Matha'ul anwar dalam konstelansi politik nasional pasca orde baru

Gratis

4
56
107
2 years ago
Preview
Full text
1 MATHLA’UL ANWAR DALAM KONSTELASI POLITIK NASIONAL PASCA ORDE BARU Disusun Oleh : IIN SOLIHIN NIM: 105033201130 Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 1430 H / 2010 M 2 3 4 LEMBAR PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa: 1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata-1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ciputat, 01 Desember 2010 Iin Solihin iii 5 DAFTAR ISI LEMBAR PERSETUJUAN . i LEMBAR PENGESAHAN . ii LEMBAR PERNYATAAN . iii DAFTAR ISI. iv ABSTRAK . vi KATA PENGANTAR . vii Bab 1 : Pendahuluan A. Latar belakang . 1 B. Pembatasan dan Perumusan Masalah . 6 C. Tinjauan Pustaka. 6 D. Tujuan Penelitian. 7 E. Metode Penelitian . 8 F.Sistematika Penulisan . 10 Bab II: Sekilas Tentang Mathla’ul Anwar A. Sekilas Berdirinya Mathla’ul Anwar. 12 B. Sifat-Sifat Tujuan Mathla’ul Anwar. 16 C. Pengertian Khittah Mathla’ul Anwar . 19 1. Fungsi dan Tugas Organisasi Mathla’ul Anwar. 19 2. Landasan Operasional Organisasi Mathla’ul Anwar . 20 D. Tokoh-Tokoh Pendiri Mathla’ul Anwar. 24 iv 6 Bab III: Mathla’ul Anwar Dan Partisipasi Politik A. Pengertian Dan Bentuk-Bentuk Partisipasi Politik . 29 B. Langkah-Langkah Perjuangan Mathla’ul Anwar. 35 1. Bidang Politik. 35 2. Bidang Pendidikan . 41 C. Partisipasi Politik Mathla’ul Anwar . 48 1. Di Era Orde Lama . 48 2. Di Era Orde Baru. 52 Bab IV: Mathla’ul Anwar Dalam Konstelasi Politik Nasional Pasca Orde Baru A. Realitas Politik Mathla’ul Anwar Pasca Orde Baru. 65 B. Hubungan Mathla’ul Anwar Dengan Partai Politik . 74 C. Partisipasi Mathla’ul Anwar Dalam Politik Pasca Orde Baru. 80 D. Masa Depan Mathla’ul Anwar, Antara Peluang dan Tantangan. 87 Bab V: Penutup A. Kesimpulan. 91 B. Saran . 92 C. Dafatar Pustaka. 94 Lampiran v 7 ABSTRAK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA FAKULTAS ILMU POLITIK DAN ILMU SOSIAL PROGRAM STUDI ILMU POLITIK Iin Solihin, 97 halaman, 56 Daftar Pustaka, 105033201130 Mathla’ul Anwar Dalam Konstelasi Politik Nasional Pasca Orde Baru Skripsi ini memfokuskan perhatian pada partisipasi politik organisasi Mathla’ul Anwar (MA 1916) dalam konstelasi politik nasional pasca Orde Baru sebagai salahsatu organisasi keagamaan yang bergerak dalam bidang kultural (pendidikan, dakwah dan sosial). Pemilihan MA pada kajian ini karena ia dianggap sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar di Provinsi Banten dan terbesar ketiga di Indonesia setelah NU (1926) dan Muhammadiyah (1912). Sebagai organisasi gerakan kultural diawal pendiriannya pada perjalanannya dalam rangka mengisi setelah kemerdekaan untuk membangun permasalahn keumatan, kenegaraan dan kebangsaan mengalami degradasi dari awal sebagai gerakan dalam bidang kultural menuju gerakan politis yang terbawa oleh arus euphoria masa Orde Baru (Orba) yang melakukan strategi hegemoni kekuasaannya dengan memberlakukan Asas Pancasila sebagai satu-satunya Asas untuk seluruh organisasi. Kemudian, pada perkembangannya menyebabkan perpecahan dinternal organisasi MA dengan hilangnya independensi dan puncaknya mengadopsi sistem komando dibawah Orde Baru dan Golkar dengan menjadi onderbouw dari partai politik yang dinilai telah keluar dari Khitthah (1916) organisasi MA. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan melakukan survei untuk mendapatkan data primer, yaitu dengan jalan interview atau wawancara secara langsung dan mendalam, dengan pendekatan penelitian kualitatif dan pengumpulan dokumen lainnya (library research) untuk mendapatkan data skunder, yakni mengadakan studi kepustakaan melalui penelitian terhadap buku-buku, majalah dan lain sebagainya yang ada relevansinya dengan pembahasan tema penelitian. Skripsi ini berkesimpulan; Pertama, MA merupakan organisasi keagamaan yang bergerak dalam bidang kultural dan bukan sebagai organisasi politik. Karena itu, partisipasi politiknya dalam konstelasi politik nasional dimasa Orde Baru telah menyimpang dari tujuan awalnya sebagai gerakan kultural yang berdampak buruk terhadap eksistensi organisasi. Kedua, organisasi MA di masa reformasi telah kehilangan daya tariknya dalam merespon permasalahan keumatan, kenegaraan dan kebangsaan. Selain itu, terjadinya demoralisasi para elit keagamaan yang terjebak dalam pragmatisme politik yang menyebabkan adanya dualisme antara kepentingan kultural dan kepentingan politis. vi 8 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis berhasil menyelesaikan salah satu kewajiban akademik yang merupakan prasyarat dalam rangka meraih gelar Sarjana Sosial di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Ucapan terimakasih tak lupa penulis haturkan kepada berbagai pihak yang ikut memberikan kontribusi dalam penyelesaian skripsi “Mathla’ul Anwar Dalam Konstelasi Politik Nasional Pasca Orde Baru”. Adapun ucapan terimaksasih penulis haturkan sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Komarudin Hidayat, MA selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Bapak Prof. Dr. Bahtiar Effendi, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayarullah Jakarta. 3. Bapak Dr. Hendro Prasetyo, MA selaku Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayarullah Jakarta. 4. Ibu Dra. Wiwi Sajaroh, MA dan M. Zaki Mubarak M.Si selaku Ketua dan Sekretaris Prodi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 5. Bapak Dr. Sirojuddin Ali, MA selaku Dosen Pembimbing atas dedikasi dan perhatiannya dalam memberikan masukan dan bimbingan selama proses penulisan skripsi. vii 9 6. Seluruh dosen dan staff pengajar pada Program Studi Ilmu Politik yang telah sangat banyak memberikan sumbangan ilmiah selama penulis menempuh proses perkuliahan. 7. Seluruh jajaran, staff dan petugas di Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Hidayatullah Jakarta. Ushuluddin Universitas dan Filsafat Mathla’ul UIN Anwar Syarif (UNMA) Cikaliung, Menes Pandeglang Banten. 8. Ucapan terimakasih dengan segala kerendahan hati tak lupa penulis ucapkan kepada kedua orang tua H. Sanusi, Hj. Saiyah yang telah melahirkan, membimbing sehingga penulis bisa menduduki bangku perguruan tinggi. Kepada kakak dan teteh, Arniah, Salmah, Sukron Ma’mun, Suherman. 9. Ucapan terimakasih penulis kepada mamang Drs. Sonhaji Ujaji yang telah memberikan inspirasi penulis untuk mengkaji terhadap organisasi Mathla’ul Anwar (MA), Herdi Sahrasad yang telah memberikan motivasi penulis untuk segera menyelesaikan penulisan skrispi. 10. Ucapan terimakasih kepada para narasumber yang telah banyak memberikan informasi dan masukan dalam proses penelitian skripsi, Dr. Asep Saepudin Jahar,Mhd, Mohammad Zen, MA, Ali Nurdin, MA, Drs. Herman Fauzi, Mohammad Idjen, Drs. H.A. Shihabuddin, MM, KH. Sadeli Karim, Lc, KH. Abdul Wahid Sahari, MA, Drs, Anang Ainul Yaqin, H. Lili Nahriri, MA, Aas Syatibi, SH. viii 10 11. Kepada seluruh teman-teman Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat, Himpunan Mahasiswa Banten (HMB) Jakarta, Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Ikatan Mahasiswa Mathla’ul Anwar (DPP HIMMA), Lingkar Studi Islam dan Kebudayaan (LSIK) Ciputat, koran online Rimanews.com, koran online Bantenpress.com, Forum Kajian Benoa Air Nusantara Jakarta, Forum Studi Jala Sutra Jakarta, Forum Kajian INCA Ciputat. 12. Ucapan terimakasih dan penghargaan secara tulus tak lupa penulis sampaikan kepada teman-teman sepermainan dan seperjuangan di Cipuat. Umar Hamdani, Teteh Bety, Duha Hediyansyah, Fahrurazzi, Ahyanuddin, Syahid, Mohammad Asrori Mulky, Mulyani, Ucu, Fikriyah, Zaenab, Melly, Guruh Tajul Arsy, TB. Hamid, Andi Rahman, Iyan Sopyan Hamid, Sukardi, Buluk, Asep. Serta seseorang yang saat ini belum bisa disebutkan. ix 11 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Deliar Noer, sejarah munculnya berbagai organisasi masyarakat (ormas) di Indonesia adalah sebagai respon terhadap kondisi yang telah menjadi atmosfir di belantara bumi Nusantara. Kondisi bangsa yang memprihatinkan di tengah tekanan kaum imprealis, dengan sendirinya memunculkan jiwa patriotisme dan semangat memperjuangkan hak dan martabat kaum pribumi. Guliran semangat kejuangan ini, pada akhirnya melahirkan gerakan modernisasi di kalangan bangsa Indonesia.1 Ormas-ormas keagamaan seperti Mathla’ul Anwar (kemudian disingkat MA), merupakan cerminan suatu gerakan modernisasi Islam untuk menumbuhkan semangat kejuangan dan mempercepat proses pencerahan pemikiran di kalangan umat, agar memiliki kepekaan dan keluasan wawasan sehingga kondisi bangsa tidak direlakan untuk dieksploitasi oleh kaum imprealis. Semangat awal ormas-ormas yang ada di Indonesia yang dikategorikan sebagai gerakan modernisasi, setelah bergulirnya kemerdekaan dalam rangka mengisi dan membangun bangsa mengalami degradasi, dari orientasi awal pada gerakan kultur menuju gerakan politis. Sebagaimana fenomena yang terjadi pada MA sebagai organisasi masyarakat terbesar ketiga di Indonesia setelah NU dan Muhammadiyah. 1 Deliar Noer, Gerakan Modern Islam Di Indoneseia 1900-1942 (Jakarta: LP3ES, 1995), h. 121 1 2 12 Pada perjalananya, MA terbawa arus euphoria Orde Baru (Orba) yang melakukan strategi hegemoni kekuasaannya atas segala bentuk institusi yang ada di Indonesia. Strategi hegemoni ini terlihat ketika Rezim Orba memaksakan kepada seluruh institusi yang ada untuk menerima Asas Tunggal Pancasila. Institusi apapun yang tidak menerima Pancasila sebagai Asas Tunggal secara sepihak oleh Rezim Orba dibubarkan dan dikucilkan dari tata dinamika konstelasi kehidupan nasional pada saat itu. MA pada masa Orba, tidak saja menerima Asas Tunggal tersebut, akan tetapi lebih jauh membuat statemen bahwa secara politis aspirasi warga MA diberikan dukungannya kepada Golkar sebagai partai Orba yang berkuasa. Dengan memulai gerakan politiknya pasca Muktamar XIV tahun 1985 di Jakarta, dengan jargonnya yang berani menerima Pancasila sebagai Asas organisasi dan menyatakan berafiliasi dengan partai politik.2 Menurut Didin Nurul Rosidin, bahwa keputusan Muktamar XIV (1985) merupakan keputusan paling menghebohkan dalam sejarah MA terkait dengan penerimaan Asas Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi yang sesuai dengan Undang-Undang nomor. 8 tahun 1985 Pasal 2 tentang organisasi kemasyarakatan yang berasaskan Pancasila sebagai satu-satunya asas baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kebijakan politik organisasi ini berdampak terjadinya perpecahan di internal sebagai akibat dari keputusan menjadi onderbouw dari partai politik telah keluar dari Khitthah (1916) 2 Syibli Sarjaya, dkk., Sejarah dan Khittah Mathla’ul Anwar (Jakarta: PB Mathla’ul Anwar, 1996), h. 56-57 3 13 organisasi.3 Bagaimanapun Mathla’ul Anwar merupakan organisasi masyarakat terbesar di Provinsi Banten. Sebagai sebuah organisasi yang independent (mandiri) dan pada awalnya tidak berafiliasi politik praktis. Tentunya karena adanya intervensi dan intimidasi oleh pemerintah Orde Baru dan militer terhadap organisasi masyarakat (ormas) telah menghilangkan kemandirian organisasi dan menodai demokrasi dengan kata lain, MA telah mengadopsi budaya politik internal Partai Golkar yang menggunakan sistem komando (top-down) dengan menggunakan strategi merekrut beberapa tokoh MA menjadi pengurus dan kader di Partai Golkar. Dengan adanya pergeseran orientasi MA dari murni gerakan kultural ke arah gerakan politik, maka konsentrasi MA tidak lagi diarahkan semata untuk kepentingan rekonstruksi gerakan kultural ummat, akan tetapi gerakan-gerakan yang digulirkan terbingkai oleh kepentingan politik. Pada peta percaturan politik Orde Baru (Orba), hampir tidak ada ormas yang berani melakukan alienasi terhadap partai yang berkuasa pada waktu itu, yaitu Partai Golkar. Dengan adanya format politik yang diciptakan oleh Golkar, maka ormas manapun yang rela menjadi subordinasi partai Golkar akan terjamin kelangsungan (sustainability) dan kemudahan untuk mencari akses dalam rangka menjalankan aktivitas organisasinya. MA pada awal berdirinya merupakan kelompok pengajian lokal di Menes, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Jawa Barat (kini Provinsi Banten) dan pada perkembangan dan gerakannya di manifestasikan pada reformasi sosial religius, 3 Didin Nurul Rosidin, Quo Vadis Mathla’ul Anwar, Makalah disampaikan pada Rakernas Mathla’ul Anwar di Batam, 7-9 Juli 2007. Selanjutnya lihat. M. Irsjad Djuwaeli, Sejarah dan Khitthah Mathla’ul Anwar (Jakarta: Pengurus Besar Mathla’ul Anwar, 1996), h. 28 4 14 pendidikan, dakwah dan budaya, dengan melakukan pembaharuan (modernisasi) dan pemurnian (furifikasi) ajaran agama Islam. Gerakan Ormas MA sebagai gerakan kultural, yang mana kondisi ummat yang diinginkan adalah ummat yang melakukan pembaharuan di bidang kultur kehidupan. Semangat pembaharuan di bidang kultur, pada gilirannya membuahkan sebuah tatanan kehidupan penguatan masyarakat sipil (civil society). Kuatnya masyarakat sipil, secara langsung mempengaruhi tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sehingga masyarakat bangsa dapat keluar dari belenggu penjajahan kaum imprealis, maupun kekuasaan sebuah rezim yang tidak memihak terhadap kepentingan rakyat. Perkembangan sebuah organisasi masyarakat seperti MA pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari perkembangan dan dinamika masyarakat itu sendiri. Sebab, ormas dibentuk dan kiprahnya ditengah masyarakat. Maju mundurnya sebuah ormas sangat tergantung pada dukungan masyarakat. Jika dukungan masyarakat kuat, maka majulah ia. Sebaliknya, sulit bagi ormas untuk berkembang tanpa dukungan yang mantap dari masyarakat. Karena itu, memprediksi keadaaan sebuah ormas dimasa mendatang pada dasarnya adalah memprediksi dan menganalisa kecenderungan-kecenderungan yang akan terjadi pada masyarakat masa depan.4 Munculnya euphoria reformasi dengan berakhirnya rezim Orde Baru (1998), berimplikasi terhadap perubahan paradigma berbagai institusi atau ormas di Indonesia seperti Mathla’ul Anwar (MA) sebagai salah satu “pendukung” rezim 4 M. Irsjad Djuwaeli, Membawa Mathla’ul Anwar Ke Abad XXI (Jakarta: PB Mathla’ul Anwar, 1996), h. 1 5 15 Orde Baru dengan mengubah cara pandang terhadap tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, dengan mendukung pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Selanjutnya, terjadinya perpindahan Rezim Orba ke Rezim Reformasi eksistensi Orba dihujat dan diinjak-injak, maka secara tidak langsung keberadaan ormas-ormas yang merupakan subordinasi dari rezim Orba (termasuk di dalamnya MA) akan terkena dampak langsung kebencian, gunjingan dan dikucilkan sehingga pada akhirnya bukan tidak mungkin ditinggalkan. Maka euphoria reformasi diikuti oleh berbagai institusi-institusi, ormas-ormas ke-Islaman baik formal maupun non formal untuk melakukan perubahan paradigma baru terhadap perjalanan organisasinya yang lebih baik ke depan. Hal ini dilakukan bukan hanya sebagai strategi “cuci tangan” terhadap dosa-dosa Orde Baru, tetapi sebagai evaluatif dari ormas MA demi kemajuan dalam menghadapi tantangan institusi agar tetap sejalan dengan asas perjuangan. Perubahan paradigma MA, dengan berbenah dan menata diri agar tidak ketinggalan gerbong reformasi, MA melakukan perubahan-perubahan yang responsif terhadap permasalahan bangsa dengan mengarah pada substansi didirikannya organisasi ini, agar tidak menyalahi Khitthah (1916) awalnya. Dengan adanya perubahan iklim politik secara nasional, maka, MA melakukan evaluasi terhadap partisipasi politik Mathla’ul Anwar (MA) di tengah kancah konstelasi politik nasional, akan menjadi sesuatu yang signifikan. 6 16 Berdasarkan latar belakang inilah penulis ingin kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa SMP negeri 2 Jember kelas VIII E dengan 31 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes berupa tiga soal PISA konten Space and Shape unit Shape yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Soal PISA dan pendoman penskoran yang digunakan adalah sebagai berikut : AMATI GAMBAR BERIKUT 1. Mana diantara gambar-gambar diatas yang memiliki daerah terluas. Apa alasanmu? 2. Jelaskan cara untuk memperkirakan luas gambar C 3. Jelaskan cara untuk memperkirakan keliling gambar C Pedoman Penskoran: Soal 1 Skor Penuh (1) : Bentuk B, didukung dengan penalaran yang masuk akal. B merupakan daerah terluas karena dua bangun yang lain akan dimuat di dalamnya. B. karena tidak memiliki lekukan di dalamnya yang mengurangi luas daerahnya. Sedangkan A dan C memiliki Gap/celah. B, karena merupakan lingkaran penuh, sedangkan bangun yang lain seperti lingkaran dengan beberapa bagian yang hilang, sehingga mengurangi luasnya. B, karena tidak memiliki daerah terbuka Dll. Tidak ada Skor (0): B, tanpa disertai alasan yang masuk akal Jawaban lain yang kurang masuk akal. Soal 2: Skor Penuh (2): Dengan cara yang masuk akal. Menggambar petak-petak yang memuat bangun tersebut dan menghitung petak yang menutupi bangun tersebut. Jika lebih dari setengahnya, maka petak tersebut dihitung satu petak Memotong bentuk tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mengatur potongan-potongan tersebut menjadi bentuk persegi/persegi panjang kemudian menhitung sisi-sisinya lalu menentukan luasnya. Membangun bentuk 3D dengan alas berdasarkan bentuk tersebut, dan mengisinya dengan air. Hitung volume air yang digunakan dan kedalaman air pada model. Luas dapat ditentukan dengan volume air dibagi kedalaman air pada model Dengan membagi bangun ke dalam beberapa bentuk bangun datar beraturan. Kemudian dihitung luasnya dan dijumlahkan. Dan alasan-alasan lain yang masuk akal Skor sebagian (1) : Membuat lingkaran yang memuat bentuk tersebut, kemudian mengurangkan luas lingkaran dengan luas diluar bentuk tersebut dalam lingkaran. Namun siswa tidak menyebutkan bagaimana untuk mengetahui luas daerah diluar bentuk tersebut dalam lingkaran. Alasan-alasan lain yang masuk akal, namun kurang detail atau kurang jelas. Tidak ada Skor (0): Jawaban lain yang kurang masuk akal. Soal 3: Skor Penuh (1): Dengan cara yang masuk akal. Rentangkan seutas tali pada pinggir bentuk tersebut, kemudian mengukur panjang tali yang digunakan. Potong bentuk tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, gabungkan bagian-bagian tersebut hingga membentuk garis, lalu tentukan panjangnya. Dan alasan-alasan lain yang masuk akal Tidak ada Skor (0): Jawaban lain yang kurang masuk akal. Sumber : diadaptasi dari Take The Test Sample Questions From OECD’s PISA Assesment. Selanjutnya, skor siswa yang didapat akan dimasukkan dan diolah dengan program komputer Ministep (Winstep Rasch) untuk mengestimasi kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten Shape and Space yang diberikan berdasarkan analisis model Rasch. Soal 1 dan 3 menggunakan penskoran model dikotomus (Benar/Salah), sedangkan soal 2 menggunakan penskoran model politomus (Partial Credit Model). Skor mentah tersebut dikonversi menjadi nilai logit. Semakin tinggi nilai logit siswa dan lebih dari 0.0 logit mengindikasikan kemampuan siswa yang semakin tinggi. Semakin tinggi nilai logit soal dan lebih dari 0.0 logit mengindikasikan semakin tinggi tingkat kesulitan soal. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara keseluruhan skor siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten Shape and Space berbeda-beda Pada tabel 1 menampilkan skor mentah yang diperoleh siswa. Soal 1 mampu dijawab dengan benar oleh 17 siswa, soal 2 terdapat 2 siswa yang mampu menjawab dengan skor penuh, dan 6 siswa mampu menjawab dengan skor 1, sedangkan soal 3 terdapat 5 siswa yang mampu menjawab dengan benar Tabel 1. Skor Siswa dalam Menyelesaikan Soal PISA Konten Shape and Space NAMA SOAL NAMA NO SOAL NO (KODE SISWA) 1 2 3 (KODE SISWA) 1 2 3 1 01AT 1 0 1 17 17MW 1 0 0 2 02AO 0 0 0 18 18NA 0 0 0 3 03AN 0 0 0 19 19NR 1 0 0 NAMA SOAL NAMA NO SOAL NO (KODE SISWA) 1 2 3 (KODE SISWA) 1 2 3 4 04CA 0 0 0 20 20NA 1 2 0 5 05EA 1 0 0 21 21NS 0 0 0 6 06FY 1 1 1 22 22RR 0 0 1 7 07IN 1 1 0 23 23RF 0 0 0 8 08IE 1 0 0 24 24RA 0 0 0 9 09JN 1 1 0 25 25RW 0 0 0 10 10KH 1 1 1 26 26RL 0 0 0 11 11KT 1 0 0 27 27SA 0 0 0 12 12MI 1 1 0 28 28TA 1 2 0 13 13MA 0 0 0 29 29VT 0 0 1 14 14MR 1 1 0 30 30ZN 1 0 0 15 15MR 1 0 0 31 31PA 1 0 0 16 16MS 0 0 0 Selanjutnya skor siswa dengan pemodelan Rasch diolah dengan menggunakan program komputer ministep (Winstep Rasch). Berikut ditampilkan hasil statistic dari analisis model Rasch: Gambar 1. Tampilan Summary Statistics hasil pengolahan data ministep. Tampilan summary statistics diatas memberikan info tentang kualitas responden/siswa secara keseluruhan dalam menyelesaikan soal yang diberikan. Dari tampilan hasil pengolahan diatas diperoleh Person measure = – 0.10 logit dengan tidak mengikutsertakan Extrem Person (Responden/siswa yang mempuyai skor 0) yang kurang dari logit 0,0. Hal ini menunjukkan kemampuan siswa kurang dalam menyelesaikan soal PISA konten shape and space yang diberikan. Dengan mengikutsertakan siswa dengan ekstrem skor tentunya nilai person measure akan semakin kecil yaitu – 1.52 logit. Semakin tinggi nilai logit diatas 0.0 logit, semakin tinggi kemampuan siswa. Gambar 2. Tampilan Item Measure hasil pengolahan data ministep. Dari gambar 2, soal no 2 mempunyai nilai logit tertinggi yaitu +1.47 logit ini menunjukkan soal no 2 merupakan soal yang paling sulit dijawab oleh siswa, soal no 3 mempunyai nilai logit = 1.40 logit, dan soal no 1 mempunyai nilai logit = -2.87 logit. Soal 2 dan 3, nilai logit keduanya lebih dari 0.0 logit menunjukkan kedua soal ini merupakan kategori soal sulit. Dari tabel 1 menunjukkan untuk soal no 2 hanya terdapat 2 siswa yang mampu menjawab dengan skor penuh, dan 6 siswa mampu menjawab dengan skor 1. Untuk soal no 3 hanya 5 siswa yang mampu menjawab dengan benar. Sedangkan soal 1 mempunyai nilai -2.87 logit yang kurang dari 0.0 logit menunjukkan soal yang relatif mudah dikerjakan siswa, dari 31 siswa terdapat 17 siswa yang mampu menjawab dengan benar. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan analisis data dan pembahasan diperoleh simpulan sebagai berikut : (1) Kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten shape and space berdasarkan analisis model Rasch masih kurang. Rata-rata nilai logit siswa - 1,52 logit yang kurang dari 0.0 logit. (2) Dari ketiga soal yang diujikan, dua soal dikategorikan sebagai soal sulit, dan 1 soal relatif mudah dikerjakan siswa. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti mengemukakan saran-saran sebagai berikut : (1) Bagi pendidik, siswa hendaknya sering diberikan soal-soal non rutin atau soal-soal pemecahan masalah seperti soal-soal PISA dalam pembelajaran matematika dikelas, baik sebagai tugas maupun ulangan harian. Hal ini bertujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. (2) Bagi peneliti lain, penggunaan Item Respon Theory (IRT) dalam hal ini Rasch Model dapat dijadikan alternatif dalam pengolahan data penelitian kuantitatif untuk mengatasi kelamahan teori tes klasik, karena Rasch Model telah memenuhi lima prinsip model pengukuran. DAFTAR PUSTAKA Aini, R.N. & Siswono, T.Y.E. 2014. Analisis Pemahaman Siswa SMP Dalam Menyelesaikan Masalah Aljabar Pada PISA. Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika MATHEdunesa, vol 2, no 3, hal.158-164 BSNP Depdiknas.2006. Standar Isi Mata Pelajaran Matematika SD/MI dan SMP/MTs (Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006). Jakarta: BSNP Depdiknas OECD. 2013. PISA 2012 Results in Focus. www.oecd.org OECD.2009. Take The Test Sample Questions From OECD’s PISA Assesment. www.oecd.org OECD.2015. PISA 2015 Draft Mathematics Framework. www.oecd.org Setiawan, H.,Dafik., dan Lestari, S.D.N. 2014. Soal Matematika Dalam PISA Kaitannya Dengan Literasi Matematika Dan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi. Prosiding Seminar Nasional Matematika, Universitas Jember, 19 November 2014, hal.244-251. Shiel, G et al.2007. PISA mathematics: a teacher’s guide. Dublin :Department of Education and Science. Sulastri, R., et al.2014. Kemampuan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unsyiah Menyelesaikan Soal PISA Most Difficult Level. Jurnal Didaktik Matematika, Vol. 1, No. 2, September 2014, hal.13-21. Sumintono, B. & Widhiarso, W.2014. Aplikasi Model Rasch Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Cimahi:Trim Komunikata Publishing House Wardhani, Sri dan Rumiyati. 2011. Instrumen Penilaian Hasil Belajar Matematika SMP: Belajar dari PISA dan TIMSS. Yogyakarta : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Evaluasi kinerja perbankan nasional pasca rekapitulasi tahun 1999
0
11
130
Muslim Tionghoa: studi analisis problematika politik muslim Tionghoa pada masa orde baru (1967-1998)
0
4
136
Kepemimpinan partai golkar pasca orde baru 9studi pebandingan pola kepemimpinan akbar tandjung (periode 1999-2004 dan Muhammad jusuf Kalla (periode 2004-2009) dalam partai golkar)
0
9
99
Peran politik militer(ABRI)orde baru terhadap depolitisasi politik Islam di Indonesia : Studi hegemoni politik militer orde baru terhadap politik Islam tahun 1967-1990
1
9
132
Kepemimpinan partai Golkar pasca orde baru (Studi Perbandingan Pola Kepemimpinan Akbar Tandjung [Periode 1999-2004] dan Muhammad Jusuf Kalla [Periode 2004-2009] dalam Partai Golkar)
0
7
99
Dinamika politik Islam Sasak; tuan guru dan politik pasca orde baru
1
9
99
Pemuda pancasila dan rezim represif orde baru
1
17
66
Negara dan pluralisme agama (studi pemikiran Hasyim Muzadi tentang pluralisme agama di Indonesia pasca orde baru)
1
8
190
Matha'ul anwar dalam konstelansi politik nasional pasca orde baru
4
56
107
Asas tunggal pancasila dalam pandangan syarikat Islam (SI) masa orde baru
2
31
105
Pemikiran politik masyarakat betawi pasca rezim Soeharto
1
9
92
Kiprah politik Muhammad Roem dalam Konstelasi perpolitikan di Indonesia pasca kemerdekaan (1945-1957)
0
33
88
Soedjatmoko dan orde baru (1968-1989)
1
9
110
Madrasah, pendidikan keagamaan dan pesantren sebuah dilema baru pasca otonomi daerah
0
6
0
1kliikdonlod Pemerintah orde baru lama
0
0
16
Show more