Studi Analisis Isi Tentang Pemberitaan Agresi Israel ke Jalur Gaza di Surat Kabar Harian Kompas dan Waspada

Gratis

1
32
127
3 years ago
Preview
Full text

BERITA AGRESI ISRAEL KE JALUR GAZA

  (

  Studi Analisis Isi Tentang Pemberitaan “Agresi Israel ke Jalur Gaza” di Surat Kabar Harian Kompas dan Waspada

  ) SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Oleh:

  EVA MANDONNA SIADARI 050904054

  ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2009

  

ABSTRAKSI

  Penelitian ini berjudul “Studi Analisis Isi Tentang Pemberitaan Agresi Israel ke Jalur Gaza di Surat Kabar Harian Kompas dan Waspada”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyajian berita-berita seputar agresi Israel ke Jalur Gaza, serta berusaha untuk mengungkap penggunaan kekerasan simbolik yang terdapat dalam pemberitaan diantara dua surat kabar tersebut.

  Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode analisis isi, yaitu selain menganalisa data dalam bentuk data deskriptif yang memuat frekuensi kemunculan setiap kategori, maka selanjutnya data tersebut dianalisa kembali, karena dengan menggunakan metode ini memungkinkan untuk meneliti pesan-pesan media massa secara sistematis dan objektif. Populasi dari penelitian ini adalah SKH Kompas dan Waspada terbitan 28 Desember 2008 sampai 28 Januari 2009 yang memuat pemberitaan mengenai agresi Israel ke Jalur Gaza. Dimana, penulis memperoleh 90 item berita yang layak uji.

  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa SKH Kompas lebih dominan menampilkan berita-berita seputar agresi Israel ke Jalur Gaza dalam bentuk straight news di halaman khusus (Rubrik Internasional) dengan memberikan porsi yang lebih kepada pihak Israel sebagai narasumber pelaku langsung dan PBB sebagai narasumber bukan pelaku langsung, serta banyak memberikan penggambaran negatif terhadap Israel melalui penggunaan kekerasan simbolik stigmatisasi/ labelisasi. Berbeda dengan SKH Waspada yang lebih banyak menempatkan pemberitaan mengenai agresi Israel tersebut di halaman depan baik sebagai headline maupun non-headline. Dalam pemberitaannya, Waspada menampilkan pihak Israel secara lebih dominan sebagai narasumber pelaku langsung, dan masyarakat/ tokoh luar negeri sebagai narasumber bukan pelaku langsung. Penggambaran yang negatif atas Israel juga lebih banyak terdapat dalam ke-43 item berita Waspada dengan menggunakan labelling terhadap Israel.

KATA PENGANTAR

  Tiada kata yang dapat menggambarkan rasa syukur penulis karena dapat menyelesaikan tugas akhir ini, kepada Tuhan Yang Maha Esa. Penolong sejati yang akan selalu ada disaat aku membutuhkan-Nya.

  Sebagaimana diketahui, salah satu media massa yang sarat dengan informasi adalah pers. Pers merupakan cerminan realitas karena pers dasarnya merupakan media massa yang lebih menekankan fungsinya sebagai sarana pemberitaan. Dan berita adalah bagian dari realitas sosial yang dimuat media karena memiliki nilai yang layak untuk disebarkan pada masyarakat.

  Penelitian dalam skripsi ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana media surat kabar menyajikan sebuah pemberitaan yang layak untuk diketahui oleh masyarakat, dan memberikan penggambaran terhadap isi beritanya. Dan semoga penelitian ini bermanfaat dalam menggambarkan isi pesan dari penyajian berita-berita seputar agresi Israel ke Jalur Gaza sehingga menjadi informasi yang layak untuk dikonsumsi masyarakat.

  Skripsi ini sendiri dapat terselesaikan atas jerih payah penulis dengan dibantu dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Kedua orang tua penulis. Terima kasih yang tak terhingga atas semua dukungan, materi, semangat, dan doa bagi kelancaran akademik penulis.

  2. Terima kasih secara akademis kepada Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, M.A, selaku Dekan FISIP USU.

  3. Bapak Drs. Amir Purba, M.A, selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU.

  4. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si, selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU.

  5. Bapak Drs. HR. Danan Djaja, M.A, dosen pembimbing bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas saran dan kesedian waktunya untuk mendiskusikan skripsi ini ditengah-tengah padatnya kesibukan.

  6. Bapak Prof. Dr. Suwardi Lubis, MS sebagai dosen wali penulis semasa perkuliahan.

  7. Jajaran dosen dan staf pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU atas ilmu yang telah dibagikan kepada penulis selama perkuliahan. Terima kasih juga kepada Kak Ros, Kak Icut dan Kak Maya yang telah membantu penulis dalam hal administrasi akademik.

  8. Untuk kakak dan adikku, serta keluarga besarku. Terima kasih atas nasehat, dukungan, dan doa yang telah diberikan. Bagiku keluarga adalah pangkalan dimana semua rasa bertemu –kasih, kesabaran, dan ketentraman jiwa– yang memberiku inspirasi dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini. Keluarga adalah tempat perbaikan diri dimana aku semakin menyadari bahwa aku senantiasa membutuhkan Tuhan dan sesama.

  9. Terima kasih yang besar penulis sampaikan untuk SUARA USU, tempat dimana aku belajar pertama kalinya kehidupan jurnalistik. Atas semua ilmu, proses pembelajaran dan pendewasaan diri, pertemanan, kerja sama, kegembiraan, dan kekecewaan yang pernah dilalui bersama selama tiga tahun. Sungguh merupakan kenangan tersendiri bagi aku yang akan selalu diingat dan disimpan sampai nanti. Untuk kakanda, Ratni Hardiana, Rinaldi Sikumbang, Ramita Harja, dan yang lainnya. Untuk teman-teman seperjuangan, Ade, Mimi, Mona, Wina, serta adik-adik junior Chabet, Dewi, Fanny, Sierra, Zizah, dan yang lainnya. Terima kasih atas semua cerita dan hari-hari yang pernah kita lalui di Jl. Universitas No. 32B.

  10. Khusus untuk Fransisca Purba, Sondang Rajagukguk dan Nova Friska Sitinjak, terima kasih untuk semua motivasi, cerita, berbagi waktu dan obrolan yang telah kita habiskan bersama selama empat tahun ini, baik di kampus, SUARA USU, maupun di tempat lain.

  11. Untuk Novalinda, teman sebimbingan yang telah memberikan semangat dan motivasi kepada penulis selama menyusun skripsi ini.

  12. Khusus juga buat Imaniuri Silaban. Terima kasih atas bantuan dan kesediaannya sebagai pengkoding kedua dalam penyelesaian skripsi ini.

  13. Teman-teman seangkatan 2005 yang telah mengisi hari-hari penulis di perkulihan.

  Gurning, Lilis, Icha, Maria, Yenti, Fika, Novalina, Lora, dan lainnya yang tidak penulis sebutkan satu per satu.

  14. Untuk sahabat-sahabatku di manapun kalian berada, Erma, Corry, Hanna, Roris, Saputri, Yolanda, Veni, dan teman-teman SMU lainnya. Semoga pertemanan ini tetap terjaga dan sukses yang akan kita raih bersama.

  15. Untuk kru Kippas, kak Pily, bang Alan, bang Truli yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk berdiskusi bersama dan atas kesediannya meminjamkan koran, jurnal dan bahan klipingan untuk keperluan penelitian ini.

  16. Serta semua pihak yang turut membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  Semoga skripsi ini bermanfaat, terutama dalam hal mengkaji media melalui pendekatan kuantitatif. Terima kasih.

  Medan, Juni 2009 Eva Mandonna Siadari

  

DAFTAR ISI

ABSTRAKSI ...................................................................................................... i KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii DAFTAR ISI ..................................................................................................... v DAFTAR TABEL ............................................................................................ vi DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... vii DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. viii

  BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah ............................................................... 1

  I.2. Perumusan Masalah ..................................................................... 6

  I.3. Pembatasan Masalah .................................................................... 7

  I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ..................................................... 7

  I.5. Kerangka Teori ............................................................................ 8

  I.6. Kerangka dan Operasionalisasi Konsep ...................................... 23

  I.7. Sistematika Penulisan................................................................. 29

  BAB II URAIAN TEORITIS .......................................................................... 30 BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1. Deskripsi Objek Penelitian III.1.1 Surat Kabar Harian Kompas .................................................. 44 III.1.2 Surat Kabar Harian Waspada ................................................. 47 III.2. Metode Penelitian ...................................................................... 49 III.3. Objek Penelitian ......................................................................... 51 III.4. Operasionalisasi Konsep/ Variabel Penelitian III.4.1 Operasional Konsep .............................................................. 52 III.4.2 Operasional Variabel ............................................................. 53 III.5. Teknik Pengumpulan Data ......................................................... 56 III.6. Teknik Analisa Data................................................................... 57 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Analisa Data Deskriptif .............................................................. 59 IV.2 Diskusi Hasil Penelitian ............................................................. 94 BAB V PENUTUP V.1. Kesimpulan ................................................................................ 95 V.2. Saran .......................................................................................... 99 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Operasional Konsep ........................................................................ 51 Tabel 4.1 Jumlah Berita yang Layak Uji ......................................................... 59 Tabel 4.2 Posisi Penempatan Berita di SKH Kompas...................................... 61 Tabel 4.3 Posisi Penempatan Berita di SKH Waspada .................................... 62 Tabel 4.4 Bentuk Penyajian Berita di SKH Kompas ....................................... 64 Tabel 4.5 Bentuk Penyajian Berita di SKH Waspada ...................................... 65 Tabel 4.6 Narasumber Pelaku Langsung di SKH Kompas .............................. 67

Tabel 4.7 Narasumber Pelaku Langsung di SKH Waspada ............................. 69Tabel 4.8 Narasumber Bukan Pelaku Langsung di SKH Kompas ................... 71Tabel 4.9 Narasumber Bukan Pelaku Langsung di SKH Waspada .................. 74Tabel 4.10 Penggambaran Pemerintah Palestina di SKH Kompas ..................... 75Tabel 4.11 Penggambaran Pemerintah Palestina di SKH Waspada ................... 76Tabel 4.12 Penggambaran Pihak Israel di SKH Kompas ................................... 77Tabel 4.13 Penggambaran Pihak Israel di SKH Waspada ................................. 79Tabel 4.14 Penggambaran Pihak Hamas di SKH Kompas ................................. 80Tabel 4.15 Penggambaran Pihak Hamas di SKH Waspada .............................. 82Tabel 4.16 Kekerasan Simbolik di SKH Kompas.............................................. 85Tabel 4.17 Kekerasan Simbolik di SKH Waspada ............................................ 88

  

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Reference Of Influence .................................................................... 9

  

ABSTRAKSI

  Penelitian ini berjudul “Studi Analisis Isi Tentang Pemberitaan Agresi Israel ke Jalur Gaza di Surat Kabar Harian Kompas dan Waspada”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyajian berita-berita seputar agresi Israel ke Jalur Gaza, serta berusaha untuk mengungkap penggunaan kekerasan simbolik yang terdapat dalam pemberitaan diantara dua surat kabar tersebut.

  Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode analisis isi, yaitu selain menganalisa data dalam bentuk data deskriptif yang memuat frekuensi kemunculan setiap kategori, maka selanjutnya data tersebut dianalisa kembali, karena dengan menggunakan metode ini memungkinkan untuk meneliti pesan-pesan media massa secara sistematis dan objektif. Populasi dari penelitian ini adalah SKH Kompas dan Waspada terbitan 28 Desember 2008 sampai 28 Januari 2009 yang memuat pemberitaan mengenai agresi Israel ke Jalur Gaza. Dimana, penulis memperoleh 90 item berita yang layak uji.

  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa SKH Kompas lebih dominan menampilkan berita-berita seputar agresi Israel ke Jalur Gaza dalam bentuk straight news di halaman khusus (Rubrik Internasional) dengan memberikan porsi yang lebih kepada pihak Israel sebagai narasumber pelaku langsung dan PBB sebagai narasumber bukan pelaku langsung, serta banyak memberikan penggambaran negatif terhadap Israel melalui penggunaan kekerasan simbolik stigmatisasi/ labelisasi. Berbeda dengan SKH Waspada yang lebih banyak menempatkan pemberitaan mengenai agresi Israel tersebut di halaman depan baik sebagai headline maupun non-headline. Dalam pemberitaannya, Waspada menampilkan pihak Israel secara lebih dominan sebagai narasumber pelaku langsung, dan masyarakat/ tokoh luar negeri sebagai narasumber bukan pelaku langsung. Penggambaran yang negatif atas Israel juga lebih banyak terdapat dalam ke-43 item berita Waspada dengan menggunakan labelling terhadap Israel.

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Serangan udara yang dilakukan Israel ke Jalur Gaza pada Sabtu, 27 Desember 2008

  lalu, merupakan suatu peristiwa yang menarik perhatian semua orang di berbagai negara di dunia dan menjadi sumber pemberitaan yang bernilai tinggi bagi setiap media massa. Bukan hanya karena ada konflik yang menyertainya, tetapi juga karena akibat yang ditimbulkannya.

  Bahkan gempuran rudal milik Israel yang berjatuhan di Gaza City merupakan serangan Israel yang paling dahsyat terhadap Palestina sejak 25 tahun terakhir dengan jumlah korban jiwa yang sungguh di luar akal sehat: lebih dari 400 orang dalam tempo sepekan!

  PBB memperkirakan, setidaknya ada 100 anak-anak Palestina dari 442 korban tewas dalam serangan Israel hingga hari ketujuh. Korban cedera akibat serangan tersebut dari yang

   ringan hingga parah sekitar 2.000 orang.

  Selain menimbulkan banyaknya korban jiwa, peristiwa ini juga memunculkan kekalutan luar biasa. Banyak warga Gaza yang berniat mengungsi ke wilayah Mesir melalui perbatasan Rafah. Namun, adanya kebijakan negara Mesir yang menutup perbatasan tersebut malah meluapkan kemarahan negara-negara Arab terhadap Israel dan Mesir. Kejadian ini menimbulkan kecemasan, wilayah Timur Tengah akan kembali terjerumus dalam ketidakstabilan baru.

  Agresi yang dilakukan Israel ke Jalur Gaza sejak 27 Desember lalu ini merupakan bagian dari konflik Arab-Israel yang lebih luas dan konflik berkelanjutan antara bangsa Israel dan Palestina. Jalur Gaza yang merupakan daerah konflik Israel-Hamas adalah wilayah yang 1

  1 Surat Kabar Harian Kompas, 3 Januari 2009, PT Kompas Media Nusantara, hlm. 1. terletak di bagian Tenggara Tanah Palestina dengan panjang sekitar 35 kilometer dan lebar antara lima sampai tujuh kilometer. Daerah ini pernah dikuasai Kekhalifahan Utzmaniah (Otoman) sejak tahun 1517 sampai tahun 1917 saat kekhalifahan itu runtuh. Setelah itu masuk dalam mandat Inggris sampai tahun 1947.

  Pada 2 November 1917, Inggris mencanangkan Deklarasi Balfour, yang dipandang pihak Yahudi dan Arab sebagai janji untuk mendirikan “tanah air” bagi kaum Yahudi di Palestina. Selang 30 tahun berlalu, tepatnya pada 14 Mei 1948, Israel secara sepihak mengumumkan diri sebagai negara Yahudi dan Inggris keluar dari Palestina. Mesir, Suriah, Irak, Lebanon, Yordania dan Arab Saudi pun menabuh genderang perang melawan Israel.

  Sejak tahun 1948 tersebut, nyaris Tanah Palestina tidak pernah sepi dari peperangan. Setelah perang, Gaza dikuasai Mesir hingga 1948, lalu direbut Israel pada tahun 1967. Perang besar Arab-Israel yang berlangsung pada tahun 1967, membuat perjuangan bangsa Palestina untuk mewujudkan sebuah negara Palestina semakin berat. Israel masih tetap menduduki Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Jerusalem Timur yang merupakan wilayah Negara Palestina Merdeka.

  Berbagai perundingan damai turut digalakkan untuk mengakhiri konflik Israel- Palestina. Seperti misalnya, pada 13 September 1993, Israel dan PLO bersepakat untuk saling mengakui kedaulatan masing-masing. Hasilnya adalah Kesepakatan Oslo.

  Namun, perseteruan kembali terjadi ketika pada 25 Januari 2006, faksi Hamas (Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah, Gerakan Perlawanan Islam) memenangkan pemilu legislatif Palestina dan menyudahi dominasi faksi Fatah (faksi terbesar dalam PLO, Organisasi Pembebasan Palestina yang didirikan oleh Yaser Arafat) selama 40 tahun. Perpecahan kedua faksi di Palestina ini mencapai puncaknya ketika Hamas mengambil alih kekuasaan di Jalur Gaza pada Juni 2007.

  Ketegangan di Gaza kian meningkat memasuki awal hingga pertengahan tahun 2008. Israel memutus suplai gas dan listrik. Hingga pada November 2008, Hamas kemudian membatalkan keikutsertaannya dalam pertemuan unifikasi Palestina di Kairo, Mesir. Hamas menolak memperbaharui perjanjian gencatan senjata enam bulan dengan Israel yang akan berakhir pada 19 Desember 2008. Serangan roket kecil oleh Hamas yang berjatuhan di wilayah Israel pun menjadi awal dimulainya agresi Israel ke Jalur Gaza.

  Balasan atas serangan roket dan aktivitas teror yang berkelanjutan yang dilakukan Hamas dari Jalur Gaza, dengan kerapnya peluncuran roket dengan target warga sipil, diklaim Israel sebagai alasan membombardir Jalur Gaza akhir Desember lalu.

  Sebaliknya, Deputi Kepala Biro Politik Hamas, Musa Abu Marzouq, menyatakan keputusan Hamas membidikan roket-roket ke Israel tanpa memastikan itu sasaran militer, adalah upaya pertahanan diri Palestina dari intimidasi Israel yang selalu menyerang kaum sipil pendukung Hamas.

  Memasuki hari ke-14, pasukan militer Israel yang disebut Operation Cast Lead ini kembali melancarkan serangan udara ke setidaknya 40 titik di Jalur Gaza. Pertempuran pada Sabtu, 10 Januari 2009 ini berkobar setelah Israel dan Hamas tidak mempedulikan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan agar gencatan senjata di Gaza diberlakukan.

  Resolusi yang ditandatangani 14 negara anggota DK tersebut menyerukan agar gencatan senjata harus diterapkan segera dengan durasi lama, sehingga Israel mau menarik pasukannya keluar dari Gaza.

  Berita penyerangan Israel ke Jalur Gaza yang sudah menelan korban jiwa hingga 1.245 orang, mencederai sekitar 5.300 orang serta menimbulkan kerugian material sekitar Rp 5,2 triliun, turut memenuhi ruang dan waktu dalam pemberitaan di setiap media. Tak terkecuali media nasional dan media-media lokal di Indonesia. Hal ini terlihat dari maraknya media tersebut yang menjadikan topik penyerangan Israel ke Jalur Gaza sebagai berita utama (headline) surat kabar mereka.

  Tak salah jika media berlomba-lomba untuk menampilkan pemberitaan seputar agresi Israel ke Jalur Gaza ini sebagai headline di surat kabar mereka. Masing-masing media berusaha menyediakan ruang dan waktu demi mendapatkan berita yang utuh terkait peristiwa tersebut.

  Namun dalam hal ini, media massa dituntut untuk bekerja secara profesional dengan tidak melakukan pemberitaan yang memihak atau menyudutkan salah satu pihak. Walau pada kenyataannya, tiap-tiap institusi media seringkali memiliki kepentingan sendiri-sendiri dalam menempatkan dan menonjolkan isu-isu tertentu.

  Menurut Antonio Gramsci, media dapat dilihat sebagai ruang di mana berbagai ideologi dipresentasikan. Ini berarti, media bisa menjadi sarana penyebaran ideologis penguasa, alat legitimasi dan kontrol atas wacana publik. Namun di sisi lain, media juga bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan. Media bisa menjadi alat untuk membangun kultur dan ideologi dominan bagi kepentingan kelas dominan, sekaligus juga bisa menjadi

   instrumen perjuangan bagi kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan.

  Artinya berita yang diproduksi tidak dihasilkan dalam sebuah ruang hampa. Ada orang-orang atau pihak yang terlibat dalam proses melahirkan sebuah berita berikut aspek kepentingan dan konflik yang menyertainya.

  Beberapa media dalam menyajikan pemberitaan “Agresi Israel ke Jalur Gaza” mungkin saja bersifat netral dan bukan tidak mungkin berpihak terhadap Palestina ataupun Israel. Keberpihakan tersebut dapat terlihat melalui frekuensi kemunculan pemberitaan “Agresi Israel ke Jalur Gaza”, ataupun dari bagaimana masing-masing media menggambarkan pihak yang terlibat konflik, apakah media tersebut memberikan gambaran 2 Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika dan Analisis Framing, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004, hlm. 30. yang positif atau negatif atau justru memberikan porsi yang sama antara gambaran yang positif dan negatif dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh masing-masing pihak.

  Dengan menggunakan metode analisis isi diharapkan dapat mengetahui bagaimana media menyajikan pemberitaan “Agresi Israel ke Jalur Gaza”.

  Sisi penting metode analisis isi dapat dilihat dari sifatnya yang khas. Pertama, dengan metode ini, pesan media bersifat otonom, sebab peneliti tidak bisa mempengaruhi objek yang dihadapinya. Kedua, dengan metode ini materi yang tidak berstruktur dapat diterima tanpa si penyampai harus memformulasikan pesannya sesuai dengan struktur si peneliti.

  Penelitian ini secara umum berusaha melihat bagaimana sikap media Indonesia terhadap agresi yang dilakukan Israel terhadap Palestina di Jalur Gaza. Dalam melakukan pemberitaan tentang konflik Israel dan Palestina ini, media tertentu harus adil dan berupaya agar berita tersebut tidak mengunggulkan ataupun menjatuhkan salah satu pihak yang bertikai.

  Dua surat kabar yang menjadi objek penelitian ini adalah Surat Kabar Harian (SKH)

  

Kompas dan Waspada. Pemilihan SKH Kompas adalah karena harian ini berskala nasional

  dan kualitas pemberitaannya sudah diakui masyarakat Indonesia. Sedangkan SKH Waspada, harian terbesar di Sumatera Utara, peneliti anggap dapat mewakili harian lokal dalam memberitakan peristiwa tersebut. Selain itu, dari perspektif sejarah, kedua harian ini telah lama berdiri dan mapan.

  Hal-hal yang terurai di atas kemudian melatarbelakangi ketertarikan peneliti untuk melakukan penelitian tentang pemberitaan yang berkaitan dengan agresi Israel ke Jalur Gaza di Surat Kabar Harian Kompas dan Waspada yang terbit dari edisi 28 Desember 2008 sampai dengan 28 Januari 2009 dengan menggunakan metode analisis isi.

I.2. Perumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diutarakan di atas, maka dapat dikemukakan perumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana frekuensi kemunculan dan posisi penempatan berita "Agresi Israel ke Jalur Gaza" di SKH Kompas dan Waspada?

  2. Bagaimana bentuk penyajian berita "Agresi Israel ke Jalur Gaza" di SKH Kompas dan Waspada?

  3. Bagaimana isi pesan pemberitaan "Agresi Israel ke Jalur Gaza" di SKH Kompas dan Waspada dilihat dari penggambaran terhadap pihak yang berkonflik serta ada tidaknya pemakaian kata-kata atau kalimat yang menunjukkan kekerasan simbolik?

I.3. Pembatasan Masalah

  Untuk menghindari ruang lingkup yang terlalu luas dan memfokuskan arah penelitian yang akan dilakukan, maka peneliti menetapkan pembatasan masalah sebagai berikut:

  1. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kuantitatif. Artinya bahwa penerapan metode analisis isi ini sebatas melihat kecenderungan isi media terhadap isu-isu atau topik permasalahan tertentu, yang kemudian mengkuantifikasikan isi pemberitaan media dengan menghitung jumlah frekuensi tema-tema atau topik-topik tertentu.

  2. Penelitian hanya dilakukan pada SKH Kompas dan Waspada.

  3. Penelitian hanya dilakukan pada pemberitaan mengenai “Agresi Israel ke Jalur Gaza” yang terbit pada 28 Desember 2008 - 28 Januari 2009.

  4. Penelitian dilakukan pada berita “Agresi Israel ke Jalur Gaza” dengan memuat kategori yang meliputi posisi penempatan berita, bentuk penyajian berita, narasumber berita, penggambaran terhadap pihak yang berkonflik dan penggunaan kekerasan simbolik.

  I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian

  I.4.1. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui frekuensi kemunculan berita “Agresi Israel ke Jalur Gaza” di SKH Kompas dan Waspada.

  2. Untuk mengetahui isi pesan pemberitaan "Agresi Israel ke Jalur Gaza" di SKH Kompas dan Waspada dilihat dari posisi penempatan berita, bentuk penyajian berita, narasumber berita, penggambaran terhadap pihak yang berkonflik serta ada tidaknya pemakaian kata-kata atau kalimat yang menunjukkan kekerasan simbolik.

  3. Untuk mengetahui arah pemberitaan “Agresi Israel ke Jalur Gaza” di SKH Kompas dan Waspada

  I.4.2. Manfaat Penelitian

  1. Menguji pengalaman teoritis penulis selama mengikuti studi di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU terutama dalam bidang Jurnalistik.

  2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbang pikir penulis dalam melengkapi perbendaharaan penelitian mengenai analisis media.

  3. Secara praktis, diharapkan penelitian ini menjadi suatu referensi bagi pengelolaan berita politik luar negeri di kedua harian tersebut.

  I.5. Kerangka Teori

  Rancangan penelitian yang baik dan memenuhi standar ilmiah haruslah menyertakan kajian teori atau perspektif teoritik yang dipandang relevan untuk membantu memahami atau

   menjelaskan fenomena sosial yang diteliti. 3 Burhan Bungin, Analisa Data Penelitian Kualitatif, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, hlm.

  45

  Adapun fungsi teori disini juga untuk memberi bantuan dalam ketajaman analisis peneliti terhadap masalah yang akan diteliti. Dalam penelitian ini, teori yang relevan digunakan adalah:

I.5.1 Pendekatan Isi Media

  Dalam pembentukan sebuah berita, terlebih dahulu melewati proses yang rumit dan banyaknya faktor yang berpotensi untuk mempengaruhi berita tersebut. Ada banyak kepentingan dan pengaruh yang dapat mengintervensi media, sehingga pasti akan terjadi pertarungan dalam memaknai realitas dalam presentasi media.

  Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese, meringkas berbagai faktor yang

  

  mempengaruhi pengambilan keputusan dalam ruang pemberitaan. Ada lima faktor yang mempengaruhi kebijakan redaksi, yaitu:

Gambar 1.1 Reference Of Influence

  Individual Rutinitas Media Organisasi Media

  Ekstrame- dia Ideologi

4 Agus Sudibyo, Politik Media dan Pertarungan Wacana, LkiS, Yogyakarta, 2001, hlm. 7-12.

  1. Faktor individual Faktor ini berhubungan dengan latar belakang profesional dari pengelola media. Level ini melihat bagaimana pengaruh aspek-aspek personal dari pengelola media mempengaruhi pemberitaan yang akan ditampilkan kepada khalayak. Latar belakang individu seperti jenis kelamin, umur, atau agama, sedikit banyak mempengaruhi apa yang ditampilkan media.

  Aspek persona tersebut secara hipotetik mempengaruhi skema pemahaman pengelola media.

  2. Level rutinitas media Rutinitas media berhubungan dengan mekanisme dan proses penentuan berita. Setiap media umumnya mempunyai ukuran tersendiri tentang apa yang disebut berita, apa ciri-ciri berita yang baik, atau apa kriteria kelayakan berita. Ukuran tersebut adalah rutinitas yang berlangsung tiap hari dan menjadi prosedur standar bagi pengelola media yang berada di dalamnya. Rutinitas media ini juga berhubungan dengan mekanisme bagaimana berita dibentuk.

  Ketika ada sebuah peristiwa penting yang harus diliput, bagaimana bentuk pendelegasian tugasnya, melalui proses dan tangan siapa saja sebuah tulisan sebelum sampai ke proses cetak, siapa penulisnya, siapa editornya, dan seterusnya. Sebagai mekanisme yang menjelaskan bagaimana berita diproduksi, rutinitas media karenanya mempengaruhi bagaimana wujud akhir sebuah berita.

  3. Level organisasi

  Level organisasi berhubungan dengan struktur organisasi yang secara hipotetik mempengaruhi pemberitaan. Masing-masing komponen dalam organisasi media bisa jadi mempunyai kepentingan sendiri-sendiri. Setiap organisasi berita, selain mempunyai banyak elemen juga mempunyai tujuan dan filosofi organisasi sendiri. Berbagai elemen tersebut mempengaruhi bagaimana seharusnya wartawan bersikap, dan bagaimana juga seharusnya peristiwa disajikan dalam berita.

  4. Level ekstramedia Level ini berhubungan dengan faktor lingkungan di luar media. Meskipun berada di luar organisasi media, hal-hal di luar organisasi media ini sedikit banyak dalam banyak kasus mempengaruhi pemberitaan media. Beberapa faktor yang termasuk dalam lingkungan di luar media yaitu sumber berita, sumber penghasil media, dan pihak eksternal seperti pemerintah dan lingkungan bisnis.

  Sumber berita disini dipandang bukanlah sebagai pihak yang netral yang memberikan informasi apa adanya. Ia juga mempunyai kepentingan untuk mempengaruhi media dengan berbagai alasan.

  Sumber penghasil media ini bisa berupa iklan, bisa juga berupa pelanggan/ pembeli media. Media harus survive, dan untuk bertahan hidup kadangkala media harus berkompromi dengan sumber daya yang menghidupi mereka.

  Sementara, pengaruh pihak eksternal seperti pemerintah dan lingkungan bisnis sangat ditentukan oleh corak dari masing-masing lingkungan eksternal media.

  5. Level ideologi

  Ideologi di sini diartikan sebagai kerangka berpikir atau kerangka referensi tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka menghadapinya.

  Ideologi berhubungan dengan konsepsi atau posisi seseorang dalam menafsirkan berita. Pada level ini akan terlihat siapa yang berkuasa di masyarakat dan bagaimana media menentukan.

I.5.2 Media Massa dan Surat Kabar

  Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium, yang secara harfiah diartikan sebagai perantara atau pengantar. Media adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memperjelas materi atau mencapai tujuan pembelajaran tertentu.

  Effendy mendefinisikan media massa sebagai media yang mampu menimbulkan keserempakan di antara khalayak yang sedang memperhatikan pesan yang dilancarkan oleh

   media tersebut.

  Mengenai jenis atau bentuknya, media massa pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua kategori, yakni media massa cetak dan media elektronik. Media massa cetak berupa surat kabar, majalah, tabloid, buletin dan sebagainya. Sedangkan media massa elektronik berupa film, radio, televisi, dan lainnya. Perkembangan masyarakat yang dipacu oleh kemajuan teknologi yang semakin canggih telah memunculkan internet sebagai bentuk dari media massa online.

  Media massa hadir sebagai sebuah institusi sosial, dan menjalankan fungsinya untuk menyediakan informasi bagi orang-orang yang berada dalam berbagai institusi sosial. Media menjadi bagian dari tataran institusional, yang melayani warga masyarakat dalam keberadaannya sebagai bagian dari suatu institusi sosial.

5 Onong Uchana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2005, hlm. 26.

  Sebagai institusi media, media massa berbeda dengan institusi pengetahuan lainnya (misalnya seni, agama. ilmu pengetahuan, pendidikan, dan lain-lain) karena media massa memiliki fungsi pengantar bagi segenap macam pengetahuan, media massa menyelenggarakan kegiatannya dalam lingkungan publik serta media massa dapat menjangkau lebih banyak orang daripada institusi lainnya.

  Media massa juga dapat berperan sebagai penengah atau penghubung antara realitas sosial yang objektif dengan pengalaman pribadi. Konsep yang memandang media massa sebagai institusi yang berada di “antara” kita dengan orang lain, dan segala sesuatunya yang ada dalam ruang dan waktu, merupakan suatu metafora yang mengundang hadirnya penggunaan metafora lainnya untuk menggambarkan pesan yang dimainkan oleh media massa dan konsekuensi yang mungkin ada dalam peran tersebut.

  Harsono Suwardi menyatakan bahwa ada beberapa aspek dari media massa yang

  

  membuat dirinya penting. Pertama, daya jangkaunya yang amat luas dalam menyebarluaskan informasi yang mampu melewati batas wilayah (geografis), kelompok umur, jenis kelamin, status sosial ekonomi (demografis) dan perbedaan paham dan orientasi (psikologis).

  Kedua, kemampuan media untuk melipatgandakan pesan yang luar biasa. Satu peristiwa dapat dilipatgandakan pemberitaannya sesuai jumlah eksemplar koran, tabloid dan majalah yang dicetak; serta pengulangannya (di radio dan televisi) sesuai kebutuhan.

  Ketiga, setiap media massa dapat mewacanakan sebuah peristiwa sesuai pandangan masing-masing. Keempat, dengan fungsi penetapan agenda (agenda setting) yang dimilikinya, media massa mempunyai kesempatan yang luas untuk memberitakan sebuah peristiwa. Kelima, pemberitaan peristiwa oleh suatu media biasanya berkaitan dengan media

6 Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa, Granit, Jakarta, 2004, hlm. xv-xvi.

  lainnya, sehingga membentuk rantai informasi (media as link in other chains). Hal ini akan menambah kekuatan pada penyebaran informasi dan dampaknya terhadap publik.

  Surat kabar merupakan media massa yang paling tua dibandingkan dengan jenis media massa lainnya. Sejarah telah mencatat keberadaan surat kabar dimulai sejak ditemukannya media cetak oleh Johannes Guternberg di Jerman.

  Menurut Agee seperti dikutip Ardianto, secara kontemporer surat kabar memiliki tiga

  

  fungsi utama dan fungsi sekunder. Fungsi utama surat kabar adalah: (1) to inform (menginformasikan kepada pembaca secara objektif tentang apa yang terjadi dalam suatu komunitas, negara dan dunia; (2) to comment (mengomentari berita yang disampaikan dan mengembangkannya ke dalam fokus berita; (3) to provide (menyediakan keperluan informasi bagi pembaca yang membutuhkan barang dan jasa melalui pemasangan iklan media.

  Sedangkan fungsi sekunder surat kabar, adalah: (1) untuk kampanye proyek-proyek yang bersifat kemasyarakatan, yang diperlukan sekali untuk membantu kondisi-kondisi tertentu, (2) memberikan hiburan kepada pembaca dengan sajian khusus; (3) melayani pembaca sebagai konselor yang ramah, menjadi agen informasi dan memperjuangkan hak.

  Perkembangan surat kabar di Indonesia ditandai dengan adanya surat kabar nasional (yang terbit di ibukota Jakarta). Umumnya, surat kabar ini memiliki jumlah pembaca yang cukup banyak meliputi di seluruh daerah sebarannya. Selain itu, juga ditandai dengan adanya surat kabar lokal (yang terbit di luar ibukota Jakarta). Pembaca surat kabar lokal ini memiliki jumlah pembaca yang lebih sedikit karena pangsa pasarnya sesuai dimana surat kabar tersebut didirikan. 7 Elvinaro Ardianto, Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Simbiosa Rekatama Media, Bandung,

  2004, hlm. 98

  Untuk dapat memanfaatkan media massa secara maksimal demi tercapainya tujuan komunikasi, maka seorang komunikator harus memahami kelebihan dan kekurangan media tersebut. Dengan kata lain, komunikator harus mengetahui secara tepat karakteristik media massa yang akan digunakannya. Karakteristik surat kabar sebagai media massa mencakup:

  1. Publisitas Publisitas adalah penyebaran pada publik atau khalayak. Salah satu karakteristik komunikasi massa adalah pesan dapat diterima oleh sebanyak-banyaknya khalayak yang tersebar di berbagai tempat, karena pesan tersebut penting untuk diketahui umum, atau menarik bagi khalayak pada umumnya. Pesan-pesan melalui surat kabar harus memenuhi kriteris tersebut.

  2. Periodesitas Periodesitas menunjukkan pada keteraturan terbitnya, bisa harian, mingguan atau dwi mingguan.

  3. Universalitas Universalitas menunjuk pada kemestaan isinya, yang beraneka ragam dan dari seluruh dunia. Dengan demikian, isi surat kabar meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, seperti masalah sosial, ekonomi, budaya, agama, pendidikan, keamanan dan lain-lain.

  4. Aktualitas Fakta dan peristiwa penting atau menarik tiap hari berganti dan perlu untuk dilaporkan, karena khalayak pun memerlukan informasi yang paling baru. Hal ini dilakukan surat kabar, karena surat kabar sebagian besar memuat berbagai jenis berita.

  5. Terdokumentasikan

  Dari berbagai fakta yang disajikan surat kabar dalam bentuk berita atau artikel, dapat dipastikan ada beberapa diantaranya yang oleh pihak-pihak tertentu dianggap penting

   untuk diarsipkan atau dikliping.

  Surat kabar dapat dikelompokkan pada berbagai kategori. Dilihat dari ruang lingkupnya, maka kategorisasinya adalah surat kabar nasional, regional dan lokal. Ditinjau dari bentuknya, ada bentuk surat kabar biasa dan tabloid. Sedangkan dari bahasa yang digunakan, ada surat kabar berbahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa daerah.

  Pada dasarnya isi surat kabar bisa dilihat sebagai berikut: 1) Pemberitaan (news

  

getter), 2) Pandangan atau pendapat (opinion) yang dibagi atas pendapat masyarakat (public

opinion) berupa komentar, artikel dan surat pembaca dan opini penerbit (press opinion)

  meliputi tajuk rencana, pojok dan karikatur, dan 3) Periklanan (advertising) yang berbentuk iklan display, iklan baris dan iklan pariwara atau advertorial.

I.5.3 Bahasa, Kekuasaan dan Ideologi

   Bahasa Manusia adalah makhluk berpikir, demikian menurut dunia filsafat. Konsekuensi dari kenyataan ini adalah bahwa manusia adalah makhluk yang berbahasa. Manusia mengucapkan pikirannya melalui bahasa. Dalam filsafat bahasa dikatakan bahwa orang menciptakan realitas dan menatanya melalui bahasa. Bahasa mengangkat hal yang tersembunyi ke permukaan sehingga menjadi suatu kenyataan. Tetapi selain itu bahasa yang sama juga dapat menghancurkan realitas orang lain. Menurut Halliday, saat seseorang menggunakan bahasa,

  

  berarti ia menggunakan bahasa tersebut untuk menggambarkan pengalaman. Pengalaman tersebut adalah pengalaman tentang abtraksi-abstraksi, tentang kualitas, tentang keadaan dan 8 9 Elvinaro Ardianto, Ibid., hlm. 104-106 Alex Sobur, Op.cit, hlm.17 hubungan –hubungan dunia sekitar kita. Berdasarkan penggambaran-penggambaran tersebut maka menurut Halliday sangat perlu dibuat suatu acuan khusus yang disepakati untuk menghindari kesalahpahaman.

   Paling tidak ada tiga pandangan mengenai bahasa. Pandangan pertama diwakili oleh

  pandangan kaum Positivisme. Menurut pandangan ini, bahasa dinilai sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya. Pengalaman-pengalaman manusia dianggap dapat diekspresikan melalui penggunaan bahasa secara langsung tanpa ada kendala. Salah satu ciri dari aliran ini adalah pemisahan antara pemikiran dan realitas, dimana orang tidak perlu mengetahui makna-makna subjektif atau nilai yang mendasari pernyataannya, sebab yang penting adalah apakah pernyataan tersebut dinyatakan secara benar menurut kaidah sintaksis dan semantik.

  Pandangan kedua disebut sebagai pandangan konstruktivisme. Aliran ini menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek dan objek bahasa. Menurut aliran ini bahasa tidak dilihat hanya sebagai alat untuk memahami realitas objektif saja dan dipisahkan dari subjek yang menyampaikan pernyataan. Tetapi justru menganggap subjek merupakan faktor sentral dalam kegiatan wacana dan hubungan-hubungan sosialnya. Aliran konstruktivisme memahami bahasa adalah sesuatu yang diatur dan dihidupkan oleh pernyataan-pernyataan yang bertujuan. Dan setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan penciptaan makna yaitu tindakan pembentukan diri dan pengungkapan jati diri oleh si pembicara.

  Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Menurut aliran ini individu tidak dianggap sebagai subjek netral yang bisa menafsirkan secara bebas sesuai pikirannya, tetapi sangat dipengaruhi oleh kekuatan sosial yang ada dalam masyarakat. Bahasa dalam aliran ini tidak dipahami sebagai medium yang netral tetapi merupakan representasi yang berperan

10 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, LkiS, Yogyakarta, 2005, hlm. 4-6

  dalam membentuk subjek tertentu, tema-tema wacana tertentu maupun strategis-strategis di dalamnya.

   Kekuasaan Kekuasaan menurut Max Weber adalah kemungkinan seorang aktor dalam antarhubungan sosial akan berada pada suatu posisi untuk melaksanakan kehendaknya sendiri, meski terdapat perlawanan tanpa menghiraukan landasan tempat meletakkan kemungkinan tersebut.

  Galtung membangun konsep kekuasaan bertolak dari dua prinsip dasar dalam kehidupan manusia. Yaitu ada (being) dan memiliki (having). Kekuasaan terjadi dalam relasi yang tidak seimbang yaitu terdapat perbedaan dari segi being dan segi having serta

  

  kedudukan (position) dalam struktur sosial. Kekuasaan yang sudah dimiliki sejak lahir dari pembawaan keturunan disebut being power, kekuasaan yang diperoleh dari “memiliki” sumber-sumber kemakmuran disebut having power dan kekuasaan karena kedudukan dalam suatu struktur disebut structure power.

  Galtung juga membagi kekuasaan menjadi kekuasaan atas diri sendiri dan kekuasaan atas orang lain. Kekuasaan atas diri sendiri adalah kemampuan menentukan dan mengejar tujuan bagi dirinya. Selanjutnya Galtung membagi kekuasaan atas orang lain menjadi tiga macam yaitu: a. Kekuasaan ideologis, orang yang berkuasa karena sebagai pemberi kekuasaan ide atau gagasan mampu menyusup dan emmbentuk kehendak orang lain yang menerimanya.

  b. Kekuasaan renumeratif, kekuasaan yang terjadi karena memiliki pemikat untuk 11 diberikan sebagai ganjaran yang dapat berupa barng-barang, jabatan dan sebaginya.

  Hotman Siahaan, Pers yang Gamang, LSPS, Jakarta, 2001, hlm. 13 c. Kekuasaan punitif, kekuasaan yang terjadi karena memiliki sarana untuk menghancurkan orang lain ataupun barang milik orang lain jika orang tersebut tidak menaati kehendak pemberi kekuasaan.

  Kekuasaan dalam hubungannya dengan wacana adalah terjadinya kontrol. Dimana satu orang atau kelompok mengontrol orang atau kelompok lain melalui wacana. Dan ini tidak harus selalu dalam bentuk fisik tetapi dapat juga secara mental. Kelompok dominan mungkin membuat kelompok lain berbicara, bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan.

  Hal ini dapat terjadi karena sebagai kelompok dominan mereka lebih mempunyai akses yang dapat berupa pengetahun, uang, pendidikan dibandingkan dengan kelompok yang tidak

  

  dominan. Bentuk kekuasaan ini dalam media dapat dilihat dari siap yang boleh dan harus berbicara, siap yang hanya bisa mendengar dan mengiyakan. Dalam lapangan berita, pemilik atau politisasi yang posisinya kuat menentukan siapa narasumber atau bagian mana yang harus diliput dan mana yang tidak perlu atau bahkan dilarang untuk diberitakan. Selain itu seorang yang mempunyai kekuasaan dapat juga menentukan bagaimana ia harus ditampilkan, hal ini misalnya terlihat dari penonjolan atau pemakaian kata-kata tertentu dalam berita.

   Ideologi Eriyanto menempatkan ideologi sebagai konsep sentral dalam analisis wacana karena teks, percakapan dan lainnya adalah bentuk dari praktik ideologi atau pencerminan dari

  

  ideologi tertentu. Teori-teori klasik tentang ideologi diantaranya mengatakan bahwa

  12 13 Eriyanto, Op.cit, hlm. 12 Eriyanto, Ibid, hlm. 13 ideologi dibangun oleh kelompok-kelompok yang dominan dengan tujuan untuk mereproduksi dan melegatimasi dominasi mereka.

  Perkembangan teori komunikasi dan budaya yang kritis pada tahun-tahun terakhir telah membawa serta perhatian pada ideologi, kesadaran dan hegemoni. Ideologi sebagai sistem ide-ide yang diungkapkan dalam komunikasi. Kesadaran adalah esensi atau totalitas dari sikap, pendapat dan perasaan yang dimiliki oleh individu-individu atau kelompok- kelompok. Hegemoni adalah proses dimana ideologi “dominan” disampaikan, kesadaran dibentuk dan kuasa sosial dijalankan.

  Harus disadari betul bahwa teks media yang tersusun atas seperangkat tanda yang membentuk bahasa tidak pernah membawa makna tunggal di dalamnya. Kenyataannya, teks

   media selalu memiliki ideologi dominan yang terbentuk melalui tanda tersebut.

  Kecenderungan atau perbedaan setiap media dalam memprodukasi informasi kepada khalayak dapat diketahui dari pelapisan-pelapisan yang melingkupi institusi media.

I.5.4 Berita

  J. B. Wahyudi mendefinisikan berita sebagai laporan tentang peristiwa atau pendapat yang memiliki nilai penting dan menarik bagi sebagian khalayak, masih baru dan dipublikasikan secara luas melalui media massa. Perisiwa atau pendapat tidak akan menjadi

   berita, bila tidak dipublikasikan media massa secara periodik.

  Sumadiria mendefinisikan berita sebagai laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang benar, menarik, dan atau penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media

   berkala seperti surat kabar, radio, televisi, atau media online internet. 14 15 Alex Sobur, Op.cit, hlm. 138 16 Totok Djuroto, Manajemen Penerbitan Pers, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004, hlm. 47 Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature, Simbiosa Rekatama Media, Bandung, 2005, hlm. 65

  Untuk membuat sebuah berita harus berdasarkan kriteria umum nilai berita. Sumadiria menyebutkan sebelas nilai berita yaitu keluarbiasaan (unusualness), kebaruan (newness), akibat (impact), aktual (timeliness), kedekatan (proximity), konflik (conflict), orang penting (prominance), ketertarikan manusiawi (human interest), kejutan (surprising), dan seks (sex).

  Dalam membuat berita, paling tidak harus memenuhi dua syarat, yaitu: 1) Faktanya tidak boleh diputar sedemikian rupa sehingga kebenaran tinggal sebagian saja; 2) Berita itu harus menceritakan segala aspek secara lengkap.

  Seorang pembuat berita harus menjaga objektivitas dalam pemberitaannya. Artinya, penulis berita hanya menyiarkan berita apa adanya. Jika materi berita itu berasal dari dua pihak yang berlawanan, harus dijaga keseimbangan informasi dari kedua belah pihak yang berlawanan tadi. Penulis berita tidak memberi kesimpulan atas dasar pendapatnya sendiri.

  Ada tiga kaidah visibilitas berita yaitu: kaitannya dengan peristiwa atau kejadian (komponen tindakan), kehangatannya, dan keberhargaannya sebagai berita atau kaitannya

   dengan beberapa hal atau orang penting.

  Dalam dunia jurnalisme, ada dua cara pandang berbeda dalam melihat konsep yang bermakna “berita”. Pertama, berita dianggap sebagai cerminan dari realitas (mirror of

  

reality), yaitu potret dari realitas sosialnya. Kedua, berita sebagai hasil rekonstruksi realitas

  yang akan mengakibatkan produksi dan pertukaran makna (constructed reality). Maksudnya adalah berita merupakan hasil konstruksi realitas dari sebuah proses manajemen redaksional.

  Pada akhirnya, berita tidak selalu menghasilkan makna yang sama seperi yang diharapkan oleh wartawan dalam diri khalayak pembaca.

17 Menurut Hall, bahwa berita itu sendiri bertanggung jawab menciptakan pengetahuan 'konsensus' di sepanjang waktu, atas dasar nama keberhargaan berita dikenali oleh para wartawan dan diterima oleh publik.

  Lihat Denis McQuail, Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1996, hlm. 191.

I.6. Kerangka dan Operasionalisasi Konsep

  Kerangka konsep adalah hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang akan dicapai. Dalam penelitian ini, kerangka konsep yang akan dirumuskan terdiri dari kategorisasi berita secara umum dan

   menurut jenisnya.

  Dalam analisis isi, validitas metode dan hasil-hasilnya sangat tergantung dari kategori-kategori yang dibuat. Selain itu, suatu kategorisasi diperlukan untuk memudahkan peneliti menganalisa isi media yang akan diteliti. Dalam penelitian ini, terdapat lima kategori yang dijadikan rujukan, yaitu posisi penempatan berita, bentuk penyajian berita, narasumber berita, penggambaran terhadap pihak yang terlibat konflik dan kekerasan simbolik.

I.6.1 Posisi Penempatan Berita

  Frekuensi dan penempatan berita adalah hal penting yang perlu dimonitoring dalam pemberitaan Agresi Israel ke Jalur Gaza, untuk melihat pihak mana dalam konflik tersebut yang paling banyak diberitakan oleh media dan bagaimana posisi penempatan beritanya.

  Posisi penempatan berita Agresi Israel ke Jalur Gaza di Harian Kompas dan Waspada dapat dilihat dari:

  1. Halaman depan headline, yaitu berita yang dianggap sangat layak diletakkan di halaman depan surat kabar dengan judul yang dapat menarik perhatian masyarakat dan menggunakan huruf relatif lebih besar.

18 Menurut Rakhmat, analisis isi kuantitatif hanya memproses dan mengukur data agenda media dalam

  

tabulasi khusus, dengan dimensi-dimensi khusus pula dan melalui beberapa tahapan yaitu mengukur agenda

media dengan menentukan batas waktu tertentu, meng-coding berbagai isi media dan menyusun (ranking) isu

itu berdasarkan panjang (waktu dan ruang), penonjolan (ukuran) headline, lokasi dalam surat kabar, frekuensi

pemunculan berita, posisi dalam surat kabar, dan konflik (cara penyajian berita). Lihat Jalaluddin Rakhmat,

Metode Penelitian Komunikasi: Dilengkapi Contoh Analisis Statistik, Penerbit PT Remaja Rosdakarya,

Bandung, 2004, hlm. 68-69.

  2. Halaman depan, bukan headline, yaitu berita yang ditampilkan mendampingi headline sehingga tampak semarak berita yang ada pada halaman depan suatu harian tanpa mengurangi nilai berita tersebut.

  3. Halaman khusus, yaitu berita-berita yang ditempatkan pada salah satu rubrik dalam surat kabar yang khusus membahas mengenai tema dari rubrik tersebut.

  4. Halaman lain, yaitu berita-berita tentang Agresi Israel ke Jalur Gaza yang disajikan di luar dari halaman depan dan halaman khusus (rubrik internasional/ luar negeri).

  I.6.2 Bentuk Penyajian Berita

  Dalam pemberitaan mengenai Agresi Israel ke Jalur Gaza di Harian Kompas dan Waspada, bentuk penyajian beritanya dapat dikelompokkan atas:

  1. Straight news (berita langsung), yaitu laporan langsung mengenai suatu peristiwa yang memuat unsur 5W+1H.

  2. Feature, yaitu berita-berita yang disajikan dengan mengetengahkan sisi humanis atau ketertarikan manusiawi dari suatu peristiwa.

  3. News Analysis, yaitu berita yang merupakan analisis lanjutan wartawan tentang suatu peristiwa. Unsur subjektivitas menonjol dan cenderung berbau opini wartawan, pakar atau pengamat.

  I.6.3 Narasumber Berita

  Woseley dan Campbell menulis: orang banyak ini, yaitu konsumen surat kabar dan

   majalah serta alat-alat komunikasi lainnya, merupakan narasumber berita bagi si wartawan.

  Kompetensi pihak yang dijadikan narasumber untuk mendapatkan informasi yang digunakan untuk mengetahui validitas suatu kronologi peristiwa (berita yang menyangkut 19 Haris Sumadiria, Op.cit., hlm. 96. peristiwa dengan kronologi kejadiannya), apakah berasal dari narasumber yang menguasai persoalan, atau hanya sekedar kedekatannya dengan media yang bersangkutan atau karena

  

  jabatannya. Kategori ini dibagi dalam:

  1. Pelaku langsung, apabila peristiwa yang diberitakan merupakan hasil wawancara dengan sumber berita yang mengalami langsung peristiwa tersebut. Dalam penelitian ini, pelaku langsungnya meliputi Pemerintah Palestina, Pemerintah Israel, Kelompok Hamas, warga sipil Gaza, paramedis Gaza, dan warga asing yang turut menjadi korban dari agresi tersebut.

  2. Bukan pelaku langsung, yaitu apabila peristiwa yang diberitakan merupakan hasil wawancara dengan sumber berita yang tidak mengalami langsung peristiwa tersebut.

  Hanya karena jabatan atau memiliki akses informasi lalu menjadi sumber berita. Misalnya: PBB, Negara Arab, pemerintah luar negeri, masyarakat atau tokoh luar negeri, dan relawan medis luar negeri.

I.6.4 Penggambaran Pihak yang Berkonflik

  Kategori ini meliputi bagaimana penggambaran yang diberikan sebuah media cetak melalui pemberitaannya terhadap pihak-pihak yang terlibat konflik dalam Agresi Israel ke Jalur Gaza. Misalnya penggambaran terhadap tindakan pemerintah Israel yang melakukan penyerangan ke Jalur Gaza, atau terhadap pemerintah Palestina yang dipimpin oleh Faksi Fatah, yang menjadi saingan Faksi Hamas dalam pemerintahan Palestina, serta terhadap Faksi Hamas yang menjadi target utama dari serangan tersebut.

  Penggambaran untuk masing-masing pihak tersebut meliputi:

  1. Positif, yaitu dalam berita yang disajikan terdapat gambaran yang baik atau positif 20 terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan oleh masing-masing pihak.

  Burhan Bungin, Metode Penelitian Kualitatif, Penerbit PT RajaGrafindo Perkasa, Jakarta, 2008, hlm. 215-216.

  2. Negatif, yaitu dalam berita yang disajikan terdapat gambaran yang buruk atau tidak baik terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan oleh masing-masing pihak.

  3. Positif+negatif, yaitu dalam berita yang disajikan di media terdapat gambaran yang baik serta gambaran yang buruk terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan oleh masing-masing pihak.

  4. Tidak ada penggambaran, berarti dalam berita tersebut tidak terdapat penggambaran terhadap pemerintah Palestina, pihak Israel maupun pihak Hamas.

I.6.5 Kekerasan Simbolik

  Manipulasi fakta melalui bahasa atau wacana oleh penguasa (kepemimpinan intelektual dan moral) demi mempertahankan kekuasaan dan menaklukkan kemampuan berpikir kritis masyarakat dengan cara menggunakan kekerasan simbolik dalam sebuah

  

  pemberitaan di media massa. Kekerasan simbolik dalam penelitian ini dibagi atas:

  1. Stigmatisasi/ Labelisasi Penggunaan kata atau istilah opensif (dicapkan atau dilabelkan) kepada seseorang atau kelompok atau tindakan sehingga melahirkan pengertian lain dari keadaan sesungguhnya. Misalnya kaum zionis, provokator.

  2. Eufemisme Menghaluskan fakta melalui penggunaan kata atau kalimat sehingga maknanya berbeda dari sesungguhnya. Misalnya dibombardir menjadi diserang, mengutuk 21 menjadi mengecam keras.

  Jurnal Sendi No. 3 Tahun 2000, Penerbit: Lembaga Studi Perubahan Sosial (LSPS), Surabaya, hlm.

  30

  3. Disfemisme Mengeraskan atau mengasarkan fakta melalui kata-kata atau kalimat sehingga maknanya berbeda dari sesungguhnya. Misalnya serangan membabi buta, penjahat perang.

  4. Jargon Kata atau istilah khas yang digunakan sebuah kelompok masyarakat tertentu yang kemudian dipakai dalam konteks ideologi kekuasaan dan diadopsi oleh masyarakat luas. Misalnya jihad dengan jalan Tuhan, dan sebagainya.

  5. Metafora Dipahami sebagai cara memindah dengan merelasikan dua fakta melalui analogi, atau memakai kiasan dengan menggunakan kata-kata seperti ibarat, bak, sebagai umpama.

I.7. Sistematika Penulisan

  Sistematika laporan penulisan dalam penelitian ini terdiri dari lima bab sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah.

   Bab I Pendahuluan; pada bab ini akan dipaparkan latar belakang masalah, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kerangka teori, kerangka dan operasionalisasi konsep, dan sistematika penulisan.

   Bab II Uraian Teoritis; bab ini akan memaparkan mengenai pemahaman akademik mengenai media massa dalam studi analisis isi yang digunakan dalam penelitian.

   Bab III Metodologi Penelitian; dalam bab ini akan diuraikan mengenai deskripsi objek penelitian, metode penelitian, operasional konsep, metode pengumpulan data dan metode analisa data.

   Bab IV Hasil dan Pembahasan; bab ini memaparkan tentang hasil penelitian serta pembahasan dengan menggunakan analisa data deskriptif.

   Bab V Penutup; pada bab ini berisikan kesimpulan hasil penelitian dan memberikan saran yang dapat bermanfaat kepada berbagai pihak.

BAB II URAIAN TEORITIS Dalam studi analisis isi, beberapa konsep atau pemahaman akademik mengenai media

  massa cetak dapat dijelaskan sebagai berikut: Media massa cetak merupakan salah satu media penyampai informasi yang kini menyebar hampir di seluruh penjuru Indonesia bahkan dunia. Surat kabar misalnya.

  Informasi yang terdapat dalam surat kabar sifatnya tetap dan dapat dibaca berulang-ulang. Hal ini tentu berbeda dengan informasi yang disajikan di media elektronik seperti radio dan televisi yang terikat dengan waktu. Informasi tersebut nyatanya hanya dapat dinikmati beberapa saat dan tidak dapat diperoleh kembali dalam jangka waktu yang lama.

  Media massa cetak dapat berupa surat kabar, majalah, tabloid, poster, buletin, dan sebagainya. Untuk surat kabar yang menjadi objek penelitian ini, terbentuk dari faktor verbal

  

  dan visual. Faktor verbal dalam surat kabar dimaksudkan sebagai kemampuan sebuah surat kabar dalam pemilihan serta penyusunan kata dan kalimat yang membentuk sebuah paragraf yang efektif. Sedangkan yang dimaksud dengan faktor visual adalah penyusunan tata letak dan perwajahan surat kabar. Namun yang terpenting dari sebuah surat kabar adalah materi atau isi yaitu pemberitaan yang dimuat dalam surat kabar tersebut. Dalam perspektif jurnalistik, setiap informasi yang disajikan kepada khalayak harus mengandung unsur kebenaran dan sesuai dengan fakta yang ada (faktual), jelas dan juga akurat.

22 Haris Sumadiria, Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature, PT Remaja Rosdakarya,

  Bandung, 2005, hlm. 5

  29 Dalam konteks jurnalistik, ada tiga produk jurnalistik yang terdapat dalam isi surat

  

  kabar. Produk jurnalistik tersebut adalah berita (news), pandangan, ulasan, komentar (opinion), dan iklan atau perkenalan yang bersifat propaganda (advertisement).

   Berita (news) Menurut Michael V. Charnley, berita adalah laporan tercepat mengenai fakta dan

  

  opini yang menarik atau penting, atau kedua-duanya bagi sejumlah besar orang. Dengan adanya pemberitaan, masyarakat kemudian akan mengetahui segala informasi yang sedang terjadi di seluruh aspek kehidupannya. Hal inilah yang mengharuskan berita-berita yang disajikan tiap-tiap institusi media harus berdasarkan fakta yang terjadi dan harus disampaikan secara objektif tanpa melibatkan pendapat pribadi penulis berita.

  Adapun pengklasifikasian berita menurut jenisnya terdiri atas lima hal, yakni: 1. Straight news (berita langsung) adalah laporan langsung mengenai suatu peristiwa.

  Biasanya, berita jenis ini ditulis dengan unsur-unsur yang dimulai dari 5W+1H (what, who, when, where, why dan how).

  2. Depth news (pengembangan berita) merupakan kelanjutan atau pengembangan dari adanya sebuah berita yang masih belum selesai pengungkapannya dan bisa dilanjutkan kembali.

  3. Investigative news (penggalian berita) merupakan laporan yang berisikan atau memusatkan pada sejumlah masalah dan bersifat kontroversi. Dalam laporan investigasi, para wartawan melakukan penyelidikan untuk memperoleh fakta yang tersembunyi demi mengungkapkan kebenaran.

  4. Interpretative news (penjelasan berita) adalah bentuk berita yang penyajiannya 23 merupakan gabungan antara fakta dan interpretasi. Dalam penulisannya, boleh 24 Totok Djuroto, Manajemen Penerbitan Pers, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004, hlm.46 Haris Sumadiria, Op.cit, hlm. 64.

  dimasukkan uraian, komentar dan sebagainya yang ada kaitannya dengan data yang diperoleh dari suatu peristiwa atau kejadian yang dilihatnya.

  5. Feature (karangan khas) adalah bagian dari penyajian berita yang cara menulisnya dapat mengabaikan pegangan utama dalam penulisan berita; atau penyajian berita yang berbentuk human interest (ketertarikan manusiawi).

  Berita-berita yang telah siap untuk disajikan ke hadapan para pembaca dapat diklasifikasikan berdasarkan sifatnya. Bila berita tersebut dianggap sangat layak diletakkan di halaman depan surat kabar, maka berita itu disebut berita utama (headline).

  Biasanya berita yang menjadi headline sebuah surat kabar dibuat dengan menggunakan huruf relatif lebih besar dengan judul yang dapat menarik perhatian para pembaca. Sedangkan berita yang ditampilkan mendampingi berita utama sehingga tampak semarak berita yang ada pada halaman depan disebut sebagai berita non-utama. Namun, bukan berarti berita tersebut tidak penting tetapi mungkin tidak hangat di masyarakat.

  Berita yang menjadi headline merupakan isu utama dalam sebuah surat kabar. Isu berita headline merupakan berita yang aktual, penting, menarik perhatian masyarakat dan sedang hangat di tengah masyarakat.

  Memang, setiap peristiwa yang dianggap dapat menarik minat pembaca, selalu dijadikan headline atau diletakkan pada halaman depan surat kabar. Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa umumnya pembaca ketika akan membaca atau membeli sebuah surat kabar, yang pertama dilihatnya adalah headline berita pada hari itu atau berita-berita yang ada di halaman depannya.

  Contoh aktualnya bisa kita lihat pada agresi yang dilakukan Israel pada 27 Desember 2008 lalu di Jalur Gaza. Hampir seluruh surat kabar di dunia, termasuk Indonesia, menempatkan peristiwa tersebut beserta dampak ikutannya sebagai headline surat kabarnya. Tak tanggung-tanggung, SKH Kompas misalnya, sebagai salah satu surat kabar nasional, menempatkan peristiwa tersebut sebagai headline untuk edisi sepekan berturut-turut. Sebut saja misalnya judul-judul seperti “Israel Bom Gaza, 155 Tewas” (28/12/2008); “Israel Dikecam Keras” (30/12/2008); ataupun “Israel Masih Gempur Gaza” (31/12/2008).

  Tak hanya surat kabar nasional yang terbit di ibukota. Berbagai surat kabar nasional yang diterbitkan di daerah pun menempatkan agresi Israel sebagai headline, mengalahkan isu-isu lokal atau isu nasional yang terjadi selama rentang waktu tiga minggu sejak Israel menyerang Gaza. SKH Waspada misalnya, surat kabar harian yang terbit di Kota Medan ini bahkan mengangkat peristiwa seputar penyerangan Israel ke Jalur Gaza ini sebagai headline selama dua pekan, dengan judul-judul yang cukup sensasional: “Israel Membabibuta” (29/12/2008); “SBY Desak DK PBB: Keluarkan Resolusi Terhadap Israel” (30/12/2008); “Dubes Palestina Imbau Tak Kirim Mujahid Ke Jalur Gaza” (31/12/2008).

  Penyajian sebuah isu dalam pemberitaan di media seperti surat kabar dipengaruhi visi dan misi institusi media yang bersangkutan serta segmentasi pembaca dari institusi media tersebut. Budiman yang dikutip Sobur, mengungkapkan bahwa di balik pesan-pesan yang disalurkan lewat media niscaya tersembunyi berbagai mitos yang mengandung muatan

   ideologis yang berpihak kepada kepentingan mereka.

  Memang pada kenyataannya tiap-tiap institusi media seringkali memiliki kepentingan sendiri-sendiri dalam menempatkan dan menonjolkan isu-isu tertentu. Keberadaan faktor kepentingan oleh institusi media juga dapat dilihat dengan ada tidaknya penggunaan kekerasan simbolik dalam pemberitaannya. Kekerasan simbolik yakni manipulasi fakta melalui bahasa atau wacana dalam sebuah pemberitaan demi mempertahankan pengaruhnya dan menaklukkan kemampuan berpikir kritis masyarakat. 25 Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika dan Analisis Framing, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004, hlm. 37.

  Kekerasan simbolik ini dapat dilakukan dengan cara disfemisme, eufemisme, stigmatisasi/ labelisasi, jargon, metafora dan sebagainya. Disfemisme merupakan pengasaran atau pengerasan fakta melalui kata, istilah, atau kalimat sehingga maknanya berbeda dari sesungguhnya. Eufemisme adalah penggunaan kata, istilah, atau kalimat bermakna menghaluskan fakta. Stigmatisasi/ labelisasi adalah pemberian label atau stigma terhadap seseorang atau sekelompok orang atau tindakan sehingga melahirkan pengertian lain dari keadaan sesungguhnya. Jargon adalah kata atau istilah yang dipergunakan kelompok masyarakat tertentu yang kemudian dipakai dalam konteks ideologi kekuasaan dan diadopsi masyarakat luas. Metafora merupakan cara memindah dengan merelasikan dua fakta melalui analogi, atau memakai kiasan dengan menggunakan kata-kata seperti ibarat, bak, sebagai

   umpama.

  Penggunaan kekerasan simbolik dalam pemberitaan sesungguhnya dapat menurunkan kadar objektivitas, sebab dapat menguntungkan ataupun merugikan pihak-pihak yang diberitakan. Namun bukanlah sesuatu yang mustahil apabila dalam pemberitaan agresi Israel ke Jalur Gaza, suatu media berusaha untuk menonjolkan satu pihak tertentu.

  Selain dengan menggunakan kekerasan simbolik dalam pemberitaannya, media juga dapat melakukannya dengan memberikan penggambaran. Misalnya dengan memberikan gambaran yang positif terhadap perjuangan bangsa Palestina dalam menggapai kemerdekaan negaranya dan sebaliknya memberi gambaran yang buruk atau negatif terhadap Israel yang telah menyerang warga Gaza, ataupun gambaran yang baik dari adanya aksi jihad yang dilakukan kelompok Hamas dalam perlawanan mereka terhadap serangan Israel.

  Namun, beberapa media juga terkadang enggan memberitakan kebobrokan dan kejelekan pihak-pihak tertentu dan malah memilih bersikap netral, dengan berorientasi memberitakan dampak/ korban yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut. 26 Jurnal Sendi No 3 Tahun 2000, Penerbit: Lembaga Studi Perubahan Sosial (LSPS), Jakarta, hlm. 30- 37.

  Kompetensi pihak yang dijadikan narasumber berita dalam mendapatkan informasi yang digunakan untuk mengetahui validitas suatu kronologi peristiwa juga mempengaruhi isi berita yang disampaikan maupun keberpihakan media tersebut terhadap pihak-pihak tertentu. Narasumber berita dapat berasal dari apa yang dilihat oleh wartawan itu sendiri atau dari narasumber yang menguasai persoalan, atau hanya sekedar kedekatannya dengan media yang

   bersangkutan.

  Narasumber jelas merupakan bagian penting dari proses kerja jurnalistik. Dalam berbagai literatur tentang jurnalisme, narasumber disebutkan sebagai orang yang membawakan informasi tentang suatu peristiwa. Melalui narasumber, jurnalis mendapatkan informasi yang dibutuhkan terkait dengan tema pemberitaan yang sedang dikerjakan.

  Karena itu, pilihan narasumber oleh media pers atau jurnalis, dapat dijadikan indikator untuk melihat cara pandang media mengenai suatu isu tertentu. Kehadiran narasumber, khususnya dalam produk jurnalisme yang mengedepankan fakta-fakta psikologi, atau fakta-fakta yang dikonstruksi dari keterangan narasumber, sangat kentara. Alur demi alur yang membingkai fakta media, dan kemudian didistribusikan pada setiap alinea, dibangun berdasarkan pernyataan narasumber. Umumnya pernyataan narasumber yang dianggap paling menarik, berbobot, eksklusif, dikutip dan ditempatkan pada lead atau teras berita. Tidak jarang juga dijadikan judul berita.

  Begitupun unsur prominance, kredibilitas, kompetensi, penguasaan informasi menjadi dasar kebijakan media dalam menentukan dan mendistribusikan narasumber dalam konstruk bingkai yang hendak disajikan kepada khalayak. Narasumber yang dipandang kooperatif,

27 Burhan Bungin (ed.), Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008, hlm. 158.

  selalu bersedia untuk dimintai tanggapan, memiliki data-data yang akurat merupakan jenis

   narasumber yang dicari media.

  Herbert Strentz mengungkapkan ada dua peringatan menyangkut kompetensi

  

  narasumber berita. Pertama, reporter tidak boleh mengandaikan bahwa, karena posisi atau pengalaman, narasumber berita yang harus tahu memang benar-benar tahu dan dapat memberikan informasi.

  Mengenai peringatan pertama, Webb dan Salancik seperti yang dikutip Strentz, meringkaskan empat kondisi yang membuat reporter tidak boleh begitu saja mempercayai informasi yang diberikan oleh narasumber:

  1) narasumber mungkin tidak tahu tentang informasi yang dikehendaki reporter; 2) narasumber mungkin memiliki informasi dan mau membaginya, tetapi mungkin kurang pandai berbicara atau kurang memiliki konsep untuk mengatakannya; 3) narasumber mungkin memliki informasi yang dikehendaki tetapi tidak ingin membaginya; dan 4) narasumber mungkin mau membagi informasi, tetapi tidak mampu mengingatnya.

  Peringatan kedua, kompetensi narasumber berita tidak perlu dikaitkan dengan metode perolehan berita. Mengenai peringatan ini, kompetensi relatif dari narasumber berita harus menentukan metode pengumpulan berita yang paling mungkin akan menghasilkan informasi yang dikehendaki.

  Sebuah tulisan jurnalistik haruslah bersumber dari fakta, bukan opini atau asumsi si reporter. Itu sebabnya, harus ada narasumber yang jelas dan dapat dipercaya Syarat narasumber berita adalah layak dipercaya, berwenang artinya orang yang punya kekuasaan 28 Jurnal Kupas edisi 2 Desember 2008, Penerbit: Kajian Informasi, Pendidikan dan Penerbitan

  Sumatera (Kippas), Medan, hlm.10 29 Herbert Strentz, Reporter dan Sumber Berita: Persekongkolan dalam Mengemas dan Menyesatkan Berita, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993, hlm. 89-90.

  dan tanggung jawab terhadap masalah yang sedang diliput, kompeten dan narasumber berita yang memiliki hubungan, terpengaruh atau mempengaruhi peristiwa tersebut.

  Bagaimanapun pembuat berita memilih dan menentukan narasumber berita yang dapat memberikan informasi dalam peliputannya, sejatinya pembuat berita tetap tidak boleh melakukan keberpihakan terhadap salah satu pihak. Media harus berada di tengah-tengah tanpa harus melebih-lebihkan atau menjelek-jelekan pihak tertentu. Dengan begitu, keobjektivitasan berita di media tersebut dapat terjaga dan dipercaya oleh pembacanya.

   Pandangan atau Pendapat (opinion) Dalam sebuah surat kabar tersedia kolom atau rubrik yang berfungsi untuk menampung pendapat atau pandangan. Ini merupakan perwujudan dari institusi pers sebagai lembaga kontrol sosial. Opini dalam surat kabar tersebut dapat berasal dari masyarakat luas yang disebut pendapat umum (public opinion) dan yang berasal dari media itu sendiri

   dinamakan pendapat redaksi (desk opinion).

  Pendapat umum adalah pendapat, pandangan atau pemikiran lain dari masyarakat untuk menanggapi atau membahas suatu permasalahan yang dimuat dalam pemberitaan sebuah media. Pendapat umum ini biasanya disajikan dalam tiga bentuk, yaitu komentar, artikel, dan surat pembaca.

  Sementara opini penerbit merupakan pandangan, pendapat atau opini dari redaksi terhadap suatu masalah yang terjadi di tengah masyarakat, dan dijadikan sajian dalam penerbitannya. Opini penerbit sering juga disebut sebagai “Suara Redaksi” dan biasanya ditulis dalam beberapa bentuk, seperti tajuk rencana atau editorial, pojok, catatan kecil, dan karikatur.

30 Totok Djuroto, Op.cit, hlm. 67

  Untuk memisahkan secara tegas antara berita dan opini maka tajuk rencana, karikatur, pojok, artikel, komentar dan surat pembaca ditempatkan dalam satu halaman khusus. Inilah yang disebut halaman opinion (opinion page).

   Periklanan (advertising) Periklanan adalah kegiatan memasok perhatian penghasilan bagi perusahaan penerbitan pers dengan jalan menjual kolom-kolom yang ada pada surat kabar dalam bentuk advertensi (advertising).

  Iklan dalam penerbitan media dibagi dua jenis, iklan umum dan iklan khusus. Iklan umum, artinya iklan yang diperuntukkan bagi kepentingan bisnis, misalnya iklan promosi.

  Sedangkan iklan khusus adalah iklan yang diperuntukkan bagi kegiatan sosial. Misalnya,

   pengumuman, iklan keluarga, iklan layanan masyarakat dan sebagainya.

  Dengan menggunakan pemberitaan dalam surat kabar yang telah dipaparkan sebelumnya, penelitian ini menggunakan metode analisis isi untuk mengetahui bagaimana isi pemberitaan “Agresi Israel ke Jalur Gaza” di Surat Kabar Harian Kompas dan Waspada.

  Analisis isi (content analysis) menurut Jalaluddin Rakhmat, merupakan suatu metode

  

  untuk mengamati dan mengukur isi komunikasi. Analisis isi sering dipakai untuk mengkaji pesan-pesan media.

  Sedangkan Kripendorff, mendefinisikan analisis isi sebagai suatu teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru (replicable) dan sahih data dengan

   memperhatikan konteksnya. 31 32 Totok Djuroto, Ibid., hlm 83 Jalaluddin Rakhmat, Metode Penelitian Komunikasi: Dilengkapi Contoh Analisis Statistik, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004, hlm. 89 33 Klaus Krippendorff, Analisis Isi: Pengantar Teori dan Metodologi, Rajawali Press, Jakarta, 1993, hlm. 15 Warner J. Severin dan James W. Tankard menyatakan bahwa analisis isi adalah

  

  sebuah metode analisis isi pesan (berita) secara sistematis. Analisis ini adalah alat untuk menganalisis pesan dari komunikator tertentu.

  Gagasan untuk menjadikan analisis isi sebagai teknik penelitian muncul dari gagasan

35 Benard Berelson. Berelson mendefinisikan analisis isi dengan:

  

Content Analysis is a research technique for the objective, systematic and quantitative

description of the manifest content of communication. (Analisis isi didefinisikan sebagai

  suatu metode untuk mempelajari dan menganalisis komunikasi secara sistematik, objektif, dan kuantitatif terhadap pesan yang tampak).

  Prinsip sistematik diartikan bahwa ada perlakuan prosedur yang sama pada semua isi yang dianalisis. Peneliti tidak dibenarkan melakukan analisa hanya pada isi yang sesuai dengan perhatian dan minatnya, tetapi harus pada keseluruhan isi yang telah ditetapkan untuk diteliti (yang telah ditetapkan dalam pemilihan populasi dan sampel).

  Prinsip objektif, yaitu hasilnya tergantung pada prosedur penelitian bukan pada orangnya. Yaitu dengan ketajaman kategorisasi yang ditetapkan, sehingga orang lain dapat menggunakannya.

  Prinsip kuantitatif berarti mencatat nilai-nilai bilangan atau frekuensi untuk melukiskan berbagai jenis isi yang didefinisikan. Sementara, isi yang nyata diberi pengertian, yang diteliti dan dianalisis hanyalah isi yang tersurat, yang tampak, bukan makna yang dirasakan oleh si peneliti.

  Metode analisis isi pada dasarnya merupakan suatu teknik sistematik untuk menganalisis isi pesan dan mengolah pesan, atau suatu alat untuk mengobservasi dan menganalisis isi perilaku komunikasi yang terbuka dari komunikator yang dipilih. 34 Warner J. Severin dan James W. Tankard, Teori Komunikasi: Sejarah, Metode dan Terapan di

  Dalam Media Massa, Kencana, Jakarta, 2005, hlm. 31 35 Burhan Bungin, Op.cit., hlm. 173

  Analisis isi dapat digunakan untuk mempersoalkan seberapa besar atau seberapa sering media massa memberikan poin pemberitaan terhadap suatu peristiwa atau pihak-pihak yang terlibat di dalam peristiwa tersebut.

  Analisis isi juga dapat digunakan untuk melakukan perbandingan dengan media lain (yang sejenis), untuk mengidentifikasi apa dan siapa yang tidak dimuat dalam pemberitaan,

   adanya favoritisme atau bias berita.

  Penggunaan metode analisis isi tidak berbeda dengan penelitian kualitatif lainnya. Hanya saja karena teknik ini dapat digunakan pada pendekatan yang berbeda (baik kuantitatif maupun kualitatif), maka penggunaan analisis isi tergantung pada kedua pendekatan itu.

  Analisis isi yang sifatnya kuantitatif hanya mampu mengetahui atau mengidentifikasi

  

manifest message (pesan-pesan yang tampak) dari isi media yang diteliti. Prinsip analisis isi

  kuantitatif yang selama ini diterapkan adalah prinsip objektivitas yang diukur dari pembuatan atau penyusunan kategorisasi.

  Sedangkan analisis isi yang sifatnya kualitatif tidak hanya mampu mengidentifikasi pesan-pesan manifest, melainkan juga latent massage dari sebuah dokumen yang diteliti.

  Dengan kata lain, analisis isi media secara kualitatif akan lebih mendalam dan detail dalam memahami produk isi media dan mampu menghubungkannya dengan konteks sosial/ realitas yang terjadi.

  Untuk klasifikasi jenis analisis isi, Janis (1965) yang dikutip Krippendorff mengajukannya sebagai berikut:

  1. Analisis isi pragmatis; prosedur yang mengklasifikasikan tanda menurut sebab atau akibatnya yang mungkin.

  2. Analisis isi semantik; prosedur yang mengklasifikasikan tanda menurut maknanya. 36 Anakisis isi semantik dapat dibagi lagi dalam tiga hal yaitu:

  Jurnal Kupas edisi 1 November 2008, Penerbit: Kajian Informasi, Pendidikan dan Penerbitan Sumatera (Kippas), Medan, hlm. 5.

  (a) analisis penunjukan (designation) yang menggambarkan frekuensi seberapa sering objek tertentu dirujuk; (b) analisis pensifatan (attribution) menggambarkan frekuensi seberapa sering karakteristik tertentu dirujuk; (c) analisis pernyataan (assertions) menggambarkan frekuensi seberapa sering objek tertentu dikarakteristikan secara khusus. Analisis ini disebut juga analisis tematik.

  3. Analisis sarana tanda (sign-vehicle); prosedur yang mengklasifikan isi menurut sifat

   psiko-fisik dari tanda.

37 Klaus Krippendorff, Op.cit., hlm. 35-36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1. Deskripsi Objek Penelitian III.1.1 Surat Kabar Harian Kompas Harian umum yang tidak bisa dilupakan peranannya dalam sejarah pers nasional di Indonesia adalah Kompas. Kompas termasuk harian yang memberikan banyak masukan

  dalam sejarah jurnalistik, khususnya jurnalistik surat kabar. Manajemen yang diterapkan dalam organisasi harian merupakan sumbangsih terbesar yang pernah diberikan harian Kompas kepada jurnalistik di Indonesia.

  Harian Kompas didirikan dan dirintis oleh Petrus Kanisius (PK) Ojong dan Jakob Oetama yang juga merupakan tokoh pers nasional pada 1965. Awalnya ditetapkan nama Bentara Rakyat yang secara harfiah berarti pegawai rakyat yang sebenarnya bukanlah PKI (catatan: waktu itu semua yang berbau PKI sealu memakai kata rakyat). Ketika disebut nama Bentara Rakyat, Bung Karno menyarankan nama “Kompas” agar jelas sebagai penunjuk arah. Jadilah dipilih nama Kompas sedangkan Bentara Rakyat sebagai nama yayasan yang menerbitkan Kompas.

  Para pendiri Yayasan Bentara Rakyat adalah pemimpin dari organisasi Katolik, seperti Partai Katolik, Pemuda Katolik, Wanita Katolik, PMKRI. Pengasuh sehari-hari dipegang oleh Jakob Oetama dan PK Ojong dengan otonomi profesional yang penuh. Pada 28 Juni 1965 di Kramat Jaya Jakarta, tepatnya di percetakan PN Eka Grafika, PK Ojong dan Jakob Oetama memulai aktivitas mereka untuk menghasilkan edisi pertama Harian Kompas.

  Penampilan edisi pertama Kompas memang berantakan. Tatanan perwajahannya tidak beraturan, memiliki gambar kurang terang, dan sama sekali belum memiliki tambahan pernak-pernik untuk mempercantik diri. Justru dibalik keterbatasan serta kekurangan itu, para pengelolanya seperi dipacu untuk terus menerus memperbaiki diri.

  Kompas di awal perkembangannya, dicetak di percetakan orang lain sebelum membangun percetakan sendiri. Untuk pertama kalinya dicetak di atas mesin cetak dupleks yang sederhana, sebelum kemudian pindah ke mesin cetak rotasi. Lalu pada 1972, Kompas mulai mencetak sendiri yaitu di percetakan Gramedia.

  Semula Kompas hanya terdiri dari empat halaman, sama seperti harian lainnya. Kemudian menjadi 16 halaman, yakni batas maksimum halaman surat kabar yang diperbolehkan pemerintah. Kantor redaksi Kompas pertama kali masih menumpang di Kantor Redaksi Majalah Intisari yang menempati salah satu ruang kantor PT Kinta, Jakarta Kota. Oleh karena alasan percetakan jauh, maka redaksi malam juga menumpang di redaksi Majalah Penabur, bertempat di Jalan Kramat.

  Sejak Juli 1986, sesuai dengan ketentuan pemerintah, dua kali dalam seminggu Kompas dapat menambah halamannya menjadi 20 halaman. Kompas semula diarmadai hanya oleh 15 wartawan, namun hingga kini telah mencapai sekitar 300 wartawan dan 8 koresponden di luar negeri. Harian Kompas tercatat beroplah sekitar 550.000 eksemplar pada har-hari biasa (Senin-Sabtu) dan hari Minggu rata-rata 600.000 sampai 700.000 eksemplar dan 80% peminat Kompas ada di P. Jawa. Sementara itu pendapatan Kompas dari iklan juga menempati tempat teratas. Pada awal 1985, surat kabar terbesar di Indonesia ini dapat meraih jumlah Rp 1,5 Miliar per bulan dari sumber iklan.

  Harian yang mengemban motto Amanat Hati Nurani Rakyat ini terbit setiap hari dengan full colour. Kompas terbit setiap hari dengan jumlah minimal 32 halaman yang berisi rubrik Politik dan Hukum, Opini, Rubrik Internasional, dan Humaniora. Sedangkan untuk edisi Jumat, lebih banyak disuguhi Rubrik Sport sebanyak 8 halaman.

  Terkadang dalam satu hari Kompas dapat menyajikan sampai 66 halaman sekaligus, namun dari semua itu terdapat beberapa rubrik yang menjadi ciri khas Kompas yang harus ada dalam setiap kali terbit kecuali edisi Minggu. Seperti Rubrik Politik dan Hukum, merupakan rubrik yang menampilkan berbagai peristiwa yang berkaitan dengan hal-hal yang berbau politik dan hukum yang tersaji pada halaman 2 sampai 5. Halaman 6 dan 7 berisi Rubrik Opini yaitu, tajuk rencana, artikel, surat pembaca, dan suatu kolom yang diberi nama “Pojok”.

  Berbagai perisiwa dari dunia internasional seperti halnya berita Agresi Israel ke Jalur Gaza, terangkum secara khusus pada halaman 8 sampai 11. Sedangkan berita dan informasi mengenai sosial, pendidikan dan kemanusiaan tercakup pada halaman 12 sampai 14 yang dinamai Rubrik Humaniora.

III.1.2. Surat Kabar Harian Waspada

  Surat kabar Waspada merupakan salah satu surat kabar tertua di Kota Medan. Surat kabar ini terbit pertama kali di Kota Medan pada 11 Januari 1947. Ketika itu Medan masih dikuasai NICA dengan jumlah penduduk berkisar 200.000 jiwa. Selama perjalanannya, harian ini sudah banyak mengalami pasang surut.

  Surat kabar Waspada didirikan oleh H. Mohammad Said dengan biaya sendiri. Dasar tujuan diterbitkannya kala itu adalah untuk mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945.

  Sejak awal terbitnya, surat kabar Waspada secara terang-terangan dan konsekuen mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia. Surat kabar Waspada membaktikan kerjanya dengan jalan menyajikan berita-berita serta meneruskan keterangan resmi pemerintah Republik

  Indonesia dari ibukota tentang situasi revolusi dan mengemukakan pendapat yang mengukuhkan keyakinan akan suksesnya perjuangan dalam waktu singkat.

  Keberadaan surat kabar ini pada awal terbit sangat bermanfaat sebagai alat penting dalam melancarkan perjuangan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apalagi pada waktu itu negara sangat kekurangan alat-alat berupa media penerangan untuk dapat tetap menjaga hubungan antara sesama pejuang kemerdekaan dan gerilyawan yang terpencar di berbagai daerah.

  Keberadaan Waspada sebagai surat kabar republik yang tidak mau menyiarkan berita- berita untuk kepentingan NICA mendapat tantangan dari pemerintah Belanda. Bahkan tidak jarang surat kabar Waspada harus menghadapi teror dari pemerintah Belanda. Antara tahun 1947-1949, Waspada seringkali mengalami pembredelan karena menyiarkan berita-berita yang menguntungkan perjuangan Republik Indonesia. Selama masa awal kemerdekaan Indonesia, Waspada harus hidup secara “gali lubang tutup lubang”. Langkahnya kertas koran juga menjadi kesulitan utama yang mengakibatkan Waspada hanya terbit dengan jumlah 1000 eksemplar, bahkan kadang-kadang hanya 300 eksemplar.

  Setelah keadaan mulai membaik beberapa tahun kemudian, Waspada mulai menerima distribusi kertas sebanyak 5000 eksemplar sehari dan terus bertambah hingga mencapai 25.000 eksemplar di tahun 1956.

  Harian Waspada sempat juga tidak terbit selama beberapa minggu akibat ketidaklancaran distribusi kertas koran disertai dengan ketegangan suhu politik dan pemberontakan Daud Beureuh di Aceh antara tahun 1955-1956. para pembaca Waspada harus beralih ke harian lain yang mulai banyak terbit di Medan. Setelah terbit kembali, Waspada membutuhkan beberapa minggu untuk menarik kembali pelanggan yang loyal membaca Waspada.

  Penurunan oplah penjualan surat kabar Waspada juga sempa terjadi pada akhir 1956 pada saat Pemberontakan Rakyat Republik Indonesia (PRRI) yang dipimpin oleh Kolonel Simbolon di Sumatera Utara. Secara terang-terangan Waspada menyatakan penentangan terhadap aksi tersebut. Segera setelah pemberontakan PRRI meletus di Tapanuli-Labuhan Batu, kelompok tersebut menyatakan Waspada sebagai bacaan terlarang. Surat kabar Waspada yang masuk ke daerah tersebut dibakar, bahkan orang yang membawanya ikut dihukum dan dipukuli. Oplah penjualan surat kabar Waspada mengalami penurunan dari 25.000 eksemplar menjadi 20.000 eksemplar.

  Seiring dengan kondisi keamanan negara yang berangsur-angsur pulih dan penurunan tingkat buta huruf sejak Agustus 1966, permintaan menjadi pelanggan surat kabar Waspada terus meningkat. Daerah penyebaran dan agennya juga bertambah. Kini Waspada mampu menyediakan lebih dari 600.000 eksemplar dengan daerah penyebaran mulai dari Medan dan kawasan Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, Riau dan Jakarta.

  Harian Waspada setiap harinya terbit dengan jumlah minimal 20 halaman. Rubrik yang mengisi harian ini antara lain Rubrik Medan Metropolitan, Nusantara, Luar Negeri, Sport, Ekonomi Bisnis, Opini, dan Rubrik Sumatera Utara yang berisi informasi dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Ada juga Rubrik Nanggroe Aceh Darussalam yang memuat berita- berita seputar daerah Banda Aceh, Sigli, Bireue dan Lhokseumawe.

III.2. Metode Penelitian

  Metode penelitian dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana peneliti menggambarkan tata cara pengumpulan data serta analisis data. Metode penelitian yang digunakan adalah studi analisis isi.

  Analisis isi merupakan suatu metode untuk melukiskan isi komunikasi yang nyata secara deskriptif, sistematik dan kuantitatif. Menurut Jalaluddin Rakhmat, analisis isi berguna untuk memperoleh keterangan dari isi komunikasi yang disampaikan dalam bentuk

   lambang.

  Kelebihan utama metode analisis isi adalah tidak digunakannya manusia sebagai subjek penelitian. Menyebabkan penelitian relatif lebih mudah, tidak ada reaksi dari populasi ataupun sampel yang diteliti karena tidak ada orang yang diwawancarai, diminta mengisi kuesioner, ataupun diminta datang di laboratorium. Analisis isi juga relatif murah. Bahan- bahan penelitian mudah ditemukan terutama di perpustakaan, atau di bagian dokumentasi visual.

  Kekurangan analisis isi terpenting adalah ia hanya meneliti pesan yang tampak, sesuatu yang disembunyikan dalam pesan bisa luput dari analisis isi. Kelemahan lain, adalah bahwa pesan komunikasi tidak selamanya merefleksikan fakta, terkadang memang ada usaha untuk membelokkan dunia simbolis yang ada di media (pesan) dari realitas sesungguhnya.

  Walau terkesan tradisional dan kurang mendalam dibandingkan studi komunikasi lainnya, analisis ini sangat berguna untuk memberikan gambaran bagaimana sikap media massa ketika memberitakan peristiwa-peristiwa internasional yang tentu sangat berguna untuk menambah informasi dan pengetahuan masyarakat mengenai dunia internasional.

  Wimmer dan Dominick yang dikutip Kriyantono, menyampaikan setidaknya ada lima kegunaan yang dapat dilakukan dalam penelitian analisis isi, yakni:

  1. Menggambarkan isi komunikasi (describing communication content), yaitu mengungkapkan kecenderungan yang ada pada isi komunikasi, baik melalui media cetak maupun elektronik.

  2. Menguji hipotesis tentang karakteristik pesan (testing hipotheses of messages

  characteristics), yaitu menghubungkan karakteristik tertentu dari komunikator 38 (sumber) dengan karakteristik pesan yang dihasilkan.

  Jalaluddin Rakhmat, Metode Penelitian Komunikasi: Dilengkapi Contoh Analisis Statistik, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004, hlm. 89

  3. Membandingkan isi media dengan dunia nyata (comparing media content to the ‘real

  world’), yaitu menguji apa yang ada di media dengan situasi aktual yang ada di kehidupan nyata.

  4. Memperkirakan gambaran kelompok tertentu di masyarakat (assessing the image of

  particular groups in society), yaitu untuk meneliti gambaran media mengenai kelompok minoritas, agama tertentu, etnik dan lain-lainnya.

  5. Mendukung studi efek media massa, yang digunakan sebagai sarana untuk memulai

   penelitian efek media massa.

  III.3. Objek Penelitian

  Objek penelitian dalam penelitian ini adalah SKH Kompas dan Waspada yang memuat pemberitaan mengenai agresi Israel ke Jalur Gaza dimulai dari edisi 28 Desember 2008 sampai dengan 28 Januari 2009.

  Berdasarkan hal tersebut, maka jumlah berita yang layak untuk diteliti dari SKH Kompas ada sebanyak 47 item pemberitaan. Sementara untuk Waspada terdapat 43 item pemberitaan. Jadi, keseluruhannya berjumlah 90 item pemberitaan.

  III.4. Operasionalisasi Konsep/ Variabel Penelitian

  III.4.1 Operasional Konsep

  Dalam analisis isi, validitas metode dan hasil-hasilnya sangat tergantung dari kategori-kategori yang dibuat. Untuk mempermudah menganalisa isi media yang akan diteliti, diperluka n kategorisasi. Yaitu: 39 Rachmat Kriyantono, Teknis Praktis Riset Komunikasi, Kencana Prenada Group, Jakarta, 2006, hlm.

  230

Tabel 3.1 Operasional Konsep

  2. Negatif

  Operasional variabel berguna untuk memudahkan penggunaan kerangka konsep dalam operasional. Maka operasional variabel dalam penelitian ini adalah: Berita merupakan laporan tentang peristiwa atau pendapat yang memiliki nilai penting dan menarik bagi sebagian khalayak, masih baru dan dipublikasikan secara luas melalui media massa. Berdasarkan posisi penempatan beritanya, berita mengenai Agresi Israel ke Jalur Gaza di Surat Kabar Harian Kompas dan Waspada dimuat di:

  5. Metafora

  4. Jargon

  3. Disfemisme

  2. Eufemisme

  1. Stigmatisasi/ Labelisasi

  4. Tidak ada penggambaran Kekerasan simbolik

  3. Positif+negatif

  1. Positif

  Variabel Penelitian Variabel Operasional Posisi penempatan berita

  2. Bukan pelaku langsung Penggambaran pihak yang berkonflik

  1. Pelaku langsung

  3. News analysis Sumber berita

  2. Feature

  1. Straight news

  4. Halaman Lain Bentuk penyajian berita

  3. Halaman khusus

  2. Halaman depan bukan headline

  1. Halaman depan Headline

III.4.2 Operasional variabel

   Halaman depan headline, yaitu berita yang dianggap sangat layak diletakkan di halaman depan surat kabar dengan judul yang dapat menarik perhatian masyarakat dan menggunakan huruf relatif lebih besar.

   Halaman depan, bukan headline, yaitu berita yang ditampilkan mendampingi headline sehingga tampak semarak berita yang ada pada halaman depan suatu harian tanpa mengurangi nilai berita tersebut.

   Halaman khusus, yaitu berita-berita yang ditempatkan pada salah satu rubrik dalam surat kabar yang khusus membahas mengenai tema dari rubrik tersebut.

   Halaman lain, yaitu berita-berita tentang Agresi Israel ke Jalur Gaza yang disajikan di luar dari halaman depan dan halaman khusus (rubrik internasional/ luar negeri). Dalam pemberitaan mengenai Agresi Israel ke Jalur Gaza di Harian Kompas dan Waspada, bentuk penyajian beritanya dapat dikelompokkan atas:

   Straight news (berita langsung), yaitu laporan langsung mengenai suatu peristiwa.

   Feature, yaitu berita-berita yang disajikan dengan mengetengahkan sisi humanis atau ketertarikan manusiawi dari suatu peristiwa.

   News Analysis, yaitu berita yang merupakan analisis lanjutan wartawan tentang suatu

  peristiwa. Unsur subjektivitas menonjol dan cenderung berbau opini wartawan, pakar atau pengamat.

  Narasumber berita adalah orang-orang yang dapat memberikan informasi mengenai persoalan yang diliput. Adapun narasumber berita dalam penelitian ini dibagi atas:

   Pelaku langsung, apabila peristiwa yang diberitakan merupakan hasil wawancara dengan sumber berita yang mengalami langsung peristiwa tersebut. Misalnya: Pemerintah Palestina, Pemerintah Israel, kelompok Hamas, warga sipil Gaza, dan paramedis Gaza.

   Bukan pelaku langsung, yaitu apabila peristiwa yang diberitakan merupakan hasil wawancara dengan sumber berita yang tidak mengalami langsung peristiwa tersebut. Hanya karena jabatan atau memiliki akses informasi lalu menjadi sumber berita. Misalnya, PBB, negara Arab, pemerintah luar negeri, masyarakat luar negeri, dan relawan medis dari luar negeri. Dalam konflik agresi Israel ke Jalur Gaza, media biasanya memberikan gambaran bagaimana sikap dan tindakan pihak yang berkonflik tersebut baik Palestina/ faksi Fatah, Israel maupun kelompok Hamas dengan penilaian-penilaian yang dapat dikategorikan:

   Positif, yaitu dalam berita yang disajikan terdapat gambaran yang baik atau positif terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan oleh masing-masing pihak.

   Negatif, yaitu dalam berita yang disajikan terdapat gambaran yang buruk atau tidak baik terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan oleh masing-masing pihak.

   Positif+negatif, yaitu dalam berita yang disajikan di media terdapat gambaran yang baik serta gambaran yang buruk terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan oleh masing-masing pihak.

   Tidak ada penggambaran, yaitu apabila dalam berita yang terdapat di media tersebut tidak memuat penggambaran apapun terhadap pihak-pihak yang bertikai. Manipulasi fakta melalui bahasa atau wacana oleh penguasa (kepemimpinan intelektual dan moral) demi mempertahankan kekuasaan dan menaklukkan kemampuan berpikir kritis masyarakat dapat dilakukan dengan penggunaan kekerasan simbolik dalam wacana yang disampaikan. Kekerasan simbolik tersebut diantaranya:

   Stigmatisasi/ Labelisasi, yakni penggunaan kata atau istilah opensif (dicapkan atau dilabelkan) kepada seseorang atau kelompok atau tindakan sehingga melahirkan pengertian lain dari keadaan sesungguhnya. Misalnya kaum zionis, provokator.

   Eufemisme, yakni menghaluskan fakta melalui penggunaan kata atau kalimat sehingga maknanya berbeda dari sesungguhnya. Misalnya dibombardir menjadi diserang, mengutuk menjadi mengecam keras.

   Disfemisme, yakni mengeraskan atau mengasarkan fakta melalui kata-kata atau kalimat sehingga maknanya berbeda dari sesungguhnya. Misalnya serangan membabi buta, penjahat perang.

   Jargon, yakni kata atau istilah khas yang digunakan sebuah kelompok masyarakat tertentu yang kemudian dipakai dalam konteks ideologi kekuasaan dan diadopsi oleh masyarakat luas. Misalnya jihad dengan jalan Tuhan, dan sebagainya.

   Metafora dipahami sebagai cara memindah dengan merelasikan dua fakta melalui analogi, atau memakai kiasan dengan menggunakan kata-kata seperti ibarat, bak, sebagai umpama.

III.5. Teknik Pengumpulan Data

  Adapun teknik pengumpulan data yang akan digunakan pada penelitian ini adalah:

  a. Studi dokumenter, dimana data-data unit analisis dikumpulkan dengan cara mengumpulkan data dari bahan-bahan tertulis pada surat kabar Harian Kompas dan Waspada yang memuat pemberitaan Agresi Israel ke Jalur Gaza. b. Studi kepustakaan, dengan cara studi terhadap literatur serta berbagai sumber bacaan yang relevan dan mendukung penelitian. Studi kepustakaan ini dilakukan melalui buku-buku, kliping dari berbagai media massa, jurnal, internet dan sebagainya.

III.6. Teknik Analisa Data

  Analisa data menunjukkan kegiatan mengorganisasikan data ke dalam susunan- susunan tertentu, ditabulasi sesuai dengan susunan sajian data yang dibutuhkan untuk menjawab masing-masing masalah. Selain itu, juga melakukan perhitungan sesuai dengan jenis pengolahan statistika, pada akhirnya diambil kesimpulan.

  Dalam penelitian ini, analisa data deskriptif menggunakan SPSS (Statistical Product

  

and Service Solution) For Windows 13.0 sebagai alat bantu penelitian. Hasil analisa data

  dengan alat bantu statistika ini dinilai lebih empiris dalam memecahkan persoalan penelitian.

   Kemudian data yang diperoleh dianalisa kembali. Hal ini disebutkan sebagai teknik frekuensi.

   Setelah dibuat analisis, maka diukur berdasarkan frekuensi kemunculan pada setiap

  halaman surat kabar dan penganalisaan wacana. Selanjutnya variabel tersebut dikoding oleh pengkoding satu. Dalam penelitian ini, penulis dibantu oleh pengkoding lain guna meningkatkan kepercayaan pengkodingan. Reliabilitas pengkodingan menggunakan rumus R. Holsty.

   C.R. =

  N1 + N2

  2M

  40 Triton P B, SPSS 13.0 Terapan: Riset Statistik Parametik, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2006, hlm. 3. 41 Klaus Krippendorff, Analisis Isi: Pengantar Teori dan Metodologi, Rajawali Press, Jakarta, 1993, hlm. 168- 169. 42 Burhan Bungin (ed.), Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008, hlm. 217. Keterangan: C.R. = Coefficient Reliability M = Jumlah pernyataan yang disetujui oleh dua pengkoding N1, N2 = Jumlah pernyataan yang diberi kode oleh pengkoding I dan pengkoding II

  Walaupun belum ada standart reliabilitas yang absolut, ambang penerimaan secara luas dipakai adalah 60%, jika kedua pengkoding memperoleh hasil di bawah 60% maka tingkat kepercayaan kedua pengkoding ditolak.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh penulis terhadap objek penelitian,

  yaitu berita-berita mengenai “Agresi Israel ke Jalur Gaza” yang dimuat oleh Surat Kabar Harian Kompas dan Waspada yang dimulai dari edisi 28 Desember 2008 sampai 28 Januari 2009, maka berita yang layak untuk diteliti ada sejumlah 90 item berita. Dari 90 item berita tersebut, terdapat 47 item berita atau 52,22% yang dimuat oleh Kompas sedangkan Waspada memuat 43 item berita atau 47,78%.

  Dengan demikian jumlah berita yang layak uji dalam penelitian ini adalah sebanyak 90 item berita.

  Tabel 4.1 Jumlah Berita yang Layak Uji

  Surat Kabar Harian Jumlah Berita Layak Uji % Kompas 47 52,22

  Waspada 43 47,78

  Jumlah 90 100

  Sumber Hasil Pengkodingan Setelah penulis mengumpulkan berita yang layak uji tersebut secara keseluruhan, maka selanjutnya penulis melakukan proses pengkodingan. Proses pengkodingan yaitu penulis melakukan pengelompokkan terhadap keseluruhan berita tersebut berdasarkan kategori-kategori yang telah dibuat penulis sebelumnya, yaitu melihat pemberitaan mengenai "Agresi Israel ke Jalur Gaza" berdasarkan kategori posisi penempatan berita, bentuk penyajian berita, narasumber berita, penggambaran pihak yang terlibat dan kekerasan simbolik.

  Dalam proses pengkodingan ini yang bertindak sebagai pengkoding pertama adalah penulis sendiri. Setelah penulis mengkoding berita-berita yang layak uji tersebut berdasarkan kategori-kategori yang telah ditetapkan, maka selanjutnya pengkoding II akan mengkoding kembali. Dalam penelitian ini pengkoding II adalah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi program studi Jurnalistik yang dianggap memahami permasalahan yang sedang dibahas. Meski demikian, sebelumnya dijelaskan terlebih dahulu mengenai definisi dari masing- masing kategori berdasarkan variabel-variabelnya untuk meminimalisir perbedaan persepsi dan untuk memperoleh hasil yang valid.

  Setelah masing-masing pengkoding mengkoding keseluruhan kategori berdasarkan variabel-variabel yang ada, maka selanjutnya kedua pengkoding mengukur tingkat reliabilitas. Reliabilitas merupakan alat untuk mengukur sejauhmana tingkat kepercayaan antara pengkoding I dan pengkoding II, dan melihat apakah hasil pengkodingan tersebut diterima atau ditolak. Perhitungan reliable tidaknya kategorisasi akan dilakukan dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh R. Holsty. Hasil pengkuran oleh kedua pengkoding dapat dilihat pada lampiran.

IV.1 Analisa Data Deskriptif

  Pada bagian ini penulis melakukan analisa terhadap keseluruhan objek penelitian yang telah layak uji ke dalam bentuk tabel data deskriptif. Penganalisaan data deskriptif ini tetap berdasarkan kategori-kategori yang telah ditetapkan dalam penelitian ini. Penganalisaan kembali ini dilakukan penulis untuk mendeskripsikan atau menggambarkan penelitian secara lebih jelas.

IV.1.1 Posisi Penempatan Berita

  Posisi penempatan berita adalah hal penting yang perlu dimonitoring dalam pemberitaan Agresi Israel ke Jalur Gaza, untuk melihat pihak mana dalam konflik tersebut yang paling banyak diberitakan oleh media dan bagaimana posisi penempatan beritanya. Secara teoritik, berita yang dianggap penting bukan hanya karena dimuat beruntun setiap hari. Tapi juga bagaimana berita tersebut ditempatkan dalam posisi yang mencolok pada halaman masing-masing surat kabar.

  Berikut ini penulis menyajikan data mengenai frekuensi posisi penempatan berita di masing-masing surat kabar.

  Tabel 4.2 Posisi Penempatan Berita di SKH Kompas

  Sumber Hasil Pengkodingan Berdasarkan tabel frekuensi terhadap kategori posisi penempatan berita di SKH

  Kompas diketahui bahwa Kompas lebih banyak menempatkan berita mengenai “Agresi Israel ke Jalur Gaza” di halaman khusus. Hal ini dapat dilihat dari 47 item berita Kompas, hanya ada sebanyak 12 item berita yang ditempatkan di posisi penting, yaitu halaman depan

  

headline atau sebesar 25,5% dengan nilai keabsahan (valid percent) dan kumulatifnya

(cumulative percent) sebesar 25,5%.

  Sementara untuk berita yang ditempatkan di halaman depan namun bukan headline ada 5 item berita atau sebesar 10,6% dengan nilai keabsahan 10,6% dan kumulatifnya sebesar 36,2%. Sama halnya dengan penempatan berita di halaman lain (Rubrik Umum) yang hanya memuat 2 item berita atau sebesar 4,3% dengan nilai keabsahan 4,3% dan nilai kumulatifnya 100%.

  Dari 47 item berita Kompas, 28 item berita (59,6%) ditempatkan di halaman khusus, yaitu pada Rubrik Internasional. Rubrik ini memang secara khusus disediakan Kompas untuk memuat berita-berita dari luar negeri seperti halnya berita mengenai Agresi Israel ke Jalur Gaza tersebut.

  Tabel 4.3 Posisi Penempatan Berita di SKH Waspada

  Sumber Hasil Pengkodingan Sementara untuk posisi penempatan berita di SKH Waspada, dari tabel frekuensi di atas diketahui bahwa Waspada lebih banyak menempatkan pemberitaan mengenai “Agresi

  Israel ke Jalur Gaza” di posisi penting, yaitu halaman depan. Apabila suatu berita diletakkan pada halaman depan maka berita itu merupakan sesuatu yang dianggap sangat penting oleh surat kabar tersebut sehingga menjadi berita utama. Sedangkan berita di halaman berikutnya dianggap sebagai berita biasa.

  Dari 43 item beritanya, ada 14 item berita yang ditempatkan di halaman depan sebagai headline atau sebesar 32,6% dengan nilai keabsahan dan kumulatifnya sebesar 32,6%. Sama halnya dengan penempatan berita di halaman depan namun bukan headline yaitu ada 14 item berita atau 32,6% dengan nilai keabsahan 32,6% dan nilai kumulatifnya 65,1%.

  Disusul kemudian dengan 12 item berita atau sebesar 27,9% yang ditempatkan di halaman khusus Waspada, yaitu pada Rubrik Luar Negeri, dengan nilai keabsahan 27,9% dan nilai kumulatifnya 93%. Lalu, ada 3 item berita yang ditempatkan di halaman lain atau sebesar 7% dengan nilai keabsahan 7% dan nilai kumulatifnya sebesar 100%.

IV.1.2 Bentuk Penyajian Berita

  Data yang ditampilkan dari kategori perihal bentuk penyajian berita dimaksudkan untuk melihat bentuk penyajian berita apa saja yang banyak diberitakan dan dipublikasikan oleh kedua surat kabar harian Kompas maupun Waspada. Bentuk penyajian berita dari kedua surat kabar harian tersebut dibagi atas tiga jenis.

  Pertama, straight news (berita langsung), yaitu laporan langsung mengenai suatu peristiwa yang memuat unsur 5W+1H. Kedua, Feature yaitu berita-berita yang disajikan dengan mengetengahkan sisi humanis atau ketertarikan manusiawi dari suatu peristiwa, dan ketiga news analysis, yaitu berita yang merupakan analisis lanjutan wartawan tentang suatu peristiwa. Unsur subjektivitas menonjol dan cenderung berbau opini wartawan, pakar atau pengamat.

  Berikut penulis sajikan mengenai frekuensi bentuk penyajian berita di masing-masing surat kabar tersebut: Tabel 4.4

  Bentuk Penyajian Berita di SKH Kompas Tabel

  Sumber Hasil Pengkodingan Pada tabel 4.4 dapat diperlihatkan bentuk penyajian berita yang bagaimana lebih banyak disajikan SKH Kompas dalam memberitakan pemberitaan seputar “Agresi Israel ke

  Jalur Gaza”. Terlihat jelas bahwa Kompas lebih banyak menyajikan pemberitaan tersebut dalam bentuk straight news yaitu sebesar 39 item berita atau 83% dengan nilai keabsahan dan nilai kumulatifnya 83%.

  Dari hasil tabel tersebut juga diketahui ada sebanyak 6 item berita atau sebesar 12,8% yang disajikan dalam bentuk feature, dengan nilai keabsahan 12,8% dan nilai kumulatifnya 95,7%.

  Lalu, ada 2 item berita (4,3%) yang disajikan dalam bentuk news analysis, dengan nilai keabsahan 4,3% dan nilai kumulatifnya 100%. Dua item berita yang disajikan dalam bentuk news analysis tersebut menunjukkan bagaimana Kompas menganalisis peta kekuatan dari masing-masing pihak yang berkonflik baik Israel maupun kelompok Hamas.

  Berikut kutipan berita yang memuat analisis mengenai kekuatan dua kubu tersebut di SKH Kompas:

  “ Bagi para pilot Israel, pengeboman terhadap lokasi peluncuran roket Hamas lebih

  kurang mirip dengan berkendaraan dengan menggunakan petunjuk otomatis. Pilot hanya melakukan tugas dengan mengikuti petunjuk soal sasaran serangan. Dikatakan, sebesar 95 persen dari sasaran serangan telah berhasil disasar.” (Kompas, 2/1/2009

  Serangan Dilakukan dengan Akurasi Tinggi)

  “Washington Institute menyebutnya sebagai ‘bonanza militer’. Hamas memiliki rudal antitank dan belajar dari pengalaman Hezbollah di Lebanon tahun 2006, dengan memasang ranjau jalanan dan taktik serangan gerilya.” (Kompas, 6/1/2009 Hamas

  Andalkan Taktik Gerilya)

  Tabel 4.5 Bentuk Penyajian Berita di SKH Waspada

  Sumber Hasil Pengkodingan Dari tabel frekuensi bentuk penyajian berita di SKH Waspada, terlihat jelas bahwa dari 43 item berita ada 40 item berita atau 93% yang disajikan dalam bentuk straight news, dengan nilai keabsahan dan nilai kumulatifnya 93%. Sementara 3 item berita (7%) lagi tersaji dalam bentuk news analysis dengan nilai keabsahan 7% dan nilai kumulatifnya 100%.

  Ketiga item berita yang disajikan dalam bentuk news analysis tersebut menunjukkan bagaimana SKH Waspada menganalisis kelemahan pihak Israel dengan membandingkannya terhadap kekuatan pihak Hamas. Berikut kutipan berita yang menunjukkan hal tersebut:

  “Israel tak ingin berperang lebih lama di Gaza. Militer Israel sudah merasakan pahitnya perang. Menghadapi para pejuang Palestina, yang terus bertahan menghadapi serangan missil dari darat, udara dan laut. Sebagian militer Israel sudah kehilangan disiplin.” (Waspada, 16/1/2009 Israel Ingin Keluar Dari Gaza Tanpa

  Kehilangan Muka)

  Kutipan berita di atas menunjukkan bagaimana Waspada lebih menonjolkan kekuatan pihak Hamas yang masih terus dapat bertahan walaupun Israel menyerang dari berbagai sisi.

  Bahkan pada akhirnya pihak Israel sendiri yang tidak ingin bertahan dan ingin segera keluar dari Gaza.

IV.1.3 Narasumber Berita

  Narasumber merupakan salah satu bagian penting dari suatu berita. Seorang wartawan tidak dapat menyaksikan semua berita, maka ketika mengumpulkan fakta untuk berita yang akan ditulis, wartawan memerlukan sumber berita untuk dimintai keterangan dan pendapat seputar peristiwa yang akan diberitakan.

  Dalam penelitian ini, narasumber berita dibedakan atas pelaku langsung dan bukan pelaku langsung. Pelaku langsung yaitu apabila peristiwa yang diberitakan merupakan hasil wawancara dari sumber berita yang mengalami langsung peristiwa tersebut. Bukan pelaku langsung, apabila peristiwa yang diberitakan merupakan hasil wawancara dengan sumber berita yang tidak mengalami langsung peristiwa tersebut. Hanya karena jabatan atau memiliki akses informasi lalu menjadi sumber berita.

  Berikut ini penulis menyajikan data mengenai frekuensi kehadiran narasumber berita yang dipilih menurut kategori yang sering muncul dalam pemberitaan pada masing-masing surat kabar tersebut. Kita akan dapat melihat siapa-siapa saja yang menjadi narasumber dalam pemberitaan mengenai agresi Israel ke Jalur Gaza melalui tabel hasil pengamatan ini.

   Narasumber Pelaku Langsung

   Tabel 4.6 Narasumber Pelaku Langsung di SKH Kompas

  Sumber Hasil Pengkodingan Berdasarkan tabel 4.6, secara umum dapat dilihat bahwa dari kategori narasumber berita pelaku langsung, pihak Israel merupakan narasumber yang paling sering kemunculannya dalam pemberitaan mengenai agresi Israel ke Jalur Gaza di SKH Kompas, sejumlah 12 pemuatan (25,5%), dengan nilai keabsahan 25,5% dan nilai kumulatifnya 61,7%.

  Disusul kemudian pihak Hamas 11 pemuatan (23,4%), dengan nilai keabsahan 23,4% dan nilai kumulatifnya 85,1%.

  Narasumber dari kalangan warga sipil Gaza muncul dalam 3 pemuatan (6,4%) dengan nilai keabsahan 6,4% dan nilai kumulatifnya 91,5%. Lalu, ada 4 pemuatan (8,5%) bagi narasumber dari pihak paramedis. Sisanya, terdapat 17 pemuatan (36,2%) yang tidak termasuk dalam kategori narasumber pelaku langsung.

  Pihak Israel yang menjadi tokoh sentral dalam agresi ini, muncul secara dominan dalam pemberitaan di SKH Kompas. Pihak Israel tampil sejumlah 12 pemuatan (25,5%).

  Untuk narasumber dari pihak Israel cenderung didominasi oleh lembaga eksekutif (pemerintah). Berikut kutipan berita yang menjadikan lembaga eksekutif sebagai narasumbernya:

  “Pemerintah memberikan dukungan penuh kepada militer,” kata Perdana Menteri Israel Ehud Olmert saat menghadap Presiden Israel Shimon Peres (Kompas, 31/12/2008 Israel Masih Gempur Gaza) Pernyataan ini sekaligus menunjukkan serangan dan pengeboman yang dilancarkan militer Israel ke Gaza mendapat persetujuan dan dukungan dari pemerintah Israel.

  Selain Israel, pihak Hamas turut mewarnai kemunculan narasumber untuk kategori pelaku langsung di SKH Kompas. Hal ini karena Hamas merupakan pihak yang menjadi seteru sekaligus target dari sasaran serangan Israel ke Jalur Gaza. Dalam penelitian ini terdapat berita yang menunjukkan citra yang positif terhadap Hamas. Berikut Kompas menuliskannya:

  “Pemimpin kelompok pejuang Hamas di pengasingan Lebanon, Ismail Haniya, menyatakan kemenangan Hamas sudah di depan mata. Kami mendekati kemenangan. Gaza masih bersatu dan tidak akan pernah menyerah,” ujarnya (Kompas, 14/1/2009

  Baku Tembak di Gaza City)

  Pernyataan pemimpin kelompok Hamas tersebut menunjukkan walau Hamas telah diserang dan dibombardir selama lebih dari dua pekan, namun Hamas masih optimis akan kemenangan yang akan diraihnya. Ini membuat Hamas tampil sebagai pejuang bersenjata yang berani dan pantang menyerah.

  Dalam berita-berita seputar agresi Israel ke Jalur Gaza ini, pihak Hamas lebih banyak diwakilkan oleh Juru Bicara Hamas, Ismail Radwan dan Juru Bicara Brigade Ezzedine Al- Qassam, Abu Obeida. Hal ini dikarenakan para pemimpin Hamas berada dalam pengasingan yang tidak diketahui keberadaannya. Juru bicara inilah yang mewakili pihak Hamas dalam memberikan keterangan atau informasi yang terkait dengan Hamas.

  Narasumber lainnya yang muncul dalam pemberitaan mengenai agresi Israel ke Jalur Gaza adalah warga sipil Gaza. Narasumber ini muncul dalam 3 pemuatan di Kompas (6,4%).

  Kemunculan warga sipil Gaza dalam pemberitaan ini mengingat bahwa agresi ini berlangsung di Gaza yang sekaligus memposisikan warga sipil Gaza menjadi korban dari konflik Israel – Hamas. Bahkan anak-anak Gaza turut menjadi korban, menanggung penderitaan yang ditimbulkan dari peristiwa ini. Berikut kutipan beritanya:

  “Kami semua takut karena pesawat-pesawat itu selalu ada di atas. Kami bisa mati kapan saja,” kata Ayyad (14) yang tidak bisa lagi belajar di sekolah karena semua sekolah di Gaza diliburkan sejak serangan Israel dimulai Sabtu lalu (Kompas, 31/12/2008 Siapa Pikirkan Nasib Anak-anak?)

  Tabel 4.7 Narasumber Pelaku Langsung di SKH Waspada

  Sumber Hasil Pengkodingan

  Dari tabel di atas, diketahui bahwa narasumber pelaku langsung dari pihak Israel juga tampil dominan dalam pemberitaan di SKH Waspada. Israel muncul sebanyak 9 pemuatan (20,9%) dengan nilai keabsahan 20,9% dan nilai kumulaifnya 72,1%. Disusul kemunculan Hamas sejumlah 8 pemuatan (18,6%).

  Dari 43 item berita Waspada, Pemerintah Palestina tampil sebanyak 3 pemuatan (7%), Paramedis Gaza sejumlah 2 pemuatan (4,7%), warga sipil Gaza dan warga asing yang ikut menjadi korban sama-sama tampil sejumlah 1 pemuatan (2,3%).

  Dalam pemberitaan seputar agresi Israel ke Jalur Gaza, Waspada memberikan porsi yang lebih kepada pihak Israel dalam menampilkan keterangan-keterangan terkait pemberitaan tersebut. Berikut Waspada menuliskannya:

  “Israel akan terus melanjutkan serangan-serangannya terhadap Hamas di Jalur Gaza sampai kelompok tersebut mencapai titik dimana ‘operasi itu menghabiskan tenaganya’ dan para pejuang Palestina itu tidak lagi menembakan roketnya ke negara yahudi,” kata Menlu Israel Tzipi Livni (Waspada, 3/1/2009 Hamas Tolak Gencata

  Senjata)

  Sementara dari pihak Hamas, walaupun Waspada menampilkannya tidak lebih banyak dari pihak Israel, namun Hamas digambarkan lebih baik daripada Israel. Seperti kutipan berita berikut:

  “Kami telah mempersiapkan pernyataan kemenangan untuk anda (rakyat Palestina) dan anda akan segera menyaksikannya. Juru Bicara sayap bersenjata Hamas, Abu Obeida menegaskan bahwa Zionis harus tahu bahwa pertempuran di Gaza, mereka akan kalah.” (Waspada, 5/1/2009 Hamas Melawan) Narasumber berita lainya yang muncul dalam berita-berita mengenai agresi Israel ini adalah Pemerintah Palestina. Untuk SKH Waspada, narasumber ini muncul sejumlah 3 pemuatan (7%). Kemunculan Pemerintah Palestina sebagai narasumber pelaku langsung mengingat bahwa Jalur Gaza dulunya adalah daerah otoritas Faksi Fatah (faksi Presiden Palestina Mahmoud Abbas) sebelum akhirnya dikuasai Hamas pada Juni 2007. Berikut kutipan berita yang memuat keterangan dari Pemerintah Palestina sebagai narasumbernya: “Ini hari ke-18 agresi Israel terhadap rakyat kami, yang menjadi lebih ganas setiap hari ketika jumlah korban bertambah,” Presiden Mahmoud Abbas yang berbicara di markasnya di Tepi Barat (Waspada, 15/1/2009 Pesawat Israel Gempur Kuburan) Ada juga warga sipil, paramedis Gaza dan warga asing yang turut menjadi korban dari pengeboman-pengeboman yang dilakukan Israel terhadap Gaza, mengisi ragam narasumber yang dihadirkan Waspada dalam pemberitaannya.

   Narasumber Bukan Pelaku Langsung

  Tabel 4.8 Narasumber Bukan Pelaku Langsung di SKH Kompas

  Sumber Hasil Pengkodingan Berdasarkan tabel 4.8, terlihat jelas bahwa dari 47 pemberitaan di SKH Kompas, PBB menempati posisi teratas dalam kemunculan narasumber bukan pelaku langsung sebanyak 12 pemuatan (25,5%), disusul pemerintah luar negeri sebanyak 10 pemuatan (21,3%) dan masyarakat/ tokoh luar negeri sebanyak 8 pemuatan (17%).

  Sedangkan negara Arab muncul sebanyak 7 pemuatan (14,9%), lalu ada sejumlah 4 pemuatan (8,5%) yang menghadirkan relawan medis luar negeri sebagai narasumber bukan pelaku langsung dalam pemberitaan di Kompas mengenai agresi Israel ke Jalur Gaza.

  Ketika PBB menjadi narasumber yang paling banyak dimuat, maka dapat dipastikan bahwa tema-tema berita yang tampil ke permukaan diarahkan pada proses perdamaian atau

   gencatan senjata di antara kedua pihak yang berseteru yaitu Israel dan Hamas.

  Apalagi PBB merupakan organisasi dunia yang mengemban tujuan untuk memelihara perdamaian dan keamanan di dunia melalui salah satu badannya yaitu Dewan Keamanan PBB.

  Dalam pemberitaan yang mengangkat PBB sebagai narasumbernya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Ban Ki-moon tampil dengan pernyataan dan tanggapannya atas agresi yang telah menimbulkan korban jiwa hingga 1.245 orang dan mencederai sekitar 5.300 orang yang sebagian dari mereka adalah warga sipil Gaza.

  Berikut kutipan berita yang menampilkan PBB sebagai narasumbernya: ”Rakyat Gaza menghadapi krisis kemanusiaan. Ini fakta sesungguhnya. Jumlah korban sudah tidak bisa diterima lagi. Kita tidak boleh membuang waktu lagi. Kita harus bisa segera mengakhiri penderitaan rakyat,” kata Ban (Kompas, 16/1/2009

  Tank Israel Gempur Markas PBB di Gaza)

  Narasumber bukan pelaku langsung lainnya yang juga muncul adalah pemerintah luar negeri (21,3%). Pemerintah dari negara-negara di dunia ini muncul dalam memberikan

43 Seperti yang diungkapkan James Luhulima, wartawan senior desk Internasional, Kompas

  

memusatkan perhatiannya pada nilai-nilai kemanusiaan universal dengan lebih banyak bercerita tentang

bagaimana kehancuran yang terjadi, jumlah korban jiwa, atau usaha penyelamatan korban. Lihat Teyar Rifki,

Manifestasi Hegemoni Media Internasional di Tingkat Lokal, Jurnal Penelitian Ilmu Komunikasi, Vol. III, Januari-April, Penerbit: Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI, Depok, 2004, hlm. 46. pernyataan ketidaksetujuannya, bahkan mengecam aksi Israel dalam menyerang Jalur Gaza, yang dilihat dari kutipan berikut ini: ”Mesir mengecam keras agresi militer Israel dan menyalahkan Israel sebagai pasukan pendudukan atas terjadinya korban tewas dan terluka,” kata Presiden Hosni

  Mubarak. (Kompas, 28/12/2008 Israel Bom Gaza, 155 Tewas) Selain itu, ada juga negara Arab (Arab Saudi, Iran, Suriah, Lebanon, Libya, Sudan,

  Yaman, Irak, dan Qatar) yang turut mewarnai ragam narasumber bukan pelaku langsung dalam pemberitaan seputar agresi Israel ke Jalur Gaza di SKH Kompas. Negara Arab muncul dalam menyatakan sikapnya atas agresi yang dilakukan Israel serta dalam upaya mencarikan solusi perdamaian demi terciptanya kemerdekaan penuh bagi negara Palestina.

  Berikut kutipan berita yang memuat negara Arab sebagai narasumber bukan pelaku langsung: ”Soal Palestina, PM Suriah Otri mengemukakan, Suriah selalu menginginkan realisasi perdamaian dan keamanan di wilayah Palestina. Mendirikan negara palestina di atas tanahnya dengan ibu kota Jerusalem.” (Kompas, 13/1/2009 Indonesia dan

  Suriah Kecewa)

  Ada juga relawan medis dari luar Palestina yang ikut menjadi narsumber bukan pelaku langsung dalam memberikan pernyataan terkait kondisi para korban.

  ”Israel diduga memanfaatkan pertempuran di Gaza sebagai ’laboratorium’ uji coba senjata jenis baru. Dua dokter asal Norwegia yang bertugas di RS Shifa Gaza yaitu Mads Gilbert dan Erik Fosse, memaparkan dugaan itu dari luka-luka serangan Israel. Luka di Gaza sangat beda. Dengan senjata baru, rasanya kaki mau lepas. Tak ada pecahan peledak. Satu-satunya cara hanya dengan amputasi. Banyak korban tidak selamat.” (Kompas 14/1/2009 Baku Tembak di Gaza City)

  Tabel 4.9 Narasumber Bukan Pelaku Langsung di SKH Waspada

  Sumber Hasil Pengkodingan Berdasarkan tabel 4.9, diketahui bahwa masyarakat/ tokoh luar negeri memiliki porsi yang lebih sebagai narasumber bukan pelaku langsung dalam pemberitaan seputar agresi

  Israel ke Jalur Gaza di SKH Waspada, dengan jumlah 11 pemuatan (25,6%). Disusul pemerintah luar negeri sebanyak 9 pemuatan (20,9%).

  Sedangkan, PBB muncul sebanyak 8 pemuatan (18,6%), negara Arab sebanyak 6 pemuatan (14%) dan relawan medis dari luar negeri 1 pemuatan (2,3%). Sisa 8 pemuatan lagi (18,6%) tidak memuat narasumber bukan pelaku langsung.

  Masyarakat/ tokoh luar negeri yang tampil dominan dalam pemberitaan di SKH Waspada muncul dalam menyatakan sikap protes ataupun kecaman atas agresi yang sudah dilakukan Israel hingga mengakibatkan banyaknya korban jiwa dari warga sipil Gaza. Protes maupun kecaman tersebut dilontarkan masyarakat/ tokoh luar negeri melalui aksi demontrasi yang mereka lakukan di berbagai negara di dunia. Berikut Waspada menuliskannya:

  ”Juru Bicara Jama’ah Muslimin Hizbullah Abul Hidayat mengatakan, pihaknya melaknat tindakan biadab Zionis Israel dan mengajak umat Islam untuk bersama-sama berdoa agar Allah SWT membalas kebiadaban tersebut dengan balasan yang setimpal.” (Waspada, 29/12/2008 60 Ormas Islam dan Kaukus Palestina di DPR

  Kutuk Israel)

  Secara umum pernyataan-pernyataan narasumber bukan pelaku langsung berisi kecaman terhadap Israel. Sama halnya seperti yang dikemukakan oleh pemerintah luar negeri, negara Arab, PBB maupun para relawan medis di Gaza. Semuanya menyatakan kecaman, protes maupun mengutuk tindakan yang dilakukan Israel hingga mengakibatkan terjadinya tragedi kemanusiaan bagi rakyat Palestina di Jalur Gaza. Hal ini menunjukkan bahwa agresi Israel ini mendapat penolakan dari berbagai lapisan masyarakat di dunia.

IV.1.4 Penggambaran Pihak yang Berkonflik

  Data yang ditampilkan dari kategori penggambaran pihak yang berkonflik dimaksudkan untuk mengetahui frekuensi SKH Kompas dan Waspada dalam memberikan penggambaran terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pemberitaan tentang “Agresi Israel ke Jalur Gaza” yang meliputi:

   Penggambaran Pemerintah Palestina

  Tabel 4.10 Penggambaran Pemerintah Palestina di SKH Kompas

  Sumber Hasil Pengkodingan Dari tabel 4.10 dapat dilihat bahwa dari 47 item pemberitaan tentang ‘Agresi Israel ke

  Jalur Gaza” di SKH Kompas, tidak satu pemberitaan pun yang memberikan gambaran terhadap Pemerintah Palestina.

  Tidak adanya penggambaran yang diberikan kepada Pemerintah Palestina menunjukkan bahwa Kompas menganggap Pemerintah Palestina tidak ikut terlibat dalam konflik yang melibatkan Israel dan faksi saingannya di parlemen Palestina, Faksi Hamas.

  Tabel 4.11 Penggambaran Pemerintah Palestina di SKH Waspada

  Sumber Hasil Pengkodingan Berdasarkan tabel 4.11, dapat dilihat bahwa SKH Waspada memberikan penggambaran terhadap Pemerintah Palestina. Dari 43 item beritanya, sebanyak 2 pemberitaan (4,7%) diantaranya memberikan penggambaran positif, sedangkan sebanyak 41 pemberitaan (95,3%) tidak memberikan penggambaran apapun terhadap Pemerintah Palestina.

  Berikut kutipan berita yang memberikan penggambaran positif terhadap Pemerintah Palestina di SKH Waspada:

  “Abbas yang hanya berkuasa di Tepi Barat sejak Hamas- militan Muslim – berkuasa di Gaza sejak Juni 2007, telah melakukan kontak dengan para pemimpin Arab dan Kabinet Tepi Barat berkumpul melakukan sidang darurat.” (Waspada, 28/12/2008 Israel Bom Gaza, 155 Tewas) Kutipan berita di atas menunjukkan bahwa Presiden Palestina Mahmoud Abbas masih memiliki kepedulian terhadap apa yang terjadi di Jalur Gaza walau daerah tersebut tidak lagi berada di bawah otoritas pemerintahannya. Hal ini ditunjukkan dengan melakukan sidang darurat untuk mengupayakan stabilitas keamanan dan perdamaian di Jalur Gaza.

   Penggambaran Pihak Israel

  Tabel 4.12 Penggambaran Pihak Israel di SKH Kompas Sumber Hasil Pengkodingan Berdasarkan tabel frekuensi terhadap penggambaran pihak Israel di SKH Kompas, gambaran negatif terhadap pihak Israel tampil dominan. Dari 47 item pemberitaannya, ada sebanyak 30 item berita atau sebesar 63,8% diantaranya memberikan penggambaran yang negatif, sedangkan sebanyak 15 pemberitaan atau sebesar 31,9% tidak memberikan gambaran apapun terhadap pelaku agresi di Jalur Gaza ini.

  Dua pemberitaan lagi di SKH Kompas tersebut cenderung memberikan gambaran yang positif terhadap pihak Israel, dimana 1 item berita atau sebesar 2,1% dengan nilai keabsahan dan nilai kumulatifnya sebesar 2,1% memberikan gambaran yang positif, dan 1 item berita lagi (2,1%) dengan nilai keabsahan 2,1% dan nilai kumulatifnya 68,1% memberikan penggambaran yang positif dan negatif terhadap Israel.

  Peristiwa agresi Israel banyak dilihat sebagai suatu krisis kemanusiaan yang menimpa warga Gaza. Seperti halnya dengan Kompas yang lebih banyak menyoroti sisi kemanusiaan yang terjadi di Gaza dengan banyaknya korban-korban yang berjatuhan, terutama dari masyarakat sipil. Israel dalam hal ini digambarkan negatif, tidak memiliki perikemanusiaan.

  Berikut kutipan teks berita yang menunjukkan hal tersebut: “Ibu kami datang dan memeluk kami. Orang Yahudi itu memang gila. Mereka menyerang siapa saja, termasuk anak-anak,” ujar Mohammed Basal (Kompas,

  31/12/2008 Siapa Pikirkan Nasib Anak-anak?) “Amukan militer Israel sepertinya tidak mengenal kompromi. Satu keluarga

  Palestina yang terdiri dari lima orang, termasuk seorang putri berusia 14 tahun, tewas hari Minggu setelah sebuah tank Israel mengarahkan larasnya menembak mobil mereka di dekat Gaza City.” (Kompas, 6/1/2009 Takut, Gelap, Dingin Menyelimuti

  Gaza)

  Walau dinyatakan sebagai penyebab tragedi kemanusiaan di Gaza, namun pihak Hamas ternyata masih mendapat penggambaran yang baik atas apa yang telah diperbuatnya tersebut. Terbukti dengan adanya space yang diberikan Kompas dalam memberikan penggambaran positif terhadap Israel. Israel dianggap melakukan pengeboman terhadap Jalur Gaza sebagai balasan atas aktivitas teror berkelanjutan yang dilakukan Hamas dari Jalur Gaza, dengan kerapnya peluncuran roket dengan target warga sipil Israel. Agresi yang dilakukan Israel semata-mata sebagai bentuk pertahanan diri atas serangan Hamas, sekaligus memberikan suasana damai bagi warga Israel. Hal ini dapat dilihat melalui kutipan berita yang dimuat sebagai berikut:

  “Ben Eliezer menambahkan, Israel hanya menginginkan suasana damai di Israel Selatan agar warga Israel dapat hidup tenang tanpa harus khawatir dengan serangan roket. “Hamas harus tahu kami hanya ingin serangan roket dihentikan,” ujarnya (Kompas, 31/12/2008 Israel Masih Gempur Gaza)

  Tabel 4.13 Penggambaran Pihak Israel di SKH Waspada

  Sumber Hasil Pengkodingan Dari tabel 4.13 diketahui bahwa pihak Israel mendapat penggambaran negatif dari 43 item berita di SKH Waspada, sejumlah 26 pemberitaan atau sebesar 60,5% dengan nilai keabsahan dan nilai kumulatifnya 60,5%.

  Lalu, ada 5 item berita Waspada atau 11,6% yang memberikan penggambaran positif dan negatif terhadap Israel. Dari 43 item berita itu pula ada sejumlah 12 pemberitaan (27,9%) yang tidak memberikan penggambaran terhadap Israel, dengan nilai keabsahan 27,9% dan nilai kumulatifnya 100%.

  Dari 26 item berita Waspada yang memberikan penggambaran yang negatif terhadap Israel, menunjukkan bahwa Israel digambarkan sebagai penyerang yang bengis dan membabi-buta. Israel juga secara tak langsung digambarkan sebagai agresor, penjahat perang, zionis Israel dan sebagainya. Serangan-serangan bom yang dilancarkan Israel ke wilayah yang dikuasai Hamas digambarkan penuh kekerasan, sadisme dan tidak berperikemanusiaan.

  Bahkan agresi yang dilakukan oleh Israel disetarakan dengan genocide, pembersihan etnis atau pemusnahan etnis. Berikut kutipan beritanya: “Menurut beberapa keterangan, pada 4 Januari lalu tentara Israel yang berjalan kaki mengungsikan sebanyak 110 orang Palestina ke dalam satu rumah di Zeitoun, sebagian dari mereka adalah anak kecil, dan memperingatkan mereka agar tidak keluar rumah. Kemudian berulang kali mengebom mereka dan menewaskan sebanyak 30 orang.” (Waspada, 10/1/2009 Israel Giring 110 Warga Ke Satu Rumah Kemudian

  Mengebom Mereka)

   Penggambaran Pihak Hamas

  Tabel 4.14 Penggambaran Pihak Hamas di SKH Kompas

  Sumber Hasil Pengkodingan Berdasarkan tabel frekuensi terhadap penggambaran pihak Hamas di SKH Kompas, terdapat 4 item berita (8,5%) Kompas yang memberikan penggambaran negatif kepada pihak

  Hamas, dengan nilai keabsahan 8,5% dan nilai kumulatifnya 12,8%.

  Dari frekuensi tersebut, Kompas tidak memberikan penggambaran terhadap pihak Hamas yang menjadi seteru Israel ini sejumlah 41 pemberitaan atau sebesar 87,2% dengan nilai keabsahan 87,2% dan nilai kumulatifnya 100%.

  Menariknya, Kompas juga menyediakan 2 porsi pemberitaannya atau sebesar 4,3% untuk memberikan penggambaran positif terhadap Hamas yang terlihat dari kutipan berita berikut:

  "Ia melanjutkan, Hamas semakin populer pasca-agresi Israel. Menurut dia, Israel telah gagal melemahkan Hamas, baik melalui politik maupun aksi militer." (Kompas, 23/1/2009 Gaza City Mulai Berbenah)

  Kutipan di atas menggambarkan bagaimana Kompas memberikan penilaian yang positif terhadap perjuangan kelompok Hamas. Hamas bahkan digambarkan semakin mendapat simpati di kalangan warga Gaza pasca-agresi Israel di wilayah tersebut.

  Walau begitu, Hamas juga tidak lepas dari gambaran negatif yang diberikan Kompas melalui pemberitaannya. Berikut kutipannya: “Karena tidak ada satu negara pun yang membantu, Hamas lalu menganggap sah dan berhak melakukan serangan balasan dengan serangan bunuh diri, seperti bom bunuh diri. Padahal, metode serangan bunuh diri di wilayah Israel tidak lagi digunakan sejak Januari 2005. Jika hal itu terjadi, situasi di Gaza akan semakin tidak aman dan warga sipil akan menjadi korban.” (Kompas, 30/12/2008 Israel Dikecam

  Keras)

  Keputusan Hamas melegalkan serangan dengan serangan bunuh diri justru akan semakin memperkeruh suasana dan kondisi di Gaza. Bahkan tidak mustahil malah akan semakin membahayakan kedamaian dan mengusik kehidupan warga Gaza itu sendiri, disamping serangan-serangan yang harus dihadapi dari militer Israel.

  Tabel 4.15 Penggambaran Pihak Hamas di SKH Waspada

  Sumber Hasil Pengkodingan Berdasarkan tabel 4.15 di atas, Waspada memberikan penilaian yang negatif terhadap

  Hamas sebanyak 3 item berita atau 7% dengan nilai keabsahan 7% dan nilai kumulatifnya 9,3%. Sementara 37 pemberitaannya (86%) tidak memberikan penggambaran apapun terhadap Hamas.

  Dari 43 item beritanya, terdapat 1 pemberitaan (2,3%) yang berorientasi positif terhadap Hamas, dan 2 item berita lagi (4,7%) memberikan penggambaran yang positif dan negatif terhadap faksi yang memenangkan Pemilu Legislatif Palestina pada 25 Januari 2006 ini.

  Penggambaran positif ini menunjukkan media ini bersimpati kepada Hamas yang menjadi target serangan dari Israel. Hamas lebih banyak digambarkan sebagai korban.

  Kalaupun Hamas mengangkat senjata, digambarkan semata-mata sebagai usaha untuk membela diri. Apa yang dilakukan Hamas adalah perjuangan demi rakyat, seperti kutipan berita berikut:

  "Kami memastikan niat kami terus bekerja untuk menghentikan perang teroris terhadap rakyat kami, mengakhiri pengepungan sepenuhnya dan membuka lagi lintasan-lintsan penyeberangan," kata Kabinet Hamas (Waspada, 14/1/2009

  Haniyeh Serukan Hamas Teruskan Perjuangan) Sama halnya dengan Kompas, Waspada juga memberikan gambaran negatif terhadap Hamas dalam pemberitaannya. Hamas digambarkan sebagai kelompok yang menjadi penyebab agresi tersebut terjadi. Berikut Waspada menuliskan:

  ”Dia juga secara tidak langsung mengecam kelompok itu sebagai penyebab banyaknya kematian, dan mengatakan kelompok itu menempatkan pangkalan dan gudang senjata di daerah-daerah padat penduduk.” (Waspada, 31/12/2008 PBB

  Protes Israel)

  IV.1.5 Kekerasan Simbolik Proses seleksi dan menghadirkan suatu informasi tertentu menjadi sangat penting mengingat fakta adalah informasi yang diberitakan. Dalam kerangka ini, kita tidak hanya bicara tentang suatu organisasi media memproduksi dan mereproduksi ideologi pemilik media melainkan juga media secara mandiri langsung mengendalikan informasi. Hal ini terjadi karena sedari awal berita hakikatnya adalah proses negoisasi antara editor, jurnalis dan narasumber. Pada operasional pemberitaan, editor dan jurnalis memainkan peran dominan dalam menafsirkan apa yang diungkapkan oleh narasumber.

  Berita hakikatnya adalah sebuah produk permainan bahasa melalui media massa. Keberadaan bahasa dalam media tidak saja sebagai alat untuk mendeskripsikan realitas melainkan mengkonstruksi realitas itu sendiri. Media massa menjadi medan makna melalui pengembangan kata-kata yang baru beserta makna asosiatifnya, pemerluasan makna dari istilah yang telah ada, pengubahan makna dari sebuah istilah yang telah ada hingga memantapkan konvensi makna yang telah ada dalam suatu sistem bahasa.

  Teks berita mampu menentukan konteks, mengkonstruksi pemaknaan seseorang atas realitas melalui diversifikasi kata sehingga konteks pun dapat termanipulasi. Sebagai sebuah wacana, bahasa dalam media dapat memainkan peran strategis, yakni eufimisme (penghalusan makna), disfemisme (sarkasme makna), labelling (penjulukkan) dan stereotipe

  (pengimbuhan yang menetap). Pertarungan makna sejatinya adalah perjuangan wacana, bagaimana sebuah gagasan bertarung untuk menguasai ranah kekuasaan melalui proses legitimasi di media.

  Itu pula sebabnya, media cetak dapat menjadi cermin pergulatan kekuasaan baik yang represif maupun ideologis. Dan, kekuasaan sebagaimana sediakala tak pernah luput dari praktik kekerasan. Seperti halnya SKH Kompas dan Waspada. Dari 90 item berita yang layak uji di dua surat kabar yang diteliti tersebut, 76 item (84,44%) diantaranya mengandung kekerasan simbolik dan sisanya 14 item (15,56%) tidak mengandung kekerasan simbolik.

  Dari 76 item berita yang bermuatan kekerasan simbolik, SKH Kompas menyumbang 38 item berita (50%). Demikian halnya dengan SKH Waspada yang juga menyumbang 38 pemberitaan (50%). Berikut penjelasan untuk masing-masing surat kabar tersebut.

  Tabel 4.16

  

  Kekerasan Simbolik di SKH Kompas

  ∗ Sebuah berita dapat mengandung satu atau lebih jenis kekerasan simbolik. Dalam lembar koding, ada

lima jenis kekerasan simbolik, yakni stigmatisasi/ labelisasi, eufemisme, disfemisme, jargon dan metafora.

  

Untuk penyusunan tabel, kategori disederhanakan, berita bermuatan lebih dari satu jenis kekerasan simbolik

(kombinasi) hanya dihitung jenis kekerasan simbolik paling “utama”.

  Sumber Hasil Pengkodingan Dari tabel di atas, diketahui berdasarkan validitas data, ada sejumlah 9 item berita

  (19,1%) yang tidak memuat kekerasan simbolik. Dari 47 item pemberitaannya, stigmatisasi/ labelisasi mendominasi jenis kekerasan simbolik yang ada pada surat kabar ini, dengan jumlah 23 pemuatan (48,9%). Disusul disfemisme sejumlah 8 pemuatan (17%), jargon sejumlah 5 pemuatan (10,6%), eufemisme dan metafora masing-masing berjumlah 1 pemuatan (2,1%).

  Stigmatisasi/ labelisasi merupakan jenis kekerasan simbolik yang paling banyak mewarnai pemberitaan Kompas. Dari 38 item berita yang mengandung kekerasan simbolik di SKH Kompas, lebih dari setengahnya (23 pemuatan) mengandung jenis kekerasan simbolik ini. Berdasarkan hasil pengamatan, stigma/ label yang dominan dan paling banyak ditemukan adalah julukan-julukan yang diberikan kepada pihak Israel ataupun Hamas. Berbagai peristilahan yang dipakai untuk mendefinisikan kedua belah pihak yang terlibat konflik senjata di Jalur Gaza tersebut bisa dikatakan sebagai proses labelling.

  Stigmatisasi./ labelisasi adalah penerapan kata-kata, istilah atau frase ofensif kepada individu, kelompok, atau kegiatan sehingga melahirkan pengertian yang berbeda dari sesungguhnya. Dalam penelitian ini, ada berbagai istilah yang ditemukan dan dipergunakan untuk mendefinisikan Israel, seperti ’Zionis Israel’, ’negara Yahudi’, ’agresor’, ’penjahat perang’, ’negara teroris’, ’penjajah’ dan ’pasukan pendudukan’. Belum lagi istilah-istilah tersebut biasanya dipergunakan bersamaan dengan atau dipakai untuk mendefinisikan perilaku-perilaku yang ”terkesan buruk”, seperti yang terlihat dalam kutipan berita berikut:

  ”Selain agresor, Otri juga menyebut Israel sebagai teroris. Israel jelas negara teroris yang melanggar hukum dari segala aspek.” (Kompas, 13/1/2009 Indonesia

  dan Suriah Kecewa)

  Labelisasi ini ternyata juga dilakukan terhadap Hamas, antara lain yang berhasil diidentifikasi ’kelompok teroris’, ’pejuang bersenjata Hamas’, ’pejuang Palestina’, ’penguasa Jalur Gaza’ dan ’pejuang Islam di Palestina’. Berikut kutipan berita yang mengandung labelisasi untuk Hamas:

  ”Menurut PM Israel Ehud Olmert, pihaknya berusaha memulihkan kehidupan normal, tenang dan damai bagi warga Gaza dan Israel yang menderita akibat serangan roket dan mortir dari kelompok bersenjata Hamas selama bertahun-tahun. Untuk itu, Menlu Tzipi Livni justru meminta dunia ’membuka mata’ dan melihat Hamas sebagai biang keladi.” (Kompas, 30/12/2008 Israel Dikecam Keras) Jenis kekerasan simbolik lainnya, disfemisme juga hadir dalam pemberitaan seputar agresi Israel ke Jalur Gaza. Disfemisme – mengasarkan/ mengeraskan fakta melalui kata atau kalimat sehingga maknanya berbeda dari sesungguhnya – muncul sebanyak 8 kali (17%). Dalam teks berita, disfemisme terwujud dalam pilihan kata misalnya, ’serangan membabi- buta’, ’kampanye berdarah Israel’, ’tindakan brutal’ dan ’genosida’.

  ”Presiden Venezuela Hugo Chavez menyebut serangan Israel itu sebagai ”genosida”. Serangan tidak berperikemanusiaan Israel. (Kompas, 8/1/2009 Venezuela

  Usir Dubes Israel)

  Kata ”genosida” dipakai untuk menggambarkan bahwa apa yang dilakukan oleh Israel di Jalur Gaza sudah disetarakan dengan pemusnahan/ pembersihan etnis terhadap warga Gaza. Tindakan ini merupakan serangan yang tidak berperikemanusiaan yang dilakukan Israel terhadap Gaza dan rakyatnya.

  Angka yang lumayan besar juga ditujukan oleh kekerasan simbolik jenis jargon sebanyak 8 pemuatan (10,6%). Berita-berita yang menyajikan kekerasan simbolik jenis jargon – kata atau istilah khas yang digunakan sebuah kelompok masyarakat tertentu, yang kemudian dipakai dalam konteks ideologi, kekuasaan dan diadopsi masyarakat luas- tampil dalam kutipan berita berikut: ”Selain itu, PBB perlu memberikan pengakuan terhadap kedaulatan dan kemerdekaan rakyat, bangsa, dan negara Palestina dan menghormatinya secara sungguh-sunggguh karena tanpa itu perdamaian di Palestina tidak akan terwujud dalam arti yang sesungguhnya,” uajrnya (Kompas, 31/12/2008 Gus Dur Kecam

  Serangan Israel)

  Meruaknya kekerasan simbolik dalam pemberitaan mengenai agresi Israel ke Jalur Gaza di SKH Kompas semakin terlihat dengan munculnya jenis kekerasan simbolik lainnya yaitu eufemisme dan metafora, yang muncul masing-masing 1 kali. Berikut kutipan berita yang mengandung eufemisme:

  ”Sebenarnya yang dilakukan Israel terhadap Jalur Gaza bukan sebuah perlindungan diri, melainkan tindakan yang bisa dikatakan keterlaluan dan tidak berimbang.” (Kompas, 2/1/2009 Serangan Dilakukan dengan Akurasi Tinggi) Kutipan berita di atas menunjukkan Kompas melakukan penghalusan bahasa dengan penggunaan istilah ”tindakan yang bisa dikatakan keterlaluan dan tidak berimbang” untuk menggantikan penyerangan dan pengeboman yang dilakukan Israel terhadap Gaza.

  Eufemisme mungkin tak selalu buruk, setidaknya sampai tingkat tertentu, cara bahasa seperti itu dianggap sebagai bagian dari sopan santun. Tetapi eufemisme jadi buruk bila dipakai untuk menyembunyikan kenyataan. Jadi bagaimanapun pers harus punya komitmen untuk menggambarkan kenyataan apa adanya.

  Sementara, kutipan berita yang menunjukkan penggunaan metafora, yaitu: ”Kilatan cahaya oranye dari tembakan roket, artileri dan tank milik Israel di Jalur

  Gaza membuat 1,5 juta warga Gaza memilih tetap tingal dalam ruang berdinding yang diharapkan bisa meredam daya ledak mesin-mesin pembunuh tadi. Suasana gelap akibat aliran listrik yang terputus membuat suasana kian mencekam.” (Kompas, 6/1/2009 Takut, Gelap, Dingin Menyelimuti Warga)

  Tabel 4.17

  

  Kekerasan Simbolik di SKH Waspada Sumber Hasil Pengkodingan

  Berdasarkan tabel 4.17, jenis kekerasan simbolik yang paling banyak mewarnai pemberitaan agresi Israel ke Jalur Gaza di SKH Waspada adalah stigmatisasi/ labelisasi sejumlah 16 pemuatan atau sebesar 37,2%.

  Disusul kemudian jenis kekerasan simbolik eufemisme dan disfemisme yang sama- sama berjumlah 9 pemuatan atau sebesar 20,9%, lalu ada 4 pemuatan (9,3%) mengandung jargon dan 5 pemuatan lagi (11,6%) tidak memuat kekerasan simbolik.

  Kekerasan simbolik jenis stigmatisasi/ labelisasi menempati posisi atas dari segi kuantitas daripada jenis kekerasan simbolik lainnya. Dalam situasi konflik seperti halnya agresi Israel di Jalur Gaza, setiap pihak yang bertikai selalu menciptakan citra atau imej sebagai kelompok yang benar, sekaligus menciptakan imej yang negatif buat lawannya. Imej ini salah satu caranya bisa dilakukan lewat penjulukan –penjulukan khas bagi pihak-pihak yang dianggap lawan.

  Dalam penelitian ini, ada berbagai istilah yang diberikan untuk menjuluki Israel maupun Hamas. Label atau stigma yang sering diberikan terhadap Israel, antara lain ’penjahat genosida’, ’rezim anti HAM dan kemanusiaan’, ’musuh jahat dan berbahaya’, ’Israel pembunuh’ dan sebagainya. Sementara untuk Hamas, diantaranya ’pahlawan perlawanan’,

  ∗ Sebuah berita dapat mengandung satu atau lebih jenis kekerasan simbolik. Dalam lembar koding, ada

lima jenis kekerasan simbolik, yakni stigmatisasi/ labelisasi, eufemisme, disfemisme, jargon dan metafora.

  

Untuk penyusunan tabel, kategori disederhanakan, berita bermuatan lebih dari satu jenis kekerasan simbolik

(kombinasi) hanya dihitung jenis kekerasan simbolik paling “utama”.

  ’gerilyawan Hamas’, ’militan Palestina’, ’Hamas teroris’, dan lainnya. Berikut kutipan beritanya: ”Jeda kemanusiaan yang dirancang PBB pun dilanggar Israel, karena niat jahat

  Zionis sebenarnya ingin menghabisi Palestina, bukan hanya Hamas.” (Waspada, 18/1/2009 Israel, Si Manusia Setan!)

  ”Kami akan katakan pada orang-orang di Gaza dan pahlawan perlawanan, anda tidak sendiri, kami bersama anda. Kemenangan adalah milik anda, Insya Allah, ”Mohammed Raad, seorang pejabat senior Hizbullah (Waspada, 12/1/2009

  Unjukrasa Anti-Israel Marak di Dunia)

  Jenis kekerasan simbolik lain yang menonjol adalah eufemisme (20,9%) dan disfemisme (20,9%). Beberapa kata yang teridentifikasi sebagai kata-kata yang tergolong eufemisme antara lain ’bentrokan senjata ekstensif’ atau ’ofensif besar-besaran’ untuk menggambarkan telah terjadi pertempuran atau peristiwa tembak-menembak yang mana biasanya pasti akan menimbulkan korban, dan ’tragedi kemanusiaan’ yang untuk kondisi Gaza diartikan sebagai suatu keadaan dimana telah terjadi tindakan kekerasan yang tidak berperikemanusiaan.

  ”Sebagian besar dari korban tewas akibat ofensif besar-besaran Israel sejak Sabtu itu adalah para anggota pasukan keamanan Hamas.” (Waspada, 30/12/2008 Dibom

  Israel, Hamas Membalas Dengan Roket)

  Sementara pengasaran/ pengerasan fakta ditandai dengan kutipan berita berikut: ”Ia menambahkan, Rezim Zionis terus memburu kebijakan pembumihangusan karena mereka menghadapi kebuntuan militer di Jalur Gaza.” (Waspada, 19/1/2009

  Ahmadinejad Tuntut Pemimpin Israel Diadili)

  Kata ”pembumihangusan” dipakai untuk menggambarkan situasi yang kian buruk di Gaza. Penggunaan kata tersebut mengesankan kalau Israel telah melakukan tindakan yang semena-mena di Gaza.

  Selain itu, ada juga kekerasan simbolik jargon yang turut hadir dalam pemberitaan seputar agresi Israel di SKH Waspada. Berikut kutipan beritanya: ”Dalam rangka untuk mencapai perdamaian yang adil dan beradab serta langgeng bagi semua bangsa dan negara di kawasan itu, DPR mendesak pemerintah aktif mendorong penyelesaian konflik Israel-palestina berdasarkan kemerdekaan penuh Palestina dan integritas teritorialnya.” (Waspada, 14/1/2009 DPR Keluarkan

  ’Resolusi’ Kutuk Agresi Israel ke Palestina)

IV.2 Diskusi Hasil Penelitian

  Dari hasil pengamatan terhadap pemberitaan mengenai ”Agresi Israel ke Jalur Gaza” di surat kabar harian Kompas dan Waspada, penulis memperoleh hasil sebagai berikut: dari 43 pemberitaannya, Waspada lebih banyak menempatkan beritanya di halaman depan sebanyak 28 item berita (65,2%), sedangkan untuk rubrik khusus (Rubrik Luar Negeri) Waspada menempatkan pemberitaannya sejumlah 12 item (27,9%), serta 3 item lagi (7%) ditempatkan pada halaman lain.

  Sementara Kompas, pemberitaannya secara kuantitas dominan ditempatkan pada rubrik khusus. Lebih dari setengah jumlah pemberitaannya (28 item berita atau 59,6%) ditempatkan di dalam Rubrik Internasional. Untuk posisi penempatan di halaman depan surat kabarnya hanya ada 17 item (36,1%), dan 2 item (4,3%) di halaman lain.

  Secara teoritik, berita yang dianggap penting bukan hanya karena dimuat beruntun setiap hari. Tapi juga bagaimana berita tersebut ditempatkan dalam posisi yang mencolok pada halaman masing-masing surat kabar. Apabila suatu berita diletakkan pada halaman depan maka berita itu merupakan sesuatu yang dianggap sangat penting oleh surat kabar tersebut sehingga menjadi berita utama. Sedangkan berita di halaman berikutnya dianggap sebagai berita biasa.

  Bentuk penyajian berita di kedua surat kabar ini sama-sama didominasi berita-berita

  

straight news, dimana Kompas sejumlah 39 item (83%) dan Waspada sejumlah 40 item

  (93%). Hal ini mengingat berita-berita yang ditampilkan di surat kabar harian biasanya berbentuk straight news (berita terkini dan aktual tentang suatu peristiwa).

  Untuk kategori narasumber pelaku langsung, pihak Israel tampil dominan sebagai narasumber dalam pemberitaan di kedua surat kabar harian yang diteliti. Sebanyak 12 pemuatan (25,5%) disediakan Kompas untuk memberikan space bagi Israel sebagai narasumbernya. Sementara Waspada menampilkan sejumlah 9 pemuatan (20,9%) dari 43 item beritanya.

  Narasumber bukan pelaku langsung sendiri, memunculkan PBB sebagai narasumber yang paling banyak dimuat di Kompas, yaitu sejumlah 12 pemuatan (25,5%). Berbeda dengan Waspada yang lebih banyak menampilkan pemerintah luar negeri dan masyarakat/ tokoh luar negeri sebagai narasumber bukan pelaku langsung, yaitu masing-masing berjumlah 11 pemuatan (25,6%).

  Berita-berita Kompas paling banyak memberikan penggambaran yang negatif terhadap Israel sejumlah 30 item berita (63,8%). Sementara untuk pihak Hamas, Kompas hanya menyediakan 6 pemberitaannya untuk memberikan penggambaran terhadap kelompok tersebut, dengan rincian penggambaran positif 2 item (4,3%) dan 4 item berita (8,5%) berisi penggambaran positif dan negatif.

  Sedangkan Waspada menyediakan 2 pemberitaannya (4,7%) untuk memberikan penggambaran positif terhadap Pemerintah Palestina, 26 item berita (60,5%) memuat penggambaran yang negatif atas Israel dan 6 item dalam memberikan penggambaran terhadap Hamas, dengan rincian gambaran positif sebanyak 1 item (2,3%), penggambaran negatif 3 item (7%) dan 2 item berita lagi berisi penggambaran yang positif dan negatif.

  Secara umum, berita-berita yang ada di dua surat kabar tersebut mengandung kekerasan simbolik. Dari 47 item berita Kompas, sebanyak 38 item beritanya memuat kekerasan simbolik, sementara Waspada menyediakan 38 pemuatan dari 43 item pemberitaannya seputar agresi Israel ke Jalur Gaza.

  Stigmastisasi/ labelisasi merupakan jenis kekerasan simbolik yang paling banyak mewarnai pemberitaan di kedua surat kabar ini. Kompas memuat sebanyak 23 item (48,9%), sementara Waspada sejumlah 16 item (37,2%).

BAB V PENUTUP Bab penutup merupakan bab terakhir dari penelitian ini yang berisikan kesimpulan-

  kesimpulan yang didasarkan pada analisis isi mengenai pemberitaan “Agresi Israel ke Jalur Gaza” di Surat Kabar Harian Kompas dan Waspada.

  Selain kesimpulan, bab ini juga mengemukakan beberapa saran penelitian yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kualitas kedua surat kabar harian yang menjadi objek penelitian ataupun surat kabar lainnya.

V.1 Kesimpulan

  Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka didapatkan beberapa kesimpulan berupa:

  1. Secara umum, SKH Kompas dan SKH Waspada berbeda dalam memunculkan pemberitaan seputar agresi Israel ke Jalur Gaza. Dari batasan edisi/ terbitan yang telah ditetapkan (28 Desember 2008 – 28 Januari 2009), SKH Kompas memunculkan berita-berita mengenai agresi Israel ke Jalur Gaza tersebut lebih banyak dengan jumlah 47 item berita (52,22%), sementara SKH Waspada memunculkannya sejumlah 43 item berita (47,78%).

  2. Ditinjau dari kategori yang telah ditetapkan sebelumnya, kedua surat kabar yang diteliti berbeda dalam menyampaikan isi pesan pemberitaan agresi Israel ke Jalur Gaza, antara lain:

  a. Berdasarkan kategori posisi penempatan berita, SKH Waspada lebih dominan menempatkan berita-berita tersebut di halaman penting, yaitu di halaman depan baik sebagai headline (berita utama) sebanyak 14 item berita (32,6%) ataupun

  89 sebagai berita non-headline (berita pendukung) sebanyak 14 item berita (32,6%). Sementara, SKH Kompas lebih banyak menempatkan berita-berita seputar agresi Israel tersebut di halaman halaman khusus pada Rubrik Internasional sejumlah 28 item berita (59,6%).

  b. Dalam menyajikan berita-berita seputar agresi Israel ke Jalur Gaza, straight news menjadi bentuk penyajian berita yang mendominasi baik di SKH Kompas (83%) maupun SKH Waspada (93%).

  c. Berdasarkan kategori narasumber pelaku langsung, SKH Kompas dan SKH Waspada sama dalam halnya menampilkan kemunculan narasumber dominan.

  SKH Kompas memunculkan pihak Israel sebanyak 12 pemuatan (25,5%). Sementara SKH Waspada menampilkannya sejumlah 9 pemuatan (20,9%) dari 43 item beritanya.

  d. Untuk kategori narasumber bukan pelaku langsung, PBB lebih banyak tampil dalam pemberitaan seputar agresi Israel ke Jalur Gaza di SKH Kompas, sedangkan SKH Waspada banyak memunculkan masyarakat/ tokoh luar negeri sebagai narasumbernya.

  e. Secara umum, penggambaran terhadap Pemerintah Palestina di SKH Kompas dan SKH Waspada berbeda. SKH Kompas sama sekali tidak memberikan penggambaran apapun terhadap Pemerintah Palestina, sementara SKH Waspada memberikan penggambaran positif dalam 2 item beritanya (4,7%). Ini menunjukkan kedua harian ini berbeda dalam menempatkan pihak Pemerintah Palestina di bawah otoritas Mahmoud Abbas ke dalam konflik Israel dan Hamas.

  f. Untuk penggambaran terhadap pihak Israel yang telah melakukan penyerangan ke Jalur Gaza, SKH Kompas dan SKH Waspada kompak dalam memberikan penggambaran yang negatif. Sebanyak 30 item berita (63,8%) SKH Kompas dan

  26 item berita (60,5%) SKH Waspada berisi penggambaran yang negatif atas Israel dan agresinya yang telah menimbulkan krisis kemanusiaan bagi rakyat Gaza.

  g. Bagi pihak Hamas sendiri, SKH Kompas dan SKH Waspada tidak banyak memunculkan penggambaran apapun atasnya. Dari beberapa beritanya yang berisi penggambaran, 4 item berita SKH Kompas (8,5%) dan 3 item berita SKH Waspada (7%) cenderung memberikan penggambaran negatif atas Hamas.

  Penggambaran negatif ini didasari atas metode serangan balasan dengan serangan bunuh diri yang dilakukan Hamas, selain sudah tidak lagi diberlakukan sejak Januari 2005, Hamas juga menembakkan roket-roketnya dengan target warga sipil Israel.

  h. Jenis kekerasan simbolik yang paling banyak mewarnai berita-berita yang dimuat SKH Kompas dan SKH Waspada adalah stigmatisasi/ labelisasi. Berdasarkan hasil pengamatan, stigma/ label yang dominan dan paling banyak ditemukan adalah julukan-julukan yang diberikan kepada pihak Israel.

  3. Berdasarkan data kuantitatif pada bab sebelumnya, ternyata kedua media memiliki arah pemberitaan yang berbeda. SKH Waspada masih menganut jurnalisme perang, dimana arah pemberitaannya berkiblat bukan kepada orientasi masyarakat (people oriented). Pemberitaan SKH Waspada hanya sekedar mengekspos berita kekerasan.

  Fokus berita konflik Israel-Hamas ini hanya seputar konflik yang kasat mata seperti kalah menangnya Israel dan Hamas, jumlah korban tewas, kerusakan lingkungan fisik, hancurnya sarana dan prasarana umum. Sedangkan efek kekerasan yang menimpa masyarakat tidak banyak mendapat tempat. SKH Waspada juga mengarahkan pemberitaannya dengan banyak memberikan citra yang tidak baik terhadap salah satu pihak melalui kecaman dan aksi protes dari berbagai kalangan.

  Sementara SKH Kompas berorientasi mengarahkan pemberitaannya untuk mengedepankan penyelesaian konflik dengan memusatkan perhatiannya pada nilai- nilai universal tanpa memperhatikan latar belakang agama.

V.2 Saran

  1. Pemilihan narasumber pelaku langsung dari warga sipil Gaza hendaknya lebih diperhatikan frekuensi kemunculannya, karena mereka adalah korban dari agresi yang dilakukan Israel di Jalur Gaza. Padahal sebagai bagian dari masyarakat, wartawan seharusnya mengembangkan liputan yang berfokus pada masyarakat dimana penderitaan manusia—laki-laki, kaum perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia harus lebih disuarakan. Karena mereka adalah orang-orang yang tidak berdaya dan kaum tidak bersuara (voice less). Karena tugas utama seorang jurnalis dalam situasi konflik bukanlah juru damai, tetapi jurnalis adalah “mata dan telinga” masyarakat.

  2. Penggambaran terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah peristiwa konflik hendaknya dapat diminimalisir, karena penggambaran yang dilakukan apalagi bila penggambaran negatif yang dominan dimunculkan bisa jadi malah akan mempertajam konflik diantara pihak-pihak tersebut. Dalam meliput peristiwa-peristiwa konflik, media seharusnya dapat menjaga netralitas dan sikap independen terhadap pihak- pihak yang terlibat konflik dalam setiap pemberitaannya.

  3. Intensitas kemunculan kekerasan simbolik hendaknya dapat dikurangi dalam berita- berita yang dimuat, bahkan jika bisa SKH Kompas dan SKH Waspada memiliki komitmen untuk tidak melakukan kekerasan simbolik dalam setiap pemberitaannya.

DAFTAR PUSTAKA

  Buku:

  Ardianto, Elvinaro. 2004. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Bulaeng, Andi. 2004. Metode Penelitian Kontemporer. Yogyakarta: Penerbit Andi. Bungin, Burhan. 2007. Analisa Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

  (ed.). 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Djuroto, Totok. 2004. Manajemen Penerbitan Pers. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Effendy, O. Uchjana. 2005. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Eriyanto, 2002. Analisis Framing, Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta: LKiS.

  2005. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LkiS. Flournoy, Don Michael. 1989. Analisa Isi Surat Kabar-Surat Kabar Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

  Hamad, Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa. Jakarta: Granit. Krippendorf, Klaus. 1993. Analisis Isi: Pengantar Teori dan Metodologi. Jakarta: Rajawali Press.

  Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. McQuail, Denis. 1996. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Jakarta: Penerbit Erlangga. Prisgunanto, Ilham. 2004. Keberpihakan Dibalik Isu-isu Pemberitaan Perang Irak. Jurnal

  Penelitian Komunikasi Volume III, Januari-April. Depok: Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI. Ps, Djarwanto. 1999. Petunjuk Teknis Penyusunan Skripsi. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta. Rahman, Musthafa Abdul. 2002. Jejak-jejak Juang Palestina: Dari Oslo Hingga Intifadah Al Aqsa. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Rakhmat, Jalaluddin. 2004. Metode Penelitian Komunikasi: Dilengkapi Contoh Analisis Statistik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Severin, Warner J. dan James W. Tankard. 2005. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode dan Terapan di Dalam Media Massa. Jakarta: Kencana. Siahaan, Hotman. 2001. Pers yang Gamang. Jakarta: LSPS. Sobur, Alex. 2004. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika, dan Analisis Framing. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Strentz, Herbert. 1993. Reporter dan Sumber Berita: Persekongkolan dalam Mengemas dan Menyesatkan Berita. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Sudibyo, Agus. 2001. Politik Media dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta: LKiS. Sumadiria, Haris. 2005. Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

  Jurnal:

Jurnal Kupas Edisi 1, November 2008, Penerbit: Kajian Informasi, Pendidikan dan

Penerbitan Sumatera (Kippas), Medan.

  Jurnal Kupas Edisi 2, Desember 2008, Penerbit: Kajian Informasi, Pendidikan dan penerbitan Sumatera (Kippas), Medan.

  

Jurnal Sendi No 3 Tahun 2000, Penerbit: Lembaga Studi Perubahan Sosial (LSPS),

Surabaya.

  Majalah Kajian Media Dictum Volume II, Agustus 2008, Penerbit: Pusat Pengkajian Komunikasi Massa (P2KM), Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU, Medan.

  Surat Kabar: Surat Kabar Harian Kompas, 3 Januari 2009.

  Surat Kabar Harian Kompas, 19 Januari 2009.

  Internet:

   http://dunia.vivanews.com/2009/1/10/israel-bombardir-40-tempat-di-jalur-gaza gaza

DAFTAR LAMPIRAN

   Tingkat Reliabilitas Terhadap Kategori Posisi Penempatan Berita, Bentuk Penyajian Berita, Narasumber Berita, Penggambaran Terhadap Pihak yang Terlibat Konflik dan Kekerasan Simbolik di SKH Kompas dan Waspada.

   Hasil Pengukuran Dua Pengkoding Terhadap Kategori Posisi Penempatan Berita, Bentuk Penyajian Berita, Narasumber Berita, Penggambaran Terhadap Pihak yang Terlibat Konflik dan Kekerasan Simbolik di SKH Kompas dan Waspada.

   Berita-berita di SKH Kompas dan Waspada.

   Surat Permohonan Penelitian.

   Surat Pelaksanaan Penelitian.

   Lembar Catatan Bimbingan.

   Biodata Penulis.

  Lampiran

Ha sil Pe ng kura n Dua Pe ng ko ding Te rha da p Ka te g o ri

Pe ne m pa ta n Po sisi Be rita di Ha ria n Ko m pa s

  Berita P1 P2 Berita 1 D D Berita 2 A A Berita 3 C C Berita 4 A A Berita 5 C C Berita 6 C C Berita 7 B B Berita 8 C C Berita 9 C C Berita 10 A A Berita 11 C C Berita 12 C C Berita 13 D D Berita 14 A A Berita 15 C C Berita 16 C C Berita 17 B B Berita 18 C C Berita 19 C C Berita 20 A A Berita 21 C C Berita 22 C C Berita 23 C C Berita 24 A A Berita 25 B B Berita 26 C C Berita 27 C C Berita 28 A A Berita 29 C C Berita 30 C C Berita 31 A A Berita 32 C C Berita 33 C C Berita 34 C C Berita 35 C C Berita 36 C C Berita 37 C C Berita 38 B B Berita 39 B B Berita 40 C C Berita 41 A A Berita 42 C C Berita 43 A A Berita 44 C C Berita 45 A A Berita 46 A A Berita 47 C C

  Lampiran

Ha sil Pe ng kura n Dua Pe ng ko ding Te rha da p Ka te g o ri

Pe ne m pa ta n Po sisi Be rita di Ha ria n Wa spa da

  Berita P1 P2

  Berita 1 A A Berita 2 A A Berita 3 B B Berita 4 A A Berita 5 D D Berita 6 B B Berita 7 B B Berita 8 B B Berita 9 C C Berita 10 A A Berita 11 A A Berita 12 C C Berita 13 A A Berita 14 A A Berita 15 B B Berita 16 A A Berita 17 A A Berita 18 C C Berita 19 B B Berita 20 C C Berita 21 B B Berita 22 C C Berita 23 A A Berita 24 B B Berita 25 C C Berita 26 A A Berita 27 C C Berita 28 B B Berita 29 C C Berita 30 B B Berita 31 A A Berita 32 D D Berita 33 A A Berita 34 B B Berita 35 C C Berita 36 A A Berita 37 D D Berita 38 B B Berita 39 C C Berita 40 B B Berita 41 C C Berita 42 B B

  Berita 43 C C

  Keterangan:

  P1 = Pengkoding pertama; P2 = Pengkoding kedua; A = Halaman depan headline; B = Halaman depan bukan headline; C = Halaman khusus; D = Halaman lain

  Lampiran

Ha sil Pe ng kura n Dua Pe ng ko ding Te rha da p Ka te g o ri

Be ntuk Pe nya jia n Be rita “Ag re si Isra e l ke Ja lur G a za ” di Ha ria n Ko m pa s

  Berita P1 P2

  Berita 1 S S Berita 2 S S Berita 3 S S Berita 4 S S Berita 5 F F Berita 6 S S Berita 7 S S Berita 8 S S Berita 9 NA NA Berita 10 S S Berita 11 S S Berita 12 F F Berita 13 S S Berita 14 S S Berita 15 S S Berita 16 NA NA Berita 17 S S Berita 18 S S Berita 19 F F Berita 20 S S Berita 21 S S Berita 22 F F Berita 23 S S Berita 24 S S Berita 25 F F Berita 26 S S Berita 27 S S Berita 28 S S Berita 29 S S Berita 30 S S Berita 31 S S Berita 32 S S Berita 33 S S Berita 34 S S Berita 35 S S Berita 36 S S Berita 37 S S Berita 38 S S Berita 39 S S

  Berita 40 S S Berita 41 S S Berita 42 S S Berita 43 S S Berita 44 F F Berita 45 S S Berita 46 S S Berita 47 S S

  Lampiran

Ha sil Pe ng kura n Dua Pe ng ko ding Te rha da p Ka te g o ri

Be ntuk Pe nya jia n Be rita “Ag re si Isra e l ke Ja lur G a za ” di Ha ria n Wa spa da

  Berita P1 P2

  Berita 1 S F Berita 2 S S Berita 3 S S Berita 4 S S Berita 5 NA NA Berita 6 S S Berita 7 S S Berita 8 S S Berita 9 S S Berita 10 S S Berita 11 S S Berita 12 S S Berita 13 S S Berita 14 S S Berita 15 S S Berita 16 S S Berita 17 S S Berita 18 S S Berita 19 S S Berita 20 S S Berita 21 S S Berita 22 S S Berita 23 S S Berita 24 S S Berita 25 S S Berita 26 S S Berita 27 S S Berita 28 S S Berita 29 S S Berita 30 S S Berita 31 S S Berita 32 S S Berita 33 S S Berita 34 NA NA

  Berita 35 S S Berita 36 S S Berita 37 NA NA Berita 38 S S Berita 39 S S Berita 40 S S Berita 41 S S Berita 42 S S Berita 43 S S

  Keterangan:

  P1 = Pengkoding pertama; P2 = Pengkoding kedua S = Straight news; F = Feature; NA = News analysis

  Lampiran

Hasil Pengkuran Dua Pengkoding Terhadap Kategori

Narasumber Pelaku Langsung di Harian Kompas

  

Berita P1 P2

  Berita 1 E B Berita 2 B B

  • Berita 3 Berita 4 B B Berita 5 D D - - Berita 6

  Berita 7 B B

  • - Berita 8 B

  Berita 9 B B Berita 10 C C

  • Berita 11
  • Berita 12
  • Berita 13 Berita 14 B B - - Berita 15
  • Berita 16
  • Berita 17 C C - - Berita 18

  Berita 19 D D Berita 20 B B Berita 21

  • Berita 22 C C Berita 23 E E Berita 24 C C Berita 25 E D
  • - Berita 26 B
  • Berita 27 Berita 28 B B Berita 29 C C - - Berita 30
  • Berita 31
  • Berita 32 C C

    • Berita 33
    • Berita 34 Berita 35 C C - - Berita 36

      Berita 37

    • Berita 38 B B Berita 39 B B Berita 40 C C Berita 41 C C Berita 42 C D Berita 43

      C D

      Berita 44 E E

    • Berita 45 Berita 46 D C Berita 47 C C

      Lampiran

    Hasil Pengkuran Dua Pengkoding Terhadap Kategori

    Narasumber Pelaku Langsung di Harian Waspada

      Berita P1 P2

      Berita 1 A B Berita 2 C C

    • Berita 3
    • Berita 4 Berita 5 C C - - Berita 6

      Berita 7 A A

    • Berita 8
    • Berita 9

      Berita 10 F D

    • Berita 11
    • Berita 12 B B - - Berita 13

      Berita 14 C C

    • - Berita 15

      B

      Berita 16 B B

    • Berita 17
    • Berita 18
    • Berita 19 Berita 20 B B - - Berita 21

      Berita 22 B B Berita 23 C C Berita 24 E E Berita 25 B B Berita 26 B B

    • Berita 27
    Berita 28 C C Berita 29 - - Berita 30 - - Berita 31 - - Berita 32 D D Berita 33 E D Berita 34 B B Berita 35 A A Berita 36 - - Berita 37 B B Berita 38 C C Berita 39 - - Berita 40 - - Berita 41 C C Berita 42 C C Berita 43 B B

      Keterangan:

    P1 = Pengkoding pertama; P2 = Pengkoding kedua; A = Pemerintah Palestina; B = Pihak

      Israel; C = Pihak Hamas; D = Warga sipil Gaza; E = Paramedis Gaza; F = Warga asing yang menjadi korban

      Lampiran

    Ha sil Pe ng kura n Dua Pe ng ko ding Te rha da p Ka te g o ri

    Na ra sum b e r Buka n Pe la ku La ng sung di Ha ria n Ko m pa s

      Berita P1 P2

      Berita 1

      A C

      Berita 2 C C Berita 3 C D Berita 4 B B Berita 5 - - Berita 6 D D Berita 7 - - Berita 8 B B Berita 9 - - Berita 10 B B Berita 11 A A Berita 12 D D Berita 13 B B Berita 14 D D Berita 15 C C Berita 16 D D Berita 17 A C Berita 18 C C Berita 19 - - Berita 20 D D Berita 21 B B Berita 22 - - Berita 23 E E

      Berita 24 B B Berita 25

      B C

      Berita 26 C C Berita 27 C D Berita 28 A A Berita 29 C C Berita 30 C C Berita 31 D D Berita 32 - - Berita 33 E E Berita 34 D D Berita 35 A A Berita 36 C C Berita 37 B B Berita 38 E E Berita 39 B B Berita 40 C C Berita 41 B B Berita 42

      B A

      Berita 43 A A Berita 44 E E Berita 45

      D C

      Berita 46 B B Berita 47 A C

      Lampiran

    Ha sil Pe ng kura n Dua Pe ng ko ding Te rha da p Ka te g o ri

    Na ra sum b e r Buka n Pe la ku La ng sung di Ha ria n Wa spa da

      Berita P1 P2

      Berita 1 - - Berita 2 B B Berita 3 D D Berita 4 C C Berita 5 - - Berita 6 D D Berita 7 D D Berita 8 D C Berita 9 C B Berita 10 - - Berita 11 D D Berita 12 - - Berita 13

      D C

      Berita 14 A A Berita 15 C C Berita 16 A A Berita 17 D D Berita 18 A A

      Berita 19 A A Berita 20 C C Berita 21 B B Berita 22 B B Berita 23 C C Berita 24 B B Berita 25 B B Berita 26 - - Berita 27 D D Berita 28 - - Berita 29 C C Berita 30

      C A

      Berita 31 D D Berita 32 C C Berita 33 B B Berita 34 - - Berita 35 C C Berita 36 B B Berita 37 D D Berita 38 D C Berita 39 A A Berita 40 E E Berita 41 A B Berita 42 B B Berita 43 - -

      Keterangan:

      P1 = Pengkoding pertama; P2 = Pengkoding kedua; A = Negara Arab; B = PBB; C = Pemerintah Luar Negeri; D = Masyarakat dan tokoh luar negeri; E = Relawan medis luar negeri

      Lampiran

    Ha sil Pe ng kura n Dua Pe ng ko ding Te rha da p Ka te g o ri

    Pe ng g a m b a ra n Pe m e rinta h Pa le stina di Ha ria n Ko m pa s

      Berita P1 P2

      Berita 1 T T Berita 2 T T Berita 3 T T Berita 4 T T Berita 5 T T Berita 6 T T Berita 7 T T Berita 8 T T Berita 9 T T Berita 10 T T Berita 11 T T Berita 12 T T Berita 13 T T Berita 14 T T

      Berita 15 T T Berita 16 T T Berita 17 T T Berita 18 T T Berita 19 T T Berita 20 T T Berita 21 T T Berita 22 T T Berita 23 T T Berita 24 T T Berita 25 T T Berita 26 T T Berita 27 T T Berita 28 T T Berita 29 T T Berita 30 T T Berita 31 T T Berita 32 T T Berita 33 T T Berita 34 T T Berita 35 T T Berita 36 T T Berita 37 T T Berita 38 T T Berita 39 T T Berita 40 T T Berita 41 T T Berita 42 T T Berita 43 T T Berita 44 T T Berita 45 T T Berita 46 T T Berita 47 T T

      Lampiran

    Ha sil Pe ng kura n Dua Pe ng ko ding Te rha da p Ka te g o ri

    Pe ng g a m b a ra n Pe m e rinta h Pa le stina di Ha ria n Wa spa da

      

    Berita P1 P2

      Berita 1 P P Berita 2 P T Berita 3 T T Berita 4 T T Berita 5 T T Berita 6 T T Berita 7 T T Berita 8 T T

      Berita 9 T T Berita 10 T T Berita 11 T T Berita 12 T T Berita 13 T T Berita 14 T T Berita 15 T T Berita 16 T T Berita 17 T T Berita 18 T T Berita 19 T T Berita 20 T T Berita 21 T T Berita 22 T T Berita 23 T T Berita 24 T T Berita 25 T T Berita 26 T T Berita 27 T T Berita 28 T T Berita 29 T T Berita 30 T T Berita 31 T T Berita 32 T T Berita 33 T T Berita 34 T T Berita 35 T T Berita 36 T T Berita 37 T T Berita 38 T T Berita 39 T T Berita 40 T T Berita 41 T T Berita 42 T T Berita 43 T T

      Keterangan:

      P1 = Pengkoding pertama; P2 = Pengkoding kedua; P = Positif; N = Negatif PN = Positif+negatif; T = Tidak ada penggambaran

      Lampiran

    Ha sil Pe ng kura n Dua Pe ng ko ding Te rha da p Ka te g o ri

    Pe ng g a m b a ra n Piha k Isra e l di Ha ria n Ko m pa s

      

    Berita P1 P2

      Berita 1 N N Berita 2

      PN N

      Berita 3 N N Berita 4 P P Berita 5 N N

      Berita 6 N N Berita 7 N N Berita 8 N P Berita 9 N N Berita 10 N N Berita 11 T T Berita 12 N N Berita 13 N N Berita 14 N N Berita 15 T T Berita 16 T T Berita 17 N N Berita 18 N N Berita 19 N N Berita 20 N N Berita 21 N N Berita 22 T T Berita 23 N T Berita 24 N N Berita 25 N N Berita 26 N N Berita 27

      T PN

      Berita 28 T T Berita 29 T T Berita 30 T T Berita 31 T T Berita 32 T T Berita 33 N N Berita 34 N N Berita 35 N N Berita 36 N T Berita 37 N N Berita 38 N N Berita 39 N N Berita 40 T T Berita 41 T T Berita 42 T T Berita 43 T N Berita 44 N N Berita 45 N N Berita 46 N N Berita 47 T T

      Lampiran

    Ha sil Pe ng kura n Dua Pe ng ko ding Te rha da p Ka te g o ri

    Pe ng g a m b a ra n Piha k Isra e l di Ha ria n Wa spa da

      

    Berita P1 P2 Berita 1 N N Berita 2 PN PN Berita 3 N T Berita 4 N PN Berita 5 PN N Berita 6 T T Berita 7 N N Berita 8 T T Berita 9 PN N Berita 10 N N Berita 11 N N Berita 12 N N Berita 13 N N Berita 14 N N Berita 15 T T Berita 16 N N Berita 17 T T Berita 18 T T Berita 19 N N Berita 20 T T Berita 21 N N Berita 22 N N Berita 23 PN N Berita 24 N N Berita 25 PN PN Berita 26 N N Berita 27 N N Berita 28 N N Berita 29 T T Berita 30 T T Berita 31 T T Berita 32 N N Berita 33 N PN Berita 34 T T Berita 35 N N Berita 36

      T N

      Berita 37 N N Berita 38 N N Berita 39 N N Berita 40 T T Berita 41 N PN Berita 42 N N Berita 43 N N

      Keterangan:

      P1 = Pengkoding pertama; P2 = Pengkoding kedua; P = Positif; N = Negatif PN = Positif+negatif; T = Tidak ada penggambaran

      Lampiran

    Ha sil Pe ng kura n Dua Pe ng ko ding Te rha da p Ka te g o ri

      Pe ng g a m b a ra n Piha k Ha m a s di Ha ria n Ko m pa s Berita P1 P2

      Berita 1 T T Berita 2 N N Berita 3 T T Berita 4 T T Berita 5 T T Berita 6 T T Berita 7 T T Berita 8 T N Berita 9 N N Berita 10 T T Berita 11 T T Berita 12 T T Berita 13 T T Berita 14 T T Berita 15 T T Berita 16 N N Berita 17 T N Berita 18 T T Berita 19 T T Berita 20 T T Berita 21 T T Berita 22 T N Berita 23 T T Berita 24 T T Berita 25 T T Berita 26 T T Berita 27 T T Berita 28 T T Berita 29 T T Berita 30 P P Berita 31 T T Berita 32 T T Berita 33 T T Berita 34 T T Berita 35 T T Berita 36 T T Berita 37 T T Berita 38 T T Berita 39 T T Berita 40 T T Berita 41 T T Berita 42 T T Berita 43 T T Berita 44 T T Berita 45 T T

      Berita 46 P PN Berita 47 N N

      Lampiran

    Ha sil Pe ng kura n Dua Pe ng ko ding Te rha da p Ka te g o ri

    Pe ng g a m b a ra n Piha k Ha m a s di Ha ria n Wa spa da

      

    Berita P1 P2

      Berita 1 N N Berita 2 PN PN Berita 3 T T Berita 4 T T Berita 5

      T N

      Berita 6 T T Berita 7 T T Berita 8 T T Berita 9 N T Berita 10 T T Berita 11 T T Berita 12 T T Berita 13 T T Berita 14 P P Berita 15 T T Berita 16 T T Berita 17 T T Berita 18 T T Berita 19 T T Berita 20 T T Berita 21 T T Berita 22 T T Berita 23 N PN Berita 24 T T Berita 25 T T Berita 26 T T Berita 27 T T Berita 28

      PN N

      Berita 29 T N Berita 30 T T Berita 31 T T Berita 32 T T Berita 33 T T Berita 34 T T Berita 35 T T Berita 36 T T Berita 37 T T Berita 38 T T Berita 39 T T Berita 40 T T

      Berita 41 T T Berita 42 T T Berita 43 T T

      Keterangan:

      P1 = Pengkoding pertama; P2 = Pengkoding kedua; P = Positif; N = Negatif; PN = Positif+negatif; T = Tidak ada penggambaran

      Lampiran

    Ha sil Pe ng kura n Dua Pe ng ko ding Te rha da p Ka te g o ri

    Ke ke ra sa n Sim b o lik di Ha ria n Ko m pa s

      

    Berita P1 P2

      Berita 1 S E Berita 2 S S Berita 3 J J Berita 4 S S Berita 5 S - Berita 6 D D Berita 7 J J Berita 8 S E Berita 9 E E Berita 10 D D Berita 11 S D Berita 12 S S Berita 13 S S Berita 14 S S Berita 15 D D Berita 16 S D Berita 17

      D S

      Berita 18 J J Berita 19 S S Berita 20 S S Berita 21 M M Berita 22 J - Berita 23 S - Berita 24 S S Berita 25 D D Berita 26 D S Berita 27 S S Berita 28 S S Berita 29 S S Berita 30 - - Berita 31 J J Berita 32 - - Berita 33 - - Berita 34 D D Berita 35 S S Berita 36 S S Berita 37 - -

      Berita 38 S S Berita 39 S S Berita 40 - - Berita 41 - - Berita 42 - - Berita 43 S S Berita 44 D D Berita 45 - - Berita 46 - - Berita 47 S S

      Lampiran

    Ha sil Pe ng kura n Dua Pe ng ko ding Te rha da p Ka te g o ri

    Ke ke ra sa n Sim b o lik di Ha ria n Wa spa da

      Berita P1 P2

      Berita 1 S - Berita 2 S S Berita 3 S - Berita 4 - - Berita 5 S - Berita 6 E E Berita 7 D D Berita 8 S S Berita 9 S - Berita 10 E E Berita 11 D D Berita 12 E E Berita 13 S S Berita 14

      J -

      Berita 15 - - Berita 16 S S Berita 17 S S Berita 18 S S Berita 19 E E Berita 20 - - Berita 21 S S Berita 22 S S Berita 23 E E Berita 24 D D Berita 25 D D Berita 26 - - Berita 27 J J Berita 28 D D Berita 29 - - Berita 30 S S Berita 31 J J

      Berita 32 S S Berita 33 J J Berita 34 E E Berita 35 E - Berita 36 D D Berita 37 D S Berita 38 S S Berita 39 E E Berita 40 E E Berita 41 S S Berita 42 D D Berita 43 D D

      Keterangan:

      P1 = Pengkoding pertama; P2 = Pengkoding kedua; S = Stigmatisasi/ labelisasi; E = Eufemisme; D = Disfemisme; J = Jargon; M = Metafora

      Lampiran

    Tingkat Reliabilitas Terhadap Kategori

    Posisi Penempatan berita di SKH Kompas dan Waspada

      2M Reliabilitas (C.R.) =

      N1+N2

      2 x

    47 Kompas =

      47

    • 47

      = 1,00

      2 x

    43 Waspada =

      43

    • 43

      = 1,00 Secara keseluruhan, reliabilitas pada kategori ini adalah: 2 x M (Kompas + Waspada) Reliabilitas =

      (N1+N2 Kompas) + (N1+N2 Waspada)

      47 43 )

    • 2 x (

      =

      86

    • 94

      = 1,00 Keterangan: C.R. = Coefficient Reliability M = Jumlah pernyataan yang disetujui oleh dua pengkoding N1, N2 = Jumlah pernyataan yang diberi kode oleh pengkoding I dan pengkoding II

      Lampiran

    Tingkat Reliabilitas Terhadap Kategori

    Bentuk Penyajian berita di SKH Kompas dan Waspada

      2M Reliabilitas (C.R.) =

      N1+N2

      2 x

    47 Kompas =

      47

    • 47

      = 1,00

      2 x

    42 Waspada =

      43

    • 43

      = 0, 97 Secara keseluruhan, reliabilitas pada kategori ini adalah: 2 x M (Kompas + Waspada) Reliabilitas =

      (N1+N2 Kompas) + (N1+N2 Waspada)

      47 42 )

    • 2 x (

      =

      86

    • 94

      = 0,98 Keterangan: C.R. = Coefficient Reliability M = Jumlah pernyataan yang disetujui oleh dua pengkoding N1, N2 = Jumlah pernyataan yang diberi kode oleh pengkoding I dan pengkoding II

      Lampiran

    Tingkat Reliabilitas Terhadap Kategori

    Narasumber Pelaku Langsung di SKH Kompas dan Waspada

      2M Reliabilitas (C.R.) =

      N1+N2

      2 x

    40 Kompas =

      47

    • 47

      = 0,85

      2 x

    39 Waspada =

      43

    • 43

      = 0,91 Secara keseluruhan, reliabilitas pada kategori ini adalah: 2 x M (Kompas + Waspada) Reliabilitas =

      (N1+N2 Kompas) + (N1+N2 Waspada)

      40 39 )

    • 2 x (

      =

      86

    • 94

      = 0,87 Keterangan: C.R. = Coefficient Reliability M = Jumlah pernyataan yang disetujui oleh dua pengkoding N1, N2 = Jumlah pernyataan yang diberi kode oleh pengkoding I dan pengkoding II

      Lampiran

    Tingkat Reliabilitas Terhadap Kategori

    Narasumber Bukan Pelaku Langsung di SKH Kompas dan Waspada

      2M Reliabilitas (C.R.) =

      N1+N2

      2 x

    39 Kompas =

      47

    • 47

      = 0,83

      2 x

    37 Waspada =

      43

    • 43

      = 0,86 Secara keseluruhan, reliabilitas pada kategori ini adalah: 2 x M (Kompas + Waspada) Reliabilitas =

      (N1+N2 Kompas) + (N1+N2 Waspada)

      39 37 )

    • 2 x (

      =

      86

    • 94

      = 0,84 Keterangan: C.R. = Coefficient Reliability M = Jumlah pernyataan yang disetujui oleh dua pengkoding N1, N2 = Jumlah pernyataan yang diberi kode oleh pengkoding I dan pengkoding II

      Lampiran

    Tingkat Reliabilitas Terhadap Kategori Narasumber

    Penggambaran Pemerintah Palestina di SKH Kompas dan Waspada

      2M Reliabilitas (C.R.) =

      N1+N2

      2 x

    47 Kompas =

      47

    • 47

      = 1,00

      2 x

    42 Waspada =

      43

    • 43

      = 0,97 Secara keseluruhan, reliabilitas pada kategori ini adalah: 2 x M (Kompas + Waspada) Reliabilitas =

      (N1+N2 Kompas) + (N1+N2 Waspada)

      47 42 )

    • 2 x (

      =

      86

    • 94

      = 0,99 Keterangan: C.R. = Coefficient Reliability M = Jumlah pernyataan yang disetujui oleh dua pengkoding N1, N2 = Jumlah pernyataan yang diberi kode oleh pengkoding I dan pengkoding II

      Lampiran

    Tingkat Reliabilitas Terhadap Kategori Narasumber

    Penggambaran Pihak Israel di SKH Kompas dan Waspada

      2M Reliabilitas (C.R.) =

      N1+N2

      2 x

    41 Kompas =

      47

    • 47

      = 0,87

      2 x

    35 Waspada =

      43

    • 43

      = 0,81 Secara keseluruhan, reliabilitas pada kategori ini adalah: 2 x M (Kompas + Waspada) Reliabilitas =

      (N1+N2 Kompas) + (N1+N2 Waspada)

      41 35 )

    • 2 x (

      =

      86

    • 94

      = 0,84 Keterangan: C.R. = Coefficient Reliability M = Jumlah pernyataan yang disetujui oleh dua pengkoding N1, N2 = Jumlah pernyataan yang diberi kode oleh pengkoding I dan pengkoding II

      Lampiran

    Tingkat Reliabilitas Terhadap Kategori Narasumber

    Penggambaran Pihak Hamas di SKH Kompas dan Waspada

      2M Reliabilitas (C.R.) =

      N1+N2

      2 x

    43 Kompas =

      47

    • 47

      = 0,91

      2 x

    38 Waspada =

      43

    • 43

      = 0,88 Secara keseluruhan, reliabilitas pada kategori ini adalah: 2 x M (Kompas + Waspada) Reliabilitas =

      (N1+N2 Kompas) + (N1+N2 Waspada)

      43 38 )

    • 2 x (

      =

      86

    • 94

      = 0,90 Keterangan: C.R. = Coefficient Reliability M = Jumlah pernyataan yang disetujui oleh dua pengkoding N1, N2 = Jumlah pernyataan yang diberi kode oleh pengkoding I dan pengkoding II

      Lampiran

    Tingkat Reliabilitas Terhadap Kategori

    Kekerasan Simbolik di SKH Kompas dan Waspada

    • x

      2

      = 0,82 Keterangan: C.R. = Coefficient Reliability M = Jumlah pernyataan yang disetujui oleh dua pengkoding N1, N2 = Jumlah pernyataan yang diberi kode oleh pengkoding I dan pengkoding II

      x

      2

      36 38 (

      94 )

      86

      (N1+N2 Kompas) + (N1+N2 Waspada) =

      = 0,83 Secara keseluruhan, reliabilitas pada kategori ini adalah: 2 x M (Kompas + Waspada) Reliabilitas =

      36

      43

      43

      = 0,80 Waspada =

      2

      38

      47

      47

      N1+N2 Kompas =

      2M Reliabilitas (C.R.) =

    • x

    BIODATA PENULIS

      Nama : Eva Mandonna Siadari Tempat dan Tanggal Lahir : Medan, 17 September 1987 Jenis Kelamin : Perempuan Status : Belum Menikah Agama : Kristen Protestan Kewarganegaraan : Indonesia Hobi : Memasak dan Traveling Alamat : Jl. SM. Raja Gg. Nauli No.116 Medan 20217 Hp : 081362082908 Email

      Pendidikan Formal

       SD Negeri 060820 Medan 1993-1999

       SLTP Negeri 8 Medan 1999-2002

       SMU Negeri 5 Medan 2002-2005

       FISIP USU Departemen Ilmu Komunikasi 2005-2009

      Latar Belakang Organisasi

       Ikatan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi (IMAJINASI) USU sebagai bendahara Seksi Kerohanian Kristen.

       Pers Mahasiswa SUARA USU, sebagai Reporter (2007) dan Redaktur (2008-2009).

      Profil Singkat

      Selama mengikuti perkuliahan, aktif dalam kegiatan organisasi Pers Mahasiswa SUARA USU selama tiga tahun. Tahun pertama dilewati sebagai reporter (2007), kemudian redaktur (2008 - 2009). Pernah ikut serta di beberapa pelatihan lokal maupun tingkat nasional, yaitu Pendidikan dan Pelatihan Dasar Jurnalistik SUARA USU (2007), Klinik Foto Jurnalistik Kompas (2007),Worksop Perfilman Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (2008), Kursus Mahir Dasar Jurnalistik P2KM FISIP USU (2008), Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar se-Kota Medan (2008), Workshop Investigasi LPM se-Indonesia di IAIN Imam Bonjol Padang (November 2008).

      Pernah mengikuti magang di Harian Sumut Pos (Juli 2007) dan Praktik Kerja Lapangan di Metro TV Jakarta (Juli-Agustus 2008).

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Pemberitaan Konflik Israel dan Hamas (Studi analisis framing tentang pemberitaan konflik Israel dan Hamas pada surat kabar Republika)
0
48
107
Pemberitaan Eksekusi Saddam Husein di Irak (Analisis Wacana Tentang Pemberitaan Eksekusi Saddam Husein di Irak pada Surat Kabar Kompas dan Waspada)
0
21
129
Penerapan Kode Etik Jurnalistik dalam Surat Kabar (Studi Analisis Isi Penerapan Pasal 4 dan Pasal 5 Kode Etik Jurnalistik di Rubrik Siantar Raya dalam Surat Kabar Siantar 24 Jam Edisi Januari 2013)
15
131
91
AGRESI MILITER ISRAEL KE JALUR GAZA TAHUN 2008-2009
0
25
15
AGRESI MILITER ISRAEL KE JALUR GAZA TAHUN 2008-2009
0
19
15
Agresi Militer Israel Ke Jalur Gaza Tahun 2008-2009
0
31
14
AGRESI MILITER ISRAEL KE JALUR GAZA TAHUN 2008-2009 SKRIPS3 PROGRAM
0
22
15
Analisis framing agresi militer Israel di jalur Gaza pada harian Kompas dan Republika
1
8
87
Kebijakan luar negeri Indonesia terhadap konflik Palestina pasca Agresi Israel di Jalur Gaza (2008)
1
23
83
PENDAHULUAN BERITA KASUS SYIAH DI SAMPANG MADURA DALAM SURAT KABAR HARIAN KOMPAS DAN KORAN TEMPO (Studi Analisis Isi Kuantitatif Penerapan Jurnalisme Damai Pemberitaan Kasus Syiah di Sampang Madura dalam Surat Kabar Harian Kompas dan Koran Tempo Periode
0
3
21
DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN BERITA KASUS SYIAH DI SAMPANG MADURA DALAM SURAT KABAR HARIAN KOMPAS DAN KORAN TEMPO (Studi Analisis Isi Kuantitatif Penerapan Jurnalisme Damai Pemberitaan Kasus Syiah di Sampang Madura dalam Surat Kabar Harian Kompas dan Kora
0
6
8
PENDAHULUAN KONSTRUKSI SURAT KABAR HARIAN KOMPAS DALAM PEMBERITAAN BAKTERI SAKAZAKII PADA SUSU FORMULA BULAN FEBRUARI 2011 (Studi Analisis Framing Dalam Pemberitaan Bakteri Sakazakii Pada Surat Kabar Harian Kompas Bulan Februari 2011).
0
5
21
PENUTUP KONSTRUKSI SURAT KABAR HARIAN KOMPAS DALAM PEMBERITAAN BAKTERI SAKAZAKII PADA SUSU FORMULA BULAN FEBRUARI 2011 (Studi Analisis Framing Dalam Pemberitaan Bakteri Sakazakii Pada Surat Kabar Harian Kompas Bulan Februari 2011).
0
3
23
AGRESI MILITER ISRAEL KE JALUR GAZA DALAM REKAMAN FOTO JURNALISTIK
0
5
115
PEMBERITAAN ISRAEL DAN PALESTINA DI MEDIA MASSA Analisis Framing Berita tentang Penyerangan Israel ke jalur Gaza Palestina di Harian Republika dan Kompas.
0
0
28
Show more