Feedback

Sintesis Porfirin Pembawa Gugus Karboksilat Sebagai Ligan Untuk Kit Radiofarmaka

Informasi dokumen
TESIS SINTESIS PORFIRIN PEMBAWA GUGUS KARBOKSILAT SEBAGAI LIGAN UNTUK KIT RADIOFARMAKA OLEH: HENNY SRI WAHYUNI NIM 087014016 PROGRAM STUDI MAGISTER DAN DOKTOR ILMU FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara SINTESIS PORFIRIN PEMBAWA GUGUS KARBOKSILAT SEBAGAI LIGAN UNTUK KIT RADIOFARMAKA TESIS Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Magister Sains dalam Ilmu Farmasi Pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara OLEH: HENNY SRI WAHYUNI NIM 087014016 PROGRAM STUDI MAGISTER DAN DOKTOR ILMU FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara PERSETUJUAN TESIS Nama Mahasiswa No. Induk Mahasiswa Program Studi Judul Tesis : Henny Sri Wahyuni : 087014016 : Magister Farmasi : Sintesis Porfirin Pembawa Gugus Karboksilat Sebagai Ligan Untuk Kit Radiofarmaka Tempat dan Tanggal Ujian Lisan Tesis : Medan, 4 Agustus 2011 Menyetujui: Komisi Pembimbing, Ketua, Anggota, Prof. Dr. rer. nat. Effendy De Lux Putra, SU., Apt Prof. Dr. Daryono Hadi Tjahjono, M.Sc. NIP 195306191983031001 NIP 131994284 Ketua Program Studi, Prof. Dr. Karsono, Apt. NIP 195409091982011001 Dekan, Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. NIP 195311281983031002 Universitas Sumatera Utara PENGESAHAN TESIS Nama Mahasiswa No. Induk Mahasiswa Program Studi Judul Tesis : Henny Sri Wahyuni : 087014016 : Magister Farmasi : Sintesis Porfirin Pembawa Gugus Karboksilat Sebagai Ligan Untuk Kit Radiofarmaka Telah diuji dan dinyatakan LULUS di depan Tim Penguji Tesis pada hari Kamis, tanggal 4, bulan Agustus, tahun 2011 Mengesahkan: Tim Penguji Tesis Ketua Tim Penguji : Prof. Dr. rer. nat. Effendy De Lux Putra, SU., Apt. Anggota Tim penguji : Prof. Dr. Daryono Hadi Tjahjono, M.Sc. Dr. M. Pandapotan NST,MPS., Apt. Dr. Ginda Haro, M.Sc., Apt. Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Senyawa porfirin dan turunannya banyak dipelajari sebagai fotosensitizer dalam terapi fotodinamik sebagai salah satu metode pengobatan dan diagnosa kanker ataupun tumor. Porfirin dapat dimodifikasi strukturnya baik pada substituen meso atau pada pusat molekulnya melaui kompleksasi dengan ion logam sehingga mudah dilabel dengan radionuklida. Selain dapat meningkatkan kelarutan, modifikasi struktur molekul porfirin juga dapat diarahkan untuk mendesain senyawa ligan dalam pembuatan kit radiofarmaka untuk diagnosis dan terapi kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis senyawa porfirin dengan substituen meso yang mengandung gugus yang dapat dilabel sebagai kandidat senyawa ligan yang akan dikembangkan menjadi kit radiofarmaka dalam diagnosis kanker. Sintesis senyawa porfirin menggunakan 3-hidroksi-4karboksimetilenoksibenzaldehid, pirol dan 4-piridinkarboksaldehid dalam asam propanoat dilakukan pada suhu 150oC-160oC selama 4 jam pada lingkungan atmosfer nitrogen. Karakterisasi senyawa porfirin yang dihasilkan berdasarkan titik leleh, spektrum sinar tampak, spektrum infra merah, dan spektrum 1H RMI. 5,10,15,20-tetrakis(piridil)porfirin (H2TPyP) dan 5,10-bis(piridil)-15,20bis[(3-hidroksi-4-karboksimetilenoksi)fenil]porfirin (H2BPyCP). H2TPyP berupa serbuk ungu yang meleleh pada suhu di atas 300oC. Panjang gelombang absorpsi maksimum (λmax/nm) pada spektrum sinar tampak adalah 416, 512, 545, 587, dan 642. Spektrum infra merah (cm-1) menunjukkan adanya pita =NH pada 3367,1 dan C=C pada 1457,9. Pergeseran kimia ( /ppm) H2TPyP dengan 1H RMI (500 MHz, CDCl3, TMS) adalah –2,93 (s, 2H, inner N-H), 7,12 (s, 8H, pirol -H), 8,16-8,17 (d, 8H, piridin 2-H dan 4-H), 9,07-9,08 (d, 8H, piridin 1-H dan 5-H). H2TPyP dapat disintesis dengan rendemen sebesar 10,4% (51 mg). H2BPyCP berupa serbuk hijau kecoklatan yang meleleh pada suhu 192oC-195oC. Panjang gelombang absorpsi maksimum (λmax/nm) pada spektrum sinar tampak adalah 415, 511, 546, 588, dan 644. Spektrum infra merah (cm-1) menunjukkan adanya gugus OH dari COOH pada 3428,8, C=O pada 1558,2 dan CO pada 1415,49. Pergeeseran kimia ( /ppm) 1H-RMI (500 Hz, D2O/DMSO, TMS) menunjukkan sinyal geseran kimia proton pada –3,09 (s, 2H, inner N-H), 4,62 (s, 4H, CH2 pada benzen karboksilat), 7,02-7,03 (d, 2H, benzen karboksilat 1’-H), 7,33 (s, 2H, benzen karboksilat 4’-H), 7,45-7,46 (d, 2H, benzen karboksilat 2’-H), 7,727,73 (d, 4H, piridin 2-H dan 4-H), 8,45 (s, 4H, pirol -H), 8,59-8,61 (d, 4H, piridin 1-H dan 5-H), 9,69 (s, 4H, pirol -H). Senyawa H2BPyCP dapat disintesis dengan rendemen sebesar 33,42% (213 mg). Kata kunci: porfirin, piridin, sintesis, karakterisasi, fotosensitizer Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Porphyrin and its derivatives are widely investigated as photosensitizers for photodynamic therapy in diagnoses and treatment of cancer or tumor. Structure of the porphyrin can be modified either at the meso position or in the center of the molecule with metal ions thus it is easily labeled with small radionuclides. Beside to improve its solubility, modification of the molecular structure of porphyrin can also be used to design ligand for radiopharmaceutical kit for the diagnosis and therapy of cancer. The purposes of this research was to synthesize porphyrin with mesosubstituent which bearing function group for labelling with radionuclide as ligand candidate to be developed as a radiopharmaceutical kits for cancer diagnosis. Synthesis of porphyrin was performed using 4caboxymethylenoxybenzaldehyde, pyrrole and 4-pyridinecarboxaldehyde in propionic acid and was conducted at temperature of 150oC-160oC for 4 hours in nitrogen atmosphere. Reaction produced 5,10,15,20-tetrakis(pyridyl)porphyrin (H2TPyP) and 5,10-bis(pyridyl)-15,20-bis[(3-hydroxy-4carboxymetilenoxy)phenyl]porphyrin (H2BPyCP). Caracterizations of synthesized porphyrins were based on melting point, visible absorption spectrum, infra-red spectrum and the 1H-NMR spectrum. H2TPyP is purple solid (51 mg, 10.35% yield) with melting point of above 300oC. It has maximum absorption at wavelengths (λmax/nm) of 416, 512, 545, 587, and 642. Infra-red spectrum (cm-1) showed a band of =NH at 3367.1 and C=C at 1457.92. Chemical shifts ( /ppm) of H2TPyP (1H-NMR, 500 MHz, CDCl3, TMS) were –2.93 (s, 2H, inner N-H), 7.12 (s, 8H, pyrrol -H), 8.16-8.17 (d, 8H, pyridine 2-H dan 4-H), 9.07-9.08 (d, 8H, pyridine 1-H and 5-H). H2BPyCP was brownish green solid (213 mg, 33.42% yield) with melting point of 192oC-195oC. Maximum absorption wavelengths (λmax/nm) of H2BPyCP were 415, 511, 546, 588, and 644. Infra-red spectrum (cm-1) showed a band of OH group of –COOH at 3428.81, C=O at 1558.2 and CO at 1415.49. Chemical shifts ( /ppm) of H2BPyCP (1H-NMR, 500 Hz, D2O/DMSO, TMS) were –3.09 (s, 2H, inner N-H), 4.62 (s, 4H, CH2 of benzene), 7.02-7.03 (d, 2H, benzene 1’-H), 7.33 (s, 2H, benzene 4’-H), 7.45-7.46 (d, 2H, benzene 2’-H), 7.72-7.73 (d, 4H, pyridine 2-H dan 4-H), 8.45 (s, 4H, pyrrol -H), 8.59-8.61 (d, 4H, pyridine 1-H and 5-H), 9.69 (s, 4H, pyrrol -H). Key word: porphyirin, pyridine, synthesis, caracterization, photosensitizer Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul “Sintesis Porfirin Pembawa Gugus Karboksilat Sebagai Ligan Untuk Kit Radiofarmaka” sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Selama menyelesaikan penelitian dan tesis ini penulis telah banyak mendapatkan bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, baik moril maupun materil. Untuk itu penulis ingin menghaturkan penghargaan dan terima kasih yang tiada terhingga kepada : 1. Prof. Dr. rer. nat. Effendy De Lux Putra, SU., Apt dan Prof. Dr. Daryono Hadi Tjahjono, M.Sc. sebagai pembimbing, atas segala saran, bimbingan, dan nasehatnya selama penelitian berlangsung dan selama penulisan tesis ini. 2. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., yang telah menyediakan fasilitas dan kesempatan bagi penulis menjadi mahasiswa Program Studi Magister Farmasi Fakultas Farmasi. 3. Dekan Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, Bapak Prof.  Dr. Daryono Hadi Tjahjono, M.Sc. dan Bapak Prof. Dr. Slamet Ibrahim Surantaatmadja (KK Farmakokimia-Fakultas Farmasi ITB) atas kesediaannya memberikan izin penggunaan fasilitas laboratorium Farmakokimia ITB selama penelitian demi menyelesaikan tesis ini. Universitas Sumatera Utara 4. Ibu Sofa Fajriani atas bantuannya dalam pengukuran spektrum RMI di LIPI Serpong. 5. Orangtua, keluarga tercinta, Bapak Fauzan Zein, Ibu Asmiyenti Djaliasrin, dan teman-teman seperjuangan di Pascasarjana Sekolah Farmasi ITB dan USU yang telah bersedia membantu, memberikan doa dan dukungan moral selama penulis menyelesaikan tesis ini. 6. Staf dan karyawan Sekolah Farmasi ITB dan USU yang telah banyak membantu selama penulis menyelesaikan tesis ini. Serta buat semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah banyak membantu dalam penelitian tesis ini. Kiranya Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda atas kebaikan dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga tesis ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang farmasi. Medan, September 2011 Penulis, Henny Sri Wahyuni Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman JUDUL . i HALAMAN JUDUL . ii PERSETUJUAN TESIS . iii PENGESAHAN TESIS . iv ABSTRAK . v ABSTRACT . vi KATA PENGANTAR . vii DAFTAR ISI . ix DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG . xii DAFTAR TABEL . xiii DAFTAR GAMBAR . xiv DAFTAR LAMPIRAN. xvi BAB I PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang . 1 1.2 Kerangka Pikir Penelitian . 4 1.3 Perumusan masalah . 4 1.4 Hipotesis . 5 1.5 Tujuan Penelitian . 5 1.6 Manfaat Penelitian . 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 6 2.1 Porfirin . 6 Universitas Sumatera Utara 2.1.1 Sintesis Porfirin . 7 2.1.2 Aksi Fotodinamik . 8 2.2 Modifikasi Molekul . 9 2.3 Radiofarmasi . 10 2.4 Kromatografi . 11 2.4.1 Kromatografi Lapis Tipis . 11 2.4.2 Kromatografi Kolom. 12 2.4.3 Kromatografi Pertukaran Ion . 13 2.5 Spektrofotometri Ultra Violet dan Tampak . 13 2.6 Spektrofotometri Infra Merah . 15 2.7 Spektrometri Resonansi Magnet Inti (RMI) . 17 BAB III METODOLOGI PENELITIAN . 19 3.1 Desain Penelitian . 19 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian . 19 3.3 Alat-alat. 19 3.4 Bahan-bahan. 20 3.5 Pelaksanaan Penelitian . 20 3.5.1 Sintesis Senyawa Benzaldehid Karboksilat . 20 3.5.2 Analisis Hasil Sintesis Senyawa Benzaldehid Karboksilat . 21 3.5.2.1 Identifikasi dan Uji Kemurnian Zat Hasil Sintesis Senyawa Benzaldehid Karboksilat . 21 3.5.2.2 Karakterisasi Zat Hasil Sintesis Senyawa Benzaldehid Karboksilat . 21 3.5.2.2.1 Analisis Spektrum Infra Merah. 21 Universitas Sumatera Utara 3.5.2.2.2 Analisis Spektrum 1H-RMI dan 13C-RMI . 22 3.5.3 Sintesis Senyawa Porfirin . 22 3.5.4 Analisis Hasil Sintesis Senyawa Porfirin . 22 3.5.4.1 Pemisahan Zat Hasil Sintesis Senyawa Porfirin . 22 3.5.4.2 Pemisahan Pita 4 Hasil Kromatografi Kolom. 23 3.5.4.3 Pemurnian Pita-Pita Hasil Kromatografi Kolom . 23 3.5.4.3.1 Pemurnian Pita 4 dengan Kromatografi Kolom Resin Ion Exchange . 23 3.5.4.3.2 Rekristalisasi Pita 1 dan Pita 4 . 23 3.5.4.4 Identifikasi dan Uji Kemurnian Pita-Pita Hasil Kromatografi Kolom. 24 3.5.4.4.1 Identifikasi dan Uji Kemurnian Pita 1 . 24 3.5.4.4.2 Identifikasi dan Uji Kemurnian Pita 4 . 24 3.5.4.4.3 Penentuan Titik Lebur. 25 3.5.4.5 Karakterisasi Pita-Pita Hasil Kromatografi Kolom. 25 3.5.4.5.1 Analisis Spektrum Serapan UV-Vis . 25 3.5.4.5.2 Analisis Spektrum Infra Merah. 3.5.4.5.3 Analisis Spektrum 1H-RMI. . 25 25 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN . 26 BAB V SIMPULAN DAN SARAN . 53 DAFTAR PUSTAKA . 54 Universitas Sumatera Utara DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG Singkatan Nama Pemakaian pertama kali pada halaman RMI H2TPyP H2BPyCP UV Vis PDT DNA KLT Rf IR KLTKT NMR 2D Resonansi Magnetik Inti 5,10,15,20-tetrakis(piridil)porfirin 5,10-bis(piridil)-15,20-bis[(3-hidroksi-4karboksimetilenoksi)fenil]porfirin Ultraviolet Visible Photo Dynamic Therapy Deoxyribonuclei acid Kromatografi Lapis Tipis Retardation factor Infra Red Kromatografi Lapis Tipis Kinerja Tinggi Nuclear Magnetic Resonance Dua dimensi v v v v xi xi 1 2 4 4 4 11 20 53 LAMBANG λ maks A l c Panjang gelombang maksimum Pergeseran kimia Absorptivitas molar Absorbansi Tebal larutan/tebal kuvet Konsentrasi larutan v v 8 15 15 15 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman Tabel 4.1 Nilai Rf 3-hidroksi-4-karboksimetilenoksibenzaldehid Pada Berbagai Komposisi Pengembang . 28 Tabel 4.2 Bilangan Gelombang dan Gugus Fungsi 3-hidroksi-4-karboksimetilenoksibenzaldehid. 30 Tabel 4.3 Nilai Rf Senyawa Pita 1 Pada Berbagai Komposisi Pengembang . 39 Tabel 4.4 Nilai Rf Senyawa Pita 4 Pada Berbagai Komposisi Pengembang . 41 Tabel 4.5 Bilangan Gelombang Dan Gugus Fungsi Senyawa Porfirin Pita 1 . 45 Tabel 4.6 Bilangan Gelombang Dan Guus Fungsi Senyawa Porfirin Pita 4 . 46 Tabel 4.7 Interpretasi Pergeseran Kimia Dengan Struktur Yang Beresonansi Pada Senyawa Pita 1. 48 Tabel 4.8 Interpretasi Pergeseran Kimia Dengan Struktur Yang Beresonansi Pada Senyawa Pita 4. 50 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1.1 Struktur Kimia Senyawa Kationik Porfirin dengan meso-substituen . 2 Gambar 1.2 Modifikasi Struktur Senyawa Kationik Porfirin dengan meso-substituen piridin dan karboksilat. 3 Gambar 2.1 Cincin Tetrapirol Porfirin. 6 Gambar 2.2 Spektrum Sinar Tampak Senyawa Porfirin. 7 Gambar 2.3 Energi Transisi Elektronik . 14 Gambar 4.1 Skema Reaksi Sintesis Kedelei 7 6 7 Oleat(C18 :1) 7* 6 Linoleat( C18:2) O * * 2 7 O * HO 2 4 4 H-OH O OH (Hidrolisis) OC O OH Heksaol 6C O 3 O POLIOL HASIL HIDROLISIS O C OH 7 Diol * 7 HO 6 OH 2 * 4 Tetraol Gambar 2.4. Pembentukan Poliol Turunan Oleat, Linoleat dan Linolenat melalui Epoksidasi Diikuti Hidrolisis Dari Gliserida Minyak Kedelai. 2. 8 Isosianat Isosianat merupakan monomer yang utama dalam pembentukan poliuretan. Isosianat memiliki reaktifitas yang sangat tinggi, khususnya dengan reaktan nukleofilik. Reaktifitas gugus sianat (-N=C=O) ditentukkan oleh sifat positif dari atom karbon dalam ikatan rangkap komulatif yang terdiri-dari N, C, dan O. Pada dasarnya kumpulan R-N=C=O mempunyai kemampuan untuk bereaksi dengan berbagai senyawa khususnya yang mengandung gugus nuklefil seperti air, amina, alkohol, dan asam lemak. Isosianat memiliki dua sisi reaktif pada atom karbon dan pada atom nitrogen, sehingga monomer ini sangat reaktif dengan senyawa yang mengandung gugus hidroksil baik yang bersifat alifatis, siklik maupun gugus aromatik. Universitas Sumatera Utara Dalam pembentukan poliuretan sangat penting untuk memilih isosianat yang sesuai untuk bereaksi dengan poliol karena akan dapat menentukan hasil akhhir seperti biuret, urea, uretan, dan alopanat. Isosianat dapat bereaksi dengan alkohol membentuk karbamat, dengan air membentuk urea dan gas CO2, dengan amina membentuk urea, dengan urean membetuk uretan dan dengan isosinat sendiri (Hepburn,1991; Randal dan Lee, 2002). Poliuretan sering disebut juga poliisosianat, gugus isosianat, -NCO, merupakan gugus yang sangat reaktif dan dapat membentuk uretan dengan alkohol (Gambar 2.5): RN C O + Isosianat R' OH Alkohol O H R NC Uretan OR' Gambar 2.5. Reaksi Pembentukan ureatan dari isosianat dan alkohol. Reaksi yang melibatkan monomer-monomer pada pembentukan poliuretan yaitu gugus sianat N=C=O dan gugus –OH ( Gambar 2.6) : O C NR N O C HO R' OH OO H C N R N C O R' OH Disosianat Diol Poliuretan Reaksi dengan Monomermonomer berikutnya OO HH C N R N C O R' O Monomer poliuretan n Gambar 2.6. Reaksi Pembentukan Monomer Poliuretan. Seperti poliamida, poliuretan dapat mengalami ikatan hidrogen. Poliuretan mempunyai sifat yang sama dengan nilon, tetapi karena sukar diwarnai dan titik lelehnya lebih rendah, polimer ini pada awalnya tidak banyak diperdagangkan. Akan tetapi, terjadi kemajuan pesat pada kimia poliuretan yang menghasilkan busa, elastomer, pelapis permukaan, serat, dan perekat poliuretan Universitas Sumatera Utara Poliuretan yang terbentuk juga dapat berupa foam (busa), walaupun berasal dari berbagai sampel poliol yang berbeda tetapi poliuretan jenis ini lebih keras dibandingkan dengan poliuretan yang lain, dengan direaksikan melalui isosianat akan terbentuk banyak uretan yang kemudian akan diperiksa sifatnya. Salah satu kegunaan poliuretan foam dapat digunakan sebagai busa ( Ulrich, 1982). Mekanisme reaksi isosianat dengan kumpulan hidroksil ditentukan menurut reaktivitas kumpulan hidroksil itu sendiri. Adapun reaksi secara umum isosianat yaitu: 1. Reaksi isosianat dengan poliol H HO COH R' poliol OHO CNCNC R difenil metana isosianat OHO H HH C N C N C OCO R poliuretan R' n 2. Reaksi isosianat dengan air Isosianat sangat reaktif pada uap. Asam karbamat tidak stabil dan bereaksi membentuk amina primer dan karbon dioksida. R N C O + H2O Isosianat Air O H R NC OH Asam karbamat RNH2 + Amina CO2 Universitas Sumatera Utara 3. Reaksi isosianat dengan amina lebih jauh melalui perbandingan reaksi senyawa kandungan hidrogen aktif (Doyle, 1971). R' N C OH + RNH2 Isosianat Amina O HH R N C N R' + R N C O Uretan O H R NCNR CO NH R' Biuret 4. Dengan adanya kelebihan isosianat, atom hidrogen dari uretan akan bereaksi dengan isosianat untuk membentuk suatu rantai alopanat O R HH NCN R' + R N C O Uretan Isosianat O H R NCNR CO NH R' Biuret Banyak peneliti telah memakai berbagai isosianat untuk mendapatkan hasil akhir poliuretan yang diinginkan tetapi isosianat yang umum digunakan dan telah dipasarkan untuk komersial adalah toluen diisosianat (TDI), difenilmetan diisosianat (MDI), naftalena 1,5-diisosianat (NDI), dan lain-lain. TDI (Gambar 2,7) memiliki senyawa dasar toluen, terdiri dari dua jenis isomer 2,4 (80%) dan isomer 2,6 (20%) yang merupakan isosianat biasa untuk pembuatan poliuretan busa tahan lentur. Jenis kedua adalah TDI dengan campuran 65% isoer 2,4 dan 35% isomer 2,6 (Hepburn, 1991). Universitas Sumatera Utara OCN Difenil diisosianat CH3 OCN NCO NCO CH3 NCO O C N 2,4 TDI NCO 2,6 TDI NCO Naftalena 1,5-diisosianat Gambar 2.7. Struktur dari Beberapa Senyawa Diisosianat. 2.9. Polimer Polimer yang merupakan molekul raksasa (makromolekul) yang terbentuk dari perulangan satuan-satuan sederhana monomernya. Monomer-monomer digabungkan membentuk rantai polimer dengan suatu proses yang disebut reaksi polimerisasi. Panjang rantai polimer dinyatakan dalam jumlah satuan unit ulang dalam suatu rantai polimer dikenal dengan Derajat Polimerisasi (DP). Atas dasar ini maka massa rumus molekul dari senyawa polimer adalah perkalian antara DP dengan massa rumus monomer satuan ulangannya. Polimer merupakan objek kajian yang amat rumit. Oleh karean itu dibuat pengelompokan-pengelompokan polimer menurut struktur, keadaan fisik, reaksi terhadap lingkungan, sumbernya, jenis monomer penyusun serta penggunaan produk akhirnya. Secara struktur pembagian polimer adalah polimer yang merupakan molekul Universitas Sumatera Utara induvidual, polimer lineir, polimer bercabang, polimer jaringan raksasa makroskopik (jaringan tiga dimensi). Secara tradisional polimerisasi telah diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama yaitu polimerisasi adisi dan polimerisasi kondensasi (Steven, 1996). Polimer terbentuk melalui suatu proses polimerisasi addisi dapat terjadi pada molekul sejenis untuk membentuk molekul yang besar tanpa terjadi pembentukan molekul sampingan. Beberapa contoh polimer yang termasuk polimer poliaddisi adalah pembentukan polietilen, polipropilen, polivinil klorida, poliakrilat, dan lainlain. Polimerisasi kondensasi umumnya untuk menghasilkan molekul besar melibatkan penghilangan molekul air atau molekul kecil lainnya seperti pembentukan poliester, polieter, poliamida, poliuretan dan lain-lain. Dari segi penggunaannya bahan polimer biasanya digunnakan sebagai : perekat (adhesive), fiber (serat), elastomer, plastik dan pelapis. Dalam penggunaannya bahan polimer biasanya dicampur dengann zat-zat lain seperti platisizer, antioksidan, anti UV, pemberat dan filler lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk memmperoleh sifatsifat tertentu yang diinginkan seperti kelenturan, ketahanan terhadap sinar UV, ketahanan terhadap oksidasi, atau sekedar untuk menekan ongkos produksi. Untuk mendapatkan polimer dengan sifat-sifat yang unggul sering kali dilakukan modifikasi polimer baik melalui kopolimerisasi ataupun melalui blending. Untuk karakterisasi bahan polimer secara teknis analisis mencakup berbagai cara kimia dan spektroskopi seperti yang digunakan pada senyawa berbobot molekul rendah, yang bertujuan mendapatkan informasi tentang struktur kimia rantai polimer. Sintesis polimer melalui polimerisasi bertujuan menciiptakan polimer baru dengan struktur rantai tertentu sehingga menghasilkan bahan polimer dengan karakteristik dan sifat mekanis yang diinginkan. Penerapan bahan polimer kesegala kehidupan manusia untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan memerlukan berbagai standart mutu bahan polimer dari polimer komoditas, sampai bahan polimer teknik, dan polimer khusus. Penyediaan berbagai mutu bahan polimer ini tidak dapat dipenuhi bila hanya digunakan cara polimerisasi, lebih lanjut molekul Universitas Sumatera Utara polimer yang terbentuk dapat dimodifikasi menjadi polimer baru melalui reaksi polimer lainnya atau senyawa aditif berbobot molekul rendah (Wirjosentono, dkk, 1995). 2.10. Poliuretan Poliuretan yang umumnya disingkat dengan PU merupakan senyawa polimer yang penyusun rantai utamanya adalah gugus uretan (-NHCOO-). Poliuretan merupakan jenis polimer yang mudah disesuaikan dengan penggunanya serta sukar disamai polimer lain seperti kekuatan regangan, kekerasan, ketahanan gesekan dan ketahanan pelarut. Sifat-sifat yang dimiliki oleh poliuretan menjadikan bahan ini sangat berpotensi dalam berbagai industri ( Dombrowm, 1957). Poliuretan memiliki kekakuan, kekerasan, serta kepadatan yang amat beragam. Beberapa jenis poliuretan yang diperdagangkan dan sangat sesuai dengan penggunanya diantaranya adalah : a) Busa fleksibel (fleksible foam), berdensitas (kepadatan) rendah yang digunakan dalam bantalan menahan lenturan. b) Busa kaku (rigid foam), berdensitas rendah yang 3000 rpm dipisahkan Supernatan dipipet sebanyak 0,5 ml Endapan (dibuang) dimasukkan dalam labu tentukur 10 ml ditambahkan dengan dapar fosfat pH 7,4 sampai garis tanda ditetapkan kadarnya dengan menggunakan spektrofotometer ultraviolet pada panjang gelombang 209,0 nm untuk asam mefenamat; 222,0 nm untuk ibuprofen; 206,0 nm untuk ketoprofen Hasil Lampiran 56. Penentuan Persamaan Regresi dan Kurva Kalibrasi Asam Mefenamat dalam Usus Halus yang Dihomogenkan pada Temperatur Kamar Konsentrasi (mcg/ml) x 0 300 400 500 600 700 Σx = 2500 x = 416,6667 Absorbansi (A) y 0,0000 0,3350 0,3670 0,5710 0,7170 0,7330 Σy = 2,7230 y = 0,4538 x2 0 90000 160000 250000 360000 490000 Σ x2 = 1350000 y2 0,0000 0,1122 0,1347 0,3260 0,5141 0,5373 Σ y2 = 1,6243 xy 0,0000 100,5000 146,8000 285,5000 430,2000 513,1000 Σxy =1476,1000 Persamaan regresi : y = ax + b a = ∑ xy − (∑ x)(∑ ∑ x2 − (∑ x)2 y) / /n n a = 1476,1000 − (2500)(2,7230) / 6 1350000 − (2500)2 / 6 a = 0,001108 b = y – ax b = 0,4538 – (0,001108)(416,6667) b = - 0,0078 Jadi, persamaan regresi : y = 0,001108x - 0,0078 r = ∑ xy − (∑ x)(∑ y) / n {∑ x2 − (∑ x) / n)}(∑ y2 − (∑ y)2 / n} r = 1476,1000 − (2500)(2,7230) / 6 {1350000 − (2500)2 / 6}{1,6243 − (2,7230)2 / 6} r = 0,9867 Lampiran 57. Flowsheet Pembuatan Larutan Induk Baku Ibuprofen dalam Dapar Fosfat pH 7,4 ± 75 mg Ibuprofen dimasukkan kedalam labu tentukur 25 ml dilarutkan dengan natrium hidroksida ditambahkan dapar fosfat pH 7,4 sampai garis tanda dikocok homogen Larutan Induk Baku dengan konsentrasi 3000 mcg/ml Lampiran 58. Flowsheet Penentuan Kurva Absorpsi Ibuprofen dalam Dapar Fosfat pH 7,4 Larutan Induk Baku Ibuprofen dipipet 5,0 ml dimasukkan dalam labu tentukur 10 ml dicukupkan dengan dapar fosfat pH 7,4 sampai garis tanda diukur absorbansi pada panjang gelombang 200-400 nm Panjang gelombang maksimum Lampiran 59. Kurva Absorpsi Ibuprofen dalam Usus halus yang Dihomogenkan Lampiran 60. Flowsheet Penentuan Kurva Kalibrasi Ibuprofen dalam Dapar Fosfat pH 7,4 Larutan Induk Baku Ibuprofen Hasil dipipet 2,5 ml; 3,5 ml; 4,5 ml; 5,5 ml; 6,5 ml masing-masing dimasukkan kedalam labu tentukur 10 ml masing-masing dicukupkan dengan dapar fosfat pH 7,4 sampai garis tanda, sehingga diperoleh konsentrasi 750 mcg/ml; 1050 mcg/ml; 1350 mcg/ml; 1650 mcg/ml; 1950 mcg/ml ditetapkan kadarnya pada panjang gelombang 222,0 nm Lampiran 61. Penentuan Persamaan Regresi dan Kurva Kalibrasi Ibuprofen dalam Usus Halus yang Dihomogenkan pada Temperatur Kamar Konsentrasi (mcg/ml) x 0 750 1050 1350 1650 1950 Σx = 6750 x = 1125 Absorbansi (A) y 0,0000 0,3460 0,4440 0,6960 0,7300 0,9800 Σy = 3,1960 y = 0,5327 x2 0 562500 1102500 1822500 2722500 3802500 Σx2 = 10012500 y2 0,0000 0,1197 0,1971 0,4844 0,5329 0,9604 Σy2 = 2,2946 xy 0,0000 259,5000 466,2000 939,6000 1204,5000 1911,0000 Σxy = 4780,8000 Persamaan regresi : y = ax + b a = ∑ xy − (∑ x)(∑ ∑ x2 − (∑ x)2 y) / /n n a = 4780,8000 − (6750)(3,1960) / 6 10012500 − (6750)2 / 6 a = 0,000490 b = y – ax b = 0,5327 – (0,000490)(1125) b = -0,0186 Jadi, persamaan regresi : y = 0,000490 x – 0,0186 r = ∑ xy − (∑ x)(∑ y) / n {∑ x2 − (∑ x) / n)}(∑ y2 − (∑ y)2 / n} r = 4780,8000 − (6750)(3,1960) / 6 {10012500 − (6750)2 / 6}{2,2946 − (3,1960)2 / 6} r = 0,9904 Lampiran 62. Pembuatan Larutan Induk Baku Ketoprofen dalam Dapar Fosfat pH 7,4 ± 50 mg Ketoprofen dimasukkan kedalam labu tentukur 25 ml dilarutkan dengan natrium hidroksida ditambahkan dapar fosfat pH 7,4 sampai garis tanda dikocok homogen Larutan Induk Baku dengan konsentrasi 2000 mcg/ml Lampiran 63. Flowsheet Penentuan Kurva Absorpsi Ketoprofen dalam Dapar Fosfat pH 7,4 Larutan Induk Baku Ketoprofen dipipet 0,5 ml dimasukkan dalam labu tentukur 10 ml dicukupkan dengan dapar fosfat pH 7,4 sampai garis tanda diukur absorbansi pada panjang gelombang 200-400 nm Panjang gelombang maksimum Lampiran 64. Kurva Absorpsi Ketoprofen dalam Usus Halus yang Dihomogenkan Lampiran 65. Flowsheet Penentuan Kurva Kalibrasi Ketoprofen dalam Dapar Fosfat pH 7,4 Larutan Induk Baku Ketoprofen Hasil dipipet 0,5 ml; 1,0 ml; 2,0 ml; 2,5 ml; 3,0 ml masing-masing dimasukkan kedalam labu tentukur 10 ml masing-masing dicukupkan dengan dapar fosfat pH 7,4 sampai garis tanda, sehingga diperoleh konsentrasi 100 mcg/ml; 200 mcg/ml; 400 mcg/ml; 500 mcg/ml; 600 mcg/ml ditetapkan kadarnya pada panjang gelombang 206,0 nm Lampiran 66. Penentuan Persamaan Regresi dan Kurva Kalibrasi Ketoprofen dalam Usus Halus yang Dihomogenkan pada Temperatur Kamar Konsentrasi (mcg/ml) x 0 100 200 400 500 600 Σx = 1800 x = 300,0000 Absorbansi (A) y 0,0000 0,1640 0,3090 0,4440 0,4850 0,5270 Σy = 1,9290 y = 0,3215 x2 0 10000 40000 160000 250000 360000 Σ x2 = 820000 y2 0,0000 0,0269 0,0955 0,1971 0,2352 0,2777 Σ y2 = 0,8325 xy 0,0000 16,4000 61,8000 177,6000 242,5000 316,2000 Σxy =814,5000 Persamaan regresi : y = ax + b a = ∑ xy − (∑ x)(∑ ∑ x2 − (∑ x)2 y) / /n n a = 814,5000 − (1800)(1,9290) / 6 820000 − (1800)2 / 6 a = 0,000842 b = y – ax b = 0,3215 – (0,000842)(300,0000) b = 0,0689 Jadi, persamaan regresi : y = 0,000842x + 0,0689 r = ∑ xy − (∑ x)(∑ y) / n {∑ x2 − (∑ x) / n)}(∑ y2 − (∑ y)2 / n} r = 814,5000 − (1800)(1,9290) / 6 {820000 − (1800)2 / 6}{0,8325 − (1,9290)2 / 6} r = 0,9671 Lampiran 67. Flowsheet Percobaan Penentuan Laju Absorpsi 50 μl Usus halus homogen disimpan pada temperatur 0-4°C dengan bantuan es diprainkubasikan selama 3 menit dimasukkan larutan obat dengan konsentrasi 0,002 M sebanyak 100 µl kedalam politube dicampur homogen diinkubasi dengan variasi waktu 1 menit dan 5 menit pada temperatur kamar ditambahkan etanol sebanyak 4 kali volume sampel dicampur homogen disentrifugasi selama 30 detik, 3000 rpm dipisahkan Supernatan dipipet sebanyak 0,5 ml Endapan (dibuang) dimasukkan dalam labu tentukur 10 ml ditambahkan dengan dapar fosfat pH 7,4 sampai garis tanda diukur absorbansinya dengan spektrofotometer ultraviolet Hasil Lampiran 68. Data penentuan waktu uptake Asam Mefenamat dalam usus halus yang dihomogenkan pada panjang gelombang 209,0 nm Waktu (menit) 0,5 1 2 3 5 10 15 1 0,4681 0,4834 0,4141 0,4269 0,3147 0,4830 0,4779 Konsentrasi (mcg/ml) 234 0,4602 0,4358 0,4054 0,4111 0,4240 0,4214 0,3909 0,5095 0,4822 0,3960 0,3650 0,4093 0,4076 0,3826 0,4916 0,3582 0,3617 0,3793 5 0,3955 - Jumlah 1,4378 1,7840 1,7071 1,9567 1,5097 0,9044 1,6557 Ratarata 0,4793 0,4460 0,4268 0,3913 0,3774 0,4522 0,4139 Standar Deviasi (SD) 0,0265 0,0477 0,0438 0,0294 0,0496 0,0436 0,0442 Absorbansi (A) Lampiran 69. Kurva waktu uptake Asam Mefenamat dalam usus halus yang dihomogenkan pada panjang gelombang 209,0 nm 0.60 0.50 0.40 0.30 0.20 0.10 0.00 0 2 4 6 8 10 12 14 16 waktu (menit) Lampiran 70. Data penentuan waktu uptake Ibuprofen dalam usus halus yang dihomogenkan pada panjang gelombang 222,0 nm Waktu (menit) 1 Konsentrasi (mcg/ml) 234 5 Jumlah Ratarata Standar Deviasi (SD) 0,5 0,0667 0,1042 0,0839 - - 0,2548 0,0849 0,0188 1 0,1320 0,0513 0,1268 0,0853 - 0,3954 0,0989 0,0380 2 0,0474 0,0251 - - - 0,0725 0,0363 0,0158 3 0,0753 0,0397 0,0110 - - 0,1260 0,0420 0,0322 5 0,0551 0,1213 0,0050 0,0150 - 0,1964 0,0491 0,0528 7 0,0300 0,1792 - - - 0,2092 0,1046 0,1055 15 0,0642 0,1024 0,0909 0,0248 - 0,2823 0,0706 0,0345 Absorbansi (A) Lampiran 71. Kurvawaktu uptake Ibuprofen dalam usus halus yang dihomogenkan pada panjang gelombang 222,0 nm 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Waktu (menit) Lampiran 72. Data penentuan waktu uptake Ketoprofen dalam usus halus yang dihomogenkan pada panjang gelombang 206,0 nm Waktu (menit) 1 Konsentrasi (mcg/ml) 234 5 Jumlah 1 0,0750 0,1079 0,2029 - - 0,3858 3 0,1367 0,0698 0,1760 0,1343 0,2169 0,7337 5 0,1713 0,2039 0,2715 - - 0,6467 7 0,3180 0,3419 0,2738 - - 0,9337 15 0,1367 0,1384 - - - 0,2751 Ratarata 0,1286 0,1467 0,2156 0,3112 0,1376 Standar Deviasi (SD) 0,0664 0,0547 0,0511 0,0346 0,0012 Absorbansi (A) Lampiran 73. Kurva waktu uptake Ketoprofen dalam usus halus yang dihomogenkan pada panjang gelombang 206,0 nm 0.4 0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Waktu (menit) Lampiran 74. Gambar Alat Flask Shaker Corong Pisah Flask Shaker Lampiran 75. Gambar Cara Pendiaman Pembuatan Pelarut Kloroform Jenuh Dapar Fosfat pH 7,4 dan Dapar Fosfat pH 7,4 Jenuh Kloroform Corong Pisah berisi larutan kloroform jenuh dapar fosfat pH 7,4 dan dapar fosfat pH 7,4 jenuh kloroform Lampiran 76. Gambar Alat Homogenizer Mixer Modifikasi Alat Homogenizer Mixer (Modifikasi) Es batu Usus halus yang telah dipotong kecil-kecil Lampiran 77. Gambar Larutan Dapar Fosfat pH 7,4 Dingin Larutan Dapar fosfat pH 7,4 Es batu
Sintesis Porfirin Pembawa Gugus Karboksilat Sebagai Ligan Untuk Kit Radiofarmaka Karakterisasi Pita-Pita Hasil Kromatografi Kolom .1 Analisis Spektrum Serapan UV-Vis Kromatografi Lapis Tipis Kromatografi Kolom Kromatografi Pertukaran Ion Modifikasi Molekul Radiofarmasi Spektrofotometri Ultra Violet dan Tampak Pemisahan Pita 4 Hasil Kromatografi Kolom Rekristalisasi Pita 1 dan 4 Analisis Spektrum Infra Merah Analisis Spektrum Sintesis Porfirin Aksi Fotodinamik Sintesis Senyawa Benzaldehid Karboksilat Sintesis Senyawa Porfirin HASIL DAN PEMBAHASAN Spektrofotometri Infra Merah TINJAUAN PUSTAKA Spektrometri Resonansi Magnet Inti RMI
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Sintesis Porfirin Pembawa Gugus Karboksilat Sebagai Ligan Untuk Kit Radiofarmaka

Gratis