Feedback

Potensi Sambiloto, Sirih Merah, dan Adas Terhadap Virus Avian Influenza H5N1: Kajian Histopatologi, Mortalitas, dan Performa Broiler yang Tidak Divaksin

Informasi dokumen
i    ABSTRAK SINTA MUTIA HARPA. Potensi Sambiloto, Sirih Merah, dan Adas Terhadap Virus Avian Influenza H5N1: Kajian Histopatologi, Mortalitas, dan Performa Broiler yang Tidak Divaksin. Dibimbing oleh AGUS SETIYONO dan MAWAR SUBANGKIT. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh formulasi ekstrak sambiloto, sirih merah, dan Adas dalam menghambat infeksi virus Avian Influenza H5N1 pada broiler. Broiler dibagi menjadi 4 kelompok (kontrol, I, II, dan III) yang masing-masing berisi 8 ekor. Kelompok I, II, dan III diberi formulasi ekstrak tanaman obat (5%, 7.5%, dan 10%) sedangkan kontrol diberi aquades. Semua kelompok diinfeksi dengan virus AI setelah pemberian ekstrak tanaman obat. Dilakukan pengamatan pada tingkat kematian, performa, histopatologi organ limfoterikular (limpa, timus, dan bursa Fabricius), dan titer antibodi. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa 7.5% ekstrak tanaman obat memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menghambat kematian dan menekan kerusakan organ limfoid dibandingkan dengan kelompok 5% dan 10%. Kata kunci : Virus Avian Influenza H5N1, Broiler, Herbal, Organ Limfoid ii    ABSTRACT SINTA MUTIA HARPA. Potency of Sambiloto, Sirih Merah, and Adas on Avian Influenza Virus H5N1: Histopathology, Mortality, and Performans of Broiler were Not Vaccinated. Supervised by AGUS SETIYONO and MAWAR SUBANGKIT. The objective of this research was to study the effect of Sambiloto, Sirih Merah, and Adas extract in inhibiting H5N1 avian influenza virus infection in broiler. Broiler were devided into 4 groups, each consisted of 8 chicks. Groups I, II, and III were given with herb extract (5%, 7.5%, and 10%) and control with aquadest. All groups were challenged with AI virus after being treated with herb extract. Observations were done for mortality, performans, histopathology of lymphoid organs (spleen, thymus and bursa Fabricius) and antibody titer of the chicken. The result of this study indicated that 7.5% herb extract better in its ability to inhibit mortality and reduce the damage of lymphoid organ than other treatments. Herb extract did not affect the performans of broiler. Keyword : H5N1 Avian influenza virus, broiler, herbal, lymphoid organs     POT TENSI SAM MBILOTO O, SIRIH MERAH, DAN AD DAS TERH HADAP VIIRUS AVIIAN INFL LUENZA H5N1: KAJIAN HIST TOPATOL LOGI, MO ORTALIT TAS, DAN PERFOR RMA BROIILER YAN NG TIDA AK DIVAK KSIN SINTA M MUTIA HARPA H FAKU ULTAS KE EDOKTERAN HEW WAN INS STITUT PERTANIA AN BOGO OR 2012 i    ABSTRAK SINTA MUTIA HARPA. Potensi Sambiloto, Sirih Merah, dan Adas Terhadap Virus Avian Influenza H5N1: Kajian Histopatologi, Mortalitas, dan Performa Broiler yang Tidak Divaksin. Dibimbing oleh AGUS SETIYONO dan MAWAR SUBANGKIT. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh formulasi ekstrak sambiloto, sirih merah, dan Adas dalam menghambat infeksi virus Avian Influenza H5N1 pada broiler. Broiler dibagi menjadi 4 kelompok (kontrol, I, II, dan III) yang masing-masing berisi 8 ekor. Kelompok I, II, dan III diberi formulasi ekstrak tanaman obat (5%, 7.5%, dan 10%) sedangkan kontrol diberi aquades. Semua kelompok diinfeksi dengan virus AI setelah pemberian ekstrak tanaman obat. Dilakukan pengamatan pada tingkat kematian, performa, histopatologi organ limfoterikular (limpa, timus, dan bursa Fabricius), dan titer antibodi. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa 7.5% ekstrak tanaman obat memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menghambat kematian dan menekan kerusakan organ limfoid dibandingkan dengan kelompok 5% dan 10%. Kata kunci : Virus Avian Influenza H5N1, Broiler, Herbal, Organ Limfoid ii    ABSTRACT SINTA MUTIA HARPA. Potency of Sambiloto, Sirih Merah, and Adas on Avian Influenza Virus H5N1: Histopathology, Mortality, and Performans of Broiler were Not Vaccinated. Supervised by AGUS SETIYONO and MAWAR SUBANGKIT. The objective of this research was to study the effect of Sambiloto, Sirih Merah, and Adas extract in inhibiting H5N1 avian influenza virus infection in broiler. Broiler were devided into 4 groups, each consisted of 8 chicks. Groups I, II, and III were given with herb extract (5%, 7.5%, and 10%) and control with aquadest. All groups were challenged with AI virus after being treated with herb extract. Observations were done for mortality, performans, histopathology of lymphoid organs (spleen, thymus and bursa Fabricius) and antibody titer of the chicken. The result of this study indicated that 7.5% herb extract better in its ability to inhibit mortality and reduce the damage of lymphoid organ than other treatments. Herb extract did not affect the performans of broiler. Keyword : H5N1 Avian influenza virus, broiler, herbal, lymphoid organs iii    POTENSI SAMBILOTO, SIRIH MERAH, DAN ADAS TERHADAP VIRUS AVIAN INFLUENZA H5N1: KAJIAN HISTOPATOLOGI, MORTALITAS, DAN PERFORMA BROILER YANG TIDAK DIVAKSIN SINTA MUTIA HARPA Skripsi Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan pada Fakultas Kedokteran Hewan FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 iv    PERNYATAAN MENGENAI SUMBER SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Potensi Sambiloto, Sirih Merah, dan Adas Terhadap Virus Avian Influensa H5N1: Kajian Histopatologi, Mortalitas, dan Performa Broiler yang Tidak Divaksin adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, Juli 2012 Sinta Mutia Harpa NIM B04070093 i    © Hak Cipta milik IPB, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB ii    LEMBAR PENGESAHAN Judul Skripsi : Potensi Sambiloto, Sirih Merah, dan Adas Terhadap Virus Avian Influenza H5N1: Kajian Histopatologi, Mortalitas, dan Performa Broiler yang Tidak Divaksin Penyusun : Sinta Mutia Harpa NRP : B04070093 Disetujui, Pembimbing 1 Pembimbing 2 drh. H. Agus Setiyono, MS. PhD. APVet NIP. 19630810 198803 1 004 drh. Mawar Subangkit NIP. 19850522 201012 1 006 Diketahui Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor drh. H. Agus Setiyono, MS. PhD. APVet NIP. 19630810 198803 1 004 Tanggal Lulus : iii    PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak Juli 2010 ialah Potensi Sambiloto, Sirih Merah dan Adas Terhadap Virus Avian Influenza H5N1: Kajian Histopatologi, Mortalitas, dan Performa Broiler yang Tidak Divaksin. Penelitian ini merupakan bagian dari kegiatan Kerjasama Kemitraan Penelitian Pertanian dengan Perguruan Tinggi (KKP3T) antara Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor dan Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian Jakarta. Terima kasih penulis ucapkan kepada drh. H. Agus Setiyono, MS. PhD. APVet dan drh. Mawar Subangkit sebagai pembimbing. Di samping itu, ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Pak Kasnadi, Pak Soleh, Pak Endang, dan Bibi yang telah membantu di laboratorium histopatologi selama penelitian. Terimakasih kepada teman seperjuangan dalam penelitian (Wyanda, Kak Masda, Ita, dan Hazar). Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada keluarga tercinta, ayahanda H. Aang Panji, ibunda Hj. Amih Haryati, dan adinda Citra Zahra Harpa atas dukungan, doa, serta nasihatnya. Terimakasih penulis ucapkan kepada sahabat-sahabat Wisma Ayu Crew, Laskar Afkar, serta teman-teman Gianuzzi 44 dan Avenzoar 45 atas kebersamaannya. Skripsi ini tidak luput dari kekurangan dan kesalahan oleh karena itu penulis terbuka menerima kritik dan saran yang membangun guna penulisan selanjutnya. Semoga skripsi ini bermanfaat. Bogor, Juli 2012 Sinta Mutia Harpa iv    RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Subang pada tanggal 13 Oktober 1989 dari ayah H. Aang Panji dan ibu Hj. Amih Haryati serta adik Citra Zahra Harpa. Pendidikan formal dimulai dengan SDN Neglasari Subang, SMPN 1 Subang, dan lulus SMAN 1 Subang pada tahun 2007. Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa prog sarjana Institut Pertanian Bogor melalui Undangan Saringan Masuk IPB (USMI), setahun kemudian penulis masuk ke Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Dewan Keluarga Mushola An-Nahl (DKM An-Nahl), Himpunan Minat dan Profesi Ruminansia (HIMPRO Ruminansia), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Organisasi Mahasiswa Daerah Subang (OMDA), Tentor Biologi di bimbingan belajar Salemba Grup. i    DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL .................................................................................................. iii DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iv DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... v PENDAHULUAN .................................................................................................. 1 Latar Belakang ............................................................................................... 1 Tujuan ............................................................................................................ 3 Manfaat .......................................................................................................... 3 TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................... 4 Virus Flu Burung ........................................................................................... 4 Ayam Broiler ................................................................................................. 5 Sirih Merah (Piper crocatum) ....................................................................... 7 Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) .................................................. 8 Adas (Foeniculum vulgare) ......................................................................... 10 Limpa ........................................................................................................... 11 Bursa Fabricius ............................................................................................ 12 Timus ........................................................................................................... 12 METODOLOGI PENELITIAN ............................................................................ 15 Waktu dan Tempat Penelitian...................................................................... 15 Alat dan Bahan ............................................................................................ 15 Metode Penelitian ........................................................................................ 15 Ekstraksi Tanaman obat dan Pembuatan Formula ............................... 15 Pemeliharaan Hewan Coba ................................................................... 16 Uji Tantang Virus ................................................................................. 17 Pengamatan Histopatologi .................................................................... 17 ii    Perhitungan Persentase Organ Limfoid ................................................ 17 Analisis Data......................................................................................... 18 HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................. 20 Data Mortalitas ............................................................................................ 20 Data Bobot Badan ........................................................................................ 22 Pengamatan Histopatologi Organ Limforetikular ....................................... 23 Limpa .................................................................................................... 23 Bursa Fabricius ..................................................................................... 27 Timus .................................................................................................... 30 Pemeriksaan Serologis ................................................................................. 32 SIMPULAN DAN SARAN .................................................................................. 34 Simpulan ...................................................................................................... 34 Saran ............................................................................................................ 34 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 35 LAMPIRAN .......................................................................................................... 40  iii    DAFTAR TABEL Halaman 1 2 3 4 5 6 Data Mortalitas ayam broiler yang diberi ekstrak tanaman obat selama 21 hari setelah uji tantang virus AI H5N1/NGK/2003 dengan dosis 106 EID50/0.1 mL/ekor............................................. Bobot badan ayam rata-rata (g) diukur per minggu yang diberi ekstrak tanaman obat selama 21 hari dan diuji tantang virus AI H5N1/NGK/2003 dengan dosis 106 EID50/0.1 mL/ekor.................. Persentase pulpa putih pada limpa ayam yang diberi ekstrak tanaman obat selama 21 hari setelah uji tantang virus AI strain H5N1/NGK/2003 dengan dosis 106 EID50/0.1 mL/ekor.................. Persentase Bursa Fabricius pada Ayam yang diberi ekstrak tanaman obat selama 21 hari setelah uji tantang virus AI strain H5N1/NGK/2003 dengan dosis 106 EID50/0.1 mL/ekor.................. Persentase Timus pada Ayam yang diberi ekstrak tanaman obat selama 21 hari setelah uji tantang virus AI strain H5N1/NGK/2003 dengan dosis 106 EID50/0.1 mL/ekor.................. Hasil uji serologis ayam broiler yang diberi ekstrak tanaman obat selama 21 hari setelah uji tantang virus AI H5N1/NGK/2003 dengan dosis 106 EID50/0.1 mL/ekor.............................................. 21 22 24 27 30 33 iv    DAFTAR GAMBAR Halaman 1 2 3 4 5 6 Tanaman Sirih Merah........................................................................ Tanaman Sambiloto........................................................................... Tanaman Adas................................................................................... Histopatologi Limpa yang diberi ekstrak tanaman obat selama 21 hari setelah uji tantang virus AI strain H5N1, Pewarnaan HE, A (Kontrol, 5 hari pasca infeksi/p.i, diberi akuades), B (kelompok I, 5 hari p.i, tanaman obat 5%), C (kelompok II, 7 hari p.i, tanaman obat 7.5%), D (kelompok III, 4 hari p.i, tanaman obat 10%)............ Histopatologi bursa Fabricius yang diberi ekstrak tanaman obat selama 21 hari setelah uji tantang virus AI strain H5N1, Pewarnaan HE, A (Kontrol, 5 hari p.i), diberi akuades), B (kelompok I, 5 hari p.i, tanaman obat 5%), C (kelompok II, 7 hari p.i, tanaman obat 7.5%), D (kelompok III, 4 hari p.i, tanaman obat 10%).................... Histopatologi Timus yang diberi ekstrak tanaman obat selama 21 hari setelah uji tantang virus AI strain H5N1, Pewarnaan HE, A (Kontrol, 5 hari p.i), diberi akuades), B (kelompok I, 5 hari p.i, tanaman obat 5%), C (kelompok II, 7 hari p.i, tanaman obat 7.5%), D (kelompok III, 4 hari p.i, tanaman obat 10%)............................... 7 9 10 25 28 31 v    DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 2 Pembuatan Sediaan Histopatologi.................................................. Uji Statistik..................................................................................... 40 40 1    PENDAHULUAN Latar Belakang Beberapa tahun terakhir, perhatian dunia kesehatan terpusat kepada semakin merebaknya penularan Avian Influenza A (H5N1). Meningkatnya kasus infeksi H5N1 yang menyebabkan kematian pada manusia sangat dikhawatirkan dapat berkembang menjadi wabah pandemi yang berbahaya bagi manusia. Sejak lebih dari satu abad yang lalu, beberapa subtipe dari virus influensa A telah menghantui manusia. Berbagai variasi mutasi subtipe virus influensa A yang menyerang manusia, telah menyebabkan pandemi. Kewaspadaan global terhadap wabah pandemi flu burung mendapatkan perhatian yang serius (Radji 2006). Globalisasi sangat berpengaruh terhadap penyebaran penyakit hewan menular dari suatu wilayah ke wilayah yang lainnya. Penyebaran penyakit dapat terjadi akibat terbawanya bibit penyebab penyakit melalui media pembawa. Media pembawa dapat berupa komoditas hewan atau produk hewan yang dilalulintaskan antarnegara, baik yang diperdagangkan lewat pengiriman maupun sebagai barang bawaan. Globalisasi menyebabkan merebaknya wabah panzootik. Contoh wabah panzootik adalah merebaknya penyakit Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI), yang lebih dikenal dengan istilah penyakit flu burung. Tahun 2003–2004 silam menyebabkan kematian unggas hingga jutaan ekor. Akibatnya, kerugian ekonomi yang cukup besar pun diderita para ternak dan pemerintah dibeberapa belahan benua di dunia seperti Eropa, Amerika, dan Asia. Selain mengakibatkan kerugian ekonomi, HPAI juga menyerang manusia (zoonosis) dan menyebabkan kematian (Baraniah 2002). Avian Influenza (AI) adalah penyakit yang menginfeksi burung, disebabkan oleh virus influensa strain tipe A. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi di Italia lebih dari 100 tahun yang lalu, terjadi diseluruh dunia. Risiko AI umumnya sangat rendah pada manusia karena biasanya virus ini tidak menginfeksi manusia. Barubaru ini, ada kasus AI yang menginfeksi manusia dari beberapa subtipe yang dilaporkan sejak 1997. Virus AI tipe A dibagi menjadi beberapa subtipe, penamaan didasarkan pada susunan dua buah protein pada permukaan virus, yaitu Haemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA), sampai saat ini telah diketahui 16 subtipe HA dan 9 subtipe NA (Saif 2006). 2    Penyakit flu burung atau flu unggas (AI) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influensa tipe A dan ditularkan oleh unggas. Penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus AI jenis H5N1 pada unggas dikonfirmasikan telah terjadi di Republik Korea, Vietnam, Jepang, Thailand, Kamboja, Taiwan, Laos, China, Indonesia dan Pakistan. Sumber virus diduga berasal dari migrasi burung dan transportasi unggas yang terinfeksi. Bulan Januari 2004, dilaporkan adanya kasus kematian ayam ternak yang luar biasa (terutama di Bali, Botabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Jawa Barat). Awalnya, kematian tersebut diduga karena virus Newcastle Disease, namun konfirmasi terakhir oleh Departemen Pertanian disebabkan oleh virus AI. Jumlah unggas yang mati akibat wabah penyakit flu burung di 10 provinsi di Indonesia sangat besar yaitu 3.842.275 ekor (4.77%) dan yang paling tinggi jumlah kematiannya adalah provinsi Jawa Barat (1.541.427 ekor). Bulan Juli 2005, penyakit flu burung telah merenggut tiga nyawa warga Tangerang Banten, hal ini didasarkan pada hasil pemeriksaan laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes Jakarta dan laboratorium rujukan WHO di Hongkong. Wabah AI yang sangat patogen secara keseluruhan dapat mengakibatkan kehancuran bagi industri ternak unggas, apalagi bagi peternak individual, di wilayah yang terserang. Kerugian ekonomis biasanya hanya sebagian yang secara langsung diakibatkan oleh kematian unggas yang terinfeksi H5N1. Berbagai upaya yang dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut juga memerlukan biaya yang besar. Bagi negara berkembang yang memerlukan unggas dan telur sebagai sumber utama protein, dampak wabah ini terhadap keadaan gizi rakyatnya juga sangat besar. Sekali wabah sudah meluas, pengendaliannya semakin sulit dilakukan dan mungkin memerlukan waktu sampai bertahun-tahun (Mohamad 2007). Hingga saat ini belum ada vaksin yang efektif untuk mencegah penyakit AI pada manusia. Vaksin yang tersedia hanya untuk ternak. Meski demikian vaksin influensa yang biasa dipakai untuk mencegah flu manusia dapat diberikan pada orang dengan risiko tinggi (Kumala 2005). Obat yang diberikan pada penderita dengan infeksi virus H5N1 adalah sama dengan penderita infeksi virus influensa lain. Sayangnya kini strain H5N1 sudah 3    banyak yang resisten terhadap golongan amantadin dan rimantadin yang umum dipakai untuk pengobatan influensa, tetapi masih sensitif terhadap oseltamivir dan zanamivir (Kumala 2005). Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai pengaruh Sambiloto, Sirih Merah, dan Adas terhadap potensi virus khususnya virus flu burung. WHO merekomendasikan penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan, dan pengobatan penyakit. WHO juga mendukung upaya-upaya dalam peningkatan keamanan dan khasiat dari obat tradisional. Penggunaan obat tradisional secara umum dinilai lebih aman dari pada penggunaan obat modern. Hal ini disebabkan karena obat tradisional memiliki efek samping yang relatif lebih sedikit dari pada obat modern (WHO 2008). Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi Sambiloto (bagian daunnya), Sirih Merah (bagian daunnya), dan Adas (bagian buahnya) terhadap infeksi virus AI H5N1 pada ayam broiler yang tidak mendapat vaksinasi dengan mengamati performa, mortalitas, dan gambaran histopatologi organ limforetikular (limpa, timus, dan bursa Fabricius). Manfaat Memberikan informasi mengenai potensi Sambiloto (bagian daunnya), Sirih Merah (bagian daunnya), dan Adas (bagian buahnya) terhadap infeksi virus AI H5N1 pada ayam broiler yang tidak mendapat vaksinasi dengan mengamati performa, mortalitas, dan gambaran histopatologi organ limforetikular yaitu (limpa, timus, dan bursa Fabricius). 4    TINJAUAN PUSTAKA Virus Flu Burung Virus influensa adalah partikel berselubung berbentuk bundar atau bulat panjang. Virus Orthomyxoviridae influensa (Mohamad merupakan nama generik dalam keluarga 2007). Menurut Radji (2006), keluarga Orthomyxoviridae terdiri dari dua genus influenzavirus A dan B, yang mempunyai dua spesies, yaitu virus influensa A dan virus influensa B, dan genus influenzavirus C, yang mempunyai satu spesies, yaitu virus influensa C. Menurut Mohamad (2007), Virus influensa tipe A, B, dan C dibedakan berdasarkan perbedaan sifat antigenik dari nucleoprotein dan matrix proteinnya. Virus tipe A yang menyerang unggas memiliki antigen HA sebanyak 16 pasang yaitu H1-H16 dan 9 antigen NA, yaitu N1-N9 yang dapat berubah-rubah bentuk. Virus tipe A paling ganas yaitu H5N1 yang juga terbukti dapat menular dari unggas ke manusia ternyata juga dapat menular ke singa, harimau, dan kucing rumahan yang diberi makan daging unggas mentah yang terkontaminasi virus tersebut. Ciri virion dari virus influensa A adalah bulat dan berdiameter sekitar 100 nm. Genomnya terdiri dari 8 segmen yang mengkode 10 protein. Protein matriks yang terbanyak adalah protein matriks (M1), tersusun dari banyak monomer kecil serupa yang terkait dengan permukaan bagian dalam lapisan ganda lemak dari amplop. Protein kecil lain yaitu protein matriks (M2) tersusun dari sejumLah kecil cetakan dan menonjol sebagai pori-pori melewati membran, merupakan tempat bekerjanya obat amantidin (Horimoto dan Kawaoka 2001). Karakteristik virus ini berkapsul dan mengandung glikoprotein yang merupakan antigen permukaan. Terdapat 2 jenis protein permukaan yaitu Hemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA). Hemaglutinin bersifat mengaglutinasi sel darah merah dan berfungsi untuk melekat, menginvasi sel hospes dan kemudian bereplikasi. Neuraminidase merupakan suatu enzim untuk memecahkan ikatan partikel virus sehingga virus baru terlepas dan dapat menginfeksi sel baru yang lain. Protein polimerase RNA-PB1, PB2, dan PA berkaitan dengan ribonuklease nucleocapsid (NP). Protein NP dan matrix 1 (M1) menentukan kekhasan spesies, yaitu protein ini membedakan antar virus influensa 5    A dan B, tetapi antibodi terhadap mereka tidak bersifat melindungi, walaupun keduanya merangsang kekebalan diperantarai sel (Peiris et al. 2004). Virus influensa pada unggas bereplikasi di saluran pencernaan (De jong MD 2005) dan pernafasan (Peiris et al. 2004), sehingga virus lebih mudah diisolasi di kloaka. Infeksi oleh virus influensa yang virulen adalah terjadinya viremia yang berlanjut dengan infeksi umum. Lesi berdarah dapat terjadi pada organ jeroan dan juga pada jengger dari ayam dan kalkun. Influensa unggas sering menjadi lebih serius dengan adanya infeksi virus atau bakteri sekunder oportunitis (Peiris et al. 2004). Masa inkubasi dari virus influensa unggas beragam dari beberapa jam sampai beberpa hari, tergantung kepada dosis virus, virulensi galur, dan spesies inang. Infeksi virus influensa yang sangat virulen pada ayam dan kalkun ditandai oleh mortalitas tingi dan tiba-tiba, terhentinya produksi telur, gejala gangguan pernafasan, lakrimasi berlebihan, sinusitis, kebengkakan kepala dan muka, kebiruan terutama tampak pada jengger, dan diare. Virus yang kurang virulen, dapat menimbulkan kerugian besar khususnya pada kalkun. Menyebabkan penurunan produksi telur, penyakit pernafasan, anoreksia, depresi, dan sinusitis. Kadang-kadang hanya dari beberapa tanda-tanda itu yang tampak. Tanda klinis dapat diperparah oleh infeksi sekunder (misalnya oleh penyakit Newcastle Disease dan berbagai bakteri serta mikoplasma), penggunaan vaksin virus hidup, atau cekaman lingkungan (ventilasi yang jelek dan populasi yang terlalu padat). Pada itik piaraan, gejala yang paling kerap adalah sinusitis, dan kematian meningkat (Peiris et al. 2004). Ayam Broiler Ayam peliharaan dewasa ini (Gallus domesticus) merupakan keturunan ayam hutan. Kasus flu burung didapatkan pada ayam ras dan ayam lokal dengan pemeliharaan intensif ataupun tidak. Unggas peka selain ayam yaitu: burung puyuh, burung unta, dan kalkun. Unggas air dan burung liar menjadi sumber penularan bagi unggas yang peka (Mohamad 2007). Cikal bakal ayam broiler berasal dari persilangan antara jantan bangsa White Cornish dari Inggris dan betina bangsa White Plymouth Rock dari Amerika. Strain ayam broiller yang banyak dijual dan dipelihara di Indonesia antara lain: Cobb, 6    Hubbard, Ross, Lohman, Avian, Arbor Acres, Hi-bro dan ISA Vedette. Strain ayam broiler yang paling banyak dikembangkan di dunia yaitu strain Cobb, karena galur ini memiliki keunggulan khusus dibanding galur lainnya. Keunggulan tersebut diantaranya: memiliki pertumbuhan lebih cepat, daging dada lebih banyak dan konversi ransum paling rendah (Hadi 2006). Menurut Prambudi (2007), ayam broiler galur Cobb merupakan bagian dari Broiler moderen dimana mampu berkembang dengan cepat (fast growth) sehingga apabila kecukupan nutrisi untuk pembentukan otot dan tulang tidak terpenuhi maka akan muncul gejala-gejala kelumpuhan atau leg problem. Dewasa ini, terdapat banyak sekali ayam hasil perbaikan mutu genetis sesuai dengan tujuan pemeliharaannya. Pengetahuan mengenai klasifikasi dan pengenalan jenis diperlukan untuk memahami karakteristik masing-masing jenis ayam. Klasifikasi adalah sistem pengelompokan jenis-jenis ternak berdasarkan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan karakteristik. Pada ternak ayam, klasifikasi dapat digolongkan berdasarkan tiga cara, yaitu taksonomi zoologi, buku standar The American Standar of Perfection, tujuan pemeliharaan atau tipe ayam. Berdasarkan kondisi perkembangan peternakan ayam di Indonesia, ayam di Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi ayam ras dan ayam lokal (Suprijatna et al. 2008). Ayam yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam ras atau ayam broiler strain Cobb. Ayam ras adalah jenis ayam dari luar negeri yang bersifat unggul sesuai dengan tujuan pemeliharaan karena telah mengalami perbaikan mutu genetis. Jenis ayam ini dua tipe, yaitu tipe pedaging dan tipe petelur. Ayam broiler adalah ayam penghasil daging yang dipelihara sampai umur 6–7 minggu dengan berat 1.5 – 2.0 kg dan konversi pakan 1.9–2.25. Performa ayam adalah pencerminan dari keseluruhan aktivitas organ tubuh. Untuk mencapai performa optimal, diperlukan manajemen pemeliharaan yang baik dari peternak sehingga dan menghasilkan produksi maksimal (Suprijatna et al. 2008). 7    Sirih Merah (Piper crocatum) Sirih Merah merupakan tanaman yang tumbuh menjalar. Batangnya bulat berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga. Daunnya bertangkai berbentuk jantung dengan bagian atas meruncing, bertepi rata dan permukaannya mengkilap atau tidak berbulu. Panjang daunnya bisa mencapai 15-20 cm. Warna daun bagian atas hijau bercorak warna putih keabu-abuan. Bagian bawah daun berwarna merah cerah. Daunnya berlendir, berasa sangat pahit dan beraroma wangi khas sirih. Batangnya bersulur dan beruas dengan jarak buku 5-10 cm. Di setiap buku tumbuh bakal akar (Sudewo 2005). Gambar 2. Sirih merah (Sudewo 2005) Taksonomi sambiloto berdasarkan ITIS (2011) adalah: Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Piperales Famili : Piperaceae Genus : Piper Spesies : Piper crocatum Daun Sirih Merah mengandung senyawa fitokimia yakni alkaloid, saponin, tanin dan flavonoid. Sirih Merah sejak dulu telah digunakan oleh masyarakat yang berada di Pulau Jawa sebagai obat untuk meyembuhkan berbagai jenis penyakit dan merupakan bagian dari acara adat (Balitro 2007). 8    Senyawa-senyawa kimia yang terkandung dalam Sirih Merah memiliki khasiat sebagai berikut: Senyawa flavonoid dan polivenol berfungsi sebagai antioksidan, antidiabetik, antikanker, antiseptik, dan antiflamasi. Senyawa alkaloid pada sirih merah juga dapat dimanfaatkan sebagai penghambat pertumbuhan sel-sel kanker.  Piperin terkandung dalam senyawa fitokimia alkaloid. Khasiat dari piperin pada sirih merah adalah menurunkan suhu tubuh, antiinflamasi, antidepresi, hepatoprotektif, dan antitumor. Piperin bisa berperan sebagai imunomodulator dengan meningkatkan respon humoral (Pathak dan Khandelwal 2006). Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) Sambiloto dengan nama ilmiah Andrographis paniculata Nees adalah tumbuhan semusim yang termasuk dalam suku Acanthaceae. Sambiloto merupakan salah satu jenis tanaman herbal yang umumnya dikenal dengan sebutan “king of bitters”, tumbuh secara luas di Asia Selatan, India, Srilanka, Pakistan, Malaysia, banyak dibudidayakan di India, Cina, dan Thailand. Daun dan akarnya telah dipakai berabad-abad yang lalu untuk pengobatan tradisional, dalam cerita-cerita rakyat di Asia dan eropa, sambiloto banyak digunakan untuk pengobatan penyakit atau suplemen kesehatan (Jarukamjorn dan Nemoto 2008). Sambiloto merupakan herba tegak yang tumbuh secara alami di daerah dataran rendah hingga ketinggian ± 1600 meter dpl. Habitat sambiloto ialah di tempat terbuka seperti ladang, pinggir jalan, tebing, saluran atau sungai, semak belukar, di bawah tegakan pohon jati atau bambu (Mahendra 2005). Menurut Jarukamjon dan Nemoto (2008), sambiloto tumbuh tegak hingga ketinggian antara 30-100 cm di tempat teduh dan lembab dengan daun gundul dan bunga putih dengan bintik ungu pada kelopak. Batangnya berwarna hijau gelap berbentuk segiempat dengan alur memanjang. 9    Gambar 3. Sambiloto (dinkes.gorontalo.web.id). Taksonomi sambiloto berdasarkan ITIS (2011) adalah: Kingdom : Plantae Divisi : Tracheophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Scrophulariales Famili : Acanthaceae Genus : Andrographis Spesies : Andrographis paniculata Nees Bagian tanaman sambiloto yang digunakan adalah daun. Daun sambiloto mengandung saponin, flavonida, dan tanin. Berdasarkan penelitian, sambiloto termasuk tanaman yang kaya dengan berbagai kandungan kimia, antara lain deoxy-andro-grapholide, andrographolide (zat pahit), neoandro-grapholide, 14deoxy-11, 12 didehydroanrographolide, dan homoandrographolide. Flavonoid dari akar mengandung polymethoxyflavone, andrographin, panicolin, monoomethylwithin, apigenin-7, 4-dimethyl ether, alkane, ketone, aldehyde, kalium, kalsium, natrium, asam kresik, dan damar. Kandungan lain yaitu andrografolid kurang dari 1%, kalmegin (zat amorf), dan hablur kuning yang memiliki rasa pahit (Radhika et al. 2012). Ketika dikonsumsi secara oral, andrografolid terakumulasi di organ pencernaan. Studi farmakokinetik menjelaskan bahwa andrografolid diabsorpsi cepat dalam sistem metabolisme tikus dan manusia, 90% dieliminasi dalam waktu 48 hari. Sepuluh metabolit dari andrografolid diubah sebagai sulfonate, campuran sulfat ester, dan analog andrografolid, terisolasi dalam urin, feces, dan usus halus tikus setelah diadministrasi secara oral. Sementara pada manusia, isolat metabolit 10    andrografolid terdapat pada urin adalah sulfat, cystein s-conjugate, danconjugate glucuronide (Jarukamjorn dan Nemoto 2008). Sambiloto memiliki efek farmakologi seperti imunostimulan (meningkatkan kekebalan tubuh), antibiotik, antipiretik (penurun panas), antiinflamasi, hepatoprotektor, hipotensif, hipoglikemik, antibakteri, anti radang saluran pernafasan, serta meradian jantung dan paru-paru (Mahendra 2005). Adas (Foeniculum vulgare) Adas sering dijumpai sebagai tanaman pekarangan mulai dari dataran rendah hingga ketinggian 1800 m dpl. Tinginya antara 0.5-3 m. Batangnya beralur yang jika memar akan berbau harum. Pertumbuhan batangnya tegak. Daunnya halus dengan susunan berbagai menyirip dan berseludang putih. Buah berusukrusuk sangat nyata dengan panjang 4-6 mm dan berbau harum. Perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan biji atau pemisahan anakan (Mursito 2002). Gambar 3. Tanaman adas dan biji tanaman adas (BBP2PT Surabaya). Taksonomi adas berdasarkan ITIS (2011) adalah: Kingdom : Plantae Divisi : Tracheophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Apiales Famili : Apiaceae Genus : Foeniculum Spesies : Foeniculum vulgare Bagian tanaman yang dimanfaaatkan adalah buah yang telah masak. Kandungan zat aktif adas adalah minyak atsiri (1-6%) yang terdiri dari anetol, 11    fenkon, pinen, limonen, dipenten, felandrenmetil kavikol, anisaldehid, kandungan lainnya adalah flavonoid dan minyak lemak (Maryani dan Kristiana 2004). Menurut Mursito (2002), Kandungan minyak atsiri pada buah adas dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroba maupun memberikan aroma harum. Aroma harum ini disebabkan oleh adanya kandungan limonen. Sementara kandungan flavonoid dapat berkhasiat sebagai antiradang. Disamping itu, bahan aktif dalam buah adas dapat membantu pengeluaran angin dari tubuh (karminatif), memperlancar pengeluran air seni (diuretik), serta mengurangi batuk dan diare. Limpa Limpa adalah tempat utama respon imun terhadap imunogen dalam darah. limpa merupakan organ limfoid sekunder. Limpa mengandung dua jenis jaringan utama yaitu pulpa merah dan pulpa putih. Pulpa merah berperan dalam destruksi eritrosit yang sudah tua, walaupun bagian ini juga mengandung makrofag, trombosit, dan limfosit. Pulpa putih limpa adalah jaringan limfoid padat yang tersusun mengelilingi arteriol sentral. Susunan arteriol sentral tersebut sering disebut Periarteriolar Lymphoid Sheat (PALS). PALS mengandung daerahdaerah sel B dan sel T, yang tersusun membentuk folikel-folikel atau agregat sel (Price dan Wilson 2006 ). Aliran darah dari limpa datang melalui arteri lienalis, yang bercabangcabang secara progresif menjadi pembuluh-pembuluh yang lebih halus. Saat terbagi menjadi arteriol, cabang-cabang tersebut mengalirkan isinya ke dalam sinusoid-sinusoid vaskular yang kemudian mengalir ke sistem vena. Disain sistem vaskular limpa yang seperti ini menghasilkan keterkaitan yang erat antara darah dan jaringan limpa sehingga terjadi interaksi yang erat antara imunogenimunogen di dalam darah dan sel-sel sistem imun (Price dan Wilson 2006). Setelah mengalir melalui jaringan kapiler limpa, pembuluh darah menyatu kembali menjadi venula dan darah dialirkan ke hati melalui sistem aliran darah portal hepatika. Sewaktu darah melewati limpa, makrofag yang terdapat disana bekerja sebagai fagosit untuk membersihkan darah dari sel debris dan mencerna mikroorganisme. Makrofag menyajikan potongan-potongan mikroorganisme yang 12    telah dicerna oleh limfosit B dan T didekatnya, sehingga memicu respon imun (Corwin 2009). Bursa Fabricius Bursa Fabricius adalah organ limfoid primer yang terdapat pada unggas, tetapi tidak pada mamalia (Tabeekh dan Mayah 2009). Struktur bursa terdiri atas sel limfoid yang dikelilingi jaringan epitel. Jaringan epitel ini membatasi suatu kantung berongga yang dihubungkan dengan kloaka oleh suatu saluran. Di bagian dalam kantong ini, terdapat lipatan besar epitel yang menjulur ke dalam lumen dan pada lipatan tersebut banyak terdapat folikel sel limfoid (Olàh dan Vervelde 2008). Setiap folikel limfoid terdiri atas korteks dan medula. Korteks mengandung limfosit, sel plasma, dan makrofag. Pada pertemuan kortiko-medular terdapat membran basal dan jaringan-jaringan kapiler yang bagian dalamnya adalah sel epitelial. Sel epitelial medula ini sering menunjukan mitosis dan mengarah ke tengah digantikan oleh limfosit dan limfoblas (Olàh dan Vervelde 2008). Bursa Fabricius merupakan pusat kekebalan humoral yang menghasilkan sel B. Sel B memiliki dua fungsi esensial yaitu berdiferensiasi menjadi sel plasma dan merupakan salah satu kelompok Antigen Precenting Cell (APC) (Liu et al. 2012). Fase pertama pematangan sel B bersifat independen-antigen. Fase pertama berlangsung di sumsum tulang, sel bakal mula-mula berkembang menjadi sel praB dan kemudian menjadi sel B yang memperlihatkan imunoglobulin M (igM) di permukaannya. Baik IgM maupun IgD di permukaan sel B dapat merupakan resetor epitop (Price dan Wilson 2006). Fase kedua disebut fase dependen-antigen. Sel B berinteraksi dengan suatu imunogen, menjadi aktif, dan menjadi sel plasma yang mampu menghasilkan antibodi. Sel B yang bereaksi dengan imunogen akan merangsang sel untuk berproliferasi dan membentuk suatu klona sel. Sel klona tersebut akan mengalami pematangan menjadi sel plasma. Sel plasma akan mengeluarkan imunoglobulin yang spesifik untuk imunogen yang pertama kali memicu perubahan ini (Price dan Wilson 2006). 13    Timus Timus adalah organ yang memiliki banyak pembuluh darah dan pembuluh limfatik yang mengalirkan isinya ke kelenjar-kelenjar getah bening mediastinum. Timus memiliki korteks di sebelah luar dan medula di sebelah dalam. Korteks mengandung banyak timosit. Timosit adalah limfosit T atau sel T yang datang dari sumsum tulang melalui aliran darah dan berada dalam berbagai stadium perkembangan. Medula lebih jarang diisi oleh sel, pada medula terdapat badan hassall, yaitu kelompok-kelompok sel epitel yang tersususn rapat sebagai tempat degenerasi sel (Price dan Wilson 2006). Menurut Price dan Wilson (2006), timus pada hewan umur muda, bersifat sangat aktif yang secara normal mengalami involusi menjelang pubertas dan bertambahnya umur. Proses involusi ditandai dengan berkurangnya secara bertahap limfosit terutama didaerah korteks, pembesaran dari sel-sel epitel retikuler dan parenkim diganti oleh sel-sel lemak. Timus pada hewan dewasa terdiri dari jalur-jalur tipis parenkim dimana banyak sel-sel retikuler epitel membesar yang dikelilingi jaringan lemak. Peran sel T dapat dibagi menjadi dua fungsi utama yaitu fungi regulator dan fungsi efektor. Fungsi regulator dilakukan oleh sel T helper, dikenal sebagai sel Cluster of Differentiation 4 (CD4). Sel-sel CD4 mengeluarkan molekul yang dikenal dengan sitokin untuk melaksanakan fungsi regulatornya. Sitokin dari sel CD4 mengendalikan proses imun seperti pembentukan imunoglobulin oleh sel B, pengaktifan sel T lain, dan pengaktifan makrofag. Fungsi efektor dilakukan oleh sel T sitotoksik, dikenal sebagai sel CD8. Sel CD8 mampu mematikan sel yang terinfeksi oleh virus, sel tumor, dan jaringan transplantasi dengan menyuntikan zat kimia yang disebut perforin (Perez et al. 2012). Saat mencapai timus, sel-sel T imatur tidak memiliki reseptor pengikat epitop dan protein CD4 atau CD8. Peran reseptor epitop di sel T imatur adalah mengikat epitop antigenik. Peran sel CD4 dan CD8 pada sel T matang adalah untuk menstabilkan interaksi antara sel T dan sel lain. Dengan demikian, sel T matang yang meninggalkan timus memiliki reseptor untuk mengikat suatu epitop dan protein CD4, dikenal sebagai sel T penolong atau protein sel T CD8, dikenal sebagai sel T sitotoksik (Price dan Wilson 2006). 14    Sel-sel CD4 terdapat di medula timus, tonsil, dan darah. Sel CD4 memiliki empat fungsi utama yaitu fungsi regulatorik yang mengaitkan sistem monositmakrofag ke sistem limfoid, berinteraksi dengan Antigen Precenting Cell (APC) untuk mengendalikan pembentukan imunoglobulin, menghasilkan sitokin-sitokin yang memungkinkan sel CD4 dan CD8 tumbuh, dan berkembang menjadi sel pengingat. Sel-sel CD8 melakukan dua fungsi efektor utama yaitu hipersensitivitas tipe lambat dan sitotoksitas. Hipersensitivitas tipe lambat terjadi saat imunogen organisme intrasel seperti fungi atau miobakteri menimbulkan suatu respon alergi (Sharma 2012). 15    METODOLOGI PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2010-April 2011 di Kandang Hewan Laboratorium dan Laboratorium Histopatologi, Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi FKH IPB. Ekstraksi tanaman obat dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balitro). Uji tantang virus AI dilakukan di laboratorium Biosafety Level 3 (BSL3) milik PT. Vaksindo Satwa Nusantara, Cicadas, Gunung Putri, Bogor. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan digital, tabung steril, penggiling, gelas ukur, corong pisah, sentrifus, labu penyuling, inkubator, vorteks, penangas air, tabung erlenmeyer, blender, kapas, tissue, tabung kromatografi, dan tabung destruksi. Bahan yang digunakan adalah Day Old Chick (DOC), Virus strain H5N1/NGK/2003, tanaman Sambiloto, Adas, Sirih Merah, metanol, etanol, aseton dingin, etil asetat, kloroform, akuades, hematoksilin dan eosin. Metode Penelitian Ekstraksi Tanaman obat dan Pembuatan Formula Pembuatan ekstrak tanaman obat dan formula dari tanaman Sirih Merah, Adas, dan Sambiloto telah dilakukan di laboratorium Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balitro) Bogor, dari mulai penyediaan bahan baku maupun ekstraksinya. Proses ekstraksi tanaman terstandar dan pembuatan formula, terlebih dahulu dilakukan pemanenan pada bagian tanaman yang akan dimanfaatkan. Sirih Merah dan Sambiloto diambil daunnya, sedangkan Adas yang dipanen adalah buahnya. Bagian tanaman yang telah diambil kemudian diekstrak dan setiap ekstrak dari 16    tiga jenis bagian itu kemudian dicampur sesuai dengan kadar masing-masing bahan aktif yaitu andrografolid, anetol, dan piperin. Konsentrasi bahan aktif yang dipakai dalam pembuatan formula yaitu 5%, 7.5%, dan 10%. Pemeliharaan Hewan Coba Sebanyak 32 ekor ayam day old chick (DOC) pedaging strain Cobb dipelihara di kandang percobaan Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Bobot badan rata-rata adalah 38 g, dibagi dalam 4 kelompok yang masing-masing kelompok berjumlah 8 ekor DOC dengan pemberian pakan dan minum ad libitum. Pada hari pertama, ayam diadaptasikan dengan pemberian air gula selama 3 jam, selanjutnya setiap kelompok ayam selain kontrol diberikan ekstrak tanaman obat dari umur 7 hari sampai umur 28 hari. Tujuan diberikannya tanaman obat pada umur 7-28 hari agar tanaman obat bisa di metabolisme secara optimal di dalam tubuh. Aplikasi tanaman obat dengan cara dicekok. Komposisi formula ekstrak tanaman obat, yaitu sebagai berikut : Formula A : ekstrak etanol tanaman obat dengan konsentrasi andrografolid, piperin, dan anetol masing-masing setara 5.0% dalam formula Formula B : ekstrak etanol tanaman obat dengan konsentrasi andrografolid, piperin, dan anetol masing-masing setara 7.5% dalam formula Formula C : ekstrak etanol tanaman obat dengan konsentrasi andrografolid, piperin, dan anetol masing-masing setara 10% dalam formula Komposisi gabungan dari tanaman obat di atas diharapkan bisa bekerja secara sinergis. Pemberian pakan, penggantian air minum, dan pengukuran suhu dilakukan pada pagi dan sore hari. Pemberian Vaksin Newcastle Disease (ND) pada umur 4 hari dan pemberian vaksin Infectious Bursal Disease (IBD) pada umur 14 hari. Vaksin AI diberikan pada minggu ke-3 secara intranasal dengan dosis 106 EID50/0.1 mL/ekor. Ekstrak tanaman obat diberikan lagi selama satu minggu pasca vaksinasi lalu dilanjutkan dengan pemberian air minum biasa selama satu minggu atau hingga uji tantang dengan virus AI H5N1 pada umur lima minggu. Pada tahap akhir pemeliharaan, ayam dibawa ke fasilitas Biosafety Level 3 (BSL 3) milik PT. Vaksindo Satwa Nusantara di Cicadas, Gunung Putri, Bogor untuk uji tantang dengan virus AI. 17    Uji Tantang Virus Ayam dibawa ke fasilitas Biosafety Level 3 (BSL 3) milik PT. Vaksindo Satwa Nusantara di Cicadas, Gunung Putri, Bogor untuk uji tantang dengan virus AI strain H5N1/NGK/2003 intranasal dengan dosis 106 EID50/0.1 mL/ekor. Selama tujuh hari setelah uji tantang, ayam diamati kematiannya, untuk memperoleh dan melihat data kematian ayam pasca tantang AI H5N1. Ayam yang masih tersisa pada hari terakhir pengamatan, dieutanasi dengan cara emboli udara secara intracardial. Pengamatan Histopatologi Setelah dilakukan uji tantang virus H5N1 di BSL3, ayam yang mati dinekropsi dan diambil organ limfoidnya untuk pembuatan sediaan histopatologi pada gelas objek dan dilakukan pewarnaan Haematoxyline Eosin (HE). Pengamatan histopatologi organ limpa, bursa Fabricius, dan timus dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya, perbesaran 40 X 10 (40 kali objektif dan 10 kali okuler) pada 20 kali lapangan pandang. Evaluasi terhadap perubahan mikroskopis masing-masing organ dilakukan dengan mengamati perubahan lesio. Perubahan lesio tersebut bisa dijadikan sebagai data pendukung terhadap hasil penghitungan persentase organ limfoid, dari evaluasi tersebut dapat dilihat dan dibandingkan organ yang persentase sel limfoidnya kecil menunjukkan tingkat perubahan lesio yang parah atau sebaliknya. Preparat organ yang dievaluasi adalah limpa, timus, dan bursa Fabricius dari kelompok perlakuan kontrol negatif, kelompok I, II, dan III. Perhitungan Persentase Organ Limfoid Penghitungan persentase organ limfoid yaitu limpa, bursa Fabricius, dan timus dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya dan dilakukan pada bagian yang fungsional pada tiap-tiap organ. Analisis histopatologi dilakukan dengan menggunakan software macbiophotonics imageJ®. Bagian yang fungsional pada limpa adalah pulpa putih, pada bursa Fabricius adalah folikel limfoid, sedangkan pada timus adalah bagian korteks. Persentase organ limfoid limpa diketahui dengan cara menghitung persentase pulpa putihnya, dihitung 18    dengan cara mengukur luas pulpa putih yang nantinya dibandingkan dengan jumlah sel limfoid. Pulpa putih yang diambil sebanyak 5 bagian secara acak yang diharapkan mewakili seluruh bagian limpa. Persentase organ limfoid bursa Fabricius diketahui dengan cara menghitung luas plika dan luas setiap folikel limfoid, lalu dibandingkan dan dikali 100%, maka diperoleh persentase bursa Fabricius, diambil dua buah plika dari setiap kelompok yang bisa mewakili seluruh bagian organ. Persentase organ limfoid timus diketahui dengan cara menghitung luas lobus dibandingkan dengan luas korteks lalu dikali 100% agar diperoleh persentase dari timus, diambil 3 buah lobus timus yang diharapkan bisa mewakili persentase organ timus pada setiap kelompok. Analisis Data Data kematian dan performa broiler dianalisis secara deskriptif. Evaluasi data histopatologi organ limfoid dianalisa secara statistik menggunakan analisis sidik ragam atau dengan nama lain analysis of variant (ANOVA) digunakan untuk membandingkan perbedaan masing-masing individu dalam satu kelompok, dan dilanjutkan dengan uji Duncan untuk melihat perbedaan antar kelompok perlakuan. 20    HASIL DAN PEMBAHASAN Data Mortalitas Virus H5N1 yang sangat patogen atau yang lebih dikenal dengan virus flu burung, menyebabkan penyebaran penyakit secara cepat di antara unggas serta dapat menular ke manusia dengan dampak mortalitas yang sangat tinggi (Widyasari 2005). Tingkat mortalitas dapat diketahui dengan salah satu metode yaitu melalui data klinis. Data klinis dapat dilihat pada Tabel 1, data yang diperoleh menyajikan hasil yang menunjukkan keadaan mortalitas pada berbagai kelompok perlakuan ayam. Tabel 1 menunjukkan hasil dari uji tantang virus Avian Influenza (AI) strain H5N1/NGK/2003 secara intranasal dengan dosis 106 EID50/0.1 mL per ekor. Parameter yang dihitung dalam data klinis adalah persentase hewan hidup dan koefisien kekebalan. Persentase hewan hidup adalah jumlah ayam yang tersisa pada hari terakhir dari jumlah total ayam di hari pertama. Persentase hewan hidup diperoleh dengan cara membandingkan hewan yang tersisa pada hari terakhir dengan total ayam pada hari pertama dikali 100%. Semakin tinggi persentase hewan hidup pada suatu kelompok, maka semakin bagus daya tahan tubuh hewan tersebut terhadap uji tantang virus H5N1. Untuk menguatkan data kematian, maka perlu juga dihitung koefisien kekebalan. Koefisien kekebalan adalah suatu ketetapan yang bisa menjadi faktor untuk melihat apakah daya tahan tubuh ayam tersebut kebal terhadap infeksi atau sebaliknya. Cara perhitungan koefisien kekebalan adalah dengan menggunakan metode skoring. Metode skoring dilakukan dengan mengalikan jumlah ayam yang tersisa dengan faktor pengali tiap hari. Mulai hari pertama hingga hari terakhir faktor pengali akan berlipat dua kali, misalnya ayam yang hidup pada hari pertama dikali 1, hari kedua dikali 2, hari ketiga dikali 4, hari keempat dikali 8, hari kelima dikali 16 dan seterusnya. 21    Tabel 1 Data mortalitas ayam broiler yang diberi ekstrak tanaman obat selama 21 hari setelah uji tantang virus AI H5N1/NGK/2003 Total ayam yang mati hari keTotal Skor Persentase setelah uji tantang virus Koefisien Hidup (%) Kekebalan* 1 2 3 4 5 6 7 Kontrol 8 8 8 3 4 1 0 0 0 84 I 8 8 8 4 3 1 0 0 0 80 II 8 8 8 6 1 1 1 1 12.5 168 III 8 8 8 7 1 0 0 0 0 60 Ket: Kontrol (diberi akuades), I (tanaman obat 5%), II (tanaman obat 7.5%), III(tanaman obat 10%). *total perolehan angka kekebalan = hasil penjumLahan angka kekebalan setiap hari. Angka kekebalan = jumlah ayam bertahan hingga hari ke- x koefisien kekebalan pada hari tersebut (koefisien kekebalan hari ke-1(kk 1) = 1, kk 2 = 2, kk 3 = 4, kk 4 = 8, kk 5 = 16, kk 6 = 32, kk 7 = 64). Kelompok Total Ayam Hampir seluruh kelompok perlakuan menunjukkan mortalitas yang sangat cepat, dilihat dari jumlah ayam pada hari ke-7 pasca infeksi tidak ada yang tersisa yaitu pada kelompok kontrol, kelompok I (5% formula ekstrak) dan kelompok III (10% formula ekstrak). Kelompok II (7.5% formula ekstrak) menunjukkan hasil yang lebih baik, dilihat dari adanya 1 ekor ayam yang bertahan sampai 7 hari pasca infeksi. Data kematian yang disajikan diperoleh dengan cara melihat persentase hewan hidup setelah melalui proses infeksi selama 7 hari. Kelompok kontrol menunjukkan data kematian 100% yang artinya sama sekali tidak ada ayam yang tersisa sampai hari ke-7 saat infeksi virus H5N1. Hal ini menunjukkan bahwa dengan tidak adanya tanaman obat dan vaksin, maka virus akan semakin cepat bereplikasi dan mempercepat kematian pada ayam. Hampir seluruh kelompok perlakuan mengalami kematian yang cepat, terutama pada kelompok III ayam yang mati pada hari ke-3 saat infeksi sebanyak 7 ekor dari 8 ekor. Kelompok II juga demikian, pada hari ke-3 saat infeksi maka ayam yang mati sebanyak 6 ekor dari 8 ekor. Kelompok II memiliki hasil yang berbeda dari yang lain yaitu masih ada ayam yang tersisa sebanyak 1 ekor sampai hari ke-7. Hal ini bisa saja dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengaruh salah satu tanaman obat, misalnya Sambiloto yang kandungan zat aktifnya yaitu flavonoid bersifat antivirus dan menurut Spelman et al. (2006), andrografolid dari Sambiloto mampu meningkatkan proliferasi sel atau limfosit yang berperan dalam sistem imun. Efektifitas tanaman obat juga akan bermanfaat dan aman jika digunakan dengan tepat, baik takaran, waktu dan cara penggunaan, pemilihan bahan serta penyesuai dengan indikasi tertentu (Katno dan Pramono 2005). 22    Berdasarkan persentase hewan hidup, kelompok ayam yang baik adalah kelompok II dibandingkan dengan kontrol, kelompok I, dan III. Persentase hewan hidup pada kelompok II sebesar 12.5% yang artinya daya tahan tubuh ayam pada kelompok II masih baik, sedangkan pada kelompok yang lainnya menunjukkan hasil yang seragam yaitu 0, artinya tidak ada ayam yang bertahan hidup di hari terakhir setelah uji tantang virus. Hasil perolehan angka koefisien kekebalan tidak jauh berbeda dengan perolehan persentase kematian. Kelompok yang paling tinggi angkanya adalah dari kelompok II, artinya pada kelompok II tersebut kekebalan tubuh ayam masih ada jika dilihat dari perolehan angka kekebalan yang dihitung setiap harinya. Dosis tanaman obat yang paling tepat dalam perlakuan ini adalah dosis ekstrak pada perlakuan kelompok II. Data Bobot Badan Pengaruh efektivitas tanaman obat terhadap performa ayam dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Dalam Tabel 2 memperlihatkan hasil pengukuran bobot ayam perminggu. Pengukuran bobot badan dilakukan setiap minggu dengan tetap dicekok tanaman obat setiap harinya pada kelompok I, II, III dan pada kelompok kontrol dicekok akuades. Tabel 2 Bobot badan ayam rata-rata (g) diukur perminggu yang diberi ekstrak tanaman obat selama 21 hari dan diuji tantang virus AI H5N1/NGK/2003 Bobot Ayam Rata-Rata (g)/minggu Total Ratarata 1 2 3 4 5 6 Kontrol (-) 237.25 506.63 819.25 1373.38 2000.44 2252.88 1198.30a I 214.25 410.75 795.25 1313.63 1821.08 2049.38 1100.72 a II 234.86 422.25 788.63 1366.88 1929.60 2188.25 1155.08 a III 210.75 436.63 733.25 1319.13 1923.10 2187.63 1135.08 a Ket: Huruf superskrip berbeda pada kolom yang sama menunjukkan hasil berbeda nyata (p
Potensi Sambiloto, Sirih Merah, dan Adas Terhadap Virus Avian Influenza H5N1: Kajian Histopatologi, Mortalitas, dan Performa Broiler yang Tidak Divaksin
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Potensi Sambiloto, Sirih Merah, dan Adas Terhadap Virus Avian Influenza H5N1: Kajian Histopatologi, Mortalitas, dan Performa Broiler yang Tidak Divaksin

Gratis