Feedback

Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Beras Ketan Hitam (Oryza sativa L var forma glutinosa) Sebagai Pewarna

Informasi dokumen
FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK BERAS KETAN HITAM (Oryza sativa L var forma glutinosa) SEBAGAI PEWARNA SKRIPSI OLEH: RINI UTAMI 091524041 PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK BERAS KETAN HITAM (Oryza sativa L var forma glutinosa) SEBAGAI PEWARNA SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara OLEH: RINI UTAMI 091524041 PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara PENGESAHAN SKRIPSI FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK BERAS KETAN HITAM (Oryza sativa L var forma glutinosa) SEBAGAI PEWARNA OLEH: RINI UTAMI 091524041 Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Pada Tanggal: Agustus 2011 Pembimbing I, Panitia Penguji: Dra. Lely Sari Lubis, M.Si., Apt. NIP 195404121976031003 Dra. Julia Reveny, M.Si, Ph.D., Apt NIP 195807101986012001 Pembimbing II, Dra. Lely Sari Lubis, M.Si., Apt. NIP 195404121976031003 Dra. Djendakita Purba, M.Si., Apt. NIP 195107031977102001 Drs. Suryanto, M.Si., Apt. NIP 196106191991031001 Dra. Anayanti Arianto, M.Si., Apt. NIP 195306251986012001 Disahkan Oleh: Dekan, Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. NIP 195311281983031002 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Alhamdulillah, penulis haturkan ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan kemudahan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Beras Ketan Hitam (Oryza sativa L var forma glutinosa) Sebagai Pewarna” sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Penulis mempersembahkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Ayahandaku Alm. H. Rusli, S.H dan Ibundaku Arlinawaty yang telah memberikan semangat dan cinta yang teramat tulus, dan untuk abang-abangku Fahrul Rozi, Fachmi Hadi dan Agus Trihadi atas semua doa, kasih sayang, semangat dan pengorbanan baik moril maupun materil. Semoga Allah SWT selalu melindungi kalian semua. Pada kesempatan ini, penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara 2. Ibu Dra. Lely Sari Lubis, M.Si., Apt dan Dra. Djendakita Purba, M.Si., Apt. selaku pembimbing yang telah memberikan waktu, bimbingan dan nasehat selama penelitian hingga selesainya penyusunan skripsi ini. 3. Bapak/Ibu Pembantu Dekan, Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi USU yang telah mendidik penulis selama masa perkuliahan dan Ibu Sri Yuliasmi, S.Farm, Apt. selaku penasehat akademik yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis selama ini. 4. Ibu Dra. Julia Reveny, M.Si, Ph.D., Apt., Bapak Drs. Suryanto, M.Si., Apt dan Ibu Dra. Anayanti Arianto, M.Si., Apt. selaku dosen penguji yang telah memberikan saran, arahan, kritik dan masukan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. 5. Ibu Dra. Lely Sari Lubis, M.Si., Apt selaku Kepala Laboratorium Farmasetika Dasar dan semua staf yang telah memberikan arahan dan fasilitas selama penulis melakukan penelitian. Universitas Sumatera Utara 6. Sahabat-sahabat penulis: Widya, Baruna, Yuliana, Noni, Darma, Uni, Wina, Eka, Vica dan rekan-rekan mahasiswa Farmasi Ekstensi khususnya stambuk 2009 atas dukungan, semangat, bantuan dan persahabatan selama ini serta seluruh pihak yang telah memberikan bantuan, motivasi dan inspirasi bagi penulis selama masa perkuliahan sampai penyusunan skripsi ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda dan pahala yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna perbaikan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang Farmasi. Medan, Agustus 2011 Penulis, Rini Utami Universitas Sumatera Utara ABSTRAK FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK BERAS KETAN HITAM (Oryza sativa L.) SEBAGAI PEWARNA Beras ketan hitam (Oryza sativa L.) termasuk famili Poaceae, masyarakat menggunakan sebagai bahan makanan seperti tape dan bubur. Beras ketan hitam berwarna merah/ungu, zat warna yang dikandungnya cukup kuat. Didalam kosmetik, pewarna merupakan salah satu penyebab iritasi dan alergi di kulit, sehingga peneliti membuat formulasi sediaan lipstik dengan menggunakan pewarna alami dari beras ketan hitam. Formulasi sediaan lipstik terdiri dari beberapa komponen diantaranya cera alba, lanolin, vaselin alba, cetaceum, setil alkohol, oleum ricini, propilen glikol, titanium dioksida, butil hidroksi toluen, minyak mawar (oleum rosae) dan nipagin serta penambahan ekstrak beras ketan hitam dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10%. Pengujian terhadap sediaan yang dibuat meliputi pemeriksaan homogenitas, titik lebur, kekuatan lipstik, uji stabilitas terhadap perubahan bentuk, warna dan bau selama penyimpanan 30 hari pada suhu kamar, uji oles dan pemeriksaan pH, serta uji iritasi dan uji kesukaan (Hedonic test). Formulasi sediaan lipstik menggunakan ekstrak beras ketan hitam sebagai pewarna yang dibuat cukup stabil, homogen, titik lebur 65oC, memiliki kekuatan lipstik yang baik, pH berkisar 3,9-6,5 (mendekati pH kulit bibir) mudah dioleskan dengan warna yang merata, serta tidak menyebabkan iritasi sehingga cukup aman untuk digunakan, dan sediaan yang paling disukai adalah sediaan 5 yaitu sediaan dengan ekstrak beras ketan hitam konsentrasi 8% dengan persentase kesukaan 63,33%. Kata kunci: Beras Ketan Hitam, Oryza sativa L, Lipstik, Komponen Lipstik. Universitas Sumatera Utara ABSTRACT THE FORMULATION OF LIPSTICK COMPONENT BY USING BLACK STICKY RICE (Oryza sativa L.) AS DYE STUFF Black sticky rice (Oryza sativa L.) belongs to Poaceae family which is used by people as food stuffs such as tape and porridge. Black sticky rice is red/purple and its dye stuff is strong enough. In cosmetic, dye stuff is one of the causes of irritation and allergy on skin so that the researcher has made the formulation of lipstick component using natural dye stuff made of black sticky rice. The formulation of lipstick component consisted of some components such as cera alba, lanolin, Vaseline alba, cetaceum, alcoholic cetile, oleum ricin, propylene glycol, titanium dioxide, butyl hydroxyl toluene, rose oil (rosaceous oleum) and nipagin, added by black sticky rice extract with the concentration of 2%, 4%, 6%, 8%, and 10%. The testing of the lipstick components included the testing of the homogeneity, the melting point, the lipstick strength, the stability on the change of its shape, color, and smell during the 30 day storage in temperature room, rubbing test, pH examination, irritation test, and Hedonic test. The formulation of lipstick component by using black sticky rice as the dye stuff was made stably and homogeneously with the melting point of 65oC. It had good lipstick strength; the pH was about 3.9 up to 6.5 (almost similar to lip skin pH), and easily colored evenly. It did not cause irritation so that it could be safely used. The most favorable component was the fifth one by using black sticky rice with 8% concentration and the favorable percentage of 63.33 Keywords: Black Sticky Rice, Oryza sativa L., Lipstick, Lipstick Components Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman JUDUL . i LEMBAR PENGESAHAN . iii KATA PENGANTAR . iv ABSTRAK . vi ABSTRACT . vii DAFTAR ISI . viii DAFTAR TABEL . xi DAFTAR GAMBAR . xii DAFTAR LAMPIRAN . xiii BAB I PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang . 1 1.2 Perumusan Masalah . 4 1.3 Hipotesis . 4 1.4 Tujuan Penelitian. 5 1.5 Manfaat Penelitian . 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 6 2.1 Ketan Hitam . 6 2.1.1 Sistematika Tumbuhan . 6 2.2 Antosianin . 7 2.3 Kulit . 7 2.4 Kosmetika . 8 Universitas Sumatera Utara 2.5 Kosmetika Dekoratif . 9 2.6 Bibir . 11 2.7 Lipstik . 12 2.8 Komponen Utama Dalam Sediaan Lipstik . 12 2.9 Pemeriksaan Lipstik . 16 2.10 Uji Kesukaan . 17 2.11 Uji Tempel . 18 BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 19 3.1 Alat dan Bahan . 19 3.1.1 Alat . 19 3.1.2 Bahan. 19 3.2 Penyiapan Sampel . 19 3.2.1 Pengumpulan Sampel . 20 3.2.2 Determinasi Tumbuhan . 20 3.2.3 Pengolahan Sampel . 20 3.3 Pembuatan Ekstrak Beras Ketan Hitam. 20 3.4 Pembuatan Lipstik Menggunakan Ekstrak Beras Ketan Hitam Sebagai Pewarna Dalam Berbagai Konsentrasi . 21 3.4.1 Formula . 21 3.4.2 Prosedur Pembuatan Lipstik . 23 3.5 Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan . 23 3.5.1 Pemeriksaan Homogenitas . 23 3.5.2 Pemeriksaan Titik Lebur Lipstik . 24 3.5.3 Pemeriksaan Kekuatan Lipstik . 24 3.5.4 Pemeriksaan Stabilitas Sediaan . 24 Universitas Sumatera Utara 3.5.5 Uji Oles. 25 3.5.6 Penentuan pH Sediaan. 25 3.6 Uji Iritasi dan Uji Kesukaan (Hedonic Test). 26 3.6.1 Uji Iritasi. 26 3.6.2 Uji Kesukaan (Hedonic Test) . 27 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN . 28 4.1 Hasil Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan . 28 4.1.1 Homogenitas Sediaan . 28 4.1.2 Titik Lebur Lipstik . 28 4.1.3 Kekuatan Lipstik . 29 4.1.4 Stabilitas Sediaan . 30 4.1.5 Uji Oles. 31 4.1.6 Pemeriksaan pH . 32 4.2 Hasil Uji Iritasi . 32 4.3 Hasil Uji Kesukaan (Hedonic Test) . 33 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 35 5.1 Kesimpulan . 35 5.2 Saran . 35 DAFTAR PUSTAKA . 36 LAMPIRAN . 38 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3.1 Modifikasi Formula Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Beras Ketan Hitam Sebagai Pewarna Dalam Berbagai Konsentrasi . 22 Tabel 4.1 Data Pemeriksaan Titik Lebur . 28 Tabel 4.2 Data Pemeriksaan Kekuatan Lipstik . 29 Tabel 4.3 Data Pengamatan Perubahan Bentuk, Warna, dan Bau Sediaan . 30 Tabel 4.4 Tabel 4.5 Tabel 4.6 Data Pengukuran pH Sediaan . 32 Data Uji Iritasi . 32 Data Uji Kesukaan (Hedonic Test) . 33 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Tumbuhan Ketan Hitam (Oryza sativa L var forma glutinosa) . 39 Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10. Gambar 11. Beras Ketan Hitam . Wadah Sediaan Lipstik . Sediaan Lipstik Tanpa Ekstrak Beras Ketan Hitam . Sediaan Lipstik Dengan Ekstrak Beras Ketan Hitam . Hasil Uji Homogenitas . Alat rotary evaporator . Alat freeze dryer . Bibir Tanpa Menggunakan Lipstik . Bibir Dengan Menggunakan Lipstik . Alat Uji Kekuatan Lipstik . 40 41 42 43 44 45 46 47 47 48 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Lampiran 2. Halaman Hasil Determinasi Tumbuhan. 38 Gambar Tumbuhan Ketan Hitam (Oryza sativa L var forma glutinosa) . 39 Lampiran 3. Lampiran 4. Lampiran 5. Gambar Beras Ketan Hitam . 40 Gambar Wadah Sediaan Lipstik . 41 Gambar Sediaan Lipstik Tanpa Ekstrak Beras Ketan Hitam . 42 Lampiran 6. Gambar Sediaan Lipstik Dengan Ekstrak Beras Ketan Hitam . 43 Lampiran 7. Lampiran 8. Lampiran 9. Lampiran 10. Gambar Hasil Uji Homogenitas . Gambar Alat rotary evaporator . Gambar Alat freeze dryer . Perbedaan Gambar Bibir Yang Menggunakan Lipstik Dengan Pewarna Beras Ketan Hitam Dan Tanpa Menggunakan Lipstik . 44 45 46 47 Lampiran 11. Gambar Alat Uji kekuatan Lipstik . 48 Lampiran 12. Perhitungan Hasil Uji Kesukaan (Hedonic Test) . 49 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK BERAS KETAN HITAM (Oryza sativa L.) SEBAGAI PEWARNA Beras ketan hitam (Oryza sativa L.) termasuk famili Poaceae, masyarakat menggunakan sebagai bahan makanan seperti tape dan bubur. Beras ketan hitam berwarna merah/ungu, zat warna yang dikandungnya cukup kuat. Didalam kosmetik, pewarna merupakan salah satu penyebab iritasi dan alergi di kulit, sehingga peneliti membuat formulasi sediaan lipstik dengan menggunakan pewarna alami dari beras ketan hitam. Formulasi sediaan lipstik terdiri dari beberapa komponen diantaranya cera alba, lanolin, vaselin alba, cetaceum, setil alkohol, oleum ricini, propilen glikol, titanium dioksida, butil hidroksi toluen, minyak mawar (oleum air untuk emulsi O/W dan larut minyak untuk emulsi W/O. Bahan larut air hampir selalu juga larut dalam alkohol encer dan gliserol. Bahan larut minyak juga larut dalam benzena, karbon tetraklorida, dan pelarut organik lainnya, kadang-kadang juga dalam alkohol tinggi. Tidak pernah ada zat warna yang sekaligus larut dalam air dan minyak. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA c. Sifat yang berhubungan dengan pH. Beberapa zat warna hanya larut dalam pH asam, lainnya hanya dalam pH alkalis. d. Kelekatan pada kulit atau rambut. Daya lekat berbagai zat warna pada kulit dan rambut berbeda-beda. Terkadang kita memerlukan daya lekat besar seperti cat rambut, namun terkadang kita menghindarinya misalnya untuk pemerah pipi. e. Toksisitas. Bahan toksis harus dihindari, tapi ada derajat keamanannya. 3. Pigmen alam. Pigmen alam adalah pigmen warna pada tanah yang memang terdapat secara alamiah, misalnya aluminium silikat, yang warnanya tergantung pada kandungan besi oksida atau mangan oksidanya (misalnya kuning, coklat, merah bata, coklat tua). Zat warna ini murni, sama sekali tidak berbahaya, penting untuk mewarnai bedak-krim dan make-up sticks. Warnanya tidak seragam, tergantung asalnya, dan pada pemanasan kuat menghasilkan pigmen warna baru. 4. Pigmen sintetis. Dewasa ini besi oksida sintetis sering menggantikan zat warna alam. Warnanya lebih intens dan lebih terang. Pilihan warnanya antara lain kuning, coklat sampai merah, dan violet. Pigmen sintetis putih seperti zinc oxida dan titanium oxida termasuk dalam kelompok zat pewarna kosmetik yang terpenting. Zinc oxida tidak hanya memainkan satu peran dalam pewarnaan kosmetik dekoratif, tetapi juga dalam preparat kosmetik dan farmasi lainnya. Banyak pigmen sintetis yang tidak boleh dipakai dalam preparat kosmetik karena toksis, misalnya kadmiun sulfat dan cupri sulfat. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2.3 Lipstik Lipstik terdiri dari zat warna yang terdispersi dalam pembawa yang terbuat dari campuran lilin dan minyak dalam komposisi yang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan suhu lebur dan viskositas yang dikendaki. Suhu lebur lipstik yang ideal sesungguhnya diatur hingga suhu yang mendekati suhu bibir, bervariasi antara 36-38oC. Tetapi karena harus memperhatikan faktor ketahanan terhadap suhu cuaca sekelilingnya, terutama suhu daerah tropik, suhu lebur lipstik dibuat lebih tinggi, yang dianggap lebih sesuai diatur pada suhu lebih kurang 62oC, biasanya berkisar antara 55-75oC (Ditjen POM, 1985). Dari segi kualitas, lipstik harus memenuhi beberapa persyaratan berikut (Mitsui, 1977): 1. Tidak menyebabkan iritasi atau kerusakan pada bibir 2. Tidak memiliki rasa dan bau yang tidak menyenangkan 3. Polesan lembut dan tetap terlihat baik selama jangka waktu tertentu 4. Selama masa penyimpanan bentuk harus tetap utuh, tanpa kepatahan dan perubahan wujud. 5. Tidak lengket 6. Penampilan tetap menarik dan tidak ada perubahan warna 2.3.1 Komponen utama dalam sediaan lipstik Adapun komponen utama dalam sediaan lipstik terdiri dari minyak, lilin, lemak dan zat warna. 1. Minyak Minyak adalah salah satu komponen dalam basis lipstik yang berfungsi untuk melarutkan atau mendispersikan zat warna. Minyak yang sering UNIVERSITAS SUMATERA UTARA digunakan antara lain minyak jarak, minyak mineral dan minyak nabati lain. Minyak jarak merupakan minyak nabati yang unik karena memiliki viskositas yang tinggi dan memiliki kemampuan melarutkan staining-dye dengan baik. Minyak jarak merupakan salah satu komponen penting dalam banyak lipstik modern. Viskositasnya yang tinggi adalah salah satu keuntungan dalam menunda pengendapan dari pigmen yang tidak larut pada saat pencetakan, sehingga dispersi pigmen benar benar merata (Balsam, 1972). 2. Lilin Lilin digunakan untuk memberi struktur batang yang kuat pada lipstik dan menjaganya tetap padat walau dalam keadaan hangat. Campuran lilin yang ideal akan menjaga lipstik tetap padat setidaknya pada suhu 50°C dan mampu mengikat fase minyak agar tidak ke luar atau berkeringat, tetapi juga harus tetap lembut dan mudah dioleskan pada bibir dengan tekanan serendah mungkin. Lilin yang digunakan antara lain carnauba wax, candelilla wax, beeswax, ozokerites, spermaceti dan setil alkohol. Carnauba wax merupakan salah satu lilin alami yang yang sangat keras karena memiliki titik lebur yang tinggi yaitu 85°C. Biasa digunakan dalam jumlah kecil untuk meningkatkan titik lebur dan kekerasan lipstik (Balsam, 1972). 3. Lemak Lemak yang biasa digunakan adalah campuran lemak padat yang berfungsi untuk membentuk lapisan film pada bibir, memberi tekstur yang UNIVERSITAS SUMATERA UTARA lembut, meningkatkan kekuatan lipstik dan dapat mengurangi efek berkeringat dan pecah pada lipstik. Fungsinya yang lain dalam proses pembuatan lipstik adalah sebagai pengikat dalam basis antara fase minyak dan fase lilin dan sebagai bahan pendispersi untuk pigmen. Lemak padat yang biasa digunakan dalam basis lipstik adalah lemak coklat, lanolin, lesitin, minyak nabati terhidrogenasi dan lain-lain. 4. Zat warna Zat warna dalam lipstik dibedakan atas dua jenis yaitu staining dye dan pigmen. Staining dye merupakan zat warna yang larut atau terdispersi dalam basisnya, sedangkan pigmen merupakan zat warna yang tidak larut tetapi tersuspensi dalam basisnya. Kedua macam zat warna ini masingmasing memiliki arti tersendiri, tetapi dalam lipstik keduanya dicampur dengan komposisi sedemikian rupa untuk memperoleh warna yang diinginkan. Pigmen-pigmen yang diigunakan dalam lipstik dapat berupa lake dari barium atau kalsium, akan tetapi lake dari stronsium juga sering digunakan karena menghasilkan warna yang tahan lama dan jernih. Untuk menghasilkan warna yang agak pudar (muda), pigmen putih seperti titanium dioksida dan zink oksida harus ditambahkan (Balsam, 1972). 2.3.2 Zat tambahan dalam sediaan lipstik Zat tambahan dalam lipstik adalah zat yang ditambahkan dalam formula lipstik untuk menghasilkan lipstik yang baik, yaitu dengan cara menutupi kekurangan yang ada tetapi dengan syarat zat tersebut harus inert, tidak toksik, tidak menimbulkan alergi, stabil dan dapat bercampur dengan bahan-bahan lain UNIVERSITAS SUMATERA UTARA dalam formula lipstik. Zat tambah yang digunakan yaitu antioksidan, pengawet dan parfum. 1. Antioksidan Antioksidan digunakan untuk melindungi minyak dan bahan tak jenuh lain yang rawan terhadap reaksi oksidasi. BHT, BHA dan vitamin E adalah antioksidan yang paling sering digunakan (Butler, 2000). 2. Pengawet Kemungkinan bakteri atau jamur untuk tumbuh di dalam sediaan lipstik sebenarnya sangat kecil karena lipstik tidak mengandung air. Akan tetapi ketika lipstik diaplikasikan pada bibir kemungkinan terjadi kontaminasi pada permukaan lipstik sehingga terjadi pertumbuhan mikroorganisme. Oleh karena itu perlu ditambahkan pengawet di dalam formula lipstik. Pengawet yang sering digunakan yaitu metil paraben dan propil paraben (Butler, 2000). 3. Parfum Parfum perlu ditambahkan dalam formula lipstik untuk menutupi bau dari minyak dan lilin yang terdapat dalam basis dan bau lain yang tidak enak yang timbul setelah lipstik digunakan atau disimpan. Parfum yang berasal dari minyak tumbuhan (bunga) adalah yang paling banyak digunakan (Balsam, 1972). 2.4 Angkak UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Angkak telah banyak digunakan di Negara-negara Asia terutama Cina, Jepang, Taiwan, Thailand dan Philipina kurang lebih 600 tahun yang lalu. Redrice atau ang-kak (ang-khak, ankak, anka, ang-quac, beni-koji, aga-koji) digunakan untuk mewarnai makanan seperti pada ikan, keju Cina, dan untuk pembuatan anggur merah di negara-negara oriental (Timur) (Hidayat dan Saati, 2006). Angkak merupakan produk hasil fermentasi dengan substrat beras yang menghasilkan warna merah karena aktivitas kapang Monascus purpureus sebagai metabolit sekunder. Sejak dulu angkak telah banyak digunakan sebagai pewarna makanan. Disamping itu angkak dapat pula digunakan untuk mengawetkan daging karena mempunyai sifat anti bakteri, mengobati penyakit asma, gangguan saluran cerna, mabuk laut dan luka memar dalam seni pengobatan Cina, meningkatkan intensitas warna merah pada pengolahan daging, serta untuk menambah aroma (Hidayat dan Saati, 2006). Pigmen angkak banyak dihasilkan dari beberapa jenis kapang. Beberapa galur yang mampu memproduksi pigmen adalah Monascus purpureus, Monascus rubropunctatus, Monascus rubiginosus, Monascus major, Monascus barkari dan Monascus ruber yang menghasilkan pigmen warna merah. Dari berbagai macam galur tersebut yang paling umum digunakan adalah Monascus purpureus. Monascus purpureus juga disebut Monascus anka atau Monascus kaoliang. Pigmen merah merupakan salah satu warna yang menarik karena warna merah sangat populer pada pewarna makanan dan merupakan warna pigmen yang alami pada makanan (Hidayat dan Saati, 2006). UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Monascus purpureus adalah kapang utama pada angkak. Angkak adalah beras yang difermentasi oleh kapang sehingga penampakannya berwarna merah. Angkak sudah sejak lama Tranggono dan Latifah, (2007), menemukan bahwa stratum korneum dilapisi oleh suatu lapisan tipis lembab yang bersifat asam, sehingga ia menamakannya sebagai “mantel asam kulit”. Marchionini menemukan pH mantel asam kulit itu antara 3,5-5. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan lipstik yang dibuat cukup aman dan tidak menyebabkan iritasi pada bibir. Semakin alkalis atau semakin asam bahan yang mengenai kulit, semakin sulit kulit untuk menetralisirnya dan kulit dapat menjadi kering, pecah-pecah, sensitif, dan mudah terkena infeksi. Oleh karena itu pH kosmetika diusahakan sama atau sedekat mungkin dengan pH fisiologis “mantel asam” kulit (Tranggono dan Latifah, 2007). 4.2 Hasil Uji Iritasi Tabel 8. Data Uji Iritasi Panelis Pengamatan 1 2 3 4 5 6 Kulit kemerahan (-) (-) (-) (-) (-) (-) Kulit gatal-gatal (-) (-) (-) (-) (-) (-) Kulit bengkak (-) (-) (-) (-) (-) (-) Keterangan: (-) : tidak terjadi iritasi (+) : kulit kemerahan (++) (+++) : kulit gatal-gatal : kulit bengkak Berdasarkan hasil uji iritasi yang dilakukan pada 10 panelis yang dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan lipstik yang dibuat pada kulit lengan bawah bagian dalam selama tiga hari berturut-turut, menunjukkan bahwa semua panelis memberikan hasil negatif terhadap parameter reaksi iritasi yang diamati Universitas Sumatera Utara yaitu adanya kulit merah, gatal-gatal, ataupun adanya pembengkakan. Dari hasil uji iritasi tersebut dapat disimpulkan bahwa sediaan lipstik yang dibuat aman untuk digunakan (Tranggono dan Latifah, 2007). 4.3 Hasil Uji Kesukaan (Hedonic Test) Tabel 9. Data Uji Kesukaan (Hedonic Test) Panelis 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Keterangan: Sediaan 1 TS S TS TS TS TS TS TS S TS TS S S TS TS TS TS TS TS S S TS S TS TS TS S TS TS TS 2 TS TS TS TS S S S TS S S TS S S S S TS TS S S S S TS S TS S S S TS TS TS 3 S S S TS S S S S TS S S TS TS S S S S S TS TS TS S S S S S TS S TS S 4 S S S S S S S S TS TS S TS TS TS S S S TS S S S TS TS S S TS TS S S S 5 TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS TS S : Suka TS : Tidak Suka Universitas Sumatera Utara Berdasarkan data uji kesukaan (Hedonic Test) terhadap 30 orang panelis, diketahui bahwa sediaan lipstik yang paling disukai oleh panelis adalah sediaan 3 yaitu lipstik dengan konsentrasi ekstrak kubis merah 20% dengan persentase kesukaan 70%. Hal ini karena lipstik dengan konsentrasi 20% sangat mudah dioleskan dan memberikan warna yang menarik dan tidak terlalu muda ataupun tua. Tidak jauh berbeda dengan sediaan 3, sediaan 4 yaitu ekstrak kubis merah 25% memiliki persentase kesukaan yang hampir sama yaitu sebesar 66,67%. Hal ini dikarenakan sediaan 4 mudah dioleskan seperti sediaan 3. Sediaan 1 yaitu lipstik dengan konsentrasi ekstrak kubis merah 10% memiliki persentase kesukaan yang paling rendah yaitu sebesar 26,67%. Hal ini dikarenakan warna yang dihasilkan terlalu muda dan sukar memberikan warna pada saat dioleskan. Persentase kesukaan sediaan 2 dengan ekstrak kubis merah 15% lebih banyak dibandingkan ekstrak kubis merah 10% yaitu 56,67%, karena sediaan lebih mudah dioleskan dibandingkan sediaan 1 dan memberikan warna yang tidak terlalu muda. Universitas Sumatera Utara BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa: Ekstrak kubis merah dapat diformulasi sebagai pewarna dalam sediaan lipstik dengan bantuan propilen glikol sebagai pelarut dan asam oleat sebagai emulgator. Bertambahnya konsentrasi ekstrak kubis merah yang digunakan dalam formula maka bertambah pekat warna sediaan lipstik yang dihasilkan. Lipstik yang paling disukai adalah lipstik dengan konsentrasi 20% yang memiliki persentase kesukaan sebesar 70%. Hasil penentuan mutu fisik sediaan menunjukkan bahwa seluruh sediaan yang dibuat stabil, tidak menunjukkan adanya perubahan bentuk, warna dan bau dalam penyimpanan selama 30 hari, memiliki susunan yang homogen, pH 3,8-4,7, memiliki titik lebur 58-63 oC dan memiliki kekuatan lipstik 65-70 gram. Berdasarkan hasil uji iritasi yang dilakukan menunjukkan bahwa sediaan lipstik yang dibuat tidak menyebabkan iritasi dan cukup aman untuk digunakan. 5.2 Saran Disarankan untuk dilakukan penelitian selanjutnya mengenai formulasi sediaan kosmetik lain seperti eye shadow ataupun pemerah pipi menggunakan ekstrak kubis merah sebagai pewarna. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Andersen, O.M. dan K. Bernard. (2001). Chemistry, Analysis and Application of Anthocyanin Pigments from Flowers, Fruits and Vegetables. Available at http://www.Uib.no/makerere-uib/Subproject%201.htm-18 (diakses 3 Mei 2011). Anonim. (2006). Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan No: KH.00.01.3352 Tanggal 7 September 2006 Tentang Kosmetik yang Mengandung Bahan dan Zat Warna yang Dilarang . Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Astawan, M. (2008). Khasiat Warna-warni Makanan. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Hal: 188-189 Deman, JM.(1997). Kimia Makanan. Bandung: ITB. Hal: 253-254. Ditjen POM. (1985). Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal: 86, 96, 195-197. Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal: 9, 63. Harmanto, N. (2005). Mengusir Kolesterol Bersama Mahkota Dewa. Jakarta: Agro Media Pustaka. Hal: 46-47 Hendry, G.A.F. (1996). Natural Food Colours. 2nd edition. London: Blackie Academic & Proffesional. Keithler. (1956). Formulation of Cosmetic and Cosmetic Specialities. New York: Drug and Cosmetic Industry. Page: 153-155. Media, A. (2008). Buku Pintar Tanaman Obat:431 Tanaman Penggempur Aneka Penyakit. Cetakan Pertama. Jakarta: Agromedia Pustaka. Hal: 152 Pracaya, (2001), Kol Alias Kubis. Penebar Swadaya. Hal: 1-3. Rawlins, E. A., (2003). Bentley’s Textbook of Pharmaceutics. 18th ed. London: Bailierre Tindall. Pages: 22, 355. Robinson, T. (1995). Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Edisi ke-6. Penerjemah: Kosasih Padmawinata. Bandung: Penerbit ITB. Suprapti,M.L. (2005), Teknologi Pengolahan Pangan, Yogyakarta. Kanisius. Hal: 8 Universitas Sumatera Utara Tensiska, M.S. Debby, dan P. Ayu. (2009). Stabilitas Pigmen Antosianin Kubis Merah (Brassica oleraceae var capitata L.f. rubra (L) Thell)Terenkapsulasi Pada Minuman Ringan Yang Dipasteurisasi. Jurnal Penelitian. Jatinangor: Universitas Padjadjaran. Tranggono, R.I. dan Latifah, F. (2007). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik, Editor: Joshita Djajadisastra, Pharm., MS, Ph.D. Jakarta: Penerbit Pustaka Utama. Hal: 8, 90-91,100-101. Vishwakarma, B. Sumeet, D. Kushagra, D. dan Heman, J. (2011). Formulation and evaluation of herbal lipstick . International Journal Of Drug Discovery And Herbal Research (IJDDHR). India: Ujjain Institute of Pharmaceuti cal Sciences, Ujjain, (M.P.). Wasitaatmadja, S.M. (1997). Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI-Press. Hal: 26-30, 47-48, 122, 124-125. Young, A. (1974). Pratical Cosmetic Science. London: Mills & Boon Limited. Page: 86. Universitas Sumatera Utara Lampiran 1. Hasil Identifikasi Tumbuhan Universitas Sumatera Utara Lampiran 2. Gambar Kubis Merah Gambar 1. Kubis Merah Lampiran 3. Gambar Wadah Sediaan Lipstik Gambar 2. Wadah Sediaan Lipstik Universitas Sumatera Utara Lampiran 4. Gambar Sediaan Lipstik Tanpa Ekstrak Kubis Merah Gambar 3. Sediaan Lipstik Tanpa Ekstrak Kelopak Kubis Merah Universitas Sumatera Utara Lampiran 5. Gambar Sediaan Lipstik Dengan Ekstrak Kubis Merah Gambar 4. Sediaan Lipstik Dengan Ekstrak Kubis Merah Keterangan: Sediaan 1 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kubis merah 10% Sediaan 2 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kubis merah 15% Sediaan 3 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kubis merah 20% Sediaan 4 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kubis merah 25% Universitas Sumatera Utara Lampiran 6. Gambar Hasil Uji Homogenitas dan uji Oles Gambar 5. Hasil Uji Homogenitas dan uji Oles Keterangan: Sediaan 1 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kubis merah 10% Sediaan 2 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kubis merah 15% Sediaan 3 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kubis merah 20% Sediaan 4 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kubis merah 25% Universitas Sumatera Utara Lampiran 7. Perhitungan Hasil Uji Kesukaan (Hedonic Test Persentase Kesukaan = Jumlah panelis yang suka x 100% Jumlah seluruh panelis Persentase Kesukaan Sediaan 1 = 8 x 100% = 26,67 % 30 Persentase Kesukaan Sediaan 2 = 17 x 100% = 56,67 % 30 Persentase Kesukaan Sediaan 3 = 21 x 100% = 70 % 30 Persentase Kesukaan Sediaan 4 = 20 x 100% = 66,67 % 30 Persentase Kesukaan Sediaan 5 = 0 x 100% = 0 % 30 Keterangan: Sediaan 1 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kubis merah 10% Sediaan 2 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kubis merah 15% Sediaan 3 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kubis merah 20% Sediaan 4 : Formula dengan konsentrasi ekstrak kubis merah 25% Sediaan 5: Formula tanpa ekstrak kubis merah Universitas Sumatera Utara
Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Beras Ketan Hitam (Oryza sativa L var forma glutinosa) Sebagai Pewarna
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Beras Ketan Hitam (Oryza sativa L var forma glutinosa) Sebagai Pewarna

Gratis