HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN BELAJAR DI SEKOLAH DAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V SD NEGERI 1 RAJABASA RAYA KOTA BANDAR LAMPUNG

Gratis

6
60
62
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN BELAJAR DI SEKOLAH DAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V SD NEGERI 1 RAJABASA RAYA KOTA BANDAR LAMPUNG Oleh DEVIYANTI PANGESTU Masalah penelitian ini adalah prestasi belajar IPS yang masih rendah, lingkungan belajar di sekolah yang kurang kondusif dan motivasi belajar yang masih rendah pada siswa kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara lingkungan belajar di sekolah dengan prestasi belajar IPS, hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar IPS, hubungan antara lingkungan belajar di sekolah dan motivasi belajar dengan prestasi belajar IPS. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode asosiatif korelasional dengan pendekatan ex post facto dan survey. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) terdapat hubungan antara lingkungan belajar di sekolah dengan prestasi belajar IPS dengan koefisien korelasi r sebesar 0,939; (2) terdapat hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar IPS dengan koefisien korelasi r sebesar 0,569; (3) terdapat hubungan antara lingkungan belajar di sekolah dan motivasi belajar secara bersama-sama dengan prestasi belajar IPS dengan koefisien korelasi R sebesar 0,941. Kata kunci: lingkungan, motivasi, prestasi. HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN BELAJAR DI SEKOLAH DAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V SD NEGERI 1 RAJABASA RAYA KOTA BANDAR LAMPUNG Oleh DEVIYANTI PANGESTU Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN Pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2015 RIWAYAT HIDUP Deviyanti Pangestu, dilahirkan di Bandar Lampung, pada tanggal 3 Agustus 1993, merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dari Bapak Deden dan Ibu Susmiati Ningsih. Pendidikan formal yang pernah ditempuh adalah: 1. SD AL-Kautsar Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2006. 2. SMP Negeri 25 Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2008. 3. SMA Negeri 15 Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2011. Pada tahun 2011, kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Lampung pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Ilmu Pendidikan, Program Studi S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. MOTO Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), bekerja keras (untuk urusan yang lain) (Q.S Al-Insyirah 6-7) Barang siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan meuju surga (Bukhari Muslim) Kebahagiaan terindah dalam hidupku adalah membat bahagia dan bangga untuk orang-orang yang kucintai (Penulis) PERSEMBAHAN Dengan penuh rasa syukur kehadirat Allah SWT, dan dengan segala ketulusan serta kerendahan hati, Sebentuk karya kecil ini ku persembahkan kepada: Kedua orang tuaku tercinta Apak dan Amak yang senantiasa selalu mendo’akan, memberikan dukungan dan memotivasi penulis dengan penuh kesabaran, kasih sayang, dan keikhlasan. Adikku tersayang Jovano, mbah Dhani tersayang dan seluruh keluarga besar Wardhani & Dudung yang telah memberikan dukungan selama ini. Orang-orang yang kusayangi dan semua rekan-rekan yang selalu memberi motivasi dan membantuku hingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Almamater tercinta Universitas Lampung SANWACANA Puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Antara Lingkungan Belajar di Sekolah dan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar IPS Kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung”. Skripsi ini dibuat untuk memenuhi persyaratan sebagai Sarjana Pendidikan di Universitas Lampung. Terselesaikannya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari hambatan yang datang baik dari luar dan dari dalam diri penulis. Penulisan ini juga tidak lepas dari bimbingan dan bantuan serta petunjuk dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1. Bapak Dr. H. Bujang Rahman, M.Si., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 2. Bapak Dr. Riswanti Rini, M.Si., Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 3. Bapak Dr. Darsono, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 4. Bapak Dr. Sultan Djasmi, M.Pd., selaku Pembimbing I, yang telah banyak membantu mengarahkan, membimbing, dan memberi dorongan dengan kesabaran dan tulus sampai skripsi ini selesai. 5. Ibu Dra. Erni Mustakim, M.Pd., selaku Pembimbing II, yang telah banyak membantu mengarahkan, membimbing, dan memberi dorongan dengan kesabaran dan tulus sampai skripsi ini selesai. 6. Ibu Dr. Een Y. Haenilah, M.Pd., selaku Penguji, yang telah banyak membantu mengarahkan, membimbing, dan memberi dorongan dengan kesabaran dan tulus sampai skripsi ini selesai. 7. Bapak dan Ibu Dosen serta Staff Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan, motivasi, dan pandangan hidup yang baik kepada penulis. 8. Seluruh warga sekolah tempat penelitian di SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung yang telah membantu kelancaran selama penelitian. 9. Kedua orang tuaku, adikku, mbah dani, serta keluarga besarku yang selalu menyayangi, mendo’akan, dan selalu memberikan dukungan untuk kesuksesanku. 10. M.Irvan Surachman yang selalu memberikan motivasi dan mendo’akan untuk kesuksesanku. 11. Pak Maman dan Mama Yayuk yang selalu mendukung dan mendo’akan untuk kesuksesanku. 12. Teman seperjuangan di PGSD UPP Kampus angkatan 2011 yaitu, Ira, Dara, Yevie, Wayas, Nora, Laili, Yeti, Mba Rina, Ayu, Tata, Mona, Isyar, Alif, Banda, Cumai, Mba Nur, Uma, Mba Nit, Isna, Mba Cit, Iin, Fisca, Dyah, Reni, Eilin, Vrisca, Niluh, Meli, Anifa, Anel, Lina, Chelsi, Risa, Nila, Okta, Friezsya, Iradwi, Selvira, Firman, Barkah, Bang Don, Alom, Imam, Suge Lukman yang telah membantu, memotivasi sampai skripsi ini selesai. Tak lupa terimakasih atas kekeluargaan dan kebersamaan yang telah diberikan. 13. Teman SMA Juzna, Dwi, Aulia, dan Ria yang telah memotivasi dan mendoakan. 14. Teman KKN Gedung Agung Windy, Sovia, Icha, Sela, Sri, Tia dan Tri. 15. Atu, Mami, Papi dan Ncie yang telah memotivasi dan mendoakan. 16. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan penulis khususnya. Kritik dan saran yang membangun demi peningkatan kualitas skripsi ini di masa mendatang sangat penulis harapkan. Bandar Lampung, Penulis, Deviyanti Pangestu Mei 2015 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ................................................................................................... xiii DAFTAR TABEL .......................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xvii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah ............................................................................ 6 C. Pembatasan Masalah ........................................................................... 7 D. Rumusan Masalah ............................................................................... 8 E. Tujuan Penelitian ................................................................................ 8 F. Manfaat Penelitian .............................................................................. 9 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Prestasi Belajar .................................................................................... 10 B. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ........................................................... 13 C. Lingkungan Belajar di Sekolah ........................................................... 19 D. Motivasi Belajar .................................................................................. 22 E. Penelitian yang Relevan ...................................................................... 25 F. Kerangka Pikir .................................................................................... 26 G. Hipotesis Penelitian ............................................................................ 29 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian.................................................................................... 30 B. Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................. 31 C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ........................... 32 1. Populasi. ........................................................................................ 32 2. Sampel ........................................................................................... 32 3. Teknik Pengambilan Sampel ......................................................... 33 D. Variabel Penelitian .............................................................................. 33 1. Variabel Prestasi Belajar IPS ........................................................ 33 2. Variabel Lingkungan Belajar di Sekolah ...................................... 34 3. Variabel Motivasi Belajar ............................................................. 35 E. Metode Pengumpulan Data ................................................................. 35 1. Observasi ....................................................................................... 35 2. Angket ........................................................................................... 36 3. Dokumentasi ................................................................................. 36 xiii F. Uji Persyaratan Instrumen................................................................... 36 1. Uji Validitas Angket ...................................................................... 36 2. Uji Reliabilitas Angket ................................................................... 37 G. Teknik Analisis Data ........................................................................... 38 1. Uji Normalitas ............................................................................... 39 2. Korelasi Ganda.............................................................................. 40 H. Pengujian Hipotesis ............................................................................ 40 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ................................................................................... 44 1. Data Lingkungan Belajar di Sekolah ............................................ 45 2. Data Motivasi Belajar ................................................................... 46 3. Data Prestasi Belajar IPS .............................................................. 48 4. Uji Validitas Angket ..................................................................... 50 5. Uji Reliabilitas Angket ................................................................. 50 6. Uji Normalitas ............................................................................... 51 7. Pengujian Hipotesis Pertama ........................................................ 51 8. Pengujian Hipotesis Kedua ........................................................... 52 9. Pengujian Hipotesis Ketiga ........................................................... 53 B. Pembahasan ........................................................................................ 56 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ............................................................................................. 61 B. Saran ................................................................................................... 61 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xiv DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1.1. Nilai UAS Mata Pelajaran IPS ............................................................... 4 3.1. Perhitungan Jumlah Populasi .................................................................. 32 3.2. Perhitungan Jumlah Sampel ................................................................... 33 3.3. Interpretasi Koefisien Korelasi ............................................................... 43 4.1. Distribusi Frekuensi Lingkungan Belajar di Sekolah ............................. 45 4.2. Distribusi Frekuensi Kualitatif Lingkungan Belajar di Sekolah ............. 45 4.3. Distribusi Frekuensi Motivasi Belajar .................................................... 47 4.4 Distribusi Frekuensi Kualitatif Motivasi Belajar .................................... 47 4.5. Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar IPS ............................................... 48 4.6. Distribusi Frekuensi Kualitatif Prestasi Belajar IPS ............................... 49 4.7. Uji Normalitas ........................................................................................ 51 xv DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 3.1. Desain penelitian..... ............................................................................... 31 4.1. Histogram Lingkungan Belajar di Sekolah (X1) .................................... 46 4.2. Histogram Motivasi Belajar (X2) ........................................................... 48 4.3. Histogram Prestasi Belajar IPS (Y) ........................................................ 49 xvi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu hal yang terpenting dalam kehidupan manusia, karena melalui pendidikan akan dapat menciptakan manusia yang berpotensi, kreatif dan memiliki ide cemerlang sebagai bekal untuk memperoleh masa depan yang lebih baik. Sesuai UU nomor 20 Tahun 2003 Bab II pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu: Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sekolah sebagai institusi pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk mempersiapkan anak didik menghadapi kehidupan masa depan, dengan cara mengembangkan potensi yang dimilikinya. Usaha tersebut akan menjadi optimal jika sekolah sebagai pusat belajar formal bagi peserta didik, dapat mengembangkan proses belajar mengajar dengan baik beserta seluruh aspek yang mempengaruhinya seperti sarana dan prasarana, situasi kondusif dan faktor-faktor lainnya. 2 Kualitas prestasi belajar di sekolah menuntut adanya pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang berkualitas. Pelaksanaan pembelajaran yang berkualitas sangat ditentukan oleh guru sebagai orang yang bertanggung jawab secara langsung terhadap kegiatan pembelajaran. Guru dituntut untuk memiliki sekurangkurangnya tiga kemampuan pokok yaitu kemampuan merencanakan kegiatan pembelajaran, mengelola kegiatan belajar mengajar dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Dengan dipenuhinya ketiga kemampuan tersebut diharapkan pembelajaran yang di laksanakan menjadi berkualitas, sehingga sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dapat memberikan bekal yang bermanfaat bagi masa depan peserta didiknya. Sekolah dikatakan baik apabila memiliki fasilitas yang lengkap, guru-guru yang terampil dan pintar, serta siswa yang berprestasi. Sekolah yang memiliki siswa yang berprestasi dan kegiatan belajar yang dilakukan terus menerus, juga di pengaruhi oleh guru yang memiliki kompetensi mengajar yang cakap serta mampu menyampaikan ilmu yang mudah untuk dipahami siswa. Salah satu hal yang jelas bahwa belajar hendaknya menjadi prioritas karena belajar adalah istilah kunci yang paling penting dalam tiap usaha pendidikan. Belajar adalah kegiatan yang berproses, ini berarti berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan sangat tergantung pada proses yang dialami siswa sebagai anak didik. Keberhasilan pembelajaran siswa dapat dilihat dari prestasi belajar siswa. Nilai prestasi belajar dapat dipakai sebagai parameter untuk menilai keberhasilan proses 3 kegiatan pembelajaran di sekolah dan juga mengukur kinerja guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah dasar sesungguhnya sangat berguna bagi siswa, tetapi pada kenyataannya banyak siswa yang tidak menyukai pembelajaran IPS atau tidak penting bagi mereka. Peran guru saat ini khususnya pada guru kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya yang lebih bersifat fasilitator dan pendamping dalam proses pembelajaran, tidak sebagai orang yang serba tahu tentang materi pembelajaran namun kenyataanya peran guru saat ini masih sangat mendominasi dalam proses pembelajaran dan kurang melibatkan atau mengikutsertakan siswa dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi berpusat pada guru. Pembelajaran IPS yang monoton akan membuat siswa menjadi bosan dan jenuh belajar IPS karena guru selalu mengawali pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah dan mengakhiri pembelajaran dengan memberikan latihan sebenarnya banyak sumber, metode dan penunjang dalam pembelajaran IPS khususnya sehingga untuk membuat suasana pembelajaran IPS menjadi menyenangkan dan efektif. Berdasarkan hasil observasi di lapangan yang dilakuan peneliti di SD Negeri 1 Rajabasa Raya diperoleh prestasi IPS yang dicapai siswa kelas V umumnya belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan yaitu ≥65. 4 Sebagai ilustrasi disajikan data hasil ujian semester ganjil 2014/2015 sebagai berikut: Tabel 1.1 Nilai Ujian Akhir Semester Ganjil Mata Pelajaran IPS Siswa Kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015. KKM No Kelas Jumlah Siswa ≤65 >65 1 2 VA 40 21 19 VB 40 23 17 Jumlah 80 44 36 Presentase 100% 55% 45% Sumber: Wali kelas VA dan VB SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015. Berdasarkan Tabel 1.1 di atas siswa yang memperoleh nilai di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM) dengan nilai >65 ada sebanyak 36 siswa dari 80 siswa atau sebanyak 45% artinya hanya sebesar 45% yang dapat mencapai daya serap materi. Sedangkan 55% atau sebanyak 44 siswa belum mencapai daya serap minimal. Berasarkan kenyataan di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar IPS siswa kelas V semester ganjil SD Negeri 1 Rajabasa Raya tahun pelajaran 2014/2015 relatif rendah. Menurut Muhibbin (2008: 132) prestasi belajar sangat dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal yang diduga mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu motivasi belajar, sedangkan faktor eksternal adalah lingkungan sekolah. Lingkungan belajar di sekolah merupakan faktor yang mempengarui proses pembelajaran secara langsung. Agar mendapatkan hasil yang maksimal maka sekolah harus diciptakan suatu lingkungan yang kondusif untuk belajar serta tersedianya media pembelajaran. Lingkungan belajar di sekolah yang 5 kondusif tersebut, siswa akan merasa nyaman dalam belajar, sehingga ilmu yang disampaikan oleh seorang guru akan mudah dipahami. Kondisi lingkungan yang kondusif itu juga merupakan salah satu faktor pendorong yang dapat memberikan daya tarik tersendiri dalam proses pembelajaran, sehingga menciptakan ketenangan dan kenyamanan siswa dalam belajar dan siswa akan lebih mudah untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal. Tetapi pada kenyataannya lingkungan belajar di sekolah pada SD Negeri 1 Rajabasa Raya kurang kondusif yaitu pada saat guru menjelaskan materi banyak siswa yang tidak memperhatikan dan mengobrol. Karena guru tersebut hanya menggunakan metode ceramah dan tidak menggunakan media pembelajaran sehingga siswa kurang tertarik. Menurut Iskandar (2012: 182) faktor yang turut serta mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah motivasi belajar siswa. Sardiman (2014: 75) menyatakan motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual, peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi yang kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Prestasi belajar IPS di SD Negeri 1 Rajabasa Raya tidak akan tercapai secara maksimal apabila siswa tidak memiliki motivasi belajar, khususnya di sekolah dasar karena keadaan di lapangan tentang motivasi belajar siswa masih sangat kurang yang diberikan oleh guru, sehingga rendahnya motivasi belajar dalam mata pelajaran IPS adalah masalah yang terjadi pada SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung. 6 Adanya motivasi yang kuat akan menimbulkan sikap positif terhadap suatu objek, karena motivasi yang kuat akan memberikan perasaan senang, tidak cepat bosan, dan bersungguh-sungguh dalam melakukan aktivitas belajar. Begitu juga dengan sikap yang dimiliki siswa, apabila siswa memiliki sikap positif terhadap pelajaran, maka siswa tersebut akan menunjukkan kesungguhan dalam mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru, menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, serta sanggup menghadapi kesulitan dalam pelajaran. Sebaliknya apabila siswa memiliki sikap yang negatif, maka siswa akan memiliki perasaan tidak senang terhadap pelajaran serta tidak sanggup untuk menghadapi tantangan dan kesulitan yang timbul dari pelajaran yang tidak disenangi. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti “Hubungan Antara Lingkungan Belajar di Sekolah dan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung”. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Peran guru yang masih mendominasi dalam proses pembelajaran IPS di dalam kelas. Seperti dalam pembelajaran di kelas sejak awal jam pembelajaran dimulai hingga akhir pembelajaran guru tidak menjadi fasilitator siswa tetapi dalam pembelajaran guru hanya menjelaskan dan 7 memerintahkan siswanya untuk mengerjakan latihan sehingga pembelajaran berpusat pada guru. 2. Guru kurang melibatkan atau mengikut sertakan siswanya dalam proses pembelajaran IPS. Seperti dalam pembelajaran di kelas guru sering hanya mengunakan metode ceramah jarang mencoba mengunakan metode atau strategi yang lain yang membuat siswa lebih aktif. 3. Kurangnya kecakapan guru dalam pemilihan strategi pembelajaran, media alat dan sumber belajar. 4. Lingkungan belajar di sekolah kurang kondusif. 5. Motivasi belajar siswa kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung dalam mata pelajaran IPS rendah. 6. Nilai mata pelajaran IPS yang masih rendah pada siswa kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya. Nilai yang diperoleh siswa apabila dirata-ratakan belum mencapai KKM yang telah di tentukan sekolah yaitu >65. C. Pembatasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas maka masalah dalam penelitian ini di batasi pada: 1. Lingkungan belajar di sekolah yang kurang kondusif pada siswa kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung. 2. Motivasi belajar yang masih rendah pada siswa kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung dalam mata pelajaran IPS. 8 3. Prestasi belajar IPS yang masih rendah pada siswa kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya, nilai yang diperoleh siswa apabila di rata-rata belum mencapai KKM yang telah di tentukan yaitu >65. D. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Apakah terdapat hubungan antara lingkungan belajar di sekolah dengan prestasi belajar IPS pada siswa kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015? 2. Apakah terdapat hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar IPS pada siswa kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015? 3. Apakah terdapat hubungan antara lingkungan belajar di sekolah dan motivasi belajar secara bersama-sama dengan prestasi belajar IPS pada siswa kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015? E. Tujuan Penelitian Sesuai dengan perumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini untuk mengetahui: 1. Hubungan antara lingkungan belajar di sekolah dengan prestasi belajar IPS siswa kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015. 9 2. Hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar IPS siswa kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015? 3. Hubungan antara lingkungan belajar di sekolah dan motivasi belajar secara bersama-sama dengan prestasi belajar IPS siswa kelas V SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015? F. Manfaat Penelitian Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagi siswa, diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar. 2. Bagi guru, diharapkan dapat menambah wawasan, memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas khususnya pembelajran IPS di kelas dan meningkatkan kinerja guru dalam mengajar. 3. Bagi sekolah, mengoptimalkan diharapkan dapat pembelajaran bermanfaat dalam upaya sebagai acuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran di SD Negeri 1 Rajabasa Raya Kota Bandar Lampung. 4. Bagi peneliti lain, memberikan informasi bagi para peneliti berikutnya yang ingin melakukan penelitian di bidang pendidikan. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Prestasi Belajar Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Adapun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan. Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secar garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat di temukan satu titik persamaan. Menurut Winkel (2006: 162) prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya. 11 Selanjutnya menurut pendapat Djamarah (2008: 54) prestasi belajar pada hakekatnya adalah hasil akhir dari sebuah proses belajar. Untuk mengetahui prestasi belajar peserta didik biasanya dilakukan evaluasi terhadap materi belajar yang telah diberikan. Seberapa besar peserta didik mampu memberikan feed back dari setiap evaluasi yang diberikan oleh pendidik. Nasution (2004: 54) prestasi belajar adalah kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni kognitif, afektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menurut Slameto (2010: 54) adalah sebagai berikut: 1. Faktor intern Yaitu faktor yang ada di dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor intern terdiri dari: a. Faktor jasmaniah (kesehatan dan cacat tubuh) b. Faktor psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motivasi, kematangan dan kesiapan) c. Faktor kelelahan. 2. Faktor ekstern Yaitu faktor yang ada di luar individu. Faktor ekstern terdiri dari: a. Faktor keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, penegrtian orang tua, dan latar belakang kebudayaan) b. Faktor sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah) c. Faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, dan betuk kehidupan masyarakat). 12 Menurut Muhibbin Syah (2008: 132-139) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain: 1. Faktor internal Faktor internal merupakan faktor atau penyebab yang berasal dari dalam diri setiap individu tersebut, seperti aspek fisiologis dan aspek psikologis. a) Aspek fisiologis Kondisi umum jasmani seseorangyang menandai tingkat kesehatanorganorgan tubuh dan sendi-sendinya dapat mempengaruhi semangat dan intensitas peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, hal ini dikarenakan kesehatan organ tubuh, khususnya organ indera pendengar dan penglihatan akan sangat mempengaruhi kemampuan peserta didik dalam menyerap informasi dan pengetahuan dalam kegiatan pembelajaran. Jika kondisi kesehatan sendiri kurang sehat, maka peserta didik tersebut tidak akan dapat berkonsentrasi dikarenakan perhatiannya beralih pada ketidaknyamanan tubuh yang dirasakan. b) Aspek psikologis. Banyak faktor yang termasuk dalam aspek psikologis diantaranya faktor rohaniah yang dianggap lebih penting. Faktor-faktor ini seperti: tingkat kecerdasan, sikap, bakat, minat dan motivasi. 2. Faktor eksternal Faktor eksternal terdapat dua macam yaitu: a) Lingkungan sosial Lingkunagan sosial mencakup lingkungan sekolah, masyarakat dan lingkungan keluarga. b) Lingkungan nonsosial Faktor yang termasuk lingkungan nonsosial yaitu gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar yang digunakan dalam belajar. 3. Faktor pendekatan belajar Faktor pendekatan belajar merupakan upaya belajar yang meliputi strategi dan metode yang digunakan untuk melakukan kegiatan mempelajari materi pelajaran. Selain faktor-faktor di atas, menurut Nasution (2004: 50) prestasi belajar juga dipengaruhi oleh kecakapan dan ketangkasan belajar yang berbeda secara individual. Walaupun demikian, kita dapat membentuk anak dengan memberi petunjuk-petunjuk itu dengan sendirinya akan menjamin sukses anak dalam belajar. 13 Berdasarkan uraian di atas, peneliti menyimpulkan prestasi belajar adalah pencapaian hasil belajar siswa berupa nilai yang diperoleh setelah mengikuti kegiatan pembelajaran yang diberikan guru kepada siswa melalui evaluasi atau penilaian pada suatu mata pelajaran termasuk mata pelajaran IPS. Prestasi belajar yang dicapai oleh siswa mencakup penilaian penguasaan, baik yang besifat kognitif, afektif, maupun psikomotor. B. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) 1. Konsep Dasar IPS Pembelajaran IPS berperan merealisasikan ilmu-ilmu sosial yang bersifat teoritis ke dalam dunia kehidupan nyata di masyarakat. Oleh karenanya secara substansi materi IPS mengintegrasikan dari berbagai ilmu sosial yang diperuntukkan untuk pembelajaran di tingkat persekolahan, sehingga melalui pembelajarn IPS diharapkan siswa mampu membawa dirinya dewasa dan bijak dalam kehidupan nyata, melalui pembelajaran IPS diharapkan siswa tidak hanya mampu menguasai teori-teori kehidupan di dalam masyarakat tapi mampu menjalani kehidupan nyata di masyarakat sebagai insan sosial. Warga negara yang mampu mengaplikasikan ilmunya dalam bentuk amalan nyata yang bermanfaat bagi kehidupan di masyarakat. Ilmu pengetahuan sosial adalah ilmu sosial yang disederhanakan secara ilmiah (pedagodis dan psikologis) untuk tujuan pendidikan. Sardjiyo (2009: 126) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah suatu penyederhanaan adaptasi, seleksi, dan modifikasi dari disiplin akademis Ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan dan 14 disajikan secara ilmiah dan pedagogis-psikologis. Sedangkan menurut Sumaatmadja (2007: 11) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) berkenan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. Selain itu Sapriya (2006: 7) IPS merupakan ilmu pengetahuan yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang-cabang ilmu sosial dan ilmu lainnya kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidikan dan didaktik untuk dijadikan program pengajaran pada tingkat persekolahan. IPS sebagai program pendidikan, tidak hanya menyajikan pengetahuan sosial semata-mata, melainkan harus pula membina peserta didik menjadi warga masyarakat dan warga negara yang memiliki tanggung jawab atas kesejahteraan bersama dalam arti yang seluas-luasnya. Oleh karena itu, peserta didik yang dibinanya tidak hanya cukup berpengetahuan dan berkemampuan berfikir tinggi, melaikan harus pula memiliki kesadaran yang tinggi serta tanggung jawab yang kuat terhadap kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian, pokok bahasan yang disajikan tidak hanya terbatas pada materi yang bersifat pengetahuan, melainkan juga meliputi nilai-nilai yang wajib melekat pada peserta didik sebagai warga masyarakat dan warga negara. Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan, peneliti menyimpulkan IPS merupakan suatu perpaduan dari ilmu sosial dengan ilmu lainnya yang diorganisasikan secara selektif dengan mempertimbangkan prinsip ilmiah, psikologis, dan praktis untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. 15 2. Tujuan Pembelajaran IPS Tujuan merupakan segala sesuatu atau keinginan yang hendak dicapai. Dalam permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang standar isi menyatakan bahwa Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. 1) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya. 2) Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial. 3) Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. 4) Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, dan berkompetensi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global. Menurut Hasan dalam Sapriya (2006: 5) tujuan pendidikan IPS dapat di kelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu pengembangan intelektual siswa, pengembangan dan rasa tanggung jawab sebagai anggota masyarakat dan bangsa, serta pengembangan diri siswa sebagai pribadi. Selanjutnya menurut Martorella dalam Sapriya (2006: 8) mengemukakan tujuan utama dari pembelajaran IPS di SD adalah untuk mengembangkan pribadi “warga negara yang baik” (good citizen). Sedangkan Sapriya (2006: 133) menyatakan bahwa tujuan IPS yaitu (a) mengajarkan konsep-konsep dasar sejarah, sosiologi, antropologi, ekonomi, dan kewarganegaraan melalui pendekatan pedagogis, dan psikologis, (b) mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, inkuiri, problem solving, dan keterampilan sosial, (c) membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, dan (d) meningkatkan kerja sama dan kompetensi dalam masyarakat yang heterogen baik secara nasional maupun global. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahwa tujuan pembelajaran IPS adalah untuk mendidik para siswa agar prestasi belajar siswa meningkat dengan untuk memecahkan mengembangkan keterampilan-keterampilan sebagai bekal segala persoalan dalam kehidupan bermasyarakat. 16 Keterampilan tersebut meliputi, keterampilan berpikir kritis, meningkatkan keterampilan bekerjasama dengan teman, dan meningkatkan berpikir kreatif. Selain itu tujuan pembelajaran IPS bertujuan untuk mengembangkan pribadi warga negara yang baik. 3. Ruang Lingkup Pembelajaran IPS IPS sebagai program pendidikan, tidak hanya menyajikan pengetahuan sosial semata-mata, melainkan harus pula membina peserta didik menjadi warga masyarakat dan warga negara yang memiliki tanggung jawab atas kesejahteraan bersama dalam arti yang seluas-luasnya. Oleh karena itu peserta didik yang dibina tidak hanya cukup berpengetahuan dan berkemampuan berpikir tinggi, melainkan harus pula memiliki kesadaran yang tinggi serta tanggung jawab yang kuat terhadap kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian, pokok bahasan yang disajikan tidak hanya terbatas pada materi yang bersifat pengetahuan, melainkan juga meliputi nilai-nilai yang wajib melekat pada diri peserta didik tadi sebagai warga masyarakat dan warga negara sebagai bekal kehidupan mereka di masa yang akan datang. Ruang lingkup IPS meliputi kehidupan manusia dalam masyarakat atau sebagai anggota masyarakat atau dapat juga dikatakan manusia dalam konteks sosial. Selanjutnya IPS sebagai program pendidikan, ruang lingkupnya sama dengan yang telah diuraikan di atas, namun di tambah dengan nilai-nilai yang menjadi karakter program pendidikannya. Meninjau ruang lingkup IPS sebagai program 17 pendidikan, maka harus dimulai dari ruang lingkup IPS sebagai pengetahuan lebih dahulu. IPS adalah ilmu sosial yang secara harfiah terbagi menjadi tiga sub bidang ilmu yaitu Geografi, Sejarah dan Kependudukan. Masing masing bagian tersebut dapat lagi di bedakan berdasarkan bidang kajian masing-masing. Semakin tinggi kompleksitas kedalaman ilmu maka semakin sempit ruang lingkup yang di kaji. Sedangkan untuk sekolah dasar pokok pokok materi mengambil kepada 3 bidang tersebut yang terkadang di berikan secara terintegrasi. Pengenalan bidang geografi di SD lebih banyak menyajikan fenomena alam baik di Indonesia maupun di luar negeri yang akan membangkitkan rasa ingin tahu siswa. Sehingga siswa yang kreatif akan secara aktif mencari literatur-literatur tambahan selain buku yang di rekomendasikan oleh sekolah. Bidang sejarah di kenalkan kepada anak SD lebih banyak menguraikan cerita-cerita kepahlawanan dengan batas pemahaman baik dan buruk. Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (2006: 575), Ruang lingkup IPS meliputi aspek-asek sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Manusia, tempat, dan lingkungan. Waktu, keberlanjutan, dan perubahan. Sistem sosial dan budaya. Perilaku ekonomi dan kesejahteraan. Dengan demikian ruang lingkup IPS mencakup segala aktivitas-aktivitas sosial manusia dengan lingkungannya baik masa lampau, sekarang maupun masa yang akan datang. Dengan pengembangan aspek sesungguhnya di antara baik dan buruk tersebut memerlukan kesabaran guru untuk menjelaskannya berdasarkan 18 fakta dan landasan psikologis suatu peristiwa. Dalam hal ini akan memancing peluang diskusi yang lebih banyak, sehingga peran serta siswa dalam kegiatan ini akan lebih besar. Kegiatan pembelajaran bidang ini sangat relevan jika disajikan dengan metode demonstrasi bermain peran. Dimana siswa akan terlibat langsung dengan aspek kejiwaan ketika memerankan tokoh-tokoh sejarah. Bidang kependudukan lebih banyak mengulas tentang tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan fungsi sosialnya dalam berhubungan dengan orang-orang sekitarnya, baik dalam ruang lingkup yang sempit sampai hubungan antar negara. Kompleksitas hubungan tersebut maka akan berdampak kepada dua hal yaitu positif dan negatif. Bentuk nyatanya adalah hubungan tersebut akan membawa manfaat di satu sisi dan berpotensi konflik di sisi lain. Harapannya adalah anak SD dapat lebih memahami keberadaannya dalam hubungannya dengan lingkungan alam dan sosial. Baik dalam sekala sempit maupun luas. Sehingga anak-anak kita mempunyai keterampilan dasar dalam upaya membangun hubungan sosial baik dalam sekala regional maupun antar negara. Keterampilan tersebut berintikan kepada keterampilan aplikatif dan selektif. Keterampilan aplikatif mempunyai pengertian melalui hubungan sosial siswa dapat memetik keterampilan yang bermanfaat bagi kesejahteraan diri dan komunitasnya. Sedangkan keterampilan selektif adalah siswa mampu menyaring hal-hal yang didapat dari hubungan sosial tersebut agar tidak merugikan diri dan komunitasnya. Berdasarkan uraian di atas, bahwa yang dipelajari IPS adalah manusia sebagai anggota masyarakat dalam konteks sosialnya, ruang lingkup kajian IPS meliputi 19 (a) substansi materi ilmu-ilmu sosial yang bersentuhan dengan masyarakat dan (b) gejala, masalah, dan peristiwa sosial tentang kehidupan masyarakat. Kedua lingkup pengajaran IPS ini harus diajarkan secara terpadu karena pengajaran IPS tidak hanya menyajikan materi-materi yang akan memenuhi ingatan peserta didik tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan sendiri sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Oleh karena itu, pengajaran IPS harus menggali materimateri yang bersumber pada masyarakat. Dengan kata lain, pengajaran IPS yang melupakan masyarakat atau yang tidak berpijak pada kenyataan di dalam masyarakat tidak akan mencapai tujuannya. C. Lingkungan Belajar di Sekolah Manusia selama hidupnya akan selalu mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah dan masyarakat luas. Manusia memiliki sejumlah kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pengalaman. Pengalaman itu terjadi karena interaksi manusia dengan lingkungannya. Sehingga manusia dengan lingkungan ada pengaruh yang saling timbal balik. Sejalan dengan pendapat Rohani (2004: 19) lingkungan belajar di sekolah juga dapat diartikan suatu situasi atau lokasi tempat terjadinya tingkah laku yang ada di sekitar siswa yang berupa pelaksanaan kegiatan belajar dan dapat mempengaruhi motivasi dan prestasi belajar. Selanjutnya Hamalik (2004: 195) menyatakan lingkungan belajar di sekolah adalah sesuatu yang ada di dalam sekitar sekolah yang memiliki makna dan pengaruh tertentu kepada siswa. Dari pengertian tersebut terlihat bahwa 20 lingkungan merupakan suatu keadaan yang ada di sekitar manusia yang dapat berpengaruh terhadap diri siswa tersebut. Lingkungan seorang siswa mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap siswa pengaruh itu bisa positif juga negatif. Seperti pendapat Slameto (2010: 72) lingkungan yang baik itu perlu diusahakan agar dapat memberi pengaruh yang positif terhadap anak atau siswa sehingga dapat belajar dengan sebaik-baiknya. Lingkungan belajar atau lingkungan pendidikan secara umum di bagi menjadi dua yaitu, lingkungan belajar di rumah dan lingkungan belajar di sekolah. Lingkungan belajar di rumah mempengaruhi kegiatan belajar siswa di rumah. Banyak siswa yang kurang mampu dalam artian lingkungan belajar di rumah yang kurang kondusif tetapi bisa mendapatkan prestasi yang baik di sekolah. Dengan demikian peran orang tua atau keluarga sangat dibutuhkan dalam perkembangan anak dan dalam menciptakan lingkungan belajar agar anak bisa merasa nyaman dengan lingkungan belajarnya, setiap anak memiliki sifat yang berbeda-beda untuk itu orang tua atau keluarga harus bisa mengetahui kondisi anak-anaknya. Sedangkan dalam lingkungan belajar di sekolah, situasi kelas yang dinamis memerlukan usaha agar dapat mewujudkan hubungan yang harmonis antara siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru, sehingga terwujud kerjasama atau persaingan yang sehat antar siswa. Lingkungan belajar di sekolah tersebut dapat berupa fisik, misalnya ruang kelas, perabotan kelas, kebersihan kelas, meja, kursi, suasana di sekolah dan lain-lain. Lingkungan belajar di sekolah juga bersifat non fisik, misalnya interaksi, ketenangan disiplin dan kenyamanan. Hal ini sejalan 21 dengan pendapat Hakim (2003: 18) yang menyatakan bahwa kondisi lingkungan sekolah yang juga dapat mempengaruhi kondisi belajar antara lain adanya guru yang baik dalam jumlah yang cukup memadai sesuai dengan jumlah bidang studi yang ditentukan, peralatan belajar yang cukup lengkap, gedung sekolah yang memenuhi persyaratan bagi berlangsungnya proses pembelajaran yang baik, adanya teman dan keharmonisan di antara semua personil sekolah. Lingkungan belajar di sekolah membentuk kepribadian siswa, karena dalam pergaulan sehari-hari seorang siswa selalu menyesuaikan dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, apabila seseorang siswa berada di lingkungan temannya yang rajin belajar, kemungkinan besar hal tersebut akan membawa pengaruh pada dirinya, sehingga ia akan belajar sebagaimana temannya. Dalam lingkungan belajar yang efektif, siswa akan menjadi lebih produktif, hal ini digambarkan dengan kemudahan pada siswa dalam berpikir, berkreasi juga mampu belajar secara aktif karena lingkungan belajar yang sangat mendukung sehingga timbul keterkaitan dan kenyamanan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Berbeda halnya dengan seorang siswa yang memiliki sebuah lingkungan belajar yang kotor, pengajar-pengajar yang tidak baik, suasana kelas yang berantakan, teman-teman yang individualis, serta fasilitas pengajaran yang tidak sesuai, tentunya akan menimbulkan kesan malas dan membosankan, sehingga timbul rasa tidak semangat pada saat proses pembelajaran berlangsung dan berdampak pada kegagalan proses belajar dikarenakan susana lingkungan belajar tidak kondusif dan efektif. 22 Lingkungan belajar yang kondusif menurut Majid (2007: 165) merupakan tulang punggung dan faktor pendorong yang dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi proses pembelajaran, sebaliknya lingkungan belajar yang kurang menyenangkan akan menimbulkan kejenuhan dan rasa bosan. Berdasarkan uraian diatas peneliti menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan lingkungan belajar di sekolah adalah kesatuan ruang atau kondisi yang dipergunakan untuk perubahan tingkah laku dalam diri seseorang dalam melakukan kegiatan belajar. Kondisi lingkungan belajar di sekolah yang kondusif akan menciptakan kenyamanan bagi siswa dalam belajar, sehingga akan mendukung kegiatan belajar dan siswa akan lebih mudah mencapai prestasi belajar yang maksimal. D. Motivasi Belajar Motivasi faktor yang sangat penting dalam proses belajar untuk mencapai prestasi yang diharapkan. Menurut Hamzah (2007: 1) motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku, dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Sedangkan menurut Hamalik (2004: 158) menyatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. 23 Dengan demikian dapat diketahui bahwa motivasi merupakan tenaga penggerak, pendorong, pengganti tenaga yang berasal dari dalam diri seseorang untuk tujuan belajar, yaitu perubahan tingkah laku. Pada dasarnya motivasi menurut Hamalik (2004: 162-163) dapat di bagi menjadi dua jenis antara lain: 1. Motivasi intrinsik, adalah motivasi yang tercakup di dalam situasi belajar dan menemui kebutuhan dan tujuan-tujuan siswa. Motivasi ini juga sering disebut motivasi murni, yang sebenarnya timbul dari dalam diri siswa sendiri, misalnya keinginan untuk mendapat keterampilan tertentu, memperoleh informasi dan pengertian, mengembangkan sikap untuk berhasil, menyenangi kehidupan, menyadari sumbangannya terhadap usaha kelompok, keinginan diterima oleh orang lain, dan lain-lain. 2. Motivasi ekstrinsik, adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar seperti situasi belajar, seperti penghargaan, lingkungan belajar yang menyenangkan, dan kegiatan belajar yang menarik. Peranan motivasi intrinsik dan ekstrinsik dalam kegiatan pembelajaran sangat diperlukan, karena dengan motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik siswa dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakuakan kegiatan pembelajaran. Menurut Djamarah (2008: 10) belajar adalah proses perubahan prilaku berkat pengalaman dan latihan, artinya tujuan belajar adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organise atau pribadi. Sementara itu menurut Iskandar (2012: 181) belajar adalah kegiatan yang mengubah tingkah laku melalui latihan dan pengalaman sehingga lebih baik sebagai hasil dari penguatan yang dilandasi untuk mencapi tujuan. Selanjutnya Selameto (2010: 2) mengemukakan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan 24 tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan para ahli di atas, peneliti menyimpulkan belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang diperoleh dari hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya yang dilandasi untuk mencapai tujuan tertentu. Berikut ini ada beberapa pendapat para ahli tentang pengertian motivasi belajar. Hamzah (2007: 23) menyatakan motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswi yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Sedangkan menurut Iskandar (2012: 181) motivasi belajar adalah daya penggerak dari dalam diri individu untuk melakukan kegiatan belajar untuk menambah pengetahuan dan keterampilan serta pengalaman. Sejalan dengan pendapat di atas Winkel (2006: 73) mengatakan motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa untuk menimbulkan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu, maka tujuan yang dikehendaki siswa tercapai. Motivasi belajar mempunyai peranan penting dalam belajar karena tanpa motivasi dalam belajar, maka hasil yang diperoleh tidak akan memuaskan. Dengan mengetahui kemampuan potensial siswa maka guru akan mendapat gambaran dalam menciptakan situasi-situasi yang mungkin dapat mempermudah dan 25 mempercepat siswa dalam mempelajari sesuatu dan guru dapat memberi petunjuk yang bisa membangkitkan kegairahan dalam kegiatan belajar. Memberikan motivasi kepada siswa, berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu. Siswa akan terdorong melakukan sesuatu apabila merasa ada suatu kebutuhan. Berdasarkan uraian di atas, peneliti menyimpulkan motivasi belajar adalah daya penggerak atau dorongan yang berasal dari dalam diri dan luar individu untuk melakukan kegiatan belajar, menambah pengetahuan dan keteram

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

HUBUNGAN ANTARA SARANA BELAJAR, MOTIVASI BELAJAR, DAN DISIPLIN BELAJAR DI SEKOLAH DENGAN PRESTASI EKONOMI BELAJAR SISWA KELAS XI IPS SEMESTER GANJIL SMA BUDAYA BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2010/2011
0
31
65
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DAN KESIAPAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR GEOGRAFI SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 KOTABUMI LAMPUNG UTARA TAHUN PELAJARAN 2011-2012
0
14
72
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR IPS MELALUI PEMBELAJARAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE STAD PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 1 CAMPANG RAYA BANDAR LAMPUNG
0
11
49
HUBUNGAN ANTARA MINAT BACA DAN LINGKUNGAN BELAJAR DI SEKOLAH DENGAN PRESTASI BELAJAR IPS TERPADU SISWA KELAS VIII SMP MUHAMMADIYAH 1 WONOSOBO TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
7
74
HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN BELAJAR DAN MINAT BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR GEOGRAFI SISWA KELAS XI IPS SMAN 1 BELALAU TAHUN PELAJARAN 2012-2013
0
7
42
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DAN KEBIASAAN MEMBACA SISWA DENGAN PRESTASI BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS V SD NEGERI DI KECAMATAN LABUHAN RATU BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2013/2014
2
14
67
HUBUNGAN ANTARA PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KEPRAMUKAAN DENGAN PRESTASI BELAJAR PKN SISWA KELAS V SD NEGERI 1 RAJABASA RAYA TAHUN PELAJARAN 20014/2015
1
15
76
HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN BELAJAR DI SEKOLAH DAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V SD NEGERI 1 RAJABASA RAYA KOTA BANDAR LAMPUNG
6
60
62
HUBUNGAN ANTARA PEMANFAATAN SARANA BELAJAR DI SEKOLAH DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DENGAN PRESTASI BELAJAR PENGANTAR AKUNTANSI SISWA KELAS XI IPS 2 SEMESTER GANJIL SMA NEGERI 1 NATAR TAHUN PELAJARAN 2014/2015
2
11
83
HUBUNGAN ANTARA DISIPLIN BELAJAR DAN KEMANDIRIAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 3 GEDUNG AIR KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN AJARAN 2014/2015
13
86
79
HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN DAN MINAT BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 RAJABASA RAYA KOTA BANDARLAMPUNG TAHUN PELAJARAN 20014/2015
5
57
71
HUBUNGAN ANTARA MINAT BACA DENGAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS V SD NEGERI DI KECAMATAN MIJEN KOTA SEMARANG
2
20
175
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP HASIL BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 1 RAJABASA RAYA BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2014/2015
1
8
51
HUBUNGAN ANTARA DISIPLIN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS IV SDN 1 RAJABASA RAYA KECAMATAN RAJA BASA KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2014/2015
0
6
54
HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR DAN AKTIVITAS BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V SD NEGERI 1 LABUHAN RATU KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN AJARAN 20014/2015
1
8
64
Show more