Feedback

Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Ekstrak Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.)

Informasi dokumen
SKRIPSI PERBEDAAN PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA BAKAR DARI EKSTRAK KULIT BUAH JENGKOL (Pithecellobium lobatum Benth.) DALAM BENTUK SEDIAAN SALEP DAN GEL SECARA PRAKLINIS PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR OLEH: DARWIN NIM 071501061 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara PERBEDAAN PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA BAKAR DARI EKSTRAK KULIT BUAH JENGKOL (Pithecellobium lobatum Benth.) DALAM BENTUK SEDIAAN SALEP DAN GEL SECARA PRAKLINIS PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara OLEH: DARWIN NIM 071501061 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara PENGESAHAN SKRIPSI PERBEDAAN PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA BAKAR DARI EKSTRAK KULIT BUAH JENGKOL (Pithecellobium lobatum Benth.) DALAM BENTUK SEDIAAN SALEP DAN GEL SECARA PRAKLINIS PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR OLEH: DARWIN NIM 071501061 Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Pada tanggal : September 2011 Pembimbing I, Panitia Penguji, Prof. Dr. M. T. Simanjuntak, M.Sc., Apt. NIP 195212041980021001 Prof. Dr. Karsono, Apt. NIP 195409091982011001 Pembimbing II, Prof. Dr. M. T. Simanjuntak, M.Sc., Apt NIP 195212041980021001 Drs. Awaluddin Saragih, M.Si., Apt. NIP 195008221974121002 Drs. Saiful Bahri, M.S., Apt. NIP 195208241983031001 Dra. Djendakita, M.Si., Apt. NIP 195107031977102001 Medan, September 2011 Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Dekan, Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. NIP 195311281983031002 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini yang berjudul “Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Ekstrak Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) dalam Bentuk Sediaan Salep dan Gel secara Praklinis pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar ”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus tiada terhingga kepada Ayah Hendri dan Ibu Sumiati tercinta, serta kepada Kakek dan Nenek atas dorongan dan semangat baik moril maupun materil kepada penulis selama masa perkuliahan hingga selesainya penyusunan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Dr. M. T. Simanjuntak, M.Sc., Apt., dan Bapak Drs. Awaluddin Saragih, M.Si., Apt., yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran, tulus dan ikhlas selama penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini. Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., sebagai Dekan Fakultas Farmasi yang telah memberikan bantuan dan fasilitas selama masa pendidikan. Universitas Sumatera Utara 2. Ibu Dra. Masfria, MS., Apt., sebagai dosen wali yang telah membimbing penulis selama masa pendidikan. 3. Bapak Prof. Dr. Karsono, Apt, Bapak Drs. Saiful Bahri, M.S., Apt., Ibu Dra. Djendakita, M.Si., Apt., sebagai dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritikan kepada penulis hingga selesainya penulisan skripsi ini. 4. Bapak Prof. Dr. M. T. Simanjuntak, M.Sc., Apt., selaku Kepala Laboratorium Biofarmasetika dan Farmakokinetika yang telah memberikan fasilitas dan bantuan selama penelitian. 5. Seluruh Staf Pengajar, Pegawai Tata Usaha, Kakak-kakak, Abang-abang dan Teman-teman yang telah membantu selama penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu sangat diharapkan kritikan dan saran yang dapat menyempurnakan skripsi ini. Medan, September 2011 Penulis, Darwin NIM 071501061 Universitas Sumatera Utara Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Ekstrak Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) dalam Bentuk Sediaan Salep dan Gel Secara Praklinis pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar Abstrak Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) merupakan salah satu tumbuhan yang berkhasiat. Kulit buah jengkol termasuk limbah di pasar tradisional dan kurang memberikan nilai ekonomis. Daun jengkol berkhasiat sebagai obat eksim, kudis, luka dan bisul, kulit batangnya sebagai penurun kadar gula darah dan kulit buahnya dapat digunakan sebagai obat borok, pembasmi serangga, luka bakar. Salah satu kandungan kimia dari kulit buah jengkol yaitu tanin. Tanin berfungsi sebagai astringen yang menyebabkan penciutan pori-pori kulit, memperkeras kulit, menghentikan eksudat dan pendarahan yang ringan, antiseptik dan obat luka bakar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ekstrak kulit buah jengkol dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan salep dan gel yang stabil dan mengetahui perbedaan percepatan penyembuhan luka bakar antara bentuk sediaan salep dan gel. Pada penelitian ini ekstrak kulit buah jengkol diformulasikan menjadi sediaan salep dan gel, selanjutnya dievaluasi sediaan, kemudian diuji sediaan salep dan gel terhadap penyembuhan luka bakar dan dilakukan analisis data dengan Statistical Program Service Solution (SPSS) yaitu Uji T Hasil evaluasi sediaan salep dan gel dari ekstrak kulit buah jengkol menunjukkan bahwa sediaan salep dan gel dari ekstrak kulit buah jengkol tetap stabil selama 28 hari dan nilai pH sediaan memenuhi persyaratan nilai pH sediaan yang aman untuk kulit yaitu pH 5 hingga 10. Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang diberi sediaan salep yang mengandung ekstrak kulit buah jengkol 5% sembuh setelah hari ke 14, sedangkan kelompok yang diberi sediaan gel yang mengandung ekstrak kulit buah jengkol 1% sembuh setelah hari ke 10. Hasil analisis data menggunakan Uji T disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap percepatan penyembuhan luka bakar antara bentuk sediaan salep dan gel ekstrak kulit buah jengkol yang memberikan efek terbaik dari masing-masing konsentrasi terbaik (salep 5% dan gel 1%) dimana nilai sig.(2-tailed) atau probabilitas yang dihasilkan lebih besar dari 0,05 (probabilitas 0,194). Kata kunci: ekstrak kulit buah jengkol, salep, gel, luka bakar Universitas Sumatera Utara Differences Accelerating Burn Healing of Dog Fruit Rind Extracts (Pithecellobium lobatum Benth.) in the Ointment and Gel Dosage Forms in Preclinical in Male White Rat of Wistar Strain Abstract Dog fruit (Pithecellobium lobatum Benth.) is one of the herbs are efficacious. Rind dog fruit including waste in traditional markets and provide less economic value. Leaf dog fruit efficacious as eczema, scabies, sores and ulcers medicine, the bark as lowering blood sugar and rind can be used as a skin ulcer medication, insect repellent, burn. One of the chemical compounds from dog fruit rind is tannin. Serves as an astringent tannins that cause shrinkage pores of the skin, hardened skin, stop bleeding exudate and a mild, antiseptic and burn medicine. The aim of this research was to determine the dog fruit rind extract can be formulated in an ointment and dosage forms are stable and know the difference between ointment and gel dosage forms accelerating burn healing. In this study dog fruit rind extract formulated into an ointment and gel dosage forms, dosage forms were evaluated further and then tested against burns and performed data analysis with the Statistical Program Service Solution (SPSS) is a test T. The results of the evaluation of ointment and gel dosage forms from dog fruit rind extract showed that the dosage form of ointments and gels from dog fruit rind extract remain stable for 28 days. pH value of the dosage form eliglibe to the dosage form for the skin pH value of 5 to 10. The results showed the group given 5% dog fruit rind extract ointment recovered after day 14, whereas the group given 1% dog fruit rind extract gel recovered after day 10. Results of analysis of data using T test concluded that there was no significant difference to the acceleration of healing of burns between ointments and gel dosage forms from dog fruit rind extract that give the best effect of each of the best concentration (5% ointment and gel 1%) where the value of sig. (2 tailed) or the probability generated is greater than 0.05 (probability 0.194). Key words: dog fruit rind extract, ointment, gel, burn Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman Judul . i Halaman Judul . ii Halaman Pengesahan . iii Kata Pengantar . iv Abstrak . vi Abstract . vii Daftar Isi . viii Daftar Tabel . xi Daftar Gambar . xii Daftar Lampiran . xiii BAB I PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang . 1 1.2 Perumusan Masalah . 3 1.3 Hipotesis . 4 1.4 Tujuan Penelitian . 4 1.4.1 Tujuan Umum . 4 1.4.2 Tujuan Khusus . 4 1.5 Manfaat Penelitian . 5 1.6 Kerangka Penelitian . 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 6 2.1 Uraian Tumbuhan . 6 2.1.1 Sistematika Tumbuhan . 6 Universitas Sumatera Utara 2.1.2 Sinonim . 6 2.1.3 Nama Daerah . 6 2.1.4 Habitat dan Daerah Tumbuh . 6 2.1.5 Morfologi Tumbuhan . 7 2.1.6 Kandungan Kimia . 7 2.1.7 Khasiat Tumbuhan. 7 2.2 Ekstraksi . 7 2.3 Gel . . 9 2.4 Salep . . 10 2.5 Stabilitas Sediaan . . 11 2.6 Kulit . . 13 2.7 Luka Bakar . . 14 2.8 Penyembuhan Luka Bakar . . 17 2.9 Absorpsi Obat Perkutan . . 18 BAB III METODE PENELITIAN . 18 3.1 Alat-alat . 19 3.2 Bahan-bahan . 19 3.3 Hewan Percobaan . 20 3.4 Identifikasi Tumbuhan. 20 3.5 Pengumpulan dan Pengolahan Sampel . 20 3.6 Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia. 20 3.7 Skrining Fitokimia . 21 3.8 Pembuatan Ekstrak . 21 3.9 Pembuatan Sediaan . 21 Universitas Sumatera Utara 3.9.1 Pembuatan Salep . 21 3.9.2 Pembuatan Gel . 23 3.10 Evaluasi Sediaan . 24 3.10.1 Pemeriksaan Organoleptis. 24 3.10.2 Uji Homogenitas . 24 3.10.3 Pemeriksaan pH . 24 3.11 Pengujian Sediaan Salep dan Gel Terhadap Penyembuhan Luka Bakar. 25 3.12 Perhitungan Diameter Rata-rata Luka Bakar. 25 3.13 Analisis Data. 26 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN . 27 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN . 41 5.1 Kesimpulan . 41 5.2 Saran . 41 DAFTAR PUSTAKA . 42 LAMPIRAN . 45 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Formula salep dengan variasi konsentrasi ekstrak kulit buah jengkol . 22 Tabel 2. Formula gel dengan variasi konsentrasi ekstrak kulit buah jengkol . 23 Tabel 3. Hasil Pemeriksaan Organoleptis Sediaan Salep Ekstrak kulit Buah Jengkol Selama 28 Hari pada Suhu Kamar . 28 Tabel 4. Hasil Pemeriksaan Organoleptis Sediaan Gel Ekstrak kulit Buah Jengkol Selama 28 Hari pada Suhu Kamar . 29 Tabel 5. Hasil Pemeriksaan Homogenitas Sediaan Salep dan Gel Ekstrak Kulit Buah Jengkol Selama 28 Hari pada Suhu Kamar . 30 Tabel 6. Hasil Pemeriksaan pH dari Sediaan Salep dan Gel Ekstrak Kulit Buah Jengkol Selama 28 Hari pada Suhu Kamar . 31 Tabel 7. Proses Penyembuhan Luka Bakar dari Salep Ekstrak Kulit Buah Jengkol 5% dan Sediaan Salep di Pasaran . 37 Tabel 8. Proses Penyembuhan Luka Bakar dari Salep Ekstrak Kulit Buah Jengkol 5% dan Sediaan Salep di Pasaran . 38 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Cara Mengukur Diameter Luka Bakar . 25 Gambar 2. Grafik Diameter Luka Bakar terhadap Waktu (Hari) dari Sediaan Salep Ekstrak Kulit Buah Jengkol . 32 Grafik Diameter Luka Bakar terhadap Waktu (Hari) dari Sediaan Gel Ekstrak Kulit Buah Jengkol . 33 Grafik Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Sediaan Salep dan Gel Ekstrak Kulit Buah Jengkol . 34 Grafik Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Sediaan Salep Ekstrak Kulit Buah Jengkol 5% dan Sediaan Salep di Pasaran. 35 Grafik Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Sediaan Gel Ekstrak Kulit Buah Jengkol 1% dan Sediaan Gel di Pasaran . 36 Gambar 7. Tumbuhan Jengkol . 46 Gambar 8. Kulit Buah Jengkol Segar . 46 Gambar 9. Simplisia Kulit Buah Jengkol . 47 Gambar 10. Serbuk Simplisia Kulit Buah Jengkol . 47 Gambar 11. Penampang Melintang Kulit Buah Jengkol (perbesaran 10x10) . 48 Serbuk Simplisia Kulit Buah Jengkol (perbesaran 10x40) . 48 Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 12. Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Hasil Identifikasi Tumbuhan Jengkol (Pithecellonium lobatum Benth.) . 45 Gambar Tumbuhan Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) dan Kulit Buah Jengkol Segar . 46 Gambar Simplisia dan Serbuk Simplisia Kulit Buah Jengkol (Pithecellobii pericarpii) . 47 Gambar Hasil Mikroskopik Penampang Melintang Kulit Buah dan inokulum yang berturut-turut diletakkan pada cawan petri steril dan dicampurkan dengan medium agar cair, lalu dibiarkan memadat. Koloni yang berkembang akan tertanam di dalam media tersebut (Stanier, RY et al, 1982). 2.4.5 Pengukuran Aktivitas Antimikroba Penentuan kepekaan bakteria patogen terhadap antimikroba dapat dilakukan dengan salah satu dari dua metode pokok yaitu dilusi atau difusi. Penting sekali menggunakan metode standar untuk mengendalikan semua faktor yang mempengaruhi aktivitas antimikroba. a. Metode Dilusi Metode ini menggunakan antimikroba dengan kadar yang menurun secara bertahap, baik dengan media cair atau padat. Kemudian media diinokulasi bakteri uji dan dieramkan. Tahap akhir dilarutkan antimikroba dengan kadar yang menghambat Universitas Sumatera Utara atau mematikan. Uji kepekaan cara dilusi agar memakan waktu dan penggunaannya dibatasi pada keadaan tertentu saja (Jawetz et al, 2001). b. Metode Difusi Metode yang paling sering digunakan adalah metode difusi agar. Cakram kertas saring berisi sejumlah tertentu obat ditempatkan pada permukaan medium padat yang sebelumnya telah diinokulasi bakteri uji pada permukaannya. Setelah inkubasi, diameter zona hambatan sekitar cakram dipergunakan mengukur kekuatan hambatan obat terhadap organisme uji. Metode ini dipengaruhi oleh beberapa faktor fisik dan kimia, selain faktor antara obat dan organisme (misalnya sifat medium dan kemampuan difusi, ukuran molekular dan stabilitas obat). Meskipun demikian, standarisasi faktor-faktor tersebut memungkinkan melakukan uji kepekaan dengan baik (Jawetz et al, 2001). 2.4.6 Bakteri Escherichia coli Berikut sistematika bakteri Escherichia coli (Dwidjoseputro, 1998): Divisi : Bacteriophyta Kelas : Bacteria Bangsa : Eubacteriales Suku : Bacteriaceae Genus : Escherichia Spesies : Escherichia coli Escherichia coli merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang dengan panjang sekitar 2 mikrometer dan diamater 0,5 mikrometer, bersifat anaerob fakultatif, biasanya dapat bergerak dan tidak membentuk spora. Bakteri ini umumnya hidup pada rentang 20-400 C, optimum pada 370C. Universitas Sumatera Utara Escherichia coli merupakan bakteri yang secara normal terdapat di dalam usus dan berperan dalam proses pembusukan sisa-sisa makanan. Keberadaan bakteri ini merupakan parameter ada tidaknya materi fekal di dalam suatu habitat khususnya air. Escherichia coli adalah salah satu jenis bakteri yang ada dalam tinja manusia dan dapat mengakibatkan gangguan pencernaan seperti diare (Anonim, 2008). 2.4.7 Bakteri Shigella dysenteriae Berikut sistematika bakteri Shigella dysenteriae (Dwidjoseputro, 1998): Divisi : Bacteriophyta Kelas : Bacteria Bangsa : Eubacteriales Suku : Bacteriaceae Genus : Shigella Spesies : Shigella dysenteriae Shigella dysenteriae merupakan bakteri gram negatif, fakultatif anaerobik, berbentuk batang yang tidak bergerak, tidak membentuk spora. Bakteri ini berukuran sekitar 0,5-0,7 mikrometer dan tumbuh baik pada suhu 370C (Anonim, 2007). Bakteri ini dapat menyebabkan disentri basiler. Disentri adalah salah satu dari berbagai gangguan pencernaan yang ditandai dengan peradangan usus terutama kolon, disertai nyeri perut dan buang air besar yang sering mengandung darah dan lendir (Pelczar et al, 1988). 2.4.8 Bakteri Salmonella typhimurium Berikut sistematika bakteri Salmonella typhimurium (Dwidjoseputro, 1998): Divisi : Bacteriophyta Kelas : Bacteria Universitas Sumatera Utara Bangsa : Eubacteriales Suku : Bacteriaceae Genus : Salmonella Spesies : Salmonella typhimurium Bentuk tubuh dari Salmonella typhimurium adalah batang lurus pendek dengan panjang 1-1,5 mikrometer. Tidak membentuk spora, bersifat gram negatif. Biasanya bergerak motil dengan menggunakan flagella dan kadang menjadi bentuk non-motilnya. Bakteri ini tumbuh baik pada suhu optimum sekitar 370C. Biasanya memproduksi asam dan gas dari glukosa, maltosa, mannitol dan sorbitol, tetapi tidak memfermentasi laktosa dan sukrosa. Tidak membentuk indol dan gelatin cair. Salmonella typhimurium dapat menyebabkan penyakit tifus yang ditandai dengan demam, mual, muntah, diare dan hilangnya nafsu makan (Anonim, 2008). Universitas Sumatera Utara BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2009-Januari 2010 di laboratorium Obat Tradisional Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara dan laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara Medan. 3.2 Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental meliputi pengumpulan dan pengolahan sampel, pemeriksaan karakterisasi simplisia, pembuatan ekstrak dan uji aktivitas antibakteri dari ekstrak kulit buah jengkol terhadap bakteri Escherichia coli, Shigella dysenteriae dan Salmonella typhimurium. 3.3 Alat dan Bahan 3.3.1 Alat Seperangkat alat perkolator, neraca kasar (Ohaus), neraca listrik (Mettler Toledo), rotary evaporator, freeze dryer, alat destilasi, alat-alat gelas, aluminium foil, pipet serologi, eksikator (Fischer Scientific), krus porselin, mikroskop (Olympus), objek glass, deck glass, oven listrik (Fischer Scientific), penangas air, tanur (Ney M 525 Series II), blender (National), autoklaf (Webeco), cawan petri, inkubator (Fischer Scientific), spatula, lemari pendingin (Toshiba), lemari pengering, lampu spiritus, jarum ose, pH indikator, pinset, hot plate (Fisons), lampu bunsen, kertas cakram, jangka sorong. Universitas Sumatera Utara 3.3.2 Bahan Bahan yang digunakan adalah kulit buah dari tanaman jengkol (Pithecellobium lobatum Benth), air suling, larutan fisiologis NaCl 0,9% steril, etanol 96%, etanol 70%, toluena, larutan kloralhidrat, kloroform, HCl 2 N, larutan kristal violet, larutan aceton-alkohol, larutan safranin, larutan iodine, Nutrient Agar (NA), Mueller Hinton Agar (MHA), Media Mac. Conkey, Salmonella Shigella Agar (SSA), glukosa, maltosa, laktosa, NaOH 0,2 N, bakteri Escherichia coli ATCC 25922, Shigella dysenteriae, Salmonella typhimurium. 3.4 Pembuatan Media dan Pereaksi 3.4.1 Nutrient Agar (NA) Komposisi: Beef extract 3,0 gram Pepton 5,0 gram Agar 15,0 gram Cara pembuatan: ditimbang sebanyak 23 gram serbuk nutrient agar kemudian disuspensikan dalam erlenmeyer dengan air suling yang ditambahkan sedikit demi sedikit hingga 1000 ml, dipanaskan sebentar sambil sekali-kali diaduk sampai terbentuk larutan jernih. Tutup erlenmeyer dengan kapas yang dilapisi aluminium foil. Disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 121o C tekanan 2 atm selama 15 menit. 3.4.2 Mueller Hinton Agar (MHA) Komposisi: Beef infusion form 300 g Casein hydrolysate 17,5 g Starch 1,5 g Agar 17 g Universitas Sumatera Utara Cara pembuatan: ditimbang sebanyak 38 gram serbuk MHA kemudian disuspensikan dalam erlenmeyer dengan air suling yang ditambahkan sedikit demi sedikit hingga 1000 ml, dipanaskan hingga mendidih sambil sekali-kali diaduk sampai terbentuk larutan jernih. Tutup erlenmeyer dengan kapas yang dilapisi aluminium foil. Disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 121o C tekanan 2 atm selama 15 menit. 3.4.3 Media Mac. Conkey Komposisi: Peptone 20,0 gram Lactose 20,0 gram Bile Salt 5,0 gram Sodium chloride 5,0 gram Agar 12,0 gram Phenol red 0,075 gram Cara pembuatan: ditimbang sebanyak 52 gram bahan, kemudian disuspensikan dalam erlenmeyer dengan air suling yang ditambahkan sedikit demi sedikit hingga 1000 ml. Dipanaskan sebentar sambil sekali- kali diaduk sampai seluruhnya larut sempurna. Tutup erlenmeyer dengan kapas yang dilapisi aluminium foil. Disterilkan dalam autoklaf pada suhu 1210 C dan tekanan 2 atm selama 15 menit. 3.4.4 Salmonella Shigella Agar (SSA) Komposisi: Lab-Lemco powder 5,0 gram Peptone 5,0 gram d-glucose 10,0 gram Bile Salt 8,5 gram Sodium citrate 10,0 gram Sodium thiosulfate 8,5 gram Universitas Sumatera Utara Ferric citrate 1,0 gram Briliant green 0,00033 gram Neutral red 0,025 gram Bacto agar 13,5 gram Cara pembuatan: ditimbang sebanyak 60 gram serbuk SSA, kemudian disuspensikan dalam erlenmeyer dengan air suling yang ditambahkan sedikit demi sedikit hingga 1000 ml. Dipanaskan sebentar sambil sesekali diaduk sampai seluruhnya larut sempurna. Selagi masih panas segera tuang ke dalam cawan petri steril sambil meminimalisasi terjadinya kontaminasi, disimpan dalam lemari es. 3.4.5 Media Cair Glukosa Cara pembuatan: ditimbang sebanyak 10 gram glukosa, dilarutkan dalam air suling hingga 100 ml. Bila pH
Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Ekstrak Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) Alat-alat Bahan-bahan Hewan Percobaan Identifikasi Tumbuhan Pengambilan dan Pengolahan Sampel Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia Gel Salep Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Ekstrak Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) Latar Belakang Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Ekstrak Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) Luka Bakar Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Ekstrak Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) Penyembuhan Luka Bakar Absorpsi Obat Perkutan Perumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas maka perumusan masalah pada penelitian ini Hipotesis Manfaat Penelitian Kerangka Penelitian Ekstraksi Skrining Fitokimia Pembuatan Ekstrak Pengujian Sediaan Gel dan Salep Terhadap Penyembuhan Luka Bakar Analisis Data Stabilitas Sediaan Kulit Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Ekstrak Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Ekstrak Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.)

Gratis