Feedback

Hasil Bronkoskopi Serat Optik Lentur (BSOL) Menggunakan Teknik Bronchoalveolar Lavage (BAL) Pada Tuberkulosis Paru Dengan Hapusan Dahak Bakteri Tahan Asam (BTA) Negatif

Informasi dokumen
HASIL BRONKOSKOPI SERAT OPTIK LENTUR (BSOL) MENGGUNAKAN TEKNIK BRONCHOALVEOLAR LAVAGE (BAL) PADA TUBERKULOSIS PARU DENGAN HAPUSAN DAHAK BAKTERI TAHAN ASAM (BTA) NEGATIF TESIS Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Pendidikan Spesialisasi Di Bidang Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/ RSUP H. Adam Malik Medan OLEH ARJUNA WIJAYA PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I DEPARTEMEN PULMONOLOGI & ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara TESIS PPDS DEPARTEMEN PULMONOLOGI & ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA/ RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN 1. Judul Penelitian : HASIL BRONKOSKOPI SERAT OPTIK LENTUR ( BSOL ) MENGGUNAKAN TEKNIK BRONCHO- ALVEOLAR LAVAGE (BAL) PADA TUBERKULOSIS PARU DENGAN HAPUSAN DAHAK BAKTERI TAHAN ASAM (BTA) NEGATIF 2. Nama Peneliti : Arjuna Wijaya 3. NIP : 19700108 200003 1 002 4. Pangkat/Golongan : Penata TK I/IIId 5. Fakultas : Kedokteran Universitas Sumatera Utara 6. Program Studi : Program Pendidikan Dokter Spesialis I Paru 7. Jangka Waktu : 6 (enam bulan) 8. Lokasi Penelitian : Ruang Rawat Paru RSUP HAM dan IDT 9. Pembimbing : Dr. H. Zainuddin Amir Sp.P(K) Dr. Noni N Soeroso Sp.P Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara PERNYATAAN HASIL TEKNIK DENGAN BRONKOSKOPI SERAT OPTIK LENTUR ( BSOL ) BRONCHOALVEOLAR LAVAGE (BAL) MENGGUNAKAN PADA TUBERKULOSIS PARU HAPUSAN DAHAK BAKTERI TAHAN ASAM (BTA) NEGATIF TESIS Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Medan, Oktober 2011 Peneliti ArjunaWijaya Universitas Sumatera Utara Telah diuji pada : Tanggal 20 September 2011 Panitia Penguji Tesis Ketua : Dr. Hj. Amira Permatasari Tarigan, Sp.P Sekretaris : Dr. Noni Novisari Soeroso, Sp.P Anggota Penguji :- Prof. Dr. H. Luhur Soeroso, Sp.P (K) - Prof. Dr. H. Tamsil Syafiuddin, Sp.P (K) - Dr. H. Hilaluddin Sembiring, DTM & H, Sp.P (K) - Dr. Pantas Hasibuan , Sp.P (K) - Dr. Pandiaman Pandia, Sp.P (K) - Dr. Bintang YM. Sinaga, Sp.P Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah di dunia termasuk negara berkembang seperti Indonesia. Berbagai upaya untuk mendiagnosis TB telah banyak dilakukan baik pemeriksan serologi maupun kultur untuk mencari M. tuberculosis. Pemeriksaan hapusan dahak (sputum) spontan merupakan pemeriksaan standar untuk mendiagnosisTB paru, tetapi dengan sensitifitas ± 84%, terkadang pemeriksaan dahak spontan tidak menemukan kuman Bakteri Tahan Asam (BTA) yang ada pada M. tuberculosis. Di Poli DOTS TB di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada tahun 2009, dari 385 kasus TB paru baru dijumpai 54 (14,1%) penderita TB paru BTA negatif (–) Tujuan penelitian ini ialah untuk meningkatkan kemampuan diagnostik penderita TB paru BTA negatif dengan mendapatkan kuman BTA dari hapusan spesimen yang didapat melalui bronkoskopi dengan teknik bronchoalveolar lavage (BAL) .Penelitian bersifat deskriptif observasional dilakukan di Instalasi Diagnostik Terpadu di RSUP. H. Adam Malik Medan dan SMF/ Departemen Mikrobiologi Klinik RSUP. H. Adam Malik Medan dari April 2010 sampai dengan November 2010. Didapatkan 26 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. dengan jumlah penderita pria yang ditemukan lebih banyak (pria 65.4%, wanita 34.6%). Kebanyakan penderita berada pada kelompok usia 46-55 tahun dan dengan pendidikan menengah. Keluhan respirasi yang terbanyak adalah batuk darah pada 9 peserta penelitian ini ( 34.6% ) dan hanya 1 peserta yang mengeluhkan sesak nafas ( 3.8% ). Kelainan radiologis yang terbanyak berupa gambaran bercak mengawan (infiltrat/ nodular) + lymphadenopaty pada 8 peserta (30.8%). Diagnosis awal sebagai suspek TB paru 22 orang (84.6%) dan efusi pleura pada 3 orang (11.5%) dan 1 peserta dengan pyopneumotoraks (3.8% ). Lokasi pengambilan sampel paling banyak dilakukan di lobus atas kanan pada 12 penderita (46.2%) . Dari 26 orang peserta penelitian dijumpai hasil hapusan BTA dari bronchoalveolar lavage (BAL) tetap negatif pada 21 orang (80.8%) dan positif adalah 5 orang (19.2%) dengan gradasi BTA positif 1 Pada lima orang ini hanya 1 peserta didapati gambaran lumen dengan jumlah sekret yang produktif, sedang yang lain tidak disertai dengan sekret yang produktif. Didapatkan 10 orang (38.5%) dengan gambaran hiperemis pada lumen bronkus dan gambaran normal bronkus pada 8 orang (30.8%). Dijumpai pada 1 orang penderita dengan massa di 1/3 proksimal trakea pada dinding posterior disertai stenosis edematous dengan mukosa hiperemis pada lobus bawah paru kanan. Dari hasil yang didapat, menunjukkan perlunya tindakan BAL pada kasus yang disangka TB paru yang hasil pemeriksaan BTA nya negatif asal sesuai dengan prosedur/guidline dan dibenarkan dari segi akademis sehingga dari penelitian ini didapatkan diagnosa defenitif Kata kunci: TB paru BTA negatif, Diagnosis, Bronkoskopi, Bronchoalveolar lavage Universitas Sumatera Utara CURICULUM VITAE DAN PENDIDIKAN IDENTITAS Nama Tempat/Tgl. Lahir Agama Pekerjaan : : : : NIP Alamat dr. Arjuna Wijaya Medan, 8 Januari 1970 Kristen Protestan Pegawai Negeri /PPDS Pulmonologi dan Ilmu Respirasi FKUSU : 19700108 200003 1 002 : Jl. Setia Budi Pasar I no 65A Tanjung Sari Medan KELUARGA Isteri Anak : dr. Herna Hutasoit Sp.M : Simon Hadi Bangun RIWAYAT PENDIDIKAN SD Negeri 060891 Kota : Medan SMP Negeri 8 Kota : Medan SMA Negeri 1 Kota : Medan FK-USU Kota : Medan Tamat Tahun Tamat Tahun Tamat Tahun Tamat Tahun : 1982 : 1985 : 1988 : 1995 RIWAYAT PEKERJAAN 1. Dokter PTT Puskesmas Simundol Kecamatan Dolok Tapanuli Selatan 1996-1997 2. Dokter PTT Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Tapsel 1997-1999 3. Dokter PNS Puskesmas Munte Kecamatan Munte Kabupaten Karo 2000-2002 4. PPDS Pulmonologi dan Ilmu Respirasi FK-USU RS HAM 2003-sekarang KEGIATAN ORGANISASI 1. Anggota IDI Cabang Karo, tahun 2000 s/d sekarang 2. Anggota muda Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Medan, tahun 2003 s/d sekarang PARTISIPASI DALAM KEGIATAN ILMIAH : 1. Peserta KONKER PDPI VII di Padang Sumatera Barat tahun 2004 2. Peserta RESPINA di Jakarta tahun 2004 3. Peserta KONAS VIII di Solo Jawa Tengah tahun 2005 4. Oral prensentasi/Peserta KONKER X PDPI di Denpasar Bali tahun 2007 5. Peserta Konas XIPDPI di Bandung tahun 2008 6. Peserta PIK XII PDPI di Yogyakarta tahun 2009 7. Peserta Workshop of Interventional Bronchoschopy di Padang Panjang tahun 2009 8. Peserta Medan Respiratory Care Meeting Anually (MERCY) I di Medan tahun 2010 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Segala puji syukur dan terima kasih penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sebab berkat rahmat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul “ Hasil Bronkoskopi Serat Optik Lentur (BSOL) Menggunakan Teknik Bronchoalveolar Lavage (BAL) Pada Tuberkulosis Paru Dengan Hapusan Dahak Bakteri Tahan Asam (BTA) Negatif “ yang merupakan persyaratan akhir pendidikan keahlian di Departemen Ilmu Penyakit Paru dan Kedokteran Respirasi Universitas Sumatera Utara/ RSUP.H.Adam Malik Medan. Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan penelitian ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak baik guru-guru yang penulis hormati, teman sejawat asisten Departemen Ilmu Penyakit Paru dan Kedokteran respirasi FK USU, paramedis dan nonmedis serta dorongan dari pihak keluarga. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : Prof.Dr.H.Luhur Soeroso SpP(K) sebagai ketua Departemen Ilmu Penyakit Paru dan Kedokteran Respirasi FK USU/ SMF Paru RSUP.H.Adam Malik Medan, yang dengan penuh kesabaran dan tiada henti-hentinya memberikan bimbingan ilmu pengetahuan, senantiasa menanamkan disiplin, ketelitian dan perilaku yang baik serta pola berpikir dan bertindak ilmiah, yang mana hal tersebut sangat berguna bagi penulis untuk masa yang akan datang. Terima kasih juga dalam hal membantu penulis dalam pelaksanaan pemeriksaan bronkoskopi pada pasien yang menjadi peserta penelitian ini. i Universitas Sumatera Utara Dr.Pantas Hasibuan SpP(K) sebagai Sekretaris Departemen Ilmu Penyakit Paru dan Kedoktern Respirasi FK USU/ SMF Paru RSUP.H.Adam Malik Medan, yang dengan penuh kesabaran telah banyak memberikan bimbingan dan nasihat selama penulis menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di FK USU/ SMF Paru RSUP.H.Adam Malik Medan. Dr.H.Zainuddin Amir SpP(K) / Ketua TKP PPDS FK USU yang senantiasa tiada jemunya berupaya menanamkan disiplin, ketelitian, berpikir dan berwawasan ilmiah serta dan sebagai pembimbing penulis yang dengan penuh kesabaran banyak memberikan bimbingan, motivasi, saran serta nasehat yang bermanfaat dalam penyempurnaan penulisan tesis ini sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini Dr. Amira Permata Sari Sp.P, sebagai Pelaksana Ketua Program Studi Ilmu Penyakit Paru dan Kedokteran Respirasi yang banyak memberikan motivasi , nasehat dan masukan selama penulis menjalani pendidikan Dr. Noni N Soeroso SpP sebagai sekretaris Program Studi Ilmu Penyakit Paru dan Kedokteran Respirasi yang telah banyak memberikan bantuan, masukan dan pengarahan selama penulis menjalani pendidikan, begitu juga membantu penulis dalam pelaksanaan pemeriksaan bronkoskopi pada pasien yang menjadi peserta penelitian ini. Prof.Dr.Tamsil Syafiuddin SpP(K) sebagai Koordinator penelitian ilmiah Ilmu Penyakit Paru dan Kedokteran Respirasi dan Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia cabang Sumatera ii Universitas Sumatera Utara Utara yang telah banyak memberikan dorongan, bimbingan, pengarahan dan masukan dalam rangka penyusunan dan penyempurnaan tulisan ini. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Dr. Hilaluddin Sembiring, DTM&H, SpP(K), yang dengan penuh kesabaran memberikan bimbingan, pengarahan, motivasi, saran serta nasehat yang bermanfaat selama penulis menjalani pendidikan ini. Prof.Dr.RS Parhusip SpP(K), (alm) Dr.Sumarli SpP(K), (alm) Dr.Sugito SpP(K), yang telah banyak memberikan bimbingan, nasihat, ilmu pengetahuan dan pengalaman klinis beliau selama mengabdi pada Departemen Ilmu Penyakit paru yang sangat berguna untuk penulis selama menjalani pendidikan ini. Penghargaan dan ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr.Widi Rahardjo SpP(K), Dr.P.S.Pandia SpP(K) Dr.Fajrinur Syarani SpP(K), Dr.Usman SpP, Dr.Parluhutan Siagian SpP, Dr. Amira Permata Sari Sp.P, Dr. Bintang Y Sinaga, SpP, Dr.Setia Putra SpP, Dr. Ucok Martin SpP, Dr. Netty Yosefhin Damanik Sp.P , yang telah banyak memberikan bantuan, masukan dan pengarahan selama penulis menjalani pendidikan. Drs.Abdul Jalil sebagai pembimbing statistik yang banyak memberikan bantuan, dukungan serta membuka wawasan penulis dalam bidang statistik. iii Universitas Sumatera Utara Izinkanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Direktur RSUP.H.Adam Malik Medan, Direktur RS Materna, Kepala Departemen Kardiologi RSUP. H.Adam Malik Medan, Kepala Departemen Patologi Anatomi FK USU, Kepala Departemen Mikrobiologi FK USU yang telah memberikan kesempatan dan bimbingan kepada penulis selama menjalani pendidikan ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman sejawat peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Paru dan Kedokteran Respirasi FK USU, pegawai tata usaha, perawat/petugas poliklinik, ruang bronkoskopi, ruang rawat inap bagian paru, instalasi perawatan intensif, unit gawat darurat RSUP. H.Adam Malik Medan, perawat/ petugas di RS Tembakau Deli Medan, RSU Dr. Pirngadi Medan, BP4 Medan, RSU Materna Medan yang telah bekerja sama dan membantu penulis selama bertugas menjalani pendidikan ini. Dengan rasa hormat dan terima kasih yang tiada terbalas penulis sampaikan kepada Ayahanda (alm) Drs. Hidup Bangun dan Ibunda (almh) Maria Sitepu yang telah membesarkan, mendidik dan memberi semangat sehingga akhirnya penulis dapat mengikuti pendidikan ini. Rasa hormat dan terima kasih terhadap mertua penulis Bapak Alfred Hutasoit SH. Sp.N dan Ibu Dameria Silaban yang banyak memberikan bantuan, dukungan semangat dan doa selama penulis menjalani pendidikan ini. Rasa terima kasih juga penulis sampaikan kepada abang, kakak, adik dan ipar penulis. Demikian juga dengan istriku tercinta Dr. Herna Hutasoit Sp.M dan anakku tersayang Simon Hadi Bangun yang selalu setia dalam suka dan duka, penuh pengertian, kesabaran dan pengorbanannya kepada penulis selama menjalani pendidikan. Tiada kata yang dapat iv Universitas Sumatera Utara diucapkan selain ungkapan rasa terima kasih dan penghargaan atas segala kesetiaan maupun dukungan kalian selama ini. Akhirnya pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan, kekhilafan dan kesalahan yang diperbuat selama ini. Semoga ilmu, keterampilan dan pembinaan kepribadian yang penulis dapatkan selama ini dapat bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa dan mendapat restu dari Tuhan Yang Maha Esa. Medan, September 2011 Penulis Arjuna Wijaya v Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman Kata Pengantar . i Daftar Isi . vi Daftar Tabel . ix Daftar Gambar . x Daftar Singkatan . xi BAB 1 PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang . 1 1.2 Rumusan Masalah . 4 1.3 Tujuan Penelitian . 4 1.4 Manfaat Penelitian . 4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA . 6 2.1 Definisi TB Paru . 6 2.2 Epidemiologi TB Paru . 6 2.3 Mycobacterium Tuberkulosis . 7 2.4 Diagnosis TB Paru . 7 2.5 Pemeriksaan Penunjang . 8 2.5.1 Pemeriksaan Bakteriologis . 8 2.5.2 Pemeriksaan Radiologis . 9 2.5.3 Pemeriksaan Khusus . 10 2.5.4 Pemeriksaan Penunjang lain . 11 vi Universitas Sumatera Utara 2.6 Klasifikasi Tb Paru Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Dahak (BTA) . 11 2.7 Bronkoskopi . 14 2.8 Kerangka Konsep . 20 BAB 3 METODE PENELITIAN .21 3.1 Desain Penelitian . 21 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian . 21 3.3 Populasi dan Sampel . 21 3.4 Perkiraan Besar Sampel . 21 3.5 Kriteria Inklusi dan Eksklusi . 22 3.6 Cara Kerja . 23 3.6.1. Kerangka Operasional . 25 3.7. Identifikasi Variabel . 26 3.8 Defenisi Operasional . 26 3.8.1 TB Paru . 26 3.8.2 Bronkoskopi . 26 3.8.3 Bronchoalveolar Lavage . 26 3.8.4 Pengecatan /DS cairan BAL . 27 3.8.5 Batang Tahan Asam . 27 3.9. Bahan dan Alat . 28 3.10 Manajemen dan Analisis Data 28 . vii Universitas Sumatera Utara BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .29 4.1 Karakteristik Peserta Penelitian . 29 4.2 Profil Keluhan Respirasi . 31 4.3 Profil Kelainan Radiologis . 31 4.4 Profil diagnosis awal peserta penelitian. 32 4.5 Lokasi Sampel . 33 4.6 Profil Hapusan Batang Tahan Asam (BTA) dari tergantung tubuh yang terinfeksi. Untuk infeksi berat, penggunaan awal singkat (48-72 jam) dari terapi kombinasi, beralih ke mono terapi setelah pola kerentanan. Jika Klebsiella tidak memiliki resistensi antibiotik, antibiotik digunakan seperti Ampisilin / sulbaktam, Piperacillin / tazobactam, Tikarsilin / klavulanat, Ceftazidime, Sefepime, Levofloxacin, Meropenem, dan Ertapenem. Meropenem pilihan terbaik dengan Klebsiella ESBL+, hindari penyebaran infeksi Klebsiella antara pasien dengan tenaga kesehatan harus taat pencegahan dan pengendalian (Tind, 2012). 2.8.6. Citrobacter freundii Fakultatif anaerob Gram-negatif, basil keluarga Enterobacteriaceae, bentuk batang panjang dikelilingi flagella bergerak, non-motil. Ditemukan di Universitas Sumatera Utara tanah, air, limbah, makanan dan saluran pencernaan dan infeksi oportunistik, infeksi nosokomial Patogenesis : Citrobacter freundii adalah mikroba oportunistik, infeksi nosokomial, dan tidak menyebabkan penyakit atau gejala pada manusia yang sehat, hanya menimpa orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah cenderung menyebabkan infeksi saluran kemih, saluran pernapasan, darah, pankreas, hati dan penyakit empedu. Gejala : Infeksi saluran kemih : rasa terbakar saat buang air kecil, dorongan untuk buang air kecil, urin berbau, sedikit buang air kecil, darah dalam urin, demam, dan terasa panas atau nyeri di punggung bawah/atau panggul. Penyebab paling signifikan gerakan dan tingkat kebersihan yang buruk setelah hubungan seksual menyebabkan perubahan inflamasi abnormal pada usus, mengakibatkan perubahan nekrotik, meningitis neonatal. Meninges atau penutup dari otak bisa meradang karena infiltrasi bakteri, dapat menembus sawar darah-otak (yang terdiri dari endotelium kapiler otak dan pleksus koroid epitel). Hal ini dapat menyerang dan mereplikasi di otak. Gejala antara lain: demam tinggi, muntah proyektil dan kejang. Infeksi peritonitis dan infeksi juga telah dilaporkan sering terlihat pada pasien rawat inap dan kekebalan menurun dan bersal dari pemesangan kateter kemih (Whalen, 2007). Pengobatan : Universitas Sumatera Utara Diberikan antibiotik Amikasin, Amikasin, Cefepime, Cefotetan, Ceftazidime, Ceftriaxone, Cefuroxime, Ciprofloxacin, Meropenem, Levofloxacin, Nitrofurantoin, Ofloxacin, Piperacillin. 2.8.7. Aerogenes Enterobacter Aerogenes Enterobacter Gram-negatif, oksidase negatif, katalase positif, sitrat positif, indol negatif, bakteri berbentuk batang, infeksi nosokomial infeksi oportunistik. Mayoritas sensitif terhadap antibiotik, mekanisme resistensi, laktamase berarti cepat menjadi resisten terhadap antibiotik, membutuhkan perubahan antibiotik menghindari memburuknya sepsis. Tanda dan gejala : Demam tinggi atau hipotermia Takikardia Hipoksemia Takipnea Sianosis Patogenesis : Infeksi nosokomial, keganasan, penyakit hepatobilier, borok saluran pencernaan, penggunaan kateter, luka bakar, ventilasi mekanis, dan imunosupresi. Sumber endogen (melalui kolonisasi kulit, saluran pencernaan, atau saluran kemih) atau eksogen, tangan, tindakan bronkoskopi, endoskopi, tensimeter stetoskop sumber infeksi. Sumber berasal: nutrisi parenteral, larutan saline isotonik, albumin, termometer digital, dan peralatan dialisis (Siegel, 2007). Universitas Sumatera Utara Pengobatan : Antimikroba hampir semua infeksi Enterobacter antimikroba dapat diberikan meliputi: Beta-laktam: Carbapenem, Sefalosporin Aminoglikosida Fluoroquinolon Trimethoprim-sulfamethoxazole 2.8.8. Escherichia coli Escherichia coli, E. coli, Bakteri gram-negatif ditemukan oleh Theodor Escherich dalam, usus besar. E. Coli tidak berbahaya, beberapa E. Coli tipe O157: H7, mengakibatkan keracunan makanan diare berdarah karena eksotoksin. Ecoli dapat menguntungkan manusia memproduksi vitamin. Patogenesis : Escherichia coli O157 : H7 patogen berhubungan dengan makanan dapat menyebabkan kolitis hemoragik, sindrom uremik hemolitik, sekuele infeksi menyebabkan gagal ginjal dan kematian. E. coli flora normal usus. E. coli O157 : H7 maksudnya hari 7 pembentuk koloni) . Selanjutnya di bagian usus dari waktu ke waktu dan mengamati bahwa sekum konsisten jaringan tertinggi. Faktor virulensi, adhesin dan toksin Shiga tipe 2, dan terdeteksi kedua protein awal infeksi ketika jumlah bakteri tertinggi selama infeksi, tubuh kehilangan berat badan dan ~ 30 % meninggal tubuh sekarat karena peningkatan kadar nitrogen urea darah, nekrosi, menunjukkan kerusakan tubulus ginjal. Universitas Sumatera Utara Gejala : Diare, diare berdarah, kram perut, tidak ada gejala beberapa kasus sedikit/tidak ada demam. Hemolitik uremik sindrom - (HUS) : sindrom hemolitik uremik - pucat (anemia), demam, memar atau mimisan ( akibat kerusakan trombosit), kelelahan, sesak napas, pembengkakan, terutama tangan dan kaki, penyakit kuning, dan urin berkurang. Thrombocytopenic purpura trombotik (TTP): trombotik thrombocytopenic purpura disebabkan hilangnya trombosit, namun gejala berbeda dan terutama terjadi pada orang tua. Gejala demam, lemas lemas, gagal ginjal, dan gangguan mental cepat berkembang kegagalan organ dan kematian. Sampai tahun 1980-an, TTP dianggap penyakit yang fatal. Pengobatan : Sementara penggantian cairan dan awasi tekanan tekanan darah cairan mungkin diperlukan untuk mencegah kematian akibat dehidrasi, sebagian besar korban sembuh tanpa pengobatan lima sampai 10 hari. Tidak ada bukti bahwa antibiotik memperbaiki perjalanan penyakit, dan pengobatan dengan antibiotik dapat memicu sindrom uremik hemolitik. Obat anti diare, seperti Loperamide (Imodium), juga harus dihindari karena dapat memperpanjang durasi infeksi. Strategi pengobatan baru tertentu, seperti penggunaan strategi anti-induksi untuk mencegah produksi toksin dan penggunaan anti-toksin Shiga antibodi, masih tahap diusulkan (Eckburg, 2005). 2.8.9. Pseudomonas mendocina Universitas Sumatera Utara Pseudomonas mendocina gram-negatif, oportunistik, nosokomial infeksi, infeksi endokarditis dan spondylodiscitis. Pengobatan sepsis kombinasi Penisilin, Sefalosporin, Aminoglikosida, atau Fluorokuinolon antibiotik selama minimal 6 minggu, kombinasi antibiotik pengobatan Aminoglikosida 4 hari dan Fluorokuinolon oral 2 minggu (Chi, 2005). Patogenesis : Dapat menempel pada selaput lendir atau kulit→ dapat menyebar secara sistemik → sepsis → sering menimbulkan kematian. Sering resisten terhadap antimikroba → multiresisten. Manifestasi klinis :  Infeksi pada luka bakar  Infeksi saluran kemih  Sepsis yang fatal  Meningitis Pengobatan : - Ektima gangrenosum - Pneumonia - Keratitis - Otitis Eksterna 1. Ticarcillin - Tobramycin 2. Piperacillin - Amikacin 3. Ceftazidim - Aztreonam 4. Cefaperazon - Imipenem 5. Gentamycin - Ciprofloxacin Profil kepekaan terhadap antimikroba sangat beragam sehingga perlu dilakukan uji kepekaan antimikroba. Universitas Sumatera Utara 2.8.10. Delftia acidovorans Delftia acidovorans adalah non-spora, aerob batang gram-negatif, aerobik, non-fermentasi, gram negatif batang tergolong Pseudomonas. Patogenesis : Infeksi berasal dari kateter, selang infus, bakteremia, empyema, ulkus kornea, otitis media, aspirasi tabung endotrakea, tindakan invasif, infeksi individu imunokompeten (Perla, 2005). Gejala : Sindrom Sjogrens adalah penyakit yang mempengaruhi kelenjar yang menghasilkan air liur dan air mata, menyebabkan mata kering dan mulut kering. Penyebab sindrom Sjogrens tidak diketahui, tetapi peradangan memainkan peran penting. Pengobatan : Imipenem / cilastin telah diberikan selama empat minggu. 2.8.11. Staphylococcus haemolyticus. Berbentuk coccus, Gram - positif, non - motil, tidak - berspora, anaerob fakultatif dan koagulase-negatif, flora kulit manusia, ditemukan di aksila, perineum, dan daerah inguinal, patogen oportunistik. Infeksi dapat sistemik dan sering dengan alat-alat medis, tahan antibiotik, sebagai patogen nosokomial. Gejala : Universitas Sumatera Utara Endokarditis, pepticemia, peritonitis dan infeksi saluran kemih, luka, infeksi tulang, sendi, infeksi jaringan lunak pada immunocompromise (Rolston, 2003). Patogenesis : S. haemolyticus bermigrasi dari kulit, sepanjang permukaan eksternal, hubungan pasien dengan petugas kesehatan penyebabkan infeksi lokal atau menjadi sistemik (bakteremia), dan sering pada alat medis, tahan antibiotik. Tingkat keparahan infeksi bervariasi tergantung, frekuensi manipulasi, faktor virulensi, hindari kontak dari penyebab diatas sebagai pengobatan yang terbaik. Pengobatan : Vancomycin atau dapat diberikan, glycopeptides dengan β - laktamse kerja secara sinergis Staphylococcus haemolyticus memiliki sensitif satu atau lebih antibiotik berikut: Penisilin, Cephalosporin, Macrolides, Kuinolon, Tetrasiklin, Aminoglikosida, Glikopeptida, dan Fosfomycin, Glycopeptide (Vancomycin ). (Vignaroli, 2006). 2.8.12. Staphylococcus aureus Staphylococcus aureus osmo toleran, yaitu bakteri yang dapat hidup di dan spesifititas akan lebih tinggi apabila pengambilan sampel dilakukan dengan kombinasi dua atau lebih cara pengambilan sampel. Pada penelitian ini sensitifitas pemeriksaan bronkoskopi dengan konfirmasi BAL+brushing sebanyak 82% (CI 72-91), spesifisitas 58% (CI 30-86), nilai prediksi positif 91% (CI 83-98), nilai prediksi negative 39% (CI 16-61) dengan peningkatan akurasi 77.8%. Govert dkk melaporkan sensitifitas meningkat 85.3% dengan dua teknik pengambilan sampel BAL+brushing.38 Penelitian Tang dkk dari 37 sampel dijumpai keganasan pada 18 pasien dengan sensitifitas BAL 48.6%, nilai diagnostik akan meningkat secara signifikan sampai 73% (p
Hasil Bronkoskopi Serat Optik Lentur (BSOL) Menggunakan Teknik Bronchoalveolar Lavage (BAL) Pada Tuberkulosis Paru Dengan Hapusan Dahak Bakteri Tahan Asam (BTA) Negatif Bronchoaveolar Lavage BAL Bronkoskopi Bronkoskopi Bronchoalveoar Lavage Pengecatan Direct Smear cairan BAL Batang Tahan Asam BTA DEFINISI TB PARU EPIDEMIOLOGI TB PARU Mycobacterium Tuberculosis DESAIN PENELITIAN TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN POPULASI DAN SAMPEL PERKIRAAN BESAR SAMPEL BAHAN DAN ALAT MANAJEMEN DAN ANALISIS DATA Karakteristik Peserta Penelitian HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan Khusus Profil diagnosis awal peserta penelitian Lokasi Sampel Profil Hapusan Batang Tahan Asam BTA dari Bronchoaleolar Lavage BAL Profil Gambaran Yang Tampak Dari Bronkoskopi PEMBAHASAN Profil Keluhan Respirasi Profil Kelainan Radiologis
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Hasil Bronkoskopi Serat Optik Lentur (BSOL) Menggunakan Teknik Bronchoalveolar Lavage (BAL) Pada Tuberkulosis Paru Dengan Hapusan Dahak Bakteri Tahan Asam (BTA) Negatif

Gratis