Pengaruh Pendidikan dan Kesehatan terhadap Produktivitas Tenaga Kerja di Kabupaten Tangerang Periode Tahun 2002-2011

Full text

(1)

PENGARUH PENDIDIKAN DAN KESEHATAN TERHADAP PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI KABUPATEN TANGERANG

PERIODE 2002-2011

Oleh:

Poppy Ameliyah 1060 8400 2750

JURUSAN ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)

PENGARUH PENDIDIKAN DAN KESEHATAN TERHADAP PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI KABUPATEN TANGERANG

PERIODE TAHUN 2002-2011

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untuk Memenuhi Syarat-syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh: Poppy Ameliyah

1060 8400 2750

JURUSAN ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

i

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS PRIBADI

1. Nama : Poppy Ameliyah

2. Tempat, Tanggla Lahir : Tangerang, 12 Juni 1988

3. Alamat : Jln. Raya Mauk KM. 11 No. 80 Sepatan, Tangerang

4. Email : amelia.poppy@ymail.com

II. PENDIDIKAN

1. SD Negeri 01 Sepatan 1994-2000 2. SMP Negeri 01Sepatan 2000-2003 3. SMA Al-Masthuriyah Sukabumi 2003-2006 4. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2006-2013

III. LATAR BELAKANG KELUARGA 1. Ayah : H. Ahmad Basori 2. Tempat & Tgl Lahir : Tangerang, 20 Juni1960 3. Ibu : Hj. Dini Sugiartini

4. Tempat & Tgl Lahir : Tangerang, 30 September 1970

5. Alamat : Jln. Raya Mauk KM. 11 No. 80 Sepatan, Tangerang

(8)

ii

ABSTRACTION

Productivity is basically an effectiveness factor inputs in producing output. Increase in the number of workers who are not accompanied by an increase in the performance of workers will affect the production process and will ultimately hamper economic growth.

Through analysis of the regression with metode OLS (Ordinary Least Square) by program Eviews 5.1, writer tries to explain the influence of the level of education and health on labor productivity in Tangerang regency period 2002-2011. The data used in this research are the secondary data which taken from BPS Banten province and BPS Tangerang regency.

The result is a level of education and health affect labor productivity in Tangerang regency period 2002-201. Partially education had no significant effect on labor productivity. While significant effect of health on labor productivity.

(9)

iii ABSTRAKSI

Produktivitas pada dasarnya merupakan efektivitas faktor input dalam menghasilkan output. Peningkatan jumlah tenaga kerja yang tidak disertai dengan peningkatan kinerja pekerja tersebut akan mempengaruhi proses produksi dan pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Dengan menggunakan metode OLS (Ordinary Least Square) pada program Eviews 5.1, penelitian ini berusaha menjelaskan pengaruh tingkat pendidikan dan kesehatan terhadap produktivitas tenaga kerja di kabupaten Tangerang periode 2002-2011. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diambil dari BPS provinsi Banten dan BPS kabupaten Tangerang.

Hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti menyatakan bawha tingkat pendidikan dan kesehatan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja di kabupaten Tangerang periode 2002-2011. Secara parsial tingkat pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja. Sedangkan kesehatan berpengaruh signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja.

(10)

iv

KATA PENGANTAR

Alhamdulillaahirobbil’alamiin. Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis mampu

menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pendidikan dan Kesehatan Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja Di Kabupaten Tangerang Periode 2002-2011”. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Rasululllah SAW beserta keluarganya, para sahabat dan seluruh pengikut Beliau yang insya Allah tetap istiqomah hingga akhir zaman kelak, Amin. Dengan selesainya penyusunan dan penulisan skripsi ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis. Adapun ungkapan terima kasih ini penulis tujukan kepada: 1. Orang tua tercinta (H. A. Basori, S. Sos dan Hj. Dini Sugiartini), sumber

motivasi bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih atas semua doa dan dukungan yang telah diberikan padaku sampai detik ini. Semoga suatu saat aku dapat membalas kebaikan yang diberikan dan dapat menjadi kebanggaan bagi Bapak dan Mama. Amin.

2. Prof. Dr. Abdul Hamid, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Dr. Lukman, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP).

4. Utami Baroroh, M.Si selaku Sekertaris Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan yang telah memberi dukungan dan motivasi kepada seluruh mahasiswa.

(11)

v

penulis. Arahan dan bimbingan yang sangat bermanfaat untuk penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

6. Zuhairan Yunmi Yunan, SE, Ms.C, selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan waktu, penuh kesabaran dalam membimbing, memotivasi dan mengarahkan penulis. Arahan dan bimbingan yang sangat bermanfaat untuk penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

7. Seluruh Dosen FEB atas ilmunya yang bermanfaat, semoga dapat menjadi amalan di akhirat kelak. Khususnya untuk Ibu Lili yang begitu baik dan murah hati untuk memudahkan saya dalam urusan di akademik jurusan IESP.

8. Suamiku tercinta (Mas Anggit Tiantoro S. Kom), terimakasih atas motivasinya untuk tetap berusaha dan semangat menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih juga karena memberikan keceriaan saatku bosan.

9. Adik-adikku tersayang (Yahdimayyasya dan M. Gilang Al-fajri), terima kasih sudah sering anter teteh ke kamus, terima kasih juga telah membuat hari-hari teteh menjadi indah. Jadilah anak yang membanggakan orangtua yaa dan keluarga...^_^

10. My best friend, Muthia Dewi Andarini, terimakasih untuk persahabatan yang luar biasa, 6 tahun lebih dalam tangis dan tawa bersama kamu adalah sesuatu yang sangat berharga dan takkan terlupakan dalam hidupku. Terimakasih juga untuk ketulusan mengantar, menemani dan membantu penulis dalam mengambil data.

(12)

vi

12. Teman-teman IESP A dan B angkatan 2006 dan untuk semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, terima kasih yang terdalam untuk bantuan, dukungan, dan doanya. Semoga keberkahan dan kesuksesan selalu menyertai kita semua. Amin.

13. Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan skripsi ini yang tidak dapatdisebutkan satu demi satu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangatlah diharapkan penulis dalam mencapai kesempurnaan skripsi ini.

Akhir kata penulis mengharapkan semoga penelitian ini dapat berguna dan bermanfaaat bagi penulis dan pihak lain yang membutuhkan. Terima Kasih

Jakarta, September 2013

(13)

vii DAFTAR ISI

DAFTAR RIWAYAT HIDUP... i

ABSTRACTION... ii

ABSTRAKSI... iii

KATA PENGANTAR... iv

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL... xi

DAFTAR GAMBAR... xii

DAFTAR LAMPIRAN... xiii

BAB I PENDAHULUAN………... 1

A. Latar Belakang Masalah………... 1

B. Perumusan Masalah………... 14

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian………... 15

1. Tujuan Penelitian……….. 15

2. Manfaat Penelitian……… 15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA……… 16

A. Produktivitas Tenaga Kerja... 16

1. Pengertian Produktivitas Tenaga Kerja……….. 16

2. Pengukuran Produktivitas Kerja………...…...…... 18

(14)

viii

B. Pendidikan……...………...……... 25

1. Pengertian Pendidikan... 25

2. Tujuan dan Proses Pendidikan... 29

a) Tujuan Pendidikan... 29

b) Proses Pendidikan... 30

C. Kesehatan dan Indeks Pembangunan Manusia... 30

1. Pengertian Kesehatan....………... 30

2. Jenis-jenis Kesehatan Menurut Sifatnya... 32

3. Pengertian Indeks Pembangunan Manusia (IPM)... 35

D. Penelitian Sebelumnya... 40

E. Kerangka Berfikir... 44

F. Hipotesis Penelitian... 49

G. Keterkaitan Antar Variabel... 50

1. Hubungan Antara Pendidikan Dan Produktivitas Tenaga Kerja... 50

2. Hubungan Antara Kesehatan Dan Produktivitas Tenaga Kerja... 50

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 53

A. Ruang Lingkup Penelitian... 53

B. Metode Pengeumpulan Data... 53

C. Metode Analisis Data... 54

1. Analisis Kuantitatif... 54

2. Analisis Regresi... 55

D. Uji Asumsi Klasik... 55

1. Uji Normalitas... 56

2. Uji Multikolinieritas... 56

(15)

ix

4. Uji Autokorelasi... 58

5. Uji Statistik... 58

a. Uji Signifikan Simultan (Uji F-Statistik)... 58

b. Koefisien Determinasi (R2)... 59

c. Uji Signifikan Parsial (Uji t-Statistik)... 59

E. Definisi Operasional Variabel... 60

1. Variabel Dependen... 60

2. Variabel Independen... 60

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN... 63

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian... 63

1. Keadaan Geografis Kabupaten Tangerang... 63

2. Potensi Ekonomi Kabupaten Tangerang... 65

3. Perkembangan Kabupaten Tangerang... 66

B. Analisis dan Pembahasan... 68

1. Hasil Uji Asumsi Klasik... 68

a. Uji Normalitas... 68

b. Uji Multikolinieritas... 69

c. Uji Heteroskedastisitas... 70

d. Uji Autokolerasi... 71

2. Hasil Uji Regresi Metode OLS... 72

3. Hasil Uji Statistik... 74

a. Uji F Statistik... 74

b. Koefisien Determinasi (R2)... 74

c. Uji Parsial (t Statistik)... 74

4. Interpretasi Hasil Ekonomi... 78

(16)

x

Tenaga Kerja... 80

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 82

A. Kesimpulan... 82

B. Saran... 83

DAFTAR PUSTAKA... 84

(17)

xi

DAFTAR TABEL

Nomor Keterangan Hal

Tabel 1.1 Data Penduduk Kabupaten Tangerang... 3

Tabel 1.2 Data Produktivitas Tenaga Kerja Kab. Tangerang... 6

Tabel 1.3 Data Tenaga Kerja Menurut Tingkat Pendidikan yang di Tamatkan di Kab. Tangerang... 8

Tabel 1.4 Rata-rata Lama Pendidikan di Kab. Tangerang... 9

Tabel 1.5 Data Tingkat Kesehatan Tenaga Kerja di Kab. Tangerang... ... 11

Tabel 2.1 Penelitian Sebelumnya... ... 42

Tabel 4.1 Hasil Uji Multikolinieritas... 70

Tabel 4.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas... 71

Tabel 4.3 Hasil Uji Autokorelasi... ... 72

(18)

xii

DAFTAR GAMBAR

Nomor Keterangan Hal

Gambar 2.1 Skema Hubungan Kesehatan dengan

Produktivitas... ... 34

Gambar 2.2 Skema Kerangka Pemikiran... ... 45

Gambar 4.1 Peta Kabupaten Tangerang... 61

(19)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Keterangan Hal

Lampiran 1 Data Tingkat Pendidikan, Kesehatan dan

Produktivitas ... .... 84 Lampiran 2 Hasil Olah Data Menggunakan Metode OLS... .... 86 Lampiran 3 Hasil Normalitas Menggunakan JB Test... .... 87 Lampiran 4 Hasil Uji Multikolinieritas Dengan Correlation

(20)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Usaha memperbaiki kehidupan masyarakat agar lebih sejahtera sangat diharapkan terjadi dan dijadikan sebagai fokus dasar pembangunan ekonomi dalam suatu daerah. Pengentasan kemiskinan, menekan laju pengangguran, dan penyediaan lapangan pekerjaan yang memadai merupakan tugas mendesak yang hendak dikerjakan kearah itu. Menurut Herbinson (Todaro, 2003) Peningkatan pemanfaatan peran manusia dalam kegiatan pembangunan mutlak diperlukan mengingat bahwa sumber daya manusialah sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi dan sekaligus menjadi pemanfaat dari kegiatan pembangunan yang dilakukan.

Pembangunan merupakan suatu upaya untuk mencapai pertumbuhan kesejahteraan sosial, yaitu berupa kegiatan-kegiatan yang dilakukan suatu negara untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan taraf hidup masyarakat (Arsyad, 2003). Oleh karena itu, pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia dan masyarakat yang dilakukan secara berkelanjutan, berlandaskan kemampuan nasional, dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan global. Membangun

(21)

2 kesejahteraan rakyat adalah meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat yang layak dan bermartabat dengan memberi perhatian utama pada tercukupinya kebutuhan dasar yaitu pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan dan lapangan kerja (Propenas, 2005).

Pembangunan ekonomi suatu daerah atau suatu negara pada dasarnya merupakan interaksi dari berbagai kelompok variabel antara lain sumber daya manusia, sumber daya alam, modal, teknologi dan lain-lain. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi tidak lepas dari peran manusia dalam mengelolanya. Dimana manusia merupakan tenaga kerja, input pembangunan, juga merupakan konsumen hasil pembangunan itu sendiri.

Ketenagakerjaan merupakan aspek yang amat mendasar dalam kehidupan manusia karena mencakup dimensi sosial dan ekonomi. Salah satu tujuan penting dalam pembangunan ekonomi adalah penyediaan lapangan kerja yang cukup untuk mengejar pertumbuhan angkatan kerja, yang pertumbuhannya lebih cepat dari pertumbuhan kesempatan kerja (BAPPEDA Kab. Tangerang).

(22)

3 menyediakan tenaga kerja berlimpah sehingga mampu menciptakan nilai tambah bagi produksi nasional jika kualitasnya bagus. Namun, akan menjadi beban apabila kualitasnya rendah karena memiliki kemampuan dan produktivitas yang terbatas dalam menghasilkan produksi untuk kebutuhan pangan, sandang dan papan. Kondisi tingginya jumlah penduduk tetapi memiliki kemampuan yang rendah inilah yang menjadi masalah ketenagakerjaan di Indonesia selama ini (Tambunan, 2012).

Kabupaten Tangerang merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Banten yang memiliki jumlah penduduk tinggi, sehingga angkatan kerja tergolong tinggi. Hal ini dapat dilihat pada tabel 1.1 :

(23)

4 Tabel 1.1 diatas merupakan tabel banyaknya penduduk di Kabupaten Tangerang tahun 2002-2011. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu tahun 2002-2011, jumlah penduduk Kabupaten Tangerang cenderung meningkat setiap tahunnya. Jumlah penduduk tertinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu 3.585.296 jiwa, namun terjadi penurunan pada tahun 2009 yaitu menjadi 2.565.279 jiwa. Sedangkan jika dilihat dari kolom laju pertumbuhan penduduk (LPP) yang tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 10,489 % dan terendah terjadi pada tahun 2009 yaitu sebesar -28,450 %. Hal ini disebabkan karena terjadinya pemekaran di Kabupaten Tangerang sehingga terbentuk Tangerang Selatan. Pada saat Tangerang Selatan masih bergabung, total penduduk Kabupaten Tangerang saat itu mencapai 3,5 juta jiwa (berdasarkan data kependudukan tahun 2009) yang mencakup 36 kecamatan. Kini Kabupaten Tangerang tinggal 26 Kecamatan setelah tujuh kecamatan yaitu Ciputat, Ciputat Timur, Serpong, Serpong Utara, Pondok Aren, Pamulang dan Setu resmi bergabung dengan Kota Tangerang Selatan dengan penduduk sekitar 1,2 juta jiwa.

(24)

5 kuantitas dan kualitas, bisa juga diartikan bekerja secara efektif dan efisien. Karena itu antara produktivitas, efektif dan efisien serta kualitas sangat berdekatan artinya. Sumber-sumber ekonomi yang digerakkan secara efektif memerlukan keterampilan organisatoris dan teknis, sehingga mempunyai tingkat hasil guna yang tinggi. Artinya, hasil ataupun output yang diperoleh seimbang dengan masukan (sumber-sumber ekonomi) yang diolah (Sinungan, 2005).

(25)

6 yang akan menunjukkan tingkat produktivitas tenaga kerja di Kabupaten Tangerang.

Tabel 1.2 Tingkat Produktivitas Tenaga Kerja Di Kabupaten Tangerang Tahun 2001-2011

Tahun

PDRB Tenaga Kerja Produktivitas Pertumbuhan Harga 2001 2010 34,802,038.00 1,116,381 31,174 10,71 2011 35,026,894.13 1,136,414 30,822 -1,14 Sumber: BPS Kab. Tangerang, hasil olahan (2001-2011)

(26)

7 Pertumbuhan tinggi disebabkan terjadinya penurunan jumlah tenaga kerja yang bekerja sementara PDRB mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Sebaliknya terjadi penurunan nilai PDRB dan jumlah tenaga kerja di tahun 2004-2005 sehingga menyebabkan pertumbuhan produktivitas tenaga kerja menjadi negatif. Kemudian pada 2005-2006 pertumbuhan meningkat menjadi sebesar 9,57 persen dan terjadi penurunan kembali tahun 2006-2007 sampai 2008-2009. Pada tahun 2005 produktivitas tenaga kerja terjadi penurunan. Namun, produktivitas tenaga kerja di Kabupaten Tangerang dari tahun ke tahun semakin baik di dukung oleh meningkatnya sumber daya manusia yang bermutu.

(27)

8 menunjukkan jumlah tenaga kerja yang bekerja di Kabupaten Tangerang ditinjau dari tingkat pendidikan yang ditamatkan.

Tabel 1.3 Tenaga Kerja yang Bekerja Menurut Pendidikan Yang Ditamatkan di Kab. Tangerang Tahun 2002-2011

Tahun Pendidikan Yang Ditamatkan (jiwa) Jumlah (Jiwa)

SD SLTP SLTA P.T

2002 227.397 264.310 326.891 91.467 910.065 2003 229.644 269.067 330.532 97.367 926.610 2004 233.273 273.398 338.011 99.701 944.383 2005 239.813 273.576 349.667 109.550 972.606 2006 247.696 285.902 350.914 115.038 999.550 2007 252.110 289.861 361.899 117.709 1.021.579 2008 260.647 291.106 390.403 138.088 1.080.244 2009 276.580 294.261 414.834 117.528 1.103.203 2010 283.643 289.045 414.993 128.700 1.116.381 2011 285.055 294.107 425.421 131.831 1.136.414 Sumber: BPS Kab. Tangerang, diolah ( 2002-2011)

(28)

9 pendidikan yang ditamatkan yaitu SD, SLTP, SLTA dan PT (Perguruan Tinggi) dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Namun bila dilihat kolom SLTA dengan PT (Perguruan Tinggi) itu terjadi penurunan. Hal ini terjadi karena masyarakat di Kabupaten Tangerang kebanyakan tidak melanjutkan ke PT (Perguruan Tinggi).

Tabel 1.4 Rata-rata Lama Pendidikan di Kabupaten Tangerang Tahun 2001-2011

Sumber: BPS Kab. Tangerang 2001-2011

Tabel di atas merupakan tabel rata-rata lama pendidikan di Kabupaten Tangerang tahun 2001-2011. Dari tabel diatas diketahui banyaknya tenaga kerja yang bekerja menurut tingkat pendidikan di Kabupaten Tangerang dari 2002-2011 selalu mengalami peningkatan secara

Tahun Rata-rata

Lama Sekolah (Tahun)

2001 8,60

2002 8,60

2003 8,60

2004 8,60

2005 8,90

2006 8,90

2007 8,90

2008 8,90

2009 8,90

2010 8,93

(29)

10 fluktuatif. Sedangkan pada tabel 1.4 dapat dilihat rata-rata pendidikan yang tertinggi terjadi pada tahun 2011 yaitu 8,94.

Dalam kaitannya dengan produktivitas tenaga kerja, pendidikan diasumsikan sebagai bentuk investasi yang membantu meningkatkan kapasitas produksi yang menyebabkan peningkatan kualitas kerja. Kata lain, ilmu pengetahuan yang dimiliki tenaga kerja dapat memberikan kontribusi langsung pada pelaksanaan tugas. Di samping itu, pendidikan juga menjadi landasan pengembangan diri bagi tenaga kerja yang mampu memanfaatkan sumber daya yang ada. Semakin tinggi pendidikan tenaga kerja maka cenderung produktifitas semakin meeningkat dan akhirnya potensial dapat meningkatkan output bagi suatu daerah. Berkaitan dengan itu, Hidayat (1990) menyatakan bahwa suatu daerah tidak akan sanggup membangun daerahnya jika tidak mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki masyarakatnya serta tidak dapat memanfaatkan potensi sumber daya yang ada secara optimal.

(30)

11 seluruhnya menjadi tanggung jawab pemerintah, cara yang praktis untuk perbaikan gizi adalah dengan memperbaiki sistem pengupahan mereka agar cukup memenuhi kebutuhan hidup minimumnya termasuk kebutuhan gizi minimumnya. Rendahnya tingkat gizi kesehatan disebabkan oleh rendahnya tingkat penghasilan. Rendahnya tingkat penghasilan tercermin dalam tingkat pengeluaran keluarga yang rendah dan tingkat upah yang rendah. Sebagai gambaran tabel 1.5 akan menjelaskan tingkat kesehatan tenaga kerja di Kabupaten Tangerang:

Tabel 1.5 Tingkat Kesehatan Tenaga Kerja di Kabupaten Tangerang Tahun 2001-2011

Tahun

Sumber: BPS Provinsi Banten 2001-2011

(31)

12 dielaskan bahwa IPM di Kabupaten Tangerang dari tahun 2002 sampai 2011 mengalami pengingkatan yang fluktuatif. Berdasarkan data IPM dapat ditentukan kebutuhan daerah berdasarkan segi harapan hidup dan pendapatan. Dengan demikian, pemerintah dapat melakukan perhitungan dan penetapan anggaran dalam sektor kesehatan, yang keseluruhannya untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sehingga dapat melaksanakan pekerjaannya dalam kondisi fisik dan mental yang baik (Sihombing, 2009).

(32)

13 pendidikan juga dapat dilihat sebagai komponen pertumbuhan dan pembangunan yang vital/sebagai input fungsi produksi agregat. Peran gandanya sebagai input maupun output menyebabkan kesehatan dan pendidikan sangat penting dalam pembangunan ekonomi.

(33)

14 Dari paparan di atas penulis merasa tertarik untuk mengkaji sejauh mana “Pengaruh Pendidikan dan Kesehatan Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja di Kabupaten Tangerang Periode Tahun 2002-2011”.

B. PERUMUSAN MASALAH

Banyak faktor yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja, antara lain pendidikan dan latihan keterampilan, gizi atau nutrisi, kesehatan, bakat atau bawaan, motivasi atau kemauan, kesempatan kerja, kesempatan manajemen dan kebijakan pemerintah (Soeprihanto, 1996:7). Oleh karena keterbatasan peneliti maka pada penelitian ini peneliti hanya membatasi pada pendidikan dan kesehatan, serta yang diteliti adalah tenaga kerja di Kabupaten Tangerang.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan diatas, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:

1) Seberapa besar pengaruh tingkat pendidikan secara parsial terhadap produktivitas tenaga kerja di Kabupaten Tangerang?

2) Seberapa besar pengaruh tingkat kesehatan secara parsial terhadap produktivitas tenaga kerja di Kabupaten Tangerang?

(34)

15 C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

1. Tujuan Penelitian

Dari perumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1) Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat pendidikan terhadap produktivitas tenaga kerja di kabupaten Tangerang.

2) Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat kesehatan terhadap produktivitas tenaga kerja di kabupaten Tangerang.

3) Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat pendidikan dan kesehatan terhadap produktivitas tenaga kerja di kabupaten Tangerang.

2. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak–pihak berikut ini : a. Bagi penulis sebagai wujud penerapan ilmu-ilmu yang selama ini

telah diperoleh selama kuliah yang diinginkan sebagai syarat untuk menyelesaikan jenjang pendidikan Strata satu (S-1).

(35)

16 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Produktivitas Tenaga Kerja

1. Pengertian produktivitas Tenaga Kerja

Produktivitas berasal dari bahasa inggris "Product" yaitu hasil, dan

“production” yaitu kegiatan atau proses memproduksi sesuatu.

Selanjutnya, "Productive" yang berarti menghasilkan, dan “Productivity” yaitu kemampuan menghasilkan sesuatu. Perkataan itu dipergunakan dalam bahasa Indonesia menjadi produktivitas (Ndraha, 1997).

Ndraha (1997) memberikan pengertian produktivitas adalah suatu hubungan antara masukan-masukan (input) dengan keluaran-keluaran (output) suatu produksi. Sedangkan Umar (1999), mengartikan produktivitas adalah sebuah konsep yang menggambarkan hubungan antara hasil (jumlah barang dan jasa) yang diproduksikan dengan sumber daya yang dipakai (jumlah tenaga kerja, modal, tanah, energi dan sebagainya) yang dipakai untuk menghasilkan produk tersebut.

Menurut Arfida (2003), Produktivitas mengandung pengertian filosofis, definisi kerja, dan operasional. Secara filosofis produktivitas mengandung pengertian sikap mental yang selalu mempunyai pandangan

(36)

17 bahwa kehidupan hari ini lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.

a. Secara definisi kerja, produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan.

b. Peningkatan produktivitas dapat dilihat dalam empat bentuk yaitu : 1) Jumlah produksi yang sama dapat diperoleh dengan menggunakan

sumber daya yang lebih sedikit.

2) Jumlah produksi yang lebih besar diperoleh dengan menggunakan sumber daya yang lebih sedikit.

3) Jumlah produksi yang jauh lebih besar diperoleh dengan menggunakan sumber daya yang relatif sama.

4) Jumlah produksi yang jauh lebih besar diperoleh dengan pertambahan sumber daya yang lebih kecil.

Menurut Hasibuan (2003) “produktivitas kerja adalah perbandingan antara output dengan input dimana output harus mempunyai nilai tambah

dan teknik pengerjaannya yang lebih baik“.

Sritomo Wignjosoebroto (2003), mengatakan bahwa “Produktivitas

dari tenaga kerja ditunjukan sebagai rasio dari jumlah keluaran yang dihasilkan per total tenaga kerja yang jam manusia (man hours), yaitu jam

(37)

18 Paul Mali (1978), yang dikutip oleh Sedarmayanti (2001) mengutarakan bahwa produktivitas adalah bagaimana menghasilkan atau meningkatkan hasil barang dan jasa setinggi mungkin dengan memanfaatkan sumber daya secara efisien. Oleh karena itu produktivitas sering diartikan sebagai rasio antara keluaran dan masukan dalam satuan waktu tertentu.

Produktivitas pada dasarnya merupakan efektivitas faktor input dalam menghasilkan output. Banyak pengukuran produktivitas yang diketahui, produktivitas lahan, tenaga kerja, modal, dan lain-lain. Produktivitas faktor produksi yang selalu dipakai dalam proses produksi. Namun demikian ada satu pengukuran produktivitas yang sangat menarik untuk diperhatikan. Produktivitas dapat digambarkan dalam dua pengertian yaitu secara teknis dan finansial. Pengertian produktivitas secara teknis adalah pengefesiensian produksi terutama dalam pemakaian ilmu dan teknologi. Sedangkan pengertian produktivitas secara finansial adalah pengukuran produktivitas atas output dan input yang telah dikuantifikasi.

2. Pengukuran Produktivitas

Pengukuran produktivitas berfungsi untuk mengetahui dan membandingkan efisiensi produksi perusahaan dari tahun ke tahun. Seperti

dikemukakan oleh Muchdarsyah Sinungan (2008) bahwa “Produktivitas

(38)

19

pelaksanaan historis”. Dengan menggunakan sumber daya yang sama

pelaksanaan produktivitas akan neningkat atau sama, pertambahan sumber daya yang relatif kecil akan meningkatkan produksi atau tidak. Pengukuran seperti ini menunjukkan pencapaian yang relatif, perbandingan pelaksanaan sekarang dengan target.

Secara umum ada dua jenis pengukuran produktivitas, yaitu: a) Produktivitas total(Multiple factor produktivity)

Produktivitas dari berbagai faktor penyuaun dapat diukur dari faktor penyusunnya, seperti tanah, modal, teknologi, tenaga kerja dan bahan baku. Produktivitas total secara umum adalah perbandingan antara total output dengan total input, semua input yang digunakan dalam proses produksi. Rumus produktivitas total secara umum menurut Muchdarsyah sinungan (2008) adalah sebagai berikut:

b) Produktivitads parsial (Single factor productivity)

Produktivitas yang diukur dari satu faktor. Biasanya yang sering menggunakan produktivitas parsial ini adalah produktivitas tenaga kerja atau produktivitas individu. Rumus produktivitas parsial menurut Sinungan (2008) adalah sebagai berikut:

(39)

20 Selain dikemukakan Muchdarsyah, pengukuran produktivitas parsial juga dikemukakan oleh Vincent Gasperz (2000), Produktivitas parsial (single factor produktivity) merupakan produktivitas salah satu jenis. Misalnya produktivitas parsial yang sering dihitung, yaitu produktivitas

tenaga kerja”.

Produktivitas tenaga kerja merupakan produktivitas parsial karena hanya salah satu input yang diukur, yaitu smber daya manusia atau tenaga kerja. Dalam penelitian ini input dan output yang digunakan dinyatakan dalam nilai (rupiah) sehingga disebut ukuran produktivitas tenaga kerja.

Dari pengertian pengukuran produktivitas kerja diatas, maka dalam penelitian ini pengukuran produktivitas kerja dihitung dengan melihat kuantitas produk yang dihasilkan tiap karyawan per satuan waktu. Dengan adanya pengukuran produktivitas dapat diketahui produktivitasnya menurun atau meningkat untuk selanjutnya perusahaan menentukan kebijakan yang tepat apabila produktivitasnya menurun maupun memberikan penghargaan

Produktivitas parsial = hasil total / masukan parsial

(40)

21 apabila produktivitasnya meningkat secara intensif (www.jurnal-sdm.blogspot.com).

Dalam melakukan pengukuran produktivitas, beberapa pendekatan yang dilakukan dalam membandingkan tingkat hasil pengukuran produktivitas dapat dibedakan dengan beberapa cara, yaitu:

a) Membandingkan unit kerja periode yang diukur dengan unit kerja periode dasar.

b) Membandingkan unit kerja suatu organisasi dengan unit organisasi yang lain.

c) Membandingkan unit kerja yang sebenarnya dengan target yang telah ditetapkan (www.jurnal-sdm.blogspot.com).

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja

Banyaknya faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja, baik yang berhubungan tenaga kerja maupun yang berhubungan dengan lingkungan perusahaan dan kebijaksanaan pemerintah secara keseluruhan. Menurut balai pengembangan produktivitas daerah yang dikutip oleh Soedarmayanti bahwa ada enam faktor utama yang menentukan produktivitas tenaga kerja, adalah :

(41)

22 b) Tingkat keterampilan yang ditentukan oleh pendidikan latihan dalam

manajemen supervise serta keterampilan dalam tehnik industri.

c) Hubungan tenaga kerja dan pimpinan organisasi yang tercermin dalam usaha bersama antara pimpinan organisasi dan tenaga kerja untuk meningkatkan produktivitas melalui lingkaran pengawasan mutu

(Quality control circles).

d) Manajemen produktivitas, yaitu : manajemen yang efesien mengenai sumber dan sistem kerja untuk mencapai peningkatan produktivitas. e) Efesiensi tenaga kerja, seperti : perencanaan tenaga kerja dan tambahan

tugas.

f) Kewiraswastaan, yang tercermin dalam pengambilan resiko, kreativitas dalam berusaha, dan berada dalam jalur yang benar dalam berusaha (www.jurnal-sdm.blogspot.com).

Disamping hal tersebut terdapat pula berbagai faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja, diantaranya adalah :

a) Sikap mental, berupa: Motivasi kerja, disiplin kerja dan etika kerja b) Pendidikan; Pada umumnya orang yang memiliki pendidikan lebih

tinggi akan mempunyai wawasan yang lebih luas terutama penghayatan akan arti pentingya produktivitas dapat mendorong pegawai yang bersangkutan melakukan tindakan yang produktif

(42)

23 dengan baik. Pegawai akan lebih menjadi terampil apabila mempunyai kecakapan (Ability) dan pengalaman (Experience) yang cukup.

d) Manajemen; Pengertian manajemen ini berkaitan dengan sistem yang dikaitkan oleh pimpinan untuk mengelola ataupun memimpin serta mengendalikan staf/bawahannya. Apabila manajemennya tepat akan menimbulkan semangat yang lebih tinggi sehingga dapat mendorong pegawai untuk melakukan tindakan yang produktif.

e) Hubungan industrial pancasila; Dengan penerapan hubungan industrial pancasila, maka akan :

1) Menciptakan ketenangan kerja dan memberikan motivasi kerja secara produktif sehingga produktifitas meningkat.

2) Menciptakan hubungan kerja yang serasi dinamis sehingga menumbuhkan partisipasi dalam usaha meningkatkan produktivitas.

3) Menciptakan harkat dan martabat pegawai sehingga mendorong diwujudkannya jiwa yang berdedikasi dalam upaya peningkatan produktivitas.

f) Tingkat penghasilan; Apabila tingkat penghasilan memadai maka dapat menimbulkan konsentrasi kerja dan kemampuan yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas

(43)

24 semangat kerja. Apabila jaminan sosial pegawai mencukupi maka akan dapat menimbulkan kesenangan bekerja. Sehingga mendorong pemanfaatan kemampuan yang dimiliki untuk meningkatkan produktivitas kerja.

h) Lingkungan dan iklim kerja; Lingkungan dan iklim yang kerja yang baik akan mendorong pegawai akan senang bekerja dan meningkatkan rasa tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan dengan lebih baik menuju kearah peningkatan produktivitas.

i) Sarana produksi; Mutu sarana produksi sangat berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas. Apabila sarana produksi yang digunakan tidak baik kadang-kadang dapat menimbulkan pemborosan bahan yang dipakai.

j) Teknologi; Apabila teknologi yang dipakai tepat dan tingkatannya maka akan memungkinkan tepat waktu dalam penyelesaian proses produksi, jumlah produksi yang dihasilkan lebih banyak dan bermutu dan memperkecil terjadinya pemborosan bahan sisa. Dengan memperhatikan hal termaksud, maka penerapan teknologi dapat mendukung peningkatan produktivitas.

(44)

25 menimbulkan psikologis untuk meningkatkan dedikasi serta pemanfaatan potensi yang dimiliki untuk meningkatkan produktivitas kerja.

Dari berbagai faktor produktivitas tersebut diatas, maka dapat diperjelas bahwa tiap-tiap faktor adalah saling mempengaruhi peningkatan produktivitas baik secara langsung maupun tidak langsung. Pendidikan membentuk dan menambah pengetahuan seseorang untuk menambah pengetahuan seseorang untuk mengerjakan sesuatu dengan lebih cepat dan lebih tepat. Latihan membentuk dan meningkatkan keterampilan kerja. Dengan demikian tingkat produktivitas kerja seseorang pegawai akan semakin tinggi pula (www.scribd.com/Konsep-Produktivitas).

B. Pendidikan

1. Pengertian Pendidikan

(45)
(46)

27 bagi wanita, mendorong keadilan dan membantu perkembangan pembangunan nasional.

Pendapat lain tentang pengertian pendidikan dikemukakan oleh Agus (2001), pendidikan merupakan usaha sistematis dan berkelanjutan secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu untuk menyampaikan, menumbuhkan, dan mendapatkan pengetahuan, sikap, nilai dan kecakapan (skill) kepada manusia sebagai tenaga kerja (man power). Melalui kegiatan ini aspek kualitas hidup manusia dapat diperbaiki. Untuk itu optimalisasi program di bidang ini mutlak diperlukan guna menciptakan tenaga kerja yang berpengetahuan dan terampil yang pada gilirannya menghantar pertumbuhan ekonomi. Di tambahkan oleh Tajuddin (1995), tinggi rendahnya pendidikan tenaga kerja akan mempengaruhi tingkat produktifnya tenaga kerja itu sendiri. Diakuinya dengan pendidikan yang tinggi tenaga kerja akan memiliki kemampuan untuk memanfaatkan dan mengelola sumber daya yang ada dalam suatu daerah yang berguna bagi proses produksi dan akhirnya berdampak pada peningkatan penghasilan ekonomi tenaga kerja.

Pengertian pendidikan bila dikaitkan dengan penyiapan tenaga

kerja menurut Umar Tirtarahardja dan La Sulo (1994), “Pendidikan

sebagai penyiapan tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing

peserta didik sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja”. Sebagaimana

(47)

28 seseorang dipersiapkan untuk memiliki bekal agar siap tahu, mengenal dan mengembangkan metode berpikir secara sistematik agar dapat memecahkan masalah yang akan dihadapi dalam kehidupan dikemudian hari.

(48)

29 keterampilan yang dimiliki masyarakat, dan sebaliknya yang terjadi adalah keterpurukan dan ketertinggalan suatu daerah apabila pengetahuan dan keterampilan masyarakat tidak termanfaatkan dengan baik.

2. Tujuan dan Proses Pendidikan a) Tujuan pendidikan

Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.

Adapun tujuan pendidikan terbagi atas empat yaitu :

1) Tujuan umum pendidikan nasional yaitu untuk membentuk manusia pancasila.

2) Tujuan institusional yaitu tujuan yang menjadi tugas dari lembaga pendidikan tertentu untuk mencapainya.

3) Tujuan kurikuler yaitu tujuan bidang studi atau mata pelajaran. 4) Tujuan instruksional yaitu tujuan materi kurikulum yang berupa

(49)

30 b) Proses Pendidikan

Proses pendidikan merupakan kegiatan mobilitas segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya, pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro, meso, mikro. Adapun tujuan utama pengelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal (www.wanipintar.blogspot.com).

C. Kesehatan dan Indeks Pembangunan Manusia 1. Pengertian Kesehatan

Menurut WHO (1993), kesehatan merupakan keadaan baik sepenuhnya secara fisik, mental, sosial. Kesehatan juga bukanlah karena tidak ada penyakit atau kelemahan dan bukan pula sekedar soal medis semata, melainkan menyangkut keadaan sosial di masyarakat.

(50)

31 maka dalam Undang- Undang N0. 23 Tahun 1992, kesehatan mencakup 4 aspek, yakni: fisik (badan), mental (jiwa), sosial, dan ekonomi. Batasan kesehatan tersebut diilhami oleh batasan kesehatan menurut WHO yang paling baru. Pengertian kesehatan saat ini memang lebih luas dan dinamis, dibandingkan dengan batasan sebelumnya. Hal ini berarti bahwa kesehatan seseorang tidak hanya diukur dari aspek fisik, mental, dan sosial saja, tetapi juga diukur dari produktivitasinya dalam arti mempunyai pekerjaan atau menghasilkan sesuatu secara ekonomi.

Dengan demikian, dapat disimpulkan kesehatan fisik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keadaan kesehatan fisik seseorang yang sempurna dalam arti tidak terdeteksi adanya penyakit pada jasmaninya, didukung dengan pola hidup sehat dan memiliki energi yang cukup optimal, sehingga ia dapat menjalani kehidupannya menjadi manusia yang produktif secara ekonomi dan sosial.

(51)

32 atau masyarakat. Keempat dimensi kesehatan tersebut saling mempengaruhi dalam mewujudkan tingkat kesehatan seseorang, kelompok atau masyarakat (www.wikipedia.org/wiki/Kesehatan)

2. Jenis-jenis Kesehatan Menurut Sifatnya

Itulah sebabnya, maka kesehatan bersifat menyeluruh mengandung keempat aspek. Perwujudan dari masing-masing aspek tersebut dalam kesehatan seseorang antara lain sebagai berikut:

a. Kesehatan fisik; terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.

b. Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual.

1) Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran 2) Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk

mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.

(52)

33 Yang Maha Kuasa (Allah SWT dalam agama Islam). Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang.

Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.

c. Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.

(53)

34 Ragnar dan Nurkse (dalam Komaruddin, 1993) menganalogikan dilema yang menghubungkan kesehatan dan produktivitas, sebagai berikut:

Gambar 2.1

Skema Hubungan Kesehatan dengan Produktivitas

Semakin buruk kesehatan, maka produktivitas akan semakin rendah. Jika produktivitas rendah, maka pendapatan pun akan berkurang atau menurun. Pada akhirnya masyarakat (tenaga kerja) kurang mengkonsumsi dan kembali pada kesehatan yang buruk.

Semakin banyak masyarakat yang dihinggapi suatu penyakit berarti akan menghancurkan vitalitas, produktivitas, efisiensi dan bahkan melemahkan inisiatif dan aktivitas sosial tenaga kerja. Selanjutnya dikatakan Komaruddin (1993) bahwa pendapatan perkapita

kesehatan buruk

konsumsi kurang produktivitas rendah

(54)

35 yang rendah dapat mencerminkan suatu daya produksi ekonomi dari masyarakat di daerah yang bersangkutan, dan dalam hal ini kesehatan adalah suatu indeks lain dari gambaran efisiensi ekonomis dan sosial.

3. Pengertian Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan suatu indikator yang menjelaskan bagaimana penduduk suatu wilayah mempunyai kesempatan untuk mengakses hasil dari suatu pembangunan sebagai bagian dari haknya dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Nilai IPM ini menunjukkan seberapa jauh wilayah tersebut telah mencapai sasaran yang ditentukan yaitu angka harapan hidup 85 tahun, pendidikan dasar bagi semua lapisan masyarakat (tanpa kecuali), dan tingkat pengeluaran dan konsumsi yang telah mencapai standar hidup layak. Semakin dekat nilai IPM suatu wilayah terhadap angka 100, maka semakin dekat jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sasaran itu (BPS Provinsi Banten).

(55)

36 diukur dengan pengeluaran perkapita yang telah disesuaikan atau paritas daya beli.

Berdasarkan kajian aspek status pembangunan manusia, tinggi rendahnya status pembangunan manusia menurut UNDP dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu :

1. Tingkatan rendah, jika IPM < 50.

2. Tingkatan menengah, jika 50 < IPM < 80. 3. Tingkatan tinggi, jika IPM > 80.

Namun untuk perbandingan antar daerah di Indonesia, yaitu perbandingan antar kabupaten/kota, maka kriteria kedua, yaitu

“Tingkatan menengah”, dipecah menjadi 2 (dua) golongan, sehingga gambaran status akan berubah menjadi sebagai berikut :

1. Tingkatan rendah, jika IPM < 50

2. Tingkatan menengah-bawah, jika 50 < IPM < 66 3. Tingkatan menengah-atas, jika 66 < IPM < 80 4. Tingkatan atas, jika IPM > 80

(56)

37 1. Perbandingan Antar Wilayah. Yaitu suatu posisi relatif dari satu wilayah terhadap wilayah yang lain berdasarkan peringkatnya dalam suatu kawasan tertentu.

2. Pengukuran Tingkat Kemajuan. Yaitu untuk mengkaji pencapaian tingkat kemajuan capaian setelah berbagai program diimplementasikan dalam suatu periode tertentu, yang dinotasikan kedalam rumus reduksi shortfall per tahun (annual reduction shortfall)

(BPS Provinsi Banten).

Semakin besar reduksi shortfall (r) di suatu wilayah menunjukkan semakin besar kemampuan yang dicapai oleh wilayah tersebut dalam periode tertentu. Kecepatan pencapaian dalam hal ini mengukur perbandingan antara capaian yang telah ditempuh dengan capaian yang masih harus (seharusnya) ditempuh untuk mencapai titik ideal IPM, yakni IPM = 100. Kecepatan pencapaian = r, terbagi kedalam 4 (empat) tingkatan :

(57)

38 a. Definisi Indikator dalam IPM

1) Angka Harapan Hidup

Angka harapan hidup waktu lahir (expectation of life at birth) yang biasanya dilambangkan dengan simbol e0 dan sering disingkat

dengan AHH adalah rata – rata hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada tahun tertentu. AHH ini merupakan salah satu indikator yang biasa digunakan untuk menggambarkan tingkat kemajuan dibidang kesehatan. Dengan angka harapan hidup, dapat dilihat perkembangan tingkat kesehatan pada suatu wilayah serta dapat pula dilihat perbandingan tingkat kesehatan antar wilayah (BPS Provinsi Banten).

2) Angka Melek Huruf Penduduk Dewasa

(58)

39 3) Rata-rata Lama Sekolah

Rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jumlah tahun yang telah dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas di seluruh jenjang pendidikan formal yang pernah dijalani. Indikator ini dihitung dari variabel pendidikan tertinggi yang ditamatkan dan tingkat pendidikan yang sedang diduduki (BPS Provinsi Banten).

4) Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity)

Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity) merupakan indicator ekonomi yang digunakan untuk melakukan perbandingan harga-harga riil antar wilayah. Dalam konteks PPP di Indonesia, satu rupiah di suatu daerah (provinsi/kabupaten) memiliki daya beli yang sama dengan satu rupiah di Jakarta. PPP ini dihitung berdasarkan pengeluaran riil per kapita yang telah disesuaikan dengan indeks harga konsumen dan penurunan utilitas marginal yang dihitung dengan formula Atkinson (BPS Provinsi Banten)..

5) Shortfall Reduction

(59)

40 ditempuh untuk mencapai titik ideal (IPM=100) (BPS Provinsi Banten).

D. Penelitian Sebelumnya

Penelitian yang mengangkat tema inflasi telah banyak dilakukan. Namun penelitian ini masih perlu dilakukan agar permasalahan.

Penelitian yang dilakukan oleh Maria Asti Adhanari (2005) menggunakan metode teknik deskriptif persantase dan regresi linier sederhana. Variabel dependennya adalah produktivitas kerja dan variabel independennya yaitu tingkat pendidikan. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi produktivitas kerja karyawan produksi pada Maharani Handicraft di Kabupaten Bantul.

Nadia Nasir (2008), menyatakan bahwa dari tiga variabel hanya dua variabel yang berpengaruh signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja yaitu tingkat upah dan masa kerja, sedangkan pada variabel usia tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja.

(60)

41 pendidikan dan kesehatan berpengaruh signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja.

Dini Devita Sari (2010) melakukan penelitian menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS), berdasarkan studi yang telah dilakukannya menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan dan pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan berpengaruh signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja. Vellina Tambunan (2012), dalam penelitiannya menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS) dan hasilnya menunjukkan bahwa dari lima variabel independen hanya tiga variabel yang berpengaruh signifikan yaitu Upah, Intensif dan Pengalaman kerja, sedangkan variabel pendidikan dan jaminan sosial tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivtas tenaga kerja.

Dwi Tanto, Sri Murni Dewi, Sugeng P. Budio (2012), Hasil penelitian dan analisa data yang mereka lakukan menggunakan metode sampling jenuh dan regresi berganda hasilnya menunjukkan bahwa upah yang diterima pekerja, pendidikan, kemampuan kerja serta disiplin kerja berpengaruh signifikan terhadap produktivitas pekerja struktur rangka atap baja ringan di Perumahan Green Hills Malang.

(61)

42

Metode Variabel Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan

(62)
(63)

44 Sumber: diolah dari berbagai referensi

E. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran merupakan sintesa dari serangkaian teori yang tertuang dalam tinjauan pustaka, yang pada dasarnya merupakan gambaran Intensif, jaminan sosial tidak berpengaruh

Hasil penelitian dan analisa data menunjukkan bahwa upah yang diterima pekerja, pendidikan, kemampuan kerja serta disiplin kerja berpengaruh

(64)

45 sistematis dari kinerja teori dalam memberikan solusi atau alternatif solusi dari serangkaian masalah yang ditetapkan (Rodoni, 2010: 15).

Berdasarkan gambar 2.2 di bawah dapat dilihat bahwa pendidikan sebagai variabel bebas (X 1), kesehatan sebagai variabel bebas (X2) dan produktivitas tenaga kerja sebagai variabel terikatnya (Y).

Pendidikan merupakan usaha sistematis dan berkelanjutan secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu untuk menyampaikan, menumbuhkan, dan mendapatkan pengetahuan, sikap, nilai dan kecakapan (skill) kepada manusia sebagai tenaga kerja (man power). Melalui kegiatan ini aspek kualitas hidup manusia dapat diperbaiki. Untuk itu optimalisasi program di bidang ini mutlak diperlukan guna menciptakan tenaga kerja yang berpengetahuan dan terampil yang pada gilirannya menghantar pertumbuhan ekonomi (Agus, 2001).

Kesehatan merupakan keadaan baik sepenuhnya secara fisik, mental, sosial. Kesehatan juga bukanlah karena tidak ada penyakit atau kelemahan dan bukan pula sekedar soal medis semata, melainkan menyangkut keadaan sosial di masyarakat (Menurut WHO, 1993).

(65)

46 Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi juga tingkat produktivitas atau kinerja tenaga kerja tersebut (Simanjuntak, 2001). Pada umumnya orang yang mempunyai pendidikan formal maupun informal yang lebih tinggi akan mempunyai wawasan yang lebih luas. Tingginya kesadaran akan pentingnya produktivitas, akan mendorong tenaga kerja yang bersangkutan melakukan tindakan yang produktif (Kurniawan, 2010). Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan seorang tenaga kerja berpengaruh positif terhadap produktivitas, karena orang yang berpendidikan lebih tinggi memiliki pengetahuan yang lebih untuk meningkatkan kinerjanya. Pendidikan merupakan salah satu aspek yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tenaga kerja yang berkualitas, ditandai dengan produktivitas yang tinggi. Hal ini akan dianalisa dengan menggunakan konsepsi Ketahanan Nasional yang mempunyai 3 (tiga) wajah yaitu sebagai doktrin, kondisi dan pemecahan masalah.

(66)

47 pembangunan yang berkelanjutan. Lebih jauh lagi, kesehatan merupakan syarat bagi peningkatan produktivitas, sementara keberhasilan pendidikan juga bertumpu pada kesehatan yang baik. Oleh karena itu, kesehatan dan pendidikan juga dapat dilihat sebagai komponen pertumbuhan dan pembangunan yang vital/sebagai input fungsi produksi agregat. Peran gandanya sebagai input maupun output menyebabkan kesehatan dan pendidikan sangat penting dalam pembangunan ekonomi (Todaro dan Smith, 2006).

Model regresi linier berganda yang diperoleh adalah sebagai berikut: (Widarjono, 2007)

Setelah memperoleh model regresi linier berganda, peneliti mulai menganalisis dengan menggunakan uji hipotesis, uji asumsi klasik (uji normalitas, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi), uji F-statistik, uji koefisien determinasi (R2), dan uji t-statistik agar penelitian dapat di uji dengan baik dan benar sesuai dengan metodologi penelitian.

Berdasarkan uji analisis data tersebut peneliti berharap hasil yang di dapat yaitu masing-masing dari setiap variabel independen tersebut mempengaruhi variabel dependen dan secara serentak atau bersama-sama (simultan) kedua variabel independen (pendidikan dan kesehatan) tersebut mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen (produktivitas tenaga kerja).

(67)

48 Selanjutnya peneliti melakukan analisis tersebut untuk mengambil hasil dan interpretasi data yang akan menghasilkan kesimpulan penelitian ini. Berikut disajikan dalam gambar 2.2 skema kerangka pemikiran:

Gambar 2.2

Skema Kerangka Pemikiran

Kesehatan Pendidikan

Produktivitas Tenaga Kerja Faktor Produksi

Analisis Regresi Linier Berganda:

1. Uji Hipotesis 2. Uji Normalitas 3. Uji Multikolinieritas 4. Uji Heteroskedastisitas 5. Uji Autkorelasi

6. Uji F-statistik 7. Uji R2

8. Uji t-Statistik

Pembahasan

(68)

49 F. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, baik variabel pendidikan maupun variabel kesehatan mempunyai pengaruh terhadap variabel produktivitas tenaga kerja. Masing-masing dari variabel independen tersebut mempengaruhi variabel dependen dan secara serentak atau bersama-sama (simultan) kedua variabel independen (pendidikan dan kesehatan) tersebut mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen (produktivitas tenaga kerja).

Berdasarkan pada kerangka tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :

1. Ho : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara pendidikan terhadap produktivitas tenaga kerja

Ha : terdapat pengaruh yang signifikan antara pendidikan secara parsial terhadap produktivitas tenaga kerja

2. Ho : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kesehatan terhadap produktivitas tenaga kerja

Ha : terdapat pengaruh yang signifikan antara kesehatan secara parsial terhadap produktivitas tenaga kerja

3. HO : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara pendidikan dan kesehatan secara simultan terhadap produktivitas tenaga kerja

(69)

50 G. Keterkaitan Antar Variabel

1. Hubungan Antara Pendidikan Dan Produktivitas Tenaga Kerja Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi juga tingkat produktivitas atau kinerja tenaga kerja tersebut (Simanjuntak, 2001). Pada umumnya orang yang mempunyai pendidikan formal maupun informal yang lebih tinggi akan mempunyai wawasan yang lebih luas. Tingginya kesadaran akan pentingnya produktivitas, akan mendorong tenaga kerja yang bersangkutan melakukan tindakan yang produktif (Kurniawan, 2010). Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan seorang tenaga kerja berpengaruh positif terhadap produktivitas, karena orang yang berpendidikan lebih tinggi memiliki pengetahuan yang lebih untuk meningkatkan kinerjanya. Pendidikan merupakan salah satu aspek yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tenaga kerja yang berkualitas, ditandai dengan produktivitas yang tinggi. Hal ini akan dianalisa dengan menggunakan konsepsi Ketahanan Nasional yang mempunyai 3 (tiga) wajah yaitu sebagai doktrin, kondisi dan pemecahan masalah.

2. Hubungan Antara Kesehatan Dan Produktivitas Tenaga Kerja

(70)

51 kemampuan manusia yang lebih luas yang berada pada inti makna pembangunan. Pada saat yang sama, pendidikan memainkan peran utama dalam membentuk kemampuan sebuah negara berkembang untuk menyerap teknologi modern dan untuk mengembangkan kapasitas agar tercipta pertumbuhan serta pembangunan yang berkelanjutan. Lebih jauh lagi, kesehatan merupakan syarat bagi peningkatan produktivitas, sementara keberhasilan pendidikan juga bertumpu pada kesehatan yang baik. Oleh karena itu, kesehatan dan pendidikan juga dapat dilihat sebagai

komponen pertumbuhan dan pembangunan yang vital/sebagai input fungsi produksi agregat. Peran gandanya sebagai input maupun output menyebabkan kesehatan dan pendidikan sangat penting dalam pembangunan ekonomi (Todaro dan Smith, 2006).

(71)

52 tumbuh menjadi dewasa yang lebih terdidik. Dalam keluarga yang sehat, pendidikan anak cenderung untuk tidak terputus jika dibandingkan dengan keluarga yang tidak sehat.

(72)

53 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini adalah tipe penelitian kuantitatif. Adapun objek penelitian ini dilakukan di kabupaten Tangerang. Sedangkan subjek penelitian ini adalah semua tenaga kerja di kabupaten Tangerang. Ruang lingkup penelitian ini adalah membahas dua (2) variabel, yang terdiri dari:

1. variabel independen, yaitu pendidikandankesehatan, 2. variabel dependen, yaitu produktivitas tenaga kerja.

B. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah pencatatan peristiwa-peristiwa atau hal-hal atau keterangan-keterangan atau karakteristik-karakteristik sebagian atau seluruh elemen populasi yang akan menunjang atau mendukung penelitian. (Hasan, 2002:83).

Metode pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini yaitu dengan studi kepustakaan (Library Research). Tehnik ini dimaksudkan untuk memperoleh data sekunder yang berfungsi sebagai landasan teoritis guna mendukung analisis terhadap data primer yang diperoleh selama penelitian. Penulis mengumpulkan materi yang bersumber dari buku-buku

(73)

54 serta referensi lainnya yang berhubungan dengan pendidikan dan kesehatan terhadap produktivitas tenaga kerja.

Pengumpulan data dalam penelitian ini diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS) kabupaten Tangerang, Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi Banten, Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, dan BAPEDA kabupaten Tangerang (data tahunan dari 2002-2011).

C. Metode Analisis Data

Menurut Lexy J. Maloeng (2000), analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Hasan, 2002:97).

Dalam hal ini penulis memaparkan metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Analisis Kuantitatif

(74)

55 2. Analisis Regresi

Alat analisis yang digunakan oleh peneliti adalah analisis regresi. Analisis regresi adalah studi ketergantungan antar variabel untuk mengestimasi dengan meramal nilai populasi berdasarkan nilai tertentu dari variabel yang diketahui (Gujarati, 1996: 13-14). Dalam penelitian ini, analisa dilakukan dengan analisis Regresi. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model regresi linear berganda dan dikembangkan menjadi spesifikasi model yang akan dijadikan sebagai model penelitian menjadi seperti pada rumus berikut :

Dimana:

Prod : Prouktivitas tenaga kerja

α : Konstanta

PEND : Tingkat Pendidikan KES : Kesehatan

ɛ t : Error term

Metode pangkat kuadrat terkecil biasa (OLS) diperkenalkan pertama kali oleh seorang ahli matematika dari Jerman, yaitu Carl Friedrich Gauss. Metode OLS adalah metode untuk mengestimasi suatu garis regresi

(75)

56 dengan jalan meminimalkan jumlah kuadrat kesalahan dari setiap observasi terhadap garis tersebut (Kuncoro, 2003:216).

Garis regresi yang baik terjadi bila nilai prediksinya sedekat mungkin dengan data aktualnya. Dengan kata lain kita akan mencari nilai ^β0 dan ^β1 yang menyebabkan residual sekecil mungkin (Widarjono, 2007:20). Menurut Widarjono, 2007:23-25; metode OLS adalah metode mencari nilai residual sekecil mungkin dengan menjumlahkan kuadrat residual.

Metode kuadrat terkecil akan menghasilkan estimator yang mempunyai sifat tidak bias, linier dan mempunyai varian yang minimum atau BLUE, yaitu:

a. Best adalah yang terbaik.

b. Linier adalah kombinasi linier dari data sampel. Jika ukuran sampel

ditambah maka hasil nilai estimasi akan mendekati parameter populasi

yang sebenarnya.

c. Unbiased adalah rata-rata atau nilai harapan atau estimasi sesuai dengan

nilai yang sebenarnya.

d. Efficient estimator adalah memiliki varians yang minimum diantara

pemerkira lain yang tidak bias.

Untuk memenuhi analisis regresi tersebut perlu uji asumsi klasik dan

inferensi hasil regresi sehingga hasil estimasi tersebut dapat terhindar dari

(76)

57 D. Uji Asumsi Klasik

Sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik. Uji asumsi klasik ini meliputi:

1. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah residual variabel dependen dan independen berdistribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas ini menggunakan normality histogram (Insukindro, 2003:61).

Uji normalitas melalui uji Jarque-Bera test (J-B test). Metode ini menggunakan perhitungan skewnes dan kurtosis. Nilai statistik JB didasarkan pada distribusi Chi Squared dengan derajat kebebasa (df) 2. Jika nilai probabilitas statistik JB lebih kecil dari α=5 persen maka terjadi permasalahan normalitas atau residual tidak didistribusikan secara normal dan sebaliknya (Widarjono, 2007:54)

2. Uji Multikolinieritas

Multikolinieritas adalah hubungan antara variabel independen dan dependennya. Pengujian multikolinieritas dilakukan dengan melihat

Correlation Matrix, jika nilai korelasi yang dihasilkan sangat tinggi (umumnya > 0,8) maka model regresi dikaatakan memiliki permasalahan multikolinieritas (Lukman, 2007:13).

Menurut Gujarati (1993), selain correlation matric dapat juga menggunakan Uji Klien, apabila terdapat nilai korelasi yang lebih tinggi

(77)

58 selama nilai korelasi tersebut tidak melebihi Adjusted R-squared. Jika tetap menggunakan OLS dalam menghitung estimasi parameter model regresi linier berganda yang mengandung multikolinieritas maka kita harus menghadapi konsekuensi sebagai berikut :

a) Estimator yang dihasilkan masih merupakan BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) tetapi memiliki varians dan kovarians yang besar sehingga sulit mendapatkan estimasi yang tepat.

b) Interval estimasi akan cenderung melebar, sehingga nilai statistik hitung t akan kecil akibatnya variabel bebas tidak signifikan secara individual meskipun secara simultan signifikan.

c) Nilai korelasi simultan R-square tinggi tetapi korelasi parsial rendah.

3. Uji Heteroskedastisitas

(78)

59 4. Uji Autokolerasi

Autokorelasi adalah terjadinya korelasi antara variabel itu sendiri pada pengamatan yang berbeda. Pengujian autokorelasi dilakukan dengan uji Breusch-Godfrey Serial Correlation Lagrange Multiplier Test (uji-LM). Uji ini sangat berguna untuk mengidentifikasi masalah autokorelasi tidak hanya pada derajat pertama tetapi bisa juga digunakan pada tingkat derajat. Dikatakan terjadi autokorelasi jika nilai X2 (Obs*R-Squared) hitung > X2 tabel atau nilai probability < 0,05 atau α=5 persen (Insukindro, 2003:60).

5. Uji Statistik

a. Uji Signifikan Simultan (Uji F-statistik)

(79)

60 b. Koefisian Determinasi (R2)

Koefisien detrminasi mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependennya. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu, nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas dan nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependennya (Kuncoro, 2003:220).

c. Uji Signifikan Individual (Uji t-Statistik)

Uji t-statistik menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Untuk melakukan uji-t dengan cara Quick Look, yaitu: melihat nilai probability dan derajat kepercayaan yang ditentukan dalam penelitian atau melihat nilai t-tabel dengan t-hitungnya. Jika nilai

(80)

61 E. Devinisi Operasional Variabel

1. Variabel Dependen

Pengertian variabel dependen adalah variabel yang nilainya dipengaruhi oleh variabel independennya (Lukman, 2007:5). Dalam penelitian ini, variabel dependen yang digunakan adalah:

a. Produktivitas tenaga kerja ( Y )

Produktivitas tenaga kerja adalah gambaran kemampuan pekerja dalam menghasilkan output. Alat ukur dalam penelitian ini angka produktivitas tenaga kerja secara agregat diperoleh dengan membagi PDRB harga konstan dengan jumlah tenaga kerja. Produktivitas tenaga kerja dinyatakan dalam satuan rupiah per jam.

Alat ukur variabel produktivitas tenaga kerja pada penelitian ini adalah tingkat produktivitas tenaga kerja di kabupaten Tangerang.

2. Variabel Independen

Pengertian variabel independen yaitu variabel yang nilainya mempengaruhi perilaku dari variabel dependennya (Lukmaan, 2007:5). Dalam penelitian ini, variabel independen yang digunakan adalah:

a. Pendidikan ( X1 )

(81)

62 b. Kesehatan ( X2 )

(82)

63 BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Kondisi Geografis Kabupaten Tangerang

Gambar 4.1

Peta kabupaten Tangerang

Kabupaten Tangerang yang memiliki luas wilayah 111.038 ha atau 1.110,38 km2 atau 12,62% dari seluruh luas wilayah provinsi Banten dibagi kedalam 36 Kecamatan, 316 Desa dan 77 Kelurahan dengan letak geografis

Gambar

Tabel 1.1 Data Penduduk Kabupaten Tangerang........................
Tabel 1 1 Data Penduduk Kabupaten Tangerang . View in document p.17
Tabel 1.1 Banyak Penduduk di Kabupaten Tangerang Tahun 2002-2011
Tabel 1 1 Banyak Penduduk di Kabupaten Tangerang Tahun 2002 2011 . View in document p.22
Tabel 1.2 Tingkat Produktivitas Tenaga Kerja
Tabel 1 2 Tingkat Produktivitas Tenaga Kerja . View in document p.25
Tabel di atas mrerupakan tabel tenaga kerja yang bekerja menurut
Tabel di atas mrerupakan tabel tenaga kerja yang bekerja menurut . View in document p.27
Tabel 1.4 Rata-rata Lama Pendidikan di
Tabel 1 4 Rata rata Lama Pendidikan di . View in document p.28
Tabel 1.5 Tingkat Kesehatan Tenaga Kerja  di Kabupaten Tangerang Tahun 2001-2011
Tabel 1 5 Tingkat Kesehatan Tenaga Kerja di Kabupaten Tangerang Tahun 2001 2011 . View in document p.30
Gambar 2.1
Gambar 2 1 . View in document p.53
Gambar 4.1 Peta kabupaten Tangerang
Gambar 4 1 Peta kabupaten Tangerang . View in document p.82
Gambar 4.2 Hasil Uji Normalitas
Gambar 4 2 Hasil Uji Normalitas . View in document p.87
Tabel 4.1
Tabel 4 1 . View in document p.88
Tabel 4.3
Tabel 4 3 . View in document p.90
Tabel 4.4
Tabel 4 4 . View in document p.92

Referensi

Memperbarui...

Download now (111 pages)