Analisis Kadar Logam Timbal (Pb) Dalam Mi Instan Secara Spektrofotometri Serapan Atom

45  145  60 

Full text

(1)

KARYA ILMIAH

JASHINTA AFFRIANI

062401030

DEPARTEMEN KIMIA PROGRAM DIPLOMA-3 KIMIA ANALIS

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

ANALISIS KADAR LOGAM TIMBAL (Pb) DALAM MI INSTAN

SECARA SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

KARYA ILMIAH

Diajukan untuk melengkapi tugas akhir dan memenuhi syarat mencapai

gelar Ahli madya pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

JASHINTA AFFRIANI

062401030

DEPARTEMEN KIMIA

PROGRAM DIPLOMA-3 KIMIA ANALIS

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

PERSETUJUAN

Judul : ANALISIS KADAR LOGAM TIMBAL (Pb) DALAM MI INSTAN SECARA SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

Katagori : KARYA ILMIAH Nama : JASHINTA AFFRIANI NIM : 062401030

Program studi : DIPLOMA (III) KIMIA ANALIS Departemen : KIMIA

Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Disetujui di Medan, Juni 2009

Diketahui/Disetujui oleh :

Departemen Kimia FMIPA USU

Ketua, Dosen Pembimbing

(4)

PERNYATAAN

ANALISIS KADAR LOGAM TIMBAL (Pb) DALAM MI INSTAN

SECARA SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

KARYA ILMIAH

Saya mengakui bahwa tugas akhir ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebut sumbernya

Medan, Juli 2009

(5)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Berkat rahmat Allah Yang Maha Esa yang memberikan petunjuk-Nya, senantiasa agar dapat terwujudnya penyelesaian tugas akhir sebagai pelengkap syarat kelulusan dalam pelaksanaan program Studi Diploma dari Jurusan Kimia Analis

Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Bapak Dr.Harry Agusnar. M.Sc,M.phill selaku dosen pembimbing dan dosen wali saya yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

(6)

ABSTRAK

Kadar logam timbal (Pb) di dalam Supermi Mi Instan di produksi oleh PT. Indofood Sukses Makmur Tbk telah dianalisis dengan menggunakan metode spektrofotometri serapan atom. Mi instan merupakan produk yang dibuat dari adonan tepung terigu dengan atau tanpa bahan tambahan, dikeringkan dengan berbentuk khas mi dan dimasak setelah direndam dengan air mendidih selama 4 menit. Pengukuran kosentrasi logam timbal (Pb) pada Supermi rasa kaldu ayam yang telah dilakukan dengan menggunakan metode dektruksi basah dan dilarutkan dengan menggunakan pelarut HNO3(p) kemudian dianalisa dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom pada λ spesifik = 217,0 nm. Dari hasil penelitian diperoleh kadar timbal (Pb) dari

(7)

ANALYSIS OF LEAD (Pb) CONCENTRATION IN THE NOODLE WITH

ATOMIC ABSORPTION SPECTROPHOTOMETRIC

ABSTRACT

The lead (Pb) content in the Supermi (Noodle) was produced by PT. Indofood Sukses Makmur Tbk was analyzed using Atomic Absorption Spectrophotometric method. Noodle was produced that made from wheat-flour dough, with or without addition substances, dried, specific formed noodle and cook in boil water for 4 minutes. The measurement of lead (Pb) content in the noodle with Chicken Broth Flavor has been using wet digestion method. The solvent was HNO3 concentrated and HCl concentrated then analyzed using Atomic Absorption Spectrophotometer at the

wavelength, λ specific = 217,0 nm. Respective all data of Lead content ware

(8)

DAFTAR ISI

BAB 2 Tinjauan Pustaka 2.1. Sejarah Mi Instan ... 5

2.5. Spektrofotometri Serapan Atom ... 16 2.5.1. Teori Spektrofotometri Serapan Atom ... 16

2.5.2. Intrumentasi Spektrofotometri Serapan Atom ... 16

BAB 3 Bahan dan Metode Penelitian 3.1. Alat-alat ... 18

BAB 4 Hasil dan Pembahasan 4.1. Hasil ... 22

4.2. Perhitungan... 23

(9)

4.2.2. Menghitung Konsentrasi Sampel ... 24 4.2.3. Menghitung kadar Pb dalam supermi rasa kaldu ayam ... 25 4.3. Pembahasan ... 26

BAB 5 Kesimpulan dan Saran

5.1. Kesimpulan ... 28 5.2. Saran ... 28

DAFTAR PUSTAKA ... 29

LAMPIRAN

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.2.4. Kandungan gizi dari supermi rasa kaldu ayam... 11

Tabel 2.3.1. Syarat mutu mi instan ... 12

Tabel 4.1. Absorbansi dari sampel supermi rasa kaldu ayam ... 22

Tabel 4.1.1. Absorbansi dari seri larutan standar timbal (Pb) ... 22

Tabel 4.2.1. Penentuan persamaan garis regresi ... 23

(11)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Diagram spektrometer serapan atom atau SSA ... 16

Gambar 2. Kurva larutan seri standar logam timbal (Pb) ... 31

Gambar 3. Alat instrumentasi spektrofotometri serapan atom (SSA) ... 32

(12)

ABSTRAK

Kadar logam timbal (Pb) di dalam Supermi Mi Instan di produksi oleh PT. Indofood Sukses Makmur Tbk telah dianalisis dengan menggunakan metode spektrofotometri serapan atom. Mi instan merupakan produk yang dibuat dari adonan tepung terigu dengan atau tanpa bahan tambahan, dikeringkan dengan berbentuk khas mi dan dimasak setelah direndam dengan air mendidih selama 4 menit. Pengukuran kosentrasi logam timbal (Pb) pada Supermi rasa kaldu ayam yang telah dilakukan dengan menggunakan metode dektruksi basah dan dilarutkan dengan menggunakan pelarut HNO3(p) kemudian dianalisa dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom pada λ spesifik = 217,0 nm. Dari hasil penelitian diperoleh kadar timbal (Pb) dari

(13)

ANALYSIS OF LEAD (Pb) CONCENTRATION IN THE NOODLE WITH

ATOMIC ABSORPTION SPECTROPHOTOMETRIC

ABSTRACT

The lead (Pb) content in the Supermi (Noodle) was produced by PT. Indofood Sukses Makmur Tbk was analyzed using Atomic Absorption Spectrophotometric method. Noodle was produced that made from wheat-flour dough, with or without addition substances, dried, specific formed noodle and cook in boil water for 4 minutes. The measurement of lead (Pb) content in the noodle with Chicken Broth Flavor has been using wet digestion method. The solvent was HNO3 concentrated and HCl concentrated then analyzed using Atomic Absorption Spectrophotometer at the

wavelength, λ specific = 217,0 nm. Respective all data of Lead content ware

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Mi telah lama dikenal dan dikembangkan oleh masyarakat Cina dan Jepang sejak 5000-an tahun yang lalu. Bangsa Asia, khususnya masyarakat Indonesia telah menganggap mi sebagai salah satu makanan pokok. Berdasarkan jenisnya, mi digolongkan menjadi tiga, yaitu mi basah, mi kering dan mi instan. Di Indonesia, mi instan merupakan salah satu jenis mi yang populer. Rasanya yang lezat serta proses penyajian yang mudah dan cepat membuat mi instan digemari dan berpotensi besar sebagai salah satu bahan makanan substitusi parsial bagi makanan pokok beras.

Mi instan sebenarnya bentuknya sangat panjang, namun saat pemprosesan ia dilipat, digoreng dan dikeringkan dalam oven panas. Penggorengan inilah yang membuat mi mengandung lemak. Bahan baku utama mi instan memang tepung terigu, namun, selama proses pembuatannya, dipakai juga minyak sayur, garam, natrium polifosfat (pengemulsi, penstabil dan pengental), natrium karbonat dan kalium karbonat (keduanya pengatur keasaman), tartrazine (pewarna kuning). Kadang natrium polifosfat dicampur guar gum. Bahan lain misalnya karamel, hidrolisat protein nabati, ribotide, zat besi dan asam malat yang fungsinya tidak jelas. Selain minyak sayur, ada pula food additive, yaitu bahan-bahan kimia yang ditambahkan ke dalam proses pengolahan makanan, dengan tujuan agar makanan tersebut memiliki sifat-sifat tertentu.

(15)

rasa sapi) juga banyak menggunakan adiktif. Belum lagi stirofoam dalam mi gelas, yang dicurigai bisa menyebabkan kanker. Meski resiko kesehatan akibat adiktif tak langsung kelihatan, namun menurut Arlene Eisenberg, dalam buku What to Eat When You're Expecting, ibu hamil sebaiknya menghindari makanan yang banyak mengandung adiktif. Bagi balita, bahan-bahan yang sebenarnya tak dibutuhkan tubuh ini juga bisa memperlambat kerja organ-organ pencernaan.

Selain itu juga kandungan utama dari mi adalah karbohidrat. Lalu ada protein tepung (gluten), dan lemak, baik yang dari minyak sendiri maupun minyak sayur dalam sachet. Jika dilihat komposisi gizinya, mi memang tinggi kalori. Kelemahan dari konsumsi mi instan adalah kandungan natriumnya yang tinggi. Natrium yang terkandung dalam mi instan berasal dari garam (NaCl) dan bahan pengembangnya. Bahan pengembang ini yang umum digunakan adalah natrium tripolifosfat, mencapai 1,05 persen dari bobot total mi per takaran saji. Natrium memiliki efek yang kurang menguntungkan bagi penderita penyakit maag dan penderita hipertensi.

Sifat karbohidrat dalam mi berbeda dengan sifat yang terkandung di dalam nasi. Sebagian karbohidrat dalam nasi merupakan karbohidrat kompleks yang memberi efek rasa kenyang lebih lama. Sedangkan karbohidrat dalam mi instan sifatnya lebih sederhana sehingga mudah diserap. Akibatnya, mi instan memberi efek lapar lebih cepat dibanding nasi. Ternyata mi instan bukan cuma kandungan nutrisinya yang kurang, tapi juga bisa merugikan bagi mereka-mereka yang mengkomsumsi, dan bisa menyebabkan kegemukkan.

(16)

Salah satu cemaran logam yang terkandung didalam mi instan adalah logam Timbal (Pb). Menurut Standart Nasional Indonesia (SNI 01-3551-2000) Badan Standart Nasional tentang syarat mutu mi instan, cemaran logam yang terkandung dalam tiap bungkus mi instan maksimum 1,0 mg/kg.

(SNI 01-3551-2000). Tahun 2000.

Logam Timbal (Pb) yang terkandung di dalam mi instan terutama berasal dari pematrian dari bumbu-bumbu yang terkandung zat adiktif dan zat asam serta dari peralatan memasak yang terkandung bahan yang terbuat dari logam Timbal (Pb). Ataupun berasal dari air yang dipanaskan dengan peralatan memasak berbahan logam.

(WHO,1996) Senyawa Pb yang masuk kedalam tubuh manusia melalui makanan dan minuman akan diikutkan dalam proses metabolisme tubuh. Namun demikian jumlah Pb yang masuk bersama makanan dan atau minuman masih mungkin ditolelir oleh lambung disebabkan oleh asam lambung (HCl) mempunyai kemampuan untuk menyerap logam Pb ini, pada kenyataanya Pb banyak keluar oleh tinja.

(17)

logam ini mampu menggantikan keberadaan ion Ca2+ (kalsium) yang terdapat pada jaringan tulang. Meskipun jumlah Pb yang diserap oleh tubuh hanya sedikit ternyata logam Pb ini sangat berbahaya. Hal itu disebabkan senyawa-senyawa Pb dapat memberikan efek racun terhadap berbagai macam fungsi organ tubuh.

(Palar.H.1994)

I.2. Permasalahan

Apabila kadar logam Timbal (Pb) yang terkandung didalam Supermi mi instan rasa kaldu ayam produksi PT.Indoofod Sukses Makmur Tbk Divisi Noodle-Pabrik Jakarta melampaui standar baku mutu yang telah ditetapkan maka akan membahayakan atau bersifat toksik bagi tubuh konsumen.

I.3. Tujuan

Analisa ini bertujuan untuk menentukan kadar logam timbal (Pb) yang terdapat di dalam Supermi mi instan rasa kaldu ayam produksi PT.Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi Noodle-Pabrik Jakarta, serta menganalisis apakah kadar logam timbal (Pb) yang terkandung di dalam Supermi mi instan rasa kaldu ayam tidak melampaui standar baku mutu yang telah ditetapkan sehingga layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.

I.4. Manfaat

(18)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sejarah Mi Instan

Mi merupakan salah satu jenis makanan yang paling populer di Asia khususnya di Asia Timur dan Asia Tenggara. Menurut catatan sejarah, mi pertama kali dibuat di daratan Cina sekitar 2000 tahun yang lalu pada masa pemerintahan dinasti Han. Dari Cina, mi berkembang dan menyebar ke Jepang, Korea, Taiwan dan Negara- Negara di Asia Tenggara bahkan meluas sampai ke benua Eropa. 2009).

Menurut buku-buku sejarah, di benua Eropa mi mulai dikenal setelah Marco Polo berkunjung ke Cina dan membawa oleh-oleh mi. Namun pada perkembangannya di Eropa mi berubah menjadi pasta seperti yang kita kenal saat ini. Sesungguhnya seni menggiling gandum telah lebih dahulu berkembang di Timur Tengah, seperti di Mesir dan Persia. Pada awalnya mi diproduksi secara manual, baru pada tahun 700-an sejarah mencatat terciptanya mesin pembuat mi berukuran kecil dengan menggunakan alat mekanik. Evolusi pembuatan mi berkembang secara besar-besaran setelah T. Masaki pada tahun 1854 berhasil membuat mesin pembuat mi mekanik yang dapat memproduksi mi secara massal.

(19)

asli Gih-hok pada tanggal 5 Maret 1910, di Chiayi, Taiwan, yang ketika itu masih menjadi bagian dari Kerajaan Jepang. Ando berpikir bagaimana mengatasi kekurangan pangan di Jepang setelah berakhir perang dunia II. Ando menghendaki mi yang dibuatnya harus memiliki rasa, murah, dan mudah disajikan. Masalahnya adalah bagaimana memberikan rasa tanpa membuatnya menjadi seperti bubur. Dengan bantuan alat pembuat mi, Ando menyiramkan sup pada kaleng yang berisi mi dan air, kemudian diaduk dengan tangan dan membiarkannya menjadi kering sebagian. Hal ini dapat memberikan kesempatan mi untuk menyerap sup pada permukaan luarnya. Mi tersebut selanjutnya dikeringkan. Di samping untuk memperpanjang umur simpan, mi yang sudah kering mudah disajikan. Hanya dengan menuangkan air mendidih, kita sudah dapat menikmati kelezatan mi instan.

Ando memberi nama produk tersebut sebagai Chikin Ramen, yang berarti mi rasa ayam. Ayam dalam bahasa Jepang adalah chickin, sedangkan ramen merupakan salah satu mi khas Jepang. Mulanya mi ini dianggap sebagai makanan mewah. Harganya dapat mencapai enam kali harga mi tradisional. Ide tersebut ternyata tidak disangka telah melahirkan industri raksasa yang kini dikenal dengan nama Nissin Food Product. Nama Nissin sendiri baru dipublikasikan saat peluncuran produk Chickin Ramen yang dijual dalam kemasan cellophane. Ayam merupakan bahan utama dari kesuksesan Nissin yang mendunia. Menurut Ando, dengan menggunakan sup ayam, mi instan dapat diterima oleh masyarakat luas. Orang Hindu tidak diperkenankan mengonsumsi sapi, sedangkan orang Muslim tidak diperbolehkan mengonsumsi babi, tetapi tidak ada satu agama dan negara pun yang melarang penggunaan ayam sebagai salah satu komponennya.

(20)

2.2. Teknologi Pembuatan Mi Instan

2.2.1. Bahan-bahan Pembuatan Mi Instan

Pada proses pembuatan Mi instan, diperlukan sejumlah bahan utama dan bahan tambahan. Masing-masing bahan memiliki peranan tertentu seperti menambah bobot, volume, memperbaiki mutu, cita rasa, maupun warna. Kadar pencampuran tersebut sangat bervariasi disesuaikan dengan permintaan kosumen dan perhitungan ekonomis.

Berikut ini akan dibahas bahan baku yang diperlukan dalam pembuatan mi dan peranannya masing-masing.

1. Tepung terigu : Diperoleh dari biji gandum (Triticum vulgare) yang digiling. Keistimewaan tepung terigu diantara serelia lainnya adalah kemampuannya membentuk gluten pada saat mi dibasahi dengan air, sehingga mi tidak mudah putus pada saat percetakan dan pemasakaan. Tepung terigu yang digunakan dalam pembuatan Mi yaitu Segitiga Biru dan Cakra Kembar.

2. Air : Sebagai media reaksi antara gluten dengan karbohidrat (akan mengembang), melarutkan garam, membentuk sifat kenyal gluten, dengan pH antara 6-9 serta air yang ditambahkan umumnya sekitar 28-38% dari jumlah campuran bahan yang digunakan.

3. Garam dapur : Digunakan untuk memberi rasa, memperkuat tekstur mi, meningkatkan fleksibilitas dan elastistas mi, serta untuk mengikat air, selain itu garam dapur dapat menghambat enzim protease dan amilase sehingga pasta tidak bersifat lengket dan tidak mengembang secara berlebihan.

(21)

5. CMC : Berfungsi sebagai pengembang. Bahan ini dapat mempengaruhi sifat adonan, memperbaiki ketahanan terhadap air dan mempertahankan keempukan selama penyimpanan

6. Zat pewarna : berfungsi sebagai pembentuk warna yang khas mi biasanya warna kuning (tartazine yellow) agar warna tampak homogen.

7. Natrium Benzoat : digunakan sebagai pegawet karena dapat mematikan mikroba

8. Minyak kacang : digunakan untuk memperhalus tekstur mi dan untuk mencegah kelengketan antara piligan mi.

9. Pengatur keasaman : digunakan agar mi lebih awet dan tahan lama

10. Perisa Ayam : digunakan agar mi lebih nikmat dengan tersantapnya rasa kaldu ayam di dalamnya.

(Astawan.M.2008)

2.2.2. Langkah-langkah Pembuatan Mi Instan

(22)

b. Penekanan dan Rolling : Adonan yang telah matang dijatuhkan dari bak penampungan (feeder) masuk kedalam mesin roll press yang akan mengubah adonan menjadi lempengan-lempengan. Tujuannya adalah menghaluskan serat-serat gluten dan membuat adonan menjadi lembaran atau lempengan dimana proses ini serat-serat gluten menjadi lebih halus dan membuat adonan menjadi lembaran. Keluar dari mesin lempeng adonan bersifat rapuh dengan ketebalan 1,5 cm, dilewatkan lagi dengan 5 pasang silinder yang berbeda ketebalannya akhirnya adonan akan membentuk lempengan yang halus, homogen dan tidak putus serta mempunyai ketebalan sekitar 1,5 mm. Pembentukkan lempengan yang baik tersebut ditunjang oleh panas yang ditimbulkan oleh mesin.

c. Pencetakan Mi : Lempengan adonan yang telah terbentuk, kemudian dimasukkan kemesin pencetak mi (slitter) yang berfungsi mengubah lembaran mi menjadi untaian mi yang bergelombang. Lempengan tersebut akan dipotong menjadi pilinan-pilinan mi dengan lebar 1-2 mm dan berombak-ombak yang diatur dengan mesin net steam.

d. Pemasakan awal : Pilinan mi hasil pecetakan kemudian dilewatkan kedalam oven mengukus dengan menggunakan konveyor berjalan selama 135 detik. Panas yang digunakan berasal dari uap dengan tekanan sebesar 2,4 kg/cm2 sehingga pilinan mi yang keluar telah masak, kadar air menurun, dan padat. Pada saat terjadi pengkusan tersebut terjadi gelatinasi pati dan koagulasi gluten sehingga ikatan menjadi keras dan kuat, mi menjadi kenyal, serta mi tidak menyerap minyak terlalu banyak dan lembut.

(23)

menghilangkan sisa uap air yang masih menempel pada permukaan mi selanjutnya mi dipotong dengan pisau pemotong mi yang berputar. Alat pemotong ini dilengkapi dengan pacul atau penyodok yang berfungsi melipat mi menjadi dua lipatan. Mi yang terlipat menjadi dua dimasukkan kedalam alat distributor sehingga mi masuk kedalam cetakan-cetakan dengan panjang sekitar 12 cm dan bobot 80 gram, pada saat tertentu potongan mi ini ditimbang untuk mengontrol beratnya.

f. Penggorengan : Mi yang telah dipotong-potong dengan ukuran dan berat tertentu diangkut dengan menggunakan konveryor menuju mesin penggorengan. Dalam proses penggorengan ini, digunakan minyak goreng dengan suhu 150ºC selama 109 detik sehingga kadar air menurun dan mi menjadi kering serta padat. Suhu minyak yang tinggi akan menyebabkan air menguap dengan cepat dan membentuk pori-pori halus yang dapat mempercepat proses rehidrasi (penyebab air pada saat dimasak).

g. Pendinginan : mi yang telah digoreng didinginkan dengan menggunakan kipas angin dalam mesin pendingin. Mesin ini berkerja dengan meniupkan angin ke arah mi panas yang bergerak melalui ban berjalan. Proses pendinginan ini akan menyebabkan pengerasan minyak yang terserap dan menempel pada mi sehingga mi pun menjadi keras. Apabila uap air yang tersisa akan mengembun dan menempel pada permukaan mi sehinga memacu tumbuhnya jamur.

h. Pengemasan : tujuannya adalah melindungi produk dan memperpanjang umur simpan produk, sebelum dikemas, mi tersebut disortir atau hanya dipilih mi yang rapi dan utuh.

(24)

2.2.3. Bahan-bahan Lain Penyerta Mi Instan

Dalam sebungkus mi instan, biasanya terdapat tiga atau empat macam komponen, yaitu mi, bumbu, minyak, dan ada yang menambahkan sayuran kering. Bumbu yang menyertai mi instan antara lain terbuat dari garam, gula, monosodium glutamat, hidrolisat protein sayur , penyedap rasa (rasa ayam, sayur, sup buntut, bakso sapi, soto ayam, kalio ayam, udang, rawon, dan lain-lain), bubuk bawang merah, bubuk bawang putih, daun bawang kering, bubuk lada, dan bubuk cabai, komponen minyak biasanya terbuat dari minyak sayur dan bawang merah . Adapun sayuran kering terdiri dari daun bawang, bawang goreng, wortel, jamur, dan lain-lain. (Astawan.M.2008)

2.2.4. Kandungan Gizi dari Supermi Rasa Kaldu Ayam

(25)

2.3. Syarat Mutu Mi Instan

Syarat mutu mi instan adalah seperti tabel di bawah ini.

Tabel 2.3.1. Syarat mutu mi instan

Kriteria Uji Satuan Persyaratan

1. Keadaan :

4. Uji Kematangan (bahan: air=1:5) b/b a.Angka lempeng total b.E. Coli

yang diizinkan sesuai SNI 01-0222-1995 dan

(26)

2.4. Karakteristik Timbal (Pb)

Timbal atau dikenal sebagai logam Pb dalam susunan unsur merupakan logam berat yang terdapat secara alami di dalam kerak bumi dan tersebar ke alam dalam jumlah kecil melalui proses alami termasuk letusan gunung berapi dan proses geokimia. Pb merupakan logam lunak yang berwarna kebiru-biruan atau abu-abu keperakan dengan titik leleh pada 327,5 ºC dan titik didih 1.740 ºC pada tekanan atmosfer. Timbal mempunyai nomor atom terbesar dari semua unsur yang stabil, yaitu 82. Dari golongan IV A dengan bobot berat atom 207,2. Namun logam ini sangat beracun.

(Palar.H.2004)

2.4.1. Sifat-sifat Khusus Logam Timbal (Pb)

1. Merupakan logam lunak sehingga dapat dipotong dengan menggunakan pisau atau tangan dan dapat dibentuk dengan mudah

2. Merupakan logam yang tahan terhadap peristiwa korosi atau karat, sehingga logam timbal sering digunakan sebagai bahan coating

3. Mempunyai titik lebur yang rendah

4. Mempunyai kerapatan yang lebih besar dibandingkan dengan logam-logam biasa, kecuali emas dan merkuri

5. Merupakan penghantar listrik yang baik.

(27)

2.4.2. Kegunaan Logam Timbal (Pb)

1. Dalam industri baterai timbal digunakan sebagai grid yang merupakan alloy dari logam bismuth (Pb:Bi)

2. Timbal Oksida (PbO4) dalam industri baterai digunakan dalam pengaliran arus elektron.

3. Alloy Pb yang mengandung 1% stibium (Sb), banyak digunakan sebagai kabel telepon, Alloy Pb dengan 0,15% As, 0,1% Sn dan 0,1% Bi, banyak digunakan untuk kabel listrik. Disamping itu bentuk-bentuk lain dari alloy Pb juga banyak digunakan dalam konstruksi pabrik-pabrik kimia, container dan alat-alat lainnya. Karena kemampuannya yang sangat tinggi untuk tidak mengalami korosi.

4. Pb berikatan dengan atom N (nitrogen) akan membentuk senyawa azida, yang mempunyai kemampuan ledakan dengan pancaran energi yang besar. Karena itu senyawa azida banyak digunakan sebagai detonator (bahan peledak).

5. Senyawa Pb dengan Cr (chromium), Mo (molybdenum) dan Cl (Chlor), digunakan secara meluas sebagai pigmen “chrom”. Senyawa PbCrO4 digunakan dalam industri cat untuk mendapatkan warna kuning-chrom. Pb(OH)2.2PbCO3 dan Pb3O4 untuk mendapatkan warna timah putih dan timah merah

6. Senyawa silikat timbal (Pb-Silikat) yang terbentuk dari intermediet Pb-asetat (CH3-COO-Pb-OOCH3), digunakan secara meluas sebagai suatu bahan pengkilap keramik dan sekaligus berperan sebagai bahan tahan api. Juga dapat meningkatkan sifat magnetik dari keramik barium ferrit.

7. Persenyawaan yang terbentuk antara Pb dengan arsenat dapat digunakan sebagai insektisida.

(28)

9. Zat adiktif yang ditambahkan kedalam bahan bakar kendaraan bermotor. Persenyawaan yang dibentuk oleh logam Pb sebagai zat adiktif ini ada dua jenis adalah (CH3)4-Pb (tetrametil-Pb) dan (C2H5)4-Pb (tetraetil-Pb).

(Palar.H.2004)

2.4.3. Toksititas Logam Pb

Timbal dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui pernafasan, pemaparan maupun saluran pencernaan. Lebih kurang 90 % partikel timbal dalam asap atau debu halus di udara dihisap melalui saluran pernafasan. Penyerapan di usus mencapai 5– 15 % pada orang dewasa. Pada anak-anak lebih tinggi yaitu 40 % dan akan menjadi lebih tinggi lagi apabila si anak kekurangan kalsium, zat besi dan zinc dalam tubuhnya. Laporan yang dikeluarkan Poison Center Amerika Serikat menyatakan anak-anak merupakan korban utama ketoksikan timbal dengan 49 % dari kasus yang dilaporkan terjadi pada anak-anak berusia kurang dari 6 tahun. Yang lebih menghawatirkan adalah efeknya terhadap kecerdasan (IQ) anak – anak, sehingga menurunkan prestasi belajar mereka, walaupun kadar timbal di dalam darah mereka tidak dianggap toksik. Timbal (Plumbum) beracun baik dalam bentuk logam maupun garamnya.Garamnya yang beracun adalah : timbal karbonat ( timbal putih ); timbal tetraoksida ( timbal merah ); timbal monoksida; timbal sulfida; timbal asetat (merupakan penyebab keracunan yang paling sering terjadi ).

(Darmono.2001)

(29)

2.5.1. Teori Spektrofotometri Serapan Atom

Prinsip dasar spektrofotometri serapan atom adalah interaksi antara radiasi elektromagnetik dengan sampel. Spektrofotometri serapan atom merupakan metode yang sangat tepat untuk analisis zat pada konsentrasi rendah.

(Khopkar.1990)

Cara kerja Spektroskopi Serapan Atom ini adalah berdasarkan atas penguapan larutan sampel, kemudian logam yang terkandung di dalamnya diubah menjadi atom bebas. Atom tersebut mengabsorbsi radiasi dari sumber cahaya yang dipancarkan dari lampu katoda (Hollow Cathode Lamp) yang mengandung unsur yang akan ditentukan. Banyaknya penyerapan radiasi kemudian diukur pada panjang gelombang tertentu menurut jenis logamnya.

(Darmono.1995)

2.5.2. Instrumentasi Spektrofotometri Serapan Atom

Alat spektrofotometer serapan atom terdiri dari rangkaian dalam diagram skematik berikut:

Gambar 1. Diagram Spektrometer Serapan Atom atau SSA Keterangan : 1. Sumber sinar

(30)

4. Monokromator 5. Detektor 6. Amplifier

7. Meter atau recorder

(Syahputra.2004)

Spektrofotometri serapan atom bukan merupakan metode analisis yang absolut. Suatu perbandingan dengan baku (biasa berair) merupakan metode yang umum dalam melakukan metode analisis kuantitatif. Kurva kalibrasi dalam SSA dibuat dengan memasukkan sejumlah tertentu konsentrasi larutan dalam sistem dilanjutkan dengan pengukuran. Dalam prakteknya disarankan untuk membuat paling tidak 4 baku dan suatu blanko untuk membuat kurva kalibrasi linear yang menyatakan hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi analit untuk melakukan analisa. Disarankan absorbansi sampel tidak melebihi dari absorbansi baku tertinggi dan tidak kurang dari absorbansi baku rendah dengan kata lain, absorbansi sampel harus terletak pada kisaran absorbansi kurva kalibrasi. Jika absorbansi terletak diluar kisaran absorbansi kurva kalibrasi, maka diperlukan pengenceran atau pemekatan. Ekstrapolasi atau pembacaan absorbansi diluar kisaran absorbansi baku tidak direkomendasikan karena berkurangnya linearitas.

(31)

BAB 3

BAHAN DAN METODE PERCOBAAN

3.1. Alat-alat

- Spektrofotometer Serapan Atom Avanta /GBC

- Neraca Analitis Mettler A.E. 200

- Hot plate Fisons

- Oven Fisher

- Pipet Volume Pyrex

- Mikropipet

- Alat-alat gelas Pyrex

- Kertas saring Whatman no.42

- Ph meter indikator universal

- Pipet tetes

- Corong

- Spatula

- Botol aquadest

- Alu dan lumpang

(32)

3.2. Bahan-bahan

- Supermi Rasa Kaldu Ayam

- HNO3 pekat p.a. (E.Merck)

- HCl pekat p.a. (E.Merck)

- Aquadest

- HNO3 0,1 N p.a. (E.Merck)

- HCl 6 N p.a. (E.Merck)

- Larutan standart Pb

(33)

3.3. Penetapan Pencemaran Logam Pb

3.3.1. Prinsip

Peleburan contoh dengan cara pengabuan kering dilakukan dengan pelarutan dengan larutan asam. Kemudian absorben dibaca dengan alat SSA.

3.3.2. Pereaksi

a. Larutan HNO3 0,1 N (larutan 7 ml HNO3 65%, diencerkan menjadi 1 l dengan menggunakan air suling)

b. Larutan HCl 6 N (larutan 500 ml HCl 37%, encerkan sebanyak 1 L dengan menggunakan air suling)

c. Larutan standart Pb 1000 µg/ml d. Larutan HNO3 pekat (65%,BJ 1,4) e. Larutan HCl pekat (37%, BJ 1,19) f. Kertas whatman no.42

g. Larutan baku

- Pipet 10,0 ml larutan standart 1000 µg/ml, kedalam labu ukur 100 ml terpisah, encerkan dan tepatkan volume dengan larutan HNO3 0,1 N. larutan baku kedua ini memilki konsentrasi Pb 100 µg/ml.

(34)

3.3.3. Cara Kerja

- Timbang dengan teliti 2 gr contoh kedalam cawan porselen/ platina/ kuarsa

- Tempatkan cawan berisi contoh diatas penangas listrik kemudian ( untuk mempercepat pengabuan bila perlu ditambahkan 10 ml MgNO32H2O 10% dalam alkohol) panaskan secara bertahap sampai contoh terbakar dan tidak berasap lagi.

- Lanjukan pengabuan dalam tanur ± 500oC sampai abu bewarna putih bebas dari karbon selama 5 jam.

- Apabila abu masih terdapat sisa karbon, ditandai dengan warna keabu-abuan, basahkan abu dengan beberapa tetes air diikuti dengan penambahan HNO3 pekat, tetes demi tetes kira-kira 0,5 ml-3 ml.

- Keringkan cawan diatas penangas listrik, dan dimasukkan lagi kedalam tanur pada suhu ± 500o C, lanjutkan pemanasan sampai menjadi abu putih. Penambahan HNO3 pekat, bisa diulangi bila abu masih bewarna keabu-abuan.

- Larutkan abu bewarna putih dalam 5 ml HCL 6N, sambil dipanaskan diatas penangas listrik atau penangas air selama 2 menit sampai 3 menit.

- Saring larutan melalui kertas saring whatman no.42 kedalam labu ukur 50 ml

- Cuci residu dengan 5 ml HNO3 0,1N, saring dan satukan filtrat dalam labu ukur 50 ml, encerkan dan tepatkan sampai tanda garis dengan larutan HNO3 0,1N

- Buat larutan blanko dengan penambahan reaksi dan perlakuan seperti contoh

- Baca absorben larutan baku kerja, larutan contoh dan larutan blanko dengan alat SSA dengan panjang gelombang 217,0 nm

(35)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Data pengukuran absorbansi dari larutan seri standar Pb (timbal) pada Supermi rasa kaldu ayam dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.1. Absorbansi dari sampel supermi rasa kaldu ayam

Λ maksimum : 270,0 nm

Tabel 4.1.1. Absorbansi dari seri larutan standar Timbal (Pb)

No Xi Yi

1 0.2000 4.76

2 0.4000 1.29

3 0.6000 0.86

4 0.8000 14.33

5 1.0000 3.93

No Sampel

Absorbansi

(36)

4.2. Perhitungan

4.2.1. Penentuan Persamaan Garis Regresi

Hasil pengukuran absorbansi dari suatu larutan seri standar timbal diplotkan terhadap konsentrasi larutan standar sehingga diperoleh kurva kalibrasi berupa garis linier (lampiran 1, pada kurva 1) . Penentuan persamaaan garis regresi untuk kurva kalibrasi ini dapat diturunkan dengan menggunakan metode least square sebagai berikut

Tabel 4.2.1. Penentuan Persamaan Garis Regresi

No Xi Yi (Xi- ) (Xi- )2 (Yi- ) (Yi- )2 (Xi- )(Yi- ) 1 0.2000 4.76 -0.4000 0.1600 -0.274 0.0750 0.1096 2 0.4000 1.29 -0.2000 0.0400 -3.744 14.017 0.7488 3 0.6000 0.86 0.0000 0.0000 -4.174 17.422 0.0000 4 0.8000 14.33 0.2000 0.0400 9.296 86.415 1.8592 5 1.0000 3.93 0.4000 0.1600 -1.104 1.2188 -0.4416

∑ 3.0000 25.17 0.0000 0.4000 0.0000 119.147 2.276

Dimana harga X rata-rata ( ) =

=

0.6000

Dimana harga Y rata-rata ( ) = 5.034

Persamaan garis regresi untuk kurva kalibrasi dapat diturunkan dari persamaan garis Y = aX + b, dimana a = slope, b = intercept.

(37)

Sehingga diperoleh harga a:

Harga intersept (b) diperoleh melalui subsitusi harga (a) ke persamaan berikut Y = ax + b

b = Y – ax

= 5.034 – [(5.69 - 0.6000)] = 5.034 – (5.36)

= - 0.326

Maka persamaan garis regresi yang diperoleh adalah : Y = 5.69X – 0.326sss

4.2.2. Menghitung Konsentrasi Sampel

Pada supermi 1

Y = 5.69X – 0.326

0.0002 = 5.69X – 0.326

X =

X = 0.0573 ppm

Jadi konsentrasi sampel adalah 0.0573 ppm

(38)

4.2.3. Menghitung Kadar Pb dalam supermi rasa kaldu ayam

Untuk Supermi 1 :

Kadar timbal (ppm) =

=

=

0.143 ppm

(39)

4.3. Pembahasan

Supermi rasa kaldu ayam produksi PT.Indofood sukses Makmur Tbk merupakan salah satu produk mi instan yang banyak dikonsumsi masyarakat karena penyajiannya yang praktis, cepat dan murah, tetapi dengan seiring pertambahan produksi mi instan timbul pengaruh yang bersifat negatif bagi kesehatan para pengkonsumsinya. Berbagai faktor disebutkan sebagai penyebab pengaruh negatif tersebut, seperti zat adiktif dan tidak terpenuhinya syarat mutu yang telah ditetapkan oleh lembaga kesehatan.

(http:www.balita-anda.com.Iswandi. diakses pada tanggal 4 Maret 2009) Menurut syarat mutu SNI 01-3551-2000 tentang mi instan. Badan Standarisasi Nasional, kadar maksimum cemaran logam timbal dalam setiap bungkus mi instan adalah 1,0 mg/kg.

(SNI-3551-2000.BSN) Untuk membuktikan apakah kadar logam Timbal (Pb) yang terkandung didalam mi instan masih dalam batas terkendali, analisa ini dilakukan dengan mengukur absorbansi kandungan logam timbal pada Supermi rasa kaldu ayam yang umumnya banyak di konsumsi masyarakat.

(40)

Dari analisa ini diperoleh kadar logam timbal yang terkandung didalam mi instan Supermi rasa kaldu ayam masih berada dalam standar mutu SNI mi instan, dimana kadar maksimum cemaran logam timbal yang telah ditetapkan dalam setiap bungkus mi instan adalah sebesar 1,0 mg/kg, sehingga mi instan Supermi rasa kaldu ayam layak untuk dikonsumsi jika ditinjau dari parameter tersebut.

(SNI 01-3551-2000). Tahun 2000 BSN

(41)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari hasil analisa diperoleh kesimpulan bahwa kadar logam Timbal (Pb) yang terkandung dalam Supermi rasa kaldu ayam produksi PT.Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi Noodle Pabrik Jakarta, bahwa dalam setiap bagian pada mi instan mempunyai kandungan timbal yang berbeda-beda itu terlihat pada tabel absorbansi di dalam mi instan kandungan mi instan yang dianalisa tidak menggunakan bumbu seperti seperti Supermi 1 dan Supermi 2 hanya sedikit kandung timbal sedangkan Supermi 3, Supermi 4 dan Supermi 5 kandung timbal di dalamnya cukup banyak,itu dikarenakan dalam analisanya bumbu dari supermi dimasukkan maka hal ini jelas dapat disimpulkan untuk sementara logam timbal yang berada pada Supermi rasa kaldu ayam tersebut berasal dari patrian kemasan bungkusan bumbu supermi yang terdapat kandungan asam yaitu asam glutamat yang bersumber dari MSG dan merupakan salah satu bahan penyerta dari bumbu supermi sehingga menyebabkan adanya logam timbal (Pb) di dalam supermi.

5.2. Saran

(42)

DAFTAR PUSTAKA

Astawan.M.2008.Membuat Mi dan Bihun.Cetakan kesebelas.Penebar Swadaya. Jakarta.

Darmono.1995.Lingkungan Hidup dan Pencemaran.UI Press.Jakarta

Frank C.Lu.1994.Toksikologi Dasar: Asas, Organ Sasaran, dan penilaian Resiko.Edisi Kedua.Penerbit Universitas Indonesia

Khopkar,S.M.1990.Konsep Dasar Kimia Analitik.Edisi Kedua.UIPress.Jakarta. Palar.H.2004.Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat.Cetakan ke Dua.

Penerbit Rineka Cipta.Jakarta

Sudjadi.M.S.2007.Kimia Farmasi.Cetakan Pertama.Pustaka Pelajar.Yogyakarta

Syahputra.R.2004.Modul Pelatihan Instrumentasi AAS.Laboratorium Instrumentasi terpadu UII.

SNI 01-3551-2000. Tahun 2000.Mi Instan.Badan Standarisasi Nasional

(43)
(44)

Tabel I.1.1. Hasil Penelitian dengan menggunakan SSA

Analisis

Nama DAta C:\Program Data\GBC Avanta Ver 1.33\analisis1.anl

Logam Pb

Tanggal Jumat, 16 Jan 2009, 09:38:37

(45)

Gambar 3 : Alat instrumentasi Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)

Gambar

Gambar 1. Diagram Spektrometer Serapan Atom atau SSA
Gambar 1 Diagram Spektrometer Serapan Atom atau SSA . View in document p.29
Tabel 4.1. Absorbansi dari sampel supermi rasa kaldu ayam
Tabel 4 1 Absorbansi dari sampel supermi rasa kaldu ayam . View in document p.35
Tabel 4.1.1.  Absorbansi dari seri larutan standar Timbal (Pb)
Tabel 4 1 1 Absorbansi dari seri larutan standar Timbal Pb . View in document p.35
Tabel 4.2.1. Penentuan Persamaan Garis Regresi
Tabel 4 2 1 Penentuan Persamaan Garis Regresi . View in document p.36
Gambar 2         : Kurva larutan seri standar logam Timbal (Pb) dengan                              menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom
Gambar 2 Kurva larutan seri standar logam Timbal Pb dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom . View in document p.44
Tabel I.1.1.  Hasil Penelitian dengan menggunakan SSA
Tabel I 1 1 Hasil Penelitian dengan menggunakan SSA . View in document p.44
Gambar 3 : Alat instrumentasi Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)
Gambar 3 Alat instrumentasi Spektrofotometri Serapan Atom SSA . View in document p.45
Gambar 4 : Sampel yang digunakan dalam analisa menggunakan SSA
Gambar 4 Sampel yang digunakan dalam analisa menggunakan SSA . View in document p.45

Referensi

Memperbarui...

Download now (45 pages)