RATIONALIZATION VOTERS IN CHOOSING THE ELECTION CANDIDATE COUPLE OF GOVERNOR LAMPUNG 2014 (Studies in Rural Communities Beringin Raya Kingdom Kemiling District of Bandar Lampung) RASIONALISASI PEMILIH DALAM MEMILIH PASANGAN KANDIDAT PADA PEMILIHAN GUBERNU

Gratis

0
7
89
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRACT RATIONALIZATION VOTERS IN CHOOSING THE ELECTION CANDIDATE COUPLE OF GOVERNOR LAMPUNG 2014 (Studies in Rural Communities Beringin Raya Kingdom Kemiling District of Bandar Lampung) By MARS BAYU DORAYIDI Direct local elections is a response to widespread expectations of an entire nation in order to restore the sovereignty of the people democratically. Where to give people the opportunity to choose the candidate pairs without pressure and interference and politicization of any party based on their conscience. This is when viewed from the perspective of political development, the development of local democracy, direct election is the process of succession at the local level that the expectation is able to provide political education for the people to increase the maturity of the people in politics. Events or sociologically interesting phenomenon in this election that is how the electoral system change from indirect to direct election system which will have implications for changes in voting behavior. So appealing is necessary to lift this reality in research, with a view to giving a major boost voter on the voting rights in direct elections, in this case the rationality of voting behavior in choosing one pair of candidates in the election of Governor (Governor Election) Direct Lampung ago 9 April 2014 . This study is a descriptive study based on quantitative data collection, with the intention of doing careful measurements to illustrate the relevance of sociological social reality that can be achieved. Based on the results of this study that, in the act of choosing the most people 48.5% of respondents had categorized as an act of choosing prospective. Where they choose with consideration of the future by looking at the candidate's vision and mission. However, if viewed from the aspect of rationality of action, most of the respondents categorized as non-responders in determining the rational choice. Where most of the voters are still affected 60.8% as well as the emotional aspects of the environment in choosing a candidate. Keywords: Communities Beringin Raya, Governor Election, Rationalitation ABSTRAK RASIONALISASI PEMILIH DALAM MEMILIH PASANGAN KANDIDAT PADA PEMILIHAN GUBERNUR LAMPUNG TAHUN 2014 (Studi Pada Masyarakat Desa Beringin Raya Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung) Oleh BAYU MARS DORAYIDI Pemilihan Kepala Daerah langsung merupakan respon dari meluasnya harapan seluruh bangsa dalam rangka mengembalikan kedaulatan rakyat secara demokratis. Dimana memberikan rakyat kesempatan untuk memilih pasangan kandidatnya tanpa ada tekanan dan campur tangan serta politisasi dari pihak manapun yang berdasarkan hati nurani mereka. Hal ini jika dilihat dari perspektif pembangunan politik, sebagai pengembangan demokrasi lokal, Pilkada langsung merupakan proses pergantian pemimpin ditingkat lokal yang ekspektasinya mampu memberikan pendidikan politik bagi rakyat untuk meningkatkan kedewasaan rakyat dalam berpolitik. Kejadian atau fenomena yang menarik secara sosiologis dalam Pilkada ini yakni bagaimana perubahan sistem pemilihan dari tidak langsung ke sistem pemilihan langsung yang nantinya akan berimplikasi pada perubahan perilaku pemilih. Sehingga menarik kiranya untuk mengangkat realitas ini dalam penelitian, dengan melihat dorongan utama pemilih dalam memberikan hak pilihnya pada pada Pilkada langsung, dalam hal ini rasionalitas perilaku pemilih dalam memilih salah satu pasangan kandidat pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Langsung Provinsi Lampung 9 April 2014 yang lalu. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang didasarkan pada pengumpulan data kuantitatif, dengan maksud melakukan pengukuran cermat untuk menggambarkan realitas sosial sehingga relevansi sosiologisnya dapat tercapai. Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa, tindakan dalam memilih masyarakat sebagian besar yakni 48,5% responden sudah terkategorikan sebagai tindakan memilih yang prospektif. Dimana mereka memilih dengan pertimbangan masa depan dengan melihat visi dan misi kandidat. Namun jika dilihat dari aspek rasionalitas tindakan, sebagian besar responden terkategorikan sebagai responden yang tidak rasional dalam menentukan pilihan. Dimana pemilih sebagian besar yakni 60,8% masih terpengaruh lingkungan serta aspek emosional dalam memilih kandidat. Kata Kunci : Masyarakat Beringin Raya, Pemilihan Gubernur, Rasionalisasi RASIONALISASI PEMILIH DALAM MEMILIH PASANGAN KANDIDAT PADA PEMILIHAN GUBERNUR LAMPUNG TAHUN 2014 (Studi Pada Masyarakat Desa Beringin Raya Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung) (Skripsi) Oleh : BAYU MARS DORAYIDI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2014 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di sebuah Desa kecil bernama Semuli Raya, Kec. Kota Bumi, Kab. Lampung Utara. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Eko Riyanto dan Asti Ayu Komariah. Pendidikan yang pernah ditempuh oleh penulis : 1. 2. 3. Sekolah Dasar Abadi Perkasa, Gedung Meneng, Kabupaten Tulang Bawang yang diselesaikan pada tahun 2003 SMP Abadi Perkasa, Gedung Meneng, Kabupaten Tulang Bawang pada tahun 2006 SMA Sugar Group Companies, Kabupaten Tulang Bawang yang diselesaikan pada tahun 2009 Pada tahun 2009 penulis diterima sebagai mahasiswa LP3I, namun penulis tidak menyelesaikannya. Kemudian pada tahun 2010 penulis diterima sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung Jurusan Sosiologi. Dalam perjalanan menempuh pendidikan ini penulis mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Desa Dadi Mulyo, Kabupaten Tanggamus. MOTO “Kebingungan (ketidahtahuan) merupakan pendorong orang untuk belajar lebih jauh. Bila orang sudah puas, ia telah berada di jurang kemandegan belajar.” (Gede Prama) “Semakin banyak kamu memberi kepada orang lain, pada akhirnya semakin banyak, kamu akan menerima bagi dirimu sendiri.” (Robin Sharma) “Kebahagiaan atau kesedihan manusia tidak tergantung pada jumlah harta benda atau emas yang ia kumpulkan. Kebahagiaan atau penderitaan berada di dalam jiwa seseorang. Orang yang bijaksana merasa nyaman disetiap negeri. Seluruh alam semesta inilah rumah bagi jiwa yang mulia.” (Democritus) “Bahaya terbesar bagi kebanyakan kita bukanlah cita-cita kita yang terlalu tinggi dan kita tidak dapat meraihnya, tetapi cita-cita kita terlalu rendah sehingga kita mudah memperolehnya.” (Michelangelo) “Beberapa orang akan memiliki kebesaran untuk membengkokan sejarah, namun setiap orang dapat mengubah sebagian kecil peristiwa itu, dan gabungan dari semua tindakan yang ditulis itu menjadi sejarah generasi ini.” (Robert F. Kennedy) “Akan muncul peristiwa khusus di dalam hidup setiap orang, yaitu peristiwa di mana manusia dilahirkan. Kesempatan istimewa ini, jika ia menggunakannya, akan memenuhi misinya sebuah misi di mana ia diberi sifat unik. Pada saat itu, ia menemukan kebesarannya. Inilah saat terbaiknya.” (Winston Churchill) PERSEMBAHAN Dengan mengucap Syukur Alhamdulilah Kupersembahnkan karyaku ini untuk: Kedua orang tuaku Ayahanda Eko Riyanto dan Ibunda Asti Ayu Komariah Kakakku Eka Cah Nia Nopiyanti dan Mukasari Sahabat dan teman-temanku serta semua pihak yang membantu penulisan skripsi ini Seorang Perempuan berhati lembut Ratika Afdelina yang kelak mendampingi hidupku Almamater tercinta Universitas Lampung Ya Allah, puji syukur alhamdulilah ku panjatkan atas segala rahmat dan karunia-Mu, telah menciptakan orang-orang yang selalu dekat denganku dan sangat mencintai dan menyayangiku. SANWACANA Assalamu’alaikum Wr. Wb Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah dan inayah-Nya di setiap perjalanan hidup dalam setiap menempuh pendidikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul RASIONALISASI PEMILIH DALAM MEMILIH PASANGAN KANDIDAT PADA PEMILIHAN GUBERNUR LAMPUNG TAHUN 2014 sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik di Universitas Lampung. Dalam penulisan skripsi ini banyak pihak yang telah memberikan bimbingan, motivasi serta dukungan kepada penulis. Atas segala bantuan yang diterima, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Drs. Hi. Agus Hadiawan, M.Si., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. 2. Bapak Drs. Susetyo, M.Si., selaku Ketua Jurusan Sosiologi. 3. Bapak Drs. Ikram, M.Si., selaku pembimbing utama, terimakasih ata segala bimbingan, motivasi dan kepercayaan diri yang bapak berikan dalam proses penyelesaian skripsi ini. 4. Bapak Drs. Pairul Syah, M.H., selaku Pembimbing Akademik, terimakasih banyak atas segala saran dan bimbingan selama menjadi mahasiswa dan selama proses penyelesaian skripsi. 5. Ibu Dr. Bartoven Vivit N, M.Si., selaku penguji utama terimakasih banyak atas saran dan bimbingan selama menjadi mahasiswa serta selama proses penyelesaian skripsi ini. 6. Terimakasih banyak kepada seluruh dosen-dosen Sosiologi yang telah banyak memberikan ilmu dan inspirasi yang sangat besar kepada penulis, Ibu Erna, Ibu Anita, Ibu Vivit, Ibu Paraswati, Ibu Dewi, Ibu Yuni, Ibu Endry, Pak Ikram, Pak Gede, Pak Sus, Pak Gede, Pak Fahmi, Pak Bintang, serta Bung Pay. Terimakasih untuk setiap pengetahuan dan motivasi baru yang penulis peroleh setiap harinya selama kuliah. 7. Kepada seluruh keluarga besarku yang tiada henti-hentinya memberikan semangat dan dukungan, ayah ibu (terimakasih atas segala doa dan kasih sayangmu yang selalu menjadi kekuatan bagiku, semangat yang selalu engkau berikan sehingga aku bisa menjadi seorang sarjana, begitu besar jasa mu dalam kehidupanku). Kakakku tercinta (terimakasih banyak atas motivasi dan bantuannya, entah bagaimana aku harus membalasnya). Kakak Iparku (terimakasih banyak atas segala doa dan semangat yang selalu engkau berikan kepadaku). Oom Baweku (terimakasih banyak karena engkau selalu memberikan bimbingan baik teroritis maupun praktis dan semangat dalam kehidupanku). 8. Kepada seluruh keponakanku. Terimakasih banyak atas doa kalian, karna kalian adalah sebagian dari semangatku. 9. Terimakasih banyak kepada Ratika Afdelina karena selalu memberikanku semangat dalam mencapai gelar sarjana dan selalu setia menemani langkahku. Selalu mengingatkanku betapa berharganya waktu serta setia menungguku. 10. Sosiologi 2010, khususnya untuk Arif Munandar (sosok analis, cerdas, setengah religius, hidupnya yang penuh dengan rencana, teman diskusi) Hendra Pratama (sosok yang di puja para wanita, mandiri, teman bermusik serta teman dikala tepar) Fahrurozi Syaputra (sosok religius yang dikaruniai pita suara merdu nan elok, penyanyi, pengumandang ayat suci Al-Qur’an yang merdu, teman bermusik). Kalian adalah sahabat terhebat yang tak lekang oleh waktu, tiga tahun kita tak terpisahkan. Susah senang selalu kita jalani dan kita lewati bersama, makan satu piring, tidur satu ranjang adalah kebiasaan yang takkan pernah kita lewatkan. Terimakasih banyak untuk segala doa dan kerjasama semasa kuliah. 11. Kepada seluruh warga Desa Beringin Raya, terimakasih banyak karna telah membantu menyelesaikan skripsi ini. 12. Seluruh pihak yang berperan besar dalam perjalanan penulis mencapai semua ini, penulis ucapkan terimakasih. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, penulis mohon maaf dan semoga skripsi ini dapat diterima di masyarakat. Harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan informasi untuk seluruh pihak. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya dan senantiasa menjadi orang-orang yang istiqomah berada di jalanNya. Amin. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Bandar Lampung, 24 Mei 2014 Penulis, Bayu Mars Dorayidi SANWACANA Assalamu’alaikum Wr. Wb Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah dan inayah-Nya di setiap perjalanan hidup dalam setiap menempuh pendidikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul RASIONALISASI PEMILIH DALAM MEMILIH PASANGAN KANDIDAT PADA PEMILIHAN GUBERNUR LAMPUNG TAHUN 2014 sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik di Universitas Lampung. Dalam penulisan skripsi ini banyak pihak yang telah memberikan bimbingan, motivasi serta dukungan kepada penulis. Atas segala bantuan yang diterima, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Drs. Hi. Agus Hadiawan, M.Si., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. 2. Bapak Drs. Susetyo, M.Si., selaku Ketua Jurusan Sosiologi. 3. Bapak Drs. Ikram, M.Si., selaku pembimbing utama, terimakasih ata segala bimbingan, motivasi dan kepercayaan diri yang bapak berikan dalam proses penyelesaian skripsi ini. 4. Bapak Drs. Pairul Syah, M.H., selaku Pembimbing Akademik, terimakasih banyak atas segala saran dan bimbingan selama menjadi mahasiswa dan selama proses penyelesaian skripsi. 5. Ibu Dr. Bartoven Vivit N, M.Si., selaku penguji utama terimakasih banyak atas saran dan bimbingan selama menjadi mahasiswa serta selama proses penyelesaian skripsi ini. 6. Terimakasih banyak kepada seluruh dosen-dosen Sosiologi yang telah banyak memberikan ilmu dan inspirasi yang sangat besar kepada penulis, Ibu Erna, Ibu Anita, Ibu Vivit, Ibu Paraswati, Ibu Dewi, Ibu Yuni, Ibu Endry, Pak Ikram, Pak Gede, Pak Sus, Pak Gede, Pak Fahmi, Pak Bintang, serta Bung Pay. Terimakasih untuk setiap pengetahuan dan motivasi baru yang penulis peroleh setiap harinya selama kuliah. 7. Kepada seluruh keluarga besarku yang tiada henti-hentinya memberikan semangat dan dukungan, ayah ibu (terimakasih atas segala doa dan kasih sayangmu yang selalu menjadi kekuatan bagiku, semangat yang selalu engkau berikan sehingga aku bisa menjadi seorang sarjana, begitu besar jasa mu dalam kehidupanku). Kakakku tercinta (terimakasih banyak atas motivasi dan bantuannya, entah bagaimana aku harus membalasnya). Kakak Iparku (terimakasih banyak atas segala doa dan semangat yang selalu engkau berikan kepadaku). Oom Baweku (terimakasih banyak karena engkau selalu memberikan bimbingan baik teroritis maupun praktis dan semangat dalam kehidupanku). 8. Kepada seluruh keponakanku. Terimakasih banyak atas doa kalian, karna kalian adalah sebagian dari semangatku. 9. Terimakasih banyak kepada Ratika Afdelina karena selalu memberikanku semangat dalam mencapai gelar sarjana dan selalu setia menemani langkahku. Selalu mengingatkanku betapa berharganya waktu serta setia menungguku. 10. Sosiologi 2010, khususnya untuk Arif Munandar (sosok analis, cerdas, setengah religius, hidupnya yang penuh dengan rencana, teman diskusi) Hendra Pratama (sosok yang di puja para wanita, mandiri, teman bermusik serta teman dikala tepar) Fahrurozi Syaputra (sosok religius yang dikaruniai pita suara merdu nan elok, penyanyi, pengumandang ayat suci Al-Qur’an yang merdu, teman bermusik). Kalian adalah sahabat terhebat yang tak lekang oleh waktu, tiga tahun kita tak terpisahkan. Susah senang selalu kita jalani dan kita lewati bersama, makan satu piring, tidur satu ranjang adalah kebiasaan yang takkan pernah kita lewatkan. Terimakasih banyak untuk segala doa dan kerjasama semasa kuliah. 11. Kepada seluruh warga Desa Beringin Raya, terimakasih banyak karna telah membantu menyelesaikan skripsi ini. 12. Seluruh pihak yang berperan besar dalam perjalanan penulis mencapai semua ini, penulis ucapkan terimakasih. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, penulis mohon maaf dan semoga skripsi ini dapat diterima di masyarakat. Harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan informasi untuk seluruh pihak. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya dan senantiasa menjadi orang-orang yang istiqomah berada di jalanNya. Amin. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Bandar Lampung, 24 Mei 2014 Penulis, Bayu Mars Dorayidi DAFTAR ISI Halaman I. PENDAHULUAN................................................................................................ 1 1.1. Latar Belakang........................................................................................ ..... 1 1.2. Rumusan Masalah................................................................................... ..... 8 1.3. Tujuan Penelitian.................................................................................... ..... 8 1.4. Manfaat Penelitian.................................................................................. ..... 8 II. TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................... 9 2.1. Perspektif Teori Tindakan Sosial............................................................ ..... 9 2.2. Perspektif Teori Perilaku........................................................................ ..... 12 2.2.1. Behavioral................................................................................... ..... 12 2.2.2. Perspektif Pilihan Rasional.............................................................. 13 2.3. Faktor-faktor yang Mempenngaruhi Perilaku Pemilih.......................... ..... 15 2.4. Tipe Perilaku Pemilih................................................................................... 19 2.5. Pendekatan Perilaku Pemilih.................................................................. ..... 25 2.6. Kerangka Pikir........................................................................................ ..... 29 III. METODE PENELITIAN.............................................................................. ..... 31 3.1. Tipe Penelitian........................................................................................ ..... 31 3.2. Definisi Konseptual................................................................................ ..... 32 3.2.1. Perilaku Pemilih.......................................................................... ..... 32 3.2.2. Pemilihan Gubernur (Pilgub)..................................................... ..... 33 3.2.3. Kandidat..................................................................................... ..... 33 3.3. Definisi Operasional.................................................................................... 34 3.3.1. Perilaku Pemilih......................................................................... ..... 34 3.3.2. Pemilihan Gubernur (Pilgub)...................................................... ..... 38 3.3.3. Kandidat..................................................................................... ..... 39 3.4. Objek Penelitian..................................................................................... ..... 40 3.5. Lokasi Penelitian.................................................................................... ..... 40 3.6. Populasi Sampling........................................................................................ 40 3.7. Teknik Sampling.......................................................................................... 41 3.8. Sumber Data................................................................................................. 42 3.9. Teknik Pengumpulan Data...................................................................... ..... 42 3.10. Teknik Pengolahan Data......................................................................... ..... 43 3.11. Teknik Analisa Data............................................................................... ..... 43 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN.............................................. 45 4.1. Kota Bandar Lampung........................................................................... ..... 45 4.2. Kecamatan Kemiling............................................................................. ..... 50 4.3. Kondisi Demografis Desa Beringin Raya.............................................. ..... 52 4.4. Potensi Desa........................................................................................... ..... 53 4.4.1. Sumber Daya Manusia............................................................... ..... 53 4.4.2. Sumber Daya Buatan.................................................................. ..... 58 4.4.3. Organisasi Sosial........................................................................ ..... 60 HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................................ 64 5.1. Kandidat yang Dipilih Pada Pilkada...................................................... ..... 64 V. 5.2. Kategori Tindakan Rasionalitas Diakronik Dalam Memilih Kandidat......... 66 5.3. Proses Internalisasi....................................................................................... 67 5.3.1. Pengetahuan Aktor........................................................................... 68 5.3.2. Pengaruh Lingkungan Sosial Responden Dalam Menentukan Pilihan.............................................................................................. 69 5.3.3. Pengaruh Intervensi dari Kandidat Secara Emosional..................... 70 5.4. Rasionalitas Perilaku Memilih Responden.................................................. 71 5.4.1. Rasionalitas perilaku memilih responden dapat dilihat dari tingkat pengetahuan responden dengan ada tidaknya pengaruh lingkungan responden dan ada tidaknya pengaruh intervensi kandidat secara emosional dalam menentukan pilihan............................................. 71 5.4.2. Perilaku memilih responden dilihat dari kategori rasionalitas diakronik dengan rasional dan tidak rasional................................ VI. KESIMPULAN DAN SARAN................................................................. ..... 73 74 6.1. Kesimpulan........................................................................................ ..... 74 6.2. Saran................................................................................................ ..... 75 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Variabel Penelitian.............................................................................................. ...... 2. Daftar Kandidat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur pada Pilkada Lampung 2014.................................................................................................................... ...... 3. 36 39 Jumlah penduduk Desa Beringin Raya berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2013.................................................................................................................... ...... 53 4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Pokok Desa Beringin Raya........ 55 5. Jumlah Suku Bangsa yang ada di Desa Beringin Raya Tahun 2013........................ 56 6. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pemeluk Agama Desa Beringin Raya Tahun 2013........................................................................................................................... 57 7. Jumlah Bangunan Infrastruktur Desa Beringin Raya Tahun 2013.......................... 59 8. Jumlah Penduduk dalam Organisasi Sosial Desa Beringin Raya Tahun 2013......... 61 9. Kandidat yang dipilih pada saat Pilkada................................................................... 64 10. Kategori Tindakan Memilih Responden Dilihat dari Rasionalitas Diakronik.......... 66 11. Tingkat Pengetahuan Responden dalam Memilih Kandidat..................................... 68 12. Pengaruh Lingkungan Sosial Responden dalam Menentukan Pilihan..................... 69 13. Pengaruh Emosional dalam Menentukan Pilihan................................................. 70 14. Matrik Pemilih Rasional dan Pemilih Tidak Rasional........................................... 72 15. Perilaku Pemilih Responden dilihat dari Kategori Rasionalitas Diakronik dengan Rasional dan Tidak Rasional................................................................... 73 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Bagan Kerangka Berpikir.......................................................................................... 30 2. Peta Desa Beringin Raya Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung.................. 52 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Menurut berbagai kajiannya tentang politik, para sarjana politik sepakat bahwa demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang paling baik. Sistem ini telah memberikan ruang bebas dalam distribusi kekuasaan untuk warga negaranya serta akuntabilitas bagi mereka yang menjalankan kekuasaan. Hal ini juga dikemukakan oleh Hertanto (2006:139), bahwa demokrasi merupakan sebuah sistem yang dianggap ideal untuk semua sistem politik. Dimana terdapat pengakuan atas hak individu didalamnya. Demokrasi dimaknai sebagai sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dimana kekuasaan tertinggi ada pada rakyat, dengan demikian pusat kekuasaan berasal dari rakyat. Hal tersebut juga disampaikan oleh Sartori, mengutip Basrowi (2006:7) bahwa demokrasi dicirikan sebagai sebuah sistem pemerintahan yang masyarakatnya memiliki partisipasi luas, adanya kompetensi politik yang sehat, sirkulasi politik yang terkelola serta terjaga, kemudian adanya pengawasan yang efektif, diakui suara mayoritas, dan adanya tata krama politik yang telah disepakati. Bentuk dari demokrasi serta pengimplementasian dari demokrasi yakni salah satunya yakni pemilihan umum. Menurut Basrowi (2006:7) demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan dimana hak-hak untuk membuat keputusan politik 2 digunakan secara langsung oleh setiap warga negara yang diaktualisasikan melalui prosedur pemerintahan mayoritas, yang biasa disebut dengan demokrasi langsung. Pemilihan umum tidak hanya sebagai pengakuan hak-hak rakyat pada wakilwakilnya yang akan menjalankan pemerintahan. Institusi ini sebagai proses rekruitmen serta cara regenerasi kekuasaan politik. Menyinggung permasalahan demokrasi, sejarah demokrasi di Indonesia cukup panjang. Indonesia pernah mengalami masa demokrasi singkat pada tahun 1955, ketika pertama kalinya diselenggarakan pemilu bebas di Indonesia. Sampai kemudian Presiden Soekarno menyatakan demokrasi terpimpin sebagai pilihan sistem pemerintahan. Setelah mengalami masa demokrasi pancasila, sebuah demokrasi semu yang diciptakan untuk melanggengkan kekuasaan Soeharto, Indonesia kembali masuk kedalam masa demokrasi pada tahun 1998 ketika pemerintahan Soeharto tumbang yang ditandai lahirnya reformasi (Heri, 2009:2). Tercatat pemilihan umum di Indonesia telah berlangsung sembilan kali dalam tiga rezim kekuasaan yang berbeda. Pemilu yang berlangsung di Indonesia pada masa orde lama yaitu pemilu tahun 1955 dan 1971. Kemudian pada masa orde baru, pemilu berlangsung selama lima kali yaitu 1977, 1982, 1987, 1992 dan 1997. Sedangkan sejak reformasi tahun 1998 pemilu telah berlangsung dua kali yaitu tahun 1999 dan 2004 (Heri, 2009:2). Pada tahun 1998, dimana saat itu gerakan mahasiswa telah berhasil menggulingkan kekuasaan orde baru yang sedang berkuasa. Kehidupan demokrasi kita telah mengalami perubahan dan kemajuan yang amat pesat seperti saat ini, yang tidak bisa kita rasakan pada masa orde baru. 3 Jatuhnya rezim Soeharto dan lahirnya reformasi, telah menandai lahirnya babak baru kehidupan politik bangsa Indonesia. Reformasi menuntut pembaharuan membuat dinamika politik masyarakat makin tinggi yang tampak melalui euforia politik yang terus menuntut reformasi disegala sendi-sendi kehidupan masyarakat kita. Masyarakat menuntut pemerintahan baru yang tidak terkontaminasi dengan rezim masa lalu (Heri, 2009:3). Kelanjutan dari proses demokratisasi, di era reformasi ini ada sesuatu hal yang baru dalam praktek ketatanegaraan kita, yakni ada pemilihan Presiden langsung sejak tahun 2004 dan pemilihan kepala Daerah langsung sejak tahun 2005. Sistem pemilihan langsung ini merupakan respon dari meluasnya harapan seluruh bangsa dalam rangka mengembalikan kedaulatan rakyat secara demokratis. Kita tahu bahwa pada masa orde baru terdahulu kehidupan demokrasi bangsa ini dapat dikatakan sebagai demokrasi yang semu, dimana sistem pemilihan umum yang memilih wakil-wakil rakyat dalam pemilu, implementasinya hanya sebagai formalitas dan untuk melanggengkan kekuasaan yang ada (Heri, 2009:3). Nampak sistem pemilihan langsung, dalam hal ini sistem pemilihan kepala daerah yang daerah yang ditandai dengan lahirnya undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah fase baru untuk menata sistem kemasyarakatan demi mewujudkan good governance dan clear governance di tingkat lokal. Hal demikian juga dikemukakan oleh Kaloh (2007:82) bahwa Pilkada dapat menjamin terciptanya check and balance dalam pemerintahan. Dimana saat ini calon Kepala Daerah dipilih langsung oleh rakyat dengan memilih calon Kepala Daerah dan 4 Wakil Kepala Daerah dalam satu pasangan calon melalui suatu sistem pemilihan langsung atau yang lebih dikenal dengan Pilkada langsung. Dalam konteks ini negara telah memberikan kesempatan kepada masyarakat daerah untuk menentukan sendiri segala bentuk kebijakan yang menyangkut harkat dan martabat masyarakat daerah. Masyarakat daerah yang selama ini hanya menjadi penonton proses pemilihan kepala daerah yang dipilih oleh anggota DPRD (parlemen), kini menjadi pelaku atau pemilih yang akan menentukan terpilihnya kepala daerah. Hal demikian dikemukakan juga oleh Asfar (2006:15) bahwa Pilkada merupakan sebuah kiat-kiat yang dilakukan untuk menciptakan pemerintahan yang representatif, sehingga responsif dalam menanggapi isu-isu yang berasal dari publik serta dengan harapan tercapainya visi, misi serta program kerja pemerintahan. Adapun pendapat yang sejalan mengenai Pilkada oleh Joko Prihatmoko dalam Pristianingsih (2007:23) yang menyebutkan beberapa kelebihan dari Pilkada langsung yakni: 1. Kepala daerah yang terpilih akan memiliki mandat serta legitimasi kuat karena didukung oleh suara rakyat yang memberikan suaranya secara langsung. 2. Kepala daerah yang terpilih tidak terikat pada konsesi partai, sebagaimana selama ini. 3. Sistem pilkada langsung lebih akuntabel dibandingkan dengan sistem lain sebelumnya, sebab rakyat tidak perlu menitipkan suaranya pada anggota legislatif. 5 4. Akan terjadinya check and balance antara legislatif dan eksekutif, serta 5. Kriteria kepala daerah dapat dinilai secara langsung oleh rakyat yang akan memberikan suaranya. Dengan demikian sistem Pilkada langsung memberikan kelonggaran serta kesempatan kepada rakyat untuk memilih kepala daerahnya secara langsung, bebas menurut hati nuraninya tanpa ada tekanan serta campur tangan dari pihak manapun. Bahkan ditinjau dari perspektif pembangunan politik, sebagai pengembangan demokrasi lokal, Pilkada langsung merupakan proses pergantian pemimpin ditingkat lokal yang diharapkan mampu memberikan pendidikan politik kepada rakyat untuk meningkatkan kedewasaan rakyat dalam berpolitik. Seperti yang dikemukakan oleh Ari Damastuti, dalam Gunawan (2006:24) bahwa tujuan utama proses pendidikan politik dalam suatu ajang pemilihan umum adalah warga masyarakat dapat memilih dengan tepat dan benar, berdasarkan pemahaman yang benar atas pilihan mereka. Sistem pemilihan langsung lebih menjanjikan dibandingkan dengan sistem yang berlaku sebelumnya. Dimana Pilkada langsung diyakini memiliki kapasitas untuk memperluas partisipasi masyarakat. Gunawan (2006:124) dalam penelitiannya tentang pengaruh pemahaman pemilih serta perubahan sistem pemilu yang tadinya hanya memilih partai saja menjadi bisa memilih partai maupun calon langsung terhadap perilaku pemilih pada pemilihan umum tahun 2004, mengungkapkan bahwa pemahaman pemilih akan sistem pemilu pada tahun 2004 berimplikasi terhadap rasionalitas pemilih dalam menentukan pilihan. Hasil penelitiannya mengatakan bahwa pengaruh pemahaman pemilih yang rendah tentang sistem pemilu legislatif, mengarah pada terbentuknya pola perilaku pemilih yang belum 6 menggunakan pertimbangan rasional dalam menentukan pilihan. Hal tersebut dimaksudkan, untuk mendorong rasionalitas pemilih, maka perlunya pemahaman pemilih akan pilihan politiknya. Dimana yang tadinya pemilu 1999 hanya memilih partai saja, kemudian pada pemilu tahun 2004 terjadi perubahan sistem pemilihan, rakyat rakyat tidak hanya bisa memilih partai saja namun mereka dapat juga memilih langsung calon legislatifnya. Beranjak dari fakta ini kiranya dapat memperkuat argumentasi mengenai Pilkada bahwa Pilkada langsung merupakan momentum yang tepat bagi munculnya berbagai varian preferensi pemilih yang menjadi faktor penting dalam melakukan tindakan atau perilaku politiknya. Kita mengetahui sistem pemilihan umum sebelumnya, lebih mendorong masyarakat sebagai partisipatoris pasif saja. Hal ini dikemukakan oleh Gaffar dalam Mediastutie (2006:7) bahwa akibat budaya politik yang paternalistik, menciptakan pola perilaku masyarakat pemilih di Indonesia tidak bersifat rasional. Pemilih dalam menentukan pilihanya untuk memilih partai politik tertentu bukan atas dasar perhitungan rasional. Namun, berdasarkan kepada faktor yang lebih bersifat tradisional dan ikatan emosional yang terbangun sebagai akibat dari suatu proses internalisasi yang mereka pilih dari suatu generasi sebelumnya. Sejak tahun 2005, Pilkada langsung sudah diselenggarakan diberbagai daerah di Indonesia dan telah banyak peristiwa-peristiwa yang mewarnai pelaksanaannya. Kita dapat melihat betapa kisruhnya pemilihan Gubernur Maluku Utara yang menyeret konflik horizontal dimasyarakat yang hingga hari ini belum kunjung terselesaikan. Kemudian kita juga dapat lihat bagaimana Pilkada Gubernur Jawa Barat yang telah memenangkan pasangan Ha-De, dimana Dede Yusuf yang seorang artis tampil sebagai wakilnya. Kemudian kita dikejutkan dengan 7 perolehan suara Pilkada Gubernur oleh Sjahroedin ZP-Joko Umar Said yang memperoleh suara 43,27% suara pada pilgub Lampung September 2008 lalu. Tentu saja hal tersebut menimbulkan pertanyaan dan jawabannya hanyalah akan kita dapat dari penulusuran terhadap perilaku masyarakat itu sendiri (Heri, 2009:7). Pilkada Lampung sebelumnya banyak pengamat yang mengatakan bahwa kemungkinan tingkat partisipasi masyarakat Lampung akan sangat rendah. Namun, secara mengejutkan ternyata tingkat partisipasi masyarakat mencapai 68,8% (KPUD Lampung). Hal tersebut berbanding terbalik dengan pilkadapilkada didaerah lain. Seperti di Jawa Barat misalkan, tingkat partisipasi hanya sekitar 30%, Jawa Timur 50%, Jakarta 40%. Dengan tingkat partisipasi yang cukup tinggi tersebut ternyata kita juga dicengangkan betapa signifikannya perolehan suara pasangan Sjahroedin ZP-Joko Umar Said yang memperoleh 43,27% suara (Heri, 2009:8). Dengan demikian menarik kiranya mengangkat realitas ini dalam penelitian, dengan mencoba melihat dorongan utama pemilih dalam memberikan hak pilihnya dalam ajang Pilkada langsung. Kita tahu bahwa dengan sistem demokrasi saat ini diharapkan terjadi proses pendewasaan politik masyarakat, yang akan tergantung pada proses pembelajaran politik yang terjadi. Sehingga wujud demokrasi yang hakiki dapat tercipta. Tidak hanya keberhasilan demokrasi dilihat secara prosedural tetapi juga demokrasi secara subtansi. Dimana masyarakat sampai pada tahap benar-benar bisa memaknai demokrasi yang sesungguhnya. 8 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas maka rumusan masalah penelitian ini adalah 1. Apakah pemilih dalam Pilgub Lampung tahun 2014 rasional? 2. Apakah pemilih dalam Pilgub Lampung tahun 2014 menunjuk kepada tindakan yang rasional atau tidak rasional? 3. Seberapa besar tingkat rasionalisasi pemilih dalam Pilgub Lampung tahun 2014? 1.3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah 1. Untuk menjelaskan apakah pemilih dalam Pilgub Lampung tahun 2014 rasional. 2. Untuk memahami tindakan pemilih dalam Pilgub Lampung tahun 2014 apakah rasional atau tidak rasional dalam memilih pasangan kandidatnya. 3. Untuk mengukur seberapa besar tingkat rasionalisasi pemilih dalam memilih pasangan kandidatnya pada Pilgub Lampung tahun 2014. 1.4. Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan memiliki kegunaan dalam dua aspek, yaitu: 1. Aspek Teoritis, yaitu dapat memberikan sumbangan berupa khasanah pengetahuan sosiologi politik berupa pemahaman rasionalisasi pemilih. 2. Aspek Praktis, yaitu memberikan kontribusi terhadap proses perpolitikan lokal yang berupa kontribusi menjadikan pemilu lebih jujur dan baik. 9 II. 2.1. TINJAUAN PUSTAKA Perspektif Teori Tindakan Sosial Perilaku memilih dalam Pilkada langsung merupakan perilaku politik yang bisa dikategorikan sebagai tindakan sosial. Dimana tindakan sosial merupakan proses aktor terlibat dalam pengambilan-pengambilan keputusan subjektif tentang sarana dan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dipilih, tindakan tersebut mengenai semua jenis perilaku manusia, yang dengan penuh arti diorientasikan kepada perilaku orang lain, yang telah lewat, yang sekarang dan yang diharapkan diwaktu yang akan datang. Menurut Johnson dalam Upe (2008:90) bahwa tindakan sosial (social action) adalah tindakan yang memiliki makna subjektif (a subjective meaning) bagi dan dari aktor pelakunya. Tindakan sosial seluruh perilaku manusia yang memiliki arti subjektif dari yang melakukannya. Baik yang terbuka maupun yang tertutup, yang diutarakan secara lahir maupun diam-diam, yang oleh pelakunya diarahkan pada tujuannya. Sehingga tindakan sosial itu bukanlah perilaku yang kebetulan tetapi yang memiliki pola dan struktur tertentudan makna tertentu. Weber secara khusus mengklasifikasikan tindakan sosial yang memiliki arti-arti subjektif tersebut kedalam empat tipe. Pertama, instrumentally rasional, yaitu 10 tindakan yang ditentukan oleh harapan-harapan yang memiliki tujuan untuk dicapai dalam kehidupan manusia yang dengan alat untuk mencapai hal tersebut telah dirasionalkan dan dikalkulasikan sedemikian rupa untuk dapat dikejar atau diraih oleh yang melakukannya. Kedua, value rational, yaitu tindakan yang didasari oleh kesadaran keyakinan mengenai nilai-nilai yang penting seperti etika, estetika, agama dan nilai-nilai lainnya yang mempengaruhi tingkah laku manusia dalam kehidupannya. Ketiga, affectual (especially emotional), yaitu tindakan yang ditentukan oleh kondisi kejiwaan dan perasaan aktor yang melakukannya. Keempat, traditional, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang mendarah daging. Beberapa asumsi fundamental teori aksi (action theory) yang dikemukakan oleh Hinkle dalam Upe (2008:90) antara lain : 1. Tindakan manusia muncul dari kesadaran sendiri sebagai subjek dan dari situasi eksternal dalam posisinya sebagai objek. 2. Sebagai subjek manusia bertindak atau berperilaku untuk mencapai tujuantujuan tertentu. 3. Dalam bertindak manusia menggunakan cara teknik prosedur, metode serta perangkat yang diperkirakan cocok untuk mencapai tujuan tersebut. 4. Manusia memilih, menilai, dan mengevaluasi terhadap tindakan yang sedang terjadi dan yang akan dilakukan. 5. Ukuran-ukuran, aturan-aturan atau prinsip-prinsip moral diharapkan timbul pada saat pengambilan keputusan. Selanjutnya, secara khusus dalam Ritzer (2004:78) Parsons menyusun skema unitunit dasar dari tindakan sosial dengan karakteristik : 11 1. Adanya individu selaku aktor. 2. Aktor dipandang sebagai pemburu tujuan-tujuan tertentu. 3. Aktor mempunyai alternatif cara, alat, serta teknik untuk mencapai tujuan. 4. Aktor berhadapan dengan sejumlah kondisi situasional yang dapat membatasi tindakan dalam mencapai tujuan. 5. Aktor berbeda dibawah kendali nilai-nilai, norma dan berbagai nilai abstrak yang mempengaruhi dalam memilih dan menentukan tujuan. Aktor mengejar tujuan dalam situasi dimana norma-norma mengarahkan dalam memilih alternatif cara dan alat untuk mencapai tujuan, tetapi putusan akhir ditentukan oleh kemampuan aktor untuk memilih. Kemampuan inilah yang disebut Parsons sebagai voluntarisme yaitu kemampuan melakukan tindakan dalam arti menetapkan cara atau alat dari sejumlah alternatif yang tersedia dalam rangka mencapai tujuannya. Baik Weber maupun Parsons menempatkan individu sebagai mahluk yang kreatif, dalam bertindak sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Kemudian menurut Veeger individualitas manusia menampakkan diri dari dalam tindakannya yang sadar dan sengaja. Sebagai individu ia bebas, mampu menentukan apa yang harus dilakukan. Nashir dalam Upe (2008:93) mengatakan kepentingan sebagai tujuan yang dikejar oleh aktor merupakan faktor yang penting dalam perilaku politik, individu maupun kelompok yang selalu melekat dalam proses politik. Kepentingan merupakan kekuatan pendorong utama bagi manusia dan seperti tindakan manusia didasarkan atas pemilikan kepentingan. 12 Dengan demikian perilaku politik dalam hal ini perilaku memilih perspektif tindakan sosial adalah tindakan sosial adalah tindakan individu dan kelompok dalam melakukan tindakan-tindakan politik, memiliki keterkaitan dengan kesadaran dan tujuan politik dari aktor yang memainkannya. Bahkan tingkah laku politik merupakan hasil pertemuan faktor-faktor struktur kepribadian, keyakinan politik, tindakan politik, individu dan struktur serta proses politik menyeluruh. 2.2. Perspektif Teori Perilaku Dalarn sosiologi politik terdapat beberapa perspektif teori yang dapat digunakan untuk menganalisis perilaku politik, karena perilaku politik merupakan sebuah gejala yang hisa diamati Penelitian tentang perilaku pemilih cukup relevan digunakan pendekatan behavior Menurut Budiarjo yang dikutip Upe (2008:95). 2.2.1. Behavioral Ritzer (2007:356) mengatakan sosiologi perilaku berawal dari behavioral, dimana sosiologi perilaku memusatkan perhatian pada hubungan antara pengaruh perilaku seorang aktor terhadap lingkungan dan dampak lingkung,an terhadap perilaku aktor. Hubungan ini adalah dasar untuk pengkondisian operan (operant condisioning) atau proses belajar melaluinya perilaku diubah oleh konsekuensinya. Dalam teori behavioral dikenal pemahaman reinforcement yang dapat diartikan sebagai reward (ganjaran). Perulangan atas suatu tindakan tidak dapat dirumuskan terlepas dari efeknya terhadap tindakan itu sendiri. Perulangan ini dirumuskan dalam pengertian terhadap aktor. Dimana suatu ganjaran yang tidak membawa pengaruh terhadap aktor, maka tindakannya tidak akan diulang. 13 2.2.2. Perspektif Pilihan Rasional Selanjutnya Ritzer (2007:357) menjelaskan Prinsip dasar teori pilihan rasional berasal dari ekonomi klasik. Berdasarkan berbagai jenis yang berbeda, menghimpun apa yang mereka sebut sebagai model kerangka teori pilihan rasional. Teori pilihan rasional memusatkan perhatian pada aktor. Aktor dipandang sebagai rnanusia yang mempunyai maksud. Hal tersebut dimaksudkan aktor mempunyai tujuan dan tindakannya tertuju pada upaya untuk mencapai tujuan itu. Aktorpun dipandang mempunyai pilihan (atau nilai, keperluan). Teori pilihan rasional tidak rnenghiraukan apa yang menjadi pilihan atau apa yang menjadi sumber pilihan aktor. Hal terpenting adalah kenyataan bahwa tindakan dilakukan untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan tingkatan pilihan aktor. Kemudian Ritzer menerangkan meskipun teori pilihan rasional berawal dari tujuan atau maksud aktor, namun teori ini memperhatikan sekurangkurangnya dua pemaksa utama tindakan. 1. Pertama adalah keterbatasan sumber. Aktor mempunyai sumber yang berbeda-beda maupun akses yang berbeda terhadap sumberdaya yang lain. Bagi aktor yang mempunyai sumberdaya yang besar, pencapaian tujuan mungkin relatif mudah. Tetapi bagi aktor yang mempunyai sumberdaya sedikit, pencapaian tujuan akan sukar atau sulit. Aktor dipandang berupaya mencapai keuntungan maksimal dan tujuan mungkin meliputi gabungan antara peluang untuk mencapai tujuan utama dan apa yang telah dicapai pada peluang yang tersedia untuk mencapai tujuan kedua yang paling bernilai. 14 2. Sumber pemaksa kedua atas tindakan aktor individual adalah lembaga sosial. Hambatan kelembagaan ini menyediakan baik sanksi positif maupun sanksi negatif yang membantu mendorong aktor untuk melakukan tindakan tertentu dan menghindarkan tindakan lain. Selanjutnya, Friedman dan Hecthter dalam Ritzer (2007:358) mengemukakan dua gagasan lain yang menjadi dasar teori pilihan rasional. Pertama, adalah kumpulan mekanisme atau proses yang menggabungkan tindakan aktor individual yang terpisah untuk menghasilkan akibat sosial. Kedua, bertambahnya pengertian tentang pentingnya informasi dalam membuat pilihan rasional. Reward dalam bentuk pemberian dukungan (memilih seorang kandidat) sangat dipengaruhi oleh stimulus yang ada. Stimulus sebagai sebuah produk politik bagi pemilih menurut Kotler, Peter dan Olson sebagaimana yang dikutip oleh Nursal (2004:23), memiliki beberapa tahap respon. Pertama, awareness yakni bila seseorang bila seseorang dapat mengingat atau menyadari bahwa sebuah pihak tertentu merupakan sebuah konstestan pemilih. Dengan jumlah kontestan Pilkada yang banyak, membangun awareness cukup sulit lakukan khususnya bagi partai-partai baru, secara umum para pemilih tidak akan menghabiskan waktu dan energi untuk menghapal nama kontestan tersebut. Kontestan yang tidak memiliki brand awareness. Kedua, knowledge. Kedua hal tersebut diartikan ketika seseorang pemilih mengetahui beberapa unsur penting mengenai produk kontestan tersebut, baik subtansi maupun referensi. Unsur - unsur itu akan di 15 interpretasikan sehingga bentuk makna tertentu dalarn pikiran pernerintah. Ketiga liking, yakni tahap dimana seorang pemilih menyukai kontestan tertentu karena satu atau beberapa makna politis yang terbentuk dalam pikirannya sesuai dengan aspirasinya. Keempat, preference, yakni tahap dimana pemilih menganggap bahwa satu atau heberapa makna politis yang terbentuk sebagai interpretasi terhadap produk politik seorang, kontestan tidak dapat dihasilkan secara lebih oleh kontestan lainnya. Ada kecenderungan pemilih memilih kontestan tersebut. Kelima, conviction, yakni pemilih tersebut sampai pada keyakinan untuk memilih kontestan tertentu. 2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pemilih Adnan Nursal (2004:37) menguraikan sejumlah orientasi pemilih dalam ajang pemilihan umum, antara lain : 1. Sosial imagery atau citra sosial (pengelompokan sosial), menunjukan streotip kandidat atau partai untuk menarik pemilih dengan menciptakan asosiasi antar kandidat atau partai dengan segmen - segmen tertentu dalam masyarakat. Social imagery adalah citra kandidat dalam pikiran pemilih mengenai “berada” didalarn kelompok sosial mana atau tergolong sebagai apa sebuah partai atau kandidat politik. Social imagery dapat terjadi berdasarkan banyak faktor antara lain : a. Demografi 1) Usia (contoh : partai anak muda) 2) Gender (contoh : calon pemimpin dari kelompok hawa) 3) Agama (contoh : partai bercorak Islam, Katolik) 16 b. Sosio ekonomi 1) Pekerjaan (contoh : partai kaum buruh) 2) Pendapatan (contoh : partai wong cilik) c. Kultur dan etnik 1) Kultur (contoh : kandidat adalah seniman, santri) 2) Etnik (contoh : orang Jawa, Sulawesi) d. Politis-ideologi (contoh : partai nasionalis, partai agamis, partai konservatif, partai moderat). 2. Identifikasi partai, bisa menjadi salah satu faktor yang cukup signifikan dalam menentukan pilihan politik sesuai dengan kedekatan terhadap suatu partai yang dihubungkan dengan kandidat. 3. Identifikasi kandidat a. Emosional feelings, dimensi emosional yang terpancar dari sebuah kontestan atau kandidat yang ditunjukan oleh police making yang ditawarkan. b. Kandidat personality, mengaju pada sifat-sifat pribadi yang penting yang dianggap sebagai karakter kandidat. 4. Isu dan kebijakan politik, pengaruh isu dan program bisa memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perilaku pemilih. Semakin tingginya pendidikan pemilih, yang bisa meningkatkan daya kritis, semakin menyebabkan pentingnya peranan isu dan program. 5. Peristiwa-peristiwa tertentu a. Current events, mengacu pada himpunan peristiwa, isu, dan kebijakan yang berkembang menjelang dan selama kampanye. 17 b. Personal events, mengacu pada peristiwa pribadi dan peristiwa yang pernah dialami secara pribadi oleh seorang kandidat. Misalnya, skandal seksual, skandal bisnis, menjadi korban rezim, pernah ikut berjuang dan lain-lain. 6. Epistemic, adalah isu-isu pemilihan yang spesifik dimana dapat memicu keingintahuan pemilih mengenai hal-hal tertentu. Selanjutnya Lipset (2007:181) juga mengemukakan, perilaku pemilih akan dipengaruhi oleh struktur sosial seorang individu, seperti kelompok politik dan sistem politik yang melekat pada individu berdasarkan etnis, agama, atau sistem ekonomi regional. Kemudian Upe (2008:205) menurut hasil penelitiannya menyimpulkan terdapat enam variabel atau faktor sebagai stimulus politik yang mempengaruhi perilaku pemilih dalam memilih kandidat, antara lain : 1. Identifikasi figure Dalam proses Pilkada langsung disebut juga sebagai pemilihan perorangan, hanya saja proses pencalonan melalui seleksi partai politik yang memiliki persentase kursi legislatif yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Bahkan saat ini sudah dimungkinkan pencalonan diluar partai atau lebih dikenal dengan calon independent. Oleh sebab itu, harapan dari momentum ini adalah terpilihnya figur yang berkualitas, sehingga mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik, tentu dengan melihat sosok calon pemimpin yang berkemampuan dan profesional. 18 2. Identifikasi partai politik yang mengusung Secara sosiologis ada kemungkinan faktor ini dapat memberikan kontribusi yang cukup signifikan. Dimana pemilih mengaitkan pilihannya dengan kelompok sosialnya, dalam hal ini partai politik. 3. Isu kampanye Kampanye merupakan proses penyampaian program dari masing-masing pasangan calon melalui pesan-pesan politik yang bertujuan untuk mempengaruhi persepsi, sikap dan perilaku pemilih. 4. Faktor juru kampanye Juru kampanye yang dimaksud yakni siapa saja yang aktif menyampaikan program-program pasangan calon, baik pada saat kampanye maupun diluar kampanye. Tentu saja para juru kampanye tersebut memiliki ikatan yang lebih dekat dengan konstituen di sekitar mere

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

THE ROLE OF EDUCATION COUNSELOR STUDENT SELF IN THE PROCESS OF YOUTH ERADICATE DELINQUENCY (Studies in MAN 1 Bandar Lampung)
0
13
91
FAKTORS THAT INFLUENCE POLITICAL PARTICIPATION AT BANDAR LAMPUNG MAYORAL ELECTION 2010 (Studies on Kemiling District in Bandar Lampung City)
0
4
15
FACTORS THAT INFLUENCE THE VOTING BEHAVIOR OF PERATIN ELECTION IN PEKON KURIPAN SUB DISTRICT NORTH COASTAL DISTRICT WEST LAMPUNG IN 2009
1
11
162
FACTORS THAT LEAD TO THE INTENSITY OF CHILDREN WORKING IN THE INFORMAL SECTOR (Studies in the Seller peddlers, shoeshine and newspaper seller in the District of Raja Basa Bandar Lampung)
3
18
92
THE INFLUENCE OF EDUCATION LEVEL DIVORCE (Studies in Community District Raja Basa Bandar Lampung Year 2009)
0
8
2
Public Perception Of Marriage Begawi Cakak Pepadun In Lampung Community Sungkai (Studies in the Village of Ketapang district South Sungkai of North Lampung)
0
10
2
POLITICAL MARKETING OF RIDHO FICARDO AND BACHTIAR BASRI COUPLE IN GOVERNOR ELECTION OF LAMPUNG YEAR 2014 PEMASARAN POLITIK (POLITICAL MARKETING) PASANGAN RIDHO FICARDO DAN BACHTIAR BASRI DALAM PEMILIHAN GUBERNUR LAMPUNG TAHUN 2014
1
14
63
MANAGEMENT OF WASTE DISPOSAL IN THE CITY OF BANDAR LAMPUNG (Study at the Office of Waste and Landscaping in Municipal City of Bandar Lampung)
1
11
102
THE ORDERLY ADMINISTRATION OF STANDARDIZATION OF TOPOGRAPHICAL NAMES IN BANDAR LAMPUNG STUDIES IN BANDAR LAMPUNG GOVERNMENT OFFICE SUBSECTIONS OF THE VILLAGE GOVERNMENT TERTIB ADMINISTRASI PEMBAKUAN NAMA RUPABUMI DI KOTA BANDAR LAMPUNG STUDI PADA KANTOR P
0
5
76
42055 ID the role of religion in voters preference during general election 2014 in centra
0
0
12
Suasana Pasar murah Polda Lampung di Kemiling Bandar Lampung
0
0
2
Pasar Murah Polda Lampung di Kemiling Bandar Lampung
0
0
2
A Game of Women Representation Policy Implementation In District of Jember in 2014 Election
0
0
27
Portrait of politeness in language by the supporters of governor’s candidates in the discourse of Jakarta election
0
1
8
Portrait of politeness in language by the supporters of governor’s candidates in the discourse of Jakarta election
0
0
8
Show more