Correlation between Parents, Mass Media, and Peers with Youth Attitude Towards Agricultural Livelihood (Case: Agricultural Youth in Subdistrict of Pacet, District of Cianjur).

 0  5  233  2017-05-18 15:24:11 Report infringing document
HUBUNGAN ORANG TUA, MEDIA MASSA, DAN TEMAN DENGAN SIKAP PEMUDA TERHADAP PEKERJAAN DI BIDANG PERTANIAN (Kasus Pemuda di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur) YOGAPRASTA ADI NUGRAHA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Hubungan Orang Tua, Media Massa, dan Teman dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian: Kasus Pemuda di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani,” adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Januari 2012 Yogaprasta Adi Nugraha NRP I 352 090061 ABSTRACT YOGAPRASTA ADI NUGRAHA. Correlation between Parents, Mass Media, and Peers with Youth Attitude Towards Agricultural Livelihood (Case: Agricultural Youth in Subdistrict of Pacet, District of Cianjur). Supervised by SARWITITI S. AGUNG (Chairperson) and DJOKO SUSANTO (Members). The study about youth attitude was conducted in order to identify about kinds of behavior that would be performed by the youth towards agricultural livelihood. By identifying their attitude, people could be able to estimate response from youth about agricultural livelihood. The objectives of this study were: 1). To identify youth attitude towards agricultural activities. 2). To identify internal characteristics of youth, socialization from parents, mass media exposure, and interaction with peers. 3). To analyze the correlations between internal factors and youth attitude towards agricultural livelihood. 4). To analyze the correlations between socialization from parents, mass media exposure, and interaction with peers with youth attitude towards agricultural livelihood. 5). To analyze the correlations between perception toward rural condition and youth attitude towards agricultural livelihood. A number of 65 respondents were taken as sample. This study resulted several important outputs namely, 1). Majority of youth supported and agreed to work at agricultural setting 2). Majority of the youth were categorized late adolescence, low level of education, their parents were owner of their own farmland, low level in farmland mastery, low level in cosmopolite, low frequency from parents on telling about agriculture, average level on youth involvement in helping parents in farming activities, low frequency on mass media exposure, less than 20 minutes in every opportunity of watching television and also listening radio, low interaction with peers on agricultural sector, and good perception toward rural condition 3). There were several variables correlated to youth attitude towards agricultural livelihood i.e. age, gender, youth involvement in helping parents in farming activities, intensity on watching television, closeness with peers, and perception towards further condition of agricultural development. Keywords: Youth, Attitude, Agricultural Livelihood, Parents, Peers, Mass Media RINGKASAN YOGAPRASTA ADINUGRAHA. Hubungan Orang Tua, Media Massa, dan Teman dengan Sikap Pemuda Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian: Kasus Pemuda Tani di Desa Sukatani dan Desa Cipendawa, Kabupaten Cianjur. Dibimbing Oleh Sarwititi S. Agung dan Djoko Susanto. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian hortikultura, (2) Mengindentifikasi karakteristik individu pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio,) dan interaksi dengan teman dari bidang pertanian dalam menyosialisasikan pekerjaan di bidang pertanian. (3) Menganalisis hubungan karakteristik pemuda dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura, (4) Menganalisis hubungan Sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman dari bidang pertanian dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian hortikultura, dan (5) Menganalisis hubungan persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Deskriptif – Korelasional, dengan metode pengambilan sampel secara cluster. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukatani dan Desa Cipendawa di Kecamatan Pacet. 65 orang pemuda yang berumur 13 – 24 tahun, belum menikah, dan orang tuanya merupakan petani dijadikan responden dalam penelitian ini. Analisis data menggunakan analisis data, Rank Spearman, dan Koefisien Kontingensi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Sebagian besar pemuda (66,15%) sikapnya setuju untuk bekerja di bidang pertanian., (2) Mayoritas pemuda yang terkategorikan sebagai dewasa awal, merupakan lulusan SD, merupakan pemilik lahan pertanian yang mereka kelola, dengan luas lahan kurang dari 0,25ha, sebagian besar pemuda tani tingkat kekosmopolitannya rendah, frekuensi orang tua bercerita mengenai pertanian tergolong rendah, tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua dalam bidang pertanian terkategorikan sedang, frekuensi menonton acara pertaniannya rendah, intensitas untuk sekali menonton acara pertanian kurang dari 20 menit, frekuensi mendengarkan radio acara pertanian juga rendah, intensitas pemuda mendengarkan radio kurang dari 20 menit, tingkat kedekatan dengan teman dari bidang pertanian terkategorikan rendah. Sebagian besar pemuda menilai bahwa terdapat banyak kesempatan kerja di pedesaan, sumberdaya alam di desa juga memiliki kondisi yang sangat baik, dan melihat di masa depan akan membaik, (3) Pada karakteristik internal pemuda, umur dan jenis kelamin mempunyai hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Semakin dewasa umur seorang pemuda maka sikapnya terhadap pekerjaan di bidang pertanian semakin membaik, (4) Tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua di bidang pertanian, lama menonton acara pertanian, dan tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian berhubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian, (5) Persepsi pemuda terhadap pertanian di masa depan berhubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian © Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2012 Hak cipta dilindungi Undang-Undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penyusunan kritik atau tujuan suatu masalah b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB HUBUNGAN ORANG TUA, MEDIA MASSA, DAN TEMAN DENGAN SIKAP PEMUDA TERHADAP PEKERJAAN DI BIDANG PERTANIAN (Kasus Pemuda di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur) YOGAPRASTA ADI NUGRAHA Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS Judul Tesis Nama Mahasiswa NRP : Hubungan Orang Tua, Media Massa, dan Teman dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian (Kasus Pemuda di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur) : Yogaprasta Adi Nugraha : I352090061 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Sarwititi S. Agung, MS Ketua Prof. (Ris). Dr. Djoko Susanto, SKM. Anggota Diketahui Koordinator Mayor Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr Tanggal Ujian: 27 Desember 2011 Tanggal Lulus : PRAKATA Puji dan Syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Lindungan, dan Kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul ”Hubungan orang tua, media massa, dan teman dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian” disusun sebagai salah satu syarat bagi mahasiswa Sekolah Pascasarjana pada Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (KMP) untuk memperoleh gelar Magister Sains. Penelitian dan Penyusunan tesis ini dapat diselesaikan atas bantuan dari semua pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Komisi Pembimbing yaitu Dr. Ir. Sarwititi S. Agung, M.S (Ketua) dan Prof. (Ris). Dr. Djoko Susanto, SKM (anggota) atas bimbingan, masukan dan sarannya mulai dari penyususan proposal, pelaksanaan penelitian hingga penyusunan tesis ini. 2. Komisi Penguji, Bapak Dr. Ir. Djuara P. Lubis, M.S yang telah memberikan saran dan kritik berkaitan dengan penyempurnaan tesis ini. 3. Seluruh staf pengajar yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis, serta staf administrasi di Mayor Komunikasi Pembangunan Pertanian. 4. Kepala Desa Sukatani dan Desa Cipendawa, Pengelola Gapoktan Multi Tani Jaya Giri Bapak Suhendar, Kang Iliyudin, Kang Didin, Kang Dilla, dan Pak Abdul Sidik (PPL) yang telah memberikan masukan – masukan dan membantu menemani mencari pemuda di Desa Cipendawa dan Sukatani. 5. Orang tua penulis Ibu Ir. Nina Ratna Dewi dan Bapak Ir. Duto Nugroho, M.Si, kakak dan adik Aditya Pandu Nugraha S.P dan Isya Trihusada Nugraha, S.Pd, yang senantiasa memberikan kasih sayang dan dukungan atas pengerjaan tesis ini. 6. Cita Septiviani, S.P sebagai orang yang senantiasa memberikan motivasi dan dukungan dalam pengerjaan tesis ini 7. Teman seperjuangan satu bimbingan (Dini Valdiani, S.Sos, Leonard Dharmawan, S.P, Rofiah. S.Ag, Dwi Retno Hapsari, S.P, dan Rahmah Awaliah S.P) 8. Teman-teman KMP S2 2009 (Mas Sardi, Mba Cindo, Bu Susy, Bu Asma, Mas Sigit, Mas Denta, Mba Imani Satriani) atas diskusinya, dukungan, persahabatan dan persaudaraan serta kebersamaannya. Serta KMP S3 2008, 2009, 2010 (Ibu Retno, Pak Tri, Mba Ilona, Bu Siti, Bu Ernita, Bu Eni Kardi, Pak Iwan, Ibu Rita, Pak Edi, Bu Riko, Mba Dyah, Pak Djoko, Ibu Rita, Mba Serly, Pak Zul) atas diskusinya, dukungan yang telah diberikan. 9. Teman – teman yang sampai saat ini masih memberikan motivasi dan dukungan: Agi Rihardian, Faith Ahmad, S.E., Fani A. Putra, S.Krim., Putra Fajar Pratama, S.P. M.M. 10. Tim Sahabat Peneliti (Ivan Triharto, Imam Heriyo, Sonny, Ucok, dan Reisya Mulyadi). Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan laporan ini. Oleh karena itu dengan segala keterbukaan saran dan kritik tetap diharapkan guna kesempurnaan laporan penelitian ini. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin. Bogor, Januari 2012 Yogaprasta Adi Nugraha RIWAYAT HIDUP Penulis bernama lengkap Yogaprasta Adinugraha. Lahir di Ungaran Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 7 Desember 1985, sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, putra dari Bapak Ir. Duto Nugroho, M.Si., dan Ibu Ir. Nina Ratna Dewi. Penulis menyelesaikan pendidikan di TK Sempur pada tahun 1992, kemudian melanjutkan ke SDN Sempur Kaler dan tamat pada tahun 1998, penulis menamatkan pendidikan di SLTPN 3 Bogor pada tahun 2001 dan untuk jenjang Sekolah Menengah Atas penulis selesaikan di SMUN 2 Bogor pada tahun 2004. Penulis berhasil masuk ke Institut Pertanian Bogor pada tahun 2004 melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB atau yang lebih dikenal dengan sebutan USMI, dan diterima pada pilihan pertama Program Studi Sosial Ekonomi Industri Peternakan, Departemen Sosial Ekonomi Peternakan, Fakultas Peternakan. Selama menduduki bangku kuliah penulis pernah menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Ilmu Penyuluhan selama satu semester, penulis juga aktif mengikuti beberapa kegiatan kepanitiaan dan ikut serta dalam organisasi kemahasiswaan. Penulis pada tahun 2005/2006 sempat menjabat sebagai Kepala Departemen Komunikasi dan Informasi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Peternakan (BEM-D), di tahun yang sama penulis juga menjadi anggota Departemen Informasi dan Komunikasi HIMASEIP, pada tahun berikutnya yaitu pada tahun 2006/2007 penulis menjabat sebagai Kepala Departemen Informasi dan Komunikasi HIMASEIP. Besarnya hobi dalam Olahraga Basket membuat penulis bergabung dengan Tim Basket SEIP dan sempat meraih gelar juara ketiga pada tahun 2004/2005 dan berhasil meraih gelar juara pertama pada tahun 2005/2006. Pada tahun 2008 – 2009 penulis pernah bekerja di Universitas Terbuka Sebagai Associate Researcher Wakil Rektor 4, semenjak tahun 2009 sampai sekarang penulis bekerja sebagai pendiri usaha Sahabat Peneliti. Penulis pada tahun 2009 diterima menjadi mahasiswa pascasarjana Mayor Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ................................................. .......................................... vii DAFTAR GAMBAR ............................................. .......................................... viii \DAFTAR LAMPIRAN................................................................................. ...... ix PENDAHULUAN ............................................................................................ 1 Latar Belakang........................................................................................... Perumusan Masalah........................................................................ Tujuan Penelitian............... ............................................................ Manfaat Penelitian........... ............................................................. 1 6 7 8 TINJAUAN PUSTAKA............. ....................................................................... 9 Sikap.............................................................................................................. Sistem Ekologi Manusia................................................................................ Keluarga....................................................................................................... Sosialisasi............ ..................................................................................... Nilai dan Pandangan terhadap Pertanian .................................................. Sikap terhadap Pekerjaan Pertanian ......................................................... Pemuda......................................................................................................... 9 15 17 18 25 26 28 KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS...... ............................................. Kerangka Berpikir .................................................................................. Hipotesis................ .................................................................................. 33 33 38 METODE PENELITIAN............. .......................................................................... 39 Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................... Desain Penelitian .................................................................................... Populasi dan Sampel ............................................................................... Data dan Instrumentasi ............................................................................ Validitas dan Reliabilitas ......................................................................... Analisis Data .......... ................................................................................. Definisi Operasional ................................................................................ 39 39 40 42 42 45 46 HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................................... 53 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ...................................................... Karakteristik Internal Pemuda ............................................................... Peran Agen Sosialisasi .......................................................................... Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ......................... 53 63 67 75 Hubungan antara Karakteristik Internal pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................ 79 Hubungan antara Umur Pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................ 79 Hubungan antara Tngkat Pendidikan Pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................ 81 Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................ 81 Hubungan antara Status Kepemilikan Lahan Orang tua Pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ............ 83 Hubungan antara Luas Lahan Pertanian dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................ 83 Hubungan antara Tingkat Kekosmopolitan Pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................ 84 Hubungan Sosialisasi oleh Orang Tua, Keterdedahan Media dan Interaksi dengan Teman dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian....................................................................................................... 84 Hubungan Persepsi Pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian .............................................................. 89 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................ 91 Ketertarikan Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Hortikultura .......................................... 93 KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................................... 97 Kesimpulan........... ................................................................................. Saran........................ .............................................................................. 97 97 DAFTAR PUSTAKA................... ..................................................................... . 97 LAMPIRAN....................................................................................................... . 102 DAFTAR TABEL No. Halaman 1. Tahapan dalam rentang kehidupan........................................................... 30 2. Jumlah pemuda dan proporsi pemuda di dunia............................................... 31 3. Batas wilayah Desa Cipendawa dan Desa Sukatani........................................ 53 4. Luas wilayah menurut penggunaan lahan................................................... . 54 5. Kondisi demografi Desa Cipendawa dan Desa Sukatani.............................. . 55 6. Pemilikan lahan pertanian............................................................................ . 57 7. Sebaran umur pemuda.................................................................................. . 63 8. Sebaran tingkat pendidikan pemuda............................................................ . 64 9. Sebaran jenis kelamin pemuda..................................................................... . 64 10. Sebaran status kepemilikan lahan orang tua.......................................... . 65 11. Sebaran luas lahan pertanian sayuran yang di garap orang tua............. . 65 12. Sebaran tingkat kekosmopolitan pemuda.................................................... . 66 13. Frekuensi orang tua membicarakan pertanian............................................ . 67 14. Tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua ...................................................... 68 15. Frekuensi pemuda menonton acara pertanian ............................................. .. 69 16. Intensitas menonton acara pertanian............................................................ . 70 17. Frekuensi mendengarkan acara pertanian di radio.......................................... 70 18. Intensitas mendengarkan acara pertanian………………................................ 71 19. Tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian............................... . 72 20. Persepsi terhadap kesempatan kerja di desa................................................ . 73 21. Persepsi terhadap kondisi sumberdaya alam di desa.................................. . 74 22. Persepsi terhadap pertanian di masa yang akan datang............................... . 75 23. Sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian................................ . 76 24. Sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian (per indikator)....... . 78 25. Hubungan antara karakteristik internal pemuda dengan sikap terhadap pekerjaan di Bidang Pertanian...................................................................... . 79 26. Hubungan antara sosialisasi oleh orang tua, teman, dan keterdedahan terhadap media dengan sikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian........ . 85 27. Hubungan antara persepsi pemuda terhadap faktor pendorong di pedesaan dengan sikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian ................................. ............. 90 28. Faktor agen sosialisasi yang berhubungan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian ...................................................................... 92 DAFTAR GAMBAR No Halaman 1. Model sistem ekologi dalam proses sosialisasi................................... 34 2. Kerangka berpikir hubungan orang tua, media massa, dan teman dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian ..................... 37 Kerangka penarikan sampel ................................................................ 41 3. DAFTAR LAMPIRAN No Halaman 1. Kuesioner Penelitian ................. ... .............................................................. 103 2. Foto – foto .................................. ... .............................................................. 111 3. Hasil olah data SPSS .......................... ........................................................ 113 PENDAHULUAN Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu sektor unggulan yang berkontribusi sebesar 15,3 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2009. Pertimbangan lain yang menguatkan bahwa sektor pertanian menjadi sektor unggulan di Indonesia ketika ekspor produk non-pertanian mengalami penurunan, ekspor produk pertanian justru mengalami peningkatan tajam. Berangkat dari pertimbangan–pertimbangan itulah sektor pertanian patut dipertimbangkan sebagai alternatif andalan pembangunan ekonomi nasional menggantikan sektor industri (high tech industry) yang telah terbukti tidak sesuai untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan (Syam dan Dermoredjo, 2000). Daryanto (2009) juga mengatakan bahwa sektor pertanian telah terbukti memiliki peranan penting bagi pembangunan perekonomian suatu bangsa. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya berperan dalam pembentukan PDB, penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan perolehan devisa. Peranan sektor pertanian juga dapat dilihat secara lebih komprehensif, antara lain: (a) sebagai penyediaan pangan masyarakat sehingga mampu berperan secara strategis dalam penciptaan ketahanan pangan nasional (food security) yang erat kaitannya dengan ketahanan sosial (socio security), stabilitas ekonomi, politik dan ketahanan nasional (nasional security); (b) sektor pertanian menghasilkan bahan baku untuk peningkatan sektor industri dan jasa; (c) sektor pertanian dapat menghasilkan atau menghemat devisa yang berasal dari ekspor atau produk substitusi impor; (d) sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi produk sektor industri; (e) transfer surplus tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi, dan (f) sektor pertanian mampu menyediakan modal bagi pengembangan sektor–sektor lain; (g) peran pertanian dalam penyediaan jasa – jasa lingkungan. Dalam rangka menjadikan dan mendukung sektor pertanian sebagai sektor unggulan yang menjadi dasar pembangunan ekonomi negara Indonesia maka pertanian sangat dipengaruhi oleh 2 (dua) aspek atau faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian, yaitu sumberdaya alam (SDA) dan sumberdaya manusia (SDM) yang menunjang sektor pertanian secara komprehensif dan berkelanjutan. Sumberdaya alam merupakan peubah yang sifatnya naturally given, sementara itu sumberdaya 2 manusia merupakan subyek atau pelaku pertanian bumi ini yang dapat menjalankan kegiatan pertanian atau dengan kata lain manusia merupakan motor dari berhasil atau tidaknya suatu kegiatan pertanian. Sumberdaya manusia diharapkan bisa sebagai fasilitator, motor, motivator dan dinamisator pembangunan pertanian agar terjadi gerakan pembangunan pertanian. Sumberdaya manusia merupakan salah satu faktor penentu dalam program pembangunan dari segala bidang. Kondisi SDM pertanian Indonesia saat ini termasuk rendah, khususnya petani yang antara lain bercirikan tingkat pendidikan yang tergolong relatif rendah. Menurut data BPS 2010 terdapat tenaga kerja petani sebanyak 41,49 juta orang orang atau 40 persen dari jumlah tenaga kerja nasional (Deptan, 2005). Fakta mengkhawatirkan yang tidak bisa dilepaskan juga dari SDM petani di Indonesia adalah sebanyak 35,5 persen tenaga kerja petani memiliki pendidikan tidak tamat SD, sedangkan yang tamat SD sebanyak 46,2 persen, sementara itu untuk petani yang memiliki pendidikan terakhir SLTP terdapat sebesar 12,8 persen dan SLTA sebesar 5,2 persen. Ironisnya orang yang berkerja di bidang pertanian yang berasal dari lulusan perguruan tinggi hanya sebesar 0,3 persen. Kondisi ini diperparah lagi dengan rendahnya minat generasi muda untuk memasuki jalur pendidikan formal di bidang pertanian yang ditandai dengan rendahnya tingkat pendaftaran pada Sekolah Pertanian Tingkat Menengah maupun Tingkat Perguruan Tinggi pertanian (Deptan, 2005). Persoalan ini akan menjadi masalah serius di masa yang akan datang apabila tidak diantisipasi dengan baik oleh pemerintah. Secara tidak langsung jika dilihat dari tingkat pendidikan yang dimiliki petani di Indonesia, menunjukan bahwa banyak petani yang bekerja tidak well-educated sehingga akan berperan terhadap keterbatasan daya pikir, wawasan, dan kreativitas para petani dalam menghadapi persoalan–persoalan di bidang pertanian. Kondisi sebagian besar petani berpendidikan tidak tamat SD dan tamat SD sebanyak 81,7 persen, hal ini menjadi masalah yang patut dicermati secara mendalam dan serius. Masalah tidak selesai pada itu saja, hasil survei Badan Pengembangan SDM Pertanian Kementrian Pertanian dalam Deptan (2005) menunjukkan bahwa 70 persen dari petani di Indonesia telah berumur di atas 50 tahun. Melalui data tersebut dapat dilihat bahwa minat pemuda bekerja di sektor pertanian memiliki tendensi menurun. Rendahnya partisipasi pemuda pada sektor pertanian merupakan permasalahan yang 3 sangat mendasar yang dapat berakibat pada hilangnya generasi (lost of generation) penerus di bidang pertanian pada masa yang akan datang. Banyak pemuda yang berasal dari keluarga petani yang justru tidak bekerja di bidang pertanian, mereka lebih memilih sektor lain selain bidang pertanian (non-pertanian), dan yang lebih ironis banyak pemuda yang berasal dari wilayah sentra pertanian justru memilih keluar bidang pertanian. Terdapat pula citra pertanian yang lebih diidentikkan sebagai pekerjaan kotor dan tidak mendatangkan keuntungan atau benefit secara cepat. Pertanian yang berkualitas, maju dan berkelanjutan tidak dapat dilepaskan sumberdaya manusia yang berkualitas. Peranan agen–agen pembangunan dalam mencitrakan pertanian secara baik kepada pemuda sangat penting dalam rangkat menjaga agar pemuda tetap bertahan di bidang pertanian. Perilaku pemuda pedesaan yang bertahan maupun yang keluar dari bidang pertanian tidak terlepas dari adanya pengaruh dari kebijakan–kebijakan pemerintah yang sifatnya membangun (generating knowledge) dan memberikan harapan yang positif kepada para pemuda. Akan tetapi ketidaktertarikan maupun ketertarikan pemuda untuk bekerja di bidang pertanian tidak semata–mata menjadi tanggung jawab pemerintah, karena pembentukkan perilaku tidak dapat dilepaskan dari pengaruh sistem–sistem terdekat yang berada di sekitar pemuda yang terbentuk melalui suatu proses sosialisasi dari agen–agen terdekat dengan pemuda (mikro level), karena bagaimana pun gencarnya komunikasi yang dilakukan oleh agen– agen pembangunan dalam rangka merubah perilaku pemuda, selama lingkungan sekitar pemuda tidak sejalan maka akan sulit merubah sikap ataupun perilaku pemuda tersebut. Tinggi rendahnya partisipasi pemuda di bidang pertanian diawali dari sikap pemuda terhadap pertanian itu sendiri, sementara itu salah satu faktor yang sangat penting dalam membentuk sikap adalah sosialisasi, seperti yang dikatakan oleh Mar’at (1981) sikap merupakan buah atau hasil dari sosialisasi. Berangkat dari pemahaman yang disebutkan oleh Mar’at (1981), maka sikap pemuda yang berada di wilayah pertanian sebenarnya terbentuk melalui sosialisasi yang berasal dari dalam (mikro) orang tua, teman (peers), dan media massa (mass media). Sosialisasi tersebut dilakukan dalam proses komunikasi yang terjadi sehari–hari yang dijalani oleh pemuda tersebut. Orang tua, teman, dan media massa (radio, televisi) merupakan komponen atau unit terkecil dalam suatu sistem sosial yang berhubungan langsung dengan pembentukkan karakter suatu individu (mikro level) oleh karena itu pengaruh ketiga aspek tersebut 4 sangat berperan penting dalam menentukan kualitas pembentukkan kepribadian pemuda. Sosialisasi oleh orang tua merupakan aspek penting karena setiap anggota keluarga terikat satu sama lain melalui proses komunikasi. Keluarga mengembangkan serangkaian pesan, perilaku dan harapan tertentu melalui proses komunikasi (Suleeman, 1990). Ketika berbicara mengenai keluarga, maka akan berbicara mengenai keluarga sebagai sebuah sistem yang terdiri dari subsistem–subsistem yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Penelitian mengenai pemuda dan pertanian telah dilakukan sebelumnya oleh Lubis dan Sutarto (1991), Pranadji (1999), Rozany (1999), Herlina (2002). Pada penelitian yang dilakukan oleh Pranadji, Rozany, dan Herlina ditemukan fakta bahwa pemuda kurang tertarik untuk bekerja di bidang pertanian dikarena beberapa hal yaitu: pekerjaan di bidang pertanian kurang menjanjikan dari segi ekonomi, kurang”terhormat”, merupakan pekerjaan yang kotor, melelahkan, dan tidak bergengsi. Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Lubis dan Sutarto (1991) menghasilkan temuan yang berbeda dari penelitian–penelitian lainnya, ada konsistensi yang kuat antara pekerjaan utama orang tua dengan pekerjaan anaknya. Berpijak pada beberapa faktor pendorong dan penarik seperti lahan, hubungan sosial, modal, pasar, pola kerja dan aksesibilitas terhadap teknologi, peneliti sampai pada kesimpulan bahwa nilai pertanian masih memiliki daya tarik bagi pemuda. Selain pengaruh sosialisasi dalam keluarga ketertarikan ini mendapatkan dukungan yang kuat dari ketidaksesuaian mental pemuda ketika memasuki dunia kerja di sektor pertanian. Penelitian yang dilakukan oleh Rozany, Pranadji, Lubis dan Sutarto dilakukan di wilayah pertanian tanaman pangan, sementara penelitian Herlina dilakukan di wilayah perkebunan, sementara pada penelitian ini dilakukan di wilayah pertanian hortikultura (sayuran). Pertimbangan pemilihan komoditas hortikultura karena hortikultura memiliki perbedaan dengan komoditas pertanian lainnya seperti tanaman pangan dan tanaman perkebunan. Komoditas hortikultura merupakan komoditas komersial (high value commodity) yang memiliki nilai ekonomi yang cenderung masih tinggi dibandingkan dengan tanaman pangan maupun perkebunan (Saptana et al., 2006), selain hal itu produksi tanaman hortikultura (sayur dan buah-buahan) masih belum mampu memenuhi permintaan masyarakat akan kebutuhan sayuran dan buah–buahan masyarakat. Pertimbangan – pertimbangan tersebut menjadi dasar bahwa minat pemuda di bidang 5 pertanian hortikultura kemungkinan akan berbeda dengan minat pemuda dari bidang pertanian pangan maupun perkebunan. Penelitian yang dilakukan Herlina, Rozany, Pranadji, Lubis dan Sutarto tidak melihat bagaimana ekologi membentuk sikap seorang pemuda, tetapi melihat faktor– faktor yang menyebabkan migrasinya pemuda dari bidang pertanian ke bidang nonpertanian, sementara penelitian mengenai sosialisasi yang dilakukan oleh agen–agen sosialisasi (orang tua, media massa, dan teman) dalam membentuk sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana sosialisasi terkait dengan bidang pertanian dalam keluarga, sosialisasi pertanian dengan sesama teman dan media massa ini dapat memberikan pengaruh terhadap sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Rendahnya partisipasi pemuda di bidang pertanian bisa jadi mungkin karena terdapat rendahnya penerusan nilai-nilai pertanian dari orang tua, teman dan media massa yang semakin tidak mendukung pemuda di wilayah pertanian untuk bekerja di sektor pertanian. Interaksi dengan orang tua, teman dan media massa (konteks mikro) sangat memegang peranan penting dalam mempengaruhi proses sosialisasi nilai–nilai dalam suatu keluarga termasuk dalam menentukan pekerjaan mereka. Tidak dapat dipungkiri pada tataran mikro pergeseran nilai kerja pemuda di pedesaan tidak terlepas dari peranan keluarga dan masyarakat. Budaya pedesaan kerap membuat proses pengambilan keputusan seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik, sosial, dan ekonomi, konteks ini menyoroti otonomi pribadi atau nilai subyektivitas sebagai faktor paling dominan dalam proses pengambilan keputusan seseorang Herlina (2002). Perumusan Masalah Pertanian menjadi salah satu sektor unggulan di Indonesia, tetapi akhir– akhir ini sektor pertanian mengalami berbagai permasalahan. Dewasa ini terdapat indikasi bahwa pertanian sering dianggap sebagai pekerjaan kotor yang tidak menjanjikan (Muksin, 2007), tetapi terdapat pula orang yang beranggapan petani sebagai pekerjaan yang menjanjikan, perbedaan sikap tersebut yang kemudian berdampak kepada cara pandang petani terhadap pertanian itu sediri sehingga ditenggarai mempengaruhi pertisipasi pemuda di bidang pertanian. Menurut data dari Badan Pengembangan SDM Pertanian Deptan dalam Renstra (2005-2009) menunjukkan bahwa 70 persen dari petani di Indonesia telah berumur di atas 50 tahun (Deptan, 2005). 6 Hal tersebut mengindikasikan pertanian di Indonesia mulai ditinggalkan pemuda. Tidak sedikit pemuda yang berasal dari keluarga petani mulai meninggalkan pertanian dan lebih memilih sektor non-pertanian, tetapi bukan berarti tidak ada pemuda yang berasal dari keluarga petani yang terus bekerja di bidang pertanian. Kurangnya minat angkatan kerja muda untuk bekerja dan berusaha di sektor pertanian menjadi salah satu kekhwatiran dalam pembangunan sektor ini. Sebagai negara agraris yang meletakan pembangunan perekonomian pada pertanian, dalam jangka pendek maupun jangka panjang fenomena rendahnya minat pemuda akan membawa konsekuensi tersendiri. Kelangkaan sumberdaya manusia di sektor pertanian atau keterlibatan sebagian besar tenaga kerja pertanian yang setengah terpaksa akibat tidak terbukanya alternatif lain, mengakibatkan proses produksi tidak optimal. Produktivitas tenaga kerja mengalami hal yang sama. Hal ini akan menghambat perkembangan pembangunan itu sendiri, tetapi masih terdapat pula pemuda yang berasal dari keluarga pertanian yang tetap bekerja di bidang pertanian dan tidak memilih bidang di luar sektor pertanian. Artinya terdapat perbedaan sikap pemuda dalam memandang sektor pertanian sebagai pekerjaan masa depan. Pengaruh dari orang tua. teman, dan media massa akan sangat menentukan cara berpikir, bersikap, dan berperilaku seorang. Sikap pemuda terhadap pertanian akan dipengaruhi melalui tiga aspek besar yaitu aspek mikro (orang tua, teman dan media massa), aspek meso (lingkungan sekitar), dan aspek makro (Brofenbrenner dalam Puspitawati 2006). Penelitian ini hanya melihat aspek mikro (orang tua, teman, dan media massa) dalam memberikan pengaruh terhadap sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian . Penelitian mengenai hubungan orang tua, teman, dan media massa terhadap sikap pemuda terhadap pertanian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana orang tua, media massa, dan teman dalam menyosialisasikan pertanian, dan apakah sosialisasi pada tataran keluarga, teman dan media massa secara nyata dapat mempengaruhi sikap pemuda terhadap pertanian. Berangkat dari uraian tersebut maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura? 2. Bagaimanakah karakteristik individu pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman di bidang pertanian? 7 3. Apakah terdapat hubungan karakteristik individu pemuda dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian pertanian hortikultura? 4. Apakah terdapat hubungan sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura? 5. Apakah terdapat hubungan antara persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura? Tujuan Penelitian Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkaji hubungan antara karakteristik pemuda, dan sosialisasi (orang tua, media massa, dan teman) dalam membentuk sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Secara spesifik penelitian ini bertujuan sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian hortikultura. 2. Mengindentifikasi karakteristik individu pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio,) dan interaksi dengan teman di bidang pertanian. 3. Menganalisis hubungan karakteristik individu pemuda dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura. 4. Menganalisis hubungan Sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian hortikultura. 5. Menganalisis hubungan persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura. Manfaat penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada: 1. Pemerintah, dalam rangka meningkatkan minat pemuda diharapkan melalui penelitian ini pemerintah dapat lebih memperhatikan peranan agen sosialisasi 8 primer (orang tua, teman), karena tanpa ada dukungan sosialisasi dari orang tua, teman, maka kebijakan pemerintah tidak akan berpengaruh pada pemuda. 2. Peneliti, dapat memahami secara komprehensif bagaimana proses sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua, teman, dan media massa dalam membentuk sikap pemuda terutama pemuda di bidang pertanian 3. Bidang komunikasi pembangunan, memberikan sumbangan pemikiran bahwa komunikasi pembangunan tidak akan berjalan secara optimal tanpa dibarengi oleh komunikasi pada tataran level mikro. TINJAUAN PUSTAKA Sikap Definisi Sikap Thurstone dalam Walgito (2003), memandang sikap sebagai suatu tindakan afeksi baik yang bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan obyek–obyek psikologis. Afeksi yang positif, yaitu afeksi senang, sedangkan afeksi yang negatif adalah afeksi yang tidak menyenangkan. Menurut Mar’at (1981), sikap merupakan suatu kondisi psikologis yang didasarkan pada konsep evaluasi berkenaan pada obyek tertentu, menggugah motif untuk bertingkah laku. Mara’at (1981) juga menyebutkan bahwa bahwa sikap merupakan produk dari sosialisasi di mana seseorang bereaksi sesuai dengan rangsang yang diterimanya. Jika sikap mengarah pada obyek tertentu berarti penyesuaian diri terhadap obyek tersebut dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kesediaan untuk bereaksi dari orang tersebut kepada obyek. Sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai obyek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk membuat respon atau perilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya (Walgito, 2003). Menurut Rakhmat (2005), ada lima hal yang bisa disimpulkan dari berbagai definisi mengenai sikap. Pertama, sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi obyek, ide, situasi atau nilai. Sikap merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara–cara tertentu menghadapi obyek sikap. Obyek sikap boleh berupa benda, orang, tempat, gagasan, situasi atau kelompok. Jadi pada kenyataannya tidak ada sikap yang berdiri sendiri. Sikap harus diikuti oleh kata “terhadap’’, atau pada obyek sikap. Kedua, sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi. Sikap bukanlah sekedar rekaman masa lalu, tetapi menentukan juga apakah orang harus pro dan kontra terhadap sesuatu, menentukan apa yang disukai, diharapkan dan diinginkan; meyampingkan apa yang tidak diinginkan, apa yang harus dihindari. Ketiga sikap relatif lebih menetap. Berbagai studi menunjukan bahwa sikap politik kelompok cenderung dipertahankan dan jarang mengalami perubahan. Keempat, sikap mengandung aspek evaluatif, artinya 10 mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan. Kelima, sikap timbul dari pengalaman, tidak dibawa sejak lahir, tetapi merupakan hasil belajar. Karena itu sikap dapat diperteguh atau diubah. Struktur Sikap Menurut Walgito (2003), sikap mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu komponen kognitif (komponen perseptual), komponen afektif (Komponen emosional), dan komponen konatif (komponen perilaku). Komponen kognitif merupakan komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal yang berhubungan dengan bagaimana orang berpersepsi terhadap obyek sikap. Komponen afektif yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau rasa tidak senang terhadap obyek sikap. Rasa senang merupakan hal positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif. Komponen konatif merupakan komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap obyek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap obyek sikap. Ciri–Ciri Sikap Menurut Walgito (2003), sikap memiliki ciri–ciri di antaranya adalah sikap tidak dibawa sejak lahir, sikap itu berhubungan dengan obyek sikap, sikap dapat tertuju pada satu obyek saja, tetapi juga dapat tertuju pada sekumpulan obyek–obyek, sikap bisa berlangsung lama atau sebentar, sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi. 1. Sikap tidak dibawa sejak lahir ini berarti manusia pada saat dilahirkan belum membawa sikap–sikap tertentu pada suatu obyek. Karena sikap tidak dibawa sejak individu dilahirkan, ini berarti bahwa sikap itu terbentuk dalam perkembangan individu yang bersangkutan. Oleh karena itu sikap terbentuk dan dibentuk, maka sikap dapat dipelajari, dan karena itu sikap dapat berubah. 2. Sikap itu selalu berhubungan dengan obyek sikap 11 Sikap selalu terbentuk atau dipelajari dalam hubungannya dengan obyek-obyek tertentu, yaitu melalui proses persepsi terhadap obyek tersebut. Hubungan yang positif atau negatif antara individu dengan obyek tertentu, akan menimbulkan sikap tertentu pula dari individu terhadap obyek tertentu. 3. Sikap dapat tertuju pada satu obyek saja, tetapi dapat tertuju pada sekumpulan obyek– obyek Bila seseorang mempunyai sikap negatif pada orang lain maka orang tersebut akan mempunyai kecenderungan untuk menunjukan sikap negatif pula kepada kelompok di mana seseorang tersebut tergabung di dalamnya. Di sini terlihat adanya kecenderungan untuk menggeneralisasikan obyek sikap. 4. Sikap dapat berlangsung lama atau sebentar Kalau sikap telah terbentuk dan telah merupakan nilai dalam kehidupan seseorang, secara relatif sikap itu akan bertahan lama pada diri orang yang bersangkutan.Sikap tersebut akan sulit berubah, dan kalaupun dapat berubah akan memakan waktu yang relatif lama. Tetapi sebaliknya bila sikap belum mendalam ada dalam diri seseorang, maka sikap tersebut secara relatif tidak bertahan lama, dan sikap tersebut akan mudah berubah. 5. Sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi Ini berarti bahwa sikap terhadap sesuatu obyek tertentu akan selalu diikuti oleh perasaan tertentu yang dapat bersifat positif (yang menyenangkan) tetapi juga dapat bersifat negatif (yang tidak menyenangkan) terhadap obyek tersebut. Di samping itu sikap juga mengandung motivasi, ini berarti sikap itu mempunyai daya dorong bagi individu untuk berperilaku secara tertentu terhadap obyek yang dihadapinya. Mar’at (1981) juga telah merumuskan dan merangkum perumusan sikap secara umum maka dapat dikatakan: 1. Attitude are learned, hal ini berarti sikap tidaklah merupakan sistem fisiologis ataupun diturunkan. Tetapi diungkapkan bahwa sikap dipandang sebagai hasil belajar dan diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang berulang – ulang dengan lingkungan. 12 2. Attitudes are referent, Sikap selalu dihubungkan dengan obyek sikap seperti manusia, wawasan, pristiwa, ataupun ide. 3. Attitudes are social learning, yang berarti bahwa sikap diperoleh dalam berinteraksi dengan manusia lain, baik di rumah, sekolah, tempat ibadah, ataupun tempat lainnya melalui nasihat, teladan, atau percakapan 4. Attitudes have readiness to respond, yang berarti adanya kesiapan untuk bertindak dengan cara – cara tertentu terhadap obyek 5. Attitude are affective, yang berarti bahwa perasaan dan afeksi merupakan bagian dari sikap, akan tampak pada pilihan yang bersangkutan, apakah positif, negatif, ataukah ragu – ragu 6. Attitudes are very intensive, yang berarti bahwa tingkat intensitas sikap terhadap suatu obyek bisa kuat ataupun bisa lemah. Pembentukan Sikap Azwar (1995) mengemukakan bahwa sikap merupakan proses evaluatif yang dilakukan individu. Oleh karena itu, mempelajari sikap berarti perlu juga mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi proses evaluatif sebuah sikap, yaitu: 1. Faktor-faktor genetik dan fisiologik: Sebagaimana dikemukakan bahwa sikap dipelajari, namun demikian individu membawa ciri sifat tertentu yang menentukan arah perkembangan sikap ini. Di lain pihak, faktor fisiologik ini memainkan peranan penting dalam pembentukan sikap 2. Pengalaman Personal: Faktor lain yang sangat menentukan pembentukan sikap adalah pengalaman personal atau orang yang berkaitan dengan sikap tertentu. Pengalaman personal yang langsung dialami memberikan pengaruh yang lebih kuat daripada pengalaman yang tidak langsung. Terdapat dua aspek yang secara khusus memberi sumbangan dalam membentuk sikap, pertama adalah peristiwa yang memberikan kesan kuat pada individu (salient incident), yaitu peristiwa traumatik yang mengubah secara drastis kehidupan individu, misalnya kehilangan anggota tubuh karena kecelakaan. Kedua yaitu munculnya obyek secara berulang-ulang (repeated exposure). 13 3. Pengaruh orang tua: Orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anakanaknya. Sikap orang tua akan dijadikan role model bagi anak-anaknya. Contoh peristiwa yang dapat digunakan untuk menjelaskan hal ini adalah orang tua pemusik, akan cenderung melahirkan anak-anak yang juga senang musik. 4. Kelompok sebaya atau kelompok masyarakat memberi pengaruh kepada individu. Ada kecenderungan bahwa seorang individu berusaha untuk sama dengan teman sekelompoknya (Ajzen menyebutnya dengan normative belief). 5. Media massa adalah media yang hadir di tengah tengah masyarakat. Berbagai riset menunjukkan bahwa foto model yang tampil di media masa membangun sikap masyarakat bahwa tubuh langsing tinggi adalah yang terbaik bagi seorang wanita. Perubahan Sikap Sikap bisa diubah dengan berbagai cara. Seseorang bisa menerima informasi baru dari manusia maupun melalui media massa yang mampu mengubah komponen pengetahuan dari sikap seseorang itu. Semenjak adanya kecenderungan untuk konsisten di antara komponen–komponen sikap, perubahan komponen kognitif akan direfleksikan kepada perubahan komponen afektif dan juga perubahan pada komponen konatif. Sikap juga bisa berubah melalui pengalaman langsung terhadap suatu obyek sikap (Triandis, 1971). Suranto (1999), ada empat faktor yang menentukan sikap yaitu faktor fisiologis, faktor pengalaman, faktor kerangka acuan dan faktor komunikasi sosial. 1. Faktor fisiologis mencakup umur Pada umumnya anak muda memiliki sikap yang lebih radikal, orang dewasa bersikap lebih moderat. 2. Faktor pengalaman turut mempengaruhi sikap seseorang. Mereka yang pernah mengalami peperangan yang mengerikan akan memberikan sikap negatif terhadap peperangan. 3. Faktor kerangka acuan sangat berpengaruh terhadap sikap seseorang. Sesuai tidaknya obyek sikap terhadap kerangka acuan akan berhubungan dengan sikap positif ataupun negatif orang tersebut terhadap suatu obyek. 14 4. Faktor komunikasi sosial yang berbentuk informasi dari seseorang kepada orang lain dapat mengakibatkan perubahan sikap terhadap orang tersebut. Menurut Suranto (1999), perubahan sikap yang mengarah kepada pengambilan keputusan untuk mengadopsi suatu inovasi dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, karakteristik sosial, kebutuhan akan inovasi dan sistem sosial yang berlaku. Dalam kaitan ini yang dimaksud karakteristik pribadi mencakup aspek seperti umur, tingkat pendidikan, dan status seseorang dalam bidangnya. Menurut Mar’at (1981), teori stimulus respon menitikberatkan pada perubahan sikap yang dapat dipengaruhi “kualitas rangsangan yang berkomunikasi dengan organisme”. Karakteristik dari komunikator (sumber) menentukan keberhasilan tentang perubahan sikap seperti kredibilitasnya, kepemimpinannya dan gaya komunikasi. Hosland, Janis dan Kelly dalam Mar’at (1981) beranggapan bahwa proses dari perubahan sikap adalah serupa dengan proses belajar. Dalam mempelajari sikap yang baru, ada tiga peubah penting yang menunjang proses belajar tersebut, yaitu perhatian, pengertian dan penerimaan. Menurut Mar’at (1981), terdapat beberapa faktor yang dapat menunjang dan menghambat perubahan sikap. Faktor-faktor yang menghambat antara lain, stimulus bersifat indeferent sehingga faktor perhatian kurang berperan terhadap stimulus yang diberikan, tidak memberikan harapan untuk masa depan, adanya penolakan terhadap stimulus tersebut, sehingga tidak ada pengertian terhadap stimulus tersebut. Faktor-faktor yang menunjang antara lain, dasar utama terjadinya perubahan sikap adalah adanya imbalan dan hukuman di mana individu mengasosiasikan reaksinya yang disertai dengan imbalan dan hukuman, stimulus mengandung harapan bagi individu sehingga dapat terjadi perubahan sikap, stimulus mengandung prasangka bagi individu yang mengubah sikap semula. Pengukuran Sikap Dalam pengukuran sikap ada beberapa macam cara, yang pada garis besarnya dapat dibedakan secara langsung dan secara tidak langsung. Secara langsung, yaitu subyek dimintai pendapat bagaimana sikapnya terhadap suatu masalah yang dihadapkan kepadanya. Dalam hal ini dapat dibedakan langsung tidak berstruktur dan langsung 15 berstruktur. Secara langsung tidak berstruktur misalnya mengukur sikap dengan wawancara bebas (free Interview), dengan pengamatan langsung atau dengan survey misal public opinion survey, sedangkan cara langsung yang berstruktur, yaitu pengukuran sikap dengan menggunakan pertanyaan–pertanyaan yang telah disusun sedemikian rupa dalam suatu alat yang telah ditentukan, dan langsung diberikan kepada subyek yang diteliti (Walgito, 2003), sedangkan pengukuran sikap dengan secara tidak langsung ialah pengukuran sikap dengan menggunakan tes. Sistem Ekologi Manusia Konsep Ekologi manusia menyangkut saling ketergantungan antara manusia dengan lingkungannya, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya buatan. Pendekatan ekologi atau ekosistem menyangkut hubungan interdependensi antara manusia dan lingkungan di sekitarnya sesuai dengan aturan norma kultural yang dianut. Konsep ekologi manusia juga dikaitkan dengan pembangunan. Keberhasilan pembangunan yang berkelanjutan sangat bergantung pada faktor manusianya, yaitu seluruh penduduk dan sumberdaya alam yang dimiliki serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kaidah ekologi menetapkan adanya ketahanan atau ketegaran (resilience) suatu sistem yang dipengaruhi oleh dukungan yang serasi dari seluruh subsistem (Soerjani dalam Puspitawati 2009). Mengingat manusia adalah mahluk sosial yang menyangkut hubungan antar pribadi dan hubungan antar manusia dengan lingkungannya di sekitarnya, maka manusia tidak dapat berdiri sendiri. Manusia akan sangat bergantung pada lingkungan sekitarnya (baik lingkungan mikro meso, dan makro). Brofenbrenner (1981) dalam Puspitawati (2009) menyajikan model ekologi manusia untuk mengerti proses sosialisasi yang diterima oleh anak. Pada model tersebut dijelaskan bahwa lingkungan Mikrosistem merupakan lingkungan terdekat dengan seorang individu, meliputi keluarga, sekolah, teman sebaya, dan tetangga. Lingkungan yang lebih luas lagi disebut lingkungan mesosistem, dan akhirnya lingkungan yang paling jauh dari individu disebut dengan makrosistem Pemikiran mengenai sistem merupakan satu konsep yang kompleks, terdiri dari berbagai antar hubungan dan dipisahkan dari lingkungan sekitarnya oleh batasan tertentu. Organisme jelas merupakan contoh sebuah sistem, begitu pula molekul, bangunan, planet, 16 dan galaksi. Pemikiran umum sepert ini dapat pula diterapkan pada manusia dengan berbagai tingkat kompleksitasnya. Pada tingkat makro keseluruhan masyarakat dunia (kemanusiaan) yang dapat dibayangkan sebagai sebuah sistem. Pada tingkat mikro, yang dipandang sebagai sebuah sistem, komunitas lokal, asosiasi, perusahaan dan keluarga. Sementara ini teori sistem juga didefinisikan sebagai suatu kerangka yang terdiri dari beberapa elemen/sub elemen/sub sistem yang saling berinteraksi dan berpengaruh. Konsep sistem digunakan untuk menganalisis perilaku dan gejala sosial dengan berbagai sistem yang lebih luas maupun dengan sub sistem yang tercakup di dalamnya. Contohnya adalah interaksi antar keluarga disebut sebagai sistem, anak merupakan subsistem dan masyarakat merupakan supra sistem, selain kaitannya secara vertikal juga dapat dilihat hubungannya secara horizontal suatu sistem dengan berbagai sistem yang sederajat. Dalam pandangan Talcott Parsons dalam Puspitawati (2006), masyarakat dan suatu organisme hidup merupakan sistem yang terbuka yang berinteraksi dan saling mempengaruhi dengan lingkungannya. Sistem kehidupan ini dapat dianalisis melaui dua dimensi yaitu : interaksi antar bagian-bagian/elemen-elemen yang membentuk sistem dan interaksi/pertukaran antar sistem itu dengan lingkungannya. Talcott Parsons membangun suatu teori sistem umum atau teori besar yang berisi empat unsur utama yang tercakup dalam segala sistem kehidupan, yaitu: Adaptation, Goal Attainment, Integration dan Latent Pattern Maintenance. Sistem terdiri dari empat unsur penting yaitu: (1) Obyek, bagian, elemen, atau peubah dalam sebuah sistem, Obyek ini dapat berupa fisik, abstrak ataupun keduanya, tergantung pada sistem yang hendak dikaji; (2) Sebuah sistem terdiri dari Atribut – atribut, Sifat – sifat yang melekat dalam obyek – obyek tersebut: (3) Di dalam sebuah sistem terdapat hubungan antar obyek – obyek tersebut; dan (4) sebuah sistem hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah sistem merupakan suatu rangkaian yang mempengaruhi satu dengan yang lainnya dalam sebuah lingkungan dan membentuk pola yang lebih besar dan berbeda dengan sistem yang lain. Sebuah sistem memiliki karakteristik masing-masing, biasanya karakteristik tersebut adalah interdependensi, korelasi, sebab–akibat, rantai pengaruh, hirarki, hubungan dengan lingkungan sekitar. Pada perspektif sistem, komunikasi dapat dilihat sebagai proses yang terintegrasi di dalamnya dan bukan proses yang terpisah. 17 Keluarga Keluarga adalah wahana untuk dan pertama bagi anggota–anggotanya untuk mengembangkan potensi, mengembangkan aspek sosial dan ekonomi, serta penyemaian cinta-kasih-sayang antar anggota keluarga. Pengertian keluarga menurut sejumlah ahli adalah sebagai unit sosial–ekonomi terkecil dalam masyarakat yang merupakan landasan dasar dari semua institusi masyarakat yang merupakan landasan dasar dari semua institusi masyarakat, merupakan kelompok primer yang terdiri dari dua atau lebih orang yang memiliki jaringan interaksi interpersonal, hubungan darah hubungan perkawinan, adopsi. (Puspitawati, 2006) Menurut Soelaeman dalam Puspitawati (2006) keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi dan saling memperhatikan. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian intensitas komunikasi keluarga adalah tingkatan/ukuran seberapa sering komunikasi/interaksi terjadi di antara orang tua dengan anak dalam rangka memberikan kesan, keinginan, sikap, pendapat, dan pengertian,yang dilandasi rasa kasih sayang, kerja sama, penghargaan, kejujuran, kepercayaan dan keterbukaan di antara mereka. Secara tradisional keluarga diartikan sebagai dua atau lebih orang yang dihubungkan dengan pertalian darah, perkawinan atau adopsi (hukum) yang memiliki tempat tinggal bersama. Galvin dan Brommel dalam Tubbs dan Moss (1996) menyatakan bahwa keluarga adalah jaringan orang–orang yang berbagi kehidupan mereka dalam jangka waktu yang lama, yang terikat oleh perkawinan, darah atau komitmen, legal atau tidak, yang menganggap diri mereka sebagai keluarga dan yang berbagi pengharapan– pengharapan masa depan mengenai hubungan yang berkaitan. Orang tua dan anak adalah jaringan yang terikat oleh hubungan darah. Orang tua mempunyai harapan–harapan tertentu pada anak-anaknya. Mussen et al. dalam Puspitawati (2006) mengemukakan bahwa orang tua mempunyai tujuan khusus dan umum untuk anak–anak mereka yang meliputi nilai moral, pengetahuan dan standar perilaku yang harus dimiliki anak ketika sudah dewasa. Orang tua mencoba berbagai cara untuk mendorong anak mencapai tujuan tersebut. Orang tua menggunakan diri sebagai panutan 18 memberi hukuman, menjelaskan harapan dan kepercayaan kepada anak–anak untuk dapat memiliki lingkungan yang baik. Sosialisasi Menurut Ihromi (1999), sosialisasi merupakan suatu proses transmisi kebudayaan antargenerasi, karena tanpa sosialisasi masyarakat tidak dapat bertahan melebihi satu generasi. Syarat penting berlangsungnya proses sosialisasi adalah interaksi, karena tanpa adanya interaksi tidak mungkin adanya proses sosialisasi. Sementara itu menurut Zende dalam Ihromi (1999), sosialisasi adalah proses interaksi sosial melalui mana seseorang mengenal cara berpikir, berperasaan, dan berperilaku sehingga dapat berperan secara aktif dalam masyarakat. Sementara itu menurut Goslin dalam Ihromi (1999) sosialisasi adalah proses belajar yang dialami seseorang untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai –nilai dan norma–norma. Sosialisasi adalah satu konsep umum yang bisa dimaknai sebagai sebuah proses di mana seseorang belajar melalui interaksi dengan orang lain, tentang cara berpikir, merasakan, dan bertindak, di mana semua itu merupakan hal-hal yang sangat penting dalam menghasilkan partisipasi sosial yang efektif. Sosialisasi merupakan proses yang terus terjadi selama hidup. Individu yang baru dilahirkan hanya sebagai mahluk biologis yang memerlukan kebutuhan biologis seperti minum bila haus, makan bila lapar dan bereaksi terhadap suatu rangsang tertentu seperti panas, dingin, dan lain sebagainya. Setelah berinteraksi dengan individu lain yang berada pada lingkungan sekitarnya. Individu dapat menjadi mahluk sosial dipengaruhi oleh faktor keturunan (heredity) atau alam (nature) dan faktor lingkungan (environment) atau asuhan (nurture). Faktor keturunan adalah faktor–faktor yang di bawa lahir dan merupakan transmisi unsur–unsur dari orang tuanya melalui proses genetika, jadi sudah ada sejak awal kehidupan. Misalnya jenis kelamin, suku bangsa warna kulit, yang kesemuanya tidak bisa diubah lagi. Faktor lingkungan adalah faktor luar yang mempengaruhi organisme, yang membuat kehidupan bertahan. Misalnya pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya yang dapat berubah–ubah dalam kehidupan individu serta tergantung pada usahanya. Kedua faktor ini sama pentingnya dan saling berinteraksi serta melengkapi dalam membentuk perilaku tertentu dari individu. Jadi perilaku tertentu itu tergantung pada faktor keturunan dan pada apa yang disediakan oleh lingkunganna. Perilaku tertentu tidak mungkin terbentuk hanya 19 karena faktor keturunan saja tanpa adanya pengaruh dari lingkungannya ataupun sebaliknya. Hanya saja setiap inidividu berbeda–beda dalam perkembangannya mana yang lebih dominan, apakah faktor keturunannya ataukah pengaruh lingkungannya. Sosialisasi dialami individu sebagai mahluk sosial sepanjang hidupnya dari mulai individu dilahirkan sampai dengan meninggal dunia. Karena interaksi merupakan kunci sukses berlangsungnya sosialisasi maka diperlukan agen sosialisasi yakni orang–orang di sekitar individu tersebut yang mentransmisikan nilai–nilai atau norma tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung. Agen sosialisasi ini bersifat significant others (orang yang paling dekat dengan individu) seperti orang tua, teman sebaya, dan guru (Ihromi, 1999). Ihromi (1999) mengatakan bahwa menurut tahapannya sosialisasi dibedakan menjadi dua tahap, yakni: 1. Sosialisasi primer, sebagai sosialisasi yang pertama dijalani individu semasa kecil, melalui mana ia menjadi anggota masyarakat; dalam tahapan ini proses sosialisasi primer membentuk kepribadian anak ke dalam dunia umum, dan keluarga berperan sebagai agen sosialisasi. 2. Sosialisasi sekunder, didefinisikan sebagai proses yang memperkenalkan individu yang telah disosialisasi ke dalam sektor baru di dunia obyektif masyarakatnya; dalam tahapan ini proses sosialisasi mengarah pada terwujudnya sikap profesionalime pada dunia khusus; dan dalam hal ini yang menjadi agen sosialisasi adalah lembaga pendidikan, peer group, lembaga pekerjaan, dan lingkungan yang lebih luas dari keluarga (Berger dan Luckman dalam Ihromi 1999). Sosialisasi bisa berlangsung secara tatap muka, bisa juga dalam jarak tertentu melalui sarana media atau surat menyurat, bisa berlangsung secara formal maupun infromal, baik sengaja maupun tidak sengaja. Sosialisasi dapat dilakukan demi kepentingan orang yang disosialisasikan ataupun orang yang melakukan sosialisasi. Dalam masyarakat yang homogen proses sosialisasi bisa berjalan dengan serasi menurut pola yang sama karena nilai–nilai yang ditransmisikan dalam proses sosialisasi sama. Namun dalam masyarakat yang heterogen di mana terdapat banyak kelompok dengan nilai yang tidak 20 sepadan dalam mempengaruhi individu, maka proses sosialisasi tidak berlangsung seperti dalam masyarakat yang homogen. Pada masyarakat yang heterogen terdapat banyak agen sosialisasi di luar keluarga yang menanamkan nilai yang berbeda dengan apa yang ada dalam keluarga, bahkan kadang–kadang bertentangan. Dalam situasi demikian seseorang dapat mengalami proses yang disebut desosialisasi yaitu proses ”pencabutan” nilai yang telah tertanam yang kemudian disusul dengan resosialisasi. Sosialisasi dalam Keluarga Individu yang baru dilahirkan sejak awal sudah bukan sekedar makhluk biologis yang hanya membutuhkan makan, minum dan sebagainya, melainkan sekaligus juga makhluk sosial. Sosialisasi akan dialami individu sebagai makhluk sosial sepanjang kehidupannya sejak dilahirkan hingga meninggal. Tempat sosialisasi paling awal bagi individu adalah keluarga. Jadi dapat dikatakan keluarga sebagai sebuah mekanisme sosial agar seseorang individu dapat mengetahui posisi dan kedudukannya sehingga ia akan mendapatkan tempat dalam masyarakat kelak setelah dewasa. Peran sosialisasi yang dialami seorang anak akan menentukan kepribadiannya di masa mendatang karena agen sosialisasi pada masa anak-anak adalah orang tua dan anggota keluarga lainnya yang merupakan significant others bagi anak dan orang tualah yang menjadi role mode bagi anak dalam membentuk perilakunya (Ihromi, 1999) Setiap anggota keluarga akan berinteraksi dan berkomunikasi. Interaksi dan komunikasi di dalam keluarga membutuhkan unsur kedekatan. Hal ini merujuk pada pernyataan bahwa keluarga sebagai sebuah sistem manakala komunikasi dapat berperan untuk mengatur kedekatan dan penyesuaian di antara anggota, melalui pola aliran pesan di dalam jaringan yang melibatkan hubungan saling ketergantungan. Selain itu, faktor kesetaraan dan keterbukaan dalam situasi keluarga memungkinkan bagi orang tua untuk mengembangkan pendekatan dua arah, atau pendekatan yang bersifat dialogis menuju kearah pembelajaran, sehingga kedekatan dan proses adaptasi dalam keluarga dapat dilakukan dengan melibatkan hubungan saling ketergantungan di antara anggota keluarga melalui situasi komunikasi yang bersifat setara dan dialogis, baik langsung atau tidak langsung, keluarga akan memberikan informasi mengenai status dan peran gender sesuai 21 dengan kapasitas pemahamannya, informasi yang diberikan secara terus-menerus akan menjadi proses penanaman nilai-nilai. Tidak dapat dipungkiri, hubungan atau interaksi menjadi kepedulian kebanyakan orang adalah hubungan dalam keluarga: keluarga mewakili suatu konstelasi hubungan yang sangat khusus. Peran komunikasi orang tua sebagai pengasuh dan pendidik utama anak dijelaskan oleh Popov dan Popov dalam Puspitawati (2009), yaitu sebagai pelindung dan penguasa dalam menegakan peraturan; pemandu dan pembina dalam meningkatkan keterampilan dan konselor dalam mengarahkan moral. Pada praktek pengasuhan antara orang tua dan anak yang kemudian dikelompokan menjadi tiga gaya pengasuhan yang meliputi gaya pengasuhan demokratis, permisif, dan otoriter. Fungsi Sosialisasi dalam Keluarga Puspitawati (2006) menjelaskan apabila antara anggota keluarga saling menanggapi pesan dan menerima pesan tersebut maka sebenarnya telah terjadi komunikasi antar pribadi dalam keluarga yang dialogis. Umpan balik dari komunikasi dalam keluarga berfungsi sebagai unsur pemerkaya dan pemerkuat komunikasi antara anggota keluarga sehingga harapan dan keinginan anggota keluarga dapat dicapai. Cangara (2002) menjelaskan fungsi komunikasi dalam keluarga ialah meningkatkan hubungan insani (human relation), menghindari dan mengatasi konflik-konflik pribadi dalam keluarga, mengurangi ketidakpastian sesuatu, serta berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain. Komunikasi dalam keluarga dapat meningkatkan hubungan kemanusiaan di antara pihak-pihak yang berkomunikasi. Dalam hidup berkeluarga dan bermasyarakat seseorang bisa mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam hidupnya karena memiliki banyak sahabat. Melalui komunikasi dalam keluarga, juga dapat dibina hubungan yang baik, sehungga dapat menghindari dan mengatasi terjadinya konflik-konflik di antara anggota keluarga. Komunikasi dalam keluarga merupakan salah satu bentuk komunikasi antar pribadi yang khas. Adapun ciri khas komunikasi antar pribadi yang membedakan dengan komunikasi massa adalah : (1) terjadi secara spontan, (2) tidak mempunyai struktur yang teratur atau diatur, (3 memperoleh) terjadi secara kebetulan, (4) tidak mengejar tujuan yang 22 telah direncanakan terlebih dahulu, (5) dilakukan oleh orang-orang yang identitas keanggotaannya kadang-kadang kurang jelas, (6) bisa terjadi sambil lalu Cangara (2002) mengemukakan adanya komunikasi kelompok kecil sebagai bentuk nyata dari komunikasi dalam keluarga. Proses komunikasi berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka, di mana anggota-anggota keluarga saling berinteraksi satu sama lainnya, Ciri-cirinya yaitu : (a) anggota-anggota keluarga terlibat dalam suatu proses komunikasi yang berlangsung secara tatap muka, (b) pembicaraan berlangsung secara terpotong-potong di mana semua anggota bisa berbicara dalam kedudukan yang sama, dengan kata lain tidak ada pembicaraan tunggal yang mendominasi situasi, (c) sumber dan penerima sulit diidentifikasi, artinya dalam situasi ini semua anggota keluarga bisa berperan sebagai sumber sekaligus sebagai penerima. Karena itu pengaruhnya bisa bermacammacam. Tubbs and Moss (1996) mengemukakan bahwa komunikasi antar pribadi yang terjadi dalam komunikasi keluarga mempunyai enam ciri: (1) dilaksanakan atas dorongan berbagai faktor, (2) mengakibatkan dampak yang disengaja, (3) seringkali berbalas-balasan, (4) mengisyaratkan hubungan antar pribadi paling sedikit pada dua orang, (5) berlangsung dalam suasana bebas, bervariasi dan berpengaruh, (6) menggunakan berbagai simbol yang bermakna. Komunikasi di dalam keluarga memiliki ciri-ciri minimal adanya keterbukaan empati dukungan, perasaan positif, dan kesamaan. Jika ciri-ciri tersebut ada dalam komunikasi keluarga, maka akan terjadi komunikasi yang sehat. Sosialisasi Keluarga Efektif Pada dasarnya sosialisasi merupakan proses interaksi di mana interaksi sangat membutuhkan suatu kegiatan komunikasi, maka komunikasi keluarga efektif tidak bisa lepas dari karakter dan fungsi dari hubungan antara orang tua dengan anaknya. Komunikasi keluarga merupakan unsur yang berperan dalam pembentukan kepribadian anggota keluarga khususnya anak. Kegiatan komunikasi keluarga yang efektif yaitu jelas, singkat, lengkap, mudah dimengerti, tepat dan saling memperhatikan, dapat membentuk gaya hidup dalam keluarga yang sehat. Dampak situasi hubungan yang sehat antara orang tua dengan anak, yaitu komunikasi yang penuh kasih sayang, persahabatan, kerjasama, penghargaan, kejujuran, kepercayaan, dan keterbukaan akan membentuk ketentraman keluarga. Suasana 23 komunikasi yang demikian merupakan suasana yang menggairahkan bagi pertumbuhan anak komunikasi akan efektif karena orang tua dapat membaca dunia anaknya (selera, keinginan, hasrat, pikiran, dan kebutuhan). Ritual sebagai Suatu Proses Sosialisasi dalam Keluarga Para peneliti menggunakan istilah ritual dalam definisi yang berbeda–beda. Beberapa ahli komunikasi berargumentasi bahwa semua bentuk komunikasi adalah ritual. Menurut pandangan ini, komunikasi sebagai ritual mampu menyediakan alternatif dasar pemikiran (rational) bahwa selain komunikasi sebagai transmisi, komunikasi juga bisa sebagai ritual. Komunikasi sebagai suatu transmisi menekankan dan bertujuan pada proses transmisi untuk menghasilkan dampak yang diinginkan, pemahaman, dan perubahan sikap. Sementara ini komunikasi sebagai ritual menekankan komunikasi sebagai suatu perbuatan yang dilakukan bersama–sama, menghargai ”kemagisan (magical), keaslian realitas, keefektivan suatu simbol. Dari dasar pemikiran tersebut maka peneliti yang meneliti mengenai komunikasi keluarga akan mempelajari ritual secara bersamaan. Menurut Wolin dan Bennet dalam Turner dan West (2006), terdapat 3 (tiga) bentuk ritual yang sangat mempengaruhi peneliti, yaitu: Selebrasi, Tradisi, dan Interaksi yang terpola. Selebrasi merupakan ritual yang dilakukan secara luas diseluruh budaya, contohnya liburan Thanksgiving, Hari kemerdekaan, upacara seremonial seperti pernikahan, dan pemakaman. Meskipun acara–acara tersebut merupakan suatu acara yang dilakukan oleh seluruh orang, tetapi setiap keluarga memiliki cara–cara unik dalam menyelenggarakan acara tersebut. Tradisi merupakan ritual yang lebih aneh lagi untuk setiap keluarganya dan tidak dilakukan oleh masyarakat luas, artinya hanya spesifik dalam suatu keluarga, contoh dari tradisi adalah liburan keluarga, reuni (arisan) keluarga, ulang tahun. Sementara itu interaksi keluarga yang terpolakan (patterned family interaction) merupakan ritual yang biasa yang tidak direncanakan, dan paling sering dilakukan oleh keluarga, contohnya seperti makan malam, dongeng tengah malam, dan biasanya interaksi keluarga yang terpola merupakan aktivitas yang dilakukan bersama–sama yang membangun dan menjaga identitas suatu keluarga. Turner dan West (2006) mengatakan interaksi keluarga yang terpola sering sulit dibedakan dengan kegiatan rutin dalam keluarga karena kedua hal tersebut merupakan 24 kegiatan–kegiatan yang biasa dilakukan dalam keluarga, tetapi perbedaannya adalah dalam interaksi keluarga yang terpola terdapat makna–makna simbolik dimana terdapat suatu kegiatan penghormatan akan sesuatu yang sedang dipertaruhkan. Sosialisasi oleh Kelompok Bermain atau Teman Sejawat (Peers) Narwoko dan Suyanto (2004) mengatakan bahwa Kelompok bermain baik yang berasal dari kerabat, tetangga, maupun teman sekolah merupakan agen sosialisasi yang pengaruhnya besar dalam membentuk pola–pola perilaku seseorang. Di dalam kelompok bermain, seseorang mempelajari kemampuan baru yang acap kali berbeda dengan apa yang dipelajari dari keluarga. Di dalam kelompok bermain individu mempelajari norma nilai, kultur, peran, dan semua persyaratan yang dibutuhkan individu untuk memungkinkan partisipasinya yang efektif di dalam kelompok permainannya. Narwoko dan Suyanto (2004) mengatakan kelompok bermain ikut menentukan dalam pembentukan sikap untuk berperilaku yang sesuai dengan kelompoknya. Berbeda dengan pola sosialisasi dalam keluarga yang umumnya bersifat otoriter karena melibatkan hubungan tidak sederajat, di dalam kelompok bermain pola sosialisasinya bersifat ekuilitas karena kedudukan pelakunya relatif sederajat. Menurut Tjakrawati (1988) keberhasilan teman/kerabat dan pengalaman baik dalam suatu bidang pekerjaan menyebabkan petani mencoba dan menekuni pekerjaan itu, sebaliknya bila melihat kegagalan teman/kerabat dan pengalaman pahitnya petani memilih bertani, karena bertani merupakan pekerjaan yang sedikit mengandung resiko. Selain faktor ajakan teman/kerabat dan pengalamannya sendiri, faktor usia juga mempengaruhi petani memilih pekerjaannya. Teman maupun kerabat dapat memberi inspirasi dalam melihat alternatif usaha yang dapat dilakukan, terlebih selama kebutuhan hidupnya sehari – hari belum terpenuhi sehingga membuatnya berikhtiar terus mencari peluang–peluang usaha di non-pertanian. Menurut Jaccard et al., (2005) Pemuda lebih terpengaruh oleh teman sepermainan mereka, pemikiran tersebut muncul karena terinspirasi oleh pengaruh sosial (social influence) dari beberapa ahli. Terdapat 2 (dua) peubah besar yang dapat menggambarkan besarnya pengaruh teman sepermainan terhadap seorang remaja, peubah pertama adalah peubah yang berhubungan dengan kedekatan (closeness) hubungan dengan 25 teman, yang kedua adalah besarnya lingkungan sosial (Social Network). Pada dasarnya seorang teman dapat memberikan pengaruh yang kuat pada individu jika beberapa hal terpenuhi, yaitu: (1) waktu yang dihabiskan bersama–sama dengan teman (2) memiliki hubungan pertemanan yang saling menguntungkan (3) memiliki kesamaan dalam kegiatan yang berresiko sebelumnya (4) jaringan pertemanan yang kecil dan (e) hubungan yang tidak baik dengan keluarga. Sosialisasi oleh Media Massa Sementara itu masyarakat modern, komunikasi merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting terutama untuk menerima dan menyampaikan informasi dari satu pihak ke pihak lain. Akibat pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam waktu yang sangat singkat, informasi-informasi tentang peristiwa–peristiwa, pesan singkat, berita, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya.akan mudah diterima oleh masyarakat sehingga media massa mempunyai peranan penting dalam proses mentransformasikan nilai–nilai baru kepada masyarakat (Narwoko dan Suyanto, 2004). Media massa merupakan media sosialisasi yang kuat dalam membentuk keyakinan–keyakinan baru atau mempertahankan keyakinan baru yang ada. Bahkan proses sosialisasi melalui media massa ruang lingkupnya lebih luas dari pada media sosialisasi lainnya. Nilai Pekerjaan dan Pandangan terhadap Kerja Pertanian. Petani mengartikan kerja sebagai kegiatan yang mengandung unsur kewajiban, keharusan dan mengikat manusia untuk melakukannya dan yang dapat memberi penghasilan uang. Pengertian Kerja menurut Tjakrawati (1988) adalah jerih payah yang dilakukan seseorang, pengerah tenaga untuk sesuatu tujuan yang terletak di luar tenaga kerja itu sendiri dan bersifat ekonomis. Menurut Vink dalam Tjakrawati (1988), tidak semua kerja di bidang pertanian di Indonesia dapat dianggap ekonomis karena masih banyak hal yang ditentukan oleh tradisi keagamaan dan bukan pertimbangan ekonomis, walaupun kerja di pertanian harus lebih mengarah ke sasarannya dengan meningkatkan jerih payah mendapatkan nafkah. 26 Kerja diartikan sebagai bagian yang lebih khusus dari tindakan. Sajogyo (1987) menyebutkan bahwa ciri–ciri orang bekerja yaitu: (1) kegiatan yang menghasilkan energi, (2) kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa, (3) kegiatan yang mencerminkan interaksi sosial, (4) kegiatan yang memberikan status sosial pada pekerjaan,dan (5) kegiatan yang menghasilkan hasil langsung berupa uang, natura, maupun bentuk curahan waktu. Menurut Herlina (2002) nilai kerja merupakan persepsi dan penghargaan terhadap suatu aktivitas yang menghasilkan sesuatu bentuk materi maupun non-materi yang memberikan kepuasan bagi seseorang. Sementara itu, nilai merupakan pilihan moral yang berkaitan dengan apa yang dianggap baik dan buruk-pantas atau tidak dan dijadikan pedoman bertingkah laku. Dengan demikian nilai kerja merupakan persepsi dan penghargaan terhadap aktivitas yang menghasilkan sesuatu bentuk materi maupun non materi yang memberi kepuasan bagi keluarga buruh karena tujuan tercapai. Sikap terhadap Pekerjaan Pertanian Terjadinya perubahan sikap terhadap suatu pekerjaan menurut Parker dari penelitian Rosenberg et al. dalam Tjakrawati (1988) dapat dilihat dari aspirasi, harapan, dan pilihan terhadap responden. Hasil penelitian mereka menunjukan bahwa alasan seseorang melakukan perubahan pekerjaan adalah keinginan mendapatkan pekerjaan yang sifatnya mengandung tantangan, keinginan mendapatkan pekerjaan yang sifatnya mengandung tantangan, keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang memberi kesempatan untuk mengembangkan hubungan yang baik dengan masyarakat, dan yang lainnya. Sementara itu dalam penelitian Tjakrawati (1988) ditemukan bahwa perubahan persepsi pekerjaan pertanian pada pemuda tani akan sangat dipengaruhi oleh proses sosialisasi dalam keluarga dan pengaruh dari luar, yakni kaitan desa dan kota, kaitan pertanian dan non–pertanian. Koentjaraningrat sebagaimana dikutip oleh Tjakrawati (1988) mengemukakan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia adalah petani sejak berabad–abad lamanya. Dengan demikian cara berpikir paling asli adalah cara berpikir rakyat petani. Selanjutnya dikatakan bahwa sistem nilai budaya petani merupakan suatu konsep yang ada bukan saja petani di pedesaan, tetapi juga pada masyarakat di kota. 27 Tjakrawati (1988) mengemukakan bahwa pandangan seseorang terhadap pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor non pertanian disebabkan oleh faktor–faktor pendorong dan faktor penarik. Daya dorong (push-out) dan daya tarik (pull-out) merupakan konsep erat dengan perpindahan penduduk dari desa ke kota. Menurut Suryana dalam Tjakrawati (1988) mengemukakan bila tanpa memperhatikan perpindahan geografi, push-out dan pullout terjadi sehubungan dengan jenis pekerjaan atau disebut juga mobilitas pekerjaan yang diartikan sebagai perpindahan kerja penduduk dari suatu sektor perekonomian ke sektor lain, misalnya dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian. Hal ini disebabkan oleh dua hal, pertama bidang pertanian mendorong keluarnya angkatan kerja akibatnya pertambahan penduduk yang besar tiap tahunnya. Kedua, ada daya tarik bidang non-pertanian yaitu penciptaan lapangan pekerjaan di bidang non-pertanian. Konsepsi Daya Dorong dan Daya Tarik: Pertanian dan Non Pertanian Daya dorong (push--out) dan daya tarik (pull-out) merupakan konsep yang berhubungan dengan migrasi dari desa – kota. Bila tanpa melihat atau memperhatikan perpindahan geografi, maka push-out dan pull-out terjadi sehubungan dengan jenis pekerjaan, disebut juga mobilitas pekerjaan yang diartikan sebagai perpindahan kerja penduduk dari suatu sektor perekonomian ke sektor lainnya, misalnya dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian (Suryana dalam Tjakrawati, 1988). Hal Ini disebabkan dua faktor, pertama bidang pertanian mendorong keluarnya angkatan kerja akibat pertambahan penduduk yang besar tiap tahunnya. Kedua, ada daya tarik bidang non-pertanian yaitu penciptaan lapangan kerja di bidang non–pertanian yang lebih baik dari pada sektor pertanian. Lee dalam Tjakrawati (1988) mengemukakan model migrasi dengan memperhatikan faktor–faktor di daerah asal dan daerah tujuan melalui rintangan. Faktor – faktor di daerah tujuan melalui rintangan. Faktor–faktor di daerah asal maupun di daerah tujuan terdiri dari faktor positif, negatif dan netral. Lalu di antara keduanya terdapat sejumlah rintangan yang berupa jarak, ongkos dan lain–lain, sehingga dalam bermigrasi tergantung pada pertimbangan: a) faktor-faktor daerah asal, b) faktor–faktor daerah tujuan, c) rintangan–rintangan dan d) faktor-faktor pribadi yaitu tanggapan orang terhadap faktorfaktor itu, kepekaan pribadi, kecedasan, kesadaran tentang kondisi lain tempat yang 28 mempengaruhi evaluasinya terhadap tempat asal. Pengaruh terakhir adalah hubungan seseorang itu dengan berbagai jenis sumber informasi yang tidak tersedia secara umum. Todaro dalam Tjakrawati (1988) menyajikan suatu hipotesis yang mengatakan bahwa migrasi desa–kota ditentukan oleh perbedaan tingkat pendapatan antara sektor pertanian dan sektor non pertanian di perkotaan yang memperoleh imbalan gaji yang lebih baik. Asumsi yang digunakan yaitu: calon migran akan pergi ke kota atas dasar harapan memaksimalkan pendapatan sehingga besarnya perbedaan upah untuk skill yang kurang lebih sama merupakan faktor terpenting dalam mengambil keputusan untuk bekerja di kota. Perbedaan upah ini timbul karena rendahnya pendapatan dari kegiatan pertanian di desa dan sementara itu tingkat upah lebih besar bagi pekerja tak terdidik di kota. Migran datang ke kota dengan harapan suatu ketika akan mendapatkan pekerjaan walaupun ia mengalami masa pengangguran. Dengan demikian terdapat dua hal yang menjadi pertimbangan orang lebih bekerja di sektor non pertanian yaitu: a) perbedaan riil pendapatan antara kota dan desa dan b) besarnya kesempatan kerja di kota berdasarkan persepsi tenaga kerja (Singarimbun dalam Tjakrawati, 1988). Pemuda Perserikatan Bangsa – Bangsa (www.un.org/youth) mendefiniskan pemuda sebagai seseorang yang berumur antara 14–24 tahun. Definisi ini dibuat pada saat persiapan untuk persiapan hari internasional pemuda, selain itu PBB juga mendefinisikan anak–anak sebagai seseorang yang masih berada pada umur di bawah 13 tahun. Menurut Undang–Undang Kepemudaan No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, Pemuda didefinisikan warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun. Kepemudaan adalah berbagai hal yang berkaitan dengan potensi, tanggung jawab, hak, karakter, kapasitas, aktualisasi diri, dan cita-cita pemuda. Berbagai definisi muncul untuk kata pemuda, Baik ditinjau dari fisik maupun psikis akan siapa yang pantas disebut pemuda serta pertanyaan apakah pemuda itu identik dengan semangat atau usia. Terlebih kaitannya dengan makna hari Sumpah Pemuda. Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam kamus Websters sebagai “the time of life 29 between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person”, sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 20–24 tahun sebagai young people, sedangkan remaja atau adolescence dalam golongan usia 10-19 tahun. Contoh lain di Canada di mana negara tersebut menerapkan bahwa “after age 24, youth are no longer eligible for adolescent social services”. Di kebanyakan negara usia 18 dikategorikan seseorang tersebut telah dapat dikatakan pemuda. Bagaimana pun definisi operasional dari pemuda sangat beragam pada setiap negara, semua itu bergantung kepada keadaan sosiokulturalnya, kelembagaan, ekonomi dan faktor ekonomi. Tahapan Perkembangan Pemuda Menurut Cobb (2010) pemuda sendiri dapat didefinisikan melalui terminologi biologis, terminologi psikologis dan terminologi sosiologis. Secara biologis pemuda didefinisikan sebagai suatu masa pubertas yang membentuk tubuh anak menjadi lebih matang dan dewasa baik secara seksual maupun secara fisikal. Sementara itu secara psikologis definisi pemuda membedakan pemuda dalam hal perkembangan tugas yang harus mereka kerjakan, di mana setiap perkembangan tersebut berkaitan dengan proses pembentukan identitas diri. Definisi sosiologis menjelaskan pemuda kaitannya dengan status mereka dalam masyarakat sebagai sebuah periode transisi status antara masa anak dan masa dewasa. Menurut Hurlock dalam Muksin (2007), perkembangan berarti perubahan pada remaja secara kualitatif. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar penambahan pada tinggi badan seseorang atau kemampuan seseorang, melainkan proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks. Setiap orang dalam rentang hidupnya memiliki tahapan pertumbuhan dan perkembangan. Menurut Havigurst dalam Muksin (2007) dalam rentang perkembangan hidup ini maka terdapat periode kritis atau periode sensitif di mana seseorang memiliki proses pembelajaran yang cepat dari berbagai pengalaman. Secara keseluruhan menurut Hurlock dalam Muksin (2007) rentang perkembangan hidup ini dapat dibagi ke dalam sepuluh tahapan sebagaimana ditunjukan Tabel 1 berikut: Terdapat ciri– ciri khusus pada tahapan fase pemuda, di mana Cobb (2010) mengatakan bahwa hubungan 30 di dalam keluarga mengalami perubahan saat anak berubah menjadi seorang remaja. Semakin bertambahnya usia, seorang remaja akan berkurang waktunya bersama keluarga, hal tersebut dikarenakan para remaja sibuk dengan aktivitas–akti\vitas di luar rumah. No Tabel 1. Tahapan dalam rentang kehidupan Tahapan Perkembangan Keterangan Usia 1 Periode Pranatal 2 Neonatus Kelahiran sampai akhir minggu ke – 2 3 Masa bayi Akhir minggu ke -2 sampai akhir 2 tahun 4 Awal masa kanak – kanak 2 tahun–6 tahun 5 Akhir masa kanak – kanak 6 tahun–10 tahun 6 Masa pramasa remaja 10–12 tahun 7 Masa remaja awal 13–15 tahun 8 Masa remaja pertengahan 15–17 tahun 9 Masa remaja akhir 17–21 tahun 10 Awal masa dewasa 21–40 tahun 11 Usia pertengahan 40–60 tahun 12 Masa tua dan lanjut usia Saat konsepsi sampai lahir 60 tahun–Tutup Usia Sumber Havigurst dalam Muksin (2007) Jumlah Pemuda Dalam pengkategorian “pemuda” sangat penting untuk membedakan remaja (13-19 tahun) dan pemuda dewasa (20-24), karena mereka akan berbeda secara kondisi sosiologis, psikologis dan kesehatan. Dewasa ini setidaknya terdapat 1 miliar pemuda. Hal ini berarti terdapat 1 orang pemuda (15-24 tahun) di antara 5 orang, atau dengan bahasa lain 18% populasi dari populasi dunia adalah pemuda. Seperti yang bisa dilihat pada Tabel 2 meskipun secara jumlah populasi pemuda mengalami kenaikan dari tahun 1985 sampai pada tahun 2025, tetapi proporsi atau persentase dari total populasi penduduk dunia, pemuda mengalami penurunan. 31 Undang Undang No. 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan membawa konsekuensi pada perubahan jumlah pemuda. Dalam UU Kepemudaan, kategori umur pemuda berubah menjadi 16–30 tahun, sebelumnya kategori pemuda dari umur 15–35 tahun. Berdasarkan data Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2005–2025 yang dilakukan oleh BPS, jumlah pemuda mengalami pasang surut. Pada tahun 2009, jumlah pemuda sebanyak 62,77 juta jiwa. Angka tersebut terus mengalami kenaikan sampai dengan tahun 2011 menjadi 62,92 juta jiwa. Namun sejak tahun 2012 jumlah pemuda mengalami kenaikan dan penurunan hingga pada tahun 2015 diprediksikan jumlah pemuda menjadi 62,24 juta jiwa, atau turun 535,6 ribu jiwa dari tahun 2009. Tabel 2. Jumlah pemuda dan proporsi pemuda di dunia Tahun Jumlah Persentase dari Total Populasi Pemuda 1985 941 Juta 19.4% 1995 1.019 Miliar 18.0% 2025 1.222 Miliar 15.4% Sumber: www.un.org/youth Masa remaja atau pemuda merupakan tingkatan (stages) bagi seorang sebelum memasuki usia atau masa dewasa, di dalam masa remaja atau pemuda itu sendiri terdapat tingkatan – tingkatan. Periode transisi ini berada pada usia seseorang antara 11 sampai 21 tahun yang berada pada perkembangan spesifik yang merujuk pada awal pemuda (early adolescent) kira – kira berusia antara 11–14 tahun, pemuda menengah (mid adolescent) kira – kira berumur 15–17 tahun, dan masa pemuda akhir (late adolescent) kira–kira berumur 18–21 tahun. Manurut Cobb (2010) pemuda awal ditunjukan oleh permulaan munculnya pubertasi dan juga perubahan badan seorang anak mejadi seorang yang dewasa. Sementara itu pada pemuda akhir, fokus seorang pemuda mulai bergeser, lebih fokus untuk menemukan jati diri dan mencari kesamaan dan keintiman dari sebuah hubungan. Pemuda dan Pertanian Generasi muda merupakan sumber insani bagi pembangunan masa depan, maka posisi dan peranan generasi muda menempati kedudukan sangat strategis dalam mengemban tugas masa depan. Dengan demikian hubungan antara pemuda tani dengan pembangunan pertanian tidaklah dapat dipisahkan karena pemuda tani hari ini akan 32 menjadi petani di masa yang akan datang. Pertanian maju, modern dan tangguh akan dicapai apabila petani sebagai pelaksana utama pembangunan pertanian juga tangguh dan mandiri. Karena itu, ketangguhan dan kemandirian petani merupakan salah satu prasyarat yang akan menentukan keberhasilan pembangunan pertanian. Ketangguhan dan kemandirian pemuda tani tergantung pada profesionalisme dan kesiapan aparat pembina dalam mempersiapkan pemuda tani agar mereka tidak hanya memiliki bekal kemampuan, tetapi juga memiliki kepekaan dan wawasan terhadap corak dan bentuk kehidupan masa depan. Dalam Pedoman Pembinaan Pemuda Tani yang dikeluarkan oleh Badan Diklat Pertanian tahun 1992, pemuda tani digolongkan dalam 3 (tiga) kategori, yaitu: a.Tarunatani adalah generasi muda yang berusia 10-25 tahun, membantu kegiatan usahatani keluarga, hidupnya tergantung pada penghasilan keluarga dan belum menentukan bidang pertanian sebagai mata pencaharian, b.Petani muda adalah generasi muda yang berusia 17-35 tahun berusaha sendiri, telah menentukan bidang pertanian sebagai sumber mata pencaharian dan hidupnya tidak tergantung pada penghasilan keluarga. c.Taruna bumi adalah generasi muda yang berusia 10-25 tahun anggota pramuka yang mencintai pertanian dan berminat bekerja di bidang pertanian. Jika petani mempunyai organisasi yang kuat akan memudahkan bagi pemerintah untuk memberdayakannya. Sebab, tidak mungkin bagi pemerintah untuk berhadapan dengan petani satu per satu. Jadi pemerintah berhadapan dengan kelompok tani, gabungan kelompok tani, organisasi tani dan lain-lain. Pemerintah berharap supaya organisasi petani ini tumbuh dan berkembang. Tanpa organisasi petani, pemerintah sangat berat untuk memberdayakan petani. Sebaliknya kalau petani sudah diberdayakan, mereka menjadi “agent of change” di masyarakat 33 KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS Kerangka Berpikir Pendekatan teoritis yang menjadi dasar penelitian mengenai pengaruh keluarga, teman, dan media terhadap sikap pemuda ini adalah perspektif sistem yang dilandasi oleh pemikiran bahwa keluarga, teman dan televisi merupakan sistem mikro dalam mempengaruhi perkembangan pribadi individu. Orang tua, teman, dan media massa memegang peranan penting sebagai agen sosialisasi (Puspitawati 2006), di mana pemuda merupakan individu yang berada dalam mikrosistem sehingga pemuda tidak akan terlepas dari pengaruh pada orang tua, teman, dan media massa (televisi dan radio) yang mempengaruhi individu (mikro level). Kalish dan Collier; Eshleman dalam Puspitawati 2006 berpendapat bahwa interaksi dalam keluarga adalah bagian dari proses sosialisasi anak yang dilakukan oleh orangtua. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam proses sosialisasi ini, yaitu: pola perilaku yang disosialisasikan, agen yang berpartisipasi dalam proses sosialisasi (termasuk orangtua, anak, teman, guru, program televisi), dan teknik serta pelaksanaan dari proses sosialisasi. Konsepsi tersebut menggambarkan bahwa agen sosialisasi yang terdapat pada lingkungan mikro adalah orang tua, anak, teman, guru, dan program televisi. Pada penelitian ini pihak yang ditenggarai berhubungan dengan sikap pemuda adalah keluarga, teman, dan media massa. Sekolah tidak dimasukan karena pemuda dalam penelitian kali ini karena agen – agen sosialisasi yang yang terdapat pada penelitian ini membicarakan informasi pertanian sementara sekolah yang terdapat di wilayah tersebut tidak menginformasikan penelitian karena hanya sekolah yang bersifat umum sehingga dalam penelitian ini pihak yang dinilai berkontribusi kepada sikap pemuda terhadap pertanian adalah orang tua, teman, dan media massa (televisi, radio). Pemilihan orang tua, teman, dan media televisi sebagai pihak yang dapat mempengaruhi persepsi dan sikap pemuda sejalan dengan Model Sistem Ekologi yang berkaitan dengan pihak–pihak yang mempengaruhi perkembangan individu dari Bronfenbrenner (1981) dalam Puspitawati (2006) Gambar 1. Pada dasarnya Brofenbrenner menyajikan pandangan bahwa individu (Pemuda) berinteraksi langsung dengan subsistem 34 – subsistem yang berada pada lingkungan sekitar mereka, interaksi tersebut dapat mempengaruhi perkembangan seseorang individu baik dari aspek sikap. Pengaruh dari daya tarik dan daya dorong di pedesaan juga menyebabkan banyaknya pemuda yang meninggalkan sektor pertanian ke sektor non-pertanian (Tjakrawati, 1988). Pindahnya pemuda dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian juga diakibatkan oleh kesempatan kerja di desa yang sangat terbatas, kondisi sumberdaya alam yang tidak memungkinkan diperoleh hasil produksi yang tinggi dan juga upah kerja di pedesaan lebih rendah dibandingkan dengan di kota. Sistem Makro Idieologi Sistem Meso T P elayanan etangga Sistem Mikro K eluarga empat S I ekolah ndividu: Usia, Jenis T Kelamin T eman M I edia ndustri P olitisi Gambar 1. Model Sistem Ekologi dalam Proses Sosialisasi (Brofenbrenner dalam Puspitawati 2009) Kerangka berpikir pada penelitian ini merupakan turunan dari Model Sistem Ekologi milik Bronfenbrenner dalam Puspitawati (2006) dengan sedikit modifikasi sehingga menekankan pada peranan orang tua, teman, dan media massa yang terjadi. Pada penelitian ini hanya difokuskan saja pada micro level dikarenakan mikro level merupakan lingkungan terdekat dengan individu. Pada penelitian ini Mikro level yang merupakan 35 “agen sosialisasi primer” yang dimaksud merujuk pada Kalish dan Collier; Eshleman dalam Puspitawati (2006) agen yang berpartisipasi dalam proses sosialisasi adalah Keluarga dalam hal ini adalah orang tua, teman, program televisi. Proses terbentuknya sikap pada pemuda akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik sosial ekonomi di mana individu tersebut berada (Ihromi 1999). Sikap pemuda terhadap pertanian pada penelitian ini merupakan sikap pemuda terhadap sektor pertanian sebagai pekerjaan masa kini dan masa depan sehingga dapat terlihat sejauhmana sikap pemuda dalam melihat apakah pertanian dapat memenuhi kebutuhan manusia. Sikap pemuda terhadap pertanian dilihat sebagai buah dari persepsi pemuda terhadap kesempatan kerja, persepsi terhadap sumberdaya alam di desa dan persepsi terhadap pekerjaan pertanian di masa yang akan datang. Sikap pemuda juga merupakan hasil sosialisasi tentang pertanian yang diterima pemuda dari proses sosialisasi pertanian dari orang tua, teman (peers), maupun media massa. Hubungan antara peubah– peubah yang dibangun dijelaskan melalui kerangka berpikir penelitian pada Gambar 2. 37 KERANGKA BERPIKIR Karakteristik Individu Pemuda X1. Umur X2. Tingkat Pendidikan X3. Jenis Kelamin X4. Status Kepemilikan Lahan orang tua X5. Luas Kepemilikan Lahan orang tua X6. Tingkat Kekosmopolitan Pemuda H1 Agen Sosialisasi H2 Interaksi dengan Orang Tua (X7) X7.1 Frekuensi orang – tua bercerita mengenai pertanian X7.2 Tingkat Pelibatan pemuda dalam kegiatan pertanian oleh orang tua Keterdedahan dalam Menggunakan Media Massa (TV, Radio) (X8) X.8.1 Intensitas menggunakan media massa Pertanian X.8.1.1 Lama Menonton X.8.1.2 Lama Mendengarkan Radio X.8.2. Frekuensi menggunakan media massa Pertanian X.8.2.1 Frekuensi Menonton TV X.8.2.2 Frekuensi Mendengarkan Radio (0,130) Interaksi dengan Teman (X9) X.9.1 Tingkat kedekatan dengan teman di bidang Pertanian Persepsi Pemuda terhadap Kondisi di Pedesaan (X10) X10.1. Persepsi pemuda terhadap Kesempatan Kerja di Pedesaan X10.2Persepsi Pemuda terhadap kondisi sumberdaya alam di pedesaan X10.3 Persepsi pemuda terhadap pertanian di masa depan H3 SIKAP PEMUDA TERHADAP PEKERJAAN DI SEKTOR PERTANIAN (Y1) Y1.1 Kognisi Terhadap Pekerjaan di bidang pertanian Y1.2. Afeksi Terhadap pekerjaan di bidang pertanian: Y.1.3. Kecenderungan Bertindak pemuda di bidang pertanian : H4 H5 Gambar 2. Kerangka berpikir hubungan orang tua, media massa, dan teman dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. 38 Hipotesis Penelitian H1 : Terdapat hubungan nyata antara karakteristik internal pemuda dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian H2 : Terdapat hubungan nyata antara sosialisasi oleh orang tua dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian H3 : Terdapat hubungan nyata antara keterdedahan terhadap media massa dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian H4 : Terdapat hubungan nyata antara interaksi teman pemuda tani dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian H5 : Terdapat hubungan nyata antara persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian 39 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di wilayah pertanian hortikulutra di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur dengan pertimbangan wilayah tersebut merupakan salah satu sentra produksi sayuran di Jawa Barat. Menurut Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Cianjur, Kabupaten Cianjur merupakan salah satu di antara tujuh kabupaten/kota yang merupakan sentra produksi tanaman hortikultura di Jawa Barat. Menurut pihak Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Kecamatan Pacet merupakan kecamatan yang direkomendasikan oleh Dinas Pertanian karena kemudahannya untuk diakses dan menjadi sentra produksi tanaman hortikultura (sayuran wortel) di Kabupaten Cianjur. Pemilihan lokasi dilakukan dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Pacet merupakan sentra produksi tanaman hortikultura yang berada di Kabupaten Cianjur, sehingga dapat diasumsikan bahwa Pacet sebagai sentra produksi tanaman hortikultura memiliki sumberdaya pertanian hortikultura yang berlimpah dan secara pemasaran wilayah tersebut dapat dikatakan baik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari hingga September 2011. Desain Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan desain penelitian survai bersifat deskriptif–korelasional. Penelitian ini berusaha menjelaskan dan menguraikan fenomena yang diamati. Hasil pengamatan diharapkan dapat menggambarkan sikap pemuda tani terhadap pekerjaan di bidang pertanian dan faktor–faktor mempengaruhi sikap pemuda. Desain ini juga dimaksudkan untuk menjelaskan karakteristik pemuda petani di Desa Cipendawa dan Sukatani dan untuk menguji hubungan antara peubah bebas dan peubah terikat melalui instrumen kuesioner. Peubah bebas di sini adalah karakteristik pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa dan interaksi dengan teman dari bidang pertanian, serta persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan. Sementara peubah terikat dalam penelitian ini adalah sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. 40 Populasi dan Sampel Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah pemuda yang berasal dari keluarga petani, belum menikah, yang usianya berada pada rentang 13–24 tahun dan berada pada wilayah tanaman hortikultura di Kecamatan Pacet. Pertimbangan pemilihan tempat tersebut karena (1) merupakan sentra produksi tanaman wortel (2) besarnya jumlah petani pemuda (3) keragaman karakteristik sosial ekonomi masyarakatnya (4) terdapat kelompok tani yang aktif. Kecamatan Pacet terdiri atas 7 desa, terdapat dua desa yang menjadi sentra produksi tanaman hortikultura terbesar yaitu Desa Cipendawa dan Desa Sukatani (Wilayah Agropolitan). Menurut data yang dimiliki oleh Kecamatan Pacet, di Desa Cipendawa terdapat 1.457 Pemuda (15–30 tahun) sementara itu di Desa Sukatani terdapat 1.340 Pemuda (13-30 tahun). Sampel Penelitian Metode penarikan sampel terkategorikan probability random sampling dengan menggunakan cluster sampling dengan pertimbangan kerangka sampling penelitian sulit untuk ditentukan karena tidak dimilikinya data mengenai jumlah pemuda yang terkategorikan usia 13–24 tahun, belum menikah dan orang tuanya merupakan petani. Menggunakan cluster sampling dipilih dua desa secara sengaja yaitu Desa Cipendawa dan Desa Sukatani dengan pertimbangan desa tersebut memiliki produksi tanaman sayur yang besar di Kecamatan Pacet. Desa Cipendawa memiliki 4 Perdukuhan (kampung) yang terdiri dari 14 RW dan Sukatani memiliki 4 perdukuhan yang terdiri dari 8 RW. Dari masing–masing desa tersebut dipilih secara acak satu Perdukuhan, untuk Desa Cipendawa mendapatkan Dukuh Pasir Cina untuk desa Cipendawa dan Pasir Kampung untuk Desa Sukatani dengan masing–masing jumlah pemuda yang berasal dari keluarga petani dan belum menikah dengan usia antara 13–24 tahun adalah untuk Desa Cipendawa 110 orang dan untuk Desa 104 orang. Menurut Neuman (1997), Penentuan jumlah sampel yang representatif untuk populasi kecil yang kurang dari 1000 orang, maka peneliti membutuhkan suatu perbandingan sampel yang besar yaitu sekitar 30 persen dari populasi. Untuk lebih dapat melihat proses penarikan sampel dijelaskan pada kerangka penarikan sampling yang disajikan pada Gambar 3. 41 Kerangka Penarikan Sampel KAB. CIANJUR KEC. PACET 7 DESA Desa Cipendawa Desa Sukatani 4 Dusun 4 Dusun Pasir Cina Pasir Kampung Dipilih secara acak Jumlah Pemuda dari Keluarga Petani 110 orang Dipilih secara acak 30% dari 110 = 34 Orang Jumlah Pemuda dari Keluarga Petani 104 orang 30% dari 104 = 31 Orang TOTAL SAMPEL 65 ORANG Gambar 3. Kerangka penarikan sampel 42 Data dan Instrumentasi Data Data yang digali dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengisian kuesioner oleh responden secara langsung. Data primer pada penelitian ini meliputi data mengenai karakteristik pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa, interaksi dengan teman di bidang pertanian, persepsi terhadap kondisi di pedesaan. Data sekunder diperoleh dari dokumen–dokumen dari instansi seperti Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, BPS, Kecamatan Pacet, dan instansi lain yang terkait dengan penelitian ini, data sekunder dalam penelitian ini meliputi data–data seperti potensi wilayah, kebijakan–kebijakan pertanian terakhir di Kecamatan Pacet. Instrumentasi Instrumen adalah alat bantu yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner yang merupakan susunan pertanyaan/pernyataan yang akan diwawancarai langsung responden. Dasar jawaban responden adalah pertanyaan yang diajukan atau alternatif jawaban yang sudah tersedia dalam kuesioner. Pengembangan pertanyaan pertanyaan dari kuesioner yang telah ada dilakukan untuk melengkapi hasil wawancara. Validitas dan Reliabilitas Instrumentasi Validitas Instrumentasi Ancok dalam Singarimbun dan Effendi (1989) mengemukakan bahwa validitas instrumentasi adalah suatu tingkatan yang menunjukkan pengukuran yang tepat meliputi validitas isi dan validitas konstruk. Validitas isi diupayakan dengan cara mencermati isi instrumen yang mewakili seluruh aspek yang dinyatakan sebagai kerangka konsep. Validitas dalam penelitian ini didapat dengan jalan menyesuaikan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan instrumen berdasarkan indikator-indikator yang dibuat dari teori-teori yang ada dan pendapat dari ahli, termasuk konsultasi dengan dosen pembimbing. Uji validitas dilakukan dengan teknik korelasi product moment Pearson. Untuk beberapa pernyataan yang terkait dengan teknis pertanian 43 diperoleh dari informasi yang diberikan oleh Penyuluh Lapang dan juga Ketua Gapoktan Perhitungan dengan menggunakan teknik korelasi product moment Pearson, menggunakan rumus sebagai berikut (Ancok dalam Singarimbun dan Effendi, 1989). r  [N Keterangan  N (  XY )  (  X X : r X Y XY N 2  ( X ) 2 Y) ][ N  Y  (  Y ) 2 2 ] = Nilai koefisien validitas = Skor pertanyaan pertama = Total Skor = Skor pertanyaan pertama dikalikan skor total = Jumlah responden Uji validitas dilakukan dengan mengorelasikan skor masing–masing butir pertanyaan dengan skor total pada setiap peubah. Berdasarkan hasil uji statistik terhadap instrumen yang digunakan dengan SPSS versi 15, maka dapat disimpulkan secara keseluruhan item pertanyaan yang valid dapat dilihat dari nilai kritis pada tabel product moment pearson. Dari hasil uji validitas yang diujikan pada 15 orang pemuda tani diperoleh nilai kritis dari tabel product moment pearson sebesar 0,553. Dengan nilai kritis tersebut terdapat 24 pertanyaan yang tidak valid dan dibuang, tetapi terdapat juga 26 pertanyaan yang nilai kritisnya tidak terlalu jauh di bawah 0,553 dimodifikasi tata bahasanya agar dapat lebih dipahami secara lebih detail oleh responden. Reliabilitas Instrumen Reliabilitas instrumen adalah indeks yang menunjukan sejauhmana suatu alat pengukuran dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Ancok dalam Singarimbun dan Effendi, 1989). Teknik yang digunakan dalam perhitungan reliabilitas sebagai alat ukur yaitu teknik belah dua atau split half dengan mengorelasikan jawaban belahan pertama (ganjil) dan belahan kedua (genap). rtot  2 rtt  1  rtt 44 Keterangan r.tot = Angka reliabilitas keseluruhan item r.tt = Angka korelasi belahan pertama dan belahan kedua Berdasarkan hasil uji analisis statistik dengan menggunakan SPSS versi 15 terhadap seluruh instrumen yang diuji coba terhadap 15 orang pemuda yang bukan sampel tetapi memiliki karakteristik yang hampir sama dengan responden. Pengujian reliabilitas menggunakan split–half , untuk menentukan apakah setiap instrumen reliabel atau tidak dalat dilihat pada skala 0 – 1 interpretasi reliabilitas instrumen sebagai berikut: 1. Nilai reliabilitas 0,0–0,20 = Kurang reliabel 2. Nilai reliabilitas 0,21–0,40 = Agak reliabel 3. Nilai reliabilitas 0,41–0,60 = Cukup reliabel 4. Nilai reliabilitas 0,61–0,80 = Reliabel 5. Nilai reliabilitas 0,81–1,00 = Sangat Reliabel Dari hasil uji reliabilitas yang diujikan pada 15 orang pemuda tani dengan menggunakan rumus split-half di peroleh kisaran nilai reliabilitas antara 0,540– 0,924. Sehingga dapat dikatakan reliabilitas instrumennya berkisar antara cukup reliabel sampai dengan sangat reliabel. Pengumpulan Data Pengumpulan data peda penelitian ini menggunakan kuesioner, FGD, Indepth interview, dan penelaahan terhadap naskah atau dokumen. 1) Kuesioner dalam penelitian ini ditanyakan terhadap 65 responden untuk mendapatkan data primer mengenai peubah – peubah yang diteliti. 2) FGD dilakukan untuk memperoleh penjelasan dari key informan (3 orang tua dari pemuda yang menjadi responden) data yang diperoleh mengenai pandangan orang tua dalam menyosialisasikan pertanian terhadap pemuda (anak mereka). 3) Wawancara mendalam (indepth interview) dengan 3 orang, Ketua Gapoktan Multi Tani Jaya Giri (serta PPL data yang diperoleh adalah data yang berhubungan dengan pandangan pemuda mengenai pertanian. 4) Penelaahan dokumen dilakukan terhadap potensi Desa Cipendawa dan potensi Desa Sukatani dan Cianjur dalam angka, data – data tersebut berupa data sekunder yang mendukung data primer . 45 Analisis Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diolah dan dianalisis dengan prosedur sebagai berikut: 1. Analisis statistik deskriptif dilakukan terhadap karakteristik pemuda, Interaksi dengan Orang Tua, Keterdedahan terhadap media massa dan Interaksi dengan teman dalam menyosialisasikan pekerjaan di bidang pertanian dan persepsi terhadap kondisi di pedesaan. Sementara perubah terikat dalam penelitian ini adalah sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian. 2. Analisis statistik non-parametrik, yaitu untuk mengetahui nilai hubungan antara karakteristik pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa dan interaksi dengan teman di bidang pertanian di bidang pertanian dan persepsi terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian. Hubungan antar peubah tersebut dianalisis menggunakan program SPSS versi 15 dengan Uji Koefisien Kontingensi dan korelasi Rank Spearman. a. Chi Square dengan rumus sebagai berikut: k n    2 i 1 j 1 ij  ij 2 ij Keterangan : X2 = Koefisien korelasi chi square Oij = Frekuensi yang termasuk pada tiap sel (i,j) Eij = Frekuensi yang diharapkan dalam sel (i,j) k = Jumlah baris n = jumlah kolom Analisis keeratan hubungan pada Uji Chi Square dilakukan dengan menghitung koefisien kontingensinya dengan rumus sebagai berikut : 2 C n  2 Keterangan : C X2 n = Nilai Koefisien Kontingensi = Hasil Chi Square hitung = Banyaknya sampel 46 b. Rank Spearman n rs  6  di 2 i1  n n2 1  Keterangan : rs di n 1 dan 6 = Koefisien Korelasi Rank Spearman = Beda antara dua peubah berpasangan = Jumlah Responden = Bilangan koefisien Definisi Operasional Definisi operasional dan beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : I. Karakteristik Pemuda Pemuda yang dimaksud dalam penelitian ini adalah orang yang berusia antara 13–24 tahun baik perempuan maupun laki–laki dan belum menikah dan berasal dari keluarga petani. Karakteristik pemuda adalah gambaran tentang sifat– sifat atau ciri– ciri pribadi yang dimiliki responden sampel penelitian ini, meliputi ciri–ciri pribadi (internal) sebagai berikut: X.1. Umur pemuda lama hidup pemuda dinyatakan dalam tahun, dihitung dari saat kelahiran sampai penelitian ini dilakukan dibulatkan dalam jumlah tahun terdekat saat ulang tahun bila terdapat selisih bulan (Muksin 2007). Peubah ini diukur dengan skala rasio. a. 13-14 tahun (remaja awal) b. 15–17 tahun (remaja pertengahan) c. 18–21 tahun (remaja akhir) d. 22–24 tahun (dewasa awal) X.2. Jenis Kelamin, adalah kondisi biologis primer pemuda apakah tergolong laki – laki ataupun perempuan yang secara kodrati memiliki fungsi–fungsi organisme yang berbeda (Handayani dan Sugiarti, 2008). Peubah ini diukur melalui skala nominal. a. Perempuan b. Laki - Laki 47 X.3. Tingkat Pendidikan Pemuda adalah pendidikan formal dari mulai jenjang SD sampai dengan jenjang perguruan tinggi yang pernah diikuti oleh pemuda, peubah tingkat pendidikan ini diukur dengan skala ordinal, (Muksin 2007) 1. Lulusan SD 2. Lulusan SLTP 3. Lulusan SLTA 4. Lulusan Perguruan Tinggi X.4. Status Kepemilikan Lahan Orang Tua, kondisi kepemilikan lahan pertanian yang dikelola oleh orang tua, diukur dengan skala ordinal. 1. Menggarap (Miliki orang lain) 2. Milik Sendiri X.5. Luas Lahan Pertanian Orang Tua, Jumlah hamparan tanah (ha) yang diusahakan ataupun yang dimanfaatkan orang tua dalam berusaha tani di mana pemuda tersebut berada dan membantu dalam aktivitas pemanfaatannya (Muksin 2007), diukur dengan skala rasio . 1. <0,25 ha 2. 0,25 – 0,7 ha 3. > 0,7 ha X.6. Tingkat Kekosmopolitan Pemuda, adalah kesediaan seseorang pemuda untuk berusaha mencari ida-ide baru dari luar lingkungannya atau tingkat keterbukaan dalam menerima pengaruh dari luar (Rogers dan Shoemaker dalam Soekartawi 2005), diukur dengan skala ordinal. 1. Rendah (0-1 kali) 2. Sedang (2-3 kali) 3. Tinggi (4-5 kali) II. Faktor Agen Sosialisasi Agen Sosialisasi merupakan pihak terdekat bagi pemuda yang mentrasmisikan nilainilai, pengetahuan atau norma–norma tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung (Ihromi 1999), terutama terkait dengan terutama nilai, pengetahuan mengenai pertanian. X.7. Sosialisasi oleh Orang Tua 48 X.7.1. Frekuensi orang tua bercerita terhadap anak mengenai pertanian, Menurut Turner dan West (2006) bercerita adalah suatu transmisi kebudayaan melalui interaksi dengan kata–kata dengan significant others dalam pembentukan dan bertahannya suatu kebudayaan dalam suatu generasi dan antar generasi. Dalam penelitian ini Frekuensi bercerita adalah tingkat keseringan orang tua (ayah dan ibu) dalam bercerita mengenai pertanian kepada anaknya (pemuda), peubah ini diukur dengan skala ordinal. 1. Rendah ( < 3) 2. Sedang (4–6) 3. Tinggi (7–9) X.7.2. Tingkat Pelibatan pemuda dalam kegiatan pertanian oleh orang tua. Menurut Turner dan West (2006), pelibatan pemuda dalam kegiatan orang tua dapat dikategorikan sebagai patterned family interaction (interaksi keluarga yang terpola) adalah aktivitas yang dilakukan dalam keluarga dalam rangka membangun dan mempertahankan identitas. Turner dan West juga mengatakan bahwa patterned family interaction merupakan suatu kegiatan informal yang rutin dilakukan biasanya merupakan kegiatan simbolik. Sementara dalam penelitian ini peubah ini didefinisikan sebagai keseringan orang tua dalam mengajak anaknya (pemuda) ke kebun untuk membantu orang tua mengerjakan kegiatan pertanian,diukur dengan skala ordinal. 1. Rendah (1-2,0) 2. Jarang (2,01 – 3, 01) 3. Sering (3,02 – 4) X.8. Keterdedahan terhadap Media massa X.8.1 Keterdedahan terhadap Media Televisi X.8.1.1 Frekuensi Menonton acara pertanian, adalah keadaan sering (seberapa sering) pemuda menyaksikan acara pertanian dalam satu bulan (Jahi, 1988), diukur dengan skala ordinal 1. Rendah (0–2 kali/bulan) 49 2. Sedang (3–4 kali/bulan) 3. Tinggi (5–7 kali/bulan) X.8.1.2 Intensitas Menonton acara pertanian, adalah lamanya waktu yang diluangkan oleh pemuda dalam satu kali menyaksikan acara televisi, dihitung dengan skala ordinal 1. Rendah (< 20 menit) 2. Sedang (21–41 menit) 3. Tinggi (42–60 menit) X.8.2 Keterdedahan terhadap Media Massa Radio X.8.2.1 Frekuensi mendengarkan acara pertanian, adalah seberapa sering pemuda mendengarkan acara pertanian dalam satu bulan (Jahi, 1988), diukur dengan skala ordinal 1. Rendah (<2 kali) 2. Sedang (2 kali ) 3. Tinggi (3 kali) X.8.2.2. Intensitas mendengarkan acara pertanian, adalah lamanya waktu yang diluangkan oleh pemuda dalam satu kali mendengarkan acara radio, diukur dengan skala ordinal 1. Rendah (0 -20 menit) 2. Sedang (21 – 41 menit) 3. Tinggi (42 – 60 menit) X.9. Interaksi dengan Teman X.9.1 Tingkat Kedekatan dengan teman di bidang pertanian, Kedekatan hubungan (closeness Relationships), dilihat dari seberapa sering individu dengan teman menghabiskan waktu bersama dengan teman dekat dan siapa teman dekatnya (Jaccard et al. 2005), dalam penelitian ini tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian didefinisikan sebagai tingkat kedekatan teman dengan teman–teman terbaiknya yang bekerja di bidang pertanian. peubah ini diukur dengan skala ordinal 1. Rendah (0–2) 50 2. Sedang (3–4) 3. Tinggi (5-6) X.10. Persepsi Pemuda terhadap Kondisi di Pedesaan X.10.1 Persepsi pemuda terhadap Kesempatan Kerja di Pedesaan, menurut Rakhmat (2005) persepsi adalah pengalaman tentang obyek, perstiwa, atau hubungan–hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan atau didefinisikan sebagai proses memberikan makna pada stimuli inderawi sehingga memperoleh pengetahuan baru. Dalam penelitian ini persepsi pemuda didefinisikan sebagai cara pandang atau pemaknaan pemuda dalam melihat peluang kerja yang ada di pedesaan atas dasar pengalaman–pengalaman terdahulu, diukur dengan skala ordinal. 1. Tidak terdapat kesempatan kerja (1-1,75) 2. Kurang terdapat kesempatan kerja (1,76 - 2,51) 3. Terdapat kesempatan kerja (2,52 - 3.27) 4. Banyak terdapat kesempatan kerja (3,28 – 4) X.10.2 Persepsi pemuda terhadap kondisi sumberdaya alam di Pedesaan, Secara teoritis persepsi menurut Rakhmat (2005) adalah pengalaman tentang obyek, perstiwa, atau hubungan–hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan atau didefinisikan sebagai proses memberikan makna pada stimuli inderawi sehingga diperoleh pengetahuan baru. Dalam penelitian ini persepsi pemuda terhadap kondisi sumber daya alam di pedesaan adalah cara pandang atau pemaknaan pemuda dalam melihat sejauhmana ketersediaan sumberdaya yang terkandung dalam tanah dan air di pedesaan yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang di dasarkan oleh pengalaman– pengalaman terdahulu, diukur dengan skala ordinal. 1. Sangat Buruk (1-1,75) 2. Buruk (1,76-2,51) 3. Baik (2,52-3.27) 4. Sangat Baik (3,28 – 4) 51 X.10.2 Persepsi pemuda terhadap prospek pertanian di masa yang akan datang Secara teoritis persepsi menurut Rakhmat (2005) adalah pengalaman tentang obyek, perstiwa, atau hubungan–hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan atau didefinisikan sebagai proses memberikan makna pada stimuli inderawi sehingga memperoleh pengetahuan baru. Pada penelitian ini persepsi pemuda terhadap pertanian di masa depan didefinisikan sebagai cara pandang atau pemaknaan pemuda dalam melihat pertanian di masa yang akan datang. Peubah ini diukur dengan skala ordinal. 1. Tidak Prospektif (1-1,75) 2. Kurang Prospektif (1,76 - 2,51) 3. Prospektif (2,52 - 3.27) 4. Prospektif (3,28 – 4) Y.1. Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Menurut Mar’at (1981), sikap adalah konsep evaluasi berkenaan dengan obyek tertentu, menggugah motif untuk bertingkah laku. Secara operasional dapat didefinisikan bahwa sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian adalah kondisi psikologis pemuda yang didasari konsep evaluasi pekerjaan di bidang pertanian dari segi pemenuhan kebutuhan setelah dipengaruhi oleh komponen kognitif, afektif, konatif yang berkaitan dengan pekerjaan di bidang pertanian. Dalam penelitian ini sikap terhadap pekerjaan ini dikaitkan dengan konsep pekerjaan yang kemukakan oleh Sajogyo (1987) yaitu pekerjaan sebagai interaksi sosial, sebagai status sosial, dan sebagai kegiatan yang menghasilkan uang (ekonomi). Diukur dengan skala ordinal, penelitian ini menggunakan metode Likert (Oppenheim, 1966). 1. Tidak Setuju (1- 1,75) 2. Kurang Setuju (1,76 – 2,51) 3. Setuju (2,52 – 3,25) 4. Sangat Setuju (3,26 – 4) Y.1.1. Aspek Kognisi Pemuda Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian 52 Didefinisikan sebagai kemampuan untuk berfikir, kepercayaan, pengetahuan, dan ide mengenai konsep (Mar’at 1981). Pada penelitian ini aspek kognisi dari pemuda didefinisikan sebagai pengetahuan pemuda mengenai teknis dari kegiatan usahatani pertanian tanaman sayur dataran tinggi, diukur melalui skala ordinal. 1. Tidak Setuju (1- 1,75) 2. Kurang Setuju (1,76 – 2,51) 3. Setuju (2,52 – 3,25) 4. Sangat Setuju (3,26 – 4) Y.1.2. Aspek Afeksi Pemuda Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian (Y1.2) Didefinisikan sebagai kompenen sikap yang menyangkut kehidupan emosional seseorang sementara itu dalam penelitian ini komponen afeksi didefinisikan sebagai evaluasi pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian, diukur melalui skala ordinal. 1. Tidak Setuju (1- 1,75) 2. Kurang Setuju (1,76 – 2,51) 3. Setuju (2,52 – 3,25) 4. Sangat Setuju (3,26 – 4) Y.1.3. Aspek Konasi Pemuda Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian (Y1.2) Didefinisikan sebagai kompenen sikap yang berkaitan dengan kecenderungan bertingkah laku seseorang (Mar’at 1981), sementara itu dalam penelitian ini komponen konasi didefinisikan sebagai kecenderungan pemuda untuk bekerja di bidang pertanian yang didasari oleh pertimbangan produksi, interaksi, status sosial, dan ekonomi, diukur melalui skala ordinal. 1. Tidak Setuju (1- 1,75) 2. Kurang Setuju (1,76 – 2,51) 3. Setuju (2,52 – 3,25) 4. Sangat Setuju (3,26 – 4) 53 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kedua desa tersebut merupakan desa sentra tanaman wortel dan kentang yang terletak di Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur. Desa Cipendawa memiliki jarak yang reatif dekat dengan Kantor Kecamatan Pacet, yakni 0,5 km, sementara Desa Sukatani memiliki jarak yang lebih jauh dengan Kantor Kecamatan Pacet, sekitar 6 km. Daerah Sukatani merupakan daerah yang lokasinya tepat berada di bawah kaki Gunung Gede Pangrango, sementara Desa Cipedawa masih berjarak 2 km dari kaki Gunung Gede Pangrango. Waktu yang dibutuhkan dari Desa Cipendawa untuk menuju Kecamatan dengan kendaraan bermotor hanya sekiar 3-5 menit, sementara itu waktu yang dibutuhkan dari Desa Cipendawa untuk menuju Ibu Kota kecamatan adalah 20-30 menit. Biaya yang harus dikeluarkan dari jalan raya utama menuju Desa Sukatani sebesar Rp.10.000 dengan menggunakan ojek, sementara itu biaya yang harus dikeluarkan dari dari jalan raya utama ke Desa Cipendawa sebesar Rp. 5.000. Jarak dari Desa Cipendawa ke Ibu Kota Kabupaten Cianjur berjarak 22 Km, sementara itu dari Desa Sukatani ke Ibu Kota Kabupaten Cianjur berjarak 30 Km. Desa Sukatani memiliki jarak yang lebih jauh dan lokasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan Desa Cipendawa. Desa Cipendawa terletak pada ketinggian 1110m dari permukaan laut (dpl), sementara Desa Sukatani terletak di ketinggian 1350m dpl. Tabel 3. Batas wilayah Desa Cipendawa dan Desa Sukatani Batas Desa Cipendawa Desa Sukatani Utara Desa Sukatani Desa Sindangjaya Timur Desa Cibodas Desa Cipanas Selatan Desa Ciherang Desa Cipendawa Barat Kab Sukabumi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Sumber : Profil Desa Sukatani dan Cipendawa Tahun 2009. Desa Cipendawa berbatasan langsung dengan Desa Sukatani, Cibodas, Desa Ciherang, Kabupaten Sukabumi, sedangkan Desa Sukatani berbatasan langsung 54 dengan Desa Cipendawa, Desa Cipanas, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, dan Desa Sindangjaya (lihat Tabel 3) Luas Desa Sukatani adalah 244 ha terbagi atas 4 Dukuh (Kampung), yaitu: Dukuh Pasir Kampung, Dukuh Barukupa, Dukuh Kayu Manis, dan Dukuh Gunung Putri yang terdiri dari 8 RW dan 38 RT. Sedangkan luas Desa Cipendawa adalah 1026 ha, yang terdiri dari 4 Dukuh, yaitu dukuh Pasir Cina, Dukuh Pacet, Dukuh Pasekon Bawah, Dukuh Pasekon Atas, yang terdiri dari 14 RW dan 60 RT. Tabel 4. Luas wilayah menurut penggunaan lahan (dalam Ha) Penggunaan Wilayah Desa Cipendawa (Ha) Desa Sukatani (Ha) Pemukiman 304 73 Kebun 591 165 Kuburan 3 3 Pekarangan 5 1,2 Taman 1 - Perkantoran 1,5 0,7 Sarana dan Prasarana Umum TOTAL 111 1,1 1026 244 Sumber : Profil Desa Sukatani dan Cipendawa Tahun 2009. Desa Sukatani merupakan wilayah pegunungan dengan keadaan tanah berwarna hitam, keadaan alam seperti ini menyebabkan daerah tersebut sesuai untuk pengembangan budidaya sayuran. Sementara itu Desa Cipendawa merupakan desa dengan permukaan tanah jenis datar tidak securam Desa Sukatani. Kondisi Demografi secara lengkap dari desa Cipendawa dan Sukatani ditampilkan pada Tabel 5. Data yang tersaji dalam Tabel 5 menggambarkan kondisi demografi di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani. Jumlah penduduk Desa Cipendawa 17502 lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di Desa Sukatani yang jumlah penduduknya sebanyak 11164 Jiwa. Kepadatan penduduk untuk setiap Km2 untuk Cipendawa sebesar 1723, sedangkan di Sukatani kepadatan penduduk per Km2 adalah sebesar 4150 orang. Masyarakat Desa Cipendawa lebih banyak yang berjenis 55 kelamin perempuan (50,36%) sementara itu di Desa Sukatani lebih banyak masyarakat yang berjenis kelamin laki–laki (51,7%) Tabel 5. Kondisi demografi Desa Cipendawa dan Desa Sukatani Jenis Kondisi Desa Cipendawa 1. Jumlah Penduduk (Jiwa) Berdasarkan Jenis Kelamin a. Laki – Laki 49,64% b. Perempuan 50,36% TOTAL 17502 (100%) 2. Kepadatan Penduduk Per Km2 1723 Jiwa 3.Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan a. Belum Masuk TK (Usia 3 – 6 Tahun) 2,75% b. TK/Play Group (Usia 3 – 6 Tahun) 2,59% c. 7-18 Thn Tidak Pernah Sekolah 0% d. 7-18 Thn Sedang Sekolah 15,80% e. 18 – 56 Thn Tidak Pernah Sekolah 0,46% e. 18 – 56 Thn Pernah SD tapi tidak tamat 1,71% f. Tamat SD / Sederajat 24,33% g. 12 – 56 Thn Tidak Tamat SLTP 12,07% h. 18 – 56 Thn Tidak Tamat SLTA 13,02% i. Tamat SLTP/Sederajat 12,88% j. Tamat SLTA/Sederajat 13,06% l. Tamat Perguruan Tinggi (D1, D2, D3, S1) 1,33% TOTAL 17502 (100%) 4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pekerjaan 17,9% a. Petani Penggarap 44,2% b. Buruh Tani / Non Pemilik Lahan 22,9% c. Buruh pabrik/swasta 2,6% d. PNS 8,8% e. Pedagang 0% f. Montir 3,5% g. Sopir (Ojek & Angkot) 0,6% h. TNI/POLRI 8288 (100%) Total 5. Jumlah Penduduk (Jiwa) Menurut Agama: a. Islam 88% b. Katolik 6,7% c. Protestan 3,3% d. Budha 2% e. Hindu 0% Total 17502 (100%) 6. Jumlah Penduduk Usia (15 – 30 tahun) 1457 Sumber : Profil Desa Sukatani dan Cipendawa Tahun 2009. Desa Sukatani 51,7% 48,3% 11164 (100%) 4150 Jiwa 3,42% 1,27% 3,23% 16,86% 4,24% 8,62% 37,06% 7,23% 5,28% 8,36% 2,67% 1,76% 11164 (100%) 20,3% 41,1% 15,2% 0,9% 16,6% 0,2% 5,7% 0,1% 3411 (100%) 99,86% 0,5% 0,5% 0,4% 0% 11164 (100%) 1340 56 Data yang tersaji dalam Tabel 5 menggambarkan kondisi demografi di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani. Jumlah penduduk Desa Cipendawa 17502 lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di Desa Sukatani yang jumlah penduduknya sebanyak 11164 Jiwa. Kepadatan penduduk untuk setiap Km2 untuk Cipendawa sebesar 1723, sedangkan di Sukatani kepadatan penduduk per Km2 adalah sebesar 4150 orang. Masyarakat Desa Cipendawa lebih banyak yang berjenis kelamin perempuan (50,36%) sementara itu di Desa Sukatani lebih banyak masyarakat yang berjenis kelamin laki–laki (51,7%) Tingkat pendidikan penduduk Desa Sukatani sebagian besar adalah tamat SD (37,06%) begitu pula dengan tingkat pendidikan di Desa Cipendawa di mana tertinggi masyarakatnya hanya merupakan lulusan SD (24,33 %). Penduduk Desa Sukatani dan Desa Cipendawa memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Sementara itu fenomena mengenai pekerjaan di Desa Sukatani menunjukkan bahwa 41,1 persen masyarakat Desa Sukatani bekerja sebagai buruh tani atau petani yang tidak memiliki lahan pertanian sendiri, sementara itu urutan kedua pekerjaan terbesar adalah petani pemilik lahan (21,7%). Begitu pula sebaran pekerjaan di Desa Cipendawa 44,2 persen merupakan buruh tani atau petani yang tidak memiliki lahan pertanian sendiri, urutan kedua adalah buruh pabrik atau swasta sebesar 22,9 persen. Kondisi Pertanian Dalam konteks kepemilikan lahan, terdapat 2870 keluarga di Desa Cipendawa yang tidak memiliki lahan pertanian (67,21%), sedangkan 1175 keluarga memiliki lahan pertanian kurang dari 1 ha (27,52%), dan terdapat 225 keluarga yang memiliki luasan lahan pertanian yang berkisar antara 1–5 ha (5,27%). Kondisi di Desa Sukatani fenomenanya relatif tidak berbeda dengan Desa Cipendawa, di Desa Sukatani terdapat 1473 keluarga yang tidak memiliki lahan pertanian (70,41%), sementara itu keluarga yang memiliki lahan pertanian kurang dari 1 ha sebanyak 412 keluarga (19,69%) dan 194 keluarga memiliki lahan antara 1 ha – 5 ha (9,27%). Penguasaan lahan pertanian baik di Desa Cipedawa maupun Desa Sukatani masih sangat minim lebih banyak petani yang tidak memiliki lahan pertanian. 57 Tabel 6. Pemilikan lahan pertanian Kepemilikan Lahan Desa Cipendawa (Jumlah Keluarga) 2870 (67,21%) Desa Sukatani (Jumlah Keluarga) 1473 (70,41%) 1175 (27,52%) 412 (19,69%) Memiliki 1 – 5 ha 225 (5,27%) 194 (9,27%) Memiliki 5 – 10 ha - 13 (0,62%) 4270 (100%) 2092 (100%) Tidak Memiliki Lahan Memiliki < 1 ha TOTAL Sumber : Profil Desa Sukatani dan Cipendawa Tahun 2009. Komoditas pertanian yang diusahakan oleh para petani di kedua desa tersebut adalah tanaman hortikultura yang berupa sayuran daerah dataran tinggi seperti wortel, bawang daun, kentang, brokoli, tomat dan pakcoy. Meskipun terdapat berbagai jenis tanaman sayuran, tetapi sebagian besar petani di Desa Cipendawa menanam wortel, ada petani–petani juga yang menanam brokoli tetapi ada juga yang tumpang sari wortel dengan bawang daun, sementara itu petani di Desa Sukatani mayoritas menanam wortel karena memang Desa Sukatani dikenal sebagai sentra sayuran wortel. Teknik pananaman yang biasa dilakukan adalah teknik monokultur (satu jenis tanaman), tetapi terdapat petani yang juga menggunakan teknik tumpang sari, yaitu menanam beberapa jenis tanaman dalam satu petak pada waktu yang bersamaan. Kelembagaan Pertanian Kedua Desa lokasi penelitian ini memiliki Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Di Desa Cipendawa terdapat Gabungan Kelompok Tani Multi Tani Jaya, Gapoktan ini diresmikan pada tahun 2009. Ketua Gapoktan merupakan petani yang aktif yang sering melakukan percobaan baik percobaan yang berhubungan dengan benih, bibit, maupun percobaan yang berhubungan dengan hama dan penyakit tanaman. Percobaan ini biasanya dilakukan sebagai dalam rangka menurunkan biaya produksi, terutama percobaan yang berkaitan dengan pengadaan benih, karena benih yang tersedia harganya cukup tinggi dan tidak selalu tersedia jika dibutuhkan oleh para petani, sedangkan di Desa Sukatani terdapat Gapoktan Surya Kencana yang diresmikan pada tahun 2009, beliau juga merupakan yang 58 gemar melakukan percobaan–percobaan yang kemudian yang hasil percobaannya disampaikan kepada kelompok tani. Petani dari Desa Cipendawa dan Desa Sukatani memperoleh Sarana Produksi dengan cukup mudah, mereka dapat memperoleh benih atau bibit dengan cara membeli dari kios yang berada di Pasar Cipanas. Tetapi tidak semua petani membeli bibit atau benih dari pasar, terdapat pula beberapa petani yang juga melakukan pembibitan sendiri dari tanaman mereka yang sebelumnya. Seperti telah diurai di atas baik di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani memiliki Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang sering melakukan percobaan dari segi bibit maupun hama dan penyakit. Program Pertanian di Kecamatan Pacet Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu telah merintis pemasyarakatan dan pelembagaan PHT di pedesaan melalui pelatihan bagi petani selama satu musim tanam dengan pendekatan pola Sekolah Lapang (SL). Berdasarkan hal tersebut BPBTPH Kecamatan Pacet mengadakan penumbuhan kelembagaan regu pengndali hama terpadu (RPHT) yang bertempat di Sekretariat Gapoktan Multi Tani Jaya Giri (Mujagi). Menurut pemandu lapang (Dedih R) tujuan dari RPHT adalah untuk menumbuhkan kelembagaan regu pengendali hama Terpadu ditingkat desa, nanti diharapkan gapoktan Mujagi menjadi salah satu perwakilan regu RPHT untuk Kabupaten Cianjur. Penggerak Membangun Desa (PMD) Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur mendukung pelaksanaan program Revitalisasi Pertanian dan pangembangan pasar sayuran dataran tinggi untuk 4 desa di Kecamatan Pacet. Kiprah PMD Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur dalam 6 bulan terakhir ini telah banyak menyentuh harapan serta kepentingan para petani dan kelompok tani di 4 desa Kecamatan Pacet melalui berbagai kegiatan pengembangan pasar kelompok tani dan penguatan administrasi berorganisasi. Penggerak Membangun Desa (PMD) itu sendiri merupakan pemuda– pemuda yang memiliki latar belakang pendidikan formal dari SMK Pertanian yang kemudian dilatih (trainning) sehingga mampu membawa tugas dari Dirjen Hortikultura untuk memberikan pembinaan dan memajukan pemasaran Agribisnis kelompok-kelompok tani yang berkelembagaan di wilayah kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur Jawa Barat. 59 Kehidupan Masyarakat Desa Cipendawa Kehidupan masyarakat di Desa Cipendawa dimulai keika Adzan Subuh mulai berkumandang, berbondong–bondong masyarakat baik tua maupun muda mendatangi mesjid terdekat untuk melaksanakan Solat Subuh secara berjamaah. Setelah selesai melaksanakan solat subuh ada sebagian orang yang meneruskan untuk mengaji dan ada sebagian pula yang pulang untuk bersiap–siap berangkat ke kebun. Ketika waktu menunjukan pukul 5.30, para petani mulai bergerak untuk menuju kebun mereka yang berjarak 2-3 km di kaki Gunung Gede Pangrango. Terdapat petani yang berangkat ke kebun dengan menggunakan motor trail tetapi ada juga petani yang berjalan kaki untuk mencapai kebunnya. Wanita tani melakukan aktivitas yang tidak berbeda dengan para petani laki-laki. Para wanita tani yang bekerja sebagai buruh tani biasanya berangkat berbarengan dengan teman–teman sesama wanita tani. Terdapat orang tua yang mengantarkan anak mereka untuk berangkat ke sekolah. Ketika waktu menunjukan pukul 07.00 pagi, baru terlihat Desa Cipendawa mulai sepi. Para petani dan buruh tani mulai kembali turun dari kebun mereka setelah pukul 12.00 siang. Para petani tiba di rumah mereka berkisar antara pukul 13.00–14.00 semua itu tergantung dari jarak kebun mereka. Aktivitas di Desa Cipendawa kembali ramai ketika jam menunjukan pukul 16.00. Terdapat beberapa pemuda dan bapak-bapak yang nongkrong di pinggiran jalan yang rusak untuk sekedar merokok maupun mengobrol dengan teman–teman mereka tetapi terdapat pula beberapa pemuda dan bapak - bapak yang harus kembali ke kebun untuk kembali mengelolah lahan pertanian sayur mereka dan juga ada yang mengarit rumput untuk memberikan makan domba–domba mereka maupun domba–domba miliki kelompok tani. Anak –anak kecil biasanya ketika pulang dari sekolah langsung datang ke tempat semacam pesantren di mana anak–anak kecil tersebut ikut aktif dalam kegiatan pengajian yang berlangsung dari Ba’da Ashar sampai menjelang magrib. Bapak– bapak tani biasanya hanya duduk di depan rumah mereka sambil menggunakan sarung dan jaket mengingat udara yang dingin. Tapi terdapat pula bapak–bapak yang beristirahat di dalam rumah untuk menonton televisi. Ketika waktu mulai menunjukan pukul 17.30 warga yang tadinya nongkrong di pinggir jalan desa mulai membubarkan diri dan bersiap untuk mengikuti solat magrib berjamaah. Setiap malam kamis, remaja irmas berkumpul untuk mengadakan 60 semacam pertemuan rutin yang tahlilan (istilah untuk membaca yasin bersamasama). Ketika mulai memasuki malam hari, sebagian masyarakat di Desa Cipendawa lebih lebih senang berdiam diri di dalam rumah, mengingat suhu di luar cukup dingin sehingga aktivitas di malam hari pun terbatas hanya pada menonton televisi. Mayoritas wanita berdiam di rumah melalukan pekerjaan selayaknya ibu rumah tangga tetapi masih terdapat pula wanita yang melakukan aktivitas pertanian yang tidak berbeda dengan para laki–lakinya. Para wanita yang bertani atau wanita tani yang bekerja sebagai buruh tani biasanya berangkat berbarengan dengan teman– teman sesama wanita tani. Perilaku yang membuat berbeda anatara petani laku–laki dan wanita tani adalah, wanita tani lebih sering bergerak di bidang pascapanen seperti membuat keripik wortel, keripik pisang. Kehidupan Masyarakat Desa Sukatani. Kehidupan masyarakat di Desa Sukatani, sedikit berbeda dengan kehidupan masyarakat di Desa Cipendawa. Hal itu dikarenakan pemukiman masyarakat di Sukatani langsung berbatasan dengan kebun sayuran masyarakat, sehingga jarak antar rumah warga sedikit berjauhan, Banyaknya lokasi perkebunan di belakang pekarangan rumah warga tersebut karena Desa Sukatani memiliki ketinggian yang lebih tinggi dibandingkan dengan Desa Cipendawa. Jadi ruang masyarakat untuk berkumpul sedikit lebih sedikit mereka hanya berkumpul di pada sore hari ada semacam tempat pangkalan ojek, banyak pemuda dan pemudi yang berkumpul untuk sekedar mengobrol dan bersenda gurau. Kehidupan di Desa Sukatani dimulai ketika waktu sudah menunjukan pukul 6.30. Masyarakat sebagian ada yang naik menuju Gunung Gede Pangrango, karena kebun mereka terletak di kaki gunung gede pangrango, tetapi ada juga masyarakat yang berkebun langsung di halaman rumahnya karena jarak kebun ke rumah mereka sangat dekat sekitar 100–200m sehingga Desa Sukatani terbilang jarang sepinya dibandingkan dengan Desa Cipendawa karena para petani bekerja di kebun dekat dengan rumahnya., ketika waktu mulai menunjukan pukul 12.00 berbondong – bondong masyarakat kembali ke rumah untuk istrirahat dan makan siang. Ketika sudah menunjukan puku 16.00 masyarakat mulai berkumpul, tetapi bukan di pinggir jalan. Ada semacam pangkalan ojek yang dijadikan tempat nongkrong oleh 61 pemuda–pemuda setempat. Yang menjadi perbedaan di Desa Sukatani tidak banyak petani yang kembali lagi ke kebun untuk mengarit rumput, karena di Desa Sukatani tidak memiliki peternakan domba sebesar Cipendawa. Jadi pada sore hari masyarakat yang mayoritas petani beristirahat di rumah mereka masing–masing. Ketika waktu menunjukan pukul 18.00 masyarakat di Desa Sukatani jarang yang berada di luar karena suhu yang lebih dingin dibandingkan dengan di Desa Cipendawa. Dari segi keagamaannya Kehidupan penduduk atau masyarakat Desa Sukatani tidak sereligius masyarakat Cipendawa, hal tersebut dikarenakan tidak tidak adanya pesantren di sekitar Desa Sukatani, sementara itu di Desa Cipendawa terdapat semacam pesantren. 63 Karakteristik Internal Pemuda Karakteristik individu adalah sifat atau ciri-ciri yang melekat pada diri seseorang, yang berhubungan dengan semua aspek kehidupan lingkungannya. Azwar (1995) mengatakan bahwa faktor genetik fisiologik memainkan peranan penting dalam pembentukan sikap, faktor lain yang sangat menentukan pembentukan sikap adalah pengalaman personal. Pengalaman personal yang langsung dialami memberikan pengaruh yang lebih kuat daripada pengalaman yang tidak langsung. Pada penelitian ini faktor internal akan dilihat dalam bentuk karakteristik pemuda, yang meliputi: umur pemuda, tingkat pendidikan pemuda, dan status kepemilikan tanah orang tua, luas lahan orang tua, tingkat kekosmopolitan pemuda. Umur Sebagian besar pemuda yang menjadi responden pada penelitian ini terkategorikan sebagai dewasa awal yaitu 22-24 tahun sebanyak 33,8 persen. Umur ratarata pemuda pada penelitian adalah 19 tahun. Pemuda yang terkategorikan remaja awal memiliki kisaran umur 13–14 tahun terdapat sebanyak 15,4 persen, sementara itu jumlah remaja pertengahan (15-17) dan remaja akhir (18-21) tidak terpaut jauh. Mayoritas pemuda yang terkategorikan sebagai dewasa awal menunjukkan bahwa secara pemuda–pemuda sudah memiliki orientasi untuk bekerja. Tabel 7. Sebaran umur pemuda Umur Kategori (Tahun) 13 - 14 Remaja awal 15 – 17 Remaja pertengahan 18 – 21 Remaja akhir 22 – 24 Dewasa awal Total (n) Jumlah Responden (Orang) 10 18 15 22 65 Persentase (%) 15,4 27,7 23,1 33,8 100 Pendidikan Secara umum tingkat pendidikan akan mempengaruhi pengetahuan, kemampuan, dan keahlian pemuda. Tingkat pendidikan pada penelitian ini dilihat berdasarkan pendidikan formal terakhir yang didapatkan oleh pemuda sampai saat penelitian ini dilakukan. Tingkat pendidikan pemuda menyebar dari yang paling rendah lulus SD sampai lulus tertinggi yaitu perguruan tinggi. Sebesar 47,7 persen pemuda merupakan lulusan SD, sementara itu lulusan SLTP sebesar 26,2 persen, lulusan SLTA 64 sebanyak 23,1 persen dan yang paling rendah adalah lulusan perguruan tinggi sebesar 3,1 persen. Dari sebaran data tersebut dapat disimpulkan bahwa banyak pemuda merupakan lulusan SD, sehingga tingkat pendidikan pemuda di Kecamatan Pacet dapat dikategorikan rendah. Penyebaran tingkat pendidikan pemuda dapat dilihat pada Tabel.8 Tabel 8. Sebaran tingkat pendidikan responden Tingkat Pendidikan Lulus SD Lulus SLTP Lulus SLTA Lulus Perguruan Tinggi Total (n) Jumlah Responden (Orang) 31 17 15 2 65 Persentase (%) 47,7 26,2 23,1 3,1 100 Jenis Kelamin Sebagian besar pemuda yang menjadi responden pada penelitian ini adalah laki – laki dengan persentase 84,62 persen sementara perempuan hanya sekitar 15,38 persen. Pertimbangan pemilihan laki–laki lebih mudah ditemui dibandingkan perempuan, hal lain yang mempengaruhi kenapa lebih banyak laki–laki yang menjadi responden karena pemudi–pemudi ketika sudah memasuki usia 16–17 tahun mereka memiliki kecenderungan untuk berkeluarga atau menikah sehingga tidak bisa dijadikan responden. Perempuan pada penelitian ini dijadikan sebagai pembanding untuk melihat sejauhmana minat mereka untuk bekerja di bidang pertanian. Tabel 9. Sebaran jenis kelamin responden Jenis Kelamin Perempuan Laki – laki Total (n) Jumlah Responden (Orang) 10 55 65 Persentase (%) 15,38 84,62 100 Status Kepemilikan Lahan Orang Tua Kepemilikan lahan orang tua pemuda di Kecamatan Pacet yang dalam penelitian ini direpresentasikan di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani sebagai status kepemilikan lahan pertanian sayuran yang diusahakan oleh orang tua pemuda. Pada dasarnya status kepemilikan lahan dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu lahan milik pribadi dan lahan garapan. Dapat dilihat pada Tabel 10 terdapat 61,54 persen orang tua pemuda merupakan pemilik dari lahan garapannya sendiri, dan juga terdapat 38,46 persen 65 pemuda yang orang tuanya merupakan penggarap. Untuk penggarap itu sendiri terdapat beberapa metode terkait dengan sistem garapannya. Di lokasi penelitian terdapat 4 sistem penggarapan yaitu dengan sistem bagi hasil, sewa lahan, gadai dan yang terakhir adalah lahan garapan yang dipinjamkan oleh Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jika dilihat secara mendetail menurut jenis lahan garapannya terdapat 16,92 persen orang tua pemuda yang menggarap lahan orang lain dengan sistem bagi hasil, 13,85 persen orang tua pemuda yang menyewa lahan garapannya. Selain itu terdapat pula orang tua pemuda yang lahan pertaniannya merupakan lahan yang dipinjamkan oleh pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebanyak 6,15 persen, dan terdapat pula orang tua pemuda 1,54 persen yang mengelola lahan yang merupakan lahan gadaian dari petani lain. Tabel 10. Sebaran status kepemilikan lahan orang tua Status Kepemilikan Penggarap Milik Sendiri Total (n) Jumlah Responden (Orang) 25 40 65 Persentase (%) 38,46 61,54 100 Luas Lahan Pertanian Orang Tua Luas lahan pertanian yang dikelola oleh orang tua pemuda sangat beragam atau memiliki varian sangat besar. Setelah dikategorikan ternyata 81,54 persen luas lahan pertanian yang dikelola oleh orang tua pemuda di Desa Cipendawa dan Sukatani luas lahan pertanian yang dikelola kurang dari 0,25 ha, sementara itu petani yang memiliki lahan lebih dari 0,7 ha hanya 4,62 persen dari total responden, dari hal ini dapat disimpulkan bahwa luas lahan yang dikelola oleh orang tua petani relatif sempit. Tabel 11. Luas lahan pertanian sayuran yang digarap orang tua Luas Lahan (Ha) <0,25 0,25 – 0,7 > 0,7 Total (n) Jumlah Responden (Orang) 53 9 3 65 Persentase (%) 81,54 13,84 4,62 100,00 Dari luasan lahan yang di bawah 0,25 ha dapat dipastikan bahwa orang tua pemuda merupakan petani miskin, karena menurut Sajogyo (1987) petani yang memiliki lahan kurang dari 0,5 ha terkategorikan petani miskin, sementara itu petani yang kepemilikan lahannya antara 0,5 ha–kurang dari 1 ha terkategorikan sebagai petani 66 sedang, dan petani yang memiliki luasan lahan lebih dari 1 ha akan terkategorikan sebagai petani kaya. Tingkat Kekosmopolitan Pemuda Tingkat kekosmopolitan pemuda itu merupakan frekuensi pemuda mendatangi pusat informasi dalam hal ini adalah Cianjur maupun Cipanas. Mayoritas responden (61,54%) memiliki tingkat kekosmopolitan yang rendah dengan frekuensi mendatangi kota kurang dari 2 kali dalam 1 bulan terakhir. Sementara itu terdapat 26,15 persen pemuda yang tingkat kosmopolitannya terkategorikan sedang dengan frekuensi ke kota sebanyak 2–3 kali dalam 1 bulan terakhir untuk berbagai kegiatan yang salah satunya berhubungan dengan pertanian seperti mencari bibit, membantu orang tua menjual hasil panen yang tidak terangkut oleh tengkulak ke pasar terdekat yaitu pasar Cipanas, dan mencari pupuk. Terdapat pula 12,31 persen pemuda yang tingkat kekosmopolitannya terkategorikan tinggi dengan frekuensi berkunjung ke kota sebanyak 4–5 kali dalam bulan terakhir. Maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pemuda yang menjadi responden tingkat kekosmopolitannya rendah, kebanyakan para pemuda jarang sekali keluar dari desanya karena pemuda merasa tidak ada yang dapat dilakukan dan tidak ada yang menarik, terdapat pula pemuda yang berpendapat jika ke kota hanya menghabiskan uang. Pendapat lain yang menjelaskan redahnya tingkat kosmopolitan pemuda adalah masih terdapat pemuda yang masih bersekolah dan lokasi sekolah mereka terletak di desa. Tetapi tidak berarti semua pemuda tidak pergi ke kota, terdapat pemuda yang ke kota tetapi mereka ke kota bukan untuk kebutuhan pertanian hanya untuk kebutuhan aktualisasi diri, seperti nongkrong, atau main dengan teman– temannya. Tabel. 12. Sebaran tingkat kekosmopolitan pemuda Tingkat Jumlah Responden Kekosmopolitan (Orang) 0 - 1 kali (Rendah) 40 2 - 3 kali (Sedang) 17 4 - 5 kali (Tinggi) 8 Total (n) 65 Persentase (%) 61,54 26,15 12,31 100 67 Peran Agen Sosialisasi Peran agen sosialisasi pada penelitian ini dapat dilihat sebagai faktor luar (eksternal) yang dapat memberikan pengaruh pada sikap pemuda. Faktor eksternal pemuda adalah ciri-ciri yang melekat di luar diri seseorang, yang berhubungan dengan semua aspek kehidupan lingkungannya. Pada penelitian ini faktor eksternal yang berhubungan dengan kehidupan pemuda adalah pihak luar yang memegang peranan penting dalam proses sosialisasi terkait dengan pekerjaan di bidang pertanian. Pada penelitian ini karakteristik eksternal pemuda adalah frekuensi orang tua membicarakan pertanian, intensitas orang tua membicarakan pertanian, pelibatan anak dalam kegiatan pertanian oleh orang tua, Keterdedahan terhadap media informasi pertanian, dan interaksi dengan teman sepermainan (peer group). Sosialisasi Oleh Orang Tua Pemuda dalam proses pertumbuhannya tidak terlepas hubungannya dengan orang tua, hubungan ini biasanya dibangun dalam bentuk komunikasi mengingat orang tua merupakan salah satu significant others yang mempengaruhi pemuda. Pada penelitian ini Sosialisasi oleh orang tua mengenai bidang pertanian diukur melalui dua dimensi yaitu frekuensi orang tua membicarakan pertanian dan tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua dalam bidang pertanian. Frekuensi Orang Tua Membicarakan Pertanian Frekuensi orang tua membicarakan pertanian dalam penelitian ini dilihat dari frekuensi orang tua membicarakan pertanian kepada anaknya dalam satu bulan terakhir. Tabel 13. Frekuensi orang tua membicarakan pertanian Frekuensi Orang Tua Berbicara pertanian Jumlah Responden (Kali/ sebulan terakhir) (Orang) Rendah ( < 3) 45 Sedang (4 – 6) 18 Tinggi (7 – 9) 2 Total (n) 65 Persentase (%) 69,23 27,69 3,08 100 Sebagian besar orang tua pemuda (69,23%) membicarakan pertanian kurang dari tiga kali dalam satu bulan terakhir, sementara itu terdapat pula 27,69 persen orang tua pemuda yang membicarakan pertanian sebanyak 4–6 kali dalam satu bulan terakhir, untuk orang tua yang frekuensi membicarakan pertaniannya tinggi hanya 3,08 persen. 68 Jika dilihat rata–ratanya hanya 3 kali dalam satu bulan terakhir orang tua bercerita mengenai pertanian kepada anaknya. Dari hal itu dapat ditarik kesimpulan bahwa frekuensi orang tua bercerita mengenai pertanian tergolong rendah, karena orang tua berpendapat tidak mau terlalu menjejali pemuda atau anak–anak mereka dengan informasi–informasi pertanian, karena pada dasarnya tugas seorang anak adalah belajar. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya frekuensi orang tua bercerita mengenai pertanian pada anaknya karena orang tua petani jarang bertemu dengan anaknya yang sekolah, karena ketika malam tiba orang tua terlanjur lelah setelah pulang dari kebun sehingga jarang bisa membicarakan pertanian kepada anaknya, selain itu rendahnya orang tua membicarakan pertanian karena mereka tidak mengetahui apa yang harus dibicarakan dengan anak–anaknya, mereka baru berbicara ketika menghadapi masalah di kebun. Di antara semua topik pertanian yang dibicarakan oleh orang tua, orang tua paling sering membicarakan kepada pemuda mengenai modal dan juga pemasaran produk hasil panen. (lihat Tabel 13) Tingkat Pelibatan Pemuda Oleh Orang Tua dalam Kegiatan Pertanian Tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua dalam kegiatan pertanian dalam penelitian ini peubah dilihat sebagai keseringan orang tua dalam mengajak anaknya (pemuda) ke kebun untuk membantu orang tua mengerjakan kegiatan pertanian. Seperti yang disajikan pada Tabel 14 terdapat 52,31 persen atau 34 responden yang tingkat pelibatannya dalam kegiatan pertanian terkategorikan sedang. Selain itu terdapat pula 24 orang atau sekitar 36,92 persen pemuda yang rendah tingkat pelibatannya oleh orang tua dalam kegiatan pertanian. Pemuda yang tingkat pelibatan oleh orang tuanya tinggi hanya sebesar 10,77 persen atau hanya sebanyak tujuh orang dari total responden. Tabel 14. Tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua dalam kegiatan pertanian Tingkat Jumlah Responden Persentase Pelibatan (Orang) (%) Rendah (1-2,0) Sedang (2,01 – 3, 01) Tinggi (3,02 – 4) Total (n) 24 34 7 65 36,92 52,31 10,77 100 Rataan skor dari tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua ini adalah 2,23 skor tersebut menunjukkan bahwa tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua terkategorikan sedang. Tingkat pelibatan orang tua yang sedang karena banyak pemuda yang menjadi 69 responden juga yang masih sekolah sehingga petani hanya bisa melibatkan pemuda pada kegiatan tertentu seperti panen atau penanaman benih. Frekuensi Pemuda Menonton Acara Pertanian Frekuensi pemuda menonton acara pertanian merupakan tingkat keseringan (seberapa sering) pemuda menyaksikan acara pertanian di televisi dalam satu bulan terakhir ini. Frekuensi pemuda menonton acara televisi pertanian tersaji pada Tabel 15. Dari Tabel 15 dapat dilihat bahwa sebagian besar pemuda (67,69%) frekuensi menonton acara pertanian terkategorikan rendah dengan frekuensi kurang dari tiga kali dalam satu bulan terakhir, untuk pemuda yang terkategorikan sedang frekuensi menonton acara pertaniannya terdapat sebanyak 26,15 persen, sementara itu terdapat 6,15 persen pemuda yang terkategorikan tinggi frekuensi menonton acara pertanian dengan frekuensi di atas tujuh kali menonton acara pertanian dalam satu bulan terakhir. Tabel 15. Frekuensi pemuda menonton acara pertanian Frekuensi Menonton Acara Jumlah Responden Pertanian di TV (Kali) (Orang) Rendah (0 – 2) 44 Sedang (3 – 4) 17 Tinggi (5 – 7) 4 Total (n) 65 Persentase (%) 67,69 26,15 6,15 100 Rendahnya frekuensi menonton acara pertanian disebabkan pada jam–jam acara pertanian disiarkan para pemuda tengah berada di sekolah atau bahkan sedang berada di kebun membantu orang tua. Selain itu rendahnya frekuensi menyaksikan acara pertanian dikarenakan tidak banyaknya stasiun televisi yang menyiarkan acara pertanian di televisi. Stasiun televisi yang paling rutin menyiarkan acara pertanian adalah TVRI, sementara itu stasiun televisi lain belum secara rutin menyiarkan acara pertanian yang berkaitan dengan pertanian hortikultura. Acara pertanian yang sering ditonton oleh pemuda adalah Pelangi Desa, Salam Dari Desa, dan Daerah Membangun. Intensitas Menonton Acara Pertanian Intensitas menonton acara pertanian merupakah lamanya waktu yang diluangkan oleh pemuda dalam satu kali menyaksikan acara pertanian di televisi. Sebaran intensitas menonton acara pertanian dapat dilihat pada Tabel 16 sebanyak 52,31 persen pemuda dalam penelitian ini intensitas menonton acara pertaniannya tergolong rendah dengan waktu kurang dari 20 menit untuk satu kali menonton cara pertanian. Sementara itu 70 33,85 persen pemuda dalam penelitian ini terkategorikan sedang intensitasnya dalam menonton acara pertanian dengan waktu antara 21–41 menit dalam satu kali menonton acara pertanian, untuk pemuda yang intensitas menonton acara televisinya terkategorikan tinggi terdapat 13,85 persen. Rendahnya waktu yang diluangkan oleh pemuda dalam menonton acara pertanian dikarenakan minat untuk menyaksikan acara pertanian di televisi itu sendiri rendah dan di mata para pemuda acara pertanian kurang menarik. Tabel 16. Intensitas menonton acara pertanian Waktu (Menit) Rendah (< 20) Sedang (21 – 41) Tinggi (42 – 60) Total (n) Jumlah Responden (Orang) 34 22 9 65 Persentase (%) 52,31 33,84 13,85 100 Para pemuda memiliki kecenderungan untuk menyaksikan hiburan dibandingkan dengan menonton acara pertanian. Rendahnya waktu yang diluangkan pemuda untuk menyaksikan televisi juga dikarenakan ketika menonton acara pertanian seringnya acara pertanian yang disiarkan di televisi kurang sesuai dengan kebutuhan pertanian para pemuda, karena diakui lebih banyak menyiarkan acara pertanian tanaman pangan dibandingkan dengan pertanian tanaman hortikultura sehingga para pemuda tidak begitu tertarik untuk menonton acara pertanian di televisi lebih lama lagi. Untuk para pemuda yang tinggi intensitas menonton acara pertanian menjelaskan bahwa mereka memang ingin belajar mengenai pertanian secara keseluruhan tidak hanya pertanian hortikultura karena dianggap dapat menambah wawasan mereka mengenai pertanian secara umum. Frekuensi Mendengarkan Acara Pertanian di Radio Frekuensi mendengarkan acara pertanian di radio merupakan tingkat atau keseringan pemuda mendengarkan acara pertanian dalam satu bulan terakhir. Frekuensi pemuda mendengarkan acara pertanian di radio tersaji pada Tabel 17. Tabel 17. Frekuensi mendengarkan acara pertanian di radio Frekuensi Mendengarkan Jumlah Responden Radio (Orang) Rendah (<2 kali) 60 Sedang (2 kali ) 2 Tinggi (3 kali) 3 Total (n) 65 Persentase (%) 92,31 3,08 4,62 100 71 Pada Tabel 18 dapat dilihat bahwa sebagian besar pemuda (92,31%) frekuensi mendengarkan acara pertanian terkategorikan rendah dengan frekuensi kurang dari satu kali dalam satu bulan terakhir, untuk pemuda yang terkategorikan sedang frekuensi mendengarkan acara pertaniannya terdapat sebanyak 3,08 persen, sementara itu terdapat 4,62 persen pemuda yang terkategorikan tinggi frekuensi mendengarkan acara pertanian di radio dengan frekuensi di atas tiga kali dalam satu bulan terakhir. Rendahnya frekuensi mendengarkan acara pertanian dikarenakan tidak banyak pemuda yang memiliki dan memanfaatkan radio. Selain hal itu sedikit saja stasiun radio yang menyiarkan acara pertanian di televisi. Kebanyakan dari stasiun radio hanya menyiarkan acara – acara musik seperti dangdut, musik–musik top Indonesia lainnya. Stasiun radio yang paling rutin menyiarkan acara pertanian adalah Edelwisse, tapi itu pun tidak sebanding perbandingannya. Terdapat beberapa stasiun radio yang dapat diakses di daerah Cipendawa maupun Sukatani yaitu stasiun radio Edelwisse, Antasalam, Triswara. Intensitas Mendengarkan Acara Pertanian Intensitas mendengarkan acara pertanian di radio merupakan lamanya waktu yang diluangkan oleh pemuda dalam satu kali mendengarkan acara pertanian di radio. Sebaran intensitas mendengarkan acara pertanian di radio dapat dilihat pada Tabel 18 berikut; Tabel 18. Intensitas mendengarkan acara pertanian Waktu (Menit) Rendah (0 - 20) Sedang (21 – 41) Tinggi (42 – 60) Total Jumlah Responden (Orang) 62 1 2 65 Persentase (%) 95,38 1,54 3,08 100,00 Terdapat sebanyak 95,38 persen pemuda dalam penelitian ini intensitas mendengarkan acara pertaniannya tergolong rendah dengan waktu kurang dari 20 menit untuk satu kali mendengarkan acara pertanian. Sementara itu 1,54 persen pemuda dalam penelitian ini terkategorikan sedang intensitasnya dalam mendengarkan acara pertanian dengan waktu antara 21–41 menit dalam satu kali mendengarkan acara pertanian, untuk pemuda yang intensitas mendengarkan acara televisinya terkategorikan tinggi terdapat 3,08 persen. Rendahnya waktu yang diluangkan oleh pemuda dalam mendengarkan 72 acara pertanian dikarenakan tidak banyak pemuda yang memiliki radio di rumah. Rendahnya intensitas mendengarkan acara pertanian juga disebabkan sedikit saja stasiun radio yang menyiarkan acara pertanian di televisi. Kebanyakan dari stasiun radio hanya menyiarkan acara–acara musik seperti dangdut, musik–musik top Indonesia lainnya. Stasiun radio yang paling rutin menyiarkan acara pertanian adalah Edelwisse, itupun karena stasiun radio tersebut adalah radio komunitas yang berada di wilayah pertanian Ciputri dan tidak dapat diakses secara luas oleh masyarakat yang berada di Desa Sukatani. Tingkat Kedekatan Dengan Teman di Bidang Pertanian Dalam penelitian ini tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian didefinisikan sebagai tingkat hubungan pemuda dengan teman terbaiknya dalam kegiatan sehari - hari. Sebaran data tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian dapat dilihat dari Tabel 19. Tabel 19. Tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian Tingkat Kedekatan Dengan Jumlah Responden Teman di Bidang Pertanian (Orang) Rendah (0 – 2) 24 Sedang (3 – 4) 21 Tinggi (5 - 6) 20 Total (n) 65 Persentase (%) 36,92 32,31 30,77 100 Dari Tabel 19 dapat dilihat bahwa relatif tidak terdapat perbedaan antara jumlah pemuda yang tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertaniannya rendah, sedang dan tinggi. Sebanyak 36,92 persen responden tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian terkategorikan rendah, untuk pemuda yang terkategorikan sedang tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian terdapat sebesar 32,31 persen, sementara itu tingkat kedekatan pemuda dengan teman di bidang pertanian yang terkategorikan tinggi terdapat sebesar 30,77 persen. Tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian ini dilihat melalui sejauhmana pemuda berinteraksi dengan teman terbaiknya yang memiliki pekerjaan di bidang pertanian. Pemuda dalam penelitian ini memiliki beragam teman yang tidak saja berasal dari bidang pertanian tetapi juga bekerja di bidang lain seperti pedagang, buruh, atau pun pelajar, sehingga hubungan para pemuda akan beragam, pemuda yang masih bersekolah akan memiliki kecenderungan teman baiknya akan berasal dari teman di sekolahnya yang merupakan pelajar, sementara itu 73 pemuda yang sudah bekerja baik di bidang pertanian dan bidang non pertanian lebih memiliki teman dekat yang beragam, ada yang berasal dari bidang pertanian ada pula yang berasal dari bidang non pertanian seperti buruh bangunan, buruh pabrik, pedagang dan supir ojek. Persepsi Pemuda terhadap Kondisi di Pedesaan Persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan merupakan proses pemaknaan secara inderawi pemuda terhadap kondisi yang ada di pedesaan yang mempengaruhi pemuda dalam mengambil keputusan terkait dengan pekerjaan di bidang pertanian. Persepsi terhadap kondisi di pedesaan dilihat dari kesempatan kerja di desa, kondisi sumberdaya alam di desa, dan persepsi pemuda itu sendiri dalam melihat prospek pertanian di masa yang akan datang. Persepsi terhadap Kesempatan Kerja di Desa Persepsi pemuda didefinisikan sebagai cara pandang atau pemaknaan pemuda dalam melihat kesempatan kerja yang ada di pedesaan atas dasar pengalaman– pengalaman pemuda. Sebaran persepsi pemuda terhadap kesempatan kerja dapat dilihat pada Tabel 20. Tabel 20. Persepsi terhadap kesempatan kerja di desa Persepsi Jumlah Responden Pemuda (Orang) Tidak ada kesempatan kerja (1-1,75) 1 Kurang ada kesempatan kerja (1,76 2,51) 9 Terdapat kesempatan kerja (2,52 - 3.27) 44 Banyak kesempatan kerja (3,28 – 4) 11 Total (n) 65 Persentase (%) 1,54 13,85 67,69 16,92 100 Dari Tabel 20 dapat dilihat bahwa 67,69 persen pemuda mengganggap bahwasannya terdapat banyak kesempatan kerja di desa, 16,92 persen pemuda beranggapan bahwa banyak kesempatan kerja yang tersedia di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani., sementara itu 13,85 persen pemuda beranggapan bahwa di desa kurang tersedia banyak kesempatan kerja. Jika dilihat dari rataan skor persepsi pemuda terhadap kesempatan kerja di pedesaan sebesar 2,84 maka dapat disimpulkan bahwa pemuda umumnya mempersepsikan bahwa terdapat banyak kesempatan kerja di pedesaan. Baik di Desa Cipendawa maupun di Desa Sukatani memang terdapat 74 beberapa jenis pekerjaan yaitu petani, buruh pabrik, buruh bangunan, pedagang atau wiraswastawan. Jenis–jenis pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang tidak memerlukan tingkat pendidikan tinggi. Hanya buruh pabrik saja yang dituntut memerlukan pendidikan minimal SLTP dan SLTA. Para pemuda yang umumnya hanya merupakan lulusan SD masih dapat memperoleh pekerjaan di desa. Persepsi terhadap Kondisi Sumberdaya Alam di Desa Persepsi pemuda didefinisikan sebagai cara pandang atau pemaknaan pemuda dalam melihat kondisi sumberdaya alam yang ada di pedesaan atas dasar pengalaman– pengalaman pemuda. Sebaran persepsi pemuda terhadap kondisi sumberdaya alam yang ada di pedesaan terdapat pada Tabel 21. Dari Tabel 21 dapat dilihat bahwa 80 persen pemuda mengganggap kondisi sumberdaya alam di desa pemuda sangat baik, sementara itu 20 persen pemuda beranggapan bahwa kondisi sumberdaya alam di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani baik. Jika dilihat dari rataan skor persepsi pemuda terhadap kesempatan kerja di pedesaan sebesar 2,97, yang berarti umumnya pemuda mempersepsikan kondisi sumberdaya alam di desa tergolong baik Tabel 21. Persepsi terhadap kondisi sumberdaya alam di desa Persepsi Jumlah Responden Pemuda (Orang) Sangat Buruk (1-1,75) 0 Buruk (1,76 - 2,51) 0 Baik (2,52 - 3.27) 13 Sangat Baik (3,28 – 4) 52 Total (n) 65,00 Persentase (%) 0 0 20 80 100 Sangat baiknya persepsi pemuda dapat diterima, mengingat Kabupaten Cianjur yang dalam hal ini diwakili oleh Desa Cipedawa dan Desa Sukatani merupakan sentra tanaman sayur di Provinsi Jawa Barat. Menurut Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur yang diwakili oleh penyuluh lapang mengatakan bahwa Desa Cipendawa selain merupakan penghasil wortel juga diproyeksikan sebagai wilayah pengasil bibit kentang menggantikan wilayah Lembang, sementara itu Desa Sukatani merupakan salah satu sentra penghasil wortel terbesar di Jawa Barat, melalui argumen–argumen ini dapat ditarik kesimpulan bahwa baik Desa Cipendawa maupun Desa Sukatani memang memiliki kondisi sumberdaya alam yang baik karena memang merupakan salah satu sentra produksi tanaman sayuran di Jawa Barat. 75 Persepsi terhadap Pertanian di Masa yang Akan Datang Persepsi pemuda terhadap prospek pertanian di masa yang akan datang akan didefinisikan sebagai cara pandang atau pemaknaan pemuda dalam melihat prospek pertanian di masa yang akan datang atas dasar pengalaman–pengalaman pemuda Sebaran persepsi pemuda terhadap prospek pertanian di masa yang akan datang terdapat pada Tabel 22. Tabel 22. Persepsi terhadap pertanian di masa yang akan datang Persepsi Jumlah Responden Pemuda (Orang) Tidak Prospektif (1-1,75) 0 Kurang Prospektif (1,76 - 2,51) 3 Prospektif (2,52 - 3.27) 40 Sangat Prospektif (3,28 – 4) 22 Total (n) 65 Persentase (%) 0 4,62 61,54 33,85 100 Melihat dari sebaran data yang tersaji dari Tabel 22, terdapat 61,54 persen pemuda beranggapan bahwa pertanian di masa yang akan datang akan prospektif , sementara itu 33,85 persen pemuda beranggapan bahwa pertanian di masa yang akan datang sangat prospektif. Tidak semua pemuda mempersepsikan prospek pertanian di masa yang akan datang secara positif, terdapat pula pemuda yang mempersepsikan pertanian di masa yang akan datang akan kurang prospektif bagi pemuda. Melihat dari rataan skor persepsi pemuda yang sebesar 3,1 maka dapat ditarik kesimpulan bahwa umumnya pemuda melihat pekerjaan pertanian sebagai pekerjaan yang prospektif di masa yang akan datang. Temuan ini memang sangat jelas, karena menurut pengakuan penyuluh lapangan dan petani, permintaan tanaman sayuran masih tinggi, petani sayur masih kewalahan dalam memenuhi kebutuhan akan permintaan sayuran. Penyuluh pertanian setempat juga menyatakan bahwa selama masih terdapat kehidupan, maka makanan akan tetap dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam hal ini sayuran tetap dibutuhkan oleh masyarakat, pertimbangan ini yang melatarbelakangi kenapa pemuda percaya bahwa pertanian di masa datang cukup menjanjikan. Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian adalah kondisi psikologis pemuda yang didasari konsep evaluasi terhadap pekerjaan di bidang pertanian dari segi pemenuhan kebutuhan yang terdiri dari komponen kognitif, afektif, konatif yang 76 berkaitan dengan pekerjaan di bidang pertanian. Sikap terhadap pekerjaan ini dikaitkan dengan konsep pekerjaan yang dicetuskan oleh Sajogyo (1987) yaitu pekerjaan sebagai interaksi sosial, sebagai status sosial, sebagai kegiatan yang menghasilkan uang (ekonomi) dan menghasilkan barang dan jasa. Sebaran data untuk sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian tersaji pada Tabel 23. Tabel 23. Sikap Pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian Sikap Jumlah Responden Pemuda (Orang) 18 Kurang Setuju (1,76 – 2,51) 43 Setuju (2,52 – 3,25) 4 Sangat Setuju (3,26 – 4) TOTAL 65 Persentase (%) 27,69 66,15 6,15 100 Tabel 23 menunjukkan bahwa terdapat 27,69 persen pemuda yang kurang setuju untuk bekerja di bidang pertanian, yang berarti para pemuda tersebut kurang tertarik untuk bekerja di bidang pertanian. Terdapat pula 66,15 persen pemuda yang setuju untuk bekerja di bidang pertanian, sementara itu 6,15 persen pemuda sangat setuju sikapnya untuk bekerja di bidang pertanian. Dari Tabel 23 dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pemuda masih tertarik untuk pekerjaan di bidang pertanian. Ketertarikan pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian karena pemuda merasa pertanian merupakan bidang yang masih menjanjikan untuk dijadikan sebagai pekerjaan. Para pemuda berpendapat bahwa daerah Pacet merupakan wilayah yang sangat menjanjikan untuk mengembangkan usaha pertanian sayuran karena wilayah mereka merupakan sentra produksi tanaman sayuran, permintaan sayuran masih tinggi sehingga secara ekonomi pemasaran produk pertanian sayuran tidak menjadi masalah yang besar karena banyak orang yang datang dan mencari sayuran dari Desa Cipendawa dan Desa Sukatani. Para pemuda tertarik bekerja di bidang pertanian karena sebagian besar masyarakat yang berdomisili di daerah tersebut merupakan petani–petani sayur. Jika dibedakan menurut desanya, rataan skor sikap pemuda terhadap pekerjaan pertanian untuk Desa Sukatani sedikit lebih besar (2,77) dibandingkan dengan rataan skor sikap pemuda di Desa Cipendawa (2,71), tetapi tidak berbeda nyata karena kedua sikap pemuda tersebut masih terkategorikan dalam kelas yang sama yaitu cukup setuju untuk bekerja di bidang pertanian. Jika dilihat secara lebih detail lagi, fenomena lebih baiknya sikap pemuda yang berasal dari Desa Sukatani disebabkan Desa Sukatani 77 merupakan wilayah agropolitan di mana secara infrastruktur dan pemasaran wilayah Sukatani lebih baik dibandingkan dengan Cipendawa. Produk–produk pertanian sayuran dari Desa Sukatani banyak yang masuk ke Supermarket besar. Berbeda dengan Cipendawa yang infrastrukturnya tidak sebagus wilayah Sukatani dan pemasarannya hanya masuk ke pasar–pasar tradisional yang berada di wilayah Cianjur, Bogor, Jakarta, dan Bekasi. Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian (Per Indikator) Pekerjaan tidak semata–mata hanya berdasarkan pertimbangan ekonomi, tetapi juga berdasarkan pada pertimbangan lain yang bersifat non-ekonomi. Pada bagian ini disajikan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian yang dibagi–bagi berdasarkan indikator–indikator pekerjaan menurut pendefinisian Sajogyo (1987), di mana pekerjaan di pedesaan dilihat berdasarkan berdasarkan pertimbangan interaksi, pertimbangan status, pertimbangan ekonomi, dan pertimbangan teknis (kemudahan menghasilkan barang atau jasa). Pada Tabel 24 terlihat bahwa sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan indikator pertimbangan interaksi memiliki rataan skor sebesar 2,70 yang berarti para pemuda setuju bahwa jika dilihat dari pertimbangan interaksi, pekerjaan di bidang pertanian lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan non-pertanian (buruh bangunan, buruh pabrik, supir ojek, dan pedagang). Para pemuda meyakini bahwa bekerja sebagai petani membuat mereka lebih mudah dalam berinteraksi dengan masyarakat di desa mereka dibandingkan dengan orang yang bekerja sebagai pedagang, buruh bangunan, maupun sebagai buruh pabrik. Hal ini di sebabkan mayoritas mayarakat di Cipendawa dan Sukatani bekerja sebagai petani, sehingga intensitas bertemu dan berkomunikasi dengan masyarakat lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat yang bekerja sebagai buruh bangunan, buruh pabrik, pedagang, maupun supir ojek. Mereka berpikir menjadi petani itu fleksibel dari segi waktu sehingga dapat bertemu dan berkomunikasi dengan masyarakat kapan saja, dan karena mayoritas masyarakat adalah petani sayuran sehingga jam kerja para petani akan sama dengan petani sayuran yang lain, ketika berangka ke kebun dan ketika pulang dari kebun. Berbeda dengan mereka yang bekerja di bidang non-pertanian, bahkan mereka yang bekerja sebagai buruh bangunan terkadang baru pulang seminggu sekali bahkan ada 78 yang sebulan sekali baru pulang, kebanyakan mereka yang menjadi buruh bekerja di kota besar seperti Jakarta, Tangerang, Bogor. Pertimbangan status dalam penelitian ini memiliki rataan skor 2,77, pemuda cenderung tertarik bekerja di bidang pertanian karena pemuda beranggapan menjadi petani bukan merupakan pekerjaan yang memalukan, mereka percaya pekerjaan sebagai petani merupakan suatu tanggung jawab besar demi keberlangsungan kebutuhan akan makanan dalam hal ini adalah tanaman sayuran. Selain itu pemuda juga berpendapat bahwa mereka tidak takut untuk berkotor–kotor karena mereka yakin matahari dan kotor merupakan bagian yang membuat bekerja di pertanian itu unik. Untuk pertimbangan ekonomi, rataan skor menunjukan angka 2,57 artinya para pemuda setuju untuk bekerja di bidang pertanian karena secara ekonomi mereka percaya seorang petani masih dapat memenuhi kebutuhan dasar. Hal tersebut cukup beralasan karena jika dilihat dari pendapatan per bulan petani buruh bisa memperoleh 1 Juta Rupiah, sementara petani pemiliki lahannya kurang dari 0,2 ha bisa memperoleh 1,5 – 2 Juta Rupiah, tukang ojek memperoleh 750 Ribu Rupiah dalam satu bulan, sementara itu buruh pabrik bisa memperoleh 1 Juta Rupiah dalam dalam satu bulan. Untuk buruh bangunan per hari mereka dapat memperoleh 40 – 45 Ribu Rupiah tetapi pekerjaan itu tidak setiap waktu ada hanya waktu – waktu tertentu, biasanya buruh bangunan juga merupakan petani – petani yang tidak memiliki lahan dan memiliki waktu yang kosong. Tabel 24. Sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian (per indikator) Indikator Sikap Pemuda Rataan Skor* Pertimbangan Interaksi Pertimbangan Status Pertimbangan Ekonomi Pertimbangan Teknis Rataan Skor Total 2,70 2,77 2,57 2,81 2,71 *Ket: 1 – 1,75=: Tidak Setuju;1,76 – 2,51= Kurang Setuju; 2,52 – 3,25= Setuju; 3,26 – 4= Sangat Setuju Rataan skor untuk pertimbangan teknis 2,81 menunjukan bahwa pemuda cukup setuju untuk bekerja di bidang pertanian karena secara teknis pertanian sayuran itu diyakini mudah dalam pelaksanaannya, para pemuda sedikit banyak tahu mengenai cara menanam, mengeolah lahan, memberikan pupuk, memberikan pestisida dan memanen tanaman sayur. Pengetahuan mengenai teknis usahatani sayuran diperoleh oleh pemuda 79 melalui pelibatan–pelibatan dalam kegiatan pertanian yang diperintahkan oleh orang tua mereka. Hubungan Karakteristik Internal Pemuda dengan Sikap Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Sikap merupakan suatu kecenderungan bertindak yang tidak akan terlepas dari faktor–faktor yang terdapat dalam diri seorang pemuda. Sikap pemuda terdapat pekerjaan di bidang pertanian pun demikian tidak akan terlepas dari kondisi internal yang melekat dari pemuda itu sendiri. Oskamp dalam Azwar (1995) mengemukakan bahwa sikap merupakan proses evaluatif yang dilakukan individu. Oleh karena itu, mempelajari sikap berarti perlu juga mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi proses evaluatif sebuah sikap, salah satu faktor yang mempengaruhi proses evaluatif tersebut adalah faktor genetik dan fisiologik yang melekat pada pemuda. Pada penelitian ini terdapat enam karakteristik internal dari pemuda yang ditengarai dapat mempengaruhi sikap pemuda dalam memandang pertanian sebagai pekerjaan di masa yang akan datang. Hubungan antara karakteristik internal pemuda dengan sikap pemuda dapat dilihat pada Tabel 25. Tabel 25. Hubungan antara karakteristik internal pemuda dengan sikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian Karakteristik Internal Analisis Korelasi Karakteristik Pemuda Data Internal dengan Sikap X1. Umur Rank Spearman 0,436** X2. Tingkat Pendidikan Rank Spearman (rs) 0,120 2 X3. Jenis Kelamin Koefisien Kontingensi (x ) 0,511** Rank Spearman (rs) 0,154 X4. Status Kepemilikan Lahan orang tua Rank Spearman (rs) 0,102 X5. Luas Lahan yang di kelola orang tua X6. Tingkat Kekosmopolitan Rank Spearman (rs) - 0,047 Pemuda Keterangan: ** Hubungan sangat nyata pada taraf α 0,01 Hubungan Umur Pemuda dengan Sikap terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Dari Tabel 25 dapat dilihat bahwa umur memiliki hubungan sangat nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai korelasi rank spearman 0,436 (pada taraf α 0,01). Nilai korelasi tersebut menunjukkan bahwa umur memiliki hubungan yang cukup kuat. Semakin bertambah umur seorang pemuda maka 80 sikapnya akan setuju terhadap pekerjaan di bidang pertanian, hal tersebut dilatarbelakangi oleh pertimbangan bahwa ketika pemuda sudah memasuki usia dewasa awal (memasuki usia 22 tahun) maka seorang pemuda memiliki kecenderungan untuk mulai memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri, karena sudah mulai malu untuk meminta uang dari orang tua dan mereka beranggapan bahwa pertanian dapat memenuhi kebutuhan mereka, berbeda dengan pemuda yang masih terkategorikan remaja awal (usia 13–14 tahun) di mana orientasi mereka masih pencarian identitas, masih sering bermain, nongkrong bareng dengan teman–teman, kalaupun ada pemuda yang terkategorikan remaja awal tetapi sudah bekerja, mereka berorientasi untuk pemenuhan hidup yang sifatnya sementara karena masih mendapatkan uang saku dari orang tua. Berbeda dengan pemuda yang sudah terkategorikan dewasa awal mereka sudah menjadikan pertanian sebagai pemasukan utama, dan mereka dapt melihat bahwa pertanian merupakan aspek yang akan selalu dibutuhkan oleh manusia. Pada dasarnya pemuda–pemuda ketika semakin dewasa mereka dapat melihat dan merasa bahwa wilayah domisili mereka merupakan sentra tanaman sayuran sehingga mereka memahami betul bahwa pertanian merupakan pekerjaan yang dapat dijadikan pegangan hidup. Salah seorang pemuda yang terkategorikan dewasa awal berkata bahwa: ”kalo dilihat permintaan sayuran masih tinggi, saya yakin pertanian sayur akan terus berkembang dan menjanjikan bagi para petani, sekarang yang masih menjadi masalah utama adalah modal untuk mengembangkan usaha pertanian sayuran dan jaringan untuk memperluas penjualan karena terbatas ditengkulak saja”. Hubungan antara usia dengan ketertarikan terhadap bidang pertanian juga diteliti oleh Herlina (2002), pada penelitiannya Herlina menyatakan pemuda yang memiliki usia cenderung lebih muda memiliki orientasi bekerja di luar bidang pertanian karena pemuda yang lebih muda mempersepsikan pekerjaan di bidang pertanian sebagai pekerjaan yang rumit dan melelahkan hal ini sedikit berbeda dengan pemuda yang memiliki usia cenderung lebih tua, Perbedaan tersebut disebabkan usia berkaitan dengan pengalaman pemuda di bidang pertanian. Pemuda yang cenderung usianya lebih tua memiliki pengalaman lebih mengenai bidang pertanian dibandingkan dengan pemuda yang usianya masih tergolong muda. \ 81 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Sikap terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Dari Tabel 25 dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan tidak berhubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai korelasi Rank Spearman 0,120. Nilai korelasi tersebut menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak secara nyata berhubungan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Baik pemuda yang berpendidikan rendah maupun pemuda yang berpendidikan tinggi tetap cenderung bersikap positif terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Tidak terdapat perbedaannya karena kebanyakan orang yang berpendidikan tinggi di wilayah Cipendawa dan Sukatani masuknya ke jurusan pertanian di Universitas Suryakencana sehingga mereka berorientasi untuk menjadi sarjana yang bekerja di bidang pertanian, karena alasan itu mereka tetap tertarik untuk bekerja di bidang pertanian membantu orang tua mereka. Bagi pemuda yang berpendidikan rendah mereka sudah langsung terjun ke dunia pertanian karena mereka berpandangan bahwa untuk bekerja di bidang pertanian tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi sehingga mereka menganggap pertanian sebagai pekerjaan yang layak, ilmu pertanian yang mereka dapat berasal dari orang tua dan teman–teman sepermainan mereka, bukan dari pendidikan yang mereka dapatkan dari sekolah mereka, sehingga pemuda yang berpendidikan rendah sama dengan pemuda yang berpendidikan tinggi tetap melihat pekerjaan di bidang pertanian sebagai pekerjaan yang baik. Hubungan Jenis Kelamin Pemuda dengan Sikap terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Tabel 25 memperlihatkan bahwa jenis kelamin memiliki hubungan yang nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai Chi Square sebesar 22.929 dengan Koefisien Kontingensi sebesar 0,511, nilai tersebut menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan pria lebih bersikap positif pada pekerjaan di bidang pertanian dibandingkan dengan perempuan. Terdapat perbedaan nyata antara sikap perempuan dan laki–laki dalam memandang pekerjaan di bidang pertanian. Kecenderungan perempuan bersikap negatif terhadap pekerjaan di bidang pertanian disebabkan perempuan melihat pertanian sebagai pekerjaan yang kotor, mereka beranggapan bahwa pekerjaan sebagai pedagang dan buruh pabrik akan lebih 82 menjanjikan pendapatannya dibandingkan dengan pekerjaan di bidang pertanian. Banyak dari gadis di daerah Cipendawa dan Sukatani yang bekerja di pasar Cipanas sebagai pedagang bahan–bahan sembako bahkan ada yang sebagai pemilik kios–kios sembako. Terdapat beberapa pemudi yang bekerja di mini market seperti Alfamart dan Indomaret yang banyak sekali tersebar di wilayah Cipanas. Rendahnya sikap perempuan terhadap pekerjaan di bidang pertanian dikarenakan tidak jauh dari Kecamatan Cipanas sekitar 10 km ke arah Cianjur banyak terdapat pabrik–pabrik, seperti pabrik sepatu Spotec, keberadaan pabrik sepatu ini ternyata menyebabkan banyak gadis muda yang memilih untuk bekerja di pabrik. Fenomena yang ternyata muncul adalah banyak perempuan yang berasal dari Desa Cipendawa bekerja menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Arab Saudi dan Malaysia, mereka berpendapat bahwa lebih menguntungkan bekerja menjadi TKW di luar negeri dibandingkan menjadi petani, selain itu di mata para pemudi status menjadi TKW lebih baik di bandingkan menjadi petani. Jika ditinjau secara lebih rinci melalui wawancara dengan orang tua para pemudi–pemudi tersebut, fenomena kurang tertariknya pemudi–pemudi untuk bekerja di bidang pertanian disebabkan oleh adanya semacam kepercayaan dari orang tua mereka bahwa jika anak gadis bekerja di bidang pertanian akan membuat penampilan para pemudi–pemudi tersebut buruk, karena harus berhubungan dengan tanah yang kotor dan terkena panas matahari. Penjelasan tersebut sejalan dengan yang dikatakan oleh Herlina (2002), menurut Herlina masyarakat pekerjaan pertanian memiliki ciri–ciri di antaranya membutuhkan tenaga yang kuat, harus bekerja di bawah terik matahari, dan harus berhubungan dengan kegiatan yang berhubungan dengan tanah yang kotor. Terdapat perbedaan tenaga kerja secara seksual yang terjadi di lokasi persawahan, keterlibatan wanita dalam proses produksi meliputi proses penanaman, penyiangan dan panen. Di lokasi penelitian, pekerjaan usahatani dominan dilakukan oleh kaum pria, wanita terlibat dalam proses penanaman. Kebanyakan wanita berpikir pekerjaan pertanian dilakukan oleh laki–laki karena membutuhkan kekuatan fisik, alasan lainnya datang dari orang tua yang mengatakan bahwa wanita merupakan lambang kehormatan keluarga, secara fisik harus merawat diri sedangkan pekerjaan di bidang pertanian sayuran pasti berpanas–panasan di bawah matahari merupakan tugas laki–laki. 83 Hubungan Status Kepemilikan Lahan Orang Tua dengan Sikap terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Tabel 25 menunjukkan bahwa status kepemilikan lahan orang tua tidak memiliki hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai korelasi rank Spearman sebesar 0,154, nilai tersebut menunjukkan bahwa status kepemilikan lahan orang tua tidak berhubungan secara nyata berhubungan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian, artinya baik pemuda yang orang tuanya merupakan pemilik lahan maupun bukan pemilik lahan mereka tetap bersikap positif terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Buat pemuda yang orang tuanya merupakan penggarap lahan biasanya sistem penggarapannya tidak merugikan orang tua mereka dalam mengelola lahan pertaniannya, salah satu jenis penggarapannya adalah lahan yang dipinjamkan oleh Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, di mana setiap orang yang mengelola lahan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dapat sepenuhnya menjual hasil panen mereka, persyaratan mereka hanya harus menjaga pohon–pohon yang ada di wilayah lahan pertanian mereka. Begitu pula dengan penggarap yang sistem penggarapannya gadai, para penggarap tanah gadai biasanya seluruh keuntungan panen diambil oleh petani gadai tersebut, karena sistemnya mereka membeli tanah gadaian dari petani lain yang sedang butuh uang, baru ketika memiliki uang tanah gadai tersebut dikembalikan lagi pada petani pemilik. Perbedaan pemilikan lahan ini ternyata tidak mempengaruhi sikap pemuda dalam melihat pertanian karena mereka yakin apapun bentuk lahan pertanian yang dikelola oleh orang tua pemuda, mereka yakin usahatani akan tetap memberikan keuntungan. Hubungan Luas Lahan Pertanian yang Dikelola Orang Tua dengan Sikap terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Tabel 24 menunjukkan bahwa luas lahan pertanian yang dikelola orang tua tidak memiliki hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai Rank Spearman sebesar 0,102, nilai tersebut menunjukkan bahwa status kepemilikan lahan orang tua tidak berhubungan secara nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Artinya baik pemuda yang orang tuanya mengelola lahan pertanian yang luas maupun pemuda yang orang tuanya mengelola lahan pertanian yang sempit sama–sama cenderung bersikap positif terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Besar kecilnya lahan kelola orang tua tidak berhubungan nyata 84 dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian karena biasanya petani yang lahan pertaniannya sempit mereka juga bekerja di lahan pertanian lain sebagai buruh harian yang bekerja di lahan pertanian dengan bayaran 30–35 ribu rupiah untuk 5–6 jam kerja. Jadi setelah selesai bekerja di lahan pertanian yang mereka kelola, maka orang tua pemuda juga bekerja menjadi buruh di lahan pertanian lain. Hubungan Tingkat Kekosmopolitan Pemuda dengan Sikap terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Tabel 25 menunjukkan bahwa tingkat kekosmopolitan pemuda tidak memiliki hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai Rank Spearman sebesar -0,047, menurut Guildford dalam Rakhmat (2005) nilai korelasi kurang dari 0,2 memiliki nilai hubungan yang sangat lemah dan hampir tidak memiliki hubungan. Nilai korelasi tersebut menunjukkan bahwa tingkat kekosmopolitan pemuda tidak berhubungan nyata dengan sikap pemuda. Artinya bahwa baik pemuda yang kosmopolit mau pun yang tidak kosmopolit tidak memberikan perbedaan dalam bersikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Tidak berpengaruhnya tingkat kekosmopolitan pemuda dikarenakan sebagian besar pemuda jarang keluar dari desa mereka masing–masing, karena wilayahnya cukup jauh dan harus ditempuh dengan motor, keluarnya pemuda menuju kota bukan karena inisiatif dari dalam diri sendiri (self-motivated) melainkan diperintahkan oleh orang tua mereka untuk membeli bibit ataupun obat untuk tanaman mereka, sehingga ada unsur keterpaksaan. Hubungan Antara Sosialisasi oleh Orang Tua, Teman, dan Keterdedahan terhadap Media dengan Sikap Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Oskamp dalam Azwar (1995) mengemukakan bahwa sikap merupakan proses evaluatif yang dilakukan individu. Oleh karena itu, mempelajari sikap berarti perlu juga mempelajari faktor-faktor yang berhubungan dengan proses evaluatif sebuah sikap. Pembentukan sikap itu sendiri dipengaruh oleh banyak faktor baik yang berasal dari dalam diri individu (internal) maupun yang berada dari luar diri individu itu sendiri (eksternal). Faktor–faktor yang mempengaruhi sikap seseorang adalah: 1). orang tua: Orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak-anaknya. Sikap orang tua akan dijadikan role model bagi anak-anaknya 2). Teman sepermainan atau kelompok masyarakat memberi pengaruh kepada individu. Ada kecenderungan bahwa seorang 85 individu berusaha untuk sama dengan teman sekelompoknya (Ajzen dalam Azwar (1995) menyebutnya dengan normative belief). Seorang anak nakal yang bersekolah dan berteman dengan anak-anak santri kemungkinan akan berubah menjadi tidak nakal lagi. 3). Media massa adalah media yang hadir di tengah tengah masyarakat. Dalam penelitian ini hubungan orang tua, teman, dan media massa dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dilihat sebagai suatu proses sosialisasi yang tekait dengan bidang pertanian sehingga semua peubah dikaitkan dengan pertanian. Untuk lebih jelasnya mengenai hubungan antara orang tua, media massa, dan teman terhadap sikap dapat dilihat pada Tabel 26. Tabel 26. Hubungan antara sosialisasi oleh orang tua, teman, dan keterdedahan terhadap media dengan sikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian Faktor Analisis Nilai Korelasi Sosialisasi Data Dengan Sikap X7. Sosialisasi Oleh Orang Tua X7.1. Frekuensi Orang Tua Bercerita Rank Spearman (rs) 0,093 tentang Pertanian X7.2. Tingkat Pelibatan pemuda dalam Rank Spearman (rs) 0,683** kegiatan pertanian oleh orang tua X8. Keterdedahan Terhadap Media Rank Spearman (rs) 0,271* X8.1.1. Lama Menonton Acara Pertanian di TV Rank Spearman (rs) 0,099 X8.1.2. Lama Mendengarkan acara Pertanian di Radio Rank Spearman (rs) 0,132 X8.2.1. Frekuensi Menonton Acara Pertanian di TV X8.2.2. Frekuensi Mendengarkan Acara Rank Spearman (rs) 0,130 Pertanian di Radio X9. Interaksi Dengan Teman X9.1. Tingkat kedekatan dengan teman Rank Spearman (rs) 0,445** di bidang pertanian Keterangan: * Berhubungan nyata pada taraf α 0,05 ** Berhubungan sangat nyata pada taraf α 0,01 Sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua diukur melalui dua dimensi, yaitu: frekuensi orang tua membicarakan pertanian dan tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua di bidang pertanian. Keterdedahan terhadap media massa pertanian diukur melalui dua dimensi yaitu lama waktu yang diluangkan pemuda dan frekuensi mengakses media massa pertanian, sedangkan interaksi dengan teman diukur melalui dimensi tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian. 86 Hubungan Sosialisasi oleh Orang tua dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Dapat dilihat pada Tabel 26, Sosialisasi oleh orang tua memiliki hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian terutama pada indikator pelibatan pemuda oleh orang tua dalam kegiatan pertanian dengan nilai rank spearman sebesar 0,663, nilai korelasi menunjukkan bahwa pelibatan pemuda oleh orang tua dalam kegiatan pertanian memiliki hubungan sangat nyata. Nilai tersebut juga menunjukkan bahwa pelibatan pemuda oleh orang tua memiliki hubungan positif dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian, artinya semakin orang tua melibatkan pemuda dalam kegiatan pertanian maka sikap pemuda semakin baik terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Hal ini wajar karena dengan memperkenalkan pertanian sejak dini dengan cara melibatkan anak–anak dapat meningkatkan minat seorang anak terhadap bidang pertanian. Orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak-anaknya. Perilaku orang tua dijadikan contoh oleh anak-anaknya. Semakin seorang pemuda dilibatkan oleh orang tua mereka dalam kegiatan pertanian, maka pemuda tersebut belajar caracara menanam, memilih bibit, memanen, memberikan pestisida terhadap tanaman sayuran orang tuanya. Pelibatan pemuda dalam kegiatan pertanian dapat dilihat sebagai suatu proses sosialisasi yang dilakukan oleh orang tuanya dalam memperkenalkan pertanian terhadap anaknya sejak dini. Pelibatan pemuda dalam kegiatan pertanian merupakan salah satu bentuk dari patterned family interaction di mana proses ini dapat dilihat sebagai suatu ritual yang coba dipertahankan oleh keluarga dalam rangka menurunkan nilai–nilai pertanian yang penting dalam membentuk kepribadian atau identitas di mana pemuda tersebut berada, selain itu Ihromi (1999) juga mengatakan bahwa peran sosialisasi yang dialami seorang anak menentukan kepribadiannya di masa mendatang karena salah satu agen sosialisasi pada masa remaja adalah orang tua yang merupakan salah satu significant others bagi pemuda dan juga orang tualah yang menjadi role model bagi pemuda dalam membentuk perilakunya. Peran komunikasi orang tua sebagai pengasuh dan pendidik utama anak dijelaskan oleh Popov dan Popov dalam Puspitawati (2009), yaitu pemandu dan pembina dalam meningkatkan keterampilan dan konselor dalam mengarahkan moral. Pemuda beranggapan bahwa dengan diajak terlibat dalam kegiatan pertanian sejak dini oleh orang tua mereka jadi terbiasa dengan kegiatan–kegiatan di bidang 87 pertanian, secara tidak langsung pelibatan ini diakui oleh pemuda dapat menumbuhkan rasa senang terhadap pertanian, yang kemudian rasa senang ini yang dapat menjadi dasar kenapa sikap pemuda terhadap pekerjaan bidang pertanian dapat positif, semakin dini mereka tahu bahwa pekerjaan di bidang pertanian harus berurusan dengan tanah dan kotor maka pemuda akan semakin dapat menerima kenyataan ini. Pentingnya pelibatan pemuda dalam kegiatan pertanian oleh orang tua juga diutarakan oleh Herlina (2002) dengan menyebutkan bahwa proses sosialisasi pekerjaan pertanian sebenarnya sudah dimulai saat seorang pemuda masih terkategorikan sebagai anak–anak, meski harus diakui orang tua tidak menginginkan anaknya menjadi petani, bagi orang tua pelibatan anak dalam kegiatan pertanian tidak lebih hanya sebagai upaya orang tua meringankan tugasnya sekaligus agar anak terbiasa tetapi hal tersebut secara tidak langsung membentuk keterampilan pemuda dalam melakukan pekerjaan di bidang pertanian. Hubungan Antara Keterdedahan Media Massa dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Tabel 26 menunjukkan bahwa keterdedahan terhadap media massa memiliki hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian terutama pada indikator lama menonton acara pertanian di televisi dengan nilai rank spearman sebesar 0,271, nilai korelasi menunjukkan bahwa lama menonton acara pertanian di televisi memiliki hubungan nyata. Nilai tersebut juga menunjukkan bahwa lama menonton acara pertanian di televisi memiliki hubungan positif dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Semakin lama seorang menonton acara pertanian di televisi maka sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian semakin baik. Hal tersebut cukup masuk akal mengingat semakin lama seorang pemuda menonton acara pertanian di televisi artinya pemuda tersebut tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai pekerjaan di bidang pertanian. Stasiun televisi yang paling sering menyiarkan acara pertanian adalah TVRI dengan berbagai program andalan seperti acara Pelangi Desa, Desa Membangun, Salam Dari Desa. Ketiga acara tersebut merupakan acara pertanian yang paling sering di tonton oleh pemuda. Ketiga acara tersebut menjadi corong pemerintah dalam memberikan gambaran positif mengenai pertanian secara luas yang mencakup peternakan dan perikanan. Informasi–informasi yang disampaikan merupakan informasi 88 yang sifatnya positif yang dapat meningkatkan motivasi pemuda dalam kegiatan pertanian, seperti kisah sukses seorang petani, cara–cara meningkatkan produktivitas pertanian. Semakin lama seorang pemuda meluangkan waktunya untuk menonton acara pertanian tersebut maka pemuda semakin positif sikapnya terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Lamanya seseorang menonton acara pertanian di televisi juga menunjukkan minat orang terebut dalam mencari informasi lebih banyak tentang pertanian. Televisi dianggap lebih bisa memotivasi dari pada radio karena pemuda berpendapat bahwa televisi lebih menarik karena memiliki gambar sehingga para pemuda dapat memiliki gambaran jelas mengenai cara–cara pertanian, berbeda dengan radio yang berupa media massa audio. Khairil (1994) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa penggunaan media massa dapat memenuhi kebutuhan petani terhadap informasi, pengetahuan serta hiburan. Pengguna media massa tersebut mempengaruhi cakrawala berpikir, sikap, dan akhirnya mempengaruhi perilaku petani. Waktu yang digunakan untuk menonton televisi menentukan efek keterdedahan. Hubungan Interaksi dengan Teman dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Tabel 26 menunjukkan bahwa interaksi dengan teman memiliki hubungan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian, interaksi dengan teman pada penelitian ini dikaji melalui tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian. Tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian berhubungan sangat nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai Rank Spearman sebesar 0,445, nilai hubungan tersebut menunjukkan bahwa tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian memiliki hubungan yang cukup kuat. Nilai tersebut juga menunjukkan bahwa tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian memiliki hubungan positif dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Artinya semakin tinggi seorang pemuda memiliki tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian maka sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian semakin baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemuda yang memiliki tingkat kedekatan yang tinggi dengan teman di bidang pertanian artinya pemuda tersebut teman–teman dekatnya memiliki kegiatan di bidang pertanian, sehingga dalam pembicaraannya pun mereka lebih sering berdiskusi dan membicarakan mengenai pertanian, sehingga dapat menggambarkan tingkah laku yang hampir sama, dan memiliki perasaan yang sama 89 dengan suatu obyek. Demikian pula sebaliknya pemuda–pemuda yang rendah tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian cenderung memiliki sikap yang kurang baik terhadap pekerjaan di bidang pertanian, karena mereka yang tidak memiliki kedekatan dengan teman–teman di bidang pertanian biasanya jarang dan tidak pernah berbicara mengenai pertanian. Jaccard et al., (2005) mengatakan bahwa tingkat kedekatan dengan teman (closeness) dapat menggambarkan tingkah laku yang hampir sama dan memiliki perasaan yang sama terhadap suatu obyek. Sehingga dapat dijelaskan bahwa pemuda yang memiliki teman baik yang bekerja di bidang pertanian akan memberikan dampak atau pengaruh pada pandangan pemuda tersebut dalam melihat pertanian. Biasanya terdapat pemuda yang diajak temannya untuk sekedar membantu di kebun dan membicarakan informasi–informasi tentang pertanian. Bagi pemuda yang teman– teman dekatnya tidak bekerja di bidang pertanian seperti pedagang, tukang ojek, ataupun pelajar memiliki kecenderungan tidak bersikap positif terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Karena dalam hubungannya mereka jarang membicarakan mengenai pertanian, hal–hal yang dibicarakan antara pemuda yang memiliki teman dekat di luar pertanian adalah masalah-masalah non–pertanian. Teman dapat menjadi agen sosialisasi yang efektif karena teman (peers) pola sosialisasinya lebih bersifat ekuilitas di mana kedudukannya setara atau sederajat Hubungan Persepsi Pemuda terhadap Kondisi di Pedesaan dengan Sikap Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Persepsi terhadap kondisi di pedesaan berkaitan dengan daya dorong (push - out) dan daya tarik (pull-out) merupakan konsep yang berhubungan dengan migrasi dari desa –kota. Bila tanpa melihat atau memperhatikan perpindahan geografi, maka push out dan pull Out terjadi sehubungan dengan jenis pekerjaan, disebut juga mobilitas pekerjaan yang diartikan sebagai perpindahan kerja penduduk dari suatu sektor perekonomian ke sektor lainnya, misalnya dari sektor pertanian ke sektor non pertanian (Suryana dalam Tjakrawati, 1988). Hal ini disebabkan dua hal, pertama bidang pertanian mendorong keluarnya angkatan kerja akibat pertambahan penduduk yang besar tiap tahunnya. Kedua, ada daya tarik bidang non–pertanian yaitu penciptaan lapangan kerja di bidang non–pertanian yang lebih baik dari pada sektor pertanian. Dalam penelitian ini pindah atau tidaknya tenaga kerja pertanian ke sektor non - 90 pertanian dilihat akibat dari kondisi sumberdaya alam, peluang atau kesempatan kerja di pedesaan, dan kondisi pertanian di masa yang akan datang. Persepsi pemuda terhadap faktor penarik dan faktor pendorong akan disajikan pada Tabel 27. Tabel 27. Hubungan antara persepsi pemuda terhadap faktor pendorong di pedesaan dengan sikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian Persepsi Analisis Nilai Korelasi Pemuda Data Dengan Sikap X10. Persepsi Pemuda terhadap Faktor Pendorong di Pedesaan X10.1. Persepsi pemuda terhadap Rank Spearman (rs) 0,181 Kesempatan Kerja di Pedesaan X10.2.Persepsi Pemuda terhadap kondisi Rank Spearman (rs) 0,129 sumberdaya alam di pedesaan X10.2.Persepsi pemuda terhadap Rank Spearman (rs) 0,281* pertanian di masa depan Keterangan: * Berhubungan nyata pada taraf α 0,05 Dari Tabel 27 dapat dilihat bahwa persepsi pemuda terhadap kesempatan kerja di bidang pertanian tidak memiliki hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai hubungan hanya 0,181, nilai korelasi tersebut sangat lemah dan hampir tidak memiliki hubungan atau dengan kata lain persepsi terhadap kesempatan kerja di pedesaan tidak secara nyata berhubungan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Baik pemuda yang berpersepsi bahwa banyak kesempatan kerja di pedesaan maupun pemuda yang berpersepsi kurang banyak kesempatan kerja di pedesaan tidak memberikan perbedaan nyata dalam sikap yang ditunjukkan oleh pemuda. Sama dengan persepsi terhadap kesempatan kerja di pedesaan, persepsi terhadap kondisi sumberdaya alam di pedesaan juga tidak memiliki hubungan nyata dengan sikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Nilai hubungan antara persepsi pemuda terhadap kondisi sumberdaya alam di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian sebesar 0,129 yang berarti persepsi terhadap kondisi sumberdaya alam tidak secara nyata mempengaruhi sikap pemuda. Baik pemuda yang mempersepsikan kondisi sumberdaya alamnya kurang baik maupun pemuda yang berpersepsi baik terhadap kondisi tidak memberikan sikap yang berbeda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Persepsi mengenai pertanian di masa depan berkorelasi dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai hubungan 0,281 yang berhubungan 91 nyata pada taraf α 0,05. Nilai hubungan tersebut menunjukkan bahwa persepsi terhadap pertanian di masa depan memiliki hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Semakin bagus persepsi pemuda mengenai pertanian di masa depan, maka sikap semakin baik terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Hal itu menunjukan bahwa pemuda yang menganggap di masa yang akan datang pertanian semakin baik dan semakin mendapatkan perhatian dari pemerintah baik secara ekonomi maupun secara teknologi akan lebih tertarik untuk kerja di bidang pertanian karena terdapat kepastian bahwa pekerjaan di bidang pertanian tidak lagi sebagai pekerjaan yang dianggap sebelah mata tetapi dilihat sebagai pekerjaan yang menjanjikan bagi para pemuda. Pemuda yang memiliki persepsi baik terhadap pertanian di masa depan merasa yakin bahwa pertanian sektor yang sangat dibutuhkan oleh manusia selama manusia masih hidup sehingga pemuda yakin bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan bidang pertanian mendapatkan perhatian yang lebih baik sehingga lebih menjadi pekerjaan yang menjanjikan bagi para pemuda di masa yang akan datang. Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Sikap merupakan produk dari kegiatan sosialisasi dari agen sosialisasi yang berada disekitar individu (Mar’at, 1981). Pada penelitian ini terdapat beberapa faktor terkait dengan agen sosialisasi yang memiliki hubungan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Dari Tabel 28 dapat dilihat bahwa sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua dalam hal ini adalah tingkat pelibatan pemuda dalam kegiatan pertanian oleh orang tua memiliki nilai korelasi yang terbesar dengan nilai korelasi sebesar 0,683, Nilai korelasi kedua terbesar adalah interaksi dengan teman dalam hal ini adalah kedekatan dengan teman di bidang pertanian dengan nilai korelasi sebesar 0,445, sementara itu Keterdedahan terhadap acara pertanian di televisi memiliki nilai korelasi 0,271. Dapat dilihat bahwa orang tua merupakan agen sosialisasi yang memiliki hubungan terkuat dengan positifnya sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Dari hasil wawancara dengan para pemuda, diakui bahwa ketertarikan mereka untuk bekerja di bidang pertanian dipengaruhi oleh orang tua. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Puspitawati (2009), orang tua sebagai agen sosialisasi primer memegang peranan penting dalam membentuk sikap pemuda karena orang tua 92 merupakan buffer (penyangga) yang dapat memagari adanya pengaruh–pengaruh yang datang dari luar yang sifatnya negatif. Dalam penelitian ini tingkat pelibatan pemuda dalam kegiatan pertanian telah menanamkan dasar fondasi yang kuat kepada pemuda dalam hal budidaya pertanian sayur. Proses sosialisasi ini secara tidak langsung meningkatkan kemampuan pemuda dalam bertani sehingga pada jangka panjang menumbuhkan kecintaan pemuda pada pertanian. Orang tua mewakili suatu konstelasi hubungan yang sangat khusus, peran komunikasi orang tua sebagai pendidik utama anak dijelaskan oleh Popov dan Popov dalam Puspitawati (2009), yaitu sebagai pelindung dan penguasa dalam menegakan peraturan; pemandu dan pembina dalam meningkatkan keterampilan. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Ihromi (1999) bahwa sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua merupakan dasar dalam membentuk kepribadian seseorang dalam dunia umum. Tabel 28. Faktor agen sosialisasi yang berhubungan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian Faktor Analisis Nilai Korelasi Sosialisasi Data Dengan Sikap X7. Sosialisasi Oleh Orang Tua X7.2. Tingkat Pelibatan pemuda dalam Rank Spearman (rs) 0,683** kegiatan pertanian oleh orang tua X8. Keterdedahan Terhadap Media Rank Spearman (rs) 0,271* X8.1.1 Lama Menonton Pertanian di TV X9. Interaksi Dengan Teman Rank Spearman (rs) 0,445** X9.1. Tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian Keterangan: * Berhubungan nyata pada taraf α 0,05 ** Berhubungan sangat nyata pada taraf α 0,01 Sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua tidak harus selalu dalam bentuk komunikasi verbal di mana orang tua berbicara pada anaknya, pada penelitian ini justru sosialisasi yang hubungan dengan pembentukan sikap adalah sosialisasi yang dilakukan secara secara non-verbal yaitu melalui suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama sama (patterned family interaction), kegiatan ini terkategorikan sebagai ritual. Menurut Turner dan West (2005) ritual merupakan proses komunikasi karena menekankan pada perbuatan yang dilakukan bersama–sama, menghargai ”kemagisan (magical), keaslian realitas, keefektivan suatu simbol” dan memiliki makna yang hendak disampaikan dalam hal ini adalah identitas keluarga, lebih spesifiknya lagi adalah identitas sebagai keluarga petani. 93 Peranan penting orang tua dalam kegiatan sosialisasi juga dijelaskan oleh Narwoko dan Suyanto (2004) Keluarga dalam hal ini orang tua merupakan institusi paling berpengaruh dan paling penting dalam proses sosialisasi manusia. Hal ini terjadi karena keluarga merupakan agen sosialisasi primer yang selalu tatap muka di antara anggota keluarganya. Orang tua memiliki kondisi yang lebih tinggi untuk mendidik anak– anaknya, sehingga menumbuhkan hubungan emosional. Konsistensi hubungan sosial antara orang tua dan anak yang terjaga menjadi orang tua memiliki peranan yang penting terhadap proses sosialisasi Ketertarikan Pemuda terhadap Pekerjaan Pertanian di Bidang Pertanian Hortikultura Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa sebagian besar pemuda masih tertarik untuk bekerja di bidang pertanian hortikultura. Temuan ini berbeda dengan temuan pada penelitian lain tentang pemuda dan pertanian yang dilakukan oleh Herlina (2002) di wilayah pertanian perkebunan, Rozany (1999). Herlina (2002) mengatakan bahwa pemuda di wilayah perkebunan sebenarnya mengalami dilema dalam memandang bidang pertanian. Pertanian sebagai usaha secara ekonomis masih cukup menguntungkan tetapi penilaian gengsi sebuah pekerjaan mengalami pergeseran. Pemuda di wilayah perkebunan memiliki orientasi ke arah pekerjaan non pertanian, karena pekerjaan non pertanian dipersepsikan lebih ringan, bersih, dan prospektif. Dihargai sebagai suatu cara untuk mengangkat status sosial dan perasaan lebih “terhormat”. Rozany (1999) dalam penelitiannya di Sumatra Utara, Jawa Barat dan Jawa Timur menemukan bahwa tenaga kerja pemuda, bujang dan terdidik lebih memilih pekerjaan non pertanian karena menjanjikan pendapatan yang relatif lebih tinggi dan dirasa ”terhormat”. Akhirnya sebagai bentuk penolakan terhadap pekerjaan pertanian, banyak angkatan kerja pedesaan yang memilih bermigrasi ke kota. Pilihan pekerjaan yang banyak menjadi sasaran adalah buruh industri atau sektor informal. Keputusan itu selain dilandasi alasan ekonomi, terkandung alasan gengsi mengenai pekerjaan. Secara implisit alasan yang menyebut migrasi sebagai bentuk rasionalisasi terhadap sempitnya peluang kerja di sektor pertanian atau rendahnya pendapatan di sektor ini menjadi tidak relevan. 94 Sementara itu penelitian yang berkaitan dengan pandangan pemuda di wilayah pertanian pangan (padi) dalam melihat pekerjaan di bidang pertanian dilakukan oleh Lubis dan Sutarto (1991), penelitiannya melihat konsistensi pola mata pencaharian antara orang tua dengan anak pada masyarakat petani di Bekasi dan Cianjur menemukan bahwa terdapat konsistensi yang kuat antara pekerjaan utama orang tua dengan pekerjaan anaknya. Berpijak pada beberapa faktor pendorong dan penarik seperti lahan, hubungan sosial, modal, pasar, pola kerja dan aksesibilitas terhadap teknologi, peneliti sampai pada kesimpulan bahwa pekerjaan di bidang pertanian masih memiliki daya tarik bagi pemuda atau dengan kata lain pekerjaan di bidang pertanian masih diminati oleh. Selain pengaruh sosialisasi dalam keluarga, ketertarikan pemuda terhadap bidang pertanian ini mendapatkan dukungan yang kuat dari ketidaksesuaian mental pemuda ketika memasuki dunia kerja di sektor non - pertanian. Berbeda dengan penelitian tentang pemuda yang telah dilakukan sebelumnya di wilayah pertanian sawah, dan perkebunan. Penelitian ini dilkukan di wilayah pertanian hortikultura (sayuran) yang merupakan high value comodity. Maka selain faktor–faktor sosialisasi oleh agen sosialisasi, terdapat beberapa faktor yang diduga menjadi pertimbangan kenapa pemuda yang berasal dari wilayah hortikultura (sayur) masih tertarik untuk bekerja di bidang pertanian pertanian. Fenomena masih banyaknya pemuda bergerak di bidang pertanian hortikultura Faktor–faktor ini tertangkap melalui penjelasan yang dijelaskan oleh petani, penyuluh, dan ketua gapoktan. Menurut penuturan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang bertanggung jawab untuk wilayah Kecamatan Pacet dan Ketua Gapoktan Multi Tani Jaya Giri, pertanian hortikultura memiliki kecenderungan untuk diminati oleh pemuda dibandingkan dengan pertanian pangan (padi) dan perkebunan. Hal ini dapat dilihat dari 4 (empat) hal, yaitu (1) Waktu produksi, dilihat waktu produksi, komoditas pertanian hortikultura (sayuran) memiliki waktu panen yang lebih cepat, bervariasi dari mulai 30 hari–90 hari tergantung komoditasnya, sementara itu pertanian pangan (padi) memiliki waktu yang relatif lebih lama, yaitu 120–140 hari tergantung varietas padi. (2). Rotasi tanam, untuk tanaman hortikultura sangat dianjurkan untuk menerapkan sistem rotasi tanam, karena dari segi hama dan penyakit metode rotasi tanam ini merupakan metode untuk memutus perkembangan hama dan penyakit yang berasal dari tanah. Dari segi ekonomi rotasi tanam tersebut merupakan peluang tersendiri bagi para petani untuk 95 dapat mendiversifikasi komoditas pertanian mereka, yang mana memberikan kesempatan bagi petani untuk menanam komoditas hortikultura yang harga di pasarnya sedang bagus atau tinggi. (3) Mobilitas petani, petani sayuran memiliki mobilitas yang sangat tinggi, mereka keluar dari rumah untuk pergi ke kebun sehabis solat subuh, dan kembali ke rumah setelah pukul 12, dan biasanya ada petani yang kembali ke kebun untuk melakukan pemeriksaan terhadap tanaman sayur mereka, bahkan ketika turun hujan malam hari para petani harus kembali ke kebun untuk menutup tanaman sayur mereka agar tidak terkena air terlalu banyak, berbeda dengan petani padi yang baru berangkat pukul 8 pagi dan jam 11 terkadang sudah kembali ke rumah. Mobilitas petani sayuran yang tinggi menyebabkan petani sayur tidak bisa mencari sumber pendapatan lain berbeda dengan padi yang tidak sepadat petani sayur menyebabkan banyak petani padi mencari pekerjaan lain di waktu kosong mereka (diversifikasi sumber income) di bidang sektor non pertanian. (4) Konsep uang tunai (cash money), konsep ini erat kaitannya dengan masa tanam, tanaman sayuran memiliki masa tanam yang relatif cepat dibandingkan dengan pertanian padi sehingga petani sayur lebih cepat mendapatkan bayaran akan komoditas yang dijualnya, dibandingkan dengan petani padi. Sehingga dalam pemenuhan kebutuhannya petani sayuran tidak perlu banyak berhutang berbeda dengan petani padi yang banyak berhutang karena perputaran uang mereka lama. Secara rasional penyuluh dan ketua Gapoktan juga mengakui bahwa tanaman hortikulura masih memiliki nilai ekonomi yang lebih baik dari pertanian perkebunan maupun tanaman pangan. Sehingga pertimbangan ekonomi tidak bisa dilepaskan dalam memilih sektor pekerjaan. Jika ditinjau dari segi kelembagaan, di Kecamatan Pacet terdapat Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang anggotanya mayoritas merupakan pemuda. Ketua Gapoktan usianya masih terbilang muda (30 tahun), selain itu gapoktan tersebut memiliki kegiatan khusus yang diikuti para pemuda antara lain tahlilan (pertemuan setiap malam jum’at) dan setelah Solat jum’at sekitar pukul 14.00. Pada pertemuan tersebut tidak ada satu petani–petani senior yang ikut dalam rapat tersebut, tujuan yang diharapkan oleh ketua kelompok tani tersebut adalah para pemuda bisa mengembangkan kreativitasnya tanpa harus takut pendapatnya ditentang oleh petani senior. Tingginya minat pemuda untuk bekerja di pertanian juga dikarenakan pemerintah dalam hal ini penyuluh lapang rutin hampir setiap minggu datang untuk sekedar melihat kebun–kebun 96 petani dan sering memberikan penjelasan–penjelasan seputar pertanian sayur di sekretariat milik Gapoktan. Pertanian di wilayah Kecamatan Pacet masih menjadi daya tarik bagi investor–investor besar untuk mengembangkan wilayah tersebut menjadi sentra agribisnis sayuran. Gapoktan di Kecamatan Pacet menjalin kerja sama dengan pihak swasta untuk mengembangkan Green House untuk pembibitan paprika. Diakui oleh pihak Gapoktan, banyak sekali program–program yang diberikan oleh pemerintah (baik pusat maupun daerah) seperti Sekolah Lapang (SL), Penumbuhan Regu Pengendalian Hama Penyakit (RPHT). Tidak hanya dari pemerintah, terdapat juga investor yang mau mengembangkan usaha agribisnis seperti Bank Jabar yang hendak melakukan pembiayaan khususnya untuk penangkaran bibit dan untuk budidaya kentang. Banyaknya perhatian dari pemerintah dan swasta menjadi alasan kenapa pertanian masih sangat menjanjikan bagi para pemuda tani tersebut. Faktor lain dapat menjelaskan ketertarikan pemuda terhadap bidang pertanian adalah kondisi alam dari Kecamatan Pacet yang sangat mendukung untuk perkembangan agribisnis sayuran. Kabupaten Cianjur merupakan salah satu dari 7 (Tujuh) kota/kabupaten yang merupakan sentra produksi tanaman sayur di Jawa Barat. 97 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Sebagian besar pemuda tertarik untuk bekerja di bidang pertanian. 2. Dalam proses sosialisasinya, frekuensi orang tua bercerita mengenai pertanian tergolong rendah, tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua dalam bidang pertanian terkategorikan sedang, frekuensi menonton acara pertaniannya rendah, intensitas untuk sekali menonton acara pertanian terkategorikan rendah, frekuensi mendengarkan radio acara pertanian juga rendah, intensitas pemuda mendengarkan radio rendah, tingkat kedekatan dengan teman dari bidang pertanian terkategorikan rendah. 3. Karakteristik individu pemuda, umur dan jenis kelamin mempunyai hubungan sangat nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. 4. Tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua di bidang pertanian, lama menonton acara pertanian, dan tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian berhubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. 5. Persepsi pemuda terhadap pertanian di masa depan berhubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Saran 1. Sikap pemuda petani perlu tetap dipertahankan agar tetap mendedikasikan dirinya di bidang pertanian dalam hal ini pertanian sayuran, pemerintah perlu meningkatkan perhatian dalam rangka mempertahankan pemuda dengan cara memberikan jaminan akan masa depan petani yang lebih baik. 2. Dalam rangka menjaga agar pemuda di pedesaan tetap konsisten untuk bekerja di bidang pertanian, pemerintah perlu menciptakan suatu kebijakan yang berkaitan dengan pembentukan kelompok pemuda tani, karena dengan adanya kelompok pemuda tani maka pemuda akan lebih dapat mengembangkan kreativitas mereka tanpa harus terdominasi oleh orang tua. 3. Acara pertanian di televisi sedapat mungkin ditingkatkan atau ditambah jadwal acaranya, jika perlu kombinasikan antara acara–acara musik dengan acara 98 pertanian dengan cara memasukan informasi–informasi pertanian agar dapat lebih meningkatkan rasa cinta pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. 4. Orang tua perlu melibatkan anaknya dalam kegiatan pertanian agar dapat memperkenalkan pertanian sejak dini kepada anak–anak mereka. Semakin dini seorang anak diperkenalkan kepada bidang pertanian maka semakin meningkatkan minat seorang anak untuk bekerja di bidang pertanian. 5. Pemerintah perlu memberikan kepastian mengenai masa depan pertanian bagi para pemuda. Untuk tanaman sayuran para petani juga perlu diberikan kepastian mengenai harga, karena harga pertanian sayur sangat fluktuatif, dengan adanya jaminan harga dari pemerintah maka kehawatiran petani sayur akan teratasi. 99 DAFTAR PUSTAKA Azwar, S. 1995. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar. Yogyakarta [BPS] Badan Pusat Statistik. 2010. Berita Resmi Statistik: Keadaan Ketenagakerjaan Agustus 2010. Jakarta. Cangara. H. 2002. Pengantar Ilmu Komunikasi. Rajagrafindo Persada. Jakarta. Cobb, NJ. 2010. Adolescence: Continuity, Change, and Diversity, Seventh Edition, Sinauer Associates. USA. Daryanto, A. 2009. Posisi Daya Saing Pertanian dan Upaya Peningkatannya. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor. [Deptan] Departemen Pertanian. 1992. Pedoman Pembinaan Pemuda Tani. Jakarta ,2005. Rencana Strategis Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Departemen Pertanian 2005-2009. Deptan. Jakarta Handayani, T & Sugiarti. 2008. Konsep dan Teknik Penelitian Gender: Edisi Revisi. UMM Press. Malang. Herlina. 2002. Orientasi Nilai Kerja Pemuda pada Keluarga Petani Perkebunan [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Ihromi, T.O. 1999. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Obor Indonesia. Jakarta. Jaccard, J. Dodge, T. & Hart B. 2005. Peer Influence on Risk Behaviour: An Analysis of The Effects of a Close Friend. Developmental Psychology. 41: 135 – 149. Jahi, A. 1988. Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan Di Negara Dunia Ketiga: Suatu Pengantar. Gramedia. Jakarta. Khairil, 1994. Hubungan Keterdedahan Petani Anggota Kelompok Pencapir Pada Siaran Pedesaan dari Radio dan Televisi dengan Pengetahuan Mereka tentang Diversifikasi Usahatani di Kabupaten Bengkalis Utara [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Lubis, D & E, Sutarto. 1991. Konsistensi Pola Mata Pencaharian Antara Orang Tua dan Anak Pada Masyarakat Petani di Pedesaan. LPPM. IPB. Bogor. Mar’at. 1981. Sikap Manusia Perubahan Serta Pengukurannya. Ghalia Indonesia. Bandung. Muksin. 2007. Kompetensi Pemuda Tani yang Perlu Dikembangkan di Jawa Timur. [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 100 Narwoko, J & B, Suyanto. 2004. Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Prenada Media. Jakarta. Neuman, L. 1997. Social Research Methods: Quantitative and Qualitative Approaches. Allyn and Bacon. United States Oppenheim, A.N. 1966. Questionnaire Design and Attitude Measurement. Heinemann. London. Pranadji, T.1999. Perekayasaan sosial-budaya dalam percepatan pembangunan pertanian. Pusat penelitian dan pengembangan sosial ekonomi pertanian. Bogor. Puspitawati, H. 2006. Pengaruh Faktor Keluarga, Lingkungan Teman, dan Sekolah terhadap Kenakalan Pelajar di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas di Kota Bogor. [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut. Pertanian Bogor. Bogor. , 2009. Kenakalan Remaja di Pengaruhi oleh Sistem Sekolah dan Keluarga. IPB Press. Bogor. Rakhmat, J. 2005. Psikologi Komunikasi. Remaja Rosdakarya. Bandung. Rozany, A.N. 1999. Dampak Krisis Ekonomi terhadap Struktur Pasar Tenaga Kerja Pertanian di Pedesaan. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. Sajogyo, P. 1987. Peranan Wanita dalam Pembangunan: Suatu Tinjauan Sosiologis. IPB. Bogor. Saptana, Sunarsih, & Indraningsih KS. 2006. Mewujudkan Keunggulan Komparatif Menjadi Keunggulan Kompetitif Melalui Pengembangan Kemitraan Usaha Hortikultura. Forum Penelitian Agro Ekonomi 24: 1 [terhubung berkala]. http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/FAE24-1e.pdf . [7 Des 2011] Singarimbun, M & S, Effendi. 1989. Metode Penelitian Survei. LP3ES. Jakarta Suleeman, E. 1990. “Komunikasi dalam Keluarga.” Dalam Ihromi “Para Ibu yang Berperan Tunggal dan Berperan Ganda”. FE. UI. Jakarta. Suranto, A. 1999. Sikap anggota kelompok masyarakat IDT terhadap peranan dan karakteristik pendamping [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Soekartawi. 2005. Prinsip – Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. UI Press. Jakarta. Syam, A. & S, Dermoredjo. 2000. Kontribusi Sektor Pertanian dalam Pertumbuhan dan Stabilitas Produk Domestik Bruto. Universitas Udayana. 101 Tjakrawati, S. 1988. Perubahan Nilai Kerja Pertanian di Daerah Persawahan; Kasus Pemuda di Desa Kampungsawah, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Krawang [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Triandis, H. 1971. Attitude and Attitude Change. John Wiley and Sons Inc. USA Turner, L & West. 2006. The Family Communication Sourcebook. Sage Publication. Tubbs, S.L & S. Moss. 1996. Human Communication: Prinsip – Prinsip Dasar. Remaja Rosdakarya. Bandung. UU No. 40 Tahun 2009. Undang – Undang Tentang Kepemudaan di Republik Indonesia. Walgito, B. 2003. Psikologi Sosial. CV. Andi Offset. Yogyakarta. 101 Lampiran 1. Kuesioner Penelitian KUESIONER HUBUNGAN ORANGTUA, TELEVISI, DAN TEMAN DENGAN SIKAP PEMUDA TERHADAP PEKERJAAN DI BIDANG PERTANIAN (Kasus Pemuda Di Desa Cipendawa dan Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur) Kuesioner ini dibuat dalam rangka penyusunan tugas akhir Yogaprasta Adinugraha (I352090061) mahasiswa Program Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Atas kerjasamanya saya ucapkan terimakasih IDENTITAS RESPONDEN Nama Lengkap anda : Tanggal Pengisian : Enumerator : Yogaprasta Adinugraha No : MAYOR KOMUNIKASI PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PEDESAAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 102 BAGIAN I FAKTOR INTERNAL KARAKTERISTIK INDIVIDU Petunjuk Pengisian : Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan memberi tanda checklis (√) sesuai dengan keadaan dan pengetahuan anda yang sebenar - benarnya 1. Usia anda saat ini : ……..Tahun; Tanggal dan Tahun Lahir ................. 2. Jenis Kelamin : [ ] Laki – Laki [ ] Perempuan 3. Pendidikan Formal Terakhir : [ [ [ [ [ [ ] Lulus S1/Sederajat ] Lulus Diploma/sederajat ] Lulus SLTA/sederajat ] Lulus SLTP/sederajat ] Lulus SD/sederajat ] Tidak pernah sekolah/ tidak tamat SD 4. Luas Lahan dan Status Kepemilikan Lahan Orang Tua Jenis Usahatani Jumlah Status Kepemilikan* Pertanian 1. Tanaman Pangan m²/Ha 2. Hortikultura m²/Ha *1. Milik Sendiri 2. Bukan Milik : Bagi Hasil 3 Bukan Milik: Sewa 4. Bukan Milik : Gadai 5. Bukan milik: Dipinjamkan Tingkat Kekosmopolitan Pemuda: 5. Dalam satu Bulan terakhir apakah pernah pergi keluar dari desa: (Jika Ya lanjutkan ke Nomor 6 dan 7) [ ] Ya, Pergi Kemana? ...................................... dan apa yang dilakukan........................................ [ ] Tidak 6. Dalam satu bulan terakhir berapa kali anda melakukan kunjungan ke pusat kota? ...............................Kali 7. Dalam 1 bulan terakhir berapa kali ibu/ bapak mengunjungi Kota untuk kebutuhan pertanian tani?...............................Kali II. Interaksi dengan Orang Tua (X2) 8. Apakah saudara pernah bermain ke kebon/sawah oleh orang tua? jika pernah, Apa saja yang anda kerjakan? Sebutkan kegiatan ada di kebon/sawah [ ] Ya , [ ] Pengolahan lahan [ ] Penanaman [ ] Pemberantasan Hama [ ] Pemupukan [ ] Pemanenan [ ] Lain – Lain, ..................... [ ] Tidak Pernah 103 II.1. Frekuensi Bercerita mengenai pertanian (Satu Bulan terakhir) Apakah anda sering berbicara/ngobrol tentang pertanian dengan orang tua ? No Arena Komunikasi (Waktu atau Jenis Lama Pembicaraan Tempat Komunikasi) Pembicaraan1) (Menit) 9 10 11 12 13 14 2) Pelaku Saat sore setelah kembali dari kebun Saat makan malam Saat nonton TV Saat di kebun Sebelum berangkat kerja/ sekolah Lain – lain, sebutkan: (Boleh Lebih dari satu arena) Ket 1) 2) a Teknologi Produksi (Budidaya) b. Pemasaran Hasil c. Pengolahan hasil d. Ekonomi (Modal) e. Status Petani f. Interaksi g. Lain – Lain: Sebutkan a. Ibu b. Ayah II.2 Tingkat Pelibatan Pemuda dalam membantu orang tua di Kebun atau sawah No. 15 16 17 Pernyataan Membantu Orang tua di kebun membersihkan ilalang sebelum mulai menanam benih/bibit Membantu orang tua dalam memilih bibit atau benih sayuran Membantu Orang tua membajak tanah pertanian sayur sebelum mulai ditanam 18 Membantu orang tua menanam bibit sayuran 19 Membantu orang tua menyiram tanaman sayur Membantu Orang tua memberikan pupuk kandang pada tanaman Membantu Orang tua memberikan pestisida untuk sayuran Membantu orang tua di kebun untuk membersihkan rumput – rumput tinggi setelah tanaman sayur ditanam Membantu orang tua mencuci sayuran setelah panen Membantu Orang tua memilih produk – produk sayuran/ kelas Super, Kelas A, B 20 21 22 23 24 25 26 27 Membantu Orang tua memanen hasil sayuran di kebun Membantu orang tua membersihkan kebun setelah panen selesai Membantu orang tua menyiapkan pupuk/benih/ obat. Sangat Sering Sering Jarang Tidak Pernah 104 III. Keterdedahan terhadap Media Massa (Televisi, Radio,) 1. Berapa Kali Mengakses Informasi tentang Pertanian No. Jenis Media Jumlah (x) mengakses Informasi Pertanian melalui media (dalam sebulan terakhir) 28 Televisi Kali/Minggu 29 Radio Kali/Minggu 2. Berapa lama sekali menonton/mendengar/membaca acara pertanian? No. Jenis Media Waktu yang digunakan 30. 31. Televisi Radio Menit/Sekali menonton Menit /Sekali mendengarkan 3. Jenis informasi pertanian yang diperoleh melalui media massa (Boleh lebih dari satu ) No. Jenis Media Jenis informasi yang diperoleh * 32 33 Televisi Radio 1. Benih 2. Pengelolaan tanah 3. Cara bertanam 4. Modal 5. Pascapanen 6. Hama dan Penyakit 4. Acara/Program/ Rubrik Pertanian Favorit No. Jenis Media Acara Favorit Pertanian 34. 35 Acara Favorit Non – Pertanian Televisi Radio 36 a. Apa alasan anda menonton acara pertanian di televisi? ...................................................................... ......................................................................................................................................................................... ........................................................................................................................................................................ ........................................................................................................................................................................ 36 b. Apa alasan anda mendengarkan acara pertanian di radio? ................................................................... ........................................................................................................................................................................ ........................................................................................................................................................................ ....................................................................................................................................................................... IV. Interaksi dengan Teman di Bidang Pertanian IV.1. Tingkat Kedekatan dengan teman Apakah saudara pernah bermain dengan teman di kampung? Jika Pernah, anda bermain dengan siapa saja? Sebutkan pekerjaannya No Nama Teman Pekerjaan Teman Kegiatan yang dikerjakan (Inisial) Bersama Teman 1) 37 38 39 40 41 42 Keterangan 1) a. Pengolahan lahan b. Penanaman c. Pemberantasan Hama d. Pemupukan e. Pemanenan f. Memasarkan Hasil g. Non Pertanian 105 V. Persepsi Pemuda Terhadap Faktor Penarik dan Faktor Pendorong Di Pedesaan a. Persepsi Pemuda Terhadap Kesempatan Kerja di Pedesaan No. Pernyataan Sangat Tidak Setuju 43 Mencari pekerjaan petani, /buruh/tukang bangunan/ dan pengendara ojek di Desa mudah 44 Terdapat banyak pilihan jenis pekerjaan di desa 45 Selepas lulus sekolah kita bisa bekerja menjadi petani, /buruh/tukang bangunan/ dan pengendara ojek di desa 46 Tanpa harus sekolah tinggi pun kita masih bisa bekerja di desa 47 Banyak pemuda – pemuda yang bekerja di sektor pertanian/ pedagang/ ojek /maupun bangunan 48 Tidak sulit mencari pekerjaan layak di Desa 49 DI desa Selain menjadi petani, satu orang bisa bekerja di bidang lain juga Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju b. Persepsi Pemuda Terhadap Ketersediaan Sumberdaya Alam Bagaimana kondisi alam yang ada di wilayah saudara: 50. Ketersediaan air di wilayah saudara : [ ] Sangat Berlimpah [ ] Banyak [ ] Kurang Banyak [ ] Kekeringan 51. Kondisi curah hujan di wilayah saudara: [ ] Sangat Tinggi [ ] Tinggi [ ] Rendah [ ] Sangat Rendah 52. Kemudahan menjangkau sumber air di wilayah saudara: [ ] Sangat Mudah [ ] Mudah [ ] Cukup Sulit No. 53 54 55 56 Pernyataan 58 59 60 Sangat Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju Sangat Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju Tanaman yang ditanam di wilayah kami memiliki peluang panen yang besar Hasil pertanian di wilayah kami sangat berlimpah Curah hujan di wilayah pertanian kami tinggi Kami tidak perlu jalan jauh untuk mendapatkan air untuk tanaman d. Persepsi pemuda terhadap pertanian di masa depan No. Pernyataan 57 [ ] Sangat Sulit Di masa depan status seorang petani akan menjadi lebih baik Di masa depan seorang petani akan lebih dihargai Di masa depan pekerjaan di bidang pertanian akan lebih memberikan keuntungan Di masa depan pemasaran hasil produk – produk pertanian akan semakin mudah 106 61 62 63 64 65 66 Di masa yang akan datang interaksi sesama petani akan semakin membaik Di masa yang akan datang pemberantasan hama pertanian akan semakin mudah Di masa yang akan datang teknologi pertanian akan semakin maju Di masa yang akan datang sarana produksi pertanian akan semakin lebih maju Di masa yang akan datang cara menanam tanaman pertanian akan semakin mudah Di masa yang akan datang pekerjaan di bidang pertanian akan semakin diperhatikan oleh pemerintah VI. Sikap Pemuda Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian (Y1). 1. Aspek Kognisi No. 67 68. 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Pernyataan 80 81 Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Lodouh merupakan kerusakan yang biasa ditemui pada tomat Tanaman sayuran tidak perlu disirami air setiap hari Jika terlalu banyak air tanaman sayur akan mengalami kebusukan Setelah panen lahan tanaman sayuran tidak perlu di istirahatkan (Reses) Tanaman sayuran merupakan tanaman yang cepat rusak (perishable) Tanaman sayuran khusunya brokoli perlu di berikan pestisida setiap minggunya Akar ganda merupakan penyakit yang sering ditemui pada brokoli Busuk pada batang merupakan penyakit yang sering ditemui ditanaman tomat Ketika panen, petani tidak ada yang menjual hasilnya langsung ke pasar, tetapi menjualnya kepada tengkulak Hasil tanaman sayur selain dijual langsung juga bisa di olah menjadi keripik atau makanan lain Pupuk yang biasa digunakan merupakan pupuk kandang Hama yang paling di takuti petani brokoli adalah ulat 2. Aspek Afeksi (Bentuk Positif) No Pernyataan 79 Sangat Setuju Seorang petani akan mendapatkan lebih banyak teman dibandingkan jika kerja menjadi buruh pabrik /tukang ojek/pedagang/ buruh bangunan (Interaksi) Seorang petani memiliki kesempatan untuk bisa dihargai oleh penduduk desa dibandingkan jika kerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang (Status)/buruh pabrik Seorang petani akan lebih bisa berinteraksi dengan pengusaha – pengusaha besar dibandingkandengan seorang buruh bangunan/tukang ojek/pedagang / buruh pabrik (Interaksi) 107 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 Bekerja di bidang pertanian tidak membuat gengsi menurun dibandingkan jika kerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/Buruh Pabrik (Status) Dengan bekerja di bidang pertanian tidak membuat saya minder dibandingkan jika kerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/Buruh pabrik (Status) Pekerjaan menjadi seorang petani merupakan pekerjaan yang membanggakan orang tua dibandingkan dengan pekerjaan menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/Buruh Pabrik (Status) Menjadi seorang petani saya tidak membuat saya kesulitan dalam bergaul dengan teman lain dibandingkan jika kerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/Buruh pabrik (Interaksi) Seorang petani memiliki jaringan teman yang luas dibandingkan jika kerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ Buruh Pabrik (Interaksi) Seorang petani lebih bisa menabung uang setiap bulannya dibandingkan dengan seorang buruh bangunan, tukang ojek, atau pun pedagang/ buruh pabrik (Ekonomi) Seorang petani akan lebih bisa terbebas dari hutang dibandingkan dengan seorang buruh bangunan, tukang ojek, buruh pabrik atau pun pedagang yang memiliki banyak hutang (Ekonomi) Seorang petani akan lebih mampu membeli Handphone (HP) dibandingkan dengan seorang buruh bangunan, tukang ojek, buruh pabrik atau pun pedagang (Ekonomi) proses penanaman tanaman sayuran karena tidak menyulitkan dibandingkan dengan berdagang, mengendarai motor, atau menjadi buruh bangunan atau menjadi buruh pabrik (Teknis) memberantas hama / penyakit pada tanaman sayuran karena tidak begitu sulit (Teknis) Memberi pupuk pada tanaman horikultura menurut saya tidak menyusahkan (Teknis) kerja di pertanian menyenangkan karena dapat menghasilkan barang (produk) (Teknis) C. Aspek Kecenderungan Bertindak (Minat atau keinginan) No Pernyataan 94 95 96 97 Saya lebih berminat bekerja menjadi seorang petani dibandingkan bekerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ buruh pabrik karena petani bisa mendapatkan banyak teman (Interaksi) Saya lebih berminat bekerja menjadi seorang petani dibandingkan bekerja buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ buruh pabrik karena petani lebih dapat diterima oleh dengan warga desa (Interaksi) Saya lebih berminat bekerja menjadi seorang petani dibandingkan bekerja menjadi buruh bangunan/ buruh pabrik/ tukang ojek karena petani bisa berinteraksi dengan orang – orang yang lebih berpendidikan (Interaksi) Saya berminat bekerja menjadi petani dibandingkan jika kerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ buruh pabrik karena menjadi dengan menjadi petani tidak membuat saya malu (status) Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju 108 98 Saya berminat Menjadi seorang petani dibandingkan jika bekerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ buruh pabrik karena menjadi petani tidak akan membuat saya kesulitan dalam bergaul dengan teman lain (Status) Saya lebih berminat bekerja menjadi seorang petani dibandingkan jika kerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ buruh pabrik karena dengan menjadi petani kita masih tetap bisa menabung (Ekonomi) Saya lebih berminat bekerja menjadi seorang petani dibandingkan jika bekerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang karena seorang petani/ buruh pabrik akan lebih mampu untuk membayar tagihan listrik (Ekonomi) Saya lebih berminat bekerja menjadi seorang petani dibandingkan bekerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ buruh pabrik karena seorang petani mampu untuk tidak berhutang (ekonomi) Saya lebih berminat bekerja menjadi seorang petani dibandingkan bekerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ buruh pabrik karena petani memiliki penghasilan yang cukup (Ekonomi) Saya lebih berminat bekerja menjadi petani dibandingkan bekerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ buruh pabrik karena saya lebih paham pertanian sayur (teknis) Saya berminat menjadi petani sayuran karena mudah menjual hasil panennya Saya lebih berminat menjadi petani sayuran karena saya mengerti cara memberantas hama / penyakit nya 99 100 101 102 103 104 105 106 Saya lebih berminat menjadi petani sayuran karena mengerti cara memberikan pupuk pada tanaman sayuran Pertanyaan Terbuka: 1. Apakah anda tertarik untuk bekerja di bidang pertanian? Jika Iya sebutkan alasan anda Jawab: ..................................................................................................................................................................... ..................................................................................................................................................................... ..................................................................................................................................................................... ..................................................................................................................................................................... .............................. 2. Siapakah pihak(/orang/teman/media) yang paling utama yang membuat anda bisa tertarik dengan pertanian? Jawab: .............................................................................................................................................................. .............................................................................................................................................................. .............................................................................................................................................................. .............................................................................................................................................................. ............................ ABSTRACT YOGAPRASTA ADI NUGRAHA. Correlation between Parents, Mass Media, and Peers with Youth Attitude Towards Agricultural Livelihood (Case: Agricultural Youth in Subdistrict of Pacet, District of Cianjur). Supervised by SARWITITI S. AGUNG (Chairperson) and DJOKO SUSANTO (Members). The study about youth attitude was conducted in order to identify about kinds of behavior that would be performed by the youth towards agricultural livelihood. By identifying their attitude, people could be able to estimate response from youth about agricultural livelihood. The objectives of this study were: 1). To identify youth attitude towards agricultural activities. 2). To identify internal characteristics of youth, socialization from parents, mass media exposure, and interaction with peers. 3). To analyze the correlations between internal factors and youth attitude towards agricultural livelihood. 4). To analyze the correlations between socialization from parents, mass media exposure, and interaction with peers with youth attitude towards agricultural livelihood. 5). To analyze the correlations between perception toward rural condition and youth attitude towards agricultural livelihood. A number of 65 respondents were taken as sample. This study resulted several important outputs namely, 1). Majority of youth supported and agreed to work at agricultural setting 2). Majority of the youth were categorized late adolescence, low level of education, their parents were owner of their own farmland, low level in farmland mastery, low level in cosmopolite, low frequency from parents on telling about agriculture, average level on youth involvement in helping parents in farming activities, low frequency on mass media exposure, less than 20 minutes in every opportunity of watching television and also listening radio, low interaction with peers on agricultural sector, and good perception toward rural condition 3). There were several variables correlated to youth attitude towards agricultural livelihood i.e. age, gender, youth involvement in helping parents in farming activities, intensity on watching television, closeness with peers, and perception towards further condition of agricultural development. Keywords: Youth, Attitude, Agricultural Livelihood, Parents, Peers, Mass Media RINGKASAN YOGAPRASTA ADINUGRAHA. Hubungan Orang Tua, Media Massa, dan Teman dengan Sikap Pemuda Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian: Kasus Pemuda Tani di Desa Sukatani dan Desa Cipendawa, Kabupaten Cianjur. Dibimbing Oleh Sarwititi S. Agung dan Djoko Susanto. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian hortikultura, (2) Mengindentifikasi karakteristik individu pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio,) dan interaksi dengan teman dari bidang pertanian dalam menyosialisasikan pekerjaan di bidang pertanian. (3) Menganalisis hubungan karakteristik pemuda dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura, (4) Menganalisis hubungan Sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman dari bidang pertanian dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian hortikultura, dan (5) Menganalisis hubungan persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Deskriptif – Korelasional, dengan metode pengambilan sampel secara cluster. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukatani dan Desa Cipendawa di Kecamatan Pacet. 65 orang pemuda yang berumur 13 – 24 tahun, belum menikah, dan orang tuanya merupakan petani dijadikan responden dalam penelitian ini. Analisis data menggunakan analisis data, Rank Spearman, dan Koefisien Kontingensi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Sebagian besar pemuda (66,15%) sikapnya setuju untuk bekerja di bidang pertanian., (2) Mayoritas pemuda yang terkategorikan sebagai dewasa awal, merupakan lulusan SD, merupakan pemilik lahan pertanian yang mereka kelola, dengan luas lahan kurang dari 0,25ha, sebagian besar pemuda tani tingkat kekosmopolitannya rendah, frekuensi orang tua bercerita mengenai pertanian tergolong rendah, tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua dalam bidang pertanian terkategorikan sedang, frekuensi menonton acara pertaniannya rendah, intensitas untuk sekali menonton acara pertanian kurang dari 20 menit, frekuensi mendengarkan radio acara pertanian juga rendah, intensitas pemuda mendengarkan radio kurang dari 20 menit, tingkat kedekatan dengan teman dari bidang pertanian terkategorikan rendah. Sebagian besar pemuda menilai bahwa terdapat banyak kesempatan kerja di pedesaan, sumberdaya alam di desa juga memiliki kondisi yang sangat baik, dan melihat di masa depan akan membaik, (3) Pada karakteristik internal pemuda, umur dan jenis kelamin mempunyai hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Semakin dewasa umur seorang pemuda maka sikapnya terhadap pekerjaan di bidang pertanian semakin membaik, (4) Tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua di bidang pertanian, lama menonton acara pertanian, dan tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian berhubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian, (5) Persepsi pemuda terhadap pertanian di masa depan berhubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian PENDAHULUAN Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu sektor unggulan yang berkontribusi sebesar 15,3 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2009. Pertimbangan lain yang menguatkan bahwa sektor pertanian menjadi sektor unggulan di Indonesia ketika ekspor produk non-pertanian mengalami penurunan, ekspor produk pertanian justru mengalami peningkatan tajam. Berangkat dari pertimbangan–pertimbangan itulah sektor pertanian patut dipertimbangkan sebagai alternatif andalan pembangunan ekonomi nasional menggantikan sektor industri (high tech industry) yang telah terbukti tidak sesuai untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan (Syam dan Dermoredjo, 2000). Daryanto (2009) juga mengatakan bahwa sektor pertanian telah terbukti memiliki peranan penting bagi pembangunan perekonomian suatu bangsa. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya berperan dalam pembentukan PDB, penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan perolehan devisa. Peranan sektor pertanian juga dapat dilihat secara lebih komprehensif, antara lain: (a) sebagai penyediaan pangan masyarakat sehingga mampu berperan secara strategis dalam penciptaan ketahanan pangan nasional (food security) yang erat kaitannya dengan ketahanan sosial (socio security), stabilitas ekonomi, politik dan ketahanan nasional (nasional security); (b) sektor pertanian menghasilkan bahan baku untuk peningkatan sektor industri dan jasa; (c) sektor pertanian dapat menghasilkan atau menghemat devisa yang berasal dari ekspor atau produk substitusi impor; (d) sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi produk sektor industri; (e) transfer surplus tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi, dan (f) sektor pertanian mampu menyediakan modal bagi pengembangan sektor–sektor lain; (g) peran pertanian dalam penyediaan jasa – jasa lingkungan. Dalam rangka menjadikan dan mendukung sektor pertanian sebagai sektor unggulan yang menjadi dasar pembangunan ekonomi negara Indonesia maka pertanian sangat dipengaruhi oleh 2 (dua) aspek atau faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian, yaitu sumberdaya alam (SDA) dan sumberdaya manusia (SDM) yang menunjang sektor pertanian secara komprehensif dan berkelanjutan. Sumberdaya alam merupakan peubah yang sifatnya naturally given, sementara itu sumberdaya 2 manusia merupakan subyek atau pelaku pertanian bumi ini yang dapat menjalankan kegiatan pertanian atau dengan kata lain manusia merupakan motor dari berhasil atau tidaknya suatu kegiatan pertanian. Sumberdaya manusia diharapkan bisa sebagai fasilitator, motor, motivator dan dinamisator pembangunan pertanian agar terjadi gerakan pembangunan pertanian. Sumberdaya manusia merupakan salah satu faktor penentu dalam program pembangunan dari segala bidang. Kondisi SDM pertanian Indonesia saat ini termasuk rendah, khususnya petani yang antara lain bercirikan tingkat pendidikan yang tergolong relatif rendah. Menurut data BPS 2010 terdapat tenaga kerja petani sebanyak 41,49 juta orang orang atau 40 persen dari jumlah tenaga kerja nasional (Deptan, 2005). Fakta mengkhawatirkan yang tidak bisa dilepaskan juga dari SDM petani di Indonesia adalah sebanyak 35,5 persen tenaga kerja petani memiliki pendidikan tidak tamat SD, sedangkan yang tamat SD sebanyak 46,2 persen, sementara itu untuk petani yang memiliki pendidikan terakhir SLTP terdapat sebesar 12,8 persen dan SLTA sebesar 5,2 persen. Ironisnya orang yang berkerja di bidang pertanian yang berasal dari lulusan perguruan tinggi hanya sebesar 0,3 persen. Kondisi ini diperparah lagi dengan rendahnya minat generasi muda untuk memasuki jalur pendidikan formal di bidang pertanian yang ditandai dengan rendahnya tingkat pendaftaran pada Sekolah Pertanian Tingkat Menengah maupun Tingkat Perguruan Tinggi pertanian (Deptan, 2005). Persoalan ini akan menjadi masalah serius di masa yang akan datang apabila tidak diantisipasi dengan baik oleh pemerintah. Secara tidak langsung jika dilihat dari tingkat pendidikan yang dimiliki petani di Indonesia, menunjukan bahwa banyak petani yang bekerja tidak well-educated sehingga akan berperan terhadap keterbatasan daya pikir, wawasan, dan kreativitas para petani dalam menghadapi persoalan–persoalan di bidang pertanian. Kondisi sebagian besar petani berpendidikan tidak tamat SD dan tamat SD sebanyak 81,7 persen, hal ini menjadi masalah yang patut dicermati secara mendalam dan serius. Masalah tidak selesai pada itu saja, hasil survei Badan Pengembangan SDM Pertanian Kementrian Pertanian dalam Deptan (2005) menunjukkan bahwa 70 persen dari petani di Indonesia telah berumur di atas 50 tahun. Melalui data tersebut dapat dilihat bahwa minat pemuda bekerja di sektor pertanian memiliki tendensi menurun. Rendahnya partisipasi pemuda pada sektor pertanian merupakan permasalahan yang 3 sangat mendasar yang dapat berakibat pada hilangnya generasi (lost of generation) penerus di bidang pertanian pada masa yang akan datang. Banyak pemuda yang berasal dari keluarga petani yang justru tidak bekerja di bidang pertanian, mereka lebih memilih sektor lain selain bidang pertanian (non-pertanian), dan yang lebih ironis banyak pemuda yang berasal dari wilayah sentra pertanian justru memilih keluar bidang pertanian. Terdapat pula citra pertanian yang lebih diidentikkan sebagai pekerjaan kotor dan tidak mendatangkan keuntungan atau benefit secara cepat. Pertanian yang berkualitas, maju dan berkelanjutan tidak dapat dilepaskan sumberdaya manusia yang berkualitas. Peranan agen–agen pembangunan dalam mencitrakan pertanian secara baik kepada pemuda sangat penting dalam rangkat menjaga agar pemuda tetap bertahan di bidang pertanian. Perilaku pemuda pedesaan yang bertahan maupun yang keluar dari bidang pertanian tidak terlepas dari adanya pengaruh dari kebijakan–kebijakan pemerintah yang sifatnya membangun (generating knowledge) dan memberikan harapan yang positif kepada para pemuda. Akan tetapi ketidaktertarikan maupun ketertarikan pemuda untuk bekerja di bidang pertanian tidak semata–mata menjadi tanggung jawab pemerintah, karena pembentukkan perilaku tidak dapat dilepaskan dari pengaruh sistem–sistem terdekat yang berada di sekitar pemuda yang terbentuk melalui suatu proses sosialisasi dari agen–agen terdekat dengan pemuda (mikro level), karena bagaimana pun gencarnya komunikasi yang dilakukan oleh agen– agen pembangunan dalam rangka merubah perilaku pemuda, selama lingkungan sekitar pemuda tidak sejalan maka akan sulit merubah sikap ataupun perilaku pemuda tersebut. Tinggi rendahnya partisipasi pemuda di bidang pertanian diawali dari sikap pemuda terhadap pertanian itu sendiri, sementara itu salah satu faktor yang sangat penting dalam membentuk sikap adalah sosialisasi, seperti yang dikatakan oleh Mar’at (1981) sikap merupakan buah atau hasil dari sosialisasi. Berangkat dari pemahaman yang disebutkan oleh Mar’at (1981), maka sikap pemuda yang berada di wilayah pertanian sebenarnya terbentuk melalui sosialisasi yang berasal dari dalam (mikro) orang tua, teman (peers), dan media massa (mass media). Sosialisasi tersebut dilakukan dalam proses komunikasi yang terjadi sehari–hari yang dijalani oleh pemuda tersebut. Orang tua, teman, dan media massa (radio, televisi) merupakan komponen atau unit terkecil dalam suatu sistem sosial yang berhubungan langsung dengan pembentukkan karakter suatu individu (mikro level) oleh karena itu pengaruh ketiga aspek tersebut 4 sangat berperan penting dalam menentukan kualitas pembentukkan kepribadian pemuda. Sosialisasi oleh orang tua merupakan aspek penting karena setiap anggota keluarga terikat satu sama lain melalui proses komunikasi. Keluarga mengembangkan serangkaian pesan, perilaku dan harapan tertentu melalui proses komunikasi (Suleeman, 1990). Ketika berbicara mengenai keluarga, maka akan berbicara mengenai keluarga sebagai sebuah sistem yang terdiri dari subsistem–subsistem yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Penelitian mengenai pemuda dan pertanian telah dilakukan sebelumnya oleh Lubis dan Sutarto (1991), Pranadji (1999), Rozany (1999), Herlina (2002). Pada penelitian yang dilakukan oleh Pranadji, Rozany, dan Herlina ditemukan fakta bahwa pemuda kurang tertarik untuk bekerja di bidang pertanian dikarena beberapa hal yaitu: pekerjaan di bidang pertanian kurang menjanjikan dari segi ekonomi, kurang”terhormat”, merupakan pekerjaan yang kotor, melelahkan, dan tidak bergengsi. Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Lubis dan Sutarto (1991) menghasilkan temuan yang berbeda dari penelitian–penelitian lainnya, ada konsistensi yang kuat antara pekerjaan utama orang tua dengan pekerjaan anaknya. Berpijak pada beberapa faktor pendorong dan penarik seperti lahan, hubungan sosial, modal, pasar, pola kerja dan aksesibilitas terhadap teknologi, peneliti sampai pada kesimpulan bahwa nilai pertanian masih memiliki daya tarik bagi pemuda. Selain pengaruh sosialisasi dalam keluarga ketertarikan ini mendapatkan dukungan yang kuat dari ketidaksesuaian mental pemuda ketika memasuki dunia kerja di sektor pertanian. Penelitian yang dilakukan oleh Rozany, Pranadji, Lubis dan Sutarto dilakukan di wilayah pertanian tanaman pangan, sementara penelitian Herlina dilakukan di wilayah perkebunan, sementara pada penelitian ini dilakukan di wilayah pertanian hortikultura (sayuran). Pertimbangan pemilihan komoditas hortikultura karena hortikultura memiliki perbedaan dengan komoditas pertanian lainnya seperti tanaman pangan dan tanaman perkebunan. Komoditas hortikultura merupakan komoditas komersial (high value commodity) yang memiliki nilai ekonomi yang cenderung masih tinggi dibandingkan dengan tanaman pangan maupun perkebunan (Saptana et al., 2006), selain hal itu produksi tanaman hortikultura (sayur dan buah-buahan) masih belum mampu memenuhi permintaan masyarakat akan kebutuhan sayuran dan buah–buahan masyarakat. Pertimbangan – pertimbangan tersebut menjadi dasar bahwa minat pemuda di bidang 5 pertanian hortikultura kemungkinan akan berbeda dengan minat pemuda dari bidang pertanian pangan maupun perkebunan. Penelitian yang dilakukan Herlina, Rozany, Pranadji, Lubis dan Sutarto tidak melihat bagaimana ekologi membentuk sikap seorang pemuda, tetapi melihat faktor– faktor yang menyebabkan migrasinya pemuda dari bidang pertanian ke bidang nonpertanian, sementara penelitian mengenai sosialisasi yang dilakukan oleh agen–agen sosialisasi (orang tua, media massa, dan teman) dalam membentuk sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana sosialisasi terkait dengan bidang pertanian dalam keluarga, sosialisasi pertanian dengan sesama teman dan media massa ini dapat memberikan pengaruh terhadap sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Rendahnya partisipasi pemuda di bidang pertanian bisa jadi mungkin karena terdapat rendahnya penerusan nilai-nilai pertanian dari orang tua, teman dan media massa yang semakin tidak mendukung pemuda di wilayah pertanian untuk bekerja di sektor pertanian. Interaksi dengan orang tua, teman dan media massa (konteks mikro) sangat memegang peranan penting dalam mempengaruhi proses sosialisasi nilai–nilai dalam suatu keluarga termasuk dalam menentukan pekerjaan mereka. Tidak dapat dipungkiri pada tataran mikro pergeseran nilai kerja pemuda di pedesaan tidak terlepas dari peranan keluarga dan masyarakat. Budaya pedesaan kerap membuat proses pengambilan keputusan seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik, sosial, dan ekonomi, konteks ini menyoroti otonomi pribadi atau nilai subyektivitas sebagai faktor paling dominan dalam proses pengambilan keputusan seseorang Herlina (2002). Perumusan Masalah Pertanian menjadi salah satu sektor unggulan di Indonesia, tetapi akhir– akhir ini sektor pertanian mengalami berbagai permasalahan. Dewasa ini terdapat indikasi bahwa pertanian sering dianggap sebagai pekerjaan kotor yang tidak menjanjikan (Muksin, 2007), tetapi terdapat pula orang yang beranggapan petani sebagai pekerjaan yang menjanjikan, perbedaan sikap tersebut yang kemudian berdampak kepada cara pandang petani terhadap pertanian itu sediri sehingga ditenggarai mempengaruhi pertisipasi pemuda di bidang pertanian. Menurut data dari Badan Pengembangan SDM Pertanian Deptan dalam Renstra (2005-2009) menunjukkan bahwa 70 persen dari petani di Indonesia telah berumur di atas 50 tahun (Deptan, 2005). 6 Hal tersebut mengindikasikan pertanian di Indonesia mulai ditinggalkan pemuda. Tidak sedikit pemuda yang berasal dari keluarga petani mulai meninggalkan pertanian dan lebih memilih sektor non-pertanian, tetapi bukan berarti tidak ada pemuda yang berasal dari keluarga petani yang terus bekerja di bidang pertanian. Kurangnya minat angkatan kerja muda untuk bekerja dan berusaha di sektor pertanian menjadi salah satu kekhwatiran dalam pembangunan sektor ini. Sebagai negara agraris yang meletakan pembangunan perekonomian pada pertanian, dalam jangka pendek maupun jangka panjang fenomena rendahnya minat pemuda akan membawa konsekuensi tersendiri. Kelangkaan sumberdaya manusia di sektor pertanian atau keterlibatan sebagian besar tenaga kerja pertanian yang setengah terpaksa akibat tidak terbukanya alternatif lain, mengakibatkan proses produksi tidak optimal. Produktivitas tenaga kerja mengalami hal yang sama. Hal ini akan menghambat perkembangan pembangunan itu sendiri, tetapi masih terdapat pula pemuda yang berasal dari keluarga pertanian yang tetap bekerja di bidang pertanian dan tidak memilih bidang di luar sektor pertanian. Artinya terdapat perbedaan sikap pemuda dalam memandang sektor pertanian sebagai pekerjaan masa depan. Pengaruh dari orang tua. teman, dan media massa akan sangat menentukan cara berpikir, bersikap, dan berperilaku seorang. Sikap pemuda terhadap pertanian akan dipengaruhi melalui tiga aspek besar yaitu aspek mikro (orang tua, teman dan media massa), aspek meso (lingkungan sekitar), dan aspek makro (Brofenbrenner dalam Puspitawati 2006). Penelitian ini hanya melihat aspek mikro (orang tua, teman, dan media massa) dalam memberikan pengaruh terhadap sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian . Penelitian mengenai hubungan orang tua, teman, dan media massa terhadap sikap pemuda terhadap pertanian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana orang tua, media massa, dan teman dalam menyosialisasikan pertanian, dan apakah sosialisasi pada tataran keluarga, teman dan media massa secara nyata dapat mempengaruhi sikap pemuda terhadap pertanian. Berangkat dari uraian tersebut maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura? 2. Bagaimanakah karakteristik individu pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman di bidang pertanian? 7 3. Apakah terdapat hubungan karakteristik individu pemuda dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian pertanian hortikultura? 4. Apakah terdapat hubungan sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura? 5. Apakah terdapat hubungan antara persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura? Tujuan Penelitian Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkaji hubungan antara karakteristik pemuda, dan sosialisasi (orang tua, media massa, dan teman) dalam membentuk sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Secara spesifik penelitian ini bertujuan sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian hortikultura. 2. Mengindentifikasi karakteristik individu pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio,) dan interaksi dengan teman di bidang pertanian. 3. Menganalisis hubungan karakteristik individu pemuda dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura. 4. Menganalisis hubungan Sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian hortikultura. 5. Menganalisis hubungan persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura. Manfaat penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada: 1. Pemerintah, dalam rangka meningkatkan minat pemuda diharapkan melalui penelitian ini pemerintah dapat lebih memperhatikan peranan agen sosialisasi 8 primer (orang tua, teman), karena tanpa ada dukungan sosialisasi dari orang tua, teman, maka kebijakan pemerintah tidak akan berpengaruh pada pemuda. 2. Peneliti, dapat memahami secara komprehensif bagaimana proses sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua, teman, dan media massa dalam membentuk sikap pemuda terutama pemuda di bidang pertanian 3. Bidang komunikasi pembangunan, memberikan sumbangan pemikiran bahwa komunikasi pembangunan tidak akan berjalan secara optimal tanpa dibarengi oleh komunikasi pada tataran level mikro. TINJAUAN PUSTAKA Sikap Definisi Sikap Thurstone dalam Walgito (2003), memandang sikap sebagai suatu tindakan afeksi baik yang bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan obyek–obyek psikologis. Afeksi yang positif, yaitu afeksi senang, sedangkan afeksi yang negatif adalah afeksi yang tidak menyenangkan. Menurut Mar’at (1981), sikap merupakan suatu kondisi psikologis yang didasarkan pada konsep evaluasi berkenaan pada obyek tertentu, menggugah motif untuk bertingkah laku. Mara’at (1981) juga menyebutkan bahwa bahwa sikap merupakan produk dari sosialisasi di mana seseorang bereaksi sesuai dengan rangsang yang diterimanya. Jika sikap mengarah pada obyek tertentu berarti penyesuaian diri terhadap obyek tersebut dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kesediaan untuk bereaksi dari orang tersebut kepada obyek. Sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai obyek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk membuat respon atau perilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya (Walgito, 2003). Menurut Rakhmat (2005), ada lima hal yang bisa disimpulkan dari berbagai definisi mengenai sikap. Pertama, sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi obyek, ide, situasi atau nilai. Sikap merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara–cara tertentu menghadapi obyek sikap. Obyek sikap boleh berupa benda, orang, tempat, gagasan, situasi atau kelompok. Jadi pada kenyataannya tidak ada sikap yang berdiri sendiri. Sikap harus diikuti oleh kata “terhadap’’, atau pada obyek sikap. Kedua, sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi. Sikap bukanlah sekedar rekaman masa lalu, tetapi menentukan juga apakah orang harus pro dan kontra terhadap sesuatu, menentukan apa yang disukai, diharapkan dan diinginkan; meyampingkan apa yang tidak diinginkan, apa yang harus dihindari. Ketiga sikap relatif lebih menetap. Berbagai studi menunjukan bahwa sikap politik kelompok cenderung dipertahankan dan jarang mengalami perubahan. Keempat, sikap mengandung aspek evaluatif, artinya 10 mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan. Kelima, sikap timbul dari pengalaman, tidak dibawa sejak lahir, tetapi merupakan hasil belajar. Karena itu sikap dapat diperteguh atau diubah. Struktur Sikap Menurut Walgito (2003), sikap mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu komponen kognitif (komponen perseptual), komponen afektif (Komponen emosional), dan komponen konatif (komponen perilaku). Komponen kognitif merupakan komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal yang berhubungan dengan bagaimana orang berpersepsi terhadap obyek sikap. Komponen afektif yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau rasa tidak senang terhadap obyek sikap. Rasa senang merupakan hal positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif. Komponen konatif merupakan komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap obyek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap obyek sikap. Ciri–Ciri Sikap Menurut Walgito (2003), sikap memiliki ciri–ciri di antaranya adalah sikap tidak dibawa sejak lahir, sikap itu berhubungan dengan obyek sikap, sikap dapat tertuju pada satu obyek saja, tetapi juga dapat tertuju pada sekumpulan obyek–obyek, sikap bisa berlangsung lama atau sebentar, sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi. 1. Sikap tidak dibawa sejak lahir ini berarti manusia pada saat dilahirkan belum membawa sikap–sikap tertentu pada suatu obyek. Karena sikap tidak dibawa sejak individu dilahirkan, ini berarti bahwa sikap itu terbentuk dalam perkembangan individu yang bersangkutan. Oleh karena itu sikap terbentuk dan dibentuk, maka sikap dapat dipelajari, dan karena itu sikap dapat berubah. 2. Sikap itu selalu berhubungan dengan obyek sikap 11 Sikap selalu terbentuk atau dipelajari dalam hubungannya dengan obyek-obyek tertentu, yaitu melalui proses persepsi terhadap obyek tersebut. Hubungan yang positif atau negatif antara individu dengan obyek tertentu, akan menimbulkan sikap tertentu pula dari individu terhadap obyek tertentu. 3. Sikap dapat tertuju pada satu obyek saja, tetapi dapat tertuju pada sekumpulan obyek– obyek Bila seseorang mempunyai sikap negatif pada orang lain maka orang tersebut akan mempunyai kecenderungan untuk menunjukan sikap negatif pula kepada kelompok di mana seseorang tersebut tergabung di dalamnya. Di sini terlihat adanya kecenderungan untuk menggeneralisasikan obyek sikap. 4. Sikap dapat berlangsung lama atau sebentar Kalau sikap telah terbentuk dan telah merupakan nilai dalam kehidupan seseorang, secara relatif sikap itu akan bertahan lama pada diri orang yang bersangkutan.Sikap tersebut akan sulit berubah, dan kalaupun dapat berubah akan memakan waktu yang relatif lama. Tetapi sebaliknya bila sikap belum mendalam ada dalam diri seseorang, maka sikap tersebut secara relatif tidak bertahan lama, dan sikap tersebut akan mudah berubah. 5. Sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi Ini berarti bahwa sikap terhadap sesuatu obyek tertentu akan selalu diikuti oleh perasaan tertentu yang dapat bersifat positif (yang menyenangkan) tetapi juga dapat bersifat negatif (yang tidak menyenangkan) terhadap obyek tersebut. Di samping itu sikap juga mengandung motivasi, ini berarti sikap itu mempunyai daya dorong bagi individu untuk berperilaku secara tertentu terhadap obyek yang dihadapinya. Mar’at (1981) juga telah merumuskan dan merangkum perumusan sikap secara umum maka dapat dikatakan: 1. Attitude are learned, hal ini berarti sikap tidaklah merupakan sistem fisiologis ataupun diturunkan. Tetapi diungkapkan bahwa sikap dipandang sebagai hasil belajar dan diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang berulang – ulang dengan lingkungan. 12 2. Attitudes are referent, Sikap selalu dihubungkan dengan obyek sikap seperti manusia, wawasan, pristiwa, ataupun ide. 3. Attitudes are social learning, yang berarti bahwa sikap diperoleh dalam berinteraksi dengan manusia lain, baik di rumah, sekolah, tempat ibadah, ataupun tempat lainnya melalui nasihat, teladan, atau percakapan 4. Attitudes have readiness to respond, yang berarti adanya kesiapan untuk bertindak dengan cara – cara tertentu terhadap obyek 5. Attitude are affective, yang berarti bahwa perasaan dan afeksi merupakan bagian dari sikap, akan tampak pada pilihan yang bersangkutan, apakah positif, negatif, ataukah ragu – ragu 6. Attitudes are very intensive, yang berarti bahwa tingkat intensitas sikap terhadap suatu obyek bisa kuat ataupun bisa lemah. Pembentukan Sikap Azwar (1995) mengemukakan bahwa sikap merupakan proses evaluatif yang dilakukan individu. Oleh karena itu, mempelajari sikap berarti perlu juga mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi proses evaluatif sebuah sikap, yaitu: 1. Faktor-faktor genetik dan fisiologik: Sebagaimana dikemukakan bahwa sikap dipelajari, namun demikian individu membawa ciri sifat tertentu yang menentukan arah perkembangan sikap ini. Di lain pihak, faktor fisiologik ini memainkan peranan penting dalam pembentukan sikap 2. Pengalaman Personal: Faktor lain yang sangat menentukan pembentukan sikap adalah pengalaman personal atau orang yang berkaitan dengan sikap tertentu. Pengalaman personal yang langsung dialami memberikan pengaruh yang lebih kuat daripada pengalaman yang tidak langsung. Terdapat dua aspek yang secara khusus memberi sumbangan dalam membentuk sikap, pertama adalah peristiwa yang memberikan kesan kuat pada individu (salient incident), yaitu peristiwa traumatik yang mengubah secara drastis kehidupan individu, misalnya kehilangan anggota tubuh karena kecelakaan. Kedua yaitu munculnya obyek secara berulang-ulang (repeated exposure). 13 3. Pengaruh orang tua: Orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anakanaknya. Sikap orang tua akan dijadikan role model bagi anak-anaknya. Contoh peristiwa yang dapat digunakan untuk menjelaskan hal ini adalah orang tua pemusik, akan cenderung melahirkan anak-anak yang juga senang musik. 4. Kelompok sebaya atau kelompok masyarakat memberi pengaruh kepada individu. Ada kecenderungan bahwa seorang individu berusaha untuk sama dengan teman sekelompoknya (Ajzen menyebutnya dengan normative belief). 5. Media massa adalah media yang hadir di tengah tengah masyarakat. Berbagai riset menunjukkan bahwa foto model yang tampil di media masa membangun sikap masyarakat bahwa tubuh langsing tinggi adalah yang terbaik bagi seorang wanita. Perubahan Sikap Sikap bisa diubah dengan berbagai cara. Seseorang bisa menerima informasi baru dari manusia maupun melalui media massa yang mampu mengubah komponen pengetahuan dari sikap seseorang itu. Semenjak adanya kecenderungan untuk konsisten di antara komponen–komponen sikap, perubahan komponen kognitif akan direfleksikan kepada perubahan komponen afektif dan juga perubahan pada komponen konatif. Sikap juga bisa berubah melalui pengalaman langsung terhadap suatu obyek sikap (Triandis, 1971). Suranto (1999), ada empat faktor yang menentukan sikap yaitu faktor fisiologis, faktor pengalaman, faktor kerangka acuan dan faktor komunikasi sosial. 1. Faktor fisiologis mencakup umur Pada umumnya anak muda memiliki sikap yang lebih radikal, orang dewasa bersikap lebih moderat. 2. Faktor pengalaman turut mempengaruhi sikap seseorang. Mereka yang pernah mengalami peperangan yang mengerikan akan memberikan sikap negatif terhadap peperangan. 3. Faktor kerangka acuan sangat berpengaruh terhadap sikap seseorang. Sesuai tidaknya obyek sikap terhadap kerangka acuan akan berhubungan dengan sikap positif ataupun negatif orang tersebut terhadap suatu obyek. 14 4. Faktor komunikasi sosial yang berbentuk informasi dari seseorang kepada orang lain dapat mengakibatkan perubahan sikap terhadap orang tersebut. Menurut Suranto (1999), perubahan sikap yang mengarah kepada pengambilan keputusan untuk mengadopsi suatu inovasi dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, karakteristik sosial, kebutuhan akan inovasi dan sistem sosial yang berlaku. Dalam kaitan ini yang dimaksud karakteristik pribadi mencakup aspek seperti umur, tingkat pendidikan, dan status seseorang dalam bidangnya. Menurut Mar’at (1981), teori stimulus respon menitikberatkan pada perubahan sikap yang dapat dipengaruhi “kualitas rangsangan yang berkomunikasi dengan organisme”. Karakteristik dari komunikator (sumber) menentukan keberhasilan tentang perubahan sikap seperti kredibilitasnya, kepemimpinannya dan gaya komunikasi. Hosland, Janis dan Kelly dalam Mar’at (1981) beranggapan bahwa proses dari perubahan sikap adalah serupa dengan proses belajar. Dalam mempelajari sikap yang baru, ada tiga peubah penting yang menunjang proses belajar tersebut, yaitu perhatian, pengertian dan penerimaan. Menurut Mar’at (1981), terdapat beberapa faktor yang dapat menunjang dan menghambat perubahan sikap. Faktor-faktor yang menghambat antara lain, stimulus bersifat indeferent sehingga faktor perhatian kurang berperan terhadap stimulus yang diberikan, tidak memberikan harapan untuk masa depan, adanya penolakan terhadap stimulus tersebut, sehingga tidak ada pengertian terhadap stimulus tersebut. Faktor-faktor yang menunjang antara lain, dasar utama terjadinya perubahan sikap adalah adanya imbalan dan hukuman di mana individu mengasosiasikan reaksinya yang disertai dengan imbalan dan hukuman, stimulus mengandung harapan bagi individu sehingga dapat terjadi perubahan sikap, stimulus mengandung prasangka bagi individu yang mengubah sikap semula. Pengukuran Sikap Dalam pengukuran sikap ada beberapa macam cara, yang pada garis besarnya dapat dibedakan secara langsung dan secara tidak langsung. Secara langsung, yaitu subyek dimintai pendapat bagaimana sikapnya terhadap suatu masalah yang dihadapkan kepadanya. Dalam hal ini dapat dibedakan langsung tidak berstruktur dan langsung 15 berstruktur. Secara langsung tidak berstruktur misalnya mengukur sikap dengan wawancara bebas (free Interview), dengan pengamatan langsung atau dengan survey misal public opinion survey, sedangkan cara langsung yang berstruktur, yaitu pengukuran sikap dengan menggunakan pertanyaan–pertanyaan yang telah disusun sedemikian rupa dalam suatu alat yang telah ditentukan, dan langsung diberikan kepada subyek yang diteliti (Walgito, 2003), sedangkan pengukuran sikap dengan secara tidak langsung ialah pengukuran sikap dengan menggunakan tes. Sistem Ekologi Manusia Konsep Ekologi manusia menyangkut saling ketergantungan antara manusia dengan lingkungannya, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya buatan. Pendekatan ekologi atau ekosistem menyangkut hubungan interdependensi antara manusia dan lingkungan di sekitarnya sesuai dengan aturan norma kultural yang dianut. Konsep ekologi manusia juga dikaitkan dengan pembangunan. Keberhasilan pembangunan yang berkelanjutan sangat bergantung pada faktor manusianya, yaitu seluruh penduduk dan sumberdaya alam yang dimiliki serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kaidah ekologi menetapkan adanya ketahanan atau ketegaran (resilience) suatu sistem yang dipengaruhi oleh dukungan yang serasi dari seluruh subsistem (Soerjani dalam Puspitawati 2009). Mengingat manusia adalah mahluk sosial yang menyangkut hubungan antar pribadi dan hubungan antar manusia dengan lingkungannya di sekitarnya, maka manusia tidak dapat berdiri sendiri. Manusia akan sangat bergantung pada lingkungan sekitarnya (baik lingkungan mikro meso, dan makro). Brofenbrenner (1981) dalam Puspitawati (2009) menyajikan model ekologi manusia untuk mengerti proses sosialisasi yang diterima oleh anak. Pada model tersebut dijelaskan bahwa lingkungan Mikrosistem merupakan lingkungan terdekat dengan seorang individu, meliputi keluarga, sekolah, teman sebaya, dan tetangga. Lingkungan yang lebih luas lagi disebut lingkungan mesosistem, dan akhirnya lingkungan yang paling jauh dari individu disebut dengan makrosistem Pemikiran mengenai sistem merupakan satu konsep yang kompleks, terdiri dari berbagai antar hubungan dan dipisahkan dari lingkungan sekitarnya oleh batasan tertentu. Organisme jelas merupakan contoh sebuah sistem, begitu pula molekul, bangunan, planet, 16 dan galaksi. Pemikiran umum sepert ini dapat pula diterapkan pada manusia dengan berbagai tingkat kompleksitasnya. Pada tingkat makro keseluruhan masyarakat dunia (kemanusiaan) yang dapat dibayangkan sebagai sebuah sistem. Pada tingkat mikro, yang dipandang sebagai sebuah sistem, komunitas lokal, asosiasi, perusahaan dan keluarga. Sementara ini teori sistem juga didefinisikan sebagai suatu kerangka yang terdiri dari beberapa elemen/sub elemen/sub sistem yang saling berinteraksi dan berpengaruh. Konsep sistem digunakan untuk menganalisis perilaku dan gejala sosial dengan berbagai sistem yang lebih luas maupun dengan sub sistem yang tercakup di dalamnya. Contohnya adalah interaksi antar keluarga disebut sebagai sistem, anak merupakan subsistem dan masyarakat merupakan supra sistem, selain kaitannya secara vertikal juga dapat dilihat hubungannya secara horizontal suatu sistem dengan berbagai sistem yang sederajat. Dalam pandangan Talcott Parsons dalam Puspitawati (2006), masyarakat dan suatu organisme hidup merupakan sistem yang terbuka yang berinteraksi dan saling mempengaruhi dengan lingkungannya. Sistem kehidupan ini dapat dianalisis melaui dua dimensi yaitu : interaksi antar bagian-bagian/elemen-elemen yang membentuk sistem dan interaksi/pertukaran antar sistem itu dengan lingkungannya. Talcott Parsons membangun suatu teori sistem umum atau teori besar yang berisi empat unsur utama yang tercakup dalam segala sistem kehidupan, yaitu: Adaptation, Goal Attainment, Integration dan Latent Pattern Maintenance. Sistem terdiri dari empat unsur penting yaitu: (1) Obyek, bagian, elemen, atau peubah dalam sebuah sistem, Obyek ini dapat berupa fisik, abstrak ataupun keduanya, tergantung pada sistem yang hendak dikaji; (2) Sebuah sistem terdiri dari Atribut – atribut, Sifat – sifat yang melekat dalam obyek – obyek tersebut: (3) Di dalam sebuah sistem terdapat hubungan antar obyek – obyek tersebut; dan (4) sebuah sistem hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah sistem merupakan suatu rangkaian yang mempengaruhi satu dengan yang lainnya dalam sebuah lingkungan dan membentuk pola yang lebih besar dan berbeda dengan sistem yang lain. Sebuah sistem memiliki karakteristik masing-masing, biasanya karakteristik tersebut adalah interdependensi, korelasi, sebab–akibat, rantai pengaruh, hirarki, hubungan dengan lingkungan sekitar. Pada perspektif sistem, komunikasi dapat dilihat sebagai proses yang terintegrasi di dalamnya dan bukan proses yang terpisah. 17 Keluarga Keluarga adalah wahana untuk dan pertama bagi anggota–anggotanya untuk mengembangkan potensi, mengembangkan aspek sosial dan ekonomi, serta penyemaian cinta-kasih-sayang antar anggota keluarga. Pengertian keluarga menurut sejumlah ahli adalah sebagai unit sosial–ekonomi terkecil dalam masyarakat yang merupakan landasan dasar dari semua institusi masyarakat yang merupakan landasan dasar dari semua institusi masyarakat, merupakan kelompok primer yang terdiri dari dua atau lebih orang yang memiliki jaringan interaksi interpersonal, hubungan darah hubungan perkawinan, adopsi. (Puspitawati, 2006) Menurut Soelaeman dalam Puspitawati (2006) keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi dan saling memperhatikan. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian intensitas komunikasi keluarga adalah tingkatan/ukuran seberapa sering komunikasi/interaksi terjadi di antara orang tua dengan anak dalam rangka memberikan kesan, keinginan, sikap, pendapat, dan pengertian,yang dilandasi rasa kasih sayang, kerja sama, penghargaan, kejujuran, kepercayaan dan keterbukaan di antara mereka. Secara tradisional keluarga diartikan sebagai dua atau lebih orang yang dihubungkan dengan pertalian darah, perkawinan atau adopsi (hukum) yang memiliki tempat tinggal bersama. Galvin dan Brommel dalam Tubbs dan Moss (1996) menyatakan bahwa keluarga adalah jaringan orang–orang yang berbagi kehidupan mereka dalam jangka waktu yang lama, yang terikat oleh perkawinan, darah atau komitmen, legal atau tidak, yang menganggap diri mereka sebagai keluarga dan yang berbagi pengharapan– pengharapan masa depan mengenai hubungan yang berkaitan. Orang tua dan anak adalah jaringan yang terikat oleh hubungan darah. Orang tua mempunyai harapan–harapan tertentu pada anak-anaknya. Mussen et al. dalam Puspitawati (2006) mengemukakan bahwa orang tua mempunyai tujuan khusus dan umum untuk anak–anak mereka yang meliputi nilai moral, pengetahuan dan standar perilaku yang harus dimiliki anak ketika sudah dewasa. Orang tua mencoba berbagai cara untuk mendorong anak mencapai tujuan tersebut. Orang tua menggunakan diri sebagai panutan 18 memberi hukuman, menjelaskan harapan dan kepercayaan kepada anak–anak untuk dapat memiliki lingkungan yang baik. Sosialisasi Menurut Ihromi (1999), sosialisasi merupakan suatu proses transmisi kebudayaan antargenerasi, karena tanpa sosialisasi masyarakat tidak dapat bertahan melebihi satu generasi. Syarat penting berlangsungnya proses sosialisasi adalah interaksi, karena tanpa adanya interaksi tidak mungkin adanya proses sosialisasi. Sementara itu menurut Zende dalam Ihromi (1999), sosialisasi adalah proses interaksi sosial melalui mana seseorang mengenal cara berpikir, berperasaan, dan berperilaku sehingga dapat berperan secara aktif dalam masyarakat. Sementara itu menurut Goslin dalam Ihromi (1999) sosialisasi adalah proses belajar yang dialami seseorang untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai –nilai dan norma–norma. Sosialisasi adalah satu konsep umum yang bisa dimaknai sebagai sebuah proses di mana seseorang belajar melalui interaksi dengan orang lain, tentang cara berpikir, merasakan, dan bertindak, di mana semua itu merupakan hal-hal yang sangat penting dalam menghasilkan partisipasi sosial yang efektif. Sosialisasi merupakan proses yang terus terjadi selama hidup. Individu yang baru dilahirkan hanya sebagai mahluk biologis yang memerlukan kebutuhan biologis seperti minum bila haus, makan bila lapar dan bereaksi terhadap suatu rangsang tertentu seperti panas, dingin, dan lain sebagainya. Setelah berinteraksi dengan individu lain yang berada pada lingkungan sekitarnya. Individu dapat menjadi mahluk sosial dipengaruhi oleh faktor keturunan (heredity) atau alam (nature) dan faktor lingkungan (environment) atau asuhan (nurture). Faktor keturunan adalah faktor–faktor yang di bawa lahir dan merupakan transmisi unsur–unsur dari orang tuanya melalui proses genetika, jadi sudah ada sejak awal kehidupan. Misalnya jenis kelamin, suku bangsa warna kulit, yang kesemuanya tidak bisa diubah lagi. Faktor lingkungan adalah faktor luar yang mempengaruhi organisme, yang membuat kehidupan bertahan. Misalnya pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya yang dapat berubah–ubah dalam kehidupan individu serta tergantung pada usahanya. Kedua faktor ini sama pentingnya dan saling berinteraksi serta melengkapi dalam membentuk perilaku tertentu dari individu. Jadi perilaku tertentu itu tergantung pada faktor keturunan dan pada apa yang disediakan oleh lingkunganna. Perilaku tertentu tidak mungkin terbentuk hanya 19 karena faktor keturunan saja tanpa adanya pengaruh dari lingkungannya ataupun sebaliknya. Hanya saja setiap inidividu berbeda–beda dalam perkembangannya mana yang lebih dominan, apakah faktor keturunannya ataukah pengaruh lingkungannya. Sosialisasi dialami individu sebagai mahluk sosial sepanjang hidupnya dari mulai individu dilahirkan sampai dengan meninggal dunia. Karena interaksi merupakan kunci sukses berlangsungnya sosialisasi maka diperlukan agen sosialisasi yakni orang–orang di sekitar individu tersebut yang mentransmisikan nilai–nilai atau norma tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung. Agen sosialisasi ini bersifat significant others (orang yang paling dekat dengan individu) seperti orang tua, teman sebaya, dan guru (Ihromi, 1999). Ihromi (1999) mengatakan bahwa menurut tahapannya sosialisasi dibedakan menjadi dua tahap, yakni: 1. Sosialisasi primer, sebagai sosialisasi yang pertama dijalani individu semasa kecil, melalui mana ia menjadi anggota masyarakat; dalam tahapan ini proses sosialisasi primer membentuk kepribadian anak ke dalam dunia umum, dan keluarga berperan sebagai agen sosialisasi. 2. Sosialisasi sekunder, didefinisikan sebagai proses yang memperkenalkan individu yang telah disosialisasi ke dalam sektor baru di dunia obyektif masyarakatnya; dalam tahapan ini proses sosialisasi mengarah pada terwujudnya sikap profesionalime pada dunia khusus; dan dalam hal ini yang menjadi agen sosialisasi adalah lembaga pendidikan, peer group, lembaga pekerjaan, dan lingkungan yang lebih luas dari keluarga (Berger dan Luckman dalam Ihromi 1999). Sosialisasi bisa berlangsung secara tatap muka, bisa juga dalam jarak tertentu melalui sarana media atau surat menyurat, bisa berlangsung secara formal maupun infromal, baik sengaja maupun tidak sengaja. Sosialisasi dapat dilakukan demi kepentingan orang yang disosialisasikan ataupun orang yang melakukan sosialisasi. Dalam masyarakat yang homogen proses sosialisasi bisa berjalan dengan serasi menurut pola yang sama karena nilai–nilai yang ditransmisikan dalam proses sosialisasi sama. Namun dalam masyarakat yang heterogen di mana terdapat banyak kelompok dengan nilai yang tidak 20 sepadan dalam mempengaruhi individu, maka proses sosialisasi tidak berlangsung seperti dalam masyarakat yang homogen. Pada masyarakat yang heterogen terdapat banyak agen sosialisasi di luar keluarga yang menanamkan nilai yang berbeda dengan apa yang ada dalam keluarga, bahkan kadang–kadang bertentangan. Dalam situasi demikian seseorang dapat mengalami proses yang disebut desosialisasi yaitu proses ”pencabutan” nilai yang telah tertanam yang kemudian disusul dengan resosialisasi. Sosialisasi dalam Keluarga Individu yang baru dilahirkan sejak awal sudah bukan sekedar makhluk biologis yang hanya membutuhkan makan, minum dan sebagainya, melainkan sekaligus juga makhluk sosial. Sosialisasi akan dialami individu sebagai makhluk sosial sepanjang kehidupannya sejak dilahirkan hingga meninggal. Tempat sosialisasi paling awal bagi individu adalah keluarga. Jadi dapat dikatakan keluarga sebagai sebuah mekanisme sosial agar seseorang individu dapat mengetahui posisi dan kedudukannya sehingga ia akan mendapatkan tempat dalam masyarakat kelak setelah dewasa. Peran sosialisasi yang dialami seorang anak akan menentukan kepribadiannya di masa mendatang karena agen sosialisasi pada masa anak-anak adalah orang tua dan anggota keluarga lainnya yang merupakan significant others bagi anak dan orang tualah yang menjadi role mode bagi anak dalam membentuk perilakunya (Ihromi, 1999) Setiap anggota keluarga akan berinteraksi dan berkomunikasi. Interaksi dan komunikasi di dalam keluarga membutuhkan unsur kedekatan. Hal ini merujuk pada pernyataan bahwa keluarga sebagai sebuah sistem manakala komunikasi dapat berperan untuk mengatur kedekatan dan penyesuaian di antara anggota, melalui pola aliran pesan di dalam jaringan yang melibatkan hubungan saling ketergantungan. Selain itu, faktor kesetaraan dan keterbukaan dalam situasi keluarga memungkinkan bagi orang tua untuk mengembangkan pendekatan dua arah, atau pendekatan yang bersifat dialogis menuju kearah pembelajaran, sehingga kedekatan dan proses adaptasi dalam keluarga dapat dilakukan dengan melibatkan hubungan saling ketergantungan di antara anggota keluarga melalui situasi komunikasi yang bersifat setara dan dialogis, baik langsung atau tidak langsung, keluarga akan memberikan informasi mengenai status dan peran gender sesuai 21 dengan kapasitas pemahamannya, informasi yang diberikan secara terus-menerus akan menjadi proses penanaman nilai-nilai. Tidak dapat dipungkiri, hubungan atau interaksi menjadi kepedulian kebanyakan orang adalah hubungan dalam keluarga: keluarga mewakili suatu konstelasi hubungan yang sangat khusus. Peran komunikasi orang tua sebagai pengasuh dan pendidik utama anak dijelaskan oleh Popov dan Popov dalam Puspitawati (2009), yaitu sebagai pelindung dan penguasa dalam menegakan peraturan; pemandu dan pembina dalam meningkatkan keterampilan dan konselor dalam mengarahkan moral. Pada praktek pengasuhan antara orang tua dan anak yang kemudian dikelompokan menjadi tiga gaya pengasuhan yang meliputi gaya pengasuhan demokratis, permisif, dan otoriter. Fungsi Sosialisasi dalam Keluarga Puspitawati (2006) menjelaskan apabila antara anggota keluarga saling menanggapi pesan dan menerima pesan tersebut maka sebenarnya telah terjadi komunikasi antar pribadi dalam keluarga yang dialogis. Umpan balik dari komunikasi dalam keluarga berfungsi sebagai unsur pemerkaya dan pemerkuat komunikasi antara anggota keluarga sehingga harapan dan keinginan anggota keluarga dapat dicapai. Cangara (2002) menjelaskan fungsi komunikasi dalam keluarga ialah meningkatkan hubungan insani (human relation), menghindari dan mengatasi konflik-konflik pribadi dalam keluarga, mengurangi ketidakpastian sesuatu, serta berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain. Komunikasi dalam keluarga dapat meningkatkan hubungan kemanusiaan di antara pihak-pihak yang berkomunikasi. Dalam hidup berkeluarga dan bermasyarakat seseorang bisa mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam hidupnya karena memiliki banyak sahabat. Melalui komunikasi dalam keluarga, juga dapat dibina hubungan yang baik, sehungga dapat menghindari dan mengatasi terjadinya konflik-konflik di antara anggota keluarga. Komunikasi dalam keluarga merupakan salah satu bentuk komunikasi antar pribadi yang khas. Adapun ciri khas komunikasi antar pribadi yang membedakan dengan komunikasi massa adalah : (1) terjadi secara spontan, (2) tidak mempunyai struktur yang teratur atau diatur, (3 memperoleh) terjadi secara kebetulan, (4) tidak mengejar tujuan yang 22 telah direncanakan terlebih dahulu, (5) dilakukan oleh orang-orang yang identitas keanggotaannya kadang-kadang kurang jelas, (6) bisa terjadi sambil lalu Cangara (2002) mengemukakan adanya komunikasi kelompok kecil sebagai bentuk nyata dari komunikasi dalam keluarga. Proses komunikasi berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka, di mana anggota-anggota keluarga saling berinteraksi satu sama lainnya, Ciri-cirinya yaitu : (a) anggota-anggota keluarga terlibat dalam suatu proses komunikasi yang berlangsung secara tatap muka, (b) pembicaraan berlangsung secara terpotong-potong di mana semua anggota bisa berbicara dalam kedudukan yang sama, dengan kata lain tidak ada pembicaraan tunggal yang mendominasi situasi, (c) sumber dan penerima sulit diidentifikasi, artinya dalam situasi ini semua anggota keluarga bisa berperan sebagai sumber sekaligus sebagai penerima. Karena itu pengaruhnya bisa bermacammacam. Tubbs and Moss (1996) mengemukakan bahwa komunikasi antar pribadi yang terjadi dalam komunikasi keluarga mempunyai enam ciri: (1) dilaksanakan atas dorongan berbagai faktor, (2) mengakibatkan dampak yang disengaja, (3) seringkali berbalas-balasan, (4) mengisyaratkan hubungan antar pribadi paling sedikit pada dua orang, (5) berlangsung dalam suasana bebas, bervariasi dan berpengaruh, (6) menggunakan berbagai simbol yang bermakna. Komunikasi di dalam keluarga memiliki ciri-ciri minimal adanya keterbukaan empati dukungan, perasaan positif, dan kesamaan. Jika ciri-ciri tersebut ada dalam komunikasi keluarga, maka akan terjadi komunikasi yang sehat. Sosialisasi Keluarga Efektif Pada dasarnya sosialisasi merupakan proses interaksi di mana interaksi sangat membutuhkan suatu kegiatan komunikasi, maka komunikasi keluarga efektif tidak bisa lepas dari karakter dan fungsi dari hubungan antara orang tua dengan anaknya. Komunikasi keluarga merupakan unsur yang berperan dalam pembentukan kepribadian anggota keluarga khususnya anak. Kegiatan komunikasi keluarga yang efektif yaitu jelas, singkat, lengkap, mudah dimengerti, tepat dan saling memperhatikan, dapat membentuk gaya hidup dalam keluarga yang sehat. Dampak situasi hubungan yang sehat antara orang tua dengan anak, yaitu komunikasi yang penuh kasih sayang, persahabatan, kerjasama, penghargaan, kejujuran, kepercayaan, dan keterbukaan akan membentuk ketentraman keluarga. Suasana 23 komunikasi yang demikian merupakan suasana yang menggairahkan bagi pertumbuhan anak komunikasi akan efektif karena orang tua dapat membaca dunia anaknya (selera, keinginan, hasrat, pikiran, dan kebutuhan). Ritual sebagai Suatu Proses Sosialisasi dalam Keluarga Para peneliti menggunakan istilah ritual dalam definisi yang berbeda–beda. Beberapa ahli komunikasi berargumentasi bahwa semua bentuk komunikasi adalah ritual. Menurut pandangan ini, komunikasi sebagai ritual mampu menyediakan alternatif dasar pemikiran (rational) bahwa selain komunikasi sebagai transmisi, komunikasi juga bisa sebagai ritual. Komunikasi sebagai suatu transmisi menekankan dan bertujuan pada proses transmisi untuk menghasilkan dampak yang diinginkan, pemahaman, dan perubahan sikap. Sementara ini komunikasi sebagai ritual menekankan komunikasi sebagai suatu perbuatan yang dilakukan bersama–sama, menghargai ”kemagisan (magical), keaslian realitas, keefektivan suatu simbol. Dari dasar pemikiran tersebut maka peneliti yang meneliti mengenai komunikasi keluarga akan mempelajari ritual secara bersamaan. Menurut Wolin dan Bennet dalam Turner dan West (2006), terdapat 3 (tiga) bentuk ritual yang sangat mempengaruhi peneliti, yaitu: Selebrasi, Tradisi, dan Interaksi yang terpola. Selebrasi merupakan ritual yang dilakukan secara luas diseluruh budaya, contohnya liburan Thanksgiving, Hari kemerdekaan, upacara seremonial seperti pernikahan, dan pemakaman. Meskipun acara–acara tersebut merupakan suatu acara yang dilakukan oleh seluruh orang, tetapi setiap keluarga memiliki cara–cara unik dalam menyelenggarakan acara tersebut. Tradisi merupakan ritual yang lebih aneh lagi untuk setiap keluarganya dan tidak dilakukan oleh masyarakat luas, artinya hanya spesifik dalam suatu keluarga, contoh dari tradisi adalah liburan keluarga, reuni (arisan) keluarga, ulang tahun. Sementara itu interaksi keluarga yang terpolakan (patterned family interaction) merupakan ritual yang biasa yang tidak direncanakan, dan paling sering dilakukan oleh keluarga, contohnya seperti makan malam, dongeng tengah malam, dan biasanya interaksi keluarga yang terpola merupakan aktivitas yang dilakukan bersama–sama yang membangun dan menjaga identitas suatu keluarga. Turner dan West (2006) mengatakan interaksi keluarga yang terpola sering sulit dibedakan dengan kegiatan rutin dalam keluarga karena kedua hal tersebut merupakan 24 kegiatan–kegiatan yang biasa dilakukan dalam keluarga, tetapi perbedaannya adalah dalam interaksi keluarga yang terpola terdapat makna–makna simbolik dimana terdapat suatu kegiatan penghormatan akan sesuatu yang sedang dipertaruhkan. Sosialisasi oleh Kelompok Bermain atau Teman Sejawat (Peers) Narwoko dan Suyanto (2004) mengatakan bahwa Kelompok bermain baik yang berasal dari kerabat, tetangga, maupun teman sekolah merupakan agen sosialisasi yang pengaruhnya besar dalam membentuk pola–pola perilaku seseorang. Di dalam kelompok bermain, seseorang mempelajari kemampuan baru yang acap kali berbeda dengan apa yang dipelajari dari keluarga. Di dalam kelompok bermain individu mempelajari norma nilai, kultur, peran, dan semua persyaratan yang dibutuhkan individu untuk memungkinkan partisipasinya yang efektif di dalam kelompok permainannya. Narwoko dan Suyanto (2004) mengatakan kelompok bermain ikut menentukan dalam pembentukan sikap untuk berperilaku yang sesuai dengan kelompoknya. Berbeda dengan pola sosialisasi dalam keluarga yang umumnya bersifat otoriter karena melibatkan hubungan tidak sederajat, di dalam kelompok bermain pola sosialisasinya bersifat ekuilitas karena kedudukan pelakunya relatif sederajat. Menurut Tjakrawati (1988) keberhasilan teman/kerabat dan pengalaman baik dalam suatu bidang pekerjaan menyebabkan petani mencoba dan menekuni pekerjaan itu, sebaliknya bila melihat kegagalan teman/kerabat dan pengalaman pahitnya petani memilih bertani, karena bertani merupakan pekerjaan yang sedikit mengandung resiko. Selain faktor ajakan teman/kerabat dan pengalamannya sendiri, faktor usia juga mempengaruhi petani memilih pekerjaannya. Teman maupun kerabat dapat memberi inspirasi dalam melihat alternatif usaha yang dapat dilakukan, terlebih selama kebutuhan hidupnya sehari – hari belum terpenuhi sehingga membuatnya berikhtiar terus mencari peluang–peluang usaha di non-pertanian. Menurut Jaccard et al., (2005) Pemuda lebih terpengaruh oleh teman sepermainan mereka, pemikiran tersebut muncul karena terinspirasi oleh pengaruh sosial (social influence) dari beberapa ahli. Terdapat 2 (dua) peubah besar yang dapat menggambarkan besarnya pengaruh teman sepermainan terhadap seorang remaja, peubah pertama adalah peubah yang berhubungan dengan kedekatan (closeness) hubungan dengan 25 teman, yang kedua adalah besarnya lingkungan sosial (Social Network). Pada dasarnya seorang teman dapat memberikan pengaruh yang kuat pada individu jika beberapa hal terpenuhi, yaitu: (1) waktu yang dihabiskan bersama–sama dengan teman (2) memiliki hubungan pertemanan yang saling menguntungkan (3) memiliki kesamaan dalam kegiatan yang berresiko sebelumnya (4) jaringan pertemanan yang kecil dan (e) hubungan yang tidak baik dengan keluarga. Sosialisasi oleh Media Massa Sementara itu masyarakat modern, komunikasi merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting terutama untuk menerima dan menyampaikan informasi dari satu pihak ke pihak lain. Akibat pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam waktu yang sangat singkat, informasi-informasi tentang peristiwa–peristiwa, pesan singkat, berita, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya.akan mudah diterima oleh masyarakat sehingga media massa mempunyai peranan penting dalam proses mentransformasikan nilai–nilai baru kepada masyarakat (Narwoko dan Suyanto, 2004). Media massa merupakan media sosialisasi yang kuat dalam membentuk keyakinan–keyakinan baru atau mempertahankan keyakinan baru yang ada. Bahkan proses sosialisasi melalui media massa ruang lingkupnya lebih luas dari pada media sosialisasi lainnya. Nilai Pekerjaan dan Pandangan terhadap Kerja Pertanian. Petani mengartikan kerja sebagai kegiatan yang mengandung unsur kewajiban, keharusan dan mengikat manusia untuk melakukannya dan yang dapat memberi penghasilan uang. Pengertian Kerja menurut Tjakrawati (1988) adalah jerih payah yang dilakukan seseorang, pengerah tenaga untuk sesuatu tujuan yang terletak di luar tenaga kerja itu sendiri dan bersifat ekonomis. Menurut Vink dalam Tjakrawati (1988), tidak semua kerja di bidang pertanian di Indonesia dapat dianggap ekonomis karena masih banyak hal yang ditentukan oleh tradisi keagamaan dan bukan pertimbangan ekonomis, walaupun kerja di pertanian harus lebih mengarah ke sasarannya dengan meningkatkan jerih payah mendapatkan nafkah. 26 Kerja diartikan sebagai bagian yang lebih khusus dari tindakan. Sajogyo (1987) menyebutkan bahwa ciri–ciri orang bekerja yaitu: (1) kegiatan yang menghasilkan energi, (2) kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa, (3) kegiatan yang mencerminkan interaksi sosial, (4) kegiatan yang memberikan status sosial pada pekerjaan,dan (5) kegiatan yang menghasilkan hasil langsung berupa uang, natura, maupun bentuk curahan waktu. Menurut Herlina (2002) nilai kerja merupakan persepsi dan penghargaan terhadap suatu aktivitas yang menghasilkan sesuatu bentuk materi maupun non-materi yang memberikan kepuasan bagi seseorang. Sementara itu, nilai merupakan pilihan moral yang berkaitan dengan apa yang dianggap baik dan buruk-pantas atau tidak dan dijadikan pedoman bertingkah laku. Dengan demikian nilai kerja merupakan persepsi dan penghargaan terhadap aktivitas yang menghasilkan sesuatu bentuk materi maupun non materi yang memberi kepuasan bagi keluarga buruh karena tujuan tercapai. Sikap terhadap Pekerjaan Pertanian Terjadinya perubahan sikap terhadap suatu pekerjaan menurut Parker dari penelitian Rosenberg et al. dalam Tjakrawati (1988) dapat dilihat dari aspirasi, harapan, dan pilihan terhadap responden. Hasil penelitian mereka menunjukan bahwa alasan seseorang melakukan perubahan pekerjaan adalah keinginan mendapatkan pekerjaan yang sifatnya mengandung tantangan, keinginan mendapatkan pekerjaan yang sifatnya mengandung tantangan, keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang memberi kesempatan untuk mengembangkan hubungan yang baik dengan masyarakat, dan yang lainnya. Sementara itu dalam penelitian Tjakrawati (1988) ditemukan bahwa perubahan persepsi pekerjaan pertanian pada pemuda tani akan sangat dipengaruhi oleh proses sosialisasi dalam keluarga dan pengaruh dari luar, yakni kaitan desa dan kota, kaitan pertanian dan non–pertanian. Koentjaraningrat sebagaimana dikutip oleh Tjakrawati (1988) mengemukakan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia adalah petani sejak berabad–abad lamanya. Dengan demikian cara berpikir paling asli adalah cara berpikir rakyat petani. Selanjutnya dikatakan bahwa sistem nilai budaya petani merupakan suatu konsep yang ada bukan saja petani di pedesaan, tetapi juga pada masyarakat di kota. 27 Tjakrawati (1988) mengemukakan bahwa pandangan seseorang terhadap pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor non pertanian disebabkan oleh faktor–faktor pendorong dan faktor penarik. Daya dorong (push-out) dan daya tarik (pull-out) merupakan konsep erat dengan perpindahan penduduk dari desa ke kota. Menurut Suryana dalam Tjakrawati (1988) mengemukakan bila tanpa memperhatikan perpindahan geografi, push-out dan pullout terjadi sehubungan dengan jenis pekerjaan atau disebut juga mobilitas pekerjaan yang diartikan sebagai perpindahan kerja penduduk dari suatu sektor perekonomian ke sektor lain, misalnya dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian. Hal ini disebabkan oleh dua hal, pertama bidang pertanian mendorong keluarnya angkatan kerja akibatnya pertambahan penduduk yang besar tiap tahunnya. Kedua, ada daya tarik bidang non-pertanian yaitu penciptaan lapangan pekerjaan di bidang non-pertanian. Konsepsi Daya Dorong dan Daya Tarik: Pertanian dan Non Pertanian Daya dorong (push--out) dan daya tarik (pull-out) merupakan konsep yang berhubungan dengan migrasi dari desa – kota. Bila tanpa melihat atau memperhatikan perpindahan geografi, maka push-out dan pull-out terjadi sehubungan dengan jenis pekerjaan, disebut juga mobilitas pekerjaan yang diartikan sebagai perpindahan kerja penduduk dari suatu sektor perekonomian ke sektor lainnya, misalnya dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian (Suryana dalam Tjakrawati, 1988). Hal Ini disebabkan dua faktor, pertama bidang pertanian mendorong keluarnya angkatan kerja akibat pertambahan penduduk yang besar tiap tahunnya. Kedua, ada daya tarik bidang non-pertanian yaitu penciptaan lapangan kerja di bidang non–pertanian yang lebih baik dari pada sektor pertanian. Lee dalam Tjakrawati (1988) mengemukakan model migrasi dengan memperhatikan faktor–faktor di daerah asal dan daerah tujuan melalui rintangan. Faktor – faktor di daerah tujuan melalui rintangan. Faktor–faktor di daerah asal maupun di daerah tujuan terdiri dari faktor positif, negatif dan netral. Lalu di antara keduanya terdapat sejumlah rintangan yang berupa jarak, ongkos dan lain–lain, sehingga dalam bermigrasi tergantung pada pertimbangan: a) faktor-faktor daerah asal, b) faktor–faktor daerah tujuan, c) rintangan–rintangan dan d) faktor-faktor pribadi yaitu tanggapan orang terhadap faktorfaktor itu, kepekaan pribadi, kecedasan, kesadaran tentang kondisi lain tempat yang 28 mempengaruhi evaluasinya terhadap tempat asal. Pengaruh terakhir adalah hubungan seseorang itu dengan berbagai jenis sumber informasi yang tidak tersedia secara umum. Todaro dalam Tjakrawati (1988) menyajikan suatu hipotesis yang mengatakan bahwa migrasi desa–kota ditentukan oleh perbedaan tingkat pendapatan antara sektor pertanian dan sektor non pertanian di perkotaan yang memperoleh imbalan gaji yang lebih baik. Asumsi yang digunakan yaitu: calon migran akan pergi ke kota atas dasar harapan memaksimalkan pendapatan sehingga besarnya perbedaan upah untuk skill yang kurang lebih sama merupakan faktor terpenting dalam mengambil keputusan untuk bekerja di kota. Perbedaan upah ini timbul karena rendahnya pendapatan dari kegiatan pertanian di desa dan sementara itu tingkat upah lebih besar bagi pekerja tak terdidik di kota. Migran datang ke kota dengan harapan suatu ketika akan mendapatkan pekerjaan walaupun ia mengalami masa pengangguran. Dengan demikian terdapat dua hal yang menjadi pertimbangan orang lebih bekerja di sektor non pertanian yaitu: a) perbedaan riil pendapatan antara kota dan desa dan b) besarnya kesempatan kerja di kota berdasarkan persepsi tenaga kerja (Singarimbun dalam Tjakrawati, 1988). Pemuda Perserikatan Bangsa – Bangsa (www.un.org/youth) mendefiniskan pemuda sebagai seseorang yang berumur antara 14–24 tahun. Definisi ini dibuat pada saat persiapan untuk persiapan hari internasional pemuda, selain itu PBB juga mendefinisikan anak–anak sebagai seseorang yang masih berada pada umur di bawah 13 tahun. Menurut Undang–Undang Kepemudaan No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, Pemuda didefinisikan warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun. Kepemudaan adalah berbagai hal yang berkaitan dengan potensi, tanggung jawab, hak, karakter, kapasitas, aktualisasi diri, dan cita-cita pemuda. Berbagai definisi muncul untuk kata pemuda, Baik ditinjau dari fisik maupun psikis akan siapa yang pantas disebut pemuda serta pertanyaan apakah pemuda itu identik dengan semangat atau usia. Terlebih kaitannya dengan makna hari Sumpah Pemuda. Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam kamus Websters sebagai “the time of life 29 between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person”, sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 20–24 tahun sebagai young people, sedangkan remaja atau adolescence dalam golongan usia 10-19 tahun. Contoh lain di Canada di mana negara tersebut menerapkan bahwa “after age 24, youth are no longer eligible for adolescent social services”. Di kebanyakan negara usia 18 dikategorikan seseorang tersebut telah dapat dikatakan pemuda. Bagaimana pun definisi operasional dari pemuda sangat beragam pada setiap negara, semua itu bergantung kepada keadaan sosiokulturalnya, kelembagaan, ekonomi dan faktor ekonomi. Tahapan Perkembangan Pemuda Menurut Cobb (2010) pemuda sendiri dapat didefinisikan melalui terminologi biologis, terminologi psikologis dan terminologi sosiologis. Secara biologis pemuda didefinisikan sebagai suatu masa pubertas yang membentuk tubuh anak menjadi lebih matang dan dewasa baik secara seksual maupun secara fisikal. Sementara itu secara psikologis definisi pemuda membedakan pemuda dalam hal perkembangan tugas yang harus mereka kerjakan, di mana setiap perkembangan tersebut berkaitan dengan proses pembentukan identitas diri. Definisi sosiologis menjelaskan pemuda kaitannya dengan status mereka dalam masyarakat sebagai sebuah periode transisi status antara masa anak dan masa dewasa. Menurut Hurlock dalam Muksin (2007), perkembangan berarti perubahan pada remaja secara kualitatif. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar penambahan pada tinggi badan seseorang atau kemampuan seseorang, melainkan proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks. Setiap orang dalam rentang hidupnya memiliki tahapan pertumbuhan dan perkembangan. Menurut Havigurst dalam Muksin (2007) dalam rentang perkembangan hidup ini maka terdapat periode kritis atau periode sensitif di mana seseorang memiliki proses pembelajaran yang cepat dari berbagai pengalaman. Secara keseluruhan menurut Hurlock dalam Muksin (2007) rentang perkembangan hidup ini dapat dibagi ke dalam sepuluh tahapan sebagaimana ditunjukan Tabel 1 berikut: Terdapat ciri– ciri khusus pada tahapan fase pemuda, di mana Cobb (2010) mengatakan bahwa hubungan 30 di dalam keluarga mengalami perubahan saat anak berubah menjadi seorang remaja. Semakin bertambahnya usia, seorang remaja akan berkurang waktunya bersama keluarga, hal tersebut dikarenakan para remaja sibuk dengan aktivitas–akti\vitas di luar rumah. No Tabel 1. Tahapan dalam rentang kehidupan Tahapan Perkembangan Keterangan Usia 1 Periode Pranatal 2 Neonatus Kelahiran sampai akhir minggu ke – 2 3 Masa bayi Akhir minggu ke -2 sampai akhir 2 tahun 4 Awal masa kanak – kanak 2 tahun–6 tahun 5 Akhir masa kanak – kanak 6 tahun–10 tahun 6 Masa pramasa remaja 10–12 tahun 7 Masa remaja awal 13–15 tahun 8 Masa remaja pertengahan 15–17 tahun 9 Masa remaja akhir 17–21 tahun 10 Awal masa dewasa 21–40 tahun 11 Usia pertengahan 40–60 tahun 12 Masa tua dan lanjut usia Saat konsepsi sampai lahir 60 tahun–Tutup Usia Sumber Havigurst dalam Muksin (2007) Jumlah Pemuda Dalam pengkategorian “pemuda” sangat penting untuk membedakan remaja (13-19 tahun) dan pemuda dewasa (20-24), karena mereka akan berbeda secara kondisi sosiologis, psikologis dan kesehatan. Dewasa ini setidaknya terdapat 1 miliar pemuda. Hal ini berarti terdapat 1 orang pemuda (15-24 tahun) di antara 5 orang, atau dengan bahasa lain 18% populasi dari populasi dunia adalah pemuda. Seperti yang bisa dilihat pada Tabel 2 meskipun secara jumlah populasi pemuda mengalami kenaikan dari tahun 1985 sampai pada tahun 2025, tetapi proporsi atau persentase dari total populasi penduduk dunia, pemuda mengalami penurunan. 31 Undang Undang No. 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan membawa konsekuensi pada perubahan jumlah pemuda. Dalam UU Kepemudaan, kategori umur pemuda berubah menjadi 16–30 tahun, sebelumnya kategori pemuda dari umur 15–35 tahun. Berdasarkan data Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2005–2025 yang dilakukan oleh BPS, jumlah pemuda mengalami pasang surut. Pada tahun 2009, jumlah pemuda sebanyak 62,77 juta jiwa. Angka tersebut terus mengalami kenaikan sampai dengan tahun 2011 menjadi 62,92 juta jiwa. Namun sejak tahun 2012 jumlah pemuda mengalami kenaikan dan penurunan hingga pada tahun 2015 diprediksikan jumlah pemuda menjadi 62,24 juta jiwa, atau turun 535,6 ribu jiwa dari tahun 2009. Tabel 2. Jumlah pemuda dan proporsi pemuda di dunia Tahun Jumlah Persentase dari Total Populasi Pemuda 1985 941 Juta 19.4% 1995 1.019 Miliar 18.0% 2025 1.222 Miliar 15.4% Sumber: www.un.org/youth Masa remaja atau pemuda merupakan tingkatan (stages) bagi seorang sebelum memasuki usia atau masa dewasa, di dalam masa remaja atau pemuda itu sendiri terdapat tingkatan – tingkatan. Periode transisi ini berada pada usia seseorang antara 11 sampai 21 tahun yang berada pada perkembangan spesifik yang merujuk pada awal pemuda (early adolescent) kira – kira berusia antara 11–14 tahun, pemuda menengah (mid adolescent) kira – kira berumur 15–17 tahun, dan masa pemuda akhir (late adolescent) kira–kira berumur 18–21 tahun. Manurut Cobb (2010) pemuda awal ditunjukan oleh permulaan munculnya pubertasi dan juga perubahan badan seorang anak mejadi seorang yang dewasa. Sementara itu pada pemuda akhir, fokus seorang pemuda mulai bergeser, lebih fokus untuk menemukan jati diri dan mencari kesamaan dan keintiman dari sebuah hubungan. Pemuda dan Pertanian Generasi muda merupakan sumber insani bagi pembangunan masa depan, maka posisi dan peranan generasi muda menempati kedudukan sangat strategis dalam mengemban tugas masa depan. Dengan demikian hubungan antara pemuda tani dengan pembangunan pertanian tidaklah dapat dipisahkan karena pemuda tani hari ini akan 32 menjadi petani di masa yang akan datang. Pertanian maju, modern dan tangguh akan dicapai apabila petani sebagai pelaksana utama pembangunan pertanian juga tangguh dan mandiri. Karena itu, ketangguhan dan kemandirian petani merupakan salah satu prasyarat yang akan menentukan keberhasilan pembangunan pertanian. Ketangguhan dan kemandirian pemuda tani tergantung pada profesionalisme dan kesiapan aparat pembina dalam mempersiapkan pemuda tani agar mereka tidak hanya memiliki bekal kemampuan, tetapi juga memiliki kepekaan dan wawasan terhadap corak dan bentuk kehidupan masa depan. Dalam Pedoman Pembinaan Pemuda Tani yang dikeluarkan oleh Badan Diklat Pertanian tahun 1992, pemuda tani digolongkan dalam 3 (tiga) kategori, yaitu: a.Tarunatani adalah generasi muda yang berusia 10-25 tahun, membantu kegiatan usahatani keluarga, hidupnya tergantung pada penghasilan keluarga dan belum menentukan bidang pertanian sebagai mata pencaharian, b.Petani muda adalah generasi muda yang berusia 17-35 tahun berusaha sendiri, telah menentukan bidang pertanian sebagai sumber mata pencaharian dan hidupnya tidak tergantung pada penghasilan keluarga. c.Taruna bumi adalah generasi muda yang berusia 10-25 tahun anggota pramuka yang mencintai pertanian dan berminat bekerja di bidang pertanian. Jika petani mempunyai organisasi yang kuat akan memudahkan bagi pemerintah untuk memberdayakannya. Sebab, tidak mungkin bagi pemerintah untuk berhadapan dengan petani satu per satu. Jadi pemerintah berhadapan dengan kelompok tani, gabungan kelompok tani, organisasi tani dan lain-lain. Pemerintah berharap supaya organisasi petani ini tumbuh dan berkembang. Tanpa organisasi petani, pemerintah sangat berat untuk memberdayakan petani. Sebaliknya kalau petani sudah diberdayakan, mereka menjadi “agent of change” di masyarakat 33 KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS Kerangka Berpikir Pendekatan teoritis yang menjadi dasar penelitian mengenai pengaruh keluarga, teman, dan media terhadap sikap pemuda ini adalah perspektif sistem yang dilandasi oleh pemikiran bahwa keluarga, teman dan televisi merupakan sistem mikro dalam mempengaruhi perkembangan pribadi individu. Orang tua, teman, dan media massa memegang peranan penting sebagai agen sosialisasi (Puspitawati 2006), di mana pemuda merupakan individu yang berada dalam mikrosistem sehingga pemuda tidak akan terlepas dari pengaruh pada orang tua, teman, dan media massa (televisi dan radio) yang mempengaruhi individu (mikro level). Kalish dan Collier; Eshleman dalam Puspitawati 2006 berpendapat bahwa interaksi dalam keluarga adalah bagian dari proses sosialisasi anak yang dilakukan oleh orangtua. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam proses sosialisasi ini, yaitu: pola perilaku yang disosialisasikan, agen yang berpartisipasi dalam proses sosialisasi (termasuk orangtua, anak, teman, guru, program televisi), dan teknik serta pelaksanaan dari proses sosialisasi. Konsepsi tersebut menggambarkan bahwa agen sosialisasi yang terdapat pada lingkungan mikro adalah orang tua, anak, teman, guru, dan program televisi. Pada penelitian ini pihak yang ditenggarai berhubungan dengan sikap pemuda adalah keluarga, teman, dan media massa. Sekolah tidak dimasukan karena pemuda dalam penelitian kali ini karena agen – agen sosialisasi yang yang terdapat pada penelitian ini membicarakan informasi pertanian sementara sekolah yang terdapat di wilayah tersebut tidak menginformasikan penelitian karena hanya sekolah yang bersifat umum sehingga dalam penelitian ini pihak yang dinilai berkontribusi kepada sikap pemuda terhadap pertanian adalah orang tua, teman, dan media massa (televisi, radio). Pemilihan orang tua, teman, dan media televisi sebagai pihak yang dapat mempengaruhi persepsi dan sikap pemuda sejalan dengan Model Sistem Ekologi yang berkaitan dengan pihak–pihak yang mempengaruhi perkembangan individu dari Bronfenbrenner (1981) dalam Puspitawati (2006) Gambar 1. Pada dasarnya Brofenbrenner menyajikan pandangan bahwa individu (Pemuda) berinteraksi langsung dengan subsistem 34 – subsistem yang berada pada lingkungan sekitar mereka, interaksi tersebut dapat mempengaruhi perkembangan seseorang individu baik dari aspek sikap. Pengaruh dari daya tarik dan daya dorong di pedesaan juga menyebabkan banyaknya pemuda yang meninggalkan sektor pertanian ke sektor non-pertanian (Tjakrawati, 1988). Pindahnya pemuda dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian juga diakibatkan oleh kesempatan kerja di desa yang sangat terbatas, kondisi sumberdaya alam yang tidak memungkinkan diperoleh hasil produksi yang tinggi dan juga upah kerja di pedesaan lebih rendah dibandingkan dengan di kota. Sistem Makro Idieologi Sistem Meso T P elayanan etangga Sistem Mikro K eluarga empat S I ekolah ndividu: Usia, Jenis T Kelamin T eman M I edia ndustri P olitisi Gambar 1. Model Sistem Ekologi dalam Proses Sosialisasi (Brofenbrenner dalam Puspitawati 2009) Kerangka berpikir pada penelitian ini merupakan turunan dari Model Sistem Ekologi milik Bronfenbrenner dalam Puspitawati (2006) dengan sedikit modifikasi sehingga menekankan pada peranan orang tua, teman, dan media massa yang terjadi. Pada penelitian ini hanya difokuskan saja pada micro level dikarenakan mikro level merupakan lingkungan terdekat dengan individu. Pada penelitian ini Mikro level yang merupakan 35 “agen sosialisasi primer” yang dimaksud merujuk pada Kalish dan Collier; Eshleman dalam Puspitawati (2006) agen yang berpartisipasi dalam proses sosialisasi adalah Keluarga dalam hal ini adalah orang tua, teman, program televisi. Proses terbentuknya sikap pada pemuda akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik sosial ekonomi di mana individu tersebut berada (Ihromi 1999). Sikap pemuda terhadap pertanian pada penelitian ini merupakan sikap pemuda terhadap sektor pertanian sebagai pekerjaan masa kini dan masa depan sehingga dapat terlihat sejauhmana sikap pemuda dalam melihat apakah pertanian dapat memenuhi kebutuhan manusia. Sikap pemuda terhadap pertanian dilihat sebagai buah dari persepsi pemuda terhadap kesempatan kerja, persepsi terhadap sumberdaya alam di desa dan persepsi terhadap pekerjaan pertanian di masa yang akan datang. Sikap pemuda juga merupakan hasil sosialisasi tentang pertanian yang diterima pemuda dari proses sosialisasi pertanian dari orang tua, teman (peers), maupun media massa. Hubungan antara peubah– peubah yang dibangun dijelaskan melalui kerangka berpikir penelitian pada Gambar 2. 37 KERANGKA BERPIKIR Karakteristik Individu Pemuda X1. Umur X2. Tingkat Pendidikan X3. Jenis Kelamin X4. Status Kepemilikan Lahan orang tua X5. Luas Kepemilikan Lahan orang tua X6. Tingkat Kekosmopolitan Pemuda H1 Agen Sosialisasi H2 Interaksi dengan Orang Tua (X7) X7.1 Frekuensi orang – tua bercerita mengenai pertanian X7.2 Tingkat Pelibatan pemuda dalam kegiatan pertanian oleh orang tua Keterdedahan dalam Menggunakan Media Massa (TV, Radio) (X8) X.8.1 Intensitas menggunakan media massa Pertanian X.8.1.1 Lama Menonton X.8.1.2 Lama Mendengarkan Radio X.8.2. Frekuensi menggunakan media massa Pertanian X.8.2.1 Frekuensi Menonton TV X.8.2.2 Frekuensi Mendengarkan Radio (0,130) Interaksi dengan Teman (X9) X.9.1 Tingkat kedekatan dengan teman di bidang Pertanian Persepsi Pemuda terhadap Kondisi di Pedesaan (X10) X10.1. Persepsi pemuda terhadap Kesempatan Kerja di Pedesaan X10.2Persepsi Pemuda terhadap kondisi sumberdaya alam di pedesaan X10.3 Persepsi pemuda terhadap pertanian di masa depan H3 SIKAP PEMUDA TERHADAP PEKERJAAN DI SEKTOR PERTANIAN (Y1) Y1.1 Kognisi Terhadap Pekerjaan di bidang pertanian Y1.2. Afeksi Terhadap pekerjaan di bidang pertanian: Y.1.3. Kecenderungan Bertindak pemuda di bidang pertanian : H4 H5 Gambar 2. Kerangka berpikir hubungan orang tua, media massa, dan teman dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. 38 Hipotesis Penelitian H1 : Terdapat hubungan nyata antara karakteristik internal pemuda dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian H2 : Terdapat hubungan nyata antara sosialisasi oleh orang tua dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian H3 : Terdapat hubungan nyata antara keterdedahan terhadap media massa dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian H4 : Terdapat hubungan nyata antara interaksi teman pemuda tani dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian H5 : Terdapat hubungan nyata antara persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian 39 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di wilayah pertanian hortikulutra di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur dengan pertimbangan wilayah tersebut merupakan salah satu sentra produksi sayuran di Jawa Barat. Menurut Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Cianjur, Kabupaten Cianjur merupakan salah satu di antara tujuh kabupaten/kota yang merupakan sentra produksi tanaman hortikultura di Jawa Barat. Menurut pihak Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Kecamatan Pacet merupakan kecamatan yang direkomendasikan oleh Dinas Pertanian karena kemudahannya untuk diakses dan menjadi sentra produksi tanaman hortikultura (sayuran wortel) di Kabupaten Cianjur. Pemilihan lokasi dilakukan dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Pacet merupakan sentra produksi tanaman hortikultura yang berada di Kabupaten Cianjur, sehingga dapat diasumsikan bahwa Pacet sebagai sentra produksi tanaman hortikultura memiliki sumberdaya pertanian hortikultura yang berlimpah dan secara pemasaran wilayah tersebut dapat dikatakan baik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari hingga September 2011. Desain Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan desain penelitian survai bersifat deskriptif–korelasional. Penelitian ini berusaha menjelaskan dan menguraikan fenomena yang diamati. Hasil pengamatan diharapkan dapat menggambarkan sikap pemuda tani terhadap pekerjaan di bidang pertanian dan faktor–faktor mempengaruhi sikap pemuda. Desain ini juga dimaksudkan untuk menjelaskan karakteristik pemuda petani di Desa Cipendawa dan Sukatani dan untuk menguji hubungan antara peubah bebas dan peubah terikat melalui instrumen kuesioner. Peubah bebas di sini adalah karakteristik pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa dan interaksi dengan teman dari bidang pertanian, serta persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan. Sementara peubah terikat dalam penelitian ini adalah sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. 40 Populasi dan Sampel Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah pemuda yang berasal dari keluarga petani, belum menikah, yang usianya berada pada rentang 13–24 tahun dan berada pada wilayah tanaman hortikultura di Kecamatan Pacet. Pertimbangan pemilihan tempat tersebut karena (1) merupakan sentra produksi tanaman wortel (2) besarnya jumlah petani pemuda (3) keragaman karakteristik sosial ekonomi masyarakatnya (4) terdapat kelompok tani yang aktif. Kecamatan Pacet terdiri atas 7 desa, terdapat dua desa yang menjadi sentra produksi tanaman hortikultura terbesar yaitu Desa Cipendawa dan Desa Sukatani (Wilayah Agropolitan). Menurut data yang dimiliki oleh Kecamatan Pacet, di Desa Cipendawa terdapat 1.457 Pemuda (15–30 tahun) sementara itu di Desa Sukatani terdapat 1.340 Pemuda (13-30 tahun). Sampel Penelitian Metode penarikan sampel terkategorikan probability random sampling dengan menggunakan cluster sampling dengan pertimbangan kerangka sampling penelitian sulit untuk ditentukan karena tidak dimilikinya data mengenai jumlah pemuda yang terkategorikan usia 13–24 tahun, belum menikah dan orang tuanya merupakan petani. Menggunakan cluster sampling dipilih dua desa secara sengaja yaitu Desa Cipendawa dan Desa Sukatani dengan pertimbangan desa tersebut memiliki produksi tanaman sayur yang besar di Kecamatan Pacet. Desa Cipendawa memiliki 4 Perdukuhan (kampung) yang terdiri dari 14 RW dan Sukatani memiliki 4 perdukuhan yang terdiri dari 8 RW. Dari masing–masing desa tersebut dipilih secara acak satu Perdukuhan, untuk Desa Cipendawa mendapatkan Dukuh Pasir Cina untuk desa Cipendawa dan Pasir Kampung untuk Desa Sukatani dengan masing–masing jumlah pemuda yang berasal dari keluarga petani dan belum menikah dengan usia antara 13–24 tahun adalah untuk Desa Cipendawa 110 orang dan untuk Desa 104 orang. Menurut Neuman (1997), Penentuan jumlah sampel yang representatif untuk populasi kecil yang kurang dari 1000 orang, maka peneliti membutuhkan suatu perbandingan sampel yang besar yaitu sekitar 30 persen dari populasi. Untuk lebih dapat melihat proses penarikan sampel dijelaskan pada kerangka penarikan sampling yang disajikan pada Gambar 3. 41 Kerangka Penarikan Sampel KAB. CIANJUR KEC. PACET 7 DESA Desa Cipendawa Desa Sukatani 4 Dusun 4 Dusun Pasir Cina Pasir Kampung Dipilih secara acak Jumlah Pemuda dari Keluarga Petani 110 orang Dipilih secara acak 30% dari 110 = 34 Orang Jumlah Pemuda dari Keluarga Petani 104 orang 30% dari 104 = 31 Orang TOTAL SAMPEL 65 ORANG Gambar 3. Kerangka penarikan sampel 42 Data dan Instrumentasi Data Data yang digali dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengisian kuesioner oleh responden secara langsung. Data primer pada penelitian ini meliputi data mengenai karakteristik pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa, interaksi dengan teman di bidang pertanian, persepsi terhadap kondisi di pedesaan. Data sekunder diperoleh dari dokumen–dokumen dari instansi seperti Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, BPS, Kecamatan Pacet, dan instansi lain yang terkait dengan penelitian ini, data sekunder dalam penelitian ini meliputi data–data seperti potensi wilayah, kebijakan–kebijakan pertanian terakhir di Kecamatan Pacet. Instrumentasi Instrumen adalah alat bantu yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner yang merupakan susunan pertanyaan/pernyataan yang akan diwawancarai langsung responden. Dasar jawaban responden adalah pertanyaan yang diajukan atau alternatif jawaban yang sudah tersedia dalam kuesioner. Pengembangan pertanyaan pertanyaan dari kuesioner yang telah ada dilakukan untuk melengkapi hasil wawancara. Validitas dan Reliabilitas Instrumentasi Validitas Instrumentasi Ancok dalam Singarimbun dan Effendi (1989) mengemukakan bahwa validitas instrumentasi adalah suatu tingkatan yang menunjukkan pengukuran yang tepat meliputi validitas isi dan validitas konstruk. Validitas isi diupayakan dengan cara mencermati isi instrumen yang mewakili seluruh aspek yang dinyatakan sebagai kerangka konsep. Validitas dalam penelitian ini didapat dengan jalan menyesuaikan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan instrumen berdasarkan indikator-indikator yang dibuat dari teori-teori yang ada dan pendapat dari ahli, termasuk konsultasi dengan dosen pembimbing. Uji validitas dilakukan dengan teknik korelasi product moment Pearson. Untuk beberapa pernyataan yang terkait dengan teknis pertanian 43 diperoleh dari informasi yang diberikan oleh Penyuluh Lapang dan juga Ketua Gapoktan Perhitungan dengan menggunakan teknik korelasi product moment Pearson, menggunakan rumus sebagai berikut (Ancok dalam Singarimbun dan Effendi, 1989). r  [N Keterangan  N (  XY )  (  X X : r X Y XY N 2  ( X ) 2 Y) ][ N  Y  (  Y ) 2 2 ] = Nilai koefisien validitas = Skor pertanyaan pertama = Total Skor = Skor pertanyaan pertama dikalikan skor total = Jumlah responden Uji validitas dilakukan dengan mengorelasikan skor masing–masing butir pertanyaan dengan skor total pada setiap peubah. Berdasarkan hasil uji statistik terhadap instrumen yang digunakan dengan SPSS versi 15, maka dapat disimpulkan secara keseluruhan item pertanyaan yang valid dapat dilihat dari nilai kritis pada tabel product moment pearson. Dari hasil uji validitas yang diujikan pada 15 orang pemuda tani diperoleh nilai kritis dari tabel product moment pearson sebesar 0,553. Dengan nilai kritis tersebut terdapat 24 pertanyaan yang tidak valid dan dibuang, tetapi terdapat juga 26 pertanyaan yang nilai kritisnya tidak terlalu jauh di bawah 0,553 dimodifikasi tata bahasanya agar dapat lebih dipahami secara lebih detail oleh responden. Reliabilitas Instrumen Reliabilitas instrumen adalah indeks yang menunjukan sejauhmana suatu alat pengukuran dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Ancok dalam Singarimbun dan Effendi, 1989). Teknik yang digunakan dalam perhitungan reliabilitas sebagai alat ukur yaitu teknik belah dua atau split half dengan mengorelasikan jawaban belahan pertama (ganjil) dan belahan kedua (genap). rtot  2 rtt  1  rtt 44 Keterangan r.tot = Angka reliabilitas keseluruhan item r.tt = Angka korelasi belahan pertama dan belahan kedua Berdasarkan hasil uji analisis statistik dengan menggunakan SPSS versi 15 terhadap seluruh instrumen yang diuji coba terhadap 15 orang pemuda yang bukan sampel tetapi memiliki karakteristik yang hampir sama dengan responden. Pengujian reliabilitas menggunakan split–half , untuk menentukan apakah setiap instrumen reliabel atau tidak dalat dilihat pada skala 0 – 1 interpretasi reliabilitas instrumen sebagai berikut: 1. Nilai reliabilitas 0,0–0,20 = Kurang reliabel 2. Nilai reliabilitas 0,21–0,40 = Agak reliabel 3. Nilai reliabilitas 0,41–0,60 = Cukup reliabel 4. Nilai reliabilitas 0,61–0,80 = Reliabel 5. Nilai reliabilitas 0,81–1,00 = Sangat Reliabel Dari hasil uji reliabilitas yang diujikan pada 15 orang pemuda tani dengan menggunakan rumus split-half di peroleh kisaran nilai reliabilitas antara 0,540– 0,924. Sehingga dapat dikatakan reliabilitas instrumennya berkisar antara cukup reliabel sampai dengan sangat reliabel. Pengumpulan Data Pengumpulan data peda penelitian ini menggunakan kuesioner, FGD, Indepth interview, dan penelaahan terhadap naskah atau dokumen. 1) Kuesioner dalam penelitian ini ditanyakan terhadap 65 responden untuk mendapatkan data primer mengenai peubah – peubah yang diteliti. 2) FGD dilakukan untuk memperoleh penjelasan dari key informan (3 orang tua dari pemuda yang menjadi responden) data yang diperoleh mengenai pandangan orang tua dalam menyosialisasikan pertanian terhadap pemuda (anak mereka). 3) Wawancara mendalam (indepth interview) dengan 3 orang, Ketua Gapoktan Multi Tani Jaya Giri (serta PPL data yang diperoleh adalah data yang berhubungan dengan pandangan pemuda mengenai pertanian. 4) Penelaahan dokumen dilakukan terhadap potensi Desa Cipendawa dan potensi Desa Sukatani dan Cianjur dalam angka, data – data tersebut berupa data sekunder yang mendukung data primer . 45 Analisis Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diolah dan dianalisis dengan prosedur sebagai berikut: 1. Analisis statistik deskriptif dilakukan terhadap karakteristik pemuda, Interaksi dengan Orang Tua, Keterdedahan terhadap media massa dan Interaksi dengan teman dalam menyosialisasikan pekerjaan di bidang pertanian dan persepsi terhadap kondisi di pedesaan. Sementara perubah terikat dalam penelitian ini adalah sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian. 2. Analisis statistik non-parametrik, yaitu untuk mengetahui nilai hubungan antara karakteristik pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa dan interaksi dengan teman di bidang pertanian di bidang pertanian dan persepsi terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian. Hubungan antar peubah tersebut dianalisis menggunakan program SPSS versi 15 dengan Uji Koefisien Kontingensi dan korelasi Rank Spearman. a. Chi Square dengan rumus sebagai berikut: k n    2 i 1 j 1 ij  ij 2 ij Keterangan : X2 = Koefisien korelasi chi square Oij = Frekuensi yang termasuk pada tiap sel (i,j) Eij = Frekuensi yang diharapkan dalam sel (i,j) k = Jumlah baris n = jumlah kolom Analisis keeratan hubungan pada Uji Chi Square dilakukan dengan menghitung koefisien kontingensinya dengan rumus sebagai berikut : 2 C n  2 Keterangan : C X2 n = Nilai Koefisien Kontingensi = Hasil Chi Square hitung = Banyaknya sampel 46 b. Rank Spearman n rs  6  di 2 i1  n n2 1  Keterangan : rs di n 1 dan 6 = Koefisien Korelasi Rank Spearman = Beda antara dua peubah berpasangan = Jumlah Responden = Bilangan koefisien Definisi Operasional Definisi operasional dan beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : I. Karakteristik Pemuda Pemuda yang dimaksud dalam penelitian ini adalah orang yang berusia antara 13–24 tahun baik perempuan maupun laki–laki dan belum menikah dan berasal dari keluarga petani. Karakteristik pemuda adalah gambaran tentang sifat– sifat atau ciri– ciri pribadi yang dimiliki responden sampel penelitian ini, meliputi ciri–ciri pribadi (internal) sebagai berikut: X.1. Umur pemuda lama hidup pemuda dinyatakan dalam tahun, dihitung dari saat kelahiran sampai penelitian ini dilakukan dibulatkan dalam jumlah tahun terdekat saat ulang tahun bila terdapat selisih bulan (Muksin 2007). Peubah ini diukur dengan skala rasio. a. 13-14 tahun (remaja awal) b. 15–17 tahun (remaja pertengahan) c. 18–21 tahun (remaja akhir) d. 22–24 tahun (dewasa awal) X.2. Jenis Kelamin, adalah kondisi biologis primer pemuda apakah tergolong laki – laki ataupun perempuan yang secara kodrati memiliki fungsi–fungsi organisme yang berbeda (Handayani dan Sugiarti, 2008). Peubah ini diukur melalui skala nominal. a. Perempuan b. Laki - Laki 47 X.3. Tingkat Pendidikan Pemuda adalah pendidikan formal dari mulai jenjang SD sampai dengan jenjang perguruan tinggi yang pernah diikuti oleh pemuda, peubah tingkat pendidikan ini diukur dengan skala ordinal, (Muksin 2007) 1. Lulusan SD 2. Lulusan SLTP 3. Lulusan SLTA 4. Lulusan Perguruan Tinggi X.4. Status Kepemilikan Lahan Orang Tua, kondisi kepemilikan lahan pertanian yang dikelola oleh orang tua, diukur dengan skala ordinal. 1. Menggarap (Miliki orang lain) 2. Milik Sendiri X.5. Luas Lahan Pertanian Orang Tua, Jumlah hamparan tanah (ha) yang diusahakan ataupun yang dimanfaatkan orang tua dalam berusaha tani di mana pemuda tersebut berada dan membantu dalam aktivitas pemanfaatannya (Muksin 2007), diukur dengan skala rasio . 1. <0,25 ha 2. 0,25 – 0,7 ha 3. > 0,7 ha X.6. Tingkat Kekosmopolitan Pemuda, adalah kesediaan seseorang pemuda untuk berusaha mencari ida-ide baru dari luar lingkungannya atau tingkat keterbukaan dalam menerima pengaruh dari luar (Rogers dan Shoemaker dalam Soekartawi 2005), diukur dengan skala ordinal. 1. Rendah (0-1 kali) 2. Sedang (2-3 kali) 3. Tinggi (4-5 kali) II. Faktor Agen Sosialisasi Agen Sosialisasi merupakan pihak terdekat bagi pemuda yang mentrasmisikan nilainilai, pengetahuan atau norma–norma tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung (Ihromi 1999), terutama terkait dengan terutama nilai, pengetahuan mengenai pertanian. X.7. Sosialisasi oleh Orang Tua 48 X.7.1. Frekuensi orang tua bercerita terhadap anak mengenai pertanian, Menurut Turner dan West (2006) bercerita adalah suatu transmisi kebudayaan melalui interaksi dengan kata–kata dengan significant others dalam pembentukan dan bertahannya suatu kebudayaan dalam suatu generasi dan antar generasi. Dalam penelitian ini Frekuensi bercerita adalah tingkat keseringan orang tua (ayah dan ibu) dalam bercerita mengenai pertanian kepada anaknya (pemuda), peubah ini diukur dengan skala ordinal. 1. Rendah ( < 3) 2. Sedang (4–6) 3. Tinggi (7–9) X.7.2. Tingkat Pelibatan pemuda dalam kegiatan pertanian oleh orang tua. Menurut Turner dan West (2006), pelibatan pemuda dalam kegiatan orang tua dapat dikategorikan sebagai patterned family interaction (interaksi keluarga yang terpola) adalah aktivitas yang dilakukan dalam keluarga dalam rangka membangun dan mempertahankan identitas. Turner dan West juga mengatakan bahwa patterned family interaction merupakan suatu kegiatan informal yang rutin dilakukan biasanya merupakan kegiatan simbolik. Sementara dalam penelitian ini peubah ini didefinisikan sebagai keseringan orang tua dalam mengajak anaknya (pemuda) ke kebun untuk membantu orang tua mengerjakan kegiatan pertanian,diukur dengan skala ordinal. 1. Rendah (1-2,0) 2. Jarang (2,01 – 3, 01) 3. Sering (3,02 – 4) X.8. Keterdedahan terhadap Media massa X.8.1 Keterdedahan terhadap Media Televisi X.8.1.1 Frekuensi Menonton acara pertanian, adalah keadaan sering (seberapa sering) pemuda menyaksikan acara pertanian dalam satu bulan (Jahi, 1988), diukur dengan skala ordinal 1. Rendah (0–2 kali/bulan) 49 2. Sedang (3–4 kali/bulan) 3. Tinggi (5–7 kali/bulan) X.8.1.2 Intensitas Menonton acara pertanian, adalah lamanya waktu yang diluangkan oleh pemuda dalam satu kali menyaksikan acara televisi, dihitung dengan skala ordinal 1. Rendah (< 20 menit) 2. Sedang (21–41 menit) 3. Tinggi (42–60 menit) X.8.2 Keterdedahan terhadap Media Massa Radio X.8.2.1 Frekuensi mendengarkan acara pertanian, adalah seberapa sering pemuda mendengarkan acara pertanian dalam satu bulan (Jahi, 1988), diukur dengan skala ordinal 1. Rendah (<2 kali) 2. Sedang (2 kali ) 3. Tinggi (3 kali) X.8.2.2. Intensitas mendengarkan acara pertanian, adalah lamanya waktu yang diluangkan oleh pemuda dalam satu kali mendengarkan acara radio, diukur dengan skala ordinal 1. Rendah (0 -20 menit) 2. Sedang (21 – 41 menit) 3. Tinggi (42 – 60 menit) X.9. Interaksi dengan Teman X.9.1 Tingkat Kedekatan dengan teman di bidang pertanian, Kedekatan hubungan (closeness Relationships), dilihat dari seberapa sering individu dengan teman menghabiskan waktu bersama dengan teman dekat dan siapa teman dekatnya (Jaccard et al. 2005), dalam penelitian ini tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian didefinisikan sebagai tingkat kedekatan teman dengan teman–teman terbaiknya yang bekerja di bidang pertanian. peubah ini diukur dengan skala ordinal 1. Rendah (0–2) 50 2. Sedang (3–4) 3. Tinggi (5-6) X.10. Persepsi Pemuda terhadap Kondisi di Pedesaan X.10.1 Persepsi pemuda terhadap Kesempatan Kerja di Pedesaan, menurut Rakhmat (2005) persepsi adalah pengalaman tentang obyek, perstiwa, atau hubungan–hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan atau didefinisikan sebagai proses memberikan makna pada stimuli inderawi sehingga memperoleh pengetahuan baru. Dalam penelitian ini persepsi pemuda didefinisikan sebagai cara pandang atau pemaknaan pemuda dalam melihat peluang kerja yang ada di pedesaan atas dasar pengalaman–pengalaman terdahulu, diukur dengan skala ordinal. 1. Tidak terdapat kesempatan kerja (1-1,75) 2. Kurang terdapat kesempatan kerja (1,76 - 2,51) 3. Terdapat kesempatan kerja (2,52 - 3.27) 4. Banyak terdapat kesempatan kerja (3,28 – 4) X.10.2 Persepsi pemuda terhadap kondisi sumberdaya alam di Pedesaan, Secara teoritis persepsi menurut Rakhmat (2005) adalah pengalaman tentang obyek, perstiwa, atau hubungan–hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan atau didefinisikan sebagai proses memberikan makna pada stimuli inderawi sehingga diperoleh pengetahuan baru. Dalam penelitian ini persepsi pemuda terhadap kondisi sumber daya alam di pedesaan adalah cara pandang atau pemaknaan pemuda dalam melihat sejauhmana ketersediaan sumberdaya yang terkandung dalam tanah dan air di pedesaan yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang di dasarkan oleh pengalaman– pengalaman terdahulu, diukur dengan skala ordinal. 1. Sangat Buruk (1-1,75) 2. Buruk (1,76-2,51) 3. Baik (2,52-3.27) 4. Sangat Baik (3,28 – 4) 51 X.10.2 Persepsi pemuda terhadap prospek pertanian di masa yang akan datang Secara teoritis persepsi menurut Rakhmat (2005) adalah pengalaman tentang obyek, perstiwa, atau hubungan–hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan atau didefinisikan sebagai proses memberikan makna pada stimuli inderawi sehingga memperoleh pengetahuan baru. Pada penelitian ini persepsi pemuda terhadap pertanian di masa depan didefinisikan sebagai cara pandang atau pemaknaan pemuda dalam melihat pertanian di masa yang akan datang. Peubah ini diukur dengan skala ordinal. 1. Tidak Prospektif (1-1,75) 2. Kurang Prospektif (1,76 - 2,51) 3. Prospektif (2,52 - 3.27) 4. Prospektif (3,28 – 4) Y.1. Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Menurut Mar’at (1981), sikap adalah konsep evaluasi berkenaan dengan obyek tertentu, menggugah motif untuk bertingkah laku. Secara operasional dapat didefinisikan bahwa sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian adalah kondisi psikologis pemuda yang didasari konsep evaluasi pekerjaan di bidang pertanian dari segi pemenuhan kebutuhan setelah dipengaruhi oleh komponen kognitif, afektif, konatif yang berkaitan dengan pekerjaan di bidang pertanian. Dalam penelitian ini sikap terhadap pekerjaan ini dikaitkan dengan konsep pekerjaan yang kemukakan oleh Sajogyo (1987) yaitu pekerjaan sebagai interaksi sosial, sebagai status sosial, dan sebagai kegiatan yang menghasilkan uang (ekonomi). Diukur dengan skala ordinal, penelitian ini menggunakan metode Likert (Oppenheim, 1966). 1. Tidak Setuju (1- 1,75) 2. Kurang Setuju (1,76 – 2,51) 3. Setuju (2,52 – 3,25) 4. Sangat Setuju (3,26 – 4) Y.1.1. Aspek Kognisi Pemuda Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian 52 Didefinisikan sebagai kemampuan untuk berfikir, kepercayaan, pengetahuan, dan ide mengenai konsep (Mar’at 1981). Pada penelitian ini aspek kognisi dari pemuda didefinisikan sebagai pengetahuan pemuda mengenai teknis dari kegiatan usahatani pertanian tanaman sayur dataran tinggi, diukur melalui skala ordinal. 1. Tidak Setuju (1- 1,75) 2. Kurang Setuju (1,76 – 2,51) 3. Setuju (2,52 – 3,25) 4. Sangat Setuju (3,26 – 4) Y.1.2. Aspek Afeksi Pemuda Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian (Y1.2) Didefinisikan sebagai kompenen sikap yang menyangkut kehidupan emosional seseorang sementara itu dalam penelitian ini komponen afeksi didefinisikan sebagai evaluasi pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian, diukur melalui skala ordinal. 1. Tidak Setuju (1- 1,75) 2. Kurang Setuju (1,76 – 2,51) 3. Setuju (2,52 – 3,25) 4. Sangat Setuju (3,26 – 4) Y.1.3. Aspek Konasi Pemuda Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian (Y1.2) Didefinisikan sebagai kompenen sikap yang berkaitan dengan kecenderungan bertingkah laku seseorang (Mar’at 1981), sementara itu dalam penelitian ini komponen konasi didefinisikan sebagai kecenderungan pemuda untuk bekerja di bidang pertanian yang didasari oleh pertimbangan produksi, interaksi, status sosial, dan ekonomi, diukur melalui skala ordinal. 1. Tidak Setuju (1- 1,75) 2. Kurang Setuju (1,76 – 2,51) 3. Setuju (2,52 – 3,25) 4. Sangat Setuju (3,26 – 4) HUBUNGAN ORANG TUA, MEDIA MASSA, DAN TEMAN DENGAN SIKAP PEMUDA TERHADAP PEKERJAAN DI BIDANG PERTANIAN (Kasus Pemuda di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur) YOGAPRASTA ADI NUGRAHA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 99 DAFTAR PUSTAKA Azwar, S. 1995. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar. Yogyakarta [BPS] Badan Pusat Statistik. 2010. Berita Resmi Statistik: Keadaan Ketenagakerjaan Agustus 2010. Jakarta. Cangara. H. 2002. Pengantar Ilmu Komunikasi. Rajagrafindo Persada. Jakarta. Cobb, NJ. 2010. Adolescence: Continuity, Change, and Diversity, Seventh Edition, Sinauer Associates. USA. Daryanto, A. 2009. Posisi Daya Saing Pertanian dan Upaya Peningkatannya. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor. [Deptan] Departemen Pertanian. 1992. Pedoman Pembinaan Pemuda Tani. Jakarta ,2005. Rencana Strategis Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Departemen Pertanian 2005-2009. Deptan. Jakarta Handayani, T & Sugiarti. 2008. Konsep dan Teknik Penelitian Gender: Edisi Revisi. UMM Press. Malang. Herlina. 2002. Orientasi Nilai Kerja Pemuda pada Keluarga Petani Perkebunan [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Ihromi, T.O. 1999. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Obor Indonesia. Jakarta. Jaccard, J. Dodge, T. & Hart B. 2005. Peer Influence on Risk Behaviour: An Analysis of The Effects of a Close Friend. Developmental Psychology. 41: 135 – 149. Jahi, A. 1988. Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan Di Negara Dunia Ketiga: Suatu Pengantar. Gramedia. Jakarta. Khairil, 1994. Hubungan Keterdedahan Petani Anggota Kelompok Pencapir Pada Siaran Pedesaan dari Radio dan Televisi dengan Pengetahuan Mereka tentang Diversifikasi Usahatani di Kabupaten Bengkalis Utara [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Lubis, D & E, Sutarto. 1991. Konsistensi Pola Mata Pencaharian Antara Orang Tua dan Anak Pada Masyarakat Petani di Pedesaan. LPPM. IPB. Bogor. Mar’at. 1981. Sikap Manusia Perubahan Serta Pengukurannya. Ghalia Indonesia. Bandung. Muksin. 2007. Kompetensi Pemuda Tani yang Perlu Dikembangkan di Jawa Timur. [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 100 Narwoko, J & B, Suyanto. 2004. Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Prenada Media. Jakarta. Neuman, L. 1997. Social Research Methods: Quantitative and Qualitative Approaches. Allyn and Bacon. United States Oppenheim, A.N. 1966. Questionnaire Design and Attitude Measurement. Heinemann. London. Pranadji, T.1999. Perekayasaan sosial-budaya dalam percepatan pembangunan pertanian. Pusat penelitian dan pengembangan sosial ekonomi pertanian. Bogor. Puspitawati, H. 2006. Pengaruh Faktor Keluarga, Lingkungan Teman, dan Sekolah terhadap Kenakalan Pelajar di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas di Kota Bogor. [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut. Pertanian Bogor. Bogor. , 2009. Kenakalan Remaja di Pengaruhi oleh Sistem Sekolah dan Keluarga. IPB Press. Bogor. Rakhmat, J. 2005. Psikologi Komunikasi. Remaja Rosdakarya. Bandung. Rozany, A.N. 1999. Dampak Krisis Ekonomi terhadap Struktur Pasar Tenaga Kerja Pertanian di Pedesaan. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. Sajogyo, P. 1987. Peranan Wanita dalam Pembangunan: Suatu Tinjauan Sosiologis. IPB. Bogor. Saptana, Sunarsih, & Indraningsih KS. 2006. Mewujudkan Keunggulan Komparatif Menjadi Keunggulan Kompetitif Melalui Pengembangan Kemitraan Usaha Hortikultura. Forum Penelitian Agro Ekonomi 24: 1 [terhubung berkala]. http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/FAE24-1e.pdf . [7 Des 2011] Singarimbun, M & S, Effendi. 1989. Metode Penelitian Survei. LP3ES. Jakarta Suleeman, E. 1990. “Komunikasi dalam Keluarga.” Dalam Ihromi “Para Ibu yang Berperan Tunggal dan Berperan Ganda”. FE. UI. Jakarta. Suranto, A. 1999. Sikap anggota kelompok masyarakat IDT terhadap peranan dan karakteristik pendamping [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Soekartawi. 2005. Prinsip – Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. UI Press. Jakarta. Syam, A. & S, Dermoredjo. 2000. Kontribusi Sektor Pertanian dalam Pertumbuhan dan Stabilitas Produk Domestik Bruto. Universitas Udayana. 101 Tjakrawati, S. 1988. Perubahan Nilai Kerja Pertanian di Daerah Persawahan; Kasus Pemuda di Desa Kampungsawah, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Krawang [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Triandis, H. 1971. Attitude and Attitude Change. John Wiley and Sons Inc. USA Turner, L & West. 2006. The Family Communication Sourcebook. Sage Publication. Tubbs, S.L & S. Moss. 1996. Human Communication: Prinsip – Prinsip Dasar. Remaja Rosdakarya. Bandung. UU No. 40 Tahun 2009. Undang – Undang Tentang Kepemudaan di Republik Indonesia. Walgito, B. 2003. Psikologi Sosial. CV. Andi Offset. Yogyakarta. 101 Lampiran 1. Kuesioner Penelitian KUESIONER HUBUNGAN ORANGTUA, TELEVISI, DAN TEMAN DENGAN SIKAP PEMUDA TERHADAP PEKERJAAN DI BIDANG PERTANIAN (Kasus Pemuda Di Desa Cipendawa dan Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur) Kuesioner ini dibuat dalam rangka penyusunan tugas akhir Yogaprasta Adinugraha (I352090061) mahasiswa Program Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Atas kerjasamanya saya ucapkan terimakasih IDENTITAS RESPONDEN Nama Lengkap anda : Tanggal Pengisian : Enumerator : Yogaprasta Adinugraha No : MAYOR KOMUNIKASI PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PEDESAAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 102 BAGIAN I FAKTOR INTERNAL KARAKTERISTIK INDIVIDU Petunjuk Pengisian : Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan memberi tanda checklis (√) sesuai dengan keadaan dan pengetahuan anda yang sebenar - benarnya 1. Usia anda saat ini : ……..Tahun; Tanggal dan Tahun Lahir ................. 2. Jenis Kelamin : [ ] Laki – Laki [ ] Perempuan 3. Pendidikan Formal Terakhir : [ [ [ [ [ [ ] Lulus S1/Sederajat ] Lulus Diploma/sederajat ] Lulus SLTA/sederajat ] Lulus SLTP/sederajat ] Lulus SD/sederajat ] Tidak pernah sekolah/ tidak tamat SD 4. Luas Lahan dan Status Kepemilikan Lahan Orang Tua Jenis Usahatani Jumlah Status Kepemilikan* Pertanian 1. Tanaman Pangan m²/Ha 2. Hortikultura m²/Ha *1. Milik Sendiri 2. Bukan Milik : Bagi Hasil 3 Bukan Milik: Sewa 4. Bukan Milik : Gadai 5. Bukan milik: Dipinjamkan Tingkat Kekosmopolitan Pemuda: 5. Dalam satu Bulan terakhir apakah pernah pergi keluar dari desa: (Jika Ya lanjutkan ke Nomor 6 dan 7) [ ] Ya, Pergi Kemana? ...................................... dan apa yang dilakukan........................................ [ ] Tidak 6. Dalam satu bulan terakhir berapa kali anda melakukan kunjungan ke pusat kota? ...............................Kali 7. Dalam 1 bulan terakhir berapa kali ibu/ bapak mengunjungi Kota untuk kebutuhan pertanian tani?...............................Kali II. Interaksi dengan Orang Tua (X2) 8. Apakah saudara pernah bermain ke kebon/sawah oleh orang tua? jika pernah, Apa saja yang anda kerjakan? Sebutkan kegiatan ada di kebon/sawah [ ] Ya , [ ] Pengolahan lahan [ ] Penanaman [ ] Pemberantasan Hama [ ] Pemupukan [ ] Pemanenan [ ] Lain – Lain, ..................... [ ] Tidak Pernah 103 II.1. Frekuensi Bercerita mengenai pertanian (Satu Bulan terakhir) Apakah anda sering berbicara/ngobrol tentang pertanian dengan orang tua ? No Arena Komunikasi (Waktu atau Jenis Lama Pembicaraan Tempat Komunikasi) Pembicaraan1) (Menit) 9 10 11 12 13 14 2) Pelaku Saat sore setelah kembali dari kebun Saat makan malam Saat nonton TV Saat di kebun Sebelum berangkat kerja/ sekolah Lain – lain, sebutkan: (Boleh Lebih dari satu arena) Ket 1) 2) a Teknologi Produksi (Budidaya) b. Pemasaran Hasil c. Pengolahan hasil d. Ekonomi (Modal) e. Status Petani f. Interaksi g. Lain – Lain: Sebutkan a. Ibu b. Ayah II.2 Tingkat Pelibatan Pemuda dalam membantu orang tua di Kebun atau sawah No. 15 16 17 Pernyataan Membantu Orang tua di kebun membersihkan ilalang sebelum mulai menanam benih/bibit Membantu orang tua dalam memilih bibit atau benih sayuran Membantu Orang tua membajak tanah pertanian sayur sebelum mulai ditanam 18 Membantu orang tua menanam bibit sayuran 19 Membantu orang tua menyiram tanaman sayur Membantu Orang tua memberikan pupuk kandang pada tanaman Membantu Orang tua memberikan pestisida untuk sayuran Membantu orang tua di kebun untuk membersihkan rumput – rumput tinggi setelah tanaman sayur ditanam Membantu orang tua mencuci sayuran setelah panen Membantu Orang tua memilih produk – produk sayuran/ kelas Super, Kelas A, B 20 21 22 23 24 25 26 27 Membantu Orang tua memanen hasil sayuran di kebun Membantu orang tua membersihkan kebun setelah panen selesai Membantu orang tua menyiapkan pupuk/benih/ obat. Sangat Sering Sering Jarang Tidak Pernah 104 III. Keterdedahan terhadap Media Massa (Televisi, Radio,) 1. Berapa Kali Mengakses Informasi tentang Pertanian No. Jenis Media Jumlah (x) mengakses Informasi Pertanian melalui media (dalam sebulan terakhir) 28 Televisi Kali/Minggu 29 Radio Kali/Minggu 2. Berapa lama sekali menonton/mendengar/membaca acara pertanian? No. Jenis Media Waktu yang digunakan 30. 31. Televisi Radio Menit/Sekali menonton Menit /Sekali mendengarkan 3. Jenis informasi pertanian yang diperoleh melalui media massa (Boleh lebih dari satu ) No. Jenis Media Jenis informasi yang diperoleh * 32 33 Televisi Radio 1. Benih 2. Pengelolaan tanah 3. Cara bertanam 4. Modal 5. Pascapanen 6. Hama dan Penyakit 4. Acara/Program/ Rubrik Pertanian Favorit No. Jenis Media Acara Favorit Pertanian 34. 35 Acara Favorit Non – Pertanian Televisi Radio 36 a. Apa alasan anda menonton acara pertanian di televisi? ...................................................................... ......................................................................................................................................................................... ........................................................................................................................................................................ ........................................................................................................................................................................ 36 b. Apa alasan anda mendengarkan acara pertanian di radio? ................................................................... ........................................................................................................................................................................ ........................................................................................................................................................................ ....................................................................................................................................................................... IV. Interaksi dengan Teman di Bidang Pertanian IV.1. Tingkat Kedekatan dengan teman Apakah saudara pernah bermain dengan teman di kampung? Jika Pernah, anda bermain dengan siapa saja? Sebutkan pekerjaannya No Nama Teman Pekerjaan Teman Kegiatan yang dikerjakan (Inisial) Bersama Teman 1) 37 38 39 40 41 42 Keterangan 1) a. Pengolahan lahan b. Penanaman c. Pemberantasan Hama d. Pemupukan e. Pemanenan f. Memasarkan Hasil g. Non Pertanian 105 V. Persepsi Pemuda Terhadap Faktor Penarik dan Faktor Pendorong Di Pedesaan a. Persepsi Pemuda Terhadap Kesempatan Kerja di Pedesaan No. Pernyataan Sangat Tidak Setuju 43 Mencari pekerjaan petani, /buruh/tukang bangunan/ dan pengendara ojek di Desa mudah 44 Terdapat banyak pilihan jenis pekerjaan di desa 45 Selepas lulus sekolah kita bisa bekerja menjadi petani, /buruh/tukang bangunan/ dan pengendara ojek di desa 46 Tanpa harus sekolah tinggi pun kita masih bisa bekerja di desa 47 Banyak pemuda – pemuda yang bekerja di sektor pertanian/ pedagang/ ojek /maupun bangunan 48 Tidak sulit mencari pekerjaan layak di Desa 49 DI desa Selain menjadi petani, satu orang bisa bekerja di bidang lain juga Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju b. Persepsi Pemuda Terhadap Ketersediaan Sumberdaya Alam Bagaimana kondisi alam yang ada di wilayah saudara: 50. Ketersediaan air di wilayah saudara : [ ] Sangat Berlimpah [ ] Banyak [ ] Kurang Banyak [ ] Kekeringan 51. Kondisi curah hujan di wilayah saudara: [ ] Sangat Tinggi [ ] Tinggi [ ] Rendah [ ] Sangat Rendah 52. Kemudahan menjangkau sumber air di wilayah saudara: [ ] Sangat Mudah [ ] Mudah [ ] Cukup Sulit No. 53 54 55 56 Pernyataan 58 59 60 Sangat Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju Sangat Tidak Setuju Kurang Setuju Setuju Sangat Setuju Tanaman yang ditanam di wilayah kami memiliki peluang panen yang besar Hasil pertanian di wilayah kami sangat berlimpah Curah hujan di wilayah pertanian kami tinggi Kami tidak perlu jalan jauh untuk mendapatkan air untuk tanaman d. Persepsi pemuda terhadap pertanian di masa depan No. Pernyataan 57 [ ] Sangat Sulit Di masa depan status seorang petani akan menjadi lebih baik Di masa depan seorang petani akan lebih dihargai Di masa depan pekerjaan di bidang pertanian akan lebih memberikan keuntungan Di masa depan pemasaran hasil produk – produk pertanian akan semakin mudah 106 61 62 63 64 65 66 Di masa yang akan datang interaksi sesama petani akan semakin membaik Di masa yang akan datang pemberantasan hama pertanian akan semakin mudah Di masa yang akan datang teknologi pertanian akan semakin maju Di masa yang akan datang sarana produksi pertanian akan semakin lebih maju Di masa yang akan datang cara menanam tanaman pertanian akan semakin mudah Di masa yang akan datang pekerjaan di bidang pertanian akan semakin diperhatikan oleh pemerintah VI. Sikap Pemuda Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian (Y1). 1. Aspek Kognisi No. 67 68. 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 Pernyataan 80 81 Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Lodouh merupakan kerusakan yang biasa ditemui pada tomat Tanaman sayuran tidak perlu disirami air setiap hari Jika terlalu banyak air tanaman sayur akan mengalami kebusukan Setelah panen lahan tanaman sayuran tidak perlu di istirahatkan (Reses) Tanaman sayuran merupakan tanaman yang cepat rusak (perishable) Tanaman sayuran khusunya brokoli perlu di berikan pestisida setiap minggunya Akar ganda merupakan penyakit yang sering ditemui pada brokoli Busuk pada batang merupakan penyakit yang sering ditemui ditanaman tomat Ketika panen, petani tidak ada yang menjual hasilnya langsung ke pasar, tetapi menjualnya kepada tengkulak Hasil tanaman sayur selain dijual langsung juga bisa di olah menjadi keripik atau makanan lain Pupuk yang biasa digunakan merupakan pupuk kandang Hama yang paling di takuti petani brokoli adalah ulat 2. Aspek Afeksi (Bentuk Positif) No Pernyataan 79 Sangat Setuju Seorang petani akan mendapatkan lebih banyak teman dibandingkan jika kerja menjadi buruh pabrik /tukang ojek/pedagang/ buruh bangunan (Interaksi) Seorang petani memiliki kesempatan untuk bisa dihargai oleh penduduk desa dibandingkan jika kerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang (Status)/buruh pabrik Seorang petani akan lebih bisa berinteraksi dengan pengusaha – pengusaha besar dibandingkandengan seorang buruh bangunan/tukang ojek/pedagang / buruh pabrik (Interaksi) 107 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 Bekerja di bidang pertanian tidak membuat gengsi menurun dibandingkan jika kerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/Buruh Pabrik (Status) Dengan bekerja di bidang pertanian tidak membuat saya minder dibandingkan jika kerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/Buruh pabrik (Status) Pekerjaan menjadi seorang petani merupakan pekerjaan yang membanggakan orang tua dibandingkan dengan pekerjaan menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/Buruh Pabrik (Status) Menjadi seorang petani saya tidak membuat saya kesulitan dalam bergaul dengan teman lain dibandingkan jika kerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/Buruh pabrik (Interaksi) Seorang petani memiliki jaringan teman yang luas dibandingkan jika kerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ Buruh Pabrik (Interaksi) Seorang petani lebih bisa menabung uang setiap bulannya dibandingkan dengan seorang buruh bangunan, tukang ojek, atau pun pedagang/ buruh pabrik (Ekonomi) Seorang petani akan lebih bisa terbebas dari hutang dibandingkan dengan seorang buruh bangunan, tukang ojek, buruh pabrik atau pun pedagang yang memiliki banyak hutang (Ekonomi) Seorang petani akan lebih mampu membeli Handphone (HP) dibandingkan dengan seorang buruh bangunan, tukang ojek, buruh pabrik atau pun pedagang (Ekonomi) proses penanaman tanaman sayuran karena tidak menyulitkan dibandingkan dengan berdagang, mengendarai motor, atau menjadi buruh bangunan atau menjadi buruh pabrik (Teknis) memberantas hama / penyakit pada tanaman sayuran karena tidak begitu sulit (Teknis) Memberi pupuk pada tanaman horikultura menurut saya tidak menyusahkan (Teknis) kerja di pertanian menyenangkan karena dapat menghasilkan barang (produk) (Teknis) C. Aspek Kecenderungan Bertindak (Minat atau keinginan) No Pernyataan 94 95 96 97 Saya lebih berminat bekerja menjadi seorang petani dibandingkan bekerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ buruh pabrik karena petani bisa mendapatkan banyak teman (Interaksi) Saya lebih berminat bekerja menjadi seorang petani dibandingkan bekerja buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ buruh pabrik karena petani lebih dapat diterima oleh dengan warga desa (Interaksi) Saya lebih berminat bekerja menjadi seorang petani dibandingkan bekerja menjadi buruh bangunan/ buruh pabrik/ tukang ojek karena petani bisa berinteraksi dengan orang – orang yang lebih berpendidikan (Interaksi) Saya berminat bekerja menjadi petani dibandingkan jika kerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ buruh pabrik karena menjadi dengan menjadi petani tidak membuat saya malu (status) Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju 108 98 Saya berminat Menjadi seorang petani dibandingkan jika bekerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ buruh pabrik karena menjadi petani tidak akan membuat saya kesulitan dalam bergaul dengan teman lain (Status) Saya lebih berminat bekerja menjadi seorang petani dibandingkan jika kerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ buruh pabrik karena dengan menjadi petani kita masih tetap bisa menabung (Ekonomi) Saya lebih berminat bekerja menjadi seorang petani dibandingkan jika bekerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang karena seorang petani/ buruh pabrik akan lebih mampu untuk membayar tagihan listrik (Ekonomi) Saya lebih berminat bekerja menjadi seorang petani dibandingkan bekerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ buruh pabrik karena seorang petani mampu untuk tidak berhutang (ekonomi) Saya lebih berminat bekerja menjadi seorang petani dibandingkan bekerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ buruh pabrik karena petani memiliki penghasilan yang cukup (Ekonomi) Saya lebih berminat bekerja menjadi petani dibandingkan bekerja menjadi buruh bangunan/tukang ojek/pedagang/ buruh pabrik karena saya lebih paham pertanian sayur (teknis) Saya berminat menjadi petani sayuran karena mudah menjual hasil panennya Saya lebih berminat menjadi petani sayuran karena saya mengerti cara memberantas hama / penyakit nya 99 100 101 102 103 104 105 106 Saya lebih berminat menjadi petani sayuran karena mengerti cara memberikan pupuk pada tanaman sayuran Pertanyaan Terbuka: 1. Apakah anda tertarik untuk bekerja di bidang pertanian? Jika Iya sebutkan alasan anda Jawab: ..................................................................................................................................................................... ..................................................................................................................................................................... ..................................................................................................................................................................... ..................................................................................................................................................................... .............................. 2. Siapakah pihak(/orang/teman/media) yang paling utama yang membuat anda bisa tertarik dengan pertanian? Jawab: .............................................................................................................................................................. .............................................................................................................................................................. .............................................................................................................................................................. .............................................................................................................................................................. ............................ 97 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Sebagian besar pemuda tertarik untuk bekerja di bidang pertanian. 2. Dalam proses sosialisasinya, frekuensi orang tua bercerita mengenai pertanian tergolong rendah, tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua dalam bidang pertanian terkategorikan sedang, frekuensi menonton acara pertaniannya rendah, intensitas untuk sekali menonton acara pertanian terkategorikan rendah, frekuensi mendengarkan radio acara pertanian juga rendah, intensitas pemuda mendengarkan radio rendah, tingkat kedekatan dengan teman dari bidang pertanian terkategorikan rendah. 3. Karakteristik individu pemuda, umur dan jenis kelamin mempunyai hubungan sangat nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. 4. Tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua di bidang pertanian, lama menonton acara pertanian, dan tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian berhubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. 5. Persepsi pemuda terhadap pertanian di masa depan berhubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Saran 1. Sikap pemuda petani perlu tetap dipertahankan agar tetap mendedikasikan dirinya di bidang pertanian dalam hal ini pertanian sayuran, pemerintah perlu meningkatkan perhatian dalam rangka mempertahankan pemuda dengan cara memberikan jaminan akan masa depan petani yang lebih baik. 2. Dalam rangka menjaga agar pemuda di pedesaan tetap konsisten untuk bekerja di bidang pertanian, pemerintah perlu menciptakan suatu kebijakan yang berkaitan dengan pembentukan kelompok pemuda tani, karena dengan adanya kelompok pemuda tani maka pemuda akan lebih dapat mengembangkan kreativitas mereka tanpa harus terdominasi oleh orang tua. 3. Acara pertanian di televisi sedapat mungkin ditingkatkan atau ditambah jadwal acaranya, jika perlu kombinasikan antara acara–acara musik dengan acara 98 pertanian dengan cara memasukan informasi–informasi pertanian agar dapat lebih meningkatkan rasa cinta pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. 4. Orang tua perlu melibatkan anaknya dalam kegiatan pertanian agar dapat memperkenalkan pertanian sejak dini kepada anak–anak mereka. Semakin dini seorang anak diperkenalkan kepada bidang pertanian maka semakin meningkatkan minat seorang anak untuk bekerja di bidang pertanian. 5. Pemerintah perlu memberikan kepastian mengenai masa depan pertanian bagi para pemuda. Untuk tanaman sayuran para petani juga perlu diberikan kepastian mengenai harga, karena harga pertanian sayur sangat fluktuatif, dengan adanya jaminan harga dari pemerintah maka kehawatiran petani sayur akan teratasi. 53 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kedua desa tersebut merupakan desa sentra tanaman wortel dan kentang yang terletak di Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur. Desa Cipendawa memiliki jarak yang reatif dekat dengan Kantor Kecamatan Pacet, yakni 0,5 km, sementara Desa Sukatani memiliki jarak yang lebih jauh dengan Kantor Kecamatan Pacet, sekitar 6 km. Daerah Sukatani merupakan daerah yang lokasinya tepat berada di bawah kaki Gunung Gede Pangrango, sementara Desa Cipedawa masih berjarak 2 km dari kaki Gunung Gede Pangrango. Waktu yang dibutuhkan dari Desa Cipendawa untuk menuju Kecamatan dengan kendaraan bermotor hanya sekiar 3-5 menit, sementara itu waktu yang dibutuhkan dari Desa Cipendawa untuk menuju Ibu Kota kecamatan adalah 20-30 menit. Biaya yang harus dikeluarkan dari jalan raya utama menuju Desa Sukatani sebesar Rp.10.000 dengan menggunakan ojek, sementara itu biaya yang harus dikeluarkan dari dari jalan raya utama ke Desa Cipendawa sebesar Rp. 5.000. Jarak dari Desa Cipendawa ke Ibu Kota Kabupaten Cianjur berjarak 22 Km, sementara itu dari Desa Sukatani ke Ibu Kota Kabupaten Cianjur berjarak 30 Km. Desa Sukatani memiliki jarak yang lebih jauh dan lokasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan Desa Cipendawa. Desa Cipendawa terletak pada ketinggian 1110m dari permukaan laut (dpl), sementara Desa Sukatani terletak di ketinggian 1350m dpl. Tabel 3. Batas wilayah Desa Cipendawa dan Desa Sukatani Batas Desa Cipendawa Desa Sukatani Utara Desa Sukatani Desa Sindangjaya Timur Desa Cibodas Desa Cipanas Selatan Desa Ciherang Desa Cipendawa Barat Kab Sukabumi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Sumber : Profil Desa Sukatani dan Cipendawa Tahun 2009. Desa Cipendawa berbatasan langsung dengan Desa Sukatani, Cibodas, Desa Ciherang, Kabupaten Sukabumi, sedangkan Desa Sukatani berbatasan langsung 54 dengan Desa Cipendawa, Desa Cipanas, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, dan Desa Sindangjaya (lihat Tabel 3) Luas Desa Sukatani adalah 244 ha terbagi atas 4 Dukuh (Kampung), yaitu: Dukuh Pasir Kampung, Dukuh Barukupa, Dukuh Kayu Manis, dan Dukuh Gunung Putri yang terdiri dari 8 RW dan 38 RT. Sedangkan luas Desa Cipendawa adalah 1026 ha, yang terdiri dari 4 Dukuh, yaitu dukuh Pasir Cina, Dukuh Pacet, Dukuh Pasekon Bawah, Dukuh Pasekon Atas, yang terdiri dari 14 RW dan 60 RT. Tabel 4. Luas wilayah menurut penggunaan lahan (dalam Ha) Penggunaan Wilayah Desa Cipendawa (Ha) Desa Sukatani (Ha) Pemukiman 304 73 Kebun 591 165 Kuburan 3 3 Pekarangan 5 1,2 Taman 1 - Perkantoran 1,5 0,7 Sarana dan Prasarana Umum TOTAL 111 1,1 1026 244 Sumber : Profil Desa Sukatani dan Cipendawa Tahun 2009. Desa Sukatani merupakan wilayah pegunungan dengan keadaan tanah berwarna hitam, keadaan alam seperti ini menyebabkan daerah tersebut sesuai untuk pengembangan budidaya sayuran. Sementara itu Desa Cipendawa merupakan desa dengan permukaan tanah jenis datar tidak securam Desa Sukatani. Kondisi Demografi secara lengkap dari desa Cipendawa dan Sukatani ditampilkan pada Tabel 5. Data yang tersaji dalam Tabel 5 menggambarkan kondisi demografi di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani. Jumlah penduduk Desa Cipendawa 17502 lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di Desa Sukatani yang jumlah penduduknya sebanyak 11164 Jiwa. Kepadatan penduduk untuk setiap Km2 untuk Cipendawa sebesar 1723, sedangkan di Sukatani kepadatan penduduk per Km2 adalah sebesar 4150 orang. Masyarakat Desa Cipendawa lebih banyak yang berjenis 55 kelamin perempuan (50,36%) sementara itu di Desa Sukatani lebih banyak masyarakat yang berjenis kelamin laki–laki (51,7%) Tabel 5. Kondisi demografi Desa Cipendawa dan Desa Sukatani Jenis Kondisi Desa Cipendawa 1. Jumlah Penduduk (Jiwa) Berdasarkan Jenis Kelamin a. Laki – Laki 49,64% b. Perempuan 50,36% TOTAL 17502 (100%) 2. Kepadatan Penduduk Per Km2 1723 Jiwa 3.Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan a. Belum Masuk TK (Usia 3 – 6 Tahun) 2,75% b. TK/Play Group (Usia 3 – 6 Tahun) 2,59% c. 7-18 Thn Tidak Pernah Sekolah 0% d. 7-18 Thn Sedang Sekolah 15,80% e. 18 – 56 Thn Tidak Pernah Sekolah 0,46% e. 18 – 56 Thn Pernah SD tapi tidak tamat 1,71% f. Tamat SD / Sederajat 24,33% g. 12 – 56 Thn Tidak Tamat SLTP 12,07% h. 18 – 56 Thn Tidak Tamat SLTA 13,02% i. Tamat SLTP/Sederajat 12,88% j. Tamat SLTA/Sederajat 13,06% l. Tamat Perguruan Tinggi (D1, D2, D3, S1) 1,33% TOTAL 17502 (100%) 4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pekerjaan 17,9% a. Petani Penggarap 44,2% b. Buruh Tani / Non Pemilik Lahan 22,9% c. Buruh pabrik/swasta 2,6% d. PNS 8,8% e. Pedagang 0% f. Montir 3,5% g. Sopir (Ojek & Angkot) 0,6% h. TNI/POLRI 8288 (100%) Total 5. Jumlah Penduduk (Jiwa) Menurut Agama: a. Islam 88% b. Katolik 6,7% c. Protestan 3,3% d. Budha 2% e. Hindu 0% Total 17502 (100%) 6. Jumlah Penduduk Usia (15 – 30 tahun) 1457 Sumber : Profil Desa Sukatani dan Cipendawa Tahun 2009. Desa Sukatani 51,7% 48,3% 11164 (100%) 4150 Jiwa 3,42% 1,27% 3,23% 16,86% 4,24% 8,62% 37,06% 7,23% 5,28% 8,36% 2,67% 1,76% 11164 (100%) 20,3% 41,1% 15,2% 0,9% 16,6% 0,2% 5,7% 0,1% 3411 (100%) 99,86% 0,5% 0,5% 0,4% 0% 11164 (100%) 1340 56 Data yang tersaji dalam Tabel 5 menggambarkan kondisi demografi di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani. Jumlah penduduk Desa Cipendawa 17502 lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di Desa Sukatani yang jumlah penduduknya sebanyak 11164 Jiwa. Kepadatan penduduk untuk setiap Km2 untuk Cipendawa sebesar 1723, sedangkan di Sukatani kepadatan penduduk per Km2 adalah sebesar 4150 orang. Masyarakat Desa Cipendawa lebih banyak yang berjenis kelamin perempuan (50,36%) sementara itu di Desa Sukatani lebih banyak masyarakat yang berjenis kelamin laki–laki (51,7%) Tingkat pendidikan penduduk Desa Sukatani sebagian besar adalah tamat SD (37,06%) begitu pula dengan tingkat pendidikan di Desa Cipendawa di mana tertinggi masyarakatnya hanya merupakan lulusan SD (24,33 %). Penduduk Desa Sukatani dan Desa Cipendawa memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Sementara itu fenomena mengenai pekerjaan di Desa Sukatani menunjukkan bahwa 41,1 persen masyarakat Desa Sukatani bekerja sebagai buruh tani atau petani yang tidak memiliki lahan pertanian sendiri, sementara itu urutan kedua pekerjaan terbesar adalah petani pemilik lahan (21,7%). Begitu pula sebaran pekerjaan di Desa Cipendawa 44,2 persen merupakan buruh tani atau petani yang tidak memiliki lahan pertanian sendiri, urutan kedua adalah buruh pabrik atau swasta sebesar 22,9 persen. Kondisi Pertanian Dalam konteks kepemilikan lahan, terdapat 2870 keluarga di Desa Cipendawa yang tidak memiliki lahan pertanian (67,21%), sedangkan 1175 keluarga memiliki lahan pertanian kurang dari 1 ha (27,52%), dan terdapat 225 keluarga yang memiliki luasan lahan pertanian yang berkisar antara 1–5 ha (5,27%). Kondisi di Desa Sukatani fenomenanya relatif tidak berbeda dengan Desa Cipendawa, di Desa Sukatani terdapat 1473 keluarga yang tidak memiliki lahan pertanian (70,41%), sementara itu keluarga yang memiliki lahan pertanian kurang dari 1 ha sebanyak 412 keluarga (19,69%) dan 194 keluarga memiliki lahan antara 1 ha – 5 ha (9,27%). Penguasaan lahan pertanian baik di Desa Cipedawa maupun Desa Sukatani masih sangat minim lebih banyak petani yang tidak memiliki lahan pertanian. 57 Tabel 6. Pemilikan lahan pertanian Kepemilikan Lahan Desa Cipendawa (Jumlah Keluarga) 2870 (67,21%) Desa Sukatani (Jumlah Keluarga) 1473 (70,41%) 1175 (27,52%) 412 (19,69%) Memiliki 1 – 5 ha 225 (5,27%) 194 (9,27%) Memiliki 5 – 10 ha - 13 (0,62%) 4270 (100%) 2092 (100%) Tidak Memiliki Lahan Memiliki < 1 ha TOTAL Sumber : Profil Desa Sukatani dan Cipendawa Tahun 2009. Komoditas pertanian yang diusahakan oleh para petani di kedua desa tersebut adalah tanaman hortikultura yang berupa sayuran daerah dataran tinggi seperti wortel, bawang daun, kentang, brokoli, tomat dan pakcoy. Meskipun terdapat berbagai jenis tanaman sayuran, tetapi sebagian besar petani di Desa Cipendawa menanam wortel, ada petani–petani juga yang menanam brokoli tetapi ada juga yang tumpang sari wortel dengan bawang daun, sementara itu petani di Desa Sukatani mayoritas menanam wortel karena memang Desa Sukatani dikenal sebagai sentra sayuran wortel. Teknik pananaman yang biasa dilakukan adalah teknik monokultur (satu jenis tanaman), tetapi terdapat petani yang juga menggunakan teknik tumpang sari, yaitu menanam beberapa jenis tanaman dalam satu petak pada waktu yang bersamaan. Kelembagaan Pertanian Kedua Desa lokasi penelitian ini memiliki Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Di Desa Cipendawa terdapat Gabungan Kelompok Tani Multi Tani Jaya, Gapoktan ini diresmikan pada tahun 2009. Ketua Gapoktan merupakan petani yang aktif yang sering melakukan percobaan baik percobaan yang berhubungan dengan benih, bibit, maupun percobaan yang berhubungan dengan hama dan penyakit tanaman. Percobaan ini biasanya dilakukan sebagai dalam rangka menurunkan biaya produksi, terutama percobaan yang berkaitan dengan pengadaan benih, karena benih yang tersedia harganya cukup tinggi dan tidak selalu tersedia jika dibutuhkan oleh para petani, sedangkan di Desa Sukatani terdapat Gapoktan Surya Kencana yang diresmikan pada tahun 2009, beliau juga merupakan yang 58 gemar melakukan percobaan–percobaan yang kemudian yang hasil percobaannya disampaikan kepada kelompok tani. Petani dari Desa Cipendawa dan Desa Sukatani memperoleh Sarana Produksi dengan cukup mudah, mereka dapat memperoleh benih atau bibit dengan cara membeli dari kios yang berada di Pasar Cipanas. Tetapi tidak semua petani membeli bibit atau benih dari pasar, terdapat pula beberapa petani yang juga melakukan pembibitan sendiri dari tanaman mereka yang sebelumnya. Seperti telah diurai di atas baik di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani memiliki Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang sering melakukan percobaan dari segi bibit maupun hama dan penyakit. Program Pertanian di Kecamatan Pacet Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu telah merintis pemasyarakatan dan pelembagaan PHT di pedesaan melalui pelatihan bagi petani selama satu musim tanam dengan pendekatan pola Sekolah Lapang (SL). Berdasarkan hal tersebut BPBTPH Kecamatan Pacet mengadakan penumbuhan kelembagaan regu pengndali hama terpadu (RPHT) yang bertempat di Sekretariat Gapoktan Multi Tani Jaya Giri (Mujagi). Menurut pemandu lapang (Dedih R) tujuan dari RPHT adalah untuk menumbuhkan kelembagaan regu pengendali hama Terpadu ditingkat desa, nanti diharapkan gapoktan Mujagi menjadi salah satu perwakilan regu RPHT untuk Kabupaten Cianjur. Penggerak Membangun Desa (PMD) Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur mendukung pelaksanaan program Revitalisasi Pertanian dan pangembangan pasar sayuran dataran tinggi untuk 4 desa di Kecamatan Pacet. Kiprah PMD Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur dalam 6 bulan terakhir ini telah banyak menyentuh harapan serta kepentingan para petani dan kelompok tani di 4 desa Kecamatan Pacet melalui berbagai kegiatan pengembangan pasar kelompok tani dan penguatan administrasi berorganisasi. Penggerak Membangun Desa (PMD) itu sendiri merupakan pemuda– pemuda yang memiliki latar belakang pendidikan formal dari SMK Pertanian yang kemudian dilatih (trainning) sehingga mampu membawa tugas dari Dirjen Hortikultura untuk memberikan pembinaan dan memajukan pemasaran Agribisnis kelompok-kelompok tani yang berkelembagaan di wilayah kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur Jawa Barat. 59 Kehidupan Masyarakat Desa Cipendawa Kehidupan masyarakat di Desa Cipendawa dimulai keika Adzan Subuh mulai berkumandang, berbondong–bondong masyarakat baik tua maupun muda mendatangi mesjid terdekat untuk melaksanakan Solat Subuh secara berjamaah. Setelah selesai melaksanakan solat subuh ada sebagian orang yang meneruskan untuk mengaji dan ada sebagian pula yang pulang untuk bersiap–siap berangkat ke kebun. Ketika waktu menunjukan pukul 5.30, para petani mulai bergerak untuk menuju kebun mereka yang berjarak 2-3 km di kaki Gunung Gede Pangrango. Terdapat petani yang berangkat ke kebun dengan menggunakan motor trail tetapi ada juga petani yang berjalan kaki untuk mencapai kebunnya. Wanita tani melakukan aktivitas yang tidak berbeda dengan para petani laki-laki. Para wanita tani yang bekerja sebagai buruh tani biasanya berangkat berbarengan dengan teman–teman sesama wanita tani. Terdapat orang tua yang mengantarkan anak mereka untuk berangkat ke sekolah. Ketika waktu menunjukan pukul 07.00 pagi, baru terlihat Desa Cipendawa mulai sepi. Para petani dan buruh tani mulai kembali turun dari kebun mereka setelah pukul 12.00 siang. Para petani tiba di rumah mereka berkisar antara pukul 13.00–14.00 semua itu tergantung dari jarak kebun mereka. Aktivitas di Desa Cipendawa kembali ramai ketika jam menunjukan pukul 16.00. Terdapat beberapa pemuda dan bapak-bapak yang nongkrong di pinggiran jalan yang rusak untuk sekedar merokok maupun mengobrol dengan teman–teman mereka tetapi terdapat pula beberapa pemuda dan bapak - bapak yang harus kembali ke kebun untuk kembali mengelolah lahan pertanian sayur mereka dan juga ada yang mengarit rumput untuk memberikan makan domba–domba mereka maupun domba–domba miliki kelompok tani. Anak –anak kecil biasanya ketika pulang dari sekolah langsung datang ke tempat semacam pesantren di mana anak–anak kecil tersebut ikut aktif dalam kegiatan pengajian yang berlangsung dari Ba’da Ashar sampai menjelang magrib. Bapak– bapak tani biasanya hanya duduk di depan rumah mereka sambil menggunakan sarung dan jaket mengingat udara yang dingin. Tapi terdapat pula bapak–bapak yang beristirahat di dalam rumah untuk menonton televisi. Ketika waktu mulai menunjukan pukul 17.30 warga yang tadinya nongkrong di pinggir jalan desa mulai membubarkan diri dan bersiap untuk mengikuti solat magrib berjamaah. Setiap malam kamis, remaja irmas berkumpul untuk mengadakan 60 semacam pertemuan rutin yang tahlilan (istilah untuk membaca yasin bersamasama). Ketika mulai memasuki malam hari, sebagian masyarakat di Desa Cipendawa lebih lebih senang berdiam diri di dalam rumah, mengingat suhu di luar cukup dingin sehingga aktivitas di malam hari pun terbatas hanya pada menonton televisi. Mayoritas wanita berdiam di rumah melalukan pekerjaan selayaknya ibu rumah tangga tetapi masih terdapat pula wanita yang melakukan aktivitas pertanian yang tidak berbeda dengan para laki–lakinya. Para wanita yang bertani atau wanita tani yang bekerja sebagai buruh tani biasanya berangkat berbarengan dengan teman– teman sesama wanita tani. Perilaku yang membuat berbeda anatara petani laku–laki dan wanita tani adalah, wanita tani lebih sering bergerak di bidang pascapanen seperti membuat keripik wortel, keripik pisang. Kehidupan Masyarakat Desa Sukatani. Kehidupan masyarakat di Desa Sukatani, sedikit berbeda dengan kehidupan masyarakat di Desa Cipendawa. Hal itu dikarenakan pemukiman masyarakat di Sukatani langsung berbatasan dengan kebun sayuran masyarakat, sehingga jarak antar rumah warga sedikit berjauhan, Banyaknya lokasi perkebunan di belakang pekarangan rumah warga tersebut karena Desa Sukatani memiliki ketinggian yang lebih tinggi dibandingkan dengan Desa Cipendawa. Jadi ruang masyarakat untuk berkumpul sedikit lebih sedikit mereka hanya berkumpul di pada sore hari ada semacam tempat pangkalan ojek, banyak pemuda dan pemudi yang berkumpul untuk sekedar mengobrol dan bersenda gurau. Kehidupan di Desa Sukatani dimulai ketika waktu sudah menunjukan pukul 6.30. Masyarakat sebagian ada yang naik menuju Gunung Gede Pangrango, karena kebun mereka terletak di kaki gunung gede pangrango, tetapi ada juga masyarakat yang berkebun langsung di halaman rumahnya karena jarak kebun ke rumah mereka sangat dekat sekitar 100–200m sehingga Desa Sukatani terbilang jarang sepinya dibandingkan dengan Desa Cipendawa karena para petani bekerja di kebun dekat dengan rumahnya., ketika waktu mulai menunjukan pukul 12.00 berbondong – bondong masyarakat kembali ke rumah untuk istrirahat dan makan siang. Ketika sudah menunjukan puku 16.00 masyarakat mulai berkumpul, tetapi bukan di pinggir jalan. Ada semacam pangkalan ojek yang dijadikan tempat nongkrong oleh 61 pemuda–pemuda setempat. Yang menjadi perbedaan di Desa Sukatani tidak banyak petani yang kembali lagi ke kebun untuk mengarit rumput, karena di Desa Sukatani tidak memiliki peternakan domba sebesar Cipendawa. Jadi pada sore hari masyarakat yang mayoritas petani beristirahat di rumah mereka masing–masing. Ketika waktu menunjukan pukul 18.00 masyarakat di Desa Sukatani jarang yang berada di luar karena suhu yang lebih dingin dibandingkan dengan di Desa Cipendawa. Dari segi keagamaannya Kehidupan penduduk atau masyarakat Desa Sukatani tidak sereligius masyarakat Cipendawa, hal tersebut dikarenakan tidak tidak adanya pesantren di sekitar Desa Sukatani, sementara itu di Desa Cipendawa terdapat semacam pesantren. 63 Karakteristik Internal Pemuda Karakteristik individu adalah sifat atau ciri-ciri yang melekat pada diri seseorang, yang berhubungan dengan semua aspek kehidupan lingkungannya. Azwar (1995) mengatakan bahwa faktor genetik fisiologik memainkan peranan penting dalam pembentukan sikap, faktor lain yang sangat menentukan pembentukan sikap adalah pengalaman personal. Pengalaman personal yang langsung dialami memberikan pengaruh yang lebih kuat daripada pengalaman yang tidak langsung. Pada penelitian ini faktor internal akan dilihat dalam bentuk karakteristik pemuda, yang meliputi: umur pemuda, tingkat pendidikan pemuda, dan status kepemilikan tanah orang tua, luas lahan orang tua, tingkat kekosmopolitan pemuda. Umur Sebagian besar pemuda yang menjadi responden pada penelitian ini terkategorikan sebagai dewasa awal yaitu 22-24 tahun sebanyak 33,8 persen. Umur ratarata pemuda pada penelitian adalah 19 tahun. Pemuda yang terkategorikan remaja awal memiliki kisaran umur 13–14 tahun terdapat sebanyak 15,4 persen, sementara itu jumlah remaja pertengahan (15-17) dan remaja akhir (18-21) tidak terpaut jauh. Mayoritas pemuda yang terkategorikan sebagai dewasa awal menunjukkan bahwa secara pemuda–pemuda sudah memiliki orientasi untuk bekerja. Tabel 7. Sebaran umur pemuda Umur Kategori (Tahun) 13 - 14 Remaja awal 15 – 17 Remaja pertengahan 18 – 21 Remaja akhir 22 – 24 Dewasa awal Total (n) Jumlah Responden (Orang) 10 18 15 22 65 Persentase (%) 15,4 27,7 23,1 33,8 100 Pendidikan Secara umum tingkat pendidikan akan mempengaruhi pengetahuan, kemampuan, dan keahlian pemuda. Tingkat pendidikan pada penelitian ini dilihat berdasarkan pendidikan formal terakhir yang didapatkan oleh pemuda sampai saat penelitian ini dilakukan. Tingkat pendidikan pemuda menyebar dari yang paling rendah lulus SD sampai lulus tertinggi yaitu perguruan tinggi. Sebesar 47,7 persen pemuda merupakan lulusan SD, sementara itu lulusan SLTP sebesar 26,2 persen, lulusan SLTA 64 sebanyak 23,1 persen dan yang paling rendah adalah lulusan perguruan tinggi sebesar 3,1 persen. Dari sebaran data tersebut dapat disimpulkan bahwa banyak pemuda merupakan lulusan SD, sehingga tingkat pendidikan pemuda di Kecamatan Pacet dapat dikategorikan rendah. Penyebaran tingkat pendidikan pemuda dapat dilihat pada Tabel.8 Tabel 8. Sebaran tingkat pendidikan responden Tingkat Pendidikan Lulus SD Lulus SLTP Lulus SLTA Lulus Perguruan Tinggi Total (n) Jumlah Responden (Orang) 31 17 15 2 65 Persentase (%) 47,7 26,2 23,1 3,1 100 Jenis Kelamin Sebagian besar pemuda yang menjadi responden pada penelitian ini adalah laki – laki dengan persentase 84,62 persen sementara perempuan hanya sekitar 15,38 persen. Pertimbangan pemilihan laki–laki lebih mudah ditemui dibandingkan perempuan, hal lain yang mempengaruhi kenapa lebih banyak laki–laki yang menjadi responden karena pemudi–pemudi ketika sudah memasuki usia 16–17 tahun mereka memiliki kecenderungan untuk berkeluarga atau menikah sehingga tidak bisa dijadikan responden. Perempuan pada penelitian ini dijadikan sebagai pembanding untuk melihat sejauhmana minat mereka untuk bekerja di bidang pertanian. Tabel 9. Sebaran jenis kelamin responden Jenis Kelamin Perempuan Laki – laki Total (n) Jumlah Responden (Orang) 10 55 65 Persentase (%) 15,38 84,62 100 Status Kepemilikan Lahan Orang Tua Kepemilikan lahan orang tua pemuda di Kecamatan Pacet yang dalam penelitian ini direpresentasikan di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani sebagai status kepemilikan lahan pertanian sayuran yang diusahakan oleh orang tua pemuda. Pada dasarnya status kepemilikan lahan dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu lahan milik pribadi dan lahan garapan. Dapat dilihat pada Tabel 10 terdapat 61,54 persen orang tua pemuda merupakan pemilik dari lahan garapannya sendiri, dan juga terdapat 38,46 persen 65 pemuda yang orang tuanya merupakan penggarap. Untuk penggarap itu sendiri terdapat beberapa metode terkait dengan sistem garapannya. Di lokasi penelitian terdapat 4 sistem penggarapan yaitu dengan sistem bagi hasil, sewa lahan, gadai dan yang terakhir adalah lahan garapan yang dipinjamkan oleh Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jika dilihat secara mendetail menurut jenis lahan garapannya terdapat 16,92 persen orang tua pemuda yang menggarap lahan orang lain dengan sistem bagi hasil, 13,85 persen orang tua pemuda yang menyewa lahan garapannya. Selain itu terdapat pula orang tua pemuda yang lahan pertaniannya merupakan lahan yang dipinjamkan oleh pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebanyak 6,15 persen, dan terdapat pula orang tua pemuda 1,54 persen yang mengelola lahan yang merupakan lahan gadaian dari petani lain. Tabel 10. Sebaran status kepemilikan lahan orang tua Status Kepemilikan Penggarap Milik Sendiri Total (n) Jumlah Responden (Orang) 25 40 65 Persentase (%) 38,46 61,54 100 Luas Lahan Pertanian Orang Tua Luas lahan pertanian yang dikelola oleh orang tua pemuda sangat beragam atau memiliki varian sangat besar. Setelah dikategorikan ternyata 81,54 persen luas lahan pertanian yang dikelola oleh orang tua pemuda di Desa Cipendawa dan Sukatani luas lahan pertanian yang dikelola kurang dari 0,25 ha, sementara itu petani yang memiliki lahan lebih dari 0,7 ha hanya 4,62 persen dari total responden, dari hal ini dapat disimpulkan bahwa luas lahan yang dikelola oleh orang tua petani relatif sempit. Tabel 11. Luas lahan pertanian sayuran yang digarap orang tua Luas Lahan (Ha) <0,25 0,25 – 0,7 > 0,7 Total (n) Jumlah Responden (Orang) 53 9 3 65 Persentase (%) 81,54 13,84 4,62 100,00 Dari luasan lahan yang di bawah 0,25 ha dapat dipastikan bahwa orang tua pemuda merupakan petani miskin, karena menurut Sajogyo (1987) petani yang memiliki lahan kurang dari 0,5 ha terkategorikan petani miskin, sementara itu petani yang kepemilikan lahannya antara 0,5 ha–kurang dari 1 ha terkategorikan sebagai petani 66 sedang, dan petani yang memiliki luasan lahan lebih dari 1 ha akan terkategorikan sebagai petani kaya. Tingkat Kekosmopolitan Pemuda Tingkat kekosmopolitan pemuda itu merupakan frekuensi pemuda mendatangi pusat informasi dalam hal ini adalah Cianjur maupun Cipanas. Mayoritas responden (61,54%) memiliki tingkat kekosmopolitan yang rendah dengan frekuensi mendatangi kota kurang dari 2 kali dalam 1 bulan terakhir. Sementara itu terdapat 26,15 persen pemuda yang tingkat kosmopolitannya terkategorikan sedang dengan frekuensi ke kota sebanyak 2–3 kali dalam 1 bulan terakhir untuk berbagai kegiatan yang salah satunya berhubungan dengan pertanian seperti mencari bibit, membantu orang tua menjual hasil panen yang tidak terangkut oleh tengkulak ke pasar terdekat yaitu pasar Cipanas, dan mencari pupuk. Terdapat pula 12,31 persen pemuda yang tingkat kekosmopolitannya terkategorikan tinggi dengan frekuensi berkunjung ke kota sebanyak 4–5 kali dalam bulan terakhir. Maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pemuda yang menjadi responden tingkat kekosmopolitannya rendah, kebanyakan para pemuda jarang sekali keluar dari desanya karena pemuda merasa tidak ada yang dapat dilakukan dan tidak ada yang menarik, terdapat pula pemuda yang berpendapat jika ke kota hanya menghabiskan uang. Pendapat lain yang menjelaskan redahnya tingkat kosmopolitan pemuda adalah masih terdapat pemuda yang masih bersekolah dan lokasi sekolah mereka terletak di desa. Tetapi tidak berarti semua pemuda tidak pergi ke kota, terdapat pemuda yang ke kota tetapi mereka ke kota bukan untuk kebutuhan pertanian hanya untuk kebutuhan aktualisasi diri, seperti nongkrong, atau main dengan teman– temannya. Tabel. 12. Sebaran tingkat kekosmopolitan pemuda Tingkat Jumlah Responden Kekosmopolitan (Orang) 0 - 1 kali (Rendah) 40 2 - 3 kali (Sedang) 17 4 - 5 kali (Tinggi) 8 Total (n) 65 Persentase (%) 61,54 26,15 12,31 100 67 Peran Agen Sosialisasi Peran agen sosialisasi pada penelitian ini dapat dilihat sebagai faktor luar (eksternal) yang dapat memberikan pengaruh pada sikap pemuda. Faktor eksternal pemuda adalah ciri-ciri yang melekat di luar diri seseorang, yang berhubungan dengan semua aspek kehidupan lingkungannya. Pada penelitian ini faktor eksternal yang berhubungan dengan kehidupan pemuda adalah pihak luar yang memegang peranan penting dalam proses sosialisasi terkait dengan pekerjaan di bidang pertanian. Pada penelitian ini karakteristik eksternal pemuda adalah frekuensi orang tua membicarakan pertanian, intensitas orang tua membicarakan pertanian, pelibatan anak dalam kegiatan pertanian oleh orang tua, Keterdedahan terhadap media informasi pertanian, dan interaksi dengan teman sepermainan (peer group). Sosialisasi Oleh Orang Tua Pemuda dalam proses pertumbuhannya tidak terlepas hubungannya dengan orang tua, hubungan ini biasanya dibangun dalam bentuk komunikasi mengingat orang tua merupakan salah satu significant others yang mempengaruhi pemuda. Pada penelitian ini Sosialisasi oleh orang tua mengenai bidang pertanian diukur melalui dua dimensi yaitu frekuensi orang tua membicarakan pertanian dan tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua dalam bidang pertanian. Frekuensi Orang Tua Membicarakan Pertanian Frekuensi orang tua membicarakan pertanian dalam penelitian ini dilihat dari frekuensi orang tua membicarakan pertanian kepada anaknya dalam satu bulan terakhir. Tabel 13. Frekuensi orang tua membicarakan pertanian Frekuensi Orang Tua Berbicara pertanian Jumlah Responden (Kali/ sebulan terakhir) (Orang) Rendah ( < 3) 45 Sedang (4 – 6) 18 Tinggi (7 – 9) 2 Total (n) 65 Persentase (%) 69,23 27,69 3,08 100 Sebagian besar orang tua pemuda (69,23%) membicarakan pertanian kurang dari tiga kali dalam satu bulan terakhir, sementara itu terdapat pula 27,69 persen orang tua pemuda yang membicarakan pertanian sebanyak 4–6 kali dalam satu bulan terakhir, untuk orang tua yang frekuensi membicarakan pertaniannya tinggi hanya 3,08 persen. 68 Jika dilihat rata–ratanya hanya 3 kali dalam satu bulan terakhir orang tua bercerita mengenai pertanian kepada anaknya. Dari hal itu dapat ditarik kesimpulan bahwa frekuensi orang tua bercerita mengenai pertanian tergolong rendah, karena orang tua berpendapat tidak mau terlalu menjejali pemuda atau anak–anak mereka dengan informasi–informasi pertanian, karena pada dasarnya tugas seorang anak adalah belajar. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya frekuensi orang tua bercerita mengenai pertanian pada anaknya karena orang tua petani jarang bertemu dengan anaknya yang sekolah, karena ketika malam tiba orang tua terlanjur lelah setelah pulang dari kebun sehingga jarang bisa membicarakan pertanian kepada anaknya, selain itu rendahnya orang tua membicarakan pertanian karena mereka tidak mengetahui apa yang harus dibicarakan dengan anak–anaknya, mereka baru berbicara ketika menghadapi masalah di kebun. Di antara semua topik pertanian yang dibicarakan oleh orang tua, orang tua paling sering membicarakan kepada pemuda mengenai modal dan juga pemasaran produk hasil panen. (lihat Tabel 13) Tingkat Pelibatan Pemuda Oleh Orang Tua dalam Kegiatan Pertanian Tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua dalam kegiatan pertanian dalam penelitian ini peubah dilihat sebagai keseringan orang tua dalam mengajak anaknya (pemuda) ke kebun untuk membantu orang tua mengerjakan kegiatan pertanian. Seperti yang disajikan pada Tabel 14 terdapat 52,31 persen atau 34 responden yang tingkat pelibatannya dalam kegiatan pertanian terkategorikan sedang. Selain itu terdapat pula 24 orang atau sekitar 36,92 persen pemuda yang rendah tingkat pelibatannya oleh orang tua dalam kegiatan pertanian. Pemuda yang tingkat pelibatan oleh orang tuanya tinggi hanya sebesar 10,77 persen atau hanya sebanyak tujuh orang dari total responden. Tabel 14. Tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua dalam kegiatan pertanian Tingkat Jumlah Responden Persentase Pelibatan (Orang) (%) Rendah (1-2,0) Sedang (2,01 – 3, 01) Tinggi (3,02 – 4) Total (n) 24 34 7 65 36,92 52,31 10,77 100 Rataan skor dari tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua ini adalah 2,23 skor tersebut menunjukkan bahwa tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua terkategorikan sedang. Tingkat pelibatan orang tua yang sedang karena banyak pemuda yang menjadi 69 responden juga yang masih sekolah sehingga petani hanya bisa melibatkan pemuda pada kegiatan tertentu seperti panen atau penanaman benih. Frekuensi Pemuda Menonton Acara Pertanian Frekuensi pemuda menonton acara pertanian merupakan tingkat keseringan (seberapa sering) pemuda menyaksikan acara pertanian di televisi dalam satu bulan terakhir ini. Frekuensi pemuda menonton acara televisi pertanian tersaji pada Tabel 15. Dari Tabel 15 dapat dilihat bahwa sebagian besar pemuda (67,69%) frekuensi menonton acara pertanian terkategorikan rendah dengan frekuensi kurang dari tiga kali dalam satu bulan terakhir, untuk pemuda yang terkategorikan sedang frekuensi menonton acara pertaniannya terdapat sebanyak 26,15 persen, sementara itu terdapat 6,15 persen pemuda yang terkategorikan tinggi frekuensi menonton acara pertanian dengan frekuensi di atas tujuh kali menonton acara pertanian dalam satu bulan terakhir. Tabel 15. Frekuensi pemuda menonton acara pertanian Frekuensi Menonton Acara Jumlah Responden Pertanian di TV (Kali) (Orang) Rendah (0 – 2) 44 Sedang (3 – 4) 17 Tinggi (5 – 7) 4 Total (n) 65 Persentase (%) 67,69 26,15 6,15 100 Rendahnya frekuensi menonton acara pertanian disebabkan pada jam–jam acara pertanian disiarkan para pemuda tengah berada di sekolah atau bahkan sedang berada di kebun membantu orang tua. Selain itu rendahnya frekuensi menyaksikan acara pertanian dikarenakan tidak banyaknya stasiun televisi yang menyiarkan acara pertanian di televisi. Stasiun televisi yang paling rutin menyiarkan acara pertanian adalah TVRI, sementara itu stasiun televisi lain belum secara rutin menyiarkan acara pertanian yang berkaitan dengan pertanian hortikultura. Acara pertanian yang sering ditonton oleh pemuda adalah Pelangi Desa, Salam Dari Desa, dan Daerah Membangun. Intensitas Menonton Acara Pertanian Intensitas menonton acara pertanian merupakah lamanya waktu yang diluangkan oleh pemuda dalam satu kali menyaksikan acara pertanian di televisi. Sebaran intensitas menonton acara pertanian dapat dilihat pada Tabel 16 sebanyak 52,31 persen pemuda dalam penelitian ini intensitas menonton acara pertaniannya tergolong rendah dengan waktu kurang dari 20 menit untuk satu kali menonton cara pertanian. Sementara itu 70 33,85 persen pemuda dalam penelitian ini terkategorikan sedang intensitasnya dalam menonton acara pertanian dengan waktu antara 21–41 menit dalam satu kali menonton acara pertanian, untuk pemuda yang intensitas menonton acara televisinya terkategorikan tinggi terdapat 13,85 persen. Rendahnya waktu yang diluangkan oleh pemuda dalam menonton acara pertanian dikarenakan minat untuk menyaksikan acara pertanian di televisi itu sendiri rendah dan di mata para pemuda acara pertanian kurang menarik. Tabel 16. Intensitas menonton acara pertanian Waktu (Menit) Rendah (< 20) Sedang (21 – 41) Tinggi (42 – 60) Total (n) Jumlah Responden (Orang) 34 22 9 65 Persentase (%) 52,31 33,84 13,85 100 Para pemuda memiliki kecenderungan untuk menyaksikan hiburan dibandingkan dengan menonton acara pertanian. Rendahnya waktu yang diluangkan pemuda untuk menyaksikan televisi juga dikarenakan ketika menonton acara pertanian seringnya acara pertanian yang disiarkan di televisi kurang sesuai dengan kebutuhan pertanian para pemuda, karena diakui lebih banyak menyiarkan acara pertanian tanaman pangan dibandingkan dengan pertanian tanaman hortikultura sehingga para pemuda tidak begitu tertarik untuk menonton acara pertanian di televisi lebih lama lagi. Untuk para pemuda yang tinggi intensitas menonton acara pertanian menjelaskan bahwa mereka memang ingin belajar mengenai pertanian secara keseluruhan tidak hanya pertanian hortikultura karena dianggap dapat menambah wawasan mereka mengenai pertanian secara umum. Frekuensi Mendengarkan Acara Pertanian di Radio Frekuensi mendengarkan acara pertanian di radio merupakan tingkat atau keseringan pemuda mendengarkan acara pertanian dalam satu bulan terakhir. Frekuensi pemuda mendengarkan acara pertanian di radio tersaji pada Tabel 17. Tabel 17. Frekuensi mendengarkan acara pertanian di radio Frekuensi Mendengarkan Jumlah Responden Radio (Orang) Rendah (<2 kali) 60 Sedang (2 kali ) 2 Tinggi (3 kali) 3 Total (n) 65 Persentase (%) 92,31 3,08 4,62 100 71 Pada Tabel 18 dapat dilihat bahwa sebagian besar pemuda (92,31%) frekuensi mendengarkan acara pertanian terkategorikan rendah dengan frekuensi kurang dari satu kali dalam satu bulan terakhir, untuk pemuda yang terkategorikan sedang frekuensi mendengarkan acara pertaniannya terdapat sebanyak 3,08 persen, sementara itu terdapat 4,62 persen pemuda yang terkategorikan tinggi frekuensi mendengarkan acara pertanian di radio dengan frekuensi di atas tiga kali dalam satu bulan terakhir. Rendahnya frekuensi mendengarkan acara pertanian dikarenakan tidak banyak pemuda yang memiliki dan memanfaatkan radio. Selain hal itu sedikit saja stasiun radio yang menyiarkan acara pertanian di televisi. Kebanyakan dari stasiun radio hanya menyiarkan acara – acara musik seperti dangdut, musik–musik top Indonesia lainnya. Stasiun radio yang paling rutin menyiarkan acara pertanian adalah Edelwisse, tapi itu pun tidak sebanding perbandingannya. Terdapat beberapa stasiun radio yang dapat diakses di daerah Cipendawa maupun Sukatani yaitu stasiun radio Edelwisse, Antasalam, Triswara. Intensitas Mendengarkan Acara Pertanian Intensitas mendengarkan acara pertanian di radio merupakan lamanya waktu yang diluangkan oleh pemuda dalam satu kali mendengarkan acara pertanian di radio. Sebaran intensitas mendengarkan acara pertanian di radio dapat dilihat pada Tabel 18 berikut; Tabel 18. Intensitas mendengarkan acara pertanian Waktu (Menit) Rendah (0 - 20) Sedang (21 – 41) Tinggi (42 – 60) Total Jumlah Responden (Orang) 62 1 2 65 Persentase (%) 95,38 1,54 3,08 100,00 Terdapat sebanyak 95,38 persen pemuda dalam penelitian ini intensitas mendengarkan acara pertaniannya tergolong rendah dengan waktu kurang dari 20 menit untuk satu kali mendengarkan acara pertanian. Sementara itu 1,54 persen pemuda dalam penelitian ini terkategorikan sedang intensitasnya dalam mendengarkan acara pertanian dengan waktu antara 21–41 menit dalam satu kali mendengarkan acara pertanian, untuk pemuda yang intensitas mendengarkan acara televisinya terkategorikan tinggi terdapat 3,08 persen. Rendahnya waktu yang diluangkan oleh pemuda dalam mendengarkan 72 acara pertanian dikarenakan tidak banyak pemuda yang memiliki radio di rumah. Rendahnya intensitas mendengarkan acara pertanian juga disebabkan sedikit saja stasiun radio yang menyiarkan acara pertanian di televisi. Kebanyakan dari stasiun radio hanya menyiarkan acara–acara musik seperti dangdut, musik–musik top Indonesia lainnya. Stasiun radio yang paling rutin menyiarkan acara pertanian adalah Edelwisse, itupun karena stasiun radio tersebut adalah radio komunitas yang berada di wilayah pertanian Ciputri dan tidak dapat diakses secara luas oleh masyarakat yang berada di Desa Sukatani. Tingkat Kedekatan Dengan Teman di Bidang Pertanian Dalam penelitian ini tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian didefinisikan sebagai tingkat hubungan pemuda dengan teman terbaiknya dalam kegiatan sehari - hari. Sebaran data tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian dapat dilihat dari Tabel 19. Tabel 19. Tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian Tingkat Kedekatan Dengan Jumlah Responden Teman di Bidang Pertanian (Orang) Rendah (0 – 2) 24 Sedang (3 – 4) 21 Tinggi (5 - 6) 20 Total (n) 65 Persentase (%) 36,92 32,31 30,77 100 Dari Tabel 19 dapat dilihat bahwa relatif tidak terdapat perbedaan antara jumlah pemuda yang tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertaniannya rendah, sedang dan tinggi. Sebanyak 36,92 persen responden tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian terkategorikan rendah, untuk pemuda yang terkategorikan sedang tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian terdapat sebesar 32,31 persen, sementara itu tingkat kedekatan pemuda dengan teman di bidang pertanian yang terkategorikan tinggi terdapat sebesar 30,77 persen. Tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian ini dilihat melalui sejauhmana pemuda berinteraksi dengan teman terbaiknya yang memiliki pekerjaan di bidang pertanian. Pemuda dalam penelitian ini memiliki beragam teman yang tidak saja berasal dari bidang pertanian tetapi juga bekerja di bidang lain seperti pedagang, buruh, atau pun pelajar, sehingga hubungan para pemuda akan beragam, pemuda yang masih bersekolah akan memiliki kecenderungan teman baiknya akan berasal dari teman di sekolahnya yang merupakan pelajar, sementara itu 73 pemuda yang sudah bekerja baik di bidang pertanian dan bidang non pertanian lebih memiliki teman dekat yang beragam, ada yang berasal dari bidang pertanian ada pula yang berasal dari bidang non pertanian seperti buruh bangunan, buruh pabrik, pedagang dan supir ojek. Persepsi Pemuda terhadap Kondisi di Pedesaan Persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan merupakan proses pemaknaan secara inderawi pemuda terhadap kondisi yang ada di pedesaan yang mempengaruhi pemuda dalam mengambil keputusan terkait dengan pekerjaan di bidang pertanian. Persepsi terhadap kondisi di pedesaan dilihat dari kesempatan kerja di desa, kondisi sumberdaya alam di desa, dan persepsi pemuda itu sendiri dalam melihat prospek pertanian di masa yang akan datang. Persepsi terhadap Kesempatan Kerja di Desa Persepsi pemuda didefinisikan sebagai cara pandang atau pemaknaan pemuda dalam melihat kesempatan kerja yang ada di pedesaan atas dasar pengalaman– pengalaman pemuda. Sebaran persepsi pemuda terhadap kesempatan kerja dapat dilihat pada Tabel 20. Tabel 20. Persepsi terhadap kesempatan kerja di desa Persepsi Jumlah Responden Pemuda (Orang) Tidak ada kesempatan kerja (1-1,75) 1 Kurang ada kesempatan kerja (1,76 2,51) 9 Terdapat kesempatan kerja (2,52 - 3.27) 44 Banyak kesempatan kerja (3,28 – 4) 11 Total (n) 65 Persentase (%) 1,54 13,85 67,69 16,92 100 Dari Tabel 20 dapat dilihat bahwa 67,69 persen pemuda mengganggap bahwasannya terdapat banyak kesempatan kerja di desa, 16,92 persen pemuda beranggapan bahwa banyak kesempatan kerja yang tersedia di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani., sementara itu 13,85 persen pemuda beranggapan bahwa di desa kurang tersedia banyak kesempatan kerja. Jika dilihat dari rataan skor persepsi pemuda terhadap kesempatan kerja di pedesaan sebesar 2,84 maka dapat disimpulkan bahwa pemuda umumnya mempersepsikan bahwa terdapat banyak kesempatan kerja di pedesaan. Baik di Desa Cipendawa maupun di Desa Sukatani memang terdapat 74 beberapa jenis pekerjaan yaitu petani, buruh pabrik, buruh bangunan, pedagang atau wiraswastawan. Jenis–jenis pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang tidak memerlukan tingkat pendidikan tinggi. Hanya buruh pabrik saja yang dituntut memerlukan pendidikan minimal SLTP dan SLTA. Para pemuda yang umumnya hanya merupakan lulusan SD masih dapat memperoleh pekerjaan di desa. Persepsi terhadap Kondisi Sumberdaya Alam di Desa Persepsi pemuda didefinisikan sebagai cara pandang atau pemaknaan pemuda dalam melihat kondisi sumberdaya alam yang ada di pedesaan atas dasar pengalaman– pengalaman pemuda. Sebaran persepsi pemuda terhadap kondisi sumberdaya alam yang ada di pedesaan terdapat pada Tabel 21. Dari Tabel 21 dapat dilihat bahwa 80 persen pemuda mengganggap kondisi sumberdaya alam di desa pemuda sangat baik, sementara itu 20 persen pemuda beranggapan bahwa kondisi sumberdaya alam di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani baik. Jika dilihat dari rataan skor persepsi pemuda terhadap kesempatan kerja di pedesaan sebesar 2,97, yang berarti umumnya pemuda mempersepsikan kondisi sumberdaya alam di desa tergolong baik Tabel 21. Persepsi terhadap kondisi sumberdaya alam di desa Persepsi Jumlah Responden Pemuda (Orang) Sangat Buruk (1-1,75) 0 Buruk (1,76 - 2,51) 0 Baik (2,52 - 3.27) 13 Sangat Baik (3,28 – 4) 52 Total (n) 65,00 Persentase (%) 0 0 20 80 100 Sangat baiknya persepsi pemuda dapat diterima, mengingat Kabupaten Cianjur yang dalam hal ini diwakili oleh Desa Cipedawa dan Desa Sukatani merupakan sentra tanaman sayur di Provinsi Jawa Barat. Menurut Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur yang diwakili oleh penyuluh lapang mengatakan bahwa Desa Cipendawa selain merupakan penghasil wortel juga diproyeksikan sebagai wilayah pengasil bibit kentang menggantikan wilayah Lembang, sementara itu Desa Sukatani merupakan salah satu sentra penghasil wortel terbesar di Jawa Barat, melalui argumen–argumen ini dapat ditarik kesimpulan bahwa baik Desa Cipendawa maupun Desa Sukatani memang memiliki kondisi sumberdaya alam yang baik karena memang merupakan salah satu sentra produksi tanaman sayuran di Jawa Barat. 75 Persepsi terhadap Pertanian di Masa yang Akan Datang Persepsi pemuda terhadap prospek pertanian di masa yang akan datang akan didefinisikan sebagai cara pandang atau pemaknaan pemuda dalam melihat prospek pertanian di masa yang akan datang atas dasar pengalaman–pengalaman pemuda Sebaran persepsi pemuda terhadap prospek pertanian di masa yang akan datang terdapat pada Tabel 22. Tabel 22. Persepsi terhadap pertanian di masa yang akan datang Persepsi Jumlah Responden Pemuda (Orang) Tidak Prospektif (1-1,75) 0 Kurang Prospektif (1,76 - 2,51) 3 Prospektif (2,52 - 3.27) 40 Sangat Prospektif (3,28 – 4) 22 Total (n) 65 Persentase (%) 0 4,62 61,54 33,85 100 Melihat dari sebaran data yang tersaji dari Tabel 22, terdapat 61,54 persen pemuda beranggapan bahwa pertanian di masa yang akan datang akan prospektif , sementara itu 33,85 persen pemuda beranggapan bahwa pertanian di masa yang akan datang sangat prospektif. Tidak semua pemuda mempersepsikan prospek pertanian di masa yang akan datang secara positif, terdapat pula pemuda yang mempersepsikan pertanian di masa yang akan datang akan kurang prospektif bagi pemuda. Melihat dari rataan skor persepsi pemuda yang sebesar 3,1 maka dapat ditarik kesimpulan bahwa umumnya pemuda melihat pekerjaan pertanian sebagai pekerjaan yang prospektif di masa yang akan datang. Temuan ini memang sangat jelas, karena menurut pengakuan penyuluh lapangan dan petani, permintaan tanaman sayuran masih tinggi, petani sayur masih kewalahan dalam memenuhi kebutuhan akan permintaan sayuran. Penyuluh pertanian setempat juga menyatakan bahwa selama masih terdapat kehidupan, maka makanan akan tetap dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam hal ini sayuran tetap dibutuhkan oleh masyarakat, pertimbangan ini yang melatarbelakangi kenapa pemuda percaya bahwa pertanian di masa datang cukup menjanjikan. Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian adalah kondisi psikologis pemuda yang didasari konsep evaluasi terhadap pekerjaan di bidang pertanian dari segi pemenuhan kebutuhan yang terdiri dari komponen kognitif, afektif, konatif yang 76 berkaitan dengan pekerjaan di bidang pertanian. Sikap terhadap pekerjaan ini dikaitkan dengan konsep pekerjaan yang dicetuskan oleh Sajogyo (1987) yaitu pekerjaan sebagai interaksi sosial, sebagai status sosial, sebagai kegiatan yang menghasilkan uang (ekonomi) dan menghasilkan barang dan jasa. Sebaran data untuk sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian tersaji pada Tabel 23. Tabel 23. Sikap Pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian Sikap Jumlah Responden Pemuda (Orang) 18 Kurang Setuju (1,76 – 2,51) 43 Setuju (2,52 – 3,25) 4 Sangat Setuju (3,26 – 4) TOTAL 65 Persentase (%) 27,69 66,15 6,15 100 Tabel 23 menunjukkan bahwa terdapat 27,69 persen pemuda yang kurang setuju untuk bekerja di bidang pertanian, yang berarti para pemuda tersebut kurang tertarik untuk bekerja di bidang pertanian. Terdapat pula 66,15 persen pemuda yang setuju untuk bekerja di bidang pertanian, sementara itu 6,15 persen pemuda sangat setuju sikapnya untuk bekerja di bidang pertanian. Dari Tabel 23 dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pemuda masih tertarik untuk pekerjaan di bidang pertanian. Ketertarikan pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian karena pemuda merasa pertanian merupakan bidang yang masih menjanjikan untuk dijadikan sebagai pekerjaan. Para pemuda berpendapat bahwa daerah Pacet merupakan wilayah yang sangat menjanjikan untuk mengembangkan usaha pertanian sayuran karena wilayah mereka merupakan sentra produksi tanaman sayuran, permintaan sayuran masih tinggi sehingga secara ekonomi pemasaran produk pertanian sayuran tidak menjadi masalah yang besar karena banyak orang yang datang dan mencari sayuran dari Desa Cipendawa dan Desa Sukatani. Para pemuda tertarik bekerja di bidang pertanian karena sebagian besar masyarakat yang berdomisili di daerah tersebut merupakan petani–petani sayur. Jika dibedakan menurut desanya, rataan skor sikap pemuda terhadap pekerjaan pertanian untuk Desa Sukatani sedikit lebih besar (2,77) dibandingkan dengan rataan skor sikap pemuda di Desa Cipendawa (2,71), tetapi tidak berbeda nyata karena kedua sikap pemuda tersebut masih terkategorikan dalam kelas yang sama yaitu cukup setuju untuk bekerja di bidang pertanian. Jika dilihat secara lebih detail lagi, fenomena lebih baiknya sikap pemuda yang berasal dari Desa Sukatani disebabkan Desa Sukatani 77 merupakan wilayah agropolitan di mana secara infrastruktur dan pemasaran wilayah Sukatani lebih baik dibandingkan dengan Cipendawa. Produk–produk pertanian sayuran dari Desa Sukatani banyak yang masuk ke Supermarket besar. Berbeda dengan Cipendawa yang infrastrukturnya tidak sebagus wilayah Sukatani dan pemasarannya hanya masuk ke pasar–pasar tradisional yang berada di wilayah Cianjur, Bogor, Jakarta, dan Bekasi. Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian (Per Indikator) Pekerjaan tidak semata–mata hanya berdasarkan pertimbangan ekonomi, tetapi juga berdasarkan pada pertimbangan lain yang bersifat non-ekonomi. Pada bagian ini disajikan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian yang dibagi–bagi berdasarkan indikator–indikator pekerjaan menurut pendefinisian Sajogyo (1987), di mana pekerjaan di pedesaan dilihat berdasarkan berdasarkan pertimbangan interaksi, pertimbangan status, pertimbangan ekonomi, dan pertimbangan teknis (kemudahan menghasilkan barang atau jasa). Pada Tabel 24 terlihat bahwa sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan indikator pertimbangan interaksi memiliki rataan skor sebesar 2,70 yang berarti para pemuda setuju bahwa jika dilihat dari pertimbangan interaksi, pekerjaan di bidang pertanian lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan non-pertanian (buruh bangunan, buruh pabrik, supir ojek, dan pedagang). Para pemuda meyakini bahwa bekerja sebagai petani membuat mereka lebih mudah dalam berinteraksi dengan masyarakat di desa mereka dibandingkan dengan orang yang bekerja sebagai pedagang, buruh bangunan, maupun sebagai buruh pabrik. Hal ini di sebabkan mayoritas mayarakat di Cipendawa dan Sukatani bekerja sebagai petani, sehingga intensitas bertemu dan berkomunikasi dengan masyarakat lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat yang bekerja sebagai buruh bangunan, buruh pabrik, pedagang, maupun supir ojek. Mereka berpikir menjadi petani itu fleksibel dari segi waktu sehingga dapat bertemu dan berkomunikasi dengan masyarakat kapan saja, dan karena mayoritas masyarakat adalah petani sayuran sehingga jam kerja para petani akan sama dengan petani sayuran yang lain, ketika berangka ke kebun dan ketika pulang dari kebun. Berbeda dengan mereka yang bekerja di bidang non-pertanian, bahkan mereka yang bekerja sebagai buruh bangunan terkadang baru pulang seminggu sekali bahkan ada 78 yang sebulan sekali baru pulang, kebanyakan mereka yang menjadi buruh bekerja di kota besar seperti Jakarta, Tangerang, Bogor. Pertimbangan status dalam penelitian ini memiliki rataan skor 2,77, pemuda cenderung tertarik bekerja di bidang pertanian karena pemuda beranggapan menjadi petani bukan merupakan pekerjaan yang memalukan, mereka percaya pekerjaan sebagai petani merupakan suatu tanggung jawab besar demi keberlangsungan kebutuhan akan makanan dalam hal ini adalah tanaman sayuran. Selain itu pemuda juga berpendapat bahwa mereka tidak takut untuk berkotor–kotor karena mereka yakin matahari dan kotor merupakan bagian yang membuat bekerja di pertanian itu unik. Untuk pertimbangan ekonomi, rataan skor menunjukan angka 2,57 artinya para pemuda setuju untuk bekerja di bidang pertanian karena secara ekonomi mereka percaya seorang petani masih dapat memenuhi kebutuhan dasar. Hal tersebut cukup beralasan karena jika dilihat dari pendapatan per bulan petani buruh bisa memperoleh 1 Juta Rupiah, sementara petani pemiliki lahannya kurang dari 0,2 ha bisa memperoleh 1,5 – 2 Juta Rupiah, tukang ojek memperoleh 750 Ribu Rupiah dalam satu bulan, sementara itu buruh pabrik bisa memperoleh 1 Juta Rupiah dalam dalam satu bulan. Untuk buruh bangunan per hari mereka dapat memperoleh 40 – 45 Ribu Rupiah tetapi pekerjaan itu tidak setiap waktu ada hanya waktu – waktu tertentu, biasanya buruh bangunan juga merupakan petani – petani yang tidak memiliki lahan dan memiliki waktu yang kosong. Tabel 24. Sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian (per indikator) Indikator Sikap Pemuda Rataan Skor* Pertimbangan Interaksi Pertimbangan Status Pertimbangan Ekonomi Pertimbangan Teknis Rataan Skor Total 2,70 2,77 2,57 2,81 2,71 *Ket: 1 – 1,75=: Tidak Setuju;1,76 – 2,51= Kurang Setuju; 2,52 – 3,25= Setuju; 3,26 – 4= Sangat Setuju Rataan skor untuk pertimbangan teknis 2,81 menunjukan bahwa pemuda cukup setuju untuk bekerja di bidang pertanian karena secara teknis pertanian sayuran itu diyakini mudah dalam pelaksanaannya, para pemuda sedikit banyak tahu mengenai cara menanam, mengeolah lahan, memberikan pupuk, memberikan pestisida dan memanen tanaman sayur. Pengetahuan mengenai teknis usahatani sayuran diperoleh oleh pemuda 79 melalui pelibatan–pelibatan dalam kegiatan pertanian yang diperintahkan oleh orang tua mereka. Hubungan Karakteristik Internal Pemuda dengan Sikap Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Sikap merupakan suatu kecenderungan bertindak yang tidak akan terlepas dari faktor–faktor yang terdapat dalam diri seorang pemuda. Sikap pemuda terdapat pekerjaan di bidang pertanian pun demikian tidak akan terlepas dari kondisi internal yang melekat dari pemuda itu sendiri. Oskamp dalam Azwar (1995) mengemukakan bahwa sikap merupakan proses evaluatif yang dilakukan individu. Oleh karena itu, mempelajari sikap berarti perlu juga mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi proses evaluatif sebuah sikap, salah satu faktor yang mempengaruhi proses evaluatif tersebut adalah faktor genetik dan fisiologik yang melekat pada pemuda. Pada penelitian ini terdapat enam karakteristik internal dari pemuda yang ditengarai dapat mempengaruhi sikap pemuda dalam memandang pertanian sebagai pekerjaan di masa yang akan datang. Hubungan antara karakteristik internal pemuda dengan sikap pemuda dapat dilihat pada Tabel 25. Tabel 25. Hubungan antara karakteristik internal pemuda dengan sikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian Karakteristik Internal Analisis Korelasi Karakteristik Pemuda Data Internal dengan Sikap X1. Umur Rank Spearman 0,436** X2. Tingkat Pendidikan Rank Spearman (rs) 0,120 2 X3. Jenis Kelamin Koefisien Kontingensi (x ) 0,511** Rank Spearman (rs) 0,154 X4. Status Kepemilikan Lahan orang tua Rank Spearman (rs) 0,102 X5. Luas Lahan yang di kelola orang tua X6. Tingkat Kekosmopolitan Rank Spearman (rs) - 0,047 Pemuda Keterangan: ** Hubungan sangat nyata pada taraf α 0,01 Hubungan Umur Pemuda dengan Sikap terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Dari Tabel 25 dapat dilihat bahwa umur memiliki hubungan sangat nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai korelasi rank spearman 0,436 (pada taraf α 0,01). Nilai korelasi tersebut menunjukkan bahwa umur memiliki hubungan yang cukup kuat. Semakin bertambah umur seorang pemuda maka 80 sikapnya akan setuju terhadap pekerjaan di bidang pertanian, hal tersebut dilatarbelakangi oleh pertimbangan bahwa ketika pemuda sudah memasuki usia dewasa awal (memasuki usia 22 tahun) maka seorang pemuda memiliki kecenderungan untuk mulai memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri, karena sudah mulai malu untuk meminta uang dari orang tua dan mereka beranggapan bahwa pertanian dapat memenuhi kebutuhan mereka, berbeda dengan pemuda yang masih terkategorikan remaja awal (usia 13–14 tahun) di mana orientasi mereka masih pencarian identitas, masih sering bermain, nongkrong bareng dengan teman–teman, kalaupun ada pemuda yang terkategorikan remaja awal tetapi sudah bekerja, mereka berorientasi untuk pemenuhan hidup yang sifatnya sementara karena masih mendapatkan uang saku dari orang tua. Berbeda dengan pemuda yang sudah terkategorikan dewasa awal mereka sudah menjadikan pertanian sebagai pemasukan utama, dan mereka dapt melihat bahwa pertanian merupakan aspek yang akan selalu dibutuhkan oleh manusia. Pada dasarnya pemuda–pemuda ketika semakin dewasa mereka dapat melihat dan merasa bahwa wilayah domisili mereka merupakan sentra tanaman sayuran sehingga mereka memahami betul bahwa pertanian merupakan pekerjaan yang dapat dijadikan pegangan hidup. Salah seorang pemuda yang terkategorikan dewasa awal berkata bahwa: ”kalo dilihat permintaan sayuran masih tinggi, saya yakin pertanian sayur akan terus berkembang dan menjanjikan bagi para petani, sekarang yang masih menjadi masalah utama adalah modal untuk mengembangkan usaha pertanian sayuran dan jaringan untuk memperluas penjualan karena terbatas ditengkulak saja”. Hubungan antara usia dengan ketertarikan terhadap bidang pertanian juga diteliti oleh Herlina (2002), pada penelitiannya Herlina menyatakan pemuda yang memiliki usia cenderung lebih muda memiliki orientasi bekerja di luar bidang pertanian karena pemuda yang lebih muda mempersepsikan pekerjaan di bidang pertanian sebagai pekerjaan yang rumit dan melelahkan hal ini sedikit berbeda dengan pemuda yang memiliki usia cenderung lebih tua, Perbedaan tersebut disebabkan usia berkaitan dengan pengalaman pemuda di bidang pertanian. Pemuda yang cenderung usianya lebih tua memiliki pengalaman lebih mengenai bidang pertanian dibandingkan dengan pemuda yang usianya masih tergolong muda. \ 81 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Sikap terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Dari Tabel 25 dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan tidak berhubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai korelasi Rank Spearman 0,120. Nilai korelasi tersebut menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak secara nyata berhubungan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Baik pemuda yang berpendidikan rendah maupun pemuda yang berpendidikan tinggi tetap cenderung bersikap positif terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Tidak terdapat perbedaannya karena kebanyakan orang yang berpendidikan tinggi di wilayah Cipendawa dan Sukatani masuknya ke jurusan pertanian di Universitas Suryakencana sehingga mereka berorientasi untuk menjadi sarjana yang bekerja di bidang pertanian, karena alasan itu mereka tetap tertarik untuk bekerja di bidang pertanian membantu orang tua mereka. Bagi pemuda yang berpendidikan rendah mereka sudah langsung terjun ke dunia pertanian karena mereka berpandangan bahwa untuk bekerja di bidang pertanian tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi sehingga mereka menganggap pertanian sebagai pekerjaan yang layak, ilmu pertanian yang mereka dapat berasal dari orang tua dan teman–teman sepermainan mereka, bukan dari pendidikan yang mereka dapatkan dari sekolah mereka, sehingga pemuda yang berpendidikan rendah sama dengan pemuda yang berpendidikan tinggi tetap melihat pekerjaan di bidang pertanian sebagai pekerjaan yang baik. Hubungan Jenis Kelamin Pemuda dengan Sikap terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Tabel 25 memperlihatkan bahwa jenis kelamin memiliki hubungan yang nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai Chi Square sebesar 22.929 dengan Koefisien Kontingensi sebesar 0,511, nilai tersebut menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan pria lebih bersikap positif pada pekerjaan di bidang pertanian dibandingkan dengan perempuan. Terdapat perbedaan nyata antara sikap perempuan dan laki–laki dalam memandang pekerjaan di bidang pertanian. Kecenderungan perempuan bersikap negatif terhadap pekerjaan di bidang pertanian disebabkan perempuan melihat pertanian sebagai pekerjaan yang kotor, mereka beranggapan bahwa pekerjaan sebagai pedagang dan buruh pabrik akan lebih 82 menjanjikan pendapatannya dibandingkan dengan pekerjaan di bidang pertanian. Banyak dari gadis di daerah Cipendawa dan Sukatani yang bekerja di pasar Cipanas sebagai pedagang bahan–bahan sembako bahkan ada yang sebagai pemilik kios–kios sembako. Terdapat beberapa pemudi yang bekerja di mini market seperti Alfamart dan Indomaret yang banyak sekali tersebar di wilayah Cipanas. Rendahnya sikap perempuan terhadap pekerjaan di bidang pertanian dikarenakan tidak jauh dari Kecamatan Cipanas sekitar 10 km ke arah Cianjur banyak terdapat pabrik–pabrik, seperti pabrik sepatu Spotec, keberadaan pabrik sepatu ini ternyata menyebabkan banyak gadis muda yang memilih untuk bekerja di pabrik. Fenomena yang ternyata muncul adalah banyak perempuan yang berasal dari Desa Cipendawa bekerja menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Arab Saudi dan Malaysia, mereka berpendapat bahwa lebih menguntungkan bekerja menjadi TKW di luar negeri dibandingkan menjadi petani, selain itu di mata para pemudi status menjadi TKW lebih baik di bandingkan menjadi petani. Jika ditinjau secara lebih rinci melalui wawancara dengan orang tua para pemudi–pemudi tersebut, fenomena kurang tertariknya pemudi–pemudi untuk bekerja di bidang pertanian disebabkan oleh adanya semacam kepercayaan dari orang tua mereka bahwa jika anak gadis bekerja di bidang pertanian akan membuat penampilan para pemudi–pemudi tersebut buruk, karena harus berhubungan dengan tanah yang kotor dan terkena panas matahari. Penjelasan tersebut sejalan dengan yang dikatakan oleh Herlina (2002), menurut Herlina masyarakat pekerjaan pertanian memiliki ciri–ciri di antaranya membutuhkan tenaga yang kuat, harus bekerja di bawah terik matahari, dan harus berhubungan dengan kegiatan yang berhubungan dengan tanah yang kotor. Terdapat perbedaan tenaga kerja secara seksual yang terjadi di lokasi persawahan, keterlibatan wanita dalam proses produksi meliputi proses penanaman, penyiangan dan panen. Di lokasi penelitian, pekerjaan usahatani dominan dilakukan oleh kaum pria, wanita terlibat dalam proses penanaman. Kebanyakan wanita berpikir pekerjaan pertanian dilakukan oleh laki–laki karena membutuhkan kekuatan fisik, alasan lainnya datang dari orang tua yang mengatakan bahwa wanita merupakan lambang kehormatan keluarga, secara fisik harus merawat diri sedangkan pekerjaan di bidang pertanian sayuran pasti berpanas–panasan di bawah matahari merupakan tugas laki–laki. 83 Hubungan Status Kepemilikan Lahan Orang Tua dengan Sikap terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Tabel 25 menunjukkan bahwa status kepemilikan lahan orang tua tidak memiliki hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai korelasi rank Spearman sebesar 0,154, nilai tersebut menunjukkan bahwa status kepemilikan lahan orang tua tidak berhubungan secara nyata berhubungan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian, artinya baik pemuda yang orang tuanya merupakan pemilik lahan maupun bukan pemilik lahan mereka tetap bersikap positif terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Buat pemuda yang orang tuanya merupakan penggarap lahan biasanya sistem penggarapannya tidak merugikan orang tua mereka dalam mengelola lahan pertaniannya, salah satu jenis penggarapannya adalah lahan yang dipinjamkan oleh Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, di mana setiap orang yang mengelola lahan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dapat sepenuhnya menjual hasil panen mereka, persyaratan mereka hanya harus menjaga pohon–pohon yang ada di wilayah lahan pertanian mereka. Begitu pula dengan penggarap yang sistem penggarapannya gadai, para penggarap tanah gadai biasanya seluruh keuntungan panen diambil oleh petani gadai tersebut, karena sistemnya mereka membeli tanah gadaian dari petani lain yang sedang butuh uang, baru ketika memiliki uang tanah gadai tersebut dikembalikan lagi pada petani pemilik. Perbedaan pemilikan lahan ini ternyata tidak mempengaruhi sikap pemuda dalam melihat pertanian karena mereka yakin apapun bentuk lahan pertanian yang dikelola oleh orang tua pemuda, mereka yakin usahatani akan tetap memberikan keuntungan. Hubungan Luas Lahan Pertanian yang Dikelola Orang Tua dengan Sikap terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Tabel 24 menunjukkan bahwa luas lahan pertanian yang dikelola orang tua tidak memiliki hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai Rank Spearman sebesar 0,102, nilai tersebut menunjukkan bahwa status kepemilikan lahan orang tua tidak berhubungan secara nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Artinya baik pemuda yang orang tuanya mengelola lahan pertanian yang luas maupun pemuda yang orang tuanya mengelola lahan pertanian yang sempit sama–sama cenderung bersikap positif terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Besar kecilnya lahan kelola orang tua tidak berhubungan nyata 84 dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian karena biasanya petani yang lahan pertaniannya sempit mereka juga bekerja di lahan pertanian lain sebagai buruh harian yang bekerja di lahan pertanian dengan bayaran 30–35 ribu rupiah untuk 5–6 jam kerja. Jadi setelah selesai bekerja di lahan pertanian yang mereka kelola, maka orang tua pemuda juga bekerja menjadi buruh di lahan pertanian lain. Hubungan Tingkat Kekosmopolitan Pemuda dengan Sikap terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Tabel 25 menunjukkan bahwa tingkat kekosmopolitan pemuda tidak memiliki hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai Rank Spearman sebesar -0,047, menurut Guildford dalam Rakhmat (2005) nilai korelasi kurang dari 0,2 memiliki nilai hubungan yang sangat lemah dan hampir tidak memiliki hubungan. Nilai korelasi tersebut menunjukkan bahwa tingkat kekosmopolitan pemuda tidak berhubungan nyata dengan sikap pemuda. Artinya bahwa baik pemuda yang kosmopolit mau pun yang tidak kosmopolit tidak memberikan perbedaan dalam bersikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Tidak berpengaruhnya tingkat kekosmopolitan pemuda dikarenakan sebagian besar pemuda jarang keluar dari desa mereka masing–masing, karena wilayahnya cukup jauh dan harus ditempuh dengan motor, keluarnya pemuda menuju kota bukan karena inisiatif dari dalam diri sendiri (self-motivated) melainkan diperintahkan oleh orang tua mereka untuk membeli bibit ataupun obat untuk tanaman mereka, sehingga ada unsur keterpaksaan. Hubungan Antara Sosialisasi oleh Orang Tua, Teman, dan Keterdedahan terhadap Media dengan Sikap Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Oskamp dalam Azwar (1995) mengemukakan bahwa sikap merupakan proses evaluatif yang dilakukan individu. Oleh karena itu, mempelajari sikap berarti perlu juga mempelajari faktor-faktor yang berhubungan dengan proses evaluatif sebuah sikap. Pembentukan sikap itu sendiri dipengaruh oleh banyak faktor baik yang berasal dari dalam diri individu (internal) maupun yang berada dari luar diri individu itu sendiri (eksternal). Faktor–faktor yang mempengaruhi sikap seseorang adalah: 1). orang tua: Orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak-anaknya. Sikap orang tua akan dijadikan role model bagi anak-anaknya 2). Teman sepermainan atau kelompok masyarakat memberi pengaruh kepada individu. Ada kecenderungan bahwa seorang 85 individu berusaha untuk sama dengan teman sekelompoknya (Ajzen dalam Azwar (1995) menyebutnya dengan normative belief). Seorang anak nakal yang bersekolah dan berteman dengan anak-anak santri kemungkinan akan berubah menjadi tidak nakal lagi. 3). Media massa adalah media yang hadir di tengah tengah masyarakat. Dalam penelitian ini hubungan orang tua, teman, dan media massa dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dilihat sebagai suatu proses sosialisasi yang tekait dengan bidang pertanian sehingga semua peubah dikaitkan dengan pertanian. Untuk lebih jelasnya mengenai hubungan antara orang tua, media massa, dan teman terhadap sikap dapat dilihat pada Tabel 26. Tabel 26. Hubungan antara sosialisasi oleh orang tua, teman, dan keterdedahan terhadap media dengan sikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian Faktor Analisis Nilai Korelasi Sosialisasi Data Dengan Sikap X7. Sosialisasi Oleh Orang Tua X7.1. Frekuensi Orang Tua Bercerita Rank Spearman (rs) 0,093 tentang Pertanian X7.2. Tingkat Pelibatan pemuda dalam Rank Spearman (rs) 0,683** kegiatan pertanian oleh orang tua X8. Keterdedahan Terhadap Media Rank Spearman (rs) 0,271* X8.1.1. Lama Menonton Acara Pertanian di TV Rank Spearman (rs) 0,099 X8.1.2. Lama Mendengarkan acara Pertanian di Radio Rank Spearman (rs) 0,132 X8.2.1. Frekuensi Menonton Acara Pertanian di TV X8.2.2. Frekuensi Mendengarkan Acara Rank Spearman (rs) 0,130 Pertanian di Radio X9. Interaksi Dengan Teman X9.1. Tingkat kedekatan dengan teman Rank Spearman (rs) 0,445** di bidang pertanian Keterangan: * Berhubungan nyata pada taraf α 0,05 ** Berhubungan sangat nyata pada taraf α 0,01 Sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua diukur melalui dua dimensi, yaitu: frekuensi orang tua membicarakan pertanian dan tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua di bidang pertanian. Keterdedahan terhadap media massa pertanian diukur melalui dua dimensi yaitu lama waktu yang diluangkan pemuda dan frekuensi mengakses media massa pertanian, sedangkan interaksi dengan teman diukur melalui dimensi tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian. 86 Hubungan Sosialisasi oleh Orang tua dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Dapat dilihat pada Tabel 26, Sosialisasi oleh orang tua memiliki hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian terutama pada indikator pelibatan pemuda oleh orang tua dalam kegiatan pertanian dengan nilai rank spearman sebesar 0,663, nilai korelasi menunjukkan bahwa pelibatan pemuda oleh orang tua dalam kegiatan pertanian memiliki hubungan sangat nyata. Nilai tersebut juga menunjukkan bahwa pelibatan pemuda oleh orang tua memiliki hubungan positif dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian, artinya semakin orang tua melibatkan pemuda dalam kegiatan pertanian maka sikap pemuda semakin baik terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Hal ini wajar karena dengan memperkenalkan pertanian sejak dini dengan cara melibatkan anak–anak dapat meningkatkan minat seorang anak terhadap bidang pertanian. Orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak-anaknya. Perilaku orang tua dijadikan contoh oleh anak-anaknya. Semakin seorang pemuda dilibatkan oleh orang tua mereka dalam kegiatan pertanian, maka pemuda tersebut belajar caracara menanam, memilih bibit, memanen, memberikan pestisida terhadap tanaman sayuran orang tuanya. Pelibatan pemuda dalam kegiatan pertanian dapat dilihat sebagai suatu proses sosialisasi yang dilakukan oleh orang tuanya dalam memperkenalkan pertanian terhadap anaknya sejak dini. Pelibatan pemuda dalam kegiatan pertanian merupakan salah satu bentuk dari patterned family interaction di mana proses ini dapat dilihat sebagai suatu ritual yang coba dipertahankan oleh keluarga dalam rangka menurunkan nilai–nilai pertanian yang penting dalam membentuk kepribadian atau identitas di mana pemuda tersebut berada, selain itu Ihromi (1999) juga mengatakan bahwa peran sosialisasi yang dialami seorang anak menentukan kepribadiannya di masa mendatang karena salah satu agen sosialisasi pada masa remaja adalah orang tua yang merupakan salah satu significant others bagi pemuda dan juga orang tualah yang menjadi role model bagi pemuda dalam membentuk perilakunya. Peran komunikasi orang tua sebagai pengasuh dan pendidik utama anak dijelaskan oleh Popov dan Popov dalam Puspitawati (2009), yaitu pemandu dan pembina dalam meningkatkan keterampilan dan konselor dalam mengarahkan moral. Pemuda beranggapan bahwa dengan diajak terlibat dalam kegiatan pertanian sejak dini oleh orang tua mereka jadi terbiasa dengan kegiatan–kegiatan di bidang 87 pertanian, secara tidak langsung pelibatan ini diakui oleh pemuda dapat menumbuhkan rasa senang terhadap pertanian, yang kemudian rasa senang ini yang dapat menjadi dasar kenapa sikap pemuda terhadap pekerjaan bidang pertanian dapat positif, semakin dini mereka tahu bahwa pekerjaan di bidang pertanian harus berurusan dengan tanah dan kotor maka pemuda akan semakin dapat menerima kenyataan ini. Pentingnya pelibatan pemuda dalam kegiatan pertanian oleh orang tua juga diutarakan oleh Herlina (2002) dengan menyebutkan bahwa proses sosialisasi pekerjaan pertanian sebenarnya sudah dimulai saat seorang pemuda masih terkategorikan sebagai anak–anak, meski harus diakui orang tua tidak menginginkan anaknya menjadi petani, bagi orang tua pelibatan anak dalam kegiatan pertanian tidak lebih hanya sebagai upaya orang tua meringankan tugasnya sekaligus agar anak terbiasa tetapi hal tersebut secara tidak langsung membentuk keterampilan pemuda dalam melakukan pekerjaan di bidang pertanian. Hubungan Antara Keterdedahan Media Massa dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Tabel 26 menunjukkan bahwa keterdedahan terhadap media massa memiliki hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian terutama pada indikator lama menonton acara pertanian di televisi dengan nilai rank spearman sebesar 0,271, nilai korelasi menunjukkan bahwa lama menonton acara pertanian di televisi memiliki hubungan nyata. Nilai tersebut juga menunjukkan bahwa lama menonton acara pertanian di televisi memiliki hubungan positif dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Semakin lama seorang menonton acara pertanian di televisi maka sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian semakin baik. Hal tersebut cukup masuk akal mengingat semakin lama seorang pemuda menonton acara pertanian di televisi artinya pemuda tersebut tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai pekerjaan di bidang pertanian. Stasiun televisi yang paling sering menyiarkan acara pertanian adalah TVRI dengan berbagai program andalan seperti acara Pelangi Desa, Desa Membangun, Salam Dari Desa. Ketiga acara tersebut merupakan acara pertanian yang paling sering di tonton oleh pemuda. Ketiga acara tersebut menjadi corong pemerintah dalam memberikan gambaran positif mengenai pertanian secara luas yang mencakup peternakan dan perikanan. Informasi–informasi yang disampaikan merupakan informasi 88 yang sifatnya positif yang dapat meningkatkan motivasi pemuda dalam kegiatan pertanian, seperti kisah sukses seorang petani, cara–cara meningkatkan produktivitas pertanian. Semakin lama seorang pemuda meluangkan waktunya untuk menonton acara pertanian tersebut maka pemuda semakin positif sikapnya terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Lamanya seseorang menonton acara pertanian di televisi juga menunjukkan minat orang terebut dalam mencari informasi lebih banyak tentang pertanian. Televisi dianggap lebih bisa memotivasi dari pada radio karena pemuda berpendapat bahwa televisi lebih menarik karena memiliki gambar sehingga para pemuda dapat memiliki gambaran jelas mengenai cara–cara pertanian, berbeda dengan radio yang berupa media massa audio. Khairil (1994) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa penggunaan media massa dapat memenuhi kebutuhan petani terhadap informasi, pengetahuan serta hiburan. Pengguna media massa tersebut mempengaruhi cakrawala berpikir, sikap, dan akhirnya mempengaruhi perilaku petani. Waktu yang digunakan untuk menonton televisi menentukan efek keterdedahan. Hubungan Interaksi dengan Teman dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Tabel 26 menunjukkan bahwa interaksi dengan teman memiliki hubungan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian, interaksi dengan teman pada penelitian ini dikaji melalui tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian. Tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian berhubungan sangat nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai Rank Spearman sebesar 0,445, nilai hubungan tersebut menunjukkan bahwa tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian memiliki hubungan yang cukup kuat. Nilai tersebut juga menunjukkan bahwa tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian memiliki hubungan positif dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Artinya semakin tinggi seorang pemuda memiliki tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian maka sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian semakin baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemuda yang memiliki tingkat kedekatan yang tinggi dengan teman di bidang pertanian artinya pemuda tersebut teman–teman dekatnya memiliki kegiatan di bidang pertanian, sehingga dalam pembicaraannya pun mereka lebih sering berdiskusi dan membicarakan mengenai pertanian, sehingga dapat menggambarkan tingkah laku yang hampir sama, dan memiliki perasaan yang sama 89 dengan suatu obyek. Demikian pula sebaliknya pemuda–pemuda yang rendah tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian cenderung memiliki sikap yang kurang baik terhadap pekerjaan di bidang pertanian, karena mereka yang tidak memiliki kedekatan dengan teman–teman di bidang pertanian biasanya jarang dan tidak pernah berbicara mengenai pertanian. Jaccard et al., (2005) mengatakan bahwa tingkat kedekatan dengan teman (closeness) dapat menggambarkan tingkah laku yang hampir sama dan memiliki perasaan yang sama terhadap suatu obyek. Sehingga dapat dijelaskan bahwa pemuda yang memiliki teman baik yang bekerja di bidang pertanian akan memberikan dampak atau pengaruh pada pandangan pemuda tersebut dalam melihat pertanian. Biasanya terdapat pemuda yang diajak temannya untuk sekedar membantu di kebun dan membicarakan informasi–informasi tentang pertanian. Bagi pemuda yang teman– teman dekatnya tidak bekerja di bidang pertanian seperti pedagang, tukang ojek, ataupun pelajar memiliki kecenderungan tidak bersikap positif terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Karena dalam hubungannya mereka jarang membicarakan mengenai pertanian, hal–hal yang dibicarakan antara pemuda yang memiliki teman dekat di luar pertanian adalah masalah-masalah non–pertanian. Teman dapat menjadi agen sosialisasi yang efektif karena teman (peers) pola sosialisasinya lebih bersifat ekuilitas di mana kedudukannya setara atau sederajat Hubungan Persepsi Pemuda terhadap Kondisi di Pedesaan dengan Sikap Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Persepsi terhadap kondisi di pedesaan berkaitan dengan daya dorong (push - out) dan daya tarik (pull-out) merupakan konsep yang berhubungan dengan migrasi dari desa –kota. Bila tanpa melihat atau memperhatikan perpindahan geografi, maka push out dan pull Out terjadi sehubungan dengan jenis pekerjaan, disebut juga mobilitas pekerjaan yang diartikan sebagai perpindahan kerja penduduk dari suatu sektor perekonomian ke sektor lainnya, misalnya dari sektor pertanian ke sektor non pertanian (Suryana dalam Tjakrawati, 1988). Hal ini disebabkan dua hal, pertama bidang pertanian mendorong keluarnya angkatan kerja akibat pertambahan penduduk yang besar tiap tahunnya. Kedua, ada daya tarik bidang non–pertanian yaitu penciptaan lapangan kerja di bidang non–pertanian yang lebih baik dari pada sektor pertanian. Dalam penelitian ini pindah atau tidaknya tenaga kerja pertanian ke sektor non - 90 pertanian dilihat akibat dari kondisi sumberdaya alam, peluang atau kesempatan kerja di pedesaan, dan kondisi pertanian di masa yang akan datang. Persepsi pemuda terhadap faktor penarik dan faktor pendorong akan disajikan pada Tabel 27. Tabel 27. Hubungan antara persepsi pemuda terhadap faktor pendorong di pedesaan dengan sikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian Persepsi Analisis Nilai Korelasi Pemuda Data Dengan Sikap X10. Persepsi Pemuda terhadap Faktor Pendorong di Pedesaan X10.1. Persepsi pemuda terhadap Rank Spearman (rs) 0,181 Kesempatan Kerja di Pedesaan X10.2.Persepsi Pemuda terhadap kondisi Rank Spearman (rs) 0,129 sumberdaya alam di pedesaan X10.2.Persepsi pemuda terhadap Rank Spearman (rs) 0,281* pertanian di masa depan Keterangan: * Berhubungan nyata pada taraf α 0,05 Dari Tabel 27 dapat dilihat bahwa persepsi pemuda terhadap kesempatan kerja di bidang pertanian tidak memiliki hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai hubungan hanya 0,181, nilai korelasi tersebut sangat lemah dan hampir tidak memiliki hubungan atau dengan kata lain persepsi terhadap kesempatan kerja di pedesaan tidak secara nyata berhubungan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Baik pemuda yang berpersepsi bahwa banyak kesempatan kerja di pedesaan maupun pemuda yang berpersepsi kurang banyak kesempatan kerja di pedesaan tidak memberikan perbedaan nyata dalam sikap yang ditunjukkan oleh pemuda. Sama dengan persepsi terhadap kesempatan kerja di pedesaan, persepsi terhadap kondisi sumberdaya alam di pedesaan juga tidak memiliki hubungan nyata dengan sikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Nilai hubungan antara persepsi pemuda terhadap kondisi sumberdaya alam di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian sebesar 0,129 yang berarti persepsi terhadap kondisi sumberdaya alam tidak secara nyata mempengaruhi sikap pemuda. Baik pemuda yang mempersepsikan kondisi sumberdaya alamnya kurang baik maupun pemuda yang berpersepsi baik terhadap kondisi tidak memberikan sikap yang berbeda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Persepsi mengenai pertanian di masa depan berkorelasi dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian dengan nilai hubungan 0,281 yang berhubungan 91 nyata pada taraf α 0,05. Nilai hubungan tersebut menunjukkan bahwa persepsi terhadap pertanian di masa depan memiliki hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Semakin bagus persepsi pemuda mengenai pertanian di masa depan, maka sikap semakin baik terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Hal itu menunjukan bahwa pemuda yang menganggap di masa yang akan datang pertanian semakin baik dan semakin mendapatkan perhatian dari pemerintah baik secara ekonomi maupun secara teknologi akan lebih tertarik untuk kerja di bidang pertanian karena terdapat kepastian bahwa pekerjaan di bidang pertanian tidak lagi sebagai pekerjaan yang dianggap sebelah mata tetapi dilihat sebagai pekerjaan yang menjanjikan bagi para pemuda. Pemuda yang memiliki persepsi baik terhadap pertanian di masa depan merasa yakin bahwa pertanian sektor yang sangat dibutuhkan oleh manusia selama manusia masih hidup sehingga pemuda yakin bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan bidang pertanian mendapatkan perhatian yang lebih baik sehingga lebih menjadi pekerjaan yang menjanjikan bagi para pemuda di masa yang akan datang. Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Sikap merupakan produk dari kegiatan sosialisasi dari agen sosialisasi yang berada disekitar individu (Mar’at, 1981). Pada penelitian ini terdapat beberapa faktor terkait dengan agen sosialisasi yang memiliki hubungan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Dari Tabel 28 dapat dilihat bahwa sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua dalam hal ini adalah tingkat pelibatan pemuda dalam kegiatan pertanian oleh orang tua memiliki nilai korelasi yang terbesar dengan nilai korelasi sebesar 0,683, Nilai korelasi kedua terbesar adalah interaksi dengan teman dalam hal ini adalah kedekatan dengan teman di bidang pertanian dengan nilai korelasi sebesar 0,445, sementara itu Keterdedahan terhadap acara pertanian di televisi memiliki nilai korelasi 0,271. Dapat dilihat bahwa orang tua merupakan agen sosialisasi yang memiliki hubungan terkuat dengan positifnya sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Dari hasil wawancara dengan para pemuda, diakui bahwa ketertarikan mereka untuk bekerja di bidang pertanian dipengaruhi oleh orang tua. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Puspitawati (2009), orang tua sebagai agen sosialisasi primer memegang peranan penting dalam membentuk sikap pemuda karena orang tua 92 merupakan buffer (penyangga) yang dapat memagari adanya pengaruh–pengaruh yang datang dari luar yang sifatnya negatif. Dalam penelitian ini tingkat pelibatan pemuda dalam kegiatan pertanian telah menanamkan dasar fondasi yang kuat kepada pemuda dalam hal budidaya pertanian sayur. Proses sosialisasi ini secara tidak langsung meningkatkan kemampuan pemuda dalam bertani sehingga pada jangka panjang menumbuhkan kecintaan pemuda pada pertanian. Orang tua mewakili suatu konstelasi hubungan yang sangat khusus, peran komunikasi orang tua sebagai pendidik utama anak dijelaskan oleh Popov dan Popov dalam Puspitawati (2009), yaitu sebagai pelindung dan penguasa dalam menegakan peraturan; pemandu dan pembina dalam meningkatkan keterampilan. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Ihromi (1999) bahwa sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua merupakan dasar dalam membentuk kepribadian seseorang dalam dunia umum. Tabel 28. Faktor agen sosialisasi yang berhubungan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian Faktor Analisis Nilai Korelasi Sosialisasi Data Dengan Sikap X7. Sosialisasi Oleh Orang Tua X7.2. Tingkat Pelibatan pemuda dalam Rank Spearman (rs) 0,683** kegiatan pertanian oleh orang tua X8. Keterdedahan Terhadap Media Rank Spearman (rs) 0,271* X8.1.1 Lama Menonton Pertanian di TV X9. Interaksi Dengan Teman Rank Spearman (rs) 0,445** X9.1. Tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian Keterangan: * Berhubungan nyata pada taraf α 0,05 ** Berhubungan sangat nyata pada taraf α 0,01 Sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua tidak harus selalu dalam bentuk komunikasi verbal di mana orang tua berbicara pada anaknya, pada penelitian ini justru sosialisasi yang hubungan dengan pembentukan sikap adalah sosialisasi yang dilakukan secara secara non-verbal yaitu melalui suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama sama (patterned family interaction), kegiatan ini terkategorikan sebagai ritual. Menurut Turner dan West (2005) ritual merupakan proses komunikasi karena menekankan pada perbuatan yang dilakukan bersama–sama, menghargai ”kemagisan (magical), keaslian realitas, keefektivan suatu simbol” dan memiliki makna yang hendak disampaikan dalam hal ini adalah identitas keluarga, lebih spesifiknya lagi adalah identitas sebagai keluarga petani. 93 Peranan penting orang tua dalam kegiatan sosialisasi juga dijelaskan oleh Narwoko dan Suyanto (2004) Keluarga dalam hal ini orang tua merupakan institusi paling berpengaruh dan paling penting dalam proses sosialisasi manusia. Hal ini terjadi karena keluarga merupakan agen sosialisasi primer yang selalu tatap muka di antara anggota keluarganya. Orang tua memiliki kondisi yang lebih tinggi untuk mendidik anak– anaknya, sehingga menumbuhkan hubungan emosional. Konsistensi hubungan sosial antara orang tua dan anak yang terjaga menjadi orang tua memiliki peranan yang penting terhadap proses sosialisasi Ketertarikan Pemuda terhadap Pekerjaan Pertanian di Bidang Pertanian Hortikultura Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa sebagian besar pemuda masih tertarik untuk bekerja di bidang pertanian hortikultura. Temuan ini berbeda dengan temuan pada penelitian lain tentang pemuda dan pertanian yang dilakukan oleh Herlina (2002) di wilayah pertanian perkebunan, Rozany (1999). Herlina (2002) mengatakan bahwa pemuda di wilayah perkebunan sebenarnya mengalami dilema dalam memandang bidang pertanian. Pertanian sebagai usaha secara ekonomis masih cukup menguntungkan tetapi penilaian gengsi sebuah pekerjaan mengalami pergeseran. Pemuda di wilayah perkebunan memiliki orientasi ke arah pekerjaan non pertanian, karena pekerjaan non pertanian dipersepsikan lebih ringan, bersih, dan prospektif. Dihargai sebagai suatu cara untuk mengangkat status sosial dan perasaan lebih “terhormat”. Rozany (1999) dalam penelitiannya di Sumatra Utara, Jawa Barat dan Jawa Timur menemukan bahwa tenaga kerja pemuda, bujang dan terdidik lebih memilih pekerjaan non pertanian karena menjanjikan pendapatan yang relatif lebih tinggi dan dirasa ”terhormat”. Akhirnya sebagai bentuk penolakan terhadap pekerjaan pertanian, banyak angkatan kerja pedesaan yang memilih bermigrasi ke kota. Pilihan pekerjaan yang banyak menjadi sasaran adalah buruh industri atau sektor informal. Keputusan itu selain dilandasi alasan ekonomi, terkandung alasan gengsi mengenai pekerjaan. Secara implisit alasan yang menyebut migrasi sebagai bentuk rasionalisasi terhadap sempitnya peluang kerja di sektor pertanian atau rendahnya pendapatan di sektor ini menjadi tidak relevan. 94 Sementara itu penelitian yang berkaitan dengan pandangan pemuda di wilayah pertanian pangan (padi) dalam melihat pekerjaan di bidang pertanian dilakukan oleh Lubis dan Sutarto (1991), penelitiannya melihat konsistensi pola mata pencaharian antara orang tua dengan anak pada masyarakat petani di Bekasi dan Cianjur menemukan bahwa terdapat konsistensi yang kuat antara pekerjaan utama orang tua dengan pekerjaan anaknya. Berpijak pada beberapa faktor pendorong dan penarik seperti lahan, hubungan sosial, modal, pasar, pola kerja dan aksesibilitas terhadap teknologi, peneliti sampai pada kesimpulan bahwa pekerjaan di bidang pertanian masih memiliki daya tarik bagi pemuda atau dengan kata lain pekerjaan di bidang pertanian masih diminati oleh. Selain pengaruh sosialisasi dalam keluarga, ketertarikan pemuda terhadap bidang pertanian ini mendapatkan dukungan yang kuat dari ketidaksesuaian mental pemuda ketika memasuki dunia kerja di sektor non - pertanian. Berbeda dengan penelitian tentang pemuda yang telah dilakukan sebelumnya di wilayah pertanian sawah, dan perkebunan. Penelitian ini dilkukan di wilayah pertanian hortikultura (sayuran) yang merupakan high value comodity. Maka selain faktor–faktor sosialisasi oleh agen sosialisasi, terdapat beberapa faktor yang diduga menjadi pertimbangan kenapa pemuda yang berasal dari wilayah hortikultura (sayur) masih tertarik untuk bekerja di bidang pertanian pertanian. Fenomena masih banyaknya pemuda bergerak di bidang pertanian hortikultura Faktor–faktor ini tertangkap melalui penjelasan yang dijelaskan oleh petani, penyuluh, dan ketua gapoktan. Menurut penuturan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang bertanggung jawab untuk wilayah Kecamatan Pacet dan Ketua Gapoktan Multi Tani Jaya Giri, pertanian hortikultura memiliki kecenderungan untuk diminati oleh pemuda dibandingkan dengan pertanian pangan (padi) dan perkebunan. Hal ini dapat dilihat dari 4 (empat) hal, yaitu (1) Waktu produksi, dilihat waktu produksi, komoditas pertanian hortikultura (sayuran) memiliki waktu panen yang lebih cepat, bervariasi dari mulai 30 hari–90 hari tergantung komoditasnya, sementara itu pertanian pangan (padi) memiliki waktu yang relatif lebih lama, yaitu 120–140 hari tergantung varietas padi. (2). Rotasi tanam, untuk tanaman hortikultura sangat dianjurkan untuk menerapkan sistem rotasi tanam, karena dari segi hama dan penyakit metode rotasi tanam ini merupakan metode untuk memutus perkembangan hama dan penyakit yang berasal dari tanah. Dari segi ekonomi rotasi tanam tersebut merupakan peluang tersendiri bagi para petani untuk 95 dapat mendiversifikasi komoditas pertanian mereka, yang mana memberikan kesempatan bagi petani untuk menanam komoditas hortikultura yang harga di pasarnya sedang bagus atau tinggi. (3) Mobilitas petani, petani sayuran memiliki mobilitas yang sangat tinggi, mereka keluar dari rumah untuk pergi ke kebun sehabis solat subuh, dan kembali ke rumah setelah pukul 12, dan biasanya ada petani yang kembali ke kebun untuk melakukan pemeriksaan terhadap tanaman sayur mereka, bahkan ketika turun hujan malam hari para petani harus kembali ke kebun untuk menutup tanaman sayur mereka agar tidak terkena air terlalu banyak, berbeda dengan petani padi yang baru berangkat pukul 8 pagi dan jam 11 terkadang sudah kembali ke rumah. Mobilitas petani sayuran yang tinggi menyebabkan petani sayur tidak bisa mencari sumber pendapatan lain berbeda dengan padi yang tidak sepadat petani sayur menyebabkan banyak petani padi mencari pekerjaan lain di waktu kosong mereka (diversifikasi sumber income) di bidang sektor non pertanian. (4) Konsep uang tunai (cash money), konsep ini erat kaitannya dengan masa tanam, tanaman sayuran memiliki masa tanam yang relatif cepat dibandingkan dengan pertanian padi sehingga petani sayur lebih cepat mendapatkan bayaran akan komoditas yang dijualnya, dibandingkan dengan petani padi. Sehingga dalam pemenuhan kebutuhannya petani sayuran tidak perlu banyak berhutang berbeda dengan petani padi yang banyak berhutang karena perputaran uang mereka lama. Secara rasional penyuluh dan ketua Gapoktan juga mengakui bahwa tanaman hortikulura masih memiliki nilai ekonomi yang lebih baik dari pertanian perkebunan maupun tanaman pangan. Sehingga pertimbangan ekonomi tidak bisa dilepaskan dalam memilih sektor pekerjaan. Jika ditinjau dari segi kelembagaan, di Kecamatan Pacet terdapat Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang anggotanya mayoritas merupakan pemuda. Ketua Gapoktan usianya masih terbilang muda (30 tahun), selain itu gapoktan tersebut memiliki kegiatan khusus yang diikuti para pemuda antara lain tahlilan (pertemuan setiap malam jum’at) dan setelah Solat jum’at sekitar pukul 14.00. Pada pertemuan tersebut tidak ada satu petani–petani senior yang ikut dalam rapat tersebut, tujuan yang diharapkan oleh ketua kelompok tani tersebut adalah para pemuda bisa mengembangkan kreativitasnya tanpa harus takut pendapatnya ditentang oleh petani senior. Tingginya minat pemuda untuk bekerja di pertanian juga dikarenakan pemerintah dalam hal ini penyuluh lapang rutin hampir setiap minggu datang untuk sekedar melihat kebun–kebun 96 petani dan sering memberikan penjelasan–penjelasan seputar pertanian sayur di sekretariat milik Gapoktan. Pertanian di wilayah Kecamatan Pacet masih menjadi daya tarik bagi investor–investor besar untuk mengembangkan wilayah tersebut menjadi sentra agribisnis sayuran. Gapoktan di Kecamatan Pacet menjalin kerja sama dengan pihak swasta untuk mengembangkan Green House untuk pembibitan paprika. Diakui oleh pihak Gapoktan, banyak sekali program–program yang diberikan oleh pemerintah (baik pusat maupun daerah) seperti Sekolah Lapang (SL), Penumbuhan Regu Pengendalian Hama Penyakit (RPHT). Tidak hanya dari pemerintah, terdapat juga investor yang mau mengembangkan usaha agribisnis seperti Bank Jabar yang hendak melakukan pembiayaan khususnya untuk penangkaran bibit dan untuk budidaya kentang. Banyaknya perhatian dari pemerintah dan swasta menjadi alasan kenapa pertanian masih sangat menjanjikan bagi para pemuda tani tersebut. Faktor lain dapat menjelaskan ketertarikan pemuda terhadap bidang pertanian adalah kondisi alam dari Kecamatan Pacet yang sangat mendukung untuk perkembangan agribisnis sayuran. Kabupaten Cianjur merupakan salah satu dari 7 (Tujuh) kota/kabupaten yang merupakan sentra produksi tanaman sayur di Jawa Barat.
Dokumen baru
Dokumen yang terkait

Correlation between Parents, Mass Media, and..

Gratis

Feedback