Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur).

 3  12  379  2017-05-18 15:17:14 Report infringing document
MODEL PENYEDIAAN AIR BERSIH BERKELANJUTAN DI PULAU KECIL (STUDI KASUS : PULAU TARAKAN, KALIMANTAN TIMUR) EMIL AZMANAJAYA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Model Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan di Pulau Kecil (Studi Kasus : Pulau Tarakan, Kalimantan Timur) adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini. Bogor, Agustus 2012 Emil Azmanajaya NIM. P062090121 ABSTRACT EMIL AZMANAJAYA. Sustainable Water Supply Modelling in Small Island (Case Study : Tarakan Island, East Kalimantan). Under direction of SURJONO H. SUTJAHJO, ASEP SAPEI, D. DJOKOSETIYANTO, and BAMBANG PRAMUDYA N. This research was conducted in all areas of water services of Tarakan Island that is West Tarakan, Central Tarakan, East Tarakan and North Tarakan, in October 2010 to October 2011. The main objective of this research is to build a model of sustainable water supply in the small island of Tarakan City with the scope of the study. To achieve these goals, then do some studies, that are : (1) analysis of water needs for domestic, industrial and hospitality, (2) analysis of water availability based on service taps and clean water naturally through augmentation of ground water, (3) analysis of the sustainability of water supply, (4) to design strategies for water supply, and (5) to design a model for water supply. Water demand analysis method is done by projecting development of population growth, industrial and hotel in the city of Tarakan. Analysis of services water is done by calculating the capacity of water treatment plant service taps, analysis of natural water availability is done by increasing ground water augmentation through rain water conservation with infiltration wells, reforestation and terracing. Analysis of the sustainability of water supply using the method of multidimensional scaling (MDS) called RAP-TARAKAN, Montecarlo analysis and prospective analysis. Analysis of water supply strategies performed using the method of analytical hierarchy process (AHP), SWOT analysis and the analysis of interpretative structural modeling (ISM). Water supply model using a dynamic system through software powersim constructor 2.5c. The results showed that the status of the environmental dimension of sustainability is less sustainable (31.8%), sustainable on economic dimension (88.24%), sustained enough on the legal dimensions of institutional (74.21%) and social dimensions (52.25%). While the dimensions of the infrastructure and technology are not sustainable (20.14%). In multi-dimensional, water supply of Tarakan City is sufficient sustainable (52.38%). During the period of the year 2001 - 2030, the East and West Tarakan potential water crisis whereas North and Central Tarakan no potential water crisis. But the piping water service (PDAM) in all districts do not fulfill clean water requirements in terms of quantity, so it needs to be improved with the improvement of services through the construction of water conservation and micro water treatment plant (Micro IPAB). Key words: Tarakan, water supply, a small island. RINGKASAN EMIL AZMANAJAYA. Model Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan di Pulau Kecil (Studi Kasus : Pulau Tarakan, Kalimantan Timur). Dibimbing oleh SURJONO H. SUTJAHJO, ASEP SAPEI, D. DJOKOSETIYANTO, dan BAMBANG PRAMUDYA N. Pulau Tarakan merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di pantai timur provinsi Kalimantan Timur. Posisi geografis yang strategis, menyebabkan pertumbuhan Pulau Tarakan sudah berubah dari skala desa menjadi skala kota. Dalam rangka pencapaian target penyediaan air bersih MDG‟s 2015, Kota Tarakan perlu ditunjang oleh sistem penyediaan air bersih yang cocok berdasarkan potensi yang ada di wilayah Pulau Tarakan. Penelitian ini dilakukan di seluruh wilayah pelayanan air bersih Pulau Tarakan yaitu Tarakan Barat, Tarakan Tengah, Tarakan Timur dan Tarakan Utara, pada bulan Oktober 2010 sampai Oktober 2011. Tujuan utama penelitian ini adalah membangun model penyediaan air bersih secara berkelanjutan di pulau kecil dengan lingkup studi Kota Tarakan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dilakukan beberapa kajian yaitu : (1) analisis kebutuhan air bersih untuk sektor domestik, perhotelan dan industri, (2) analisis ketersediaan air bersih berdasarkan pelayanan PDAM dan air bersih alami melalui imbuhan air tanah, (3) analisis tingkat keberlanjutan penyediaan air bersih, (4) merancang strategi penyediaan air bersih, dan (5) merancang model penyediaan air bersih. Metode analisis kebutuhan air bersih dilakukan dengan cara memproyeksikan perkembangan pertumbuhan penduduk, industri dan hotel di Kota Tarakan. Analisis ketersediaan air bersih perpipaan dilakukan dengan cara menghitung kapasitas layanan instalasi pengolahan air bersih PDAM, sedangkan ketersediaan air bersih alami dillakukan dengan cara meningkatkan imbuhan air tanah melalui konservasi air hujan yaitu pembuatan sumur resapan, reboisasi dan terasering. Analisis tingkat keberlanjutan penyediaan air bersih menggunakan metode multidimensional scalling (MDS) yang disebut RAPTARAKAN, analisis montecarlo dan analisis prospektif. Analisis strategi penyediaan air bersih dilakukan menggunakan metode analytical hierarchy process (AHP), analisis SWOT dan analisis interpretative structural modelling (ISM). Model penyediaan air bersih menggunakan sistem dinamis melalui software powersim constructor 2.5c. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status keberlanjutan dimensi lingkungan kurang berkelanjutan (31,8%), dimensi ekonomi berkelanjutan (88,24%), cukup berkelanjutan pada dimensi hukum kelembagaan (74,21%) dan dimensi sosial (52,25%). Sedangkan dimensi infrastruktur dan teknologi tidak berkelanjutan (20,14%). Secara multi dimensi, penyediaan air bersih Kota Tarakan cukup berkelanjutan (52,38%) dengan 13 atribut yang sensitif berpengaruh dalam meningkatkan indeks keberlanjutan. Atribut-atribut tersebut terbagi atas 3 atribut pada dimensi lingkungan, 3 atribut pada dimensi ekonomi, 2 atribut pada dimensi sosial dan budaya, 3 atribut pada dimensi infrastruktur dan teknologi, dan 2 atribut pada dimensi hukum dan kelembagaan. Untuk meningkatkan status keberlanjutan ke depan (jangka panjang), skenario yang perlu dilakukan untuk meningkatkan status penyediaan air bersih di Pulau Tarakan adalah skenario progesif-optimistik dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap semua atribut yang sensitif, minimal 3 atribut faktor kunci yang dihasilkan dalam analisis prospektif, sehingga semua dimensi menjadi berkelanjutan untuk sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan. Masyarakat Kota Tarakan masih menaruh harapan yang tinggi kepada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Dharma sebagai penyedia air bersih Kota Tarakan. Adapun rumusan strategi pengembangan pelayanan air bersih di Kota Tarakan adalah Strategi Kekuatan – Peluang yaitu (1) Memanfaatkan/menerapkan teknologi penyediaan air bersih yang sudah ada untuk daerah-daerah yang belum terlayani air bersih oleh pemerintah/PDAM sebagai alternatif dalam penyediaan air bersih dengan menggunakan konsep cluster yang memanfaatkan air hujan/permukaan. (2) Melakukan konservasi pada land use melalui kegiatan reboisasi, pembuatan sumur resapan, terasering, dan embung-embung penangkap air hujan untuk menjaga kelestarian sumber air baku. (3) Mendorong PDAM sebagai penyedia air besih untuk terus meningkatkan kapasitas layanan melalui pengurangan persentase kebocoran dan peningkatan kapasitas IPA, sehingga semakin banyak masyarakat ingin berlangganan air bersih PDAM. (4) Memanfaatkan program pemberdayaan masyarakat dari koorporasi (CSR). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta permintaan air bersih yang terus meningkat, memungkinkan bagi masyarakat sanggup untuk mengelola sendiri sistem penyediaan air bersih di wilayahnya melalui program pendampingan dari koorporasi. (5) Menerapkan, menata dan menjaga suatu kawasan sesuai dengan fungsinya, berdasarkan atas komitmen Pemerintah Kota Tarakan yang diuraikan dalam RTRW Tarakan. Hasil analisis sistem dinamik, selama kurun simulasi tahun 2001 – 2030, wilayah Tarakan Barat dan Timur berpotensi mengalami krisis air bersih sedangkan Tarakan Utara dan Tengah tidak berpotensi krisis air bersih. Namun pelayanan air bersih perpipaan (PDAM) diseluruh wilayah kecamatan tidak memenuhi kebutuhan air bersih secara kuantitas, sehingga perlu ditingkatkan dengan peningkatan pelayanan melalui konservasi air dan pembangunan instalasi pengolahan air mikro (IPAB Mikro). Kata kunci : pulau kecil, Pulau Tarakan, penyediaan air bersih. © Hak Cipta milik IPB, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencatumkan atau menyebutkan sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk laporan apapun tanpa izin IPB MODEL PENYEDIAAN AIR BERSIH BERKELANJUTAN DI PULAU KECIL (STUDI KASUS : PULAU TARAKAN, KALIMANTAN TIMUR) EMIL AZMANAJAYA Disertasi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 Penguji pada Ujian Tertutup : 1. Dr. Ir. I Wayan Nurjaya, MSc. (Staf Pengajar Departemen Ilmu & Teknologi Kelautan – FPIK, IPB) 2. Dr. Ir. Roh Santoso Budi Waspodo, MT (Staf Pengajar Departemen Teknik Sipil & Lingkungan – FATETA, IPB) Penguji pada Ujian Terbuka : 1. Dr. Ir. Muhammad Yunus Abbas, MSi (Asisten III Bidang Kesejahteraan Rakyat Kota Tarakan) 2. Dr. Ir. Yuli Suharnoto, M.Eng (Staf Pengajar Departemen Teknik Sipil & Lingkungan – FATETA, IPB) KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas perkenaan dan rahmat yang diberikan sehingga penulis dapat menyusun draft disertasi ini. Adapun judul disertasi yang diambil sebagai penelitian untuk memperoleh gelar doktor ini adalah : Model Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan di Pulau Kecil (Studi Kasus : Pulau Tarakan – Kalimantan Timur). Terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya penulis haturkan kepada Prof. Dr. Ir. Surjono Hadi Sutjahjo, MS, Prof. Dr. Ir. Asep Sapei, MS, Prof. Dr. Ir. D. Djokosetiyanto, DEA dan Prof. Dr. Ir. Bambang Pramudya N., M.Eng selaku komisi pembimbing yang selalu memberikan masukan dan arahan dalam penulisan draft disertasi ini. Terima kasih penulis haturkan pada Dr. Ir. Yuli Suhartono, M.Eng dan Dr. Ir. Muhammad Yunus Abbas, MSi selaku penguji luar komisi; Bapak/Ibu perwakilan dari program studi/mayor Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan serta Bapak/Ibu perwakilan Rektor IPB atas kesediaannya meluangkan waktu untuk menjadi penguji pada ujian terbuka ini. Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini masih perlu mendapat masukan untuk kesempurnaannya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat dan memperkaya ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. Bogor, Agustus 2012 Emil Azmanajaya P.062090121 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jambi pada tanggal 24 Februari 1977 sebagai anak pertama dari pasangan Brigjen TNI (Pur) H. Azrai Kasim dan Hj. Syamsuwarni. Pendidikan sarjana (S1) ditempuh di Program Studi Teknik Sipil, Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung, lulus tahun 2000. Pada tahun 2001 penulis melanjutkan pendidikan Magister (S2) di Program Studi Teknik Sipil Rekayasa Sumber Daya Air, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan menyelesaikannya pada tahun 2004. Pada tahun 2009 penulis melanjutkan pendidikan Doktor (S3) di Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Saat ini penulis bekerja sebagai wirausaha dalam bidang penyediaan air bersih dan pengembangan instalasi penyediaan air bersih berbasis masyarakat dan koorporasi. xx DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL......................................................................................… xiv DAFTAR GAMBAR.................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………..... xix 1 PENDAHULUAN................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang............................................................................... 1 1.2 Tujuan Penelitian............................................................................ 3 1.3 Kerangka Pemikiran....................................................................... 3 1.4 Perumusan Masalah...................................................................... 6 1.5 Manfaat Penelitian ......................................................................... 7 1.6 Kebaruan (Novelty)............................................................……….. 7 TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................... 8 2 2.1 Klasifikasi Pulau Besar dan Pulau Kecil …………………...…......... 8 2.2 Sumber Daya Air Tawar di Pulau Kecil.……………………….......... 10 2.3 Sistem Daerah Aliran Sungai/DAS………………………………….. 13 2.4 Teknologi Penyediaan Air Bersih di Pulau Kecil..………................ 14 2.4.1 Teknologi Pemanenan Air Hujan ………………..…….……. 15 2.4.2 Teknologi Pengolahan Air Bersih Perkotaan ………………. 19 3 2.4.3 Teknologi Pengolahan Air Bersih Mikro ……………………. 21 2.5 Pendekatan dan Permodelan Sistem……………………………….. 22 METODE PENELITIAN.....................................................................…. 27 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian …………………………..………….…. 27 3.2 Tahapan Penelitian……………………………………..………….….. 28 3.3 Jenis dan Metode Pengumpulan Data………………………..…….. 28 3.4 Metode Pemilihan Responden……………………………………..… 29 3.5 Analisis Data ………………………………………………………...… 30 4 KONDISI UMUM PULAU TARAKAN.................................................... 32 4.1 Kondisi Geografis dan Luas Wilayah..……………..……..………… 32 4.2 Topografi………..……………………………………………………… 35 4.3 Fisiografi ……………………………………………………….……… 35 4.4 Morfologi …………………………………………………….………… 36 4.5 Morfologi Daerah Aliran Sungai…………………………….……..… 36 xi 4.6 Debit Sungai dan Sedimentasi …………………………….……..… 36 4.7 Curah Hujan Rata-rata dan Suhu Perairan ……………………..… 38 4.8 Penggunaan Lahan ………………………………………………..… 39 4.9 Kependudukan ……………………………………………………..… 40 4.10 Kondisi Infrastruktur Perumahan …………………………………… 41 4.11 Kondisi Infrastruktur Air Bersih …………………………………...… 42 5 6 7 STRATEGI PENYEDIAAN AIR BERSIH KOTA TARAKAN ……….… 44 5.1 Analisis Kendala, Kebutuhan dan Kelembagaan Penyediaan Air Bersih …………………………………………….… 44 5.2 Analisis Bentuk Pengelolaan Penyediaan Air Bersih …………..... 50 5.3 Strategi Pengembangan Kapasitas Layanan Air Bersih ……….... 53 5.4 Kesimpulan …………………………………………………………… 56 STATUS KEBERLANJUTAN PENYEDIAAN AIR BERSIH PULAU TARAKAN………………………………..……………………...… 58 6.1 Status Keberlanjutan Penyediaan Air Bersih …………………...… 58 6.2 Skenario Strategi Penyediaan Air Bersih………………………..… 6.3 Kesimpulan …………………………………………………………… 75 73 MODEL PENYEDIAAN AIR BERSIH PULAU KECIL ………..……...… 76 7.1 Pendahuluan ……………………………………………………….… 76 7.2 Metode Analisis Model Penyediaan Air Bersih Pulau Kecil …….. 77 7.2.1 Jenis dan Sumber Data …………………………………….… 77 7.2.2 Metode Pengumpulan Data ………………………………..… 78 7.2.3 Metode Analisis Data ……………………………………….… 78 7.3 Model Penyediaan Air Bersih Pulau Tarakan …………………..… 82 7.3.1 Sub Model Kebutuhan Air Bersih ………………………….… 82 7.3.2 Sub Model Ketersediaan Air Bersih ……………………….... 7.4 86 Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Barat ………………………………………………………… 91 7.4.1 Kondisi Eksisting …………………………………………….… 91 7.4.2 Simulasi Skenario Model Penyediaan Air Bersih ………..… 94 7.5 Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Timur ……………………………………………………….. 102 7.5.1 Kondisi Eksisting …………………………………………….… 102 7.5.2 Simulasi Skenario Model Penyediaan Air Bersih ………….. 105 7.6 Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Tengah …………………………………………………...… 114 7.6.1 Kondisi Eksisting ……………………………………………… xii 114 7.6.2 Simulasi Skenario Model Penyediaan Air Bersih ………..... 7.7 116 Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Utara ……………………………………………………...… 125 7.7.1 Kondisi Eksisting ………………………………………….…… 125 7.7.2 Simulasi Skenario Model Penyediaan Air Bersih ………...… 128 7.8 Uji Validasi Model ………………………………………………….… 137 7.8.1 Uji Validasi Struktur …………………………………………… 137 7.8.2 Uji Validasi Kinerja ………………………………………….…. 138 7.8.3 Uji Sensitifitas Model ……………………………………….…. 138 7.9 Kesimpulan …………………………………………………………… 140 8 PEMBAHASAN UMUM ……………...………………………………….… 142 9 REKOMENDASI KEBIJAKAN PENYEDIAAN AIR BERSIH PULAU TARAKAN ………………………………………………….…..… 146 9.1 Rekomendasi Kebijakan Kepada Pemerintah Kota ………..…..… 146 9.2 Rekomendasi Kebijakan Kepada PDAM …………………….….… 147 10 KESIMPULAN ……………………………………………………………... 148 DAFTAR PUSTAKA …………………………...…………………………….... 151 LAMPIRAN …………………………………………………………………….… 155 xiii DAFTAR TABEL Halaman 1 Jenis dan metode pengumpulan data ………………………..…………… 29 2 Tahapan dan metode analisis model penyediaan air bersih …………… 31 3 Jumlah dan luas wilayah kecamatan/kelurahan di Kota Tarakan… …… 33 4 Inventarisasi sungai di Pulau Tarakan ……………………………………. 37 5 Curah hujan dan hari hujan Kota Tarakan (2008) …………………. …… 39 6 Jenis dan tutupan lahan Pulau Tarakan (2008) ……………………. …… 39 7 Jumlah penduduk Kota Tarakan …………………………………….. …… 41 8 Sumber air baku alami Kota Tarakan ……………………………….. …… 43 9 Matriks faktor strategi internal (IFAS) ………………………………..….… 54 10 Matriks faktor strategi eksternal (EFAS) ……………………………. …… 55 11 Perbedaan nilai indeks keberlanjutan Analisis Monte-Carlo Dengan Analisis RAP-TARAKAN ……………………………………. …… 73 12 Hasil analsisi nilai stress dan koefisien determinasi ………………. …… 73 13 Faktor kunci yang berpengaruh dalam penyediaan air bersih …….…… 74 14 Analisis kebutuhan aktor dalam penyediaan air bersih …………….…… 78 15 Standar kebutuhan air rumah tangga ……………………………….. …… 83 16 Klasifikasi industri berdasarkan jumlah tenaga kerja ……………… …… 83 17 Kebutuhan air untuk proses industri ………………………………… ..….. 83 18 Nilai koefisen run off masing-masing land use …………………….. …… 88 19 Proyeksi jumlah penduduk, hotel, industri serta kebutuhan air bersih di Kecamatan Tarakan Barat ……………………………. ……. 91 20 Ketersediaan dan neraca air bersih Kecamatan Tarakan Barat …. …… 92 21 Skenario penyediaan air bersih Kecamatan Tarakan Barat ……….…… 94 22 Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan di Kecamatan Tarakan Barat ………………………………………………………….. …… 96 23 Kebutuhan biaya reboisasi Kecamatan Tarakan Barat …………….…… 97 24 Kebutuhan biaya terasering Kecamatan Tarakan Barat …………… ….. 97 25 Kebutuhan biaya uprating IPA PDAM di Kecamatan Tarakan Barat …………………………………………………………... ….. 99 26 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui IPAB Mikro di Kecamatan Tarakan Barat……………………………………………….. 100 27 Neraca air bersih Kecamatan Tarakan Barat ………………………..…… 101 28 Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) Kecamatan Tarakan Barat ….….. 102 xiv 29 Proyeksi jumlah penduduk, hotel, industri serta kebutuhan air bersih di Kecamatan Tarakan Timur……………………………. …….. 103 30 Ketersediaan dan neraca air bersih Kecamatan Tarakan Timur ….…… 104 31 Skenario penyediaan air bersih Kecamatan Tarakan Timur ………. ….. 105 32 Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan di Kecamatan Tarakan Timur………………………………………………………….. …… 107 33 Kebutuhan biaya reboisasi Kecamatan Tarakan Timur ……………. ….. 108 34 Kebutuhan biaya terasering Kecamatan Tarakan Timur………………… 109 35 Kebutuhan biaya uprating IPA PDAM di Kecamatan Tarakan Timur …………………………………………………………... ….. 110 36 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui IPAB Mikro di Kecamatan Tarakan Timur…………………………………………… …. 111 37 Neraca air bersih Kecamatan Tarakan Timur ……………………….. ….. 113 38 Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) Kecamatan Tarakan Timur ….…. 113 39 Proyeksi jumlah penduduk, hotel, industri serta kebutuhan air bersih di Kecamatan Tarakan Tengah……………………………. ….. 114 40 Ketersediaan dan neraca air bersih Kecamatan Tarakan Tengah …. … 115 41 Skenario penyediaan air bersih Kecamatan Tarakan Tengah ……….… 117 42 Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan di Kecamatan Tarakan Tengah ………………………………………………………….. … 119 43 Kebutuhan biaya reboisasi Kecamatan Tarakan Tengah …………….… 120 44 Kebutuhan biaya terasering Kecamatan Tarakan Tengah ……………… 120 45 Kebutuhan biaya uprating IPA PDAM di Kecamatan Tarakan Tengah …………………………………………………………... .. 122 46 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui IPAB Mikro di Kecamatan Tarakan Tengah ……………………………………………. 123 47 Neraca air bersih Kecamatan Tarakan Tengah ………………………….. 124 48 Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) Kecamatan Tarakan Tengah ..…. 125 49 Proyeksi jumlah penduduk, hotel, industri serta kebutuhan air bersih di Kecamatan Tarakan Utara………………………………. ….. 126 50 Ketersediaan dan neraca air bersih Kecamatan Tarakan Utara …..…… 127 51 Skenario penyediaan air bersih Kecamatan Tarakan Utara ……….…… 128 52 Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan di Kecamatan Tarakan Utara ……………………………………………………………….. 131 53 Kebutuhan biaya reboisasi Kecamatan Tarakan Utara …………….. ….. 131 54 Kebutuhan biaya terasering Kecamatan Tarakan Utara ………………... 132 55 Kebutuhan biaya uprating IPA PDAM di Kecamatan Tarakan Utara …………………………………………………………...…... 134 56 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui IPAB Mikro xv di Kecamatan Tarakan Utara ………………………………………..……... 134 57 Neraca air bersih Kecamatan Tarakan Utara ………………………..…… 135 58 Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) Kecamatan Tarakan Utara ……… 136 59 Hasil perhitungan nilai AVE, AME dan jumlah penduduk dalam uji validasi kerja ………………………………..………………..…… xvi 139 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Kompleksitas permasalahan…………………………………………. …… 3 2 Kerangka pemikiran………………………………………………………… 5 3 Perumusan masalah………………..………………………………….…… 7 4 Penyebaran tipe pulau kecil Indonesia ……………………………… ….. 13 5 Bagan ilustrasi respon DAS akibat hujan ………………………………... 14 6 Ilustrasi sumur resapan ………………………………………………..…... 16 7 Ilustrasi bangunan ABSAH ………………………………………………… 19 8 Skema proses pengolahan air bersih ………………………………..…… 21 9 Peta lokasi penelitian ………………………………………………….…… 27 10 Tahapan penelitian …………………………………………………….…… 28 11 Peta Pulau Tarakan ………………………………………………………… 34 12 Peta DAS Pulau Tarakan ……………………………………………..…… 38 13 Penutupan lahan Pulau Tarakan …………………………………….…… 40 14 Peta pembagian zona pelayanan air minum PDAM ……………….…… 42 15 Matriks driver power-dependence untuk elemen kendala ………..……. 45 16 Struktur hirarki sub elemen kendala ………………………………...……. 46 17 Matriks driver power-dependence untuk elemen kebutuhan …….…….. 47 18 Struktur hirarki sub elemen kebutuhan ……..………………….…...……. 48 19 Matriks driver power-dependence untuk elemen lembaga ………..…… 49 20 Struktur hirarki sub elemen lembaga ………..………………….…...…… 50 21 Struktur dan bobot hirarki elemen bentuk pengelolaan air bersih ... ….. 51 22 Hasil analisis bentuk pengelolaan air bersih ………………………. …… 52 23 Hasil analisis bentuk pengelolaan air bersih (2) ………………………… 53 24 Posisi kuadran strategi pengembangan pelayanan air bersih ………… 56 25 Diagram layang nilai indeks keberlanjutan penyediaan air bersih..…… 58 26 Peran masing-masing aspek lingkungan dalam bentuk rms…………… 59 27 Peran masing-masing aspek ekonomi dalam bentuk rms……………… 62 28 Peran masing-masing aspek sosial dalam bentuk rms………….……… 66 29 Peran masing-masing aspek infrastruktur dan teknologi dalam bentuk rms…………………………………………………….. …… 68 30 Peran masing-masing aspek hukum dan kelembagaan dalam bentuk rms…………………………………………………………… xvii 69 31 Indeks keberlanjutan multidimensi penyediaan air bersih ………...…… 72 32 Hasil analisis tingkat kepentingan faktor yang berpengaruh …………... 75 33 Diagram kotak gelap penyediaan air bersih ………………………… ….. 80 34 Causal loop sub model kebutuhan air bersih ………………………. ….. 85 35 Diagram alir sub model kebutuhan air bersih ………………………. ….. 86 36 Causal loop sub model ketersediaan air bersih ……………………. ….. 86 37 Diagram alir sub model ketersediaan air bersih ……………………. ….. 90 38 Kebutuhan dan ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Barat ……………………………………………. ….. 93 39 Proyeksi kebutuhan air bersih Kecamatan Tarakan Barat ………… …. 94 40 Simulasi ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Barat ……..…… 95 41 Peningkatan layanan perpipaan Kecamatan Tarakan Barat …….. …… 98 42 Neraca air bersih Kecamatan Tarakan Barat ………………………. ….. 100 43 Kebutuhan dan ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Timur …………………………………………….….. 105 44 Proyeksi kebutuhan air bersih Kecamatan Tarakan Timur …………….. 107 45 Simulasi ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Timur ……..…… 108 46 Peningkatan layanan perpipaan Kecamatan Tarakan Timur ……..…… 110 47 Neraca air bersih Kecamatan Tarakan Timur ……………………….…… 112 48 Kebutuhan dan ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Tengah ………………………………………….…… 116 49 Proyeksi kebutuhan air bersih Kecamatan Tarakan Tengah …………… 118 50 Simulasi ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Tengah .…..…… 118 51 Peningkatan layanan perpipaan Kecamatan Tarakan Tengah .…..…… 121 52 Neraca air bersih Kecamatan Tarakan Tengah …………………….…… 124 53 Kebutuhan dan ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Utara ……………………………………………. ….. 128 54 Proyeksi kebutuhan air bersih Kecamatan Tarakan Utara …………….. 129 55 Simulasi ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Utara ……..…… 130 56 Peningkatan layanan perpipaan Kecamatan Tarakan Utara ….…..…... 133 57 Neraca air bersih Kecamatan Tarakan Utara ……………………….…… 136 xviii DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Gambar ilustrasi IPAB Mikro ………………………………………….. …. 157 2 Rincian biaya operasional IPAB Mikro ………………………………. ….. 160 3 Nilai skor pendapat pakar dimensi keberlanjutan penyediaan air bersih Kota Tarakan ……………………………………………….. ….. 161 4 Nilai indeks lima dimensi keberlanjutan penyediaan air bersih……..…. 163 5 Persamaan dinamis model penyediaan air bersih pulau kecil ………… 166 6 Rencana Anggaran biaya IPAB Mikro …………………………………….. 173 7 Rencana Anggaran biaya Uprating IPA PDAM ……………………………. 174 xix xx 1 1.1 PENDAHULUAN Latar Belakang Air merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki fungsi sangat penting bagi kehidupan dan perikehidupan manusia, serta untuk memajukan kesejahteraan umum dan berperan sebagai faktor utama pembangunan. Untuk itu air perlu dilindungi agar dapat tetap bermanfaat bagi manusia serta mahluk hidup lainnya. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa air memiliki peran yang sangat strategis dan harus tetap tersedia dan lestari, sehingga mampu mendukung kehidupan dan pelaksanaan pembangunan dimasa kini maupun dimasa mendatang. Indonesia negara kepulauan, tidak bisa dipisahkan dengan air. Potensi sumberdaya pesisir dan lautan tersebar di sekitar 13.487 buah pulau dan 95.181 km panjang pantai di kepulauan Indonesia. Pulau-pulau ini mempunyai nilai penting dari sisi politik, sosial, ekonomi, budaya dan pertahanan keamanan Indonesia. Tiga belas ribu lebih pulau tersebut disatukan oleh 3,1 juta km2 perairan teritorial. Sumber air berasal dari gunung, sungai, danau dan laut. Banyak kota yang dibangun didekat sumber-sumber air tersebut, hampir 300 kabupaten dan kotamadya dari 472 tersebar di pesisir, sisanya berada di daerah aliran sungai dan pegunungan. Selain memiliki kelebihan strategis, pulau kecil juga memiliki kekurangan, salah satunya adalah keterbatasan air yang menjadi kendala dalam upaya pengembangan kegiatan di pulau kecil. Definisi sebuah “pulau samudera” pada dekade 70an oleh IHP-UNESCO dinyatakan sebagai pulau yang berukuran kurang dari 10.000 km2. Namun karena alasan kepraktisan berdasar permasalahan yang dihadapi para peneliti air dari berbagai penjuru dunia maka ditetapkan dalam UU No.27/2007 untuk memakai nama “pulau kecil” yang didefinisikan sebagai pulau dengan ukuran luas kurang dari 2000 km2. Selanjutnya ada pembagian jenis pulau yang lebih rinci menjadi “pulau sangat kecil” untuk pulau yang luasnya kurang dari 200 km2. Sebagai salah satu sumberdaya alam, air di muka bumi tidak terdapat secara merata. Distribusi air dari satu tempat ke tempat lain di muka bumi berbeda-beda menurut ruang dan waktu. Banyak daerah yang mempunyai potensi air yang cukup, tetapi tidak jarang dijumpai daerah-daerah yang mempunyai potensi air yang sangat kecil, bahkan pada waktu- waktu tertentu mengalami kekurangan air. 2 Ketersediaan sumber daya air di pulau kecil sangat rentan akibat perubahan kualitas air oleh intrusi air laut. Dalam UU No.7/2004 tentang Sumber Daya Air telah ditetapkan bahwa air di pulau kecil atau gabungan beberapa pulau kecil wajib dikelola sebagai satu kesatuan wilayah. Agar penyelamatan sumber daya air di sebuah wilayah sungai dapat berhasil, ditetapkan pola pengelolaan air yang lazim memakai kebijakan “satu wilayah sungai, satu kebijakan, satu perencanaan pengelolaan”. Menurut UU No.7/2004, sebuah wilayah sungai (WS) dapat terdiri dari satu atau gabungan dari beberapa pulau kecil. Dengan ketetapan ini berarti bahwa pulau-pulau kecil juga perlu dilengkapi dengan sebuah rencana pengelolaan air. Pertambahan penduduk yang tinggi diikuti dengan pertumbuhan ekonomi serta perkembangan industri yang banyak menggunakan lahan dan air menyebabkan kelangkaan air semakin meningkat. Sumber-sumber air tercemar karena limbah yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi dan industri, menyebabkan kualitas air yang bisa langsung dicerna dan dikonsumsi oleh penduduk semakin sedikit. Dibutuhkan suatu badan dan sistem pengelolaan dan penyediaan air baku untuk dikelola menjadi air bersih yang dapat didistribusikan kepada penduduk. Perkembangan Kota Tarakan sebagai pintu gerbang kedua Kalimantan Timur setelah Kota Balikpapan bagi lalu lintas pelayaran dan penerbangan menyebabkan daya tarik bagi masyarakat daerah sekitarnya sehingga menyebabkan kepadatan penduduk menjadi meningkat. Industri, dunia usaha dan masyarakat membutuhkan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Pulau Tarakan yang berbatasan dengan lautan mengakibatkan rentannya kondisi/kualitas air tanah maupun air permukaan. Rendahnya cakupan pelayanan air bersih menyebabkan industri dan masyarakat mengunakan air tanah sehingga terjadi penurunan muka air tanah bahkan penurunan muka tanah di beberapa tempat di Pulau Tarakan. Kompleksitas permasalahan yang menjadi latar belakang penelitian model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil dapat dilihat pada Gambar 1. Berdasarkan kompleksitas permasalahan tersebut maka Kota Tarakan perlu memiliki strategi dalam penyediaan air bersih. 3 Gambar 1 Kompleksitas permasalahan 1.2 Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah membangun model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil dengan lingkup studi Kota Tarakan. Guna mencapai tujuan tersebut, maka pada penelitian ini akan dilakukan berbagai kajian yang akan mendukung penelitian, yaitu: a) Menganalisis kebutuhan air bersih untuk sektor domestik, perhotelan dan industri. b) Menganalisis ketersediaan air bersih berdasarkan pelayanan PDAM dan air bersih alami melalui imbuhan air tanah. c) Menganalisis tingkat keberlanjutan penyediaan air bersih. d) Merancang bangun strategi penyediaan air bersih. e) Merancang bangun suatu model penyediaan air bersih berdasarkan pendekatan sistem dengan memperhatikan aspek lingkungan fisik dan sosial, teknologi, kelembagaan, aspek keuangan, tingkat pelayanan dan efisiensi pengelolaan. 1.3 Kerangka Pemikiran Pulau Tarakan sebagai salah satu wilayah kepulauan hingga saat ini sedang giat melaksanakan pembangunan diberbagai sektor. Dalam proses 4 melaksanakan pembangunan yang bertujuan untuk pengembangan daerah perkotaan, pemerintah Kota Tarakan dalam hal ini sebagai pemrakarsa kegiatan menghadapi beberapa kendala atau permasalahan dalam pelaksanaan program tersebut. Beberapa kendala atau permasalahan yang hingga kini memerlukan pemecahan baik secara pendekatan persuasif maupun dengan mengadakan kegiatan fisik, antara lain : a) Tingkat pertumbuhan penduduk yang sangat cepat dalarn kurun waktu yang sangat pendek dengan penyebaran di wilayah kota yang tidak merata. b) Masih terdapat daerah pemukiman penduduk yang dibawah standar (kumuh) dalam jumlah dan luas yang cukup besar. c) Penyediaan sarana dan prasarana kota yang masih belum seimbang dengan jumlah penduduk. d) Kurang koordinasi antara pihak-pihak terkait dalam hal ini pemerintah daerah dalam merumuskan suatu kegiatan pembangunan dan pengembangan kota. e) Sumber daya manusia. Dengan meningkatnya pertumbuhan perekonomian dan bidang lainnya maka memacu pertumbuhan penduduk di Kota Tarakan tersebut. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Kota Tarakan sudah tentu kebutuhan akan air bersih untuk masyarakat semakin meningkat. Kebutuhan akan air bersih adalah kebutuhan pokok bagi masyarakat Kota Tarakan sehingga pemerintah sudah seharusnya menyediakan kebutuhan akan air baku untuk masyarakat Kota Tarakan guna mendukung kesejahteraan masyarakat Kota Tarakan. Diantara pulau-pulau kecil, baik di Indonesia bagian Timur maupun Barat, penyediaan air bersih baik di musim kemarau maupun di musim hujan masih merupakan persoalan yang sulit dan harus segera ditangani. Persoalan ini semakin kompleks apabila penyediaan air dikaitkan dengan rencana pengembangan wilayah terpadu yang meliputi daerah permukiman, daerah kegiatan industri, perdagangan, lalu lintas maritim, hankamnas dan lainnya. Strategi pengelolaan pulau kecil harus diupayakan agar sumber daya air yang tersedia tidak akan dipakai melebihi batas daya dukungnya. Permasalahan ini mempunyai aspek yang kompleks dan unik karena kondisi alam dan dinamika sosial, ekonomi dan lingkungan setempat. Perhatian pemerintah Indonesia kepada masalah sumber daya air sebenarnya telah cukup besar namun saat ini masih terkonsentrasi di pulau- 5 pulau besar berpenduduk padat. Hal tersebut tercermin dari banyaknya instansi atau lembaga yang menangani permasalahan air. Namun penanganan khusus sumber daya air di pulau-pulau kecil yang berada di lingkungan lautan dan samudra dirasakan masih belum cukup memadai. Hal tersebut menunjukkan akumulasi permasalahan pengelolaan sumber daya air yang memerlukan penanganan segera secara terintegrasi dan simultan. Penanganan terhadap permasalahan krusial tersebut selama ini masih dilakukan secara parsial tanpa sistem mengakibatkan tidak yang terkoordinasi dengan tercapainya solusi yang holistik baik, sehingga dan berkelanjutan (sustainable). Penanganan permasalahan pengelolaan sumber daya air tersebut membutuhkan pendekatan sistem, kebijakan/regulasi, teknologi dan dukungan pembiayaan. Kerangka pemikiran penelitian model pengelolaan air bersih di Kota Tarakan dapat dilihat pada Gambar 2. Berdasarkan kondisi dan permasalahan tersebut di atas, maka perlu dikembangkan suatu model terintegrasi yang meliputi prosedur perencanaan, pengembangan sistem dan teknologi pengolahan air bersih, serta kelembagaan, pembiayaan, dan peran serta masyarakat. Gambar 2 Kerangka Pemikiran 6 1.4 Perumusan Masalah Kawasan pesisir dan pulau kecil yang dicirikan dengan tingkat pembangunan yang pesat dan pertumbuhan penduduk yang tinggi, air bersih merupakan barang yang langka dan mahal. Karena selain disebabkan oleh semakin tingginya kebutuhan akan air, juga terjadi penurunan kualitas dan kuantitas air. Penggunaan air di kawasan perkotaan di pulau kecil antara lain adalah untuk air minum (permukiman), industri, usaha perkotaan (perdagangan/pertokoan), transportasi dan lainnya. Melihat besarnya peran dan fungsi air serta untuk mengantisipasi semakin tingginya kebutuhan air khususnya air bersih di pulau kecil, maka perencanaan sumber daya air harus mendapat perhatian yang serius. Karena perencanaan sumber daya air merupakan salah satu faktor utama dalam pemenuhan kebutuhan air bersih di pulau kecil. Pada saat ini dipastikan kinerja pelayanan air bersih di pulau kecil masih sangat kurang terutama di kawasan kota. Jika dicermati ada beberapa permasalahan besar yang terkait dengan perencanaan air di pulau kecil, seperti : (1) sumber air baku untuk air bersih di pulau kecil mengalami penurunan baik kualitas dan kuantitas, (2) kebutuhan air yang terus meningkat sejalan dengan peningkatan pembangunan dan pertumbuhan penduduk, (3) rendahnya cakupan pelayanan air bersih, kinerja pengelolaan sistem air bersih yang menurun akibat tingginya kebocoran, (4) biaya operasional dan umur instalasi, dan (5) alih fungsi lahan yang menyebabkan lahan untuk konservasi air semakin sedikit. Dengan demikian diperlukan kajian mendalam mengenai model penyediaan air bersih di pulau kecil secara berkelanjutan. Beberapa pertanyaan penelitian yang merupakan inti permasalahan penyediaan air bersih pulau kecil adalah : 1) Bagaimana kondisi dan potensi air bersih yang dapat dimanfaatkan untuk penyediaan air bersih di pulau kecil? Apakah sumber air baku tersebut layak dan cukup? 2) Bagaimana sarana penyediaan air bersih yang paling cocok untuk pulau-pulau kecil? 3) Model penyediaan air bersih yang bagaimanakah yang tepat di pulau kecil? Berapa investasinya? Serta bagaimana kebijakan pengelolaannya sehingga bisa berkelanjutan? Perumusan masalah penelitian model pengelolaan air bersih pada pulau kecil di Kota Tarakan dapat dilihat secara sistematis pada Gambar 3. 7 1.5 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi berupa konsep model penyediaan air bersih di pulau kecil. Penelitian ini secara praktis bermanfaat: 1) Sebagai alternatif pemecahan masalah dalam penyediaan air bersih di pulau kecil secara komprehensif. 2) Sebagai usulan bagi stakeholder dalam membuat strategi dalam perencanaan penyediaan air bersih di pulau-pulau kecil. Gambar 3 Perumusan Masalah 1.6 Kebaruan (novelty) Penelitian penyediaan dan pengelolaan air bersih di pulau kecil belum pernah dilakukan dengan pendekatan sistem secara menyeluruh dengan melibatkan aspek lingkungan (pengembangan sumber air baku), aspek ekonomi (tarif air bersih yang layak), aspek teknologi (pengembangan teknologi instalasi air bersih skala mikro), aspek hukum-kelembagaan (pengembangan kelembagaan air bersih) dan aspek sosial (peningkatan pelayanan air bersih masyarakat). Berdasarkan hal tersebut, kebaruan dari penelitian ini adalah dihasilkannya rekomendasi kebijakan penyediaan air bersih di pulau kecil khususnya Kota Tarakan. 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Pulau Besar dan Pulau Kecil Definisi pulau menurut UNCLOS (1982) adalah massa daratan yang terbentuk secara alamiah, dikelilingi oleh air dan selalu berada di atas permukaan pasang tertinggi. Dalam definisi tidak membedakan air tawar dan air laut. Pulau Samosir di Danau Toba misalnya, masuk dalam kategori pulau. Yang tidak bisa dikategorikan sebagai pulau adalah mangrove, gosong dan batu. Jumlah pulau di Indonesia tercatat 13.487 pulau. Pulau kecil terluar yang berbatasan dengan Negara tetangga (Australia, Papua Nugini, Palau, Filipina, Malaysia, Vietnam, Thailand, Singapura dan India), sebanyak 92 pulau. Berdasarkan ketentuan definisi teknis pulau kecil ini sama dengan atau lebih kecil dari 5.000 km2, maka dilakukan pembagian klasifikasi luas pulau-pulau di Indonesia. Klasifikasi pulau-pulau ini (dalam 6 kelas) dari pulau besar sampai dengan pulau kecil berdasarkan luas teknis adalah sebagai berikut (Soenarto, 2009) : 1) Pulau besar makro atas, dengan luas di atas 500.000 km2, sebagai contoh Pulau Papua (805.000 km2) dan Pulau Kalimantan (736.000 km2). 2) Pulau besar makro bawah, dengan luas 100.000 km2 – 500.000 km2, misalnya Pulau Sumatra (473.606 km2), Pulau Sulawesi (189.040 km2) dan Pulau Jawa (134.045 km2). 3) Pulau besar menengah, dengan luas 50.000 km2 – 100.000 km2, tidak ada pulau yang memenuhi klasifikasi ini. 4) Pulau besar mikro atas, dengan luas 10.000 km2 - 50.000 km2, dengan contoh Pulau Timor (32.000 km2), Pulau Seram (18.625 km2), Pulau Halmahera (17.800 km2), Pulau Flores (14.250 km2), Pulau Sumbawa (13.300 km2), Pulau Bangka (11.940 km2), Pulau Sumba (11.100 km2). 5) Pulau besar mikro bawah, dengan luas 5.000 km2 – 10.000 km2, dengan contoh Pulau Buru (8473,2 km²), Pulau Bali (5.623 km2). 6) Pulau kecil, dengan luas ≤ 5.000 km2, salah satu contoh adalah Pulau Lombok (4.880 km2). Pulau kecil secara teknis dinyatakan sebagai pulau dengan luas sama dengan atau lebih kecil dari 5.000 km2. Pulau ini bisa dikelilingi melalui laut oleh speed boat dalam tempo sekitar 12 jam (daylight) atau jauh kurang dari 24 jam (day and night). Definisi teknis ini sama dengan yang diambil oleh Dewan 9 Kepulauan Inggris. Pulau kecil menurut definisi UNESCO, adalah pulau yang mempunyai luas sama dengan atau lebih kecil dari 2.000 km2. Alasan pengambilan angka ini tidak dijelaskan, dan mungkin hanya suatu kesepakatan saja. Berdasarkan penjelasan dalam berbagai Undang-Undang di Indonesia, pulau kecil adalah pulau yang luasnya sama dengan atau kurang dari 2.000 km2, yang berarti, berdasarkan Undang-Undang, maka Pulau Alor (2.600 km2) tidak termasuk sebagai pulau kecil. Dalam pembagian penggolongan kelas pulau kecil, baik luas teknis maupun berdasarkan Undang-Undang keduanya diadopsi, dan dimasukkan ke dalam kelas pulau kecil makro atas dengan luas 1.000 km2 – 5.000 km2. Pulau kecil untuk selanjutnya dibagi dalam 9 kelompok berikut ini: 1) Pulau kecil makro atas, 1.000 km2 – 5.000 km2 dengan contoh Pulau Lombok (4.880 km2), Pulau Belitung (4.800 km2), Pulau Nias (4.100 km2), Pulau Siberut (3.300 km2), Pulau Alor (2.600 km2), Pulau Pagai Utara dan Selatan (2.200 km2), Pulau Simeuleu (1.400 km2), Pulau Batu (1.201 km2), Pulau Bintan (1.075 km2), Pulau Morotai (1.000 km2). 2) Pulau kecil makro menengah, dengan luas 500 km2 – 1.000 km2 dengan contoh Pulau Bengkalis (900 km2), Pulau Ambon (761 km2), Pulau Sipora (600 km2). 3) Pulau kecil makro bawah, dengan luas 100 km2 – 500 km2, dengan contoh Pulau Batam (440 km2), Pulau Pantar (300 km2), Pulau Tarakan (250 km2), Pulau Tabuan (194 km2), Pulau Selaru (175 km2), Pulau Weh (153 km2). 4) Pulau kecil menengah, dengan luas 50 km2 - 100 km2, dengan contoh Pulau Gag (65 km2). 5) Pulau kecil mikro atas, dengan luas 10 km2 – 50 km2, dengan contoh Pulau Nusa Laut (36 km2), Pulau Nyang-Nyang (17 km2), Pulau Marampit (12 km2), Pulau Hinako (10,5 km2). 6) Pulau kecil mikro menengah, dengan luas 5 km2 – 10 km2, dengan contoh Pulau Keramaian (10 km2), Pulau Fani (9 km2), Pulau Panjang (8 km2), Pulau Puhawang (7 km2), Pulau Taka Bonerate (5 km2). 7) Pulau kecil mikro bawah, dengan luas 1 km2 – 5 km2, dengan contoh, Pulau Krakatau (4 km2), Pulau Masakambing (3 km2), Pulau Miangas (3,15 km2), Pulau Berhala (2,5 km2), Pulau Marore (2,15 km2), Pulau Pari (2 km2). 8) Pulau kecil mungil, dengan luas 0,5 km2 - 1 km2, dengan contoh Pulau Nipa (0,6 km2). 10 9) Pulau kecil mini, dengan luas ≤ 0,5 km2. Pembagian lebih lanjut lagi untuk pulau kecil mini dengan uas ≤ 0,5 km2 atau ≤ 50 ha, dibagi dalam 8 kelompok, yaitu: 1) Pulau kecil mini teratas, dengan luas 10 ha – 50 ha, dengan contoh Pulau Tidung Besar (50 ha), Pulau Untung Jawa (40 ha), Pulau Batek (0,25 km²). 2) Pulau kecil mini atas, dengan luas 5 ha – 10 ha, dengan contoh Pulau Fanildo (0,1 km²), Pulau Sebira (9 ha). 3) Pulau kecil mini menengah, dengan luas 1 ha – 5 ha, dengan contoh Pulau Kelapa Dua (2 ha), Pulau Batusulu (1 ha). 4) Pulau kecil mini bawah, dengan luas 50 m2 – 100 m2. 5) Pulau kecil mini terbawah, dengan luas 10 m2 – 50 m2. 6) Pulau kecil renik atas, dengan luas 5 m2 – 10 m2 . 7) Pulau kecil renik menengah, dengan luas 1 m2 – 5 m2. 8) Pulau kecil renik bawah, dengan luas < 1 m2. Pembagian ini diperlukan untuk menghadapi perubahan akibat terjadinya penyusutan luas pulau kecil karena munculnya fenomena kenaikan muka air laut pada kemudian hari, sebagai akibat pemanasan global dan perubahan iklim. Pembagian luas pulau sampai pada angka 1 m2, mempunyai arti untuk mengantisipasi terjadinya penyusutan luas pulau dataran yang mempunyai ketinggian sekitar 1 m dari muka air laut rata-rata, yang berlangsung dalam jangka waktu 50 tahun ke depan. Kelompok kelas 4 sampai dengan 8 masih banyak yang belum diberi nama, dan saat ini sedang dibuatkan nama baru. 2.2 Sumber Daya Air Tawar di Pulau Kecil Sumber daya air di wilayah pesisir terdiri dari 3 jenis sumber daya air yaitu air atmosferik (hujan), air permukaan, dan air tanah. Jumlah sumber daya air yang berasal dari air hujan akan bergantung pada musim yang sedang berlangsung. Pada musim hujan air tersedia dalam jumlah yang banyak, dan kondisi sebaliknya ditemui pada musim kemarau. Sumber daya air permukaan terdiri dari air sungai, saluran irigasi, danau alam, danau buatan (waduk), dan genangan rawa. Namun yang paling banyak dan biasanya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan air di wilayah pesisir adalah air sungai dan saluran irigasi karena kualitas dan kuantitasnya relatif lebih baik dan terjamin. Air tanah di wilayah pesisir Indonesia umumnya tersedia dalam jumlah banyak dan melimpah, yang keberadaan dan cara pengambilannya sangat bergantung pada kondisi geologi daerah setempat. Istilah air tanah berkaitan erat 11 dengan tempat air tersebut tersimpan. Disebut sebagai air tanah dangkal bila kedalamannya kurang dari 60 m dan disebut sebagai air tanah dalam bila tersimpan pada kedalaman lebih dari 60 m. Pengambilan air tanah dangkal biasanya dilakukan dengan cara membuat sumur gali, yang pada prinsipnya merupakan penorehan lapisan bawah permukaan hingga mencapai kedalaman muka air tanah dangkal yang tersedia. Air tanah dalam biasanya diambil dengan cara pembuatan sumur bor berdiam kecil sampai akifer di kedalaman tertentu dan kemudian dipompa. Secara lateral, pelamparan akifer di wilayah pesisir dapat menerus jauh hingga ke daratan atau terputus, suatu hal yang sangat berhubungan dengan sistem dan lingkungan pengendapannya. Akifer yang terdapat di wilayah pesisir sangat berkaitan dengan bentuk lahan serta mula jadi lingkungannya sehingga akan berbeda di tiap-tiap wilayah pesisir. Secara genetic akifer batuan sedimen bisa dibentuk di lingkungan fluviatil, fluvio-marin, fluvo vulkanik atau lingkungan laut dangkal. Di Indonesia yang mempunyai rangkaian pegunungan di kawasan hulunya (hinterland), maka akifer yang baik didominasi oleh tipe endapan fluviatil dan fluvio-vulkanik. Sementara di daerah dataran rendah yang luas, akifer didominasi oleh tipe fluviatil dan fluvio-marin. Beberapa ciri khas sistem hidrogeologi pulau kecil adalah : (1) Air tanah seluruhnya berasal dari air hujan dengan siklus antara resapan air kedalam tanah dan pemanfaatannya relatif pendek, (2) Air tanah di pulau kecil kebanyakan berupa lensa yang mengapung diatas air payau atau air asin, (3) Terjadinya larian permukaan (run off) pada waktu hujan kecil, namun air yang meresap ke dalam tanah sebagian besar berdifusi dengan air laut di bawah. Potensi air tawar di suatu pulau kecil merupakan besaran yang dinamis, berubah-ubah dalam dimensi ruang dan waktu. Dua faktor dominan yang mempengaruhi potensi air tawar di pulau kecil adalah faktor iklim dan kondisi geologi pulau (Hehanusa, 1987) : a. Iklim Faktor iklim yang didalamnya termasuk curah hujan, evapotranspirasi, suhu, kelembaban udara, dan kecepatan angin merupakan faktor penentu dalam perhitungan neraca air di pulau kecil. Curah hujan di pulau kecil pada umumnya lebih rendah, sekitar 20% dibanding dengan curah hujan di dataran yang terdekat. Beberapa catatan untuk parameter-parameter di atas adalah sebagai berikut. Data curah hujan yang akurat kadang-kadang sulit didapat karena begitu 12 banyaknya pulau-pulau di Indonesia, sadangkan stasiun meteorologi yang mencatat dan melaporkan secara teratur keadaan iklim di sebuah pulau kecil belum banyak. Parameter Ro untuk pulau kecil mungkin bisa diabaikan karena sebagian besar pulau kecil jarang mempunyai sungai. Parameter yang paling dominan, selain curah hujan dan penggunaan oleh penduduk adalah parameter evapotranspirasi dan keluaran air tanah ke laut (submarine groundwater discharging), namun kedua parameter ini masih sangat sulit ditentukan. b. Hidrogeologi Disamping ukuran, kemampuan suatu pulau untuk menyimpan air tanah ditentukan oleh data hidrogeologi di pulau itu, seperti dijelaskan oleh Hehanusa (1993) pada Gambar 4. Tiap jenis pulau seperti yang sudah diuraikan diatas mempunyai ciri tersendiri, baik penyebarannya maupun potensi airnya. Falkland (1995) dan Hehanusa (1994) menjelaskan bahwa penyebaran dan potensi air tanah naik di pulau berbukit maupun di pulau datar secara kualitatif sebagai berikut : a) Pada jenis pulau vulkanik, potensi air tanah dapat ditemukan pada breksi dengan matriks kasar, pada aliran lava atau pada daerah tekanan (joint/crack system). Penyebaran air tanah ini bisa luas dengan potensi yang relatif sedang hingga besar. b) Pulau tektonik mempunyai penyebaran air yang bersifat setempat, yaitu pada daerah rekahan, atau pada endapan klastik dan bersifat musiman. c) Pulau teras terangkat mempunyai potensi air tanah yang cukup besar karena hampir sebagian besar air hujan meresap kedalam tanah. Penyebaran air berada dalam gamping, namun untuk mencari lokasi yang paling potensial cukup sulit karena adanya pengaruh tektonik dan “solution channel” yang ikut mengontrol penyebaran air tanah. d) Air tanah di Pulau Petabah mungkin yang relatif paling sedikit mengingat pulau ini terbentuk oleh batuan malihan, intrusi atau sedimen terlipat berumur tua. Air tanah terdapat pada sedimen muda, lapisan lapuk atau rekahan dengan penyebaran terbatas dan bersifat musiman. e) Penyebaran dan potensi air tanah di pulau gabungan sangat tergantung pada jenis-jenis pulau yang setiap jenis pulau di atas masih merupakan masalah tersendiri. 13 Gambar 4 Penyebaran tipe pulau kecil Indonesia, Hehanusa (1993) Eksplorasi air tanah untuk pulau datar, relatif lebih sederhana dibandingkan pada pulau berbukit. Di pulau aluvium air tanah dapat ditemukan pada reservoir yang berbeda, bisa di pasir alur sungai purba atau di pasir pematang sungai. Potensinya bisa bervariasi dari kecil sampai sedang, namun perubahan pasang surut muka air laut cukup besar pengaruhnya terhadap kualitas air tanah. 2.3 Sistem Daerah Aliran Sungai/DAS Menurut Undang-undang Republik Indonesia nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, daerah aliran sungai (catchment, basin, watershed) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anakanak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktifitas daratan. Sistem adalah kumpulan bagian-bagian yang terdiri dari benda/konsep yang disatukan dengan keteraturan saling berhubungan atau saling ketergantungan (Chow dalam Muliawan, 2001). Pendekatan sistem mempunyai tujuan spesifik yaitu membangun hubungan masukan dan keluaran yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk rekonstruksi kejadian masa lalu atau untuk prakiraan kejadiaan yang akan datang, dengan masalah pokok yang diperhatikan adalah operasi sistem yang digunakan (Sudjarwadi, 1995). 14 Gambar 5 menyajikan ilustrasi respon DAS akibat masukan berupa hujan. Dalam gambar tersebut sistim DAS digunakan sebagai model untuk memahami konsep transformasi masukan (hujan) menjadi keluaran (debit). Gambar 5 Bagan ilustrasi respon DAS akibat masukan berupa hujan (Sumber : Rachmad Jayadi, 2000) Memahami masalah pendekatan sistem DAS, tidak dapat terlepas dari pendekatan fisik seperti sistem masukan, sistem struktur/geometri, hukumhukum fisika, dan kondisi awal serta kondisi batas. Pendekatan secara fisik pada suatu DAS sangat sulit dilaksanakan karena mempunyai beberapa persoalan yang kompleks (rumit), sehingga untuk menyelesaikan persoalan tersebut dilakukan pendekatan sistim DAS (Sudjarwadi, 1995). 2.4 Teknologi Penyediaan Air Bersih di Pulau Kecil Menurut Kammere (1976), pemenuhan kebutuhan air bersih dapat dilakukan dengan cara pemanfaatan sumber daya air, yaitu: 1) Mengalirkan air dari sumbernya ke tempat pengguna atau pelayanan umum. Dimana, pelayanan dilakukan oleh pemerintah kota setempat yang pelaksanaannya dilakukan oleh PDAM dengan memanfaatkan sumber air baku yang ada dan diolah serta didistribusikan kedaerah pelayanan atau pelanggan. 2) Mengusahakan sendiri dengan menggali sumur. Penggalian sumur melalui sumur gali atau sumur bor banyak dilakukan oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan domestik, niaga dan industri. Sumber-sumber air bersih tersebut dapat dikelola oleh masyarakat sendiri, oleh pemerintah atau perusahan pengelola air bersih. Kualitas air dapat dioptimalkan dengan cara memisahkan zat padat yang terlarut pada air dimana zat padat tersebut dapat menjadi racun bagi manusia. Pemisahan zat padat dari air baku dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu : secara kimiawi, secara 15 gravitasi, filtrasi. Selain itu pula diperlukan juga desinfeksi air untuk mencegah terjadinya kontaminasi air. 2.4.1 Teknologi Pemanenan Air Hujan Air tawar yang tersedia di alam berupa air hujan, air dipermukaan dan air tanah, yang sebenarnya berasal dari air hujan juga. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika pemanfaatan air hujan dilakukan untuk penyediaan air baku dan dilaksanakan baik di daerah sulit air pulau-pulau besar maupun di pulau-pulau kecil. Sumber-sumber air yang dipergunakan penduduk semua berasal dari air hujan, yaitu air di dalam sumur gali, air sumur bor dangkal dan dalam, mata air, sungai, danau atau telaga. Air hujan biasanya dipanen dan ditampung, baik di atas permukaan maupun di bawah permukaan, dalam berbagai cara penampungan. Beberapa metode penampungan air hujan untuk air bersih di pulau-pulau kecil adalah : (1) Sumur resapan, (2) Bangunan PAH (Penampung Air Hujan) tradisional dan rasional, (3) Bangunan penampung air hujan lapangan, misalnya petak persawahan padi dan bangunan peresap air lapangan, (4) Bangunan ABSAH (Akuifer Buatan dan Simpanan Air Hujan), untuk penyediaan air baku komunal, (5) Bangunan NEO ABSAH, tipe campuran, untuk penyediaan air baku komunal, (6) Bangunan ABDULAH (Akuifer Buatan Daur Ulang Air Hujan) atau ABSAH suci ulang, di mesjid, musholla dan langgar, (7) Bangunan kombinasi sumur peresapan dan pemanfaatan (SURATAN), (8) Bangunan embung (telaga buatan) baik yang dibangun di luar alur air maupun yang berada pada alur air, (9) Bangunan pemompaan air telaga, (10) Bangunan pengolahan air rawa dan air gambut, (11) Bangunan pemompaan air tanah melaui sumur gali dan sumur bor, (11) Kombinasi bangunan penurapan mata air dengan bangunan ABSAH, dan (12) Kombinasi bangunan embung atau telaga dan ABSAH melalui bangunan prapengolahan. Sumur resapan adalah sistem peresepan yang mampu menampung air hujan yang langsung melalui atap atau pipa talang bangunan. Bentuknya bisa berupa sumur, kolam, parit, atau lubang biopori seperti pada Gambar 6. Fungsinya adalah untuk meresapkan air ke dalam tanah atau mengisi kembali air tanah yang dangkal. Tujuannya untuk mengurangi erosi, menyimpan dan menaikan permukaan air tanah dalam rangka penyelamatan sumberdaya air. Air yang diresapkan haruslah air hujan yang tidak tercemar limbah industri maupun limbah rumah tangga (minimal mutu air kelas tiga). 16 Air hujan yang jatuh ke halaman setidaknya 85% harus bisa diserap oleh halaman tersebut agar tidak meluapkan banjir. Halaman rumah secara alamiah bias menyerap curahan air hujan yang jatuh, termasuk dari atap rumah, yang mengalir melalui talang. Di sini sumur resapan akan mengurangi sumbangan bencana banjir dengan mengurangi sumbangan run off air hujan. Dibawah tanah, resapan ini akan masuk merembes lapisan tanah yang disebut sebagai lapisan tidak jenuh, dimana tanah (dari berbagai jenis) masih bisa menyerap air, kemudian masuk menembus permukaan tanah (water table) di mana dibawahnya terdapat air tanah (ground water) yang terperangkap di lapisan tanah yang jenuh. Air tanah inilah yang dapat dikonsumsi. Gambar 6 Ilustrasi sumur resapan Masuknya air hujan melalui peresapan inilah yang menjaga cadangan air tanah agar tetap bisa dicapai dengan mudah. Ini karena permukaan air tanah memang bisa berubah-ubah, tergantung dari suplai dan eksploitasinya. Dengan teralirkan ke dalam sumur resapan, air hujan yang jatuh di areal rumah tidak terbuang percuma ke selokan lalu mengalir ke sungai. Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor: 06-2459-2002 tentang Spesifikasi Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan menetapkan beberapa persyaratan umum yang harus dipenuhi sebuah sumur resapan yaitu : 17 1. Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam atau labil. 2. Sumur resapan harus dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum 5 m diukur dari tepi), dan berjarak minimum 1 m dari fondasi bangunan. 3. Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal 2 m di bawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air (water table) tanah minimum 1,50 m pada musim hujan. 4. Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan tanah melewatkan air) lebih besar atau sama dengan 2,0 cm per jam (artinya, genagan air setinggi 2 cm akan teresap habis dalam 1 jam), dengan tiga klasifikasi, yaitu : a) Permeabilitas sedang, yaitu 2,0-3,6 cm per jam. b) Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus), yaitu 3,6-36 cm per jam. c) Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar), yaitu lebih besar dari 36 cm per jam. Adapun beberapa ketentuan lain untuk pembangunan konstruksi sumur resapan adalah : 1. Sumur resapan harus memiliki tangkapan air hujan berupa suatu bentang lahan baik berupa lahan pertanian atau atap rumah. 2. Sebaiknya dilakukan penyaringan air di bak kontrol terlebih dahulu sebelum masuk kedalam sumur resapan. 3. Bak kontrol terdiri-dari beberapa lapisan berturut-turut adalah lapisan gravel (kerikil), pasir kasar, pasir dan ijuk. 4. Dasar sumur yang berada di lapisan kedap air diisi batu pecah ukuran 10-20 cm, pecahan bata merah ukuran 5-10 cm setebal 15 cm, ijuk, serta arang. Pecahan batu tersebut disusun berongga. 5. Menggunakan pipa PVC berdiameter 110 mm untuk pipa pemasukan dan pipa pengeluaran. Untuk pipa pengeluaran letaknya lebih rendah dari pada pipa pemasukan sebagai antisipasi manakala terjadi overflow/luapan air di dalam sumur. 6. Diameter sumur bervariasi tergantung pada besarnya curah hujan, luas tangkapan air, konduktifitas hidrolika lapisan aquifer, tebal lapisan aquifer dan daya tampung lapisan aquifer. Pada umumnya diameter berkisar antara 1 – 1,5 m sedalam ± 1,5 m. 18 7. Tergantung pada tingkat kelabilan/kondisi lapisan tanah dan ketersediaan dana yang ada, dinding sumur dapat dilapis pasangan batu bata kosong atau buis beton. Akan lebih baik bila dinding sumur dibuat lubang-lubang air dapat meresap juga secara horizontal. 8. Untuk menghindari terjadinya gangguan atau kecelakaan maka bibir sumur dapat dipertinggi dengan pasangan bata dan atau ditutup dengan papan/plesteran atau plat beton. Pengenalan teknologi ABSAH yang juga memanfaatkan air hujan memerlukan pemahaman filosofi dasar yang berada di belakangnya. Teknologi pemanenan air hujan ini dapat dilihat pada Gambar 7, memberikan ilustrasi mengenai susunan dari bak-bak. Bak akuifer buatan dan bak pemasukan air harus dibuatkan tutup bak berukuran 0,5 m x 1 m sampai tertutup semua. Bak penyimpanan air dibuat tertutup rapat dan diberikan manhole (lubang pemeriksaan). Gambar tersebut juga memperlihatkan rancangan bangunan yang menyajikan urutan material yang diisikan di dalam bak akuifer buatan. Ijuk ditempatkan di bagian bak pemasukan air agar bisa menangkap material layang dan akan menempel pada ijuk tersebut. Dengan cara ini bak pemasukan air dengan mudah bisa dibersihkan dan dirawat. Bangunan ABSAH merupakan salah satu bangunan konservasi dan sekaligus pendayagunaan air. Bangunan ABSAH, NEO ABSAH dan ABDULAH maupun bangunan turunannya, bisa menirukan aliran air yang terjadi di alam, yang dapat berupa : 1) aliran air tanah alami, 2) aliran air tanah di sekitar sumur gali atau sumur bor, 3) aliran mata air, 4) proses hidrologi dalam daerah aliran sungai (atap bangunan merupakan daerah aliran tangkapan hujan), 5) proses penyaringan fisik di alam, dan 6) proses penambahan mineral di alam, proses fisik, kimia dan biologis. Bangunan ABSAH bisa disebut sebagai SAWS (Stand Alone Water Supply) atau SSWS (Self Supporting Water Supply), atau disebut sebagai bangunan penyediaan air baku mandiri, yang bisa dibuat terlepas dari sistem penyediaan air yang berlaku umum seperti yang dimiliki oleh PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum). Dalam bahasa Inggris digunakan istilah AARSS (Artificial Aquifer and Rain Storage Structures) untuk bangunan ABSAH ini, sedangkan bangunan ABDULAH disebut dengan AARWR (Artificial Aquifer and Rain Water Recycling). Jika yang di daur ulang adalah air bersih yang dipasok dari tangki air 19 di atas tanah, yang disebut dengan bangunan ABDULA dipakai istilah AAWR (Artificial Aquifer and Water Recycling). Gambar 7 Ilustrasi bangunan ABSAH 2.4.2 Teknologi Pengolahan Air Bersih Skala Perkotaan (PDAM) Menurut Algamar (1994), sistem penyediaan air minum bila dilihat dari bentuk dan tekniknya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: 1) Sistem penyediaan air minum individual (individual water system atau rural water supply sistem). Sistem ini merupakan sistem yang sangat sederhana seperti halnya sumur-sumur yang digunakan dalam suatu rumah tangga. Secara komponen, sistem penyediaan air minum ini lengkap tetapi secara kapasitas maupun bentuk pelayanannya, sistem ini sangat terbatas. 2) Sistem penyediaan air minum komunitas atau perkotaan (community municipality water supply system atau public water supply sistem). Sistem ini merupakan sistem yang digunakan untuk suatu komunitas kota dengan bentuk pelayanannya yang menyeluruh untuk kebutuhan domestik, perkotaan maupun industri. Air permukaan yaitu air sungai dan air danau adalah air hujan yang terendap dipermukaan bumi selama beberapa waktu oleh karena itu tidak dapat dikonsumsi secara langsung karena rentan terhadap beberapa penyakit yang 20 dapat disebarkan melalui air. Untuk mengatasi hal tersebut air permukaan perlu diolah terlebih dahulu sebelum dikonsumsi oleh manusia seperti pada Gambar 8. Menurut Noerbambang dan Morimura (1985), ada 4 komponen utama yang termasuk kedalam sistem penyediaan air bersih, yaitu: 1) Unit pengumpul/intake air baku (collection or intake work). Sumber air baku terdiri dari lima sumber dan sistem pengambilan/pengumpulan (collection work) yang disesuaikan dengan jenis sumber yang dipergunakan dalam sistem penyediaan air bersih. Sumber air baku sangat berperan penting dalam pemberian pelayanan air bersih kepada masyarakat. Sumber air baku itu sendiri terdiri atas: air hujan (air hasil kondensasi uap air yang jatuh kebumi), air tanah yang bersumber dari mata air, air artesis atau air sumur dangkal maupun sumur dalam, air permukaan (air waduk, air sungai dan air danau), air laut, dan air hasil pengolahan buangan. Dari kelima sumber air baku diatas, sumber air baku yang berasal dari air permukaan merupakan sumber alternatif yang banyak dipilih karena kuantitasnya yang cukup besar. 2) Unit pengolahan air/sistem produksi (purification or treatment work). Proses pengolahan bertujuan untuk merubah air baku yang tidak memenuhi standar kualitas air bersih, menjadi air yang bersih dan siap untuk dikonsumsi. Sistem produksi dan pengolahan air bersih disebut juga dengan Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang merupakan instalasi pengolahan air dari air baku menjadi air bersih yang siap untuk diberikan kepada pihak konsumen. 3) Unit transmisi/sistem transmisi (transmision work). Sistem transmisi dalam penyediaan air bersih adalah pemindahan atau pengangkutan air dari sumber air bersih yang telah memenuhi syarat secara kualitas atau merupakan suatu bangunan pengumpul (reservoir), hingga memasuki jaringan pipa sistem distribusi. Lokasi atau topografi sumber air baku serta wilayah yang berbukit-bukit dapat mempengaruhi terhadap panjang atau pendeknya pipa serta cara pemindahan baik secara gravitasi ataupun dengan sistem pemompaan. 4) Unit distribusi/sistem distribusi (distribution work). Sistem distribusi air bersih adalah sistem penyaluran air bersih berupa jaringan pipa yang menghubungkan antara reservoir dengan daerah pelayanan atau konsumen yang berupa sambungan rumah, kran umum atau bahkan yang 21 belum terjangkau oleh sistem perpipaan yang dilayani melalui terminal air/tangki air yang dipasok melalui mobil tangki. Sistem distribusi ini yang terkait dengan umur jaringan perpipaan merupakan sistem yang paling penting dalam penyediaan air bersih. Hal ini mengingat baik buruknya pelayanan air bersih dinilai dari baik tidaknya sistem distribusi, artinya masyarakat hanya mengetahui air sampai kepengguna atau konsumen, dan masyarakat tidak melihat bagaimana prosesnya. Gambar 8 Skema proses pengolahan air bersih 2.4.3 Teknologi Pengolahan Air Bersih Skala Mikro (IPAB Mikro) Pengolahan air skala perkotaan tidaklah mudah dan murah sehingga masyarakat sulit untuk mencerna sistim kerjanya dan harganya pun relatif mahal sehingga tarif air bersih yang dihasilkan pun menjadi cukup tinggi. Namun dengan melakukan optimalisasi pada sistim operasi IPA terutama pada sistim media filter yang berfungsi sebagai pemisah kandungan zat padat, organis serta optimalisasi bahan koagulan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dan jam operasi alat tersebut. Untuk itu diperlukan suatu sistim pengolahan air bersih yang mudah dan tepat guna sehingga tidak memerlukan keahlian khusus dalam mengoperasikannya, hemat energi listrik karena sistim pengalirannya secara gravitasi dan hemat biaya karena penggunaan bahan koagulan yang sesuai kebutuhan karakteristik air baku. 22 Perbedaan antara IPA skala kota dengan IPAB Mikro adalah dalam kapasitas produksinya. IPAB Mikro mengolah air permukaan tawar dengan kapasitas yang lebih kecil dibandingkan IPA skala kota. Ilustrasi IPAB Mikro dapat dilihat pada Lampiran 1. Karena kapasaitas produksi yang kecil sehingga cocok ditempatkan di lokasi permukiman, hotel ataupun industri. Biaya operasional IPAB Mikro dapat dilihat pada Lampiran 2. Dengan menggunakan disain instalasi pengolahan air yang telah ada, diharapkan dapat meningkatkan kinerja instalasi pengolahan air dan kualitas air yang dihasilkan sesuai standar nasional maupun internasional. Dalam melakukan pelayanannya, PDAM selaku stakeholders atau pihak yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengelola air bersih bagi masyarakat harus memperhatikan aspek pelayanan yang berperan penting dalam memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Aspek pelayanan sangat mempengaruhi langsung karena langsung menyentuh kepada masyarakat selaku pengguna air bersih. Untuk dapat meningkatkan kapasitas pelayanan air bersih kepada masyarakat diperlukan aturan dan kebijakan yang dapat dijadikan sebagai dasar dan pedoman dalam pengelolaan air bersih. Aturan tersebut bisa berupa undang-undang atau peraturan pemerintah yang berisi aturan, hak dan kewajiban serta dukungan dalam peningkatan kapasitas pelayanan air bersih. Sedangkan kebijakan bisa berupa dukungan dan bantuan pendanaan yang diberikan oleh pihak eksekutif dan legislatif guna mendukung dalam pelayanan air bersih kepada masyarakat. 2.5 Pendekatan dan Pemodelan Sistem Pendekatan sistem didefinisikan sebagai suatu metode penyelesaian masalah yang dimulai dengan cara tentatif mendefinisikan atau merumuskan tujuan dan hasilnya adalah suatu sistem operasi yang secara efektif dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Permasalahan tersebut dapat dalam bentuk perbedaan kepentingan (conflict of interest) atau keterbatasan sumberdaya (limited of resources) (Eriyatno, 1998). Pendekatan sistem memberikan penyelesaian masalah dengan metode dan alat yang mampu mengidentifikasi, menganalisis, mensimulasi dan mendisain sistem dengan komponen-komponen yang saling terkait, yang diformulasikan secara lintasdisiplin dan komplementer untuk mencapai tujuan yang sama (Eriyatno, 2002). Menurut Manetsch dan Park (1977), sistem adalah suatu gugus atau kumpulan dari elemen yang berinteraksi dan terorganisir untuk mencapai tujuan. 23 Lucas (1993) menyatakan bahwa secara teoritis komponen dalam suatu sistem saling berhubungan dan memiliki ketergantungan antar komponen. Sistem harus dipandang secara keseluruhan (holistic) dan akan bersifat sebagai goal seeking sehingga terjadi sebuah keseimbangan untuk pencapaian tujuan. Sebuah sistem mempunyai asupan (input) yang akan berproses untuk menghasilkan luaran (output). O‟Brien (1999) mendefinisikan sebagai suatu bentuk atau struktur yang memiliki lebih dari dua komponen yang saling berinteraksi secara fungsional. Sehingga, tiap sistem harus memiliki komponen atau elemen yang saling terkait (berinteraksi) dan terorganisir dengan suatu tujuan atau fungsi tertentu. Pada sebuah sistem ada umpan balik yang berfungsi sebagai pengatur komponen sistem yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan, dan sistem yang lebih besar dapat terdiri atas beberapa sistem kecil (subsistem) yang akan membentuk suatu hirarki. Dengan demikian, sistem dapat berfungsi sebagai salah satu pendekatan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang kompleks atau merumuskan kebijakan dan strategi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Pendekatan sistem menurut Manetch dan Park (1977) akan berjalan baik jika terpenuhi kondisi sebagai berikut : (1) Tujuan sistem didefinisikan dengan baik dan dapat dikenali jika tidak dapat dikuantitatifkan, (2) Prosedur pembuatan keputusan dalam sistem konkrit adalah tersentralisasi atau cukup jelas batasannya, (3) Memungkinkan untuk dilakukan dalam perencanaan jangka panjang. Menurut Aminullah (2003), terdapat beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam pendekatan sistem untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks, yaitu : (1) analisis kebutuhan, yang bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan dari semua pemangku kepentingan dalam sistem, (2) formulasi permasalahan, yang merupakan kombinasi dari semua permasalahan yang ada dalam sistem, (3) identifikasi sistem, bertujuan untuk menentukan variablevariabel sistem dalam rangka memenuhi kebutuhan semua pemangku kepentingan dalam sistem, (4) pemodelan sistem, yang mencakup proses interaktif antara analis sistem dan pembuat keputusan, menggunakan model untuk mengeksplorasikan dampak dari berbagai alternatif dan variabel keputusan terhadap berbagai kriteria sistem, (5) implementasi, bertujuan untuk memberikan wujud fisik dari sistem yang diinginkan , dan (6) operasi, pada tahap ini akan dilakukan validasi sistem dan seringkali pada tahap ini terjadi modeifikasimodifikasi tambahan karena cepatnya perubahan lingkungan dimana sistem 24 tersebut berfungsi. Dalam ilmu manajemen secara sederhana sistem digambarkan sebagai satu kesatuan antara asupan, proses dan luaran. Sistem akan membentuk sustu siklus yang berjalan secara terus-menerus dan dikendalikan oleh suatu fungsi kontrol atau umpan balik. Prinsip sistem ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks yang sering dihadapi atau menyusun (merangkai) berbagai elemen sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat (Midgley, 2000). Untuk menyelesaikan permasalahan melalui pendekatan sistem harus dilakukan identifikasi terhadap semua komponen yang terdapat dalam sistem dan menentukan hubungan dari tiap komponen tersebut. Perubahan pada satu komponen dari suatu sistem akan mempengaruhi komponen lain dan biasanya akan menghasilkan umpan balik pada periode yang sama atau pada periode berikutnya. Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh faktor internal maupun faktor ekstekrnal (dari luar sistem). Menurut Djojomartono (2002), sistem dinamis adalah sistem yang memiliki variabel yang dapat berubah-ubah sepanjang waktu sebagai akibat dari perubahan asupan dan interaksi antar elemen-elemen sistem. Dengan demikian nilai luaran sangat tergantung pada nilai variabel asupan sebelumnya. Salah satu cara untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks dengan pendekatan sistem adalah menggunakan konsep model simulasi sistem dinamis. Dengan menggunakan simulasi maka model akan mengkomputasikan jalur waktu dari variabel-variabel model untuk tujuan tertentu dari asupan sistem dan parameter model. Karena itu model simulasi akan dapat memberikan penyelesaian dunia nyata yang kompleks. Model juga dapat digunakan untuk keperluan optimasi, dimana suatu kriteria model dioptimalkan terhadap aupan atau struktur sistem alternatif. Dengan demikian, model dapat dibangun dengan data base atau knowlegde base (Eriyatno, 2003). Menurut Manetsch dan Park (1977) model adalah suatu penggambaran abstrak dari sistem dunia nyata (riil), yang akan bertindak seperti dunia nyata untuk aspek tertentu. Model dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu model kuantitatif, kualitatif dan ekonik (Aminullah, 2003). Model yang baik akan memberikan gambaran perilaku dunia nyata sesuai dengan permasalahan dan akan meminimalkan perilaku yang signifikan dari sistem yang dimodelkan. Langkah pertama dalam menyusun model sistem dinamis adalah dengan mrnrntukan struktur model. Struktur model akan memberikan bentuk pada sistem 25 sekaligus memberi ciri yang mempengaruhi perilaku sistem. Perilaku tersebut dibentuk oleh kombinasi perilaku simpal umpan balik (causal loops) yang menyusun struktur model. Semua perilaku model, bagaimanapun rumitnya dapat disederhanakan menjadi struktur dasar yaitu mekanisme dari asupan, proses, luaran, dan umpan balik. Menurut Muhammadi et al.(2001) mekanisme tersebut akan bekerja menurut perubahan waktu atau bersifat dinamis yang dapat diamati perilakunya dalam bentuk unjuk kerja (level) dari suatu model sistem dinamis. Menurut Muhammadi et al.(2001), untuk memahami struktur dan perilaku sistem yang akan membantu dalam pembentukan model dinamika kuantitaif formal digunakan diagram sebab akibat (causal loops) dan diagram alir (flow chart). Diagram sebab akibat dibuat dengan cara menentukan variabel penyebab yang signifikan dalam sistem dan menghubungkannya dengan menggunakan garis panah ke variabel akibat, dan garis panah tersebut dapat berlaku dua arah jika dua variabel tersebut daling mempengaruhi. Pada sistem dinamis, diagram sebab akibat digunakan sebagai dasar untuk membuat diagram alir yang disimulasikan dengan menggunakan program model sistem dinamis. Contohnya, program Powersim Constructor version 2.5c untuk memberikan gambaran tentang perilaku sistem dan dengan simulasi dapat ditentukan alternatif terbaik dari sistem yang kita bangun. Setelah itu, dilakukan analisis untuk mendapatkan kesimpulan, dan kebijakan yang harus dilakukan untuk mengantisipasi atau mengubah perilaku sistem yang terjadi. Perilaku model sistem dinamis ditentukan oleh keunikan dari struktur model yang dapat dipahami dari hasil simulasi model. Dengan simulasi akan didapatkan perilaku dari suatu gejala atau proses yang terjadi dalam sistem, sehingga dapat dilakukan analisis dan peramalan perilaku gejala atau proses tersebut dimasa depan. Menurut Muhammadi et al.(2001) tahapan untuk melakukan simulasi model adalah sebagai berikut : 1. Penyusunan konsep, pada tahap ini dilakukan identifikasi variabel yang berperan dalam menimbulkan gejala atau proses. Variabel tersebut saling berinteraksi, saling berhubungan dan saling tergantung. Kondisi ini dijadikan sebagai dasar untuk menyusun gagasan atau konsep mengenai gejala atau proses yang akan disimulasikan. 2. Pembuatan model, gagasan atau konsep yang dihasilkan pada tahap pertama selanjutnya dirumuskan sebagai model yang berbentuk uraian, gambar dan rumus. 26 3. Simulasi, dilakukan dengan menggunakan model yang telah dibuat. Pada model kuantitatif, simulasi dilakukan dengan memasukkan data kedalam model, sedangkan pada model kualitatif, simulasi dilakukan dengan menelusuri dan melakukan analisis hubungan sebab akibat antar variabel dengan memasukkan data atau informasi yang dikumpulkan untuk memahami perilaku gejala atau proses model. 4. Validasi hasil simulasi, bertujuan untuk mengetahui kesesuaian antara hasil simulasi dan gejala atau proses yang ditirukan. Model dapat dinyatakan baik jika kesalahan atau simpangan hasil simulasi terhadap gejala atau proses yang terjadi di dunia nyata relatif kecil. Hasil simulasi yang sudah divalidasi tersebut digunakan untuk memahami perilaku gejala atau proses serta kecenderungan di masa depan, yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi pengambil mendatang. keputusan untuk merumuskan suatu kebijakan di masa 3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini direncanakan dilaksanakan selama satu tahun mulai pada bulan Oktober 2010 sampai bulan Oktober 2011 di seluruh wilayah Kecamatan Kota Tarakan Propinsi Kalimantan Timur, yaitu Kecamatan Tarakan Utara, Kecamatan Tarakan Tengah, Kecamatan Tarakan Barat dan Kecamatan Tarakan Timur. Gambar 9 Peta lokasi penelitian 28 3.2 Tahapan Penelitian Tahapan penelitian ini meliputi kegiatan pengumpulan data, analisis dan sintesis dalam rangka membangun model penyediaan air bersih secara berkelanjutan di pulau kecil Kota Tarakan, masing-masing diuraikan sebagai berikut : 1. Tahap Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder meliputi : a) Peta Dasar b) Data hidrologi c) Data sosial ekonomi, sosial dan budaya masyarakat. d) Data perkembangan pelayanan air bersih. 2. Tahap Analisis Data Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi : a) Analisis kebutuhan air bersih penduduk, industri dan perhotelan. b) Analisis ketersediaan air bersih alami berupa imbuhan air tanah. c) Analisis keberlanjutan penyediaan air bersih. d) Analisis strategi pengembangan penyediaan air bersih. 3. Tahap Disain Tahapan disain dilakukan berdasarkan analisis dan sintesis data yaitu merancang bangun model penyediaan air bersih secara berkelanjutan. Rangkaian proses tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar 10. Gambar 10 Tahapan Penelitian 3.3 Jenis dan Metode Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder (Tabel 1). Data primer dikumpulkan melalui survei lapangan (visual recall) dan wawancara langsung di lokasi penelitian. Sedangkan data 29 sekunder dikumpulkan melalui penelusuran berbagai pustaka yang ada di berbagai instansi terkait sesuai atribut yang dikaji, baik dalam bentuk laporan (data tabular) maupun spasial (dalam bentuk peta). Tabel 1 Jenis dan metode pengumpulan data No Jenis Data A. Data Primer 1. Debit dan kondisi sungai 2. Potensi banjir/kekeringan 3. Pemanfaatan sungai 4. Sumber air penduduk 5. Pelayanan air bersih PDAM Metode Pengukuran pada beberapa bagian sungai. Pengamatan dan wawancara, FGD, indepth interview Keterangan Stopwatch, Current meter, pelampung, meteran. Daftar isian B. Data Sekunder 1. Data iklim (curah hujan, volume hujan, evaporasi) 2. Data luasan penggunaan lahan (land use) 3. Data citra satelit Kota Tarakan 4. Data kependudukan (jumlah, pertambahan penduduk) 5. Kondisi sosial ekonomi 6. Data perkembangan industri dan hotel 7. Topografi 8. Peta wilayah Pulau Tarakan 9. PDRB sektor air bersih 10. SDM bidang sumber daya air 11. Kebutuhan supply air minum Kota Tarakan. 12. Luas areal pulau Tarakan 13. Struktur Kelembagaan PDAM 3.4 Dinas PU Tarakan Dinas PU Tarakan Bappeda Tarakan Penelusuran dokumen hasil penelitian dan dokumentasi pada perpustakaan, kantor daerah dan instansi terkait BPS Tarakan BPS Tarakan BPS Tarakan Dinas PU Tarakan Bappeda Tarakan BPS Tarakan SetKot Tarakan PDAM Bappeda Tarakan PDAM Metode Pemilihan Responden Pemilihan responden disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan jumlah responden yang akan diambil yaitu responden yang dianggap dapat mewakili dan memahami permasalahan yang diteliti. Penentuan responden dilakukan dengan menggunakan metode Expert Survey yang dibagi atas dua cara : 30 1. Responden dari masyarakat selain pakar di lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Purposive Random Sampling secara Proposional (Walpole, 1995) dengan rumus sebagai berikut : dimana : ( ) nx = jumlah responden (sample) setiap strata N = jumlah seluruh populasi (kepala keluarga) Nx = jumlah populasi setiap strata n = ukuran responden secara keseluruhan 2. Responden dari Kalangan Pakar, dipilih secara sengaja (Purposive Sampling) dimana responden yang dipilih memiliki kepakaran sesuai dengan bidang yang dikaji. Beberapa pertimbangan dalam menentukan pakar yang akan dijadikan responden, menggunakan kriteria seperti berikut : a. Mempunyai pengalaman yang kompeten sesuai dengan bidang yang dikaji. b. Memiliki reputasi, kedudukan/jabatan dalam kompetensinya dengan bidang yang dikaji. c. Memiliki kredibilitas yang tinggi, bersedia, dan atau berada pada lokasi yang dikaji. 3.5 Analisis Data Penelitian ini melalui tiga tahap yang meliputi : (1) Analisis status keberlanjutan penyediaan air pulau kecil Kota Tarakan, (2) Strategi penyediaan air bersih pulau kecil Kota Tarakan, (3) Model penyediaan air bersih secara berkelanjutan di pulau kecil Kota Tarakan. Tahapan dan metode analisis data secara rinci disajikan pada Tabel 2. Penelitian ini menggunakan berbagai metode analisis data seperti analisis hirarki proses (AHP) menggunakan software criterium decision plus (CDP), analisis SWOT, analisis spasial (SIG), analisis interpretative structural modelling (ISM), analisis multidimensional scalling (MDS) modifikasi dari Rapfish, analisis prospektif, serta analisis sistem dinamik menggunakan software powersim constructor 2.5c. Pada model sistem dinamis dibagi menjadi 2 sub model yaitu sub model kebutuhan air bersih dan sub model ketersediaan air bersih. 31 Tabel 2 Tahapan dan metode analisis model penyediaan air bersih No 1 2 3 Tujuan Khusus Status keberlanjutan penyediaan air bersih pulau kecil Kota Tarakan Jenis Data Primer Strategi penyediaan air bersih pulau kecil Kota Tarakan Primer Model penyediaan air bersih secara berkelanjutan di pulau kecil Kota Tarakan Primer Sekunder Sekunder Sekunder Bentuk Data Hasil wawancara & penyebaran Kuisioner Laporan dari dinas/instans i terkait Hasil wawancara & penyebaran Kuisioner Laporan dari dinas/instans i terkait Hasil wawancara & penyebaran Kuisioner Laporan dari dinas/instans i terkait Sumber Data Responde n terpilih dari dinas terkait Metode Analisis MDS, Monte carlo, Prospektif Output yang diharapkan Diketahuinya status keberlanjutan penyediaan air bersih Kota Tarakan Responde n terpilih dari dinas terkait AHP, SWOT, ISM Responde n terpilih dari dinas terkait Sistem Dinamik Didapatkan strategi dalam pengembang an penyediaan air bersih di pulau kecil Kota Tarakan Didapatkan proyeksi kebutuhan dan ketersediaan air bersih serta neraca air bersih dan model penyediaan air bersih Kota Tarakan 4 KONDISI UMUM PULAU TARAKAN 4.1 Kondisi Geografis dan Luas Wilayah Asal mula penamaan Tarakan berasal dari bahasa Tidung (suku/kaum nelayan), yaitu „tarak’ yang berarti bertemu dan „ngakan‟ berarti makan. Jadi, tarakan bermakna adalah tempat bertemunya para nelayan untuk beristirahat makan, maupun untuk keperluan lainnya. Kota ini pada awalnya adalah perkampungan kecil para nelayan, kemudian berkembang menjadi kota setelah ditemukan dan dieksploitasi sumber-sumber minyak buminya pada tahun 1896 oleh perusahaan perminyakan milik Pemerintah Hindia Belanda Bataafsche Pettroleum Maatschappij (BPM). Seiring dengan meningkatnya aktivitas eksploitasi minyak bumi di Pulau Tarakan tersebut, maka mulailah berdatangan penduduk dari daerah sekitarnya dan dari luar daerah baik itu sebagai tenaga kerja yang dibawa oleh Belanda maupun mereka mengadu nasib karena terpikat untuk mencari rezeki. Tarakan dibentuk sesuai dengan Kepres RI. No.22 tahun 1963 sebagai wilayah Kecamatan, kemudian berubah menjadi Kota Administratif sesuai dengan PP.No.47 Tahun 1981 dan kemudian ditingkatkan menjadi Kotamadya berdasarkan UU RI.No.29 Tahun 1997 yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 15 Desember 1997, sekaligus sebagai hari jadi Kota Tarakan. Kota Tarakan terletak dibagian utara Propinsi Kalimantan Timur yang merupakan pintu gerbang pembangunan wilayah utara Kalimantan Timur setelah Kota Balikpapan. Kota Tarakan merupakan kota pulau secara geografis terletak pada 117030‟50”- 117040‟12‟‟ Bujur Timur serta diantara 3019‟ - 3020‟ Lintang Utara, terdiri dari 2 (dua) pulau yaitu Pulau Tarakan dan Pulau Sadau. Kota Tarakan mempunyai luas 657,33 km2 dimana 38,2% nya atau 250,8 km2 berupa daratan dan sisanya sebanyak 61,8% atau 406,53 km2 berupa lautan. Di bagian utara berbatasan dengan pesisir pantai Kecamatan Pulau Bunyu Kabupaten Bulungan dan disebelah selatan berbatasan dengan pesisir pantai Kecamatan Tanjung Palas Kabupaten Bulungan. Sedangkan disebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Pulau Bunyu Kabupaten Bulungan dan Laut Sulawesi. Dan disebelah barat berbatasan dengan pesisir pantai Kecamatan Sesayap Kabupaten Bulungan. Letak dan posisi Pulau Tarakan dapat dilihat pada Gambar 11. Adanya perkembangan dan pemekaran wilayah sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 23 Tahun 1999, maka Kota Tarakan yang 33 sebelumnya terdiri dari 3 kecamatan dimekarkan menjadi 4 kecamatan dan 18 kelurahan. Keempat kecamatan tersebut adalah Tarakan Timur, Tarakan Tengah, Tarakan Barat dan Tarakan Utara. Disamping itu berdasarkan UU No.22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, status desa yang ada di Kota Tarakan seluruhnya berubah menjadi kelurahan. Undang-undang tersebut juga mengubah penyebutan “Kotamadya Tarakan” menjadi “Kota Tarakan”. Kota Tarakan terbagi atas 4 kecamatan dan 20 kelurahan, yang masing luasnya dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Jumlah dan luas wilayah kecamatan dan kelurahan di Kota Tarakan Kecamatan Tarakan Timur 58,01 km2 1. Kelurahan Lingkas Ujung 1,16 km2 2. Kelurahan Gunung Lingkas 3,19 km2 3. Kelurahan Mamburungan 18,90 km2 4. Kelurahan Kampung Empat 11,39 km2 5. Kelurahan Kampung Enam 23,37 km2 6. Kelurahan Mamburungan Timur 7. Kelurahan Pantai Amal Kecamatan Tarakan Tengah 55,54 km2 1. Kelurahan Selumit Pantai 0,48 km2 2. Kelurahan Selumit 0,43 km2 3. Kelurahan Sebengkok 1,48 km2 4. Kelurahan Pamusian 2,54 km2 5. Kelurahan Kampung Satu Skip 50,61 km2 Kecamatan Tarakan Barat 27,89 km2 1. Kelurahan Karang Balik 0,76 km2 2. Kelurahan Karang Rejo 0,80 km2 3. Kelurahan Karang Anyar 5,61 km2 4. Kelurahan Karang Anyar Pantai 8,51 km2 5. Kelurahan Karang Harapan 12,21 km2 Kecamatan Tarakan Utara 109,36 km2 1. Kelurahan Juata Permai 10,59 km2 2. Kelurahan Juata Kerikil 14,23 km2 3. Kelurahan Juata Laut 84,54 km2 Kecamatan Tarakan Utara merupakan kecamatan terluas diantara kecamatan lain di Kota Tarakan dengan luas 109,36 km2 atau sekitar 43,6% dari luas Kota Tarakan. Sedangkan Kecamatan Tarakan Barat termasuk kecamatan yang paling kecil jika dilihat dari luasnya. Luas Kecamatan Tarakan Barat hanya 27,89 km2 atau 11,12% dari luas daratan Kota Tarakan. 34 Gambar 11 Peta Pulau Tarakan Kota Tarakan menduduki posisi yang strategis, khususnya dalam konteks Propinsi Kalimantan Timur antara lain karena : a. Kota Tarakan merupakan pusat pengembangan wilayah terpadu pembangunan utama bagian utara Kalimantan Timur meliputi : Kota Tarakan dan sekitarnya, Malinau-Sesayap-Tanjung Selor dan sekitarnya, Nunukan dan sekitarnya, sertaTanjung Redeb dan sekitarnya, sehinga menjadikan Tarakan sebagai penggerak pertumbuhan Wilayah Utara Propinsi Kalimantan Timur. b. Sebagai pintu gerbang kedua Provinsi Kalimantan Timur setelah Kota Balikpapan bagi lalu lintas pelayaran dan penerbangan. c. Merupakan kota transit manusia, barang-barang dan jasa sebelum menyebar maupun didistribusikan ke daerah hinterlandnya (Kabupaten Berau, Nunukan, Bulungan dan Malinau). d. Dari lingkup internasional, Tarakan tidak saja sebagai pusat transit perdagangan antar pulau di Kalimantan Timur bagian utara, bahkan menjadi pusat transit perdagangan bebas antara Indonesia-Malaysia-Filipina, 35 sehingga dalam menyonsong perdagangan bebas sangat berdekatan dengan negara tetangga. e. Kota Tarakan juga memiliki eksebilitas tinggi terhadap kota-kota lain untuk memudahkan usaha-usaha didalam kegiatan pemasaran dan pengembangan kegiatan dan distrbusi barang dan jasa karena aspek geo-politik, geostrategis, dan geo-ekonomi yang sangat baik. 4.2 Topografi Berdasarkan kondisi topografis, Kota Tarakan merupakan area datar hingga berbukit, pada dorsal pulau ini terdapat perbukitan memanjang melengkung kearah Barat Laut – Tenggara dengan ketinggian sekitar 110 meter dpl. Kelerengan bervariasi antara 2,5-50% dengan kelerengan rata-rata sekitar 3%. Lembah-lembah dengan tebing terjal dijumpai pada bagian hulu dengan ketinggian tebing relatif sedang. Disisi Barat dan Timur perbukitan mengalir beberapa sungai atau alur dengan cabang dan anak-anak sungai yang relative pendek hingga mencapai tepi laut atau dataran. Tebing-tebing di perbukitan menunjukkan intensitas erosi yang tinggi. Perbukitan tersebut dikelilingi oleh dataran banjir, dataran sungai, dan dataran pantai. Di beberapa tempat, khususnya di bagian utara pulau terdapat rawa-rawa atau genangan. Kawasan dataran dengan ketinggian kurang dari 7 meter mencakup luasan sekitar 65% dari seluruh luas Pulau Tarakan. Sedangkan tingkat kelerengan lahan berkisar antara 0-40%. Lereng atau kemiringan lahan merupakan salah satu factor yang perlu diperhatikan dalam menentukan layak atau tidaknya suatu wilayah untuk budidaya. 4.3 Fisiografi Wilayah fisiografi Kota Tarakan dikelompokan dalam lima satuan fisiografik yaitu : a. Wilayah endapan pasir pantai (beaches) yaitu daerah punggung pasir di pantai pesisir dengan bentuk wilayah dasar, variasi lereng dari 2% dan perbedaan tinggi < 2 m. b. Wilayah rawa pasang surut (tidal swamp) yaitu daerah daratan rendah ditepi pantai yang selalu ditumbuhi hutan mangrove dan nipah, bentuk wilayah datar dengan variasi lereng < 2% dan perbedaan tinggi <2 m. 36 c. Wilayah dataran (plain) yaitu daerah endapan, dataran karst, dataran basalt dengan wilayah bergelombang <40% dengan beda ketinggian <50 meter. d. Wilayah dataran alluvial yaitu daerah dataran dari proses pengendapan baik di daerah muara maupun daerah pedalaman. Bentuk wilayah datar dengan variasi lereng <2 meter. e. Wilayah berbukit (hill) yaitu daerah bukit endapan dan ultra basalt, sistem punggung sedimen, metaorf dan kerucut vulkanik yang berpotongan dengan pola drainase radial. Bentuk wilayah bergelombang/bergunung, variasi lereng 16-60% dan beda ketinggian 50-300 meter. 4.4 Morfologi Kota Tarakan merupakan daerah datar hingga berbukit yang tersebar dalam beberapa kelas ketinggian. Kawasan pantai Kota Tarakan memiliki kondisi topografi yang cenderung datar. Luas kota Tarakan pada daerah pengaruh pasang surut sebesar 2.937 ha (11,71%) dengan kelas ketinggian 0-7 meter. Untuk daerah dataran pantai luasannya mencapai 8.980 ha (35,65%) pada ketinggian 7-25 meter. Kedua kelas ketinggian ini tersebar mulai garis pantai hingga ke bagian tengah pulau. 4.5 Morfologi Daerah Aliran Sungai Umumnya daerah aliran sungai di Pulau Tarakan berupa sungai-sungai kecil dengan lebar antara 1-7 meter, kedalaman air tidak lebih dari 0,5 meter. Sungai-sungai yang mengalir di Pulau Tarakan umumnya pendek-pendek. Hulu sungai terdapat di tengah pulau, sebagian mengalir ke pantai barat pulau dan sebagian lagi mengalir ke pantai timur Pulau Tarakan. Sungai-sungai yang bermuara di bagian barat pulau adalah Sungai Bengawan, Sungai Peniki, Sungai Sesanip, Sungai Pamusian, Sungai Selipi dan Sungai Amal. Selain itu terdapat sungai-sungai yang mengalir ke pantai utara, yaitu Sungai Bunyu, Sungai Maja, dan Sungai Selayang. Sungai yang tergolong besar dan alirannya terus-menerus sepanjang musim adalah Sungai Pamusian. Daerah aliran sungai di Pulau Tarakan dapat dilihat pada Gambar 12. 4.6 Debit Sungai dan Sedimentasi Sungai-sungai yang mengalir di Pulau Tarakan umumnya sempit dan pendek. Pada saat kemarau aliran sungai umumnya kering atau sangat sedikit, 37 sedangkan pada musim penghujan debit air cukup besar. Luasan daerah aliran sungai dan debit aliran maksimum masing-masing sungai dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Inventarisasi sungai Pulau Tarakan (2009) Luas DPS No. Nama Sungai (km2) 1 Sungai Binalatung 22,591 2 Sungai Pamusian 23,82 3 Sungai Kampung Bugis/Karang Anyar 5,641 4 Sungai Persemaian 14,779 5 Sungai Semunti 8,976 6 Sungai Maya 15,066 7 Sungai Mangatal 10,422 8 Sungai Selayung 8,366 9 Sungai Siaboi 20,492 10 Sungai Keterangan 17,245 11 Sungai Hanjulung 6,634 12 Sungai Kuli 4,268 13 Sungai Kampung Baru 3,821 14 Sungai Amal Baru 3,468 15 Sungai Batu Mapan 3,138 16 Sungai Slipi/Mambulua 1,441 17 Sungai Bunyu/Tanjung Batu 2,025 18 Sungai Mentogog 4,944 19 Sungai Nangitan 2,336 20 Sungai Buaya 23,82 21 Sungai Sesanip 6,676 22 Sungai Bengawan 12,363 23 Sungai Belalung 9,737 24 Sungai Bunyu 7,578 Debit Maks (m3/dtk) 1,973 0,204 0,493 1,29 0,784 1,316 0,91 0,731 1,789 1,506 0,579 0,373 0,334 0,303 0,274 0,126 0,177 0,432 0,204 2,08 0,583 1,08 0,85 0,662 Permukaan tanah Pulau Tarakan umumnya mengandung pasir dan lempung. Karena kestabilan lereng yang rendah, penebangan pohon, dan curah hujan yang tinggi mengakibatkan terjadinya sedimentasi (pendangkalan) di dalam sungai. Adanya sedimentasi pada aliran ini dapat mengakibatkan kekeruhan yang mempengaruhi kualitas sungai. 38 Gambar 12 Peta Daerah Aliran Sungai Pulau Tarakan 4.7 Curah Hujan Rata-rata Curah hujan di suatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan geografis dan pertemuan/perputaran arus udara (BMKG, 2009). Oleh karena itu, jumlah curah hujan beragam menurut bulan dan letak stasiun pengamat. Curah hujan Kota Tarakan sangat beragam dari waktu ke waktu. Catatan curah hujan bulanan sepanjang tahun 2008 disajikan pada Tabel 5. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari sebesar 443,6 mm dan rata-rata hujan terendah sebesar 206,6 mm terjadi pada bulan Oktober. Sedangkan ratarata curah hujan sepanjang tahun 2008 tercatat sebesar 330,8 mm. Namun dalam tahun-tahun terakhir ini, keadaan musim di Kalimantan Timur termasuk Kota Tarakan kadang tidak menentu. Pada bulan-bulan yang seharusnya turun hujan dalam kenyataannya tidak turun hujan sama sekali, begitu juga sebaliknya. 39 Tabel 5 Curah hujan dan hari hujan Kota Tarakan tahun 2008 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 2008 2007 2006 2005 2004 2003 4.8 Curah hujan (mm) 443,6 293,6 404,1 377,1 375,5 320,9 312,8 208,1 309,2 206,6 426,5 291,8 330,8 329,5 346,2 278,5 293,6 274,2 Penyinaran matahari (%) 43.6 48,1 22,1 39,1 53,8 44,8 46,9 46,7 52,8 53,7 42,2 33,15 43,9 46,1 57,9 51,0 51,4 52,2 Hari hujan 27 24 27 24 20 26 23 22 24 19 26 27 24 23 23 21 19 19 Tekanan udara (mb) 1010,1 100,1 1010,4 1009,8 1010,3 1010,9 1010,5 1010,9 1011,0 1011,0 1010,3 1010,1 1010,5 1010,5 1010,7 1011,0 1009,8 1009,7 Penggunaan Lahan di Kota Tarakan Jenis penutupan lahan tahun 2008 didapatkan dari interpretasi citra satelit Landsat TM 5 tahun 2008 dan dikoreksi dengan data satelit resolusi dangat tinggi (quickbird) untuk beberapa wilayah. Penutupan lahan dikalsifikasikan menjadi 11 kelas seperti tersaji pada Tabel 6. Dari hasil tersebut, Kota Tarakan masih mempunyai jenis tutupan lahan hutan primer seluas 31,1% dari seluruh total wilayahnya, terutama di Kecamatan Tarakan Barat, Kecamatan Tarakan Tengah dan Kecamatan Tarakan Utara. Sedangkan untuk hutan mangrove hanya terdapat di Kecamatan Tarakan Tengah dan Kecamatan Tarakan Timur dengan luas sekitar 312,9 ha atau sekitar 1,2% dari seluruh wilayah. Sebaran masingmasing jenis tutupan dapat dilihat pada Gambar 13. Tabel 6 Jenis dan tutupan lahan Pulau Tarakan tahun 2008 Penutupan Lahan 2008 Hutan mangrove Hutan primer Ladang Ladang bersemak Lahan terbangun Perkampungan Rawa Rawa bersemak Semak belukar Tambak Tanah terbuka Total Luas (ha) Luas (%) 312,9 7788,0 4522,0 3537,1 2892,6 465,4 16,5 190,4 1999,5 2327,4 1028,3 1,2 31,1 18,0 14,1 11,5 1,9 0,1 0,8 8,0 9,3 4,1 25080,0 100,0 40 Gambar 13 Penutupan lahan Pulau Tarakan (2008) 4.9 Kependudukan Penduduk Kota Tarakan mendiami wilayah pulau secara menyebar, namun yang dominan dan terpadat pada kawasan pantai Kota Tarakan terdapat di Lingkas Ujung, Selumit Pantai, Karang Anyar Pantai, yang sebagian besar 41 merupakan pendatang dari Sulawesi. Kepadatan sedang terdapat pada Juata Laut, karena sebagian penduduk merupakan nelayan tambak yang hanya menjadikan Kota Tarakan sebagai tempat singgah dan istirahat. Sementara itu, untuk daerah Mamburungan sebagian besar merupakan korban eks kebakaran yang berasal dari Selumit Pantai. Jumlah anggota keluarga yang bekerja pada masing-masing kawasan 1-3 orang dan sebagian besar memiliki pendidikan hanya sampai tingkat Sekolah Dasar. Jumlah penduduk Kota Tarakan berdasarkan data BPS Kota Tarakan seperti pada Tabel 7. Tabel 7 Jumlah penduduk Kota Tarakan Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 4.10 Tarakan Barat 41.302 45.762 51.533 53.514 60.077 63.707 70.023 76.671 82.028 Tarakan Timur 21.805 25.270 26.841 32.317 34.171 39.244 44.961 53.462 56.178 Tarakan Tengah 46.458 48.190 50.526 49.937 51.930 54.855 56.971 59.006 62.413 Tarakan Utara 8.089 10.975 11.467 12.152 13.550 15.821 18.175 20.859 24.132 Total (jiwa) 117.654 130.197 140.367 147.920 159.874 173.627 190.130 209.998 224.751 Kondisi Infrastruktur Perumahan Jumlah total bangunan rumah di Kota Tarakan tahun 2006 adalah 29.919 unit. Sebaran perumahan per kecamatan belum merata. Jumlah rumah terbanyak berada di Kecamatan Tarakan Barat yaitu sebanyak 9.709 unit dan jumlah rumah terkecil di Kecamatan Tarakan Utara sebanyak 3.859 unit. Sedangkan untuk skala kelurahan, jumlah rumah terbanyak terdapat di Kelurahan Karang Anyar yaitu 4.366 unit dan jumlah terkecil di Kelurahan Mamburungan Timur sebanyak 291 unit. Berdasarkan jenis konstruksinya sebagian besar rumah di Kota Tarakan merupakan rumah non permanen, yaitu sebanyak 15.238 unit. Sementara rumah permanen berjumlah 13.346 unit, dan rumah semi permanen sebanyak 332 unit. Banyaknya jumlah rumah non permanen di Kota Tarakan karena tipologi bangunan merupakan jenis rumah panggung dan terbuat dari kayu. Sistem struktur yang digunakan sebagai konstruksi bangunan adalah struktur rangka kayu, konstruksi dinding dan lantai papan kayu, sedangkan atap sebagian besar menggunakan atap seng dan sebagian kecil atap sirap. Konstruksi panggung umumnya terletak diatas air/tepi pantai dan sungai, untuk mengantisipasi air pasang dan binatang buas.Tipologi perumahan yang berada di daratan, secara 42 umum lebih variatif bentuk konstruksinya, baik konstruksi rumah panggung maupun konstruksi pondasi batu. Tipologi bangunan rumah di daratan umumnya sudah lebih modern dengan jenis rumah yang berdinding tembok bata dan beratap genteng. Jenis rumah ini umumnya merupakan rumah-rumah baru atau perumahan yang dibangun oleh pengembang. 4.11 Kondisi Infrastruktur Air Bersih Kebutuhan air bersih saat ini dilayani oleh PDAM Kota Tarakan. Saat ini PDAM memiliki 4 (empat) buah IPA seperti pada Gambar 14. Gambar 14 Peta pembagian zona pelayanan air minum PDAM PDAM Kota Tarakan telah berdiri semenjak tahun 1980 dan merupakan cabang PDAM Kabupaten Bulungan yang beribukota di Tanjung Selor. Jadi, PDAM Kota Tarakan ini telah berusia 32 tahun. Kota Tarakan yang berbatasan dengan lautan mengakibatkan rentannya kondisi/kualitas air tanah maupun air permukaan. Padahal, kuantitas air bersih yang dibutuhkan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah dan taraf hidup masyarakatnya. 43 Adapun sumber air baku yang dimanfaatkan oleh PDAM Kota Tarakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih adalah : (1) Sungai Kampung Bugis untuk instalasi pengolahan air Kampung Bugis, (2) Sungai Sesanip untuk instalasi pengolahan air di Persemaian, (3) Sungai Semunti untuk instalasi pengolahan air Juata Laut, (4) Sungai Binalatung untuk instalasi pengolahan air Kampung Satu. Kapasitas total IPA PDAM terpasang sebesar 400 liter/detik, namun kapasitas efektifnya hanya sebesar 269 liter/detik (PDAM Tarakan, 2009). Jumlah produksi air bersih sebesar 8.103.581,52 m3 dan air yang didistribusikan sebesar 7.863.018,17 m3. Sedangkan kehilangan air air cukup tinggi yaitu sebesar 3.185.681,97 m3 atau 40,5%. Sumber air bersih lainnya adalah air sumur dan mata air. Dari data PDAM tahun 2003, terdata secara keseluruhan terdiri dari 378 mata air sumur, serta 162 unit pompa tangan seperti yang disajikan pada Tabel 8. Tabel 8 Sumber air baku alami Kota Tarakan (2003) No Kecamatan 1 2 3 4 Tarakan Timur Tarakan Tengah Tarakan Barat Tarakan Utara Total Pemanfaatan Sumber Air Mata Air (Sumur) Air Tanah Dangkal (pompa tangan) 130 71 105 49 46 30 97 12 378 162 5 STRATEGI PENYEDIAAN AIR BERSIH KOTA TARAKAN Dalam bab ini akan membahas mengenai strategi yang akan digunakan dalam pengembangan penyediaan air bersih di pulau kecil, studi kasus Kota Tarakan. Strategi penyediaan air bersih menggunakan 3 (tiga) tahapan metode, yaitu (1) ISM (Interpretatif Structural Modelling) untuk mengetahui faktor kunci dalam kendala, kebutuhan dan kelembagaan penyediaan air bersih; (2) AHP (Analytical Hierarchy Process) untuk mendapatkan alternatif penyediaan air bersih; dan (3) SWOT (Strength, Weakness, Opportunities and Threats) untuk menyusun strategi dalam pengembangan penyediaan air bersih. 5.1 Analisis Kendala, Kebutuhan dan Kelembagaan Penyediaan Air Bersih Dalam penyediaan air bersih secara berkelanjutan di Pulau kecil, dalam hal ini di Kota Tarakan, perlu dikaji aspek kendala, kebutuhan dan lembaga yang berperan dalam penyediaan air bersih. Kajian ini menggunakan metode ISM (Interpretative Structural Modelling) dengan menggunakan kuisioner dan diskusi pakar. a. Kendala dalam Penyediaan Air Bersih di Pulau Kecil Berdasarkan hasil pendapat pakar, ditemukan 12 sub elemen kendala, yaitu (1) kebijakan yang kurang memperhatikan pulau kecil, (2) terbatasnya sarana dan prasarana dasar, (3) kualitas air baku yang buruk akibat pencemaran, (4) rendahnya kesadaran hidup bersih, (5) tingginya investasi sarana penyediaan air bersih, (6) tata ruang yang buruk, (7) mudah terjadi konflik sosial, (8) kurangnya sumberdaya manusia yang memadai, (9) terbatasnya sumberdaya air tawar, (10) kurangnya kemampuan/kapasitas institusi, (11) tata kelola kelembagaan lemah, (12) teknologi penyediaan air kurang memadai. Hubungan kontekstual antar sub elemen kendala adalah sub elemen kendala yang satu memberikan kontribusi atau menyebabkan sub elemen kendala yang lain. Berdasarkan hasil analisis seperti pada Gambar 15 menunjukkan bahwa sub elemen kendala kebijakan yang kurang memperhatikan Pulau kecil (K1), kualitas air baku yang buruk akibat pencemaran (K3), tingginya investasi sarana penyediaan air bersih (K5), tata ruang yang buruk (K6), kurangnya sumberdaya manusia yang memadai (K8), terbatasnya sumberdaya air tawar (K9), terletak pada independent sector. Hal ini menunjukkan bahwa ke enam sub elemen 45 kendala tersebut memberikan kontribusi yang tinggi terhadap sub elemen kendala yang lain, setiap perubahan dalam sub elemen ini akan mempengaruhi sub elemen kendala yang lain, sehingga perlu kajian yang lebih hati-hati dan mendalam. Sub elemen terbatasnya sarana dan prasarana dasar (K2) dan mudah terjadi konflik sosial (K7), terletak pada linkage sector, hal ini berarti bahwa terjadinya kedua sub elemen kendala tersebut sangat dipengaruhi dan sekaligus mempengaruhi terjadinya sub elemen kendala yang lain. Sub elemen kurangnya kemampuan/kapasitas institusi (K10), tata kelola kelembagaan lemah (K11), berada pada dependent sector, hal ini berarti bahwa terjadinya kedua kendala ini sangat dipengaruhi oleh sub elemen kendala lainnya. Sedangkan sub elemen kendala rendahnya kesadaran hidup bersih (K4) dan teknologi penyediaan air kurang memadai (K12), menempati autonomous sector, hal ini berarti bahwa sub elemen kendala ini umumnya tidak berkaitan atau memiliki hubungan yang sedikit dengan sub elemen kendala lainnya. Gambar 15 Matriks driver power – dependence untuk elemen kendala dalam penyediaan air bersih berkelanjutan di Kota Tarakan Dari analisis ini didapatkan hirarki sub elemen kendala seperti yang disajikan pada Gambar 16. Sub elemen kendala kunci (driver power) pada penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil di Kota Tarakan adalah kualitas air baku yang buruk akibat pencemaran (K3), kurangnya sumberdaya 46 manusia yang memadai (K8) dan terbatasnya sumberdaya air tawar (K9). Ketiga sub elemen kendala ini menjadi dasar bagi sub elemen lainnya. Untuk itu kendala kualitas air baku yang buruk, kurangnya sumberdaya manusia yang memadai dan terbatasnya sumberdaya air tawar menjadi elemen kendala yang perlu terlebih dahulu diselesaikan. Sub elemen kendala selanjutnya adalah kebijakan yang kurang memperhatikan Pulau kecil (K1). Akibat kurang perhatian dari pemerintah, maka sarana dan prasarana dasar (K2) menjadi terbatas, begitu juga dengan tata ruang yang belum tertata (K6). Tahapan selanjutnya yang harus dipecahkan dalam penyediaan air bersih adalah menciptakan sarana penyediaan air bersih dengan investasi yang murah (K5). Berikutnya adalah memperbaiki tata kelola kelembagaan pengelolaan air bersih (K11), menyelesaikan atau meredam konflik-konflik sosial (K7) dan merubah budaya masyarakat untuk selalu hidup bersih (K4). Kendala ini menarik, karena mudahnya terjadi perselisihan antar suku di Kota Tarakan, dan beberapa suku tertentu memiliki kebiasaan yang berbeda dalam memanfaatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Contohnya, ada sebagian suku di Kota Tarakan yang terbiasa menggunakan air yang sedikit payau, begitu pula ada sebagian suku yang terbiasa menggunakan air yang sedikit asam (gambut). Tahapan terakhir yang harus diselesaikan adalah meningkatkan kemampuan kapasitas institusi (K10), hal ini terlihat dari rendahnya cakupan pelayanan air bersih di Kota Tarakan, untuk itu diperlukan teknologi penyediaan air yang cocok di Pulau kecil, khususnya di Kota Tarakan (K12). Gambar 16 Struktur hirarki sub elemen kendala penyediaan air bersih berkelanjutan di Kota Tarakan 47 b. Kebutuhan dalam Penyediaan Air Bersih di Pulau Kecil Berdasarkan hasil pendapat pakar, ditemukan 7 sub elemen kendala, yaitu (1) ketersediaan air baku, (2) teknologi penyediaan air bersih, (3) investasi, (4) peran serta masyarakat, (5) dukungan kebijakan, (6) sumberdaya manusia, (7) lembaga pengelolaan air bersih. Hubungan kontekstual antar sub elemen kebutuhan adalah sub elemen kebutuhan yang satu lebih penting dari sub elemen kebutuhan yang lain. Berdasarkan hasil analisis seperti pada Gambar 17 menunjukkan bahwa sub elemen kebutuhan ketersediaan air baku (B1) dan teknologi pengolahan air bersih (B2), terletak pada independent sector. Hal ini menunjukkan bahwa kedua sub elemen kebutuhan tersebut memberikan kontribusi yang tinggi terhadap sub elemen kebutuhan yang lain, setiap perubahan dalam sub elemen ini akan mempengaruhi sub elemen kebutuhan yang lain, sehingga perlu kajian yang lebih hati-hati dan mendalam. Sub elemen peran serta masyarakat (B4), sumberdaya manusia (B6) dan investasi (B3), terletak pada lingkage sector, hal ini berarti bahwa terjadinya kedua sub elemen kebutuhan tersebut sangat dipengaruhi dan sekaligus mempengaruhi terjadinya sub elemen kebutuhan yang lain. Sub elemen dukungan kebijakan (B5), dan lembaga pengelolaan air bersih (B7), berada pada dependent sector, hal ini berarti bahwa terjadinya kedua kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh sub elemen kebutuhan lainnya. Gambar 17 Matriks driver power – dependence untuk elemen kebutuhan dalam penyediaan air bersih berkelanjutan di Kota Tarakan 48 Dari analisis ini didapatkan hirarki sub elemen kebutuhan seperti yang disajikan pada Gambar 18. Sub elemen kebutuhan kunci (driver power) pada penyediaan air bersih berkelanjutan di Pulau kecil di Kota Tarakan adalah ketersediaan air baku (B1). Sub elemen kebutuhan ini menjadi dasar bagi sub elemen lainnya. Untuk itu ketersediaan air baku yang dapat dimanfaatkan atau diolah menjadi air bersih menjadi elemen kebutuhan yang perlu dan penting terlebih dahulu diperhitungkan. Sub elemen kebutuhan selanjutnya adalah teknologi pengolahan air bersih (B2). Sub elemen ini perlu disediakan sebagai alat untuk mengolah air baku yang tersedia. Kemudian diperlukan juga peran serta masyarakat (B4) dan ketersediaan sumber daya manusia (B6) yang handal. Semua elemen kebutuhan diatas membutuhkan investasi yang layak dan proporsional (B3). Untuk itu, dukungan pemerintah daerah maupun pusat sangat diperlukan dalam bentuk dukungan kebijakan (B5), dan level terakhir dalam kebutuhan penyediaan air bersih di Pulau kecil ini diperlukan suatu lembaga dalam pengelolaan air bersih (B7). Gambar 18 Struktur hirarki sub elemen kebutuhan penyediaan air bersih berkelanjutan di Kota Tarakan c. Lembaga yang terlibat dalam Penyediaan Air Bersih di Pulau Kecil Berdasarkan hasil pendapat pakar, ditemukan 7 sub elemen lembaga, yaitu (1) pemerintah pusat, (2) pemerintah daerah, (3) PDAM, (4) masyarakat, (5) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), (6) Swasta, (7) perguruan tinggi. Hubungan kontekstual antar sub elemen lembaga adalah sub elemen lembaga yang satu lebih berpengaruh dari sub elemen lembaga yang lain. 49 Berdasarkan hasil analisis seperti pada Gambar 19 menunjukkan bahwa sub elemen lembaga pemerintah pusat (L1), pemerintah daerah (L2) dan PDAM (L3), terletak pada independent sector. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga sub elemen lembaga tersebut memberikan kontribusi yang tinggi terhadap sub elemen lembaga yang lain, setiap perubahan dalam sub elemen ini akan mempengaruhi sub elemen lembaga yang lain, sehingga perlu kajian yang lebih hati-hati dan mendalam. Sub elemen masyarakat (L4) dan swasta (L6), terletak pada lingkage sector, hal ini berarti bahwa terjadinya kedua sub elemen lembaga tersebut sangat dipengaruhi dan sekaligus mempengaruhi terjadinya sub elemen lembaga yang lain. Sub elemen lembaga swadaya masyarakat (L5) dan perguruan tinggi (L7), berada pada dependent sector, hal ini berarti bahwa keberadaan kedua lembaga ini sangat dipengaruhi oleh sub elemen lembaga lainnya. Gambar 19 Matriks driver power – dependence untuk elemen lembaga dalam penyediaan air bersih berkelanjutan di Kota Tarakan Dari analisis ini didapatkan hirarki sub elemen lembaga seperti yang disajikan pada Gambar 20. Sub elemen lembaga kunci (driver power) pada penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil di Kota Tarakan adalah perusahaan daerah air minum/PDAM (L3). Sub elemen lembaga ini menjadi dasar bagi sub elemen lainnya. Untuk itu keberadaan perusahaan daerah air minum masih menjadi lembaga yang paling berpengaruh dalam penyediaan air 50 bersih. Sub elemen lembaga selanjutnya adalah pemerintah daerah (L2) dan selanjutnya pemerintah pusat (L3). Peranan kedua lembaga pemerintah ini juga tidak kalah penting. Lembaga selanjutnya yang berpengaruh adalah masyarakat (L4) dan swasta (L6). Kedua lembaga ini berada pada level yang sama, yang dapat diartikan bahwa penyediaan air bersih oleh masyarakat dan swasta memiliki peranan yang sama di Pulau kecil. Level selanjutnya adalah lembaga perguruan tinggi (L7). Lembaga ini berperan sebagai pengembangan teknologi pengolahan air bersih, sedangkan level selanjutnya adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai elemen lembaga terakhir yang berpengaruh dalam penyediaan air bersih. Keberadaan LSM dapat berperan sebagai pengawas sosial dalam sector penyediaan air bersih. Gambar 20 Struktur Hirarki Sub Elemen Lembaga Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan di Kota Tarakan 5.2 Analisis Bentuk Pengelolaan Penyediaan Air Bersih Pertumbuhan masyarakat Kota Tarakan yang tinggi diikuti dengan pertumbuhan ekonomi serta perkembangan industri yang banyak menggunakan lahan dan air menyebabkan kelangkaan air semakin meningkat. Sumber-sumber air tercemar karena limbah yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi dan industri, menyebabkan kualitas air yang bisa langsung dicerna dan dikonsumsi oeh penduduk semakin sedikit. Dibutuhkan suatu badan dan sistem pengelolaan dan penyediaan air baku untuk dikelola menjadi air bersih yang dapat didistribusikan kepada penduduk. Untuk itu diperlukan suatu paradigma baru dalam penyediaan 51 air bersih dan air minum di Kota Tarakan untuk menggantikan paradigma lama. Paradigma baru pengelolaan air bersih memandang permasalahan pengelolaan air bersih dari seluruh aspek yang terkait. Aspek-aspek tersebut adalah aspek kelestarian lingkungan, ekonomi, sosial, teknologi, kelembagaan, keuangan, efektifitas, urgensi dan keberlanjutan. Agar sistem pengelolaan tersebut dapat diwujudkan secara efektif, maka perlu diidentifikasi dan dikaji keterkaitan antara tujuan, kriteria, dan alternatif dalam pengelolaan air bersih tersebut. Proses identifikasi dan pengkajian ini dilakukan dengan pendekatan survei pakar dengan responden para pakar lintas disiplin menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), dengan struktur hirarki seperti pada Gambar 21. Gambar 21 Struktur dan bobot hirarki elemen bentuk pengelolaan air bersih di KotaTarakan Sasaran yang akan dicapai dalam analisis ini adalah untuk mencari bentuk pengelolaan air bersih di Kota Tarakan, yaitu (1) Pengelolaan Air Bersih Oleh Masyarakat, (2) Pengelolaan Air Bersih oleh Swasta, dan (3) Pengelolaan Air Bersih oleh Pemerintah/PDAM. Sedangkan tujuan penentuan bentuk pengelolaan air bersih di Kota Tarakan adalah dalam rangka untuk : (1) Menciptakan kelestarian lingkungan sumber air baku, (2) Meningkatkan ekonomi masyarakat, (3) Menciptakan keselarasan sosial dan keadilan dalam pelayanan 52 air bersih, (4) Menerapkan teknologi tepat guna untuk pengelolaan air bersih, dan (5) Menciptakan kelembagaan yang sehat dalam mengelola air bersih. Adapun faktor-faktor yang berpengaruh dalam pemilihan alternatif diatas yaitu: (1) Biaya yang dibutuhkan dalam sistem pengelolaan air bersih, (2) Efektifitas sistem pengelolaan, (3) Keberlanjutan sistem air bersih, (4) Urgensi sistem pengelolaan. Sedangkan aktor yang berperan dalam pengelolaan air bersih tersebut adalah: (1) Pemerintah Pusat/Daerah, (2) Perguruan Tinggi, (3) Masyarakat, (4) LSM, (5) Swasta, (6) PDAM. Komponen-komponen tersebut diatas disusun dalam suatu level hirarki seperti pada Gambar 21. Berdasarkan analisis menggunakan metoda AHP dengan Software Criterium Decision Plus Ver. 3.0.4/S, didapat hasil seperti pada Gambar 22 dan Gambar 23. Alternatif pengelolaan air bersih yang dipilih berdasarkan hasil analisa AHP adalah pengelolaan air bersih yang dilakukan oleh pemerintah (0,651). Faktor yang menyebabkan pemilihan alternatif tersebut adalah faktor urgensi (0,534). Aktor yang berperan dalam pengelolaan air bersih di Kota Tarakan adalah PDAM. Sedangkan tujuan pemilihan bentuk pengelolaan ini adalah bertujuan untuk pengembangan kelembagaan. Gambar 22 Hasil analisis bentuk pengelolaan air bersih di KotaTarakan 53 Gambar 23 Diagram analisis bentuk pengelolaan air bersih di Kota Tarakan 5.3 Strategi Pengembangan Kapasitas Layanan Air Bersih Penyusunan strategi pengembangan kapsitas layanan air bersih di Pulau kecil Kota Tarakan dilakukan menggunakan metoda SWOT (Sthrength, Weakness, Opportunity and Threats). Data diperoleh melalui wawancara/diskusi pakar. Dalam metode ini terlebih dahulu dirumuskan faktor-faktor apa saja yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam pengelolaan air bersih di Kota Tarakan. Setelah mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengelolaan tersebut, selanjutnya dilakukan pemberian bobot dan rating. Bobot dan rating dimaksudkan untuk mengetahui derajat kepentingan (bobot) dan derajat kuat tidaknya (rating) pengaruh indikator tersebut terhadap pengelolaan kapasitas air bersih. Untuk memperoleh nilai bobot, nilai pengaruh dari indicator-indikator internal dan eksternal diberikan nilai dengan skala mulai dari 1 (tidak penting), 2 (agak penting), 3 (penting) dan 4 (sangat penting). Kemudian bagi nilai-nilai pengaruh tersebut dengan jumlah total nilai pengaruh untuk mendapatkan bobot, sehingga apabila semua bobot dijumlahkan maka hasilnya adalah 1. Untuk memperoleh nilai rating indikator-indikator eksternal diberikan nilai (+) dengan skala mulai dari 1 (tidak baik), 2 (agak baik), 3 (baik) dan 4 (sangat baik) berdasarkan kondisi yang ada. Nilai negatif pada rating menunjukkan indikator tersebut merupakan kelemahan atau ancaman bagi pengelolaan air bersih di Kota Tarakan. Berdasarkan atas faktor-faktor strategi kondisi internal dan eksternal, maka didapat nilai dalam Matriks Faktor Strategi 54 Internal (IFAS) dan Matriks Faktor Strategi Eksternal (EFAS) sesuai dengan Tabel 9 dan Tabel 10. Tabel 9 No A. Matriks faktor strategi internal (IFAS) pengembangan pengelolaan air bersih di Kota Tarakan Faktor Internal Pengaruh Bobot 1 2 Adanya Komitmen pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan air bersih 3 Adanya partisipasi masyarakat 4 0.2 4 Curah hujan relatif tinggi 4 0.2 B. 1 2 3 4 Nilai Total Keterangan Kekuatan Pertumbuhan ekonomi yang tinggi 5 Rating Indeks Kualitas Air beberapa sungai masih cukup baik Jumlah Kelemahan Penyebaran penduduk yang tidak merata 4 4 0.2 0.2 0.6 Pengaruhnya sangat penting karena pertumbuhan ekonomi yang tergolong pesat di Kota Tarakan akan meningkatkan kebutuhan akan air bersih 0.6 Pengaruhnya sangat penting karena dengan adanya dukungan dari pemerintah pusat maupun daerah, akan menciptakan suasana yang kondusif dalam pengelolaan air bersih, terlihat kesiapan dalam RTRW Tarakan dan kebijakan dalam pengaturan air bersih 4 0.8 Pengaruhnya sangat penting karena dengan adanya partisipasi dan dukungan masyarakat pengguna akan mempermudah kegiatan pengelolaan air bersih 4 0.8 Pengaruhnya sangat penting, karena tingginya curah hujan dapat dimanfaatkan sebagai potensi air baku Pengaruhnya sangat penting sebagai sumber air baku permukaan, walaupun beberapa parameter tidak memenuhi baku mutu air, namun Indeks Kualitas Air (IKA) menunjukkan masih dapat dimanfaatkan sebagai air baku permukaan 3 3 4 0.2 4 0.8 20 1 18 3.6 4 Faktor SARA, sangat heterogen, 2 rawan konflik sosial terbuka SDM yang relatif masih 3 rendah Material bangunan yang 4 masih tergantung dari luar Jumlah 13 Jumlah Nilai Akhir 0.31 -2 -0.62 Sangat berpengaruh dalam pengelolaan air bersih, karena akan mempersulit dalam penyediaan air bersih, hal ini terlihat dari penduduk yang tinggal di kec. Tarakan Barat mencapai 36,23% dan kec. Tarakan Utara yang hanya dihuni 11,19% dari jumlah penduduk Tarakan 0.15 -2 -0.31 Agak berpengaruh dalam pengelolaan air bersih, karena investasi air bersih membutuhkan biaya yang cukup tinggi. 0.23 -3 -0.69 Berpengaruh dalam operasional pemeliharaan IPA 0.31 -4 -1.23 Sangat berpengaruh dalam pengelolaan air bersih, karena akan mempersulit proses pembangunan (teknis) dan mahalnya investasi 1 -11 -2.85 0.75 55 Tabel 10 Matriks faktor strategi eksternal (EFAS) pengembangan pengelolaan air bersih di Kota Tarakan No A. Faktor Eksternal Bobot Rating Nilai Total Keterangan 1.6 Pengaruhnya sangat penting. Saat ini sudah banyak teknologi teknologi penyediaan air bersih dengan berbagai variasi kapasitas. Teknologi pengolahan air bersih yang digunakan saat ini masih menggunakan model konvensional PDAM 0.4 Agak berpengaruh dalam pengelolaan air bersih. Saat ini sudah banyak tersedia programprogram pemberdayaan/CSR dari koorporasi Pengaruhnya sangat penting. Meningkatnya permintaan air bersih seiiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk/domestik dan industri Peluang 1 Adanya Pilihan Teknologi Pengolahan Air Bersih 2 Adanya program pemberdayaan masyarakat Permintaan pasar yang 3 terus meningkat terhadap air bersih Jumlah B. Ancaman 1 Pengaruh Topografi wilayah 4 2 0.4 0.2 4 2 4 0.4 4 1.6 10 1 10 3.6 3 0.23 -3 -0.69 Berpengaruh dalam penyediaan air bersih. Kota Tarakan di dominasi oleh rawa dan juga terdapat perbukitan yang didominasi oleh batu lempung dan batu pasir, dimana mudah mengembang dan sulit dipadatkan sehingga berpotensi longsor dan erosi -0.62 Pengaruhnya penting dalam pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat. Meningkatnya pertumbuhan penduduk menyebabkan meningkatnya kebutuhan air bersih 2 Pertumbuhan penduduk yang tinggi 3 Kerusakan hutan 3 0.23 -1 -0.23 4 Pencemaran lingkungan 3 0.23 -1 -0.23 13 1 -7 -1.77 Jumlah 4 Jumlah Nilai Akhir 0.31 -2 Pengaruhnya penting karena dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas air baku yang ada. Kondisi di P.Tarakan tidak begitu buruk. Pengaruhnya penting dalam pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat karena dapat mempengaruhi kondisi air baku yang ada. Kondisinya di P.Tarakan tidak begitu buruk 1.83 Berdasarkan Tabel 9 dan Tabel 10 diatas, jumlah nilai akhir indikator strategi internal (kekuatan dan kelemahan) pengelolaan air bersih di Kota Tarakan adalah 0,75 atau dalam kondisi kuat, sedangkan nilai total indikator 56 strategi eksternal (peluang dan ancaman) adalah 1,83 atau dalam kondisi memiliki peluang. Dengan demikian posisi pengelolaan air bersih di Kota Tarakan adalah kuat dan memiliki peluang yang cukup baik untuk dibuat suatu pengembangan kapasitas pelayanan. Posisi ini bila digambarkan dalam kuadran adalah termasuk kuadran I. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 24. Gambar 24 Posisi kuadran strategi pengembangan kapasitas pelayanan air bersih di Kota Tarakan Pada Gambar 24, terlihat bahwa posisi untuk melakukan strategi pengembangan pelayanan air bersih di Kota Tarakan adalah pada kuadran I. Pada posisi ini rekomendasi strategi yang dapat diambil adalah strategi agresif atau juga disebut strategi pengembangan. Setelah didapat rekomendasi strategi, langkah selanjutnya adalah menyusun rumusan strategi pengembangan berdasarkan Matrik Analisis SWOT, yaitu strategi yang dibangun berdasarkan komponen strategi kekuatan dan peluang. 5.4 Kesimpulan Berdasarkan analisis ISM yang dilakukan dalam menyusun strategi penyediaan air bersih di Kota Tarakan didapat 3 (tiga) faktor kunci kendala penyediaan air bersih adalah kualitas air baku yang buruk akibat pencemaran, kurangnya sumberdaya manusia yang memadai dan terbatasnya sumberdaya air tawar; sedangkan faktor kebutuhan kunci dalam penyediaan air baku adalah ketersediaan air baku. Dari kendala dan kebutuhan penyediaan air bersih 57 tersebut maka pemerintah Kota Tarakan perlu menyusun suatu recana/kebijakan dalam rangka pengadaan air baku untuk kebutuhan penyediaan air bersih. Lembaga yang harus berperan aktif atau bertanggungjawab dalam pengelolaan air bersih di Kota Tarakan adalah PDAM. Hal ini terlihat dalam hasil analisis lembaga yang terlibat dalam penyediaan air bersih metode ISM. Hal ini selaras dengan keinginan masyarakat dan industri, dalam analisis AHP, bahwa alternatif bentuk pengelolaan air bersih harus dikelola oleh pemerintah. Hal ini menjadi menarik, karena mudahnya terjadi friksi sosial di masyarakat sehingga keberadaan pemerintah dalam pengelolaan air bersih dapat dijadikan sebagai solusi untuk menghindari konflik. Analisis SWOT bertujuan untuk menyusun faktor-faktor strategi dalam pengembangan pelayanan air bersih Kota Tarakan, sehingga dapat menggambarkan secara jelas interaksi antara Internal Strategic Faktor Analysis Summary (IFAS) dan External Strategic Faktor Summary (EFAS). Adapun rumusan strategi pengembangan pelayanan air bersih di Kota Tarakan adalah Strategi Kekuatan – Peluang sebagai berikut : 1. Memanfaatkan/menerapkan teknologi penyediaan air bersih yang sudah ada untuk daerah-daerah yang belum terlayani air bersih oleh pemerintah/PDAM sebagai alternatif dalam penyediaan air bersih dengan menggunakan konsep cluster yang memanfaatkan air hujan/permukaan. 2. Melakukan konservasi pada land use melalui kegiatan reboisasi, pembuatan sumur resapan, terasering, dan embung-embung penangkap air hujan untuk menjaga kelestarian sumber air baku. 3. Mendorong PDAM sebagai penyedia air besih untuk terus meningkatkan kapasitas layanan melalui pengurangan persentase kebocoran dan peningkatan kapasitas IPA, sehingga semakin banyak masyarakat ingin berlangganan air bersih PDAM. 4. Memanfaatkan program pemberdayaan masyarakat dari koorporasi (CSR). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta permintaan air bersih yang terus meningkat, memungkinkan bagi masyarakat sanggup untuk mengelola sendiri sistem penyediaan air bersih di wilayahnya melalui program pendampingan dari koorporasi. 5. Menerapkan, menata dan menjaga suatu kawasan sesuai dengan fungsinya, berdasarkan atas komitmen Pemerintah Kota Tarakan yang diuraikan dalam RTRW Tarakan. 6 STATUS KEBERLANJUTAN PENYEDIAAN AIR BERSIH DI PULAU TARAKAN 6.1 Status Keberlanjutan Penyediaan Air Bersih Dalam penelitian penyediaan air bersih di Pulau Tarakan, penentuan indeks keberlanjutan kawasan pada lima dimensi keberlanjutan, yaitu dimensi lingkungan, ekonomi, sosial, infrastruktur dan teknologi, serta hukum dan kelembagaan dengan atribut dan nilai skoring hasil pendapat pakar dapat dilihat pada Lampiran 3. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan RapTARAKAN (MDS) diperoleh indeks keberlanjutan untuk dimensi lingkungan sebesar 31,80% dengan status tidak berkelanjutan, dimensi ekonomi sebesar 88,24% dengan status berkelanjutan, dimensi sosial sebesar 57,53% dengan status kurang berkelanjutan, dimensi infrastruktur dan teknologi sebesar 20,14% dengan status kurang berkelanjutan, serta dimensi hukum dan kelembagaan sebesar 74,21% dengan status cukup berkelanjutan. Agar nilai indeks ini di masa akan datang dapat terus meningkat sampai mencapai status berkelanjutan, perlu perbaikan-perbaikan terhadap atribut-atribut yang sensitif berpengaruh terhadap nilai indeks dimensi infrastruktur dan teknologi juga terhadap dimensi lingkungan, ekonomi dan dimensi sosial. Atribut-atribut yang dinilai sensitif oleh para pakar didasarkan pada kondisi eksisting wilayah. Adapun nilai indeks lima dimensi keberlanjutan hasil analisis Rap-TARAKAN seperti pada Gambar 25 dan Lampiran 4. Lingkungan (31,80%) 100.00 80.00 60.00 Hukum - Kelembagaan (74,21%) 40.00 Ekonomi (88,24%) 20.00 0.00 Infrastruktur - Teknologi (20,14%) Sosial (52,25%) Gambar 25 Diagram layang (kite diagram) nilai indeks keberlanjutan penyediaan air bersih di Pulau Tarakan 59 a. Status Keberlanjutan Dimensi Lingkungan Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi lingkungan terdiri dari sembilan atribut, yaitu (1) daerah konservasi air, (2) frekuensi kejadian kekeringan, (3) kualitas air baku, (4) kuantitas air baku, (5) curah hujan & hari hujan, (6) pengembangan sumber air baku, (7) pemanfaatan lahan terhadap kualitas air, (8) tinggi permukaan air tanah, dan (9) tingkat pencemaran sungai. Analisis leverage yang dipakai untuk melihat atribut-atribut yang sensitif memberikan pengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan lingkungan. Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh tiga atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan lingkungan yaitu (1) kuantitas air baku dapat diperoleh melalui : curah hujan & hari hujan (2), dan pengembangan sumber air baku (3). Gambar 26 menyediakan informasi mengenai hasil analisis leverage dimensi keberlanjutan lingkungan. Analisis Leverage Atribut Dimensi Lingkungan Tingkat pencemaran sungai Tinggi permukaan air tanah Pemanfaatan lahan terhadap kualitas air Attribute Pengembangan sumber air baku Curah hujan dan hari hujan Kuantitas air baku Kualitas air baku Frekuensi kejadian kekeringan Daerah konservasi air 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 26 Peran masing-masing atribut aspek lingkungan yang dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square) 60 Atribut-atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi lingkungan yaitu (1) kuantitas air baku dapat diperoleh melalui : curah hujan dan hari hujan merupakan faktor utama yang mengendalikan proses daur hidrologi di daerah tangkapan air atau daerah aliran sungai (2) dan pengembangan sumber air baku (3). Curah hujan rata-rata Pulau Tarakan tahun 2008 mencapai 330,8 mm per tahun dengan rata-rata curah hujan tertinggi terjadi pada Bulan Januari sebesar 443,6 mm dan rata-rata curah hujan terendah sebesar 206,6 mm yang terjadi pada Bulan Oktober (BPS Tarakan, 2009). Hujan adalah partikel-partikel air dengan diameter 0.5 mm atau lebih. Jika jatuhnya sampai ke tanah maka disebut hujan, akan tetapi apabila jatuhannya tidak dapat mencapai tanah karena menguap lagi maka jatuhan tersebut disebut Virga. Hujan juga dapat didefinisikan dengan uap yang mengkondensasi dan jatuh ketanah dalam rangkaian proses hidrologi. Hujan merupakan salah satu bentuk presipitasi uap air yang berasal dari awan yang terdapat di atmosfer. Bentuk presipitasi lainnya adalah salju dan es. Untuk dapat terjadinya hujan diperlukan titik-titik kondensasi, amoniak, debu dan asam belerang. Titik-titik kondensasi ini mempunyai sifat dapat mengambil uap air dari udara. Satuan curah hujan selalu dinyatakan dalam satuan millimeter atau inchi namun untuk di Indonesia satuan curah hujan yang digunakan adalah dalam satuan millimeter (mm). Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Curah hujan 1 mm artinya dalam luasan 1 m2 pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu milimeter atau tertampung air sebanyak satu liter. Intensitas hujan adalah banyaknya curah hujan persatuan jangka waktu tertentu. Untuk lebih meningkatkan status keberlanjutan Pulau Tarakan, maka upaya perbaikan tidak hanya dilakukan terhadap atribut yang sensitif memberikan pengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi lingkungan, namun atribut-atribut lain yang tidak sensitif berdasarkan analisis leverage juga perlu mendapatkan perhatian yang serius untuk ditangani. Upaya yang perlu dilakukan adalah dengan mempertahankan atau meningkatkan atribut-atribut yang berdampak positif terhadap peningkatan keberlanjutan dimensi lingkungan kawasan. Di sisi lain juga berupaya menekan sekecil mungkin atribut-atribut yang memberikan dampak negatif terhadap penurunan tingkat keberlanjutan dimensi lingkungan kawasan. Adapun atribut-atribut yang perlu dipertahankan atau ditingkatkan antara lain : (1) daerah konservasi air, (2) tinggi permukaan air tanah 61 dan (3) kualitas air permukaan. Sementara atribut-atribut yang perlu ditekan agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap penurunan status keberlanjutan kawasan adalah (1) tingkat pencemaran sungai, (2) pemanfaatan lahan terhadap kualitas air, dan (3) frekuensi kekeringan dengan menggunakan pembangunan dam, tanggul, penahan banjir dan drainase untuk pengelolaan sumberdaya air, serta pembuatan sumur resapan. b. Status Keberlanjutan Dimensi Ekonomi Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi ekonomi terdiri dari tujuh atribut, yaitu (1) tingkat keuntungan PDAM, (2) tarif air PDAM, (3) persentase penduduk miskin, (4) penetapan harga (price discrimination) di antara dan di dalam kelompok konsumen, (5) willingness to pay (kesediaan membayar dalam pemakaian sumber air), (6) kontribusi sektor pemanfaatan sumber air terhadap PDRB, dan (7) ketersediaan dana untuk pengembangan air bersih. Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh tiga atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan ekonomi yaitu (1) tingkat keuntungan PDAM, (2) tarif air PDAM, dan (3) willingness to pay (kesediaan membayar dalam pemakaian sumber air). Hasil analisis leverage dimensi keberlanjutan ekonomi dapat dilihat pada Gambar 27. Atribut-atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi yaitu (1) tingkat keuntungan PDAM (2) tarif air PDAM dan (3) willingness to pay (kesediaan membayar dalam pemakaian sumber air). Tarif air merupakan harga dalam rupiah yang harus dibayarkan oleh pelanggan PDAM untuk setiap pemakaian meter kubik air bersih yang disalurkan oleh PDAM (Permendagri No. 2 Tahun 1998). Besarnya tarif merupakan kesepakatan bersama antara pihak penyedia pelayanan air bersih (PDAM) dengan pengguna jasa layanan air bersih (pelanggan), sedangkan peran pemerintah dalam melaksanakan fungsinya selaku pembina (regulator) sektor sumber daya air hendaknya dalam menentukan kebijakan di bidang penetapan tarif air minum memerlukan pertimbangan – pertimbangan yang berorentasi kepada kemauan dan kemampuan daya beli pelanggan (ability and willingness to pay) di satu pihak dan kelangsungan hidup perusahaan di pihak lainnya. Untuk mengetahui kemampuan dan kemauan membayar tersebut perlu dilakukan analisis keterjangkauan daya beli pelanggan air minum dalam 62 membayar tarif yang meliputi analisis kemauan membayar (willingness to pay) dan analisis kemampuan membayar (ability to pay) terhadap tarif yang berlaku. Rendahnya tingkat ekonomi masyarakat menjadi kendala bagi keberlanjutan sistem penyediaan air bersih. Salah satu indikator keberlanjutan sistem adalah tingkat kepuasan pelanggan. Keberlanjutan dapat dijamin dengan pengelolaan yang baik dan didukung oleh partisipasi masyarakat, baik dalam bentuk kelancaran pembayaran pemakaian air atau keterlibatan langsung dalam setiap tahapan kegiatan pelayanan air bersih. Pengelolaan yang baik dan keterlibatan masyarakat menjadi pendorong keandalan sistem penyediaan air bersih, yang pada akhirnya menaikkan tingkat kepuasan masyarakat. Analisis Leverage Atribut Dimensi Ekonomi Ketersediaan dana untuk pengembangan air bersih Kontribusi sektor pemanfaatan sumber air terhadap PDRB Attribute Willingness to pay (kesediaan membayar dalam pemakaian sumber air) Tarif air PDAM Persentase penduduk miskin Penetapan harga (price discrimination) di antara dan di dalam kelompok konsumen Tingkat keuntungan PDAM 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 27 Peran masing-masing atribut aspek ekonomi yang dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square) 63 c. Status Keberlanjutan Dimensi Sosial Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi sosial terdiri dari tujuh atribut, yaitu (1) tingkat pendidikan formal masyarakat, (2) pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sumber air, (3) pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan pemanfaatan air bersih, (4) tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM, (5) tingkat ketergantungan masyarakat terhadap air bersih, (6) peran masyarakat adat dalam kegiatan pemanfaatan air, dan (7) konflik pengambilan sumber air. Hasil analisis leverage dimensi keberlanjutan sosial dapat dilihat pada Gambar 28. Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh dua atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan sosial yaitu (1) tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM dan (2) tingkat ketergantungan masyarakat terhadap air bersih. Dua atribut sensitif ini mempunyai hubungan yang erat dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan air bersih, masyarakat sangat tergantung tergantung akan air bersih dalam kehidupan sehari-hari namun jika air bersih yang didapatkan tidak sesuai kuantitas dan kualitas yang dibutuhkan akan menimbulkan masalah yang biasanya berupa keluhan. Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan. Makhluk hidup di muka bumi ini tak dapat terlepas dari kebutuhan akan air. Air merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi, sehingga tidak ada kehidupan seandainya di bumi tidak ada air. Namun demikian, air dapat menjadi malapetaka bilamana tidak tersedia dalam kondisi yang benar, baik kualitas maupun kuantitasnya. Air yang relatif bersih sangat didambakan oleh manusia, baik untuk keperluan hidup sehari-hari, untuk keperluan industri, untuk kebersihan sanitasi Pulau, maupun untuk keperluan pertanian dan lain sebagainya. Dewasa ini air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang seksama dan cermat. Karena untuk mendapatkan air yang bersih, sesuai dengan standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari hasil kegiatan manusia, baik limbah dari kegiatan rumah tangga, limbah dari kegiatan industri dan kegiatan-kegiatan lainnya. Dan ketergantungan manusia terhadap air pun semakin besar sejalan dengan perkembangan penduduk yang semakin meningkat. Selain kualitas air yang menurun akibat pencemaran pada sumber air, tidak tercukupinya jumlah air 64 bersih yang dapat digunakan oleh masyarakat juga dapat menimbulkan masalah terhadap kesehatan masyarakat seperti timbulnya penyakit akibat penggunaan air seperti diare, kudis dan trachoma. Untuk meningkatkan status keberlanjutan dimensi sosial, perlu diperhatikan keluhan masyarakat terhadap ketergantungan air bersih yang layak dikonsumsi (kualitas) dan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap air bersih (kuantitas). Keluhan tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM merupakan masalah dari tingkat kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan (Customer Satifaction) atau sering disebut juga dengan Total Customer Satisfaction menurut Barkelay dan Saylor (1994) merupakan fokus dari proses Costomer-Driven Project Management (CDPM), bahkan dinyatakan pula bahwa kepuasan pelanggan adalah kualitas. Begitu juga definisi singkat tentang kualitas yang dinyatakan oleh Juran (1993) bahwa kualitas adalah kepuasan pelanggan. Menurut Kotler yang dikutip Tjiptono (1996) bahwa kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang dirasakan dengan harapannya. Jadi, tingkat kepuasan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Kualitas termasuk semua elemen yang diperlukan untuk memuaskan tujuan pelanggan, baik internal maupun ekternal, juga termasuk tiap-tiap item dalam produk kualitas, kualitas layanan, performance, availibility, durability,aesthetic, reability, maintainability, logistic, supprtability, costomer service, training, delivery, billing, shipping, repairing, marketing, warranty, dan life cycle cost. Melalui komunikasi, baik antarpelanggan maupun dengan supplier akan menjadikan harapan bagi pelanggan terhadap kualitas produk yang akan dibelinya. Pemahaman terhadap harapanharapan pelanggan oleh supplier merupakan input untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas produk, baik barang maupun jasa. Pelanggan akan membandingkan dengan produk jasa lainnya. Bilamana harapan-harapannya terpenuhi, maka akan menjadikannya pelanggan loyal, puas terhadap produk barang atau jasa yang dibelinya. Sebaliknya, bilamana tidak puas, supplier akan ditinggalkan oleh pelanggan. Kunci keputusan pelanggan berkaitan dengan kepuasan terhadap penilaian produk barang dan jasa. Kerangka kepuasan pelanggan tersebut terletak pada kemampuan supplier dalam memahami kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan sehingga penyampaian produk, baik barang maupun jasa oleh supplier sesuai dengan harapan pelanggan. Selain faktor-faktor tersebut di 65 atas, dimensi waktu juga mempengaruhi tanggapan persepsi pelanggan terhadap kualitas produk, baik barang maupun jasa. Kata kualitas mengandung banyak definisi dan makna karena orang yang berbeda akan mengartikannya secara berlainan, seperti kesesuaian dengan persyaratan atau tuntutan, kecocokan untuk pemakaian perbaikan berkelanjutan, bebas dari kerusakan atau cacat, pemenuhan kebutuhan pelanggan, melakukan segala sesuatu yang membahagiakan. Dalam persepektif TQM (Total Quality Management) kualitas dipandang secara lebih luas, yaitu tidak hanya aspek hasil yang ditekankan, tetapi juga meliputi proses, lingkungan dan manusia. Hal ini jelas tampak dalam definisi yang dirumuskan oleh Goeth dan Davis yang dikutip Tjiptono (2000) bahwa kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Sebaliknya, menurut Lukman (1999) definisi kualitas bervariasi dari yang kontroversional hingga kepada yang lebih strategik. Definisi konvensional dari kualitas biasanya menggambarkan karakteristik langsung suatu produk, seperti : 1) ferformansi (performance); 2) keandalan (reliability) ; 3) mudah dalam penggunaan (ease of use);dan 4) estetika (esthetics), dan sebagainya. Oleh karena itu, kualitas pada prinsipnya adalah untuk menjaga janji pelanggan agar pihak yang dilayani merasa puas dan diungkapkan. Kualitas memiliki hubungan yang sangat erat dengan kepuasan pelanggan, yaitu kualitas memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk menjalani ikatan hubungan yang kuat dengan perusahaan. Dalam jangka panjang ikatan seperti ini memungkinkan perusahaan untuk memahami dengan saksama harapan pelanggan serta kebutuhan mereka. Dengan demikian, perusahaan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan, yang pada gilirannya kepuasan pelanggan dapat menciptakan kesetiaan atau loyalitas pelanggan kepada perusahaan yang memberikan kualitas memuaskan. 66 Analisis Leverage Atribut Dimensi Sosial Konflik pengambilan sumber air Peran masyarakat adat dalam kegiatan pemanfaatan air Attribute Tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM Pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan air Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap air bersih Pemahaman dan kepedulian masyarakat Tingkat pendidikan formal masyarakat 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 28 Peran masing-masing atribut aspek sosial yang dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square) d. Status Keberlanjutan Dimensi Infrastruktur dan Teknologi Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi infrastruktur dan teknologi terdiri dari enam atribut, yaitu (1) tingkat pelayanan PDAM (air bersih), (2) infrastruktur air limbah, (3) kondisi drainase di kawasan permukiman, (4) kondisi jaringan distribusi perpipaan, (5) kondisi IPA PDAM, dan (6) ketersediaan layanan listrik untuk pengolahan air bersih. Hasil analisis leverage dimensi keberlanjutan infrastruktur dan teknologi dapat dilihat pada Gambar 29. Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh tiga atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi yaitu (1) 67 tingkat pelayanan PDAM (air bersih) dan (2) kondisi IPA PDAM, untuk itu diperlukan (3) ketersediaan layanan listrik untuk pengolahan air bersih dibangun untuk mendukung pelayanan air bersih bagi masyarakat Pulau Tarakan. Tingkat pelayanan PDAM di Pulau Tarakan masih rendah, pada beberapa kasus air bersih yang terjadi di lapangan masih didapatkan air yang tidak bersih. Salah satu contoh, air dari PDAM jika dialirkan ke dalam bak mandi atau penampungan setelah beberapa jam kemudian air tersebut berubah warna menjadi kuning. Menurut Lukman (1999) pelayanan adalah kegiatan-kegiatan yang tidak jelas, namun menyediakan kepuasan konsumen dan atau pemakai industri serta tidak terikat pada penjualan suatu produk atau pelayanan lainnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa pelayanan adalah suatu urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung dengan orang-orang atau mesin secara fisik dan menyediakan kepuasan konsumen. Pemerintah sebagai lembaga birokrasi mempunyai fungsi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sebaliknya, masyarakat sebagai pihak yang memberikan mandat kepada pemerintah mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan. Oleh karena itu, tuntutan terhadap pelayanan umum melahirkan suatu studi, yaitu servis bagaimana cara memberikan pelayanan sebaik-baiknya dan meningkatkan kualitas pelayanan umum. Aparat sebagai pelayan hendaknya memahami variabel-variabel pelayanan seperti yang terdapat dalam agenda perilaku pelayanan prima sektor publik Sespanas LAN yang dikutip Lukman (1999). Variabel yang dimaksud adalah sebagai berikut : (1) Pemerintah yang bertugas melayani, (2) Masyarakat yang dilayani pemerintah, (3) Kebijaksanaan yang dijadikan landasan pelayanan publik, (4) Peralatan atau sasaran pelayanan yang canggih, (5) Resources yang tersedia untuk diracik dalam bentuk kegiatan pelayanan, (6) Kualitas pelayanan yang memuaskan masyarakat sesuai dengan standar dan asas-asas pelayanan masyarakat, (7) Manajemen dan kepemimpinan serta organisasi pelayanan masyarakat, dan (8) Perilaku yang terlibat dalam pelayanan dan masyarakat, apakah masing-masing menjelaskan fungsi. Kedelapan variabel tersebut mengisyaratkan bahwa betapa pentingnya kualitas pelayanan masyarakat dewasa ini sehingga tidak dapat diabaikan lagi, bahkan hendaknya disesuaikan dengan tuntutan globalisasi. 68 Analisis Leverage Atribut Dimensi Infrastruktur-Teknologi Ketersediaan layanan listrik untuk PAB Attribute Kondisi IPA PDAM Kondisi jaringan distribusi perpipaan Kondisi drainase di kawasan permukiman Infrastruktur air limbah Tingkat pelayanan air bersih PDAM 0 2 4 6 8 10 12 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 29 Peran masing-masing atribut aspek infrastruktur dan teknologi yang dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square) e. Status Keberlanjutan Dimensi Hukum dan Kelembagaan Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi hukum dan kelembagaan terdiri dari lima atribut, yaitu (1) keberadaan balai pemantauan kualitas air, (2) keberadaan lembaga sosial, (3) ketersediaan peraturan perundang-undangan pengelolaaan air bersih (4) ketersediaan perangkat hukum adat/agama, dan (5) kerjasama antar stakeholder. Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh dua atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan hukum dan kelembagaan yaitu (1) keberadaan lembaga sosial, dan (2) ketersediaan peraturan perundangundangan pengelolaaan air bersih. Hasil analisis leverage dimensi keberlanjutan hukum dan kelembagaan dapat dilihat pada Gambar 30. 69 Analisis Leverage Atribut Dimensi Hukum-Kelembagaan Kerjasama antar stakeholder Attribute Ketersediaan perangkat hukum adat/agama Ketersediaan peraturan perundangundang pengelolaan air bersih Keberadaan lembaga sosial pengelolaan air bersih Keberadaan balai pemantauan kualitas air 0 2 4 6 8 10 12 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 30 Peran masing-masing atribut aspek hukum dan kelembagaan yang dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square) Sasaran pemanfaatan air bersih untuk kepentingan sosial secara selektif. Sesuai dengan SKB Mendagri dan Menteri PU No 4 tahun 1984, PDAM sebagai pelaku ekonomi sektor air bersih (SAB) bersifat memberi jasa dan menyelenggarakan kemanfaatan umum. Hal ini berimplikasi bahwa PDAM harus mampu merumuskan kepentingan-kepentingan sosial secara obyektif, disesuaikan dengan keadaan internalnya, dan memilih wilayah operasi yang seharusnya. Langkah operasional sasaran kedua ini telah dikerjakan melalui alokasi air bersih kepada terminal sambungan hidran umum. Langkah operasional lain sekalipun kurang berkorelasi langsung dengan strategi peningkatan pelayanan penduduk adalah suplai air bersih kepada wilayahwilayah krisis air atau bencana lainnya. 70 Strategi pengembangan kelembagaan SAB dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa kelembagaan SAB, terkait dengan PDAM maupun eksternal dengan pihak lain, belum berjalan optimal menyelenggarakan pelayanan air bersih. Hal tersebut secara tidak langsung menempatkan SAB berjalan sendiri (status quo) dalam pembangunan SAB. Implikasinya, upaya-upaya menemukan struktur kelembagaan baru yang diyakini lebih efektif dan efisien tidak dapat direalisasi, dan senantiasa dapat melahirkan kebocoran (externality) yang merugikan salah satu pihak. Dengan strategi ini semua pihak (stakeholder) diharapkan dapat melihat secara obyektif faktor atau variabel yang mempengaruhi tingkat akses air bersih dan menemukan rumusan lembaga pengelolaan SAB yang lebih efisien dan sustainable. Strategi pengembangan kelembagaan SAB mempunyai tiga sasaran. Pertama, membangun partisipasi masyarakat dalam pembangunan SAB. Hubungan antara PDAM sebagai produsen dan pelanggan sebagai konsumen belum cukup untuk menggali potensi keuntungan dalam pembangunan SAB. Partisipasi masyarakat harusnya menyentuh sisi ilmiah dan akademis sehingga dapat mengidentifikasi karakteristik air bersih dari segala sudut pandang, dan melibatkan sektor-sektor yang profesional dibidangnya. Langkah operasional sasaran pertama ini diprioritaskan kepada pembentukan jaringan komunikasi antar stakeholder yang terlibat dalam pembangunan SAB, terutama dari unsur pemerintah, sektor swasta, masyarakat konsumen, lembaga swadaya masyarakat dan para peneliti. Jaringan tidak cukup hanya memfasilitasi pemecahan masalah, tetapi juga menjalankan komunikasi berkadar ilmiah tinggi yang kaya insentif bagi penemuan teknologi baru. Jaringan di tingkat internasional yang menangani sumber daya air dan termasuk SAB adalah global water parnership. Langkah berikutnya dapat melakukan berbagai kajian sehubungan perilaku konsumsi air bersih dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Berbagai kaijian (World Bank, 1993; Jordan and Elnagheeb; 1993) memperlihatkan masyarakat dapat menampilkan tanggapan dan partisipasinya (willingness to pay) terhadap sambungan pipa baru maupun perbaikan pelayanan maupun kualitas air PDAM. Kedua, sasaran mengembangkan kelembagaan ekonomi SAB yang efisien dan berkelanjutan. Seperti diketahui, keberadaan PDAM sebagai lembaga ekonomi pelaku air bersih sepenuhnya terkait dengan pemerintah kota atau kabupaten. Keadaan seperti ini dalam banyak hal berlawanan dengan economic 71 of scale maupun efisiensi alokasi sumber-sumber air baku sehingga potensi benefit tidak terealisasi akibat dari struktur kelembagaan saat ini. Langkah operasional yang disarankan adalah merumuskan hubungan kelembagaan antar PDAM, dengan pemerintah dan sektor swasta yang menjamin efisiensi alokasi air baku dan operasi pelayanan pelanggan. Selanjutnya dapat ditetapkan pilihanpilihan pengelolaan yang paling menguntungkan. Sebagai contoh, PDAM Surabaya, Gresik dan Sidoarjo berpeluang memperoleh social benefit yang relatif besar seandainya berada dalam satu manajemen. Hal yang sama dapat dilakukan antara wilayah kota dan kabupaten, bahkan merger dalam satu eks karesidenan. SAB di Malaysia hanya memiliki 18 institusi pengelolaan (Malaysia Water Supply Development, 2001), jauh lebih efisien dibanding 307 PDAM yang ada di Indonesia, atau 37 PDAM di Jawa Timur. Langkah operasional berikutnya adalah membangun mekanisme kelembagaan yang mendukung otoritas dan kemandirian PDAM terhadap pembinaan berlebihan secara fungsional oleh Pemda dan secara teknis oleh Dirjen teknis terkait. Sasaran mengembangkan kelembagaan ekonomi yang sustainable dapat diimplementasikan dengan memasukkan peubah-peubah lingkungan di dalam standar evaluasi kinerja PDAM, misalnya menerapkan ISO 9000 atau audit lingkungan. Dengan demikian, seluruh proses produksi, distribusi air bersih dan lingkungan sekitarnya terlindungi oleh standar kualitas yang tinggi. Ketiga, mengembangkan kelembagaan hukum SAB. Perangkat hukum SAB tidak harus eksklusif tetapi dapat melekat dengan aturan hukum yang berlaku. Insentif berupa penghargaan perlu diberikan kepada stakeholder yang berjasa mengembangkan atau mendukung pembangunan sektor air bersih, dan sebaliknya sangsi diberikan kepada yang melanggar atau kontra-produktif dengan upaya-upaya peningkatan pelayanan air bersih, sehingga ketersediaan peraturan perundang-undangan pengelolaaan air bersih f. Status Keberlanjutan Multidimensi Hasil analisis Rap-TARAKAN multidimensi keberlanjutan Kota Tarakan untuk penyediaan air bersih berdasarkan kondisi existing, diperoleh nilai indeks keberlanjutan sebesar 52,38% dan termasuk dalam status cukup berkelanjutan. Nilai ini diperoleh berdasarkan penilaian 34 atribut dari lima dimensi keberlanjutan yaitu dimensi lingkungan, ekonomi, sosial, infrastruktur dan teknologi, dan hukum dan kelembagaan. Hasil analisis multidimensi dengan Rap- 72 TARAKAN mengenai keberlanjutan Pulau Tarakan untuk sistem penyediaan air bersih dapat dilihat pada Gambar 31. Atribut-atribut yang sensitif memberikan kontribusi terhadap nilai indeks keberlanjutan multidimensi berdasarkan analisis leverage masing-masing dimensi sebanyak 13 atribut. Atribut-atribut ini perlu dilakukan perbaikan ke depan untuk meningkatkan status keberlanjutan Pulau Tarakan untuk sistem penyediaan air bersih. Perbaikan yang dimaksudkan adalah meningkatkan kapasitas atribut yang mempunyai dampak positif terhadap peningkatan nilai indeks keberlanjutan dan sebaliknya menekan sekecil mungkin atribut yang berpeluang menimbulkan dampak negatif atau menurunkan nilai indeks keberlanjutan kawasan. Gambar 31 Indeks keberlanjutan multidimensi penyediaan air bersih Hasil analisis Monte Carlo menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan penyediaan air bersih di Pulau Tarakan pada taraf 95%, memperlihatkan hasil yang tidak banyak mengalami perubahan dengan hasil analisis Rap-TARAKAN (Multidimensional Scaling = MDS). Ini berarti bahwa kesalahan dalam analisis dapat diperkecil baik dalam hal pemberian skoring setiap atribut, variasi pemberian skoring karena perbedaan opini relatif kecil, dan proses analisis data yang dilakukan secara berulang-ulang stabil, serta kesalahan dalam menginput 73 data dan data hilang dapat dihindari. Perbedaan nilai indeks keberlanjutan analisis MDS dan Monte Carlo disajikan pada Tabel 11 Tabel 11 Perbedaan Nilai Indeks Keberlanjutan Analisis Monte Carlo dengan Analisis Rap-TARAKAN Nilai Indeks Keberlanjutan (%) Dimensi Keberlanjutan Perbedaan MDS Monte Carlo Lingkungan 31,80 32,75 0,95 Ekonomi 88,24 85,67 2,75 Sosial 52,25 51,21 0,32 Infrastruktur dan Teknologi 20,14 22,29 2,15 Hukum dan Kelembagaan 74,21 73,40 0,81 Multi Dimensi 52,38 52,18 0,20 Hasil analisis Rap-TARAKAN menunjukkan bahwa semua atribut yang dikaji terhadap status keberlanjutan Pulau Tarakan untuk penyediaan air bersih, cukup akurat sehingga memberikan hasil analisis yang semakin baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Ini terlihat dari nilai stres yang hanya berkisar antara 13 sampai 15 % dan nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh berkisar antara 0,92 dan 0,95. Hal ini sesuai dengan Fisheries (1999), yang menyatakan bahwa hasil analisis memadai apabila nilai stress lebih kecil dari 0,25 (25%) dan nilai koefisien determinasi (R2) mendekati nilai 1,0. Adapun nilai stress dan koefisien determinasi (R2) disajikan pada Tabel 12. Tabel 12 Hasil analisis Nilai Stress & Koefisien Determinasi (R2) Rap-TARAKAN Dimensi Keberlanjutan Parameter A B C D E F Stress 0,13 0,13 0,15 0,14 0,15 0,13 R2 0,95 0,95 0,92 0,95 0,94 0,95 Iterasi 2 2 3 2 2 2 Keterangan : A = Dimensi Lingkungan, B = Dimensi Ekonomi, C = Dimensi Sosial, D = Dimensi Infrastruktur-Teknologi, E = Dimensi Hukum-Kelembagaan, dan F = Multidimensi 6.2 Skenario Strategi Penyediaan Air Bersih Kota Tarakan Strategi penyediaan air bersih Kota Tarakan secara berkelanjutan dilakukan dengan menggunakan analisis prospektif yang mempunyai tujuan untuk memprediksi kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Analisis prospektif dilakukan melalui tiga tahap yaitu (1) mengidentifikasi faktor kunci di masa depan, (2) menentukan tujuan strategis dan kepentingan pelaku, dan (3) mendefinisikan dan memprediksi evolusi kemungkinan di masa depan sekaligus menentukan strategi 74 penyediaan air bersih Kota Tarakan secara berkelanjutan sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki. Penentuan faktor-faktor kunci dalam analisis ini dilakukan dengan menggabungkan faktor-faktor kunci yang sensitif berpengaruh yang diperoleh dari analisis kebutuhan (need analysis) hasil Interpretative Structural Modeling (ISM). Berdasarkan hasil analisis keberlanjutan diperoleh 13 faktor (atribut) yang sensitif (Tabel 13) dan selanjutnya diajukan kepada pakar untuk dinilai dan selanjutnya dianalisis prospektif. Hasil analisis prospektif diperoleh 3 (tiga) faktor kunci seperti yang disajikan pada Gambar 32. Tabel 13 Faktor-faktor kunci yang berpengaruh dalam penyediaan air bersih di Pulau Tarakan No Faktor Analisis Dimensi Keberlanjutan Dimensi Lingkungan (3 faktor kunci) : 1 Kuantitas air baku 2 Curah hujan dan hari hujan 3 Pengembangan sumber air baku Dimensi Ekonomi (3 faktor kunci) : 4 Tingkat keuntungan PDAM 5 Tarif air PDAM 6 Willingness to pay (Kesediaan membayar dalam pemakaian sumber air) 7 8 9 10 11 12 13 Dimensi Sosial (2 faktor kunci) : Tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap air bersih Dimensi Infrastruktur dan Teknologi (3 faktor kunci) : Tingkat pelayanan PDAM (air bersih) Kondisi IPA PDAM Ketersediaan layanan listrik untuk pengolahan air bersih Dimensi Hukum dan Kelembagaan (2 faktor kunci) : Keberadaan lembaga sosial air bersih Ketersediaan peraturan perundang-undangan pengelolaaan air bersih Berdasarkan hasil analisis tingkat kepentingan faktor diperoleh 3 (tiga) faktor kunci/penentu yang mempunyai pengaruh kuat dan ketergantungan antar faktor tidak terlalu kuat, yaitu : (1) Pengembangan sumber air baku, (2) Kuantitas air baku, dan (3) Tingkat pelayanan PDAM (air bersih). Keterkaitan antara tiga faktor yang berpengaruh terhadap sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan dinyatakan sebagai berikut : “pengembangan sumber air baku sebagai cara untuk pemenuhan kuantitas air baku yang dibutuhkan oleh masyarakat dan tingkat pelayanan PDAM dalam menyediakan air bersih perlu ditingkatkan dalam menjaga keberlanjutan sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan”. 75 Gambar 32 Hasil analisis tingkat kepentingan faktor-faktor yang berpengaruh pada sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan 6.3 Kesimpulan Berdasarkan kondisi eksisting di lokasi penelitian berbasis penyediaan air bersih di Pulau Tarakan, dimensi ekonomi berkelanjutan, serta dimensi hukum kelembagaan dan dimensi sosial cukup berkelanjutan, sedangkan dimensi lingkungan kurang berkelanjutan dan dimensi infrastruktur-teknologi tidak berkelanjutan. Secara multidimensi sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan cukup berkelanjutan dengan 13 atribut yang sensitif berpengaruh dalam meningkatkan indeks keberlanjutan. Atribut-atribut tersebut terbagi atas 3 atribut pada dimensi lingkungan, 3 atribut pada dimensi ekonomi, 2 atribut pada dimensi sosial dan budaya, 3 atribut pada dimensi infrastruktur dan teknologi, dan 2 atribut pada dimensi hukum dan kelembagaan. Untuk meningkatkan status keberlanjutan ke depan (jangka panjang), skenario yang perlu dilakukan untuk meningkatkan status penyediaan air bersih di Pulau Tarakan adalah skenario progesif-optimistik dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap semua atribut yang sensitif, minimal 3 atribut faktor kunci yang dihasilkan dalam analisis prospektif, sehingga semua dimensi menjadi berkelanjutan untuk sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan. 7 MODEL PENYEDIAAN AIR BERSIH PULAU KECIL 7.1 Pendahuluan Air adalah sumberdaya alam yang penting untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Masalah kekurangan jumlah air maupun kualitas air dapat menimbulkan dampak pada kesehatan, sosial maupun ekonomi. Berdasarkan temuan penelitian Anwar et.al. (2004) permintaan air di wilayah perkotaan lebih besar daripada suplainya dan ketersediaan air telah mengalami decreasing return to scale. Pola ekosistem berubah dengan berubahnya variabel-variabel penyusunnya terhadap waktu atau bersifat dinamis. Perubahan tersebut menghasilkan kinerja sistem atau mekanisme kerja yang dapat diamati perilakunya melalui pemodelan. Dalam mempelajari serta mengevaluasi sumberdaya air di suatu daerah, segi kuantitas dan kualitas merupakan dua hal yang harus diketahui, karena kedua hal tersebut merupakan ukuran yang harus dipertimbangkan dalam pemanfaatan sumberdaya air. Pemanfaatan sumberdaya air tersebut harus mempertimbangkan segi kuantitas dan kualitas, sesuai dengan tujuan pemanfaatannya. Model adalah penyederhanaan sistem di alam yang dapat digunakan untuk memudahkan pengambilan keputusan (Suratmo, 2002). Menurut Soedijono (1995), model merupakan gambaran suatu obyek yang disusun dengan tujuan mengenali perilaku obyek dengan cara mencari keterkaitan antara unsur-unsurnya, mengadakan pendugaan untuk memperbaiki keadaan obyek serta untuk mengadakan optimisasi obyek. Fungsi suatu model adalah menggambarkan semirip mungkin keadaan obyek yang diamati sesuai dengan tujuan penyusunan model. Melalui model orang dapat mengadakan percobaan terhadap model tanpa mengganggu obyek dan dapat membuat gambaran masa depan. Muhammadi dkk. (2001), mengelompokkan model menjadi model ikonik, model kuantitatif dan model kualitatif. Model ikonik adalah model yang mempunyai bentuk fisik sama dengan barang yang ditirukan, meskipun skalanya dapat diperbesar atau diperkecil, sehingga dapat diadakan percobaan untuk mengetahui gejala atau proses yang ditirukan (Eriyatno, 1998; Winardi, 1999; Muhammadi dkk., 2001). Model kuantitatif adalah model berbentuk rumus-rumus matematika dan statistik, sedangkan model kualitatif atau model analog adalah model berbentuk gambar atau diagram yang pada umumnya meminjam sistem 77 lain yang mempunyai sifat sama dengan obyek. Model kualitatif atau analog dapat lebih menampilkan sifat dinamik obyeknya. Kota Tarakan sebagai salah satu wilayah kepulauan hingga saat ini sedang giat melaksanakan pembangunan diberbagai sektor. Di dalarn proses melaksanakan pembangunan yang bertujuan untuk pengembangan daerah perkotaan, pemerintah Kota Tarakan dalam hal ini sebagai pemrakarsa kegiatan menghadapi beberapa kendala atau permasalahan dalam pelaksanaan program tersebut. Beberapa kendala atau permasalahan yang hingga kini memerlukan pemecahan baik secara pendekatan persuasif maupun dengan mengadakan kegiatan fisik, antara lain : (1) Tingkat pertumbuhan penduduk yang sangat cepat dalarn kurun waktu yang sangat pendek dengan penyebaran di wilayah kota yang tidak merata (2) Masih terdapat daerah pemukiman penduduk yang dibawah standar (kumuh) dalam jumlah dan luas yang cukup besar, (3) Penyediaan sarana dan prasarana kota yang masih belum seimbang dengan jumlah penduduk, (4) Kurang koordinasi antara pihak-pihak terkait dalam hal ini pemerintah daerah dalam merumuskan suatu kegiatan pembangunan dan pengembangan kota, (5) Sumber daya manusia. Dengan meningkatnya pertumbuhan perekonomian dan bidang lainnya maka memacu pertumbuhan penduduk di Kota Tarakan tersebut. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Kota Tarakan sudah tentu kebutuhan akan air bersih untuk masyarakat semakin meningkat. Kebutuhan akan air bersih adalah kebutuhan pokok bagi masyarakat Kota Tarakan sehingga pemerintah sudah seharusnya menyediakan kebutuhan akan air bersih untuk masyarakat Kota Tarakan guna mendukung kesejahteraan masyarakat Kota Tarakan. Untuk menyediakan kebutuhan air bersih penduduk Kota Tarakan, maka dibutuhkan suatu pendekatan melalui sistem dinamik sehingga didapat model penyediaan air bersih Kota Tarakan yang diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam menanganani permasalahan khususnya air bersih di Kota Tarakan. 7.2 Metode Analisis Model Penyediaan Air Bersih Pulau Kecil 7.2.1 Jenis dan Sumber Data Jenis dan sumber data yang diperlukan dalam menyusun model penyediaan air bersih berkelanjutan di Kota Tarakan berupa data primer dan data sekunder yang diperoleh dari responden dan pakar terpilih. Data primer 78 yang diperlukan berupa faktor-faktor penting dalam penyediaan air bersih di Kota Tarakan. Hal ini didapat melalui wawancara dengan responden dan para pakar terpilih. Data primer yang diperlukan berupa data yang berkaitan dengan kendala, kebutuhan dan lembaga yang terlibat dalam penyediaan air bersih Kota Tarakan. Sedangkan data sekunder yang diperlukan adalah jumlah penduduk, jumlah unit hotel dan industri, luas wilayah, curah hujan dan kapasitas layanan PDAM. 7.2.2 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penyusunan model penyediaan air bersih secara berkelanjutan di Kota Tarakan dilakukan melalui diskusi, wawancara dan kuisioner dan survey lapangan. Selain itu juga dilakukan studi kepustakaan dan dokumen dari instansi-instansi terkait penyediaan air bersih Kota Tarakan. 7.2.3 Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penyediaan air bersih secara berkelanjutan di Kota Tarakan adalah sistem dinamik dengan bantuan software Powersim Constructor v2.5. Tahapan-tahapan dalam sistem dinamik meliputi analisis kebutuhan, formulasi masalah, identifikasi sistem, simulasi model dan validasi model. Dalam analisis sistem dinamik ini akan dikaji dua sub model, yaitu sub model kebutuhan air bersih dan sub model penyediaan air bersih. a. Analisis Kebutuhan Analisis kebutuhan bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan setiap pelaku yang terlibat dalam penyediaan air bersih. Berdasarkan kajian, stakeholder yang terlibat dalam penyediaan air bersih dan masing-masing kebutuhannya dapat dilihat dalam Tabel 14. Tabel 14 Analisis kebutuhan aktor dalam pegelolaan air bersih Kota Tarakan. No 1 2 Aktor/Stakeholder Masyarakat pengguna air Dinas dan instansi pemerintah Kebutuhan 1. Terpenuhinya kebutuhan air bersih 2. Tarif air yang terjangkau 3. Kualitas air bersih yang baik 1. Tidak terjadi kelangkaan air pada musim kemarau 2. Dapat memenuhi kebutuhan air masyarakat 3. Terjaganya kualitas DAS 79 3 PDAM Tarakan 4 Lembaga swadaya masyarakat 5 Perguruan tinggi 4. Pendapatan daerah meningkat 5. Kebijakan dalam penyediaan air bersih 1. Biaya operasional yang murah 2. Dapat memenuhi kebutuhan masyarakat air 3. Dapat mencapai keuntungan yang layak bagi perusahaan 4. Terjaminnya air baku secara kuantitas dan kualitas 1. Terjaminnya kesetaraan dalam pemenuhan air bersih masyarakat 2. Tidak terjadi konflik kepentingan dalam pemanfaatan air bersih 3. Good governance 1. Kemitraan dengan perguruan tinggi dalam penyediaan air bersih 2. Hasil kajian yang aplikatif b. Formulasi Masalah Menurut Eriyatno (2003), formulasi masalah disusun dengan cara mengevaluasi keterbatasan sumberdaya yang dimiliki (limited of resources) dan atau adanya konflik atau perbedaan kepentingan (conflict of interest) diantara pemangku kepentingan. Berdasarkan analisis kebutuhan dan kondisi air bersih Kota Tarakan saat ini, permasalahannya diformulasikan sebagai berikut : 1. Jumlah pertambahan penduduk yang terus meningkat dengan jangka waktu yang pendek dan penyebarannya yang tidak merata. 2. Masih terdapat daerah permukiman kumuh dengan kondisi dibawah standar dengan jumlah yang sangat besar. 3. Prasarana dan sarana air bersih yang belum seimbang dengan pertumbuhan penduduk, dan tingginya kebocoran PDAM. 4. Pencemaran sumber air baku akibat buangan dari domestic/non-domestik, dan intrusi air laut. Sehingga air tanah tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan langsung sebagai air bersih. 5. Pemanfaatan air bersih yang tidak memperhatikan kaidah konservasi lingkungan, dimana masih terjadi perubahan fungsi lahan yang cukup signifikan. 6. Belum terbentuk mekanisme kerjasama pemerintah daerah secara terpadu dalam penyediaan air bersih. Sehingga penyediaan yang terjadi masih bersifat parsial dan saling lempar tanggung jawab. 80 c. Identifikasi Sistem Identifikasi sistem merupakan suatu rangkaian hubungan antara pernyataan dari kebutuhan-kebutuhan dengan pernyataan masalah yang harus dipecahkan dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut. Tujuan identifikasi sistem adalah untuk memberikan gambaran tentang hubungan antara faktorfaktor yang saling mempengaruhi dalam kaitannya dengan pembentukan suatu sistem. Hubungan antar faktor digambarkan dalam bentuk diagram lingkar sebab-akibat (causal loop), kemudian dilanjutkan dengan interpretasi diagram lingkar ke dalam konsep kotak gelap (black box). Dalam menyusun kotak gelap, jenis informasi dikategorikan menjadi tiga golongan yaitu peubah input, peubah output dan parameter-parameter yang mebatasi struktur sistem. Gambaran diagram kotak gelap dapat dilihat pada Gambar 33. Gambar 33 Diagram kotak gelap (black box) sistem penyediaan air bersih di Kota Tarakan d. Validasi Model Terdapat dua pengujian dalam validasi model yaitu uji validasi struktur dan uji validasi kinerja. Uji validasi struktur lebih menekankan pada keyakinan pada pemeriksaan kebenaran logika pemikiran, sedangkan uji validasi kinerja 81 lebih menekankan pemeriksaan yang taat data empiris. Model yang baik adalah yang memenuhi kedua syarat tersebut yaitu logis-empiris (logico-empirical). Uji validasi struktur bertujuan untuk memperoleh keyakinan sejauh mana keserupaan struktur model mendekati struktur nyata. Uji ini dibedakan atas dua jenis yaitu validasi konstruksi dan kestabilan struktur. Validasi konstruksi adalah keyakinan terhadap konstruksi model diterima secara akademis, sedangkan kestabilan struktur adalah keberlakuan atau kekuatan (robustness) struktur dalam dimensi waktu (Muhammadi et al., 2001). Uji validasi kinerja bertujuan untuk memperoleh keyakinan sejauh mana kinerja model sesuai (compatible) dengan kinerja sistem nyata sehingga memenuhi syarat sebagai model ilmiah dengan yang taat fakta, yaitu dengan melihat apakah perilaku output model sesuai dengan perilaku data empiris. Penyimpangan terhadap output model dengan data empiris dapat diketahui dengan uji statistik yaitu menguji penyimpangan rata-rata absolutnya (AME : Absolute Means Error) dan penyimpangan variasi absolutnya (AVE : Absolute Variation Error). Batas penyimpangan yang dapat diterima berkisar antara 5 – 10% (Muhammadi et al., 2001). Adapun rumus untuk menghitung nilai AME dan AVE seperti di bawah ini : Rumus AME (Absolute Means Error) = (Si – Ai) / Ai x 100% …….………(1) Si = Si / N dan Ai = Ai / N dimana : S = Nilai simulasi A = Nilai aktual N = Interval waktu pengamatan Rumus AVE (Absolute Variation Error) = (Ss – Sa) / Sa x 100% ………..(2) Ss = ((Si - Si)2) / N dan Sa = ((Ai - Ai)2) / N dimana : Sa = Deviasi nilai aktual Ss = Deviasi nilai simulasi N = Interval waktu pengamatan e. Uji Kestabilan Model Uji kestabilan model pada dasarnya merupakan bagian dari uji validasi struktur. Uji ini dilakukan untuk melihat kestabilan atau kekuatan (robustness) model dalam dimensi waktu. Model dikatakan stabil apabila struktur model agregat dan disagregat memiliki kemiripan. Caranya adalah dengan menguji struktur model agregat yang diwakili oleh sub-sub model yang ada. 82 f. Uji Sensitivitas Model Uji sensitivitas merupakan respon model terhadap suatu stimulus. Respon ini ditunjukkan dengan perubahan perilaku dan/atau kinerja model. Stimulus diberikan dengan memberikan perlakuan tertentu pada unsur atau struktur model. 7.3 Model Penyediaan Air Bersih Pulau Tarakan Model yang dibangun dalam penyediaan air bersih di pulau kecil dengan wilayah studi di Kota Tarakan terdiri dari 2 (dua) sub model yaitu sub model kebutuhan air bersih dan sub model ketersediaan air bersih. Perilaku model dinamik penyediaan air bersih di pulau kecil di Kota Tarakan dianalisis dengan menggunakan program powersim constructor version 2.5. Simulasi model dilakukan pada masing-masing kecamatan di Kota Tarakan yaitu Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Utara dan Tarakan Tengah. Analisis dilakukan selama 29 tahun, dimulai pada tahun 2001 dan berakhir pada tahun 2030. Waktu 29 tahun ini diharapkan dapat memberikan gambaran perkembangan kebutuhan air bersih untuk masa jangka panjang, dan disesuaikan dengan RTRW Kota Tarakan 2006-2029. 7.3.1 Sub Model Kebutuhan Air Bersih Sub model kebutuhan air bersih ini mendeskripsikan kebutuhan air bersih dari beberapa sektor kebutuhan yaitu kebutuhan masyarakat (domestik), k ebutuhan industri dan kebutuhan hotel. Kebutuhan domestik dipengaruhi oleh beberapa variabel yaitu jumlah penduduk, laju pertambahan penduduk, kebutuhan standar air bersih penduduk serta kebijakan hemat air (reduce). Kebutuhan air bersih industri dipengaruhi oleh jumlah industri, laju pertumbuhan industri, kebutuhan standar industri dan kebijakan reduce, reuse dan recycle. Kebutuhan air bersih perhotelan dipengaruhi oleh jumlah hotel, laju pertumbuhan hotel, kebutuhan standar hotel dan kebijakan reduce dan reuse. Hubungan antara pertumbuhan penduduk, perhotelan dan industri dapat dilihat pada Gambar 34. Standar kebutuhan air rumah tangga berdasarkan kriteria jumlah penduduk dan jenis kota sehingga diperlukan data jumlah penduduk dan jenis kota. Jumlah penduduk yang akan digunakan dalam standar ini adalah jumlah penduduk yang menetap pada satu wilayah. Adapun standar yang digunakan dalam klasifikasi kebutuhan air rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 15. 83 Perhitungan proyeksi jumlah penduduk, hotel dan industri di Kota Tarakan dapat dihitung menggunakan Metode Geometrik dengan persamaan berikut ini : …………………………………………………………… ( 3 ) dimana : Pn = jumlah populasi pada tahun ke n; P0 = jumlah populasi pada tahun awal r = laju pertumbuhan; n = jumlah interval tahun. Tabel 15 Standar kebutuhan air rumah tangga No Jumlah Penduduk Jenis Kota Kebutuhan Air (l/hari) 1 < 2.000.000 Metropolitan >210 2 1.000.000 – 2.000.000 Metropolitan 150 - 210 3 500.000 – 1.000.000 Besar 120 - 150 4 100.000 – 500.000 Besar 100 - 120 5 20.000 – 100.000 Sedang 90 - 100 6 3.000 – 20.000 Kecil 60 - 90 Sumber : Departemen permukiman dan prasarana wilayah, 2007. Mutu Air Kelas Satu Kebutuhan air untuk industri adalah kebutuhan air untuk proses industri termasuk bahan baku, kebutuhan air pekerja, industri dan pendukung kegiatan industri (Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2007). Klasifikasi industri diperlukan untuk menentukan besarnya kebutuhan air industri. Adapun klasifikasi industri apat dilihat pada Tabel 16. Tabel 16 Klasifikasi industri berdasarkan jumlah tenaga Jumlah Tenaga Kerja (Orang) Klasifikasi 1–4 Industri kerajinan rumah tangga 5 – 19 Industri kecil 20 – 99 Industri sedang >100 Industri besar Sumber : Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2007. Kebutuhan air pekerja industri merupakan kebutuhan air domestik yang telah disesuaikan dengan kebutuhan pekerja pabrik. Kebutuhan air untuk industri dapat diklasifikasikan sesuai pada Tabel 17. Tabel 17 Kebutuhan air untuk proses industri No 1 2 Jenis Industri Industri Rumah Tangga Industri Kecil 3 Industri Sedang 4 Industri Besar 5 Industri Tekstil Jenis Proses Industri Belum ada Rekomendasi. Dapat disesuaikan dengan kebutuhan air rumah tangga. Kebutuhan Air (l/hari) Minuman Ringan Industri es Kecap Minuman ringan Industri Pembekuan ikan dan biota perairan lainnya 1.600 – 11.200.000 18.000 – 67.000 12.000 – 97.000 65.000 – 78.000 Proses Penyediaan Tekstil 225.000 – 1.350.000 400 – 700 l/kapita/hari Sumber : Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2007. Mutu Air Kelas Satu 84 Struktur model kebutuhan air bersih ini dapat dilihat pada Gambar 35 dan persamaan model dinamis pada Lampiran 5. Beberapa data awal dan asumsiasumsi yang digunakan dalam sub model ini pada kondisi eksisting antara lain : 1. Kebutuhan standar air bersih penduduk sebesar 150 liter/orang/hari, kebutuhan standar hotel 50.000 liter/unit/hari dan kebutuhan standar industri sebesar 100.000 liter/unit/hari. Kebutuhan standar penduduk berdasarkan atas Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No.18 Tahun 2007, sedangkan kebutuhan standar hotel didapat melalui wawancara langsung kepada pengelola hotel dengan asumsi kamar terpenuhi sebesar 80%, dan tidak dibedakan antara hotel berbintang dan hotel melati. Kebutuhan standar hotel per hari sebesar 50.000 liter. Kebutuhan standar industri tidak dibedakan atas industri besar dan kecil dan didapat dari wawancara langsung dengan pengelola industri, sebesar 100.000 liter per hari, angka ini masih sesuai dengan standar Kepmen PU tahun 2007. 2. Jumlah penduduk Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Tengah dan Tarakan Utara masing-masing sebesar 41.302 jiwa, 21.805 jiwa, 46.458 jiwa, dan 8.089 jiwa pada tahun 2001 (BPS Kota Tarakan 2009). 3. Pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun Kecamatan Tarakan Barat sebesar 9%, Kecamatan Tarakan Timur 13%, Kecamatan Tarakan Tengah 4% dan Kecamatan Tarakan Utara 14% (BPS Kota Tarakan 2009). 4. Jumlah hotel tercatat di Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Tengah masing-masing sebesar 10 buah, 4 buah, 7 buah dan tidak ada hotel (0) di Tarakan Utara pada tahun 2001 (BPS Kota Tarakan 2009). 5. Pertumbuhan perhotelan rata-rata per tahun Kecamatan Tarakan Barat sebesar 2%, Kecamatan Tarakan Timur 2%, Kecamatan Tarakan Tengah 4% dan Kecamatan Tarakan Utara 2%. Didapat melalui trial and error dari simulasi model yang dicocokkan dengan kondisi eksisting dari tahun 20012009. Walaupun Kecamatan Tarakan Utara belum memiliki hotel, namun dalam penelitian ini diasumsikan pada beberapa tahun kedepan akan dibangun beberapa hotel seiring dengan perkembangan wilayah. 6. Jumlah industri tercatat di Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Tengah dan Tarakan Utara masing-masing sebesar 139 unit, 36 unit, 123 unit dan 15 unit pada tahun 2001 (BPS Kota Tarakan 2009). 7. Pertumbuhan sektor industri rata-rata per tahun Kecamatan Tarakan Barat sebesar 1%, Kecamatan Tarakan Timur 1%, Kecamatan Tarakan Tengah 1% 85 dan Kecamatan Tarakan Utara 2%. Didapat melalui trial and error dari simulasi model yang dicocokkan dengan kondisi eksisting dari tahun 20012009. 8. Belum diberlakukannya kebijakan hemat air pada masing-masing sektor kebutuhan. Berdasarkan Gambar 34 dapat dilihat bahwa kebutuhan sektor domestik dipengaruhi oleh variable pertumbuhan penduduk. Semakin tinggi laju pertumbuhan penduduk maka jemlah penduduk juga akan semakin tinggi. Hal ini mengakibatkan kebutuhan air bersih untuk domestik menjadi meningkat. Sehingga dengan mengalikan jumlah penduduk dengan standar kebutuhan air bersih didapat kebutuhan air bersih sektor domestic. Dengan cara yang sama dilakukan juga pada sektor perhotelan dan industri. Dalam sub model ini ditambahkan juga kebijakan hemat air dengan variable reduce untuk kebutuhan penduduk, reduce and reuse untuk sektor perhotelan dan reduce, reuse and recycle pada sektor industri, sebagai kebijakan untuk meningkatkan efisiensi air bersih. Gambar 34 Causal loop sub model kebutuhan air bersih 86 Gambar 35 Struktur sub model kebutuhan air bersih 7.3.2 Sub Model Ketersediaan Air Bersih Sub model ketersediaan ini mendeskripsikan ketersediaan air bersih yang berasal dari sumber alam yaitu air tanah/sumur dan pelayanan PDAM. Ketersediaan air bersih dari alam dipengaruhi oleh besarnya koefisien run off masing-masing tutupan lahan, curah hujan, luas lahan dan luas catchment area. Sedangkan ketersediaan air dari sektor pelayanan PDAM dihitung berdasarkan kapasitas instalasi pengolahan air (IPA) PDAM. Keterkaitan antar variable ketersediaan air dapat dilihat pada Gambar 36. Gambar 36 Causal loop sub model ketersediaan air bersih 87 Ketersediaan air tanah dapat ditingkatkan dengan menaikan imbuh air tanah dengan melakukan upaya-upaya reboisasi pada lahan hutan, pembuatan terasering pada lahan lading/tegakan, pembuatan sumur resapan pada lahan permukiman dan pembuatan sistem intensifikasi pada lahan tambak. Upaya konservasi ini dilakukan untuk menurunkan koefisien run off masing-masing land use sehingga imbuhan air tanah menjadi meningkat. Jadi, semakin tinggi upaya konservasi maka koefisien run off akan semakin kecil dan imbuhan air tanah akan meningkat. Nilai koefisien run off pada masing-masing land use dapat dilihat pada Tabel 18. Imbuhan air tanah yang dipakai sebagai air bersih diasumsikan sebanyak 40%, dan sisanya berupa cadangan air tanah. Namun upaya konservasi ini juga harus memperhitungkan biaya konservasi pada masing-masing land use. Dalam hal ini biaya konservasi pada masing-masing land use berupa data asumsi berupa nilai masukan (input). Koefisien run off pada masing-masing lahan dikumulatifkan sehingga menjadi koefisien run off kumulatif menggunakan persamaan (4). Persamaanpersamaan lain yang digunakan dalam perhitungan ketersediaan air bersih pada sub model ketersediaan air bersih ini adalah : ∑ ∑ ……………… (4) ……………..…...………….………… (5) ……………..………………………… (6) ………………………………… (7) dimana : C = Ci = Ai = RO = I = koefisien run off kumulatif koefisien run off lahan i luas lahan i (ha) 3 Run Off (m /thn) curah hujan tahunan (mm/thn) A = G = P = E = IKA = luas daerah tangkapan (ha) 3 imbuhan air tanah (m /thn) 3 volume hujan (m /thn) 3 evaporasi (m /thn) indeks ketersediaan air bersih Ketersediaan air dari pelayanan PDAM dapat ditingkatkan dengan cara melakukan uprating instalasi pengolahan air (IPA) PDAM eksisting atau membuat instalasi pengolahan air bersih mikro (IPAB Mikro) pada masing-masing wilayah yang kekurangan pelayanan air bersih. Pada sub model ini dibandingkan antara penambahan ketersediaan air dengan cara uprating IPA dan pembuatan IPAB Mikro. Rincian biaya uprating dan IPAB Mikro dapat dilihat pada Lampiran 6 s/d 7. Berdasarkan biaya uprating dan biaya pemasangan IPAB Mikro tersebut 88 didapat biaya dan jumlah unit IPAB Mikro yang dibutuhkan oleh Kota Tarakan untuk menambah kekurangan air pada tiap tahun. Biaya ini akan bervariasi pada masing-masing kecamatan, tergantung jumlah kekurangan air yang akan disediakan. Dengan diketahuinya biaya penambahan air bersih tersebut, maka dapat dijadikan usulan kebijakan sebagai alternatif dalam pemilihan sistem penyediaan air bersih di Kota Tarakan. Pelayanan air bersih perpipaan ini sesuai MDG’s tahun 2015 harus dapat melayani 80% kebutuhan air bersih masyarakat. Sehingga pelayanan air bersih oleh PDAM (perpipaan) ditargetkan terlayani 80%, dan sisanya terlayani oleh air tanah/sumur. Tabel 18 Nilai koefisien run off masing-masing land use Tataguna lahan C Tataguna lahan Perkantoran Tanah Lapang Daerah pusat kota 0,7-0,95 Berpasir, datar, 2% Daerah sekitar kota 0,5-0,7 Berpasir, agak rata, 2-7% Perumahan Berpasir, miring, 7% Rumah tunggal 0,3-0,5 Tanah berat, datar, 2% Rumah susun, terpisah 0,4-0,6 Tanah berat, agak rata, 2-7% Rumah susun, 0,6-0,75 Tanah berat, miring, 7% bersambung 0,25-0,4 Tanah Pertanian, 0-30% Pinggiran kota Tanah kosong Daerah Industri 0,5-0,8 Rata Kurang padat industri 0,6-0,9 Kasar Padat Industri 0,1-0,25 Ladang Garapan Taman, kuburan Tanah berat, tanpa vegetasi Sumber : U.S Forest Service, 1980 dalam Asdak, C (2007) C 0,05-0,10 0,10-0,15 0,15-0,20 0,13-0,17 0,18-0,22 0,25-0,35 0,30-0,60 0,20-0,50 0,30-0,60 Sub model ketersediaan air bersih ini juga menghitung neraca air bersih dan indeks ketersediaan air bersih (IKA). Neraca air bersih yaitu selisih dari air yang tersedia dengan kebutuhan total air bersih pada setiap tahun. Sedangkan IKA adalah perbandingan ketersediaan air bersih dengan kebutuhan air bersih pada setiap tahun. Diharapkan IKA memiliki nilai ≥ 1 pada setiap tahunnya. Dengan demikian, ketersediaan air bersih Kota Tarakan lebih besar dari kebutuhannya, sehingga tidak terjadi krisis air. Diagram alir sub model ketersediaan air bersih dapat dilihat pada Gambar 37 dan persamaan model dinamis ketersediaan air bersih selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5. Beberapa data awal dan asumsi yang dipergunakan dalam sub model ketersediaan air bersih ini adalah : 1. Luas daerah tangkapan air Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Tengah dan Tarakan Utara masing-masing adalah 2.789 ha, 5.801 ha, 5.554 ha, 10.936 ha. Dengan total wilayah sebesar 25.080 ha. 89 2. Luas lahan permukiman di Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Tengah dan Tarakan Utara masing-masing adalah 414 ha, 328 ha, 397 ha, dan 237 ha (Citra Satelit Landsat TM 05 tahun 2008). 3. Luas lahan hutan di Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Tengah dan Tarakan Utara masing-masing adalah 448 ha, 2516 ha, 3652 ha, dan 7861 ha (Citra Satelit Landsat TM 05 tahun 2008). 4. Luas lahan tegakan/lading di Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Tengah dan Tarakan Utara masing-masing adalah 1396 ha, 2688 ha, 1505 ha dan 2557 ha (Citra Satelit Landsat TM 05 tahun 2008). 5. Luas lahan tambak di Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Tengah dan Tarakan Utara masing-masing adalah 531 ha, 269 ha, 0 ha dan 281 ha. 6. Koefisien run off eksisting sebagai batas atas pada lahan permukiman, tegalan, hutan dan tambak masing-masing adalah 0,75, 0,35, 0,4 dan 0,7. Sedangkan pada batas bawah adalah 0,3, 0,2, 0,2 dan 0,2. 7. Curah hujan rata-rata tahunan Kota Tarakan adalah 3705,65 mm/thn. 8. Evaporasi rata-rata tahunan Kota Tarakan adalah 1700 mm/thn. 9. Biaya sumur resapan sebesar Rp500.000,00/ha, reboisasi sebesar Rp1.500.000,00/ha, terasering Rp1.000.000,00/ha dan intensifikasi tambak Rp5.000.000,00/ha. 10. Biaya uprating IPA PDAM sebesar Rp.1.159,5/m3, biaya pemasangan IPAB Mikro Rp643,00/m3. 11. Asumsi pemakaian air tanah dari imbuhan air tanah adalah 40%, dan sebanyak 30% air tanah tidak bisa dimanfaatkan karena pencemaran dan intrusi air laut. 12. Ketersediaan air bersih terdiri atas ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah (alami) dan pelayanan perpipaan PDAM. 90 Gambar 37 Diagram alir sub model ketersediaan air bersih 91 7.4 Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Barat 7.4.1 Kondisi Eksisting Kecamatan Tarakan Barat Proyeksi kebutuhan air bersih berdasarkan jumlah penduduk, hotel dan industri pada Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Tabel 19. Pada awal tahun 2001, jumlah penduduk, hotel dan jumlah industri di Kecamatan Tarakan Barat masing-masing tercatat 41.302 jiwa, 10 buah hotel dan 139 unit industri. Jumlah kebutuhan air bersih per tahun masing-masing sektor tersebut yaitu 2.261.284,5 m3, 182.500 m3 dan 5.073.500 m3. Analisis dilakukan selama 30 tahun dari 2001-2030, sehingga diproyeksikan jumlah penduduk, hotel dan industri masing-masing menjadi 502.735 jiwa, 18 hotel dan 185 unit industri. Dengan demikian, jumlah kebutuhan air bersih pada tahun 2030 menjadi 27.524.766,7 m3 untuk kebutuhan penduduk, 324.091,66 m3 untuk kebutuhan hotel dan 6.770.605,42 m3 untuk kebutuhan industri. Tabel 19 Proyeksi jumlah penduduk (jiwa), hotel dan industri (unit) serta kebutuhan air bersih di Tarakan Barat (m3) 92 Berdasarkan hasil analisis sub model ketersediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Barat, pada tahun 2001, ketersediaan air bersih sebesar 35.987.520 m3. Ketersediaan ini terus menurun, sehingga pada akhir simulasi, tahun 2030, proyeksi ketersediaan air bersih menjadi 14.330.735 m3. Ketersediaan dan neraca air bersih di Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Tabel 20. Tingginya tingkat kebutuhan air bersih di kecamatan Tarakan Barat menyebabkan terjadinya kekurangan air bersih dimulai pada tahun 2017 dan pada akhir tahun simulasi kekurangan air bersih sebesar 20.288.729 m3. Tabel 20 Ketersediaan dan neraca air bersih Tarakan Barat (m3) Ketersediaan air bersih Kota Tarakan didapatkan dari imbuhan air tanah sehingga menjadi ketersediaan alami, dan layanan perpipaan PDAM. Imbuhan air tanah yang dimaksud pada penelitian ini adalah imbuhan air tanah yang berasal dari curah hujan saja, dan belum memperhitungkan imbuh air tanah yang berasal dari aliran air tanah dari satuan hidrologi didekatnya. Salah satu cara meningkatkan imbuhan air tanah adalah meningkatkan imbuhan air tanah 93 dengan cara mengurangi bagian hujan yag menjadi run off. Imbuhan air tanah yang cenderung terus menurun menunjukkan komposisi luasan lahan hutan, tegakan, pemukiman dan tambak yang kurang baik. Hal ini menyebabkan koefisien run off di Kecamatan Tarakan Barat menjadi lebih tinggi (0,501), sehingga aliran limpasan menjadi tinggi. Tingginya aliran limpasan menyebabkan imbuhan air tanah menurun sehingga cadangan air tanah menjadi menurun. Proyeksi kebutuhan dan ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Gambar 38. Gambar 38 Kebutuhan dan ketersediaan air bersih Tarakan Barat (m3) Pada Gambar 38 dapat dilihat bahwa Kecamatan Tarakan Barat sangat berpotensi mengalami krisis air bersih. Hal ini ditunjukkan dengan semakin menurunnya ketersediaan air bersih (supply) dan meningkatnya kebutuhan air bersih. Tingginya kekurangan air bersih pada tahun 2030 yaitu sebesar 20.288.729 m3, membutuhkan perhatian yang serius, Untuk itu perlu diterapkan kebijakan penghematan air sesegera mungkin. Penerapan kebijakan konservasi air bersih melalui pembuatan sumur resapan di daerah permukiman, reboisasi di lahan hutan, terasering di lahan lading/tegakan dan pembuatan tambak sistem intensif, merupakan langkah yang perlu diambil oleh stakeholder Kota Tarakan sehingga krisis air di Tarakan Barat dapat dihindari. Produktifitas layanan PDAM di Tarakan Barat juga perlu ditingkatkan. Hal ini sangat berpengaruh, karena rendahnya layanan air bersih perpipaan menyebabkan masyarakat dan industi menggunakan air tanah sebagai sumber air bersih. Akibat penambangan air tanah yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya penurunan muka air tanah mengakibatkan intrusi air laut. Selain itu juga dapat menyebabkan penurunan muka tanah. 94 7.4.2 Simulasi Skenario Model Penyediaan Air Bersih Tarakan Barat Upaya peningkatan ketersediaan air bersih di Tarakan Barat dilakukan dengan menggunakan beberapa skenario yaitu skenario satu, dua dan tiga, seperti tersaji pada Tabel 21. Tabel 21. Skenario penyediaan air bersih Tarakan Barat Variabel Peubah Kebijakan Perilaku Hemat Air a. Penduduk b. Hotel c. Industri Kebijakan untuk Konservasi Air Bersih a. Sumur resapan b. Reboisasi c. Terasering d. Tambak intensif Kebijakan Peningkatan Layanan Perpipaan a. Jumlah penduduk terlayani Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 0% 0% 0% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 5% 5% 2% 0% 10% 5% 2% 0% 10% 10% 3% 0% Kondisi eksisting 60% 80% Proyeksi kebutuhan air bersih Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Gambar 39. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih skenario satu sama dengan kondisi eksisting yaitu sebesar 7.517.284,5 m3 pada tahun 2001 dan terus meningkat menjadi 34.619.463,7 m3 pada tahun 2030. Pada skenario dua dan tiga, kebutuhan air bersih tahun 2001 sebesar 7.517.284,5 m3, terus meningkat tiap tahunnya. Seiiring diberlakukannya kebijakan hemat air pada tahun 2013, dimana kebutuhan air bersih penduduk, hotel dan industri dikurangi masing-masing 10%, maka terjadi pengurangan kebutuhan air bersih pada tahun 2013 yang tadinya 12.942.855,9 m3 menjadi 11.648.570,3 m3. Sehingga pada skenario dua dan tiga, pada akhir simulasi (2030) kebutuhan air bersih menjadi 31.157.517,4 m3. Gambar 39 Proyeksi Kebutuhan air bersih Tarakan Barat (m3) 95 Proyeksi ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Gambar 40. Hasil simulasi menunjukkan apabila diterapkan variabel skenario satu, dua dan tiga dimulai pada tahun 2013, maka terlihat peningkatan ketersediaan air bersih dari kondisi eksisting (supply) menjadi kondisi suplai_1, suplai_2 dan suplai_3. Sehingga pada tahun 2030 ketersediaan air bersih sebesar 14.330.735 m3 bertambah menjadi 29.406.707 m3 pada skenario satu, 42.783.240,1 m3 pada skenario dua dan 51.666.411,9 m3 pada skenario tiga. Peningkatan ketersediaan air bersih ini akibat dari kebijakan konservasi untuk meningkatkan imbuhan air tanah dan kebijakan peningkatan kapasitas layanan PDAM. Pada skenario satu, ketersediaan air bersih bertambah akibat adanya pembuatan sumur resapan sebesar 5% lahan permukiman per tahun, reboisasi sebesar 5% lahan hutan per tahun dan terasering 2% lahan tegakan per tahun. Ketersediaan air bersih skenario dua lebih tinggi dari skenario satu karena pembuatan sumur resapan lebih banyak dari skenario satu yaitu sebesar 10% lahan permukiman per tahun. Sedangkan skenario tiga menghasilkan ketersediaan air yang lebih tinggi lagi, karena pembuatan sumur resapan sebesar 10% lahan permukiman per tahun, reboisasi ditingkatkan menjadi 10% lahan hutan per tahun dan terasering sebesar 3% lahan tegakan per tahun. Gambar 40 Simulasi ketersediaan air bersih di Tarakan Barat (m3) Peningkatan ketersediaan air bersih ini membutuhkan biaya konservasi dan biaya peningkatan kapasitas layanan PDAM. Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Tabel 22. Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan pada skenario satu, pada awal 96 tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp10.350.000,00 dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp175.950.000,00. Pembuatan sumur resapan pada skenario dua dan tiga membutuhkan biaya sebesar Rp20.700.000,00 pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp315.900.000,00 pada akhir tahun simulasi (2030). Tabel 22 Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan di Tarakan Barat (Rp.) Kebutuhan biaya reboisasi pada lahan hutan Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Tabel 23. Kebutuhan biaya reboisasi pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp.33.600.000,dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp.571.200.000,. Reboisasi pada skenario tiga membutuhkan biaya sebesar Rp.67.200.000,pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp.1.142.400.000,- pada akhir tahun simulasi (2030). Kebutuhan biaya terasering pada lahan tegakan/ladang Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Tabel 24. Kebutuhan biaya reboisasi pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp.27.920.000,,- dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp.474.640.000,-. Terasering pada skenario tiga membutuhkan biaya sebesar Rp.41.880.000,- pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp.711.960.000,- pada akhir tahun simulasi (2030). 97 Konservasi lahan tambak melalui pembuatan tambak intensif diasumsikan untuk tidak dilakukan (0%). Hal ini karena biaya pembuatan tambak intensif yang sangat tinggi, sehingga membutuhkan biaya yang sangat besar. Sehingga dalam meningkatkan ketersediaan air bersih kecamatan Tarakan Barat tidak melakukan pembuatan tambak intensif. Tabel 23 Kebutuhan biaya reboisasi Tarakan Barat (Rp.) Tabel 24 Kebutuhan biaya terasering Kecamatan Tarakan Barat (Rp.) 98 Kebijakan lain yang dilakukan dalam meningkatkan ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Barat adalah peningkatan kapasitas pelayanan perpipaan. Kebijakan ini khusus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat (domestic). Peningkatan kapasitas layanan PDAM dilakukan pada skenario dua dan tiga, sebesar masing-masing 60% penduduk terlayani dan 80% penduduk terlayani. Pada skenario satu, diasumsikan tidak dilakukan peningkatan kapasitas layanan perpipaan. Proyeksi peningkatan kapasitas layanan perpipaan dapat dilihat pada Gambar 41. Ketersedian air bersih melalui layanan perpipaan PDAM pada skenario satu konstan sebesar 5.987.520 m3 sepanjang tahun simulasi. Sedangkan pada skenario dua, supaya 60% penduduk mendapatkan pelayanan perpipaan, maka produksi PDAM harus bertambah dimulai pada tahun 2020 menjadi 6.278.449,81 m3 dan pada tahun 2030 menjadi 14.863.374 m3. Pada skenario tiga, supaya 80% penduduk mendapatkan pelayanan perpipaan, maka produksi PDAM harus bertambah dimulai pada tahun 2017 menjadi 6.464.153,63 m3 dan pada tahun 2030 menjadi 19.817.832 m3. Gambar 41 Peningkatan layanan perpipaan Tarakan Barat Untuk meningkatkan layanan perpipaan PDAM, dilakukan 2 (dua) alternatif kegiatan peningkatan kapasitas layanan. Alternatif pertama yaitu meningkatkan kapasitas IPA PDAM eksisting melalui uprating IPA, sedangkan alternatif kedua yaitu membangun Instalasi Pengolahan Air Bersih Mikro (IPAB Mikro) di lokasi dekat permukiman dan sumber sumber air permukaan. 99 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas layanan perpipaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 25 dan Tabel 26. Pada skenario satu, tidak dilakukan peningkatan kapasitas IPA PDAM, sehingga tidak ada biaya peningkatan kapasitas. Pada skenario dua, kapasitas layanan PDAM ditingkatkan sehingga mampu melayani 60% kebutuhan air bersih penduduk (domestic), dibutuhkan biaya uprating mulai tahun 2020 sebesar Rp337.333.109,95 dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp10.291.552.716,77. Biaya peningkatan kapasitas IPA/uprating PDAM pada skenario tiga sehingga kapasitas layanan mampu melayani 80% kebutuhan air bersih penduduk (sesuai MDG’s) yaitu sebesar Rp552.656.690,91 pada tahun 2017 dan Rp16.036.246.769,03 pada tahun 2030. Tabel 25 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui uprating IPA PDAM di Tarakan Barat (Rp.) Pada Tabel 26, kebutuhan biaya peningkatan kapasitas layanan dengan cara pembangunan IPAB Mikro, didapatkan kebutuhan biaya untuk melayani 60% kebutuhan air bersih penduduk (skenario dua) sebesar Rp187.067.865,20 pada tahun 2020 sebanyak 2 unit dan Rp5.707.174.124,09 pada tahun 2030 dengan total 57 unit terpasang. Sedangkan untuk melayani 80% kebutuhan air bersih penduduk menggunakan IPAB Mikro, dibutuhkan biaya sebesar Rp306.475.422,39 pada tahun 2017 sebanyak 3 unit dan Rp8.892.890.618,79 pada tahun 2030 dengan total 89 unit terpasang. 100 Tabel 26 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui IPAB Mikro di Tarakan Barat (Rp.) Hasil akhir dari model penyediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Barat adalah neraca air bersih seperti pada Gambar 42 dan Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) pada Tabel 27. Neraca air bersih menunjukkan sisa ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah dan pelayanan perpipaan. Kondisi yang diharapkan adalah terjadinya surplus air bersih sepanjang tahun. IKA menunjukkan perbandingan ketersediaan terhadap kebutuhan air bersih, kondisi yang diharapkan adalah ≥ 1. Gambar 42 Neraca air bersih Tarakan Barat Pada Tabel 27, terjadi pengurangan air bersih sepanjang tahun pada kondisi eksisting dan pada tahun 2017 terjadi krisis air bersih, sehingga pada tahun 2030 terjadi kekurangan air bersih (defisit) sebesar 20.288.729 m3. Begitu 101 pula halnya dengan neraca air skenario satu, akan terjadi krisis air bersih pada tahun 2019 dan masih terjadi defisit air bersih pada tahun 2030 sebesar 5.212.756,7 m3. Berbeda halnya pada skenario dua dan tiga, terjadi peningkatan air bersih yang cukup baik. Simulasi neraca air skenario dua, menunjukkan peningkatan yang baik dimulai dari tahun 2017 sehingga pada tahun 2030 masih terdapat kelebihan air bersih (surplus) sebesar 11.625.722,8 m3. Sedangkan pada simulasi skenario tiga, peningkatan air bersih juga terjadi sejak tahun 2017 sehingga masih terdapat surplus air bersih sebesar 20.508.894,5 m3. Tabel 27 Neraca air bersih Tarakan Barat (m3) Pada Tabel 28, nilai IKA kondisi eksisting, skenario satu, dua dan tiga terus mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya kebutuhan air bersih. Hasil simulasi IKA pada akhir tahun simulasi (2030) pada kondisi eksisting, skenario satu, dua dan tiga, masing-masing sebesar 0,414, 0,849, 1,37 dan 1,66. Hasil ini menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting di tahun 2030 ketersediaan 102 air bersih hanya mampu memenuhi 41,4% kebutuhan air bersih. Ketersediaan air menggunakan simulasi skenario satu hanya mampu melayani 84,9% kebutuhan air bersih. Ketersediaan air menggunakan simulasi skenario dua mampu melayani 100% kebutuhan air bersih dan masih surplus sebesar 37% dari kebutuhan air bersih, dan ketersediaan air menggunakan simulasi skenario tiga mampu melayani 100% kebutuhan air bersih dan masih surplus sebesar 66% dari kebutuhan air bersih. Tabel 28 Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) Tarakan Barat 7.5 Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Timur 7.5.1 Kondisi Eksisting Kecamatan Tarakan Timur Proyeksi jumlah penduduk, hotel dan indusrti pada Kecamatan Tarakan Timur dapat dilihat pada Tabel 29. Pada awal tahun 2001, jumlah penduduk, hotel dan jumlah industri di Kecamatan Tarakan Timur masing-masing tercatat 21.805 jiwa, 4 buah hotel dan 36 unit industri. Jumlah kebutuhan air bersih per tahun masing-masing sektor tersebut yaitu 1.193.823,75 m3, 73.000 m3 dan 1.314.000 m3. Analisis dilakukan selama 30 tahun dari 2001-2030, sehingga 103 diproyeksikan jumlah penduduk, hotel dan industri masing-masing menjadi 754.798 jiwa, 7 hotel dan 48 unit industri. Dengan demikian, jumlah kebutuhan air bersih pada tahun 2030 menjadi 41.325.210,6 m3 untuk kebutuhan penduduk, 129,636,7 m3 untuk kebutuhan hotel dan 1.753.538 m3 untuk kebutuhan industri. Tabel 29 Proyeksi jumlah penduduk (jiwa), hotel dan industri (unit) serta kebutuhan air bersih (m3) di Tarakan Timur Hasil analisis sub model ketersediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Timur, pada tahun 2001, ketersediaan air bersih sebesar 52.612.736 m3. Ketersediaan ini terus menurun, sehingga pada akhir simulasi, tahun 2030, proyeksi ketersediaan air bersih menjadi 39.651.841,1 m3. Ketersediaan dan neraca air bersih di Kecamatan Tarakan Timur dapat dilihat pada Tabel 30. Ketersediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Timur cenderung lebih baik dari Kecamatan Tarakan Barat, walaupun terus mengalami penurunan, namun tetap dalam kondisi aman dan krisis air diperkirakan terjadi pada tahun 2030, dengan jumlah kekurangan air bersih sebesar 3.556.544,2 m3. 104 Tabel 30 Ketersediaan dan neraca air bersih Tarakan Timur (m3) Kecamatan Tarakan Timur mengalami hal serupa dengan Kecamatan Tarakan Barat, namun masih dalam kondisi yang relatif aman. Pada Gambar 43 ditunjukkan kebutuhan dan ketersediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Timur. Koefisien run off pada kondisi eksisting di Tarakan Timur sebesar 0,412 lebih kecil bila dibandingkan dengan koefisien run off kecamatan Tarakan Barat. Penurunan imbuhan air tanah juga terjadi akibat masih tingginya aliran run off. Pada tahun 2030 baru terjadi kekurangan air dan dapat menyebabkan krisis air bersih pada diakibatkan tahun-tahun oleh layanan berikutnya. PDAM Penurunan yang kurang ketersediaan memadai. air juga Tercukupinya ketersediaan air bersih pada tahun-tahun sebelum tahun 2030, dikarenakan masyarakat, industri dan hotel masih memanfaatkan air tanah sebagai sumber air bersih. Untuk itu, di Kecamatan Tarakan Timur perlu segera diberlakukan kebijakan konservasi air bersih dan peningkatan layanan air bersih perpipaan. 105 Gambar 43 Kebutuhan dan ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Timur 7.5.2 Simulasi Skenario Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Timur Upaya peningkatan ketersediaan air bersih di Tarakan Timur dilakukan dengan menggunakan beberapa skenario yaitu skenario satu, dua dan tiga, seperti tersaji pada Tabel 31. Skenario satu dapat diartikan bahwa variablevariabel yang berpengaruh pada kinerja sistem mengalami kemunduran atau terjadi sedikit perubahan dari keadaan eksisting yang mengarah pada tercapainya kinerja sistem atau perkembangan. Skenario dua diartikan sebagai perubahan beberapa variable yang berpengaruh pada kinerja sistem dimana perubahan variabel tersebut dapat menyebabkan perubahan yang lebih baik daripada skenario satu. Sedangkan skenario tiga diartikan bahwa perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan yang lebih baik daripada skenario sebelumnya. Tabel 31. Skenario penyediaan air bersih Kota Tarakan Variabel Peubah Kebijakan Perilaku Hemat Air a. Penduduk b. Hotel c. Industri Kebijakan untuk Konservasi Air Bersih a. Sumur resapan b. Reboisasi c. Terasering d. Tambak intensif Kebijakan Peningkatan Layanan Perpipaan a. Jumlah penduduk terlayani Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 0% 0% 0% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 5% 5% 2% 0% 10% 5% 2% 0% 10% 10% 3% 0% Kondisi eksisting 60% 80% 106 Variabel-variabel yang berpengaruh dalam kinerja sistem tersebut meliputi (1) kebijakan perilaku hemat air, yaitu kebijakan reduse, reuse dan recycle, (2) kebijakan untuk meningkatkan air tanah melalui konservasi, yaitu pembuatan sumur resapan di permukiman, reboisasi pada lahan hutan, terasering pada lahan lading/tegakan, dan pembuatan tambak sistem intensif, (3) kebijakan untuk menaikan pelayanan air perpipaan melalui peningkatan kapasitas pelayanan PDAM. Proyeksi kebutuhan air bersih Kecamatan Tarakan Timur dapat dilihat pada Gambar 44. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih skenario satu sama dengan kondisi eksisting yaitu sebesar 2.580.823,75 m3 pada tahun 2001 dan terus meningkat menjadi 43.208.385,4 m3 pada tahun 2030. Pada skenario dua dan tiga, kebutuhan air bersih tahun 2001 sebesar 2.580.823,75 m3, terus meningkat tiap tahunnya. Seiiring diberlakukannya kebijakan hemat air pada tahun 2013, dimana kebutuhan air bersih penduduk, hotel dan industri dikurangi masing-masing 10%, maka terjadi pengurangan kebutuhan air bersih pada tahun 2013 yang tadinya 7.437.249,84 m3 menjadi 6.693.524,85 m3. Sehingga pada skenario dua dan tiga, pada akhir simulasi (2030) kebutuhan air bersih menjadi 38.887.546,8 m3. Proyeksi ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Timur dapat dilihat pada Gambar 45. Hasil simulasi menunjukkan apabila diterapkan variable skenario satu, dua dan tiga dimulai pada tahun 2013, maka terlihat peningkatan ketersediaan air bersih dari kondisi eksisting (supply) menjadi kondisi suplai_1, suplai_2 dan suplai_3. Sehingga pada tahun 2030 ketersediaan air bersih sebesar 39.651.841,1 m3 bertambah menjadi 62.829.540,3 m3 pada skenario satu, 84.924.460,7 m3 pada skenario dua dan 101.846.713 m3 pada skenario tiga. Peningkatan ketersediaan air bersih ini akibat kebijakan konservasi untuk meningkatkan imbuhan air tanah dan kebijakan peningkatan kapasitas layanan PDAM. Pada skenario satu, ketersediaan air bersih bertambah akibat adanya pembuatan sumur resapan sebesar 5% lahan permukiman per tahun, reboisasi sebesar 5% lahan hutan per tahun dan terasering 2% lahan tegakan per tahun. Ketersediaan air bersih skenario dua lebih tinggi dari skenario satu karena pembuatan sumur resapan lebih banyak dari skenario satu yaitu sebesar 10% lahan permukiman per tahun. 107 Gambar 44 Proyeksi Kebutuhan air bersih Tarakan Timur Sedangkan skenario tiga menghasilkan ketersediaan air yang lebih tinggi lagi, karena pembuatan sumur resapan sebesar 10% lahan permukiman per tahun, reboisasi ditingkatkan menjadi 10% lahan hutan per tahun dan terasering sebesar 3% lahan tegakan per tahun. Peningkatan ketersediaan air bersih ini membutuhkan biaya konservasi dan biaya peningkatan kapasitas layanan PDAM. Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Tabel 32. Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan pada skenario satu, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp.8.200.000,- dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp.139.400.000,-. Pembuatan sumur resapan pada skenario dua dan tiga membutuhkan biaya sebesar Rp.16.400.000,- pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp.278.800.000,- pada akhir tahun simulasi (2030). Tabel 32 Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan Tarakan Timur (Rp.) 108 Gambar 45 Simulasi ketersediaan air bersih di Tarakan Timur Kebutuhan biaya reboisasi pada lahan hutan Kecamatan Tarakan Timur dapat dilihat pada Tabel 33. Kebutuhan biaya reboisasi pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp.62.900.000,dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp1.069.300.000,00. Reboisasi pada skenario tiga membutuhkan biaya sebesar Rp125.800.000,00 pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp2.138.600.000,00 pada akhir tahun simulasi (2030). Konservasi lahan tambak melalui pembuatan tambak intensif diasumsikan untuk tidak dilakukan (0%). Hal ini karena biaya pembuatan tambak intensif yang sangat tinggi, sehingga membutuhkan biaya yang sangat besar. Sehingga dalam meningkatkan ketersediaan air bersih kecamatan Tarakan Timur tidak melakukan pembuatan tambak intensif. Tabel 33 Kebutuhan biaya reboisasi Tarakan Timur (Rp.) 109 Kebutuhan biaya terasering pada lahan tegakan/ladang Kecamatan Tarakan Timur dapat dilihat pada Tabel 34. Kebutuhan biaya terasering pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp.26.880.000,- dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp.456.960.000,-. Terasering pada skenario tiga membutuhkan biaya sebesar Rp.40.320.000,- pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp.685.440.000,- pada akhir tahun simulasi (2030). Tabel 34 Kebutuhan biaya terasering Tarakan Timur (Rp.) Kebijakan lain yang dilakukan dalam meningkatkan ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Timur adalah peningkatan kapasitas pelayanan perpipaan. Kebijakan ini khusus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat (domestic). Peningkatan kapasitas layanan PDAM dilakukan pada skenario dua dan tiga, sebesar masing-masing 60% penduduk terlayani dan 80% penduduk terlayani. Sedangkan pada skenario satu, diasumsikan tidak dilakukan peningkatan kapastas layanan perpipaan. Proyeksi peningkatan kapasitas layanan perpipaan dapat dilihat pada Gambar 46. Ketersedian air bersih melalui layanan perpipaan PDAM pada skenario satu konstan sebesar 2.612.736 m3 sepanjang tahun simulasi. Sedangkan pada skenario dua, supaya 60% penduduk mendapatkan pelayanan perpipaan, maka produksi PDAM harus bertambah dimulai pada tahun 2012 menjadi 2.747.605,29 m3 dan pada tahun 2030 menjadi 22.315.613.73 m3. Pada skenario tiga, supaya 80% penduduk mendapatkan pelayanan perpipaan, maka produksi PDAM harus bertambah dimulai pada tahun 2010 110 menjadi 2.869.037,29 m3 dan pada tahun 2030 menjadi 29.754.151,64 m3. Untuk meningkatkan layanan perpipaan PDAM, dilakukan 2 (dua) alternatif kegiatan peningkatan kapasitas layanan. Alternatif pertama yaitu meningkatkan kapasitas IPA PDAM eksisting melalui uprating IPA, sedangkan alternatif kedua yaitu membangun Instalasi Pengolahan Air Bersih Mikro (IPAB Mikro) di lokasi dekat permukiman dan sumber sumber air permukaan. Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas layanan perpipaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 35 dan Tabel 36. Gambar 46 Peningkatan layanan perpipaan Tarakan Timur Pada skenario satu, tidak dilakukan peningkatan kapasitas IPA PDAM, sehingga tidak ada biaya peningkatan kapasitas. Pada skenario dua, kapasitas layanan PDAM ditingkatkan sehingga mampu melayani 60% kebutuhan air bersih penduduk (domestic), dibutuhkan biaya uprating mulai tahun 2012 sebesar Rp156.380.937,1 dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp22.845.486.724,33. Tabel 35 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui uprating IPA PDAM di Tarakan Timur (Rp.) 111 Biaya peningkatan kapasitas IPA/uprating PDAM pada skenario tiga sehingga kapasitas layanan mampu melayani 80% kebutuhan air bersih penduduk (sesuai MDG’s) yaitu sebesar Rp297.181.344,88 pada tahun 2010 dan Rp31.470.471.429,77 pada tahun 2030. Tabel 36 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui IPAB Mikro di Tarakan Timur (Rp.) Pada Tabel 36, kebutuhan biaya peningkatan kapasitas layanan dengan cara pembangunan IPAB Mikro, didapatkan kebutuhan biaya untuk melayani 60% kebutuhan air bersih penduduk (skenario dua) sebesar Rp.86.720.950,89 pada tahun 2012 sebanyak 1 unit dan Rp.12.668.950.378,39 pada tahun 2030 dengan total 127 unit terpasang. Sedangkan untuk melayani 80% kebutuhan air bersih penduduk menggunakan IPAB Mikro, dibutuhkan biaya sebesar Rp. 164.801.728,99 pada tahun 2010 sebanyak 2 unit dan Rp.17.451.930.253,86 pada tahun 2030 dengan total 175 unit terpasang. Hasil akhir dari model penyediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Timur adalah neraca air bersih seperti pada Gambar 47 dan Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) pada Tabel 37. Neraca air bersih menunjukkan sisa ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah dan pelayanan perpipaan. Kondisi yang diharapkan adalah terjadinya surplus air bersih sepanjang tahun. IKA menunjukkan perbandingan ketersediaan terhadap kebutuhan air bersih, kondisi yang diharapkan adalah ≥ 1. Pada Tabel 37, terjadi pengurangan air bersih sepanjang tahun pada kondisi eksisting dan pada tahun 2030 terjadi krisis air bersih dengan kekurangan air bersih (defisit) sebesar 3.556.544,2 m3. Begitu pula halnya 112 dengan neraca air skenario satu, ketersediaan air bersih terus menurun tetapi tidak terjadi krisis sampai pada tahun 2030, air bersih surplus sebesar 19.621.154,9 m3. Berbeda halnya pada skenario dua dan tiga, terjadi peningkatan air bersih yang cukup baik. Simulasi neraca air skenario dua, menunjukkan peningkatan yang baik dimulai dari tahun 2017 sehingga pada tahun 2030 masih terdapat kelebihan air bersih (surplus) sebesar 46.036.913,8 m3. Pada simulasi skenario tiga, peningkatan air bersih juga terjadi sejak tahun 2016 sehingga masih terdapat surplus air bersih sebesar 62.959.165,9 m3. Gambar 47 Neraca air bersih Tarakan Timur (m3) Pada Tabel 38, nilai IKA kondisi eksisting, skenario satu, dua dan tiga terus mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya kebutuhan air bersih. Hasil simulasi IKA pada akhir tahun simulasi (2030) pada kondisi eksisting, skenario satu, dua dan tiga, masing-masing sebesar 0.918, 1.45, 2.18 dan 2.62. Hasil ini menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting di tahun 2030 ketersediaan air bersih hanya mampu memenuhi 91.8% kebutuhan air bersih (defisit). Ketersediaan air menggunakan simulasi skenario satu hanya mampu melayani 100% kebutuhan air bersih dan masih surplus sebesar 45% dari kebutuhan air bersih. Ketersediaan air menggunakan simulasi skenario dua mampu melayani 218% dari kebutuhan air bersih, dan ketersediaan air menggunakan simulasi skenario tiga mampu melayani 262% dari kebutuhan air bersih. 113 Tabel 37 Neraca air bersih Tarakan Timur (m3) Tabel 38 Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) Tarakan Timur 114 7.6 Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Tengah 7.6.1 Kondisi Eksisting Kecamatan Tarakan Tengah Proyeksi jumlah penduduk, hotel dan indusrti pada Kecamatan Tarakan Tengah dapat dilihat pada Tabel 39. Pada awal tahun 2001, jumlah penduduk, hotel dan jumlah industri di Kecamatan Tarakan Tengah masing-masing tercatat 46.458 jiwa, 7 buah hotel dan 123 unit industri. Jumlah kebutuhan air bersih per tahun masing-masing sektor tersebut yaitu 2.543.575,5 m3, 127.750 m3 dan 4.489.500 m3. Analisis dilakukan selama 30 tahun dari 2001-2030, sehingga diproyeksikan jumlah penduduk, hotel dan industri masing-masing menjadi 144.886 jiwa, 22 hotel dan 164 unit industri. Dengan demikian, jumlah kebutuhan air bersih pada tahun 2030 menjadi 7.932.525,43 m3 untuk kebutuhan penduduk, 398.407,72 m3 untuk kebutuhan hotel dan 5.991.255,2 m3 untuk kebutuhan industri. Tabel 39 Proyeksi jumlah penduduk (jiwa), hotel dan industri (unit) serta kebutuhan air bersih (m3) di Tarakan Tengah 115 Hasil analisis sub model ketersediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Tengah dapat dilihat pada Tabel 40. Pada tahun 2001, ketersediaan air bersih sebesar 41.959.552 m3. Berbeda dengan kecamatan sebelumnya, ketersediaan air bersih terus meningkat dan cenderung konstan pada tahun 2016, sehingga pada akhir simulasi, tahun 2030, proyeksi ketersediaan air bersih menjadi 42.874.985 m3. Ketersediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Tengah cenderung lebih baik dari Kecamatan Tarakan Barat dan Tarakan Timur. Namun, walaupun ketersediaan air terus meningkat tetapi neraca air tetap berkurang akibat tingginya kebutuhan air bersih. Pada akhir simulasi, jumlah air yang tersisa sebesar 28.552.796,7 m3 dan cenderung terus menurun. Tabel 40 Ketersediaan dan neraca air bersih di Tarakan Tengah (m3) Pada kecamatan ini, ketersediaan air alami terlihat meningkat dan cenderung konstan pada tahun 2016 seperti tersaji pada Gambar 48. Koefisien run off di Tarakan Tengah sebesar 0,392. Rendahnya koefisien run off pada wilayah kecamatan ini disebabkan oleh luasan hutan yang cukup besar yaitu 116 3652 ha. Hal ini menunjukkan bahwa semakin luas daerah resapan, maka koefisien run off akan semakin kecil, sehingga debit run off menjadi kecil. Selain itu, kebutuhan air bersih di kecamatan ini paling rendah dibandingkan kecamatan yang lain. Hal ini juga mempengaruhi proyeksi ketersediaan air bersih. Namun, dari pelayanan air bersih perpipaan, masih sangat kurang. Hal ini disebabkan kapasitas layanan IPA PDAM Kampung Satu masih minim yaitu 90 liter/detik. Sehingga penyediaan air bersih masih sangat bergantung dari air tanah/sumur. Gambar 48 Kebutuhan dan ketersediaan air bersih Tarakan Tengah 7.6.2 Simulasi Skenario Penyediaan Air Bersih di Tarakan Tengah Upaya peningkatan ketersediaan air bersih di Tarakan Tengah dilakukan dengan menggunakan beberapa skenario yaitu skenario satu, dua dan tiga, seperti tersaji pada Tabel 41. Skenario satu dapat diartikan bahwa variablevariabel yang berpengaruh pada kinerja sistem mengalami kemunduran atau terjadi sedikit perubahan dari keadaan eksisting yang mengarah pada tercapainya kinerja sistem atau perkembangan. Skenario dua diartikan sebagai perubahan beberapa variable yang berpengaruh pada kinerja sistem dimana perubahan variable tersebut dapat menyebabkan perubahan yang lebih baik daripada skenario satu. Sedangkan skenario tiga diartikan bahwa perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan yang lebih baik daripada skenario sebelumnya. 117 Tabel 41 Skenario penyediaan air bersih Kecamatan Tarakan Tengah Variabel Peubah Kebijakan Perilaku Hemat Air a. Penduduk b. Hotel c. Industri Kebijakan untuk Konservasi Air Bersih a. Sumur resapan b. Reboisasi c. Terasering d. Tambak intensif Kebijakan Peningkatan Layanan Perpipaan a. Jumlah penduduk terlayani Variabel-variabel Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 0% 0% 0% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 1% 1% 1% 0% 1% 1% 1% 0% 2% 2% 2% 0% Kondisi eksisting 60% 80% yang berpengaruh dalam kinerja sistem tersebut meliputi (1) kebijakan perilaku hemat air, yaitu kebijakan reduse, reuse dan recycle, (2) kebijakan untuk meningkatkan air tanah melalui konservasi, yaitu pembuatan sumur resapan di permukiman, reboisasi pada lahan hutan, terasering pada lahan lading/tegakan, dan pembuatan tambak sistem intensif, (3) kebijakan untuk menaikan pelayanan air perpipaan melalui peningkatan kapasitas pelayanan PDAM. Variabel pada skenario model penyediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Tengah lebih kecil bila dibandingkan dengan kecamatan sebelumnya. Hal ini karena air bersih alami lebih tinggi dari total kebutuhan air, sehingga variable peubah untuk kebijakan konservasi tidak perlu terlalu tinggi. Namun variable peningkatan pelayanan perpipaan perlu ditingkatkan, sesuai dengan peningkatan pelayanan di kecamatan lain. Proyeksi kebutuhan air bersih Kecamatan Tarakan Tengah dapat dilihat pada Gambar 49. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih skenario satu sama dengan kondisi eksisting yaitu sebesar 7.160.825.5 m3 pada tahun 2001 dan terus meningkat menjadi 14.322.188,3 m3 pada tahun 2030. Pada skenario dua dan tiga, kebutuhan air bersih tahun 2001 sebesar 7.160.825.5 m3, terus meningkat tiap tahunnya. Seiiring diberlakukannya kebijakan hemat air pada tahun 2013, dimana kebutuhan air bersih penduduk, hotel dan industri dikurangi masing-masing 10%, maka terjadi pengurangan kebutuhan air bersih pada tahun 2013 yang tadinya 9.557.423,1 m3 menjadi 8.601.680,79 m3. Sehingga pada skenario dua dan tiga, pada akhir simulasi (2030) kebutuhan air bersih menjadi 12.889.969,5 m3. 118 Gambar 49 Proyeksi Kebutuhan air bersih Tarakan Tengah Proyeksi ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Timur dapat dilihat pada Gambar 50. Hasil simulasi menunjukkan apabila diterapkan variable skenario satu, dua dan tiga dimulai pada tahun 2013, maka terlihat peningkatan ketersediaan air bersih dari kondisi eksisting (suplai) menjadi kondisi suplai_1, suplai_2 dan suplai_3. Sehingga pada tahun 2030 ketersediaan air bersih sebesar 42.874.985 m3 bertambah menjadi 49.310.833,6 m3 pada skenario satu, 51.634.845,3 m3 pada skenario dua dan 59.498.548,5 m3 pada skenario tiga. Gambar 50 Proyeksi Ketersediaan air bersih Tarakan Tengah Peningkatan ketersediaan air bersih ini akibat kebijakan konservasi untuk meningkatkan imbuhan air tanah dan kebijakan peningkatan kapasitas layanan PDAM. Pada skenario satu dan dua, ketersediaan air bersih bertambah akibat 119 adanya pembuatan sumur resapan sebesar 1% lahan permukiman per tahun, reboisasi sebesar 1% lahan hutan per tahun dan terasering 1% lahan tegakan per tahun. Sedangkan skenario tiga menghasilkan ketersediaan air yang lebih tinggi lagi, karena pembuatan sumur resapan sebesar 2% lahan permukiman per tahun, reboisasi ditingkatkan menjadi 2% lahan hutan per tahun dan terasering sebesar 2% lahan tegakan per tahun. Peningkatan ketersediaan air bersih ini membutuhkan biaya konservasi dan biaya peningkatan kapasitas layanan PDAM. Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan Kecamatan Tarakan Tengah dapat dilihat pada Tabel 42. Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp.1.985.000,- dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp.33.745.000,-. Pembuatan sumur resapan pada skenario tiga membutuhkan biaya sebesar Rp.3.970.000,pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp.67.490.000,- pada akhir tahun simulasi (2030). Tabel 42 Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan di Tarakan Tengah (Rp.) Kebutuhan biaya reboisasi pada lahan hutan Kecamatan Tarakan Tengah dapat dilihat pada Tabel 43. Kebutuhan biaya reboisasi pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp.18.260.000,dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp.310.420.000,. Reboisasi pada skenario tiga membutuhkan biaya sebesar Rp.36.520.000,- pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp.620.840.000,- pada akhir tahun simulasi (2030). 120 Tabel 43. Kebutuhan biaya reboisasi Tarakan Tengah (Rp.) Kebutuhan biaya terasering pada lahan tegakan/ladang Kecamatan Tarakan Tengah dapat dilihat pada Tabel 44. Kebutuhan biaya terasering pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp.7.525.000,- dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp15.050.000,- pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp.255.850.000,- pada akhir tahun simulasi (2030). Konservasi lahan tambak melalui pembuatan tambak intensif diasumsikan untuk tidak dilakukan (0%). Hal ini karena biaya pembuatan tambak intensif yang sangat tinggi, sehingga membutuhkan biaya yang sangat besar. Sehingga dalam meningkatkan ketersediaan air bersih kecamatan Tarakan Tengah tidak melakukan pembuatan tambak intensif. Tabel 44. Kebutuhan biaya terasering Tarakan Tengah (Rp.) 121 Kebijakan lain yang dilakukan dalam meningkatkan ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Tengah adalah peningkatan kapasitas pelayanan perpipaan. Kebijakan ini khusus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat (domestic). Peningkatan kapasitas layanan PDAM dilakukan pada skenario dua dan tiga, sebesar masing-masing 60% penduduk terlayani dan 80% penduduk terlayani. Sedangkan pada skenario satu, diasumsikan tidak dilakukan peningkatan kapastas layanan perpipaan. Proyeksi peningkatan kapasitas layanan perpipaan dapat dilihat pada Gambar 51. Ketersedian air bersih melalui layanan perpipaan PDAM pada skenario satu konstan sebesar 1.959.552 m3 sepanjang tahun simulasi. Sedangkan pada skenario dua, supaya 60% penduduk mendapatkan pelayanan perpipaan, maka produksi PDAM harus bertambah dimulai pada tahun 2008 menjadi 2.008.303,10 m3 dan pada tahun 2030 menjadi 4.283.563,73 m3. Pada skenario tiga, supaya 80% penduduk mendapatkan pelayanan perpipaan, maka produksi PDAM harus bertambah dimulai pada tahun 2001 menjadi 2.034.860,4 m3 dan pada tahun 2030 menjadi 5.711.418,31 m3. Untuk meningkatkan layanan perpipaan PDAM, dilakukan 2 (dua) alternatif kegiatan peningkatan kapasitas layanan. Alternatif pertama yaitu meningkatkan kapasitas IPA PDAM eksisting melalui uprating IPA, sedangkan alternatif kedua yaitu membangun Instalasi Pengolahan Air Bersih Mikro (IPAB Mikro) di lokasi dekat permukiman dan sumber sumber air permukaan. Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas layanan perpipaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 45 dan Tabel 46. Gambar 51 Peningkatan layanan perpipaan di Tarakan Tengah 122 Tabel 45 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui uprating IPA PDAM di Tarakan Tengah (Rp.) Pada skenario satu, tidak dilakukan peningkatan kapasitas IPA PDAM, sehingga tidak ada biaya peningkatan kapasitas. Pada skenario dua, kapasitas layanan PDAM ditingkatkan sehingga mampu melayani 60% kebutuhan air bersih penduduk (domestic), dibutuhkan biaya uprating mulai tahun 2008 sebesar Rp55.526.900,45 dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp2.694.691.601,12. Biaya peningkatan kapasitas IPA/uprating PDAM pada skenario tiga sehingga kapasitas layanan mampu melayani 80% kebutuhan air bersih penduduk (sesuai MDG’s) yaitu sebesar Rp87.320.089,8 pada tahun 2001 dan Rp4.350.288.982,82 pada tahun 2030. Pada Tabel 46, kebutuhan biaya peningkatan kapasitas layanan dengan cara pembangunan IPAB Mikro, didapatkan kebutuhan biaya untuk melayani 60% kebutuhan air bersih penduduk (skenario dua) sebesar Rp83.000.513,03 pada tahun 2009 sebanyak 1 unit dan Rp1.494.339.542,49 pada tahun 2030 dengan total 15 unit terpasang. Sedangkan untuk melayani 80% kebutuhan air bersih penduduk menggunakan IPAB Mikro, dibutuhkan biaya sebesar Rp 100.759.910,69 pada tahun 2002 sebanyak 1 unit dan Rp2.412.450.035,32 pada tahun 2030 dengan total 24 unit terpasang. 123 Tabel 46 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui IPAB Mikro di Tarakan Tengah (Rp.) Pada Tabel 47, terjadi pengurangan air bersih sepanjang tahun pada semua skenario, namun tidak terjadi defisit air bersih. Surplus air bersih pada tahun 2030 pada skenario eksisting, satu, dua dan tiga, masing-masing adalah 28.552.796 m3, 34.998.645,3 m3, 38.744.875,8 m3 dan 46.608.579 m3. Hasil akhir dari model penyediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Tengah adalah neraca air bersih seperti pada Gambar 52 dan Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) pada Tabel 35. Neraca air bersih menunjukkan sisa ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah dan pelayanan perpipaan. Kondisi yang diharapkan adalah terjadinya surplus air bersih sepanjang tahun. IKA menunjukkan perbandingan ketersediaan terhadap kebutuhan air bersih, kondisi yang diharapkan adalah ≥ 1. 124 Tabel 47 Neraca air bersih di Tarakan Tengah (m3) Gambar 52 Neraca air bersih Tarakan Tengah 125 Tabel 48 Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) di Tarakan Tengah Pada Tabel 48, nilai IKA kondisi eksisting, skenario satu, dua dan tiga terus mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya kebutuhan air bersih. Hasil simulasi IKA pada akhir tahun simulasi (2030) pada kondisi eksisting, skenario satu, dua dan tiga, masing-masing sebesar 2.99, 3.44, 4.01 dan 4.62. Hasil ini menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting di tahun 2030 ketersediaan air bersih hanya mampu memenuhi 299% kebutuhan air bersih. Ketersediaan air menggunakan simulasi skenario satu hanya mampu melayani 344% kebutuhan air bersih. Ketersediaan air menggunakan simulasi skenario dua mampu melayani 401% dari kebutuhan air bersih, dan ketersediaan air menggunakan simulasi skenario tiga mampu melayani 462% dari kebutuhan air bersih. 7.7 Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Utara 7.7.1 Kondisi Eksisting Kecamatan Tarakan Utara Proyeksi jumlah penduduk, hotel dan industri pada Kecamatan Tarakan Utara dapat dilihat pada Tabel 49. Pada awal tahun 2001, jumlah penduduk, hotel dan jumlah industri di Kecamatan Tarakan Utara masing-masing tercatat 8.089 jiwa, 1 buah hotel dan 15 unit industri. Jumlah kebutuhan air bersih per tahun masing-masing sektor tersebut yaitu 442.872,75 m3, 18.250 m3 dan 126 547.500 m3. Analisis dilakukan selama 30 tahun dari 2001-2030, sehingga diproyeksikan jumlah penduduk, hotel dan industri masing-masing menjadi 361.523 jiwa, 2 hotel dan 27 unit industri. Dengan demikian, jumlah kebutuhan air bersih pada tahun 2030 menjadi 19.793.365,7 m3 untuk kebutuhan penduduk, 32.409,17 m3 untuk kebutuhan hotel dan 972.274,97 m3 untuk kebutuhan industri. Hasil analisis sub model ketersediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Utara dapat dilihat pada Tabel 50. Pada tahun 2001, suplai air bersih sebesar 40.762.048 m3. Menyerupai proyeksi ketersediaan air pada kecamatan Tarakan Tengah, ketersediaan air bersih terus meningkat dan cenderung konstan pada tahun 2021, sehingga pada akhir simulasi, tahun 2030, proyeksi suplai air bersih menjadi 88.234.236,9 m3. Ketersediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Utara cenderung lebih baik dari Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur dan Tarakan Tengah. Namun, walaupun ketersediaan air terus meningkat tetapi neraca air tetap berkurang akibat tingginya kebutuhan air bersih. Pada akhir simulasi, jumlah air yang tersisa sebesar 67.436.187,1 m3 dan cenderung terus menurun. Tabel 49 Proyeksi jumlah penduduk (jiwa), hotel dan industri (unit) serta kebutuhan air bersih (m3) di Tarakan Utara 127 Pada Gambar 53, terlihat jumlah ketersediaan air yang sangat besar dibandingkan dengan kebutuhan air bersih di Kecamatan Tarakan Utara. Hal ini disebabkan karena luasan hutan di Tarakan Utara paling luas dibandingkan kecamatan yang lain yaitu sebesar 7861 ha. Berdasarkan hasil simulasi, didapatkan nilai koefisien run off Tarakan Utara sebesar 0,379. Hal ini menunjukkan bahwa hutan mempunyai peranan yang sangat tinggi dalam konservasi air bersih. Semakin luas hutan, maka koefisien runoff menjadi semakin kecil, sehingga imbuhan air tanah menjadi besar. Kondisi ini harus terus dipertahankan sehingga krisis air bersih dapat dihindari. Tabel 50 Ketersediaan dan neraca air bersih di Tarakan Utara (m3) 128 Gambar 53 Kebutuhan dan ketersediaan air bersih di Tarakan Utara 7.7.2 Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Utara Upaya peningkatan ketersediaan air bersih di Kota Tarakan dilakukan dengan menggunakan beberapa skenario yaitu skenario satu, dua dan tiga, seperti tersaji pada Tabel 51. Tabel 51 Skenario penyediaan air bersih Kota Tarakan Variabel Peubah Kebijakan Perilaku Hemat Air a. Penduduk b. Hotel c. Industri Kebijakan untuk Konservasi Air Bersih a. Sumur resapan b. Reboisasi c. Terasering d. Tambak intensif Kebijakan Peningkatan Layanan Perpipaan a. Jumlah penduduk terlayani Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 0% 0% 0% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 1% 1% 1% 0% 1% 1% 1% 0% 2% 2% 2% 0% Kondisi eksisting 60% 80% Skenario satu dapat diartikan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh pada kinerja sistem mengalami kemunduran atau terjadi sedikit perubahan dari keadaan eksisting yang mengarah pada tercapainya kinerja sistem atau perkembangan. Skenario dua diartikan sebagai perubahan beberapa variabel yang berpengaruh pada kinerja sistem dimana perubahan variable tersebut dapat menyebabkan perubahan yang lebih baik daripada skenario satu. Sedangkan skenario tiga diartikan bahwa perubahan yang terjadi akan 129 menyebabkan perubahan yang lebih baik daripada skenario sebelumnya. Variabel-variabel yang berpengaruh dalam kinerja sistem tersebut meliputi (1) kebijakan perilaku hemat air, yaitu kebijakan reduse, reuse dan recycle, (2) kebijakan untuk meningkatkan air tanah melalui konservasi, yaitu pembuatan sumur resapan di permukiman, reboisasi pada lahan hutan, terasering pada lahan lading/tegakan, dan pembuatan tambak sistem intensif, (3) kebijakan untuk meningkatkan pelayanan air bersih perpipaan PDAM. Variabel-variabel tersebut dimasukkan sebagai input dalam pemodelan sistem dan dilakukan di masingmasing kecamatan Kota Tarakan. Pada kondisi eksisting, seperti halnya kondisi di Kecamatan Tarakan Tengah, terlihat ketersediaan air di Tarakan Utara cukup baik, sehingga variable peubah yang disimulasikan relatif kecil. Proyeksi kebutuhan air bersih Kecamatan Tarakan Utara dapat dilihat pada Gambar 54. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih skenario satu sama dengan kondisi eksisting yaitu sebesar 1.008.622,75 m3 pada tahun 2001 dan terus meningkat menjadi 20.7498.049,8 m3 pada tahun 2030. Pada skenario dua dan tiga, kebutuhan air bersih tahun 2001 sebesar 1.008.622,75 m3, terus meningkat tiap tahunnya. Seiiring diberlakukannya kebijakan hemat air pada tahun 2013, dimana kebutuhan air bersih penduduk, hotel dan industri dikurangi masing-masing 10%, maka terjadi pengurangan kebutuhan air bersih pada tahun 2013 yang tadinya 3.164.297,33 m3 menjadi 2.847.867,66 m3. Sehingga pada skenario dua dan tiga, pada akhir simulasi (2030) kebutuhan air bersih menjadi 18.718.244,8 m3. Gambar 54 Proyeksi Kebutuhan air bersih di Tarakan Utara 130 Proyeksi ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Utara dapat dilihat pada Gambar 55. Hasil simulasi menunjukkan apabila diterapkan variabel skenario satu, dua dan tiga dimulai pada tahun 2013, maka terlihat peningkatan ketersediaan air bersih dari kondisi eksisting (supply) menjadi kondisi suplai_1, suplai_2 dan suplai_3. Sehingga pada tahun 2030 ketersediaan air bersih sebesar 88.234.236,9 m3 bertambah menjadi 99.491.725,9 m3 pada skenario satu, 109.418.095 m3 pada skenario dua dan 124.238.390 m3 pada skenario tiga. Peningkatan ketersediaan air bersih ini akibat kebijakan konservasi untuk meningkatkan imbuhan air tanah dan kebijakan peningkatan kapasitas layanan PDAM. Pada skenario satu dan dua, ketersediaan air bersih bertambah akibat adanya pembuatan sumur resapan sebesar 1% lahan permukiman per tahun, reboisasi sebesar 1% lahan hutan per tahun dan terasering 1% lahan tegakan per tahun. Sedangkan skenario tiga menghasilkan ketersediaan air yang lebih tinggi lagi, karena pembuatan sumur resapan sebesar 2% lahan permukiman per tahun, reboisasi ditingkatkan menjadi 2% lahan hutan per tahun dan terasering sebesar 2% lahan tegakan per tahun. Gambar 55 Proyeksi Ketersediaan air bersih di Tarakan Utara Peningkatan ketersediaan air bersih ini membutuhkan biaya konservasi dan biaya peningkatan kapasitas layanan PDAM. Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan Kecamatan Tarakan Utara dapat dilihat pada Tabel 52. Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp1.185.000,00 dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp20.145.000,00. Pembuatan sumur resapan pada skenario tiga membutuhkan biaya sebesar 131 Rp2.370.000,00 pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp40.290.000,00 pada akhir tahun simulasi (2030). Tabel 52 Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan di Tarakan Utara (Rp.) Kebutuhan biaya reboisasi pada lahan hutan Kecamatan Tarakan Utara dapat dilihat pada Tabel 53. Kebutuhan biaya reboisasi pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp39.305.000,00 dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp668.185.000,00. Reboisasi pada skenario tiga membutuhkan biaya sebesar Rp78.610.000,00 pada awal tahun kebijakan konservasi Rp1.336.370.000,00 pada akhir tahun simulasi (2030). Tabel 53 Kebutuhan biaya reboisasi di Tarakan Utara (Rp.) (2013) dan 132 Kebutuhan biaya terasering pada lahan tegakan/ladang Kecamatan Tarakan Utara dapat dilihat pada Tabel 54. Kebutuhan biaya terasering pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp12.785.000,00 dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp217.345.000,00. Rp25.570.000,00 pada awal Kebutuhan tahun biaya terasering kebijakan konservasi skenario tiga, (2013) dan Rp434.690.000,00 pada akhir tahun simulasi (2030). Konservasi lahan tambak melalui pembuatan tambak intensif diasumsikan untuk tidak dilakukan (0%). Hal ini karena biaya pembuatan tambak intensif yang sangat tinggi, sehingga membutuhkan biaya yang sangat besar. Sehingga dalam meningkatkan ketersediaan air bersih kecamatan Tarakan Utara tidak melakukan pembuatan tambak intensif. Tabel 54 Kebutuhan biaya terasering di Tarakan Utara Kebijakan lain yang dilakukan dalam meningkatkan ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Tengah adalah peningkatan kapasitas pelayanan perpipaan. Kebijakan ini khusus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat (domestic). Peningkatan kapasitas layanan PDAM dilakukan pada skenario dua dan tiga, sebesar masing-masing 60% penduduk terlayani dan 80% penduduk terlayani. Sedangkan pada skenario satu, diasumsikan tidak dilakukan peningkatan kapastas layanan perpipaan. Proyeksi peningkatan kapasitas layanan perpipaan dapat dilihat pada Gambar 56. Ketersedian air bersih melalui layanan perpipaan PDAM pada skenario satu konstan sebesar 762.048 m3 133 sepanjang tahun simulasi. Sedangkan pada skenario dua, supaya 60% penduduk mendapatkan pelayanan perpipaan, maka produksi PDAM harus bertambah dimulai pada tahun 2010 menjadi 864.119,63 m3 dan pada tahun 2030 menjadi 10.688.417,45 m3. Pada skenario tiga, supaya 80% penduduk mendapatkan pelayanan perpipaan, maka produksi PDAM harus bertambah dimulai pada tahun 2007 menjadi 777.674,85 m3 dan pada tahun 2030 menjadi 14.251.223,27 m3. Gambar 56 Peningkatan layanan perpipaan di Tarakan Utara Untuk meningkatkan layanan perpipaan PDAM, dilakukan 2 (dua) alternatif kegiatan peningkatan kapasitas layanan. Alternatif pertama yaitu meningkatkan kapasitas IPA PDAM eksisting melalui uprating IPA, sedangkan alternatif kedua yaitu membangun Instalasi Pengolahan Air Bersih Mikro (IPAB Mikro) di lokasi dekat permukiman dan sumber sumber air permukaan. Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas layanan perpipaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 55 dan Tabel 56. Pada skenario satu, tidak dilakukan peningkatan kapasitas IPA PDAM, sehingga tidak ada biaya peningkatan kapasitas. Pada skenario dua, kapasitas layanan PDAM ditingkatkan sehingga mampu melayani 60% kebutuhan air bersih penduduk (domestic), dibutuhkan biaya uprating mulai tahun 2010 sebesar Rp118.352.055,74 dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp11.509.625.380,48. Biaya peningkatan kapasitas IPA/uprating PDAM pada skenario tiga sehingga kapasitas layanan mampu melayani 80% kebutuhan air bersih penduduk (sesuai MDG’s) yaitu sebesar Rp18.119.332,24 pada tahun 2007 dan Rp15.640.698.725,98 pada tahun 2030. 134 Tabel 55 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui uprating IPA PDAM Tarakan Utara (Rp.) Pada Tabel 56, kebutuhan biaya peningkatan kapasitas layanan dengan cara pembangunan IPAB Mikro, didapatkan kebutuhan biaya untuk melayani 60% kebutuhan air bersih penduduk (skenario dua) sebesar Rp.66.632.058,51 pada tahun 2010 sebanyak 1 unit dan Rp.6.382.655.558,13 pada tahun 2030 dengan total 64 unit terpasang. Sedangkan untuk melayani 80% kebutuhan air bersih penduduk menggunakan IPAB Mikro, dibutuhkan biaya sebesar Rp.80.054.364,36 pada tahun 2007 sebanyak 1 unit dan Rp.8.673.539.698,84 pada tahun 2030 dengan total 87 unit terpasang. Tabel 56 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui IPAB Mikro (Rp.) dan jumlah terpasang (unit) di Tarakan Utara 135 Pada Tabel 57, terjadi pengurangan air bersih sepanjang tahun pada semua skenario, namun tidak terjadi defisit air bersih. Surplus air bersih pada tahun 2030 pada skenario eksisting, satu, dua dan tiga, masing-masing adalah 67.436.187,07 m3, 78.693.676,1 m3, 90.699.850,5 m3 dan 105.520.145 m3. Hasil akhir dari model penyediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Utara adalah neraca air bersih seperti pada Gambar 57 dan Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) pada Tabel 58. Neraca air bersih menunjukkan sisa ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah dan pelayanan perpipaan. Kondisi yang diharapkan adalah terjadinya surplus air bersih sepanjang tahun. IKA menunjukkan perbandingan ketersediaan terhadap kebutuhan air bersih, kondisi yang diharapkan adalah ≥ 1. Tabel 57 Neraca air bersih di Tarakan Utara (m3) 136 Gambar 57 Neraca air bersih Tarakan Utara Pada Tabel 58, nilai IKA kondisi eksisting, skenario satu, dua dan tiga terus mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya kebutuhan air bersih. Hasil simulasi IKA pada akhir tahun simulasi (2030) pada kondisi eksisting, skenario satu, dua dan tiga, masing-masing sebesar 4.24, 4.78, 5.85 dan 6.64. Hasil ini menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting di tahun 2030 ketersediaan air bersih mampu memenuhi 424% kebutuhan air bersih. Ketersediaan air menggunakan simulasi skenario satu hanya mampu melayani 478% kebutuhan air bersih. Ketersediaan air menggunakan simulasi skenario dua mampu melayani 585% dari kebutuhan air bersih, dan ketersediaan air menggunakan simulasi skenario tiga mampu melayani 664% dari kebutuhan air bersih. Tabel 58 Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) di Tarakan Utara 137 7.8 Uji Validasi Model Secara garis besar uji validasi model dapat dilakukan dalam dua bentuk yaitu uji validasi struktur dan uji validasi kinerja. 7.8.1 Uji Validasi Struktur Uji validasi struktur lebih menekankan pada keyakinan pemeriksaan kebenaran logika pemikiran atau dengan kata lain apakah struktur model yang dibangun sudah sesuai dengan teori. Secara logika, terlihat bahwa pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat akan diikuti oleh peningkatan kebutuhan air bersih. Pertumbuhan penduduk ini dipengaruhi oleh persentase pertambahan penduduk. Begitu pula halnya dengan pertumbuhan sektor industri dan perhotelah. Pertumbuhan penduduk dan peningkatan kebutuhan air bersih mengikuti pola pertumbuhan kurva sigmoid dimana pada suatu waktu tertentu akan menemui titik keseimbangan (stable equibilirium) sesuai dengan konsep limits to growth (Meadows, 1985). Ketersediaan air bersih (suplai) diperoleh dari air bersih alami dan pelayanan air bersih perpipaan. Air bersih alami diperoleh dari imbuhan air tanah. Untuk meningkatkan imbuhan air tanah, maka koefisien run off (aliran limpasan) harus diperkecil. Semakin kecil koefisien run off, maka aliran limpasan akan semakin kecil dan imbuhan air tanah semakain meningkat. Untuk memperkecil koefisen run off, dilakukan kegiatan konservasi seperti pembuatan sumur resapan, terasering pada lahan tegakan/lading, reboisasi pada lahan hutan dan pembuatan tambak intensif. Semakin besar persentase kegiatan konservasi, maka koefisien run off pada masing-masing lahan akan semakin kecil. Namun persentase konservasi ini juga berpengaruh terhadap biaya konservasinya. Semakin tinggi persentase konservasi, maka dibutuhkan biaya konservasi yang tinggi pula. Ketersediaan air bersih lainnya diperoleh dari pelayanan air bersih perpipaan (PDAM). Pelayanan PDAM ditentukan oleh persentase pelayanan air bersih. Dalam rangka menuju Millenium Development Goal’s 2015, ditargetkan pelayanan air bersih perpipaan masyarakat sebesar 80% terlayani. Untuk mencapai layanan tersebut, maka diperlukan peningkatan kapasitas layanan perpipaan dengan menggunakan 2 (dua) alternatif penyediaan, yaitu penyediaan melalui sistem perpipaan PDAM dan pembangunan IPAB Mikro. Dari masingmasing alternatif penyediaan ini diperoleh biaya peningkatan kapasitas pelayanan. Sehingga semakin besar kebutuhan air bersih masyarakat, 138 membutuhkan biaya pelayanan air bersih yang besar. Dengan melihat hasil simulasi model dinamik berdasarkan struktur model yang telah dibangun yang sesuai konsep teori empiric seperti diuraikan diatas, maka model penyediaan air bersih secara berkelanjutan di pulau kecil Kota Tarakan dapat dikatakan valid secara empirik. 7.8.2 Uji Validasi Kinerja Uji validasi kinerja merupakan aspek pelengkap dalam metode berpikir sistem. Tujuan dari validasi ini untuk memperoleh keyakinan sejauh mana kinerja model sesuai (compatible) dengan kinerja sistem nyata, sehingga model yang dibuat memenuhi syarat sebagai model ilmiah yang taat fakta (Muhammadi et al., 2001). Uji validasi kinerja dilakukan dengan cara memvalidasi kinerja model dengan data empiris. Uji ini dilakukan dengan menggunakan uji statistic seperti uji penyimpangan antara nilai rata-rata simulasi terhadap aktual (Absolute Means Error = AME) dan uji penyimpangan nilai variasi simulasi terhadap aktual (Absolute Variation Error = AVE), dengan batas penyimpangan yang dapat diterima maksimal 10%. Dalam uji validasi kinerja, dapat digunakan satu atau beberapa komponen (variable) baik pada komponen utama (main model) maupun komponen yang terkait (co-model) (Barlas, 1996). Dalam penelitian ini digunakan uji validasi kinerja AME dengan menggunakan data aktual jumlah penduduk yaitu tahun 2001 sampai tahun 2009. Berdasarkan hasil perhitungan uji validasi kinerja pada model ini, diperoleh nilai AME dan AVE lebih kecil dari 10% yaitu sebesar 0.098% - 9,3% (AVE) dan 0,049% - 8,31% (AME), sehingga dapat disimpulkan bahwa model ini memiliki kinerja yang baik, relatif tepat dan dapat diterima secara ilmiah. Adapun hasil perhitungan uji validasi kinerja AME dan AVE dan jumlah penduduk simulasi dan aktual seperti pada Tabel 59. 7.8.3 Uji Sensitifitas Model Uji sensitifitas dilakukan untuk melihat respon model terhadap suatu stimulus (Muhammadi, et al.,2001). Respon ini ditunjukkan dengan perubahan perilaku dan/atau kinerja model. Stimulus diberikan dengan memberikan intervensi tertentu pada unsur atau struktur model. 139 Tabel 59 Hasil Perhitungan nilai AVE, AME dan Jumlah Penduduk dalam uji validasi kinerja (a) Kecamatan Tarakan Barat (b) Kecamatan Tarakan Timur (c) Kecamatan Tarakan Tengah (d) Kecamatan Tarakan Utara 140 Hasil uji sensitifitas ini adalah dalam bentuk perubahan perilaku dan/atau kinerja model sehingga dapat diketahui efek intervensi yang diberikan terhadap satu atau lebih unsur atau model tersebut. Adapun contoh perubahan perilaku kinerja model berdasarkan intervensi yang diberikan dapat dilihat pada Gambar 53 sampai 56 dimana pada gambar-gambar tersebut terlihat besarnya perubahan dari setiap perubahan satu atau lebih unsur di dalam model tersebut. Pada Gambar 56 misalnya, dengan memberikan intervensi dengan meningkatkan input persentase pelayanan air bersih, maka air bersih perpipaan juga akan semakin meningkat. Hal ini terlihat dengan semakin tajamnya perubahan kurva dari skenario satu ke skenario dua dan tiga. Dengan adanya perubahan air bersih perpipaan pada setiap pertambahan tahun dapat disimpulkan bahwa model sangat sensitive terhadap intervensi yang diberikan. 7.9 Kesimpulan Berdasarkan hasil pemodelan dinamis yang telah dilakukan, hasil simulasi setiap komponen menunjukkan kurva pertumbuhan positif naik mengikuti kurva eksponensial seperti terlihat pada pertambahan jumlah penduduk, industri dan hotel. Meningkatnya pertumbuhan tersebut menyebabkan meningkatnya kebutuhan air bersih pada masing-masing sektor tersebut. Kebutuhan air bersih pada masing-masing kecamatan berbeda tergantung variabel jumlah penduduk, industri dan hotel. Begitu pula halnya dengan ketersediaan air bersih pada masing-masing kecamatan juga berbeda, tergantung variabel luasan lahan tutupan dan Instalasi Pengolahan Air PDAM. Oleh karena itu, skenario yang diterapkan pada masing-masing kecamatan juga berbeda satu sama lainnya. Hal ini disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan dan ketersediaan air bersih pada masing-masing kecamatan. Kecamatan Tarakan Barat dan Tarakan Timur memiliki potensi krisis air bersih, ditandai dengan terjadinya defisit air bersih dalam rentang waktu simulasi. Kecamatan Tarakan Utara dan Tarakan Tengah tidak memiliki potensi defisit air bersih selama rentang waktu simulasi. Namun pelayanan air bersih perpipaan di seluruh kecamatan Kota Tarakan tidak memenuhi kebutuhan air bersih secara kuantitas, sehingga perlu ditingkatkan dengan peningkatan pelayanan. Peningkatan ketersediaan air bersih melalui konservasi pada masingmasing land use, menunjukkan hasil peningkatan imbuhan air tanah yang signifikan. Semakin tinggi persentase konservasi pada land use, maka semakin 141 tinggi juga imbuhan air tanah yang dihasilkan. Namun tetap memperhatikan faktor biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan konservasi tersebut. Begitu pula pada pelayanan air bersih perpipaan, semakin tinggi persentase pelayanan yang diinginkan maka semakin besar pula biaya yang dibutuhkan. Untuk meningkatkan perubahan kinerja model maka skenario yang perlu dilakukan untuk masing-masing kecamatan di Kota Tarakan adalah skenario dua, dengan melakukan intervensi yang lebih besar dari kondisi eksisting terhadap variabel kunci yang berpengaruh dalam model, namun tetap mempertimbangkan ketersediaan biaya yang dibutuhkan. 8 PEMBAHASAN UMUM Daya tarik kehidupan perkotaan dan tuntutan kehidupan yang semakin tinggi menyebabkan semakin banyak penduduk Indonesia yang beralih untuk tinggal dan beraktifitas di kawasan perkotaan. Sejumlah kajian memperkirakan jumlah penduduk perkotaan pada akhir 2025 akan mencapai 60% dari total penduduk Indonesia (LSI, 2011). Hal ini juga terjadi di Pulau Tarakan. Walaupun termasuk salah satu pulau kecil di Indonesia, Pulau Tarakan tumbuh berkembang dengan pesat sebagai pintu gerbang Provinsi Kalimantan Timur, dan sudah beralih konsep pengembangannya dari konsep pengembangan skala pedesaan menjadi pengembangan skala perkotaan. Peningkatan jumlah penduduk perkotaan akan memacu kebutuhan air bersih dan infrastruktur pelayanan perkotaan lainnya, sehingga kota akan tumbuh dengan segala potensi dan tantangan yang dimilikinya. Keadaan tersebut harus dihadapi melalui penyiapan perencanaan penyediaan air bersih berdasarkan tata ruang kota yang mempertimbangkan kondisi, potensi dan tantangan yang dimiliki oleh kota tersebut. Keadaan yang terjadi saat ini adalah masih lemahnya sinergitas perencanaan sektor air bersih, terutama dalam penyediaan air bersih perpipaan yang merupakan tuntutan dari pesatnya pertambahan penduduk perkotaan. Pembangunan infrastruktur air bersih perkotaan yang kurang atau belum mengantisipasi dan mengakomodir fenomena pengembangan kawasan perkotaan akan menimbulkan beberapa persoalan seperti : (1) tidak meratanya penyediaan layanan air bersih, (2) tidak tersedianya kecukupan air baku untuk air bersih, (3) eksploitasi air tanah secara tidak terkendali, (4) terjadinya krisis air bersih. Apabila berbagai persoalan tersebut berbenturan dengan persoalan pembangunan lainnya maka akan semakin mengaburkan arah pembangunan kota yang akhirnya memperburuk citra kota dan kawasannya. Penyediaan air bersih pulau kecil di Kota Tarakan sudah beralih dari skala pedesaan menjadi skala kota pada pulau besar. Hal ini menyebabkan kebutuhan air baku menjadi sangat besar. Bila melihat potensi air baku di 24 sungai Pulau Tarakan, tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut, karena kondisi sungai yang kecil (lebar 1 m sampai 7 m) dan kedalaman air 0,5 m - 1 m. Penyebaran penduduk yang tidak merata, menyulitkan pelayanan air bersih perpipaan skala kota. Untuk itu perlu suatu inovasi dalam penyediaan air bersih 143 di pulau kecil namun tetap mengacu kepada pelayanan perpipaan skala kota. Penyediaan air bersih skala kota dicirikan dengan tingginya kebutuhan air bersih (150-200 liter/org/hari) dan cakupan layanan perpipaan (80% terlayani) merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh pemerintah Kota Tarakan. Kondisi saat ini PDAM Kota Tarakan memiliki 4 buah IPA dengan total kapasitas terpasang sebesar 400 liter/detik. Namun kapasitas efektif dari seluruh IPA hanya sebesar 269 liter/detik. Hasil simulasi model ketersediaan air, pelayanan air bersih perpipaan Kecamatan Tarakan Barat hanya terlayani sebesar 57,84% (2012) dari kebutuhan air bersih penduduk dan terus menurun menjadi 12,26% pada tahun 2030. Tarakan Timur terlayani sebesar 57,05% (2012) dan 6,32% pada tahun 2030. Tarakan Tengah terlayani sebesar 50,4% (2012) dan 24,7% pada tahun 2030. Sedangkan Tarakan Utara terlayani sebesar 40,71% (2012) dan 3,85% pada tahun 2030. Menghadapi MDG’s, dimana komitmen pemerintah untuk dapat menyediakan air bersih perpipaan untuk perkotaan sebesar 80%, menyebabkan PDAM sebagai pengelola air bersih menghadapi kesulitan baru. Rendahnya keragaan dan kinerja sektor air bersih dan PDAM tidak terlepas dari keadaan kelembagaan dan kelemahan sistem insentif di dalamnya. Payung kelembagaan PDAM bersumber dari Surat Keputusan Bersama (SKB) Mendagri dan Menteri PU No 4 tahun 1984 atau 27/KPTS/1984 tentang pembinaan PDAM. Hal tersebut berimplikasi bahwa Depdagri melalui Pemda berhak menetapkan direksi dan mempengaruhi manajemen. Pemda juga berkepentingan menetapkan harga air (regulated price) dalam rangka melindungi kepentingan konsumen. Kebijakan harga tersebut terbukti tidak memuat insentif bagi pengambilan keputusan berproduksi oleh PDAM atau konsumsi air bersih oleh rumah tangga. Dengan tarif air bersih Rp1.350 per m3, sangat sulit bagi PDAM Kota Tarakan untuk dapat meningkatkan pelayanan air bersih, karena biaya operasional saja sudah mencapai Rp1.200 per m3. Sebagai sebuah perusahaan, PDAM juga dituntut untuk dapat mengembalikan biaya investasi yang diberikan pemerintah daerah. Model penyediaan air bersih di pulau kecil harus disesuaikan dengan potensi sumber daya alam dan lingkungan di pulau tersebut, sehingga harus melibatkan/memperhatikan aspek lingkungan, ekonomi, sosial, kelembagaan dan ekonomi. Beberapa faktor keberlanjutan penyediaan air bersih diuraikan dalam analisis keberlanjutan penyediaan air bersih Kota Tarakan menggunakan metode MDS. Berdasarkan analisis metode MDS, didapatkan bahwa kondisi saat ini, 144 dimensi ekonomi, hukum dan kelembagaan berkelanjutan. Sedangkan dimensi sosial kurang berkelanjutan, dimensi lingkungan dan teknologi tidak berkelanjutan. Dari analisis ini terlihat jelas bahwa permasalahan teknologi instalasi pengolahan air bersih menjadi salah satu faktor kunci keberlanjutan. Tingginya tingkat kebocoran (losses), karena faktor umur instalasi, menyebabkan produksi menjadi tidak efisien. Selain itu, instalasi yang ada membutuhkan energi listrik yang sangat besar sehingga ketersediaan energi listrik menjadi faktor kunci utama dalam penyediaan air bersih skala kota. Untuk itu dibutuhkan suatu model baru dalam penyediaan air bersih di pulau kecil. Penyediaan air bersih yang melibatkan aspek lingkungan dapat dilakukan dengan cara “menaikan imbuhan air tanah melalui konservasi lingkungan” dengan cara pembuatan sumur resapan di lahan permukiman, reboisasi lahan hutan, pembuatan terasering dan pembangunan tambak intensif. Jumlah atau besaran kegiatan konservasi dalam masing-masing wilayah tentunya tidak sama, tergantung kebutuhan atau kondisi dari wilayah tersebut. Misalnya, Kecamatan Tarakan Barat membutuhkan jumlah reboisasi yang lebih tinggi yaitu 10% lahan permukiman dibuat sumur resapan setiap tahun bila dibandingkan dengan Kecamatan Tarakan Utara yang hanya membutuhkan 1%. Begitu pula halnya untuk terasering dan reboisasi. Dengan diberlakukannya kebijakan konservasi lingkungan mulai tahun 2013, Pulau Tarakan dapat terhindar dari ancaman krisis air bersih sampai tahun 2030, hal ini ditunjukkan oleh hasil simulasi model ketersediaan air dimana neraca air menjadi meningkat. Aspek teknologi yang perlu diperhatikan dalam penyediaan air bersih supaya berkelanjutan adalah faktor instalasi pengolahan air bersih, ketersediaan listrik dan tingkat pelayanan PDAM. Hal ini berkaitan erat dengan infrastruktur Kota Tarakan. Oleh karena itu, upaya penyediaan air bersih dapat dilakukan dengan cara “meningkatkan pelayanan air bersih melalui uprating IPA dan peningkatan pelayanan”. Saat ini, konsep penyediaan air bersih Kota Tarakan sudah terintegrasi dengan perencanaan tata ruang wilayah Kota Tarakan, sehingga pembagian pelayanan diatur berdasarkan wilayah pelayanan. Walaupun demikian, instalasi yang dibutuhkan tetap berskala besar yang membutuhkan air baku yang banyak dan konsumsi listrik yang tinggi. Sebagai alternatif peningkatan kapasitas layanan perpipaan, diusulkan teknologi penyediaan air bersih menggunakan instalasi pengolahan air bersih (IPAB) mikro. Teknologi ini memiliki sistem pengolahan yang sama dengan IPA PDAM 145 yaitu koagulasi, flokulasi, sedimentasi dan filtrasi, namun dalam skala yang lebih kecil. Pemilihan teknologi ini atas dasar : (1) penyebaran penduduk yang tidak merata menyulitkan dalam distribusi perpipan skala kota, (2) sumber air baku permukaan yang sedikit, (3) pemakaian listrik yang tidak besar, dan (4) adanya unsur pelibatan partisipasi masyarakat sehingga membuka lapangan kerja dalam sektor air bersih. IPAB Mikro dapat dibangun dekat dengan pemukiman, hotel atau industri, memanfaatkan air permukaan yang ada dan dikelola oleh masyarakat pengguna air bersih di wilayah tersebut. 9 REKOMENDASI KEBIJAKAN PENYEDIAAN AIR BERSIH PULAU TARAKAN Penelitian ini bertujuan untuk membangun model penyediaan air bersih secara berkelanjutan di pulau kecil (Kota Tarakan), sehingga dapat memberikan rekomendasi kebijakan kepada stakeholder, dalam hal ini pemerintah Kota Tarakan dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Tarakan. 9.1 Rekomendasi kebijakan yang ditujukan kepada Pemerintah Kota Tarakan Dalam rangka menjaga keberlanjutan penyediaan air bersih, maka beberapa rekomendasi kebijakan yang diusulkan kepada pemerintah daerah berdasarkan hasil penelitian adalah : 1. Menetapkan kebijakan konservasi lingkungan mulai tahun 2013 dengan cara pembuatan sumur resapan pada lahan permukiman, pembuatan terasering pada lahan ladang/tegakan dan reboisasi pada hutan pada masing-masing kecamatan di Kota Tarakan. a. Berdasarkan hasil simulasi model pada skenario dua, Kecamatan Tarakan Barat dan Tarakan Timur membutuhkan 10% lahan permukiman dibangun sumur resapan per tahun, terasering 2% dan reboisasi 5%. Dengan kebijakan ini diharapkan ketersediaan air dari imbuhan air tanah tetap terjaga sampai tahun 2030 seperti pada Gambar 41 dan 46. b. Berdasarkan hasil simulasi model pada skenario dua, Kecamatan Tarakan Tengah dan Utara membutuhkan 1% lahan permukiman dibangun sumur resapan per tahun, terasering 1% dan reboisasi 1%. Dengan kebijakan ini diharapkan ketersediaan air dari imbuhan air tanah tetap terjaga sampai tahun 2030 seperti pada Gambar 51 dan 56. 2. Menetapkan kebijakan penghematan air pemakaian air bersih pada masyarakat, industri dan hotel pada seluruh kecamatan. Berdasarkan skenario dua, perlu dilakukan penghematan air bersih sebanyak 10% pada masing-masing sektor dimulai sejak tahun 2013, sehingga kebutuhan air menjadi berkurang seperti pada Gambar 38, 43, 48 dan 53. 3. Membuka peluang kepada masyarakat dan koorporasi untuk dapat mengusahakan sendiri penyediaan air bersih di wilayahnya, namun dalam pengawasan dinas terkait (PU dan PDAM) dan terintegrasi dengan RTRW Kota Tarakan. Berdasarkan hasil simulasi sistem dinamik dan metode 147 SWOT, dapat diterapkan teknologi pengolahan sistem IPAB Mikro di wilayah permukiman, indusrti dan hotel. 4. Menfasilitasi PDAM dalam upaya sosialisasi penambahan tarif air bersih kepada masyarakat, industi dan hotel, sehingga PDAM dapat meningkatkan pelayanan. 9.2 Rekomendasi kebijakan yang ditujukan kepada PDAM Adapun rekomendasi kebijakan yang dapat diusulkan kepada PDAM Kota Tarakan sebagai pengelola air bersih adalah : 1. Meningkatkan kapasitas layanan melalui pengurangan kebocoran dan peningkatan kapasitas IPA. Berdasarkan hasil simulasi skenario dua, dibutuhkan penambahan supply air bersih di Kecamatan Tarakan Barat (Gambar 40), Tarakan Timur (Gambar 45), Tarakan Tengah (Gambar 47), dan Tarakan Utara (Gambar 55). a. Uprating IPA eksisting sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat. Berdasarkan skenario dua, untuk memenuhi kebutuhan air bersih perpipaan dibutuhkan biaya peningkatan kapasitas Kecamatan Tarakan Barat (Tabel 25), Tarakan Timur (Tabel 35), Tarakan Tengah (Tabel 46), dan Tarakan Utara (Tabel 55). b. Peningkatan pelayanan dengan pembangunan IPAB Mikro di wilayah permukiman. Berdasarkan skenario dua, untuk memenuhi kebutuhan air bersih perpipaan dibutuhkan biaya peningkatan kapasitas dan jumlah IPAB Mikro terpasang pada Kecamatan Tarakan Barat (Tabel 25), Tarakan Timur (Tabel 35), Tarakan Tengah (Tabel 46), dan Tarakan Utara (Tabel 55). 2. Berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait seeperti lembaga legislatif, dinas PU, dinas Bappeda, PLN dan pemerintah daerah guna meningkatkan kapasitas pelayanan air bersih PDAM Kota Tarakan dan penambahan tarif air bersih. 10 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa : 1. Kebutuhan air bersih masing-masing daerah pelayanan sebagai berikut : a. Kebutuhan air bersih penduduk Tarakan Barat sebesar 5.835.078,23 m3 (2012) menjadi 27.524.756,7 m3 (2030). Kebutuhan air bersih industri 5.660.343,36 m3 (2012) menjadi 6.770.605,42 m3 (2030). Kebutuhan air bersih hotel sebesar 226.915,01 m3 (2012) menjadi 342.091,56 m3 (2030). Total kebutuhan air bersih pada tahun 2012 sebesar 11.722.337 m3 menjadi 34.619.464 m3 pada tahun 2030. b. Kebutuhan air bersih penduduk Tarakan Timur sebesar 4.579.342,14 m3 (2012) menjadi 41.325.210,6 m3 (2030). Kebutuhan air bersih industri 1.461.473 m3 (2012) menjadi 1.753.538 m3 (2030). Kebutuhan air bersih hotel sebesar 90.766,32 m3 (2012) menjadi 129.636,7 m3 (2030). Total kebutuhan air bersih pada tahun 2012 sebesar 6.136.096,68 m3 (2012) menjadi 43.208.385,4 m3 (2030). c. Kebutuhan air bersih penduduk Tarakan Tengah sebesar 3.915.717,62 m3 (2012) menjadi 7.932.525,43 m3 (2030). Kebutuhan air bersih industri sebesar 5.008.793 m3 (2012) menjadi 6.991.255,2 m3 (2030). Kebutuhan air bersih hotel sebesar 196.666,26 m3 (2012) menjadi 390.407,72 m3 (2030). Total kebutuhan air bersih pada tahun 2012 sebesar 9.121.175,92 m3 menjadi 14.322.188,3 m3 pada tahun 2030. d. Kebutuhan air bersih penduduk Tarakan Utara sebesar 1.871.683,12 m3 (2012) menjadi 19.793.365,7 m3 (2030). Kebutuhan air bersih industri sebesar 680.747,43 m3 (2012) menjadi 972.274,97 m3 (2030). Kebutuhan air bersih hotel sebesar 22.691,58 m3 (2012) menjadi 32.409.17 m3 (2030). Total kebutuhan air bersih pada tahun 2012 sebesar 9.121.175,92 m3 menjadi 14.322.188,3 m3 pada tahun 2030. 2. Ketersediaan air bersih pada masing-masing daerah pelayanan adalah : a. Ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah (alami) Tarakan Barat sebesar 10.172.837,61 m3 (2012) mengalami peningkatan menjadi 8.343.214,99 m3 (2030); sedangkan ketersediaan air bersih perpipaan dari PDAM melalui IPA Persemaian sebesar 5.987.520 m3. Sehingga total 149 ketersediaan air bersih sebesar 16.160.357,6 m3 (2012) menjadi 8.343.214,99 m3 (2030). b. Ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah (alami) Tarakan Timur sebesar 37.294.975,29 m3 (2012) menjadi 37.039.106,14 m3 (2030). Sedangkan ketersediaan air bersih perpipaan dari PDAM melalui IPA Kampung Bugis sebesar 2.612.736 m3. Sehingga total ketersediaan air bersih sebesar 39.907.711,3 m3 (2012) meningkat menjadi 39.651.841,1 m3 (2030). c. Ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah (alami) Tarakan Tengah sebesar 40.897.360,75 m3 (2012) menjadi 40.915.432,96 m3 (2030). Sedangkan ketersediaan air bersih perpipaan dari PDAM melalui IPA Kampung Satu sebesar 1.959.552 m3. Sehingga total ketersediaan air bersih sebesar 42.856.912,7 m3 (2012) menjadi 42.874.986 m3 (2030). d. Ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah (alami) Tarakan Utara sebesar 86.535.006,96 m3 (2012) menjadi 87.472.188,86 m3 (2030). Sedangkan ketersediaan air bersih perpipaan dari PDAM melalui IPA Juata Laut sebesar 762.048 m3. Sehingga total ketersediaan air bersih sebesar 84.721.932,8 m3 (2012) menjadi 88.234.236,9 m3 (2030). 3. Status keberlanjutan penyediaan air bersih di Pulau Tarakan adalah dimensi ekonomi berkelanjutan, dimensi hukum kelembagaan dan dimensi sosial cukup berkelanjutan, sedangkan dimensi lingkungan kurang berkelanjutan dan dimensi infrastruktur-teknologi tidak berkelanjutan. Secara multidimensi sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan cukup berkelanjutan dengan 13 atribut yang sensitif berpengaruh dalam meningkatkan indeks keberlanjutan. 4. Faktor kunci kendala penyediaan air bersih adalah kualitas air baku yang buruk akibat pencemaran, kurangnya sumberdaya manusia yang memadai dan terbatasnya sumberdaya air tawar. Sedangkan faktor kunci kebutuhan adalah ketersediaan air baku. Bentuk pengelolaan air bersih harus dikelola oleh pemerintah. Adapun rumusan strategi pengembangan pelayanan air bersih di Kota Tarakan adalah Strategi Kekuatan – Peluang sebagai berikut : a. Memanfaatkan/menerapkan teknologi penyediaan air bersih yang sudah ada untuk daerah-daerah yang belum terlayani air bersih oleh pemerintah/PDAM sebagai alternatif dalam penyediaan air bersih dengan menggunakan konsep cluster yang memanfaatkan air hujan/permukaan. 150 b. Melakukan konservasi pada land use melalui kegiatan reboisasi, pembuatan sumur resapan, terasering, dan embung-embung penangkap air hujan untuk menjaga kelestarian sumber air baku. c. Mendorong PDAM sebagai penyedia air besih untuk terus meningkatkan kapasitas layanan melalui pengurangan persentase kebocoran dan peningkatan kapasitas IPA. d. Memanfaatkan program pemberdayaan masyarakat dari koorporasi (CSR). e. Menerapkan, menata dan menjaga suatu kawasan sesuai dengan fungsinya, berdasarkan atas komitmen Pemerintah Kota Tarakan yang diuraikan dalam RTRW Tarakan. 5. Model penyediaan air bersih pulau kecil dibangun dari dua sub model yaitu sub model kebutuhan air bersih dan sub model ketersediaan air bersih. Hasil simulasi menunjukkan kurva pertumbuhan positif naik mengikuti kurva eksponensial seperti terlihat pada pertambahan jumlah penduduk, industri dan hotel. Meningkatnya pertumbuhan tersebut menyebabkan meningkatnya kebutuhan air bersih pada masing-masing sektor tersebut. Kebutuhan air bersih pada masing-masing kecamatan berbeda tergantung variable jumlah penduduk, industri dan hotel. Begitu pula halnya dengan ketersediaan air bersih pada masing-masing kecamatan juga berbeda, tergantung variabel luasan lahan tutupan dan kapasitas IPA PDAM. Oleh karena itu, skenario yang diterapkan pada masing-masing kecamatan juga berbeda satu sama lainnya. Hal ini disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan dan ketersediaan air bersih pada masing-masing kecamatan. Tarakan Utara dan Tarakan Tengah tidak memiliki potensi defisit air bersih selama rentang waktu simulasi. Sedangkan Tarakan Barat dan Timur berpotensi defisit air bersih. Namun pelayanan air bersih perpipaan di seluruh kecamatan Kota Tarakan tidak memenuhi kebutuhan air bersih secara kuantitas, sehingga perlu ditingkatkan dengan peningkatan pelayanan. Hasil akhir dari model penyediaan air bersih pulau kecil ini adalah rekomendasi kebijakan dalam penyediaan air bersih. DAFTAR PUSTAKA Arne, H., Byrkness and J. Cover. 1996. Quick Tours in Powersim. Powersim Press, Virginia. Anwar, Affendi et al. 2004. Perilaku Suppy-Demand Air di Wilayah Perkotaan dan Perdesaan. Lembaga Penelitian IPB. Bogor. Asdak, Chay, 1995, Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Badudu, Yus dan Zain, M, 1994, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta. Bappeda Propinsi Bengkulu. 2004. Pengembangan Pulau Enggano Sebagai Pusat Industri Berbasis Maritim dan Pariwisata di Propinsi Bengkulu. Bengkulu. BPS Kota Tarakan. 2007. Kota Tarakan dalam Angka 2009. Tarakan. Kaltim. BPS Kota Tarakan. 2010. Kota Tarakan Dalam Angka. Tarakan. Kaltim. Barkley, Bruce T and James H Saylor. 1994. Customer Driven Project Management, A New Paradigm in Total Quolity Implementation Singapore. Barlas, Y. 1996. Formal Aspects of Model Validity and Validation of System Dynamics. System Dynamics Review, Vol. 12. John Wiley & Sons, Ltd. US. Bassi, A. M. 2011. System Dynamics Integrated National Development Planning Simulation Models. Millennium Institute Paper. Arlington, VA. USA. Bear,Jacob. 2001. Modelling Groundwater Flow and Contaminant Transport. Internet Course. Bourne, Larry (ed), 1971, Internal Structure of The City, New York, University Press. Budihardjo, Eko, 1997, Lingkungan Binaan dan Tata Ruang Kota, UPT Penerbitan Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang. Bulkin, Imron, 1995, Antisipasi Kebutuhan Infrastuktur di Indonesia, 1999-2020: Perencanaan Pembangunan di Indonesia, Grasindo, Jakarta. Byron Bird, R. Stewart, Warren E. Lightfoot, Edwin N. 2002. Transport Phenomena, Second Edition. John Wiley & Sons, Inc. USA Casey, D., P. N. Nemetz and D. H. Uyeno. 1983. Sampling frequency for water monitoring : measures of effectiveness. Water Resources Research 19 (5) : 22-41. 152 Cahyono,M. G, Rusnandi, Azmanajaya, E . 2002. Pilot Plant Direct Filtrations. Paper HATHI 24-25 Pekanbaru. Due, F. John and Friedlaender, F. Ann, 1984, Government Finance 7th edition, Richard D. Irwin, Inc. Dasanto, B.D. 1996. Groundwater conservation on Bekasi District, West Java. The Indonesian Journal of Geography, 28 (71) : 11-24. Eriyatno. 1998. Ilmu Sistem, Meningkatkan Mutu dan Efektivitas Manajemen. IPB Press, Bogor. Fajar, Reggy. M. 2007. Analisis Ketersediaan Air DAS Banjaran menggunakan Program HEC-HMS. Skripsi. Uiversitas Soedirman Purwokerto Fletcher, CAJ. “Computational Techniques for Fluid Dynamics, Volume I”. 1990 Springer-Verlag. Germany. Ford, A. 1999. Modeling of Environment : An Introduction to System Dynamics Models of Environmental System. Island Press, California. Goldenberg, L. C., M. Magaritz and S. Mandel. 1983. Experimental investigation on irreversible changes of hydraulic conductivity on the seawater-freshwater interface in coastal aquifers. Water Resources Research 19 (1) : 225-242. Fair, Gordon Maskew, Gayer John Charles, 1971, Element of Water Supplay and Waste Water Disposal, John Wily and Son, New York. Fakultas Teknik UGM, 1994, Model Penyiapan Program Pembangunan Prasarana dan Sarana Dasar Perkotaan, Yogyakarta. Hadi, Sudharto P, 1995, Aspek Spasial AMDAL: Sejarah, Teori dan Metoda, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Handoko, Hani, T. 1994, Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi, PFE, Yogyakarta. Intan, Anisa. 2005. Kualitas Air Bersih untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga di Kabupaten Tegal. Skripsi. Universitas Negeri Semarang. Iwan Nugroho. 2002. Keragaan dan Strategi Pengembangan Sektor Air Bersih: Studi kasus di propinsi Jawa Timur. Disertasi. Program Pascasarjana IPB Bogor. Jayadinata, T. Johara, 1992, Tata Guna Tanah Dalam Perencanaan Pedesan, Perkotaan dan Wilayah, Penerbit ITB, Bandung. Jeffer, J. N. R. 1998. An Introduction to System Analysis : with Ecological Application. Edward Arnold, London. Jordan, J. L. and A. H. Elnagheeb. 1993. Willingness to pay for improvements in drinking water quality. Water Resources Research 29(2): 237-245. 153 Juran J.M. dan Griya, F.M. 1993. Quality Planning and Analysis. 3 ED. Singapore: Mic-Graw Hill.Inc. Kammere, J.C, 1986, Water Quantity Requirement for Public Supplies and Others Use, Van Notrand Reinhold Co, New York. Lukman, S. 1999. "Visi, Misi, dan Manajemen Pelayanan Prima". Makalah dalam Lokakarya Strategi Pengembangan Pelayanan Umum di Lingkungan Pemerintah Daerah, Cisarua, Bogor. Malaysia Water Supply Development. 2001. http:///www.mywatersupply.org [28 September 2001]. Mays, Larry W. 2001. Water Resources Engineering, John Willey & Sons, Inc. USA M.Rasman Hanafi, 2010. Rancangbangun Pengelolaan Pulau Kecil Berbasis Penataan Ruang, Studi Kasus P.Wakatobi, Disertasi IPB 2010 Muhammadi, E., Aminullah dan B. Soesilo. 2001. Analisis Sistem Dinamis : Lingkungan Hidup, Sosial Ekonomi, Manajemen. UMP Press, Jakarta Meijerink. 1970. Photo Interpretation in Hydrology. A Geomorphologycal Approach. ITC, Delft. Pala, O., Vennix, JAM, and Kleijnen, JPC. 1999. Validation in Soft, Hard and System Dynamics : a critical comparison and contribution to the debate. Social and Behavioral Science. Tilburg University Paper. Netherlands. Perda Tarakan No.17 Tahun 2000 Tentang Pendirian PDAM Tarakan. Porter, M. 2000. Location, Competition, and Economic Development: Local Clusters in a Global Economy. Economic Development Quarterly, 14(1): 1534. Harvard Bussiness School Press. Boston, MA. Pusat Litbang Sumber Daya Air, 2009. Teknologi Pengendalian Pencemaran Air Di Indonesia. Pusat Litbang Sumber Daya Air, 2010. Penyediaan Air Baku di Pulau-pulau Kecil. Puslit Geoteknologi LIPI, 2008. Kajian SDAir di Pulau Pakal, Maluku Utara. Puslit Geoteknologi LIPI, 2008. Air Tanah di Pesisir dan Pulau Kecil. Puslit Geoteknologi LIPI, 2008. Sumber Daya Air di Pulau Kecil. Polo, J. F and J. R. Ramis. 1983. Simulation of salt water-fresh water interface motion. Water Resources Research 19 (1) : 911-931. Purnama, S. 2002. Hasil aman eksploitasi air tanah di Kota Semarang, Propinsi Jawa Tengah. Majalah Geografi Indonesia 16 (2) : 77-85. 154 [PU] Dinas PU Cipta Karya Kota Tarakan, 2010. Laporan Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan. Tarakan [PU] Ditjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum dan UNDP/UNCHS, 1997, Pengadaan Sarana dan Prasarana Kota di Indonesia, Jakarta. Schneider, W. 2001. Principles of Groundwater Flow. Soedijono, B. 1995. Yogyakarta. Model Matematika. Program Pascasarjana UGM, Sudaryatno. 2000. Penerapan Teknik Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi untuk Estimasi Debit Puncak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Garang, Semarang, Jawa Tengah. Tesis. Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Soemarwoto, O. 1985. Ekologi Djambatan. Bandung. Lingkungan Sujono, Joko. Jayadi, Rachmadi. 2009. Lab.Komputasi. Universitas Gajah Mada. Hidup Aplikasi dan Pembangunan. Software HEC-HMS. Suratmo, F. G. 2002. Panduan Penelitian Multidisiplin. IPB Press, Bogor. Tjiptono Fandy. 1996. Manajemen Jasa. Yogyakarta Tjiptono Fandy. 2000. Prinsip- Prinsip Total Quality Service. Yogyakarta Winardi. 1999. Pengantar Tentang Teori Sistem dan Analisis Sistem. Mandar Maju, Bandung. World Bank. 1993. The demand for water in rural areas: determinants and policy implications. World Bank Research Observer. 8(1): 47-70. United Nations. 1979. Guidelines for Rural Centre Planning: Rural water supply and sanitation. New York. Undang-undang No.7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. Undang-undang No.27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil. Zheng, Cheng. Bennet,D.Gordon. 1995. Applied Contaminant Transport Modelling. A Division of International Thomson Publishing Inc. USA. LAMPIRAN 157 Lampiran 1. Ilustrasi konstruksi Instalasi Pengolahan Air Bersih Mikro 158 Lampiran 1. Ilustrasi konstruksi Instalasi Pengolahan Air Bersih Mikro (lanjutan 1) 159 Lampiran 1. Ilustrasi konstruksi Instalasi Pengolahan Air Bersih Mikro (lanjutan) 160 Lampiran 2. Rincian biaya operasional IPAB Mikro Uraian Satuan Jumlah Keterangan Pompa a. Pompa Intake - Power - Kapasitas b. Pompa Distribusi - Power - Kapasitas Kapasitas Produksi watt 5000 lt/mnt 330 watt 19800 lt/jam 5000 lt/mnt 330 3 480 3 m /hari (design capacity) m /bulan 14400 Waktu Operasional Jam/hari 24 Konsumsi listrik KWh/hari 19800 lt/jam 5.56 lt/det 240 KWh/bulan 7200 Tarif listrik PLN Rp. 1000 Biaya listrik per m3 Rp. 550 1 m3 : 480 m3 = x : 240 Kwh - Al2SO4.2H2O Rp. 444 1 m3 = 148 gr 50 Kg = Rp. 150,000 - Calsium Hydroxide Rp. 120 1 m3 = 100 gr 50 Kg = Rp.60,000 Rp. 12.50 - Air baku Rp. 100 - Air kotor Rp. Biaya Produksi Air Bersih per m3 a. Koagulan b. Disinfectant - Kaporit 1 m3 = 50 gr 1 Kg = Rp. 12,500 c. Pajak/retribusi 100 3 1,326.50 19,101,600 Biaya Produksi Rp./m Rp./bln Upah pekerja/operator Rp./orang Perawatan lain Rp./bln 250,000 Penggantian media filter per 6 bulan Rp./bln 200,000 Test laboratorium 3 1,496.64 Total Biaya Produksi Rp./m 2,000,000 (2 labour) Lampiran 3 Nilai Skor Pendapat Pakar Existing Condition Dimensi Keberlanjutan Pengelolaan Air Bersih di Kota Tarakan DIMENSI LINGKUNGAN No BAIK BURUK Daerah konservasi air (0) tidak ada, (1) ada tetapi tak terlindungi, (2) ada dan terlindungi 2 2 0 2 Frekuensi kejadian kekeringan (0) sering, (1) kadang-kadang, (2) tidak pernah terjadi kekeringan 1 2 0 3 Kualitas air baku (0) sangat jelek, (1) jelek, (2) agak baik, (3) baik 1 3 0 4 Kuantitas air baku (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 0 3 0 5 Curah hujan & hari hujan (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 0 3 0 6 Pengembangan sumber air baku 1 1 0 7 Pemanfaatan lahan terhadap kualitas air 0 2 0 8 Tinggi permukaan air tanah (0) tidak ada, (1) ada (0) tinggi dan kualitas air menurun, (1) sedang dan tidak berpengaruh pada kualitas air, (2) rendah dan kualitas air terjaga, (0) berfluktuasi secara ekstrim (1) tidak berfluktuasi secara ekstrim 0 1 0 9 Tingkat pencemaran sungai (0) tinggi, (1) sedang, (2) rendah 1 2 0 SKOR 1 3 3 BAIK 3 3 3 BURUK 0 0 0 (0) tidak sesuai (1) sesuai, (2) sangat sesuai 2 2 0 (0) sedikit, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 3 3 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi 2 2 0 2 3 0 SKOR BAIK BURUK 1 2 0 1 3 0 No 1 2 3 4 5 6 7 No ATRIBUT ATRIBUT Tingkat keuntungan PDAM Tarif air PDAM Persentase penduduk miskin Penetapan harga (price discrimination) di antara dan di dalam kelompok konsumen Willingness to pay (Kesediaan membayar dalam pemakaian sumber air) Kontribusi sektor pemanfaatan sumber air terhadap PDRB Ketersediaan dana untuk pengembangan air bersih ATRIBUT 1 Tingkat pendidikan formal masyarakat 2 Pemahaman dan kepedulian masyarakat KETERANGAN DIMENSI EKONOMI KETERANGAN (0) rendah (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi, (0) sangat tinggi, (1) tinggi, (2) sedang, (3) rendah (0) sangat tinggi, (1) tinggi, (2) sedang, (3) rendah (0) tidak tersedia, (1) kurang tersedia, (2) tersedia (3) tersedia tidak terbatas DIMENSI SOSIAL KETERANGAN (0) dibawah rata-rata nasional, (1) sama dengan rata-rata nasional, (2) diatas rata-rata nasional (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 161 SKOR 1 162 terhadap kelestarian sumber air 3 4 5 6 7 No Pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan pemanfaatan air bersih Tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap air bersih Peran masyarakat adat dalam kegiatan pemanfaatan air Konflik pengambilan sumber air (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) kurang optimal, (3) berjalan optimal 1 3 0 (0) sangat tinggi (1) tinggi, (2) sedang, (3) rendah, 1 3 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 3 3 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 1 3 0 (0) tidak ada, (1) desa tertentu saja, (2) semua desa 1 2 0 DIMENSI INFRASTRUKTUR DAN TEKNOLOGI KETERANGAN ATRIBUT Tingkat pelayanan PDAM (air bersih) SKOR BAIK BURUK 1 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi 0 2 0 2 Infrastruktur air limbah (0) tidak ada, (1) ada 0 1 0 3 Kondisi drainase di kawasan permukiman (0) memadai, (1) tidak memadai 0 1 0 4 Kondisi jaringan distribusi perpipaan (0) memadai, (1) tidak memadai 0 1 0 5 Kondisi IPA PDAM Ketersediaan layanan listrik untuk pengolahan air bersih (0) tidak memadai, (1) cukup memadai, (2) sangat memadai 1 2 0 (0) tidak memadai, (1) cukup memadai, (2) sangat memadai 1 2 0 6 DIMENSI HUKUM DAN KELEMBAGAAN No 1 ATRIBUT Keberadaan balai pemantauan kualitas air KETERANGAN (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan SKOR 2 BAIK 2 BURUK 0 (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan 1 2 0 (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan 2 2 0 4 Keberadaan lembaga sosial air bersih Ketersediaan peraturan perundangundangan pengelolaaan air bersih Ketersediaan perangkat hukum adat/agama (0) tidak ada, (1) cukup tersedia, (2) sangat lengkap 2 2 0 5 Kerjasama antar stakeholder (0) tidak sejalan, (1) cukup sejalan, (2) sejalan, (3) sangat sejalan 1 3 0 2 3 163 Lampiran 4 Nilai Indeks Lima Dimensi Keberlanjutan Penyediaan Air Bersih di Pulau Tarakan A. Dimensi Ekologi B. Dimensi Ekonomi 164 C. Dimensi Sosial – Budaya D. Dimensi Infrastruktur dan Teknologi 165 E. Dimensi Hukum dan Kelembagaan F. Multidimensi 166 Lampiran 5 Persamaan model dinamis penyediaan air bersih pulau kecil init Air_Bersih_Alami = 30000000 flow Air_Bersih_Alami = +dt*penambahan_alami -dt*pengurangan_alami init Biaya_Intensifikasi = 0 flow Biaya_Intensifikasi = +dt*biaya_intensif_per_thn init Biaya_Intensifikasi_1 = 0 flow Biaya_Intensifikasi_1 = +dt*biaya_intensif_per_thn_1 init Biaya_Intensifikasi_2 = 0 flow Biaya_Intensifikasi_2 = +dt*biaya_intensif_per_thn_2 init Biaya_Intensifikasi_3 = 0 flow Biaya_Intensifikasi_3 = +dt*biaya_intensif_per_thn_3 init Biaya_Terasering_3 = 0 flow Biaya_Terasering_3 = +dt*biaya_terasering_per_thn_3 init C_hutan = C_hutan_eksisting_2 flow C_hutan = -dt*L_pengurangan_C_hutan init C_hutan_1 = C_hutan_eksisting_3 flow C_hutan_1 = dt*L_pengurangan_C_hutan_1 init C_hutan_2 = C_hutan_eksisting_4 flow C_hutan_2 = dt*L_pengurangan_C_hutan_2 init C_hutan_3 = C_hutan_eksisting_5 flow C_hutan_3 = dt*L_pengurangan_C_hutan_3 init C_Mukim_4 = 0.5/0.7/100 flow C_Mukim_4 = init Biaya_Reboisasi = 0 init flow Biaya_Reboisasi = +dt*biaya_reboisasi_per_thn C_permukiman = C_Permukiman_eksisting flow C_permukiman = dt*L_pengurangan_C_permukiman init C_permukiman_1 = C_Permukiman_eksisting_1 flow C_permukiman_1 = dt*L_pengurangan_C_permukiman_1 init C_permukiman_2 = C_Permukiman_eksisting_2 flow C_permukiman_2 = dt*L_pengurangan_C_permukiman_2 init C_permukiman_3 = C_Permukiman_eksisting_3 flow C_permukiman_3 = dt*L_pengurangan_C_permukiman_3 init C_Tambak = C_Tambak_eksisting flow C_Tambak = dt*L_pengurangan_C_tambak init C_Tambak_1 = C_Tambak_eksisting_1 flow C_Tambak_1 = dt*L_pengurangan_C_tambak_1 init C_Tambak_2 = C_Tambak_eksisting_2 flow C_Tambak_2 = dt*L_pengurangan_C_tambak_2 init C_Tambak_3 = C_Tambak_eksisting_3 flow C_Tambak_3 = dt*L_pengurangan_C_tambak_3 init C_tegalan = C_tegalan_eksisting flow C_tegalan = dt*L_pengurangan_C_tegalan init C_tegalan_1 = C_tegalan_eksisting_1 init Biaya_Reboisasi_1 = 0 flow Biaya_Reboisasi_1 = +dt*biaya_reboisasi_per_thn_1 init Biaya_Reboisasi_2 = 0 flow Biaya_Reboisasi_2 = +dt*biaya_reboisasi_per_thn_2 init Biaya_Reboisasi_3 = 0 flow Biaya_Reboisasi_3 = +dt*biaya_reboisasi_per_thn_3 init Biaya_SMR = 0 flow Biaya_SMR = +dt*biaya_SMR_per_thn init Biaya_SMR_1 = 0 flow Biaya_SMR_1 = +dt*biaya_SMR_per_thn_1 init Biaya_SMR_2 = 0 flow Biaya_SMR_2 = +dt*biaya_SMR_per_thn_2 init Biaya_SMR_3 = 0 flow Biaya_SMR_3 = +dt*biaya_SMR_per_thn_3 init Biaya_Terasering = 0 flow Biaya_Terasering = +dt*biaya_terasering_per_thn init Biaya_Terasering_1 = 0 flow Biaya_Terasering_1 = +dt*biaya_terasering_per_thn_1 init Biaya_Terasering_2 = 0 flow Biaya_Terasering_2 = +dt*biaya_terasering_per_thn_2 167 flow C_tegalan_1 = dt*L_pengurangan_C_tegalan_1 init Pendududk_1 = 41302 flow Pendududk_1 = +dt*L_penduduk_1 init C_tegalan_2 = C_tegalan_eksisting_2 init Pendududk_2 = 41302 flow C_tegalan_2 = dt*L_pengurangan_C_tegalan_2 flow Pendududk_2 = +dt*L_penduduk_2 init C_tegalan_3 = C_tegalan_eksisting_3 init Pendududk_3 = 41302 flow C_tegalan_3 = dt*L_pengurangan_C_tegalan_3 flow Pendududk_3 = +dt*L_penduduk_3 init Vol_Hujan_4 = 2584*373.70*1000000/1000 init CRO_Mukim_4 = 59.52% flow CRO_Mukim_4 = +dt*L_CRO_mukim_4 flow Vol_Hujan_4 = init Evaporasi_4 = 1000*373.70*1000000/1000 aux flow Evaporasi_4 = biaya_intensif_per_thn = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi, (biaya_intesif_per_ha*Luas_Tambak*(pers entase_intesifikasi/100)), 0) init Hotel = 10 aux flow Hotel = +dt*L_hotel init Hotel_1 = 10 biaya_intensif_per_thn_1 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_1, (biaya_intesif_per_ha_1*Luas_Tambak_1* (persentase_intesifikasi_1/100)), 0) flow Hotel_1 = +dt*L_hotel_1 aux init Hotel_2 = 10 flow Hotel_2 = +dt*L_hotel_2 biaya_intensif_per_thn_2 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_2, (biaya_intesif_per_ha_2*Luas_Tambak_2* (persentase_intesifikasi_2/100)), 0) init Hotel_3 = 10 aux biaya_intensif_per_thn_3 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_3, (biaya_intesif_per_ha_3*Luas_Tambak_3* (persentase_intesifikasi_3/100)), 0) aux biaya_reboisasi_per_thn = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi, (biaya_reboisasi_per_ha*luas_hutan*(pers entase_reboisasi/100)), 0) aux biaya_reboisasi_per_thn_1 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_1, (biaya_reboisasi_per_ha_1*luas_hutan_1* (persentase_reboisasi_1/100)), 0) aux biaya_reboisasi_per_thn_2 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_2, (biaya_reboisasi_per_ha_2*luas_hutan_2* (persentase_reboisasi_2/100)), 0) aux biaya_reboisasi_per_thn_3 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_3, (biaya_reboisasi_per_ha_3*luas_hutan_3* (persentase_reboisasi_3/100)), 0) aux biaya_SMR_per_thn = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi, (biaya_sumur_per_ha*luas_pmrkmn*(pers entase_jumlah_sumur/100)), 0) aux biaya_SMR_per_thn_1 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_1, (biaya_sumur_per_ha_1*luas_pmrkmn_1*( persentase_jumlah_sumur_1/100)), 0) aux biaya_SMR_per_thn_2 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_2, (biaya_sumur_per_ha_2*luas_pmrkmn_2*( persentase_jumlah_sumur_2/100)), 0) aux biaya_SMR_per_thn_3 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_3, (biaya_sumur_per_ha_3*luas_pmrkmn_3*( persentase_jumlah_sumur_3/100)), 0) aux biaya_terasering_per_thn = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi, flow Hotel_3 = +dt*L_hotel_3 init Hujan_4 = 2584 flow Hujan_4 = init Industri = 139 flow Industri = +dt*L_Industri init Industri_1 = 139 flow Industri_1 = +dt*L_Industri_1 init Industri_2 = 139 flow Industri_2 = +dt*L_Industri_2 init Industri_3 = 139 flow Industri_3 = +dt*L_Industri_3 init Ketersediaan_Alami_1 = 30000000 flow Ketersediaan_Alami_1 = dt*pengurangan_alami_1 +dt*penambahan_alami_1 init Ketersediaan_Alami_2 = 30000000 flow Ketersediaan_Alami_2 = dt*pengurangan_alami_2 +dt*penambahan_alami_2 init Ketersediaan_Alami_3 = 30000000 flow Ketersediaan_Alami_3 = +dt*penambahan_alami_3 -dt*pengurangan_alami_3 init Pemukiman_4 = 16570.49 flow Pemukiman_4 = +dt*l_pemukiman_4 init Pendududk = 41302 flow Pendududk = +dt*L_penduduk 168 (biaya_terasering_per_ha*luas_tegalan*(p ersentase_terasering/100)), 0) aux biaya_terasering_per_thn_1 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_1, (biaya_terasering_per_ha_1*luas_tegalan _1*(persentase_terasering_1/100)), 0) aux biaya_terasering_per_thn_2 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_2, (biaya_terasering_per_ha_2*luas_tegalan _2*(persentase_terasering_2/100)), 0) aux biaya_terasering_per_thn_3 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_3, (biaya_terasering_per_ha_3*luas_tegalan _3*(persentase_terasering_3/100)), 0) aux L_CRO_mukim_4 = CRO_Mukim_4*f_koef_RO_4 aux L_hotel = Hotel*persen_htl aux L_hotel_1 = Hotel_1*persen_htl_1 aux L_hotel_2 = Hotel_2*persen_htl_2 aux L_hotel_3 = Hotel_3*persen_htl_3 aux L_Industri = Industri*persen_industri aux L_Industri_1 = Industri_1*persen_industri_1 aux L_Industri_2 = Industri_2*persen_industri_2 aux L_Industri_3 = Industri_3*persen_industri_3 aux l_pemukiman_4 = Pemukiman_4*f_pemukiman_4 aux L_penduduk = Pendududk*persen_pertumbuhan aux L_penduduk_1 = Pendududk_1*persen_pertumbuhan_1 aux L_penduduk_2 = Pendududk_2*persen_pertumbuhan_2 aux L_penduduk_3 = Pendududk_3*persen_pertumbuhan_3 aux L_pengurangan_C_hutan = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi, 0, IF(C_hutan<=0.2, 0, (C_hutan_eksisting_20.2)/(1/(persentase_reboisasi/100)))) aux L_pengurangan_C_hutan_1 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_1, 0, IF(C_hutan_1<=0.2, 0, (C_hutan_eksisting_30.2)/(1/(persentase_reboisasi_1/100)))) aux L_pengurangan_C_hutan_2 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_2, 0, IF(C_hutan_2<=0.2, 0, (C_hutan_eksisting_40.2)/(1/(persentase_reboisasi_2/100)))) aux L_pengurangan_C_hutan_3 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_3, 0, IF(C_hutan_3<=0.2, 0, (C_hutan_eksisting_50.2)/(1/(persentase_reboisasi_3/100)))) aux L_pengurangan_C_permukiman = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi, 0, IF(C_permukiman<=0.3, 0, (C_Permukiman_eksisting0.3)/(1/(persentase_jumlah_sumur/100)))) aux L_pengurangan_C_permukiman_1 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_1, 0, IF(C_permukiman_1<=0.3, 0, (C_Permukiman_eksisting_10.3)/(1/(persentase_jumlah_sumur_1/100)) )) aux L_pengurangan_C_permukiman_2 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_2, 0, IF(C_permukiman_2<=0.3, 0, (C_Permukiman_eksisting_20.3)/(1/(persentase_jumlah_sumur_2/100)) )) aux L_pengurangan_C_permukiman_3 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_3, 0, IF(C_permukiman_3<=0.3, 0, (C_Permukiman_eksisting_30.3)/(1/(persentase_jumlah_sumur_3/100)) )) aux L_pengurangan_C_tambak = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi, 0, IF(C_Tambak<=0.2, 0, ((C_Tambak_eksisting0.2)/(1/(persentase_intesifikasi/100))))) aux L_pengurangan_C_tambak_1 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_1, 0, IF(C_Tambak_1<=0.2, 0, ((C_Tambak_eksisting_10.2)/(1/(persentase_intesifikasi_1/100))))) aux L_pengurangan_C_tambak_2 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_2, 0, IF(C_Tambak_2<=0.2, 0, ((C_Tambak_eksisting_20.2)/(1/(persentase_intesifikasi_2/100))))) aux L_pengurangan_C_tambak_3 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_3, 0, IF(C_Tambak_3<=0.2, 0, ((C_Tambak_eksisting_30.2)/(1/(persentase_intesifikasi_3/100))))) aux L_pengurangan_C_tegalan = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi, 0, IF(C_tegalan<=0.2, 0, (C_tegalan_eksisting0.2)/(1/(persentase_terasering/100)))) aux L_pengurangan_C_tegalan_1 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_1, 0, IF(C_tegalan_1<=0.2, 0, (C_tegalan_eksisting_10.2)/(1/(persentase_terasering_1/100)))) aux L_pengurangan_C_tegalan_2 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_2, 0, IF(C_tegalan_2<=0.2, 0, (C_tegalan_eksisting_20.2)/(1/(persentase_terasering_2/100)))) aux L_pengurangan_C_tegalan_3 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_3, 0, IF(C_tegalan_3<=0.2, 0, (C_tegalan_eksisting_30.2)/(1/(persentase_terasering_3/100)))) aux penambahan_alami = imbuh_air_tanah 169 aux penambahan_alami_1 = imbuh_air_tanah_1 aux penambahan_alami_2 = imbuh_air_tanah_2 aux penambahan_alami_3 = imbuh_air_tanah_3 aux pengurangan_alami = Air_Bersih_Alami*pencemaran aux pengurangan_alami_1 = Ketersediaan_Alami_1*pencemaran_1 aux pengurangan_alami_2 = Ketersediaan_Alami_2*pencemaran_2 aux pengurangan_alami_3 = Ketersediaan_Alami_3*pencemaran_3 aux aux aux Biaya_uprating_PDAM_per_thn = IF(kekurangan_air_bersih>=0, 0, ABS(kekurangan_air_bersih*Biaya_Uprati ng_per_m3)) aux Biaya_uprating_PDAM_per_thn_1 = IF(kekurangan_air_bersih_1>=0, 0, ABS(kekurangan_air_bersih_1*Biaya_Upr ating_per_m3_1)) aux Biaya_uprating_PDAM_per_thn_2 = IF(kekurangan_air_bersih_2>=0, 0, ABS(kekurangan_air_bersih_2*Biaya_Upr ating_per_m3_2)) aux Biaya_uprating_PDAM_per_thn_3 = IF(kekurangan_air_bersih_3>=0, 0, ABS(kekurangan_air_bersih_3*Biaya_Upr ating_per_m3_3)) Air_bersih_perpipaan_1 = Produksi_PDAM_1+ABS(kekurangan_air_ bersih_1) aux CRO_hutan = C_hutan*luas_hutan aux CRO_hutan_1 = C_hutan_1*luas_hutan_1 Air_bersih_perpipaan_2 = Produksi_PDAM_2+ABS(kekurangan_air_ bersih_2) aux CRO_hutan_2 = C_hutan_2*luas_hutan_2 aux CRO_hutan_3 = C_hutan_3*luas_hutan_3 aux CRO_Kumulatif = (CRO_hutan+CRO_permukiman+CRO_Ta mbak+CRO_tegalan)/luas_DAS aux CRO_Kumulatif_1 = (CRO_hutan_1+CRO_permukiman_1+CR O_Tambak_1+CRO_tegalan_1)/luas_DAS _1 aux CRO_Kumulatif_2 = (CRO_hutan_2+CRO_permukiman_2+CR O_Tambak_2+CRO_tegalan_2)/luas_DAS _2 aux CRO_Kumulatif_3 = (CRO_hutan_3+CRO_permukiman_3+CR O_Tambak_3+CRO_tegalan_3)/luas_DAS _3 aux Air_bersih_perpipaan_3 = Produksi_PDAM_3+ABS(kekurangan_air_ bersih_3) aux Air_Bersih_perpipaan_eksisting = Produksi_PDAM+ABS(kekurangan_air_be rsih) aux AME_Hotel = ABS(((HotelHotel_Aktual)/Hotel_Aktual)*100%) aux AME_PDDK = ABS(((PendududkPenduduk_Aktual)/Penduduk_Aktual)*100 %) aux AVE_Aktual_Hotel = AVG(Hotel_Aktual, 00) aux AVE_Aktual_pddk = AVG(Penduduk_Aktual, 00) aux CRO_permukiman = C_permukiman*luas_pmrkmn aux AVE_Hotel = ABS((SS_HotelSA_Hotel)/SA_Hotel)*100% aux CRO_permukiman_1 = C_permukiman_1*luas_pmrkmn_1 aux AVE_Hotel_SIM = AVG(Hotel, 00) aux aux AVE_PDDK = ABS((SS_PDDKSA_PDDK)/SA_PDDK)*100% CRO_permukiman_2 = C_permukiman_2*luas_pmrkmn_2 aux aux AVE_PDDK_SIM = AVG(Pendududk, 00) CRO_permukiman_3 = C_permukiman_3*luas_pmrkmn_3 aux Biaya_IPAB_mikro_per_thn_2 = IF(kekurangan_air_bersih_2>=0, 0, ABS(kekurangan_air_bersih_2*biaya_IPA B_mikro_per_m3_2)) aux CRO_Tambak = C_Tambak*Luas_Tambak aux CRO_Tambak_1 = C_Tambak_1*Luas_Tambak_1 aux CRO_Tambak_2 = C_Tambak_2*Luas_Tambak_2 aux CRO_Tambak_3 = C_Tambak_3*Luas_Tambak_3 aux CRO_tegalan = C_tegalan*luas_tegalan aux CRO_tegalan_1 = C_tegalan_1*luas_tegalan_1 aux CRO_tegalan_2 = C_tegalan_2*luas_tegalan_2 aux CRO_tegalan_3 = C_tegalan_3*luas_tegalan_3 aux Biaya_IPAB_mikro_per_thn_3 = IF(kekurangan_air_bersih_3>=0, 0, ABS(kekurangan_air_bersih_3*biaya_IPA B_mikro_per_m3_3)) aux Biaya_Uprating_IPAB_mikro_per_thn = IF(kekurangan_air_bersih>=0, 0, ABS(kekurangan_air_bersih*biaya_IPAB_ mikro_per_m3)) aux Biaya_Uprating_IPAB_mikro_per_thn_1 = IF(kekurangan_air_bersih_1>=0, 0, ABS(kekurangan_air_bersih_1*biaya_IPA B_mikro_per_m3_1)) 170 aux Debit_Model = hujan*CRO_Kumulatif*2789*10 aux Debit_Model_1 = hujan_1*CRO_Kumulatif_1*2789*10 aux Debit_Model_2 = hujan_2*CRO_Kumulatif_2*2789*10 aux Debit_Model_3 = hujan_3*CRO_Kumulatif_3*2789*10 aux f_koef_RO_4 = C_Mukim_4*Pemukiman_4/37370/100 aux Hotel_Aktual = GRAPH(TIME,2001,1,[10,11,10,13,14"Min: 10;Max:14"]) aux IKA_1 = Total_Supply_1/Total_Demand_1 aux IKA_2 = Total_Supply_2/Total_Demand_2 aux IKA_3 = Total_Supply_3/Total_Demand_3 aux IKA_Eksisting = Total_Supply_Eksisting/Total_Demand_Ek sisting aux imbuh_air_tanah = (v_hujan-evaporasiDebit_Model)*40% aux imbuh_air_tanah_1 = (v_hujan_1evaporasi_1-Debit_Model_1)*40% aux imbuh_air_tanah_2 = (v_hujan_2evaporasi_2-Debit_Model_2)*40% aux imbuh_air_tanah_3 = (v_hujan_3evaporasi_3-Debit_Model_3)*40% aux Imbuh_air_tanah_4 = (Vol_Hujan_4RunOff_4-Evaporasi_4) aux IPAB_terpsg_per_thn_2 = ABS(kekurangan_air_bersih_2/kap_ipab_2 ) aux IPAB_terpsg_per_thn_3 = ABS(kekurangan_air_bersih_3/kap_ipab_3 ) aux jumlah_IPAB_terpasang_per_tahun = ABS(kekurangan_air_bersih/kap_ipab) aux jumlah_IPAB_terpasang_per_tahun_1 = ABS(kekurangan_air_bersih_1/kap_ipab_1 ) aux Keb_Hotel = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan, (Hotel*Keb_standar_hotel)*365/1000, ((Hotel*Keb_standar_hotel)((Hotel*Keb_standar_hotel)*Reduse_Reus e))*365/1000) aux aux Keb_Hotel_1 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_1 , (Hotel_1*Keb_standar_hotel_1)*365/1000, ((Hotel_1*Keb_standar_hotel_1)((Hotel_1*Keb_standar_hotel_1)*Reduse_ Reuse_1))*365/1000) Keb_Hotel_2 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_2 , (Hotel_2*Keb_standar_hotel_2)*365/1000, ((Hotel_2*Keb_standar_hotel_2)- ((Hotel_2*Keb_standar_hotel_2)*Reduse_ Reuse_2))*365/1000) aux Keb_Hotel_3 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_3 , (Hotel_3*Keb_standar_hotel_3)*365/1000, ((Hotel_3*Keb_standar_hotel_3)((Hotel_3*Keb_standar_hotel_3)*Reduse_ Reuse_3))*365/1000) aux Keb_Industri = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan, (Industri*keb_standar_ind)*365/1000, ((Industri*keb_standar_ind)((Industri*keb_standar_ind)*Reduse_Reus e_Recycle))*365/1000) aux Keb_Industri_1 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_1 , (Industri_1*keb_standar_ind_1)*365/1000, ((Industri_1*keb_standar_ind_1)((Industri_1*keb_standar_ind_1)*Reduse_ Reuse_Recycle_1))*365/1000) aux Keb_Industri_2 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_2 , (Industri_2*keb_standar_ind_2)*365/1000, ((Industri_2*keb_standar_ind_2)((Industri_2*keb_standar_ind_2)*Reduse_ Reuse_Recycle_2))*365/1000) aux Keb_Industri_3 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_3 , (Industri_3*keb_standar_ind_3)*365/1000, ((Industri_3*keb_standar_ind_3)((Industri_3*keb_standar_ind_3)*Reduse_ Reuse_Recycle_3))*365/1000) aux Keb_Penduduk = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan, (Pendududk*keb_standar_penddk)*365/10 00, ((Pendududk*keb_standar_penddk)((Pendududk*keb_standar_penddk)*Redus e))*365/1000) aux Keb_Penduduk_1 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_1 , (Pendududk_1*keb_standar_penddk_1)*3 65/1000, ((Pendududk_1*keb_standar_penddk_1)((Pendududk_1*keb_standar_penddk_1)* Reduse_1))*365/1000) aux Keb_Penduduk_2 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_2 , (Pendududk_2*keb_standar_penddk_2)*3 65/1000, ((Pendududk_2*keb_standar_penddk_2)((Pendududk_2*keb_standar_penddk_2)* Reduse_2))*365/1000) aux Keb_Penduduk_3 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_3 , (Pendududk_3*keb_standar_penddk_3)*3 65/1000, ((Pendududk_3*keb_standar_penddk_3)((Pendududk_3*keb_standar_penddk_3)* Reduse_3))*365/1000) 171 aux aux aux aux aux Total_Demand_1 = Keb_Penduduk_1+Keb_Hotel_1+Keb_Ind ustri_1 aux Total_Demand_2 = Keb_Penduduk_2+Keb_Hotel_2+Keb_Ind ustri_2 aux Total_Demand_3 = Keb_Penduduk_3+Keb_Hotel_3+Keb_Ind ustri_3 kekurangan_air_bersih_2 = IF((Produksi_PDAM_2(persen_terlayani_2*Keb_Penduduk_2)>= 0), 0, (Produksi_PDAM_2(persen_terlayani_2*Keb_Penduduk_2))) aux Total_Demand_Eksisting = Keb_Penduduk+Keb_Hotel+Keb_Industri aux Total_Supply_1 = Ketersediaan_Alami_1+Air_bersih_perpipa an_1 kekurangan_air_bersih_3 = IF((Produksi_PDAM_3(persen_terlayani_3*Keb_Penduduk_3)>= 0), 0, (Produksi_PDAM_3(persen_terlayani_3*Keb_Penduduk_3))) aux Total_Supply_2 = Ketersediaan_Alami_2+Air_bersih_perpipa an_2 aux Total_Supply_3 = Ketersediaan_Alami_3+Air_bersih_perpipa an_3 aux Total_Supply_Eksisting = Air_Bersih_Alami+Air_Bersih_perpipaan_e ksisting const biaya_intesif_per_ha = 5000000 const biaya_intesif_per_ha_1 = 5000000 const biaya_intesif_per_ha_2 = 5000000 const biaya_intesif_per_ha_3 = 5000000 const biaya_IPAB_mikro_per_m3 = 643 const biaya_IPAB_mikro_per_m3_1 = 643 const biaya_IPAB_mikro_per_m3_2 = 643 const biaya_IPAB_mikro_per_m3_3 = 643 Produksi_PDAM = (IPA_eksisting*86400*30*12/1000)((IPA_eksisting*86400*30*12/1000)*perse n_losses) const biaya_reboisasi_per_ha = 1500000 const biaya_reboisasi_per_ha_1 = 1500000 const biaya_reboisasi_per_ha_2 = 1500000 Produksi_PDAM_1 = (IPA_eksisting_1*86400*30*12/1000)((IPA_eksisting_1*86400*30*12/1000)*per sen_losses_1) const biaya_reboisasi_per_ha_3 = 1500000 const biaya_sumur_per_ha = 500000 const biaya_sumur_per_ha_1 = 500000 const biaya_sumur_per_ha_2 = 500000 const biaya_sumur_per_ha_3 = 500000 const biaya_terasering_per_ha = 1000000 const biaya_terasering_per_ha_1 = 1000000 const biaya_terasering_per_ha_2 = 1000000 const biaya_terasering_per_ha_3 = 1000000 kekurangan_air_bersih = IF((Produksi_PDAM(persen_terlayani*Keb_Penduduk)>=0), 0, (Produksi_PDAM(persen_terlayani*Keb_Penduduk))) kekurangan_air_bersih_1 = IF((Produksi_PDAM_1(persen_terlayani_1*Keb_Penduduk_1)>= 0), 0, (Produksi_PDAM_1(persen_terlayani_1*Keb_Penduduk_1))) aux Neraca_1 = Total_Supply_1Total_Demand_1 aux Neraca_2 = Total_Supply_2Total_Demand_2 aux Neraca_3 = Total_Supply_3Total_Demand_3 aux aux aux aux aux aux aux Neraca_Eksisting = Total_Supply_EksistingTotal_Demand_Eksisting Penduduk_Aktual = GRAPH(TIME,2001,1,[41302,45762,51533 ,53514,60077,63707,70023,76671,85028" Min:40000;Max:100000"]) persen = (Produksi_PDAM/Keb_Penduduk)*100 Produksi_PDAM_2 = (IPA_eksisting_2*86400*30*12/1000)((IPA_eksisting_2*86400*30*12/1000)*per sen_losses_2) Produksi_PDAM_3 = (IPA_eksisting_3*86400*30*12/1000)((IPA_eksisting_3*86400*30*12/1000)*per sen_losses_3) aux RunOff_4 = CRO_Mukim_4*Hujan_4*37370*10 const Biaya_Uprating_per_m3 = 1159.5 aux SA_Hotel = ((AVE_Aktual_HotelHotel_Aktual)^2)/5 const Biaya_Uprating_per_m3_1 = 1159.5 const Biaya_Uprating_per_m3_2 = 1159.5 aux SA_PDDK = ((AVE_Aktual_pddkPenduduk_Aktual)^2)/5 const Biaya_Uprating_per_m3_3 = 1159.5 aux SS_Hotel = ((AVE_Hotel_SIM-Hotel)^2)/5 const aux SS_PDDK = ((AVE_PDDK_SIMPendududk)^2)/5 C_hutan_eksisting_2 = 0.35,C_hutan_eksisting_3 = 0.35, C_hutan_eksisting_4 = 0.35, C_hutan_eksisting_5 = 0.35 172 const C_Permukiman_eksisting = 0.75,C_Permukiman_eksisting_1 = 0.75, C_Permukiman_eksisting_2 = 0.75,C_Permukiman_eksisting_3 = 0.75 const C_Tambak_eksisting = 0.7,C_Tambak_eksisting_1 = 0.7,C_Tambak_eksisting_2 = 0.7,C_Tambak_eksisting_3 = 0.7 const C_tegalan_eksisting = 0.4,C_tegalan_eksisting_1 = 0.4,C_tegalan_eksisting_2 = 0.4,C_tegalan_eksisting_3 = 0.4 const const const const evaporasi = 1700/1000*2789*10000 evaporasi_1 = 1700/1000*2789*10000 evaporasi_2 = 1700/1000*2789*10000 evaporasi_3 = 1700/1000*2789*10000 const f_pemukiman_4 = 1.534% const hujan = 3705.65,hujan_1 = 3705.65,hujan_2 = 3705.65,hujan_3 = 3705.65 const luas_tegalan = 1396,luas_tegalan_1 = 1396,luas_tegalan_2 = 1396,luas_tegalan_3 = 1396 const pencemaran = 20%,pencemaran_1 = 20%,pencemaran_2 = 20%,pencemaran_3 = 20% const persen_htl = 2%,persen_htl_1 = 2%, persen_htl_2 = 2%, persen_htl_3 = 2% const persen_industri = 1%,persen_industri_1 = 1%,persen_industri_2 = 1%, persen_industri_3 = 1% const persen_losses = 30%,persen_losses_1 = 30%,persen_losses_2 = 30%,persen_losses_3 = 30% const persen_pertumbuhan = 9%,persen_pertumbuhan_1 = 9%, persen_pertumbuhan_2 = 9%,persen_pertumbuhan_3 = 9% const persen_terlayani = 0,persen_terlayani_1 = 0,persen_terlayani_2 = 60%,persen_terlayani_3 = 80% const persentase_intesifikasi = 0,persentase_intesifikasi_1 = 0,persentase_intesifikasi_2 = 0,persentase_intesifikasi_3 = 0 const persentase_jumlah_sumur = 0,persentase_jumlah_sumur_1 = 5,persentase_jumlah_sumur_2 = 10,persentase_jumlah_sumur_3 = 10 const persentase_reboisasi = 0,persentase_reboisasi_1 = 5,persentase_reboisasi_2 = 5,persentase_reboisasi_3 = 10 const persentase_terasering = 0,persentase_terasering_1 = 2,persentase_terasering_2 = 2,persentase_terasering_3 = 3 const Reduse = 10%,Reduse_1 = 0, Reduse_2 = 10%,Reduse_3 = 10%, const Reduse_Reuse = 10%,Reduse_Reuse_1 = 0,Reduse_Reuse_2 = 10%,Reduse_Reuse_3 = 10% const Reduse_Reuse_Recycle = 10%,Reduse_Reuse_Recycle_1 = 0, Reduse_Reuse_Recycle_2 = 10%, Reduse_Reuse_Recycle_3 = 10% const const const const Thn_Skenario_Konservasi = 5000 Thn_Skenario_Konservasi_1 = 2013 Thn_Skenario_Konservasi_2 = 2013 Thn_Skenario_Konservasi_3 = 2013 const const const const Thn_Skenario_Penghematan = 5000 Thn_Skenario_Penghematan_1 = 2013 Thn_Skenario_Penghematan_2 = 2013 Thn_Skenario_Penghematan_3 = 2013 const IPA_eksisting = 155 doc IPA_eksisting = IPA Persemaian (155 liter/det) const IPA_eksisting_1 = 155 doc IPA_eksisting_1 = IPA Persemaian (155 liter/det) const IPA_eksisting_2 = 155 doc IPA_eksisting_2 = IPA Persemaian (155 liter/det) const IPA_eksisting_3 = 155 doc IPA_eksisting_3 = IPA Persemaian (155 liter/det) const kap_ipab = 155520, kap_ipab_1 = 155520, kap_ipab_2 = 155520,kap_ipab_3 = 155520 const const const const Keb_standar_hotel = 50000 Keb_standar_hotel_1 = 50000 Keb_standar_hotel_2 = 50000 Keb_standar_hotel_3 = 50000 const const const const keb_standar_ind = 100000 keb_standar_ind_1 = 100000 keb_standar_ind_2 = 100000 keb_standar_ind_3 = 100000 const const const const keb_standar_penddk = 150 keb_standar_penddk_1 = 150 keb_standar_penddk_2 = 150 keb_standar_penddk_3 = 150 const luas_DAS = 2789,luas_DAS_1 = 2789, luas_DAS_2 = 2789,luas_DAS_3 = 2789 const luas_hutan = 448,luas_hutan_1 = 448, luas_hutan_2 = 448,luas_hutan_3 = 448 const luas_pmrkmn = 414,luas_pmrkmn_1 = 414,luas_pmrkmn_2 = 414,luas_pmrkmn_3 = 414 const v_hujan = 3705.65/1000*2789*10000 const v_hujan_1 = 3705.65/1000*2789*10000 Luas_Tambak = 531,Luas_Tambak_1 = 531,Luas_Tambak_2 = 531,Luas_Tambak_3 = 531 const v_hujan_2 = 3705.65/1000*2789*10000 const v_hujan_3 = 3705.65/1000*2789*10000 const 173 Lampiran 6 Rencana Anggaran Biaya IPAB Mikro Kap.6 liter/detik No URAIAN PEKERJAAN SATUAN VOLUME HARGA JUMLAH SATUAN I. PEKERJAAN PERSIAPAN 1. Pembersihan lapangan m² 60.00 2. Pekerjaan laporan dokumentasi LS - - 1,200,000.00 4. Sampling/Test Air Baku LS - - 800,000.00 22,224.95 1,333,497.00 JUMLAH 3,333,497.00 II. PEKERJAAN LANTAI BETON PONDASI IPA MIKRO TNE m³ 6.00 506,229.90 3,037,379.40 2. Pembesian Besi Polos Kg 323.73 10,541.85 3,412,713.10 3. Pek. Beton Tumbuk 1 pc : 3 ps : 5 kr m³ 6.38 504,334.60 3,217,654.75 4. Pek. Plesteran 1 pc : 4 ps m² 30.00 31,508.84 945,265.20 5. Pek. Bekisting m² 8.65 158,248.20 1. Pek. Beton Bertulang 1 pc : 2 ps : 3 kr JUMLAH 1,368,846.93 11,981,859.38 III. PEKERJAAN RUMAH PENUTUP IPA MIKRO ITB TNE 1. Pek. Atap & Rangka Penutup Kanopi Polycarbonat m² 42.75 250,000.00 10,687,500.00 2. Pek. Pas. Angkur mur baud 20 mm bh 32.00 30,000.00 960,000.00 3. Pek. Pas Batu Bata 1 pc : 5 ps m² 23.00 54,926.30 1,263,304.90 4. Pek. Plesteran 1 pc : 4 ps m² 50.60 27,137.00 1,373,132.20 5. Pek. Dinding Pagar BRC m' 23.60 155,712.81 3,674,822.32 6. Pek. Pintu Rumah IPA bh 1.00 500,000.00 500,000.00 7. Pek. Pengecatan Dinding Rumah IPA m² 50.60 56,149.50 2,841,164.70 JUMLAH 21,299,924.12 IV. PEKERJAAN PEMASANGAN IPA MIKRO TNE 1. IPA Mikro Kap. 5 liter/det bh 1.00 80,000,000.00 80,000,000.00 2. Genset Kap. 2000 Watt bh 1.00 4,000,000.00 4,000,000.00 3. Pek. Bangunan Intake LS 4. Trial Run & Training LS 1,500,000.00 2,500,000.00 JUMLAH 88,000,000.00 JUMLAH (I+II+III+IV) No 124,615,280.49 Uraian 1 Biaya Pemasangan Kap. 6 liter/det 2 Air bersih yang dihasilkan Jumlah Jiwa Terlayani (150 liter/org/hari) Jumlah KK Terlayani (5 Org/KK) Satuan Rp. m3/thn Jiwa Jumlah 125,000,000.00 186,624.00 3,456.00 KK 691.00 3 Biaya pengadaan IPA Rp/m3 670.00 4 Biaya Operasional Rp/m3 1,496.00 5 Tarif Air Bersih Rp/m3 1,350.00 6 Willingness To Pay Rp/m3 2,200.00 174 Lampiran 7 Rencana Anggaran Biaya Uprating IPA PDAM No. 1 UP-RATING IPA KAP 100 L/DT MENJADI 300 L/DT Harga Satuan (Rp) Unit Volume buah 32.00 720,000 23,040,000 m3 31.73 3,736,966 118,555,246 m3 6.72 3,736,966 Pekerjaan konstruksi beton bertulang K 225/U24-32 1.1 Pre cast V blok( filter bottom) K225/U32 1.2 Balok Melayang disedimentasi 1.3 Pengaku Bag luar sedimentasi Sub Total 1 2 25,112,412 166,707,658 Bobokan dan memotong konstruksi beton bertulang di unit flokulator,sedimentasi dan filter ls 1.00 25,000,000 Sub Total 2 3 Jumlah (Rp.) 25,000,000 25,000,000 Pekerjaan baja tahan karat 3.1 Influent Sedimentasi (plat baja SS 304,t=3mm) lembar 22.5 7,830,000 176,175,000 3.2 Effluent Sedimentasi( plat baja SS 304 , t = 3 mm) lembar 22.5 7,830,000 176,175,000 3.3 Floculated Water Chanel ( plat baja SS 304, t = 3mm) lembar 462.5 7,830,000 3,621,375,000 3.4 Pengatur jarak Plat setller ( SS 304, 30x15x15mm, t =1mm) lembar 0 3,132,000 - 3.5 Gutter berlubang plat baja tahan karat 30cmx14,5 m t=3mm unit 14 12,214,800 171,007,200 3.6 Pipa SS 304 ND 1 " bt 326 1,250,000 407,500,000 3.7 Penyesuaian spindel penstok flokulator dan effluent filter box unit 6 8,000,000 48,000,000 3.8 Penstock 1x1m lengkap dg spindel dan floor colum unit 3 50,000,000 150,000,000 Sub total 3 4 4,750,232,200 Pekerjaan settler dan filter (pengadaan dan pemasangan ) 4.1 Settler SS 304 1,2 mx 4,8 m t=0,5 mm. 4.2 Media filter lembar 1,630 2,746,601 4,476,959,630 4.3 4.4 Gravel dia 5mm s/d 10 mm m3 12.72 8,100,000 103,032,000 Pasir silika dia 0.85 mm s/d 1.4 mm m3 63.60 5,400,000 Sub total 4 5 5.1 343,440,000 4,923,431,630 E/M Flow meter elektro magnetic drive Nd 500 mm termasuk unit inlet unit 1.00 450,000,000 450,000,000 ke flokulator ND 700 5.2 Perpipaan drain unit inlet sedimentasi ND 150 mm unit 4.00 26,000,000 104,000,000 5.3 Perpipaan unit out-let effluen filter/inlet reservoar ND 500 mm unit 2.00 200,000,000 400,000,000 No Uraian 1 Biaya Uprating IPA 100-300 ltr/det 2 Air bersih yang dihasilkan Jumlah Jiwa Terlayani (150 liter/org/hari) Jumlah KK Terlayani (5 Org/KK) Sub total 5 954,000,000 TOTAL 10,819,371,488 Satuan Rp. m3/thn Jumlah 10,819,371,488.00 9,331,200.00 Jiwa 172,800.00 KK 34,560.00 3 Biaya per m3 Rp/m3 1,159.00 4 Biaya Operasional Rp/m3 2,350.00 5 Tarif Air Bersih Rp/m3 1,350.00 6 Willingness To Pay Rp/m3 2,200.00 ABSTRACT EMIL AZMANAJAYA. Sustainable Water Supply Modelling in Small Island (Case Study : Tarakan Island, East Kalimantan). Under direction of SURJONO H. SUTJAHJO, ASEP SAPEI, D. DJOKOSETIYANTO, and BAMBANG PRAMUDYA N. This research was conducted in all areas of water services of Tarakan Island that is West Tarakan, Central Tarakan, East Tarakan and North Tarakan, in October 2010 to October 2011. The main objective of this research is to build a model of sustainable water supply in the small island of Tarakan City with the scope of the study. To achieve these goals, then do some studies, that are : (1) analysis of water needs for domestic, industrial and hospitality, (2) analysis of water availability based on service taps and clean water naturally through augmentation of ground water, (3) analysis of the sustainability of water supply, (4) to design strategies for water supply, and (5) to design a model for water supply. Water demand analysis method is done by projecting development of population growth, industrial and hotel in the city of Tarakan. Analysis of services water is done by calculating the capacity of water treatment plant service taps, analysis of natural water availability is done by increasing ground water augmentation through rain water conservation with infiltration wells, reforestation and terracing. Analysis of the sustainability of water supply using the method of multidimensional scaling (MDS) called RAP-TARAKAN, Montecarlo analysis and prospective analysis. Analysis of water supply strategies performed using the method of analytical hierarchy process (AHP), SWOT analysis and the analysis of interpretative structural modeling (ISM). Water supply model using a dynamic system through software powersim constructor 2.5c. The results showed that the status of the environmental dimension of sustainability is less sustainable (31.8%), sustainable on economic dimension (88.24%), sustained enough on the legal dimensions of institutional (74.21%) and social dimensions (52.25%). While the dimensions of the infrastructure and technology are not sustainable (20.14%). In multi-dimensional, water supply of Tarakan City is sufficient sustainable (52.38%). During the period of the year 2001 - 2030, the East and West Tarakan potential water crisis whereas North and Central Tarakan no potential water crisis. But the piping water service (PDAM) in all districts do not fulfill clean water requirements in terms of quantity, so it needs to be improved with the improvement of services through the construction of water conservation and micro water treatment plant (Micro IPAB). Key words: Tarakan, water supply, a small island. RINGKASAN EMIL AZMANAJAYA. Model Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan di Pulau Kecil (Studi Kasus : Pulau Tarakan, Kalimantan Timur). Dibimbing oleh SURJONO H. SUTJAHJO, ASEP SAPEI, D. DJOKOSETIYANTO, dan BAMBANG PRAMUDYA N. Pulau Tarakan merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di pantai timur provinsi Kalimantan Timur. Posisi geografis yang strategis, menyebabkan pertumbuhan Pulau Tarakan sudah berubah dari skala desa menjadi skala kota. Dalam rangka pencapaian target penyediaan air bersih MDG’s 2015, Kota Tarakan perlu ditunjang oleh sistem penyediaan air bersih yang cocok berdasarkan potensi yang ada di wilayah Pulau Tarakan. Penelitian ini dilakukan di seluruh wilayah pelayanan air bersih Pulau Tarakan yaitu Tarakan Barat, Tarakan Tengah, Tarakan Timur dan Tarakan Utara, pada bulan Oktober 2010 sampai Oktober 2011. Tujuan utama penelitian ini adalah membangun model penyediaan air bersih secara berkelanjutan di pulau kecil dengan lingkup studi Kota Tarakan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dilakukan beberapa kajian yaitu : (1) analisis kebutuhan air bersih untuk sektor domestik, perhotelan dan industri, (2) analisis ketersediaan air bersih berdasarkan pelayanan PDAM dan air bersih alami melalui imbuhan air tanah, (3) analisis tingkat keberlanjutan penyediaan air bersih, (4) merancang strategi penyediaan air bersih, dan (5) merancang model penyediaan air bersih. Metode analisis kebutuhan air bersih dilakukan dengan cara memproyeksikan perkembangan pertumbuhan penduduk, industri dan hotel di Kota Tarakan. Analisis ketersediaan air bersih perpipaan dilakukan dengan cara menghitung kapasitas layanan instalasi pengolahan air bersih PDAM, sedangkan ketersediaan air bersih alami dillakukan dengan cara meningkatkan imbuhan air tanah melalui konservasi air hujan yaitu pembuatan sumur resapan, reboisasi dan terasering. Analisis tingkat keberlanjutan penyediaan air bersih menggunakan metode multidimensional scalling (MDS) yang disebut RAPTARAKAN, analisis montecarlo dan analisis prospektif. Analisis strategi penyediaan air bersih dilakukan menggunakan metode analytical hierarchy process (AHP), analisis SWOT dan analisis interpretative structural modelling (ISM). Model penyediaan air bersih menggunakan sistem dinamis melalui software powersim constructor 2.5c. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status keberlanjutan dimensi lingkungan kurang berkelanjutan (31,8%), dimensi ekonomi berkelanjutan (88,24%), cukup berkelanjutan pada dimensi hukum kelembagaan (74,21%) dan dimensi sosial (52,25%). Sedangkan dimensi infrastruktur dan teknologi tidak berkelanjutan (20,14%). Secara multi dimensi, penyediaan air bersih Kota Tarakan cukup berkelanjutan (52,38%) dengan 13 atribut yang sensitif berpengaruh dalam meningkatkan indeks keberlanjutan. Atribut-atribut tersebut terbagi atas 3 atribut pada dimensi lingkungan, 3 atribut pada dimensi ekonomi, 2 atribut pada dimensi sosial dan budaya, 3 atribut pada dimensi infrastruktur dan teknologi, dan 2 atribut pada dimensi hukum dan kelembagaan. Untuk meningkatkan status keberlanjutan ke depan (jangka panjang), skenario yang perlu dilakukan untuk meningkatkan status penyediaan air bersih di Pulau Tarakan adalah skenario progesif-optimistik dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap semua atribut yang sensitif, minimal 3 atribut faktor kunci yang dihasilkan dalam analisis prospektif, sehingga semua dimensi menjadi berkelanjutan untuk sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan. Masyarakat Kota Tarakan masih menaruh harapan yang tinggi kepada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Dharma sebagai penyedia air bersih Kota Tarakan. Adapun rumusan strategi pengembangan pelayanan air bersih di Kota Tarakan adalah Strategi Kekuatan – Peluang yaitu (1) Memanfaatkan/menerapkan teknologi penyediaan air bersih yang sudah ada untuk daerah-daerah yang belum terlayani air bersih oleh pemerintah/PDAM sebagai alternatif dalam penyediaan air bersih dengan menggunakan konsep cluster yang memanfaatkan air hujan/permukaan. (2) Melakukan konservasi pada land use melalui kegiatan reboisasi, pembuatan sumur resapan, terasering, dan embung-embung penangkap air hujan untuk menjaga kelestarian sumber air baku. (3) Mendorong PDAM sebagai penyedia air besih untuk terus meningkatkan kapasitas layanan melalui pengurangan persentase kebocoran dan peningkatan kapasitas IPA, sehingga semakin banyak masyarakat ingin berlangganan air bersih PDAM. (4) Memanfaatkan program pemberdayaan masyarakat dari koorporasi (CSR). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta permintaan air bersih yang terus meningkat, memungkinkan bagi masyarakat sanggup untuk mengelola sendiri sistem penyediaan air bersih di wilayahnya melalui program pendampingan dari koorporasi. (5) Menerapkan, menata dan menjaga suatu kawasan sesuai dengan fungsinya, berdasarkan atas komitmen Pemerintah Kota Tarakan yang diuraikan dalam RTRW Tarakan. Hasil analisis sistem dinamik, selama kurun simulasi tahun 2001 – 2030, wilayah Tarakan Barat dan Timur berpotensi mengalami krisis air bersih sedangkan Tarakan Utara dan Tengah tidak berpotensi krisis air bersih. Namun pelayanan air bersih perpipaan (PDAM) diseluruh wilayah kecamatan tidak memenuhi kebutuhan air bersih secara kuantitas, sehingga perlu ditingkatkan dengan peningkatan pelayanan melalui konservasi air dan pembangunan instalasi pengolahan air mikro (IPAB Mikro). Kata kunci : pulau kecil, Pulau Tarakan, penyediaan air bersih. 1 1.1 PENDAHULUAN Latar Belakang Air merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki fungsi sangat penting bagi kehidupan dan perikehidupan manusia, serta untuk memajukan kesejahteraan umum dan berperan sebagai faktor utama pembangunan. Untuk itu air perlu dilindungi agar dapat tetap bermanfaat bagi manusia serta mahluk hidup lainnya. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa air memiliki peran yang sangat strategis dan harus tetap tersedia dan lestari, sehingga mampu mendukung kehidupan dan pelaksanaan pembangunan dimasa kini maupun dimasa mendatang. Indonesia negara kepulauan, tidak bisa dipisahkan dengan air. Potensi sumberdaya pesisir dan lautan tersebar di sekitar 13.487 buah pulau dan 95.181 km panjang pantai di kepulauan Indonesia. Pulau-pulau ini mempunyai nilai penting dari sisi politik, sosial, ekonomi, budaya dan pertahanan keamanan Indonesia. Tiga belas ribu lebih pulau tersebut disatukan oleh 3,1 juta km2 perairan teritorial. Sumber air berasal dari gunung, sungai, danau dan laut. Banyak kota yang dibangun didekat sumber-sumber air tersebut, hampir 300 kabupaten dan kotamadya dari 472 tersebar di pesisir, sisanya berada di daerah aliran sungai dan pegunungan. Selain memiliki kelebihan strategis, pulau kecil juga memiliki kekurangan, salah satunya adalah keterbatasan air yang menjadi kendala dalam upaya pengembangan kegiatan di pulau kecil. Definisi sebuah “pulau samudera” pada dekade 70an oleh IHP-UNESCO dinyatakan sebagai pulau yang berukuran kurang dari 10.000 km2. Namun karena alasan kepraktisan berdasar permasalahan yang dihadapi para peneliti air dari berbagai penjuru dunia maka ditetapkan dalam UU No.27/2007 untuk memakai nama “pulau kecil” yang didefinisikan sebagai pulau dengan ukuran luas kurang dari 2000 km2. Selanjutnya ada pembagian jenis pulau yang lebih rinci menjadi “pulau sangat kecil” untuk pulau yang luasnya kurang dari 200 km2. Sebagai salah satu sumberdaya alam, air di muka bumi tidak terdapat secara merata. Distribusi air dari satu tempat ke tempat lain di muka bumi berbeda-beda menurut ruang dan waktu. Banyak daerah yang mempunyai potensi air yang cukup, tetapi tidak jarang dijumpai daerah-daerah yang mempunyai potensi air yang sangat kecil, bahkan pada waktu- waktu tertentu mengalami kekurangan air. 2 Ketersediaan sumber daya air di pulau kecil sangat rentan akibat perubahan kualitas air oleh intrusi air laut. Dalam UU No.7/2004 tentang Sumber Daya Air telah ditetapkan bahwa air di pulau kecil atau gabungan beberapa pulau kecil wajib dikelola sebagai satu kesatuan wilayah. Agar penyelamatan sumber daya air di sebuah wilayah sungai dapat berhasil, ditetapkan pola pengelolaan air yang lazim memakai kebijakan “satu wilayah sungai, satu kebijakan, satu perencanaan pengelolaan”. Menurut UU No.7/2004, sebuah wilayah sungai (WS) dapat terdiri dari satu atau gabungan dari beberapa pulau kecil. Dengan ketetapan ini berarti bahwa pulau-pulau kecil juga perlu dilengkapi dengan sebuah rencana pengelolaan air. Pertambahan penduduk yang tinggi diikuti dengan pertumbuhan ekonomi serta perkembangan industri yang banyak menggunakan lahan dan air menyebabkan kelangkaan air semakin meningkat. Sumber-sumber air tercemar karena limbah yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi dan industri, menyebabkan kualitas air yang bisa langsung dicerna dan dikonsumsi oleh penduduk semakin sedikit. Dibutuhkan suatu badan dan sistem pengelolaan dan penyediaan air baku untuk dikelola menjadi air bersih yang dapat didistribusikan kepada penduduk. Perkembangan Kota Tarakan sebagai pintu gerbang kedua Kalimantan Timur setelah Kota Balikpapan bagi lalu lintas pelayaran dan penerbangan menyebabkan daya tarik bagi masyarakat daerah sekitarnya sehingga menyebabkan kepadatan penduduk menjadi meningkat. Industri, dunia usaha dan masyarakat membutuhkan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Pulau Tarakan yang berbatasan dengan lautan mengakibatkan rentannya kondisi/kualitas air tanah maupun air permukaan. Rendahnya cakupan pelayanan air bersih menyebabkan industri dan masyarakat mengunakan air tanah sehingga terjadi penurunan muka air tanah bahkan penurunan muka tanah di beberapa tempat di Pulau Tarakan. Kompleksitas permasalahan yang menjadi latar belakang penelitian model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil dapat dilihat pada Gambar 1. Berdasarkan kompleksitas permasalahan tersebut maka Kota Tarakan perlu memiliki strategi dalam penyediaan air bersih. 3 Gambar 1 Kompleksitas permasalahan 1.2 Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah membangun model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil dengan lingkup studi Kota Tarakan. Guna mencapai tujuan tersebut, maka pada penelitian ini akan dilakukan berbagai kajian yang akan mendukung penelitian, yaitu: a) Menganalisis kebutuhan air bersih untuk sektor domestik, perhotelan dan industri. b) Menganalisis ketersediaan air bersih berdasarkan pelayanan PDAM dan air bersih alami melalui imbuhan air tanah. c) Menganalisis tingkat keberlanjutan penyediaan air bersih. d) Merancang bangun strategi penyediaan air bersih. e) Merancang bangun suatu model penyediaan air bersih berdasarkan pendekatan sistem dengan memperhatikan aspek lingkungan fisik dan sosial, teknologi, kelembagaan, aspek keuangan, tingkat pelayanan dan efisiensi pengelolaan. 1.3 Kerangka Pemikiran Pulau Tarakan sebagai salah satu wilayah kepulauan hingga saat ini sedang giat melaksanakan pembangunan diberbagai sektor. Dalam proses 4 melaksanakan pembangunan yang bertujuan untuk pengembangan daerah perkotaan, pemerintah Kota Tarakan dalam hal ini sebagai pemrakarsa kegiatan menghadapi beberapa kendala atau permasalahan dalam pelaksanaan program tersebut. Beberapa kendala atau permasalahan yang hingga kini memerlukan pemecahan baik secara pendekatan persuasif maupun dengan mengadakan kegiatan fisik, antara lain : a) Tingkat pertumbuhan penduduk yang sangat cepat dalarn kurun waktu yang sangat pendek dengan penyebaran di wilayah kota yang tidak merata. b) Masih terdapat daerah pemukiman penduduk yang dibawah standar (kumuh) dalam jumlah dan luas yang cukup besar. c) Penyediaan sarana dan prasarana kota yang masih belum seimbang dengan jumlah penduduk. d) Kurang koordinasi antara pihak-pihak terkait dalam hal ini pemerintah daerah dalam merumuskan suatu kegiatan pembangunan dan pengembangan kota. e) Sumber daya manusia. Dengan meningkatnya pertumbuhan perekonomian dan bidang lainnya maka memacu pertumbuhan penduduk di Kota Tarakan tersebut. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Kota Tarakan sudah tentu kebutuhan akan air bersih untuk masyarakat semakin meningkat. Kebutuhan akan air bersih adalah kebutuhan pokok bagi masyarakat Kota Tarakan sehingga pemerintah sudah seharusnya menyediakan kebutuhan akan air baku untuk masyarakat Kota Tarakan guna mendukung kesejahteraan masyarakat Kota Tarakan. Diantara pulau-pulau kecil, baik di Indonesia bagian Timur maupun Barat, penyediaan air bersih baik di musim kemarau maupun di musim hujan masih merupakan persoalan yang sulit dan harus segera ditangani. Persoalan ini semakin kompleks apabila penyediaan air dikaitkan dengan rencana pengembangan wilayah terpadu yang meliputi daerah permukiman, daerah kegiatan industri, perdagangan, lalu lintas maritim, hankamnas dan lainnya. Strategi pengelolaan pulau kecil harus diupayakan agar sumber daya air yang tersedia tidak akan dipakai melebihi batas daya dukungnya. Permasalahan ini mempunyai aspek yang kompleks dan unik karena kondisi alam dan dinamika sosial, ekonomi dan lingkungan setempat. Perhatian pemerintah Indonesia kepada masalah sumber daya air sebenarnya telah cukup besar namun saat ini masih terkonsentrasi di pulau- 5 pulau besar berpenduduk padat. Hal tersebut tercermin dari banyaknya instansi atau lembaga yang menangani permasalahan air. Namun penanganan khusus sumber daya air di pulau-pulau kecil yang berada di lingkungan lautan dan samudra dirasakan masih belum cukup memadai. Hal tersebut menunjukkan akumulasi permasalahan pengelolaan sumber daya air yang memerlukan penanganan segera secara terintegrasi dan simultan. Penanganan terhadap permasalahan krusial tersebut selama ini masih dilakukan secara parsial tanpa sistem mengakibatkan tidak yang terkoordinasi dengan tercapainya solusi yang holistik baik, sehingga dan berkelanjutan (sustainable). Penanganan permasalahan pengelolaan sumber daya air tersebut membutuhkan pendekatan sistem, kebijakan/regulasi, teknologi dan dukungan pembiayaan. Kerangka pemikiran penelitian model pengelolaan air bersih di Kota Tarakan dapat dilihat pada Gambar 2. Berdasarkan kondisi dan permasalahan tersebut di atas, maka perlu dikembangkan suatu model terintegrasi yang meliputi prosedur perencanaan, pengembangan sistem dan teknologi pengolahan air bersih, serta kelembagaan, pembiayaan, dan peran serta masyarakat. Gambar 2 Kerangka Pemikiran 6 1.4 Perumusan Masalah Kawasan pesisir dan pulau kecil yang dicirikan dengan tingkat pembangunan yang pesat dan pertumbuhan penduduk yang tinggi, air bersih merupakan barang yang langka dan mahal. Karena selain disebabkan oleh semakin tingginya kebutuhan akan air, juga terjadi penurunan kualitas dan kuantitas air. Penggunaan air di kawasan perkotaan di pulau kecil antara lain adalah untuk air minum (permukiman), industri, usaha perkotaan (perdagangan/pertokoan), transportasi dan lainnya. Melihat besarnya peran dan fungsi air serta untuk mengantisipasi semakin tingginya kebutuhan air khususnya air bersih di pulau kecil, maka perencanaan sumber daya air harus mendapat perhatian yang serius. Karena perencanaan sumber daya air merupakan salah satu faktor utama dalam pemenuhan kebutuhan air bersih di pulau kecil. Pada saat ini dipastikan kinerja pelayanan air bersih di pulau kecil masih sangat kurang terutama di kawasan kota. Jika dicermati ada beberapa permasalahan besar yang terkait dengan perencanaan air di pulau kecil, seperti : (1) sumber air baku untuk air bersih di pulau kecil mengalami penurunan baik kualitas dan kuantitas, (2) kebutuhan air yang terus meningkat sejalan dengan peningkatan pembangunan dan pertumbuhan penduduk, (3) rendahnya cakupan pelayanan air bersih, kinerja pengelolaan sistem air bersih yang menurun akibat tingginya kebocoran, (4) biaya operasional dan umur instalasi, dan (5) alih fungsi lahan yang menyebabkan lahan untuk konservasi air semakin sedikit. Dengan demikian diperlukan kajian mendalam mengenai model penyediaan air bersih di pulau kecil secara berkelanjutan. Beberapa pertanyaan penelitian yang merupakan inti permasalahan penyediaan air bersih pulau kecil adalah : 1) Bagaimana kondisi dan potensi air bersih yang dapat dimanfaatkan untuk penyediaan air bersih di pulau kecil? Apakah sumber air baku tersebut layak dan cukup? 2) Bagaimana sarana penyediaan air bersih yang paling cocok untuk pulau-pulau kecil? 3) Model penyediaan air bersih yang bagaimanakah yang tepat di pulau kecil? Berapa investasinya? Serta bagaimana kebijakan pengelolaannya sehingga bisa berkelanjutan? Perumusan masalah penelitian model pengelolaan air bersih pada pulau kecil di Kota Tarakan dapat dilihat secara sistematis pada Gambar 3. 7 1.5 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi berupa konsep model penyediaan air bersih di pulau kecil. Penelitian ini secara praktis bermanfaat: 1) Sebagai alternatif pemecahan masalah dalam penyediaan air bersih di pulau kecil secara komprehensif. 2) Sebagai usulan bagi stakeholder dalam membuat strategi dalam perencanaan penyediaan air bersih di pulau-pulau kecil. Gambar 3 Perumusan Masalah 1.6 Kebaruan (novelty) Penelitian penyediaan dan pengelolaan air bersih di pulau kecil belum pernah dilakukan dengan pendekatan sistem secara menyeluruh dengan melibatkan aspek lingkungan (pengembangan sumber air baku), aspek ekonomi (tarif air bersih yang layak), aspek teknologi (pengembangan teknologi instalasi air bersih skala mikro), aspek hukum-kelembagaan (pengembangan kelembagaan air bersih) dan aspek sosial (peningkatan pelayanan air bersih masyarakat). Berdasarkan hal tersebut, kebaruan dari penelitian ini adalah dihasilkannya rekomendasi kebijakan penyediaan air bersih di pulau kecil khususnya Kota Tarakan. 3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini direncanakan dilaksanakan selama satu tahun mulai pada bulan Oktober 2010 sampai bulan Oktober 2011 di seluruh wilayah Kecamatan Kota Tarakan Propinsi Kalimantan Timur, yaitu Kecamatan Tarakan Utara, Kecamatan Tarakan Tengah, Kecamatan Tarakan Barat dan Kecamatan Tarakan Timur. Gambar 9 Peta lokasi penelitian 28 3.2 Tahapan Penelitian Tahapan penelitian ini meliputi kegiatan pengumpulan data, analisis dan sintesis dalam rangka membangun model penyediaan air bersih secara berkelanjutan di pulau kecil Kota Tarakan, masing-masing diuraikan sebagai berikut : 1. Tahap Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder meliputi : a) Peta Dasar b) Data hidrologi c) Data sosial ekonomi, sosial dan budaya masyarakat. d) Data perkembangan pelayanan air bersih. 2. Tahap Analisis Data Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi : a) Analisis kebutuhan air bersih penduduk, industri dan perhotelan. b) Analisis ketersediaan air bersih alami berupa imbuhan air tanah. c) Analisis keberlanjutan penyediaan air bersih. d) Analisis strategi pengembangan penyediaan air bersih. 3. Tahap Disain Tahapan disain dilakukan berdasarkan analisis dan sintesis data yaitu merancang bangun model penyediaan air bersih secara berkelanjutan. Rangkaian proses tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar 10. Gambar 10 Tahapan Penelitian 3.3 Jenis dan Metode Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder (Tabel 1). Data primer dikumpulkan melalui survei lapangan (visual recall) dan wawancara langsung di lokasi penelitian. Sedangkan data 29 sekunder dikumpulkan melalui penelusuran berbagai pustaka yang ada di berbagai instansi terkait sesuai atribut yang dikaji, baik dalam bentuk laporan (data tabular) maupun spasial (dalam bentuk peta). Tabel 1 Jenis dan metode pengumpulan data No Jenis Data A. Data Primer 1. Debit dan kondisi sungai 2. Potensi banjir/kekeringan 3. Pemanfaatan sungai 4. Sumber air penduduk 5. Pelayanan air bersih PDAM Metode Pengukuran pada beberapa bagian sungai. Pengamatan dan wawancara, FGD, indepth interview Keterangan Stopwatch, Current meter, pelampung, meteran. Daftar isian B. Data Sekunder 1. Data iklim (curah hujan, volume hujan, evaporasi) 2. Data luasan penggunaan lahan (land use) 3. Data citra satelit Kota Tarakan 4. Data kependudukan (jumlah, pertambahan penduduk) 5. Kondisi sosial ekonomi 6. Data perkembangan industri dan hotel 7. Topografi 8. Peta wilayah Pulau Tarakan 9. PDRB sektor air bersih 10. SDM bidang sumber daya air 11. Kebutuhan supply air minum Kota Tarakan. 12. Luas areal pulau Tarakan 13. Struktur Kelembagaan PDAM 3.4 Dinas PU Tarakan Dinas PU Tarakan Bappeda Tarakan Penelusuran dokumen hasil penelitian dan dokumentasi pada perpustakaan, kantor daerah dan instansi terkait BPS Tarakan BPS Tarakan BPS Tarakan Dinas PU Tarakan Bappeda Tarakan BPS Tarakan SetKot Tarakan PDAM Bappeda Tarakan PDAM Metode Pemilihan Responden Pemilihan responden disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan jumlah responden yang akan diambil yaitu responden yang dianggap dapat mewakili dan memahami permasalahan yang diteliti. Penentuan responden dilakukan dengan menggunakan metode Expert Survey yang dibagi atas dua cara : 30 1. Responden dari masyarakat selain pakar di lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Purposive Random Sampling secara Proposional (Walpole, 1995) dengan rumus sebagai berikut : dimana : ( ) nx = jumlah responden (sample) setiap strata N = jumlah seluruh populasi (kepala keluarga) Nx = jumlah populasi setiap strata n = ukuran responden secara keseluruhan 2. Responden dari Kalangan Pakar, dipilih secara sengaja (Purposive Sampling) dimana responden yang dipilih memiliki kepakaran sesuai dengan bidang yang dikaji. Beberapa pertimbangan dalam menentukan pakar yang akan dijadikan responden, menggunakan kriteria seperti berikut : a. Mempunyai pengalaman yang kompeten sesuai dengan bidang yang dikaji. b. Memiliki reputasi, kedudukan/jabatan dalam kompetensinya dengan bidang yang dikaji. c. Memiliki kredibilitas yang tinggi, bersedia, dan atau berada pada lokasi yang dikaji. 3.5 Analisis Data Penelitian ini melalui tiga tahap yang meliputi : (1) Analisis status keberlanjutan penyediaan air pulau kecil Kota Tarakan, (2) Strategi penyediaan air bersih pulau kecil Kota Tarakan, (3) Model penyediaan air bersih secara berkelanjutan di pulau kecil Kota Tarakan. Tahapan dan metode analisis data secara rinci disajikan pada Tabel 2. Penelitian ini menggunakan berbagai metode analisis data seperti analisis hirarki proses (AHP) menggunakan software criterium decision plus (CDP), analisis SWOT, analisis spasial (SIG), analisis interpretative structural modelling (ISM), analisis multidimensional scalling (MDS) modifikasi dari Rapfish, analisis prospektif, serta analisis sistem dinamik menggunakan software powersim constructor 2.5c. Pada model sistem dinamis dibagi menjadi 2 sub model yaitu sub model kebutuhan air bersih dan sub model ketersediaan air bersih. 31 Tabel 2 Tahapan dan metode analisis model penyediaan air bersih No 1 2 3 Tujuan Khusus Status keberlanjutan penyediaan air bersih pulau kecil Kota Tarakan Jenis Data Primer Strategi penyediaan air bersih pulau kecil Kota Tarakan Primer Model penyediaan air bersih secara berkelanjutan di pulau kecil Kota Tarakan Primer Sekunder Sekunder Sekunder Bentuk Data Hasil wawancara & penyebaran Kuisioner Laporan dari dinas/instans i terkait Hasil wawancara & penyebaran Kuisioner Laporan dari dinas/instans i terkait Hasil wawancara & penyebaran Kuisioner Laporan dari dinas/instans i terkait Sumber Data Responde n terpilih dari dinas terkait Metode Analisis MDS, Monte carlo, Prospektif Output yang diharapkan Diketahuinya status keberlanjutan penyediaan air bersih Kota Tarakan Responde n terpilih dari dinas terkait AHP, SWOT, ISM Responde n terpilih dari dinas terkait Sistem Dinamik Didapatkan strategi dalam pengembang an penyediaan air bersih di pulau kecil Kota Tarakan Didapatkan proyeksi kebutuhan dan ketersediaan air bersih serta neraca air bersih dan model penyediaan air bersih Kota Tarakan 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Pulau Besar dan Pulau Kecil Definisi pulau menurut UNCLOS (1982) adalah massa daratan yang terbentuk secara alamiah, dikelilingi oleh air dan selalu berada di atas permukaan pasang tertinggi. Dalam definisi tidak membedakan air tawar dan air laut. Pulau Samosir di Danau Toba misalnya, masuk dalam kategori pulau. Yang tidak bisa dikategorikan sebagai pulau adalah mangrove, gosong dan batu. Jumlah pulau di Indonesia tercatat 13.487 pulau. Pulau kecil terluar yang berbatasan dengan Negara tetangga (Australia, Papua Nugini, Palau, Filipina, Malaysia, Vietnam, Thailand, Singapura dan India), sebanyak 92 pulau. Berdasarkan ketentuan definisi teknis pulau kecil ini sama dengan atau lebih kecil dari 5.000 km2, maka dilakukan pembagian klasifikasi luas pulau-pulau di Indonesia. Klasifikasi pulau-pulau ini (dalam 6 kelas) dari pulau besar sampai dengan pulau kecil berdasarkan luas teknis adalah sebagai berikut (Soenarto, 2009) : 1) Pulau besar makro atas, dengan luas di atas 500.000 km2, sebagai contoh Pulau Papua (805.000 km2) dan Pulau Kalimantan (736.000 km2). 2) Pulau besar makro bawah, dengan luas 100.000 km2 – 500.000 km2, misalnya Pulau Sumatra (473.606 km2), Pulau Sulawesi (189.040 km2) dan Pulau Jawa (134.045 km2). 3) Pulau besar menengah, dengan luas 50.000 km2 – 100.000 km2, tidak ada pulau yang memenuhi klasifikasi ini. 4) Pulau besar mikro atas, dengan luas 10.000 km2 - 50.000 km2, dengan contoh Pulau Timor (32.000 km2), Pulau Seram (18.625 km2), Pulau Halmahera (17.800 km2), Pulau Flores (14.250 km2), Pulau Sumbawa (13.300 km2), Pulau Bangka (11.940 km2), Pulau Sumba (11.100 km2). 5) Pulau besar mikro bawah, dengan luas 5.000 km2 – 10.000 km2, dengan contoh Pulau Buru (8473,2 km²), Pulau Bali (5.623 km2). 6) Pulau kecil, dengan luas ≤ 5.000 km2, salah satu contoh adalah Pulau Lombok (4.880 km2). Pulau kecil secara teknis dinyatakan sebagai pulau dengan luas sama dengan atau lebih kecil dari 5.000 km2. Pulau ini bisa dikelilingi melalui laut oleh speed boat dalam tempo sekitar 12 jam (daylight) atau jauh kurang dari 24 jam (day and night). Definisi teknis ini sama dengan yang diambil oleh Dewan 9 Kepulauan Inggris. Pulau kecil menurut definisi UNESCO, adalah pulau yang mempunyai luas sama dengan atau lebih kecil dari 2.000 km2. Alasan pengambilan angka ini tidak dijelaskan, dan mungkin hanya suatu kesepakatan saja. Berdasarkan penjelasan dalam berbagai Undang-Undang di Indonesia, pulau kecil adalah pulau yang luasnya sama dengan atau kurang dari 2.000 km2, yang berarti, berdasarkan Undang-Undang, maka Pulau Alor (2.600 km2) tidak termasuk sebagai pulau kecil. Dalam pembagian penggolongan kelas pulau kecil, baik luas teknis maupun berdasarkan Undang-Undang keduanya diadopsi, dan dimasukkan ke dalam kelas pulau kecil makro atas dengan luas 1.000 km2 – 5.000 km2. Pulau kecil untuk selanjutnya dibagi dalam 9 kelompok berikut ini: 1) Pulau kecil makro atas, 1.000 km2 – 5.000 km2 dengan contoh Pulau Lombok (4.880 km2), Pulau Belitung (4.800 km2), Pulau Nias (4.100 km2), Pulau Siberut (3.300 km2), Pulau Alor (2.600 km2), Pulau Pagai Utara dan Selatan (2.200 km2), Pulau Simeuleu (1.400 km2), Pulau Batu (1.201 km2), Pulau Bintan (1.075 km2), Pulau Morotai (1.000 km2). 2) Pulau kecil makro menengah, dengan luas 500 km2 – 1.000 km2 dengan contoh Pulau Bengkalis (900 km2), Pulau Ambon (761 km2), Pulau Sipora (600 km2). 3) Pulau kecil makro bawah, dengan luas 100 km2 – 500 km2, dengan contoh Pulau Batam (440 km2), Pulau Pantar (300 km2), Pulau Tarakan (250 km2), Pulau Tabuan (194 km2), Pulau Selaru (175 km2), Pulau Weh (153 km2). 4) Pulau kecil menengah, dengan luas 50 km2 - 100 km2, dengan contoh Pulau Gag (65 km2). 5) Pulau kecil mikro atas, dengan luas 10 km2 – 50 km2, dengan contoh Pulau Nusa Laut (36 km2), Pulau Nyang-Nyang (17 km2), Pulau Marampit (12 km2), Pulau Hinako (10,5 km2). 6) Pulau kecil mikro menengah, dengan luas 5 km2 – 10 km2, dengan contoh Pulau Keramaian (10 km2), Pulau Fani (9 km2), Pulau Panjang (8 km2), Pulau Puhawang (7 km2), Pulau Taka Bonerate (5 km2). 7) Pulau kecil mikro bawah, dengan luas 1 km2 – 5 km2, dengan contoh, Pulau Krakatau (4 km2), Pulau Masakambing (3 km2), Pulau Miangas (3,15 km2), Pulau Berhala (2,5 km2), Pulau Marore (2,15 km2), Pulau Pari (2 km2). 8) Pulau kecil mungil, dengan luas 0,5 km2 - 1 km2, dengan contoh Pulau Nipa (0,6 km2). 10 9) Pulau kecil mini, dengan luas ≤ 0,5 km2. Pembagian lebih lanjut lagi untuk pulau kecil mini dengan uas ≤ 0,5 km2 atau ≤ 50 ha, dibagi dalam 8 kelompok, yaitu: 1) Pulau kecil mini teratas, dengan luas 10 ha – 50 ha, dengan contoh Pulau Tidung Besar (50 ha), Pulau Untung Jawa (40 ha), Pulau Batek (0,25 km²). 2) Pulau kecil mini atas, dengan luas 5 ha – 10 ha, dengan contoh Pulau Fanildo (0,1 km²), Pulau Sebira (9 ha). 3) Pulau kecil mini menengah, dengan luas 1 ha – 5 ha, dengan contoh Pulau Kelapa Dua (2 ha), Pulau Batusulu (1 ha). 4) Pulau kecil mini bawah, dengan luas 50 m2 – 100 m2. 5) Pulau kecil mini terbawah, dengan luas 10 m2 – 50 m2. 6) Pulau kecil renik atas, dengan luas 5 m2 – 10 m2 . 7) Pulau kecil renik menengah, dengan luas 1 m2 – 5 m2. 8) Pulau kecil renik bawah, dengan luas < 1 m2. Pembagian ini diperlukan untuk menghadapi perubahan akibat terjadinya penyusutan luas pulau kecil karena munculnya fenomena kenaikan muka air laut pada kemudian hari, sebagai akibat pemanasan global dan perubahan iklim. Pembagian luas pulau sampai pada angka 1 m2, mempunyai arti untuk mengantisipasi terjadinya penyusutan luas pulau dataran yang mempunyai ketinggian sekitar 1 m dari muka air laut rata-rata, yang berlangsung dalam jangka waktu 50 tahun ke depan. Kelompok kelas 4 sampai dengan 8 masih banyak yang belum diberi nama, dan saat ini sedang dibuatkan nama baru. 2.2 Sumber Daya Air Tawar di Pulau Kecil Sumber daya air di wilayah pesisir terdiri dari 3 jenis sumber daya air yaitu air atmosferik (hujan), air permukaan, dan air tanah. Jumlah sumber daya air yang berasal dari air hujan akan bergantung pada musim yang sedang berlangsung. Pada musim hujan air tersedia dalam jumlah yang banyak, dan kondisi sebaliknya ditemui pada musim kemarau. Sumber daya air permukaan terdiri dari air sungai, saluran irigasi, danau alam, danau buatan (waduk), dan genangan rawa. Namun yang paling banyak dan biasanya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan air di wilayah pesisir adalah air sungai dan saluran irigasi karena kualitas dan kuantitasnya relatif lebih baik dan terjamin. Air tanah di wilayah pesisir Indonesia umumnya tersedia dalam jumlah banyak dan melimpah, yang keberadaan dan cara pengambilannya sangat bergantung pada kondisi geologi daerah setempat. Istilah air tanah berkaitan erat 11 dengan tempat air tersebut tersimpan. Disebut sebagai air tanah dangkal bila kedalamannya kurang dari 60 m dan disebut sebagai air tanah dalam bila tersimpan pada kedalaman lebih dari 60 m. Pengambilan air tanah dangkal biasanya dilakukan dengan cara membuat sumur gali, yang pada prinsipnya merupakan penorehan lapisan bawah permukaan hingga mencapai kedalaman muka air tanah dangkal yang tersedia. Air tanah dalam biasanya diambil dengan cara pembuatan sumur bor berdiam kecil sampai akifer di kedalaman tertentu dan kemudian dipompa. Secara lateral, pelamparan akifer di wilayah pesisir dapat menerus jauh hingga ke daratan atau terputus, suatu hal yang sangat berhubungan dengan sistem dan lingkungan pengendapannya. Akifer yang terdapat di wilayah pesisir sangat berkaitan dengan bentuk lahan serta mula jadi lingkungannya sehingga akan berbeda di tiap-tiap wilayah pesisir. Secara genetic akifer batuan sedimen bisa dibentuk di lingkungan fluviatil, fluvio-marin, fluvo vulkanik atau lingkungan laut dangkal. Di Indonesia yang mempunyai rangkaian pegunungan di kawasan hulunya (hinterland), maka akifer yang baik didominasi oleh tipe endapan fluviatil dan fluvio-vulkanik. Sementara di daerah dataran rendah yang luas, akifer didominasi oleh tipe fluviatil dan fluvio-marin. Beberapa ciri khas sistem hidrogeologi pulau kecil adalah : (1) Air tanah seluruhnya berasal dari air hujan dengan siklus antara resapan air kedalam tanah dan pemanfaatannya relatif pendek, (2) Air tanah di pulau kecil kebanyakan berupa lensa yang mengapung diatas air payau atau air asin, (3) Terjadinya larian permukaan (run off) pada waktu hujan kecil, namun air yang meresap ke dalam tanah sebagian besar berdifusi dengan air laut di bawah. Potensi air tawar di suatu pulau kecil merupakan besaran yang dinamis, berubah-ubah dalam dimensi ruang dan waktu. Dua faktor dominan yang mempengaruhi potensi air tawar di pulau kecil adalah faktor iklim dan kondisi geologi pulau (Hehanusa, 1987) : a. Iklim Faktor iklim yang didalamnya termasuk curah hujan, evapotranspirasi, suhu, kelembaban udara, dan kecepatan angin merupakan faktor penentu dalam perhitungan neraca air di pulau kecil. Curah hujan di pulau kecil pada umumnya lebih rendah, sekitar 20% dibanding dengan curah hujan di dataran yang terdekat. Beberapa catatan untuk parameter-parameter di atas adalah sebagai berikut. Data curah hujan yang akurat kadang-kadang sulit didapat karena begitu 12 banyaknya pulau-pulau di Indonesia, sadangkan stasiun meteorologi yang mencatat dan melaporkan secara teratur keadaan iklim di sebuah pulau kecil belum banyak. Parameter Ro untuk pulau kecil mungkin bisa diabaikan karena sebagian besar pulau kecil jarang mempunyai sungai. Parameter yang paling dominan, selain curah hujan dan penggunaan oleh penduduk adalah parameter evapotranspirasi dan keluaran air tanah ke laut (submarine groundwater discharging), namun kedua parameter ini masih sangat sulit ditentukan. b. Hidrogeologi Disamping ukuran, kemampuan suatu pulau untuk menyimpan air tanah ditentukan oleh data hidrogeologi di pulau itu, seperti dijelaskan oleh Hehanusa (1993) pada Gambar 4. Tiap jenis pulau seperti yang sudah diuraikan diatas mempunyai ciri tersendiri, baik penyebarannya maupun potensi airnya. Falkland (1995) dan Hehanusa (1994) menjelaskan bahwa penyebaran dan potensi air tanah naik di pulau berbukit maupun di pulau datar secara kualitatif sebagai berikut : a) Pada jenis pulau vulkanik, potensi air tanah dapat ditemukan pada breksi dengan matriks kasar, pada aliran lava atau pada daerah tekanan (joint/crack system). Penyebaran air tanah ini bisa luas dengan potensi yang relatif sedang hingga besar. b) Pulau tektonik mempunyai penyebaran air yang bersifat setempat, yaitu pada daerah rekahan, atau pada endapan klastik dan bersifat musiman. c) Pulau teras terangkat mempunyai potensi air tanah yang cukup besar karena hampir sebagian besar air hujan meresap kedalam tanah. Penyebaran air berada dalam gamping, namun untuk mencari lokasi yang paling potensial cukup sulit karena adanya pengaruh tektonik dan “solution channel” yang ikut mengontrol penyebaran air tanah. d) Air tanah di Pulau Petabah mungkin yang relatif paling sedikit mengingat pulau ini terbentuk oleh batuan malihan, intrusi atau sedimen terlipat berumur tua. Air tanah terdapat pada sedimen muda, lapisan lapuk atau rekahan dengan penyebaran terbatas dan bersifat musiman. e) Penyebaran dan potensi air tanah di pulau gabungan sangat tergantung pada jenis-jenis pulau yang setiap jenis pulau di atas masih merupakan masalah tersendiri. 13 Gambar 4 Penyebaran tipe pulau kecil Indonesia, Hehanusa (1993) Eksplorasi air tanah untuk pulau datar, relatif lebih sederhana dibandingkan pada pulau berbukit. Di pulau aluvium air tanah dapat ditemukan pada reservoir yang berbeda, bisa di pasir alur sungai purba atau di pasir pematang sungai. Potensinya bisa bervariasi dari kecil sampai sedang, namun perubahan pasang surut muka air laut cukup besar pengaruhnya terhadap kualitas air tanah. 2.3 Sistem Daerah Aliran Sungai/DAS Menurut Undang-undang Republik Indonesia nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, daerah aliran sungai (catchment, basin, watershed) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anakanak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktifitas daratan. Sistem adalah kumpulan bagian-bagian yang terdiri dari benda/konsep yang disatukan dengan keteraturan saling berhubungan atau saling ketergantungan (Chow dalam Muliawan, 2001). Pendekatan sistem mempunyai tujuan spesifik yaitu membangun hubungan masukan dan keluaran yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk rekonstruksi kejadian masa lalu atau untuk prakiraan kejadiaan yang akan datang, dengan masalah pokok yang diperhatikan adalah operasi sistem yang digunakan (Sudjarwadi, 1995). 14 Gambar 5 menyajikan ilustrasi respon DAS akibat masukan berupa hujan. Dalam gambar tersebut sistim DAS digunakan sebagai model untuk memahami konsep transformasi masukan (hujan) menjadi keluaran (debit). Gambar 5 Bagan ilustrasi respon DAS akibat masukan berupa hujan (Sumber : Rachmad Jayadi, 2000) Memahami masalah pendekatan sistem DAS, tidak dapat terlepas dari pendekatan fisik seperti sistem masukan, sistem struktur/geometri, hukumhukum fisika, dan kondisi awal serta kondisi batas. Pendekatan secara fisik pada suatu DAS sangat sulit dilaksanakan karena mempunyai beberapa persoalan yang kompleks (rumit), sehingga untuk menyelesaikan persoalan tersebut dilakukan pendekatan sistim DAS (Sudjarwadi, 1995). 2.4 Teknologi Penyediaan Air Bersih di Pulau Kecil Menurut Kammere (1976), pemenuhan kebutuhan air bersih dapat dilakukan dengan cara pemanfaatan sumber daya air, yaitu: 1) Mengalirkan air dari sumbernya ke tempat pengguna atau pelayanan umum. Dimana, pelayanan dilakukan oleh pemerintah kota setempat yang pelaksanaannya dilakukan oleh PDAM dengan memanfaatkan sumber air baku yang ada dan diolah serta didistribusikan kedaerah pelayanan atau pelanggan. 2) Mengusahakan sendiri dengan menggali sumur. Penggalian sumur melalui sumur gali atau sumur bor banyak dilakukan oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan domestik, niaga dan industri. Sumber-sumber air bersih tersebut dapat dikelola oleh masyarakat sendiri, oleh pemerintah atau perusahan pengelola air bersih. Kualitas air dapat dioptimalkan dengan cara memisahkan zat padat yang terlarut pada air dimana zat padat tersebut dapat menjadi racun bagi manusia. Pemisahan zat padat dari air baku dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu : secara kimiawi, secara 15 gravitasi, filtrasi. Selain itu pula diperlukan juga desinfeksi air untuk mencegah terjadinya kontaminasi air. 2.4.1 Teknologi Pemanenan Air Hujan Air tawar yang tersedia di alam berupa air hujan, air dipermukaan dan air tanah, yang sebenarnya berasal dari air hujan juga. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika pemanfaatan air hujan dilakukan untuk penyediaan air baku dan dilaksanakan baik di daerah sulit air pulau-pulau besar maupun di pulau-pulau kecil. Sumber-sumber air yang dipergunakan penduduk semua berasal dari air hujan, yaitu air di dalam sumur gali, air sumur bor dangkal dan dalam, mata air, sungai, danau atau telaga. Air hujan biasanya dipanen dan ditampung, baik di atas permukaan maupun di bawah permukaan, dalam berbagai cara penampungan. Beberapa metode penampungan air hujan untuk air bersih di pulau-pulau kecil adalah : (1) Sumur resapan, (2) Bangunan PAH (Penampung Air Hujan) tradisional dan rasional, (3) Bangunan penampung air hujan lapangan, misalnya petak persawahan padi dan bangunan peresap air lapangan, (4) Bangunan ABSAH (Akuifer Buatan dan Simpanan Air Hujan), untuk penyediaan air baku komunal, (5) Bangunan NEO ABSAH, tipe campuran, untuk penyediaan air baku komunal, (6) Bangunan ABDULAH (Akuifer Buatan Daur Ulang Air Hujan) atau ABSAH suci ulang, di mesjid, musholla dan langgar, (7) Bangunan kombinasi sumur peresapan dan pemanfaatan (SURATAN), (8) Bangunan embung (telaga buatan) baik yang dibangun di luar alur air maupun yang berada pada alur air, (9) Bangunan pemompaan air telaga, (10) Bangunan pengolahan air rawa dan air gambut, (11) Bangunan pemompaan air tanah melaui sumur gali dan sumur bor, (11) Kombinasi bangunan penurapan mata air dengan bangunan ABSAH, dan (12) Kombinasi bangunan embung atau telaga dan ABSAH melalui bangunan prapengolahan. Sumur resapan adalah sistem peresepan yang mampu menampung air hujan yang langsung melalui atap atau pipa talang bangunan. Bentuknya bisa berupa sumur, kolam, parit, atau lubang biopori seperti pada Gambar 6. Fungsinya adalah untuk meresapkan air ke dalam tanah atau mengisi kembali air tanah yang dangkal. Tujuannya untuk mengurangi erosi, menyimpan dan menaikan permukaan air tanah dalam rangka penyelamatan sumberdaya air. Air yang diresapkan haruslah air hujan yang tidak tercemar limbah industri maupun limbah rumah tangga (minimal mutu air kelas tiga). 16 Air hujan yang jatuh ke halaman setidaknya 85% harus bisa diserap oleh halaman tersebut agar tidak meluapkan banjir. Halaman rumah secara alamiah bias menyerap curahan air hujan yang jatuh, termasuk dari atap rumah, yang mengalir melalui talang. Di sini sumur resapan akan mengurangi sumbangan bencana banjir dengan mengurangi sumbangan run off air hujan. Dibawah tanah, resapan ini akan masuk merembes lapisan tanah yang disebut sebagai lapisan tidak jenuh, dimana tanah (dari berbagai jenis) masih bisa menyerap air, kemudian masuk menembus permukaan tanah (water table) di mana dibawahnya terdapat air tanah (ground water) yang terperangkap di lapisan tanah yang jenuh. Air tanah inilah yang dapat dikonsumsi. Gambar 6 Ilustrasi sumur resapan Masuknya air hujan melalui peresapan inilah yang menjaga cadangan air tanah agar tetap bisa dicapai dengan mudah. Ini karena permukaan air tanah memang bisa berubah-ubah, tergantung dari suplai dan eksploitasinya. Dengan teralirkan ke dalam sumur resapan, air hujan yang jatuh di areal rumah tidak terbuang percuma ke selokan lalu mengalir ke sungai. Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor: 06-2459-2002 tentang Spesifikasi Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan menetapkan beberapa persyaratan umum yang harus dipenuhi sebuah sumur resapan yaitu : 17 1. Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam atau labil. 2. Sumur resapan harus dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum 5 m diukur dari tepi), dan berjarak minimum 1 m dari fondasi bangunan. 3. Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal 2 m di bawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air (water table) tanah minimum 1,50 m pada musim hujan. 4. Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan tanah melewatkan air) lebih besar atau sama dengan 2,0 cm per jam (artinya, genagan air setinggi 2 cm akan teresap habis dalam 1 jam), dengan tiga klasifikasi, yaitu : a) Permeabilitas sedang, yaitu 2,0-3,6 cm per jam. b) Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus), yaitu 3,6-36 cm per jam. c) Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar), yaitu lebih besar dari 36 cm per jam. Adapun beberapa ketentuan lain untuk pembangunan konstruksi sumur resapan adalah : 1. Sumur resapan harus memiliki tangkapan air hujan berupa suatu bentang lahan baik berupa lahan pertanian atau atap rumah. 2. Sebaiknya dilakukan penyaringan air di bak kontrol terlebih dahulu sebelum masuk kedalam sumur resapan. 3. Bak kontrol terdiri-dari beberapa lapisan berturut-turut adalah lapisan gravel (kerikil), pasir kasar, pasir dan ijuk. 4. Dasar sumur yang berada di lapisan kedap air diisi batu pecah ukuran 10-20 cm, pecahan bata merah ukuran 5-10 cm setebal 15 cm, ijuk, serta arang. Pecahan batu tersebut disusun berongga. 5. Menggunakan pipa PVC berdiameter 110 mm untuk pipa pemasukan dan pipa pengeluaran. Untuk pipa pengeluaran letaknya lebih rendah dari pada pipa pemasukan sebagai antisipasi manakala terjadi overflow/luapan air di dalam sumur. 6. Diameter sumur bervariasi tergantung pada besarnya curah hujan, luas tangkapan air, konduktifitas hidrolika lapisan aquifer, tebal lapisan aquifer dan daya tampung lapisan aquifer. Pada umumnya diameter berkisar antara 1 – 1,5 m sedalam ± 1,5 m. 18 7. Tergantung pada tingkat kelabilan/kondisi lapisan tanah dan ketersediaan dana yang ada, dinding sumur dapat dilapis pasangan batu bata kosong atau buis beton. Akan lebih baik bila dinding sumur dibuat lubang-lubang air dapat meresap juga secara horizontal. 8. Untuk menghindari terjadinya gangguan atau kecelakaan maka bibir sumur dapat dipertinggi dengan pasangan bata dan atau ditutup dengan papan/plesteran atau plat beton. Pengenalan teknologi ABSAH yang juga memanfaatkan air hujan memerlukan pemahaman filosofi dasar yang berada di belakangnya. Teknologi pemanenan air hujan ini dapat dilihat pada Gambar 7, memberikan ilustrasi mengenai susunan dari bak-bak. Bak akuifer buatan dan bak pemasukan air harus dibuatkan tutup bak berukuran 0,5 m x 1 m sampai tertutup semua. Bak penyimpanan air dibuat tertutup rapat dan diberikan manhole (lubang pemeriksaan). Gambar tersebut juga memperlihatkan rancangan bangunan yang menyajikan urutan material yang diisikan di dalam bak akuifer buatan. Ijuk ditempatkan di bagian bak pemasukan air agar bisa menangkap material layang dan akan menempel pada ijuk tersebut. Dengan cara ini bak pemasukan air dengan mudah bisa dibersihkan dan dirawat. Bangunan ABSAH merupakan salah satu bangunan konservasi dan sekaligus pendayagunaan air. Bangunan ABSAH, NEO ABSAH dan ABDULAH maupun bangunan turunannya, bisa menirukan aliran air yang terjadi di alam, yang dapat berupa : 1) aliran air tanah alami, 2) aliran air tanah di sekitar sumur gali atau sumur bor, 3) aliran mata air, 4) proses hidrologi dalam daerah aliran sungai (atap bangunan merupakan daerah aliran tangkapan hujan), 5) proses penyaringan fisik di alam, dan 6) proses penambahan mineral di alam, proses fisik, kimia dan biologis. Bangunan ABSAH bisa disebut sebagai SAWS (Stand Alone Water Supply) atau SSWS (Self Supporting Water Supply), atau disebut sebagai bangunan penyediaan air baku mandiri, yang bisa dibuat terlepas dari sistem penyediaan air yang berlaku umum seperti yang dimiliki oleh PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum). Dalam bahasa Inggris digunakan istilah AARSS (Artificial Aquifer and Rain Storage Structures) untuk bangunan ABSAH ini, sedangkan bangunan ABDULAH disebut dengan AARWR (Artificial Aquifer and Rain Water Recycling). Jika yang di daur ulang adalah air bersih yang dipasok dari tangki air 19 di atas tanah, yang disebut dengan bangunan ABDULA dipakai istilah AAWR (Artificial Aquifer and Water Recycling). Gambar 7 Ilustrasi bangunan ABSAH 2.4.2 Teknologi Pengolahan Air Bersih Skala Perkotaan (PDAM) Menurut Algamar (1994), sistem penyediaan air minum bila dilihat dari bentuk dan tekniknya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: 1) Sistem penyediaan air minum individual (individual water system atau rural water supply sistem). Sistem ini merupakan sistem yang sangat sederhana seperti halnya sumur-sumur yang digunakan dalam suatu rumah tangga. Secara komponen, sistem penyediaan air minum ini lengkap tetapi secara kapasitas maupun bentuk pelayanannya, sistem ini sangat terbatas. 2) Sistem penyediaan air minum komunitas atau perkotaan (community municipality water supply system atau public water supply sistem). Sistem ini merupakan sistem yang digunakan untuk suatu komunitas kota dengan bentuk pelayanannya yang menyeluruh untuk kebutuhan domestik, perkotaan maupun industri. Air permukaan yaitu air sungai dan air danau adalah air hujan yang terendap dipermukaan bumi selama beberapa waktu oleh karena itu tidak dapat dikonsumsi secara langsung karena rentan terhadap beberapa penyakit yang 20 dapat disebarkan melalui air. Untuk mengatasi hal tersebut air permukaan perlu diolah terlebih dahulu sebelum dikonsumsi oleh manusia seperti pada Gambar 8. Menurut Noerbambang dan Morimura (1985), ada 4 komponen utama yang termasuk kedalam sistem penyediaan air bersih, yaitu: 1) Unit pengumpul/intake air baku (collection or intake work). Sumber air baku terdiri dari lima sumber dan sistem pengambilan/pengumpulan (collection work) yang disesuaikan dengan jenis sumber yang dipergunakan dalam sistem penyediaan air bersih. Sumber air baku sangat berperan penting dalam pemberian pelayanan air bersih kepada masyarakat. Sumber air baku itu sendiri terdiri atas: air hujan (air hasil kondensasi uap air yang jatuh kebumi), air tanah yang bersumber dari mata air, air artesis atau air sumur dangkal maupun sumur dalam, air permukaan (air waduk, air sungai dan air danau), air laut, dan air hasil pengolahan buangan. Dari kelima sumber air baku diatas, sumber air baku yang berasal dari air permukaan merupakan sumber alternatif yang banyak dipilih karena kuantitasnya yang cukup besar. 2) Unit pengolahan air/sistem produksi (purification or treatment work). Proses pengolahan bertujuan untuk merubah air baku yang tidak memenuhi standar kualitas air bersih, menjadi air yang bersih dan siap untuk dikonsumsi. Sistem produksi dan pengolahan air bersih disebut juga dengan Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang merupakan instalasi pengolahan air dari air baku menjadi air bersih yang siap untuk diberikan kepada pihak konsumen. 3) Unit transmisi/sistem transmisi (transmision work). Sistem transmisi dalam penyediaan air bersih adalah pemindahan atau pengangkutan air dari sumber air bersih yang telah memenuhi syarat secara kualitas atau merupakan suatu bangunan pengumpul (reservoir), hingga memasuki jaringan pipa sistem distribusi. Lokasi atau topografi sumber air baku serta wilayah yang berbukit-bukit dapat mempengaruhi terhadap panjang atau pendeknya pipa serta cara pemindahan baik secara gravitasi ataupun dengan sistem pemompaan. 4) Unit distribusi/sistem distribusi (distribution work). Sistem distribusi air bersih adalah sistem penyaluran air bersih berupa jaringan pipa yang menghubungkan antara reservoir dengan daerah pelayanan atau konsumen yang berupa sambungan rumah, kran umum atau bahkan yang 21 belum terjangkau oleh sistem perpipaan yang dilayani melalui terminal air/tangki air yang dipasok melalui mobil tangki. Sistem distribusi ini yang terkait dengan umur jaringan perpipaan merupakan sistem yang paling penting dalam penyediaan air bersih. Hal ini mengingat baik buruknya pelayanan air bersih dinilai dari baik tidaknya sistem distribusi, artinya masyarakat hanya mengetahui air sampai kepengguna atau konsumen, dan masyarakat tidak melihat bagaimana prosesnya. Gambar 8 Skema proses pengolahan air bersih 2.4.3 Teknologi Pengolahan Air Bersih Skala Mikro (IPAB Mikro) Pengolahan air skala perkotaan tidaklah mudah dan murah sehingga masyarakat sulit untuk mencerna sistim kerjanya dan harganya pun relatif mahal sehingga tarif air bersih yang dihasilkan pun menjadi cukup tinggi. Namun dengan melakukan optimalisasi pada sistim operasi IPA terutama pada sistim media filter yang berfungsi sebagai pemisah kandungan zat padat, organis serta optimalisasi bahan koagulan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dan jam operasi alat tersebut. Untuk itu diperlukan suatu sistim pengolahan air bersih yang mudah dan tepat guna sehingga tidak memerlukan keahlian khusus dalam mengoperasikannya, hemat energi listrik karena sistim pengalirannya secara gravitasi dan hemat biaya karena penggunaan bahan koagulan yang sesuai kebutuhan karakteristik air baku. 22 Perbedaan antara IPA skala kota dengan IPAB Mikro adalah dalam kapasitas produksinya. IPAB Mikro mengolah air permukaan tawar dengan kapasitas yang lebih kecil dibandingkan IPA skala kota. Ilustrasi IPAB Mikro dapat dilihat pada Lampiran 1. Karena kapasaitas produksi yang kecil sehingga cocok ditempatkan di lokasi permukiman, hotel ataupun industri. Biaya operasional IPAB Mikro dapat dilihat pada Lampiran 2. Dengan menggunakan disain instalasi pengolahan air yang telah ada, diharapkan dapat meningkatkan kinerja instalasi pengolahan air dan kualitas air yang dihasilkan sesuai standar nasional maupun internasional. Dalam melakukan pelayanannya, PDAM selaku stakeholders atau pihak yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengelola air bersih bagi masyarakat harus memperhatikan aspek pelayanan yang berperan penting dalam memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Aspek pelayanan sangat mempengaruhi langsung karena langsung menyentuh kepada masyarakat selaku pengguna air bersih. Untuk dapat meningkatkan kapasitas pelayanan air bersih kepada masyarakat diperlukan aturan dan kebijakan yang dapat dijadikan sebagai dasar dan pedoman dalam pengelolaan air bersih. Aturan tersebut bisa berupa undang-undang atau peraturan pemerintah yang berisi aturan, hak dan kewajiban serta dukungan dalam peningkatan kapasitas pelayanan air bersih. Sedangkan kebijakan bisa berupa dukungan dan bantuan pendanaan yang diberikan oleh pihak eksekutif dan legislatif guna mendukung dalam pelayanan air bersih kepada masyarakat. 2.5 Pendekatan dan Pemodelan Sistem Pendekatan sistem didefinisikan sebagai suatu metode penyelesaian masalah yang dimulai dengan cara tentatif mendefinisikan atau merumuskan tujuan dan hasilnya adalah suatu sistem operasi yang secara efektif dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Permasalahan tersebut dapat dalam bentuk perbedaan kepentingan (conflict of interest) atau keterbatasan sumberdaya (limited of resources) (Eriyatno, 1998). Pendekatan sistem memberikan penyelesaian masalah dengan metode dan alat yang mampu mengidentifikasi, menganalisis, mensimulasi dan mendisain sistem dengan komponen-komponen yang saling terkait, yang diformulasikan secara lintasdisiplin dan komplementer untuk mencapai tujuan yang sama (Eriyatno, 2002). Menurut Manetsch dan Park (1977), sistem adalah suatu gugus atau kumpulan dari elemen yang berinteraksi dan terorganisir untuk mencapai tujuan. 23 Lucas (1993) menyatakan bahwa secara teoritis komponen dalam suatu sistem saling berhubungan dan memiliki ketergantungan antar komponen. Sistem harus dipandang secara keseluruhan (holistic) dan akan bersifat sebagai goal seeking sehingga terjadi sebuah keseimbangan untuk pencapaian tujuan. Sebuah sistem mempunyai asupan (input) yang akan berproses untuk menghasilkan luaran (output). O’Brien (1999) mendefinisikan sebagai suatu bentuk atau struktur yang memiliki lebih dari dua komponen yang saling berinteraksi secara fungsional. Sehingga, tiap sistem harus memiliki komponen atau elemen yang saling terkait (berinteraksi) dan terorganisir dengan suatu tujuan atau fungsi tertentu. Pada sebuah sistem ada umpan balik yang berfungsi sebagai pengatur komponen sistem yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan, dan sistem yang lebih besar dapat terdiri atas beberapa sistem kecil (subsistem) yang akan membentuk suatu hirarki. Dengan demikian, sistem dapat berfungsi sebagai salah satu pendekatan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang kompleks atau merumuskan kebijakan dan strategi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Pendekatan sistem menurut Manetch dan Park (1977) akan berjalan baik jika terpenuhi kondisi sebagai berikut : (1) Tujuan sistem didefinisikan dengan baik dan dapat dikenali jika tidak dapat dikuantitatifkan, (2) Prosedur pembuatan keputusan dalam sistem konkrit adalah tersentralisasi atau cukup jelas batasannya, (3) Memungkinkan untuk dilakukan dalam perencanaan jangka panjang. Menurut Aminullah (2003), terdapat beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam pendekatan sistem untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks, yaitu : (1) analisis kebutuhan, yang bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan dari semua pemangku kepentingan dalam sistem, (2) formulasi permasalahan, yang merupakan kombinasi dari semua permasalahan yang ada dalam sistem, (3) identifikasi sistem, bertujuan untuk menentukan variablevariabel sistem dalam rangka memenuhi kebutuhan semua pemangku kepentingan dalam sistem, (4) pemodelan sistem, yang mencakup proses interaktif antara analis sistem dan pembuat keputusan, menggunakan model untuk mengeksplorasikan dampak dari berbagai alternatif dan variabel keputusan terhadap berbagai kriteria sistem, (5) implementasi, bertujuan untuk memberikan wujud fisik dari sistem yang diinginkan , dan (6) operasi, pada tahap ini akan dilakukan validasi sistem dan seringkali pada tahap ini terjadi modeifikasimodifikasi tambahan karena cepatnya perubahan lingkungan dimana sistem 24 tersebut berfungsi. Dalam ilmu manajemen secara sederhana sistem digambarkan sebagai satu kesatuan antara asupan, proses dan luaran. Sistem akan membentuk sustu siklus yang berjalan secara terus-menerus dan dikendalikan oleh suatu fungsi kontrol atau umpan balik. Prinsip sistem ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks yang sering dihadapi atau menyusun (merangkai) berbagai elemen sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat (Midgley, 2000). Untuk menyelesaikan permasalahan melalui pendekatan sistem harus dilakukan identifikasi terhadap semua komponen yang terdapat dalam sistem dan menentukan hubungan dari tiap komponen tersebut. Perubahan pada satu komponen dari suatu sistem akan mempengaruhi komponen lain dan biasanya akan menghasilkan umpan balik pada periode yang sama atau pada periode berikutnya. Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh faktor internal maupun faktor ekstekrnal (dari luar sistem). Menurut Djojomartono (2002), sistem dinamis adalah sistem yang memiliki variabel yang dapat berubah-ubah sepanjang waktu sebagai akibat dari perubahan asupan dan interaksi antar elemen-elemen sistem. Dengan demikian nilai luaran sangat tergantung pada nilai variabel asupan sebelumnya. Salah satu cara untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks dengan pendekatan sistem adalah menggunakan konsep model simulasi sistem dinamis. Dengan menggunakan simulasi maka model akan mengkomputasikan jalur waktu dari variabel-variabel model untuk tujuan tertentu dari asupan sistem dan parameter model. Karena itu model simulasi akan dapat memberikan penyelesaian dunia nyata yang kompleks. Model juga dapat digunakan untuk keperluan optimasi, dimana suatu kriteria model dioptimalkan terhadap aupan atau struktur sistem alternatif. Dengan demikian, model dapat dibangun dengan data base atau knowlegde base (Eriyatno, 2003). Menurut Manetsch dan Park (1977) model adalah suatu penggambaran abstrak dari sistem dunia nyata (riil), yang akan bertindak seperti dunia nyata untuk aspek tertentu. Model dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu model kuantitatif, kualitatif dan ekonik (Aminullah, 2003). Model yang baik akan memberikan gambaran perilaku dunia nyata sesuai dengan permasalahan dan akan meminimalkan perilaku yang signifikan dari sistem yang dimodelkan. Langkah pertama dalam menyusun model sistem dinamis adalah dengan mrnrntukan struktur model. Struktur model akan memberikan bentuk pada sistem 25 sekaligus memberi ciri yang mempengaruhi perilaku sistem. Perilaku tersebut dibentuk oleh kombinasi perilaku simpal umpan balik (causal loops) yang menyusun struktur model. Semua perilaku model, bagaimanapun rumitnya dapat disederhanakan menjadi struktur dasar yaitu mekanisme dari asupan, proses, luaran, dan umpan balik. Menurut Muhammadi et al.(2001) mekanisme tersebut akan bekerja menurut perubahan waktu atau bersifat dinamis yang dapat diamati perilakunya dalam bentuk unjuk kerja (level) dari suatu model sistem dinamis. Menurut Muhammadi et al.(2001), untuk memahami struktur dan perilaku sistem yang akan membantu dalam pembentukan model dinamika kuantitaif formal digunakan diagram sebab akibat (causal loops) dan diagram alir (flow chart). Diagram sebab akibat dibuat dengan cara menentukan variabel penyebab yang signifikan dalam sistem dan menghubungkannya dengan menggunakan garis panah ke variabel akibat, dan garis panah tersebut dapat berlaku dua arah jika dua variabel tersebut daling mempengaruhi. Pada sistem dinamis, diagram sebab akibat digunakan sebagai dasar untuk membuat diagram alir yang disimulasikan dengan menggunakan program model sistem dinamis. Contohnya, program Powersim Constructor version 2.5c untuk memberikan gambaran tentang perilaku sistem dan dengan simulasi dapat ditentukan alternatif terbaik dari sistem yang kita bangun. Setelah itu, dilakukan analisis untuk mendapatkan kesimpulan, dan kebijakan yang harus dilakukan untuk mengantisipasi atau mengubah perilaku sistem yang terjadi. Perilaku model sistem dinamis ditentukan oleh keunikan dari struktur model yang dapat dipahami dari hasil simulasi model. Dengan simulasi akan didapatkan perilaku dari suatu gejala atau proses yang terjadi dalam sistem, sehingga dapat dilakukan analisis dan peramalan perilaku gejala atau proses tersebut dimasa depan. Menurut Muhammadi et al.(2001) tahapan untuk melakukan simulasi model adalah sebagai berikut : 1. Penyusunan konsep, pada tahap ini dilakukan identifikasi variabel yang berperan dalam menimbulkan gejala atau proses. Variabel tersebut saling berinteraksi, saling berhubungan dan saling tergantung. Kondisi ini dijadikan sebagai dasar untuk menyusun gagasan atau konsep mengenai gejala atau proses yang akan disimulasikan. 2. Pembuatan model, gagasan atau konsep yang dihasilkan pada tahap pertama selanjutnya dirumuskan sebagai model yang berbentuk uraian, gambar dan rumus. 26 3. Simulasi, dilakukan dengan menggunakan model yang telah dibuat. Pada model kuantitatif, simulasi dilakukan dengan memasukkan data kedalam model, sedangkan pada model kualitatif, simulasi dilakukan dengan menelusuri dan melakukan analisis hubungan sebab akibat antar variabel dengan memasukkan data atau informasi yang dikumpulkan untuk memahami perilaku gejala atau proses model. 4. Validasi hasil simulasi, bertujuan untuk mengetahui kesesuaian antara hasil simulasi dan gejala atau proses yang ditirukan. Model dapat dinyatakan baik jika kesalahan atau simpangan hasil simulasi terhadap gejala atau proses yang terjadi di dunia nyata relatif kecil. Hasil simulasi yang sudah divalidasi tersebut digunakan untuk memahami perilaku gejala atau proses serta kecenderungan di masa depan, yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi pengambil mendatang. keputusan untuk merumuskan suatu kebijakan di masa 4 KONDISI UMUM PULAU TARAKAN 4.1 Kondisi Geografis dan Luas Wilayah Asal mula penamaan Tarakan berasal dari bahasa Tidung (suku/kaum nelayan), yaitu „tarak’ yang berarti bertemu dan „ngakan’ berarti makan. Jadi, tarakan bermakna adalah tempat bertemunya para nelayan untuk beristirahat makan, maupun untuk keperluan lainnya. Kota ini pada awalnya adalah perkampungan kecil para nelayan, kemudian berkembang menjadi kota setelah ditemukan dan dieksploitasi sumber-sumber minyak buminya pada tahun 1896 oleh perusahaan perminyakan milik Pemerintah Hindia Belanda Bataafsche Pettroleum Maatschappij (BPM). Seiring dengan meningkatnya aktivitas eksploitasi minyak bumi di Pulau Tarakan tersebut, maka mulailah berdatangan penduduk dari daerah sekitarnya dan dari luar daerah baik itu sebagai tenaga kerja yang dibawa oleh Belanda maupun mereka mengadu nasib karena terpikat untuk mencari rezeki. Tarakan dibentuk sesuai dengan Kepres RI. No.22 tahun 1963 sebagai wilayah Kecamatan, kemudian berubah menjadi Kota Administratif sesuai dengan PP.No.47 Tahun 1981 dan kemudian ditingkatkan menjadi Kotamadya berdasarkan UU RI.No.29 Tahun 1997 yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 15 Desember 1997, sekaligus sebagai hari jadi Kota Tarakan. Kota Tarakan terletak dibagian utara Propinsi Kalimantan Timur yang merupakan pintu gerbang pembangunan wilayah utara Kalimantan Timur setelah Kota Balikpapan. Kota Tarakan merupakan kota pulau secara geografis terletak pada 117030’50”- 117040’12’’ Bujur Timur serta diantara 3019’ - 3020’ Lintang Utara, terdiri dari 2 (dua) pulau yaitu Pulau Tarakan dan Pulau Sadau. Kota Tarakan mempunyai luas 657,33 km2 dimana 38,2% nya atau 250,8 km2 berupa daratan dan sisanya sebanyak 61,8% atau 406,53 km2 berupa lautan. Di bagian utara berbatasan dengan pesisir pantai Kecamatan Pulau Bunyu Kabupaten Bulungan dan disebelah selatan berbatasan dengan pesisir pantai Kecamatan Tanjung Palas Kabupaten Bulungan. Sedangkan disebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Pulau Bunyu Kabupaten Bulungan dan Laut Sulawesi. Dan disebelah barat berbatasan dengan pesisir pantai Kecamatan Sesayap Kabupaten Bulungan. Letak dan posisi Pulau Tarakan dapat dilihat pada Gambar 11. Adanya perkembangan dan pemekaran wilayah sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Tarakan Nomor 23 Tahun 1999, maka Kota Tarakan yang 33 sebelumnya terdiri dari 3 kecamatan dimekarkan menjadi 4 kecamatan dan 18 kelurahan. Keempat kecamatan tersebut adalah Tarakan Timur, Tarakan Tengah, Tarakan Barat dan Tarakan Utara. Disamping itu berdasarkan UU No.22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, status desa yang ada di Kota Tarakan seluruhnya berubah menjadi kelurahan. Undang-undang tersebut juga mengubah penyebutan “Kotamadya Tarakan” menjadi “Kota Tarakan”. Kota Tarakan terbagi atas 4 kecamatan dan 20 kelurahan, yang masing luasnya dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Jumlah dan luas wilayah kecamatan dan kelurahan di Kota Tarakan Kecamatan Tarakan Timur 58,01 km2 1. Kelurahan Lingkas Ujung 1,16 km2 2. Kelurahan Gunung Lingkas 3,19 km2 3. Kelurahan Mamburungan 18,90 km2 4. Kelurahan Kampung Empat 11,39 km2 5. Kelurahan Kampung Enam 23,37 km2 6. Kelurahan Mamburungan Timur 7. Kelurahan Pantai Amal Kecamatan Tarakan Tengah 55,54 km2 1. Kelurahan Selumit Pantai 0,48 km2 2. Kelurahan Selumit 0,43 km2 3. Kelurahan Sebengkok 1,48 km2 4. Kelurahan Pamusian 2,54 km2 5. Kelurahan Kampung Satu Skip 50,61 km2 Kecamatan Tarakan Barat 27,89 km2 1. Kelurahan Karang Balik 0,76 km2 2. Kelurahan Karang Rejo 0,80 km2 3. Kelurahan Karang Anyar 5,61 km2 4. Kelurahan Karang Anyar Pantai 8,51 km2 5. Kelurahan Karang Harapan 12,21 km2 Kecamatan Tarakan Utara 109,36 km2 1. Kelurahan Juata Permai 10,59 km2 2. Kelurahan Juata Kerikil 14,23 km2 3. Kelurahan Juata Laut 84,54 km2 Kecamatan Tarakan Utara merupakan kecamatan terluas diantara kecamatan lain di Kota Tarakan dengan luas 109,36 km2 atau sekitar 43,6% dari luas Kota Tarakan. Sedangkan Kecamatan Tarakan Barat termasuk kecamatan yang paling kecil jika dilihat dari luasnya. Luas Kecamatan Tarakan Barat hanya 27,89 km2 atau 11,12% dari luas daratan Kota Tarakan. 34 Gambar 11 Peta Pulau Tarakan Kota Tarakan menduduki posisi yang strategis, khususnya dalam konteks Propinsi Kalimantan Timur antara lain karena : a. Kota Tarakan merupakan pusat pengembangan wilayah terpadu pembangunan utama bagian utara Kalimantan Timur meliputi : Kota Tarakan dan sekitarnya, Malinau-Sesayap-Tanjung Selor dan sekitarnya, Nunukan dan sekitarnya, sertaTanjung Redeb dan sekitarnya, sehinga menjadikan Tarakan sebagai penggerak pertumbuhan Wilayah Utara Propinsi Kalimantan Timur. b. Sebagai pintu gerbang kedua Provinsi Kalimantan Timur setelah Kota Balikpapan bagi lalu lintas pelayaran dan penerbangan. c. Merupakan kota transit manusia, barang-barang dan jasa sebelum menyebar maupun didistribusikan ke daerah hinterlandnya (Kabupaten Berau, Nunukan, Bulungan dan Malinau). d. Dari lingkup internasional, Tarakan tidak saja sebagai pusat transit perdagangan antar pulau di Kalimantan Timur bagian utara, bahkan menjadi pusat transit perdagangan bebas antara Indonesia-Malaysia-Filipina, 35 sehingga dalam menyonsong perdagangan bebas sangat berdekatan dengan negara tetangga. e. Kota Tarakan juga memiliki eksebilitas tinggi terhadap kota-kota lain untuk memudahkan usaha-usaha didalam kegiatan pemasaran dan pengembangan kegiatan dan distrbusi barang dan jasa karena aspek geo-politik, geostrategis, dan geo-ekonomi yang sangat baik. 4.2 Topografi Berdasarkan kondisi topografis, Kota Tarakan merupakan area datar hingga berbukit, pada dorsal pulau ini terdapat perbukitan memanjang melengkung kearah Barat Laut – Tenggara dengan ketinggian sekitar 110 meter dpl. Kelerengan bervariasi antara 2,5-50% dengan kelerengan rata-rata sekitar 3%. Lembah-lembah dengan tebing terjal dijumpai pada bagian hulu dengan ketinggian tebing relatif sedang. Disisi Barat dan Timur perbukitan mengalir beberapa sungai atau alur dengan cabang dan anak-anak sungai yang relative pendek hingga mencapai tepi laut atau dataran. Tebing-tebing di perbukitan menunjukkan intensitas erosi yang tinggi. Perbukitan tersebut dikelilingi oleh dataran banjir, dataran sungai, dan dataran pantai. Di beberapa tempat, khususnya di bagian utara pulau terdapat rawa-rawa atau genangan. Kawasan dataran dengan ketinggian kurang dari 7 meter mencakup luasan sekitar 65% dari seluruh luas Pulau Tarakan. Sedangkan tingkat kelerengan lahan berkisar antara 0-40%. Lereng atau kemiringan lahan merupakan salah satu factor yang perlu diperhatikan dalam menentukan layak atau tidaknya suatu wilayah untuk budidaya. 4.3 Fisiografi Wilayah fisiografi Kota Tarakan dikelompokan dalam lima satuan fisiografik yaitu : a. Wilayah endapan pasir pantai (beaches) yaitu daerah punggung pasir di pantai pesisir dengan bentuk wilayah dasar, variasi lereng dari 2% dan perbedaan tinggi < 2 m. b. Wilayah rawa pasang surut (tidal swamp) yaitu daerah daratan rendah ditepi pantai yang selalu ditumbuhi hutan mangrove dan nipah, bentuk wilayah datar dengan variasi lereng < 2% dan perbedaan tinggi <2 m. 36 c. Wilayah dataran (plain) yaitu daerah endapan, dataran karst, dataran basalt dengan wilayah bergelombang <40% dengan beda ketinggian <50 meter. d. Wilayah dataran alluvial yaitu daerah dataran dari proses pengendapan baik di daerah muara maupun daerah pedalaman. Bentuk wilayah datar dengan variasi lereng <2 meter. e. Wilayah berbukit (hill) yaitu daerah bukit endapan dan ultra basalt, sistem punggung sedimen, metaorf dan kerucut vulkanik yang berpotongan dengan pola drainase radial. Bentuk wilayah bergelombang/bergunung, variasi lereng 16-60% dan beda ketinggian 50-300 meter. 4.4 Morfologi Kota Tarakan merupakan daerah datar hingga berbukit yang tersebar dalam beberapa kelas ketinggian. Kawasan pantai Kota Tarakan memiliki kondisi topografi yang cenderung datar. Luas kota Tarakan pada daerah pengaruh pasang surut sebesar 2.937 ha (11,71%) dengan kelas ketinggian 0-7 meter. Untuk daerah dataran pantai luasannya mencapai 8.980 ha (35,65%) pada ketinggian 7-25 meter. Kedua kelas ketinggian ini tersebar mulai garis pantai hingga ke bagian tengah pulau. 4.5 Morfologi Daerah Aliran Sungai Umumnya daerah aliran sungai di Pulau Tarakan berupa sungai-sungai kecil dengan lebar antara 1-7 meter, kedalaman air tidak lebih dari 0,5 meter. Sungai-sungai yang mengalir di Pulau Tarakan umumnya pendek-pendek. Hulu sungai terdapat di tengah pulau, sebagian mengalir ke pantai barat pulau dan sebagian lagi mengalir ke pantai timur Pulau Tarakan. Sungai-sungai yang bermuara di bagian barat pulau adalah Sungai Bengawan, Sungai Peniki, Sungai Sesanip, Sungai Pamusian, Sungai Selipi dan Sungai Amal. Selain itu terdapat sungai-sungai yang mengalir ke pantai utara, yaitu Sungai Bunyu, Sungai Maja, dan Sungai Selayang. Sungai yang tergolong besar dan alirannya terus-menerus sepanjang musim adalah Sungai Pamusian. Daerah aliran sungai di Pulau Tarakan dapat dilihat pada Gambar 12. 4.6 Debit Sungai dan Sedimentasi Sungai-sungai yang mengalir di Pulau Tarakan umumnya sempit dan pendek. Pada saat kemarau aliran sungai umumnya kering atau sangat sedikit, 37 sedangkan pada musim penghujan debit air cukup besar. Luasan daerah aliran sungai dan debit aliran maksimum masing-masing sungai dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Inventarisasi sungai Pulau Tarakan (2009) Luas DPS No. Nama Sungai (km2) 1 Sungai Binalatung 22,591 2 Sungai Pamusian 23,82 3 Sungai Kampung Bugis/Karang Anyar 5,641 4 Sungai Persemaian 14,779 5 Sungai Semunti 8,976 6 Sungai Maya 15,066 7 Sungai Mangatal 10,422 8 Sungai Selayung 8,366 9 Sungai Siaboi 20,492 10 Sungai Keterangan 17,245 11 Sungai Hanjulung 6,634 12 Sungai Kuli 4,268 13 Sungai Kampung Baru 3,821 14 Sungai Amal Baru 3,468 15 Sungai Batu Mapan 3,138 16 Sungai Slipi/Mambulua 1,441 17 Sungai Bunyu/Tanjung Batu 2,025 18 Sungai Mentogog 4,944 19 Sungai Nangitan 2,336 20 Sungai Buaya 23,82 21 Sungai Sesanip 6,676 22 Sungai Bengawan 12,363 23 Sungai Belalung 9,737 24 Sungai Bunyu 7,578 Debit Maks (m3/dtk) 1,973 0,204 0,493 1,29 0,784 1,316 0,91 0,731 1,789 1,506 0,579 0,373 0,334 0,303 0,274 0,126 0,177 0,432 0,204 2,08 0,583 1,08 0,85 0,662 Permukaan tanah Pulau Tarakan umumnya mengandung pasir dan lempung. Karena kestabilan lereng yang rendah, penebangan pohon, dan curah hujan yang tinggi mengakibatkan terjadinya sedimentasi (pendangkalan) di dalam sungai. Adanya sedimentasi pada aliran ini dapat mengakibatkan kekeruhan yang mempengaruhi kualitas sungai. 38 Gambar 12 Peta Daerah Aliran Sungai Pulau Tarakan 4.7 Curah Hujan Rata-rata Curah hujan di suatu tempat antara lain dipengaruhi oleh keadaan iklim, keadaan geografis dan pertemuan/perputaran arus udara (BMKG, 2009). Oleh karena itu, jumlah curah hujan beragam menurut bulan dan letak stasiun pengamat. Curah hujan Kota Tarakan sangat beragam dari waktu ke waktu. Catatan curah hujan bulanan sepanjang tahun 2008 disajikan pada Tabel 5. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari sebesar 443,6 mm dan rata-rata hujan terendah sebesar 206,6 mm terjadi pada bulan Oktober. Sedangkan ratarata curah hujan sepanjang tahun 2008 tercatat sebesar 330,8 mm. Namun dalam tahun-tahun terakhir ini, keadaan musim di Kalimantan Timur termasuk Kota Tarakan kadang tidak menentu. Pada bulan-bulan yang seharusnya turun hujan dalam kenyataannya tidak turun hujan sama sekali, begitu juga sebaliknya. 39 Tabel 5 Curah hujan dan hari hujan Kota Tarakan tahun 2008 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 2008 2007 2006 2005 2004 2003 4.8 Curah hujan (mm) 443,6 293,6 404,1 377,1 375,5 320,9 312,8 208,1 309,2 206,6 426,5 291,8 330,8 329,5 346,2 278,5 293,6 274,2 Penyinaran matahari (%) 43.6 48,1 22,1 39,1 53,8 44,8 46,9 46,7 52,8 53,7 42,2 33,15 43,9 46,1 57,9 51,0 51,4 52,2 Hari hujan 27 24 27 24 20 26 23 22 24 19 26 27 24 23 23 21 19 19 Tekanan udara (mb) 1010,1 100,1 1010,4 1009,8 1010,3 1010,9 1010,5 1010,9 1011,0 1011,0 1010,3 1010,1 1010,5 1010,5 1010,7 1011,0 1009,8 1009,7 Penggunaan Lahan di Kota Tarakan Jenis penutupan lahan tahun 2008 didapatkan dari interpretasi citra satelit Landsat TM 5 tahun 2008 dan dikoreksi dengan data satelit resolusi dangat tinggi (quickbird) untuk beberapa wilayah. Penutupan lahan dikalsifikasikan menjadi 11 kelas seperti tersaji pada Tabel 6. Dari hasil tersebut, Kota Tarakan masih mempunyai jenis tutupan lahan hutan primer seluas 31,1% dari seluruh total wilayahnya, terutama di Kecamatan Tarakan Barat, Kecamatan Tarakan Tengah dan Kecamatan Tarakan Utara. Sedangkan untuk hutan mangrove hanya terdapat di Kecamatan Tarakan Tengah dan Kecamatan Tarakan Timur dengan luas sekitar 312,9 ha atau sekitar 1,2% dari seluruh wilayah. Sebaran masingmasing jenis tutupan dapat dilihat pada Gambar 13. Tabel 6 Jenis dan tutupan lahan Pulau Tarakan tahun 2008 Penutupan Lahan 2008 Hutan mangrove Hutan primer Ladang Ladang bersemak Lahan terbangun Perkampungan Rawa Rawa bersemak Semak belukar Tambak Tanah terbuka Total Luas (ha) Luas (%) 312,9 7788,0 4522,0 3537,1 2892,6 465,4 16,5 190,4 1999,5 2327,4 1028,3 1,2 31,1 18,0 14,1 11,5 1,9 0,1 0,8 8,0 9,3 4,1 25080,0 100,0 40 Gambar 13 Penutupan lahan Pulau Tarakan (2008) 4.9 Kependudukan Penduduk Kota Tarakan mendiami wilayah pulau secara menyebar, namun yang dominan dan terpadat pada kawasan pantai Kota Tarakan terdapat di Lingkas Ujung, Selumit Pantai, Karang Anyar Pantai, yang sebagian besar 41 merupakan pendatang dari Sulawesi. Kepadatan sedang terdapat pada Juata Laut, karena sebagian penduduk merupakan nelayan tambak yang hanya menjadikan Kota Tarakan sebagai tempat singgah dan istirahat. Sementara itu, untuk daerah Mamburungan sebagian besar merupakan korban eks kebakaran yang berasal dari Selumit Pantai. Jumlah anggota keluarga yang bekerja pada masing-masing kawasan 1-3 orang dan sebagian besar memiliki pendidikan hanya sampai tingkat Sekolah Dasar. Jumlah penduduk Kota Tarakan berdasarkan data BPS Kota Tarakan seperti pada Tabel 7. Tabel 7 Jumlah penduduk Kota Tarakan Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 4.10 Tarakan Barat 41.302 45.762 51.533 53.514 60.077 63.707 70.023 76.671 82.028 Tarakan Timur 21.805 25.270 26.841 32.317 34.171 39.244 44.961 53.462 56.178 Tarakan Tengah 46.458 48.190 50.526 49.937 51.930 54.855 56.971 59.006 62.413 Tarakan Utara 8.089 10.975 11.467 12.152 13.550 15.821 18.175 20.859 24.132 Total (jiwa) 117.654 130.197 140.367 147.920 159.874 173.627 190.130 209.998 224.751 Kondisi Infrastruktur Perumahan Jumlah total bangunan rumah di Kota Tarakan tahun 2006 adalah 29.919 unit. Sebaran perumahan per kecamatan belum merata. Jumlah rumah terbanyak berada di Kecamatan Tarakan Barat yaitu sebanyak 9.709 unit dan jumlah rumah terkecil di Kecamatan Tarakan Utara sebanyak 3.859 unit. Sedangkan untuk skala kelurahan, jumlah rumah terbanyak terdapat di Kelurahan Karang Anyar yaitu 4.366 unit dan jumlah terkecil di Kelurahan Mamburungan Timur sebanyak 291 unit. Berdasarkan jenis konstruksinya sebagian besar rumah di Kota Tarakan merupakan rumah non permanen, yaitu sebanyak 15.238 unit. Sementara rumah permanen berjumlah 13.346 unit, dan rumah semi permanen sebanyak 332 unit. Banyaknya jumlah rumah non permanen di Kota Tarakan karena tipologi bangunan merupakan jenis rumah panggung dan terbuat dari kayu. Sistem struktur yang digunakan sebagai konstruksi bangunan adalah struktur rangka kayu, konstruksi dinding dan lantai papan kayu, sedangkan atap sebagian besar menggunakan atap seng dan sebagian kecil atap sirap. Konstruksi panggung umumnya terletak diatas air/tepi pantai dan sungai, untuk mengantisipasi air pasang dan binatang buas.Tipologi perumahan yang berada di daratan, secara 42 umum lebih variatif bentuk konstruksinya, baik konstruksi rumah panggung maupun konstruksi pondasi batu. Tipologi bangunan rumah di daratan umumnya sudah lebih modern dengan jenis rumah yang berdinding tembok bata dan beratap genteng. Jenis rumah ini umumnya merupakan rumah-rumah baru atau perumahan yang dibangun oleh pengembang. 4.11 Kondisi Infrastruktur Air Bersih Kebutuhan air bersih saat ini dilayani oleh PDAM Kota Tarakan. Saat ini PDAM memiliki 4 (empat) buah IPA seperti pada Gambar 14. Gambar 14 Peta pembagian zona pelayanan air minum PDAM PDAM Kota Tarakan telah berdiri semenjak tahun 1980 dan merupakan cabang PDAM Kabupaten Bulungan yang beribukota di Tanjung Selor. Jadi, PDAM Kota Tarakan ini telah berusia 32 tahun. Kota Tarakan yang berbatasan dengan lautan mengakibatkan rentannya kondisi/kualitas air tanah maupun air permukaan. Padahal, kuantitas air bersih yang dibutuhkan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah dan taraf hidup masyarakatnya. 43 Adapun sumber air baku yang dimanfaatkan oleh PDAM Kota Tarakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih adalah : (1) Sungai Kampung Bugis untuk instalasi pengolahan air Kampung Bugis, (2) Sungai Sesanip untuk instalasi pengolahan air di Persemaian, (3) Sungai Semunti untuk instalasi pengolahan air Juata Laut, (4) Sungai Binalatung untuk instalasi pengolahan air Kampung Satu. Kapasitas total IPA PDAM terpasang sebesar 400 liter/detik, namun kapasitas efektifnya hanya sebesar 269 liter/detik (PDAM Tarakan, 2009). Jumlah produksi air bersih sebesar 8.103.581,52 m3 dan air yang didistribusikan sebesar 7.863.018,17 m3. Sedangkan kehilangan air air cukup tinggi yaitu sebesar 3.185.681,97 m3 atau 40,5%. Sumber air bersih lainnya adalah air sumur dan mata air. Dari data PDAM tahun 2003, terdata secara keseluruhan terdiri dari 378 mata air sumur, serta 162 unit pompa tangan seperti yang disajikan pada Tabel 8. Tabel 8 Sumber air baku alami Kota Tarakan (2003) No Kecamatan 1 2 3 4 Tarakan Timur Tarakan Tengah Tarakan Barat Tarakan Utara Total Pemanfaatan Sumber Air Mata Air (Sumur) Air Tanah Dangkal (pompa tangan) 130 71 105 49 46 30 97 12 378 162 5 STRATEGI PENYEDIAAN AIR BERSIH KOTA TARAKAN Dalam bab ini akan membahas mengenai strategi yang akan digunakan dalam pengembangan penyediaan air bersih di pulau kecil, studi kasus Kota Tarakan. Strategi penyediaan air bersih menggunakan 3 (tiga) tahapan metode, yaitu (1) ISM (Interpretatif Structural Modelling) untuk mengetahui faktor kunci dalam kendala, kebutuhan dan kelembagaan penyediaan air bersih; (2) AHP (Analytical Hierarchy Process) untuk mendapatkan alternatif penyediaan air bersih; dan (3) SWOT (Strength, Weakness, Opportunities and Threats) untuk menyusun strategi dalam pengembangan penyediaan air bersih. 5.1 Analisis Kendala, Kebutuhan dan Kelembagaan Penyediaan Air Bersih Dalam penyediaan air bersih secara berkelanjutan di Pulau kecil, dalam hal ini di Kota Tarakan, perlu dikaji aspek kendala, kebutuhan dan lembaga yang berperan dalam penyediaan air bersih. Kajian ini menggunakan metode ISM (Interpretative Structural Modelling) dengan menggunakan kuisioner dan diskusi pakar. a. Kendala dalam Penyediaan Air Bersih di Pulau Kecil Berdasarkan hasil pendapat pakar, ditemukan 12 sub elemen kendala, yaitu (1) kebijakan yang kurang memperhatikan pulau kecil, (2) terbatasnya sarana dan prasarana dasar, (3) kualitas air baku yang buruk akibat pencemaran, (4) rendahnya kesadaran hidup bersih, (5) tingginya investasi sarana penyediaan air bersih, (6) tata ruang yang buruk, (7) mudah terjadi konflik sosial, (8) kurangnya sumberdaya manusia yang memadai, (9) terbatasnya sumberdaya air tawar, (10) kurangnya kemampuan/kapasitas institusi, (11) tata kelola kelembagaan lemah, (12) teknologi penyediaan air kurang memadai. Hubungan kontekstual antar sub elemen kendala adalah sub elemen kendala yang satu memberikan kontribusi atau menyebabkan sub elemen kendala yang lain. Berdasarkan hasil analisis seperti pada Gambar 15 menunjukkan bahwa sub elemen kendala kebijakan yang kurang memperhatikan Pulau kecil (K1), kualitas air baku yang buruk akibat pencemaran (K3), tingginya investasi sarana penyediaan air bersih (K5), tata ruang yang buruk (K6), kurangnya sumberdaya manusia yang memadai (K8), terbatasnya sumberdaya air tawar (K9), terletak pada independent sector. Hal ini menunjukkan bahwa ke enam sub elemen 45 kendala tersebut memberikan kontribusi yang tinggi terhadap sub elemen kendala yang lain, setiap perubahan dalam sub elemen ini akan mempengaruhi sub elemen kendala yang lain, sehingga perlu kajian yang lebih hati-hati dan mendalam. Sub elemen terbatasnya sarana dan prasarana dasar (K2) dan mudah terjadi konflik sosial (K7), terletak pada linkage sector, hal ini berarti bahwa terjadinya kedua sub elemen kendala tersebut sangat dipengaruhi dan sekaligus mempengaruhi terjadinya sub elemen kendala yang lain. Sub elemen kurangnya kemampuan/kapasitas institusi (K10), tata kelola kelembagaan lemah (K11), berada pada dependent sector, hal ini berarti bahwa terjadinya kedua kendala ini sangat dipengaruhi oleh sub elemen kendala lainnya. Sedangkan sub elemen kendala rendahnya kesadaran hidup bersih (K4) dan teknologi penyediaan air kurang memadai (K12), menempati autonomous sector, hal ini berarti bahwa sub elemen kendala ini umumnya tidak berkaitan atau memiliki hubungan yang sedikit dengan sub elemen kendala lainnya. Gambar 15 Matriks driver power – dependence untuk elemen kendala dalam penyediaan air bersih berkelanjutan di Kota Tarakan Dari analisis ini didapatkan hirarki sub elemen kendala seperti yang disajikan pada Gambar 16. Sub elemen kendala kunci (driver power) pada penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil di Kota Tarakan adalah kualitas air baku yang buruk akibat pencemaran (K3), kurangnya sumberdaya 46 manusia yang memadai (K8) dan terbatasnya sumberdaya air tawar (K9). Ketiga sub elemen kendala ini menjadi dasar bagi sub elemen lainnya. Untuk itu kendala kualitas air baku yang buruk, kurangnya sumberdaya manusia yang memadai dan terbatasnya sumberdaya air tawar menjadi elemen kendala yang perlu terlebih dahulu diselesaikan. Sub elemen kendala selanjutnya adalah kebijakan yang kurang memperhatikan Pulau kecil (K1). Akibat kurang perhatian dari pemerintah, maka sarana dan prasarana dasar (K2) menjadi terbatas, begitu juga dengan tata ruang yang belum tertata (K6). Tahapan selanjutnya yang harus dipecahkan dalam penyediaan air bersih adalah menciptakan sarana penyediaan air bersih dengan investasi yang murah (K5). Berikutnya adalah memperbaiki tata kelola kelembagaan pengelolaan air bersih (K11), menyelesaikan atau meredam konflik-konflik sosial (K7) dan merubah budaya masyarakat untuk selalu hidup bersih (K4). Kendala ini menarik, karena mudahnya terjadi perselisihan antar suku di Kota Tarakan, dan beberapa suku tertentu memiliki kebiasaan yang berbeda dalam memanfaatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Contohnya, ada sebagian suku di Kota Tarakan yang terbiasa menggunakan air yang sedikit payau, begitu pula ada sebagian suku yang terbiasa menggunakan air yang sedikit asam (gambut). Tahapan terakhir yang harus diselesaikan adalah meningkatkan kemampuan kapasitas institusi (K10), hal ini terlihat dari rendahnya cakupan pelayanan air bersih di Kota Tarakan, untuk itu diperlukan teknologi penyediaan air yang cocok di Pulau kecil, khususnya di Kota Tarakan (K12). Gambar 16 Struktur hirarki sub elemen kendala penyediaan air bersih berkelanjutan di Kota Tarakan 47 b. Kebutuhan dalam Penyediaan Air Bersih di Pulau Kecil Berdasarkan hasil pendapat pakar, ditemukan 7 sub elemen kendala, yaitu (1) ketersediaan air baku, (2) teknologi penyediaan air bersih, (3) investasi, (4) peran serta masyarakat, (5) dukungan kebijakan, (6) sumberdaya manusia, (7) lembaga pengelolaan air bersih. Hubungan kontekstual antar sub elemen kebutuhan adalah sub elemen kebutuhan yang satu lebih penting dari sub elemen kebutuhan yang lain. Berdasarkan hasil analisis seperti pada Gambar 17 menunjukkan bahwa sub elemen kebutuhan ketersediaan air baku (B1) dan teknologi pengolahan air bersih (B2), terletak pada independent sector. Hal ini menunjukkan bahwa kedua sub elemen kebutuhan tersebut memberikan kontribusi yang tinggi terhadap sub elemen kebutuhan yang lain, setiap perubahan dalam sub elemen ini akan mempengaruhi sub elemen kebutuhan yang lain, sehingga perlu kajian yang lebih hati-hati dan mendalam. Sub elemen peran serta masyarakat (B4), sumberdaya manusia (B6) dan investasi (B3), terletak pada lingkage sector, hal ini berarti bahwa terjadinya kedua sub elemen kebutuhan tersebut sangat dipengaruhi dan sekaligus mempengaruhi terjadinya sub elemen kebutuhan yang lain. Sub elemen dukungan kebijakan (B5), dan lembaga pengelolaan air bersih (B7), berada pada dependent sector, hal ini berarti bahwa terjadinya kedua kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh sub elemen kebutuhan lainnya. Gambar 17 Matriks driver power – dependence untuk elemen kebutuhan dalam penyediaan air bersih berkelanjutan di Kota Tarakan 48 Dari analisis ini didapatkan hirarki sub elemen kebutuhan seperti yang disajikan pada Gambar 18. Sub elemen kebutuhan kunci (driver power) pada penyediaan air bersih berkelanjutan di Pulau kecil di Kota Tarakan adalah ketersediaan air baku (B1). Sub elemen kebutuhan ini menjadi dasar bagi sub elemen lainnya. Untuk itu ketersediaan air baku yang dapat dimanfaatkan atau diolah menjadi air bersih menjadi elemen kebutuhan yang perlu dan penting terlebih dahulu diperhitungkan. Sub elemen kebutuhan selanjutnya adalah teknologi pengolahan air bersih (B2). Sub elemen ini perlu disediakan sebagai alat untuk mengolah air baku yang tersedia. Kemudian diperlukan juga peran serta masyarakat (B4) dan ketersediaan sumber daya manusia (B6) yang handal. Semua elemen kebutuhan diatas membutuhkan investasi yang layak dan proporsional (B3). Untuk itu, dukungan pemerintah daerah maupun pusat sangat diperlukan dalam bentuk dukungan kebijakan (B5), dan level terakhir dalam kebutuhan penyediaan air bersih di Pulau kecil ini diperlukan suatu lembaga dalam pengelolaan air bersih (B7). Gambar 18 Struktur hirarki sub elemen kebutuhan penyediaan air bersih berkelanjutan di Kota Tarakan c. Lembaga yang terlibat dalam Penyediaan Air Bersih di Pulau Kecil Berdasarkan hasil pendapat pakar, ditemukan 7 sub elemen lembaga, yaitu (1) pemerintah pusat, (2) pemerintah daerah, (3) PDAM, (4) masyarakat, (5) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), (6) Swasta, (7) perguruan tinggi. Hubungan kontekstual antar sub elemen lembaga adalah sub elemen lembaga yang satu lebih berpengaruh dari sub elemen lembaga yang lain. 49 Berdasarkan hasil analisis seperti pada Gambar 19 menunjukkan bahwa sub elemen lembaga pemerintah pusat (L1), pemerintah daerah (L2) dan PDAM (L3), terletak pada independent sector. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga sub elemen lembaga tersebut memberikan kontribusi yang tinggi terhadap sub elemen lembaga yang lain, setiap perubahan dalam sub elemen ini akan mempengaruhi sub elemen lembaga yang lain, sehingga perlu kajian yang lebih hati-hati dan mendalam. Sub elemen masyarakat (L4) dan swasta (L6), terletak pada lingkage sector, hal ini berarti bahwa terjadinya kedua sub elemen lembaga tersebut sangat dipengaruhi dan sekaligus mempengaruhi terjadinya sub elemen lembaga yang lain. Sub elemen lembaga swadaya masyarakat (L5) dan perguruan tinggi (L7), berada pada dependent sector, hal ini berarti bahwa keberadaan kedua lembaga ini sangat dipengaruhi oleh sub elemen lembaga lainnya. Gambar 19 Matriks driver power – dependence untuk elemen lembaga dalam penyediaan air bersih berkelanjutan di Kota Tarakan Dari analisis ini didapatkan hirarki sub elemen lembaga seperti yang disajikan pada Gambar 20. Sub elemen lembaga kunci (driver power) pada penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil di Kota Tarakan adalah perusahaan daerah air minum/PDAM (L3). Sub elemen lembaga ini menjadi dasar bagi sub elemen lainnya. Untuk itu keberadaan perusahaan daerah air minum masih menjadi lembaga yang paling berpengaruh dalam penyediaan air 50 bersih. Sub elemen lembaga selanjutnya adalah pemerintah daerah (L2) dan selanjutnya pemerintah pusat (L3). Peranan kedua lembaga pemerintah ini juga tidak kalah penting. Lembaga selanjutnya yang berpengaruh adalah masyarakat (L4) dan swasta (L6). Kedua lembaga ini berada pada level yang sama, yang dapat diartikan bahwa penyediaan air bersih oleh masyarakat dan swasta memiliki peranan yang sama di Pulau kecil. Level selanjutnya adalah lembaga perguruan tinggi (L7). Lembaga ini berperan sebagai pengembangan teknologi pengolahan air bersih, sedangkan level selanjutnya adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai elemen lembaga terakhir yang berpengaruh dalam penyediaan air bersih. Keberadaan LSM dapat berperan sebagai pengawas sosial dalam sector penyediaan air bersih. Gambar 20 Struktur Hirarki Sub Elemen Lembaga Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan di Kota Tarakan 5.2 Analisis Bentuk Pengelolaan Penyediaan Air Bersih Pertumbuhan masyarakat Kota Tarakan yang tinggi diikuti dengan pertumbuhan ekonomi serta perkembangan industri yang banyak menggunakan lahan dan air menyebabkan kelangkaan air semakin meningkat. Sumber-sumber air tercemar karena limbah yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi dan industri, menyebabkan kualitas air yang bisa langsung dicerna dan dikonsumsi oeh penduduk semakin sedikit. Dibutuhkan suatu badan dan sistem pengelolaan dan penyediaan air baku untuk dikelola menjadi air bersih yang dapat didistribusikan kepada penduduk. Untuk itu diperlukan suatu paradigma baru dalam penyediaan 51 air bersih dan air minum di Kota Tarakan untuk menggantikan paradigma lama. Paradigma baru pengelolaan air bersih memandang permasalahan pengelolaan air bersih dari seluruh aspek yang terkait. Aspek-aspek tersebut adalah aspek kelestarian lingkungan, ekonomi, sosial, teknologi, kelembagaan, keuangan, efektifitas, urgensi dan keberlanjutan. Agar sistem pengelolaan tersebut dapat diwujudkan secara efektif, maka perlu diidentifikasi dan dikaji keterkaitan antara tujuan, kriteria, dan alternatif dalam pengelolaan air bersih tersebut. Proses identifikasi dan pengkajian ini dilakukan dengan pendekatan survei pakar dengan responden para pakar lintas disiplin menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), dengan struktur hirarki seperti pada Gambar 21. Gambar 21 Struktur dan bobot hirarki elemen bentuk pengelolaan air bersih di KotaTarakan Sasaran yang akan dicapai dalam analisis ini adalah untuk mencari bentuk pengelolaan air bersih di Kota Tarakan, yaitu (1) Pengelolaan Air Bersih Oleh Masyarakat, (2) Pengelolaan Air Bersih oleh Swasta, dan (3) Pengelolaan Air Bersih oleh Pemerintah/PDAM. Sedangkan tujuan penentuan bentuk pengelolaan air bersih di Kota Tarakan adalah dalam rangka untuk : (1) Menciptakan kelestarian lingkungan sumber air baku, (2) Meningkatkan ekonomi masyarakat, (3) Menciptakan keselarasan sosial dan keadilan dalam pelayanan 52 air bersih, (4) Menerapkan teknologi tepat guna untuk pengelolaan air bersih, dan (5) Menciptakan kelembagaan yang sehat dalam mengelola air bersih. Adapun faktor-faktor yang berpengaruh dalam pemilihan alternatif diatas yaitu: (1) Biaya yang dibutuhkan dalam sistem pengelolaan air bersih, (2) Efektifitas sistem pengelolaan, (3) Keberlanjutan sistem air bersih, (4) Urgensi sistem pengelolaan. Sedangkan aktor yang berperan dalam pengelolaan air bersih tersebut adalah: (1) Pemerintah Pusat/Daerah, (2) Perguruan Tinggi, (3) Masyarakat, (4) LSM, (5) Swasta, (6) PDAM. Komponen-komponen tersebut diatas disusun dalam suatu level hirarki seperti pada Gambar 21. Berdasarkan analisis menggunakan metoda AHP dengan Software Criterium Decision Plus Ver. 3.0.4/S, didapat hasil seperti pada Gambar 22 dan Gambar 23. Alternatif pengelolaan air bersih yang dipilih berdasarkan hasil analisa AHP adalah pengelolaan air bersih yang dilakukan oleh pemerintah (0,651). Faktor yang menyebabkan pemilihan alternatif tersebut adalah faktor urgensi (0,534). Aktor yang berperan dalam pengelolaan air bersih di Kota Tarakan adalah PDAM. Sedangkan tujuan pemilihan bentuk pengelolaan ini adalah bertujuan untuk pengembangan kelembagaan. Gambar 22 Hasil analisis bentuk pengelolaan air bersih di KotaTarakan 53 Gambar 23 Diagram analisis bentuk pengelolaan air bersih di Kota Tarakan 5.3 Strategi Pengembangan Kapasitas Layanan Air Bersih Penyusunan strategi pengembangan kapsitas layanan air bersih di Pulau kecil Kota Tarakan dilakukan menggunakan metoda SWOT (Sthrength, Weakness, Opportunity and Threats). Data diperoleh melalui wawancara/diskusi pakar. Dalam metode ini terlebih dahulu dirumuskan faktor-faktor apa saja yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam pengelolaan air bersih di Kota Tarakan. Setelah mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengelolaan tersebut, selanjutnya dilakukan pemberian bobot dan rating. Bobot dan rating dimaksudkan untuk mengetahui derajat kepentingan (bobot) dan derajat kuat tidaknya (rating) pengaruh indikator tersebut terhadap pengelolaan kapasitas air bersih. Untuk memperoleh nilai bobot, nilai pengaruh dari indicator-indikator internal dan eksternal diberikan nilai dengan skala mulai dari 1 (tidak penting), 2 (agak penting), 3 (penting) dan 4 (sangat penting). Kemudian bagi nilai-nilai pengaruh tersebut dengan jumlah total nilai pengaruh untuk mendapatkan bobot, sehingga apabila semua bobot dijumlahkan maka hasilnya adalah 1. Untuk memperoleh nilai rating indikator-indikator eksternal diberikan nilai (+) dengan skala mulai dari 1 (tidak baik), 2 (agak baik), 3 (baik) dan 4 (sangat baik) berdasarkan kondisi yang ada. Nilai negatif pada rating menunjukkan indikator tersebut merupakan kelemahan atau ancaman bagi pengelolaan air bersih di Kota Tarakan. Berdasarkan atas faktor-faktor strategi kondisi internal dan eksternal, maka didapat nilai dalam Matriks Faktor Strategi 54 Internal (IFAS) dan Matriks Faktor Strategi Eksternal (EFAS) sesuai dengan Tabel 9 dan Tabel 10. Tabel 9 No A. Matriks faktor strategi internal (IFAS) pengembangan pengelolaan air bersih di Kota Tarakan Faktor Internal Pengaruh Bobot 1 2 Adanya Komitmen pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan air bersih 3 Adanya partisipasi masyarakat 4 0.2 4 Curah hujan relatif tinggi 4 0.2 B. 1 2 3 4 Nilai Total Keterangan Kekuatan Pertumbuhan ekonomi yang tinggi 5 Rating Indeks Kualitas Air beberapa sungai masih cukup baik Jumlah Kelemahan Penyebaran penduduk yang tidak merata 4 4 0.2 0.2 0.6 Pengaruhnya sangat penting karena pertumbuhan ekonomi yang tergolong pesat di Kota Tarakan akan meningkatkan kebutuhan akan air bersih 0.6 Pengaruhnya sangat penting karena dengan adanya dukungan dari pemerintah pusat maupun daerah, akan menciptakan suasana yang kondusif dalam pengelolaan air bersih, terlihat kesiapan dalam RTRW Tarakan dan kebijakan dalam pengaturan air bersih 4 0.8 Pengaruhnya sangat penting karena dengan adanya partisipasi dan dukungan masyarakat pengguna akan mempermudah kegiatan pengelolaan air bersih 4 0.8 Pengaruhnya sangat penting, karena tingginya curah hujan dapat dimanfaatkan sebagai potensi air baku Pengaruhnya sangat penting sebagai sumber air baku permukaan, walaupun beberapa parameter tidak memenuhi baku mutu air, namun Indeks Kualitas Air (IKA) menunjukkan masih dapat dimanfaatkan sebagai air baku permukaan 3 3 4 0.2 4 0.8 20 1 18 3.6 4 Faktor SARA, sangat heterogen, 2 rawan konflik sosial terbuka SDM yang relatif masih 3 rendah Material bangunan yang 4 masih tergantung dari luar Jumlah 13 Jumlah Nilai Akhir 0.31 -2 -0.62 Sangat berpengaruh dalam pengelolaan air bersih, karena akan mempersulit dalam penyediaan air bersih, hal ini terlihat dari penduduk yang tinggal di kec. Tarakan Barat mencapai 36,23% dan kec. Tarakan Utara yang hanya dihuni 11,19% dari jumlah penduduk Tarakan 0.15 -2 -0.31 Agak berpengaruh dalam pengelolaan air bersih, karena investasi air bersih membutuhkan biaya yang cukup tinggi. 0.23 -3 -0.69 Berpengaruh dalam operasional pemeliharaan IPA 0.31 -4 -1.23 Sangat berpengaruh dalam pengelolaan air bersih, karena akan mempersulit proses pembangunan (teknis) dan mahalnya investasi 1 -11 -2.85 0.75 55 Tabel 10 Matriks faktor strategi eksternal (EFAS) pengembangan pengelolaan air bersih di Kota Tarakan No A. Faktor Eksternal Bobot Rating Nilai Total Keterangan 1.6 Pengaruhnya sangat penting. Saat ini sudah banyak teknologi teknologi penyediaan air bersih dengan berbagai variasi kapasitas. Teknologi pengolahan air bersih yang digunakan saat ini masih menggunakan model konvensional PDAM 0.4 Agak berpengaruh dalam pengelolaan air bersih. Saat ini sudah banyak tersedia programprogram pemberdayaan/CSR dari koorporasi Pengaruhnya sangat penting. Meningkatnya permintaan air bersih seiiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk/domestik dan industri Peluang 1 Adanya Pilihan Teknologi Pengolahan Air Bersih 2 Adanya program pemberdayaan masyarakat Permintaan pasar yang 3 terus meningkat terhadap air bersih Jumlah B. Ancaman 1 Pengaruh Topografi wilayah 4 2 0.4 0.2 4 2 4 0.4 4 1.6 10 1 10 3.6 3 0.23 -3 -0.69 Berpengaruh dalam penyediaan air bersih. Kota Tarakan di dominasi oleh rawa dan juga terdapat perbukitan yang didominasi oleh batu lempung dan batu pasir, dimana mudah mengembang dan sulit dipadatkan sehingga berpotensi longsor dan erosi -0.62 Pengaruhnya penting dalam pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat. Meningkatnya pertumbuhan penduduk menyebabkan meningkatnya kebutuhan air bersih 2 Pertumbuhan penduduk yang tinggi 3 Kerusakan hutan 3 0.23 -1 -0.23 4 Pencemaran lingkungan 3 0.23 -1 -0.23 13 1 -7 -1.77 Jumlah 4 Jumlah Nilai Akhir 0.31 -2 Pengaruhnya penting karena dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas air baku yang ada. Kondisi di P.Tarakan tidak begitu buruk. Pengaruhnya penting dalam pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat karena dapat mempengaruhi kondisi air baku yang ada. Kondisinya di P.Tarakan tidak begitu buruk 1.83 Berdasarkan Tabel 9 dan Tabel 10 diatas, jumlah nilai akhir indikator strategi internal (kekuatan dan kelemahan) pengelolaan air bersih di Kota Tarakan adalah 0,75 atau dalam kondisi kuat, sedangkan nilai total indikator 56 strategi eksternal (peluang dan ancaman) adalah 1,83 atau dalam kondisi memiliki peluang. Dengan demikian posisi pengelolaan air bersih di Kota Tarakan adalah kuat dan memiliki peluang yang cukup baik untuk dibuat suatu pengembangan kapasitas pelayanan. Posisi ini bila digambarkan dalam kuadran adalah termasuk kuadran I. Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 24. Gambar 24 Posisi kuadran strategi pengembangan kapasitas pelayanan air bersih di Kota Tarakan Pada Gambar 24, terlihat bahwa posisi untuk melakukan strategi pengembangan pelayanan air bersih di Kota Tarakan adalah pada kuadran I. Pada posisi ini rekomendasi strategi yang dapat diambil adalah strategi agresif atau juga disebut strategi pengembangan. Setelah didapat rekomendasi strategi, langkah selanjutnya adalah menyusun rumusan strategi pengembangan berdasarkan Matrik Analisis SWOT, yaitu strategi yang dibangun berdasarkan komponen strategi kekuatan dan peluang. 5.4 Kesimpulan Berdasarkan analisis ISM yang dilakukan dalam menyusun strategi penyediaan air bersih di Kota Tarakan didapat 3 (tiga) faktor kunci kendala penyediaan air bersih adalah kualitas air baku yang buruk akibat pencemaran, kurangnya sumberdaya manusia yang memadai dan terbatasnya sumberdaya air tawar; sedangkan faktor kebutuhan kunci dalam penyediaan air baku adalah ketersediaan air baku. Dari kendala dan kebutuhan penyediaan air bersih 57 tersebut maka pemerintah Kota Tarakan perlu menyusun suatu recana/kebijakan dalam rangka pengadaan air baku untuk kebutuhan penyediaan air bersih. Lembaga yang harus berperan aktif atau bertanggungjawab dalam pengelolaan air bersih di Kota Tarakan adalah PDAM. Hal ini terlihat dalam hasil analisis lembaga yang terlibat dalam penyediaan air bersih metode ISM. Hal ini selaras dengan keinginan masyarakat dan industri, dalam analisis AHP, bahwa alternatif bentuk pengelolaan air bersih harus dikelola oleh pemerintah. Hal ini menjadi menarik, karena mudahnya terjadi friksi sosial di masyarakat sehingga keberadaan pemerintah dalam pengelolaan air bersih dapat dijadikan sebagai solusi untuk menghindari konflik. Analisis SWOT bertujuan untuk menyusun faktor-faktor strategi dalam pengembangan pelayanan air bersih Kota Tarakan, sehingga dapat menggambarkan secara jelas interaksi antara Internal Strategic Faktor Analysis Summary (IFAS) dan External Strategic Faktor Summary (EFAS). Adapun rumusan strategi pengembangan pelayanan air bersih di Kota Tarakan adalah Strategi Kekuatan – Peluang sebagai berikut : 1. Memanfaatkan/menerapkan teknologi penyediaan air bersih yang sudah ada untuk daerah-daerah yang belum terlayani air bersih oleh pemerintah/PDAM sebagai alternatif dalam penyediaan air bersih dengan menggunakan konsep cluster yang memanfaatkan air hujan/permukaan. 2. Melakukan konservasi pada land use melalui kegiatan reboisasi, pembuatan sumur resapan, terasering, dan embung-embung penangkap air hujan untuk menjaga kelestarian sumber air baku. 3. Mendorong PDAM sebagai penyedia air besih untuk terus meningkatkan kapasitas layanan melalui pengurangan persentase kebocoran dan peningkatan kapasitas IPA, sehingga semakin banyak masyarakat ingin berlangganan air bersih PDAM. 4. Memanfaatkan program pemberdayaan masyarakat dari koorporasi (CSR). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta permintaan air bersih yang terus meningkat, memungkinkan bagi masyarakat sanggup untuk mengelola sendiri sistem penyediaan air bersih di wilayahnya melalui program pendampingan dari koorporasi. 5. Menerapkan, menata dan menjaga suatu kawasan sesuai dengan fungsinya, berdasarkan atas komitmen Pemerintah Kota Tarakan yang diuraikan dalam RTRW Tarakan. 6 STATUS KEBERLANJUTAN PENYEDIAAN AIR BERSIH DI PULAU TARAKAN 6.1 Status Keberlanjutan Penyediaan Air Bersih Dalam penelitian penyediaan air bersih di Pulau Tarakan, penentuan indeks keberlanjutan kawasan pada lima dimensi keberlanjutan, yaitu dimensi lingkungan, ekonomi, sosial, infrastruktur dan teknologi, serta hukum dan kelembagaan dengan atribut dan nilai skoring hasil pendapat pakar dapat dilihat pada Lampiran 3. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan RapTARAKAN (MDS) diperoleh indeks keberlanjutan untuk dimensi lingkungan sebesar 31,80% dengan status tidak berkelanjutan, dimensi ekonomi sebesar 88,24% dengan status berkelanjutan, dimensi sosial sebesar 57,53% dengan status kurang berkelanjutan, dimensi infrastruktur dan teknologi sebesar 20,14% dengan status kurang berkelanjutan, serta dimensi hukum dan kelembagaan sebesar 74,21% dengan status cukup berkelanjutan. Agar nilai indeks ini di masa akan datang dapat terus meningkat sampai mencapai status berkelanjutan, perlu perbaikan-perbaikan terhadap atribut-atribut yang sensitif berpengaruh terhadap nilai indeks dimensi infrastruktur dan teknologi juga terhadap dimensi lingkungan, ekonomi dan dimensi sosial. Atribut-atribut yang dinilai sensitif oleh para pakar didasarkan pada kondisi eksisting wilayah. Adapun nilai indeks lima dimensi keberlanjutan hasil analisis Rap-TARAKAN seperti pada Gambar 25 dan Lampiran 4. Lingkungan (31,80%) 100.00 80.00 60.00 Hukum - Kelembagaan (74,21%) 40.00 Ekonomi (88,24%) 20.00 0.00 Infrastruktur - Teknologi (20,14%) Sosial (52,25%) Gambar 25 Diagram layang (kite diagram) nilai indeks keberlanjutan penyediaan air bersih di Pulau Tarakan 59 a. Status Keberlanjutan Dimensi Lingkungan Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi lingkungan terdiri dari sembilan atribut, yaitu (1) daerah konservasi air, (2) frekuensi kejadian kekeringan, (3) kualitas air baku, (4) kuantitas air baku, (5) curah hujan & hari hujan, (6) pengembangan sumber air baku, (7) pemanfaatan lahan terhadap kualitas air, (8) tinggi permukaan air tanah, dan (9) tingkat pencemaran sungai. Analisis leverage yang dipakai untuk melihat atribut-atribut yang sensitif memberikan pengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan lingkungan. Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh tiga atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan lingkungan yaitu (1) kuantitas air baku dapat diperoleh melalui : curah hujan & hari hujan (2), dan pengembangan sumber air baku (3). Gambar 26 menyediakan informasi mengenai hasil analisis leverage dimensi keberlanjutan lingkungan. Analisis Leverage Atribut Dimensi Lingkungan Tingkat pencemaran sungai Tinggi permukaan air tanah Pemanfaatan lahan terhadap kualitas air Attribute Pengembangan sumber air baku Curah hujan dan hari hujan Kuantitas air baku Kualitas air baku Frekuensi kejadian kekeringan Daerah konservasi air 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 26 Peran masing-masing atribut aspek lingkungan yang dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square) 60 Atribut-atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi lingkungan yaitu (1) kuantitas air baku dapat diperoleh melalui : curah hujan dan hari hujan merupakan faktor utama yang mengendalikan proses daur hidrologi di daerah tangkapan air atau daerah aliran sungai (2) dan pengembangan sumber air baku (3). Curah hujan rata-rata Pulau Tarakan tahun 2008 mencapai 330,8 mm per tahun dengan rata-rata curah hujan tertinggi terjadi pada Bulan Januari sebesar 443,6 mm dan rata-rata curah hujan terendah sebesar 206,6 mm yang terjadi pada Bulan Oktober (BPS Tarakan, 2009). Hujan adalah partikel-partikel air dengan diameter 0.5 mm atau lebih. Jika jatuhnya sampai ke tanah maka disebut hujan, akan tetapi apabila jatuhannya tidak dapat mencapai tanah karena menguap lagi maka jatuhan tersebut disebut Virga. Hujan juga dapat didefinisikan dengan uap yang mengkondensasi dan jatuh ketanah dalam rangkaian proses hidrologi. Hujan merupakan salah satu bentuk presipitasi uap air yang berasal dari awan yang terdapat di atmosfer. Bentuk presipitasi lainnya adalah salju dan es. Untuk dapat terjadinya hujan diperlukan titik-titik kondensasi, amoniak, debu dan asam belerang. Titik-titik kondensasi ini mempunyai sifat dapat mengambil uap air dari udara. Satuan curah hujan selalu dinyatakan dalam satuan millimeter atau inchi namun untuk di Indonesia satuan curah hujan yang digunakan adalah dalam satuan millimeter (mm). Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Curah hujan 1 mm artinya dalam luasan 1 m2 pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu milimeter atau tertampung air sebanyak satu liter. Intensitas hujan adalah banyaknya curah hujan persatuan jangka waktu tertentu. Untuk lebih meningkatkan status keberlanjutan Pulau Tarakan, maka upaya perbaikan tidak hanya dilakukan terhadap atribut yang sensitif memberikan pengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi lingkungan, namun atribut-atribut lain yang tidak sensitif berdasarkan analisis leverage juga perlu mendapatkan perhatian yang serius untuk ditangani. Upaya yang perlu dilakukan adalah dengan mempertahankan atau meningkatkan atribut-atribut yang berdampak positif terhadap peningkatan keberlanjutan dimensi lingkungan kawasan. Di sisi lain juga berupaya menekan sekecil mungkin atribut-atribut yang memberikan dampak negatif terhadap penurunan tingkat keberlanjutan dimensi lingkungan kawasan. Adapun atribut-atribut yang perlu dipertahankan atau ditingkatkan antara lain : (1) daerah konservasi air, (2) tinggi permukaan air tanah 61 dan (3) kualitas air permukaan. Sementara atribut-atribut yang perlu ditekan agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap penurunan status keberlanjutan kawasan adalah (1) tingkat pencemaran sungai, (2) pemanfaatan lahan terhadap kualitas air, dan (3) frekuensi kekeringan dengan menggunakan pembangunan dam, tanggul, penahan banjir dan drainase untuk pengelolaan sumberdaya air, serta pembuatan sumur resapan. b. Status Keberlanjutan Dimensi Ekonomi Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi ekonomi terdiri dari tujuh atribut, yaitu (1) tingkat keuntungan PDAM, (2) tarif air PDAM, (3) persentase penduduk miskin, (4) penetapan harga (price discrimination) di antara dan di dalam kelompok konsumen, (5) willingness to pay (kesediaan membayar dalam pemakaian sumber air), (6) kontribusi sektor pemanfaatan sumber air terhadap PDRB, dan (7) ketersediaan dana untuk pengembangan air bersih. Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh tiga atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan ekonomi yaitu (1) tingkat keuntungan PDAM, (2) tarif air PDAM, dan (3) willingness to pay (kesediaan membayar dalam pemakaian sumber air). Hasil analisis leverage dimensi keberlanjutan ekonomi dapat dilihat pada Gambar 27. Atribut-atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi yaitu (1) tingkat keuntungan PDAM (2) tarif air PDAM dan (3) willingness to pay (kesediaan membayar dalam pemakaian sumber air). Tarif air merupakan harga dalam rupiah yang harus dibayarkan oleh pelanggan PDAM untuk setiap pemakaian meter kubik air bersih yang disalurkan oleh PDAM (Permendagri No. 2 Tahun 1998). Besarnya tarif merupakan kesepakatan bersama antara pihak penyedia pelayanan air bersih (PDAM) dengan pengguna jasa layanan air bersih (pelanggan), sedangkan peran pemerintah dalam melaksanakan fungsinya selaku pembina (regulator) sektor sumber daya air hendaknya dalam menentukan kebijakan di bidang penetapan tarif air minum memerlukan pertimbangan – pertimbangan yang berorentasi kepada kemauan dan kemampuan daya beli pelanggan (ability and willingness to pay) di satu pihak dan kelangsungan hidup perusahaan di pihak lainnya. Untuk mengetahui kemampuan dan kemauan membayar tersebut perlu dilakukan analisis keterjangkauan daya beli pelanggan air minum dalam 62 membayar tarif yang meliputi analisis kemauan membayar (willingness to pay) dan analisis kemampuan membayar (ability to pay) terhadap tarif yang berlaku. Rendahnya tingkat ekonomi masyarakat menjadi kendala bagi keberlanjutan sistem penyediaan air bersih. Salah satu indikator keberlanjutan sistem adalah tingkat kepuasan pelanggan. Keberlanjutan dapat dijamin dengan pengelolaan yang baik dan didukung oleh partisipasi masyarakat, baik dalam bentuk kelancaran pembayaran pemakaian air atau keterlibatan langsung dalam setiap tahapan kegiatan pelayanan air bersih. Pengelolaan yang baik dan keterlibatan masyarakat menjadi pendorong keandalan sistem penyediaan air bersih, yang pada akhirnya menaikkan tingkat kepuasan masyarakat. Analisis Leverage Atribut Dimensi Ekonomi Ketersediaan dana untuk pengembangan air bersih Kontribusi sektor pemanfaatan sumber air terhadap PDRB Attribute Willingness to pay (kesediaan membayar dalam pemakaian sumber air) Tarif air PDAM Persentase penduduk miskin Penetapan harga (price discrimination) di antara dan di dalam kelompok konsumen Tingkat keuntungan PDAM 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 27 Peran masing-masing atribut aspek ekonomi yang dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square) 63 c. Status Keberlanjutan Dimensi Sosial Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi sosial terdiri dari tujuh atribut, yaitu (1) tingkat pendidikan formal masyarakat, (2) pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sumber air, (3) pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan pemanfaatan air bersih, (4) tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM, (5) tingkat ketergantungan masyarakat terhadap air bersih, (6) peran masyarakat adat dalam kegiatan pemanfaatan air, dan (7) konflik pengambilan sumber air. Hasil analisis leverage dimensi keberlanjutan sosial dapat dilihat pada Gambar 28. Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh dua atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan sosial yaitu (1) tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM dan (2) tingkat ketergantungan masyarakat terhadap air bersih. Dua atribut sensitif ini mempunyai hubungan yang erat dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan air bersih, masyarakat sangat tergantung tergantung akan air bersih dalam kehidupan sehari-hari namun jika air bersih yang didapatkan tidak sesuai kuantitas dan kualitas yang dibutuhkan akan menimbulkan masalah yang biasanya berupa keluhan. Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan. Makhluk hidup di muka bumi ini tak dapat terlepas dari kebutuhan akan air. Air merupakan kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi, sehingga tidak ada kehidupan seandainya di bumi tidak ada air. Namun demikian, air dapat menjadi malapetaka bilamana tidak tersedia dalam kondisi yang benar, baik kualitas maupun kuantitasnya. Air yang relatif bersih sangat didambakan oleh manusia, baik untuk keperluan hidup sehari-hari, untuk keperluan industri, untuk kebersihan sanitasi Pulau, maupun untuk keperluan pertanian dan lain sebagainya. Dewasa ini air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang seksama dan cermat. Karena untuk mendapatkan air yang bersih, sesuai dengan standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari hasil kegiatan manusia, baik limbah dari kegiatan rumah tangga, limbah dari kegiatan industri dan kegiatan-kegiatan lainnya. Dan ketergantungan manusia terhadap air pun semakin besar sejalan dengan perkembangan penduduk yang semakin meningkat. Selain kualitas air yang menurun akibat pencemaran pada sumber air, tidak tercukupinya jumlah air 64 bersih yang dapat digunakan oleh masyarakat juga dapat menimbulkan masalah terhadap kesehatan masyarakat seperti timbulnya penyakit akibat penggunaan air seperti diare, kudis dan trachoma. Untuk meningkatkan status keberlanjutan dimensi sosial, perlu diperhatikan keluhan masyarakat terhadap ketergantungan air bersih yang layak dikonsumsi (kualitas) dan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap air bersih (kuantitas). Keluhan tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM merupakan masalah dari tingkat kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan (Customer Satifaction) atau sering disebut juga dengan Total Customer Satisfaction menurut Barkelay dan Saylor (1994) merupakan fokus dari proses Costomer-Driven Project Management (CDPM), bahkan dinyatakan pula bahwa kepuasan pelanggan adalah kualitas. Begitu juga definisi singkat tentang kualitas yang dinyatakan oleh Juran (1993) bahwa kualitas adalah kepuasan pelanggan. Menurut Kotler yang dikutip Tjiptono (1996) bahwa kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang dirasakan dengan harapannya. Jadi, tingkat kepuasan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Kualitas termasuk semua elemen yang diperlukan untuk memuaskan tujuan pelanggan, baik internal maupun ekternal, juga termasuk tiap-tiap item dalam produk kualitas, kualitas layanan, performance, availibility, durability,aesthetic, reability, maintainability, logistic, supprtability, costomer service, training, delivery, billing, shipping, repairing, marketing, warranty, dan life cycle cost. Melalui komunikasi, baik antarpelanggan maupun dengan supplier akan menjadikan harapan bagi pelanggan terhadap kualitas produk yang akan dibelinya. Pemahaman terhadap harapanharapan pelanggan oleh supplier merupakan input untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas produk, baik barang maupun jasa. Pelanggan akan membandingkan dengan produk jasa lainnya. Bilamana harapan-harapannya terpenuhi, maka akan menjadikannya pelanggan loyal, puas terhadap produk barang atau jasa yang dibelinya. Sebaliknya, bilamana tidak puas, supplier akan ditinggalkan oleh pelanggan. Kunci keputusan pelanggan berkaitan dengan kepuasan terhadap penilaian produk barang dan jasa. Kerangka kepuasan pelanggan tersebut terletak pada kemampuan supplier dalam memahami kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan sehingga penyampaian produk, baik barang maupun jasa oleh supplier sesuai dengan harapan pelanggan. Selain faktor-faktor tersebut di 65 atas, dimensi waktu juga mempengaruhi tanggapan persepsi pelanggan terhadap kualitas produk, baik barang maupun jasa. Kata kualitas mengandung banyak definisi dan makna karena orang yang berbeda akan mengartikannya secara berlainan, seperti kesesuaian dengan persyaratan atau tuntutan, kecocokan untuk pemakaian perbaikan berkelanjutan, bebas dari kerusakan atau cacat, pemenuhan kebutuhan pelanggan, melakukan segala sesuatu yang membahagiakan. Dalam persepektif TQM (Total Quality Management) kualitas dipandang secara lebih luas, yaitu tidak hanya aspek hasil yang ditekankan, tetapi juga meliputi proses, lingkungan dan manusia. Hal ini jelas tampak dalam definisi yang dirumuskan oleh Goeth dan Davis yang dikutip Tjiptono (2000) bahwa kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Sebaliknya, menurut Lukman (1999) definisi kualitas bervariasi dari yang kontroversional hingga kepada yang lebih strategik. Definisi konvensional dari kualitas biasanya menggambarkan karakteristik langsung suatu produk, seperti : 1) ferformansi (performance); 2) keandalan (reliability) ; 3) mudah dalam penggunaan (ease of use);dan 4) estetika (esthetics), dan sebagainya. Oleh karena itu, kualitas pada prinsipnya adalah untuk menjaga janji pelanggan agar pihak yang dilayani merasa puas dan diungkapkan. Kualitas memiliki hubungan yang sangat erat dengan kepuasan pelanggan, yaitu kualitas memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk menjalani ikatan hubungan yang kuat dengan perusahaan. Dalam jangka panjang ikatan seperti ini memungkinkan perusahaan untuk memahami dengan saksama harapan pelanggan serta kebutuhan mereka. Dengan demikian, perusahaan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan, yang pada gilirannya kepuasan pelanggan dapat menciptakan kesetiaan atau loyalitas pelanggan kepada perusahaan yang memberikan kualitas memuaskan. 66 Analisis Leverage Atribut Dimensi Sosial Konflik pengambilan sumber air Peran masyarakat adat dalam kegiatan pemanfaatan air Attribute Tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM Pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan air Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap air bersih Pemahaman dan kepedulian masyarakat Tingkat pendidikan formal masyarakat 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 28 Peran masing-masing atribut aspek sosial yang dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square) d. Status Keberlanjutan Dimensi Infrastruktur dan Teknologi Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi infrastruktur dan teknologi terdiri dari enam atribut, yaitu (1) tingkat pelayanan PDAM (air bersih), (2) infrastruktur air limbah, (3) kondisi drainase di kawasan permukiman, (4) kondisi jaringan distribusi perpipaan, (5) kondisi IPA PDAM, dan (6) ketersediaan layanan listrik untuk pengolahan air bersih. Hasil analisis leverage dimensi keberlanjutan infrastruktur dan teknologi dapat dilihat pada Gambar 29. Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh tiga atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi yaitu (1) 67 tingkat pelayanan PDAM (air bersih) dan (2) kondisi IPA PDAM, untuk itu diperlukan (3) ketersediaan layanan listrik untuk pengolahan air bersih dibangun untuk mendukung pelayanan air bersih bagi masyarakat Pulau Tarakan. Tingkat pelayanan PDAM di Pulau Tarakan masih rendah, pada beberapa kasus air bersih yang terjadi di lapangan masih didapatkan air yang tidak bersih. Salah satu contoh, air dari PDAM jika dialirkan ke dalam bak mandi atau penampungan setelah beberapa jam kemudian air tersebut berubah warna menjadi kuning. Menurut Lukman (1999) pelayanan adalah kegiatan-kegiatan yang tidak jelas, namun menyediakan kepuasan konsumen dan atau pemakai industri serta tidak terikat pada penjualan suatu produk atau pelayanan lainnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa pelayanan adalah suatu urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung dengan orang-orang atau mesin secara fisik dan menyediakan kepuasan konsumen. Pemerintah sebagai lembaga birokrasi mempunyai fungsi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sebaliknya, masyarakat sebagai pihak yang memberikan mandat kepada pemerintah mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan. Oleh karena itu, tuntutan terhadap pelayanan umum melahirkan suatu studi, yaitu servis bagaimana cara memberikan pelayanan sebaik-baiknya dan meningkatkan kualitas pelayanan umum. Aparat sebagai pelayan hendaknya memahami variabel-variabel pelayanan seperti yang terdapat dalam agenda perilaku pelayanan prima sektor publik Sespanas LAN yang dikutip Lukman (1999). Variabel yang dimaksud adalah sebagai berikut : (1) Pemerintah yang bertugas melayani, (2) Masyarakat yang dilayani pemerintah, (3) Kebijaksanaan yang dijadikan landasan pelayanan publik, (4) Peralatan atau sasaran pelayanan yang canggih, (5) Resources yang tersedia untuk diracik dalam bentuk kegiatan pelayanan, (6) Kualitas pelayanan yang memuaskan masyarakat sesuai dengan standar dan asas-asas pelayanan masyarakat, (7) Manajemen dan kepemimpinan serta organisasi pelayanan masyarakat, dan (8) Perilaku yang terlibat dalam pelayanan dan masyarakat, apakah masing-masing menjelaskan fungsi. Kedelapan variabel tersebut mengisyaratkan bahwa betapa pentingnya kualitas pelayanan masyarakat dewasa ini sehingga tidak dapat diabaikan lagi, bahkan hendaknya disesuaikan dengan tuntutan globalisasi. 68 Analisis Leverage Atribut Dimensi Infrastruktur-Teknologi Ketersediaan layanan listrik untuk PAB Attribute Kondisi IPA PDAM Kondisi jaringan distribusi perpipaan Kondisi drainase di kawasan permukiman Infrastruktur air limbah Tingkat pelayanan air bersih PDAM 0 2 4 6 8 10 12 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 29 Peran masing-masing atribut aspek infrastruktur dan teknologi yang dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square) e. Status Keberlanjutan Dimensi Hukum dan Kelembagaan Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi hukum dan kelembagaan terdiri dari lima atribut, yaitu (1) keberadaan balai pemantauan kualitas air, (2) keberadaan lembaga sosial, (3) ketersediaan peraturan perundang-undangan pengelolaaan air bersih (4) ketersediaan perangkat hukum adat/agama, dan (5) kerjasama antar stakeholder. Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh dua atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan hukum dan kelembagaan yaitu (1) keberadaan lembaga sosial, dan (2) ketersediaan peraturan perundangundangan pengelolaaan air bersih. Hasil analisis leverage dimensi keberlanjutan hukum dan kelembagaan dapat dilihat pada Gambar 30. 69 Analisis Leverage Atribut Dimensi Hukum-Kelembagaan Kerjasama antar stakeholder Attribute Ketersediaan perangkat hukum adat/agama Ketersediaan peraturan perundangundang pengelolaan air bersih Keberadaan lembaga sosial pengelolaan air bersih Keberadaan balai pemantauan kualitas air 0 2 4 6 8 10 12 Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Gambar 30 Peran masing-masing atribut aspek hukum dan kelembagaan yang dinyatakan dalam bentuk nilai rms (root mean square) Sasaran pemanfaatan air bersih untuk kepentingan sosial secara selektif. Sesuai dengan SKB Mendagri dan Menteri PU No 4 tahun 1984, PDAM sebagai pelaku ekonomi sektor air bersih (SAB) bersifat memberi jasa dan menyelenggarakan kemanfaatan umum. Hal ini berimplikasi bahwa PDAM harus mampu merumuskan kepentingan-kepentingan sosial secara obyektif, disesuaikan dengan keadaan internalnya, dan memilih wilayah operasi yang seharusnya. Langkah operasional sasaran kedua ini telah dikerjakan melalui alokasi air bersih kepada terminal sambungan hidran umum. Langkah operasional lain sekalipun kurang berkorelasi langsung dengan strategi peningkatan pelayanan penduduk adalah suplai air bersih kepada wilayahwilayah krisis air atau bencana lainnya. 70 Strategi pengembangan kelembagaan SAB dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa kelembagaan SAB, terkait dengan PDAM maupun eksternal dengan pihak lain, belum berjalan optimal menyelenggarakan pelayanan air bersih. Hal tersebut secara tidak langsung menempatkan SAB berjalan sendiri (status quo) dalam pembangunan SAB. Implikasinya, upaya-upaya menemukan struktur kelembagaan baru yang diyakini lebih efektif dan efisien tidak dapat direalisasi, dan senantiasa dapat melahirkan kebocoran (externality) yang merugikan salah satu pihak. Dengan strategi ini semua pihak (stakeholder) diharapkan dapat melihat secara obyektif faktor atau variabel yang mempengaruhi tingkat akses air bersih dan menemukan rumusan lembaga pengelolaan SAB yang lebih efisien dan sustainable. Strategi pengembangan kelembagaan SAB mempunyai tiga sasaran. Pertama, membangun partisipasi masyarakat dalam pembangunan SAB. Hubungan antara PDAM sebagai produsen dan pelanggan sebagai konsumen belum cukup untuk menggali potensi keuntungan dalam pembangunan SAB. Partisipasi masyarakat harusnya menyentuh sisi ilmiah dan akademis sehingga dapat mengidentifikasi karakteristik air bersih dari segala sudut pandang, dan melibatkan sektor-sektor yang profesional dibidangnya. Langkah operasional sasaran pertama ini diprioritaskan kepada pembentukan jaringan komunikasi antar stakeholder yang terlibat dalam pembangunan SAB, terutama dari unsur pemerintah, sektor swasta, masyarakat konsumen, lembaga swadaya masyarakat dan para peneliti. Jaringan tidak cukup hanya memfasilitasi pemecahan masalah, tetapi juga menjalankan komunikasi berkadar ilmiah tinggi yang kaya insentif bagi penemuan teknologi baru. Jaringan di tingkat internasional yang menangani sumber daya air dan termasuk SAB adalah global water parnership. Langkah berikutnya dapat melakukan berbagai kajian sehubungan perilaku konsumsi air bersih dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Berbagai kaijian (World Bank, 1993; Jordan and Elnagheeb; 1993) memperlihatkan masyarakat dapat menampilkan tanggapan dan partisipasinya (willingness to pay) terhadap sambungan pipa baru maupun perbaikan pelayanan maupun kualitas air PDAM. Kedua, sasaran mengembangkan kelembagaan ekonomi SAB yang efisien dan berkelanjutan. Seperti diketahui, keberadaan PDAM sebagai lembaga ekonomi pelaku air bersih sepenuhnya terkait dengan pemerintah kota atau kabupaten. Keadaan seperti ini dalam banyak hal berlawanan dengan economic 71 of scale maupun efisiensi alokasi sumber-sumber air baku sehingga potensi benefit tidak terealisasi akibat dari struktur kelembagaan saat ini. Langkah operasional yang disarankan adalah merumuskan hubungan kelembagaan antar PDAM, dengan pemerintah dan sektor swasta yang menjamin efisiensi alokasi air baku dan operasi pelayanan pelanggan. Selanjutnya dapat ditetapkan pilihanpilihan pengelolaan yang paling menguntungkan. Sebagai contoh, PDAM Surabaya, Gresik dan Sidoarjo berpeluang memperoleh social benefit yang relatif besar seandainya berada dalam satu manajemen. Hal yang sama dapat dilakukan antara wilayah kota dan kabupaten, bahkan merger dalam satu eks karesidenan. SAB di Malaysia hanya memiliki 18 institusi pengelolaan (Malaysia Water Supply Development, 2001), jauh lebih efisien dibanding 307 PDAM yang ada di Indonesia, atau 37 PDAM di Jawa Timur. Langkah operasional berikutnya adalah membangun mekanisme kelembagaan yang mendukung otoritas dan kemandirian PDAM terhadap pembinaan berlebihan secara fungsional oleh Pemda dan secara teknis oleh Dirjen teknis terkait. Sasaran mengembangkan kelembagaan ekonomi yang sustainable dapat diimplementasikan dengan memasukkan peubah-peubah lingkungan di dalam standar evaluasi kinerja PDAM, misalnya menerapkan ISO 9000 atau audit lingkungan. Dengan demikian, seluruh proses produksi, distribusi air bersih dan lingkungan sekitarnya terlindungi oleh standar kualitas yang tinggi. Ketiga, mengembangkan kelembagaan hukum SAB. Perangkat hukum SAB tidak harus eksklusif tetapi dapat melekat dengan aturan hukum yang berlaku. Insentif berupa penghargaan perlu diberikan kepada stakeholder yang berjasa mengembangkan atau mendukung pembangunan sektor air bersih, dan sebaliknya sangsi diberikan kepada yang melanggar atau kontra-produktif dengan upaya-upaya peningkatan pelayanan air bersih, sehingga ketersediaan peraturan perundang-undangan pengelolaaan air bersih f. Status Keberlanjutan Multidimensi Hasil analisis Rap-TARAKAN multidimensi keberlanjutan Kota Tarakan untuk penyediaan air bersih berdasarkan kondisi existing, diperoleh nilai indeks keberlanjutan sebesar 52,38% dan termasuk dalam status cukup berkelanjutan. Nilai ini diperoleh berdasarkan penilaian 34 atribut dari lima dimensi keberlanjutan yaitu dimensi lingkungan, ekonomi, sosial, infrastruktur dan teknologi, dan hukum dan kelembagaan. Hasil analisis multidimensi dengan Rap- 72 TARAKAN mengenai keberlanjutan Pulau Tarakan untuk sistem penyediaan air bersih dapat dilihat pada Gambar 31. Atribut-atribut yang sensitif memberikan kontribusi terhadap nilai indeks keberlanjutan multidimensi berdasarkan analisis leverage masing-masing dimensi sebanyak 13 atribut. Atribut-atribut ini perlu dilakukan perbaikan ke depan untuk meningkatkan status keberlanjutan Pulau Tarakan untuk sistem penyediaan air bersih. Perbaikan yang dimaksudkan adalah meningkatkan kapasitas atribut yang mempunyai dampak positif terhadap peningkatan nilai indeks keberlanjutan dan sebaliknya menekan sekecil mungkin atribut yang berpeluang menimbulkan dampak negatif atau menurunkan nilai indeks keberlanjutan kawasan. Gambar 31 Indeks keberlanjutan multidimensi penyediaan air bersih Hasil analisis Monte Carlo menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan penyediaan air bersih di Pulau Tarakan pada taraf 95%, memperlihatkan hasil yang tidak banyak mengalami perubahan dengan hasil analisis Rap-TARAKAN (Multidimensional Scaling = MDS). Ini berarti bahwa kesalahan dalam analisis dapat diperkecil baik dalam hal pemberian skoring setiap atribut, variasi pemberian skoring karena perbedaan opini relatif kecil, dan proses analisis data yang dilakukan secara berulang-ulang stabil, serta kesalahan dalam menginput 73 data dan data hilang dapat dihindari. Perbedaan nilai indeks keberlanjutan analisis MDS dan Monte Carlo disajikan pada Tabel 11 Tabel 11 Perbedaan Nilai Indeks Keberlanjutan Analisis Monte Carlo dengan Analisis Rap-TARAKAN Nilai Indeks Keberlanjutan (%) Dimensi Keberlanjutan Perbedaan MDS Monte Carlo Lingkungan 31,80 32,75 0,95 Ekonomi 88,24 85,67 2,75 Sosial 52,25 51,21 0,32 Infrastruktur dan Teknologi 20,14 22,29 2,15 Hukum dan Kelembagaan 74,21 73,40 0,81 Multi Dimensi 52,38 52,18 0,20 Hasil analisis Rap-TARAKAN menunjukkan bahwa semua atribut yang dikaji terhadap status keberlanjutan Pulau Tarakan untuk penyediaan air bersih, cukup akurat sehingga memberikan hasil analisis yang semakin baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Ini terlihat dari nilai stres yang hanya berkisar antara 13 sampai 15 % dan nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh berkisar antara 0,92 dan 0,95. Hal ini sesuai dengan Fisheries (1999), yang menyatakan bahwa hasil analisis memadai apabila nilai stress lebih kecil dari 0,25 (25%) dan nilai koefisien determinasi (R2) mendekati nilai 1,0. Adapun nilai stress dan koefisien determinasi (R2) disajikan pada Tabel 12. Tabel 12 Hasil analisis Nilai Stress & Koefisien Determinasi (R2) Rap-TARAKAN Dimensi Keberlanjutan Parameter A B C D E F Stress 0,13 0,13 0,15 0,14 0,15 0,13 R2 0,95 0,95 0,92 0,95 0,94 0,95 Iterasi 2 2 3 2 2 2 Keterangan : A = Dimensi Lingkungan, B = Dimensi Ekonomi, C = Dimensi Sosial, D = Dimensi Infrastruktur-Teknologi, E = Dimensi Hukum-Kelembagaan, dan F = Multidimensi 6.2 Skenario Strategi Penyediaan Air Bersih Kota Tarakan Strategi penyediaan air bersih Kota Tarakan secara berkelanjutan dilakukan dengan menggunakan analisis prospektif yang mempunyai tujuan untuk memprediksi kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Analisis prospektif dilakukan melalui tiga tahap yaitu (1) mengidentifikasi faktor kunci di masa depan, (2) menentukan tujuan strategis dan kepentingan pelaku, dan (3) mendefinisikan dan memprediksi evolusi kemungkinan di masa depan sekaligus menentukan strategi 74 penyediaan air bersih Kota Tarakan secara berkelanjutan sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki. Penentuan faktor-faktor kunci dalam analisis ini dilakukan dengan menggabungkan faktor-faktor kunci yang sensitif berpengaruh yang diperoleh dari analisis kebutuhan (need analysis) hasil Interpretative Structural Modeling (ISM). Berdasarkan hasil analisis keberlanjutan diperoleh 13 faktor (atribut) yang sensitif (Tabel 13) dan selanjutnya diajukan kepada pakar untuk dinilai dan selanjutnya dianalisis prospektif. Hasil analisis prospektif diperoleh 3 (tiga) faktor kunci seperti yang disajikan pada Gambar 32. Tabel 13 Faktor-faktor kunci yang berpengaruh dalam penyediaan air bersih di Pulau Tarakan No Faktor Analisis Dimensi Keberlanjutan Dimensi Lingkungan (3 faktor kunci) : 1 Kuantitas air baku 2 Curah hujan dan hari hujan 3 Pengembangan sumber air baku Dimensi Ekonomi (3 faktor kunci) : 4 Tingkat keuntungan PDAM 5 Tarif air PDAM 6 Willingness to pay (Kesediaan membayar dalam pemakaian sumber air) 7 8 9 10 11 12 13 Dimensi Sosial (2 faktor kunci) : Tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap air bersih Dimensi Infrastruktur dan Teknologi (3 faktor kunci) : Tingkat pelayanan PDAM (air bersih) Kondisi IPA PDAM Ketersediaan layanan listrik untuk pengolahan air bersih Dimensi Hukum dan Kelembagaan (2 faktor kunci) : Keberadaan lembaga sosial air bersih Ketersediaan peraturan perundang-undangan pengelolaaan air bersih Berdasarkan hasil analisis tingkat kepentingan faktor diperoleh 3 (tiga) faktor kunci/penentu yang mempunyai pengaruh kuat dan ketergantungan antar faktor tidak terlalu kuat, yaitu : (1) Pengembangan sumber air baku, (2) Kuantitas air baku, dan (3) Tingkat pelayanan PDAM (air bersih). Keterkaitan antara tiga faktor yang berpengaruh terhadap sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan dinyatakan sebagai berikut : “pengembangan sumber air baku sebagai cara untuk pemenuhan kuantitas air baku yang dibutuhkan oleh masyarakat dan tingkat pelayanan PDAM dalam menyediakan air bersih perlu ditingkatkan dalam menjaga keberlanjutan sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan”. 75 Gambar 32 Hasil analisis tingkat kepentingan faktor-faktor yang berpengaruh pada sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan 6.3 Kesimpulan Berdasarkan kondisi eksisting di lokasi penelitian berbasis penyediaan air bersih di Pulau Tarakan, dimensi ekonomi berkelanjutan, serta dimensi hukum kelembagaan dan dimensi sosial cukup berkelanjutan, sedangkan dimensi lingkungan kurang berkelanjutan dan dimensi infrastruktur-teknologi tidak berkelanjutan. Secara multidimensi sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan cukup berkelanjutan dengan 13 atribut yang sensitif berpengaruh dalam meningkatkan indeks keberlanjutan. Atribut-atribut tersebut terbagi atas 3 atribut pada dimensi lingkungan, 3 atribut pada dimensi ekonomi, 2 atribut pada dimensi sosial dan budaya, 3 atribut pada dimensi infrastruktur dan teknologi, dan 2 atribut pada dimensi hukum dan kelembagaan. Untuk meningkatkan status keberlanjutan ke depan (jangka panjang), skenario yang perlu dilakukan untuk meningkatkan status penyediaan air bersih di Pulau Tarakan adalah skenario progesif-optimistik dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap semua atribut yang sensitif, minimal 3 atribut faktor kunci yang dihasilkan dalam analisis prospektif, sehingga semua dimensi menjadi berkelanjutan untuk sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan. 7 MODEL PENYEDIAAN AIR BERSIH PULAU KECIL 7.1 Pendahuluan Air adalah sumberdaya alam yang penting untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Masalah kekurangan jumlah air maupun kualitas air dapat menimbulkan dampak pada kesehatan, sosial maupun ekonomi. Berdasarkan temuan penelitian Anwar et.al. (2004) permintaan air di wilayah perkotaan lebih besar daripada suplainya dan ketersediaan air telah mengalami decreasing return to scale. Pola ekosistem berubah dengan berubahnya variabel-variabel penyusunnya terhadap waktu atau bersifat dinamis. Perubahan tersebut menghasilkan kinerja sistem atau mekanisme kerja yang dapat diamati perilakunya melalui pemodelan. Dalam mempelajari serta mengevaluasi sumberdaya air di suatu daerah, segi kuantitas dan kualitas merupakan dua hal yang harus diketahui, karena kedua hal tersebut merupakan ukuran yang harus dipertimbangkan dalam pemanfaatan sumberdaya air. Pemanfaatan sumberdaya air tersebut harus mempertimbangkan segi kuantitas dan kualitas, sesuai dengan tujuan pemanfaatannya. Model adalah penyederhanaan sistem di alam yang dapat digunakan untuk memudahkan pengambilan keputusan (Suratmo, 2002). Menurut Soedijono (1995), model merupakan gambaran suatu obyek yang disusun dengan tujuan mengenali perilaku obyek dengan cara mencari keterkaitan antara unsur-unsurnya, mengadakan pendugaan untuk memperbaiki keadaan obyek serta untuk mengadakan optimisasi obyek. Fungsi suatu model adalah menggambarkan semirip mungkin keadaan obyek yang diamati sesuai dengan tujuan penyusunan model. Melalui model orang dapat mengadakan percobaan terhadap model tanpa mengganggu obyek dan dapat membuat gambaran masa depan. Muhammadi dkk. (2001), mengelompokkan model menjadi model ikonik, model kuantitatif dan model kualitatif. Model ikonik adalah model yang mempunyai bentuk fisik sama dengan barang yang ditirukan, meskipun skalanya dapat diperbesar atau diperkecil, sehingga dapat diadakan percobaan untuk mengetahui gejala atau proses yang ditirukan (Eriyatno, 1998; Winardi, 1999; Muhammadi dkk., 2001). Model kuantitatif adalah model berbentuk rumus-rumus matematika dan statistik, sedangkan model kualitatif atau model analog adalah model berbentuk gambar atau diagram yang pada umumnya meminjam sistem 77 lain yang mempunyai sifat sama dengan obyek. Model kualitatif atau analog dapat lebih menampilkan sifat dinamik obyeknya. Kota Tarakan sebagai salah satu wilayah kepulauan hingga saat ini sedang giat melaksanakan pembangunan diberbagai sektor. Di dalarn proses melaksanakan pembangunan yang bertujuan untuk pengembangan daerah perkotaan, pemerintah Kota Tarakan dalam hal ini sebagai pemrakarsa kegiatan menghadapi beberapa kendala atau permasalahan dalam pelaksanaan program tersebut. Beberapa kendala atau permasalahan yang hingga kini memerlukan pemecahan baik secara pendekatan persuasif maupun dengan mengadakan kegiatan fisik, antara lain : (1) Tingkat pertumbuhan penduduk yang sangat cepat dalarn kurun waktu yang sangat pendek dengan penyebaran di wilayah kota yang tidak merata (2) Masih terdapat daerah pemukiman penduduk yang dibawah standar (kumuh) dalam jumlah dan luas yang cukup besar, (3) Penyediaan sarana dan prasarana kota yang masih belum seimbang dengan jumlah penduduk, (4) Kurang koordinasi antara pihak-pihak terkait dalam hal ini pemerintah daerah dalam merumuskan suatu kegiatan pembangunan dan pengembangan kota, (5) Sumber daya manusia. Dengan meningkatnya pertumbuhan perekonomian dan bidang lainnya maka memacu pertumbuhan penduduk di Kota Tarakan tersebut. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Kota Tarakan sudah tentu kebutuhan akan air bersih untuk masyarakat semakin meningkat. Kebutuhan akan air bersih adalah kebutuhan pokok bagi masyarakat Kota Tarakan sehingga pemerintah sudah seharusnya menyediakan kebutuhan akan air bersih untuk masyarakat Kota Tarakan guna mendukung kesejahteraan masyarakat Kota Tarakan. Untuk menyediakan kebutuhan air bersih penduduk Kota Tarakan, maka dibutuhkan suatu pendekatan melalui sistem dinamik sehingga didapat model penyediaan air bersih Kota Tarakan yang diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam menanganani permasalahan khususnya air bersih di Kota Tarakan. 7.2 Metode Analisis Model Penyediaan Air Bersih Pulau Kecil 7.2.1 Jenis dan Sumber Data Jenis dan sumber data yang diperlukan dalam menyusun model penyediaan air bersih berkelanjutan di Kota Tarakan berupa data primer dan data sekunder yang diperoleh dari responden dan pakar terpilih. Data primer 78 yang diperlukan berupa faktor-faktor penting dalam penyediaan air bersih di Kota Tarakan. Hal ini didapat melalui wawancara dengan responden dan para pakar terpilih. Data primer yang diperlukan berupa data yang berkaitan dengan kendala, kebutuhan dan lembaga yang terlibat dalam penyediaan air bersih Kota Tarakan. Sedangkan data sekunder yang diperlukan adalah jumlah penduduk, jumlah unit hotel dan industri, luas wilayah, curah hujan dan kapasitas layanan PDAM. 7.2.2 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penyusunan model penyediaan air bersih secara berkelanjutan di Kota Tarakan dilakukan melalui diskusi, wawancara dan kuisioner dan survey lapangan. Selain itu juga dilakukan studi kepustakaan dan dokumen dari instansi-instansi terkait penyediaan air bersih Kota Tarakan. 7.2.3 Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penyediaan air bersih secara berkelanjutan di Kota Tarakan adalah sistem dinamik dengan bantuan software Powersim Constructor v2.5. Tahapan-tahapan dalam sistem dinamik meliputi analisis kebutuhan, formulasi masalah, identifikasi sistem, simulasi model dan validasi model. Dalam analisis sistem dinamik ini akan dikaji dua sub model, yaitu sub model kebutuhan air bersih dan sub model penyediaan air bersih. a. Analisis Kebutuhan Analisis kebutuhan bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan setiap pelaku yang terlibat dalam penyediaan air bersih. Berdasarkan kajian, stakeholder yang terlibat dalam penyediaan air bersih dan masing-masing kebutuhannya dapat dilihat dalam Tabel 14. Tabel 14 Analisis kebutuhan aktor dalam pegelolaan air bersih Kota Tarakan. No 1 2 Aktor/Stakeholder Masyarakat pengguna air Dinas dan instansi pemerintah Kebutuhan 1. Terpenuhinya kebutuhan air bersih 2. Tarif air yang terjangkau 3. Kualitas air bersih yang baik 1. Tidak terjadi kelangkaan air pada musim kemarau 2. Dapat memenuhi kebutuhan air masyarakat 3. Terjaganya kualitas DAS 79 3 PDAM Tarakan 4 Lembaga swadaya masyarakat 5 Perguruan tinggi 4. Pendapatan daerah meningkat 5. Kebijakan dalam penyediaan air bersih 1. Biaya operasional yang murah 2. Dapat memenuhi kebutuhan masyarakat air 3. Dapat mencapai keuntungan yang layak bagi perusahaan 4. Terjaminnya air baku secara kuantitas dan kualitas 1. Terjaminnya kesetaraan dalam pemenuhan air bersih masyarakat 2. Tidak terjadi konflik kepentingan dalam pemanfaatan air bersih 3. Good governance 1. Kemitraan dengan perguruan tinggi dalam penyediaan air bersih 2. Hasil kajian yang aplikatif b. Formulasi Masalah Menurut Eriyatno (2003), formulasi masalah disusun dengan cara mengevaluasi keterbatasan sumberdaya yang dimiliki (limited of resources) dan atau adanya konflik atau perbedaan kepentingan (conflict of interest) diantara pemangku kepentingan. Berdasarkan analisis kebutuhan dan kondisi air bersih Kota Tarakan saat ini, permasalahannya diformulasikan sebagai berikut : 1. Jumlah pertambahan penduduk yang terus meningkat dengan jangka waktu yang pendek dan penyebarannya yang tidak merata. 2. Masih terdapat daerah permukiman kumuh dengan kondisi dibawah standar dengan jumlah yang sangat besar. 3. Prasarana dan sarana air bersih yang belum seimbang dengan pertumbuhan penduduk, dan tingginya kebocoran PDAM. 4. Pencemaran sumber air baku akibat buangan dari domestic/non-domestik, dan intrusi air laut. Sehingga air tanah tidak seluruhnya dapat dimanfaatkan langsung sebagai air bersih. 5. Pemanfaatan air bersih yang tidak memperhatikan kaidah konservasi lingkungan, dimana masih terjadi perubahan fungsi lahan yang cukup signifikan. 6. Belum terbentuk mekanisme kerjasama pemerintah daerah secara terpadu dalam penyediaan air bersih. Sehingga penyediaan yang terjadi masih bersifat parsial dan saling lempar tanggung jawab. 80 c. Identifikasi Sistem Identifikasi sistem merupakan suatu rangkaian hubungan antara pernyataan dari kebutuhan-kebutuhan dengan pernyataan masalah yang harus dipecahkan dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut. Tujuan identifikasi sistem adalah untuk memberikan gambaran tentang hubungan antara faktorfaktor yang saling mempengaruhi dalam kaitannya dengan pembentukan suatu sistem. Hubungan antar faktor digambarkan dalam bentuk diagram lingkar sebab-akibat (causal loop), kemudian dilanjutkan dengan interpretasi diagram lingkar ke dalam konsep kotak gelap (black box). Dalam menyusun kotak gelap, jenis informasi dikategorikan menjadi tiga golongan yaitu peubah input, peubah output dan parameter-parameter yang mebatasi struktur sistem. Gambaran diagram kotak gelap dapat dilihat pada Gambar 33. Gambar 33 Diagram kotak gelap (black box) sistem penyediaan air bersih di Kota Tarakan d. Validasi Model Terdapat dua pengujian dalam validasi model yaitu uji validasi struktur dan uji validasi kinerja. Uji validasi struktur lebih menekankan pada keyakinan pada pemeriksaan kebenaran logika pemikiran, sedangkan uji validasi kinerja 81 lebih menekankan pemeriksaan yang taat data empiris. Model yang baik adalah yang memenuhi kedua syarat tersebut yaitu logis-empiris (logico-empirical). Uji validasi struktur bertujuan untuk memperoleh keyakinan sejauh mana keserupaan struktur model mendekati struktur nyata. Uji ini dibedakan atas dua jenis yaitu validasi konstruksi dan kestabilan struktur. Validasi konstruksi adalah keyakinan terhadap konstruksi model diterima secara akademis, sedangkan kestabilan struktur adalah keberlakuan atau kekuatan (robustness) struktur dalam dimensi waktu (Muhammadi et al., 2001). Uji validasi kinerja bertujuan untuk memperoleh keyakinan sejauh mana kinerja model sesuai (compatible) dengan kinerja sistem nyata sehingga memenuhi syarat sebagai model ilmiah dengan yang taat fakta, yaitu dengan melihat apakah perilaku output model sesuai dengan perilaku data empiris. Penyimpangan terhadap output model dengan data empiris dapat diketahui dengan uji statistik yaitu menguji penyimpangan rata-rata absolutnya (AME : Absolute Means Error) dan penyimpangan variasi absolutnya (AVE : Absolute Variation Error). Batas penyimpangan yang dapat diterima berkisar antara 5 – 10% (Muhammadi et al., 2001). Adapun rumus untuk menghitung nilai AME dan AVE seperti di bawah ini : Rumus AME (Absolute Means Error) = (Si – Ai) / Ai x 100% …….………(1) Si = Si / N dan Ai = Ai / N dimana : S = Nilai simulasi A = Nilai aktual N = Interval waktu pengamatan Rumus AVE (Absolute Variation Error) = (Ss – Sa) / Sa x 100% ………..(2) Ss = ((Si - Si)2) / N dan Sa = ((Ai - Ai)2) / N dimana : Sa = Deviasi nilai aktual Ss = Deviasi nilai simulasi N = Interval waktu pengamatan e. Uji Kestabilan Model Uji kestabilan model pada dasarnya merupakan bagian dari uji validasi struktur. Uji ini dilakukan untuk melihat kestabilan atau kekuatan (robustness) model dalam dimensi waktu. Model dikatakan stabil apabila struktur model agregat dan disagregat memiliki kemiripan. Caranya adalah dengan menguji struktur model agregat yang diwakili oleh sub-sub model yang ada. 82 f. Uji Sensitivitas Model Uji sensitivitas merupakan respon model terhadap suatu stimulus. Respon ini ditunjukkan dengan perubahan perilaku dan/atau kinerja model. Stimulus diberikan dengan memberikan perlakuan tertentu pada unsur atau struktur model. 7.3 Model Penyediaan Air Bersih Pulau Tarakan Model yang dibangun dalam penyediaan air bersih di pulau kecil dengan wilayah studi di Kota Tarakan terdiri dari 2 (dua) sub model yaitu sub model kebutuhan air bersih dan sub model ketersediaan air bersih. Perilaku model dinamik penyediaan air bersih di pulau kecil di Kota Tarakan dianalisis dengan menggunakan program powersim constructor version 2.5. Simulasi model dilakukan pada masing-masing kecamatan di Kota Tarakan yaitu Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Utara dan Tarakan Tengah. Analisis dilakukan selama 29 tahun, dimulai pada tahun 2001 dan berakhir pada tahun 2030. Waktu 29 tahun ini diharapkan dapat memberikan gambaran perkembangan kebutuhan air bersih untuk masa jangka panjang, dan disesuaikan dengan RTRW Kota Tarakan 2006-2029. 7.3.1 Sub Model Kebutuhan Air Bersih Sub model kebutuhan air bersih ini mendeskripsikan kebutuhan air bersih dari beberapa sektor kebutuhan yaitu kebutuhan masyarakat (domestik), k ebutuhan industri dan kebutuhan hotel. Kebutuhan domestik dipengaruhi oleh beberapa variabel yaitu jumlah penduduk, laju pertambahan penduduk, kebutuhan standar air bersih penduduk serta kebijakan hemat air (reduce). Kebutuhan air bersih industri dipengaruhi oleh jumlah industri, laju pertumbuhan industri, kebutuhan standar industri dan kebijakan reduce, reuse dan recycle. Kebutuhan air bersih perhotelan dipengaruhi oleh jumlah hotel, laju pertumbuhan hotel, kebutuhan standar hotel dan kebijakan reduce dan reuse. Hubungan antara pertumbuhan penduduk, perhotelan dan industri dapat dilihat pada Gambar 34. Standar kebutuhan air rumah tangga berdasarkan kriteria jumlah penduduk dan jenis kota sehingga diperlukan data jumlah penduduk dan jenis kota. Jumlah penduduk yang akan digunakan dalam standar ini adalah jumlah penduduk yang menetap pada satu wilayah. Adapun standar yang digunakan dalam klasifikasi kebutuhan air rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 15. 83 Perhitungan proyeksi jumlah penduduk, hotel dan industri di Kota Tarakan dapat dihitung menggunakan Metode Geometrik dengan persamaan berikut ini : …………………………………………………………… ( 3 ) dimana : Pn = jumlah populasi pada tahun ke n; P0 = jumlah populasi pada tahun awal r = laju pertumbuhan; n = jumlah interval tahun. Tabel 15 Standar kebutuhan air rumah tangga No Jumlah Penduduk Jenis Kota Kebutuhan Air (l/hari) 1 < 2.000.000 Metropolitan >210 2 1.000.000 – 2.000.000 Metropolitan 150 - 210 3 500.000 – 1.000.000 Besar 120 - 150 4 100.000 – 500.000 Besar 100 - 120 5 20.000 – 100.000 Sedang 90 - 100 6 3.000 – 20.000 Kecil 60 - 90 Sumber : Departemen permukiman dan prasarana wilayah, 2007. Mutu Air Kelas Satu Kebutuhan air untuk industri adalah kebutuhan air untuk proses industri termasuk bahan baku, kebutuhan air pekerja, industri dan pendukung kegiatan industri (Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2007). Klasifikasi industri diperlukan untuk menentukan besarnya kebutuhan air industri. Adapun klasifikasi industri apat dilihat pada Tabel 16. Tabel 16 Klasifikasi industri berdasarkan jumlah tenaga Jumlah Tenaga Kerja (Orang) Klasifikasi 1–4 Industri kerajinan rumah tangga 5 – 19 Industri kecil 20 – 99 Industri sedang >100 Industri besar Sumber : Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2007. Kebutuhan air pekerja industri merupakan kebutuhan air domestik yang telah disesuaikan dengan kebutuhan pekerja pabrik. Kebutuhan air untuk industri dapat diklasifikasikan sesuai pada Tabel 17. Tabel 17 Kebutuhan air untuk proses industri No 1 2 Jenis Industri Industri Rumah Tangga Industri Kecil 3 Industri Sedang 4 Industri Besar 5 Industri Tekstil Jenis Proses Industri Belum ada Rekomendasi. Dapat disesuaikan dengan kebutuhan air rumah tangga. Kebutuhan Air (l/hari) Minuman Ringan Industri es Kecap Minuman ringan Industri Pembekuan ikan dan biota perairan lainnya 1.600 – 11.200.000 18.000 – 67.000 12.000 – 97.000 65.000 – 78.000 Proses Penyediaan Tekstil 225.000 – 1.350.000 400 – 700 l/kapita/hari Sumber : Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2007. Mutu Air Kelas Satu 84 Struktur model kebutuhan air bersih ini dapat dilihat pada Gambar 35 dan persamaan model dinamis pada Lampiran 5. Beberapa data awal dan asumsiasumsi yang digunakan dalam sub model ini pada kondisi eksisting antara lain : 1. Kebutuhan standar air bersih penduduk sebesar 150 liter/orang/hari, kebutuhan standar hotel 50.000 liter/unit/hari dan kebutuhan standar industri sebesar 100.000 liter/unit/hari. Kebutuhan standar penduduk berdasarkan atas Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No.18 Tahun 2007, sedangkan kebutuhan standar hotel didapat melalui wawancara langsung kepada pengelola hotel dengan asumsi kamar terpenuhi sebesar 80%, dan tidak dibedakan antara hotel berbintang dan hotel melati. Kebutuhan standar hotel per hari sebesar 50.000 liter. Kebutuhan standar industri tidak dibedakan atas industri besar dan kecil dan didapat dari wawancara langsung dengan pengelola industri, sebesar 100.000 liter per hari, angka ini masih sesuai dengan standar Kepmen PU tahun 2007. 2. Jumlah penduduk Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Tengah dan Tarakan Utara masing-masing sebesar 41.302 jiwa, 21.805 jiwa, 46.458 jiwa, dan 8.089 jiwa pada tahun 2001 (BPS Kota Tarakan 2009). 3. Pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun Kecamatan Tarakan Barat sebesar 9%, Kecamatan Tarakan Timur 13%, Kecamatan Tarakan Tengah 4% dan Kecamatan Tarakan Utara 14% (BPS Kota Tarakan 2009). 4. Jumlah hotel tercatat di Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Tengah masing-masing sebesar 10 buah, 4 buah, 7 buah dan tidak ada hotel (0) di Tarakan Utara pada tahun 2001 (BPS Kota Tarakan 2009). 5. Pertumbuhan perhotelan rata-rata per tahun Kecamatan Tarakan Barat sebesar 2%, Kecamatan Tarakan Timur 2%, Kecamatan Tarakan Tengah 4% dan Kecamatan Tarakan Utara 2%. Didapat melalui trial and error dari simulasi model yang dicocokkan dengan kondisi eksisting dari tahun 20012009. Walaupun Kecamatan Tarakan Utara belum memiliki hotel, namun dalam penelitian ini diasumsikan pada beberapa tahun kedepan akan dibangun beberapa hotel seiring dengan perkembangan wilayah. 6. Jumlah industri tercatat di Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Tengah dan Tarakan Utara masing-masing sebesar 139 unit, 36 unit, 123 unit dan 15 unit pada tahun 2001 (BPS Kota Tarakan 2009). 7. Pertumbuhan sektor industri rata-rata per tahun Kecamatan Tarakan Barat sebesar 1%, Kecamatan Tarakan Timur 1%, Kecamatan Tarakan Tengah 1% 85 dan Kecamatan Tarakan Utara 2%. Didapat melalui trial and error dari simulasi model yang dicocokkan dengan kondisi eksisting dari tahun 20012009. 8. Belum diberlakukannya kebijakan hemat air pada masing-masing sektor kebutuhan. Berdasarkan Gambar 34 dapat dilihat bahwa kebutuhan sektor domestik dipengaruhi oleh variable pertumbuhan penduduk. Semakin tinggi laju pertumbuhan penduduk maka jemlah penduduk juga akan semakin tinggi. Hal ini mengakibatkan kebutuhan air bersih untuk domestik menjadi meningkat. Sehingga dengan mengalikan jumlah penduduk dengan standar kebutuhan air bersih didapat kebutuhan air bersih sektor domestic. Dengan cara yang sama dilakukan juga pada sektor perhotelan dan industri. Dalam sub model ini ditambahkan juga kebijakan hemat air dengan variable reduce untuk kebutuhan penduduk, reduce and reuse untuk sektor perhotelan dan reduce, reuse and recycle pada sektor industri, sebagai kebijakan untuk meningkatkan efisiensi air bersih. Gambar 34 Causal loop sub model kebutuhan air bersih 86 Gambar 35 Struktur sub model kebutuhan air bersih 7.3.2 Sub Model Ketersediaan Air Bersih Sub model ketersediaan ini mendeskripsikan ketersediaan air bersih yang berasal dari sumber alam yaitu air tanah/sumur dan pelayanan PDAM. Ketersediaan air bersih dari alam dipengaruhi oleh besarnya koefisien run off masing-masing tutupan lahan, curah hujan, luas lahan dan luas catchment area. Sedangkan ketersediaan air dari sektor pelayanan PDAM dihitung berdasarkan kapasitas instalasi pengolahan air (IPA) PDAM. Keterkaitan antar variable ketersediaan air dapat dilihat pada Gambar 36. Gambar 36 Causal loop sub model ketersediaan air bersih 87 Ketersediaan air tanah dapat ditingkatkan dengan menaikan imbuh air tanah dengan melakukan upaya-upaya reboisasi pada lahan hutan, pembuatan terasering pada lahan lading/tegakan, pembuatan sumur resapan pada lahan permukiman dan pembuatan sistem intensifikasi pada lahan tambak. Upaya konservasi ini dilakukan untuk menurunkan koefisien run off masing-masing land use sehingga imbuhan air tanah menjadi meningkat. Jadi, semakin tinggi upaya konservasi maka koefisien run off akan semakin kecil dan imbuhan air tanah akan meningkat. Nilai koefisien run off pada masing-masing land use dapat dilihat pada Tabel 18. Imbuhan air tanah yang dipakai sebagai air bersih diasumsikan sebanyak 40%, dan sisanya berupa cadangan air tanah. Namun upaya konservasi ini juga harus memperhitungkan biaya konservasi pada masing-masing land use. Dalam hal ini biaya konservasi pada masing-masing land use berupa data asumsi berupa nilai masukan (input). Koefisien run off pada masing-masing lahan dikumulatifkan sehingga menjadi koefisien run off kumulatif menggunakan persamaan (4). Persamaanpersamaan lain yang digunakan dalam perhitungan ketersediaan air bersih pada sub model ketersediaan air bersih ini adalah : ∑ ∑ ……………… (4) ……………..…...………….………… (5) ……………..………………………… (6) ………………………………… (7) dimana : C = Ci = Ai = RO = I = koefisien run off kumulatif koefisien run off lahan i luas lahan i (ha) 3 Run Off (m /thn) curah hujan tahunan (mm/thn) A = G = P = E = IKA = luas daerah tangkapan (ha) 3 imbuhan air tanah (m /thn) 3 volume hujan (m /thn) 3 evaporasi (m /thn) indeks ketersediaan air bersih Ketersediaan air dari pelayanan PDAM dapat ditingkatkan dengan cara melakukan uprating instalasi pengolahan air (IPA) PDAM eksisting atau membuat instalasi pengolahan air bersih mikro (IPAB Mikro) pada masing-masing wilayah yang kekurangan pelayanan air bersih. Pada sub model ini dibandingkan antara penambahan ketersediaan air dengan cara uprating IPA dan pembuatan IPAB Mikro. Rincian biaya uprating dan IPAB Mikro dapat dilihat pada Lampiran 6 s/d 7. Berdasarkan biaya uprating dan biaya pemasangan IPAB Mikro tersebut 88 didapat biaya dan jumlah unit IPAB Mikro yang dibutuhkan oleh Kota Tarakan untuk menambah kekurangan air pada tiap tahun. Biaya ini akan bervariasi pada masing-masing kecamatan, tergantung jumlah kekurangan air yang akan disediakan. Dengan diketahuinya biaya penambahan air bersih tersebut, maka dapat dijadikan usulan kebijakan sebagai alternatif dalam pemilihan sistem penyediaan air bersih di Kota Tarakan. Pelayanan air bersih perpipaan ini sesuai MDG’s tahun 2015 harus dapat melayani 80% kebutuhan air bersih masyarakat. Sehingga pelayanan air bersih oleh PDAM (perpipaan) ditargetkan terlayani 80%, dan sisanya terlayani oleh air tanah/sumur. Tabel 18 Nilai koefisien run off masing-masing land use Tataguna lahan C Tataguna lahan Perkantoran Tanah Lapang Daerah pusat kota 0,7-0,95 Berpasir, datar, 2% Daerah sekitar kota 0,5-0,7 Berpasir, agak rata, 2-7% Perumahan Berpasir, miring, 7% Rumah tunggal 0,3-0,5 Tanah berat, datar, 2% Rumah susun, terpisah 0,4-0,6 Tanah berat, agak rata, 2-7% Rumah susun, 0,6-0,75 Tanah berat, miring, 7% bersambung 0,25-0,4 Tanah Pertanian, 0-30% Pinggiran kota Tanah kosong Daerah Industri 0,5-0,8 Rata Kurang padat industri 0,6-0,9 Kasar Padat Industri 0,1-0,25 Ladang Garapan Taman, kuburan Tanah berat, tanpa vegetasi Sumber : U.S Forest Service, 1980 dalam Asdak, C (2007) C 0,05-0,10 0,10-0,15 0,15-0,20 0,13-0,17 0,18-0,22 0,25-0,35 0,30-0,60 0,20-0,50 0,30-0,60 Sub model ketersediaan air bersih ini juga menghitung neraca air bersih dan indeks ketersediaan air bersih (IKA). Neraca air bersih yaitu selisih dari air yang tersedia dengan kebutuhan total air bersih pada setiap tahun. Sedangkan IKA adalah perbandingan ketersediaan air bersih dengan kebutuhan air bersih pada setiap tahun. Diharapkan IKA memiliki nilai ≥ 1 pada setiap tahunnya. Dengan demikian, ketersediaan air bersih Kota Tarakan lebih besar dari kebutuhannya, sehingga tidak terjadi krisis air. Diagram alir sub model ketersediaan air bersih dapat dilihat pada Gambar 37 dan persamaan model dinamis ketersediaan air bersih selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5. Beberapa data awal dan asumsi yang dipergunakan dalam sub model ketersediaan air bersih ini adalah : 1. Luas daerah tangkapan air Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Tengah dan Tarakan Utara masing-masing adalah 2.789 ha, 5.801 ha, 5.554 ha, 10.936 ha. Dengan total wilayah sebesar 25.080 ha. 89 2. Luas lahan permukiman di Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Tengah dan Tarakan Utara masing-masing adalah 414 ha, 328 ha, 397 ha, dan 237 ha (Citra Satelit Landsat TM 05 tahun 2008). 3. Luas lahan hutan di Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Tengah dan Tarakan Utara masing-masing adalah 448 ha, 2516 ha, 3652 ha, dan 7861 ha (Citra Satelit Landsat TM 05 tahun 2008). 4. Luas lahan tegakan/lading di Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Tengah dan Tarakan Utara masing-masing adalah 1396 ha, 2688 ha, 1505 ha dan 2557 ha (Citra Satelit Landsat TM 05 tahun 2008). 5. Luas lahan tambak di Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur, Tarakan Tengah dan Tarakan Utara masing-masing adalah 531 ha, 269 ha, 0 ha dan 281 ha. 6. Koefisien run off eksisting sebagai batas atas pada lahan permukiman, tegalan, hutan dan tambak masing-masing adalah 0,75, 0,35, 0,4 dan 0,7. Sedangkan pada batas bawah adalah 0,3, 0,2, 0,2 dan 0,2. 7. Curah hujan rata-rata tahunan Kota Tarakan adalah 3705,65 mm/thn. 8. Evaporasi rata-rata tahunan Kota Tarakan adalah 1700 mm/thn. 9. Biaya sumur resapan sebesar Rp500.000,00/ha, reboisasi sebesar Rp1.500.000,00/ha, terasering Rp1.000.000,00/ha dan intensifikasi tambak Rp5.000.000,00/ha. 10. Biaya uprating IPA PDAM sebesar Rp.1.159,5/m3, biaya pemasangan IPAB Mikro Rp643,00/m3. 11. Asumsi pemakaian air tanah dari imbuhan air tanah adalah 40%, dan sebanyak 30% air tanah tidak bisa dimanfaatkan karena pencemaran dan intrusi air laut. 12. Ketersediaan air bersih terdiri atas ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah (alami) dan pelayanan perpipaan PDAM. 90 Gambar 37 Diagram alir sub model ketersediaan air bersih 91 7.4 Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Barat 7.4.1 Kondisi Eksisting Kecamatan Tarakan Barat Proyeksi kebutuhan air bersih berdasarkan jumlah penduduk, hotel dan industri pada Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Tabel 19. Pada awal tahun 2001, jumlah penduduk, hotel dan jumlah industri di Kecamatan Tarakan Barat masing-masing tercatat 41.302 jiwa, 10 buah hotel dan 139 unit industri. Jumlah kebutuhan air bersih per tahun masing-masing sektor tersebut yaitu 2.261.284,5 m3, 182.500 m3 dan 5.073.500 m3. Analisis dilakukan selama 30 tahun dari 2001-2030, sehingga diproyeksikan jumlah penduduk, hotel dan industri masing-masing menjadi 502.735 jiwa, 18 hotel dan 185 unit industri. Dengan demikian, jumlah kebutuhan air bersih pada tahun 2030 menjadi 27.524.766,7 m3 untuk kebutuhan penduduk, 324.091,66 m3 untuk kebutuhan hotel dan 6.770.605,42 m3 untuk kebutuhan industri. Tabel 19 Proyeksi jumlah penduduk (jiwa), hotel dan industri (unit) serta kebutuhan air bersih di Tarakan Barat (m3) 92 Berdasarkan hasil analisis sub model ketersediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Barat, pada tahun 2001, ketersediaan air bersih sebesar 35.987.520 m3. Ketersediaan ini terus menurun, sehingga pada akhir simulasi, tahun 2030, proyeksi ketersediaan air bersih menjadi 14.330.735 m3. Ketersediaan dan neraca air bersih di Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Tabel 20. Tingginya tingkat kebutuhan air bersih di kecamatan Tarakan Barat menyebabkan terjadinya kekurangan air bersih dimulai pada tahun 2017 dan pada akhir tahun simulasi kekurangan air bersih sebesar 20.288.729 m3. Tabel 20 Ketersediaan dan neraca air bersih Tarakan Barat (m3) Ketersediaan air bersih Kota Tarakan didapatkan dari imbuhan air tanah sehingga menjadi ketersediaan alami, dan layanan perpipaan PDAM. Imbuhan air tanah yang dimaksud pada penelitian ini adalah imbuhan air tanah yang berasal dari curah hujan saja, dan belum memperhitungkan imbuh air tanah yang berasal dari aliran air tanah dari satuan hidrologi didekatnya. Salah satu cara meningkatkan imbuhan air tanah adalah meningkatkan imbuhan air tanah 93 dengan cara mengurangi bagian hujan yag menjadi run off. Imbuhan air tanah yang cenderung terus menurun menunjukkan komposisi luasan lahan hutan, tegakan, pemukiman dan tambak yang kurang baik. Hal ini menyebabkan koefisien run off di Kecamatan Tarakan Barat menjadi lebih tinggi (0,501), sehingga aliran limpasan menjadi tinggi. Tingginya aliran limpasan menyebabkan imbuhan air tanah menurun sehingga cadangan air tanah menjadi menurun. Proyeksi kebutuhan dan ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Gambar 38. Gambar 38 Kebutuhan dan ketersediaan air bersih Tarakan Barat (m3) Pada Gambar 38 dapat dilihat bahwa Kecamatan Tarakan Barat sangat berpotensi mengalami krisis air bersih. Hal ini ditunjukkan dengan semakin menurunnya ketersediaan air bersih (supply) dan meningkatnya kebutuhan air bersih. Tingginya kekurangan air bersih pada tahun 2030 yaitu sebesar 20.288.729 m3, membutuhkan perhatian yang serius, Untuk itu perlu diterapkan kebijakan penghematan air sesegera mungkin. Penerapan kebijakan konservasi air bersih melalui pembuatan sumur resapan di daerah permukiman, reboisasi di lahan hutan, terasering di lahan lading/tegakan dan pembuatan tambak sistem intensif, merupakan langkah yang perlu diambil oleh stakeholder Kota Tarakan sehingga krisis air di Tarakan Barat dapat dihindari. Produktifitas layanan PDAM di Tarakan Barat juga perlu ditingkatkan. Hal ini sangat berpengaruh, karena rendahnya layanan air bersih perpipaan menyebabkan masyarakat dan industi menggunakan air tanah sebagai sumber air bersih. Akibat penambangan air tanah yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya penurunan muka air tanah mengakibatkan intrusi air laut. Selain itu juga dapat menyebabkan penurunan muka tanah. 94 7.4.2 Simulasi Skenario Model Penyediaan Air Bersih Tarakan Barat Upaya peningkatan ketersediaan air bersih di Tarakan Barat dilakukan dengan menggunakan beberapa skenario yaitu skenario satu, dua dan tiga, seperti tersaji pada Tabel 21. Tabel 21. Skenario penyediaan air bersih Tarakan Barat Variabel Peubah Kebijakan Perilaku Hemat Air a. Penduduk b. Hotel c. Industri Kebijakan untuk Konservasi Air Bersih a. Sumur resapan b. Reboisasi c. Terasering d. Tambak intensif Kebijakan Peningkatan Layanan Perpipaan a. Jumlah penduduk terlayani Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 0% 0% 0% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 5% 5% 2% 0% 10% 5% 2% 0% 10% 10% 3% 0% Kondisi eksisting 60% 80% Proyeksi kebutuhan air bersih Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Gambar 39. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih skenario satu sama dengan kondisi eksisting yaitu sebesar 7.517.284,5 m3 pada tahun 2001 dan terus meningkat menjadi 34.619.463,7 m3 pada tahun 2030. Pada skenario dua dan tiga, kebutuhan air bersih tahun 2001 sebesar 7.517.284,5 m3, terus meningkat tiap tahunnya. Seiiring diberlakukannya kebijakan hemat air pada tahun 2013, dimana kebutuhan air bersih penduduk, hotel dan industri dikurangi masing-masing 10%, maka terjadi pengurangan kebutuhan air bersih pada tahun 2013 yang tadinya 12.942.855,9 m3 menjadi 11.648.570,3 m3. Sehingga pada skenario dua dan tiga, pada akhir simulasi (2030) kebutuhan air bersih menjadi 31.157.517,4 m3. Gambar 39 Proyeksi Kebutuhan air bersih Tarakan Barat (m3) 95 Proyeksi ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Gambar 40. Hasil simulasi menunjukkan apabila diterapkan variabel skenario satu, dua dan tiga dimulai pada tahun 2013, maka terlihat peningkatan ketersediaan air bersih dari kondisi eksisting (supply) menjadi kondisi suplai_1, suplai_2 dan suplai_3. Sehingga pada tahun 2030 ketersediaan air bersih sebesar 14.330.735 m3 bertambah menjadi 29.406.707 m3 pada skenario satu, 42.783.240,1 m3 pada skenario dua dan 51.666.411,9 m3 pada skenario tiga. Peningkatan ketersediaan air bersih ini akibat dari kebijakan konservasi untuk meningkatkan imbuhan air tanah dan kebijakan peningkatan kapasitas layanan PDAM. Pada skenario satu, ketersediaan air bersih bertambah akibat adanya pembuatan sumur resapan sebesar 5% lahan permukiman per tahun, reboisasi sebesar 5% lahan hutan per tahun dan terasering 2% lahan tegakan per tahun. Ketersediaan air bersih skenario dua lebih tinggi dari skenario satu karena pembuatan sumur resapan lebih banyak dari skenario satu yaitu sebesar 10% lahan permukiman per tahun. Sedangkan skenario tiga menghasilkan ketersediaan air yang lebih tinggi lagi, karena pembuatan sumur resapan sebesar 10% lahan permukiman per tahun, reboisasi ditingkatkan menjadi 10% lahan hutan per tahun dan terasering sebesar 3% lahan tegakan per tahun. Gambar 40 Simulasi ketersediaan air bersih di Tarakan Barat (m3) Peningkatan ketersediaan air bersih ini membutuhkan biaya konservasi dan biaya peningkatan kapasitas layanan PDAM. Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Tabel 22. Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan pada skenario satu, pada awal 96 tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp10.350.000,00 dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp175.950.000,00. Pembuatan sumur resapan pada skenario dua dan tiga membutuhkan biaya sebesar Rp20.700.000,00 pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp315.900.000,00 pada akhir tahun simulasi (2030). Tabel 22 Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan di Tarakan Barat (Rp.) Kebutuhan biaya reboisasi pada lahan hutan Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Tabel 23. Kebutuhan biaya reboisasi pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp.33.600.000,dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp.571.200.000,. Reboisasi pada skenario tiga membutuhkan biaya sebesar Rp.67.200.000,pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp.1.142.400.000,- pada akhir tahun simulasi (2030). Kebutuhan biaya terasering pada lahan tegakan/ladang Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Tabel 24. Kebutuhan biaya reboisasi pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp.27.920.000,,- dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp.474.640.000,-. Terasering pada skenario tiga membutuhkan biaya sebesar Rp.41.880.000,- pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp.711.960.000,- pada akhir tahun simulasi (2030). 97 Konservasi lahan tambak melalui pembuatan tambak intensif diasumsikan untuk tidak dilakukan (0%). Hal ini karena biaya pembuatan tambak intensif yang sangat tinggi, sehingga membutuhkan biaya yang sangat besar. Sehingga dalam meningkatkan ketersediaan air bersih kecamatan Tarakan Barat tidak melakukan pembuatan tambak intensif. Tabel 23 Kebutuhan biaya reboisasi Tarakan Barat (Rp.) Tabel 24 Kebutuhan biaya terasering Kecamatan Tarakan Barat (Rp.) 98 Kebijakan lain yang dilakukan dalam meningkatkan ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Barat adalah peningkatan kapasitas pelayanan perpipaan. Kebijakan ini khusus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat (domestic). Peningkatan kapasitas layanan PDAM dilakukan pada skenario dua dan tiga, sebesar masing-masing 60% penduduk terlayani dan 80% penduduk terlayani. Pada skenario satu, diasumsikan tidak dilakukan peningkatan kapasitas layanan perpipaan. Proyeksi peningkatan kapasitas layanan perpipaan dapat dilihat pada Gambar 41. Ketersedian air bersih melalui layanan perpipaan PDAM pada skenario satu konstan sebesar 5.987.520 m3 sepanjang tahun simulasi. Sedangkan pada skenario dua, supaya 60% penduduk mendapatkan pelayanan perpipaan, maka produksi PDAM harus bertambah dimulai pada tahun 2020 menjadi 6.278.449,81 m3 dan pada tahun 2030 menjadi 14.863.374 m3. Pada skenario tiga, supaya 80% penduduk mendapatkan pelayanan perpipaan, maka produksi PDAM harus bertambah dimulai pada tahun 2017 menjadi 6.464.153,63 m3 dan pada tahun 2030 menjadi 19.817.832 m3. Gambar 41 Peningkatan layanan perpipaan Tarakan Barat Untuk meningkatkan layanan perpipaan PDAM, dilakukan 2 (dua) alternatif kegiatan peningkatan kapasitas layanan. Alternatif pertama yaitu meningkatkan kapasitas IPA PDAM eksisting melalui uprating IPA, sedangkan alternatif kedua yaitu membangun Instalasi Pengolahan Air Bersih Mikro (IPAB Mikro) di lokasi dekat permukiman dan sumber sumber air permukaan. 99 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas layanan perpipaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 25 dan Tabel 26. Pada skenario satu, tidak dilakukan peningkatan kapasitas IPA PDAM, sehingga tidak ada biaya peningkatan kapasitas. Pada skenario dua, kapasitas layanan PDAM ditingkatkan sehingga mampu melayani 60% kebutuhan air bersih penduduk (domestic), dibutuhkan biaya uprating mulai tahun 2020 sebesar Rp337.333.109,95 dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp10.291.552.716,77. Biaya peningkatan kapasitas IPA/uprating PDAM pada skenario tiga sehingga kapasitas layanan mampu melayani 80% kebutuhan air bersih penduduk (sesuai MDG’s) yaitu sebesar Rp552.656.690,91 pada tahun 2017 dan Rp16.036.246.769,03 pada tahun 2030. Tabel 25 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui uprating IPA PDAM di Tarakan Barat (Rp.) Pada Tabel 26, kebutuhan biaya peningkatan kapasitas layanan dengan cara pembangunan IPAB Mikro, didapatkan kebutuhan biaya untuk melayani 60% kebutuhan air bersih penduduk (skenario dua) sebesar Rp187.067.865,20 pada tahun 2020 sebanyak 2 unit dan Rp5.707.174.124,09 pada tahun 2030 dengan total 57 unit terpasang. Sedangkan untuk melayani 80% kebutuhan air bersih penduduk menggunakan IPAB Mikro, dibutuhkan biaya sebesar Rp306.475.422,39 pada tahun 2017 sebanyak 3 unit dan Rp8.892.890.618,79 pada tahun 2030 dengan total 89 unit terpasang. 100 Tabel 26 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui IPAB Mikro di Tarakan Barat (Rp.) Hasil akhir dari model penyediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Barat adalah neraca air bersih seperti pada Gambar 42 dan Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) pada Tabel 27. Neraca air bersih menunjukkan sisa ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah dan pelayanan perpipaan. Kondisi yang diharapkan adalah terjadinya surplus air bersih sepanjang tahun. IKA menunjukkan perbandingan ketersediaan terhadap kebutuhan air bersih, kondisi yang diharapkan adalah ≥ 1. Gambar 42 Neraca air bersih Tarakan Barat Pada Tabel 27, terjadi pengurangan air bersih sepanjang tahun pada kondisi eksisting dan pada tahun 2017 terjadi krisis air bersih, sehingga pada tahun 2030 terjadi kekurangan air bersih (defisit) sebesar 20.288.729 m3. Begitu 101 pula halnya dengan neraca air skenario satu, akan terjadi krisis air bersih pada tahun 2019 dan masih terjadi defisit air bersih pada tahun 2030 sebesar 5.212.756,7 m3. Berbeda halnya pada skenario dua dan tiga, terjadi peningkatan air bersih yang cukup baik. Simulasi neraca air skenario dua, menunjukkan peningkatan yang baik dimulai dari tahun 2017 sehingga pada tahun 2030 masih terdapat kelebihan air bersih (surplus) sebesar 11.625.722,8 m3. Sedangkan pada simulasi skenario tiga, peningkatan air bersih juga terjadi sejak tahun 2017 sehingga masih terdapat surplus air bersih sebesar 20.508.894,5 m3. Tabel 27 Neraca air bersih Tarakan Barat (m3) Pada Tabel 28, nilai IKA kondisi eksisting, skenario satu, dua dan tiga terus mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya kebutuhan air bersih. Hasil simulasi IKA pada akhir tahun simulasi (2030) pada kondisi eksisting, skenario satu, dua dan tiga, masing-masing sebesar 0,414, 0,849, 1,37 dan 1,66. Hasil ini menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting di tahun 2030 ketersediaan 102 air bersih hanya mampu memenuhi 41,4% kebutuhan air bersih. Ketersediaan air menggunakan simulasi skenario satu hanya mampu melayani 84,9% kebutuhan air bersih. Ketersediaan air menggunakan simulasi skenario dua mampu melayani 100% kebutuhan air bersih dan masih surplus sebesar 37% dari kebutuhan air bersih, dan ketersediaan air menggunakan simulasi skenario tiga mampu melayani 100% kebutuhan air bersih dan masih surplus sebesar 66% dari kebutuhan air bersih. Tabel 28 Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) Tarakan Barat 7.5 Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Timur 7.5.1 Kondisi Eksisting Kecamatan Tarakan Timur Proyeksi jumlah penduduk, hotel dan indusrti pada Kecamatan Tarakan Timur dapat dilihat pada Tabel 29. Pada awal tahun 2001, jumlah penduduk, hotel dan jumlah industri di Kecamatan Tarakan Timur masing-masing tercatat 21.805 jiwa, 4 buah hotel dan 36 unit industri. Jumlah kebutuhan air bersih per tahun masing-masing sektor tersebut yaitu 1.193.823,75 m3, 73.000 m3 dan 1.314.000 m3. Analisis dilakukan selama 30 tahun dari 2001-2030, sehingga 103 diproyeksikan jumlah penduduk, hotel dan industri masing-masing menjadi 754.798 jiwa, 7 hotel dan 48 unit industri. Dengan demikian, jumlah kebutuhan air bersih pada tahun 2030 menjadi 41.325.210,6 m3 untuk kebutuhan penduduk, 129,636,7 m3 untuk kebutuhan hotel dan 1.753.538 m3 untuk kebutuhan industri. Tabel 29 Proyeksi jumlah penduduk (jiwa), hotel dan industri (unit) serta kebutuhan air bersih (m3) di Tarakan Timur Hasil analisis sub model ketersediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Timur, pada tahun 2001, ketersediaan air bersih sebesar 52.612.736 m3. Ketersediaan ini terus menurun, sehingga pada akhir simulasi, tahun 2030, proyeksi ketersediaan air bersih menjadi 39.651.841,1 m3. Ketersediaan dan neraca air bersih di Kecamatan Tarakan Timur dapat dilihat pada Tabel 30. Ketersediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Timur cenderung lebih baik dari Kecamatan Tarakan Barat, walaupun terus mengalami penurunan, namun tetap dalam kondisi aman dan krisis air diperkirakan terjadi pada tahun 2030, dengan jumlah kekurangan air bersih sebesar 3.556.544,2 m3. 104 Tabel 30 Ketersediaan dan neraca air bersih Tarakan Timur (m3) Kecamatan Tarakan Timur mengalami hal serupa dengan Kecamatan Tarakan Barat, namun masih dalam kondisi yang relatif aman. Pada Gambar 43 ditunjukkan kebutuhan dan ketersediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Timur. Koefisien run off pada kondisi eksisting di Tarakan Timur sebesar 0,412 lebih kecil bila dibandingkan dengan koefisien run off kecamatan Tarakan Barat. Penurunan imbuhan air tanah juga terjadi akibat masih tingginya aliran run off. Pada tahun 2030 baru terjadi kekurangan air dan dapat menyebabkan krisis air bersih pada diakibatkan tahun-tahun oleh layanan berikutnya. PDAM Penurunan yang kurang ketersediaan memadai. air juga Tercukupinya ketersediaan air bersih pada tahun-tahun sebelum tahun 2030, dikarenakan masyarakat, industri dan hotel masih memanfaatkan air tanah sebagai sumber air bersih. Untuk itu, di Kecamatan Tarakan Timur perlu segera diberlakukan kebijakan konservasi air bersih dan peningkatan layanan air bersih perpipaan. 105 Gambar 43 Kebutuhan dan ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Timur 7.5.2 Simulasi Skenario Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Timur Upaya peningkatan ketersediaan air bersih di Tarakan Timur dilakukan dengan menggunakan beberapa skenario yaitu skenario satu, dua dan tiga, seperti tersaji pada Tabel 31. Skenario satu dapat diartikan bahwa variablevariabel yang berpengaruh pada kinerja sistem mengalami kemunduran atau terjadi sedikit perubahan dari keadaan eksisting yang mengarah pada tercapainya kinerja sistem atau perkembangan. Skenario dua diartikan sebagai perubahan beberapa variable yang berpengaruh pada kinerja sistem dimana perubahan variabel tersebut dapat menyebabkan perubahan yang lebih baik daripada skenario satu. Sedangkan skenario tiga diartikan bahwa perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan yang lebih baik daripada skenario sebelumnya. Tabel 31. Skenario penyediaan air bersih Kota Tarakan Variabel Peubah Kebijakan Perilaku Hemat Air a. Penduduk b. Hotel c. Industri Kebijakan untuk Konservasi Air Bersih a. Sumur resapan b. Reboisasi c. Terasering d. Tambak intensif Kebijakan Peningkatan Layanan Perpipaan a. Jumlah penduduk terlayani Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 0% 0% 0% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 5% 5% 2% 0% 10% 5% 2% 0% 10% 10% 3% 0% Kondisi eksisting 60% 80% 106 Variabel-variabel yang berpengaruh dalam kinerja sistem tersebut meliputi (1) kebijakan perilaku hemat air, yaitu kebijakan reduse, reuse dan recycle, (2) kebijakan untuk meningkatkan air tanah melalui konservasi, yaitu pembuatan sumur resapan di permukiman, reboisasi pada lahan hutan, terasering pada lahan lading/tegakan, dan pembuatan tambak sistem intensif, (3) kebijakan untuk menaikan pelayanan air perpipaan melalui peningkatan kapasitas pelayanan PDAM. Proyeksi kebutuhan air bersih Kecamatan Tarakan Timur dapat dilihat pada Gambar 44. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih skenario satu sama dengan kondisi eksisting yaitu sebesar 2.580.823,75 m3 pada tahun 2001 dan terus meningkat menjadi 43.208.385,4 m3 pada tahun 2030. Pada skenario dua dan tiga, kebutuhan air bersih tahun 2001 sebesar 2.580.823,75 m3, terus meningkat tiap tahunnya. Seiiring diberlakukannya kebijakan hemat air pada tahun 2013, dimana kebutuhan air bersih penduduk, hotel dan industri dikurangi masing-masing 10%, maka terjadi pengurangan kebutuhan air bersih pada tahun 2013 yang tadinya 7.437.249,84 m3 menjadi 6.693.524,85 m3. Sehingga pada skenario dua dan tiga, pada akhir simulasi (2030) kebutuhan air bersih menjadi 38.887.546,8 m3. Proyeksi ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Timur dapat dilihat pada Gambar 45. Hasil simulasi menunjukkan apabila diterapkan variable skenario satu, dua dan tiga dimulai pada tahun 2013, maka terlihat peningkatan ketersediaan air bersih dari kondisi eksisting (supply) menjadi kondisi suplai_1, suplai_2 dan suplai_3. Sehingga pada tahun 2030 ketersediaan air bersih sebesar 39.651.841,1 m3 bertambah menjadi 62.829.540,3 m3 pada skenario satu, 84.924.460,7 m3 pada skenario dua dan 101.846.713 m3 pada skenario tiga. Peningkatan ketersediaan air bersih ini akibat kebijakan konservasi untuk meningkatkan imbuhan air tanah dan kebijakan peningkatan kapasitas layanan PDAM. Pada skenario satu, ketersediaan air bersih bertambah akibat adanya pembuatan sumur resapan sebesar 5% lahan permukiman per tahun, reboisasi sebesar 5% lahan hutan per tahun dan terasering 2% lahan tegakan per tahun. Ketersediaan air bersih skenario dua lebih tinggi dari skenario satu karena pembuatan sumur resapan lebih banyak dari skenario satu yaitu sebesar 10% lahan permukiman per tahun. 107 Gambar 44 Proyeksi Kebutuhan air bersih Tarakan Timur Sedangkan skenario tiga menghasilkan ketersediaan air yang lebih tinggi lagi, karena pembuatan sumur resapan sebesar 10% lahan permukiman per tahun, reboisasi ditingkatkan menjadi 10% lahan hutan per tahun dan terasering sebesar 3% lahan tegakan per tahun. Peningkatan ketersediaan air bersih ini membutuhkan biaya konservasi dan biaya peningkatan kapasitas layanan PDAM. Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan Kecamatan Tarakan Barat dapat dilihat pada Tabel 32. Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan pada skenario satu, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp.8.200.000,- dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp.139.400.000,-. Pembuatan sumur resapan pada skenario dua dan tiga membutuhkan biaya sebesar Rp.16.400.000,- pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp.278.800.000,- pada akhir tahun simulasi (2030). Tabel 32 Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan Tarakan Timur (Rp.) 108 Gambar 45 Simulasi ketersediaan air bersih di Tarakan Timur Kebutuhan biaya reboisasi pada lahan hutan Kecamatan Tarakan Timur dapat dilihat pada Tabel 33. Kebutuhan biaya reboisasi pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp.62.900.000,dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp1.069.300.000,00. Reboisasi pada skenario tiga membutuhkan biaya sebesar Rp125.800.000,00 pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp2.138.600.000,00 pada akhir tahun simulasi (2030). Konservasi lahan tambak melalui pembuatan tambak intensif diasumsikan untuk tidak dilakukan (0%). Hal ini karena biaya pembuatan tambak intensif yang sangat tinggi, sehingga membutuhkan biaya yang sangat besar. Sehingga dalam meningkatkan ketersediaan air bersih kecamatan Tarakan Timur tidak melakukan pembuatan tambak intensif. Tabel 33 Kebutuhan biaya reboisasi Tarakan Timur (Rp.) 109 Kebutuhan biaya terasering pada lahan tegakan/ladang Kecamatan Tarakan Timur dapat dilihat pada Tabel 34. Kebutuhan biaya terasering pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp.26.880.000,- dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp.456.960.000,-. Terasering pada skenario tiga membutuhkan biaya sebesar Rp.40.320.000,- pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp.685.440.000,- pada akhir tahun simulasi (2030). Tabel 34 Kebutuhan biaya terasering Tarakan Timur (Rp.) Kebijakan lain yang dilakukan dalam meningkatkan ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Timur adalah peningkatan kapasitas pelayanan perpipaan. Kebijakan ini khusus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat (domestic). Peningkatan kapasitas layanan PDAM dilakukan pada skenario dua dan tiga, sebesar masing-masing 60% penduduk terlayani dan 80% penduduk terlayani. Sedangkan pada skenario satu, diasumsikan tidak dilakukan peningkatan kapastas layanan perpipaan. Proyeksi peningkatan kapasitas layanan perpipaan dapat dilihat pada Gambar 46. Ketersedian air bersih melalui layanan perpipaan PDAM pada skenario satu konstan sebesar 2.612.736 m3 sepanjang tahun simulasi. Sedangkan pada skenario dua, supaya 60% penduduk mendapatkan pelayanan perpipaan, maka produksi PDAM harus bertambah dimulai pada tahun 2012 menjadi 2.747.605,29 m3 dan pada tahun 2030 menjadi 22.315.613.73 m3. Pada skenario tiga, supaya 80% penduduk mendapatkan pelayanan perpipaan, maka produksi PDAM harus bertambah dimulai pada tahun 2010 110 menjadi 2.869.037,29 m3 dan pada tahun 2030 menjadi 29.754.151,64 m3. Untuk meningkatkan layanan perpipaan PDAM, dilakukan 2 (dua) alternatif kegiatan peningkatan kapasitas layanan. Alternatif pertama yaitu meningkatkan kapasitas IPA PDAM eksisting melalui uprating IPA, sedangkan alternatif kedua yaitu membangun Instalasi Pengolahan Air Bersih Mikro (IPAB Mikro) di lokasi dekat permukiman dan sumber sumber air permukaan. Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas layanan perpipaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 35 dan Tabel 36. Gambar 46 Peningkatan layanan perpipaan Tarakan Timur Pada skenario satu, tidak dilakukan peningkatan kapasitas IPA PDAM, sehingga tidak ada biaya peningkatan kapasitas. Pada skenario dua, kapasitas layanan PDAM ditingkatkan sehingga mampu melayani 60% kebutuhan air bersih penduduk (domestic), dibutuhkan biaya uprating mulai tahun 2012 sebesar Rp156.380.937,1 dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp22.845.486.724,33. Tabel 35 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui uprating IPA PDAM di Tarakan Timur (Rp.) 111 Biaya peningkatan kapasitas IPA/uprating PDAM pada skenario tiga sehingga kapasitas layanan mampu melayani 80% kebutuhan air bersih penduduk (sesuai MDG’s) yaitu sebesar Rp297.181.344,88 pada tahun 2010 dan Rp31.470.471.429,77 pada tahun 2030. Tabel 36 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui IPAB Mikro di Tarakan Timur (Rp.) Pada Tabel 36, kebutuhan biaya peningkatan kapasitas layanan dengan cara pembangunan IPAB Mikro, didapatkan kebutuhan biaya untuk melayani 60% kebutuhan air bersih penduduk (skenario dua) sebesar Rp.86.720.950,89 pada tahun 2012 sebanyak 1 unit dan Rp.12.668.950.378,39 pada tahun 2030 dengan total 127 unit terpasang. Sedangkan untuk melayani 80% kebutuhan air bersih penduduk menggunakan IPAB Mikro, dibutuhkan biaya sebesar Rp. 164.801.728,99 pada tahun 2010 sebanyak 2 unit dan Rp.17.451.930.253,86 pada tahun 2030 dengan total 175 unit terpasang. Hasil akhir dari model penyediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Timur adalah neraca air bersih seperti pada Gambar 47 dan Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) pada Tabel 37. Neraca air bersih menunjukkan sisa ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah dan pelayanan perpipaan. Kondisi yang diharapkan adalah terjadinya surplus air bersih sepanjang tahun. IKA menunjukkan perbandingan ketersediaan terhadap kebutuhan air bersih, kondisi yang diharapkan adalah ≥ 1. Pada Tabel 37, terjadi pengurangan air bersih sepanjang tahun pada kondisi eksisting dan pada tahun 2030 terjadi krisis air bersih dengan kekurangan air bersih (defisit) sebesar 3.556.544,2 m3. Begitu pula halnya 112 dengan neraca air skenario satu, ketersediaan air bersih terus menurun tetapi tidak terjadi krisis sampai pada tahun 2030, air bersih surplus sebesar 19.621.154,9 m3. Berbeda halnya pada skenario dua dan tiga, terjadi peningkatan air bersih yang cukup baik. Simulasi neraca air skenario dua, menunjukkan peningkatan yang baik dimulai dari tahun 2017 sehingga pada tahun 2030 masih terdapat kelebihan air bersih (surplus) sebesar 46.036.913,8 m3. Pada simulasi skenario tiga, peningkatan air bersih juga terjadi sejak tahun 2016 sehingga masih terdapat surplus air bersih sebesar 62.959.165,9 m3. Gambar 47 Neraca air bersih Tarakan Timur (m3) Pada Tabel 38, nilai IKA kondisi eksisting, skenario satu, dua dan tiga terus mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya kebutuhan air bersih. Hasil simulasi IKA pada akhir tahun simulasi (2030) pada kondisi eksisting, skenario satu, dua dan tiga, masing-masing sebesar 0.918, 1.45, 2.18 dan 2.62. Hasil ini menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting di tahun 2030 ketersediaan air bersih hanya mampu memenuhi 91.8% kebutuhan air bersih (defisit). Ketersediaan air menggunakan simulasi skenario satu hanya mampu melayani 100% kebutuhan air bersih dan masih surplus sebesar 45% dari kebutuhan air bersih. Ketersediaan air menggunakan simulasi skenario dua mampu melayani 218% dari kebutuhan air bersih, dan ketersediaan air menggunakan simulasi skenario tiga mampu melayani 262% dari kebutuhan air bersih. 113 Tabel 37 Neraca air bersih Tarakan Timur (m3) Tabel 38 Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) Tarakan Timur 114 7.6 Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Tengah 7.6.1 Kondisi Eksisting Kecamatan Tarakan Tengah Proyeksi jumlah penduduk, hotel dan indusrti pada Kecamatan Tarakan Tengah dapat dilihat pada Tabel 39. Pada awal tahun 2001, jumlah penduduk, hotel dan jumlah industri di Kecamatan Tarakan Tengah masing-masing tercatat 46.458 jiwa, 7 buah hotel dan 123 unit industri. Jumlah kebutuhan air bersih per tahun masing-masing sektor tersebut yaitu 2.543.575,5 m3, 127.750 m3 dan 4.489.500 m3. Analisis dilakukan selama 30 tahun dari 2001-2030, sehingga diproyeksikan jumlah penduduk, hotel dan industri masing-masing menjadi 144.886 jiwa, 22 hotel dan 164 unit industri. Dengan demikian, jumlah kebutuhan air bersih pada tahun 2030 menjadi 7.932.525,43 m3 untuk kebutuhan penduduk, 398.407,72 m3 untuk kebutuhan hotel dan 5.991.255,2 m3 untuk kebutuhan industri. Tabel 39 Proyeksi jumlah penduduk (jiwa), hotel dan industri (unit) serta kebutuhan air bersih (m3) di Tarakan Tengah 115 Hasil analisis sub model ketersediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Tengah dapat dilihat pada Tabel 40. Pada tahun 2001, ketersediaan air bersih sebesar 41.959.552 m3. Berbeda dengan kecamatan sebelumnya, ketersediaan air bersih terus meningkat dan cenderung konstan pada tahun 2016, sehingga pada akhir simulasi, tahun 2030, proyeksi ketersediaan air bersih menjadi 42.874.985 m3. Ketersediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Tengah cenderung lebih baik dari Kecamatan Tarakan Barat dan Tarakan Timur. Namun, walaupun ketersediaan air terus meningkat tetapi neraca air tetap berkurang akibat tingginya kebutuhan air bersih. Pada akhir simulasi, jumlah air yang tersisa sebesar 28.552.796,7 m3 dan cenderung terus menurun. Tabel 40 Ketersediaan dan neraca air bersih di Tarakan Tengah (m3) Pada kecamatan ini, ketersediaan air alami terlihat meningkat dan cenderung konstan pada tahun 2016 seperti tersaji pada Gambar 48. Koefisien run off di Tarakan Tengah sebesar 0,392. Rendahnya koefisien run off pada wilayah kecamatan ini disebabkan oleh luasan hutan yang cukup besar yaitu 116 3652 ha. Hal ini menunjukkan bahwa semakin luas daerah resapan, maka koefisien run off akan semakin kecil, sehingga debit run off menjadi kecil. Selain itu, kebutuhan air bersih di kecamatan ini paling rendah dibandingkan kecamatan yang lain. Hal ini juga mempengaruhi proyeksi ketersediaan air bersih. Namun, dari pelayanan air bersih perpipaan, masih sangat kurang. Hal ini disebabkan kapasitas layanan IPA PDAM Kampung Satu masih minim yaitu 90 liter/detik. Sehingga penyediaan air bersih masih sangat bergantung dari air tanah/sumur. Gambar 48 Kebutuhan dan ketersediaan air bersih Tarakan Tengah 7.6.2 Simulasi Skenario Penyediaan Air Bersih di Tarakan Tengah Upaya peningkatan ketersediaan air bersih di Tarakan Tengah dilakukan dengan menggunakan beberapa skenario yaitu skenario satu, dua dan tiga, seperti tersaji pada Tabel 41. Skenario satu dapat diartikan bahwa variablevariabel yang berpengaruh pada kinerja sistem mengalami kemunduran atau terjadi sedikit perubahan dari keadaan eksisting yang mengarah pada tercapainya kinerja sistem atau perkembangan. Skenario dua diartikan sebagai perubahan beberapa variable yang berpengaruh pada kinerja sistem dimana perubahan variable tersebut dapat menyebabkan perubahan yang lebih baik daripada skenario satu. Sedangkan skenario tiga diartikan bahwa perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan yang lebih baik daripada skenario sebelumnya. 117 Tabel 41 Skenario penyediaan air bersih Kecamatan Tarakan Tengah Variabel Peubah Kebijakan Perilaku Hemat Air a. Penduduk b. Hotel c. Industri Kebijakan untuk Konservasi Air Bersih a. Sumur resapan b. Reboisasi c. Terasering d. Tambak intensif Kebijakan Peningkatan Layanan Perpipaan a. Jumlah penduduk terlayani Variabel-variabel Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 0% 0% 0% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 1% 1% 1% 0% 1% 1% 1% 0% 2% 2% 2% 0% Kondisi eksisting 60% 80% yang berpengaruh dalam kinerja sistem tersebut meliputi (1) kebijakan perilaku hemat air, yaitu kebijakan reduse, reuse dan recycle, (2) kebijakan untuk meningkatkan air tanah melalui konservasi, yaitu pembuatan sumur resapan di permukiman, reboisasi pada lahan hutan, terasering pada lahan lading/tegakan, dan pembuatan tambak sistem intensif, (3) kebijakan untuk menaikan pelayanan air perpipaan melalui peningkatan kapasitas pelayanan PDAM. Variabel pada skenario model penyediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Tengah lebih kecil bila dibandingkan dengan kecamatan sebelumnya. Hal ini karena air bersih alami lebih tinggi dari total kebutuhan air, sehingga variable peubah untuk kebijakan konservasi tidak perlu terlalu tinggi. Namun variable peningkatan pelayanan perpipaan perlu ditingkatkan, sesuai dengan peningkatan pelayanan di kecamatan lain. Proyeksi kebutuhan air bersih Kecamatan Tarakan Tengah dapat dilihat pada Gambar 49. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih skenario satu sama dengan kondisi eksisting yaitu sebesar 7.160.825.5 m3 pada tahun 2001 dan terus meningkat menjadi 14.322.188,3 m3 pada tahun 2030. Pada skenario dua dan tiga, kebutuhan air bersih tahun 2001 sebesar 7.160.825.5 m3, terus meningkat tiap tahunnya. Seiiring diberlakukannya kebijakan hemat air pada tahun 2013, dimana kebutuhan air bersih penduduk, hotel dan industri dikurangi masing-masing 10%, maka terjadi pengurangan kebutuhan air bersih pada tahun 2013 yang tadinya 9.557.423,1 m3 menjadi 8.601.680,79 m3. Sehingga pada skenario dua dan tiga, pada akhir simulasi (2030) kebutuhan air bersih menjadi 12.889.969,5 m3. 118 Gambar 49 Proyeksi Kebutuhan air bersih Tarakan Tengah Proyeksi ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Timur dapat dilihat pada Gambar 50. Hasil simulasi menunjukkan apabila diterapkan variable skenario satu, dua dan tiga dimulai pada tahun 2013, maka terlihat peningkatan ketersediaan air bersih dari kondisi eksisting (suplai) menjadi kondisi suplai_1, suplai_2 dan suplai_3. Sehingga pada tahun 2030 ketersediaan air bersih sebesar 42.874.985 m3 bertambah menjadi 49.310.833,6 m3 pada skenario satu, 51.634.845,3 m3 pada skenario dua dan 59.498.548,5 m3 pada skenario tiga. Gambar 50 Proyeksi Ketersediaan air bersih Tarakan Tengah Peningkatan ketersediaan air bersih ini akibat kebijakan konservasi untuk meningkatkan imbuhan air tanah dan kebijakan peningkatan kapasitas layanan PDAM. Pada skenario satu dan dua, ketersediaan air bersih bertambah akibat 119 adanya pembuatan sumur resapan sebesar 1% lahan permukiman per tahun, reboisasi sebesar 1% lahan hutan per tahun dan terasering 1% lahan tegakan per tahun. Sedangkan skenario tiga menghasilkan ketersediaan air yang lebih tinggi lagi, karena pembuatan sumur resapan sebesar 2% lahan permukiman per tahun, reboisasi ditingkatkan menjadi 2% lahan hutan per tahun dan terasering sebesar 2% lahan tegakan per tahun. Peningkatan ketersediaan air bersih ini membutuhkan biaya konservasi dan biaya peningkatan kapasitas layanan PDAM. Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan Kecamatan Tarakan Tengah dapat dilihat pada Tabel 42. Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp.1.985.000,- dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp.33.745.000,-. Pembuatan sumur resapan pada skenario tiga membutuhkan biaya sebesar Rp.3.970.000,pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp.67.490.000,- pada akhir tahun simulasi (2030). Tabel 42 Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan di Tarakan Tengah (Rp.) Kebutuhan biaya reboisasi pada lahan hutan Kecamatan Tarakan Tengah dapat dilihat pada Tabel 43. Kebutuhan biaya reboisasi pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp.18.260.000,dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp.310.420.000,. Reboisasi pada skenario tiga membutuhkan biaya sebesar Rp.36.520.000,- pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp.620.840.000,- pada akhir tahun simulasi (2030). 120 Tabel 43. Kebutuhan biaya reboisasi Tarakan Tengah (Rp.) Kebutuhan biaya terasering pada lahan tegakan/ladang Kecamatan Tarakan Tengah dapat dilihat pada Tabel 44. Kebutuhan biaya terasering pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp.7.525.000,- dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp15.050.000,- pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp.255.850.000,- pada akhir tahun simulasi (2030). Konservasi lahan tambak melalui pembuatan tambak intensif diasumsikan untuk tidak dilakukan (0%). Hal ini karena biaya pembuatan tambak intensif yang sangat tinggi, sehingga membutuhkan biaya yang sangat besar. Sehingga dalam meningkatkan ketersediaan air bersih kecamatan Tarakan Tengah tidak melakukan pembuatan tambak intensif. Tabel 44. Kebutuhan biaya terasering Tarakan Tengah (Rp.) 121 Kebijakan lain yang dilakukan dalam meningkatkan ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Tengah adalah peningkatan kapasitas pelayanan perpipaan. Kebijakan ini khusus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat (domestic). Peningkatan kapasitas layanan PDAM dilakukan pada skenario dua dan tiga, sebesar masing-masing 60% penduduk terlayani dan 80% penduduk terlayani. Sedangkan pada skenario satu, diasumsikan tidak dilakukan peningkatan kapastas layanan perpipaan. Proyeksi peningkatan kapasitas layanan perpipaan dapat dilihat pada Gambar 51. Ketersedian air bersih melalui layanan perpipaan PDAM pada skenario satu konstan sebesar 1.959.552 m3 sepanjang tahun simulasi. Sedangkan pada skenario dua, supaya 60% penduduk mendapatkan pelayanan perpipaan, maka produksi PDAM harus bertambah dimulai pada tahun 2008 menjadi 2.008.303,10 m3 dan pada tahun 2030 menjadi 4.283.563,73 m3. Pada skenario tiga, supaya 80% penduduk mendapatkan pelayanan perpipaan, maka produksi PDAM harus bertambah dimulai pada tahun 2001 menjadi 2.034.860,4 m3 dan pada tahun 2030 menjadi 5.711.418,31 m3. Untuk meningkatkan layanan perpipaan PDAM, dilakukan 2 (dua) alternatif kegiatan peningkatan kapasitas layanan. Alternatif pertama yaitu meningkatkan kapasitas IPA PDAM eksisting melalui uprating IPA, sedangkan alternatif kedua yaitu membangun Instalasi Pengolahan Air Bersih Mikro (IPAB Mikro) di lokasi dekat permukiman dan sumber sumber air permukaan. Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas layanan perpipaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 45 dan Tabel 46. Gambar 51 Peningkatan layanan perpipaan di Tarakan Tengah 122 Tabel 45 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui uprating IPA PDAM di Tarakan Tengah (Rp.) Pada skenario satu, tidak dilakukan peningkatan kapasitas IPA PDAM, sehingga tidak ada biaya peningkatan kapasitas. Pada skenario dua, kapasitas layanan PDAM ditingkatkan sehingga mampu melayani 60% kebutuhan air bersih penduduk (domestic), dibutuhkan biaya uprating mulai tahun 2008 sebesar Rp55.526.900,45 dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp2.694.691.601,12. Biaya peningkatan kapasitas IPA/uprating PDAM pada skenario tiga sehingga kapasitas layanan mampu melayani 80% kebutuhan air bersih penduduk (sesuai MDG’s) yaitu sebesar Rp87.320.089,8 pada tahun 2001 dan Rp4.350.288.982,82 pada tahun 2030. Pada Tabel 46, kebutuhan biaya peningkatan kapasitas layanan dengan cara pembangunan IPAB Mikro, didapatkan kebutuhan biaya untuk melayani 60% kebutuhan air bersih penduduk (skenario dua) sebesar Rp83.000.513,03 pada tahun 2009 sebanyak 1 unit dan Rp1.494.339.542,49 pada tahun 2030 dengan total 15 unit terpasang. Sedangkan untuk melayani 80% kebutuhan air bersih penduduk menggunakan IPAB Mikro, dibutuhkan biaya sebesar Rp 100.759.910,69 pada tahun 2002 sebanyak 1 unit dan Rp2.412.450.035,32 pada tahun 2030 dengan total 24 unit terpasang. 123 Tabel 46 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui IPAB Mikro di Tarakan Tengah (Rp.) Pada Tabel 47, terjadi pengurangan air bersih sepanjang tahun pada semua skenario, namun tidak terjadi defisit air bersih. Surplus air bersih pada tahun 2030 pada skenario eksisting, satu, dua dan tiga, masing-masing adalah 28.552.796 m3, 34.998.645,3 m3, 38.744.875,8 m3 dan 46.608.579 m3. Hasil akhir dari model penyediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Tengah adalah neraca air bersih seperti pada Gambar 52 dan Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) pada Tabel 35. Neraca air bersih menunjukkan sisa ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah dan pelayanan perpipaan. Kondisi yang diharapkan adalah terjadinya surplus air bersih sepanjang tahun. IKA menunjukkan perbandingan ketersediaan terhadap kebutuhan air bersih, kondisi yang diharapkan adalah ≥ 1. 124 Tabel 47 Neraca air bersih di Tarakan Tengah (m3) Gambar 52 Neraca air bersih Tarakan Tengah 125 Tabel 48 Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) di Tarakan Tengah Pada Tabel 48, nilai IKA kondisi eksisting, skenario satu, dua dan tiga terus mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya kebutuhan air bersih. Hasil simulasi IKA pada akhir tahun simulasi (2030) pada kondisi eksisting, skenario satu, dua dan tiga, masing-masing sebesar 2.99, 3.44, 4.01 dan 4.62. Hasil ini menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting di tahun 2030 ketersediaan air bersih hanya mampu memenuhi 299% kebutuhan air bersih. Ketersediaan air menggunakan simulasi skenario satu hanya mampu melayani 344% kebutuhan air bersih. Ketersediaan air menggunakan simulasi skenario dua mampu melayani 401% dari kebutuhan air bersih, dan ketersediaan air menggunakan simulasi skenario tiga mampu melayani 462% dari kebutuhan air bersih. 7.7 Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Utara 7.7.1 Kondisi Eksisting Kecamatan Tarakan Utara Proyeksi jumlah penduduk, hotel dan industri pada Kecamatan Tarakan Utara dapat dilihat pada Tabel 49. Pada awal tahun 2001, jumlah penduduk, hotel dan jumlah industri di Kecamatan Tarakan Utara masing-masing tercatat 8.089 jiwa, 1 buah hotel dan 15 unit industri. Jumlah kebutuhan air bersih per tahun masing-masing sektor tersebut yaitu 442.872,75 m3, 18.250 m3 dan 126 547.500 m3. Analisis dilakukan selama 30 tahun dari 2001-2030, sehingga diproyeksikan jumlah penduduk, hotel dan industri masing-masing menjadi 361.523 jiwa, 2 hotel dan 27 unit industri. Dengan demikian, jumlah kebutuhan air bersih pada tahun 2030 menjadi 19.793.365,7 m3 untuk kebutuhan penduduk, 32.409,17 m3 untuk kebutuhan hotel dan 972.274,97 m3 untuk kebutuhan industri. Hasil analisis sub model ketersediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Utara dapat dilihat pada Tabel 50. Pada tahun 2001, suplai air bersih sebesar 40.762.048 m3. Menyerupai proyeksi ketersediaan air pada kecamatan Tarakan Tengah, ketersediaan air bersih terus meningkat dan cenderung konstan pada tahun 2021, sehingga pada akhir simulasi, tahun 2030, proyeksi suplai air bersih menjadi 88.234.236,9 m3. Ketersediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Utara cenderung lebih baik dari Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Timur dan Tarakan Tengah. Namun, walaupun ketersediaan air terus meningkat tetapi neraca air tetap berkurang akibat tingginya kebutuhan air bersih. Pada akhir simulasi, jumlah air yang tersisa sebesar 67.436.187,1 m3 dan cenderung terus menurun. Tabel 49 Proyeksi jumlah penduduk (jiwa), hotel dan industri (unit) serta kebutuhan air bersih (m3) di Tarakan Utara 127 Pada Gambar 53, terlihat jumlah ketersediaan air yang sangat besar dibandingkan dengan kebutuhan air bersih di Kecamatan Tarakan Utara. Hal ini disebabkan karena luasan hutan di Tarakan Utara paling luas dibandingkan kecamatan yang lain yaitu sebesar 7861 ha. Berdasarkan hasil simulasi, didapatkan nilai koefisien run off Tarakan Utara sebesar 0,379. Hal ini menunjukkan bahwa hutan mempunyai peranan yang sangat tinggi dalam konservasi air bersih. Semakin luas hutan, maka koefisien runoff menjadi semakin kecil, sehingga imbuhan air tanah menjadi besar. Kondisi ini harus terus dipertahankan sehingga krisis air bersih dapat dihindari. Tabel 50 Ketersediaan dan neraca air bersih di Tarakan Utara (m3) 128 Gambar 53 Kebutuhan dan ketersediaan air bersih di Tarakan Utara 7.7.2 Simulasi Model Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Utara Upaya peningkatan ketersediaan air bersih di Kota Tarakan dilakukan dengan menggunakan beberapa skenario yaitu skenario satu, dua dan tiga, seperti tersaji pada Tabel 51. Tabel 51 Skenario penyediaan air bersih Kota Tarakan Variabel Peubah Kebijakan Perilaku Hemat Air a. Penduduk b. Hotel c. Industri Kebijakan untuk Konservasi Air Bersih a. Sumur resapan b. Reboisasi c. Terasering d. Tambak intensif Kebijakan Peningkatan Layanan Perpipaan a. Jumlah penduduk terlayani Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 0% 0% 0% 10% 10% 10% 10% 10% 10% 1% 1% 1% 0% 1% 1% 1% 0% 2% 2% 2% 0% Kondisi eksisting 60% 80% Skenario satu dapat diartikan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh pada kinerja sistem mengalami kemunduran atau terjadi sedikit perubahan dari keadaan eksisting yang mengarah pada tercapainya kinerja sistem atau perkembangan. Skenario dua diartikan sebagai perubahan beberapa variabel yang berpengaruh pada kinerja sistem dimana perubahan variable tersebut dapat menyebabkan perubahan yang lebih baik daripada skenario satu. Sedangkan skenario tiga diartikan bahwa perubahan yang terjadi akan 129 menyebabkan perubahan yang lebih baik daripada skenario sebelumnya. Variabel-variabel yang berpengaruh dalam kinerja sistem tersebut meliputi (1) kebijakan perilaku hemat air, yaitu kebijakan reduse, reuse dan recycle, (2) kebijakan untuk meningkatkan air tanah melalui konservasi, yaitu pembuatan sumur resapan di permukiman, reboisasi pada lahan hutan, terasering pada lahan lading/tegakan, dan pembuatan tambak sistem intensif, (3) kebijakan untuk meningkatkan pelayanan air bersih perpipaan PDAM. Variabel-variabel tersebut dimasukkan sebagai input dalam pemodelan sistem dan dilakukan di masingmasing kecamatan Kota Tarakan. Pada kondisi eksisting, seperti halnya kondisi di Kecamatan Tarakan Tengah, terlihat ketersediaan air di Tarakan Utara cukup baik, sehingga variable peubah yang disimulasikan relatif kecil. Proyeksi kebutuhan air bersih Kecamatan Tarakan Utara dapat dilihat pada Gambar 54. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih skenario satu sama dengan kondisi eksisting yaitu sebesar 1.008.622,75 m3 pada tahun 2001 dan terus meningkat menjadi 20.7498.049,8 m3 pada tahun 2030. Pada skenario dua dan tiga, kebutuhan air bersih tahun 2001 sebesar 1.008.622,75 m3, terus meningkat tiap tahunnya. Seiiring diberlakukannya kebijakan hemat air pada tahun 2013, dimana kebutuhan air bersih penduduk, hotel dan industri dikurangi masing-masing 10%, maka terjadi pengurangan kebutuhan air bersih pada tahun 2013 yang tadinya 3.164.297,33 m3 menjadi 2.847.867,66 m3. Sehingga pada skenario dua dan tiga, pada akhir simulasi (2030) kebutuhan air bersih menjadi 18.718.244,8 m3. Gambar 54 Proyeksi Kebutuhan air bersih di Tarakan Utara 130 Proyeksi ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Utara dapat dilihat pada Gambar 55. Hasil simulasi menunjukkan apabila diterapkan variabel skenario satu, dua dan tiga dimulai pada tahun 2013, maka terlihat peningkatan ketersediaan air bersih dari kondisi eksisting (supply) menjadi kondisi suplai_1, suplai_2 dan suplai_3. Sehingga pada tahun 2030 ketersediaan air bersih sebesar 88.234.236,9 m3 bertambah menjadi 99.491.725,9 m3 pada skenario satu, 109.418.095 m3 pada skenario dua dan 124.238.390 m3 pada skenario tiga. Peningkatan ketersediaan air bersih ini akibat kebijakan konservasi untuk meningkatkan imbuhan air tanah dan kebijakan peningkatan kapasitas layanan PDAM. Pada skenario satu dan dua, ketersediaan air bersih bertambah akibat adanya pembuatan sumur resapan sebesar 1% lahan permukiman per tahun, reboisasi sebesar 1% lahan hutan per tahun dan terasering 1% lahan tegakan per tahun. Sedangkan skenario tiga menghasilkan ketersediaan air yang lebih tinggi lagi, karena pembuatan sumur resapan sebesar 2% lahan permukiman per tahun, reboisasi ditingkatkan menjadi 2% lahan hutan per tahun dan terasering sebesar 2% lahan tegakan per tahun. Gambar 55 Proyeksi Ketersediaan air bersih di Tarakan Utara Peningkatan ketersediaan air bersih ini membutuhkan biaya konservasi dan biaya peningkatan kapasitas layanan PDAM. Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan Kecamatan Tarakan Utara dapat dilihat pada Tabel 52. Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp1.185.000,00 dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp20.145.000,00. Pembuatan sumur resapan pada skenario tiga membutuhkan biaya sebesar 131 Rp2.370.000,00 pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) dan Rp40.290.000,00 pada akhir tahun simulasi (2030). Tabel 52 Kebutuhan biaya pembuatan sumur resapan di Tarakan Utara (Rp.) Kebutuhan biaya reboisasi pada lahan hutan Kecamatan Tarakan Utara dapat dilihat pada Tabel 53. Kebutuhan biaya reboisasi pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp39.305.000,00 dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp668.185.000,00. Reboisasi pada skenario tiga membutuhkan biaya sebesar Rp78.610.000,00 pada awal tahun kebijakan konservasi Rp1.336.370.000,00 pada akhir tahun simulasi (2030). Tabel 53 Kebutuhan biaya reboisasi di Tarakan Utara (Rp.) (2013) dan 132 Kebutuhan biaya terasering pada lahan tegakan/ladang Kecamatan Tarakan Utara dapat dilihat pada Tabel 54. Kebutuhan biaya terasering pada skenario satu dan dua, pada awal tahun kebijakan konservasi (2013) yaitu sebesar Rp12.785.000,00 dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp217.345.000,00. Rp25.570.000,00 pada awal Kebutuhan tahun biaya terasering kebijakan konservasi skenario tiga, (2013) dan Rp434.690.000,00 pada akhir tahun simulasi (2030). Konservasi lahan tambak melalui pembuatan tambak intensif diasumsikan untuk tidak dilakukan (0%). Hal ini karena biaya pembuatan tambak intensif yang sangat tinggi, sehingga membutuhkan biaya yang sangat besar. Sehingga dalam meningkatkan ketersediaan air bersih kecamatan Tarakan Utara tidak melakukan pembuatan tambak intensif. Tabel 54 Kebutuhan biaya terasering di Tarakan Utara Kebijakan lain yang dilakukan dalam meningkatkan ketersediaan air bersih Kecamatan Tarakan Tengah adalah peningkatan kapasitas pelayanan perpipaan. Kebijakan ini khusus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat (domestic). Peningkatan kapasitas layanan PDAM dilakukan pada skenario dua dan tiga, sebesar masing-masing 60% penduduk terlayani dan 80% penduduk terlayani. Sedangkan pada skenario satu, diasumsikan tidak dilakukan peningkatan kapastas layanan perpipaan. Proyeksi peningkatan kapasitas layanan perpipaan dapat dilihat pada Gambar 56. Ketersedian air bersih melalui layanan perpipaan PDAM pada skenario satu konstan sebesar 762.048 m3 133 sepanjang tahun simulasi. Sedangkan pada skenario dua, supaya 60% penduduk mendapatkan pelayanan perpipaan, maka produksi PDAM harus bertambah dimulai pada tahun 2010 menjadi 864.119,63 m3 dan pada tahun 2030 menjadi 10.688.417,45 m3. Pada skenario tiga, supaya 80% penduduk mendapatkan pelayanan perpipaan, maka produksi PDAM harus bertambah dimulai pada tahun 2007 menjadi 777.674,85 m3 dan pada tahun 2030 menjadi 14.251.223,27 m3. Gambar 56 Peningkatan layanan perpipaan di Tarakan Utara Untuk meningkatkan layanan perpipaan PDAM, dilakukan 2 (dua) alternatif kegiatan peningkatan kapasitas layanan. Alternatif pertama yaitu meningkatkan kapasitas IPA PDAM eksisting melalui uprating IPA, sedangkan alternatif kedua yaitu membangun Instalasi Pengolahan Air Bersih Mikro (IPAB Mikro) di lokasi dekat permukiman dan sumber sumber air permukaan. Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas layanan perpipaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 55 dan Tabel 56. Pada skenario satu, tidak dilakukan peningkatan kapasitas IPA PDAM, sehingga tidak ada biaya peningkatan kapasitas. Pada skenario dua, kapasitas layanan PDAM ditingkatkan sehingga mampu melayani 60% kebutuhan air bersih penduduk (domestic), dibutuhkan biaya uprating mulai tahun 2010 sebesar Rp118.352.055,74 dan diakhir tahun simulasi (2030) membutuhkan biaya sebesar Rp11.509.625.380,48. Biaya peningkatan kapasitas IPA/uprating PDAM pada skenario tiga sehingga kapasitas layanan mampu melayani 80% kebutuhan air bersih penduduk (sesuai MDG’s) yaitu sebesar Rp18.119.332,24 pada tahun 2007 dan Rp15.640.698.725,98 pada tahun 2030. 134 Tabel 55 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui uprating IPA PDAM Tarakan Utara (Rp.) Pada Tabel 56, kebutuhan biaya peningkatan kapasitas layanan dengan cara pembangunan IPAB Mikro, didapatkan kebutuhan biaya untuk melayani 60% kebutuhan air bersih penduduk (skenario dua) sebesar Rp.66.632.058,51 pada tahun 2010 sebanyak 1 unit dan Rp.6.382.655.558,13 pada tahun 2030 dengan total 64 unit terpasang. Sedangkan untuk melayani 80% kebutuhan air bersih penduduk menggunakan IPAB Mikro, dibutuhkan biaya sebesar Rp.80.054.364,36 pada tahun 2007 sebanyak 1 unit dan Rp.8.673.539.698,84 pada tahun 2030 dengan total 87 unit terpasang. Tabel 56 Kebutuhan biaya peningkatan kapasitas melalui IPAB Mikro (Rp.) dan jumlah terpasang (unit) di Tarakan Utara 135 Pada Tabel 57, terjadi pengurangan air bersih sepanjang tahun pada semua skenario, namun tidak terjadi defisit air bersih. Surplus air bersih pada tahun 2030 pada skenario eksisting, satu, dua dan tiga, masing-masing adalah 67.436.187,07 m3, 78.693.676,1 m3, 90.699.850,5 m3 dan 105.520.145 m3. Hasil akhir dari model penyediaan air bersih di Kecamatan Tarakan Utara adalah neraca air bersih seperti pada Gambar 57 dan Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) pada Tabel 58. Neraca air bersih menunjukkan sisa ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah dan pelayanan perpipaan. Kondisi yang diharapkan adalah terjadinya surplus air bersih sepanjang tahun. IKA menunjukkan perbandingan ketersediaan terhadap kebutuhan air bersih, kondisi yang diharapkan adalah ≥ 1. Tabel 57 Neraca air bersih di Tarakan Utara (m3) 136 Gambar 57 Neraca air bersih Tarakan Utara Pada Tabel 58, nilai IKA kondisi eksisting, skenario satu, dua dan tiga terus mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya kebutuhan air bersih. Hasil simulasi IKA pada akhir tahun simulasi (2030) pada kondisi eksisting, skenario satu, dua dan tiga, masing-masing sebesar 4.24, 4.78, 5.85 dan 6.64. Hasil ini menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting di tahun 2030 ketersediaan air bersih mampu memenuhi 424% kebutuhan air bersih. Ketersediaan air menggunakan simulasi skenario satu hanya mampu melayani 478% kebutuhan air bersih. Ketersediaan air menggunakan simulasi skenario dua mampu melayani 585% dari kebutuhan air bersih, dan ketersediaan air menggunakan simulasi skenario tiga mampu melayani 664% dari kebutuhan air bersih. Tabel 58 Indeks Ketersediaan Air Bersih (IKA) di Tarakan Utara 137 7.8 Uji Validasi Model Secara garis besar uji validasi model dapat dilakukan dalam dua bentuk yaitu uji validasi struktur dan uji validasi kinerja. 7.8.1 Uji Validasi Struktur Uji validasi struktur lebih menekankan pada keyakinan pemeriksaan kebenaran logika pemikiran atau dengan kata lain apakah struktur model yang dibangun sudah sesuai dengan teori. Secara logika, terlihat bahwa pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat akan diikuti oleh peningkatan kebutuhan air bersih. Pertumbuhan penduduk ini dipengaruhi oleh persentase pertambahan penduduk. Begitu pula halnya dengan pertumbuhan sektor industri dan perhotelah. Pertumbuhan penduduk dan peningkatan kebutuhan air bersih mengikuti pola pertumbuhan kurva sigmoid dimana pada suatu waktu tertentu akan menemui titik keseimbangan (stable equibilirium) sesuai dengan konsep limits to growth (Meadows, 1985). Ketersediaan air bersih (suplai) diperoleh dari air bersih alami dan pelayanan air bersih perpipaan. Air bersih alami diperoleh dari imbuhan air tanah. Untuk meningkatkan imbuhan air tanah, maka koefisien run off (aliran limpasan) harus diperkecil. Semakin kecil koefisien run off, maka aliran limpasan akan semakin kecil dan imbuhan air tanah semakain meningkat. Untuk memperkecil koefisen run off, dilakukan kegiatan konservasi seperti pembuatan sumur resapan, terasering pada lahan tegakan/lading, reboisasi pada lahan hutan dan pembuatan tambak intensif. Semakin besar persentase kegiatan konservasi, maka koefisien run off pada masing-masing lahan akan semakin kecil. Namun persentase konservasi ini juga berpengaruh terhadap biaya konservasinya. Semakin tinggi persentase konservasi, maka dibutuhkan biaya konservasi yang tinggi pula. Ketersediaan air bersih lainnya diperoleh dari pelayanan air bersih perpipaan (PDAM). Pelayanan PDAM ditentukan oleh persentase pelayanan air bersih. Dalam rangka menuju Millenium Development Goal’s 2015, ditargetkan pelayanan air bersih perpipaan masyarakat sebesar 80% terlayani. Untuk mencapai layanan tersebut, maka diperlukan peningkatan kapasitas layanan perpipaan dengan menggunakan 2 (dua) alternatif penyediaan, yaitu penyediaan melalui sistem perpipaan PDAM dan pembangunan IPAB Mikro. Dari masingmasing alternatif penyediaan ini diperoleh biaya peningkatan kapasitas pelayanan. Sehingga semakin besar kebutuhan air bersih masyarakat, 138 membutuhkan biaya pelayanan air bersih yang besar. Dengan melihat hasil simulasi model dinamik berdasarkan struktur model yang telah dibangun yang sesuai konsep teori empiric seperti diuraikan diatas, maka model penyediaan air bersih secara berkelanjutan di pulau kecil Kota Tarakan dapat dikatakan valid secara empirik. 7.8.2 Uji Validasi Kinerja Uji validasi kinerja merupakan aspek pelengkap dalam metode berpikir sistem. Tujuan dari validasi ini untuk memperoleh keyakinan sejauh mana kinerja model sesuai (compatible) dengan kinerja sistem nyata, sehingga model yang dibuat memenuhi syarat sebagai model ilmiah yang taat fakta (Muhammadi et al., 2001). Uji validasi kinerja dilakukan dengan cara memvalidasi kinerja model dengan data empiris. Uji ini dilakukan dengan menggunakan uji statistic seperti uji penyimpangan antara nilai rata-rata simulasi terhadap aktual (Absolute Means Error = AME) dan uji penyimpangan nilai variasi simulasi terhadap aktual (Absolute Variation Error = AVE), dengan batas penyimpangan yang dapat diterima maksimal 10%. Dalam uji validasi kinerja, dapat digunakan satu atau beberapa komponen (variable) baik pada komponen utama (main model) maupun komponen yang terkait (co-model) (Barlas, 1996). Dalam penelitian ini digunakan uji validasi kinerja AME dengan menggunakan data aktual jumlah penduduk yaitu tahun 2001 sampai tahun 2009. Berdasarkan hasil perhitungan uji validasi kinerja pada model ini, diperoleh nilai AME dan AVE lebih kecil dari 10% yaitu sebesar 0.098% - 9,3% (AVE) dan 0,049% - 8,31% (AME), sehingga dapat disimpulkan bahwa model ini memiliki kinerja yang baik, relatif tepat dan dapat diterima secara ilmiah. Adapun hasil perhitungan uji validasi kinerja AME dan AVE dan jumlah penduduk simulasi dan aktual seperti pada Tabel 59. 7.8.3 Uji Sensitifitas Model Uji sensitifitas dilakukan untuk melihat respon model terhadap suatu stimulus (Muhammadi, et al.,2001). Respon ini ditunjukkan dengan perubahan perilaku dan/atau kinerja model. Stimulus diberikan dengan memberikan intervensi tertentu pada unsur atau struktur model. 139 Tabel 59 Hasil Perhitungan nilai AVE, AME dan Jumlah Penduduk dalam uji validasi kinerja (a) Kecamatan Tarakan Barat (b) Kecamatan Tarakan Timur (c) Kecamatan Tarakan Tengah (d) Kecamatan Tarakan Utara 140 Hasil uji sensitifitas ini adalah dalam bentuk perubahan perilaku dan/atau kinerja model sehingga dapat diketahui efek intervensi yang diberikan terhadap satu atau lebih unsur atau model tersebut. Adapun contoh perubahan perilaku kinerja model berdasarkan intervensi yang diberikan dapat dilihat pada Gambar 53 sampai 56 dimana pada gambar-gambar tersebut terlihat besarnya perubahan dari setiap perubahan satu atau lebih unsur di dalam model tersebut. Pada Gambar 56 misalnya, dengan memberikan intervensi dengan meningkatkan input persentase pelayanan air bersih, maka air bersih perpipaan juga akan semakin meningkat. Hal ini terlihat dengan semakin tajamnya perubahan kurva dari skenario satu ke skenario dua dan tiga. Dengan adanya perubahan air bersih perpipaan pada setiap pertambahan tahun dapat disimpulkan bahwa model sangat sensitive terhadap intervensi yang diberikan. 7.9 Kesimpulan Berdasarkan hasil pemodelan dinamis yang telah dilakukan, hasil simulasi setiap komponen menunjukkan kurva pertumbuhan positif naik mengikuti kurva eksponensial seperti terlihat pada pertambahan jumlah penduduk, industri dan hotel. Meningkatnya pertumbuhan tersebut menyebabkan meningkatnya kebutuhan air bersih pada masing-masing sektor tersebut. Kebutuhan air bersih pada masing-masing kecamatan berbeda tergantung variabel jumlah penduduk, industri dan hotel. Begitu pula halnya dengan ketersediaan air bersih pada masing-masing kecamatan juga berbeda, tergantung variabel luasan lahan tutupan dan Instalasi Pengolahan Air PDAM. Oleh karena itu, skenario yang diterapkan pada masing-masing kecamatan juga berbeda satu sama lainnya. Hal ini disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan dan ketersediaan air bersih pada masing-masing kecamatan. Kecamatan Tarakan Barat dan Tarakan Timur memiliki potensi krisis air bersih, ditandai dengan terjadinya defisit air bersih dalam rentang waktu simulasi. Kecamatan Tarakan Utara dan Tarakan Tengah tidak memiliki potensi defisit air bersih selama rentang waktu simulasi. Namun pelayanan air bersih perpipaan di seluruh kecamatan Kota Tarakan tidak memenuhi kebutuhan air bersih secara kuantitas, sehingga perlu ditingkatkan dengan peningkatan pelayanan. Peningkatan ketersediaan air bersih melalui konservasi pada masingmasing land use, menunjukkan hasil peningkatan imbuhan air tanah yang signifikan. Semakin tinggi persentase konservasi pada land use, maka semakin 141 tinggi juga imbuhan air tanah yang dihasilkan. Namun tetap memperhatikan faktor biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan konservasi tersebut. Begitu pula pada pelayanan air bersih perpipaan, semakin tinggi persentase pelayanan yang diinginkan maka semakin besar pula biaya yang dibutuhkan. Untuk meningkatkan perubahan kinerja model maka skenario yang perlu dilakukan untuk masing-masing kecamatan di Kota Tarakan adalah skenario dua, dengan melakukan intervensi yang lebih besar dari kondisi eksisting terhadap variabel kunci yang berpengaruh dalam model, namun tetap mempertimbangkan ketersediaan biaya yang dibutuhkan. 8 PEMBAHASAN UMUM Daya tarik kehidupan perkotaan dan tuntutan kehidupan yang semakin tinggi menyebabkan semakin banyak penduduk Indonesia yang beralih untuk tinggal dan beraktifitas di kawasan perkotaan. Sejumlah kajian memperkirakan jumlah penduduk perkotaan pada akhir 2025 akan mencapai 60% dari total penduduk Indonesia (LSI, 2011). Hal ini juga terjadi di Pulau Tarakan. Walaupun termasuk salah satu pulau kecil di Indonesia, Pulau Tarakan tumbuh berkembang dengan pesat sebagai pintu gerbang Provinsi Kalimantan Timur, dan sudah beralih konsep pengembangannya dari konsep pengembangan skala pedesaan menjadi pengembangan skala perkotaan. Peningkatan jumlah penduduk perkotaan akan memacu kebutuhan air bersih dan infrastruktur pelayanan perkotaan lainnya, sehingga kota akan tumbuh dengan segala potensi dan tantangan yang dimilikinya. Keadaan tersebut harus dihadapi melalui penyiapan perencanaan penyediaan air bersih berdasarkan tata ruang kota yang mempertimbangkan kondisi, potensi dan tantangan yang dimiliki oleh kota tersebut. Keadaan yang terjadi saat ini adalah masih lemahnya sinergitas perencanaan sektor air bersih, terutama dalam penyediaan air bersih perpipaan yang merupakan tuntutan dari pesatnya pertambahan penduduk perkotaan. Pembangunan infrastruktur air bersih perkotaan yang kurang atau belum mengantisipasi dan mengakomodir fenomena pengembangan kawasan perkotaan akan menimbulkan beberapa persoalan seperti : (1) tidak meratanya penyediaan layanan air bersih, (2) tidak tersedianya kecukupan air baku untuk air bersih, (3) eksploitasi air tanah secara tidak terkendali, (4) terjadinya krisis air bersih. Apabila berbagai persoalan tersebut berbenturan dengan persoalan pembangunan lainnya maka akan semakin mengaburkan arah pembangunan kota yang akhirnya memperburuk citra kota dan kawasannya. Penyediaan air bersih pulau kecil di Kota Tarakan sudah beralih dari skala pedesaan menjadi skala kota pada pulau besar. Hal ini menyebabkan kebutuhan air baku menjadi sangat besar. Bila melihat potensi air baku di 24 sungai Pulau Tarakan, tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut, karena kondisi sungai yang kecil (lebar 1 m sampai 7 m) dan kedalaman air 0,5 m - 1 m. Penyebaran penduduk yang tidak merata, menyulitkan pelayanan air bersih perpipaan skala kota. Untuk itu perlu suatu inovasi dalam penyediaan air bersih 143 di pulau kecil namun tetap mengacu kepada pelayanan perpipaan skala kota. Penyediaan air bersih skala kota dicirikan dengan tingginya kebutuhan air bersih (150-200 liter/org/hari) dan cakupan layanan perpipaan (80% terlayani) merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh pemerintah Kota Tarakan. Kondisi saat ini PDAM Kota Tarakan memiliki 4 buah IPA dengan total kapasitas terpasang sebesar 400 liter/detik. Namun kapasitas efektif dari seluruh IPA hanya sebesar 269 liter/detik. Hasil simulasi model ketersediaan air, pelayanan air bersih perpipaan Kecamatan Tarakan Barat hanya terlayani sebesar 57,84% (2012) dari kebutuhan air bersih penduduk dan terus menurun menjadi 12,26% pada tahun 2030. Tarakan Timur terlayani sebesar 57,05% (2012) dan 6,32% pada tahun 2030. Tarakan Tengah terlayani sebesar 50,4% (2012) dan 24,7% pada tahun 2030. Sedangkan Tarakan Utara terlayani sebesar 40,71% (2012) dan 3,85% pada tahun 2030. Menghadapi MDG’s, dimana komitmen pemerintah untuk dapat menyediakan air bersih perpipaan untuk perkotaan sebesar 80%, menyebabkan PDAM sebagai pengelola air bersih menghadapi kesulitan baru. Rendahnya keragaan dan kinerja sektor air bersih dan PDAM tidak terlepas dari keadaan kelembagaan dan kelemahan sistem insentif di dalamnya. Payung kelembagaan PDAM bersumber dari Surat Keputusan Bersama (SKB) Mendagri dan Menteri PU No 4 tahun 1984 atau 27/KPTS/1984 tentang pembinaan PDAM. Hal tersebut berimplikasi bahwa Depdagri melalui Pemda berhak menetapkan direksi dan mempengaruhi manajemen. Pemda juga berkepentingan menetapkan harga air (regulated price) dalam rangka melindungi kepentingan konsumen. Kebijakan harga tersebut terbukti tidak memuat insentif bagi pengambilan keputusan berproduksi oleh PDAM atau konsumsi air bersih oleh rumah tangga. Dengan tarif air bersih Rp1.350 per m3, sangat sulit bagi PDAM Kota Tarakan untuk dapat meningkatkan pelayanan air bersih, karena biaya operasional saja sudah mencapai Rp1.200 per m3. Sebagai sebuah perusahaan, PDAM juga dituntut untuk dapat mengembalikan biaya investasi yang diberikan pemerintah daerah. Model penyediaan air bersih di pulau kecil harus disesuaikan dengan potensi sumber daya alam dan lingkungan di pulau tersebut, sehingga harus melibatkan/memperhatikan aspek lingkungan, ekonomi, sosial, kelembagaan dan ekonomi. Beberapa faktor keberlanjutan penyediaan air bersih diuraikan dalam analisis keberlanjutan penyediaan air bersih Kota Tarakan menggunakan metode MDS. Berdasarkan analisis metode MDS, didapatkan bahwa kondisi saat ini, 144 dimensi ekonomi, hukum dan kelembagaan berkelanjutan. Sedangkan dimensi sosial kurang berkelanjutan, dimensi lingkungan dan teknologi tidak berkelanjutan. Dari analisis ini terlihat jelas bahwa permasalahan teknologi instalasi pengolahan air bersih menjadi salah satu faktor kunci keberlanjutan. Tingginya tingkat kebocoran (losses), karena faktor umur instalasi, menyebabkan produksi menjadi tidak efisien. Selain itu, instalasi yang ada membutuhkan energi listrik yang sangat besar sehingga ketersediaan energi listrik menjadi faktor kunci utama dalam penyediaan air bersih skala kota. Untuk itu dibutuhkan suatu model baru dalam penyediaan air bersih di pulau kecil. Penyediaan air bersih yang melibatkan aspek lingkungan dapat dilakukan dengan cara “menaikan imbuhan air tanah melalui konservasi lingkungan” dengan cara pembuatan sumur resapan di lahan permukiman, reboisasi lahan hutan, pembuatan terasering dan pembangunan tambak intensif. Jumlah atau besaran kegiatan konservasi dalam masing-masing wilayah tentunya tidak sama, tergantung kebutuhan atau kondisi dari wilayah tersebut. Misalnya, Kecamatan Tarakan Barat membutuhkan jumlah reboisasi yang lebih tinggi yaitu 10% lahan permukiman dibuat sumur resapan setiap tahun bila dibandingkan dengan Kecamatan Tarakan Utara yang hanya membutuhkan 1%. Begitu pula halnya untuk terasering dan reboisasi. Dengan diberlakukannya kebijakan konservasi lingkungan mulai tahun 2013, Pulau Tarakan dapat terhindar dari ancaman krisis air bersih sampai tahun 2030, hal ini ditunjukkan oleh hasil simulasi model ketersediaan air dimana neraca air menjadi meningkat. Aspek teknologi yang perlu diperhatikan dalam penyediaan air bersih supaya berkelanjutan adalah faktor instalasi pengolahan air bersih, ketersediaan listrik dan tingkat pelayanan PDAM. Hal ini berkaitan erat dengan infrastruktur Kota Tarakan. Oleh karena itu, upaya penyediaan air bersih dapat dilakukan dengan cara “meningkatkan pelayanan air bersih melalui uprating IPA dan peningkatan pelayanan”. Saat ini, konsep penyediaan air bersih Kota Tarakan sudah terintegrasi dengan perencanaan tata ruang wilayah Kota Tarakan, sehingga pembagian pelayanan diatur berdasarkan wilayah pelayanan. Walaupun demikian, instalasi yang dibutuhkan tetap berskala besar yang membutuhkan air baku yang banyak dan konsumsi listrik yang tinggi. Sebagai alternatif peningkatan kapasitas layanan perpipaan, diusulkan teknologi penyediaan air bersih menggunakan instalasi pengolahan air bersih (IPAB) mikro. Teknologi ini memiliki sistem pengolahan yang sama dengan IPA PDAM 145 yaitu koagulasi, flokulasi, sedimentasi dan filtrasi, namun dalam skala yang lebih kecil. Pemilihan teknologi ini atas dasar : (1) penyebaran penduduk yang tidak merata menyulitkan dalam distribusi perpipan skala kota, (2) sumber air baku permukaan yang sedikit, (3) pemakaian listrik yang tidak besar, dan (4) adanya unsur pelibatan partisipasi masyarakat sehingga membuka lapangan kerja dalam sektor air bersih. IPAB Mikro dapat dibangun dekat dengan pemukiman, hotel atau industri, memanfaatkan air permukaan yang ada dan dikelola oleh masyarakat pengguna air bersih di wilayah tersebut. 9 REKOMENDASI KEBIJAKAN PENYEDIAAN AIR BERSIH PULAU TARAKAN Penelitian ini bertujuan untuk membangun model penyediaan air bersih secara berkelanjutan di pulau kecil (Kota Tarakan), sehingga dapat memberikan rekomendasi kebijakan kepada stakeholder, dalam hal ini pemerintah Kota Tarakan dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Tarakan. 9.1 Rekomendasi kebijakan yang ditujukan kepada Pemerintah Kota Tarakan Dalam rangka menjaga keberlanjutan penyediaan air bersih, maka beberapa rekomendasi kebijakan yang diusulkan kepada pemerintah daerah berdasarkan hasil penelitian adalah : 1. Menetapkan kebijakan konservasi lingkungan mulai tahun 2013 dengan cara pembuatan sumur resapan pada lahan permukiman, pembuatan terasering pada lahan ladang/tegakan dan reboisasi pada hutan pada masing-masing kecamatan di Kota Tarakan. a. Berdasarkan hasil simulasi model pada skenario dua, Kecamatan Tarakan Barat dan Tarakan Timur membutuhkan 10% lahan permukiman dibangun sumur resapan per tahun, terasering 2% dan reboisasi 5%. Dengan kebijakan ini diharapkan ketersediaan air dari imbuhan air tanah tetap terjaga sampai tahun 2030 seperti pada Gambar 41 dan 46. b. Berdasarkan hasil simulasi model pada skenario dua, Kecamatan Tarakan Tengah dan Utara membutuhkan 1% lahan permukiman dibangun sumur resapan per tahun, terasering 1% dan reboisasi 1%. Dengan kebijakan ini diharapkan ketersediaan air dari imbuhan air tanah tetap terjaga sampai tahun 2030 seperti pada Gambar 51 dan 56. 2. Menetapkan kebijakan penghematan air pemakaian air bersih pada masyarakat, industri dan hotel pada seluruh kecamatan. Berdasarkan skenario dua, perlu dilakukan penghematan air bersih sebanyak 10% pada masing-masing sektor dimulai sejak tahun 2013, sehingga kebutuhan air menjadi berkurang seperti pada Gambar 38, 43, 48 dan 53. 3. Membuka peluang kepada masyarakat dan koorporasi untuk dapat mengusahakan sendiri penyediaan air bersih di wilayahnya, namun dalam pengawasan dinas terkait (PU dan PDAM) dan terintegrasi dengan RTRW Kota Tarakan. Berdasarkan hasil simulasi sistem dinamik dan metode 147 SWOT, dapat diterapkan teknologi pengolahan sistem IPAB Mikro di wilayah permukiman, indusrti dan hotel. 4. Menfasilitasi PDAM dalam upaya sosialisasi penambahan tarif air bersih kepada masyarakat, industi dan hotel, sehingga PDAM dapat meningkatkan pelayanan. 9.2 Rekomendasi kebijakan yang ditujukan kepada PDAM Adapun rekomendasi kebijakan yang dapat diusulkan kepada PDAM Kota Tarakan sebagai pengelola air bersih adalah : 1. Meningkatkan kapasitas layanan melalui pengurangan kebocoran dan peningkatan kapasitas IPA. Berdasarkan hasil simulasi skenario dua, dibutuhkan penambahan supply air bersih di Kecamatan Tarakan Barat (Gambar 40), Tarakan Timur (Gambar 45), Tarakan Tengah (Gambar 47), dan Tarakan Utara (Gambar 55). a. Uprating IPA eksisting sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat. Berdasarkan skenario dua, untuk memenuhi kebutuhan air bersih perpipaan dibutuhkan biaya peningkatan kapasitas Kecamatan Tarakan Barat (Tabel 25), Tarakan Timur (Tabel 35), Tarakan Tengah (Tabel 46), dan Tarakan Utara (Tabel 55). b. Peningkatan pelayanan dengan pembangunan IPAB Mikro di wilayah permukiman. Berdasarkan skenario dua, untuk memenuhi kebutuhan air bersih perpipaan dibutuhkan biaya peningkatan kapasitas dan jumlah IPAB Mikro terpasang pada Kecamatan Tarakan Barat (Tabel 25), Tarakan Timur (Tabel 35), Tarakan Tengah (Tabel 46), dan Tarakan Utara (Tabel 55). 2. Berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait seeperti lembaga legislatif, dinas PU, dinas Bappeda, PLN dan pemerintah daerah guna meningkatkan kapasitas pelayanan air bersih PDAM Kota Tarakan dan penambahan tarif air bersih. 10 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa : 1. Kebutuhan air bersih masing-masing daerah pelayanan sebagai berikut : a. Kebutuhan air bersih penduduk Tarakan Barat sebesar 5.835.078,23 m3 (2012) menjadi 27.524.756,7 m3 (2030). Kebutuhan air bersih industri 5.660.343,36 m3 (2012) menjadi 6.770.605,42 m3 (2030). Kebutuhan air bersih hotel sebesar 226.915,01 m3 (2012) menjadi 342.091,56 m3 (2030). Total kebutuhan air bersih pada tahun 2012 sebesar 11.722.337 m3 menjadi 34.619.464 m3 pada tahun 2030. b. Kebutuhan air bersih penduduk Tarakan Timur sebesar 4.579.342,14 m3 (2012) menjadi 41.325.210,6 m3 (2030). Kebutuhan air bersih industri 1.461.473 m3 (2012) menjadi 1.753.538 m3 (2030). Kebutuhan air bersih hotel sebesar 90.766,32 m3 (2012) menjadi 129.636,7 m3 (2030). Total kebutuhan air bersih pada tahun 2012 sebesar 6.136.096,68 m3 (2012) menjadi 43.208.385,4 m3 (2030). c. Kebutuhan air bersih penduduk Tarakan Tengah sebesar 3.915.717,62 m3 (2012) menjadi 7.932.525,43 m3 (2030). Kebutuhan air bersih industri sebesar 5.008.793 m3 (2012) menjadi 6.991.255,2 m3 (2030). Kebutuhan air bersih hotel sebesar 196.666,26 m3 (2012) menjadi 390.407,72 m3 (2030). Total kebutuhan air bersih pada tahun 2012 sebesar 9.121.175,92 m3 menjadi 14.322.188,3 m3 pada tahun 2030. d. Kebutuhan air bersih penduduk Tarakan Utara sebesar 1.871.683,12 m3 (2012) menjadi 19.793.365,7 m3 (2030). Kebutuhan air bersih industri sebesar 680.747,43 m3 (2012) menjadi 972.274,97 m3 (2030). Kebutuhan air bersih hotel sebesar 22.691,58 m3 (2012) menjadi 32.409.17 m3 (2030). Total kebutuhan air bersih pada tahun 2012 sebesar 9.121.175,92 m3 menjadi 14.322.188,3 m3 pada tahun 2030. 2. Ketersediaan air bersih pada masing-masing daerah pelayanan adalah : a. Ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah (alami) Tarakan Barat sebesar 10.172.837,61 m3 (2012) mengalami peningkatan menjadi 8.343.214,99 m3 (2030); sedangkan ketersediaan air bersih perpipaan dari PDAM melalui IPA Persemaian sebesar 5.987.520 m3. Sehingga total 149 ketersediaan air bersih sebesar 16.160.357,6 m3 (2012) menjadi 8.343.214,99 m3 (2030). b. Ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah (alami) Tarakan Timur sebesar 37.294.975,29 m3 (2012) menjadi 37.039.106,14 m3 (2030). Sedangkan ketersediaan air bersih perpipaan dari PDAM melalui IPA Kampung Bugis sebesar 2.612.736 m3. Sehingga total ketersediaan air bersih sebesar 39.907.711,3 m3 (2012) meningkat menjadi 39.651.841,1 m3 (2030). c. Ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah (alami) Tarakan Tengah sebesar 40.897.360,75 m3 (2012) menjadi 40.915.432,96 m3 (2030). Sedangkan ketersediaan air bersih perpipaan dari PDAM melalui IPA Kampung Satu sebesar 1.959.552 m3. Sehingga total ketersediaan air bersih sebesar 42.856.912,7 m3 (2012) menjadi 42.874.986 m3 (2030). d. Ketersediaan air bersih dari imbuhan air tanah (alami) Tarakan Utara sebesar 86.535.006,96 m3 (2012) menjadi 87.472.188,86 m3 (2030). Sedangkan ketersediaan air bersih perpipaan dari PDAM melalui IPA Juata Laut sebesar 762.048 m3. Sehingga total ketersediaan air bersih sebesar 84.721.932,8 m3 (2012) menjadi 88.234.236,9 m3 (2030). 3. Status keberlanjutan penyediaan air bersih di Pulau Tarakan adalah dimensi ekonomi berkelanjutan, dimensi hukum kelembagaan dan dimensi sosial cukup berkelanjutan, sedangkan dimensi lingkungan kurang berkelanjutan dan dimensi infrastruktur-teknologi tidak berkelanjutan. Secara multidimensi sistem penyediaan air bersih di Pulau Tarakan cukup berkelanjutan dengan 13 atribut yang sensitif berpengaruh dalam meningkatkan indeks keberlanjutan. 4. Faktor kunci kendala penyediaan air bersih adalah kualitas air baku yang buruk akibat pencemaran, kurangnya sumberdaya manusia yang memadai dan terbatasnya sumberdaya air tawar. Sedangkan faktor kunci kebutuhan adalah ketersediaan air baku. Bentuk pengelolaan air bersih harus dikelola oleh pemerintah. Adapun rumusan strategi pengembangan pelayanan air bersih di Kota Tarakan adalah Strategi Kekuatan – Peluang sebagai berikut : a. Memanfaatkan/menerapkan teknologi penyediaan air bersih yang sudah ada untuk daerah-daerah yang belum terlayani air bersih oleh pemerintah/PDAM sebagai alternatif dalam penyediaan air bersih dengan menggunakan konsep cluster yang memanfaatkan air hujan/permukaan. 150 b. Melakukan konservasi pada land use melalui kegiatan reboisasi, pembuatan sumur resapan, terasering, dan embung-embung penangkap air hujan untuk menjaga kelestarian sumber air baku. c. Mendorong PDAM sebagai penyedia air besih untuk terus meningkatkan kapasitas layanan melalui pengurangan persentase kebocoran dan peningkatan kapasitas IPA. d. Memanfaatkan program pemberdayaan masyarakat dari koorporasi (CSR). e. Menerapkan, menata dan menjaga suatu kawasan sesuai dengan fungsinya, berdasarkan atas komitmen Pemerintah Kota Tarakan yang diuraikan dalam RTRW Tarakan. 5. Model penyediaan air bersih pulau kecil dibangun dari dua sub model yaitu sub model kebutuhan air bersih dan sub model ketersediaan air bersih. Hasil simulasi menunjukkan kurva pertumbuhan positif naik mengikuti kurva eksponensial seperti terlihat pada pertambahan jumlah penduduk, industri dan hotel. Meningkatnya pertumbuhan tersebut menyebabkan meningkatnya kebutuhan air bersih pada masing-masing sektor tersebut. Kebutuhan air bersih pada masing-masing kecamatan berbeda tergantung variable jumlah penduduk, industri dan hotel. Begitu pula halnya dengan ketersediaan air bersih pada masing-masing kecamatan juga berbeda, tergantung variabel luasan lahan tutupan dan kapasitas IPA PDAM. Oleh karena itu, skenario yang diterapkan pada masing-masing kecamatan juga berbeda satu sama lainnya. Hal ini disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan dan ketersediaan air bersih pada masing-masing kecamatan. Tarakan Utara dan Tarakan Tengah tidak memiliki potensi defisit air bersih selama rentang waktu simulasi. Sedangkan Tarakan Barat dan Timur berpotensi defisit air bersih. Namun pelayanan air bersih perpipaan di seluruh kecamatan Kota Tarakan tidak memenuhi kebutuhan air bersih secara kuantitas, sehingga perlu ditingkatkan dengan peningkatan pelayanan. Hasil akhir dari model penyediaan air bersih pulau kecil ini adalah rekomendasi kebijakan dalam penyediaan air bersih. MODEL PENYEDIAAN AIR BERSIH BERKELANJUTAN DI PULAU KECIL (STUDI KASUS : PULAU TARAKAN, KALIMANTAN TIMUR) EMIL AZMANAJAYA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 DAFTAR PUSTAKA Arne, H., Byrkness and J. Cover. 1996. Quick Tours in Powersim. Powersim Press, Virginia. Anwar, Affendi et al. 2004. Perilaku Suppy-Demand Air di Wilayah Perkotaan dan Perdesaan. Lembaga Penelitian IPB. Bogor. Asdak, Chay, 1995, Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Badudu, Yus dan Zain, M, 1994, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta. Bappeda Propinsi Bengkulu. 2004. Pengembangan Pulau Enggano Sebagai Pusat Industri Berbasis Maritim dan Pariwisata di Propinsi Bengkulu. Bengkulu. BPS Kota Tarakan. 2007. Kota Tarakan dalam Angka 2009. Tarakan. Kaltim. BPS Kota Tarakan. 2010. Kota Tarakan Dalam Angka. Tarakan. Kaltim. Barkley, Bruce T and James H Saylor. 1994. Customer Driven Project Management, A New Paradigm in Total Quolity Implementation Singapore. Barlas, Y. 1996. Formal Aspects of Model Validity and Validation of System Dynamics. System Dynamics Review, Vol. 12. John Wiley & Sons, Ltd. US. Bassi, A. M. 2011. System Dynamics Integrated National Development Planning Simulation Models. Millennium Institute Paper. Arlington, VA. USA. Bear,Jacob. 2001. Modelling Groundwater Flow and Contaminant Transport. Internet Course. Bourne, Larry (ed), 1971, Internal Structure of The City, New York, University Press. Budihardjo, Eko, 1997, Lingkungan Binaan dan Tata Ruang Kota, UPT Penerbitan Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang. Bulkin, Imron, 1995, Antisipasi Kebutuhan Infrastuktur di Indonesia, 1999-2020: Perencanaan Pembangunan di Indonesia, Grasindo, Jakarta. Byron Bird, R. Stewart, Warren E. Lightfoot, Edwin N. 2002. Transport Phenomena, Second Edition. John Wiley & Sons, Inc. USA Casey, D., P. N. Nemetz and D. H. Uyeno. 1983. Sampling frequency for water monitoring : measures of effectiveness. Water Resources Research 19 (5) : 22-41. 152 Cahyono,M. G, Rusnandi, Azmanajaya, E . 2002. Pilot Plant Direct Filtrations. Paper HATHI 24-25 Pekanbaru. Due, F. John and Friedlaender, F. Ann, 1984, Government Finance 7th edition, Richard D. Irwin, Inc. Dasanto, B.D. 1996. Groundwater conservation on Bekasi District, West Java. The Indonesian Journal of Geography, 28 (71) : 11-24. Eriyatno. 1998. Ilmu Sistem, Meningkatkan Mutu dan Efektivitas Manajemen. IPB Press, Bogor. Fajar, Reggy. M. 2007. Analisis Ketersediaan Air DAS Banjaran menggunakan Program HEC-HMS. Skripsi. Uiversitas Soedirman Purwokerto Fletcher, CAJ. “Computational Techniques for Fluid Dynamics, Volume I”. 1990 Springer-Verlag. Germany. Ford, A. 1999. Modeling of Environment : An Introduction to System Dynamics Models of Environmental System. Island Press, California. Goldenberg, L. C., M. Magaritz and S. Mandel. 1983. Experimental investigation on irreversible changes of hydraulic conductivity on the seawater-freshwater interface in coastal aquifers. Water Resources Research 19 (1) : 225-242. Fair, Gordon Maskew, Gayer John Charles, 1971, Element of Water Supplay and Waste Water Disposal, John Wily and Son, New York. Fakultas Teknik UGM, 1994, Model Penyiapan Program Pembangunan Prasarana dan Sarana Dasar Perkotaan, Yogyakarta. Hadi, Sudharto P, 1995, Aspek Spasial AMDAL: Sejarah, Teori dan Metoda, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Handoko, Hani, T. 1994, Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi, PFE, Yogyakarta. Intan, Anisa. 2005. Kualitas Air Bersih untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga di Kabupaten Tegal. Skripsi. Universitas Negeri Semarang. Iwan Nugroho. 2002. Keragaan dan Strategi Pengembangan Sektor Air Bersih: Studi kasus di propinsi Jawa Timur. Disertasi. Program Pascasarjana IPB Bogor. Jayadinata, T. Johara, 1992, Tata Guna Tanah Dalam Perencanaan Pedesan, Perkotaan dan Wilayah, Penerbit ITB, Bandung. Jeffer, J. N. R. 1998. An Introduction to System Analysis : with Ecological Application. Edward Arnold, London. Jordan, J. L. and A. H. Elnagheeb. 1993. Willingness to pay for improvements in drinking water quality. Water Resources Research 29(2): 237-245. 153 Juran J.M. dan Griya, F.M. 1993. Quality Planning and Analysis. 3 ED. Singapore: Mic-Graw Hill.Inc. Kammere, J.C, 1986, Water Quantity Requirement for Public Supplies and Others Use, Van Notrand Reinhold Co, New York. Lukman, S. 1999. "Visi, Misi, dan Manajemen Pelayanan Prima". Makalah dalam Lokakarya Strategi Pengembangan Pelayanan Umum di Lingkungan Pemerintah Daerah, Cisarua, Bogor. Malaysia Water Supply Development. 2001. http:///www.mywatersupply.org [28 September 2001]. Mays, Larry W. 2001. Water Resources Engineering, John Willey & Sons, Inc. USA M.Rasman Hanafi, 2010. Rancangbangun Pengelolaan Pulau Kecil Berbasis Penataan Ruang, Studi Kasus P.Wakatobi, Disertasi IPB 2010 Muhammadi, E., Aminullah dan B. Soesilo. 2001. Analisis Sistem Dinamis : Lingkungan Hidup, Sosial Ekonomi, Manajemen. UMP Press, Jakarta Meijerink. 1970. Photo Interpretation in Hydrology. A Geomorphologycal Approach. ITC, Delft. Pala, O., Vennix, JAM, and Kleijnen, JPC. 1999. Validation in Soft, Hard and System Dynamics : a critical comparison and contribution to the debate. Social and Behavioral Science. Tilburg University Paper. Netherlands. Perda Tarakan No.17 Tahun 2000 Tentang Pendirian PDAM Tarakan. Porter, M. 2000. Location, Competition, and Economic Development: Local Clusters in a Global Economy. Economic Development Quarterly, 14(1): 1534. Harvard Bussiness School Press. Boston, MA. Pusat Litbang Sumber Daya Air, 2009. Teknologi Pengendalian Pencemaran Air Di Indonesia. Pusat Litbang Sumber Daya Air, 2010. Penyediaan Air Baku di Pulau-pulau Kecil. Puslit Geoteknologi LIPI, 2008. Kajian SDAir di Pulau Pakal, Maluku Utara. Puslit Geoteknologi LIPI, 2008. Air Tanah di Pesisir dan Pulau Kecil. Puslit Geoteknologi LIPI, 2008. Sumber Daya Air di Pulau Kecil. Polo, J. F and J. R. Ramis. 1983. Simulation of salt water-fresh water interface motion. Water Resources Research 19 (1) : 911-931. Purnama, S. 2002. Hasil aman eksploitasi air tanah di Kota Semarang, Propinsi Jawa Tengah. Majalah Geografi Indonesia 16 (2) : 77-85. 154 [PU] Dinas PU Cipta Karya Kota Tarakan, 2010. Laporan Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan. Tarakan [PU] Ditjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum dan UNDP/UNCHS, 1997, Pengadaan Sarana dan Prasarana Kota di Indonesia, Jakarta. Schneider, W. 2001. Principles of Groundwater Flow. Soedijono, B. 1995. Yogyakarta. Model Matematika. Program Pascasarjana UGM, Sudaryatno. 2000. Penerapan Teknik Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi untuk Estimasi Debit Puncak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Garang, Semarang, Jawa Tengah. Tesis. Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Soemarwoto, O. 1985. Ekologi Djambatan. Bandung. Lingkungan Sujono, Joko. Jayadi, Rachmadi. 2009. Lab.Komputasi. Universitas Gajah Mada. Hidup Aplikasi dan Pembangunan. Software HEC-HMS. Suratmo, F. G. 2002. Panduan Penelitian Multidisiplin. IPB Press, Bogor. Tjiptono Fandy. 1996. Manajemen Jasa. Yogyakarta Tjiptono Fandy. 2000. Prinsip- Prinsip Total Quality Service. Yogyakarta Winardi. 1999. Pengantar Tentang Teori Sistem dan Analisis Sistem. Mandar Maju, Bandung. World Bank. 1993. The demand for water in rural areas: determinants and policy implications. World Bank Research Observer. 8(1): 47-70. United Nations. 1979. Guidelines for Rural Centre Planning: Rural water supply and sanitation. New York. Undang-undang No.7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. Undang-undang No.27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil. Zheng, Cheng. Bennet,D.Gordon. 1995. Applied Contaminant Transport Modelling. A Division of International Thomson Publishing Inc. USA. LAMPIRAN 157 Lampiran 1. Ilustrasi konstruksi Instalasi Pengolahan Air Bersih Mikro 158 Lampiran 1. Ilustrasi konstruksi Instalasi Pengolahan Air Bersih Mikro (lanjutan 1) 159 Lampiran 1. Ilustrasi konstruksi Instalasi Pengolahan Air Bersih Mikro (lanjutan) 160 Lampiran 2. Rincian biaya operasional IPAB Mikro Uraian Satuan Jumlah Keterangan Pompa a. Pompa Intake - Power - Kapasitas b. Pompa Distribusi - Power - Kapasitas Kapasitas Produksi watt 5000 lt/mnt 330 watt 19800 lt/jam 5000 lt/mnt 330 3 480 3 m /hari (design capacity) m /bulan 14400 Waktu Operasional Jam/hari 24 Konsumsi listrik KWh/hari 19800 lt/jam 5.56 lt/det 240 KWh/bulan 7200 Tarif listrik PLN Rp. 1000 Biaya listrik per m3 Rp. 550 1 m3 : 480 m3 = x : 240 Kwh - Al2SO4.2H2O Rp. 444 1 m3 = 148 gr 50 Kg = Rp. 150,000 - Calsium Hydroxide Rp. 120 1 m3 = 100 gr 50 Kg = Rp.60,000 Rp. 12.50 - Air baku Rp. 100 - Air kotor Rp. Biaya Produksi Air Bersih per m3 a. Koagulan b. Disinfectant - Kaporit 1 m3 = 50 gr 1 Kg = Rp. 12,500 c. Pajak/retribusi 100 3 1,326.50 19,101,600 Biaya Produksi Rp./m Rp./bln Upah pekerja/operator Rp./orang Perawatan lain Rp./bln 250,000 Penggantian media filter per 6 bulan Rp./bln 200,000 Test laboratorium 3 1,496.64 Total Biaya Produksi Rp./m 2,000,000 (2 labour) Lampiran 3 Nilai Skor Pendapat Pakar Existing Condition Dimensi Keberlanjutan Pengelolaan Air Bersih di Kota Tarakan DIMENSI LINGKUNGAN No BAIK BURUK Daerah konservasi air (0) tidak ada, (1) ada tetapi tak terlindungi, (2) ada dan terlindungi 2 2 0 2 Frekuensi kejadian kekeringan (0) sering, (1) kadang-kadang, (2) tidak pernah terjadi kekeringan 1 2 0 3 Kualitas air baku (0) sangat jelek, (1) jelek, (2) agak baik, (3) baik 1 3 0 4 Kuantitas air baku (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 0 3 0 5 Curah hujan & hari hujan (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 0 3 0 6 Pengembangan sumber air baku 1 1 0 7 Pemanfaatan lahan terhadap kualitas air 0 2 0 8 Tinggi permukaan air tanah (0) tidak ada, (1) ada (0) tinggi dan kualitas air menurun, (1) sedang dan tidak berpengaruh pada kualitas air, (2) rendah dan kualitas air terjaga, (0) berfluktuasi secara ekstrim (1) tidak berfluktuasi secara ekstrim 0 1 0 9 Tingkat pencemaran sungai (0) tinggi, (1) sedang, (2) rendah 1 2 0 SKOR 1 3 3 BAIK 3 3 3 BURUK 0 0 0 (0) tidak sesuai (1) sesuai, (2) sangat sesuai 2 2 0 (0) sedikit, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 3 3 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi 2 2 0 2 3 0 SKOR BAIK BURUK 1 2 0 1 3 0 No 1 2 3 4 5 6 7 No ATRIBUT ATRIBUT Tingkat keuntungan PDAM Tarif air PDAM Persentase penduduk miskin Penetapan harga (price discrimination) di antara dan di dalam kelompok konsumen Willingness to pay (Kesediaan membayar dalam pemakaian sumber air) Kontribusi sektor pemanfaatan sumber air terhadap PDRB Ketersediaan dana untuk pengembangan air bersih ATRIBUT 1 Tingkat pendidikan formal masyarakat 2 Pemahaman dan kepedulian masyarakat KETERANGAN DIMENSI EKONOMI KETERANGAN (0) rendah (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi, (0) sangat tinggi, (1) tinggi, (2) sedang, (3) rendah (0) sangat tinggi, (1) tinggi, (2) sedang, (3) rendah (0) tidak tersedia, (1) kurang tersedia, (2) tersedia (3) tersedia tidak terbatas DIMENSI SOSIAL KETERANGAN (0) dibawah rata-rata nasional, (1) sama dengan rata-rata nasional, (2) diatas rata-rata nasional (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 161 SKOR 1 162 terhadap kelestarian sumber air 3 4 5 6 7 No Pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan pemanfaatan air bersih Tingkat keluhan masyarakat pelanggan terhadap PDAM Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap air bersih Peran masyarakat adat dalam kegiatan pemanfaatan air Konflik pengambilan sumber air (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) kurang optimal, (3) berjalan optimal 1 3 0 (0) sangat tinggi (1) tinggi, (2) sedang, (3) rendah, 1 3 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 3 3 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi 1 3 0 (0) tidak ada, (1) desa tertentu saja, (2) semua desa 1 2 0 DIMENSI INFRASTRUKTUR DAN TEKNOLOGI KETERANGAN ATRIBUT Tingkat pelayanan PDAM (air bersih) SKOR BAIK BURUK 1 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi 0 2 0 2 Infrastruktur air limbah (0) tidak ada, (1) ada 0 1 0 3 Kondisi drainase di kawasan permukiman (0) memadai, (1) tidak memadai 0 1 0 4 Kondisi jaringan distribusi perpipaan (0) memadai, (1) tidak memadai 0 1 0 5 Kondisi IPA PDAM Ketersediaan layanan listrik untuk pengolahan air bersih (0) tidak memadai, (1) cukup memadai, (2) sangat memadai 1 2 0 (0) tidak memadai, (1) cukup memadai, (2) sangat memadai 1 2 0 6 DIMENSI HUKUM DAN KELEMBAGAAN No 1 ATRIBUT Keberadaan balai pemantauan kualitas air KETERANGAN (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan SKOR 2 BAIK 2 BURUK 0 (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan 1 2 0 (0) tidak ada, (1) ada tetapi tidak berjalan, (2) ada dan berjalan 2 2 0 4 Keberadaan lembaga sosial air bersih Ketersediaan peraturan perundangundangan pengelolaaan air bersih Ketersediaan perangkat hukum adat/agama (0) tidak ada, (1) cukup tersedia, (2) sangat lengkap 2 2 0 5 Kerjasama antar stakeholder (0) tidak sejalan, (1) cukup sejalan, (2) sejalan, (3) sangat sejalan 1 3 0 2 3 163 Lampiran 4 Nilai Indeks Lima Dimensi Keberlanjutan Penyediaan Air Bersih di Pulau Tarakan A. Dimensi Ekologi B. Dimensi Ekonomi 164 C. Dimensi Sosial – Budaya D. Dimensi Infrastruktur dan Teknologi 165 E. Dimensi Hukum dan Kelembagaan F. Multidimensi 166 Lampiran 5 Persamaan model dinamis penyediaan air bersih pulau kecil init Air_Bersih_Alami = 30000000 flow Air_Bersih_Alami = +dt*penambahan_alami -dt*pengurangan_alami init Biaya_Intensifikasi = 0 flow Biaya_Intensifikasi = +dt*biaya_intensif_per_thn init Biaya_Intensifikasi_1 = 0 flow Biaya_Intensifikasi_1 = +dt*biaya_intensif_per_thn_1 init Biaya_Intensifikasi_2 = 0 flow Biaya_Intensifikasi_2 = +dt*biaya_intensif_per_thn_2 init Biaya_Intensifikasi_3 = 0 flow Biaya_Intensifikasi_3 = +dt*biaya_intensif_per_thn_3 init Biaya_Terasering_3 = 0 flow Biaya_Terasering_3 = +dt*biaya_terasering_per_thn_3 init C_hutan = C_hutan_eksisting_2 flow C_hutan = -dt*L_pengurangan_C_hutan init C_hutan_1 = C_hutan_eksisting_3 flow C_hutan_1 = dt*L_pengurangan_C_hutan_1 init C_hutan_2 = C_hutan_eksisting_4 flow C_hutan_2 = dt*L_pengurangan_C_hutan_2 init C_hutan_3 = C_hutan_eksisting_5 flow C_hutan_3 = dt*L_pengurangan_C_hutan_3 init C_Mukim_4 = 0.5/0.7/100 flow C_Mukim_4 = init Biaya_Reboisasi = 0 init flow Biaya_Reboisasi = +dt*biaya_reboisasi_per_thn C_permukiman = C_Permukiman_eksisting flow C_permukiman = dt*L_pengurangan_C_permukiman init C_permukiman_1 = C_Permukiman_eksisting_1 flow C_permukiman_1 = dt*L_pengurangan_C_permukiman_1 init C_permukiman_2 = C_Permukiman_eksisting_2 flow C_permukiman_2 = dt*L_pengurangan_C_permukiman_2 init C_permukiman_3 = C_Permukiman_eksisting_3 flow C_permukiman_3 = dt*L_pengurangan_C_permukiman_3 init C_Tambak = C_Tambak_eksisting flow C_Tambak = dt*L_pengurangan_C_tambak init C_Tambak_1 = C_Tambak_eksisting_1 flow C_Tambak_1 = dt*L_pengurangan_C_tambak_1 init C_Tambak_2 = C_Tambak_eksisting_2 flow C_Tambak_2 = dt*L_pengurangan_C_tambak_2 init C_Tambak_3 = C_Tambak_eksisting_3 flow C_Tambak_3 = dt*L_pengurangan_C_tambak_3 init C_tegalan = C_tegalan_eksisting flow C_tegalan = dt*L_pengurangan_C_tegalan init C_tegalan_1 = C_tegalan_eksisting_1 init Biaya_Reboisasi_1 = 0 flow Biaya_Reboisasi_1 = +dt*biaya_reboisasi_per_thn_1 init Biaya_Reboisasi_2 = 0 flow Biaya_Reboisasi_2 = +dt*biaya_reboisasi_per_thn_2 init Biaya_Reboisasi_3 = 0 flow Biaya_Reboisasi_3 = +dt*biaya_reboisasi_per_thn_3 init Biaya_SMR = 0 flow Biaya_SMR = +dt*biaya_SMR_per_thn init Biaya_SMR_1 = 0 flow Biaya_SMR_1 = +dt*biaya_SMR_per_thn_1 init Biaya_SMR_2 = 0 flow Biaya_SMR_2 = +dt*biaya_SMR_per_thn_2 init Biaya_SMR_3 = 0 flow Biaya_SMR_3 = +dt*biaya_SMR_per_thn_3 init Biaya_Terasering = 0 flow Biaya_Terasering = +dt*biaya_terasering_per_thn init Biaya_Terasering_1 = 0 flow Biaya_Terasering_1 = +dt*biaya_terasering_per_thn_1 init Biaya_Terasering_2 = 0 flow Biaya_Terasering_2 = +dt*biaya_terasering_per_thn_2 167 flow C_tegalan_1 = dt*L_pengurangan_C_tegalan_1 init Pendududk_1 = 41302 flow Pendududk_1 = +dt*L_penduduk_1 init C_tegalan_2 = C_tegalan_eksisting_2 init Pendududk_2 = 41302 flow C_tegalan_2 = dt*L_pengurangan_C_tegalan_2 flow Pendududk_2 = +dt*L_penduduk_2 init C_tegalan_3 = C_tegalan_eksisting_3 init Pendududk_3 = 41302 flow C_tegalan_3 = dt*L_pengurangan_C_tegalan_3 flow Pendududk_3 = +dt*L_penduduk_3 init Vol_Hujan_4 = 2584*373.70*1000000/1000 init CRO_Mukim_4 = 59.52% flow CRO_Mukim_4 = +dt*L_CRO_mukim_4 flow Vol_Hujan_4 = init Evaporasi_4 = 1000*373.70*1000000/1000 aux flow Evaporasi_4 = biaya_intensif_per_thn = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi, (biaya_intesif_per_ha*Luas_Tambak*(pers entase_intesifikasi/100)), 0) init Hotel = 10 aux flow Hotel = +dt*L_hotel init Hotel_1 = 10 biaya_intensif_per_thn_1 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_1, (biaya_intesif_per_ha_1*Luas_Tambak_1* (persentase_intesifikasi_1/100)), 0) flow Hotel_1 = +dt*L_hotel_1 aux init Hotel_2 = 10 flow Hotel_2 = +dt*L_hotel_2 biaya_intensif_per_thn_2 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_2, (biaya_intesif_per_ha_2*Luas_Tambak_2* (persentase_intesifikasi_2/100)), 0) init Hotel_3 = 10 aux biaya_intensif_per_thn_3 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_3, (biaya_intesif_per_ha_3*Luas_Tambak_3* (persentase_intesifikasi_3/100)), 0) aux biaya_reboisasi_per_thn = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi, (biaya_reboisasi_per_ha*luas_hutan*(pers entase_reboisasi/100)), 0) aux biaya_reboisasi_per_thn_1 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_1, (biaya_reboisasi_per_ha_1*luas_hutan_1* (persentase_reboisasi_1/100)), 0) aux biaya_reboisasi_per_thn_2 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_2, (biaya_reboisasi_per_ha_2*luas_hutan_2* (persentase_reboisasi_2/100)), 0) aux biaya_reboisasi_per_thn_3 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_3, (biaya_reboisasi_per_ha_3*luas_hutan_3* (persentase_reboisasi_3/100)), 0) aux biaya_SMR_per_thn = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi, (biaya_sumur_per_ha*luas_pmrkmn*(pers entase_jumlah_sumur/100)), 0) aux biaya_SMR_per_thn_1 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_1, (biaya_sumur_per_ha_1*luas_pmrkmn_1*( persentase_jumlah_sumur_1/100)), 0) aux biaya_SMR_per_thn_2 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_2, (biaya_sumur_per_ha_2*luas_pmrkmn_2*( persentase_jumlah_sumur_2/100)), 0) aux biaya_SMR_per_thn_3 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_3, (biaya_sumur_per_ha_3*luas_pmrkmn_3*( persentase_jumlah_sumur_3/100)), 0) aux biaya_terasering_per_thn = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi, flow Hotel_3 = +dt*L_hotel_3 init Hujan_4 = 2584 flow Hujan_4 = init Industri = 139 flow Industri = +dt*L_Industri init Industri_1 = 139 flow Industri_1 = +dt*L_Industri_1 init Industri_2 = 139 flow Industri_2 = +dt*L_Industri_2 init Industri_3 = 139 flow Industri_3 = +dt*L_Industri_3 init Ketersediaan_Alami_1 = 30000000 flow Ketersediaan_Alami_1 = dt*pengurangan_alami_1 +dt*penambahan_alami_1 init Ketersediaan_Alami_2 = 30000000 flow Ketersediaan_Alami_2 = dt*pengurangan_alami_2 +dt*penambahan_alami_2 init Ketersediaan_Alami_3 = 30000000 flow Ketersediaan_Alami_3 = +dt*penambahan_alami_3 -dt*pengurangan_alami_3 init Pemukiman_4 = 16570.49 flow Pemukiman_4 = +dt*l_pemukiman_4 init Pendududk = 41302 flow Pendududk = +dt*L_penduduk 168 (biaya_terasering_per_ha*luas_tegalan*(p ersentase_terasering/100)), 0) aux biaya_terasering_per_thn_1 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_1, (biaya_terasering_per_ha_1*luas_tegalan _1*(persentase_terasering_1/100)), 0) aux biaya_terasering_per_thn_2 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_2, (biaya_terasering_per_ha_2*luas_tegalan _2*(persentase_terasering_2/100)), 0) aux biaya_terasering_per_thn_3 = IF(TIME>=Thn_Skenario_Konservasi_3, (biaya_terasering_per_ha_3*luas_tegalan _3*(persentase_terasering_3/100)), 0) aux L_CRO_mukim_4 = CRO_Mukim_4*f_koef_RO_4 aux L_hotel = Hotel*persen_htl aux L_hotel_1 = Hotel_1*persen_htl_1 aux L_hotel_2 = Hotel_2*persen_htl_2 aux L_hotel_3 = Hotel_3*persen_htl_3 aux L_Industri = Industri*persen_industri aux L_Industri_1 = Industri_1*persen_industri_1 aux L_Industri_2 = Industri_2*persen_industri_2 aux L_Industri_3 = Industri_3*persen_industri_3 aux l_pemukiman_4 = Pemukiman_4*f_pemukiman_4 aux L_penduduk = Pendududk*persen_pertumbuhan aux L_penduduk_1 = Pendududk_1*persen_pertumbuhan_1 aux L_penduduk_2 = Pendududk_2*persen_pertumbuhan_2 aux L_penduduk_3 = Pendududk_3*persen_pertumbuhan_3 aux L_pengurangan_C_hutan = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi, 0, IF(C_hutan<=0.2, 0, (C_hutan_eksisting_20.2)/(1/(persentase_reboisasi/100)))) aux L_pengurangan_C_hutan_1 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_1, 0, IF(C_hutan_1<=0.2, 0, (C_hutan_eksisting_30.2)/(1/(persentase_reboisasi_1/100)))) aux L_pengurangan_C_hutan_2 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_2, 0, IF(C_hutan_2<=0.2, 0, (C_hutan_eksisting_40.2)/(1/(persentase_reboisasi_2/100)))) aux L_pengurangan_C_hutan_3 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_3, 0, IF(C_hutan_3<=0.2, 0, (C_hutan_eksisting_50.2)/(1/(persentase_reboisasi_3/100)))) aux L_pengurangan_C_permukiman = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi, 0, IF(C_permukiman<=0.3, 0, (C_Permukiman_eksisting0.3)/(1/(persentase_jumlah_sumur/100)))) aux L_pengurangan_C_permukiman_1 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_1, 0, IF(C_permukiman_1<=0.3, 0, (C_Permukiman_eksisting_10.3)/(1/(persentase_jumlah_sumur_1/100)) )) aux L_pengurangan_C_permukiman_2 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_2, 0, IF(C_permukiman_2<=0.3, 0, (C_Permukiman_eksisting_20.3)/(1/(persentase_jumlah_sumur_2/100)) )) aux L_pengurangan_C_permukiman_3 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_3, 0, IF(C_permukiman_3<=0.3, 0, (C_Permukiman_eksisting_30.3)/(1/(persentase_jumlah_sumur_3/100)) )) aux L_pengurangan_C_tambak = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi, 0, IF(C_Tambak<=0.2, 0, ((C_Tambak_eksisting0.2)/(1/(persentase_intesifikasi/100))))) aux L_pengurangan_C_tambak_1 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_1, 0, IF(C_Tambak_1<=0.2, 0, ((C_Tambak_eksisting_10.2)/(1/(persentase_intesifikasi_1/100))))) aux L_pengurangan_C_tambak_2 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_2, 0, IF(C_Tambak_2<=0.2, 0, ((C_Tambak_eksisting_20.2)/(1/(persentase_intesifikasi_2/100))))) aux L_pengurangan_C_tambak_3 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_3, 0, IF(C_Tambak_3<=0.2, 0, ((C_Tambak_eksisting_30.2)/(1/(persentase_intesifikasi_3/100))))) aux L_pengurangan_C_tegalan = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi, 0, IF(C_tegalan<=0.2, 0, (C_tegalan_eksisting0.2)/(1/(persentase_terasering/100)))) aux L_pengurangan_C_tegalan_1 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_1, 0, IF(C_tegalan_1<=0.2, 0, (C_tegalan_eksisting_10.2)/(1/(persentase_terasering_1/100)))) aux L_pengurangan_C_tegalan_2 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_2, 0, IF(C_tegalan_2<=0.2, 0, (C_tegalan_eksisting_20.2)/(1/(persentase_terasering_2/100)))) aux L_pengurangan_C_tegalan_3 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Konservasi_3, 0, IF(C_tegalan_3<=0.2, 0, (C_tegalan_eksisting_30.2)/(1/(persentase_terasering_3/100)))) aux penambahan_alami = imbuh_air_tanah 169 aux penambahan_alami_1 = imbuh_air_tanah_1 aux penambahan_alami_2 = imbuh_air_tanah_2 aux penambahan_alami_3 = imbuh_air_tanah_3 aux pengurangan_alami = Air_Bersih_Alami*pencemaran aux pengurangan_alami_1 = Ketersediaan_Alami_1*pencemaran_1 aux pengurangan_alami_2 = Ketersediaan_Alami_2*pencemaran_2 aux pengurangan_alami_3 = Ketersediaan_Alami_3*pencemaran_3 aux aux aux Biaya_uprating_PDAM_per_thn = IF(kekurangan_air_bersih>=0, 0, ABS(kekurangan_air_bersih*Biaya_Uprati ng_per_m3)) aux Biaya_uprating_PDAM_per_thn_1 = IF(kekurangan_air_bersih_1>=0, 0, ABS(kekurangan_air_bersih_1*Biaya_Upr ating_per_m3_1)) aux Biaya_uprating_PDAM_per_thn_2 = IF(kekurangan_air_bersih_2>=0, 0, ABS(kekurangan_air_bersih_2*Biaya_Upr ating_per_m3_2)) aux Biaya_uprating_PDAM_per_thn_3 = IF(kekurangan_air_bersih_3>=0, 0, ABS(kekurangan_air_bersih_3*Biaya_Upr ating_per_m3_3)) Air_bersih_perpipaan_1 = Produksi_PDAM_1+ABS(kekurangan_air_ bersih_1) aux CRO_hutan = C_hutan*luas_hutan aux CRO_hutan_1 = C_hutan_1*luas_hutan_1 Air_bersih_perpipaan_2 = Produksi_PDAM_2+ABS(kekurangan_air_ bersih_2) aux CRO_hutan_2 = C_hutan_2*luas_hutan_2 aux CRO_hutan_3 = C_hutan_3*luas_hutan_3 aux CRO_Kumulatif = (CRO_hutan+CRO_permukiman+CRO_Ta mbak+CRO_tegalan)/luas_DAS aux CRO_Kumulatif_1 = (CRO_hutan_1+CRO_permukiman_1+CR O_Tambak_1+CRO_tegalan_1)/luas_DAS _1 aux CRO_Kumulatif_2 = (CRO_hutan_2+CRO_permukiman_2+CR O_Tambak_2+CRO_tegalan_2)/luas_DAS _2 aux CRO_Kumulatif_3 = (CRO_hutan_3+CRO_permukiman_3+CR O_Tambak_3+CRO_tegalan_3)/luas_DAS _3 aux Air_bersih_perpipaan_3 = Produksi_PDAM_3+ABS(kekurangan_air_ bersih_3) aux Air_Bersih_perpipaan_eksisting = Produksi_PDAM+ABS(kekurangan_air_be rsih) aux AME_Hotel = ABS(((HotelHotel_Aktual)/Hotel_Aktual)*100%) aux AME_PDDK = ABS(((PendududkPenduduk_Aktual)/Penduduk_Aktual)*100 %) aux AVE_Aktual_Hotel = AVG(Hotel_Aktual, 00) aux AVE_Aktual_pddk = AVG(Penduduk_Aktual, 00) aux CRO_permukiman = C_permukiman*luas_pmrkmn aux AVE_Hotel = ABS((SS_HotelSA_Hotel)/SA_Hotel)*100% aux CRO_permukiman_1 = C_permukiman_1*luas_pmrkmn_1 aux AVE_Hotel_SIM = AVG(Hotel, 00) aux aux AVE_PDDK = ABS((SS_PDDKSA_PDDK)/SA_PDDK)*100% CRO_permukiman_2 = C_permukiman_2*luas_pmrkmn_2 aux aux AVE_PDDK_SIM = AVG(Pendududk, 00) CRO_permukiman_3 = C_permukiman_3*luas_pmrkmn_3 aux Biaya_IPAB_mikro_per_thn_2 = IF(kekurangan_air_bersih_2>=0, 0, ABS(kekurangan_air_bersih_2*biaya_IPA B_mikro_per_m3_2)) aux CRO_Tambak = C_Tambak*Luas_Tambak aux CRO_Tambak_1 = C_Tambak_1*Luas_Tambak_1 aux CRO_Tambak_2 = C_Tambak_2*Luas_Tambak_2 aux CRO_Tambak_3 = C_Tambak_3*Luas_Tambak_3 aux CRO_tegalan = C_tegalan*luas_tegalan aux CRO_tegalan_1 = C_tegalan_1*luas_tegalan_1 aux CRO_tegalan_2 = C_tegalan_2*luas_tegalan_2 aux CRO_tegalan_3 = C_tegalan_3*luas_tegalan_3 aux Biaya_IPAB_mikro_per_thn_3 = IF(kekurangan_air_bersih_3>=0, 0, ABS(kekurangan_air_bersih_3*biaya_IPA B_mikro_per_m3_3)) aux Biaya_Uprating_IPAB_mikro_per_thn = IF(kekurangan_air_bersih>=0, 0, ABS(kekurangan_air_bersih*biaya_IPAB_ mikro_per_m3)) aux Biaya_Uprating_IPAB_mikro_per_thn_1 = IF(kekurangan_air_bersih_1>=0, 0, ABS(kekurangan_air_bersih_1*biaya_IPA B_mikro_per_m3_1)) 170 aux Debit_Model = hujan*CRO_Kumulatif*2789*10 aux Debit_Model_1 = hujan_1*CRO_Kumulatif_1*2789*10 aux Debit_Model_2 = hujan_2*CRO_Kumulatif_2*2789*10 aux Debit_Model_3 = hujan_3*CRO_Kumulatif_3*2789*10 aux f_koef_RO_4 = C_Mukim_4*Pemukiman_4/37370/100 aux Hotel_Aktual = GRAPH(TIME,2001,1,[10,11,10,13,14"Min: 10;Max:14"]) aux IKA_1 = Total_Supply_1/Total_Demand_1 aux IKA_2 = Total_Supply_2/Total_Demand_2 aux IKA_3 = Total_Supply_3/Total_Demand_3 aux IKA_Eksisting = Total_Supply_Eksisting/Total_Demand_Ek sisting aux imbuh_air_tanah = (v_hujan-evaporasiDebit_Model)*40% aux imbuh_air_tanah_1 = (v_hujan_1evaporasi_1-Debit_Model_1)*40% aux imbuh_air_tanah_2 = (v_hujan_2evaporasi_2-Debit_Model_2)*40% aux imbuh_air_tanah_3 = (v_hujan_3evaporasi_3-Debit_Model_3)*40% aux Imbuh_air_tanah_4 = (Vol_Hujan_4RunOff_4-Evaporasi_4) aux IPAB_terpsg_per_thn_2 = ABS(kekurangan_air_bersih_2/kap_ipab_2 ) aux IPAB_terpsg_per_thn_3 = ABS(kekurangan_air_bersih_3/kap_ipab_3 ) aux jumlah_IPAB_terpasang_per_tahun = ABS(kekurangan_air_bersih/kap_ipab) aux jumlah_IPAB_terpasang_per_tahun_1 = ABS(kekurangan_air_bersih_1/kap_ipab_1 ) aux Keb_Hotel = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan, (Hotel*Keb_standar_hotel)*365/1000, ((Hotel*Keb_standar_hotel)((Hotel*Keb_standar_hotel)*Reduse_Reus e))*365/1000) aux aux Keb_Hotel_1 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_1 , (Hotel_1*Keb_standar_hotel_1)*365/1000, ((Hotel_1*Keb_standar_hotel_1)((Hotel_1*Keb_standar_hotel_1)*Reduse_ Reuse_1))*365/1000) Keb_Hotel_2 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_2 , (Hotel_2*Keb_standar_hotel_2)*365/1000, ((Hotel_2*Keb_standar_hotel_2)- ((Hotel_2*Keb_standar_hotel_2)*Reduse_ Reuse_2))*365/1000) aux Keb_Hotel_3 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_3 , (Hotel_3*Keb_standar_hotel_3)*365/1000, ((Hotel_3*Keb_standar_hotel_3)((Hotel_3*Keb_standar_hotel_3)*Reduse_ Reuse_3))*365/1000) aux Keb_Industri = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan, (Industri*keb_standar_ind)*365/1000, ((Industri*keb_standar_ind)((Industri*keb_standar_ind)*Reduse_Reus e_Recycle))*365/1000) aux Keb_Industri_1 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_1 , (Industri_1*keb_standar_ind_1)*365/1000, ((Industri_1*keb_standar_ind_1)((Industri_1*keb_standar_ind_1)*Reduse_ Reuse_Recycle_1))*365/1000) aux Keb_Industri_2 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_2 , (Industri_2*keb_standar_ind_2)*365/1000, ((Industri_2*keb_standar_ind_2)((Industri_2*keb_standar_ind_2)*Reduse_ Reuse_Recycle_2))*365/1000) aux Keb_Industri_3 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_3 , (Industri_3*keb_standar_ind_3)*365/1000, ((Industri_3*keb_standar_ind_3)((Industri_3*keb_standar_ind_3)*Reduse_ Reuse_Recycle_3))*365/1000) aux Keb_Penduduk = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan, (Pendududk*keb_standar_penddk)*365/10 00, ((Pendududk*keb_standar_penddk)((Pendududk*keb_standar_penddk)*Redus e))*365/1000) aux Keb_Penduduk_1 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_1 , (Pendududk_1*keb_standar_penddk_1)*3 65/1000, ((Pendududk_1*keb_standar_penddk_1)((Pendududk_1*keb_standar_penddk_1)* Reduse_1))*365/1000) aux Keb_Penduduk_2 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_2 , (Pendududk_2*keb_standar_penddk_2)*3 65/1000, ((Pendududk_2*keb_standar_penddk_2)((Pendududk_2*keb_standar_penddk_2)* Reduse_2))*365/1000) aux Keb_Penduduk_3 = IF(TIME<=Thn_Skenario_Penghematan_3 , (Pendududk_3*keb_standar_penddk_3)*3 65/1000, ((Pendududk_3*keb_standar_penddk_3)((Pendududk_3*keb_standar_penddk_3)* Reduse_3))*365/1000) 171 aux aux aux aux aux Total_Demand_1 = Keb_Penduduk_1+Keb_Hotel_1+Keb_Ind ustri_1 aux Total_Demand_2 = Keb_Penduduk_2+Keb_Hotel_2+Keb_Ind ustri_2 aux Total_Demand_3 = Keb_Penduduk_3+Keb_Hotel_3+Keb_Ind ustri_3 kekurangan_air_bersih_2 = IF((Produksi_PDAM_2(persen_terlayani_2*Keb_Penduduk_2)>= 0), 0, (Produksi_PDAM_2(persen_terlayani_2*Keb_Penduduk_2))) aux Total_Demand_Eksisting = Keb_Penduduk+Keb_Hotel+Keb_Industri aux Total_Supply_1 = Ketersediaan_Alami_1+Air_bersih_perpipa an_1 kekurangan_air_bersih_3 = IF((Produksi_PDAM_3(persen_terlayani_3*Keb_Penduduk_3)>= 0), 0, (Produksi_PDAM_3(persen_terlayani_3*Keb_Penduduk_3))) aux Total_Supply_2 = Ketersediaan_Alami_2+Air_bersih_perpipa an_2 aux Total_Supply_3 = Ketersediaan_Alami_3+Air_bersih_perpipa an_3 aux Total_Supply_Eksisting = Air_Bersih_Alami+Air_Bersih_perpipaan_e ksisting const biaya_intesif_per_ha = 5000000 const biaya_intesif_per_ha_1 = 5000000 const biaya_intesif_per_ha_2 = 5000000 const biaya_intesif_per_ha_3 = 5000000 const biaya_IPAB_mikro_per_m3 = 643 const biaya_IPAB_mikro_per_m3_1 = 643 const biaya_IPAB_mikro_per_m3_2 = 643 const biaya_IPAB_mikro_per_m3_3 = 643 Produksi_PDAM = (IPA_eksisting*86400*30*12/1000)((IPA_eksisting*86400*30*12/1000)*perse n_losses) const biaya_reboisasi_per_ha = 1500000 const biaya_reboisasi_per_ha_1 = 1500000 const biaya_reboisasi_per_ha_2 = 1500000 Produksi_PDAM_1 = (IPA_eksisting_1*86400*30*12/1000)((IPA_eksisting_1*86400*30*12/1000)*per sen_losses_1) const biaya_reboisasi_per_ha_3 = 1500000 const biaya_sumur_per_ha = 500000 const biaya_sumur_per_ha_1 = 500000 const biaya_sumur_per_ha_2 = 500000 const biaya_sumur_per_ha_3 = 500000 const biaya_terasering_per_ha = 1000000 const biaya_terasering_per_ha_1 = 1000000 const biaya_terasering_per_ha_2 = 1000000 const biaya_terasering_per_ha_3 = 1000000 kekurangan_air_bersih = IF((Produksi_PDAM(persen_terlayani*Keb_Penduduk)>=0), 0, (Produksi_PDAM(persen_terlayani*Keb_Penduduk))) kekurangan_air_bersih_1 = IF((Produksi_PDAM_1(persen_terlayani_1*Keb_Penduduk_1)>= 0), 0, (Produksi_PDAM_1(persen_terlayani_1*Keb_Penduduk_1))) aux Neraca_1 = Total_Supply_1Total_Demand_1 aux Neraca_2 = Total_Supply_2Total_Demand_2 aux Neraca_3 = Total_Supply_3Total_Demand_3 aux aux aux aux aux aux aux Neraca_Eksisting = Total_Supply_EksistingTotal_Demand_Eksisting Penduduk_Aktual = GRAPH(TIME,2001,1,[41302,45762,51533 ,53514,60077,63707,70023,76671,85028" Min:40000;Max:100000"]) persen = (Produksi_PDAM/Keb_Penduduk)*100 Produksi_PDAM_2 = (IPA_eksisting_2*86400*30*12/1000)((IPA_eksisting_2*86400*30*12/1000)*per sen_losses_2) Produksi_PDAM_3 = (IPA_eksisting_3*86400*30*12/1000)((IPA_eksisting_3*86400*30*12/1000)*per sen_losses_3) aux RunOff_4 = CRO_Mukim_4*Hujan_4*37370*10 const Biaya_Uprating_per_m3 = 1159.5 aux SA_Hotel = ((AVE_Aktual_HotelHotel_Aktual)^2)/5 const Biaya_Uprating_per_m3_1 = 1159.5 const Biaya_Uprating_per_m3_2 = 1159.5 aux SA_PDDK = ((AVE_Aktual_pddkPenduduk_Aktual)^2)/5 const Biaya_Uprating_per_m3_3 = 1159.5 aux SS_Hotel = ((AVE_Hotel_SIM-Hotel)^2)/5 const aux SS_PDDK = ((AVE_PDDK_SIMPendududk)^2)/5 C_hutan_eksisting_2 = 0.35,C_hutan_eksisting_3 = 0.35, C_hutan_eksisting_4 = 0.35, C_hutan_eksisting_5 = 0.35 172 const C_Permukiman_eksisting = 0.75,C_Permukiman_eksisting_1 = 0.75, C_Permukiman_eksisting_2 = 0.75,C_Permukiman_eksisting_3 = 0.75 const C_Tambak_eksisting = 0.7,C_Tambak_eksisting_1 = 0.7,C_Tambak_eksisting_2 = 0.7,C_Tambak_eksisting_3 = 0.7 const C_tegalan_eksisting = 0.4,C_tegalan_eksisting_1 = 0.4,C_tegalan_eksisting_2 = 0.4,C_tegalan_eksisting_3 = 0.4 const const const const evaporasi = 1700/1000*2789*10000 evaporasi_1 = 1700/1000*2789*10000 evaporasi_2 = 1700/1000*2789*10000 evaporasi_3 = 1700/1000*2789*10000 const f_pemukiman_4 = 1.534% const hujan = 3705.65,hujan_1 = 3705.65,hujan_2 = 3705.65,hujan_3 = 3705.65 const luas_tegalan = 1396,luas_tegalan_1 = 1396,luas_tegalan_2 = 1396,luas_tegalan_3 = 1396 const pencemaran = 20%,pencemaran_1 = 20%,pencemaran_2 = 20%,pencemaran_3 = 20% const persen_htl = 2%,persen_htl_1 = 2%, persen_htl_2 = 2%, persen_htl_3 = 2% const persen_industri = 1%,persen_industri_1 = 1%,persen_industri_2 = 1%, persen_industri_3 = 1% const persen_losses = 30%,persen_losses_1 = 30%,persen_losses_2 = 30%,persen_losses_3 = 30% const persen_pertumbuhan = 9%,persen_pertumbuhan_1 = 9%, persen_pertumbuhan_2 = 9%,persen_pertumbuhan_3 = 9% const persen_terlayani = 0,persen_terlayani_1 = 0,persen_terlayani_2 = 60%,persen_terlayani_3 = 80% const persentase_intesifikasi = 0,persentase_intesifikasi_1 = 0,persentase_intesifikasi_2 = 0,persentase_intesifikasi_3 = 0 const persentase_jumlah_sumur = 0,persentase_jumlah_sumur_1 = 5,persentase_jumlah_sumur_2 = 10,persentase_jumlah_sumur_3 = 10 const persentase_reboisasi = 0,persentase_reboisasi_1 = 5,persentase_reboisasi_2 = 5,persentase_reboisasi_3 = 10 const persentase_terasering = 0,persentase_terasering_1 = 2,persentase_terasering_2 = 2,persentase_terasering_3 = 3 const Reduse = 10%,Reduse_1 = 0, Reduse_2 = 10%,Reduse_3 = 10%, const Reduse_Reuse = 10%,Reduse_Reuse_1 = 0,Reduse_Reuse_2 = 10%,Reduse_Reuse_3 = 10% const Reduse_Reuse_Recycle = 10%,Reduse_Reuse_Recycle_1 = 0, Reduse_Reuse_Recycle_2 = 10%, Reduse_Reuse_Recycle_3 = 10% const const const const Thn_Skenario_Konservasi = 5000 Thn_Skenario_Konservasi_1 = 2013 Thn_Skenario_Konservasi_2 = 2013 Thn_Skenario_Konservasi_3 = 2013 const const const const Thn_Skenario_Penghematan = 5000 Thn_Skenario_Penghematan_1 = 2013 Thn_Skenario_Penghematan_2 = 2013 Thn_Skenario_Penghematan_3 = 2013 const IPA_eksisting = 155 doc IPA_eksisting = IPA Persemaian (155 liter/det) const IPA_eksisting_1 = 155 doc IPA_eksisting_1 = IPA Persemaian (155 liter/det) const IPA_eksisting_2 = 155 doc IPA_eksisting_2 = IPA Persemaian (155 liter/det) const IPA_eksisting_3 = 155 doc IPA_eksisting_3 = IPA Persemaian (155 liter/det) const kap_ipab = 155520, kap_ipab_1 = 155520, kap_ipab_2 = 155520,kap_ipab_3 = 155520 const const const const Keb_standar_hotel = 50000 Keb_standar_hotel_1 = 50000 Keb_standar_hotel_2 = 50000 Keb_standar_hotel_3 = 50000 const const const const keb_standar_ind = 100000 keb_standar_ind_1 = 100000 keb_standar_ind_2 = 100000 keb_standar_ind_3 = 100000 const const const const keb_standar_penddk = 150 keb_standar_penddk_1 = 150 keb_standar_penddk_2 = 150 keb_standar_penddk_3 = 150 const luas_DAS = 2789,luas_DAS_1 = 2789, luas_DAS_2 = 2789,luas_DAS_3 = 2789 const luas_hutan = 448,luas_hutan_1 = 448, luas_hutan_2 = 448,luas_hutan_3 = 448 const luas_pmrkmn = 414,luas_pmrkmn_1 = 414,luas_pmrkmn_2 = 414,luas_pmrkmn_3 = 414 const v_hujan = 3705.65/1000*2789*10000 const v_hujan_1 = 3705.65/1000*2789*10000 Luas_Tambak = 531,Luas_Tambak_1 = 531,Luas_Tambak_2 = 531,Luas_Tambak_3 = 531 const v_hujan_2 = 3705.65/1000*2789*10000 const v_hujan_3 = 3705.65/1000*2789*10000 const 173 Lampiran 6 Rencana Anggaran Biaya IPAB Mikro Kap.6 liter/detik No URAIAN PEKERJAAN SATUAN VOLUME HARGA JUMLAH SATUAN I. PEKERJAAN PERSIAPAN 1. Pembersihan lapangan m² 60.00 2. Pekerjaan laporan dokumentasi LS - - 1,200,000.00 4. Sampling/Test Air Baku LS - - 800,000.00 22,224.95 1,333,497.00 JUMLAH 3,333,497.00 II. PEKERJAAN LANTAI BETON PONDASI IPA MIKRO TNE m³ 6.00 506,229.90 3,037,379.40 2. Pembesian Besi Polos Kg 323.73 10,541.85 3,412,713.10 3. Pek. Beton Tumbuk 1 pc : 3 ps : 5 kr m³ 6.38 504,334.60 3,217,654.75 4. Pek. Plesteran 1 pc : 4 ps m² 30.00 31,508.84 945,265.20 5. Pek. Bekisting m² 8.65 158,248.20 1. Pek. Beton Bertulang 1 pc : 2 ps : 3 kr JUMLAH 1,368,846.93 11,981,859.38 III. PEKERJAAN RUMAH PENUTUP IPA MIKRO ITB TNE 1. Pek. Atap & Rangka Penutup Kanopi Polycarbonat m² 42.75 250,000.00 10,687,500.00 2. Pek. Pas. Angkur mur baud 20 mm bh 32.00 30,000.00 960,000.00 3. Pek. Pas Batu Bata 1 pc : 5 ps m² 23.00 54,926.30 1,263,304.90 4. Pek. Plesteran 1 pc : 4 ps m² 50.60 27,137.00 1,373,132.20 5. Pek. Dinding Pagar BRC m' 23.60 155,712.81 3,674,822.32 6. Pek. Pintu Rumah IPA bh 1.00 500,000.00 500,000.00 7. Pek. Pengecatan Dinding Rumah IPA m² 50.60 56,149.50 2,841,164.70 JUMLAH 21,299,924.12 IV. PEKERJAAN PEMASANGAN IPA MIKRO TNE 1. IPA Mikro Kap. 5 liter/det bh 1.00 80,000,000.00 80,000,000.00 2. Genset Kap. 2000 Watt bh 1.00 4,000,000.00 4,000,000.00 3. Pek. Bangunan Intake LS 4. Trial Run & Training LS 1,500,000.00 2,500,000.00 JUMLAH 88,000,000.00 JUMLAH (I+II+III+IV) No 124,615,280.49 Uraian 1 Biaya Pemasangan Kap. 6 liter/det 2 Air bersih yang dihasilkan Jumlah Jiwa Terlayani (150 liter/org/hari) Jumlah KK Terlayani (5 Org/KK) Satuan Rp. m3/thn Jiwa Jumlah 125,000,000.00 186,624.00 3,456.00 KK 691.00 3 Biaya pengadaan IPA Rp/m3 670.00 4 Biaya Operasional Rp/m3 1,496.00 5 Tarif Air Bersih Rp/m3 1,350.00 6 Willingness To Pay Rp/m3 2,200.00 174 Lampiran 7 Rencana Anggaran Biaya Uprating IPA PDAM No. 1 UP-RATING IPA KAP 100 L/DT MENJADI 300 L/DT Harga Satuan (Rp) Unit Volume buah 32.00 720,000 23,040,000 m3 31.73 3,736,966 118,555,246 m3 6.72 3,736,966 Pekerjaan konstruksi beton bertulang K 225/U24-32 1.1 Pre cast V blok( filter bottom) K225/U32 1.2 Balok Melayang disedimentasi 1.3 Pengaku Bag luar sedimentasi Sub Total 1 2 25,112,412 166,707,658 Bobokan dan memotong konstruksi beton bertulang di unit flokulator,sedimentasi dan filter ls 1.00 25,000,000 Sub Total 2 3 Jumlah (Rp.) 25,000,000 25,000,000 Pekerjaan baja tahan karat 3.1 Influent Sedimentasi (plat baja SS 304,t=3mm) lembar 22.5 7,830,000 176,175,000 3.2 Effluent Sedimentasi( plat baja SS 304 , t = 3 mm) lembar 22.5 7,830,000 176,175,000 3.3 Floculated Water Chanel ( plat baja SS 304, t = 3mm) lembar 462.5 7,830,000 3,621,375,000 3.4 Pengatur jarak Plat setller ( SS 304, 30x15x15mm, t =1mm) lembar 0 3,132,000 - 3.5 Gutter berlubang plat baja tahan karat 30cmx14,5 m t=3mm unit 14 12,214,800 171,007,200 3.6 Pipa SS 304 ND 1 " bt 326 1,250,000 407,500,000 3.7 Penyesuaian spindel penstok flokulator dan effluent filter box unit 6 8,000,000 48,000,000 3.8 Penstock 1x1m lengkap dg spindel dan floor colum unit 3 50,000,000 150,000,000 Sub total 3 4 4,750,232,200 Pekerjaan settler dan filter (pengadaan dan pemasangan ) 4.1 Settler SS 304 1,2 mx 4,8 m t=0,5 mm. 4.2 Media filter lembar 1,630 2,746,601 4,476,959,630 4.3 4.4 Gravel dia 5mm s/d 10 mm m3 12.72 8,100,000 103,032,000 Pasir silika dia 0.85 mm s/d 1.4 mm m3 63.60 5,400,000 Sub total 4 5 5.1 343,440,000 4,923,431,630 E/M Flow meter elektro magnetic drive Nd 500 mm termasuk unit inlet unit 1.00 450,000,000 450,000,000 ke flokulator ND 700 5.2 Perpipaan drain unit inlet sedimentasi ND 150 mm unit 4.00 26,000,000 104,000,000 5.3 Perpipaan unit out-let effluen filter/inlet reservoar ND 500 mm unit 2.00 200,000,000 400,000,000 No Uraian 1 Biaya Uprating IPA 100-300 ltr/det 2 Air bersih yang dihasilkan Jumlah Jiwa Terlayani (150 liter/org/hari) Jumlah KK Terlayani (5 Org/KK) Sub total 5 954,000,000 TOTAL 10,819,371,488 Satuan Rp. m3/thn Jumlah 10,819,371,488.00 9,331,200.00 Jiwa 172,800.00 KK 34,560.00 3 Biaya per m3 Rp/m3 1,159.00 4 Biaya Operasional Rp/m3 2,350.00 5 Tarif Air Bersih Rp/m3 1,350.00 6 Willingness To Pay Rp/m3 2,200.00
Informasi dokumen
Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Latar Belakang Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Tujuan Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Kerangka Pemikiran Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Perumusan Masalah Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Manfaat Penelitian Kebaruan novelty Klasifikasi Pulau Besar dan Pulau Kecil Sumber Daya Air Tawar di Pulau Kecil Iklim Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Hidrogeologi Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Sistem Daerah Aliran SungaiDAS Pendekatan dan Pemodelan Sistem Waktu dan Lokasi Penelitian Tahapan Penelitian Jenis dan Metode Pengumpulan Data Metode Pemilihan Responden Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Analisis Data Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Kondisi Geografis dan Luas Wilayah Topografi Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Fisiografi Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Debit Sungai dan Sedimentasi Curah Hujan Rata-rata Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Penggunaan Lahan di Kota Tarakan Kondisi Infrastruktur Perumahan Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Kondisi Infrastruktur Air Bersih Analisis Kendala, Kebutuhan dan Kelembagaan Penyediaan Air Bersih Kendala dalam Penyediaan Air Bersih di Pulau Kecil Kebutuhan dalam Penyediaan Air Bersih di Pulau Kecil Lembaga yang terlibat dalam Penyediaan Air Bersih di Pulau Kecil Analisis Bentuk Pengelolaan Penyediaan Air Bersih Kesimpulan Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Status Keberlanjutan Penyediaan Air Bersih Status Keberlanjutan Dimensi Lingkungan Status Keberlanjutan Dimensi Sosial Status Keberlanjutan Dimensi Infrastruktur dan Teknologi Status Keberlanjutan Dimensi Hukum dan Kelembagaan Pendahuluan Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Jenis dan Sumber Data Metode Pengumpulan Data Metode Analisis Model Penyediaan Air Bersih Pulau Kecil Metode Analisis Data Metode Analisis Model Penyediaan Air Bersih Pulau Kecil Analisis Kebutuhan Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Validasi Model Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Uji Kestabilan Model Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Uji Sensitivitas Model Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Sub Model Kebutuhan Air Bersih Sub Model Ketersediaan Air Bersih Kondisi Eksisting Kecamatan Tarakan Barat Simulasi Skenario Model Penyediaan Air Bersih Tarakan Barat Kondisi Eksisting Kecamatan Tarakan Timur Simulasi Skenario Penyediaan Air Bersih Kecamatan Tarakan Timur Kondisi Eksisting Kecamatan Tarakan Tengah Simulasi Skenario Penyediaan Air Bersih di Tarakan Tengah Kondisi Eksisting Kecamatan Tarakan Utara Uji Validasi Struktur Uji Validasi Model Uji Validasi Kinerja Uji Validasi Model Uji Sensitifitas Model Uji Validasi Model Rekomendasi kebijakan yang ditujukan kepada Pemerintah Kota Rekomendasi kebijakan yang ditujukan kepada PDAM Tujuan Kerangka Pemikiran Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Manfaat Penelitian Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Kebaruan novelty Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Tahapan Penelitian Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Jenis dan Metode Pengumpulan Data Teknologi Pengolahan Air Bersih Skala Mikro IPAB Mikro Topografi Fisiografi Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Analisis Kebutuhan Formulasi Masalah Identifikasi Sistem Model penyediaan air bersih berkelanjutan di pulau kecil (studi kasus : pulau tarakan, Kalimantan Timur). Uji Validasi Kinerja Uji Sensitifitas Model Uji Sensitivitas Model Kesimpulan
Dokumen baru
Dokumen yang terkait
Tags

Model penyediaan air bersih berkelanjutan di..

Gratis

Feedback