Pengelolaan Perkebunan kakao Rakyat Berkelanjutan Melalui Program Organik Berbasis Masyarakat di Serukei Aceh Utara

 3  61  73  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

KATA PENGANTAR

  Direktur Sekolah Pascasarjana USU dan Ketua Program Studi PengelolaanSumberdaya Alam dan Lingkungan Universitas Sumatera Utara Medan, yang telah berkenan menerima penulis untuk belajar di Program Studi ini. Rekan-rekan mahasiswa S2 Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan USU dan berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

RIWAYAT HIDUP

  Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui apakah ada perbedaan kesuburan makro tanah dan makrofauna tanah pada perkebunan kakao yang dikelola secara organik dan anorganik kemudian jugauntuk mengetahui apakah ada perbedaan pendapatan petani yang mengelola perkebunan kakao secara organik dan anorganik. Hasil dari penelitian inimenunjukan bahwa unsur hara makro tanah (N, P K dan pH) perkebunan kakao yang dikelola secara organik lebih baik daripada anorganik.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Apakah ada perbedaan kesuburan tanah (N,P, K dan pH) dan biota tanah pada perkebunan kakao yang dikelola secara organik dan anorganik?b. Kesuburan makro tanah pada perkebunan kakao yang dikelola secara organik lebih tinggi daripada anorganik dan makrofauna tanah pada perkebunan kakaoyang dikelola secara organik lebih banyak dari pada anorganik.

1.5. Manfaat Penelitian

  Memberikan alternatif pilihan dalam mengelola perkebunan kakao yang berkelanjutan bagi masyarakat. Bagi pengambil kebijakan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun rencana pembangunan khususnya di bidang perkebunan di masayang akan datang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengelolaan Perkebunan Kakao

  Lahan perkebunan adalah lahan usaha pertanian yang luas, biasanya terletak di daerah tropis atau subtropis, yang digunakan untuk menghasilkan komoditiperdagangan (pertanian) dalam skala besar dan dipasarkan ke tempat yang jauh, bukan untuk konsumsi lokal. Menurut USDA (United State Department of Agriculture) Pertanian organik adalah sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, yang mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami,sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan (Sutanto, 2002).

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

  Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil survey di lokasi penelitian dan alat yang digunakan meliputi: Bor Tanah (auger), GPS, alat tulis,plastik dan meteran, sekop, cangkul, terpal transparan, pinset, spidol permanen, buku catatan, buku identifikasi, pensil, sedangkan bahan yang digunakan adalah alkohol70%. Populasi dan Sampel Petani Populasi dalam penelitian ini adalah petani kakao organik dan petani kakao anorganik yang berada di Serukei Aceh Utara.

3.3.5. Analisis Data

Untuk membuktikan hipotesis (a) dilakukan dengan uji laboratorium dan hipotesis (b) digunakan uji statistik beda rata-rata dari masing-masing variabeldengan rumus sebagai berikut: ≥ H0: µ µ 1 2≤ H1: µ µ 1

2 X

1 X 2  t hitung =22 S S12 n 1 n 2(Sudjana, 2002) Kriteria pengujian adalah: tolak H0 jika t hitung < t tabel dengan derajat kebebasan (dk) = (n +n -2) dan á = 5% di mana: 1

2 X : rata – rata pendapatan (pengelolaan secara Organik)

  Kriteria Penilaian Sifat-sifat TanahSifat Tanah Satuan Sangat Rendah Rendah Sedang TinggiSangat Tinggi C (Karbon) % < 1,00 1,00 - 2,00 2,01 - 3,00 3,01- 5,00 > 5,00 N (Nitrogen) % < 0,10 0,10 - 0,20 0,21 - 0,500,51 - 0,75 > 0,75 C/N ----- < 5 5 - 10 11 - 15 16 - 25 > 25P2 O5 Total % < 0,03 0,03 - 0,06 0,06 - 0,079 0,08 - 0,10 > 0,10P2 O5 eks. Frekuensi Kehadiran Makrofauna (FK) Jumlah plot sampel yang ditempati satu jenisFK = X 100Jumlah total unit sampel d.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Karakteristik Petani Sampel

  Persentase Umur Petani Sampel (%)< 30 th 30-35 th 35-40 th > 40 th Sistem Pengelolaan Perkebunan Organik 5 14 38 43 Anorganik 4 15 19 63 Perkebunan Sumber: Data Pengamatan DiolahDari Tabel 4 dapat kita lihat bahwa usia petani perkebunan organik dan anorganik relatif sama yaitu yang tertinggi persentasenya adalah umur 40 tahunkeatas (43% organik dan 63% anorganik) dan yang terkecil umur 30 tahun ke bawah (5% organik dan 4% anorganik). Persentase Tingkat Pendidikan Petani Sampel (%)Sistem Pengelolaan Perkebunan SD SMP SMA Sarjana Organik 43 38 14 5 Anorganik 63 19 19 Sumber: Data Pengamatan Diolah Berdasarkan Tabel 6 dapat kita lihat bahwa persentase pendidikan petani sampel perkebunan organik maupun anorganik sama yaitu SD (43% dan 63%)sedangkan yang terkecil persentasenya petani sampel perkebunan organik Sarjana (5%) dan petani sampel perkebunan anorganik Sarjana (0%).

4.2. Kesuburan Tanah

  Berdasarkan hasil pengujian sampel tanah yang diambil dari wilayah penelitian unsur hara makro dan pH yang terkandung pada tanah perkebunan organikdan anorganik terlihat pada tabel di bawah ini. Rataan Kandungan Unsur Hara Makro pada Kebun Kakao Rakyat di Serukei Aceh Utara Kandungan Unsur HaraSampel Tanah N (%) P (ppm) K (me/100) pHPerkebunan Organik 0,34 17,20 0,35 5,63Perkebunan 0,22 9,59 0,18 5,11AnorganikSumber: Hasil Laboratorium Fakultas Pertanian USU Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa kandungan unsur hara (N, P, K dan pH) yang terkandung pada tanah dari perkebunan organik lebih besar daripada tanah dariperkebunan anorganik.

4.3. Makrofauna Tanah di Perkebunan Kakao Rakyat di Serukei Aceh Utara

  Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di areal Perkebunan Kakao Rakyat di Serukei Aceh Utara didapatkan 9 famili makrofauna tanah yaitu Glossoscolecidae,Mangascolicidae, Scolopeniidae, Julidae, Gryllidae, Carapidae, Blatteidae dan Pomatiopsidae seperti yang terlihat pada Tabel 10. Kondisi tanah yang berubah akibat pemupukan anorganik, penyemprotan insektisida serta pemberian zat- Percobaan di Maros, Sulawesi Selatan dikawasan tanah latosol – podsolik menunjukkan bahwa pertanaman kakao yang dilakukan secara organik memberikan hasil 24% lebih tinggi dari pada yang diberikan pupuk anorganik yaitu 2,07 ton ha -1.banding 1,67 ton ha (Notohadiprawiro, 1992).

4.4. Kepadatan (Individu/m ) Makrofauna Tanah di Perkebunan Kakao Rakyat di Serukei Aceh Utara

  Dari hasil analisis data yang telah dilakukan terhadap jumlah individu makrofauna tanah pada areal Perkebunan Kakao Rakyat di Serukei Aceh Utara,didapatkan nilai kepadatan yang bervariasi antar lokasi penelitian, seperti yang terlihat pada Tabel 11. Nilai Kepadatan (Individu/m 8 Carapidae Philopaga sp 1,48 4,76 - - dan Pomatiopsis sp. Menurut Suin(2003) distribusi dan keberadaan hewan tanah di suatu daerah tergantung pada keadaan faktor fisik-kimia lingkungan.

4.5. Frekuensi Kehadiran Makrofauna Tanah di Perkebunan Kakao Rakyat di Serukei Aceh Utara

  Rataan Input dan Harga Sistem Pengelolaan Rataan Input (Juta Rp/th) Rataan Harga (Rp/kg)Perkebunan Organik 6,2 34000 Perkebunan Anorganik 12,1 21000Sumber: Data Pengamatan Diolah Dari Tabel 16 dapat kita lihat bahwa perbedaan biaya saprodi yang harus dikeluarkan oleh petani kakao pada perkebunan anorganik jauh lebih besardibandingkan dengan petani kakao perkebunan organik, sementara harga kakao perkebunan organik jauh lebih mahal dibandingkan dengan anorganik. Pemakaian kompos,misalnya, akan menciptakan lingkungan tanah, air dan udara yang sehat yang merupakan syarat utama bagi tumbuhnya komoditi pertanian yang sehat karena: (1) Memperbaiki struktur tanah sehingga sesuai untuk pertumbuhan perakaran tanaman yang sehat;(2) Menyediakan unsur hara, vitamin dan enzim yang dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh sehat;(3) Menyediakan tempat (inang) bagi berbagai hama dan penyakit tanaman sehingga tidak menyerang tanaman.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  Hasil Laboratorium Kandungan Unsur Hara Makro (N, P, K dan pH) pada Lokasi Penelitian 41 42 5 3 PHeretima posthuma 1 1 1 - - - 2 - 1 2 - - 1 1 - 10 4 Scolopendra abscurai 1 5 Jullus sp 1 - - - 1 - - - - 1 - 2 - - - 6 Allonemobius sp - 2 1 - - - - 1 - - - - 1 1 - - - - - - - 1 - - - - 4 7 PHilopaga sp - - - - - 1 - - - - - - 1 - - 2 8 Parcoblatta sp - - 1 - - - - 1 - - - 1 - - 1 4 9 Pomatiopsis sp - - - 1 - - - - - - 1 - - - - 2 5 2 MegmopHix sp 1 - - - Lampiran 2. Lokasi I (Areal perkebunan kakao organik) No Jenis 1 2 3 4 5 6 7 9 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah 1 Pontoscolex sp - 1 1 - 2 1 3 - - - - - 1 - - 1 15 Jumlah 6 Pomatiopsis sp - - - - - - - 1 - - - - - - 3 5 Allonemobius sp - - 2 - - - - - - - - - - 1 - 1 4 Glomeris sp - - - - - - - - - - - - - 1 - 1 3 Jullus sp - - - - - - - - 1 - - - - - - 2 1 - - - - - 2 Scolopendra abscurai 2 1 - - - - 1 PHeretima posthuma 14 2.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Pengelolaan Perkebunan kakao Rakyat Berkelanj..

Gratis

Feedback