PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING DENGAN MENGGUNAKAN KOMIK FISIKA DAN KREATIVITAS TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SMP.

32 

Full text

(1)

EFEK MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING DENGAN MENGGUNAKAN KOMIK FISIKA DAN KREATIVITAS

TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SMP

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Magister Pendidikan Fisika pada Program Studi Pendidikan Fisika

Oleh:

SAANATUN NIM: 8146175032

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)

i ABSTRAK

Saanatun (NIM. 8146175032) Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training dengan Menggunakan Komik Fisika dan Kreativitas terhadap Keterampilan Proses Sains Siswa SMP”. Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan, 2017.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterampilan proses sains siswa yang menggunakan model pembelajaran Inquiry Training dengan menggunakan komik fisika lebih baik daripada model pembelajaran konvensional serta pada kelompok kreativitas tinggi lebih baik daripada kelompok kreativitas rendah. Menganalisis interaksi antara kreativitas dengan model pembelajaran Inquiry Training dengan menggunakaan komik fisika terhadap keterampilan proses sains siswa. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan desain two group pretest posttest design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Swasta An-nizam Medan tahun ajaran 2016/2017. Pemilihan sampel diambil secara cluster random class. Sampel dibagi dalam dua kelas, kelas eksperimen yang diajarkan dengan model pembelajaran Inquiry Training dengan menggunakan komik fisika dan kelas kontrol diajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Instrumen yang digunakan terdiri dari tes keterampilan proses sains dan tes kreativitas. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan ANAVA dua jalur setelah data berdistribusi normal dan homogen pada data hasil pasca-pembelajaran. Hasil penelitian menunjukan bahwa keterampilan proses sains siswa yang menggunakan model pembelajaran Inquiry Training dengan menggunakan komik fisika lebih baik dibandingkan dengan keterampilan proses sains siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran konvensional serta pada kelompok kreativitas di atas rata–rata lebih baik dibandingkan dengan keterampilan proses sains siswa pada kelompok kreativitas di bawah rata–rata, dan terdapat interaksi antara model pembelajaran Inquiry Training dengan menggunakan komik fisika dan pembelajaran konvensional pada tingkat kreativitas dalam mempengaruhi keterampilan proses sains siswa.

(6)

ii ABSTRACT

Saanatun (NIM. 8146175032) “The Effect Of Inquiry Training Use Physic’s Comic and Creativity on Student’s Science Process Skill in Junior High School”. Postgraduate School of the State University of Medan, 2017.

This study aimed to out difference of student’s science process skill among inquiry training use physics comic and the conventional and find out the difference of student science who has high creativity with student who has low creativity and to find out the interaction among the inquiry training model use physic’s comic and creativity level increasing student’s science process skill. This study used a quasi experiment with two group pretest and posttest design the population of this study was the student’s of VII grade junior high school in 2016/2017. The sample of this study divided into 2 classes, experiment class by using the inquiry training use physic’s comic and control class by using conventional. The instrument of this study was the science process skill test and creativity test. The data of this study was analyzed among two ways ANAVA after the data normality and homogeny in post-test data. The results of this study showed that inquiry training model use physic’s comic was better than conventional in improving the student’s science process skill. The student’s science process skill to a group of student creativity’s level and get interaction among the inquiry training model use physic’s comic and conventional in improve student’s science process skill.

Keyword : Learning model, Inquiry Training, Conventional, Physic’s comic, Creativity, Science Process Skill

(7)

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada ALLAH SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan keberkahan serta rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul “Efek Model Pembelajaran Inquiry Training dengan menggunakan komik fisika dan kreativitas terhadap keterampilan proses sains siswa SMP” dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Tesis ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan gelar Magister Pendidikan pada program studi pendidikan fisika di program pascasarjana Universitas Negeri Medan.

Alhamdulillah dalam penyusunan tesis ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam menentukan judul, penyusunan proposal hingga menjadi sebuah tesis. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang membantu penyusunan tesis ini, yaitu kepada:

1. Bapak Dr. Rahmatsyah, M.Si selaku Ketua Program Studi Pendidikan Fisika Pascasarjana dan Ibu Dr. Derlina, M. Si selaku Skretaris Program Studi Pendidikan Fisika Pascasarjana dan pembimbing II yang selalu memberi bimbingan dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan tesis ini. 2. Bapak Prof. Dr. Mara Bangun Harahap, M.S selaku pembimbing I yang selalu

memberi bimbingan dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan tesis.

3. Bapak Prof. Dr. Sahyar, M.S., M.M selaku narasumber I, ibu Prof. Dr. Retno Dwi Suyanti, M. Si selaku narasumber II, dan ibu Dr. Eva Marlina Ginting, M.Si selaku narasumber III yang telah memberikan masukkan guna kesempurnaan tesis ini.

(8)

iv

5. Bapak Dr. H. Hasnan Syarief P. M.Pd selaku Kepala Sekolah SMP An-nizam Medan, guru, dan staff yang telah memberikan izin dan waktu kepada penulis untuk melakukan penelitian.

6. Teristimewa kepada keluargaku yang sangat saya sayangi dengan penuh hormat penulis menyampaikan terima kasih tidak terhingga kepada kedua orang tuaku tersayang Ibunda Sarikem, Ayahanda Syamsuddin, Abangda Syaiful Amri, Abangda Sahari Sucipto, Kakanda Ayu, Kakanda Nurlela, Adinda Sahpitri S.Pdi, dan Ananda Mhd. Rayan, Tiara Anggraini, dan Kevin Anggara Yudha yang telah memberikan motivasi, do’a, serta kasih sayang yang tak pernah henti kepada penulis dalam menyelesaikan studi di Pps Unimed hingga selesainnya tesis ini.

(9)

v

Widya Amelita, Rika Sya’baniah, Tengku Zena. Adinda-adinda SMAniz Sope, Mita-kun, Ridha, Sheila, Pika, Laili, Annisa, dan Bani.

Penulis juga menyadari bahwa tesis ini masih perlu disempurnakan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna penyempurnaan tesis ini. Akhir kata penulis berharap semoga tesis ini dapat memberikan manfaat kepada para pembacanya.

Medan, Januari 2017

Saanatun

(10)

vi

2.1.2. Pembelajaran Konvensional ... 20

2.1.3. Kreativitas ... 22

2.1.4. Keterampilan Proses Sains ... 26

2.1.5. Komik Fisika ... 31

2.2. Teori Belajar yang Mendukung Model Pembelajaran Inquiry Training ... 32

2.4.1 Keterampilan Proses Sains Siswa dengan Menggunakan Model Pembelajaran Inquiry Training dengan Menggunakan Komik Fisika Lebih Baik Dibandingkan Dengan Pembelajaran Konvensional. ... 42

2.4.2. Keterampilan Proses Sains Siswa Pada Kelompok Siswa yang Memiliki Kreativitas Diatas Rata-Rata Lebih Baik Dibandingkan Kelompok yang Memiliki Kreativitas Dibawah Rata-Rata ... 44

2.4.3. Ada Interaksi Model Pembelajaran Inquiry Training dengan Menggunakan komik Fisika dan Kreativitas dan Pembelajaran Konvensional dengan Kreativitas terhadap Keterampilan proses Sains Siswa ... 45

(11)

vii

3.6.1. Instrumen Tes Keterampilan Proses Sains ... 55

3.6.2. Instrumen Kreativitas ... 57

4.1.1. Analisis Statistika dan Hasil Penelitian Pra pembelajaran ... 65

4.1.1.1. Uji Normalitas ... 67

4.1.1.2. Uji Homogenitas ... 67

4.1.1.3. Uji Kesamaan Rerata (Uji-t) ... 68

4.1.2. Kreativitas Siswa ... 69

4.1.3. Analisis Statistika dan Hasil Penelitian Pasca pembelajaran ... 70

4.1.3.1. Uji Normalitas ... 73

4.1.3.2. Uji Homogenitas ... 73

4.1.3.3. Deskripsi KPS Berdasarkan Kreativitas Siswa ... 74

4.1.4. Pengujian Hipotesis ... 76

4.2. Pembahasan ... 79

4.2.1. KPS dengan Model Pembelajaran Inquiry Training dengan Menggunakan Komik Fisika Lebih Baik Diban- dingkan dengan Pembelajaran Konvensional ... 79 4.2.2. KPS pada Kelompok yang Memilki Kreativitas Diatas

(12)

viii

Bawah Rata-rata ... 82

4.2.3. Ada Interaksi Model Pembelajaran Inquiry Training dengan Menggunakan Komik Fisika dan Kreativitas untuk Meningkatkan KPS Siswa ... 83

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 87

5.1. Kesimpulan ... 87

5.2. Saran ... 87

(13)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Fase-fase Model Pembelajaran Inquiry Training ... 19

Tabel 2.2. Langkaah-langkah Model pembelajaran Konvensional ... 21

Tabel 2.3. Pengembangan Indikator Kreativitas ... 25

Tabel 2.4. Penelitian Yang Relevan ... 38

Tabel 3.1. Two Group Pra-Pasca Design ... 50

Tabel 3.2. Desain Penelitan ANAVA 2x2 ... 51

Tabel 3.3. Spesifikasi Tes Keterampilan Proses Sains ... 55

Tabel 3.4. Kisi-Kisi Tes Kreativitas ... 58

Tabel 4.5. Data Kreativitas Siswa Gabungan Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 70

Tabel 4.6. Data Kelompok Kreativitas Siswa Tinggi dan Rendah pada Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 70

Tabel 4.7. Nilai Pasca Pembelajaran KPS Siswa Kelas Kontrol dan Eksperimen ... 71

Tabel 4.11. KPS Siswa Berdasarkan Kreativitas Diatas Rata-rata (Tinggi) dan Dibawah Rata-rata (Rendah) pada Masing-masing Kelas ... 75

Tabel 4.12. Statistik Deskritif ANAVA ... 75

Tabel 4.13. Data Hasil Perhitungan Dua Jalur ... 76

(14)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Dampak Pengiring Model Pembelajaran Inquiry Training

... 19

Gambar 3.1. Skema Pelaksanaan Penelitian ... 54

Gambar 4.1. Histogram Data Pra-pembelajaran Kelas Kontrol ... 66

Gambar 4.2. Histogram Data Pra-pembelajaran Kelas Eksperimen ... 66

Gambar 4.3. Histogram Data Pasca-pembelajaran Kelas Kontrol ... 72

(15)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I ... 101

Lampiran 2 Lembar Kerja Siswa I ... 104

Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran II ... 105

Lampiran 4 Lembar Kerja Siswa II... 115

Lampiran 5 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran III ... 118

Lampiran 6 LembarKerja Siswa III ... 127

Lampiran 7 Instrumen KPS... 130

Lampiran 8 Lembar Observasi KPS Siswa ... 133

Lampiran 9 Rubrik Penilaian KPS ... 134

Lampiran 10 Tes Kreativitas Siswa SMP ... 137

Lampiran 11 Kisi-kisi Instrumen Kreativitas... 139

Lampiran 12 Daftar Siswa kelas Kontrol dan Eksperimen ... 141

Lampiran 13 Data Hasil Pra-pembelajaran Kelas kontrol ... 142

Lampiran 14 Data Hasil pra-pembelajaran Kelas Eksperimen ... 143

Lampiran 15 Data Hasil Pasca-pembelajaran Kelas Kontrol ... 144

Lampiran 16 Data Hasil Pasca-pembelajaran Kelas Eksperimen ... 145

Lampiran 17 Data Hasil Kreativitas Kelas Kontrol ... 146

Lampiran 18 Data Hasil Kreativitas Kelas Eksperimen ... 147

Lampiran 19 Deskripsi Statistik Perhitungan Data Pra dan Pasca Pembelajaran ... 148

Lampiran 20 Komik-1 ... 167

Lampiran 21 Komik-2 ... 169

Lampiran 22 Komik-3 ... 170

(16)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia

yang dinamis dan sarat perkembangan. Oleh karena itu, perubahan atau

perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan

dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan

pada semua tingkat perlu terus-menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan

masa depan. Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa

mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta

didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan

problema kehidupan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi

nurani maupun potensi kompetensi peserta didik. Oleh karena itu, program

pendidikan dan pembelajaran saat ini harus lebih diarahkan atau lebih

berorientasikan kepada individu peserta didik.

Pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa merupakan salah satu

upaya untuk mengembangkan potensi siswa. Potensi dimana siswa dapat

menghadapi dan memecahkan masalah di dalam kehidupannya sehari-hari.

Menghadapi dan memecahkan masalah merupakan keterampilan yang harus

sering dilatih. Melatih keterampilan-keterampilan tersebut dibutuhkan suatu

(17)

2

Pembelajaran yang menitik beratkan pada siswa merupakan salah satu upaya

untuk melatih keterampilan-keterampilan tersebut.

Pendidikan IPA (sains) adalah salah satu aspek pendidikan yang

digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Menurut Departemen

Pendidikan nasional (2003) menyebutkan bahwa pendidikan sains tersebut tidak

hanya terdiri dari fakta, konsep, dan teori yang dapat dihafalkan, tetapi juga terdiri

atas kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran dan sikap ilmiah dalam

mempelajari gejala alam yang belum diterangkan. Dengan demikian, tuntutan

untuk terus-menerus memukhtahirkan sains menjadi suatu keharusan. Peranan

pendidikan IPA (sains) menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk

mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam

sekitar secara ilmiah. Pendidikan sains diarahkan untuk "mencari tahu" dan

"berbuat" sehingga dapat membantu siswa untuk mengetahui alam lebih dalam.

Sains memilki ciri-ciri tertentu, beberapa ciri-ciri sains diantaranya adalah

memilki objek kajian berupa berupa benda-benda konkret, mengembangkan

pengalaman-pengalaman empiris, menggunakan langkah-langkah sistematis,

menggunakan cara berfikir logis, dan hukum-hukum yang dihasilkan bersifat

universal. Dengan demikian, mempelajari sains merupakan suatu proses

psikologis berupa suatu tindakan atau upaya untuk mengkronstruksi dan

memahami gejala alam.

Fisika adalah salah satu rumpun sains yang dapat mengembangkan

kemampuan berpikir analitis induktif dan deduktif dalam menyelesaikan masalah

(18)

3

dengan menggunakan matematika, serta dapat mengembangkan pengetahuan,

keterampilan,dan sikap percaya diri. Pada dasarnya, belajar fisika merupakan

suatu pembelajaran yang membekali siswa dengan pengetahuan, pemahaman,

konsep-konsep untuk memasuki jenjang sekolah yang lebih tinggi serta

mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Paradigma baru dalam

pembelajaran fisika saat ini adalah membuktikan kepada siswa bagaimana

memecahkan masalah dan menemukan konsep-konsep sebagai pembuktian

langsung konsep-konsep yang mereka butuhkan. Tidak sekedar suatu

pembelajaran yang bersifat verbalitas, hapalan, pengenalan rumus-rumus, dan

pengenalan istilah-istilah melalui melalui rangkaian verbal. Suatu pembelajaran

yang lebih dominan pada siswa sehingga siswa lebih aktif selama pembelajaran

berlangsung.

Fakta yang diperoleh di lapangan tidaklah sesuai dengan harapan, dimana

pembelajaran sains fisika yang diterapkan di sekolah pada umumnya masih

menerapkan metode konvensional atau metode yang menitik beratkan pada

hapalan teori-teori dan rumus-rumus. Fakta tersebut diperoleh peneliti dari hasil

wawancara dengan guru fisika di salah satu SMP swasta di kota Medan. Hasilnya,

siswa kurang berkesempatan aktif dan tidak kreatif selama pembelajaran dan

menemukan pengalaman belajarnya sendiri. Hal ini sejalan dengan pernyataan

Khalid&Azeem (2012) bahwa guru di kelas masih menggunakan metode

konvensional. Hal ini bukan berarti bahwa para siswa tidak memilki rasa ingin

tahu, akan tetapi mereka kurang diberi kesempatan selama pembelajaran

(19)

4

menyatakan bahwa sebenarnya para mahasiswa memiliki rasa ingin tahu yang

kuat tentang berbagai fenomena IPA, hanya saja mereka tidak memilki

pengalaman melakukan kegiatan penelitian. Pembelajaran fisika seharusnya

merupakan pembelajaran yang sangat menyenangkan karena aplikasi fisika

langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi apa yang diharapkan

pada umumnya tidaklah sesuai dengan kenyataan yang ada. Hal ini terjadi karena

guru masih menerapkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan

keaktifan dan kemampuan menemukan, mencari, dan menyusun sendiri

konsep-konsep fisika yang mereka butuhkan. Pada kenyataannya, guru hanya sekedar

transfer konsep-konsep fisika memberikan contoh soal. Selanjutnya siswa

menghafal konsep-konsep yang diberikan dan mengerjakan soal-soal yang hampir

mirip dengan contoh soal yang diberikan, sehingga siswa hanya menerima

konsep-konsep tersebut dan tidak menyusun konsep-konsep yang dibutuhkannya.

Proses pembelajaran seperti ini pastinya akan menciptakan suasana belajar yang

monoton, cenderung diam, dan membosankan. Hal ini sejalan dengan Vaishnav

(2013) yang menyatakan bahwa dalam pembelajaran konvensional hanya sekedar

transfer ilmu dari guru ke siswa.

Dibutuhkan suatu pembelajaran yang tidak lagi konvensional. Dimana

guru IPA khususnya fisika harus dituntut dalam merancang suatu model

pembelajaran yang dapat menciptakan suasana belajar yang mampu meningkatkan

keaktifan siswa di dalam kelas. Hal ini sejalan dengan pernyataan Azizah&Parmin

(2012) bahwa peserta didik diberikan kesempatan lebih aktif dalam menggali dan

(20)

5

Berdasarkan hasil temuan peneliti pada salah seorang guru fisika pada

salah satu SMP Negeri di kabupaten Batu Bara didapatkan bahwa selama

pembelajaran fisika siswa kurang aktif bertanya. Ketika guru selesai menjelaskan

materi yang diajarkannya, kemudian menawarkan siswa siapa yang ingin

mengajukan pertanyaan, ternyata siswa kurang merespon Mereka cenderung

hanya meperhatikan guru menjelaskan materi pelajaran dan enggan bertanya. Hal

ini mengindikasi bahwa kemampuan meneliti siswa masih relatif rendah. Karena

siswa belum aktif bertanya mengenai materi yang disampaikan guru. Bertanya

merupakan salah satu komponen keterampilan meneliti. Selain itu, siswa juga

menganggap mata pelajaran fisika adalah mata pelajaran yang sangat sulit untuk

dipahami yang dikarenakan banyaknya rumus-rumus yang harus dihafal dan

matematis. Pernyataan ini juga sejalan dengan pernyataan SUZUK, dkk (2011)

yakni bagi siswa fisika merupakan pelajaran yang sulit, alasan utamanya adalah

berupa teori, matematis dan abstrak jika tanpa contoh dalam kehidupan

sehari-hari. Selain itu, alasan siswa kurang menyukai pelajaran fisika adalah pada waktu

yang siswa harus mengintegrasi antara teori, pratikum, rumus dan perhitungan

matematis, dan grafik pada saat yang sama terutama pada kegiatan pratikum. Hal

ini senada dengan pernyataan Ornek, dkk (2008) yang menyatakan bahwa fisika

itu susah karena siswa harus melawan pendapat mereka bahwa fisika itu selalu

dipenuhi dengan pratikum, rumus-rumus dan perhitungan, grafik, dan penjelasan

konsep pada waktu yang sama. Selain itu, didapatkan juga bahwa model

pembelajaran yang sering digunakan guru adalah pembelajaran adalah model

(21)

6

bahwa melalui pembelajaran berpusat dari guru dapat menyama ratakan

kemampuan semua siswa. Hal ini sejalan dengan Abdi (2014) bahwa asumsi

metode mengajar yang berpusat pada guru seluruh siswa memilki kemampuan

pengetahuan dasar yang sama pada permasalahan belajar dan menyerap pelajaran

juga pada waktu yang sama. Model pembelajaran yang diterapkan selama ini

ternyata kurang melibatkan siswa aktif selama pembelajaran sehingga kurang

memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam menemukan

dan menyusun konsep. SeharusnyaPembelajaran yang dipilh adalah pembelajaran yang melatih kemampuan siswa untuk terbiasa berfikir seperti seorang ilmuan.

Selain itu, ditemukan pula bahwa selama ini guru belum pernah

meperhatikan keterampilan proses sains dan jarang melaksanakan kegiatan

pratikum sehingga hasil yang diperoleh kurang maksimal. Oleh karena itu,

diperlukan suatu pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan proses

sains siswa. Salah satu solusi upaya yang dapat dilakukan guru untuk mengatasi

masalah-masalah diatas adalah merancang suatu kegiatan pembelajaran yang

berbasis pada keaktifan siswa dan meningkatkan kemampuan meneliti siswa yakni

menerapkan model pembelajaran berbasis penemuan atau inquiry. Melalui

penerapan model pembelajaran inquiry training dapat meningkatkan kemampuan

meneliti siswa dan merubah cara belajar siswa yang cenderung kurang aktif dan

jarang bertanya (Gormally, dkk : 2009) . selain itu model pembelajaran inquiry

training juga dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa (Vaishnav: 2013).

Menurut Alberta (2004), inquiry based learning adalah sebuah proses

(22)

7

menyelidiki lebih luas, dan membangun pemahaman baru, makna dan

pengetahuan. Melalui penyelidikan, siswa dapat meningkatkan kemampuan proses

sainsnya. Hal ini senada dengan pernyataan Azizah&Parmin (2012) yang

menyatakan bahwa model pembelajaran inquiry training merupakan model

latihan penelitian yang memperkuat dorongan alami untuk melakukan eksplorasi,

memberikan arah melalui eksplorasi dengan semangat besar dan dengan penuh

kesungguhan. Lebih lanjut Vaishnav (2013) menambahkan bahwa salah satu

dampak intruksional dari penerapan model inquiry training adalah prosedur

penelitian yang sistematik. Pernyataan ini juga didukung oleh hasil penelitian

ERGÜL, dkk (2011) yakni penggunaan inquiry based teaching dapat

meningkatkan keterampilan proses sains dan sikap sains siswa.

Keterampilan proses sains dijelaskan sebagai kemampuan transfer konsep

yang dapat digunakan pada ilmu sains dan dapat mencerminkan sikap seorang

ilmuan. Dimana kemampuan ini memfasilitasi perilaku sains siswa, menjamin

keaktifan partisipasi siswa, menghasilkan siswa yang mampu mengembangkan

rasa tanggung jawab selama pembelajaran, menghasilkan pembelajaran yang kuat

diingat, dan menghasilkan siswa yang ahli dalam metode meneliti, sehingga

menghasilkan siswa-siswa yang berfikir dan bertingkah laku layaknya seorang

ilmuan. Alasan-alasan inilah keterampilan proses sains sangat penting

diaplikasikan dalam pembelajaran sains (Ostlund dalam ERGÜL, dkk: 2011).

Selama proses penerapan pembelajaran inquiry, tak hanya sekedar melatih

siswa berfikir dan bersikap layaknya seorang ilmuan, tetapi siswa juga

(23)

8

kreatif, b) kritis dalam menggunakan dan mengelola tekhnologi informasi, c)

melakukan penelitian beretika dengan berbagai metode dan sumber, d)

menerapkan keterampilan metakognisi, merenungkan apa yang telah mereka

pelajari dan apa yang mereka butuhkan untuk dipelajari, e) mengkomunikasikan

ide-ide dan informasi dengan cara diinformasikan, terorganisir, dan meyakinkan

(Alberta learning: 2003f). Menurut Starko (dalam Cheng: 2010) menyatakan

bahwa di antara semua proses inquiry, pembuatan hipotesis dianggap sebagai

salah satu hal penting untuk menciptakan hubungan antara pengetahuan dan

pengalaman baru, dan juga melatih unsur kritis dari penyelidikan ilmiah dan

peningkatan kreativitas. Kreativitas merupakan salah satu pengiring model inquiry

dalam mencapai keterampilan sains siswa. Menurut Walterova& Mares (dalam

TRONVA&TRNA : 2014) Kreativitas diartikan sebagai kemampuan mental yang

berdasarkan proses kognitif dimana dan bagaimanapun, berperan penting dalam

memainkan inspirasi, imajinasi, dan intuisi. Solusi kreatif tidak hanya benar, tapi

hal baru, yang tidak biasa dan di luar dugaan. Hodson dan Reid (dalam Barrow:

2010) menyatakan bahwa kreativitas menjadi bagian integral ilmu pengetahuan

dan proses ilmiah. Berfikir kreatif dalam belajar akan menciptakan siswa yang

berkompetensi untuk mengaplikasikan gagasan terperinci (Anggraini: 2014).

Melalui penerapan model inquiry training dan diiringi oleh kreativitas siswa

mampu mencapai tujuan pendidikan terutama dalam pembelajaran fisika.

Penguasaan konsep fisika akan berhasil jika siswa menyusun sendiri

konsep yang mereka butuhkan. Menyusun konsep fisika berdasarkan pengalaman

(24)

9

dalam meningkatkan keterampilan proses sains siswa maupun hasil belajar siswa

dibandingkan model pembelajaran konvensional. Dari hasil penelitian ERGÜL,

dkk (2011) didapatkan bahwa metode inquiry based teaching meningkat secara

signifikan pada keterampilan proses dan sikap sains siswa. Hasil penelitian

Vaishnav (2013) yang menyatakan bahwa penerapan model pembelajaran inquiry

training berpengaruh signifikan pada pengembanga kognitif afektif siswa dan

meningkapkatkan kecakapan pengetahuan siswa daripada pendekatan tradisonal.

Keterampilan sains siswa dari pada model pembelajaran konvensional. Lebih

lanjut hasil penelitian Ginting (2013) bahwa model inquiry training dapat

meningkatkan hasil berfikir logis siswa dan keterampilan sains siswa

dibandingkan pembelajaran konvensional. Hasil penelitian Anggraini (2014)

didapatkan bahwa scientific inquiry dan berfikir kreatif dapat meningkatkan

keterampilan proses sains siswa dibandingkan pembelajaran konvensional. Komik

fisika merupakan media yang digunakan untuk membantu mempermudah siswa

dalam memahami topik yang akan disajikan.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

yang berjudul “Efek model pembelajaran inquiry training dengan

menggunakan komik fisika dan kreativitas terhadap keterampilan proses sains fisika siswa SMP

1.2. Identifikasi Masalah

Permasalahan yang dapat diidentifikasi dari latar belakang masalah adalah:

1. Proses pembelajaran fisika sebagian besar hanya menekankan pada aspek

(25)

10

2. Keterampilan proses sains fisika belum pernah diterapkan.

3. Aspek kreativitas belum diperhatikan dalam pembelajaran fisika.

4. Model pembelajaran yang diterapkan selama ini kurang bervariasi.

5. Peran aktif siswa masih kurang dalam kegiatan pembelajaran.

6. Motivasi dan minat siswa terhadap pembelajaran fisika yang masih rendah.

1.3. Batasan Masalah

Mengingat adanya keterbatasan kemampuan dari peneliti waktu tersedia, maka

yang menjadi batasan masalah penelitian sebagai berikut:

1. Model pembelajaran yang digunakan adalah model inquiry training dengan

menggunakan komik fisika dan pembelajaran konvensional.

2. Kreativitas siswa dilihat pada kemampuan kreativitas tinggi dan kemampuan

kreativitas rendah.

3. Hasi belajar yang akan diukur adalah keterampilan proses sains siswa SMP

kelas VII.

1.4. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah:

1. Apakah keterampilan proses sains siswa yang dibelajarkan dengan

menggunakan model inquiry training dengan menggunakan komik fisika lebih

baik dibandingkan pembelajaran konvensional?

2. Apakah keterampilan proses sains siswa pada kelompok siswa yang memilki

kreativitas tinggi lebih baik dibandingkan kelompok siswa yang memiliki

(26)

11

3. Apakah terdapat interaksi antara model inquiry training menggunakan komik

fisika dan konvensional serta kreativitas dalam meningkatkan keterampilan

proses sains siswa?

1.5. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah, batasan masalah, dan rumusan

masalah maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Untuk menganalisis apakah keterampilan proses sains siswa yang dibelajarkan

dengan menggunakan model inquiry training berbatuan komik fisika lebih baik

dibandingkan pembelajaran konvensional.

2. Untuk menganalisis apakah keterampilan proses sains siswa pada kelompok

siswa yang memilki kreativitas tinggi lebih baik dibandingkan kelompok siswa

yang memiliki kreativitas rendah.

3. Untuk menganalisis Apakah terdapat interaksi antara model inquiry training

dengan menggunakan komik fisika dan konvensional serta kreativitas dalam

meningkatkan keterampilan proses sains siswa.

1.6. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang dapat diambil adalah :

a. Manfaat Praktis

1. Sebagai alternatif bagi guru dalam memilih model pembelajaran yang sesuai

dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

2. Menumbuhkembangkan kemampuan bekerjasama antar siswa dan

(27)

12

3. Diharapkan setelah penelitian ini, guru tidak lagi berperan sebagai

satu-satunya sumber informasi dalam pembelajaran fisika, tetapi menjadi

perannya sebagai fasilitator dan mediator.

4. Membangun kecakapan siswa untuk berpikir dalam proses belajarnya

dengan memecahkan masalah melalui percobaan dan situasi kehidupan

nyata yang dihadapinya.

b. Manfaat Pengembangan Ilmu

1. Untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dalam upaya meningkatkan

kualitas pembelajaran khususnya yang berkaitan dengan model inquiry

training.

2. Menggugah para pengambil kebijakan untuk mempertimbangkan dalam

merancang dan mengembangkan program pembelajaran dan model

pembelajaran yang efektif, sehingga kualitas hasil belajar dapat

dioptimalkan.

3. Memberikan alternatif penuntun bagi guru dalam melaksanakan kegiatan

pembelajaran berbasis inquiry training dalam rangka meningkatkan

aktivitas siswa.

4. Sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti

mengenai efek model pembelajaran inquiry training dalam proses

pembelajaran fisika dan sebagai penambah wawasan bagi peneliti dan bekal

mengajar di masa yang akan datang.

1.7. Definisi Operasional

(28)

13

1. Model pembelajaran Inquiry Training dengan menggunakan komik fisika

merupakan rangkaian pembelajaran yang menitikberatkan pada proses berpikir

secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari

suatu permasalahan fisika dengan dibantu media komik fisika. Fase-fasenya

adalah menghadapkan pada masalah, pengumpulan data (verifikasi),

pengumpulan data (eksperimentasi), mengolah, memformulasi suatu

penjelasan, dan analisis proses penelitian

2. kreativitas adalah kemampuan untuk mengkombinasikan informasi baru

dengan informasi yang dimilki siswa tersebut tanpa harus menjadi sesuatu yang

baru bagi orang lain. Indikatornya dimulai dengan berpikir lancar, berpikir

luwes (flexible), berpikir orisinal, berfikir terperinci (elaborasi), mengambil

resiko, merasakan tantangan, rasa ingin tahu, imajinasi/firasat.

3. Keterampilan proses sains adalah suatu keterampilan, kreativitas dan keaktifan

siswa dalam pembelajaran. Indikator pada penelitian ini dibatasi pada

mengamati/ observasi, menafsirkan/interpretasi, mengajukan hipotesis,

menggunakan alat/sumber/bahan, melaksanakan percobaan, menarapkan

konsep, dan menarik kesimpulan.

4. pembelajaran konvensional adalah pembelajaran memusatkan perhatian siswa

sepenuhnya kepada guru sehingga guru aktif memberikan pengajaran

sedangkan siswa hanya bersifat pasif. Langkah-langkah pembelajaran

konvensional adalah menyampaikan tujuan, menyampaikan informasi,

mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik, dan memberikan

(29)

89

DAFTAR PUSTAKA

Abdi, A. 2014. The Effect of Inquiry-based Learning Method on Students’ Academic Achievement in Science Course. Universal Journal of Educational Research 2(1): 37-41

Alberta Learning. 2004. Guide to Education. ECS to Grade 12 2004-2005. Edmonton, AB: Alberta Learning. Retrived juli 25, 2004, dari http://www.learning.gov.ab.ca/educationguide/

Alberta Learning. 2003f. social Studies Kindergarten to Grade 12 Program of Studies, Validation Draft, September 2003. Edmonton, AB: Alberta Learning.

Arsyad, A. 2008. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Avrililiyanti,A.,Budiawanti,S.,&Jamzuri. 2013. Penerapan Media Komik untuk pembelajaran Fisika Model kooperatif dengan Metode Diskusi pada Siswa SMP negeri 5 Surakarta Kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012 Materi Gerak. Jurnal Pendidikan Fisika Vol. 1 No. 1: halaman 156

Azizah,A.& Parmin. 2012. Inquiry Training untuk Mengembangkan Keterampilan Meneliti Mahasiswa. Unnes Science Education Journal. USEJ 1(1): 1-11

Barrow,L.H. 2010. Encouraging Creativity with Scientific Inquiry. Scientific Research. doi: 10. 4236

CHENG. Vivian M.Y. 2010. Teaching Creativity Thinking in Regular Science Lessons: Potentials and Obstacles of Three Different Approach in An Asian Context. Asia-Pacific Forum in Science Learning and Teaching. Vol.11

Dahar, R.W. 1989. Teori-teori Belajar. Jakarta : Rineka Cipta

Dimyati&Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Dimyati&Mudjiono. 2013. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

(30)

90

Keterampilan Proses Sains Terhadap Prestasi Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 9(1). hal : 28-34

Emzir. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. PT. Jakarta : Raja Grafindo Persada

ERGUL,R.,SIMSEKLI,Y.,CALIS,S.,OZDILEK,S.,GOCMENCELEBI,S.,SANLI, M. 2011. The Effect of Inquiry-based Science Teaching on Elementary School Students’ Science Process Skills and Science Attitude. Bulgarian Journal of Science and Education Policy (BJSEP). Vol.5 No.1: 48-68

Gormally, C., Brickmann, P., Hallar, B., & Armstorng, N. effects of Inquiry-based Learning on Students’ Science Literacy Skills and Confidence. International Journal for The Scholarship of Teaching and Learning. Vol. 3 No.2: 1-21

Harjanto. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Joyce,B.,Weil,M.&Calhoun,E. 2009. Model-Model Pembelajaran Edisi Delapan. Yogyakarta: Pustaka Belajar

Kostelnikova, M. & Ozvoldova, M. 2013. Iquiry in Physics Classes by Means of Remote Experiments. Procedia Social and Behavior Sciences. Hal : 133-138

Khalid,A.&Azeem,M. 2012. Constructivist Vs Traditional: Effective Instructional Approach in Teacher Education. International Journal of Humanities and Social Science. Vol.2 No. 5: 170-177

McBride,W.J,Bhatti,M.I.,Hanan,M.A.,&Feinberg,M. 2004. Using an Inquiry Approach to Teach Science to Secondary Schools Science Teachers. Journal Physics Education (5) : 1-6

Munandar, S.C. Utami. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah: Petunjuk Bgi Guru dan Orang Tua. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia

(31)

91

Ornek.F., Robinson,W.R.& Haugan, M.P. 2008. What Make Physics Difficult?. International Journal of Environmental and Science Education.

Sari,D.R.P,Sulur&Winarto. Pengembangan Komik Fisika sebagai Media di SMP/MTs Kelas VII Pokok Bahasan Gaya. Jurnal Universitas Negeri Malang: Tidak Dipubliskan.

Siagian, H.E. Bukit,N. & Derlina. 2016. Efek Model Inquiry Training Menggunakan Macromedia Flash dan Kemampuan Berpikir Kreatif terhadap Keterampilan Proses Sains. Jurnal Pendidikan Fisika. Medan : Unimed

Silitonga, P. Harahap, M.B. & Derlina. Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training dan Kreativitas Terhadap Keterampilan Proses Sains. Jurnal Pendidikan Fisika. Medan : Unimed

Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Penerbit Tarsito

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Tawil&Lilianasari. 2014. Keterampilan-keterampilan Sains dan Implementasinya dalam Pembelajaran IPA. Makasar: Penerbit UNM

Sakdiah&Sahyar. 2014. Efek Model Pembelajaran Inquiry Training Berbantukan Hand Out dan Sikap Ilmiah terhadap Kemampuan Siswa Berbasis Keterampilan Proses Sains (KPS). Jurnal Pendidikan Fisika. Vol. 3 (3): 33-39

Segumpan&Reynold. 2014. Bruneian Education Students’ Science Process Skills: Implication to curriculum and Management. Journal of Science and Mathematics Education in S.E. Asia (24): 21-39

SUZUK, E. CORLU, M.A, & GUREL, C. 2011. Students’ Perceptions of Learning Efficiency of Introductory Physics Course. Eurosian Journal of Physics and Chemistry Education (EJPCE): 65-71

(32)

92

Gambar

Gambar 2.1.  Dampak Pengiring Model Pembelajaran Inquiry Training  ..........................................................................................
Gambar 2 1 Dampak Pengiring Model Pembelajaran Inquiry Training . View in document p.14

Referensi

Memperbarui...

Download now (32 pages)
Related subjects : Komik fisika