Feedback

Demineralisasi Dan Remineralisasi Struktur Gigi

Informasi dokumen
DEMINERALISASI DAN REMINERALISASI STRUKTUR GIGI Oleh : Fitri Yunita Batubara, drg   DEPARTEMEN ILMU KONSERVASI GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman BAB 1. PENDAHULUAN . 1 BAB 2. DEMINERALISASI 2.1 Karies Gigi . 2 2.2 Erosi Gigi . 5 BAB 3. REMINERALISASI BAB 4. KESIMPULAN . 7 10 DAFTAR PUSTAKA . 11 Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN Tidak semua kehilangan mineral dari struktur gigi merupakan bagian dari proses patologis. Kristal-kristal pada permukaan gigi akan mengalami periode alami kehilangan mineral yang disebut demineralisasi dan akan memperoleh mineral kembali yang disebut remineralisasi,. Dalam waktu 30 tahun terakhir, telah terjadi peningkatan pengetahuan dan pemahaman terjadinya karies gigi melalui struktur gigi. Saat ini telah diketahui bahwa dalam suatu mulut normal yang sehat terdapat suatu siklus berkelanjutan antara demineralisasi dan remineralisasi dari permukaan gigi. Jika kadar keasaman pada suatu gigi berada di bawah pH 5,5 akan terjadi peruraian ion kalsium dan fosfat dari gigi ke dalam saliva dan meninggalkan matriks kolagen yang mengalami demineralisasi. Jika saliva masih jenuh oleh ion-ion kalsium dan fosfat serta pH dalam lingkungan mulut naik di atas pH 5,5 maka terdapat potensi konstan untuk mengembalikan ion-ion tersebut ke dalam permukaan gigi sehingga terjadi remineralisasi. Di dalam tulisan ini akan dibahas tentang proses dan unsur-unsur yang berpengaruh terhadap terjadinya demineralisasi dan remineralisasi struktur gigi Universitas Sumatera Utara BAB 2 DEMINERALISASI Demineralisasi merupakan suatu keadaan dimana kristal-kristal permukaan gigi mengalami kehilangan mineral. Berdasarkan penyebabnya demineralisasi dapat dibagi menjadi dua yaitu: demineralisasi yang melibatkan bakteri (terjadi pada proses karies gigi) dan demineralisasi akibat bahan kimia asam (terjadi pada proses erosi gigi).1 2.1 Karies Gigi Karies gigi merupakan suatu proses patologis kerusakan jaringan gigi yang terlokalisir. Penyakit ini dimulai dengan demineralisasi jaringan keras gigi oleh asam organik yang dihasilkan dari karbohidrat yang dapat difermentasi oleh bakteri kariogenik pada plak gigi. Seringnya terpapar dengan makanan yang mengandung karbohidrat yang dapat difermentasi, khususnya makanan yang mengandung gula akan menyebabkan peningkatan populasi bakteri kariogenik (seperti: Streptococcus mutans, Lactobacillus spp. dan spesies lainnya) pada lapisan biofilm. Bakteri-bakteri ini bersifat acidogenic dan aciduric yang merupakan penghasil asam organik khususnya asam laktat dan secara aktf menghasilkan asam tersebut pada nilai pH sekitar 5. Nilai pH tersebut merupakan nilai pH kritis untuk apatit email yang akan menyebabkan kerusakan.1 Universitas Sumatera Utara Nilai pH kritis dianggap sebagai nilai pH tertinggi dimana email gigi akan mengalami kehilangan mineral. Nilai sebenarnya tergantung pada aktivitas ion-ion Ca2+ dan PO43- pada hydration layer sekitar kristal email dan hal ini biasanya seimbang dengan konsentrasi ion-ion yang sama pada cairan saliva dan plak. Dari hasil penelitian laboratorium dilaporkan bahwa pH kritis email gigi berada di antara 5,2 dan 5,5. Hal ini didasarkan pada rata-rata konsentrasi Ca2+ dan PO43- pada cairan saliva dan plak .1 Selama proses karies, asam organik yang dihasilkan oleh bakteri plak sebagian besar tidak dalam bentuk yang terpisah (misalnya: asam laktat, yang ditunjukkan sebagai HL pada gambar 1). Asam organik tersebut akan berdifusi ke dalam email gigi melalui ruang interprismata yang berisi air (water-filled) sehingga pH pada hydration layer sekitar kristal email menjadi semakin rendah. Jika pH berada di bawah nilai kritis, kristal email akan mengalami kehilangan mineral pada suatu proses yang disebut demineralisasi.1 Universitas Sumatera Utara Gambar 1. Demineralisasi email: proses kimia demineralisasi email pada ruang di antara plak dan email (interface) yang akan menghasilkan suatu lesi karies awal.6 Lesi karies terjadi dimulai dari jaringan keras gigi: email, dentin, atau sementum. Proses ini diawali dengan demineralisasi sederhana pada permukaan jaringan keras gigi. Kemudian bakteri berkembang menyebabkan kerusakan struktur kolagen pada dentin dan menyebabkan lubang pada permukaan gigi. Keadaan ini merupakan gejala dasar karies gigi.2 Email yang mengalami demineralisasi relatif lebih mudah pecah. Suatu saat ketika lesi telah merambat ke permukaan dan dentin telah terkena maka lapisan dalam kavitas dapat dibagi 2, yaitu:2 1. Lapisan terinfeksi (infected layer) pada permukaan paling luar kavitas. Pada lapisan ini sifat struktur gigi berubah (rusak) sama sekali dan dipenuhi dengan jasad renik sehingga tidak akan terjadi remineralisasi lagi. Universitas Sumatera Utara 2. Lapisan yang relative steril (affected layer) yaitu lapisan bagian dalam kavitas yang mengalami demineralisasi sampai ke tingkat tertentu tergantung kecepatan dan agresi penyakit tetapi masih berisi kerangka kolagen asli yang mampu mengadakan remineralisasi. 2.2 Erosi Gigi Erosi gigi adalah proses demineralisasi email oleh asam akibat proses kelarutan. Proses kelarutan email yang terjadi merupakan akibat kelarutan garam dalam larutan asam. Patogenese terjadinya erosi gigi adalah akibat etching dari asam. Pada stadium awal erosi gigi hanya terjadi pada permukaan enamel, selanjutnya lapisan enamel larut selapis demi selapis. Erosi gigi terjadi oleh karena demineralisasi pada pemukaan dengan penguraian prisma enamel perifer.3 Erosi dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal dan internal. Yang termasuk faktor ekstenal adalah diet,seperti jus buah, buah sitrun, karbonat, asam cuka), obat-obatan (asam klorida, asam askorbat, asam asetil salisilat, preparat besi), pekerjaan (industri yang berhubungan dengan asam), dan olahraga (berenang pada air yang mengandung klorit). Sedangkan yang termasuk faktor internal adalah sendawa dari cairan lambung, masalah psikologi (anoreksia, pecandu alkohol yang berat, stres yang berat), dan efek samping dari obat sitostatika (obat untuk asma kronis, overdosis atau kelebihan obat yang dapat mengiritasi lambung).3 Universitas Sumatera Utara Gambar 2. Erosi gigi akibat tingginya frekuensi konsumsi minuman yang mengandung karbonat.1 Universitas Sumatera Utara BAB 3 REMINERALISASI Jika saliva masih jenuh oleh ion-ion kalsium dan fosfat serta pH dalam lingkungan mulut naik di atas pH 5,5 maka terdapat potensi konstan untuk mengembalikan ion-ion tersebut ke dalam permukaan gigi. Dengan demikian lesi karies awal atau erosi akan mengalami remineralisasi dan sembuh.2 Fluoride merupakan unsur remineralisasi yang paling sering digunakan. Jika demineralisasi berlangsung pada lingkungan dimana ion fluoride bebas ada, maka stadium remineralisasi akan mendorong terjadinya fluorapatit dibandingkan hidroksiapatit (bila tidak ada ion fluoride bebas). Fluorapatit ini akan menempel pada lesi permukaan gigi. Hal ini akan memberikan beberapa keuntungan. Pertama, pH kritis fluorapatit adalah 4,5 berarti lebih tahan terhadap asam dan mampu menghambat demineralisasi lebih lanjut dibandingkan hidroksiapatit yang asli. Pemberian fluoride pada permukaan gigi akan meningkatkan ketahanan terhadap serangan karies. Keuntungan kedua adalah bahwa fluoride mempunyai daya bakteriostatik sedemikian sehingga spesies seperti Streptococcus mutans terhambat untuk tumbuh. Fluoride juga memodifikasi energi permukaan email sedemikian sehingga plak tidak dapat melekat erat pada email. Akhirnya fluoride berfungsi juga sebagai buffer pH plak pada permukaan gigi. 2 Pada waktu yang sama, diketahui bahwa penetrasi ion kalsium dan fosfat sangat penting untuk memperbaiki kerusakan yang lebih dalam. Teknologi remineralisasi baru yang didasarkan pada fosfopeptida dari casein protein susu telah Universitas Sumatera Utara dikembangkan. Casein phosphopeptide (CPP) berisi susunan multiphosphoseryl dengan kemampuan menstabilkan kalsium fosfat pada nanokomplek dalam larutan seperti amorphous calcium phosphate (ACP). Melalui susunan multiple phosphoseryl tersebut, CPP berikatan ke ACP dalam suatu larutan metastable yang mencegah penghancuran ion kalsium dan fosfat. CPP-ACP juga berperan sebagai reservoir bioavailable calcium dan fosfat dan mempertahankan keadaaan supersaturasi larutan yang akan mempermudah remineralisasi.4 Bentuk molekul CPP-ACP dapat dilihat pada gambar 3. Gambar 3. Molekul CPP-ACP Dari sejumlah penelitian dinyatakan bahwa aktivitas pasangan ion netral CaHPO40 berhubungan dengan rata-rata remineralisasi lesi subsurface email. CaHPO40 akan berdifusi ke dalam lesi email dalam bentuk ion Ca2+ dan PO43- dan meningkatkan derajat kejenuhan (saturation) hidroksiapatit. Susunan hidroksiapatit akan membawa asam dan fosfat menjadi H3PO4 dan berdifusi di luar lesi sehingga Universitas Sumatera Utara konsentrasinya menurun. Hasil ini mengindikasikan bahwa ikatan CPP-ACP berperan sebagai reservoir ion netral CaHPO40 yang terbentuk dengan adanya asam (gambar 4). Gambar 4. Remineralisasi email: mekanisme remineralisasi lesi subsurface email oleh CPP-ACP.1 Asam akan dihasilkan oleh bakteri plak gigi. Dalam keadaan ini ikatan CPP-ACP akan menjadi buffer pH plak dan menghasilkan ion kalsium dan fosfat khususnya CaHPO40. Peningkatan CaHPO40 akan mengimbagi turunnya nilai pH sehingga akan mencegah demineralisasi email.1 Universitas Sumatera Utara BAB 4 KESIMPULAN Setiap gigi akan mengalami siklus demineralisasi dan remineralisasi. Ketika pH turun menjadi di bawah 5,5, proses demineralisasi menjadi lebih cepat dari remineralisasi. Demineralisasi merupakan suatu keadaan dimana kristal-kristal permukaan gigi mengalami kehilangan mineral. Jika pH dalam lingkungan mulut naik di atas pH 5,5 maka ion-ion kalsium dan fosfat akan kembali ke dalam permukaan gigi sehingga terjadi remineralisasi. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA 1. Mount GJ, Hume WR. Preservation and restoration of tooth structure. Australia: Knowledge Book and Software, 2005: 52, 85-87, 96, 112-116, 2. Mount GJ, Ngo H. Minimal intervention: a new concept for operative dentistry. Alih bahasa. Andreas Adyatmaka. Quintessence int. 2000; 31:527-33. 3. Nurliza C. Program pencegahan erosi gigi dengan berkumur larutan baking soda 1% untuk menurunkan kadar asam sulfat di dalam rongga mulut pada karyawan pabrik aluminium sulfat. Tesis. Medan: Universitas Sumatera Utara, 2002: 5-6. 4. Lata S, Varghese NO, Varughese JM. Remineralization potential of fluoride and amorphous calcium phosphate=casein phosphopeptide on enamel lesions: An in vitro comparative evaluation. J Conserv Dent 2010; 13(1):42-6. 13 Universitas Sumatera Utara University, 2010). 2.5.2 Energy Dispersive X-ray (EDX) Energy Dispersive X-ray (EDX) adalah teknik mikroanalisis kimia yang digabungkan dengan scanning electron microscope (SEM). EDX merupakan suatu alat yang dapat mendeteksi sinar x yang keluar dari sampel selama pemaparan pancaran elektron untuk mengkarakteristikkan komposisi kimia dari sampel yang dianalisa. Sistem ini terdiri dari 3 (tiga) komponen utama, yaitu detektor sinar x yang dipisahkan dari ruang SEM dengan jendela polimer yang sangat tipis, untaian pengolahan getaran yang menentukan energi sinar x yang dideteksi, dan peralatan analisa yang menginterpretasikan data sinar x yang akan menampilkannya pada layar komputer. Alat ini dikendalikan oleh suatu program Windows-based User Interface (UI) yang dinamakan Genesis. Program ini terletak di dalam komputer EDX (Materials Evaluation and Engineering, Inc.2009). Universitas Sumatera Utara Informasi analisa yang dapat diperoleh adalah analisa kualitatif, analisa kuantitatif, pemetaan elemen, dan analisa profil garis (Materials Evaluation and Engineering, Inc.2009). Untuk analisa kualitatif, nilai energi sinar x sampel dari spektrum EDS dibandingkan dengan karakteristik energi sinar x yang sudah diketahui untuk mendapatkan elemen yang terdapat pada sampel. Hasil kuantitatif dapat diperoleh dari hitungan sinar x relatif pada karakteristik tingkat energi dari komponen sampel (Materials Evaluation and Engineering.Inc, 2009). 2.6 Landasan Teori Pada saat ini perawatan karies dilakukan dengan pendekatan kontemporer. Intervensi non-invasif dari lesi karies yang belum membentuk kavitas diperoleh dengan menggunakan bahan terapeutik untuk penyembuhan jaringan. Salah satu cara untuk mengurangi demineralisasi email adalah dengan penggunaan fluoride. Tetapi penggunaan fluoride yang berlebihan ternyata dapat menimbulkan fluorosis. Oleh karena itu para peneliti berusaha mencari alternatif bahan antikariogenik yang tidak menyebabkan fluorosis. Casein Phosphopeptid-Amorphous Calcium Phosphate (CPP-ACP) merupakan salah satu bahan antikariogenik yang berasal dari susu sapi, kasein, kalsium, dan fosfat. Protein susu sapi ditemukan dan diteliti oleh Profesor Eric Reynolds dari Universitas Melbourne. Casein Phosphopeptid (CPP) akan menjaga kalsium dan fosfat dalam bentuk amorf yang mudah larut. Casein phosphopeptide (CPP) berisi susunan Universitas Sumatera Utara multiphosphoseryl dengan kemampuan menstabilkan kalsium fosfat pada nanokomplek dalam larutan seperti amorphous calcium phosphate (ACP). Melalui susunan multiple phosphoseryl tersebut, CPP berikatan ke ACP dalam suatu larutan metastable yang mencegah penghancuran ion kalsium dan fosfat CPP-ACP juga berperan sebagai reservoir bio-available calcium dan fosfat dan mempertahankan keadaaan supersaturasi larutan yang akan mempermudah remineralisasi. Penggunaan produk-produk alam di bidang kedokteran gigi saat ini semakin berkembang pesat. Kitosan merupakan salah satu biomaterial yang akhir-akhir ini terus dikembangkan karena memiliki berbagai manfaat medikal dan terbukti aman untuk manusia. Kitosan dapat berinteraksi dengan ion logam. Interaksi kitosan dengan ion logam terjadi karena proses pengkompleksan dimana terjadi pertukaran ion, penyerapan, dan pengkhelatan. Gugus amino (–NH2) kitosan dalam kondisi asam berair akan menangkap H+ dari lingkungannya sehingga gugus aminonya terprotonisasi menjadi –NH3+. Muatan positif -NH3+ tersebut dapat dimanfaatkan untuk adsorpsi zat bermuatan negatif (anionik). Kitosan memiliki sifat istimewa, antara lain biokompatibiliti baik, biodegradable, tidak bersifat toksik, tidak menyebabkan reaksi immunologi, dan tidak menyebabkan kanker. Dengan sifat-sifat istimewa tersebut, maka kitosan dan modifikasi dengan bahan lain dapat digunakan untuk aplikasi klinis sebagai biomaterial. Universitas Sumatera Utara 2.7 Kerangka Konsep dan Hipotesis Penelitian Karies gigi (kehilangan kalsium dan fosfat) Remineralisasi email CPP-ACP + Kitosan nanopartikel Remineralisasi ??? Dari bagan di atas dapat dijelaskan bahwa kehilangan kalsium dan fosfat dari gigi dapat menyebabkan karies. Pemberian CPP-ACP dapat merangsang remineralisasi pada email gigi. Casein phosphopeptide (CPP) berisi susunan multiphosphoseryl dengan kemampuan menstabilkan kalsium fosfat pada nanokomplek dalam larutan seperti amorphous calcium phosphate (ACP). Melalui susunan multiple phosphoseryl tersebut, CPP berikatan ke ACP dalam suatu larutan metastable yang mencegah penghancuran ion kalsium dan fosfat. CPP-ACP juga berperan sebagai reservoir bio-available calcium dan fosfat dan mempertahankan keadaaan supersaturasi larutan yang akan mempermudah remineralisasi. Universitas Sumatera Utara Hipotesis penelitian ini adalah: Penambahan kitosan nanopartikel pada CPP-ACP dapat meningkatkan remineralisasi email. Ada perbedaan di antara CPP-ACP dan kombinasi CPP-ACP kitosan nanopartikel dalam menahan mineral kalsium (Ca) dan fosfor (P) di dalam email gigi. Ada perbedaan gambaran morfologi di antara permukaan email yang diaplikasi CPP-ACP dengan kombinasi CPP-ACP kitosan nanopartikel. Universitas Sumatera Utara BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian eksperimental dengan desain post test only control group. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian: 1. Departemen Konservasi Fakultas Kedokteran Gigi USU 2. Laboratorium pusat penelitian FMIPA USU 3. Laboratorium Ilmu Dasar Universitas Sumatera Utara 4. Laboratorium Departemen Mineral Fakultas Science Bahan dan Mineral University of Sains Malaysia, Nibong Tebal Penang, Malaysia Waktu penelitian : 6 bulan 3.3 Sampel dan Besar Sampel Penelitian 3.3.1 Sampel Penelitian Sampel pada penelitian ini adalah gigi molar terpendam yang baru diekstraksi dengan kriteria sebagai berikut: 1. Gigi diekstraksi dari pasien yang berusia 18-35 tahun. 2. Mahkota gigi dalam keadaan baik dan utuh secara klinis dan makroskopis. Universitas Sumatera Utara 3.3.2 Besar Sampel Besar sampel pada penelitian ini ditetapkan dengan rumus (Hanafiah, 2003): (t-1) (n-1) ≥ 15. . (4-1) (n-1)≥ 15 n≥6. Keterangan : t = banyaknya kelompok perlakuan n = jumlah sampel. Besar sampel yang dipakai pada setiap kelompok perlakuan pada penelitian ini adalah enam spesimen untuk setiap kelompok. Kelompok I : kelompok kontrol tidak dilakukan demineralisasi dan tidak diberi bahan coba. Kelompok II: kelompok yang diberikan larutan demineralisasi dan tidak diberi bahan coba. Kelompok III: kelompok yang diberikan larutan demineralisasi kemudian diberikan gel CPP-ACP. Kelompok IV: kelompok yang diberikan larutan demineralisasi kemudian diberikan kombinasi gel CPP-ACP + kitosan nanopartikel. 3.4 Variabel dan Definisi Operasional 3.4.1 Variabel Penelitian 3.4.1.1 Variabel Bebas CPP-ACP CPP-ACP ditambahkan kitosan nanopartikel dari blangkas 0,015% berat Universitas Sumatera Utara 3.4.1.2 Variabel Tergantung Jumlah unsur kalsium (Ca) dan fosfor (P) dalam email gigi Morfologi permukaan email 3.4.1.3 Variabel Terkendali Besar ukuran sampel Spesimen gigi yang digunakan Larutan demineralisasi Cara pengadukan (satu operator ) Perbandingan berat kitosan dan CPP-ACP Cara pencampuran antara kitosan dan CPP-ACP Sterilisasi alat, bahan coba dan media Perendaman gigi dalam saline sebelum dimulai perlakuan Proses pembuatan kitosan blangkas 3.4.1.4 Variabel Tidak Terkendali Waktu pencabutan gigi sampel penelitian 3.4.2 Definisi Operasional Definisi operasional, cara ukur, skala ukur, dan alat ukur dari masing-masing variabel penelitian dapat dijelaskan pada Tabel 3.1. Universitas Sumatera Utara Tabel 3.1 Definisi Operasional, Cara, Hasil, dan Alat Ukur Variabel Bebas dan Tergantung Penelitian No Variabel 1 Variabel bebas a. CPP-ACP Definisi Operasional Cara Ukur Skala ukur Alat Ukur Bahan remineralisasi Sesuai yang terdiri dari pabrik casein phosphopeptide (CPP) yang berisi susunan multiphosphoseryl dengan kemampuan menstabilkan kalsium fosfat pada nanokomplek dalam larutan seperti amorphous calcium phosphate (ACP) ukuran Nominal Neraca analitik b. CPP-ACP+kitosan high molecule nano dari blangkas CPP-ACP CPP-ACP ditambahkan dengan +kitosan nano kitosan high molecule 0,2% berat nano dari blangkas Nominal Neraca analitik 2 Variabel tergantung a. Jumlah Persen (%) berat Sesuai SOP alat Rasio kandungan unsur kalsium dan unsur kalsium fosfor pada email gigi dan fosfor tiap kelompok perlakuan b. Morfologi permukaan email Gambaran morfologi Sesuai SOP alat permukaan email gigi pada setiap kelompok perlakuan Nominal Energy Dispersive X-ray Spectro photometry Scanning Electron Microscope (SEM) Universitas Sumatera Utara 3.5 Alat dan Bahan Penelitian 3.5.1 Alat Penelitian Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah: Gelas ukur ( Pyrex®, USA) (1996) mengungkapkan bahwa CPP-ACP dapat menghambat pertumbuhan streptokokus mutans dalam plak gigi. Berdasarkan penelitian F Cai, P shen (2003) CPP-ACP telah terbukti sebagai agen antikaries secara laboraturium, hewan coba dan manusia (in vivo). Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh Flour dan CPP-ACP terhadap kekerasan permukaan enamel gigi, serta melihat perbedaan diantara keduanya. Universitas Sumatera Utara MASALAH Apakah ada perbedaan pengaruh agen yang mengandung Fluor dengan CPP-ACP dalam meningkatkan kekerasan permukaan enamel gigi. TUJUAN Untuk mengetahui adanya perbedaan pengaruh agen yang mengandung Fluor dengan CPPACP dalam meningkatkan kekerasan permukaan enamel gigi. MANFAAT 1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan memberi informasi kepada masyarakat luas sehingga dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan, dan diharapkan Fluor dan CPP-ACP dapat digunakan sebagai penunjang pemeliharaan kesehatan rongga mulut. 2. Bagi peneliti dapat menjadi pengalaman dalam hal melakukan penelitian. 3. Sebagai dasar untuk penelitian lanjutan sehingga Fluor dan CPP-ACP dapat dikembangkan untuk digunakan sebagai penunjang pemeliharaan kesehatan rongga mulut. Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 2 Skema Alur Penelitian Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 3 Skema penelitian uji kekerasan enamel dengan Leeb Hardness Tester 160 TH Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 4 Hasil Penelitian kekerasan permukaan enamel sampel Kelompok 1 (Saliva Buatan (kg/mm2 (VHN))) No Sebelum Perlakuan Setelah Setelah Demineralisasi Remineralisasi 1 343 311 311 2 344 312 313 3 348 314 314 4 340 310 311 5 341 316 316 Kelompok 2 (Remineralisasi Fluor (kg/mm2 (VHN))) No Sebelum perlakuan Setelah Setelah Demineralisasi Remineralisasi 1 351 315 331 2 348 312 329 3 342 311 327 4 341 310 330 5 339 309 329 6 340 309 327 7 343 313 331 8 337 308 325 9 335 304 324 10 342 311 326 Universitas Sumatera Utara Kelompok 3 (Remineralisasi CPP-ACP (kg/mm2 (VHN))) No Sebelum perlakuan Setelah Setelah Demineralisasi Remineralisasi 1 341 311 330 2 338 307 333 3 344 311 334 4 341 310 330 5 338 307 331 6 339 306 333 7 342 311 336 8 340 305 330 9 339 302 331 10 341 311 331 Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 5 Uji ANOVA Data Deskripsi Kelompok 1 ( Saliva Buatan) sebelum Setelah perendaman Setelah perendaman saliva buatan Std. N Minimum Maximum Mean Deviation 5 340 348 343.20 3.114 5 310 316 312.60 2.408 5 311 316 313.00 2.121 Valid N (listwise) 5 Data Deskripsi Kelompok 2 ( Remineralisasi Fluor) Std. N Minimum Maximum Mean Deviation sebelum 10 335 351 341.80 4.780 Setelah perendaman 10 304 315 310.20 3.011 Setelah aplikasi fluor 10 324 331 327.90 2.470 Valid N (listwise) 10 Data Deskripsi Kelompok 3 ( Remineralisasi CPP-ACP) sebelum Setelah perendaman Setelah aplikasi cppacp Std. N Minimum Maximum Mean Deviation 10 338 344 340.30 1.889 10 302 311 308.10 3.178 10 330 336 331.90 2.025 Universitas Sumatera Utara sebelum Setelah perendaman Setelah aplikasi cppacp Valid N (listwise) Std. N Minimum Maximum Mean Deviation 10 338 344 340.30 1.889 10 302 311 308.10 3.178 10 330 336 331.90 2.025 10 Kelompok Sebelum Saliva buatan Remineralisasi Fluor Remineralisasi CPPACP Perendaman Saliva buatan Remineralisasi Fluor Remineralisasi CPPACP Sesudah Saliva buatan Remineralisasi Fluor Remineralisasi CPPACP Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic .199 .201 .155 df 5 10 10 Sig. .200* .200* .200* Shapiro-Wilk Statistic df Sig. .941 5 .670 .945 10 .613 .933 10 .478 .198 5 .200* .957 5 .787 .145 10 .200* .967 10 .865 .225 10 .163 .856 10 .068 .227 5 .200* .910 5 .468 .172 10 .200* .937 10 .522 .272 10 .035 .864 10 .085 Oneway Repeated Anova (Kelompok Saliva Buatan) Faktor-faktor Dependent Waktu Variable 1 Sebelum Universitas Sumatera Utara 2 Perendaman 3 Sesudah Perbandingan berdasarkan waktu (I) (J) Mean Difference (I- 95% Confidence Interval for Differencea Waktu Waktu J) Std. Error Sig.a Lower Bound Upper Bound 12 30.600* 1.536 .000 26.335 34.865 3 21 30.200* -30.600* 1.530 1.536 .000 .000 25.953 -34.865 34.447 -26.335 3 31 -.400 -30.200* .245 1.530 .178 .000 -1.080 -34.447 .280 -25.953 2 .400 .245 .178 -.280 1.080 Kelompok 2 Remineralisasi Fluor (Oneway Repeated ANOVA) Faktor-faktor Dependent Waktu Variable 1 Sebelum 2 Perendaman 3 Sesudah Waktu 1 2 3 95% Confidence Interval Mean Std. Error Lower Bound Upper Bound 341.800 310.200 327.900 1.511 .952 .781 338.381 308.046 326.133 345.219 312.354 329.667 Universitas Sumatera Utara Perbandingan berdasarkan waktu Mean (I) (J) Difference (I- Waktu Waktu J) Std. Error 12 31.600* .763 3 13.900* 1.100 21 -31.600* .763 3 -17.700* .578 31 -13.900* 1.100 2 17.700* .578 95% Confidence Interval for Differencea Sig.a Lower Bound Upper Bound .000 29.874 33.326 .000 11.412 16.388 .000 -33.326 -29.874 .000 -19.008 -16.392 .000 -16.388 -11.412 .000 16.392 19.008 Kelompok 3 Remineralisasi CPP-ACP (Oneway Repeated Anova) Multivariate Testsb Effect Waktu Pillai's Trace Wilks' Lambda Hotelling's Trace Roy's Largest Root Value F Hypothesis df Error df .996 951.152a 2.000 8.000 .004 951.152a 2.000 8.000 237.788 951.152a 2.000 8.000 237.788 951.152a 2.000 8.000 Sig. .000 .000 .000 .000 Waktu 1 2 3 95% Confidence Interval Mean Std. Error Lower Bound Upper Bound 340.300 308.100 331.900 .597 1.005 .640 338.949 305.827 330.452 341.651 310.373 333.348 Universitas Sumatera Utara Perbandingan berdasarkan waktu Mean (I) (J) Difference (IWaktu Waktu J) Std. Error 12 32.200* .727 3 8.400* .718 21 -32.200* .727 3 -23.800* 1.041 31 -8.400* .718 2 23.800* 1.041 95% Confidence Interval for Differencea Sig.a Lower Bound Upper Bound .000 30.555 33.845 .000 6.776 10.024 .000 -33.845 -30.555 .000 -26.156 -21.444 .000 -10.024 -6.776 .000 21.444 26.156 Oneway ANOVA Selisih1 Saliva buatan Remineralisasi Fluor Remineralisasi CPP-ACP Total Selisih2 Saliva buatan Remineralisasi Fluor Remineralisasi CPP-ACP Total 95% Confidence Interval for Std. Mean N Mean Deviation Std. Error Lower Bound Upper Bound Minimum Maxim 5 -30.6000 3.43511 1.53623 -34.8653 -26.3347 -34.00 -2 10 -31.6000 2.41293 .76303 -33.3261 -29.8739 -36.00 -2 10 -32.2000 2.29976 .72725 -33.8451 -30.5549 -37.00 -3 25 -31.6400 2.54755 .50951 -32.6916 -30.5884 -37.00 -2 5 .4000 .54772 .24495 -.2801 1.0801 .00 10 17.7000 1.82878 .57831 16.3918 19.0082 15.00 2 10 23.8000 3.29309 1.04137 21.4443 26.1557 19.00 2 25 16.6800 9.06330 1.81266 12.9389 20.4211 .00 2 Universitas Sumatera Utara Test of Homogeneity of Variances selisih1 selisih2 Levene Statistic .401 5.139 df1 2 2 df2 22 22 Sig. .674 .015 ANOVA selisih1 selisih2 Between Groups Within Groups Total Between Groups Within Groups Total Sum of Squares 8.560 147.200 155.760 1842.540 128.900 1971.440 df Mean Square 2 4.280 22 6.691 24 2 921.270 22 5.859 24 F .640 157.238 Sig. .537 .000 Post Hoc Tests Multiple Comparisons LSD Dependent Variable (I) kelompok selisih1 Saliva buatan Remineralisasi Fluor Remineralisasi CPP-ACP selisih2 Saliva buatan (J) kelompok Remineralisasi Fluor Remineralisasi CPP-ACP Saliva buatan Remineralisasi CPP-ACP Saliva buatan Remineralisasi Fluor Remineralisasi Fluor Remineralisasi CPP-ACP Mean Difference (I- J) Std. Error 1.00000 1.41678 1.60000 1.41678 -1.00000 1.41678 .60000 1.15680 -1.60000 1.41678 -.60000 -17.30000* -23.40000* 1.15680 1.32579 1.32579 95% Confidence Interval Sig. Lower Bound Upper Bound .488 -1.9382 3.9382 .271 -1.3382 4.5382 .488 -3.9382 1.9382 .609 -1.7991 2.9991 .271 -4.5382 1.3382 .609 -2.9991 1.7991 .000 -20.0495 -14.5505 .000 -26.1495 -20.6505 Universitas Sumatera Utara Remineralisasi Fluor Saliva buatan Remineralisasi CPP-ACP Remineralisasi CPP-ACP Saliva buatan Remineralisasi Fluor *. The mean difference is significant at the 0.05 level. 17.30000* -6.10000* 23.40000* 6.10000* 1.32579 1.08251 1.32579 1.08251 .000 .000 .000 .000 14.5505 -8.3450 20.6505 3.8550 20.0495 -3.8550 26.1495 8.3450 Universitas Sumatera Utara
Demineralisasi Dan Remineralisasi Struktur Gigi
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Demineralisasi Dan Remineralisasi Struktur Gigi

Gratis