Musik Dalam Ibadah Kontemporer di GBI Medan Plaza: Suatu Kajian Struktur, Konteks dan Fungsi Sosial

 10  170  295  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER

  DI GBI MEDAN PLAZA :SUATU KAJIAN STRUKTUR, KONTEKS DAN FUNGSI SOSIAL T E S I S Oleh ANDY K. MANURUNG NIM.

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

  Paul KwangjongSuh ( ______________________ ) PRAKATA Pertama, puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, yang oleh kebaikan dan kemurahanNya, tesis ini dapat saya selesaikan. D beserta para dosen yang tidak saya tuliskan satu persatu, atas dukungan dan bimbingannya di Magister Penciptaan dan Pengkajian Seni, kepada IbuDra.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dansepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalamnaskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. 1 1.2 “Porsi” dan Genre Musik yang lebih Berbeda……...

BAB IV IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA: KAJIAN STRUKTUR, KONTEKS DAN FUNGSI SOSIAL…………………………… 182

4.1 Etnografi GBI Medan Plaza…………………………. 182

4.1.2. Perangkat Pendukung Ibadah………………… 186

  4.1.3. Pelayanan Yang Terlibat Dalam Ibadah……...

4.2 Struktur Ibadah Yang Fleksibel dan Spontan………. 197

4.2.1. Ibadah Kontemporer Sebagai Sistem dan Struktur Kebudayaan………………………… 200

4.2.2. Penyajian Ibadah Kontemporer……………… 204

  4.3 Ibadah Kontemporer Sebagai Sebuah Kontekstua- lisasi…………………………………………………. Ibadah Kontemporer Dalam Konsep Kon – tekstualisasi…………………………………...

4.3.3. Kriteria Ibadah Yang Sukses………………… 223

  4.3.4. Refleksi Kebudayaan Kharismatik Dalam Perspektif Etnologi…………………………… 224 4.3.5.

4.4 Aspek Sosiologis Agama……………………………. 238

  Ungkapan Religius Perorangan………………. Ungkapan Religius Kolektif………………….

4.5 Fungsi Sosial Musik dan Ibadah Kontemporer……… 241

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……………………………… 248

5.1 Kesimpulan…………………………………………. 248

  Dominasi musik dalam ibadah tampak sebagai sebuah relevansi yang kuat dengan visi GBI Medan Plaza untuk memulihkan pondok Daud yang telah roboh. Dominasi musik dalam ibadah tampak sebagai sebuah relevansi yang kuat dengan visi GBI Medan Plaza untuk memulihkan pondok Daud yang telah roboh.

BAB I PENDAHULUAN 1

1. Latar Belakang

  Tentu saja orang tidak sepenuhnya mengira bahwa saya hendak beribadah ke gereja—jika mereka tidak melihat saya menggenggam Alkitab 2 ditangan saya —selain karena di gedung yang sama dan atap yang sama terdapat begitu banyak tempat yang bisa saya tuju selain beribadah kegereja yang ada di lantai enam dan tujuh, juga karena baju yang saya gunakan lebih casual tidak formil seperti di gereja tradisional yang1 identik dengan pakaian formil dalam beribadah. Kata pujian atau penyembahan yang digunakan pada konteks yang berbeda memilikiarti yang berbeda juga.8 Pengkhotbah dalam gereja ini juga biasa menggunakan Microsoft Power Point untuk menyampaikan materi khotbah, sesuatu perlengkapan yang tidak digunakan dalam khotbah-khotbahdalam gereja-gereja tradisional.9 Oleh Roh dan Firman-Nya Allah menciptakan langit dan bumi dan memberi nafas kepada manusia (Kejadian 1:2;2:7; Mazmur 33:6;104:23).

10 Gerakan dalam tulisan ini dapat mengacu kepada aktivitas gerak-gerik olah tubuh, seperti:

  Sementara itu kalangan gereja Kharismatik memiliki pandangan yang berbeda terhadap musik-musik yang19 Istilah Christian Music Contemporer dianalogikan sebagai jenis musik gereja yang diluar kaidah-kaidah musik maupun instrumentasi gereja tradisi yang menggunakan musik bergaya himne diiringi piano,organ dan sebagainya dalam setiap ibadah, sedangkan Christian Music Contemporeridentik dengan terminologi musik masa kini dengan perangkat musik combo band komplit. Khususnya dalam tulisan inisaya mengaitkan permasalahan ini dengan musik Kristen kontemporer danDepartemen Musik yang ada di GBI Medan Plaza yang sudah memiliki konsep- konsep dan batasan yang jelas terhadap sebuah lagu, mana yang layak diberi label 27 lagu rohani (gereja) dan yang tidak layak—tanpa memandang genre musik—seperti pernyataan Bapak Pdp.

28 Daud, sehingga muncul sebuah pola ibadah yang menurut Wilfred J. Samuel

  Pondok Daud merupakan satu pola ibadah yang sangat menekankan pujian dan penyembah yang dinominasi serta perananmusik sangat penting didalamnya, ibadah pujian dan penyembahan akan membawa kita kepada salah satunya adalah selebratif atau perayaan. Ada tiga tugas worship leader dalam sebuah ibadah kontemporer, yaitu: (1) membawa seluruh jemaat ke dalam hadirat Allah sehingga mereka dapat memuji dan menyembah-Nya dan mendengarkan-Nya dalam setiap ibadah, (2) mengkoordinir dan menyatukan parapenyanyi dan pemain musik dalam pelayanan mereka kepada Allah dan dalam jemaat, (3) untuk mempersiapkan jemaat pada pelayanan Firman Tuhan.

32 Menurut Murgiyanto (1995) kajian-kajian keilmuan mengenai seni terbagi

  Gereja Kharismatik dengan “gaya” musikKristen kontemporer-nya, gereja tradisional dengan “gaya” musik himne dan ibadah yang liturgikal, gereja GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) dengan musik tradisionalKaro yang dimainkan melalui program musik keyboard, atau GKJ (Gereja KristenJawa) dengan musik gamelan dalam ibadahnya. Ketika saya kemudian mulai ikut bergabungmelayani dalam tim Departemen Musik yang merupakan cabang dari GBI MedanPlaza, yaitu GBI MMTC, GBI Sun Plaza, GBI Swissbel Hotel dan GBI HermesPalace saya merasa tertarik untuk mengkaji dan menganalisis bagaimana struktur musik dan ibadah kontemporer yang digunakan di GBI Medan Plaza.

3. Mengkaji Struktur, Konteks dan Fungsi Sosial Dalam Ibadah Kontemporer 1. 1. Asumsi Dasar Penelitian

  Pertama, musik dalam ibadah kontemporer memiliki side effect yang akan menstimulus perasaan dan fisikjemaat yang ada, kemudian secara psikogis menimbulkan pengaruh timbal balik(mutual influence) sehingga akan merefleksikan berbagai kebudayaan kharismatik di dalam ibadah yang kontemporer tersebut. Tujuan dan Kegunaan Penelitian Mengingat bahwa tulisan-tulisan yang ada berkenaan dengan GerakanKharismatik, jika bukan merupakan satu bagian kecil dalam konteks studi yang lebih luas, umumnya hanya membahas aspek tertentu dari rangkaian sejarah Gerakan Sementara itu Gerakan Kharismatik GBI Medan Plaza merupakan salah satu bagian dari gerakan-gerakan Kristen di negeri ini, yang memiliki ciri khas sebagaigerakan spiritual di abad 20.

6. Terminologi dan Konsep

46 Kudus, (13) korban , (14) mesbah, (15) pondok Daud, (16) ibadah, (17) open chord, (18) ibadah kontemporer, (19) pengerja

  (Gugun Sihombing,Manajemen Organisasi, Pelatihan,dan Struktur Musik di Gereja Bethel Indonesia Medan Plaza, Skripsi Etnomusikologi USU, Medan.)46 Korban: Persembahan kepada Allah untuk memuliakan Dia (korban sajian dan korbanminuman), untuk memelihara persekutuan dengan Dia (korban bakaran, korban keselamatan dan korban pujian), untuk menebus dosa dan kesalahan (korban penghapus dosa, korban penebus salah). Alasan kedua saya melihatpentingnya mengetahui apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh masyarakat pendukung Gerakan Kharismatik ini khususnya di lingkungan GBI Medan Plaza.

7. Landasan Teori

  Teori struktur upacara dan isi simbolik dalam agama oleh Victor Turner Turner melakukan sejumlah analisa mengenai struktur upacara (baca: ibadah) dan isi simboliknya, dengan melakukan kajian yang berkenaan terhadap: (1) sistemdualisme dan triadisme; (2) dasar fisiologi dari simbol; dan (3) liminalitas sebagai suatu konsep yang bersifat akomodatif untuk transformasi. Konsep yang dibuat berhubungan dengan liminalitas sebagai suatu jembatan penghubung, yaitu yang tidak memiliki struktur, bersifat transisi, dan merupakansuatu tingkat atau fase tanpa klasifikasi bagi yang diinisiasi, merupakan pencerminan dari pandangannya mengenai upacara dan agama sebagai suatu sistem yang bersifatformatif dan reflektif.

9. Tinjauan Pustaka

  Adapun pembahasan yang dikaji oleh Gugun ialah sebuah proses awal dimana seseorang yang ingin menjadi imam musik harus melalui programpelatihan musik yang dilaksanakan di GBI Medan Plaza, sehingga proses tersebut terangkum dalam sebuah tulisan ilmiah manajemen program pelatihan musik itusendiri. Cit.,hlm.33 Dari ketiga tulisan tersebut penulis merasa belum dilakukan kajian yang mendalam tentang analisis terhadap peran musik dalam ibadah yang memberikanikhtisar tentang relevansi musik terhadap persoalan psikologis, sosiologis dan teologis di GBI Medan Plaza, sehingga bisa mempengaruhi jemaat secara Roh danspiritual, kemudian melihatnya dalam konteks dan fungsi sosial.

10. Metodologi Penelitian 1. 1. Pendekatan Penelitian

  Namun bukan berarti penelitan dalam seni tidak dapatdilakukan menggunakan metode kuantitatif, karena penelitian yang menggunakan metode kualitatif juga membutuhkan data-data yang bersifat kuantitatif. Metode wawancara dengan tanya jawab penulis dengan orang-orangyang mengetahui sedikit banyaknya mengenai musik dalam ibadah kontemporer diGBI Medan Plaza, dan mengikuti perkuliahan umum di STT Misi Internasional PelitaKebenaran untuk mata kuliah pujian dan penyembahan, hal ini dilakukan penulis guna menambah pengetahuan dan melengkapi atau membantu metode literatur.

11. Sistematika Penulisan

  Tulisan ini disusun dengan sistematika sebagai berikut a. Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang permasalahan dan metodologi penelitian yang penulis pakai.

58 Treichler, P.A., C. Nelson dan L. Grossberg, 1992. “Cultural Studies.” Cultural Studies. L

  Bab III: Musik Dalam Ibadah Kontemporer di GBI Medan Plaza, dalam bab ini penulis akan melihat bagaimana garis harmoni (harmony shape) dan garis melodi(melody shape) dalam lagu pujian dan penyembahan, melihat pola-pola, struktur harmoni dan flowing yang sarat akan improvisasi, sehingga akan terlihatbagaimana karakter dari musik yang digunakan dalam GBI Medan Plaza. Bab IV : Struktur Ibadah Kontemporer dalam Kajian Konteks dan Fungsi Sosial, dalam bab ini penulis akan menelaah ibadah kontemporer bagaimana dapatberlangsung dengan sukses, apa saja kriteria ibadah tersebut sukses secara alkitabiah, dan bagaimana aktivitas di dalam ibadah tersebut, perangkatpendukung ibadah, dan melihatnya berdasarkan landasan teori yang saya gunakan.

BAB II MELIHAT SEJARAH KHARISMATIK DAN TRANSFORMASI MUSIK GEREJA 2

1. Sejarah Munculnya Gerakan Kharismatik 2. Berakar Dari Gerakan Montanis (170 M)

  Secarahistoris kebangkitan di Amerika dan Inggris memiliki hubungan yang erat, dengan dorongan akan kepentingan spiritual dan perdagangan, sejak abad ke-17 kaum 62 Protestan Inggris yang berlatar belakang Calvinis mulai menuju Amerika dimana61 Ibadah yang mereka jalani berupa ritus tarian yang mencoba menggoncangkan (to shake) dosa, kejahatan, dan keinginan seksual, sehingga gerakan ini dinamakan “shakers” (pengguncang). Diantara gedung yang sering digunakan sebagaitempat ibadah adalah Wisma Benteng dan Hotel Tiara, namun tidak setiap bulannya dapat dipergunakan, sehingga ibadah yang dilakukan di tempat tersebut pada hariminggu bulan itu, pada bulan berikutnya belum tentu dapat dilakukan ibadah di tempat yang sama.

3. Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh bangsa- bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi

  Bambang Jonan dan istri yang ketika itumasih bekerja di dunia sekuler belum memiliki tempat tinggal, sehingga mereka untuk sementara menumpang di rumah keluarga Ir. Ruko di Jalan Teuku Umar Yang Dijadikan Gereja Mula-Mula th Sumber: Majalah 15 Anniversary GBI Rayon IV Medan Plaza () Dengan jumlah jemaat mula-mula dan pengerja sebanyak 119 orang gereja ini mengadakan ibadah perdana di bulan Februari di gedung Uniland dan diberi nama 77 oleh Gembala Pembina, yaitu GBI Kemah Daud.

78 Melayani ), pertemuan doa pengerja bulanan, pertemuan departemen-departemen, ibadah remaja pada hari sabtu dan sebagainya

  Tidak adagedung yang memiliki ruang kosong dengan kapasitas besar yang tersisa, semuanya tim datangi untuk menjajaki kemungkinan ruangan tersebut dapat digunakan sebagai78 KOM adalah kelas belajar tentang Alkitab yang menjadi wadah untuk mempersiapkan umat yang layak bagi Tuhan menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali (Lukas 1:17) Kondisi ini menyebabkan hampir setiap minggu gereja ini harus mangadakan ibadah ditempat yang berbeda. Setelahmelalui negosiasi pihak hotel setuju dan memberikan izin kepada gereja untuk memakai salah satu ruang pertemuan yang akan digunakan untuk ibadah pada hariminggu.79 Karena gedung yang disewa adalah sebuah ruang pertemuan (convention) Disampaikan dalam kuliah Pujian dan Penyembahan di STT Misi Internasional Pelita Kebenaran pada tanggal 25 Maret 2011 launching product, atau bahkan konser Justin Bieber disitu ungkap Pdt.

2. Sejarah Musik dalam Kekristenan

  Ia diurapi dan tinggal di suatu tempat yang sangat terhormat di kerajaan Allah, yaitu di gunung kudus Allah untuk menjaga Takhta Allah (LihatYehezkiel 28:12-15). Lucifer sangat paham bahwa musik dapat mempengaruhi tubuh, jiwa dan roh, ia juga sangat paham bagaimana peranan musik dalam pujian dan penyembahan.

82 Curt Sach dalam bukunya A History of Musical Instruments tertulis bahwa alat musik

  Pemahaman dan pendekatan saya terhadap kontekstualisasi dalam musik gereja setidaknya akan sangat bergantung kepada kemampuan yang saya lakukanuntuk mencari usaha-usaha aktif maupun yang sengaja dilakukan untuk menyampaikan Injil Yesus melalui musik sebagai berita agamawi yang isinya khususdan jelas melalui lintas budaya. “[Kontekstualisasi adalah] penerjemahan isi InjilKerajaan yang tidak berubahh ke dalam bentuk lisan yang bermakna bai bangsa-bangsa dalam budaya mereka dan dalam situasi-situasieksistensial mereka” (Nicholls 1979:hlm.647.) “Kontekstualisasi yang diterapkan secara tepat berarti menemukan implikasi-implikasi yang sahdari Injil dalam suatu situasi tertentu.

91 Kata kontekstualisasi (contextualization) berasal dari kata konteks (context) yang

92 Kontekstualisasi mengakibatkan gereja mengalami perubahan dalam gaya

  Menurut Beliau, musik yang berkenandihadapan Tuhan adalah musik yang dilakukan dengan hati “menyembah” saat dilakukan penyembahan dan musik yang “berdoa” saat dilakukan doa serta musik 94 yang “memuji” saat dilakukan pujian. Sehingga beliaumulai “menegur” Jonathan Prawira karena ia sebagai salah seorang pelaku dalam industri musik rohani yang cukup produktif, Jonathan mengatakan dirinya tidak bisamenghindar dari keinginan industri musik yang menginginkan musik rohani yang mengikuti selera pasar dibanding dengan menyampaikan Firman Tuhan, “Jika tidak 97 kata fakir dari lagu, tetapi merupakan Firman Tuhan yang dinyanyikan.

97 Disampaikan Pdt. R. Bambang Jonan pada pertemuan Departemen Musik 9 Agustus 2011 di

  Suasana selebratif ini saya yakini menjadi salah satu faktor yang sangat berkontribusi dan dalam menarik kaum muda datangberibadah, khususnya saat ini terhadap bentuk ibadah kontemporer seperti yang terdapat di GBI Medan Plaza dengan musik yang hidup (live music). Gejala kecanduan tersebut diantaranya,keranjingan musik yang berlebihan dalam ibadah, memasukkan musik keras yang ekstrem, tidak mampu membedakan musik dengan berisik (noise), musik yangdimainkan hanya semata-mata untuk menggerakkan emosi yang akan berakhir kepada suatu ecstasy sehingga ibadah menjadi bergantung kepada instrumen musik— melayani di gereja.

6. Musik Dalam Ibadah Kontemporer Terhadap Kajian Perilaku

  Ada trans yang terjadi karena seorang pemain musik yang merasa dirinya menyatu dengan musik yang ia mainkan; trans yang lebih ringan terjadi oleh pendengar yangmemberikan perhatian besar dan fokus terhadap musik; possession trance yakni, dimana sesuatu diluar dirinya (roh) hadir dan mengambil alih tubuh seorang yang 130 lain melalui yang ia sembah atau melalui kekuatan roh. Pengulangan-pengulangan nyanyian yang simultan dilakukan selama ibadah dengan lirik-lirik yang “menyentuh”, musik yang semaki keras, tempo yang semakincepat, kick drum yang semakin cepat, akan mempengaruhi dan membawa jemaat kepada sebuah kondisi penyembahan yang intim, menangis, meratap, hinggapuncaknya akan mencapai sebuah manifest atau Spirit possess.

8. Ibadah Kontemporer: Bentuk Pola Ibadah di Abad 20

  Fungsi musik dalampelayanan, gaya lagu-lagunya, penampilan mereka, lirik-lirik yang secara eksplisit berisi teologi, dan teologi menyatakan secara tidak langsung melalui aspek-aspektersebut, hal ini yang membedakan ibadah kontemporer (contemporary worship) dari ibadah tradisional (traditional worship) dalam praktek dan latar belakang teologi. Musik dalam ibadah kontemporer memiliki peran yang signifikan sepanjang ibadah dan ada pengulangan kalimat-kalimat yang menguatkan isi teologis dalamibadah.

BAB II I MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA 3

1. Pelayanan Musik 3. 1 Merekrut dan Inisiasi Imam Musik

  Dalam pertemuan tersebut koordinator Departemen Musik akan mengumumkan nama-nama imam musik yang telah lulus training, dan memanggil mereka satu persatu dihadapan148 seluruh imam musik yang ada untuk berdoa dan menumpangkan tangan kepada imam musik yang baru tersebut. 2 Menentukan Lagu Dalam Ibadah Dalam ibadah-ibadah yang dilakukan di GBI Medan Plaza, musik yang dipanjatkan dalam ibadah kepada Allah terbagi atas dua, yang pertama disebutdengan puji-pujian (praise) dan yang kedua disebut dengan penyembahan (worship).

2. Nashville Number System

  Metode notasi ini memungkinkan seorang musisi yang telah mengerti teori musik untuk memainkan lagu yang sama dengan nada dasar yang berbeda denganmudah. Kode penjarian tersebut sama dengan yang digunakan untuk menunjukkan nada dasar sebuah lagu, yang akan saya bahas pada sub-bab 3.6.

5 I V/VII vi V

  Jika dituliskan kedalam tangga nada C Mayor maka akor di atas adalah sebagai berikut: C Am G F C G/B Am G Begitu juga jika contoh akor di atas di ubah dan dimainkan dalam tangga nada DMayor, maka hasilnya sebagai berikut: D Bm A G D A/C# Bm A Bila kita menuliskan perubahan akor dari tangga nada C Mayor ke tangga nada DMayor kedalam huruf maka kita harus menulis ulang huruf tersebut, sedangkan dalam notasi Nashville Number System hal tersebut tidak perlu dilakukan. Hal ini tentu berbeda dengan di GBI Medan Plaza khususnya dan di Indonesia umumnya, untuk melambangkan akor-akor maupun nada-nada yang sifatnyaaksidental tersebut maka dapat dilambangkan dengan angka yang diberi garis miring(/) atau menambahkan tanda kres ( # ) untuk akor kromatis dan garis miring (\) untuk harmoni akor mol ( b ).

3. Penggunaan Nada Dasar ( Key Signature)

  Karena lagu-lagu yang dimainkan dalam ibadah ini melibatkan sebuah tim musik yang terdiri dari beberapa musisi dan tidak semua musisi memilikikemampuan bermusik yang sama pada nada dasar yang kromatik seperti di atas. Secara Alkitabiah tidak ada yang salah dan tidak ada yang melarang menggunakan fasilitas transpose, karena fasilitas tersebut hanyalah sebuahhasil teknologi semata, yang diciptakan untuk mempermudah seseorang dalam bermusik.

4. Flowing

  Flowing adalah pola akor yang baku yang dimainkan dalam sebuah ibadah kontemporer untuk membawa jemaat kedalam penyembahan dan dilakukan secara berulang-ulang dengan perubahan dinamik yang perlahan-lahan semakin keras hinggamencapai sebuah klimaks, kemudian kembali kepada dinamik semula yang lembut. Obed sembiring untukmenentukan pola flowing yang mana akan dimainkan dari beberapa pola yang ada dalam sebuah penyembahan bukanlah berdasarkan pikiran, melainkan Roh Kudus 158 yang memimpin imam musik dalam tim tersebut, dan mengarahkan imam musik tersebut untuk menggunakan pola flowing yang akan digunakan.

5. Improvisasi Improvisasi merupakan bagian penting dan tidak terpisahkan dalam flowing

  Improvisasi sendiri menurut RonaldByrnside adalah: Sebuah komposisi yang dimainkan secara improvisasi bisa dikatakan, setidaknya secara teoritis, sebagai komposisi yang ditampilkan hampirsecara simultan; bisa dikatakan kreasi musikal secara spontan yang dipertunjukkan berbeda dengan karya-karya musik yang telah di tulissecara transkriptif, yang telah di aransemen sebelum ditampilkan. Untuk mencegah hal ini menjadi sebuah “tradisi” yang tidakbaik dalam lingkungan Departemen Musik GBI Medan Plaza, maka setiap imam musik yang akan melayani di gereja ini harus melewati sebuah audisi untuk mendapatkan standar kemampuan dan kapabilitas dalam musik dan karakter yang baik.

6. Pemakaian Kode Jari ( Fingering Code)

  Untuk nada dasar C dilambangkan dengan jari telunjuk, nada dasarD dilambangkan dengan jari telunjuk dan tengah, nada dasar E dilambangkan dengan jari telunjuk, tengah dan manis, nada dasar F dilambangkan dengan jari telunjuk,161 Saya tidak menilai secara holistik terhadap seluruh Pendeta yang melakukan konversi ke agama Kristen tidak memiliki kemampuan bernyanyi dan berimprovisasi. Dalam beberapa kasus yang saya melihat, beberapa worship leader bisa saja terlambat memberikan kode penjarian kepada imam musik dalam sebuah lagu yangsedang dinyanyikan atau raagu-ragu, bahkan merubah kode yang telah diberi kepada imam musik pada saat hitungan (detik-detik) terakhir dalam sebuah bar yang akan berakibat kesalahan oleh imam musik.

7. Istilah ini digunakan untuk membedakan nada dasar antara nada dasar yang

  Dalam ibadah kontemporer, modulasi merupakan salah satu cara yang dilakukan memberi “angin segar” kepada lagu praise atau worship yang bisadikatakan cenderung memiliki bentuk yang minim karena hanya terdiri dari dua bentuk (binary). Robert Siahaan adalah Rektor STT Misi Internasional Pelita Kebenaran yang berada di bawah kelola GBI Medan Plaza dan YSKI (Yayasan Surya Kebenaran Indonesia) bekerja sama dengan ICM (International Christian Mission) yang berpusat di Singapura.

8. Pola

  Ada beberapa pola ending yang seringdigunakan dalam ibadah di GBI Medan Plaza, namun pola-pola ending tersebut digunakan mengacu kepada progresi akor dari lagu yang telah ada dan tidak semuapola ending dapat diterapkan kepada lagu yang berbeda. Dan biasanya aransemen yang dibawakan oleh tim musik yang ada di GBI Medan Plaza menjadi “kiblat” bagi tim-tim musik yang ada di gereja cabang yang dibawahi oleh gereja ini.

1. Pola Ending I-vi-ii-V-I

  Namun yang penting menjadi perhatian penting adalah bahwa dalam setiap 166 pola ending akan selalu diakhiri dengan ritardando , tutti serta dan dinamik yang keras ketika mencapai puncaknya yang diakhiri oleh kadens. Keduanya dapat digunakan dalam sebuah ibadah, tetapi tidak seorang imam musik pun tahu mana diantara kedua contoh di atas yang akan dimainkan dalam 167Fermata adalah tanda memperpanjang nada atau istirahat, lamanya tidka tentu (Latifah Kodijat, Ibid.,hlm.27.) Kontur harmoni (harmony contour) akan memberi gambaran akan progresi akor melalui garis (shape) atau garis geometrik desain (geometric design) danpenempatan secara fisik dari progresi akor.

2. Pola ending I-IV-iv/V#-I/V-I/III-IV-I/V-V-I

  Dalam musik yang digunakan di GBI Medan Plaza, saya juga melihat kecenderungan yang sangat penting adalah penggunaan slash chord dalam lagu-lagu 168 ini. Oleh karena itu terdapat suatu cara notasi, yaitu suara bas saja dengan berbagai angka-angka di bawah masing-masing not bas sebagai tanda-tanda teratur untukmuatan akor-akor iringan (yang berdasarkan nada bas itu) Ending yang menggunakan progresi akor menuju tingkat IV lalu iv merupakan pola ending yang juga “populer” digunakan oleh imam musik dalam mengakhiri sebuah lagu penyembah.

3. Pola ending I-IV-iv/V#-I/V-vi-ii-V-I

  Tampakkecenderungan pemakain slash chord tidak terlepas dalam musik-musik yang digunakan di GBI Medan Plaza. Dengan melihat pola progresi akor ending melalui garis harmoni (harmony shape) maka pola ending I-IV-iv/V#-I/V-vi-ii-V-I di atas akan tampak seperti pada garisgeometrik desain merah di bawah ini: Contoh 9.

4. Pola ending I-IV-iii-vi-ii.V.-I Contoh 10

  Sama dengan pola-pola endingyang lain, pada bagian akhir poco rit dan tutti selalu melihat instruksi yang diberikan oleh orang yang memimpin pujian dan penyembahan melalui aba-aba tangan ataumelalui feeling imam musik kearah mana dan bagaimana worship leader akan mengakhirinya. Berbeda dengan lagu penyembahan, untuk lagu-lagu pujian ending yang digunakan biasanya mengikuti aransemen yang telah dibuat oleh musisi yang membawakan lagusesuai rekaman album tertentu, karena lagu-lagu pujian yang digunakan dalam ibadah biasa memainkan versi dari musisi rohani yang mempopulerkan pertama sekali kemasyarakat.

9. Kadens (Cadence)

  Obed Sembiring ia sendiri belummengetahui kadens apa yang akan ia gunakan diakhir lagu, karena menurutnya bukan ia sebagai pemimpin tim musik—pemain piano sebagai team leader—yangmenentukan akan menggunakan salah satu kadens tersebut dan menyampaikan melalui kode-kode penjarian kepada imam musik, seperti drum, bas dan synthesizer,melainkan Roh Kudus yang menuntun di saat-saat akhir lagu kemana arah kadens dan bentuk flowing yang akan digunakan. Namun diluar pandangan teologis, saya menanyakan kepada beberapa imam musik dan mereka mengaku menggunakan pikiran, menggunakan kemampuan musikal mereka, kira-kira kadens apa dan flowing apa yang akan digunakan dalam Mereka sama sekali tidak dituntun Roh Kudus, melainkan menurut imam musik tersebut pola apa yang terlintas, maka itu yang akan ia gunakan.

10. Tempo dan Dinamik

  Singkatan dalam kata Itali seperti pianissimo (pp) artinya dengan agak lembut, fortissimo (ff),173 Filler adalah imam musik yang bertugas sebagai ‘pengisi’ (accompaniment) dalam sebuahtim musik melalui synthesizer dengan pemilihan jenis suara-suara yang tepat untuk suasana yang berbeda. (Manual Book Training Departemen Musik GBI Medan Plaza)174 Paul Cooper, Perspective in Music Theory an Historical-Analytical Approach, Harper & Row Publisher, New York,1981,hlm.15 175 Musik dalam lagu-lagu penyembahan memiliki tempo yang relatif lambat 176 (adagio) dan sedang (moderato) dengan metronome yang lebih spesifik M.

11. Sorak-Sorai

  Misalnya worship leader meneriakkan “Halleluya!”, maka imam musik yang memainkan drum akan merespondengan drum yang memainkan imitasi dari setiap suku kata dengan kombinasi cymbal dan kick drum. Namun filler akan tetap memainkan chord tonik menggunakan suara string pad dengan nada yang tetap rendah di tangan kiri, yang menimbulkan sebuah atmosfirkontras dari pukulan drum yang keras tiba-tiba hanya terdengar bunyi string pad yang lembut, bahkan suara musik hening sama sekali, yang terdengar hanya bahasaRoh secara komunal.

12. Open Chord

  Sehingga departemenmusik di gereja ini harus senantiasa mengikuti perkembangan album-album rohani yang di keluarkan oleh perusahaan rekaman agar tidak ketinggalan dalam 179 mempelajari lagu-lagu yang baru dirilis.179 Karena itu sulit bagi seorang imam musik untuk mengacu kepada salah satuDepartemen musik selalu mengadakan jadwal khusus untuk melatih lagu-lagu baru atau lagu lama yang belum pernah dibawakan sebelumnya untuk kemudian menjadi repertoar dalam ibadah. Alasan lain, intro yang terdapat dalam lagu-lagu rohani memiliki durasi yang panjang, sehingga tidak cocok digunakan dalam ibadah dan akan membuatjemaat diam terlalu lama sepanjang intro dimainkan.

1. Open chord I-IV/I-I-IV/I

  Sehingga gereja ini berusahanmemiliki standarisasi musik dan kapabilitias imam musik yang sama agar ketika mendapat rekan imam musik yang berbeda dapat bermain dengan baik. Selain itu juga untuk mencegah persaingan antara tim musik yang satu dengan yang lain dan mereduksi sikap sombong seorang imam musik terhadap tim musik yang lain.

2. Open chord I-iv/I-I-iv/I

  Open chord tidak selalu harus dimainkan seperti contoh di atas, seorang worship leader adakalanya hanya meminta imam musik memberinya bunyi dari nada dasar yang ia inginkan lalu langsung saja bernyanyi. Jika imam musik memberi nada dasar yang diingikan worship leader dengan tepat, sebenarnya sudah memberi landasan harmonibagi worship leader untuk bernyanyi, tanpa harus memainkan pola open chord.

13. Slash Chord

  Dalam musik populer sebuah slash chord atau slashed chord, juga disebut coumpound chord adalah sebuah akor yang bas nya di mainkan pada root yang berbeda atau merupakan balikan (inversion) yang ditandai dengan penggunaan garis miring (slash) dan nada bas ditulis setelah huruf akor sebenarnya (root). Termasuk dalam musik yang digunakan di GBI Medan Plaza, penggunaan slash chord merupakan cara untuk “memperkaya” harmoni termasuk pemakaian akor-akor mayor 7 dan 9 yang cenderung digunakan dalampujian dan penyembahan sehingga musik yang dihasilkan terdengar lebih memiliki nuansa jazzy.

14. Karakteristik Progresi Akor

  Progresi akor break down juga sering digunakan untuk mengiringi doa berkat(doa pulang) yang dimainkan dengan dinamik yang berangsur-angsur keras, dimulai oleh piano dan string pad lalu secara perlahan drum dan bas mulai ikut bermain. Walaupunkecenderungan penggunaan progresi akor ini juga tidak selalu di jumpai dalam sebuah lagu penyembahan, namun sekali lagi beberapa imam musik dan tim musikmengaplikasikan progresi akor ini kedalam banyak lagu pujian dan penyembahan sebagai bentuk kreativitas.

BAB IV IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA: KAJIAN STRUKTUR, KONTEKS DAN FUNGSI SOSIAL 4

1. Etnografi GBI Medan Plaza

  Gereja ini selalu ingin memberikan yang terbaik dalam menyembahTuhan, karena Tuhan telah memberkati gereja ini dengan jumlah jemaat yang terus Kedua alasan ekonomis, secara ekonomis akan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama karena memiliki suara dan kualitas yang baik. Angka 5:9 diambil dari kitab Wahyu 5:9 Dengan desain gereja sedemikian rupa, dilengkapi berbagai perangkat yang lebih cenderung familiar digunakan dalam bisnis pertunjukan hiburan (showbiz)daripada digunakan dalam gereja yang dikenal selama ini, telah memberi dan 188 membuka pandangan jemaat-jemaat simpatisan bahwa salah satu ciri-ciri gereja yang modern adalah gereja yang mampu melakukan kontektualisasi dengan tetapmengutamakan Firman Tuhan di atasnya.

2. Struktur Ibadah Yang Fleksibel dan Spontan

  Saya katakan “kejutan-kejutan kecil” karenabisa saja dalam ibadah tiba-tiba dilakukan pemutaran film pendek, atau pengkhotbah yang berbicara dengan topik ekonomi yang Alkitabiah yang ditampilkan sepertisebuah seminar lengkap dengan ayat-ayat Alkitab, atau pengkhotbah yang sengaja didatangkan dari benua lain, atau kota-kota lain di Indonesia yang bahkan baru tibalangsung dari bandara dan datang berkhotbah di GBI Medan Plaza. Simbol-simbol dan struktur-struktur upacara yang berfungsi untuk menghubungkan kenyataan-kenyataan yang dihadapi dan pengalaman-pengalamanyang dipunyai oleh manusia dengan bentuk-bentuk hubungan simbolik dan upacara yang secara khusus berlandaskan pada kebudayaan dan kehidupan sosial danekonomi, yang dengan demikian meletakkan suatu kategori yang lebih komprehensif 192 Clifford Geertz, Op.

3. Ibadah Kontemporer Sebagai Sebuah Kontekstualisasi 4. 1. Ibadah Kontemporer Dalam Konsep “Kontekstualisasi”

  Memang hadirat Tuhan itu sifatnya sangat personal, tidak dapat di buktikan secara nyata bahwa memang Tuhan hadir ada dan dirasakan oleh setiap jemaat yang204205 Lihat Mazmur 104:33-34 Menarik jiwa berarti terjadi pertumbuhan GBI Medan Plaza dalam hal kuantitas merupakan sebuah karya Tuhan yang memanggil orang-orang banyak untuk datang menghadiri ibadah agar mencari Tuhan dan mengikuti-Nya. Saat istilah “kebudayaan” digunakan dalam konteks gereja kharismatik sepertiGBI Medan Plaza, maka setiap pribadi-pribadi dan kelompok-kelompok yang ada didalamnya memiliki kebutuhan yang spesifik, seperti gaya, ekspresi, attitude yangmudah dikenali dan memberikan mereka image maupun identitas yang khas.

4. Aspek Sosiologis Agama

  Misalnya dalam sebuah ibadahkontemporer, seorang berdoa lalu memperagakan beberapa ungkapan melalui bahasa verbal dengan kata-kata, mengungkapkan sikap tubuh, gerak kaki membentuk polasujud, gerakkan tangan baik terbuka maupun tertutup dan ungkapan-ungkapan dengan sikap tubuh, kaki, tangan, dan sebagainya itu dilakukan menurut pola-polakebudayaan Kharismatik yang hidup di lingkungannya. Walaupun ibadah-ibadah kontemporerdilakukan dengan menggunakan kebudayaan-kebudayaan yang “asing” bagi satu komunitas tertentu, tetapi kebudayaan Kharismatik dapat dengan mudah diterimaoleh sebagian besar masyarakat karena memiliki dasar-dasar Alkitabiah yang jelas dan sebagai bentuk interpretasi akan kehadiran Allah dalam setiap ibadah.

5. Fungsi Sosial Musik dan Ibadah Kontemporer

  Secara garis besar struktur ibadah Kualitas ibadah tidak ditentukan oleh sehebat apa musik yang ditampilkan dalam ibadah, sebaik apa alat musik yang digunakan dalam ibadah, secanggih apa sound system yang digunakan dalam ibadah, melainkan bagaimana hati orang yang melakukan ibadah tersebut, hal itu yang menentukan ibadah tersebut berkenan dihadapan Tuhan. Bahasa Roh : Salah satu karunia Roh Kudus yang memuji Allah di dalam doa dengan bahasa yang baru yang biasanya tidak dapat dipahami oleh orang yang memakainya (Lihat 1Korintus 12 dan 14) Pengerja : Merupakan istilah yang umum digunakan dalam GBI yang maksudnya adalah karya secara menyeluruh semua umatnya untuk kepentingan penyebaran agama Kristen.

Informasi dokumen
Musik Dalam Ibadah Kontemporer di GBI Medan Plaza: Suatu Kajian Struktur, Konteks dan Fungsi Sosial 1. 1. Perangkat Pendukung Ibadah IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA: KAJIAN 1. 2 Menentukan Lagu Dalam Ibadah 1. 2. Pelayanan Yang Terlibat Dalam Ibadah 1. 3. 1. Gereja Mula-Mula Dengan 119 Jemaat dan 1. 3. Sejarah ‘Lahirnya’ GBI Medan Plaza 1. 3. Tempat Ibadah Yang Nomaden Menjadi Permanen 1. Kesimpulan KESIMPULAN DAN SARAN 1. Latar Belakang Sejarah Gereja Bethel Indonesia 1. Pelayanan Musik 1. 1 Merekrut dan Inisiasi 10. Metodologi Penelitian 10. Pendekatan Penelitian 1 Sistematika Penulisan 10. Tempo dan Dinamik MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA 11. MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA 12. MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA 14. 2. Progresi Akor IV-IVV-iii-vi-ii-V-I MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA 14. Karakteristik Progresi Akor 14. 1. Progresi Akor I-VVII-vi-V-IV-iii-ii-V-I 2. 1. Ibadah Kontemporer Sebagai Sistem dan Struktur Kebudayaan 2. 2. Penyajian Ibadah Kontemporer IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA: KAJIAN 2. Label Kharismatik 2. 2. Gereja Sebagai Organisme dan Organisasi 2. Nashville Number System MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA 2. “Porsi” dan Genre Musik Yang Berbeda 2. Struktur Ibadah Yang Fleksibel dan Spontan 2. Ungkapan Religius Kolektif 5. Fungsi Sosial Musik dan Ibadah Kontemporer 3. 3. Kriteria Ibadah Yang Sukses 3. 5. Gerakan-Gerakan Kultural Kharismatik Dari Perspektif Alkitabiah 3. Apa Itu Musik Gereja? 3. Ibadah Kontemporer Sebagai Sebuah Kontekstualisasi 3. 1. Ibadah Kontemporer Dalam Konsep “Kontekstualisasi” 3. 2. Hubungan Restorasi Pondok Daud dan Dominasi Musik 3. Mengkaji Struktur, Konteks dan Fungsi Sosial Dalam Ibadah 3. Asumsi Dasar Penelitian 3. Refleksi Kebudayaan Kharismatik Dalam Perspektif Etnologis 4. Lingkup Penelitian 5. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 4. MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA 4. Musik Dalam Ibadah Menurut Fungsionalisme 5. Kontekstualisasi Musik Gereja 5. 1. Lahirnya Istilah Kontekstualisasi 5. 3. GBI Medan Plaza: “Porsi” Musik Yang Lebih Besar 5. 4. Peranan MELIHAT SEJARAH KHARISMATIK DAN TRANSFORMASI 5. Sejarah Transformasi Musik Dalam Gereja 6. 1. Sejarah Awal GBI Medan Plaza Menekankan Pujian Penyembahan 6. MELIHAT SEJARAH KHARISMATIK DAN TRANSFORMASI 6. Musik Dalam Ibadah Kontemporer Terhadap Kajian Perilaku 6. Pemakaian Kode Jari MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA 6. Terminologi dan Konsep PENDAHULUAN 7. 2. Used and function theory Alan P. Merriam 7. 3. Teori struktur upacara dan isi simbolik dalam agama oleh Victor Turner 7. 4. Music and Trance: a theory of the relations between music and possession 7. 5. Perspective in music theory oleh Paul Cooper 8. Rumusan Masalah 7. ‘Lahirnya’ Musik Kristen Kontemporer 7. Landasan Teori 7. A functional theory of culture Bronislaw Malinowski. 7. MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA 8. Ibadah Kontemporer: Bentuk Pola Ibadah di Abad 20 8. Pola MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA 9. 1. 9. 2. Plagal cadence 9. Accidental cadence V-VI-I 9. Kadens MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA Aspek Sosiologis Agama 1. Ungkapan Religius Perorangan Etnografi GBI Medan Plaza Open chord I-IVI-I-IVI Open chord I-ivI-I-ivI 1 Penggunaan Nada Dasar MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA Pola MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA Pola Pola MUSIK DALAM IBADAH KONTEMPORER DI GBI MEDAN PLAZA Pola Pola Pola Pola Pola Pola Pola Pola Pola Pola Pola Pola Pola Pola Pola Pola Pola Pola Pola 5. Improvisasi Sejarah Munculnya Gerakan Kharismatik 1. 1. Berakar Dari Gerakan Montanis 170 M Sejarah Musik dalam Kekristenan
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Musik Dalam Ibadah Kontemporer di GBI Medan P..

Gratis

Feedback