THE EFFECTIVENESS OF THE LEADERSHIP'S ROLE AND FUNCTION OF MUHAMMADIYAH ELEMENTARY SCHOOL PRINCIPAL OF METRO EFEKTIVITAS PERAN DAN FUNGSI KEPALA SEKOLAH DASAR MUHAMMADIYAH METRO

 2  66  100  2017-04-20 13:59:07 Report infringing document
ABSTRACT THE EFFECTIVENESS OF THE LEADERSHIP'S ROLE AND FUNCTION OF MUHAMMADIYAH ELEMENTARY SCHOOL PRINCIPAL OF METRO By Sumi Mariyati The purpose of this research is to describe the implementation of the principle’s role and function in leading The Muhammadiyah Elementary School of Metro. This research is focus on the principle’s role and function as an educator, a manager, an administrator, a supervisor, a leader, an innovator, a motivator, and an entrepreneur. The study is a Qualitative research using case study, and data collecting technique through observation, documentation and interview. Data source is from education field of Muhammadiyah alliance, principal, vice-principal, supervisor, teacher, staff, commitee, student proxy and student. Data analyze uses triangulasion, it compares between the observation result of documentation and the interview result. The results of this research are: 1) the principal’s role and function as an educator, the principal has professionalism as an educator and can give motivation for the teachers to have a professionalism as a teacher, 2) the principal’s role and function as a manager, the principal does the management functions well, can manage the school organization so it can run effectively, 3) the principal’s role and function as an administrator can run well, as the indicator is the physical approval from school management administration, 4) the principal’s role and function is good enough as a supervisor, by doing a supervision to teachers and staffs, it is felt by teachers and staffs as a media to increase their jobs. 5) the role and the function as leader can run well, he has integrity, discipline, commitment, consistency and democratic leader, he is able to understand the school organization, vision, mission and characteristic of Muhammadiyah Elementary School of Metro, 6) the role and the function as an innovator can run well. As an innovation agent, the principal tries to develop an insight for the teachers and the staffs, so it can make the productivity becomes better. 7) the role and the function as a motivator can run well, the indicators are teachers and staffs are able to do a job according to the target and the institution gives a reward in the form of educational scholarship in master degree/S2, 8) the role and the function as an entrepreneur, the principal has the soul of entrepreneur, high motivation, hard working, optimistic, creativity and perseverance in developing a school. Key word: The leadership’s role and function, Educator, Manager, Administrator, Supervisor, Leader, Innovator, Motivator, Entrepreuneur. ABSTRAK EFEKTIVITAS PERAN DAN FUNGSI KEPALA SEKOLAH DASAR MUHAMMADIYAH METRO Oleh Sumi Mariyati Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan peran dan fungsi kepala sekolah di SD Muhammadiyah Metro. Fokus penelitian adalah peran dan fungsi kepala sekolah sebagai pendidik, manajer, administrator, supervisor, pemimpin, inovator, motivator, dan wirausahawan. Penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi dan wawancara. Sumber data adalah bidang pendidikan, kepala sekolah, bidang kurikulum, pengawas, guru, karyawan, komite, orang tua siswa dan siswa. Analisis data digunakan triangulasi, yaitu membandingkan hasil observasi dengan dokumentasi dan hasil wawancara. Hasil penelitian adalah: 1) Kepala sekolah sebagai pendidik, mampu mendidik dan menumbuhkan jiwa pendidik pada guru melalui keteladanan, diskusi, supervisi dan pelatihan, 2) Kepala sekolah sebagai manajer, melaksanakan fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengelolaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi, 3) Kepala sekolah sebagai administrator, mengelola administrasi, adanya dokumen, pengelolaannya melibatkan sumberdaya, 4) Kepala sekolah sebagai supervisor, menyusun program, melaksanakan program dan tindak lanjut melalui: pelatihan, workshop, KKG, dan pembekalan, 5) Kepala sekolah sebagai pemimpin, memahami, visi, misi, karakter sekolah, mampu memberdayakan sumber daya dan menyelesaikan tugas sesuai program, 6) Kepala sekolah sebagai inovator, mengembangkan metode pembelajaran terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman melalui, TPA, OSN, O2SN, FLS2N, tahsin-tahidz, peningkatan skill, 7) Kepala sekolah sebagai motivator, mampu menumbuhkan cinta profesi, tanggung jawab, dan menciptakan suasana kondusif serta memberikan beasiswa pendidikan S2, 8) Kepala sekolah sebagai wirausahawan, memiliki jiwa wirausaha, berjiwa keras dan memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola sumber belajar, melalui karakter islami, tahsin-tahidz, prestasi akademik dan lomba-lomba. Kata kunci: Administrator, Inovator, Manajer, Motivator, Pemimpin, Pendidik, Peran dan fungsi Kepala Sekolah, Supervisor, Wirausahawan RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Margorejo Kecamatan Metro Kabupaten Lampung Tengah pada tanggal 8 September 1961, sebagai anak ke 6 dari 11 bersaudara, dari pasangan suami istri Darmoyatimin dan Sukarti Pendidikan sekolah dasar diselesaikan pada tahun 1973 di SDN 1 Margorejo, Metro dilanjutkan di SMP Persiapan Margorejo kemudian menyelesaikan pendidikan sekolah pendidikan guru (SPG) pada tahun 1980. Pada tahun 1980 Oktober penulis diangkat menjadi PNS di SDN 3 Margorejo. Selanjutnya penulis menikah pada tanggal 8 Agustus 1981 dengan Samidin dan dikaruniai 1 orang putra dan 3 orang putri. Kemudian pada tahun 1992 penulis menyelesaikan pendidikan D2 selesai tahun 1994. Pada tahun 2006 november penulis diberi amanah sebagai kepala sekolah di SDN 3 Margorejo yang sekarang menjadi SDN 6 Metro Selatan sampai sekarang. Kemudian pada tahun 2008 penulis menyelesaikan pendidikan S1 STKIP PGRI Jurusan Bahasa dan Seni. Tahun 2012 penulis tercatat sebagai mahasiswa magister manajemen pendidikan Program pasca Sarjana FKIP Universitas Lampung. MOTO “ Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”(Sumi Mariyati:2013) PERSEMBAHAN Mengucapkan syukur pada allah SWT, kupersembahan karya ini kepada orangorang yang berpengaruh dalam hidupku:  Buat suamiku tercinta, yang penuh kasih sayang dan kesabaran selalu membimbingku, memotivasi, dan mengarahkan sehingga aku menjadi lebih memahami hidup dan peranku.  Orang tua terkasih, ayah dan ibu yang telah memberikan kasih sayang dan pendidikan terbaik sehingga aku menjadi bermanfaat bagi orang-orang di sekelilingku  Anak-anakku yang sering aku tinggalkan dalam pengabdianku selama ini. Terima kasih nak atas pengertian kalian. Kalian adalah sumber inspirasiku dalam mendidik.  Teman-teman seperjuangan di SDN 6 Metro Selatan, terima kasih kebersamaan kita memberi makna yang berbeda bagi kehidupanku. SANWACANA Segala puji hanya milik Allah semata, karena kasih dan sayangNya penulis mendapatkan motivasii dan kekuatan untuk menyelesaikan penelitian tesis ini. Tesis yang berjudul “Efektivitas Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Dasar Muhammadiyah Metro”, adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Lampung. Berbagai pihak banyak memberikan peran dan sumbangsihnya untuk menyelsaikan tesis ini, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih pada. 1. Prof. Dr. Sugeng P. Haryanto, selaku Rektor Universitas Lampung yang telah memberi kesempatan menempuh pendidikan Pascasarjana di Universitas Lampung. 2. Prof. Dr. H Sudjarwo,M.S. selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Lampung yang memberikan arahan kepada mahasiswa. 3. Dr. Bujang Rahman, M.Si, selaku Dekan fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas lampung yang memberikan masukkan dan arahan terhadap mahasiswa. 4. Dr. M. Thoha B Sampurna Jaya, M.S, selaku Pembantu Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung, yang memberikan arahan terhadap mahasiswa. 5. Dr. Irawan Suntoro, M.S. selaku Ketua Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Universitas Lampung yang begitu tulus memberikan motivasi, bimbingan, dan arahan sehingga tesis ini selasai. 6. Dr. Sowiyah, M.Pd, selaku Sekretaris Program Magister Manajemen Pendidikan Universitas Lampung sekaligus pembing I yang selalu memberikan motivasi dan bimbingan bagi penyelesaian tesis ini. 7. Dr. Sulton Djasmi, M.Pd, selaku pembimbing II yang selalu memberikan motivasi dan bimbingan atas selesainya tesis ini. 8. Dr. Alben Ambarita, M.Pd, selaku pembahas pada seminar hasil penelitian yang selalu memberikan motivasi dan bimbingan bagi penyelasaian tesis ini. 9. Bapak dan ibu dosen staf pengajar di program Studi Magister Manajemen Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universtas Lampung, yang telah memberikan banyak pengetahuan selama penulis menempuh pendidikan. 10. Kepala Sekolah Dasar Muhammadiyah Metro, yang memberikan izin dan pengambilan data-data yang dibutuhkan dalam penelitian. 11. Guru-guru Sekolah Dasar Muhammadiyah Metro yang telah menjadi informan dalam penelitian. 12. Teman-teman seperjuangan di Program Studi Manajemen Pendidikan angkatan 2012, yang memotivasi dan berjuang untuk meraih kesuksesan. Akhir kata penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak yang perlu diperbaiki dan disempurnakan. Semoga tesis ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Metro, Maret 2014 Sumi Mariyati DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ......................................................................................................... v DAFTAR GAMBAR .................................................................................................... vi DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................... vii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian ................................................................ 1 1.2 Fokus Penelitian ............................................................................... 5 1.3 Pertanyaan Penelitian ........................................................................ 5 1.4 Tujuan Penelitian ............................................................................... 6 1.5 Kegunaan Penelitian ......................................................................... 6 1.6 Definisi Istilah ................................................................................... 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR 2.1 Efektivitas Sekolah ........................................................................... 10 2.2 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah ..................................................... 12 2.1.1 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai (Educator) ............................................................................. 13 2.1.2 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Manajer ................................................................................. 15 2.1.3 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Adminstrator ......................................................................... 16 2.1.4 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Supervisor ............................................................................. 17 2.1.5 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin (leader) ............................................................... 17 Halaman 2.1.6 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Inovator ................................................................................. 20 2.1.7 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Motivator .............................................................................. 22 2.1.8 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Wirausahawan (Enterpreneur) ................................................. 23 2.3 Manajemen Sekolah ......................................................................... 2 2.4 Kompetensi Kepala Sekolah.............................................................. 34 2.4.1 Kompetensi Kepribadian ......................................................... 35 2.4.2 Kompetensi Manajerial............................................................ 36 2.4.3 Kompetensi Kewirausahwan ................................................... 38 2.4.4 Kompetensi Supervisi .............................................................. 38 2.4.5 Kompetensi Sosial ................................................................... 39 2.5 Kerangka Pikir ................................................................................... 40 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Latar Penelitian.................................................................................. 42 3.2 Pendekatan dan Racangan Penelitian ................................................ 43 3.2.1 Pendekatan Penelitian .............................................................. 43 3.2.2 Rancangan Penelitian .............................................................. 44 3.3 Kehadiran Peneliti ............................................................................ 46 3.4 Sumber Data Penelitian .................................................................... 53 3.5 Teknik Pengumpulan Data ............................................................... 55 3.5.1 Wawancara mendalam ............................................................. 56 3.5.2 Studi Dokumentasi .................................................................. 59 3.5.3 Pengamatan atau Observasi ..................................................... 61 3.6 Analisa Data ..................................................................................... 62 3.7 Pengecekan Keabsahan Data ............................................................ 65 3.8 Tahapan Penelitian ........................................................................... 69 BAB IV PAPARAN DATA, TEMUAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Paparan Data Penelitian..................................................................... 73 4.1.1 Gambaran latar penelitian ........................................................ 74 4.1.1.1.Profil Sekolah ............................................................ 74 Halaman 4.1.1.2. Visi ........................................................................... 79 4.1.1.3. Misi ............................................................................ 79 4.1.1.4. Target Kelulusan ........................................................ 80 4.1.2 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah sebagai (Educator) ............................................................................. 80 4.1.3 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Manajer ................................................................................. 84 4.1.4 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Adminstrator ......................................................................... 90 4.1.5 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai pemimpin (leader) ............................................................... 95 4.1.7 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Inovator ................................................................................. 98 4.1.8 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Motivator .............................................................................. 100 4.1.9 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Wirausahawan (Enterpreneur)................................................. 102 4.2 Temuan penelitian ............................................................................. 107 4.2.1 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai (Educator) ........................................................................... 107 4.2.2 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Manajer ............................................................................... 109 4.2.3 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Adminstrator ....................................................................... 112 4.2.4 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Supervisor ........................................................................... 115 4.2.5 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai pemimpin (leader) .............................................................. 119 4.2.6 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Inovator ............................................................................... 121 4.2.7 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Motivator ............................................................................ 122 4.2.8 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Wirausahawan (Enterpreuneur).......................................... 123 4.3 Pembahasan Hasil Penelitian ............................................................. 124 4.3.1 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah sebagai (Educator) ........................................................................... 124 4.3.2 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Manajer ............................................................................... 128 4.3.3 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Adminstrator ....................................................................... 132 4.3.4 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Supervisor ........................................................................... 133 4.3.5 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai pemimpin (leader) .............................................................. 137 4.3.6 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Halaman 4.3.7 4.3.8 BAB V Inovator ............................................................................... 139 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Motivator ............................................................................ 141 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Wirausahawan (Enterpreneur)............................................. 142 KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN 5.1 Kesimpulan........................................................................................ 144 5.2 Implikasi ............................................................................................ 145 5.3 Saran .................................................................................................. 146 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 148 LAMPIRAN ............................................................................................................. 150 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 3.1 Informan Penelitian ........................................................................ 54 3.2 Taksonomi Domain Penelitian ....................................................... 59 3.3 Pedoman Dokumentasi ................................................................. 61 3.4 Pedoman Observasi ...................................................................... 62 4.5 Tahap-tahap analisis data penelitian ............................................ 62 3.6 Pengkodean .................................................................................. 64 4.1 Keadaan siswa tiga tahun terakhir ................................................ 75 4.2 Jumlah Rombongan Belajar .......................................................... 75 4.3 Keadaan guru dan Karyawan ........................................................ 76 4.4 Peran dan fungsi kepala sekolah sebagai pendidik Educador ....... 84 4.5 Peran dan fungsi kepala sekolah sebagai Manager ....................... 90 4.6 Peran dan fungsi kepala sekolah sebagai Adminstrator .............. 92 4.7 Peran dan fungsi kepala sekolah sebagai Supervisor .................... 95 4.8 Peran dan fungsi kepala sekolah sebagai Pemimpin (leader) ...... 98 4.9 Peran dan fungsi kepala sekolah sebagai Inovator ....................... 100 4.10 Peran dan fungsi kepala sekolah sebagai Motivator ..................... 102 4.11 Peran dan fungsi kepala sekolah sebagai Wirausahawara (Enter preuner).............................................................................. 106 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 2.1 Kerangka pikir penelitian .............................................................. 41 3.1 Pola Interaktif Analisa data Penelitian ......................................... 63 3.2 Triangulasi Teknik ....................................................................... 68 3.3 Triangulasi Sumber ...................................................................... 68 4.1 Diagram konteks peran dan fungsi kepala sekolah sebagai pendidik (Educator) ...................................................................... 109 Diagram konteks peran dan fungsi kepala sekolah sebagai Manager ........................................................................................ 112 Diagram konteks peran dan fungsi kepala sekolah sebagai Administrator ............................................................................... 115 Diagram konteks peran dan fungsi kepala sekolah sebagai Supervisor ..................................................................................... 118 Diagram konteks peran dan fungsi kepala sekolah sebagai Pemimpin (leader) ....................................................................... 120 Diagram konteks peran dan fungsi kepala sekolah sebagai Inovator ........................................................................................ 121 Diagram konteks peran dan fungsi kepala sekolah sebagai Motivator ...................................................................................... 123 Diagram konteks peran dan fungsi kepala sekolah sebagai Wirausaha (Enter preuner) .......................................................... 124 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 4.8 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Daftar observasi .................................................................................... 150 2. Daftar pertanyaan wawancara mendalam ............................................. 151 3. Transkrip wawancara ............................................................................ 154 4. Struktur organisasi sekolah ................................................................... 189 5. Program kerja kepala sekolah ............................................................... 190 6. Denah lokasi SD ................................................................................... 191 7. Foto-foto sarana dan prasarana ............................................................. 192 8. Foto-foto kegiatan kepala sekolah ........................................................ 194 9. Foto-foto kegiatan guru ......................................................................... 195 10. Foto-foto kegiatan siswa ....................................................................... 197 11. Pelepasan Pawai Akbar SD Muhammadiyah Metro ............................ 198 12. Rapat Wali Murid ................................................................................. 199 BAB I PENDAHULUAN Bab pendahuluan ini secara berturut-turut di bahas mengenai latar belakang, fokus penelitian, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, definisi istilah. 1.1. Latar Belakang Semakin berkembangnya dunia pendidikan menuntut setiap lembaga pendidikan berbenah diri untuk meningkatkan mutunya. Peningkatan mutu sekolah merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap sekolah, agar tetap eksis di dunia pendidikan. Mengingat persaingan dunia pendidikan begitu besar terutama di sekolah swasta maka tuntutan masyarakat terhadap mutu sekolah sudah menjadi pilihan masyarakat. Mutu sekolah sangat ditentukan oleh berbagai faktor, salah satu diantaranya adalah peran dan fungsi kepala sekolah. Peningkatan mutu pendidikan ditentukan oleh kesiapan sumber daya manusia yang terlibat dalam proses pendidikan. Kepala sekolah merupakan satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikan mempunyai posisi strategis. Kepala sekolah merupakan seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses pembelajaran. Kepala sekolah dapat dikatakan sebagai pemimpin di satuan pendidikan yang tugasnya menjalankan manajemen satuan pendidikan yang di pimpin. 2 Wahyosumidjo (2010: 83) mengartikan kepala sekolah adalah seorang tenaga fungsional guru yang di beri tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran. Pada tingkat operasional, kepala sekolah adalah orang yang berada di garis terdepan yang mengkoordinasikan upaya meningkatkan pembelajaran yang bermutu, berkualitas dan efektif. Kepala sekolah di angkat untuk menduduki jabatan tertinggi yang bertangung jawab mengkoordinasikan upaya bersama mencapai tujuan pendidikan pada level sekolah yang di pimpin. Tentu saja kepala sekolah bukan satu-satunya yang bertanggungjawab penuh terhadap suatu sekolah, karena masih banyak faktor lain yang perlu diperhitungkan seperti: guru, peserta didik, dan iklim sekolah yang mempengaruhi proses pembelajaran. Namun demikian kepala sekolah memiliki peran yang sangat mempengaruhi jalannya sistem yang ada dalam sekolah. Menurut Mulyasa (2007: 24) Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kepala sekolah adalah penanggungjawab atas penyelenggaraan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga pendidikan lainnya, pendayagunaan serta pemeliharaan sarana prasarana juga sebagai supervisor pada sekolah yang dipimpinnya. Agar sekolah dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien, maka kepala sekolah harus melaksanakan fungsi-fungsi manajerial seperti; perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pemberian motivasi, pelaksana pengendalian, evaluasi dan inovasi. Kepala sekolah yang baik diharapkan dapat membentuk pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru berlangsug baik. Sehingga akan menghasilkan prestasi siswa dan guru yang baik. 3 Mulyasa (2007: 25) Kepala sekolah bertanggungjawab atas manajemen pedidikan secara mikro, yang secara langsung berkaitan dengan proses pembelajaran. Pada dasarnya pengelolaan sekolah menjadi tanggungjawab kepala sekolah dan guru. Namun, kemampuan kepala sekolah dalam peran dan fungsinya sangat berpengaruh terhadap terselenggaranya manajemen yang baik. Hal ini mengandung arti bahwa peran dan fungsi kepala sekolah sangat menentukan bagi pengelolaan sekolah yang baik. Peran adalah status kepala sekolah selaku pimpinan di sekolah seyogyanya dapat menciptakan kondisikondisi yang memungkinkan lahirnya iklim sekolah dan hubungan antar manusia yang harmonis, kondusif sesuai dengan fungsinya agar sekolah menjadi sekolah yang efektif. Kepala sekolah selaku yang mengelola dan memimpin di lembaga pendidikan harus memiliki kemampuan atau kompetensi dalam menjalankan peran dan fungsinya tersebut. Peran dan fungsi yang dimaksud adalah kepala sekolah dengan indikator sebagai EMASLIME. Seiring dengan perkembangan tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan dan hasil pendidikan yang diberikan oleh sekolah, dan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional melalui upaya peningkatan mutu, pemerataan, dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan, dan demokratisasi pendidikan, penyelenggaraan pendidikan yang baik sangat ditunjang oleh manajemen sekolah yang memadai. Kepala sekolah selaku yang mengelola dan memimpin di lembaga pendidikan harus memiliki kemampuan atau kompetensi dalam menjalankan peran dan fungsinya tersebut. Berdasarkan observasi bulan Juli 2013 peneliti mengamati bahwa SD Muhammadiyah Metro adalah sekolah swasta di bawah pembinaan Majelis 4 Dikdasmen pimpinan Cabang Muhammadiyah Kota Metro mengelola pendidikan TK, SD, SMP dan SMA memiliki pangsa pasar tersendiri yang berbeda dengan sekolah dasar pada umumnya. Pembelajaran berdasar agama yang kuat sejak dini, dan pembinaan karakter building yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman ke dalam pembelajaran, prestasi yang di raih oleh siswa baik di tingkat lokal maupun nasional. Di lihat dari prestasi, model pembelajaran dan lulusan sekolah yang di terima di sekolah favorit di kota Metro mengakibatkan SD Muhammadiyah Metro menjadi pilihan yang tepat bagi masyarakat kota Metro. Dengan berbagai keberhasilan yang di raih merupakan bagian dari keberhasilan kepala sekolah dalam melaksanakan perannya sebagai kepala sekolah dan fungsinya dalam melaksanakan tugas di SD Muhammadiyah Metro. SD Muhammadiyah Metro berdiri pada tahun 1968, mempunyai Visi “Unggul dalam prestasi yang berakhlak mulia”, yang mampu meraih prestasi baik lokal maupun nasional. SD Muhammadiyah Metro merupakan SD swasta unggulan di Kota Metro, terlihat dari prestasi yang di raih sekolah di dukung dengan sarana prasarana yang memenuhi standar nasional pendidikan. Karena minat orang tua yang semakin tinggi, sehingga berakibat semakin besar perkembangannya. Awal pembelajaran tahun 2012/2013 dengan jumlah siswa 1.008 orang, guru dan karyawan berjumlah 56 orang, diperlukan upaya yang optimal untuk mengelola sumber daya yang ada, agar mutu yang diinginkan dapat tercapai dan menjadikan sekolah pilihan masyarakat, sekolah yang agamis dan sekolah yang efektif. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan alasan, SD Muhammadiyah memiliki keunikan tersendiri berbeda dengan sekolah dasar umum lainnya, juga sekolah dasar agamis lainnya. 5 1.2 Fokus Penelitian Berdasarkan latar belakang masalah di atas, fokus utama penelitian adalah efektivitas peran dan fungsi kepala SD Muhammadiyah Metro. Adapun secara rinci sub fokus penelitian adalah peran dan Fungsi. 1.2.1 Kepala sekolah sebagai pendidik (edukator). 1.2.2 Kepala sekolah sebagai manajer. 1.2.3 Kepala sekolah sebagai administrator. 1.2.4 Kepala sekolah sebagai supervisor. 1.2.5 Kepala sekolah sebagai pemimpin (leader). 1.2.6 Kepala sekolah sebagai inovator. 1.2.7 Kepala sekolah sebagai motivator. 1.2.8 Kepala sekolah sebagai wirausahawan (enterpreuner). 1.3. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian merupakan pengembangan dari fokus penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti dan merupakan panduan awal adalah sebagai berikut. 1.3.1 Bagaimanakah kepala sekolah sebagai pendidik (educator) di SD Muhammadiyah Metro? 1.3.2 Bagaimanakah kepala sekolah sebagai manajer di SD Muhammadiyah Metro? 1.3.3 Bagaimanakah kepala sekolah sebagai administrator di SD Muhammadiyah Metro? 1.3.4 Bagaimanakah kepala sekolah sebagai supervisor di SD Muhammadiyah Metro? 6 1.3.5 Bagaimanakah kepala sekolah sebagai pemimpin (leader) di SD Muhammadiyah Metro? 1.3.6 Bagaimanakah kepala sekolah sebagai inovator di SD Muhammadiyah Metro? 1.3.7 Bagaimanakah kepala sekolah sebagai motivator di SD Muhammadiyah Metro? 1.3.8 Bagaimanakah kepala sekolah sebagai wirausahawan (enterpreuner) di SD Muhammadiyah Metro? 1.4. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis Peran dan fungsi sebagai berikut. 1.4.1 Kepala sekolah sebagai pendidik (educator) di SD Muhammadiyah Metro. 1.4.2 Kepala sekolah sebagai manajer di SD Muhammadiyah Metro. 1.4.3 Kepala sekolah sebagai administrator di SD Muhammadiyah Metro. 1.4.4 Kepala sekolah sebagai supervisor di SD Muhammadiyah Metro. 1.4.5 Kepala sekolah sebagai pemimpin (leader) di SD Muhammadiyah Metro. 1.4.6 Kepala sekolah sebagai inovator di SD Muhammadiyah Metro. 1.4.7 Kepala sekolah sebagai motivator di SD Muhammadiyah Metro. 1.4.8 Kepala sekolah sebagai wirausahawan (enterpreuner) di SD Muhammadiyah Metro. 1.5. Kegunaan Penelitian 1.5.1 Secara teoritis hasil penelitian dapat mengembangkan kajian yang mendalam tentang efektivitas peran dan fungsi kepala sekolah serta implemantasinya. 7 1.5.2 Secara praktis memberikan manfaat bagi SD Muhammadiyah Metro dalam mengevaluasi dan mengembangkan sekolah dalam rangka optimalisasi peneyelenggaraan pendidikan yang lebih efektif dan efisien. 1.5.3 Bagi peneliti untuk memperoleh wawasan pengetahuan, ketrampilan dalam peran dan fungsi kepala sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah dan menambah pengalaman dalam melakukan penelitian ilmiah, serta sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas akhir pada Program Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung 1.6 Definisi Istilah Menghindari terjadinya persepsi yang beragam tentang istilah yang dijadikan fokus dalam penelitian ini, maka diberikan batasan dalam bentuk definisi istilah sebagai berikut. 1.6.1 Efektivitas adalah adanya kesesuaian antara kepala SD Muhammadiyah dalam melaksanakan tugas dengan sasaran yang di tuju. 1.6.2 Peran kepala sekolah adalah tugas dan tanggungjawab kepala sekolah dalam mengelola penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran di SD Muhammadiyah. secara lebih operasional tugas pokok mencakup kegiatan menggali dan mendayagunakan sumberdaya sekolah secara terpadu dalam kerangka pencapaian tujuan sekolah secara efektif dan efisien. 1.6.3 Fungsi kepala sekolah adalah tugas dan tanggungjawab kepala SD Muhammadiyah dalam menyelenggarakan pendidikan bertugas, sebagai pendidik, manajer, administrator, supervisor, pemimpin, inovator, motivator, dan wirausahaan. 8 1.6.4 Pendidik (educator) kepala sekolah berfungsi melaksanakan kegiatan perencanaan, pengelolaan kelas dan evaluasi pembelajaran. 1.6.5 Manajer, kepala sekolah secara operasional berfungsi melaksanakan pengelolaan kurikulum dan pengajaran, kesiswaan, ketenagaan, keuangan, sarana prasarana dan hubungan masyarakat. Melaksanakan fungsi manajemen POAC (perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengawasan atau controling) 1.6.6 Administrator, dalam arti luas kepala sekolah merupakan pengambil kebijakan tertinggi di sekolah yaitu melakukan analisis lingkungan (menyusun strategi dalam melakukan perubahan dan perbaikan sekolah) sedangkan dalam arti sempit kepala sekolah merupakan penanggung jawab administrasi ketatausahaan dalam mendukung pelaksanaan kegiatan pembelajaran. 1.6.7 Supervisor, kepala sekolah sebagai pemimpin pengajaran berfungsi melakukan pembinaan profesional kepada guru dan dan tenaga kependidikan, melalui kegiatan observasi kelas, forum diskusi dan memberikan solusi bagi permasalahan pembelajaran yang dialami guru. 1.6.8 Pemimpin (leader), kepala sekolah berfungsi menggerakkan semua sumberdaya sekolah untuk pencapaian tujuan sekolah. Dalam upaya menggerakkan sumberdaya tersebut kepala sekolah menerapkan prinsipprinsip kepemimpinan dan metode-metode kepemimpinan yang sesuai, dengan mengedepan, keteladanan, permotivasian dan pemberdayaan staf. 1.6.9 Inovator, kepala sekolah berfungsi mencari, menemukan ide, gagasan baru, berinovasi untuk menggali informasi baru selanjutnya ditransformasi pada guru dan karyawan di SD Muhammadiyah agar sekolah berkembang 9 sesuai dengan kemajuan teknologi serta tujuan sekolah secara efektif dan efisien. 1.6.10 Motivator, kepala sekolah berfungsi menggerakkan sumberdaya SD Muhammadiyah dengan prinsip-prinsip memotivasi atau mempengaruhi menggunakan pendekatan-pendekatan baru dalam rangka meningkatkan kualitas sekolah. 1.6.11 Wirausahawan (enterpreuner), kepala sekolah berfungsi sebagai inspirator bagi munculnya ide-ide kreatif dalam mengelola sekolah, agar sekolah berkembang, bernilai jual di masyarakat dan mempunyai pangsa pasar tersendiri dan mengelola sumber belajar di SD Muhammadiyah BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR Bab ini secara berturut-turut di bahas mengenai efektivitas sekolah, fungsi kepala sekolah sebagai; pendidik (educator), manajer, administrator, supervisor, pemimpin (leader), inovator, motivator, wirausahawan (enterpreuner), manajemen sekolah dan kompetensi kepala sekolah. 2.1 Efektivitas Sekolah Setiap orang memaknai efektivitas berbeda-beda, sesuai sudut pandang dan kepentingan masing-masing, seperti pernyataan Chung dan Maginson (dalam Mulyasa 2007: 82) menyatakan, ”effectiveness means different to different people”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005: 127), dikemukakan bahwa efektif berarti ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya). Manjur, mujarab dapat membawa hasil. Jadi efektivitas adalah kesesuaian antara orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang di tuju. Menurut Mulyasa (2007: 82) menyatakan, bahwa efektivitas adalah bagaimana suatu organisasi berhasil mendapatkan dan memanfaatkan sumber daya dalam usaha mewujudkan tujuan oprasional. Tujuan organisasi dapat tercapai karena berfungsinya semua sistem dalam organisasi tersebut. Setiap lembaga pendidikan mempuyai tujuan dalam organisasi sekolahnya. Berhasil tidaknya tujuan lembaga pendidikan ditentukan dengan semua sumber daya yang ada. Menurut Lipham dan 11 Hoeh (dalam Mulyasa, 2007: 83) meninjau efektivitas suatu kegiatan dari faktor pencapai tujuan, yang memandang bahwa efektivitas berhubungan dengan mencapai tujuan bersama bukan pencapaian tujuan pribadi. Suatu sekolah dikatakan efektif jika tujuan bersama dapat di capai, dan belum bisa dikatakan efektif meskipun tujuan individu yang ada di dalamnya dapat dipenuhi. Oleh karena itu efektivitas dapat dijadikan baromater untuk mengukur keberhasilan pendidikan. Kepala sekolah sebagai pimpinan di sekolah mempunyai peran yang sangat strategis dalam mencapai tujuan lembaga pendidikan tersebut. Kajian terhadap efektivitas suatu usaha yang panjang dan berkesinambungan. Oleh karena itu kepala sekolah sebagai pimpinan menghadapi tentang untuk mewujudkan efektivitas sekolah. Seperti yang diungkapkan Rivai dan Murni (2009: 252), bahwa. 1. Pimpinan kepala sekolah telah lama mengenal bahwa isu keefektifan sekolah memberikan ketahanan dan tantangan fundamental pada praktiknya. Baik guru dan publik, untuk singkatnya, mengakui bahwa sekolah yang berbeda mencapai tingkatan sukses yang berbeda, bahkan dengan populasi murid yang sama melihat. 2. Tantangan penting kedua adalah, definisi apa yang dilakukan: keefektifan keorganisasian konstitusi menjadi konstan. Sebagai perubahan konstituensi, paksaan dan harapan berubah untuk mendefinisikan efektivitas sekolah dengan cara yang baru. 3. Faktor yang menyulitkan ketiga untuk pimpinan sekolah yang berpegang pada keefektifan sekolah adalah bahwa beragam stekholder, seperti orang tua, pimpinan sekolah, pembuat kebijakan memilih kriteria keefektifan yang berbeda. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, kepala sekolah perlu mengkaji tujuan sekolah seperti apa yang akan dicapai, serta langkah-langkah dalam menggunakan sumberdaya yang ada. Agar manajemen dapat bekerja secara efektif sehingga efektifitas sekolah dapat tercapai dalam mencapai tujuan sekolah. Pekerjaan manajemen dapat dikatakan efektif apabila dapat memberikan hasil 12 yang sesuai dengan cerita yang ditetapkan, atau sudah mampu mewujudkan tujuan organisasi dalam aspek yang yang dikerjakan tersebut. Pada hakekatnya efektivitas organisasi bukanlah efektivitas pribadi, melainkan efektivitas manajer, dan manajer yang efektif akan menghasilkan manajemen yang efektif. Oleh karena itu kepala sekolah selaku manajer mempunyai peran yang penting dalam mencapai tujuan sekolah yang diinginkan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekolah. 2.2 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah Peran kepala sekolah adalah tugas dan tanggung jawab kepala sekolah dalam mengelola penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Secara lebih operasional tugas tersebut mencakup kegiatan menggali dan mendayagunakan sumberdaya sekolah secara terpadu dalam kerangka pencapaian tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Fungsi kepala sekolah adalah tugas dan tanggungjawab kepala sekolah dalam mengelola penyelenggaraan pendidikan bertugas, sebagai pendidik, manajer, administrator, supervisor, pemimpin, inovator, motivator dan wirausahawan. Peran dan fungsi kepala sekolah adalah tugas dan tanggung jawab kepala sekolah dalam mengelola pendidian di sekolah. Kepala sekolah mempunyai tugas pokok, yaitu mengelola penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Secara lebih operasional, tugas pokok kepala sekolah mencakup kegiatan menggali dan mendayagunakan sumber daya sekolah secara terpadu dalam kerangka pencapaian tujuan sekolah. Keselarasan fungsi dan peran kepala sekolah didasarkan pada pemahaman bahwa, keberhasilan sekolah merupakan 13 keberhasilan kepala sekolah. Oleh karena itu suatu keharusan bagi kepala sekolah untuk memiliki kompetensi yang mumpuni dalam menjalankan perannya. Perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006), terdapat tujuh fungsi utama kepala sekolah yaitu sebagai, (1) educator (pedidik), (2) manajer, (3) administrator (4) supervisor (penyelia), (5) leader (pemimpin), (6) inovator, (7) motivator, dan ditambah satu yaitu (8) enterpreuner (wirausahawan). Untuk menghindari terjadinya persepsi yang beragam, maka yang diambil tugas pokok dan fungsi kepala sekolah meliputi kepala sekolah sebagai pendidik (educator), manajer, administrator, supervisor, pemimpin (leader), inovator, motivator dan wirausahawan (enterpreuner). 2.1.1 Kepala Sekolah sebagai Pendidik (Educator) Menurut Wahjosumidjo (2010: 122) pendidik adalah orang yang mendidik. Sedangkan mendidik dapat diartikan memberikan latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan sehingga mengalami proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Permendiknas No. 28 tahun 2010, bahwa jabatan kepala sekolah merupakan tugas tambahan, pada hakekatnya kepala sekolah juga seorang pendidk (guru). Oleh karena itu kepala sekolah juga harus memiliki kompetensi seorang guru. Menurut Djamarah (dalam Rivai dan Murni, 2009: 896) berpendapat bahwa baik mengajar maupun mendidik merupakan tanggung jawab guru sebagai tenaga profesional yang tinggi. Pendapat Rusman (2011: 22) kompetensi yang harus dimiliki oleh 14 seorang guru yang profesional (berdasarkan PP Nomor 19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28) meliputi. 1. 2. 3. 4. Kompetensi pedagogik, adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi peahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pegembangan peserta didik peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Artinya guru harus mampu mengelola kegiatan pembelajaran, mulai dari merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Guru harus menguasai manajemen kurikulum serta memiliki pemahaman tentang psikologi pendidikan, terutama terhadap kebutuhan dan perkembangan peserta didik agar kegiatan pembelajaran lebih bermakna dan berhasil guna. Kompetensi personal, adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Artinya guru memiliki sikap kepribadian yang mantap, sehingga mampu menjadi sumber inspirasi bagi siswa. Dengan kata lain, guru harus memiliki kepribadian yang patut diteladani. Kompetensi professional, adalah kemampuan penguasan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional pendidikan. Artinya guru harus memiliki pengetahuan yang luas berkenaan dengan bidang studi atau subjek matter yang akan diajarkan, serta penguasaan didaktik metodik dalam arti memiliki pengetahuan konsep teoritis, mampu menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran. Guru pun harus memiliki pengetahuan luas tentang kurikulum, dan landasan kependidikan. Kompetensi sosial, adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Artinya ia menujukkan kemampuan berkomunikasi sosial, baik dengan murid-muridnya maupun dengan sesama guru, dengan kepala sekolah, bahkan dengan masyarakat luas. Selain kepala sekolah sejatinya sebagai guru, namun ia juga sebagai pimpinan yang mempunyai kewajiban untuk membina para guru. Menurut Rivai dan Murni, (2009: 889) kepala sekolah secara riil mempunyai fungsi sangat menentukan bagi perkembangan guru, adalah sebagai berikut. 1. 2. Kepala sekolah dapat berperan positif terhadap perkembangan guru, jika kepala sekolah mampu meningkatkan potensi guru-guru sekaligus memberikan ruang gerak dan kebebasan untuk maju bagi guru, guna meningkatkan komitmen tanggung jawab tugasnya. Guru perlu mendapat dorongan kuat dari kepala sekolah untuk berani keluar dari dunia rutinitas hariannya, masuk kedalam dunia dinamis yang merupakan syarat dari suatu perkembangan profesionalisme guru itu sendiri, dalam 15 3. rangka mengingkatkan kompentesi untuk mendukung tugas luhur sebagai guru yang professionsal. Sebaliknya kepala sekolah dapat menjadi penghambat perkembangan guru, jika guru tidak mendapat dukungan untuk secara dinamis mengembangkan potensinya dengan berinteraksi dengan jaringan guru-guru dari satuan pendidikan lainnya dan lembaga-lembaga lainnya. Dengan interaksi keluar yang terarah, maka guru akan mendapatkan berbagai best practices dari jaringannya sehingga individualnya akan terbangkitkan untuk maju bersama rakan guru lainnya. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa guru/ kepala sekolah memiliki fungsi sebagai pengajar dan pendidik, sebagai pengajar bertugas menyampaikan sejumlah mata pelajaran ke dalam akal pikiran anak didik, sebagai pendidik bertugas membimbing dan membina anak didik agar menjadi manusia berbudi luhur, cakap, aktif, kreatif, mandiri, dan inovatif. 2.1.2 Kepala Sekolah sebagai Manajer Kepala sekolah sebagai manajer mempunyai posisi puncak yang memegang kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan sekolah yang telah ditentukan. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk memperbaiki mutu pendidikan melalui sisi manajerial kepala sekolah. Keberhasilan seorang manajer apabila ia dapat melakukan fungsi manajernya dengan efektif. Mengingat pekerjaan dikatakan efektif apabila pekerjaan itu memberi hasil yang sesuai dengan rencana semula. Sedangkan efisien adalah pekerjaan yang menghabiskan biaya sesuai dengan rencana atau lebih rendah. Terry (1991:15-17) menyatakan bahwa fungsi manajemen adalah: Perencanaan (planing) adalah menetapkan pekeriaan yang harus dilaksanakan oleh sekelompok orang untuk mencapai tujuan yang digariskan, mencakup kegiatan pengambilan keputusan. Diperlukan kemampuan untuk menadakan visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola dari tindakan untuk masa depan. Pengorganisasian (Organizing), adalah mencakup membagi komponen kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kedalam kelompok-kelompok, metapkan wewenang diantara kelompok dan unit-unit organisasi. Fungsi pengorganisasian meliputi penentuan fungsi dan struktur. Fungsi terdiri atas tugas-tugas yang 16 diberikan dalam fungsi garis. Hubungan terdiri atas tanggung jawab dan wewenang, sedang struturnya dapat bersifat horizontal dan vertikal. Pelaksanaan (Actuating), atau gerakan aksi, mencakup kegiatan yang dilakukan seorang pemimpin untuk mengawali dan melanjutkan kegiatan yang ditetapkan oleh unsur perencanaan dan pengorganisasian agar tujuan dapat dicapai. Actuating mencakup penetapan dan pemuasan kebutuhan pegawai dengan cara memberi penghargaan, memimpin, mengembangkan dan memberi kompensasi. Pengawasan (controlling), adalah merupakan kelanjutan tugas untuk melihat apakah kegiatan dilaksanakan sesuai rencana. Pelaksanaan kegiatan di evaluasi dan penyimpanganpenyimpangan yang tidak diinginkan diperbaiki supaya tujuan dapat tercapai dengan baik. Berdasarkan uraian penyelenggaraan di atas pendidikan bahwa kepala melaksanakan sekolah dalam fungsi-fungsi mengelola manajemen, perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan atau controling. Dapat dikatakan keberhasilan seorang manajer, jika manajer tersebut dapat melakukan fungsi sebagai manajer secara efektif dan efisien. 2.1.2 Peran dan Fungsi Kepala Sekolah sebagai Administrator Administrasi sangat penting dalam lembaga pendidikan untuk membantu agar lembaga pendidikan dapat berjalan lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan. Menurut Rivai dan Murni (2009:324) menyatakan bahwa, administrasi pendidikan merupakan fungsi khusus dengan tujuan utamanya adalah memastikan pendidikan akan terselenggara secara efisien dan efektif. Berdasarkan pendapat di atas bahwa kepala sekolah sebagai administrator bertugas menyelenggarakan administrasi pendidikan terkait dengan pengorganisasian, pengkoordinasian, pengawasan, yang meliputi kurikulum, kesiswaan, pembiayaan, sarana prasarana, kepegawaian, tata laksana dan hubungan masyarakat. 17 2.1.3 Kepala Sekolah sebagai Supervisor Menurut Arikunto (2009: 370) kegiatan supervisi bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kinerja. Aktivitas ini harus dilakukan seorang pemimpin berkaitan dengan peran kepemimpinanan yang diembannya dalam rangka menjaga kualitas produk yang dihasilkan lembaga. Lebih jauh dikatakan bahwa supervisi bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kinerja. Dengan bimbingan dan bantuan, kualitas professional guru dan lembaga akan senantiasa bisa dijaga dan ditingkatkan. Menurut Ambarita (2013:145) bahwa supervisi adalah sebagai usaha layanan perbaikan pembelajaran dari tahap perencanaan, pengamatan dan analisis yang intensif penampilan pembelajarannya baik secara individu maupun kelompok dalam usaha memperbaiki pengajaran . Hal ini menunjukkan dalam penerapannya supervisi merupakan suatu bentuk bimbingan profesional dalam rangka perbaikan suasana belajar mengajar melalui guru-guru. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa supervisi merupakan suatu bentuk bimbingan/pembinaan profesional dalam rangka perbaikan kualitas dan kinerja bagi guru-guru dan tenaga kependidikan di sekolah. 2.1.4 Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin (leader) Kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan dan keterampilan seseorang yang menduduki jabatan sebagai pimpinan satuan kerja untuk mempengaruhi perilaku orang lain, terutama bawahannya, untuk berpikir dan bertindak sedemikian rupa sehingga melalui perilaku yang positif bahwa ia memberikan sumbangan nyata dalam pencapaian tujuan sekolah. Kepemimpinan adalah unsur terpenting dalm 18 manajemen peningkatan mutu. Pemimipin harusnya mampu memiliki visi dan mampu menerjemahkan visi tersebut ke dalam kebijakan yang jelas dan tujuan yang spesifik. Peter dan Austin (dalam Sallis 2006: 170) menganjurkan pentingnya pemimpin yang unggul dalam mencapai mutu. Menurut Mulyasa (2007: 126), kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam manajemen dapat di lihat berdasarkan kriteria; 1) mampu memberdayakan guruguru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar, dan produktif, 2) dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, 3) mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan, 4) berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain di sekolah, 5) bekerja dengan tim manajemen, serta 6) berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Sedangkan menurut Pidarta (dalam Mulyasa, 2007: 126) mengemukakan tiga macam keterampilan yang harus dimiliki oleh kepala sekolah untuk mensukseskan kepemimpinannya. Ketiga keterampilan tersebut adalah keterampilan konseptual, yaitu keterampilan untuk memahami dan mengoperasikan organisasi; keterampilan manusiawi, yaitu keterampilan untuk bekerja sama, memotivasi, dan memimpin; serta keterampilan teknik, yaitu keterampilan dalam menggunakan pengetahuan, metode, teknik, serta perlengkapan untuk menyelesaikan tugas tertentu. Tuntutan kemampuan kepala sekolah sebagai pemimpin yang harus memiliki berbagai keterampilan dalam menjalankan tugasnya merupakan suatu kemestian. 19 Mengingat kepala sekolah sebagai lokomotif dari banyak gerbong yang akan dibawa untuk mencapai tujuan sekolah dan pendidikan pada umumnya. Dalam kaitan ini, disarankan kepala sekolah memiliki beberapa kemampuan sebagai seorang pemimpin seperti pendapat Noris yang dikutip oleh Ais Wahab (dalam Fattah, 2004: 123), yaitu; 1) seorang pemimpin yang memiliki pengetahuan yang luas tentang teori pendidikan; 2) kemampuan menganalisis situasi sekarang berdasarkan apa yang seharusnya, 3) mampu mengidentifikasi masalah, dan 4) mampu mengkonseptualkan arah baru untuk perubahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Covey dalam Rivai dan Murni (2009: 748), membagi peran pemimpin menjadi tiga bagian yaitu: 1. Pathfinding (pencarian alur), peran menentukan visi dan misi yang pasti 2. Aligning (penyelaras), peran untuk memastikan bahwa struktur, sistem proses operasional memberikan dukungan pada pencapaian visi dan misi. 3. Empowering (pemberdayaan), peran untuk menggerakkan semangat dalam diri orang-orang dalam mengungkapkan bakat, kecerdasan, dan kreativitas laten untuk mampu mengerjakan apapun dan konsisten dengan prinsipprisip yang disepakati. Upaya peningkatan mutu berkelanjutan, melibatkan semua personil sekolah, yang di dalam prosesnya menuntut komitmen bersama terhadap masalah mutu pendidikan di sekolah. Tumbuhnya komitmen di kalangan personil sekolah melalui peranan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan. Adanya pemahaman dan komitmen yang kuat dari kepala sekolah merupakan unsur yang amat penting, bahkan Sallis (dalam fattah 2004: 123-124) mengemukakan adanya kegagalan pada proses penerapan teori peningkatan mutu utamanya disebabkan oleh kurangnya komitmen dari pemimpin. Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan dapat disimpulkan, keberhasilan kepemimpinan sangat ditentukan kompetensi kepribadian seorang pemimpin, agar ia mendapat dukungan dari bawahannya. Selain itu kemampuan 20 daam pengetahuan terhadap lembaga yang dipimpinnya dan memiliki keahlian teknis, metode dalam mengorganisasikan lembaganya. Namun kompetensi kepribadian atau karakter pemimpin sangat dominan dalam menetukan keberhasilan pemimpin. 2.1.5 Kepala Sekolah sebagai Inovator Sebagai Inovator di sekolah sesuai kompetensi kepala sekolah (Permendiknas RI No.13 Tahun 2007 tentang kepala sekolah mampu mengelola perubahan dan pengembangan menuju organisasi pembelajaran yang efektif serta meciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif dan inovatif bagi pembalajaran peserta didik. (Depdiknas, 2006), peran kepala sekolah sebagai inovator adalah; 1) mencari dan menemukan gagasan baru untuk pembaharuan sekolah, 2) melakukan perubahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Daryanto (1998: 175) menyatakan bahwa dunia pendidikan selalu mengalami dinamika, maka setiap guru dituntut juga untuk melakukan perubahan, baik ilmu pengetahuan, komunikasi, metode dan penguasaan terhadap teknologi. Mulyasa (2009:118-119) menjelaskan kepala sekolah sebagai inovator akan tercermin dari cara-cara yang ia lakukan, pekerjaannya secara konstruktif, kreatif,delegatif, integratif, rasional dan objektif, pragmatis, keteladanan, disiplin, serta adaptabel dan fleksibel. Konstruktif dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan, kepala sekolah harus berusaha mendorong dan membina setiap tenaga kependidikan agar dapat berkembang secra optimal dalam melakukan tugas-tugas yang di emban kepada masing-masing tenaga kependidikan. 21 Kreatif dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah, kepala sekolah harus berusaha mencari gagasan dan ide-ide baru dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini dllakukan agar para tenaga kependidikan dapat memahami apa-apa yang disampaikan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin, sehingga dapat mencapai tujuan sesuai dengan visi, misi sekolah. Delegatif dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah, kepala sekolah harus berupaya mendelegasikan tugas kepada tenaga kependidikan sesuai dengan deskripsi tugas, jabatan serta kemampuan masing-masing. Integratif dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah, kepala sekolah harus berupaya mengintegrasikan semua kegiatan sehingga dapat menghasilkan sinergi untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif, efisien dan produktif. Rasional dan objektif dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah, kepala sekolah harus berusaha bertindak berdasarkan pertimbangan rasio dan objektif. Pragmatis dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah, kepala sekolah harus berusaha menetapkan kegiatan atau target berdasarkan kondisi dan kemampuan nyata yang dimiliki oleh setiap tenaga kependidikan, serta kemampuanj yang dimiliki sekolah. Keteladanan dimaksudkan bahwa dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah, kepala sekolah harus berusaha memberikan teladan dan contoh yang baik. Adaptabel dan fleksibel dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah, kepala sekolah harus mampu beradaptasi dan fleksibel dalam menghadapi situasi baru serta berusaha menciptakan situasi kerja yang 22 menyenangkan dan memudahkan para tenaga kependidikan untuk beradaptasi dalam melaksanakan tugasnya. Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah sebagai inovator, kepala sekolah harus mampu mencari, menemukan ide, gagasan, merupakan agen pembaharuan di sekolah, memiliki pandangan luas kedepan dan mampu mentransformasikan ide dan gagasan baru ke sumber daya sekolah menuju berbagai perubahan. 2.1.6 Kepala Sekolah Sebagai Motivator Permendiknas RI No.13 tahun 2007 menyatakan bahwa kepala sekolah harus memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dalam penyelenggaraan pendidikan. Menurut teori Aldefer merupakan teori motivasi yang mengatakan bahwa manusia mempunyai 3 macam kebutuhan, yaitu: existence (E), relatedness (R) dan growth (G), menurut teori ini pada hakekatnya manusia ingin dihargai dan diakui keberadaannya (eksistensi), ingin di undang, dan dilibatkan. Di samping itu sebagai makhluk sosial, manusia ingin berhubungan atau bergaul dengan manusia lainnya. Manusia juga ingin selalu meningkatkan taraf hidupnya menuju kesempurnaan (ingin selalu berkembang). Berdasarkan uraian tentang motivasi di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mengetahui motivasi seseorang dalam bekerja dapat dilihat dari keinginannya untuk memenuhi kebutuhan akan prestasi, penghargaan, pekerjaan, tanggung jawab, pertumbuhan dan perkembangan. Kepala sekolah sebagai motivator harus memperhatikan keberadaan guru, dihargai pendapatnya/hasil kerjanya agar bersama-sama mencapai tujuan meningkatkan kualitas dan mutu sekolah. 23 2.1.8 Kepala Sekolah Sebagai Wirausahawan Menurut Syukro, dkk (2010: 55) dalam kompetensi kewirausahaan meliputi. a. Memiliki jiwa wirausaha, dengan kriteria; 1) memiliki inisiatif yang tinggi, 2) memiliki percaya diri yang tinggi, 3) bersikap tegas, 4) memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, 5) memiliki daya tahan terhadap tekanan, 6) memiliki komitmen tinggi terhadap pekerjaan, 7) selalu update dengan informasi terkini, 8) memiliki orientasi terhadap efisiensi dan efektifitas, 9) berfikir dan bertindak sistematis, 10) bersikap pantang menyerah. b. Memiliki kemampuan mengembangkan jiwa wirausaha, dengan kriteria; 1) mampu membuat perencanaan sistematis, 2) mampu membuat perencanaan strategis, 3) mampu memanfaatkan peluang, 4) memiliki kemampuan meyakinkan orang lain, 5) memiliki kemampuan pemecahan masalah. Permendiknas RI No.13 tahun 2007, tentang standar kepala sekolah bahwa dimensi kompetensi kewirusahaan meliputi; bahwa kepala sekolah memiliki kemampuan (1) menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah, (2) bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang efektif, (3) memiliki motivasi yang kuat untuk dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin, (4) pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam mengahadapi kendala yang dihadapi, (5) memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah sebagai sumber belajar peserta didik. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah sebagai wirausahawan (enterpreuner), kepala sekolah harus memiliki jiwa wirausaha, mampu mengembangkan jiwa wirausaha, mampu menciptakan inovasi 24 bagi pengembangan sekolah, bekerja keras, pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala-kendala yang ada serta memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah sebagai sumber belajar peserta didik. 2.3 Manajemen Sekolah Menurut Mulyasa (2007: 39) sedikitnya terdapat tujuh komponen sekolah yang harus dikelola dengan baik, yaitu kurikulum dan program pengajaran, tenaga kependidikan, kesiswaan, keuangan, sarana dan prasarana pendidikan, pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat, serta manajemen pelayanan khusus lembaga pendidikan. a. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran Manajemen kurikulum dan program pengajaran merupakan bagian dari Manajemen peningkatan mutu. Manajemen kurikulum dan program pengajaran mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan pelaksanaan kurikulum. Perencanaan dan pengembangan kurikulum nasional pada umumnya telah dilakukan oleh Departermen Pendidikan Nasional pada tingkat pusat. Karena itu level sekolah yang paling penting adalah bagaimana merealisasikan dan menyesuaikan kurikulum tersebut dengan kegiatan pembelajaran. Di samping itu, sekolah juga bertugas dan berwenang untuk mengembangan kurikulum muatan lokal sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan setempat. Sekolah merupakan ujung tombak pelaksanaan kurikulum, baik kurikulum nasional maupun muatan lokal, yang diwujudkan melalui proses mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, institusional, kurikuler dan instruksional. Agar proses belajar mengajar dapat dilaksanaan secara efektif 25 dan efisien, serta mencapai hasil yang diharapkan, diperlukan kegiatan manajemen program pengajaran. Manajemen pengajaran adalah keseluruhan proses penyelenggaran kegiatan di bidang pengajaran yang bertujuan agar seluruh kegiatan pengajaran terlaksana secara efektif dan efisien. Manajer sekolah diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan pengembangan kurikulum dan progran pengajaran serta melakukan pengawasan dalam pelaksanaan. Proses pengembangan program sekolah, manajer hendaknya tidak membatasi diri pada pendidikan dalam arti sempit, ia harus menghubungkan program-program sekolah dengan seluruh kehidupan peserta didik dan kebutuhan lingkungan. Mengingat kepala sekolah merupakan manajer, maka ia harus tanggung jawab terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian perubahan atau perbaikan program pengajaran disekolah. Menurut Mulyasa (2007: 41), untuk kepentingan tersebut, sedikitnya terdapat empat langkah yang harus dilakukan, yaitu menilai kesesuaian program yang ada dengan tuntutan kebudayaan dan kebutuhan murid, mengingkatkan perencanaan program, memilih dan melaksanakan program,serta menilai perubahan program. b. Manajemen Tenaga Kependidikan Keberhasilan manajemen mutu sangat ditentukan pempinannya dalam mengelola tenaga kependidikan yang tersedia di sekolah. Manjemen tenaga kependidikan atau manajemen personalia pendidikan bertujuan untuk mendayagunakan tenaga kependidikan secara efektif dan efisien untuk mencapai hasil menyenangkan. yang optimal, namun tetap dalam kondisi yang 26 Ada empat prinsip dasar yang harus di pegang oleh kepala sekolah dalam menerapkan manajemen personalia (Depdikbud, 2007), yaitu. a) Dalam mengembangkan sekolah, sumber daya manusia adalah komponen paling berharga. b) Sumber daya manusia akan berperan secara optimal jika dikelola dengan baik, sehingga mendukung tercapainya tujuan institusional. c) Kultur dan suasana organisasi di sekolah, serta perilaku manajerial kepala sekolah sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pengembangan sekolah. d) Manajemen personalia di sekolah pada prinsipnya mengupayakan agar setiap warga (guru, staf administrasi, siswa, orang tua siswa, dan yang terkait) dapat bekerja sama dan saling mendukung untuk mencapai tujuan sekolah. Menurut Mulyasa (2007: 42), manajemen tenaga kependidikan (guru dan personil) mencakup; (1) perencanaan pegawai, (2) pengadaan pegawai, (3) pembinaan dan pengembangan pegawai, (4) promosi dan mutasi, (5) pemberhentian pegawai, (6) kompensasi, (7) penilaian pegawai. Semua komponen ini harus dilakukan dengan benar dan baik, agar apa yang diharapkan dapat tercapai, yakni tersedianya tenaga kependidikan yang diperlukan dengan kualifikasi dan kemampuan yang sesuai serta dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik dan berkualitas. Perencanaan pegawai merupakan kegiatan untuk menentukan kebutuhan pegawai, baik secara kuantitatif maupun kualitatif dan untuk sekarang maupun masa yang akan datang. Penyusun rencana personalia yang baik dan tepat memerlukan informasi. Ada dua tahap yang harus dilakukan kepala sekolah untuk pengadaan pegawai, yaitu. a) Analisis pekerjaan Agar pengadaan tenaga betul-betul sesuai dengan kebutuhan yang sesungguhnya, maka terlebih dahulu harus dilakukan analisis pekerjaan, baik melalui analisis proses maupun operasionalnya. Analisis proses dilakukan di 27 sekolah. Setelah dilakukan analisis operasi untuk menemukan bagaimana setiap tugas tersebut harus dikerjakan dan kemampuan yang diperlukan oleh orang yang mengerjakan tugas atau mengemban jabatan tersebut. b) Pengadaan tenaga Jika hasil analisis pekerjaan menunjukkan bahwa sekolah kekurangan tenaga pegawai, maka sekolah negeri tidak boleh merekrut sendiri, tetapi mengusulkan pengangkatan tenaga baru kepada dinas pendidikan kota/kabupaten dan seterusnya dilanjutkan ke dinas provinsi. Jika secara keseluruhan jumlah tenaga guru berlebih, tetapi ada satu atau beberapa pelajaran yang gurunya kurang, maka kepala sekolah perlu mengusulkan mutasi guru berlebih dan meminta tambahan guru untuk mata pelajaran yang kurang. Sedangkan pada sekolah swasta, maka kewenangan untuk merekrut tenaga pegawai di beri kewenangan. Mereka lebih leluasa untuk mengatur kewenangan tenaga pegawainya. Ada tiga aspek yang harus dilakukan kepala sekolah dalam mengembangkan pegawai disekolah, yaitu, a) peningkatan profesionalisme, b) pembinaan karier, c) kesejahteraan. Hal yang perlu diperhatikan dan sangat penting dalam mengelola tenaga pendidik dan kependidikan bahwa guru, staf administrasi, dan staf lainnya adalah manusia, sehingga dalam pengelolaannya perlu diperhatikan sisi-sisi manusiawi, seperti memberi perhatian, membantu menyelesaikan tugas yang sulit, dan sejenisnya. Organisasi senantiasa menginginkan agar personil- personilnya melaksanakan tugas secara optimal dan menyumbangkan segenap kemampuannya untuk kepentingan organisasi, serta bekerja lebih baik dari 28 hari ke hari. Di samping itu, pegawai sendiri sebagai manusia juga membutuhkan peningkatan dan perbaikan pada dirnya termasuk dalam tugasnya. Oleh karena itu fungsi pembinaan dan pengembangan pegawai merupakan fungsi pengelolaan personil yang mutlak, untuk memperbaiki, menjaga, dan meningkatkan kinerja pegawai. Setelah ditentukan calon pegawai yang akan diterima, kegiatan selanjutnya adalah mengusahakan supaya calon pegawai tersebut menjadi anggota organisasi yang sah sehingga mempunyai hak dan kewajiban sebagai anggota organisasi atau lembaga. Agar personalia dapat bekerja dengan optimal dan masing – masing pihak menjalankan hak dan kewajiban, maka diperlukan kontrak perjanjian antara pegawai dengan organisasi atau lembaga yang bersangkutan. c) Manajemen kesiswaan Semua kegiatan di sekolah pada akhirnya ditujukan untuk membantu siswa mengembangkan dirinya. Upaya itu akan optimal jika siswa sendiri secara aktif berupaya mengembangkan diri, sesuai dengan program – program yang dilakukan di sekolah. Oleh karena itu sangat penting untuk menciptakan kondisi agar siswa dapat mengembangkan diri secara optimal. Sebagai pemimpin di sekolah, kepala sekolah memegang peranan penting dalam menciptakan kondisi tersebut. Menurut Mulyasa, (2007:39) terdapat empat prinsip dalam manajemen kesiswaan yang harus dilakukan kepala sekolah, yaitu. 1. Siswa harus diperlakukan sebagai subyek dan bukan obyek, sehingga harus didorong untuk berperan serta dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan yang terkait dengan kegiatan mereka. 2. Kondisi siswa sangat beragam, ditinjau dari fisik, kemampuan intelektual, sosial ekonomi, minat, dan seterusnya. Oleh karena itu diperlukan wahana 29 kegiatan yang beragam, sehingga setiap siswa memiliki wahana untuk berkembang secara optimal. 3. Siswa hanya akan termotivasi untuk belajar jika mereka menyenangi apa yang akan diajarkan. 4. Pengembangan potensi siswa tidak hanya menyangkut ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif dan psikomotor. Manajemen kesiswaan atau manajemen kemuridan (peserta didik) merupakan salah satu bidang operasional dalam manajemen di sekolah. Manajemen kesiswaan adalah penataan atau pengaturan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik, mulai masuk sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah. Manajemen kesiswaan bukan hanya berbentuk pencatatan data peserta didik, melainkan meliputi aspek yang lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah. Manajemen kesiswaan bertujuan untuk mengatur berbagai dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran disekolah dapat berjalan lancar, tertib, dan teratur, serta mencapai tujuan pendidikan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, bidang manjemen kesiswaan sedikitnya memiliki tiga tugas utama, yakni: kemajuan belajar, bimbingan dan pembinaan disiplin. Berdasarkan tiga tugas utama tersebut. Keberhasilan, kemajuan, dan prestasi belajar siswa memerlukan data yang otentik, dapat dipercaya, dan memiliki keabsahan. Data ini diperlukan untuk mengetahui dan mengontrol keberhasilan atau prestasi kepala sekolah sebagai manajer pendidikan di sekolahnya. Kemajuan belajar siswa ini secara periodik harus dilaporkan kepada orang tua, sebagai masukan untuk berpartisipasi dalam proses pendidikan dan membimbing anaknya belajar, baik di rumah maupun di sekolah. 30 Berdasarkan uraian di atas maka tujuan pendidikan tidak hanya mengembangkan pengetahuan anak, tetapi juga sikap kepribadian, serta aspek sosial emosional, di samping keterampilan lain. Sekolah tidak hanya bertanggung jawab memberikan berbagai ilmu pengetahuan, tetapi memberikan bimbingan dan bantuan terhadap anak – anak yang bermasalah, baik dalam belajar, emosional maupun sosial, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi masing – masing, untuk kepentingan tersebut, diperlukan data yang lengkap tentang peserta didik. Untuk itu, di sekolah perlu di lakukan pencatatan dan ketatalaksanan kesiswaan, dalam bentuk buku induk, buku kleper, buku laporan keadaan siswa, buku presensi siswa, buku laporan pendidikan, daftar kenaikan kelas, buku mutasi, dan sebagainya. d) Manajemen Keuangan dan Pembiayaan Keuangan dan pembiyaan merupakan salah satu sumber daya yang secara langsung menunjang efektifitas dan efisien pengelolaan pendidikan. Hal tersebut lebih meningkatkan terasa mutu, lahir dalam implementasi yang menuntut manajemen kemampuan sekolah untuk untuk merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi serta mempertanggungjawabkan pengelolaan dana secara transfaran kepada masyarakat dan pemerintah. Dalam penyelenggaraan pendidikan, keuangan dan pembiyaan merupakan potensi yang sangat menetukan dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kajian manajemen pendidikan. Komponen keuangan dan pembiyaan pada suatu sekolah merupakan komponen produksi yang menentukan terlaksananya kegiatan – kegiatan proses belajar mengajar di sekolah bersama bengan komponen – komponen lainnya. Dengan kata lain 31 setiap kegiatan yang dilakukan sekolah memerlukan biaya. Komponen keuangan dan pembiyaan ini harus dikelola dengan baik, agar dana – dana yang dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan. Dan hal ini penting terutama dalam rangka manajemen mutu pendidikan, yang memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mencari dan memanfaatkan berbagai sumber dana sesuai dengan keperluan sekolah, karena pada umumnya dunia pendidikan selalu dihadapkan dengan masalah keterbatasan dana. Tugas manajemen keuangan oleh Jones (dalam Mulayasa 2009: 48) dapat dibagi tiga fase yaitu, 1) financial planning, 2) implementational and, 3) evaluation. Jones mengemukakan perencanaan finansial yang disebut budgeting, merupakan bagian kegiatan mengkoordinasi semua sumber daya yang tersedia untuk mencapai sasaran yang diinginkan secara sistematis tanpa menyebabkan efek samping yang merugikan. Implementation involves accounting (pelaksanaan anggaran) ialah kegiatan berdasarkan rencana yang telah dibuat dan kemungkinan terjadinya penyesuaian jika diperlukan. Evaluation involves merupakan proses evaluasi terhadap pencapaian sasaran komponen utama manajemen keuangan meliputi. a. Prosedur anggaran. b. Prosedur akutansi keuangan. c. Pembelajaran, pergudangan, dan prosedur pendistribusian. d. Prosedur investasi. e. Prosedur pemeriksaan. 32 Dalam pelaksanaannya, manajemen keuangan ini ada pemisah tugas antara fungsi otorisator, ordinator, dan bendaharawan. Otorisator adalah pejabat yang diberi wewenang untuk mengambil tindakan yang mengakibatkan penerimaan dan pengeluaran anggaran. Ordinator adalah pejabat yang berwenang untuk melakukan pengujian dan memerintahkan pembayaran atas segala tindakan yang dilakukan berdasarkan otorisasi yang telah ditetapkan. Sedangkan bendaharawan adalah pejabat yang berwenang melakkan penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran keuangan atau surat – surat berharga lainnya yang dapat dinilai dengan uang serta diwajibkan membuat perhitungan dan pertanggungjawaban. Kepala sekolah sebagai manajer berfungsi sebagai otorisator, dan dilimpahi fungsi ordinator untuk memerintahkan pembayaran. Namun, tidak dibenarkan melaksanakan fungsi bendaharawan karena berkewajiban melakukan pengawasan ke dalam. Bendaharawan, di samping mempunyai fungsi – fungsi bendaharawan, juga dilimpahi tugas ordinator untuk menguji hak atas pembayaran. e) Manajemen Sarana Prasarana Pendidikan Menurut Mulyasa (2007: 39) yang merupakan sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti : gedung, ruang belajar, meja dan kursi, serta alat – alat dan media pengajaran. Adapun yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pelajaran, seperti; halaman, kebun, taman sekolah, jalan menuju sekolah. Tetapi jika 33 dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengajar, seperti taman sekolah untuk pengajaran tumbuh-tumbuhan. Halaman sekolah sekaligus lapangan olah raga, komponen tersebut merupakan sarana pendidikan. Manajemen sarana dan prasarana pendidikan bertugas mengatur dan menjaga sarana prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan. Kegiatan pengelolaan ini meliputi kegiatan perencanaan, pengadaan, pengawasan, penyimpanan inventaris, dan penghapusan serta penataan. Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih, rapi, indah sehingga menciptakan kondisi yang memadai secara kuantitatif, kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran, baik oleh guru sebagai pengajar maupun siswa sebagai pembelajar. f) Manajemen Hubungan sekolah dengan Masyarakat Menurut Mulyasa (2007:39) bahwa hubungan antara sekolah dengan masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang dapat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah. Dalam hal ini, sekolah sebagai sistem sosial merupakan bagian integral dari sistem sosial yang lebih besar yaitu masyarakat. Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan secara efektif dan efisien. g) Manajemen Pelayanan khusus lembaga pendidikan Menurut Mulyasa (2007:39) bahwa layanan khusus lembaga pendidikan, yang mengedepankan kerjasama instansi terkait yang mendukung pendidikan 34 antara lain: layanan khusus dengan komite sekolah, layanan UKS, layanan perpustakaan yang merupakan sistem hubungan sosial bersama memenuhi pencapaian tujuan sekolah. Berdasarkan uraian di atas beberapa manajemen yang dilaksanakan di sekolah memerlukan segenap orang-orang yang dapat melaksanakan fungsi manajemen dengan baik mampu memenuhi pencapaian tujuan sekolah. SD Muhammadiyah menyelenggarakan manajemen sekolah yang mengadopsi nilai-nilai manajemen pendidikan diintegrasikan dengan nilai-nilai keislaman. Dapat dikategorikan sebagai lembaga industri mulia (noble industry) karena mengemban misi ganda, yaitu profit sekaligus sosial. Misi profit yaitu mencapai keuntungan, ini dapat dicapai ketika efisiensi dan efektivitas dana dapat tercapai, sehingga pemasukan lebih besar dari biaya operasional. Misi sosial bertujuan untuk mewariskan dan menginternalisasikan nilai luhur. Menurut Muhaimin, Suti’ah dan Lystio (2010:7) manajemen pendidikan Islam diperlukan dua aspek yang terpadu, yaitu menyatukan sikap manajer dan leader yang berciri khas islam atau yang dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam. Sehingga melahirkan etos kerja berupa memiliki niat yang lurus untuk selalu memperbaiki amal atau kerja, selalu berorientasi pada kerja, dan meyakini bahwa setiap kerja yang dilakukan bukan hanya dimensi secara dunia tetapi lebih dari itu yaitu nilai ibadah. 2.4 Kompetensi Kepala Sekolah Semakin berkembangnya kebutuhan sekolah akan pemimpin atau kepala sekolah yang dapat bersaing dengan perkembangan, maka tuntutan kompetensi kepala sekolah semakin ditingkatkan. Kemudian digulirkan permendiknas No. 13 Tahun 2007, mengatur bahwa kepala sekolah harus memiliki kompetensi dalam 35 menjalankan tugas pokok dan fungsinya, yang meliputi. 1) Kompetensi Kepribadian, 2) Kompetensi Manajerial, 3) Kompetensi Kewirausahaan, 4) Kompetensi Supervisi, dan 5) Kompetensi Sosial. 2.4.2 Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian yang dimaksud dalam permendiknas No. 13 Tahun 2007 tentang standar Kepala sekolah/Madrasah, meliputi, 1) berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di sekolah/madrasah, 2) memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin, 3) memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala sekolah/madrasah, 4) bersikap terbuka dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan sebagai kepala sekolah, 6) memiliki bakat dan jabatan sebagai pemimpin pendidikan. Kompetensi kepribadian merupakan karakter yang harus dimiliki kepala sekolah dalam menjalankan perannya sebagai seorang pemimpin (leader), karena sebagai pemimpin, ia akan mempengaruhi orang lain atau memberdayakan orang – orang untuk menjalankan tugas. Kemampuan ia mempengaruhi orang lain sangat ditentukan sampai sejauh mana kepribadian seorang pemimpin menjadipanutan atau teladan bagi bawahannya. Menurut Muhaimin, Suti’ah (2010: 29) bahwa faktor pemimpin yang sangat penting dalam hal ini adalah kepala sekolah adalah karakter dari orang yang menjadi pemimpin tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa karakter yang baik merupakan kompetensi kepribadian seorang pemimpin atau kepala sekolah yang harus dimiliki agar ia berhasil dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin di 36 organisasi sekolahnya. Pentingnya kompentensi kepribadian dalam menunjang kerja kepala sekolah atau pemimpin. Pernyatan pentingnya kompetensi kepribadian ditekankan juga oleh Pidarta (2004: 17) bahwa seorang pemimpin agar dapat diterima di tengah – tengah organisasi yang dipimpinnya maka ia perlu memiliki itegritas pribadi. Suatu pribadi yang bisa berbaur dengan pribadi – pribadi lain, suatu kemampuan mengadaptasi dengan segala macam pribadi. Kemampuan ini bersumber dari kemampuan menghargai orang lain, menghayati perasaan orang lain, toleransi dan bekerjasama. Berdasarkan pendapat – pendapat yang dikemukakan dalam teori, maka dapat dikatakan bahwa kompetensi kepribadian merupakan faktor penting yang menetukan kesuksesan kepala sekolah dalam menjalankan fungsinya sebagai pemimpin (leader). Bila kepribadian kepala sekolah baik, maka sebagai pemimpin akan dicontoh oleh bawahan, dan bawahan akan merasa nyaman dibawah binaan pimpinan yang memiliki karakter yang baik. Sehingga diharapkan semua staf akan memiliki kinerja yang baik, sehingga akan saling bersinergis untuk memberikan yang terbaik dalam peningkatan mutu di sekolahnya. 2.4.3 Kompentensi Manajerial Kompetensi manajerial yang tertuang dalam permendiknas No.13 Tahun 2007 tentang standar sekolah/madrasah organisasi kepala Sekolah meliptuti, 1) menyusun perencanaan untuk berbagai tingkatan perencanaan, 2) mengembangkan sekolah/madrasah sesuai dengan kebutuhan, 3) memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah/madrasah 37 secara optimal, 4) mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif, 5) menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik, 6) mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal, 7) mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah dalam rangka pendayaguanaan secara optimal, 8) mengelola hubungan sekolah/madrasah dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan pembiyaan sekolah/madrasah, 9) mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik, 10) mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional, 11) mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien, 12) mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/madrasah, 13) mengelola unit layanan khusus sekolah/madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah, 14) mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan, 15) memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah, 16) melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya. Kompetensi manajerial ini menempatkan peran sekolah sebagai manajer. Selaras dengan pendapat Rohiat, (2010:35) bahwa ketrampilan-ketrampilan teknis manajerial untuk manajemen sekolah perlu mendapat perhatian seperti pemahaman terhadap tugas manajemen kurikulum, 38 manajemen personil, fasilitas, keuangan dan tata usaha sekolah, pemeliharaan tata tertib dan penghubung sekolah dan masyarakat. 2.4.3 Kompentensi Kewirausahaan Kompetensi kewirausahaan menurut permendiknas No.13 Tahun 2007 tentang standar kepala Sekolah meliputi; 1) menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah, 2) bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif, 3) memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah, 4) pantang menyerah dan selalu untuk mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah, 5) memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik. Selaras dengan pendapat Syukro,dkk.(2010: 55) bahwa kompetensi kewirausahaan meliputi. a. Memiliki jiwa wirausaha, dengan kriteria; 1) memiliki inisiatif yang tinggi, 2) memiliki percaya diri yang tinggi, 3) bersikap tegas, 4) memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, 5) memiliki daya tahan terhadap tekanan, 6) memiliki komitmen tinggi terhadap pekerjaan, 7) selalu apdate dengan informasi terkini, 8) memiliki orientasi terhadap efisiensi dan efektivitas, 9) berfikir dan bertindak sistematis, 10) bersikap pantang menyerah. b. Memiliki kemampuan mengembangkan jiwa wirausaha dengan kriteria; 1) mampu membuat perencanaan sistematis, 2) mampu membuat perencanaan strategis, 3) mampu memanfaatkan peluang, 4) memiliki kemampuan meyakinkan orang lain, 5) memiliki kemampuan pemecahan masalah. 2.4.4 Kompetensi Supervisi Kompetensi supervisi yang dimaksud dalam permendiknas No.13 Tahun 2007 meliputi; 1) merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalis me guru, 2) melaksanakan supervisi akademik terhadap 39 guru dengan menggunakan pendekatan teknik supervisi yang tepat, 3) menindak lanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru. Kompetensi supervisi mutlak diperlukan kepala sekolah sebagai penunjang tugasnya sebagai supervisor di sekolahnya. Meningkatnya kualitas kinerja guru dan karyawan sangat ditentukan sampai sejauh mana pembinaan guru dan karyawan dilakukan. Agar pelaksanaan berjalan dengan yang diharapkan maka pelaksanaanya harus mengikuti prinsip – prinsip manajemen yang mengarah pada pencapaian tujuan pendidikan seutuhnya. Selanjutnya menurut Arikunto (2009: 370) bahwa kegiatan supervisi bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kinerja. Aktivitas ini harus dilakukan seorang pemimpin berkaitan dengan peran kepemimpinan yang diembannya dalam rangka menjaga kualitas produk yang dihasilkan lembaga. Lebih jauh dikatakan bahwa supervisi bertujuan untuk meningkatakan kualitas dan kinerja. Dengan bimbingan dan bantuan, kualitas profesional guru dan lembaga akan senatiasa dapat di jaga dan ditingkatkan. 2.4.5 Kompetensi Sosial Kompetensi sosial meliputi; 1) bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah/madrasah, 2) berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, 3) memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau kelompok lain. Kompeteni sosial ini diperlukan kepala sekolah sebagai seorang manajer di sekolahnya.dalam konteks sebagai manajer, maka kepala sekolah akan melakukan peran manajer dalam hal manajemen hubungan masyarakat. Hubungan sekolah dan masyarakat pada hakekatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi 40 peserta didik di sekolah. Baik atau tidaknya hubungan sekolah dan masyarakat sangat ditentukan kepala sekolah pengelola sekolah, yang memiliki kebijakan dan keputusan terhadap semua program yang akan dilakukan terkait hubungan masyarakat. Menurut Mulyasa (2007: 51), kepala sekolah yang baik merupakan salah satu kunci untuk bisa menciptakan hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakat secara efektif karena harus menaruh perhatian tentang apa yang terjadi pada peserta didik di sekolah dan apa yang dipikirkan orang tua tentang sekolah. Kepala sekolah dituntut untuk senantiasa berusaha membina dan meningkatkan hubungan kerja sama yang baik antara sekolah dan masyarakat guna mewujudkan sekolah yang efektif dan efisien. Berdasarkan kompetensi kepala sekolah tersebut, maka kepala sekolah diharapkan mampu menjalankan peran dan fungsi sebagai kepala sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di lembaganya. Berdasarkan beberapa pendapat yang diungkapkan di atas, dapat diketahui bahwa kepala sekolah yang berhasil dalam memimpin sekolah adalah kepala sekolah yang memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan perannya secara efektif dalam memimpin sekolah. 2.5 Kerangka Pikir Penelitian ini didasarkan pada pemikiran bahwa kepala sekolah sebagai pimpinan di sekolah, memiliki fungsi dan peran sangat penting dalam upaya meningkatkan mutu atau kualitas sekolah. Sekolah akan mempunyai mutu atau kualitas yang baik, jika kinerja orang-orang yang ada di sekolah berjalan optimal. Hal ini terkait dengan pelaksanaan peran dan fungsi kepala sekolah dalam kepemimpinannya di SD Muhammadiyah Metro. 41 Kepala sekolah merupakan input dalam penelitian. Kepala sekolah sebagai input yang utama dalam penelitian, karena karena kepala sekolah merupakan objek utama dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini, yang dilakukan adalah pelaksanaan fungsi kepala sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan di SD Muhammadiyah Metro, yaitu fungsi kepala sekolah sebagai pendidik, manajer, administrator, supervisor, pemimpin, inovator, motivator dan wirausahawan. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapatlah di buat kerangka pikir penelitian. Input, Proses dan Output digambarkan sebagai berikut. INPUT Kepala Sekolah - Berbagai perubahan dan INPUTtentang kebijakkan TUPOKSI Kepala Sekolah (Pemerintah dan Yayasan) PROSES OUTPUT Fungsi kepala sekolah: 1) Pendidik 2) Manajer 3) Administrator 4) Supervisor 5) Pemimpin 6) Inovator 7) Motivator 8) Wirausahawan Sekolah efektif Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Bab metode penelitan ini secara berturut-turut di bahas mengenai latar penelitian, pendekatan dan rancangan penelitian, kehadiran peneliti, sumber data peneliti, teknik pengambilan data, teknik analisis data, teknik pengecekan keabsahan data dan tahapan penelitian. 3.1. Latar Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Muhammdiyah Metro, yang beralamatkan di Jalan KH. A. Dahlan No. 1 Metro Telp. (0725) 7850279, kelurahan Imopuro, kecamatan Metro Pusat, kota Metro, kode pos 34111, webside www.sdmmp.sch.id dan email info@sdmmp.sch.id. Penelitian awal pada bulan Juli 2013 dan dilanjutkan penelitian pada bulan Oktober – Desember 2013 sampai dengan selesai. Sejak berdiri pada tahun 1968 sekolah yang didirikan organisasi perserikatan Muhammadiyah di bawah pimpinam cabang Muhammadiyah Metro yang sekarang di bawah pembinaan Dikdasmen pimpinan cabang Muhammadiyah kota Metro mengalami beberapa kali pergantian kepala sekolah di karenakan kepala sekolah tersebut diangkat menjadi pegawai negeri dan terbatasnya masa jabatan. 43 3.2. Pendekatan dan rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus yaitu sesuai dengan tujuan penelitian untuk memberikan gambaran pelaksanaan peran dan fungsi kepemimpinan kepala sekolah. 3.2.1. Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan teori fenomenologi, karena ingin mengetahui gambaran yang lengkap tentang pelaksanaan peran dan fungsi Kepala SD Muhammadiyah Metro. Pendekatan penelitian kualitatif di pilih karena dalam pendekatan kualitatif diperlukan yang mendalam dengan latar belakang yang alami (natural setting). Sebagaimana diungkapkan Sugiyono (2012: 8) bahwa metode penelitian kualitatif sering disebut penelitian naturalistik karena penelitian dilakukan pada kondisi yang alami (natural setting). Penelitian kualitatif memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang holistik/utuh, kompleks, dinamis, penuh makna, dan hubungan gejala bersifat interaktif (reciprocal). Data yang di ungkap dalam penelitian ini berupa kata-kata, kalimat-kalimat, paragraf-paragraf, dokumen-dokumen dan bukan berupa angka-angka. Obyek penelitian tidak diperlakukan khusus atau di manipulasi sehingga data yang diperoleh tetap berada pada kondisi alami sebagai salah satu karakteristik penelitian kualitatif. Moleong (2012: 6) lebih luas mengungkapkan tentang penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk mamahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain- 44 lain, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Prosedur yang bersifat deskriptif dan induktif akan digunakan dalam rangka mendeskripsikan fenomena secara alami dengan menghadirkan peneliti sebagai instrumen utama pengumpul data dan merupakan salah satu ciri penelitian kualitatif. Jika dikaitkan dengan tujuan penelitian kualitatif ini ingin mencari sekaligus mengungkap makna dibalik suatu peristiwa dengan dasar-dasar alasanalasan berfikir yang dapat di terima oleh akal sehat. Sebagaimana yang di ungkap oleh Burhan Bungin (2008: 9) bahwa perilaku apapun yang tampak di tingkat permukaan baru bisa difahami atau dijelaskan manakala bisa mengungkap atau membongkar apa yang tersembunyi dalam dunia kesabaran atau dunia pengetahuan si manusia pelaku. Berdasarkan berbagai pendapat di atas mengenai pendekatan penelitian, maka dalam rangka memberikan gambaran yang lengkap tentang pelaksanaan peran dan fungsi kepala SD Muhammadiyah Metro, peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. 3.2.2. Rancangan Penelitian Sesuai dengan tujuan penelitian ini untuk memberikan gambaran tentang pelaksanaan peran dan fungsi kepemimpinan Kepala SD Muhammadiyah Metro, Atas dasar tujuan penelitian yang telah diungkap, maka peneliti akan memilih jenis rancangan yang sesuai yaitu menggunakan rancangan studi kasus. Rancangan studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain studi kasus tunggal (singgle-case studies),yang di lihat dari studi cross sectional yakni 45 berupaya mempersingkat waktu observasinya dengan cara mengobservasi pada beberapa tahap atau tingkatan perkembangan tertentu, dengan harapan dari beberapa tahap atau tingkatan akan diperoleh dan di buat suatu kesimpulan. Pemilihan rancangan penelitian menggunakan studi kasus memiliki tujuan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan how dan why dalam mengetahui efektivitas peran dan fungsi kepemimpina kepala SD Muhammdiyah Metro. Selaras dengan pendapat Yin ( 2011: 1) bahwa studi kasus adalah salah satu metode penelitian ilmu-ilmu sosial yang merupakan strategi yang cocok jika pertanyaan suatu penelitian adalah bagaimana (how) dan mengapa (why), dan bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diteliti, serta bila penelitiannya hanya berfokus pada fenomena masa kini (kontemporer) di dalam konteks kehidupan nyata. Selain hal yang dikemukakan di atas, pemilihan rancangan penelitian studi kasus juga memiliki tujuan agar dapat menyajikan berbagai data dan temuan yang sangat berguna sebagai dasar dalam menentukan latar permasalahan yang akan dijadikan bahan perencanaan, pengelolaan dan penyelenggaraan program secara mendalam, serta dalam rangka pengembangan ilmu-ilmu sosial. Selaras yang dikemukakan oleh Black and Champion dalam Burhan Bungin ( 2010: 23) bahwa studi kasus dapat memiliki keunggulan spesifik yakni; (1) bersifat luwes berkenaan dengan metode pengumpulan data yang digunakan, (2) keluwesan studi kasus menjangkau dimensi yang sesungguhnya dari topik yang diselidiki, (3) dapat dilaksanakan secara praktis. Selain hal yang dikemukakan di atas, pemilihan rancangan penelitian studi kasus juga memiliki tujan agar dapat menyajikan berbagai data dan temuan yang sangat 46 berguna segi dasar dalam menentukan latar permasalahan yang akan dijadikan bahan perencanaan, pengelolaan dan penyelenggaraan program secara mendalam, serta dalam rangka pengembangan ilmu-ilmu sosial. Selaras yang dikemukakan oleh Black dan Champion dalam Burhan Bungin (2010: 23) bahwa studi kasus dapat memiliki keunggulan spesifik yakni: (1) bersifat luwes berkenaan dengan berkenaan dengan metode pengumpulan data yang digunakan, (2) keluwesan studi kasus menjangkau dimensi yang sesungguhnya dari topik yang diselidiki, (3) dapar dilaksanakan secara praktis di dalam banyak lingkungan sosial, (4) studi kasus menawarkan menguji teori, (5) studi kasus bisa sangat murah, tergantung pada jangkauan penyelidikan dan tipe tehnik pengumpulan data yang digunakan. 3.3. Kehadiran Peneliti Kehadiran peneliti di lapangan dapat bekerja sama dengan subjek penelitian. Peneliti diharapkan mampu berinteraksi dengan subjek secara wajar di lapangan, menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Hubungan yang baik antara peneliti dengan subjek sebelum dan selama di lapangan merupakan kunci utama keberhasilan dalam pengumpulan data. Hari Senin tanggal 07 Oktober 2013 pukul 09.00 WIB peneliti ke SD Muhammadiyah Metro, maksud kedatangan peneliti ingin meneruskan kegiatan obsevasi selanjutnya ke penelitian sambil menyampaikan proposal penelitian. Sebelumnya memang peneliti sudah menghubungi melalui HP bahwa peneliti ingin menemui dan beliau menyetujui. Pagi itu peneliti bertemu dengan karyawan yang bernama (W.K) menanyakan keberadaan bapak kepala sekolah, beliau menjawab bahwa kepala sekolah masih di kelas sedang mengajar di kelas V. Peneliti menunggu di ruang kepala sekolah kurang lebih 15 menit kepala sekolah 47 langsung menemui dan mempersilahkan peneliti untuk menyampaikan maksud kedatangannya. Peneliti langsung menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan peneliti dan selanjutnya peneliti menyerahkan surat izin penelitian dari Dekan FKIP Unila No.6002/UN26/3/PI/2013 dengan melampirkan proposal penelitian. Bapak kepala sekolah membaca surat tersebut berikut proposal dan menanyakan kapan penelitiannya. Peneliti menjelaskan bahwa penelitian akan dilaksanakan mulai tanggal 10 Oktober 2013, kepala sekolah menyetujuinya, selanjutnya beliau meminta bapak (W.K) salah satu karyawan untuk menemui bapak wakil kepala sekolah bidang pendidikan dari persyarikatan yaitu (W.K.S/BK) dan (W.P/BP), serta beberapa guru dan karyawan pagi itu bapak kepala sekolah langsung menjelaskan maksud dan tujuan peneliti, setelah selesai peneliti melanjutkan perbincangan lagi dengan kepala sekolah bahwa peneliti juga akan menemui bapak Komite sekolah dan beberapa wali murid dan pengawas guna keperluan wawancara berikutnya, beliau langsung menjawab ya, bu saya akan bantu ibu seoptimal mungkin. Setelah selesai selanjutnya peneliti mohon diri dan akan hadir lagi pada tanggal 10 Oktober 2013 untuk bertemu dengan wakil kepala sekolah dari persyarikatan Muhammadiyah. Hari Kamis tanggal 10 Oktober 2013 pukul 10.00 WIB di ruang kerja bidang pendidikan langsung peneliti menemui bapak wakil kepala sekolah dari persyarikatan yaitu, (W.P/BP) peneliti mengucapkan salam ( assalamu ‘alaikum) dan disambut dengan ramah serta dibalas wa’alaikum salam. Peneliti langsung dipersilahkan masuk dan menyampaikan bantuan apa yang ingin peneliti perlukan, peneliti menjelaskan maksud dan tujuannya sekilas tentang bagaimana peran dan fungsi kepemimpinan kepala sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan di SD Muhammadiyah Metro Metro, peran dimaksud adalah 48 pelaksanaan EMASLIME, setelah selesai wawancara peneliti mohon diri dan mohon kepada bapak wakil dari persyarikatan sekiranya ada sesuatu yang kurang lengkap mohon diberikan penjelasan baik melalui HP atau wawancara kembali, beliau menjawab, boleh bu? silahkan, saya selalu bersedia. Hari Sabtu, tanggal 12 Oktober 2013, pukul 09.30 WIB, peneliti kembali ke SD Muhammadiyah Metro Metro langsung bertemu pak satpam bertanya apakah Kelas ADAM AS, sedang istirahat, pak? beliau menjawab, ya bu!, apa yang bisa dibantu bu? Peneliti menjawab mau bertemu wali kelas satu pak? (W.G.1), beliau ada di kantor bu, sedang istirahat, baik pak! peneliti langsung menemui (W.G.1) dan menyampaikan maksud dan tujuan peneliti, beliau memahami serta dengan ramah beliau menjawab beberapa pertanyaan yang peneliti sampaikan dan memberikan penjelasan dengan baik dan tulus. Hari Sabtu, tanggal 14 Oktober 2013 pukul 10.00 WIB peneliti kembali ke SD Muhammadiyah Metro Metro, ingin menemui guru kelas 2 untuk wawancara berikutnya, tidak disengaja dihalaman sekolah bertemu dengan ibu guru olah raga kemudian beliau bertanya, apa yang bisa kami bantu bu? ( Assalamu’alaikum) langsung dijawab wa’alaikum salam gimana bu! Mau ketemu siapa? Lalu peneliti jawab, ketemu bu guru kelas 2 (IDRIS AS) bu, dengan (W.G.2) bu, beliau sedang istirahat di kantor guru, terima kasih. Peneliti langsung menuju kantor dan menemui (W.G.2), karena peneliti sudah akrab dengan beliau jadi peneliti wawancara diselingi dengan canda gurau, ternyata tidak terasa banyak data yang di dapat dalam wwancara tersebut. Setelah selesai peneliti mohon diri dan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya. 49 Hari Sabtu tanggal 16 Oktober 2013, pukul 09.30 WIB, kembali ke SD Muhammadiyah Metro Metro, peneliti berencana ingin menemui wakil kepala yaitu wakil kepala sekolah bidang kurikulum yaitu (W.K.S/BK), peneliti langsung menuju pos satpam melaporkan kedatangan peneliti terkait dengan kunjungan peneliti tanggal 14 Oktober 2013 yang lalu, beliau menjawab oh ya, bu mari bu, apa yang bisa kami bantu bu? Peneliti jawab mau bertemu wakil kepala sekolah pak! Ada bu, di kantor wakil kepala sekolah bu! Ya terima kasih pak! Peneliti langsung bergegas menuju kantor wakil kepala sekolah, mengucapkan salam (assalamu’alaikum) beliau jawab wa’alaikum salam, peneliti dipersilahkan masuk dan disambut dengan ramah , beliau sudah memahami kedatangan peneliti, beliau langsung menyampaikan maksud dan tujuan peneliti, melalui wawancara yang sederhana tapi mudah dipahami. Selanjutnya peneliti menyampaikan terima kasih atas kesediaannya, selanjutnya peneliti mohon diri. Hari Sabtu, tanggal 19 Oktober 2013 pukul 10.00, WIB peneliti kembali ke SD Muhammadiyah Metro Metro ingin bertemu dengan guru kelas 4 (HARUN AS), kebetulan hari itu sedang ada kegiatan KKG sekolah, maka peneliti menunggu di koridor, sambil menunggu, peneliti bertemu dengan salah satu karyawan (W.K), sekaligus peneliti wawancara, karena sudah kenal dekat dengan beliau maka peneliti juga sambil bercanda menyampaikan wawancara tersebut. Kurang lebih 30 menit, peneliti wawancara, kemudian guru kelas 4 yang peneliti tunggu datang yaitu, (W.G.3), langsung beliau berjabat tangan dan mempersilahkan melanjutkan wawancaranya dengan beliau, beliu tergolong guru yang usianya masih muda, beliau singkat memberikan jawaban wawancara peneliti. Hari Senin, tanggal 21 Oktober 2013 pukul 10.00 WIB, peneliti kembali melanjutkan wawancara dengan guru kelas 5 (ZAKARIA AS) yaitu, (W.G.4) di 50 kantor guru, bagaimana bu? Apa yang bisa kami bantu? Bu! Sebetulnya beliau sudah memahami tentang kedatangan peneliti, disini peneliti menggali informasi mendalam sambil membanding hasil wawancara yang sudah didapat. Selanjutnya peneliti mohondiri, Sambil menunggu siswa kelas 5, (W.S.1) dan kelas 6, (W.S.2) pulang peneliti ke koperasi sekolah bersenda gurau dengan bu Siti penjaga koperasi, beliau bertanya ingin bertemu siapa bu?, maaf bu, mau menemui, (W.S.1) siswa kelas 5 dan, (W.S.2) siswa kelas 6, apakah ibu sudah kenal dengan mereka bu? Sudah bu kebetulan tahun 2012 ketemu pada saat lomba OSN dan lomba melukis di SMK 1 Metro, baik bu tunggu disini aja bu nanti pukul 13.30 dia keluar kelas, ya bu! Baru sebentar bergurau beliau berdua keluar kelas, lang peneliti hampiri mengucapkan salam (Assalamu’alaikum) beliau jawab (Wa’alaikum salam) karena peneliti sudah akrab beliau langsung bertanya ada apa bun? Ini ada kepeluan sama kamu berdua bagaimana kabarmu berdua allhamdulillah sehat, bunda ingin wawancara dengan kamu berdua! Siap kamu, siap bun setelah kurang lebih 15 menit peneliti berbincang-bincang, orang tua beliau datang menjembut gimana bun dah selesai? Peneliti jawab sudah! Terima kasih ya atas keterangannya, ya bun sama-sama. Selanjutnya pada pukul 14.00 peneliti menuju kantor pengawas, disini peneliti menunjukkan surat izin penelitian dan menjelaskan maksud dan tujuan peneliti menyampaikan surat izin penelitian tersebut, yaitu, (W.P) beliau sudah akrab sekali dengan peneliti sejak sama-sama menjabat sebagai kepala sekolah, beliau sudah memahaminya, beliau mengutarakan dengan sabar, teliti walaupun diselingi dengan bercanda namun pasti, beliau juga memberikan semangat pada peneliti agar cepat selasai, mari kami bantu sebisa kami, tutur beliau. 51 Hari Selasa, tanggal 22 Oktober 2013, pukul 11.00 WIB, peneliti kembali melanjutkan wawancara ke SD Muhammadiyah Metro namum disini, Peneliti ingin bertemu dengan wali murid, secara kebetulan peneliti dengan wali murid kelas 1 dan wali murid kelas 5, Peneliti mengucapkan salam ( Assalam’alaikum ) beliau menjawab (Wa’alaikum salam) peneliti bertanya, permisi bu? Ibu namanya siapa ya! Lalu menjawab, (W.O.T.1) wali murid kelas 5, bu ! maaf kalau Bapak ? saya (W.O.T.2),bu! Beliau berdua bertanya ada apa ya bu? Langsung peneliti jawab, ingin wawancara sama bapak dan ibu, kok tegang sih bu! Santai aja bu, peneliti menenangkan beliau, setelah peneliti menjelaskan maksud dan tujuannya, baru (W.O.T.2) dan bu (W.O.T.1) memahaminya dan menjawab sederhana tapi mudah dipahami peneliti. Pada hari selasa juga pada pukul 14.00 WIB peneliti langsung ke rumah komite sekolah yang sebelumnya memang sudah dihubungi kepala sekolah bahwa pada hari itu, peneliti ingin menemui beliau, Bapak komite sekolah (W.K.M), yang beralamatkan di Rawasari IV Yosorejo Metro Timur. Peneliti menuju ke rumah beliau, sampai di halaman rumah, peneliti mengucapkan salam (Assalamu’alaikum) beliau menjawab alaikum salam, peneliti disambut dengan ramah, karena beliau sudah memahami atas kedatangan peneliti , beliau sudah dijelaskan oleh beliau bapak kepala sekolah melalui hp, tentang maksud dan tujuan peneliti menemui beliau, langsung memberikan informasi dengan sejelas-jelasnya. Salah satu keunikan dari penelitian kualitatif yaitu peneliti sendiri sebagai instrumen utama dalam mengumpukan data salah satunya yaitu melakukan observasi atau pengamatan. Peneliti dalam mengumpulkan data juga melakukan observasi terhadap pelaksanaan peran dan fungsi kepala sekolah. Pada hari Kamis tanggal 24 Oktober 2013, pukul 08.00-09.15 WIB peneliti mengamati kepala 52 sekolah sedang melaksanakan pembelajaran di kelas 5, Pada tanggal 28 Oktober 2013, hari Senin pukul 0.8.00-09.00 WIB, peneliti juga mengadakan observasi yaitu ketika (W.K.S) melakukan supervisi di salah satu kelas, Sedangkan pada hari Kamis, tanggal 31 Oktober 2013, Peneliti juga melakukan observasi ketika memimpin rapat rutin sekolah. Peneliti sebagai instrumen utama terkadang mengalami kesulitan di mana fokus penelitian membutuhkan instrumen penelitian yang sederhana yang diharapkan dapat melengkapi data yang ditemukan, maka dalam hal ini Nasution (1988: 9) berpendapat bahwa dalam penelitian kualitatif, peneliti berperan penting karena menjadi instrumen utama, sedangkan instrumen non insani bersifat sebagai data pelengkap. Hal selaras dikemukan oleh Sugiyono (2012: 222), bahwa instrumen utama dalam penelitian menjadi lebih jelas, maka akan dikembangkan instrumen penelitian sederhana yang diharapkan dapat melengkapi data dan membandingkan dengan data yang ditemukan melali observasi dan wawancara. Kehadiran peneliti sebagai instrumen utama dalam pengumpulan data dilakukan dengan bersungguh-sungguh yang ditandai oleh sikap selektif, obyektif, dan berhati-hati berdasarkan kondisi faktual di lapangan dan diharapkan kehadirannya di lapangan mampu bekerja sama dengan subyek penelitian, mampu dengan subyek secara wajar, menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang ada, dan dapat membina hubungan yang baik dengan subyek penelitian sebelum, dan selama maupun sesudah melakukan penelitian. Gambaran kehadiran peneliti sebagaimana terurai di atas sejalan dengan beberapa keuntungan peneliti sebagai instrumen utama akan menjadi informan yang lebih respek atas kedatangannya, peneliti dapat menyesuaikan diri dengan latar penelitian, keputusan dapat dibuat lebih cepat, arah dan gaya serta topik pembicaraan dapat berubah-ubah, demikian 53 juga informasi dapat diperoleh melalui cara dan sikap informan memberikan informasi. Keuntungan peneliti sebagai instrumen juga dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto (2006: 17) sebagai berikut. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Peneliti memiliki daya responsive yang tinggi, mampu merespon sambil memberikan interpretasi terus menerus pada gejala yang dihadapi. Memiliki sifat adatable, yaitu mampu menyesuaikan diri mengubah taktik atau strategi mengikuti kondisi lapangan yang dihadapi. Memiliki kemampuan untuk memandang obyek penelitian secara holistik, mengaitkan gejala dengan kontek saat itu, mengaitkan dengan masa lalu dan dengan gejala kondisi yang relevan. Sanggup terus menerus menambah pengetahuan untuk bekal dalam melakukan interpretasi terhadap gejala. Memiliki kemampuan melakukan klarifikasi agar dengan cepat memiliki kemampuan menarik kesimpulan mengarah pada perolehan hasil. Memiliki kemampuan untuk mengekspor dan merumuskan informasi sehingga menjadi bahan masukan bagi pengayaan konsep ilmu. Kondisi yang diciptakan akan sangat mendukung kelancaran proses penelitian, sehingga data yang diharapkan peneliti terkait dengan fokus penelitian dapat diperoleh dengan mudah dan lengkap. Sebelum memasuki latar penelitian, terlebih dahulu peneliti menyiapkan diri secara matang baik fisik maupun mental dengan mengutamakan sikap moral dan etis dalam berinteraksi dengan informan. Hal ini akan ditandai dengan penampilan peneliti yang bersikap ramah, tidak menonjolkan diri, luwes, dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan adat, kebiasaan, tata cara, dan kultur pergaulan dari para informan penelitian. Sehingga dengan adanya hubungan yang baik antara peneliti dengan informan selama pelitian di lapangan merupakan kunci keberhasilan pengumpulan data. 3.4. Sumber Data Penelitian Sumber data penelitian ini adalah manusia dan bukan manusia. Miles dan Huberman (1992: 2) Sumber data manusia berfungsi sebagai subyek atau 54 informan kunci sedangkan sumber data bukan manusia berupa dokumen yang relevan dengan fokus penelirtian seperti gambar, foto, catatan atau tulisan-tulisan yang ada kaitannya dengan fokus penelitian. Penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik sampling purposive, agar data yang diperoleh dari informan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian. Menurut Moleong (2012: 224), sampel dalam penelitian kualitatif digunakan bukan untuk mengadakan generalisasi, tetapi untuk menggali informasi yang akan menjadi dasar dari rancangan teori yang muncul. Pengambilan sampel bukan dimaksudkan untuk mewakili populasi, melainkan pada relevansi dan kedalaman informasi serta didasarkan pada tema yang muncul di lapangan. Melalui teknik ini dapat dikembangkan untuk memperoleh informan lainnya dengan teknik sampel bola salju (snowball sampling) sampai dirasakan data yang diperoleh sangat baik atau jenuh. Informan dalam penelitian ini sebanyak 14 orang dengan rincian pada Tabel 3.1 berikut. Tabel 3.1 Informan dalam penelitian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jabatan Kepala SDMuhammadiyah Bidang Pendidikan Bidang Kurikulum Pengawas Pembina Guru SD Muhammadiyah Metro Tata usaha Komite Sekolah Orang Tua Murid Siswa Jumlah Jumlah Keterangan 1 dari persyarikatan 1 1 dari sekolah 1 4 1 1 2 2 14 Pengambilan sampel bukan dimaksudkan untuk mewakili populasi, melainkan pada relevansi dan kedalaman serta didasarkan pada tema yang muncul di lapangan. Pemilihan sumber informan tersebut supaya data yang diperoleh 55 mewakili atau repersentatif dari keadaan yang sebenarnya tentang peran dan fungsi kepemimpinan kepala sekolah, karena informan tersebut sudah bertugas di SD Muhammadiyah Metro masa kerja kurang lebih 21 tahun walaupun menjabat sebagai kepala sekolah baru 4 tahun berjalan Alasan Kepala SD Muhammadiyah Metro ditetapkan sebagai informan kunci (key informant), ditetapkannya informan kunci berdasarkan pendapat Guba dan Lincoln (1981) bahwa seorang yang dijadikan informan hendaknya memiliki pengetahuan dan informasi, atau dekat dengan situasi yang menjadi fokus penelitian yaitu dalam mengetahui peran dan fungsi kepala sekolah dalam penyelenggaran pendidikan di sekolah. 3.5. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data penelitian akan dilakukan melalui teknik yang lazim digunakan dalam penelitian kualitatif, menurut Mantja (2003) bahwa teknik pengumpulan data dikelompokkan ke dalam dua kategori, yakni kategori yang bersift interaktif dan terdiri dari pengamatan berperan serta dan wawancara, sedangkan yang kedua adalah teknik yang non interaktif meliputi pengamatan tak berperan serta dan studi dokumentasi atau catatan resmi. Berdasarkan pendapat di atas, maka data penelitian akan diperoleh melalui interaksi antara peneliti dan sumber data (informan) melalui wawancara dan investigasi mendalam (in-depth interview and investigation), observas langsung dan studi dokumentasi tentang persoalan yang terkait dengan fokus penelitian. Hal ini di dukung pendapat Sudarwan Danim (dalam Rahardjo 2003: 19) bahwa teknik interview akan lebih kuat jika diikuti dengan adanya dokumen, observasi 56 pengambilan fotografi/recording. Namun yang paling utama bagi peneliti adalah membuat rincian dari upaya-upaya teknik di atas yang dirancang secara kreatif. Menurut Sugiyono (2012: 225) ada empat macam teknik pengumpulan data pada penelitian kualitatif, yakni: (1) pengamatan atau observasi; (2) wawancara; (3) dokumentasi; dan (4) gabungan triangulasi. Menurut pendapat Cahterine Marshall, Gretehen B Rossman (dalam Sugiyono,2012:225) bahwa metode mendasar yang diandalkan oleh peneliti kualitatif untuk mengumpulkan informasi yaitu berperan serta, pengamatan langsung, wawancara mendalam, review dokumen. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka teknik pengumpulan data utama yang di pilih peneliti adalah teknik wawancara partisipan, observasi dan dokumentasi. Teknik ini di pilih dikarenakan data yang diperoleh bersumber dari penilaian dan pengalaman dari kepala sekolah, guru, karyawan serta informan lainnya yang ditetapkan sebagai informan kunci. Untuk melengkapi data hasil wawancara, peneliti gunakan teknik studi dokumentasi yang merupakan bukti fisik. 3.5.1. Wawancara Mendalam ( Indepth Interview) Kegiatan wawancara dalam penelitian ini adalah bentuk percakapan antara dua orang atau lebih yaitu peneliti dengan informan penelitian yang dilakukan secara tatap muka langsung. Menurut pendapat Mantja (2003:17) wawancara mendalam adalah suatu percakapan terarah yang tujuannya untuk mengumpulkan atau memperkaya informasi atau bahan-bahan (data) yang sangat rinci, kaya, dan padat yang hasil akhirnya digunakan untuk anlisis kualitatif. Wawancara yang peneliti lakukan yaitu tidak terstruktur hal ini sesuai dengan pendapat Esterberg (dalam 57 Sugiyono,2012:233) Wawancara tidak terstruktur merupaka jenis wawancara bebas, karena peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang disusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan data. Pedoman yang digunakan adalah garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Pada awal penelitian peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur karena maksud peneliti pada tahap ini memperoleh pemahaman umum mengenai suatu tema. Pada tahap selanjutnya peneliti menggunakan wawancara pendahuluan pada informan tertentu yaitu, Waka Bidang Pendidikan dari persyarikatan, wakil kepala Sekolah, Pengawas, Kepala Sekolah, guru dan karyawan, wawancara dilakukan berkali-kali sesuai dengan keperluan untuk memperoleh kejelasan mengenai peran dan fungsi kepemimpinan Kepala SD Muhammadiyah Metro. Wawancara umumnya dilakukan berdasarkan perjanjian terlebih dahulu agar tidak mengganggu kegiatan rutin. Perekaman data dilakukan melalui tipe recorder, di samping itu juga membuat catatan mengenai pokok-pokoknya. Catatan tersebut untuk membantu peneliti agar dapat merencanakan pertanyaan berikutnya dan membantu peneliti mencari materi pokok penting dalam kamera digital sehingga mempermudah analisis. Setelah mengadakan wawancara, rekaman wawancara dan hasil wawancara tersebut selanjutnya ditulis ulang kedalam transkrip wawancara. Wawancara dilakukan terhadap Kepala Sekolah Dasar Muhammayah Metro, wakil bidang pendidikan dari persyarikatan, wakil kepala sekolah, guru, karyawan, pengawas, komite dan wali murid. Menurut Lincoln dan Guba (dalam Sugiyono, 2012:235) langkah-langkah penggunaan wawancara untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif yaitu; (1) menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan, (2) 58 menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan, (3) mengawali atau membuka alur wawancara, (4) melangsungkan alur wawancara(5) Mengkonfirmasikan ikhtiar hasil wawancara dan mengakhirinya, (6) menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan, (7) mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh. Jenis pertanyaan dalam wawancara menurut Patton dalam Moleong (dalam Sugiyono, 2012: 235-236) ada enam jenis wawancara yang saling berkaitan, yaitu: (1) pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman (2) pertanyaan yang berkaitan dengan pendapat (3) pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan (4) pertanyaan tentang pengetahuan (5) pertanyaan yang berkaitan dengan indera (6) pertanyaan yang berkaitan dengan latar belakang atau demografi. Pelaksanaan wawancara mendalam agar dapat berlangsung secara efektif maka diperlukan persiapan yang berupa pedoman-pedoman wawancara sebagai panduan sebelum kegiatan wawancara dilakukan, Pedoman wawancara disusun dalam bentuk pertanyaan yang sifatnya luwes atau tidak terstruktur secara ketat, sehingga dimungkinkan pertanyaan itu dapat berkembang supaya diperoleh sejumlah informasi yang diperlukan. Ketika percakapan sedang berlangsung, peneliti akan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan lacakan untuk dapat menggugah informan agar dapat mencurahkan segala sesuatu yang terkait dengan fokus penelitian yaitu efektivitas peran dan fungsi kepemimpinan kepala SD Muhammadiyah metro pusat di Kota Metro. Selanjutnya peneliti akan melakukan wawancara terfokus guna menetapkan data yang diperoleh. Taksonomi domain penelitian dalat di lihat dalam Tabel 3.2 berikut. 59 Tabel 3.2 Taksonomi Domain Penelitian No 1 Sub Fokus Penelitian Kepala Sekolah sebagai Pendidik 2 Kepala sekolah Sebagai Manajer 3 Kepala Sekolah Sebagai Administrator 4 Kepala Sekolah sebagai Supervisor 5 Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin 1. 2. 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 6 Kepala Sekolah Sebagai Inovator 7 Kepala Sekola Sebagai Motivator 8 Kepala Sekolah Sebagai Enterpreuner 3. 1. Indikator Jiwa pendidik Upaya kepala sekolah untuk meningkatkan profesionalisme guru Perencanaan program sekolah Pengelolaan/organizing Pelaksanaan Kontroling dan evaluasi program Administrasi sekolah Dokumentasi (file) Penglolaan melibatkan, wakil kepala sekolah , guru dan karyawan Membuat program supervisi Pelaksanaan supervisi Program perbaikan/ tindak lanjut Paham visi, misi dan karakteristik sekolah Mampu memberdayakan guru dan staf Menyelesaikan tugas sesuai program Mengembangkan metode pembelajaran yang terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman 1. Menumbuhkan rasa cinta profesi 2. Menumbuhkan rasa tanggung jawab 3. Menciptakan suasana sekolah kondusif 1. Memiliki jiwa wirausaha dengan program yang bernilai jual 2. Berjiwa keras untuk mencapai hasil 3. Memiliki jiwa naluri kewirausahaan dalam mengelola sumber belajar Sumber : Wawancara Penelitian Tahun 2013 3.5.2. Studi Dokumentasi Studi dokumentasi dalam penelitian bertujuan untuk mempelajari sejumlah dokumen tertulis yang terkait dengan fokus penelitian. Teknik ini akan dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh data pendukung observasi dan wawancara. Menurut Lincoln dan Gub (dalam Mantja, 2003) bahwa dokumen dan catatan dapat memberikan informasi yang sangat berharga di samping ketersediaannya 60 dapat diperoleh dengan biaya yang relatif lebih murah, juga merefleksikan situasi yang agak tepat dan dapat dianalisis berulang-ulang tanpa perasaan khawatir akan terjadinya perubahan, dan juga merupakan sumber informasi yang umberkaya secara kontektual, secara legal dapat diterima, dan tidak reaktif seperti halnya manusia (informan) yang reaktif terhadap peneliti. Sementara Sonhadji (1996) mengatakan bahwa studi dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber-sumber non-insani yakni berupa dokumen-dokumen atau arsip-arsip dan rekaman. Moleong (2012: 217) lebih lanjut mengungkapkan bahwa dokumen sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data, karena dalam banyak hal dokumen sebagai sumber data dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan meramalkan. Selain itu hasil wawancara akan lebih dapat dipercaya jika di dukung oleh data tambahan berupa foto-foto, rekaman, dan data pendukung lainnya sehingga hasil penelitian menjadi lebih lengkap dan valid. Dokumendokumen yang sudah ada bahkan sudah lama dapat digunakan dalam penelitian ini sebagai sumber data. Dokumen ini akan dimanfaatkan untuk menguji, menafsir bahkan menjadi bahan pertimbangan dalam menyimpulkan tentang efektivitas peran dan fungsi kepemimpinan kepala SD Muhammadiyah Metro. Dokumen yang digunakan juga dapat memperkuat argumen atau menambah ide peneliti yang bisa dipertanggung jawabkan keabsahannya. Alasan peneliti menggunakan metode ini antara lain, karena dokumen: (a) sebagai bukti untuk suatu pengujian, (b) relatif murah dan mudah diperoleh,, (c) lebih bersifat alamiah, (d) merupakan sumber yang stabil dan kaya akan informasi, dan (e) akan memperluas pengetahuan peneliti terhadap situasi yang di teliti. Adapun data yang 61 dapat di ambil dari dokumentasi tentang pelaksanaan peran dan fungsi kepala SD Muhammdiyah Metro pada Tabel 3.3 berikut. Tabel 3.3 Pedoman dokumentasi No. 1 Jenis Dokumen Sarana dan prasarana 1. Denah Lokasi SD Muhammadiyah Metro 2. Akta Pendirian Sekolah 3. Sarana dan Prasarana Sekolah 2 Data guru dan Siswa 3 Organisasi 1. Struktur organisasi sekolah Manajemen 4 1. Rumusan visi, misi 2. Program kerja kepala sekolah Sumber: Profil SD Muhammadiyah 3.5.3 Observasi Partisipan Pengamatan atau observasi partisipan dimaksudkan untuk memperoleh data yang lengkap dan rinci melalui pengamatan yang seksama dengan melibatkan diri dan berperan dalm fokus yang diteliti (Sparadley, 1980). Pengamatan ini dilakukan melalui tiga tahap; (1) descriptive observation /pengmatan deskriptif mengandung arti bahwa untuk mendeskripsi atau menggambarkan secara umum tentang situasi konteks latarpenelitian, setelah itu (2) focused observation/pengamatan terfokus yakni pengamatan untuk memperoleh temuan-temuan sejumlah kategori yang terkait dengan latar penelitian, yang terakhir (3) selective observation/ pengamatan selektif, dengan tujuan untuk memperoleh temuan-temuan sejumlah kategori secara rinci terkait dengan sejumlah sub sub fokus penelitian. Adapun pedoman observasi dalam penelitian ini terdapat pada Tabel 3.4 berikut. 62 Tabel 3.4 Pedoman observasi No 1 Keadaan dan situasi yang diamati Pelaksanaan peran dan fungsi kepala skolah 1. Rutinitas pagi hari 2. Agenda harian kepala sekolah 3. Proses pembelajaran 4. Supervisi 5. Rakor sekolah 6. KKKS 2 Prgram sekolah 1. Upacara hari senin 2. Kegiatan pelatihan , Workshop 3. Kegiatan keagamaan 4. Perayaan hari besar 5. Outdoor 6. Ekstrakurikuler Sumber: Profil SD Muhammadiyah 3.6. Analisis data Menurut Miles & Huberman (dalam Sugiyono, 2009:246), langkah analisis data yang digunakan dalam penelitian ini Analysis Interactive Model dari Miles dan Huberman yang di bagi menjadi 4 tahap analisis, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Tahap-tahap tersebut merupakan kegiatan yang harus diperhatikan dalam analisis kualitatif. Tabel 3.5 Tahap-tahap Analisis Data Penelitian No 1. Tahap Analisis data Pengumpulan data Keterangan Prosess ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data berupa observasi, wawancara dan studi dokumentasi 2. Reduksi data Proses ini dilakukan dengan memilih, memfokuskan dan mengubah data yang diperoleh dari catatan-catatan tertulis di lapangan 3. Penyajian data Proses ini dilakukan dengan mendeskripsikan informasi yang telah diringkas dan diorganesasikan yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan 4. Verifikasi dan Proses ini dengan menyimpulkan hasil deskripsi penarikan kesimpulan data yang telah dipaparkan Sumber: Miles dan Huberman (1992:20) 63 Setiap kegiatan analisis mulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan kesimpulan yang dilakukan mengikuti model interaktif Miles dan Huberman dapat digambarkan sebagai berikut. Pengumpulan Data Reduksi Data Penyajian Data Penarikan Kesimpuan Sementara Penarikan Kesimpulan : Temuan Akhir Verifikasi Gambar 3.1 Pola Interaktif Analisis Data Penelitian Sumber: Adaptasi dan Modivikasi Miles dan Huberman (1992:20) Berdasarkan gambar di atas, proses analisis data penelitian dimulai dengan mengumpulkan data-data yang diperlukan yang mendukung penelitian, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari data yang terkumpul, selanjutnya adalah mereduksi data tersebut sesuai dengan tema penelitian yang kita sajikan. Berdasarkan hasil reduksi, maka data dapat dipaparkan atau dideskripsikan. Tahap terakhir adalah proses verifikasi dan menarik kesimpulan-kesimpulan berdasarkan hasil analisis data tersebut. Setelah seluruh data terkumpul, peneliti meninggalkan lapangan dan mulai membaca, memahami dan menganalisis lebih lanjut secara intensif. Langkahlangkah dalam analisis data tersebut adalah sebagai berikut. 64 Pertama, pengorganasasian data: semua data diobservasi, dokumen-dokumen yang berkaitan dengan peran kepala sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan. Kedua, penentuan kategori koding. Semua data yang terekam dalam catatan lapangan kembali dibaca dan diteliti, selanjutnya diidentifikasi topik-topik liputannya dan dikelompokkan ke dalam kategori-kategori. Setiap kategori atau urutan alinea. Setiap kategori diberi kode yang menggambarkan cakupan makna topik. Kode tersebut dijadikan alat mengorganesasikan satuan-satuan data. Adapun satuan data dimaksud adalah potongan-potongan catatan lapangan berupa kalimat, satu alenia atau urutan alenia. Secara rinci pengkodean di buat berdasarkan pada teknik pengumpulan data, kelompok informan dan lokasi, alasan menggunakan pengkode adalah untuk menjaga kerahasiaan dan keberadaan informan dalam penelitian. Untuk lebih jelas pengkodean terlihat pada Tabel 3.6 berikut. Tabel 3.6 Pengkodean No 1. Teknik pengumpulan data Wawancara Kode W 2 Observasi O 3 Dokumentasi D Di adaptasi dari Sowiyah (2005:105) Sumber data Kode Kepala sekolah KS Pengawas P Guru G1,2,3,4 Bid Pendidikan BP Bid Kurikulum BK Karyawan/tatausaha K Komite KM Wali murid OT1,2 Kepala Sekolah Guru Siswa Kepala Sekolah Guru Siswa KS G S1,2 KS G S1,2 65 Contoh penerapan kode dan cara membacanya: W KS FP 120913 Tenik pengumpulan data Kepala Sekolah Fokus penelitian Tanggal,bulan dan Tahun Ketiga, menyortir data dengan menggunakan pendekatan potong simpan dalam map (the cup-up-and-put-in-folders approach). Setiap topik yang terorganisir dalam satuan data di beri kode kesesuaian pada bagian pinggir lembar catatan lapangan. Selanjutnya, semua catatan lapangan di fotocopy dan catatan lapangan yang asli di simpan sebagai arsip, sedangkan hasil fotocopy tersebut, dipotongpotong berdasarkan satuan datanya. Untuk memudahkan pencarian catatan lapangan asli pada bagian bawah setiap satuan data di beri notasi. Dengan membaca notasi tersebut dari setiap satuan data yang di ambil dapat dilacak/ditemukan dengan mudah. Keempat, dirumuskann berkaitan makna satuan data untuk membuat suatu kesimpulan temuan tentative pada setiap masalah yang di teliti. 3.7. Pengecekan Keabsahan Data Untuk melihat tingkat kepercayaan hasil penelitian dapat digunakan dengan berbagai cara yaitu dengan credibility (validitas internal), transferability (validitas eksternal), confirmability (objektivitas), dan dependability (reliabilitas). Kredibilitas adalah kesesuaian antara konsep peneliti dengan konsep informan. Agar kredibilitas terpenuhi, maka harus dilakukan perpanjangan waktu mengadakan triangulasi, yaitu memeriksa kebenaran data yang telah diperoleh kepada pihak-pihak lain, mendiskusikan dengan teman sejawat, menggunakan alat bantu kamera, member chek yaitu memberi pernyataan ulang kepada sejumlah 66 informan untuk memberikan pendapatnya tentang data yang dikumpulkan. Auditorial, yaitu Dr. Sowiyah, M.Pd dan Dr. Sulton Djasmi, M.Pd, memberikan pernyataan yang berupa komentar tentang data yang dikemukakan, expert opinion, yaitu memberi pernyataan yang dapat di percaya kebenarannya tentang data yang dikemukakan. Pengecekan keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga cara yaitu; pengecekan kredibilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas (Miles dan Huberman, 1992). Pengecekan kredibilitas atau kebenaran data dilakukan untuk membuktikan apakah yang diamati oleh peneliti benar-benar sesuai dengan sesungguhnya terjadi secara wajar di lapangan. Lincoln dan Guba (1985) mengemukakan teknik utama untuk meningkatkan derajat kredibilitas data yang dikumpulkan, yaitu; (1) observasi yang dilakukan secara terus menerus (persistent observation), (2) triangulasi (trianggulation), (3) pengecekan anggota (member cek), diskusi teman sejawat rential adequad (reviewing), dan (4) pengecekan mengenai kecukupan referensial (referential adequad). Trianggulasi yang dimaksud dalam hal ini pengecekan kavalidan data dari hasil beragai wawancara, observasi dan dokumentasi. Pengecekan dependabilitas atau keajegan data diperoleh melalui triangulasi sumber. Objek dan isu yang sama ditanyakan kepada 12 sumber yaitu: Kepala Sekolah 1 orang, wakil kepala sekolah 1 orang, Pengawas 1 orang, 4 orang Guru, Yayasan 1 orang, Karyawan 1 orang, Komite 1 orang, Wali murid 2 orang dan 2 orang siswa. Pengecekan konfirmabilitas atau kecocokan data melalui trianggulasi metode, yaitu melalui wawancara dengan informan, pengamatan kegiatan yang terkait dengan penelitian dan pengkajian dokumen. Observasi dan partisipasi pasif dilakukan peneliti saat 67 kepala sekolah berperan sebagai educator melakukan pembelajaran di kelas, juga pada kegiatan supervisi kelas. Ketika penelitian sedang berlangsung. Dokumen yang di kaji antara lain terkait dengan pelaksanaan peran dan fungsi kepala SD Muhammadiyah Metro. Pengecekan konfirmabilitas atau kecocokan data melalui triangulasi metode, yaitu melalui wawancara dengan informan, pengamatan kegiatan yang terkait dengan penelitian dan pengkajian dokumen. Observasi partisipasi dilakukan peneliti pada kegiatan kepengawasan dan supervisi yang dilakukan kepla sekolah dan bidang pendidikan persyarikatan bersama bidang kurikulum. Menurut Sugiyono (2009: 270), pengecekan keabsahan data merupakan bagian dan tidak terpisahkan dalam penelitian kualitatif. Pengecekan keabsahan data penelitian, melalui uji kredibilitas dan (validasi internal), uji dependabilitas (reliabilitas) data, uji transferabilitas (validitas eksternal/generalisasi) dan uji konfirmabilitas (objektifitas). Namun yang utama adalah uji kredibilitas data yaitu dengan melakukan perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat yaitu Sdr Yuliana, S.Pd, sebagai member cek dan analisis kasus negatif. Pengecekan kredibilitas data menggunakan.  Triangulasi teknik yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda, misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi, dokumentasi, seperti gambar di bawah ini. 68 OBSERVASI WAWANCARA TAK BERSTRUKTUR SUMBER DATA DOKUMENTASI Gambar 3.2 Triangulasi Teknik Triangulasi teknik berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti menggunakan observasi wawancara tidak berstruktur dan dokumentasi untuk sumber data yang sama.  Triangulasi sumber dilakukan untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda dengan teknik yang sama seperti contoh gambar di bawah ini: KEPALA SEKOLAH BIDANG KURIKULUM BIDANGKURIKULUM PENDIDIKAN PENGAWAS WAWANCARA TAK BERSTRUKTUR GURU TATA USAHA KOMITE SEKOLAH WALI MURID SISWA Gambar 3.3 Triangulasi Sumber 69 Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber, peneliti melakukan proses triangulasi berarti menguji kredibilitas data dengan berbagai teknik dan berbagai teknik dan berbagai sumber. Triangulasi menurut Sugiyono (2009: 241), berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data sumber yang sama, yaitu peneliti menggunakan teknik observasi terus terang atau tersamar, wawancara mendalam dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serentak. 3.8 Tahapan Penelitian Dalam penelitian ini peneliti melalui 4 tahapan penelitian, sesuai dengan pendapat Moleong (2012: 127-148) tahapan-tahapan penelitian secara umum dikelompokkan menjadi empat tahap, yaitu; (1) tahap pra-lapangan, (2) tahap pekerjaan lapangan, dan (3) tahap analisis data, (4) tahap pelaporan hasil penelitian yaitu. Tahap pra-lapangan Ada 6 tahap kegiatan dilakukan oleh peneliti dalam tahap pra lapangan yaitu: a. Menyusun rancangan penelitian yaitu menetapkan substansi penelitian tentang pelaksanaan peran dan fungsi kepemimpinan kepala SD Muhammadiyah Metro. b. Memilih lapangan penelitian, dalam penentuan lapangan penelitian peneliti, mempertimbangkan teori substantif dan dengan mempelajari serta mendalami fokus serta rumusan masalah penelitian. Objek penelitian adalah SD Muhammadiyah Metro. Penentuan obyek dan fokus penelitian ini didasarkan 70 pengamatan dan kajian awal terhadap adanya isu-isu umum yaitu keadaan kepemimpinan kepala SD Muhammadiyah dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai kepala sekolah, kajian literatu-literatur yang relevan, dan menetapkan obyek penelitian. c. Mengurus perizinan, yaitu peneliti mengajukan izin untuk melakukan penelitian observasi awal guna memperoleh data umum obyek penelitian. d. Menjajaki dan menilai lapangan, peneliti berusaha mengenal segala unsur lingkungan sosial, fisik, dan keadaan alam. e. Memilih dan memanfaatkan informan dengan merekrut seperlunya dan diberitahu tentang maksud dan tujuan penelitian dilakukan. f. Peneliti menyiapkan perlengkapan penelitian, tidak hanya fisik, tetapi segala macam perlengkapan penelitian yang diperlukan meliputi alat tulis, dan alat perekam. g. Peneliti mempersiapkan diri baik secara fisik, psikologis maupun mental dan memahami peraturan, norma, nilai sosial masyarakat/ warga sekolah. 1. Tahap Pekerjaan Lapangan Tahap pekerjaan lapangan dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Desember 2013. Ada 3 tahap yang dilakukan peneliti dalam tahap pekerjaan lapangan yaitu: a. Memahami latar penelitian dan persiapan diri,dalam tahap ini peneliti perlu memahami latar penelitian terlebih dahulu dan penampilan diri peneliti, pengenalan hubungan peneliti di lapangan dan jumlah waktu studi. b. Peneliti beradaptasi dengan lingkungan penelitian hubungan, mempelajari bahasa, dan peranan peneliti. meliputi keakraban 71 c. Peneliti berperan serta sambil mengumpulkan data, meliputi pengarahan batas studi, mencatat data, petunjuk tentang cara mengingat data, kejenuhan, keletihan, dan istirahat, meneliti suatu latar yang didalamnya terdapat pertentangan, analisis di lapangan. Tahap awal penelitian lapangan, peneliti melakukan wawancara, observasi dan triangulasi guna mendapatkan informasi yang lebih tepat dan lebih mendalam. Peneliti merupakan pelaku utama dalam pengumpulan data, peran kepala sekolah dalam pelaksanaan peran dan fungi kepemimpinannya di SD Muhammadiyah Metro. Hasil wawancara dibandingkan dengan hasil observasi, peneliti melakukan wawancara beberapa kali untuk menggali informasi dan untuk mendapatkan informasi yang lengkap, karena ada informasi yang belum didapatkan pada wawancara sebelumnya. Peneliti mulai mengelola dan mendeskripsikan apa yang di dapat di lapangan berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi yang didapat sehingga triangulasi dilakukan untuk memperoleh data yang lebih lengkap. 2. Tahap Analisis Data Dalam tahap analisis data, peneliti melakukan serangkaian kegiatan meliputi: kegiatan mengumpulan dan pencatatan data, analisis data, penafsiran data, pengecekan keabsahan data, dengan pengumpulan data atau melengkapi informasi umum yang telah diperoleh pada observasi awal. Data yang terkumpul dikelompokkan dan dianalisis dengan fokus penelitian dan dimasukan ke dalam matrik cek data. Data dipaparkan dalam bentuk naratif. Temuan disajikan dalam bentuk naratif, matrik dan diagram konteks. Pembahasan berikutnya adalah kesimpulan dan saran. 72 3. Tahap pelaporan hasil penelitian Tahap yang terakhir adalah membuat laporan penelitian. Di mulai dari penulisan draf penelitian dan menjabar kan menjadi format yang lebih sistematis sehingga mudah dipahami dan mampu menggambarkan fakta di lapangan, setelah semua proses dilakukan, maka peneliti menuju ketahap berikutnya, yaitu seminar hasil yang dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 2014, untuk memaparkan hasil penelitian selama berada di lapangan, setelah seminar hasil ada beberapa hal yang perlu diperbaiki kembali dan jika sudah baik dan memenuhi kriteria yang diisyaratkan, maka dilanjutkan menempuh tahap akhir dari rangkaian penelitian ini yaitu ujian tesis. 144 BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN Kesimpulan 1. Kepala sekolah sebagai Pendidik (Educator), mampu mendidik dan menumbuhkan jiwa pendidik pada guru melalui keteladanan, diskusi, supervisi dan pelatihan. 2. Kepala sekolah sebagai Manajer, melaksanakan fungsi manajemen yaitu , perencanaan, pengelolaan, pelaksanaan dan pengawasan atau evaluasi. 3. Kepala sekolah sebagai Administrator, mengelola administrasi, adanya dokumen, dan pengelolaannya melibatkan sumber daya sekolah. 4. Kepala sekolah Supervisor, menyusun program, melaksanakan program dan tindak lanjut berupa: pelatihan, workshop, KKG, dan pembekalan. 5. Kepala sekolah sebagai Pemimpin, memahami visi, misi, karakter sekolah, mampu memberdayakan sumberdaya dan menyelesaikan tugas sesuai program. 6. Kepala sekolah sebagai Inovator, Mengembangkan metode pembelajaran terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman, melalui TPA, sukses OSN, O2SN, FLS2N, tahsin-tahidz dan peningkatan skill. 7. Kepala sekolah sebagai Motivator, mampu menumbuhkan cinta profesi, rasa tanggung jawab dan menciptakan suasana kondusif dengan memberikan beasiswa pendidikan. 145 8. Kepala sekolah sebagai Wirausahawan, memiliki jiwa wirausaha, berjiwa keras dan memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola sumber belajar melalui karakter islami, tahsin-tahidz, prestasi akademik dan lomba-lomba. Implikasi Implikasi dapat dirumuskan berdasarkan temuan-temuan penelitian yang merupakan konsekuensi logis untuk mencapai pelaksanaan peran dan fungsi kepala sekolah secara maximal: 1. Sebagai Pendidik berupaya memberikan memberikan pembinaan, keteladanan pada guru sehingga menumbuhkan jiwa pendidik dan menjadi guru yang profesional. 2. Sebagai Manajer membentuk tim yang efektif dalam pembuatan program menganalisis program sebelumnya dan membuat sistem controling yang efektif sehingga dalam pelaksanaan manajemen sesuai fungsi manajemen. 3. Sebagai Administrator upaya yang dilakukan adalah pemberdayaan sumberdaya dan pembuatan sofware agar dalam pencarian atau penyimpanan dokumen/file terjaga sehingga mempermudah dalam pembutan laporan 4. Sebagai Supervisor setelah melaksanakan program selanjutnya tindak lanjut sehingga guru dan karyawan merasakan perubahan dari hasil supervisi. 5. Sebagai Pemimpin berupaya mengimplementasikan visi,misi dan karakter sekolah, komunikasi yag efektif dan pemberian reward dengan kepemimpinan demokratis sehingga terjadi lingkungan sekolah yang kondusif. 146 6. Sebagai Inovator berupaya menemukan ide tentang pengembanan sekolah maupun ketrampilan peserta didik dalam lomba-lomba. 7. Sebagai Motivator upaya yang dilakukan membina keprofesian, tanggung jawab, suasana aman, kondusif sebagai motivasi memberikan beasiswa pendidikan sehingga guru dan karyawan bekerja secara maximal. 8. Sebagai Wirausahawan berupaya mem program unggulan dan menjalin mitra kerja sama yang baik sehingga SD Muhamadiyah menjadi sekolah pilihan masyarakat kota Metro. Saran 1. Bagi Kepala Sekolah Kepala sekolah diharapkan lebih intensif melaksanakan peran dan fungsinya. Mengingat peningkatan mutu sekolah sangat ditentukan oleh kepala sekolah, maka perlu memperhatikan hal-hal yang strategis dalam pelaksanaannya. 2. Bagi guru Guru diharapkan memahami perlunya kerja sama untuk meningkatkan mutu sekolah. Dukungan terhadap kesuksesan implementasi peran dan fungsi kepala sekolah. Mengingat kepala sekolah tidak mungkin melakukan peningkatan mutu seorang diri, maka guru sebagai salah satu unsur sistem di lembaga pendidikan, perlu mendukung tugas kepala sekolah. 3. Bagi Pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah Perlu pembinaan kepala sekolah secara intensif dari Persyarikatan, terkait berjalannya fungsi kepala sekolah, Persyarikatan perlu sering melakukan supervisi 147 manjemen, agar kebutuhan terhadap pengembangan tim manajemen dapat diprogramkan. Pihak Persyarikatan juga perlu mengapresiasi keberhasilan yang dilakukan kepala sekolah, agar tidak terjadi kejenuhan dan tekanan pada tugas manajemen sekolah. 4. Bagi Peneliti Untuk penelitian selanjutnya mengembangkan wawasan tentang peran dan fungsi kepala sekolah agar lebih dispesifikan lagi, mengingat kemajuan dan kualitas sekolah bergantung peran dan fungsi kepala sekolah. 148 DAFTAR PUSTAKA Ambarita Alben 2013. Kepemimpinan Kepala Sekolah, Universtas Lampung. Lampung. Arikunto, Suharsimi dan Lia Yuliana, 2009. Managemen Pendidikan . Aditya Media dan Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, Yogyakarta. Arikunto,Suharsimi, 2006.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. PT Asdi Mahasatya, Jakarta. Bungin, Burhan, 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Aktualisasi Metodologi ke Arah ragam Varian Kontemporer. Rajawali Press, Jakarta. Depdikbud 2007. Prinsip Dasar Managemen Personalia. Daryanto, 1998. Administrasi Pendidikan. Rineka Cipta. Jakarta. Fatah Nanang. 2004. Konsep Managemen Berbasis dan Dewan Sekolah. Pustaka Bani Quraisy, Bandung. 208 h. Guba,E.G & Lincoln Y.S, 1981.Effektif Evalution.Improving The usefulness Of Evalutions Result through Responsive And Naturalistic Approaches. Jassey-Bass Inc. Publisher. Mantja, W. 2003. Etnografi. Desain penelitian dan manajemen pendidikan. Wineka Media. Malang. Moleong, Lexy J. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaja Rosadakarya. Bandung. Miles, M.B & Huberman, A.M. 1984 Qualitatif data analisys. Sage Publications, Beverly Hills. Miles, M.B & Huberman, A.M. 1992. Analisa data kualitatif. (penerjemah: Rohidi. R.T). UI Press. Jakarta. Mulyasa, E. 2007. Managemen Berbasis Sekolah. Remaja Rosdakarya, Bandung. 216 h. Mulyasa, E 2009. Menjadi Kepala Sekolah profesional. Bandung, Remaja Rosdakarya. 149 Muhaimin. H. Sutiah Prabowo. Listyo, Sugeng. 2010. Manajemen Pendidikan. Aplikasinya dalam penyusunan rencana Pengembangan Sekolah/madrasah. Rencana Preda Media Group, Jakarta. Perspektif Kebijakan Pendidikan Nasional (Depdiknas 2006) Tugas Pokok dan Fungsi Kepala Sekolah. Permendiknas No. 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah Permendiknas No. 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Penyelenggaraan Pendidikan. Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional pasal 18. Rivai, H. Viethzal dan Murni,Sylviana.2009 Education Managemen.Raja Grafindo Persada,Jakarta. Rusman.2012.Model-Model Mengembangkan ProfesionalismeGuru.Raja grafindo Persada.Jakarta. Rohiat. 2010. Manajemen Sekolah Teori Dasar dan Praktik. Refika Aditama, Bandung. Rahardjo, M.P. 2003. Metoda Riset Kualitatif. Universitas Kristen Satya Kencana. Salatiga. Sallis, Edwad. 2006. Total Quality Managemen In Education. Managemen Mutu Pendidikan. IRCISOD,Jogyakarta. Suharso dan Ana Retnoning, 2005, Kamus Umum Besar Bahasa Indonesia CV.Widya Karya, Semarang. Spradley.P.J. 1980. Participant Observation. Holt, Rinehart and winston, Newyork. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kualitatif dan R & D, cet Ke-8 Alfabeta. Bandung Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, R & D) Alfabeta. Bandung. Terry, George R. 1991. Terjemahan Prinsip-prinsip Manajemen. Bumi Aksara. Jakarta. Wahjosumidjo, 2010. Kepemimpinan Kepala Sekolah. Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Yin, Robert.K.2011.Studi Kasus Persada.Jakarta. Desain dan Metode. PT Raja Grafindo Yukl.Gary. 1990. Kepemimpinan Dalam Organesasi. Edisi Ke-5, jJakarta: Indeks.
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags

THE EFFECTIVENESS OF THE LEADERSHIP'S ROLE AN..

Gratis

Feedback