Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe stad terhadap penguasaan konsep siswa pada materi bunyi

Gratis

1
54
180
2 years ago
Preview
Full text

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fisika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang pada

dasarnya bertujuan mempelajari dan memberi pemahaman kuantitatif terhadap gejala atau proses alam dan sifat serta penerapannya, demikian menurut

1 Wosparkik. Fisika sebagai salah satu disiplin ilmu merupakan bagian dari sains

  Pendidikan fisika juga harusmampu mengembangkan daya nalar dalam pemecahan masalah di kehidupan sehari-hari, karena siswa perlu dibantu untuk mengembangkan sejumlahketerampilan proses agar mereka mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara utuh. Mata pelajaran fisika di tingkat SMA diajarkan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri untuk mencapai fungsi dan tujuannya .

2. Memupuk sikap ilmiah; 3

  Rendahnya penguasaan konsep siswa diduga ada kaitannyadengan proses pembelajaran fisika yang masih berpusat pada guru (teacher centered) dan siswa hanya mendapatkan konsep-konsep yang bersifat informasi yang disampaikan guru di kelas. Konsep tersebut seharusnya diperoleh siswa melalui pemberian pengalaman oleh guru untuk dapat merumuskan masalah,mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan, mengumpulkan, dan menafsirkan data, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dantertulis, tidak banyak dialami oleh siswa sehingga siswa sulit memahami konsep- konsep fisika dan cepat melupakannya.

2 Departemen Pendidikan Nasional, Standar Kompetensi Kurikulum 004 Mata Pelajaran Fisika

  Pembelajarankooperatif berarti juga belajar bersama-sama, saling membantu antara satu dengan yang lain dalam belajar dan memastikan setiap orang dalam kelompok mencapai 3 tujuan yang telah ditentukan sebelumnya, demikian menurut Johnson. Pembelajaran dengan menggunakan metode STAD diharapkan dapat membantu proses belajar mengajar agar lebih efektif, menarik dan menyenangkansehingga dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa pada mata pelajaran fisika khususnya pada pokok bahasan suhu dan kalor.

B. Identifikasi Masalah

  Adapun identifikasi masalah dalam penelitian ini yaitu: 1. Terdapat kesenjangan hasil belajar antara siswa kelompok atas dan siswa kelompok bawah.

2. Siswa pasif dalam kegiatan pembelajaran dan lemahnya kemampuan kerjasama siswa dalam kegiatan kelompok

  Dimana penguasaan konsep siswa yang diteliti, dibatasi hanya pada aspek meningat (C2) pada ranah kognitif dari taksonomi Bloom. Perumusan Masalah Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah yang telah diuraikan di atas, maka perumusan masalah sebagai berikutμ “Bagaimana pengaruh modelpembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap penguasaan konsep siswa pada materi bunyi?

5 Annisa Firdhausi

”Upaya Meningkatkan Aktifitas dan Prestasi Belajar melalui ModelPembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan Menggunakan Media Alternatif dalam Skripsi ”

E. Tujuan Penelitian

  Tujuan dari penelitian ini, yaitu: 1. Mengetahui ada tidaknya pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap penguasaan konsep siswa antara sebelum dan sesudah prosespembelajaran.

2. Mengetahui respon siswa terhadap KBM dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD

F. Manfaat Penelitian

  Bagi siswa, diharapkan dapat menumbuhkan kerjasama pada kegiatan kelompok dalam proses pembelajaran pada mata pelajaran fisika, khususnyapenguasaan konsep siswa pada materi bunyi. Dimana, model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan model pembelajaran yang menarik sehingga siswa berpartisipasi dalampembelajaran.

3. Bagi peneliti, dapat menjadi pengalaman langsung dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada proses pembelajaran

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Pembelajaran Kooperatif a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif berasal dari kata cooperative yang artinya

  Eggen mendefinisikan bahwa belajar kooperatif adalah sebagai kumpulan strategi mengajar yang digunakan siswa untuk membantu satu dengan yang lain 8 dalam suatu kelompok untuk mempelajari sesuatu. Pembelajaran kooperatif ini bukan saja sekedar melibatkan dan menempatkan siswa secara bersama dalam suatu kelompok kecil dan memberikankepada mereka tugas, akan tetapi juga di dalamnya melibatkan pemikiran dan perhatian penuh pada berbagai macam aspek dari proses kelompok.

3) Tujuan kooperatif, jika siswa bersama-sama mencapai tujuan tersebut

  Student centred learning adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada siswa dalam proses pembelajaran, metode belajar ini berfokus pada kebutuhan siswa, kemampuan, minat, dan cara mengajar guru sebagai fasilitator dalampemebelajaran. Siswa yang aktif adalah siswa yang dapat mengkonstruk dan membangun sendiri pemahamannya lewat indera sensoriknya sendiri sepertipenglihatan, suara, penciuman dan sebagainya.

b. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif

  Pembelajaran yangpaling baik ditangani jika melalui kerja kelompok.3) Siswa belajar bersama dalam kelompok kecil yang terdiri dari 2 sampai 5 siswa.4) Siswa menggunakan perilaku kooperatif.5) Setiap siswa secara mandiri bertanggungjawab untuk pekerjaan pembelajaran mereka. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe “STAD” Salah Satu Alternatif dalam Mengajarkan Sains IPA yang Menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam Jurnal 2)Karena rata-rata jumlah siswa di dalam kelas adalah 40 orang, maka guru kurang maksimal dalam mengamati belajar kelompok secara bergantian.

d. Jenis-jenis Pembelajaran Kooperatif

  Menurut Davidson & Worshman (dalam Supraptama), “Cooperative learning adalah model pembelajaran yang sistematis dengan mengelompokkan siswa untuk tujuan menciptakan pendekatan pembelajaran yang efektif yang mengintegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademis”. Pada cooperative learning para siswa mendiskusikan bahan antara siswa yang satu dengan lainnya, saling membantumemahami siswa yang satu dengan yang lain dan masing-masing memberi 24 semangat untuk bekerja keras antara siswa yang satu dengan yang lain.

b. Ciri-ciri Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

  Siswa yang bekerja dalam situasi tipe STADdidorong dan atau dikehendaki untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. 90 belajarnya; (b) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah; (c) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras,budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda; dan (d) Penghargaan lebih berorientasi 27 kelompok ketimbang individu.

c. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

  Lima komponenutama dalam pembelajaran kooperatif akan dijelaskan sebagai berikut.1) Penyajian kelasPenyajian kelas adalah tahap dimana siswa memulai pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Setiap siswa diharapkan berusaha untuk bertanggungjawab secara individual untuk menjawab soal tes dan memberikan hasil yang terbaiksebagai konstribusinya kepada kelompok.4) Memberikan skor peningkatan individualPemberian skor peningkatan individual bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi setia siswa agar dapat menunjukkan gambaran kinerjapencapaian tujuan dari hasil kerja maksimal setiap individu yang disumbangkan untuk kelompokknya.

b. Penguasaan Konsep

  Penguasaan konsep yang dimaksud di sini tidak terbatas hanyamengenal konsep itu, tetapi siswa harus dapat menghubungkan antara konsep yang satu dengan konsep yang lain yang masih ada kaitannya. Tugas-tugas belajar yang kompleks seperti pemecahan masalah, berpikirkritis, dan pembelajaran konseptual meningkatkan secara nyata pada saat digunakan strategi-strategi kooperatif, siswa lebih memiliki kemungkinanmenggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi selama dan setelah diskusi dalam kelompok kooperatif daripada mereka bekerja secara individual atau kompetitif.

35 Rusmansyah. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe

4. Konsep Bunyi a. Peta Konsep

Gambar 2.1 Peta Konsep Bunyi Gelombang mekanik (perambatannya melalui medium)Getaran BunyiKarakteristik bunyi Daerah frekuensi PemantulanResonansi Warna bunyi Kuat bunyi Tinggi bunyiInfrasonik (f < 20 Hz) Audiosonik (20 Hz s/d 20 kHz)Ultrasonik (f > 20 kHz) Gelombang longitudinalterdiri atas terdiri atas memilikimemiliki mengalamidihasilkan oleh dirambatkan olehberupa

b. Bunyi

  Bunyi merambat dalam bentuk rapatan dan renggangan yang silihberganti. Kita telah membahas bahwa bunyi ditimbulkan oleh benda yang bergetar, yaitu sumber bunyi.

3) Ada penerima yang berada di dalam jangkauan sumber bunyi

c. Kelajuan Rambat Bunyi

  (2.1) � = dengan: v = kelajuan rambat bunyi (m/s) s = jarak yang ditempuh (m) 38 t = waktu tempuh (s)Oleh karena bunyi merupakan suatu bentuk gelombang, dapat dituliskan: �= ………………………. Resonansi pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya pada kolom udara dapat terjadi dengan syarat sebagai berikut.1) 1 ): panjang kolom udara =¼ Syarat agar terjadi resonansi I (R2) ): panjang kolom udara = 2 ¾40 Syarat agar terjadi resonansi II (R41 Mikrajuddin Abdullah, Op.

f. Pemantulan Bunyi

  Dapat dianggap bunyi pantul bersamaan waktunya dengan bunyi asli, sehingga bunyipantul memperkuat bunyi asli.2) Gaung atau kerdamGaung atau kerdam adalah bunyi pantul yang sebagian bersamaan dengan bunyi aslinya, sehingga bunyi asli menjadi tidak jelas. Adapun pemanfaatan pemantulan bunyi yaitu:1) Menentukan cepat rambat bunyi di udaraPemantulan bunyi dapat dimanfaatkan untuk menentukan cepat rambat bunyi di udara, atau jika cepat rambat bunyi di udara diketahui, kita dapatmenentukan jarak antara dua tempat.

45 Marthen Kanginan. IPA Fisika 2 untuk SMP kelas VIII. (Jakarta: Erlangga, 2006)

  Jika getaran-getaran ini dicatat oleh seismograf di berbagai tempat di permukaan Bumi, catatan-catatan ini dapat digunakan untuk mendeteksi,menentukan lokasi, dan mengklasifikasikan gangguan-gangguan atau untuk memberikan informasi tentang struktur Bumi.3) Kacamata tunanetraPrinsip pengiriman dan penerimaan pulsa ultrasonik pada kelelawar dimanfaatkan pada kacamata tunanetra. Penerima akan menghasilkan suatu bunyi tinggi atau rendah, bergantung pada apakah benda yang memantulkan pulsa beradadekat atau jauh dari si tunanetra.4) Mengukur kedalaman lautKedalaman laut, bahkan lokasi kawanan ikan di bawah kapal, dapat ditentukan dengan teknik pantulan pulsa ultrasonik.

B. Hasil Penelitian yang Relevan

  Adapunmasalah dalam penelitian ini yaitu: (1) Proses pembelajaran yang masih monoton,(2) Belum adanya pembelajaran kimia yang terintegrasi dengan nilai,(3) Kurangnya penggunaan model, metode, dan pendekatan dalam pembelajaran kimia, dan (4) Hasil belajar kimia yang masih rendah. 177-180 Berdasarkan analisis data dan hasil penelitian serta pengujian hipotesis yang telah dilakukan, maka penelitian ini dapat disimpulkan bahwa t > t hitung tabel (2,9 > 2,000), yang berarti bahwa terdapat pengaruh positif model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar siswa pada konsep redoks terintegrasi 48 nilai.

2. Fitriani

  Berdasarkan analisis data dan hasil penelitian serta pengujian hipotesis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yangdiajarkan dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih tinggi daripada siswa yang diajarkan dengan pendekatan pembelajaran konvensional, hal ini dapatdilihat pada nilai rata-rata kelas eksperimen 77,68 dan kelas kontrol 61,66. Dari hasil perhitungan uji hipotesis dengan menggunakan uji-t didapatkan t 6,13 hitung dengan t 2,00, maka t > t yang berarti bahwa Ho ditolak dan tabel hitung tabel48 menerima Ha, maka disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan49 Ibid, h.

C. Kerangka Berpikir

  Modelini dikembangkan setidak-tidaknya untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran yang penting, yaitu hasil belajar akademik siswa yang meningkat, penerimaan terhadapkeragaman (di mana siswa akan saling menghormati akan kelebihan dan kekurangan diantara mereka dan melakukan hubungan yang sinergis serta saling 55 menguntungkan), dan pengembangan keterampilan sosial (Arends, 1997). Model pembelajaran kooperatif tipe STAD menekankan bahwa dalam setiap proses pembelajaran siswa aktif dalam membangun pengetahuannyasendiri, dalam hal ini pembelajaran tidak dimaksudkan untuk mengumpulkan pengetahuan sebanyak mungkin tetapi lebih pada bagaimana proses mendapatkanpengetahuan tersebut.

D. Hipotesis Penelitian

  Adapun hipotesis yang diajukan penulis adalah sebagai berikut:H o : Tidak terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) terhadap penguasaan konsep siswa pada materi bunyi. H : Terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student aTeams Achievement Divisions) terhadap penguasaan konsep siswa pada materi bunyi.

BAB II I METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 13 Kota Tangerang Selatan

  Pelaksanaannya melibatkan dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen yang diberi perlakuan dengan model pembelajarankooperatif tipe STAD (Student Teams Achievment Division) dan kelompok kontrol yang diberi perlakuan pembelajaran konvensional. 77 Keterangan:O 1 = Pretest yang diberikan kepada kelas kontrol dan kelas eksperimen O = Posttest yang diberikan kepada kelas kontrol dan kelas eksperimen 2 X 1 = Perlakuan terhadap kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD X 2 = Perlakuan terhadap kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran konvensional D.

3. Tahap Pengolahan Data a

  Terdapat dua variabel dalam penelitian ini, yaitu pembelajaran yang menggunakan model kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievment Division) sebagai variabel bebas (variabel X) dan variabel terikatnya adalah penguasaan konsep siswa (variabel Y). Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik cluster sampling, yaitu teknik sampling daerah digunakan untuk 60 menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas.58 Setelah melakukan teknik pengambilan sampel, maka yang menjadi sampel dalamSuharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta,59 2006), Cet.

H. Teknik Pengumpulan Data

  Tes yang diberikan untuk mengukurpenguasaan konsep siswa sebelum (pretest) dan sesudah dilakukan pembelajaran(posttest) pada materi bunyi dengan menggunakan tes objektif. Sedangkan nontes yang digunakan berupa angket yang berfungsi untuk mengukur respon siswaterhadap metode pembelajaran yang diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.

1. Tes

  Selain itu, tes diartikan sebagai alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur 62 sesuatu dalam suasana, denan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Tabel 3.3 Kisi-kisi instrumen tes No Indikator Butir 1 Metode pembelajaran yang digunakan guru 1 2 Aktivitas siswa2,3 3 Kemampuan kognitif siswa 4,5 4 Kemampuan afektif siswa 6,7 5 Kemampuan psikomotor siswa 863 6 Peranan guru dalam proses pembelajaran 9,10 Zainal Arifin.

I. Instrumen Penelitian

  Pada penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah tes dan nontes. Tes digunakan untuk mengukur tingkat penguasaan konsep siswa sebelum (pretest) dan sesudah dilakukan pembelajaran (posttest).

1. Uji Validitas

  Sebuah tes disebut valid apabila tes itu dapat mengukur apa yang hendak diukur. (3.1) ��� Keterangan: = koefisien korelasi biserial � �� Mp = rerata skor dari subjek yang menjawab betul bagi item yang dicari validitasnyaMt = rerata skor totalSt = standar deviasi dari skor total p = proporsi siswa yang menjawab benarq = proporsi siswa yang menjawab salah 64 Berdasarkan hasil analisis butir soal dengan menggunakan Anates diperoleh soal yang valid sebanyak 18 soal.

2. Uji Reabilitas

  Uji Daya Pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh(berkemampuan rendah). 208 J B = banyaknya peserta kelompok bawahB A = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan benarB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar B Klasifikasi daya pembeda:D : sangat jelek ≤ 0,000,00 < D : jelek ≤ 0,200,20 < D : cukup ≤ 0,400,40 < D : baik ≤ 0,700,70 < D : baik sekali ≤ 1,00 J.

2. Uji Homogenitas

69 Fisher dengan rumus:

  Uji homogenitas yang digunakan adalah uji 2 S 1 F = ……………………………… (3.6) 2 S 2 dengan, 2 2n x x Σf i i − Σf i i ………………….. (3.7) n n−2 Keterangan:F = nilai uji F 2 S 1 = varians terbesar 2 S = varians terkecil 2 Adapun kriteria pengujian untuk uji homogenitas adalah: Jika F h < F t , dimana data memiliki varian yang homogen, maka Ho diterima dan jika F > F , dimana data memiliki varian yang tidak homogen, maka Ho ditolak.

3. Uji Hipotesis

  Pengujian hipotesis adalah suatu prosedur yang akan menghasilkan keputusan untuk menerima atau menolak hipotesis yang diajukan oleh peneliti 70 sebelumnya. Data berdistribusi normal dan kedua varians homogenRumus yang digunakan, jika data berdistribusi normal dan kedua varians 71 homogen yaitu: X E −X Kt = ……………………… (3.8)hit 1 2 n E n K dengan, 2 2n 1 2 −1 S 2 2s = ………………….

2 S K = varians kelompok kontrol

  Hipotesis Statistik Hipotesis statistik yang akan diuji pada penelitian ini adalah:Untuk uji-t E K Ho μ = E K Ha μ >Keterangan: = rata-rata siswa kelompok eksperimen E K = rata-rata siswa kelompok kontrol BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Hasil Pretest dan Posttest Ringkasan hasil pretest dan posttest penguasaan konsep pokok bahasan bunyi yang dicapai siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol sebagai berikut.

2. Deskripsi Data Hasil Uji Normalitas

  Uji normalitas data bertujuan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dari hasil penelitian berdistribusi normal atau tidak. Selanjutnya, dari hasil perhitungan uji normalitas hasil posttest kelas kontrol diperoleh L = 0,1128 sedangkan L untuk tarafhitung tabel signifikansi 0,05 dengan jumlah sampel 36 adalah 0,1480.

3. Deskripsi Data Hasil Uji Homogenitas

  Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Varians Pretest Posttest S (eksperimen) 54,48 S (eksperimen) 37,12 12 12 S 12 (kontrol) 73,19 S 12 (kontrol) 37,17 F hitung 1,34 F hitung 1 F tabel 1,2 F tabel 1,2F > F , maka data kedua F < F , maka data kedua hitung tabel hitung tabel kelompok tidak homogen kelompok homogen pretest kelas eksperimen dan kelas kontrol bersifat tidak homogen. Selanjutnya dari hasil perhitungan uji homogenitas hasil posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol didapat F hitung = 1 dan F tabel = 1,2 sehingga F hitung < F tabel (1 < 1,2), makaHo diterima.

4. Deskripsi Data Hasil Uji Hipotesis

  Setelah uji prasyarat dilakukan dan diketahui bahwa data hasil pretest dan posttest kedua kelas sampel berdistribusi normal dan varians data hasil pretest dan posttest kedua kelas sampel tidak homogen, maka pengujian selanjutnya yaitu pengujian hipotesis yang dilakukan menggunakan uji-t dengan hasil sebagai berikut. Tabel 4.4 Hasil Pengujian Hipotesis dengan Menggunakan Uji-t Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok KontrolVariabel Jumlah Sampel t hitung t tabel Kesimpulan Pretest N dan N = 36 0,82 1,7 Ha ditolak Penguasaan E K konsepsiswa Posttest N E dan N K = 36 8,55 1,99 Ha diterima Berdasarkan data tabel 4.4, diperoleh hasil uji-t data pretest kedua kelas sampel, diperoleh t hitung sebesar 0,82 dan t tabel sebesar 1,7 (0,82 < 1,7), makaHo diterima dan Ha ditolak.

B. Analisis Data Angket 1. Deskripsi Data Angket Setelah data angket terkumpul, maka dilakukan perhitungan data angket

  13 indikator metode pembelajaran yang digunakan guru bertujuan untuk menekankan pentingnya guru menyesuaikan metode yang akan digunakan untuk materitertentu, supaya pembelajaran yang dilaksanakan mendapatkan hasil yang73 73 Penilaian pada Metode mengajar adalah cara mengajar yang digunakan oleh guru atau instruktur ketika menyampaikan bahan ajar/materi pelajaran. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa menyukai metode pembelajaran yang digunakan oleh guru yaitu modelpembelajaran kooperatif tipe STAD.

b. Indikator Aktivitas Siswa

  Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Indikator Aktivitas Siswa Butir 2 Butir 3 No Pernyataan Persentase Persentase Frekuensi Frekuensi(%) (%) 1 Sangat Setuju 12 33,33 18 50 2 Setuju 17 47,22 12 33,33 3 Ragu-ragu 7 19,44 6 16,67 4 Tidak Setuju - - - - 5 Sangat Tidak Setuju 36 100% Jumlah Berdasarkan data pada tabel 4.6, angket butir 2 terlihat bahwa siswa yang menyatakan sangat setuju sebanyak 12 siswa (33,33%), setuju sebanyak 17 siswa(47,22%), dan ragu-ragu sebanyak 7 siswa (19,44%). Selanjutnya, untuk angket butir 3 terlihat terlihat bahwa siswa yang menyatakan sangat setuju sebanyak 18siswa (50%), setuju sebanyak 12 siswa (33,33%), dan ragu-ragu sebanyak 6 siswa(16,67%).

c. Indikator Kemampuan Kognitif Siswa

  Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Indikator Kemampuan Kognitif Siswa Butir 4 Butir 5 No Pernyataan Persentase Persentase Frekuensi Frekuensi(%) (%) 1 Sangat Setuju 15 41,67 13 36,11 2 Setuju 10 27,78 18 50 3 Ragu-ragu 11 30,56 5 13,89 4 Tidak Setuju - - - - 5 Sangat Tidak Setuju 36 100% Jumlah Berdasarkan data pada tabel 4.7, angket butir 4 terlihat bahwa siswa yang menyatakan sangat setuju sebanyak 15 siswa (41,67%), setuju sebanyak 10 siswa(27,78%), dan ragu-ragu sebanyak 11 siswa (30,56%). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa menyetujui bahwa pemecahkan masalah melalui diskusi kelompok dan kegiatandemonstrasi dan percobaan sangat membantu siswa dalam menguasai konsep fisika, khususnya konsep pada pokok bahasan bunyi.

d. Indikator Kemampuan Afektif Siswa

  Tujuan penilaian kemampuan afektif siswa dalam proses pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah:1) Untuk mengetahui tingkat perubahan tingkah laku anak didik yang dicapai yang antara lain diperlukan sebagai bahan bagi: perbaikan tingkah laku anakdidik, pemberian laporan kepada orang tua, dll.2) Untuk menempatkan anak didik dalam situasi belajar-mengajar yang tepat, sesuai dengan tingkat pencapaian dan kemampuan serta karakteristik anakdidik. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa merasa senang dengan cara belajardalam model pembelajaran kooperatif tipe STAD, karena dapat menambah percaya diri siswa dan siswa semakin senang dan bersemangat untuk belajar74 bersama teman-temannya.

C. Pembahasan Hasil Penelitian

  Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, STAD mampu meningkatkan keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, siswajuga lebih mudah untuk memahami materi yang sedang dipelajari, siswa lebih antusias dalam memecahkan masalah-masalah yang diberikan oleh guru. Selain itu, aktifitas siswa dalam belajar kelompok yang diterapkan oleh guru lebih menekankan sikap kepemimpinan dan tanggung jawabsiswa, baik secara pribadi maupun sebagai ketua/anggota kelompok, karena kemajuan kelompok menjadi tanggung jawab semua anggota dan nilai yangdiperoleh kelompok adalah nilai dari masing-masing anggota.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam

  Hal ini,ditunjukkan dengan siswa yang diajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki rata-rata posttest lebih besar dibandingkan denganrata-rata posttest siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional. Memiliki rasa kebersamaan dan tanggung jawabuntuk membantu teman mereka yang masih belum memahami konsep dengan memberikan bimbingan tutor sebaya dalam diskusi kelompok sehingga temanyang belum paham mau bertanya dengan aktif untuk dapat mempelajari konsep fisika dengan baik.

B. Saran

  Penerapan model pembelajaran ini harus disesuaikan dengan konsep fisika yang cocok dalam penggunaan model pembelajarantersebut. Peneliti dapat melakukan penelitian lebih lanjut tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan penguasaan konsepsiswa dengan pokok bahasan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

  1, Maret 2008Annisa Firdhausi, Upaya Meningkatkan Aktifitas dan Prestasi Belajar melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan Menggunakan Media Alternatif dalam Skripsi FPMIPA Jurusan Pendidikan Fisika UPI, Bandung, 2010Armiza, Model Siklus Belajar Abduktif Empiris untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMP pada Materi Pemantulan Cahaya dalam Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, Vol. Slavin, Cooperative Learning-Teori, Riset, dan Praktik, (Bandung: Nusa Media, 2005)Ruhadi, Model Pembelajaran Kooperatif Tipe “STAD” Salah Satu Alternatif dalam Mengajarkan Sains IPA yang Menggunakan Kurikulum BerbasisKompetensi dalam Jurnal Pendidikan Serambi Ilmu, Sept 2008, Volume 6 Nomor IRusmansyah, Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dalam Jurnal Vidya Karya, Tahun XXIV, No.

D. Pembeda(%) T. Kesukaran Korelasi Sign. Korelasi

  Kesukaran(%) Tafsiran 23 17 7 7 66.67 Sedang 24 6 6 77.78 Mudah 28 5 5 63.89 Sedang 4 8 4 44.44 Sedang 16 3 3 36.11 Sedang 13 2 2 66.67 Sedang 24 1 1 47.22 Sedang 8 29 12 15 15 55.56 Sedang 20 14 14 72.22 Mudah 26 13 13 63.89 Sedang 23 12 25 66.67 Sedang 24 11 11 36.11 Sedang 13 10 10 41.67 Sedang 15 9 9 69.44 Sedang 8.33 Sangat Sukar Lampiran 1.4 Reliabilitas TesRata2= 17.75 Simpang Baku= 4.22Korelasi XY= 0.53 Reliabilitas Tes = 0.69 Kode/Nama Skor No. Urut No.

KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN

  Memberikan contoh 25*, 26*, 27*, 6 20% pemanfaatan dan 28,29,30dampak pemantulan bunyi dalam kehidupansehari-hariJumlah soal 6 30 100% Lampiran 2.2 INSTRUMEN UJI COBA POKOK BAHASAN BUNYINama :Kelas :Hari/tanggal : Pilihlah satu jawaban yang paling tepat dengan member tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau d! a.dihasilkan oleh benda yang bergetar b.merupakan gelombang longitudinal c.arah gelombang bunyi searah dengan arah rambatnya d.merupakan gelombang transversal 3.

4. Perhatikan tabel di bawah ini!

  a.sebuah bel yang berbunyi di dalam air b.sebuah senjata yang meletus dalam ruangan tanpa gema c.sebuah palu yang menghantam sebatang logam d.suatu ledakan dalam ruang hampa 9. a.pemukul bel tidak dapat bergerak dalam vakum b.gelombang bunyi tidak dapat merambat melalui vakum c.gelombang bunyi merambat jauh lebih cepat melalui vakum dan karena itu tidak dapat didengard.frekuensi gelombang bunyi meningkat di atas tingkat yang dapat didengarkan 10.

10 Hz b

  a.ada zat antara dan frekuensi bunyi 20 Hz – 20 kHz b.ada zat antara dan frekuensi bunyi lebih dari 20 kHz c.ada sumber bunyi dan frekuensi bunyi lebih dari 20 kHz d.ada sumber bunyi dan frekuensi bunyi kurang dari 20 kHz 16. a.kaca jendela beresonansi dengan getaran udara yang diakibatkan oleh pesawat terbangb.getaran yang ditimbulkan pesawat tersebut sangat besar sehingga mampu menggetarkan kaca jendela yang letaknya jauhc.pesawat tersebut pasti terbang dengan kecepatan yang sangat tinggi d.pesawat terbang tersebut mengeluarkan gelombang ultrasonik yang frekuensi getarannya di atas 20.000 Hz 21.

1 P s

  A Lampiran 2.5 KISI-KISI ANGKETNo Indikator Butir 1 Metode pembelajaran yang digunakan guru 1 2 Aktivitas siswa2,3 3 Kemampuan kognitif siswa 4,5 4 Kemampuan afektif siswa 6,7 5 Kemampuan psikomotor siswa 8 6 Peranan guru dalam proses pembelajaran 9,10 Lampiran 2.6 LEMBAR KUISIONERNama :Kelas :Hari/tanggal : Berilah tanda checklist (√) pada pilihan jawaban yang anda anggap benar sesuai denganpilihan anda. Guru membagi siswa ke dalam Guru membagikan LKS yang Siswa melakukan akan menjadi panduan siswa percobaan sesuai LKSdalam melakukan percobaan II secara berkelompokSiswa mendiskusikan Tahap 2 - -Guru menunjuk salah satu Salah satu kelompok Kegiatan Kelompok perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil mempresentasikan hasil diskusi diskusi kelompknya.kelompoknya (kelompok yang belum tampil pada pertemuansebelumnya).

5. Kesimpulan apa yang anda peroleh dari kegiatan di atas? …………………………………………………………………………………………

. ………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………….………………………………………………………………………………………….………………………………………………………………………………………….………………………………………………………………………………………….

B. Bunyi merambat melalui medium 1

  Metode belajar: - Demonstrasi Langkah-langkah PembelajaranTahapan Guru Siswa Guru membuka pelajaran Siswa menjawab salam dan mengucapkan salam, dan selanjutnya berdoamemeriksa kehadiran siswa sebelum belajar.dan memfokuskan perhatian siswa dengan mengajakberdoa dan memberi motivasi untuk belajar. Resonansi pada alat musik selaput tipis Alat dan bahan:1) Potongan balon2) 2 buah karet3) Gelas aqua bekas4) Gunting5) Sumpit atau pensilLangkah percobaan: 1) Lubangi bagian bawah gelas aqua bekas 2)Gunakan potongan balon untuk menutup bagian atas gelas aqua bekas 3)Ikatkan karet gelang agar lebih kencang dan kuat 4)Buatlah pemukul drum dengan menggunakan sumpit atau pensil yang diikatkan karet diujungnya 5) Pukullah drum dengan pemukul drumDiskusikanlah!

90 Hz c

  36 − 9 2 Me = 31,5 + 8 11 18− 9 Me = 31,5 + 8 11 Me = 38,05 Perhitungan Modus (Mo) b 1 Mo = b + p b + b 1 2 Keterangan: Mo = modus b = batas bawah kelas modusb 1 = selisih antara frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas sebelumnya b 2 = selisih antara frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas sesudahnya p = panjang kelas intervalMaka, 7 Mo = 31,5 + 8 7 + 5 7 Mo = 31,5 + 8 12 56 Mo = 31,5 + 12 Mo = 36,17 Lampiran 12 Tabel. 36 − 2 2 Me = 55,5 + 6 10 18− 2 Me = 55,5 + 6 10 Me = 65,1 Perhitungan Modus (Mo) b 1 Mo = b + p b + b 1 2 Keterangan: Mo = modus b = batas bawah kelas modusb 1 = selisih antara frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas sebelumnya b 2 = selisih antara frekuensi kelas modus dengan frekuensi kelas sesudahnya p = panjang kelas intervalMaka, b b + b 1 2 8 Mo = 55,5 + 6 8 + 4 48 Mo = 55,5 + 12 Mo = 59,5 Lampiran 15 Tabel.

2 Karena data pretest berdistribusi normal dan varians kedua kelompok tidak

  Razi 60 60 60 20 Total 100 Rata-rata 25 Kelompok III Nilai Kuis Nilai Nilai Rata-No. Lia 80 60 70 5 Total 50 Rata-rata 12,5 √ Kelompok Tahap 5Penghargaan √ √ PerkembanganIndividu Tahap 4Perhitungan Skor Tahap 3Kuis √ √ Kelompok Tahap 2Kegiatan √ √ Tahap 1Penyajian Materi Lampiran 23 Hasil Observasi Keterlaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD oleh Guru Pamong (Pertemuan Pertama) Tahap dalam Pembelajaran STAD Indikator Terlaksana Ket.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe team assisted individuallization (tai) terhadap pemahaman konsep matematika siswa kelas v sdi ummul quro bekasi
0
8
221
Upaya peningkatan penguasaan konsep reaksi reduksi-oksidasi melalui model pembelajaran kooperatif tipe stad: student teams achievement division
1
17
82
Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe stad terhadap penguasaan konsep siswa pada materi bunyi
1
54
180
Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe roundtable terhadap hasil belajar Matematika siswa jenjang analisis dan sintesis
3
24
178
Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe take and give terhadap retensi siswa dalam tatanama ilmiah pada konsep Jamur
0
54
72
Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams-Games Tournament) terhadap pemahaman konsep matematika siswa
1
7
185
Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe JIGSAW terhadap hasil belajar kimia siswa pada konsep laju reaksi
1
19
162
Pengaruh model pembelajaran kooperatif metode make A match terhadap pemahaman konsep matematika siswa
4
17
201
Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together (NHT) terhadap hasil belajar fisika siswa pada konsep fluida dinamis
0
8
192
Pengaruh model pembelajaran reciprocal teaching terhadap penguasaan konsep biologi berbasis nilai: quasi eksperimen pada siswa MTs Pembangunan UIN Jakarta
0
3
120
Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap hasil belajar siswa pada konsep rangka dan panca indera manusia: penelitian kuasi eksperimen di Kelas IV MI Al-Washliyah Jakarta
0
5
172
pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe rotating exchange (RTE) terhadap minat belajar matematika siswa
3
43
76
Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe rotating trio exchangnge terhadap hasil belajar matematika siswa
0
3
203
Pengaruh pembelajaran kontekstual terhadap pemahaman siswa pada konsep bunyi
0
13
143
Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe FSLC (Formulate-Share-Listen-Create) terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa
15
27
186
Show more