Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Ekstrak Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.)

 7  85  97  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

KATA PENGANTAR

  Hasil analisis data menggunakan Uji T disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap percepatan penyembuhan luka bakar antarabentuk sediaan salep dan gel ekstrak kulit buah jengkol yang memberikan efek terbaik dari masing-masing konsentrasi terbaik (salep 5% dan gel 1%) dimananilai sig.(2-tailed) atau probabilitas yang dihasilkan lebih besar dari 0,05 (probabilitas 0,194). Hasil analisis data menggunakan Uji T disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap percepatan penyembuhan luka bakar antarabentuk sediaan salep dan gel ekstrak kulit buah jengkol yang memberikan efek terbaik dari masing-masing konsentrasi terbaik (salep 5% dan gel 1%) dimananilai sig.(2-tailed) atau probabilitas yang dihasilkan lebih besar dari 0,05 (probabilitas 0,194).

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Kontakantara kulit dengan panas dalam batas-batas temperatur dan waktu kontak tertentu masih dapat ditoleransi, tetapi panas yang tinggi dan waktu kontak yang cukuplama dapat menyebabkan kerusakan jaringan kulit. Kulit merupakan perintang Berdasarkan hal diatas perlu dilakukan penelitian untuk membuat bentuk sediaan salep dan gel yang stabil yang mengandung ekstrak kulit buah jengkol danmeneliti perbedaan percepatan penyembuhan luka bakar dari ekstrak kulit buah jengkol yang diformulasikan dalam bentuk sediaan salep dan gel.

1.2 Perumusan Masalah

  1.4.2 Tujuan Khusus Untuk membandingkan bentuk sediaan salep dan gel dari ekstrak kulit buah jengkol yang memberikan efek penyembuhan terbaik dari masing-masingkonsentrasi terbaik. Dapat diperoleh sediaan salep dan gel dari ekstrak kulit buah jengkol yang diharapkan dapat digunakan masyarakat sebagai obat luka bakar.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian tumbuhan

  2.1.6 Kandungan Kimia Biji, kortek dan daun jengkol mengandung saponin, flavonoida dan tanin (Hutapea, 1994). 2.1.7 Khasiat Tumbuhan Daun jengkol berkhasiat sebagai obat eksim, kudis, luka dan bisul, kulit buahnya untuk obat borok (Hutapea, 1994).

2.2 Ekstraksi

  Simplisiayang diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang tidak dapat larut seperti serat, karbohidrat, protein dan lain-lain. RefluksRefluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatifkonstan dengan adanya pendingin balik.

2.3 Gel

  Gel, kadang-kadang disebut jeli merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang Gel bisa digolongkan baik dalam sistem dua fase atau dalam sistem satu fase. Sebaliknya gel yang terdiri dari makromolekul-makromolekul yang berupa jalinan benang-benang dianggap sebagai sistem dua fase, karena tidak adabatas-batas yang jelas antara makromolekul terdispers dan cairan (Martin, dkk., 1993).

2.4 Salep

  Salep dapat mengandung obat atau tidak mengandung obat, yang disebutkan terakhir biasanya dikatakan sebagai “dasar salep” dan digunakansebagai pembawa dalam penyiapan salep yang mengandung obat (Ansel, 1989). Dasar salep digolongkan ke dalam 4 kelompok besar: dasar salep hidrokarbon, dasar salep absorpsi, dasar salep yang dapat dicuci dengan air, dandasar salep yang larut dalam air (Ansel, 1989; Jas, 2004).

2.5 Stabilitas Sediaan

  Pengujian jangka panjang mutu produk obat untuk suatu jangka waktu yang ditentukan, terbagi dalam beberapa interval: minimal setiap tiga bulan untuktahun pertama, enam bulan untuk tahun kedua serta selanjutnya sekali setiap tahun dan dengan kondisi penyimpanan tertentu. Pengujian dipercepat mutu produk obat selama 3-6 bulan terbagi sedikitnya dalam empat interval waktu dengan kondisi yang diperberat, sepertitemperatur dan kelembaban tinggi, pemaparan cahaya dan sebagainya.

2.6 Kulit

  Kulit dibentuk dari tumpukan tiga lapisan berbeda yang berturutan dari luar ke dalam yaitu lapisan epidermis, lapisan dermis yang tersusun ataspembuluh darah dan pembuluh geta bening, ujung-ujung syaraf dan lapisan jaringan dibawah kulit yang berlemak atau yang disebut hipodermis. Kulitmempunyai aneksa, kelenjar keringat, dan kelenjar sebum (glandula sebaceous) yang berasal dari lapisan hipodermis atau dermis dan bermuara pada permukaandan membentuk daerah yang tidak berkesinambungan pada epidermis (Aiache, dkk., 1993).

2.7 Luka Bakar

  Berat ringannya luka bakar itu tergantung dari lamanya dan banyaknya kulit badan yang terbakar. Kalau pada luka karena benda tajam atau benda tumpul, bila ada jaringan nekrotik kita selalu berusaha melakukan debridement pada waktu pertama kali pencucianluka, tetapi lain halnya, pada luka bakar jaringan nekrotik ini tidak dapat dibuang segera, tetapi tetap lekat di tubuh penderita untuk watu yang relatif cukup lama.

2.8 Penyembuhan Luka Bakar

  Pembuluh darah yang terputus pada luka menyebabkan pendarahan dan tubuh berusaha menghentikannya dengan vasokontriksi, pengerutan pembuluh yangterputus (retraksi) dan reaksi hemostasis. Hemostasis terjadi karena trombosit yang keluar dari pembuluh darah saling melekat dan bersama dengan jalafibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah.

2.9 Absorpsi Obat Perkutan

  Rute transfolikular, yaitu difusi obat melewati pori kelenjar keringat dan sebumStratum korneum sebagai jaringan keratin akan berlaku sebagai membran buatan yang semi permeabel, dan molekul obat mempenetrasi dengan cara difusipasif. Bahan yang mempunyai sifat larut dalam keduanya, minyak dan air, merupakan bahan yang baik untuk difusi melalui stratum korneum seperti juga melaluiepidermis dan lapisan-lapisan kulit (Ansel, 1989).

BAB II I METODE PENELITIAN Metode penelitian ini adalah metode eksperimental meliputi pengambilan

  sampel dan pengolahan sampel, pemeriksaan karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak, pembuatan sediaan salep dan gel, evaluasi sediaansalep dan gel, pengujian sediaan salep dan gel terhadap penyembuhan luka bakar, perhitungan diameter rata-rata luka bakar dan analisis data dengan Statistical Program Service Solution (SPSS) yaitu Uji T untuk melihat perbedaan percepatan penyembuhan luka bakar antara bentuk sediaan salep dan gel. 3.2 Bahan-bahan Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah ekstrak kulit buah jengkol (Pithecellobium lobatum Benth), Na-CMC, gliserin, air suling, adepslanae, vaselin, larutan dapar pH 4 dan pH 7.

3.9.1 Pembuatan Salep

  Formulasi salep dibuat dengan komposisi (Ditjen POM, 1966) yang berdasarkan hasil orientasi sebelumnya:R/ Ekstrak kulit buah jengkol 0,5 Adeps lanae 5 Vaselin ad 10 g Tabel 1. Salep dimasukkan dalam wadah yangtertutup rapat dan disimpan di tempat yang sejuk dan terlindung dari cahaya.

3.9.2 Pembuatan Gel

  Formulasi gel dibuat dengan komposisi:R/ Ekstrak kulit buah jengkol 0,1 Na-CMC 0,2Air suling 2Gliserin ad 10 g Tabel 2. Gel dimasukkan dalam wadah yangtertutup rapat dan disimpan di tempat yang sejuk dan terlindung dari cahaya.

3.10 Evaluasi Sediaan

  Elektroda pH meter dicelupkan ke dalam larutan yang diperiksa, jarum pH meter 3.11 Pengujian Sediaan Gel dan Salep Terhadap Penyembuhan Luka Bakar Tikus dicukur pada bagian punggungnya, luka bakar pada tikus dilakukan dengan menempelkan lempeng logam berdiameter 2 cm yang telah dipanaskan o dalam penangas air dengan suhu 80 C pada punggung tikus selama 10 detik. Cara Mengukur Diameter Luka Bakar 4 Dimana: dx = diameter luka hari ke x d1 = diameter 1d2 = diameter 2 d3 = diameter 3d4 = diameter 4Hasil pengukuran diameter rata-rata luka bakar (cm) dari masing-masing hewan percobaan (tikus) dengan interval pengukuran setiap hari dapat dilihat padalampiran 25-27 halaman 75-77.

3.13 Analisis Data

  Data hasil pengujian efek sediaan gel dan salep ekstrak kulit buah jengkol terhadap perubahan diameter rata-rata luka bakar dianalisis secara statistikmenggunakan uji T dengan program Statistical Product Services Solution (SPSS) dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil analisis data dapat dilihat pada lampiran 28-30 halaman 78-80.

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Hasil identifikasi tumbuhan yang dilakukan di Laboratorium Taksonomi Tumbuhan, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara adalah tumbuhan jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) famili Mimosaceae. Sediaan salep dan gel ekstrak kulit buah jengkol dibuat berdasarkan hasil orientasi sebelumnya dengan variasi konsentasi dari ekstrak kulit buah jengkol. Kemudian dibandingkan bentuk sediaan salep dan gel dari ekstrak kulit buah

  Grafik Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Sediaan Salep dan Gel Ekstrak Kulit Buah JengkolDari grafik terlihat bahwa secara visual kelompok tikus yang diberi sediaan gel yang mengandung ekstrak kulit buah jengkol 1% rata-ratamemperlihatkan kesembuhan pada hari ke 10, sedangkan kelompok tikus yang diberi sediaan salep yang mengandung ekstrak kulit buah jengkol 5% rata-ratamemperlihatkan kesembuhan pada hari ke 14. Grafik Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Sediaan Salep Ekstrak Kulit Buah Jengkol 5% dan Sediaan Salep di PasaranDari grafik terlihat bahwa secara visual kelompok tikus yang diberi sediaan salep yang mengandung ekstrak kulit buah jengkol 5% rata-ratamemperlihatkan kesembuhan pada hari ke 14, sedangkan kelompok kontrol positif ® yang diberi salep yang ada di pasaran (Madecassol ) rata-rata memperlihatkan kesembuhan pada hari ke 6.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  Ekstrak kulit buah jengkol dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan salep dan gel yang stabil. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap percepatan penyembuhan luka bakar antara bentuk sediaan salep dan gel dari ekstrakkulit buah jengkol.

DAFTAR PUSTAKA

  Gambar Sediaan Salep Ekstrak Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.)A B C D E Keterangan: A = dasar salep tanpa ekstrak kulit buah jengkolB = salep dengan kadar ekstrak kulit buah jengkol 1%C = salep dengan kadar ekstrak kulit buah jengkol 3%D = salep dengan kadar ekstrak kulit buah jengkol 5%E = salep dengan kadar ekstrak kulit buah jengkol 7% Lampiran 15. Gambar Sediaan Gel Ekstrak Kulit Buah Jengkol (Pithecellobiumlobatum Benth.) A B C D EKeterangan: A = dasar gel tanpa ekstrak kulit buah jengkol B = gel dengan kadar ekstrak kulit buah jengkol 1%C = gel dengan kadar ekstrak kulit buah jengkol 3%D = gel dengan kadar ekstrak kulit buah jengkol 5%E = gel dengan kadar ekstrak kulit buah jengkol 7% Lampiran 16.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar..

Gratis

Feedback