Feedback

Analisis Komparasi Internet Financial Local Government Reporting Pada Website Resmi Kabupaten dan Kota di Jawa Timur The Comparison Analysis of Internet Financial Local Government Reporting on Official Website of Regency and City in East Java

Informasi dokumen
Mita, Analisis Komparasi Internet Financial Local Government. Analisis Komparasi Internet Financial Local Government Reporting Pada Website Resmi Kabupaten dan Kota di Jawa Timur The Comparison Analysis of Internet Financial Local Government Reporting on Official Website of Regency and City in East Java Mita Anandayu Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Jember (UNEJ) Jln. Kalimantan 37, Jember 68121 E-mail: anandayuhee@naver.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perbedaan kualitas laporan keuangan daerah di Jawa Timur yang diunggah melalui website resmi masing-masing daerah menggunakan indeks aksesibilitas yang dikembangkan oleh Cheng et al. serta aktif atau tidak aktifnya website resmi disetiap daerah. Penilaiannya menggunakan empat komponen indeks aksesibilitas yaitu isi, ketepatan waktu, pemanfaatan teknologi dan user support. Pengumpulan data menggunakan data sekunder melalui observasi. Populasi data meliputi seluruh wilayah di Jawa Timur yang terbagi menjadi dua sampel yaitu kabupaten dan kota. Analisis data menggunakan Mann Whitney Test. Hasil observasi menunjukkan pemerintah kota dan kabupaten memiliki e-government dan dalam status online. 19 Kabupaten dan 9 Kota menerapkan Internet Financial Local Government Reporting dan sisanya 10 Kabupaten tidak menerapkan Internet Financial Local Government Reporting. Hasil pengujian menunjukkan tidak ada perbedaan atas komponen isi/konten, ketepatan waktu, pemanfaatan teknologi dan user support yang mencolok dalam mengungkapkan laporan keuangan maupun non keuangan antara Pemerintah kota dan Kabupaten di Jawa Timur. Kata kunci :e-government, internet financial local government reporting, indeks aksesbilitas, konten, ketepatan waktu, pemanfaatan teknologi, user support. Abstract This study aims to compare the quality off reporting disclosure of Internet Financial Local Government Reporting that being uploaded by government using accessibility index that developed by Cheng et al. and to know the status of the official website is active or not. The study analyzes the optimization of the accounting reporting based on four components; content, timeliness, technology, and user support. Data were collected by observation on official website. The population of this study are all government in East Java that splitted by two sample, regency and municipal (city). Data were analyzed using Mann Whitney Test. The result of observation is all e-governments is online. 19 regencies and 9 cities uploaded their local government reporting and 10 regencies didn’t upload it yet. The result show there is no difference between regency and municipal (city) in East Java from all the accessibilities index. Keywords: : e-government, internet financial local government reporting, accessibilty index, content, timeliness, technology, user support. Pendahuluan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa paradigma baru dalam tatanan seluruh aktivitas kehidupan baik pemerintah, dunia usaha, pendidikan dan masyarakat lainnya. Hal ini merupakan konsekuensi perkembangan budaya masyarakat modern, yang pada akhirnya harus Artikel Ilmiah Mahasiswa 2016 diakui bahwa teknologi telah merubah tata kehidupan manusia khususnya teknologi informasi yang banyak menjanjikan kemudahan dan fasilitas (Suryani, 2009). Melalui media ini, berbagai macam informasi yang dibutuhkan hampir semua bisa didapat. Dunia internet atau yang sering dikenal dengan istilah cyberspace yang tidak mengenal batas waktu dan wilayah. Mita, Analisis Komparasi Internet Financial Local Government. Tren penggunaan internet sebagai media pengungkapan informasi juga berdampak pada sektor pemerintah. Salah satu upaya pemerintah dalam hal tren penggunaan internet sebagai media pengungkapan informasi yaitu dengan menerapkan sistem electronic government (e-government) atau pemerinatahan berbasis elektronik. Sistem ini dimaksudkan untuk mendukung pemerintahan yang baik (good government). Pemerintahan tradisional (traditional government) yang identik dengan paper-based administration mulai ditinggalkan (Instruksi Presiden No 6 Tahun 2001 dan Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003). Dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 mengenai pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah, ditegaskan bahwa pengelolaan keuangan daerah dilakukan secara tertib, taat pada peraturan perundangundangan yang berlaku, efisien, efektif, transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan dan kepatuhan. Semakin besarnya tuntunan terhadap pelaksanaan akuntabilitas sektor publik juga akan memperbesar kebutuhan atas transparansi informasi keuangan sektor publik (Nordiawan, 2006). Adapun Peraturan Pemerintah No 56 Tahun 2005 Pasal 3 menyebutkan bahwa informasi keuangan daerah yang disampaikan harus memenuhi prinsipprinsip akurat, relevan dan dapat diperhitungkan. Sedangkan Peraturan Pemerintah No 56 Tahun 2005 Pasal 12 menyebutkan salah satu tujuan penyelenggaraan sistem informasi keuangan daerah adalah menyajikan informasi keuangan daerah secara terbuka kepada masyarakat dengan maksud masyarakat ikut berperan aktif melakukan pengawasan atas jalannya pemerintahan. Begitupun sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008, disebutkan, informasi merupakan hak asasi manusia dan keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penting negara demokratis, yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat untuk mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik. Secara keselurahan, e-government menunjukkan bahwa akuntabilitas antara pemerintah daerah dan warga negara dapat ditingkatkan tidak hanya melalui penggunaan yang lebih baik dari laporan tahunan, tetapi juga dengan meningkatkan keterlibatan publik dalam pelayanan publik dan melibatkan publik secara real-time melalui interaksi dengan pemerintahan dan proses demokrasi. Bukti empiris diperlukan untuk menggambarkan perkembangan peran pemerintah dalam akuntabilitas dan mengurangi korupsi (Do, 2014). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktif atau tidaknya e-government, memeriksa tersedianya Internet Financial Local Government dan menganalisis perbedaan kualitas e-government menurut indeks aksesibilitas pada website resmi Artikel Ilmiah Mahasiswa 2016 pemerintah daerah di Jawa Timur dengan menggunakan indeks pengungkapan yang dikembangkan oleh Cheng et. al. (2000), yaitu dengan membandingkan empat komponen antara lain isi, ketepatan waktu, pemanfaatan teknologi dan user support (Verawaty, 2014). Penelitian ini dihipotesiskan adanya perbedaan kualitas pengungkapan laporan keuangan antara pemerintah kabupaten dan kota dikarenakan pemerintah kota lebih disorot dibandingkan kabupaten. Metode Penelitian Jenis dan Sumber Data Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah pemerintah daerah di Jawa Timur dengan membagi menjadi dua sampel yaitu pemerintah kabupaten dan kota yang terdiri dari 29 kabupaten dan 9 kota. Metode Analisis Data Penelitian ini dilakukan dengan berdasarkan pada hypothetic-deductive methode yaitu cara analisis dari kesimpulan umum yang diuraikan menjadi contoh-contoh kongkrit atau fakta-fakta untuk menjelaskan kesimpulan. Menurut Sekaran (2006), penelitian dengan menggunakan metode ini melibatkan tujuh tahap, yaitu observasi, pengumpulan data awal, perumusan teori, perumusan hipotesis, pengumpulan data statistik, analisis data, dan deduksi. Menggunakan operasional variabel menggunakan indeks aksesibilitas yang dikembangkan oleh Cheng et al. Tabel 1 Indeks Aksesibilitas Po Kompo in nen Keterangan Variab Keteran el gan aksesib ilitas A Isi/ Komponen Financ Conten informasi ial t keuangan Highli seperti ghts Menyaji kan summar y Mita, Analisis Komparasi Internet Financial Local Government. laporan B financia dan neraca, rugi l cepat laba, arus stateme diakses kas, nts perubahan dalam an posisi bentuk waktu keuangan tabel serta laporan ringkas keberlanjutan atau yang perusahaan. uraian waktu, maka Prior sebelum Informasi ringkas semakin Years) nya keuangan dan tinggi sebagai yang mudah indeksnya. pemban diungkapkan diakses dalam bentuk html Financ ial memiliki skor Menyaji Ketepat ketika Data IFLGR website tahun juga perusahaan sebelu menyaji menyajikan mnya kan informasi (Data laporan tepat for ding E kan Up IFLGR Date untuk tahun en dibandingkan berjalan Laporan dalam format (misal Keuang pdf, disajika an yang informasi n lengkap dalam bentuk perseme dan html ster biar kompre selalu hensif update Hyper Bentuk dan Text HTML tepat Marku memilik waktu) tinggi ent karena lebih memudahkan penggunaan C tahun kompon yang Statem D informasi untuk mengakses informasi keuangan tersebut menjadi lebih cepat. p i skor Pemanf komponen ini Analys yang aatan terkait is age tinggi Teknol dengan Tools Menyed iakan analysis (HTM dibandi pemanfaatan tools L) ngkan teknologi (contoh Forma dalam yang nya, t format dapat Excel pdf disediakan Tabel karena oleh Sumbu informa laporan cetak Putar si lebih serta (Excel’s mudah Artikel Ilmiah Mahasiswa 2016 F Langu ogi tidak media Mita, Analisis Komparasi Internet Financial Local Government. penggunaan Pivot media Table)). teknologi XBRL) User Indeks Mesin Mesin Pivot Suppor website Pencari pencari multimedia, Table t perusahaan di analysis tools yaitu semakin dalam (contohnya salah tinggi Excel’s Pivot satu perusahaan bisa Table), fitur- fitur mengimplem digunak fitur lanjutan Micros entasikan an seperti oft secara untuk implementasi Excel optimal mencari Agen Cerdas yang semua sarana laporan (Intelligent mampu dalam keuanga Agent) mencipt website n atau eXtensible akan Business sebuah Reporting H I jika perusahaan situs Halam Menyed seperti: media tabel an iakan pencarian dan Language interakti Tautan tautan navigasi (XBRL). f (search yang Fitur navigation menam di tools) (seperti pilkan dalam FAQ, tautan ringkasa situsnya ke data J halaman beranda, peta dalam website, dan jumlah mesin besar. pencari). Menyed Lanjut iakan an fiturfitur lanjutan (seperti implem entasi Intellig ent Agent atau Artikel Ilmiah Mahasiswa 2016 IFLGR dapat n G ke and Freque ntly Menyed iakan Asked fasilitas Questi tanya on jawab (FAQ) atau dan email/ Inform telepon asi pengelo Kontak la Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan Mann Whitney Test untuk membandingkan komponen isi/konten, ketepatan waktu, pemanfaatan teknologi, dan user support antara pemerintah kota dan kabupaten setelah dilakukan observasi pada setiap website resmi pemerintah kota maupun kabupaten berdasarkan poin variabel indeks aksesibilitas. Perincian terpapar di bawah ini: Mita, Analisis Komparasi Internet Financial Local Government. Poin A. 1 poin jika website resmi pemerintah daerah atau kota muncul di halaman pertama pencarian Google atau Yahoo dengan mengetikkan nama kota atau daerah. Poin B. +1 poin jika website menyediakan lebih dari satu berkas lengkap dengan dokumen dari laporan keuangan. Poin C. +1 poin jika laporan keuangan berupa HyperText Markup Language (HTML). Poin D. +1 poin jika website resmi menyediakan informasi keuangan tahun sebelumnya. Poin E. +1 jika website tidak sampai memperkenankan kita mengklik lebih dari tiga kali klik untuk sampai pada laporan sebelumnya sebagai pembanding. Ini menandakan bahwa pengunjung website dipermudah untuk mengakses. Poin F. +1 poin jika website resmi menyediakan informasi untuk mendapatkan atau mengakses salinan dari laporan keuangan pemerintah kota atau kabupaten. Poin G. +1 poin jika berkas individu yang menyediakan laporan cetak ukurannya kurang dari 3MB. Poin H. +1 poin jika mempunyai mesin pencari untuk menemukan konten yang dibutuhkan ataupun laporan keuangan pemerintah daerah. Poin I. +1 poin jika website resmi pemerintah daerah atau kota memiliki link laporan keuangan pada beranda situs. Poin J. +1 poin jika website resmi menyediakan detail kontak yang bisa dihubungi baik itu alamat, nomor telepon dan ataupun alamat email. Hasil Penelitian Berdasarkan observasi e-government pemerintah daerah di Jawa Timur maka didapatlah hasil: Tabel 2 Rekapitulasi Objek Penelitian Artikel Ilmiah Mahasiswa 2016 Keterangan Jumlah Kabupaten 29 Kota 9 Jumlah Sampel 38 Kabupaten 19 Kota 9 Menerapkan IFLGR 28 Kabupaten 10 Kota 0 Tidak menerapkan IFLGR 10 Kabupaten 10 Kota 0 Mempunyai website tetapi 10 tidak menerapkan IFLGR Kabupaten 13 Kota 3 Mempunyai website tetapi 16 tidak update Kabupaten 0 Kota 0 Tidak mempunyai website 0 Sumber: Data Sekunder yang telah diolah, 2015 Berdasarkan analisis statistik deskriptif didapat hasil: Tabel 3 Analisis Statistik Deskriptif Variabel Isi/Konten Ketepatan Waktu Teknologi User Support Total a. Kelompok Sampel Kabupaten Kota Kabupaten Kota Kabupaten Kota Kabupaten Kota Kabupaten Kota N Mean 29 9 1,72 2,11 29 0,62 9 29 9 1,11 0,45 0,67 29 1,97 9 29 29 2,33 4,76 6,22 Uji Mann Whitney Dalam penelitian ini ada satu hipotesis yang akan diuji. Pengujian hipotesis ini menggunakan Program SPSS Versi 22. Pada penelitian ini menggunakan statistik non parametik. Hipotesis akan diuji dengan menggunakan Uji Mann Whitney. Uji Mann Whitney adalah uji data nonparametik yang digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan respon dari dua kelompok data yang saling independen yaitu dalam penelitian ini Kabupaten dan Kota (Mann and Whitney, 1947). Berikut hasil pengujian statistik uji Mann Mita, Analisis Komparasi Internet Financial Local Government. Whitney untuk membandingkan komponen isi/konten, ketepatan waktu, teknologi, dan user support antar kedua kelompok sampel yaitu Kabupaten dan Pemerintah kota yang kemudian ditarik kesimpulan untuk pengujian hasil hipotesis. Tingkat probabilitas signifikansi variabel independen 0,05 (5%). Hasil uji Mann Whitney untuk keempat komponen berdasarkan indeks aksesibilitas yang dikembangkan oleh Cheng et al.: Tabel 4 Ranks Conten t Kelompok _Sampel Kabupaten Kota Total Timeli ness Kabupaten Kota Total Techno logy Kabupaten Kota Total User_S upport Kabupaten Kota Total N 2 9 9 3 8 2 9 9 3 8 2 9 9 3 8 2 9 9 3 8 Mean Rank Sum of Ranks 18,10 525,00 24,00 216,00 18,36 532,50 23,17 208,50 18,52 537,00 22,67 204,00 18,81 545,50 21,72 195,50 Pembahasan Berdasarkan output rank untuk komponen isi/konten, dihasilkan nilai mean untuk Pemerintah kota lebih besar dari Kabupaten yaitu 24,00 lebih besar daripada 18,10. Pengujian Mann Whitney untuk output Test Statisticsa, nilai statistik uji Z yaitu -1,525 dan nilai Sig.2-tailed adalah 0,127 lebih besar daripada 0,05. Hal ini menunjukkan hasil uji tidak mencolok secara statistik atau dengan demikian tidak ada perbedaan pengungkapan informasi pada website yang dimiliki antara Kabupaten dengan format dan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan Pemerintah kota untuk komponen isi/konten. Output rank untuk komponen ketepatan waktu yang dijelaskan dalam Tabel 4.4 mendapatkan hasil nilai mean Pemerintah kota lebih besar dibandingkan Kabupaten yaitu 23,17 lebih besar daripada 18,36. Pengujian Mann Whitney untuk Artikel Ilmiah Mahasiswa 2016 Test Statisticsa, nilai statistik uji Z pada komponen ketepatan waktu adalah -1,288 dan nilai Sig.2tailed adalah 0,198 lebih besar daripada 0,05. Hasil ini menunjukkan tidak ada perbedaan yang mencolok secara statistik antara Pemerintah kota dan Kabupaten untuk komponen ketepatan waktu dalam pengungkapan informasi keuangan. Berdasarkan output rank untuk komponen teknologi, nilai mean untuk Kabupaten lebih kecil dibandingkan dengan nilai mean untuk Pemerintah kota yaitu 18,52 lebih kecil daripada 22,67. Dari pengujian Mann Whitney, yaitu output Test Statisticsa, nilai statistik uji Z yang kecil yaitu -1,130 dan nilai Sig.2-tailed adalah 0,259 lebih besar daripada 0,05. Hasil ini menunjukkan tidak ada perbedaan pengungkapan informasi pada website yang dimiliki antara Pemerintah kota dan Kabupaten untuk komponen teknologi. Output rank untuk komponen user support dengan hasil nilai mean Pemerintah kota lebih besar dibandingkan Kabupaten yaitu 21,72 lebih besar daripada 18,81. Sedangkan pengujian Mann Whitney untuk output Test Statistics a, nilai statistik uji Z yaitu -0,728 dan nilai Sig.2-tailed adalah 0,467 lebih besar daripada 0,05. Hasil uji tidak mencolok secara statistik atau tidak ada perbedaan kualitas website untuk komponen user support. H0: Ada perbedaan kualitas atas komponen isi/konten, ketepatan waktu, pemanfaatan teknologi dan user support yang mencolok jika dalam mengungkapkan laporan keuangan maupun non keuangan melalui internet pada masing-masing website resmi Pemerintah kota dan Kabupaten. Berdasarkan Tabel 4.7 Test Statisticsa hasil uji terlihat bahwa besarnya Mann Whitney memberikan nilai statistik uji Z yaitu -1,525 untuk komponen isi/konten dan nilai Sig.2-tailed adalah 0,127 lebih besar daripada 0,05. Sedangkan nilai statistik uji Z pada komponen ketepatan waktu (timeliness) adalah -1,288 dan nilai Sig.2-tailed adalah 0,198 lebih besar daripada 0,05. Adapun nilai statistik uji Z yang kecil pada komponen teknologi yaitu -1,130 dan nilai Sig.2-tailed adalah 0,259 lebih besar daripada 0,05. Terakhir untuk nilai statistik uji Z pada user support yaitu -0,728 dan nilai Sig.2-tailed adalah 0,467 lebih besar daripada 0,05. Berdasarkan hasil analisis ini, dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara kualitas atas komponen isi/konten, ketepatan waktu, pemanfaatan teknologi dan user support yang mencolok jika dalam mengungkapkan kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak tersenyum dan seluruh teman-teman taklim di Al-Muslimun dan Nurrahman terima kasih atas dukungannya. 12. Pak Seno, Pak Jono dan Bu Nik yang mempunyai andil dalam membimbing saya. 13. Ucapan terimakasih kepada R.Novi Eka Vitriyana, seseorang yang akan menjadi istri yang saleh yang membantu dakwa penulis, terimakasih atas segala bantuan dan perhatiannya. 14. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Semoga Allah SWT selalu memberikan Hidayah dan Rahmat kepada semua pihak yang telah membantu dengan ikhlas sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis sadar akan keterbatasan dan kurang sempurnanya penulisan skripsi ini, oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun akan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membacanya. Jember, 23 Mei 2008 Penulis x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . i HALAMAN PERNYATAAN. ii HALAMAN PENGESAHAN. iii HALAMAN PERSETUJUAN . iv HALAMAN PERSEMBAHAN . v HALAMAN MOTTO . vi ABSTRACT . vii ABSTRAK . viii KATA PENGANTAR. ix DAFTAR ISI. xi DAFTAR TABEL . xiii DAFTAR GAMBAR. xiv DAFTAR LAMPIRAN . xv I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang Masalah. 1 1.2 Perumusan Masalah . 7 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 7 1.3.1 Tujuan Penelitian . 7 1.3.2 Manfaat Penelitian . 7 II. TINJAUAN PUSTAKA. 8 2.1 Landasan Teori. 8 2.1.1 Pengertian Pendapatan Domestik. 8 a. Teori Keynes . 9 b. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 10 2.1.2 Hubungan Investasi dengan Pendapatan Domestik Bruto . 11 a. Pengertian Investasi. 11 xi b. Teori Harrod dan Domar. 11 c. Teori Keynes . 13 2.1.3 Teori Tingkat Suku Bunga. 14 a. Sintesis Klasik dan Keynesian. 14 b. Teori Mark dan Hull. 15 c. Teori Hick . . 16 2.1.4 Hubungan Nilai Tukar Terhadap Produk Domestik Bruto. 17 a. Teori Pertukaran Kurs . . 17 b. Teori Messe dan Regolf . 19 2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya . . 20 2.3 Kerangka Berpikir. 22 2.4 Hipotesis 23 III. METODE PENELITIAN. 24 3.1 Rancangan Penelitian. 24 3.1.1 Jenis Penelitian. 24 3.1.2 Unit Analisis. 24 3.2 Jenis dan sumber Data. 24 3.2.1 Metode Penelitian. 24 3.3 Metode Analisis Data . 25 3.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 25 3.3.2 Uji t . 26 3.3.3 Uji F . 27 3.3.4 Koefisien Determinasi Berganda . 28 3.4 Uji Ekonometrika . . 28 3.4.1 Uji Multikolinearitas . 28 3.4.2 Uji Autokorelasi 29 3.4.3 Uji Heterokedastisitas 29 3.5 Definisi Operasional 30 xii IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 31 4.1 Gambaran Umum Pendapatan Domestik di Indonesia. 31 4.1.1 Investasi . . 33 4.1.1 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia. 40 4.1.2 Kurs Dollar Amerika Serikat . 43 4.2 Analisis Data. . 47 4.2.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 47 4.2.2 Uji Statistik. 48 4.2.3 Uji Ekonometrika. 48 4.3 Pembahasan . 49 V. KESIMPULAN DAN SARAN. 59 5.1 Kesimpulan. 60 5.2 Saran . 60 DAFTAR PUSTAKA. 61 LAMPIRAN. 65 xiii DAFTAR TABEL Halaman 4.1 Perkembangan Investasi di Indonesia. 4.2 Hasil Uji Multikolinieritas . 50 xiv 34 DAFTAR GAMBAR Halaman 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia . 3 1.2 Total Investasi Indonesia. . 5 2.1 Pengaruh Pendapatan Terhadap Investasi. 12 2.2 Teori Hick Suku Bunga Terhadap Pendapatan. 15 2.3 Hubungan Kurs dengan Produk Domestik Bruto.19 2.4 Kerangka Berfikir . . 22 4.1 Perkembangan Produk Domestik Bruto di Indonesia. 31 4.2 Perkembangan Investasi di Indonesia. 40 4.3 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia .40 4.4 Perkembangan Nilai Rupiah Terhadap Nilai Dollar Amerika. . 44 4.5 Analisis Data dan Uji Autokorelasi. 51 xv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data Variabel Penelitian. 66 2 Logaritma Natural . 68 3 Hasil Regresi Linier Berganda. 72 xvi
Analisis Komparasi Internet Financial Local Government Reporting Pada Website Resmi Kabupaten dan Kota di Jawa Timur The Comparison Analysis of Internet Financial Local Government Reporting on Official Website of Regency and City in East Java
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags

Local Government Website

Internet Financial Reporting The Timeliness Of Financial Reporting

Local Government Financial Performance

Timeliness Of Financial Reporting
Upload teratas

Analisis Komparasi Internet Financial Local Government Reporting Pada Website Resmi Kabupaten dan Kota di Jawa Timur The Comparison Analysis of Internet Financial Local Government Reporting on Official Website of Regency and City in East Java

Gratis