Feedback

Isolasi Dan Analisis Komponen Kimia Dari Minyak Atsiri Daun Ruku-Ruku (Ocimum sanctum L.) Dengan Metode GC-MS

Informasi dokumen
ISOLASI DAN ANALISIS KOMPONEN KIMIA DARI MINYAK ATSIRI DAUN RUKU-RUKU (Ocimum sanctum L.) DENGAN METODE GC-MS SKRIPSI LAPENRIS EDISON HUTAGALUNG 090822037 DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara ISOLASI DAN ANALISIS KOMPONEN KIMIA DARI MINYAK ATSIRI DAUN RUKU-RUKU (Ocimum sanctum L.) DENGAN METODE GC-MS SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains LAPENRIS EDISON HUTAGALUNG 090822037 DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara PERSETUJUAN JUDUL : ISOLASI DAN ANALISIS KOMPONEN KIMIA DARI MINYAK ATSIRI DAUN RUKU-RUKU (Ocimum sanctum L.) DENGAN METODE GC-MS Kategori : SKRIPSI Nama : LAPENRIS EDISON HUTAGALUNG Nomor Induk Mahasiswa : 090822037 Program : SARJANA (S1) KIMIA EKSTENSI Departemen : KIMIA Fakultas: : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Disetujui di Medan, Agustus 2011 Komisi Pembimbing Pembimbing I Lamek Marpaung,M.Phil.,Ph.D. NIP : 195208281982031001 Pembimbing II Juliati Tarigan, S.Si, M.Si NIP : 197205031999032001 Diketahui/ Disetujui oleh Departemen Kimia FMIPA USU Ketua, Dr. Rumondang Bulan Nst, MS NIP: 195408301985032001 Universitas Sumatera Utara PERNYATAAN ISOLASI DAN ANALISIS KOMPONEN KIMIA KANDUNGAN MINYAK ATSIRI DARI DAUN RUKU-RUKU (Ocimun sanctum L.) DENGAN CARA GC-MS SKRIPSI Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya. Medan, Juli 2011 LAPENRIS EDISON HUTAGALUNG 090822037 Universitas Sumatera Utara PENGHARGAAN Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Sarjana Sains di Fakultas MIPA USU. Adapun judul skripsi ini adalah “ISOLASI DAN ANALISIS KOMPONEN KIMIA KANDUNGAN MINYAK ATSIRI DARI DAUN RUKU-RUKU (Ocimun sanctum L.) DENGAN CARA GC-MS. Pada kesempatan ini, perkenankanlah penulis untuk menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Ibu Dr. Rumondang Bulan Nst, MS, selaku Ketua Departemen Kimia FMIPA USU 2. Bapak Lamek Marpaung,M.Phil.,Ph.D. dan Ibu Juliati Tarigan, S.Si, M.Si, selaku pembimbing penulis yang telah banyak meluangkan dan memberikan panduan serta pemikiran dan saran selama penulis melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini sehingga dapat selesai 3. Ketua dan sekretaris jurusan departemen kimia FMIPA USU Ibu Dr. Rumondang Bulan, MS dan Bapak Dr. Albert Pasaribu, M.Sc 4. Dekan FMIPA USU Bapak Dr. Sutarman 5. Bapak dan Ibu staf pengajar FMIPA USU serta staf pegawai di Jurusan kimia. 6. Sahabat-sahabat penulis :B’ Daniel, Dominka, dan Titis, yang telah memberikan dukungan kepada penulis 7. Asisten Laboratorium Organik Robi dan Aspriadi, serta rekan-rekan Mahasiswa khususnya Kimia Ekstensi angkatan 2009. Secara khusus penulis ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ayahanda M. Hutagalung dan Ibunda R. Sipahutar yang senatiasa memberikan doa serta dukungan moril dan materil hingga akhirnya penulis menyelesaikan studi. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada kakak saya Ledys, abang saya Harmoko, dan Alm. Bang Agus dan juga adek saya Marsal serta istimewa kepada adek Lusia Samosir yang selalu memberi dukungan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Mengingat keterbatasan kemampuan dan waktu yang ada, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan skripsi ini sangat diharapkan. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca sekalian. Medan, Agustus 2011 Penulis Universitas Sumatera Utara Abstrak Telah dilakukan isolasi minyak atsiri dari daun Ruku-ruku (Acimun sanctum L.) melalui proses hidrodestilasi stahl. Daun Ruku-ruku didestilasi stahl selama ± 4-5 jam menghasilkan minyak atsiri sebesar 0,25% (v/b). Komponen kimia minyak atsiri daun Ruku-ruku dianalisis dengan menggunakan GC-MS dan FT-IR menunjukkan ada dua senyawa yang terbesar yaitu antara lain senyawa Caryophyllene (40,89%), Methyl eugenol (33,41%). Universitas Sumatera Utara ISOLATION AND CHEMICAL ANALYSIS OF COMPONENTS OF THE LEAF ESSENTIAL OIL CONTENT RUKU-RUKU (Ocimun sanctum L.) WITH GC-MS Abstract Have done the isolation of essential oils from the leaves of sweet basil (Acimun sanctum L.) through the distillation process Stahl. Sweet basil leaves distilled Stahl for ± 4-5 hours of essential oil yield of 0.25% (v / b). Chemical components of essential oil basil leaves were analyzed using GC-MS and FT-IR showed the greatest there are two compounds which include compounds Caryophyllene (40.89%), methyl eugenol (33.41%). Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman ii iii iv v vi vii ix x Persetujuan Pernyataan Penghargaan Abstrak Abstract Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Bab 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang 1.2 Permasalahan 1.3 Tujuan Penelitian 1.4 Manfaat Penelitian 1.5 Metodologi Penelitian 1.6 Lokasi Penelitian 1 2 2 2 2 3 Bab 2. Tinjauan Pustaka 2.1 Minyak Atsiri 2.1.1 Sumber Minyak Atsiri 2.1.2 Penggunaan Minyak Atsiri 2.1.3 Isolasi Minyak Atsiri 2.1.4 Penyimpanan Minyak Atsiri 2.2 Daun Ruku-ruku 2.3 Analisis Komponen Kimia Minyak Atsiri dengan GC-MS 2.3.1 Kromatografi Gas 2.3.1.1 Gas Pembawa 2.3.1.2 Sistem Injeksi 2.3.1.3 Kolom 2.3.1.4 Fase Diam 2.3.1.5 Suhu 2.3.1.6 Detektor 2.3.2 Spektrofotometri Massa 2.3.2.1 Spektrum Massa 2.3.2.2 Penentuan Rumus Molekul 2.3.2.3 Penegenalan Ion Puncak Molekul 2.3.2.4 Kaidah Umum Untuk Mengenali Puncak-puncak Dalam Spektra Bab 3. Metodologi Penelitian 3.1 Alat-alat 3.2 Bahan-bahan 3.3 Prosedur Penelitian 3.3.1 Penyediaan Sampel 4 5 5 5 7 7 9 9 9 10 10 10 11 11 11 13 13 13 14 16 16 17 17 Universitas Sumatera Utara 3.3.2 Isolasi Minyak Atsiri Daun Ruku-ruku dengan Alat Destilasi Stahl 3.4 Bagan Penelitian Bab 4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Penentuan Kadar Minyak Atsiri 4.1.2 Hasil Analisis dengan GC-MS 4.1.3 Hasil Analisis dengan FT-IR 4.2 Pembahasan 4.2.1 Penentuan Kadar Minyak Atsiri 4.2.2 Analisis Minyak Atsiri Daun Ruku-ruku Bab 5. Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran 17 18 19 19 19 21 22 22 23 33 33 Daftar Pustaka Lampiran Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman Tabel 4.1. Hasil Analisis GC-MS Daun Ruku-ruku Basah 21 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 2.1. Daun Ruku-ruku 4.1. Kromatogram Minyak Atsiri Daun Ruku-ruku 4.2. Spektrum FT-IR Minyak Atsiri Daun Ruku-ruku 4.3. Spektrum Massa Minyak Atsiri Daun Ruku-ruku Dengan RT. 6,542 4.4. Spektrum Massa Minyak Atsiri Daun Ruku-ruku Dengan RT. 6,933 4.5. Spektrum Massa Minyak Atsiri Daun Ruku-ruku Dengan RT. 7,642 4.6. Spektrum Massa Minyak Atsiri Daun Ruku-ruku Dengan RT. 8,992 4.7. Spektrum Massa Minyak Atsiri Daun Ruku-ruku Dengan RT. 15,475 4.8. Spektrum Massa Minyak Atsiri Daun Ruku-ruku Dengan RT.15,725 4.9. Spektrum Massa Minyak Atsiri Daun Ruku-ruku Dengan RT. 16,067 4.10. Spektrum Massa Minyak Atsiri Daun Ruku-ruku Dengan RT. 16,292 4.11. Spektrum Massa Minyak Atsiri Daun Ruku-ruku Dengan RT.17,142 8 20 22 24 25 25 26 28 31 33 35 39 Universitas Sumatera Utara Abstrak Telah dilakukan isolasi minyak atsiri dari daun Ruku-ruku (Acimun sanctum L.) melalui proses hidrodestilasi stahl. Daun Ruku-ruku didestilasi stahl selama ± 4-5 jam menghasilkan minyak atsiri sebesar 0,25% (v/b). Komponen kimia minyak atsiri daun Ruku-ruku dianalisis dengan menggunakan GC-MS dan FT-IR menunjukkan ada dua senyawa yang terbesar yaitu antara lain senyawa Caryophyllene (40,89%), Methyl eugenol (33,41%). Universitas Sumatera Utara ISOLATION AND CHEMICAL ANALYSIS OF COMPONENTS OF THE LEAF ESSENTIAL OIL CONTENT RUKU-RUKU (Ocimun sanctum L.) WITH GC-MS Abstract Have done the isolation of essential oils from the leaves of sweet basil (Acimun sanctum L.) through the distillation process Stahl. Sweet basil leaves distilled Stahl for ± 4-5 hours of essential oil yield of 0.25% (v / b). Chemical components of essential oil basil leaves were analyzed using GC-MS and FT-IR showed the greatest there are two compounds which include compounds Caryophyllene (40.89%), methyl eugenol (33.41%). Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang cukup berpotensi dalam produksi minyak atsiri. Penggunaan minyak atsiri dari bahan alam sebagai obat semakin diminati masyarakat, seiring dengan gerakan “kembali ke alam”(back to nature) yang dilakukan masyarakat. Tanaman obat makin penting peranannya dalam pola konsumsi makanan, minuman, dan obat-obatan. Menurut Tim Penulis Martha Tilaar Center (2002) dengan meningkatnya kesadaran manusia terhadap pemanfaatan sumber daya alam tersebut, maka pemanfaatan produk herbal semakin berkembang tidak hanya di negara-negara Timur saja, melainkan sudah merambah ke negara-negara Barat. Hal ini tampak dari data WHO yang menunjukkan bahwa permintaan roduk herbal di negaranegara Eropa dalam kurun waktu 1999 – 2004 diperkirakan mencapai 66% dari permintaan dunia. Minyak atsiri dikenal dengan nama minyak eteris atau minyak terbang (essential oil, volatile) yang merupakan salah satu hasil metabolisme tanaman. Bersifat mudah menguap pada suhu kamar, mempunyai rasa getir, serta berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya. Minyak atsiri larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air (Sudaryani dan sugiharti, 1990). Minyak atsiri pada industri banyak digunakan sebagai bahan pembuat kosmetik, parfum, antiseptik dan lain-lain. Beberapa jenis minyak atsiri mampu bertindak sebagai bahan terapi (aromaterapi) atau bahan obat suatu jenis penyakit. Fungsi minyak atsiri sebagai bahan obat tersebut disebabkan adanya bahan aktif, sebagai contoh bahan antiradang, hepatoprotektor, analgetik, anestetik, antiseptik, psikoaktif dan anti bakteri (Agusta, 2000). Minyak atsiri, minyak mudah menguap, atau minyak terbang merupakan campuran dari senyawa yang berwujud cairan atau padatan yang memiliki komposisi maupun titik didih yang beragam. Penyulingannya dapat didefinisikan sebagai proses pemisahan komponen-komponen suatu campuran yang terdiri atas dua cairan atau lebih berdasarkan perbedaan tekanan uap mereka atau berdasarkan perbedaan titik didih komponen-komponen senyawa tersebut ( Sastrohamidjojo, 2004). Universitas Sumatera Utara Tumbuhan ruku-ruku (Ocimun Sanctum L.) secara tradisional banyak digunakan sebagai obat kencing manis, sariawan, kurang darah, malaria dan beri-beri, batuk, perut nyerih dan bumbu masak (Anonim, 1986). Di Indonesia air rebusan ruku-ruku digunakan sebagai obat kolera, diare, sistem pencernaan, demam dan sakit kepala (Perry, 1980). Salah satu zat aktif yang dikandung oleh daun ruku-ruku adalah minyak atsiri disebut juga dengan minyak eteris (Chaudhri, 1996). Minyak atsiri dari daun ruku-ruku sudah pernah didestilasi secara hidrodestilasi dengan menggunakan alat stahl oleh Marianne dan Kasmirul Ramlan Sinaga, dimana daun ruku-ruku yang digunakan dalam keadaan kering dan telah dilakukan uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Berdasarkan hal diatas, peneliti tertarik untuk mengisolasi dan mengetahui komponen senyawa-senyawa kimia apa yang terdapat pada minyak atsiri daun rukuruku yang masih basah 1.2. Permasalahan Komponen senyawa-senyawa kimia apa sajakah yang terkandung pada minyak atsiri daun ruku-ruku 1.3. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui komponen senyawa-senyawa kimia yang terkandung pada minyak atsiri daun ruku-ruku. 1.4. Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumber informasi ilmiah pada bidang kimia bahan alam hayati dan farmasi dalam pengembangan senyawa kimia bahan alam khususnya minyak atsiri yang terkandung dalam daun ruku-ruku. 1.5. Metodologi Penelitian Penelitian yang dilakukan bersifat eksperimen, Minyak Atsiri dari daun ruku-ruku diisolasi melalui proses hidrodestilasi dengan alat stahl dan kemudian dilakukan uji kualitatif penentuan struktur kimia yang terkandung dalam minyak atsiri dengan menggunakan GC – MS. Universitas Sumatera Utara 1.6. Lokasi Penelitian 1.Tempat Pengambilan Sampel Sampel yang digunakan diperoleh dari daerah Tapanuli Tengah Provinsi Sumatera Utara. 2.Tempat Melakukan Penelitian Penelitian dilakukan di laboratorium Kimia Organik FMIPA USU-MEDAN Dan FMIPA UGM YOGYAKARTA. Universitas Sumatera Utara BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Minyak Atsiri Minyak atsiri sangat penting sebagai sumber rasa dan obat. Minyak atsiri digunakan untuk memberi rasa dan aroma makanan, minuman, parfum dan kosmetik. Sifat toksik alami minyak atsiri berguna dalam pengobatan dan minyak atsiri telah lama dikenal sebagai sumber terapi yang penting, misalnya sebagai senyawa anti mikroba (Setyawan, 2002) Pada dasarnya semua minyak atsiri mengandung campuran senyawa kimia dan biasanya campuran tersebut sangat kompleks. Beberapa tipe senyawa organik mungkin terkandung dalam minyak atsiri, seperti hidrokarbon, alkohol, oksida, ester, aldehida, dan eter. Sangat sedikit sekali yang mengandung satu jenis komponen kimia yang persentasenya sangat tinggi. Yang menentukan aroma minyak atsiri biasanya komponen yang persentasenya tinggi. Walaupun begitu, kehilangan satu komponen yang persentasenya kecil pun dapat memungkinkan terjadinya perubahan aroma minyak atsiri tersebut (Agusta, 2000). Minyak atsiri dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, minyak atsiri yang dengan mudah dapat dipisahkan menjadi komponen-komponen atau penyusun murninya. Komponen-komponen ini dapat menjadi bahan dasar untuk diproses menjadi produk-produk lain. Contoh kelompok pertama ini adalah : minyak sereh minyak daun cengkeh, minyak permen, dan minyak terpentin. Biasanya komponen utama yang terdapat dalam minyak atsiri tersebut dipisahkan atau diisolasi dengan penyulingan bertingkat atau dengan proses kimia yang sederhana. Pada saat isolasi dengan penyulingan bertingkat selalu dilakukan dalam keadaan vakum. Hal ini dikerjakan untuk menghindari terjadinya isomerisasi,, polimerisasi atau peruraian. Isolasi yang dapat dilakukan berdasarkan reaksi kimia isomerisasi, polimerisasi atau peruraian. Isolasi yang dilakukan berdasarkan reaksi kimia hanya terdapat pada beberapa minyak atsiri ( Sastrohamidjojo, 2004). Universitas Sumatera Utara 2.1.1. Sumber Minyak Atsiri Minyak atsiri merupakan salah satu hasil akhir proses metabolisme sekunder dalam tumbuhan. Tumbuhan penghasil minyak atsiri antara lain termasuk famili Pinaceae, Labiatae, Compositae, Myrtaceae, Rutaceae, Piperaceae, Zingiberaceae. Umbilliferae dan Gramineae. Minyak atsiri terdapat pada setiap bagian tumbuhan yaitu di daun, bunga, biji, batang, kulit, dan akar. (Ketaren, 1985). 2.1.2. Penggunaan Minyak Atsiri Minyak atsiri digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri, misalnya industri farfum, kosmetik, “essence”, industri farmasi dan “flavorong agent”. Dalam pembuangan parfum dan wangi-wangian minyak atsiri tersebut berfugsi sebagai zat pewangi. Beberapa jenis minyak atsiri dapat digunakan sebagai zat pengikat bau (fixative) dalam farfum, misalnya minyak nilam, minyak akar wangi dan minyak cendana. Minyak atsiri yang berasal dari rempah-rempah, misalnya minyak lada, minyak kayu manis, minyak jahe, minyak cengkeh, minyak ketumbar, umumnya digunakan sebagai bahan penyedap (flavoring agent) dalam bahan pangan dan minuman (Ketaren, 1985). Minyak atsiri ini selain memberikan aroma wangi yang menyenangkan juga dapat membantu pencernaan dengan merangsang sistem saraf sekresi, sehingga akan meningkatkan sekresi getah lambung yang mengandung enzim hanya oleh stimulus aroma dan rasa bahan pangan. Selain itu juga dapat merangsang keluar cairan getah sehingga ronga mulut dan lambung menjadi basah. Beberapa jenis minyak atsiri digunakan sebagai bahan antiseptik internal atau eksternal, bahan anal gesik, naeolitik atau sebagai antizimatik, sebagai sedative dan stimulan untuk obat sakit perut. Minyak atsiri mempunyai sifat membius, merangsang atau memuaskan (Guenther, 1987). 2.1.3. Isolasi Minyak Atsiri Destilasi dapat didefenisikan sebagai cara penguapan dari suatu zat dengan perantara uap air dan proses pengembunan berdasarkan perbedaan titik didihnya. Destilasi merupakan metode yang paling berfungsi untuk memisahkan dua zat yang berbeda, tetapi tergantung beberapa faktor, termasuk juga perbedaan tekanan uap air (berkaitan dengan perbedaan titik didihnya) dari komponen-komponen tersebut. Universitas Sumatera Utara Destilasi melepaskan uap air pada sebuah zat yang tercampur yang kaya dengan komponen yang mudah menguap daripada zat tersebut ( Pasto, 1992). Proses penyulingan sangat penting diketahui oleh para penghasil minyak atsiri. Pada dasarnya terdapat dua jenis penyulingan. 1. Penyulingan suatu campuran yang berujud cairan yang tidak saling bercampur, hingga membentuk dua fasa atau dua lapisan. Keadaan ini terjadi pada pemisahan minyak atsiri dengan uap air. Penyulingan dengan uap air sering disebut juga hidrodestilasi. Pengertian umum ini memberikan gambaran bahwa penyulingan dapat dilakukan dengan cara mendidihkan bahan tanaman atau minyak atsiri dengan air. Pada proses ini akan dihasilkan uap air yang dibutuhkan oleh alat penyuling. Uap air tersebut dapat juga dihasilkan dari alat pembangkit uap air yang terpisah. 2. Penyulingan suatu cairan yang tercampur sempurna hingga hanya membentuk satu fasa. Pada keadaan ini pemisahan minyak atsiri menjadi beberapa komponennya, sering disebut fraksinasi, tanpa menggunakan uap air. Minyak atsiri, minyak mudah menguap, atau minyak terbang merupakan campuran dari senyawa yang berwujud cairan atau padatan yang memiliki komposisi maupun titik didih yang beragam, penyulingan biasa diambil pada energi berkas elektron sebesar 70 elektorn volt (eV). Kejadian tersederhana ialah tercampaknya satu elektron dari satu molekul dalam fasa gas oleh sebuah elektron dalam berkas elektron dan membentuk suatu ion molekul yang merupakan suatu kation radikal (M+). Suatu spektrum massa menyatakan massa-massa sibir-sibir bermuatan positif terhadap (konsentrasi) nisbinya. Puncak paling kuat (tinggi) pada spektrum disebut puncak dasar (base peak), dinyatakan dengan nilai 100 % dan kekuatan (tinggi x faktor kepekaan) puncak-puncak lain, termasuk puncak ion molekulnya, dinyatakan sebagai persentasi puncak dasar tersebut. Puncak ion molekul biasanya merupakan puncakpuncak dengan bilangan massa tertinggi, kecuali jika terdapat puncak-puncak isotop. Puncak-puncak isotop akan ada karena sejumlah molekul tertentu mengandung isotop lebih berat dari isotopnya yang biasa. Pada penentuan rumus molekul yang mungkin dari kekuatan puncak isotop hanya dapat dilakukan jika puncak ion molekul cukup kuat hingga puncak tersebut dapat diukur dengan cermat. Misalnya suatu senyawa mengandung 1 atom karbon, maka untuk setiap 100 molekul yang mengandung satu atom 12C, sekitar 1,08 % molekul mengandung satu atom 13C. Karenanya molekul- molekul ini akan menghasilkan sebuah puncak M +1 yang besarnya 1,08 % kuat puncak ion molekulnya, sedangkan atom-atom 2H yang akan memberikan sumbangan tambahan yang amat lemah pada puncak M + 1 itu. Jika suatu senyawa mengandung sebuah atom sulfur, puncak M + 2 akan menjadi 4,4 %. Universitas Sumatera Utara 2.4.1 Pengenalan Puncak Ion Molekul. Ada dua hal yang menyulitkan pengidentifikasian puncak ion molekul yaitu: a. Ion molekul tidak nampak atau amat lemah. Cara penanggulanganya ialah mengambil spektrum pada kepekaan maksimum. Jika belum diketahui dengan jelas dapat juga ditentukan berdasarkan pola pecahnya. b. Ion molekul nampak tetapi cukup membingungkan karena terdapatnya beberapa puncak yang sama atau lebih menonjol. Dalam keadan demikian maka kemurnian senyawa perlu dipertanyakan. Jika senyawa memang sudah murni maka masalah yang lazim yaitu membedakan puncak ion molekul dari puncak M-1 yang lebih menonjol. Salah satu cara yaitu mengurangi energi bebas elektron penembak mendekati puncak penampilan. Kuat puncak ion molekul tergantung pada kemantapan ion molekul. Ion-ion molekul paling mantap adalah dari sistem aromatik murni. Secara umum golongan senyawa-senyawa berikut ini akan memberikan puncak-puncak ion menonjol : senyawa aromatik(alkana terkonyugasi), senyawa lingkar sulfida organik (alkana normal,pendek), merkaptan. Ion molekul biasanya tidak nampak pada alkohol alifatik,nitrid,nitrat,senyawa nitro, nitril dan pada senyawa-senyawa bercabang. Puncak-puncak dalam arah M-3 sampai M-14 menunjukan kemungkinan adanya kontaminsi (Silverstein,dkk,1981). 2.5. Analisis Minyak Atsiri Analisis sampel minyak atsiri biasanya dengan menggunakan GC-MS. Dimana analisis sampel dapat menunjukkan perbedaan antara kualitatif dengan kuantitatif dari komponen minyak atsiri. Untuk menentukan komposisi minyak atsiri yang diperoleh dari suatu sampel, maka waktu retensi dan hasil spektrum massa dari masing-masing puncak senyawa unknow dibandingkan dengan referensi standar dari senyawa autentik, misalnya identifikasi komponen minyak yang terdapat dalam peppermint dilakukan dengan analisis GC-MS. Senyawa diidentifikasi menggunakan registri dari data spektrum Universitas Sumatera Utara massa, kepustakaan terpen oleh Robert P. Adams yang dibuat oleh Finningan dan dengan waktu retensi dan massa spektra dari senyawa autentik referensi standar yang disuplay oleh SCM Gligdco dan Aldrich. Analisis terhadap minyak atsiri menggunakan GC-MS paling sering dilakukan dan biasa digunakan oleh para peneliti sebelumnya. Antara lain adalah minyak atsiri yang diperoleh dari tiga spesies Angelica, L. yang tumbuh di Perancis, sehingga dapat diketahui komponen masing-masing spesies tersebut yaitu Angelica archangelica Sub.Sp.Archangelica minyak atsiriar.elation wahlemb dan A heterocarpa Lioyd masing-masing 18,7 % dan 5,2% (Bernard, dkk, 1997). Minyak yang dihasikan dari daun Eugenia uruguayensis dianalisa dengan GC dan GC-MS diproleh 60 komponen yang teridentifikasi dalam minyak, dimana komponen utama merupakan limonen (17,6%), 1,8-sineol (17%), α -pinen (10%) dan kariofilen oksida (8,3%) Dellasca, dkk, 1997) 2.6. Minyak Atsiri Sebagai Anti Bakteri Beberapa literature telah melaporkan bahwa minyak atsiri mempunyai aktivitas sebagai anti bakteri maupun sebagai analgesic (mengurangi rasa sakit) (Sentosa dkk 1997). Minyak atsiri merupakan minyak yang mudah menguap yang akhir-akhir ini menarik perhatian dunia hal ini disebabkan karena minyak atsiri yang terdapat dari berbagai tumbuhan bersifat aktif biologis sebagai anti bakteri maupun sebagai anti jamur. Beberapa peneliti yang telah menemukan bahwa minyak atsiri dari daun sirih, kunyit memiliki aktivitas sebagai antijamur dan anti bakteri. (Elistina 2005), sedangkan minyak atsiri yang dihasilkan dari rimpang temu putih berhasit sebagai anti radang dan anti oksidan yang dapat mencegah kerusakan gen. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, minyak atsiri yang diperoleh dari hasi penyulingan daun jeruk nipis, dari analisa ternyata memiliki aktivitas sebagai anti bakteri terhadap Staphyloccus aureus dan Escherichia coli (Normasani, 2007). Universitas Sumatera Utara Minyak atsiri pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, ini dibagi berdasarkan golongan hidrokarbon dan golongan hidrokarbon teroksigenisasi (Robinson 1991). Menurut Hyene 1987 bahwa senyawa- senyawa dari turunan golongan hidrokarbon teroksigenasi (fenol) senyawa ini memiliki daya anti bakteri yang sangat kuat. 2.7. Tumbuhan Jinten Tumbuhan jinten (C. aromaticus benth) merupakan salah satu tanaman herbal, karena tumbuhan ini sudah lama dikenal olah masyarakat sebagai tanaman obat, terutama daunnya untuk mengobati asma, batuk, demam, sariawan, sakit kepala, reumatik maupun sebagai obat perut kembung. Selain digunakan untuk pengobatan, tumbuhan jinten juga mengandung minyak atsiri terutama pada bagian daunnya. Tumbuhan jinten dikenal nama daerahnya; jinten (Jawa tengah), ajiran (Sunda), bangun- bangun (Sumatera utara), Sukan (melayu), daun kambing (madura), Iwak (bali) , Oregano (Malaysia),Aceran dan daun hati-hati.Tumbuhan ini berdaun tunggal dan tebal, berbentuk bujur telur, tepi bergerigi dan permukaannya berbulu. Tumbuhan ini merupakan jenis rumput-rumputan yang mempunyai batang yang beruas .ruas dan pada setiap ruas dapat tumbuh tunas,jika batang bersentuhan dengan tanah maka dapat tumbuh akar. Batang tanaman ini lunak,berair dan mudah patah, daun jinten mempunyai bau yang khas. Tumbuhan jinten menyukai tanah yang gembur, sedikit lembab namun tidak berair. Biasanya tumbuhan jinten tumbuh didaerah dataran rendah sampai pada ketinggin 1000 m diatas permukaan air laut. Pengembangbiakan tumbuhan ini dilakukan dengan cara stek dan dapat ditanam dipot maupun langsung ditanam ditanah, tanam ini jika ditanam ditempat yang terlalu banyak panas maka daun tanaman ini akan mengecil. Universitas Sumatera Utara Sistematik tumbuhan jinten adalah sebagai berikut: Divisio : Spermatophyta Sub Divisio : Angiospermae Kelas : Dycotyledoneae Ordo : Solanales Famili : Labiatae Genus : Coleus Species : C.aromaticus benth Universitas Sumatera Utara BAB 3 METODE PENELITIAN DAN MATERI 3.1. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan secara eksprimen dimana bahan penelitian berupa daun jinten yang diambil dari daerah Sempakata Kecamatan Medan Selayang Kota Madya Medan. Untuk mendapatkan minyak daun jinten yang telah dirajang didestilasi dengan menggunakan alat stahl. Minyak yang dihasilkan selanjutnya dianalisa dengan GC-MS di laboratorium kimia organik FMIPA UGM Yogyakarta dan untuk uji bakteri dianalisa di laboratorium Mikrobiologi Depertemen Biologi FMIPA USU Medan 3.2. Alat Dan Bahan Yang Digunakan 3.2.1. Alat-alat yang Digunakan Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: - Gelas ukur 25 ml merek Duran - Gelas Erlenmeyer (50,100) ml merek Duran - Neraca analitis - Pisau dan Gunting - Beker Gelas (50,100,150 dan500) ml merek Duran - penangas minyak - Satu set alat stahl - Seperangkat alat Gas Chromatography – Mass Spectroscopy (GC – MS) - Corong kaca - Corong pisah - Timbangan - Kertas saring - Slang air - Termometer - Klem dan statif 22 Universitas Sumatera Utara 3.3.2. Bahan-bahan yang Digunakan. - Daun Jinten yang segar - NaCl p.a. (E. merck) - Dietil eter p.a (E. merck) - Aquadest - Na2SO4 anhidrat p.a (E merk) - Etanol 95% p.a (E. merk) 3.3. Prosedur Kerja 3.3.1. Isolasi Minyak Atsiri dari daun Jinten - Sebanyak 250 gram daun jinten yang telah dihaluskan dimasukan kedalam labu alat stahl dan ditambahkan air sebanyak 500 ml. - Lalu pasang alat buret yang berisi air. - Kemudian didestilasi dengan penangas minyak selama 2 s/d 3 jam pada suhu Davanone Level”, Thai J. Pharm, Sci, 29 (3), 147 – 153. Derwich, D, Benziane,Z, Taonil, R, Soehaji, R dan Tauzani, M, (2010), “Aromatic Plants of Marceo ; GC-MS Analysis of The Essential Oils of Leaves of Mentha Peperita”, Advances in enviromental Biologi, 4(1). 80-85. Efidhon, F., Assarch, M.H, Abravesh,Z dan Barazandeh, M., (2007), “Chemical Composition of The Essential Oil of Four cultivated Eucalyptus Species in Iran as edicals Plants”, Irinial Journal of Pharmaceutical Recearch, 6(2), 135-140. Granados, J. (1997), “The Future of Surfactant Raw Material”, INFORM, 8, 532. Guenther, E, ( 1987 ), “Minyak Atsiri”, Jilid I, Terjemahan Oleh S. Ketaren, Penerbit UI – Press, Jakarta. Guenther,E, ( 2009 ),” Minyak Atsiri,”Jilid IVB, Terjemahan Oleh S.Ketaren, Penerbit UI – Press, Jakarta. Harbone, J.B, (1987), “ Metode Fitokimia Penentuan Cara Modern Menganalisa tumbuhan”. Alih bahasa Kosassih Padmawinata dan Iwang Sudiro, ITB, Bandung. Heyne, K, ( 1987 ), “Tumbuhan Berguna Indonesia”, Jilid II, Cetakan Ke-1, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan, Diterjemahkan Oleh Badan Litbang Kehutanan, Jakarta. Juchelka, D, Steil, A, Witt, K, dan Mosandi, A, (1996), “ Chiral Compounds of Essential Oli. XX. Chirality Evaluation and Authenticity Profiles of Neroli Oil”, J. Essent Oil Res, 8, (5). Judzentiene, A and Buzelyte, J, ( 2006 ), “Chemical composition of essential oils of Artemisia vulgaris L. ( mugwort ) from North Lithuania”,Chemija, T, 17, Nr.1,12–15. 88 Universitas Sumatera Utara 89 Mondello, L, Basile, A, Previti, P. And Dugo, G, (1997), “Italian Citrus Petitgrain Oil”, Part II : Composition of Mandarin Petitgrain Oil, J. Essent. Oil Ress. Vol. 9. 255-266. Pino, J.A. Garcia, J. Dan Martinez, M.A, (1997), “ Solvent Extraction and Supercritical Carbon Dioxide of Lipid Alba (Mill). N.E. Brown Leaf”, J. Essent Res, 9 (3). Purwanta, I.A.A. dan Dewi, P.F.S, (2008), “Isolasi Dan Uji Bakteri Minyak Atsiri Dari Rimbang Lengkuas (Apingia Galanga L. ),” Jurnal Kimia FMIPA-Udayana, 2(2), 100-104 Sastrohamidjojo, H, ( 2004),” Kimia MinyakAtsiri,” Cetakan Pertama,Gadjah Mada University Press, Anggota IKAPI, Yogyakarta. Silverstein, Bassler dan Morril, (1989), ”Penyidikan Spektrometrik Senyawa Organik,”edisi keempat, Terjemahan Oleh Drs.A.J. Hartomo dan Dra.AnnyVictor Purba,MSc, Penerbit Erlangga, Jakarta. Sudjadi, ( 1988 ), “Metode Pemisahan”, Kanisius, Yogyakarta. Universitas Sumatera Utara Lampiran 1. Kondisi Operasi Peralatan GC-MS untuk Analisis Minyak Atsiri Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Lampiran 2. Gambar Daun Tumbuhan Binara (Artemisia Vulgaris L.) Universitas Sumatera Utara Lampiran3. Spektrum GC-MS Senyawa 2-metil-5-isopropil-1,3-sikloheksadiena dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan alat Stahl Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 4. Spektrum GC-MS Senyawa α-Terpinen dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan alat Stahl Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 5. Spektrum GC-MS Senyawa Para-Cymene dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan alat Stahl Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 6. Spektrum GC-MS Senyawa 1,8-Cineole dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan alat Stahl Universitas Sumatera Utara a b Keterangan a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 7. Spektrum GC-MS Senyawa Filifolone dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan alat Stahl Universitas Sumatera Utara a b Universitas Sumatera Utara Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 8. Spektrum GC-MS Senyawa 1-Terpinoel dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan alat Stahl Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 9. Spektrum GC-MS Senyawa 2,6,6-trimetil-2,4-sikloheptadiena-1one (Eucarvone) dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan alat Stahl Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 10. Spektrum GC-MS Senyawa 1-α-Terpineol dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan alat Stahl Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 11. Spektrum GC-MS Senyawa 2-sikloheksena-1-one(Piperitone) dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan alat Stahl Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 12. Spektrum GC-MS Senyawa Bisiklo-3,1,1-hepta-3-en-2one(Verbenone) dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan alat Stahl Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 13. Spektrum GC-MS Senyawa Trans-Caryophyllene dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan alat Stahl Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 14. Spektrum GC-MS Senyawa (Z)- -Farnesene dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan alat Stahl Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 15. Spektrum GC-MS Senyawa α-Humulene dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan alat Stahl Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 16. Spektrum GC-MS Senyawa -Elemene dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan destilasi uap Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 17. Spektrum GC-MS Senyawa -Caryophyllene dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan destilasi uap Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 18. Spektrum GC-MS Senyawa -Farnesene dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan destilasi uap Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 19. Spektrum GC-MS Senyawa α-Humulene dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan destilasi uap Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 20. Spektrum GC-MS Senyawa α-Amorphene dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan destilasi uap Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 21. Spektrum GC-MS Senyawa -Selinene dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan destilasi uap Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standard Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 22. Spektrum GC-MS Senyawa Germacrene B dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan destilasi uap a b Keterangan: a. Sampel b. Standart Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 23. Spektrum GC-MS Senyawa Caryophyllene Oxide dari minyak atsiri daun tumbuhan Binara yang diperoleh menggunakan destilasi uap Universitas Sumatera Utara a b Keterangan: a. Sampel b. Standart Library Universitas Sumatera Utara Lampiran 24. Tabel tipe dari beberapa fragmen-fragmen komponen yang hilang hasil fragmentasi dari senyawa organik Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Lampiran 25. Hasil Identifikasi Daun Tumbuhan Binara (Artemisia Vulgaris L.) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM DEPARTEMEN BIOLOGI LABORATORIUM TAKSONOMI TUMBUHAN Jl. Bioteknologi No. 1 Kampus USU, Medan – 20155 Telp. 061-8223564 Fax. 061 -8214290 E-mail. talief@lycos.com Medan, 20 Oktober 2010 No : 082/Lab.Taks.Tumb./2020 Lamp : Hal : Hasil Identifikasi Kepada YTH, Sdr.i : Dalan Malem Sembiring NIM : 097006033 Instansi : Program Pascasarjana Ilmu Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam USU – Medan Dengan hormat, Bersama ini disampaikan hasil identifikasi tumbuhan yang saudara kirimkan ke Laboratorium Taksonomi Tumbuhan, Departemen Biologi FMIPA-USU, sebagai berikut: No. 1 No. Koleksi - Suku Asteraceae Nama Jenis Artemisia vulgaris L. Nama Lokal Binara Demikian, semoga berguna bagi saudara. Klasifikasi: Kingdom Divisi Class Ordo Famili Genus Spesies : : : : : : : Plantae Spermatophyta Dicotyledoneae Asterales Asteraceae Artemisia Artemisia vulgaris L. Universitas Sumatera Utara
Isolasi Dan Analisis Komponen Kimia Dari Minyak Atsiri Daun Ruku-Ruku (Ocimum sanctum L.) Dengan Metode GC-MS Analisis Minyak Atsiri Daun Ruku-ruku dengan GC-MS Gas Pembawa Sistem Injeksi Kolom Kaidah Umum Untuk Mengenali Puncak-Puncak Dalam Spektra Kesimpulan Saran KESIMPULAN DAN SARAN Spektrum Massa Penentuan Rumus Molekul Pengenalan Puncak Ion Molekul Sumber Minyak Atsiri Penggunaan Minyak Atsiri Isolasi Minyak Atsiri
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Isolasi Dan Analisis Komponen Kimia Dari Minyak Atsiri Daun Ruku-Ruku (Ocimum sanctum L.) Dengan Metode GC-MS

Gratis