Feedback

Potensi Tari Saman Sebagai Atraksi Wisata Budaya Di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

Informasi dokumen
POTENSI TARI SAMAN SEBAGAI ATRAKSI WISATA BUDAYA DI NANGROE ACEH DARUSSALAM KERTAS KARYA OLEH : KATMY TAWAR RANI NIM : 072204019 PROGRAM STUDI D-III PARIWISATA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011   1   Universitas Sumatera Utara LEMBAR PERSETUJUAN POTENSI TARI SAMAN SEBAGAI ATRAKSI WISATA BUDAYA DI NANGROE ACEH DARUSSALAM OLEH : KATMY TAWAR RANI NIM : 072204019   Dosen Pembimbing Dosen Pembaca Drs. Haris Sutan Lubis, MSP Nip. 19590907 198702 1 002 Arwina Sufika, SE.,M.Si Nip. 19640821 199802 2 001  i Universitas Sumatera Utara LEMBAR PENGESAHAN Judul Kertas Karya : POTENSI TARI SAMAN SEBAGAI ATRASI WISATA BUDAYA DI PROVINSI NANGROE ACEH DARUSSALAM Oleh : KATMY TAWAR RANI Nim : 072204019 FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Dekan, Dr. Syahron Lubis, M.A Nip. 19511013 197603 1 001 PROGRAM STUDI D-III PARIWISATA Ketua, Arwina Sufika, SE.,M.Si Nip. 19640821 199802 2 001   ii   Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim, Dengan Asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Penulis menyampaikan rasa syukur kehadirat-Nya, karena Keridhoan – Nyalah Kertas Karya yang berjudul “POTENSI TARI SAMAN SEBAGAI ATRAKSI WISATA BUDAYA DI PROVINSI NANGROE ACEH DARUSSALAM”, sebagaimana mestinya. Kertas Karya ini dibuat untuk melengkapi tugas akhir semester dan memenuhi syarat untuk mencapai gelar Ahli Madya Pariwisata Diplona III, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari bahwasanya dalam penulisan kertas karya ini masih banyak kekurangan, baik informasi, teknik penyusunan, maupun penggunaan kalimat, karena ilmu pengetahuan dan pengalaman penulis yang masih kurang, buku bacaan dan bahasa yang dikuasai juga sangat terbatas. Oleh karena itu penulis dengan rendah hati menerima kritikan dan saran yang membangun dari semua pihak. Kertas karya ini juga dapat terselesaikan karena dipacu dorongan, bantuan nasehat dan bimbingan dari semua pihak. Sehubungan dengan itu. Penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam kertas karya ini. 1   Universitas Sumatera Utara Akhir kata, semoga kertas karya ini dapat berguna baik bagi penulis sendiri maupun masyarakat banyak untuk kemajuan kepariwisataan dan Kebudayaan Indonesia di masa yang akan datang. Wassalam Medan, 23 Juni 2011 Katmy Tawar Rani NIM : 072204019 2   Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Kata Pengantar . i Daftar Isi . iii Abstrak . vi BAB I PENDAHULUAN . 1 1.1 Alasan Pemilihan Judul . 1 1.2 Pembahasan Masalah . 2 1.3 Tujuan penulis . 2 1.4 Metode penelitian . 3 1.5 Sistematika Penulisan . 4 URAIAN TEORITIS . 5 BAB II 2.1 Pengertian Pariwisata, Kepariwisataan, Objek Dan Daya Tarik Wisata . 5 2.1.1 Pengertian Pariwisata . 5 2.1.2 Kepariwisataan . 6 2.1.3 Objek dan Daya Tarik Wisata . 6 2.2 Motivasi Perjalanan Wisata dan Bentuk Pariwisata . 7 2.3 Pengertian Industri Pariwisata . 8 2.4 Produk Industri Pariwisata . 11 2.5 Pengertian Kebudayaan . 12 2.6 Hubungan Kebudayaan dengan Kepariwisataan . 13 3   Universitas Sumatera Utara BAB III GAMBARAN UMUM TENTANG TARI SAMAN . 17 3.1 Pengertian, Sejarah Serta Makna dan Fungsi Tari Saman . 17 3.1.1 Pengertian Tari Saman. 17 3.1.2 Sejarah Tari Saman . 17 3.1.3 Makna Dan Fungsi Tari Saman . 19 3.2 Lagu dan Syair serta Nyanyian Tari Saman . 19 3.2.1 Lagu dan Syair Tari Saman . 19 3.2.2 Nyanyian Tari Saman . 20 3.3 Jenis – Jenis Tari Saman . 20 3.4 Cara Persembahan Tari Saman. 22 3.5 Bahasa dan Pakaian Yang Dipakai Dalam Tari Saman . 25 3.5.1 Bahasa Yang Digunakan Dalam Tari Saman . 25 3.5.2 Pakaian Yang Digunakan Dalam Tari Saman . 25 3.6 Beberapa Istilah Dalam Tari Saman . 27 3.7 Tahapan Main Saman . 29 3.8 Nama – Nama Pemain Dalam Tari Saman . 33 3.9 Komposisi Pemain Saman . 34 BAB IV KEKUATAN MAGIS DALAM TARI SAMAN. 35 4.1 Rengum . 35 4.2 Persalaman . 35 4.3 Uluni Lagu . 36 4.4 Babakni Lagu . 36 4.5 Penutup Lagu . 37 4   Universitas Sumatera Utara BAB V PENUTUP . 38 5.1 Kesimpulan . 38 DAFTAR PUSTAKA . 39 5   Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Nangroe Aceh Darussalam sebagai salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) di Indonesia, memiliki potensi dan peluang besar dalam pengembangan kepariwisataannya, dengan keindahan alam yang sangat mempesona, tarian-tarian yang unik yang dapat diandalkan untuk menarik arus kunjungan wisatawan. Suatu objek wisata dalam mendatangkan wisatawan apabila memiliki 3 faktor utama yang menjadi keterikan bagi wisatawan untuk datang ke objek dan daya tarik wisata tersebut. Faktor tersebut yaitu adanya something to do, something to see, dan something to buy di objek dan daya tarik wisata yang dikunjungi. Selain itu juga dibutuhkan sebuah pengemasan produk wisata yang profesional sehingga laku dijual kepada wisatawan. Oleh karena itu peranan dari berbagai pihak pariwisata Nangroe Aceh Darussalam dituntut untuk memberikan sumbangan, saran, serta masukanmasukan demi tercapainya tujuan nasional di bidang pariwisata dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Key words : Tari Saman, Nangroe Aceh Darussalam, Wisata Budaya   6   Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Nangroe Aceh Darussalam sebagai salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) di Indonesia, memiliki potensi dan peluang besar dalam pengembangan kepariwisataannya, dengan keindahan alam yang sangat mempesona, tarian-tarian yang unik yang dapat diandalkan untuk menarik arus kunjungan wisatawan. Suatu objek wisata dalam mendatangkan wisatawan apabila memiliki 3 faktor utama yang menjadi keterikan bagi wisatawan untuk datang ke objek dan daya tarik wisata tersebut. Faktor tersebut yaitu adanya something to do, something to see, dan something to buy di objek dan daya tarik wisata yang dikunjungi. Selain itu juga dibutuhkan sebuah pengemasan produk wisata yang profesional sehingga laku dijual kepada wisatawan. Oleh karena itu peranan dari berbagai pihak pariwisata Nangroe Aceh Darussalam dituntut untuk memberikan sumbangan, saran, serta masukanmasukan demi tercapainya tujuan nasional di bidang pariwisata dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Key words : Tari Saman, Nangroe Aceh Darussalam, Wisata Budaya   6   Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Alasan Pemilihan Judul Kebudayaan merupakan faktor pendukung suatu objek dan daya tarik wisata. Apabila objek dan daya tarik wisata tidak memiliki kebudayaan yang dapat diperkenalkan maka objek dan daya tarik wisata tersebut tidak memiliki nilai tambahan untuk dijual, sebab di Indonesia sudah dikenal dengan budaya dan adat istiadat yang mendukung suatu objek dan daya tarik wisata. Untuk mengenalkan suatu budaya disuatu tempat, harus dilakukan suatu pengenalan – pengenalan kepada wisatawan. Pengenalan tersebut dapat berupa suatu pertunjukan seni di negara ataupun daerah asal wisatawan, sehingga wisatawan tersebut berminat untuk datang langsung ketempat asal kesenian tersebut. Pengertian lainnya adalah dengan dilakukannya promosi melalui media elektronika maupun media cetak. Untuk meningkatkan pembangunan di bidang pariwisata sangat terkait oleh berbagai aspek kehidupan dan juga sangat terkait dengan SDA dan SDM yang dimulai. Salah satu modal yang dimiliki bangsa Indonesia dalam hal kepariwisataan adalah kebudayaan. Dengan perkembangan dan kemajuan zaman saat ini, sebagai bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya, maka harus memiliki beraneka ragam budaya yang ada, agar tetap dilestarikan keberadaannya. 1 Universitas Sumatera Utara   2 Kunjungan wisata di suatu tempat tidak terlepas dari kerjasama berbagai pihak yang mengatur kegiatan di bidang pariwisata. Salah satu kawasan wisata yang dapat ditawarkan adalah Kabupaten Aceh Tenggara karena selain memiliki pemandangan yang indah, kesenian Tari Saman juga sebagai daya tarik wisatawan untuk datang ke daerah ini. Dalam hal ini perencanaan daya tarik wisata budaya hanya sebatas menawarkan komponennya saja. Tidak termasuk dalam hal promosi dan juga pemasaran. 1.2 Pembatasan Masalah Mengingat terbatasnya pengetahuan, pengalaman serta data yang diperlukan dalam penulisan kertas karya ini, penulis hanya membatasi ruang lingkup permasalahan hanya pada gerakan-gerakan yang unik sebagai bagian daya tarik atraksi budaya dalam menarik wisatawan. Namun demikian penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk membahas dan mengganti lebih dalam lagi setiap masalah yang berhubungan dengan kertas karya ini. 1.3 Tujuan Penulisan Di dalam pembahasan yang telah dibuat harus mempunyai arah dan tujuan yang jelas dengan maksud memberi pertimbangan kepada masyarakat wisata. Universitas Sumatera Utara   3 a. Memperkenalkan arti dan makna kebudayaan b. Menghimbau agar Pemprov NAD dapat memberikan perhatian yang lebih, dalam pengembangan kebudayaan daerah Aceh Tenggara khususnya Gayo. c. Untuk menumbuhkan kembangkan kesadaran rasa cinta tanah air dan budaya bangsa. d. Sebagai salah satu syarat dalam mencapai gelar Ahli Madya program D-3 Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. 1.4 Metode Penelitian Dalam pengumpulan data yang diperlukan untuk menyelesaikan kertas karya ini, penulis menggunakan metode penelitian yang terdiri dari dua jenis yaitu: a. Library Research, yaitu suatu metode pengumpulan data yang berdasarkan pada literatur, tulisan-tulisan ilmiah, brosur-brosur maupun sumber data lainnya baik dari perpustakaan maupun dari tempat-tempat lainnya yang berhubungan dengan objek yang akan diteliti di kertas karya ini. b. Field Research Metode penelitian, pengumpulan data yang didasarkan pada penelitian langsung ke lapangan, melakukan pengamatan di objek dan melakukan wawancara langsung dengan orang-orang terkait. Universitas Sumatera Utara   4 1.5 Sistematika Penulisan Agar memudahkan pemahaman atas isi kertas karya ini, maka penulis membuat tahapan-tahapan penulisan secara sistematis agar penguraian yang dilakukan terarah sedemikian rupa. Adapun sistematika penulisan tersebut adalah: BAB I : PENDAHULUAN Dalam bab ini penulis menguraikan alasan pemilihan judul, pembatasan masalah, tujuan penulisan, metode penelitian, serta sistematika penulisan. BAB II : URAIAN TEORITIS KEPARIWISTAAN Dalam bab ini penulis akan menguraikan tentang pengertian kepariwisataan, wisatawan, pengertian kebudayaan dengan periwisata, sarana dan prasarana pariwisata. BAB III : GAMBARAN UMUM TENTANG TARI SAMAN Dalam bab ini penulis akan menguraikan tentang pengertian Tari Saman, makna dan fungsi Tari Saman syair yang ada di dalam Tari Saman, nyanyian, gerakan dalam Tari Saman, penari. BAB IV : KUATAN MAGIS DALAM TARI SAMAN Dalam bab ini penulis akan mengurakan tentang kekuatankekuatan magis yang ada di dalam Tari Saman. Ragam, persalaman ulu ni lagu, penutup. BAB V : PENUTUP DAFTAR PUSTAKA Universitas Sumatera Utara BAB II URAIAN TEORITIS 2.1 Pengertian Pariwisata, Kepariwisataan, Objek dan Daya Tarik Wisata 2.1.1 Pengertian Pariwisata Menurut Hunziker dan Kraft (dalam Yoeti, 1966 : 115 ) pariwisata adalah keseluruhan hubungan dan gejala-gejala pariwisata yang timbul dari adanya perjalanan dan tinggalnya orang asing dimana perjalanannya tidak untuk menetap dan tidak ada hubungannya dengan kegiatan mencari nafkah. Menurut Oka A Yoeti, (dalam Yoeti, 1996 : 114) Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilaksanakan untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain dengan maksud bukan mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna bertamasya dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam. Menurut UU NO. 9 / 1990, Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata termasuk pengusaha objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut. 5 Universitas Sumatera Utara   6 2.1.2 Kepariwisataan Menurut UU No.9 / 1990 bahwa kepariwisataan adalah sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata. Menurut ketetapan MPR No. III tahun 1960 bahwa dalam dunia modern pada hakikatnya adalah suatu cara untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam memberi hiburan jasmani dan rohani setelah beberapa waktu bekerja dan serta mempunyai modal untuk melihat-lihat daerah lain (pariwisata dalam negeri) atau negara lain (pariwisata manca Negara). Dengan demikian pengertian kepariwisataan ini jauh lebih luas dari pada pengertian pariwisata, Karena kepariwisataan mencakup segala kegiatan atau penyelenggaraan usaha perjalanan wisata, usaha jasa pramuwisata, konvensi dan lain-lain yang kesemuannya harus dapat memberikan kepuasan wisatawan baik rohani maupun jasmani. 2.1.3 Objek dan Daya Tarik Wisata Dalam UU No. 9/1990 tentang kepariwisataan yang dimaksud dengan objek dan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata. Dalam bahasa Inggris istilah objek dan daya tarik wisata ini disebut “attraction” yang berarti segala sesuatu yang memiliki daya tarik, baik benda yang berbentuk fisik maupun nonfisik. Universitas Sumatera Utara   7 2.2 Motivasi Perjalanan Wisata dan Bentuk Pariwisata 2.2.1 Motivasi Perjalanan Wisata Pada hakikatnya mobilitasi manusia merupakan salah satu sifat utama kehidupan manusia itu sendiri yang tidak pernah puas terkaku pada suatu tempat untuk memenuhi tuntutan kelangsungan hidupnya. Dengan bertambahnya jumlah produk dan meningkatnya keadaan sosial ekomomi, yang ditunjang oleh kemajuan teknologi, mendorong manusia untuk membuat permintaan jauh lebih banyak dari pada sebelumnya. Mobilitas manusia timbul karena berbagai macam dorongan kebutuhan atau kepentingan yang disebut dengan motivasi yang dapat digolongkan sebagai berikut : 1. Dorongan kebutuhan dengan atau ekonomi 2. Dorongan kebutuhan kepentingan politik 3. Dorongan kebutuhan keamanan 4. Dorongan kebutuhan kesehatan dan pemukiman 5. Dorongan kebutuhan kepentingan keagamaan, pendidikan 6. Dorongan kebutuhan minat kebudayaaan, hubugan keluarga dan untuk rekasi Semua dorongan tersebut di atas adalah merupakan faktor mendasar bagi kebanyakan masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata (dalam Yoeti, 1996 : 176). Universitas Sumatera Utara   8 2.2.2 Bentuk Pariwisata Secara umum pengertian pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan objek wisata yang dapat disaksikan oleh pengunjung menurut situasi tertentu dan waktu yang tepat, serta kemauan untuk mendatangi mengunjungi dengan menggunakan alat pengangkutan yang dapat menjangkau objek yang dimaksud. Bentuk pariwisata dibagi atas : 1. Menurut letak geografisnya 2. Menurut alasan / tujuan perjalanan 3. Menurut objeknya 4. Menurut jumlah yang melakukan perjalanan 5. Menurut jenis kelamin 6. Menurut alat pengangkutan 7. Menurut umur wisatawan (dalam Yoeti, 1996 : 183) 2.3 Pengertian Industri Pariwisata Industry pariwisata dapat didefinisikan sebagai berikut : R.S. Darmaji (dalam Yoeti, 1996 : 153) mengatakan “Industri pariwisata merupakan rangkuman dari pada berbagai macam bidang usaha, yang secara bersama – sama menghasilkan produk – produk maupun jasa / pelayanan atau service yang nantinya baik secara langsung ataupun tidak langsung akan dibutuhkan oleh wisatawan selama perjalanannya”. Hunziker (dalam Yoeti, 1996 : 154) dari Bern University memberikan rumusan tentang industri pariwisata sebagai berikut : “Tourism enterprises are all Universitas Sumatera Utara   9 business entites whiech, by combining various various means of production, provide goods and service of a specially tourist nature“ yang berarti : industri pariwisata adalah seluruh kegiatan bisnis hasil produksi, keuntungan dari barang dan jasa pembawaan yang khusus pada wisatawan. Hampir bersamaan dengan batasan yang dikemukakan oleh Hunzieker, Berneker (dalam Yoeti, 1996 : 154) memberikan rumusan atau batasan kehidupan budaya bangsa serta mengikut sertakan masyarakat terus ditingkatkan. Dari ketiga poin itu dapat simpulkan bahwa peranan masyarakat sangat besar dalam mempertahankan dan mengembangkan nilai – nilai budaya yang telah dimiliki, salah satu caranya yaitu dengan kegiatan kepariwisataan, karena dengan kepariwisataan kebudayaan yang dimiliki oleh suatu bangsa dapat diketahui dan dapat dinikmati oleh wisatawan yang datang berkunjung ke daerah tujuan wisata untuk memenuhi rasa ingin tahu serta mengaguminya. Sehingga perkembangan kepariwisataan yang telah dilakukan, diharapkan tidak memudarkan nilain – nilai budaya yang telah ada sehingga kebudayaan dan kepariwisataan tetap menjadi satu kesatuan yang utuh sehingga saling melengkapi dan mendukung. Universitas Sumatera Utara BAB III GAMBARAN UMUM ACEH TENGAH 3.1 Letak Geografis Aceh Tengah Takengon Kabupaten Aceh Tengah adalah sebuah kabupaten yang terletak di tengah-tengah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan wilayah yang didominasi pegunungan. Penduduknya sebagian besar berasal dari suku Gayo. Kabupaten ini terkenal dengan Danau Laut Tawar, sebagai salah satu tempat wisata. Kabupaten Aceh Tengah berada di kawasan Dataran Tinggi Gayo. Kabupaten lain yang berada di kawasan ini adalah Kabupaten Bener Meriah serta Kabupaten Gayo Lues. Tiga kota utamanya yaitu Takengon, Blang Kejeren, dan Simpang Tiga Redelong. Jalan yang menghubungkan ketiga kota ini melewati daerah dengan pemandangan yang sangat indah. Pada masa lalu daerah Gayo merupakan kawasan yang terpencil sebelum pembangunan jalan dilaksanakan di daerah ini. 3.2 Sejarah Kota Takengon Takengon merupakan ibu kota Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Kota Takengon terletak di sisi Danau Laut Tawar, di tengah-tengah wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kawasan ini merupakan dataran tinggi yang berhawa sejuk dengan ketinggian sekitar 1200 m di atas permukaan laut. Banyak terdapat tempat wisata di kawasan ini, di antaranya adalah Danau Laut Tawar, Gua Puteri Pukes, Pantan Terong. Mayoritas penduduk kota Takengon adalah Suku Gayo, yang lainnya bersuku Aceh, minang, jawa dll. Universitas Sumatera Utara Alkisah pada zaman dahulu kala, para tetua adat di Negeri Linge didaerah dataran tinggi Gayo sepakat untuk mencari daerah baru yang akan dijadikan lokasi pemukiman baru bagi anak cucu mereka yang sudah berkembang. Setelah mendaki dan menurungi pegunungan berkabut, mereka menemukan sebuah dataran yang luas yang dikelilingi pegunungan. Berita penemuan lokasi baru itu disampaikan ke majelis adat Linge, dan sang tetua berkata “Takah di Tengon”, atau di lihat dahulu, apakah lokasi itu baik untuk dijadikan permukiman baru. Dan setelah dilakukan “Takah di Tengon”, para Tetua suku Gayo Linge sepakat untuk membuka hunian baru di pinggiran danau tersebut. Dan Desa “Takah di Tengon” ini kemudian berkembang dan dikenal dengan nama kota Takengon. Saat ini Takengon merupakan ibukota Kabupaten Aceh Tengah yang merupakan kampung halaman bagi masyarakat Gayo. Kota ini juga disebut dengan kota diatas awan karena sering ditutupi kabut tebal dan untuk mengunjungi kota ini, kita harus melewati jejeran pegunungan di dataran tinggi Gayo. Disamping selalu diselimuti kabut karena lokasinya yang berada di ketinggian 1.200 mdpl, kota ini juga masih menyimpan sejuta legenda disetiap sudut kotanya dan masih merupakan misteri sampai saat ini. Percaya atau tidak, masyarakat Gayo sangat mempercayai hikayat dan legenda-legenda tersebut dan menghormatinya. Danau Laut tawar yang mistis dan penuh misteri, legenda Putri Hijau, Legenda Putri Pukes, asa muasal Danau Gayo yang terbentuk karena perkelahian antara manusia dengan raksasa, dan sebagainya adalah peninggalan kisah-kisah era Animisme yang maih terjaga sampai saat ini. Universitas Sumatera Utara Terlepas dari benar atau tidaknya kisah dan misteri tersebut, kearifan lokal masyarakat Gayo telah membuat banyak pendatang baik luar datang mengais rejeki di kota ini. Dan Takengon bisa dikatakan sebagai kota teramah di seantero Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Sehingga tak heran Takengon menjadi ikon pariwisata Aceh. Berbeda dengan sebagian besar kota-kota di Aceh yang lebih ramai di malam hari, aktifitas di Takengon lebih banyak dilakukan di siang hari, sedangkan di malam hari nyaris sepi karena memang udara malam yang sangat dingin dan penduduk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. 3.3 Keadaan Alam dan Iklim Kawasan takengon ini merupakan dataran tinggi yang berhawa sejuk dengan ketinggian sekitar 1200 m di atas permukaan laut. Banyak terdapat tempat wisata di kawasan ini. Sebagian besar penduduknya berasal dari suku Gayo. Selain itu terdapat pula suku-suku lainnya, seperti Suku Aceh dan Suku Jawa. 99 persen masyarakat Aceh Tengah beragama Islam. Masyarakat Aceh Tengah memiliki tradisi tahunan pada saat perayaan proklamasi Indonesia yaitu pacu kuda tradisional. Hal yang unik dari pacu kuda tradisional ini adalah jokinya yang muda berumur antara 10-16 tahun. Selain itu, joki juga tidak menggunakan sadel. Pada umumnya, orang Gayo, penduduk dominan di kabupaten ini dikenal dari sifat mereka yang sangat menentang segala bentuk penjajahan. Daerah ini dulu dikenal sebagai kawasan yang sangat menentang pemerintahan kolonial Belanda. Masyarakat Gayo adalah penganut Islam yang kuat. Masyarakat di Gayo banyak yang Universitas Sumatera Utara memelihara kerbau, sehingga ada yang mengatakan jika melihat banyak kerbau di Aceh maka orang itu sedang berada di Gayo. Penduduk asli Takengon adalah Suku Gayo. Mereka merupakan keturunan dari Batak Karo di Sumatera Utara. Bahasa daerahnya pun berbeda dengan bahasa daerah penduduk Aceh pada umumnya. Kota Takengon berhawa sejuk dengan keindahan alamnya yang luar biasa, dan berada di kawasan dataran tinggi Gayo. Komoditi-komoditi unggulan yang dipasarkan di Kota Takengon adalah komoditi-komoditi yang berasal dari dataran tinggi Gayo, seperti kopi Gayo (kopi arabika) yang terkenal yang diekspor ke Jepang, Amerika dan Eropa, tomat, markisa, sayur-sayuran, jagung, cabe dan kentang. markisa, tomat, cabe, jagung, sayur-sayuran, jeruk keprok Gayo, alpukat, tembakau dan damar. Akses menuju Takengon lebih mudah ditempuh melalui Kota Bireun. Ada sebuah terminal kecil tempat mangkal angkutan yang khusus ke Takengon dengan harga kurang lebih sebesar Rp. 25.000,00 (Januari 2008). Lamanya perjalanan sekitar 5 jam. Selain dari Kota Bireun, jalan alternatif menuju Takengon dapat juga ditempuh melalui Blang Kejeren dan Kutacane. Sebagai informasi, Bireun adalah Ibu Kota Kabupaten Bireun, Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Takengon mempunyai iklim yang sangat sejuk dan basah yang dipengaruhi oleh angin monsun barat dan monsun timur. 3.4 Kepedudukan Masyarakat Takengon terdiri atas 4.494.410 populasi jiwa. Kabupaten Aceh TENGAH memiliki 14 kecamatan yang terdiri dari 271 desa yaitu: Universitas Sumatera Utara Tabel 3.4 Kecamatan – kecamatan di Kabupaten Aceh Tengah No Kecamatan Desa Kode Pos 1 Atu Lintang 9 24563 2 Bebesen 27 24552 3 Bies 11 24561 4 Bintang 23 24571 5 Celala 16 24562 6 Jagong Jeget 7 24563 7 Kebayakan 19 24519 8 Ketol 25 24562 9 Kute Panang 18 24568 10 Linge 24 24563 11 Lut Tawar 15 24516 12 Pegasing 30 24561 13 Rusip Antara 14 24562 14 Silih Nara 33 24562 271 - Jumlah 14 Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Aceh_Tengah, diakses 10 april 2012 Secara geografis, Kabupaten ini terletak pada posisi 40 10’’ - 40 58’’ Lintang Utara dan 960 18’’–960 22’’ Bujur Timur dengan batas wilayah sebagai berikut : 1. Sebelah Utara dengan Kabupaten Bener Meriah 2. Sebelah Selatan dengan Kabupaten Gayo Lues 3. Sebelah Timur dengan Kabupaten Aceh Timur 4. Sebelah Barat dengan Kabupaten Nagan Raya dan Pidie Universitas Sumatera Utara Kabupaten Aceh Tengah mempunyai luas wiayah 4.318,39 km2, yang terdiri dari 14 Kecamatan, 2 Kelurahan, 271 Desa dengan Takengon sebagai ibukotanya. Adapun mata pencaharian masyarakat Aceh Tengah adalah dalam bidang pertanian dan kopi menjadi komoniti terbesar, dari 51.854,7 hektar lahan pertanian di sana 47.854,7 hektar di gunakan untuk lahan kopi. PROFIL KABUPATEN ACEH TENGAH Nama Kabupaten : Aceh Tengah Provinsi : Nanggroe Aceh Darussalam Ibukota : Takengon Luas : 4.318,39 km2 Tinggi rata –rata : 200 -2.600 m Koordinat : 40 10” – 40 58” LU / 960 18” – 960 22” BT Jumlah penduduk : 170.766 Jiwa Kecamatan : 14 Desa : 271 Kode Telepon : 0643 Suku : Gayo Bahasa : Gayo Agama : Islam Universitas Sumatera Utara BAB IV TARI SAMA SEBAGAI ATRAKSI WISATA UNGGULAN DI KABUPATEN ACEH TENGAH NANGGROE ACEH DARUSSALAM 4.1 Pengertian Tari Saman Tari Saman merupakan tarian yag berasal dari tanah Gayo, alam Gayo terletak dipedalaman Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Tari Saman ditetapkan UNESCO sebagai Daftar Representatif Budaya Tak benda Warisan Manusia dalam Sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk Pelindungan Warisan masyarakat Gunungsitoli. Setiap ada kegiatan, kedua tarian ini selalu ditampilkan. Oleh karena itu, maka di berbagai tempat akan dapat dijumpai sekumpulan orang yang belajar tari moyo. Hal ini karena tari maena lebih mudah dipelajari sehingga tidak membutuhkan seseorang yang menjadi pelatih tarian maena. Tari moyo pada awalnya diketahui oleh hampir seluruh perempuan yang beranjak dewasa karena menjadi kriteria tersendiri saat akan dilamar laki-laki. Perkembangan zaman telah mengubah semuanya. Tari maena mulai ditinggalkan masyarakat karena adanya musik yang lebih modern dan lebih asyik menurut masyarakat sekarang. Dalam pesta adat pun sekarang sudah menggunakan kibort dengan alunan musik yang lengkap. Masyarakat terutama kaum muda pun lebih menikmati goyangan bebas disbanding hentakan kaki dan ayunan tangan yang teratur. Kata “lebih modern” selalu menjadi alasan utama mereka. Diperparah lagi dengan semakin sedikitnya masyarakat Kota Gunungsitoli yang mengetahui tentang syair/ pantun maena. Kalau pun dilaksanakan maka hanya sekedar simbol belaka dalam pesta pernikahan adat. Masyarakat yang terlibat dalam fanari maena kurang Universitas Sumatera Utara serius melakukannya karena sekarang banyak yang menjadikannya sarana meminta rokok atau minuman kepada yang mengadakan pesta atau mempelai laki-laki. Kerugian besar bagi budaya Kota Gunungsitoli di tengah modernisasi zaman. Perkembangan tari moyo pun tidak jauh berbeda dengan kondisi tari maena sekarang ini. Tari moyo yang memiliki gerakan relatif sulit tentu memerlukan proses pembelajaran untuk dapat menampilkannya. Orang-orang yang pandai tarian ini pun tinggal sedikit jumlahnya dan sangat sulit dijumpai karena rata-rata telah lanjut usia. Sistem regenerasi budaya yang salah telah terjadi di Kota Gunungsitoli. Mengapa hal itu terjadi? Kesadaran masyarakat saat ini telah jauh berkurang tentang budaya, termasuk tari moyo. Ketidaktahuan manfaatnya yang sebenarnya menjadi alasan sebagian masyarakat. Kalau dulu, mempelajari tari moyo memberikan kebanggaan tersendiri karena raja seringkali akan memberikan hadiah saat selesai melakukan fanari moyo. Melakukan atraksi di hadapan raja dan tamu undangan merupakan suatu kehormatan bagi masyarakat. Seiring hilangnya sistem kerajaan dalam masyarakat, maka tidak ada lagi yang menjadi motivasi melakukan tarian ini. Penerimaan wisatawan yang berkunjung pun tidak ada penyambutan dengan fanari moyo. Keterlibatan pemerintah daerah yang sangat kurang dalam pengembangan tarian ini ikut andil atas merosotnya tarian ini di mata masyarakat dan dunia. Buktinya adalah karena lebih diutamakannya tari baluse (tari perang) daripada tari moyo saat ada pertunjukkan-pertunjukkan tertentu. Berikut data statistik tentang perkembangan jumlah wisatawan di Kota Gunungsitoli. Universitas Sumatera Utara 4.5 Upaya-Upaya Pemerintah dan Masyarakat dalam pengembangan Tari Maena dan Tari Moyo 4.5.1 Upaya-Upaya Pemerintah Pemerintah sebagai pihak pengelola sumber daya dalam masyarakat haruslah memberikan dampak yang berarti. Dalam beberapa tahun belakangan, tepatnya setelah menyadari akan semakin hilangnya atraksi budaya tari maena dan tari moyo, pemerintah telah melakukan beberapa gebrakan-gebrakan seperti mengikutsertakan tarian tersebut dalam berbagai pameran budaya. Salah satu contohnya adalah pameran budaya di Sumatera Utara yang rutin diadakan setiap tahunnya. Melalui kegiatan tersebut, maka akan melibatkan masyarakat untuk mempelajarinya. Menjadikan pelajaran seni tari sebagai salah satu aktivitas dalam lingkungan sekolah pun telah dilakukan pemerintah untuk menumbuhkembangkan minat siswa akan tarian daerah. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan di lingkungan Kota Gunungsitoli sehingga telah terbentuk beberapa sanggar seni. Ke depan diharapkan lebih dimaksimalkan dan diminati oleh banyak masyarakat terutama kaum muda. Selain hal tersebut, pemerintah telah melakukan promosi-promosi akan budaya tersebut ke berbagai belahan dunia. Salah satu adalah dengan membuat website budaya Nias sehingga dapat diakses dan dilihat banyak kalangan. Saat ini, Kota Gunungsitoli pun sedang gencar-gencarnya promosi sekaligus memperkenalkan diri sebagai kota madya baru. Penyuluhan-penyuluhan melalui seminar dan pelatihan juga kerap dilakukan. Di Museum Pusaka Gunungsitoli, setiap bulannya diadakan pelatihan bagi Universitas Sumatera Utara siswa Sekolah Dasar (SD) tentang budaya untuk memperkenalkan dan menumbuhkan minat generasi dini. Memang, dalam kegiatan tersebut, tidak hanya tari maena da tari moyo yang diperkenalkan tetapi juga berbagai kebudayaan Nias lainnya. 4.5.2 Upaya-Upaya Masyarakat Masyarakat sebagai pelaku utama atraksi budaya tidak dapat melepaskan diri dari peran tersebut. Tanpa adanya dukungan masyrakat, berbagai upaya-upaya pemerintah tak akan berarti. Secara umum, masyarakat Kota Gunungsitoli masih belum sepenuhnya menyadari akan pentingnya tari maena dan tari moyo dalam kehidupan, kemajuan pariwisata dan dalam pertumbuhan ekonomi. Walaupun demikian, dengan adanya dorongan-dorongan dari pemerintah dan orang awam yang lebih mengerti diharapkan ke depan tercipta Kota Gunungsitoli Kota Budaya. Upayaupaya yang dapat dilakukan adalah lebih serius menammpilkan tari maena dalam setiap kegiatan adat atau kegiatan lain. Hal ini supaya nilai-nilai tarian itu tidak hilang tertelan kecanggihan zaman. Memotivasi anggota keluarga untuk mempelajari tari maena dan tari moyo juga merupakan langkah positif yang dapat dilakukan. Selain itu, masyarakat harus terus aktif dalam berbagai pertunjukkan budaya seperti yang biasa dilakukan pada saat menyongsong HUT Kemerdekaan Indonesia, dan berbagai hari-hari besar lainnya. Festival-festival budaya harus lebih sering Universitas Sumatera Utara dilaksanakan oleh masyarakat yang mungkin melalui kerja sama dengan organisasi kesenian dan instansi pemerintah. Universitas Sumatera Utara BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Kota Gunungsitoli memiliki berbagai atraksi budaya yang memikat. Di antaranya adalah tari maena dan tari moyo. Tari maena yang merupakan tarian kolosal yang penuh sukacita berpotensi menjadi simbol budaya dan kepariwisataan Kota Gunungsitoli. Tarian ini telah dikenal oleh seluruh masyarakat Nias dan memiliki gerakan yang sederhana dan dinamis. Pemerintah telah berupaya melestarikan tarian gerakan kaki segi empat ini dengan mengikutsertakan dalam berbagai festival budaya. Masyarakat pun terus diberikan penyuluhan akan budaya warisan leluhur. Tari moyo yang ditampilkan oleh kaum perempuan Nias sangat berpotensi dalam kepariwisataan Kota Gunungsitoli. Tarian yang menggambarkan pola hidup masyarakat Nias pada masa lampau ini sangat khas dengan gerakan-gerakan yang menarik. Terkadang menyerupai seperti ono moyo sedang terbang dan gerakan kaki yang indah. Pemerintah telah mencanangkan tari moyo ini sebagai tarian penyambutan bagi wisatawan yang berkunjung. Pembentukan berbagai sanggar seni terutama di lingkungan sekolah telah dilakukan untuk melestarikan tarian ini. Masyarakat lokal sebagai pelaku utama dunia kepariwisataan berperan mensukseskan pelestarian tari moyo dengan ikut serta dan memahami manfaat tarian Universitas Sumatera Utara ini. Pada akhirnya, tari moyo berpengaruh besar dalam kepariwisataan budaya di Kota Gunungsitoli. Atraksi budaya seperti tari moyo harus dilestarikan. Segala yang ada hari ini memiliki makna untuk generasi ke depan. 5.2 Saran Memulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar akan kesadaran pentingnya budaya akan memberikan makna yang besar dan berpengaruh. Masyarakat diharapkan lebih aktif berpartisipasi mensukseskan program pengembangan kepariwisataan Kota Gunungsitoli. Pemerintah diharapkan lebih mementingkan masyarakat umum disbanding banyaknya kepentingan-kepentingan lain. Diharapkan kepariwisataan Kota Gunungsitoli semakin diperhatikan dengan adanya pembangunan-pembangunan, promosi ke berbagai Negara dan sebagainya. Banyak hal dapat dilakukan kalau kita mau. Dunia pendidikan pun memegang peranan penting mengembangkan pariwisata dengan mengajarkan budaya dan warisan leluhur lain kepada anak didik di sekolah sehingga dapat terus dilestarikan dan memberi manfaat yang berarti. Pada akhirnya, kerjasama pemerintah dan masyarakat menentukan arah kepariwisataan Kota Gunungsitoli ke depan. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Damardjati, RS. 2001. Istilah-istilah Dunia Pariwisata. Jakarta: Pradnya Paramita Yoeti, Oka A. 1982. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Angkasa Hammerlse, Johannes Maria, 2001. Asal Usul Masyarakat Nias. Suatu interpretasi. Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias Koentjaraningrat, Prof.Dr. 2007. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan Zebua, F. 1996. Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya. Gunungsitoli Pendit, Nyoman S. 1987. Ilmu Pariwisata. Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta: PT. Pradnya Paramita Noerhadi, Toety Heraty. 1998. Psikologi Pariwisata. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Universitas Sumatera Utara
Potensi Tari Saman Sebagai Atraksi Wisata Budaya Di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Potensi Tari Saman Sebagai Atraksi Wisata Budaya Di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

Gratis