Feedback

Correlation between Parents, Mass Media, and Peers with Youth Attitude Towards Agricultural Livelihood (Case: Agricultural Youth in Subdistrict of Pacet, District of Cianjur).

Informasi dokumen
HUBUNGAN ORANG TUA, MEDIA MASSA, DAN TEMAN DENGAN SIKAP PEMUDA TERHADAP PEKERJAAN DI BIDANG PERTANIAN (Kasus Pemuda di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur) YOGAPRASTA ADI NUGRAHA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Hubungan Orang Tua, Media Massa, dan Teman dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian: Kasus Pemuda di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani,” adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Januari 2012 Yogaprasta Adi Nugraha NRP I 352 090061 ABSTRACT YOGAPRASTA ADI NUGRAHA. Correlation between Parents, Mass Media, and Peers with Youth Attitude Towards Agricultural Livelihood (Case: Agricultural Youth in Subdistrict of Pacet, District of Cianjur). Supervised by SARWITITI S. AGUNG (Chairperson) and DJOKO SUSANTO (Members). The study about youth attitude was conducted in order to identify about kinds of behavior that would be performed by the youth towards agricultural livelihood. By identifying their attitude, people could be able to estimate response from youth about agricultural livelihood. The objectives of this study were: 1). To identify youth attitude towards agricultural activities. 2). To identify internal characteristics of youth, socialization from parents, mass media exposure, and interaction with peers. 3). To analyze the correlations between internal factors and youth attitude towards agricultural livelihood. 4). To analyze the correlations between socialization from parents, mass media exposure, and interaction with peers with youth attitude towards agricultural livelihood. 5). To analyze the correlations between perception toward rural condition and youth attitude towards agricultural livelihood. A number of 65 respondents were taken as sample. This study resulted several important outputs namely, 1). Majority of youth supported and agreed to work at agricultural setting 2). Majority of the youth were categorized late adolescence, low level of education, their parents were owner of their own farmland, low level in farmland mastery, low level in cosmopolite, low frequency from parents on telling about agriculture, average level on youth involvement in helping parents in farming activities, low frequency on mass media exposure, less than 20 minutes in every opportunity of watching television and also listening radio, low interaction with peers on agricultural sector, and good perception toward rural condition 3). There were several variables correlated to youth attitude towards agricultural livelihood i.e. age, gender, youth involvement in helping parents in farming activities, intensity on watching television, closeness with peers, and perception towards further condition of agricultural development. Keywords: Youth, Attitude, Agricultural Livelihood, Parents, Peers, Mass Media RINGKASAN YOGAPRASTA ADINUGRAHA. Hubungan Orang Tua, Media Massa, dan Teman dengan Sikap Pemuda Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian: Kasus Pemuda Tani di Desa Sukatani dan Desa Cipendawa, Kabupaten Cianjur. Dibimbing Oleh Sarwititi S. Agung dan Djoko Susanto. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian hortikultura, (2) Mengindentifikasi karakteristik individu pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio,) dan interaksi dengan teman dari bidang pertanian dalam menyosialisasikan pekerjaan di bidang pertanian. (3) Menganalisis hubungan karakteristik pemuda dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura, (4) Menganalisis hubungan Sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman dari bidang pertanian dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian hortikultura, dan (5) Menganalisis hubungan persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Deskriptif – Korelasional, dengan metode pengambilan sampel secara cluster. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukatani dan Desa Cipendawa di Kecamatan Pacet. 65 orang pemuda yang berumur 13 – 24 tahun, belum menikah, dan orang tuanya merupakan petani dijadikan responden dalam penelitian ini. Analisis data menggunakan analisis data, Rank Spearman, dan Koefisien Kontingensi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Sebagian besar pemuda (66,15%) sikapnya setuju untuk bekerja di bidang pertanian., (2) Mayoritas pemuda yang terkategorikan sebagai dewasa awal, merupakan lulusan SD, merupakan pemilik lahan pertanian yang mereka kelola, dengan luas lahan kurang dari 0,25ha, sebagian besar pemuda tani tingkat kekosmopolitannya rendah, frekuensi orang tua bercerita mengenai pertanian tergolong rendah, tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua dalam bidang pertanian terkategorikan sedang, frekuensi menonton acara pertaniannya rendah, intensitas untuk sekali menonton acara pertanian kurang dari 20 menit, frekuensi mendengarkan radio acara pertanian juga rendah, intensitas pemuda mendengarkan radio kurang dari 20 menit, tingkat kedekatan dengan teman dari bidang pertanian terkategorikan rendah. Sebagian besar pemuda menilai bahwa terdapat banyak kesempatan kerja di pedesaan, sumberdaya alam di desa juga memiliki kondisi yang sangat baik, dan melihat di masa depan akan membaik, (3) Pada karakteristik internal pemuda, umur dan jenis kelamin mempunyai hubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Semakin dewasa umur seorang pemuda maka sikapnya terhadap pekerjaan di bidang pertanian semakin membaik, (4) Tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua di bidang pertanian, lama menonton acara pertanian, dan tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian berhubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian, (5) Persepsi pemuda terhadap pertanian di masa depan berhubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian © Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2012 Hak cipta dilindungi Undang-Undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penyusunan kritik atau tujuan suatu masalah b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB HUBUNGAN ORANG TUA, MEDIA MASSA, DAN TEMAN DENGAN SIKAP PEMUDA TERHADAP PEKERJAAN DI BIDANG PERTANIAN (Kasus Pemuda di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur) YOGAPRASTA ADI NUGRAHA Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS Judul Tesis Nama Mahasiswa NRP : Hubungan Orang Tua, Media Massa, dan Teman dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian (Kasus Pemuda di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur) : Yogaprasta Adi Nugraha : I352090061 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Sarwititi S. Agung, MS Ketua Prof. (Ris). Dr. Djoko Susanto, SKM. Anggota Diketahui Koordinator Mayor Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr Tanggal Ujian: 27 Desember 2011 Tanggal Lulus : PRAKATA Puji dan Syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Lindungan, dan Kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul ”Hubungan orang tua, media massa, dan teman dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian” disusun sebagai salah satu syarat bagi mahasiswa Sekolah Pascasarjana pada Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (KMP) untuk memperoleh gelar Magister Sains. Penelitian dan Penyusunan tesis ini dapat diselesaikan atas bantuan dari semua pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Komisi Pembimbing yaitu Dr. Ir. Sarwititi S. Agung, M.S (Ketua) dan Prof. (Ris). Dr. Djoko Susanto, SKM (anggota) atas bimbingan, masukan dan sarannya mulai dari penyususan proposal, pelaksanaan penelitian hingga penyusunan tesis ini. 2. Komisi Penguji, Bapak Dr. Ir. Djuara P. Lubis, M.S yang telah memberikan saran dan kritik berkaitan dengan penyempurnaan tesis ini. 3. Seluruh staf pengajar yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis, serta staf administrasi di Mayor Komunikasi Pembangunan Pertanian. 4. Kepala Desa Sukatani dan Desa Cipendawa, Pengelola Gapoktan Multi Tani Jaya Giri Bapak Suhendar, Kang Iliyudin, Kang Didin, Kang Dilla, dan Pak Abdul Sidik (PPL) yang telah memberikan masukan – masukan dan membantu menemani mencari pemuda di Desa Cipendawa dan Sukatani. 5. Orang tua penulis Ibu Ir. Nina Ratna Dewi dan Bapak Ir. Duto Nugroho, M.Si, kakak dan adik Aditya Pandu Nugraha S.P dan Isya Trihusada Nugraha, S.Pd, yang senantiasa memberikan kasih sayang dan dukungan atas pengerjaan tesis ini. 6. Cita Septiviani, S.P sebagai orang yang senantiasa memberikan motivasi dan dukungan dalam pengerjaan tesis ini 7. Teman seperjuangan satu bimbingan (Dini Valdiani, S.Sos, Leonard Dharmawan, S.P, Rofiah. S.Ag, Dwi Retno Hapsari, S.P, dan Rahmah Awaliah S.P) 8. Teman-teman KMP S2 2009 (Mas Sardi, Mba Cindo, Bu Susy, Bu Asma, Mas Sigit, Mas Denta, Mba Imani Satriani) atas diskusinya, dukungan, persahabatan dan persaudaraan serta kebersamaannya. Serta KMP S3 2008, 2009, 2010 (Ibu Retno, Pak Tri, Mba Ilona, Bu Siti, Bu Ernita, Bu Eni Kardi, Pak Iwan, Ibu Rita, Pak Edi, Bu Riko, Mba Dyah, Pak Djoko, Ibu Rita, Mba Serly, Pak Zul) atas diskusinya, dukungan yang telah diberikan. 9. Teman – teman yang sampai saat ini masih memberikan motivasi dan dukungan: Agi Rihardian, Faith Ahmad, S.E., Fani A. Putra, S.Krim., Putra Fajar Pratama, S.P. M.M. 10. Tim Sahabat Peneliti (Ivan Triharto, Imam Heriyo, Sonny, Ucok, dan Reisya Mulyadi). Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan laporan ini. Oleh karena itu dengan segala keterbukaan saran dan kritik tetap diharapkan guna kesempurnaan laporan penelitian ini. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin. Bogor, Januari 2012 Yogaprasta Adi Nugraha RIWAYAT HIDUP Penulis bernama lengkap Yogaprasta Adinugraha. Lahir di Ungaran Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 7 Desember 1985, sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, putra dari Bapak Ir. Duto Nugroho, M.Si., dan Ibu Ir. Nina Ratna Dewi. Penulis menyelesaikan pendidikan di TK Sempur pada tahun 1992, kemudian melanjutkan ke SDN Sempur Kaler dan tamat pada tahun 1998, penulis menamatkan pendidikan di SLTPN 3 Bogor pada tahun 2001 dan untuk jenjang Sekolah Menengah Atas penulis selesaikan di SMUN 2 Bogor pada tahun 2004. Penulis berhasil masuk ke Institut Pertanian Bogor pada tahun 2004 melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB atau yang lebih dikenal dengan sebutan USMI, dan diterima pada pilihan pertama Program Studi Sosial Ekonomi Industri Peternakan, Departemen Sosial Ekonomi Peternakan, Fakultas Peternakan. Selama menduduki bangku kuliah penulis pernah menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Ilmu Penyuluhan selama satu semester, penulis juga aktif mengikuti beberapa kegiatan kepanitiaan dan ikut serta dalam organisasi kemahasiswaan. Penulis pada tahun 2005/2006 sempat menjabat sebagai Kepala Departemen Komunikasi dan Informasi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Peternakan (BEM-D), di tahun yang sama penulis juga menjadi anggota Departemen Informasi dan Komunikasi HIMASEIP, pada tahun berikutnya yaitu pada tahun 2006/2007 penulis menjabat sebagai Kepala Departemen Informasi dan Komunikasi HIMASEIP. Besarnya hobi dalam Olahraga Basket membuat penulis bergabung dengan Tim Basket SEIP dan sempat meraih gelar juara ketiga pada tahun 2004/2005 dan berhasil meraih gelar juara pertama pada tahun 2005/2006. Pada tahun 2008 – 2009 penulis pernah bekerja di Universitas Terbuka Sebagai Associate Researcher Wakil Rektor 4, semenjak tahun 2009 sampai sekarang penulis bekerja sebagai pendiri usaha Sahabat Peneliti. Penulis pada tahun 2009 diterima menjadi mahasiswa pascasarjana Mayor Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ................................................. .......................................... vii DAFTAR GAMBAR ............................................. .......................................... viii \DAFTAR LAMPIRAN................................................................................. ...... ix PENDAHULUAN ............................................................................................ 1 Latar Belakang........................................................................................... Perumusan Masalah........................................................................ Tujuan Penelitian............... ............................................................ Manfaat Penelitian........... ............................................................. 1 6 7 8 TINJAUAN PUSTAKA............. ....................................................................... 9 Sikap.............................................................................................................. Sistem Ekologi Manusia................................................................................ Keluarga....................................................................................................... Sosialisasi............ ..................................................................................... Nilai dan Pandangan terhadap Pertanian .................................................. Sikap terhadap Pekerjaan Pertanian ......................................................... Pemuda......................................................................................................... 9 15 17 18 25 26 28 KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS...... ............................................. Kerangka Berpikir .................................................................................. Hipotesis................ .................................................................................. 33 33 38 METODE PENELITIAN............. .......................................................................... 39 Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................... Desain Penelitian .................................................................................... Populasi dan Sampel ............................................................................... Data dan Instrumentasi ............................................................................ Validitas dan Reliabilitas ......................................................................... Analisis Data .......... ................................................................................. Definisi Operasional ................................................................................ 39 39 40 42 42 45 46 HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................................... 53 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ...................................................... Karakteristik Internal Pemuda ............................................................... Peran Agen Sosialisasi .......................................................................... Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ......................... 53 63 67 75 Hubungan antara Karakteristik Internal pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................ 79 Hubungan antara Umur Pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................ 79 Hubungan antara Tngkat Pendidikan Pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................ 81 Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................ 81 Hubungan antara Status Kepemilikan Lahan Orang tua Pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ............ 83 Hubungan antara Luas Lahan Pertanian dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................ 83 Hubungan antara Tingkat Kekosmopolitan Pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................ 84 Hubungan Sosialisasi oleh Orang Tua, Keterdedahan Media dan Interaksi dengan Teman dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian....................................................................................................... 84 Hubungan Persepsi Pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian .............................................................. 89 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................ 91 Ketertarikan Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian Hortikultura .......................................... 93 KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................................... 97 Kesimpulan........... ................................................................................. Saran........................ .............................................................................. 97 97 DAFTAR PUSTAKA................... ..................................................................... . 97 LAMPIRAN....................................................................................................... . 102 DAFTAR TABEL No. Halaman 1. Tahapan dalam rentang kehidupan........................................................... 30 2. Jumlah pemuda dan proporsi pemuda di dunia............................................... 31 3. Batas wilayah Desa Cipendawa dan Desa Sukatani........................................ 53 4. Luas wilayah menurut penggunaan lahan................................................... . 54 5. Kondisi demografi Desa Cipendawa dan Desa Sukatani.............................. . 55 6. Pemilikan lahan pertanian............................................................................ . 57 7. Sebaran umur pemuda.................................................................................. . 63 8. Sebaran tingkat pendidikan pemuda............................................................ . 64 9. Sebaran jenis kelamin pemuda..................................................................... . 64 10. Sebaran status kepemilikan lahan orang tua.......................................... . 65 11. Sebaran luas lahan pertanian sayuran yang di garap orang tua............. . 65 12. Sebaran tingkat kekosmopolitan pemuda.................................................... . 66 13. Frekuensi orang tua membicarakan pertanian............................................ . 67 14. Tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua ...................................................... 68 15. Frekuensi pemuda menonton acara pertanian ............................................. .. 69 16. Intensitas menonton acara pertanian............................................................ . 70 17. Frekuensi mendengarkan acara pertanian di radio.......................................... 70 18. Intensitas mendengarkan acara pertanian………………................................ 71 19. Tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian............................... . 72 20. Persepsi terhadap kesempatan kerja di desa................................................ . 73 21. Persepsi terhadap kondisi sumberdaya alam di desa.................................. . 74 22. Persepsi terhadap pertanian di masa yang akan datang............................... . 75 23. Sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian................................ . 76 24. Sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian (per indikator)....... . 78 25. Hubungan antara karakteristik internal pemuda dengan sikap terhadap pekerjaan di Bidang Pertanian...................................................................... . 79 26. Hubungan antara sosialisasi oleh orang tua, teman, dan keterdedahan terhadap media dengan sikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian........ . 85 27. Hubungan antara persepsi pemuda terhadap faktor pendorong di pedesaan dengan sikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian ................................. ............. 90 28. Faktor agen sosialisasi yang berhubungan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian ...................................................................... 92 DAFTAR GAMBAR No Halaman 1. Model sistem ekologi dalam proses sosialisasi................................... 34 2. Kerangka berpikir hubungan orang tua, media massa, dan teman dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian ..................... 37 Kerangka penarikan sampel ................................................................ 41 3. DAFTAR LAMPIRAN No Halaman 1. Kuesioner Penelitian ................. ... .............................................................. 103 2. Foto – foto .................................. ... .............................................................. 111 3. Hasil olah data SPSS .......................... ........................................................ 113 PENDAHULUAN Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu sektor unggulan yang berkontribusi sebesar 15,3 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2009. Pertimbangan lain yang menguatkan bahwa sektor pertanian menjadi sektor unggulan di Indonesia ketika ekspor produk non-pertanian mengalami penurunan, ekspor produk pertanian justru mengalami peningkatan tajam. Berangkat dari pertimbangan–pertimbangan itulah sektor pertanian patut dipertimbangkan sebagai alternatif andalan pembangunan ekonomi nasional menggantikan sektor industri (high tech industry) yang telah terbukti tidak sesuai untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan (Syam dan Dermoredjo, 2000). Daryanto (2009) juga mengatakan bahwa sektor pertanian telah terbukti memiliki peranan penting bagi pembangunan perekonomian suatu bangsa. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya berperan dalam pembentukan PDB, penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan perolehan devisa. Peranan sektor pertanian juga dapat dilihat secara lebih komprehensif, antara lain: (a) sebagai penyediaan pangan masyarakat sehingga mampu berperan secara strategis dalam penciptaan ketahanan pangan nasional (food security) yang erat kaitannya dengan ketahanan sosial (socio security), stabilitas ekonomi, politik dan ketahanan nasional (nasional security); (b) sektor pertanian menghasilkan bahan baku untuk peningkatan sektor industri dan jasa; (c) sektor pertanian dapat menghasilkan atau menghemat devisa yang berasal dari ekspor atau produk substitusi impor; (d) sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi produk sektor industri; (e) transfer surplus tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi, dan (f) sektor pertanian mampu menyediakan modal bagi pengembangan sektor–sektor lain; (g) peran pertanian dalam penyediaan jasa – jasa lingkungan. Dalam rangka menjadikan dan mendukung sektor pertanian sebagai sektor unggulan yang menjadi dasar pembangunan ekonomi negara Indonesia maka pertanian sangat dipengaruhi oleh 2 (dua) aspek atau faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian, yaitu sumberdaya alam (SDA) dan sumberdaya manusia (SDM) yang menunjang sektor pertanian secara komprehensif dan berkelanjutan. Sumberdaya alam merupakan peubah yang sifatnya naturally given, sementara itu sumberdaya 2 manusia merupakan subyek atau pelaku pertanian bumi ini yang dapat menjalankan kegiatan pertanian atau dengan kata lain manusia merupakan motor dari berhasil atau tidaknya suatu kegiatan pertanian. Sumberdaya manusia diharapkan bisa sebagai fasilitator, motor, motivator dan dinamisator pembangunan pertanian agar terjadi gerakan pembangunan pertanian. Sumberdaya manusia merupakan salah satu faktor penentu dalam program pembangunan dari segala bidang. Kondisi SDM pertanian Indonesia saat ini termasuk rendah, khususnya petani yang antara lain bercirikan tingkat pendidikan yang tergolong relatif rendah. Menurut data BPS 2010 terdapat tenaga kerja petani sebanyak 41,49 juta orang orang atau 40 persen dari jumlah tenaga kerja nasional (Deptan, 2005). Fakta mengkhawatirkan yang tidak bisa dilepaskan juga dari SDM petani di Indonesia adalah sebanyak 35,5 persen tenaga kerja petani memiliki pendidikan tidak tamat SD, sedangkan yang tamat SD sebanyak 46,2 persen, sementara itu untuk petani yang memiliki pendidikan terakhir SLTP terdapat sebesar 12,8 persen dan SLTA sebesar 5,2 persen. Ironisnya orang yang berkerja di bidang pertanian yang berasal dari lulusan perguruan tinggi hanya sebesar 0,3 persen. Kondisi ini diperparah lagi dengan rendahnya minat generasi muda untuk memasuki jalur pendidikan formal di bidang pertanian yang ditandai dengan rendahnya tingkat pendaftaran pada Sekolah Pertanian Tingkat Menengah maupun Tingkat Perguruan Tinggi pertanian (Deptan, 2005). Persoalan ini akan menjadi masalah serius di masa yang akan datang apabila tidak diantisipasi dengan baik oleh pemerintah. Secara tidak langsung jika dilihat dari tingkat pendidikan yang dimiliki petani di Indonesia, menunjukan bahwa banyak petani yang bekerja tidak well-educated sehingga akan berperan terhadap keterbatasan daya pikir, wawasan, dan kreativitas para petani dalam menghadapi persoalan–persoalan di bidang pertanian. Kondisi sebagian besar petani berpendidikan tidak tamat SD dan tamat SD sebanyak 81,7 persen, hal ini menjadi masalah yang patut dicermati secara mendalam dan serius. Masalah tidak selesai pada itu saja, hasil survei Badan Pengembangan SDM Pertanian Kementrian Pertanian dalam Deptan (2005) menunjukkan bahwa 70 persen dari petani di Indonesia telah berumur di atas 50 tahun. Melalui data tersebut dapat dilihat bahwa minat pemuda bekerja di sektor pertanian memiliki tendensi menurun. Rendahnya partisipasi pemuda pada sektor pertanian merupakan permasalahan yang 3 sangat mendasar yang dapat berakibat pada hilangnya generasi (lost of generation) penerus di bidang pertanian pada masa yang akan datang. Banyak pemuda yang berasal dari keluarga petani yang justru tidak bekerja di bidang pertanian, mereka lebih memilih sektor lain selain bidang pertanian (non-pertanian), dan yang lebih ironis banyak pemuda yang berasal dari wilayah sentra pertanian justru memilih keluar bidang pertanian. Terdapat pula citra pertanian yang lebih diidentikkan sebagai pekerjaan kotor dan tidak mendatangkan keuntungan atau benefit secara cepat. Pertanian yang berkualitas, maju dan berkelanjutan tidak dapat dilepaskan sumberdaya manusia yang berkualitas. Peranan agen–agen pembangunan dalam mencitrakan pertanian secara baik kepada pemuda sangat penting dalam rangkat menjaga agar pemuda tetap bertahan di bidang pertanian. Perilaku pemuda pedesaan yang bertahan maupun yang keluar dari bidang pertanian tidak terlepas dari adanya pengaruh dari kebijakan–kebijakan pemerintah yang sifatnya membangun (generating knowledge) dan memberikan harapan yang positif kepada para pemuda. Akan tetapi ketidaktertarikan maupun ketertarikan pemuda untuk bekerja di bidang pertanian tidak semata–mata menjadi tanggung jawab pemerintah, karena pembentukkan perilaku tidak dapat dilepaskan dari pengaruh sistem–sistem terdekat yang berada di sekitar pemuda yang terbentuk melalui suatu proses sosialisasi dari agen–agen terdekat dengan pemuda (mikro level), karena bagaimana pun gencarnya komunikasi yang dilakukan oleh agen– agen pembangunan dalam rangka merubah perilaku pemuda, selama lingkungan sekitar pemuda tidak sejalan maka akan sulit merubah sikap ataupun perilaku pemuda tersebut. Tinggi rendahnya partisipasi pemuda di bidang pertanian diawali dari sikap pemuda terhadap pertanian itu sendiri, sementara itu salah satu faktor yang sangat penting dalam membentuk sikap adalah sosialisasi, seperti yang dikatakan oleh Mar’at (1981) sikap merupakan buah atau hasil dari sosialisasi. Berangkat dari pemahaman yang disebutkan oleh Mar’at (1981), maka sikap pemuda yang berada di wilayah pertanian sebenarnya terbentuk melalui sosialisasi yang berasal dari dalam (mikro) orang tua, teman (peers), dan media massa (mass media). Sosialisasi tersebut dilakukan dalam proses komunikasi yang terjadi sehari–hari yang dijalani oleh pemuda tersebut. Orang tua, teman, dan media massa (radio, televisi) merupakan komponen atau unit terkecil dalam suatu sistem sosial yang berhubungan langsung dengan pembentukkan karakter suatu individu (mikro level) oleh karena itu pengaruh ketiga aspek tersebut 4 sangat berperan penting dalam menentukan kualitas pembentukkan kepribadian pemuda. Sosialisasi oleh orang tua merupakan aspek penting karena setiap anggota keluarga terikat satu sama lain melalui proses komunikasi. Keluarga mengembangkan serangkaian pesan, perilaku dan harapan tertentu melalui proses komunikasi (Suleeman, 1990). Ketika berbicara mengenai keluarga, maka akan berbicara mengenai keluarga sebagai sebuah sistem yang terdiri dari subsistem–subsistem yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Penelitian mengenai pemuda dan pertanian telah dilakukan sebelumnya oleh Lubis dan Sutarto (1991), Pranadji (1999), Rozany (1999), Herlina (2002). Pada penelitian yang dilakukan oleh Pranadji, Rozany, dan Herlina ditemukan fakta bahwa pemuda kurang tertarik untuk bekerja di bidang pertanian dikarena beberapa hal yaitu: pekerjaan di bidang pertanian kurang menjanjikan dari segi ekonomi, kurang”terhormat”, merupakan pekerjaan yang kotor, melelahkan, dan tidak bergengsi. Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Lubis dan Sutarto (1991) menghasilkan temuan yang berbeda dari penelitian–penelitian lainnya, ada konsistensi yang kuat antara pekerjaan utama orang tua dengan pekerjaan anaknya. Berpijak pada beberapa faktor pendorong dan penarik seperti lahan, hubungan sosial, modal, pasar, pola kerja dan aksesibilitas terhadap teknologi, peneliti sampai pada kesimpulan bahwa nilai pertanian masih memiliki daya tarik bagi pemuda. Selain pengaruh sosialisasi dalam keluarga ketertarikan ini mendapatkan dukungan yang kuat dari ketidaksesuaian mental pemuda ketika memasuki dunia kerja di sektor pertanian. Penelitian yang dilakukan oleh Rozany, Pranadji, Lubis dan Sutarto dilakukan di wilayah pertanian tanaman pangan, sementara penelitian Herlina dilakukan di wilayah perkebunan, sementara pada penelitian ini dilakukan di wilayah pertanian hortikultura (sayuran). Pertimbangan pemilihan komoditas hortikultura karena hortikultura memiliki perbedaan dengan komoditas pertanian lainnya seperti tanaman pangan dan tanaman perkebunan. Komoditas hortikultura merupakan komoditas komersial (high value commodity) yang memiliki nilai ekonomi yang cenderung masih tinggi dibandingkan dengan tanaman pangan maupun perkebunan (Saptana et al., 2006), selain hal itu produksi tanaman hortikultura (sayur dan buah-buahan) masih belum mampu memenuhi permintaan masyarakat akan kebutuhan sayuran dan buah–buahan masyarakat. Pertimbangan – pertimbangan tersebut menjadi dasar bahwa minat pemuda di bidang 5 pertanian hortikultura kemungkinan akan berbeda dengan minat pemuda dari bidang pertanian pangan maupun perkebunan. Penelitian yang dilakukan Herlina, Rozany, Pranadji, Lubis dan Sutarto tidak melihat bagaimana ekologi membentuk sikap seorang pemuda, tetapi melihat faktor– faktor yang menyebabkan migrasinya pemuda dari bidang pertanian ke bidang nonpertanian, sementara penelitian mengenai sosialisasi yang dilakukan oleh agen–agen sosialisasi (orang tua, media massa, dan teman) dalam membentuk sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana sosialisasi terkait dengan bidang pertanian dalam keluarga, sosialisasi pertanian dengan sesama teman dan media massa ini dapat memberikan pengaruh terhadap sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Rendahnya partisipasi pemuda di bidang pertanian bisa jadi mungkin karena terdapat rendahnya penerusan nilai-nilai pertanian dari orang tua, teman dan media massa yang semakin tidak mendukung pemuda di wilayah pertanian untuk bekerja di sektor pertanian. Interaksi dengan orang tua, teman dan media massa (konteks mikro) sangat memegang peranan penting dalam mempengaruhi proses sosialisasi nilai–nilai dalam suatu keluarga termasuk dalam menentukan pekerjaan mereka. Tidak dapat dipungkiri pada tataran mikro pergeseran nilai kerja pemuda di pedesaan tidak terlepas dari peranan keluarga dan masyarakat. Budaya pedesaan kerap membuat proses pengambilan keputusan seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik, sosial, dan ekonomi, konteks ini menyoroti otonomi pribadi atau nilai subyektivitas sebagai faktor paling dominan dalam proses pengambilan keputusan seseorang Herlina (2002). Perumusan Masalah Pertanian menjadi salah satu sektor unggulan di Indonesia, tetapi akhir– akhir ini sektor pertanian mengalami berbagai permasalahan. Dewasa ini terdapat indikasi bahwa pertanian sering dianggap sebagai pekerjaan kotor yang tidak menjanjikan (Muksin, 2007), tetapi terdapat pula orang yang beranggapan petani sebagai pekerjaan yang menjanjikan, perbedaan sikap tersebut yang kemudian berdampak kepada cara pandang petani terhadap pertanian itu sediri sehingga ditenggarai mempengaruhi pertisipasi pemuda di bidang pertanian. Menurut data dari Badan Pengembangan SDM Pertanian Deptan dalam Renstra (2005-2009) menunjukkan bahwa 70 persen dari petani di Indonesia telah berumur di atas 50 tahun (Deptan, 2005). 6 Hal tersebut mengindikasikan pertanian di Indonesia mulai ditinggalkan pemuda. Tidak sedikit pemuda yang berasal dari keluarga petani mulai meninggalkan pertanian dan lebih memilih sektor non-pertanian, tetapi bukan berarti tidak ada pemuda yang berasal dari keluarga petani yang terus bekerja di bidang pertanian. Kurangnya minat angkatan kerja muda untuk bekerja dan berusaha di sektor pertanian menjadi salah satu kekhwatiran dalam pembangunan sektor ini. Sebagai negara agraris yang meletakan pembangunan perekonomian pada pertanian, dalam jangka pendek maupun jangka panjang fenomena rendahnya minat pemuda akan membawa konsekuensi tersendiri. Kelangkaan sumberdaya manusia di sektor pertanian atau keterlibatan sebagian besar tenaga kerja pertanian yang setengah terpaksa akibat tidak terbukanya alternatif lain, mengakibatkan proses produksi tidak optimal. Produktivitas tenaga kerja mengalami hal yang sama. Hal ini akan menghambat perkembangan pembangunan itu sendiri, tetapi masih terdapat pula pemuda yang berasal dari keluarga pertanian yang tetap bekerja di bidang pertanian dan tidak memilih bidang di luar sektor pertanian. Artinya terdapat perbedaan sikap pemuda dalam memandang sektor pertanian sebagai pekerjaan masa depan. Pengaruh dari orang tua. teman, dan media massa akan sangat menentukan cara berpikir, bersikap, dan berperilaku seorang. Sikap pemuda terhadap pertanian akan dipengaruhi melalui tiga aspek besar yaitu aspek mikro (orang tua, teman dan media massa), aspek meso (lingkungan sekitar), dan aspek makro (Brofenbrenner dalam Puspitawati 2006). Penelitian ini hanya melihat aspek mikro (orang tua, teman, dan media massa) dalam memberikan pengaruh terhadap sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian . Penelitian mengenai hubungan orang tua, teman, dan media massa terhadap sikap pemuda terhadap pertanian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana orang tua, media massa, dan teman dalam menyosialisasikan pertanian, dan apakah sosialisasi pada tataran keluarga, teman dan media massa secara nyata dapat mempengaruhi sikap pemuda terhadap pertanian. Berangkat dari uraian tersebut maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura? 2. Bagaimanakah karakteristik individu pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman di bidang pertanian? 7 3. Apakah terdapat hubungan karakteristik individu pemuda dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian pertanian hortikultura? 4. Apakah terdapat hubungan sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura? 5. Apakah terdapat hubungan antara persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura? Tujuan Penelitian Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkaji hubungan antara karakteristik pemuda, dan sosialisasi (orang tua, media massa, dan teman) dalam membentuk sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Secara spesifik penelitian ini bertujuan sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian hortikultura. 2. Mengindentifikasi karakteristik individu pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio,) dan interaksi dengan teman di bidang pertanian. 3. Menganalisis hubungan karakteristik individu pemuda dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura. 4. Menganalisis hubungan Sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian hortikultura. 5. Menganalisis hubungan persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura. Manfaat penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada: 1. Pemerintah, dalam rangka meningkatkan minat pemuda diharapkan melalui penelitian ini pemerintah dapat lebih memperhatikan peranan agen sosialisasi 8 primer (orang tua, teman), karena tanpa ada dukungan sosialisasi dari orang tua, teman, maka kebijakan pemerintah tidak akan berpengaruh pada pemuda. 2. Peneliti, dapat memahami secara komprehensif bagaimana proses sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua, teman, dan media massa dalam membentuk sikap pemuda terutama pemuda di bidang pertanian 3. Bidang komunikasi pembangunan, memberikan sumbangan pemikiran bahwa komunikasi pembangunan tidak akan berjalan secara optimal tanpa dibarengi oleh komunikasi pada tataran level mikro. TINJAUAN PUSTAKA Sikap Definisi Sikap Thurstone dalam Walgito (2003), memandang sikap sebagai suatu tindakan afeksi baik yang bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan obyek–obyek psikologis. Afeksi yang positif, yaitu afeksi senang, sedangkan afeksi yang negatif adalah afeksi yang tidak menyenangkan. Menurut Mar’at (1981), sikap merupakan suatu kondisi psikologis yang didasarkan pada konsep evaluasi berkenaan pada obyek tertentu, menggugah motif untuk bertingkah laku. Mara’at (1981) juga menyebutkan bahwa bahwa sikap merupakan produk dari sosialisasi di mana seseorang bereaksi sesuai dengan rangsang yang diterimanya. Jika sikap mengarah pada obyek tertentu berarti penyesuaian diri terhadap obyek tersebut dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kesediaan untuk bereaksi dari orang tersebut kepada obyek. Sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai obyek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk membuat respon atau perilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya (Walgito, 2003). Menurut Rakhmat (2005), ada lima hal yang bisa disimpulkan dari berbagai definisi mengenai sikap. Pertama, sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi obyek, ide, situasi atau nilai. Sikap merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara–cara tertentu menghadapi obyek sikap. Obyek sikap boleh berupa benda, orang, tempat, gagasan, situasi atau kelompok. Jadi pada kenyataannya tidak ada sikap yang berdiri sendiri. Sikap harus diikuti oleh kata “terhadap’’, atau pada obyek sikap. Kedua, sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi. Sikap bukanlah sekedar rekaman masa lalu, tetapi menentukan juga apakah orang harus pro dan kontra terhadap sesuatu, menentukan apa yang disukai, diharapkan dan diinginkan; meyampingkan apa yang tidak diinginkan, apa yang harus dihindari. Ketiga sikap relatif lebih menetap. Berbagai studi menunjukan bahwa sikap politik kelompok cenderung dipertahankan dan jarang mengalami perubahan. Keempat, sikap mengandung aspek evaluatif, artinya 10 mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan. Kelima, sikap timbul dari pengalaman, tidak dibawa sejak lahir, tetapi merupakan hasil belajar. Karena itu sikap dapat diperteguh atau diubah. Struktur Sikap Menurut Walgito (2003), sikap mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu komponen kognitif (komponen perseptual), komponen afektif (Komponen emosional), dan komponen konatif (komponen perilaku). Komponen kognitif merupakan komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal yang berhubungan dengan bagaimana orang berpersepsi terhadap obyek sikap. Komponen afektif yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau rasa tidak senang terhadap obyek sikap. Rasa senang merupakan hal positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif. Komponen konatif merupakan komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap obyek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap obyek sikap. Ciri–Ciri Sikap Menurut Walgito (2003), sikap memiliki ciri–ciri di antaranya adalah sikap tidak dibawa sejak lahir, sikap itu berhubungan dengan obyek sikap, sikap dapat tertuju pada satu obyek saja, tetapi juga dapat tertuju pada sekumpulan obyek–obyek, sikap bisa berlangsung lama atau sebentar, sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi. 1. Sikap tidak dibawa sejak lahir ini berarti manusia pada saat dilahirkan belum membawa sikap–sikap tertentu pada suatu obyek. Karena sikap tidak dibawa sejak individu dilahirkan, ini berarti bahwa sikap itu terbentuk dalam perkembangan individu yang bersangkutan. Oleh karena itu sikap terbentuk dan dibentuk, maka sikap dapat dipelajari, dan karena itu sikap dapat berubah. 2. Sikap itu selalu berhubungan dengan obyek sikap 11 Sikap selalu terbentuk atau dipelajari dalam hubungannya dengan obyek-obyek tertentu, yaitu melalui proses persepsi terhadap obyek tersebut. Hubungan yang positif atau negatif antara individu dengan obyek tertentu, akan menimbulkan sikap tertentu pula dari individu terhadap obyek tertentu. 3. Sikap dapat tertuju pada satu obyek saja, tetapi dapat tertuju pada sekumpulan obyek– obyek Bila seseorang mempunyai sikap negatif pada orang lain maka orang tersebut akan mempunyai kecenderungan untuk menunjukan sikap negatif pula kepada kelompok di mana seseorang tersebut tergabung di dalamnya. Di sini terlihat adanya kecenderungan untuk menggeneralisasikan obyek sikap. 4. Sikap dapat berlangsung lama atau sebentar Kalau sikap telah terbentuk dan telah merupakan nilai dalam kehidupan seseorang, secara relatif sikap itu akan bertahan lama pada diri orang yang bersangkutan.Sikap tersebut akan sulit berubah, dan kalaupun dapat berubah akan memakan waktu yang relatif lama. Tetapi sebaliknya bila sikap belum mendalam ada dalam diri seseorang, maka sikap tersebut secara relatif tidak bertahan lama, dan sikap tersebut akan mudah berubah. 5. Sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi Ini berarti bahwa sikap terhadap sesuatu obyek tertentu akan selalu diikuti oleh perasaan tertentu yang dapat bersifat positif (yang menyenangkan) tetapi juga dapat bersifat negatif (yang tidak menyenangkan) terhadap obyek tersebut. Di samping itu sikap juga mengandung motivasi, ini berarti sikap itu mempunyai daya dorong bagi individu untuk berperilaku secara tertentu terhadap obyek yang dihadapinya. Mar’at (1981) juga telah merumuskan dan merangkum perumusan sikap secara umum maka dapat dikatakan: 1. Attitude are learned, hal ini berarti sikap tidaklah merupakan sistem fisiologis ataupun diturunkan. Tetapi diungkapkan bahwa sikap dipandang sebagai hasil belajar dan diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang berulang – ulang dengan lingkungan. 12 2. Attitudes are referent, Sikap selalu dihubungkan dengan obyek sikap seperti manusia, wawasan, pristiwa, ataupun ide. 3. Attitudes are social learning, yang berarti bahwa sikap diperoleh dalam berinteraksi dengan manusia lain, baik di rumah, sekolah, tempat ibadah, ataupun tempat lainnya melalui nasihat, teladan, atau percakapan 4. Attitudes have readiness to respond, yang berarti adanya kesiapan untuk bertindak dengan cara – cara tertentu terhadap obyek 5. Attitude are affective, yang berarti bahwa perasaan dan afeksi merupakan bagian dari sikap, akan tampak pada pilihan yang bersangkutan, apakah positif, negatif, ataukah ragu – ragu 6. Attitudes are very intensive, yang berarti bahwa tingkat intensitas sikap terhadap suatu obyek bisa kuat ataupun bisa lemah. Pembentukan Sikap Azwar (1995) mengemukakan bahwa sikap merupakan proses evaluatif yang dilakukan individu. Oleh karena itu, mempelajari sikap berarti perlu juga mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi proses evaluatif sebuah sikap, yaitu: 1. Faktor-faktor genetik dan fisiologik: Sebagaimana dikemukakan bahwa sikap dipelajari, namun demikian individu membawa ciri sifat tertentu yang menentukan arah perkembangan sikap ini. Di lain pihak, faktor fisiologik ini memainkan peranan penting dalam pembentukan sikap 2. Pengalaman Personal: Faktor lain yang sangat menentukan pembentukan sikap adalah pengalaman personal atau orang yang berkaitan dengan sikap tertentu. Pengalaman personal yang langsung dialami memberikan pengaruh yang lebih kuat daripada pengalaman yang tidak langsung. Terdapat dua aspek yang secara khusus memberi sumbangan dalam membentuk sikap, pertama adalah peristiwa yang memberikan kesan kuat pada individu (salient incident), yaitu peristiwa traumatik yang mengubah secara drastis kehidupan individu, misalnya kehilangan anggota tubuh karena kecelakaan. Kedua yaitu munculnya obyek secara berulang-ulang (repeated exposure). 13 3. Pengaruh orang tua: Orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anakanaknya. Sikap orang tua akan dijadikan role model bagi anak-anaknya. Contoh peristiwa yang dapat digunakan untuk menjelaskan hal ini adalah orang tua pemusik, akan cenderung melahirkan anak-anak yang juga senang musik. 4. Kelompok sebaya atau kelompok masyarakat memberi pengaruh kepada individu. Ada kecenderungan bahwa seorang individu berusaha untuk sama dengan teman sekelompoknya (Ajzen menyebutnya dengan normative belief). 5. Media massa adalah media yang hadir di tengah tengah masyarakat. Berbagai riset menunjukkan bahwa foto model yang tampil di media masa membangun sikap masyarakat bahwa tubuh langsing tinggi adalah yang terbaik bagi seorang wanita. Perubahan Sikap Sikap bisa diubah dengan berbagai cara. Seseorang bisa menerima informasi baru dari manusia maupun melalui media massa yang mampu mengubah komponen pengetahuan dari sikap seseorang itu. Semenjak adanya kecenderungan untuk konsisten di antara komponen–komponen sikap, perubahan komponen kognitif akan direfleksikan kepada perubahan komponen afektif dan juga perubahan pada komponen konatif. Sikap juga bisa berubah melalui pengalaman langsung terhadap suatu obyek sikap (Triandis, 1971). Suranto (1999), ada empat faktor yang menentukan sikap yaitu faktor fisiologis, faktor pengalaman, faktor kerangka acuan dan faktor komunikasi sosial. 1. Faktor fisiologis mencakup umur Pada umumnya anak muda memiliki sikap yang lebih radikal, orang dewasa bersikap lebih moderat. 2. Faktor pengalaman turut mempengaruhi sikap seseorang. Mereka yang pernah mengalami peperangan yang mengerikan akan memberikan sikap negatif terhadap peperangan. 3. Faktor kerangka acuan sangat berpengaruh terhadap sikap seseorang. Sesuai tidaknya obyek sikap terhadap kerangka acuan akan berhubungan dengan sikap positif ataupun negatif orang tersebut terhadap suatu obyek. 14 4. Faktor komunikasi sosial yang berbentuk informasi dari seseorang kepada orang lain dapat mengakibatkan perubahan sikap terhadap orang tersebut. Menurut Suranto (1999), perubahan sikap yang mengarah kepada pengambilan keputusan untuk mengadopsi suatu inovasi dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, karakteristik sosial, kebutuhan akan inovasi dan sistem sosial yang berlaku. Dalam kaitan ini yang dimaksud karakteristik pribadi mencakup aspek seperti umur, tingkat pendidikan, dan status seseorang dalam bidangnya. Menurut Mar’at (1981), teori stimulus respon menitikberatkan pada perubahan sikap yang dapat dipengaruhi “kualitas rangsangan yang berkomunikasi dengan organisme”. Karakteristik dari komunikator (sumber) menentukan keberhasilan tentang perubahan sikap seperti kredibilitasnya, kepemimpinannya dan gaya komunikasi. Hosland, Janis dan Kelly dalam Mar’at (1981) beranggapan bahwa proses dari perubahan sikap adalah serupa dengan proses belajar. Dalam mempelajari sikap yang baru, ada tiga peubah penting yang menunjang proses belajar tersebut, yaitu perhatian, pengertian dan penerimaan. Menurut Mar’at (1981), terdapat beberapa faktor yang dapat menunjang dan menghambat perubahan sikap. Faktor-faktor yang menghambat antara lain, stimulus bersifat indeferent sehingga faktor perhatian kurang berperan terhadap stimulus yang diberikan, tidak memberikan harapan untuk masa depan, adanya penolakan terhadap stimulus tersebut, sehingga tidak ada pengertian terhadap stimulus tersebut. Faktor-faktor yang menunjang antara lain, dasar utama terjadinya perubahan sikap adalah adanya imbalan dan hukuman di mana individu mengasosiasikan reaksinya yang disertai dengan imbalan dan hukuman, stimulus mengandung harapan bagi individu sehingga dapat terjadi perubahan sikap, stimulus mengandung prasangka bagi individu yang mengubah sikap semula. Pengukuran Sikap Dalam pengukuran sikap ada beberapa macam cara, yang pada garis besarnya dapat dibedakan secara langsung dan secara tidak langsung. Secara langsung, yaitu subyek dimintai pendapat bagaimana sikapnya terhadap suatu masalah yang dihadapkan kepadanya. Dalam hal ini dapat dibedakan langsung tidak berstruktur dan langsung 15 berstruktur. Secara langsung tidak berstruktur misalnya mengukur sikap dengan wawancara bebas (free Interview), dengan pengamatan langsung atau dengan survey misal public opinion survey, sedangkan cara langsung yang berstruktur, yaitu pengukuran sikap dengan menggunakan pertanyaan–pertanyaan yang telah disusun sedemikian rupa dalam suatu alat yang telah ditentukan, dan langsung diberikan kepada subyek yang diteliti (Walgito, 2003), sedangkan pengukuran sikap dengan secara tidak langsung ialah pengukuran sikap dengan menggunakan tes. Sistem Ekologi Manusia Konsep Ekologi manusia menyangkut saling ketergantungan antara manusia dengan lingkungannya, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya buatan. Pendekatan ekologi atau ekosistem menyangkut hubungan interdependensi antara manusia dan lingkungan di sekitarnya sesuai dengan aturan norma kultural yang dianut. Konsep ekologi manusia juga dikaitkan dengan pembangunan. Keberhasilan pembangunan yang berkelanjutan sangat bergantung pada faktor manusianya, yaitu seluruh penduduk dan sumberdaya alam yang dimiliki serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kaidah ekologi menetapkan adanya ketahanan atau ketegaran (resilience) suatu sistem yang dipengaruhi oleh dukungan yang serasi dari seluruh subsistem (Soerjani dalam Puspitawati 2009). Mengingat manusia adalah mahluk sosial yang menyangkut hubungan antar pribadi dan hubungan antar manusia dengan lingkungannya di sekitarnya, maka manusia tidak dapat berdiri sendiri. Manusia akan sangat bergantung pada lingkungan sekitarnya (baik lingkungan mikro meso, dan makro). Brofenbrenner (1981) dalam Puspitawati (2009) menyajikan model ekologi manusia untuk mengerti proses sosialisasi yang diterima oleh anak. Pada model tersebut dijelaskan bahwa lingkungan Mikrosistem merupakan lingkungan terdekat dengan seorang individu, meliputi keluarga, sekolah, teman sebaya, dan tetangga. Lingkungan yang lebih luas lagi disebut lingkungan mesosistem, dan akhirnya lingkungan yang paling jauh dari individu disebut dengan makrosistem Pemikiran mengenai sistem merupakan satu konsep yang kompleks, terdiri dari berbagai antar hubungan dan dipisahkan dari lingkungan sekitarnya oleh batasan tertentu. Organisme jelas merupakan contoh sebuah sistem, begitu pula molekul, bangunan, planet, 16 dan galaksi. Pemikiran umum sepert ini dapat pula diterapkan pada manusia dengan berbagai tingkat kompleksitasnya. Pada tingkat makro keseluruhan masyarakat dunia (kemanusiaan) yang dapat dibayangkan sebagai sebuah sistem. Pada tingkat mikro, yang dipandang sebagai sebuah sistem, komunitas lokal, asosiasi, perusahaan dan keluarga. Sementara ini teori sistem juga didefinisikan sebagai suatu kerangka yang terdiri dari beberapa elemen/sub elemen/sub sistem yang saling berinteraksi dan berpengaruh. Konsep sistem digunakan untuk menganalisis perilaku dan gejala sosial dengan berbagai sistem yang lebih luas maupun dengan sub sistem yang tercakup di dalamnya. Contohnya adalah interaksi antar keluarga disebut sebagai sistem, anak merupakan subsistem dan masyarakat merupakan supra sistem, selain kaitannya secara vertikal juga dapat dilihat hubungannya secara horizontal suatu sistem dengan berbagai sistem yang sederajat. Dalam pandangan Talcott Parsons dalam Puspitawati (2006), masyarakat dan suatu organisme hidup merupakan sistem yang terbuka yang berinteraksi dan saling mempengaruhi dengan lingkungannya. Sistem kehidupan ini dapat dianalisis melaui dua dimensi yaitu : interaksi antar bagian-bagian/elemen-elemen yang membentuk sistem dan interaksi/pertukaran antar sistem itu dengan lingkungannya. Talcott Parsons membangun suatu teori sistem umum atau teori besar yang berisi empat unsur utama yang tercakup dalam segala sistem kehidupan, yaitu: Adaptation, Goal Attainment, Integration dan Latent Pattern Maintenance. Sistem terdiri dari empat unsur penting yaitu: (1) Obyek, bagian, elemen, atau peubah dalam sebuah sistem, Obyek ini dapat berupa fisik, abstrak ataupun keduanya, tergantung pada sistem yang hendak dikaji; (2) Sebuah sistem terdiri dari Atribut – atribut, Sifat – sifat yang melekat dalam obyek – obyek tersebut: (3) Di dalam sebuah sistem terdapat hubungan antar obyek – obyek tersebut; dan (4) sebuah sistem hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah sistem merupakan suatu rangkaian yang mempengaruhi satu dengan yang lainnya dalam sebuah lingkungan dan membentuk pola yang lebih besar dan berbeda dengan sistem yang lain. Sebuah sistem memiliki karakteristik masing-masing, biasanya karakteristik tersebut adalah interdependensi, korelasi, sebab–akibat, rantai pengaruh, hirarki, hubungan dengan lingkungan sekitar. Pada perspektif sistem, komunikasi dapat dilihat sebagai proses yang terintegrasi di dalamnya dan bukan proses yang terpisah. 17 Keluarga Keluarga adalah wahana untuk dan pertama bagi anggota–anggotanya untuk mengembangkan potensi, mengembangkan aspek sosial dan ekonomi, serta penyemaian cinta-kasih-sayang antar anggota keluarga. Pengertian keluarga menurut sejumlah ahli adalah sebagai unit sosial–ekonomi terkecil dalam masyarakat yang merupakan landasan dasar dari semua institusi masyarakat yang merupakan landasan dasar dari semua institusi masyarakat, merupakan kelompok primer yang terdiri dari dua atau lebih orang yang memiliki jaringan interaksi interpersonal, hubungan darah hubungan perkawinan, adopsi. (Puspitawati, 2006) Menurut Soelaeman dalam Puspitawati (2006) keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi dan saling memperhatikan. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian intensitas komunikasi keluarga adalah tingkatan/ukuran seberapa sering komunikasi/interaksi terjadi di antara orang tua dengan anak dalam rangka memberikan kesan, keinginan, sikap, pendapat, dan pengertian,yang dilandasi rasa kasih sayang, kerja sama, penghargaan, kejujuran, kepercayaan dan keterbukaan di antara mereka. Secara tradisional keluarga diartikan sebagai dua atau lebih orang yang dihubungkan dengan pertalian darah, perkawinan atau adopsi (hukum) yang memiliki tempat tinggal bersama. Galvin dan Brommel dalam Tubbs dan Moss (1996) menyatakan bahwa keluarga adalah jaringan orang–orang yang berbagi kehidupan mereka dalam jangka waktu yang lama, yang terikat oleh perkawinan, darah atau komitmen, legal atau tidak, yang menganggap diri mereka sebagai keluarga dan yang berbagi pengharapan– pengharapan masa depan mengenai hubungan yang berkaitan. Orang tua dan anak adalah jaringan yang terikat oleh hubungan darah. Orang tua mempunyai harapan–harapan tertentu pada anak-anaknya. Mussen et al. dalam Puspitawati (2006) mengemukakan bahwa orang tua mempunyai tujuan khusus dan umum untuk anak–anak mereka yang meliputi nilai moral, pengetahuan dan standar perilaku yang harus dimiliki anak ketika sudah dewasa. Orang tua mencoba berbagai cara untuk mendorong anak mencapai tujuan tersebut. Orang tua menggunakan diri sebagai panutan 18 memberi hukuman, menjelaskan harapan dan kepercayaan kepada anak–anak untuk dapat memiliki lingkungan yang baik. Sosialisasi Menurut Ihromi (1999), sosialisasi merupakan suatu proses transmisi kebudayaan antargenerasi, karena tanpa sosialisasi masyarakat tidak dapat bertahan melebihi satu generasi. Syarat penting berlangsungnya proses sosialisasi adalah interaksi, karena tanpa adanya interaksi tidak mungkin adanya proses sosialisasi. Sementara itu menurut Zende dalam Ihromi (1999), sosialisasi adalah proses interaksi sosial melalui mana seseorang mengenal cara berpikir, berperasaan, dan berperilaku sehingga dapat berperan secara aktif dalam masyarakat. Sementara itu menurut Goslin dalam Ihromi (1999) sosialisasi adalah proses belajar yang dialami seseorang untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai –nilai dan norma–norma. Sosialisasi adalah satu konsep umum yang bisa dimaknai sebagai sebuah proses di mana seseorang belajar melalui interaksi dengan orang lain, tentang cara berpikir, merasakan, dan bertindak, di mana semua itu merupakan hal-hal yang sangat penting dalam menghasilkan partisipasi sosial yang efektif. Sosialisasi merupakan proses yang terus terjadi selama hidup. Individu yang baru dilahirkan hanya sebagai mahluk biologis yang memerlukan kebutuhan biologis seperti minum bila haus, makan bila lapar dan bereaksi terhadap suatu rangsang tertentu seperti panas, dingin, dan lain sebagainya. Setelah berinteraksi dengan individu lain yang berada pada lingkungan sekitarnya. Individu dapat menjadi mahluk sosial dipengaruhi oleh faktor keturunan (heredity) atau alam (nature) dan faktor lingkungan (environment) atau asuhan (nurture). Faktor keturunan adalah faktor–faktor yang di bawa lahir dan merupakan transmisi unsur–unsur dari orang tuanya melalui proses genetika, jadi sudah ada sejak awal kehidupan. Misalnya jenis kelamin, suku bangsa warna kulit, yang kesemuanya tidak bisa diubah lagi. Faktor lingkungan adalah faktor luar yang mempengaruhi organisme, yang membuat kehidupan bertahan. Misalnya pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya yang dapat berubah–ubah dalam kehidupan individu serta tergantung pada usahanya. Kedua faktor ini sama pentingnya dan saling berinteraksi serta melengkapi dalam membentuk perilaku tertentu dari individu. Jadi perilaku tertentu itu tergantung pada faktor keturunan dan pada apa yang disediakan oleh lingkunganna. Perilaku tertentu tidak mungkin terbentuk hanya 19 karena faktor keturunan saja tanpa adanya pengaruh dari lingkungannya ataupun sebaliknya. Hanya saja setiap inidividu berbeda–beda dalam perkembangannya mana yang lebih dominan, apakah faktor keturunannya ataukah pengaruh lingkungannya. Sosialisasi dialami individu sebagai mahluk sosial sepanjang hidupnya dari mulai individu dilahirkan sampai dengan meninggal dunia. Karena interaksi merupakan kunci sukses berlangsungnya sosialisasi maka diperlukan agen sosialisasi yakni orang–orang di sekitar individu tersebut yang mentransmisikan nilai–nilai atau norma tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung. Agen sosialisasi ini bersifat significant others (orang yang paling dekat dengan individu) seperti orang tua, teman sebaya, dan guru (Ihromi, 1999). Ihromi (1999) mengatakan bahwa menurut tahapannya sosialisasi dibedakan menjadi dua tahap, yakni: 1. Sosialisasi primer, sebagai sosialisasi yang pertama dijalani individu semasa kecil, melalui mana ia menjadi anggota masyarakat; dalam tahapan ini proses sosialisasi primer membentuk kepribadian anak ke dalam dunia umum, dan keluarga berperan sebagai agen sosialisasi. 2. Sosialisasi sekunder, didefinisikan sebagai proses yang memperkenalkan individu yang telah disosialisasi ke dalam sektor baru di dunia obyektif masyarakatnya; dalam tahapan ini proses sosialisasi mengarah pada terwujudnya sikap profesionalime pada dunia khusus; dan dalam hal ini yang menjadi agen sosialisasi adalah lembaga pendidikan, peer group, lembaga pekerjaan, dan lingkungan yang lebih luas dari keluarga (Berger dan Luckman dalam Ihromi 1999). Sosialisasi bisa berlangsung secara tatap muka, bisa juga dalam jarak tertentu melalui sarana media atau surat menyurat, bisa berlangsung secara formal maupun infromal, baik sengaja maupun tidak sengaja. Sosialisasi dapat dilakukan demi kepentingan orang yang disosialisasikan ataupun orang yang melakukan sosialisasi. Dalam masyarakat yang homogen proses sosialisasi bisa berjalan dengan serasi menurut pola yang sama karena nilai–nilai yang ditransmisikan dalam proses sosialisasi sama. Namun dalam masyarakat yang heterogen di mana terdapat banyak kelompok dengan nilai yang tidak 20 sepadan dalam mempengaruhi individu, maka proses sosialisasi tidak berlangsung seperti dalam masyarakat yang homogen. Pada masyarakat yang heterogen terdapat banyak agen sosialisasi di luar keluarga yang menanamkan nilai yang berbeda dengan apa yang ada dalam keluarga, bahkan kadang–kadang bertentangan. Dalam situasi demikian seseorang dapat mengalami proses yang disebut desosialisasi yaitu proses ”pencabutan” nilai yang telah tertanam yang kemudian disusul dengan resosialisasi. Sosialisasi dalam Keluarga Individu yang baru dilahirkan sejak awal sudah bukan sekedar makhluk biologis yang hanya membutuhkan makan, minum dan sebagainya, melainkan sekaligus juga makhluk sosial. Sosialisasi akan dialami individu sebagai makhluk sosial sepanjang kehidupannya sejak dilahirkan hingga meninggal. Tempat sosialisasi paling awal bagi individu adalah keluarga. Jadi dapat dikatakan keluarga sebagai sebuah mekanisme sosial agar seseorang individu dapat mengetahui posisi dan kedudukannya sehingga ia akan mendapatkan tempat dalam masyarakat kelak setelah dewasa. Peran sosialisasi yang dialami seorang anak akan menentukan kepribadiannya di masa mendatang karena agen sosialisasi pada masa anak-anak adalah orang tua dan anggota keluarga lainnya yang merupakan significant others bagi anak dan orang tualah yang menjadi role mode bagi anak dalam membentuk perilakunya (Ihromi, 1999) Setiap anggota keluarga akan berinteraksi dan berkomunikasi. Interaksi dan komunikasi di dalam keluarga membutuhkan unsur kedekatan. Hal ini merujuk pada pernyataan bahwa keluarga sebagai sebuah sistem manakala komunikasi dapat berperan untuk mengatur kedekatan dan penyesuaian di antara anggota, melalui pola aliran pesan di dalam jaringan yang melibatkan hubungan saling ketergantungan. Selain itu, faktor kesetaraan dan keterbukaan dalam situasi keluarga memungkinkan bagi orang tua untuk mengembangkan pendekatan dua arah, atau pendekatan yang bersifat dialogis menuju kearah pembelajaran, sehingga kedekatan dan proses adaptasi dalam keluarga dapat dilakukan dengan melibatkan hubungan saling ketergantungan di antara anggota keluarga melalui situasi komunikasi yang bersifat setara dan dialogis, baik langsung atau tidak langsung, keluarga akan memberikan informasi mengenai status dan peran gender sesuai 21 dengan kapasitas pemahamannya, informasi yang diberikan secara terus-menerus akan menjadi proses penanaman nilai-nilai. Tidak dapat dipungkiri, hubungan atau interaksi menjadi kepedulian kebanyakan orang adalah hubungan dalam keluarga: keluarga mewakili suatu konstelasi hubungan yang sangat khusus. Peran komunikasi orang tua sebagai pengasuh dan pendidik utama anak dijelaskan oleh Popov dan Popov dalam Puspitawati (2009), yaitu sebagai pelindung dan penguasa dalam menegakan peraturan; pemandu dan pembina dalam meningkatkan keterampilan dan konselor dalam mengarahkan moral. Pada praktek pengasuhan antara orang tua dan anak yang kemudian dikelompokan menjadi tiga gaya pengasuhan yang meliputi gaya pengasuhan demokratis, permisif, dan otoriter. Fungsi Sosialisasi dalam Keluarga Puspitawati (2006) menjelaskan apabila antara anggota keluarga saling menanggapi pesan dan menerima pesan tersebut maka sebenarnya telah terjadi komunikasi antar pribadi dalam keluarga yang dialogis. Umpan balik dari komunikasi dalam keluarga berfungsi sebagai unsur pemerkaya dan pemerkuat komunikasi antara anggota keluarga sehingga harapan dan keinginan anggota keluarga dapat dicapai. Cangara (2002) menjelaskan fungsi komunikasi dalam keluarga ialah meningkatkan hubungan insani (human relation), menghindari dan mengatasi konflik-konflik pribadi dalam keluarga, mengurangi ketidakpastian sesuatu, serta berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain. Komunikasi dalam keluarga dapat meningkatkan hubungan kemanusiaan di antara pihak-pihak yang berkomunikasi. Dalam hidup berkeluarga dan bermasyarakat seseorang bisa mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam hidupnya karena memiliki banyak sahabat. Melalui komunikasi dalam keluarga, juga dapat dibina hubungan yang baik, sehungga dapat menghindari dan mengatasi terjadinya konflik-konflik di antara anggota keluarga. Komunikasi dalam keluarga merupakan salah satu bentuk komunikasi antar pribadi yang khas. Adapun ciri khas komunikasi antar pribadi yang membedakan dengan komunikasi massa adalah : (1) terjadi secara spontan, (2) tidak mempunyai struktur yang teratur atau diatur, (3 memperoleh) terjadi secara kebetulan, (4) tidak mengejar tujuan yang 22 telah direncanakan terlebih dahulu, (5) dilakukan oleh orang-orang yang identitas keanggotaannya kadang-kadang kurang jelas, (6) bisa terjadi sambil lalu Cangara (2002) mengemukakan adanya komunikasi kelompok kecil sebagai bentuk nyata dari komunikasi dalam keluarga. Proses komunikasi berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka, di mana anggota-anggota keluarga saling berinteraksi satu sama lainnya, Ciri-cirinya yaitu : (a) anggota-anggota keluarga terlibat dalam suatu proses komunikasi yang berlangsung secara tatap muka, (b) pembicaraan berlangsung secara terpotong-potong di mana semua anggota bisa berbicara dalam kedudukan yang sama, dengan kata lain tidak ada pembicaraan tunggal yang mendominasi situasi, (c) sumber dan penerima sulit diidentifikasi, artinya dalam situasi ini semua anggota keluarga bisa berperan sebagai sumber sekaligus sebagai penerima. Karena itu pengaruhnya bisa bermacammacam. Tubbs and Moss (1996) mengemukakan bahwa komunikasi antar pribadi yang terjadi dalam komunikasi keluarga mempunyai enam ciri: (1) dilaksanakan atas dorongan berbagai faktor, (2) mengakibatkan dampak yang disengaja, (3) seringkali berbalas-balasan, (4) mengisyaratkan hubungan antar pribadi paling sedikit pada dua orang, (5) berlangsung dalam suasana bebas, bervariasi dan berpengaruh, (6) menggunakan berbagai simbol yang bermakna. Komunikasi di dalam keluarga memiliki ciri-ciri minimal adanya keterbukaan empati dukungan, perasaan positif, dan kesamaan. Jika ciri-ciri tersebut ada dalam komunikasi keluarga, maka akan terjadi komunikasi yang sehat. Sosialisasi Keluarga Efektif Pada dasarnya sosialisasi merupakan proses interaksi di mana interaksi sangat membutuhkan suatu kegiatan komunikasi, maka komunikasi keluarga efektif tidak bisa lepas dari karakter dan fungsi dari hubungan antara orang tua dengan anaknya. Komunikasi keluarga merupakan unsur yang berperan dalam pembentukan kepribadian anggota keluarga khususnya anak. Kegiatan komunikasi keluarga yang efektif yaitu jelas, singkat, lengkap, mudah dimengerti, tepat dan saling memperhatikan, dapat membentuk gaya hidup dalam keluarga yang sehat. Dampak situasi hubungan yang sehat antara orang tua dengan anak, yaitu komunikasi yang penuh kasih sayang, persahabatan, kerjasama, penghargaan, kejujuran, kepercayaan, dan keterbukaan akan membentuk ketentraman keluarga. Suasana 23 komunikasi yang demikian merupakan suasana yang menggairahkan bagi pertumbuhan anak komunikasi akan efektif karena orang tua dapat membaca dunia anaknya (selera, keinginan, hasrat, pikiran, dan kebutuhan). Ritual sebagai Suatu Proses Sosialisasi dalam Keluarga Para peneliti menggunakan istilah ritual dalam definisi yang berbeda–beda. Beberapa ahli komunikasi berargumentasi bahwa semua bentuk komunikasi adalah ritual. Menurut pandangan ini, komunikasi sebagai ritual mampu menyediakan alternatif dasar pemikiran (rational) bahwa selain komunikasi sebagai transmisi, komunikasi juga bisa sebagai ritual. Komunikasi sebagai suatu transmisi menekankan dan bertujuan pada proses transmisi untuk menghasilkan dampak yang diinginkan, pemahaman, dan perubahan sikap. Sementara ini komunikasi sebagai ritual menekankan komunikasi sebagai suatu perbuatan yang dilakukan bersama–sama, menghargai ”kemagisan (magical), keaslian realitas, keefektivan suatu simbol. Dari dasar pemikiran tersebut maka peneliti yang meneliti mengenai komunikasi keluarga akan mempelajari ritual secara bersamaan. Menurut Wolin dan Bennet dalam Turner dan West (2006), terdapat 3 (tiga) bentuk ritual yang sangat mempengaruhi peneliti, yaitu: Selebrasi, Tradisi, dan Interaksi yang terpola. Selebrasi merupakan ritual yang dilakukan secara luas diseluruh budaya, contohnya liburan Thanksgiving, Hari kemerdekaan, upacara seremonial seperti pernikahan, dan pemakaman. Meskipun acara–acara tersebut merupakan suatu acara yang dilakukan oleh seluruh orang, tetapi setiap keluarga memiliki cara–cara unik dalam menyelenggarakan acara tersebut. Tradisi merupakan ritual yang lebih aneh lagi untuk setiap keluarganya dan tidak dilakukan oleh masyarakat luas, artinya hanya spesifik dalam suatu keluarga, contoh dari tradisi adalah liburan keluarga, reuni (arisan) keluarga, ulang tahun. Sementara itu interaksi keluarga yang terpolakan (patterned family interaction) merupakan ritual yang biasa yang tidak direncanakan, dan paling sering dilakukan oleh keluarga, contohnya seperti makan malam, dongeng tengah malam, dan biasanya interaksi keluarga yang terpola merupakan aktivitas yang dilakukan bersama–sama yang membangun dan menjaga identitas suatu keluarga. Turner dan West (2006) mengatakan interaksi keluarga yang terpola sering sulit dibedakan dengan kegiatan rutin dalam keluarga karena kedua hal tersebut merupakan 24 kegiatan–kegiatan yang biasa dilakukan dalam keluarga, tetapi perbedaannya adalah dalam interaksi keluarga yang terpola terdapat makna–makna simbolik dimana terdapat suatu kegiatan penghormatan akan sesuatu yang sedang dipertaruhkan. Sosialisasi oleh Kelompok Bermain atau Teman Sejawat (Peers) Narwoko dan Suyanto (2004) mengatakan bahwa Kelompok bermain baik yang berasal dari kerabat, tetangga, maupun teman sekolah merupakan agen sosialisasi yang pengaruhnya besar dalam membentuk pola–pola perilaku seseorang. Di dalam kelompok bermain, seseorang mempelajari kemampuan baru yang acap kali berbeda dengan apa yang dipelajari dari keluarga. Di dalam kelompok bermain individu mempelajari norma nilai, kultur, peran, dan semua persyaratan yang dibutuhkan individu untuk memungkinkan partisipasinya yang efektif di dalam kelompok permainannya. Narwoko dan Suyanto (2004) mengatakan kelompok bermain ikut menentukan dalam pembentukan sikap untuk berperilaku yang sesuai dengan kelompoknya. Berbeda dengan pola sosialisasi dalam keluarga yang umumnya bersifat otoriter karena melibatkan hubungan tidak sederajat, di dalam kelompok bermain pola sosialisasinya bersifat ekuilitas karena kedudukan pelakunya relatif sederajat. Menurut Tjakrawati (1988) keberhasilan teman/kerabat dan pengalaman baik dalam suatu bidang pekerjaan menyebabkan petani mencoba dan menekuni pekerjaan itu, sebaliknya bila melihat kegagalan teman/kerabat dan pengalaman pahitnya petani memilih bertani, karena bertani merupakan pekerjaan yang sedikit mengandung resiko. Selain faktor ajakan teman/kerabat dan pengalamannya sendiri, faktor usia juga mempengaruhi petani memilih pekerjaannya. Teman maupun kerabat dapat memberi inspirasi dalam melihat alternatif usaha yang dapat dilakukan, terlebih selama kebutuhan hidupnya sehari – hari belum terpenuhi sehingga membuatnya berikhtiar terus mencari peluang–peluang usaha di non-pertanian. Menurut Jaccard et al., (2005) Pemuda lebih terpengaruh oleh teman sepermainan mereka, pemikiran tersebut muncul karena terinspirasi oleh pengaruh sosial (social influence) dari beberapa ahli. Terdapat 2 (dua) peubah besar yang dapat menggambarkan besarnya pengaruh teman sepermainan terhadap seorang remaja, peubah pertama adalah peubah yang berhubungan dengan kedekatan (closeness) hubungan dengan 25 teman, yang kedua adalah besarnya lingkungan sosial (Social Network). Pada dasarnya seorang teman dapat memberikan pengaruh yang kuat pada individu jika beberapa hal terpenuhi, yaitu: (1) waktu yang dihabiskan bersama–sama dengan teman (2) memiliki hubungan pertemanan yang saling menguntungkan (3) memiliki kesamaan dalam kegiatan yang berresiko sebelumnya (4) jaringan pertemanan yang kecil dan (e) hubungan yang tidak baik dengan keluarga. Sosialisasi oleh Media Massa Sementara itu masyarakat modern, komunikasi merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting terutama untuk menerima dan menyampaikan informasi dari satu pihak ke pihak lain. Akibat pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam waktu yang sangat singkat, informasi-informasi tentang peristiwa–peristiwa, pesan singkat, berita, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya.akan mudah diterima oleh masyarakat sehingga media massa mempunyai peranan penting dalam proses mentransformasikan nilai–nilai baru kepada masyarakat (Narwoko dan Suyanto, 2004). Media massa merupakan media sosialisasi yang kuat dalam membentuk keyakinan–keyakinan baru atau mempertahankan keyakinan baru yang ada. Bahkan proses sosialisasi melalui media massa ruang lingkupnya lebih luas dari pada media sosialisasi lainnya. Nilai Pekerjaan dan Pandangan terhadap Kerja Pertanian. Petani mengartikan kerja sebagai kegiatan yang mengandung unsur kewajiban, keharusan dan mengikat manusia untuk melakukannya dan yang dapat memberi penghasilan uang. Pengertian Kerja menurut Tjakrawati (1988) adalah jerih payah yang dilakukan seseorang, pengerah tenaga untuk sesuatu tujuan yang terletak di luar tenaga kerja itu sendiri dan bersifat ekonomis. Menurut Vink dalam Tjakrawati (1988), tidak semua kerja di bidang pertanian di Indonesia dapat dianggap ekonomis karena masih banyak hal yang ditentukan oleh tradisi keagamaan dan bukan pertimbangan ekonomis, walaupun kerja di pertanian harus lebih mengarah ke sasarannya dengan meningkatkan jerih payah mendapatkan nafkah. 26 Kerja diartikan sebagai bagian yang lebih khusus dari tindakan. Sajogyo (1987) menyebutkan bahwa ciri–ciri orang bekerja yaitu: (1) kegiatan yang menghasilkan energi, (2) kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa, (3) kegiatan yang mencerminkan interaksi sosial, (4) kegiatan yang memberikan status sosial pada pekerjaan,dan (5) kegiatan yang menghasilkan hasil langsung berupa uang, natura, maupun bentuk curahan waktu. Menurut Herlina (2002) nilai kerja merupakan persepsi dan penghargaan terhadap suatu aktivitas yang menghasilkan sesuatu bentuk materi maupun non-materi yang memberikan kepuasan bagi seseorang. Sementara itu, nilai merupakan pilihan moral yang berkaitan dengan apa yang dianggap baik dan buruk-pantas atau tidak dan dijadikan pedoman bertingkah laku. Dengan demikian nilai kerja merupakan persepsi dan penghargaan terhadap aktivitas yang menghasilkan sesuatu bentuk materi maupun non materi yang memberi kepuasan bagi keluarga buruh karena tujuan tercapai. Sikap terhadap Pekerjaan Pertanian Terjadinya perubahan sikap terhadap suatu pekerjaan menurut Parker dari penelitian Rosenberg et al. dalam Tjakrawati (1988) dapat dilihat dari aspirasi, harapan, dan pilihan terhadap responden. Hasil penelitian mereka menunjukan bahwa alasan seseorang melakukan perubahan pekerjaan adalah keinginan mendapatkan pekerjaan yang sifatnya mengandung tantangan, keinginan mendapatkan pekerjaan yang sifatnya mengandung tantangan, keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang memberi kesempatan untuk mengembangkan hubungan yang baik dengan masyarakat, dan yang lainnya. Sementara itu dalam penelitian Tjakrawati (1988) ditemukan bahwa perubahan persepsi pekerjaan pertanian pada pemuda tani akan sangat dipengaruhi oleh proses sosialisasi dalam keluarga dan pengaruh dari luar, yakni kaitan desa dan kota, kaitan pertanian dan non–pertanian. Koentjaraningrat sebagaimana dikutip oleh Tjakrawati (1988) mengemukakan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia adalah petani sejak berabad–abad lamanya. Dengan demikian cara berpikir paling asli adalah cara berpikir rakyat petani. Selanjutnya dikatakan bahwa sistem nilai budaya petani merupakan suatu konsep yang ada bukan saja petani di pedesaan, tetapi juga pada masyarakat di kota. 27 Tjakrawati (1988) mengemukakan bahwa pandangan seseorang terhadap pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor non pertanian disebabkan oleh faktor–faktor pendorong dan faktor penarik. Daya dorong (push-out) dan daya tarik (pull-out) merupakan konsep erat dengan perpindahan penduduk dari desa ke kota. Menurut Suryana dalam Tjakrawati (1988) mengemukakan bila tanpa memperhatikan perpindahan geografi, push-out dan pullout terjadi sehubungan dengan jenis pekerjaan atau disebut juga mobilitas pekerjaan yang diartikan sebagai perpindahan kerja penduduk dari suatu sektor perekonomian ke sektor lain, misalnya dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian. Hal ini disebabkan oleh dua hal, pertama bidang pertanian mendorong keluarnya angkatan kerja akibatnya pertambahan penduduk yang besar tiap tahunnya. Kedua, ada daya tarik bidang non-pertanian yaitu penciptaan lapangan pekerjaan di bidang non-pertanian. Konsepsi Daya Dorong dan Daya Tarik: Pertanian dan Non Pertanian Daya dorong (push--out) dan daya tarik (pull-out) merupakan konsep yang berhubungan dengan migrasi dari desa – kota. Bila tanpa melihat atau memperhatikan perpindahan geografi, maka push-out dan pull-out terjadi sehubungan dengan jenis pekerjaan, disebut juga mobilitas pekerjaan yang diartikan sebagai perpindahan kerja penduduk dari suatu sektor perekonomian ke sektor lainnya, misalnya dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian (Suryana dalam Tjakrawati, 1988). Hal Ini disebabkan dua faktor, pertama bidang pertanian mendorong keluarnya angkatan kerja akibat pertambahan penduduk yang besar tiap tahunnya. Kedua, ada daya tarik bidang non-pertanian yaitu penciptaan lapangan kerja di bidang non–pertanian yang lebih baik dari pada sektor pertanian. Lee dalam Tjakrawati (1988) mengemukakan model migrasi dengan memperhatikan faktor–faktor di daerah asal dan daerah tujuan melalui rintangan. Faktor – faktor di daerah tujuan melalui rintangan. Faktor–faktor di daerah asal maupun di daerah tujuan terdiri dari faktor positif, negatif dan netral. Lalu di antara keduanya terdapat sejumlah rintangan yang berupa jarak, ongkos dan lain–lain, sehingga dalam bermigrasi tergantung pada pertimbangan: a) faktor-faktor daerah asal, b) faktor–faktor daerah tujuan, c) rintangan–rintangan dan d) faktor-faktor pribadi yaitu tanggapan orang terhadap faktorfaktor itu, kepekaan pribadi, kecedasan, kesadaran tentang kondisi lain tempat yang 28 mempengaruhi evaluasinya terhadap tempat asal. Pengaruh terakhir adalah hubungan seseorang itu dengan berbagai jenis sumber informasi yang tidak tersedia secara umum. Todaro dalam Tjakrawati (1988) menyajikan suatu hipotesis yang mengatakan bahwa migrasi desa–kota ditentukan oleh perbedaan tingkat pendapatan antara sektor pertanian dan sektor non pertanian di perkotaan yang memperoleh imbalan gaji yang lebih baik. Asumsi yang digunakan yaitu: calon migran akan pergi ke kota atas dasar harapan memaksimalkan pendapatan sehingga besarnya perbedaan upah untuk skill yang kurang lebih sama merupakan faktor terpenting dalam mengambil keputusan untuk bekerja di kota. Perbedaan upah ini timbul karena rendahnya pendapatan dari kegiatan pertanian di desa dan sementara itu tingkat upah lebih besar bagi pekerja tak terdidik di kota. Migran datang ke kota dengan harapan suatu ketika akan mendapatkan pekerjaan walaupun ia mengalami masa pengangguran. Dengan demikian terdapat dua hal yang menjadi pertimbangan orang lebih bekerja di sektor non pertanian yaitu: a) perbedaan riil pendapatan antara kota dan desa dan b) besarnya kesempatan kerja di kota berdasarkan persepsi tenaga kerja (Singarimbun dalam Tjakrawati, 1988). Pemuda Perserikatan Bangsa – Bangsa (www.un.org/youth) mendefiniskan pemuda sebagai seseorang yang berumur antara 14–24 tahun. Definisi ini dibuat pada saat persiapan untuk persiapan hari internasional pemuda, selain itu PBB juga mendefinisikan anak–anak sebagai seseorang yang masih berada pada umur di bawah 13 tahun. Menurut Undang–Undang Kepemudaan No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, Pemuda didefinisikan warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun. Kepemudaan adalah berbagai hal yang berkaitan dengan potensi, tanggung jawab, hak, karakter, kapasitas, aktualisasi diri, dan cita-cita pemuda. Berbagai definisi muncul untuk kata pemuda, Baik ditinjau dari fisik maupun psikis akan siapa yang pantas disebut pemuda serta pertanyaan apakah pemuda itu identik dengan semangat atau usia. Terlebih kaitannya dengan makna hari Sumpah Pemuda. Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam kamus Websters sebagai “the time of life 29 between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person”, sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 20–24 tahun sebagai young people, sedangkan remaja atau adolescence dalam golongan usia 10-19 tahun. Contoh lain di Canada di mana negara tersebut menerapkan bahwa “after age 24, youth are no longer eligible for adolescent social services”. Di kebanyakan negara usia 18 dikategorikan seseorang tersebut telah dapat dikatakan pemuda. Bagaimana pun definisi operasional dari pemuda sangat beragam pada setiap negara, semua itu bergantung kepada keadaan sosiokulturalnya, kelembagaan, ekonomi dan faktor ekonomi. Tahapan Perkembangan Pemuda Menurut Cobb (2010) pemuda sendiri dapat didefinisikan melalui terminologi biologis, terminologi psikologis dan terminologi sosiologis. Secara biologis pemuda didefinisikan sebagai suatu masa pubertas yang membentuk tubuh anak menjadi lebih matang dan dewasa baik secara seksual maupun secara fisikal. Sementara itu secara psikologis definisi pemuda membedakan pemuda dalam hal perkembangan tugas yang harus mereka kerjakan, di mana setiap perkembangan tersebut berkaitan dengan proses pembentukan identitas diri. Definisi sosiologis menjelaskan pemuda kaitannya dengan status mereka dalam masyarakat sebagai sebuah periode transisi status antara masa anak dan masa dewasa. Menurut Hurlock dalam Muksin (2007), perkembangan berarti perubahan pada remaja secara kualitatif. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar penambahan pada tinggi badan seseorang atau kemampuan seseorang, melainkan proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks. Setiap orang dalam rentang hidupnya memiliki tahapan pertumbuhan dan perkembangan. Menurut Havigurst dalam Muksin (2007) dalam rentang perkembangan hidup ini maka terdapat periode kritis atau periode sensitif di mana seseorang memiliki proses pembelajaran yang cepat dari berbagai pengalaman. Secara keseluruhan menurut Hurlock dalam Muksin (2007) rentang perkembangan hidup ini dapat dibagi ke dalam sepuluh tahapan sebagaimana ditunjukan Tabel 1 berikut: Terdapat ciri– ciri khusus pada tahapan fase pemuda, di mana Cobb (2010) mengatakan bahwa hubungan 30 di dalam keluarga mengalami perubahan saat anak berubah menjadi seorang remaja. Semakin bertambahnya usia, seorang remaja akan berkurang waktunya bersama keluarga, hal tersebut dikarenakan para remaja sibuk dengan aktivitas–akti\vitas di luar rumah. No Tabel 1. Tahapan dalam rentang kehidupan Tahapan Perkembangan Keterangan Usia 1 Periode Pranatal 2 Neonatus Kelahiran sampai akhir minggu ke – 2 3 Masa bayi Akhir minggu ke -2 sampai akhir 2 tahun 4 Awal masa kanak – kanak 2 tahun–6 tahun 5 Akhir masa kanak – kanak 6 tahun–10 tahun 6 Masa pramasa remaja 10–12 tahun 7 Masa remaja awal 13–15 tahun 8 Masa remaja pertengahan 15–17 tahun 9 Masa remaja akhir 17–21 tahun 10 Awal masa dewasa 21–40 tahun 11 Usia pertengahan 40–60 tahun 12 Masa tua dan lanjut usia Saat konsepsi sampai lahir 60 tahun–Tutup Usia Sumber Havigurst dalam Muksin (2007) Jumlah Pemuda Dalam pengkategorian “pemuda” sangat penting untuk membedakan remaja (13-19 tahun) dan pemuda dewasa (20-24), karena mereka akan berbeda secara kondisi sosiologis, psikologis dan kesehatan. Dewasa ini setidaknya terdapat 1 miliar pemuda. Hal ini berarti terdapat 1 orang pemuda (15-24 tahun) di antara 5 orang, atau dengan bahasa lain 18% populasi dari populasi dunia adalah pemuda. Seperti yang bisa dilihat pada Tabel 2 meskipun secara jumlah populasi pemuda mengalami kenaikan dari tahun 1985 sampai pada tahun 2025, tetapi proporsi atau persentase dari total populasi penduduk dunia, pemuda mengalami penurunan. 31 Undang Undang No. 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan membawa konsekuensi pada perubahan jumlah pemuda. Dalam UU Kepemudaan, kategori umur pemuda berubah menjadi 16–30 tahun, sebelumnya kategori pemuda dari umur 15–35 tahun. Berdasarkan data Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2005–2025 yang dilakukan oleh BPS, jumlah pemuda mengalami pasang surut. Pada tahun 2009, jumlah pemuda sebanyak 62,77 juta jiwa. Angka tersebut terus mengalami kenaikan sampai dengan tahun 2011 menjadi 62,92 juta jiwa. Namun sejak tahun 2012 jumlah pemuda mengalami kenaikan dan penurunan hingga pada tahun 2015 diprediksikan jumlah pemuda menjadi 62,24 juta jiwa, atau turun 535,6 ribu jiwa dari tahun 2009. Tabel 2. Jumlah pemuda dan proporsi pemuda di dunia Tahun Jumlah Persentase dari Total Populasi Pemuda 1985 941 Juta 19.4% 1995 1.019 Miliar 18.0% 2025 1.222 Miliar 15.4% Sumber: www.un.org/youth Masa remaja atau pemuda merupakan tingkatan (stages) bagi seorang sebelum memasuki usia atau masa dewasa, di dalam masa remaja atau pemuda itu sendiri terdapat tingkatan – tingkatan. Periode transisi ini berada pada usia seseorang antara 11 sampai 21 tahun yang berada pada perkembangan spesifik yang merujuk pada awal pemuda (early adolescent) kira – kira berusia antara 11–14 tahun, pemuda menengah (mid adolescent) kira – kira berumur 15–17 tahun, dan masa pemuda akhir (late adolescent) kira–kira berumur 18–21 tahun. Manurut Cobb (2010) pemuda awal ditunjukan oleh permulaan munculnya pubertasi dan juga perubahan badan seorang anak mejadi seorang yang dewasa. Sementara itu pada pemuda akhir, fokus seorang pemuda mulai bergeser, lebih fokus untuk menemukan jati diri dan mencari kesamaan dan keintiman dari sebuah hubungan. Pemuda dan Pertanian Generasi muda merupakan sumber insani bagi pembangunan masa depan, maka posisi dan peranan generasi muda menempati kedudukan sangat strategis dalam mengemban tugas masa depan. Dengan demikian hubungan antara pemuda tani dengan pembangunan pertanian tidaklah dapat dipisahkan karena pemuda tani hari ini akan 32 menjadi petani di masa yang akan datang. Pertanian maju, modern dan tangguh akan dicapai apabila petani sebagai pelaksana utama pembangunan pertanian juga tangguh dan mandiri. Karena itu, ketangguhan dan kemandirian petani merupakan salah satu prasyarat yang akan menentukan keberhasilan pembangunan pertanian. Ketangguhan dan kemandirian pemuda tani tergantung pada profesionalisme dan kesiapan aparat pembina dalam mempersiapkan pemuda tani agar mereka tidak hanya memiliki bekal kemampuan, tetapi juga memiliki kepekaan dan wawasan terhadap corak dan bentuk kehidupan masa depan. Dalam Pedoman Pembinaan Pemuda Tani yang dikeluarkan oleh Badan Diklat Pertanian tahun 1992, pemuda tani digolongkan dalam 3 (tiga) kategori, yaitu: a.Tarunatani adalah generasi muda yang berusia 10-25 tahun, membantu kegiatan usahatani keluarga, hidupnya tergantung pada penghasilan keluarga dan belum menentukan bidang pertanian sebagai mata pencaharian, b.Petani muda adalah generasi muda yang berusia 17-35 tahun berusaha sendiri, telah menentukan bidang pertanian sebagai sumber mata pencaharian dan hidupnya tidak tergantung pada penghasilan keluarga. c.Taruna bumi adalah generasi muda yang berusia 10-25 tahun anggota pramuka yang mencintai pertanian dan berminat bekerja di bidang pertanian. Jika petani mempunyai organisasi yang kuat akan memudahkan bagi pemerintah untuk memberdayakannya. Sebab, tidak mungkin bagi pemerintah untuk berhadapan dengan petani satu per satu. Jadi pemerintah berhadapan dengan kelompok tani, gabungan kelompok tani, organisasi tani dan lain-lain. Pemerintah berharap supaya organisasi petani ini tumbuh dan berkembang. Tanpa organisasi petani, pemerintah sangat berat untuk memberdayakan petani. Sebaliknya kalau petani sudah diberdayakan, mereka menjadi “agent of change” di masyarakat 33 KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS Kerangka Berpikir Pendekatan teoritis yang menjadi dasar penelitian mengenai pengaruh keluarga, teman, dan media terhadap sikap pemuda ini adalah perspektif sistem yang dilandasi oleh pemikiran bahwa keluarga, teman dan televisi merupakan sistem mikro dalam mempengaruhi perkembangan pribadi individu. Orang tua, teman, dan media massa memegang peranan penting sebagai agen sosialisasi (Puspitawati 2006), di mana pemuda merupakan individu yang berada dalam mikrosistem sehingga pemuda tidak akan terlepas dari pengaruh pada orang tua, teman, dan media massa (televisi dan radio) yang mempengaruhi individu (mikro level). Kalish dan Collier; Eshleman dalam Puspitawati 2006 berpendapat bahwa interaksi dalam keluarga adalah bagian dari proses sosialisasi anak yang dilakukan oleh orangtua. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam proses sosialisasi ini, yaitu: pola perilaku yang disosialisasikan, agen yang berpartisipasi dalam proses sosialisasi (termasuk orangtua, anak, teman, guru, program televisi), dan teknik serta pelaksanaan dari proses sosialisasi. Konsepsi tersebut menggambarkan bahwa agen sosialisasi yang terdapat pada lingkungan mikro adalah orang tua, anak, teman, guru, dan program televisi. Pada penelitian ini pihak yang ditenggarai berhubungan dengan sikap pemuda adalah keluarga, teman, dan media massa. Sekolah tidak dimasukan karena pemuda dalam penelitian kali ini karena agen – agen sosialisasi yang yang terdapat pada penelitian ini membicarakan informasi pertanian sementara sekolah yang terdapat di wilayah tersebut tidak menginformasikan penelitian karena hanya sekolah yang bersifat umum sehingga dalam penelitian ini pihak yang dinilai berkontribusi kepada sikap pemuda terhadap pertanian adalah orang tua, teman, dan media massa (televisi, radio). Pemilihan orang tua, teman, dan media televisi sebagai pihak yang dapat mempengaruhi persepsi dan sikap pemuda sejalan dengan Model Sistem Ekologi yang berkaitan dengan pihak–pihak yang mempengaruhi perkembangan individu dari Bronfenbrenner (1981) dalam Puspitawati (2006) Gambar 1. Pada dasarnya Brofenbrenner menyajikan pandangan bahwa individu (Pemuda) berinteraksi langsung dengan subsistem 34 – subsistem yang berada pada lingkungan sekitar mereka, interaksi tersebut dapat mempengaruhi perkembangan seseorang individu baik dari aspek sikap. Pengaruh dari daya tarik dan daya dorong di pedesaan juga menyebabkan banyaknya pemuda yang meninggalkan sektor pertanian ke sektor non-pertanian (Tjakrawati, 1988). Pindahnya pemuda dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian juga diakibatkan oleh kesempatan kerja di desa yang sangat terbatas, kondisi sumberdaya alam yang tidak memungkinkan diperoleh hasil produksi yang tinggi dan juga upah kerja di pedesaan lebih rendah dibandingkan dengan di kota. Sistem Makro Idieologi Sistem Meso T P elayanan etangga Sistem Mikro K eluarga empat S I ekolah ndividu: Usia, Jenis T Kelamin T eman M I edia ndustri P olitisi Gambar 1. Model Sistem Ekologi dalam Proses Sosialisasi (Brofenbrenner dalam Puspitawati 2009) Kerangka berpikir pada penelitian ini merupakan turunan dari Model Sistem Ekologi milik Bronfenbrenner dalam Puspitawati (2006) dengan sedikit modifikasi sehingga menekankan pada peranan orang tua, teman, dan media massa yang terjadi. Pada penelitian ini hanya difokuskan saja pada micro level dikarenakan mikro level merupakan lingkungan terdekat dengan individu. Pada penelitian ini Mikro level yang merupakan 35 “agen sosialisasi primer” yang dimaksud merujuk pada Kalish dan Collier; Eshleman dalam Puspitawati (2006) agen yang berpartisipasi dalam proses sosialisasi adalah Keluarga dalam hal ini adalah orang tua, teman, program televisi. Proses terbentuknya sikap pada pemuda akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik sosial ekonomi di mana individu tersebut berada (Ihromi 1999). Sikap pemuda terhadap pertanian pada penelitian ini merupakan sikap pemuda terhadap sektor pertanian sebagai pekerjaan masa kini dan masa depan sehingga dapat terlihat sejauhmana sikap pemuda dalam melihat apakah pertanian dapat memenuhi kebutuhan manusia. Sikap pemuda terhadap pertanian dilihat sebagai buah dari persepsi pemuda terhadap kesempatan kerja, persepsi terhadap sumberdaya alam di desa dan persepsi terhadap pekerjaan pertanian di masa yang akan datang. Sikap pemuda juga merupakan hasil sosialisasi tentang pertanian yang diterima pemuda dari proses sosialisasi pertanian dari orang tua, teman (peers), maupun media massa. Hubungan antara peubah– peubah yang dibangun dijelaskan melalui kerangka berpikir penelitian pada Gambar 2. 37 KERANGKA BERPIKIR Karakteristik Individu Pemuda X1. Umur X2. Tingkat Pendidikan X3. Jenis Kelamin X4. Status Kepemilikan Lahan orang tua X5. Luas Kepemilikan Lahan orang tua X6. Tingkat Kekosmopolitan Pemuda H1 Agen Sosialisasi H2 Interaksi dengan Orang Tua (X7) X7.1 Frekuensi orang – tua bercerita mengenai pertanian X7.2 Tingkat Pelibatan pemuda dalam kegiatan pertanian oleh orang tua Keterdedahan dalam Menggunakan Media Massa (TV, Radio) (X8) X.8.1 Intensitas menggunakan media massa Pertanian X.8.1.1 Lama Menonton X.8.1.2 Lama Mendengarkan Radio X.8.2. Frekuensi menggunakan media massa Pertanian X.8.2.1 Frekuensi Menonton TV X.8.2.2 Frekuensi Mendengarkan Radio (0,130) Interaksi dengan Teman (X9) X.9.1 Tingkat kedekatan dengan teman di bidang Pertanian Persepsi Pemuda terhadap Kondisi di Pedesaan (X10) X10.1. Persepsi pemuda terhadap Kesempatan Kerja di Pedesaan X10.2Persepsi Pemuda terhadap kondisi sumberdaya alam di pedesaan X10.3 Persepsi pemuda terhadap pertanian di masa depan H3 SIKAP PEMUDA TERHADAP PEKERJAAN DI SEKTOR PERTANIAN (Y1) Y1.1 Kognisi Terhadap Pekerjaan di bidang pertanian Y1.2. Afeksi Terhadap pekerjaan di bidang pertanian: Y.1.3. Kecenderungan Bertindak pemuda di bidang pertanian : H4 H5 Gambar 2. Kerangka berpikir hubungan orang tua, media massa, dan teman dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. 38 Hipotesis Penelitian H1 : Terdapat hubungan nyata antara karakteristik internal pemuda dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian H2 : Terdapat hubungan nyata antara sosialisasi oleh orang tua dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian H3 : Terdapat hubungan nyata antara keterdedahan terhadap media massa dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian H4 : Terdapat hubungan nyata antara interaksi teman pemuda tani dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian H5 : Terdapat hubungan nyata antara persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian 39 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di wilayah pertanian hortikulutra di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur dengan pertimbangan wilayah tersebut merupakan salah satu sentra produksi sayuran di Jawa Barat. Menurut Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Cianjur, Kabupaten Cianjur merupakan salah satu di antara tujuh kabupaten/kota yang merupakan sentra produksi tanaman hortikultura di Jawa Barat. Menurut pihak Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Kecamatan Pacet merupakan kecamatan yang direkomendasikan oleh Dinas Pertanian karena kemudahannya untuk diakses dan menjadi sentra produksi tanaman hortikultura (sayuran wortel) di Kabupaten Cianjur. Pemilihan lokasi dilakukan dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Pacet merupakan sentra produksi tanaman hortikultura yang berada di Kabupaten Cianjur, sehingga dapat diasumsikan bahwa Pacet sebagai sentra produksi tanaman hortikultura memiliki sumberdaya pertanian hortikultura yang berlimpah dan secara pemasaran wilayah tersebut dapat dikatakan baik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari hingga September 2011. Desain Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan desain penelitian survai bersifat deskriptif–korelasional. Penelitian ini berusaha menjelaskan dan menguraikan fenomena yang diamati. Hasil pengamatan diharapkan dapat menggambarkan sikap pemuda tani terhadap pekerjaan di bidang pertanian dan faktor–faktor mempengaruhi sikap pemuda. Desain ini juga dimaksudkan untuk menjelaskan karakteristik pemuda petani di Desa Cipendawa dan Sukatani dan untuk menguji hubungan antara peubah bebas dan peubah terikat melalui instrumen kuesioner. Peubah bebas di sini adalah karakteristik pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa dan interaksi dengan teman dari bidang pertanian, serta persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan. Sementara peubah terikat dalam penelitian ini adalah sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. 40 Populasi dan Sampel Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah pemuda yang berasal dari keluarga petani, belum menikah, yang usianya berada pada rentang 13–24 tahun dan berada pada wilayah tanaman hortikultura di Kecamatan Pacet. Pertimbangan pemilihan tempat tersebut karena (1) merupakan sentra produksi tanaman wortel (2) besarnya jumlah petani pemuda (3) keragaman karakteristik sosial ekonomi masyarakatnya (4) terdapat kelompok tani yang aktif. Kecamatan Pacet terdiri atas 7 desa, terdapat dua desa yang menjadi sentra produksi tanaman hortikultura terbesar yaitu Desa Cipendawa dan Desa Sukatani (Wilayah Agropolitan). Menurut data yang dimiliki oleh Kecamatan Pacet, di Desa Cipendawa terdapat 1.457 Pemuda (15–30 tahun) sementara itu di Desa Sukatani terdapat 1.340 Pemuda (13-30 tahun). Sampel Penelitian Metode penarikan sampel terkategorikan probability random sampling dengan menggunakan cluster sampling dengan pertimbangan kerangka sampling penelitian sulit untuk ditentukan karena tidak dimilikinya data mengenai jumlah pemuda yang terkategorikan usia 13–24 tahun, belum menikah dan orang tuanya merupakan petani. Menggunakan cluster sampling dipilih dua desa secara sengaja yaitu Desa Cipendawa dan Desa Sukatani dengan pertimbangan desa tersebut memiliki produksi tanaman sayur yang besar di Kecamatan Pacet. Desa Cipendawa memiliki 4 Perdukuhan (kampung) yang terdiri dari 14 RW dan Sukatani memiliki 4 perdukuhan yang terdiri dari 8 RW. Dari masing–masing desa tersebut dipilih secara acak satu Perdukuhan, untuk Desa Cipendawa mendapatkan Dukuh Pasir Cina untuk desa Cipendawa dan Pasir Kampung untuk Desa Sukatani dengan masing–masing jumlah pemuda yang berasal dari keluarga petani dan belum menikah dengan usia antara 13–24 tahun adalah untuk Desa Cipendawa 110 orang dan untuk Desa 104 orang. Menurut Neuman (1997), Penentuan jumlah sampel yang representatif untuk populasi kecil yang kurang dari 1000 orang, maka peneliti membutuhkan suatu perbandingan sampel yang besar yaitu sekitar 30 persen dari populasi. Untuk lebih dapat melihat proses penarikan sampel dijelaskan pada kerangka penarikan sampling yang disajikan pada Gambar 3. 41 Kerangka Penarikan Sampel KAB. CIANJUR KEC. PACET 7 DESA Desa Cipendawa Desa Sukatani 4 Dusun 4 Dusun Pasir Cina Pasir Kampung Dipilih secara acak Jumlah Pemuda dari Keluarga Petani 110 orang Dipilih secara acak 30% dari 110 = 34 Orang Jumlah Pemuda dari Keluarga Petani 104 orang 30% dari 104 = 31 Orang TOTAL SAMPEL 65 ORANG Gambar 3. Kerangka penarikan sampel 42 Data dan Instrumentasi Data Data yang digali dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengisian kuesioner oleh responden secara langsung. Data primer pada penelitian ini meliputi data mengenai karakteristik pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa, interaksi dengan teman di bidang pertanian, persepsi terhadap kondisi di pedesaan. Data sekunder diperoleh dari dokumen–dokumen dari instansi seperti Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, BPS, Kecamatan Pacet, dan instansi lain yang terkait dengan penelitian ini, data sekunder dalam penelitian ini meliputi data–data seperti potensi wilayah, kebijakan–kebijakan pertanian terakhir di Kecamatan Pacet. Instrumentasi Instrumen adalah alat bantu yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner yang merupakan susunan pertanyaan/pernyataan yang akan diwawancarai langsung responden. Dasar jawaban responden adalah pertanyaan yang diajukan atau alternatif jawaban yang sudah tersedia dalam kuesioner. Pengembangan pertanyaan pertanyaan dari kuesioner yang telah ada dilakukan untuk melengkapi hasil wawancara. Validitas dan Reliabilitas Instrumentasi Validitas Instrumentasi Ancok dalam Singarimbun dan Effendi (1989) mengemukakan bahwa validitas instrumentasi adalah suatu tingkatan yang menunjukkan pengukuran yang tepat meliputi validitas isi dan validitas konstruk. Validitas isi diupayakan dengan cara mencermati isi instrumen yang mewakili seluruh aspek yang dinyatakan sebagai kerangka konsep. Validitas dalam penelitian ini didapat dengan jalan menyesuaikan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan instrumen berdasarkan indikator-indikator yang dibuat dari teori-teori yang ada dan pendapat dari ahli, termasuk konsultasi dengan dosen pembimbing. Uji validitas dilakukan dengan teknik korelasi product moment Pearson. Untuk beberapa pernyataan yang terkait dengan teknis pertanian 43 diperoleh dari informasi yang diberikan oleh Penyuluh Lapang dan juga Ketua Gapoktan Perhitungan dengan menggunakan teknik korelasi product moment Pearson, menggunakan rumus sebagai berikut (Ancok dalam Singarimbun dan Effendi, 1989). r  [N Keterangan  N (  XY )  (  X X : r X Y XY N 2  ( X ) 2 Y) ][ N  Y  (  Y ) 2 2 ] = Nilai koefisien validitas = Skor pertanyaan pertama = Total Skor = Skor pertanyaan pertama dikalikan skor total = Jumlah responden Uji validitas dilakukan dengan mengorelasikan skor masing–masing butir pertanyaan dengan skor total pada setiap peubah. Berdasarkan hasil uji statistik terhadap instrumen yang digunakan dengan SPSS versi 15, maka dapat disimpulkan secara keseluruhan item pertanyaan yang valid dapat dilihat dari nilai kritis pada tabel product moment pearson. Dari hasil uji validitas yang diujikan pada 15 orang pemuda tani diperoleh nilai kritis dari tabel product moment pearson sebesar 0,553. Dengan nilai kritis tersebut terdapat 24 pertanyaan yang tidak valid dan dibuang, tetapi terdapat juga 26 pertanyaan yang nilai kritisnya tidak terlalu jauh di bawah 0,553 dimodifikasi tata bahasanya agar dapat lebih dipahami secara lebih detail oleh responden. Reliabilitas Instrumen Reliabilitas instrumen adalah indeks yang menunjukan sejauhmana suatu alat pengukuran dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Ancok dalam Singarimbun dan Effendi, 1989). Teknik yang digunakan dalam perhitungan reliabilitas sebagai alat ukur yaitu teknik belah dua atau split half dengan mengorelasikan jawaban belahan pertama (ganjil) dan belahan kedua (genap). rtot  2 rtt  1  rtt 44 Keterangan r.tot = Angka reliabilitas keseluruhan item r.tt = Angka korelasi belahan pertama dan belahan kedua Berdasarkan hasil uji analisis statistik dengan menggunakan SPSS versi 15 terhadap seluruh instrumen yang diuji coba terhadap 15 orang pemuda yang bukan sampel tetapi memiliki karakteristik yang hampir sama dengan responden. Pengujian reliabilitas menggunakan split–half , untuk menentukan apakah setiap instrumen reliabel atau tidak dalat dilihat pada skala 0 – 1 interpretasi reliabilitas instrumen sebagai berikut: 1. Nilai reliabilitas 0,0–0,20 = Kurang reliabel 2. Nilai reliabilitas 0,21–0,40 = Agak reliabel 3. Nilai reliabilitas 0,41–0,60 = Cukup reliabel 4. Nilai reliabilitas 0,61–0,80 = Reliabel 5. Nilai reliabilitas 0,81–1,00 = Sangat Reliabel Dari hasil uji reliabilitas yang diujikan pada 15 orang pemuda tani dengan menggunakan rumus split-half di peroleh kisaran nilai reliabilitas antara 0,540– 0,924. Sehingga dapat dikatakan reliabilitas instrumennya berkisar antara cukup reliabel sampai dengan sangat reliabel. Pengumpulan Data Pengumpulan data peda penelitian ini menggunakan kuesioner, FGD, Indepth interview, dan penelaahan terhadap naskah atau dokumen. 1) Kuesioner dalam penelitian ini ditanyakan terhadap 65 responden untuk mendapatkan data primer mengenai peubah – peubah yang diteliti. 2) FGD dilakukan untuk memperoleh penjelasan dari key informan (3 orang tua dari pemuda yang menjadi responden) data yang diperoleh mengenai pandangan orang tua dalam menyosialisasikan pertanian terhadap pemuda (anak mereka). 3) Wawancara mendalam (indepth interview) dengan 3 orang, Ketua Gapoktan Multi Tani Jaya Giri (serta PPL data yang diperoleh adalah data yang berhubungan dengan pandangan pemuda mengenai pertanian. 4) Penelaahan dokumen dilakukan terhadap potensi Desa Cipendawa dan potensi Desa Sukatani dan Cianjur dalam angka, data – data tersebut berupa data sekunder yang mendukung data primer . 45 Analisis Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diolah dan dianalisis dengan prosedur sebagai berikut: 1. Analisis statistik deskriptif dilakukan terhadap karakteristik pemuda, Interaksi dengan Orang Tua, Keterdedahan terhadap media massa dan Interaksi dengan teman dalam menyosialisasikan pekerjaan di bidang pertanian dan persepsi terhadap kondisi di pedesaan. Sementara perubah terikat dalam penelitian ini adalah sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian. 2. Analisis statistik non-parametrik, yaitu untuk mengetahui nilai hubungan antara karakteristik pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa dan interaksi dengan teman di bidang pertanian di bidang pertanian dan persepsi terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian. Hubungan antar peubah tersebut dianalisis menggunakan program SPSS versi 15 dengan Uji Koefisien Kontingensi dan korelasi Rank Spearman. a. Chi Square dengan rumus sebagai berikut: k n    2 i 1 j 1 ij  ij 2 ij Keterangan : X2 = Koefisien korelasi chi square Oij = Frekuensi yang termasuk pada tiap sel (i,j) Eij = Frekuensi yang diharapkan dalam sel (i,j) k = Jumlah baris n = jumlah kolom Analisis keeratan hubungan pada Uji Chi Square dilakukan dengan menghitung koefisien kontingensinya dengan rumus sebagai berikut : 2 C n  2 Keterangan : C X2 n = Nilai Koefisien Kontingensi = Hasil Chi Square hitung = Banyaknya sampel 46 b. Rank Spearman n rs  6  di 2 i1  n n2 1  Keterangan : rs di n 1 dan 6 = Koefisien Korelasi Rank Spearman = Beda antara dua peubah berpasangan = Jumlah Responden = Bilangan koefisien Definisi Operasional Definisi operasional dan beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : I. Karakteristik Pemuda Pemuda yang dimaksud dalam penelitian ini adalah orang yang berusia antara 13–24 tahun baik perempuan maupun laki–laki dan belum menikah dan berasal dari keluarga petani. Karakteristik pemuda adalah gambaran tentang sifat– sifat atau ciri– ciri pribadi yang dimiliki responden sampel penelitian ini, meliputi ciri–ciri pribadi (internal) sebagai berikut: X.1. Umur pemuda lama hidup pemuda dinyatakan dalam tahun, dihitung dari saat kelahiran sampai penelitian ini dilakukan dibulatkan dalam jumlah tahun terdekat saat ulang tahun bila terdapat selisih bulan (Muksin 2007). Peubah ini diukur dengan skala rasio. a. 13-14 tahun (remaja awal) b. 15–17 tahun (remaja pertengahan) c. 18–21 tahun (remaja akhir) d. 22–24 tahun (dewasa awal) X.2. Jenis Kelamin, adalah kondisi biologis primer pemuda apakah tergolong laki – laki ataupun perempuan yang secara kodrati memiliki fungsi–fungsi organisme yang berbeda (Handayani dan Sugiarti, 2008). Peubah ini diukur melalui skala nominal. a. Perempuan b. Laki - Laki 47 X.3. Tingkat Pendidikan Pemuda adalah pendidikan formal dari mulai jenjang SD sampai dengan jenjang perguruan tinggi yang pernah diikuti oleh pemuda, peubah tingkat pendidikan ini diukur dengan skala ordinal, (Muksin 2007) 1. Lulusan SD 2. Lulusan SLTP 3. Lulusan SLTA 4. Lulusan Perguruan Tinggi X.4. Status Kepemilikan Lahan Orang Tua, kondisi kepemilikan lahan pertanian yang dikelola oleh orang tua, diukur dengan skala ordinal. 1. Menggarap (Miliki orang lain) 2. Milik Sendiri X.5. Luas Lahan Pertanian Orang Tua, Jumlah hamparan tanah (ha) yang diusahakan ataupun yang dimanfaatkan orang tua dalam berusaha tani di mana pemuda tersebut berada dan membantu dalam aktivitas pemanfaatannya (Muksin 2007), diukur dengan skala rasio . 1. 0,7 ha X.6. Tingkat Kekosmopolitan Pemuda, adalah kesediaan seseorang pemuda untuk berusaha mencari ida-ide baru dari luar lingkungannya atau tingkat keterbukaan dalam menerima pengaruh dari luar (Rogers dan Shoemaker dalam Soekartawi 2005), diukur dengan skala ordinal. 1. Rendah (0-1 kali) 2. Sedang (2-3 kali) 3. Tinggi (4-5 kali) II. Faktor Agen Sosialisasi Agen Sosialisasi merupakan pihak terdekat bagi pemuda yang mentrasmisikan nilainilai, pengetahuan atau norma–norma tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung (Ihromi 1999), terutama terkait dengan terutama nilai, pengetahuan mengenai pertanian. X.7. Sosialisasi oleh Orang Tua 48 X.7.1. Frekuensi orang tua bercerita terhadap anak mengenai pertanian, Menurut Turner dan West (2006) bercerita adalah suatu transmisi kebudayaan melalui interaksi dengan kata–kata dengan significant others dalam pembentukan dan bertahannya suatu kebudayaan dalam suatu generasi dan antar generasi. Dalam penelitian ini Frekuensi bercerita adalah tingkat keseringan orang tua (ayah dan ibu) dalam bercerita mengenai pertanian kepada anaknya (pemuda), peubah ini diukur dengan skala ordinal. 1. Rendah ( < 3) 2. Sedang (4–6) 3. Tinggi (7–9) X.7.2. Tingkat Pelibatan pemuda dalam kegiatan pertanian oleh orang tua. Menurut Turner dan West (2006), pelibatan pemuda dalam kegiatan orang tua dapat dikategorikan sebagai patterned family interaction (interaksi keluarga yang terpola) adalah aktivitas yang dilakukan dalam keluarga dalam rangka membangun dan mempertahankan identitas. Turner dan West juga mengatakan bahwa patterned family interaction merupakan suatu kegiatan informal yang rutin dilakukan biasanya merupakan kegiatan simbolik. Sementara dalam penelitian ini peubah ini didefinisikan sebagai keseringan orang tua dalam mengajak anaknya (pemuda) ke kebun untuk membantu orang tua mengerjakan kegiatan pertanian,diukur dengan skala ordinal. 1. Rendah (1-2,0) 2. Jarang (2,01 – 3, 01) 3. Sering (3,02 – 4) X.8. Keterdedahan terhadap Media massa X.8.1 Keterdedahan terhadap Media Televisi X.8.1.1 Frekuensi Menonton acara pertanian, adalah keadaan sering (seberapa sering) pemuda menyaksikan acara pertanian dalam satu bulan (Jahi, 1988), diukur dengan skala ordinal 1. Rendah (0–2 kali/bulan) 49 2. Sedang (3–4 kali/bulan) 3. Tinggi (5–7 kali/bulan) X.8.1.2 Intensitas Menonton acara pertanian, adalah lamanya waktu yang diluangkan oleh pemuda dalam satu kali menyaksikan acara televisi, dihitung dengan skala ordinal 1. Rendah (< 20 menit) 2. Sedang (21–41 menit) 3. Tinggi (42–60 menit) X.8.2 Keterdedahan terhadap Media Massa Radio X.8.2.1 Frekuensi mendengarkan acara pertanian, adalah seberapa sering pemuda mendengarkan acara pertanian dalam satu bulan (Jahi, 1988), diukur dengan skala ordinal 1. Rendah (
Correlation between Parents, Mass Media, and Peers with Youth Attitude Towards Agricultural Livelihood (Case: Agricultural Youth in Subdistrict of Pacet, District of Cianjur). Karakteristik Pemuda Correlation between Parents, Mass Media, and Peers with Youth Attitude Towards Agricultural Livelihood (Case: Agricultural Youth in Subdistrict of Pacet, District of Cianjur).
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Correlation between Parents, Mass Media, and Peers with Youth Attitude Towards Agricultural Livelihood (Case: Agricultural Youth in Subdistrict of Pacet, District of Cianjur).

Gratis