Perlindungan Hukum Terhadap Bank Sebagai Kreditor Pemegang Hak Tanggungan Dalam Penangguhan Eksekusi Jaminan Berkaitan Dengan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan

Gratis

4
51
124
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Keizerina Devi A, SH, CN, MHum yang merupakan anggota KomisiPembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan arahan dalam memperluas wawasan penulis dari awal penyusunan proposal ini sampaipenyelesaian tesis ini. Demikian juga penulis sampaikan ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada yang amat terpelajar Bapak Dr.

5. Rekan-Rekan Mahasiswa pada Program Studi Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

  107 ABSTRAK Undang-Undang Hak Tanggungan adalah hak istimewa yang memberikan kedudukan yang diutamakan bagi pemegang hak tanggungan, meskipun debiturwanprestasi pemegang hak tanggungan tetap dapat mengeksekusi objek hak tanggungan berdasarkan kekuatan eksekutorial yang disebuut dengan parate eksekusidan menjual objek hak tanggungan dihadapan masyarakat umum dan mengambil hasilnya untuk melunasi hutang debitor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peraturan penangguhan eksekusi selama 90 (sembilan puluh) hari sejak keputusan pailit ditetapkan adalah tidak efektifterhadap bank, kreditur sebagai pemegang hak tanggungan mempunyai hak eksekusi yang sangat singkat untuk menjual objek hak tanggungan sejak debitor dinyatakanpailit.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Untuk melakukan kegiatan usaha, dibutuhkan tersedianya dana dalam jumlah

  Apabila bank telah memperoleh keyakinan atas kemampuan debitor untuk mengembalikan utangnya, agunan dapat hanya berupabarang, proyek atau hak tagih yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan yang lazim disebut dengan agunan pokok. Ketentuan tersebut dinyatakan secara tegas dalam Pasal 1131 KitabUndang-Undang Hukum Perdata yang mengatur bahwa: Segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang tak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada dikemudian hari, menjadi 9 tanggungan untuk segala perikatan perseorangan.7 Teguh Pujo Muljono, Manajemen Perkreditan Bagi Bank Komersial, (Yogyakarta: BPFE,1993), hal.

3. Memberikan kepastian kepada kreditur bahwa jaminan itu mudah diuangkan untuk melunasi hutang si debitur

  1 Salah satu tujuan dari Hukum Kepailitan adalah melindungi para kreditor untuk memperoleh hak mereka yaitu semua harta kekayaan debitor yang digunakandalam perjanjian pinjam-meminjam uang (utang) tersebut dapat berupa barang bergerak dan barang tidak bergerak baik yang telah ada maupun yang akan ada dikemudian hari yang menjadi sumber pelunasan hutang tersebut. Pasal 56 Undang-Undang RepublikIndonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Hak eksekusi kreditor sebagaimana dimaksud dalam pasal 55 ayat 1 dan hak pihak ketiga untuk menuntut hartanya yang berada dalam penguasaan debitorpailit atau kuarator, ditangguhkan untuk jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan.

28 Munir Fuady, Hukum Pailit Dakam Teori dan Praktek, edisi revisi disesuaikan dengan UU

  UU Nomor 37 Tahun 2004, LN Tahun 2004 Nomor 131 TLN Republik Indonesia Nomor 4443, Pasal 57 Dengan adanya lembaga penangguhan pelaksanaan hak dari kreditor preferen dalam Undang-Undang Kepailitan selama 90 (sembilan puluh) hari maka objekjaminan debitor yang telah dibebani hak tanggungan untuk kepentingan kreditor berada dalam kondisi tidak boleh diganggu gugat. Disatu pihak mengakui hak dari kreditor separatis tetapi di pihak lain justru mengingkari hakseparatis tersebut yaitu dengan tidak menempatkan benda-benda debitor pailit yang dibebani hak jaminan sebagai benda-benda di luar harta pailit maka hal ini dapatmenimbulkan suatu masalah mengingat tingginya kedudukan kreditor pemegang hak tanggungan sebagaimana yang dikenal dalam hukum jaminan yang berlaku diIndonesia.

B. Rumusan Masalah

  Bagaimanakah proses eksekusi hak tanggungan oleh bank sebagai kreditor separatis dan perlindungan hukum yang didapat oleh kreditur tersebut? Untuk mengetahui dan menganalisis proses eksekusi hak tanggungan oleh bank sebagai kreditor separatis dan perlindungan hukum terhadap kreditur berdasarkanUndang-Undang Nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis kedudukan kreditor pemegang hak tanggungan dengan adanya lembaga penangguhan eksekusi

  3. Untuk mengetahui pelaksanaan hak eksekusi kreditor pemegang hak tanggungan terhadap debitor yang dinyatakan insolven (tidak mampu membayar utang-utangnya) setelah terjadinya penangguhan eksekusi.

D. Manfaat Penelitian

  Secara akademis-teoritis, penulisan ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi ilmu pengetahuan, khususnya mengenai perlindungan hukum terhadap kreditorpemegang hak tanggungan dalam penangguhan eksekusi jaminan. Secara sosial-praktis adalah memberikan sumbangan pemikiran terhadap mahasiswa-mahasiswa atau praktisi-praktisi hukum dalam mengetahui tentangkepailitan yang dihubungkan dengan penangguhan eksekusi jaminan.

E. Keaslian Penelitian

  Penulisan ini dilakukan berdasarkan literatur-literatur yang berkaitan dengan lembaga haktanggungan, hukum kepailitan dan lembaga-lembaga yang dibentuk pemerintah yang juga ditujukan untuk penyelesaian masalah utang piutang, memang ada penelitiansebelumnya dilakukan oleh : 1. Bagaimanakah Undang-Undang Kepailitan memberikan jaminan kepastian hukum terhadap pelunasan piutang kreditor separatis yang dijamin dengan haktanggungan dari debitor yang dinyatakan pailit?

F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

  Dalam kepailitan seluruh harta benda debitor diperuntukkan melunasi utangnya kepada kreditor, maka harta kekayaan debitor, baik yang bergerak maupuntidak bergerak, baik yang telah ada maupun yang akan ada dikemudian hari, menjadi 37 agunan utangnya yang dapat dijual untuk sumber pelunasan utang itu. 36 Ibid Dalam Hukum Kepailitan baik yang terdapat dalam peraturan perundang- undangan maupun dalam literatur-literatur yang ada diperlukan pendekatan sistem,suatu sistem adalah kumpulan azas-azas yang terpadu yang merupakan landasan 46 tertib hukum.

54 Dalam rangka penulisan hukum ini, maka istilah-istilah berikut

  Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusannya dan pemberesannya dilakukan oleh kurator di bawah pengawasanhakim pengawas. Penangguhan eksekusi adalah masa-masa tertentu, dimana kreditor tidak dapat melaksanakan hak untuk mengeksekusi jaminan.

54 Sumadi Suryabrata, Metodelogi Penelitian, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1998), hal. 3

55 Undang Undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. UU Nomor 37 Tahun 2004, LN Tahun 2004 Nomor 131 TLN Republik Indonesia Nomor 4443, Pasal 1angka 156 Undang-Undang tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah, UU Nomor 4 tahun 1996, LN Nomor 42 tahun 1996, TLN Nomor 3632.,

Pasal 1 angka 1

57 Rachmadi Usman, Pasal-Pasal Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah, (Jakarta: Djambatan, 1999), hal. 70 (selanjutnya disebut Rachmadi Usman 2)

  Pemberi hak tanggungan adalah orang perseorangan atau badan hukum yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap objek hak 60 tanggungan yang bersangkutan. Penjualan lelang adalah penjualan barang yang terbuka untuk umum baik secara langsung maupun melalui media elektronik dengan cara penawaran harga secara 62 lisan dan atau tertulis yang didahului usaha mengumpulkan peminat.

58 Undang-Undang tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang

  Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) adalah suatu masa yang diberikan oleh undang-undang melalui putusan hakim niaga dimana dalam masatersebut kepada pihak kreditor dan debitor diberikan kesempatan untuk memusyawarahkan cara-cara pembayaran utang dengan memberikan rencanapembayaran seluruh atau sebagian utangnya termasuk apabila perlu untuk 64 merestrukturisasi utangnya tersebut. Insolvent berasal dari bahasa latin solver yang artinya membayar dan lawan katanya adalah insolvent atau tidak membayar.

G. Metode Penelitian

  Sifat PenelitianSifat penelitian yang dilakukan adalah yuridis normatif dengan mempertimbangkan bahwa titik tolak penelitian analisis terhadap peraturan 70 perundang-undangan literatur-literatur, buku-buku yang berkaitan dengan klausula perlindungan hukum terhadap kreditor pemegang hak tanggungan dalampenangguhan eksekusi jaminan. Bahan Hukum SekunderYakni bahan hukum yang terdiri atas buku-buku teks (Textbook) yang ditulis oleh para ahli hukum, jurnal-jurnal hukum, pendapat para sarjana, kasus-kasushukum, yurisprudensi dan hasil seminar/symposium dan website di internet yang berkaitan dengan permasalahan.

4. Teknik Pengumpulan Data

71 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1984), hal. 7

  Analisis DataAdapun sumber data yang berupa bahan hukum yang diperoleh dari studi kepustakaan, aturan perundang-undangan dan artikel dimaksud diuraikan dandihubungkan sedemikian rupa, sehingga disajikan dalam penulisan yang lebih sistematis. Hal ini berarti bahwa pada deduksi setiap proposisi itu hanya akan dapat dinyatakan sebagai proposisi yang benar kalau memang ia dapat dirunutkankembali secara logis atau ditemukan sebagai hasil penyimpulan dari suatu 7372 proposisi asas yang mengandung kebenaran pangkal tersebut.

BAB II EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN OLEH BANK SEBAGAI KREDITOR SEPARATIS DAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KREDITOR A. Pengertian Eksekusi Istilah eksekusi dalam bahasa Indonesia disebutkan pelaksanaan putusan. Eksekusi sebagai tindakan hukum yang dilakukan oleh pengadilan kepada pihak yang

  Jadi eksekusi itu adalah tindakan yang berkesinambungan dari keseluruhan proses hukum acara perdata juga eksekusi inidapat pula diartikan menjalankan putusan pengadilan, yang melaksanakan secara paksa putusan pengadilan dengan bantuan kekuatan umum apabila pihak yang kalahtidak mau menjalankannya secara sukarela, eksekusi dapat dilakukan apabila telah 75 mempunyai kekuatan hukum tetap. Eksekusi pembayaran sejumlah uang tidak hanya didasarkan atas bentuk akta yang gunanya untuk melakukan pembayaran sejumlah uang yang oleh undang-undang disamakan nilainya dengan putusan yang memperoleh kekuatan hukum yang tetap berupa:a.

B. Bank sebagai Kreditur Separatis

  Terlebih bagi pengusaha yang memiliki kewajiban untuk mengembalikan hutang-hutangnya dalam bentuk valuta asing, dengan meningkatnya nilai dollartersebut secara otomatis hutang-hutang terhadap kreditur asing menjadi membengkak luar biasa sehingga debitur menjadi tidak mampu membayar hutang-hutangnya. 89 Usaha bank dilakukan dengan menggunakan modal yang berasal dari dana masyarakat yang dihimpunnya oleh karena itu kepentingan masyarakat ataskeselamatan dananya perlu dijaga kelangsungannya.

C. Pengertian Pailit

  Hadi Shubhan:Pailit merupakan suatu keadaan dimana debitur tidak mampu untuk melakukan pembayaran-pembayaran terhadap utang-utang dari para kreditornya. Keadaantidak mampu membayar lazimnya disebabkan karena kesulitan kondisi keuangan (financial distress) dan usaha debitor yang telah mengalami kemunduran.

78 Menurut Kartono:

79 Menurut Retnowulan Susanto:

  Kepailitan itu sebagai suatu prosedur pembayaran hutang dalam rangka merealisasikan ketentuan pasal 1131 dan 1132 Kitab Undang-Undang HukumPerdata yang mengatur tentang tanggung jawab debitur terhadap perikatan – perikatan yang dilakukan krediturnya. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang nomor 4 tahun 1998 yang selanjutnya pada tanggal 18 Oktober 2004 disempurnakan lagi menjadi Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, para pihak seperti bersemangat untuk mencoba penyelesaian utang piutang dengan menggunakan lembaga kepailitan, dengan pengertian bahwa lembagakepailitan ini akan dapat menyelesaikan permasalahan utang piutang mereka dengan 82 prosedur yang serba cepat.

83 Kepailitan mempunyai tujuan: a

  Utang yang dimaksud disini adalah utang pokok dan bunganya sehingga yang dimaksud dengan utang disini adalah dalam kaitannya dengan hubungan hukumpinjam-meminjam uang atau kewajiban untuk membayar sejumlah uang sebagai salah 85 satu bentuk khusus dan berbagai bentuk perikatan pada umumnya. Kreditur KonkurenDalam lingkup kepailitan yang dapat digolongkan sebagai kreditur konkuren(unsecured creditor) adalah kreditur yang piutangnya tidak dijamin dengan hak kebendaan (security right in rem) dan sifat piutangnya tidak dijamin sebagai 98 piutang yang diistimewakan oleh Undang-Undang.

98 Undang Undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. UU

  Kreditur SeparatisMenurut Munir Fuady: Dikatakan separatis yang berkonotasi pemisahan karena kedudukan kreditur tersebut memang dipisahkan dari kreditur lainnya, dalam arti ia dapat menjualsendiri dan mengambil sendiri dari hasil penjualan yang terpisah dengan harta pailit yang umumnya. Dalam Undang-undang kepailitan Belanda tidak terdapat keraguan terhadap hak kreditur separatis danpreferen untuk mengajukan kepailitan, hal ini juga dikemukakan oleh Abdul Hakim 100 Dalam kepailitan, ongkos kepailitan dan upah kurator dimasukkan sebagai tagihan preferen yang didahulukan pembayarannya atas tagihan kreditur konkuren.

4. Kreditur pemegang hak istimewa

  Lebih lanjut pasal 1134 ayat 2 KUH Perdata menyatakan bahwa hak agunan kebendaan mempunyaikedudukan yang lebih tinggi terhadap hak istimewa (privilege) kecuali tidak 105 dengan tegas ditentukan lain oleh undang-undang artinya dalam mengambil pelunasan dari hasil penjualan benda-benda milik debitor yang diletakkan hakjaminan, dan ada kreditor pemegang hak istimewa dan sisanya diambil oleh kreditor konkuren. Kedudukan kreditur separatis diatur dalam 2 (dua) tahap yaitu KedudukanKreditur Separatis Pada Periode Pra Pailit dengan jelas diatur dalam pasal 55 106 Pasal 244 ayat 1 dan 246 Undang-Undang Kepailitan dan Penundaaa Kewajiban Pembayaran Utang semenatara tidak berlaku bagai kreditur separatis dan pasal 55, 57 dan 58 berlaku mutatis mutandis dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang107 Sudargo Gautama, Komentar Atas Peraturan Baru Untuk Indonesia, (Bandung: PT.

2. Kreditor tidak perlu mengajukan permohonan eksekusi kepada pengadilan

  Peraturan perundang-undangan yang mengatur secara khusus eksekusi hak tanggungan belum ada, yang ada sekarang adalah peraturan eksekusi hipotik. Ketentuan khusus mengenai eksekusi hipotik diatur dalam pasal 224 Het Herziene Indonesisch Reglement dan Pasal 258 Rechtsreglement Buitengewesten.

D. Hak Kreditor Separatis Dalam Pelelangan Eksekusi Hak Tanggungan

  Berdasarkan pasal 12A Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan maka bankumum sebagai kreditor dapat membeli dalam pelelangan umum objek hak Kreditur harus mempunyai alas hak untuk melakukan eksekusi tersebut yaitu dengan sita eksekutorial. Pelelangan ini dapat diikuti oleh seluruh warga negara Indonesiayang cakap hukum.

E. Akibat Eksekusi Hak Tanggungan

  Akibat eksekusi hak tanggungan maka perikatan yang berkaitan dengan pemberian hak tanggungan, yaitu akta pemberian hak tanggungan dan sertipikat haktanggungan menjadi berakhir. Dengan hapusnya perikatan maka kreditur akan mengeluarkan surat roya dan dengan dasar surat roya inilah dan sertipikat hak tanggungan pembeli akan memohonpencabutan hak tanggungan di kantor pertanahan setempat.

F. Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Hak Tanggungan

  Kreditur yang berkepentingan terhadap debitur tidak hanya kreditur konkuren saja melainkan juga kreditur pemegang hak jaminan kebendaan seperti haktanggungan atau yang sering disebut kreditur separatis dan kreditur yang menurut ketentuan hukum harus didahulukan atau yang dalam hukum kepailitan tersebutkreditur preferen. Memang kreditur separatis sudah memegang jaminan hak tanggungan dan dapat mengeksekusi jaminan hak tanggungan yang dipegangnyaseolah –olah tidak terjadi kepailitan, akan tetapi kreditur pemegang hak tanggungan(separatis) tersebut masih memiliki kepentingan yang berupa sisa tagihan yang tidak cukup ditutup dengan eksekusi jaminan serta kepentingan mengenai keberlangsungan 114 usaha debitur.

BAB II I KEDUDUKAN KREDITOR PEMEGANG HAK TANGGUNGAN DENGAN ADANYA LEMBAGA PENANGGUHAN EKSEKUSI A. Hak Tanggungan Sebagai Jaminan Kredit Perbankan Dalam menerapkan salah satu prinsip kehati-hatiannya maka kreditur

  mewajibkan adanya jaminan dalam pemberian kredit dan jaminan yang lebih disukai adalah tanah dan bangunan. 118 Hak tanggungan adalah salah satu jenis dari hak jaminan, hak jaminan yang dimaksudkan untuk menjamin utang seorang debitor yang memberikan hakutama kepada seorang kreditor tertentu yaitu pemegang hak jaminan itu untuk didahulukan terhadap kreditor-kreditor lain apabila si debitor cidera janji.

B. Kedudukan Diutamakan Kreditor Pemegang Hak Tanggungan

  cit., hal. 61-62 (selanjutnya disebut Ahmad Yani 3) 123 Tanggungan (UUHT).

1. Sifat-Sifat dan Ciri-Ciri

  Pelunasan utang yang dijamin, dilakukan dengan cara angsuran yang besarnya sama dengan nilai masing-masing hak atas tanah yang merupakan bagian dariobjek hak tanggungan yang akan dibebaskan dari hak tanggungan tersebut sehingga kemudian hak tanggungan itu hanya membebani sisa objek haktanggungan untuk menjamin sisa hutang yang belum dilunasi. Yang dimaksud dengan kedudukan yangdiutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditor –kreditor lain, mengenai hal ini telah dijelaskan dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Hak Tanggungan yaitubila debitor cidera janji, kreditor pemegang hak tanggungan berhak menjual melalui pelelangan umum tanah yang dijadikan jaminan menurut ketentuan-ketentuanperundang-undangan yang bersangkutan dengan hak mendahului daripada kreditor- kreditor lain .

2. Subjek Hak Tanggungan

  Menurut Sutan Remy Sjahdeini:Hak pakai adalah hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang tidak hanya dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara saja, tetapi jugadari tanah milik orang lain, dengan membuat perjanjian antara pemilik tanah dengan pemegang hak pakai yang bersangkutan sedangkan kedua jenis hak pakaiitu pada hakikatnya tidak berbeda ruang lingkupnya yang menyangkut hak untuk penggunaannya atau hak untuk memungut hasilnya. Pendaftaran hak tanggungan dilakukan oleh kantor pertanahan dengan membuatkan buku tanah hak tanggungan dan mencatatnya dalam buku tanah hak atastanah yang menjadi objek hak tanggungan serta menyalin catatan tersebut pada sertipikat hak atas tanah yang bersangkutan.

5. Sertipikat Hak Tanggungan

  Janji yang memberikan kewenangan pemegang hak tanggungan untuk menyelamatkan objek hak tanggungan atas biaya pemberi hak tanggungan jikadiperlukan untuk pelaksanaan eksekusi atau untuk mencegah hapusnya atau dibatalkannya hak yang menjadi objek hak tanggungan karena tidak dipenuhinyaatau dilanggarnya ketentuan undang-undang. Janji yang dimaksud dalam pasal 14 ayat 1 Undang-Undang Hak Tanggungan yaitu bahwa sertipikat hak tanah atas tanah hak yang menjadi objek haktanggungan akan diserahkan kepada pemegang hak tanggungan jika tidak diperjanjikan maka sertipikat hak tanah atas tanah hak yang dibebani haktanggungan akan diserahkan kepada pemberi hak tanggungan.

8. Beralihnya Hak Tanggungan

  Sesuai dengan pengaturan pasal 16 Undang-Undang Hak Tanggungan, hak tanggungan beralih apabila piutang yang dijamin dengan hak tanggungan itu beralihkepada pihak ketiga. Peralihan tersebut dapat terjadi dengan cara : 146147 Sutan Remy Sjahdeini 1, Op.cit., hal.

Pasal 22 ayat 9

1. Cessie 2

  Dengan kata lain hak tanggungan itu ikut beralih karena hukum kepada kreditor yang baru apabila piutang yang dijamin dengan hak tanggungan itu beralih 148 kepada kreditor yang baru itu. Tanggal pencatatan buku tanah dan sertipikat hak tanggungan serta buku tanah dan sertipikat hak tanah yang menjadi objek hak tanggungan adalah tujuh harikerja terhitung setelah diterimanya secara lengkap surat-surat yang diperlukan untuk 148 Undang-Undang tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah, UU Nomor 4 tahun 1996, LN Nomor 42 tahun 1996, TLN Nomor 3632, peralihan hak tanggungan yang bersangkutan.

C. Penangguhan Ekseksi

  Yang dimaksud dengan penangguhan eksekusi jaminan hutang dalam hukum pailit adalah dalam masa-masa tertentu, sungguhpun hak untuk mengeksekusijaminan hutang ada di tangan kreditur separatis ( kreditur dengan hak jaminan), tetapi kreditur separatis tersebut tidak dapat mengeksekusinya. Permohonan harus diajukan dengan alasan-alasan yang masuk akal yang dapat dipertimbangkan oleh curator yaitumisalnya bahwa telah ada calon pembeli yang sangat membutuhkan tanah tersebut dan pembeli itu berani bayar dengan harga tinggi.

1. Lamanya jangka waktu penangguhan yang sudah berlangsung 2

  Kreditor pemegang hak tanggungan atau pihak ketiga wajib yang mengajukan permohonan ini atau bahkan kurator, jika merasa tidak puas terhadapputusan hakim pengawas dapat mengajukan perlawanan kepada pengadilan dalam 158 jangka waktu 10 (sepuluh) hari setelah perlawanan tersebut diterima. 98 162 Hanya saja tidak untuk semua kreditur separatis berlaku penangguhan kewajiban pembayaran utang tersebut, Hukum tentang penangguhan kewajibanpembayaran utang tersebut mengenal pula pengecualian yaitu sebagai berikut: 163 1.

2. Penangguhan eksekusi tidak berlaku bagi hak kreditor untuk memperjumpakan hutang

  Para kreditor yang tidak mempunyai kedudukan yang didahulukan berdasarkan alasan-alasan tertentu sebagaimana yang disebutkan dalam undang-undang berarti mempunyai kedudukan yang sama. Pasal 56 menentukan bahwa hak eksekusi kreditor sebagaimana dimaksud dalam pasal 56 ayat 1 dan hak pihak ketiga untuk menuntut hartanya yang berada dalam 2.

3. Dari penjelasan pasal 56 tersebut terlihat bahwa Undang-Undang Kepailitan tidak taat asas dan tidak konsisten

  Jadi terlihat adanya pertentangan antara pasal 55 dan pasal 56 Undang-Undang Kepailitan dalam kaitan dengan kreditur pemegang hak tanggugan yang disatu sisi menyatakan tidak terjadi pengaruh terhadap kreditur pemegang haktanggungan namun di sisi lain adanya ketentuan terhadap kreditur pemegang hak tanggungan untuk penangguhan eksekusi hak tanggungan. Strategi Penjualan cepat hanya dengan harga cepatini adalah hanya demi memenuhi kepentingan kreditur pemegang hak tanggungan saja, sedangkan jika ditangguhkan selama 90 (sembilan puluh) hari tersebutmemberikan kesempatan pada kurator untuk memperoleh harga yang layak dan bahkan harga yang terbaik.

BAB IV PELAKSANAAN EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN SETELEH DEBITOR INSOLVEN A. Pengertian Insolven Berakhirnya kepailitan dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu dengan insolvensi/Insolvent dan Pedamaian (accord)

1. Insolvent

  Insolvensi/insolvency berarti ketidaksanggupan untuk memenuhi kewajiban finansial ketika jatuh waktuseperti layaknya dalam bisnis atau kelebihan kewajiban dibandingkan dengan asetnya dalam waktu tertentu dengan kata lain seseorang tidak mempunyaibanyak uang cash/tunai dibandingkan dengan banyaknya hutang-hutangnya. 129Sutan Remy Sjahdeini 2, Op.cit.,hal.52 diligence oleh kantor akuntan public yang independent melalui neraca perusahaan yang bersangkutan (balance sheet) dan likuiditas perusahaan yang bersangkutan.

2. Perdamaian

  Perdamaian dalam hukum kepailitan diartikan sebagai suatu kesepakatan antara debitur dan kreditur tentang pembayaran yaitu si pailit membayar sesuatupersentase tertentu dari utangnya dan ia akan dibebaskan dari membayar sisanya. Perdamaian tidak berlaku bagi kreditor separatisPerdamaian tidak berlaku terhadap kreditur dengan agunan dan kreditur yang diistimewakan (Pasal 162 Undang-Undang Kepailitan) 4.

B. Pelaksanaan Eksekusi

  Keadaan debitur yang sudah insolvent secara teknis dan yuridis ini berakibat hukum bahwa pemberesan atas boedel pailit sudah dapat dimulai dan krediturseparatis sudah dapat melaksanakan sendiri hak eksekusinya atas barang jaminan yang dimilikinya. Penjualan sukarela dapat dilakukan baik oleh debitor sendiri atau bantuan kreditor mencarikan pembeli bagi debitor dengan harga limit yang ditentukanoleh debitor, dengan mengesampingkan pasal 20 ayat 2 dan ayat 3 Undang-Undang Hak Tanggungan yaitu pengumuman dan tenggang waktu yang ditentukan pasal tersebut.

4. Eksekusi Hak Tanggungan berdasarkan ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum

  Klausul inidisebut eigenmachtige verkoop jadi berdasarkan kesepakatan debitur memberi hak kepada kreditor menjual sendiri objek hipotek tanpa melalui pengadilan,apabila debitor wanprestasi dalam bentuk debitur tidak melunasi hutang pokok sebagaimana mestinya, tidak membayar bunga yang terutang akan tetapi supayakewenangan seperti ini sah dan mengikat harus dicantumkan secara tegas dalam akta hipotek. Atas tuntutan kurator atau kreditor yang diistimewakan yang kedudukannya lebih tinggi daripada kreditor pemegang hak tanggungan sebagaimana yang dimaksuddiatas maka kreditor pemegang hak tersebut wajib menyerahkan bagian dari hasil penjualan tersebut untuk jumlah yang sama dengan jumlah tagihan yangdiistimewakan.

C. Dampak Eksekusi Bagi Kreditur Separatis

  Selama penangguhan berlangsung kurator dapat menggunakan harta pailit berupa benda tidakbergerak maupun benda bergerak atau menjual harta pailit yang berupa benda bergerak yang berada dalam penguasaan kurator dalam rangka kelangsungan usahadebitur dalam hal telah diberikan perlindungan yang wajar bagi kepentingan kreditur 183 atau pihak ketiga. Tuntutan dan gugatan mengenai hak dan kewajiban terhadap harta pailit harus diajukan oleh atau terhadap kurator dengan cara melaporkannya untukdicocokkan (verifikasi) Undang-Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 memiliki maksud agar putusan pernyataan pailit dapat diselesaikan dan diputuskan dengan secepat mungkinjuga untuk dapat dieksekusi.

3. Uang yang diberikan kepada debitur untuk memenuhi suatu kewajiban memberi nafkah menurut undang-undang

  164 188 Undang-Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, LN Nomor 131 tahun 2004, TLN Nomor 4443, Pasal 63 Kurator merupakan pihak diluar balai harta peninggalan yang diangkat oleh majelis hakim dalam putusan pernyataan pailit berdasarkan usulan debitor atau 189 kreditor. Semua hasil pelelangan harta pailit ditambah hasil-hasil yang diperoleh dari tagihan piutang si pailit dan dikurangi dengan biaya-biaya kepailitan dan hutang-hutang harta pailit merupakan harta yang akan dibagi kepada kreditor yang 191 berkepentingan dengan urutan-urutan sebagai berikut: 1.

D. Analisa Kasus

  51 Sandjaja Graha Sarana memberikan jaminan berupa sebidang tanah dan bangunan yang diikat dengan hak tanggungan. Hak tanggungan merupakan hak yang fakultatif yaitu suatu kaedah yang boleh tidak dilaksanakan tetapi apabila pemegang hak itu hendak memenuhi haknya pihaklain tidak boleh menghalang-halangi pemenuhan hak tersbut.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya maka diperoleh

  Pemegang hak tanggungan dapat langsungdatang dan meminta kepada Kepala Kantor Lelang untuk melakukan pelelangan atas objek hak tanggungan yang bersangkutan tetapi hak yang dimiliki pemeganghak tanggungan tidak dapat dilaksanakan karena adanya pertentangan yaitu hak eksekusi kreditor pemegang hak tanggungan dapat ditangguhkan untuk jangkawaktu 90 (sembilan puluh) hari sejak permohonan pailit didaftarkan kePengadilan Niaga setempat. Perlindungan yang didapat bank sebagai kreditur pemegang hak tanggungan adalah berupa pelunasan pembayaran piutang yangdidahulukan dari kreditur-kreditur lainnya dan untuk sisa piutang yang belum dilunasi kreditur pemegang hak tanggungan dapat menjadi kreditur konkuren.

B. Saran 1

  Sebaiknya dilakukan peninjauan kembali pada Undang-Undang KepailitanNomor 37 tahun 2004 yang berkaitan dengan ketentuan penangguhan eksekusi jaminan yaitu ketentuan pasal 55 Undang-Undang Kepailitan Nomor 37 tahun2004 dengan pasal 56 Undang-Undang Kepailitan Nomor 37 tahun 2004 yang tidak sejalan. Selama masa penangguhan eksekusi tersebut para kurator hendaknya harus berperan aktif dan bertindak netral dalam mengurus harta pailit tersebut sehinggaperlindungan wajar sebagaimana yang ditetapkan oleh undang-undang itu dapat dirasakan oleh kreditur pemegang hak tanggungan.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Eksekusi Hak Tanggungan Sebagai Konsekuensi Jaminan Kredit Untuk Perlindungan Hukum Bagi Kepentingan Kreditur Di Medan
1
51
83
Kepailitan Dana Pensiun Menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004
4
89
91
Perlindungan Hukum Terhadap Kreditor Pemegang Jaminan Fidusia Karena Debitornya Dinyatakan Pailit
6
219
86
Tinjauan Yuridis Hak Kreditor Pemegang Hak Tanggungan Pertama Dalam Pelelangan Boedel Kepailitan
1
48
126
Perlindungan Hukum Bagi Kreditur Dalam Eksekusi Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Hak Tanggungan
5
95
91
Perlindungan Hukum Terhadap Kreditor Dalam Terjadi Eksekusi Jaminan Fidusia (Studi di Kota Medan)
4
75
107
Perlindungan Hukum Terhadap Bank Sebagai Kreditor Pemegang Hak Tanggungan Dalam Penangguhan Eksekusi Jaminan Berkaitan Dengan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan
4
51
124
Perlindungan Hak Kreditor Dengan Jaminan Fidusia Berdasarkan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia
0
10
149
Kedudukan Kreditor Separatis Ditinjau Dari Undang-Undang Kepailitan Dikaitkan Dengan Objek Hak Tanggungan
0
15
132
Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Jaminan Berupa Hak Tanggungan Yang Mengalami Force Majeure Dalam Perjanjian Kredit
0
104
125
Perlindungan Hukum Bagi Para Pihak Dalam Pengikatan Jaminan Kebendaan Menurut Undang-Undang Nomor Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan
0
16
1
Eksekusi Hak Tanggungan Sebagai Konsekuensi Jaminan Kredit Untuk Perlindungan Hukum Bagi Kepentingan Kreditur Di Medan
0
0
11
Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Jaminan Berupa Hak Tanggungan Yang Mengalami Force Majeure Dalam Perjanjian Kredit
0
0
12
Pembebanan Harta Pailit Dengan Gadai Dalam Pengurusan Harta Pailit Menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaankewajiban Pembayaran Utang
0
0
50
Eksekusi Hak Tanggungan Sebagai Konsekuensi Jaminan Kredit Untuk Perlindungan Hukum Bagi Kepentingan Kreditur Di Medan
0
0
11
Show more