle I, and cycle II. The result of the classroom action research that application of global method by pictured word card can increase the reading ability of light mentally retarded class V SLB Negeri Surakarta in the school year 2008/2009. commit to user vi perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id MOTTO “Bacalah jika kamu ingin paham, cobalah agar kamu bisa” (Penulis) commit to user vii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan kepada:  Almarhum dan almarhunah Bapak Ibu R. Soemardi Dirjosaroyo atas segala pengorbanan yang telah mereka     berikan. Bapak ibu mertua tercinta Istriku tercinta atas semua dukungan, pengertian dan kesetiannya. Kedua anakku tercinta, terima kasih atas dukungan dan semangat yang diberikan Teman-teman sejawat program penyetaraan S1 PLB commit to user viii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan, untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Dalam penulisan skripsi ini, banyak hambatan dan kesulitan yang penulis alami demi terselesaikannya penulisan skripsi ini, namun berkat bantuan serta dukungan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan yang timbul dapat teratasi. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang terbesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan yang sangat berarti kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, yaitu kepada yang terhormat: 1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta Bapak Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd. 2. Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Bapak Drs. Rusdiana Indianto, M.Pd. 3. Ketua Pogram Studi Pendidikan Luar Biasa Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta Bapak Drs. A. Salim Choiri, M. Kes. 4. Ibu Dra. Munzayanah selaku pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dalam menyusun skripsi. 5. Bapak Drs. R. Djatun, M.Pd selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dalam menyusun skripsi. 6. Bapak H. Sukamto, SE selaku Kepala SLB Negeri Surakarta yang telah memberikan izin penulis untuk dapat melaksanakan penelitian di Sekolah yang dipimpinnya. 7. Ibu dan bapak tercinta yang selalu mendo‟akan saya dalam setiap do‟anya. 8. Teman-teman mahasiswa program studi Pendidikan Luar Biasa Universitas Sebelas Maret tahun 2008/2009. Penulis menyadari masih banyak kekurangan pada skripsi ini, oleh karena commit to user itu saran dan kritik yang membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan ix perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id skripsi ini penulis juga berharap skripsi ini dapat bermanfaat sekali bagi penulis pada khususnya dan para pembaca pada umumnya serta bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Surakarta, September 2010 Penulis commit to user x perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id DAFTAR ISI Halaman JUDUL …………………………………………………………………… i PENGAJUAN ……………………………………………………………. ii PERSETUJUAN………………………………………………………….. iii PENGESAHAN ………………………………………………………….. iv ABSTRAK ……………………………………………………………….. v ABSTRACT ............................................................................................... vi MOTTO ………………………………………………………………….. vii PERSEMBAHAN ………………………………………………………... viii KATA PENGANTAR …………………………………………………… ix DAFTAR ISI …………………………………………………………….. xi DAFTAR TABEL ………………………………………………………... xiii DAFTAR GAMBAR …………………………………………………….. xiv DAFTAR GRAFIK ………………………………………………………. xv DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………... xvi BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………... 1 A. Latar Belakang Masalah .................................................................................. 1 B. Perumusan Masalah ........................................................................................ 3 C. Tujuan Penelitian ............................................................................................. 3 D. Manfaat Penelitian ........................................................................................... 3 BAB II LANDASAN TEORI ....................................................................... 3 A. Tinjauan Pustaka .............................................................................................. 4 1. Anak Tuna Grahita Ringan ............................................................ 5 a. Pengertian Anak Tuna Grahita Ringan ..................................... 5 b. Penyebab Anak Tuna Grahita ………………………………... 6 c. Karakteristik Anak Tuna Grahita Ringan ................................. 8 d. Proses Pembelajaran Bagi Anak Tuna Grahita........................... 9 2. Media Kartu Bergambar ................................................................ 10 a. Pengertian Media Kartu Bergambar commit to user........................................ 10 xi perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id b. Kelebihan dan Kekurangan Media Kartu Bergambar ........... 11 c. Pentingnya Media atau Alat Peraga dalam Proses 13 Pembelajaran ......................................................................... 14 3. Pembelajaran Membaca Permulaan Dengan Metode Global …….. 16 a. Pengertian Membaca Permulaan …………………………… 16 b. Proses Penerapan Membaca Permulaan ……………………... 17 c. Metode Mengajar Membaca Permulaan 19 d. Langkah-langkah Penerapan Metode Global 21 22 B. Kerangka Pemikiran ...................................................................................... 22 C. Perumusan Hipotesis .................................................................................... BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................... 23 A. Tempat Dan Waktu Penelitian………………………………………… 23 B. Subjek Penelitian …………………………………………………… 24 C. Data Dan Sumber Data ………………………………………………24 D. Teknik Pengumpulan Data……………………………………………. 24 E. Teknik Analisis Data …………………………………………………27 F. Indikator Kinerja …………………………………………………… 28 G. Prosedur Penelitian ………………………………………………… 28 BAB IV HASIL PENELITIAN ………………………………………………30 A. Pelaksanaan Penelitian ……………………………………............ 30 B. Hasil Penelitian…………………………………………................ 34 C. Pembahasan Hasil Penelitian …………………………………….. 40 BAB V SIMPULAN DAN SARAN …………………............................... 43 A. Simpulan …………………………………………………………. 43 B. Saran ……………………………………………………………… 43 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………… 45 LAMPIRAN ………………………………………………………………. 47 commit to user xii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Jadwal Pelaksanaan Penelitian …………………………… 23 Tabel 2. Daftar Nilai Bahasa Indonesia Semester I ………………... 35 Tabel.3. Nilai Kemampuan Membaca Siklus Pertama ..................... 35 Tabel 4. Nilai Partisipasi Aktis Siswa Siklus Pertama ....................... Tabel 5. Profil Hasil Keberhasilan Penelitian Siklus Pertama .......... Tabel 6. Nilai Kemampuan Membaca Siklus Kedua ......................... 36 Tabel 7. Nilai Partisipasi Aktis Siswa Siklus Kedua ......................... Tabel 8. Profil Hasil Keberhasilan Penelitian Siklus Kedua ............ 38 commit to user xiii 37 38 39 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id DAFTAR SKEMA Halaman Skema 1. Kerangka Pemikiran ……………………………….... commit to user xiv 22 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id DAFTAR GRAFIK Halaman Grafik 1. Nilai Kemampuan Membaca Siswa Siklus Pertama ................ 36 Grafik 2. Prosentase Hasil Keberhasilan Penelitian Siklus Pertama ....... 37 Grafik 3. Grafik Nilai Kemampuan Membaca dan Partisipasi Aktif Siswa Siklus Kedua ................................................................ 39 Grafik 4. Prosentase Hasil Keberhasilan Penelitian Siklus Kedua ........ 40 commit to user xv perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran..................................... 47 Lampiran 2. Media Kartu Kata Bergambar Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Dengan Metode Gobal .............................................................................................. 48 Lampiran 3. Penyusunan Instrumen Tes Kemampuan Membaca Permulaan (Metode Global) ............................................... 49 Lampiran 4. Tabulasi Instrumen Tes Kemampuan Membaca Permulaan ............................................................................................. 50 Lampiran 5. Instrumen Observasi Partisipasi Anak dalam Pembelajaran Membaca Permulaan Metode Global dengan media kartu kata bergambar.................................................................... 52 Lampiran 6. Hasil Penelitian Tindakan Kelas “Penerapan Metode Global dengan Kartu Kata Bergambar dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan”Siklus I …………………………………………………………… commit to user xvi 53 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id To analyze the data this study uses descriptive qualitative analysis technique. The result of this study shows: 1) From the data of pre cycle result the value of reading ability is 48. 2) From the data of this action result in the cycle I this average value of reading ability is 52. 3) From the data of action result in the cycle II the average value of reading ability is 83. the result of the classroom action research expresses that there is an increase of the student‟s reading ability in earch cycle and the result has fulfilled the indicator of success that has been fixed before. So it can be concluded that application of global method by pictured word card can increase the reading ability of light mentally retarded class V SLB Negeri Surakarta in the school year 2008/2009. commit to user xvii perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan di semua jenis jenjang pendidikan mulai dari pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tinggi memegang peranan penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Namun dalam kenyataannya pengajaran Bahasa Indonesia di jenjang pendidikan dasar, khususnya dalam pembelajaran membaca di kelas hasilnya masih kurang optimal. Hal tersebut juga terjadi pada hasil pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas V tuna grahita ringan di SLB Negeri Surakarta, nilainya rendah di bawah rata-rata ketuntasan belajar (daftar nilai kelas V), bahkan sudah berada di kelas V pun masih banyak anak yang tidak dapat membaca. Oleh sebab itu, guru kelas V memegang peranan penting dalam bidang pengajaran Bahasa Indonesia khususnya membaca. Tanpa memiliki kemampuan membaca yang memadai sejak dini maka anak akan mengalami kesulitan belajar di kemudian hari. Kemampuan membaca menjadi dasar yang utama tidak saja bagi pengajaran Bahasa Indonesia sendiri, akan tetapi juga bagi pengajaran mata pelajaran lain. “Dengan mendapatkan pengajaran membaca siswa akan memperoleh pengetahuan yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan daya nalar, sosial, dan emosinya” (Depdikbud, 1996: 2). Mengingat pentingnya peranan membaca tersebut bagi perkembangan siswa maka cara guru mengajar membaca haruslah memilih metode yang tepat dan benar sehingga mudah dipahami anak yang mungkin selama ini cara-cara penyampaian guru kurang tepat. Dalam pengajaran baik metode maupun strategi pendekatan hasil yang diperoleh siswa kelas V relatif rendah serta anak kurang berminat dalam pengajaran Bahasa Indonesia. Dari berbagai permasalahan di atas maka layanan bimbingan dirasakan amat berperan dalam membantu proses dan pencapaian tujuan pendidikan secara bertahap diantaranya pendidikan peran guru. Di sini peneliti akan membahas dan menguraikan mengenai cara memberikan bimbingan belajar membaca permulaan dengan ”metode global” pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Membaca merupakan salah satu ketrampilan yang berkaitan erat dengan commit to user ketrampilan dasar manusia yaitu bahasa. Dengan membaca memungkinkan 1 23 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 2 manusia dapat menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Keterampilan membaca adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia termasuk bagi anak tuna grahita. Dengan ketrampilan membaca yang dimilikinya anak tuna grahita dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan juga sebagai dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Tahapan pelajaran membaca bagi anak tuna grahita ringan dimulai dengan membaca permulaan. Pada tahap membaca permulaan siswa dimulai diperkenalkan dengan berbagai simbol huruf, mulai dari simbol huru /a/ sampai dengan huruf /z/. Caranya bergantung teknik pendekatan yang digunakan guru, yaitu dapat dimulai dari pengolahan kata dari sebagian untuk seluruh atau kemudian dicerai menjadi bagian-bagian huruf yang terkecil. Ketatabahasaan intelegensi anak tuna grahita sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran membaca permulaan bagi anak tersebut. Maka dari itu, dalam pelajaran membaca permulaan bagi anak tuna grahita dibutuhkan metode yang tepat agar dapat mengasah ketrampilan anak dalam membaca. Salah satu metode yang dikembangkan yaitu metode global. Di dalam metode ini anak akan membaca kalimat secara utuh. Di dalam penerapan metode global untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tuna grahita akan ditemukan masalah/hambatan yang harus dipecahkan oleh guru agar pelajaran membaca tetap berjalan optimal dan berhasil. Di dalam penelitian tindakan kelas ini, penulis telah mengindentifikasi masalah mendasar yang terjadi di kelas V SLB Negeri Surakarta yaitu: 1. Penerapan metode global dalam membaca permulaan di kelas V SLB Negeri Surakarta mengalami hambatan berupa: anak-anak ragu-ragu dalam membaca, anak sulit membedakan huruf, siswa tidak mengetahui makna kata atau kalimat yang dibacakan. 2. Hambatan yang dialami oleh anak tuna grahita tersebut akan mempersulit dan memperlambat kemampuan membacanya. 3. Untuk mengatasinya dibutuhkan strategi (metode) dan media yang tepat dalam penerapan metode global untuk pembelajaran membaca permulaan anak tuna grahita ringan kelas V SLB Negeri Surakarta. Untuk mengatasi hambatan yang dialami anak, maka penulis berusaha commit usermempermudah penerapan metode menerapkan penggunaan media yang tepattoagar perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 3 global untuk membaca permulaan anak tuna grahita. Media yang dipilih yaitu media kartu kata bergambar. Dengan media kartu kata bergambar diharapkan dapat mempermudah penerapan “metode global” membaca permulaan bagi anak tuna grahita. Dengan berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis berusaha mengangkat permasalahan tersebut menjadi sebuah penelitian tindakan kelas dengan judul: “Penerapan Metode Global dengan Kartu Kata Bergambar dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Pada Anak Tuna Grahita Ringan Kelas V SLB Negeri Surakarta tahun ajaran 2008/2009. B. Rumusan Masalah Berkaitan dengan permasalahan pokok yang terdapat di kelas V SLB Negeri Surakarta dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut, “Apakah penerapan metode global dengan kartu kata bergambar dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tuna grahita V SLB Negeri Surakarta ?” C. Tujuan Penelitian Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan melalui metode global dengan kartu kata bergambar pada anak tuna grahita ringan kelas V SLB Negeri Surakarta. D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang dapat diperoleh setelah penulis melaksanakan PTK ini yaitu: 1. Manfaat Teoritis Dengan penerapan metode global kartu kata bergambar dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tuna grahita ringan kelas V SLB Negeri Surakarta. 2. Manfaat Praktis Secara khusus penelitian ini akan bermanfaat sebagai berikut: commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 4 a. Meningkatkan perhatian, minat dan rasa senang siswa tunagrahita ringan dalam proses pembelajaran membaca. b. Mempermudah anak tunagrahita ringan dalam menyerap materi pembelajaran membaca. c. Mendorong siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran membaca. d. Memudahkan bagi guru dalam memfasilitasi para siswa tunagrahita ringan dalam pembelajaran membaca. e. Mendorong guru-guru untuk lebih kreatif dalam mengelola pembelajaran membaca bagi anak tuna grahita. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 5 BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Anak Tuna Grahita Ringan a. Pengertian Anak Tuna Grahita Ringan Anak tuna grahita ringan disebut juga anak tuna grahita mampu didik, anak debil, moron, semi dependent atau bisa juga disebut dengan marginally retarded. Istilah tersebut pada dasarnya mempunyai pengertian yang sama, hanya saja dalam penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan sudut pandang dari ahli yang bersangkutan. Dalam dunia pendidikan istilah yang sering digunakan adalah tuna grahita ringan. Di bawah ini akan dikemukakan pendapat beberapa ahli mengenai pengertian anak tuna grahita ringan. Menurut Munzayanah (2000: 22), anak tuna grahita ringan adalah: Mereka yang masih mampu mempunyai kemungkinan untuk memperoleh pendidikan dalam bidang membaca, menulis dan menghitung pada suatu tingkat tertentu di sekolah khusus. Biasanya untuk kelompok ini dapat mencapai tingkat tertentu, setingkat dengan kelas IV Sekolah Dasar, serta dapat mempelajari ketrampilanketrampilan yang sederhana. Menurut The New American Webster dalam Moh. Amin ( 1995: 37) dijelaskan bahwa, ” Moron (debile) is a person whose mentality does not develop beyond the 12 years old level. Maksud dari kalimat tersebut yaitu, tuna grahita ringan adalah seorang anak yang memiliki kecerdasan mental paling tinggi sama dengan anak normal usia 12 tahun”. Menurut Usa Sutisna (1984:54) yang dimaksud dengan anak tuna grahita ringan adalah “Anak yang mempunyai intelegensi setingkat lebih rendah dibandingkan dengan anak lamban belajar, IQ berkisar antara 50/55 – 70/75 yang masih mampu mengikuti pendidikan sekolah khusus. Sedangkan menurut J.B. Suparlan (1983: 30) menyatakan bahwa “Anak tuna grahita ringan adalah anak yang masih dapat dididik tentang tugastugas dalam bidang sosial dan intelektual sampai batas-batas tertentu”. commit to user 5 perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 6 Menurut Dr. Lelly Resna, Sp. KJ. (Psikiater di RSJP Bandung) dan Drs. A.G. Sundjaya, M. Pd. (Dosen JPTB-FPTK UPI) retardasi mental ringan adalah keadaan di mana seorang anak agak terlambat dalam belajar bahasa tapi sebagian besar dapat berbicara untuk keperluan sehari-hari, bercakap-cakap, dan diwawancarai; dapat mandiri (makan, mandi, berpakaian, buang air besar, dan buang air kecil) dan terampil dalam pekerjaan rumah tangga. Namun, biasanya mereka mengalami kesulitan dalam pelajaran sekolah, misalnya dalam membaca dan menulis, ini sering disebabkan oleh kekurangan kronik stimulasi intelektual. (http: //pikiran rakyat/cyber media/edisi 2002) Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka dapat ditegaskan bahwa anak tuna grahita ringan adalah anak yang mempunyai intelektual di bawah rata-rata, memiliki IQ 50/55 – 70/75 yang setingkat lebih rendah dibandingkan dengan anak lambat belajar, kemampuan berpikirnya rendah, perhatian dan ingatannya lemah, tetapi masih memiliki potensi yang dapat dikembangkan dalam bidang akademis yang sederhana seperti membaca, menulis dan menghitung. Selain itu mereka masih dapat bersosialisasi dengan lingkungan dan bila dilatih dapat memiliki ketrampilan tertentu yang dapat dijadikan bekal hidup bagi dirinya setelah dewasa. b. Penyebab Anak Tuna Grahita Menurut Yannet dalam buku Gangguan Psikiatrik pada Anak Dengan Retardasi Mental oleh Triman Prasadio dalam Munzayanah (2000: 14-15), bahwa penyebab retardasi mental digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu 1) Kelompok Biomedik yaitu meliputi: a) Prenatal, dapat terjadi karena (1) Infeksi pada ibu pada waktu mengandung (2) Gangguan metabolisme (3) Iradiasi sewaktu umur kehamilan antara 2-6 minggu (4) Kelainan kromosom (5) Malnutrisi b) Natal, antara lain berupa (1) Anaksia (2) Asphysia commit to user (3) Prematuritas dan postmasturitas perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 7 (4) Kerusakan otak c) Pos natal, dapat terjadi karena (1) Malnutrisi (2) Infeksi : meningitis dan encephalis (3) Trauma 2) Kelompok Sosio Cultural : psikologi atau lingkungan Kelompok etiologi ini dipengaruhi oleh proses psikososial dalam keluarga. Dalam hal ini ada tiga macam teori yaitu: a) Teori Stimulasi Pada umumnya penderita retardasi mental yang tergolong ringan, disebabkan kekurangan rangsang atau kesempatan dari keluarga. b) Teori gangguan Kegagalan keluarga dalam memberikan proteksi yang cukup terhadap stress pada masa kanak-kanak, sehingga mengakibatkan gangguan pada proses mental. c) Teori Keturunan Teori ini mengemukakan bahwa hubungan antara orang tua dan anak sangat lemah akan mengalami disorganisasi, sehingga apabila anak mengalami stress akan bereaksi dengan cara yang bermacam-macam untuk dapat menyesuaikan diri. Atau dengan kata lain “Security System” sangat lemah di dalam keluarga. Menurut Tredgold dalam Munzayanah (2000:15) klasifikasi penyebab tuna grahita dibedakan menjadi dua yaitu: 1) Primary Amentia Artinya kelompok retardasi mental yang disebabkan karena faktor keturunan. 2) Secondery Amentia Artinya kelompok retardasi mental yang disebabkan karena faktor eksternal atau sesudah lahir Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa banyak faktor-faktor penyebab yang dapat mengakibatkan terjadinya ketunaan pada anak, yaitu faktor keturunan, faktor makanan dan minuman serta faktor lingkungan. Dalam hal ini faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi terjadinya ketunagrahitaan baik pada saat prenatal, natal maupun pasca natal. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 8 c. Karakteristik Anak Tuna Grahita Ringan Kondisi fisik anak tuna grahita ringan tidak berbeda dengan anak normal pada umumnya, yang membedakan dengan anak normal ialah kemampuan psikisnya. Dan anak tuna grahita ringan memiliki karakteristik yang khusus dibandingkan dengan anak normal. Menurut Moh. Amin (1995: 37) karakteristik anak tuna grahita ringan meliputi kelancaran berbicara meskipun kurang perbendaharaan katanya, mengalami kesukaran berpikir abstrak, tetapi masih bisa mengikuti pelajaran akademik baik di sekolah biasa maupun di sekolah khusus. Menurut Munzayanah (2000: 23) ciri-ciri/karakteristik anak tuna grahita ringan adalah sebagai berikut : 1) Dapat dilatih tentang tugas-tugas yang ringan. 2) Mempunyai kemampuan yang terbatas dalam bidang intelektual sehingga hanya mampu dilatih untuk membaca, menulis dan menghitung pada batasbatas tertentu. 3) Dapat dilatih untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang rutin maupun ketrampilan. 4) Mengalami kelainan bicara atau speech defect, sehingga sulit untuk diajak berkomunikasi. 5) Mengalami gangguan dalam bersosialisasi. 6) Peka terhadap penyakit. Karakteristik anak tunagrahita menurut Brown et al, 1991; Wolery & Haring, 1994 pada Exceptional Children, fifth edition, p.485-486, 1996 adalah sebagai berikut: 1) Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru, mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan, dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus. 2) Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru. 3) Anak tunagrahta ringan dapat bermain bersama dengan anak regular. (www.ditplb.or.id, diakses 13 Februari 2009) Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa secara umum anak tuna grahita ringan mempunyai karakteristik sebagai berikut: commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 9 1) Kondisi fisik anak tuna grahita ringan meliputi : bentuk kepala, mata, hidung dan bentuk tubuh tidak jauh berbeda dengan anak normal umumnya. 2) Kondisi psikis anak tuna grahita ringan meliputi : kemampuan berpikir rendah, perhatian dan ingatannya lemah, sehingga mengalami kesulitan untuk mengerjakan tugas-tugas yang melibatkan fungsi mental dan intelektualnya, anak menjadi pelupa, cepat bosan, sulit konsentrasi dan sifatnya yang kekanak-kanakan. 3) Kondisi sosial anak tuna grahita ringan tidak dapat atau kurang dapat bersosialisasi dengan baik dalam lingkungannya. Ditinjau dari segi perkembangan ciri-ciri fisik dan psikis tersebut menjadi hambatan bagi anak dalam meningkatkan kemampuan membaca materi pelajaran yang diajarkan oleh guru dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. d. Proses Pembelajaran Bagi Anak Tunagrahita Sesuai dengan karakteristik anak tunagrahita sebagaimana telah dibahas di atas maka dalam proses pembelajarannya pun harus disesuaikan dengan keberadaan anak tunagrahita. Yang dimaksud dengan karakteristik di sini adalah sebagai aspek atau kualitas masing-masing siswa. Aspek tersebut dapat berupa bakat, motivasi, prilaku, kebiasaan, kemampuan, status sosial, dan sebagainya (Depdiknas: 2007: 65). ”Proses pembelajaran pada intinya adalah pemberian layanan kepada setiap individu siswa agar mereka berkembang secara maksimal sesuai dengan potensi yang mereka miliki” (Depdiknas, 2002: 66). Menelaah pengertian proses pembelajaran yang dikemukakan tersebut telah sejalan dengan paradigma baru dalam proses pembelajaran, yakni harus berpusat pada siswa. Dengan demikian segala tindakan yang dilakukan dan berbagai kriteria yang ditentukan merupakan hasil pertimbangan terhadap siswa yang dilayani. Dengan demikian proses pembelajaran bagi anak tunagrahita harus commitsiswa to user dikemas sedemikian rupa sehingga yang memiliki kecerdasan rendah, perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 10 motivasi belajar rendah, dan prilaku yang kekanak-kanakan walaupun usianya sudah dewasa dapat terdorong dan tetap mau mengikuti pembelajaran dengan perasaan senang. 2. Media Kartu Bergambar a. Pengertian Media Kartu Bergambar Media kartu kata bergambar atau flash car ds menurut House (1997:54) berukuran 1 2 x 8 cm, sangat bagus dan ukuran dapat diatur. Begitu pula Basuki Wibawa dan Farida Mukti (2001:30) mengatakan bahwa "Flash cards berisi kata-kata, gambar atau kombinasinya dan dapat digunakan untuk mengembangkan perbendaharaan kata-kata dalam mata pelajaran bahasa". Metode ini dikembangkan oleh Glenn Doman yang lulus dari Universitas Pennsylvania tahun 1940 jurusan physical therapy. Pada awalnya metode ini digunakan untuk memberikan pengajaran membaca (maupun tematik) kepada anak-anak yang mengalami cedera otak. Dengan metode ini ternyata anak-anak tersebut bahkan menunjukkan kemampuan lebih dibandingkan anak-anak normal. Glenn Doman bersama putrinya Jannet Doman akhirnya mendedikasikan waktunya untuk membantu para balita untuk mencerdaskan otak sejak dini. (http://lintangkusumaning.blog5Pot.com/2009/02/mengajar-balita-membacadengan-homemade.html, diakses 5 Februari 2009) Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media kartu bergambar adalah kartu yang berukuran 12 x 8 cm yang berisi kata, gambar atau kombinasinya. Yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lembaran kertas karton yang berukuran 1 2 X 8 cm, setiap lembaran kartu tersebut berisi gambar-gambar, baik yang dibuat sendiri maupun mengambil kartu bergambar yang telah ada. Pada bagian bawah setiap gambar diberi keterangan yang berupa kosakata bahasa Indonesia. Flashcard adalah alat bantu untuk anak agar bisa belajar membaca. Flashcard sendiri terdiri dari lembaran-lembaran kertas putih berbentuk commit to user persegi panjang dan di atasnya bertuliskan macam-macam kata mulai dari perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 11 nama binatang, benda-benda di sekitar kita dan sebagainya. Metodenya sendiri yaitu dengan ditunjukkan kartu-kartu tersebut di hadapan si balita sambil kita menyebutkan kata yang tertera di kartu tersebut. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media kartu bergambar adalah kartu yang berukuran 12 x 8 cm yang berisi kata, gambar atau kombinasinya. Yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lembaran kertas karton yang berukuran 1 2 X 8 cm, setiap lembaran kartu tersebut berisi gambar-gambar, baik yang dibuat sendiri maupun mengambil kartu bergambar yang telah ada. Pada bagian bawah setiap gambar diberi keterangan yang berupa kosakata bahasa Indonesia. b. Kelebihan dan Kekurangan Media Kartu Bergambar Dalam pembelajaran menerapkan media kartu bergambar, terdapat beberapa kelebihan dan kekurangannnya. Berdasarkan beberapa literatur dapat dijelaskan sebagai berikut: Kelebihan penggunaan media kartu bergambar menurut Arief S. Sadiman, dkk (2006: 29) adalah sebagai berikut: 1) Sifatnya konkrit, gambar lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal semata. 2) Gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu. Tidak semua benda, objek atau peristiwa dapat dibawa ke kelas, tetapi gambar dapat selalu dibawa kemana-mana. 3) Media gambar dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita. 4) Dapat memperjelas suatu masalah, dalain bidang apa saja dan uriluk tingkat usia berapa saja, sehingga dapat mencegah/membetulkan kesalahpahaman. 5) Murah harganya dan gampang didapat serta digunakan, tanpa memerlukan peralatan khusus. Menurut Basuki Wibawa dan Farida Mukti (2001:29) media kartu bergambar sebagai media visual mempunyai kelebihan: 1) Umumnya murah harganyacommit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 12 2) Mudah didapat 3) Mudah digunakannya 4) Dapat memperjelas suatu masalah 5) Lebih realistis 6) Dapat membantu mengatasi keterbatasan pengamatan 7) Dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu. Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kelebihan media kartu bergambar jika dibandingkan dengan media pembelajaran yang lain adalah harganya murah, mudah digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, mudah untuk mendapatkannya serta dapat digunakan untuk mengatasi keterbatasan indera pengamatan. Kelemahan media kartu bergambar menurut Arief S. Sadiman, dkk (2006:31) adalah sebagai berikut: 1) Kartu bergambar hanya menekankan persepsi indera mata. 2) Kartu bergambar kurang efektif jika menerangkan gambar yang terlalu kompleks. 3) Ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar. Menurut Latuhem (1988:42) keterbatasan dari media kartu bergambar adalah sebagai berikut : 1) Untuk memperbesar kartu bergambar memerlukan suatu proses dan memerlukan biaya yang cukup besar. 2) Pada umumnya hanya dua dimensi yang nampak pada suatu kartu gambar, sedangkan dimensi yang Jainnya tidak jelas. 3) Tidak dapat memperlihatkan suatu pola gerakan secara utuh untuk suatu gambar, kecuali jika menampilkan sejumlah gambar dalam suatu urutan peristiwa pada pola gerak terlentu. 4) Tanggapan bisa berbeda terhadap gambar yang sama. Adanya kekurangan media gambar ini, maka cara untuk mengurangi kelemahan media kartu bergambar antara lain: 1) Gunakan kartu bergambar yang sesuai dengan pertumbuhan dan commitdan to warna). user perkembangan siswa (isi, ukuran, perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 13 2) Saat memegang atau memperlihatkan kartu bergambar, usahakan agar kartu bergambar tersebut jangan sampai bergerak. 3) Hindari penggunaan kartu bergambar dalam jumlah dan jenis yang terlampau banyak; sebab hal ini cenderung membingungkan siswa. Kecuali jika ingin membandingkan beberapa kartu bergambar, maka perlihatkanlah kartu bergambar itu satu persatu agar perhatian siswa hanya tertuju pada kartu bergambar yang sedang diamati. 4) Arahkan perhatian siswa pada sebuah kartu bergambar, kemudian ajukan beberapa pertanyaan langsung sehubungan dengan kartu bergambar tersebut. 5) Jika ingin memperlihatkan kartu bergambar pada siswa tanpa pengawasan secara khusus dari guru, usahakan agar ada keterangan tertulis pada bagian bawah dari kartu bergambar tersebut. Keterangan tersebut harus singkat tetapi jelas (tidak membuat siswa bingung dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri atau pada orang lain). 6) Adalah lebih baik jika guru menulis penanyaan-pertanyaan dan jawabannya di samping kartu bergambar tersebut, tetapi tutupilah jawabannya dengan kertas.Biarkan setiap siswa menguji sendiri kebenaran. (Latuheru, 1988:43) Menurut Amir Hamzah Sulaiman (1988:29) bahwa penggunaan media kartu bergambar dalam pembelajaran harus memperhatikan: 1) Gambar harus bagus, menarik, jelas dan mudah dimengerti. 2) Apa yang digambar harus cukup penting dan cocok untuk hal yang sering dipelajari. 3) Gambar harus benar artinya dapat menggambarkan situasi yang serupa jika dilihat pada keadaan yang sebenarnya. 4) Gambar memiliki kesederhanaan dalam arti tidak rumit sehingga sulit dipahami siswa. 5) Gambar harus sesuai dengan kecerdasan orang yang melihatnya. 6) Ukuran gambar sesuai dengan kebutuhan. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 14 Dari berbagai kelemahan tersebut dapat disimpulkan bahwa secara umum kelemahan kartu bergambar adalah hanya menekankan pada indera mata, ukurannya sangat terbatas pada kelompok besar, tidak memperlihatkan suatu pola gerakan yang utuh serta tanggapan siswa dapat berbeda-beda terhadap kartu gambar yang sama. c. Pentingnya Media atau Alat Peraga dalam Proses Pembelajaran Penggunaan media atau alat peraga dalam proses pembelajaran merupakan unsur yang sangat penting, terlebih dalam pembelajaran bagi anak tunagrahita. Sangat jelas, inti dari penggunaan media atau alat peraga adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan menuju ke arah yang lebih baik. Mengenai pentingnya media atau alat peraga dikemukakan oleh Nana Sudjana (2002 : 43) sebagai beriklut : ”Alat peraga dalam mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif.” Lebih lanjut Nana Sudjana (2002: 99-100) mengemukakan tentang fungsi alat peraga dalam proses pembelajaran sebagai berikut: 1) Penggunaan alat peraga dalam proses pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif. 2) Penggunaan alat peraga merupakan bagian yang integral dari keseluruhan proses pembelajaran. 3) Alat peraga dalam pembelajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pembelajaran. 4) Alat peraga dalam proses pembelajaran bukan sebagai pelengkap. 5) Alat peraga dalam pembelajaran utamanya untuk mempercepat dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan. 6) Penggunaan alat peraga dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu pembelajran. 7) Dengan alat peraga dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berfikir, sehingga dapat mengurangi terjadinya verbalisme. 8) Dengan alat peraga dapat menambah minat dan perhatian siswa untuk belajar. 9) Dengan alat peraga dapat meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar bertambah mantap. 10) Alat peraga memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri pada setiap siswa. 11) Alat peraga dapat menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 15 12) Alat peraga membantu tumbuhnya pemikiran dan membantu berkembangnya kemampuan berbahasa. 13) Alat peraga memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna. Penggunaan media atau alat peraga dalam proses pembelajaran, bagi anak tunagrahita perlu digarisbawahi selain berfungsi sesuai dengan uraianuraian di atas akan lebih penting peranannya dalam upaya menarik minat dan menumbuhkan rasa senang untuk mau belajar. Tanpa ada ketertarikan dan rasa senang dalam proses pembelajaran, tentu siswa tunagrahita akan merasa malas, bersikap apatis, atau berontak, bahkan bisa jadi mogok belajar. Oleh karena itulah upaya-upaya untuk menarik perhatian siswa dan mengusahakan adanya rasa senang mutlak harus dilakukan oleh seorang guru. Dalam buku Model Pembelajaran Pendidikan Khusus (Depdiknas, 2007: 6) dijelaskan bahwa dalam pembelajaran bagi anak tunagrahita harus memperhatikan daya tarik. Yakni daya tarik pembelajaran yang dapat diukur dengan mengamati adanya kecenderungan peserta didik untuk tetap dapat terus belajar. Yang perlu diingat oleh pendidik dalam mengajar harus memperhatikan PAKEM yakni dapat menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Berdasarkan pendapat ahli pada uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan media atau alat peraga dalam proses pembelajaran merupakan suatu hal yang sangat penting guna mencapai suatu tujuan dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Namun demikian sebelum menggunakan media atau alat peraga dalam proses pembelajaran, guru harus mempertimbangkan dan dapat memilih alat peraga yang akan digunakan agar betul-betul relevan dengan materi pembelajaran yang disampaikan. 3. Pembelajaran Membaca Permulaan Dengan Metode Global a. Pengertian Membaca Permulaan Membaca merupakan salah satu ketrampilan yang berkaitan erat dengan keterampilan dasar terpenting dalam berbahasa. commit to user perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 16 Menurut Tarigan (1994: 7), “Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media kata-kata”. Menurut W.J.S Purwodarminto (1980: 112), „Membaca adalah melihat sambil melisankan suatu tulisan dengan tujuan mengetahui isinya.” Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1990: 62) membaca adalah: 1) Melihat serta memahami apa yang tertulis 2) Mengeja atau melafalkan apa yang tertulis 3) Mengucapkan bahan tertulis ke dalam kata-kata Membaca permulaan dalam pengertian ini adalah membaca permulaan dalam teori ketrampilan, maksudnya menekankan pada proses penyandian membaca secara mekanikal. Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding (Anderson, 1972: 209). Membaca merupakan suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses yang bersifat fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. Dengan indera visual, pembaca mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi serta kombinasinya. Melalui proses recoding, pembaca mengasosiasikan gambar gambar bunyi beserta kombinasinya itu dengan bunyi-bunyinya. Dengan proses tersebut, rangkaian tulisan yang dibacanya menjelma menjadi rangkaian bunyi bahasa dalam kombinasi kata, kelompok kata, dan kalimat yang bermakna. Di samping itu, pembaca mengamati tanda-tanda baca untuk mrmbantu memahami maksud baris-baris tulisan. Proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. Melalui proses decoding, gambar-gambar bunyi dan kombinasinya diidentifikasi, diuraikan kemudian diberi makna. Proses ini melibatkan knowledge of the world dalam skemata yang berupa kategorisasi sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam gudang ingatan (Syafi‟ie, 1999: 7). Membaca permulaan adalah pengajaran membaca awal yang diberikan kepada siswa yang belum bisa membaca dengan tujuan agar siswa terampil membaca serta mengembangkan pengetahuan bahasa dan ketrampilan to user (Depdikbud, 1995/1996 : 6). berbahasa guna menghadapi commit kelas berikutnya perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 17 Melalui pembelajaran membaca, guru dapat mengembangkan nilai-nilai moral, kemampuan bernalar dan kreativitas anak didik (Akhadiah, 1992 : 29). Berdasarkan pendapat ahli tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa membaca permulaan merupakan suatu proses ketrampilan dan kognitif. Proses ketrampilan menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang fonem, sedangkan proses kognitif menunjuk pada penggunaan lambanglambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata atau kalimat. b. Proses Penerapan Membaca Permulaan Menurut La Barge dan Samuels (dalam Downing and Leong, 1982: 206) proses membaca permulaan melibatkan tiga komponen, yaitu (a) visual memory (vm), (b) phonological memory (pm), dan (c) semantic memory (sm). Lambang-lambang fonem tersebut adalah kata, dan kata dibentuk menjadi kalimat. Proses pembentukan tersebut terjadi pada ketiganya. Pada tingkat VM, huruf, kata dan kalimat terlihat sebagai lambang grafis, sedangkan pada tingkat PM terjadi proses pembunyian lambang. Lambang tersebut juga dalam bentuk kata, dan kalimat. Proses pada tingkat ini bersumber dari VM dan PM. Akhirnya pada tingkat SM terjadi proses pemahaman terhadap kata dan kalimat. Selanjutnya dikemukakan bahwa untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang tulis, (b) penguasaan kosakata untuk memberi arti, dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa. Pada tingkatan membaca permulaan, pembaca belum memiliki ketrampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya, tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh ketrampilan/kemampuan membaca. Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut, untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang tulis, (b) penguasaan kosakata untuk commit to user memberi arti, dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa. perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 18 Tujuan membaca permulaan adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut (Akhadiah, 1992: 31). Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar membaca (learning to read). Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan. Tingkatan ini disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn). Kedua tingkatan tersebut bersifat kontinum, artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus kegiatannya penguasaan sistem tulisan, telah dimulai pula pembelajaran membaca lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas. Demikian juga pada membaca lanjut menekankan pada pemahaman isi bacaan, masih perlu perbaikan dan penyempurnaan penguasaan teknik membaca permulaan (Syafi‟ie, 1999: 16). Melalui pembelajaran membaca, guru dapat mengembangkan nilai-nilai moral, kemampuan bernalar dan kreativitas anak didik (Akhadiah, 1992: 29). Berdasarkan kurikulum pendidikan dasar 1994, materi pembelajaran membaca permulaan yang tertuang dalam GBPP mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa Sekolah Dasar adalah sebagai berikut: 1) Persiapan (pra membaca) Pada tahap awal ini, pada awal catur wulan I, kepada siswa diajarkan : (1). Sikap duduk yang baik, (2). Cara meletakkan atau menempatkan buku di meja, (3). Cara memegang buku, (4). Cara membalik halaman buku yang tepat, (5). Melihat atau memperhatikan gambar atau tulisan. 2) Setelah pra membaca, siswa diajarkan : (1). Lafal dan intonasi kata dan kalimat sederhana (menirukan guru), (2). Huruf-huruf yang digunakan dalam kata dan kalimat sederhana yang sudah di kenal siswa (huruf-huruf diperkenalkan secara bertahap sampai dengan 14 huruf). - a, i, m dan n ; misalnya katato: ini, commit usermama; kalimat : ini mama. - u, l, b ; misalnya kata : ibu, lala; kalimat : ibu lala. perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 19 - e, t, p ; misalnya kata : itu, pita, ema; kalimat : itu pita ema. - o, d ; misalnya kata : itu, bola, didi; kalimat : itu bola didi. - k, s ; misalnya kata : kuda, papa, satu; kalimat : kuda papa satu. 3) Kata-kata baru yang bermakna (menggunakan huruf-huruf yang sudah dikenal), misalnya : toko, ubi, boneka, mata, tamu. c. Metode Mengajar Membaca Permulaan Bagi siswa tuna grahita ringan yang belum lancar membaca, penting sekali bagi guru untuk menggunakan metode membaca. Depdiknas (2000: 4) menawarkan berbagai metode yang diperuntukkan bagi anak yang belajar membaca, antara lain : metode eja/bunyi, metode kata lembaga, metode global dan metode SAS. Keempat Metode pembelajaran di atas dapat diterapkan pada siswa kelas rendah (I dan II) di sekolah dasar. Guru dianjurkan memilih salah satu metode yang cocok dan

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENERAPAN METODE LATIHAN TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN PADA SISWA KELAS X MA MUHAMMADIYAH 1 MALANG TAHUN AJARAN 2010/2011
0
24
21
PENGEMBANGAN MEDIA PRISKABER (PRISMA KATA BERGAMBAR) UNTUK ANAK BERKESULITAN BELAJAR MEMBACA PERMULAAN KELAS I SD
15
140
20
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PADA ANAK PRASEKOLAH MELALUI METODE BERMAIN
0
15
17
ANALISIS PROSES BERPIKIR SISWA TUNA GRAHITA RINGAN KELAS VIII DALAM MENYELESAIKAN MASALAH PEMBAGIAN DI SMP INKLUSI TPA JEMBER
0
3
17
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA KELAS I SDS PERINTIS 2 PEMATANGSAWA MELALUI METODE SAS (STRUKTURAL ANALITIK SINTETIK)
0
6
15
PENGARUH KARTU KATA BERGAMBAR TERHADAP PENGUASAAN KOSAKATA ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL III BANDAR LAMPUNG TAHUN AJARAN 2014/2015
3
25
50
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI PENGGUNAAN MEDIA PAPAN FLANEL PADA ANAK KELOMPOK B TK NEGERI PEMBINA KECAMATAN TAMAN KOTA MADIUN Turina Dyah Puspitorini TK NEGERI PEMBINA
0
3
11
PENGARUH PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF BERBASIS ADOBE FLASH TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR TEMA 5 ANAK TUNAGRAHITA RINGAN KELAS V DI SLB NEGERI SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 20162017
0
2
8
PENERAPAN PERMAINAN BONEKA MAGNET DALAM MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERBAHASA PADA ANAK TUNA GRAHITA DI KELAS B TK NEGERI PEMBINA 3 KUALA TUNGKAL Siti Aisyah TK Negeri Pembina 3 Kuala Tungkal
0
0
13
PENGEMBANGAN FLASH CARD UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA PERMULAAN DENGAN METODE SAS (STRUKTURAL ANALITIK SINTESIS) SISWA SD KELAS I
2
3
13
PERBANDINGAN KECERDASAN EMOSI ANTARA ANAK TUNA DAKSA DI SLB SURAKARTA DENGAN ANAK TUNA DAKSA DI SD INKLUSI SURAKARTA
0
1
17
PENERAPAN METODE SILABA DALAM PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PADA SISWA KELAS II SD N 2 PEJAGATAN TAHUN AJARAN 20112012
0
0
106
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA KARTU KELAS I SDN 07 TRANS MABAK BENGKAYANG
1
2
12
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI PEMANFAATAN MEDIA KARTU BERGAMBAR PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN Rupina Banang, Muhammad Syukri, Marmawi R Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini, FKIP Untan Pontianak Email:rupinabananggmail.com Abstract - PENIN
0
0
12
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA FLIP CHART TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA ANAK TUNA GRAHITA DI SLB PADANG
0
1
39
Show more