Feedback

Pemberitaan Pembatasan BBM Bersubsidi di TV One dan Perilaku Mahasiswa dalam Memilih BBM

Informasi dokumen
Pemberitaan Pembatasan BBM Bersubsidi dan Perilaku Mahasiswa (Studi korelasional pengaruh pemberitaan pembatasan BBM bersubsidi di TV One terhadap perilaku mahasiswa USU dalam memilih BBM) Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menyelesaikan Pendidikan Sarjana (S-1) Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Diajukan Oleh : ERVANDO PERANGIN-ANGIN 060904078 DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara ABSTRAKSI Penelitian ini berjudul “Pemberitaan Pembatasan BBM Bersubsidi dan Perilaku Mahasiswa”. Penelitian ini bersifat korelasional yang menjelaskan hubungan antara pemberitaan pembatasan BBM bersubsidi di TV One dengan perilaku mahasiswa USU dalam memilih BBM. Perumusan masalah dalam penelitian tersebut adalah “Bagaimana pemberitaan pembatasan BBM bersubsidi di TV One berpengaruh terhadap perilaku mahasiswa USU dalam memilih BBM. Penelitian ini dilakukan hanya pada berita mengenai pembatasan BBM bersubsidi di TV One dari bulan November 2010 sampai Februari 2011. Obyek dari penelitian ini adalah mahasiswa USU yang mempunyai kendaraan pribadi. Penarikan Sampel dalam penelitian ini diambil berdasarkan Sampel Stratifikasi Proporsional (Proportional Stratified Sampling). Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan dengan menggunakan kuesioner atau daftar pertanyaan. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis tabel tunggal yang menjelaskan tanggapan mahasiswa terhadap variabel X dan variabel Y, selanjutnya untuk menemukan hubungan atau korelasi antara pemberitaan pembatasan BBM bersubsidi di TV One dan perilaku mahasiswa USU dalam memilih BBM maka dilakukan analisis tabel silang. Dari analisis tabel silang dapat dilihat bagaimana korelasi antara dua variabel tersebut. Setelah melakukan uji hipotesis maka nilai korelasi antara pemberitaan pembatasan BBM bersubsidi dengan perilaku mahasiswa dalam memilih BBM diperoleh 0,383, dalam skala Guilford berada di antara 0,20-040, sehingga dapat dikatakan bahwa korelasi pemberitaan BBM bersubsidi di TV One dengan perilaku mahasiswa USU dalam memilih BBM mempunyai hubungan yang rendah tapi pasti. Besarnya pengaruh pemberitaan pembatasan BBM bersubsidi terhadap perilaku mahasiswa dalam memilih BBM adalah 14,6 %. Sedangkan sisanya sebesar 85,4 % kurang berpengaruh karena faktor harga pertamax yang lebih mahal. Rendahnya hubungan kedua variabel disebabkan karena faktor harga. Memang sebagian besar mahasiswa sering menonton berita mengenai pembatasan BBM bersubsidi di TV One, dan mengerti maksud berita tersebut, namun karena faktor harga yang lebih mahal membuat mahasiswa kurang bertindak menggunakan BBM non subsidi seperti pertamax. Berdasarkan hasil pengolahan data, terlihat angka probabilitas hubungan antara pemberitaan pembatasan BBM bersubsidi dengan perilaku mahasiswa USU dalam memilih BBM sebesar 0,089. Angka probabilitas 0,089>0,05 maka hubungan kedua variabel adalah signifikan dan layak untuk diteliti. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengaruh pemberitaan pembatasan BBM bersubsidi terhadap perilaku mahasiswa USU dalam memilih BBM, mempunyai hubungan yang rendah tetapi pasti, signifikan, dan searah. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Segala puji syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkatNya saya dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik mungkin. Skripsi ini diberi judul “Pemberitaan Pembatasan BBM Bersubsidi di TV One dan Perilaku Mahasiswa dalam Memilih BBM”. Penelitian ini bersifat korelasional yang menjelaskan hubungan antara pemberitaan pembatasan BBM bersubsidi dengan perilaku mahasiswa dalam memilih BBM. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang mempunyai kendaraan pribadi. Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2011. Sebagai individu yang berjiwa humanis, maka penelitian ini membutuhkan dukungan dan kerja sama dengan orang-orang yang dekat dengan penulis, yakni, orang tua, orang-orang di Departemen Ilmu Komunikasi USU tempat penulis menjalani studi, kerabat dekat, rekan mahasiswa, oleh karena itu saya tidak lupa mengucapkan berterima kasih kepada : 1. Orang tua saya yang selalu memberikan perhatian, motivasi, dan do’a kepada saya. 2. Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku dekan FISIP USU. 3. Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A., selaku ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU. 4. Ibu Dra. Dayana, M.Si yang telah membimbing saya dalam menyelesaikan skripsi ini. 5. Dra. Lusiana A. Lubis, M.Si selaku dosen wali, yang telah membantu saya selama menjalani perkuliahan. 6. Kak Maya dan Kak Icut yang membantu dalam menyelesaikan skripsi ini. Universitas Sumatera Utara 7. Rekan-rekan mahasiswa yang selalu mendukung saya, M. Yahdi Ghufron, Bayu Juliandra Putra, Siska Tri Yola, Merni, Minarno. 8. Seluruh mahasiswa USU yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini khususnya mahasiswa FISIP USU. 9. Saudara saya yang berada di Jl. Ladang P. Bulan yang telah memberikan tempat tinggal selama menjalani perkuliahan dan memberikan dukungan materi dan motivasi kepada saya. 10. Teman-teman yang telah memberikan dukungan, Emra Masri Sinulingga dan Jonson Sinuraya. Peneliti berusaha menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik mungkin, namun peneliti tak pernah lepas dari kesalahan atau kekurangan, sehingga peneliti mengharapkan kritik dan saran untuk menyempurnakan hasil penelitian ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan peneliti sendiri untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita khususnya mengenai BBM non subsidi. Akhir kata peneliti mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan semua pihak. Medan, 18 Maret 2011 Penulis ERVANDO PERANGIN-ANGIN Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI ABSTRAKSI KATA PENGANTAR . DAFTAR ISI DAFTAR TABEL i ii iv vi BAB I PENDAHULUAN . 1.1 Latar Belakang 1.2 Perumusan Masalah. 1.3 Pembatasan Masalah . 1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 1.4.1 Tujuan Penelitian . 1.4.2 Manfaat Penelitian . 1.5 Kerangka Teori . 1.5.1 Komunikasi 1.5.2 Televisi sebagai Media Komunikasi Massa . . 1.5.3 Berita . 1.5.4 Model S-O-R . 1.5.5 Teori AIDDA . 1.6 Kerangka Konsep . 1.7 Model Teoritis 1.8 Variabel Operasional . 1.9 Definisi Operasional . 1.10 Hipotesis . 1 1 6 6 6 6 7 7 8 9 9 17 18 19 21 21 23 26 BAB II URAIAN TEORITIS . 2.1 Komunikasi 2.2 Televisi Sebagai Media Komunikasi Massa . 2.2.1 Pengertian Televisi 2.2.2 Fungsi Televisi . . 2.2.3 Sejarah Perkembangan Televisi 2.2.4 Sejarah Televisi di Indonesia 2.3 Berita . 2.3.1 Pengertian Berita . 2.3.2 Nilai-nilai Berita 2.3.3 Jenis-jenis Berita . 2.3.4 Unsur-unsur Berita 2.3.5 Struktur Berita . 2.4 Model Teori S-O-R 2.5 Teori AIDDA 2.6 Tentang TV One 27 27 28 28 29 30 33 34 34 35 37 39 40 40 44 45 Universitas Sumatera Utara 2.7 Bahan Bakar Minyak (BBM) 2.7.1 Jenis-jenis Bahan Bakar 2.8 Pengertian Mahasiswa . 48 48 50 BAB III Metodologi Penelitian 3.1 Lokasi Penelitian . 3.2 Populasi dan Sampel . 3.2.1 Populasi . 3.2.2 Sampel 3.3 Teknik Penarikan Sampel . 3.4 Teknik Pengumpulan Data 3.5 Teknik Analisis Data 52 52 53 53 54 55 59 59 BAB IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian. 4.2 Analisis Tabel Tunggal . 4.3 Analisis Tabel Silang . 4.4 Uji Hipotesis . 4.5 Pembahasan . 62 62 65 95 103 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan . 5.2 Saran . 109 109 110 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN - Daftar Kode Responden - Surat Izin Penelitian - Daftar Bimbingan - Kuesioner - Biodata Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL No. Tabel Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Tabel 9. Tabel 10. Tabel 11. Tabel 12. Tabel 13. Tabel 14. Tabel 15. Tabel 16. Tabel 17. Tabel 18. Tabel 19. Tabel 20. Tabel 21. Tabel 22. Tabel 23. Tabel 24. Tabel 25. Tabel 26. Tabel 27. Tabel 28. Tabel 29. Tabel 30. Tabel 31. Tabel 32. Tabel 33 Tabel 34. Tabel 35. Halaman Variabel Operasional . . . . . . Data Populasi Mahasiswa USU . . . . . Proporsi Mahasiswa dari setiap Fakultas . . . . Frekuensi Menonton Mahasiswa USU. . . . Frekuensi Menonton Berita Pembatasan BBM bersubsidi. . . . . . Kejelasan Penyampaian Berita. . . . . Tampilan Gambar dalam Berita . . . . . Kesesuaian Pesan dengan Tampilan Gambar . . . . . Watak Penyaji Berita Dengan Berita yang Disajikan . . . . . Intonasi Bahasa . . . . . . . Ekspresi Wajah Penyaji Berita . . . . . Warna Suara Penyaji Berita . . . . . Keterkaitan Topik dengan Aspek Ekonomi . . . . . . . Keluarbiasaan Berita. . . . . . Kebaruan Berita . . . . . . . Dampak Berita . . . . . . Aktualitas. . . Meberikan Informasi . . . Kedekatan Berita dengan Kehidupan Masyarakat . . . . . . Pertentangan di Masyarakat Terhadap Berita. Keterkejutan Masyarakat terhadap Berita . . . Perhatian terhadap BBM Non Subsidi . . . Pengetahuan terhadap Perbedaan BBM . . . Kesan terhadap BBM Non Subsidi. . . Ketertarikan terhadap BBM Non Subsidi . . . . Keinginan Mengetahui BBM Non Subsidi . . Minat Menggunakan BBM Non Subsidi . . . . Kesesuaian BBM Non Subsidi dengan Kebutuhan . . Keputusan Menerima BBM Non Subsidi . . . . Tindakan Menggunakan BBM Non Subsidi. . . Hubungan Frekuensi Menonton Dengan Perhatian terhadap BBM Non Subsidi . . . Hubungan Frekuensi Berita dengan Pengetahuan terhadap BBM. . . . . . Hubungan Frekuensi Menonton Berita Dengan Kesan terhadap BBM Non Subsidi. . . . Hubungan Frekuensi Menonton Berita Dengan Ketertarikan terhadap BBM Non Subsidi . . . Hubungan Frekuensi Menonton Berita dengan Keinginan Mengetahui BBM Non Subsidi . . . 22 53 57 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 Universitas Sumatera Utara Tabel 36. Tabel 37. Tabel 38. Hubungan Frekuensi Menonton Berita Dengan Minat Menggunakan BBM Non Subsidi . . . Hubungan Frekuensi Menonton Berita Dengan Menerima penggunaan BBM Non Subsidi. . . Hubungan Frekuensi Menonton Berita Dengan tindakan menggunakan BBM Non Subsidi. . . 99 100 101 Universitas Sumatera Utara ABSTRAKSI Penelitian ini berjudul “Pemberitaan Pembatasan BBM Bersubsidi dan Perilaku Mahasiswa”. Penelitian ini bersifat korelasional yang menjelaskan hubungan antara pemberitaan pembatasan BBM bersubsidi di TV One dengan perilaku mahasiswa USU dalam memilih BBM. Perumusan masalah dalam penelitian tersebut adalah “Bagaimana pemberitaan pembatasan BBM bersubsidi di TV One berpengaruh terhadap perilaku mahasiswa USU dalam memilih BBM. Penelitian ini dilakukan hanya pada berita mengenai pembatasan BBM bersubsidi di TV One dari bulan November 2010 sampai Februari 2011. Obyek dari penelitian ini adalah mahasiswa USU yang mempunyai kendaraan pribadi. Penarikan Sampel dalam penelitian ini diambil berdasarkan Sampel Stratifikasi Proporsional (Proportional Stratified Sampling). Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan dengan menggunakan kuesioner atau daftar pertanyaan. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis tabel tunggal yang menjelaskan tanggapan mahasiswa terhadap variabel X dan variabel Y, selanjutnya untuk menemukan hubungan atau korelasi antara pemberitaan pembatasan BBM bersubsidi di TV One dan perilaku mahasiswa USU dalam memilih BBM maka dilakukan analisis tabel silang. Dari analisis tabel silang dapat dilihat bagaimana korelasi antara dua variabel tersebut. Setelah melakukan uji hipotesis maka nilai korelasi antara pemberitaan pembatasan BBM bersubsidi dengan perilaku mahasiswa dalam memilih BBM diperoleh 0,383, dalam skala Guilford berada di antara 0,20-040, sehingga dapat dikatakan bahwa korelasi pemberitaan BBM bersubsidi di TV One dengan perilaku mahasiswa USU dalam memilih BBM mempunyai hubungan yang rendah tapi pasti. Besarnya pengaruh pemberitaan pembatasan BBM bersubsidi terhadap perilaku mahasiswa dalam memilih BBM adalah 14,6 %. Sedangkan sisanya sebesar 85,4 % kurang berpengaruh karena faktor harga pertamax yang lebih mahal. Rendahnya hubungan kedua variabel disebabkan karena faktor harga. Memang sebagian besar mahasiswa sering menonton berita mengenai pembatasan BBM bersubsidi di TV One, dan mengerti maksud berita tersebut, namun karena faktor harga yang lebih mahal membuat mahasiswa kurang bertindak menggunakan BBM non subsidi seperti pertamax. Berdasarkan hasil pengolahan data, terlihat angka probabilitas hubungan antara pemberitaan pembatasan BBM bersubsidi dengan perilaku mahasiswa USU dalam memilih BBM sebesar 0,089. Angka probabilitas 0,089>0,05 maka hubungan kedua variabel adalah signifikan dan layak untuk diteliti. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengaruh pemberitaan pembatasan BBM bersubsidi terhadap perilaku mahasiswa USU dalam memilih BBM, mempunyai hubungan yang rendah tetapi pasti, signifikan, dan searah. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Televisi merupakan perpanjangan indera manusia. Melalui televisi seseorang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitarnya dalam jangkauan yang tidak terbatas. Walaupun seseorang berada di tempatnya sendiri, ia dapat mengetahui berita atau informasi baik nasional maupun lingkungan internasional melalui televisi yang disertai audio dan visual. Televisi membantu manusia untuk mengetahui segala sesuatu, membuka wawasan, memperluas pandangan dalam skala yang sangat luas. Televisi memiliki beberapa fungsi seperti halnya media komunikasi massa lainnya, yaitu menginformasikan, mendidik, menghibur, mempengaruhi. Melalui televisi seseorang dapat menerima informasi, mengenai masalah sosial, ekonomi, politik, budaya, dll. TV dapat juga mendidik khalayak dengan menyuguhkan tayangan yang terkait dengan pendidikan. Acara game atau musik merupakan tayangan yang dapat menghibur khalayak. Selain itu, beberapa tayangan, seperti fenomena sosial, melalui TV dapat mempengaruhi khalayak. Secara keseluruhan tayangan tersebut bertujuan untuk mengubah sikap, opini, perilaku, dan masyarakat. Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang digunakan untuk memancarkan dan menerima siaran gambar bergerak, baik itu yang monokrom ("hitam putih") maupun warna, biasanya dilengkapi oleh suara. "Televisi" juga dapat diartikan sebagai kotak televisi, rangkaian televisi atau pancaran televisi. Kata "televisi" merupakan gabungan dari kata tele (τῆλε, "jauh") dari bahasa Yunani dan visio ("penglihatan") dari bahasa Latin. Sehingga televisi dapat diartikan sebagai Universitas Sumatera Utara telekomunikasi yang dapat dilihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia 'televisi' secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi. (http://blogbintang.com/sejarah-perkembangan-televisi,19 oktober 2010) Tayangan yang ada di televisi dihadirkan oleh berbagai stasiun TV. Tayangan yang ada di televisi Indonesia saat ini dihadirkan oleh 10 stasiun TV yang disiarkan secara nasional yaitu, Indosiar, MNC, Trans TV, Anteve, Global TV, RCTI, SCTV, TV One, Metro TV, dan TVRI. Masing-masing stasiun TV menghadirkan acara tersendiri, mulai dari hiburan, berita, realita sosial, wisata, dll. TV One secara progresif menginspirasi masyarakat Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas agar berpikiran maju dan melakukan perbaikan bagi diri sendiri serta masyarakat sekitar melalui program News and Sports yang dimilikinya. Mengklasifikasikan program-programnya dalam kategori News One, Sport One, Info One, dan Reality One, TV One membuktikan keseriusannya dalam menerapkan strategi tersebut dengan menampilkan format-format yang inovatif dalam hal pemberitaan dan penyajian program.(http://www.tvonenews.tv/tvone,20oktober 2010) Seperti media televisi lainnya, selain menyajikan berita, TV One juga menayangkan beberapa program, seperti dialog interaktif, realita sosial, wisata, game/hiburan, dll. Salah satu yang diberitakan TV One saat ini adalah mengenai pembatasan BBM subsidi. Pemberitaan tersebut berlangsung dari bulan September 2010 sampai dengan tahun 2011 saat ini. Yang diberitakan bahwa pengguna kendaraan bermotor dianjurkan menggunakan BBM non-subsidi seperti Pertamax dengan harga Rp 8500,-/ liter. Dengan kisaran harga tersebut daya beli masyarakat semakin berkurang jika dibandingkan dengan harga BBM subsidi yang berkisar Rp 4500,-/ liter. Pemerintah menetapkan kebijakan tersebut tak lain untuk mengurangi Universitas Sumatera Utara yang urgen dalam bidang Psikologi Sosial. Beberapa ahli mengemukakan pengertian tentang sikap, diantaranya (Azwar, 1988 dalam Dayakisni, 2003: 95): 1. Thurstone Berpandangan bahwa sikap merupakan suatu tingkatan afeksi, baik itu bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan obyek-obyek psikologis. 2. Kimball Young (1945) Menyatakan bahwa sikap merupakan suatu predisposisi mental untuk melakukan suatu tindakan. 3. Fishbein & Ajzen (1975) Menyebutkan bahwa sikap sebagai predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara konsisten dalam cara tertentu berkenaan dengan obyek tertentu. 4. Sherif & Sherif (1956) Sikap menentukan keajegan dan kekhasan perilaku seseorang dalam hubungannya dengan stimulus manusia atau kejadian-kejadian tertentu. Sikap merupakan suatu keadaan yang memungkinkan timbulnya suatu perbuatan atau tingkah laku. Dari pengertian-pengertian yang dikemukakan beberapa ahli tersebut dapat ditemukan unsur yang hampir sama pada sikap, yaitu sikap merupakan kecenderungan untuk bertindak dan untuk bereaksi terhadap rangsang. Oleh karena itu, manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat, akan tetapi harus ditafsirkan terlebih dahulu sebagai tingkah laku yang masih tertutup. Universitas Sumatera Utara 29 2.1.7.2. Komponen Sikap Ada tiga komponen yang secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude) yaitu: 1. Komponen Kognitif (keyakinan) Yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan atau informasi yang dimiliki seseorang tentang obyek sikapnya. Dari pengetahuan ini kemudian akan terbentuk suatu keyakinan tertentu tentang obyek sikap tersebut. 2. Komponen Afektif (perasaan) Yaitu yang berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang. Jadi sifatnya evaluatif yang berhubungan erat dengan nilai-nilai kebudayaan atau sistem nilai yang dimilikinya. 3. Komponen Konatif (perilaku) Yaitu merupakan kesiapan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan obyek sikapnya. Dengan demikian sikap seseorang pada suatu obyek sikap merupakan manifestasi dari konstelasi ketiga komponen tersebut yang saling berinteraksi untuk memahami, merasakan dan berperilaku terhadap obyek sikap. Ketiga komponen itu saling konsisten satu dengan yang lainnya. Di samping pendapat tersebut di atas, ada pendapat lain yang mengatakan bahwasikap melibatkan satu komponen yaitu komponen afek seperti yang dikemukakan Thrustone. Komponen afek atau perasaan tersebut memiliki dua sifat, yaitu positif atau negatif. Individu yang mempunyai perasaan positif terhadap suatu obyek psikologis dikatakan menyukai obyek tersebut atau mempunyai sikap yang favorable (perasaan mendukung atau memihak) terhadap obyek itu. Sedangkan individu yang mempunyai perasaan negatif terhadap suatu obyek psikologis dikatakan mempunyai sikap yang unfavorable (perasaan tidak mendukung atau tidak memihak) terhadap obyek tersebut. Dalam sikap yang Universitas Sumatera Utara 30 positif reaksi seseorang cenderung untuk mendekati atau menyenangi obyek tersebut, sedangkan dalam sikap yang negatif orang cenderung untuk menjauhi atau menghindari obyek tersebut. 2.2. Kerangka Konsep Kerangka konsep harus dirumuskan sebagai hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang akan dicapai. Perumusan kerangka konsep itu merupakan bahan yang akan menuntun dalam merumuskan hipotesis penelitian (Nawawi, 2005: 45). Konsep merupakan istilah dan definisi yang akan digunakan untuk menggambarkan secara abstrak suatu fenomena yang hendak diuji (Singarimbun, 2011: 35) Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini adalah: a. Variabel Bebas (X) Variabel bebas adalah sejumlah gejala atau faktor unsur yang menentukan atau mempengaruhi ada atau munculnya gejala atau faktor atau unsur yang lain (Nawawi, 2005: 60). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Pemberitaan ISIS di TV One. b. Variabel Terikat (Y) Variabel terikat adalah sejumlah sejumlah gejala atau faktor unsur yang ada atau muncul dipengaruhi atau ditentukan oleh adanya variabel bebas (Nawawi, 2005: 61). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah sikap tentang pemberitaan ISIS di kalangan mahasiswa FISIP USU. Universitas Sumatera Utara 31 2.3. Variabel Penelitian Berdasarkan kerangka konsep diatas, maka dapat dibentuk variabel penelitian sebagai berikut: Gambar 2.2 Model Teoritis Variabel Bebas (X) Pemberitaan ISIS di TV One Variabel Terikat (Y) Sikap Mahasiswa 2.4. Operasional Variabel Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep yang telah diuraikan di atas, maka dibuat operasional variabel yang berfungsi untuk kesamaan dan kesesuaian penelitian ini, yaitu: Universitas Sumatera Utara 32 Tabel 2.1 : Operasional Variabel Variabel Teoritis Variabel Bebas (X) Pemberitaan ISIS di TV One Variabel Terikat (Y) Sikap Mahasiswa Variabel Penelitian a. Bentuk penyajian b. Gaya bahasa c. Kejelasan isi berita d. Frekuensi penayangan e. Narasumber f. Presenter g. Wawancara Komponen Sikap: Komponen kognitif a. Perhatian b. Kepedulian c. Pengetahuan d. Keyakinan terhadap berita Komponen afektif a. Sikap suka atau tidak terhadap berita terorisme b. Mendukung atau tidak mendukung berita terorisme Komponen behavior Takut atau tidak takut terhadap terorisme Universitas Sumatera Utara 33 2.5. Definisi Operasional Menurut Singarimbun (2011: 49), definisi operasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana caranya untuk mengukur suatu variabel. Dengan kata lain, definisi operasional adalah suatu informasi ilmiah yang sangat membantu peneliti lain yang ingin menggunakan variabel yang sama. Variabel-variabel dalam penelitian ini dapat didefinisikan sebagai berikut: 1. Variabel Bebas (Pemberitaan ISIS di TV) a. Bentuk penyajian adalah tata cara dan letak berita yang disajikan, apakah selalu sebagai headline news atau tidak. b. Gaya bahasa adalah di dalam pemberitaan, media massa menggunakan gaya bahasa yang bagaimana sehingga mampu membuat masyarakat memberikan respon, baik verbal maupun non verbal. c. Kejelasan isi berita adalah penggunaan kata-kata dalam berita tersebut apakah sangat jelas, sedikit rancu atau tidak dapat dipahami responden. d. Frekuensi penayangan adalah kuantitas berita tersebut muncul di televisi. e. Narasumber adalah orang yang terkait dengan rangkaian fakta yang akan diberitakan, yang dimintai keterangan dan pernyataannya oleh seorang wartawan maupun reporter. f. Presenter adalah pembaca berita yang harus memiliki keahlian public speaking agar bisa menarik perhatian pemirsa. g. Wawancara adalah wawancara yang dilakukan di tempat peristiwa. Biasanya dilakukan dengan pihak-pihak terkait, bisa dari pihak pemerintah yang berwenang maupun masyarakat setempat. 2. Variabel Terikat (Sikap Mahasiswa), terdiri dari: Komponen kognitif, meliputi: a. Perhatian adalah perhatian responden terhadap berita ISIS di TV One. b. Kepedulian adalah kepedulian responden terhadap berita ISIS di TV One. c. Pengetahuan adalah wawasan responden setelah menonton berita ISIS di TV One. Universitas Sumatera Utara 34 d. Keyakinan adalah tingkat kepercayaan responden terhadap berita ISIS di TV One. Komponen afektif, meliputi: a. Sikap suka atau tidak terhadap berita ISIS di TV One. b. Mendukung atau tidak mendukung berita ISIS di TV One. Komponen behavior, meliputi: Takut atau tidak takut terhadap terorisme setelah menonton dan memahami berita ISIS di TV One. 3. Karakteristik Responden (Mahasiswa USU), terdiri dari: a. Jenis kelamin, yaitu jenis kelamin dari responden, yakni pria dan wanita. b. Departemen, yaitu departemen yang terdapat di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU. 2.5.Hipotesis Menurut Bungin (2005: 75), hipotesis adalah suatu kesimpulan penelitian yang belum sempurna, sehingga perlu disempurnakan dengan membuktikan kebenaran hipotesis itu melalui penelitian. Pembuktian itu hanya dapat dilakukan dengan menguji hipotesis dimaksud dengan data di lapangan. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Ho : Tidak terdapat hubungan antara Pemberitaan ISIS di TV One dan sikap mahasiswa FISIP USU. Ha : Terdapat hubungan antara Pemberitaan ISIS di TV One dan sikap mahasiswa FISIP USU. Universitas Sumatera Utara BAB III METODOLOGI PENELITIAN 35 3.1. Deskripsi Lokasi Penelitian 3.1.1. Sejarah Singkat FISIP USU Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara merupakan fakultas kesembilan di lingkungan Universitas Sumatera Utara. Kelahiran Fakultas ini tidak jauh berbeda dengan fakultas lainnya di lingkungan Universitas Sumatera Utara. Pada awal pendiriannya (1980), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara masih merupakan Jurusan Pengetahuan Masyarakat pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Setahun kemudian Jurusan Pengetahuan Masyarakat berubah menjadi Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial (IIS). Pada tahun 1982, Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial resmi menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dengan yang diperoleh dari media lain dengan yang diperoleh dari TV One mengenai pemberitaan kinerja KPK terkait kasus korupsi Nazaruddin di TV One ada sebanyak 20 orang dengan persentase 26.7%. Mahasiswa yang menilai sesuai ada sebanyak 35 orang dengan persentase 46,7%. Lalu ada sebanyak12 orang mahasiswa yang menilai ragu-ragu dengan kesesuain informasi yang diperolehnya. Mahasiswa yang memiliki penilaian kurang sesuai ada sebanyak 6 orang dengan persentase 8%. Sementara terdapat 2 orang yang menilai tidak sesuai dengan persentase 2,6%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mayoritas Universitas Sumatera Utara mahasiswa menilai bahwa informasi yang mereka terima dari media lain dengan informasi yang diperoleh dari TV One adalah sesuai. Hal ini karena informasi pemberitaan kinerja KPK terkait kasus korupsi Nazaruddin yang diperoleh melalui media cetak seperti surat kabar, majalah dan lainnya yang terbit pada waktu tertentu, pada umumnya sesuai dengan informasi yang diperoleh pada saat menonton tayangan pemberitaan tersebut di TV One. Tabel Keinginan untuk mendapatkan pesan atau stimulus tentang budaya korupsi di Indonesia dan cara penanganannya setelah menyaksikan pemberitaan No. Keinginan untuk mendapatkan Frekuensi Persentase pesan atau stimulus 1. Sangat ingin 21 28 2. Ingin 24 32 3. Ragu-ragu 17 22.6 4. Kurang ingin 5 6.7 5. Tidak ingin 8 10.7 Total 75 100 Dari tabel dapat dilihat bahwa mahasiswa yang memiliki penilaian sangat ingin untuk mandapatkan pesan atau stimulus tentang budaya korupsi di Indonesia dan cara penanganannya setelah menyaksikan tayangan pemberitaan kinerja KPK terkait kasus korupsi Nazaruddin di TV One adalah sebanyak 21 orang dengan persentase 28%. Mahasiswa yang menilai ingin ada sebanyak 24 orang dengan persentase 32%. Lalu ada sebanyak 17 orang dengan persentase 22,6% yang memberi penilaian ragu-ragu. Mahasiswa yang menilai kurang ingin ada sebanyak 5 orang dengan persentase 6,7%. Sementara ada sebanyak 8 orang dengan persentase 10,7% yang menilai tidak ingin. Dengan demikian Universitas Sumatera Utara disimpulkan mayoritas mahasiswa menilai ingin untuk mendapatkan stimulus dan pesan tentang budaya korupsi di Indonesia dan cara penanganannya setelah menyaksikan tayangan pemberitaan kinerja KPK terkait kasus korupsi Nazaruddin di TV One. Hal ini didukung oleh semakin maraknya kasus korupsi yang terjadi di Indonesia dan masing-masing penanganannya belum dapat diselesaikan dengan baik. IV. 4 Pembahasan Setelah dilakukan analisis data yang berbentuk analisis tabel tunggal, maka selanjutnya akan dilakukan pembahasan yang berguna untuk melihat hasil penemuan peneliti nantinya melalui pembahasan ini dapat ditarik kesimpulan. Seperti yang peneliti utarakan dalam latar belakang penelitian ini, pemberitaan di televisi merujuk pada penyebaran informasi terbaru khususnya TV One. Pemberitaan di TV One dapat berlangsung dari beberapa detik hingga beberapa jam dan menyajikan perkembangan-perkembangan terbaru dari berita lokal maupun internasional. Seperti informasi yang saat ini gencar-gencar di televisi khususnya TV One adalah berita tentang kasus korupsi Wisma Atlet tahun 2011 dengan tersangka mantan bendahara umum Partai Demokrat, Nazaruddin. Kasus ini berkembang pada penyelesaian yang tidak pernah ada oleh sebuah komisi yang berwenang menangani kasus pidana korupsi di Indonesia yakni KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Kemudian pemberitaan yang berkembang adalah justru mengenai kinerja KPK dalam menangani kasus korupsi. Dari beberapa detik hingga beberapa jam baik pagi, siang dan malam pada periode agustus-oktober, pemberitaan mengenai kinerja KPK dalam menangani kasus korupsi Nazaruddin semakin gencar dilakukan oleh TV One. Mengangkat topik-topik yang berbeda dalam setiap penayangannya namun materi utama adalah mengenai kinerja KPK dalam menangani kasus korupsi Nazaruddin dan berkembang hingga detik ini. Gencarnya pemberitaan yang disajikan oleh Universitas Sumatera Utara media khususnya TV One mengenai kinerja KPK ini memberikan sebuah stimulus kepada masyarakat pada umumnya, tentang permasalahan yang terjadi di negeri Indonesia. Masyarakat bebas menyuarakan pendapat dan aspirasinya dalam memahami kondisi budaya korupsi yang tidak pernah ada habisnya. Mengenai hal ini peneliti dapat melihat gencarnya pemberitaan yang diberikan media dapat membentuk agenda publik yang pada akhirnya dapat menjadi sebuah agenda kebijakan pada pemerintah. Dari hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas responden tertarik terhadap program berita di TV One karena para responden memberi persepsi menarik pada teknis penayangan pemberitaan, materi berita yang disampaikan, pembawa berita, aktualisasi berita dan manfaat dari pemberitaan terhadap pengetahuan. Secara khusus pada responden yang tak lain adalah mahasiswa fakultas hukum mengaku pemberitaan tersebut dapat menambah pengetahuan dan mampu menciptakan daya nalar dan opini yang kritis mahasiswa. Disini peneliti menyimpulkan bahwa terdapat sisi positif dari tayangan pemberitaan kinerja KPK terkait kasus korupsi Nazaruddin di TV One. Universitas Sumatera Utara BAB V PENUTUP V. 1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Isi tayangan pemberitaan kinerja KPK terkait kasus korupsi Nazaruddin yang dibawakan oleh pembawa berita dalam setiap program berita di TV One, mampu membuat mahasiswa memiliki opini yang kritis tentang kondisi penanganan kasus korupsi di negeri Indonesia dan menambah serta memahami setiap informasi-informsasi yang berkembang. 2. Tayangan pemberitaan mengenai kinerja KPK terkait kasus korupsi Nazaruddin di TV One dapat dimengerti, dipahami dengan baik, dan diberi nilai positif oleh mahasiswa Fakultas Hukum USU Program regular S-1 3.Teknis penayangan pemberitaan yang disajikan oleh TV One terangkum dalam News One dan Talk Show One, mampu menambah kreativitas mahasiswa dalam memahami program pemberitaan yang baik dan aktual baik dari segi waktu tayang dan materimateri berita yang disajikan. 4.Setiap pemberitaan yang gencar-gencarnya dilakukan oleh media dalam hal ini TV One dalam periode waktu tertentu mampu membentuk opini mahasiswa. Universitas Sumatera Utara V. 2 Saran Adapun saran yang dapat disampaikan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Diharapkan tayangan suatu pemberitaan yang mengangkat oknum atas satu nama tertentu, tidak memihak hanya pada nama tersebut yang mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan terhadap objek beritanya. 2. Diharapkan dalam penjelasan informasi yang disampaikan dapat lebih jelas tidak terlalu terburu-buru dengan penyampaian yang terlalu cepat baik dari pembawa berita maupun narasumber untuk menghindari gangguan komunikasi. 3. Diharapkan TV One sebagai salah satu televisi swasta yang mencakup 70% berita dapat senantiasa memberikan informasi yang teraktual, terpercaya dan terdepan yang secara tidak langsung dapat mendukung pemerintah dalam menangani kasus korupsi di negeri Indonesia. 4. Diharapkan TV one dapat menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan akan informasi bagi mahasiswa dan masyarakat pada umumnya mengenai pemberitaan-pemberitaan yang berkembang. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Astrid, Phil. 1975. Pendapat Umum. Bandung : Penerbit Bina Cipta Baskin, Askurifai. 2006. Jurnalistik Televisi Teori dan Praktek. Bandung : Simbiosa Rekatama Media. Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi : Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta : Kencana. Cangara, Hafied. 2002. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : Raja Grafindo Persada Jefkins. Djunasih, Sunarjo. 1984. Opini Publik. Yogyakarta : Liberty. Effendy, Onong Uchjana. 1990. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. ---------------------------------. 2005. Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana. Lipmann, Walter. 1998. Opini Umum. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. Morrisan. 2008. Manajemen Media Penyiaran. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. -----------. 2010. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Ghalia Indonesia Anggota IKAPI Muhtadi, A. Saeful. 1999. Jurnalistik Pendekatan Teori dan Praktek. Bandung : Logos Nawawi, Hadari. 2001. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : UGM Press Universitas Sumatera Utara Nurudin, Syaifullah. 2004. Medi Relations : Panduan Praktis Public Relations. Malang : Cespur Olii, Helena. 2007. Opini Publik. Jakarta : PT Indeks. Rakhmat, Jalaluddin. 2004. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung : Rosdakarya. -------------------------. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung : Rosdakarya. Satropoetro, Santoso.1990. Komunikasi Sosial. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Singarimbun, Masri.1995. Metode Penelitian Survey. Jakarta : PT. Pustaka LP3ES Indonesia. Sumber Lain : http://enggiagarcia.wordpress.com) http://id.wikipedia.org/wiki/Indosat www.tvone.co.id Universitas Sumatera Utara
Pemberitaan Pembatasan BBM Bersubsidi di TV One dan Perilaku Mahasiswa dalam Memilih BBM
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Pemberitaan Pembatasan BBM Bersubsidi di TV One dan Perilaku Mahasiswa dalam Memilih BBM

Gratis