Feedback

Mekanisme Perhitungan dan Pembayaran Pajak Restoran Pada Hotel Pardede Medan

Informasi dokumen
TUGAS AKHIR PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI MEKANISME PERHITUNGAN DAN PEMBAYARAN PAJAK RESTORAN PADA HOTEL PARDEDE MEDAN O L E H NAMA NIM : LUSIANA VERONICA PURBA : 082600049 Untuk memenuhi salah satu syarat Menyelesaikan Studi pada Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK HALAMAN PERSETUJUAN LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN MANDIRI INI DISETUJUI UNTUK DI PRESENTASIKAN O L E H Nama : LUSIANA VERONICA PURBA Nim : 082600049 Prog. Studi : D-III Administrasi Perpajakan Judul : Mekanisme Perhitungan dan Pembayaran Pajak Restoran Pada Hotel Pardede Medan Ketua Prodip III Dosen Pembimbing Supervisor Lapangan Adm. Perpajakan (Drs Alwi H Batubara,M.Si) (Prof.Dr.Erika Revida,MS) (Gudman Lubis) Nip.195608311986011001 Nip.196208211987012001 Nip.580110874007 T Diketahui Dekan FISIP USU (Prof.Dr.Badaruddin,M.Si) Nip.09680521992031002 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI DAFTAR ISI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri 1.2 Tujuan dan Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri 1.3 Uraian Teoritis 1.4 Dasar Hukum Pemunutan Pajak Restoran 1.5 Ruang Lingkup Praktik Kerja Lapangan Mandiri 1.6 Metode Praktik Kerja Lapangan Mandiri 1.7 Analisis dan Evaluasi 1.8 Metode Pengumpulan Data Praktik Kerja Lapangan Mandiri BAB II GAMBARAN UMUM HOTEL PARDEDE INTERNASIONAL MEDAN 2.1 Sejarah Singkat Perusahaan 2.2 Struktur Organisasi 2.3 Uraian Tugas BAB III GAMBARAN DATA PAJAK RESTORAN 3.1 Defenisi Pajak 3.2 Sumber Pendapatan Daerah 3.3 Fungsi Pajak 3.4 Jenis Pajak 3.5 Objek, Subjek, dan Wajib Pajak Restoran 3.6 Dasar Hukum Pemungutan Pajak Restoran 3.7 Dasar Pengenaan, Tarif, dan Tata Cara Perhitungan Pajak Restoran 3.8 Pembayaran dan Penagihan Pajak Restoran BAB IV ANALISA DAN EVALUASI 4.1 Pendaftaran dan Pelaporan 4.2 Mekanisme Perhitungan Pajak Restoran 4.3 Mekanisme Pembayaran Pajak Restoran 4.4 Hambatan Perhitungan dan Pembayaran Pajak Restoran BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) Pemerintah adalah entitas masyarakat dalam suatu negara yang diberi kewenangan untuk menjalankan pemerintahan. Pelaksanaan pemerintah hanya dapat dilaksanakan dengan adanya beberapa unsur pendukung, Salah satunya adalah tersedianya dana yang memadai. Sebab tanpa dukungan dana,semua program pemerintah tidak akan dapat dilaksanakan dan itu berarti fungsi pemerintah dalam suatu negara tidak berjalan secara optimal. Dana yang diperoleh negara merupakan penerimaan yang dipergunakan untuk menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Anggaran tersebut merupakan uraian pembiayaan yang dipergunakan penyelenggaraan pemerintah dan keperluan pembangunan. Biaya pembangunan digunakan untuk membangun sarana dan prasarana yang berkaitan dengan pelayanan publik. (Mustaqiem,2008:1) Salah satu cara bagi pemerintah untuk menghimpun dana bagi pembangunan adalah melalui pemungutan pajak. Hasil pemungutan pajak dikumpulkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan termasuk pendapatan rutin khususnya disektor bukan migas. Pajak mempunyai kontribusi yang sangat besar untuk membiayai anggaran bagi penyelenggara pemerintah, pelayanan umum dan pembangunan. Universitas Sumatera Utara Dari sekian banyak pajak yang dipungut di negara kita salah satu pajak yang diandalkan untuk menghasilkan dana anggaran adalah pajak restoran. Objek pajak restoran adalah setiap pelayanan yang disediakan dengan pembayaran di restoran termasuk bar, kafe, rumah makan, buffet, kantin, kedai nasi/kopi, dan meliputi penjualan makanan dan minuman di tempat yang disertai tempat penyantapan maupun diantar dan dibawa pulang (take away). Subjek pajak restoran adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembayaran kepada restoran. Sedangkan objek pajak restoran adalah pelayanan yang disediakan restoran dengan pembayaran. 1. Pelayanan usaha jasa boga katering 2. Pelayanan yang disediakan oleh restoran atau rumah makan yang peredarannya tidak melebihi batas tertentu yang ditetapkan oleh peraturan daerah. Dasar pengenaan pajak restoran adalah jumlah pembayaran yang dilakukan kepada restoran. Pembayaran adalah jumlah yang diterima atau seharusnya diterima sebagai imbalan atas penyerahan barang dan jasa sebagai pembayaran kepada pemilik restoran. Tarif pajak restoran yang paling tinggi sebesar 10% dan ditetapkan dengan peraturan daerah atas Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pajak restoran yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat restoran berlokasi. Besarnya pokok pajak restoran yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak restoran yang paling tinggi 10% dengan dasar pengenaan Universitas Sumatera Utara pajak, yaitu jumlah yang diterima atau seharusnya diterima sebagai imbalan atas penyerahan barang dan atau jasa sebagai pembayaran kepada pemilik restoran. Proses pemungutan pajak yaitu : pajak dikutip di bank atau tempat yang telah ditentukan oleh Menteri Keuangan sebagai tempat pembayaran untuk menambah anggaran berikutnya apabila tidak mencapai target atau realisasi yang diharapkan. Hambatan Pemungutan Pajak : - Perlawanan Pasif Masyarakat enggan (pasif) membayar pajak yang dapat disebabkan antara lain : a) Perkembangan intelektual dan moral masyarakat. b) Sistem perpajakan yang (mungkin) sulit dipahami masyarakat. c) Sistem control yang tidak dapat dilakukan atau dilaksanakan dengan baik. - Perlawanan Aktif Perlawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara langsung ditujukan kepada fiskus dengan tujuan untuk menghindari pajak yaitu : a) Tax Avoidence, usaha untuk meringankan beban pajak dengan tidak melanggar Undang-Undang. Universitas Sumatera Utara b) Tax Evasion, usaha untuk meringankan beban pajak dengan cara melanggar Undang-Undang (menggelapkan pajak). Berdasarkan kondisi tersebut penulis akan melakukan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) dengan judul “Mekanisme Perhitungan dan Pembayaran Pajak Restoran Pada Hotel Pardede Medan”. 1.2. Tujuan dan Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) Tujuan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) Adapun tujuan pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) ini adalah : a. Untuk mengetahui Mekanisme Perhitungan dan Pembayaran Pajak Restoran pada Hotel Pardede Medan. b. Untuk mengetahui besarnya tarif pajak yang digunakan dalam perhitungan pajak restoran pada Hotel Pardede Medan. c. Untuk mengetahui kendala-kendala yang terjadi dalam perhitungan dan pembayaran pajak restoran pada Hotel Pardede Medan. d. Untuk mengetahui jumlah pembayaran pajak restoran 5 (lima) tahun terakhir. Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) Manfaat Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) adalah : a. Bagi Mahasiswa 1. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman kerja pada suatu instansi swasta dalam hal ini Hotel Pardede Medan. Universitas Sumatera Utara 2. Mengaplikasikan disiplin ilmu yang telah dipelajari khususnya tentang pajak daerah dan retribusi daerah dalam mengatasi permasalahan yang timbul selama PKLM. 3. Meningkatkan profesionalisme, memperluas wawasan dan memantapkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam menerapkan ilmunya khususnya di bidang perpajakan. 4. Untuk menciptakan dan mengembangkan rasa tanggung jawab serta kedisiplinan. b. Bagi Hotel Pardede 1. Untuk memperoleh masukan, ide-ide, gagasan yang konstruktif dari Perguruan Tinggi untuk lebih memperbaiki perhitungan dan pembayaran pajak restoran. 2. Agar dapat digunakan untuk pengembangan ilmu dalam bidang perpajakan khususnya Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan pada Hotel Pardede Medan. 3. Meningkatkan hubungan baik dengan Universitas Sumatera Utara. c. Bagi Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan 1. Meningkatkan hubungan kerjasama dengan instansi swasta dalam hal ini Hotel Pardede Medan. Universitas Sumatera Utara 2. Memberikan uji nyata atas disiplin ilmu yang telah disampaikan selama perkuliahan. 3. Mendapat masukan dan sarana untuk perbikan dan penyempurnaan kurikulum yang berlaku. 4. Mempromosikan sumber daya alam yang terdapat di Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. 1.3. Uraian Teoritis Defenisi Pajak berdasarkan pembagian isi teorinya : 1. Menurut Adriani (Mustaqiem 2008:43), pajak adalah iuran kepada negara yang terutang oleh wajib pajak menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan gunanya untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubungan dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan. 2. Menurut N.J.Feldman (Mustaqiem 2008:1), pajak adalah prestasi yang dipaksakan oleh dan terutang kepada penguasa (menurut norma-norma yang ditetapkan secara umum). Tanpa ada kontraprestasi dan semata-mata digunakan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran umum. Pajak Daerah yang selanjutnya disebut sebagai pajak adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara Universitas Sumatera Utara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kanting, warung, bar, dan sejenisnya termasuk jasa boga/katering. Retibusi daerah, yang selanjutnya disebut sebagai retribusi, adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusunya disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pajak restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran. 1.4. Dasar Hukum Pemungutan Pajak Restoran. Dasar hukum pemungutan pajak restoran pada suatu kabupaten atau kota adalah sebagaimana dibawah ini : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 Tentang Pajak Daerah. 3. Peraturan Daerah Kabupaten / Kota dimaksud. Universitas Sumatera Utara 1.5. Ruang Lingkup Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) Praktik kerja lapangan mandiri (PKLM) ini dilakukan pada Hotel Pardede Medan. Penulis akan membahas secara rinci : 1. Mekanisme perhitungan dan pembayaran pajak restoran pada hotel pardede medan. 2. Kendala dalam perhitungan dan pembayaran pajak restoran pada hotel pardede medan. 3. Untuk mengetahui jumlah pembayaran pajak restoran selama 5 (lima) tahun terakhir. Kegiatan yang akan dilaksanakan dalam PKLM adalah disini penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengetahui hal yang berkaitan dengan mekanisme perhitungan dan pembayaran pajak restoran pada Hotel Pardede Medan dan akan mencari data dan informasi yang berasal dari Hotel Pardede Medan sebagai bahan referensi untuk mengetahui dan mendalami mekanisme perhitungan dan pembayaran pajak restoran pada Hotel Pardede Medan. 1.6. Metode Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) Untuk mendapatkan dan mengumpulkan data serta informasi sesuai dengan metode yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Tahap Persiapan Pada tahap ini penulis akan melakukan penentuan tempat Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM), pengajuan judul, persetujuan judul oleh Ketua Program Studi Diploma III Administrasi Perpajakan, mencari dan Universitas Sumatera Utara mengumpulkan bahan untuk pembuatan proposal dan melakukan konsultasi dengan pihak Dosen yang bersangkutan. 2. Studi Literatur Pada tahap ini dalam pencarian dan pengumpulan sumber-sumber pustaka seperti Undang-Undang, buku-buku, majalah maupun literatur lain yang berhubungan dengan perhitungan dan pembayaran pajak restoran. 3. Observasi Lapangan Pada bagian ini penulis melakukan observasi lapangan di Hotel Pardede Medan mengenai perhitungan dan pembayaran pajak restoran. 4. Pengumpulan Data Penulis melakukan pengumpulan data mengenai mekanisme perhitungan dan pembayaran pajak restoran pada Hotel Pardede Medan melalui : a) Data Primer yaitu data yang diperoleh dari Hotel. Data primer ini dapat diperoleh dari wawancara atau bisa dilakukan dengan mengajukan daftar pertanyaan dan observasi lapangan. b) Data Sekunder (bersumber dari buku-buku ilmiah, Undang-Undang yang berhubungan dengan pajak restoran). c) Data Dokumentasi Universitas Sumatera Utara 1.7. Analisi dan Evaluasi Setelah data yang diperlukan terkumpul secara lengkap maka dilakukan analisa dan evaluasi terhadap data atau keterangan mengenai mekanisme perhitungan dan pembayaran pajak restoran. 1.8. Metode Pengumpulan Data Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) Adapun cara pengumpulan sumber-sumber data adalah sebagai berikut : 1. Daftar Wawancara (Interview Guide) Yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada pegawai yang dianggap mampu memberikan masukan data primer dan informasi tentang mekanisme perhitungan dan pembayaran pajak restoran. 2. Data Observasi Yaitu dengan melakukan pengamatan langsung atas kegiatan yang dilakukan dalam pencatatan terhadap fenomena yang menjadi objek penelitian. 3. Daftar Dokumentasi Yaitu dengan mengumpulkan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan perhitungan dan pembayaran pajak restoran dan meminta berbagai dokumen dari Hotel Pardede Medan. Universitas Sumatera Utara BAB II GAMBARAN UMUM HOTEL PARDEDE INTERNASIONAL MEDAN 2.1.Sejarah Singkat Perusahaan Adanya keputusan bersama Menteri Keuangan dan Menteri Perhubungan Republik Indonesia No. 101 September 1968, telah mendorong para pengusaha Indonesia untuk mendirikan hotel-hotel, sebagai upaya mendorong kemajuan pariwisata di Indonesia dan merupakan salah satu pendapatan negara yang cukup potensial yang perlu ditingkatkan peranannya. Berselang beberapa waktu kemudian, secara kebetulan Bapak TD.Pardede bertemu dengan Bapak M.J.Prayogo (Waktu itu menjabat Konsul Jenderal Pariwisata Perhubungan RI di Singapura), dan beliau menganjurkan agar mendirikian usaha perhotelan yang bertaraf Internasional. Setelah mempelajari dokumen-dokumen dari surat keputusan tersebut dan mendengar keteranganketerangan yang meyakinkan sehingga diambil kesimpulan membuka usaha perhotelan sebagai tambahan bidang-bidang usahanya yang telah ada yakni pertekstilan, perkebunan,pendidikan, kesehatan dan perikanan. Pada tanggal 1 Mei 1970, Motel Danau Toba dan Copa Cabana Club dibuka secara resmi untuk umum dengan manager pertama Drs.D.Silaen dan asisten manager Zaman Ginting, BA. Kemudian pada 1 Juli 1970 diinstruksikan oleh Bapak dan Ibu TD.Pardede untuk menyusun rencana pembuatan satu hotel dengan kamar bertaraf Internasional yang diberi nama Hotel Danau Tobe Internasional. Sambil menunggu selesainya proyek Hotel Danau Toba Internasional, bapak TD.Pardede sebagai usahawan yang gigih dan berkemauan Universitas Sumatera Utara keras, mendirikan dan meresmikan hotel-hotel yang kecil dengan selalu mempertahankan standard Internasional. Pada tanggal 18 Maret 1971 dibuka dan diresmikanlah Pardede Internasional Hotel yang terletak dijalan Ir.H.Juanda No 14 Medan dengan jumlah kamar sebanyak 46 kamar. Dengan semakin banyaknya investasi asing dibidang perminyakan dan perkebunan di Sumut, hotel yang baru diresmikan segera mencapai occupancy rate (tingkat hunian kamar) yang tinggi. Suatu prinsip yang dipuji dari bapak TD.Pardede dalam mendirikan dan menjalankan usahanya dalam bidang perhotelan ini adalah : “Prinsip percaya diri kepada diri sendiri dan percaya pada kekuatan sendiri”. Tenaga-tenaga staff dan karyawan didatangkan dari pulau jawa pada waktu Hotel Danau Toba Internasional yang saat ini masih mempunyai 200 kamar selesai didirikan dan siap untuk dibuka, tenaga staff dan karyawan telah siap pula untuk Hotel tersebut. Pada tanggal 10 Juni 1972 dibuka dan diresmikanlah Hotel Danau Toba Internasional untuk umum dengan general Manager pertama Stanley J.Allison dari London dan tenaga cook dari Jepang. Dengan demikian, dapatlah disimpulkan bahwa sejak 1 Mei 1971 sampai dengan 1973, Pardede Internasional Hotel Group sudah mempunyai cabangcabang-cabang (anak perusahaan), yaitu : a. Hotel Danau Toba dan Copa Cabana Club b. Hotel Danau Toba Mini c. Restoran Internasional Loly Bri Club Universitas Sumatera Utara d. Pardede Internasional Hotel e. Hotel Pardede Internasional Jakarta f. New Belawan Internasional Hotel g. Swimming Pool Club Hotel Danau Toba Internasional Hotel h. Hotel Danau Toba Internasional Parapat Bulan Oktober 1973 Drs.Rudolf M.Pardede (putra T.D.Pardede) kembali dari pendidikannya di London dan ditetapkan menjadi Presiden Direktur Internasional Hotel Group. Sebelum Hotel Danau Toba Internasional dibuka, Hotel Danau Toba dan Pardede Internasional Hotel dibuka occupancynya turun menjadi 60%. Hal ini disebabkan karena tamu-tamu lebih memilih hotel danau toba internasional untuk penginapannya. Pada masa-masa permulaan ini terasa adanya persaingan dikalangan sendiri, yaitu antara hotel-hotel yang terhimpun dalam pardede internasional hotel group. Saat ini pardede internasional group telah memiliki cabang-cabang di Jakarta,Medan,Berastagi,Parapat,Tebing Tinggi,Belawan dan Aceh. Dengan semakin banyaknya jumlah pemesanan kamar hotel maka Pardede Internasional Hotel Medan menambah jumlah kamar hingga sampai saat ini sebanyak 165 kamar yang dilengkapi dengan AC,TV Colour, Parabola, Kulkas untuk masingmasing kamar. Dengan demikian Pardede Internasional hotel Medan di klasifikasikan Hotel Bintang 3 (tiga) Universitas Sumatera Utara Disinilah pentingnya peran para pengusaha hotel, salah satunya yakni Pardede Internasional hotel Group sebagai badan usaha yang menyediakan fasilitas lainnya bagi para wisatawan. Tabel 1. Daftar Kamar Hotel Pardede Internasional Medan Tipe Kamar Jumlah Kamar Adapun fungsi Seketariatan yaitu : 1. Penyusunan rencana, program, dan kegiatan kesekretariatan Universitas Sumatera Utara 2. Pengkoordinasian penyusunan perencanaan program Dinas 3. Pelaksanaan dan penyelenggaraan pelayanan administrasi kesekretariatan Dinas yang meliputi administrasi umum, kepegawaian, keuangan, dan kerumahtanggaan Dinas 4. Pengelolaan dan pemberdayaan sumber daya manusia, pengembangan organisasi, dan ketatalaksanaan 5. Pelaksanaan koordinasi penyelenggaraan tugas-tugas Dinas 6. Penyiapan bahan pembinaan, pengawasan, dan pengendalian 7. Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan pelaporan kesekretariatan 8. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya. Bagian Seketariat terdiri dari : a. Sub Bagian Umum. b. Sub Bagian Keuangan. c. Sub Bagian Penyusun Program. Setiap Sub Bagian Umum dipimpin oleh Kepala Sub Bagian, yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris. Adapun tugas-tugas setiap bagian Sekertariat adalah : a. Sub Bagian Umum mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas sekretariat lingkup administrasi umum. b. Sub Bagian Keuangan mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Sekretariat lingkup pengelolaan administrasi keuangan. c. Sub Bagian Penyusunan Program mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Sekretariat lingkup penyusunan program dan pelaporan. Universitas Sumatera Utara 4. Pendataan dan Penetapan Sub Pendataan dan Penetapan dipimpin oleh Kepala Bidang, yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas. Bidang Pendataan dan penetapan mempunyai Tugas Pokok melaksanakan sebagian tugas Dinas lingkup pendataan, Pendaftaran, Pemeriksaan Penetapan, dan Pengelolahan Data dan Informasi. Adapun fungsi Bidang Pendataan dan penetapan yaitu : a. Penyusunan Rencana, Progaram, dan Kegiatan Bidang Pendataan dan penetapan. b. Penyusun petunjuk teknis lingkup pendataan, pendaftaran, pemeriksaan penetapan, dan pengolahan data dan informasi. c. Melaksanakan pendaftaran dan pendataan seluruh wajib pajak, wajib Retribusi dan pendapatan daerah lainnya. d. Pelaksanaan pengolahan dan informasi baik dari Surat Pemberitahuan pajak Daerah (SPTPD), Surat Pemberitahuan Retribusi Daerah (S{TRD), hasil pemeriksaan dan informasi instansi yang terkait. e. Pelaksanaan proses penetapan pajak daerah, retribusi daerah dan pendapatan daerah lainnya. f. Perencaan dan penatausahaan hasil pemeriksaan terhadap Wajib Pajak dan Wajib Retribusi. g. Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan lingkup bidang pendataan dan penetapan. h. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya. Adapun Bidang Pendataan dan Pendaftaran terdiri dari beberapa seksi, yaitu; Universitas Sumatera Utara a. Seksi Pendataan dan Pendaftaran b. Seksi Pemeriksaan c. Seksi Penetapan d. Seksi Pengolahan Data dan Informasi Setiap seksi dipimpin oleh Kepala Seksi, yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Pendataan dan Penetapan. Adapun tugas-tugas dari setiap Bagian Pendataan dan Penetapan yaitu : a. Seksi Pendataan dan Pendaftaran mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Pandataan dan Penetapan lingkup pendataan dan pendaftaran. b. Seksi Pemeriksaan mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Pendataan dan Penetapan lingkup pemeriksaan. c. Seksi Penetapan mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Pendataan dan Penetapan lingkup penetapan pokk pajak daerah / pokok retribusi daerah. d. Seksi pengolahan Data dan Informasi mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Pendataan dan Penetapan lingkup data dan informasi. 5. Bidang Penagihan Bidang Penagihan dipimpin oleh Kepala Bidang, yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas. Bagian Penagihan mempunyai tugas dan fungsi, yaitu : a. Bidang Penagihan mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Dinas lingkup pembukuan, verifikasi, penagihan, perhitungan, pertimbangan, dan restitusi. b. Dalam melaksanakan tugas pokok, Bidang Penagihan mempunyai tugas dan fungsi yaitu : Universitas Sumatera Utara 1) penyusunan rencana, program, dan kegiatan Bidang Penagihan. 2) penyusunan petunjuk teknis lingkup pembukuan, verifikasi, penagihan, perhitungan, pertimbangan dan restitusi. 3) pelaksanaan pembukuan dan verifikasi atas pajak daerah, retribusi daerah dan pendapatan daerah lainnya. 4) pelaksanaan penagihan dan tunggakan pajak daerah, retribusi daerah dan pendapatan daerah lainnya 5) pelaksanaan perhitungan restitusi dan atau pemindahbukuan atas pajak daerah, retribusi daerah dan pendapatan daerah lainnya 6) pelaksanaan telaan dan saran pertimbangan terhadap keberatan wajib pajak atas permohonan wajib pajak Adapun Bidang Penagihan terdiri dari beberapa seksi, yaitu : 1) Seksi Pembukuan dan Vertifikasi. 2) Seksi Penagihan dan Perhitungan. 3) Seksi Pertimbangan dan Restitusi. Setiap seksi dipimpin oleh Kepala Seksi, yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Penagihan. Adapun tugas-tugas dari setiap seksi dari bidang Penagihan yaitu: a. Seksi Pembukuan dan Verifikasi mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Penagihan lingkup pembukuan dan verifikasi. b. Seksi Penagihan dan Perhitungan mempunyai tugas pokok melaksanakan tugas Bidang Penagihan dan Perhitungan. Universitas Sumatera Utara c. Seksi Pertimbangan dan Restitusi mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Penagihan lingkup pertimbangan dan restitusi. 6. Bidang Hasil dan Pendapatan Bidang Bagi Hasil Pendapatan dipimpin oleh Kepala Bidang, yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas. Bidang Bagi Hasil Pendapatan mempunyai tugas pokok dan fungsi, yaitu: 1. Bidang Bagi Hasil Pendapatan mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Dinas lingkup bagi hasil pajak dan bukan pajak, penatausahaan bagi hasil dan perundangundangan dan pengkajian pandapatan. 2. Dalam melaksanakan tugas pokok Bidang Bagi Hasil Pendapatan menyelenggarakan fungsi : a. penyusunan rencana, program, dan kegiatan Bidang Bagi Hasil Pendapatan b. penyusunan bahan petunjuk teknis lingkup bagi hasi pajak dan bukan pajak, penata usahaan bagi hasil dan perundang-undangan dan pengkajian pendapatan c. pelaksanaan penatausahaan bagi hasil pendapatan pajak dan bukan pajak, DAU, DAK, dan lain-lain pendapatan yang syah d. pelaksanaan koordinasi dengan instansi pemberi bagi hasil pajak dan bukan pajak, DAU, DAK, dan lain-lain pendapatan yang syah e. pelaksanaan perhitungan penerimaan dari dana bagi hasil pajak/ bukan pajak provinsi dan dana bagi hasil pajak/bukan pajak pusat, DAU, DAK, dan lain-lain pendapatan yang syah Universitas Sumatera Utara f. pelaksanaan pengkajian pelaksanaan peraturan perundang-undangan dan pengkajian hasil pendapatan daerah dibidang dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang syah g. penyiapan bahan monitoring, evaluasi, dan pelaporan lingkup bidang bagi hasil pendapatan Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang sesuai dengan tugas dan fungsinya Adapun Bidang Bagi Hasil Pendapatan, terdiri atas : a. Seksi Bagi Hasil Pajak b. Seksi Bagi Hasil Bukan Pajak c. Seksi Penatausahaan Bagi Hasil d. Seksi Peraturan Perundang-undangan dan Pengkajian Pendataan Setiap Seksi dipimpin oleh Kepala Seksi, yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Bidang Bagi Hasil Pendapatan. Adapun tugas-tugas dari setiap seksi pada Bidang Bagi Hasil Pendapatan yaitu : a. Seksi Bagi Hasil Pajak mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Bagi Hasil Pendapatan lingkup bagi hasil pajak. b. Seksi Bagi Hasil Bukan Pajak mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Hasil Pendapatan lingkup bagi hasil bukan pajak. c. Seksi Penatausahaan Bagi Hasil mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Bagi Hasil Pendapatan lingkup penatausahaan bagi hasil. Universitas Sumatera Utara d. Seksi Peraturan Perundang-Undangan dan Pengkajian Pendapatan mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Bidang Bagi Hasil Pendapatan lingkup peraturan perundang-undangan dan kajian pendapatan. 7. Bidang Pengembangan dan Pendapatan Bidang Pengembangan Pendapatan Daerah dipimpin oleh Kepala Bidang, yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas. Bidang Pengembangan Pendapatan Daerah mempunyai tugas pokok dan fungsi, yaitu : a. Bidang Pengembangan Pendapatan Daerah mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Dinas lingkup pengembangan pajak, retribusi dan pendapatan lain-lain. b. Dalam melaksanakan tugas pokok Bidang Pengembangan Pendapatan Daerah menyelenggarakan fungsi : 1) penyusunan rencana, program, dan kegiatan Bidang Pengembangan Pendapatan Daerah. 2) penyusunan bahan petunjuk teknis lingkup pengembangan pajak, retribusi dan pendapatan lain-lain. 3) pelaksanaan pengkajian potensi pajak daerah, retribusi daerah dan pendapatan lainnya. 4) penghitungan potensi pajak dan retribusi daerah 5) pelaksanaan monitoring, artinya penerimaan Pajak Restoran Kota Medan untuk Tahun Universitas Sumatera Utara 2008 dapat dicapai 105,42 %. Di sini bisa kita lihat, walaupun target pada tahun 2008 meningkat, tetapi masih dapat direalisasikan. Bahkan realisasinya mencapai 5,42 % melebihi target. Sedangkan untuk tahun 2009 jumlah yang ditargetkan Rp. 45.750.127.000 dan jumlah yang terealisasikan Rp. 49.316.929.029,18 dengan persentase 107,80% dengan kata lain tahun ini target yang telah ditetapkan kembali tercapai bahkan bias kita katakana melebihi target sebesar Rp. 3.566.802.029. Prestasi yang membanggakan ini tidak lepas dari kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kewajibannya terhadap objek Pajak Restoran. Dan juga kedisiplinan dan upaya yang cukup besar dari pihak Dipenda Kota Medan dalam menjalankan tugas-tugasnya terutama dalam hal penerimaan Pajak Restoran. C. Masalah-masalah yang dihadapi dalam Pelaksanaan Pemungutan Pajak Restoran di Kota Medan Masalah-maslah yang dihadapi dalam pelaksanaan pemungutan pajak restoran yang ada di kota medan adalah : 1. Masih banyak masyarakat Kota Medan yang mempunyai usaha restoran/rumah makan dan sudah memenuhi syarat sebagai wajib pajak restoran. Aakan tetapi, tidak mendaftarkan diri sebagai wajib pajak. Padahal jika masyarakat mendaftarkan diri dan melaksanakan kewajiblan nya sebagai wajib pajak untuk membayar dan melaporkan jumlah pajak terutang tentunya pendapatan atau realisasi pajak restoran di Kota Medan juga akan lebih Universitas Sumatera Utara meningkat setiap tahun nya. Apabila kita perhatikan perkebangan usahakuliner di Kota Medan sedang meningkat. 2. Masih terdapatnya Wajib Pajak yang menyetorkan Pajak Restoran tidak sesuai dengan yang dilaporkan. 3. Terdapatnya Wajib Pajak yang menutup usahanya dan tidak melaporkan ke Dispenda. . D Upaya-Upaya yang Dilakukan Dalam Peningkatan Pajak Restoran Agar penerimaan Pajak Restoran selalu mencapai target yang ditentukan, maka diperlukanlah Upaya-Upaya yang dilakukan demi peningkatan penerimaan Pajak Restoran. Upaya-upaya tersebut antara lain: 1. melaksanakan pendataan ulang terhadap potensi atau omzet wajib pajak, dengan melaksanakan penjagaan. 2. Melaksanakan upaya pendekatan persuasif kepada Wajib Pajak yang melaksanakan pembayaran tidak sesuai dengan nilai yang tercantum dalam SKPD. 3. Mengarahkan dan meningkatkan kinerja petugas lapangan untuk dapat bekerja optimal melalui rapat evaluasi kerja. 4. Menyampaikan surat teguran kepada Wajib Pajak yang belum menyampaikan SPTPD. Universitas Sumatera Utara 5. Mengembalikan SPTPD yang belum sepenuhnya menggambarkan potensi / omzet yang sebenarnya. 6. Melaksanakan penagihan langsung kepada Wajib Pajak yang belum menyetorkan pajak sesuai dengan yang dilaporkan. 7. Melaksanakan pemeriksaan langsung terhadap Wajib Pajak. 8. Mendata dan mendaftar Wajib Pajak baru dan lama. E. Langkah-Langkah Strategis Untuk mempermudah pemerintah dalam melakukan penarikan pajak dan juga untuk membantu wajib pajak dalam memahami dan melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai wajib pajak maka perlu dilakukan langkah-langkah strategis sebagai berikut : 1. Sosialisasi masalah pajak. Masalah pajak tak ubahnya seperti memberi dan menerima (benefit). Sipembayar pajak akan merasa terhutang apabila dia mendapat manfaat dari apa yang telah dibayarnya. Jadi kejujuran merupakan syarat mutlak bagi seorang pengusaha dalam memberikan laporan keuangan baik system Universitas Sumatera Utara pencatatan, cash register, maupun system pembukuan. Agar kejujuran dapat mendekati apa yang diinginkan perlu dilakukan sosialisasi kepada pengusaha maupun konsumen bahwa sebenarnya beban pajak tersebut adalah merupakan bagian dari unit cost, dan pembayaran pajak ini akan dikembalikan berupa manfaat / benefit, jaminan keamanan dan lain-lain. 2. Fungsi Kontrol Agar berjalan fungsi kontrol di dalam penjelasan penarikan pajak daerah sebaiknya dipisahkan unit perencanaan yang menghitung besarnya pendapatan daerah setiap tahun. 3. Standard of Service Perlu adanya standard of service sehingga pengenaan pajak yang diberikan kepada objek pajak, dikembalikan untuk digunakan sesuai dengan standard of service yang telah ditentukan. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari penyajian yang disampaikan penulis di dalam laporan akhir ini maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Pajak Restoran adalah pajak atas pelayanan restoran. Dalam hal ini, yang dimaksud degan restoran adalah tempat menyantap makanan dan ataau Universitas Sumatera Utara minuman yang disediakan dengan dipungut bayaran, tidak termaksud jsaha jasa boga dan catering. 2. Tarif Pajak Restoran ditetapkan paling tinggi 10%. Besar tarif, ditetapkan oleh pemerintah kabupaten kota / daerah yang bersangkutan, sehingga memberikan kesempatan bagipemerintah daerah untuk menetapkan besarnya tarif pajak restoran sesuai dengan kondisi masyarakat. 3. Upaya-upaya yang dilakukan oleh Dipenda Kota Medan untuk Meningkatkan penerimaan Pajak Restoran sepertinya telah berhasil, karena realisasi yang dicapai pada tahun anggaran 2008 s/d tahun anggaran 2009 telah mencapai target yang telah ditetapkan. Meskipun demikian pihak Dipenda tetap berupaya untuk terus meningkatkan penerimaan pajak daerahnya, khususnya Pajak Restoran. 4. Kesulitan yang paling pokok dalam pemungutan Pajak Restoran ini adalah masalah kurangnya kesadaran para Wajib Pajak dalam membayar pajak yang dibebankan kepadanya. 5. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Dipenda Kota Medan guna meningkatkan penerimaan pajak restoran adalah dengan mengadakan pendekatan secara persuasif dengan cara mengadakan penyuluhan dan sosialisasi mengenai Pajak Daerah. Sehingga Wajib Pajak menyadari betapa pentingnya membayar kewajibannya, karena nantinya akan dipergunakan untuk menjalankan roda pemerintahan di daerah maupun pembangunan daerah. Universitas Sumatera Utara 6. Dinas Pendapatan Daerah Kota Medan merupakan unsur pelaksana Pemerintah Daerah dalam melaksanakan kewenangan Walikota Medan dibidang pengelolaan dan Pendapatan Daerah. 7. Pada DISPENDA Kota Medan, sitem pemungutan pajak yang digunakan adalah self assestment system, official assestment system. 8. Pajak Restoran dikenakan terhadap wajib pajak yang memiliki uasah restora/rumah makan yang pendapatannya melebihi Rp.600.000 / bulan, kecuali jasa boga, catering, makanan dan/atau minuman yang disediakan dengan fasilitas penyantapan di Hotel. 9. Pemungutan Pajak Restoran adalah suatu kegiatan mulai dari penghimpunan data objek pajak restoran, dan subjek pajak restoran dengan penentuan besarnya pajak restoran yang terutang sampai dengan kegiatan penerimaan pajak restoran tersebut drai wajib pajak. 10. Mekanisme pemungutan pajak restoran pada DISPENDA medan dimulai dari pengukkuhan wajib pajak, pendaftaran dan pendataan, pelaporan SPTPD oleh wajib pajak, penetapan jumlah pajak restoran melalui SKPD, dan pembayaran pajak restoran. Apabila pajak restoran yang terutang tidak dilunasi setelah jatuh tempo maka skan dilakukan penagihan oleh DISPENDA Kota Medan. 11. Realisai penerimaan pajak restoran di Kota Medan selalu dapat mencapai target yang telah ditetapkan, bahkan dapat melebihi dari target tersebut. Universitas Sumatera Utara B. Saran Saran penulis untuk meningkatkan Pajak Restoran adalah : 1. Para pegawai Dinas Pendapatan Kota Medan lebih meningkatkan kinerja dan disiplin agar dapat mempertahankan prestasi yang telah diraih. 2. Dinas Pendapata Kota Medan harus melakukan pendekatan kepada masyarakat lebih sering lagi agar masyarakat lebih sadar akan pentingnya membayar pajak. 3. Meningkatkan peran serta dan keaktifan dari aparat pengelola Pajak Restoran dalam melaksanakan ketentuan yang berlaku serta diharapkan aparat yang jujur dan bertanggung jawab terhadap tugasnya dan mensosialisasikan peraturan daerah kepada masyarakat. 4. DinasPendapatan Kota Medan hendaknya lebih tegas terhadap pengusaha restoran yang tidak mau membayar pajak atas usahanya jika memungkinkan dengan memberikan sanksi administrasi atau sanksi pidana bagi wajib pajak yang nakal. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Mardiasmo, 2000, Perpajakan Indonesia Revisi 2000, penerbit Andi Yogyakarta. Markus, Muda, 2005, Perpajakan Indonesia, PT.Gramedia Pustaka Utama, jakarta. Siahaan, Marihot P, 2005, Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Republik Indonesia, Undang-undang No.32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah Republik Indonesia, Undang-undang No.33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Republik Indonesia, Undang-undang No.28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retibusi Daerah. Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah No.84 Tahun 2000 Tentang Pedoman Organisasi Pemerintah Pusat Dan Pemerintah Daerah . Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah No.65 Tahun 2001 Tentang Pajak Daerah. Republik Indonesia, Peraturan Daerah No.12 Tahun 2003 Tentang Pajak Daerah Kota Medan. Universitas Sumatera Utara
Mekanisme Perhitungan dan Pembayaran Pajak Restoran Pada Hotel Pardede Medan
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Mekanisme Perhitungan dan Pembayaran Pajak Restoran Pada Hotel Pardede Medan

Gratis