PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBIJAKAN KEMENTERIAN AGAMA DALAM PELAKSANAAN PERATURAN AKAD NIKAH DI KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2014

Gratis

12
71
90
2 years ago
Preview
Full text
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBIJAKAN KEMENTERIAN AGAMA DALAM PELAKSANAAN PERATURAN AKAD NIKAH DI KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2014 (Skripsi) Oleh ALI WIRAWAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2015 ABSTRACT THE PUBLIC PERCEPTION OF RELIGIOUS MINISTRY IN THE IMPLEMENTATION OF POLICY RULES MARRIAGE CEREMONY IN BANDAR LAMPUNG 2014 BY ALI WIRAWAN In the hold wedding, people should obey for the procedurs of marriage regulatory of the official form issued by the ministry religion to the whole moeslim in Indonesia. The arrested of head of KUA Kediri who received gratification when he do his job and was suspected for inflate the marriage charge by exploiting the ignorance of the public about official registration of marriage charge proves that the public knowledge of it is still low. The society of Bandar Lampung city pay the cost of marriage exceeds the rules has become entrenched. The purpose of this research is to know about public perception of religious ministry in the implementation of policy rules marriage ceremony of Bandar Lampung th 2014, with the zero hypothesis the public perception about contents and performance of implementation PMA No 11 th 2007 and PP No 47 th 2004 fairly positive and public perception of the alternative Ali Wirawan hypothesis about contents and performance of implementation PMA No 11 th 2007 and PP No 47 th 2004 fairly negative. The method used in this research was quantitative with the descriptive research tye. With the indicator of knowledge attitude and assessment of the PMA No 11 Th 2007 and government regulation No 47 with a benchmark of know/ do not know, agree/ disagree and good/ not good. Technique of data collecting is with questionnaire, interview and documentation. Technique of data processing are editing, codding, format entry data that using program SPSS 17. Technique of data analyse are presented in the form of validity test, reabilyty test and hypothesis test. From the result in the field of this research, know that most of the responden gave a negative perception about PMA No 11 th 2007 and PP No 47 th 2004 which is renewed to PP No 48 th 2014 trough three indicators which are knowledge, attitude and assessment, the reason for negative perception from responden is because their ignorance about the rules and also they give a bad assessment for the performance of the PPN as a part of service that given by them related to PMA No 11 th 2007 and PP No 47 th 2004. This result also show relations factor becomes factors that affect perception, because there is no relationship between the perceived. In this research is between the KUA and people who want to register the marriage. Keywords: Perception, public and implementation. ABSTRAK PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBIJAKAN KEMENTERIAN AGAMA DALAM PELAKSANAAN PERATURAN AKAD NIKAH DI KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2014 Oleh ALI WIRAWAN Dalam melangsungkan pernikahan harus memperhatikan prosedur-prosedur hukum akad nikah atau ketentuan resmi yang diberlakukan Kementerian Agama pada masyarakat muslim Indonesia. Tertangkapnya seorang kepala KUA Kota Kediri yang menerima gratifikasi saat dia melakukan pencatatan nikah dan dituduh sengaja menggelembungkan biaya nikah dengan memanfaatkan ketidaktauan masyarakat mengenai tarif resmi pencatatan nikah membuktikan pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai peratuan akad nikah serta pembiayaannya rendah. Masyarakat Kota Bandar Lampung membayar biaya nikah melebihi aturan menjadi hal yang sudah membudaya. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap kebijakan Kementerian Agama dalam pelaksanaan peraturan akad nikah di Kota Bandar Lampung tahun 2014, dengan hipotesis nol persepsi masyarakat terhadap isi dan kinerja pelaksanaan PMA No 11 Tahun 2007 dan PP No 47 Tahun 2004 terbilang positif dan hipotesis alternatif persepsi Ali Wirawan masyarakat terhadap isi dan kinerja pelaksanaan PMA No 11 Tahun 2007 dan PP No 47 Tahun 2004 terbilang negatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Dengan indikator pengetahuan, sikap dan penilaian terhadap PMA No 11 Tahun 2007 dan PP No 47 tahun 2004 dengan tolak ukur tahu/tidak tahu, setuju/tidak setuju dan baik/tidak baik. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, wawancara dan dokumentasi. Serta teknik pengolahan data yang digunakan yaitu editing, coding, format entry data di program SPSS 17, pemindahan data dan penyajian data. Teknik analis data disajikan dalam uji validitas, uji reabilitas dan uji hipotesis. Hasil penelitian di lapangan menunjukan bahwa sebagian besar responden memberikan persepsi yang negatif terhadap PMA No 11 Tahun 2007 dan PP No 47 Tahun 2004 yang diperbarui menjadi PP No 48 Tahun 2014. Dari keseluruhan responden, sebagian besar responden menyatakan bahwa ketidaktauan atau tidak tahu mengenai peraturan tersebut, tidak setuju terhadap peraturannya serta berpendapat kurang baik mengenai pelayanan yang diberikan berkaitan dengan PMA No 11 Tahun 2007 dan PP No 47 Tahun 2004. Hasil ini juga menunjukan faktor relation menjadi faktor yang mempengaruhi persepsi, karna terdapat tidak adanya hubungan antara yang mempersepsikan dan yang dipersepsikan. Dalam penelitian ini yaitu antara pihak KUA dan masyarakat yang ingin melakukan pendaftaran nikah. Kata Kunci: Persepsi, Mayarakat dan Implementasi PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBIJAKAN KEMENTERIAN AGAMA DALAM PELAKSANAAN PERATURAN AKAD NIKAH DI KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2014 Oleh ALI WIRAWAN Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA ILMU PEMERINTAHAN pada Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2015 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 20 Mei 1992, merupakan anak kelima dari lima baersaudara pasangan dari Bapak Drs. W. Puryanto dan Ibu Herawati Khaira. Jenjang akademik penulis dimulai dengan menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SD Al-Azhar Bandar Lampung yang diselasaikan pada tahun 2004, dilanjutkan menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 25 Bandar Lampung yang diselesaikan pada tahun 2007, dan dilanjutkan menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Yayasan Pembina Unila Bandar Lampung yang diselesaikan pada tahun 2010. Tahun 2010, Penulis terdaftar sebagai Mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (Unila) melalui jalur Seleksi Penelusuran Kemampuan Akademik dan Bakat (PKAB), yang saat itu Penulis pilih untuk melanjutkan pendidikan dan selesai ditahun 2015. MOTTO “A negative mind will never give you a positive life”. (TheGoodQuote) “Tak perlu menjelaskan tentang dirimu pada siapapun, karna yang menyukaimu tidak membutuhkannya dan yang membencimu tidak akan mempercayainya.”. (Ali bin Abi Thalib) “Jika salah perbaiki, jika gagal coba lagi, tapi jika kamu menyerah, semua selesai’’. (Ali Wirawan) SANWACANA Puji dan syukur Penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya skripsi yang berjudul “Persepsi Masyarakat Terhadap Kebijakan Kementerian Agama Dalam Pelaksanaan Peraturan Akad Nikah Di Kota Bandar Lamung Tahun 2014” dapat diselesaikan. Skripsi ini dibuat sebagai persyaratan memperoleh gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. Penulis menyadari banyak kesulitan yang dihadapi dari awal pengerjaan hingga penyelesaian skripsi ini, karena bantuan, bimbingan, dorongan dan saran dari berbagai pihak terutama dosen pembimbing yang sudah memberi banyak masukan, kritik dan saran. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Drs. Agus Hadiawan, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 2. Bapak Drs. Denden Kurnia Drajat, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. 3. Bapak Drs. R. Sigit Krisbintoro, M.Ip selaku Pembimbing Akademik. 4. Bapak Drs Piping Setia Priangga M.Si selaku Pembimbing Utama yang telah banyak memberikan dukungan ilmu, banyak arahan dan motivasinya yang sangat bermanfaat sehingga dapat membantu kelancaran dalam penyelesaian skripsi ini dan dapat lulus dengan hasil yang maksimal. 5. Bapak Maulana Mukhlis, S.Sos. M.I.P selaku selaku penguji dan pembahas yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun kepada Penulis dalam penyelesaian skripsi ini. 6. Seluruh dosen Ilmu Pemerintahan Fisip Unila, terimakasih atas ilmu yang telah kalian berikan kepada penulis selama menuntut ilmu di Jurusan Ilmu Pemerintahan. 7. Staf Akademik, Staf Kemahasiswaan yang telah membantu kelancaran administrasi dan skripsi, terutama kepada Ibu F. Trisni Rahartini, S.I.P yang telah banyak sekali membantu dan mempermudah proses administrasi dari awal perkuliahan hingga akhir perkuliahan. 8. Teristimewa kepada kedua orang tuaku, yaitu Bapak Drs. W. Puryanto terima kasih telah menjadi ayah terbaik dan motivator terbaik bagi anaknya setelah Nabi Muhammad SAW, yang selalu mendukung apapun yang terjadi dan bekerja keras dalam mendidik untuk menjadikan Penulis menjadi manusia yang kuat, semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan dan nikmat-Nya untuk Ayah. Selanjutnya Ibunda Herawati Khaira, terimakasih telah menjadi ibu yang baik dan pemberi kasih sayang terbaik setelah Allah SWT yang tak pernah lelah memberikan kasih sayang dan selalu mendoakan anaknya menjadi anak yang hebat. 9. Untuk kakakku Ari Rahmanu, Bayu Dwi Putra, Heru wahyudi, Aniek Rosmauli yang saat ini sedang hidup mandiri dan merantau mencari kehidupan yang lebih baik demi meningkatkan derajat dan perekonomian keluarga, do’akan aku segera menyusul menjadi manusia yang mandiri dan bermanfaat kedepannya. Semoga kita berlima dapat membahagiaan kedua orang tua kita serta menjadi anak yang selalu berbakti kepada orang tua kita. Serta untuk kakak iparku Dina Oktasia dan ponakanku yang masih satu Arkha Riyuga Islami Diar yang selalu memberikan kelucuan, canda dan tawanya saat berkumpul keluarga. 10. Untuk seluruh paman, tante, serta saudara-saudaraku yang selalu mendukung dan mendo’akan ku semoga do’a dan dukungan yang kalian berikan dapat meberikan jalan kesuksesan bagi Penulis. Untuk kalian yang belum lulus, segeralah menyusul. 11. Terima kasih kepada para informan dari Kantor Kementerian Agama Kota Bandar Lampung, Kepala KUA serta staf dari masing-masing kecamatan di Kota Bandar Lampung dan para masyarakat yang telah bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian ini. 12. Terima kasih untuk teman-teman satu “Bimbingan” yaitu Prasaputra Sanjaya, Eka Mala Sari dan Ahlan yang selalu bertukar pendapat terkait dengan pengerjaan skripsi ini. Terima kasih juga untuk Antarizki dan Nissa Nurul Fathia yang sudah menemani saat turun lapangan dan Andrialius Fereira dan Riri Rianiti yang sudah memberikan masukan yang positif untuk kelancaran skripsi ini. Semoga kita selalu diberikan kelancaran dan kehidupan yang lebih baik setelah proses pembelajaran skripsi ini. 13. Teman-teman tercinta Jurusan Ilmu Pemerintahan angkatan 2010 yang dari awal kita sama-sama berjuang bersama, semangat teman-teman semua, semoga Allah SWT memberikan nikmat sehat, rejeki yang berlimpah, rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, semoga kita semua kelak menjadi pemuda dan pemudi yang bermanfaat dan mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik kedepannya Amiiin. Ingat bahwa hanya kita sendiri yang dapat merubah nasib kita sendiri dan tidak ada sedikitpun usaha yang akan menjadi sia-sia. 14. Terima kasih kepada rumah Aris Gunawansyah, rumah Prananda Genta Reza, rumah Dicky Rinaldy, kosan Prasaputra Sanjaya, kosan Dani Setiawan yang telah memberikan tempat yang sangat bermanfaat untuk saya beristirahat dan melepas lelah ketika sedang menunggu dosen atau ketika sedang menunggu mata kuliah yang masih belum jelas ada dosen atau tidak, sehingga saya mendapatkan tempat berteduh dan tidak seperti anak hilang di kampus hijau tersebut. 15. Teman-teman seperjuangan dari kita masih muda, semangat dan energik yaitu pada saat baru masuk perkuliahan yang tergabung di Grup Sekumpulan Manusia Kompak (SEMPAK): Antarizki, Andrialius Fereira, Ryan Maulana, Dicky Rinaldy, Rangga Giri Wibowo, Prananda Genta Reza, Komang Jaka Ferdian, Prasaputra Sanjaya, Riendi Ferdian, Dani Setiawan, Aris Gunawansyah, Budi Setya Aji, Mirzan Triandana teruslah belajar dari ketidaksempurnaan yang kita miliki sehingga kita akan menemukan jalan yang indah dan Tuhan gariskan kepada kita. 16. Terima kasih juga untuk sahabat-sahabatku tercinta Muhammad Syafei, Rio Septian, Fadly Hendarsyah, Yuri Mahardani, Angga Saputra, M Rendi dan untuk seseorang yang tidak dapat disebutkan namanya yang selalu memberikan masukan-masukan dan obrolan yang bernilai saat kita berkumpul serta motivasi yang bermanfaat, sukses untuk kita bersama. Semoga Allah SWT membalas kebaikan kita semua dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat. Bandar Lampung, 16 Februari 2015 Penulis Ali Wirawan i DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK Daftar Isi .................................................................................................................. i Daftar Tabel .......................................................................................................... iv I. PENDAHULUAN A. B. C. D. II. Latar belakang ....................................................................................... Rumusan Masalah .................................................................................. Tujuan Penelitian .................................................................................... Manfaat Penelitian .................................................................................. TINJAUAN PUSTAKA A. Persepsi .................................................................................................. 1. Pengertian Persepsi ........................................................................... 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi ...................................... 3. Proses Pembentukan Persepsi ........................................................... 4. Persepsi Positif dan Negatif ............................................................. B. Definisi Masyarakat dan Ciri-cirinya ..................................................... C. Peraturan Akad Nikah ............................................................................ 1. Peraturan dan Proses Penetapan Tempat Nikah .............................. 2. Peraturan dan Penggunaan Biaya Nikah ......................................... 3. Kinerja PPN Dalam Penerapan Tempat dan Biaya Nikah ............... 4. Fungsi-fungsi Pelayanan Publik dan Keterbukaan Informasi Publik 5. Struktur KUA ................................................................................... D. Kerangka Fikir ........................................................................................ E. Hipotesis ................................................................................................. III. 1 11 11 11 13 13 17 19 20 21 22 22 22 22 23 25 26 29 METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian ........................................................................................ B. Definisi Konseptual ................................................................................ 30 30 ii C. Definisi Oprasional ............................................................................... D. Lokasi Penelitian .................................................................................... E. Jenis Dan Sumber Data .......................................................................... 1. Jenis Data ........................................................................................ 2. Sumber Data .................................................................................... F. Populasi Dan Sampel ............................................................................. 1. Populasi ........................................................................................... 2. Sampel ............................................................................................. G. Teknik Pengumpulan Data ..................................................................... H. Teknik Pengolahan Data ........................................................................ I. Teknik Analisis Data .............................................................................. J. Uji Validitas dan Reabilitas .................................................................... 1.Uji Validitas ........................................................................................ 2. Uji Reabilitas ...................................................................................... K. Uji Hipotesis ........................................................................................... IV. V. 31 34 34 34 35 35 35 36 39 42 43 44 44 47 48 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Implementasi Kebijakan .................................................................. 50 B. Gambaran Umum Implementasi Kebijakan Dalam Pelaksanaan Peraturan Akad Nikah ...................................................................... C. PPN, P3N dan Penghulu ................................................................... D. Budaya Masyarakat yang Dilayani ................................................... 53 56 58 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Kesesuaian Peraturan dan Pelaksanaan Nikah ........................................ 1. Kesesuaian Peraturan dan Pelaksanaan Tempat Nikah .................... 2. Kesesuaian Peraturan dan Pelaksanaan Biaya Nikah ...................... 3. Kesesuaian Peraturan dan Pelaksanaan Kinerja PPN dalam Penetapan Tempat Nikah dan Pungutan Biaya Nikah ...................... B. Pengetahuan (Kognisi) Masyarakat Tentang Peraturan dan Pelakasanaan Tempat Nikah, Biaya Nikah dan Kinerja PPN ................. 1. UU yang mengatur tentang peraturan nikah ..................................... 2. Pengetahuan Tentang PP No.47 Tahun 2004 ................................... 3. Pengetahuan Tentang Biaya Nikah Sebesar Rp.30.000 .................... 4. Pengetahuan Tentang Instruksi Yang Diikeluarkan Kemenag ......... 5. Pengetahuan Tentang Sosialisasi Instruksi Yang Dikeluarkan Kemenag ........................................................................................... 59 59 61 62 64 65 67 68 70 72 iii 6. Pengetahuan Tentang Lokasi Nikah ................................................. 7. Pengetahuan Tentang Tugas PPN ..................................................... 8. Pengetahuan Tentang Tata Cara Pemberitahuan Kehendak Nikah .. C. Sikap (Afeksi) Masyarakat Tentang Peraturan dan Pelakasanaan Tempat Nikah, Biaya Nikah dan Kinerja PPN ................. 1. Sikap Masyarakat Mengenai PP No.47 Tahun 2004 ........................ 2. Sikap Masyarakat Mengenai Biaya Nikah yang Melebihi Aturan ... 3. Sikap Mengenai Adanya Biaya Nikah .............................................. 4. Sikap Terhadap Pelaksanaan Kesesuaian Mengenai Biaya Nikah ... D. Penilaian (Konasi) Masyarakat Tentang Peraturan dan Pelakasanaan Tempat Nikah, Biaya Nikah dan Kinerja PPN ................. 1. Pendapat masyarakat mengenai kinerja PPN .................................... 2. Penilaian Tentang Kesesuaian Pelaksanaan yang Dilakukan PPN ... 3. Kesesuaian Biaya yang Dikeluarkan dengan Pelayanan yang Diberikan........................................................................................... E. Antar Hubungan Persepsi ........................................................................ F. Hasil Uji Hipotesis .................................................................................. G. Pembahasan Hasil Penelitian .................................................................. VI. 74 76 78 80 81 83 85 87 89 90 92 94 97 101 102 SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan.................................................................................................. B. Saran ........................................................................................................ DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 106 113 iv DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Jumlah Pernikahan Di Kota Bandar Lampung ................................. 4 Tabel 2: oprasional variable ............................................................................ 34 Tabel 3. Distribusi pernikahan di KUA Se-Bandar Lampung ......................... 36 Tabel 4. Distribusi Sampel berdasarkan Proporsi Masyarakat Setiap Kecamatan di Bandar Lampung tahun 2014 ...................................... 38 Tabel 5. Skor untuk Jawaban .......................................................................... 41 Tabel 6. Uji Validitas ....................................................................................... 45 Tabel 7. Nilai Reabilitas ................................................................................... 48 Tabel 8. Pengetahuan Masyarakat Mengenai UU ............................................ 65 Tabel 9. Pengetahuan Mengenai PP No 47 Tahun 2004.................................. 67 Tabel 10. Pengetahuan Tentang Biaya Nikah Sebesar Rp.30.000 ................... 69 Tabel 11. Pengetahuan Tentang Instruksi Yang Dikeluarkan Kemenag ......... 71 Tabel 12. Pengetahuan sosialisasi insstruksi yang dikeluarkan Kementerian Agama .............................................................................................. 73 Tabel 13. Pengetahuan tentang lokasi nikah .................................................... 75 Tabel 14. Pengetahuan tentang tugas PPN ....................................................... 76 Tabel 15. Pengetahuan pemberitahuan kehendak nikah .................................. 78 Tabel 16. Sikap masyarakat mengenai PP No 47 tahun 2004.......................... 81 Tabel 17. Sikap masyarakat mengenai biaya nikah yang melebihi aturan ...... 83 Tabel 18. Sikap Mengenai Adanya Biaya Nikah ............................................. 85 v Tabel 19. Sikap Terhadap Pelaksanaan Kesesuaian Mengenai Biaya Nikah .. 87 Tabel 20. Pendapat mengenai kinerja PPN ...................................................... 90 Tabel 21. Penilaian Tentang Kesesuaian Pelaksanaan Yang Dilakukan PPN . 92 Tabel 22. Penilaian biaya dengan pelayanan yang diberikan .......................... 95 Tabel 23. Pengetahuan Tentang PP No 47 Tahun 2004 dan kesetujuannya .... 97 Tabel 24. Kesetujuan Tentang PP No 47 Tahun 2004 dan penilaiannya ......... 98 Tabel 25. Pengetahuan Tentang PP No 47 Tahun 2004 dan penilaian mengenai Kinerja PPN .................................................................... 100 Tabel 26. Hasil Uji Hipotesis ........................................................................... 101 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia pada kodratnya adalah sebagai makhluk sosial dimana memiliki sifat saling membutuhkan, karena sejak lahir manusia telah dilengkapi dengan naluri untuk senantiasa hidup dengan orang lain. Allah SWT menjadikan makhluknya berpasang-pasangan, menjadikan manusia laki-laki berpasangan dengan perempuan, menjadikan hewan jantan berpasangan dengan betina, begitupula tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya. Dalam menjalankan kehidupan, manusia tentu ingin melanjutkan keturunan. Pernikahan merupakan sebuah akad atau ikatan batin yang saling mengikat dan membutuhkan dalam kebersamaan antara suami dan isteri. Kesadaran terhadap arti akad ini, memberikan kontribusi yang besar dalam membentuk struktur rumah tangga sebagai bagian dari unit terkecil dalam masyarakat dan sekaligus sebagai tiang negara. Pernikahan merupakan suatu peristiwa penting dalam kehidupan manusia, karena pernikahan tidak saja menyangkut pribadi kedua calon suami istri, tetapi juga menyangkut urusan keluarga dan masyarakat. Pada umumnya pernikahan dianggap sebagai sesuatu yang suci dan karenanya setiap agama selalu menghubungkan kaedah-kaedah pernikahan dengan kedah-kaedah 2 agama. Semua agama umumnya mempunyai hukum pernikahan yang tekstular. Manusia dalam menempuh pergaulan hidup dalam masyarakat ternyata tidak dapat terlepas dari adanya saling ketergantungan antara manusia dengan yang lainnya. Hal itu dikarenakan sesuai dengan kedudukan manusia sebagai mahluk sosial yang suka berkelompok atau berteman dengan manusia lainnya. Hidup bersama merupakan salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia baik kebutuhan yang bersifat jasmani maupun yang bersifat rohani. Demikian pula bagi seorang laki-laki ataupun seorang perempuan yang telah mencapai usia tertentu maka ia tidak akan lepas dari permasalahan tersebut. Ia ingin memenuhi kebutuhan hidupnya dengan melaluinya bersama dengan orang lain yang bisa dijadikan curahan hati, penyejuk jiwa, tempat berbagi suka dan duka. Hidup bersama antara seorang laki-laki dan perempuan sebagai pasangan suami istri dan telah memenuhi ketentuan hukumnya, yang lazimnya disebut sebagai sebuah pernikahan. Pernikahan pada hakekatnya adalah merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dan perempuan untuk membentuk suatu keluarga yang kekal dan bahagia. Pengertian pernikahan menurut ketentuan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa “Pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.” 3 Suatu pernikahan mempunyai arti yang sangat penting bagi kehidupan manusia dikarenakan : 1. Dalam suatu pernikahan yang sah selanjutnya akan menghalalkan hubungan atau pergaulan hidup manusia sebagai suami istri. Hal itu adalah sesuai dengan kedudukan manusia sebagai mahluk yang memiliki derajat dan kehormatan. 2. Adanya amanah dari Tuhan mengenai anak-anak yang dilahirkan. Anakanak yang telah dilahirkan hendaknya dijaga dan dirawat agar sehat jasmani dan rohani demi kelangsungan hidup keluarga secara baik-baik dan terus menerus. 3. Terbentuknya hubungan rumah tangga yang tentram dan damai. Dalam suatu rumah tangga yang tentram, damai dan diliputi rasa kasih sayang, selanjutnya akan menciptakan kehidupan masyarakat yang tertib dan teratur. 4. Pernikahan merupakan suatu bentuk perbuatan ibadah. Pernikahan merupakan salah satu perintah agama kepada yang mampu untuk segera melaksanakannya, karena dengan pernikahan dapat mengurangi perbuatan maksiat dan memelihara diri dari perzinahan. Jumlah pernikahan di Kota Bandar Lampung setiap tahunnya cukup tinggi, terlihat dari data yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama Kota Bandar Lampung. 4 Tabel 1. Jumlah Pernikahan Di Kota Bandar Lampung No KUA Per Kecamatan Jumlah Pernikahan 1 Tanjung Karang Pusat 618 Pernikahan 2 Tanjung Karang Barat 634 Pernikahan 3 Tanjung Karang Timur 690 Pernikahan 4 Teluk Betung Barat 680 Pernikahan 5 Teluk Betung Utara 412 Pernikahan 6 Teluk Betung Selatan 966 Pernikahan 7 Sukarame 549 Pernikahan 8 Kedaton 812 Pernikahan 9 Panjang 635 Pernikahan 10 Raja Basa 345 Pernikahan 11 Tanjung Senang 385 Pernikahan 12 Sukabumi 719 Pernikahan 13 Kemiling 571 Pernikahan Jumlah 8016 Pernikahan Sumber: Kantor Kemenag Kota Bandar Lampung, tahun 2013 Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 tentang “Kompilasi Hukum Islam” juga mengatur pernikahan adalah suatu akad yang kuat. Bagi yang ingin melangsungkan pernikahan harus memperhatikan prosedur-prosedur hukum akad nikah atau ketentuan resmi yang diberlakukan pada masyarakat muslim Indonesia. Salah satu ketentuan itu adalah setiap akad nikah mesti dilakukan di hadapan dan diawasi secara langsung serta dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah, sesuai dengan peraturan Menteri Agama No 11 tahun 2007. Aturan-aturan itu bertujuan untuk menjamin tertibnya penyelenggaraan akad 5 nikah dan yang lebih utama melindungi kepentingan-kepentingan suami isteri ketika menjalani kehidupan berumah tangga. Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku manusia di Indonesia harus mengikatkan diri dengan pasangannya melalui suatu ikatan yaitu pernikahan. Setiap pernikahan harus dilangsungkan dihadapan pegawai pencatat nikah agar mempunyai kedudukan yang kuat menurut hukum, hukum dalam kehidupan merupakan sebuah aturan yang dijadikan landasan dalam bertingkah laku bersama. Sebagai pijakan bahwa negara kita memiliki peraturan baik yang mengikat maupun yang tidak mengikat atau yang tertulis maupun tidak (Hukum Positif dan Hukum Adat), jadi sudah sewajarnya bahwa manusia harus mematuhi dan menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Timbulnya kebijakan harus sejalan dengan pelaksanaannya yang sesuai dengan aturannya. Seperti yang dikemukakan oleh George C. Edwards dalam Subarsono (2012: 90) mengenai variabel yang mempengaruhi implementasi dari suatu kebijakan yaitu: 1. Komunikasi Pada variabel ini menekankan pada keahlian dari perbuatan kebijakan dalam menyampaikan informasi dari isi kebijakan kepada masyarakat. Penting bagi pembuat kebijakan dalam menyampaikan tentang tujuan dan sasaran dari suatu kebijakan untuk mengurangi kesalahpahaman masyarakat mengenai informasi ataupun pelaksanaannya. 6 2. Sumber Daya Variabel sumber daya dibutuhkan untuk mendukung penyampaian isi dari suatu kebijakan, bisa berupa sumber daya manusianya ataupun sumber daya finansialnya. 3. Disposisi Komitmen dari pembuat kebijakan sangat diperlukan untuk mendukung berjalannya suatu kebijakan. Variabel komitmen menunjukan bahwa pembuat kebijakan bersungguh-sungguh dengan kebijakan yang dibuat, hal tersebut berdampak pada pelaksanaan kebijakan sesuai dengan yang telah tertuang atau yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. 4. Struktur birokrasi Pelaksanaan suatu kebijakan juga harus dilatar belakangi dengan prosedur operasi standar. Prosedur tersebut menjadi pedoman dalam menjalankan suatu kebijakan. Struktur birokrasi yang cenderung panjang bisa melemahkan pengawasan sehingga terjadi penyimpangan pelaksanaan kebijakan. Terkait kasus terjadinya pemidanaan seorang Kepala Kantor Urusan Agama Kota Kediri yang dituduh menerima gratifikasi saat dia melakukan pencatatan nikah mulai 2 Januari-31 Desember 2012, Romli selaku Kepala Kantor Urusan Agama Kediri dituduh sengaja menggelembungkan biaya nikah dengan memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat soal tarif resmi pencatatan nikah. Romli memungut biaya sebesar Rp 225.000 untuk pernikahan di luar kantor dan Rp 175.000 di dalam kantor, yang tarif sebenarnya hanyalah Rp.30.000 yang tertuang dalam 7 Peraturan Pemerintah No.47 Tahun 2004 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berlaku pada Kementerian Agama. (http://www.tempo.co/read/news/2013/12/04/058534686/Jaksa-Kediri-Kasus Pungli-Penghulu-Jalan-Terus diakses 14 Januari 2014, pukul 14.00 wib). Adanya kasus tersebut membuktikan bahwa belum terlaksananya variabelvariabel yang dikemukakan oleh George C Edwards dalam implementasi kebijakan mengenai Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 2004 tentang tarif atau jenis penerimaan negara bukan pajak yang berlaku pada Kementerian agama, dimana informasi yang tersampaikan ke masyarakat tidaklah ssesuai dengan isi kebijakan yang telah dibuat sehingga terjadi pelanggaran terhadap kebijakan tersebut. Kasus penghulu yang diduga menerima gratifikasi tersebut membuat gejolak di kalangan masyarakat Indonesia. Di Bandar Lampung, dalam menyikapi kasus tersebut Kanwil Kemenag Provinsi Lampung, Kantor Kemenag kota Bandar Lampung, serta para Petugas Pencatat Nikah (PPN) langsung menjalankan instruksi yang dikeluarkan oleh Kementrian Agama RI sesuai hasil wawancara pada tanggal 17 Februari 2014 pukul 10.00 WIB terhadap Kasi Bimas Islam, Jalaluddin yang menyatakan: “Terkait kasus di Kediri, para PPN se-Lampung langsung kita kumpulkan dan beritahukan tentang instruksinya bahwa tidak boleh lagi memungut biaya lebih dari Rp.30.000, kurang lebih seperti itu”. 8 Adapun Instruksinya yaitu No: DJ.II.1/3/HK.007/2757/2013 yang isinya: 1. Menginstruksikan Kepada Seluruh Kepala Kantor Urusan Agama kecamatan agar tetap memberikan pelayanan pencatatan nikah sesuai dengan: a. UU No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan (pasal 2 ayat (2): Tiap – tiap perkawinan di catat menurut peraturan perundang – undangan yang berlaku) b. Peraturan Menteri Agama No. 11 Tahun 2007 tentang pencatatan nikah: Pasal 21 ayat (1) Aqad nikah dilaksanakan di KUA Pasal 21 ayat (2) atas permintaan calon pengantin dan atas persetujuan PPN akad nikah dapat dilaksanakan di luar KUA. 2. Menginstruksikan kepada seluruh Kepala Kantor Urusan Agama kecamatan untuk tidak memungut biaya apapun diluar tarif biaya pencatatatn nikah sebesar Rp.30.000,00 (Tiga Puluh Ribu Rupiah) sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.47 Tahun 2004 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Agama. 3. Menegaskan kembali bahwa Pemberian kepada Penyelenggara Negara ATAU Pegawai Negeri Sipil berupa uang, barang, rabat, komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan Cuma – Cuma, dan fasilitas lainnya termasuk dalam katagori gratifikasi sesuai penjelasan pasal 12B ayat (1) UU No 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto UU No.20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No.31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 4. Memerintahkan kepada Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan dan Petugas Pencatat Nikah (PPN) yang menerima pemberian sebagaimana dimaksud pada angka 3, agar melaporkan pemberian tersebut Kepada KomisI Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam waktu 30 hari setelah menerima pemberian sesuai pasal 12C ayat (1) dan ayat (2) UU No.20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No.31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Timbulnya Kebijakan yang dikeluarkan Direktorat Jendral Kementrian Agama R.I yang tidak membolehkan menerima pungutan lain selain biaya yang ditetapkan sebesar Rp.30.000 untuk sekali pernikahan di dalam maupun diluar KUA yang tertuang dalam instruksi di atas terkait kasus yang terjadi di Kota Kediri. 9 Kenyataannya ketidaktauan masyarakat tentang biaya akad nikah menjadi hal yang sudah biasa, hal ini terbukti dari pernyataan Nurdin warga Ketapang, Teluk Betung Selatan kota Bandar Lampung yang dikutip koran Radar Lampung yang menyatakan “Kalau diselenggarakan di KUA warga harus mengeluarkan ongkos transportasi untuk kerabat dan tetangga, tetapi jika di rumah hanya mengeluarkan ongkos untuk penghulu sebagai pengganti uang transportasi sebesar 100.000, kelar”. (http://www.radarlampung.co.id. Diakses tanggal 14 Januari 2014, pukul 13.00 wib) Dari hasil wawancara pada hari jumat tanggal 21 maret 2014 terhadap keluarga yang menikah warga Teluk Betung Utara, Muhammad Syafei yang menyatakan “oh, saya tidak tau malah jika biaya akad nikah hanya Rp.30.000. Setau saya keluarga mengeluarkan biaya sebesar Rp.400.000 untuk biaya Penghulunya”. Selanjutnya hasil wawancara tanggal 22 maret 2014 terhadap Ida warga Kecamatan Rajabasa yang baru menikahkan saudaranya bulan Januari 2014 mengatakan “kami kurang tau tentang biaya akad nikah yang sebenarnya, biaya yang keluarga keluarkan untuk biaya penghulu sebesar Rp.800.000, Tetapi kami ikhlas mengeluarkan biaya sebesar itu karna kami memanggil penghulunya ke rumah”. . Dari beberapa pernyataan di atas membuktikan bahwa kebijakan yang dilaksanakan oleh Kementrian Agama Provinsi maupun Kota Bandar Lampung tidak sejalan dengan Undang-undang R.I No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik Pasal 15 yang salah satu isinya penyelenggara pelayanan publik harus 10 mempublikasikan maklumat pelayanan kepada masyarakat, agar tidak menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat yang dalam kasus ini mengenai biaya akad nikah. Alasan peneliti tertarik meneliti masalah ini dikarnakan adanya ketidaktauan masyarakat dari sampel hasil wawancara khususnya masyarakat kota Bandar Lampung tentang peraturan akad nikah, seperti pernyataan beberapa masyarakat kota Bandar Lampung di atas. Berdasarkan Uraian di atas yang terdapat ketidaktauan di kalangan masyarakat tersebut membuat penulis tertarik untuk meneliti tentang Persepsi Masyarakat Terhadap Kebijakan Kemenag dan Implementasinya Dalam Pelaksanaan Peraturan Akad Nikah di Kota Bandar Lampung. Adanya penelitian lain yang menyebutkan bahwa persepsi masyarakat yang negatif atau kurang baik terhadap suatu kebijakan, yaitu penelitian Dikha Wahyudi yang berjudul “Persepsi Masyarakat Kecamatan Kedaton Kota Bandar Lampung Terhadap Kualitas Pelayanan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (EKTP)” dalam hal ini mengenai pelayanan pembuatan E-KTP dan penelitian Nanang Nugraha yang berjudul “Analisis Persepsi Masyarakat Terhadap Kualitas Pelayanan Publik” yang bertolak belakang dengan penelitian Dwi Astuti yang menyatakan persepsi masyarakat terhadap suatu kebijakan terbilang positif terhadap suatu kebijakan dengan judul penelitian “Persepsi Masyarakat Terhadap Pelaksanaan UU No 6 Tahun 2014 tentang desa di Desa Bumiayu Pati” memunculkan keinginan peneliti untuk menguji ketiga hasil penelitian tersebut. 11 B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana persepsi masyarakat terhadap kebijakan Kementerian Agama dalam pelaksanaan peraturan akad nikah? Dengan hipotesis nol persepsi masyarakat terhadap suatu kebijakan terbilang positif dan hipotesis alternatif persepsi masyarakat terhadap suatu kebijakan terbilang negatif. C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap kebijakan Kementerian Agama dalam pelaksanaan peraturan akad nikah di Kota Bandar Lampung Tahun 2014. Penelitian ini juga bertujuan untuk menguji/membuktikan hipotesis yang menyatakan persepsi masyarakat terhadap suatu kebijakan terbilang negatif dan positif. D. Manfaat Penelitian Sejalan dengan tujuan penelitian sebagaimana dirumuskan di atas maka penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk : 1. Secara teoritis Hasil penelitian ini bermanfaat untuk menguji penelitian yang menyatakan persepsi masyarakat kurang baik terhadap suatu kebijakan atau terbilang negatif dengan penelitian yang menyatakan persepsi masyarakat terhadap siuatu kebijakan sudah baik atau terbilang positif. 12 2. Secara Praktis Dapat bermanfaat dalam memberikan masukan untuk memperbaiki proses sosialisasi kebijakan Kementrian Agama mengenai biaya nikah dan peraturan nikah yang tertuang dalam PP No 47 Tahun 2004 dan Peraturan Menteri Agama No 11 Tahun 2007 untuk jadi lebih baik lagi agar masyarakat mengetahui dan memahami dengan jelas mengenai peraturan yang berlaku mengenai peraturan akad nikah serta pembiayaannya. Penelitian ini juga bermanfaat memberikan masukan dalam perbaikan persepsi masyarakat melalui perbaikan kinerja PPN dan pegawai KUA khususnya mengenai sosialisasi. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Persepsi 1. Pengertian Persepsi Persepsi berasal dari kata perception (Inggris) yang artinya menerima atau mengambil. Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi manusia dalam merespon kehadiran berbagai aspek dan gejala di sekitarnya. Beberapa ahli telah memberikan definisi yang beragam tentang persepsi, walaupun pada prinsipnya mengandung makna yang sama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu. Proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Menurut Slamento dalam Handayani, (2013: 12) persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi dalam otak manusia secara terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya melalui indranya, yaitu indra penglihatan, pendengaran, peraba, perasa dan penciuman. Salah satu alasan mengapa persepsi demikian penting dalam hal menafsirkan keadaan sekeliling kita adalah bahwa kita masingmasing mempersepsi, tetapi mempersepsi secara berbeda, apa yang dimaksud 14 dengan sebuah situasi ideal. Persepsi merupakan sebuah proses yang hampir bersifat otomatik dan ia bekerja dengan cara yang hampir serupa pada masing masing individu, tetapi sekalipun demikian secara tipikal menghasilkan persepsi-persepsi yang berbeda-beda. Pengertian persepsi menurut Slameto ( 2003: 102 ) menyatakan persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan dan informasi di dalam otak manusia. Informasi dan pesan yang diterima tersebut muncul dalam bentuk stimulus yang merangsang otak untuk mengolah lebih lanjut yang kemudian mempengaruhi seseorang dalam berperilaku. Selanjutnya menurut Rakhmat (2004: 37-43) mengklasifikasinya kedalam tiga komponen yaitu komponen afektif, komponen kognitif dan komponen konatif. Komponen yang pertama, afektif yang merupakan aspek emosional dari faktor sosiopsikologis. Komponen kognitif adalah aspek intelektual, yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia. Komponen konatif adalah aspek volisional, yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak. 1. Komponen afektif a. Motif sosiogenis, sering juga disebut sekunder sebagai lawan motif primer (motif biologis). Peranannya dalam membentuk prilaku sosial bahkan sangat menentukan. Berikut ini klasifikasi sosiogenis menurut Melvin H.Marx : 1. Kebutuhan organisme seperti motif ingin tahu, motif 15 kompetensi dan motif kebebasan. 2. motif-motif sosial seperti motif kasih sayang, motif kekuasaan dan motif kebebasan. b. Sikap, pertama sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai. Kedua sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi. Ketiga sikap relatif lebih menetap. Keempat sikap mengandung nilai menyenang-kan atau tidak menyenangkan. Kelima sikap timbul dari pengalaman. c. Emosi, emosi menunjukan kegoncangan organisme yang disertai oleh gejala kesadaran, keperilakuan, dan proses fisiologis. 2. Komponen kognitif Kepercayaan adalah komponen kognitif. Kepercayaan di sini tidak ada hubunganya dengan hal-hal yang gaib, tetapi hanyalah keyakinan bahwa sesuatu itu ’benar’ atau ’salah’ atas dasar bukti, sugesti otoritas, pengalaman atau intuisi (Holer, 1978). Sementara menurut Asch (1959) kepercayaan dibentuk oleh pengetahuan, kebutuhan, dan kepentingan. 3. Komponen konatif Terdiri dari kebiasaan dan kemauan. Kebiasaan adalah aspek prilaku manusia yang menetap, berlangsung secara otomatis tidak direncanakan. Sedangkan kemauan adalah sebagai tindakan yang merupakan usaha seseorang untuk mencapai tujuan. 16 Menurut Walgito (2002) dalam skripsi Agisni (2013: 25) persepsi adalah proses mengorganisasikan dan menginterpretasikan stimulus yang diterima individu sehingga mempunyai arti individu yang bersangkutan dimana stimulus merupakan salah satu faktor yang berperan dalam persepsi. Berkaitan dengan hal itu faktor-faktor yang berperan dalam persepsi yaitu: a. Adanya objek yang dipersepsi. Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar langsung mengenai indera dan dapat datang dari dalam yang langsung mengenai syaraf penerima (sensoris) tapi berfungsi sebagai reseptor. b. Adanya indera atau reseptor, yaitu sebagai alat untuk menerima stimulus. c. Diperlukan adanya perhatian sebagai langkah awal menuju persepsi. Menurut Ahmadi dalam skripsi Agisni (2013: 27) ada tiga komponen yang saling berhubungan, yaitu: 1. Komponen cognitive : berupa pengetahuan, kepercayaan atau pikiran yang didasarkan pada informasi yang berhubungan dengan obyek. 2. Komponen affective : menunjuk pada dimensi emosional dari sikap, yaitu emosi yang berhubungan dengan obyek. Obyek di sini dirasakan sebagai menyenangkan atau tidak menyenangkan. 3. Komponen behavior atau conative : yang melibatkan salah satu predis-posisi untuk bertindak terhadap obyek. Terbentuknya persepsi seseorang terhadap sesuatu objek pada lingkungannya didasarkan pada stimulus atau situasi yang sedang dihadapinya. Terkait pada 17 kondisi masyarakat persepsi adalah proses penilaian seseorang atau sekelompok orang terhadap suatu objek, peristiwa dengan melibatkan pengalamanpengalaman yang berkaitan dengan objek tersebut melalui proses kognisi, afeksi, dan konasi untuk membentuk objek tersebut (Mahmud, 1989: 79). Dari penjelasan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan hingga terbentuk tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya dan memberikan penilaian. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Persepsi Dalam memberikan tanggapan atau persepsi terhadap suatu objek, masingmasing individu atau perorangan tentunya akan berlainan. Hal ini dikarnakan pandangan seseorang dipengaruhi oleh wawasan, pengalaman serta pengetahuannya terhadap suatu objek yang dihadapkan. Menurut Slamento dalam Handayani (2013: 23) Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang adalah: a. Relation, yaitu hubungan antara orang yang mempersepsikan dengan objek yang dipersepsikan. Seseorang biasanya tidak menagkap seluruh rangsangan yang ada disekitarnya sekaligus, tetapi akan memfokuskan perhatiannya terhadap satu atau dua objek yang sama. b. Set, yaitu harapan seseorang akan rangsangan yang timbul. 18 c. Kebutuhan, kebutuhan sesaat akan kebutuhan yang tettap pada diri seseorang akan mempengaruhi persepsi orang tersebut. d. Sistem nilai, sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat berpengaruh pula pada persepsi seseorang. Robbin (2003) menyatakan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan persepsi. Faktor-faktor tersebut adalah : a. Keadaan pribadi orang yang mempersepsi Merupakan faktor yang terdapat dalam individu yang mempersepsikan. Misalnya kebutuhan, suasana hati, pendidikan, pengalaman masa lalu, sosial ekonomi, jenis kelamin, umur. b. Karakteristik target yang dipersepsi Target tidak dilihat sebagai suatu yang terpisah, maka hubungan antar target dan latar belakang serta kedekatan/kemiripan dan hal-hal yang dipersepsi dapat mempengaruhi persepsi seseorang. c. Konteks situasi terjadinya persepsi Waktu dipersepsinya suatu kejadian dapat mempengaruhi persepsi, demikian pula dengan lokasi, cahaya, panas, atau faktor situasional lainnya. (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33613/4/Chapter%20II.pdf) di akses tanggal 28 agustus 2014, pukul 10.51 WIB. 19 3. Proses Pembentukan Persepsi Persepsi pada dasarnya merupakan suatu proses pengamatan atau pengetahuan mengenai suatu objek atau kejadian tertentu dengan menggunakan alat-alat indra tertentu sebagai perantaranya. Persepsi menunjuk bagaimana manusia melihat, mendengar, mencium, merasakan dunia sekitar kita. Proses terbentuknya persepsi menurut Suwartinah dalam Handayani, (2013: 16) yaitu: 1. Stimulus atau situasi yang hadir Awal mula terjadinya persepsi ketika seseorang dihadapkan pada stimulus atau situasi. Stimulus atau situasi tersebut biasanya berupa stimulus pengindraan dekat dan langsung atau berupa lingkungan sosiokultural dan fisik yang menyeluruh dari stimulus tersebut. 2. Regristasi Merupakan suatu gejala yang nampak yaitu mekanisme fiksik untuk mendengar dan melihat suatu informasi maka mulailah orang tersebut mendaftar, mencerna, dan menyerap suatu informasi. 3. Interpretasi Tahap selanjutnya setelah informasi terserap proses terakhirnya adalah penafsiran terhadap informasi tersebut. Interpretasi ini merupakan suatu aspek kognitif dari persepsi yang amat penting karna proses tergantung pada proses pendalaman, motifasi dan keperibadian seseorang berbeda 20 dengan orang lain sehingga interpretasi seseorang terhadap informasi atau stimulus akan berbeda dengan orang lain. 4. Umpan Balik Merupakan suatu proses yang terakhir dimana setelah seseorang menafsirkan informasi tersebut akan memunculkan reaksi yaitu reaksi positif dan negatif, maka akan muncul reaksi memberikan apabila jawabannya bersifat menerima maka reaksi yang muncul akan berbentuk positif pula. 4. Persepsi Positif dan Negatif Menurut Robbins (2002: 14) bahwa persepsi positif merupakan penilaian individu terhadap suatu objek atau informasi dengan pandangan yang positif atau sesuai dengan yang diharapkan dari objek yang dipersepsikan atau dari aturan yang ada. Sedangkan, persepsi negatif merupakan persepsi individu terhadap objek atau informasi tertentu dengan pandangan yang negatif, berlawanan dengan yang diharapkan dari objek yang dipersepsikan atau dari aturan yang ada. Penyebab munculnya persepsi negatif seseorang dapat muncul karena adanya ketidakpuasan individu terhadap objek yang menjadi sumber persepsinya, adanya ketidaktahuan individu serta tidak adanya pengalaman inidvidu terhadap objek yang dipersepsikan dan sebaliknya, penyebab munculnya persepsi positif seseorang karena adanya kepuasan individu terhadap objek yang menjadi sumber persepsinya, adanya penge- 21 tahuan individu, serta adanya pengalaman individu terhadap objek yang dipersepsikan. B. Definisi Masyarakat dan Ciri-cirinya Menurut Soemardjan dalam Soekanto (2001: 92) menyatakan bahwa masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Sedangkan menurut Koentjaningrat, (2009: 115-118) “masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinue dan yang terikat dalam satu rasa identitas bersama”. Menurut Selo Soemardjan dalam Gustriana (2009: 18) masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Selain itu Soekanto, (2001: 95) mengemukakan bahwa ciri-ciri suatu masyarakat pada umumnya adalah sebagai berikut. 1. 2. 3. 4. Manusia yang hidup bersama, sekurang-kurangnya terdiri atas dua orang. Bercampur atau bergaul dalam waktu yang cukup lama. Berkumpulnya manusia akan menimbu

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

KEDUDUKAN YURIDIS WALI HAKIM DALAM PELAKSANAAN AKAD NIKAH MENURUT PERATURAN MENTERI AGAMA NOMOR 2 TAHUN 1987 TENTANG WALI HAKIM (Studi Penetapan Pengadilan Agama Jember Nomor : 36/Pdt.P/2006/PA.Jr )
0
4
16
KEDUDUKAN YURIDIS WALI HAKIM DALAM PELAKSANAAN AKAD NIKAH MENURUT PERATURAN MENTERI AGAMA NOMOR 2 TAHUN 1987 TENTANG WALI HAKIM (Studi Penetapan Pengadilan Agama Jember Nomor : 36/Pdt.P/2006/PA.Jr )
0
7
16
KEDUDUKAN YURIDIS WALI HAKIM DALAM PELAKSANAAN AKAD NIKAH MENURUT PERATURAN MENTERI AGAMA NOMOR 2 TAHUN 1987 TENTANG WALI HAKIM (Studi Penetapan Pengadilan Agama Jember Nomor : 36/Pdt.P/2006/PA.Jr)
0
2
16
ANALISIS SOIOLOGIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN TARIF PARKIR DI KOTA BANDAR LAMPUNG BERDASARKAN PERATURAN DAERAH NO 5 TAHUN 2011
0
34
137
PELAKSANAAN PEMBERIAN TUNJANGAN PROFESI TERHADAP GURU AGAMA OLEH KEMENTERIAN AGAMA KOTA BANDAR LAMPUNG
0
8
46
PELAKSANAAN KEBIJAKAN SISTIM PENGAWASAN TERHADAP EFEKTIFITAS KINERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL DI INSPEKTORAT KOTA BANDAR LAMPUNG
2
16
55
PERSEPSI MASYARAKAT KOTA BANDAR LAMPUNG TERHADAP KEBIJAKAN WALIKOTA TENTANG PEMBERLAKUAN BUS RAPID TRANSIT (BRT)
5
41
57
PERSEPSI IBU-IBU TERHADAP BUDAYA PAMRIH DI KELURAHAN KEMILING PERMAI KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2014
0
9
65
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KEBIJAKAN KEMENTERIAN AGAMA DALAM PELAKSANAAN PERATURAN AKAD NIKAH DI KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2014
12
71
90
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DALAM PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT DI KOTA BANDAR LAMPUNG
3
18
65
PENERAPAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 48 TAHUN 2014 TERHADAP PENINGKATAN PELAYANAN DI KANTOR URUSAN AGAMA KOTA BANDAR LAMPUNG
0
11
52
NIKAH BEDA AGAMA DALAM PANDANGAN LIBERALIS DAN PERATURAN PERKAWINAN DI INDONESIA
0
0
26
PELAKSANAAN FUNGSI PENGAWAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI KOTA BANDAR LAMPUNG
0
0
13
PELAKSANAAN TUNJANGAN PROFESI TERHADAP GURU AGAMA OLEH KEMENTERIAN AGAMA KOTA BANDAR LAMPUNG
0
1
10
PELAKSANAAN KEBIJAKAN PEMBUATAN KARTU IDENTITAS ANAK DI KOTA BANDAR LAMPUNG
0
0
13
Show more