Analisis Terjemahan Istilah-istilah Budaya Pada Brosur Pariwisata Berbahasa Inggris Provinsi Sumatera Utara

 13  100  134  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
ANALISIS TERJEMAHAN ISTILAH-ISTILAH BUDAYA PADA BROSUR PARIWISATA BERBAHASA INGGRIS PROVINSI SUMATERA UTARA TESIS SULAIMAN AHMAD NIM. 097009028/LNG SEKOLAH PASCASARJANA PROGRAM STUDI LINGUISTIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara ANALISIS TERJEMAHAN ISTILAH-ISTILAH BUDAYA PADA BROSUR PARIWISATA BERBAHASA INGGRIS PROVINSI SUMATERA UTARA TESIS Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Humaniora pada Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara SULAIMAN AHMAD NIM. 097009028/LNG SEKOLAH PASCASARJANA PROGRAM STUDI LINGUISTIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Judul Tesis : ANALISIS BUDAYA TERJEMAHAN PADA ISTILAH-ISTILAH BROSUR PARIWISATA BERBAHASA INGGRIS PROVINSI SUMATERA UTARA Nama Mahasiswa : Sulaiman Ahmad NIM : 097009028 Program Studi : Linguistik Menyetujui Komisi Pembimbing (Dr. Syahron Lubis, M.A.) Ketua Ketua Program Studi (Drs. Umar Mono, M.Hum.) Anggota Direktur (Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D.) (Prof. Dr.Ir. A. Rahim Matondang, MSIE) Tanggal lulus: 18 Agustus 2011 Universitas Sumatera Utara Telah Diujikan pada Tangggal 18 Agustus 2011 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D. Anggota : 1. Dr. Syahron Lubis, M.A. 2. Drs. Umar Mono, M.Hum. 3. Dr. Roswita Silalahi, M.Hum. 4. Dr. Muhizar Muchtar, M.S. Universitas Sumatera Utara PERNYATAAN Judul Tesis ANALISIS TERJEMAHAN ISTILAH-ISTILAH BUDAYA PADA BROSUR PARIWISATA BERBAHASA INGGRIS, PROVINSI SUMATERA UTARA Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Unversitas Sumatera Utara adalah benat merupakan hasil karya saya sendiri. Adapun pengutipan yang saya lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan Tesis ini, telah saya cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah. Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian Tesis ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksisanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Medan, 19 Agustus 2011 Sulaiman Ahmad Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP I. Data Pribadi Nama Lengkap : Sulaiman Ahmad Jenis Kelamin : Laki-laki Tempat/Tgl. Lahir : Kw. Simpang, 14 Maret 1963 Alamat : Jl. Setia Budi Gg. H. Latiman No. 4 Tj. Sari Medan Telp. : (061) 8211758 HP : 08126361358 Agama : Islam II. Riwayat Pendidikan SD : SD Islam Persatuan Amal Bakti (PAB), 1975 SMP : SMP PAB Sampali Kec. Percut Sei Tuan, 1979 SMA : SMA Negeri 10 Medan, 1982 S-1 : IKIP Negeri Medan, 1989 Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Pendidikan, Bahasa Dan Sastra (FPBS) S-2 : S2 Program Studi Linguistik, Sekolah Pascasarjana USU III. Riwayat Pekerjaan 1. Dosen Honorer pada IAIN Sumut, TBI (Tadris Bahasa Inggris), 1989 – 1991 2. Dosen (PNS) pada Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Medan, 1991 – sekarang. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia-Nya pada penulis, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan tesis yang berjudul: Analisis Terjemahan Istilah-istilah Budaya Pada Brosur Pariwisata Berbahasa Inggris Provinsi Sumatera Utara. Tesis ini ditulis dalam rangka memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Linguistik pada Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU). Penulis menyadari bahwa tesis ini dapat diselesaikan berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu, penulis berterima kasih kepada semua pihak yang secara langsung dan tidak langsung memberikan kontribusi dalam penyelesaian tesis ini, yaitu: 1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc(CTM). Sp.A(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara. 2. Prof. Dr. Ir. Rahim Matondang , MSIE, selaku Direktur Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. 3. Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D., dan Dr. Nurlela, M.Hum., selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Linguistik, Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara 4. Dr. Syahron Lubis, M.A., dan Drs. Umar Mono, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing I dan II yang dengan setulus hati telah banyak memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga tesis ini dapat diselesaikan. 5. Dr. Roswita Silalahi, M.Hum dan Dr. Muhizar Muchtar, M.S., selaku penguji yang telah memberikan koreksi dan masukan dalam penyempurnaan tesis ini. 6. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Linguistik Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. 7. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tesis ini, yang tidak dapat penulis cantumkan satu persatu. Secara khusus penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada ayahanda (almarhum) H. Ahmad Shali dan ibunda Sufiah atas segala bantuan moral dan material. Semoga jasa-jasa baik mereka mendapat ganjaran dari Allah SWT. Khusus bagi almarhum ayahanda ditinggikan derajatnya, dan bagi ibunda tetap diberikan kesehatan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada isteri tercinta Dra. Hj. Jamilah dan empat anak tersayang Fadhilah Ilmi, Amd., Ashrafida Rahmah, Eva Zuhridha, dan Hanna Faradiba yang dengan setia dan sabar mendorong, dan membantu penulis untuk menyelesaikan tesis ini. Akhirnya, penulis menyadari bahwa tesis ini belum dapat dikatakan sempurna, oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari Universitas Sumatera Utara pembaca demi kesempurnaan tesis ini. Semoga tesis ini bermanfaat bagi kita semua. Amin. Medan, Agustus 2011 Penulis Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI KATA PENGANTAR…………………………………………………………… i DAFTAR ISI…………………………………………………………………….. iv DAFTAR TABEL ………………………………………………………………. x DAFTAR DIAGRAM ………………………………………………………….. xii DAFTAR SINGKATAN ……………………………………………………….. xiii ABSTRAK……………………………………………………………………… xiv ABSTRACT……………………………………………………………………… xv BAB I : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian.................................................... 1 1.2 Batasan dan Perumusan Masalah……………...…………. 3 BAB II 1.3 Tujuan Penelitian………………..……………………….. 4 1.4 Manfaat Penelitian……………………………………….. 4 1.5 Klarifikasi Makna Istilah.................................................... 5 : KAJIAN PUSTAKA 2.1 Definisi Penerjemahan …………………………………… 7 2.2 Jenis Penerjemahan ……………………………………… 9 2.3 Proses Penerjemahan …………………………………….. 10 2.4 Kompetensi Penerjemah ……………..………………….. 12 2.5 Teknik Penerjemahan ..…….…………………………….. 13 2.5.1 Adaptasi (Adaptation)…………………………….. 13 2.5.2 Amplifikasi (Amplification)………………………. 13 2.5.3 Peminjaman(Borrowing)…………………..……… 14 2.5.4 Calque…………………………………………….. 14 2.5.5 Deskripsi (Description)……………...……………. 14 2.5.6 Kesepadanan Lazim………………………………. 14 Universitas Sumatera Utara 2.5.7 Generalisasi……………………………………….. 15 2.5.8 Penerjemahan Harfiah……………………………. 2.5.9 15 Partikularisasi…………………………………….. 15 2.5.10 Reduksi (Reduction)……………………………… 15 2.5.11 Penambahan……………………………………… 15 2.5.12 Penghilangan (Deletion)...……………………….. 16 2.5.13 Couplet…………………………………………… 16 2.6 Pergeseran dalam Penerjemahan (Shifts) ………………… 16 2.6.1 Pergeseran Tingkatan (Level Shift)........................... 17 2.6.2 Pergeseran Kategori (Category Shift)....................... 17 2.6.2.1 Pergeseran Unit (Unit Shift)...................... 17 2.6.2.2 Pergeseran Struktur (Structure-Shift)......... 17 2.6.2.3 Pergeseran Kelas (Class Shift)................... 18 2.6.2.4 Pergeseran Antar- Sistem (Intra-System Shift)................................... 18 BAB III 2.7 Kaitan Budaya dengan Penerjemahan ………..…………. 18 2.8 Batasan Istilah Budaya…………………..……………… 19 2.9 Penelitian terdahulu …………………………..…………. 21 : METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian………………………………………… 25 3.2 Data dan Sumber Data………………………………..….. 26 3.3 Metode Pengumpulan Data…………………..………….. 26 3.4 Analisis Data………………………………….………….. 27 BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Ekologi/Alam 4.1.1 Batu Gantung…………………………………….. 28 Universitas Sumatera Utara 4.2 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Makanan 4.2.1 Rendang………………………………………….. 29 4.2.2 Sate………………………………………………. 29 4.2.3 Roti Jala…………………………………………. 30 4.2.4 Naniura………………………………………….. 30 4.2.5 Natinombur……………………………………… 31 4.2.6 Lomok-lomok……………………………………. 31 4.2.7 Nani Arsik……………………………………….. 31 4.2.8 Perkedel…………………………………………. 31 4.2.9 Dendeng…………………………………………. 32 4.2.10 Gado-gado………………………………………. 32 4.2.11 Tempe……………………………………………. 32 4.2.12 Tahu……………………………………………… 33 4.2.13 Kerupuk………………………………………….. 33 4.3 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Benda Budaya ( Artefak) 4.4 4.3.1 Meriam Puntung…………………………………. 34 4.3.2 Sigale-gale……………………………………….. 35 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Pakaian 4.4.1 Ulos………………………………………………. 36 4.4.2 Batik………………………………………………. 41 4.4.3 Sarung Songket…………………………………… 41 4.4.4 Kebaya……………………………………………. 4.5 42 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Bangunan(Rumah/tempat Tinggal) 4.5.1 Istana Maimun…………………………………… 43 Universitas Sumatera Utara 4.5.2 Masjid Raya………………………………………. 43 4.5.3 Siwaluh Jabu……………………………………… 44 4.5.4 Seuluh Dua Jabu.…………………………………. 44 4.5.5 Rumah Bolon……………………………………… 44 4.5.6 Bagas Godang …………………………………… 46 4.6 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Transportasi 4.6.1 Solu Bolon………………………………………… 47 4.7 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Komunikasi/Bahasa 4.7.1 Horas ……………………………………………… 47 4.7.2 Yahowu ……………………………………………. 48 4.7.3 Njuah-juah ………………………………………… 48 4.7.4 Mejuahjuah………………………………………… 48 4.8 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Kegiatan (Aktifitas) 4.8.1 Lompat Batu ………………………………...……… 48 4.8.2 Lomba Solu Bolon ………………………………….. 50 4.8.3 Marjalekkat ………………………………………… 50 4.8.4 Margala ……………………………………………. 51 4.8.5 Marsitekka………………………………………….. 51 4.8.6 Pesta Bunga dan Buah ……………………… …… 51 4.8.7 Rondang Bintang …………………………………. . 52 4.8.8 Guro-Guro Aron …………………………………… 52 4.8.9 Erpangir Ku Lau …………………………………… 53 4.8.10 Perumah Begu ……………………………………… 53 4.8.11 Erdemu Bayu ………………………………………. 54 4.8.12 Mangalahat Horbo ………………………………… 54 4.8.13 Pesta Menaneu Tahi………………………………... 54 Universitas Sumatera Utara 4.9. Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Kemasyarakatan 4.9.1 Sultan ……………………………………………… 55 4.9.2 Hula-Hula ………………………………………… 55 4.9.3 Pariban …………………………………………… 55 4.9.4 Dalihan Natolu……………………………………. 55 4.9.5 Kalimbubu………………………………………… 58 4.9.6 Anak Beru…………………………………………. 58 4.9.7 Sembuyak………………………………………… . 59 4.9.8 Tukur……………………………………………… 59 4.10 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Agama/Kepercayaan 4.10.1 Mulajadi Nabolon ……………………………..…. 59 4.10.2 Idul Fitri……………………………..……………. 60 4.10.3 Sya’ban…………………………………………… 61 4.11 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Seni 4.11.1 Bohi-bohi…………………………………………. 61 4.11.2 Boras Pati………………..………………………. 61 4.11.3 Porkis Manangkih Bakar…………………..…….. 61 4.11.4 Tari Naposo………………………………………. 61 4.11.5 Tari Sigale-gale…………………………………… 63 4.11.6 Tari Serampang 12……….………………………… 64 4.11.7 Tari Tor-tor………………………………….…….. 64 4.11.8 Gordang Sembilan………………………………… 66 4.11.9 Pencak Silat…………………………...…………… 66 Universitas Sumatera Utara 4.11.10 Pagar Tringgalum…………………………………. 67 4.11.11 Tari Perang………………………………………… 67 4.11.12 Gondang…………………………………………… 67 4.12 Teknik Penerjemahan Istilah-Istilah Budaya 4.12.1 Teknik Penerjemahan Deskripsi………..…………... 80 4.12.2 Teknik Penerjemahan Peminjaman …..……............ 80 4.12.3 Teknik Penerjemahan Calque……………………… 80 4.12.4 Teknik Penerjemahan Generalisasi ………….…….. 81 4.12.5 Teknik Penerjemahan Literal………………………. 81 4.12.6 Teknik Penerjemahan Couplet…………………….. 81 4.13. Pergeseran (Shift) BAB V 4.13.1 Pergeseran Unit (Unit Shift)…………………..…… 95 4.13.2 Pergeseran Struktur (Structural Shift).…………...… 95 4.13.3 Pergeseran Antar System (Intra-System Shift)…….. 96 : SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ………………………………………………….. 97 5.2 Saran ……………………………………………………… 98 DAFTAR PUSTAKA Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN DAFTAR TABEL No. Judul Halaman 1 Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Ekologi 68 2 Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Makanan 68 3 Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang 69 Berkaitan dengan Benda Budaya 4 Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang 70 Berkaitan dengan Pakaian 5 Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang 70 Berkaitan dengan Bangunan 6 Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang 71 Berkaitan dengan Transportasi 7 Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang 72 Berkaitan dengan Komunikasi/Bahasa 8 Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang 72 Berkaitan dengan Sosial Budaya/Kegiatan Universitas Sumatera Utara 9 Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang 76 Berkaitan dengan Sosial Budaya/ Kemasyarakatan 10 Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang 77 Berkaitan dengan Agama 11 Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang 77 Berkaitan dengan Seni 12 Jumlah Data Istilah Budaya dan Persentasenya 78 13 Teknik Penerjemahan yang Digunakan 79 dan Persentasenya. 14 Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Ekologi 82 15 Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Makanan 82 16 Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Benda Budaya 84 17 Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Pakaian 84 18 Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Bangunan 85 19 Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Transportasi 86 Universitas Sumatera Utara 20 Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Komunikasi/Bahasa 87 21 Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Sosial Budaya/Kegiatan 87 22 Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Sosial Budaya/Kemasyarakatan 92 23 Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Agama 93 24 Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan denga Seni. 93 25 Pergeseran (Shift) 95 Universitas Sumatera Utara DAFTAR DIAGRAM No. Judul Halaman 1 Proses Penerjemahan ( Nida dalam Anwar S Dill, 1975:80) 10 2 Proses Penerjemahan (Bell, 1991:21) 11 Universitas Sumatera Utara DAFTAR SINGKATAN TSu : Teks Sumber TSa : Teks Sasaran BSu : Bahasa Sumber BSa : Bahasa Sasaran DM : Diterangkan Menerangkan MD : Menerangkan Diterangkan BSu.In : Bahasa Sumber Bahasa Indonesia BSu.Ar : Bahasa Sumber Bahasa Arab BSu.Ns : Bahasa Sumber Bahasa Nias BSu.Bt : Bahasa Sumber Bahasa Batak BSu.Ml : Bahasa Sumber Bahasa Melayu Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Penelitian ini mengkaji penerjemahan istilah-istilah budaya dengan masalah penelitian yaitu, 1) Istilah-istilah budaya apa yang terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Inggris Provinsi Sumatera Utara, 2) Teknik penerjemahan apa yang digunakan dalam menerjemahkan istilah- istilah budaya dari bahasa sumber (bahasa Indonesia, Arab, Batak, Nias ,dan Melayu) ke dalam bahasa Inggris, pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia , dan Inggris Provinsi Sumatera Utara, dan 3) Pergeseran apa yang terjadi pada terjemahan istilah-istilah budaya tersebut pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia, dan Inggris Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan hal tersebut di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi istilah-istilah budaya yang terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia, dan Inggris, Provinsi Sumatera Utara, mengidentifikasi teknik penerjemahan yang digunakan dalam terjemahan istilah-istilah budaya dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran yaitu bahasa Inggris, dan mengidentifikasi pergeseran (shift) yang terjadi pada terjemahan istilah-istilah budaya dimaksud.Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif- kualitatif. Data yang digunakan adalah terjemahan istilah-istilah budaya yang terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia, dan Inggris Provisnsi Sumatera Utara, yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumetra Utara tahun 2008. Dari hasil penelitian ini ditemukan sebanyak 67data istilah budaya pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia, dan Inggris. Istilah-istilah budaya tersebut berkaitan dengan ekologi sebanyak 1 data (1,49 %), makanan sebanyak 13 data (19,40 %), benda budaya/artefak sebanyak 2 data (2,98 %), pakaian sebanyak 4 data (5,97 %), bangunan sebanyak 6 data (8,96 %), transportasi sebanyak 1data (1,49 %), bahasa sebanyak 4 data (5,97 %), sosial budaya sebanyak 13 data (19,40 %), kemasyarakan sebanyak 8 istilah budaya (11,94 %), agama sebanyak 3 data (4,48 %), dan seni sebanyak 12 data (17,91 %).Teknik terjemahan yang digunakan dalam penerjemahan istilah-istilah budaya tersebut adalah adalah Teknik Penerjemahan Deskripsi sebanyak 25 (37,31 %), Peminjaman sebanyak 21 (31,34 %), Calque sebanyak 12 (17,91 %), Generalisasi 6 (8,96 %), Literal sebanyak 2 (2,99 %), dan couplet sebanyak 1 (1,49 %).Terdapat 44 pergeseran (shift) pada terjemahan istilah-istilah budaya dari bahasa sumber ke dalam bahasa Inggris. Pergeseran (shift) tersebut terdiri atas pergeseran unit (unit shift) sebanyak 28 (63,63 %), pergeseran struktur (structural shift) sebanyak 13 (29,55 %), dan pergeseran dalam (intra-system shift) sebanyak 3 (6,82 %). Kata kunci : istilah-istilah budaya, teknik penerjemahan, pergeseran (shift) Universitas Sumatera Utara ABSTRACT This study discussed about the cultural terms translation with the research problems namely, 1) what cultural terms are found in the English tourism brochure of North Sumatera Province, 2) what translation techniques are used in translating the cultural terms, and 3) what shifts arose as a result of the translation of the cultural terms. Based on the problems, this study aimed to identify the cultural terms found in Indonesian, and English tourism brochures of North Sumatera Province, to identify the translation techniques used in English translated cultural terms from the source languages (Indonesian, Arabic, Batak , Nias, and Melayu languages) into the target language i.e. English, and to identify the shift that occurred in translating the cultural terms. The research method used was descriptive-qualitative method. The data used is the cultural terms in the source languages and English translated cultural terms found in the Indonesian, and English tourism brochure of North Sumatera Province, which was published by the Department of Culture and Torism of the North Sumatera Province in 2008. This study found as many as 67 data in English. The cultural terms related to the ecology are as many as 1 data (1.49%), 13 data related to food (19..40%), 2 data related to cultural objects/ artifacts (2.98%), 4 data related to clothes (5.97%), 6 data (8.96%) related to building, 1 data related to transport (1.49%), 4 data related to language (5.97%), 13 data related to social culture (19.40%), 8 data related to society (11.94%), 3 data related to religion/belief (4.48%), and 12 data related to art (17.91%). The translation techniques used in translating the cultural terms into English are Description as many as 25 (37.31%), Borrowing as many as 21 (31.34%), Calque as many as 12 (17.91%), Generalization as many as 6 (8.96%), Literal as many as 2 (2.99%), and Couplet as many as 1 (1.49%). There are 44 shifts of cultural terms translated from the source languages into English. The shifts comprised unit shift were 28 (63.63%), structural shift were 13 (29.55%), and intra-system shifts were 3 (6.82%). Keywords: cultural terms, translation techniques, shifts Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Penelitian ini mengkaji penerjemahan istilah-istilah budaya dengan masalah penelitian yaitu, 1) Istilah-istilah budaya apa yang terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Inggris Provinsi Sumatera Utara, 2) Teknik penerjemahan apa yang digunakan dalam menerjemahkan istilah- istilah budaya dari bahasa sumber (bahasa Indonesia, Arab, Batak, Nias ,dan Melayu) ke dalam bahasa Inggris, pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia , dan Inggris Provinsi Sumatera Utara, dan 3) Pergeseran apa yang terjadi pada terjemahan istilah-istilah budaya tersebut pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia, dan Inggris Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan hal tersebut di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi istilah-istilah budaya yang terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia, dan Inggris, Provinsi Sumatera Utara, mengidentifikasi teknik penerjemahan yang digunakan dalam terjemahan istilah-istilah budaya dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran yaitu bahasa Inggris, dan mengidentifikasi pergeseran (shift) yang terjadi pada terjemahan istilah-istilah budaya dimaksud.Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif- kualitatif. Data yang digunakan adalah terjemahan istilah-istilah budaya yang terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia, dan Inggris Provisnsi Sumatera Utara, yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumetra Utara tahun 2008. Dari hasil penelitian ini ditemukan sebanyak 67data istilah budaya pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia, dan Inggris. Istilah-istilah budaya tersebut berkaitan dengan ekologi sebanyak 1 data (1,49 %), makanan sebanyak 13 data (19,40 %), benda budaya/artefak sebanyak 2 data (2,98 %), pakaian sebanyak 4 data (5,97 %), bangunan sebanyak 6 data (8,96 %), transportasi sebanyak 1data (1,49 %), bahasa sebanyak 4 data (5,97 %), sosial budaya sebanyak 13 data (19,40 %), kemasyarakan sebanyak 8 istilah budaya (11,94 %), agama sebanyak 3 data (4,48 %), dan seni sebanyak 12 data (17,91 %).Teknik terjemahan yang digunakan dalam penerjemahan istilah-istilah budaya tersebut adalah adalah Teknik Penerjemahan Deskripsi sebanyak 25 (37,31 %), Peminjaman sebanyak 21 (31,34 %), Calque sebanyak 12 (17,91 %), Generalisasi 6 (8,96 %), Literal sebanyak 2 (2,99 %), dan couplet sebanyak 1 (1,49 %).Terdapat 44 pergeseran (shift) pada terjemahan istilah-istilah budaya dari bahasa sumber ke dalam bahasa Inggris. Pergeseran (shift) tersebut terdiri atas pergeseran unit (unit shift) sebanyak 28 (63,63 %), pergeseran struktur (structural shift) sebanyak 13 (29,55 %), dan pergeseran dalam (intra-system shift) sebanyak 3 (6,82 %). Kata kunci : istilah-istilah budaya, teknik penerjemahan, pergeseran (shift) Universitas Sumatera Utara ABSTRACT This study discussed about the cultural terms translation with the research problems namely, 1) what cultural terms are found in the English tourism brochure of North Sumatera Province, 2) what translation techniques are used in translating the cultural terms, and 3) what shifts arose as a result of the translation of the cultural terms. Based on the problems, this study aimed to identify the cultural terms found in Indonesian, and English tourism brochures of North Sumatera Province, to identify the translation techniques used in English translated cultural terms from the source languages (Indonesian, Arabic, Batak , Nias, and Melayu languages) into the target language i.e. English, and to identify the shift that occurred in translating the cultural terms. The research method used was descriptive-qualitative method. The data used is the cultural terms in the source languages and English translated cultural terms found in the Indonesian, and English tourism brochure of North Sumatera Province, which was published by the Department of Culture and Torism of the North Sumatera Province in 2008. This study found as many as 67 data in English. The cultural terms related to the ecology are as many as 1 data (1.49%), 13 data related to food (19..40%), 2 data related to cultural objects/ artifacts (2.98%), 4 data related to clothes (5.97%), 6 data (8.96%) related to building, 1 data related to transport (1.49%), 4 data related to language (5.97%), 13 data related to social culture (19.40%), 8 data related to society (11.94%), 3 data related to religion/belief (4.48%), and 12 data related to art (17.91%). The translation techniques used in translating the cultural terms into English are Description as many as 25 (37.31%), Borrowing as many as 21 (31.34%), Calque as many as 12 (17.91%), Generalization as many as 6 (8.96%), Literal as many as 2 (2.99%), and Couplet as many as 1 (1.49%). There are 44 shifts of cultural terms translated from the source languages into English. The shifts comprised unit shift were 28 (63.63%), structural shift were 13 (29.55%), and intra-system shifts were 3 (6.82%). Keywords: cultural terms, translation techniques, shifts Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sumatera Utara sebagai salah satu provinsi di Indonesia memiliki potensi pariwisata yang besar untuk dikembangkan. Potensi ini mencakup keindahan alamnya antara lain danaunya yang menawan, hutan-hutan tropis, laut dan pantainya yang berpasir putih, flora dan fauna, kekayaan budaya seperti karya seni, tarian-tarian traditional, dan sebagainya. Sumatera Utara dengan kekayaan alam dan budayanya memiliki banyak tempat objek wisata yang sangat menakjubkan antara lain kota Parapat dan Danau Toba, Berastagi, Pantai Cermin, Tangkahan, tarian tor-tor, Serampang Dua belas, air terjun Sipiso-piso, dan sebagainya. Masing-masing objek wisata mempunyai daya tarik tersendiri, misalnya bahasa yang digunakan, ungkapan atau istilah-istilah yang berkaitan dengan budaya setempat, dan sebagainya. Untuk memberikan informasi pariwisata dan meningkatkan minat masyarakat dan turis lokal maupun manca negara untuk berkunjung ke Sumatera Utara, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara telah melakukan berbagai upaya antara lain dengan menerbitkan brosur pariwisata berbahasa Indonesia dan berbahasa Inggris. Untuk itu peneliti ingin mengetahui istilah-istilah budaya apa saja yang tertera pada brosur pariwisata tersebut. Universitas Sumatera Utara Pada brosur pariwisata berbahasa Inggris di Provinsi Sumatera Utara, terdapat terjemahan istilah-istilah yang berkaitan dengan budaya setempat antara lain ungkapan dalam bahasa Batak Rumah bolon yang terdapat di Pematang Purba ditulis di brosur wisata berbahasa Inggris great house, the residence of the King and his family. Bolon dalam bahasa Indonesia berarti besar. Lompat batu di Nias Selatan diterjemahkan menjadi stone jumping, Mesjid Raya di Medan diterjemahkan grand mosque, ulos menjadi traditional Batak textile. Dari contoh-contoh terjemahan istilah-istilah budaya tersebut dapat terlihat bahwa istilah budaya diterjemahkan dengan menggunakan teknik penerjemahan yang berbeda, misalnya teknik penerjemahan couplet, misalnya pada terjemahan great house, the residence of the King and his family. Teknik penerjemahan qalque misalnya pada terjemahan lompat batu, menjadi stone jumping. Teknik penerjemahan generalisasi misalnya pada kata ulos yang diterjemahkan menjadi traditional Batak textile. Untuk itu peneliti ingin mengetahui lebih lanjut tentang teknik apa lagi yang diterapkan dalam terjemahan brosur pariwisata tersebut. Selain hal tersebut di atas pada terjemahan istilah-istilah budaya tersebut tentu terjadi perubahan linguistik atau pergeseran (shift), misalnya kata ulos merupakan kata benda diterjemahkan traditional Batak textile yang merupakan frasa. Peneliti juga ingin mengetahui lebih lanjut tentang pergeseran atau shift yang terjadi akibat penerjemahan dari istilah budaya berbahasa Indonesia atau daerah ke dalam bahasa Inggris. Universitas Sumatera Utara Berkaitan dengan istilah-istilah budaya tersebut, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih lanjut mengenai istilah-istilah budaya apa saja yang terdapat pada brosur pariwisata tersebut, bagaimana istilah-istilah tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris yaitu dengan kata lain teknik penerjemahan apa yang digunakan, dan pergeseran-pergeseran apa yang terjadi. 1.2 Batasan dan Perumusan Masalah Penelitian ini dibatasi pada terjemahan istilah berkonteks budaya , dan secara spesifik istilah-istilah berkonteks budaya yang terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Inggris. Dalam hal ini secara spesifik dipilih brosur pariwisata yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara tahun 2008, sebagai objek penelitian. Brosur tersebut terdiri atas brosur yang berbahasa Indonesia dan Inggris. Berdasarkan batasan tersebut, masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1.2.1 Istilah-istilah budaya apa yang terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia dan Inggris Provinsi Sumatera Utara? 1.2.2 Teknik penerjemahan apa yang digunakan dalam menerjemahkan istilahistilah budaya dari bahasa sumber (bahasa Indonesia, Arab, Batak, Nias, dan Melayu) ke dalam bahasa Inggris, pada brosur pariwisata berbahasa Inggris Provinsi Sumatera Utara? Universitas Sumatera Utara 1.2.3 Pergeseran apa yang terjadi pada terjemahan istilah-istilah budaya tersebut pada brosur pariwisata berbahasa Inggris Provinsi Sumatera Utara? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengidentifikasi istilah-istilah budaya yang terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia dan Inggris Provinsi Sumatera Utara. 1.3.2 Mengidentifikasi teknik penerjemahan yang digunakan dalam menerjemahkan istilah-istilah budaya dari bahasa sumber (bahasa Indonesia, Arab, Batak, Nias, dan Melayu) ke dalam bahasa Inggris pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia dan Ingggris Provinsi Sumatera Utara. 1.3.3 Mengidentifikasi pergeseran (shift) yang terjadi pada terjemahan istilahistilah budaya dari bahasa sumber (bahasa Indonesia, Arab, Batak, Nias, dan Melayu) ke dalam bahasa Inggris pada brosur pariwisata berbahasa Inggris Provinsi Sumatera Utara. 1.4 Manfaat Penelitian Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan sejumlah manfaat yang dibedakan menjadi manfaat teoritis dan praktis 1.4.1 Manfaat teoritis Sebagai pengayaan khasanah penerjemahan istilah-istilah budaya. Universitas Sumatera Utara 1.4.2 Manfaat praktis Sebagai acuan agar terjemahan istilah-istilah budaya yeng terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Inggris dapat lebih mudah dipahami. 1.5 Klarifikasi Makna Istilah Untuk menghindari terjadinya kesalah pahaman tentang makna istilah-istilah yang digunakan, istilah-istilah tersebur perlu diklarifikasi sebagai berikut. 1. Terjemahan adalah produk dari suatu penerjemahan. 2. Istilah budaya adalah ungkapan berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat yang digunakan pada konteks makna yang berkaitan dengan budaya. 3. Brosur adalah selebaran atau buku kecil yang berisi uraian/petunjuk mengenai sesuatu hal atau masalah. 4. Brosur pariwisata adalah selebaran atau buku kecil berisi uraian mengenai pariwisata. 5. Bahasa sumber (BSu) dan Bahasa sasaran (BSa). Bahasa sumber merujuk pada bahasa yang diterjemahkan yaitu Bahasa Indonesia, Arab, Batak, Nias, dan Melayu, sedangkan bahasa sasaran adalah bahasa yang menjadi tujuan penerjemahan yaitu Bahasa Inggris. 6. Teks sumber (TSu) dan Teks sasaran (TSa). Teks sumber merujuk pada teks yang diterjemahkan yaitu teks berbahasa Indonesia, sedangkan teks sasaran adalah teks yang menjadi tujuan penerjemahan yaitu teks berbahasa Inggris. Universitas Sumatera Utara 7. Teknik Penerjemahan adalah cara untuk menganalisis dan mengklasifikasikan bagaimana kesepadanan penerjemahan berlangsung dan dapat diterapkan pada satuan lingual (Molina dan Albir, 2002) 8. Pergeseran (shift) adalah perubahan linguistik yang terjadi antara teks sumber (TSu) dan teks target (TSa) dalam penerjemahan. 9. Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk rekreasi atau liburan (http://id.wikipedia.org/wiki/Pariwisata) Universitas Sumatera Utara BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Definisi Penerjemahan Ada beberapa definisi mengenai penerjemahan. Berikut peneliti menyajikan beberapa diantaranya. Newmark (1988:5) mengatakan ’Often, though not by any means always, it is rendering the meaning of a text into another language in the way the author intended the text’. Terdapat dua kata dan frasa kunci dalam definisi itu yang perlu diperhatikan, yaitu the meaning, dan in the way the author intended the text’. Dalam kata kunci pertama meaning dapat disimpulkan bahwa yang menjadi prioritas utama dalam penerjemahan adalah makna, dan dalam frasa in the way the author intended the text’ dapat disimpulkan bahwa suatu teks terjemahan harus memiliki dampak yang sama terhadap pembacanya seperti yang dikendaki oleh penulis aslinya. Misalnya suatu teks memiliki nuansa gembira, maka nuansa itu jugalah yang harus diciptakan dalam terjemahan. Nida dan Taber (1982 : 12) menyatakan bahwa ‘translating consists in reproducing in the receptor language the closest natural equivalent of the source language message, first in the term of meaning secondly in the term of style’. Jadi menurut Nida menerjemahkan berarti menghasilkan pesan yang paling dekat, sepadan dan wajar dari bahasa sumber ke bahasa sasaran, baik dalam hal makna maupun gaya. Penerjemahan melibatkan bidang linguistik kedua bahasa yaitu bahasa sumber (BSu) dan bahasa sasaran (BSa), yang mencakup teori makna (semantik), metode, Universitas Sumatera Utara prosedur, dan teknik penerjemahan, dan bidang ilmu teks yang diterjemahkan (Bell, 1991). Dengan demikian penerjemahan dapat melibatkan beberapa pihak terkait sesuai dengan teks yang akan diterjemahkan. Hal ini disebabkan seorang penerjemah tidak akan menguasai semua disiplin ilmu yang terkait dengan penerjemahan, namun bila seorang penerjemah menemui kesulitan dalam menerjemahkan, dia dapat bekerja sama denga pihak lain antara lain dengan cara berkonsultasi dengan pakar bidang ilmu terkait. Definisi lain berikut ini diberikan oleh Catford (1978:20) yaitu ’ Translation is the replacement of textual material in one language by equivalent textual material in another language’. Menurut definisi tersebut Catford menyatakan bahwa menerjemahkan berarti mengganti, yaitu suatu teks diganti dengan padanan teks tersebut. Brislin (1976:1) memberikan definisi penerjemahan sebagai berikut ’Translation is the general term referring to he transfer of thoughts and ideas from one language (source) to another (target).’ Menurut Brislin dalam definisi tersebut menerjemahkan berarti mengalihkan makna, hal tersebut terlihat dari kata ’transfer of thought and ideas. Berdasarkan penjelasan mengenai penerjemahan dapat disimpulkan bahwa ”penerjemahan adalah menggantikan makna suatu teks bahasa sumber dengan padanan makna yang sesuai dalam bahasa sasaran”. Universitas Sumatera Utara 2.2 Jenis Penerjemahan Besnet dan Guire (1988:14) membagi jenis penerjemahan ke dalam tiga kategori, yaitu (1) penerjemahan dalam bahasa yang sama (intralingual translation atau rewording) yang merupakan interpretasi lambang-lambang verbal dengan menggunakan lambang-lambang lain dalam bahasa yang sama, (2) penerjemahan dari satu bahasa ke dalam bahasa lain (interlingual translation atau translation proper), dan (3) penerjemahan dari bahasa tulisan ke dalam media lain seperti gambar, musik dan lain-lain (intersemiotic translation atau transmutation). Berkaitan dengan penerjemahan dalam bahasa yang sama (intralingual translation atau rewording) , misalnya pada situasi seorang anak yang sedang belajar berbahasa. Anak tersebut belum menguasai banyak kosa kata, ketika dia mendengar atau menemukan kata yang belum dimengerti, dia akan bertanya kepada orang lain. Misalnya dia akan bertanya kepada orang yang paling dekat dengannya, yaitu ibunya. Kemudian ibunya menjelaskan kata yang dia tidak mengerti dengan menggunakan kata yang sederhana sesuai dengan pola berfikir anaknya sehingga anaknya dapat mengerti. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan penjelasan terhadap kata tersebut, atau memberikan sinonimnya. Sebenarnya ibu tersebut telah melakukan penerjemahan untuk anaknya. Selanjutnya dapat dijelaskan mengenai penerjemahan dari satu bahasa ke dalam bahasa lain (interlingual translation atau translation proper ), yang merupakan jenis penerjemahan yang lebih dikenal, yaitu menerjemahkan dari Bsu ke dalam Bsa, Universitas Sumatera Utara misalnya suatu teks dalam bahasa Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Dapat diberikan contoh kata rumah diterjemahkan menjadi house atau home. Jenis penerjemahan yang ketiga penerjemahan dari bahasa tulisan ke dalam media lain seperti gambar, musik dan lain-lain (intersemiotic translation atau transmutation), misalnya bahasa Braille diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 2.3 Proses Penerjemahan Ada beberapa model proses penerjemahan. Nida (dalam Anwar S Dill, 1975:80) menggambarkan bahwa penerjemahan merupakan suatu proses yang terdiri dari tiga tahap, yaitu (1) analisis, (2) transfer, dan (3) restrukturisasi. Adapun diagramnya adalah sebagai berikut : Bahasa Sumber Bahasa Penerima Teks Terjemahan Analisis Restrukturisasi Transfer Diagram 1 : Proses Penerjemahan ( Nida dalam Anwar S Dill, 1975:80) (1) Tahap Analisis Penerjemah manganalisis teks bahasa sumber yang diantaranya melihat bagaimana struktur kalimat dan kata-kata yang digunakan. Universitas Sumatera Utara (2) Tahap Transfer Merupakan proses pengalihan makna dari yang masih dalam bentuk konsep. (3) Tahap Restrukturisasi Pada tahap ini penerjemah melakukan penyesuaian agar makna yang akan dialihkan menjadi tepat. Menurut Bell (1991:6) Translation is the replacement of a representation of a text in one language by a representation of an equivalent text in a second language’. Dalam bahasa Indonesia dapat dikatakan bahwa terjemahan adalah penggantian sebuah representasi teks yang sama dalam bahasa kedua. Selanjutnya Bell (1991:21) menggambarkan tahapan-tahapan yang jelas yang dilakukan oleh penerjemah dalam menghasilkan suatu terjemahan, sebagai berikut : Memory Source Language Text Analysis Semantic Representation Synthesis Target  Language  Text  Diagram 2: Proses Penerjemahan (Bell, 1991:21) Universitas Sumatera Utara Pada gambar 1 di atas dapat dilihat bahwa dalam suatu proses penerjemahan, pertama sekali penerjemah dihadapkan pada teks bahasa sumber. Selanjutnya penerjemah melakukan analisis terhadap aspek semantik misalnya berupa kata, frasa dan klausa, guna memahami makna yang terkandung dalam teks bahasa sumber. Tahap selanjutnya adalah melakukan proses sintesa yaitu paduan berbagai pengertian atau hal supaya semuanya merupakan kesatuan yang selaras (Poerwadarminta, 1983:952), dan menerjemahkan teks bahasa sumber tersebut ke dalam bahasa sasaran. 2.4 Kompetensi Penerjemah Untuk dapat melakukan tugasnya dengan baik, seorang penerjemah profesional (secara teknis) harus memiliki kompetensi atau kemampuan di bidangnya. Johnson dan Whitelock (dalam Bell, 1991:36) menyatakan bahwa seorang penerjemah profesional harus memiliki lima jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan tentang bahasa sasaran (Bsa), jenis teks, bahasa sumber (Bsu), subjek yang sedang diterjemahkan, dan perbandingan bahasa (constrastive knowledge). Menurut Bell kelima pengetahuan itu adalah pengetahuan dasar yang diperlukan untuk menjadi seorang penerjemah. Bell (1991:41) menambahkan bahwa selain pengetahuan tersebut, seorang penerjemah harus memiliki kompetensi komnikasi (communicative competence) yang mencakup grammatical competence yaitu pengetahuan tentang tata bahasa termasuk kosa kata dan susunan kata (word-formation) , dan pengucapan; socio linguistics yang merupakan pengetahuan dan kemampuan untuk menghasilkan dan memahami ujaran dalam suatu konteks; discourse competence yaitu kemampuan Universitas Sumatera Utara untuk menggabungkan bentuk dan makna untuk menghasilkan teks lisan maupun tulisan yang utuh; strategic competence yaitu penguasaan strategi komunikasi yang dapat digunakan untuk memperlancar komunikasi. 2.5 Teknik Penerjemahan Teknik Penerjemahan merupakan cara untuk menganalisis dan mengklasifikasikan bagaimana kesepadanan penerjemahan berlangsung dan dapat diterapkan pada satuan lingual (Molina dan Albir, 2002) dalam Silalahi (2009). 2.5.1 Adaptasi (adaptation) Merupakan salah satu teknik penerjemahan dimana satu kata atau frasa yang mengandung unsur budaya, dapat dipadankan dengan kata atau frasa yang mengandung unsur budaya yang sama dalam bahasa sasaran, dengan catatan bahwa unsur budaya tersebut dikenal baik oleh pemakai bahasa sasaran, misalnya frasa as white as snow dapat dipadankan dengan seputih kapas, karena kapas dikenal baik di Indonesia, tidak demikian halnya dengan salju, yang hanya ada di beberapa tempat di Indonesia. 2.5.2 Amplifikasi (amplification) Teknik penerjemahn ini dilakukan dengan cara memberikan keterangan yang eksplisit atau dengan memparafrase sesuatu yang implisit dalam bahasa sumber. Kata Natal dapat diparafrase menjadi hari kelahiran Yesus. Universitas Sumatera Utara 2.5.3 Peminjaman (borrowing) Penerjemah meminjam kata atau ungkapan dari bahasa sumber. Teknik peminjaman terdiri atas dua jenis, yaitu peminjaman murni (pure borrowing), misalnya kata CD writer diterjemahkan dengan CD writer , radio tape diterjemahkan dengan radio tape juga. Jenis peminjaman yang lain adalah peminjaman yang sudah dinaturalisasi (naturalized borrowing), misalnya kata appreciation diterjemahkan menjadi apresiasi. 2.5.4 Calque Merupakan suatu teknik yang menerjemahkan kata asing atau frasa ke dalam bahasa sasaran dengan menyesuaikan struktur bahasa sasaran, misalnya water fall, diterjemahkan menjadi air terjun. 2.5.5 Deskripsi (description) Deskripsi merupakan salah satu teknik penerjemahan dengan menggantikan suatu istilah atau ungkapan dengan memberikan penjelasan, dapat berupa bentuk dan fungsinya. Misalnya samurai (the sword of Japanese aristocracy.) 2.5.6 Kesepadanan lazim (established equivalent) Kesepadanan lazim adalah teknik penerjemahan yang menggunakan istilah atau ungkapan yang sudah lazim, baik berdasarkan kamus atau karena penggunaan sehari-hari. Misalnya snack lebih dikenal dari pada kudapan, handphone lebih dikenal dari pada telepon genggam. Universitas Sumatera Utara 2.5.7 Generalisasi (generalization) Teknik penerjemahan jenis ini diterapkan dengan cara menggunakan istilah atau ungkapan yang lebih umum. Misalnya limousine diterjemahkan dengan mobil.cara-lebih padat, lebih singkat, dan ringkas. 2.5.8 Penerjemahan harfiah (literal translation) Teknik penerjemahan ini diterapkan dengan cara penerjemahan kata demi kata. Misalnya I will invite him to the party, diterjemahkan Saya akan mengundangnya ke pesta itu. 2.5.9 Partikularisasi (particularization) Teknik penerjemahan jenis ini diterapkan dengan menggunakan padanan yang lebih kongkrit. Misalnya sea transportation, diterjemahkan dengan boat. 2.5.10 Reduksi (reduction) Dalam teknik penerjemahan ini informasi yang eksplisit dalam bahasa sumber menjadi implisit dalam bahasa sasaran. Misalnya the sword of Japanese aristocrac, diterjemahkan dengan samurai. 2.5.11 Penambahan Pada teknik penerjemahan jenis ini, penerjemah memberikan penambahan informasi guna lebih memperjelas teks. Misalnya Employees of all industries took part in the conference, diterjemahkan menjadi Karyawan-karyawan dari semua Universitas Sumatera Utara cabang industri mengambil bagian dalam konferensi tersebut (penambahan kata cabang) 2.5.12 Penghilangan (deletion). Pada teknik penghilangan, penerjemah menghapus atau menghilangkan informasi yang tidak dibutuhkan. Misalnya: He gave some money to the beggar with his left hands, diterjemahkan menjadi Dia memberikan uang kepada pengemis itu. The proposal was rejected and repudiated diterjemahkan susulnya ditolak. 2.5.13 Couplet Teknik penerjemahan couplet yaitu penerapan dua teknik penerjemahan, misalnya rumah bolon diterjemahkan menjadi great house (where the king and the family live). 2.6 Pergeseran dalam Penerjemahan (Shifts) Hatim dan Munday (2004:26) menjelaskan bahwa perubahan linguistik yang terjadi antara teks sumber dan teks target disebut shift. Catford (1978:73) mengelompokkan pergeseran ini menjadi dua kelompok, yaitu : Universitas Sumatera Utara 2.6.1 Pergeseran Tingkatan (Level Shift) Pergeseran Tingkatan (LS) yaitu pergeseran dari satu tataran linguistik ke tataran lainnya. Misalnya: He is my mother’s friend. Dia (laki-laki) teman ibu saya. Dalam contoh ini terjadi pergeseran tingkatan yaitu dia (laki-laki). 2.6.2 Pergeseran Kategori (Category Shift) Pergeseran Kategori (CS) yang dapat dibedakan menjadi : 2.6.2.1 Pergeseran unit (Unit Shift) Pergeseran Unit (US) yaitu pergeseran yang terjadi apabila unsur bahasa sumber (BSu) pada suatu unit linguistiknya memiliki padanan yang berbeda unitnya pada bahasa sasaran (BSu). Misalnya : attractive place, diterjemahkan menjadi ”tempat yang menarik”. Dalam hal ini terjadi pergeseran dari unit kata menjadi unit klausa. 2.6.2.2 Pergeseran Struktur (Structure-Shift) Pergeseran Struktur (SS) yaitu bila terjadi perubahan yang diakibatkan oleh sistem struktur BS tidak sama dengan sistem struktur BT. Dalam bahasa Inggris misalnya dikenal pola menerangkan-diterangka (DM), sedangkan dalam bahasa Indonesia pola yang berlaku umumnya menerangkan-diterangkan (MD). Misalnya: rumah antik diterjemahkan menjadi antique house. Universitas Sumatera Utara Dalam bahasa Inggris penanda (modifier) posisi kata antique berada sebelum inti (head), sehingga dapat diistilahkan sebagai penanda awal (premodifier). Sebaliknya dalam bahasa Indonesia dimana penanda berada setelah inti yang disebut pasca inti (post modifier). 2.6.2.3 Pergeseran Kelas (Class Shift) Pergeseran Kelas (CS) yaitu pergeseran yang terjadi misalnya dari kelas kata tertentu dalam BSu menjadi kelas kata yang lain dalam BSa. Misalnya : pesta tahun diterjemahkan menjadi annual party. Kata tahun adalah nomina, kata annual mempunyai kelas kata adjektiva. 2.6.2.4 Pergeseran Antar- Sistem (Intra-System Shift) Pergeseran antar-sistem yaitu pergeseran yang terjadi pada kategori grammatikal yang sama. Misalnya : Raja kawin dengan Shinta diterjemahkan menjadi The king married Shinta. Kata kawin dalam bahasa Indonesia adalah verba intransitif, sedangkan kata married dalam bahasa Inggris adalah verba transitif. 2.7 Kaitan Budaya dengan Penerjemahan Aspek budaya juga perlu diperhatikan dalam penerjemahan, hal ini disebabkan bahasa merupakan bagian dari budaya. Jika teks yang sedang diterjemahkan adalah teks mengenai budaya, seorang penerjemah harus menguasai tentang budaya dari kedua bahasa yaitu BSu dan BSa, sehingga dia dapat membuat terjemahan yang sesuai. Dengan kata lain seorang penerjemah harus menguasai Universitas Sumatera Utara pemahaman lintas budaya (cross-culture understanding). Kosa kata dalam sebuah bahasa mencerminkan kekhasan budaya pemakai bahasa tersebut, yang mungkin saja tidak dimiliki oleh bahasa-bahasa lain. Menurut Larson (1984:3), penerjemahan mencakup pemahaman kosa kata, struktur gramatika, situasi komunikasi, dan konteks budaya bahasa sunber untuk menentukan maknanya dan selanjutnya makna tersebut direkonstruksi dengan mengunakan kosa kata dan struktur gramatika yang sesuai dalam bahasa dan konteks budaya BSa. Menurut Larson (1984:23) sebuah terjemahan yang berhasil adalah bila pembaca terjemahan (BSa) tidak merasakan bahwa teks yang sedang dibacanya adalah sebuah terjemahan. 2.8 Batasan Istilah Budaya ‘Istilah’ adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas di bidang tertentu (Moeliono, dkk., 1988:341). Istilah juga merupakan perkataan yang khusus mengandung arti yang tertentu di lingkungan sesuatu ilmu pengetahuan, pekerjaan, atau kesenian (Poerwadarminta, 1982:388). Soanes (2002:1188) menyatakan bahwa ‘istilah’ adalah kata atau frasa yang digunakan untuk menjelaskan suatu benda atau menyatakan konsep (term is a word or phrase used to describe a thing or to express a concept, language used on a particular occasion). Menurut Mulyana dan Rakhmat (2006:25) ‘budaya’ adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan Universitas Sumatera Utara dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian,bangunan, dan karya seni. Budaya merupakan suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Newmark (1988) mendefinisikan budaya sebagai cara hidup dan manifestasinya yang khas bagi sebuah komunitas yang menggunakan bahasa tertentu sebagai sarana dari "ekspresi”, sehingga mengakui bahwa setiap kelompok bahasa memiliki fitur sendiri dari suatu budaya tertentu. Peter Newmark juga mengkategorikan kata-kata, istilah atau ungkapan budaya sebagai berikut: 1) Ekologi Flora, fauna, bukit, angin, dataran, bukit, sawah, hutan tropis. 2) Material budaya Artefak. 3) Makanan, pakaian, rumah (tempat tinggal), transportasi dan komunikasi. 4) Sosial Budaya Kerja dan waktu luang. 5) Organisasi (Kelompok) Kemasyarakatan, Hukum, Agama, Seni (artistik). Universitas Sumatera Utara Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan istilah budaya dalam tulisan ini adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan cara hidup dan manifestasinya yang khas bagi sebuah komunitas yang menggunakan bahasa tertentu sebagai sarana ekspresi dari ekologi, material budaya, sosial budaya, organisasi, konsep politik dan admisnistrasi, agama, artistik, dan bahasa tubuh (gestures) dan kebiasaan. 2.9 Penelitian Terdahulu. Penelitian mengenai terjemahan yang berkaitan dengan budaya telah dilakukan sebelumnya antara lain oleh : 1) Dalam disertasinya Dr. Syahron Lubis, M.A. (2009) yang meneliti Penerjemahan Teks Mangupa dari Bahasa Mandailing ke dalam Bahasa Indonesia, mengkaji masalah-masalah penerjemahan dalam teks mangupa, sebuah teks budaya Mandailing ke dalam bahasa Inggris. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa bahasa Mandailing dan bahasa Inggris memiliki lebih perbedaan dari pada persamaan dalam struktur bahasa, dan berbeda dalam aspek kultural. Disebabkan perbedaan struktur kedua bahasa penerjemahan frasa, kata majemuk dan kalimat dari teks sumber ke dalam teks sasaran menghadapi masalah. Selain itu pemakaian banyak kata arkais juga membuat kesulitan penerjemahan, termasuk masalah tenses yang tidak ada dalam bahasa Mandailing. Faktor lain yaitu faktor budaya, disebabakan perbedaan budaya di antara kedua masyarakat Mandailing dan Inggris, sejumlah istilah dan ungkapan budaya Mandailing tidak memiliki padanan dalam bahasa Inggris, dan oleh Universitas Sumatera Utara karena itu kata-kata tersebut harus dipinjam (tidak diterjemahkan). Beberapa kata memiliki padanan kata tetapi nuansa budaya yang melekat pada kata-kata tersebut tidak dapat ditransfer ke dalam bahasa Inggris. 2) Fatukhna’imah Rhina Zuliani (2010), dalam tesisnya Kajian Teknik Penerjemahan dan Kualitas Penerjemahan Ungkapan Budaya dalam Novel The Kite Runner Karya Khaled Hosseini. (http://blog-indonesia.com/blog-archive-12266651.html), menemukan dan mengklasifikasi ungkapan budaya dalam novel The Kite Runner, mengkaji teknik penerjemahan yang digunakan, dan menunjukkan kualitas penerjemahan, kaitannya dengan teknik penerjemahan yang digunakan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif terpancang. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam novel The Kite Runner terdapat 139 ungkapan budaya. Ungkapan budaya tersebut diklasifikasi berdasarkan klasifikasi budaya Koentjaraningrat yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian. Hasil lengkap klasifikasi budaya tersebut adalah sebagai berikut: bahasa 44 data (32%), sistem pengetahuan 3 data (2%), organisasi sosial 6 data (4%), sistem peralatan hidup dan teknologi 46 data (33%), sistem mata pencaharian hidup 5 data (4%), sistem religi 27 data (19%), dan kesenian 8 data (6%). Dari kajian yang dilakukan terhadap teknik penerjemahan, teridentifikasi teknik yang digunakan dalam menerjemahkan ungkapan budaya adalah sebagai berikut: peminjaman murni 75 data (54%), peminjaman alamiah 27 data (19,4%), calque 7 data (5%), amplifikasi 8 data (5,8%), deskripsi 2 data (1,4%), Universitas Sumatera Utara literal 7 data (5%), dan established equivalent 13 data (9,4%). Dalam menerjemahkan ungkapan budaya, penerjemah lebih banyak menggunakan peminjaman murni dengan mempertahankan bentuk asli ungkapan BSu. Adapun kualitas penerjemahan kaitannya dengan teknik penerjemahan yang digunakan adalah sebagai berikut: terjemahan akurat pada 60 data(43%) paling banyak dihasilkan dengan teknik peminjaman alamiah yaitu 23 data (16,5%), terjemahan kurang akurat pada 39 data (28%) dan tidak akurat 40 data (29%) paling banyak dihasilkan dengan teknik peminjaman murni. Terjemahan ungkapan budaya yang berterima sebanyak 57 data (41%) paling banyak dihasilkan dengan teknik peminjaman alamiah, yaitu 23 data (16,5%), kurang berterima 42 data (30%), dan tidak berterima 40 data (29%) paling banyak dihasilkan dengan teknik peminjaman murni. Rater pembaca sepakat menilai 54 data (39%) memiliki keterbacaan mudah, 41 data (29%) keterbacaan agak sulit, dan 44 data (32%) memiliki keterbacaan sulit. Adapun teknik yang paling banyak menghasilkan keterbacaan mudah adalah teknik peminjaman alamiah (16,6%), keterbacaan agak sulit dengan peminjaman murni (15,8), dan keterbacaan sulit dengan peminjaman murni (26,6%). Dari temuan tersebut dapat dilihat bahwa teknik peminjaman alamiah menghasilkan lebih banyak terjemahan yang akurat, berterima, dan memiliki keterbacaan mudah karena digunakannya ungkapan budaya yang tepat dan familier. Sebaliknya, teknik peminjaman murni menghasilkan lebih banyak terjemahan yang tidak akurat, tidak berterima, dan memiliki keterbacaan sulit karena digunakannya ungkapan budaya BSu yang masih asing dalam BSa. Universitas Sumatera Utara 2) Yusnia Sakti Nurlaili (2010), The Translation of Proper names and Cultural Terms from Indonesia to English in Suluh Magazine. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dalam menerjemahkan proper nouns dan cultural terms, dianjurkan untuk menggunakan descriptive equivalents, dan terjemahan literal karena istilah-istilah tersebut tidak terdapat dalam budaya Inggris, dan tidak terdapat sinonimnya, misalnya ‘Padepokan Gunung Kidul’ diterjemahkan menjadi ‘Gunung Kidul Site’. Universitas Sumatera Utara BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif yang menjawab masalah penerjemahan TSu ke dalam TSar secara kualitatif, baik yang disebabkan oleh kesenjangan aspek budaya, maupun karena terjadinya pergeseran (shifts). Selanjutnya peneliti melakukan langkah-langkah guna mengungkap teknik penerjemahan yang digunakan dalam menerjemahkan TSu ke dalam TSa. Adapun langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut (1) perbandingan lintas budaya (2) teknik penerjemahan, (3) analisis pergeseran yang terjadi. Perbandingan lintas budaya dilakukan untuk mengetahui sejauh mana istilahistilah budaya dan ungkapan terikat budaya dalam TSu dapat atau tidak dapat diterjemahkan atau ditransfer ke dalam TSa yang dilatar belakangi budaya yang berbeda, karena bahasa tidak dapat dimengerti dengan baik jika kita tidak mengenal budaya asal dari bahasa tersebut. Seperti yang telah disebutkan pada bab sebelumnya bahwa penelitian ini berorientasi pada produk terjemahan, yaitu penelitian yang memusatkan perhatiannya pada hasil terjemahan bukan proses terjemahan (Toury, 1980). Dalam penelitian ini tataran yang dikaji berupa kata dan frasa yang berkaitan dengan budaya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. yaitu data diperoleh melalui membaca, menyimak, mengidentifikasi, dan mengklasifikasi istilah-istilah Universitas Sumatera Utara budaya yang terdapat dalam brosur pariwisata Sumatera Utara. Data tersebut kemudian dianalisis untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian ini. 3.2 Data dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan dokumen berupa brosur pariwisata Provinsi Sumatera Utara yang berbahasa Indonesia dan Inggris yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara tahun 2008. Dokumen tersebut digunakan sebagai sumber data objektif. Data objektif dalam penelitian ini berupa istilah-istilah budaya dalam BSu yaitu bahasa Indonesia dan yang dipinjam dari bahasa Batak, Arab, Nias dan Melayu, dan terjemahan istilah-istilah budaya tersebut dalam BSa (Bahasa Inggris). 3.3 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitianb ini adalah mengkaji dokumen yaitu dengan cara membaca dan mencatat (content analysis), yaitu dengan cara : 1) Membaca teks secara keseluruhan, 2) Memberikan tanda yaitu memberikan warna merah pada terjemahan istilahistilah budaya yang terdapat pada teks Bsu dan Bsa. 3) Mencatat istilah-istilah budaya tersebut 4) Mengklasifikasi terjemahan istilah-istilah budaya tersebut menurut katergori Newmark (1988). Universitas Sumatera Utara 3.4 Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan mempunyai empat karakteristik (Sutopo, 2002:86-87), yaitu : 1) Bersifat induktif yaitu penelitian diawali dengan pengumpulan data 2) Menganalisis data untuk menemukan teknik penerjemahan yang digunakan, dan pergeseran yang terjadi daklam penerjemahan tersebut. 3) Menyajikan data yang telah dianalisis Data disajikan dalam bentuk tabel, persentase, dan deskripsi. 4) Penarikan simpulan Universitas Sumatera Utara BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Istilah-istilah budaya yang terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Inggris Provinsi Sumatera Utara adalah sebagai berikut. 4.1 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Ekologi/Alam Istilah budaya yang bekaitan dengan ekologi/alam yang tertera pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia dan Inggris adalah: 4.1.1 Batu Gantung Masyarakat di sekitar Danau Toba dan Parapat mempercayai bahwa batu gantung tersebut merupakan penjelmaan Seruni yang terhimpit batu cadas di dalam lubang ketika ia hendak bunuh diri dengan cara terjun ke Danau Toba. Tiba-tiba lubangnya merapat dan menghimpit tubuh Seruni. Kemudian Seruni menjelma menjadi batu yang tergantung. Masyarakat setempat menyebutnya “Batu Gantung”. 4.2 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Makanan Adapun istilah-istilah budaya yang berkaitan dengan makanan yang terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia dan Inggris adalah sebagai berikut. Universitas Sumatera Utara 4.2.1 Rendang Rendang adalah makanan khas Sumatera Barat dengan rasa yang pada umumnya pedas. Akan tetapi tingkat kepedasan tersebut tergantung oleh racikan sang juru masak. Untuk mencapai warna yang coklat kehitaman serta bumbu rendang yang kering, rendang dimasak cukup lama yaitu minimal 12 jam. Rendang merupakan menu utama bagi masyarakat Minang. Dahulu kala rendang disajikan sebagai menu utama bagi para bangsawan. Akan tetapi, saat ini rendang sangat digemari oleh masyarakat Minang khususnya dan bahkan oleh seluruh lapisan masyarakat serta para wisatawan asing. 4.2.2 Sate Sate atau kadangkala ditulis satay atau satai adalah makanan yang terbuat dari potongan daging (ayam, kambing, domba, sapi, babi, ikan, dan lain-lain) yang dipotong kecil-kecil,dan ditusuki dengan tusukan sate yang biasanya dibuat dari bambu, kemudian dibakar menggunakan bara arang kayu. Sate kemudian disajikan dengan berbagai macam bumbu. Sate berasal dari Jawa, Indonesia, tetapi sate juga populer di negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand. Resep dan cara pembuatan sate beraneka ragam bergantung variasi dan resep masing-masing daerah. Hampir segala jenis daging bisa dibuat sate. Sebagai Negara asal mula sate, Indonesia memiliki variasi sate yang kaya, lihat daftar sate. Universitas Sumatera Utara Biasanya sate diberi saus. Saus ini bisa berupa sambal kecap, sambal kacang, atau yang lainnya. Untuk sate bebek tambak menu lengkapnya adalah sate, saus bumbu manis kacang tanah atau bumbu pedas (menurut selera) dan irisan tomat serta mentimun. Lalu sate dimakan dengan nasi hangat. Di beberapa daerah disajikan dengan lontong, atau ketupat. Diduga sate diciptakan oleh pedagang makanan jalanan di Jawa sekitar awal abad ke-19, berdasarkan fakta bahwa sate mulai populer sekitar awal abad ke-19 bersamaan dengan semakin banyaknya pendatang dari Arab ke Indonesia. 4.2.3 Roti jala Roti Jala adalah sejenis hidangan berbentuk jala. Roti jala dimakan bersama kuah. Roti Jala sering kali menjadi pilihan pada perayaan istimewa dan dihidangkan dengan kari atau gulai ayam atau daging. Roti jala dinamakan sedemikian karena bentuknya yang seperti jala menangkap ikan. (http://ms.wikipedia.org/wiki/Roti_jala) 4.2.4 Naniura Naniura merupakan salah satu jenis masakan khas Batak yang dapat dinikmati dengan tanpa dimasak. Bahan utama masakan ini adalah ikan mas. Adapun bahan – bahan pembuatan masakan tersebut adalah, biji asam jungga, andaliman, kemiri, kunyit, lengkuas, bawah putih, bawang merah, dan cabai merah. Universitas Sumatera Utara 4.2.5 Natinombur Natinombur merupakan salah satu makanan khas Batak yang bumbunya dilumurkan di atasnya. . Hidangan ini terbuat dari ikan, misalnya ikan mujair, ikan mas, ikan lele, dan sebagainya. Ikannya bisa digoreng, bisa pula dibakar - tergantung kesukaan masing-masing, dengan sambal atau bumbu yang dilumurkan di atasnya. 4.2.6 Lomok-lomok Lomok-lomok adalah makanan khas suku Batak yang paling populer. Makanan ini dibuat dari daging babi yang dicincang, dimasak bersama rempah-rempah lokal semisal bawang, kemiri, andaliman dan lainnya serta darah. 4.2.7 Nani arsik Nani arsik adalah salah satu makanan khas Batak yang terbuat dari ikan mas, kacang panjang, lengkuas, dan bumbu-bumbu lainnya. Salah satu ciri khas masakan ini adalah di dalam perut ikan nani arsik ditemukan bumbu yaitu serai dan kacang panjang. 4.2.8 Perkedel Universitas Sumatera Utara Istilah perkedel berasal dari Bahasa Belanda frikadel, hal ini menunjukkan pengaruh Belanda dalam seni memasak Indonesia. Versi aslinya di Eropa frikadel dibuat dari daging cincang yang dilumat dan kemudian digoreng. Perkedel di Indonesia terbuat dari kentang atau jagung yang dilumatkan lalu dicampur dengan irisan daun bawang dan bumbu-bumbu. Dibentuk bulat-bulat, dicelupkan ke dalam kocokan telur ayam lalu digoreng. Perkedel ada juga ada yang terbuat dari tahu.(http://id.wikipedia.org/wiki/Perkedel) 4.2.9 Dendeng Dendeng adalah daging yang dipotong tipis menjadi serpihan yang lemaknya dipangkas, dibumbui dengan saus asam, asin atau manis dengan dikeringkan dengan api kecil atau diasinkan dan dijemur. Daging harus dikeringkan dengan cepat, untuk memperlambat pertumbuhan bakteri saat itu juga. Untuk melakukannya, daging dipotong tipis, atau ditekan sampai tipis. Hasilnya adalah daging yang asin dan semimanis dan tidak perlu disimpan di kulkas. (http://id.wikipedia.org/wiki/Dendeng). 4.2.10 Gado-gado Gado-gado adalah salah satu makanan yang berasal dari Indonesia yang berupa sayur-sayuran yang direbus dan dicampur jadi satu, dengan bumbu atau saus dari kacang tanah yang dihaluskan disertai irisan telur dan di atasnya ditaburkan bawang goreng. Sedikit emping goreng atau kerupuk, ada juga yang memakai kerupuk udang. Universitas Sumatera Utara Gado-gado dapat dimakan begitu saja seperti salad dengan bumbu/saus kacang, tetapi juga dapat dimakan beserta nasi putih atau kadang-kadang juga disajikan dengan lontong. (http://id.wikipedia.org/wiki/Gado-gado) 4.2.11 Tempe Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe". Secara umum, tempe berwarna putih karena pertumbuhan miselia kapang yang merekatkan bijibiji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat. Degradasi komponenkomponen kedelai pada fermentasi membuat tempe memiliki rasa dan aroma khas (http://id.wikipedia.org/wiki/Tempe) 4.2.12 Tahu Tahu adalah makanan yang dibuat dari kacang kedelai yang difermentasikan dan diambil sarinya. Berbeda dengan tempe yang asli dari Indonesia, tahu berasal dari Cina, seperti halnya kecap, tauco, bakpau, dan bakso. Tahu adalah kata serapan dari bahasa Hokkian tahu yang secara harfiah berarti "kedelai yang difermentasi". Tahu pertama kali muncul di Tiongkok sejak zaman Dinasti Han sekitar 2200 tahun lalu. Penemunya adalah Liu An yang merupakan seorang bangsawan, cucu dari Kaisar Han Gaozu, Liu Bang yang mendirikan Dinasti Han. Di Universitas Sumatera Utara Jepang dikenal dengan nama tofu. Dibawa para perantau China, makanan ini menyebar ke Asia Timur dan Asia Tenggara, lalu juga akhirnya ke seluruh dunia. (http://id.wikipedia.org/wiki/Tahu) 4.2.13 Krupuk Kerupuk atau krupuk adalah makanan ringan yang dibuat dari adonan tepung tapioka dicampur bahan perasa seperti udang atau ikan. Kerupuk dibuat dengan mengukus adonan sebelum dipotong tipis-tipis, dikeringkan di bawah sinar matahari dan digoreng dengan minyak goreng yang banyak. Kerupuk bertekstur garing dan sering dijadikan pelengkap untuk berbagai makanan Indonesia seperti nasi goreng dan gado-gado. Kerupuk udang dan kerupuk ikan adalah jenis kerupuk yang paling umum dijumpai di Indonesia. Kerupuk biasanya dijual di dalam kemasan yang belum digoreng. Kerupuk ikan dari jenis yang sulit mengembang ketika digoreng biasanya dijual dalam bentuk sudah digoreng. Kerupuk kulit atau kerupuk ikan yang sulit mengembang perlu digoreng sebanyak dua kali. Kerupuk perlu digoreng lebih dulu dengan minyak goreng bersuhu rendah sebelum dipindahkan ke dalam wajan berisi minyak goreng panas. Kerupuk kulit (kerupuk jangek) adalah kerupuk yang tidak dibuat adonan tepung tapioka, melainkan dari kulit sapi atau kerbau yang dikeringkan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kerupuk) 4.3 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Benda Budaya (Artefak) Universitas Sumatera Utara Istilah-istilah budaya yang berkaitan dengan benda-benda budaya (artefak) yang ditemui dalam brosur pariwisata berbahasa Indonesia dan Inggris, Provinsi Sumatera Utara adalah sebagai berikut. 4.3.1 Meriam puntung Meriam puntung berada di halaman depan sebelah kiri Istana Maimoon, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimoon, Sumatera Utara. Meriam Puntung tersebut diletakkan di dalam sebuah rumah kecil beratap ijuk, bertiang empat tanpa dinding. Meriam tersebut merupakan sebuah meriam yang tidak utuh lagi, alias buntung, yang dikenal dengan meriam puntung. Dikisahkan bahwa di Kerajaan Timur Raya , hidup seorang putri yang sangat cantik, bernama Putri Hijau, karena tubuhnya memancarkan cahaya hijau. Raja Aceh sangat tertarik dengan Putri Hijau dan beliaupun meminangnya, namun pinangan tersebut ditampik oleh kedua saudara laki-laki Putri Hijau, yakni Mambang Yasid dan Mambang Khayali. Raja Aceh berang dan menyerang Kerajaan Timur Raya, dan mengalahkan Raja Mambang Yasid. Pada saat Raja Aceh hendak menculik Putri Hijau, terjadi kejaiban pada Mambang Khayali. Adik sang putri berubah menjadi “meriam”, dan menembak membabi buta tanpoa henti. Karena terus menerus menembakkan peluru, meriam ini pecah menjadi dua bagian. Bagian depan ditemukan di desa Surbakti di dataran tinggi Karo, dekat Kabanjahe, sedangkan bagian belakang terlempar ke Labuhan Deli, kemudian dipindahkan ke Istana Maimun. Universitas Sumatera Utara 4.3.2 Sigale-gale Nasib paling buruk yang dapat menimpa seorang Batak adalah meninggalkan dunia fana ini tanpa keturunan, khususnya laki-laki. Dengan demikian, rohnya terpaksa berkelana selama-lamanya di dunia tengah, tanpa adanya keluarga yang dapat memujanya, dan memberinya sajian serta makanan yang dapat memuaskannya. Nasib yang demikian tidak saja merupakan suatu malapetaka bagi mendiang yang malang ini, melainkan bagi anggota kelompoknya sedesa atau semarga juga. Maka masyarakat Toba membuat boneka dari kayu sebesar manusia, yang dikenakan pakaian Toba, termasuk ulos, dan disebut sigale-gale. 4.4 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Pakaian Istilah-istilah budaya yang berkaitan dengan pakaian yang ditemui dalam brosur pariwisata berbahasa Indonesia dan Inggris, Provinsi Sumatera Utara adalah sebagai berikut. 4.4.1 Ulos UIos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang, yang melambangkan ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak-anaknya, atau antara seseorang dengan orang lain, seperti yang tercantum dalam falsafah Batak : Ijuk pangihot ni hodong, Ulos pangohot ni holong, yang artinya ijuk pengikat pelepah pada batangnya, dan ulos pengikat kasih sayang pada sesame. Pada mulanya fungsi ulos untuk Universitas Sumatera Utara menghangatkan badan, tetapi kini ulos memiliki fungsi simbolik untuk hal-hal lain dalam segala aspek kehidupan orang Batak. Ulos tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang Batak. Setiap ulos mempunyai raksa sendiri-sendiri, artinya mempunyai sifat, keadaan, fungsi dan hubungan dengan hal atau benda tertentu. Dalam pandangan suku bangsa Batak ada tiga unsur mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu darah, nafas dan panas. Dua unsur terdahulu adalah pemberian Tuhan, sedangkan unsur ketiga tidaklah demikian. Panas yang diberikan oleh matahari tidaklah cukup untuk menangkis udara dingin di pemukiman suku bangsa Batak, khusunya di malam hari. Menurut pandangan suku bangsa Batak ada tiga sumber ynag memberi panas kepada manusia, yaitu matahari, api dan ulos. Ulos berfungsi member panas, dan menyehatkan badan, dan menyenangkan perasaan. Dikalangan orang Batak sering terdengar istilah mangulosi, yang artinya memberi ulos atau menghangatkan dengan ulos. Ada aturan yang harus dipatuhi dalam mangulosi, antara lain orang hanya boleh mangulosi mereka yang menurut ikatan kekerabatan berada di bawahnya, misalnya orang tua boleh mangulosi anaknya, tetapi anaknya tidak boleh mangulosi orang tua. Jika dalam prinsip kekerabatan Batak yang disebut dalihan na tolu, yang terdiri atas unsur-unsur hula-hula, boru, dan dongan sabutuha, seorang boru sama sekali tidak boleh mangulosi hula-hulanya. Ulos yang diberikan dalam mangulosi tidak boleh sembarangan, baik dalam macam maupun cara membuatnya. Sebagai suatu contoh ulos ragidup yang akan Universitas Sumatera Utara diberikan kepada boru yang akan melahirkan anak sulungnya haruslah yang memenhi syarat-syarat tertentu, yaitu ulos sinagok. Untuk mangulosi pembesar atau tamu kehormatan dipilihkan ulos yang berwarna gelap (inggom), yaitu yang disebut ulos ragidup silinggom, yaitu ulos yang diberikan kepada mereka yang dapat memberikan perlindungan (mangalinggomi) kepada orang lain. Berdasarkan raksanya, ulos di kenal menjadi beberapa macam, yaitu ulos ragidup. ulos ragihotang, dan ulos sibolang. Ulos ragidup merupakan yang tertingi derajatnya, sangat sulit pembuatannya. Ulos ini terdiri atas tiga bagian sisi yang ditenun sekaligus, dan satu bagian tengah yang ditenun tersendiri dengan sangat rumit. Bagian tengahnya terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian tengah atau badan, dan dua bagian lainnya sebagai ujung tempat pigura laki-laki (pinarhalak baoa), dan ujung tempat pigura perempuan (pinarhalak boru). Setiap pigura diberi beraneka ragam lukisan , antara lain antiganting sigamang, battuni ansimun, dsb. Warna lukisan serta corak (ragi) member kesan seolah-olah ulos benar-benar hidup, sehingga orang menyebutnya ragidup, yaitu lambang kehidupan. Setiap rumah tangga orang Batak mempunyai ulos ragidup. Selain lambing kehidupan ulos ini juga lambing doa restu untuk kebahagiaan dalam kehidupan, terutama dalam hal keturunan, yaitu banyak anak (gabe) bagi setiap keluarga dan panjang umur (saur sarima tua). Dalam upacara adat perkawinan, ulos ragidup diberikan orang tua pengantin perempuan kepada ibu pengantin laki-laki Universitas Sumatera Utara sebagai ulos pargomgoni, yang maknanya agar besannya ini atas izin Tuhan YME tetap dapat dapat selalu bersama sang menantu (anak dari si pemberi ulos). Ulos ragihotang termasuk ulos berderajat tingi, namun cara pembuatannya tidak serumit ulos ragidup. Hotang berarti rotan, dan raksa ulos ini mempunyai keistimewaan yang dapat diikuti dari keempat umpasanya. Ulos ini digunakan untuk mangulosi seseorang yang dianggap picik, dengan harapan agar Tuhan akan memberikannya kebijaksanaan, orang yang tertimpa kemalangan, ayah pengantin laki-laki dengan harapan akan mendapatkan hasil yang baik, dan orang yang ajin bekerja. Dalam upacara kematian, ulos ini dipakai untuk membungkus jenazah, sedangkan pada upacara penguburan untuk kedua kalinya untuk membungkus tulang belulangnya. Ulos sibolang juga digolongkan sebagai ulos yang berderajat tinggi, sekalipun cara pembuatannya lebih sederhana. Ulos sibolang semula disebut ulos sibulang, sebab diberikan kepada orang yang berjasa untuk membulangbulangi (menghormati) orang tersebut. Ulos ini juga dipakai orang tua pengantin perempuan untuk mangulosi ayah pengantin laki-laki sebagai ulos pansamot. Dalam suatu pesta perkawinan, dulu ada kebiasaan memberikan ulos sibolang si toluntuho oleh orang tua pengantin perempuan kepada menantunya sebagai ulos hela (ulos menantu). Pada ulos si toluntuho ini raginya tampak jelas menggambarkan tiga buah tuho (bagian) yang menggambarkan lambing dalihan na tolu. Mangulosi menantu laki-laki dimaksudkan agar dia selalu hati-hati dengan teman-teman semarga, dan paham siapa-siapa yang harus dihormati, memberi hormat kepada semua kerabat pihak istri, dan lemah lembut Universitas Sumatera Utara terhadap keluarganya. Selain itu ulos ini diberikan kepada seorang wanita yang ditinggal mati suaminya, sebagai tanda menghormati jasanya selama menjadi istri almarhum. Pemberian ulos tersebut biasanya dilakukan pada waktu upacara berkabung, dan dengan demikian juga dijadikan tanda bagi wanita tersebut bahwa dia telah menjadi seorang janda. Ulos-ulos lain yang digunakan dalam upacara adat, antara lain, ulos maratur dengan motif garis-garis yang menggambarkan burung atau banyak bintang tersusun teratur. Biasanya ulos ini digunakan sebagai ulos parompa dengan harapan agar setelah anak pertama lahir akan menyusul kelahiran anak-anak lain sebagai burung atau bintang yang terlukis dalam ulos tersebut jenis lain adalah ragi botik, ragi angkola, sirara, silimatuho, bolean, sinar lobu-lobu, dsb. Dari besar kecil biaya pembuatannya, ulos dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu, Ulos nametmet, Ulos panonga, dan Ulos nabalga. Ulos nametmet mempunyai ukuran panjang dan lebarnya jauh lebih kecil, tidak digunakan dalam upacara adat, melainkan untuk dipakai sehari-hari. Yang termasuk dalam golongan ini antara lain ulos sirampat, ragi huting, namarpisaran, dsb. Ulos panonga digolongkan sebagai kelas menengah sebab nilainya lebih tinggi dari ulos nametmet tetapi lebih rendah dari ulos nabalga. Ulos ini digunakan dalam upacara adat, tetapi orang-orang mampu menggunakannya untuk pemakaian Universitas Sumatera Utara sehari-hari. Yang termasuk golongan ini adalah mangiring, bolena najempek, surisuri, sitoluntuho, sibolang rasta, dsb. Ulos nabalga adalah ulos kelas tinggi atau tertinggi jenis ulos ini pada umumnya digunakan dalam upacara-upacara adat sebagai pakaian resmi atau sebagai ulos yang diserahkan atau yang diterima. Yang termasuk dalam golongan ini adalah sibolang, runjat, jobit, ragidup dsb. Cara memakai ulos bermacam-macam tergantung pada situasinya. Ada orang yang memakai ulos dibahunya seperti pemakaian selendang atau berkebaya, ada yang memakainya sebagai kain sarung, ada yang melilitkannya di kepala, dan ada pula yang mengikatnya secara ketat di pinggang. Arti dan fungsi kain selendang tenun khas batak ini sejak dulu hingga sekarang tidak mengalami perubahan, kecuali beberapa variasi yang disesuaikan dengan kondisi social budaya. Saat ini fungsi ulos bersifat multidimensional karena mencakup beberapa aspek kehidupan social budaya. Ulos kini tidak hanya berfungsi sebagai lambang penghangat dan kasih sayang, melainkan juga sebagai lambang kedudukan, lambang komunikasi, dan lambang solidaritas. 4.4.2 Batik Universitas Sumatera Utara Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Ada beberapa jenis batik, yaitu Batik tulis, Batik cap, dan Batik lukis. Batik tulis adalah kain yang dihias dengan tekstur dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan. Batik cap adalah kain yang dihias dengan tekstur dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari. Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih. 4.4.3 Sarung songket Songket adalah jenis kain tenunan tradisional Melayu di Indonesia. Songket digolongkan dalam keluarga tenunan brokat. Songket ditenun dengan tangan dengan benang emas dan perak dan pada umumnya dikenakan pada acara-acara resmi. Benang logam metalik yang tertenun berlatar kain menimbulkan efek kemilau cemerlang. Kata songket berasal dari istilah sungkit dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, yang berarti mengait atau mencungkil. Hal ini berkaitan dengan metode Universitas Sumatera Utara pembuatannya; mengaitkan dan mengambil sejumput kain tenun, dan kemudian menyelipkan benang emas. Selain itu, menurut sementara orang, kata songket juga mungkin berasal dari kata songka, songkok khas Palembang yang dipercaya pertama kalinya kebiasaan menenun dengan benang emas dimulai. Istilah menyongket berarti ‘menenun dengan benang emas dan perak’. Songket adalah kain tenun mewah yang biasanya dikenakan saat kenduri, perayaan atau pesta. Songket dapat dikenakan melilit tubuh seperti sarung, disampirkan di bahu, atau sebagai destar atau tanjak, hiasan ikat kepala. Tanjak adalah semacam topi hiasan kepala yang terbuat dari kain songket yang lazim dipakai oleh sultan dan pangeran serta bangsawan Kesultanan Melayu. Menurut tradisi, kain songket hanya boleh ditenun oleh anak dara atau gadis remaja, akan tetapi kini kaum lelaki pun turut menenun songket.( http://id.wikipedia.org/wiki/Songket) 4.4.4 Kebaya Kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung, batik, atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni. 4.5 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Bangunan (Rumah/Tempat Tinggal) Istilah-istilah budaya yang berkaitan dengan bangunan (rumah/tempat tinggal) yang ditemui dalam brosur pariwisata berbahasa Indonesia dan Inggris, Provinsi Sumatera Utara adalah sebagai berikut. Universitas Sumatera Utara 4.5.1 Istana Maimun Istana Maimun merupakan sebuah istana yang terletak di Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Dibangun pada tahun 1886. Istana ini dirancang oleh seorang arsitek Italia dan diselesaikan di tahun 1888 semasa pemerintahan Sultan Mahmud Al Rasyid. Dewasa ini istana tersebut masih didiami oleh keluarga–keluarga sultan. Ruangan pertemuan, foto–foto keluarga kerajaan Deli, perabot rumah tangga Belanda kuno dan berbagai senjata, terbuka bagi masyarakat yang ingin mengunjunginya. Satu blok dari istana Maimun kearah Timur, berdiri Mesjid Raya dengan arsitek yang menawan merupakan daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Medan dan sangat mengagumkan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Istana_Maimoon) 4.5.2 Masjid Raya Masjid Raya dibangun pada tahun 1906 dan telah menjadi bagian warisan bersejarah Sultan Deli. Masjid ini masih dimanfaatkan sebagai pusat peribadatan umat Islam. Beberapa ornament yang menghiasi masjid didatangkan langsung dari Italia. Masjid Raya merupakan masjid terbesar di Sumatera Utara. Lokasinya sekitar 200 meter dari Istana Maimoon. 4.5.3 Siwaluh Jabu Universitas Sumatera Utara Siwaluh jabu berarti sebuah rumah yang didiami delapan keluarga, dimana setiap keluarga mempunyai peranan dan fungsi tersendiri. Ada yang sebagai kepala rumah, ada pula berfungsi semacam sekretaris, anggota, dan sebagainya. Sehingga bangunan itu pun harus besar dan kokoh. Belahan kayu besar dan tiang-tiang kayu berukuran diameter 60 cm sebagai penyangganya. Seluruh kayu tersebut diambil dari hutan belantara. Dinding bagian bawah agak miring kira-kira 30 derajat, disertai ukiran-ukiran di sepanjang bagian dinding dan lain sebagainya. Hal yang paling rumit ialah penggunaan tali-tali ijuk untuk menyatukan papan yang satu dengan yang lain, sehingga rumah ini berdiri kokoh tanpa penggunaan paku/ besi. Semua acara pembangunan itu dilakukan secara bergotong-royong. 4.5.4 Seuluh Dua Jabu Seuluh jabu sama dengan dengan siwaluh jabu, baik dari bentuk, bahan pembuatan, dan cara pembuatannya. Hanya saja rumah seuluhdua jabu didiami oleh dua belas keluarga. 4.5.5 Rumah Bolon Bangunan Rumah Bolon pematang Purba ini bekas istana Raja yang dibangun sekitar abad XVI oleh Raja Purba, terdiri dari dua bagian. Bagian depan disebut Lopou berukuran 12 m x 8,5 m. Dipakai tempat tinggal Raja dan tamutamunya. Bagian belakang dipakai untuk isterinya yang berjumlah 12 orang dan anak-anaknya. Rumah Bolon ini menghadap ke Timur berdiri di atas umpak batu. Di atas umpak batu terdapat gelondongan kayu yang disusun secara horizontal. Jumlah Universitas Sumatera Utara gelondongan kayu 10 buah disebut halang/galang. Bagian dinding dihiasi motif sulepat (garis-garis siku saling berkaitan dikombinasi dengan hiasan bunga. Rumah ini tidak mempunyai jendela, tetapi dibuat berjeruji. Terdapat pintu masuk dari depan dan belakang, akan tetapi tangga naiknya ada di bagian depan dengan tangga kayu dan terdapat pegangan yang terbuat dari rotan disebut Hotang Bulo. Di tiang kiri dan kanan pintu masuk terdapat hiasan bohi-bohi (bentuk muka manusia yang menyeramkan). Di bagian dinding terdapat hiasan berupa cecak yang terbuat dari cat (dulu terbuat dari jalinan ijuk). Atap rumah terbuat dari ijuk, di ujung bagian depan dan belakang terdapat bentuk menyerupai kepala kerbau. Kepalanya dari ijuk tapi tanduknya asli tanduk kerbau, menurut kepercayaan kepala kerbau ini sebagai lambang kebesaran, keberanian dan kebenaran serta penangkal roh jahat. Di ruang dalam Rumah Bolon bagian depan disebut Lopou dipakai Raja dan tamunya. Di ruang ini terdapat dua buah gong, di kiri dan kanan pintu masuk terdapat para-para tempat menyimpan senjata. Di kanan kiri pintu masuk terdapat tungku yang di atasnya terdapat parasanding (tempat menyimpan bumbu dan alat dapur. Di sudut kiri belakang terdapat kamar tidur raja. Di tengah ruang terdapat tiang tempat meletakkan tanduk kerbau sebagi tanda penabalan Raja yang jumlahnya 13 tanduk sesuai jumlah raja di Pematang Purba. Bagian belakang Rumah Bolon berfungsi sebagi tempat tinggal isteri raja dan ruang ini tidak mempunyai sekat. Masing-masing menempai sisi kiri dan kanan dan Universitas Sumatera Utara masing-masing mempunyai tungku dan didalam rumah ini masih banyak terdapat berbagai peninggalan sejah berupa benda-benda alat rumah tangga, peti mati, benda pusaka dll. 4.5.6 Bagas Godang Bagas godang berarti rumah yang besar, dahulu rumah tersebut adalah tempat tinggal raja dan keluarganya. Bangunan Sopo Godang mempergunakan tiang-tiang besar yang berjumlah ganjil sebagai-mana jumlah anak tangganya. Sesuai dengan fungsi Bagas Godang dan Sopo Godang, kedua bangunan adat tersebut melambangkan keagungan masyarakat huta sebagai suatu masyarakat yang diakui sah kemandiriannya dalam menjalankan pemerintahan dan adat dalam masyarakat Mandailing. Bagas Godang dimuliakan dalam kehidupan masyarakat. Adat istiadat Mandailing menjadikan bangunan adat tersebut sebagai milik masyarakat Huta tanpa menguarangi kemuliaan Raja dan keluarganya yang berhak penuh menempati Bagas Godang. 4.6 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Transportasi Salah satu jenis transportasi yang digunakan di Danau Toba adalah : 4.6.1 Solu bolon Universitas Sumatera Utara Solu bolon merupakan sebuah perahu yang cukup besar, yang terbuat dari kayu digunakan sebagai alat transportasi di Danau Toba. 4.7 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Komunikasi /Bahasa Bahasa menunjukkan bangsa, demikian juga halnya dengan orang-orang di Sumatera Utara yang terdiri atas berbagai suku menggunakan bahasanya sendiri dalam berkomunikasi, yakni : Batak, Minang, Nias, Melayu, dll. 4.7.1 Horas Horas adalah salam khas Batak. Kata horas adalah ungkapan rasa gembira dan syukur dan juga pengharapan atas keselamatan dan berkat dari Tuhan Yang Maha Esa. Horas diucapkan pada saat berjumpa maupun saat akan berpisah. Horas Salam horas dijawab dengan mengucapkan horas juga. Ini akan membantu menciptakan suasana yang bersahabat dan bersemangat. juga digunakan sebagai salam pembuka dan penutup dalam setiap acara Batak. 4.7.2 Yahowu Universitas Sumatera Utara Yahowu adalah sapaan suku Nias, suku yang tinggal di pulau Nias. Yahowu mengandung banyak arti dan digunakan dalam banyak keadaan. Yahowu dapat diartikan salam, Tuhan memberkati, semoga sukses, selamat, dan sebagainya. 4.7.3 Njuah-juah Njuahjuah merupakan sapaan suku Batak Pakpak, yang maknanya sama dengan kata horas. 4.7.4 Mejuah-juah Mejuahjuah adalah sapaan orang Batak Karo. Seperti halnya dengan njuahjuah, kata mejuahjuah juga sama maknanya dengan kata horas. 4.8 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Kegiatan (Aktivitas) Ada beberapa kegiatan atau aktifitas yang dilakukan masyarakat di Sumatera Utara untuk menarik minat turis, yaitu : 4.8.1 Lompat batu Kabupaten Nias Selatan adalah salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang terletak di pulau Nias. Dengan Ibu kota Teluk Dalam. Kabupaten Nias Selatan memiliki andalan pariwisata tersendiri selain Rumah adat dan Tari perang yaitu Tradisi Lompat Batu atau Fahombo yaitu tradisi yang dilakukan oleh seorang pria yang mengenakan pakaian adat setempat Nias dan meloncati susunan batu yang disusun setinggi lebih dari 2 (dua) meter. Lompat batu ini hanya terdapat di kecamatan Teluk Dalam saja. Universitas Sumatera Utara Konon ajang tersebut diciptakan sebagai ajang menguji fisik dan mental para remaja pria di Nias menjelang usia dewasa. Setiap lelaki dewasa yang ikut perang wajib lulus ritual lompat batu. Batu yang harus dilompati berupa bangunan mirip tugu piramida dengan permukaan bagian atas datar. Tingginya tak kurang 2 (dua) meter dengan lebar 90 centimeter (cm) dan panjang 60 cm. Para pelompat tidak hanya sekedar harus melintasi tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus memiliki tekhnik seperti saat mendarat, karena jika dia mendarat dengan posisi yang salah dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang. Jika seorang putra dari satu keluarga sudah dapat melewati batu yang telah disusun berdempet itu dengan cara melompatinya, hal ini merupakan satu kebanggaan bagi orangtua dan kerabat lainnya bahkan seluruh masyarakat desa pada umumnya. Itulah sebabnya setelah anak laki-laki mereka sanggup melewati, maka diadakan acara syukuran sederhana dengan menyembelih ayam atau hewan lainnya. Bahkan ada juga bangsawan yang menjamu para pemuda desanya karena dapat melompat batu dengan sempurna untuk pertama kalinya. Para pemuda ini kelak akan menjadi pemuda pembela kampungnya jika ada konflik dengan warga desa lain. 4.8.2 Lomba Solu Bolon Universitas Sumatera Utara Lomba Solu Bolon adalah suatu lomba dayung khas di Danau Toba Parapat dengan menggunakan Solu Bolon atau perahu besar. Solu Bolon pada awalnya adalah kegiatan olah raga sekaligus ungkapan kegembiraan masyarakat. Pada masa lalu, daratan belum digunakan sebagai sumber mata pencaharian, daratan masih dalam bentuk hutan dan kawasan pantai dijadikan tempat pemukiman. Hampir semua masyarakat menjadi nelayan. Secara rutin untuk menghilangkan kejenuhan bekerja sebagai nelayan masyarakat menggelar lomba perahu (Solu Bolon) antar kampung. Solu Bolon sebenarya memiliki makna sangat dalam, yaitu semangat, kekompakan tidak hanya terhadap sesama manusia namun juga dengan alam, kecintaan terhadap danau yang menjadi sumber mata pencaharian dan tempat melakukan berbagai aktifitas. Lomba Solu Bolon menanamkan kepada generasi muda bahwa lingkungan tempat tinggal harus dijaga kelestariannya dan terpenting kita harus kompak dengan alam. 4.8.3 Marjalekkat Marjalekkat adalah olahraga tradisional kebudayaan Simalungun dengan menggunakan bambu dengan tinggi jalekkat 230 cm, tinggi pijakan dari tanah 40-50 cm. Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama enggrang. 4.8.4 Margala Universitas Sumatera Utara Permainan ini dilakukan dengan membentuk dua regu. Satu regu terdiri dari 4 atau 5 orang. Margala dilakukan di halaman dengan membuat garis-garis membentuk kotak besar. Regu yang jaga akan berdiri di atas garis yang ditentukan dan regu yang satu lagi akan melewati kotak-kotak tersebut dengan syarat tidak boleh disentuh oleh regu yang jaga. Bila disentuh, maka regu jaga berganti. Demikianlah permainan ini dilakukan denga riuh. 4.8.5 Marsitekka Permainan ini dilakukan di halaman dengan terlebih dahulu membuat garis membentuk enam kotak kotak kecil berurut. Untuk memainkannya diperlukan sebuah "gaco" yang terbuat dari batu yang dipipihkan. Batu ini bisa dipipihkan dengan menggosoknya di atas aspal jalan raya. Marsitekka dilakukan dengan melempar gaco ke salah satu kotak yang ada, kemudian kita melalui kotak-kotak tersebut melopatlompat dengan satu kaki. Demikian dilakukan berulang-ulang. 4.8.6 Pesta Bunga dan Buah Pesta bunga dan buah yang diselenggarakan di kota wisata Berastagi, Kabupaten Karo sejak tahun 1988. Pada pelaksanaan pesta tersebut hampir seluruh kota Berastagi berhias dengan bunga dan buah. Mulai dari perumahan, pertokoan, kendaraan roda dua dan empat, restoran, rumah makan, hotel. Dan setiap kendaraan yang masuk dan keluar Berastagi dihadiahi bunga dan buah disisi kendaraan itu, sementara seluruh kendaraan di Berastagi dihiasi berbagai bunga dan buah yang Universitas Sumatera Utara menarik. Puncak acara yang diwarnai karnaval kendaraan hias sepanjang kota Berastagi dan sekitar 50 kontingen dari 13 kecamatan. 4.8.7 Rondang Bintang Rondang Bintang artinya terang benderang. Yang berasal dari kata rondang yang berarti terang, benderang, melebihi dari terang yang biasa. Jadi rondang bintang adalah cahaya bulan dan bintang yang sangat terang di malam hari. Rondang bintang ini biasanya dimanfaatkan muda-mudi belajar menari dan kegiatan-kegiatan lainnya, dengan penuh sukaria di halaman. Lama kelamaan kebiasaan ini menjadi suatu kebudayaa di tiap desa di Simalungun. 4.8.8 Guro-guro Aron Guro-guro aron adalah salah satu kesenian tradisional masyarakat Karo yang berasal dari Datarang Tinggi Karo, Sumatera Utara, yang sering diadakan saat pestapesta adat dan acara syukuran seusai panen. Seni tradisional ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa (menurut kepercayaan masingmasing) atas kecukupan rezeki atau hasil panen yang berlimpah atau pun juga perayaan atas kegembiraan yang dirasakan. Pada upacara guro-guro aron tersebut masyarakat Karo bernyanyi dan menari bersukaria, yang biasanya dilakukan sepanjang malam, dibawah cahaya bulan purnama. Pada upacara guro-guro aron biasanya para tokoh adat masyarakat Karo, dan para pemimpin mengambil kesempatan tersebut untuk menyampaikan pesan-pesan, biasanya pesan perdamaian dan semangat kerja kepada masyarakat. Hal ini dapat Universitas Sumatera Utara dilihat dari banyaknya lagu-lagu Karo yang tercipta dengan nada riang penuh semangat mengajak masyarakat bekerja keras (http://id.wikipedia.org/wiki/Gendang_guro-guro_aron). 4.8.9 Erpangir Ku lau Erpangir berasal dari kata pangir, yang berarti langir. Oleh sebab itu erpangir, artinya adalah berlangir, misalnya mencuci rambut dengan menggunakan sabun pencuci rambut (shampoo). Erpangir Kulau adalah upacara mandi untuk mengusir roh jahat atau menyucikan diri dari pengaruh roh jahat, memberi sesajian kepada yang kuasa supaya diberikan rejeki. Upacara ini masih dapat ditemukan dibeberapa tempat. Sering juga dilakukan dalam upacara perkawinan, penabalan nama anak dan menolak penyakit yang diakibatkan oleh roh-roh jahat. 4.8.10 Perumah Begu Upacara perumah begu masih tetap ada diantara penganut animisme. Dalam upacara perumah begu ini seorang dukun dapat berkomunikasi dengan roh-roh para leluhur dengan mengijinkan roh-roh itu masuk ke dalam tubuhnya. Dengan cara ini kita dapat mengetahui tentang hal-hal yang akan datang dan masa lalu para leluhur dapat disingkap. Universitas Sumatera Utara 4.8.11 Erdemu Bayu Erdemu bayu yaitu pesta perkawinan, suatu pesta upacara yang melibatkan banyak orang, baik dari pihak pengantin pria, pihak pengantin wanita, kalimbubu, anak beru dan sembuyak. Di dalam perkawinan karo pihak wanita masuk ke dalam pihak pria dan pihak pria harus membayar tukur (mas kawin) kepada kalimbubu. 4.8.12 Mangalahat Horbo Mangalahat Horbo termasuk budaya ritual yang sangat penting sebab setiap tahun dilaksanakan pada hari kelahiran raja, sekaligus memberi kurban berupa seekor kerbau jantan kepada Mulajadi Nabolon dan Debata Natolu agar setiap manusia jauh dari mara bahaya. Budaya ritual mangalakat horbo ini merupakan kunci dari seluruh ritual budaya Batak kepada Mulajadi Nabolon. 4.8.13 Pesta Menaneu Tahi Pesta Menaneu Tahi adalah upacara pemakaman jenazah bagi masyarakat Nias yang ada di Sumatera Utara. Tradisi penguburan masyarakat Sumatera Utara sangat kaya dan kompleks. 4.9 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Kemasyarakatan Universitas Sumatera Utara Istilah-istilah budaya yang berkaitan dengan kemasyarakatan yang ditemui dalam brosur pariwisata berbahasa Indonesia dan Inggris, Provinsi Sumatera Utara adalah sebagai berikut. 4.9.1 Sultan Sultan berasal dari Bahasa Arab sulthaanun untuk pria dan Sultanah untuk wanita merupakan yang berarti sultan, raja, penguasa, keterangan atau dalil. Sultan kemudian dijadikan sebutan untuk seorang raja atau pemimpin Muslim, yang memiliki suatu wilayah kedaulatan penuh yang disebut Kesultanan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan) 4.9.2 Hula-hula Hula-hula adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub-suku Batak) sehingga kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada Hulahula (Somba marhula-hula). (http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Batak) 4.9.3 Pariban Pariban adalah anak laki-laki dari adik/kakak perempuan ayah kita, secara hukum adat bisa menjadi suami. 4.9.4 Dalihan Natolu Universitas Sumatera Utara Dalihan Natolu adalah struktur yang melandasi sistem kemasyarakatan orang Batak . Dalihan Na Tolu artinya “tungku nan tiga”. Ketiga struktur yang merupakan kelompok utama dalam sistem kekerabatan orang Batak tersebut adalah hula-hula (pemberi anak dara atau istri), boru (penerima anak dara atau istri), dongan sabutuha (teman semarga). Selain pada masyarakat Batak Toba, struktur seperti ini juga dikenal oleh masyarakat Batak lainnya, yaitu 1) Orang Mandailing dan Angkola mnyebutnya Dalian Na Tolu Dalihan Na Tolu, yang terdiri atas Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu, Elek Maranak Marboru, 2) Orang Simalungun (Tolu Sahundulan), yang terdiri atas Martondong Ningon Hormat, Sombah, Marsanina Ningon Pakkei, Manat, dan Marboru Ningon Elek, Pakkei,3) Orang Batak Karo menyebutnya denga Rakut Si Telu, yang terdiri atas Nembah Man Kalimbubu, Mehamat Man Sembuyak, Nami-nami Man Anak Beru, 4) Orang Pakpak menamakannya Daliken Sitelu, yang terdiri atas Sembah Merkula-kula, Manat Merdengan Tubuh, dan Elek Marberru. Segala kegiatan orang Batak, terutama yang berhubungan dengan adat, harus berpedoman pada Dalihan Natolu. Hubungan di antara pihak yang termasuk dalam kesatuan ini harus dijaga agar tetap harmonis. Hal ini tercermin dalam pepatah adat yang berbunyi: “Samba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu”. Artinya hula-hula harus disembah, penerima istri harus dibujuk, dan teman semarga harus diperlakukan secara hati-hati. Setiap pihak memiliki kedudukan dan peranan yang berbeda. Kedudukan hula-hula dianggap lebih tinggi daripada dua pihak lainnya. Mereka harus dihormati, Universitas Sumatera Utara karena mereka adalah wakil Tuhan yang dapat dilihat (debata na niida). Hula-hula adalah sumber dan saluran berkat (pasu-pasu) bagi borunya. Boru bertanggung jawab atas pelaksanaan upacara adat. Sebagai pekerja (parhobas) dalam upacara adat, pihak boru harus rela berkorban moral maupun material demi kelancaran upacara. Sebaliknya agar tugas dan kewajiban terlaksana dengan baik, pihak hula-hula, si empunya kerja, tidak boleh berlaku sewenangwenang terhadap borunya. Terhadap teman semarga, setiap orang Batak harus selalu berhati-hati (manat) dan tidak saling menyakiti. Sebab, sebagian orang semarga, mereka berada dalam satu garis keturunan yang berasal dari keturunan bapak (patrilineal). Secara adat lingkaran keturunan ini ditentukan sebagai sisada si panganon (satu dalam hal makanan), sisada si namot (satu dalam hal harta), sisada hasangapon (satu dalam kehormatan), dan sisada hailaon (satu dalam hal kehinaan). Namun bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak. Sistem kekerabatan Dalihan na Tolu adalah bersifat kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak pasti pernah menjadi Hulahula, juga sebagai Dongan Tubu, juga sebagai Boru. Jadi setiap orang harus menempatkan posisinya secara kontekstual. Sehingga dalam tata kekerabatan, semua orang Batak berperilaku 'raja'. Raja dalam tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang berperilaku baik sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. (http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Batak) Universitas Sumatera Utara 4.9.5 Kalimbubu Perkawinan dalam masyarakat Karo bukanlah merupakan soal individu (perseorangan), tetapi adalah masalah keluarga. Kawinnya seseorang dengan orang lain tidak hanya mengikat tali kekeluargaan dengan keluarga dari pihak istri atau suaminya, tetapi terjadilah jaringan-jaringan kekeluargaan di antara kedua golongan keluarga dari mempelai. Kalimbubu merupakan keluarga pemberi dara (yang menyerahkan anak perempuan). Kalimbubu adalah golongan yang sangat dihormati. 4.9.6 Anak Beru Anak beru adalah keluarga yang mengambil atau menerima isteri. Anak beru merupakan tempat berteduh bagi kalimbubu-nya. Penamaan tersebut, mencerminkan kedudukannya di dalam upacara-upacara, dan juga mencerminkan betapa pentingnya kedudukan mereka sebagai golongan yang membawa kedamaian di dalam keluarga kalimbubu. Pertengkaran-pertengkaran di dalam keluarga merupakan tugas anak beru yang mendamaikannya. Segala upacara-upacara, umpamanya upacara perkawinan, memasuki rumah baru, kematian, dan lain sebagainya diselesaikan oleh anak beru. Dalam hal yang berhubungan dengan adat, orang luar tidak boleh berhubungan langsung dengan kalimbubu, tetapi harus melalui perantara anak beru. Jika ada dua pihak yang bersengketa, maka yang berhadapan langsung adalah anak Universitas Sumatera Utara beru dari masing-masing pihak yang bersengketa. Fungsi anak beru disini adalah sebagai penyambung lidah. 4.9.7 Sembuyak Sembuyak adalah saudara antara anggota-anggota yang masih memiliki satu marga, satu ayah/ibu, satu nenek/kakek, satu cicit, dan seterusnya. 4.9.8 Tukur Tukur bermakna membeli. Dalam budaya Karo perempuan dibeli pihak lakilaki. Mahar yang diberikan pihak laki-laki kepada piihak perempuan disebut tukur. 4.10 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Agama/Kepercayaan Ada tiga istilah budaya yang terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia dan Inggris, provinsi Sumatera Utara, yaitu : 4.10.1 Mulajadi Nabolon Mulajadi na Bolon adalah dewa tertinggi dalam mitologi Batak. Ia menciptakan tiga tingkat dunia yaitu Banua Ginjang, Banua Tonga dan Banua Toru. Ini dilakukan dengan istrinya Manuk Patiaraja yang kemudian melahirkan tiga buah telur. Dari tiga telur itu kemudian menetas Batara Guru, Soripada dan Mangala Universitas Sumatera Utara Bulan. Ketiga dewa ini yang kemudian menciptakan tiga tingkat dunia. (http://id.wikipedia.org/wiki/Mulajadi_na_Bolon) 4.10.2 Idul Fitri Idul Fitri adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah. Karena penentuan 1 Syawal yang berdasarkan peredaran bulan tersebut, maka Idul Fitri atau Hari Raya Puasa jatuh pada tanggal yang berbeda-beda setiap tahunnya apabila dilihat dari penanggalan Masehi. Cara menentukan 1 Syawal juga bervariasi, sehingga boleh jadi ada sebagian umat Islam yang merayakannya pada tanggal Masehi yang berbeda. Pada tanggal 1 Syawal, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan menyelenggarakan Salat Ied bersama-sama di masjid-masjid, di tanah lapang, atau bahkan jalan raya (terutama di kota besar) apabila area ibadahnya tidak cukup menampung jamaah. Idul Fitri menandai berakhirnya puasa pada bulan Ramadhan. Umat Islam di Indonesia menjadikan Idul Fitri sebagai hari raya utama, momen untuk berkumpul kembali bersama keluarga, apalagi keluarga yang karena suatu alasan, misalnya pekerjaan atau pernikahan, harus berpisah. Mulai dua minggu sebelum Idul Fitri, umat Islam di Indonesia mulai sibuk memikirkan perayaan hari raya ini, yang paling utama adalah mudik atau pulang kampung, sehingga pemerintah pun memfasilitasi dengan memperbaiki jalan-jalan yang dilalui. Hari Raya Idul Fitri di Indonesia diperingati sebagai hari libur nasional, yang diperingati oleh sebagian Universitas Sumatera Utara besar masyarakat Indonesia yang memang mayoritas Muslim. Biasanya, penetapan Idul Fitri ditentukan oleh pemerintah, namun beberapa ormas Islam menetapkannya berbeda. Idul Fitri di Indonesia disebut dengan Lebaran, dimana sebagian besar masyarakat pulang kampung (mudik) untuk merayakannya bersama keluarga. Selama perayaan, berbagai hidangan disajikan. Hidangan yang paling populer dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia adalah ketupat. Bagi anak-anak, biasanya para orang tua memberikan uang raya kepada mereka. Selama perayaan, biasanya masyarakat berkunjung ke rumah-rumah tetangga ataupun saudaranya untuk bersilaturahmi, yang dikenal dengan "halal bi-halal", memohon maaf dan keampunan kepada mereka. Beberapa pejabat negara juga mengadakan open house bagi masyarakat yang ingin bersilaturahmi. Selain menunaikan Salat Sunnah Idul Fitri, kaum muslimin juga harus membayar zakat fitrah sebanyak 2,7 kilogram bahan pangan pokok. Tujuan dari zakat fitrah sendiri adalah untuk memberi kebahagiaan pada kaum fakir miskin. Kemudian, Khutbah diberikan setelah Salat Idul Fitri berlangsung, dan dilanjutkan dengan do'a. Setelah itu, kaum muslimin saling bermaafan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Idul_Fitri) 4.10.3 Sya’ban Sya’ban merupakan salah satu nama bulan menurut penanggalan kalender Islam yang berdasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi. 4.11 Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Seni Universitas Sumatera Utara Istilah-istilah budaya yang berkaitan degan seni yang terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia dan Inggris adalah : 4.11.1 Bohi-bohi Bohi-bohi adalah ukiran wajah manusia sebagai kepala sambaho (dinding). Bohi-bohi Melambangkan keramah tamahan, kewaspadaan serta sarat akan muatan supranatural. 4.11.2 Boras Pati Boras pati adalah sejenis kadal. Di Simalungun, hiasan ini berbentuk geometris yang dibuat dari bahan ijuk. Boraspati merupakan simbol supranatural untuk penangkal kekuatan gaib. Boras pati juga banyak dipakai sebagai tema hias Batak, baik di Karo sebagai motif penghias dinding kiri-kanan pintu masuk rumah, maupun di Toba sebagai motif hias pada patung batu, seperti "gudang perahu" di Panjomuran dan Pagar Batu pintu sopo dari kayu yang diukir, kulit luar pustaha, tanduk penyimpan peluru, tabung mesiu, atau perhiasan dari kuningan. Boras pati ni Tano merupakan salah satu unsur kayangan Batak yang sekaligus melambangkan kemakmuran, kesuburan tanah dan dunia bawah hampir selalu digambarkan dengan kepala yang seolah-olah muncul dari dunia bawah untuk bergabung dalam dunia tengah, yaitu dunia kita. Universitas Sumatera Utara 4.11.3 Porkis Manangkih Bakar Porkis Manangkih Bakar adalah lambang sebuah kerja yang tekun, tidak mudah putus asa, keselamatan dan ketelitian, layaknya semut memanjat bambu kering. 4.11.4 Tari Naposo Tari naposo atau gondang naposo adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat Batak Toba sebagai ungkapan kegembiraan setelah masa panen, sekaligus sebagai acara pertemuan muda-mudi masyarakat Batak Toba. 4.11.5 Tari Sigale-gale Untuk mengatasi ancaman terhadap roh orang yang meninggal tanpa mempunyai anak laki-laki, masyarakat Toba menjalankan suatu upacara kematian khusus.Dalam upacara ini, sebuah boneka dari kayu sebesar manusia, yang dikenakan pakaian Toba, termasuk ulos, dan disebut sigale-gale, digerak-gerakkan untuk melakukan tarian kematian khusus, yang disebut tortor si gale-gale. Tujuan tarian ini adalah memberi kepuasan sekaligus meredakan kekecewaan mendiang, melalui boneka yang melambangkan keturunan yang tidak ada padanya. Sigale-gale ini dipancangkan di atas sebuah kotak kayu, dan digerak-gerakkan melalui tali-temali yang disembunyikan dalam kotak tersebut. Dahulu kala seorang datu yang mendapat kehormatan menarik tali-tali tersebut dan menari-narikan si galegale itu. Perakitan penggerak si gale-gale begitu lengkap, sehingga boneka tidak saja Universitas Sumatera Utara dapat menggerakkan jari, tangan dan kakinya, tetapi juga memutar-mutar kepalanya, bahkan membuka dan menutup matanya. Boneka yang aneh ini sekarang sangat jarang ditemukan karena menurut adat, begitu upacara kematian usai, boneka tersebut harus dihancurkan. Boneka dan tarian ini khusus terdapat di beberapa desa pesisir Danau Toba, terutama di pulau Samosir. Suatu pertunjukan yang menggambarkan upacara lama tortor si gale-gale.. Ini disajikan kepada para wisatawan yang mengunjungi “desa museum” Simanindo. Betapa pun kurang sempurnanya, namun pertunjukan ini merupakan salah satu usaha untuk menggambarkan upacara yang cukup aneh ini pada pengunjung di tanah Batak. 4.11.6 Tari Serampang 12 Serampang 12 merupakan salah satu tari pergaulan bernama joget dari Sumatera bagian Timur, Propinsi Sumatera Utara. Tari pergaulan Melayu ini lazimnya dibawakan oleh pria dan wanita secara berpasangan. Pementasan tari serampang dua belas diiringi music dengan pukulan gendang yang berirama Amerika Latin, rampak dan berirama gembira. Kata serampang berasal dari kata cerancang yangberarrti variasi sedangkan dua belas adalah angka yang menunjukkan jumlah besar. Nama cerancang kemudian diganti menjadi serampang sehingga menjadi Serampang 12. Serampang 12 merupakan salah satu tarian Sumatera yang memiliki berbagai variasi dalam gerak rampaknya. Kostum penarinya sama dengan yang dipakai penari tari paying. Pasangan pria dan wanita memulai tarian ini dengan irama perlahan yang sedikit demi sedikit bertambah cepat, sementara semua penarinya Universitas Sumatera Utara senantiasa tersenyum gembira seperti tari payung, Serampang 12 merupakan tarian cinta atau tarian sosial yang memberi kesempatan bagi pria dan wanita untuk lebih saling mengenal. 4.11.7 Tari Tor-tor Tor-tor atau tari gondang adalah tari tradisional suku bangsa Batak, Sumatera Utara. Tarian rakyat yang sudah ada pada zaman Indonesia-Hindu ini berlatar belakang adat. Karena tujuannya untuk menghormati arwah para dewa serta para leluhur. Tor-tor ditarikan dalam suasana penuh hikmat. Tari yang mengandung unsur ritual dalam pertunjukannya ini biasanya diiringi gondang (gendang). Tari ini lazim digelarkan dalam upacara-upacara adat penting, seperti Pesta Bius (penghormatan), Mangase Taon (Tahun Baru). Pesta Saring-saring (pesta belulang) dan banyak upacara penting lainnya. Secara keseluruhan tari tor-tor dapat dibagi atas tujuh bagian. Tari pembuka, yang disebut gondang mula-mula, diawali dengan tabuhan gendang bertalu-talu. Pada saat terdengar suara gendang, para penari mulai mengambil sikap menyembah dengan mengangkat tangan lewat gerak-gerak halus yang anggun. Bagian ini ditujukan untuk memuja Tuhan Sang Pencipta. Universitas Sumatera Utara Gondang Dewata yang merupakan bagian kedua ditujukan untuk menghormati para Dewata. Pada bagian ini gerakan para penari mulai hidup dan bebas mengikuti tabuhan gondang yang riuh dan gemuruh dengan mempertahankan keanggunan dan kekuatannya. Pada bagian ini, ulos-ulos yang semula dililitkan di badan mulai dikibaskan, sementara para penari membuat gerak berputar di tempat sambil menyembah. Tari tor-tor bagian ketiga merupakan gerak penghormatan kepada roh leluhur. Gerak tarinya kian rampak dengan liukan pinggang dan jmeari diiringi kerlingan mata. Irama music pengiringnya semakin cepat dan bersemangat. Bagian keempat dan kelima diawali dengan tari kisah (mangaliat) yang khusus dipersembahkan kepada para hadirin dengan tujuan memohon kemakmuran. Irama musik pengiringnya tidak lagi rampak bersemangat namun bervariasi dari andante, maistoso ke irama mars. Pada beberapa posisi, penari pria meletakkan tangan di atas kepala penari wanita sebagai tanda pemberi berkat, sementara itu penari wanita menaruh tangan secara terbuka di bawah dagu penari pria sebagai tanda menerima berkat. Bagian berikutnya, bagian keenam, dinamakan tor-tor sitiotie atau tari kemurnian. musik pengiringnya kini berirama tenang dan agung. Para penari kembali ke tempatnya masing-masing dengan sikap hormat, seakan tengah menyembah menantikan sesuatu. Bagian keenam ini relatif singkat, dan kemudian dilanjutkan ke Universitas Sumatera Utara tari Gondang Hasatan atau gondang pencapai tujuan yang merupakan bagian ketujuh. Pada bagian ini yang dipergelarkan adalah sesembahan. Para penari menarik ulosnya yang tersandang lalu mengangkat tangan sambil berteriak horas. Kedua bagian ini ditarikan dengan tujuan untuk memperoleh kesehatan rohani dan jasmani. 4.11.8 Gordang Sembilan Gordang Sembilan merupakan alat musik perkusi dari Mandailing Satera Utara. Alat musik tersebut terdiri dari Sembilan buah gordang dengan ukuran besar. , biasanya dimainkan oleh empat orang. Gordang dapat mencapai ukuran panjang 165 cm, diameter atas 43 cm dan diameter bawah 40 cm. 4.11.9 Pencak Silat Pencak silat atau silat adalah suatu seni bela diri. Induk organisasi pencak silat di Indonesia adalah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Organisasi yang mewadahi federasi-federasi pencak silat di berbagai negara adalah Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa (Persilat), yang dibentuk oleh Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. (http://id.wikipedia.org/wiki/Pencak_silat) 4.11.10 Pagar Tringgalum Pagar Tringgalum merupakan salah satu hiasan yang ada di Istana Maimoon, tepatnya di bagian aula. Hiasan tersebut berbentuk ukiran tradisional Melayu. Universitas Sumatera Utara 4.11.11 Tari Perang Tari perang berasal dari Nias. Tari perang merupakan sebuah tarian seremonial dan kolosal dari Suku Nias, karena tidak ada batasan jumlah yang boleh ikut dalam tarian ini. Semakin banyak pesertanya, semakin semangat pula tarian ini dilakukan. 4.11.12 Gondang Gondang dalam bahasa Mandailing mengandung beberapa pengertian yaitu: alat musik, gabungan dari sejumlah alat musik, nama lagu, irama atau ritmik, jenis musik tertentu, dan sebagai musik itu sendiri, yang erat kaitannya dengan unsur-unsur kebudayaan Mandailing lainnya. 4.12. Teknik Penerjemahan Istilah-istilah Budaya Berikut ini adalah daftar istilah Budaya dan teknik penerjemahan yang terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Inggris, Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan istilah-istilah budaya yang terdapat pada brosur pariwisata yang berbahasa Inggris tersebut terdahulu, selanjutnya peneliti menyajikan terjemahan istilah-istilah budaya tersebut dalam bahasa Inggris. Selain hal tersebut peneliti juga mencantumkan teknik penerjemahan yang digunakan. Penyajian istilah-istilah budaya dan terjemahan dalam bahasa Inggris dilakukan berdasarkan urutan pengelompokan kata atau frasa berdasarkan pendapat Newmark (1988), sebagai berikut : Tabel 1 : Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Ekologi Universitas Sumatera Utara NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Teknik Penerjemahan 1 Batu Gantung Hanging Rock Calque Tabel 2 : Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang berkaitan dengan Makanan NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Teknik Penerjamahan 1 Rendang Meaty simmered in Deskripsi spices and coconut milk 2 Sate Deskripsi Small pieces to meat roasted on a skewer 3 Roti Jala Food usually eaten with Generalisasi curry 4 Naniura 5 Natinombur 6 Lomok-lomok Sour raw fish Deskripsi Grilled fish with lots of spices Young pig cooked in Deskripsi Deskripsi blood 7 Nani Arsik 8 Perkedel Perkedel Peminjaman 9 Dendeng Dendeng Peminjaman Boiled fish with spices Deskripsi Universitas Sumatera Utara 10 Gado-gado One of the typical food Deskripsi made of cooked eggs, mixed with peanut sauce. 11 Tempe 12 Tahu 13 Krupuk Tempe Peminjaman Literal Tofu Krupuk Peminjaman Tabel 3 : Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang berkaitan dengan Benda Budaya NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Teknik Penerjemahan 1. Meriam Puntung Cannon stub Calque 2 Sigale-gale Wooden statue Deskripsi Tabel 4 : Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Pakaian NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Teknik Penerjemahan 1 Ulos Traditional Batak textiles Generalisasi Universitas Sumatera Utara 2 Batik Batik Peminjaman 3 Sarung Songket Sarong embroidered with Deskripsi bits of gold or silver threat 4 Kebaya Literal Blouse Tabel 5 : Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang Berkaitan denganBangunan NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Teknik Penerjemahan 1 Istana Maimoon Mimoon Palace Calque 2 Masjid Raya Grand Mosque Calque 3 Rumah Siwaluh Jabu A-1250 year traditional karo Deskripsi house, where 8 families used to live The peacefully together. materials of the traditional houses are made from round wooden, poles, planks, bamboo, and palm fiber without using any nails or spikes Universitas Sumatera Utara 4 Rumah Seuluh Dua Jabu 5 Rumah Bolon It was occupied by 12 Deskripsi families ( a great house) is the Couplet residence of the king and his family. Some buildings around rumah bolon 6 Bagas Godang old traditional house/big Deskripsi house, was the King and his family’s dwelling Tabel 6 : Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Transportasi NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Teknik Penerjemahan 1 Solu Bolon Great Canoe Calque Tabel 7 : Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Komunikasi/Bahasa NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Teknik Penerjemahan 1 Horas the warm greeting of Deskripsi North Sumatera 2 Yahowu Yahowu Peminjaman Universitas Sumatera Utara 3 Njuah-juah 4 Mejuah-juah Njuah-juah Peminjaman Mejuah-juah Peminjaman Tabel 8 : Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Sosial Budaya/Kegiatan NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Teknik Penerjemahan 1 Lompat Batu - 2 Lomba Solu Bolon Solu bolon race 3 Marjalekkat Marjalekkat Peminjaman 4 Margala Margala Peminjaman 5 Marsitekka Marsitekka Peminjaman 6 Pesta Bunga dan Buah Fruit and flower festival Calque 7 Rondang Bintang Marriage Dance Generalisasi 8 Guro-guro Aron It Stone Jumping is traditional Calque Calque Karo Deskripsi ceremony which takes place every year in the planting and harvest seasons. Guro- Universitas Sumatera Utara guro Aron has an additional Karo drum attraction with pairs of singers and dancers from each of the five family clans of Karo 9 Erpangir Ku Lau It’s an ancirent cultural Deskripsi event that has become a sacred activity in the river and there is also a ritual of giving offerings so that Almighty God will bless them. This is an ancient cultural event that has become a sacred activity in the river and there is also a ritual of giving offerings so that Almighty God will bless them. It is still carried out in some places for wedding naming ceremonies, ceremonies for Universitas Sumatera Utara preventing evil disease. 10 Perumah Begu It’s a cultural ceremony Deskripsi where a witch doctor is able to call spirits of the ancestors to posses his/her body in order to communicate with them so that he/she will know what will happen in the future and it is also done out of his/her longing for them Perumah Begu is a cultural ceremony where a witch doctor is able to call spirits of the ancestors to posses his/her body in order to communicate with them so that he/she can know what will happen in the future Universitas Sumatera Utara and it also done out of his/her longing for them. This ceremony is still occasionally carried out in some place among animists. 11 Erdemu Bayu It is kind of wedding Deskripsi ceremony in Karo culture which is considered holy and sacred involving many agents from the bride and groom, Kalimbubu, Anak Beru and Sembuyak. In Karo weddings, the bride’s family becomes part of the groom’s family and groom’s family has to pay wedding ornaments (tukur) to the bride’s family. 12 Mangalahat Horbo It is a ritual buffalo Deskripsi sacrificing. 13 Pesta Menaneu Tahi The Funeral Ceremony Deskripsi Universitas Sumatera Utara Tabel 9 : Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang berkaitan dengan Kemasyarakatan NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Teknik Penerjemahan 1 Sultan Sultan Peminjaman 2 Hula-hula The princess family Deskripsi 3 Pariban The aunt’s son Deskripsi 4 Dalihan Natolu Three principles 5 Kalimbubu Kalimbubu Peminjaman 6 Anak Beru Anak Beru Peminjaman 7 Sembuyak Sembuyak Peminjaman 8 Tukur Wedding ornaments Calque Deskripsi paid by the groom’s family to the bride’s family. Tabel 10 : Teknik Penerjemaha Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Agama NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Teknik Penerjemahan Universitas Sumatera Utara 1 Mulajadi Nabolon 2 Idul Fitri Deskripsi The Almighty Creator One of the holy days of Generalisasi Islam 3 Sya’ban Sya’ban Peminjaman Tabel 11 : Teknik Penerjemahan Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Seni NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Teknik Penerjemahan 1 Bohi-bohi Bohi-bohi Peminjaman 2 Boras Pati Boras Pati Peminjaman 3 Porkis Porkis Manangkih Manangkih Bakar Bakar 4 Tari Naposo A marriage dance 5 Tari Sigale-gale A dance which uses a Peminjaman Generalisasi Deskripsi wooden statue that is made to follow the movements of the music 6 Tarian Serampang Serampang 12 Dance Calque 12 7 Tari Tor-tor Traditional Batak Deskripsi dance Universitas Sumatera Utara 8 Gordang Sembilan Gordang Sembilan Peminjaman 9 Pencak Silat Pencak Silat Peminjaman 10 Pagar Tringgalum Tringgalum Fence 11 Tari Perang War dance 12 Gondang Traditional theater Calque Calque Deskripsi Berdasarkan tabel-tabel di atas, peneliti merangkum jumlah data berdasarkan kelompoknya, sebagai berikut: Tabel 12 Nomor : Jumlah Data Istilah Budaya dan Persentasenya Kelompok Jumlah Data % 1 Ekologi 1 1,49 2 Makanan 13 19,40 3 Benda Budaya/artefak 2 2,98 4 Pakaian 4 5,97 5 Bangunan 6 8,96 6 Transportasi 1 1,49 Universitas Sumatera Utara 7 Bahasa 4 5,97 8 Sosial Budaya 13 19,40 9 Kemasyarakatan 8 11,94 10 Agama 3 4,48 11 Seni 12 17,91 Jumlah 67 100,00 Selanjutnya peneliti akan menyajikan Teknik penerjemahan dan jumlah persentasenya, dalam tabel berikut ini : Tabel 13 Nomor : Teknik Penerjemahan yang Digunakan dan Persentasenya. Teknik Penerjemahan Jumlah % 1 Deskripsi 25 37,31 2 Peminjaman 21 31,34 3 Calque 12 17,91 4 Generalisasi 6 8,96 Universitas Sumatera Utara 4 Literal 2 2,99 5 Couplet 1 1,49 Total 67 100,00 4.12.1 Teknik Penerjemahan Deskripsi Dari 67 data yang tertera pada tabel, dapat dilihat bahwa teknik penerjemahan deskripsi digunakan untuk menerjemahkan 25 data (37,31 %). Artinya bahwa teknik penerjemahan deskripsi ini paling banyak digunakan untuk menerjemahkan istilahistilah budaya yang terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Inggris, Provinsi Sumatera Utara. Pemberian penjelasan atau deskripsi terhadap istilah budaya tentu akan bermanfaat bagi pembacanya, karena akan lebih mempermudah untuk memahami istilah budaya tersebut. 4.12.2 Teknik Penerjemahan Peminjaman Teknik Penerjemahan Peminjaman digunakan untuk menerjemahkan 21 data (31,34 %). Hal ini berarti bahwa ada 20 kata yang secara langsung menggunakan istilah-istilah budaya tersebut dalam terjemahannya tanpa memberikan penjelasan atau deskripsi dengan menggunakan bahasa Inggris. Newmark (1988) menyatakan bahwa teknik peminjaman digunakan untuk memberikan apresiasi terhadap budaya dan bahasa masyarakat setempat. Teknik penerjemahan peminjaman digunakan bila Universitas Sumatera Utara tidak terdapat padanan kata, atau dikarenakan istilah budaya tersebut tidak terdapat sama sekali pada budaya bahasa sasaran. 4.12.3 Teknik Penerjemahan Calque Selanjutnya terdapat 12 data (17,91 %) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan menggunakan teknik Calque, yaitu menerjemahkan frasa istilahistilah budaya dengan menyesuaikan tata bahasanya ke dalam bahasa sasaran dalam hal ini bahasa Inggris. 4.12.4 Teknik Penerjemahan Generalisasi Teknik generalisasi digunakan untuk menerjemahkan sebanyak 6 data (8,96 %). 4.12.5 Teknik Penerjemahan Literal Selanjutnya teknik penerjemahan literal yang digunakan untuk menerjemahkan sebanyak 2 data (2,99 %), yang menerjemahkan kata demi kata. 4.12.6 Teknik Penerjemahan Couplet Teknik penerjemahan yang terakhir yaitu couplet digunakan untuk menerjemahkan 1 data (1,49 %). Universitas Sumatera Utara 4.13 Pergeseran (shift) Berikut ini disajikan mengenai pergeseran (shift) yang terjadi dari penerjemahan istilah-istilah budaya yang terdapat pada brosur pariwisata ke dalam bahasa Inggris. Peneliti menggunakan kata-kata singkatan agar dapat mempermudah pengisian ke dalam kolom. Singkatan dimaksud adalah 1) Level Shift (LS), 2) Category Shift (CS), yang terdiri atas Structural Shift (SS), Class Shift (CS), Unit Shift (US), dan Intra-System Shift (IS). Pada table berikut ini disajikan pergeseran (shift) yang terjadi pada terjemahan istilah-istilah budaya yang tercakup dalam kategori ekologi, sebagai berikut : Tabel 14 :Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Ekologi NO. 1 Bahasa Sumber Batu Gantung Bahasa Sasaran Hanging stone Pergeseran (shift) SS Daftar di bawah ini adalah paparan mengenai pergeseran (shift) yang terjadi pada terjemahan istilah-istilah budaya yang tercakup dalam kategori makanan. Pergeseran (shift) dimaksud dapat dilihat pada table berikut. Universitas Sumatera Utara Tabel 15 : Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya yang Berkaitan dengan Makanan NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Pergeseran (shift) 1 Rendang Meaty simmered in spices and US coconut milk 2 Sate Small pieces to meat roasted US on a skewer 3 Roti Jala Food usually eaten with curry US 4 Naniura Sour raw fish US 5 Natinombur Grilled fish with lots of spices US 6 Lomok-lomok Young pig cooked in blood US 7 Nani Arsik Boiled fish with spices US 8 Perkedel Perkedel - 9 Dendeng Dendeng - 10 Gado-gado One of the typical food US made of cooked eggs, mixed with peanut sauce. 11 Tempe 12 Tahu 13 Krupuk Tempe - Tofu Krupuk - Universitas Sumatera Utara Selanjutnya peneliti memaparkan pergeseran (shift) yang terjadi pada terjemahan istilah-istilah budaya yang tercakup dalam kategori benda budaya, yang dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 16 : Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Benda Budaya (Artefak) NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Pergeseran (Shift) 1. Meriam Puntung Cannon stub SS 2 Sigale-gale Wooden statue IS Tabel 17 : Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Pakaian NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Pergeseran (Shift) 1 Ulos Traditional Batak textiles 2 Batik Batik - 3 Sarung Songket Sarong embroidered with US US bits of gold or silver threat 4 Kebaya Blouse IS Dalam terjemahan nama-nama bangunan juga terjadi pergesaran (shift). Pergeseran (shift) yang terjadi dalam penerjemahan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini. Universitas Sumatera Utara Tabel 18 : Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Bangunan (Rumah/Tempat Tinggal) NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran 1 Istana Maimoon Mimoon Palace SS 2 Masjid Raya Grand Mosque SS 3 Siwaluh Jabu A-1250 year traditional US karo house, families where used to Pergeseran (Shift) 8 live peacefully together. The materials of the traditional houses are made from round wooden, poles, planks, bamboo, and palm fiber without using any nails or spikes 4 Seuluh Dua Jabu It was occupied by 12 US families 5 Rumah Bolon ( a great house) is the US residence of the king and his family. Some buildings Universitas Sumatera Utara around rumah bolon 6 Bagas Godang old traditional house/big house, US was the King and his family’s dwelling Terdapat satu nama alat transportasi pada brosur pariwisata berbahasa Inggris, Provinsi Sumatera Utara. Dalam penerjemahan nama alat transportasi tersebut juga terjadi pergesera (shift) yang dapat dilihat pada table berikut. Tabel 19 : Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Transportasi NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Pergeseran (Shift) 1 Solu Bolon Great Canoe SS Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang paling penting dalam kehidupan. Dalam bahasa yang digunakan terdapat istilah-istilah yang berkenaan dengan budaya tertentu yang tidak terdapat dalam bahasa lain. Dalam penerjemahan istilah-istilah budaya tersebut tentu mengalami pergeseran (shift). Pergeseran (shift) yang terjadi adalah sebagai berikut. Tabel 20 : Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Komunikasi/Bahasa Universitas Sumatera Utara NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Pergeseran (Shift) 1 Horas the warm greeting of North US Sumatera 2 Yahowu Yahowu - 3 Njuah-juah Njuah-juah - 4 Mejuah-juah Mejuah-juah - Dalam kehidupan masyarakat tentu ada kegiatan-kegiatan atau aktifitas yang dilakukan baik secara berkelompok, atau secara menyeluruh ikut berpartisipasi. Pada brosur pariwisata berbahasa Inggris, Provinsi Sumatera Utara terdapat beberapa nama kegiatan atau aktifitas yang dilakukan oleh beberapa suku yang ada di Sumatera Utara. Terjadi pergeseran (shift) dala menerjemahkan nama-nama kegiatan atau aktifitas tersebut, yang dapat dilihat pada table berikut ini. Tabel 21 : Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Kegiatan (Aktifitas) NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Pergeseran (Shift) 1 Lompat Batu Stone Jumping SS 2 Lomba Solu Bolon Solu bolon race SS 3 Marjalekkat Marjalekkat - Universitas Sumatera Utara 4 Margala Margala - 5 Marsitekka Marsitekka - 6 Pesta Bunga dan Fruit and flower festival SS IS Buah 7 Rondang Bintang Marriage Dance 8 Guro-guro Aron It is traditional Karo US ceremony which takes place every year in the planting and harvest seasons. Guroguro Aron has an additional Karo drum attraction with pairs of singers and dancers from each of the five family clans of Karo 9 Erpangir Ku Lau It’s an ancirent cultural US event that has become a sacred activity in the river and there is also a ritual of giving offerings so that Almighty God will bless them. This is an ancient cultural event that has Universitas Sumatera Utara become a sacred activity in the river and there is also a ritual of giving offerings so that Almighty God will bless them. It is still carried out in some places for wedding ceremonies, naming ceremonies for preventing evil disease. 10 Perumah Begu It’s a cultural ceremony US where a witch doctor is able to call spirits of the ancestors to posses his/her body in order to communicate with them so that he/she will know what will happen in the future and it is also done out of Universitas Sumatera Utara his/her longing for them Perumah Begu is a cultural ceremony where a witch doctor is able to call spirits ancestors of to the posses his/her body in order to communicate with them so that he/she can know what will happen in the future and it also done out of his/her longing for them. This ceremony is still occasionally carried out in some place among animists. 11 Erdemu Bayu It is kind of wedding US ceremony in Karo culture which is considered holy and sacred involving many agents from the Universitas Sumatera Utara bride and Kalimbubu, groom, Anak Beru and Sembuyak. In Karo weddings, the bride’s family becomes part of the groom’s family and groom’s family has to pay wedding (tukur) ornaments to the bride’s a ritual buffalo family. 12 Mangalahat Horbo It is US sacrificing. 13 Pesta Menaneu Tahi The Funeral Ceremony SS Masyarakat Sumatera Utara yang terdiari atas berbagai suku mempunyai istilahistilah tersendiri dalam sistim kekerabatan, gelar dan panggilan. Dalam penerjemahn istilahistilah tersebut ke dalam bahasa Inggris terjadi pergeseran (shift), yang dipaparkan pada table berikut ini. Tabel 22 : Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Kemasyarakatan NO. Bahasa Sumber 1 Sultan Bahasa Sasaran Sultan Pergeseran (Shift) - Universitas Sumatera Utara 2 Hula-hula 3 The princess family US Pariban The aunt’s son US 4 Dalihan Natolu Three principles SS 5 Kalimbubu Kalimbubu - 6 Anak Beru Anak Beru - 7 Sembuyak Sembuyak - 8 Tukur Wedding Ornaments paid US by the groom’s family to bride’s family. Kehidupan beragama tidak dapat dilepaskan dari masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Dalam kehidupan beragama tentu ada istilah-istilah khususyang digunakan, yang tidak terdapat pada agama lain. Berikut ini adalah penjelasan mengenai pergesaran (shift) yang terjadi dalam penerjemahan istilah-istilah dimaksud ke dalam bahasa Inggris. Tabel 23 : Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Agama/Kepercayaan NO. Bahasa Sumber 1 Mulajadi Nabolon 2 Idul Fitri Bahasa Sasaran Pergeseran (Shift) The Almighty Creator US One of the holy days of US Universitas Sumatera Utara Islam 3 Sya’ban Sya’ban - Masyarakat Sumatera Utara yang terdiri atas berbagai suku mempunyai seni yang beragam. Semua karya seni tersebut turut memperkaya kebudayaan di Provinsi Sumatera Utara. Istilah-istilah yang diunakan dalam cakupan seni, terjemahan kata atau frasanya dalam bahasa Inggris, dan pergeseran (shift) yang terjadi dapat dilihat pada tabel berikut . Tabel 24 : Pergeseran pada Terjemahan Istilah Budaya Berkaitan dengan Seni NO. Bahasa Sumber Bahasa Sasaran Pergeseran (Shift) 1 Bohi-bohi Bohi-bohi - 2 Boras Pati Boras Pati - 3 Porkis Manangkih Porkis Manangkih Bakar - Bakar 4 Tari Naposo 5 Tari Sigale-gale A marriage dance SS A dance which uses a US wooden statue that is made to follow the movements of the music 6 Tarian Serampang Dua Belas Serampang Dua Belas SS Dance Universitas Sumatera Utara 7 Tari Tor-tor Traditional Batak dance US 8 Gordang Sembilan Gordang Sembilan - 9 Pencak Silat Pencak Silat - 10 Pagar Tringgalum 11 Tari Perang 12 Gondang Tringgalum Fence SS War dance SS Traditional Theater US Selanjutnya peneliti akan menyajikan Pergeseran (shift) yang terjadi pada terjemahan Istilah-istilah budaya yang teradapa brosur pariwisata berbahasa Inggris yang dikaji. Pergeseran (shift) tersebut adalah sebagai berikut. Tabel 25 : Pergeseran (shift) Nomor Pergeseran (Shift) Jumlah % 1 Pergeseran Unit (Unit Shif)t 28 63,63 2 Pergeseran Struktur (Structural Shift) 13 29,55 3 Pergeseran Antar Sistem (Intra-System Shift) 3 6,82 Jumlah 44 100,00 Dari sejumlah 64 data istilah budaya terdapat 44 data (68,75 %) yang mengalami pergeseran dalam terjemahannya. Adapun pergeseran tersebut adalah sebagai berikut : Universitas Sumatera Utara 4.13.1 Pergeseran Unit (Unit Shift) Dari 42 data yang mengalami pergeseran, 28 data (63,63 %) diantaranya adalah pergeseran unit (US). Hal yang paling banyak terjadi adalah perubahan dari kata menjadi frasa, atau dari frasa atau kata menjadi klausa atau kalimat. 4.13.2 Pergeseran Struktur (Stuctural Shift) Terdapat 13 data (29,55 %) yang mengalami pegeseran struktur (SS). Pergeseran yang terjadi diantaranya adalah perubahan karena perbedaan strukur bahasa sumber dengan bahasa sasaran yaitu bahasa Inggris. Misalnya lompat batu berubah menjadi stone jumping, yaitu perubahan dari MD menjadi DM. 4.13.3 Pergeseran Antar-sistem (Intra- System Shift) Ada sejumlah 3 data (6,82 %) yang mengalami pergeseran Intra-system. Pergeseran tersebut terjadi akibat perbedaan budaya antara bahasa sumber dengan bahasa sasaran yaitu bahasa Inggris. Universitas Sumatera Utara BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Setelah menganalisis data mengenai terjemahan istilah-istilah budaya dari bahasa sumber ke dalam bahasa Inggris pada brosur pariwisata yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2008, dapat disimpulkan bahwa : 1) Istilah-istilah Budaya yang Terdapat pada Brosur Priwisata Berbahasa Inggris, Provinsi Sumatera Utara. Terdapat sebanyak 67 istilah budaya pada brosur pariwisata berbahasa Indonesia dan Inggris yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2008. Istilah-istilah budaya tersebut berkaitan dengan ekologi sebanyak 1 istilah budaya (1,49 %), makanan sebanyak 13 istilah budaya (19,40 %), benda budaya/artefak sebanyak 2 istilah budaya (2,98 %), pakaian sebanyak 4 istilah budaya (5,97 %), bangunan sebanyak 6 istilah budaya (8,96 %), transportasi 1 sebanyak istilah budaya (1,49 %), bahasa sebanyak 4 istilah budaya (5,97 %), sosial budaya sebanyak 13 istilah budaya (19,40 %), kemasyarakan sebanyak 8 istilah budaya (11,94 %), agama sebanyak 3 istilah budaya (4,48 %), seni sebanyak 12 istilah budaya (17,91 %). Universitas Sumatera Utara 2) Teknik Penerjemahan Teknik penerjemahan yang digunakan dalam menerjemahkan istilah-istilah budaya yang terdapat pada brosur pariwisata berbahasa Inggris, Provinsi Sumatera Utara, adalah Teknik Penerjemahan Deskripsi sebanyak 25 (37,31 %), Teknik Penerjemahan Peminjaman sebanyak 21 (31,34 %), Teknik Penerjemahan Calque sebanyak 12 (17,91 %), Teknik Penerjemahan Generalisasi 6 (8,96 %), Teknik Penerjemahan Literal sebanyak 2 (2,99 %), Teknik Penerjemahan couplet sebanyak 1 (1,49 %). 3) Pergeseran (shift) Terdapat 44 pergeseran (shift) pada terjemahan istilah-istilah budaya dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Pergeseran (shift) tersebut terdiri atas pergeseran unit (US) sebanyak 28 (63,63 %), pergeseran struktur (SS) sebanyak 13 (29,55 %), dan pergeseran dalam (IS) sebanyak 3 (6,82 %). 5.2 Saran Melalui tesis ini peneliti ingin menyampaikan saran yang diharapkan dapat bermanfaat, yaitu: 1) Teknik Penerjemahan yang digunakan dalam menerjemahkan istilah-istilah budaya dari BSu ke dalam BSa sebaiknya dipilih teknik penerjemahan yang dapat memberikan penjelasan mengenai istilah budaya dimaksud sehingga lebih mudah dimengerti oleh pengguna brosur pariwisata berbahasa Inggris, Provinsi Sumatera Utara tersebut. Universitas Sumatera Utara 2) Agar dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penerjemahan istilah-istilah budaya lainnya misalnya yang berkaitan dengan kualitas terjemahan dan sebagainya. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Bassnet, Susan & Mc Guire. 1988. Translation Studies. London : Routledge. Bell, T.R.1991. Translation and Translating: Theory and Practice. New York:Longman Brislin, Richard W. 1976. Translation. Application and Research. New York: Gardner Press Inc. Catford, J.C. 1978. A Linguistic Theory of Translation: An Essay in Applied Linguistics. London: Oxford University Press. Dill, Anwar S. Ed .1975. Language Structure and Translation. California : Stanford University Press. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Sumatera Utara. 2008. Indonesia, North Sumatera Guide Book. __________________. 2008.Selamat Datang Sumatera Utara (Brosur). __________________. 2008. North Sumatera (Brochure). Hatim, Basil & Jeremy Munday. 2004. An Advance Resource Book. London and New York : Routledge. Hoed, Benny H. 2006. Penerjemahan dan Kebudayaan. Jakarta: Pustaka Jaya. Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat. 2006. Komunikasi Antar Budaya:Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. Bandung:Remaja Rosdakarya. Universitas Sumatera Utara Larson, Mildred L. 1984. Meaning-based translation: A guide to cross-language equivalence. Lanham, MD: University Press of America. Dalam http://www.sil.org/linguistics/BibliographyLinguistics/Larson1984.htm Lubis, Syahron. 2009. Penerjemahan Teks Mangupa Dari Bahasa Mandailing ke dalam Bahasa Inggris (Disertasi). Moeliono, A.M.dkk. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka. Newmark,Peter.1988. A Textbook of Translation. London :Prentice Hall. Nida, Eugene A.& Charles R. Taber. 1982. The Theory and Practice of Translation. Leiden : E.J. Brill Nurlaily, Yusnia Sakti. 2010. The Translation of Proper names and Cultural Terms from Indonesia to English in Suluh Magazine. Universitas Brawijaya (Tesis) Poerwadarminta, W.J.S. 1982. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta:PN Balai Pustaka Silalahi, Roswita. 2009. Dampak, Teknik, Metode, dan Ideologi Penerjemahan pada Kualitas Terjemahan Teks Medical- Surgical Nursing dalam Bahasa Indonesia. USU Medan (Disertasi). Soanes, Catherine.2002. The Compact Oxford English Dictionary. London:Oxford University Press. Sutopo HB .2002. Metode Penelitian Kualitatif. Surakarta. UNS Press. Universitas Sumatera Utara Toury, G.1980. In Search of a Theory of Translation. Jerussalem: The Porter Institute for Poetics and Semiotics. Zuliani, Fatukhna’imah Rhina. 2010. Kajian Teknik Penerjemahan dan Kualitas Penerjemahan Ungkapan Budaya dalam Novel The Kite Runner Karya Khaled Hosseini. Surakarta:Universitas Sebelas Maret (Tesis) http://ms.wikipedia.org/wiki/Roti_jala, 1 Juli 2011 http://id.wikipedia.org/wiki/Perkedel, 1 Juli 2011 http://id.wikipedia.org/wiki/Dendeng, 1 Juli 2011 http://id.wikipedia.org/wiki/Gado-gado, 2 Juli 2011 http://id.wikipedia.org/wiki/Tempe, 2 Juli 2011 http://id.wikipedia.org/wiki/Tahu, 2 Juli 2011 http://id.wikipedia.org/wiki/Kerupuk, 2 Juli 2011 http://id.wikipedia.org/wiki/Songket, 2 Juli 2011 http://id.wikipedia.org/wiki/Istana_Maimoon, 2 Juli 2011 http://id.wikipedia.org/wiki/Gendang_guro-guro_aron, 2 Juli 2011 http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan, 3 Juli 2011 http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Batak, 3 Juli 2011 http://id.wikipedia.org/wiki/Datuk, 3 Juli 2011 http://id.wikipedia.org/wiki/Mulajadi_na_Bolon, 3 Juli 2011 http://id.wikipedia.org/wiki/Idul_Fitri, 3 Juli 2011 Universitas Sumatera Utara Lampiran 1: Data Penelitian Data penelitian ini berasal dari sumber data penelitian berupa brosur pariwisata yang berbahasa Indonesia dan Inggris diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara tahun 2008.Dalam brosur tersebut terdapat sitilah-istilah budaya dalam bahasa Indonesia, dan yang dipinjam dari bahasa Arab dan bahasa daerah yaitu bahasa Batak, Nias, dan Melayu. Adapun brosur dimaksud adalah sebagai berikut : A. Selamat Datang Sumatera Utara B. Indonesia North Sumatera Guide Book (2008) C. North Sumatera No. Bahasa Sumber Hal. Bahasa Sasaran Hal. 1 Batu Gantung (BSu.In) B 73 Hanging Rock B 72 2 Rendang (BSu.In) C6 Meaty simmered in spices and B29 coconut milk 3 Sate (BSu.In) B 29 Small pieces to meat roasted on a B 29 skewer 4 Roti Jala (BSu.In) B 29 Food usually eaten with curry B 29 5 Naniura (BSu.Bt) B 97 Sour raw fish B 97 6 Natinombur (BSu.Bt) B 97 Grilled fish with lots of spices B 97 7 Lomok-lomok (BSu.Bt) B 97 Young pig cooked in blood B 97 Universitas Sumatera Utara 8 Nani Arsik (BSu.Bt) B 97 Boiled fish with spices B 97 9 Perkedel (BSu.In) C6 Perkedel C6 10 Dendeng (BSu.In) C6 Dendeng C6 11 Gado-gado (BSu.In) 12 Tempe (BSu.In) C6 13 Tahu (BSu.In) C6 Tofu C6 14 Krupuk (BSu.In) C6 Krupuk C6 15 Meriam Puntung (BSu.In) B 17 Cannon stub B 17 16 Sigale-gale (BSu.Bt) B 85 Wooden statue B 85 17 Ulos (BSu.Bt) B 30 Traditional Batak textiles B 30 18 Batik (BSu.In) B7 Batik B7 19 Sarung Songket (BSu.In) B 30 Sarong embroidered with bits of B 30 C6 One of the typical food made of cooked eggs, mixed with peanut sauce. Tempe C6 C6 gold or silver threat 20 Kebaya (BSu.In) B7 Blouse B7 21 Istana Maimun (BSu.In) A 13 Maimoon Palace B 17 22 Masjid Raya (BSu.In) A 14 Grand Mosque B 18 23 Siwaluh Jabu (BSu.Bt) B 58 A-1250 year traditional karo B 58 house, where 8 families used to live peacefully together. The materials of the traditional houses are made from round wooden, poles, planks, bamboo, and palm Universitas Sumatera Utara fiber without using any nails or spikes. 24 Seuluh Dua Jabu B 59 It was occupied by 12 families B 59 (a great house) is the residence of B 65 (BSu.Bt) 25 Rumah Bolon (BSu.Bt) B 65 the king and his family. Some buildings around rumah bolon. 26 Bagas Godang (BSu.Bt) B 104 Bagas Godang B 104 27 Solu Bolon (BSu.Bt) B9 Solu Bolon B9 28 Horas (BSu.Bt) B11 The warm greeting of North B11 Sumatera 29 Yahowu (BSu.Ns) B 11 Yahowu B 11 30 Njuah-juah (BSu.Bt) B 11 Njuah-juah B 11 31 Mejuah-juah (BSu.Bt) B 11 Mejuah-juah B 11 32 Lompat Batu (BSu.In) A10 Stone Jumping B113 33 Lomba Solu Bolon B11 Solu Bolon Race B11 (BSu.Bt) 34 Marjalekkat (BSu.Bt) B9 Marjalekkat B9 35 Margala (BSu.Bt) B9 Margala B9 36 Marsitekka (BSu.Bt) B9 Marsitekka B9 37 Pesta Bunga dan Buah B11 Fruit and Flower Festival B11 Universitas Sumatera Utara (BSu.In) 38 Rondang Bintang B 11 Rondang Bintang B 11 (BSu.Bt) 39 Guro-guro Aron (BSu.Bt) B 59 It is traditional Karo ceremony B 59 which takes place every year in the planting and harvest seasons. Guro-guro Aron has an 39additional Karo drum attraction with pairs of singers and dancers from each of the five family clans of Karo 40 Erpangir Ku Lau (BSu.Bt) B 59 It’s an ancirent cultural event that B 59 has become a sacred activity in the river and there is also a ritual of giving offerings so that Almighty God will bless them. This is an ancient cultural event that has become a sacred activity in the river and there is also a ritual of giving offerings so that Almighty God will bless them. It is still carried out in some places for wedding ceremonies, naming ceremonies for preventing evil disease. 41 Perumah Begu (BSu.Bt) B 59 It’s a cultural ceremony where a B 59 witch doctor is able to call spirits Universitas Sumatera Utara of the ancestors to posses his/her body in order to communicate with them so that he/she will know what will happen in the future and it is also done out of his/her longing for them This ceremony is still occasionally carried out in some place among animists. 42 Erdemu Bayu (BSu.Bt) B 60 It is kind of wedding ceremony in B 60 Karo culture which is considered holy and sacred involving many agents from the bride and groom, Kalimbubu, Anak Beru and Sembuyak. In Karo weddings, the bride’s family becomes part of the groom’s family and groom’s family has to pay wedding ornaments (tukur) to the bride’s family. 43 Mangalahat Horbo B 86 Pesta Menaneu Tahi B 86 Mangalahat Horbo (BSu.Bt) 44 Dance performance like B 62 The Funeral Ceremony B 62 B 33 Sultan B 33 (BSu.Ns) 45 Sultan (BSu.In) 46 Hula-hula (BSu.Bt) 47 Pariban (BSu.Bt) B 72 B 73 The princess family The aunt’s son B 72 B 73 Universitas Sumatera Utara 48 Dalihan Natolu (BSu.Bt) B 79 Three principles B 79 49 Kalimbubu (BSu.Bt) B 79 Kalimbubu B 79 50 Anak Beru (BSu.Bt) B 79 Anak Beru B 79 51 Sembuyak (BSu.Bt) B 79 Sembuyak B 79 52 Tukur (BSu.Bt) B 79 The groom’s family pay wedding B 79 ornaments (tukur) to bride’s family. 53 Mulajadi Nabolon B 81 The Almighty Creator B 81 (BSu.Bt) 54 Idul Fitri (BSu.In) B 104 One of the holy days of Islam B 104 55 Sya’ban (BSu.Ar) B 33 Sya’ban B 33 56 Bohi-bohi (BSu.Bt) B 76 Bohi-bohi B 76 57 Boras Pati (BSu.Bt) B 76 Boras Pati B 76 58 Porkis Manangkih Bakar B 76 Porkis Manangkih Bakar B 76 (BSu.Bt) 59 Tari Naposo (BSu.In) B86 Naposo Dance B86 60 Tari Sigale-gale (BSu.In) B85 A dance which uses a wooden B86 statue that is made to follow the movement of the music 61 Tari Serampang 12 B 31 Serampang 12 Dance B 31 (BSu.In) Universitas Sumatera Utara 62 Tari Tor-tor (BSu.Bt) B 31 63 Gordang Sembilan B 104 Gordang Sembilan B 104 Traditional Batak dance B 31 (BSu.Bt) 64 Pencak Silat (BSu.In) B 104 Pencak Silat B 104 65 Pagar Tringgalum B 36 Tringgalum Fence B 36 (BSu.Ml) 66 Tari Perang (BSu.In) B111 War Dance B111 67 Gondang (BSu.Bt) B 77 Traditional Theater B 77 Universitas Sumatera Utara
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Analisis Terjemahan Istilah-istilah Budaya Pa..

Gratis

Feedback