Feedback

Identitas Budaya Dan Komunikasi Antarbudaya (Studi Kasus Peran Identitas Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Etnis Minangkabau Asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera Utara)

Informasi dokumen
IDENTITAS BUDAYA DAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA (Studi Kasus Peran Identitas Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Etnis Minangkabau Asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera Utara) SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Diajukan oleh: Surita Lestari Zulham 070904056 DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI LEMBAR PERSETUJUAN Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh: Nama : SURITA LESTARI ZULHAM NIM : 070904056 Departemen : Ilmu Komunikasi Judul : IDENTITAS BUDAYA DAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA (Studi Kasus Peran Identitas Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Etnis Minangkabau Asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera Utara) Medan, Juli 2011 Dosen Pembimbing Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Haris Wijaya, S.Sos, M.Comm NIP: 197711062005011001 Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A NIP: 196208281987012001 Dekan Prof. Dr. Badaruddin, M.Si NIP: 196805251992031002 Universitas Sumatera Utara ABSTRAKSI Penelitian ini berjudul Identitas Budaya dan Komunikasi Antarbudaya (Studi Kasus Peran Identitas Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Etnis Minangkabau Asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera Utara). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran identitas budaya dalam interaksi komunikasi antarbudaya pada mahasiswa etnis Minangkabau di Universitas Sumatera Utara, dalam hal ini juga untuk mengetahui identitas budaya yang terbentuk dan mengetahui perubahan identitas budaya yang mungkin terjadi di kalangan mahasiswa etnis Minangkabau Universitas Sumatera Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus yang memusatkan diri secara intensif terhadap suatu objek tertentu dengan mempelajarinya sebagai suatu kasus. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif yang melakukan pengukuran dengan menggunakan data nominal yang menyangkut klasifikasi atau kategorisasi sejumlah variabel ke dalam beberapa sub kelas nominal. Melalui pendekatan kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan diambil kesimpulannya yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum. Subjek penelitian adalah mahasiswa etnis Minangkabau asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera Utara angkatan 2008-2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan identitas budaya yang dialami oleh mahasiswa etnis Minangkabau dipengaruhi oleh lingkungan asal mereka. Adapun identitas budaya yang dimunculkan dalam interaksi antarbudaya pada mahasiswa etnis Minangkabau asal Sumatera Barat antara lain dengan menggunakan bahasa daerah yang masih mereka gunakan ketika berinteraksi dengan sesama, menunjukkan sikap yang ramah dan santun dalam berinteraksi. Identitas budaya sebagai orang Minang kemudian memunculkan rasa kekeluargaan antara mereka sebagai sesama orang perantauan. Adanya rasa kepemilikan (sense of belonging) pada kelompok etnis sehingga mereka cenderung berkumpul dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang sama. Faktor personal seperti watak/kepribadian, pengetahuan dan motivasi serta intensitas interaksi juga mempengaruhi proses adaptasi dan keefektifan komunikasi dengan lingkungan yang baru. Pada umumnya perubahan yang dialami adalah perubahan logat dan bahasa Indonesia yang mereka gunakan karena dipengaruhi oleh bahasa lokal orang Medan. Dengan memahami identitas budaya mereka sendiri, mereka dapat mengidentifikasi orang lain dari kelompok etnis lain. Hal ini ternyata membantu mereka dalam menempatkan diri sesuai dengan situasi dan kondisi dimana mereka berinteraksi dan bagaimana harus bersikap sehingga dapat membangun komunikasi antarbudaya yang efektif. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur peneliti ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian dan dapat menyempurnakan penulisan skripsi ini dengan baik. Adapun penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi syarat utama dalam kelulusan di perkuliahan Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini berjudul “Identitas Budaya Dan Komunikasi Antarbudaya”. Di mana penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Peran Identitas Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Etnis Minangkabau Asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera Utara. Selama proses penelitian dan penyelesaian skripsi ini peneliti menghadapi begitu banyak hambatan dan tanpa bantuan dari rekan sekalian, tentulah sangat sulit bagi peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya peneliti sampaikan kepada orang tua tercinta Papa Suriandi dan Mama Ermita S.Sos, yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik peneliti dari kecil hingga saat ini, serta yang telah memberikan semangat dan dukungan baik moril maupun materil, serta seluruh doa yang tiada putusputusnya. Terima kasih juga kepada Ibuk Gusnimar atas dukungannya selama hidup peneliti. Semoga Allah SWT selalu memberi segala kebaikan atas jasa-jasa beliau. Universitas Sumatera Utara Selain itu, penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada: 1) Bapak Prof. Dr. Badarudin, M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. 2) Ibu Dra Fatma Wardy Lubis, MA selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi serta Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi atas segala bantuan yang diberikan. 3) Bapak Haris Wijaya, S.Sos, M.Comm selaku Dosen Pembimbing yang telah memberi banyak masukan, arahan serta bimbingan selama pengerjaan skripsi ini. 4) Terima kasih pula kepada segenap Staf Pengajar FISIP USU yang telah memberikan banyak bekal ilmu, nasehat, bimbingan serta arahan kepada peneliti selama menimba ilmu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 5) Terima kasih juga peneliti sampaikan kepada seluruh Staf Pegawai FISIP USU, yang juga telah membantu peneliti baik selama penulisan skripsi maupun selama perkuliahan. 6) Kakanda tersayang Sucita Lestari Natalina, SKM yang telah banyak membantu peneliti selama perkuliahan dan tetap sabar menghadapi berbagai masalah. Semoga kita selalu dapat membahagiakan orang tua kita. 7) Kakanda Hafizh Er-razaq, S.Sos yang banyak memberikan bantuan pada peneliti, terima kasih telah mendampingi dan menampung keluh kesah peneliti selama penulisan skripsi ini, serta dukungan, doa dan semangatnya. Semoga sukses selalu. Universitas Sumatera Utara 8) Terima kasih juga kepada sahabat peneliti, Suci Andarini, Rika Hapsari, Rini Yunika Andalia, Kumari Dewi Puri, Kak Rani Indah Komala, yang telah mengisi 4 tahun kebersamaan dalam menimba ilmu di FISIP USU. Terima kasih untuk tawa, canda, dan juga haru yang pernah kita alami bersama. Mudah-mudahan kita menjadi orang yang sukses di kemudian hari. Amin. 9) Terima kasih kepada Gusmiati, SE dan Randi Kendra Putra yang telah membantu peneliti dalam penulisan skripsi ini. 10) Terima kasih juga kepada Keluarga Besar IMIB USU, yang tidak dapat peneliti sebutkan namanya satu persatu. Terima kasih telah menjadi rekan peneliti dalam organisasi ini yang telah memberikan banyak pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga kepada peneliti selama ini. 11) Terima kasih kepada para informan yang telah meluangkan waktunya untuk berbagi kisah, pengalaman dan telah membantu peneliti dalam proses penulisan skripsi ini. 12) Terima kasih kepada semua orang yang berjasa dalam hidup peneliti yang selalu memberikan semangat pada peneliti yang tidak mungkin dituliskan satu per satu. Peneliti menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk menjadi perbaikan dan pembelajaran bagi peneliti selanjutnya. Akhir kata, terima kasih kepada segenap pihak yang membantu peneliti dalam menjalani perkuliahan dan menyelesaikan skripsi ini, semoga Allah SWT Universitas Sumatera Utara menjadikannya sebagai amal baik dan selalu melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan menambah khasanah pengetahuan kita semua. Medan, Juli 2011 Peneliti Surita Lestari Zulham DAFTAR ISI LEMBAR PERSETUJUAN ABSTRAKSI . i KATA PENGANTAR . ii DAFTAR ISI . vi Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL . viii DAFTAR GAMBAR . ix DAFTAR LAMPIRAN . x BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah. I.2 Perumusan Masalah . I.3 Pembatasan Masalah . I.4 Tujuan Penelitian . I.5 Manfaat Penelitian . I.6 Kerangka Teori . I.6.1 Komunikasi . I.6.2 Komunikasi Antarbudaya . I.6.3 Identitas Budaya . I.6.4 Teori Interaksionisme Simbolik . I.7 Kerangka Konsep . I.8 Operasionalisasi Konsep . 1 8 9 10 10 11 11 12 15 18 20 20 BAB II URAIAN TEORITIS II.1 Komunikasi . II.2 Komunikasi Antarbudaya . II.2.1 Persepsi . II.2.2 Proses-Proses Verbal . II.2.3 Proses-Proses Nonverbal . II.2.4 Efektivitas Komunikasi Antarbudaya . II.3 Identitas Budaya . II.3.1 Makna Identitas Budaya . II.3.2 Pembentukan Identitas Budaya . II.3.3 Identitas Budaya Etnis Minangkabau . II.4 Interaksionisme Simbolik . 26 30 36 38 39 40 44 44 45 51 68 BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1 Deskripsi Lokasi Penelitian . III.2 Metodologi Penelitian . III.2.1 Metodologi Penelitian Kualitatif. III.2.2 Studi Kasus . III.2.3 Lokasi Penelitian . III.2.4 Subjek Penelitian. III.2.5 Teknik Pengumpulan Data . III.2.6 Teknik Analisis Data . 73 78 78 79 82 82 84 86 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Hasil Pengamatan dan Wawancara . 88 IV.2 Pembahasan . 155 Universitas Sumatera Utara BAB V PENUTUP V.1 Kesimpulan . 164 V.2 Saran . 167 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL Tabel 1. Jumlah Mahasiswa Asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera Utara. 83 Tabel 2. Data Mahasiswa Etnis Minangkabau Asal Sumatera Barat yang Menjadi Informan . 91 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Ruang Lingkup Studi Ilmu Komunikasi . 34 Universitas Sumatera Utara ABSTRAKSI Penelitian ini berjudul Identitas Budaya dan Komunikasi Antarbudaya (Studi Kasus Peran Identitas Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Etnis Minangkabau Asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera Utara). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran identitas budaya dalam interaksi komunikasi antarbudaya pada mahasiswa etnis Minangkabau di Universitas Sumatera Utara, dalam hal ini juga untuk mengetahui identitas budaya yang terbentuk dan mengetahui perubahan identitas budaya yang mungkin terjadi di kalangan mahasiswa etnis Minangkabau Universitas Sumatera Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus yang memusatkan diri secara intensif terhadap suatu objek tertentu dengan mempelajarinya sebagai suatu kasus. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif yang melakukan pengukuran dengan menggunakan data nominal yang menyangkut klasifikasi atau kategorisasi sejumlah variabel ke dalam beberapa sub kelas nominal. Melalui pendekatan kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan diambil kesimpulannya yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum. Subjek penelitian adalah mahasiswa etnis Minangkabau asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera Utara angkatan 2008-2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan identitas budaya yang dialami oleh mahasiswa etnis Minangkabau dipengaruhi oleh lingkungan asal mereka. Adapun identitas budaya yang dimunculkan dalam interaksi antarbudaya pada mahasiswa etnis Minangkabau asal Sumatera Barat antara lain dengan menggunakan bahasa daerah yang masih mereka gunakan ketika berinteraksi dengan sesama, menunjukkan sikap yang ramah dan santun dalam berinteraksi. Identitas budaya sebagai orang Minang kemudian memunculkan rasa kekeluargaan antara mereka sebagai sesama orang perantauan. Adanya rasa kepemilikan (sense of belonging) pada kelompok etnis sehingga mereka cenderung berkumpul dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang sama. Faktor personal seperti watak/kepribadian, pengetahuan dan motivasi serta intensitas interaksi juga mempengaruhi proses adaptasi dan keefektifan komunikasi dengan lingkungan yang baru. Pada umumnya perubahan yang dialami adalah perubahan logat dan bahasa Indonesia yang mereka gunakan karena dipengaruhi oleh bahasa lokal orang Medan. Dengan memahami identitas budaya mereka sendiri, mereka dapat mengidentifikasi orang lain dari kelompok etnis lain. Hal ini ternyata membantu mereka dalam menempatkan diri sesuai dengan situasi dan kondisi dimana mereka berinteraksi dan bagaimana harus bersikap sehingga dapat membangun komunikasi antarbudaya yang efektif. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Universitas Sumatera Utara Komunikasi sebagai proses pertukaran simbol verbal dan nonverbal antara pengirim dan penerima untuk merubah tingkah laku kini melingkupi proses yang lebih luas. Jumlah simbol-simbol yang dipertukarkan tentu tidak bisa dihitung dan dikelompokkan secara spesifik kecuali bentuk simbol yang dikirim, verbal dan nonverbal. Memahami komunikasi pun seolah tak ada habisnya. Mengingat komunikasi sebagai suatu proses yang tiada henti melingkupi kehidupan manusia. Dengan belajar memahami komunikasi antarbudaya berarti memahami realitas budaya yang berpengaruh dan berperan dalam komunikasi. Kita dapat melihat bahwa proses perhatian komunikasi dan kebudayaan yang terletak pada variasi langkah dan cara berkomunikasi yang melintasi komunitas atau kelompok manusia. Fokus perhatian studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi bagaimana menjajaki makna, pola-pola tindakan, juga tentang bagaimana makna dan pola-pola itu diartikulasikan ke dalam sebuah kelompok sosial, kelompok budaya, kelompok politik, proses pendidikan, bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan interaksi manusia (Liliweri, 2004: 10). Menurut Ting Toomey, budaya sebagai komponen dari usaha manusia untuk bertahan hidup (survive) dan berkembang dalam lingkungan partikular mereka, memiliki beberapa fungsi, yaitu: Identity Meaning Function yaitu budaya memberikan kerangka referensi untuk menjawab pertanyaan paling mendasar dari keberadaan manusia ‘siapa saya’, Group Inclusion Function yaitu budaya menyajikan fungsi inklusi dalam kelompok yang bisa memuaskan kebutuhan seseorang terhadap afiliasi keanggotaan dan rasa ikut memiliki, Intergroup Universitas Sumatera Utara Boundary Regulation Function yaitu fungsi budaya sebagai dan kompetensi komunikasi yang berbeda. 1. Afifah memiliki nilai identitas etnis yang cukup tinggi. Ia mampu mengidentifikasi in-group dan out-group secara jelas, komitmen dan sense of belongingnya pada kelompok dan etnisnya sangat tinggi, dan tentu hal tersebut Universitas Sumatera Utara mendorongnya berminat di dalam kelompok dan sering terlibat dalam aktivitas kelompok, dan Afifah juga memahami akan rasa kecintaannya pada kelompok dan budaya sebagai suatu yang mendorongnya untuk mempertahankan nilai Melayu yang dimilikinya dan Afifah memberikan harapan positif tentang masa depan etnisnya. Dengan identitas etnis yang sangat tinggi memberikan masalah dalam komunikasi antarbudaya Afifah. Masalah yang dihadapinya adalah upayanya mencari kesamaan mendorongnya untuk terus nyaman dengan ‘’orang-orang yang sama’’ (seetnis), akhirnya ia menarik diri dari interaksi antarbudaya, dan jika ia tidak dalam kelompok, kecemasan yang dirasakannya cukup tinggi, bahkan Afifah masih merasakan kecemasan karena perbedaan budaya khususnya perbedaan bahasa dan nilai. Akhirnya, komunikasi Afifah sangat terbatas pada kelompoknya dan ia tidak terlalu berminat berinteraksi dengan etnis lain. Afifah memiliki tingkat kompetensi komunikasi yang rendah. Dan hal tersebut disadarinya. Mungkin hal tersebut secara langsung ataupun tidak dipengaruhi oleh lingkungan Afifah, di mana dirinya selalu berada dalam kondisi bersama dengan mereka yang sama dengan dirinya (Melayu). Afifah sudah merasa nyaman dan menemukan semua kebutuhan komunikasinya dalam kelompoknya. Wajar memang, Afifah tidak terlau merasakan Culture Shock dan dampak dari ketegangan kasus Indonesia–Malaysia, sebab dirinya selalu berupaya ‘’berlindung’’ dalam kelompok, sehingga Culture Shock pun bisa saja diatasi, karena dirinya masih merasa dalam kelompok. Terlebih lagi mengenai kasus Indonesia-Malaysia, Afifah tentu tak merasakan dampak apa pun karena Universitas Sumatera Utara komunikasinya yang tertutup, sehingga membuat dirinya acuh tak acuh terhadap kasus tersebut. Afifah menjadikan permasalah perbedaan bahasa dan nilai sebagai alasan kenapa dia tak menemukan kenyamanan komunikasi, padahal, jika pun hak tersebut alasannya, Afifah bisa belajar dan mencoba atau barangkali memilih berkomunikasi dengan teman senegaranya yang berbeda etnis, misalnya etnis India dan Cina, namun hal tersebut juga tak dilakukannya. Namun alasan Afifah yang paling jitu untuk menjelaskan komunikasinya yang terbatas tersebut karena dia memang susah untuk bisa akrab dengan orang lain. Motivasi untuk berkomunikasi sebenarnya ada dalam diri Afifah, namun sayang, motivasi tersebut tidak dijadikannya tenaga untuk mau mencari tahu apa yang seharusnya diketahuinya sehingga dia punya pemahaman dalam berkomunikasi secara efektif dengan etnis lain. Alhasil, dirinya pun tak mampu berkomunikasi dengan etnis lain. Masalah utama yang melingkupi Afifah adalah upaya menarik diri dari komunikasi antarbudaya dan pencarian kesamaan. Afifah merasa dia mendapatkan kepastian dan keamanan dalam kelompok yang didasarkan atas kesamaan etnis dan akhirnya dia menarik diri dari interaksi dengan yang mereka yang berbeda budaya. Maka bisa dikatakan bahwa Afifah berada pada tataran Unconcious Incompetence yaitu pada level di mana seseorang tidak begitu menyadari atau untuk Afifah barangkali lebih tepatnya tidak mau menyadari adanya perbedaan dan merasa tidak perlu untuk melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Universitas Sumatera Utara 2. Aqila, juga memiliki identitas etnis yag cukup tinggi sama dengan Afifah. Aqila mengakui ia tak terlalu kaku dalam nmengidentifikasi in-groupnya, tapia tetap mampu mengidentifikasi in-group dan out-group, komitmen dan sense of belongingnya pada kelompok dan etnis Aqila juga sangat tinggi, dan tentu hal tersebut mendorongnya berminat di dalam kelompok dan sering terlibat dalam aktivitas kelompok, dan Aqila juga memahami akan rasa kecintaannya pada kelompok dan budaya sebagai suatu yang mendorongnya untuk mempertahankan nilai Melayu yang dimilikinya dan Aqila memberikan harapan positif tentang masa depan etnisnya bahkan Aqila mampu memberikan evaluasi positif tentang etnisnya. Mengenai interaksi, Aqila cukup termotivasi untuk berkomunikasi dengan teman beda etnis khususnya teman Indonesianya yang dinilainya semua beretnis Batak. Intensitas dan frekuensi komunikasi Aqila masih sangat besar pada kelompoknya tetapi ia berusaha untuk tidak terlalu menutup diri walaupun akhirnya ia merasa lebih nyaman dengan teman seetnis. Aqila, memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik daripada Afifah. Aqila memiliki pertimbangan lain dalam menerima teman yang berbeda etnis, dia akan berusaha menerima dan mau berkomunikasi dengan teman yang berbeda etnis selama ada kesamaan nilai yaitu agama. Aqila sendiri sebenarnya sudah memiliki motivasi untuk berkomunikasi dengan mereka yang berbeda etnis. Namun yang berbeda etnis ini memang sedikit dibatasi Aqila pada mereka yang satu agama. Walaupun dia tetap mencari kesamaan dan juga sering bersama kelomponya, Aqila masih mau berusaha untuk terbuka dan memenuhi hasrat Universitas Sumatera Utara kebutuhan identitasnya, yaitu kebutuhan untuk dikomunikasikan dan dipertukarkan. Aqila mengakui senang bercerita mengenai budaya dengan teman Indonesianya. Melalui pembicaraan tersebut tentu akan membantu Aqila untuk menyadari dan mengetahui ranah identitasnya dan makin menyadarkannya akan etnosentrisme. Etnosentrisme yang dimiliki Aqila masih dalam batas wajar, namun meyakinkannya untuk mau membela dan berani, hal tersebut diketahui dari penjelasannya tentang kasus Indonesia-Malaysia yang ditanggapinya dengan cukup emosional. Aqila mengakui ia cukup sering bertukar informasi budaya dengan teman Indonesianya, namun hal tersebut tidak menjadikannya memiliki pengetahuan yang cukup mengenai nilai budaya lain. Hasil dari pertukaran informasi yang didapatnya malah membuatnya menemukan perbedaan. Sebenarnya untuk berkomunikasi secara efektif, kita memang harus mengerti dengan jelas perbedaan antara kelompok kita dengan kelompok lain. Menyadari perbedaan kadang memfasilitasi komunikasi yang efektif (Gundy kunst & Kim, 2007: 281), namun sayang hal tersebut tidak diasari Aqila sebagai upaya untuk memperkokoh identitas etnisnya. Kesadaran tersebut justru dimaknai Aqila sebagai ketidakmampuannya menghadapi perbedaan dan tida tahu harus berbuat apa untuk memperbaiki hal tersebut. Sehingga Aqila tidak memiliki kemampuan untuk mau mengamati, dan mau menyesuaikan diri. Jadi bisa disimpulkan Aqila berada pada tataran concious Incompetence, yaitu pada level di mana seseorang menyadari adanya perbedan, menyadari sesuatu tidak berjalan dengan lancar Universitas Sumatera Utara dalam interaksi namun tidak yakin kenapa hal tersebut terjadi dan tidak tahu harus melakukan apa untuk mengatasinya. 3. Nisa, juga memiliki identitas etnis yang cukup tinggi, Nisa mengakui ia tak terlalu kaku dalam mengidentifikasi in-groupnya, walaupun ia mampu mengidentifikasi in-group dan out-group, tapi sebisa mungkin ia tak mau terlalu mempermasalahkan hal tersebut, agar tak mengahambat komunikasinyai. Nisa juga memiliki komitmen dan sense of belongingnya pada kelompok dan etnis yang sangat tinggi, dan tentu hal tersebut mendorongnya berminat di dalam kelompok dan sering terlibat dalam aktivitas kelompok, dan dengan memahami rasa kecintaannya pada kelompok dan budaya, Nisa terdorong untuk mempertahankan nilai Melayu yang dimilikinya. Walaupun ia pesimis membayangkan masa depan etnisnya, tapi Nisa berusaha memberikan evaluasi positif pada etnisnya. Interaksi Nisa juga masih sangat besar dengan kelompoknya. Namun hampir tiga tahun tinggal di Medan, lambat laun, mendorongnya untuk mau berkomunikasi dengan etnis dan tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan yang ada. Dan sekarang, Nisa mengakui ia mulai bisa terbuka dengan teman beda etnis, bahkan kadang ia melakukan aktivitas bersama teman beda etnisnya misalnya jalan-jalan. Nisa memiliki pertimbangan lain dalam menerima teman yang berbeda etnis yaitu kesamaan identitas agama. Nisa sendiri mengakui dirinya termotivasi untuk terbuka dengan teman beda etnis khususnya mahasiswa Medan (Indonesia). Motivasi tersebut mendorongnya belajar bahasa Indonesia (komuniksi verbal) agar bisa Universitas Sumatera Utara membantunya untuk berkomunikasi dengan lancar. Motivasinya membuatnya sadar sadar akan ranah identitasnya artinya siapa yang Melayu dan non Melayu dan sadar akan kebutuhan identitasnya yaitu untuk dikomunikasikan. Motivasinya membuatnya menambah pengetahuan dan pemahamannya mengenai apa yang dibutuhkan saat berkomuniksi dengan steman Indonesianya yaitu bahasa Indonesia. Jadi faktor pengetahuan membuatnya mau untuk belajar dan menjadikannya memiliki kemampuan untuk berbahasa Indonesia dan sadar akan kebutuhan untuk menyesuaikan diri. Pengetahuannya mengenai perbedaan kelompok, mendorongnya untuk mencari tahu kesamaan personal. Nisa sebenarnya memiliki kesadaran, Tionghoa asli mempelajari tradisi dan kebudayaan Tionghoa dari pengajaran keluarga secara turun-temurun, sedangkan etnis Tionghoa peranakan mempelajari budaya dan tradisi melalui halhal yang dilihat dari lingkungan sekitar, dan juga terjadi percampuran budaya dari etnis dalam suatu wilayah tersebut. Misal, di Indonesia, budaya Tionghoa bercampur dengan kebudayaan masyarakat pribumi. - 5 orang informan kurang mampu dan tidak mampu mengenali identitas etnisnya. Kekurangmampuan kedua orang informan serta ketidakmampuan ketiga orang informan penelitian ini dalam mengenali identitas etnis yang ada pada diri Universitas Sumatera Utara mereka, kebanyakan di karenakan faktor ketidaksadaran akan identitas yang mereka miliki. Beberapa diantara mereka juga mengatakan bahwa ketidakmampuan dalam mengenali identitas etnis dikarenakan tidak adanya pengajaran dari keluarga akan nilai-nilai norma etnis Tionghoa yang sesungguhnya. Identitas etnis yang dapat mereka pegang saat ini hanya sebatas tradisi imlek maupun tradisi meikah. Tidak banyak yang dapat mereka pelajari dari keluarganya masing-masing, dikarenakan keluarga mereka juga tidak menerapkan hal yang seharusnya ada pada etnis Tionghoa. Jadi, selama ini mereka hanya mengatahui nilai-nilai tersebut dari pergaulan dengan teman-teman se-etnis saja. Akan tetapi penerapannya tidak dilaksanakan sepenuhnya. V.1.3 Kompetensi Komunikasi V.1.3.1 Dari 4 tingkatan kompetensi yang ada, hanya ada 3 tingkatan saja yang masuk ke dalam analisis penggolongan tingkatan kompetensi komunikasi informan penelitian, yaitu unconscious competence, conscious competence, dan conscious incompetence, sedangkan tingkatan unsconcious incompetence tidak ada. - 9 orang informan berada pada tingkatan unconscious competence, ke-9 orang informan ini mengatakan bahwa dalam berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, mereka tidak sepenuhnya menyandarkan komunikasinya berdasarkan identitas etnisnya, di tambah dengan pemahaman perihal mahasiswa pribumi yang sudah di dapatnya selama berkuliah di Fakultas Teknik, sehingga mereka dapat mengatur bagaimana dan seperti apa mereka akan berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi. Perbedaan dalam logat berbahasa yang dirasakan tidak Universitas Sumatera Utara membuat mereka menjadi etnosentris. Mereka menganggap itu hanyalah sebuah ciri khas identitas etnis masing-masing pihak. Untuk itu, mereka selalu menghargai setiap perbedaan yang ada dalam hal kompetensi komunikasinya, sampai pada perihal kompetensi komunikasi yang efektif. - 1 orang informan berada pada tingkatan conscious competence, yaitu Putra Jaya. Putra mempunyai motivasi untuk berkomunikasi, dan hal tersebut menunjukkan kebutuhannya untuk mengurangi sikap etnosentrisme akan etnis. Ia juga mempunyai pengetahuan tentang bagaimana cara mengumpulkan informasi tentang mahasiswa pribumi, serta ia juga tahu perbedaan kelompok dan kesamaannya. Pengetahuan terhadap adaptasi antarbudaya dan pengembangan relasi menunjukkan kemampuannya dalam berkompetensi komunikasi dengan baik serta mampu mengebangkan relasi antar etnis dan mampu bertoleransi terhadap sifat ambiguitas dan menghilangkan kecemasan karena perbedaan warna kulit. Umumnya, Putra menggunakan identitas etnisnya sebagai motivasi untuk membuka jaringan komunikasi. Artinya identitas etnis dipahami sebagai alat yang berguna untuk membantunya mengenal siapa diri mereka dan mendorongnya untuk mau berkompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi. Hal inilah yang terjadi pada dirinya, meskipun ia akan tetap mempertahankan nilai-nilai yang sudah ada pada dirinya sebagai etnis Tionghoa sebagai pendorong bukan penghambat dalam komunikasi. - 1 orang informan berada pada tingkatan conscious incompetence, yaitu Krisnawati. Mengenai kompetensi komunikasinya, pada kenyataannya frekuensi dan intensitas komunikasi Krisna masih sangat besar pada kelompoknya, dan hal Universitas Sumatera Utara ini menjadikan Krisna terlalu memilih-milih teman mahasiswa pribumi yang dapat diajak untuk berkomunikasi. Krisna tidak memiliki kompetensi komunikasi yang lebih baik. Ia menyadari bahwa pengelompokan-pengelompokan yang ia lakukan terhadap mahasiswa pribumi akan mampu menghambat kompetensi komunikasinya, akan tetapi ia tidak mengindahkan hal tersebut. Krisna telalu membuat pertimbangan siapa saja teman dari mahasiswa pribumi yang bisa ia ajak berkomunikasi. Meskipun Krisna sering bersama kelompoknya, Krisna masih berkeinginan untuk memenuhi hasrat kebutuhan identitasnya, yaitu kebutuhan yang harus dikomunikasikan dan dipertukarkan dengan mahasiswa pribumi. Krisna mengakui bahwasanya ia cukup sering bertukar informasi akan budaya dengan teman pribuminya. Hasil dari pertukaran informasi tersebut membuatnya sedikit menemukan perbedaan. Menyadari perbedaan kadang mampu memfasilitasi kompetensi komunikasi. Namun, Krisna tidak memanfaatkan keadaan ini, ia lebih memilih untuk menjauhi daripada mendekatinya, sehingga hal-hal seperti ini dapat menghambat kompetensi komunikasinya dengan mahasiswa pribumi. V.2 Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, maka peneliti perlu mengajukan beberapa saran, diantaranya: 1. Diharapkan latar belakang dalam karakteristik informan tidak menjadi penghambat dalam berkomunikasi dengan teman-teman in-group maupun outgroup nya. Universitas Sumatera Utara 2. Diharapkan informan lebih mampu lagi dalam mengenali in-group maupun outgroup nya. Informan yang mampu mengenali in-groupnya, diharapkan lebih mampu untuk membawa identitas etnisnya ke dalam area kompetensi komunikasi antarbudaya dengan mahasiswa pribumi. Informan yang tidak mampu mengenali in-group nya, diharapkan lebih mampu menggali apa yang ada di dalam in-group nya. 3. Diharapkan informan dapat meningkatkan kompetensi komunikasi nya dengan mahasiswa pribumi. 2 orang informan penelitian yang ada pada tingkatan kompetensi komunikasi conscious competence dan conscious incompetence untuk kedepannya dapat berada pada tingkatan unsconcious competence. 4. Penelitian ini dapat menjadi bahan rujukan dalam melihat identitas etnis mahasiswa Tionghoa dalam kompetensi komunikasinya dengan mahasiswa pribumi. Penelitian ini juga dapat dijadikan referensi untuk penelitian sejenis pada kondisi yang berbeda. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Arifin, Anwar. 1988. Ilmu Komunikasi: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Rajawali. Bodgan, Robert dan Steven J. Taylor. 1992. Pengantar Metoda Penelitian Kualitatif. Surabaya: Usaha Nasional. Bungin, Burhan. 2003. Teknik-Teknik Analisis Kualitatif. Jakarta: Kencana. . 2008. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana. Effendy, Onong Uchjana. 2003. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya. Gundykunst, William & Young Yun Kim. 2003. Communicating with Strangers. New York : Mc. Graw Hill International. Kriyantono, Rachmat. 2008. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya. Kuswarno, Engkus. 2008. Etnografi Komunikasi: Pengantar dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjajaran. Liliweri, Alo. 2001. Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. . 2004. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Martin, Judith dan Thomas K. Nakayama. 2007. Intercultural Communication in Contexts. New York: Mc Graw Hill International. Mulyana, Deddy. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya. Universitas Sumatera Utara Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rahmat. 2005. Komunikasi Antarbudaya. Panduan Praktis dengan Orang-Orang yang Berbeda Budaya. Bandung: Remaja Rosda Karya. Nawawi, Hadari. 1995. Metodologi Penelitian Sosial. Yogyakarta : UGM Press. Raharjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultur. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Samovar, Richard E. Porter dan Edwin Mc Daniel. 2007. Communication Between Cultures. Belmont : Thomson Learning. Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendy. 1995. Metode Penelitian Survey. Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia. Soekamto, Soerjono. 1996. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Grafindo Persada. Sumber lain : (http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa-Indonesia di akses tanggal 9 Februari dan 1 Maret 2011). (http://suryanto.blog.unair.ac.id/ di akses tanggal 9 Februari 2011). (http://ft.usu.ac.id/ di akses tanggal 3 Maret 2011) Universitas Sumatera Utara DAFTAR RIWAYAT HIDUP NAMA : RIFAL ASWAR TANJUNG TEMPAT/TANGGAL LAHIR : PADANGSIDEMPUAN, 26 NOVEMBER 1989 JENIS KELAMIN : LAKI-LAKI AGAMA : ISLAM ALAMAT : JALAN GARU 1 GANG BACANG NO.85B MEDAN NAMA ORANG TUA : (ALM) YUSUF EFFENDY TANJUNG HJ. SITI AISYAH LUBIS JUMLAH SAUDARA : TIGA ORANG, YAITU: o NINA KARMILA TANJUNG o FITRI YANTHI TANJUNG o KHAIRIL ANWAR TANJUNG ALAMAT ORANG TUA : JALAN RAJA INAL SIREGAR NO. 7 BATUNADUA KOTA PADANGSIDEMPUAN PENDIDIKAN : SDN 142426/10 KOTA P.SIDEMPUAN (1995-2001) MTS.S YPKS KOTA P.SIDEMPUAN (2001-2004) MAN 2 KOTA P.SIDEMPUAN (2004-2007) DEPT. ILMU KOMUNIKASI FISIP USU (2007-2011) PRAKTEK KERJA LAPANGAN : MAJALAH HAI PT. GRAMEDIA (2010 ) Universitas Sumatera Utara
Identitas Budaya Dan Komunikasi Antarbudaya (Studi Kasus Peran Identitas Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Etnis Minangkabau Asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera Utara) 3 Pembatasan Masalah 4 Tujuan Penelitian 5 Manfaat Penelitian 7 Kerangka Konsep 8 Operasionalisasi Konsep Latar Belakang Masalah Hasil Penelitian dan Pengamatan Wawancara Identitas Budaya .1 Makna Identitas Budaya Identitas Budaya 6 Kerangka Teori Komunikasi Antarbudaya URAIAN TEORITIS Komunikasi Komunikasi Antarbudaya 6 Kerangka Teori PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Lapangan Field Research Penelitian Kepustakaan Library Research Teori Interaksi Simbolik 6 Kerangka Teori Teori Interaksionisme Simbolik URAIAN TEORITIS
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Identitas Budaya Dan Komunikasi Antarbudaya (Studi Kasus Peran Identitas Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Etnis Minangkabau Asal Sumatera Barat di Universitas Sumatera Utara)

Gratis