Formulasi Dan Uji Efek Anti-Aging Krim Ekstrak Serat Mesokarp Kelapa Sawit

121 

Full text

(1)

FORMULASI DAN UJI EFEK

ANTI-AGING

KRIM EKSTRAK SERAT MESOKARP KELAPA

SAWIT

SKRIPSI

OLEH:

ROISYAM AZMAL

NIM 101501045

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

FORMULASI DAN UJI EFEK

ANTI-AGING

KRIM EKSTRAK SERAT MESOKARP KELAPA

SAWIT

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi

Universitas SumateraUtara

OLEH:

ROISYAM AZMAL

NIM 101501045

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

PENGESAHAN SKRIPSI

FORMULASI DAN UJI EFEK

ANTI-AGING

KRIM EKSTRAK SERAT MESOKARP KELAPA SAWIT

OLEH: ROISYAM AZMAL

NIM 101501045

Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

Pada Tanggal: 1 Juni 2015

Disetujui Oleh:

Pembimbing I, Panitia Penguji,

Dr. Kasmirul Ramlan Sinaga, M.S., Apt. Prof. Dr. Julia Reveny, M.Si., Apt. NIP 195504241983031003 NIP 195807101986012001

Pembimbing II, Dr. Kasmirul Ramlan Sinaga, M.S., Apt. NIP 195504241983031003

Dr. Ir. Donald Siahaan Dra. Juanita Tanuwijaya, M.Si., Apt. NIP 195111021977102001

Drs. Suryanto, M.Si., Apt. NIP 196106191991031001

Medan, Juni 2015 Fakultas Farmasi

Universitas Sumatera Utara Wakil Dekan I,

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan anugerah dan kemurahan-Nya sehingga penulis dapat meyelesaikan skripsi yang berjudul Formulasi dan Uji Efek Anti-Aging Krim Ekstrak Serat Mesokarp Kelapa Sawit. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Farmasi dari Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

(5)

v

Laboratorium Farmasi Fisik Fakultas Farmasi yang telah memberikan bantuan dan fasilitas selama penulis melakukan penelitian.

Penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulus dan tak terhingga kepada Ayahanda Drs. Agustrisno, M.SP., dan Ibunda Rima Mulianawati yang tiada hentinya mendoakan, memberikan semangat, dukungan dan berkorban dengan tulus ikhlas bagi kesuksesan penulis, kepada Bapak Ahmad Gazali Sofyan Sinaga, M.Si., Apt. dan kepada teman-teman asisten di Laboratorium Biofarmasetika dan Farmakokinetika, Laboratorium Kosmetologi Fakultas Farmasi dan sahabat-sahabatku yang selalu memberikan dorongan dan motivasi selama penulis melakukan penelitian.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk penyempurnaannya. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya dibidang farmasi dan berguna bagi alam semesta.

Medan, Juni 2015

Penulis,

(6)

vi

FORMULASI DAN UJI EFEK ANTI-AGING

KRIM EKSTRAK SERAT MESOKARP KELAPA SAWIT

ABSTRAK

Karoten adalah sumber utama pembentuk vitamin A untuk melindungi kulit dari bahaya sinar matahari dan merupakan kelompok pigmen yang mengandung antioksidan sebagai pendeaktivasi radikal bebas. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan formulasi dan uji efek anti-aging krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit terhadap kulit mata bagian lateral sukarelawan.

Serat mesokarp kelapa sawit diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut n-heksan dan dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu ±40°C, kemudian ekstrak dikarakterisasi dan diuji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1 diphenyl-2-picryl-hidrazyl). Selanjutnya, ekstrak dibuat menjadi sediaan krim tipe emulsi minyak dalam air dengan variasi konsentrasi 0,5; 1; 2; 3 dan 5%, kemudian dilakukan uji homogenitas, tipe emulsi, iritasi kulit, pH, viskositas, stabilitas penyimpanan dalam suhu kamar selama 90 hari dan uji efek anti-aging menggunakan skin analyzer dan moisturizer checker selama empat minggu.

Ekstrak serat mesokarp kelapa sawit memiliki rendemen sebesar 7,65% dengan nilai IC50 8,67 ppm; kadar air 2,19%; kadar asam lemak bebas 9,46%; nilai kepucatan karoten 3,63; serta kadar karoten sebesar 3835 ppm dan ekstrak dapat diformulasi menjadi sediaan krim yang homogen dengan tipe emulsi minyak dalam air, pH 5,5 - 6,3, tidak menimbulkan iritasi kulit dan stabil dalam penyimpanan selama 90 hari. Hasil analisa statistik krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit dengan blanko memiliki perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05), dimana krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit mampu memberikan efek sebagai anti-aging dengan kadar air kulit yang meningkat, kulit semakin halus, pori-pori kulit mengecil dan noda, keriput dan kedalaman keriput berkurang. Efektivitas paling baik sebagai anti-aging adalah krim ekstrak 5% yang mampu meningkatkan kadar air dari kering menjadi normal (28,33 menjadi 33,33); mengurangi kekasaran kulit dari normal menjadi halus (34,00 menjadi 28,67); mengecilkan pori-pori dari sedang menjadi kecil (25,67 menjadi 18,67); mengurangi noda dari beberapa noda menjadi sedikit noda (26,33 menjadi 20,00); mengurangi keriput (27,00 menjadi 20,00); dan mengurangi kedalaman keriput (38,67 menjadi 32,67). Ekstrak serat mesokarp kelapa sawit dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan krim dengan tipe emulsi minyak dalam air dan ekstrak dapat memberikan aktivitas anti-aging.

(7)

vii

FORMULATION AND TEST THE EFFECT OF ANTI-AGING OF OIL PALM MESOCARP FIBER EXTRACT CREAM

ABSTRACT

Carotene is the main source of vitamin A to protect the forming skin from the harmful rays of the sun and a pigment component containing antioxidants as deactivator of free radicals. This research was to formulate an anti-aging cream and tested the effect of anti-aging cream of extract oil palm mesocarp fiber on the lateral portion of volunteers eye skin.

Oil palm mesocarp fiber was extracted by maceration using n-hexane and was concentrated by rotary evaporator at ±40ºC, then extract was characterized and was tested the antioxidant activity using DPPH (1,1 diphenyl-2-picryl-hidrazyl). The extract was made into a cream preparation of oil in water emulsion type with various concentration of 0.5; 1; 2; 3 and 5%, then the homogenity test, the type of emulsion, skin irritation, pH, viscosity, storage stability at room temperature for 90 days were conducted and was tested the effect of anti-aging using a skin analyzer and moisturizer checker for four weeks.

Extract oil palm mesocarp fiber had a yield of 7.65% with IC50 value 8.67 ppm, water content was 2.19%; free fatty acid content was 9.46%; the value of carotene paleness was 3.63; the carotene content was 3835 ppm; and extract could be formulated into homogeneous cream preparation with oil in water emulsion type, pH was 5.5 - 6.3; did not cause skin irritation and it was stable during storage at room temperature for 90 days. Statistical analysis showed that a extract cream and blank cream had a significant difference on anti-aging effectiveness (p

≤ 0.05), where the cream with extract oil palm mesocarp fiber could be able to provide an anti-aging effects on skin moisture, more delicate skin, smaller pores and blemishes, wrinkle and wrinkle’s depth was reduced. The most effective as an anti-aging cream was 5% extract, which was able to increase the moisture of dehydration into normal (28.33 into 33.33); normal evenness into smooth (34.00 into 28.67); moderate pore into small (25.67 into 18.67); much spot into little spot (26.33 into 20.00); wrinkle was reduced (27.00 into 20.00); and wrinkle’s depth was reduced (38.67 into 32.67). Based on this study it could be concluded that extract oil palm mesocarp fiber can be formulated into cream preparation with oil in water emulsion type and the has extract gives anti-aging activity.

(8)

viii

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 3

1.3 Hipotesis ... 3

1.4 Tujuan Penelitian ... 4

1.5 Manfaat Penelitian ... 4

1.6 Kerangka Pikir Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Kelapa Sawit ... 6

2.1.1 Limbah serat mesokarp kelapa sawit ... 7

2.1.2 Minyak serat mesokarp kelapa sawit ... 7

2.2 Penuaan Dini ... 8

(9)

ix

2.2.2 Tanda-tanda penuaan dini ... 10

2.3 Kulit ... 10

2.3.1 Fungsi kulit ... 11

2.3.2 Anatomi dan fisiologis kulit ... 12

2.3.3 Jenis-jenis kulit ... 14

2.4 Anti-aging ... 15

2.5 Krim ... 16

2.6 Skin Analyzer ... 16

BAB III METODE PENELITIAN ... 18

3.1 Alat dan Bahan ... 18

3.1.1 Alat-alat ... 18

3.1.2 Bahan-bahan ... 19

3.2 Sukarelawan ... 19

3.3 Pembuatan Ekstrak ... 19

3.4 Karakterisasi Serat dan Ekstrak Serat Mesokarp Kelapa Sawit 20

3.4.1 Penetapan kadar air serat mesokarp kelapa sawit ... 20

3.4.2 Penetapan kadar air ekstrak serat mesokarp kelapa sawit ... 20

3.4.3 Penetapan asam lemak bebas ekstrak serat mesokarp kelapa sawit ... 21

3.4.4 Penetapan bilangan DOBI (Deterioration of Bleachability Index) ekstrak serat mesokarp kelapa sawit ... 21

3.4.5 Penetapan kadar karoten ekstrak serat mesokarp kelapa sawit ... 22

(10)

x

3.5.2 Penentuan panjang gelombang serapan maksimum .... 22

3.5.3 Pembuatan larutan induk baku ekstrak (LIB ekstrak) . 23 3.5.4 Penentuan aktivitas antioksidan sampel uji ... 23

3.5.5 Penentuan nilai IC50 ... 23

3.6 Formulasi Sediaan Krim ... 24

3.6.1 Formula standar krim (Young, 1972) ... 24

3.6.2 Formula modifikasi ... 24

3.6.3 Pembuatan sediaan krim ... 25

3.7 Pemeriksaan Terhadap Sediaan Krim ... 25

3.7.1 Pemeriksaan homogenitas sediaan krim ... 25

3.7.2 Penentuan tipe emulsi sediaan krim ... 26

3.7.3 Pengukuran pH sediaan krim ... 26

3.7.4 Pengamatan stabilitas sediaan krim ... 26

3.8 Penentuan Viskositas Sediaan Krim ... 26

3.9 Pengujian Iritasi Terhadap Sukarelawan ... 27

3.10 Pengujian Efektifitas Anti-aging Terhadap Sukarelawan ... 27

3.11 Analisis Data ... 28

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 30

4.1 Hasil Ekstraksi Serat Mesokarp Kelapa Sawit ... 30

4.2 Hasil Karakterisasi ... 30

4.3 Hasil Pengujian Aktivitas Antioksidan ... 31

4.3.1 Hasil penentuan panjang gelombang serapan maksimum ... 31

(11)

xi

4.3.3 Nilai IC50 ... 33

4.4 Hasil Pemeriksaan Terhadap Sediaan Krim ... 34

4.4.1 Pemeriksaan homogenitas sediaan krim ... 34

4.4.2 Pemeriksaan tipe emulsi sediaan krim ... 35

4.4.3 Hasil pengukuran pH sediaan krim ... 36

4.4.4 Pemeriksaan stabilitas sediaan krim ... 37

4.5 Hasil Viskositas Sediaan Krim ... 38

4.6 Hasil Uji Iritasi Terhadap Kulit Sukarelawan ... 39

4.7 Hasil Pengujian Efektivitas Anti-Aging Terhadap Sukarelawan ... 40

4.7.1 Kadar air (Moisture) ... 40

4.7.2 Kehalusan (Evenness) ... 43

4.7.3 Pori (Pore) ... 46

4.7.4 Noda (Spot) ... 48

4.7.5 Keriput (Wrinkle) ... 51

4.7.6 Kedalaman Keriput (Wrinkle’s Depth) ... 53

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 57

5.1 Kesimpulan ... 57

5.2 Saran ... 58

DAFTAR PUSTAKA ... 59

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Parameter hasil pengukuran dengan skin analyzer ... 17

Tabel 3.1 Komposisi bahan dalam krim ... 25

Tabel 4.1 Hasil karakterisasi serat dan ekstrak serat mesokarp kelapa sawit ... 30

Tabel 4.2 Hasil penurunan absorbansi dan persen peredaman DPPH oleh ekstrak serat mesokarp kelapa sawit ... 33

Tabel 4.3 Hasil persamaan regresi linier dan hasil analisis IC50 yang diperoleh dari ekstrak serat mesokarp kelapa sawit ... 34

Tabel 4.4 Data pengamatan homogenitas sediaan krim ... 35

Tabel 4.5 Data kelarutan metil biru dalam sediaan krim ... 35

Tabel 4.6 Data pengukuran pH sediaan krim ... 36

Tabel 4.7 Data organoleptis sediaan krim yang dibuat ... 37

Tabel 4.8 Data hasil pengamatan terhadap kestabilan sediaan krim pada saat sediaan selesai dibuat, 7, 14, 21, 28 dan 90 hari ... 37

Tabel 4.9 Data hasil pengukuran viskositas sediaan krim selama 90 hari (3 bulan) ... 39

Tabel 4.10 Hasil uji iritasi terhadap kulit sukarelawan) ... 39

Tabel 4.11 Hasil pengukuran kadar air (Moisture) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan ... 41

Tabel 4.12 Hasil pengukuran kehalusan (Evenness) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan ... 44

Tabel 4.13 Hasil pengukuran besar pori (Pore) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan ... 47

Tabel 4.14 Hsail pengukuran noda (Spot) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan ... 49

(13)

xiii

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1 Kerangka pikir penelitian ... 5 Gambar 2.1 Penampang struktur kulit ... 12 Gambar 4.1 Kurva serapan maksimum larutan DPPH 40 ppm dalam

metanol secara spektrofotometri visible ... 31 Gambar 4.2 Hubungan konsentrasi dengan persen peredaman radikal

bebas DPPH oleh ekstrak serat mesokarp kelapa sawit ... 33 Gambar 4.3 Grafik hasil pengukuran kadar air (Moisture) pada kulit

mata bagian lateral sukarelawan kelompok blanko, krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0,5; 1; 2; 3 dan 5% selama 4 minggu ... 42 Gambar 4.4 Grafik hasil pengukuran kehalusan (Evenness) pada kulit

mata bagian lateral sukarelawan kelompok blanko, krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0,5; 1; 2; 3 dan 5% selama 4 minggu ... 45 Gambar 4.5 Grafik hasil pengukuran besar pori (Pore) pada kulit mata

bagian lateral sukarelawan kelompok blanko, krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0,5; 1; 2; 3 dan 5% selama 4 minggu ... 46 Gambar 4.6 Grafik hasil pengukuran banyak noda (Spot) pada kulit

mata bagian lateral sukarelawan kelompok blanko, krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0,5; 1; 2; 3 dan 5% selama 4 minggu ... 50 Gambar 4.7 Grafik hasil pengukuran keriput (Wrinkle) pada kulit mata

bagian lateral sukarelawan kelompok blanko, krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0,5; 1; 2; 3 dan 5% selama 4 minggu ... 51 Gambar 4.8 Grafik hasil pengukuran kedalaman keriput (Wrinkle’s

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Bagan proses ekstraksi serat mesokarp kelapa sawit ... 64 Lampiran 2. Bagan pembuatan sediaan krim ... 65 Lampiran 3. Gambar proses penghasilan serat mesokarp kelapa sawit .... 66 Lampiran 4. Gambar alat-alat penelitian ... 67 Lampiran 5. Gambar ekstrak serat mesokarp kelapa sawit ... 69 Lampiran 6. Gambar sediaan krim blanko dan krim ekstrak serat

mesokarp kelapa sawit setelah dibuat sampai 90 hari dalam suhu kamar ... 70 Lampiran 7. Gambar hasil uji tipe emulsi dan homogenitas sediaan krim 73 Lampiran 8. Salah satu contoh hasil uji efektivitas anti-aging pada kulit

mata bagian lateral sukarelawan ... 74 Lampiran 9. Perhitungan hasil uji karakterisasi serat dan ekstrak serat

mesokarp kelapa sawit ... 84 Lampiran 10. Perhitungan IC50 ekstrak serat mesokarp kelapa sawit ... 88 Lampiran 11. Perhitungan variasi dosis berdasarkan IC50 untuk sediaan

krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit sebagai anti-aging ... 90 Lampiran 12. Contoh perhitungan viskositas sediaan krim ekstrak serat

mesokarp kelapa sawit ... 91 Lampiran 13. Hasil variansi (ANAVA) dan Tukey untuk pemulihan kulit

mata bagian lateral sukarelawan selama 4 minggu minggu . 92 Lampiran 14. Contoh surat pernyataan sukarelawan yang ikut serta dalam

(16)

vi

FORMULASI DAN UJI EFEK ANTI-AGING

KRIM EKSTRAK SERAT MESOKARP KELAPA SAWIT

ABSTRAK

Karoten adalah sumber utama pembentuk vitamin A untuk melindungi kulit dari bahaya sinar matahari dan merupakan kelompok pigmen yang mengandung antioksidan sebagai pendeaktivasi radikal bebas. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan formulasi dan uji efek anti-aging krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit terhadap kulit mata bagian lateral sukarelawan.

Serat mesokarp kelapa sawit diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut n-heksan dan dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu ±40°C, kemudian ekstrak dikarakterisasi dan diuji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1 diphenyl-2-picryl-hidrazyl). Selanjutnya, ekstrak dibuat menjadi sediaan krim tipe emulsi minyak dalam air dengan variasi konsentrasi 0,5; 1; 2; 3 dan 5%, kemudian dilakukan uji homogenitas, tipe emulsi, iritasi kulit, pH, viskositas, stabilitas penyimpanan dalam suhu kamar selama 90 hari dan uji efek anti-aging menggunakan skin analyzer dan moisturizer checker selama empat minggu.

Ekstrak serat mesokarp kelapa sawit memiliki rendemen sebesar 7,65% dengan nilai IC50 8,67 ppm; kadar air 2,19%; kadar asam lemak bebas 9,46%; nilai kepucatan karoten 3,63; serta kadar karoten sebesar 3835 ppm dan ekstrak dapat diformulasi menjadi sediaan krim yang homogen dengan tipe emulsi minyak dalam air, pH 5,5 - 6,3, tidak menimbulkan iritasi kulit dan stabil dalam penyimpanan selama 90 hari. Hasil analisa statistik krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit dengan blanko memiliki perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05), dimana krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit mampu memberikan efek sebagai anti-aging dengan kadar air kulit yang meningkat, kulit semakin halus, pori-pori kulit mengecil dan noda, keriput dan kedalaman keriput berkurang. Efektivitas paling baik sebagai anti-aging adalah krim ekstrak 5% yang mampu meningkatkan kadar air dari kering menjadi normal (28,33 menjadi 33,33); mengurangi kekasaran kulit dari normal menjadi halus (34,00 menjadi 28,67); mengecilkan pori-pori dari sedang menjadi kecil (25,67 menjadi 18,67); mengurangi noda dari beberapa noda menjadi sedikit noda (26,33 menjadi 20,00); mengurangi keriput (27,00 menjadi 20,00); dan mengurangi kedalaman keriput (38,67 menjadi 32,67). Ekstrak serat mesokarp kelapa sawit dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan krim dengan tipe emulsi minyak dalam air dan ekstrak dapat memberikan aktivitas anti-aging.

(17)

vii

FORMULATION AND TEST THE EFFECT OF ANTI-AGING OF OIL PALM MESOCARP FIBER EXTRACT CREAM

ABSTRACT

Carotene is the main source of vitamin A to protect the forming skin from the harmful rays of the sun and a pigment component containing antioxidants as deactivator of free radicals. This research was to formulate an anti-aging cream and tested the effect of anti-aging cream of extract oil palm mesocarp fiber on the lateral portion of volunteers eye skin.

Oil palm mesocarp fiber was extracted by maceration using n-hexane and was concentrated by rotary evaporator at ±40ºC, then extract was characterized and was tested the antioxidant activity using DPPH (1,1 diphenyl-2-picryl-hidrazyl). The extract was made into a cream preparation of oil in water emulsion type with various concentration of 0.5; 1; 2; 3 and 5%, then the homogenity test, the type of emulsion, skin irritation, pH, viscosity, storage stability at room temperature for 90 days were conducted and was tested the effect of anti-aging using a skin analyzer and moisturizer checker for four weeks.

Extract oil palm mesocarp fiber had a yield of 7.65% with IC50 value 8.67 ppm, water content was 2.19%; free fatty acid content was 9.46%; the value of carotene paleness was 3.63; the carotene content was 3835 ppm; and extract could be formulated into homogeneous cream preparation with oil in water emulsion type, pH was 5.5 - 6.3; did not cause skin irritation and it was stable during storage at room temperature for 90 days. Statistical analysis showed that a extract cream and blank cream had a significant difference on anti-aging effectiveness (p

≤ 0.05), where the cream with extract oil palm mesocarp fiber could be able to provide an anti-aging effects on skin moisture, more delicate skin, smaller pores and blemishes, wrinkle and wrinkle’s depth was reduced. The most effective as an anti-aging cream was 5% extract, which was able to increase the moisture of dehydration into normal (28.33 into 33.33); normal evenness into smooth (34.00 into 28.67); moderate pore into small (25.67 into 18.67); much spot into little spot (26.33 into 20.00); wrinkle was reduced (27.00 into 20.00); and wrinkle’s depth was reduced (38.67 into 32.67). Based on this study it could be concluded that extract oil palm mesocarp fiber can be formulated into cream preparation with oil in water emulsion type and the has extract gives anti-aging activity.

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penuaan (aging) merupakan proses hilangnya kemampuan jaringan secara perlahan-lahan untuk mempertahankan struktur maupun fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan kerusakan yang dialami (Pangkahila, 2014). Proses menua ini akan terjadi pada seluruh organ tubuh makhluk hidup termasuk kulit (Jusuf, 2005). Secara klinis, penuaan kulit terutama kulit wajah ditandai dengan beberapa tanda termasuk keriput, bintik-bintik hiperpigmentasi dan hilang kekencangannya (Oddos, et al., 2012).

Sinar matahari merupakan faktor utama penyebab proses menua pada kulit, begitu juga dengan kelembaban udara yang rendah menyebabkan kulit menjadi kering sehingga mempercepat proses menua pada kulit (Jusuf, 2005). Indonesia beriklim tropis dengan sinar matahari yang melimpah dapat menyebabkan risiko tinggi terhadap kerusakan kulit atau penuaan dini (Fauzi dan Nurmalina, 2012). Hal ini dapat memicu pembentukan radikal bebas pada kulit yang menyebabkan berbagai penyakit kulit terutama keriput dan menua, karena kulit adalah organ terbesar pada tubuh kita dan mempunyai peran penting, seperti penghalang fisik terhadap faktor mekanis, kimia, panas dan mikroba yang dapat mempengaruhi fisiologis tubuh (Lalitha dan Jayanthi, 2014).

(19)

2

pembentukan radikal bebas yang dapat dilakukan untuk memperbaiki status dengan antioksidan selular (Winarsi, dkk., 2013). Zat antioksidan yang mampu menghambat oksidasi sebagai pertahanan terhadap kerusakan oksidatif pada kulit, sehingga sel harus dilengkapi dengan berbagai jenis antioksidan yang akan bekerja melawan molekul oksidan tersebut (Ardhie, 2011). Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menunda, memperlambat dan mencegah proses oksidasi (Panjaitan, dkk., 2008). Terapi anti-aging akan lebih baik dilakukan sedini mungkin di saat seluruh fungsi sel-sel tubuh masih sehat dan berfungsi dengan baik. Kemajuan teknologi dan ilmu kosmetika dapat digunakan untuk menurunkan dan penghambatan penuaan, sehingga kulit dapat terlihat lebih muda (Fauzi dan Nurmalina, 2012). Anti-aging memiliki kategori obat pencegahan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup (Jinno, et al., 2012).

Krim anti-aging dirancang secara khusus untuk mencegah penuaan dini dengan cara menyamarkan noda atau flek hitam di wajah dan menghilangkan kerutan di bawah mata, dengan demikian krim anti-aging dapat memperlambat penuaan pada kulit (Fauzi dan Nurmalina, 2012). Krim adalah emulsi setengah padat yang mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar (Ditjen POM, 1985).

(20)

3

(Pasaribu, 2004), polisakarida, polifenol dan minyak yang cukup tinggi berisi pigmen karotenoid (Amanda dan Cartealy, 2015). Karotenoid adalah sumber utama pembentuk vitamin A untuk melindungi kulit dari bahaya sinar matahari (Rohmatussolihat, 2009), dan juga merupakan kelompok pigmen dan antioksidan alami yang dapat meredam oksigen singlet serta pendeaktivasi radikal bebas (Panjaitan, dkk., 2008).

Berdasarkan hal di atas peneliti ingin membuat sediaan krim anti-aging dari ekstrak serat mesokarp kelapa sawit.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah pada penelitian ini:

a. Apakah ekstrak serat mesokarp kelapa sawit dapat diformulasikan sebagai sediaan krim dengan tipe emulsi minyak dalam air.

b. Apakah krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit mampu memberikan efek

anti-aging pada kulit mata bagian lateral sukarelawan.

1.3 Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka hipotesis pada penelitian ini adalah:

a. Ekstrak serat mesokarp kelapa sawit dapat diformulasikan sebagai sediaan krim dengan tipe emulsi minyak dalam air.

(21)

4

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui apakah ekstrak serat mesokarp kelapa sawit dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan krim dengan tipe emulsi minyak dalam air.

b. Untuk mengetahui apakah krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit mampu memberikan efek anti-aging pada kulit mata bagian lateral sukarelawan.

1.5 Manfaat Penelitian

(22)

5

1.6 Kerangka Pikir Penelitian

Variabel Bebas Variabel Terikat Parameter

Gambar 1.1 Kerangka pikir penelitian

- Kadar air serat

Uji efek anti-aging

dengan skin

(23)

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) adalah tanaman berkeping satu yang termasuk dalam famili Palmae. Nama genus Elaeis berasal dari bahasa yunani Elaoin atau minyak sedangkan nama species guineensis berasal dari kata

Guinea, yaitu tempat di mana seorang ahli bernama Jacquin menemukan tanaman kelapa sawit pertama kali di pantai Guinea. Salah satu dari beberapa tanaman golongan palm yang dapat menghasilkan minyak adalah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq). Tanaman Elaeis guineensis Jacq ini juga dikenal dengan nama: kelapa sawit (Melayu), kelapa sewu (Jawa) (Mora, dkk., 2013).

Kelapa sawit merupakan komoditi utama perkebunan Indonesia, yang mempunyai peran yang cukup strategis dalam perekonomian Indonesia (Husril, 2011). Tanaman kelapa sawit dapat menghasilkan dua jenis minyak, yakni minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang diekstraksi dari mesokarp buah kelapa sawit, dan minyak ini kelapa sawit atau palm kernel oil (PKO) diekstraksi dari inti sawit (Ketaren, 1986). Buah kelapa sawit teridiri atas pericarp

yang terbungkus dari exocarp (kulit), mesokarp (daging), dan endokarp

(24)

7

suhu ruangan yang disebabkan oleh kandungan asam lemak jenuh yang tinggi. Air dan serat halus menyebabkan minyak kelapa sawit mentah tidak dapat langsung digunakan sebagai bahan pangan maupun non pangan (Basyar, 1999).

2.1.1 Limbah serat mesokarp kelapa sawit

Industri kelapa sawit menyebabkan permasalahan lingkungan antara lain adalah serat mesokarp, tempurung, tandan kosong kelapa sawit dan limbah cair (Mudjalipah, dkk., 2014). Serat mesokarp kelapa sawit menghasilkan serat sekitar 13%, biasanya dibakar sebagai bahan bakar untuk produksi di pabrik kelapa sawit dan juga dijadikan sebagai pakan ternak yang dapat digunakan sebagai kebutuhan energi dan protein (Elisabeth dan Ginting, 2003), karena limbah padat seperti serat mesokarp, tempurung dan tandan kosong mempunyai ciri khas yang komposisinya antara lain adalah selulosa dan komponen lain meskipun lebih kecil seperti abu, hemiselulosa, dan lignin (Fauzi, dkk., 2014).

2.1.2 Minyak serat mesokarp kelapa sawit

Buah kelapa sawit menghasilkan minyak yang berasal dari daging buah (mesokarp) berwarna merah dan dikenal sebagai minyak kelapa sawit kasar atau

(25)

8

2.2 Penuaan Dini

Penuaan merupakan proses fisiologi yang tak terhindarkan yang pasti dialami oleh setiap manusia. Proses ini bersifat irreversibel yang meliputi seluruh organ tubuh termasuk kulit. Kulit merupakan salah satu jaringan yang secara langsung akan memperlihatkan proses penuaan (Putro, 1997). Penuaan bisa terjadi saat memasuki umur 20-30 tahun (Noormindhawati, 2013). Penuaan ini tidak dapat dihindari, namun dengan merawat kulit sebelum terjadi penuaan dapat memperlambat timbulnya tanda-tanda penuaan pada kulit (Rosi, 2012).

2.2.1 Penyebab penuaan dini

Faktor yang menyebabkan terjadinya penuaan dini terbagi 2, yaitu: a. Faktor internal

Pada umumnya disebabkan oleh gangguan dari dalam tubuh, misalnya sakit yang berkepanjangan, kurangnya asupan gizi, ras dan faktor genetik juga memegang peranan dalam terjadinya penuaan (Noormindhawati, 2013).

b. Faktor eksternal

(26)

9

Radikal bebas berupa hasil dari proses oksidasi atau pembakaran sel yang berlangsung saat bernafas, metabolisme sel, olahraga yang berlebihan, peradangan atau ketika tubuh terpapar polusi lingkungan, dan air yang terkontaminasi bahan-bahan kimia yang menyebabkan terganggunya pertumbuhan kolagen. Radikal bebas adalah molekul yang memiliki elektron yang tidak berpasangan dan bersifat tidak stabil serta reaktif sehingga elektron ini selalu berusaha mencari pasangan sehingga mudah mengoksidasi senyawa lain (Noormindhawati, 2013). Radikal bebas akan mengubah enzim superoksida-dismutase (SOD) yang berfungsi untuk mempertahankan fungsi sel. Dengan demikian, fungsi sel akan menurun dan rusak termasuk di dalamnya adalah kolagen (Putro, 1997).

Kelembaban udara yang rendah, musim dingin, udara pegunungan dan arus angin akan mempercepat penguapan air dari kulit, akibatnya kelembaban kulit juga menurun dan akhirnya kulit menjadi kering (Putro, 1997). Kelembaban udara yang rendah ini dapat mempercepat proses menua pada kulit (Jusuf, 2005).

(27)

10

2.2.2Tanda-tanda penuaan dini

Tanda-tanda penuaan dini lebih sering terlihat pada kulit, terutama kulit wajah, yaitu kering dan tipis, muncul garis-garis atau kerutan halus pada kulit, muncul pigmentasi kulit (age spot), kulit terlihat tidak kencang, dan kusam serta tidak segar (Muliyawan dan Suriana, 2013).

Menurut Prianto (2014), tanda-tanda awal proses penuaan, yaitu:

a. Adanya keriput pada kulit yang dapat terlihat dengan jelas tanpa ekspresi karena menipisnya lapisan kolagen dan elastin di dalam lapisan dermis kulit.

b. Terdapat garis-garis yang jelas dan masuk ke dalam kulit di ekspresi wajah akibat bertambahnya umur dan berkurangnya elastisitas kulit, garis ekspresi wajah akan tampak dengan jelas dan menjadi garis permanen sekaligus wajah tidak berekspresi.

Terlihat kulit yang berlebihan dan menggantung pada bagian sekitar mata, leher, dan tangan. Pada saat ini umumnya proses penuaan pada kulit sangat terlihat jelas karena tidak hanya keriput yang kita dapati tetapi proses kemunduran dari elastisitas kulit itu sendiri juga mempengaruhi.

2.3 Kulit

(28)

11

2.3.1 Fungsi kulit

Kulit melindungi bagian dalam tubuh manusia terhadap gangguan fisik serta mekanik, gangguan sinar radiasi atau sinar ultraviolet, gangguan kimiawi, gangguan kuman, jamur, bakteri atau virus, gangguan panas atau dingin. Gangguan fisik serta mekanik dicegah oleh adanya bantalan lemak subkutis, tebalnya lapisan kulit dan serabut penunjang yang berfungsi sebagai pelindung bagian luar tubuh. Gangguan kimiawi ditanggulangi dengan adanya lemak permukaan kulit atau mantel asam kulit dengan pH 4,5 - 6,5 (Tranggono dan Latifah, 2007). Gangguan sinar ultraviolet diatasi oleh sel melanin yang menyerap sekitar 5 - 10% dari sinar tersebut (Wasitaatmadja, 1997).

Melanin dibentuk dari asam amino tirosin dengan bantuan enzim oksidase tirosinase yang mengandung tembaga. Melanosit merupakan sel yang memproduksi melanosom dan tirosinase. Melanosit mengeluarkan melanosom yang merupakan organela berbentuk bulat panjang dan mengandung pigmen melanin. Melanin juga bertanggung jawab terhadap warna kulit (Putro, 1997). Paparan sinar matahari akan mengaktifkan melanosit dan meningkatkan produksi melanin, kemudian disebarkan ke lapisan atas epidermis melalui dendrit-dendrit pada melanosit. Gangguan sinar ultraviolet diatasi oleh sel melanin yang menyerap sekitar 5 - 10% sinar tersebut (Wasitaatmadja, 1997).

(29)

12

2.3.2 Anatomi dan fisiologi kulit

Kulit terdiri dari tiga lapisan berturut-turut mulai dari yang paling luar adalah sebagai berikut:

a. Lapisan epidermis b. Lapisan dermis

c. Lapisan subkutan (hipodermis) (Martin, dkk., 2009).

Gambar 2.1 Penampang struktur kulit (Arisanty, 2013).

1. Epidermis

Epidermis adalah lapisan pelindung terluar dari kulit sebagai penghalang untuk mencegah hilangnya air, elektrolit dan nutrisi dari dalam tubuh, serta membatasi masuknya zat-zat dari lingkungan ke dalam tubuh (Washington, et al., 2003).

Menurut Anderson (1996), lapisan epidermis tersusun dari 5 lapisan, yaitu: a. Lapisan tanduk (stratum korneum), stratum korneum merupakan lapisan

(30)

13

pokok terhadap kehilangan air. Apabila kandungan air pada lapisan ini berkurang, maka kulit akan menjadi kering dan bersisik.

b. Lapisan lusidum (stratum lusidum), lapisan ini tersusun dari beberapa lapisan transparan dan di bawahnya terdapat lapisan tanduk dan bertindak juga sebagai sawar, pada umumnya terdapat pada telapak tangan dan kaki. c. Lapisan granulosum (stratum granulosum), lapisan ini terdiri dari 2 sampai

3 lapisan sel dan terletak di atas lapisan stratum spinosum dan berfungsi untuk menghasilkan protein dan ikatan kimia stratum korneum. Lapisan ini mengandung granul keratohyalin yang menyebabkan sel berbentuk granul. d. Lapisan spinosum (stratum spinosum), lapisan spinosum merupakan lapisan

yang paling tebal dari epidermis. Sel diferensiasi utama stratum spinosum adalah keratinosit yang membentuk keratin.

e. Lapisan basal (stratum basale), lapisan basal merupakan bagian yang paling dalam dari epidermis dan tempat pembentukan lapisan baru yang menyusun epidermis. Melanosit yang membentuk melanin untuk pigmentasi kulit terdapat dalam lapisan ini.

2. Dermis

(31)

14

rambut, ujung pembuluh darah, ujung saraf, serta serabut lemak yang terdapat pada lapisan lemak bawah kulit (Muliyawan dan Suriana, 2013).

3. Lapisan subkutan (hipodermis)

Lapisan ini terletak di bawah dermis dan mengandung sel-sel lemak yang dapat melindungi bagian dalam organ dari trauma mekanik dan juga sebagai pelindung tubuh terhadap udara dingin, serta sebagai pengaturan suhu tubuh (Prianto, 2014). Lapisan ini terdiri atas jaringan konektif, pembuluh darah, dan sel-sel penyimpanan lemak yang memisahkan dermis dengan otot, tulang dan struktur lain. Jumlah lemak dalam lapisan ini akan meningkat bila makan berlebihan, sebaliknya bila tubuh memerlukan energi atau kalori yang banyak maka lapisan ini akan memberikan energi dengan cara memecah simpanan lemaknya (Putro, 1997).

2.3.3 Jenis-jenis kulit

a. Kulit Normal: memiliki pH normal; kadar air dan kadar minyak seimbang; tekstur kulit kenyal, halus dan lembut; pori-pori kulit kecil. b. Kulit Berminyak: kadar minyak berlebihan, bahkan bisa mencapai 60%;

kulit wajah tampak mengkilap; memiliki pori-pori besar; cenderung mudah berjerawat.

c. Kulit Kering: kulit kasar dan kusam, mudah bersisik.

d. Kulit Kombinasi: merupakan kombonasi antara kulit wajah kering dan berminyak, pada area T cenderung berminyak, sedangkan area pipi berkulit kering.

(32)

15

2.4 Anti-aging

Anti berarti menahan atau melawan, sementara aging berarti umur/penuaan, maka bila diartikan secara harfiahnya anti-aging adalah menahan atau melawan penuaan. Anti-aging adalah sebuah proses yang berguna untuk mencegah, memperlambat atau membalikkan efek penuaan agar dapat membantu siapa saja hidup lebih lama, lebih sehat, dan lebih bahagia (Fauzi dan Nurmalina, 2012). Penuaan dini dapat dicegah dengan cara menghindari radikal bebas, menggunakan tabir surya, mengonsumsi air putih, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, istirahat yang cukup dan menghindari stress (Noormindhawati, 2013).

Menurut Muliyawan dan Suriana (2013), produk anti-aging memiliki tujuan untuk membantu tubuh agar tetap sehat dan awet muda bahkan bisa terlihat jauh lebih mudah dari usia sesungguhnya. Produk ini digunakan untuk menghambat proses penuaan pada kulit (degeneratif), sehingga mampu menghambat timbulnya tanda-tanda penuaan pada kulit.

Kosmetika anti-aging pada umumnya berupa bahan aktif yang mengandung antioksidan untuk melindungi kulit dari efek radikal bebas. Antioksidan adalah bahan kimia yang dapat memberikan sebutir elektron yang sangat diperlukan oleh radikal bebas agar tidak menjadi berbahaya (Putro, 1997). Zat ini berfungsi untuk menangkal radikal bebas yang dapat merusak jaringan kulit (Muliyawan dan Suriana, 2013).

(33)

16

bahaya sinar matahari (Rohmatussolihat, 2009), serta meredam oksigen singlet serta pendeaktivasi radikal bebas (Panjaitan, dkk., 2008).

2.5 Sediaan Krim

Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar (Ditjen POM, 1979). Menurut Farmakope Edisi IV, krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai (Ditjen POM, 1995). Krim dapat diformulasikan dalam 2 tipe yaitu tipe m/a emulsi minyak dalam air dan tipe a/m atau air dalam minyak. Kedua fase yang berbeda dalam krim distabilkan dengan penambahan surfaktan (Ansel, 1989). Krim tipe emulsi minyak dalam air lebih disukai konsumen karena tidak memberikan kesan lengket dan berminyak serta lebih mudah dibersihkan dibandingkan krim tipe emulsi air dalam minyak (Mishra, et al., 2014).

2.6 Skin Analyzer

Skin analyzer merupakan sebuah perangkat yang dirancang untuk mendiagnosis keadaan pada kulit. Skin analyzer mempunyai sistem terintegrasi untuk mendukung diagnosis dokter yang tidak hanya meliputi lapisan kulit teratas, melainkan juga mampu memperlihatkan sisi lebih dalam dari lapisan kulit. Tambahan rangkaian sensor kamera yang terpasan pada skin analyzer

menampilkan hasil dengan cepat dan akurat (Aramo, 2012).

(34)

17

telah diatur sedemikian rupa pada alat tersebut. Ketika hasil pengukuran muncul dalam bentuk angka, maka secara bersamaan kriteria hasil pengukuran akan keluar dan dapat dimengerti dengan mudah oleh pengguna yang memeriksa ataupun pasien. Parameter hasil pengukuran skin analyzer dapat dilihat pada Tabel 2.1 di bawah ini.

Tabel 2.1 Parameter hasil pengukuran dengan skin analyzer

Pengukuran Parameter

Moisture

(kadar air)

Dehidrasi Normal Hidrasi

0 – 29 30 – 50 51- 100

Kecil Besar Sangat besar

0 – 19 20 – 39 40 – 100

Spot

(Noda)

Sedikit Beberapa noda Banyak noda

0 – 19 20 – 39 40 – 100

Wrinkle

(Keriput)

Tidak berkeriput Berkeriput Banyak keriput

0 – 19 20 – 52 53 – 100

(35)

18

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan secara eksperimental, meliputi pembuatan ekstrak, karakterisasi dan pengukuran kadar antioksidan ekstrak serat mesokarp kelapa sawit di Laboratorium Oleo Pangan, Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan, formulasi sediaan krim serta pengukuran efektivitas anti-aging di Laboratorium Kosmetologi dan stabilitas fisik sediaan krim di Laboratorium Farmasi Fisik Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Serat mesokarp kelapa sawit diambil dari hasil pengepressan buah kelapa sawit di pabrik kelapa sawit (PKS) Pabatu, PT. Perkebunan Nusantara IV di Serdang Badagai, Sumatera Utara. Dosis krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit diperoleh dari hasil pengukuran kadar antioksidan ekstrak dengan variasi konsentrasi 0,5; 1; 2; 3 dan 5%. Pemeriksaan terhadap sediaan krim meliputi uji homogenitas, tipe emulsi, iritasi kulit, pH, viskositas, stabilitas penyimpanan selama 90 hari dalam suhu kamar dan pembuktian kemampuan sediaan krim sebagai anti-aging selama 4 minggu.

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat-alat

(36)

19

3.1.2 Bahan-bahan

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah serat mesokarp kelapa sawit. Bahan kimia yang digunakan pada penelitian ini adalah n-heksan teknis (PT. MAP), n-heksan p.a merck), kloroform p.a merck), metanol p.a (E-merck), DPPH (1,1 diphenyl-2-picryl-hidrazyl), alkohol 95%, indikator phenolphthalein (PP) 1%, kalium hidroksida teknis dan kalium hidroksida 0,1 N, asam stearat, setil alkohol, sorbitol, propilen glikol, trietanolamin, metil paraben, air suling dan oleum citri.

3.2 Sukarelawan

Pemilihan sukarelawan dilakukan di Fakultas Farmasi USU berdasarkan kriteria inklusi antara lain wanita berusia sekitar 20 - 30 tahun, diperiksa dalam keadaan rileks menggunakan alat skin analyzer, memiliki tanda-tanda penuaan dini, tidak memiliki riwayat alergi pada kulit dan telah dikondisikan tidak menggunakan krim lain selama 4 minggu untuk terapi anti-aging. Sukarelawan bersedia mengikuti penelitian sampai selesai dan bersedia dilakukan uji iritasi dan uji efektivitas sediaan krim sebagai anti-aging selama penelitian berlangsung. Sukarelawan bersedia menandatangani surat pernyataan yang menyatakan ”setuju untuk ikut serta dalam penelitian”. Contoh surat pernyataan sukarelawan yang ikut serta dalam penelitian pada Lampiran 14 halaman 104.

3.3 Pembuatan Ekstrak

(37)

20

sebanyak 80 L (1:4) sampai seluruh serat terendam, ditutup dan disimpan selama 2×24 jam terlindung dari cahaya dan kedap udara sambil sering diaduk, kemudian disaring hingga didapat maserat. Ampas serat dimaserasi kembali selama 2×24 jam sebanyak 2 kali menggunakan prosedur yang sama. Kemudian, seluruh hasil maserasi digabung, diserkai, dan dienap tuangkan. Dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu ±40°C hingga diperoleh ekstrak kental (minyak). Ekstrak kental tersebut kemudian disentrifuge untuk mengendapkan asam lemak bebas dan filtratnya diambil sebagai sampel untuk melakukan formulasi sediaan krim.

3.4 Karakterisasi Serat dan Ekstrak Serat Mesokarp Kelapa Sawit

3.4.1 Penetapan kadar air serat mesokarp kelapa sawit

Ditimbang serat di dalam cawan yang sudah dikeringkan sebanyak 10 g. Selanjutnya dikeringkan di dalam oven pada suhu 110°C selama 3 jam. Kemudian didinginkan dalam desikator dan ditimbang setiap 30 menit pada periode pengeringan sampai diperoleh berat konstan.

Rumus:

% Kadar air= W 1 − W 2

W 1

×

100

Keterangan: W1 = Berat serat sebelum dikeringkan W2 = Berat serat setelah dikeringkan

3.4.2 Penetapan kadar air ekstrak serat mesokarp kelapa sawit

(38)

21

dan penimbangan beberapa kali, sampai selisih berat antara 2 penimbangan berturut-turut tidak melebihi 0,02% dari berat sampel (SNI 01-2901-2006).

Rumus:

% Kadar air= W 1 − W 2

W 1

×

100

Keterangan: W1 = Berat ekstrak sebelum dikeringkan W2 = Berat ekstrak setelah dikeringkan

3.4.3 Penetapan asam lemak bebas ekstrak serat mesokarp kelapa sawit

Ekstrak dalam keadaan cair sebelumnya dipanaskan tidak boleh lebih dari 10°C diatas titik leleh. Ditimbang sampel dalam botol sampel atau erlenmeyer 250 ml sebanyak 1 g. Selanjutnya ditambahkan alkohol yang telah dinetralisasi sebanyak 50 ml kemudian ditambahkan 1 - 2 tetes indikator phenolphthalein (PP). Kemudian dititrasi dengan kalium hidroksida yang telah distandarisasi sampai terbentuk warna merah muda (merah jambu) yang stabil untuk minimal selama 30 detik (SNI 01-2901-2006).

3.4.4 Penetapan bilangan DOBI (Deterioration of Bleachability Index) ekstrak serat mesokarp kelapa sawit

Ditimbang 0,1 g ekstrak dimasukkan ke dalam labu ukuran 10 ml. Kemudian ditambahkan n-heksan sampai garis tanda. Dibaca absorbansi di spektrofotometer UV-Vis pada λ = 269 nm dan λ = 446 nm.

Rumus:

(39)

22

3.4.5 Penetapan kadar karoten ekstrak serat mesokarp kelapa sawit

Dilelehkan ekstrak dibawah titik leleh. Kemudian ditimbang 0,0445 g sampel dan dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml. Lalu ditambahkan n-heksan sampai garis tanda (LIB) dihomogenkan dan diambil 100 µl dari LIB kemudian diencerkan di labu tentukur 10 ml dengan n-heksan sampai garis tanda. Diukur absorbansinya pada panjang gelombang (λ) = 446 nm (PORIM, 1998).

Rumus:

Total karotenoid (ppm) =

B

BMKaroten

Abs

V

×

×

Keterangan: V = Volume pengenceran Abs = Absorbansi

BM Karoten = 383 g/mol

B = Berat sampel yang ditimbang

3.5 Pengujian Aktivitas Antioksidan

3.5.1 Prinsip metode peredaman radikal bebas DPPH

Pengukuran peredaman radikal DPPH (1,1 diphenyl-2-picryl-hidrazyl) oleh suatu senyawa yang mempunyai aktivitas antioksidan dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis.

3.5.2 Penentuan panjang gelombang serapan maksimum

(40)

23

3.5.3 Pembuatan larutan induk baku ekstrak (LIB ekstrak)

Sebanyak 25 mg ekstrak serat mesokarp kelapa sawit ditimbang, dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml, dilarutkan dengan 3 ml kloroform lalu volumenya dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda (konsentrasi 1000 ppm).

3.5.4 Penentuan aktivitas antioksidan sampel uji

Larutan induk baku ekstrak dipipet sebanyak 0,13 ml; 0,52 ml; 1 ml; 2,1 ml; 2,6 ml; 3,13 ml dan 3,9 ml ke dalam labu tentukur 10 ml untuk mendapatkan konsentrasi larutan uji 0,5 ppm; 2 ppm; 4 ppm; 8 ppm; 10 ppm; 12 ppm dan 15 ppm, ditambahkan 2 ml kloroform, lalu dikocok. Setelah itu, ditambahkan 2 ml larutan DPPH 0,5 mM (40 ppm) ke dalam masing-masing labu tentukur lalu volumenya dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda. Pengukuran dilakukan setelah didiamkan selama 60 menit menggunakan spektrofotometer UV-visible pada panjang gelombang 516 nm.

3.5.5 Penentuan nilai IC50

(41)

24

sebagai parameter untuk menentkan aktivitas antioksidan sample uji (Prakash, 2001).

3.6 Formulasi Sediaan Krim

3.6.1 Formula standar krim (Young, 1972)

R/ Asam stearat 12 g

Metil paraben 1 sendok spatula Parfum 1-3 tetes

Akuades ad 100

3.6.2 Formula modifikasi

Formula krim yang digunakan dimodifikasi tanpa gliserin, karena fungsinya sama dengan propilen glikol dan sorbitol sebagai humektan.

R/ Asam stearat 12 Setil alkohol 0,5

Sorbitol 5

Propilen glikol 3

Trietanolamin 1

Nipagin q.s

Parfum 1-3 tetes

Air suling ad 100

(42)

25

Tabel 3.1 Komposisi bahan dalam krim

Bahan Konsentrasi (%) b/b

F1 F2 F3 F4 F5 F6

Basis Krim 100 99,5 99 98 97 95

Ekstrak serat mesokarp kelapa sawit - 0,5 1 2 3 5

Oleum citri (tetes) 3 3 3 3 3 3

Keterangan: F: Formula, F1: Dasar krim (blanko), Krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit F2: 0,5%, F3: 1%, F4: 2%, F5: 3%, F6: 5%

3.6.3 Pembuatan sediaan krim

Asam stearat, setil alkohol dimasukkan ke dalam cawan penguap dan dilebur di atas penangas air pada suhu 70°C (massa I). Sorbitol, propilen glikol, Trietanolamin, metil paraben dilarutkan di dalam air panas bersuhu 70°C yang telah ditakar (massa II). Direndam lumpang porselen dan alu dalam air panas yang suhunya 70°C selama 10 menit. Kemudian keringkan lumpang dan alu, masukkan massa I ke dalam lumpang, kemudian massa II digerus konstan sampai hampir terbentuk massa krim ditambah ekstrak serat mesokarp kelapa sawit dengan variasi konsentrasi pada masing-masing formula, kemudian gerus kembali dan ditambahkan 3 tetes oleum citri, dihomogenkan sampai terbentuk krim. Bagan pembuatan sediaan krim dapat dilihat pada Lampiran 2 halaman 65.

3.7 Pemeriksaan Terhadap Sediaan Krim

3.7.1 Homogenitas sediaan krim

(43)

26

3.7.2 Tipe emulsi sediaan krim

Penentuan tipe emulsi sediaan dilakukan dengan penambahan sedikit biru metil ke dalam sediaan, jika homogen dalam fase luar sewaktu diaduk, maka emulsi tersebut adalah tipe minyak dalam air (m/a), tetapi bila hanya bintik-bintik biru berarti sediaan tersebut tipe emulsi air dalam minyak (a/m) (Ditjen POM, 1985).

3.7.3 Pengukuran pH sediaan krim

Pengukuran pH sediaan dilakukan dengan menggunakan pH meter. Alat terlebih dahulu dikalibrasi dengan menggunakan larutan dapar pH netral (pH 7,01) dan larutan dapar pH asam (pH 4,01) hingga alat menunjukkan harga pH tersebut. Kemudian elektroda dicuci dengan air suling, lalu dikeringkan dengan tissue. Sampel dibuat dalam konsentrasi 1% yaitu di timbang 1 gram sediaan dan diencerkan hingga 100 ml air suling. Kemudian elektroda dicelupkan dalam larutan tersebut. Dibiarkan alat menunjukkan harga pH sampai konstan. Angka yang ditunjukkan pH meter merupakan pH sediaan. Pengamatan dilakukan pada suhu kamar pada hari ke 0, 7, 14, 21, 28 dan 90 (Rawlins, 2003).

3.7.4 Pengamatan stabilitas sediaan krim

Masing-masing formula krim dimasukkan ke dalam pot plastik, disimpan pada suhu kamar dan diukur parameter-parameter kestabilan seperti bau, warna dan pH di evaluasi selama penyimpanan 90 hari dengan interval pengamatan 0, 7, 14, 21, 28 dan 90 hari (National Health Surveillance Agency, 2005).

3.8 Penentuan Viskositas Sediaan Krim

(44)

27

lalu spindel 64 diturunakan hingga spindel tercelup ke dalam formulasi. Selanjutnya alat dihidupkan dengan menekan tombol ON. Kecepata spindel diatur 12 rpm, kemudian dibaca skalanya (dial reading) dimana jarum merah yang bergerak telah stabil. Nilai viskositas (ɳ) dalam sentipoise (cps) diperoleh dari hasil perkalian skala baca (dial reading) dengan faktor koreksi (f) khusus untuk masing- masing kecepatan spindel. Pengamatan dilakukan pada suhu kamar pada hari ke 0, 7, 14, 21, 28 dan 90.

3.9Pengujian Iritasi Terhadap Sukarelawan

Percobaan ini dilakukan terhadap 12 orang sukarelawan untuk mengetahui apakah sediaan yang dibuat dapat menyebabkan gatal, kemerahan dan pengkasaran pada kulit.

Cara: Kosmetika dioleskan di belakang telinga atau di bagian lengan bawah, kemudian dibiarkan selama 24 jam dan lihat perubahan yang terjadi berupa gatal, kemerahan dan pengkasaran pada kulit (Wasitaatmadja, 1997).

3.10 Pengujian Efektivitas Anti-aging Terhadap Sukarelawan

(45)

28

yang telah ditetapkan di atas untuk dipakai dirumah. Pemakaian krim mulai dilakukan dengan pengolesan hingga merata setiap dua kali sehari yaitu pada malam dan pagi hari setiap hari selama 4 minggu. Perubahan kondisi kulit diukur setiap minggu selama 4 minggu dengan menggunakan alat skin analyzer dan

moisture checker, terdiri dari beberapa kelompok, yaitu: a. 3 sukarelawan pertama

kelompok I : 3 kulit pada mata kanan bagian lateral untuk formula blanko (krim tanpa ekstrak serat mesokarp kelapa sawit)

kelompok II : 3 kulit pada mata kiri bagian lateral untuk formula dengan krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit konsentrasi 0,5%

b. 3 sukarelawan kedua

kelompok III : 3 kulit mata kanan bagian lateral untuk formula dengan krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit konsentrasi 1%

kelompok IV : 3 kulit mata kiri bagian lateral untuk formula dengan krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit konsentrasi 2%

c. 3 sukarelawan ketiga

kelompok V : 3 kulit mata kanan bagian lateral untuk formula dengan krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit konsentrasi 3%

kelompok VI : 3 kulit mata kiri bagian lateral untuk formula dengan krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit konsentrasi 5%.

3.11 Analisis Data

(46)

29

normalitasnya. Kemudian dilanjutkan dianalisis menggunakan metode One Way

(47)

30

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Ekstraksi Serat Mesokarp Kelapa Sawit

Hasil ekstraksi dari 20 kg serat mesokarp kelapa sawit dengan menggunakan pelarut n-heksan 80 L, kemudian dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu ±40°C sampai diperoleh ekstrak berupa minyak sebanyak 1,53 kg (7,65%). Gambar ekstrak dapat dilihat pada Lampiran 5 halaman 69.

4.2 Hasil Karakterisasi

Hasil karakterisasi serat dan ekstrak serat mesokarp kelapa sawit dapat dilihat pada Tabel 4.1 dan perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 9 halaman 84.

Tabel 4.1 Hasil karakterisasi serat dan ekstrak mesokarp kelapa sawit

No Pemeriksaan Kadar

1 Kadar air serat 4,31%

2 Kadar air ekstrak 2,19%

3 Kadar asam lemak bebas ekstrak 9,46%

4 Nilai DOBI (Deterioration of Bleachability Index) ekstrak 3,63

5 Kadar karotenoid ekstrak 3835 ppm

(48)

31

adalah 2,93-3,23. Hal ini diketahui bahwa ekstrak memiliki kualitas yang baik karena di atas rentang dari nilai tersebut dan tingkat oksidasi ekstrak mesokarp kelapa sawit ini lebih baik dari Crude Palm Oil (CPO), warnanya tidak pucat sehingga masih kaya dengan karoten. DOBI dilakukan untuk menentukan tingkat oksidasi minyak (ekstrak) (Jusoh, et al., 2013).

4.3 Hasil Pengujian Aktivitas Antioksidan

Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak serat mesokarp kelapa sawit dengan metode peredaman radikal DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl) secara spektrofotometri.

4.3.1 Hasil penentuan panjang gelombang serapan maksimum

Pengukuran serapan maksimum larutan DPPH 40 ppm dalam metanol dengan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel. Data hasil pengukuran panjang gelombang maksimum dapat dilihat pada Gambar 4.1 berikut ini.

Gambar 4.1 Kurva serapan maksimum larutan DPPH 40 ppm dalam metanol

secara spektrofotometri visible

(49)

32

panjang gelombang 516 nm dan termasuk dalam kisaran panjang gelombang sinar tampak (400 nm - 800 nm) (Rohman, 2007).

4.3.2 Hasil analisis persen peredaman DPPH oleh sample uji

(50)

33

Tabel 4.2 Hasil penurunan absorbansi dan persen peredaman DPPH oleh ekstrak serat mesokarp kelapa sawit

Larutan uji Konsentrasi (ppm)

Gambar 4.2 Hubungan konsentrasi dengan persen peredaman radikal bebas DPPH oleh ekstrak serat mesokarp kelapa sawit.

4.3.3 Nilai IC50

Nilai IC50 diperoleh berdasarkan perhitungan persamaan regresi linier yang diperoleh dengan cara memplot konsentrasi larutan uji dan persen peredaman DPPH sebagai parameter aktivitas antioksidan, dimana konsentrasi sampel (ppm) sebagai absis (sumbu X) dan nilai % pemerangkapan sebagai ordinat (sumbu Y). Nilai IC50 (konsentrasi sampel uji yang mampu memerangkap radikal bebas sebesar 50%) digunakan sebagai parameter untuk menentukan aktivitas antioksidan sampel uji (Prakash, 2001). Hasil nilai korelasi (r2) yang didapat

0

(51)

34

adalah 0,9323, dimana hasil regresi ini tidak sempurna akibat tidak dilakukannya

operating time dari DPPH, dan sulitnya mencampurkan 2 larutan yang memiliki perbedaan kepolaran antara pelarut n-heksan untuk ekstrak serat mesokarp kelapa sawit dan pelarut metanol untuk DPPH, serta kekeliruan dalam memipet suatu larutan sehingga melewati batas kestabilan absorbansi dari campuran larutan yang diukur di spektrofotometer UV-Visible. Persamaan regresi dan hasil analisis IC50 dari ekstrak serat mesokarp kelapa sawit dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut ini.

Tabel 4.3 Persamaan regresi dan hasil analisis IC50 yang diperoleh dari ekstrak serat mesokarp kelapa sawit

Larutan Uji Persamaan regresi IC50 (ppm)

Ekstrak serat mesokarp kelapa sawit Y= 4,82 X + 8,19 8,67

Berdasarkan Tabel 4.3 di atas, diketahui bahwa aktivitas antioksidan ekstrak serat mesokarp kelapa sawit termasuk dalam kategori sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 5,26 ppm. Senyawa dikatakan sebagai antioksidan sangat kuat jika nilai IC50 kurang dari 50 ppm, kuat untuk IC50 bernilai 50 - 100 ppm, sedang jika IC50 bernilai 100 - 150 ppm dan lemah jika IC50 bernilai 151 - 200 ppm (Mardawati, dkk., 2008).

4.4 Pemeriksaan Terhadap Sediaan Krim

4.4.1 Pemeriksaan homogenitas sediaan krim

(52)

35

Tabel 4.4 Data pengamatan homogenitas sediaan krim

Formula Lama Pengamatan (Minggu)

0 1 2 3 4 12

Keterangan: F: Formula, F1: blanko (tanpa ekstrak) dan krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit F2: 0,5%, F3: 1 %, F4: 2%, F5: 3%, F6:5%, √: ada butiran kasar, -: homogen

Berdasarkan hasil pengamatan homogenitas krim pada Tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa sediaan krim yang dibuat tidak terdapat butiran kasar pada gelas objek, maka semua sediaan krim dikatakan homogen.

4.4.2 Pemeriksaan tipe emulsi sediaan krim

Hasil penentuan tipe emulsi sediaan krim dapat dilihat pada Tabel 4.5 dan Lampiran 7 halaman 73.

Tabel 4.5 Data kelarutan metil biru pada sediaan krim

No Formula Kelarutan Biru Metil pada Sediaan

Ya Tidak

(53)

36

emulsi minyak dalam air (m/a) (Ditjen POM, 1985). Tipe emulsi ini memiliki keuntungan yaitu lebih mudah menyebar di permukaan kulit, tidak lengket dan mudah dihilangkan dengan adanya pencucian.

4.4.3 Hasil pengukuran pH sediaan

Hasil pengukuran pH sediaan krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit dilakukan dengan menggunakan pH meter. Tabel 4.6 di bawah ini, memperlihatkan bahwa semakin banyak konsentrasi ekstrak serat mesokarp kelapa sawit yang ditambahkan ke dalam sediaan krim maka pH semakin menurun atau semakin asam. Hal ini dapat disebabkan karena banyaknya kandungan asam lemak yang terdapat di dalam ekstrak dan adanya air juga dapat mempengaruhi pH menjadi asam karena terjadi hidrolisa pada trigliserida dengan bantuan enzim lipase di dalam minyak tersebut (Silaban, dkk., 2013). Penurunan pH ini masih dalam pH fisiologis kulit yaitu 4,5 – 6,5 dan masih aman untuk digunakan (Tranggono dan Latifah, 2007).

Tabel 4.6 Data pengukuran pH sediaan krim

Formula Lama Pengamatan (Minggu)

0 1 2 3 4 12

F1 6,3 6,3 6,3 6,3 6,3 6,0

F2 6,3 6,3 6,3 6,2 6,1 5,9

F3 6,2 6,3 6,2 6,2 6,1 5,9

F4 6,2 6,2 6,2 6,1 6,0 5,8

F5 6,2 6,2 6,2 6,0 5,9 5,6

F6 6,1 6,2 6,2 6,0 5,9 5,5

Keterangan: F: Formula, F1: blanko (tanpa ekstrak) dan krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit F2: 0,5%, F3: 1 %, F4: 2%, F5: 3%, F6:5%

(54)

37

oleat bermanfaat untuk kesehatan kulit yaitu sebagai kelembaban kulit (Mora, dkk., 2013).

4.4.4 Pemeriksaan stabilitas sediaan krim

Hasil organoleptis sediaan krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit yang dibuat dengan berbagai variasi konsentrasi ekstrak dan blanko memiliki perbedaan kecerahan warna dari masing-masing sediaan, data organoleptis dapat dilihat pada Tabel 4.7 dan data hasil pengamatan stabilitas selama 90 hari dapat dilihat pada Tabel 4.8 di bawah ini.

Tabel 4.7 Data organoleptis sediaan krim yang dibuat

Formula Penampilan

Warna Bau Konsistensi

F1 Putih Jeruk semi padat

F2 Putih kekuningan Jeruk semi padat

F3 Putih kekuningan Jeruk semi padat

F4 Putih kekuningan Jeruk semi padat

F5 Kuning Jeruk semi padat

F6 Oranye Jeruk semi padat

Keterangan: F: Formula, F1: blanko (tanpa ekstrak) dan krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit F2: 0,5%, F3: 1 %, F4: 2%, F5: 3%, F6:5%

Tabel 4.8 Data hasil pengamatan terhadap kestabilan sediaan krim pada saat sediaan selesai dibuat, 7, 14, 21, 28 dan 90 hari

No Formula Pengamatan (Hari) Selesai

(55)

38

Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa masing-masing formula yang telah diamati selama 90 hari memberikan hasil yang baik yaitu tidak mengalami perubahan warna, bau dan pemisahan pada fase emulsinya. Hal ini menunjukkan bahwa dari segi penampilan krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit stabil dalam penyimpanan selama 90 hari. Gambar sediaan krim yang telah dibuat disimpan selama 90 hari di dalam suhu kamar dapat dilihat pada Lampiran 6 halaman 70.

Stabilitas dari suatu sediaan farmasi dapat dilihat dari ada tidaknya perubahan warna, bau dan pH selama penyimpanan. Perubahan-perubahan tersebut dapat terjadi jika bahan-bahan yang terdapat dalam sediaan tersebut teroksidasi. Sediaan emulsi dikatakan tidak stabil jika mengalami creaming dan inversi. Creaming adalah terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, dimana lapisan yang satu mengandung butir-butir tetesan (fase terdispersi) lebih banyak daripada lapisan yang lain (Martin, dkk., 2009). Inversi adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi dari tipe minyak dalam air (m/a) menjadi air dalam minyak (a/m) atau sebaliknya (Anief, 2000).

4.5 Hasil Viskositas Sediaan Krim

(56)

39

adanya pemecahan struktur yang tidak terbentuk kembali dengan segera atau dikatakan lain adanya pergeseran aplikasi.

Viskositas yang dapat diterima untuk sediaan semisolid membutuhkan pemencetan dari tube adalah sekitar 50 - 100 Poise dengan nilai optimumnya 200 Poise (Mahanani, dkk., 2012). Contoh perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 12 halaman 91. Hasil penentuan viskositas sediaan dapat dilihat pada Tabel 4.9 bawah ini.

Tabel 4.9 Data hasil pengukuran viskositas sediaan krim selama 90 hari (3 bulan)

Formula Pengamatan (Minggu)

0 1 2 3 4 12

Keterangan: F: Formula, F1: blanko (tanpa ekstrak) dan krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit F2: 0,5%, F3: 1 %, F4: 2%, F5: 3%, F6:5%.

4.6 Hasil Uji Iritasi Terhadap Kulit Sukarelawan

Hasil uji iritasi terhadap kulit sukarelawan yang dioleskan pada kulit yang tipis di bagian bawah lengan dibiarkan selama 24 jam.

Tabel 4.10 Hasil uji iritasi terhadap kulit sukarelawan

No Pernyataan Sukarelawan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

2 Gatal - - - -

(57)

40

Berdasarkan data pada Tabel 4.10 pada halaman 39, menunjukkan ternyata terlihat tidak ada efek samping berupa gatal, kemerahan dan pengkasaran pada kulit yang ditimbulkan oleh sediaan krim yang dioleskan ke kulit.

4.7 Hasil Pengujian Efektivitas Anti-aging Terhadap Sukarelawan

Pengujian efektivitas anti-aging menggunakan skin analyzer Aramo, parameter uji meliputi pengukuran kadar air (moisture), kehalusan kulit (evenness) dan besar pori (pore), banyaknya noda (spot), keriput (wrinkle) dan kedalaman keriput (wrinkle’s depth). Pengukuran efektivitas anti-aging dimulai dengan mengukur kondisi awal kulit mata bagian lateral sukarelawan bertujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh krim ekstrak mesokarp kelapa sawit dalam memulihkan kulit yang mengalami penuaan dini. Contoh hasil pengukuran uji efektivitas anti-aging dapat dilihat pada Lampiran 8 halaman 74. Data yang diperoleh pada setiap parameter anti-aging dianalisis secara statistik dengan metode ANAVA lalu dilanjutkan dengan uji Post Hoc Tukey HSD untuk melihat perbedaan nyata dari setiap perlakuan pada sukarelawan. Pengujian Post Hoc Tukey HSD dilakukan untuk melihat kelompok formula mana yang memiliki efek sama atau berbeda dan efek yang terkecil sampai terbesar atara satu dengan yang lainnya. Pengujian ini dilakukan terhadap semua perlakuan dari minggu ke-1 sampai minggu ke-4.

4.7.1 Kadar air (Moisture)

Kadar air kulit mata bagian lateral sukarelawan diukur menggunakan alat

(58)

41

Tabel 4.11 Data hasil pengukuran kadar air (moisture) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan

Krim Sukarelawan Persentase kadar air

Kondisi

Keterangan: A: Dasar krim (blanko), krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit B: 0,5%, C: 1%, D: 2%, E: 3%, F: 5%.

(59)

42

Gambar 4.3 Grafik hasil pengukuran kadar air (moisture) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan kelompok blanko, krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0,5; 1; 2; 3 dan 5% selama 4 minggu.

Hasil telah diperoleh pada Tabel 4.11 dan Gambar 4.3, menunjukkan bahwa kondisi awal kulit mata bagian lateral semua kelompok sukarelawan adalah dehidrasi (0 - 29). Hasil analisa statistik dari data yang diperoleh pada Tabel 4.11 dan Gambar 4.3, sebelum perawatan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p ≥ 0,05) antara kelompok sediaan krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit dengan blanko. Perawatan minggu ke-1 terdapat perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) antara krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 2; 3 dan 5% dengan blanko. Minggu ke-2 terdapat perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) antara krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 1; 3 dan 5% dengan blanko. Minggu ke-3 terdapat perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) terlihat pada krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 2% dan 5% dengan krim 0,5% dan blanko. Minggu ke-4 terdapat perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) terlihat pada krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 1; 3 dan 5% dengan blanko. Sediaan krim yang menghasilkan efek terbesar dalam meningkatkan kadar air kulit terlihat pada krim ekstrak serat

0

Kadar Air (

Moisture

)

(60)

43

mesokarp kelapa sawit 5% (28,33 menjadi 33,33), krim yang menghasilkan efek terkecil terlihat pada krim blanko (27,33 menjadi 30,33). Hal ini menunjukkan bahwa krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 5% yang paling baik dalam meningkatkan kadar air kulit. Hasil statistik dapat dilihat pada Lampiran 13 halaman 92.

Menurut Pasaribu (2004), bahwa minyak sawit mengandung asam lemak tak jenuh, yaitu asam linoleat, asam linolenat, dan asam oleat yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan kulit (Mora, dkk., 2013). Asam linoleat dan asam linolenat dapat membentuk lapisan lemak buatan yang tipis di atas permukaan kulit dan berfungsi untuk mengurangi terjadinya penguapan air di kulit (Draelos, 2009; Suryanto, dkk., 2012). Oleh karena itu, semakin banyak kandungan ekstrak (minyak) serat mesokarp kelapa sawit yang terdapat di dalam sediaan krim maka semakin cepat menimbulkan efek dalam meningkatkan kadar air kulit.

4.7.2 Kehalusan (Evenness)

(61)

44

Tabel 4.12 Hasil pengukuran kehalusan (evenness) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan

Krim Sukarelawan Kehalusan kulit Kondisi

Keterangan : A: Dasar krim (blanko), krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit B: 0,5%, C: 1%, D: 2%, E: 3%, F: 5%.

(62)

45

Gambar 4.4 Grafik hasil pengukuran kehalusan (evenness) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan kelompok blanko, krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0,5; 1; 2; 3 dan 5% selama 4 minggu.

Perawatan minggu ke-2 terdapat perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) terlihat pada krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 5% dengan krim 1% dan blanko; dan krim 3% dengan blanko. Minggu ke-3 terdapat perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) antara krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 3% dengan 0,5; 1% dan blanko; dan 5% dengan blanko. Minggu ke-4 terdapat perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) antara krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 3 dan 5% dengan 0,5; 1% dan blanko; dan krim 1 dan 2% dengan blanko. Hasil statistik dapat dilihat pada Lampiran 13 halaman 94.

Krim yang memberikan efek terbesar dalam menghaluskan kulit terlihat mulai di minggu ke-2 adalah krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 5% (34,00 menjadi 32,00); minggu ke-3 (34,00 menjadi 31,67); minggu ke-4 (34,00 menjadi 28,67), krim yang memberikan efek terkecil terlihat di minggu ke-4 adalah krim 2% (35,67 menjadi 30,33) dan krim 3% (35,00 menjadi 28,67). Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak kandungan ekstrak (minyak) di dalam

Gambar

Gambar 1.1 Kerangka pikir penelitian
Gambar 1 1 Kerangka pikir penelitian . View in document p.22
Gambar 2.1 Penampang struktur kulit (Arisanty, 2013).
Gambar 2 1 Penampang struktur kulit Arisanty 2013 . View in document p.29
Tabel 2.1  Parameter hasil pengukuran dengan skin analyzer
Tabel 2 1 Parameter hasil pengukuran dengan skin analyzer . View in document p.34
Tabel 3.1 Komposisi bahan dalam krim
Tabel 3 1 Komposisi bahan dalam krim . View in document p.42
Tabel 4.1  Hasil karakterisasi serat dan ekstrak mesokarp kelapa sawit
Tabel 4 1 Hasil karakterisasi serat dan ekstrak mesokarp kelapa sawit . View in document p.47
Gambar 4.1  Kurva serapan maksimum larutan DPPH 40 ppm dalam metanol secara spektrofotometri visible
Gambar 4 1 Kurva serapan maksimum larutan DPPH 40 ppm dalam metanol secara spektrofotometri visible . View in document p.48
Gambar 4.2  Hubungan konsentrasi dengan persen peredaman radikal bebas DPPH oleh ekstrak serat mesokarp kelapa sawit
Gambar 4 2 Hubungan konsentrasi dengan persen peredaman radikal bebas DPPH oleh ekstrak serat mesokarp kelapa sawit. View in document p.50
Tabel 4.2
Tabel 4 2 . View in document p.50
Tabel 4.3 Persamaan regresi dan hasil analisis IC50 yang diperoleh dari ekstrak serat mesokarp kelapa sawit
Tabel 4 3 Persamaan regresi dan hasil analisis IC50 yang diperoleh dari ekstrak serat mesokarp kelapa sawit . View in document p.51
Tabel 4.4 Data pengamatan homogenitas sediaan krim
Tabel 4 4 Data pengamatan homogenitas sediaan krim . View in document p.52
Tabel 4.5 Data kelarutan metil biru pada sediaan krim
Tabel 4 5 Data kelarutan metil biru pada sediaan krim . View in document p.52
Tabel 4.6 Data pengukuran pH sediaan krim
Tabel 4 6 Data pengukuran pH sediaan krim. View in document p.53
Tabel 4.8  Data hasil pengamatan terhadap kestabilan sediaan krim pada saat sediaan selesai dibuat, 7, 14, 21, 28 dan 90 hari
Tabel 4 8 Data hasil pengamatan terhadap kestabilan sediaan krim pada saat sediaan selesai dibuat 7 14 21 28 dan 90 hari . View in document p.54
Tabel 4.7 Data organoleptis sediaan krim yang dibuat
Tabel 4 7 Data organoleptis sediaan krim yang dibuat . View in document p.54
Tabel 4.9 Data hasil pengukuran viskositas sediaan krim selama 90 hari (3 bulan)
Tabel 4 9 Data hasil pengukuran viskositas sediaan krim selama 90 hari 3 bulan . View in document p.56
Tabel 4.10  Hasil uji iritasi terhadap kulit sukarelawan
Tabel 4 10 Hasil uji iritasi terhadap kulit sukarelawan . View in document p.56
Tabel 4.11 Data hasil pengukuran kadar air (moisture) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan
Tabel 4 11 Data hasil pengukuran kadar air moisture pada kulit mata bagian lateral sukarelawan . View in document p.58
Gambar 4.3   Grafik hasil pengukuran kadar air (moisture) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan kelompok blanko, krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0,5; 1; 2; 3 dan 5% selama 4 minggu
Gambar 4 3 Grafik hasil pengukuran kadar air moisture pada kulit mata bagian lateral sukarelawan kelompok blanko krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0 5 1 2 3 dan 5 selama 4 minggu. View in document p.59
Tabel 4.12  Hasil pengukuran kehalusan (evenness) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan
Tabel 4 12 Hasil pengukuran kehalusan evenness pada kulit mata bagian lateral sukarelawan . View in document p.61
Gambar 4.4    Grafik hasil pengukuran kehalusan (evenness) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan kelompok blanko, krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0,5; 1; 2; 3 dan 5% selama 4 minggu
Gambar 4 4 Grafik hasil pengukuran kehalusan evenness pada kulit mata bagian lateral sukarelawan kelompok blanko krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0 5 1 2 3 dan 5 selama 4 minggu. View in document p.62
Gambar 4.5 di bawah ini dan Tabel 4.13 pada halaman 47.
Gambar 4 5 di bawah ini dan Tabel 4 13 pada halaman 47 . View in document p.63
Tabel 4.13  Hasil pengukuran besar pori (pore) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan
Tabel 4 13 Hasil pengukuran besar pori pore pada kulit mata bagian lateral sukarelawan . View in document p.64
Tabel 4.14 Hasil pengukuran noda (spot) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan
Tabel 4 14 Hasil pengukuran noda spot pada kulit mata bagian lateral sukarelawan . View in document p.66
Gambar 4.6   Grafik hasil pengukuran banyak noda (spot) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan kelompok blanko, krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0,5; 1; 2; 3 dan 5% selama 4 minggu
Gambar 4 6 Grafik hasil pengukuran banyak noda spot pada kulit mata bagian lateral sukarelawan kelompok blanko krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0 5 1 2 3 dan 5 selama 4 minggu. View in document p.67
Gambar 4.7    Grafik hasil pengukuran banyaknya keriput (wrinkle) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan kelompok blanko, krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0,5; 1; 2; 3 dan 5% selama 4 minggu
Gambar 4 7 Grafik hasil pengukuran banyaknya keriput wrinkle pada kulit mata bagian lateral sukarelawan kelompok blanko krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0 5 1 2 3 dan 5 selama 4 minggu. View in document p.68
Tabel 4.15  Hasil pengukuran keriput (wrinkle) pada kulit  mata bagian lateral sukarelawan
Tabel 4 15 Hasil pengukuran keriput wrinkle pada kulit mata bagian lateral sukarelawan . View in document p.69
Tabel 4.16 Hasil pengukuran kedalaman keriput (wrinkle’s depth) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan
Tabel 4 16 Hasil pengukuran kedalaman keriput wrinkle s depth pada kulit mata bagian lateral sukarelawan . View in document p.71
Gambar 4.8  Grafik hasil pengukuran kedalaman keriput (wrinkle’s depth) pada kulit mata bagian lateral sukarelawan kelompok blanko, krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0,5; 1; 2; 3 dan 5% selama 4 minggu
Gambar 4 8 Grafik hasil pengukuran kedalaman keriput wrinkle s depth pada kulit mata bagian lateral sukarelawan kelompok blanko krim ekstrak serat mesokarp kelapa sawit 0 5 1 2 3 dan 5 selama 4 minggu. View in document p.72

Referensi

Memperbarui...

Download now (121 pages)
Lainnya : Formulasi Dan Uji Efek Anti-Aging Krim Ekstrak Serat Mesokarp Kelapa Sawit Perumusan Masalah Hipotesis Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Kerangka Pikir Penelitian Penyebab penuaan dini Penuaan Dini Epidermis Dermis Fungsi kulit Anti-aging Sediaan Krim TINJAUAN PUSTAKA Skin Analyzer TINJAUAN PUSTAKA Penetapan kadar air ekstrak serat mesokarp kelapa sawit Penetapan asam lemak bebas ekstrak serat mesokarp kelapa sawit Penetapan bilangan DOBI Deterioration of Bleachability Index ekstrak Penetapan kadar karoten ekstrak serat mesokarp kelapa sawit Penentuan panjang gelombang serapan maksimum Pembuatan larutan induk baku ekstrak LIB ekstrak Penentuan aktivitas antioksidan sampel uji Penentuan nilai IC Sukarelawan Penentuan Viskositas Sediaan Krim Pengujian Iritasi Terhadap Sukarelawan Pengujian Efektivitas Anti-aging Terhadap Sukarelawan Hasil penentuan panjang gelombang serapan maksimum Hasil analisis persen peredaman DPPH oleh sample uji Hasil pengukuran pH sediaan Kadar air Moisture Kehalusan Evenness Pemeriksaan Terhadap Sediaan Krim .1 Pemeriksaan homogenitas sediaan krim Pori Pore Pemeriksaan Terhadap Sediaan Krim .1 Pemeriksaan homogenitas sediaan krim Noda Spot Pemeriksaan Terhadap Sediaan Krim .1 Pemeriksaan homogenitas sediaan krim Keriput Wrinkle Pemeriksaan Terhadap Sediaan Krim .1 Pemeriksaan homogenitas sediaan krim Hasil Ekstraksi Serat Mesokarp Kelapa Sawit Hasil Karakterisasi Hasil Viskositas Sediaan Krim Kadar air Moisture Hasil Pengujian Efektivitas Anti-aging Terhadap Sukarelawan Kehalusan Evenness Hasil Pengujian Efektivitas Anti-aging Terhadap Sukarelawan Pori Pore Hasil Pengujian Efektivitas Anti-aging Terhadap Sukarelawan Noda Spot Hasil Pengujian Efektivitas Anti-aging Terhadap Sukarelawan Keriput Wrinkle Hasil Pengujian Efektivitas Anti-aging Terhadap Sukarelawan Kedalaman keriput Wrinkle’s Depth Hasil Uji Iritasi Terhadap Kulit Sukarelawan Kesimpulan Saran tipe emulsi homogenitas HASIL DAN PEMBAHASAN Kadar air Moisture Kehalusan Evenness Pori Pore Noda Spot Kesimpulan Saran KESIMPULAN DAN SARAN tipe emulsi homogenitas KESIMPULAN DAN SARAN