Feedback

Perlindungan Terhadap Hak-hak Istri pada Perkawinan Poligami Melalui Perjanjian Perkawinan Menurut Pasal 29 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

Informasi dokumen
PERLINDUNGAN TERHADAP HAK-HAK ISTERI PADA PERKAWINAN POLIGAMI MELALUI PERJANJIAN PERKAWINAN MENURUT PASAL 29 UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TESIS OLEH NORA SARI DEWI NASUTION 087011085/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara PERLINDUNGAN TERHADAP HAK-HAK ISTERI PADA PERKAWINAN POLIGAMI MELALUI PERJANJIAN PERKAWINAN MENURUT PASAL 29 UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TESIS Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Oleh NORA SARI DEWI NASUTION 087011085/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara JUDUL TESIS : PERLINDUNGAN TERHADAP HAK-HAK ISTRI PADA PERKAWINAN POLIGAMI MELALUI PERJANJIAN PERKAWINAN MENURUT PASAL 29 UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 NAMA MAHASISWA : NORA SARI DEWI NASUTION NIM : 087011085 PROGRAM STUDI : MAGISTER KENOTARIATAN Menyetujui Komisi Pembimbing (Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) Ketua (Dr. T. Keizerina Devi A,SH, CN, M.Hum) (Chairani Bustami, SH, SpN, MKn) Anggota Anggota Ketua Program Studi, Dekan, (Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) (Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum) Tanggal lulus : 06 Agustus 2011 Universitas Sumatera Utara Telah diuji pada Tanggal : 06 Agustus 2011 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN Anggota : 1. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum 2. Chairani Bustami, SH, SpN, MKn 3. Dr. Idha Aprilyana Sembiring, SH, MHum 4. Dr. Utary Maharani Barus, SH, MHum Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Perkawinan menurut Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pada hakekatnya mengandung pengertian suatu ikatan lahir bathin antara seorang lakilaki dan seorang perempuan dimana diantara mereka terjalin hubungan yang erat dan mulia sebagai sepasang suami istri untuk hidup bersama dengan tujuan membentuk dan membina suatu keluarga yang bahagia, sejahtera, dan kekal berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pada prinsipnya mengandung azas monogami, dimana satu orang suami hanya boleh mempunyai satu orang istri, demikian pula sebaliknya. Perkawinan poligami merupakan suatu pengecualian menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dengan wajib memenuhi sejumlah syarat, ketentuan dan prosedur hukum yang telah diterapkan. Pasal 29 ayat 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 merupakan salah satu pasal yang bertujuan untuk melindungi hak-hak para istri yang dipoligami, yaitu dengan mengadakan suatu perjanjian tertulis pra perkawinan yang memuat dan mengatur hak-hak dan kewajiban suami istri apabila melaksanakan perkawinan poligami. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pengaturan perlindungan hak-hak istri dalam perkawinan poligami yang telah dicatatkan, hal-hal yang diperjanjikan dalam perjanjian perkawinan bagi istri yang dipoligami dan juga akibat hukum yang timbul jika suami yang berpoligami melanggar perjanjian perkawinan tersebut. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif, yaitu penelitian yang memaparkan, menganalisa dan menyimpulkan masalah perkawinan poligami dan permasalahan yang terkait didalamnya dengan mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan tentang perkawinan. Bahan-bahan hukum yang diperoleh terdiri dari bahan hukum primer yaitu undang-undang tentang perkawinan dan peraturan yang terkait dengan perkawinan tersebut. Bahan hukum sekunder yang terdiri dari hasil-hasil penelitian, laporan-laporan serta artikel yang berkaitan dengan penelitian ini. Penelitian ini menunjukkan bahwa perlindungan hak-hak istri dalam perkawinan poligami yang dicatatkan dapat dilakukan melalui pembuatan perjanjian sebelum perkawinan dilangsungkan. Akte perjanjian perkawinan tersebut bersifat akta autentik (notaril) yang terdiri dari beberapa pasal yang pada intinya berisikan hak-hak dan kewajiban seorang istri yang dipoligami terutama di bidang harta benda perkawinan, dan hak-hak lainnya yang berupa nafkah lahir batin yang wajib dipenuhi oleh suami yang berpoligami, termasuk larangan penggunaan kekerasan dalam perkawinan, hak-hak asuh anak bila terjadi perceraian. Akibat hukum apabila suami melanggar hal-hal yang telah diperjanjikan dalam perjanjian sebelum perkawinan tersebut berlangsung, dapat diancam dengan hukuman ganti rugi sebagai pengganti hak-hak bagi pihak yang dirugikan. Bentuk ganti rugi yang dimaksud adalah ganti rugi yang telah disepakati kedua belah pihak yang telah tertuang dalam perjanjian tersebut. Disamping itu pelanggaran perjanjian dapat pula dijadikan alas an oleh istri yang dipoligami untuk menuntut perceraian ke pengadilan Agama. Kata kunci : Perlindungan hak-hak istri, perkawinan poligami, perjanjian perkawinan i Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Marriage, according to Article I of Marriage Law No. 1/1974, basically constitutes a material and spiritual bond between a man and a woman, where a close and lofty relationship was established between a husband and a wife who pledge allegiance to live together happily, prosperously, and eternally, based on God Almighty. Law No. 1/1974 on Marriage principally constituted to pronciple of monogamy in which a man could marry only one woman at one time, and vice versa. Polygamy is an exception of Law No. 1/1974 in which the married couple must comply with a number of requirements and legal procedures which have been applied. Article 29, paragraph (1)of Law No. 1/1974 is one of the articles which is aimed to protect the rights of the polygamous wives by making a written agreement prior to marriage which contains and regulatesn the husband’s and the wives right and obligation in the polygamous marriage. The problems discussed in this research included the regulations on the protection of the wives’ right in legal polygamous marriage, anything which has been promised in the marriage contract to the polygamous wives’ and the legal consequences which might arise when the polygamous husbands violate the marriage law. This research was descriptive analytic with judicial normative approach in which the research desribed, analyzed and concluded the problems of polygamous marriage and any problems which were related to it which refereed to legal norms found in the legal provisions on marriage. The legal materials consisted of the primary legal materials such as marriage law and legal provisions which were related to the marriage. The secondary legal materials consisted of the results of researches, reports and articles which were reklated to the research. The result of the research showed that the protection of the wives’ rights in the legal polygamous marriage could be done through the marriage contract prior to the marriage. The marriage contract should be authentic (notarial). Consisted of some articles which basically contained the polygamous wives’ right and obligation, especially the joint property and the other rights such as the financial and conjugal rights which had to be fulfilled by the polygamous husbands, including the prohibition against violence in married life and the custody of the children if there was a divorce. A legal consequence would be taken by the husband if he broke the agreement of the marriage contract. Besides that, the violation of the agreement could be taken as the reason for the polygamous wives to life a claim for divorce to Religious Court. Keywords : Protection of Wives’ Rights, Polygamous Marriage, Marriage Contract ii Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini tepat pada waktunya. Adapun judul tesis ini adalah “Perlindungan Terhadap Hak-hak Istri pada Perkawinan Poligami Melalui Perjanjian Perkawinan Menurut Pasal 29 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974”. Penulisan tesis ini merupakan suatu persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh gelar Magister dalam bidang Ilmu Kenotariatan (M.Kn) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Dalam penulisan tesis ini banyak pihak yang telah memberikan bantuan dan dorongan baik berupa masukan maupun saran, sehingga penulisan tesis dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Oleh sebab itu, ucapan terima kasih yang mendalam penulis sampaikan secara khusus kepada yang terhormat dan amat terpelajar Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku Pembimbing utama penulis, Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum, selaku Pembimbing II penulis, Ibu Chairani Bustami, SH, SpN, MKn, selaku selaku Pembimbing III penulis yang telah dengan tulus ikhlas memberikan bimbingan dan arahan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini. Kemudian juga, kepada Dosen Penguji yang terhormat dan amat terpelajar Ibu Dr. Idha Aprilyana Sembiring, SH, M.Hum dan Ibu Dr. Utary Maharani Barus, SH, M.Hum yang telah berkenan memberi masukan dan arahan yang konstruktif dalam penulisan tesis ini sejak tahap kolokium, seminar hasil sampai pada tahap ujian tertutup sehingga penulisan tesis ini menjadi lebih sempurna dan terarah. Dalam kesempatan ini penulis juga dengan tulus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSC (CTM),, Sp.A (K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan dan iii Universitas Sumatera Utara fasilitas kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tesis ini. 2. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH. MHum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang telah memberi kesempatan dan fasilitas kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tesis ini. 3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku Ketua Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus pembimbing yang telah memberikan bimbingan serta saran yang membangun kepada penulis Tesis ini. 4. Bapak dan Ibu Guru Besar juga Dosen Pengajar pada Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan membimbing penulis sampai kepada tingkat Magister Kenotariatan. 5. Para pegawai/karyawan pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang selalu membantu kelancaran dalam hal manajemen administrasi yang dibutuhkan. Sungguh rasanya suatu kebanggaan tersendiri dalam kesempatan ini penulis juga turut menghaturkan sembah sujud dan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Ayahanda Bapak H. Bahman Nasution, SH dan Ibunda Rosmala Dewi Batubara, yang telah melahirkan, mengasuh, mendidik dan membesarkan penulis, Ayah dan Ibu mertua, Bapak Ussulluddin Lubis dan Ibu Hj. Dahliana Pulungan, yang telah memberikan bimbingan, perhatian dan doa yang cukup besar selama ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi pada Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan. Teristimewa penulis mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada suami tercinta Syahril Lubis, SE, serta kakak dan adik-adikku Drg. Suri Kumala Dewi Nasution, A. Putra Rahmadan Nasution dan Akbar Halim Nasution, juga kepada Staf bagian Pendidikan Magister Kenotariatan USU, Bu Fatimah, Kak Lisa, Kak Sari, Kak Winda, Afni, Bang Iken, Bang Aldy dan Bang Rizal, yang selama ini telah iv Universitas Sumatera Utara memberikan semangat dan doa restu serta kesempatan untuk menimba ilmu di Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Penulis berharap semoga semua bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT, agar selalu dilimpahkan kebaikan, kesehatan dan rezeki yang melimpah kepada kita semua. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, namun tak ada salahnya jika penulis berharap kiranya tesis ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak. Medan, Agustus 2011 Penulis, Nora Sari Dewi Nasution v Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP I. IDENTITAS PRIBADI Nama Lengkap : Nora Sari Dewi Nasution Tempat/Tanggal Lahir : Binjai, 05 September 1986 Status : Menikah Pekerjaan : PNS Alamat : Jl. STM / Pembangunan No. 34/18 Medan II. KELUARGA Nama Suami : Syahril Lubis, SE Pekerjaan : PT. Bank Sumut III. PENDIDIKAN - SD : SD Taman Siswa Binjai (Tahun 1992 s/d 1998) - SLTP : SLTP Ahmad Yani Binjai (Tahun 1998 s/d 2001) - SMU : SMU Kartika I-2 Medan (Tahun 2001 s/d 2004) - Perguruan Tinggi : - Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Panca Budi Medan (Tahun 2004 s/d 2008) - Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum USU Medan (Tahun 2008 s/d 2011) vi Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK . i ABSTRACT . ii KATA PENGANTAR. iii RIWAYAT HIDUP . vi DAFTAR ISI. vii BAB I BAB II BAB III BAB IV PENDAHULUAN. 1 A. Latar Belakang. 1 B. Permasalahan. 9 C. Tujuan Penelitian. 10 D. Manfaat Penelitian. 10 E. Keaslian Penulisan. 11 F. Kerangka Teori dan Konsepsi . 12 G. Metode Penelitian. 20 PERLINDUNGAN HAK ISTRI DALAM PERKAWINAN POLIGAMI YANG DICATATKAN. 25 A. Hak-hak Istri dalam Perkawinan Berdasarkan Hukum Islam 25 B. Hak-hak Istri dalam Perkawinan Poligami. 38 HAL-HAL YANG DAPAT DIPERJANJIKAN DALAM PERKAWINAN POLIGAMI. 52 A. Kedudukan Istri-istri dalam Perkawinan Poligami. 52 B. Perjanjian Perkawinan Poligami. 54 C. Hal-hal yang Diperjanjikan dalam Perjanjian Perkawinan Poligami. 62 D. Hal-hal yang Diperjanjikan dalam Perkawinan Poligami . 74 AKIBAT HUKUM PELANGGARAN ATAS PERJANJIAN PERKAWINAN POLIGAMI. 88 vii Universitas Sumatera Utara A. Sanksi-sanksi dalam Perjanjian Perkawinan Poligami. 88 B. Pelanggaran dalam Perjanjian Perkawinan Poligami . 89 C. Akibat Hukum Pelanggaran dalam Perjanjian Perkawinan Poligami. 91 KESIMPULAN DAN SARAN . 94 A. Kesimpulan. 94 B. Saran . 95 DAFTAR PUSTAKA . 97 BAB V viii Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Perkawinan menurut Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pada hakekatnya mengandung pengertian suatu ikatan lahir bathin antara seorang lakilaki dan seorang perempuan dimana diantara mereka terjalin hubungan yang erat dan mulia sebagai sepasang suami istri untuk hidup bersama dengan tujuan membentuk dan membina suatu keluarga yang bahagia, sejahtera, dan kekal berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pada prinsipnya mengandung azas monogami, dimana satu orang suami hanya boleh mempunyai satu orang istri, demikian pula sebaliknya. Perkawinan poligami merupakan suatu pengecualian menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dengan wajib memenuhi sejumlah syarat, ketentuan dan prosedur hukum yang telah diterapkan. Pasal 29 ayat 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 merupakan salah satu pasal yang bertujuan untuk melindungi hak-hak para istri yang dipoligami, yaitu dengan mengadakan suatu perjanjian tertulis pra perkawinan yang memuat dan mengatur hak-hak dan kewajiban suami istri apabila melaksanakan perkawinan poligami. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pengaturan perlindungan hak-hak istri dalam perkawinan poligami yang telah dicatatkan, hal-hal yang diperjanjikan dalam perjanjian perkawinan bagi istri yang dipoligami dan juga akibat hukum yang timbul jika suami yang berpoligami melanggar perjanjian perkawinan tersebut. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif, yaitu penelitian yang memaparkan, menganalisa dan menyimpulkan masalah perkawinan poligami dan permasalahan yang terkait didalamnya dengan mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan tentang perkawinan. Bahan-bahan hukum yang diperoleh terdiri dari bahan hukum primer yaitu undang-undang tentang perkawinan dan peraturan yang terkait dengan perkawinan tersebut. Bahan hukum sekunder yang terdiri dari hasil-hasil penelitian, laporan-laporan serta artikel yang berkaitan dengan penelitian ini. Penelitian ini menunjukkan bahwa perlindungan hak-hak istri dalam perkawinan poligami yang dicatatkan dapat dilakukan melalui pembuatan perjanjian sebelum perkawinan dilangsungkan. Akte perjanjian perkawinan tersebut bersifat akta autentik (notaril) yang terdiri dari beberapa pasal yang pada intinya berisikan hak-hak dan kewajiban seorang istri yang dipoligami terutama di bidang mengenai harta yang diperoleh oleh suami isteri selama dalam ikatan perkawinan adalah harta milik bersama, baik masing-masing bekerja pada satu tempat yang sama maupun pada tempat yang berbeda-beda, baik pendapatan itu terdaftar sebagai penghasilan isteri atau suami, juga penyimpanannya didaftarkan sebagai simpanan suami atau isteri tidak dipersoalkan, baik yang punya pendapatan itu suami saja atau isteri saja, atau keduanya mempunyai penghasilan tersendiri selama dalam perkawinan. Kembali pada konteks tindakan terhadap harta bersama oleh suami atau istri yang harus mendapat persetujuan suami istri tersebut dimana tanpa adanya persetujuan dapat mengakibatkan batalnya perbuatan hukum suami atau istri terhadap Universitas Sumatera Utara harta bersama, sedikit banyaknya telah memperangkap dan mematikan hak-hak kenikmatan suami atau istri terhadap harta yang diperolehnya. Berbeda dengan Undang-Undang Perkawinan, maka pengertian harta bersama menurut KUH Perdata berdasarkan Pasal 119 dikemukakan bahwa terhitung sejak mulai saat perkawinan dilangsungkan, demi hukum terjadilah persatuan bulat harta kekayaan suami dan isteri sejauh tidak diadakan perjanjian perkawinan tentang hal tersebut, jadi disini dapat kita artikan bahwa yang seluruhnya secara bulat baik itu meliputi harta yang dibawa secara nyata (aktiva) maupun berupa piutang (pasiva), serta harta kekayaan yang akan diperoleh selama dalam perkawinan. Sedang mengenai pengurusan harta persatuan (gemeenschap van goederen) itu sepenuhnya berada di tangan suami, isteri sama sekali kehilangan haknya untuk pengurusan harta tersebut meski isteri membawa harta yang lebih banyak sebelum terjadinya perkawinan, terkecuali bila sebelum perkawinan dilakukan suatu perjanjian perkawinan (huwelijksvoorwarden) seperti tercantum dalam Pasal 139 KUH Perdata dan pengecualian lain ialah bila suami dalam keadaan tidak mampu mengurus harta kekayaan persekutuan atau suami dalam keadaan tidak hadir (afwezig), menurut Pasal 125 KUH Perdata. Apabila dikaitkan dengan hutang (perjanjian hutang) maka ketentuan Pasal 35 tersebut juga dapat dipahami, bahwa perjanjian utang yang dilakukan sejak terjadinya ikatan perkawinan akan menjadi utang bersama. Sedangkan utang yang dilakukan sebelum perkawinan adalah utang pribadi suami atau isteri yang membuat perjanjian utang. Universitas Sumatera Utara Namun demikian, bentuk dan harta (uang) pembayaran utang harus pula diperhatikan. Utang dalam bentuk rumah, misalnya, yang pembayarannya secara angsuran atau kredit pemilikian rumah (KPR), meskipun perjanjian kredit dilakukan sebelum perkawinan, tetapi jika uang pembayarannya kemudian berasal dari uang (harta) bersama maka utang atau rumah tersebut akan jatuh menjadi utang bersama dengan perhitungan secara proporsional. Yang dimaksud secara proporsional adalah dengan memisahkan atau memperhitungkan jumlah uang yang telah dikeluarkan sebelum perkawinan berlangsung, yang merupakan harta pribadi, dengan jumlah uang (harta) bersama untuk pembayaran cicilan sejak terjadinya perkawinan, yang menjadi harta bersama. Oleh karena itu, saat transaksi utang dilakukan penting untuk diperhatikan dalam menentukan utang keluarga. Dalam Pasal 93 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam disebutkan, bahwa : Pertanggungjawaban terhadap utang yang dilakukan untuk kepentingan keluarga, dibebankan kepada harta bersama. Dari bunyi pasal tersebut menunjukkan, bahwa penggunaan utang dalam perkawinan penting diperhatikan guna menentukan agar utang yang dilakukan menjadi utang bersama. Penggunaan utang untuk yang bukan kepentingan keluarga atau utang untuk kepentingan pribadi suami atau isteri, dengan demikian bukan utang bersama. Kepentingan pribadi suami atau isteri dalam hal tersebut dapat berupa untuk kepentingan memperbaiki rumah pribadi suami atau isteri dan lain sebagainya. Universitas Sumatera Utara Sedangkan khusus untuk suami, harus diperhatikan lebih lanjut mengenai bentuk kepentingan keluarga dimaksud. Hal itu disebabkan karena suami memikul tanggung jawab dan mempunyai kewajiban untuk memenuhi keperluan dalam rumah tangga. Sebagaimana diatur dalam Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang menyebutkan : Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya. Kemudian dalam Pasal 80 ayat (4) Kompilasi Hukum Islam disebutkan, bahwa sesuai dengan penghasilannya suami menanggung : a. nafkah, kiswah dan tempat kediaman bagi isteri. b. biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi isteri dan anak, dan c. biaya pendidikan bagi anak. 64 Dengan ketentuan tersebut, maka jika konsisten dengan kewajiban yang dibebankan kepada suami, maka utang seorang suami dengan tujuan untuk memenuhi kewajibannya dalam keluarga, tidak dapat dimasukkan sebagai utang bersama. Sebab seorang suami yang berutang untuk memberi makan isteri dan anaknya, berarti ia sedang melaksanakan kewajibannya. Maka jika utang tersebut dianggap sebagai harta bersama, berarti pula isteri juga turut melaksanakan kewajiban suami. Dari ketentuan umum tentang ruang lingkup harta bersama, maka utang piutang yang dapat dikategorikan sebagai harta bersama antara lain adalah sebagai berikut : 64 Pasal 80 ayat (4) Kompilasi Hukum Islam Universitas Sumatera Utara 1. Semua utang untuk keperluan keluarga. 2. Kredit pemilikan rumah atau barang yang belum lunas pembayarannya. 3. Segala bentuk dana asuransi, yaitu Taspen, Asabri, Asuransi Tenaga Kerja Astek), dana kecelakaan lalu lintas, dana pertanggungan wajib kecelakaan penumpang, dana asuransi jiwa, yang pembayaran preminya dari harta bersama. 4. Bunga deposito. 5. Hasil sewa suatu barang harta bersama yang disewakan. 6. Saham-saham dan keuntungan saham atas suatu perusahaan. 65 Penghitungan semua utang piutang sebagai harta bersama tersebut harus dengan memperhatikan saat terjadinya perjanjian dan peruntukannya serta asal uang pembayarannya. Lebih lanjut Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang menentukan, untuk membuat suatu perjanjian dalam perkawinan harus atas persetujuan bersama suami isteri, maka jika suatu perjanjian tidak atas persetujuan bersama, perjanjian itu hanya berlaku dan sah bagi yang membuat perjanjian. Hal itu menentukan pula status utang tersebut. Jika suatu perjanjian utang tidak terpenuhi syarat Pasal 1320 KUH Perdata, yaitu kesepakatan para pihak, maka perjanjian itu tidak sah. Dengan demikian perjanjian yang tidak sah akan dianggap tidak ada perjanjian. Dalam perkawinan tidak sahnya suatu perjanjian bukan berarti sama sekali dianggap tidak ada perjanjian, namun karena dalam perkawinan satu pihak yang mengadakan perjanjian terdiri dari dua orang, yaitu suami dan isteri, maka tidak sahnya perjanjian hanya terhadap suami atau isteri yang tidak setuju adanya perjanjian itu. 65 M. Amin, Utang Piutang Dalam Rumah Tangga Dan Pembagiannya Akibat Perceraian, http://pa-lubukpakam.net/artikel/194-hartakeluarga.html, diakses tanggal 2 Desember 2009. Universitas Sumatera Utara Hal itu berarti dengan tidak adanya persetujuan bersama suami isteri ketika membuat suatu perjanjian utang, maka perjanjian itu hanya berlaku bagi salah satu pihak yang membuat perjanjian itu, yaitu suami atau isteri. Sehingga perjanjian itu bukan perjanjian bersama, tetapi perjanjian pribadi. Karena perjanjian utang pribadi, maka utang tersebut adalah utang pribadi dan pembebanan pertanggungjawabannya menjadi beban pribadi atau harta pribadi. Dengan kata lain, utang yang dilakukan oleh pribadi, suami atau isteri, tidak termasuk harta bersama dan tidak dapat dibebankan kepada harta bersama. Hal itu juga sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam KUH Perdata. Namun demikian bahwa perkawinan adalah merupakan suatu perjanjian yang kuat (mitsaqan gholidzan) dari seorang laki-laki dan seorang perempuan yang mengikatkan diri (akad nikah), menjadi satu dalam kehidupan rumah tangga. Sehingga masing-masing pihak terutama suami, dapat melakukan perbuatan hukum tanpa memerlukan persetujuan pihak lain (isteri) dalam rangka membangun keluarga (rumah tangga), sekaligus sebagai memenuhi kewajibannya terhadap keluarga, dan bentuk persetujuan isteri dapat diketahui dengan tidak ada bantahan atau menurut kebiasaan yang dilakukan oleh suami dan isteri dalam pergaulan rumah tangga. Oleh karena itu, meskipun persetujuan oleh isteri terhadap perjanjian utang yang dilakukan oleh suami secara yuridis adalah sesuatu yang penting, namun secara filosofis, sebagai pasangan suami isteri yang diikat dengan akad perkawinan, yang menjadi pokok dalam menentukan utang suami menjadi utang bersama adalah Universitas Sumatera Utara peruntukan utang tersebut. Sedangkan persetujuan isteri lebih bersifat kasuistis dan fleksibel atau dengan memperhatikan kondisi utang dan tujuannya. Selanjutnya mengenai pertanggungjawaban atau pembayaran utang telah diatur dalam Pasal 93 Kompilasi Hukum Islam sebagai berikut : (1). Pertanggungjawaban terhadap utang suami atau isetri dibebankan ini, karena di. Indonesia belum mempunyai peraturan perundang-undangan yang bersifat nasional, maka dalam warisan tetap mengacu kepada hukum adat, hukum Islam dan KUHPerdata. Oleh karena itu warisan yang berkaitan dengan perkawinan campuran, memang diserahkan kepada suami isteri yang bersangkutan.86 86 Ibid Universitas Sumatera Utara C. Pengadilan yang Berwenang Terhadap Perkara Perkawinan Campuran Perceraian adalah putusnya suatu perkawinan yang sah didepan hakim pengadilan berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan Undang-undang. Secara umum mengenai putusnya hubungan perkawinan ini dalam tiga golongan seperti yang tercantum dalam pasal 38 UU no.1 tahun 1974 yaitu; kematian, perceraian dan atas keputusan pengadilan. Menurut ketentuan Pasal 209 Kitab Undang Undang Hukum Perdata mengenai berbagai alasan yang dapat mengakibatkan perceraian, yakni: perzinahan, meninggalkan pihak yang lain tanpa alasan, dikenakan pidana penjara selama lima tahun atau lebih setelah perkawinan dilangsungkan, isteri/suami yang mengalami luka berat akibat penganiayaan sehingga membahayakan jiwa pihak yang teraniaya. Sedangkan menurut ketentuan Pasal 39 ayat 1 Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 menyebutkan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan didepan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Perceraian dalam perkawinan campuran termasuk dalam bidang status personal Hukum Perdata Internasional. Hal ini menjadi tidak ada masalah apabila suatu perceraian itu dilakukan oleh suami-istri yang mempunyai kewarganegaraan yang sama, tetapi apabila suami-istri mempunyai kewarganegaraan yang berbeda. Persoalan perceraian dalam bidang Hukum Perdata Internasional dibagi dalam beberapa aspek antara lain: Perceraian dari Warga Negara Indonesia, perceraian dari Universitas Sumatera Utara orang-orang di Indonesia, persoalan Jurisdiksi dalam perkara-perkara perceraian, pengakuan terhadap keputusan-keputusan cerai dari luar negeri. Mengenai perceraian orang-orang asing yang dilakukan di Indonesia ini menjadi sangat menarik karena menyangkut kompetensi dan persoalan tentang hukum mana yang dipergunakan (choice of law). Bagi orang-orang asing yang berada diwilayah Indonesia, Pengadilan Negeri dapat memberikan keputusan-keputusan perceraian, bilamana kedua mempelai bertempat tinggal di Indonesia. Hal ini menjadi tidak masalah, yang menjadi persoalan adalah apabila hanya salah satu pihak saja yang berada di Indonesia sedang pihak yang lain berada di luar negeri, maka tuntutan perceraian diajukan di Pengadilan Negeri dan apabila para pihak tidak mendalilkan kewarganegaraan mereka maka hakim mempergunakan hukum Indonesia tanpa menghiraukan segi-segi HPI nya.87 Jika para pihak mendalilkan kewarganegaraannya maka perlu diperhatikan hukum mana yang dipergunakan, sesuai dengan asas kewarganegaraan, suatu keputusan perceraian yang diucapkan di luar negeri antara para pihak yang keduaduanya adalah WNI hanya dapat diakui hakim Indonesia, jika keputusan bersangkutan didasarkan atas alasan-alasan yang dikenal dalam hukum Indonesia dan apabila suatu perceraian yang diucapkan di luar negeri antara para pihak WNI dan 87 Yana Indawati, Akibat Hukum Perceraian dalam Perkawinan Campuran antar Warga Negara, http://yanaindawati.wordpress.com/akibat-hukum-perceraian/dalam-perkawinan-campuranantar-warga-negara/. Diakses tanggal 5 Desember 2013. Universitas Sumatera Utara WNA maka yang berwenang memutus perkara perceraian perkawinan campuran adalah pengadilan dimana mereka melangsungkan perkawinan tersebut.88 88 Ibid Universitas Sumatera Utara BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Status anak dalam perkawinan campuran memperoleh kewarganegaraan ganda terbatas sampai berumur 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin, setelah berumur 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin ia dapat memilih menjadi Warga Negara Indonesia atau berkewarganegaraan asing sesuai dengan kewarganegaraan salah satu orang tuanya. Jika terjadi perceraian maka perceraian tersebut tidak mempengaruhi status si anak. 2. Apabila terjadi perceraian dalam perkawinan campuran, harta bersama tersebut diatur menurut hukumnya masing-masing yaitu hukum agama, hukum adat, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan hukum-hukum lainnya. 3. Dalam perkawinan campuran apabila salah satu pihak saja yang berada di Indonesia sedang pihak yang lain berada di luar negeri, maka tuntutan perceraian diajukan ke Pengadilan Negeri. Namun apabila suatu perceraian yang diucapkan di luar negeri antara para pihak WNI dan WNA maka yang memutus perkara perceraian perkawinan campuran adalah pengadilan dimana mereka melangsungkan perkawinan tersebut. B. Saran 1. sebaiknya pemerintah membuat peraturan perundang-undangan dalam bidang hukum, khususnya mengenai perkawinan campuran yang lebih menjamin Universitas Sumatera Utara kepastian hukum bagi seluruh masyarakat Indonesia, dan dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan, tanpa menyampingkan undang-undang lain yang mengatur tentang kewajiban seorang warga Negara Indonesia. 2. Perlu ditingkatkan pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan-penyuluhan hukum, sehingga tingkat kesadaran dan kepatuhan hukum setiap warga masyarakat meningkat, khususnya mengenai perkawinan campuran tersebut. 3. Demi lebih efektivitasnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan, maka kepada masyarakat perlu diberikannya penyuluhan hukum tentang peranan dan akibat hukum dari perkawinan campuran terhadap status kewarganegaraan para pihak, sehingga akibat hukum yang timbul dari perkawinan campuran beralih kewarganegaraan dan status anak-anak mereka benar-benar dapat dipahami oleh masyarakat. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Buku-buku : Abdurrahman, Muslan, 2002, Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum, UMM Press, Malang. Abdulkadir, Muhammad, 2010, Hukum Perdata Indonesia, PT Citra Aditya Bakti, Bandung. Amiruddin, dan Zainal Asikin, 2004, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Gautama Sudargo, 1987, Warga Negara dan Orang Asing, PT Alumni, Jakarta. __________,1995, Hukum Perdata Internasional Indonesia, PT Alumni, Bandung. Harahap, M. Yahya, 1975, Hukum Perkawinan Nasional, CV Zahir Trading co Medan. Nasution, Husein Amin, 2012, Hukum Kewarisan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Nuruddin, Amiur dan Azhari Akmal Tarigan, 2006, Hukum Perdata Islam di Indonesia Studi Krisis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih, UU No.1/1974 Sampai KHI, Kencana, Jakarta. Prins, J, 1982, Tentang Hukum Perkawinan di Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta. Prodjohamidjojo, Martiman, 2001, Hukum Perkawinan Indonesia, Karya Gemilang. Jakarta. Ramulyo, Muhammad Idris, 1991, Hukum Perkawinan Islam :Suatu Analisis UU No.1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam, Bumi Aksara, Jakarta. Rasjidi, Lili, 1982, Hukum Perkawinan dan Perceraian di Malaysia dan Indonesia, Alumni, Bandung. Saleh, K. Wantjik, 1976, Hukum Perkawinan Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta. Syarifudin, Amir, 2007, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia Antara Fiqh Munakahat dan Undang-Undang Perkawinan, Perdana Media,Jakarta. Universitas Sumatera Utara Supramono, Gatot, 1998, Segi-Segi Hukum Hubungan Luar Nikah, Djambatan, Jakarta. Sudarsono, 2005, Hukum Perkawinan Nasional, PT. Rineka Cipta, Jakarta. Susilo, Budi. 2007, Prosedur Gugatan Cerai, Pustaka Yustisia, Yogyakarta. Seto, Bayu. 2001, Dasar-Dasar Hukum Perdata Internasional, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung. Usman, Rachmadi, 2006, Aspek-Aspek Hukum Perorangan Dan Kekeluargaan Di Indonesia,Sinar Grafika, Jakarta. Internet : Amanda, Syarat dan Ketentuan Menikah dengan Oranng Lain, http://blog.baliexpat.com/syaratketentuanmenikahdenganorangasing/comment page1 Diakses tanggal 9 Juni 2013 Debora Dampu, Pelaksanaan Perkawinan antar Warga Negara Indonesia dan Waraga Negara Asing setelah Berlakunya Undang-undang No 1 Tahun 1974 Tentang perkawinan, http://eprints.undip.ac.id/16935/1DEBORA DAMPU. pdf. Diakses tanggal 9 Juni 2013. Hukum dan Ham, Perkawinan Campuran dan Hak Kebendaan, http://www.kumhamjogja. info/karya ilmiah/37-karya-ilmiah-lainnya/333-perkawinan-campurandan-hak-kebendaan. Diakses tanggal 5 Desember 2013 Lestari Indah, Putus Perkawinan dan Tata Cara Perceraian, http://indahlestari 111000407. blogspot. com/ 2012 /09/putus-perkawinan-tata cara perceraian. html. Diakses tanggal 15 Januari 2014. Nawawi, Perkawinan Campuran (Problematika dan Solusinya) http://sumselkemeneggo.id/file/dokumen/PerkawinanCampuran artikel-pdf. Diakses tanggal 28 Juni 2013. Nuning Hallet, Mencermati Isi Rancangan UU Kewarganegaraan ,http://www. Mixedcouple.com/artices/mod.phpmod=publisher&op=viewarticle &artid=51, Diakses 13 September 2013. Nani Mediati, Asas-asas kewarganegaraan lecture http://kurikulumpkn.blogspot. Com\/2010/12/asas-asas kewarganegraan. Universitas Sumatera Utara
Perlindungan Terhadap Hak-hak Istri pada Perkawinan Poligami Melalui Perjanjian Perkawinan Menurut Pasal 29 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perlindungan Terhadap Hak-hak Istri pada Perkawinan Poligami Melalui Perjanjian Perkawinan Menurut Pasal 29 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

Gratis