PERBEDAAN PERILAKU KONSUMTIF TERHADAP BARANG BRANDED PADA PRIA METROSEKSUAL DAN YANG BUKAN METROSEKSUAL

Gratis

0
29
22
3 years ago
Preview
Full text

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belanja adalah kata yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari,

  dalam arti belanja dilakukan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya. Namun saat ini berbelanja tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok melainkan sebagai kegiatan pemuasan keinginan yang ingin dicapai seseorang. Bahkan belanja menjadi sebuah gaya hidup, terutama bagi orang-orang yang tinggal di kota besar.

  Kebutuhan manusia adalah suatu keadaan yang dirasakan ingin diperoleh oleh seseorang. Sedangkan keinginan manusia adalah pola kebutuhan manusia yang dibentuk oleh kebudayaan dan individualitas seseorang. Manusia mempunyai keinginan yang hampir tidak terbatas sedangkan sumber-daya terbatas. Mereka akan memilih produk yang menghasilkan kepuasan tertinggi untuk uang mereka. Keinginan (wants) mereka menjadi permintaan (demands) bila didukung oleh daya beli. Orang bisa menjadi bosan akan barang-barang yang biasa mereka gunakan. Mereka akan mencari variasi lain demi kepuasannya. Mereka membuat pilihan baru sebagai jawaban atas perubahan harga dan pendapatan (Kotler, 1987). Hal tersebut yang yang membuktikan bahwa manusia sebenarnya tidak lagi berbelanja atau menkonsumsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang khusus. Dalam arti, konsumen membeli suatu produk bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan semata- mata, tetapi juga keinginan untuk memuaskan kesenangan. Keputusan pembelian yang didominasi oleh faktor emosi menyebabkan timbulnya perilaku konsumtif. Hal ini dapat dibuktikan dalam perilaku konsumtif yaitu perilaku membeli sesuatu yang belum tentu menjadi kebutuhannya serta bukan menjadi prioritas utama dan menimbulkan pemborosan.

  Perilaku konsumtif terjadi juga bisa dilihat dari motivasi seseorang dalam hal membeli atau berbelanja. Menurut para pembelanja dan orang yang mengamati mereka, berbelanja dapat menjadi segalanya bagi semua orang. Diantaranya:berbelanja dapat meringankan perasaan kesepian dan menghilangkan kebosanan, berbelanja dapat menjadi olahraga dan dapat dipenuhi dengan gairah perburuan, belanja dapat memberikan pelarian, memenuhi fantasi, meredakan

  2 depresi. (Engel, Blackwell, Miniard 1995). Dengan motivasi tersebut konsumen mendapatkan kepuasan tersendiri. Semua bisa dilakukan dengan berbagai cara karena ada fasilitas di era modern ini yang mendukung.

  Kemudian Fromm (dalam Rasyid, 2009) menyatakan bahwa keinginan masyarakat dalam era kehidupan yang modern untuk mengkonsumsi sesuatu tampaknya telah kehilangan hubungan dengan kebutuhan yang sesungguhnya. Perilaku konsumtif seringkali dilakukan secara berlebihan sebagai usaha seseorang untuk memperoleh kesenangan atau kebahagiaan, meskipun sebenarnya kebahagiaan yang diperoleh semu belaka. Kemudian menurut Sembiring (2010), konsumtivisme merupakan paham untuk hidup secara konsumtif, sehingga orang yang konsumtif dapat dikatakan tidak lagi mempertimbangkan fungsi atau kegunaan ketika membeli barang melainkan mempertimbangkan prestise yang melekat pada barang tersebut.

  Sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh Sari (2009), menunjukkan bahwa nilai p=0.000 atau p < 0.05 terdapat hubungan negatif antara perilaku konsumtif dengan body image pada remaja puteri. Artinya, semakin positif body image maka semakin rendah perilaku konsumtif pada remaja puteri dan sebaliknya, semakin negatif body image maka semakin tinggi perilaku konsumtif pada remaja puteri. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Tanoto (dalam Sari, 2009) yang mengatakan bahwa media massa, baik tayangan iklan di televisi maupun majalah yang banyak menampilkan model-model ideal remaja dan menawarkan produk- produk remaja akan dapat mempengaruhi remaja tersebut hingga akan mudah sekali untuk tertarik dan menjadi konsumtif terhadap penampilan mereka. Remaja puteri akan lebih boros membelanjakan uang sakunya untuk membeli barang-barang yang dianggap dapat memenuhi kebutuhan akan kecantikan dan penampilan dirinya.

  Pola hidup konsumtif akan membawa dampak negatif bagi masyarakat. Pola hidup ini menyebabkan keadaan ekonomi biaya tinggi, yaitu tingkah laku konsumtif yang cenderung harus mengeluarkan biaya hidup tinggi untuk memenuhi kebutuhannya. Pola konsumtif seperti ini terjadi pada hampir semua lapisan masyarakat, meskipun dengan kadar yang berbeda-beda. Hal ini menjadi kesempatan bagi dunia maju untuk mengolah dunia ketiga dengan berbagai produk yang diberi label kemajuan dan kemodernan. Labelisasi modern atas pemakaian produk-produk

  

Barat (Negara maju) telah memicu motivasi masyarakat untuk keluar dari

  3 masyarakat tradisional menuju masyarakat modern dengan hanya memakai produk- produk tersebut. Persaingan untuk menjadi modern tersebut telah menimbulkan perilaku konsumtif. (Rasyid, 2009).

  Karena label modern inilah yang membuat setiap orang ingin mendapatkan pengakuan sosial. Untuk itu mereka melakukan segala cara, salah satunya memiliki barang-barang yang bermerek yang dianggap berkelas dan mahal. Sering kita mendengar kata “branded” dalam kehidupan sehari-hari. Kata tersebut merupakan label dari barang-barang berkelas dan mahal. Banyaknya produk yang branded masuk ke dalam negeri menciptakan fenomena baru mengenai pola pikir seseorang terhadap barang tersebut yang dikenal dengan istilah brand-minded. Masyarakat kebanyakan mengasumsikan istilah ini lebih kepada merek produk tertentu yang memiliki nilai ekslusifitas lebih dibanding produk lainnya dan tentunya produk tersebut lebih mahal ketimbang produk sejenisnya. Alasan konsumen dapat begitu loyal bahkan terkesan fanatik terhadap merek-merek tertentu salah satunya karena mengejar gengsi atau status sosial, sebagian lagi untuk kepuasan diri. Ketika seorang konsumen tidak lagi mempertimbangkan segi fungsional dan nilai ekonomis dari suatu produk (Anon., 2011).

  Berangkat dari fenomena tersebut, hasil sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hasibuan (2009) bahwa adanya hubungan posotif antara gaya hidup brand-minded dengan kecenderungan perilaku konsumtif pada remaja puteri. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat gaya hidup brand-minded remaja puteri maka semakin tinggi pula kecenderungan perilaku konsumtif mereka begitu juga sebaliknya jika semakin rendah tingkat gaya hidup brand-minded remaja puteri maka semakin rendah pula kecenderungan perilaku konsumtif mereka. hal ini dapat dilihat dari tingkat korelasi antara kedua variabel tersebut adalah sebesar 0.606. Sutojo (dalam Hasibuan, 2009) mengatakan bahwa remaja termasuk remaja puteri, menyenangi pembelian barang yang memiliki merek bergengsi, mahal, dan eksklusif disebabkan karena merek tersebut dapat memberikan kepuasan pada mereka sebagai suatu bagian dari gaya hidup. Kemudian Reynold, Scott, Warshaw (dalam Hasibuan, 2009) mengemukakan bahwa remaja puteri membelanjakan uangnya lebih banyak untuk keperluan menunjang penampilan diri seperti:pakaian, sepatu, kosmetik dan aksesoris serta alat-alat yang dapat membantu memelihara kecantikan dan penampilan dirinya

  4 khususnya yang berusia 16 tahun sampai 19 tahun. Sehingga hal tersebut dapat memicu kecenderungan perilaku konsumtif mereka guna membuat penampilan mereka menjadi lebih menarik, meningkatkan rasa percaya diri, dan meningkatkan status mereka di mata orang lain.

  Seperti yang telah dipaparkan bahwa perilaku konsumtif terjadi pada hampir semua lapisan masyarakat. Tidak hanya terjadi pada kaum wanita tetapi juga pada kaum pria. Rahardjo & Silalahi (2007) sebagai fenomena baru yang berkembang pesat dan kian sering dijumpai banyak di kota besar, pria metroseksual menciptakan gaya hidup dengan karakteristik khas. Jika dahulu wanita menjadi kaum yang terdepan dalam pola hidup merawat diri dan berpenampilan maka sekarang pria metroseksual menjajari bahkan dalam beberapa kasus bisa menjadi lebih perhatian dan cenderung terlalu berlebihan. Majalah-majalah khusus pria mulai bermunculan dan menjadikan pria metroseksual sebagai target market mereka, belum lagi dengan produk-produk khusus pria yang berkaitan langsung dengan tubuh dan penampilan fisik. Pada kenyataannya secara lebih lanjut, bisnis spa, salon dan klub fitness juga mendapatkan pria metroseksual sebagai target market yang empuk karena perilaku mereka tersebut. Kecintaan terhadap diri memberikan dampak yang berbeda terhadap hal-hal yang mengikuti di belakang, seperti perilaku konsumtif. Dalam hal berbusana, pria metroseksual dikenal lebih berani. Pria metroseksual tidak jarang menggunakan gelang, kalung dan anting yang sebenarnya merupakan aksesoris wanita. Selain aksesoris–aksesoris tersebut, pria metroseksual juga tidak jarang menggunakan produk perawatan kulit, krim kulit, pembersih wajah dan wewangian (perfume).

  Kompas (dalam Kartajaya, 2004) mengungkapkan bahwa 20 tahun lalu, pria hanya mementingkan pakaian. Namun, kini mulai terjadi pergeseran. Laki-laki sudah mulai membiasakan diri dengan produk kosmetik dekoratif seperti after shave, pelembab muka, wangi-wangian dan pewarna rambut. Kemudian menurut Simpson (dalam Kartajaya, 2004) metroseksual adalah laki-laki yang memiliki sifat-sifat tipikal yaitu mereka pada umumnya hidup dan tinggal di kota-kota besar, berduit, dengan gaya hidup urban yang loyal dan hedonis. Layaknya wanita, pria metroseksual paling hobi belanja di mall atau butik, dan betah berbincang-bincang di

  

cafe-cafe. Mereka betah berjam-jam jalan-jalan di mall dan itu dilakukan bukan

  5 untuk purpose shopping, tapi lebih untuk pleasure shopping. Majalah SWA (dalam Kartajaya, dkk 2004), berhasil mengungkap perilaku belanja para pria metroseksual di Jabotabek. Untuk produk perawatan tubuh, 36.6% responden menghabiskan Rp.1- 2 juta perbulan untuk produk perawatan tubuh. Dalam hal fesyen ditemukan bahwa para responden metroseksual sangat selektif dalam memilih merek.

  Anon. (2008) melakukan penelitian terhadap kelompok mahasiswa metroseksual di lingkungan kampus UGM sebenarnya timbul karena adanya motivasi sosial yang berasal dari luar diri individu yang mengalami sedikit ketimpangan. Perubahan sosial terhadap gaya hidup dan perilaku seorang pria khususnya mahasiswa yang mencintai dirinya sendiri secara berlebihan telah menciptakan sebuah fenomena baru yang dianggap sebagai sebuah gaya hidup konsumerisme dan menimbulkan perilaku konsumtif yang berlebihan. Pesatnya perkembangan teknologi dan mudahnya akses informasi yang didapat telah membawa mereka untuk selalu mengikuti perkembangan tren dan mode yang sedang berkembang. Perilaku mahasiswa metroseksual ini akan menjadi sebuah masalah baru apabila budaya gaya hidup dan perilaku konsumtif tersebut dilakukan secara berlebihan. Karena disadari atau tidak, mahasiswa metroseksual cenderung boros dalam menggunakan uangnya dibandingkan mahasiswa pada umumnya, serta apakah budaya tersebut dapat diterima di dalam masyarakat mengingat budaya tersebut termasuk fenomena dan budaya yang berasal dari barat.

  Behavioral survey (dalam Kartajaya, 2004) melakukan survei terhadap

  responden di Jakarta. Dari sekitar 400 responden pria di Jakarta diidentifikasikan bahwa sekitar 15.7% dari mereka adalah pria metroseksual. Identifikasi dilakukan atas pertimbangan beberapa faktor, yakni : orientasi hidup, peranan pria, kesetaraan gender, materialism, liberalism dan ketertarikan terhadap pakaian. Kemudian 47.4% tergolong pria konvensional. Mereka ditandai oleh kecenderungan menganut paham gender tradisional dimana wanita lebih banyak berperan dalam aktivitas rumah tangga sementara pria menjadi pencari nafkah utama. Sementara itu sekitar 36.9% tergolong dalam kategori status-oriented-man. Mereka cenderung menghargai wanita dan setuju dengan pandangan gender modern. Kelompok pria yang terakhir ini memiliki keinginan diterima oleh lingkungan sosial. Karena materi dan jabatan sering kali dijadikan tolak ukur dari kesuksesan, maka tidak heran jika pandangan

  6 orang lain sangat berpengaruh pada hidupnya. Burrnet (dalam Ghadi, 2009) membagi segmen pria secara psikologis menjadi 5 kategori, yaitu: 1) Metroseksual. Mereka adalah pria yang cenderung lebih sensitif, sangat peduli pada penampilan, menikmati aktivitas perawatan tubuh dan belanja, 2) Retroseksual. Segmen ini biasanya menyebut Clint Eastwood atau Sean Conner ikon pria macho, berwibawa, dan bertanggung jawab. Mereka adalah kaum yang “laki-laki”, 3) Maturiten. Yaitu pria yang pintar, matang, pragmatis, dan sangat tertarik pada internet, 4) Pria modern. Mereka adalah sosok yang posisinya berada di tengah, tidak termasuk metroseksual ataupun retroseksual. Bagi mereka produk pelembab dan gel masih biasa, tetapi jika sampai manicure-pedicure dianggap sudah berlebihan. Mereka juga mau menggunakan produk perawatan wajah, tetapi tidak mau menggunakan produk perawatan wajah yang memiliki beberapa tahap pemakaian, 5) Tipe sang ayah. Mereka adalah pria yang kerap terlihat mendorong kereta bayi dan membeli popok dan susu seperti yang kerap dilakukan kaum ibu. Kegiatan belanja ini mereka lakukan karena benar-benar care pada anaknya ataupun lantaran sang isteri yang juga bekerja.

  Dari berbagai uraian fenomena diatas terlihat bahwa pria metroseksual cenderung lebih perhatian pada penampilan dirinya. Mulai dari perawatan wajah, tubuh sampai barang yang digunakan untuk menyempurnakan penampilannya. Sedangkan kategori pria selain pria metroseksual lebih mementingkan kualitas diri dan menomor sekiankan masalah penampilan. Tentunya berbalik dari perilaku pria metroseksual. Namun merujuk pada tema penelitian ini adalah melihat perilaku konsumtif terhadap barang branded dari kedua kategori pria tersebut. Karena dalam hal belanja pun pada umumnya pria masih tetap menggunakan logika. Pria metroseksual membelanjakan segala sesuatunya lebih boros atau berlebihan dibandingkan dengan pria yang bukan metroseksual. Pada dasarnya pria lebih mengutamakan fungsional dari pada unsur emosi. Namun, jika sudah menyangkut hobi terkadang pengeluarannya bisa lebih besar daripada perempuan. Pria juga relatif bukan penawar harga yang baik, sehingga harga tidak terlalu masalah bagi mereka. Akibat dari perkembangan teknologi serta perkembangan trend dan mode yang masuk ke Indonesia inilah yang menyebabkan hampir seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya wanita tetapi juga pria semakin ingin selalu mengikutinya dan

  7 menjadikan sebuah gaya hidup baru di dalamnya. Atas dasar itulah peneliti mencoba untuk melihat sisi konsumtif khususnya pada barang-barang yang bermerek, terkenal, dan eksklusif pada kaum pria dan tertarik untuk mengangkat judul “Perbedaan

  

Perilaku Konsumtif Terhadap Barang Branded Pada Pria Metroseksual dan

yang Bukan Metroseksual” B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan sebuah masalah yaitu adakah perbedaan perilaku konsumtif terhadap barang branded pada pria metroseksual dengan yang bukan metroseksual.

  C. Tujuan Penelitian

  Untuk mengetahui perbedaan perilaku konsumtif terhadap barang branded pada pria metroseksual dengan yang bukan metroseksual.

  D. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoritis

  Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat atas disiplin ilmu pengetahuan serta pengembangan dalam ilmu psikologi. Terutama di bidang psikologi Industi dan Organisasi. Dimana kata kunci dari penelitian ini adalah metroseksual dan perilaku konsumtif terhadap barang branded.

  2. Manfaat Praktis

  a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi masyarakat mengenai gambaran perilaku pria metroseksual dan yang bukan metroseksual dalam hal belanja atau menkonsumsi barang bermerek untuk memenuhi kebutuhannya sehingga dapat menjadi cermin bagi pria-pria tersebut agar perilaku mereka tidak menjadi kecemasan, karena harus selalu megikuti tren dan mode yang sedang up to date yang menimbulkan perilaku boros.

  b. Dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu produsen di Indonesia untuk mengetahui minat para pria metroseksual dalam

  8 berpenampilan terutama merek oleh karena itu dapat membuat strategi baru untuk menghasilkan produk dengan merek dalam negeri.

  

PERBEDAAN PERILAKU KONSUMTIF TERHADAP BARANG BRANDED

PADA PRIA METROSEKSUAL DAN YANG BUKAN METROSEKSUAL

  SKRIPSI

  

Oleh :

Mutia Mayarizkya

07810052

  

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2011

  

PERBEDAAN PERILAKU KONSUMTIF TERHADAP BARANG BRANDED

PADA PRIA METROSEKSUAL DAN YANG BUKAN METROSEKSUAL

  SKRIPSI Diajukan Kepada Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu persyaratan memperoleh

  Gelar Sarjana Psikologi

  

Oleh :

Mutia Mayarizkya

07810052

  

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2011

LEMBAR PERSETUJUAN

  Judul Skripsi : Perbedaan Perilaku Konsumtif Terhadap Barang Branded Pada Pria Metroseksual dan yang Bukan Metroseksual

  Nama Peneliti : Mutia Mayarizkya No.Induk Mahasiswa : 07810052 Fakultas : Psikologi Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang Waktu Penelitian : 01-10 Oktober 2011 Tanggal Ujian : 04 November 2011

  Malang, 30 November 2011 Mengetahui,

  Pembimbing I Pembimbing II

  Yudi Suharsono, S.Psi, M.Si Tri Muji Ingarianti, S.Psi, M.Psi

  

LEMBAR PENGESAHAN

  Skripsi ini telah diuji oleh Dewan Penguji Tanggal : 04 November 2011

  Dewan Penguji Ketua Penguji : Dra. Djudiyah, M. Si. ____________________ Anggota Penguji : 1. Tri Muji Ingarianti, S.Psi, M.Psi ____________________

  2. Ari Firmanto, S.Psi ____________________ Mengesahkan,

  Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

  

Drs. Tulus Winarsunu, M.Si

SURAT PERNYATAAN

  Saya yang bertandatangan dibawah ini : Nama : Mutia Mayarizkya Nim : 07810052 Fakultas/Jurusan : Psikologi/Psikologi

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

  Menyatakan bahwa Skripsi / Karya Ilmiah : Judul:

  

“Perbedaan Perilaku Konsumtif Terhadap Barang Branded Pada Pria

Metroseksual dan yang Bukan Metroseksual”

  1. Adalah bukan merupakan karya tulis orang lain, baik sebagian maupun keseluruhan kecuali dalam bentuk kutipan yang telah disebutkan sumbernya.

  2. Hasil tulisan karya ilmiah/skripsi dari penelitian yang saya lakukan merupakan Hak bebas Royalti non eksklusif, apabila digunakan sebagai sumber pustaka.

  Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia mendapat sanksi akademik sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

  Mengetahui, Malang, 30 November 2011 Ketua Program Studi Yang Menyatakan,

  

M. Salis Yuniardi, S.Psi, M.Si Mutia Mayarizkya

  

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

  Alhamdulillah wa syukurillah, segala puji bagi ALLAH S.W.T sang penguasa alam semesta. Dengan segala Rahmat, kesehatan, kesabaran, kemudahan, dan nikmat lainnya yang diberikan yang tidak bisa di ungkapkan, atas kehendak dan izin-Nya lah akhirnya terselesaikan skripsi ini yang berjudul “Perbedaan Perilaku Konsumtif terhadap barang branded Pada Pria Metroseksual dengan yang Bukan Metroseksual”. Adapun skripsi ini dibuat untuk memenuhi syarat ujian akhir untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi (S,Psi) di Universitas Muhammadiyah Malang. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan pada junjungan Nabi Besar Muhammad S.A.W, keluarga, sahabat, serta orang-orang yang berada di jalan-Nya.

  Selama proses hingga berakhirnya penulisan skripsi ini tidak lepas dari kata ketidaksempurnaan karena tetaplah saya selaku penulis hanyalah manusia biasa yang masih dalam proses belajar dan terus belajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan baru, sehingga dengan segala usaha dan kemampuan skripsi ini dapat terselesaikan.

  Dalam proses penulisan skripsi ini, penulis menyadari bahwa penulis melibatkan banyak bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terima Kasih kepada :

  1. Bapak Tulus Winarsunu, M.Si selaku Dekan Fakultas Psikologi Univeritas Muhammadiyah Malang.

  2. Bapak Yudi Suharsono, S.Psi, M.Si selaku Dosen Pembimbing I dan Ibu Tri Muji Ingarianti, S.Psi, M.Psi selaku Dosen Pembimbing II, terima kasih atas bimbingan, kritik-saran, dan kesabaran memberikan arahan yang berarti mulai dari awal, proses, hingga terselsesaikannya skripsi ini.

  3. Ibu Dra. Cahyaning Suryaningrum M, Si selaku Dosen Wali kelas A Psikologi 2007 serta seluruh Dosen dan Staff Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang terima kasih atas motivasi yang diberikan.

  4. My beloved family (Bapak Zunaedy Iskak, S.Sos, Ibu Wati Sudarman, S.Sos, dan adik-adikku Anindya Purnama Sari & Rifky Umami) terima kasih atas cinta dan kasih sayang, motivasi, dukungan moril maupun materil yang diberikan. Serta keluarga besar di Sumbawa, Mataram, dan Jawa juga terima kasih atas dukungan dan motivasinya. I Miss n Love U all.

  5. Teman-teman yang ikut berpartisipasi dalam penelitian terima kasih atas bantuannya, sehingga skripsi ini dapat berjalan.

  6. Untuk teman-teman seperjuangan Psikologi 2007 khususnya kelas A. Merlin, Uty, Dii, Ririn, sepupuku Mba Ayu, n all of deh.. Thanks atas dukungannya yang membuat aku semangat menyelesaikan skripsi ini dan segera menyusul kalian. Takkan ku lupa kenangan selama kuliah bersama kalian, canda tawa, serta suka dan duka. Dan berharap kita bisa ketemu lagi di lain waktu. Salam hangat dan sukses selalu untuk kita semua. Amiin.

  7. Untuk teman-teman SUMUR b4/9 mamah Feby, Enyi, Mirna, Riris, Inggil, Dinda, Iciz, Wana, mbak Ayu, dan temen-temen pendatang baru yang senantiasa menghibur, memberi motivasi ketika aku down. Thanks a lot.

  8. And for the love one Muhammad Fadlan, S.Kom thanks for pray and motivation. The more important you’re always “beside me”. Thank you so much.

  9. Dan semua pihak yang telah membantu, mendoakan, mendukung yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu terima kasih banyak.

  Semoga Allah membalas dengan limpahan Rahmat dan Karunia-Nya atas kebaikan yang diberikan kepada penulis. Akhir kata, penulis menyadari bahwa adanya kekurangan dalam penelitian ini. Dengan kerendahan hati penulis berharap adanya kritik dan saran yang membangun dari pembaca karya tulis ilmiah ini semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin Ya Rabbal’alamin.

  Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  Malang, 30 November 2011 Penulis,

  Mutia Mayarizkya

  

INTISARI

  Mayarizkya, Mutia (2011) Perbedaan Perilaku Konsumtif Terhadap Barang Branded Pada Pria Metroseksual dan yang Bukan Metroseksual, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, Pembimbing : (1) Yudi Suharsono (2) Tri Muji Ingarianti Kata kunci : Perilaku konsumtif terhadap barang branded, Pria metroseksual

  Perilaku konsumtif adalah fenomena masyarakat saat ini dimana mereka dalam mengkonsumsi suatu barang, tidak lagi untuk memenuhi kebutuhannya melainkan untuk pemenuhan kepuasan. Mereka tidak lagi memprioritaskan fungsi suatu barang melainkan prestise dari barang tersebut, pembelian tersebut dilakukan karena gengsi jika tidak mengikuti trend mode dan untuk mendapatkan pengakuan sosial. Labelisasi modern dan pemakaian produk Barat yang dikenal dengan branded yaitu label dari produk berkelas dan mahal merupakan salah satu motivasi yang memicu perilaku konsumtif, terutama masyarakat yang tinggal di kota besar. Seiring dengan hal tersebut telah muncul sosok “pria baru” yang disebut metroseksual dimana mereka memiliki perilaku belanja yang unik untuk menyempurnakan penampilannya, sedangkan pada umumnya pria lebih mementingkan unsur fungsional ketika membeli barang. Namun jika sudah menyangkut hobi pengeluaranya bisa lebih besar daripada perempuan. Pria juga relatif bukan penawar harga yang baik, sehingga harga tidak terlalu masalah bagi mereka. Atas dasar itulah peneliti mencoba untuk melihat sisi konsumtif khususnya terhadap barang branded pada pria metroseksual dan yang bukan metroseksual..

  Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen, yang bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan perilaku konsumtif terhadap barang branded pada pria metroseksual dan yang bukan mentroseksual. Subjek dalam penelitian ini adalah 60 orang terdiri dari 30 pria metroseksual dan 30 pria yang bukan metroseksual dengan pengambilan sampel menggunakan teknik proporsional sampling yaitu dimana subjek memenuhi karakteristik tinggal di kota Malang, telah berpenghasilan, berusia 20-45 tahun, dan memenuhi beberapa karakteristik pria metroseksual. Metode pengumpulan data dengan menggunakan instrumen identifikasi subjek (survei) dan skala perilaku konsumtif terhadap barang branded yang terdiri dari 49 item (α = 0, 981). Teknik analisa data yang digunakan adalah t-test.

  Berdasarkan hasil penelitian diketahui nilai t = 21, 602 dan nilai p = 0,000, maka p < 0,01. Hasil tersebut adalah signifikan bahwa adanya perbedaan perilaku konsumtif terhadap barang branded pada pria metroseksual dan yang bukan metroseksual, dengan nilai = 141, 23 yang menunjukkan bahwa pria metroseksual memiliki perilaku konsumtif terhadap barang branded yang tinggi, dan nilai = 87, 00 yang menunjukkan bahwa pria bukan metroseksual memiliki perilaku konsumtif terhadap barang branded yang rendah.

  Kata kunci : Perilaku konsumtif terhadap barang branded, Pria metroseksual

  

DAFTAR ISI

  C. Perbedaan Perilaku Konsumtif Terhadap Barang branded Pada Pria Metroseksual dan yang Bukan Metroseksual ..................................... 21

  1. Uji Validitas ......................................................................................... 32

  F. Validitas dan Reliabilitas .......................................................................... 32

  2. Instrumen Penelitian……………………………………………….. ...... 29

  1. Jenis Data ............................................................................................. 29

  E. Jenis Data dan Instrumen Penelitian………………………………….. ...... 29

  D. Prosedur Penelitian .................................................................................. 28

  C. Popoulasi dan Sampel .............................................................................. 27

  2. Definisi Operasional ............................................................................. 26

  1. Identifikasi Variabel Penelitian ............................................................. 25

  BAB III METODELOGI PENELITIAN A. Rancangan Penelitian ............................................................................... 25 B. Variabel Penelitian……………………………………………………. ..... 25

  E. Hipotesa ................................................................................................. 24

  D. Kerangka Berpikir .................................................................................... 23

  5. Teori Psikologi Mengenai Pria Metroseksual ..................................... 20

  KATA PENGANTAR ....................................................................................... i

  4. Perilaku-Perilaku Pria Metroseksual .................................................. 19

  3. Faktor Penyebab Munculnya Pria Metroseksual................................. 18

  2. Karakteristik Pria disebut Metroseksual ............................................. 18

  1. Pengertian Pria Metroseksual ............................................................ 17

  B. Pria Metroseksual ..................................................................................... 17

  5. Ciri-ciri perilaku konsumtif……………………………………….. ...... 16

  4. Aspek-aspek Perilaku Konsumtif ......................................................... 15

  3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif ..................... 11

  2. Indikator Perilaku Konsumtif............................................................... 10

  1. Pengertian Perilaku Konsumtif Terhadap Barang Branded .................. 9

  BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ................................................................................... 7 C. Tujuan Penelitian .................................................................................... 7 D. Manfaat Penelitian ................................................................................... 7 BAB II KAJIAN TEORI A. Perilaku Konsumtif Terhadap Barang Branded ........................................ 9

  INTISARI ......................................................................................................... iii DAFTAR ISI .................................................................................................... iv DAFTAR TABEL ............................................................................................ vi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... vii

  2. Uji Reliabilitas ..................................................................................... 35 G.Metode Analisa data .................................................................................. 37

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Fenomena Pria Metroseksual Di Kota Medan
7
90
116
Perilaku Konsumtif Pria Metroseksual di Kota Medan
6
50
63
BODY IMAGE PADA PRIA METROSEKSUAL
1
5
2
HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN EMOSI DENGAN PERILAKU KONSUMTIF PADA PRIA METROSEKSUAL
2
24
11
KORELASI INTENSITAS MEMBACA MAJALAH "DAMAN" SEBAGAI MEDIA PRIA METROSEKSUAL DAN FREKUENSI KOMUNIKASI PEERGROUP TERHADAP PERILAKU KONSUMTIF PADA KOMUNITAS DAMAN YANG TERGABUNG DI SITUS FACEBOOK.COM
0
4
117
TESISPERAN GENDER TERHADAP PERILAKU KONSUMTIF PERAN GENDER TERHADAP PERILAKU KONSUMTIF PRIA METROSEKSUAL.
0
4
16
PENDAHULUAN PERAN GENDER TERHADAP PERILAKU KONSUMTIF PRIA METROSEKSUAL.
0
3
8
TINJAUAN PUSTAKA PERAN GENDER TERHADAP PERILAKU KONSUMTIF PRIA METROSEKSUAL.
0
4
12
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI MANAJERIAL PERAN GENDER TERHADAP PERILAKU KONSUMTIF PRIA METROSEKSUAL.
0
3
72
REPRESENTASI PRIA METROSEKSUAL DALAM VIDEO KLIP SMASH Representasi Pria Metroseksual Dalam Video Klip Smash (Analisis Semiotika Representasi Pria Metroseksual Melalui Personil Band Dalam Video Klip Smash).
0
0
18
PENDAHULUAN Representasi Pria Metroseksual Dalam Video Klip Smash (Analisis Semiotika Representasi Pria Metroseksual Melalui Personil Band Dalam Video Klip Smash).
1
4
32
REPRESENTASI PRIA METROSEKSUAL DALAM VIDEO KLIP SMASH Representasi Pria Metroseksual Dalam Video Klip Smash (Analisis Semiotika Representasi Pria Metroseksual Melalui Personil Band Dalam Video Klip Smash).
0
2
19
Pengaruh Pendekatan dan Strategi Perusahaan pada Perilaku Konsumtif Pria Metroseksual di Universitas Kristen Maranatha.
0
5
25
PERBEDAAN CITRA RAGA ANTARA PRIA METROSEKSUAL DAN RETROSEKSUAL
0
1
99
STUDI DESKRIPTIF PEMBELIAN IMPULSIF PADA PRIA METROSEKSUAL DI YOGYAKARTA
0
0
93
Show more