LAPORAN KRISTALOGRAFI BAB II

Gratis

6
22
28
2 years ago
Preview
Full text
LAPORAN KRISTALOGRAFI BAB II - IV ANAK TOBA haloo saudara ku yang terhebat.. salam damai dan sukses lagi yaa :) nah.. kali ini geologist muda mau melampirkan tugas nih.. barang kali berguna bila suatu saat saudara hendak membuat laporan mengenai kristalografi.. yang geologist muda harapkan saudara terhebat sekalian dapat menguasai materi dari laporan mengenai kristalografi ini yaa.. karna seperti yang kita tahu kristalografi ini adalah dasar dari ilmu geologi sebelum kita melangkah ke tahap mineralogi, petrologi dan petrografi dan seterusnya.. jadi kita harus menguasai dasarnya dulu ya saudara.. nah.. pendek cerita langsung aja nih geologist muda tunjukin.. let's see.... :) BAB II TATA CARA PENDESKRIPSIAN 2.1. Jumlah Unsur Simetri Jumlah unsur simetri adalah notasi-notasi yang digunakan untuk menjelaskan nilainilai yang ada dalam sebuah kristal, nilai sumbu-sumbunya, jumlah bidang simetrinya, serta titik pusat dari kristal tersebut. Dengan menentukan nilai jumlah unsur simetri, kita akan dapat mengetahui dimensi-dimensi yang ada dalam kristal tersebut, yang selanjutnya akan menjadi patokan dalam penggambarannya. Unsur simetri yang diamati adalah sumbu, bidang, dan pusat simetri. Cara penentuannya adalah sebagai berikut: 1. Pada posisi kristal dengan salah satu sumbu utamanya, lakukan pengamatan terhadap nilai sumbu simetri yang ada. Pengamatan dapat dilakukan dengan cara memutar kristal dengan 2. poros pada sumbu utamanya. Perhatikan keterdapatan sumbu simetri tambahan, jika ada tentukan jumlah serta nilainya. Menentukan nilainya sama dengan pada sumbu utama. 3. Amati keterdapatan bidang simetri pada setiap pasangan sumbu simetri yang ada pada kristal. 4. Amati bentuk kristal terhadap susunan persilangan sumbunya, kemudian tentukan ada tidaknya titik pusat kristal. 5. Jumlahkan semua sumbu dan bidang simetri (yang bernilai sama) yang ada. 2.1.1. Bidang Simetri Bidang simetri merupakan suatu bidang khayal yang menembus dan membagi Kristal menjadi dua bagian yang sama besar dengan salah satu sisi / bagian merupakan suatu pencerminan dari bidang yang lain. Bidang simetri dibagi menjadi dua, yaitu : 1. Bidang Simetri Aksial, merupakan suatu bidang simetri yang melewati 2 sumbu Kristal. Jika bidang tersebut terbentuk tegak lurus dengan sumbu c, maka disebut dengan bidang simetri horizontal dan Jika bidang tersebut terbentuk sejajar dengan sumbu c, maka disebut dengan bidang simetri vertikal. 2. Bidang Simetri Intermediet, apabila bidang simetri tersebut hanya melewati 1 sumbu saja (Bidang Simetri Diagonal) 2.1.2. Sumbu Simetri 2.1.2. Sumbu Simetri Sumbu simetri adalah garis bayangan yang dibuat menembus pusat kristal, dan bila kristal diputar dengan poros sumbu tersebut sejauh satu putaran penuh akan didapatkan beberapa kali kenampakan yang sama. 2.1.2.1 Sumbu Simetri Gyre Gyre atau sumbu simetri biasa,cara mendapatkan nilai simetrinya adalah dengan memutar Kristal pada porosnya dalam satu putaran penuh. Bila terdapat dua kali kenampakan yang sama dinamakan digire, bila tiga trigire (3), dst. 2.1.2.2. Sumbu Simetri Gyre Polair Simetri Gyre Polair adalah sumbu simetri yang cara mendapatkan nilai simetrinya dengan memutar kristal pada porosnya dan memproyeksikannya pada bidang horisontal. 2.1.2.3 Sumbu Cermin Putar Sumbu cermin putar adalah sumbu simetri yang cara mendapatkan nilai simetrinya dengan memutar kristal pada porosnya dan mencerminkannya melalui pusat kristal. Penulisan nilai simetrinya dengan cara menambahkan bar pada angka simetri itu. Bila tiga tribar (3), empat tetrabar (4), dst. 2.1.3 Pusat Simetri Suatu kristal dikatakan mempunyai pusat simetri bila dalam kristal tersebutdapat dibuat garis bayangan tiap-tiap titik pada permukaan kristal menembus pusat kristal dan akan menjumpai titik yang lain pada permukaan di sisi yang lain dengan jarak yang sama terhadap pusat kristal pada garis bayangan tersebut Semua Kristal memiliki pusat Kristal, namun belum tentu memiliki sumbu simetri. 2.2. Herman-Mauguin Dalam pembagian Sistem kristal, ada 2 simbolisasi yang sering digunakan. Yaitu Herman-Mauguin dan Schoenflish. Simbolisasi tersebut adalah simbolisasi yang dikenal secara umum (simbol Internasional). Simbol Herman-Mauguin adalah simbol yang menerangkan ada atau tidaknya bidang simetri dalam suatu kristal yang tegak lurus terhadap sumbu-sumbu utama dalam kristal tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan mengamati sumbu dan bidang yang ada pada kristal tersebut. Pemberian simbol Herman-Mauguin ini akan berbeda pada masing-masing kristal. Dan cara penentuannya pun berbeda pada tiap Sistem Kristal. 1. Sistem Isometrik • Bagian 1 : Menerangkan nilai sumbu utama, mungkin bernilai 2, 4, atau 4. • Bagian 2 : Menerangkan Sumbu tambahan pada arah 111, apakah bernilai 3 atau 3. • Bagian 3 : Menerangkan sumbu tambahan bernilai 2 atau tidak bernilai yang memiliki arah 110 atau arah lainnya yang terletak tepat diantara dua buah sumbu utama. 2. Sistem Tetragonal • Bagian 1 : Menerangkan nilai sumbu c, mungkin mungkin bernilai 4 atau 4. • Bagian 2 : Menerangkan nilai sumbu utama horizontal. • Bagian 3 : Menerangkan nilai sumbu tambahan yang terletak tepat diantara dua sumbu utama lateral. 3. Sistem Hexagonal dan Trigonal • Bagian 1 : Menerangkan nilai sumbu c, mungkin bernilai 6 atau 3. • Bagian 2 : Menerangkan nilai sumbu utama horizontal. • Bagian 3 : Menerangkan ada tidaknya nilai sumbu tambahan yang terletak tepat diantara dua sumbu utama horizontal, berarah 1010. 4. Sistem Orthorhombik Terdiri atas tiga bagian, yaitu dengan menerangkan nilai sumbu-sumbu utama dimulai dari sumbu a, b, dan kemudian c. 5. Sistem Monoklin Pada sistem ini hanya terdiri dari satu bagian, yaitu hanya menerangkan nilai sumbu b. 6. Sistem Triklin Untuk sistem ini hanya mempunyai dua kelas simetri yang menerangkan keterdapatan pusat simetri kristal. Keseluruhan bagian tersebut diatas harus diselidiki ada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus terhadap sumbu yang dianalisa. Jika ada, maka penulisan nilai sumbu diikuti dengan huruf “m” (bidang simetri) dibawahnya. Kecuali untuk sumbu yang bernilai satu ditulis dengan “m” saja. Berikut ini adalah beberapa contoh penulisan simbol Herman-Mauguin dalam pendeskripsian kristal : 1. 2. 6/m 6 : Sumbu simetri bernilai 6 dan terhadapnya terdapat bidang simetri yang tegak lurus. : Sumbu simetri bernilai 3, namun tidak ada bidang simetri yang tegak lurus terhadapnya. 3. m : Sumbu simetri bernilai 1 atau tidak bernilai dan terhadapnya terdapat bidang simetri yang tegak lurus. 2.3. Schoenflish Simbolisasi Scoenflish digunakan untuk menandai atau memberi simbol pada unsurunsur simetri suatu kristal. Seperti sumbu-sumbu dan bidang-bidang simetri. Simbolisasi Schoenflish akan menerangkan unsur-unsur tersebut dengan menggunakan huruf-huruf dan angka yang masing-masing akan berbeda pada setiap kristal. Berbeda dengan Herman-Mauguin yang pemberian simbolnya berbeda-beda pada masing-masing sistemnya, pada Schoenflish yang berbeda hanya pada sistem Isometrik. Sedangkan system-sistem yang lainnya sama cara penentuan simbolnya. 1. 2. 1. Sistem Isometrik Pada sistem ini, simbolisasi yang dilakukan hanya terdiri dari 2 bagian, yaitu : Bagian 1 : Menerangkan nilai sumbu c, apakah bernilai 2 atau 4. Bila bernilai 4, maka dinotasikan dengan huruf O (Octaheder) Bila bernilai 2, maka dinotasikan dengan huruf T (Tetraheder) a. b. c. d. Bagian 2 : Menerangkan keterdapatan bidang simetri. Jika mempunyai bidang simetri horizontal, vertikal dan diagonal. Maka diberi notasi huruf h. Jika mempunyai bidang simetri horizontal dan vertikal. Maka diberi notasi huruf h. Jika mempunyai bidang simetri vertikal dan diagonal. Maka diberi notasi huruf v. Jika hanya mempunyai bidang simetri diagonal. Maka diberi notasi huruf d. 2. Sistem Tetragonal, Hexagonal, Trigonal, Rombhik, Monoklin dan Triklin Pada sistem-sistem ini, simbolisasi Schoenflish yang dilakukan terdiri dari 3 bagian, yaitu : Bagian 1 : Menerangkan nilai sumbu lateral atau sumbu tambahan, ada 2 kemungkinan : 1. Kalau bernilai 2, maka dinotasikan dengan huruf D (Diedrish) 2. Kalau tidak bernilai, maka dinotasikan dengan huruf C (Cyklich) Bagian 2 : Menerangkan nilai dari sumbu c. penulisan dilakukan dengan menuliskan nilai angka nilai sumbu c tersebut didepan huruf D atau C (dari bagian 1) dan ditulis agak kebawah. Bagian 3 : Menerangkan keterdapatan bidang simetri. Penulisan dilakukan dengan menuliskan huruf yang sesuai sejajar dengan huruf dari bagian 1. 1. Jika mempunyai bidang simetri horizontal, vertikal dan diagonal, maka dinotasikan dengan huruf h. 2. Jika mempunyai bidang simetri horizontal dan vertikal, maka dinotasikan dengan huruf h. 3. Jika mempunyai bidang simetri vertikal dan diagonal. Maka dinotasikan dengan huruf v. 4. Jika hanya mempunyai bidang simetri diagonal saja. Maka dinotasikan dengan huruf d. Tabel 2.1 Contoh Simbolisasi Schoenflish No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kelas Simetri Hexotahedral Ditetragonal Bipyramidal Hexagonal Pyramidal Trigonal Pyramidal Rhombik Pyramidal Rhombik Dipyramidal Rhombik Disphenoidal Domatic Pinacoidal Pedial Notasi (Simbolisasi) Oh D4h D6h C3v C2v C2h C2 Cv C C 2.3.1. Notasi Schoenfish Dalam notasi Schoenfish, grup titik ditandai dengan suatu simbol huruf yang mempunyai indeks. Arti dari simbol-simbol tersebut adalah :  Huruf O (untuk oktahedral) menandakan grup tersebut mempunyai simetri dari sebuah oktahedral (atau kubus), dengan (Oh) atau tanpa (O) operasi tidak pantas (yang mengubah ulinan).  Huruf T (untuk tetrahedral) menandakan bahwa grup tersebut mempunyai simetri dari sebuah tetrahedral. Td memasukan operasi tidak pantas, sedangkan T tidak, dan Th adalah T dengan penambahan suatu invers.  C (untuk cyclic) menandakan bahwa grup tersebut mempunyai n-kali sumbu rotasi. Cnh adalah Cn dengan penambahan bidang cermin yang tegak lurus terhadap sumbu rotasi. Cnv adalah Cndengan penambahan bidang cermin yang paralel dengan sumbu rotasi.  Sn (untuk Spiegel, bahasa Jerman dari cermin) menandakan sebuah grup yang hanya mempunyai sebuah n-kali sumbu rotasi-pencerminan.  Dn (untuk dihedral, atau dua sisi) menandakan grup tersebut mempunyai n-kali sumbu rotasi ditambah dua sumbu yang tegak lurus dengan sumbu tersebut. Dnh mempunyai, sebagai tambahan, sebuah bidang cermin yang tegak lurus terhadap sumbu n-kali. Dnv mempunyai, sebagai tambahan dari elemen Dn, bidang cermin yang paralel dengan sumbu sumbu n-kali. 2.4. Indeks Miller-Weiss Indeks Miller dan Weiss adalah salah satu indeks yang sangat penting, karena indeks ini digunakan pada ancer semua ilmu matematika dan struktur kristalografi. Indeks Miller dan Weiss pada kristalografi menunjukkan adanya perpotongan sumbu-sumbu utama oleh bidang-bidang atau sisi-sisi sebuah kristal. Nilai-nilai pada indeks ini dapat ditentukan dengan menentukan salah satu bidang atau sisi kristal dan memperhatikan apakah sisi atau bidang tersebut memotong sumbu-sumbu utama (a, b dan c) pada kristal tersebut. Selanjutnya setelah mendapatkan nilai perpotongan tersebut, langkah yang harus dilakukan selanjutnya adalah menentukan nilai dari indeks Miller dan Weiss itu sendiri. Penilaian dilakukan dengan mengamati berapa nilai dari perpotongan sumbu yang dilalui oleh sisi atau bidang tersebut. Tergantung dari titik dimana sisi atau bidang tersebut memotong sumbu-sumbu kristal. Pada dasarnya, indeks Miller dan Weiss tidak jauh berbeda. Karena apa yang dijelaskan dan cara penjelasannya sama, yaitu tentang perpotongan sisi atau bidang dengan sumbu simetri kristal. Yang berbeda hanyalah pada penentuan nilai indeks. Bila pada Miller nilai perpotongan yang telah didapat sebelumnya dijadikan penyebut, dengan dengan nilai pembilang sama dengan satu. Maka pada Weiss nilai perpotongan tersebut menjadi pembilang dengan nilai penyebut sama dengan satu. Untuk indeks Weiss, memungkinkan untuk mendapat nilai indeks tidak terbatas, yaitu jika sisi atau bidang tidak memotong sumbu (nilai perpotongan sumbu sama dengan nol). Dalam praktikum laboratorium Kristalografi dan Mineralogi jurusan Teknik Geologi, ITM, disepakati bahwa nilai tidak terbatas ( ~ ) tersebut digantikan dengan atau disamakan dengan tidak mempunyai nilai (0). Indeks Miller-Weiss ini juga disebut sebagai sistim bentuk. Hal ini adalah karena indeks ini juga akan mencerminkan bagaimana bentuk sisi-sisi dan bidang-bidang yang ada pada kristal terhadap sumbu-sumbu utama kristalnya dan mempermudah dalam mengetahui perpotongan antar sumbu. BAB III SISTEM KRISTAL DAN DESKRIPSI 3.1. Sistem Isometrik Gambar 3.1 Sistem Isometrik mineral copper Sistem ini juga disebut regular, atau bahkan sering dikenal sebagai kubus atau kubik. Jumlah sumbu kristalnya ada 3 dan saling tegak lurus satu dengan yang lainnya. Dengan perbandingan panjang yang sama untuk masing-masing sumbunya. Pada kondisi sebenarnya, sistem Isometrik memiliki axial ratio (perbandingan sumbu a = b = c, yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = γ = 90˚. Hal ini berarti, pada sistem ini, semua sudut kristalografinya ( α , β dan γ ) tegak lurus satu sama lain (90˚). Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem Isometrik memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 3. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c juga ditarik garis dengan nilai 3 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30˚ terhadap sumbu bˉ. Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Isometrik ini adalah gold, copper, pyrope, platinum, halite dan spinel. 3.2. Sistem Tetragonal. Gambar 3.2. sistem tetragonal mineral apatite Sama dengan sistem Isometrik, sistem ini mempunyai 3 sumbu kristal yang masing-masing saling tegak lurus. Sumbu a dan b mempunyai satuan panjang sama. Sedangkan sumbu c berlainan, dapat lebih panjang atau lebih pendek. Tapi pada umumnya lebih panjang. Pada kondisi sebenarnya, sistim Tetragonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b ≠ c , yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b tapi tidak sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = γ = 90˚. Hal ini berarti, pada ini, semua sudut kristalografinya ( α , β dan γ ) tegak lurus satu sama lain (90˚). Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, Tetragonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30˚ terhadap sumbu bˉ. Beberapa contoh mineral dengan kristal Tetragonal ini adalah zircon, beryl, apatite, erionite dan nepheline. 3.3. Sistem Hexagonal Gambar 3.3 Sistem Hexagonal mineral quarsa Sistem ini mempunyai 4 sumbu kristal, dimana sumbu c tegak lurus terhadap ketiga sumbu lainnya. Sumbu a, b, dan d masing-masing membentuk sudut 120˚ terhadap satu sama lain. Sambu a, b, dan d memiliki panjang sama. Sedangkan panjang c berbeda, dapat lebih panjang atau lebih pendek (umumnya lebih panjang). Pada kondisi sebenarnya, sistim Hexagonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b = d ≠ c , yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu d, tapi tidak sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ; γ = 120˚. Hal ini berarti, pada sistim ini, sudut α dan β saling tegak lurus dan membentuk sudut 120˚ terhadap sumbu γ. Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, Hexagonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 20˚ ; dˉ^b+= 40˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 20˚ terhadap sumbu bˉ dan sumbu dˉ membentuk sudut 40˚ terhadap sumbu b+. Beberapa contoh mineral sistim kristal Hexagonal ini : quarsa. 3.4. Sistem Trigonal. Gambar 3.4. Sistem Trigonal mineral gypsum Sistem ini mempunyai 4 sumbu kristal, dimana sumbu c tegak lurus terhadap ketiga sumbu lainnya. Sumbu a, b, dan d masing-masing membentuk sudut 120˚ terhadap satu sama lain. Sambu a, b, dan d memiliki panjang sama. Sedangkan panjang c berbeda, dapat lebih panjang atau lebih pendek (umumnya lebih panjang). Pada kondisi sebenarnya, sistim Hexagonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b = d ≠ c , yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu d, tapi tidak sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ; γ = 120˚. Hal ini berarti, pada sistim ini, sudut α dan β saling tegak lurus dan membentuk sudut 120˚ terhadap sumbu γ. Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, Hexagonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 20˚ ; dˉ^b+= 40˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 20˚ terhadap sumbu bˉ dan sumbu dˉ membentuk sudut 40˚ terhadap sumbu b+. Beberapa contoh mineral sistim kristal Hexagonal ini : gypsum. 3.5. Sistem Orthorhombik. Gambar 3.5 Sistem Orthorhombik mineral aragonite Sistem ini disebut juga Rhombis dan mempunyai 3 sumbu simetri kristal yang saling tegak lurus satu dengan yang lainnya. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang yang berbeda.Pada kondisi sebenarnya, Orthorhombik memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = γ = 90˚. Hal ini berarti ketiga sudutnya saling tegak lurus (90˚). Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, Orthorhombik memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistim ini. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30˚ terhadap sumbu bˉ. Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Orthorhombik ini adalah brite, celestite, aragonite, cerussite, dan witherite 5. Sistem Orthorhombik Sistem ini disebut juga sistem Rhombis dan mempunyai 3 sumbu simetri kristal yang saling tegak lurus satu dengan yang lainnya. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang yang berbeda. Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Orthorhombik memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = γ = 90˚. Hal ini berarti, pada sistem ini, ketiga sudutnya saling tegak lurus (90˚). Gambar 5 Sistem Orthorhombik Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem Orthorhombik memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30˚ terhadap sumbu bˉ. Sistem ini dibagi menjadi 3 kelas:  Bisfenoid  Piramid  Bipiramid Beberapa contoh mineral denga sistem kristal Orthorhombik ini adalah stibnite, chrysoberyl, aragonite dan witherite (Pellant, chris. 1992) 3.6. Sistem Monoklin Gambar 3.6. sistem monoklin mineral malachite Monoklin artinya hanya mempunyai satu sumbu yang miring dari tiga sumbu yang dimilikinya. Sumbu a tegak lurus terhadap sumbu n, n tegak lurus terhadap sumbu c, tetapi sumbu c tidak tegak lurus terhadap sumbu a. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang yang tidak sama, umumnya sumbu c yang paling panjang dan sumbu b paling pendek. Pada kondisi sebenarnya, Monoklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. Juga memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ≠ γ. Hal ini berarti sudut α dan β saling tegak lurus (90˚), sedangkan γ tidak tegak lurus (miring). Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, Monoklin memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu- sumbunya pada ini. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 45˚ terhadap sumbu bˉ.Beberapa contoh mineral dengan sistim kristal Monoklin ini adalah azurite, kernite, malachite, colemanite dan ferberite. 3.7. Sistem Triklin b Gambar 3.7. Sistem Triklin mineral albite Sistem ini mempunyai 3 sumbu simetri yang satu dengan yang lainnya tidak saling tegak lurus. Demikian juga panjang masing-masing sumbu tidak sama. Pada kondisi sebenarnya, Triklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. Juga memiliki sudut kristalografi α = β ≠ γ ≠ 90˚. Hal ini berarti, pada system ini, sudut α, β dan γ tidak saling tegak lurus satu dengan yang lainnya. Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, Triklin memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada ini. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 45˚ ; bˉ^c+= 80˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 45˚ terhadap sumbu bˉ dan bˉ membentuk sudut 80˚ terhadap c+. Beberapa contoh mineral Triklin ini adalah turquoise, kyanite, albite, microklin dan anorthite. BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan Dengan mempelajari dan melakukan praktikum tentang Kristalografi yang menjadi bagian dari praktikum Kristalografi dan Mineralogi. Dapat saya ambil kesimpulan bahwa betapa pentingnya untuk dapat mengenal, mengetahui dan menguasai ilmu tentang kristal dalam studi Geologi. Karena kristal sendiri adalah merupakan salah satu dasar yang paling penting dalam ilmu Geologi itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan oleh kristal menjadi salah satu dasar untuk mempelajari ilmu tentang mineral yang akan dipelajari pada tahap selanjutnya. Jika tidak menguasai dan mengenal tentang kristal, akan sangat sulit untuk selanjutnya memmahami Mineralogi, dan mineral itu sendiri adalah pembentuk batuan, sedangkan batuan itu adalah inti dari Geologi. Hal ini juga menyebabkan Kristalografi dan Mineralogi menjadi syarat untuk dapat melanjutkan studi pada mata kuliah dan praktikum Petrologi yang akan dipelajari selanjutnya. Selama melakukan praktikum Kristalografi, praktikan diharapkan mampu mengenal, mengklasifikasi, mendeskripsi serta menggambar sketsa dari masingmasing sistim kristal yang ada, yaitu, Isometrik, Tetragonal, Hexagonal, Trigonal, Orthorhombik, Monoklin serta Triklin. Dan tentu saja praktikan diharapkan mampu untuk mengetahui defenisi dari kristal itu sendiri, proses-proses pembentukkannya, dan juga mengetahui unsur yang ada pada kristal itu sendiri. Seperti sumbu simetri, sudut simetri, dan juga bidang simetri. Selain itu praktikan juga harus mengetahui aplikasi dari Kristalografi itu sendiri, khususnya dibidang Geologi. Dalam praktikum Kristalografi yang dilakukan dilaboratorium Kristalografi dan Mineralogi pada jurusan Teknik Geologi, Institut Teknologi Medan. Digunakan proyeksi Orthogonal dalam melakukan penggambaran atau sketsa kristal. Metode penggambaran ini dilakukan dengan menggunakan persilangan sumbu yang akan menghasilkan sketsa tiga dimensi dari kristal. Penggambaran kristal dilakukan sesuai dengan hasil deskripsi kristal yang telah dilakukan. Pendeskripsian dilakukan dengan langkahlangkah menentukan jumlah ancer-unsur simetri, kelas simetri, simbolisasi Herman-Mauguin, simbolisasi Schoenflish, indeks Miller-Weiss serta menentukan nama bentuk kristal dan contoh-contoh mineralnya. Setelah mempelajari dan melakukan praktikum Kristalografi, diharapkan untuk kedepannya dalam mempelajari Mineralogi akan dapat lebih mudah dengan memiliki dasar-dasar yang telah didapat pada Kristalografi. 4.2. Saran Selama mempelajari dan melakukan praktikum Kristalografi, telah banyak yang dapat kita pelajari. Baik dalam hal ilmu tentang kristal itu sendiri pada khususnya serta tentang aplikasi dan manfaatnya dalam bidang Geologi dan juga dikehidupan sehari-hari. Dalam melakukan praktikum Kristalografi, dapat kita sadari bersama ada beberapa kekurangan yang cukup menghambat berjalannya proses praktikum. Salah satu yang paling dapat dirasakan adalah kurangnya jumlah sampel kristal yang ada dilaboratorium Kristalografi dan Mineralogi. Maka diharapkan agar kedepannya kekurangan tersebut dapat ditutupi sehingga proses praktikum yang dilakukan dapat berjalan . Dan satu hal lagi yang juga perlu diperhatikan adalah waktu praktikum yang kadang tidak tepat pada waktunya. Diharapkan agar untuk kedepannya kita dapat sama-sama untuk menjaga hal tersebut agar tidak terulang atau paling tidak dikurangi. Dengan begitu diharapkan praktikum yang dilakukan dapat lebih baik lagi. Namun pada dasarnya, diluar kekurangan-kekurangan yang ada. Praktikum yang dilakukan sudah cukup baik. Dan tentu saja kita semua berharap agar dapat terus lebih baik lagi dimasa depan. 1. Sistem Kubus Sistem kubus ini adalah sistem kristal yang paling simetri Sistem Kubus tersusun atas tiga garis kristal berpotongan yang sama panjang dan sama sudut potong satu sama lain. Sistem ini berbeda dengan sistem lain. Sistem ini sering juga disebut dengan sistem isometric. Kata isometric berarti berukuran sama, terlihat pada struktur tiga dimensinya yang sama simetri.Sering dinamakan sistem kubus karena bentuk umum dari kristalnya berstruktur seperti kubik. Contoh Mineral Sistem Kubic : Spalerit Nama Mineral : Spalerit Rumus kimia : ZnS Berat Jenis (BD) : 3,9-4,1 Sistim Kristal : kubik Belahan : sempurna Warna : merah jingga sampai mendekati hitam Goresan : coklat sampai kuning Kekerasan : 3,5-4 2. Sistem Hexagonal Sistem hexagonal merupakan sistem yang berdasarkan pada satu sumbu utama, dalam. Sistem hexagonal sekilas nampak seperti tetragonal. Sistem heksagonal memuat kelas yang merupakan pencerminan dari sistem tetragonal, Ketiga sumbunya memotong tegak lurus terhadap sumbu utama kristal yang membujur vertical dan disebut a1, a2, dan a3. Perpotongannya simetri membentuk sudut 120o. Contoh Mineral Sistem Hexagonal : Grafit Nama Mineral : Grafit Rumus kimia : G Berat Jenis (BD) : 2,2 Sistim Kristal : heksagonal Belahan : Warna : tanah sampai logam Goresan : hitam Kekerasan : 1-2 3. Sistem Trigonal Sistem trigonal mempunyai tiga sisi perputaran sumbu. Meskipun hanya memiliki tiga sisi putar sumbu,kelas trigonal mengikuti jenis kelas orthorombik dan menyerupai kubah,dan memiliki sudut 120o,sumbu yang lain bisa lebih pendek/panjang. Contoh Mineral Sistem Trigonal : Bismut Nama Mineral : Bismut Rumus kimia : Bi Berat Jenis (BD) : 9,8 Sistim Kristal : Trigonal Belahan : sempurna, baik Warna : putih timah dengan warna merah mudah pucat Goresan : putih Kekerasan : 2-2,5 4. Sistem Tetragonal Sistem tetragonal Hampir sama dengan sistem isometric/Kubic. Perbedaanya, salah satu sumbunya lebih panjang dari pada dua sumbu yang lain. Sumbu yang berbeda ini menjadi sumbu utama, yang disebut juga sumbu c. Sedangkan dua sumbu yang lain sama panjanga dan b. Dalam sistem isometri bentuk kristal dapat dikatakan seperti kubus, namun dalam tetragonal sistem kristal berbentuk umum persegi. Contoh Mineral Sistem Tetragonal : Bornit Nama Mineral : Bornit Rumus kimia : Cu5FeS4 Berat Jenis (BD) : 5,0 Sistim Kristal :tetragonal Belahan : dalam jejak Warna : merah tembaga atau perunggu Goresan : hitam keabu-abuan yang terang Kekerasan : 3 5. Sistem Ortorombik Pada sistem ortorombik, sumbu kristalnya berjumlah tiga buah yang kesemuanya tidak sama panjang dan ketiganya saling berpotongan tegak lurus. Satu sumbu memanjang vertical, yang disebut sumbu c. Sumbu satunya lebih panjang disebut sumbu a.Sumbu ketiganya melintang dari kanan ke kiri yang disebut sumbu b. Contoh Mineral Sistem Ortorombik : Topaz Nama Mineral : Topas Rumus kimia : Al2(SiO4)(F2OH)2 Berat Jenis (BD) : 19,3 Sistim Kristal : ortorombik Belahan : sempurna Warna : bening,kuning, merah mudakebiruan, kehijauan Goresan : Kekerasan : 8 SIFAT FISIK MINERAL DAN PROSES TERBENTUKNYA 1. Klorit Klorit merupakan salah satu mineral silikat termasuk subclasss phyllosilicates. Klorit memiliki rumus kimia Klorit ini merupakan mineral yang sering ditemukan pada batuan metamorf, klorit ini merupakan grup mineral yang terdiri dari 10 mineral, namun dengan istilah klorit dapat menggambarkan kelompok ini secara umum. Klorit ini memiliki ciri khas yang sangat umum yaitu warnanya yang hijau. Klorit pun dikenal sebagai inklusi untuk mineral yang umum lainnya seperti kuarsa, kalsit atau lainnya.  Selain itu sifat fisik dari klorit diantaranya : Warna : Biasanya hijau, tapi juga bisa menjadi putih, kuning, merah, lavender, dan           hitam. Kilap/Luster Transparansi Sistem Crystal Pembelahan Fraktur/Pecahan Kekerasan Berat Jenis Cerat/Streak Sifat Dalam Mineral Asosiasi : Vitreous, kusam atau mutiara. : Kristal bening transparan. : Monoklinik, 2 / m. : Sempurna dalam satu arah : Pipih. : 2 – 3 Skala Mohs : Variabel 2,6-3,4 (rata-rata sedikit di atas rata-rata) : Hijau ke abu-abu atau coklat. : Serpih Pembelahan fleksibel tetapi tidak elastis. : Garnet, biotit, kuarsa, magnetit, talk, serpentin, dan burite, topaz dan kalsit. Klorit ini hanya terdapat pada batuan metamorf sehingga klorit ini merupakan mineral indeks pada batuan metamorf. Klorit ini termasuk dalam fasies greenschist yang terbentuk oleh pengaruh tekanan yang sangat besar. Klorit ini termasuk dalam mineral stress yang dapat bertahan terhadap deformasi batuan yang kuat. Selain itu terbentuk pada suhu 200o-300o C, pada lingkungan yang pHnya mendekati netral serta di daerah yang memiliki permeabilitas yang randah. Klorit termasuk mineral yang memiliki derajat metamorfosa yang tinggi. 2. Mika Mika adalah sebuah grup mineral yang penting. Mika ini tergolong mineral silikat yang termasuk subclass phyllosillicaes. Mika dapat terbentuk di ketiga batuan yaitu batuan beku, batuan sedimen atupun batuan metamorf. Dengan karakteristik yang tipis dan umunya fleksibel atau rapuh mineral ini dapat bertahan dalam proses metamorfik yang dipengaruhi suhu dan tekanan. Mineral mika yang umum dikenal yaitu muskovit, biotit, dan lepidolite, meskipun sebenarnya mika terdiri dari 30 jenis mineral. Mineral mika ini memiliki sifat fisik diantaranya :            Warna Kilap/Luster Transparansi kristal Sistem kristal Belahan Pecahan/Fraktur Kekerasan Berat Jenis Streak Mineral Asosiasi Karakteristik lain : putih, perak, kuning, hijau dan coklat. : kaca. : transparan. : monoklinik, 2 / m : sempurna dalam satu arah memproduksi lembaran tipis atau serpih. : tidak mudah diamati karena belahan tapi tidak merata. : 2 - 2,5. : sekitar 2,8 (rata-rata) : putih. : kuarsa, feldspars, beryl dan tourmalines. : lembaran belahan yang fleksibel dan elastis, yang berarti mereka dapat menjadi bengkok dan akan melenturkan kembali ke bentuk asli Mineral mika ini terbentuk dari pembekuan magma yang mengalami kristalisasi pada suhu yang intermediet atau 1000o C sehingga tebentuk pada batuan beku, ketika tekumpul atau terakumulasi setelah menjadi materi sedimen akan berada pada batuan sedimen, dan pada batuan metamorf dapat ditemukan karena mineral ini tahan terhadap proses metamorfosanya sehingga dapat ditemukan di batuan metamorf. 3. Staurolit Staurolit ini merupakan salah satu mineral silikat dan termasuk subclass nesosillicates.Straurolit memiliki rumus kimia . Mineral Staurolit ini merupakan mineral yang sering dijumpai pada batuan metamorf. Staurolit ini sering digunakan sebagai indicator menentukan derajat metamorfosa bagi para ahli geologi. Staurolit memiliki ciri khas yaitu bentuknya yang menyerupai salib. Mineral Staurolit ini           memiliki sifat fisik diantaranya : Warna : Coklat kemerahan, coklat, dan hitam. Kilap/Luster : Vitreous ke resin untuk kusam. Transparansi : Kristal yang tembus ke buram. Sistem kristal : Monoklinik, 2 / m Pembelahan : Satu arah Pecahan/Fraktur : tidak merata untuk conchoidal Kekerasan : 7-7,5 Berat Jenis : 3,7-3,8 Streak : Putih Mineral Assosiasi : Almandine, micas, kyanite dan mineral metamorf lainnya. Staurolit ini sering ditemukan pada batuan metamorf, Staurolit ini terbentuk oleh pengaruh dominan dari tekanan yang sangat besar, dan biasa ditemukan pada batuan yang mengalami deformasi yang kuat atau termasuk dalam mineral stress. Staurolit ini termasuk mineral yang memiliki derajat meramorfosa yang tinggi sehingga Staurolit ini dijadikan sebagai indicator derajat metamorfosa suatu batuan. Staurolit ini memiliki kegunaan sebagai indicator derajat metamorfosa dan specimen mineral. 4. Serpentin Serpentin ini termasuk mineral silikat yang termasuk subclass phyllosilicates. Serpentin memiliki rumus kimia . Serpentine sebenarnya adalah nama yang umum diterapkan pada beberapa anggota kelompok polimorfik. Mineral ini memiliki dasarnya kimia yang sama tetapi struktur yang berbeda. Serpentin ini memiliki sifat fisik            diantaranya : Warna : Hijau zaitun, kuning atau keemasan, coklat, atau hitam. Kilap/Luster : Mutiara Transparansi kristal : Tembus dan massa yang buram. Sistem kristal : Umumnya monoklinik. Pembelahan : varietas crysotile tidak memilikinya, dalam lizardite dan antigorite itu baik dalam satu arah. Pecahan/Fraktur : conchoidal di antigorite dan lizardite dan splintery di crysotiles. Kekerasan : 3-4,5 Berat Jenis : 2,2-2,6 Streak : Putih Mineral Asosoasi : Kromit, olivin, garnet, kalsit, biotit dan bedak. Karakteristik lain : halus saat disentuh dan serat sangat fleksibel. Serpentin ini biasa ditemukan pada batuan metamorf seperti gneiss ataupun sekis. Serpentin ini merupakan salah satu mineral indeks dari batuan metamorf. Serpentin ini terbentuk karena proses metamorfik yang dipengaruhi oleh faktor suhu dan tekanan. Serpentin ini memiliki kegunaan sebagai aplikasi industri, termasuk pelapis rem dan kain tahan api dan sebagai batu hias. 5. Garnet Garnet merupakan kelompok mineral silikat yang memiliki rumus kimia Al3B2(SiO4)3. Mineral garnet ini bukan mineral tunggal tetapi mineral kelompok. Garnet bukan mineral tunggal, tetapi kelompok berisi terkait erat, mineral isomorf yang membentuk serangkaian satu sama lain. Para anggota Garnet membentuk mineral perantara antara setiap anggota, dan bahkan mungkin intergrow dalam kristal tunggal. Mineral garnet berbeda sedikit dalam sifat fisik, dan beberapa anggota mungkin sangat mirip bahwa mereka bisa dibedakan dari satu sama lain tanpa x-ray analisis. The garnet umum dapat dibagi menjadi dua sub kelompok: Kelompok 1: garnet mengandung aluminium (Al) sebagai elemen kedua mereka. Ini termasuk Pyrope, Almandine, dan Spessartine. ("Pyralspite") Kelompok 2: garnet mengandung kalsium (Ca) sebagai elemen pertama mereka. Ini termasuk Uvarovite, Grossular, dan Andradite. ("Ugrandite"). Mineral garnet ini memiliki            sifat fisik yang dapat membantu mengidentifikasi diantaranya : Warna : Hijau, merah, ungu Kilap/Luster : Kaca Transparansi kristal : Transparan menjadi buram Transparansi Sistem kristal : Isometrik tetapi bervariasi dalam komposisi kimia dan sifat-sifat fisiknya. Berat Jenis : Pembelahan Mungkin menunjukkan perpisahan. Pembelahan : Tidak ada Pecahan/Fraktur : Fraktur Conchoidal untuk tidak merata Kekerasan : 6,5-7,5 Berat Jenis : 3,5-4,3 Streak : Putih Karakteristik lain : Rapuh Mineral garnet ini dapat ditemukan pada jenis batuan metamorf. Kelompok mineral garnet ini biasa ditemukan pada batuan metamorf khususnya pada gneiss dan sekis. Kelompok mineral garnet ini terbentuk secara malihan (metamorfik) yang pembentukkannya dipengaruhi oleh suhu dan tekanan. Garnet terbentuk pada suhu yang tinggi sekitar 400 o1000o C dan tekanan yang sangat tinggi (1,2 GPa) sehingga bisa digolongkan sebagai mineral yang memiliki derajat metamorfisme yang sangat tinggi. memiliki kegunaan sebagai perhiasan karena bentuk dan warna yang unik sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. 6. Silimanit Silimanit memiliki rumus kimia , merupakan mineral silikat yang termasuk subclass nesosillicates. Silimanit merupakan polymorph dari andalusit dan kyanit. Silimanit           merupakan mineral resmi negara Delaware. Silimanit memiliki sifat fisik diantaranya : Warna : Putih, coklat dan hijau. Luster : Halus ketika berserat atau vitreous sebaliknya. Transparansi kristal : Transparan. Sistem kristal : Ortorombik; 2/m2/m2/m Pembelahan : Baik dalam satu arah memanjang. Fraktur : Splintery. Kekerasan : 7,5 Berat Jenis : Sekitar 3,2 + (di atas rata-rata) Streak : Putih. Mineral Asosiasi : Garnet, biotit, feldspars, kuarsa, kyanite dan andalusite.  Karakteristik lain : serat yang rapuh membedakan mereka dari mineral asbes. Silimanit merupakan salah satu mineral yang sering ditemukan pada batuan metamorf karena silimanit ini salah satu indeks pada batuan metamorf. Silimanit ini memiliki derajat metamorfosa yang tergolong tinggi karena terbentuk pada tekanan yang tinggi. Silimanit juga dapat bertahan terhadap deformasi yang kuat atau termasuk stress mineral. 7. Andalusit Andalusit adalah mineral yang ditemukan di Negara Spanyol tepatnya di daerah Andalusia, jadi nama mineral ini pun disesuaikan dengan tempat dimana ia ditemukan. Andalusit memiliki rumus kimia , Andalusit ini merupakan mineral silikat yang      termasuk kelas nesosillicates. Andalusit ini memiliki sifat fisik diantaranya : Warna : Putih, merah, coklat, oranye dan hijau. Luster : Vitreous atau seperti serabut. Transparansi kristal : Transparan. Sistem kristal : Ortorombik; 2/m2/m2/m Kebiasaan kristal : termasuk kristal prisma dengan penampang persegi diakhiri oleh        sebuah pinacoid. juga besar dan granular. Pembelahan : Dua arah. Fraktur : Splintery untuk subconchoidal. Kekerasan : 7,5 Berat Jenis : sekitar 3,15 + (di atas rata-rata) Streak : Putih. Mineral Asosiasi : Kordierit, biotit, feldspars, kuarsa, kyanite dan sillimanite. Karakteristik lain : inklusi gelap menghasilkan bentuk salib dalam berbagai chiastolite. Indeks bias adalah 1,632-1,638. Andalusit ini merupakan salah satu dari mineral indeks pada batuan metamorf. Andalusit ini terbentuk pada batuan yang tidak mengalami deformasi yang kuat atau terkena tekanan yang besar, sering disebut sebagai jenis antistress. Terbentuknya mineral andalusit ini dipengaruhi oleh faktor yang dominan yaitu tekanan. 8. Aktinolit Aktinolit memiliki rumus kimia , tergolong mineral silikat dan termasuk subclass Inosillicates. Aktinolit ini sendiri merupakan mineral yang umum terdapat pada batuan metamorf. Aktinolit ini mineral yang sangat unik karena memiliki kekhasan dalam penyusunnya berupa seart yang biasa disebut byssolite. Selain itu kemiripan dengan mineral lain pun kadang membingungkan keberadaan mineral aktinolit, seperti hampir sama dengan hornblend hanya dibedakan oleh transparansinya. Mineral      aktinolit memiliki sifat fisik diantaranya : Warna : Hijau.putih atau abu-abu. Luster : Vitreous atau berserat. Transparansi : Transparan. Sistem kristal : Monoklinik, 2 / m Kebiasaan kristal : termasuk kristal prismatik memanjang dan diratakan dengan penghentian kubah seperti itu sebenarnya merupakan dua dari empat wajah prisma. Juga sebagai massa berserat (asbes) dan sebagai massa berserat dan sangat kompak (giok  nephrite). Pembelahan : adalah sempurna dalam dua arah mendekati 60 - dan 120-derajat       sudut. Fraktur Kekerasan Berat Jenis Streak Mineral terkait Lain Karakteristik : Splintery untuk tidak merata. : 5,5 - 6. : sekitar 2,9-3,3 (sangat sedikit di atas rata-rata untuk mineral tembus). : Putih. : Kuarsa, lawsaonite, epidot dan glaukofan. : Nephrite kompak sangat sulit dan sebenarnya lebih kuat dari baja. Aktinolit ini merupakan mineral index pada batuan metamorf. Aktinolit ini teerbentuk pada fasies metamorfisme yaitu greenschist fasies yang merupakan fasies yang pembentukannya dipengaruhi oleh tekanan. Aktinolit ini termasuk dalam derajat metamorfisme yang menengah yang terbentuk pada tekanan yang tertentu saat proses metamorfismenya. Aktinolit ini termasuk dalam jenis antistress, Aktinolit ini tidak ditemukan pada batuan yang terdeformasi dengan kuat. 9. Kianit Kianit merupakan salah satu mineral silikat yang termasuk dalam kelas nesosillicates. Kianit memiliki rumus kimia . Kianit adalah sebuah polymorph dari silimanit dan  andalusit. Kianit memiliki sifat fisik yang khas untuk pengidentifikasian diantaranya : Warna : biru biasanya tapi juga bisa menjadi putih, abu-abu atau hijau. Warna ini     sering tidak konsisten sepanjang kristal dan dapat bernoda kotor atau coretan. Kilap/Luster : Vitreous ke hampir mutiara. Transparansi kristal : Transparan. Sistem kristal : Triklinik; bar 1 Kebiasaan kristal : termasuk datar, pinacoid didominasi, kristal prismatik sering tertanam  dalam batuan metamorf dan urat kuarsa Pembelahan : yang baik dalam satu arah sejajar dengan wajah pinacoid datar   Pecahan/Fraktur Kekerasan    sekitar 6,5 ketika tergores atau tegak lurus di sumbu panjang Berat Jenis : Sekitar 3,58 + (di atas rata-rata) Streak : Putih. Mineral Asosiasi : Biotit, staurolite, garnet, kuarsa, andalusite dan sillimanite. Kianit ini memiliki keunikan pada kekerasannya yang bisa berbeda antar : Splintery. : Sekitar 4,5 ketika tergores sejajar dengan sumbu panjang kristal dan spesimennya. Hal inilah yang dapat dijadikan sebagai salah satu aspek dalam pengidentifikasiannya di lapangan. Kianit ini sering ditemukan pada batuan metamorf, kianit ini terbentuk oleh pengaruh dominan dari tekanan yang asngat besar, dan biasa ditemukan pada batuan yang mengalami deformasi yang kuat. Kianit ini termasuk mineral yang memiliki derajat meramorfosa yang tinggi. 10. Kordierit Kordierit memiliki rumus kimia      , tergolong mineral silikat yang termasuk subclass Cyclosillicates. Kordierit memiliki sifat fisik diantaranya : Warna : biasanya biru, ungu, abu-abu, coklat atau berwarna Luster : vitreous. Transparansi kristal : transparan. Sistem kristal : ortorombik, 2 / m 2 / m 2 / m Kebiasaan kristal : termasuk kristal prismatik langka tapi biasanya besar, atau dalam bijibijian kompak tertanam dalam sekis malihan dan gneisses. Juga ditemukan sebagai kerikil        dan biji-bijian dalam deposito aluvial Pembelahan : satu arah. Fraktur : subconchoidal. Kekerasan : 7-7,5 Berat Jenis : sekitar 2,3 (cahaya) Streak : putih. Karakteristik lain : sangat pleochroic (menampilkan berbagai warna dari biru-violet untuk abu-abu atau berwarna), indeks bias adalah 1,52-1,57 Mineral terkait : Almandine, korundum, andalusite, biotit dan feldspars Kordierit ini merupakan salah satu dari mineral indeks pada batuan metamorf. Kordierit ini terbentuk pada batuan yang tidak mengalami deformasi yang kuat atau terkena tekanan yang besar, sering disebut sebagai jenis antistress. Terbentuknya mineral kordierit ini dipengaruhi oleh faktor yang dominan yaitu tekanan. Korsierit memiliki derajat metamorfosa yang tergolong tinggi. 11. Tremolit Mineral Tremolit adalah salah satu mineral yang termasuk mineral silikat. Mineral Tremolite ini memiliki rumus kimia adalah mineral yang relatif umum ditemukan di beberapa batuan metamorf. Umumnya terdapat pada batuan sekis ataupun batuan marmer. Mineral ini biasa dijumpai dengan warna putih ketika tidak terdapat unsur besi (Fe) sedangkan hijau ketika terdapat unsur besi (Fe), semakin banyak unsur besi (Fe) maka warnanya akan semakin gelap. Mineral tremolit ini memiliki sifat fisik yang membantu  dalam pengidentifikasiaannya diantaranya : Warna : Putih atau abu-abu tetapi dapat kehijauan, tidak berwarna, kuning dan     ungu. Luster/Kilap Transparansi Sistem Crystal Belahan : Vitreous atau halus untuk kusam. : Spesimen yang tembus ke transparan. : Monoklinik, 2 / m : Sempurna dalam dua arah mendekati 60 - dan 120-derajat sudut     (berbentuk berlian). Fraktur/Pecahan Kekerasan Berat Jenis Streak/Cerat : Tidak merata. : 5 – 6 dalam skala Mohs : Sekitar 2,9-3,1 (sangat sedikit di atas rata-rata untuk mineral tembus). : Putih Mineral Tremolite ini biasa ditemukan dalam Batuan Metamorf terutama batuan sekis dan marmer. Hal ini terjadi dari konversi dolomit, silika dan air ke tremolite, kalsit dan karbon dioksida. Dengan rumus : + + Tremolit ini merupakan mineral index pada batuan metamorf. Tremolit ini teerbentuk pada fasies metamorfisme yaitu greenschist fasies yang merupakan fasies yang pembentukannya dipengaruhi oleh tekanan. Tremolit ini termasuk dalam derajat metamorfisme yang menengah yang terbentuk pada tekanan yang tertentu saat proses metamorfismenya. Tremolit ini termasuk dalam jenis antistress, tremolit ini tidak ditemukan pada batuan yang terdeformasi dengan kuat. 12. Epidot Epidot adalah salah satu mineral silikat yang termasuk subclass sorosillicates. Epidot memiliki rumus kimia  . Epidot memiliki sifat fisik untuk mengidentifikasinya diantaranya : Warna : kekuningan-hijau, hijau, coklat-hijau, hitam         Lustre : Vitreous, Pearly Transparansi : Transparan, Buram Kristal Sistem: monoklinik 2 / m – prisma Pembelahan : Perfect Fraktur : tidak teratur / tidak rata Streak : tak berwarna Kekerasan (Mohs) : 6 Sifat Dalam : Rapuh Epidot ini juga adalah salah satu mineral index dari batuan metamorf. Mineral ini juga sebagai indicator dari derajat metamorfisme. Mineral epidot ini terbentuk oleh faktor suhu yang dominan atau metamorfosa kontak. Epidot ini terbentuk pada suhu yang ekstrem, terbentuk karena aliran magma yang melewati diatas mineral tersebut yaitu sebesar 300 o-700o C. Selain pengaruh suhu ada juga pengaruh senyawa kimia. DAFTAR PUSTAKA http://alfonsussimalango.blogspot.com/2009/11/makalah.html (diakses pada Minggu 15 April 2012, pukul 14.16) http://diajengsurendeng.blogspot.com/2012/01/facies-metamorfosis-dan-index-mineral.html (diakses pada Minggu 15 April 2012, pukul 14.32) http://febryirfansyah.wordpress.com/2009/08/14/petrologi-batuan-metamorf/ (diakses pada Minggu 15 April 2012, pukul 14.20) http://www.galleries.com/Actinolite (diakses pada Kamis 12 April 2012, pukul 23.16) http://www.galleries.com/Andalusite (diakses pada Kamis 12 April 2012, pukul 23.20) http://www.galleries.com/Chlorite (diakses pada Kamis 12 April 2012, pukul 23.28) http://www.galleries.com/Cordierite (diakses pada Kamis 12 April 2012, pukul 23.36) http://www.galleries.com/Kyanite (diakses pada Jum’at 13 April 2012, pukul 20.52) http://www.galleries.com/Mica (diakses pada Minggu 12 April 2012, pukul 12.12) http://www.galleries.com/Serpentine (diakses pada Kamis 12 April 2012, pukul 23.50) http://www.galleries.com/Sillimanite (diakses pada Kamis 12 April 2012, pukul 00.09) http://www.galleries.com/Staurolite (diakses pada Kamis 12 April 2012, pukul 23.12) http://www.minerals.net/mineral/actinolite.aspx (diakses pada Jum’at 13 April 2012, pukul 20.16) http://www.minerals.net/mineral/chlorite.aspx (diakses pada Jum’at 13 April 2012, pukul 20.20) http://www.minerals.net/mineral/epidote.aspx (diakses pada Sabtu 14 April 2012, pukul 22.15) www.mineralminers.com/html/garminfo.htm (diakses pada Sabtu 14 April 2012, pukul 22.56) www.mineralzone.com/garnet.htm (diakses pada Sabtu 14 April 2012, pukul 22.148)

Dokumen baru