ANALISIS PERJANJIAN PENYALURAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) OLEH PT BANK LAMPUNG

Gratis

0
11
65
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRACT ANALYSIS OF LENDING AGREEMENT BY PT BANK LAMPUNG By AHMAD MALIKI ARIF Credit agreement between the customer and the bank provides legal certainty for the parties to be guided by the principle of freedom of contract, which is all agreements are made legally valid as a law for those who make it. Problems in this research was formulated: (1) What is the legal relationship in the Agreement Loans by PT Bank Lampung? (2) How is the implementation of rights and obligations by PT Bank Lampung and Customer Lending Agreement? This research uses normative approach, with a type of empirical and normative research descriptive type. Data collected by library research and field research. Data analyzed descriptively qualitative. The results showed: (1) the legal relationship Lending Agreement by Bank Lampung is reciprocal, namely the right customers into bank obligations and liabilities of the bank are entitled to the customer. Credit agreement indicate the legal relationship between the Bank and the customer Lampung, in which one party the right to demand something from the other, and the other party is obliged to fulfill it. (2) The rights and obligations by PT Bank Lampung and Customer Lending Agreement is the Customer entitled to receive financing and know clearly the specification and number of credit financing, the amount of technical interest and payments. Client's obligation is to return the entire loan guarantee financing following principal interest charged, notify in writing the bank in the event of a change of identity or effort, submit any documents requested bank, conducting its business in accordance with the provisions or not deviate or conflict with the credit agreement. Bank Lampung rights are charging for late payment, earn interest on the business carried on customers and accept credit financing from the customer, transfer credit guarantee from customers. Bank Lampung obligation is to provide explanations and realize credit financing to customers. Suggestions in this research were: (1) Bank Lampung advised to actually implement the principle of prudence in giving credit to the debtor, by way of implementing the principle of Know Your Customer (2) Bank suggested a more optimal Lampung socialize granting credit financing to businesses for facilitate the business community in developing practiced. Keywords: Credit Agreement, Lending Agreement, Bank Lampung ABSTRAK ANALISIS PERJANJIAN PENYALURAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) OLEH PT BANK LAMPUNG Oleh AHMAD MALIKI ARIF Perjanjian kredit antara nasabah dan bank memberikan kepastian hukum bagi para pihak yang berpedoman pada asas kebebasan berkontrak, yaitu semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Masalah dalam penelitian ini dirumuskan: (1) Bagaimanakah hubungan hukum dalam Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh PT Bank Lampung? (2) Bagaimanakah pelaksanaan hak dan kewajiban oleh PT Bank Lampung dan Nasabah dalam Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR)? Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif, dengan jenis penelitian normatif empiris dan tipe deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan studi lapangan. Data selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Hubungan hukum dalam Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh Bank Lampung adalah bersifat timbal balik, yaitu hak nasabah menjadi kewajiban Bank dan kewajiban bank menjadi hak nasabah. Perjanjian kredit menunjukkan hubungan hukum antara Bank Lampung dan nasabah, di mana pihak yang satu berhak menuntut suatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhinya. (2) Pelaksanaan hak dan kewajiban oleh PT Bank Lampung dan Nasabah dalam Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) adalah Nasabah berhak menerima pembiayaan dan mengetahui secara jelas spesifikasi dan jumlah pembiayaan kredit, besaran bunga dan teknis pembayaran. Kewajiban nasabah adalah mengembalikan seluruh jaminan pokok pembiayaan kredit berikut bunga yang dibebankan, memberitahukan secara tertulis kepada bank dalam hal terjadinya perubahan identitas atau usaha, menyerahkan setiap dokumen yang diminta bank, menjalankan usahanya menurut ketentuan-ketentuan atau tidak menyimpang atau bertentangan dengan perjanjian kredit. Hak Bank Lampung adalah melakukan penagihan atas keterlambatan pembayaran, mendapatkan bunga atas usaha yang dijalankan nasabah dan menerima pembiayaan kredit dari nasabah, memindahtangankan jaminan kredit dari nasabah. Kewajiban Bank Lampung adalah memberikan penjelasan dan merealisasikan pembiayaan kredit kepada nasabah. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) Bank Lampung disarankan untuk benar-benar menerapkan asas kehati-hatian dalam memberikan kredit kepada debitur, dengan cara melaksanakan prinsip Know Your Costumer (2) Bank Lampung disarankan lebih optimal mensosialisasikan pemberian pembiayaan kredit kepada pelaku usaha untuk memudahkan masyarakat dalam mengembangkan usaha yang ditekuninya. Kata Kunci: Perjanjian Kredit, Kredit Usaha Rakyat, Bank Lampung ANALISIS PERJANJIAN PENYALURAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) OLEH PT BANK LAMPUNG Oleh AHMAD MALIKI ARIF Tesis Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar MAGISTER HUKUM Pada Program Pascasarjana Program Studi Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Lampung PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2015 i ANALISIS PERJANJIAN PENYALURAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) OLEH PT BANK LAMPUNG (Tesis) Oleh AHMAD MALIKI ARIF NPM. 1222011002 PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM MAGISTER HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2015 DAFTAR ISI I II III PENDAHULUAN ................................................................................. 1 A. Latar Belakang Masalah .................................................................... 1 B. Masalah dan Ruang Lingkup ............................................................ 7 C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ..................................................... 8 D. Kerangka Pemikiran .......................................................................... 9 E. Sistematika Penulisan ....................................................................... 12 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 15 A. Perjanjian........................................................................................... 15 B. Perjanjian Kredit ............................................................................... 21 C. Prestasi dan Wanprestasi ................................................................... 33 D. Bank dan Aktivitas Perbankan .......................................................... 39 METODE PENELITIAN ..................................................................... 44 A. Pendekatan Masalah .......................................................................... 44 B. Jenis Penelitian ................................................................................. 44 C. Tipe Penelitian ................................................................................. 44 D. Sumber dan Jenis Data ...................................................................... 45 E. Penentuan Narasumber Penelitian .................................................... 46 F. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data .................................. 46 G. Analisis Data ..................................................................................... 47 IV V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................... 48 A. Hubungan Hukum dalam Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh PT Bank Lampung .......................................... 48 B. Pelaksanaan Hak dan Kewajiban oleh PT Bank Lampung dan Nasabah dalam Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) .................................................................................. 74 PENUTUP ............................................................................................... 92 A. Kesimpulan ....................................................................................... 92 B. Saran .................................................................................................. 93 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN MENGESAHKAN 1. Tim Penguji Ketua :Dr, lVahyu Sasongko, S.H., M.Hu Sekretaris : Dr. Hamzah, S.H., M.H. Penguji Utama : r.l:- Dr. Muhammad tr'akih, S.H., M.S. Anggota : Dr.I)ra. Nunung Rodliyh, M.A. Anggota :-Br. Eddy Rifai, S.H., M.H. i1..".- rri-i#;i:*ry+,p *S$'e " gr51*.'"i;i1 gEffi.#ttE . Heryandi, S.H., M.S. P 19621109 198703 I 003 Program Pascasarjana . Sudjarwo, M.S. 30528198103 1002 4. Tanggal Lulus Ujian Tesis : 21 Mei 2015 Judul Tesis ANALISE PEEIANJIAN PENYALURAN KREI}IT USAHA RAKYAT (KUR} OLEH PT BANK LAMPUNG Nama Mahasiswa Ahmad Maliki Nomor Pokok Mahasrswa : 1222UrcAz Program Kekhususan : Hukum Perdata : Hukum Fakultas Arif MENYETUJUI Dosen Komisi Pembimbing Ilr. Wahyu Sasongko, S.S;;M.Hum. NrP 19580502 t9M03 1001 NIP 19690520 199802 MENGETAHLII Ketua Program ffi Universitas 'ar1afla Fakultas Hukum pung 5#;".tsr) aidir Anwar, S.H., M.Hum. NrP 19s50314 198603 I 001 1 001 SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan dengan sebenarnya bahwa: t. Tesis dengan judul: Analisis Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh PT Bank Lampung, adalah karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan atas karya penulis lain dengan cara yang tidak sesuai dengan tata etika ilmiah yang berlaku dalam masyarakat akademik atau yang disebut plagiarisme. 2. Hak intelektual atas karya ilmiah ini diseratrkan sepenuhnya kepada Universitas Lampung. Atas pemyataan ini, apabila di kemudian hari ternyata ditemukan adanya ketidakbenaran, saya bersedia menanggung akibat dan sanksi yang diberikan kepada saya; saya bersedia dan sanggup dituntut sesuai dengan hukum yang berlaku. Bandar Lampung, 2l Mei2015 Pembuat Perflyataan, ffflT AHMAU MALIKI ARIF NPM 1222011002 MOTO “Sesungguhnya di balik kesusahan ada kemudahan, maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan) maka kerjakanlah (urusan yang lain) dengan sungguh-sungguh, dan hanya kepada Tuhanmu hendaklah engkau berharap”. (Q.S. Al-Insyirah Ayat 1 - 8) i PERSEMBAHAN Bismillahirrahmanirrahim Kupersembahkan Tesis ini sebagai tanda bukti hormat dan cintaku kepada kedua orang tuaku Drs. Hi. Holapa Maliki dan Hj. Fatimah S.Pd. (Almh) ibunda Mutiah S.P. Adik-adikku Nesia Januarisma, Siti Fauziah dan Muhammad Khatami Arief, Almamater Tercinta Universitas Lampung i RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bandar Lampung 15 November 1987, sebagai anak pertama dari empat bersaudara, dari pasangan Bapak Drs. Hi. Holapa Maliki dan Ibu Hj. Fatimah S.Pd. (Almh). Pendidikan formal yang penulis tempuh adalah Taman Kanak-kanak (TK) Dwi Tunggal Bandar Lampung yang selesai pada tahun 1994, Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Gunung Sulah yang selesai pada tahun 2000, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negri (SLTPN) 5 Bandar Lampung yang selesai pada tahun 2003. Pada Tahun 2003 penulis melanjutkan pendidikan pada Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 10 Bandar Lampung dan selesai pada tahun 2006. Penulis meraih gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Lampung Tahun 2011. Pada tahun 2012 penulis menempuh pendidikan pada Program Pascasarjana Program Studi Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Lampung. i SAN WACANA Alhamdulillahirabbil alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, sebab hanya dengan rahmat dan karunia-Nya maka penulis dapat menyelesaikan Tesis berjudul: Analisis Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh PT Bank Lampung. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Hukum pada Fakultas Hukum Program Pascasarjana Universitas Lampung. Penyusunan hingga penyelesaian Tesis ini, penulis mendapatkan bimbingan dan arahan dukungan dari berbagai pihak, oleh karenanya penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Heryandi, SH., M.S. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung. 2. Bapak Prof. Dr. Khaidir Anwar, S.H., M.Hum., selaku Ketua Program Pascasarjana Program Studi Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Lampung 3. Bapak Dr. Eddy Rifai, S.H., M.H. selaku Sekretaris Program Pascasarjana Program Studi Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Lampung, sekaligus sebagai Penguji atas masukan dan saran yang diberikan dalam perbaikan Tesis. 4. Bapak Dr. Wahyu Sasongko, S.H., M.Hum. selaku Pembimbing I, atas masukan dan saran yang diberikan dalam proses bimbingan hingga selesainya Tesis. 5. Bapak Dr. Hamzah, S.H., M.H., selaku Pembimbing II, atas masukan dan saran yang diberikan dalam proses bimbingan hingga selesainya Tesis. i 6. Bapak Dr. Muhammad Fakih, S.H., M.S. selaku Penguji Utama atas masukan dan saran yang diberikan dalam perbaikan Tesis. 7. Ibu. Dr. Dra. Nunung Rodliyah, M.A. selaku Penguji atas masukan dan saran yang diberikan dalam perbaikan Tesis. 8. Seluruh dosen Program Pascasarjana Program Studi Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Lampung telah memberikan ilmu kepada penulis, dan seluruh staf dan karyawan yang telah memberikan bantuan selama menempuh pendidikan. 9. Seluruh rekan Program Pascasarjana Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Lampung. 10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu Penulis menyadari bahwa Tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, namun demikian penulis berharap semoga Tesis ini dapat bermanfaat. Bandar Lampung, 21 Mei 2015 Penulis, Ahmad Maliki Arif ii 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehadiran bank sebagai penyedia jasa keuangan berkaitan dengan kepentingan masyarakat yang akan mengajukan pinjaman atau kredit kepada bank. Kredit merupakan suatu istilah yang sering disamakan dengan utang atau pinjaman yang pengembaliannya dilaksanakan secara mengangsur. Hal ini menunjukkan bahwa upaya seseorang untuk memenuhi kebutuhan dana atau finansial dapat ditempuh dengan melakukan pinjaman atau kredit kepada bank. Perjanjian kredit antara nasabah dengan bank dituangkan dalam bentuk perjanjian kredit secara tertulis. Perjanjian dalam bentuk tertulis lebih memberikan kepastian hukum bagi para pihak, namun di samping keuntungan itu banyak pula debitur yang justru mengeluhkan tentang perjanjian kredit yang mereka buat. Hal ini dikarenakan proses pengajuan kredit hingga saat penandatanganan perjanjian yang terlalu rumit. Saat ini untuk memperoleh kredit juga telah dituangkan dalam bentuk perjanjian tertulis dan idealnya perjanjian tersebut tentu harus disepakati oleh kedua belah pihak, yang berisi seluruh keinginan dan mekanisme dari awal sampai akhir proses perjanjian sekaligus pembagian pertanggungjawaban masingmasing apabila terjadi suatu hal di luar dari apa yang telah diperjanjikan. 2 Perjanjian kredit jika dihubungkan dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata maka secara yuridis dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu perjanjian kredit sebagai perjanjian pinjam pakai habis dan perjanjian kredit sebagai perjanjian khusus. Jika perjanjian kredit sebagai perjanjian khusus maka tidak ada perjanjian bernama dalam KUHPerdata yang disebut dengan perjanjian kredit, karena itu yang berlaku adalah ketentuan umum dari hukum perjanjian1 Perjanjian kredit secara ideal berpedoman pada asas kebebasan berkontrak, sebagaimana dinyatakan Salim H.S., bahwa asas kebebasan berkontrak dapat dianalisis dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata yang berbunyi: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya” 2 Masalah lainnya adalah mengenai beratnya risiko yang dibebankan kepada debitur karena materi perjanjian kredit yang kurang proporsional dalam pembagian tanggung jawab antara para pihak karena perjanjian di buat dalam bentuk standard contract yang kurang memberikan perlindungan bagi debitur. Persoalan kredit bank menurut Pasal 1 Angka 11 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, adalah penyediaan uang, atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara pihak bank dengan pihak lain yang mewajibkan peminjaman untuk melunasi utangnya dalam jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan, atau pembagian hasil keuntungan. Sesuai pengertian tersebut, maka 1 Munir Fuady. Pengantar Hukum Bisnis, Menata Bisnis Modern di Era Global. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005, hlm. 117. 2 Salim H.S., Hukum Kontrak, Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak.. Sinar Grafika. Jakarta. 2003, hlm. 9. 3 terlihat adanya suatu konsekuensi yang akan diterima kreditur pada masa yang akan datang berupa jumlah bunga, imbalan, atau pembagian keuangan, dengan demikian maka kredit dalam arti ekonomi adalah penundaan pembayaraan dari prestasi yang diberikan sekarang, baik dalam bentuk barang, uang maupun jasa. Menurut ketentuan Pasal 1131 KUHPerdata, segala harta kekayaan seorang debitur, baik yang berupa benda-benda bergerak maupun benda-benda tetap, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari, menjadi jaminan bagi semua perikatan utangnya. Dengan berlakunya ketentuan Pasal 1131 KUHPerdata maka dengan sendirinya atau demi hukum terjadilah pemberian jaminan oleh seorang debitur kepada kreditur atas segala kekayaan debitur tersebut. 3 Kredit yang diberikan oleh bank memiliki beberapa karakteristik, di antaranya mengandung risiko, sehingga dalam pelaksanaannya bank harus memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat, yaitu diantaranya bank tidak diperkenankan memberikan kredit tanpa surat perjanjian tertulis; memberikan kredit kepada usaha yang sejak semula telah diperhitungkan kurang sehat, dan akan membawa kerugian; memberikan kredit melampaui batas maksimum pemberian kredit (legal lending limit); bank tidak diperkenankan memberikan kredit untuk pembelian saham dan modal kerja dalam rangka kegiatan jual beli saham. Guna mengurangi risiko kerugian dalam pemberian kredit, maka diperlukan jaminan pemberian kredit dalam arti keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi utangnya sesuai dengan yang diperjanjikan. Faktor adanya 3 St. Remy Sjahdeini. Hak Tanggungan, Asas-Asas Ketentuan Pokok dan Masalah yang Dihadapi oleh Perbankan. Alumni. Bandung. 1999, hlm. 7. 4 jaminan inilah yang penting harus diperhatikan bank. Pasal 8 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan menentukan bahwa dalam memberikan kredit, Bank Umum wajib mempunyai keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi utangnya sesuai dengan diperjanjikan. Guna memperoleh keyakinan tersebut sebelum memberikan kredit bank harus melakukan penilaian secara seksama terhadap watak kemampuan, modal agunan, dan prospek usaha dari debitur. Meskipun demikian dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan mengenai jaminan atas kredit tidak begitu sulit, hanya saja dipentingkan tetap adanya jaminan, maka apabila berdasarkan unsur-unsur lain telah dapat diperoleh keyakinan atas kemampuan debitur mengembalikan utangnya, agunan dapat hanya berupa barang, proyek, atau hak tagih yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan. Bank tidak wajib meminta agunan tambahan berupa barang yang tidak berkaitan langsung dengan obyek yang dibiayainya. Adanya kemudahan dalam hal jaminan kredit ini merupakan realisasi dari Perbankan yang berasaskan demokrasi ekonomi, dengan fungsi utamanya sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat, memiliki peranan yang strategis untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional, dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan, dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi, dan stablitas nasional, kearah peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Meskipun adanya kemudahan demikian, jaminan tersebut harus tetap ideal karena jaminan mempunyai tugas melancarkan, mengamankan pemberian kredit, yaitu 5 dengan memberikan hak dan kekuasaan kepada bank untuk mendapatkan perlunasan dari barang-barang jaminan tersebut bilamana debitur wanprestasi. PT Bank Lampung merupakan salah satu lembaga perbankan di Provinsi Lampung yang menyediakan fasilitas penyaluran Kredit Usaha Rakyat kepada nasabah dengan nama Kredit Aneka Guna dan Kredit Multi Guna (Pikul). Tujuan penggunaan kredit ini adalah untuk pembiayaan investasi dan atau untuk pembiayaan modal kerja. Sektor usaha yang dapat mengajukan kredit ini terdiri dari pertanian, perkebunan, perikanan, dan perternakan, pertambangan, industri, listrik dan gas, konstruksi, perdagangan, restoran, dan perhotelan, pengangkutan, pergudangan, dan komunikasi, jasa-jasa dunia usaha dan jasa-jasa sosial kemasyarakatan. Sehubungan dengan Kredit Usaha Rakyat oleh Bank Umum tersebut maka Bank Indonesia selaku pemegang otoritas perbankan (yang saat ini sudah beralih ke Otoritas Jasa Keuangan) mengeluarkan regulasi dalam hal pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/22/PBI/2012 tentang Pemberian Kredit atau Pembiayaan oleh Bank Umum dan Bantuan Teknis dalam Rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Kredit Usaha Rakyat ini sejalan dengan dengan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang program pembangunan yang berkeadilan. Tujuannya adalah Untuk lebih memfokuskan pelaksanaan pembangunan yang berkeadilan, dan untuk kesinambungan serta penajaman prioritas pembangunan nasional. Dalam pengembangan KUR selain dibutuhkan dana untuk melaksanakan program KUR dibutuhkan juga political will oleh pemerintah untuk bisa mendorong lebih cepat 6 mendorong program tersebut berjalan. Political will tersebut harus diterjemahkan dalam kebijakan-kebijakan yang tepat sehingga berjalan selaras dari pusat hingga daerah. Kebijakan tersebut harus dilahirkan dari peraturan perundang-undangan yang mengahsilkan program yang mempunyai kepastian hukum yang jelas serta mempunyai kemanfaatan dalam mendukung jalannya program KUR. Bank Lampung menetapkan kriteria yang ketat agar bagi calon debitur yang akan mengajukan KUR, hal ini diberlakukan dalam rangka mengantisipasi terjadinya kredit macet di kemudian hari. Bank dalam memperoleh keyakinan tersebut sebelum memberikan kredit bank harus melakukan penilaian secara seksama terhadap watak kemampuan, modal agunan, dan prospek usaha dari debitur, meskipun demikian dalam Undang-Undang Perbankan mengenai jaminan atas kredit tidak begitu sulit, hanya saja dipentingkan tetap adanya jaminan, maka apabila berdasarkan unsur-unsur lain telah dapat diperoleh keyakinan atas kemampuan debitur mengembalikan hutangnya, agunan dapat hanya berupa barang, proyek, atau hak tagih yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan Perjanjian kerjasama antara Bank Lampung dengan nasabah dalam hal penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tertuang dalam Perjanjian Kerjasama Nomor: 077/SPK/KI-KUR/VIII/2013. Nasabah bernama Nuraliati memperoleh pembiayaan kredit dari Bank Lampung sebesar Rp.250.000.000, (Duaratus lima puluh juta rupiah), untuk pembelian satu unit mesin hydraulic steam dalam rangka mengembangkan usahanya yang bergerak di bidang jasa pencucian mobil. Jangka waktu perjanjian kredit tersebut adalah 60 bulan, terhitung sejak 26 Agustus 2013 sampai dengan 26 Agustus 2018. 7 Hubungan hukum antara pihak Bank Lampung dan nasabah dalam perjanjian KUR berupa hubungan pelaksanaan hak dan kewajiban yang bersifat timbal balik, kedua belah pihak terikat dengan butir-butir perjanjian KUR yang telah disepakati bersama, yaitu melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan Perjanjian. Berdasarkan uraian di atas maka penulis melakukan penelitian dan menuangkannya ke dalam Tesis yang berjudul: Analisis Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh PT Bank Lampung. B. Masalah dan Ruang Lingkup 1. Masalah Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: a. Bagaimanakah hubungan hukum dalam Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh PT Bank Lampung? b. Bagaimanakah pelaksanaan hak dan kewajiban oleh PT Bank Lampung dan Nasabah dalam Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR)? 2. Ruang Lingkup Ruang lingkup ilmu dalam penelitian ini adalah kajian hukum perdata, khususnya yang berkaitan dengan kajian mengenai hubungan hukum dalam Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh PT Bank Lampung. Ruang lingkup waktu pelaksanaan penelitian adalah Tahun 2014, sedangkan ruang lingkup lokasi penelitian adalah pada PT Bank Lampung. 8 C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan yang telah ditentukan di atas, maka tujuan pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Untuk menganalisis hubungan hukum dalam Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh PT Bank Lampung b. Untuk menganalisis pelaksanaan hak dan kewajiban oleh PT Bank Lampung dan Nasabah dalam Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) 2. Kegunaan Penelitian Kegunaan penelitian ini terdiri dari kegunaan teoritis dan kegunaan praktis sebagai berikut: a. Kegunaan teoritis Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna di dalam pengembangan pengetahuan pada bidang ilmu hukum perdata, khususnya yang berkaitan dengan kajian mengenai isi Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh PT Bank Lampung dan pelaksanaan hak dan kewajiban dalam Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) b. Kegunaan praktis Secara praktis, hasil penelitian diharapkan dapat berguna: (1) Untuk menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti mengenai Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh PT Bank Lampung 9 (2) Sebagai bahan informasi dan referensi bagi pihak-pihak lain yang akan melakukan penelitian dengan kajian mengenai Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh PT Bank Lampung (3) Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Magister Hukum pada Program Pascasarjana Universitas Lampung D. Kerangka Pemikiran Perjanjian adalah suatu peristiwa di mana sesorang berjanji kepada orang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu. Berdasarkan ketentuan Pasal 1313 KUHPerdata yang menjelaskan bahwa perjanjian adalah perbuatan dengan mana seseorang atau lebih mengikatkan atau lebih untuk melakukan sesuatu.4 Ketentuan Pasal 1313 KUHPerdata kurang begitu memuaskan karena ada beberapa kelemahan, yaitu: 1) Hanya menyangkut sepihak saja 2) Kata perbuatan mencakup juga kata konsensus 3) Pengertian perjanjian terlalu luas 4) Tanpa menyebut tujuan5 Berdasarkan hal tersebut dapat dirumuskan bahwa perjanjian adalah persetujuan dengan mana dua orang atau lebih saling mengikatkan dirinya untuk suatu hal dalam harta kekayaan. Dari rumusan perjanjian tersebut dapat diketahui unsurunsur perjanjian sebagai berikut ada pihak-pihak sedikitnya dua orang (subjek), 4 5 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002, hlm. 224. Ibid, hlm. 225. 10 ada persetujuan antara pihak-pihak (konsensus), ada objek berupa benda, adanya tujuan yang bersifat kebendaan (mengenai harta kekayaan) dan ada bentuk tertentu lisan dan tertulis. Perjanjian kredit adalah perjanjian pokok (prinsipil) yang bersifat riil. Sebagai perjanjian prinsipil, maka perjanjian jaminan adalah assessoir-nya. Ada dan berakhirnya perjanjian jaminan bergantung pada perjanjian pokok Arti riil ialah bahwa terjanjinya perjanjian kredit ditentukan oleh penyerahan uang oleh bank kepada nasabah debitur.6 Persetujuan pinjam-meminjam antara bank dengan lain pihak (nasabah) di mana pihak peminjam berkewajiban melunasi pinjamannya setelah jangka waktu tertentu dengan bunga yang telah ditetapkan itu dinamakan ”perjanjian kredit” atau ”akad kredit”. Pengertian prestasi (performance) dalam hukum kontrak dimaksudkan sebagai suatu pelaksanaan hal-hal yang tertulis dalam suatu kontrak oleh pihak yang telah mengikatkan diri untuk itu, pelaksanaan mana sesuai dengan “term” dan “condition” sebagaimana disebutkan dalam kontrak yang bersangkutan. Modelmodel prestasi dalam Pasal 1234 KUHPerdata, yaitu berupa memberikan sesuatu, berbuat sesuatu dan tidak berbuat sesuatu. Memberikan sesuatu, misalnya membayar harga, menyerahkan barang. Berbuat sesuatu, misalnya memperbaiki barang yang rusak, membangun rumah, melukis suatu lukisan untuk pemesan. 6 Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Kencana Prenada Media Grup, Jakarta, 2006, hlm. 71 11 Tidak berbuat sesuatu, misalnya perjanjian tindak akan mendirikan suatu bangunan, perjanjian tidak akan menggunakan merk dagang tertentu.7 Suatu perjanjian dapat terlaksana dengan baik apabila para pihak telah memenuhi prestasinya masing-masing seperti yang telah diperjanjikan tanpa ada pihak yang dirugikan. Tetapi adakalanya perjanjian tersebut tidak terlaksana dengan baik karena adanya wanprestasi yang dilakukan oleh salah satu pihak atau debitur. Perkataan wanprestasi berasal dari bahasa Belanda, yang artinya prestasi buruk. Adapun yang dimaksud wanprestasi adalah suatu keadaan yang dikarenakan kelalaian atau kesalahannya, debitur tidak dapat memenuhi prestasi seperti yang telah ditentukan dalam perjanjian dan bukan dalam keadaan memaksa.8 Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Kebebasan Berkontrak, yang dikemukakan oleh Hugo de Groot dan Thomas Hobbes, yang menyatakan bahwa suatu kontrak adalah suatu tindakan sukarela dari seseorang yang berjanji sesuatu kepada orang lain dengan maksud orang lain itu menerimanya. Kontrak lebih dari sekedar janji karena suatu janji tidak dapat memberikan hak kepada pihak lain atas pelaksanaan janji itu. Selanjutnya Hobbes menyatakan bahwa kebebasan berkontrak sebagai kebebasan manusia yang fundamental. Kontrak adalah metode dimana hak-hak fundamental manusia dapat dialihkan.9 Kebebasan berkontrak memberikan kebebasan kepada para pihak untuk membuat atau tidak membuat kontrak, demikian juga kebebasan untuk mengatur sendiri isi kontrak tersebut. Asas ini tersirat dalam pasal 1338 KUHPerdata, pada intinya 7 Abdulkadir Muhammad, Op Cit, hlm. 210. Abdulkadir Muhammad, Op Cit, hlm. 214. 9 Mariam Darus Badrulzaman, Perjanjian Kredit Bank, PT. Citra Aditya Bhakti Bandung, 1991. hlm. 110. 8 12 menyatakan bahwa terdapat kebebasan membuat kontrak apapun sejauh tidak bertentangan dengan hukum, ketertiban dan kesusilaan. Setiap orang leluasa untuk membuat perjanjian apa saja, asal tidak melanggar ketertiban umum atau kesusilaan. Secara Historis kebebasan berkontrak sebenarnya meliputi lima macam kebebasan, yaitu: a) kebebasan para pihak menutup atau tidak menutup kontrak. b) kebebasan menentukan dengan siapa para pihak akan menutup kontrak. c) kebebasan para pihak menetukan bentuk kontrak. d) kebebasan para pihak menentukan isi kontrak. e) kebebasan pada pihak menentukan cara penutupan kontrak. Kebebasan berkontrak sebagai suatu asas yang menyatakan bahwa setiap orang pada dasarnya boleh membuat kontrak (perjanjian) yang berisi dan macam apapun asal tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan keteriban umum. Kebebasan berkontrak bukan berarti para pihak dapat membuat kontrak (perjanjian) secara bebas, akan tetapi tetap mengindahkan syarat-syarat sahnya pernjanjian, baik syarat umum sebagaimana yang ditentukan oleh Pasal 1320 KUHPerdata, maupun syarat khusus untuk perjanjian-perjanjian tertentu. E. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah memahami isi Tesis ini maka disusun sistematika penulisan sebagai berikut: I. PENDAHULUAN Bab ini berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang, permasalahan, tujuan dan kegunaan penulisan, kerangka pemikiran, serta sistematika penulisan. 13 Kegunaannya adalah sebagai gambaran awal mengenai pentingnya pelaksanaan penelitian ini dan sebagai acuan penyusunan Tesis. II. TINJAUAN PUSTAKA Bab ini berisi berbagai teori atau pendapat para ahli hukum yang berkaitan dengan permasalah yang dibahas dalam penelitian, yaitu pengertian perjanjian, kredit dan pembiayaan, prestasi dan wanprestasi serta hukum perjanjian konsumen. Kegunaannya adalah sebagai landasan teori atau konsep yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. III. METODE PENELITIAN Berisi pendekatan masalah, jenis dan sumber data, penentuan narasumber, metode pengumpulan dan pengolahan data serta analisis data. Kegunaannya adalah sebagai panduan teknis pelaksanaan penelitian ilmiah mulai dari pengumpulan, penyajian sampai dengan analisis data. IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi hasil penelitian dan pembahasan serta analisis deskriptif mengenai hubungan hukum dalam Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh PT Bank Lampung dan pelaksanaan hak dan kewajiban oleh PT Bank Lampung dan Nasabah dalam Perjanjian Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kegunaannya adalah menjelaskan, memaparkan dan menganalisis hasil penelitian sesuai dengan pokok bahasannya masingmasing. 14 V. PENUTUP Bab ini berisi kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian dan pembahasan serta saran-saran yang diajukan kepada berbagai pihak-pihak yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian. Kegunaannya adalah sebagai simpulan umum dan sebagai rekomendasi saran yang diajukan sebagai bahan perbaikan di masa-masa yang akan datang. 15 II.TINJAUAN PUSTAKA A. Perjanjian 1. Pengertian Perjanjian Perjanjian adalah suatu peristiwa di mana sesorang berjanji kepada orang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu. Berdasarkan ketentuan Pasal 1313 KUHPerdata yang menjelaskan bahwa perjanjian adalah perbuatan dengan mana seseorang atau lebih mengikatkan atau lebih untuk melakukan sesuatu.1 Perjanjian merupakan persetujuan dengan mana dua orang atau lebih saling mengikatkan dirinya untuk suatu hal dalam harta kekayaan. Dari rumusan perjanjian tersebut dapat diketahui unsur-unsur perjanjian sebagai berikut ada pihak-pihak sedikitnya dua orang (subjek), ada persetujuan antara pihak-pihak (konsensus), ada objek berupa benda, adanya tujuan yang bersifat kebendaan (mengenai harta kekayaan) dan ada bentuk tertentu lisan dan tertulis. Perjanjian adalah salah satu sumber perikatan. Perjanjian melahirkan perikatan yang menciptakan kewajiban pada salah satu atau lebih pihak dalam perjanjian. Kewajiban yang dibebankan kepada debitur dalam perjanjian memberikan hak kepada kreditur dalam perjanjian untuk melaksanakan prestasi dalam perikatan yang lahir dari perjanjian tersebut2 1 2 Abdulkadir Muhammad, Op.Cit, hlm. 224. Kartini Mulyadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan yang Lahir dari Perjanjian. Rajawali 16 Perjanjian adalah peristiwa di mana seorang berjanji kepada orang lain atau di mana dua orang tersebut berjanji untuk melaksanakan suatu hal. Perjanjian merupakan suatu perhubungan hak mengenai harta benda atau pihak dalam mana satu pihak dianggap berjanji untuk melaksanakan sesuatu dan pihak lain berhak menuntut pelaksanaan. 3 Berdasarkan peristiwa ini timbulah suatu hubungan antara dua orang tersebut yang dinamakan perikatan karena perjanjian merupakan sumber terpenting yang melahirkan perikatan. Perjanjian juga disebut persetujuan karena dua pihak setuju untuk melaksanakan sesuatu. Suatu perjanjian sudah dianggap sah dalam arti sudah mempunyai akibat hukum atau sudah mengikat apabila sudah tercapai kata sepakat mengenai hal yang pokok dari perjanjian itu atau dengan kata lain bahwa perjanjian itu umumnya konsensual. 2. Asas Perjanjian Hukum perjanjian mengenal beberapa asas penting, yang merupakan dasar kehendak pihak-pihak dalam mencapai tujuan. Asas-asas dalam perjanjian dalam perjanjian adalah sebagai berikut: a. Asas Kebebasan Berkontrak Asas ini sering juga disebut sebagai sistem terbuka (open system) yang mengandung suatu asas kebebasan berkontrak (kebebasan membuat perjanjian), seperti dinyatakan dalam Pasal 1338 KUHPerdata, bahwa setiap orang bebas mengadakan perjanjian apa saja walau belum atau tidak diatur dalam Undang-Undang. Tetapi pelaksanaan asas kebebasan berkontrak ini Pers. Jakarta. 2003, hlm. 91. 3 R. Subekti, Aneka Perjanjian, Alumni, Bandung, 2000, hlm.2. 17 dibatasi oleh tiga hal, yaitu tidak dilarang oleh Undang-Undang, tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaaan. b. Asas Pelengkap (Optional) Hukum perjanjian bersifat pelengkap, artinya Pasal-Pasal di dalam undangundang boleh disingkirkan apabila para pihak menghendaki. Maksudnya, ketentuan dalam Undang-Undang dapat dikurangi atau bahkan disingkirkan, tetapi apabila terjadi perselisihan tentang hal-hal yang tidak ditentukan dalam perjanjian, maka berlakulah hal-hal menurut ketentuan dalam undang-undang. c. Asas Konsensualitass Perjanjian itu terjadi sejak tercapainya kata sepakat antara pihak-pihak yang membuatnya, mengenai pokok-pokok perjanjian. Dengan kata lain, perjanjian itu sudah sah dan mempunyai akibat hukum sejak saat tercapainya kata sepakat antara pihak-pihak mengenai pokok-pokok perjanjian. d. Asas Obligator Perjanjian dibuat baru dalam taraf menimbulkan hak dan kewajiban, belum memindahkan hak milik. Hak milik baru akan berpindah apabila dilakukan dengan perjanjian yang bersifat kebendaan, yaitu melalui penyerahan4 Perjanjian yang sah artinya perjanjian yang memenuhi syarat yang telah ditentukan, sehingga ia diakui oleh hukum perjanjian, yang tidak memenuhi syarat-syarat atau mengandung suatu cacat dan ada kemungkinan dilakukan penuntutan oleh pihak yang berkepentingan yang berarti perjanjian ini tidak memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, ini dapat dituntut pembatalannya oleh pihak yang berhak untuk dilindungi Undang-Undang. 4 Abdulkadir Muhammad, Op cit. hlm. 224-225. 18 3. Dasar Hukum Perjanjian Dasar Hukum Perjanjian adalah KUHPerdata. Pasal 1313 KUHPerdata menentukan bahwa perjanjian adalah perbuatan dengan mana seseorang atau lebih mengikatkan atau lebih untuk melakukan sesuatu. Pengertian ini mengandung makna bahwa perjanjian merupakan suatu peristiwa di mana sesorang berjanji kepada orang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu. Pasal 1320 KUHPerdata menjelaskan syarat-syarat sah perjanjian adalah : a. Ada persetujuan kehendak antara pihak-pihak yang membuat perjanjian. Persetujuan kehendak adalah kesepakatan seia sekata antara pihak-pihak mengenai pokok perjanjian yang dibuat, di mana pokok perjanjian itu berupa objek perjanjian dan syarat-syarat perjanjian apa yang dikehendaki oleh pihak yang satu juga dikehendaki oleh pihak yang lain, mereka menghendaki sesuatu yang sama serta timbal balik. Persetujuan kehendak itu sifatnya bebas artinya betul-betul atas kemauan sukarela pihak-pihak, tidak ada paksaan sama sekali dari pihak manapun. (Pasal 1324, KUHPerdata) b. Ada kecakapan pihak-pihak untuk membuat perjanjian Pada umumnya orang itu dikatakan cakap melakukan perbuatan hukum apabila ia sudah dewasa, artinya sudah mencapai umur 21 tahun atau sudah kawin walaupun belum 21 tahun. Menurut ketentuan Pasal 1330 KUHPerdata dikatakan tidak cakap membuat perjanjian ialah orang yang belum dewasa, orang yang ditaruh dibawah pengampuan dan wanita bersuami. 19 b. Adanya suatu hal tertentu Suatu hal tertentu merupakan pokok perjanjian merupakan prestasi yang perlu dipenuhi dalam suatu perjanjian merupakan objek perjanjian. Prestasi itu harus tertentu atau sekurang-kurangnya dapat ditentukan. Kejelasan mengenai pokok perjanjian atau objek perjanjian ialah untuk memungkinkan pelaksanaan hak dan kewajiban pihak-pihak. c. Ada sebab yang halal Sebab adalah suatu yang menyebabkan orang membuat perjanjian yang mendorong orang membuat perjanjian. Sebab yang halal dalam Pasal 1320 KUHPerdata itu bukanlah sebab dalam arti yang menyebabkan atau yang mendorong orang membuat perjanjian melainkan sebab dalam arti perjanjian itu sendiri yang menggambarkan tujuan yang akan dicapai oleh pihak-pihak. Perjanjian yang memenuhi syarat menurut Undang-Undang diakui oleh hukum dan sebaliknya perjanjian yang tidak memenuhi syarat tidak diakui hak, walaupun diakui oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Oleh karena itu selagi pihak-pihak mengakui dan mematuhi perjanjian maka perjanjian itu berlaku bagi mereka. Apabila sampai suatu ketika ada pihak yang tidak mengakuinya lagi, maka hakim akan membatalkan atau menyatakan perjanjian terebut batal demi hukum. Ketentuan mengenai syarat sahnya perjanjian dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu sebagai berikut: 20 1) Syarat subjektif, maksudnya syarat melekat pada subjek, merupakan syarat sepakat antara pihak-pihak yang mengikatkan diri dan syarat kecakapan untuk membuat perjanjian. 2) Syarat objektif maksudnya syarat yang melekat pada objek, merupakan yaitu syarat suatu hal tertentu dan sebab yang halal5 Apabila syarat subjektif tidak dipenuhi perjanjian dapat dibatalkan, tetapi jika tidak dimintakan pembatalannya kepada hakim, perjanjian itu tetap mengikat pihak-pihak walaupun diancam pembatalan sebelum lampau waktu lima tahun (Pasal 1454 KUHPerdata). Tidak dipenuhinya syarat-syarat subjektif tadi mengakibatkan perjanjian batal demi hukum. Selanjutnya, apabila syarat objektif tidak dipenuhi, maka perjanjian batal, kebatalan tersebut dapat diketahui apabila perjanjian tidak mencapai tujuan karena salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya kemudian diperkarakan ke muka hakim, dan hakim menyatakan perjanjian batal karena memenuhi syarat objektif. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa suatu perjanjian dikatakan perjanjian yang sah jika telah memenuhi syarat-syarat yang diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Syarat yang tidak mungkin terlaksana, bertentangan dengan kesusilaan atau bertentang dengan undang-undang yang berlaku, syarat tersebut batal demi hukum, sedangkan kontraknya menjadi tidak berdaya (Lihat Pasal 1254 KUHPerdata). Sedangkan kontrak dengan syarat bahwa pelaksananya semata- 5 R. Subekti, Aneka Perjanjian, Alumni, Bandung, 2000, hlm.2. 21 mata bergantung pada kemauan orang yang terikat, kontrak tersebut batal demi hukum (Lihat Pasal 1256 ayat (1) KUHPerdata)6 Menurut ketentuan Pasal 1338 KUHPerdata perjanjian yang dibuat secara sah dan berlaku sebagai undang-undang bagi yang membuatnya, tidak dapat ditarik kembali tanpa persetujuan kedua belah pihak atau karena alasan-alasan yang cukup kuat menurut undang-undang dan harus dilaksanakan dengan itikad baik. B. Perjanjian Kredit Perjanjian kredit adalah perjanjian pokok (prinsipil) yang bersifat riil. Sebagai perjanjian prinsipil, maka perjanjian jaminan adalah assessoir-nya. Ada dan berakhirnya perjanjian jaminan bergantung pada perjanjian pokok. Arti riil ialah bahwa terjanjinya perjanjian kredit ditentukan oleh penyerahan uang oleh bank kepada nasabah debitur.7 Persetujuan pinjam-meminjam antara bank dengan lain pihak (nasabah) di mana pihak peminjam berkewajiban melunasi pinjamannya setelah jangka waktu tertentu dengan bunga yang telah ditetapkan itu dinamakan ”perjanjian kredit” atau ”akad kredit”. Pemberian kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan.8 6 Munir Fuady. Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis),Citra Aditya Bakti Bandung, 2003, hlm. 107. 7 Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Kencana Prenada Media Grup, Jakarta, 2006, hlm. 71 8 Ibid, hlm. 29. 22 Dalam kaitannya dengan fasilitas pemberian kredit, analisis terhadap fakta dan data yang menyertai debitur dalam mengajukan permohonannya merupakan bagian dari faktor-faktor yang mendukung analisis dan kesimpulan bahwa terdapat ”jaminan” suatu fasilitas kredit yang diberikan dapat kembali dengan menguntungkan. Oleh karena itu terdapat pendapat bahwa ”jaminan adalah ”keyakinan” kreditur bahwa kredit yang diberikan dapat kembali dengan tepat waktu. Dengan kata lain, istilah ”jaminan” yang diistilahkan dengan ”jaminan pemberian kredit” diartikan sebagai keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi utangnya sesuai dengan yang diperjanjikan. Kehadiran bank sebagai penyedia jasa keuangan berkaitan dengan kebutuhan masyarakat untuk mengajukan pinjaman atau kredit kepada bank. Kredit merupakan suatu istilah yang sering disamakan dengan utang atau pinjaman yang pengembaliannya dilaksanakan secara mengangsur. Hal ini menunjukkan bahwa upaya seseorang untuk memenuhi kebutuhan dana atau finansial dapat ditempuh dengan melakukan pinjaman atau kredit kepada bank. Perjanjian kredit antara nasabah dengan bank dituangkan dalam bentuk perjanjian kredit secara tertulis. Perjanjian dalam bentuk tertulis lebih memberikan kepastian hukum bagi para pihak, namun di samping keuntungan itu banyak pula debitur yang justru mengeluhkan tentang perjanjian kredit yang mereka buat. Hal ini dikarenakan proses pengajuan kredit hingga saat penandatanganan perjanjian yang terlalu rumit. Saat ini untuk memperoleh kredit juga telah dituangkan dalam bentuk perjanjian tertulis dan idealnya perjanjian tersebut tentu harus disepakati oleh kedua belah pihak, yang berisi seluruh keinginan dan mekanisme dari awal 23 sampai akhir proses perjanjian sekaligus pembagian pertanggungjawaban masingmasing apabila terjadi suatu hal di luar dari apa yang telah diperjanjikan. Perjanjian kredit jika dihubungkan dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata maka secara yuridis dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu perjanjian kredit sebagai perjanjian pinjam pakai habis dan perjanjian kredit sebagai perjanjian khusus. Jika perjanjian kredit sebagai perjanjian khusus maka tidak ada perjanjian bernama dalam KUHPerdata yang disebut dengan perjanjian kredit, karena itu yang berlaku adalah ketentuan umum dari hukum perjanjian9 Unsur kerelaan dalam berkontrak memang secara jelas dan tegas tidak menjadi syarat sahnya suatu kontrak sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Namun bila dilihat dalam ketentuan Pasal 1321 KUHPerdata: “Tiada sepakat yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan.”Selain itu berturut-turut perlu juga diindahkan ketentuan Pasal 1323, 1324, dan Pasal 1325 KUHPerdata. Pasal 1323 KUHPerdata:“Paksaan yang dilakukan terhadap orang yang membuat suatu persetujuan, merupakan alasan untuk batalnya perjanjian, juga apabila paksaan itu dilakukan oleh seorang pihak ketiga, untuk kepentingan siapa persetujuan tersebut tidak telah dibuat.”Pasal 1324 KUHPerdata:“Paksaan telah terjadi, apabila perbuatan itu sedemikian rupa hingga dapat menakutkan seorang yang dapat berpikiran sehat, dan apabila perbuatan itu dapat menimbulkan ketakutan pada orang tersebut bahwa dirinya atau kekayaannya terancam dengan suatu kerugian yang terang dan nyata. 9 Munir Fuady. Pengantar Hukum Bisnis, Menata Bisnis Modern di Era Global. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005, hlm. 117. 24 Dalam mempertimbangkan hal itu, harus diperhatikan usia, kelamin dan kedudukan orang-orang yang bersangkutan.”Pasal 1325 KUHPerdata:“Paksaan mengakibatkan batalnya suatu persetujuan tidak saja apabila dilakukan terhadap salah satu pihak yang membuat persetujuan, tetapi juga apabila paksaan itu dilakukan terhadap suami atau isteri atau sanak-keluarga dalam garis ke atas maupun ke bawah.”Maka berdasarkan Pasal 1321, 1323, 1324 dan 1325 KUHPerdata secara tegas jelas bahwa unsur paksaan dalam rangka mencapai kata sepakat adalah dilarang oleh hukum perjanjian di Indonsia. Mengenai unsur paksaan pada praktik standar kontrak di Indonesia ini belum dapat tebukti adanya unsur paksaan menurut aturan formal hukum perjanjian itu sendiri.Adapun lahirnya konsep standar konrak itu sendiri dipayungi oleh hukum perjanjian di Indonesia melalui ketentuan Pasal 1338 KUHPerdata. Pasal 1338 KUHPerdata:“Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undangundang bagi mereka yang membuatnya. Persetujuan-persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu. Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik.”Dari sudut pandang hukum positif standar kontrak mendapat legalitas atau dipandang sah, tentu saja standar kontrak tersebut menjadi memiliki daya ikat dari aspek hukum bagi para pihak yang membuatnya. Standar kontrak sah secara hukum selama ia mengindahkan norma hukum perjanjian yang diatur pada Pasal 1320 KUHPerdata. Menurut penulis sah tidaknya standar kontrak tidak dapat terlepas dari teori tentang kesepakatan dalam hukum perjanjian. Hal ini karena dalam standar kontrak terdapat „aturan main‟ bahwa bila pihak penawar atau 25 pembuat standar kontrak itu mengajukan penawaran kepada pihak lain, maka pihak lain itu memiliki kebebasan dalam menentukan sikap apakah ia setuju dan kemudian menandatangani isi kontrak atau bila ia tidak setuju dengan isi klausul yang diajukan kepadanya, ia dapat menolak dengan cara tidak menandatangani atau meninggalkan tempat di mana pihak penawar standar kontrak itu berada, termasuk dalam kredit perbankan. Persoalan kredit bank menurut Pasal 1 Angka 11 Undang-Undang Perbankan, adalah penyediaan uang, atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara pihak bank dengan pihak lain yang mewajibkan peminjaman untuk melunasi utangnya dalam jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan, atau pembagian hasil keuntungan. Dari kedua pengertian tersebut, kita melihat adanya suatu konsekuensi yang akan diterima kreditur pada masa yang akan datang berupa jumlah bunga, imbalan, atau pembagian keuangan, dengan demikian maka kredit dalam arti ekonomi adalah penundaan pembayaraan dari prestasi yang diberikan sekarang, baik dalam bentuk barang, uang maupun jasa. Menurut ketentuan Pasal 1131 KUHPerdata, segala harta kekayaan seorang debitur, baik yang berupa benda-benda bergerak maupun benda-benda tetap, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (65 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYALURAN KREDIT UMUM PEDESAAN OLEH PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) DI KABUPATEN TRENGGALEK
0
8
68
EFEKTIVITAS PEMASARAN PRODUK KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) PADA PT. BANK JATIM Tbk CABANG PASURUAN NOOR ADILLA NIM: 201110190511007
0
5
22
PROSEDUR PENYALURAN DAN PENGAWASAN KREDIT USAHA RAKYAT PADA PT. BANK JATIM CABANG MALANG
0
6
16
PROSEDUR PENGAJUAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) PADA PT. BPD JATIM CABANG BATU
0
5
18
STANDAR PENILAIAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) PADA PT. BANK NEGARA INDONESIA (Persero) Tbk. CABANG MALANG
0
10
22
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYALURAN KREDIT UMUM UNTUK USAHA PADA BPR BANK JOMBANG
2
8
26
PROSEDUR PENYALURAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) PADA PT. BANK RAKYAT INDONESIA, TBK. UNIT KARTINI BLITAR
1
5
22
ANALISIS YURIDIS WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN PEMBERIAN KREDIT BAGI USAHA KECIL DI PD. BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR) BANK PASAR KABUPATEN LUMAJANG
0
4
9
ASURANSI JIWA PADA KREDIT UNTUK GOLONGAN BERPENGHASILAN TETAP (KRETAP) DALAM PERJANJIAN KREDIT PADA PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) CABANG JEMBER
0
6
15
ANALISIS PERMINTAAN KREDIT PERTANIAN DAN KEMAMPUAN PENGEMBALIAN KREDIT OLEH PETANI (STUDI KASUS PADA BANK RAKYAT INDONESIA UNIT ADILUWIH)
0
10
11
STRATEGI PEMASARAN BANK DALAM MENINGKATKAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) PADA PT BANK LAMPUNG
8
65
49
ANALISIS PERJANJIAN PENYALURAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) OLEH PT BANK LAMPUNG
0
11
65
ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) RITEL BERMASALAH DAN PENYELESAIANNYA (STUDI PADA PT. BANK LAMPUNG KCP GADINGREJO)
3
14
47
ANALISIS PEMBERIAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) BANK BRI TERHADAP KINERJA USAHA KECIL DI KOTA MAKASSAR
0
3
14
ANALISIS STRATEGI BAURAN PEMASARAN KREDIT USAHA RAKYAT PADA PT BANK RAKYAT INDONESIA UNIT WILLEM ISKANDAR CABANG MEDAN ASIA PASAR RAME
0
1
12
Show more