Feedback

Uji Efek Hipoglikemik Natrium Alginat Dari Rumput Laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh Terhadap Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Aloksan

Informasi dokumen
UJI EFEK HIPOGLIKEMIK NATRIUM ALGINAT DARI RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN SKRIPSI OLEH: PUTRI YANI NIM 071501057 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara BAHAN SKRIPSI UJI EFEK HIPOGLIKEMIK NATRIUM ALGINAT DARI RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN Diajukan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara OLEH: PUTRI YANI NIM 071501057 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Pengesahan Skripsi UJI EFEK HIPOGLIKEMIK NATRIUM ALGINAT DARI RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN OLEH: PUTRI YANI NIM 071501057 Dipertahankan Di Hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Pada Tanggal : Agustus 2011 Pembimbing I, Panitia Penguji (Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt.) NIP 195107231982032001 (Prof. Dr. Urip Harahap, Apt.) NIP 195301011983031004 (Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt.) NIP 195107231982032001 Pembimbing II, (Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt.) NIP 195103261978022001 (Dra.Aswita Hafni Lubis, M.Si.,Apt.) NIP 195304031983032001 (Drs. Panal Sitorus, M.Si., Apt.) NIP 195310301980031002 Dekan Fakultas Farmasi (Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt.) NIP 195311281983031002 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena limpahan rahmat kasih dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul ”UJI EFEK HIPOGLIKEMIK NATRIUM ALGINAT DARI RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Terimakasih dan penghargaan yang tulus kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta, Rusli Ahmad dan Wardah, yang tiada pernah hentinya berkorban dengan tulus ikhlas bagi kesuksesan penulis, dan juga kepada kakakku Lia dan adikku Riki yang selalu setia memberi doa, dorongan serta semangatnya. Penulis juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt dan Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt., yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab selama melakukan penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi yang telah memberikan fasilitas sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan. 2. Bapak Alm Drs. Ubaidillah, M.Si., Apt dan Drs. Syahrial Yoenoes, SU., Apt., sebagai dosen wali yang telah banyak membimbing penulis selama masa perkuliahan hingga selesai. Universitas Sumatera Utara 3. Ibu Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt., selaku Kepala Laboratorium Farmakognosi dan Ibu Marianne, S.Si., M.Si., Apt selaku Kepala Laboratorium Farmakologi yang telah memberikan fasilitas sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian. 4. Bapak Prof. Dr. Urip Harahap, Apt., Ibu Dra. Aswita Hafni Lubis, M.Si., Apt., dan Bapak Drs. Panal Sitorus, M.Si., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberi masukan dan saran kepada penulis hingga selesainya penulisan skripsi ini. 5. Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi USU yang telah mendidik penulis selama masa perkuliahan. 6. Sahabat – sahabat terbaikku Nonie, Lia dan Riah yang selalu menyemangati dan menemani hidup penulis disaat susah dan senang. Rekan – rekan stambuk 2007, khususnya ”FKK’07”, k’vika, nova, melisa, nurul, karsi, darma, tonny, dani, ayu, eva dan teman - teman lainnya yang tidak dapat disebut satu per satu yang juga banyak membantu serta memberi dorongan dan semangat kepada penulis. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Medan, Agustus 2011 Penulis, ( Putri Yani ) Universitas Sumatera Utara UJI EFEK HIPOGLIKEMIK NATRIUM ALGINAT DARI RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C.Agardh TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN ABSTRAK Diabetes mellitus ( DM ) merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. Diabetes mellitus disebabkan oleh kekurangan hormon insulin yang berfungsi memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi dan sintesa lemak sehingga kekurangan hormon insulin dapat menyebabkan glukosa meningkat di dalam darah. Natrium alginat hasil ekstraksi dari rumput laut coklat jenis Sargassum sp. diduga berguna bagi penderita penyakit diabetes mellitus karena dapat memperlambat penyerapan glukosa pada saluran cerna ke dalam aliran darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian natrium alginat hasil ekstraksi dari rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh terhadap kadar glukosa darah tikus yang diinduksi aloksan. Penelitian meliputi karakterisasi ampas simplisia, isolasi alginat, dan pengujian efek penurun kadar glukosa darah dari natrium alginat hasil ekstraksi dari rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh terhadap tikus yang dibuat diabetes. Sebelum digunakan tikus terlebih dahulu diinduksi dengan aloksan 130 mg/Kg BB secara intraperitoneal. Peningkatan kadar glukosa darah diukur pada hari ke-3. Selanjutnya tikus dikelompokkan menjadi 5 kelompok dan diberikan suspensi natrium alginat secara oral dengan dosis 200, 400, 800 mg/kg BB, metformin dosis 50 mg/kg BB sebagai pembanding positif, dan suspensi NaCMC 0,5% sebagai pembanding negatif. Pengujian dilakukan pada hari ke-6 dan ke-9. Data yang diperoleh dianalisis secara analisis variansi kemudian dilanjutkan dengan metode Duncan. Hasil pemeriksaan karakterisasi ampas simplisia rumput laut diperoleh kadar air 12,62% (v/b), kadar sari larut dalam air 5,43% (b/b), kadar abu total 9,30% (b/b), kadar abu tidak larut dalam asam 0,39% (b/b). Hasil pengujian statistik (α=0,05) menunjukkan bahwa pada pemberian natrium alginat dosis 800 mg/kg BB memberikan penurunan kadar glukosa darah yang tidak berbeda secara nyata dengan pemberian suspensi metformin 50 mg/kg BB, sedangkan natrium alginat 200 dan 400 mg/Kg BB memberikan penurunan kadar glukosa darah yang berbeda secara nyata dengan pemberian suspensi metformin 50 mg/kg BB. Kata kunci: rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh, natrium alginat, aloksan, diabetes mellitus Universitas Sumatera Utara TEST OF HYPOGLIKEMIC EFFECT OF SODIUM ALGINATE OF SEAWEED (Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh) ON ALOXAN INDUCED WISTAR WHITE MALE RATS ABSTRACT Diabetes mellitus (DM) is one of the diseases of public health problems. Diabetes mellitus is caused by a deficiency of the hormone insulin that functions utilize glucose as an energy source and synthesis of fat so that the deficiency of insulin can cause accumulate glucose in the blood. Sodium alginate extracted from brown seaweed species Sargassum sp. thought to be useful for people with diabetes because it can slow the absorption of glucose in the gastrointestinal tract into the bloodstream. The objective of this research is to assess the effect of sodium alginate on rat blood glucose levels which induced aloxan. The research includes characterization of simplicia dregs, isolation alginate, and the assessment of blood glucose lowering effect of sodium alginate extracted from seaweed Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh of rats made diabetic. Before the rats are used, they are induced by 130 mg/kg bw alloxan intraperitoneally. Grouped into 5 groups of rats and then sodium alginate suspension was administered orally at a dosage of 200 mg / kg, 400 mg / kg, 800 mg / kg BW. Metformin dosage of 50 mg / kg BW as a positive control, and the suspension of Na-CMC 0.5% as the negative control. The tests performed on day 6 and 9. Data were analyzed with analysis of variance continued by Duncan. The result of the characterization of simplicia dregs seaweed showed water content of 12.62% (v/w), water soluble extract content of 5.43%(w/w), total ash content 9.30% (w/w), and ash insoluble in acid 0.39 % (w/w). The result of statistical tests (α=0.05) showed that the administration of sodium alginate 800 mg / kg BW gave a reduction in blood glucose levels did not differ significantly with the provision of metformin suspension dosage 50 mg / kg BW, while sodium alginate 200 and 400 mg / kg BW gave a decrease in blood glucose levels that were significantly different with the provision of metformin suspension 50 mg / kg. Keywords: seaweed Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh, sodium alginate, alloxan, diabetes mellitus Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman JUDUL . i HALAMAN PENGESAHAN . iii KATA PENGANTAR . iv ABSTRAK . vi ABSTRACT . . vii DAFTAR ISI . viii DAFTAR TABEL . xii DAFTAR GAMBAR . xiii DAFTAR LAMPIRAN . xiv BAB I. PENDAHULUAN 1 1.1 Latar belakang . 1 1.2 Perumusan masalah . 3 1.3 Hipotesis . 3 1.4 Tujuan Penelitian . 4 1.5 Manfaat Penelitian . 4 1.6 Kerangka Konsep Penelitian . 5 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA . 6 2.1 Uraian Tumbuhan . 6 2.1.1 Sistematika Tumbuhan . 6 2.1.2 Morfologi Tumbuhan . 6 2.2 Alginat . 7 2.2.1 Struktur Alginat . 7 Universitas Sumatera Utara 2.2.2 Sifat – Sifat Alginat . 8 2.3 Aloksan . 9 2.3.1 Definisi Aloksan . 9 2.3.2 Penagruh Aloksan Terhadap Kerusakan Sel β Pankreas . 9 2.4 Pengaturan Kadar Glukosa Darah . 10 2.4.1 Pankreas . 11 2.4.1.1 Insulin . 11 2.4.1.2 Glukagon . 11 2.4.2 Hati . 12 2.5 Diabetes Mellitus . 12 2.5.1 Klasifikasi Diabetes Mellitus . 13 2.5.1.1 Diabetes Mellitus Tipe 1 . 13 2.5.1.2 Diabetes Mellitus Tipe 2 . 13 2.5.1.3 Diabetes Mellitus Gestasional . 14 2.5.1.4 Diabetes Mellitus Tipe Lain . 14 2.5.2 Manajemen Terapi . 14 2.5.2.1 Terapi Insulin . 14 2.5.2.2 Terapi Obat Hipoglikemia . 15 2.5.3 Diagnosis . 17 BAB III. METODE PENELITIAN . . 18 3.1 Alat dan Bahan . 18 3.1.1 Alat . 18 3.1.2 Bahan . 18 3.2 Penyiapan Simplisia . . 19 Universitas Sumatera Utara 3.2.1 Pengambilan Bahan Tumbuhan. . 19 3.2.2 Identifikasi Bahan Tumbuhan . 19 3.2.3 Pengeringan Bahan Tumbuhan . 19 3.3 Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia . . 20 3.3.1 Pemeriksaan Makroskopik . 20 3.3.2 Pemeriksaan Mikroskopik . 20 3.3.3 Penetapan Kadar Air Simplisia . 20 3.3.4 Penetapan Kadar Sari yang Larut Dalam Air . . 21 3.3.5 Penetapan Kadar Sari yang Larut Dalam Etanol . 21 3.3.6 Penetapan Kadar Abu Total . 22 3.3.7 Penetapan Kadar Abu Tidak LarutAsam . . 22 3.4 Isolasi Alginat . . 22 3.4.1 Tahap Praekstraksi . . 23 3.4.2 Tahap Pemutihan . 23 3.4.3 Tahap Ekstraksi dan Pemurnian 23 3.4.4 Tahap Pembuatan Natrium Alginat . 23 3.5 Penetapan Karakterisasi Natrium Alginat Secara Spektrofotometri FTIR . 24 3.6 Penyiapan Hewan Percobaan . 24 3.7 Pengujian Farmakologi . 24 3.7.1 Pembuatan Larutan Aloksan 5% . 24 3.7.2 Pembuatan suspensi CMC Na 0,5% (b/v) . 24 3.7.3 Pembuatan Suspensi Natrium Alginat . 25 3.7.4 Pembuatan Suspensi Metformin Dosis 50 mg/Kg BB . 25 Universitas Sumatera Utara 3.7.5 Penyiapan Hewan Uji yang Hiperglikemia . 25 3.7.6 Penentuan Kadar Glukosa Darah (KGD) . 25 3.7.7 Penggunaan Alat Glukometer . 26 3.7.8 Pengujian Efek Penurunan Kadar Glukosa Darah. 26 3.8 Analisis Data . 27 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN . 28 4.1 Hasil Identifikasi Tumbuhan . 28 4.2 Hasil Karakteristik Simplisia 28 4.3 Hasil Pembuatan Natrium Alginat 29 4.4 Hasil Penetapan Karakterisasi Natrium Alginat Secara Spektrofotometri FTIR . 30 4.5 Hasil Uji Farmakologi . 30 4.5.1 Pengaruh Induksi Aloksan terhadap KGD Tikus 31 4.5.2 Pengukuran KGD Tikus Diabetes pada Hari ke-4 Setelah Pemberian Sediaan Uji 33 4.5.3 Pengukuran KGD Tikus Diabetes pada Hari ke-7 Setelah Pemberian Sediaan Uji 34 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN . . 37 5.1 Kesimpulan 37 5.2 Saran . 38 DAFTAR PUSTAKA . 39 LAMPIRAN . 42 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman Tabel 4.1 Hasil rata-rata KGD tikus setelah puasa selama 18 jam 31 Tabel 4.2 Hasil rata-rata KGD tikus setelah diinduksi aloksan dosis 130mg/kg BB . 32 Tabel 4.3 Hasil rata-rata KGD tikus hari ke-4 setelah pemberian sediaan uji . . 33 Tabel 4.4 Hasil uji beda rata-rata duncan terhadap KGD tikus pada hari ke- 6 . 34 Tabel 4.5 Hasil rata-rata KGD tikus hari ke-4 setelah pemberian sediaan uji . . 35 Tabel 4.6 Hasil uji beda rata-rata duncan terhadap KGD tikus pada hari ke-9 . 35 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1.1 Skema Kerangka Pikir Penelitian . 5 Gambar 2.1 Struktur Natrium Alginat . . 8 Gambar 2.2 Struktur Molekul Aloksan . . 9 Gambar 2.3 Skema Pengaturan Glukosa Darah . . 10 Gambar 4.1 Grafik yang menunjukkan KGD setelah pemberian Na Alginat dan Metformin . 33 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Identifikasi Tumbuhan . 42 Lampiran 2. Gambar Talus Rumput Laut (Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh) . . 43 Lampiran 3. Perhitungan Penetapan Karakteristik Simplisia . 47 Lampiran 4. Penetapan Kadar Abu Simplisia . 52 Lampiran 5. Bagan Pembutan Natrium Alginat . 53 Lampiran 6. Spektrum Identifikasi Natrium Alginat . 54 Lampiran 7. Bagan Alur Pengujian Efek Penurunan Kadar Glukosa Darah . 56 Lampiran 8. Bagan Alur Pengukuran Kadar Glukosa Darah Tikus . 57 Lampiran 9. Data Kadar Glukosa Darah Tikus Selama Penelitian . 58 Lampiran 10. Hasil SPSS . 60 Lampiran 11. Contoh Perhitungan Dosis . 64 Lampiran 12. Alat Pengukur Kadar Glukosa Darah Tikus . 67 Lampiran 13. Alat Spektrofotometri FTIR . 68 Universitas Sumatera Utara UJI EFEK HIPOGLIKEMIK NATRIUM ALGINAT DARI RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C.Agardh TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN ABSTRAK Diabetes mellitus ( DM ) merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat. Diabetes mellitus disebabkan oleh kekurangan hormon insulin yang berfungsi memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi dan sintesa lemak sehingga kekurangan hormon insulin dapat menyebabkan glukosa meningkat di dalam darah. Natrium alginat hasil khamir tumbuh dan berkembang biak lebih cepat dibanding kapang yang tumbuh dengan pembentukan filamen. Reproduksi vegetatif terjadi dengan cara pertunasan. Khamir juga lebih efektif dalam memecah komponen kimia dibanding kapang, karena mempunyai perbandingan luas permukaan dengan volume yang lebih besar. Sel khamir mempunyai ukuran yang bervariasi, yaitu dengan panjang 12-50 mm, dan lebar 1-10 mm. bentuk khamir bermacam-macam, yaitu bulat, oval, silinder, ogival yaitu bulat panjang dengan salah satu ujung runcing, segitiga melengkung (trianguler), berbentuk botol, bentuk alpukat atau lemon, membentuk pseudomiselium, dan sebagainya. Dinding selnya sangat tipis untuk sel-sel yang masih muda, dan semakin lama semakin tebal jika sel semakin tua. Komponen dinding selnya berupa glukan (selulosa khamir), mannan, protein, kitin dan lipid (Waluyo, 2005). 2.4.1 Karakteristik Fisiologi jamur Dengan mengetahui nutrisi dan morfologi jamur merupakan dasar untuk mengetahui ekologi jamur dan aspek ekologinya terhadap kerusakan yang Universitas Sumatera Utara disebabkan oleh jamur. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jamur yaitu : 1. Kelembapan dan aktivitas air Air berperan dalam reaksi metabolik didalam sel dan merupakan alat pengangkut zat gizi atau bahan buangan kedalam dan keluar sel, jika air mengalami kristalisasi dan membentuk es atau terikat secara kimia dalam gula atau garam maka air tersebut tidak dapat digunakan lagi. Jamur bersifat heterotrofik, memerlukan selapis air disekitar hifanya untuk tumbuh sehingga jika bersaing dengan mokroorganisme lain maka jamur akan kalah. Jumlah air dalam makanan disebut aktivitas air (aw) merupakan perbandingan tekanan uap pelarut (umumnya air), sebanding dengan kelembapan relative (RH) dari udara atmosfir. 2. Suhu Suhu mempengaruhi pertumbuhan organisme melalui (a) kenaikan suhu membuat kecepatan metabolisme meningkat dan pertumbuhan dipercepat dan (b) suhu terlalu tinggi atau terlalu rendah membuat pertumbuhan terhenti, komponen sel menjadi tidak aktif dan sel akan mati. Kebanyakan kapang bersifat mesofilik sehingga tumbuh baik pada suhu ruangan dengan suhu optimal 25-30oC dan suhu minimum sekitar 5oC hifa jamur dapat tumbuh pada suhu yang ekstrim (Frazier & Westhoff, 1988). 3. Oksigen dan pH Jamur dan kapang bersifat aerobik sehingga pertumbuhannya memerlukan oksigen. Sel jamur dapat didapar, pernafasan endogen pada medium eksternal yang berbeda berada pada rentang pH 5-8, tetapi umumnya pada Universitas Sumatera Utara pH asam. Pernafasan eksogen dan pertumbuhan hifa dipengaruhi oleh perubahan pH eksternal dimana mekanisme yang sesungguhnya belum diketahui. Karbondioksida sebanyak 10% dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur . 4. Makanan Mikroorganisme memerlukan suplai makanan untuk sumber energi dan menyediakan unsur kimia dasar untuk pertumbuhan sel. Jamur dan kapang mempunyai enzim hidrolitik, beberapa mempunyai enzim amylase, pektinase, proteinase, dan lipase untuk mencerna bahan makanan (Fardiaz, 1992). 2.4.2 Candida albicans Klasifikasi Candida albicans sebagai berikut: Divisio : Eumycophyta Kelas : Deuteromycetes Ordo : Melaneoniales Familia : Moniliaceae Genus : Candida Spesies : Candida albicans Candida albicans adalah jamur lonjong bertunas yang menghasilkan pseudomisellium dalam biakan, jaringan dan eksudat. Ukuran C. albicans yaitu 23 µ m x 4-6 µ m. C. albicans merupakan anggota flora normal selaput lendir, saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan genitalia wanita. C. albicans dapat menimbulkan invasi dalam aliran darah, trombofiebitis, endo karditas atau infeksi pada mata dan organ lain. C.albicans mampu meragikan glukosa dan maltosa, Universitas Sumatera Utara menghasilkan asam dan gas, tidak bereaksi dengan laktosa. Peragian karbohidrat ini bersama-sama dengan sifat koloni dan morfologi koloni, membedakan C.albicans dengan spesies candida lainnya (Jawetz et al, 1986). Infeksi yang disebabkan oleh jamur C.albicans antara lain: 1. Mulut Infeksi mulut (sariawan) terutama pada bayi, terjadi pada selaput lendir pipi dan nampak sebagai bercak putih yang sebagian besar terdiri atas pseudomisellium dan epitel yang terkelupas. 2. Genitalia wanita Vulvovaginitis menyerupai sariawan, tetapi menimbulkan iritasi dan gatal yang hebat. Timbulnya vulvovaginitis dipermudah oleh pH alkali. Dalam keadaan normal pH dinetralkan oleh kuman vagina. 3. Kulit Infeksi kulit terutama terjadi pada bagian tubuh yang basah, hangat seperti ketiak, lipatan paha, atau lipatan dibawah payudara, infeksi paling sering terdapat pada orang gemuk dan diabetes. Infeksi pada kulit antara jari-jari tangan paling sering setelah pencelupan dalam air yang berlangsung lama dan berulang. 4. Kuku Rasa sakit, bengkak kemerahan dari lipatan kuku dapat mengakibatkan penebalan dan akhirnya kehilangan kuku. 5. Paru-paru dan organ-organ lain Universitas Sumatera Utara Infeksi candida dapat merupakan invasi sekunder paru-paru, ginjal, dan organ-organ lain dimana terdapat penyakit sebelumnya (misalnya tuberkolosis dan kanker) (Jawetz et al, 1995). Gambar 1. Jamur Candida albicans (www.linedrawing.com) 2.4.3 Media Pertumbuhan Bakteri Media biakan dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori, yaitu: a. Berdasarkan asalnya, media dibagi atas: 1. Media sintetik yaitu media yang kandungan dan isi bahan yang ditambahkan diketahui secara terperinci. Contoh: glukosa, kalium fosfat, magnesium fosfat. 2. Media non-sintetik yaitu media yang kandungan dan isinya tidak diketahui secara terperinci dan menggunakan bahan yang terdapat di alam. Contohnya: ekstrak daging, pepton (Lay, BW, 1994). b. Berdasarkan kegunaannya, dapat dibedakan menjadi: 1. Media selektif Universitas Sumatera Utara Media selektif adalah media biakan yang mengandung paling sedikit satu bahan yang dapat menghambat perkembang biakan mikroorganisme yang tidak diinginkan dan membolehkan perkembang biakan mikroorganisme tertentu yang ingin diisolasi, contohnya: MSA, PDA, Saboaraut Agar (SA). 2. Media diferensial Media ini digunakan untuk menyeleksi suatu mikroorganisme dari berbagai jenis dalam suatu lempengan agar, contohnya: EMB, SSA. 3. Media diperkaya Media ini digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme yang diperoleh dari lingkungan alami karena jumlah mikroorganisme yang ada terdapat dalam jumlah sedikit, beberapa zat organik yang mengandung zat karbon dan nitrogen (Irianto, K, 2006). c. Berdasarkan konsistensinya, dibagi atas (Irianto, K, 2006): 1. Media padat/ solid 2. Media semi solid 3. Media cair 2.4.4 Metode isolasi biakan jamur a) Cara gores Ose yang telah steril dicelupkan ke dalam suspensi mikroorganisme yang diencerkan, lalu dibuat serangkaian goresan sejajar yang tidak saling menutupi di atas permukaan agar yang telah padat. b) Cara sebar Universitas Sumatera Utara Suspensi mikroorganisme yang telah diencerkan diinokulasikan secara merata dengan menggunakan hockey stick pada permukaan media padat. c) Cara tuang Pengenceran inokulum yang berturut-turut diletakkan pada cawan petri steril dan dicampurkan dengan medium agar cair, lalu dibiarkan memadat. Koloni yang berkembang akan tertanam di dalam media tersebut (Stanier, RY et al, 1982). 2.4.5 Pengukuran aktivitas antimikroba Penentuan kepekaan bakteri patogen terhadap antibakteri tertentu dapat dilakukan dengan salah satu dari dua metode pokok yaitu dilusi atau difusi. Penting sekali menggunakan metode standar untuk mengendalikan semua faktor yang mempengaruhi aktivitas antimikroba. a. Metode dilusi Metode ini menggunakan antimikroba dengan kadar yang menurun secara bertahap, baik dengan media cair atau padat. Kemudian media diinokulasi bakteri uji dan dieramkan. Tahap akhir dilmasukkan antimikroba dengan kadar yang menghambat atau mematikan. Uji kepekaan cara dilusi agar memakan waktu dan penggunaannya dibatasi pada keadaan tertentu saja (Jawetz et al, 1995). b. Metode difusi Metode yang paling sering digunakan adalah metode difusi agar. Cakram kertas saring berisi sejumlah tertentu obat ditempatkan pada permukaan medium padat yang sebelumnya telah diinokulasi bakteri uji pada permukaannya. Setelah inkubasi, diameter zona hambatan sekitar cakram dipergunakan mengukur kekuatan hambatan obat terhadap organisme uji. Metode ini dipengaruhi oleh Universitas Sumatera Utara beberapa faktor fisik dan kimia, selain faktor antara obat dan organisme (misalnya sifat medium dan kemampuan difusi, ukuran molekular dan stabilitas obat). Meskipun demikian, standarisasi faktor-faktor tersebut memungkinkan melakukan uji kepekaan dengan baik (Jawetz et al, 1995). c. Metode turbidimetri Kedalam tabung reaksi ditambahkan 1 ml larutan antibiotik dan 9 ml inokulum. Diinkubasikan pada suhu 30ºC selama 3-4 jam. Serapan diukur dengan spektrofotometer pada 530 nm. Kadar antibiotik ditentukan berdasarkan perbandingan serapannya terhadap serapan standar (Wattimena, 1991). Universitas Sumatera Utara BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian yang dilakukan adalah metode 159 209 254 136 195,83 42,08 Hari ke- 7 95 117 83 101 88 92 96,00 11,97 Universitas Sumatera Utara Lampiran 13. (Lanjutan) 5. KGD tikus setelah pemberian Suspensi Metformin dosis 50 mg/kg bb No.Hewan 1 2 3 4 5 6 BB Tikus (g) 189.6 188.7 188.0 194.9 191.7 183.1 Rata-rata SD KGD Puasa KGD puasa sebelum setelah diinduksi diinduksi Aloksan Aloksan (mg/dl) (mg/dl) 96 78 82 75 80 86 82,83 7,44 447 405 355 399 326 369 383,50 42,57 KGD setelah perlakuan (mg/dl) Hari ke- 4 241 277 198 232 216 227 231,83 26,62 Hari ke- 7 89 93 83 104 79 88 89,33 8,69 Universitas Sumatera Utara Lampiran 14. Data Pengukuran Rata-Rata KGD Tikus Setelah Perlakuan No. Perlakuan 1 Kontrol diabetes 2 EEBJ 200 mg/kg bb 3 EEBJ 400 mg/kg bb 4 EEBJ 600 mg/kg bb 5 Metformin 50 mg/kg bb KGD KGD Puasa puasa sebelum setelah diinduksi diinduksi Aloksan Aloksan (mg/dl) (mg/dl) 81,83 378,67 ± ± 3,31 32,99 82,00 367,00 ± ± 4,73 35,04 81,83 361,17 ± ± 2,64 45,52 83,67 432,00 ± ± 5,57 58,67 82,83 383,50 ± ± 7,44 42,58 KGD setelah perlakuan (mg/dl) Hari ke- 4 462,00 ± 74,83 308,50 ± 37,49 266,00 ± 28,30 195,83 ± 42,08 231,83 ± 26,62 Hari ke- 7 529,50 ± 27,17 152,00 ± 27,43 124,83 ± 17,76 96,00 ± 11,97 89,33 ± 8,69 Universitas Sumatera Utara Lampiran 15. Data Pengukuran Kadar Glukosa Darah Tikus 1. Pengukuran KGD Tikus Hari ke-4 setelah pemberian sediaan uji No. Perlakuan 1 Kontrol diabetes 2 EEBJ 200 mg/kg bb 3 EEBJ 400 mg/kg bb 4 EEBJ 600 mg/kg bb 5 Metformin 50 mg/kg bb KGD tikus ± SD (mg/dl) Hari ke-1 Hari ke-4 378,67 462,00 ± ± 32,99 74,83 367,00 308,50 ± ± 35,04 37,49 361,17 266,00 ± ± 45,52 28,30 432,00 195,83 ± ± 58,67 42,08 383,50 231,83 ± ± 42,58 26,62 ∆ KGD ± SD (mg/dl) -83,33 ± 29,58 58,50 ± 1,73 95,17 ± 12,17 236,17 ± 11,73 151,67 ± 11,28 2. Penurunan KGD Tikus Hari ke-7 setelah pemberian sediaan uji No. Perlakuan 1 Kontrol diabetes 2 EEBJ 200 mg/kg bb 3 EEBJ 400 mg/kg bb 4 EEBJ 600 mg/kg bb 5 Metformin 50 mg/kg bb KGD tikus ± SD (mg/dl) Hari ke-1 Hari ke-7 378,67 529,50 ± ± 32,99 27,17 367,00 152,00 ± ± 35,04 27,43 361,17 124,83 ± ± 45,52 17,76 432,00 96,00 ± ± 58,67 11,97 383,50 89,33 ± ± 42,58 8,69 ∆ KGD ± SD (mg/dl) -150,83 ± 4,12 215,00 ± 5,38 236,33 ± 19,63 336,00 ± 33,03 294,17 ± 23,96 Universitas Sumatera Utara Lampiran 16. Perbandingan KGD Tikus Untuk Setiap Pengukuran 1. Penurunan KGD Tikus pada Hari ke-1 sampai Hari ke-4 setelah pemberian sediaan uji No. Perlakuan 1 Kontrol diabetes 2 EEBJ 200 mg/kg bb 3 EEBJ 400 mg/kg bb 4 EEBJ 600 mg/kg bb 5 Metformin 50 mg/kg bb KGD tikus ± SD (mg/dl) Hari ke-1 Hari ke-4 378,67 462,00 ± ± 32,99 74,83 367,00 308,50 ± ± 35,04 37,49 361,17 266,00 ± ± 45,52 28,30 432,00 195,83 ± ± 58,67 42,08 383,50 231,83 ± ± 42,58 26,62 ∆ KGD ± SD (mg/dl) -83,33 ± 29,58 58,50 ± 1,73 95,17 ± 12,17 236,17 ± 11,73 151,67 ± 11,28 2. Penurunan KGD Tikus pada Hari ke-4 sampai Hari ke-7 setelah pemberian sediaan uji No. Perlakuan 1 Kontrol diabetes 2 EEBJ 200 mg/kg bb 3 EEBJ 400 mg/kg bb 4 EEBJ 600 mg/kg bb 5 Metformin 50 mg/kg bb KGD tikus ± SD (mg/dl) Hari ke-4 Hari ke-7 462,00 529,50 ± ± 74,83 27,17 308,50 152,00 ± ± 37,49 27,43 266,00 124,83 ± ± 28,30 17,76 195,83 96,00 ± ± 42,08 11,97 231,83 89,33 ± ± 26,62 8,69 ∆ KGD ± SD (mg/dl) -67,50 ± 33,69 156,50 ± 7,11 141,17 ± 7,46 99,83 ± 21,29 142,50 ± 12,68 Universitas Sumatera Utara Lampiran 17. Analisis SPSS Oneway ANAVA Sebelum diinduksi aloksan 125 mg/kg bb Sumber Variasi JK DB Perlakuan Galat Total KT F hitung 15,53 4 3,88 633,83 25 25,35 649,37 29 Setelah diinduksi aloksan 125 mg/kg bb Sumber Variasi JK DB KT F hitung Perlakuan 18851,80 4 4712,95 Galat 48221,67 25 1928,87 Total 67073,47 29 Hari ke-4 setelah pemberian sediaan uji Sumber Variasi JK DB Perlakuan KT 4 64069,25 Galat 51429,17 25 2057,17 Total 307706,17 29 Perlakuan 2,44 F hitung 256277,00 Hari ke-7 setelah pemberian sediaan uji Sumber Variasi JK DB 0,15 KT 31,14 F hitung 837441,00 4 209360,25 Galat 10121,67 25 404,87 Total 847562,67 29 517,11 F tabel 2,76 F tabel 2,76 F table 2,76 F tabel. 2,76 Universitas Sumatera Utara Lampiran 17. (Lanjutan) Post Hoc Tests Homogeneous Subsets Sebelum diinduksi aloksan 125 mg/kg bb Subset for alpha = 0.05 Perlakuan Duncana N 1 kontrol CMC 6 81,83 EEBJ 400 mg/kg bb 6 81,83 EEBJ 200 mg/kg bb 6 82,00 Metformin 50 mg/kg bb 6 82,83 EEBJ 600 mg/kg bb 6 83,67 Sig. 0,58 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6,000. Setelah diinduksi aloksan 125 mg/kg bb Subset for alpha = 0.05 Perlakuan Duncana N 1 2 EEBJ 400 mg/kg bb 6 361,17 EEBJ 200 mg/kg bb 6 367,00 kontrol CMC 6 378,67 378.67 Metformin 50 mg/kg bb 6 383,50 383.50 EEBJ 600 mg/kg bb 6 Sig. 432.00 0,43 0,06 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6,000. Universitas Sumatera Utara Lampiran 17. (Lanjutan) Hari 4 setelah pemberian sediaan uji Subset for alpha = 0.05 Perlakuan N Duncana EEBJ 600 mg/kg bb 1 2 6 195,83 Metformin 50 mg/kg bb 6 231,83 EEBJ 400 mg/kg bb 6 EEBJ 200 mg/kg bb 6 kontrol CMC 6 3 4 231,83 266,00 266,00 308,50 462,00 Sig. 0,18 0,20 0,12 1,00 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6,000. Hari 7 setelah pemberian sediaan uji Subset for alpha = 0.05 Perlakuan Duncana Metformin 50 mg/kg bb N 1 2 6 89,33 EEBJ 600 mg/kg bb 6 96,00 EEBJ 400 mg/kg bb 6 EEBJ 200 mg/kg bb 6 kontrol CMC 6 Sig. 3 4 124,83 152,00 529,50 0,57 1,00 1,00 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 6,000. Universitas Sumatera Utara 1,00 Lampiran 18. Alat pengukur kadar glukosa darah i ii iii iv Keterangan gambar : i = Alat ukur GlucoDrTM ii = Vial tes strip GlucoDrTM iii = Tes strip kalibrasi GlucoDrTM iv = Tes strip GlucoDrTM Universitas Sumatera Utara Lampiran 19. Alat-Alat yang digunakan Gambar alat destilasi Gambar perkolator Universitas Sumatera Utara Lampiran 19. (Lanjutan) Gambar Rotary Evaporator (Heidolph WB 2000) Gambar Freeze Dryer (Virtis) Universitas Sumatera Utara Lampiran 20. Bagan kerja penelitian Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Lampiran 21. Data Hasil Orientasi Uji Toleransi Glukosa 1. Setelah pemberian larutan glukosa 50% b/v dosis 5 g/kg bb No. Hewan BB Tikus (g) KGD Puasa (mg/dl) KGD setelah pemberian larutan glukosa 50% b/v (mg/dl) Waktu (menit) 30 60 90 120 150 180 1. 178 97 212 193 178 169 154 129 2. 181 91 202 197 188 174 159 134 3. 180 89 207 191 184 168 153 131 92,33 207,00 193,67 183,33 170,33 155,33 131,33 Rata-rata 2. Setelah pemberian suspensi Ekstrak Etanol Biji Jengkol dosis 100 mg/kg bb No. Hewan BB Tikus (g) KGD Puasa (mg/dl) KGD setelah pemberian larutan glukosa 50% b/v dan EEBJ dosis 100 mg/kg bb (mg/dl) Waktu (menit) 30 60 90 120 150 180 1. 178 99 202 191 176 163 144 128 2. 181 87 211 184 169 162 151 126 3. 180 92 206 187 173 159 147 129 92,67 206,33 187,33 172,67 161,67 147,33 127,67 Rata-rata 3. Setelah pemberian suspensi Ekstrak Etanol Biji Jengkol dosis 200 mg/kg bb No. Hewan BB Tikus (g) KGD Puasa (mg/dl) KGD setelah pemberian larutan glukosa 50% b/v dan EEBJ dosis 200 mg/kg bb (mg/dl) Waktu (menit) 30 60 90 120 150 180 1. 183 101 197 173 159 143 132 123 2. 181 87 207 176 148 139 124 113 3. 177 95 216 183 163 142 129 119 94,33 206,67 177,33 156,67 141,33 128,33 118,33 Rata-rata Universitas Sumatera Utara Lampiran 21. (Lanjutan) 4. Setelah pemberian suspensi Metformin dosis 50 mg/kg bb No. Hewan BB Tikus (g) KGD Puasa (mg/dl) KGD setelah pemberian larutan glukosa 50% b/v dan metformin dosis 50 mg/kg bb (mg/dl) Waktu (menit) 30 60 90 120 150 180 1. 183 91 213 187 175 155 124 96 2. 179 89 221 191 169 149 110 87 3. 186 85 218 196 174 142 116 92 88,33 217,33 191,33 172,67 148,67 116,67 91,67 Rata-rata Universitas Sumatera Utara Lampiran 22. Data Hasil Orientasi Metode Induksi Aloksan KGD KGD Puasa puasa sebelum setelah diinduksi diinduksi aloksan aloksan (mg/dl) (mg/dl) Kelompok BB Tikus (g) I 186,1 79 II 183,2 III KGD setelah pemberian sediaan uji (mg/dl) Hari ke-1 Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4 Hari ke-5 Hari ke-6 Hari ke-7 383 383 375 389 328 373 435 497 89 380 380 357 324 306 254 219 185 190,6 82 382 382 325 302 284 227 178 134 IV 188,5 83 421 421 328 287 213 186 126 95 V 189,6 96 447 447 316 294 241 184 121 89 Keterangan : I = kelompok pemberian Kontrol Na-CMC 0,5% II = kelompok pemberian EEBJ dosis 200 mg/kg bb III = kelompok pemberian EEBJ dosis 400 mg/kg bb IV = kelompok pemberian EEBJ dosis 600 mg/kg bb V = kelompok pemberian Metformin dosis 50 mg/kg bb Universitas Sumatera Utara
Uji Efek Hipoglikemik Natrium Alginat Dari Rumput Laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh Terhadap Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Aloksan Alat dan Bahan .1 Alat Penyiapan Simplisia .1 Pengumpulan Bahan Tumbuhan Alginat Aloksan .1 Definisi Aloksan Diabetes Mellitus TINJAUAN PUSTAKA Hasil Identifikasi Tumbuhan Hasil Karakteristik Simplisia Hasil Pembuatan Natrium Alginat Hasil Penetapan Karakterisasi Natrium Alginat Secara Spektofotometri FTIR Hasil Uji Farmakologi Isolasi Alginat Penetapan Karakterisasi Natrium Alginat Secara Spektrofotometri FTIR Penyiapan Hewan Percobaan Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia METODE PENELITIAN Pengaturan Kadar Glukosa Darah Pengujian Farmakologi .1 Pembuatan Larutan Aloksan 5 Perumusan Masalah Hipotesis Tujuan Penelitian
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Uji Efek Hipoglikemik Natrium Alginat Dari Rumput Laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh Terhadap Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Aloksan

Gratis