Feedback

Respons Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Varietas Jagung (Zea mays L.) Terhadap Pemberian Pupuk Hayati Cair

Informasi dokumen
RESPONS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BEBERAPA VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK HAYATI CAIR SAHRUL HABIBI DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara RESPONS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BEBERAPA VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK HAYATI CAIR SKRIPSI Oleh : SAHRUL HABIBI 050301032 / BDP-AGRONOMI DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara RESPONS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BEBERAPA VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK HAYATI CAIR SKRIPSI OLEH : SAHRUL HABIBI 050301032 BDP - AGRONOMI Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S1) di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara RESPONS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BEBERAPA VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK HAYATI CAIR SKRIPSI OLEH : SAHRUL HABIBI 050301032 BDP - AGRONOMI Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana (S1) di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan Disetujui oleh : Disetujui oleh: (Prof. DR. Ir. B. S. J Damanik, MSc) Ketua Dosen Pembimbing ( Ir. Ratna Rosanty Lahay, MP ) Anggota Dosen Pembimbing DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Judul Skripsi Nama NIM Departemen Program Studi : Respons Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Varietas Jagung (Zea mays L.) terhadap Pemberian Pupuk Hayai Cair : Sahrul Habibi : 050301032 : Budidaya Pertanian : Agronomi Disetujui oleh : Disetujui oleh : ( Prof. DR. Ir. B. S. J Damanik, MSc) Ketua Dosen Pembimbing ( Ir. Ratna Rosanty Lahay, MP) Anggota Dosen Pembimbing Mengetahui, (Ir. T. Sabrina, M. Agr,Sc, Ph.D) Ketua Departemen Budi Daya Pertanian Tanggal Lulus : Universitas Sumatera Utara ABSTRACT SAHRUL HABIBI : Response growth and production some varieties of corn ( Zea mays L. ) with biofertilizer, supervised by B. SENGLI. J DAMANIK and RATNA R. LAHAY. Productivity of plant is affected by varieties and fertilizing. Therefore, a research has been conducted at Sei Mencirim field, Deli Serdang ± 25 m above sea level from October 2010 until January 2011. Experimental was conducted using by Randomize Block Design with double factors consist of hybrid varieties (Pioneer -12, Bisi -2 and NK22) and biofertilizer ( 0, 5, 10, 15, 20 ml/l of water ), three replications was used to the treatments. Data were analyzed with ANNOVA and continued with HSD. The results showed that varieties were significantly effect diameter of stem at 3 weeks after plant, dry weight plant (g) at 3 weeks after plant, relative growth rate at 3 - 6 weeks after plant, weight 100 of seeds, production sample per plant and production per plot. Liquid biofertilizer were significantly effect dimeter of stem (mm) at 3 weeks after plant, leaf area (cm2) at 6 weeks after plant, relative growth rate at 3 - 6 weeks after plant, weight 100 of seeds, production sample per plant and production per plot. The combination between varieties and liquid biofertilizer were significantly to weight 100 of seeds and sample production per plant. Key Words : Varieties. Biofertilizer, Growth and production, Universitas Sumatera Utara ABSTRAK SAHRUL HABIBI : Respons Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Varietas Jagung (Zea mays L.), terhadap Pemberian Pupuk Hayati Cair di bimbing oleh B. S. J. DAMANIK dan RATNA R. LAHAY. Produktivitas tanaman dipengaruhi oleh varietas dan input yang diberikan tanaman yaitu salah satunya pemupukan. Untuk itu suatu penelitian telah dilakukan di lahan pertanian masyarakat di Sei Mencirim, Deli Serdang pada ketinggian ( ± 25 mdpl) pada bulan Oktober 2010 - Januari 2011. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua faktor yaitu Varietas ( Pioneer-12, Bisi-2 dan NK 22) dan Pupuk hayati cair ( 0 ml/ltr air, 5 ml/ltr air, 10 ml/ltr air, 15 ml/ltr air dan 20 ml/ltr air) perlakuan diulang tiga kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. Hasil analisis data menunjukkan bahwa perbedaan varietas berpengaruh nyata terhadap diameter batang 3 minggu setelah tanam (MST), berat kering 3 MST, laju tumbuh relatif 3-6 MST, bobot 100 biji persampel, produksi per tanaman dan produksi perplot. Pupuk berpengaruh nyata terhadap nyata terhadap diameter batang 3 MST, luas daun 6 MST, laju tumbuh relatif 3-6, MST bobot 100 biji persampel, produksi per tanaman dan produksi per plot. Interaksi antara varietas dengan pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap bobot 100 biji persampel, produksi per tanaman. Kata Kunci : Varietas, Pupuk Hayati, Pertumbuhan dan Produksi Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Sahrul Habibi Ritonga, dilahirkan pada tanggal 8 Desember 1986 di desa Sitaratoit, Padangsidimpuan yang merupakan anak pertama dari lima bersaudara, putra dari Ayah Marahotlan Ritonga dan Ibu Suryani Penulis menyelesaikan pendidikan SMA Nurul Ilmi Padangsidimpuan pada tahun 2005. Kemudian penulis terdaftar sebagai mahasiswa di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan memilih Departemen Budidaya Pertanian Program Studi Agronomi. Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah menjadi Asisten Laboratorium Biologi Umum (2007-2008), Laboratorium Botani (2008-2010), Laboratorium Morfologi dan Taksonomi (2009-2010), Laboratorium Anatomi Tumbuhan (2009-2010). Penulis juga aktif sebagai anggota HIMADITA. Pada tahun 2009 penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di kebun PTPN IV Adolina Perbaungan, Serdang Bedagai. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Judul dari skripsi ini adalah “Respons Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Varietas Jagung (Zea mays L.) Terhadap Pemberian Pupuk Hayati Cair” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Pada kesempatan ini penulis ucapkan terimaksih yang sebesar-besarnya kepada Prof. Dr. Ir. B S J Damanik, MSc dan Ir. Ratna Rosanti Lahay, MP selaku ketua dan anggota komisi pembimbing yang telah membimbing penulis selama menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih penulis ucapkan yang teramat besar kepada kedua orang tua saya, Ayahanda Marahotlan Ritonga dan Ibu Suryani yang tercinta, atas kasih sayang baik moril, materil, maupun doa yang telah diberikan selama penyelesaian skripsi ini. Juga kepada adik-adik yang kusayang Gusnadi, Imam Fachru Rozi, Irma Yanti dan sikecil Wildan Affan. yang telah mendukung dan memberi semangat kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada Amalia Syahputri, Jamilin, Muhammad Syahril Lubis, Acha, Didik, Aji Gendut, Rahmat Ridwan, Irwanto, Herry Kecik, Fahrin, Yudhi06, Fadli08 dan kepada seluruh temam-teman Armyplant stambuk ’05 dan adik-adik 08, terima kasih atas persaudaraan dan kebersamaan yang telah terjalin serta atas dukungan yang diberikan kepada penulis dalam menyelesaikan studi. Universitas Sumatera Utara Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan masukan dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini di masa yang akan datang. Medan, Juni 2011 Penulis Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK. i ABSTRACT . ii RIWAYAT HIDUP . iii KATA PENGANTAR . iv DAFTAR TABEL . vii DAFTAR GAMBAR . . viii DAFTAR LAMPIRAN . x PENDAHULUAN Latar Belakang . 1 Tujuan Penelitian . 3 Hipotesa Penelitian. 3 Kegunaan Penelitian. 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman. 4 Syarat Tumbuh . 6 Iklim. 6 Tanah . 7 Varietas Hibrida . 8 Pupuk Hayati . 10 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu . 13 Bahan dan Alat . 13 Metode Penelitian . 13 PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan lahan . 16 Penyiapan Benih . 16 Penanaman . 16 Aplikasi Pemupukan . 16 Pemeliharaan . 17 Penjarangan . 17 Penyiraman . 17 Penyiangan. 17 Pengendalian Hama dan Penyakit . 17 Panen . 17 Pengeringan dan pemipilan . 18 Pengamatan Parameter . 19 Dimeter Batang (mm) . 19 Luas daun (cm2). 19 Jumlah Klorofl. 19 Universitas Sumatera Utara Bobot Kering Tanaman (g) . 19 Laju Tumbuh Relatif (g.tan-1.h-1) . 20 Laju Assimilasi Bersih (g.m-2.h-1) . 20 Bobot 100 biji per sampel (g). 20 Produksi per tanaman . 21 Produksi per plot . 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil . 22 Pembahasan . 44 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan . 45 Saran . 45 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL No. Judul Halaman 1. Diameter Batang (mm) pada perlakuan Varietas dan Pupuk Hayati serta interaksi antara varietas dengan pupuk Hayati pada umur 3, 6, 9 dan 12 MST . 23 2. Luas daun (cm2) pada perlakuan Varietas dan Pupuk Hayati serta interaksi antara varietas dengan pupuk Hayati pada umur 3, 6, 9 dan 12 MST. 25 3. Jumlah klorofil pada perlakuan Varietas dan Pupuk Hayati serta interaksi antara varietas dengan pupuk Hayati pada umur 8 MST. 26 4. Bobot Kering Tanaman (g) pada perlakuan Varietas dan Pupuk Hayati serta interaksi antara varietas dengan Pupuk Hayati pada umur 3, 6, 9 dan 12 MST . 28 5. Laju Tumbuh Relatif (g.tan-1.h-1) pada perlakuan Varietas Pupuk Hayati serta interaksi antara varietas dengan Pupuk Hayati pada umur 3-6, 6-9 dan 9-12 MST . 30 6. Laju Assimilasi Bersih (g.m-2.h-1) pada perlakuan Varietas Pupuk Hayati serta interaksi antara varietas dengan pupuk Hayati pada umur 3-6, 6-9 dan 9-12 MST . 32 7. Bobot 100 biji per sampel (g) pada perlakuan Varietas dan Pupuk Hayati serta interaksi antara varietas dengan Pupuk Hayati . 33 8. Produksi per tanaman (g) pada perlakuan Varietas dan Pupuk Hayati serta interaksi antara varietas dengan Pupuk Hayati . 36 9. Produksi per plot (kg) pada perlakuan Varietas dan Pupuk Hayati serta interaksi antara varietas dengan pupuk Hayati . 38 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR No. Judul Halaman 1. Hubungan antara varietas dengan parameter bobot 100 biji per sampel (g) . 21 2. Hubungan antara varietas dengan pupuk hayati pada parameter bobot 100 biji per sampel (g) . 24 3. Hubungan antara varietas dengan parameter produksi per tanaman (g) . 26 4. Hubungan antara varietas dengan pupuk hayati pada parameter produksi per tanaman (g). 27 5. Hubungan antara varietas dengan parameter produksi per plot (kg) . 29 6. Hubungan antara pupuk hayati pada parameter produksi per plot (kg) . 30 7. Gambar mahasiswa dan dosen pembimbing . 68 8. Tongkol jagung masing-masing varietas . 69 9. Pipilan kering jagung masing-masing varietas . 70 10. Hamparan lahan penelitian . 71 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN No. Judul Halaman 1. Data pengamatan diameter batang (mm)3 MST . 38 2. Sidik ragam diameter batang 3 MST . 38 3. Data pengamatan diameter batang (mm) 6 MST . 39 4. Sidik ragam diameter batang 6 MST . 39 5. Data pengamatan diameter batang (mm) 9 MST . 40 6. Sidik ragam diameter batang 9 MST . 40 7. Data pengamatan diameter batang (mm)12 MST . .41 8. Sidik ragam diameter batang 12 MST . 41 9. Data pengamatan luas daun (cm2)3 MST . 42 10. Sidik ragam luas daun 3 MST . 42 11. Data pengamatan luas daun (cm2)6 MST . 43 12. Sidik ragam luas daun 6 MST . 43 13. Data pengamatan luas daun (cm2)9 MST . 44 14. Sidik ragam luas daun 9 MST . 44 15. Data pengamatan luas daun (cm2)12 MST . 45 16. Sidik ragam luas daun 12 MST. 45 17. Data pengamatan berat kering tanaman (g) 3 MST . 46 18. Sidik ragam berat kering tanaman 3 MST. 46 19. Data pengamatan berat kering tanaman (g) 6 MST . 47 20. Sidik ragam berat kering tanaman 6 MST. 47 21. Data pengamatan berat kering tanaman (g) 9 MST . 48 22. Sidik ragam berat kering tanaman 9 MST. 48 23. Data pengamatan berat kering tanaman (g) 12 MST . 49 24. Sidik ragam berat kering tanaman 12 MST . 49 25. Data pengamatan jumlah akibat dari satu perbedaan perlakuan yang sangat kecil atau tidak ada perbedaan perlakuan sama sekali atau galat percobaan terlalu besar atau keduanya. Jumlah Daun diatas tongkol (helai) Dari hasil sidik ragam pada lampiran 24 dapat dilihat bahwa varietas dan pupuk belum berbeda nyata terhadap peubah jumlah daun di atas tongkol. Rataan jumlah daun di atas tongkol dapat dilihat pada tabel 4. Universitas Sumatera Utara Dari Tabel 4 di bawah ini dapat dilihat bahwa Bisma mempunyai jumlah daun di atas tongkol yang sama banyak dengan SHS-4. Varietas Bisma yang mempunyai nilai rataan jumlah daun di atas tongkol tertinggi (7 helai) terdapat pada pemberian pupuk N dengan dosis 2,6 dan 4,4 g/tanaman (300 dan 512 kg Urea per hektar) dan K dengan dosis 1,3 g/tanaman (150 kg KCl per hektar) dan terendah (6 helai) ) terdapat pada pemberian pupuk N dengan dosis 0 g/tanaman dan K dengan dosis 1,3 g/tanaman (150 kg KCl per hektar). Varietas SHS-4 yang mempunyai nilai jumlah daun diatas tongkol tertinggi (7 helai) terdapat pada pemberian pupuk N dengan dosis 2,6 g/tanaman (300 kg Urea per hektar) dan K dengan dosis 1,3 g/tanaman (150 kg KCl per hektar) dan terendah (6 helai) terdapat pada pemberian pupuk N dengan dosis 0 g/tanaman dan K dengan dosis 1,3 g/tanaman (150 kg KCl per hektar). Tabel 4. Rataan Jumlah Daun di Atas Tongkol (helai). Pupuk Varietas V1(Bisma) V2(SHS-4) 1 6,0 6,0 2 7,0 6,5 3 6,5 7,0 4 7,0 6,3 5 6,0 6,5 6 6,5 6,5 7 6,0 6,0 8 6,0 7,0 9 6,5 6,5 10 6,5 6,5 11 7,0 6,0 12 7,0 6,0 13 7,0 7,5 Rataan 6,5 6,5 Rataan 6,0 6,8 6,8 6,6 6,3 6,5 6,0 6,5 6,5 6,5 6,5 6,5 7,3 6,5 Dari Tabel 4 diatas dapat dilihat bahwa Varietas, Pupuk dan interaksi belum berbeda nyata pada karakter jumlah daun di atas tongkol. Hal ini dapat dilihat dari nilai jumlah daun di atas tongkol Varietas Bisma dan SHS-4 yang Universitas Sumatera Utara hampir seragam. Keseragaman ini diduga disebabkan oleh faktor lingkungan tumbuh tanaman yang mempengaruhi faktor genotif yang berbeda sedemikian rupa sehingga memunculkan karakter yang hampir seragam. Faktor lingkungan yang paling berpengaruh adalah kesuburan tanah, ketersediaan air dan intensitas cahaya matahari yang dapat diserap dan dimanfaatkan untuk fotosintesis. Salah satu faktor kesuburan tanah yang menyebabkan pengaruk pupuk menjadi kabur adalah perbedaan nilai kemasaman tanah (pH). Damanik dkk. (2010) menyatakan pada tanah yang masam ketersediaan Al, Mn, Cu, Zn dan Fe menjadi tinggi sehingga dapat terjadi keracunan pada tanaman jagung, fiksasi P meningkat sehingga menjadi kurang tersedia, K terjerap dalam kompleks pertukaran kation tanah. Diduga karena faktor pH tidak seragam maka ketersediaan unsur hara, terutama hara makro menjadi tidak seimbang sehingga pengaruh Varietas, Pupuk dan interaksi menjadi tidak berbeda nyata karena pengaruh perlakuan menjadi kecil. Hal ini sejalan dengan pernyataan Gomez dan Gomez (1995) yang menyatakan bahwa karakter yang tidak berbeda nyata kemungkinan akibat dari satu perbedaan perlakuan yang sangat kecil atau tidak ada perbedaan perlakuan sama sekali atau galat percobaan terlalu besar atau keduanya. Umur Keluar bunga Jantan (hari) Dari hasil sidik ragam pada lampiran 26 dapat dilihat bahwa varietas dan Pupuk serta Interaksi belum berbeda nyata terhadap peubah umur keluar bunga jantan. Rataan umur keluar bunga jantan dapat dilihat pada Tabel 5. Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa bunga jantan Bisma lebih cepat keluar dari pada bunga jantan SHS-4 dengan nilai selisih rataan sebesar 1,27 hari. Universitas Sumatera Utara Varietas Bisma yang paling cepat berbunga (53,5 hari) terdapat pada tanaman yang diberi pupuk N dengan dosis 2,6 g/tanaman (300 kg Urea per hektar) dan K dengan dosis 1,3 g/tanaman (150 kg KCl per hektar) dan yang paling lama berbunga (59 hari) terdapat pada tanaman yang diberi pupuk N dengan dosis 0 g/tanaman dan K dengan dosis 1,3 g/tanaman (150 kg KCl per hektar). Varietas SHS-4 yang paling cepat berbunga (54,8 hari) terdapat pada tanaman yang diberi pupuk N dengan dosis 2,6 g/tanaman (300 kg Urea per hektar) dan K 0 g/tanaman dan yang paling lama berbunga (58,5 hari) terdapat pada tanaman yang diberi pupuk N dengan dosis 2,6 g/tanaman (300 kg Urea per hektar) dan K dengan dosis 1,3 g/tanaman (150 kg KCl per hektar). Tabel 5. Rataan Umur Keluar Bunga Jantan (hari). Pupuk Varietas V1(Bisma) V2(SHS-4) 1 57,5 56,3 2 55,5 57,5 3 55,8 55,8 4 54,5 56,5 5 59,0 56,3 6 54,0 55,0 7 55,0 54,8 8 57,5 57,3 9 55,5 58,5 10 53,5 56,8 11 55,8 57,5 12 56,8 58,0 13 57,0 56,8 Rataan 55,9 56,7 Rataan 56,9 56,5 55,8 55,5 57,6 54,5 54,9 57,4 57,0 55,1 56,6 57,4 56,9 56,3 Dari Tabel 5 diatas dapat dilihat bahwa Varietas, Pupuk dan interaksi belum berbeda nyata pada karakter umur berbunga jantan. Hal ini dapat dilihat dari nilai umur keluar bunga jantan Varietas Bisma dan SHS-4 yang hampir seragam. Keseragaman ini diduga disebabkan oleh faktor lingkungan tumbuh tanaman yang mempengaruhi faktor genotif yang berbeda sedemikian rupa Universitas Sumatera Utara sehingga memunculkan karakter yang hampir seragam. Faktor lingkungan yang paling berpengaruh adalah kesuburan tanah, ketersediaan air dan intensitas cahaya matahari yang dapat diserap dan dimanfaatkan untuk fotosintesis. Dalam faktor kesuburan tanah diduga tanah yang digunakan di dalam polybag tidak seragam kesuburannya, sehingga di satu sisi pengaruh pupuk sebenarnya nyata pada suatu individu jagung tetapi di lain pihak karena diduga tanahnya padat atau jenis mineral liat tanahnya yang berbeda pada individu lain menyebabkan pengaruh pupuk menjadi kabur dan akhirnya muncul karakter yang tidak semestinya akibat dari kekurangan atau kelebihan unsur hara baik yang berasal dari pupuk atau sediaan tanah tersebut. Dengan demikian pengaruh Varietas, Pupuk dan interaksinya menjadi sangat kecil dan memunculkan karakter yang tidak berbeda nyata. Hal ini sesuai pernyataan Gomez dan Gomez (1995) yang menyatakan bahwa karakter yang tidak berbeda nyata kemungkinan akibat dari satu perbedaan perlakuan yang sangat kecil atau tidak ada perbedaan perlakuan sama sekali atau galat percobaan terlalu besar atau keduanya. Umur Keluar Bunga Betina (hari) Dari hasil sidik ragam pada lampiran 28 dapat dilihat bahwa Varietas, Pupuk dan interaksi belum berbeda nyata terhadap peubah umur keluar bunga betina. Rataan Umur keluar bunga betina dapat dilihat pada Tabel 6. Dari Tabel 6 di bawah dapat dilihat bahwa bunga betina Bisma dan SHS-4 sama umur keluar bunga betinanya. Varietas Bisma yang paling cepat berbunga (56,8 hari) terdapat pada tanaman yang diberi pupuk N dengan dosis 2,6 g/tanaman (300 kg Urea per hektar) dan K dengan dosis 1,3 g/tanaman ( 150 kg Universitas Sumatera Utara KCl per hektar) dan yang paling lama berbunga (62 hari) terdapat pada tanaman yang diberi pupuk N dengan dosis 0 g/tanaman dan K dengan dosis 1,3 g/tanaman (150 kg KCl per hektar). Varietas SHS-4 yang paling cepat berbunga (56,5 hari) terdapat pada tanaman yang diberi pupuk N dengan dosis 5,2 g/tanaman (600 kg Urea per hektar) dan K dengan dosis 0 g/tanaman dan yang pang lama berbunga (61,5 hari) terdapat pada tanaman yang diberi pupuk N dengan dosis 2,6 g/tanaman (300 kg Urea per hektar) dan K dengan dosis 1,3 g/tanaman (150 kg KCl per hektar). Tabel 6. Rataan Umur Keluar Bunga Betina (hari). Pupuk Varietas V1(Bisma) V2(SHS-4) 1 60,5 58,5 2 58,5 59,5 3 59,3 58,3 4 57,5 58,5 5 62,0 58,3 6 57,0 56,5 7 57,5 57,3 8 60,5 59,3 9 58,5 61,5 10 56,8 59,0 11 59,0 60,5 12 59,8 60,8 13 60,0 59,5 Rataan 58,9 59,0 Rataan 59,5 59,0 58,8 58,0 60,1 56,8 57,4 59,9 60,0 57,9 59,8 60,3 59,8 59,0 Dari Tabel 6 diatas dapat dilihat bahwa Varietas, Pupuk dan interaksi belum berbeda nyata pada karakter umur berbunga betina. Hal ini dapat dilihat dari nilai umur keluar bunga betina Varietas Bisma dan SHS-4 yang hampir seragam. Keseragaman ini diduga disebabkan oleh faktor lingkungan tumbuh tanaman yang mempengaruhi faktor genotif yang berbeda sedemikian rupa sehingga memunculkan karakter yang hampir seragam. Faktor lingkungan yang paling berpengaruh adalah kesuburan tanah, ketersediaan air dan intensitas cahaya Universitas Sumatera Utara matahari yang dapat diserap dan dimanfaatkan untuk fotosintesis. Salah satu faktor kesuburan tanah yang menyebabkan pengaruk pupuk menjadi kabur adalah perbedaan nilai kemasaman tanah (pH). Damanik dkk. (2010) menyatakan pada tanah yang masam ketersediaan Al, Mn, Cu, Zn dan Fe menjadi tinggi sehingga dapat terjadi keracunan pada tanaman jagung, fiksasi P meningkat sehingga menjadi kurang SK DB JK KT Blok Perlakuan Varietas(V) Pupuk(P) VxP Error 1 0.01 0.01 25 34.68 1 6.37 6.37 12 14.70 1.22 12 13.60 1.13 25 21.30 0.85 F.hit. 0.01 tn 7.48 * 1.44 tn 1.33 tn F.05 4.24 4.24 2.16 2.16 Universitas Sumatera Utara Total KK = FK = 51 32.52% 418.9932 55.99 1.097811 Lampiran 39. Data Pengamatan Berat Pipilan Kering (g) Perlakuan BLOK I II Total V1 (1) 61.55 96.30 157.85 V1 (2) 106.60 106.75 213.35 V1 (3) 92.50 91.90 184.40 V1 (4) 57.10 74.35 131.45 V1 (5) 37.50 111.10 148.60 V1 (6) 91.30 147.30 238.60 V1 (7) 45.05 73.05 118.10 V1 (8) 76.10 89.55 165.65 V1 (9) 50.85 79.10 129.95 V1 (10) 52.85 61.90 114.75 V1 (11) 96.10 113.90 210.00 V1 (12) 104.50 104.60 209.10 V1 (13) 93.90 102.60 196.50 V2 (1) 94.80 91.35 186.15 V2 (2) 57.90 164.40 222.30 V2 (3) 131.30 195.70 327.00 V2 (4) 82.35 100.65 183.00 V2 (5) 80.45 154.90 235.35 V2 (6) 78.10 113.50 191.60 V2 (7) 76.20 72.95 149.15 V2 (8) 125.30 208.90 334.20 V2 (9) 143.05 180.30 323.35 V2 (10) 79.05 100.20 179.25 V2 (11) 92.20 134.80 227.00 V2 (12) 55.50 77.30 132.80 V2 (13) 97.50 173.85 271.35 Total 2159.60 3021.20 5180.80 Rataan 78.93 106.68 92.20 65.73 74.30 119.30 59.05 82.83 64.98 57.38 105.00 104.55 98.25 93.08 111.15 163.50 91.50 117.68 95.80 74.58 167.10 161.68 89.63 113.50 66.40 135.68 99.63 Lampiran 40. Sidik Ragam Berat Pipilan Kering (g) SK db JK KT Blok Perlakuan Varietas(V) Pupuk(P) VxP Error 1 14276.05 14276.05 25 48138.16 1 10650.65 10650.65 12 19073.67 1589.47 12 18413.84 1534.49 25 11664.94 466.60 F.hit. 30.60* 22.83* 3.41* 3.29* F.05 4.24 4.24 2.16 2.16 Universitas Sumatera Utara Total KK = FK = 51 21.68% 516167.1 74079.14 Lampiran 41. Pendugaan Permukaan Respon Pendugaan permukaan respons varietas jagung terhadap pupuk dilakukan dengan menggunakan persamaan :Ŷ = b0 + b1X1 + b2X2 + b11X12 + b22X22 + b12X1X2 (Bangun, 2012, Komunikasi pribadi 1 -1,0 -1,0 1 1 1 78.93 93.08 1 1,0 -1,0 1 1 -1 106.68 111.15 1 -1,0 1,0 1 1 -1 92.20 163.5 1 1,0 1,0 1 1 1 65.73 91.5 1− 0,0 2 0 0 74.30 117.68 X= 1+ 0,0 2 0 0 Y1= 119.30 Y2= 95.8 1 0,0 − 0 20 59.05 74.58 1 0,0 + 0 20 82.83 167.1 1 0,0 0,0 0 0 0 64.98 161.68 1 0,0 0,0 0 0 0 57.38 89.63 1 0,0 0,0 0 0 0 105.00 113.5 1 0,0 0,0 0 0 0 104.55 66.4 1 0,0 0,0 0 0 0 98.25 135.68 Matriks X’Xb = X’Y untuk varietas Bisma 13 0 0 8 8 0 08 0 0 00 00 8 0 00 8 0 0 12 4 0 8 0 0 4 12 0 00 0 0 04 b0 1109.18 b1 36.0 b2 = 34.91 b11 730.74 b22 627.3 b12 -54.22 Untuk V1(Bisma) diperoleh koefisien persamaan regresi sebagai berikut : b0 = 0.2(1109.18) – 0.1(730.74) – 0.1(627.3) = 86.032 Universitas Sumatera Utara b1 = 0.125(36.0) = 4.50 b2 = 0.125(34.91) = 4.36 b11 = -0.1(1109.18) + 0.14375(730.74) + 0.01875(627.3) = 5.88 b22 = -0.1(1109.18) + 0.01875(730.74) + 0.14375(627.3) b12 = 0.25(-54.22) JKE = [(64.98)2 + (57.38)2 + (105)2 + (104.55)2 + (98.25)2] – [(64.98+ 57.38+ 105+ 104.55+ 98.25)2/5] = -7.04 = -13.55 = 2116.105 s2 = 1/(5-1) (2116.105) = 529.02 Matriks X’Xb = X’Y untuk varietas SHS-4 13 0 0 8 8 0 08 0 0 00 00 8 0 00 8 0 0 12 4 0 8 0 0 4 12 0 00 0 0 04 b0 1481.28 b1 19.82 b2 = 76.91 b11 886.19 b22 942.59 b12 -90.07 Untuk V2(SHS-4) diperoleh koefisien persamaan regresi sebagai berikut : b0 = 0.2(1481.28) – 0.1(886.19) – 0.1(942.59) = 113.37 b1 = 0.125(19.82) = 2.47 b2 = 0.125(76.91) = 9.61 b11 = -0.1(1481.28) + 0.1437(886.19) + 0.01875(942.59) = -3.065 b22 = -0.1(1481.28) + 0.01875(886.19) + 0.1437(942.59) = 3.985 b12 = 0.25(-90.07) = -22.518 JKE = [(161.68)2 + (89.63)2 + (113.5)2 + (66.4)2 +(135.68)2] – [(161.68+89.63+113.5+66.4+135.68)2/5] Universitas Sumatera Utara = 5601.38 s2 = 1/(5-1) (5601.38) = 1400.344 Sehingga diperoleh persamaan : YBisma = 86.03 + 4.50X1 + 4.36X2 + 5.88X12 – 7.04X22 – 13.55X1X2 YSHS-4 = 113.37 + 2.47X1 + 9.61X2 – 3.06X12 + 3.98X22 – 22.51X1X2 Produksi maksimum Dari persamaan : YBisma = 86.03 + 4.50X1 + 4.36X2 + 5.88X12 – 7.04X22 – 13.55X1X2 YSHS-4 = 113.37 + 2.47X1 + 9.61X2 – 3.06X12 + 3.98X22 – 22.51X1X2 Dapat diketahui respon produksi maksimum dari varietas Bisma dan SHS-4 terhadap Pupuk P dan K yaitu Sebagai berikut: Varietas Bisma Persamaan Regresinya : YBisma = 86.03 + 4.50X1 + 4.36X2 + 5.88X12 – 7.04X22 – 13.55X1X2 Produksi akan mencapai maksimum saat ∂y/∂x = 0 maka saat ∂y/∂x1 = 0 menyebabkan nilai X2 konstan dan sebaliknya, sehingga: ∂y/∂x1 = b1 + 2b11X1 + b12X2 = 0 b1 + 2b11X1 + b12X2 = 0 4.50 + 2(5.88)X1 – 13.55X2 = 0 11.76X1 – 13,55X2 = -4.50.(1) Saat ∂y/∂x2 = 0, nilai X1 konstan, sehingga: ∂y/∂x2 = b2 + 2b22X2 + b12X1 = 0 b2 + 2b22X2 + b12X1 = 0 Universitas Sumatera Utara 4.36 + 2(-7.04)X2 – 13.55X1=0 -13.55X1 – 14.08X2 = -4.36.(2) Dari persamaan (1) dan (2), diperoleh : 11.76X1 – 13,55X2 = -4.50 -13.55X1 – 14.08X2 = -4.36 Untuk mencari nilai X1 dan X2 hanya dapat dilakukan dengan menggunakan matriks sebagai berikut : 2b11 b12 b12 2b22 = X1 = X2 -b1 -b2 11.76 -13.55 -13.55 -14.08 X1 X2 -4.50 -4.36 -b1 b12 -b2 2b22 X1 = 4b11b22 – (b12)2 -4.50 -13.55 -4.36 -14.08 X1 = 4(5.88)(-7.04) – (-13.55)2 (-4.50 x -14.08) – (-13.55 x -4.36) X1 = (-165.581) – 183.6025 X1 = 4.282/-349.184 X1 = -0.012 Untuk X2 : 2b11 -b1 b12 -b2 X2 = 4b11b22 – (b12)2 11.76 -4.50 -13.55 -4.36 X2 = 4(5.88)(-7.04) – (-13.55)2 (11.76 x -4.36) – (-4.50 x -13.55) X2 = Universitas Sumatera Utara (-165.581) – 183.6025 X2 = -112.249/-349.184 X2 = 0.32 X1 = (P-200)√2/200 -0.012 = (P-200)√2/200 dan X2 = (K-150)√2/150 0.32 = (K-150)√2/150 P = 200 + (-0.012 x 200)/√2 K = 150 + (0.32 x 150)/√2 Pmax = 200 – 1.70 Kmax = 150 + 34.04 Pmax = 198.30 kg/ha Kmax = 184.04 kg/ha Dari hasil perhitungan prosedur analisis CCRD dalam penelitian ini diperoleh dosis Pupuk maksimum untuk varietas Bisma yaitu 198.30 kg SP-36/ha dan 184.04 kg KCl/ha. Varietas SHS-4 Persamaan Regresinya : YSHS-4 = 113.37 + 2.47X1 + 9.61X2 – 3.06X12 + 3.98X22 – 22.51X1X2 Produksi akan mencapai maksimum saat ∂y/∂x = 0 maka saat ∂y/∂x1 = 0 menyebabkan nilai X2 konstan, sehingga: ∂y/∂x1 = b1 + 2b11X1 + b12X2 = 0 b1 + 2b11X1 + b12X2 = 0 2.47 + 2(-3.06X1 + (-22.51)X2 = 0 -6.12X1 – 22.51X2 = -2.47.(1) Saat ∂y/∂x2 = 0, nilai X1 konstan, sehingga: ∂y/∂x2 = b2 + 2b22X2 + b12X1 = 0 b2 + 2b22X2 + b12X1 = 0 Universitas Sumatera Utara 9.61 + 2(3.98)X2 + (-22.51)X1 = 0 -22.51X1 + 7.96X2 = -9.61.(2) Dari persamaan (1) dan (2), diperoleh : -6.12X1 – 22.51X2 = -2.47 -22.51X1 + 7.96X2 = -9.61 Untuk mencari nilai X1 dan X2 hanya dapat dilakukan dengan menggunakan matriks sebagai berikut : 2b11 b12 X1 -b1 b12 2b22 = X2 = -b2 -6.12 -22.51 -22.51 7.96 X1 X2 -2.47 -9.61 X1 = -b1 b12 -b2 2b22 4b11b22 – (b12)2 -2.47 -22.51 -9.61 7.96 X1 = 4(-3.06)(3.98) – (-22.51)2 (-2.47 x 7.96) – (-22.51 x -9.61) X1 = (-48.7152) – 506.7001 X1 = (-19.6612) – (216.3211)/-555.415 X1 = 0.35 Untuk X2 : 2b11 -b1 b12 -b2 X2 = 4b11b22 – (b12)2 -6.12 -2.47 -22.51 -9.61 X2 = 4(-3.06)(3.98) – (-22.51)2 (-6.12 x -9.61) – (-2.47 x -22.51) X2 = (-48.7152) – 506.7001 Universitas Sumatera Utara X2 = 58.81 – 55.59/-555.415 X2 = - 0.0057 X1 = (P-200)√2/200 0.35 = (P-200)√2/200 dan X2 = (K-150)√2/150 -0.0057 = (K-150)√2/150 P = 200 + (0.35 x 200)/√2 K = 150 + (-0.0057 x 150)/√2 Pmax = 200 + 49.64 Kmax = 150 – 0.60 Pmax = 249.64 kg/ha Kmax = 149.4 kg/ha Dari hasil perhitungan prosedur analisis CCRD dalam penelitian ini diperoleh dosis Pupuk maksimum untuk varietas SHS-4 yaitu 249.64 kg SP-36/ha dan 149.4 kg KCl/ha. Uji-t Tabel Koefisien Regresi Varietas V1 (Bisma) V2 (SHS-4) Koefisien Regresi b1 b2 b11 b22 b12 b1 b2 b11 b22 b12 Nilai Uji-t 0.62 0.60 0.68 -0.81 -1.18 0.21 0.81 -0.22 0.28 -1.20 t.tabel 2,132 Universitas Sumatera Utara Lampiran 42. Gambar Tanaman Jagung Foto Supervisi Universitas Sumatera Utara Foto Tanaman Keseluruhan Lampiran 43 : Foto Hasil Panen Per Perlakuan Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara
Respons Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Varietas Jagung (Zea mays L.) Terhadap Pemberian Pupuk Hayati Cair
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Respons Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Varietas Jagung (Zea mays L.) Terhadap Pemberian Pupuk Hayati Cair

Gratis