Uji Disolusi Chlorpheniramine Maleat Secara Spektrofotometri Ultra Violet

Gratis

4
117
33
2 years ago
Preview
Full text

  UJI DISOLUSI CHLORPHENIRAMINE MALEAT SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA VIOLET TUGAS AKHIR Oleh: BINTANG SIMBOLON 052410046

PROGRAM DIPLOMA III ANALIS FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2008

  LEMBAR PENGESAHAN UJI DISOLUSI CHLORPHENIRAMINE MALEAT SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA VIOLET TUGAS AKHIR Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Pada Program Diploma III Analis Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Oleh : BINTANG SIMBOLON 052410046 Medan, Juni 2008 Disetujui Oleh: Dosen Pembimbing, Dra. Masfria, MS., Apt. NIP 131 569 406

Disahkan Oleh:

Dekan,

  Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. NIP 131 283 716

KATA PENGANTAR

  Alhamdulillah, Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan Tugas Akhir ini sebagaimana mestinya.

  Tugas akhir ini berjudul “UJI DISOLUSI CHLORPHENIRAMINE MALEAT SECARA SPEKTROFOTOMETRI ULTRA VIOLET”. Tugas akhir ini disusun sebagai syarat untuk dapat menyelesaikan pendidikan Program Diploma III (D3) Analis Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Medan.

  Selanjutnya Penulis mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada kedua Orang Tua, Alm. Ayahanda Toguan Simbolon dan Ibunda Rosmawati Simatupang, dan kepada abangku Ikrar Simbolon SH, dan Irsan Simbolon.

  Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, penulis tidak akan dapat menyelesaikan tugas akhir ini sebagaimana mestinya.

  Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak antara lain :

  1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. sebagai Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

  2. Ibu Dra. Masfria MS., Apt., Selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan tugas akhir ini.

  3. Bapak Drs. Ismail Msi., Apt., selaku Dosen Wali.

  4. Ibu Ny. Sari K. Barus Selaku direktur PT. VARSE Pharmaceutical Laboratories Medan.

  5. Ibu Pinta Suriaty br. Sembiring SSi., Apt., selaku pembimbing dalam melaksanakan praktek kerja lapangan.

  6. Bapak atau Ibu Staf pengajar di Fakultas farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan membimbing penulis dalam menuntut ilmu selama di Perguruan Tinggi.

  7. Teman-teman mahasiswa Analis Farmasi yaitu Karmila, Elva Yunita dan teman-teman yang lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah membantu penulis menyelesaikan tugas akhir ini. Penulis menyadari bahwa sepenuhnya isi dari tugas akhir ini masih terdapat kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun, demi kesempurnaan tugas akhir ini. Akhir kata, penulis sangat berharap semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

  Medan, Juni 2008 Penulis Bintang Simbolon

  

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................. iii

  

BAB I : PENDAHULUAN ........................................................................... 1

  1.1. Latar Belakang ............................................................................ 1

  1.2. Tujuan dan Manfaat .................................................................... 2

  1.2.1. Tujuan ................................................................................ 2

  1.2.2. Manfaat .............................................................................. 2

  

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA................................................................... 3

  2.1 Chlorpheniramine Maleat...............................................................3

  2.1.1. Uraian umum Chlorpheniramine Maleat.............................3

  2.2. Tablet ........................................................................................... 4

  2.2.1. Tablet secara umum .......................................................... 4

  2.2.2. Evaluasi tablet.................................................................... 4

  2.2.3. Komponen-komponen alat uji disolusi.............................. 7

  2.2.4. Alat uji disolusi.................................................................. 8

  2.2.5. Prosedur pengujian disolusi...............................................12

  2.2.6. Faktor yang mempengaruhi kelarutan zat aktif.................12

  2.2.7. Faktor formulasi.................................................................12

  2.3. Tablet Chlorpheniramine Maleat..................................................14

  2.4. Penetapan kadar secara spektrofotometri UV...............................15

  2.4.1. Spektrofotometri Ultra Violet.............................................15

  

BAB III : METODOLOGI ..............................................................................19

  3.1 Tempat ..........................................................................................19

  3.2 Alat-alat ........................................................................................ 19

  3.3 Bahan-bahan ................................................................................. 19

  3.4 Prosedur ......................................................................................... 19

  3.4.1 Larutan Baku....................................................................... 19

  3.4.2 Larutan Uji........................................................................... 20

  3.4.3 Penetapan Kadar CTM Secara Spektofotometri UV........... 20

  3.4.4 Perhitungan.......................................................................... 21

  BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................ 22

  4.1 Hasil ................................................................................................22

  4.2 Pembahasan .....................................................................................22

  BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ..........................................................23

  5.1 Kesimpulan ..................................................................................... 23

  5.2 Saran ............................................................................................... 23

  DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 24 Lampiran

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Obat adalah suatu zat yang dimaksudkan untuk dipakai dalam mengobati,

mengurangi rasa sakit, dan mencegah penyakit pada manusia dan hewan. Obat

mempunyai beberapa sediaan seperti tablet, kapsul, suspensi, dan berbagai larutan

sediaan farmasi. Salah satu sediaan uji tablet adalah bentuk sediaan padat yang

dibuat secara kempa atau dengan mencetak dan sediaan tablet mempunyai

beberapa persyaratan antara lain proses pelarutan obat, seperti uji disolusi untuk

mengetahui seberapa banyak persentase zat aktif dalam obat, yang teraborpsi dan

masuk kedalam peredaran darah untuk memberikan efek terapi.

  Faktor yang diperhatikan dalam uji disolusi yaitu : ukuran dan bentuk

yang akan mempengaruhi laju dan tingkat kelarutan, selain itu sifat media

pelarutan juga akan mempengaruhi uji kelarutan. Beberapa kegunaan uji disolusi :

menjamin keseragaman 1 batch, menjamin bahwa obat akan memberikan efek

terapi yang diinginkan, dan diperlukan dalam rangka pengembangan suatu obat

baru. (Ditjen POM, 1995)

  Salah satu tablet yang diuji adalah Chlorpheniramine Maleat (CTM) yang

termasuk golongan obat antihistamin, sebagai obat anti alergi, banyak diberikan

secara oral dan intravena, bekerja di susunan saraf pusat, dapat menimbulkan rasa

kantuk yang kuat, maka tidak dianjurkan meminum obat ini jika kita hendak

bepergian. Obat ini juga termasuk obat keras, jadi pemakainnya harus hati-hati

dan dianjurkan untuk menggunakannya hanya jika memang diperlukan.

  Ada beberapa cara penetapan kadar chlorpheniramine maleat yaitu penetapan kadar secara KLT (Kromatografi Lapis Tipis), KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi), Kromatografi Gas, Spektofotometri Ultra Violet, Spektofotometri Infra – Red. (Clarke’s, 1986).

  Dari beberapa cara penetapan kadar chlorpheniramine maleat tersebut, penulis tertarik untuk melakukan uji disoluasi CTM dalam produksi PT. VARSE dengan metode spektrofotometri ultra violet sehingga dapat diketahui apakah kadarnya akan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia edisi IV.

1.2 Tujuan dan Manfaat

  1.2.1 Tujuan

  Uji Disolusi bertujuan untuk mengetahui apakah tablet sampai ke lambung, dan usus halus sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia edisi IV.

  1.2.2 Manfaat

  Adapun yang menjadi manfaat dari uji disolusi adalah :

  1. Uji disolusi bermanfaat untuk mengetahui laju kelarutan zat aktif dan kemampuan obat untuk diabsorpsi.

  2. Uji disolusi merupakan suatu prosedur kontrol mutu yang baik untuk mendapatkan hasil produksi yang baik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Chlorpheniramin Maleat

2.1.1 Uraian umum Chlorpeniramin Maleat Rumus Bangun :

   N CH Cl o HC COOH

  CH

2 CH

  

2 N(CH

3 )

  2 HC COOH

  2-[P-Kloro-a-[2-(dimetilamino)etil]benjil] piridina maleat (1:1)[113-92-8] Chlorpheniramine maleat mengandung tidak kurang dari 98,0 % dan tidak lebih dari 100,5 % C

  16 H

  19 ClN

  2. C

  4 H

  4 O 4 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

  Nama Kimia : Chlorpeniramine Maleat Rumus molekul : C H ClN C H O

  16

  19 2.

  4

  4

  4 Berat molekul : 390,87

  Pemerian : Serbuk hablur putih, tidak berbau, larut dalam etanol dan kloroform, sukar larut dalam eter dan dalam benzen.

  Baku pembanding : Chlorpheniramin maleat BPFI; pengeringan pada suhu 105 selama 3 jam sebelum digunakan (Farmakope Indonesia Edisi

  IV) Identifikasi : Pada sejumlah tertentu serbuk tablet dalam tabung reaksi, dan ditambahkan beberapa tetes pDAB HCl terjadi warna biru lemah.

  2.2 Tablet

  2.2.1. Tablet secara umum

  Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatannya tablet dpat digolongkan sebagai tablet kempa dan tablet cetak. Tablet kempa dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja, sedangkan tablet cetak dibuat dengan menekan massa serbuk lembab dengan tekanan rendah kedalam lubang cetakan (Ditjen POM, 1995).

  Komposisi utama dari tablet adalah bahan berkhasiat, yang dapat dicetak langsung menjadi tablet atau ditambah bahan tambahan lain. Bahan tambahan yang umum digunakan dalam pembuatan tablet yaitu bahan pengisi, bahan pengikat, bahan penghancur, bahan pelicin, dan bahan tambahan lain seperti bahan pewarna dan bahan pemberi rasa ( Ansel, 1989).

  Tablet harus mempunyai bentuk dan ukuran yang sesuai dan bebas dari bentuk-bentuk kerusakan tablet. Pengujian-pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kualitas dari tablet adalah ; keseragaman bobot, kekerasan tablet, kerenyahan tablet, waktu hancur tablet, penetapan kadar zat berkhasiat, disolusi tablet. (Ditjen POM, 1995).

  2.2.2 Evaluasi Tablet

  Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, dan sumber-sumber lainnya, pengujian-pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kualitas dari tablet adalah : a. Uji Keseragaman Bobot Tablet harus memenuhi uji keseragaman bobot. Keseragaman bobot ini ditetapkan untuk menjamin keseragaman bobot tiap tablet yang dibuat. Tablet- tablet yang bobotnya seragam diharapkan akan memiliki kandungan bahan obat yang sama, sehingga akan mempunyai efek terapi yang sama.

  b. Uji Kekerasan Tablet harus memiliki kekuatan atau kekerasan agar dapat bertahan terhadap berbagai guncangan pada saat pengepakan, dan pengangkutan. Uji ini dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut hardness testert, tablet diletakkan diantara alat penekan dan puch dan dijepit dengan memutar sekrup pengatur sampai tanda lampu menyala, lalu ditekan tombol sehingga tablet pecah. Tekanan dapat ditunjukkan melalui skala yang tertera.

  c. Uji Kerenyahan Uji kerenyahan dilakukan untuk mengetahui kerenyahan tablet, karena tablet yang rapuh dan rusak akan berkurang kandungan zat berkhasiatnya sehingga akan mempengaruhi efek terapi. Kerenyahan ditandai sebagai massa seluruh partikel yang berjatuhan dari tablet. Uji ini menggunakan alat yang disebut Roche Friabilator yang terdiri dari sebuah tabung yang berputar, kearah radial disambungkan sebuah bilah lengkung. Tablet dimasukkan kedalam drum tersebut, dihidupkan alat maka drum berputar dan tablet bergulir jatuh sampai pada putaran berikutnya dipegang kembali oleh bilah. Pengujian mengamati kerusakan dari tablet tersebut. Pemutaran dilakukan 100 kali dengan persyaratan tablet tidak boleh kehilangan berat lebih dari 0,8 %. d. Uji Waktu Hancur Uji ini dimasukkan untuk menetapkan kesesuaian batas waktu hancur yang tertera dalam masing-masing monografi, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet dirancang untuk pelepasan kandungan obat secara bertahap dalam jangka waktu tertentu atau melepaskan obat dalam dua periode berbeda atau lebih dengan jarak waktu yang jelas diantara periode pelepasan tersebut. Uji waktu hancur ini tidak menyatakan bahwa sediaan atau bahan aktifnya telarut sempurna. Sediaan dinyatakan hancur sempurna bila tidak ada sisa sediaan, yang tertinggal pada kasa yang tidak larut.

  e. Uji Penetapan Kadar zat Berkhasiat Uji penetapan kadar zat berkhasiat dilakukan untuk mengetahui apakah tablet tersebut memenuhi syarat sesuai dengan etiket. Bila kadar obat tersebut tidak memenuhi syarat maka obat tersebut tidak memiliki efek terapi yang baik dan tidak layak dikonsumsi. Uji penetapan kadar dilakukan dengan menggunakan cara-cara yang sesuai tertera pada monografi antara lain di Farmakope Indonesia.

  f. Uji Disolusi Disolusi adalah proses pemindahan molekul obat dari bentuk padat kedalam larutan pada suatu medium. Uji disolusi digunakan untuk menentukan kesesuaian dengan persyaratan disolusi yang tertera dalam monografi pada sediaan tablet kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet harus dikunyah atau tidak memerluka n uji disolusi. Ada tiga kegunaan uji disolusi :

  1. Menjamin tablet seragam dengan batch

  2. Menjamin bahwa obat akan memeberikan efek terapi yang diinginkan

  3. Uji disolusi diperlukan dalam rangka pengembangan suatu obat baru.

  Obat yang telah memenuhi persyaratan kekerasan, waktu hancur, kerenyahan, keseragaman bobot, dan penetapan kadar, belum dapat menjamin bahwa suatu obat memenuhi efek terapi, karena itu uji disolusi harus dilakukan pada setiap produksi tablet.

  Dalam monografi sediaan tablet pada Farmakope Indonesia, mencantumkan persyaratan uji disolusi dengan persentase tertentu suatu zat aktif yang dikandung sediaan padat harus larut dalam waktu tertentu pula untuk memberikan efek terapi.

2.2.3. Komponen-komponen alat uji disolusi

  Komponennya terdiri dari :

  1. Motor pengaduk dengan kecepatan yang dapat berubah

  2. Keranjang baja stainless berbentuk silinder atau dayung untuk ditempelkan ke ujung pengaduk.

  

3. Bejana dari gelas atau bahan lain yang inert dan transparan dengan volume

  1000 ml, bertutup ditengah-tengahnya ada tempat untuk menempelkan pengaduk, dan ada dua lubang satu tempat zat dan satu menempatkan termometer. Penangas air yang sesuai untuk menjaga temperatur pada media disolusi alam bejana.

  ( Voigh, R. 1994 )

2.2.4 Alat uji disolusi

  Alat uji disolusi yang paling banyak digunakan saat ini adalah alat uji diolusi yang tertera dalam Farmakope Indonesia Edisi IV Ada dua alat yang tertera dalam Farmakope Indonesia Edisi IV antara lain

A. Alat 1

  Alat ini terdiri dari wadah bertutup yang terbuat dari kaca atau bahan transparan lain yang inert, dilengkapi dengan suatu motor atau alat penggerak, dan keranjang berbentuk silinder. Wadah tercelup sebahagian dalam penangas air yang sesuai sehingga dapat mempertahankan suhu dalam wadah 37 ± 0,5 C selama pengujian berlangsung dan juga menjaga agar gerakan air dalam tangas air halus dan tetap. Wadah disolusi berbentuk silinder dengan dasar setengah bola, tinggi 160 mm hingga 175 mm, diameter dalam 98 mm hingga 106 mm dan kapasitas nominal 1000 ml. Pada bagian atas wadah ujungnya melebar, untuk mencegah penguapan dapat digunakan suatu penutup yang pas. Batang logam berada pada posisi sedemikian sehingga sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada tiap titik pada sumbu vertical wadah, berputar dengan halus dan tanpa goyangan yang berarti.

  Gambar Alat Uji Disolusi - Alat 1 ( Pengaduk Bentuk Keranjang ) E

  A = Pada keadaan keranjang terpasang, bila berputar pada sumbu E, pergeseran maksimum yang diperkenankan pada titik A adalah ± 1,0 mm. B = Penahan yang bentuknya melengkung 120 C = Lubang yang berdiameter 2,0 mm D = Kasa dengan sambungan dipatri, berukuran 40 mesh x 40 mesh, diameter

  0,254 mm ( 0,01 inchi dengan bagian luar 0,015 inchi ); bila kasa dinyatakan berukuran 20 mesh, pergunakan 20 mesh x 20 mesh (0,016 inchi dengan bagian luar 0,034 inchi ).

B. Alat 2

  Alat ini sama dengan alat 1, bedanya pada alat ini digunakan dayung yang terdiri dari daun dan batang sebagai pengaduk. Batang berada pada posisi sedemikian sehingga sumbunya tidak lebih dari 2 mm pada setiap titik dari sumbu vertical wadah dan berputar dengan halus tanpa goyangan yang berarti. Daun melewati diameter batang sehingga dasar daun dan batang rata. Dayung memenuhi spesifikasi seperti pada gambar alat 2. Jarak 25 mm ± 2 mm antara daun dan bagian dalam dasar wadah dipertahankan selama pengujian berlangsung. Daun dan batang logam yang merupakan satu kesatuan dapat disalut dengan suatu penyalut yang inert dan sesuai. Sediaan dibiarkan tenggelam kedasar wadah sebelum dayung mulai berputar. Sepotong kecil bahan yang tidak bereaksi seperti gulungan kawat berbentuk spiral dapat digunakan untuk mencegah mengapungnya sediaan.

  • Alat 2 (Pengaduk Bentuk Dayung)

  1 E

  2 Catatan :

  1. Batang dan daun terbuat dari baja tahan karat

  2. Bila berputar pada sumbu E, besarnya A dan B tidak boleh menyimpang lebih dari 0,5 mm.

  2.2.5 Prosedur pengujian disolusi

  Pada tiap pengujian, volume dari media disolusi (seperti yang dicantumkan dalam masing-masing monografi) ditempatkan dalam bejana dan dibiarkan mencapai temperatur 37

  C, kemudian satu tablet atau lebih tablet yang diuji dicelupkan kedalam bejana atau ditempatkan dalam keranjang, kemudian pengaduk diputar dengan kecepatan seperti yang ditetapkan dalam monografi. Pada waktu-waktu tertentu contoh dari media diambil untuk analisis kimia dari bagian obat yang terlarut. Tablet harus memenuhi syarat seperti yang terdapat dalam monografi untuk kecepatan disolusi.

  2.2.6 Faktor yang mempengaruhi kelarutan zat aktif

  Menurut Devissaguet, J., dkk. 1992, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kelarutan zat aktif, antara lain : a. Ukuran partikel

  Ukuran partikel mencapai ukuran minimum, artinya cukup kecil agar permukaan kontak menjadi luas dan permukaan yang bersentuhan dengan medium disolusi sehingga semakin cepat zat aktif tersebut melarut.

  b. Bentuk kristal / amorp Zat aktif dalam bentuk amorp lebih mudah larut dibandingkan dengan yang berbentuk kristal sehingga lebih mudah diabsorbsi dengan demikian memberikan efek terapi yang lebih cepat.

  2.2.7 Faktor formulasi

  Zat tambahan yang diperlukan untuk membentuk massa suatu sediaan tablet, memegang peranan penting dalam pelepasan zat aktif. Zat tambahan itu terdiri atas : a. Zat pengisi Untuk zat aktif yang sangat kecil jumlahnya, zat pengisi perlu dimasukkan gunanya untuk memperbesar volume tablet tersebut. Zat pengisi memiliki pengaruh terhadap pelepasan zat aktif. Sebagai contoh zat pengisi yang bersifat mengabsorbsi, dapat memperlambat proses pelepasan zat aktif. Demikian juga halnya dengan zat pengisi yang membuat tablet menjadi keras, dapat memperlambat waktu hancur dan pelepasan zat aktif. Zat pengisi yang biasa digunakan adalah saccharum lactis.

  b. Zat pengikat Zat pengikat ditambahkan dengan maksud agar tablet tidak mudah pecah atau retak sehingga terjadi kekompakan dan memiliki daya tahan dari tablet.

  Tetapi zat ini dapat memperlambat dibebaskannya zat aktif pada konsentrasi yang lebih besar. Telah terbukti bahwa peningkatan kekentalan karena pemakaian zat pengikat, dengan konsentrasi yang lebih besar pasti menghambat pelarutan. Sehingga memperlambat disolusi zat aktif. Zat pengikat yang sering digunakan adalah mucilago gum arab10 - 20%.

  c. Zat penghancur Zat penghancur (desintegran) ditambahkan dengan maksud agar tablet dapat segera hancur dalam air atau cairan lambung. Zat penghancur yang biasa digunakan adalah amilum manihot kering.

  d. Zat pelicin Zat pelicin ditambahkan dengan maksud agar tablet tidak melekat pada cetakan. Pada umumnya zat pelicinnya bersifat hidrofob (sukar dibasahi). Apabila digunakan dalam jumlah yang besar dapat menghambat proses pelarutan obat.

  Karena itu penggunaan zat ini cukup pada konsentrasi yang minimum saja, yang ditandai dengan aliran granul yan baik. Bahan pelicin yang sering digunakan adalah magnesium stearat

  2.3 Tablet Chlorpheniramine Maleat

Tablet chlorpheniramine maleat memiliki diameter 8 mm, berbentuk

  cembung dengan pinggiran bulat dan berwarna kuning. Tiap tablet mengandung 4 mg chlorpheniramin maleat.

  Indikasi

  Untuk mencegah reaksi alergi seperti gatal-gatal, yang pada umumnya berguna untuk melawan naiknya fermeabilitas kapiler. Dan dalam keadaaan gawat, terjadi suatu reaksi shok anafilaksis dan mematikan (Tan Hoan, 19782).

  Dosis

  1. Bayi : 3-4 kali sehari ½-1 tablet

  2. Dibawah 12 tahun : 3-4 kali sehari ¼ tablet

  3. Dewasa : 3-4 kali sehari ½ tablet

  Farmakologi Chlorpheniramine Maleat

  Chlorpheniramine Maleat adalah obat anti histamin H

  1 yang sering

  digunakan sebagai obat pilihan pertama untuk mencegah atau mengobati gejala reaksi alergi.

  Efek farmakodinamika Chlorpheniramine Maleat

  Efek umum dari chlorpheniramine maleat adalah efek sedasi, tetapi intensitas efek tersebut bervariasi diantara sub kelompok kimia dan juga diantara pasien.

  Efeknya cukup besar pada beberapa pasien yang berguna sebagai bantuan tidur dan tidak sesuai untuk penggunaan pada siang hari. Selain itu juga mempunyai efek anti mual dan anti muntah yang mempunyai aktifitas bermakna dalam mencegah terjadinya motion sickness (mabuk kalau naik kenderaan).

2.4. Penetapan Kadar Secara Spektrofotometri

2.4.1. Spektrofotometri Ultra Violet

  Spektrofotometri adalah suatu metode yang mempelajari serapan atau emisi radiasi elektromagnetik sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan alat atau instrument untuk spektrofotometri disebut spektrofotometer, yaitu alat yang mempergunakan cahaya dengan frekuensi tertentu melalui suatu larutan sampel untuk mengukur intensitas cahaya yang keluar.

  Penetapan kadar secara spektrofotometri memegang peranan yang penting untuk penentuan kuantitatif bahan baku dan sediaan obat. Tahap-tahap penetapan kadar secara spektrofotometri adalah :

  1. Menentukan panjang gelombang maksimun ( maks ) dari zat yang akan ditetapkan kadarnya dengan alat yang akan digunakan. Dapat juga dilihat dari Farmakope Indonesia dan negara lain misalnya Clarke’s. Panjang gelombang maksimum zat yang akan ditetapkan akan kita peroleh setelah dilakukan pengukuran dengan memasukan kisaran panjang gelombang yang diinginkan. serapan dari berbagai panjang gelombang dan dibuat kurva kalibrasinya. 2, Menentukan linieritas kurva kalibrasi dan persamaan regresi dari kurva kalibrasinya. Untuk ini dilakukan dengan pengukuran serapan dari larutan induk pembanding yang harus diencerkan paling sedikit 5 konsentrasi yang berbeda. Pengukuran harus dilakukan dalam batas-batas serapan yang diizinkan oleh hukum Lambert-Beer yaitu berada pada kisaran : A = 0,2 - 0,6.

  • (

  Y = serapan baku pembanding dari berbagai konsentrasi. n = banyaknya pengukuran serapan yang dilakukan.

  pembanding

  A

  b. Cara perbandingan pendekatan harga serapan (A). C sampel =

  a. Persamaan garis regresi, yaitu mengukur serapan zat tersebut pada panjang gelombang maksimunmnya dan memasukkan harga serapan yang diperoleh pada persamaan garis regresi dari larutan pembanding.

  3. Kadar zat yang ditentukan dapat diperoleh dengan :

  X = rata-rata dari konsentrasi Dan dengan demikian akan diperoleh persamaan garis regresinya.

  Jika harga a telah kita peroleh, maka harga b akan didapat dari, b = Y – aX keterangan : Y = rata-rata dari absorbansi

  Keterangan: X= konsentrasi baku pembanding ( mcg / ml ) dari berbagai konsentrasi.

  Dari data-data yang diperoleh ini dibuat kurva kalibrasi dan persamaan garis regresi dari larutan baku pembanding.

  ∑XY – ( ∑X ) ( ∑Y ) / n

  / n

  2

  ∑X )

  2

  ∑ X

  X = konsentrasi Untuk mendapatkan persamaan regresi di atas, maka harga a dapat diperoleh dari persamaan dibawah ini : a =

  Persamaan garis regresi nya: Y = ax + b Keterangan : Y = serapan sampel/cuplikan

  C pembanding x A sampel Denagn syarat : harga A sampel berdekatan dengan harga A pembanding.

  4. Larutan zat yang akan diukur serapannya harus jernih. Kalau tidak jernih harus disaring atau disentrifuge sehingga diperoleh filtrat yang jernih untuk diukur dengan spektrofotometri. (Salbiah, dkk., 2008)

  Spektrofotometri adalah suatu metode yang mempelajari serapan atau emisi radiasi elektromagnetik sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan alat atau instrument untuk spektrofotometi disebut spektrofotometer, yaitu alat yang memepergunakan cahaya dengan frekuensi tertentu melalui suatu larutan sampel untuk mengukur intensitas cahaya yang keluar.

  Spektrofotometer ultra violet terdiri atas empat komponen dasar yaitu :

  1.Sumber energi radiasi Sumber energi radiasi ultra violet yang sering digunakan adalah hidrogen, dapat juga dipakai uap merkuri atau xenon. Kedua sumber ini menghasilkan radiasi ultra vilet yang intensitasnya tinggi.

  2. Monokromator Fungsi dari monokromator adalah untuk menghasilkan radiasi monokromatik yang berasal dari sumbernya yang polikromatik, atau dengan kata lain radiasi yang polikromatik diubah menjadi monokromatik.

  3. Wadah Wadah yang digunakan untuk larutan sampel atau larutan contoh harus dibuat dari bahan yang transparant, misalnya silika.

  4. Detektor yang dihubungkan dengan sistem pembacaan ( alat pencatat ).

  Detektor yang paling banyak digunakan untuk spektrum ultra violet dan sinar tampak adalah photo tube ( tabung foto ).

  Blok diagram komponen spektrofotometer adalah sebagai berikut :

  Sumber Monokro Tempat Detector Radiasi mator Sample

  Pembacaan Pengamatan

  Prinsip Pengukuran Spektrofotometer

  Bila suatu sinar monokromatis dilewatkan melalui sampel maka sebagian dari sinar tersebut terserap oleh sampel dan sebagian lagi akan diteruskan.

  Perbandingan antara intensitas sinar setelah melalui sampel dan intensitas sinar mula-mula disebut transmitan ( T ) T = I / I

  Hubungan antara absorban dengan transmitan adalah : A = log 1 / T Fraksi sinar yang diabsorbsi sangat tergantung pada tiga faktor yakni absorbtivitas, tebal kuvet atau tempat sampel dan konsentrasi. Ketiga parameter ini digabungkan dan sering disebut dengan hukum Lambert Beer, yang dapat dibuat dengan persamaan :

  A = a x b x c Keterangan : A = fraksi sinar yang diabsorbsi a = absorbtivitas b = ketebalan lapisan medium c = konsentrasi larutan ( James W. Munson, 1991 )

BAB III METODOLOGI

  3.1 Tempat

  Uji disolusi Tablet Chlorpheniramine Maleat 4 mg dilakukan di PT. VARSE Pharmaceutical Laboratories Medan pada bagian pengawasan mutu.

  3.2 Alat - alat

  1. Disselution Tester

  2. Spektrofotometri UV Shimadzu

  3. Timbangan Analitis Sartorius

  4. Kertas saring Whatman 42

  5. Alat- alat gelas

  • Beaker gelas 100 ml Pyrex 6 buah
  • Corong Pyrex 6 buah
  • Gelas ukur 1000 ml Pyrex 1 buah
  • Labu tentukur 100 ml Pyrex 2 buah
  • Erlenmeyer 100 ml Pyrex 6 buah

  3.3 Bahan – bahan

  • Sediaan tablet Chlorpheniramine Maleat (CTM) 4 mg
  • Akuades

  3.4. Prosedur

3.4.1. Larutan Baku :

  • Ditimbang seksama sejumlah Chlorpheniramine Maleat BPFI sebanyak 20 mg
  • Dilarutkan dengan akuades dalam labu tentukur 250 ml sampai garis tanda hingga diperoleh kadar 0,08 mg/ml - Disaring.
  • Dipipet 5 ml filtrat kedalam labu tentukur 50 ml, encerkan hingga diperoleh kadar 8µg/ml.
  • Masukkan larutan kedalam kuvet.
  • Diukur serapan larutan baku pada panjang gelombang 262 nm, menggunakan akuades sebagai blanko.

  3.4.2. Larutan Uji :

  Cara pengujian disolusi dengan metode pengaduk bentuk dayung :

  • Timbang masing-masing 6 tablet, dicatat hasilnya
  • Disiapkan alat, pastikan alat siap pakai
  • Dimasukkan 500 ml akuades kedalam wadah (media disolusi), dipasang alat dengan pengaduk bentuk dayung (alat 2).
  • Dimasukkan 6 Tablet CTM 4 mg ke dalam masing-masing wadah secara serentak. Segera jalankan alat pada suhu 37 C ± 0,5 C dengan laju kecepatan 50 rpm dan tunggu hingga 45 menit.
  • Setelah 45 menit dipipet larutan pada daerah pertengahan antara permukaan media disolusi dan bagian atas dari dayung berputar. Kemudian saring.
  • Ukur serapan masing-masing larutan uji dengan panjang gelombang 262 nm.

  3.4.3. Penetapan kadar secara Spektrofotometer UV Shimadzu

  • - Hidupkan power / on pada alat spktrofotometer - Tekan angka panjang gelombang.
  • Buka tempat kuvet, masukkan larutan blanko pada kuvet 1
    • Masukkan juga larutan standar pada kuvet 2, tutup
    • Kemudian catat absorbansinya (lihat pada printer)
    • Untuk mengukur absorbansi pada larutan uji dilakukan cara yang sama, dimana larutan blanko pada posisi tetap di kuvet 1 dan larutan uji pada kuvet 2.

    3.4.4. Perhitungan

      V x Fu x Bb x Au x Kb

      Kadar CTM :

      x 100 % Fb x Ab x Ke

      Keterangan : Au dan Ab : Masing-masing serapan larutan uji dan larutan baku Bb : Berat penimbangan baku Kb : Kadar bahan baku per 100% Fb : Faktor pengenceran larutan baku Fu : Faktor pengenceran larutan uji Ke : Kadar zat berkhasiat per tablet yang tertera pada etiket Persyaratan : Dalam waktu 45 menit harus larut tidak kurang dari 75% (Q) Dari jumlah yang tertera pada etiket.

    BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

      4.1. Hasil

      Dari hasil pengujian yang dilakukan terhadap tablet CTM 4 mg diperoleh hasil sebagai berikut : Tablet Fu (ml) Fb (ml) Bb (mg) Ke Au Ab Kadar

      (mg) (%)

      1 1 2500

      20 4 0,225 0,250 89,64 %

      2 1 2500

      20 4 0,230 0,250 91,63 %

      3 1 2500

      20 4 0,232 0,250 92,42 %

      4 1 2500

      20 4 0,235 0,250 93,62 %

      5 1 2500

      20 4 0,229 0,250 91,23 %

      6 1 2500

      20 4 0,223 0,250 92,82 %

    • Contoh perhitungan lihat lampiran 1

      4.2. Pembahasan

      Dari hasil pemeriksaan uji disolusi tablet Chlorpheniramin Maleat yang dilakukan diperoleh kadar yaitu, 89,64 %, 91,63 %, 92,42 %, 93,62 %, 91,23 %, 92,82 %. Kadar aktif yang terlarut tersebut sesuai dengan batas yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia, dimana jumlah ke 6 sampel yang diuji memenuhi kriteria, yaitu tidak satupun kadar yang diperoleh kurang dari (Q + 5%) yaitu (75% + 5% = 80%). Dari data diatas dinyatakan bahwa tablet Chlorpheniramine maleat 4 mg PT VARSE Pharmaceutical Laboratories tersebut memenuhi syarat karena dapat melarut dengan baik dan dapat terjadi absorbsi melalui lambung dan usus sesuai efek terapi yang ditetapkan.

    BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

      5.1. Kesimpulan

      Dari hasil uji disolusi yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Tablet CTM 4 mg yang diproduksi oleh PT. VARSE Pharmaceutical Laboratories Medan telah memenuhi persyaratan uji disolusi yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia dan monografi lainnya yang berpedoman pada Cara Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB). Dimana persyaratan uji disolusi tiap unit sediaan tidak satupun kadar kurang dari Q + 5% yaitu (75% + 5% = 80%). Berarti hasil uji disolusi memenuhi persyaratan.

      5.2. Saran

      Sebelum melakukan pengujian terlebih dahulu memahami metode serta prosedur seperti berikut ini : penimbangan, pemipetan, pengukuran sampel, agar tidak terjadi kesalahan pada saat melakukan uji disolusi secara spektrofotometri ultra violet.

    DAFTAR PUSTKA

      A. C., Moffat. 1986. ”Clarke’s Isolation ad Identification Of Drugs”. Second Edition. The Pharmaceutical Press. London. Pages: 457.

      Ansel, C. H. 1989. “Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi”. Edisi Ke IV.

      Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. Halaman : 154 – 156. Devissaguet, J., Dkk. 1993. “Farmasetika – Biofarmasi”. Airlangga University Press. Surabaya. Halaman : 154 – 156.

      Ditjen POM. 1995. “Farmakope Indonesia”. Edisi Ke IV. Departemen Kesehatan RI. Jakarta. Halaman : 425 – 428.

      Voight, R. 1994. “Buku Pelajaran Teknologi Farmasi”. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Halaman : 127.

      Salbiah, Dkk. 2008. “Penuntun Praktikum Anslisis Spektrofotometri”. USU.

      Medan. Halaman : 1 – 2. Tan Hoan Tjay Drs & Kirana Raharja. 1978. “Obat – Obat Penting”. Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. Departemen Kesehatan RI.

      Halaman : 212. W. Munson James. 1991. “Analisis Farmasi”. Penerbit Airlangga University Pess. Surabaya. Halaman : 369 – 370.

      Lampiran 1

      Uji disolusi : Au dan Ab : Masing-masing serapan larutan uji dan larutan baku Bb : Berat penimbangan baku Kb : Kadar bahan baku per 100% Fb : Faktor pengenceran larutan baku Fu : Faktor pengenceran larutan uji Ke : Kadar zat berkhasiat per tablet yang tertera paa etiket

    • rumus perhitungan

      Volume pengencera n

      1 Faktor pengenceran = x Volume pengencera n

      2 Volume yang dipipet 250 ml Fb = x 50 ml 2500 ml

      =

      5 ml Fu = 1 Bb = 20 mg Ke = 4 mg Ab = 0,250 Kb = 0,9960 Perhitungan :

      V x Fu x Bb x Au x Kb

      Kadar = x 100 %

      Fb x Ab x Ke

      Untuk Au = 0,225 500 ml x 1 x 20 mg x , 225 x , 9960

      K = x 100 % 89 , 64 %

      =

      2500 ml x , 250 x 4 mg Untuk Au = 0,230 500 ml x

      1 x 20 mg x , 230 x , 9960 K =

      x 100 %

      91 , 63 %

      =

      2500 ml x , 250 x 4 mg Untuk Au = 0,232 500 ml x

      1 x 20 mg x , 232 x , 9960 K = x 100 % 92 , 42 %

      =

      2500 ml x , 250 x 4 mg Untuk Au = 0,235 500 ml x

      1 x 20 mg x , 235 x , 9960 K = x 100 % 93 , 62 %

      =

      2500 ml x , 250 x 4 mg Untuk Au = 0,229 500 ml x

      1 x 20 mg x , 229 x , 9960 K =

      x 100 %

      91 , 23 %

      =

      2500 ml x , 250 x 4 mg Untuk Au = 0,233 500 ml x

      1 x 20 mg x , 233 x , 9960 K =

      x 100 %

      92 , 82 %

      =

      2500 ml x , 250 x 4 mg

Dokumen baru

Tags

Spektrofotometri Ultra Violet Uv Ultra Violet Uji Disolusi Ultra Violet Rays Anhidrida Maleat Anhibryda Maleat Metode Spektrofotometri Spektrofotometri Inframerah Spektrofotometri Ultraviolet Disolusi Kalium Diklofenak Maleat Anhidrid Mah Nitrit Dan Spektrofotometri Metode Spektrofotometri Portable Polipropilena Termodifikasi Maleat Anhidrida
Show more

Dokumen yang terkait

Uji Disolusi Kapsul Piroksikam Secara Spektrofotometri Uv
22
136
39
Uji Disolusi Natrium Diklofenak dalam Sediaan Tablet Menggunakan Metode Spektrofotometri Ultraviolet
20
210
37
Penetapan Kadar Gliseril Guaiakolat Dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultra Violet
25
198
43
Uji Disolusi Ranitidin HCl Pada Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri UV
27
170
54
Pengaruh Radiasi Ultra Violet Terhadap Virulensi
0
32
138
Penetapan Kadar Piridoksin Hidroklorida Secara Spektrofotometri Ultra Violet
106
393
30
Penetapan Kadar Bahan Baku Gliseril Guaiakolat Secara Spektrofotometri Ultra Violet (UV)
7
91
33
Penetapan Kadar Parasetamol 500 Mg Dalam Omegrip Tablet Dengan Metode Spektrofotometri Ultra Violet Di PT. Mutifa Medan
2
117
25
Penetapan Chloroquin Tablet Secara Spektrofotometri Ultra Violet Di PT. Mutiara Mukti Farma (Mutifa) Medan
5
124
26
Uji Disolusi Parasetamol Dalam Omegrip Tablet Secara Spektrofoto Metri Ultra Violet Di PT. Mutiara Mukti Farma Medan
1
62
35
Uji Disolusi Chlorpheniramine Maleat Secara Spektrofotometri Ultra Violet
4
117
33
Uji Disolusi Tablet Parasetamol Yang Diproduksi Oleh Pt Mutiara Mukti Farma (Mutifa) Medan Secara Spektrofotometri Uv-Vis
3
111
34
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Obat - Uji Disolusi Kapsul Piroksikam Secara Spektrofotometri Uv
0
0
14
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tablet - Uji Disolusi Ranitidin HCl Pada Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri UV
0
0
16
Uji Disolusi Ranitidin HCl Pada Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri UV
1
1
13
Show more