Perlindungan Terhadap Hak-hak Istri pada Perkawinan Poligami Melalui Perjanjian Perkawinan Menurut Pasal 29 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

 1  54  112  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

PERLINDUNGAN TERHADAP HAK-HAK ISTERI PADA PERKAWINAN POLIGAMI MELALUI PERJANJIAN PERKAWINAN MENURUT PASAL 29 UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TESIS OLEH NORA SARI DEWI NASUTION 087011085/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N 2011

  PERLINDUNGAN TERHADAP HAK-HAK ISTERI PADA PERKAWINAN POLIGAMI MELALUI PERJANJIAN PERKAWINAN MENURUT PASAL 29 UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TESIS OLEH NORA SARI DEWI NASUTION 087011085/M. Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N 2011 PERLINDUNGAN TERHADAP HAK-HAK ISTERI PADA PERKAWINAN POLIGAMI MELALUI PERJANJIAN PERKAWINAN MENURUT PASAL 29 UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 T E S I S Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Oleh NORA SARI DEWI NASUTION 087011085/M.

PERJANJIAN PERKAWINAN MENURUT PASAL

29 UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 NAMA MAHASISWA : NORA SARI DEWI NASUTION NIM : 087011085 PROGRAM STUDI : MAGISTER KENOTARIATAN

  Permasalahan yang dibahasdalam penelitian ini meliputi pengaturan perlindungan hak-hak istri dalam perkawinan poligami yang telah dicatatkan, hal-hal yang diperjanjikan dalam perjanjian perkawinanbagi istri yang dipoligami dan juga akibat hukum yang timbul jika suami yang berpoligami melanggar perjanjian perkawinan tersebut. Akte perjanjian perkawinan tersebut bersifat akta autentik(notaril) yang terdiri dari beberapa pasal yang pada intinya berisikan hak-hak dan kewajiban seorang istri yang dipoligami terutama di bidang harta benda perkawinan, danhak-hak lainnya yang berupa nafkah lahir batin yang wajib dipenuhi oleh suami yang berpoligami, termasuk larangan penggunaan kekerasan dalam perkawinan, hak-hak asuhanak bila terjadi perceraian.

KATA PENGANTAR

  Hum yang telah berkenan memberi masukan dan arahan yang konstruktif dalam penulisan tesis ini sejak tahap kolokium, seminar hasil sampai pada tahap ujiantertutup sehingga penulisan tesis ini menjadi lebih sempurna dan terarah. Putra Rahmadan Nasution dan Akbar Halim Nasution, juga kepada Staf bagian Pendidikan Magister Kenotariatan USU, Bu Fatimah, Kak Lisa, Kak Sari, Kak Winda, Afni, Bang Iken, Bang Aldy dan Bang Rizal, yang selama ini telah iv Penulis berharap semoga semua bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT, agar selaludilimpahkan kebaikan, kesehatan dan rezeki yang melimpah kepada kita semua.

RIWAYAT HIDUP IIDENTITAS PRIBADI

  Permasalahan yang dibahasdalam penelitian ini meliputi pengaturan perlindungan hak-hak istri dalam perkawinan poligami yang telah dicatatkan, hal-hal yang diperjanjikan dalam perjanjian perkawinanbagi istri yang dipoligami dan juga akibat hukum yang timbul jika suami yang berpoligami melanggar perjanjian perkawinan tersebut. Akte perjanjian perkawinan tersebut bersifat akta autentik(notaril) yang terdiri dari beberapa pasal yang pada intinya berisikan hak-hak dan kewajiban seorang istri yang dipoligami terutama di bidang harta benda perkawinan, danhak-hak lainnya yang berupa nafkah lahir batin yang wajib dipenuhi oleh suami yang berpoligami, termasuk larangan penggunaan kekerasan dalam perkawinan, hak-hak asuhanak bila terjadi perceraian.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pernikahan atau perkawinan merupakan perilaku sakral yang termaktub dalam

  Al-Qur’an menyebut perkawinan sebagai perjanjian yang kokoh, mitsaqan ghaliza , seperti yang termaktub dalam Surat An-Nisaa ayat 21 yang artinya : 3 Bagaimana kamu akan mengambil mahar yang telah kamu berikan kepada isterimu, padahal sebagian kamu telah bergaul dengan sebagian yang lain sebagai suami isteri. Adapun perjanjian pranikah (prenuptial agreement), yaitu suatu perjanjian yang dibuat sebelum pernikahan dilangsungkan dan mengikat kedua belah pihakcalon pengantin yang akan menikah dan berlaku sejak pernikahan dilangsungkan.bawaan masing-masing, suami ataupun isteri, meskipun undang-undang tidak mengatur tujuan perjanjian perkawinan dan apa yang dapat diperjanjikan, segalanyadiserahkan pada kedua pihak.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

  Dalam rangka menciptakan keseimbangan dan memelihara hak-hak yang dimiliki oleh para pihak sebelum perjanjian yang dibuat menjadi perikatan yangmengikat bagi para pihak, oleh KUH Perdata diberikan berbagai asas umum, yang merupakan pedoman atau patokan, serta menjadi batas atau rambu dalam mengatur danmembentuk perjanjian yang akan dibuat, hingga pada akhirnya menjadi perikatan yang 36 berlaku bagi para pihak, yang dapat dipaksakan pelaksanaannya atau pemenuhannya. Adapun yang dimaksud dengan perjanjian baku adalah suatuperjanjian yang dibuat hanya oleh salah satu pihak dalam kontrak tersebut, sedangkan perjanjian berbentuk timbal balik adalah perjanjian yang menimbulkan hak dankewajiban kepada kedua belah pihak, dan hak serta kewajiban tersebut mempunyai hubungan satu dengan lainnya (pihak satu yang mempunyai hak dan pihak lain sebagai 38 pihak yang berkewajiban).

2. Kerangka Konsepsi

  Guna menghindari kesalahpahaman atas berbagai istilah yang dipergunakan dalam penelitian ini, maka berikut akan dijelaskan maksud dari istilah-istilah sebagaiberikut : Perlindungan adalah jaminan perlindungan pemerintah dan/ atau masyarakat dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya sesuai dengan ketentuan 39 peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang 41 Perjanjian perkawinan adalah perjanjian dibuat oleh calon suami dengan calon isteri pada waktu sebelum perkawinan dilangsungkan, perjanjian mana dilakukan secara tertulis dan disahkan oleh pegawai pencatat nikah dan isinya berlaku juga 42 terhadap pihak ketiga sepanjang diperjanjikan.

G. Metode Penelitian

  Berdasarkan pendapat tersebut di atas mengenai metode dan penelitian, dapat diambil kesimpulannya bahwa metode penelitian adalah suatu cara yang mengandungteknik, yang berfungsi sebagai alat dalam suatu penyelidikan dengan hati-hati untuk mendapatkan fakta sehingga diperoleh pemecahan masalah yang tepat terhadapmasalah yang telah ditentukan. Aspek-aspek hukum, baik undang-undang sebagai hukum yang tertulis maupun hukum yang ada dalam masyarakat yaitu nilai-nilai atau norma yang ada dalam masyarakat,dalam kelayakan, kepatutan, itikad yang ada dalam masyarakat sehingga dapat diketahui legalitas atau kedudukan hukum.

3. Sumber Data

  Dalam penelitian ini diperlukan jenis sumber data yang berasal dari literatur-literatur yang berhubungan dengan penelitian, sebab penelitian inimerupakan penelitian dengan pendekatan normatif yang bersumber pada data sekunder. Data yang dipergunakan dalam penulisan ini adalah sekunder yang terdiri dari :a.

49 Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Malang : UMM Press, 2007), hlm. 57

  Data dari pemerintah yang berupa dokumen-dokumen tertulis yang bersumber pada Perundang-undangan, diantaranya :1) KUH Perdata2) HIR3) UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan4) Yurisprudensi b. Bahan hukum sekunder, bahan hukum yang tidak mempunyai kekuatan dan hanya berfungsi sebagai penjelas dari hukum primer, yaitu hasil karya ilmiah parasarjana.

4. Teknik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan (Library Research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau yang disebut dengan data sekunder. Adapun data sekunder yangdigunakan dalam penulisan skripsi ini antara lain berasal dari buku-buku baik koleksi pribadi maupun dari perpustakaan, artikel-artikel baik yang diambil dari media cetakmaupun media elektronik, dokumen-dokumen pemerintah, termasuk peraturan perundang-undangan.

5. Analisa Data

  Jika diperhatikan ketentuan Pasal 1 Undang-undang Perkawinan, maka yang menjadi inti pengertian dalam perkawinan adalah ikatan lahir antara seorang priadengan seorang wanita, dimana diantara mereka terjalin hubungan yang erat dan mulia sebagai suami isteri untuk hidup bersama untuk membentuk dan membinasuatu keluarga yang bahagia, sejahtera dan kekal karena didasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. “Jadi perkawinan yang sah jika terjadi perkawinan antar agama, adalah perkawinan yang dilaksanakan menurut tata tertib aturan salah satu agama,agama calon suami atau agama calon isteri, bukan perkawinan yang dilaksanakan oleh setiap agama yang dianut kedua calon suami isteri dan ataukeluarganya.

1. Hak kebendaan (Hak isteri dalam bentuk materi)

a. Menerima mahar atau mas kawin

“Mahar adalah pemberian dari calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita, baik berbentuk barang, uang atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum

54 Islam.” Dalam Kompilasi Hukum Islam, kewajiban membayar mahar (mas kawin)

  Pada zaman Jahiliyah, hak perempuan itu dihilangkan dan disia-siakan, sehingga walinya dengan semena-mena dapat menggunakan hartanya dan tidakmemberikan kesempatan kepada perempuan yang berada di bawah perwaliannya untuk mengurus atau menggunakan hartanya sendiri. Kemudian jika mereka menyerahkankepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah(ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”Maksudnya adalah bahwa suami wajib memberikan mahar kepada para isteri sebagai pemberian wajib, bukan pembelian atau ganti rugi.

56 Shabuni bahwa :

  Untuk mencapai hal ini, tentunya harus diberikan jalan yang mudah dan sarana yang praktis sehinggaorang-orang fakir yang tidak mampu mengeluarkan biaya yang besar mampu untuk57 Sayyid Sabiq, Op.cit, hlm. Adapun perempuan yang celaka yaitu yang mahal maharnya, menyusahkan perkawinannya dan 58 buruk akhlaknya.”Banyak sekali manusia yang tidak mengetahui ajaran ini bahkan menyalahinya dan berpegang kepada adat Jahiliyah dalam pemberian mahar yangmembayar mahar dengan jumlah yang besar, memberatkan dan menyusahkan urusan perkawinan, sehingga seolah-olah perempuan itu merupakan barang dagangan yangdipasang tarif dalam sebuah etika perdagangan.

b. Menerima nafkah

  Sebaliknya kalau yang masih kecil itusuaminya sedangkan isterinya sudah baligh maka nafkah wajib dibayar, sebab kemungkinan nafkah itu ada di pihak isteri sedang uzur tidak menerimanafkah itu di pihak suami. Termasuk kategori hukum sakit, adalah jika kemaluan isteri sempit, tubuhnya kurus kerempeng, dan menderita cacat yang dapatmenghalangi hubungan seks suami isteri.

2. Hak rohaniah (Hak isteri dalam bentuk bukan materi)

  Mendapat perlakuan yang baik dari suami Kewajiban suami terhadap isterinya adalah menghormatinya, bergaul dengan memang patut didahulukan untuk menyenangkan hatinya, terlebih lagimenahan diri dari sikap yang kurang menyenangkan dihadapannya dan bersabar ketika menghadapi setiap permasalahan yang ditimbulkan isteri. Mendapat penjagaan dengan baik dari suamiSuami wajib menjaga isterinya, memeliharanya dari segala sesuatu yang menodai kehormatannya, menjaga harga dirinya, menjunjung kemuliaannya,menjauhkannya dari pembicaraan yang tidak baik.

B. Hak-hak Isteri dalam Perkawinan Poligami

  Pada dasarnya Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menganut asas monogami di dalam perkawinan.

68 Hamdanah, Musim Kawin di Musim Kemarau (Studi atas Pandangan Ulama Perempuan Jember tentang Hak-hak Reproduksi Perempuan), Bigraf Publishing, Yogyakarta, 2005, hlm. 230-232

  Maksimal empat orangJumlah wanita yang boleh dikawini tidak boleh lebih dari empat orang, seperti yang tersebut dalam Al-Qur’an suratr An-Nisa’ ayat 3 : “….maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat…”. Undang-undang mengenai syarat-syarat poligami adalah sebagaimana tata cara yang telah diatur dalam Pasal 4 (2) Undang-undang No.1 tahun 1974 dan Pasal 57Kompilasi Hukum Islam yang berbunyi :“Pengadilan Agama hanya memberi izin kepada seorang suami yang akan 71 a.

73 Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama, Kompilasi Hukum Islam, 2000, hlm. 56

  Ada atau tidaknya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri- isteri dan anak-anak mereka dengan pernyataan atau janji dari suami yangdibuat dalam bentuk yang ditetapkan untuk itu. Poligami diperbolehkan dengan syarat sang suami memiliki kemampuanuntuk adil diantara para isteri, sebagaimana pada ayat yang artinya : “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.

1. Memiliki rumah sendiri

  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 33, yang artinya, “Menetaplah kalian(wahai isteri-isteri Nabi) di rumah-rumah kalian.” Dalam ayat ini Allah Azza wa Jalla menyebutkan rumah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam bentuk jamak,sehingga dapat dipahami bahwa rumah beliau tidak hanya satu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menceritakan bahwa ketikaNabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sakit menjelang wafatnya, beliau ShallallahuShallallahu’ Alaihi wa Sallam menginginkan di tempat Aisyah Radhiyallahu ’Anha, oleh karena itu isteri-isteri beliau mengizinkan beliau untuk dirawat dimana sajabeliau menginginkannya, maka beliau dirawat di rumah Aisyah sampai beliau wafat di sisi Aisyah.

77 Radhiyallahu ‘Anha

  Tidak boleh mengumpulkan para isteri dalam satu rumah kecuali dengan ridha mereka juga merupakan pendapat dari Imam Qurthubi di dalam tafsirnya dan ImamNawawi dalam Al Majmu Syarh Muhadzdzab. Beliau rahimahullah menyatakan bahwa pendapat yangbenar adalah bagi isteri yang haid berhak mendapat giliran dan bagi isteri yang sedang nifas tidak berhak mendapat giliran.

3. Tidak boleh keluar dari rumah isteri yang mendapat giliran menuju rumah yang lain

  Larangan ini disimpulkandari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang menceritakan bahwa ketikaRasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di rumah Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, tidak lama setelah beliau berbaring, beliau bangkit dan keluar rumah menuju kuburan Baqisebagaimana diperintahkan oleh Jibril alaihi wa sallam. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi waSallam pulang dan mendapapatkan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dalam keadaan terengah-engah, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada AisyahRadhiyallahu ‘Anha, “Apakah Engkau menyangka Allah dan Rasul-Nya akan berbuat tidak adil kepadamu?” Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah menyatakan tidak dibolehkannya masuk rumah isteri yang lain di malam hari kecuali darurat, misalnya si isteri sedang sakit.

4. Batasan malam pertama setelah pernikahan

  Bahkan ada keterangan yang dibawakan oleh Jarir bahwa ada seseorang yang berpoligami menyamakan nafkah untuk isteri-isterinya sampai-sampai makanan ataugandum yang tidak bisa ditakar/ditimbang karena terlalu sedikit, beliau tetap membaginya tangan pertangan. Undian ketika safar Bila seorang suami hendak melakukan safar dan tidak membawa semua isterinya, maka ia harus mengundi untuk menentukan siapa yang akan menyertainyadalam safar tersebut.

7. Tidak wajib menyamakan cinta dan jima’ diantara para isteri

  Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Ya Allah inilah pembagianku yang aku mampu, maka janganlahengkau cela aku pada apa yang Engkau miliki dan tidak aku miliki, yaitu hati.” Muhammad bin Sirrin pernah menanyakan ayat tersebut kepada Ubaidah, dan dijawab bahwa maksud surat An Nisaa’ ayat 29 tersebut dalam masalah cinta danbersetubuh. Cinta merupakan anugerah dari Allah dan beradadalam tangan-Nya, begitu juga dengan bersetubuh, terkadang bergairah dengan isteri Ibnul Qoyyim rahimahullah menyatakan bahwa tidak wajib bagi suami untuk menyamakan cinta diantara isteri-isterinya, karena cinta merupakan perkara yangtidak dapat dikuasai.

BAB II I HAL-HAL YANG DAPAT DIPERJANJIKAN DALAM PERKAWINAN POLIGAMI A. Kedudukan Isteri-isteri dalam Perkawinan Poligami Bersikap adil diantara isteri adalah wajib hukumnya, sedangkan condong atau

  Artinya apakah para suami yang melangsungkan perkawinan lagimemperhatikan alasan dan syarat yang ditentukan oleh undang-undang dan bagaimana sanksinya jika alasan tersebut tidak dipatuhi suami. Namun persetujuan isteri ini tidak diperlukan bila mereka tidakmungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian 85 Pada dasarnya alasan-alasan yang diatur dalam Pasal 4 Undang-Undang Perkawinan bagi seorang suami tidak untuk beristeri lebih dari seorang yang berkaitan dengan cacat badan atau mandulnya seorang isteri perlu ditinjau kembalikarena meletakkan isteri pada posisi yang lemah dan tidak seimbang dengan suami.

B. Perjanjian Perkawinan Poligami

  Bagi orang-orang Indonesia asli yang beragama Islam, berlaku hukum agama Islam yang didahului dengan ijab kabul antara mempelai priadengan wali dari mempelai wanita yang telah diresepsi ke dalam hukum adat. 1898 No.158), dan peraturan-peraturan lain yang mengatur tentang perkawinan sejauh telah diatur dalam undang-undang ini dinyatakan tidak berlaku.

86 Hilman, Op.Cit, hlm. 5

  Pasal 66 Undang-Undang Perkawinan mengandung pengertian, bahwa masih ada ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan perkawinan belum mendapatpengaturan dalam Undang-Undang Perkawinan, maupun dalam PPnya sehingga belum berlaku secara efektif. Dengan demikian yang dimaksud oleh Mahkamah Agung adalah diberlakukannya Burgerlijk Wetboek (BW) atau Kitab Undang-Undang HukumPerdata bagi mereka yang dikuasai atau tunduk pada peraturan tersebut yaitu WNI keturunan Cina dan Eropa, hukum adat bagi golongan Bumiputera dan H.

88 Dalam kaitan dengan perkawinan saat ini telah berlaku Undang-Undang

  Selanjutnya menurut Undang-Undang Perkawinan, perjanjian kawin yang telah diadakan oleh para pihak tidak kewajiban suami isteri karena hal tersebut merupakan hak asasi perkawinan itu 89 sendiri. Ketentuan tersebut didasarkan karena dalam perjanjian kawin adakalanya pihak ketiga dapat juga ikut serta, mengingat pihak ketiga dapat memberikan hadiahkepada suami atau isteri saja dalam perkawinan mereka dengan ketentuan tidak jatuh kedalam kebersamaan harta suami isteri itu.

90 Endang Sumiarni, Kedudukan Suami Isteri Dalam Hukum Perkawinan (Kajian Kesetaraan

  Harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah dibawahpenguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain. Ketentuan mengenai perjanjian kawin yang diatur dalam Pasal 139 sampai dengan Pasal 179 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata nampak lebih rinci dan jelasmaksudnya dibandingkan dengan pengaturan perjanjian kawin dalam Undang-Undang Perkawinan.

C. Hal-hal yang Diperjanjikan dalam Perjanjian Perkawinan Poligami

  Kedua, masa perkawinan suami dengan isteri kedua yaitu sejak dilaksanakannya perkawinan dengan isteri kedua, maka harta yang diperoleh dalammasa perkawinan suami dengan isteri kedua merupakan hak suami dan kedua isterinya tersebut dengan bagian yang sama dan mereka bertigalah yang berhak untukbertindak atas harta bersama yang diperoleh selama masa perkawinan suami dengan isteri keduanya tersebut. Keempat, masa perkawinan suami dengan isteri keempat yaitu sejak saat dilaksanakannya perkawinan dengan isteri keempat, maka harta yang diperoleh dalammasa perkawinan suami dengan isteri keempat merupakan hak suami dengan keempat isterinya tersebut dengan bagian yang sama dan mereka berlimalah yang berhakuntuk bertindak atas harta bersama yang diperoleh selama masa perkawinan suami Ada berbagai persoalan yang mengganjal ketika perjanjian pranikah diterapkan oleh calon pengantin.

98 Manfaat dari perjanjian pranikah adalah dapat mengatur penyelesaian

  dari masalah yang mungkin akan timbul selama masa perkawinan, antara lain sebagai berikut. Intinya dalam perjanjian pranikah bisadicapai kesepakatan tidak adanya percampuran harta pendapatan maupun aset-aset, baik selama pernikahan itu berlangsung maupun apabila terjadiperpisahan, perceraian, atau kematian.

98 Kompas Cyb er Media Online

  Akantetapi, jika perjanjian tersebut bertentangan dengan keharusan dalam akad nikah seperti suami tidak akan mendapat bagian rumah sebagaimana yang didapat dari 100 calon isteri, maka perjanjian tersebut batal dan akad nikahnya pun batal. Kemudian poligami yang banyak dilakukan pada dasarnya melaluipersyaratan yang sangat ketat, yaitu suami yang akan melakukan poligami harus mempunyai sifat ‘adil yang komprehensif, dalam pembagian kasih sayang terhadapkeluarga, dan dalam pembagian nafkah lahir batin.

D. Hal-hal yang Diperjanjikan dalam Perkawinan Poligami

  Ketentuan mengenai perjanjian kawin dengan bentuk persatuan hasil dan pendapatan diatur dalam Pasal 164 KUH Perdata yang menegaskan apabila Dalam perjanjian kawin dengan persatuan hasil dan pendapatan jika dalam persatuan tersebut terjadi kerugian, maka kerugian tersebut akan ditanggung olehsuami sebagai kepala rumah tangga, sedangkan dalam perjanjian kawin persatuan 117 untung rugi kerugian yang timbul menjadi tanggung jawab bersama suami isteri. Terjadinya perjanjian kawin dalam bentuk ini jika calon suami isteri sepakat bahwa harta kekayaan mereka tidak akan ada persatuan bulat menurut undang-undang dan tidak akan ada persatuan untung rugi, sehingga pada bentuk perjanjian seperti ini akan menyebabkan timbulnya tiga kelompok harta, yaitu harta kekayaanpersatuan hasil dan pendapatan, harta kekayaan suami dan harta kekayaan pribadi isteri.

B. Pelanggaran dalam Perjanjian Perkawinan Poligami Dalam hukum Islam, perjanjian perkawinan lebih dikenal dengan taklik talak

  Taklik talak ini dilakukan untuk memperbaiki dan melindungi hak-hak seorang wanita yang dijunjung tinggi oleh kedatangan Islam, akan tetapi sangat disayangkan Menurut ketentuan Pasal 51 KHI : “Pelanggaran perjanjian perkawinan memberi hak kepada istri untuk meminta pembatalan nikah atau mengajukan sebagaialasan perceraian ke Pengadilan Agama”. Karena perjanjian yangberbentuk taklik talak adalah perbuatan sepihak dalam hal ini suami menggantungkan janjinya dengan suatu keadaan yang terkait dengan dirinya sendiri, maka sewaktu isijanji benar-benar terwujud, telah memberikan hak kepada isteri untuk mengajukan 119 Pelanggaran itu terjadi pada perjanjian perkawinan bentuk kedua dari Pasal 45KHI yakni perjanjian yang dibuat dan lahir dari kesepakatan calon suami isteri ?

C. Akibat Hukum Pelanggaran dalam Perjanjian Perkawinan Poligami

  Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya. Talak yang dijatuhkan karena pelanggaran taklik talak dilakukan dengan keputusan pengadilan agama dan talak yang dijatuhkan itu selalu talak satu khul,karena ada iwadh, sehingga mengakibatkan sebagai satu perceraian yang tidak dapat dicabut kembali (talak ba’in).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

  Perlindungan hak-hak isteri dalam perkawinan poligami yang dicatatkan dapat dilakukan melalui pembuatan perjanjian sebelum perkawinan dilangsungkansesuai dengan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentangPerkawinan. Yang dimaksud dengan nafkah lahir adalah nafkah yang wajib dipenuhi oleh suami yang menyangkut kebutuhan hidup sehari-hari secara nyata, sedangkannafkah batin adalah nafkah yang wajib diberikan oleh seorang suami terhadap isterinya yang menyangkut perlakuan baik, kasih sayang dan hubungan suamiisteri yang wajar sehingga baik suami maupun isteri memperoleh kebahagiaan secara batiniah.

B. Saran

  Perjanjian perkawinan hendaknya dapat dijadikan suatu ketentuan yang wajib hukumnya dalam sebuah perkawinan poligami sehingga hak-hak dari isteriyang dipoligami dapat dilindungi oleh hukum sesuai ketentuan dan prosedur Undang-Undang Perkawinan yang berlaku dalam hal ini adalah Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974. Setiap perkawinan poligami seharusnya tercatat sesuai peraturan perundang- undangan yang berlaku sehingga hak-hak dari isteri yang dipoligami tidakdapat diabaikan begitu saja sehingga status isteri dalam perkawinan poligami memiliki suatu kepastian hukum yang jelas dalam penuntutan hak-haknyabaik selama perkawinan berlangsung maupun apabila terjadi perceraian.

Perlindungan Terhadap Hak-hak Istri pada Perkawinan Poligami Melalui Perjanjian Perkawinan Menurut Pasal 29 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Hak kebendaan Hak isteri dalam bentuk materi a. Menerima mahar atau mas kawin Hak rohaniah Hak isteri dalam bentuk bukan materi Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori Memiliki rumah sendiri Perlindungan Terhadap Hak-hak Istri pada Perkawinan Poligami Melalui Perjanjian Perkawinan Menurut Pasal 29 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Menyamakan para isteri dalam masalah giliran Metode Pendekatan Jenis Penelitian Permasalahan Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Keaslian Penulisan Sumber Data Teknik Pengumpulan Data Analisa Data Tidak boleh keluar dari rumah isteri yang mendapat giliran menuju rumah yang lain Batasan malam pertama setelah pernikahan
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perlindungan Terhadap Hak-hak Istri pada Perk..

Gratis

Feedback